Si Racun Dari Barat (See Tok Ouw Yang Hong Tay Toan) Bab 08

Mode Malam
Chin Yung/Jin Yong
-------------------------------
----------------------------

Bab 08

Di gurun pasir itu amat sepi dan sunyi, apalagi di tengah malam, maka suara itu terdengar jelas sekali.

Keempat orang itu segera menoleh ke belakang, namun tidak melihat orang lain di situ, hanya tampak Bokyong Cen yang tergeletak di sana.

Wan To Ma Sih mengerutkan kening, kemudian membentak dengan suara lantang.

"Siapa? Cepat keluar!"

Sedangkan Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong cepat-cepat memandang Ouw Yang Hong, namun wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi apa pun, jelas dia tidak mendengar suara tersebut.

Oleh karena itu, Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong baru tahu, orang yang bersuara itu menggunakan ilmu Menyampaikan Suara, pertanda orang itu berkepandaian amat tinggi. Tapi sungguh mengherankan, orang tersebut sama sekali tidak kelihatan.

Sementara Ouw Yang Hong diam-diam menarik nafas lega. Dia tahu, dirinya akan lolos dari kematian, namun tidak tahu mengapa keempat orang itu berubah pikiran tidak membunuhnya, hanya mengira Bokyong Cen mengatakan sesuatu pada mereka, sehingga mereka berempat batal membunuhnya.

Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong tampak gusar, lalu membentak dengan dingin sekali.

"Ayo! Cepat keluar untuk bicara!"

Akan tetapi, tetap tiada sahutan, dan itu membuat Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong bertambah gusar.

"Dasar pengecut, tidak berani memperlihatkan diri!" bentaknya dingin.

Mendadak terdengar sahutan yang bergema-gema.

"Kalau kalian masih tidak mau pergi, pasti akan mati di gurun pasir ini!"
Wan To Ma Sih menyahut berang.

"Siapa kau? Cepat keluar!"

"Orang tinggi dari mana, harap memberi petunjuk!" sambung Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong.

Tiada sahutan, itu membuat Bie Li Sang Seng Kiam Giok Shia berseru lantang.

"Sebetulnya siapa kau? Kalau kau jantan, cepatlah keluar!"

Terdengar suara sahutan yang agak malas-malasan.

"Aku bilang, Teng Khie Hong, cepatlah kau membawa mereka bertiga meninggalkan tempat ini! Kalau tidak, kalian berempat pasti akan mati di tempat ini!"

Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong berempat berkepandaian tinggi, bagaimana mungkin akan mundur hanya karena ancaman itu? Mereka diam saja, tiada seorang pun yang bersuara.

Sedangkan Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen saling memandang, setelah itu mereka berdua pun menengok ke sana ke mari, namun tidak melihat seorang pun di tempat tersebut.

Tiba-tiba, Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong membentak.

"Cepat keluar!"

Terdengar suara tawa terkekeh-kekeh dan bersamaan itu tampak pula sosok bayangan hitam berkelebat ke arah mereka. Bayangan hitam itu bagaikan segulung asap hitam. Sungguh cepat gerakannya, sehingga sulit diketahui siapa orang tersebut.

Wajah Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong dan saudara-saudara seperguruannya langsung berubah karena mereka tahu, orang itu berkepandaian amat tinggi.
Bayangan hitam itu berhenti di hadapan mereka, kemudian berkata dengan dingin sekali.

"Kalian ingin membunuh Ouw Yang Hong?"

Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong dan saudara seperguruannya memandang orang yang baru muncul itu. Mereka tercengang, karena orang itu memegang sebuah tongkat aneh yang berlubang, mengenakan pakaian kasar, menatap keempat orang itu dengan dingin sekali.

Ketika Ouw Yang Hong melihat orang tersebut, giranglah hatinya, lalu berseru dengan suara terisak-isak.

"Kakak! Kakak . . ."

Ternyata orang itu adalah jago tangguh di kaki Gunung Pek Tho San, Coa Thau Cang Ouw Yang Coan.

Bokyong Cen memandangnya dengan penuh perhatian. Orang itu memang mirip Ouw Yang Hong, hanya badannya agak pendek.

Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong menatapnya dengan tajam, kemudian berkata dengan suara parau.

"Ouw Yang Coan! Kau terus berkeluyuran di perkampungan Pek Tho San Cung dengan membawa tongkat ular, sikapmu amat angkuh, itu sungguh menyebalkan!"

Ouw Yang Coan menatap mereka berempat dengan mata berapi-api, dan wajahnya diliputi hawa membunuh, kemudian menyahut.

"Kalian ingin membunuh saudaraku?"

Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong berkata dengan lantang.

"Ouw Yang Coan! Kau tidak usah banyak bicara! Kalau kau mau turun tangan silakan!"
Ouw Vang Coan manggut-manggut.

"Baik! Aku menghendaki kalian melihat baikbaik, orang dari keluarga Ouw Yang tidak boleh dipandang remeh!"

Usai berkata, Ouw Yang Coan melangkah maju ke hadapan Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong, sekaligus menjulurkan tongkat ularnya perlahan-lahan, kemudian berkata lagi.

"Pada dasarnya Pek Tho San San Kun bukanlah orang baik-baik, begitu pula kalian berempat, maka hari ini aku harus memberi pelajaran pada kalian!"
Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong menyahut gusar.

"Bagus! Kalau begitu kau harus merasakan kelihayan kami berempat!"

Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong tertawa panjang, kemudian mereka berempat menyerang ke arah Ouw Yang Coan.

Akan tetapi. Ouw Yang Coan sama sekali tidak gugup. Dia langsung menggerakkan tongkat ularnya untuk menangkis, bahkan tangan kirinya juga ikut bergerak, sekaligus balas menyerang.

Namun Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong berempat pun bukan orang lemah. Mereka segera berkelit dan menyerang lagi. Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong menyerang dengan jari tangan, itu adalah ilmu silat Cakar Elang. Sedangkan Wan To Ma Sih menyerang dengan golok, Bie Li Sang Seng Kiam Giok Shia menyerang dengan sepasang petiang, dan Sang Pwe Jeh Nuh menyerang dengan sepasang cangkir.

Walau Ouw Yang Coan diserang dari empat penjuru, namun masih sanggup berkelit dan balas menyerang. Maka terjadilah pertarungan yang amat sengit.

Tongkat ular di tangan Ouw Yang Coan berkelebat ke sana ke mari, sebentar ke arah Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong, sebentar ke arah Bie Li Sang Seng Kiam Giok Shia, kadang-kadang menangkis serangan dari Wan To Ma Sih dan Sang Pwe Jeh Nuh.

Ouw Yang Coan memang bersifat angkuh. Semula dia berpikir begitu turun tangan, pasti dapat merobohkan mereka berempat. Akan tetapi, tak disangka walau sudah bertarung dua tiga puluh jurus, dia tetap tidak berhasil merobohkan mereka berempat, itu membuatnya amat penasaran dan gusar.

Mendadak Ouw Yang Coan bersiul panjang, dan di saat berasaan tongkat ularnya pun bergerak aneh. Ternyata dia mulai mengeluarkan jurus-jurus andalannya.

Itu membuat Tay Mok Sin Seng Khie Hong dan saudara seperguruannya mulai terdesak, dan mereka berempat cepat-cepat mundur.

Sementara Bokyong Cen menyaksikan pertarungan itu dengan mata terbelalak lebar. Gadis itu tampak tertegun akan ilmu silat Ouw Yang Coan yang amat aneh itu. Begitu pula Ouw Yang Hong, mulutnya ternganga lebar.

Mendadak terdengar suara benturan senjata, menyusul terlihat pedang Bie Li Sang Seng Kiam Giok Shia terpental ke udara, dan terdengar pula suara jeritannya, lalu meloncat ke samping.

Bukan main terkejutnya Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong. Justru di saat bersamaan, tongkat ular itu pun mengarah bagian dadanya, sehingga membuatnya terpaksa berkelit.

Bersamaan itu, Wan To Ma Sih segera menyerang Ouw Yang Coan. Tapi mendadak Ouw Yang Coan menundukkan kepalanya, sekaligus menggerakkan tongkat ularnya ke arah kaki Wan To Ma Sih.

"Aduuuh!" jerit Wan To Ma Sih.

Ternyata kakinya terpukul oleh tongkat ular itu. Dia roboh seketika. Ujung tongkat ular itu pun menotok bagian dadanya, sehingga membuatnya menjerit lagi.

"Aduuuh . . .!"

Kemudian Wan To Ma Sih roboh telentang, dan telah terluka dalam yang cukup parah.

Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong, Bie Li Sang Seng Kiam Giok Shia dan Sang Pwe Jeh Nuh saling memandang. Mereka tahu, setelah Wan To Ma Sih terluka, mereka sudah bukan tandingan Ouw Yang.

"Ouw Yang Coan, suteku telah terluka parah. Kalau kau ingin membunuh orang, bunuhlah aku saja!"

Ouw Yang Coan tidak menyahut, hanya tertawa ringan.

Bie Li Sang Seng Kiam Giok Shia maju selangkah, lalu berkata dengan dingin.
"Mau bunuh silakan! Yang takut mati bukan orang jantan!"

"Kau adalah wanita, bukan orang jantan!" sahut Ouw Yang Coan.

Bukan main gusarnya Bie Li Sang Seng Kiam Giok Shia, namun tidak berani berbuat apa-apa. Justru dia berlega hati, karena yakin Ouw Yang Coan tidak akan turun tangan terhadap mereka.

Sementara Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen menyaksikan itu dengan tegang, sehingga tanpa sadar Ouw Yang Hong memegang lengan gadis itu.

Berselang sesaat, Ouw Yang Coan berkata.

"Kalian boleh pergi!"

Usai berkata, dia membalikkan badannya, lalu berjalan mendekati Ouw Yang Hong dengan wajah berseri.

"Adik, apakah enak jalan-jalan ke kotaraja?" tanyanya.

Sejak kecil Ouw Yang Hong kehilangan kedua orang tuanya. Dia hidup bersama Ouw Yang Coan selama itu. Ketika Ouw Yang Coan bertanya dengan nada lembut, melelehlah air mata Ouw Yang Hong.

"Cukup enak, Kakak," sahutnya.

Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong melihat Ouw Yang Coan tidak menghiraukannya, dia segera mengajak Bie Li Sang Seng Kiam Giok Shia meninggalkan tempat itu.

Ouw Yang Coan amat girang bertemu adiknya, maka dia tidak menghiraukan kepergian Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong bersama Bie Li Sang Seng Kiam Giok Shia. Dia menggenggam tangan adiknya erat-erat sambil menatapnya dengan penuh kasih sayang.

Berselang sesaat, barulah Ouw Yang Coan memandang Bokyong Cen yang di sisi adiknya. Seketika juga hatinya tersentak, karena gadis itu amat cantik dan menatapnya dengan mata tak berkedip.

Sementara itu, hari sudah mulai terang. Mereka bertiga duduk berhadapan dengan wajah cerah ceria. Ouw Yang Coan memandang Ouw Yang Hong seraya berkata.
"Adik, tentunya kotaraja jauh lebih ramai dari perkampungan Pek Tho San Cung."

Pada hal banyak yang ingin dibicarakan Ouw Yang Hong, namun dia justru tidak tahu harus memulainya dari mana.

"Adik, kenapa kau diam saja?" tanya Ouw Yang Coan sambil tersenyum.

OuwYang liong menghela nafas panjang, setelah itu barulah menutur tentang dirinya bertemu Oey Yok Su, It Sok Taysu dan bersama Ang Cit Kong ke istana mencuri makan hidangan-hidangan kaisar, serta menutur pula tentang perbuatan Pek Tho San San Kun di desa kecil itu.

Ouw Yang Coan mendengarkan dengan penuh perhatian, begitu pula Bokyong Cen. Seusai Ouw Yang Hong menutur, Ouw Yang Coan berkata.

"Pek Tho San San Kun Jen It Thian memang berhati jahat, sering melakukan kejahatan di Pek Tho San Cung. Dia memasuki Tionggoan dan bertemu jago tangguh di sana, itu sungguh baik sekali! Setelah mendapat pelajaran itu, mungkin akan mengurangi keangkuhannya dan tidak akan memandang rendah orang lain lagi."

Justru sungguh mengherankan, walau Ouw Yang Hong bercakap-cakap cukup lama, namun dia sama sekali tidak menceritakan tentang urusan Bokyong Cen.

Ouw Yang Coan memandang mereka berdua. Dalam hatinya dia berpikir, gadis itu pasti kawan baik adiknya, sebab mereka berdua tampak begitu akrab. Tapi mengapa Ouw Yang Hong tidak mau menceritakan tentang gadis itu? Ouw Yang Coan tidak habis berpikir, maka membuatnya termangu-mangu.

Ouw Yang Hong tidak menceritakan, tentunya Ouw Yang Coan juga merasa tidak enak untuk bertanya.

Berselang sesaat, Ouw Yang Hong berkata.

"Kakak, dulu aku tidak mendengar perkataanmu, hanya mengira kalau sudah memiliki ilmu surat, maka dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Tapi setelah melakukan perjalanan ke kota-raja, barulah aku tahu betapa pentingnya ilmu silat. Oleh karena itu, aku mengambil keputusan untuk belajar ilmu silat, harap Kakak sudi mengajariku!"

Ouw Yang Coan tidak menduga, begitu bertemu Ouw Yang Hong, adiknya itu akan berkata demikian kepadanya, sehingga membuatnya tidak tahu harus menjawab apa.
Ouw Yang Hong terheran-heran, karena Ouw Yang Coan tidak menjawab. Pada hal Ouw Yang Coan amat menyayanginya. Apa yang diinginkannya, Ouw Yang Coan pasti menuruti. Tapi kali ini Ouw Yang Coan justru diam, bahkan kelihatan tidak begitu gembira ketika mendengar Ouw Yang Hong ingin belajar ilmu silat. Itu sungguh membi-ngungkan Ouw Yang Hong.

Sedangkan Ouw Yang Coan sudah tidak banyak bicara lagi dengan Ouw Yang Hong. Dia memandang Bokyong Cen sambil mengangguk, seakan memberi hormat lalu berkata.

"Nona datang dari kotaraja, tentunya amat lelah. Sebentar lagi kita berangkat, tidak sampai setengah hari, kita akan sampai di Pek Tho San Cung, nona boleh beristirahat di rumah."

Pada hal Ouw Yang Hong ingin memohon kepada kakaknya agar diajari ilmu silat, namun ketika menyinggung tentang itu, kakaknya malah diam tidak menanggapinya. Itu sungguh membingungkannya, sebab selama itu kakaknya tidak pernah bersikap demikian terhadapnya. Sesungguhnya apa gerangan yang telah terjadi?

Karena Ouw Yang Hong amat menghormati kakaknya, maka dia tidak banyak bertanya dan tidak berani mengungkit tentang itu lagi. Tapi ketika Ouw Yang Coan menyinggung tentang Bokyong Cen, dia tahu kakaknya telah salah paham, maka segera berkata.

"Tampangnya begitu galak, maka aku harus mengikutinya, bagaimana mungkin dia mengikutiku dari kotaraja?"

Kini tampang Bokyong Cen sudah tidak galak. Ketika Ouw Yang Hong berkata begitu, justru membuat wajahnya menjadi kemerah-merahan.

"Aku tidak mengikuti Saudara Ouw Yang Hong dari kotaraja, sebaliknya aku kabur dari Pek Tho San Cung," sahutnya dengan suara aneh tapi lembut.

Ouw Yang Coan tersentak mendengar itu. Dia langsung memperhatikan air muka Bokyong Cen, kemudian berkata dalam hati. Aku pernah mendengar bahwa Pek Tho San San Kun merupakan orang sesat. Dia menganggap kaum wanita sebagai benda mustika yang harus disimpan dan dipajang. Gadis ini sedemikian cantik, bagaimana mungkin dia dapat meloloskan diri dari tangan Pek Tho San San Kun? Kini Ouw Yang Coan tersadar, keempat murid Pek Tho San San Kun ingin membunuh adiknya, tentunya disebabkan gadis tersebut. Oleh karena itu, Ouw Yang Coan amat kesal dalam hati dan membatin. Adik! Kau seorang diri pergi ke kotaraja untuk pesiar di sana, mengapa berniat menjadi kaum rimba persilatan? Apakah kau tidak tahu aku lahir di Pek Tho San Cung, justru merasa tidak enak bentrok dengan Pek Tho San San Kun? Kini kau membawa pergi gadis ini, bukankah akan menimbulkan kerepotan?

Setelah berpikir demikian, Ouw Yang Coan berkata kepada Bokyong Cen.

"Nona berhasil meloloskan diri dari mulut harimau, itu sungguh tidak gampang! Kini hari sudah terang, lebih baik Nona pergi seorang diri menempuh jalan selatan saja!"
Apa yang diucapkan Ouw Yang Coan, sungguh di luar dugaan Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen.

Ketika melihat Ouw Yang Coan bertarung dengan keempat murid Pek Tho San San Kun, Bokyong Cen amat kagum kepadanya, sekaligus menghormatinya pula. Namun selelah mendengar ucapan itu, dia tahu maksud Ouw Yang Coan, dan tahu pula Ouw Yang Coan merasa enggan bentrok dengan Pek Tho San San Kun. Itu membuat hatinya berduka. Maka dia tersenyum getir seraya berkata.

"Baik! Anda berkata begitu, Bokyong Cen harus menurut dan mengucapkan terimakasih atas pertolongan Ouw Yang Tayhiap, aku mohon diri!"

Gadis itu memberi hormat, lalu tanpa banyak bicara lagi dia membalikkan badannya dan berjalan pergi.

Pada hal Ouw Yang Hong tidak begitu terkesan baik terhadap Bokyong Cen, namun ketika mendengar suaranyabernada sedih, hati Ouw Yang Hong menjadi tersentuh, dan dia langsung berseru.

"Nona, cepat kembali!"

Bokyong Cen membalikkan badannya, menatap Ouw Yang Hong dengan mata tak berkedip, lalu tertawa dingin seraya berkala.

"Apakah Saudara Ouw Yang masih ingin menemaniku ke kotaraja?"
Ouw Yang Hong tertawa getir. Sesungguhnya ia memanggil Bokyong Cen dengan maksud baik, tapi tak disangka gadis itu justru menyahut dengan ketus sekali.

"Kalau Nona mau pergi, harus membereskan suatu urusan!"
Bokyong Cen mengerutkan kening.

"Membereskan urusan apa?"

Ouw Yang Hong menyahut sungguh-sungguh, tapi juga setengah bergurau.
"Sebelum pergi, kau harus mengeluarkan pasir yang ada di dalam mataku."

Bokyong Cen tertegun, seketika tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak menyangka Ouw Yang Hong akan berkata begitu.

Ouw Yang Coan juga terheran-heran. Dia tidak tahu apa sebabnya mereka berdua berbicara begitu. Mereka berdua kelihatan cukup akrab, tapi juga seperti tidak begitu kenai. Oleh karena itu dia pun tidak tahu harus berkata apa.

"Adik, kalau matamu kemasukan pasir, biar aku yang membantumu membersihkannya. Kau tidak usah merepotkan nona ini!" katanya kemudian.

Bokyong Cen tahu, bahwa Ouw Yang Hong ingin mencari gara-gara dengannya. Maka tidak heran ia amat kesal dan gusar, lalu berkata dalam hati. Kau tuh apa? Aku tidak membunuhmu, itu sudah merupakan keberuntungan bagimu! Kalau kau masih cari gara-gara denganku, aku pasti menusukmu dengan pedangku! Tapi Bokyong Cen melihat Ouw Yang Coan berada di sisi Ouw Yang Hong. Apabila terjadi bentrokan, dirinya pasti sulit untuk meloloskan diri.

Berpikir sampai di situ, dia lalu tersenyum seraya berkata.

"Baik, aku akan membantumu membersihkan matamu."
Usai berkata begitu, Bokyong Cen mendekatinya, lalu mulai membersihkan matanya.

Sikapnya amat lembut seakan terhadap seorang kekasih, namun berbisik dengan sengit.

"Kau jangan merasa puas! Kalau tiada kakakmu di sini, kau pasti mampus di ujung pedangku!"

Ouw Yang Hong tersenyum, lalu menyahut.

"Kau mengikat diriku dan membuat mataku kemasukan pasir. Kelak aku pasti membuat perhitungan denganmu!"

"Kau adalah tuan muda kedua, seorang lelaki jantan! Tapi begitu bertemu kakakmu, langsung menangis terisak-isak, itu sungguh mirip seorang anak kecil yang masih berbau kencur!" kata Bokyong Cen ringan.

Ketika berkata, suara Bokyong Cen amat lembut, begitu pula sikapnya. Itu tidak terlepas dari mata Ouw Yang Coan, sehingga hatinya tergerak. Jangan-jangan gadis itu tertarik pada adikku? Kalau benar, tidak seharusnya aku mengusirnya dengan ucapan. Akan tetapi, Ouw Yang Coan mana tahu, gadis tersebut sedang berbicara sengit dengan Ouw Yang Hong, hanya saja wajahnya tampak tersenyum.

Sedangkan Ouw Yang Hong memang bernyali besar, sama sekali tidak merasa takut pada Bokyong Cen, dia pun berbicara sengit menimpalinya dengan wajah tersenyum pula.

"Aku baru tahu nama Nona. Sungguh indah dan sedap didengar nama Bokyong Cen! Aku dengar, keluarga Bokyong di daerah Kang Lam, merupakan keluarga yang amat terkenal. Anak gadis keluarga Bokyong cantik-cantik semua, bahkan memiliki kungfu tinggi pula. Itu sungguh me-ngagumkan!"

Dasar anak gadis! Ketika Bokyong Cen mendengar itu, dia amat girang dalam hati, dan sudah tentu merasa bangga.

Di saat bersamaan, Ouw Yang Hong berkata lagi.

"Tapi aku masih ragu, maka ingin mohon petunjuk Nona."

"Petunjuk apa? Katakanlah!" sahut Bokyong Cen.

Ouw Yang Hong tertawa, lalu berkata.

"Keluarga Bokyong memiliki dua jurus ilmu silat yang amat lihay dan dahsyat, yaitu mengikat orang dengan rumput merambat. Itu disebut jurus Jeratan Benang Asmara. Jurus yang satu lagi yaitu Dalam Mata Kekasih Muncul Pasir. Itu tidak salah kan?"

Mendengar itu, tak tertahan lagi sehingga Bokyong Cen tertawa cekikikan saking gelinya.

Ouw Yang Coan yang menyaksikan itu, semakin yakin bahwa mereka berdua sudah saling jatuh cinta, karena sikap mereka berdua persis seperti sepasang kekasih.
Sementara Bokyong Cen tertawa sambil memandang Ouw Yang Hong, kemudian bertanya.

"Bagaimana? Sudah baik matamu?"

Ouw Yang Hong juga memandangnya, sehingga beradu pandang dengan Bokyong Cen. Mendadak hatinya berdebar-debar tidak karuan, maka wajahnya menjadi memerah, membuatnya tak mampu mencetuskan ucapan yang menyindir lagi.

Di saat bersamaan, Ouw Yang Coan menghampiri mereka. Ketika menyaksikan sikap mereka, dia tersenyum dan bertambah yakin bahwa mereka berdua saling mencinta.

"Saudara Ouw Yang, apakah aku sudah boleh pergi?" tanya Bokyong Cen.

Ouw Yang Hong tertegun, lama sekali baru menyahut.

"Baik, baik! Tentunya kau boleh pergi."

Bokyong Cen tersenyum, lalu memberi hormat kepada mereka berdua, dan kamu diam berjalan pergi.

Akan tetapi, mendadak Ouw Yang Coan berseru.

"Nona, tunggu!"

Bokyong Cen berhenti, tapi tidak membalikkan badannya, lalu bertanya dengan dingin.

"Ouw Yang Tayhiap masih ingin bicara apa?"

"Tadi aku dengar Nona kabur dari Pek Tho San Cung, aku sungguh kagum akan keberanian Nona! Nona ingin pergi seorang diri, itu amat berbahaya. Alangkah baiknya Nona tinggal beberapa hari di rumahku, kalau ada orang ingin berangkat ke Tionggoan, barulah Nona berangkat bersama mereka. Bagaimana?"

Betapa terkejutnya Ouw Yang Hong mendengar itu. Dia yakin Ouw Yang Coan telah salah paham terhadap mereka berdua, maka berlaku begitu sungkan terhadap Bokyong Cen. Pada hal sesungguhnya, Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen bagaikan musuh bebuyutan, tentunya tidak mungkin saling mencinta.

Ketika Ouw Yang Hong baru mau membuka mulut, justru Bokyong Cen telah mendahuluinya.

"Kalau begitu, aku mengucapkan terimakasih kepada Ouw Yang Tayhiap."

Mengapa Bokyong Cen menurut? Ternyata gadis itu berpikir, apabila ada Ouw Yang Coan, sudah pasti Pek Tho San San Kun Jen It Thian tidak bisa menangkapnya. Gadis itu pun tahu, kalau pergi sekarang, di daerah gurun pasir itu masih merupakan tempat kekuasaan Pek Tho San San Kun, maka sulit baginya untuk meloloskan diri.

Dia tersenyum, kemudian berkata lagi.

"Aku memang amat kagum pada Ouw Yang Tayhiap, namun kalau demikian, tentunya akan merepotkan Ouw Yang Tayhiap. Bagaimana hatiku bisa tenang?"

Pada hal Ouw Yang Coan tidak begitu bersungguh-sungguh mengundang Bokyong Cen ke rumahnya, tapi ketika mendengar gadis itu berkata begitu, timbullah kegagahannya dalam hati dan membatin. Aku merupakan jago tangguh nomor satu di daerah See Hek. Kalau aku takut urusan, bukankah akan ditertawakan kaum rimba persilatan di kolong langit? Karena berpikir demikian, maka dia mengambil suatu keputusan lalu berkata.

"Legakanlah hati Nona! Aku Ouw Yang Coan masih tergolong orang nomor satu di daerah See Hek. Jen It Thian menghendaki nyawaku, itu tidak begitu gampang."

Bokyong Cen bergirang dalam hati. Dia memang menghendaki Ouw Yang Coan berkata demikian. Namun di mulut justru berkata lain.

"Ouw Yang Tayhiap harus berpikir matang. Kau tinggal di Gunung Pek Tho San, boleh dikatakan terhitung orang Pek Tho San San Kun. Apabila kau bentrok dengannya, menyesal sudah terlambat."

Apa yang diucapkan Bokyong Cen, justru penuh mengandung perhatian. Itu membuat hati Ouw Yang Coan terharu, sehingga timbul niatnya untuk melindungi gadis tersebut.
Akan tetapi, Ouw Yang Coan justru bertanya dengan dingin.

"Apakah Nona Bokyong tidak mempercayaiku?"

Bokyong Cen tersenyum, lalu menyahut.

"Ouw Yang Tayhiap berkata demikian, maka aku terpaksa merepotkanmu."

Sementara Ouw Yang Hong cuma termangu-mangu. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu harus mengatakan apa. Dia bersama Ouw Yang Coan berada di situ, bagaimana mungkin membiarkan Bokyong Cen pergi seorang diri me-nempuh perjalanan di gurun pasir? Namun apabila Bokyong Cen sampai di rumahnya, tentunya akan menimbulkan berbagai macam kesulitan. Kesulitan apa, Ouw Yang Hong justru tidak dapat mengatakannya.

Sedangkan Ouw Yang Coan pun tidak berunding dengan Ouw Yang Hong. Dia melakukan sesuatu hanya berdasarkan keputusannya. Dia yang membesarkan Ouw Yang Hong, maka melakukan apa pun pasti berdasarkan keputusannya. Kini walau Ouw Yang Hong sudah dewasa, tetap Ouw Yang Coan yang mengambil keputusan. Ouw Yang Hong sama sekali tidak mau memberi pendapat, mem-biarkan kakaknya yang mengambil keputusan, sebab Ouw Yang Hong sendiri pun tidak mau banyak pusing.

Oleh karena itu, mereka hertiga lalu berangkat ke Pek Tho San Cung. Ternyata Ouw Yang Coan tinggal di sebelah timur Pek Tho San Cung. Di situ terdapat dua buah gubuk, tempat tersebut amat sepi.

Siapa pun tidak akan menduga, di tempat yang amat sepi itu justru merupakan tempat pemukiman Ouw Yang Coan yang berkepandaian tinggi dan Ouw Yang Hong yang mahir ilmu surat.

Selain mereka berdua, masih terdapat seorang pembantu tua dipanggil Lo Ouw dan seorang gadis pelayan kecil dipanggl Ceh Liau Thou.

Setelah mereka bertiga sampai di gubuk, Ouw Yang Coan segera memanggil Lo Ouw dan Ceh Liau Thou menemui Bokyong Cen. Setelah bertemu Bokyong Cen, pembantu tua dan muda itu amat bergirang dalam hati, sebab Bokyong Cen sangat cantik dan merupakan gadis yang baik. Tuari muda yang mana memperistrinya, pasti akan hidup bahagia. Demikian mereka berdua berpikir dalam hati. Sudah barang tentu kedua-duanya memandang Bokyong Cen sambil tersenyujm-senyum.
Bokyong Cen tahu apa yang dipikirkan mereka berdua, sehingga wajahnya kelihatan memerah.

Hari ini ada dua orang mengunjungi Ouw Yang Coan. Kedua orang itu merupakan jago tangguh di daerah See Hek. Yang seorang adalah padri dari Tibet bergelar Yam Ceh Sianjin, dan seorang lagi berasal'dari Hopak, julukannya adalah Cian Ciu Jin Tou-Teng Pian Hou. Mereka berdua seusia dengan Ouw Yang Coan. Karena mengagumi nama besar Ouw Yang Coan, maka mereka berdua mengunjunginya.

Ouw Yang Coan menyambut kedatangan mereka dengan penuh keramahan dan kehangatan. Setelah mempersilakan mereka berdua duduk, mulailah mereka bercakap-cakap tentang keadaan rimba persilatan.

Mereka kelihatan amat cocok satu sama lain, maka tidak heran mereka bercakap-cakap sambil tertawa gembira.

Berselang sesaat, Yam Ceh Sianjin berkata.

"Ada satu hal, aku ingin bertanya kepada Ouw Yang Tayhiap."

"Taysu ingin bertanya tentang hal apa?" tanya Ouw Yang Coan.

"Di rimba persilatan Tinggoan, telah terjadi suatu urusan, apakah Ouw Yang Tayhiap mengetahuinya?" sahut Yam Ceh Sianjin sambil memandangnya.

Ouw Yang Coan menggeleng-geleng kepala.

"Kami kakak beradik tinggal di tempat ini, tentunya tidak tahu akan kejadian di luar. Entah apa yang telah terjadi di rimba persilatan Tiong-goan?"

"Dulu terdapat seorang aneh, orang itu bernama Oey Sang. Dia lahir pada jaman Kaisar Hui Cong. Pada jaman itu, Kaisar Hui Cong memberi perintah mengumpulkan semua kitab pusaka untuk disalin menjadi sebuah kitab yang dinamai Ban Siu To Cong (Kitab Pusaka Panjang Usia). Oey Sang ditugaskan menyalin semua kitab pusaka tersebut, itu merupakan tugas yang sangat berat. Apabila salah menyalin, sudah pasti akan dihukum berat. Oleh karena itu, sebelum mulai menyalin, terlebih dahulu dia membaca semua kitab pusaka tersebut, sehingga memahami isi-isi semua kitab pusaka itu.

Akhirnya dia mulai melatih diri berdasarkan isi isi semua kitab pusaka tersebut yang telah dipahaminya, maka dia berhasil menguasai Ivvee kang dan gwa kang yang amat tinggi. Sudah barang tentu dia menjadi seorang yang berkepandaian amat tinggi. Setelah itu, dia pun menulis dua buah kitab. Salah sebuah kitab dinamai Kiu Yang Cin Keng yang akan dibicarakan sekarang. Ternyata kitab Kiu Yang Cin Keng telah jatuh ke tangan Ong Tiong Yang, ketua Coan Cin Kauw. Kami pikir, kalau Ouw Yang Tayhiap bersedia menampilkan diri, kita akan segera pergi mencari Ong Tiong Yang untuk minta kitab pusaka itu. Apabila kita memperoleh kitab pusaka tersebut, bukankah kita akan malang-melintang dalam rimba persilatan tanpa tanding?"

Ouw Yang Coan termangu-mangu mendengar itu. Setelah berpikir sejenak, dia justru tahu tidak benar dan segera berkata.

"Aku dengar, Ong Tiong Yang, ketua Coan Cin Kauw itu masih muda, tapi memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Kalau benar dia yang memperoleh kitab pusaka Kiu Yang Cin Keng, tentunya dia bertambah hebat dan lihay. Kalian ingin ke sana minta kitab pusaka itu, bagaimana mungkin dia mau memberikan? Seandainya dia tidak memberikan, lalu bagaimana kalian?"

"Dia pasti berikan. Kalau tidak, kita turun tangan serentak menghabiskannya," sahut Cian Ciu Jin Tou Teng Pian Hou.

Ouw Yang Coan memang tergolong orang sesat, namun tidak sembarangan membunuh orang. Ketika mendengar Cian Ciu Jin Tou Teng Pian Hou ingin menghabisi Ong Tiong Yang, dia berpikir dalam hati. Orang ini tampak gagah tapi berhati kejam. Kalau ikut dia pergi mencari kitab pusaka Kiu Yang CinrKeng, bukankah akan menimbulkan kerepotan? Dia cuma tahu membunuh, tidak tahu menggunakan siasat. Seandainya bekerja sama dengannya, tentunya tidak akan menghasilkan apa-apa.

Berpikir sampai di situ, Ouw Yang Coan ter-senyum-senyum, kemudian berkata sambil memandang mereka berdua.

"Menurutku, cara kalian tidak akan berhasil."

Yam Ceh Sianjin segera bertanya.

"Apakah ada cara lain? Harap Ouw Yang Tayhiap memberi petunjuk!"

Ouw Yang Coan menyahut.

"Aku tahu jelas tentang Ong Tiong Yang, ketua Coan Cin Kauw itu. Dia adalah orang yang amat terkenal di rimba persilatan Tionggoan, mungkin tiada seorang pun berkepandaian tinggi seperti dia. Sebelum memperoleh kitab pusaka Kiu Yang Cin Keng, kepandaiannya sudah amat tinggi. Kita semua bukan tandingannya. Apalagi kini dia telah memperoleh kitab pusaka Kiu Yang Cin Keng, sudah pasti kepandaiannya bertambah tinggi. Lalu bagaimana mungkin dia akan memberikan kitab pusaka itu kepada kalian? Kalian jauh-jauh pergi ke daerah Tionggoan, tapi begitu sampai di tempat Ong Tiong Yang, justru kalian yang terbunuh. Bukankah akan penasaran sekali?"

Yam Ceh Sianjin adalah seorang padri, namun masih bersifat kasar. Dia langsung menyahut dengan lantang.

"Baik! Kalau dia tidak mau memberikan kitab pusaka itu, kita rebut saja!"
Ouw Yang Coan menggeleng-gelengkan kepala.

"Bagaimana begitu gampang? Lagi pula kalau kau berhasil memperoleh kitab itu, sudah jelas itu bukan merupakan kitab pusaka. Seandainya kitab
Kiu Yang Cin Keng merupakan kitab pusaka, tentunya kau akan roboh di tangannya."

Yam Ceh Sianjin diam. Padri itu tahu apa yang dikatakan Ouw Yang Coan memang masuk akal dan beralasan. Ketika dia mendengar di Tionggoan terdapat kitab pusaka tersebut, timbullah niatnya untuk menyerakahinya. Kalau tidak memperolehnya, dia tidak akan tenang dan merasa penasaran sekali. Karena itu, dia dan Cian Ciu Jin Tou Teng Pian Hou mengunjungi Ouw Yang Coan dengan maksud mengajaknya ke Tionggoan.

Akan tetapi, setelah Ouw Yang Coan berkata begitu, akhirnya dia pun berkata.

"Karena Ouw Yang Tayhiap tidak bersedia ke Tionggoan bersama kami, maka kami mohon diri saja!"

"Mengapa harus terburu-buru? Alangkah baiknya kalian tinggal di sini beberapa hari, barulah berangkat ke Tionggoan," kata Ouw Yang Coan.

Yam Ceh Sianjin menggeleng kepala.

"Kami tidak mau merepotkan Ouw Yang Tayhiap, lebih baik kami mohon diri!"
Yam Ceh Sianjin dan Cian Ciu Jin Tou Teng Pian Hou memberi hormat kepada Ouw Yang Coan, lalu meninggalkan tempat itu.

Bersambung

0 Response to "Si Racun Dari Barat (See Tok Ouw Yang Hong Tay Toan) Bab 08"

Post a Comment