Si Racun Dari Barat (See Tok Ouw Yang Hong Tay Toan) Bab 20

Mode Malam
Chin Yung/Jin Yong
-------------------------------
----------------------------

Bab 20
"Mengapa kau ingin mencelakaiku?"

Bukan main terkejutnya Ouw Yang Coan. Namun dengan tepat diayunkan tongkat ularnya, menggunakan tiga jurus yang paling ganas, yaitu jurus 'Tok Coa Hui Thian' (Ular Beracun Terbang Ke Langit), 'It Liong Hoan Sih' (Naga Membalikkan Badan) dan jurus 'Liong Pan Hou Tu' (Naga Berputar Harimau Mencakar).

Kalau saja ketiga jurus itu berhasil menghantam kepala It Sok Taysu, hweeshio itu pasti mati seketika.

Akan tetapi, bersamaan dengan itu pula mendadak It Sok Taysu mengangkat sebelah tangannya. Secepat kilat jari telunjuknya menyentil. Bukan main! Sentilan itu berhasil membuat tongkat ular di tangan Ouw Yang Coan terpental. Ouw Yang Coan tahu dirinya tak dapat melawan It Sok Taysu. Dia hanya berharap ulat salju beracun berhasil menggigitnya. Namun tangan It Sok Taysu lebih cepat, begitu melihat ulat slaju beracun itu, jari telunjuknya langsung bergerak ke arah ulat salju beracun. Seketika ulat salju beracun tak dapat bergerak lagi.
It Sok Taysu menatap Ouw Yang Coan.

"Omitohud! Sepanjang kau tidak berbicara, matamu menyorotkan sinar yang penuh mengandung hawa membunuh, bukan ditujukan pada wanita, tentunya ditujukan padaku. Tapi di antara

kita tidak terdapat dendam, mengapa kau ingin mencelakaiku?"

It Sok Taysu tampak merasa geli, karena mengira Ouw Yang Coan cemburu padanya. Sebab, sepanjang jalan Bokyong Cen sering bercakap-cakap padanya sambil tertawa-tawa.

Namun Ouw Yang Coan membentak bengis.

"Taysu, tahukah kau siapa aku?"

"Kau bernama Ouw Yang Coan, jago tangguh nomor satu di daerah See Hek, aku sudah tahu itu!"

Ouw Yang Coan tertawa dingin.

"Di istana Tiong Yang, aku sama sekali tidak memberitahukan, bahwa guruku adalah Pek Bin Lo Sat!"

Terbelalak mata It Sok Taysu mendengar itu, air mukanya pun berubah hebat.
"Di mana gurumu sekarang? Apakah dia masih hidup?"

Ouw Yang Coan tertawa dingin lagi.

"Kau tidak mati, bagaimana mungkin guruku akan mati pula?"
Wajah padri itu berubah memucat.

"Tidak salah! Tidak salah! Aku tidak mati, bagaimana mungkin dia mati? Aku tidak mati, bagaimana mungkin dia mati?"

Kini It Sok Taysu tidak mirip hweeshio yang berilmu tinggi, melainkan mirip orang bloon yang tiada kesadarannya.

Sementara ulat salju beracun itu tidak bergerak sama sekali, entah masih hidup atau sudah mati Ouw Yang Coan mengambil tongkat ularnya, lalu berdiri di hadapan It Sok Taysu, entah dia ingin mengadu nyawa dengan hweeshio itu ataukah ingin kabur? Dia termangu-mangu memandang It Sok Taysu.

It Sok Taysu berjalan mondar-mandir dengan mulut terus bergumam.

"Siu Lo Ji! Siu Lo Ji! Delapan bagian naga, setan adalah Lo Sat, malaikat adalah jalannya manusia, apa yang jadi setan wanita, justru Lo Sat!"

Ouw Yang Coan tidak paham akan apa yang digunakan It Sok Taysu, namun wajah hweeshio itu sebentar tampak sedih, sebentar tampak gembira. Mendadak It Sok Taysu bergerak cepat sekali menyambar leher baju Ouw Yang Coan.

"Cepat katakan, di mana dia? Di mana dia? Apakah dia sudah mati? Mengapa dua puluh tahun dia tidak keluar?"

Ouw Yang Coan menyahut sengit, "Suhuku berada di dalam goa es, dia ingin membunuhmu! Dia ingin membunuhmu! Rambutnya sudah berubah putih semua, mukanya pucat pias tiada warna darah. Dia amat membencimu, kalau dia bertemu mu, dia pasti membunuhmu!"

It Sok Taysu tertawa. Ada kesedihan dalam wajahnya.

"Kau bohong! Kau membohongiku! Badannya begitu lemah lembut, bagaimana mungkin tinggal di dalam goa es? Dia amat cantik, bagaimana mungkin mukanya berubah begitu? Rambutnya hitam mengkilap, bagaimana mungkin berubah putih semua? Kau bohongi aku! Kau bohongi aku!"

Ouw Yang Coan tertawa dingin. Wajah It Sok Taysu jadi amat tak sedap dipandang.
"Aku hidup di dunia, tapi diriku dan hatiku telah mati. Hanya tersisa sedikit nafas saja. Itu pun karena kini aku masih punya sedikit keduniawian. Aku memikirkannya, tidak bisa melepaskan rasa rindu itu. Mengapa kau mendesakku? Mengapa kau ingin mencelakaiku? Kau bilang hidupnya tidak baik, kau pun hilang dia tidak cantik. Kenapa? Karena apa . . .?"

Ouw Yang Coan menyahut perlahan-lahan.

"Untuk apa aku membohongimu? Aku juga mencintai guruku, sebab dia yang menyelamatkanku, sekaligus mengajariku ilmu silat. Aku menyukainya, tidak sudi memberitahukanmu bagaimana rupanya, kalau ada orang melihatnya, bukan sanak familiku, aku pasti membunuhnya!"

Wajah It Sok Taysu pucat pias. Ditatapnya mata Ouw Yang Coan.

"Benarkah kata-katamu?"

Ouw Yang Coan manggut-manggut.

It Sok Taysu menundukkan kepala, duduk diam di atas tempat tidur. Keduanya saling diam membisu. Ouw Yang Coan ingin membunuh orang, namun tidak berhasil. Sedangkan pikiran It Sok Taysu kacau balau, tidak tahu harus bagaimana.
Mendadak badan It Sok Taysu melambung ke atas, namun posisi duduknya tidak berubah sama sekali. Ternyata dia menggunakan ilmu It Yang Sin Keng (Tenaga Sakti Satu Jari). Hanya dengan menunjuk ke tempat tidur, badannya sudah melambung ke atas.

Setelah itu, dengan dua jari dia menjepit ulat salju beracun yang amat dingin itu sambil mulutnya bergumam.

"Goa es amat dingin, apakah lebih dingin dari ulat salju ini? Hati manusia kejam dan beracun, apakah bisa dibandingkan dengan ulat salju beracun ini?" It Sok Taysu kelihatan seperti tidak tahu betapa ganasnya racun ulat tersebut. Dia menaruh ulat salju beracun itu di telapak tangannya, lalu berkata, "Ouw Yang Coan, walau ulat salju beracunmu ini amat beracun, namun tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku. Kau lihat . . ."

Mendadak telapak tangan It Sok Taysu berubah dingin sekali, setelah itu berkata lagi.

"Kau mempunyai ulat salju beracun, aku memiliki ilmu It Yang Ci Sin Kang, kau bisa berbuat apa terhadapku?"

Ouw Yang Coan menatapnya, melihat telapak tangan It Sok Taysu mulai bergemetaran, badannya pun tampak menggigil, namun It Sok Taysu masih kuat bertahan.

Menyaksikan itu, hati Ouw Yang Coan jadi tersentak.

"Suhu, kepandaiannya begitu tinggi, kalaupun kita memperoleh kitab pusaka Kiu Im Cin Keng, juga belum tentu dapat mengalahkannya . . ." kata Ouw Yang Coan dengan suara perlahan. Dia tampak putus asa, menghela nafas panjang sambil menggeleng-geleng kepala.

Jari tangan It Sok Taysu masih menjepit ulat salju beracun. Dia memandang Ouw Yang Coan seraya berkata, "Aku mengerahkan ilmu It Yang Ci Sin Kang, bukan untuk memamerkan kepan-daianku, melainkan agar kau tahu aku rela terkena racun ulat salju ini. Setelah aku mati, kau beri-tahukan pada Siu Lo Ji, biar dia tidak menyiksa diri lagi, itu bukan atas kemauanku!"

It Sok Taysu kembali duduk bersila sambil merangkapkan kedua tangannya. Ulat salju beracun masih berada di telapak tangannya. Hweeshio itu bergumam dengan suara rendah.

"Kau tinggal di goa es, aku memegang ulat salju beracun, tangan, kaki, dan hati dingin! Kau benci karena aku kejam, aku pikir kau keji. Aku kejam kau keji hati sendiri!"
Ouw Yang Coan tidak tahu apa sebabnya It Sok Taysu merangkapkan sepasang telapak tangannya memegang ulat salju beracun itu. Perlu diketahui, ulat salju itu mengandung racun dingin yang mematikan yang membuatnya heran, wajah It Sok Taysu justru tampak tenang dan berseri, kelihatannya seperti menyadari sesuatu.
Ouw Yang Coan tertegun menatapnya. Sejak berguru pada Pek Bin Lo Sat, setiap hari dia selalu berpikir ingin membalaskan dendam gurunya. Kini melihat It Sok Taysu hampir menemui ajalnya, terhibur sekali hatinya. Ingin rasanya segera memberitahukan gurunya, agar tidak hidup tersiksa lagi.

Mendadak terdengar suara keras pintu kamar terbuka. Tampak Bokyong Cen menerjang ke dalam. Gadis itu memandang It Sok Taysu, kemudian memandang Ouw Yang Coan. Dalam hati ia sudah tahu ada yang tak beres.

Gadis itu ingin menyambar It Sok Taysu, tapi Ouw Yang Coan cepat menariknya ke belakang.

"Kalau kau menyentuhnya, kau pun pasti mati!" cegah Ouw Yang Coan dengan suara dingin. Dia telah terkena racun ulat salju. Dia pasti mati!"

Mata Bokyong Cen berapi-api.

"Kau membunuhnya? Kau membunuhnya?" hentak gadis itu dengan suara keras.
Tanpa menghiraukan apa pun, Bokyong Cen langsung menerjang ke arah It Sok Taysu.
OuwYang Coan ingin mencegahnya, namun terlambat karena gadis itu sudah menerjang ke arah It Sok Taysu. Secepat kilat Bokyong Cen menepukkan tangannya hingga ulat salju beracun itu terlepas dari telapak tangan It Sok Taysu.

"Kau sudah gila! Kau sudah gila! Kau menggunakan ulat salju untuk meracuninya, dia . . . dia pasti mati!" bentak gadis itu, gusar dan marah.

"Bokyong Cen, dia mati atau tidak, itu urusan perguruanku,tiada urusan denganmu!" dengus Ouw Yang Coan.

Sementara ulat salju beracun yang jatuh di lantai mulai merayap. Karena gusar, Bokyong Cen nyaris maju untuk menginjak-injak ulat salju beracun tersebut sambil berteriak dengan mata melotot.

"Apa kepandaianmu? Tidak sanggup melawan orang, malah menggunakan ulat salju beracun, apakah begini tindakan orang gagah?"

"Bokyong Cen, dia adalah musuh besar guruku. Kau tak perlu campur tangan urusanku dengannya. Lebih baik menyingkir saja!"

Bokyong Cen memandang It Sok Taysu. Hatinya amat menghormatinya, karena tahu, di dunia ini jarang ada orang sebaik padri itu. Kalau dia bisa mendekati padri itu, tentunya akan memperoleh kemanfaatan yang tidak sedikit. Tapi, melihat tubuh It Sok Taysu yang keracunan hampir berubah jadi manusia es, tanpa terasa Bokyong Cen mengucurkan air mata, sambil terisak-isak.

"Ouw Yang Coan, kau bukan manusia! Kau bukan orang baik . . „"

Bokyong Cen menerjang ke luar, entah pergi ke mana. Seperginya gadis itu Ouw Yang Coan berlutut di hadapan It SokTaysu.

"Suhu, kalau kau tahu teecu telah membunuh musuh besarmu, tentunya kau tidak akan hidup menderita di goa es itu lagi. Hatimu akan sedikit terhibur. Mudah-mudahan suhu akan gembira mulai saat ini, tidak usah hidup tersiksa di goa es itu!" Ouw Yang Coan mendongakkan kepala memandang It Sok Taysu. "It Sok Taysu, kematianmu amat menyedihkan! Aku pasti akan memberitahukan suhu bagaimana perasaanmu!"
Ouw Yang Coan memang tidak paham akan ucapan It Sok Taysu tadi, tapi dia tahu pasti ada sesuatu di balik semua itu. Dia tidak dapat menerka. Hanya dia akan memberitahukan ucapan tadi kepada gurunya.

Sementara Bokyong Cen yang meninggalkan penginapan itu, hatinya tercekam sekali dan amat berduka. Gadis itu bepikir, mengapa semua orang begitu tak tahu aturan, justru harus saling membunuh? Seperti halnya 11 Sok Taysu, dia adalah

seorang padri saleh, namun Ouw Yang Coan dan gurunya justru ingin membunuhnya. Apa sebabnya? Bokyong Cen terus berjalan dengan perasaannya yang tercekam. Akhirnya sampailah dia di sebuah rimba. Karena bingung tak tahu harus berbuat apa, ia duduk di bawah sebuah pohon.

"Bokyong Cen! Bokyong Cen! Kau harus bagaimana? Harus bagaimana? Kembali ke Vihara Cin Am, ataukah berkelana di dunia persilatan? Kau tidak punya sanak saudara, nasibmu sungguh malang

Bokyong Cen semakin resah. Batinnya menggumam karena bingung yang menggerayangi pikirannya.

"Nona Bokyong, kau berbuat apa di sini?"

Hati Bokyong Cen tersentak kaget. Dia langsung menoleh ke arah suara itu berasal. Namun tak dilihatnya siapa pun.

"Siapa kau? Bagaimana kau tahu aku bernama Bokyong Cen?" serunya karena bingung.

"Goa es ribuan tahun, bertemu satu kali! Hanya tahu urusan lalu, tidak tahu penitisan yang akan datang!" Terdengar kembali suara itu bernada dingin.

Bokyong Cen berseru kaget mendengar itu. "Kau adalah Pek Bin Lo Sat lo cianpwee?" Terdengar suara dengusan ringan. "Hmm! Bokyong Cen, bukankah kau bersama
muridku? Kau meninggalkannya?"

"Aku tidak mau bersamanya! Aku tidak sudi bersamanya!"

"Kalau begitu, dia bersama adiknya?" tanya suara wanita tua itu.

"Ouw Yang Hong dibawa pergi oleh murid-murid Si Racun Tua yang di daerah utara!"
Wanita itu seperti terperanjat.

"Apa? Kau bilang apa?" tanya Pek Bin Lo Sal seakan tak percaya.

Sejeak terdiam, kemudian Bokyong Cen memberitahukan bahwa Ouw Yang Hong akan celaka di tangan si Raja Racun Tua itu.

"Katakan! Apakah anak Coan baik-baik saja?"

Bokyong Cen menyahut dengan ketus, "Apa baiknya muridmu itu? Dia sedang membunuh orang!"

"Dia sedang membunuh orang? Membunuh siapa?" tanya wanita tua itu, tertegun.
"Dia membunuh lt Sok Taysu itu!"

Usai menyahut, air mata Bokyong Cen bercucuran. Mendadak tampak sosok bayangan berkelebat ke hadapan gadis itu, dan langsung menjambak rambutnya.

"Di mana dia? Cepat katakan! Di mana dia?" desak wanita tua itu, tak sabaran.
Bokyong Cen menyahut tersendat-sendat, karena susah bernafas lantaran wanita itu menjambak rambutnya.

"Dia . . . dia berada di penginapan . . ."

"Penginapan mana?" sambut Pek Bin Lo Sat.

"Penginapan Yun Ih. Kalsu mau cari dia, pergi saja ke penginapan itu . . .!"

Tanpa berkata apa-apa lagi, wanita itu langsung menarik Bokyong Cen dan melesat begitu cepat laksana terbang.

Sementara itu, Ouw Yang Coan terus menatap It Sok Taysu yang sudah sekarat. Kelihatannya It Sok Taysu sedang teringat sesuatu. Bibirnya bergerak seakan mau bicara, namun tidak dapat mengeluarkan suara. Hanya sepasang matanya yang tampak basah, memandang Ouw Yang Coan.

"Setelah Taysu mati, aku pasti menguburmu. Namun aku harus memenggal kepalamu untuk dibawa ke daerah See Hek, diperlihatkan pada guruku!" ujar Ouw Yang Coan.
Walau tidak bisa bersuara, It Sok Taysu masih mendengar apa yang dikatakan Ouw Yang Coan, maka wajahnya tampak berseri.

Mendadak, terdengar suara pintu kamar terbuka. Seorang wanita berambut panjang dan putih menerobos ke dalam dan langsung memeluk It Sok Taysu. Secepat kilat dibawanya tubuh itu melesat pergi.

Ketika melihat ada seorang wanita menerobos ke dalam, Ouw Yang Coan melompat ke arah wanita itu, namun tiba-tiba ... "Anak Coan!"

Suara itu bernada sedih. Ouw Yang Coan mendengar jelas suara tersebut. Bukankah itu suara guru? Gurunya memeluk It Sok Taysu dan membawanya pergi, untuk apa?
Tanpa sempat berpikir, Ouw Yang Coan memburu keluar. Dilihatnya sesosok bayangan melesat ke arah rimba. Dia terus mengikuti di belakang, tapi tidak berhasil menyusulnya. Tak lama bayangan itu pun lenyap dari pandangannya.

Ketika berhasil menemukan, di bawah sinar rembulan yang remang-remang, tampak gurunya duduk di pinggir sungai sambil memeluk It Sok Taysu. Terdengar pula suara teriak-teriak dari wanita tua itu.

"Beng Lui! Beng Lui! Kau sadarlah! Sadarlah!"

Suara teriakan itu amat memilukan. Seketika Ouw Yang Coan sadar dirinya telah melakukan suatu kesalahan, tapi tidak tahu di mana letak kesalahan itu.
Ouw Yang Coan berdiri dekat sungai, memandang gurunya dengan wajah muram sekali. Rambut gurunya yang memutih itu berkibar-kibar terhembus angin.

"Beng Lui! Beng Lui! Aku yang mencelakaimu, aku yang meneelakaimu!"
Di saat bersamaan, Ouw Yang Coan mendengar suara langkah di belakangnya. Dia menoleh, dilihatnya sosok bayangan berjalan perlahan-lanan mendekatinya, yang ternyata Bokyong Cen.

Hati It Sok Taysu masih belum sampai terserang hawa dingin itu. Namun wajahnya sudah berubah kelabu dan sepasang matanya sayu tak bersinar. Tampaknya dia masih dapat melihat wanita yang sedang memanggilnya.

Bibir It Sok Taysu bergerak, kelihatannya ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak dapat
mengeluarkan suara.

Begitu melihat bibir It Sok Taysu bergerak, Pek Bin Lo Sat segera bertanya, "Bagaimana keadaanmu, Beng Lui? Apakah kau berniat mati? Kalau tidak, bagaimana mungkin anak Coan dapat membunuhmu? Dia sama sekali bukan lawanmu . . . Aku terus berpikir, setelah itu harulah aku mengerti mengapa kau bergelar It Sok! Kau adalah It Sok, kau hanya It Sok! It Sok berarti punya satu niat, niatmu itu cuma memikirkan diriku! Ya, kan? Beritahukanlah padaku, kau sadar, cepatlah sadar!"

Ouw Yang Coan dan Bokyong Cen terus memperhatikan It Sok Taysu berubah jadi manusia es. Pek Bin Lo Sat membuka mulutnya, lalu memasukkan obat pemunah racun ke mulut It Sok Taysu melalui mulutnya pula.

"Beng Lui, telanlah obat pemunah racun ini!

Kalau kau telan, aku pasti bisa menyelamatkanmu!"

Akan tetapi, It Sok Taysu tidak bisa menelan obat pemunah racun tersebut, bahkan mulut Pek Bin lo Sat berdarah. Wanita berambut panjang putih itu menangis, air matanya berderai-derai.

Setelah menangis sejenak, mendadak Pek Bin Lo Sat membentak-bentak dan mencaci maki.

"Sialan! Kau betul-betul sialan! Kau memiliki ilmu It Yang Ci Sin Kang, bagaimana mungkin kau akan terkena racun ular salju? Kau tidak sudi menggunakan ilmu It Yang Ci itu? Aku benci kau! Aku benci kau!"

Pek Bin Lo Sat terus memeluk It Sok Taysu sambil menangis dengan air mata bercucuran, terkenang masa lalu. Ketika itu It Sok Taysu merupakan seorang pemuda ganteng. Mereka berdua selalu berdampingan ke mana pun. Suatu masa yang indah dan menyenangkan. Namun kini yang berada di depan matanya, bukan pemuda ganteng itu lagi, pemuda ganteng tersebut telah hilang. Pek Bin Lo Sat tinggal di dalam goa es, dua puluh tahun tidak bertemu. Begitu bertemu, pemuda ganteng itu telah berubah jadi seorang hweeshio, bahkan harus mati dalam pelukannya. Semakin terkenang masa lalu, hati Pek Bin Lo Sat semakin tersayat-sayat.
Ouw Yang Coan terus memandang gurunya yang memeluk It Sok Taysu sambil menangis sedih.

Kini dia telah paham akan maksud tujuan gurunya, dan tahu pula mengapa gurunya tidak mau pergi mencari musuh besarnya, melainkan menyuruhnya pergi mencari kitab pusaka Kiu lm Cin Keng. Gurunya hanya ingin mempelajari ilmu yang tercantum di dalam kitab pusaka tersebut, setelah itu barulah pergi mencari It Sok Taysu ini, mengalahkannya lalu berkumpul kembali, atau membuat It Sok Taysu merasa menyesal. Mereka berdua ternyata sepasang kekasih. Itu membuat hati Ouw Yang Coan jadi tidak tenang dan menyesal sekali.

Kini Ouw Yang Coan jadi sadar akan satu hal, gurunya tidak menghendaki kematian It Sok Taysu. Tapi mengapa tidak memberitahukannya jangan membunuh hweeshio itu?
Ouw Yang Coan akhirnya menemukan jawabannya. Ternyata Pek Bin Lo Sat tahu kepandaian Ouw Yang Coan masih jauh di bawah kepandaian It Sok Taysu. Tentunya Ouw Yang Coan tidak dapat membunuh It Sok Taysu, sedangkan It Sok Taysu tidak akan membunuhnya, mereka berdua pasti tidak akan bertarung mati-matian.
Akan tetapi, siapa nyana Ouw Yang Coan turun tangan, dengan menggunakan ulat salju beracun. Dan tidak mengira It Sok Taysu membiarkan dirinya terkena racun tersebut, hingga harus menemui ajalnya.

Hingga hari terang, Pek Bin Lo Sat masih memeluk mayat It Sok Taysu. Ouw Yang Coan tidak berani bersuara. Bokyong Cen memandangnya, Ouw Yang Coan manggut-manggut. Gadis itu segera mendekati Pek Bin Lo Sat.

"Lo cianpwe, lepaskan dia, dia sudah mati!"

Namun Pek Bin Lo Sat tidak menghiraukan sama sekali, tetap memeluk erat-erat mayat It Sok Taysu.

Melihat Pek Bin Lo Sat tidak bersuara, gadis itu tidak berani bergerak lagi, hanya berkata dalam hati. Kelihatannya di antara orang dengan orang punya kebencian dan dendam yang tak dapat dijelaskan. Seperti halnya Pek Bin Lo Sat dengan It Sok Taysu, mereka berdua merupakan sepasang orang aneh, tidak tahu ada kebencian, dendam, atau cinta. Namun kini mendengar tangisan Pek Bin Lo Sat yang memilukan, orang yang berhati bejat pun akan terharu mendengarnya.

Sementara Pek Bin Lo Sat membawa mayat It Sok Taysu ke dalam sungai, mungkin untuk dibersihkan. Tak lama setelah berada di dalam air, terlihat pula belasan ekor ikan mati mengambang di permukaan air, ternyata ikan-ikan itu pun ikut mati terkena racun di tubuh It Sok Taysu.

Bokyong Cen mengeraskan hati untuk ikut turun ke sungai mendekati Pek Bin Lo Sat, sedangkan Pek Bin Lo Sat tetap berada di dalam sungai sambil memeluk mayat It Sok Taysu.

Bokyong Cen memandang Pek Bin Lo Sat seakan memohon diijinkan membantu.
"Lo cianpwe tidak takut dingin, tapi It Sok Taysu justru takut dingin .. ."
Pek Bin Lo Sat menyahut.

"Kau bilang apa? Kau bilang dia takut dingin?"

Bokyong Cen mengangguk, lalu memandang Pek Bin Lo Sat dengan iba. Sementara Pek Bin Lo Sat terus memeluk It Sok Taysu erat-erat.

"Beng Lui! Kau takut dingin? Kau memiliki ilmu It Yang Ci, kau tidak akan takut dingin. Ya, kan? Aku lihat kau tidak mau berada di dalam air yang amat dingin ini, kau hanya ingin duduk menghadap lampu Sang Buddha saja!"

Usai berkata begitu, Pek Bin Lo Sat membawa mayat It Sok Taysu ke darat. Ditaruhnya mayat itu di pinggir sungai, lalu berlutut di sisi mayat seraya berkata perlahan-lahan.

"Beng Lui, kau sudah mati? Betulkah kau sudah mati?"

Air mata Pek Bin Lo Sat bercucuran. Ouw Yang Coan yang termangu-mangu akhirnya memberanikan diri mendekati Pek Bin Lo Sat, kemudian berlutut di hadapannya.

"Suhu, teecu memang harus mati!"

Pek Bin Lo Sat menyahut dengan sedih.

"Anak Coan, mengapa kau harus mati? Ini adalah urusanku dengannya, tiada hubungannya denganmu!"

Ouw Yang Coan diam karena tahu dirinya tidak boleh banyak bicara lagi.
Pek Bin Lo Sat menggunakan ujung lengan bajunya membersihkan muka It Sok Taysu.
"Beng Lui, dua puluh tahun kau tidak melihatku, kita sudah tua! Kau pernah bilang, hidup manusia bagaikan mimpi .. ."

Pek Bin Lo Sat mulai membersihkan badan It Sok Taysu.

"Beng Lui, apakah kau amat kesepian? Kau tidak mau berpisah denganku? Tapi mengapa ketika itu kau kabur dariku? Mengapa kau tidak memberitahukanku sama sekali? Asal kau memberitahukan padaku, apa sebabnya kau tidak mau bersamaku, aku pasti tidak akan menyulitkanmu. Tapi mengapa kau tidak memberitahukan padaku?"
Pek Bin Lo Sal menengadahkan kepala, lalu menangis tersedu-sedu dengan air mata berderai-derai.

Entah bagaimana perasaan Ouw Yang Coan saat ini. Sejak jadi murid Pek Bin Lo Sat, dia selalu dipeluk oleh gurunya. Namun ketika memeluknya, gurunya sering menyebut nama 'Beng Lui'! Siapa Beng Lui itu? Ouw Yang Coan sama sekali tidak tahu. Yang dia tahu gurunya amat membenci dan dendam terhadap orang tersebut.

Akan tetapi, kini Ouw Yang Coan baru sadar akan semua itu, dia membenturkan kepalanya pada tanah.

"Suhu, anak Coan telah bersalah terhadapmu . . ." ucapnya dengan terisak-isak.
Usai berkata begitu, mendadak Ouw Yang Coan mengangkat tongkat ularnya memukul kepalanya sendiri.

Kalau mengena, niscaya kepalanya hancur berantakan. Namun Pek Bin Lo Sat tidak bergerak, hanya memandang Ouw Yang Coan yang memukul kepalanya sendiri. Wajahnya tampak berseri, seakan gembira sekali.

Bukan main terkejutnya Bokyong Cen. Ia dengan cepat melesat ke arah Ouw Yang Coan dan langsung merebut tongkat ular itu, lalu menatap Pek Bin Lo Sat dengan sengit sekali.

"Lo cianpwe, Ouw Yang toako mau bunuh diri, mengapa Lo cianpwe tidak berusaha mencegahnya?"

"Kau adalah anak kecil, mengerti apa? Memang baik dia mati, begitu pula It Sok Taysu! Kuberitahukan padamu, kalau Ouw Yang toakomu mati, aku pun tidak akan hidup seorang diri!"

Bokyong Cen makin tertegun. Kau begitu berduka atas kematian It Sok Taysu, bagaimana mungkin akan mati bersama muridmu pula? Muridmu membalaskan dendammu itu, kalaupun salah, itu atas kemauanmu. Kau yang membenci dan mendendam It Sok Taysu, sehingga menimbulkan kejadian ini!

Bokyong Cen memandang Pek Bin Lo Sat, kemudian mencetuskan semua itu, hingga wajah Pek Bin Lo Sat semakin tak sedap dipandang.

Ouw Yang Coan yang menyaksikan itu segera membentak.

"Nona Bokyong, jangan berbicara lagi!"

Akan tetapi,Bokyong Cen sama sekali tidak mendengar, terus menyerocos. Setelah itu, sepertinya menunggu Pek Bin Lo Sat turun tangan membunuhnya.
Namun Pek Bin Lo Sat diam saja, tidak turun tangan membunuh Bokyong Cen, melainkan menyahut dengan dingin.

"Apa yang kau katakan memang tidak salah, semau ini adalah gara-garaku, tidak dapat menyalahkan orang lain!"

Pek Bin Lo Sat menatapnya. Tatapan itu mengandung arti yang dalam. Karena Bokyong Cen berani berkata blak-blakan, Pek Bin Lo Sat terkesan baik terhadapnya.
Mayat It Sok Taysu dibaringkan. Mereka bertiga duduk berhadapan, tiada seorang pun bersuara, hanya suara air sungai yang terdengar.

Ouw Yang Coan tidak tahu harus bagaimana baiknya. Hatinya menyesali perbuatannya. Aku telah bersalah! Aku tidak tahu, guru begitu membencinya, tapi juga merindukannya setiap hari. Mengapa aku sedemikian bodoh? Mengapa It Sok Taysu begitu rela mati? Hanya karena dalam hatinya berteduh seorang wanita, tidak lain adalah gurunya.

Bokyong Cen yang menyaksikan kematian It Sok Taysu, hatinya jadi hambar. Ia mulai berpikir lagi. Kelihatannya jadi lelaki baik memang sulit, orang baik malah cepat mati. It Sok Taysu yang begitu lemah lembut, juga berkepandaian tinggi, boleh dikatakan tidak pernah berbuat jahat, namun dia justru mati secara mengenaskan. Kelihatannya orang baik tidak panjang umur, sungguh sial orang baik di dunia. Bagaimana dengan Ouw Yang Coan, dia orang baik atau orang jahat? Dia begitu setia terhadap gurunya, juga amat menyayangi adiknya. Tapi ketika membunuh orang, dia tampak kejam sekali. Sepertinya caranya membunuh It Sok Taysu, tidak memberi ampun sama sekali.
Mendadak Pek Bin Lo Sat bersuara, dia bertanya pada Ouw Yang Coan.

"Anak Coan, sebelum mati, dia hilang apa?"

Ouw Yang Coan tersentak, lalu berpikir sejenak.

"Dia bergumam sendiri, sepertinya bergumam tentang kehidupan!" sahutnya kemudian.

"Katakan biar aku mendengarnya!" Pek Bin Lo Sat menambahkan. "Yang kau ingat saja!"

"Aku memberitahukannya bahwa guru tinggal di goa es selama dua puluh tahun. Dia kurang percaya, aku menyatakan benar!"

Pek Bin Lo Sat manggut-manggut.

Mendadak Bokyong Cen menyelak, "Aku masih ingat akan gumamannya, biar aku yang memberitahukan pada Lo cianpwe!"

Pek Bin Lo Sat mengangguk. "Baik, beritahu-kanlah!"

"It Sok Taysu bergumam, kau tinggal di goa es, aku memegang ulat salju beracun! Tangan, kaki dan hati dingin! Kau benci karena aku kejam, aku pikir kau keji! Aku kejam kau keji hati sendiri!"

Pek Bin Lo Sat mendengar dengan penuh perhatian, setelah itu dia pun bergumam.
"Kau tinggal di goa es, aku memegang ulat salju beracun! Tangan, kaki, dan hati dingin! Beng Lui, kau boleh tinggal di goa es itu, tapi tidak boleh memegang ulat salju beracun! Tinggal di goa es bisa hidup, lukaku sudah hampir sembuh! Namun memegang ulat salju beracun, pasti akan keracunan! Apakah kau sudah pikun?" Air mata Pek Bin Lo Sat berlinang-linang. "Kau benci karena aku kejam, aku pikir kau keji. Aku kejam kau keji hati sendiri! Bagus ucapanmu itu, aku yang pikir kau kejam. Aku yang pikir kau kejam! Memikirkan dan merindukanmu, hingga rambutku berubah putih semua ..."
Ouw Yang Coan dan Bokyong Cen terus memandang Pek Bin Lo Sat. Ternyata Pek Bin Lo Sat amat merindukan U Sok Taysu, sehingga dirinya berubah tidak karuan begitu.
Ouw Yang Coan dan Bokyong Cen saling memandang. Mereka berdua menggeleng-gelengkan kepala dan diam-diam menarik nafas panjang.

Pek Bin Lo Sat, Ouw Yang Coan, dan Bokyong Cen terus memandang It Sok Taysu yang berbaring di lubang kubur. Wajah It Sok Taysu tampak tenang dan berseri, seakan sudah terlepas dari berbagai macam penderitaan.

"Anak Coan, kuburlah dia!" perintah Pek Bin Lo Sat kepada muridnya.

Ouw Yang Coan mengangguk, lalu bersama Bokyong Cen memapah Pek Bin Lo Sat ke samping. Kemudian barulah mereka berdua menimbun lubang kubur itu. Sesudah beres, Ouw Yang Coan ingin menulis nama It Sok di makam tersebut, tapi Pek Bin Lo Sat tampak mencegahnya.

"Ketika masih hidup dia tidak mau meninggalkan nama, setelah mati pun begitu. Karena itu, lebih baik jangan menulis namanya pada kuburannya ini!"

Ouw Yang Coan mengangguk, lalu bersujud di hadapan makam It Sok Taysu. Ketika bangkit berdiri, dia menoleh ke arah Pek Bin Lo Sat.

"Suhu, kita mau ke mana?"

Pek Bin Lo Sat berpikir sejenak.

"Anak Coan, aku dan kau berada di Tionggoan, tapi tiada yang harus dikerjakan. Kini kau kehilangan adikmu, kita harus pergi mencarinya!"
Mendengar itu, Ouw Yang Coan merasa gembira.

"Kalau suhu bersedia turun tangan, tentunya aku tidak takut pada mereka. Kepandaian mereka amat tinggi, aku bukan tandingan mereka."

"Aku tahu guru mereka amat terkenal dan jahat, dia menyebut dirinya sebagai penjahat besar, maka selalu melakukan hal-hal yang menyimpang dari peraturan rimba persilatan. Aku lihat adikmu sampai di sana, pasti celaka."

Mendengar itu, hati Bokyong Cen juga tergerak. Aku kabur dari vihara Cin Am, tentunya tidak baik untuk kembali ke sana. Kalau bertemu guru dan para biarawati vihara Cin Am, aku harus bilang apa. Lebih baik aku ikut mereka ke daerah utara, apabila bisa membantu mereka mencari Ouw Yang Hong, ini lebih baik.

"Lo cianpwe, bolehkah aku ikut kalian pergi mencari saudara Ouw Yang Hong itu?"

"Kalau kau rela, tentu saja boleh . . ." sahut Pek Bin Lo Sat bernada hambar.

Wajah Bokyong Cen berseri.

"Terimakasih, Lo cianpwe."

Mereka bertiga menuju ke daerah utara untuk mencari Ouw Yang Hong. Dalam perjalanan ini, mereka jarang berbicara. Perjalanan yang membutuhkan waktu, membuat mereka merasa lelah.

Sampai di daerah utara, mereka bertanya pada penduduk. Ternyata perkampungan Liu Yun Cun berada di depan. Betapa girangnya mereka bertiga, biar bagaimana pun, asal sampai di perkampungan tersebut, pasti akan tahu keadaan Ouw Yang Hong.
Akan tetapi, ketika sampai di perkampungan Liu Yun Cun, mereka bertiga melongo.

Ternyata tiada seorang pun berada di perkampungan itu. Yang tampak hanya puing-puing saja, dan amat sunyi sepi.

Tak lama kemudian mereka bertiga meninggalkan perkampungan itu, kemudian bertanya pada salah seorang penduduk. Orang itu memberitahukan, bahwa tahun kemarin mendadak terjadi kebakaran di perkampungan itu. Banyak orang yang mati dan ada pula yang berhasil menyelamatkan diri. Yang berhasil menyelamatkan diri menceritakan, bahwa majikan mereka sudah tiada. Ketika
terjadi kebakaran, tiada seorang pun yang sudi memadamkan api, sebab majikan perkampungan itu amat jahat. Akhirnya perkampungan itu ludes dilalap api. Setelah itu, banyak setan berkeliaran di tempat itu. Tiap tengah malam terdengar suara tangisan, yang diselingi suara nyanyian. Tapi sesudah itu, tak pernah terdengar lagi suara-suara tersebut.

"Paman tua! Apakah tahun kemarin pernah muncul seorang sastrawan di tempat ini?" tanya Ouw Yang Coan.

Orang tua itu menggeleng kepala.

"Entahlah! Yang mahir ilmu silat pun telah mati, apalagi seorang sastrawan. Ya, kan?"
Bukan main terkejutnya Ouw Yang Coan.

"Maksud Paman tua sastrawan itu sudah mati?"

Orang tua itu mengangguk.

"Ya. Dia pasti sudah mati terbakar."

Hati Ouw Yang Coan jadi sedih sekali, dan air matanya langsung meleleh.

"Adikku! Adikku! Kau sudah mati? Kau sudah mati?" gumamnya.

"Ouw Yang Toako! Belum tentu Saudara Ouw Yang Hong sudah mati, janganlah kau bersedih hati!" kata Bokyong Cen menghibur.

"Adikku tidak begitu mengerti ilmu silat, dia pasti sudah mati. Bagaimana mungkin dia dapat menyelamatkan diri dari kobaran api?" sahut Ouw Yang Coan terisak-isak.
Pek Bin Lo Sat tertawa dingin seraya berkata.

"Anak Coan, untuk apa kau menangisinya? Kau dan aku adalah orang yang bernasib malang. Daripada dia hidup menderita, bukankah lebih baik dia mati? Mulai sekarang kau hidup bersamaku di dalam goa es, mati di sana pun akan tenang."

"Suhu, aku bersusah payah membesarkannya, agar dia bisa menyambung keturunan Ouw Yang. Siapa tahu dia justru mati di tangan si Racun Tua itu," kata Ouw Yang Coan dengan wajah murung.

"Anak Coan, adikmu belum ketahuan jejaknya. Menurutku, begitu adikmu jatuh ke tangan si Racun Tua, lalu dibunuhnya. Anak Coan, lebih baik kau ikut aku kembali ke See Ilek, lalu hidup di sana saja!"

Ouw Yang Coan diam. Pek Bin Lo Sat memandangnya dan tahu bahwa sejak Ouw Yang Coan belajar ilmu silat padanya di goa es, sebab ilmu silatnya berasal dari aliran sesat dan beracun, maka membuatnya tidak normal lagi, artinya tidak jantan lagi seperti seorang lelaki, alias banci. Karena itu, dia sering bermesra-mesraan dengan Pek Bin Lo Sat, saling memeluk dan lain sebagainya, maka membuat mereka berdua tidak mau berpisah lagi, hidup maupun mati harus tetap bersama.

Sesungguhnya Ouw Yang Coan mempunyai suatu rencana, yaitu mencarikan seorang wanita untuk Ouw Yang Hong, agar keluarga Ouw Yang mempunyai turunan, barulah hatinya akan merasa lega. Tapi kini adiknya sudah tiada. Dia harus bagaimana?
Ouw Yang Coan berkata pada Pek Bin Lo Sat.

"Suhu, aku bersedia ikut kau tinggal di goa es itu, selanjutnya tidak akan keluar, dan juga tidak akan berhubungan dengan kaum rimba persilatan. Tapi begitu adikku mati, keluarga Ouw Yang pun putus turunan. Bagaimana setelah aku mati bertemu orang tuaku di alam baka?"

Seusai berkata demikian, Ouw Yang Coan menangis sedih dengan air mata bercucuran.
Pek Bin Lo Sat terus memandangnya, kemudian memandang Bokyong Cen yang diam dari tadi. Mendadak timbul pikiran yang aneh. Siapa bilang keluarga Ouw Yang tidak punya turunan? Aku justru menghendaki keluarga Ouw Yang punya turunan Hampir sembilan belas tahun aku tinggal di daerah See Hek. Cukup banyak harta yang kukumpulkan. Aku harus membantunya jadi orang terkaya di daerah See Hek.
Pek Bin Lo Sat memang orang aneh. Apa yang dipikirkannya pasti dilaksanakannya pula.

"Nona Bokyong, aku akan memberitahukan satu hal padamu," katanya kepada Bokyong Cen.

Bokyong Cen tersentak, karena gadis itu sedang mengenang perpisahannya dengan Ouw Yang Hong.

"Lo Cianpwee ingin memberitahukan tentang hal apa?" tanyanya.

Pek Bin Lo Sat tidak menyahut, melainkan berkata kepada Ouw Yang Coan.

"Anak Coan, kau menyingkirlah sebentar! Aku ingin bicara dengan Nona Bokyong."

Ouw Yang Coan mengangguk, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

Setelah melihat Ouw Yang Coan berjalan agak jauh, barulah Pek Bin Lo Sat berkata pada Bokyong Cen.

"Nona Bokyong, aku dengar dari anak Coan, kau kabur dari vihara Cin Am! Benarkah itu?"

Bokyong Cen mengangguk, kemudian menundukkan kepala. Ternyata gadis itu merasa malu akan hal itu.

Pek Bin Lo Sat berkata lagi.

"Keluarga Ouw Yang hanya dua bersaudara. Di antara mereka memang Ouw Yang Honglah yang lebih kuat. Tapi sungguh sayang sekali, begitu memasuki daerah Tionggoan, dia jatuh di tangan si Racun Tua dan dibunuh pula. Kini hanya tinggal Ouw Yang Coan seorang, bagaimana dia hidup?"

Bokyong Cen tercengang mendengar itu, bahkan juga tidak mengerti.
"Lo cianpwe menghendaki aku berbuat apa?" tanyanya.

Pek Bin Lo Sat memandang Bokyong Cen dengan sedikit berbinar-binar.

"Baik, akan kuberitahukan. Bersediakah kau menjadi istri Ouw Yang Coan?" katanya kemudian.

Bokyong Cen tersentak. Gadis itu sama sekali tidak menyangka Pek Bin Lo Sat akan mengatakan hal tersebut. Walau dia melakukan perjalanan bersama Ouw Yang Coan, tapi selama itu tidak pernah memikirkan hal tesebut. Oleh karena itu, apa yang dikatakan Pek Bin Lo Sat itu membuatnya tertegun.

Pek Bin Lo Sat tersenyum, lalu berkata dengan lembut.

"Aku yang membesarkan anak Coan. Tentunya aku tahu jelas bagaimana sifatnya. Dia agak pendiam, namun berhati hangat. Kalau kau setuju, aku akan menyuruhnya memperistrimu."

Bokyong Cen menundukkan kepala.

"Lo Cianpwe, aku adalah orang Vihara Cin Am. Walau aku bukan biarawati, namun setelah diculik oleh Pek Tho San San Kun, hatiku telah remuk. Untung Tuan Ouw Yang menyelamatkanku. Selama ini aku telah banyak melihat dan mengerti hidup matinya manusia hanya dalam waktu singkat saja. Karena itu, hatiku jadi hambar, ingin kembali ke Vihara Cin Am jadi biarawati."

Pek Bin Lo Sat tersentak. Dia tidak menduga bahwa gadis semuda itu sudah punya niat seperti itu. Padahal dia merupakan gadis yang cantik jelita. Sayang sekali kalau jadi biarawati.

Berselang sesaat, Pek Bin Lo Sat berkata.

"Nona Bokyong, aku mengatakan ini padamu bukan cuma demi anak Coan, melainkan juga demi dirimu."

Bokyong Cen menatap Pek Bin Lo Sat dengan tidak mengerti. Maka Pek Bin Lo Sat segera menjelaskan.

"Tahukah kau? Sebetulnya kau telah terkena racun ulat salju. Anak Coan memberitahukan bahwa kau menepuk telapak tangan It Sok Taysu demi menyelamatkannya, namun kau tidak tahu akan keganasan racun ulat salju. Ketika kau menyentuh kau terkena racun ulat salju itu. Hanya saja reaksi racun itu agak lembut. Tapi pada waktu itu kau terus berlari, sehingga racun ulat salju menjalar ke seluruh tubuhmu. Kalau kau ingin terus hidup, hanya ada dua jalan. Kesatu kau harus belajar ilmu It Yang Ci keluarga Toan di Tayli. Tapi itu membutuhkan waktu. Kedua kau harus menikah dengan anak Coan, sebab dengan adanya hubungan suami istri, racun itu akan punah secara perlahan-lahan. Aku adalah seorang wanita, tentunya tidak bisa bermesra-mesraan denganmu. Anak Coan adalah lelaki. Apabila dia memperistrimu, barulah mengajarimu. Aku sudah beritahukan ini padanya, dia berhati baik dan bersedia membantumu. Agar tidak mempermalukanmu, kuusutkan kalian menikah saja. Mengenai ilmu It Yang Ci, semua kaum rimba persilatan tahu bahwa ilmu tersebut tidak boleh diturunkan kepada orang luar. Lagi pula hanya kaum lelaki yang dapat belajar ilmu tersebut."

Bukan main terkejutnya Bokyong Cen mendengar itu. Dia berkata dalam hati. Apakah aku akan mati begitu saja? Kalau masih ingin hidup, tentunya harus menikah dengan Ouw Yang Coan. Haruskah itu?

Gadis itu terus berpikir. Pek Bin Lo Sat memperhatikannya, kemudian berkata.
"Nona Bokyong, lima belas hari kemudian, racun itu pasti bereaksi. Kalau tidak mulai dipunahkan dari sekarang, sampai saatnya nanti kau tidak akan dapat tertolong lagi. Sebelum mati, kau pasti tersiksa dan amat menderita sekali."

Betapa terkejutnya Bokyong Cen terhadap apa yang dikatakan Pek Bin Lo Sat. Tapi dia masih setengah percaya dan setengah tidak. Karena itu, dia berpikir. Benarkah apa yang dikatakan Pek Bin Lo Sat? Ataukah ... dia cuma demi muridnya saja? Dia menghendaki agar aku menikah dengan muridnya, maka lalu mengarang yang bukan-bukan.

Sementara Pek Bin Lo Sat terus memperhatikannya. Dia tahu bahwa gadis iu kurang mempercayai perkataannya, maka lalu berkata sambil tersenyum.

"Cobalah peganglah nadimu, lalu kerahkan lwee kangmu, kau pasti akan mengetahuinya!"

Bokyong Cen mengangguk, lalu memegang nadinya sesuai dengan apa yang dikatakan Pek Bin Lo Sat. Seketika dia merasa sekujur badannya sakit, sepertinya hawa murninya akan buyar. Wajahnya langsung berubah pucat pias, tak mampu bersuara sedikit pun.

Kelihatannya Pek Bin Lo Sat berkata sesungguhnya. Bokyong Cen memandang Pek Bin Lo Sat, namun tidak tahu harus berkata apa. Dia bersedia menjadi istri Ouw Yang Coan, tapi tidak suka tinggal di daerah See Hek, bahkan tidak suka Pek Bin Lo Sat yang amat aneh. Tapi dia harus berbuat apa? Bokyong Cen mulai menangis.

"Kalau Ouw Yang Toako setuju, aku pasti menuruti perkataan lo cianpwe," katanya terisak-isak.

Ouw Yang Coan tidak tahu gurunya mau bicara apa dengan Bokyong Cen. Namun dia tahu jelas, bahwa selama ini gurunya melakukan sesuatu tidak pernah di belakangnya. Kini gurunya ingin bicara dengan Bokyong Cen, mengapa harus menyuruhnya menyingkir? Setelah berpikir sejenak, dia yakin bahwa gurunya mempunyai urusan penting berunding dengan Bokyong Cen.

Berselang beberapa saat kemudian, Pek Bin Lo Sat mendekatinya sambil tersenym-senyum, lalu memandangnya dengan penuh perhatian.

"Anak Coan, aku sudah bicara dengan Bokyong Cen, dia setuju menjadi istrimu. Kalau kau menikah dengannya, keluarga Ouw Yang pasti mempunyai turunan."
Walau Ouw Yang Coan amat menghormati gurunya, tapi ketika mendengar ucapannya itu dia amat gusar sekali.

"Siapa bilang aku ingin punya istri? Siapa bilang aku ingin memperistri Nona Bokyong?" katanya sambil melototi gurunya.

Pek Bin Lo Sat memandangnya.

"Anak Coan, apa yang terkandung di dalam hatimu, aku mengetahuinya. Kini adikmu sudah mati. Kalau kau tidak mau menikah, bukankah keluarga Ouw Yang akan punah?"
Ouw Yang Coan terus melotot.

"Aku memang tidak boleh bersalah terhadap leluhur, juga tidak boleh bersalah terhadap diriku sendiri. Suhu menghendakiku punya istri, aku pasti menurut, namun tidak mungkin harus memperistri Nona Bokyong!" katanya sepatah demi sepatah.
"Anak Coan, kau ingin memperistri siapa? Apakah kau sudah jatuh hati pada gadis See Hek? Kalau begitu, mari kita cari gadis itu!"

Ouw Yang Coan menatap Pek Bin Lo Sat dengan tajam.

"Suhu, wanita yang ingin kuperistri adalah Suhu sendiri," sahutnya dengan sungguh-sungguh.

Wajah Pek Bin Lo Sat berseri. Wanita itu berjalan perlahan-lahan mendekati Ouw Yang Coan, lalu membelai-belainya seraya berkata dengan ringan.

"Anak Coan, kau sudah tumbuh besar. Kau sudah tumbuh besar! Tumbuh besar sebagai seorang lelaki! Tapi kau harus tahu, biasanya seorang murid memperistri gurunya, karena gurunya amat cantik. Sedangkan gurumu ini tidak menyerupai manusia, lagi pula dulu dijuluki Pek Bin Lo Sat, sebab amat cantik. Namun kini . . . Aaaah! Anak Coan, kau jangan bodoh!"

"Suhu menghendaki aku punya istri, maka aku memperistri Suhu. Suhu setuju, kan?" kata Ouw Yang Coan.

Bukan main terharunya Pek Bin Lo Sat. Dia terus-menerus membelai Ouw Yang Coan sambil berkata perlahan-lahan.

"Anak Coan, kau harus tahu, aku bukan seorang wanita yang baik, melainkan hantu. Banyak wanita baik di dunia, mengapa kau memilihku?"
Ouw Yang Coan memandangnya. Dalam matanya penuh diliputi cinta kasih dan kehangatan.

Berselang sesaat, Pek Bin Lo Sat berkata.

"Ketika aku berada di Tionggoan, bertemu Tuan Muda Toan. Dia amat ganteng dan romantis. Sekali memandangnya, aku langsung jatuh hati padanya. Aku dan dia bersama-sama melewati hari-hari yang indah. Tapi dia tidak tahu bahwa adatku kurang baik. Aku sering melampiaskan adatku terhadapnya. Pada suatu hari, secara diam-diam dia meninggalkanku. Karena itu, aku amat membencinya sehingga aku mengambil keputusan untuk membunuhnya. Lantaran sering memikirkannya, akhirnya aku berubah menjadi begini. Anak Coan, kau tidak pernah melihat Pek Bin Lo Sat yang cantik jelita. Kau kira gampang aku memperoleh julukan tersebut?" Wanita itu menghela nafas panjang. "Anak Coan, aku suka kau. Kalau aku adalah wanita baik yang cantik jelita, tentunya aku akan bersamamu, dan siapa pun tidak dapat memisahkan kita. Padahal sesungguhnya, hubunganku dengan It Sok Taysu telah berlalu. Sesungguhnya aku dan kau barulah merupakan pasangan yang saling mencinta. Namun rupaku seperti ini. Kalaupun kau tidak kabur, aku juga merasa rendah diri. Aku sudah mengambil keputusan untuk kembali ke goa es. Begitu sampai di sana, pintu goa akan kututup. Bukankah itu baik sekali? Karena aku bisa tidur selama-lamanya."

Walau bagaimana pun, Pek Bin Lo Sat tetap seorang wanita. Seusai berkata air matanya berderai-derai. Kemudian dia menengadahkan kepalanya ke langit seraya berseru dengan ringan.

"Oh, Thian (Tuhan)! Mengapa aku harus memikul dosa dan penderitaan ini? Mengapa aku tidak bertemu anak Coan dari dulu? Aaaah! Mengapa aku harus bertemu Tuan Muda Toan yang romantis itu?" Dia menundukkan kepala, kemudian bergumam. "Di tepi telaga itu, aku bertemu seorang wanita cantik. Rambutnya panjang terurai dan sepasang alisnya lentik. Jalannya lemah gemulai, sungguh mempesona! Senyumannya menawan dan memukau . . ."

Sejak kecil Ouw Yang Coan tidak pernah belajar syair, maka tidak mengerti tentang syair yang dibaca Pek Bin Lo Sat. Namun dia tahu bahwa itu adalah sebuah syair yang mengisahkan percintaan.

Berselang sesaat, Pek Bin Lo Sat menatap Ouw Yang Coan seraya berkata.

"Anak Coan, aku tahu bagaimana perasaan di dalam hatimu. Tapi biar bagaimana pun, kau harus memperistri wanita yang baik demi keluarga Ouw Yang. Tentang ini kau harus mendengar perkataanku."

"Suhu, aku . . ." sahut Ouw Yang Coan terputus.

"Anak Coan, kalau kau tidak mendengar perkataanku, aku pasti akan mati di hadapanmu. Beng Lui telah mati, kini aku hidup di dunia sudah tidak memiliki apa-apa. Apabila kau tidak mendengar

perkataanku, aku pasti mati."

Ouw Yang Coan mengucurkan air mata.

"Baik, Suhu! Aku pasti mendengar perkataanmu," kata Ouw Yang Coan terisak-isak.

Pek Bin Lo Sat tersenyum. Sedangkan Ouw Yang Coan menundukkan kepala. Begitulah Ouw Yang Coan menikah dengan Bokyong Cen, disaksikan Pek Bin Lo Sat.
Mereka berdua bersujud pada langit dan bumi, kemudian juga bersujud pada Pek Bin Lo Sat.

"Mulai hari ini,kalian berdua sudah sah sebagai suami istri. Semoga kalian berdua hidup bahagia hingga tua!"

Pek Bin Lo Sat memberi restu pada mereka berdua. Tak terasa hari pun sudah gelap.
Mereka bertiga mencari penginapan. Sampai di penginapan, Pek Bin Lo Sat berkata pada Ouw Yang Coan.

"Anak Coan, kini kau dan Bokyong Cen sudah merupakan suami istri. Luka Bokyong Cen cukup parah, kau harus segera mengobatinya!"

Ouw Yang Coan mengangguk, begitu pula Bokyong Cen.

Tengah malam, Ouw Yang Coan berdiri di halaman penginapan. Dia tidak ingin masuk ke kamarnya, cuma memandang ke dalam kedua kamar. Salah satu kamar dihuni Pek Bin Lo Sat. Mulai hari ini, dia tidak akan berpeluk-pelukan lagi dengan gurunya itu, sebab kini dia sudah menjadi suami Bokyong Cen. Bagaimana gurunya melewati malam ini? Apakah gurunya akan menangis seorang diri karena berduka?
Ouw Yang Coan terus berpikir, akhirnya memberanikan diri mendekati kamar Pek Bin Lo Sat. Pintu kamar itu didorongnya, tapi dikunci dari dalam. Maka, dia terpaksa memanggil.

"Suhu! Suhu! Buka pintu, aku ingin bicara!"

Terdengar sahutan dari dalam yang amat tenang.

"Anak Coan, cepatlah kembali ke kamarmu! Kau jangan membiarkan Bokyong Cen menunggu!"

Betapa kesalnya hati Ouw Yang Coan! Dia mengangkat sebelah tangannya, kelihatannya ingin menghancurkan daun pintu kamar itu, tapi mendadak dibatalkannya. Ternyata dia merasa khawatir gurunya tidak akan melayaninya. Ouw Yang Coan berdiri termangu-mangu di depan pintu kamar itu, tidak tahu harus berbuat apa.
Ketika tidak mendengar suara di luar, Pek Bin Lo Sat mengira Ouw Yang Coan sudah pergi, maka dia membuka pintu.

Begitu pintu dibuka, dilihatnya Ouw Yang Coan berdiri di depan pintu dengan kepala tertunduk.

"Anak Coan, kau harus kembali ke kamar untuk beristirahat!" kata wanita itu.
Ouw Yang Coan kelihatan seperti tidak mendengar, kata-kata Pek Bin Lo Sat. Dia berdiri tertegun sambil memandangnya.

Pek Bin Lo Sat tersenyum, kemudian menutup kembali pintu kamar. Setelah itu dia menarik Ouw Yang Coan ke kamar Bokyong Cen.

Di dalam kamar itu tampak sepasang lilin merah menyala. Bokyong Cen duduk dengan kepala tertunduk. Walau mendengar suara langkah, namun gadis itu sama sekali tidak mendongakkan kepala.

Pek Bin Lo Sat mendekatinya, lalu berkata sambil memandangnya.

"Nona Bokyong, kau dan Ow Yang Coan sudah menikah. Malam ini adalah malam bahagia bagi kalian berdua. Aku sudah memberitahukan pada Ouw Yang Coan bagaimana cara menyembuhkan lukamu, legakanlah hatimu!"

Bokyong Cen tidak menyahut. Sedangkan Ouw Yang Coan berdiri di situ dengan hati kacau. Dia menyukai gurunya atau menyukai Bokyong Cen, tentunya dia tahu jelas dalam hati. Pada hal sesungguhnya, dia sama sekali tidak berniat memperistri Bokyong Cen, namun lewat malam ini, Bokyong Cen sudah menjadi istrinya yang sah.

Dalam hati Bokyong Cen juga merasa tidak enak. Pemuda yang didambakannya justru bukan Ouw Yang Coan, namun urusan sudah begini.

Kalau dia tidak jadi istrinya, nyawanya tak dapat dipertahankan lagi. Lewat malam ini, dia adalah istri Ouw Yang Coan.

Bokyong Cen dan Ouw Yang Coan sama-sama membisu, membuat Pek Bin Lo Sat tertawa.

Bersambung

0 Response to "Si Racun Dari Barat (See Tok Ouw Yang Hong Tay Toan) Bab 20"

Post a Comment