Serial Pendekar Naga Putih eps 06 : Penghuni Rimba Gerantang

SATU
Di bawah siraman cahaya sinar rembulan, tampak sebuah iring-iringan bergerak keluar dari mulut sebuah desa. Beberapa orang di antaranya tampak mengusung tiga buah tandu yang dihias secantik mungkin. Lapat-lapat tercium harum bunga-bungaan menyertai langkah kaki mereka.


Seorang lelaki setengah baya yang memimpin iring-iringan itu tampak berjalan didepan, diapit dua orang berseragam hitam. Wajah laki-laki setengah baya itu tampak pucat dan tak bergairah. Garis-garis yang seharusnya belum waktunya menghias wajah telah membuatnya tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Seolah dia mengalami tekanan batin yang berkepanjangan.

Dua orang yang mengenakan seragam hitam di kiri kanannya pun demikian. Mata mereka menatap kosong ke depan, dengan bibir terkatup rapat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Padahal perjalanan itu sudah cukup jauh dan melelahkan.

Setelah cukup lama menempuh perjalanan yang cukup berat karena harus melewati jalan berkelok dan mendaki, rombongan itu tiba di mulut sebuah hutan. Hembusan angin dingin dan lolongan anjing hutan seolah-olah menyambut kedatangan mereka.

"Turunkan tandu-tandu, dan taruh dekat pohon besar itu!" perintah laki-laki setengah baya sambil menolehkan kepala ke arah anak buahnya yang menggotong tandu-tandu itu. Suara laki-laki setengah baya itu terdengar berat dan parau.

"Baik, Ki!" sahut seorang pengusung tandu terdepan. Kedua belas laki-laki yang mengusung tiga buah
tandu bergerak mengikuti arah yang ditunjukkan pemimpinnya. Setelah meletakkan tandu-tandu, mereka bergegas kembali ke arah rombongan. Wajah mereka yang dipenuhi keringat itu tampak membayangkan kengerian yang mendalam. Entah apa yang telah mereka alami sebelumnya.

"Ki... mestikah kita diamkan kejadian ini berlarut-larut?" bisik salah seorang berseragam hitam yang berada di sebelah kirinya. Suaranya terdengar lirih dan takut-takut.

"Jaga mulutmu, Dumpa! Sadarkah kau, apa yang kau ucapkan itu? Kau akan...," belum lagi selesai ucapan laki-laki setengah baya itu, orang yang dipanggil dengan nama Dumpa menjerit ngeri.

Tubuh orang itu ambruk dan berkelojotan meregang nyawa. Kedua tangannya mencekik leher seolah-olah Dumpa sedang membunuh dirinya sendiri. Wajahnya langsung berubah kehijauan dan dari pori-pori kulit mukanya tampak keluar bintik-bintik darah yang semakin lama semakin membanjiri seluruh permukaan wajahnya.

"Dumpa! Dumpa! Kenapa...? Apa... ohhh...!" seorang laki-laki berseragam hitam lainnya berteriak-teriak tanpa tahu harus berbuat apa.

"Ragas! Jangan sentuh, kalau kau masih ingin hidup !" bentak laki-laki setengah baya itu sambil menarik tubuh orang berseragam hitam yang dipanggil dengan nama Ragas.

Tangan Ragas yang sudah hampir menyentuh tubuh kawannya tertarik ke belakang. Laki-laki itu menahan haru sambil menutupi wajahnya. Ragas rupanya merasa sangat terpukul melihat kematian kawannya yang sangat mengerikan itu.

"Ki! Berbuatlah sesuatu, jangan hanya diam saja! Lebih baik mati terhormat daripada harus tersiksa dan terhina seperti ini! Hei, kau Penghuni Rimba Gerantang! Tunjukkan ujudmu, iblis! Aku hari ini akan mengadu nyawa denganmu!" Ragas berteriak bagai orang kesetanan dan menantang-nantang sambil men gacungkan goloknya ke arah Rimba Gerantang. Sepertinya keselamatan dirinya sudah tidak diperlukan lagi.

"Auuunggg...!" suara teriakan Ragas yang bergema dan menyelusup ke dalam rimba disambut lolongan anjing hutan yang bersahut-sahutan sehingga membuat anggota rombongan itu menggigil ketakutan.

Puluhan orang desa yang tergabung dalam rombongan itu langsung menjatuhkan dirinya berlutut mencium tanah berumput. Kepala mereka mengangguk-angguk sambil mengucapkan kata-kata permohonan ampun berulang-ulang.

"Ampunkan, kami... ampunkan, kami...!" Laki-laki setengah baya yang mengepalai rombongan menjadi terkejut melihat perubahan yang mendadak itu. Beberapa saat lamanya ia hanya dapat memandang bingung tanpa tahu harus berbuat apa.

"Hei, orang-orang tolol! Mengapa harus meminta ampun kepada iblis itu? Mengapa kalian begitu pengecut? Mana keberanian kalian? Ayo bangkit! Kita lawan iblis itu bersama-sama!" Ragas memaki-maki anggota rombongannya yang bersujud ketakutan itu.

"Hentikan ucapanmu, Kakang Ragas! Engkau akan dikutuk Penghuni Rimba Gerantang! Sadarlah, Kakang Ragas!" sergah salah seorang dari anggota rombongan itu mencoba memperingatkan Ragas.

"Penghuni Rimba Gerantang! Maafkan orang-orangku. Maafkan dan ampuni Ragas. la tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. Terimalah persmbahan ini, dan kami mohon diri!" Tiba-tiba laki-laki setengah baya yang sejak tadi hanya berdiam diri berseru lantang sambil menghadap ke hutan. Suaranya bergema karena diucapkan dengan pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi. Sejenak suasana jadi hening, seperti menunggu jawaban Penghuni Rimba Gerantang.

"Mari kita kembali!" Perintah laki-laki setengah baya itu kepada seluruh anggotanya. Sambil berkata demikian ditariknya tangan Ragas, lalu dibawa pergi.

“Tidak! Aku tidak ingin meninggalkan tempat ini! Aku ingin melihat wujud iblis itu, dan akan mengadu nyawa dengannya!" Tolak Ragas sambil menyentakkan tangannya hingga terlepas dari pegangan laki-laki setengah baya itu Dia melarikan diri kedalam hutan.

"Kembali, kataku!"

"Tidak! Kalau Ki Rambing ingin pulang, pulanglah! Aku akan tetap di sini menanti kedatangan iblis keparat itu!"

"Keras kepala!" Laki-laki setengah baya bernama Ki Rambing itu mengumpat gusar. Tiba-tiba tubuhnya mencelat ke arah Ragas sambil melancarkan totokan.

"Hah!?"

Ragas yang sudah seperti kerasukan setan itu malah menggerakk angoloknya menyambut serangan Ki Rambing. Laki-laki setengah baya itu menarik pulang serangan dan membarenginya dengan sebuah tendangan kilat ke paha Ragas yang menjadi terkejut setengah mati. Bergegas dilempar tubuhnya ke belakang untuk menghindari tendangan Ki Rambing.

Sambil bergulingan, laki-laki berseragam hitam itu mengobat-abitkan goloknya. Sedangkan Ki Rambing terpaksa harus menahan serangan itu agar tubuhnya tidak menjadi sasaran golok.

"Ragas, dengar kataku! Kau hanya akan mengantar nyawa percuma! Lebih baik kita kembali. Biar Ki Jatar yang akan mengurus persoalan ini. Ayolah," Ki Rambing masih juga berusaha menenangkan Ragas. Jiwa laki-laki berseragam hitam itu menjadi guncang akibat kematian saudara seperguruannya yang bernama Dumpa.

"Tidak, Ki! Jangan paksa aku. Lebih baik mati di tangan iblis itu daripada ditertawakan arwah Kakang Dumpa di alam sana!" sahut Ragas tetap keras kepala setelah menghentikan serangannya.

"Baiklah, kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu. Aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantumu," ujar Ki Rambing tertunduk lesu. Sambil terus berkata, laki-laki setengah baya itu melangkah mendekati Ragas yang menjadi lengah mendengar ucapannya.

Ki Rambing sadar sepenuhnya kalau kepandaian mereka tidak berselisih jauh. Dan kalau pemuda itu diajak secara paksa akan memakan banyak waktu dan tenaga. Hingga akhirnya, harus berpura-pura menyerah kepada kemauan pemuda itu. Karena dalam keadaan terguncang seperti itu, Ragas akan menjadi lengah apabila diajak bicara baik-baik.

Namun, sebelum kaki Ki Rambing sempat mendekati tubuh Ragas, tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat dan mendarat dekat Ragas berdiri. Sedangkan Ki Rambing dan Ragas melompat mundur. Seluruh urat-urat di tubuh mereka menegang siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

"Ki Jatar...!"

Keduanya berseru berbarengan ketika mengenali sosok yang baru datang itu. Ketegangan yang menyelimuti hati mereka segera saja lenyap , lalu sama-sama membungkuk hormat kepada orang yang baru datang itu.

"Hm.... Mengapa kalian masih berada di tempat ini? Apakah hendak bunuh diri?" Tegur orang yang dipanggil Ki Jatar itu tak senang. Kedua matanya memandang berganti-ganti ke arah kedua orang itu, begitu tajam menusuk.

Setelah hening sesaat, Ki Rambing mengangkat kepalanya menatap sosok tubuh tinggi kurus di hadapannya. Laki-laki setengah baya itu menarik napas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Ki Jatar yang menjadi penguasa di Desa Muara Bening tempat mereka tinggal.

"Maafkan aku, Ki. Kejadian ini benar-benar diluar dugaanku," jawab Ki Rambing sambil menundukkan kepala tak sanggup menatap mata kepala desanya yang bagaikan mata elang itu.

"Benar begitu, Ragas?" Tanya Ki Jatar yang kini menatap wajah laki-laki muda yang berseragam hitam itu. "Lalu apa maksudmu dengan senjata itu? Apakah ingin menjadi pahlawan? Sarungkan golok itu!" Perintah Ki Jatar tegas tanpa ingin dibantah.

"Tapi, Ki..! Kakang Dumpa telah dibunuh iblis itu. Dan aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus mengadu nyawa dengan Penghuni Rimba Gerantang itu," jawab Ragas masih tetap pada pendiriannya. Tekadnya sudah benar-benar tak bisa dihalangi siapa pun, meski orang itu adalah kepala desanya sendiri.

"Kau tidak mendengar kata-kataku, Ragas?! Kau berani membantahnya?!" Bentak Ki Jatar jengkel. Wajah Kepala Desa Muara Bening itu memerah karena Ragas membantah perintahnya. "Sarungkan golokmu, atau kau ingin mengalami nasib seperti Dumpa?"

"Oooh...," Ragas mengeluh pendek. Tubuhnya yang tegap itu melorot jatuh ke atas tanah berumput yang mulai basah oleh butiran embun. Ia menekap wajah dengan kedua tangannya. Sedangkan goloknya terjatuh di atas tanah.

Wajah Ki Jatar yang semula mengeras karena kemarahan pelahan melembut. Dengan langkah gontai dihampiri pembantunya itu. Ditepuknya bahu Ragas lembut seolah-olah dengan berbuat begitu dapat memberi kekuatan kepadanya untuk menghadapi masalah itu.

"Maafkan aku, Ragas. Tidak seharusnya aku bersikap kasar seperti tadi. Aku mengerti perasaanmu. Sekarang marilah kita pulang," ajak Ki Jatar sambil mengangkat bangkit tubuh orang itu. Tergambar perasaan sedih dan kesal yang mendalam pada wajahnya.

"Tapi... tapi, Ki...."

"Sudahlah...," sahut Ki Jatar menghibur.

Ki Jatar membungkuk, memungut golok yang terlepas dari tangan Ragas dan memberikan kepada pembantunya. Ragas segera menerima, laki menyarungkan golokny atak bersemangat. Lalu, dibimbingnya laki-laki berseragam hitam itu meninggalkan tepi hutan.

Ki Rambing menarik napas lega ketika melihat kejadian itu. Kemudian, dia bergegas meninggalkan tempat itu mengikuti kepala desa yang berjalan sambil membimbing Ragas. Rimba Gerantang kembali dicekam kesunyian dan penuh misteri...

***

Beberapa saat setelah kepergian ketiga orang pemuda Desa Muara Bening itu, nampak belasan sosok yang mengenakan seragam serba hitam berlompatan ke arah pohon besar di mulut hutan. Dengan langkah ringan dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, belasan sosok tubuh itu mulai mendekati tiga buah tandu yang ditinggalkan penduduk.

"Hati-hati...!" Bisik seorang laki-laki yang berada paling depan sambil menggerakkan tangan, menahan langkah kawan-kawannya yang berada di belakang.

Belasan orang itu terdiam sejenak Bulu kuduk mereka berdiri tegak ketika hembusan angin dingin dan lolongan anjing hutan seolah-olah menyambut langkah kaki mereka.

"Aneh! Mengapa hatiku tiba-tiba merasa tidak enak?" Bisik salah seorang. Suaranya terdengar bergetar. Entah karena hembusan angin dingin atau perasaan takut.

"Ya! Aku pun merasakannya," sahut kawannya yang
juga ikut merasakan keanehan itu.

Sedang sang pemimpin yang berada paling depan, mengedarkan pandangnya ke sekitar tempat itu. Wajahnya terlihat menegang dan penuh kewaspadaan seolah-olah tengah mencium sesuatu yang mencurigakan. Setelah beberapa saat menanti dan merasa kecurigaannya tak beralasan, kembali dilangkahkan kakinya yang kemudian diikuti belasan pengikutnya. Ketika jarak antara tandu-tandu itu dan dirinya hanya tinggal sekitar dua tombak lagi, tiba-tiba angin dingin berhembus keras, sehingga pakaian dan rambut belasan orang itu berkibar dibuatnya.

"Wrrr!" Demikian dinginnya hembusan angin keras itu sampai-sampai beberapa orang di antaranya menggigil kedinginan.

"Kurang ajar! Siapa yang berani main gila di hadapan Iblis Baju Hitam? Ayo, tunjukkan batang hidungmu!" pemimpin gerombolan yang berjuluk Iblis Baju Hitam itu berteriak gusar karena merasa dipermainkan.

Namun, tiada satu suara pun yang menjawab tantangannya kecuali gemerisik dedaunan yang dipermainkan angin. Sesaat kemudian, suasana pun menjadi tenang kembali.

"Hm!" sambil mendengus kasar Iblis Baju Hitam kembali melangkah mendekati tiga buah tandu itu. "Buka tirai penutup tandu itu. Cepat!" perintah Iblis Baju Hitam tegas.

Dua orang pengikutnya bergegas membuka tirai penutup tandu yang terdekat. Tangan keduanya gemetar ketika menyentuh tirai itu. Jelas, mereka masih terpengaruh keanehan-keanehan yang dialami tadi.

Tiba-tiba kedua orang itu segera menarik tangannya yang memegang tirai ketika merasakan sesuatu yang dingin menyelusup melalui telapak tangan.

"Ah?!"

Kedua orang itu berteriak kaget bercampur heran ketika mendapati sebuah bintik merah pada telapak tangan masing-masing. Wajah mereka terlihat menegang karena merasakan sesuatu berhawa dingin bergolak dalam tubuh. Sesaat kemudian wajah keduanya berubah pucat dan menggigil kedinginan hebat! Kemudian mereka jatuh dan berkelojotan di atas rumput dalam keadaan sekarat. Dan kini keduanya pun tewas setelah terlebih dahulu mengeluarkan buih-buih berwarna putih dan berbau busuk dari mulut.

"Ihhh...!" Iblis Baju Hitam dan para pengikutnya tersentak mundur. Di wajah mereka terbayang kengerian yang dalam ketika menyaksikan kematian kedua orang kawan mereka dalam keadaan yang mengerikan itu.

"Bangsat! Manusia pengecut! Keluar kau, menusia curang! Jangan hanya berani menyerang secara licik!" teriak Iblis Baju Hitam yang begitu gusar melihat kematian dua orang pengikutnya itu. Ia berteriak-teriak menantang sambil mencabut senjatanya. Suaranya bergema jauh karena didorong tenaga dalam tinggi.

Belasan orang pengikut Iblis Baju Hitam telah ula mencabut senjata masing-masing, dan bersiap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Selama beberapa saat seluruh laki-laki berpakaian hitam itu dicekam ketegangan yang sangat menyiksai hari. Baru saja Iblis Baju Hitam hendak bersuara! tiba-tiba...

"Ha ha ha...!" terdengar tawa berkepanjangan yang dibarengi berkelebatnya dua sosok bayangan putih. Tahu-tahu saja, dua tubuh telah berdiri tegak di dalam jarak dua tombak di hadapan Iblis Baju Hitam.

Hati Iblis Baju Hitam berdebar ketika melihat wajah kedua orang berjubah putih itu. Wajah mereka hanya tampak bagian depannya saja. Sedang kepalanya tertutup kerudung yang juga berwarna putih. Dan yang membuat hati iblis itu berdebar, adalah wajah kedua orang itu yang tak ubahnya seperti tengkorak!

"Siapa kalian... ?!" bentak Iblis Baju Hitam sambil menyilangkan senjatanya di depan dada. Biar bagaimanapun, keadaan dua orang berjubah putih itu sempat menggetarkan hatinya.

"Siapa pun kami, bukan urusanmu, Iblis Baju Hitam. Tapi perbuatanmu yang ingin mencuri tiga buah tandu itu, patut diberi hukuman," tegas salah satu dari dua orang berjubah putih itu dingin dan bernada maut.

"Huh! Siapa pun kau adanya, jangan harap dapat menakut-nakutiku! Topeng tengkorakmu itu hanya untuk menakut-nakuti anak kecil, tahu?! Dan jangan sangka Iblis Baju Hitam akan mudah ditundukkan! Nah, majulah!" tantang Iblis Baju Hitam yang rupanya dapat segera mengetahui kalau dua orang itu mengenakan topeng. Keberaniannya pun kembali muncul ketika mengetahui keadaan dua orang itu. Sambil tertawa mengejek, Iblis Baju Hitam menggerakkan senjatanya siap menghadapai pertarungan.

Kedua orang berjubah putih itu cukup terkejut mendengar ucapan Iblis Baju Hitam. Diam-diam mereka mengakui ketajaman mata lawannya yang dapat menembus keremangan malam. Dari situ saja sudah dapat diduga kalau kepandaian pemimpin perkumpulan Iblis Baju Hitam memang tidak bisa dipandang rendah. Demikian pula para pengikut Iblis Baju Hitam. Mendengar ucapan pemimpinnya serentak mereka maju tanpa rasa takut lagi.

"Anak-anak, serang...!"

Begitu mendengar perintah pemimpinnya, belasan orang anggota Iblis Baju Hitam itu serentak melompat maju. Mereka langsung menerjang kedua orang berjubah putih dengan senjata di tangan. Kedua orang berjubah putih itu mendengus mengejek. Dengan gerakan yang sukar diikuti mata, keduanya melesat bagai terbang kearah belasan orang itu. Terdengar teriakan ngeri yang susul-menyusul, maka empat orang pengikut Iblis Baju Hitam terjungkal mandi darah! Kawan-kawannya serentak berlompatan mundur disertai wajah pucat. Bukan main marahnya Iblis Baju Hitam melihat dalam segebrakan saja empat orang anak buahnya tewas di tangan dua orang berjubah putih itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya segera melesat ke arena pertempuran dan langsung menyabetkan senjatanya.

Singgg!

Suara golok panjang di tangan Iblis Baju Hitam berdesing tajam pertanda kalau senjata itu digerakkan tenaga dalam tinggi. Salah seorang lawan yang menjadi sasaran senjata Iblis Baju Hitam melompat mundur menghindari serangan itu. Namun belum lagi kedua kakinya sempat menginjak tanah, tahu-tahu golok panjang Iblis Baju Hitam kembali mengancam batang lehernya. Menyadari kalau untuk menghindar sudah terlambat, tangannya segera diangkat untuk menangkis pergelangan lawan.

Dukkk!

Orang berjubah putih itu terjajar mundur sejauh delapan langkah karena posisinya memang lebih lemah dari lawannya. Sekejap terlintas sinar berhawa maut menyambar dari sepasang matanya. Sementara itu setelah melakukan salto dua kali di udara, Iblis Baju Hitam mendaratkan kakinya di atas tanah berumput yang mulai berembun itu. Tangan kanannya terasa nyeri akibat tangkisan lawan. Terpaksa dia harus mengakui kehebatan tenaga dalam lawan yang wajahnya tersembunyi di balik topeng tengkorak itu.

"Siapa kau sebenarnya? Dan mengapa mencampuri urusanku?" Tanya Iblis Baju Hitam penasaran. Bagaimana tidak menjadi penasaran? Ia yang telah malang melintang di daerah itu, sama sekali belum pernah bertemu kedua orang berjubah putih yang kini menjadi lawannya. Sama sekali tidak dapat diterka, siapa gerangan kedua orang berjubah putih itu.

"Hm... mencampuri urusanmu! Tahukah kau, siapakah yang berhak atas tandu-tandu itu?"

"Aku tidak peduli siapa pemilik tiga tandu itu. Dan aku pun tidak peduli apakah kau mau memperkenalkan namamu atau tidak!" bentak Iblis Baju Hitam marah.

"Kau memang tidak tahu diri, Iblis Baju Hitam. Hingga sampai sedemikian beraninya ingin mengambil milik penghuni Rimba Gerantang."

"Penghuni Rimba Gerantang...?" gumam Iblis Baju Hitam heran." Hm... Jadi yang disebut-sebut pengawal kepala desa ini benar adanya. Keparat! Rupanya tanpa setahuku, di daerah ini telah kedatangan orang asing dan mencoba menyebarkan pengaruhnya di wilayah kekuasaanku! Kalau begitu kaliankah yang dijuluki Penghuni Rimba Gerantang itu?! Bagus! Marilah kita tentukan, siapa di antara kita yang akan menjadi penguasa wilayah ini!"

"Kau salah, Iblis Baju Hitam. Kami berdua hanyalah pembantu-pembantu yang ditugaskan untuk mengambil tandu-tandu itu. Dan kami berdua dijuluki orang Sepasang Mambang Lembah Maut," sahut salah seorang memperkenalkan diri.

Mendengar siapa adanya kedua orang berjubah putih itu saja sudah membuat Iblis Baju Hitam cukup terkejut, karena nama itu cukup terkenal di kalangan dunia persilatan. Namun karena mereka memang jarang muncul di dunia ramai, maka para tokoh persilatan pun hampir tidak pernah berjumpa dengan mereka. Tapi kini tahu-tahu saja mereka muncul dan mengaku sebagai pembantu Penghuni Rimba Gerantang. Entah, sampai di mana kesaktian yang dimiliki sampai-sampai Sepasang Mambang Lembah Maut begitu merendahkan dirinya untuk menjadi pembantu tokoh itu. Iblis Baju Hitam benar-benar tak habis mengerti dibuatnya.

DUA
Pertarungan yang berlangsung antara para anggota Iblis Baju Hitam melawan salah satu dari dua orang berjubah putih semakin terlihat sengit. Para pengikut Iblis Baju Hitam itu berusaha melawan dengan sekuat tenaga. Mereka yang hanya tersisa tujuh orang itu tampak sudah tidak kuat untuk bertahan lebih lama, akibat gempuran yang dilancarkan lawan.

Iblis Baju Hitam menolehkan kepalanya ketika untuk kesekian kalinya mendengar jeritan kematian pengikutnya. Dua orang berseragam hitam itu terjungkal dengan kepala pecah. Merasa tak tega melihat para pengikutnya dibantai secara demikian, Iblis Baju Hitam cepat melesat membantu para pengikutnya yang tinggal lima orang itu.

"Heaaattt...!" ditandai teriakan keras, Iblis Baju Hitam langsung melancarkan serangan ke arah orang berjubah putih yang tengah bertarung melawan para pengikutnya. Namun sebelum maksudnya tercapai, sebuah bayangan putih lain melesat memotong serangannya. Akibatnya Iblis Baju Hitam terpaksa membatalkan niatnya dan bergegas menyambut serangan itu.

Sedetik kemudian keduanya kembali terlibat pertarungan sengit. Orang berjubah putih itu rupanya sudah memulai mengeluarkan ilmu-ilmu andalan, setelah membaca kepandaian lawan. Tapi Iblis Baju Hitam bukanlah orang lemah yang mudah ditaklukkan begitu saja. Dalam kalangan perampok, Iblis Baju Hitam termasuk rajanya perampok. Sehingga, kepandaiannya pun tidak bisa dibuat main- main.

Memang, Iblis Baju Hitam sendiri sudah pula mendengar nama besar Sepasang Mambang Lembah Maut. Sepasang manusia kembar yang selalu menyembunyikan dirinya di balik topeng tengkorak itu bukan tokoh lemah. Banyak tokoh persilatan baik dari golongan putih maupun golongan hitam enggan mencari permusuhan dengannya. Karena selain berkepandaian tinggi, Sepasang Mambang Lembah Maut tidak pernah meninggalkan lawan dalam keadaan hidup.nKini, keduanya betul-betul menemui lawan yang seimbang! Meskipun segenap kemampuan telah dikerahkan, tetap saja keadaan mereka tidak berubah!

Puluhan jurus telah berlalu, namun belum ada yang terdesak. Iblis Baju Hitam semakin kalap ketika lagi-lagi terdengar jerit kematian para mengikutnya yang tengah bertarung melawan salah seor an g dari Sepasang Mambang Lembah Maut. Sambil berteriak keras, ia melompat mundur.

"Hmmm...!" Iblis Baju Hitam menggeram seraya mempersiapkan Ilmu pamungkas, 'Menghalau Barisan Seratus Golok'. Sebuah ilmu yang mengandalkan kekuatan dan kecepatan. Kedua tangannya bersilangan dan membentuk lingkaran-lingkaran yang sukar ditembus. Cepat sekali gerakan kedua tangannya sehingga membuat lawan menjadi kerepotan.

Dan kini Sepasang Mambang Lembah Maut yang bernama Jonggala, terdesak hebat! Hingga pada jurus yang kelima puluh tiga, dia tidak sempat lagi menghindari dari sergapan lawan.

Bukkk!

"Ahhhkkk...!" tubuh Jonggala terpental akibat hantaman Iblis Baju Hitam yang telak mengenai lambung. Darah segar muncrat dari mulutnya karena hantaman itu begitu keras. Dan sebelum posisinya sempat diperbaiki, lawannya sudah kembali menyerang.

Dengan gerakan sebisanya, Jonggala melempar tubuhnya ke belakang untuk menghindari serangan lawan. Tubuhnya terus bergulingan karena sepasang tangan Iblis Baju Hitam tidak ingin melepaskan kesempatan begitu saja. Keadaan orang tertua dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu benar-benar bagai telur diujung tanduk.

Jonggali yang merupakan adik Jonggala menjadi terkejut setengah mati, walaupun masih bertempur dengan pengikut Iblis Baju Hitam. Matanya sempat melihat kejadian yang dialami kakaknya itu. Hampir-hampir ia tidak percaya pada penglihatannya sendiri. Tapi Jonggali tidak bisa berpikir lebih lama lagi karena keadaan kakaknya benar-benar dalam bahaya!

Tanpa membuang-buang waktu lagi ia pun segera melesat untuk membantu. Tapi sebelumnya ia telah menghabisi nyawa anak buah Iblis Baju Hitam yang masih ada. Ia pun segera melesat untuk membantu. Tubuh Jonggali melayang ke arah Iblis Baju Hitam yang tengah mendesak lawannya. Kedua tangannya terjulur kedepan, disertai hembusan angin keras pertanda bahwa seluruh tenaganya tengah dikerahkan.

Merasakan sambaran angin kuat yang berhembus ke arahnya, Iblis Baju Hitam menunda serangan dan bergegas menyambut serangan Jonggali. Kedua tangannya didorong ke depan dengan mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya.

Desss!"

"Aaahhh...!" Iblis Baju Hitam dan Jonggali berteriak melengking ketika dua pasang lengan yang mengandung tenaga dalam tinggi itu saling berbenturan di udara. Tubuh mereka terlontar ke belakang bagai disentakkan tangan-tangan raksasa. Mereka sama-sama terbanting di atas tanah berumput hingga menimbulkan bunyi berdebuk keras!

Keduanya kini berusaha bangkit sambil berusaha menghilangkan rasa sesak di dada akibat benturan itu, lewat penyaluran hawa murni. Cairan merah yang mengalir dari sela-sela bibir mereka masing-masing segera dihapus.

"Hhh... hhh.... Hebat kau, Iblis Baju Hitam. Pantas saja Kakang Jonggala sampai terdesak. Ternyata nama besarmu memang bukan sekadar nama kosong belaka," puji Jonggali tulus, walau dengan napas terengah-engah.

"Kau.... Kaupun hebat, Kisanak. Tak percuma nama kalian menjadi momok, bagi orang-orang persilatan," Iblis Baju Hitam juga memuji sambil berusaha mengatur jalan napasnya.

"He he he.... Bersiaplah untuk melawat ke neraka Iblis Baju Hitam!" tiba-tiba Jonggala yang keadaannya sudah pulih telah bersiap melancarkan pukulan maut ke arah Iblis Baju Hitam.

Terdengar suara bergemelutuk dari lengan Jonggala yang rupanya benar-benar ingin membuktikan ucapannya. Serangkum angin dingin bertiup menandai kesungguhan Jonggala. Tentu saja Iblis Baju Hitam tidak sudi menyerahkan nyawanya begitu saja. Cepat-cepat dikempos semangatnya untuk mengumpulkan tenaga dalam dan bersiap menyambut serangan Jonggala.

Tapi sebelum keduanya sempat saling bertumbukan, mendadak berhembus angin keras yang membuat mereka terpental balik. Dan tahu-tahu saja di tengah-tengah mereka telah berdiri sesosok tubuh yang juga berjubah putih. Sosok tubuh tinggi kurus itu berdiri angker sambil menatap mereka dengan sinar mata tajam menusuk. Di tangan kanannya tergenggam sebatang tongkat berkepala tengkorak yang juga berwarna putih.

"Tongkat Maut Delapan Bayangan...." Sepasang Mambang Lembah Maut berseru sambil membungkukkan tubuh dalam-dalam. Kelihatan sekali kalau dua orang bersaudara itu merasa takut kepada orang yang baru datang itu.

"Tongkat Maut Delapan Bayangan...!" gumam Iblis Baju Hitam terkejut "Gila! Bagaimana mungkin tokoh itu bisa berada di tempat ini? Apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini? Siapa pula yang disebut sebagai Penghuni Rimba Gerantang itu? Mungkinkah tokoh sakti yang telah lama menyembunyikan diri itu kini muncul dan menjadi Penghuni Rimba Gerantang?"


"Hm.... Sepasang Mambang, kalian pulanglah lebih dahulu dan bawa persembahan itu kepada ketua. Biar aku yang akan mengurusi perampok baju hitam ini," dingin dan tegas suara yang keluar dari mulut orang tua yang berjuluk Tongkat Maut Delapan Bayangan itu. Dari kata-katanya, jelas kalau ia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu.

"Baik! Kami permisi," jawab Jonggala dan Janggali sambil membungkukkan badan bersikap hormat. Setelah berkata demikian, Jonggala mengeluarkan siulan panjang yang bergema dan menyelusup ke dalam Rimba Gerantang. Tidak lama kemudian, terdengar siulan lain yang semakin lama semakin dekat, disusul berloncatannya beberapa sosok bayangan putih dari balik semak dan pepohonan.

"Angkat tandu-tandu itu!" Perintah Jonggala kepada dua belas orang berjubah putih yang langsung mematuhi perintahnya. Sepasang Mambang Lembah Maut melangkah meninggalkan tepi hutan. Sedangkan kedua belas orang pengikutnya itu berjalan di belakangnya sambil menggotong tiga buah tandu itu.

Meskipun anak buahnya telah dibantai habis, namun Iblis Baju Hitam sama sekali tidak gentar. Dipandanginya orang yang berjuluk Tongkat Maut Delapan Bayangan itu lekat-lekat, seolah ingin menunjukkan ketidaktakutannya terhadap orang sakti itu.

"Huh! Jangan kau pikir aku akan menjadi silau oleh nama besarmu, Tongkat Maut! Aku tidak akan pernah tunduk di bawah perintah siapa pun, seperti apa yang kau lakukan itu!" tegas Iblis Baju Hitam dengan suara lantang.

"Hm.... Tahukah kau, Iblis Baju Hitam! Kedatanganku kemari atas perintah sang ketua untuk menjemputmu agar kau bergabung bersama kami. Tapi walau ketua menghendakimu, apakah kau pikir aku akan berpangku tangan saja melihat kekurangajaranmu itu?" jelas Tongkat Maut Delapan Bayangan bernada mengancam.

"Apapun alasanmu, aku tidak akan pernah tunduk sebelum mengetahui seperti apa orang yang kau anggap sebagai ketua itu!"

"Jangan keras kepala, Iblis Baju Hitam! Apakah kau kira, kau dapat lolos dari tanganku! Huh! Jangan harap, perampok tengik!" suara Tongkat Maut semakin bergetar karena hawa marah yang semakin memuncak. Sepasang matanya semakin mencorong tajam kalau saja tidak ingat akan pesan ketua, mungkin nyawa Iblis Baju Hitam sudah sejak tadi meninggalkan raga.

"Tidak usah banyak bicara! Tangkaplah aku kalau memang mampu, Tongkat Maut Delapan Bayangan!" tantang Iblis Baju Hitam sambil menyilangkan goloknya di depan dada. Sadar kalau kepandaian lawan sangat tinggi, Iblis Baju Hitam segera menyiapkan ilmu pamungkasnya. 'Menghalau Barisan Seratus Golok'.

"Ha ha ha.... Ilmu silat pasaran macam itu akan kau gunakan untuk menghadapiku, Iblis Baju Hitam? Lihatlah! Aku akan menundukkanmu tidak lebih dari sepuluh jurus!" ejek Tongkat Maut Delapan Bayangan.

"Bangsat! Terimalah ini, hiaaattt...!"

Dengan kemarahan yang menggelegak, Iblis Baju Hitam melompat ke arah Tongkat Maut Delapan Bayangan. Golok panjangnya diputar sedemikian rupa sehingga membentuk segunduk sinar yang membungkus tubuhnya. Dan dari gundukan sinar itu, sesekali mencuat ujung-ujun ggolok yang mengancam tubuh lawan.

Tongkat Maut Delapan Bayangan sama sekali tidak menunjukkan sikap terkejut atas serangan lawan. Sambil tertawa, ditancapkan tongkat itu langsung amblas sampai seperempatnya. Kemudian, Tongkat Maut menggerakkan kedua tangannya bersilang di depan dada. Seketika serangkum angin berhawa dingin menebar dari tubuhnya.

Dan pada saat serangan Iblis Baju Hitam meluncur, Tongkat Maut hanya memiringkan tubuhnya ke kiri dengan kedua tangan masih tetap bersilang didepan dada. Gundukan sinar golok Iblis. Baju Hitam ternyata tak mampu menipu mata lawannya. Karena setiap kali ujung goloknya mencuat, Tongkat Maut Delapan Bayangan selalu saja dapat mengelaknya. Dan hal itu benar-benar diluar dugaan Iblis Baju Hitam.

Melihat serangannya selalu dapat dielakkan lawan, Iblis Baju Hitam semakin kalap saat melancarkan serangan. Tanpa terasa pertarungan itu telah melewati delapan jurus, tapi ujung golok Iblis Baju Hitam belum sempat menyentuh tubuh lawannya sedikit pun.

"Ha ha ha... ingat! Hanya tinggal dua jurus lagi Iblis Baju Hitam. Apakah kau masih belum ingin menyerah?!" Tongkat Maut Delapan Bayangan tertawa mengejek mengingatkan lawannya.

"Huh! Jangan hanya pandai mengelak saja, Tongkat butut! Ayo, balas seranganku kalau kau mampu," teriak Iblis Baju Hitam sambil terus mempergencar serangan.

"Sembilan! Ha ha ha.... Tinggal satu jurus lagi, Iblis Baju Hitam!"

"Bangsat!"

Pada jurus yang kesepuluh, Tongkat Maut Delapan Bayangan berteriak sambil melempar tubuh ke belakang. Kedua tangannya mendorong ke depan. Serangkum angin dingin memapak serangan Iblis Baju Hitam.

Bresss!

"Aaaahhh...!" Iblis Baju Hitam berseru tertahan ketika tubuhnya yang gemuk itu terlempar akibat pukulan tenaga dalam yang dilontarkan lawan. Tapi, tidak percuma ia mengepalai para perampok di wilayah itu. Dengan gerakan manis, tubuhnya berputar di udara untuk kemudian mendarat empuk di tanah berumput. Meski agak sedikit goyah, namun sama sekali tidak mengalami luka dalam berarti.

"Bagus...!" Tongkat Maut Delapan Bayangan terpaksa mengeluarkan pujian. Karena apa yang dilakukan lawan benar-benar mengagumkan hatinya.

"Jangan takabur dulu, Tongkat Maut. Aku belum kalah!" tegas Iblis Baju Hitam sambil bersiap melanjutkan pertarungan.

"Baik! Nah, coba kau sambut seranganku ini!" Setelah berkata demikian, tubuh Tongkat Maut Delapan Bayangan melayang bagai seekor burung besar. Kedua tangannya terkembang siap menerkam tubuh lawan.

Sementara itu Iblis Baju Hitam menebaskan goloknya ke arah lengan yang mencengkeram ubun-ubunnya. Tongkat Maut cepat-cepat menarik pulang kedua tangannya, lalu mengirimkan tendangan ke dada lawan.

Plakkk! Desss!

Tubuh raja perampok itu terlempar bergulingan, la memang berhasil menepak tendangan kaki kiri lawannya. Namun tidak disangka kalau kaki kanan lawan tahu-tahu telah hinggap di dadanya. Seketika darah segar menyembur dari mulutnya karena tendangan itu demikian cepat dan kuat, sehingga mengguncangkan isi dadanya. Dan sebelum sempat melakukan sesuatu, tahu-tahu telapak tangan lawan menghantam pipinya.

Demikian kuatnya tamparan Tongkat Maut Delapan Bayangan menghantam, sehingga Iblis Baju Hitam langsung terpelanting pingsan, setelah mengeluarkan keluhan p endek dari kerongkongannya.

"Hmh!" Tongkat Maut Delapan Bayangan mendengus pendek, seraya menggerakkan kakinya mencongkel tubuh y mang tergolek lemah itu. Setelah mengambil tongkat berkepala tengkoraknya, Tongkat Maut Delapan Bayangan bergegas meninggalkan tepi hutan sambil membawa tubuh Iblis Baju Hitam di bahu.

Beberapa saat kemudian, suasana pun kembali hening dan sunyi. Hanya suara binatang-binatang malam yang terdengar bersahut-sahutan. Rimba Gerantang tetap mencekam menyimpan seribu misteri...!

***
Ki Jatar duduk termenung di kursi mendengarkan penuturan Ragas. Kepala Desa Muara Bening itu mengangguk-anggukkan kepalanya seolah dapat menyelami perasaan pembantunya itu.

"Biar bagaiman apun, aku harus menuntut balas atas kematian kakak seperguruanku, Ki!" Ragas menutup keterangannya sambil mengepalkan tinjunya. Wajahnya terlihat mengeras, seolah-olah keputusan yang diambilnya itu sudah tidak dapat ditawar lagi.

"Aku mengerti perasaanmu, Ragas. Tapi dengan kepandaian yang kau miliki itu, sama saja mengantarkan nyawa sia-sia. Ketahuilah, Ragas. Orang yang kita hadapi ini bukan orang sembarangan. Entah itu iblis atau manusia, kita belum mengetahui pasti. Karena, ia dapat muncul tiba-tiba dan kemudian lenyap tanpa meninggalkan bekas sedikit pun!" sergah Ki Jatar sambil menasehati pembantunya.

"Aku tidak takut, Ki. Meskipun yang akan kuhadapi itu iblis peminum darah sekalipun!" jawab Ragas membandel.

Mendengar jawaban pembantunya, wajah Kepala Desa Muara Bening itu memerah sekejap. Orang tua itu menghela napas berulang-ulang untuk menenangkan hatinya yang berdebar. Pelahan-lahan Ki Jatar bangkit dari kursi, lalu melangkah menghampiri jendela.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ki Jatar tanpa melepaskan pandangannya dari luar jendela. Suaranya terdengar berat dan mengandung kesedihan.


"Aku akan meminta bantuan guruku untuk menumpas Penghuni Rimba Gerantang itu!"

"Maksudmu, Resi Bagawa...?" Tanya Ki Jatar lagi. Namun, sebelum Ragas menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba seorang laki-laki melangkah tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan itu.

"Ada apa...?" tegur Ki Jatar dingin.

"Anu... anu, Ki. Ki Dewana ingin meninggalkan desa...," jawab orang itu terbata-bata.

"Maksudmu dia ingin mengungsi?"

"Iy a! Betul, Ki...."

"Hm... di mana sekarang?" kelihatan sekali kalau Ki Jatar merasa gusar dengan adanya kejadian itu.

"Di perbatasan desa, Ki. Sedang ditahan Ki Rambing!"

"Mari kita ke sana! Raga, ikut aku!" perintah Ki Jatar. Meskipun langkahnya terlihat tak bersemangat, namun Ragas tetap mematuhi perintah kepala desa itu. Jelas sekali kalau dia mulai merasa tidak suka kepada Ki Jatar sejak kematian kakak seperguruannya itu.

Dan kini ketiga orang itu melarikan kudanya menuju batas desa bagaikan dikejar setan. Debu mengepul tinggi ketika tiga ekor kuda itu melintasi jalan berdebu. Tidak beberapa lama kemudian, mereka pun tiba di perbatasan desa.

"Berhenti!" Suara bentakan Ki Jatar membahana, memisahkan orang-orang yang tengah bertempur sengit itu. Mereka pun segera melompat mundur ketika mengenali orang yang baru datang itu.

Ki Jatar melompat turun dari atas kudanya, kemudian melangkahkan kakinya ke arah sebuah kereta kuda yang berada di tepi jalan. Kepalanya digerakkan sebagai isyarat agar keempat orang yang mengawal kereta kuda menyingkir dari tempat itu.

Empat orang tukang pukul Saudagar Dewana itu sejenak ragu-ragu. Mereka berpaling sejenak ke arah laki-laki brewok yang berada di dalam kereta kuda. Begitu si brewok menganggukkan kepalanya, keempat orang itu segera menyingkir untuk memberi jalan kepada Ki Jatar yang segera meneruskan langkah mendekati kereta.

TIGA
Ki Dewana, saudagar kaya yang tinggal di Desa Muara Bening itu segera keluar dari dalam kereta. Wajahny a jelas men ggambark an p erasaan tak suka melih at kedatangan Ki Jatar.

"Ki Jatar! Apa maksudmu menyuruh orang-orangmu untuk menghalangi kepergianku?!" Tanya Ki Dewana langsung menegur Ki Jatar, yaitu kepala desanya keras. Jelas sekali kalau sikapnya sudah tidak lagi menghormati kepala desa itu. Padahal, keduanya sudah lama mengenal baik.

Ki Jatar tertegun mendengar perkataan Ki Dewana. Untuk beberapa saat lamanya pertanyaan itu tidak dapat dijawab karena hatinya terlalu terkejut akan perubahan sikap Ki Dewana. Pelahan ditarik napas panjang sambil melepaskan pandangannya menatap cakrawala biru.

"Dewana! Seharusnya akulah yang bertanya kepadamu. Mengapa kau berniat meninggalkan desa ini? Apakah kau tidak mendengar kalau para pengungsi yang telah lebih dulu pergi, telah ditemukan tewas di tengah perjalanan? Apakah kau memang berniat hendak bunuh diri?" Tanya Ki Jatar bertubi-tubi. Suaranya terdengar pelan dan tak bersemangat.

"Bagiku hal ini lebih baik daripada menunggu giliran anakku yang akan kau bawa untuk persembahan Penghuni Rimba Gerantang itu! Sedangkan, kau tidak pernah berbuat apa-apa untuk mencari selamat!" sahut Ki Dewana tegas hingga membuat wajah Ki Jatar semakin terlihat sedih dan kecewa.

Ki Jatar melemparkan pandangan ke dalam kereta yang di situ terdap at istri dan anak gadis Ki Dewana. Kedua orang wanita itu pun rupanya sedang menatapnya. Dari sinar mata mereka, tergambar permohonan yang mengharapkan pengertiannya. Hati orang tua itu tersentuh melihat sinar mata bening gadis berusia enam belas tahun yang cantik dan manis itu. Tanpa berkata apa-apa, Ki Jatar membalikkan tubuhnya meninggalkan Ki Dewana yang tersenyum penuh kemenangan.

"Biarkan mereka lewat!" perintah Ki Jatar kepada penjaga perbatasan tanpa menolehkan kepalanya lagi.


Setelah berkata demikian, Ki Jatar melompat ke atas punggung kudanya dan meninggalkan tempat itu. Kelihatan sekali kalau hatinya merasa terpukul atas kejadian itu. Karena sebagai kepala desa, ia sudah dianggap tidak mampu untuk melindungi warganya.
Ragas dan Ki Rambing ikut pula melompat ke atas pelana kuda masing-masing. Kemudian mereka bergegas menyusul Ki Jatar setelah terlebih dahulu berpesan kepada yang lain untuk tetap tinggal menjaga perbatasan desa.

"Ki, apakah tidak sebaiknya kita mengirim utusan lagi untuk menghadap adipati? Siapa tahu kali ini bernasib mujur," usul Ragas ketika mereka sudah berjalan berdampingan.

Ki Jatar menolehkan kepalanya sejenak kepada Ragas yang berada di sebelah kirinya. Kerangnya berkerut seolah-olah sedang mempertimbangkan usul yang dikemukakan pembantunya itu. Beberapa saat kemudian, dialihkan tatapannya ke arah Ki Rambing yang berada di sebelahkanannya. Lalu, kembali menatap ke depan.

"Hhh... Sudah dua kali utusan dikirim untuk menghadap adipati, tapi kedua-duanya kembali dalam keadaan sudah menjadi mayat. Entah, apakah ada lagi orang yang bersedia diutus untuk melakukan tugas yang berbahay a ini?" d esah Ki Jatar seolah-olah berkata kepada diri sendiri.

"Aku bersedia melakukan tugas itu, Ki," jawab Ragas tanpa ragu-ragu lagi. Sedikit pun tidak nampak kekhawatiran pada wajah pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun itu.

Ki Jatar dan Ki Rambing kelihatan cukup terkejut mendengar kata-kata Ragas itu. Keduanya saling berpandangan sejenak. Bagaikan diperintah, mereka sama-sama menoleh ke arah Ragas berbarengan.

"Sudah dipikirkan, apa yang kau ucapkan itu, Ragas? Apakah kau sadar bahwa dengan menerima tugas itu berarti harus mempertaruhkan nyawamu? Pikirkanlah sekali lagi, dan pergunakanlah akal sehatmu!" ujar Ki Jatar memberi nasehat.

"Sudah,. Ki. Dan aku rela mengorbankan nyawa demi ketentraman desa ini," sahut Ragas mantap.

"Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu," kata Ki Jatar. Dan tanpa berkata apa-apa lagi, orang tua itu segera menghentakkan kudanya mendahului kedua pembantunya.

Sementara, Ki Rambing dan Ragas, bergegas pula menghentakkan kudanya hingga menimbulkan kepulan debu yang cukup pekat. Kini ketiga orang itu memacu kudanya menuju rumah kediaman kepala desa. Tidak lama kemudian mer eka tiba di dep an sebuah rumah besar yang terletak dekat balai desa. Ki Jatar bergegas menambatkan kudanya dan langsung memasuki rumah besar tempat kediamannya.

"Ragas, kau berangkatlah esok pagi! Dan hari ini aku tidak ingin diganggu persoalan apa pun!" tegas Ki Jatar. Setelah berkata demikian ia pun langsung memasuki kamar semadi.

***

Matahari semakin naik tinggi. Sinarnya yang berwarna kuning keemasan itu memancar terik, hingga terasa menyengat kulit. Dan dalam siraman sinar matahari itu, tampak sebuah kereta kuda yang dikawal empat orang berkuda melintas menyusuri jalan berbatu. Suara roda kereta berderak-derak karena jalan yang dilalui itu benar-benar sukar.

"Laksa, mengapa kita tidak mengambil jalan lain saja?" Terdengar teguran serak yang berasal dari dalam kereta.

Orang yang dipanggil Laksa itu bergegas menghampiri kereta. Ia adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun. Wajahnya kemerahan dengan bintik-bintik keringat yang menghias dahi dan pelipis. Sikapnya terlihat tenang sebagaimana sikap seorang yang penuh percaya diri.

"Hanya jalan inilah yang paling dekat, Tuan. Sedang jalan lain memakan waktu berhari-hari untuk sampai ke tempat tujuan, Tuan," jawab Laksa ketika sudah berada di samping jendela kereta.

"Berapa lama lagi akan sampai?" Tanya orang itu lagi sambil menjulurkan kepalanya melalui jendela kereta. Sejenak sepasang mata saudagar yang tak lain dari Ki Dewana itu merayap i sekitarnya.

"Kalau tidak ada halangan, paling tidak esok malam sudah sampai di tempat tujuan, Tuan," jawab Laksa lagi.

"Apa maksudmu dengan halangan itu, Laksa?" Ki Dewana mengerutkan keningnya tak senang mendengar keterangan tukang pukulnya itu. Tampak kekhawatiran terbayang di wajahnya yang bulat itu.

"Ah! Maaf, Tuan. Maksudku, apabila kereta ini tidak mengalami kerusakan atau paling tidak seperti Itulah," sahut Laksa cepat. “Permisi, Tuan. Aku akan memeriksa jalan d idepan."

Setelah berkata demikian, Laksa yang menjadi kepala centeng Ki Dewana itu bergegas menghentak tali kekang kuda meninggalkan kereta. Laksa melarikan kudanya hingga beberapa ratus tombak didepan. Sepasang matanya berputar merayapi sekitar tempat itu. Jalan didepan nampak lebih rata meskipun masih banyak terdapat batu cadas berserakan. Kepalanya menoleh ketika mendengar suara kaki kuda mendatangi dari arah belakang.

"Ada apa, Gardi? Kau nampak gelisah?" tegur Laksa ketika penunggang kuda yang tak lain adalah kawannya itu datang mendekat.

"Entahlah, Kakang. Rasanya perasaanku tidak enak sekali hari ini. Hm... Apakah di daerah ini pernah terjadi perampokan?" entah kenapa, tiba-tiba saja orang yang dipanggil Gardi itu bertanya demikian kepada Laksa.

Pertanyaan kawannya itu tidak langsung dijawab Laksa, lahanya menatap wajah Gardi penuh selidik, solah-olah ingin mencari apa yang telah menyebabkan kawannya berpikir demikian. Sejurus kemudian, dialihkannya pandangannya disertai tarikan napas berat.

"Hm.... Sepanjang pengetahuanku, jalan ini termasuk yang paling aman di antara jalan-jalan lain. Karena, jalan ini hampir tidak pernah dilalui pedagang atau pun saudagar yang hendak bepergian. Itulah sebabnya, mengapa aku lebih suka melewati jalan ini daripada jalan yang lain. Jadi, rasanya pemikiran mu itu tidak beralasan," tegas Laksa menjawab pertanyaan kawannya. Meskipun sebenarnya agak terpengaruhi ucapan Gardi, namun ia berusaha menyembunyikannya.

Baru saja Laksa menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba terdengar lengkingan yang mirip siulan. Suara itu kemudian disusul siulan-siulan lain sehingga suasana yang semula sunyi itu menjadi ramai.

"Suara apa itu, Kang?" Tanya Gardi yang tertihat semakin gelisah ketika mendengar siulan yang bersahut-sahutan itu.

"Ah! Mungkin hanya suara binatang hutan saja. Ayo kita kembali!" sergah Laksa yang segera memacu kudanya ke arah kereta majikan mereka.

"Laksa! Kau dengar suara tadi?" Tanya Ki Dewana sambil menjulurkan kepala ketika pengawalnya itu sudah berada di samping kereta.

"Hanya suara burung-burung hutan, Tuan."

"Hhh...," Ki Dewana menarik napas lega sambil menyenderkan kepalanya ke bantalan tempat duduk kereta itu. Laki-laki gemuk brewok itu memejamkan matanya, seolah-olah ingin menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang memenuhi benaknya.

"Kakang, lihat! Apa itu yang menghalangi jalan?!" tiba-tiba Gardi berseru keras sambil menunjuk sebuah benda yang melintang menghalangi jalan kira-kira dua ratus tombak di depan

"Biar kulihat!" sahut Laksa langsung menggeprak kudanya mendekati benda itu. "Heran, mengapa aku tadi tidak melihatnya?" pikir Laksa ketika mendekati benda melintang yang ternyata adalah sebuah pohon roboh yang menghalangi jalan. Kepala centeng Ki Dewana itu bergegas melompat turun dari atas punggung kuda, dan berdiri menanti yang lain. Laksa meneliti keadaan sekitar, kalau-kalau dapat menemukan penyebab robohnya pohon besar itu. Hatinya menjadi curiga ketika tidak melihat adanya sebuah pohon pun yang roboh. Pohon yang berjajar di tepi jalan itu masih berbaris utuh dan tidak ada satu pun yang tumbang.

"Aneh! Kalau begitu, dari mana datangnya pohon besar ini?" gumam Laksa tak habis mengerti. Wajahnya mendadak menegang merasakan keanehan itu. Diam-diam tangannya bergerak meraba gagang pedang yang tersembul dari batik bajunya. Nalurinya mengatakan kalau ada bahaya mengancam sedang mengintainya.

Gardi yang telah sampai di tempat itu segera membantu Laksa menyingkirkan batang pohon yang menghalangi jalan. Sementara dua orang lainnya berjaga-jaga dengan senjata terhunus. Namun sampai batang pohon itu disingkirkan ke tepi jalan, tidak ada satu pun kejadian yang seperti mereka pikirkan.


Kini kereta itu kembali melaju menapaki jalan yang mulai rata dan berkelok-kelok. Sampai sejauh itu, mereka tetap aman tanpa mengalami satu gangguan pun. Untuk sementara rombongan kecil itu dapat menarik napas lega. Baru sesaat merasa tenang, mendadak terdengar suara mendesing tajam yang menuju arah mereka.

Cappp!

Suara berdesing yang ternyata ditimbulkan sebatang tombak itu dielakkan Laksa. Senjata itu tidak mengenai sasaran, dan menancap pada sebatang pohon yang berada di sebelah kiri. Belum lagi mereka dapat berbuat sesuatu, tiba-tiba kuda-kuda mereka tersungkur akibat tertancap anak panah pada batang leher. Maka empat ekor kuda yang ditunggangi centeng-cente g Ki Dewana, langsung mati.

Sementara empat centeng yang kudanya tersungkur langsung melesat, dan melakukan salto di udara. Dan mereka mendaratkan kaki di atas jalan berbatu itu tanpa men galami cidera sedikit pun, dan langsung menghunus senjata masing-masing. Gerakan mereka terlihat sigap dan terlatih baik sebagaimana layakny a orang-orang yang memiliki kepandaian. Diiringi siulan-siulan nyaring, enam sosok tubuh berlompatan keluar dari balik semak-semak di tepi jalan. Mereka yang rata-rata mengenakan baju dan celana berwarna putih itu berdiri tegak dalam jarak tiga tombak di hadapan Laksa dan kawan-kawannya.

"Ha ha ha...! Rupanya kalian ingin coba-coba melarikan diri! Kalian keliru kalau berpikir dapat menghindar dari kekuasaan Penghuni Rimba Gerantang!" tiba-tiba terdengar suara tawa yang berkepanjangan.

Dan tahu-tahu dari arah belakang kereta berjalan menghampiri seorang laki-laki gemuk dan agak pendek yang mengenakan pakaian serba hitam. Orang itu tak lain adalah Iblis Baju Hitam yang rupanya sudah menjadi kaki tangan Penghuni Rimba Gerantang.

"Ragapati! Apa maksudmu menghadang perjalanan kami?" tegur Laksa yang rupanya sudah mengenal Iblis Baju Hitam itu.

"Ha ha ha... Jangan berlagaknbodoh, Laksa! Bukankah kau sedang mengungsikan seorang dara cantik yang akan jadi persembahan bagi Penghuni Rimba Gerantang?" Iblis Baju Hitam yang ternyata bernama Raga ati itu tertawa mengejek. Sementara, kakinya terus melangkah mendekati kereta tempat Ki Dewana dan keluarganya berada.

"Bangsat! Tidak semudah itu untuk dapat mengganggu majikan kami, Iblis Baju Hitam. Langkahi dulu mayatku!" bentak Laksa sambil melompat menghadang langkah Ragapati yang hendak mendekati kereta. Dan tanpa banyak cakap lagi langsung digerakkan senjatanya seraya menerjang Iblis Baju Hitam yang hanya tertawa penuh ejekan.

"Anak-anak! Rampas gadis anak saudagar itu, dan bawa menghadap ketua!" perintah Ragapati kepada enam orang berseragam putih yang segera melompat mematuhi perintah.

"Jangan terburu n afsu, Kisanak!" tegas Gardi. Pemuda itu bersama tiga orang lainnya serentak menghadang. Tanpa basa-basi lagi ketiga orang centeng Ki Dewana itu segera menerjang enam orang berjubah putih yang mencoba mengganggu majikannya itu.

Sesaat kemudian, mereka pun segera terlibat dalam pertarungan berat sebelah. Enam orang berseragam putih itu ternyata rata-rata memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi. Dalam beberapa jurus saja tiga orang centeng Ki Dewana itu terdesak hebat! Sehingga mereka harus mengerahkan seluruh kemamp uan untuk dapat mengimbangi permainan lawan. Dua orang berseragam putih bergegas meninggalkan tiga orang centeng yang tengah bertarung melawan empat orang lainnya. Kedua orang itu melompat ke arah kereta. Sang kusir yang mencoba menyelamatkan majikannya, terpaksa harus rela melepaskan nyawa akibat tebasan golok salah seorang berpakaian putih itu. Kusir yang gagah itu terguling roboh bermandikan darah.

Salah seorang berseragam putih itu bergegas menarik pintu kereta. Ki Dewana yang menyadari adanya bahaya, mencoba menyelamatkan putrinya yang diseret keluar oleh salah seorang dari mereka. Namun, saudagar itu benar-benar tak berdaya karena sama sekali tidak mengerti ilmu silat itu. Sekali orang berseragam putih itu menggerakkan senjatanya, tubuh Ki Dewana langsung terguling mandi darah. Di punggung saudagar itu terdapat luka memanjang akibat tebasan pedang lawan.

"Ayah...! Oh... tolooonggg...! Lepaskan aku! Kalian manusia-manusia biadab! Lepaskan! Paman Laksa, tolooonggg...!" Putri Ki Dewana itu berteriak-teriak dan meronta-ronta dalam pondongan orang itu.


Laksa menggigit bibirnya melihat kejadian itu. Masalahnya, dia sendiri tengah berusaha mati-matian menyelamatkan diri dari ancaman tangan maut Iblis Baju Hitam yang memang memiliki kepandaian tinggi. Beberapa bagian tubuhnya tampak terluka dan mengeluarkan darah akibat jari-jari tangan lawan.

Dua orang berseragam putih yang memondong gadis itu terus melarikan diri ke dalam hutan. Teriakan-teriakan gadis itu kian melemah karena rasa takut dan ngeri memenuhi hatinya.

"Ah, gadis itu cantik sekali. Sayang sekali ketua sangat membutuhkannya. Kalau tidak... hm...," ujar salah seorang dari mereka yang rupanya merasa tergiur melihat kecantikan gadis itu.

"Jangan berpikir yang bukan-bukan, kalau kau masih menyayangi kepalamu!" bentak kawannya yang membuat orang itu terdiam seketika.

Belum lagi jauh memasuki hutan, tiba-tiba keduanya menghentikan langkah. Di hadapan mereka tampak berdiri seorang pemuda tampan yang mengenakan jubah dan celana putih. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai lepas. Tampak sehelai kain yang juga berwarna putih menghias kepalanya. Wajahnya terlihat tenang. Sebuah senyuman ramah menghias wajahnya. Siapa lagi pemuda itu kalau bukan Panji yang berjuluk Pendekar Naga Putih.

Untuk beberapa saat lamanya, kedua orang itu hanya berdiri bengong tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka terkejut ketika melihat pakaian pemuda itu yang mirip dengan pakaian para pemimpinnya. Kedua orang itu menjadi ragu-ragu karena merasa khawatir kalau-kalau pemuda itu adalah salah seorang pemimpin mereka. Memang, selama ini mereka jarang sekali bertemu para pemimpinnya. Bahkan juga tidak mengenal semuanya.

"Siapa... siapa kau, Kisanak... ?" Tanya salah seorang dari mereka takut-takut. Kelihatan sekali kalau dua orang itu begitu hormat kepada Panji.

Pendekar Naga Putih berpikir cepat. Ketika melihat keraguan yang tergambar pada wajah kedua orang itu, ia segera dapat menerka kalau kedua orang itu pastilah anggota suatu perkumpulan yang selalu mengenakan pakaian serba putih. Dan pastilah mereka, hanya anggota biasa yang tidak begitu mengenal para pimpinannya. Mendapat pemikiran demikian, Panji segera merubah sikap dan wajahnya. Sejurus kemudian, wajahnya yang semula selalu tersenyum ramah itu mendadak dingin, den senyumnya seketika lenyap.

"Hm... Kalian tidak mengenali aku?" ujar Panji dengan suara serak dan mengandung ancaman. Sepasang matanya mencorong tajam menyiratkan hawa kematian.

"Maafkan kami, Tuan Muda...? Kami memang bodoh tidak dapat mengenali Tuan Muda!" ucap kedua orang berpakaian serba putih itu langsung menjatuhkan dirinya dan berlutut di hadapan Panji setelah terlebih dulu meletakkan tubuh gadis itu ke atas tanah berumput. Mereka memang sudah mengetahui kalau para pimpinan mereka rata-rata kejam dan tak kenal ampun. Tentu saja mereka khawatir kalau sosok berjubah putih itu adalah salah seorang pimpinan mereka yang selalu menurunkan tangan kejam. Maka mereka langsung berlutut dan meminta maaf.

"Tinggalkan gadis itu, dan teruskan pekerjaan kalian! Cepat..!" sentak Panji menggelegar sehingga membuat kedua orang itu lari terbirit-birit meninggalkan tawanannya.

Sepeninggal kedua orang itu, Panji tersenyum geli. Sungguh tidak diduga sama-sekali kalau dua orang berseragam putih itu demikian mudah dibohongi. Dengan wajah masih tersenyum, pemuda itu membungkuk memeriksa tubuh gadis itu. Hatinya menjadi lega ketika mendapati gads itu hanya pingsan dan tidak mengalami luka sedikit pun.

"Uuuhhh...." Gadis itu merintih lirih setelah Panji mengurut bagian belakang lehernya yang disertai sedikit pengerahan tenaga dalam. Pelahan-lahan matanya terbuka. Dan ketika pandangannya tertumbuk pada seorang pemuda yang tengah berjongkok di sisinya, dia bergegas bangkit. Wajahnya kembali pucat dibayangi rasa takut.

"Oooh, tidak..! Jangan...!" Gadis itu melangkah mundur sambil berteriak-teriak lemah. Air matanya mengalir membasahi pipi yang halus itu.

"Jangan takut, Nini. Aku tidak akan menyakitimu. Ceritakanlah apa yang terjadi dengan mu? Aku menemukanmu tengah tergeletak pingsan di sini. Dan kalau aku bermaksud jahat, mengapa harus menunggumu sadar?" ujar Panji memberi alasan disertai senyum ramah.

Putri Ki Dewana itu tertegun sejenak ketika mendengar keterangan pemuda tampan di hadapannya. Ditatapnya wajah Panji seolah ingin menemukan jawabannya di wajah itu. Keraguan mulai sirna di wajah gadis itu ketika melihat bahwa wajah pemuda itu sama sekali tidak menggambarkan watak jahat.


"Tapi, mengapa kau ada di sini? Apalagi pakaianmu sama dengan pakaian mereka!" sahut gadis itu gagap . Biar bagaimana pun ia masih belum percaya akan keterangan pemuda di depannya. Siapa tahu pemuda itu tengah bersiasat.

"Hm... baiklah! Sebenarnya begini...." Panji lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya. "Lalu, ke mana perginya ke dua orang itu?" "Entahlah? Aku hanya menyuruh mereka untuk meneruskan pekerjaannya."

"Kalau benar ceritamu, kau harus cepat menolong ayahku!" seru gadis itu tersenyum di antara tangis dan kecemasan hatinya karena mendengar cerita Panji yang lucu dalam menolongnya tadi.


EMPAT

Pendekar Naga Putih dan putri Ki Dewana bergegas keluar dari dalam hutan. Panji diam saja ketika tangannya ditarik, lalu diajak berlari oleh gadis itu. Diam-diam hatinya merasa suka kepada gadis yang periang dan mudah bersahabat itu. Namun dibalik itu semua tetap saja hatinya terpukul atas musibah yang dialami ayahnya.

Sementara itu, suara-suara orang bertempur kian jelas terdengar. Denting senjata ditingkahi suara teriakan-teriakan dan bentakan yang membahana, membuat gadis itu semakin mempercepat larinya. Namun di antara suara-suara itu, terdengar suara rintihan, yang cukup menyayat.

"Oooh...! Tolooonggg... lepaskan aku binatang!" Perempuan cantik berusia sekitar empat puluh tahun tengah berteriak-teriak dalam pelukan seorang berpakaian putih yang menciumi penuh nafsu. Sebagian baju wanita itu sudah sobek di sana-sini, sehingga menampakkan kulitnya yang putih mulus.

"Ibu...! Kakang Panji, tolong ibuku!" Teriak gadis itu yang rupanya sudah saling berkenalan dengan Pendekar Naga Putih. Putri Ki Dewana benar-benar kalut melihat ibunya tak berdaya dibawah cengkeraman laki-laki penuh nafsu iblis itu.

"Tenanglah, Adik Ratna. Diamlah di sini! Dan jangan pergi dari tempat ini, sampai aku kembali!" Tegas Panji tenang. Sesat kemudian, gadis yang ternyata bernama Ratna ini hanya melihat sesosok bayangan putih yang berkelebat dari sampingnya. Gadis itu terkejut, namun semakin kagum kepada pemuda penolongnya itu. Pendekar Naga Putih melesat cepat ke arah orang yang tengah liar menjelajahi tubuh wanita itu.

"Aaahhh...! Entah bagaimana, laki-laki yang tengah menindih istri Ki Dewana itu seketika melambung dan terbanting keras di atas tanah berbatu. Orang itu langsung diam tak bergerak karena lehernya patah akibat cengkeraman tangan Panji yang mengandung tenaga dalam tinggi.

Kejadian itu berlangsung hanya sekejap mata saja, sehingga laki-laki yang berseragam putih yang tidak jauh dari situ menjadi kebingungan. Ternyata tahu-tahu di dekat wanita yang hendak digagahi berdiri seorang pemuda tampan, mengenakan jubah putih.

"Menepilah Nisanak. Biar kuhadapi manusia-manusia buas ini,” ujar Panji sambil menatap orang di depannya lekat-lekat. Sinar matanya mencorong tajam menimbulkan perbawa yang menggetarkan h ati.

"Sssiaaapaa... Kau... ?" Tanya orang itu gemetar karena telah melihat kedahsyatan cengkeraman pemuda berjubah putih. Apalagi saat itu Pendekar Naga Putih menatap tajam, begitu menusuk. Orang itu pun juga terkejut melihat pakaian pemuda itu yang mirip pakaian para pemimpin mereka.

"Hu... Siapa aku, bukan urusanmu. Sekarang bersiaplah melawat ke neraka!" ucap Pendekar Naga Putih dingin.

Setelah berkata demikian, tangan pemuda itu terulur mengancam tenggorokan lawan. Gerakannya terlihat lambat dan asal jadi saja. Namun tidak demikian yang dirasakan lawannya. Uluran tangan Panji yang mengarah ke leher orang itu masih tetap mengancam meskipun pedangnya telah beberapa kali menebas. Setiap kali menebas, setiap kali itu pula lengan Pendekar Naga Putih berputar mengelak, untuk kemudian meluncur kembali mengancam leher. Hingga akhirnya, orang itu pasrah ketika jari-jari tangan Panji mencengkeram lehernya. Terdengar sebuah keluhan pendek ketika jari-jari Pendekar Naga Putih meremas leher lawannya. Maka orang itu pun tewas seketika karena tulang lehernya patah!

"Bangsat! Rupanya kau yang mengelabui kami, Anak Muda! Siapa kau sebenarnya?! Dan di mana gadis itu kau sembunyikan?" Bentak salah seorang laki-laki berpakaian putih yang tadi berjumpa Panji pada saat orang itu tengah melarikan putri Ki Dewana.

"Tidak perlu banyak bicara! Majulah kalau memang berani!" tantang Pan ji tersenyum tenang.

"Kurang ajar! Kau sengaja mencari mampus, Kisanak! Nah, mampuslah! Hiaaatt...!"

Dibarengi teriakan keras, oraig itu segera menerjang Panji yang diikuti tiga orang larinya. Rupany a ketiga orang centeng Ki Dewana telah tewas saat membela majikannya. Dan kini keempat orang itu bergerak mengeroyok Panji.

Tubuh Pendekar Naga Putih berkelebatan di antara sambaran senjata lawan-lawan yang berdesingan di sekitar tubuhnya. Pemuda itu tak ubahnya seekor naga putih yang sedang bermain-main di angkasa. Tubuhnya kadang-kadang merendah menghindari serangan lawan, dan dilain saat melambung melampaui kepala lawan-lawannya. Sehingga hampir sepuluh jurus berlalu, tak satu pun senjata lawan yang berhasil menyentuh tubuhnya. Tentu saja hal itu membuat empat orang lawannya semakin marah dan penasaran. Dan mereka pun semakin mempercepat serangan-serangan.

Pada jurus kesepuluh, Panji berniat menyudahi permainannya. Ketika dua buah pedang lawan membacok dari atas ke bawah, tubuhnya cepat-cepat mengegos, lalu melangkah ke kiri. Setelah itu, dijejakkan kedua kakinya ke tanah hingga tubuhnya seketika melambung dengan posisi kaki di atas. Dan sebelum kedua orang lawannya sadar akan apa yang terjadi, tahu-tahu saja punggung mereka bagai dihantam sebuah palu godam yang besar dan berat!

Bukkk! Desss!

"Huakkk..!"

Kedua orang itu tersungkur sambil memuntahkan darah segar akibat hantaman tangan Panji. Mereka berkelojotan sesaat, kemudian diam tak berkutik Mereka mati dengan tulang punggung remuk.

Dua orang berseragam putih lainnya melompat mundur ketika melihat kawan-kawan mereka telah tewas akibat pukulan pemuda itu. Wajah keduanya memucat karena tidak menyangka kalau pemuda yang dikeroyok itu ternyata memiliki kepandaian tinggi. Meskip un kegentaran telah menyelimuti hati, namun mereka sudah bersiap menyerang kembali. Sambil berteriak parau, keduanya segera menerjang Pendekar Naga Putih. Bergegas pemuda itu menggerakkan tubuhnya menyelinap di antara dua batang pedang yang hendak menebas. Dan pada saat tubuhnya di antara kedua lawannya, Panji mengembangkan kedua tangan dengan siku tertekuk yang telah mendarat di lambung lawan-lawannya.

Bukkk! Bukkk!

"Hukkk...!"

Dua orang berseragam putih itu terhuyung ke depan sambil meringis menahan sakit pada lambung. Cairan merah mengalir dari celah-celah bibirnya. Dan selagi mereka terhuyung-huyung, tubuh Panji berputar setengah lingkaran melepaskan sebuah tendangan terbang yang sekaligus menghantam rahang lawan.

Seketika, dua orang berseragam putih yang naas itu terjungkal akibat tendangan maut yang dilepaskan Pendekar Naga Putih. Mereka meraung menahan sakit yang luar biasa karena tulang rahang telah remuk. Sesaat kemudian mereka sudah diam tak bergerak, pingsan!

Bruggg!

Tiba-tiba sesosok tubuh tegap melayang dan hampir menimpa tubuh Panji kalau saja tidak segera dihindarinya. Orang itu merintih menahan sakit, karena tubuhnya telah dipenuhi tetesan darah di sana-sini. Meskipun demikian, ia masih tetap berusaha untuk bangkit. Ternyata dia adalah Laksa, kepala centeng Ki Dewana yang bertarung melawan Ragapati atau Iblis Baju Hitam.

Rupanya meskipun mengetahui kalau kepandaian Iblis Baju Hitam tidak mungkin dapat tertandingi, namun Laksa berusaha mati-matian menyelamatkan nyawa majikannya sekeluarga. Walaupun akhirnya dia hanya menjadi bulan-bulanan Iblis Baju Hitam, kepala centeng itu tidak peduli. Memang, Iblis Baju Hitam paling suka menyiksa lawan sebelum akhirnya terbunuh. Itulah sebabnya, mengapa sampai sejauh itu Laksa sampai saat ini masih saja belum dibunuh Iblis Baju Hitam itu.

Panji bergegas membungkuk dan menekan pundak Laksa agar tidak segera bangkit. Dari jari-jari tangannya keluar hawa murni yang membuat luka-luka yang diderita Laksa tidak terlalu menyiksa.

"Telanlah pil ini, dan beristirahatlah Paman. Biar aku yang akan menghadapi orang itu," kata Panji samb lil menyerahkan sebutir pil yang berwarna putih bagaikan kapur. Setelah berkata demikian Panji memalingkan kepalanya, menatap tajam Iblis Baju Hitam.

"Hati-hatilah, Kisanak Iblis Baju Hitam memiliki kepandaian tinggi!" sahut Laksa memperingatkan.

"Terima kasih, Paman. Mudah-mudahan dapat kuatasi," jawab pemuda itu merendah. Kemudian, pemuda itu melangkah kakinya menghampiri Ragapati yang tengah memandang dalam jarak sekitar empat tombak

"Siapa kau, Anak Muda?! Menyingkirlah sebelum aku kehilangan kesabaranku!" bentak Iblis Baju Hitam meremehkan keberadaan Panji.

"Aku adalah orang yang paling tidak suka melihat kejahatan berlangsung didepan mataku. Maka, kusarankan agar secepatnya meninggalkan tempat ini sebelum segalanya menjadi terlanjur," ujar Panji tak kalah gertak.

"Setan! Rupanya kau sengaja ingin mencari penyakit, Anak Muda!" malu Ragapati geram. Sungguh tidak disangka kalau anak muda itu sedemikian berani membalikkan kata-katanya.

"Hm.... Siapa yang ingin mencari penyakit? Kau atau aku, orang Tua?" Balas Panji tersenyum membangkitkan kemarahan Ragapati.

"Heh! Tahukah kau, sekarang ini berhadapan dengan siapa?" Tanya Iblis Baju Hitam memancing. Sementara dadanya sudah terasa panas bagaikan terbakar karena menahan amarah.

"Ha ha ha...! Siapa yang tidak kenal Iblis Baju Hitam yang namanya tersohor di kolong langit sebagai penjahat kelas rendah?!"

"Setan belang!" Bentak Ragapati murka. Kalau saja pemuda itu belum mengenal namanya, itu masih bisa dimaklumi. Tapi p emuda itu bukan saja telah mengenal, bahkan begitu berani memaki sebagai penjahat rendah. Dapat dibayangkan betapa murkanya Iblis Baju Hitam. "Kurobek mulut lancangmu itu, Anak Muda!" Setelah berkata demikian tubuh Ragapati melesat dengan sebuah serangan berbahaya.

Wuttt!

Pendekar Naga Putih merendahkan kuda-kuda, maka serangan itu lewat di atas kepalanya. Pemuda itu langsung membalas dengan sebuah tamparan menuju kepala lawannya. Iblis Baju Hitam menarik kepala ke belakang sehingga tamparan Panji menyambar tempat kosong. Namun sayang Iblis Baju Hitam terlalu memandang rendah pemuda itu. Maka ketika Panji menyusuli dengan sebuah tendangan, akibatnya....

Bukkk!

Meskipun tendangan yang dilakukan Panji tidak terlalu keras, tapi cukup membuat tubuh Ragapati terjajar sejauh enam langkah. Iblis Baju Hitam meringis sambil mengusap lambungnya yang terasa nyeri.

"Huh! Pantas saja kau berani bersikap kurang ajar padaku. Rupanya kau memiliki sedikit kepandaian!" Geram Iblis Baju Hitam menahan sakit. Hatinya merasa penasaran sekali karena dalam segebrakan saja telah kecolongan. Dan itu benar-benar diluar dugaannya sama sekali.

"Hm...," gumam Panji pelan. Ia memang sudah tidak bernapsu untuk melayani ucapan lawan.

"Jangan merasa takabur dulu, Anak Muda! Aku belum bersungguh-sungguh tadi. Nah, sekarang bersiaplah!" ancam Ragapati tegas. Setelah berkata demikian, dipersiapkan ilmu andalan yang sangat dibanggakannya. Ilmu 'Menghalau Barisan Seratus Golok' itu.

Iblis Baju Hitam cepat menggerakkan golok panjangnya secara bersilangan hingga menimbulkan kilatan sinar putih. Kaki kirinya ditarik ke belakang sambil mengacungkan golok di atas kepala. Disertai sebuah teriakan parau, tubuhnya meluncur cepat melancarkan serangan bertubi-tubi.

Panji melebarkan senyum ketika melihat lawannya ternyata memiliki ilmu yang cukup bermutu. Memang diakui kalau ilmu itu cukup berbahaya. Hanya saja, ilmu itu tidak dilatih sempurna hingga masih terlalu banyak kelemahan pada pertahanannya.
Meski gerakan Iblis Baju Hitam sangat cepat, tapi masih kelihatan lambat di mata pemuda itu. Kedua matanya yang memang sangat tajam itu mudah menemukan beberapa kelemahan pada gerakan lawan. Itulah sebabnya, mengapa serangan Ragapati yang bertubi-tubi itu mudah sekali dielakan.

"Hm.... Sayang, gerakanmu masih terlalu lambat dan belum terlatih secara sempurna, Iblis Baju Hitam!" Jelas Panji sejujurnya tanpa bermaksud menghina. Sedangkan tubuhnya terus bergerak menghindari sebuah tebasan yang mengancam lambung, dan langsung melancarkan tamparan kilat ke bahu lawan.

Desss!

"Uuuhhh...!" Tubuh Iblis Baju Hitam melintir ketika tamparan tangan itu mendarat di bahunya. Untuk beberapa saat, tangan kanannya itu sempat lumpuh dan tergantung lemas. Pada saat itu juga tubuh Panji sudah melesat disertai tamparan ke pelipis.

Prakkk!

"Aaahhhkkk...!" Iblis Baju Hitam tak sempat lagi mengelakkan tamparan maut itu. Ia memekik tertahan, dan terguling roboh. Ragapati atau Iblis Baju Hitam tewas seketika karena kepalanya pecah akibat tamparan yang mengandung tenaga dalam tinggi. Seketika darah menggenangi tanah berbatuan itu.

Setelah memastikan kalau lawannya benar-benar tewas, Panji bergegas melangkah ke arah kereta berkuda. Disana, Ki Dewana yang telah terluka parah dan tengah berkumpul menanti bersama istri, anak dan pembantunya. Wajah keempat orang itu mulai bersinar cerah ketika melihat pemuda itu berhasil membunub iblis Baju Hitam yang terkenal sadis dan kejam itu.

“Terima kasih, Kakang Panji. Tidak dapat kubayangkan, apa yang akan terjadi pada diriku apabila Kakang tidak datang menolong. Mungkin saat ini aku sudah berada dalam cengkeraman Penghuni Rimba Gerantang itu. Hiii...! Betapa mengerikan!" Ucap Ratna yang segera menyambut hangat kedatangan Pendekar Naga Putih. Gadis itu tidak malu-malu lagi menggandeng tangan Panji, dan menuntun ke arah kedua orang tuanya.

Ki Dewana dan istrinya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap putrinya. Sikap manja gadis itu benar-benar membuat suasana di antara mereka menjadi kecanggungan. Diam-diam timbul niat di hati saudagar kaya itu untuk menjodohkan anak gadisnya dengan pemuda tampan yang menjadi penolongnya itu.

"Ayah! Ini Kakang Panji yang menolong kita. Kepandaiannya tinggi sekali, Ayah! Pantas saja orang-orang jahat itu tidak ada yang mampu melawannya," lapor gadis itu kepada Ki Dewana yang hendak bangkit menyambut pemuda itu.

"Beristirahatlah dulu, Paman! Luka di punggung Paman masih mengeluarkan darah. Kalau Paman tidak keberatan, akan kucoba untuk mengobati luka itu," ujar Panji yang segera mencegah Ki Dewana agar tetap duduk di tempatnya.

"Ah, terima kasih. Silakan, Nak Panji...."

Bergegas Panji mengeluarkan sebungkus obat bubuk berwarna kuning dari dalam buntalan pakaian. Sigap sekali Pendekar Naga Putih mengobati Ki Dewana dan Laksa. Keduanya merasakan ada hawa dingin yang menyelusup ketika bubuk berwarna kuning itu ditaburkan Panji di atas luka-luka yang diderita. Beberapa saat kemudian mereka tidak lagi merasakan nyeri pada luka itu. Tentu saja keduanya menjadi gembira, dan semakin bertambah kagum terhadap pemuda itu.

"Wah! Obat lukamu mujarab sekali, Panji. Rupanya selain memiliki kepandaian silat, kau juga ahli dalam pengobatan! Bukan main...," seru Laksa kagum.


"Wah, wah, wah...! Sudah, Paman. Sudah! Bisa-bisa kepalaku nanti menjadi besar mendengar pujian yang berlebihan itu. Oh, ya. Apakah Ki Dewana ingin meneruskan perjalanan?" Tanya Panji men lgalihkan percakapan, la tidak lagi memanggil saudagar itu dengan sebutan Paman, ketika Ratna telah memperkenalkan nama orang tuanya itu.

"Tentu saja akan tetap meneruskan perjalanan, Nak Panji. Karena biar bagaimanapun, aku harus menyelamatkan Ratna dari jangkauan Penghuni Rimba Gerantang yang biadab itu!" sahut Ki Dewana.

"Jadi, Ki Dewana sengaja mengungsi?" Tanya Panji ingin meminta penegasan.

"Ya! Karena di Desa Muara Bening tempat kami tinggal, telah dikuasai pengaruh iblis. Dan pada setiap bulan purnama, penduduk desa harus mempersembahkan tiga orang perawan suci kepada Penghuni Rimba Gerantang. Maka aku terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan anakku dari kebiadabannya. Tapi rupanya iblis itu telah mengetahui, sehingga mengirimkan para pembantunya untuk merampas anakku dan membunuhku. Untunglah kedatanganmu tepat pada saatnya, Nak Panji. Dan kini, kami sekeluarga dapat kau selamatkan. Aku tidak tahu dengan apa harus membalas kebaikanmu ini," ungkap Ki Dewana menceritakan asal mulanya pertempuran tadi.

"Hm.... Jadi, mereka bukan sekadar perampok biasa," gumam Panji tak jelas. "Seperti apakah kira-kira orang yang disebut Penghuni Rimba Gerantang itu, Ki?"

"Entahlah, Nak Panji. Tidak ada seorang pun yang pernah bertemu atau melihat Penghuni Rimba Gerantang? Entah berwujud manusia atukah Iblis."

"Jadi, Penghuni Rimba Gerantang tidak pernah menampakkan diri? Dan yang melaksanakan segala kejahatan selama ini hanya para pengikutnya saja? Begitu maksud Ki Dewana?" Tanya Panji lagi semakin merasa penasaran.

"Begitulah keny ataannya!" Jawab Ki Dewana sambil menghela napas.

"Apakah Kepala Desa Muara Bening tidak berusaha melakukan perlawanan?" Tanya pemuda itu yang rupanya semakin tertarik akan cerita tentang Penghuni Rimba Gerantang yang penuh misteri itu.

“Tentu kami para penduduk desa telah berusaha mencegah hal itu. Tapi jangankan berhadapan dengan Penghuni Rimba Gerantang, baru menghadapi para pembantunya saja sudah meminta korban banyak. Hingga akhirnya, penduduk dan kepala desa menyetujui mempersembahkan tiga orang perawan yang masih suci pada tiap-tiap bulan purnama. Sekali saja membantah, maka Desa Muara Bening akan dimusnahkan iblis itu."

“Terima kasih atas keterangan mu, Ki. Kalau begitu, aku permisi dulu karena hendak melanjutkan perjalanan," pamit Panji. Sebentar kemudian Pendekar Naga Putih sudah melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban mereka.

Ki Dewana dan Laksa bergegas bangkit untuk mencegah kepergian pemuda tampan yang sederhana namun memiliki kepandaian tinggi itu. Belum lagi keduanya membuka suara, tiba-tiba Ratna berlari mengejar pemuda penolongnya itu. Gadis itu memang sudah terlanjur menyukai, sehingga merasa berat untuk ditinggalkan pemuda yang sangat dikaguminya. Panji menolehkan kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki yang lembut di belakangnya. Seketika pemuda itu menahan langkahnya.

"Kakang.. tunggu...!" Teriak gadis itu sambil berlari mengejar Pendekar Naga Putih. Sedang yang lain hanya memperhatikan dari kejauhan.

Ki Dewana sama sekali tidak berusaha untuk mencegah putrinya. Karena sudah terlanjur suka akan sikap dan kerendahan hati pemuda itu. Laki-laki brewok itu seperti tidak merasa keberatan kalau putrinya akan jatuh cinta kepada pendekar muda itu.

"Ada apa, Ratna?" Tanya Panji lembut. Sikap dan pandangannya seperti seorang kakak yang memaklumi sikap manja adiknya.

"Kakang, mengapa begitu terburu-buru? Ke mana Kakang hendak pergi?" Tanya gadis cantik itu sendu, seraya kedua tangannya memegang lengan Panji erat-erat. Seakan-akan gadis itu ingin menunjukkan bahwa hatinya merasa berat untuk berpisah.

"Entahlah, Ratna. Aku tidak mempunyai tujuan pasti," jawab Panji menutup keinginan yang sebenarnya. Dia sudah bermaksud akan singgah di Desa Muara Bening untuk menyingkap misteri Penghuni Rimba Gerantang. Memang peristiwa di desa itu telah menggugah jiwa kependekarannya.

Gadis itu termenung sejenak mendengar jawaban Panji. Sesaat kemudian kepalanya kembali tegak, lalu menatap pemuda itu lekat-lekat. "Kakang...," panggil Ratna setengah berbisik.

"Hm...."

"Bolehkah bertanya sesuatu?"

"Tentu saja boleh," jawab Panji mencoba menebak ke mana arah tujuan perkataan gadis itu.

"Apakah kakang tidak kasihan padaku?" Ringan sekali gadis itu bertanya sehingga membuat Panji menjadi bingung sejenak

“Tentu saja, Ratna."

"Kalau begitu, aku ingin agar kau mengantarkan kami ke tempat tujuan. Siapa tahu, di tengah jalan nanti aku diculik orang jahat!" Pinta gadis itu, sambil menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang merah merona.

"Ha ha ha.... Tentu saja aku bersedia, Ratna. Aku juga tak tega jika gadis secantik dirimu hanya untuk persembahan Penghuni Rimba Gerantang. Bisa ubanan aku." Gurau Panji sambil melangkah ke arah kereta. Tidak lama kemudian, mereka berangkat meninggalkan tempat itu.

***
LIMA
Hari masih sangat pagi, dan matahari pun belum lagi muncul. Kegelapan masih menyelimuti bumi. Hanya suara kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan menandai kedatangan sang pagi.

Sementara angin pagi bersilir lembut menebarkan udara dingin menyejukkan, membuat tubuh terasa segar setelah beristirahat panjang. Pintu-pintu rumah penduduk Desa Muara Bening tampak satu persatu mulai terbuka. Tampak satu dua orang penduduk mulai keluar untuk menyegarkan tubuh.

Ketika di sebelah Timur cahaya mulai tampak kemerahan, seorang penunggang kuda menghela tunggangannya keluar dari mulut Desa Muara Bening Binatang itu melesat menerobos suasana remang-remang yang menjelang terang. Dari cara melarikan kudanya, jelas kalau ia begitu tergesa-gesa, seolah-olah tengah berpacu dengan waktu. Entah apa yang dikejarnya sepagi itu.

"Hiya...!"

Orang itu berteriak sambil menghentakkan tali kekang agar kuda itu berlari lebih cepat lagi. Padahal binatang itu telah mendengus-dengus kelelahan. Sepertinya binatang itu, terpaksa melaju semakin cepat.

Setelah cukup jauh meninggalkan mulut desa, orang itu mulai memperlambat lari kudanya. Memang jalan yang dilalui tidak lagi semulus tadi. Rupanya ia tidak ingin menanggung resiko kalau kaki kudanya akan mengalami cidera. Orang itu adalah seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh lima tahun. Wajahnya terlihat gagah dan cukup simpatik. Di pinggangnya nampak tersembul sebuah gagang golok. Pakaian yang serba hitam membuatnya semakin gagah.


Pemuda itu tak lain Ragas yang menjadi pembantu utama Ki Jatar. Hari itu ia mendapat tugas untuk melaporkan kejadian yang menimpa penduduk Desa Muara Bening ke kadipaten, dengan harapan sang adipati mengirimkan pasukan untuk memberantas para perusuh itu. Ragas menarik tali kekang kuda ketika sampai di petigaan jalan. Diedarkan pandangannya, meneliti kedua jalan yang dapat membawanya ke tempat tujuan.


"Hm… Lebih baik aku mengujungi Guru lebih dahulu untuk mengabarkan kematian Kakang Dumpa. Dan kalau bisa, sekaligus meminta bantuan beliau untuk menumpas Penghuni Rimba Gerantang dan para pengikutnya itu," gumam Ragas dalam hati. Segera dibelokkan kudanya ke arah kiri. Kedua jalan itu kini tidak jadi dilalui. Karena menurut hematnya, melalui jalan hutan akan lebih aman.

Pemuda pembantu Kepala Desa Muara Bening itu bergegas memacu kudanya menerobos semak belukar. Tujuannya sekarang adalah kediaman gurunya, tempat dia dulu dididik ilmu silat yaitu di Gunung Bulangkang.

Belum begitu jauh Ragas menempuh perjalanan melalui hutan, tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesosok tubuh berjubah putih yang berdiri tegak menghadang perjalanannya. Cepat-cepat Ragas menarik tali kekang kudanya untuk berbalik menuju kedatangannya semula.

Pemuda itu menjadi tegang ketika beberapa tombak di depannya berdiri sosok tubuh serupa. Ditolehkan kepalanya ke belakang. Tampak orang tadi menghadangnya berjalan mendatangi. Begitu pula yang dilakukan orang yang di hadapannya. Kedua penghadang itu mengenakan pakaian serupa.

"Celaka! Utusan Penghuni Rimba Gerantang..!" bisik Ragas gentar, dan seketika itu juga wajahnya memucat. Cepat diputar kudanya ke arah samping untuk menghindari diri dari kedua orang berjubah putih itu.

Namun Ragas kalah cepat! Dua orang berjubah putih itu melenting, lalu beberapa kali bersalto di udara. Kaki mereka mendarat beberapa langkah di hadapan kuda Ragas. Mereka adalah Sepasang Mambang Lembah Maut.

"Ha ha ha.... Ingin lari ke mana kau keparat!" Ejek salah seorang dari mereka bengis.

"Kita permainkan dulu tikus ini, Kakang. Setelah itu baru dibunuh," umpat Sepasang Mambang Lembah Maut yang bernama Jonggali.

Mendengar ejekan dua orang bertopeng tengkorak itu, hati Ragas menjadi panas. Namun, ia bukan orang bodoh yang hanya mau menurut napsunya saja. Dicarinya jalan untuk menyelamatkan diri. Sebab biar bagaimanapun, kedua orang itu tak akan dapat ditandingi. Menghadapi salah seorang dari mereka saja, pemuda itu tidak mungkin menang. Apalagi keduanya. Bahkan malah jadi bulan-bulanan mereka.


"Hiya...!"

Tiba-tiba Ragas mengeluarkan bentakan keras dan sekaligus menggeprak tubuh kudanya. Binatang itu menjadi terkejut, lalu menjadi liar dengan melompat ke depan. Maka kedua orang bertopeng tengkorak itu mau tidak mau harus menghindar agar tidak tersepak kaki kuda.

Belum lagi jauh binatang itu berlari, mendadak binatang itu meringk ik keras, lalu roboh terguling. Rupanya salah seorang dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu telah melemparkan sebuah batu kerikil dan langsung mengenai kaki depan kuda yang ditunggangi Ragas. Maka cepat-cepat pemuda itu melentingkan tubuhnya agar tidak ikut terbanting, lalu mendarat empuk sejauh empat tombak dari kudanya.

"Hm.... Jangan harap lolos dari tanganku, tikus busuk!" Bentak Jonggala orang tertua dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu.

Setelah berkata demikian, tubuh Jonggala meluncur ke arah Ragas dan langsung melontarkan sebuah pukulan yang menimbulkan desing angin tajam. Ragas yang mengetahui kalau serangan itu amat berbahaya, segera melempar tubuhnya bergulingan. Maka ia terhindar dari serangan maut itu. Tapi dugaanya ternyata keliru. Ternyata baru saja bisa bangkit berdiri, tahu-tahu saja sebuah tendangan menghantam dadanya.

Bukkk!

"Ouggghhh...!" Tubuh Ragas terpental disertai darah segar yang menyembur dari mulutnya. Tubuhnya terguling- guling sejauh tiga tombak. Sambil menekap dada yang terasa remuk, Ragas berusaha bangkit dan mencabut golok yang terselip di pinggang.

"Majulah kalian, masing-masing iblis! Aku tidak akan menyerah begitu saja! Phuihhh...!" Teriak Ragas sambil menyemburkan air ludahnya bercampur darah. Rupanya pemuda itu siap menantang maut!

Pemuda itu cepat menahan gejolak amarah yang menggelora di dadanya. Ia teringat akan pesan gurunya agar berusaha bersikap tenang dalam menghadapi pertempuran. Karena kemarahan hanya akan membuatnya lengah dan mudah dikuasai lawan.

"Ha ha ha...! Lucu sekali! Seekor cacing ingin bertingkah seperti naga! Kau memang patut mendapat siksaan sebelum kubunuh!" Ujar Jonggala sambil memperdengarkan tawa iblisnya. Begitu ucapannya selesai, tubuhnya melesat melancarkan serangan berikut.

Sadar kalau dua lawannya memiliki kepandaian lebih
tinggi, Ragas mengelebatkan senjata untuk membuat pertahanan. Sinar goloknya bergulung- gulung menyelimuti tubuhnya sehingga menyulitkan lawan untuk melontarkan pukulan. Tapi kepandaian orang tertua dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu memang jauh di atas Ragas. Maka, ketika pertarungan memasuki jurus kelima, pertahanan pemuda itu pun mulai jebol. Sebuah hantaman sisi telapak tangan miring lawan telak menghantam iganya. Dan selagi tubuh pemuda itu terjajar, kembali tangan kiri Jonggala menggedor perut.

Desss!

"Huakkk..!" Tubuh Ragas seketika terlempar keras. Darah segar kembali menyembur dari mulutnya. Pemuda itu mengeluarkan rintihan lirih sambil berusaha bangkit. Selagi matanya mencari-cari senjatanya yang terlempar entah ke mana, dua buah tamparan pada wajah kembali membuatnya terguling-guling. Ragas merasakan bumi yang dipijaknya bergoyang. Kepalanya bagaikan tertimpa palu godam. Darah pun mengalir dari bibirnya yang telah pecah. Kedua pipinya membengkak, dan beberapa buah giginya tanggal akibat tamparan keras itu.

Sambil memperdengarkan tawa iblisnya. Jonggala dan Jonggali melangkah menghampiri tubuh lawan. Sedang Ragas hanya dapat menanti apa yang akan dilakukan kedua orang itu terhadap dirinya. Seperti hatinya memang sudah pasrah. Tapi sebelum melangkah lebih dekat, tiba-tiba Sepasang Mambang Lembah Maut melompat mundur. Dan selagi tubuh berada di udara, sepasang lengan mereka melakukan dorongan untuk mengusir getaran gelombang tenaga dalam yang tak tampak.

Jonggala dan Jonggali mengerutkan keningnya ketika tahu-tahu saja sosok tubuh jangkung telah berdiri dan tengah memeriksa tubuh Ragas. Rambutny a y ang sudah memutih digulung ke atas. Pakaian yang dikenakan hanyalah berupa kain putih yang dilibat-libatkan ke seluruh tubuh. Melihat cara dandanan orang bertubuh jangkung itu, pasti dia seorang pertapa.

"Guru...!" Panggil Ragas di antara rintihannya. Berbagai perasaan berkecamuk di hati pemuda itu ketika melihat kedatangan gurunya yang langsung menolongnya.

"Tenanglah, muridku. Telanlah obat ini setelah itu, aturlah pernapasan agar tenagamu cepat menjadi pulih," ujar orang tua itu lembut sambil menyerahkan sebutir pil kepada muridnya. Setelah memeriksa bahwa keadaan Ragas tidak terlalu mengkhawatirkan, orang tua yang bernama Resi Bagawa itu membalikkan tubuhnya.

"Hm.... Apa yang telah diperbuat muridku hingga kalian begitu tega menyiksanya?" Tanya Resi Bagawa masih tetap bernada lembut. Sepasang mata tuanya menatap tajam, seolah-olah mencoba mengenali kedua orang itu. "Ah...! Kalau mataku tak salah lihat, bukankah kalian yang berjuluk Sepasang Mambang Lembah Maut? Aneh, apa yang dilakukan muridku hingga kalian rela meninggalkan Lembah Maut?"

"Tidak perlu banyak cakap, Orang Tua! Kau pikir aku akan gentar dengan nama Resi Bagawa yang berjuluk Cambuk Hujan dan Badai?! Huh! Jangan harap, kakek peot!" Tegas Jonggala takabur. "Nah, bersiaplah untuk kukirim ke neraka! Hiaaattt...."

"Hebat'" puji Resi Bagawa tulus. Segera kakek itu menggerakkan tubuhnya secara sembarangan tapi membuat lawan memukul tempat kosong. Tubuh orang tua sakti itu mencelat ke udara ketika Jonggali ikut pula mengeroyok. Resi bagawa mendaratkan kakinya di tanah berumput, dan terpisah cukup jauh dari lawannya. Dan tahu-tahu saja, tangan kanannya memegang sebuah cambuk berwarna putih.

Sementara Sepasang Mambang Lembah Maut telah pula mencabut senjata masing-masing, yaitu sepasang golok berbentuk bulan sabit. Sepasang senjata Jonggala dan Jonggali itu berbahaya sekali, karena dapat digunakan tak ubahnya sebuah bumerang. Apalagi yang menggunakan adalah tokoh sakti seperti mereka. Tentu saja senjata itu semakin berbahaya!


"Bersiaplah, Cambuk Hujan dan Badai! Hari ini senjata kebanggaanmu tidak akan banyak menolong!" Ejek Jonggali meremehkan lawan.

"Hiahhh...!" Sambil membentak keras, dua saudara kembar itu meluncur disertai ayunan sepasang golok bulan sabitnya.

Wunggg! Wunggg!

Dua pasang senjata di tangan Jonggala dan Jonggali mengaung merobek udara pagi yang mulai terasa hangat. Cahaya sinar matahari yang jatuh menimpa senjata-senjata itu menimbulkan kilatan sinar yang menyilaukan mata.

Resi Bagawa bertindak cepat memutar cambuknya, sehingga menimbulkan angin menderu yang membawa udara dingin. Terkadang ujung cambuk itu meledak memekakkan telinga. Tapi anehnya, ledakan cambuk itu bukan menimbulkan percikan bunga api, melainkan menimbulkan titik-titik air. Dan bila mengenai kulit lawan, titik-titik air itu akan terasa perih. Mungkin itu yang menyebabkan Resi Bagawa dijuluki Cambuk Hujan dan Badai oleh kaum persilatan.

Wunggg! Wunggg!

"Hm…!" Gumam kakek itu, tak jelas. Resi Bagawa menggeser tubuhnya menghindari dua buah serangan Jonggala. Belum lagi sempat membalas, senjata di tangan Jonggali sudah mengancam perut dan lehernya. Resi Bagawa menghindar ke belakang dibarengi ayunan camtuk menuju ke pelipis orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut.

"Iiihhh...!" Jonggali cepat menarik tubuhnya sambil memiringkan kepala, maka ujung cambuk itu hanya mengenai tempat kosong. Kemudian dilempar tubuhnya ke atas, dan melambung di udara. Segera dilepaskannya dua senjata yang langsung berputar ke arah lawannya. Kedua senjata itu berputar bagaikan bumerang, sehingga menimbulkan suara mengaung yang membuyarkan daya perhatian lawan.

Resi Bagawa cukup terkejut melihat kehebatan sepasang senjata lawannya itu. Cepat tubuhnya berguling menyelamatkan diri dari ancaman sepasang senjata itu. Pada saat hendak bangkit, terdengar suara mengaung dari sebelah kiri. Segera Resi Bagawa memutar tubuhnya serendah mungkin, lalu sekaligus melakukan tangkisan dengan tangan kirinya.

Plakkk!

"Aaahhh...!" Pekik Jonggala tertahan ketika tangkisan Resi Bagawa menghantam sikunya. Tubuh Jonggala terjajar mundur karena kuda-kudanya telah tergempur. Dirasakan tangannya lumpuh untuk beberapa saat lamanya. Diam-diam harus diakui kalau kepandaian orang tua itu memang tidak bisa dibuat main-main. Dialirkan hawa murni ke lengan yang terasa lumpuh itu, dan sesaat kemudian kembali diterjangnya Resi Bagawa yang tengah bertarung sengit melawan adiknya.

Pertarungan kembali berlanjut. Semakin lama semakin seru dan menegangkan! Sebenarnya secara perorangan, Sepasang Mambang Lembah Maut itu tidak akan mampu bertahan lebih dari dua puluh jurus dalam menghadapi gempuran Resi Bagawa. Tapi karena keduanya maju secara bersama-sama dengan serangan yang kompak dan rapi, maka cukup sibuk juga Resi Bagawa dibuatnya.

Berkali-kali orang tua itu nyaris termakan senjata dua orang lawannya yang berbentuk aneh itu. Maka Resi Bagawa harus lebih berhati-hati dan memperhitungkan gerakannya secara cermat. Kalau tidak, bukan mustahil tubuhnya akan terkoyak senjata lawan yang berbentuk bulan sabit itu.

Pada jurus yang kedua puluh dua, Jonggala dan Jonggali melempar tubuh ke belakang secara berbarengan. Dan sebelum mendarat di tanah, mereka melontarkan empat buah golok bulan sabit itu bersamaan. Suatu cara bertempur yang sangat licik!

"Hm...," Resi Bagawa hanya bergumam ketika melihat gerakan lawan-lawannya. Ketika senjata-sejata itu tiba di dekatnya, Resi Bagawa segera menjejakkan kakinya. Tubuh orang tua itu melambung ke atas menghindari dua buah senjata yang lewat di bawah kakinya. Sedang, dua senjata lain nyaris melukai bahu dan lambungnya kalau saja tidak cepat dimiringkan tubuhnya. Tapi begitu keempat senjata itu tidak menemui sasaran, senjata-senjata itu langsung berbalik tanpa berkurang sedikit pun kecepatannya.

Crasss! Brettt!

"Aiihhh...!" Resi Bagawa berseru kaget! Tanpa dapat dicegah lagi, dua buah di antara senjata itu merobek baju dan betisnya ketika berbalik. Kakek berjuluk Cambuk Hujan dan Badai terhuyung beberapa langkah. Sementara dari luka di kaki kirinya telah mengalir darah segar. Untunglah, luka itu tidak begitu dalam dan tidak terlalu mengkhawatirkan. Cepat-cepat tangannya melakukan totokkan di beberapa jalan aliran darah di kakinya untuk mencegah aliran darah.

"Hm.... Sungguh berbahaya!" Desah Resi Bagawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Begitu rasa nyeri dilukanya lenyap, kakek itu menyedot udara sebanyak-banyaknya. Lalu cambuknya diputar sedemikian rupa, sehingga menimbulkan suara menderu dan mendebarkan arena pertarungan itu. Sepasang Mambang Lembah Maut langsung terkejut ketika tiba-tiba saja bertiup angin keras yang membawa hawa dingin. Sama-samar dirasakan ada titik-titik air yang menimpa tubuh mereka.

"Jurus Cambuk Hujan dan Badai...!" Seru Sepasang Mambang Lembah Maut takjub.

Menyadari kalau lawannya telah mengeluarkan jurus-jurus andalannya pada tingkat yang lebih tinggi, Jonggala dan Jonggali segera bersiap menghadapinya. Bergegas keduanya mengeluarkan ilmu andalan pada tingkat terakhir, yaitu jurus 'Golok Terbang Merenggut Sukma'.

Dalam jurus ini Sepasang Mambang Lembah Maut mencampurinya dengan unsur tenaga gaib. Sehingga, keempat golok terbang mereka terkadang bagaikan benda hidup dan dapat bergerak sendiri. Hanya saja, tenaga dalam yang dipergunakan sangat banyak dan melelahkan. Maka mau tak mau mereka harus menggunakannya karena sadar kalau kepandaian Resi Bagawa sangat tinggi dan berbahaya.

"Hahhh!"

Sepasang Mambang Lembah Maut membentak keras bagai hendak menggetarkan jagad. Keduanya segera menjatuhkan diri duduk bersila berdampingan Mereka berpegangan tangan kanan dan kiri satu sama lain, sedangkan tangan yang satu terulur ke depan dengan jari-jari terbuka. Sepasang Mambang Lembah Maut memejamkan mata menyatukan tenaga dan pikiran untuk menggerakkan senjata.

Resi Bagawa cukup terkejut ketika dua pasang senjata yang diletakkan didepan mereka, tiba-tiba saja mulai bergerak naik bagaikan bernyawa. Kemudian, dua pasang senjata itu berputar cepat dan meluncur ke arah Resi Bagawa. Kakek sakti itu sampai ternganga takjub dibuatnya! Sadar kalau dirinya terancam bahaya, segera digerakkan cambuk putih di tangannya. Kali ini Resi Bagawa harus mengerahkan hampir seluruh tenaganya.

Werrr! Werrr!

Hebat sekali akibat yang ditimbulkan putaran cambuk itu. Angin dingin bertiup keras hingga membuat beberapa batang pohon terdekat tercabut. Dan dengan demikian dua pasang golok bulan sabit yang tengah meluncur ke arahnya tertahan, untuk kemudian terpental balik.

Sepasang Mambang Lembah Maut semakin memperkuat daya serang melalui senjata mereka. Namun setiap kali golok bulan sabit itu menyerang, selalu berbalik! Memang dinding badai yang diciptakan Resi Bagawa benar-benar sukar ditembus. Peluh mulai mengalir deras membasahi pakaian Jonggala dan Jonggali. Wajah mereka memerah bagai udang rebus.

Nampaknya, mereka benar-benar harus mencurahkan seluruh kemampuan dalam pertarungan itu. Empat batang golok bulan sabit itu kembali meluncur dengan kekuatan berlipat ganda. Kali ini senjata-senjata itu tidak sampai terpental balik, tapi mengambang di udara berusaha menerobos dinding badai yang kuat itu. Rupanya Jonggala dan Jonggali telah mengerahkan seluruh kemampuannya. Demikian juga Resi Bagawa.

Ragas yang menyaksikan pertarungan dari tempat tersembunyi, sampai ternganga kagum dibuatnya. Tidak disangka kalau kepandaian Sepasang Mambang Lembah Maut itu mampu mengimbangi gurunya. Kalau saja tidak disaksikannya sendiri, tentu ia tidak akan percaya.

"Heaaahhh!?"

Ctarrr! Jterrr!

"Uuuggghhh...!"

Pada saat yang tepat Resi Bagawa membentak nyaring sambil melecutkan cambuknya. Maka dua buah senjata lawan yang terpukul ujung cambuk itu kontan terpental jatuh. Berbarengan dengan jatuhnya dua buah senjata itu, dua saudara dari Lembah Maut itu terdorong mental terguling-gulingan. Tampak dari mulut mereka menyembur darah kental kehitaman!

Sedangkan Resi Bagawa sendiri hanya terjajar mundur. Tangan kanannya yang memegang cambuk terasa linu akibat berbenturan dengan dua senjata itu. Orang tua berjuluk Cambuk Hujan dan Badai itu menggeleng-gelengkan kepala, karena kagum akan kehebatan tenaga lawan-lawannya.

Sepasang Mambang Lembah Maut bergerak bangkit meski agak limbung. Kini keduanya mengalami luka parah akibat senjata mereka dapat dilumpuhkan lawan. Memang senjata-senjata itu telah disatukan dengan tenaga mereka. Sehingga, apabila lawan mengetahui kelemahannya dan memiliki tenaga lebih kuat, mereka akan mudah dilumpuhkan. Dengan memukul jatuh senjata-senjata itu, berarti sama saja dengan memukul tubuh mereka berdua.

"Hari ini kami mengaku kalah," ungkap Jonggala penuh dendam. Setelah berkata demikian Sepasang Mambang Lembah Maut bergegas meninggalkan tempat itu setelah terlebih dahulu memungut senjata-senjata mereka.

Resi Bagawa hanya memandang kepergian mereka tanpa mengucapkan separah kata pun. Memang diakui, dia merasa sangat lelah setelah melakukan pertempuran tadi. Pelahan-lahan kakek sakti itu melangkahkan kakinya mendekati tempat muridnya bersembunyi.

"Guru...!" Panggil Ragas yang langsung menjatuhkan dirinya berlutut di bawah kaki Resi Bagawa.

"Mari kita mencari tempat yang lebih enak! Aku ingin mendengar keteranganmu!" Ajak Resi Bagawa sambil menggandeng bahu Ragas.

***
ENAM
Matahari pelahan-lahan mulai tenggelam, setelah menyelesaikan tugasnya menerangi mayapada ini. Dalam keremangan senja, tampak Panji berlari menggun akan ilmu meringankan tubuh agar dapat tiba di Desa Muara Bening sebelum gelap-gulita. Tubuh pemuda itu berkelebat di antara pohon besar, tak ubahnya sebuah bayangan hantu. Terkadang tengah bermain-main di angkasa raya.

Beberapa waktu kemudian, Pendekar Naga Putih telah mencapai jalan umum yang cukup lebar. Segera dihentikan larinya di tepi jalan itu Dirayapi daerah itu untuk memastikan kalau dirinya tidak menemui jalan yang salah. Memang Panji sengaja memotong jalan lewat hutan sambil mempergunakan ilmu meringankan tubuh agar perjalanan menjadi lebih cepat.

Rupanya, begitu selesai mengantarkan keluarga Ki Dewana ke tempat tujuan, Panji berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Pemuda itu masih teringat ketika Ratna, anak gadis Ki Dewana, melepaskan keberangkatannya dengan hati sangat berat. Setelah Panji berjanji akan mengunjunginya kelak, barulah gadis itu rela melepaskan pegangan tangannya. Panji jadi tersenyum sendiri seraya menggelengkan kepalanya, jika mengingat hal itu.

Pendekar Naga Putih melangkahkan kakinya lambat-lambat. Menurut keterangan Ki Dewana, letak desa itu tidak terlalu jauh dari Hutan Jati. Dan apabila menemukan jalan yang bersimpang tiga, Panji harus mengambil jalan kiri. Dari situ, Panji akan menemukan jalan menuju Desa Muara Bening. Tepat pada saat Panji tiba di persimpangan jalan, dari mulut hutan di depannya muncul dua orang laki-laki yang tak lain Ragas dan Resi Bagawa. Mereka juga hendak menuju ke Desa Muara Bening.

Ketika melihat seorang berjubah putih yang melangkah ke arah mereka, Ragas mencabut golok panjangnya. Sambil melintangkan goloknya, pemuda itu berbisik kepada Resi Bagawa.

"Guru. Tampaknya orang itu adalah salah satu pimpinan mereka yang hendak menuntut balas atas kekalahan Sepasang Mambang Lembah Maut tadi!"

Wajah Ragas nampak tegang ketika membisikkan kata-kata itu kepada gurunya. Menurut anggapannya, pasti orang ber jubah putih itu memiliki kepandaian yang
lebih tinggi dari Jonggala dan Jonggali yang dipecundangi gurunya. Yakin kalau orang berjubah putih itu adalah salah satu dari musuhnya, tanpa banyak cakap lagi Ragas langsung menerjangnya. Goloknya diputar sedemikian rupa hingga menimbulkan desing angin tajam.

"Hei!" Teriak Panji kaget sambil menghindari golok di tangan penyerangnya. Gila! Orang sinting dari mana ini yang tanpa bertanya lagi langsung menyerang orang demikian ganasnya? Namun Panji tidak bisa berpikir lebih banyak lagi, karena serangan lawan begitu cepat datangnya. Panji mengulur tangan kirinya bermaksud merampas golok itu. Sedang, tangan kanannya melakukan dorongan ke dada orang itu.

Ragas yang tengah melancarkan serangan bertubi-tubi itu menjadi terkejut sekali melihat kecepatan gerak lawan. Cepat-cepat ditarik pulang tangannya sambil menggeser tubuh ke belakang, menghindari serangan Panji. Tapi bukan main kagetnya hati Ragas ketika kedua tangan itu tetap saja mengejarnya. Hingga akhirnya....

"Brettt! Buggg!"

"Aaahhhkkk...!" Murid Resi Bagawa itu menjerit tertahan ketika tahu-tahu goloknya telah terampas, ditambah tangan kanan Panji yang telah menghantam dadanya. Tak ayal lagi, tubuh Ragas pun terpental dan jatuh di hadapan gurunya. Ragas merintih kesakitan, dan dari sela-sela bibirnya tampak cairan merah mengalir pelahan.

Resi Bagawa cukup terkejut melihat cara orang berjubah putih itu menjatuhkan muridnya. Dan secara sepintas tadi telah dapat diukur tingkat kepandaian pemuda berjubah p lutih itu. Orang tua itu hampir tak percaya ketika melihat orang yang menjatuhkan muridnya itu masih muda sekali. Paling banyak, usianya baru sekitar dua puluh atau dua puluh satu tahun.

"Hm.... Anak Muda! Meskipun kepandaianmu sangat tinggi, aku tidak akan mundur. Dan, aku akan mencoba mengusirmu dari Desa Muara Bening, agar bencana yang menimpa rakyat tidak berkepanjangan," setelah berkata demikian, Resi Bagawa segera mencabut senjatanya. Cambuk berwarna putih yang menebarkan hawa dingin itu meledak-ledak menimbulkan percikan air yang terasa nyeri apabila menyentuh permukaan kulit.

"Tahan dulu, Orang Tua! Aku tidak...," belum lagi Panji sempat menyelesaikan ucapannya, serangan cambuk Resi Bagawa sudah meluncur datang.

Jtarrr! Jterrr!

"Haiiittt...!" seru Panji nyaring. Pemuda berjubah putih itu segera melempar tubuhnya dan melakukan salto sebanyak empat kali. Dan baru saja hendak berdiri tegak, tahu-tahu ujung cambuk lawan sudah meluncur datang. Rasanya, tidak ada waktu lagi untuk menghindar. Maka Panji segera menggerakkan tangan kanannya menangkap ujung cambuk. Hampir separuh dari tenaga dalamya digunakan untuk melindungi kulit tangan agar tidak luka.

Jeprattt!

"Uuuhhh...!" Panji berseru tertahan dan terdorong mundur sampai beberapa langkah ke belakang ketika ujung cambuk itu meliuk menghantam tangannya. Untunglah pemuda itu telah berjaga-jaga melindungi tangannya sehingga tidak sampai terluka. Tapi tak urung rasa nyeri menusuk juga menjalar hingga sebatas siku. Diam-diam Pendekar Naga Putih memuji keku atan tenaga dalam yang dimiliki orang tua yang menjadi lawannya itu.

Dan ternyata Resi Bagawa juga sangat terkejut ketika mendapat kenyataan kalau cambuk yang selama ini dibanggakan tidak mampu melukai kulit lawan. Segera dia mencari alasan kalau dirinya belum menggunakan seluruh tenaga.

"Jangan takabur dulu, Anak Muda! Bersiaplah menghadapi jurus 'Cambuk Hujan dan Badai' ku!" Setelah berkata demikian, Resi Bagawa memutar cambuknya hingga menimbulkan angin ribut. Seketika batu-batu kecil beterbangan akibat putaran angin kuat yang ditimbulkan cambuk di tangannya.

Panji cukup terkejut melihat kehebatan jurus lawannya itu. Maka bergegas pemuda itu menyedot udara sebanyak-banyaknya. Rupanya Pendekar Naga Putih mulai mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang dahsyat itu. Sesaat kemudian, hawa dingin menusuk menebar dan bertiup keras. Tampak selapis kabut bersinar putih keperakan bergerak menyelimuti tubuh pemuda itu.

"Pendekar Naga Putih...!?" Gumam Resi Bagawa ragu. Meskipun masih diliputi keraguan, namun gerakannya segera dihentikan, sehingga badai yang diciptakannya mendadak lenyap! "Tunggu dulu, Anak Muda!"

"Hm.... Ada apalagi, Orang Tua? Mengapa berhenti?" Sahut Panji yang masih bersiap menghadapi pertarungan.

"Sebentar, Aku ingin bertanya sesuatu," ungkap Resi Bagawa lagi.

"Silakan...!"

"Apakah kau..., Pendekar Naga Putih...?"

"Begitulah orang persilatan menyebutku!" Jawab Panji tanpa sedikit pun tersirat nada kesombongan.


Ragas yang mendengar penegasan Panji, langsung berubah wajahnya. Sungguh tak disangka kalau orang berjubah putih itu adalah Pendekar Naga Putih. "Maafkan aku yang bodoh ini, Pendekar Naga Putih," ucap Ragas di antara rintihan kesakitan.

"Lupakanlah," hanya itu yang diucapkan Panji

"Ahhh...! Kalau begitu kita telah salah paham, Pendekar Naga Putih," jelas Resi Bagawa seraya menarik napas lega sekaligus gembira. Lega karena tidak jadi bertarung melawan pemuda berkepandaian tinggi. Hatinya juga gembira karena dengan hadirnya pendekar muda sakti itu, Resi Bagawa berarti telah mendapat bantuan yang dapat diandalkan untuk menumpas Penghuni Rimba Gerantang.

"Ah! Maafkan aku, Eyang Resi. Untunglah kita tidak saling menjatuhkan," Panji merubah panggilannya sesuai dengan pakaian yang dikenakan Resi Bagawa. Pemuda itu membungkuk hormat kepada orang tua itu.


"Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, Pendekar Naga Putih. Untunglah aku segera dapat mengenalimu berkat ciri-cirimu yang jarang dimiliki kaum persilatan itu," Resi Bagawa tertawa senang. "Namaku Resi Bagawa dan itu muridku Namanya Ragas. Boleh kutahu namamu, Pendekar Naga Putih? Apakah engkau mempunyai tujuan datang ke daerah ini?"

"Namaku Panji, Eyang Resi. Sedang kedatanganku kemari hanya kebetulan lewat saja," sahut Panji mencoba menyembunyikan maksudnya.

"Hm.... Jadi, tidak ada maksud lain...?" Resi Bagawa menggantungkan ucapannya. "Tidakkah kau mendengar tentang sesuatu selama perjalananmu ke sini?"

"Maksud Eyang Resi...?" Tanya Panji ingin mengetahui sampai seberapa jauh yang diketahui Resi Bagawa tentang Penghuni Rimba Gerantang yang penuh misteri itu. Sedangkan, apa yang telah didengarnya dari Ki Dewana maupun Laksa, hanya sebagian kecil saja. Dan belum terlalu jelas.

Akhirnya, Resi Bagawa menceritakan tentang apa yang diketahuinya. Sesekali Ragas ikut menimpali, memberikan keterangan kepada Panji. Namun, segala apa yang diceritakan Ragas maupun gurunya ternyata tidak beda jauh dengan apa yang diceritakan Ki Dewana dan Laksa. Sehingga, sampai cerita kedua orang itu selesai, misteri Penghuni Rimba Gerantang masih belum terungkapkan.

"Kita tidak boleh membiarkan kejadian ini berlarut-larut, Panji. Mereka harus ditumpas!" Tegas Resi Bagawa menutup ceritanya.

"Benar! Kita harus mencobanya, Eyang Resi!”

"Lalu, bagaimana dengan tugasmu, Ragas?" Tanya Panji. Memang, Ragas telah menceritakan maksud perjalanannya.

"Rasanya sudah tidak perlu lagi. Aku yakin dengan adanya Eyang dan Pendekar Naga Putih, manusia-manusia iblis itu akan dapat ditumpas!" Tegas Ragas, yakin.

"Kalau begitu, marilah kita membuat rencana untuk menjebak mereka!" Usul Resi Bagawa. Panji dan Ragas mengangguk menyetujui usul orang tua itu. Dua orang pemuda itu tersenyum melihat semangat Resi Bagawa yang begitu menggebu-gebu.

"Sudah terlalu lama aku menyembunyikan diri. Dan mulai hari ini, aku akan mempunyai pengalaman yang akan membuatku menjadi lebih berarti," ucap Cambuk Hujan dan Badai penuh kegembiraan.

Angin sore bertiup pelahan menyejukkan. Tiga orang pendekar siap mengungkap misteri si Penghuni Rimba Gerantang!

***

Ragas melangkah gontai memasuki Desa Muara Bening Wajahnya terlihat agak pucat. Bahkan pakaian yang dikenakannya robek di beberapa bagian. Tampaknya dia tengah menderita luka.

"Kakang Ragas...! Apa... apa yang terjadi?" Salah seorang penjaga gardu yang ada di mulut desa berteriak kaget, la kontan berlari menyambut Ragas. Beberapa orang lainnya ikut pula menyongsong kedatangannya, lalu memapah tubuhnya.

"Bawa aku menghadap Ki Jatar...!" Pinta Ragas kepada para penjaga itu.

"Baik, Kakang!" Jawab orang yang pertama kali menyongsongnya tadi. Dan dengan dibantu seorang kawannya, mereka bergegas memapah Ragas ke tempat kediaman kepala desa.

Sepanjang perjalanan, para penduduk yang berpapasan dijalan menatap Ragas cemas. Mereka takut kalau-kalau salah seorang pemuda yang diandalkan itu akan meninggalkan mereka. Rupanya Ragas adalah salah seorang pimpinan yang disukai oleh penduduk desa itu. Beberapa waktu kemudian, ketiga orang itu pun tiba didepan sebuah rumah besar. Mereka bergegas memasuki halaman rumah besar itu.

"Cepat laporkan kepada Ki Jatar!" Teriak salah seorang yang membawa Ragas begitu melihat seorang penjaga yang baru keluar dari dalam rumah itu.

Tanpa banyak tanya lagi orang itu cepat bergegas masuk. Tidak berapa lama kemudian, Ki Jatar pun muncul. Kepala Desa Muara Bening itu terpaku sejenak melihat kedatangan Ragas dalam keadaan terluka.

"Ayo, bawa dia masuk ke dalam!" Perintah Ki Jatar. Setelah berkata demikian, orang tua itu segera masuk kembali Wajahn a terlihat agak pucat, karena keadaan Ragas itu.

Begitu memasuki rumah, dibaringkan tubuh Ragas di atas balai bambu yang terletak di ruang tengah. Dua orang yang tadi mengantarnya bergegas pamit meninggalkan rumah besar itu. Kini yang tinggal di dalam ruangan tengah itu hanya Ragas, ditemani Ki Rambing dan Ki Jatar.

"Hm.... Untung hanya luka-luka ringan saja," ujar Ki Jatar menarik napas lega. Namun di wajahnya terbayang kecemasan yang berusaha disembunyikan.

Selesai memeriksa keadaan pembantunya, Ki Jatar bergerak bangkit. Dia melangkah ke tepi jendela yang terbuka lebar itu. Sejenak dirayapinya pelataran samping dengan wajah murung. Berkali-kali ditariknya napas untuk menenangkan hatinya yang terguncang.

"Apa lagi yang harus kita lakukan sekarang, Ki? Entah apa maksudnya iblis-iblis itu membebaskan Ragas. Tidak mungkin kalau mereka begitu berbaik hati melepaskannya?" Tanya Ki Rambing sambil melangkah mendekati Ki Jatar yang masih terpaku di tepi jendela.

"Hhh...," Ki Jatar hanya mendesah lirih. Rupanya ia tidak mempunyai minat sedikit pun menimpali perkataan pembantunya itu. Pelahan-lahan dibalikkan tubuhnya, menghadap Ki Rambing. Ditatapinya wajah pembantunya itu lekat-lekat, seperti ingin membaca apa yang tengah dipikirkan Ki Rambing itu.

"Kau jagalah dia. Tubuhku lelah sekali dan jangan ganggu aku dulu. Aku ingin beristirahat," pinta Ki Jatar kemudian laki-laki tua itu melangkah ke dalam ruangan yang lain tempatnya menyepi dan bersemadi untuk menenangkan pikiran.

Ki Rambing tidak sempat berkata sepatah pun kecuali hanya mengangguk bingung melihat tingkah kepala desanya yang terlihat aneh itu. Kata-kata yang tiba-tiba saja menjadi kaku dan tidak ramah itu, menimbulkan berbagai pertanyaan di hati Ki Rambing. Namun hal itu berusaha dimakluminya karena keadaan desa memang tengah ditimpa musibah.

"Ohhh...," Ragas yang jatuh tertidur setelah diobati, tiba-tiba mengeluh pelahan. Pemuda itu menggeliat sejenak sebelum membuka kedua matanya.


"Ah! Syukurlah kau sudah bangun, Ragas. Bagaimana rasanya keadaanmu sekarang?" Tanya Ki Rambing sambil melangkah menghampiri pembaringan.

"Hm.... Rasanya memang sudah enakan, Ki," jawab Ragas sambil menggerak-gerakkan tangannya. Bergegas pemuda itu bangkit dari dipan bambu, karena merasa bahwa kesehatannya telah membaik. "Aku ingin berjalan-jalan sebentar, Ki. Untuk mencari udara segar," jelas Ragas lagi. Setelah berkata demikian, kakinya segera melangkah keluar.

"Biar kutemani," sahut Ki Rambing yang segera melangkah mengikuti Ragas.

Tangan kanan kepala desa ini sebenarnya merasa curiga melihat kepulangan Ragas yang hanya menderita luka-luka ringan saja. Menurutnya, itu merupakan hal yang mustahil. Sebab ia kenal betul, siapa itu para begundal Penghuni Rimba Gerantang yang kejam dan tak kenal ampun.

Ragas sebenarnya sudah dapat menduga akan kecurigaan Ki Rambing maupun Ki Jatar. Kedua orang itu rasanya terlalu cerdik untuk percaya begitu saja terhadap keberhasilan dirinya dalam meloloskan diri dari kekejaman para pengikut iblis itu. Memang, hal ini sebenarnya sengaja tidak diceritakan, sesuai yang direncanakan gurunya dan Pendekar Naga Putih. Maka sampai saat itu rencananya masih berjalan mulus.

Ki Rambing terus mengikuti langkah kaki Ragas yang menuju kebun yang terletak di belakang rumah itu. Dahi Ki Rambing berkerut melihat Ragas yang berjalan seperti benar-benar tengah menikmati udara sore yang menyegarkan itu. Tentu saja hatinya merasa heran, karena Ragas tidak menunjukkan tanda-tanda habis dicengkeram ketakutan ataupun kecemasan. Padahal, dia baru saja terlepas dari iblis-iblis begundal Penghuni Rimba Gerantang!

"Mmm... Ragas!" Panggil Ki Rambing ragu-ragu. "Ya, Ki. Ada apa?" Tanya Ragas tanpa menolehkan kepala.


"Benarkah orang-orang Penghuni Rimba Gerantang itu tidak mengejarmu? Rasanya, tidak mungkin kalau mereka membebaskanmu begitu saja?" Akhirnya Ki Rambing tidak sanggup juga menyembunyikan rasa penasaran dalam hari.

Mendengar pertanyaan itu, Ragas membalikkan tubuhnya. Ditatapnya wajah Ki Rambing penuh selidik. Sepertinya, Ragas ingin mengetahui apa maksud laki-laki itu sebenarnya.

"Apakah Ki Rambing tidak gembira melihat aku pulang dengan selamat? Apakah aku harus pulang dalam keadaan sudah menjadi mayat? Begitukah yang Ki Rambing inginkan?" Tanya Ragas dingin, tapi matanya terus menatap wajah laki-laki yang berusia lima puluh tahun itu.

"Hhh.... kau menyakiti hatiku, Ragas. Tidak cukupkah waktu lima tahun untuk saling mengenal? Kita telah sama-sama mengabdi di desa ini sejak lama. Tapi, rupanya kau masih belum mengenalku secara baik," sergah Ki Rambing sambil melangkah kakinya menyusuri tanah berumput. Wajahnya tampak muram, dan dari nada suaranya tersirat kepedihan.

"Maafkan aku, Ki. Tidak seharusnya aku berkata demikian. Tapi, keadaanlah yang membuatku harus berhati-hati."

"Kau menyembunyikan sesuatu padaku, Ragas? Dan kau... kau tidak percaya lagi padaku?" Tanya Ki Rambing tidak dapat menyembunyikan perasaannya.

Ragas menatap Ki Rambing lekat-lekat. Tampak sinar kesungguhan di mata dan wajah kawannya itu. Sedikit pun tidak tampak kalau orang itu tengah bersandiwara. Akhirnya, Ragas memutuskan untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Ki Rambing.

"Baiklah, Ki. Satu pesanku, jangan beritahukan apa yang akan kuceritakan ini kepada siapa pun! Berjanjilah, Ki!" Pinta Ragas setelah memastikan kalau hanya berdua di tempat itu.

"Baik, aku berjanji!" Tegas Ki Rambing sungguh-sungguh.

Dengan suara direndahkan, Ragas pun mulai menceritakan kejadian yang dialami pagi tadi. Ki Rambing mendengarkan cerita Ragas penuh kesungguhan. Sesekali napasnya tertahan, dan di lain saat terkejut, seolah-olah yang diceritakan kawannya itu benar-benar sebuah peristiwa yang menegangkan.

"Begitu, Ki. Hingga akhirnya aku, Guru, dan Pendekar Naga Putih sepakat untuk membuat rencana seperti yang tengah kujalani ini," tutur Ragas mengakhiri ceritanya. Sedang Ki Rambing masih saja termangu-mangu seperti tak percaya.

"Hm... mudah-mudahan rencana itu berjalan lancar," desah Ki Rambing penuh harap. "Sudahlah, mari kita kembali. Lihatlah hari sudah mulai gelap..." ajak laki-laki itu sambil melangkah meninggalkan kebun itu diikuti Ragas.

***
TUJUH
Malam mulai beranjak turun. Kegelapan pelahan menyelimuti permukaan bumi. Angin dingin bersilir lembut menyejukkan. Samar-samar tampak sang rembulan muncul utuh. Dalam siraman cahaya bulan purnama, tampak dua sosok bayangan putih berkelebatan di antara pepohonan. Gerakan mereka itu demikian cepat dan ringan, seolah-olah seperti iblis-iblis yang bergentayangan mencari mangsa.
Dua sosok bayangan putih itu terus berlarian di atas rumah-rumah penduduk Desa Muara Bening. Sepertinya, tujuan mereka adalah balai desa y ang letaknya di tengah-tengah desa itu.

Begitu tiba di halaman belakang balai desa, dua sosok bayangan putih itu bergegas menyelinap masuk ke dalamnya. Kesibukan yang ada di halaman depan balai desa itu sama sekali tidak dihiraukan. Tidak berapa lama kemudian, keduanya tiba di sebuah ruangan yang agak luas. Di situ terdapat tiga buah tandu yang dijaga enam orang berseragam hitam. Dua sosok bayangan putih itu tampak saling pandang sejenak, kemudian mengangguk berberengan.

Tiba-tiba tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kedua bayangan putih itu bergerak bagai kilat. Dalam sekejap saja, enam orang berseragam hitam itu telah berdiri kaku bagaikan patung. Rupanya keenam orang itu telah terjorok.

Sementara itu di luar bangunan, tampak Ki Jatar melangkah memasuki halaman balai desa. Di sebelah kanannya, berjalan Ki Rambing. Wajahnya terlihat agak tegang dan gelisah. Sepertinya, ada sesuatu yang dikhawatirkan. Ragas berlari menyambut kedatangan Ki Jatar yang juga tengah melangkah ke arahnya. Wajah anak muda pembantu utama kepala desa itu tampak agak gelisah.

"Ap akah segalanya telah kau persiapkan, Ragas?" Tanya Ki Jatar kepada pembantunya itu.

"Sudah, Ki. Kami hanya tinggal menunggu perintah Ki Jatar. Kapan kami akan berangkat, Ki?" Sahut Ragas tegang.

"Hm.... Kau tampaknya agak gelisah, Ragas? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Ki Jatar yang menjadi heran melihat sikap pembantunya itu.

"Tidak, Ki. Aku hanya takut kalau kejadian yang pernah menimpa Kakang Dumpa akan terulang lagi," jawab Ragas cepat.

"Hm.... Jika kita tidak membuat kesalahan, tidak mungkin mereka akan menurunkan tangan kejam. Sudahlah! Kejadian itu tidak usah diingat lagi. Nah! Sekarang, berangkatlah sebelum malam semakin
melarut," ucap Ki Jatar ringan, sepera sama sekali tidak mempedulikan nasib para gadis desa yang dijadikan persembahan itu.

Ragas mengangguk lemah, kemudian bergegas meninggalkan Ki Jatar. Ki Rambing pun ikut pula meninggalkan kepala desa itu, lalu melangkah mengikuti Ragas yang berjalan menuju ke dalam balai desa. Dia terus memasuki ruangan, tempat ketiga buah tandu diletakkan. Ragas yang melihat kalau keenam orang penjaga itu bagai patung, segera menangkap penyebabnya. Dengan cepat, pemuda itu memberi totokan untuk membebaskan mereka.

"Uhhh...," seru enam orang itu hampir berbarengan. "Apakah semua telah siap ?" Tanya Ragas kepada salah satu dari mereka, setelah bebas dari totokan.

"Beres, Kakang!" Jawab orang itu tegas. Seperti dikomando, mereka menyembunyikan kejadian yang dialami tadi. Mungkin saja takut dituduh lalai.

"Hm.... Kalau begitu, panggil yang lain untuk mengangkat tandu-tandu itu!" Perintah Ragas lagi. Orang itu mengangguk cepat dan langsung keluar untuk mencari kawan-kawannya yang lain.

Tidak berapa lama kemudian, orang itu sudah kembali membawa dua belas orang yang juga berseragam hitam. Mereka adalah orang-orang yang mendapat tugas membawa tandu. Setelah membungkuk hormat, kedua belas orang itu bergegas mengangkat tandu-tandu, dan bergegas menuju keluar bangunan itu.

Ki Jatar yang tengah menanti di halaman balai desa, membalas anggukkan Ragas, Ki Rambing, dan yang lainnya ketika iring-iringan itu melewati di depannya. Orang tua itu terus menatap kepergian iring-iringan itu hingga lenyap ditelan kegelapan bayang-bayangan pepohonan. Begitu rombongan itu lenyap , Ki Jatar bergegas meninggalkan balai desa untuk kembali ke rumahnya, ditemani dua orang berseragam hitam. Dua orang itu memang bertugas menjaga rumahnya.

Rombongan yang membawa persembahan untuk Penghuni Rimba Gerantang pada setiap malam bulan purnama itu terus berjalan menerobos kegelapan malam. Dari kejauhan, terdengar lolongan anjing hutan yang bersahut-sahutan. Sementara angin malam yang dingin bertiup kencang membuat suasana malam semakin menyeramkan.

Setelah kurang lebih seperempat malam mereka berjalan, rombongan itu tibalah di tepi Rimba Gerantang. Tanpa banyak bicara lagi, tandu-tandu itu segera diletakkan di bawah sebatang pohon besar, dekat mulut hutan.

"Penghuni Rimba Gerantang! Kami datang membawa persembahan untukmu. Sekarang, ijinkanlah kami kembali!" seru Ki Rambing sambil mengerahkan tenaga dalam sehingga terdengar bagaikan bergema. Setelah berkata demikian, Ki Rambing bergegas meninggalkan tempat itu.

Ki Rambing dan Ragas berjalan lambat di belakang rombongan itu. Wajah dua orang itu tampak berpeluh, dan masih terlihat tegang. Keduanya menunduk dalam-dalam, sepertinya tak berminat untuk berbicara satu sama lain.

"Kalian kemb alilah lebih dulu. Aku dan Ragas masih mempunyai sedikit urusan. Kalau Ki Jatar menanyakan, katakan saja kami akan segera kembali!" Pesan Ki Rambing kepada rombongannya setelah mereka agak jauh menin ggalkan tepi hutan. Orang-orang itu hanya mengangguk keheranan mendengar ucapan itu, tapi tak seorang pun yang berani bertanya lebih jauh.

Ki Rambing dan Ragas menatap kepergian orang-orang itu hingga mereka lenyap di balik rimbunan pohon pada sebuah jalan berkelok. Setelah beberapa saat menunggu, keduanya segera berbalik kembali menuju Rimba Gerantang. Kedua orang pembantu utama Kepala Desa Muara Bening mengintai dari balik semak-semak. Mereka memperhatikan tiga buah tandu yang nampaknya belum diambil para begundal Penghuni Rimba Gerantang itu. Saat-saat, berlalu penuh ketegangan. Setelah cukup lama menanti, tampak belasan sosok tubuh berlompatan dari dalam hutan dan langsung melangkah mendekati tiga buah tandu itu.

Ki Rambing menempelkan telunjuk di bibirnya ketika melihat Ragas hendak mengeluarkan suara. Pemuda itu langsung terdiam menyadari kebodohannya itu. Sementara itu dua belas orang berseragam putih mulai mengangkat tiga buah tandu, lalu dibawa masuk ke dalam hutan. Sesaat kemudian, kedua belas orang itu pun lenyap ditelan kegelapan hutan. Suara lolongan anjing hutan kembali terdengar seolah-olah mengiringi langkah kaki mereka memasuki hutan.

Ragas dan Ki Rambing bergegas mengikuti dua belas orang berseragam putih itu. Mereka mengendap-endap dan menyelinap di antara rimbunan semak yang banyak terdapat di tempat itu. Urat-urat di seluruh tubuh mereka menegang, siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Kedua belas orang berseragam putih itu terus melangkah memasuki hutan melalui jalan sukar. Namun, mereka sama sekali tidak mengalami hambatan karena sudah terbiasa melewati jalan itu. Lain halnya dengan Ragas dan Ki Rambing yang harus berhati-hati dan menajamkan penglihatannya agar tidak sampai diketahui orang-orang itu.

Tidak berapa lama kemudian, dua belas orang berseragam putih itu memasuki sebuah tempat yang dipenuhi sinar obor yang ditancapkan pada batang-batang pohon. Kabut yang agak pekat menyambut kedatangan dua belas orang yang membawa tandu itu.
Mereka terus memasuki sebuah bangunan tua yang agak besar, dan dikelilingi kabut. Dua orang yang juga berseragam putih bergegas menyambut kedatangan tiga buah tandu itu, lalu terus masuk ke dalam bangunan tua yang terlihat menyeramkan itu. Hawa dingin semakin keras berhembus hingga terasa menembus tulang.

Setelah meletakkan tiga buah tandu di dalam sebuah kamar yang cukup tuas dan menebarkan hawa dingin, dua belas orang berseragam putih itu bergegas keluar. Di dalam kamar itu terdapat sebuah pembaringan yang menebarkan keharuman yang menusuk hidung. Beberapa langkah dari pembaringan itu, terdapat sebuah batu pipih. Di atasnya, duduk seorang berambut putih semua. Kalau dilihat dari warna rambutnya, paling tidak dia berusia sekitar tujuh puluh tahun.

Namun meski usianya sudah tua, wajah kakek itu nampak segar kemerahan. Bahkan tubuhnya masih nampak tegap dan gagah. Dialah Eyang Luwak Ambat yang disebut-sebut sebagai Penghuni Rimba Gerantang. Dan kemudaan wajah serta tubuh yang dimilikinya itu berkat saripati kehidupan yang diambil dari para perawan suci melalui persetubuhan. Itulah sebabnya, mengapa pada setiap bulan purnama Ki Jatar mempersembahkan tiga orang perawan desa yang masih suci dan berwajah cantik.

Kini, kakek itu pelahan-lahan turun dari atas batu pipih itu, lalu melangkah ke arah sebuah tandu terdekat Ketika hampir mendekati tandu yang dituju, Eyang Luwak Ambat merandek menahan langkahnya. Nalurinya yang tajam mengisyaratkan kalau ada sesuatu yang tidak beres pada tandu itu.

"Hm...," gumam kakek itu pelahan.

Eyang Luwak Ambat melangkah mundur mendekati tepi pembaringan. Belum lagi sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba tandu yang tengah ditatapnya itu jebol bagian atasnya. Tampak sesosok bayangan putih melesat keluar bersama kepingan kayu yang berhamburan.

Bayangan putih yang ternyata adalah seorang pemuda tampan itu mendarat beberapa tombak di hadapan Eyang Luwak Ambat. Pemuda yang tak lain adalah Panji atau Pendekar Naga Putih, menatap tajam wajah orang tua di hadapannya. Tapi sebelum pemuda itu mengeluarkan kata-kata. Tiba-tiba....

Brakkk!

Tandu yang kedua kembali jebol pada bagian atasnya sehingga menimbulkan suara keras. Berbarengan dengan ambrolnya atas tandu itu, muncul sesosok bayangan putih lainnya yang melenting ke atas dan mendaratkan kedua kakinya di sebelah Panji. Orang itu tak lain dari Resi Bagawa atau Cambuk Hujan dan Badai.

Kedua orang pendekar itu memang sengaja hendak bertemu langsung orang yang disebut sebagai Penghuni Rimba Gerantang. Ternyata inilah siasat mereka untuk dapat berhadapan langsung dengan Penghuni Rimba Gerantang itu. Sedangkan pada tandu lainnya diisi bongkahan batu yang seberat tubuh manusia dewasa. Sebenarnya Eyang Luwak Ambat sangat terkejut melihat kehadiran kedua orang itu. Tapi sebagai orang berpengalaman, ia dapat menguasai perasaannya.

"Hm.... Rupanya kalian sengaja mengantarkan nyawa ke tempat ini. Sungguh besar sekali nyali kalian." Tegas kakek itu dingin. Dalam nada suaranya jelas tersirat napsu membunuh. Pelahan tubuhnya bangkit dari tepi pembaringan, lalu melangkah mendekati Panji dan Resi Begawa.

"Orang Tua! Kaukah yang disebut sebagai Penghuni Rimba Gerantang?!" Tanya Panji tenang.

Pemuda itu memang sama sekali tidak gentar walaupun tahu dirinya di dalam sarang macan. Sebenarnya Pendekar Naga Putih cukup terkejut melihat seorang kakek yang memiliki bentuk tubuh dan wajah yang tidak sewajarnya itu. Dan belum lagi keterkejutannya terjawab, Resi Bagawa sudah mendekati sambil berbisik dengan suara rendah.

"Jangan heran, Panji. Orang itu tengah mempelajari suatu ilmu sesat yang dapat menambah tenaga saktinya. Bahkan juga dapat membuat dirinya awet muda. Itulah sebabnya, mengapa penduduk desa selalu mempersembahkan tiga perawan cantik yang menjadi syarat ilmu itu," bisik Resi Bagawa yang membuat Panji terkejut.

"Bagaimana caranya, Eyang R esi?" Tanya pemuda itu heran. Memang, Pendekar Naga Putih baru mendengar ilmu sesat itu. Tapi keheranan pemuda itu seketika sirna ketika teringat pengalaman dalam menumpas Dedemit Bukit Iblis. (Baca serial Pendekar Naga Putih dalam episode Dedemit Bukit Iblis).

Iblis itu dalam melatih ilmunya harus menghisap darah bayi sampai ilmunya menjadi sempurna. Tapi untuk yang satu ini, Panji memang belum mengetahui cara itu dalam menyempurnakan ilmu Penghuni Rimba Gerantang.

"Dengan cara menghisap sari kehidupan perawan, melalui persetubuhan!" Jawab Resi Bagawa pelan.

"Gila!" Teriak Panji sambil memalingkan wajahnya yang memerah karena jengah. "Benar-benar iblis biadab! Kalau begitu ia harus cepat-cepat dilenyapkan, Eyang Resi."

Setelah ucapannya selesai, tubuh Panji segera meluruk ke arah Penghuni Rimba Gerantang yang hanya menatap penuh kesombongan. Ketika serangan Panji tiba, Eyang Luwak Ambat hanya menggerakkan tangan secara sembarang. Kelihatan gerakan tangan itu tidak ada isinya. Tapi, dari gerakan yang terlihat pelan itu, ternyata menimbulkan desir angin tajam dan kuat.

Dukkk!

"Ahkkk...!" Panji menjerit tertahan ketika lengannya bertemu lengan kakek itu. Tubuh pemuda itu terpental balik. Untunglah Panji bertindak cepat, dengan memutar tubuhnya di udara hingga dapat menjejakkan kakinya di atas tanah tanpa mengalami luka. Hanya tangan kanannya saja yang terasa nyeri dan linu.

"Gila! Tenaga kakek tua itu hebat sekali!" Gumam pemuda itu kagum.

"Hati-hatilah, Panji. Orang ini tidak bisa dipandang enteng! Kalau tidak bisa bersikap tenang, kau akan celaka di tangannya," Resi Bagawa mengingatkan.

Memang Pendekar Naga Putih tadi terbawa emosi setelah mendengar kebiadaban kakek tua itu. Mendengar kata-kata Resi Bagawa. Panji menjadi sadar akan kecerobohannya tadi. Untunglah ia tidak sampai celaka.

"He he he.... Kau boleh juga, Anak Muda. Kalau orang lain yang menerima kebutan tanganku itu, paling tidak tulang tangannya akan patah. Hmm... Pantas saja berani berlagak, rupanya kau memiliki bekal cukup. Marilah kita main-main sebentar, Anak Muda. Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah bertarung. Dan hari ini aku akan mencoba tenaga hasil latihanku selama ini," tantang kakek itu sambil tersenyum mengejek.

"Hm.... Berhati-hatilah kau, Orang Tua. Kali ini aku tidak akan main-main lagi!" Tegas Panji geram.


Setelah berkata demikian, pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Sekejap kemudian, terdengar suara berkerotokan yang menandakan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' mulai mengalir dikedua lengannya. Selapis kabut bersinar putih keperakan tampak mengelilingi tubuhnya, sehingga keadaan pemuda itu benar-benar mengejutkan hati lawannya.

"Pendekar Naga Putih...! He he h e.... Tidak kusangka hari ini aku kedatangan seorang pendekar muda yang sangat tersohor itu. Kebetulan sekali, Pendekar Naga Putih! He he he.... Hari ini aku akan mencoba ilmu baruku padamu," kata Eyang Luwak Ambat seraya menatap tajam Pendekar Naga Putih. Dan untuk beberapa saat lamanya, dia seperti lupa kalau hari ini harus mendapat seorang perawan untuk menyempurnakan ilmunya itu.

Begitu mengenali siapa pemuda itu sebenarnya, kakek tua itu tidak lagi memandang remeh. Segera digerakkan tangannya secara bersilangan. Seketika serangkum angin tajam berhembus menandai kalau serangannya kali ini tidak bisa dianggap main-main. Hawa dingin berhembus kuat dari sekitar tubuh kakek itu.

Ketika sepasang tangan dari masing-masing lawan menghentak, maka tampak dua kekuatan yang sama-sama berintikan hawa dingin saling dorong. Akibatnya dalam ruangan itu bagaikan sebuah gua salju saja. Resi Bagawa bergegas keluar dari ruangan itu kalau tidak ingin jadi patung salju akibat hawa dingin yang menjadi berlipat-lipat itu.

"Hiahhh...!" Dibarengi teriakan mengguntur, tubuh Panji meluruk ke arah kakek itu. Kedua tangannya terkembang dalam jurus 'Naga Sakti Masuk ke Bumi'. Sebuah jurus yang mengandalkan kecepatan gerak tangan yang ditunjang tenaga dalam tinggi.

Wusss! Wusss!

"Hm...," Ey ang Luwak Ambat hanya bergumam melihat serangan Panji. Hawa dingin yang ditebarkan pemuda itu memang tidak mempengaruhi tubuhnya. Karena, tenaga dalam kakek itu juga bersumber dari hawa dingin. Segera Eyang Luwak Ambat menggeser tubuhnya sehingga serangan pemuda itu lewat dan mengenai tempat kosong. Kemudian dengan kecepatan yang sukar diikuti mata, kakek itu membalas serangan Panji dengan tiga buah pukulan berturut-turut. Panji cepat dapat menghindar tanpa mengalami kesulitan, sehingga serangan lawan hanya mengenai tempat kosong.

Pertarungan terus berlanjut sengit. Dua gulung sinar putih keperakan saling libat dan saling menindih. Dua gelombang tenaga yang sama-sama menebarkan hawa dingin, benar-benar sangat menggiriskan. Seluruh isi kamar itu beterbangan terkena sambaran angin pukulan sangat dahsyat. Sehingga, keadaan di dalam ruangan itu tak ubahnya bagai dilanda angin topan.

Sementara itu Resi Bagawa yang baru saja keluar dari dalam ruangan berpapasan dengan Tongkat Maut Delapan Bayangan. Tangan kanan Penghuni Rimba Gerantang itu memang bermaksud menuju ke ruang majikannya ketika mendengar suara ribut-ribut. Dan ketika bertemu, dua tokoh sakti dari golongan yang berlainan itu sama-sama menghentikan langkahnya.

"Hm.... Resi Bagawa! Rupanya kau yang berani mati mengacau tempat ini!" Geram Tongkat Maut sambil melintangkan tongkatnya di depan dada. Memang disadari kalau yang dihadapinya kali ini bukan tokoh sembarangan.

“Tongkat Maut Delapan Bayangan! Hari ini aku si Cambuk Hujan dan Badai akan mengakhiri kebiadabanmu! Bersiaplah!" Begitu ucapannya selesai Resi Bagawa langsung mencabut senjatanya yang segera meledak-ledak memekakkan telinga lawannya.

Ctarrr! Cterrr!

Sadar kalau lawan adalah tokoh sesat yang ternama, Resi Bagawa langsung mengeluarkan ilmu andalan, jurus 'Cambuk Hujan dan Badai Menyapu Bumi'. Sebuah jurus pilihan dari ilmu cambuknya. Tanpa dapat dicegah lagi, keduanya segera terlibat pertarungan sengit. Cambuk di tangan Resi Bagawa meledak dan meliuk-liuk mengancam tubuh lawan. Ujung cambuk itu selalu saja bergerak, sehingga sulit diduga ke mana arah sasarannya.

Tongkat Maut Delapan Bayangan tidak tinggal diam, dan segera memutar tongkatnya sedemikian rupa hingga seolah-olah berubah menjadi delapan buah banyaknya. Pertempuran berjalan sengit dan mendebarkan!

***
DELAPAN
Ternyata, pertempuran tidak hanya terjadi di dalam bangunan tua itu saja. Di luar pun, terlihat Ragas dan Ki Rambing sudah pula terlibat pertempuran yang tidak seimbang. Kedatangan kedua orang itu telah diketahui pengikut Penghuni Rimba Gerantang. Maka, mereka kini terpaksa melakukan perlawanan. Ki Rambing dan Ragas berusaha mati-matian untuk mempertahankan nyawa.

Namun, kepandaian orang-orang berseragam putih itu ternyata tidak bisa dipandang ringan. Dalam beberapa jurus saja, keduanya telah terdesak hebat oleh empat orang lawan. Belum lagi belasan kawanan orang berseragam putih itu yang tengah menonton di tepi arena. Tampaknya dua orang pembantu Kepala Desa Muara Bening itu tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.

Desss!

"Oughhh...!" Ragas melenguh kesakitan. Tubuh pemuda itu terjungkal akibat tendangan lawan yang telak menghantam dadanya. Namun semangat pemuda itu memang patut dipuji. Meskipun dalam keadaan terjepit seperti itu, Ragas masih juga berusaha melakukan perlawanan. Sehingga, hal itu semakin membuat lawan-lawannya penasaran.

Bukkk! Brettt!

"Aaahhhkkk...!" Ki Rambing terpekik kesakitan ketika sebuah pukulan dan bacokan dua orang lawan menyambar tubuhnya.

Darah mulai mengucur membasahi bumi. Namun demikian, ia tetap berusaha mengadakan perlawanan semampunya. Tepat saat kedua orang pembantu Kepala Desa Muara Bening itu tengah jatuh bangun dihajar pengeroyoknya, tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh ramping yang mengenakan pakaian serba hijau. Pedang bersinar hitam yang berada di tangan kanannya langsung berdesing, menyambar leher dua orang berpakaian putih yang tengah mengeroyok Ragas dan Ki Rambing. Mereka kontan terjungkal mandi darah, dan tewas seketika.

Dan kini, seorang gadis cantik tahu-tahu telah berdiri di tengah arena pertempuran. Di tangan kanannya tergenggam sebatang pedang hitam yang telah bernoda darah. Gadis berpakaian serba hijau itu tak ubahnya malaikat maut yang siap menebarkan hawa kematian.

"Hm... Inikah gerombolan Penghuni Rimba Gerantang yang telah membuat kekacauan di Desa Muara Bening? Mana pemimpin kalian?! Suruh dia k eluar untuk kupenggal batang lehernya!" Seru gadis itu yang ternyata adalah Kenanga. Suaranya terdengar nyaring dan bergema menyusup ke dalam bangunan tua itu karena didorong tenaga dalam tinggi.

"Ohhh.... Terima kasih atas pertolonganmu, Nini. Eh! Bagaimana Nini mengetahui tempat ini?" Tanya Ki Rambing sambil melangkah mendekati Kenanga.

"Beberapa saat yang lalu aku bertemu serombongan orang yang berlarian menuju Desa Muara Bening. Dari merekalah aku mengetahui kalau di desa itu terjadi musibah yang didalangi Penghuni Rimba Gerantang. Maka aku langsung menuju kemari. Untunglah kedatanganku tepat pada saatnya. Nah, sekarang marilah kita basmi iblis-iblis biadab ini," jelas Kenanga yang segera menggerakkan pedang hitamnya, menerjang orang-orang berseragam putih yang sudah mengurungnya.

Para Pengikut Eyang Luwak Ambat itu kontan buyar ketika Kenanga memutar pedangnya yang mengancam bagian-bagian yang mematikan. Kembali terdengar teriakan-teriakan ngeri. Seketika, dua orang pengeroyok itu terjungkal bermandikan darah! Hebat sekali, memang, sepak terjang murid Raja Pedang Pemutus Urat itu. Setiap sambaran pedangnya berarti kematian bagi para pengeroyoknya.

Sementara itu Ki Rambing dan Ragas kembali bertempur saling bahu-membahu. Semangat mereka bangkit karena kedatangan Kenanga yang berkepandaian tinggi itu. Dan kini, keduanya dapat bertempur lebih tenang dan lebih berhati-hati.

Di tempat lain, Resi Bagawa tengah bertempur mati-matian menghadapi Tongkat Maut Delapan Bayangan. Dua tokoh sakti itu sama-sama mengeluarkan seluruh kepandaian untuk menjatuhkan satu sama lain. Jurus-jurus andalan telah dikeluarkan dengan tenaga dalam tinggi, tapi sampai sejauh itu keduanya masih terlihat berimbang.

"Heaaattt..!" Resi Bagawa berteriak nyaring sambil mengelebatkan cambuknya yang menyambar-nyambar bagai seekor ular itu. Hembusan angin keras bagaikan badai menyertai serangannya. Tidak itu saja. Titik-titik air ikut pula meramaikan serangan cambuknya. Benar-benar sebuah serangan berbahaya.

Tongkat Maut Delapan Bayangan pun tidak tinggal diam. Diputarnya tongkat maut yang menjadi andalan hingga menimbulkan sebuah benteng yang tak tampak. Akibatnya, lecutan-lecutan ujung cambuk Resi Bagawa terpental balik. Dan pada saat ujung cambuk lawan berbalik, segera dibarenginya dengan sambaran tongkatnya.

Bet! Bet! Bet!

"Aiiihhh...!" Resi Bagawa memekik tertahan. Ia sangat terkejut melihat serangan lawan yang sama sekali tidak diduga itu. Cepat-cepat diputar tubuhnya membentuk setengah lingkaran. Maka, dua serangan berhasil dielakkannya. Sedangkan serangan yang satunya lagi segera ditepis menggunakan tangan kiri.

Plakkk!

Keduanya terjajar mundur ke belakang beberapa tindak. Namun Resi Bagawa bertindak cepat Pada saat lawan belum sempat mempersiapkan diri segera digerakkan cambuknya melakukan dua serangan sekaligus. Seketika suara ledakan cambuk itu menggelegar bagaikan halilintar.

Tongkat Maut Delapan Bayangan sangat terkejut melihat serangan yang cepat dan ganas itu. Karena kalau menghindarkan diri tidak mungkin, Maka Tongkat Maut Delapan Bayangan nekad mengadu nyawa dengan lawannya. Setelah mengambil keputusan demikian, segera digerakkan tongkat berkepala tengkoraknya menusuk dada lawannya itu.

Ctarrr! Duggg!

"Aaahhhkkk...!"

"Uuuhhhkkk...!

Kedua tokoh sakti itu terpental ke belakang akibat terkena pukulan senjata satu sama lain. Tongkat Maut Delapan Bayangan berkelojotan. Tongkat tengkorak kepalanya retak akibat hantaman cambuk Resi Bagawa yang menggunakan tenaga dalam tinggi. Darah mengalir deras dari luka-luka di pelipisnya itu. Beberapa saat kemudian, tubuh Tongkat Maut Delapan Bayangan pun diam tak bergerak. Mati.

Keadaan Resi Bagawa juga tidak berbeda jauh. Hantaman tongkat kepala tengkorak lawannya itu telah menghantam keras dadanya. Resi Bagawa terbatuk-batuk hebat yang diiringi darah kental berwarna kehitaman.

"Celaka! Tongkat iblis itu beracun...!" Keluh Resi Bagawa ketika mendapati warna biru kehitaman pada dada yang terpukul tongkat lawannya tadi. Belum lagi sempat berpikir lebih jauh, Resi Bagawa langsung mengerang menahan rasa sakit yang hebat pada dadanya. Tampak wajah orang tua itu mulai membiru.

“Huakkk...!" Setelah memuntahkan segumpal darah kehitaman yang berbau busuk, Resi Bagawa langsung ambruk. Sebentar dia meregang nyawa, kemudian mati. Wajahnya berubah menghitam dan kedua matanya membelalak keluar akibat racun ganas pada kepala tengkorak di tongkat lawannya.

Sementara itu pertarungan yang berlangsung antara Pendekar Naga Putih melawan Eyang Luwak Ambat atau berjuluk Penghuni Rimba Gerantang telah berpindah ke ruang lain. Tembok ruangan tempat mereka pertama kali bertempur telah jebol akibat pukulan-pukulan yang tidak mengenai sasaran.

Eyang Luwak Ambat yang semula menganggap remeh lawannya itu menjadi terkejut setengah mati. Sungguh tidak disangka kalau pemuda tampan yang berjuluk Pendekar Naga Putih itu benar-benar berkepandaian sangat tinggi. Pantas saja julukannya begitu menggemparkan dunia persilatan!

Apa yang dirasakan lawan, ternyata juga dirasakan oleh Panji. Selama terjun dalam dunia persilatan baru kali inilah ditemui lawan yang benar-benar tangguh dan menguras tenaganya. Sehingga, Panji benar-benar harus mengerahkan seluruh kepandaian untuk segera menjatuhkan lawan.

Pada suatu kesempatan Eyang Luwak Ambat melompat mundur ke belakang. Secepat kakinya menjejak bumi, secepat itu pula tubuhnya kembali meluruk sambil mendorongkan sepasang tangannya ke dada Panji. Angin dingin berkesiutan menyertai serangan itu.


Melihat serangan dahsyat itu, bergegas Panji mengempos semangatnya. Terdengar suara bergemelutuk dari seluruh tubuh pemuda itu ketika 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' mengaliri kedua tangannya. Kabut bersinar putih keperakan yang selalu menyelimuti tubuhnya terlihat semakin membesar. Serangkum angin dingin yang menusuk tulang berhembus keras, karena Panji telah memusatkan seluruh tenaga saktinya untuk menghadapi gempuran lawan.

"Heaaattt..!" Dibarengi teriakan mengguntur bagaikan hendak membelah langit, tubuh Panji meluncur bagai seekor naga memapak serangan lawan.


Blarrr!

"Aaakh...!" Seketika terdengar ledakan dahsyat hingga menggetarkan seluruh tembok-tembok bangunan tua itu ketika dua gelombang tenaga sakti saling berbenturan di udara. Disertai pekik kesakitan, tubuh kedua orang berkepandaian tinggi itu terpental balik. Demikian kerasnya tenaga lontaran itu, sehingga tembok yang tertahan tubuh mereka ambruk dengan menimbulkan suara gemuruh.

Tubuh mereka sama-sama jatuh terbanting di lantai, disertai muntahan darah segar. Panji yang merasakan tubuhnya telah terluka dalam, segera bertindak cepat menelan sebuah pil berwarna putih. Obat luka dalam itu memang sengaja diberikan gurunya sebagai bekal pada saat Pendekar Naga Putih hendak meninggalkan Bukit Gua Harimau.

Sementara Eyang Luwak Ambat berusaha bangkit meski kedua kakinya masih gemetar. Rupanya tubuh kakek itu tidak luput dari luka dalam akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi itu. Darah segar masih saja mengalir dari sela-sela bibirnya.

"Guru...!" Seru seorang laki-laki setengah baya berlari mendatangi Eyang Luwak Ambat. Cepat laki-laki itu memapah tubuh kakek tua yang dipanggil guru itu.

"Hm.... Cepat ambilkan tongkat kepala ularku!" perintah kakek itu tanpa mempedulikan kekhawatiran muridnya.

"Tapi, Guru...," orang itu mencoba membantah.

"Cepat! Ambil kataku...!" bentak kakek itu gemetar. Wajahnya terlihat gusar mendengar bantahan muridnya itu.

Meskipun ragu-ragu orang itu menuruti juga perintah gurunya. Dia memasuki gedung tua yang sebagian telah hancur itu. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu sudah kembali sambil membawa sebatang tongkat hitam berkepala ular. Langsung tongkat itu diserahkan kepada gurunya.

Tanpa banyak cakap lagi, Eyang Luwak Ambat langsung menyambar tongkat itu dari tangan muridnya, kemudian bergegas bangkit sambil memutar-mutar tongkatnya. Dihisapnya dalam-dalam uap putih kebiruan yang keluar dari mulut kepala ular yang telah kering itu. Sesaat kemudian, tubuh orang tua itu bergetar seolah mendapat tambahan tenaga baru. Itulah salah satu keistimewaan ilmu yang tengah dilatihnya. Ia dapat menyimpan tenaga pada tongkat itu dan mengambilnya kembali apabila diperlukan.

"Hiaaah...! Mampuslah kau sekarang, Pendekar Naga Putih!" Teriak kakek itu sambil menyabetkan tongkat kepala ularnya ke arah Panji yang masih memejamkan matanya untuk memulihkan tenaga.

Pada saat tongkat kepala ular itu hampir mencapai sasaran, tahu-tahu saja tangan pemuda itu bergerak cepat. Seketika seberkas sinar putih keperakan berpendar-pendar di tangan kanannya. Dengan pengerahan tenaga dalam sepenuhnya, pemuda itu menyabetkan sinar keperakan yang ternyata adalah sebatang pedang. Memang sudah lama pedang itu hanya melingkar di pinggangnya. Senjata itu baru digunakan, jika lawan benar-benar berilmu tinggi.

Tranggg!

"Aaahhh...!" Eyang Luwak Ambat berteriak kaget Tidak disangka sama sekali kalau gerakan lawannya itu begitu cepat. Dan tanpa dapat dicegah lagi, tongkat kepala ularnya terpapas buntung oleh pedang pusaka sinar bulan yang dahsyat itu. Tubuh kakek itu terpental dan berputar bagai gangsing.

Panji tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Saat itu juga tubuhnya meluncur ke depan dan berputar bagaikan baling-baling. Sementara itu tangan kanan yang memegang pedang ditujukan ke depan sehingga kelebatan sinar pedang membentuk lingkaran. Sinarnya berkilatan menyilaukan mata.

Crasss! Brettt! Brettt!

"Aaa...!" Eyang Luwak Ambat menjerit menyayat ketika ujung pedang Panji merobek-robek tubuhnya. Darah segar langsung menyembur deras dari luka- luka akibat tusukan pedang Pendekar Naga Putih yang menggunakan jurus 'Naga Sakti Menyelam ke Dasar Laut'.

"Guru...!" laki-laki setengah baya sejak tadi mengkhawatirkan keselamatan gurunya, berlari menubruk tubuh Eyang Luwak Ambat yang telah basah oleh darah.

Darah segar keluar disertai suara seperti mengorok ketika kakek itu memaksakan berbicara. Akhirnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Eyang Luwak Ambat yang dijuluki Penghuni Rimba Gerantang itu tewas di pangkuan muridnya.

"Guru...!" Laki-laki itu berteriak memanggil-manggil sambil menggoncang- goncangkan tubuh gurunya yang telah menjadi mayat itu. Sesaat kemudian ditolehkan kepalanya ke arah Panji. Sepasang matanya menatap tajam penuh api dendam, penuh napsu membunuh. Pelahan-lahan Ki Jatar bangkit berdiri. Sebatang golok panjang yang tergenggam erat di tangan, siap dikelebatkan.

"Pendekar Naga Putih! Bersiaplah mampus demi ketenangan arwah guruku! Hiaaattt..!" Ki Jatar melompat sambil membabatkan goloknya ke arah Panji. Angin tajam terkesiutan, pertanda kalau golok itu digerakkan oleh tenaga dalam tinggi.

Melihat serangan berbahaya itu, Panji segera menggerakkan pedangnya yang masih belum disimpan itu. Seberkas sinar putih keperakan berkilau menyilaukan mata.

Tranggg!

"Aaahhhkkk...!" Ki Jatar berteriak kaget ketika goloknya tertangkis pedang Panji hingga terpental jauh. Sedangkan tubuh laki-laki setengah baya itu jatuh bergulingan karena lawan mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya itu. Ki Jatar berusaha bangkit sambil memegangi tangan kanan yang terasa bagai patah itu. Belum lagi sempat berdiri tegak, Panji langsung berkelebat seraya menyabetkan senjatanya ke tubuh kepala desa itu.

Crakkk! Crasss!

"Aaa...!" Ki Jatar meraung setinggi langit ketika pedang Pendekar Naga Putih telah menebas lehernya. Darah segar berhamburan membasahi bumi. Tubuh Ki Jatar berkelojotan sesaat, untuk kemudian diam tak bergerak Kepala Desa Muara Bening itu tewas dengan leher hampir putus.

Hening sejenak setelah kematian Ki Jatar. Ki Rambing dan Ragas yang telah tiba di tempat itu berdiri terpaku memandangi mayat Ki Jatar.

"Panji...!" Hei..? Bukankah itu Ki Jatar? Ada apa yang terjadi dengannya?" Ki Rambing dan Ragas menghampiri Pendekar Naga Putih. Pakaian yang mereka kenakan sudah tidak keruan bentuknya karena telah robek di sana-sini akibat senjata tajam.

"Kau kenal laki-laki itu, Ragas?" Tanya Panji tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah laki-laki yang ternyata Ki Jatar itu.

"Tentu saja aku kenal, Panji. Dia adalah kepala desa kami. Ki Rambing, lihatlah! Apakah kau ingat wajah kakek itu?" Tanya Ragas tiba-tiba sambil menunjuk mayat Eyang Luwak Ambat.

"Hei?! Bukankah kakek itu pernah datang ke desa pada setengah tahun yang lalu?" Tanya Ki Rambing kaget.

"Hm.... Dialah yang disebut sebagai Penghuni Rimba Gerantang yang selama ini meresahkan penduduk Desa Muara Bening," sahut Panji tiba-tiba.

"Aaahhh...!" Ragas dan Ki Rambing berteriak kaget dan hampir tak percaya akan pendengarannya.

"Hm.... Ternyata dugaanku tidak meleset terlalu jauh. Semula kuduga Ki Jatar yang menjadi biang keladi semua peristiwa di Desa Muara Bening. Tapi, ternyata ia hanya diperalat gurunya yang berhati bejad itu," ujar Ragas pelan.

"Menurut cerita yang kudengar dari Ki Dewana, Ki Jatar belum terlalu lama menjabat Kepala Desa Muara Bening. Tolong ceritakan hal ini padaku." Pinta Panji penasaran, seraya menatap Ki Rambing dan Ragas.

"Memang benar apa yang dikatakan Ki Dewana itu. Pada tiga tahun yang lalu, Ki Jatar datang ke Desa Muara Bening dengan segala kemewahannya. Kemudian, ia meminta ijin untuk menetap di desa kami. Karena sikapnya yang ramah dan sangat dermawan, maka kepala desa mengangkat menjadi wakilnya. Setelah diangkat menjadi wakil kepala desa, ternyata sikapnya menjadi semakin baik. Banyak petani miskin yang dibantu sehingga Ki Jatar semakin disukai dan dihormati penduduk desa," Ragas berhenti sejenak seolah ingin mengumpulkan ingatannya.

"Biarlah aku yang teruskan ceritamu, Ragas," pinta Ki Rambing yang dijawab Ragas dengan anggukan kepala. Ki Rambing menarik napas dalam-dalam untuk mengingat peristiwa yang telah lalu itu.

"Pada enam bulan yang lalu, datang seorang kakek yang kemudian diperkenalkan sebagai guru Ki Jatar. Setelah sepekan menginap di rumah Ki Jatar, kakek itu pergi entah ke mana. Menurut keterangan Ki Jatar, gurunya itu telah kembali ke pertapaan. Beberapa hari setelah kepergian kakek itu, kepala desa kami tewas tanpa sebab yang jelas. Dan sebagai penggantinya, diangkatlah Ki Jatar sebagai kepala Desa Muara Bening yang baru. Beberapa bulan kemudian, muncullah beberapa peristiwa pembunuhan di desa kami. Sampai akhirnya Ki Jatar memutuskan untuk memberi persembahan pada setiap bulan purnama, karena kami sudah tidak mampu mengatasi pembunuhan-pembunuhan itu," Ki Rambing mengakhiri cerita dengan helaan napas berat.

"Hm.... Jadi Ki Jatar dan gurunya yang merencanakan semua ini. Mungkin Ki Jatar berusaha membantu gurunya yang sedang mendalami sebuah ilmu," gumam Panji pelan. "Oh, ya. Ke mana Resi Bagawa...?" Tanya Panji ketika tidak melihat orang tua itu semenjak tadi.

"Ia telah tewas bersama Tongkat Maut Delapan Bayangan yang menjadi lawannya," sahut Ragas. Ada nada kesedihan dalam suaranya.

"Ohhh...! Lalu, bagaimana kalian dapat masuk dengan selamat ke tempat ini?" Tanya Pendekar Naga Putih heran, karena ia tahu kalau tempat itu dijaga murid-murid Penghuni Rimba Gerantang yang rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi.

"Sebenarnya kami pun sudah tewas kalau saja tidak ditolong seorang pendekar wanita yang cantik bagai bidadari," sahut Ragas memuji.

Jantung di dada Panji berdebar ketika Ragas menyebut gadis itu secantik bidadari. Selintas terbayang wajah kekasihnya yang tengah dicarinya itu. Mungkinkah gadis itu Kenanga!

"Apakah gadis itu mengenakan pakaian serba hijau?" Tanya Panji suaranya terdengar tegang.

"Benar!" Sahut Ragas heran karena Panji dapat tepat menebak.

"Apakah... apakah bersenjatakan sebatang pedang hitam?" Suara pemuda itu semakin bergetar dan menegang karena ia sudah mulai dapat menduga kalau gadis itu pastilah kekasihnya.

"Eh! Bagaimana kau dapat tepat menerkanya, Panji?" Ki Rambing semakin heran melihat ketegangan dan kegelisahan pemuda itu.

"Katakan, di mana ia sekarang?"

"Ia... ia telah pergi ketika kami mengatakan akan menemui Pendekar Naga Putih yang berada di dalam bangunan ini," jawab Ragas gugup melihat sinar mata pemuda itu yang mencorong tajam dan menakutkan.

"Aaahhh... Adik Kenanga...," desah Panji berduka. Tanpa banyak cakap lagi pemuda itu bergegas meninggalkan tempat itu untuk mencari kekasihnya. Namun sampai pagi menjelang, Panji belum juga dapat menemukan gadis itu. Padahal seluruh pelosok Rimba Gerantang sudah ditelusurinya.

"Hhh.... Rupanya rasa cemburu dihatinya ketika melihat sikap mesra Trijati kepadaku belum hilang," desah Panji resah. (Baca serial Pendekar Naga Putih dalam Episode Jari Maut Pencabut Nyawa).

Dengan langkah lambat, Pendekar Naga Putih meninggalkan daerah Rimba Gerantang. Angin pagi yang bersilir lembut, ternyata belum mampu mengusir rasa rindu di hatinya yang belum bertemu dengan kekasihnya!
S E L E S A I
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).