Kisah Si Rase Terbang (Hoei Ho Gwa Toan) Jilid 10

Mode Malam
Chin Yung/Jin Yong
-------------------------------
----------------------------

Jilid 10

Mclihat sikap orang yang luar biasa, Ouw Hui menjadi hcran. "Guru Thia Kouwnio bergelar Bu-tin," katanya di dalam hati. "Kenapa Biauw Tayhiap mengatakan It-tin?"

"Dulu antara gurumu dan aku telah terjadi satu sengketa kecil," kata Biauw Jin Hong. "Dalam hal itu, aku sudah berlaku kurang ajar dan melukai gurumu itu."

"Ah!" kata Leng So. "Tangan kiri mendiang guruku hilang dua jerijinya. Apa jeriji itu diputuskan oleh Biauw Tayhiap?"

"Tak salah," jawabnya. "Tapi gurumu segera membalas secara kontan, sehingga dapat dikatakan tak ada yang kalah, tak ada yang menang. Maka itulah, waktu saudara kecil itu ingin pergi pada gurumu untuk meminta obat, aku sudah mencegah karena merasa bahwa usaha itu akan mendapat kegagalan. Aku tadinya menduga, bahwa kedatang-an nona di had ini adalah atas perintah gurumu yang ingin membalas kejahatan dengan kebaikan. Tapi tak dinyana, gurumu sebenarnya sudah meninggal

dunia dan nona tentu tidak mengetahui adanya peristiwa itu."

"Tidak, aku tidak mengetahui," kata Leng So.

Biauw Jin Hong segera masuk ke dalam dan ke luar lagi dengan membawa satu kotak besi kecil yang lalu diangsurkan kepada Leng So. "Inilah barang peninggalan mendiang gurumu. Bukalah! Nona akan segera mengenalnya!"

Kotak itu sudah karatan, sehingga bisa diduga, sudah disimpan lama sekali. Leng So membuka tutupannya dan ternyata, di dalamnya terdapat tu-lang seekor ular kecil dan satu peles dengan tulisan: Obat pemunah racun ular. Si nona mengenali, bah-wa peles itu adalah milik gurunya, tapi ia tak dapat menebak, apa artinya tulang ular itu.

Biauw Jin Hong tertawa tawar seraya berkata: "Karena bercekcok, gurumu dan aku segera bertem-pur. Pada esok harinya, ia memerintahkan satu orang untuk menyerahkan kotak itu kepadaku, de¬ngan pesan begini: 'Jika kau mempunyai nyali, buka¬lah kotak ini. Jika kau tak berani, lemparkanlah kotak ini ke dalam sungai.' Tentu saja aku segera membukanya. Begitu terbuka, dari dalam kotak ke luar seekor ular kecil yang lantas menggigit be-lakang tanganku. Racun ular itu hebat luar biasa. Dengan kontan, tanganku kesemutan. Masih un-tung, gurumu mengirimkan juga obatnya. Sesudah makan obat itu, jiwaku ketolongan, tapi masih harus menderita kesakitan yang sangat hebat." Sesudah memberi keterangan, Kim-bian-hud lantas saja ter¬tawa terbahak-bahak.

Ouw Hui dan Leng So saling mengawasi sem-bari tertawa. Mereka merasa geli dengan gerak-gcriknya Tok-chiu Yo-ong yang luar biasa itu.

"Sckarang aku sudah menerangkan apa yang harus diterangkan," kata pula Biauw Jin Hong. "Aku adalah seorang yang tak suka menarik keuntungan sccara diam-diam. Dengan hati yang sangat mulia, nona sudah bersedia untuk menolong aku. Akan tctapi, sekarang aku mengetahui, bahwa kedatang-an nona bukan atas perintah mendiang gurumu. Bahwa nona sudah sudi memberi pertolongan, de¬ngan jalan ini aku menghaturkan banyak-banyak terirna kasih." Sehabis berkata begitu, ia menyoja dan menghampiri pintu, seperti juga orang meng-antarkan berangkatnya satu tetamu.

Bukan main kagumnya Ouw Hui. Sikap itu adalah sikap kesatria tulen. Sungguh tak malu, Biauw Jin Hong bergelar "Tayhiap" (pendekar be-sar).

Tapi Thia Leng So sama sekali tidak bergerak. "Biauw Tayhiap," katanya dengan suara terharu. "Guruku sudah tidak menggunakan lagi gelaran It-tin."

"Apa?" menegas Kim-bian-hud.

"Pada sebelum menjadi orang beribadat, guruku mempunyai adat yang sangat jelek," kata si nona. "Kejelekan itu sudah diketahui oleh Biauw Tayhiap. Sesudah memeluk agama, ia menggunakan nama Thaytin. Belakangan, setelah mendapat kemajuan dalam pelajaran kebatinan, ia merubah namanya menjadi It-tin. Jika pada waktu bertempur dengan Biauw Tayhiap, guruku masih menggunakan nama gelaran Tay-tin, di dalam kotak itu tentulah juga tidak terdapat peles obat."

Biauw Jin Hong mengangguk tanpa mengeluar-

kan sepatah kata.

"Pada waktu menerima aku sebagai murid, Suhu menggunakan nama Wie-tin," kata pula Leng so. "Tiga tahun berselang, barulah ia merubah namanya menjadi Bu-tin. Biauw Tayhiap, dengan kata-kata-mu yang barusan, kau sungguh memandang guruku terlalu rendah."

Mendengar itu, Biauw Jin Hong mengeluarkan seruan "ah!"

Leng So mesem dan lalu meneruskan per-kataannya: "Sebelum berpulang ke alam baka, guru¬ku sudah memperoleh kesadaran. Ia sudah men-capai ketenangan yang wajar, bebas dari kegusaran (Bu-tin) dan bebas pula dari kegirangan (Bu-hie). Maka itu, sangat tak bisa jadi kalau Suhu masih menaruh dendam terhadap Biauw Tayhiap karena sengketa yang tak ada artinya itu."

Kim-bian-hud jadi girang bukan main. Ia me-nepuk dengkul sembari berseru: "Aduh! Benar-benar aku sudah memandang terlalu rendah kepada sahabatku itu! Sesudah berpisah belasan tahun, ia telah memperoleh kemajuan yang sangat jauh, tak seperti Biauw Jin Hong yang masih di situ juga. Nona, kau she apa?"

"Aku she Thia," jawabnya sembari mesem dan lalu mengeluarkan satu kotak kayu dari bungkusan-nya. Ia membuka kotak itu, mengambil satu pisau kecil dan sebatang jarum emas.

"Biauw Tayhiap," kata si nona. "Harap kau sudi mengendurkan semua otot-otot dan jalan darah."

"Baiklah," jawabnya.

Melihat Leng So menghampiri Kim-bian-hud dengan membawa pisau dan jarum, jantung Ouw Hui memukul keras. "Biauw Tayhiap dan To-chiu Yo-ong mempunyai permusuhan," pikirnya. "Hati orang Kang-ouw sukar ditaksir. Jika ada orang yang mengatur siasat busuk dan meminjam tangan Thia Kouwnio untuk turun tangan jahat, bukankah untuk kedua kalinya aku Ouw Hui menjadi alat pembunuh orang? Dengan semua otot dan jalan darah diken-durkan, jika sekali totok saja, jiwa Biauw Tayhiap bisa melayang."

Selagi ia bimbang tiba-tiba Leng So menengok sambil mengangsurkan pisau kecil itu. "Tolong pe-gang," katanya. Sesaat itu, ia melihat paras muka Ouw Hui yang luar biasa. Sebagai orang yang sangat cerdas, lantassaja iadapatmenebakapayangdipikir oleh pemuda itu. "Biauw Tayhiap sama sekali tidak berkhawatir, kenapa kau masih bercuriga?" tanya-nya sembari tertawa.

"Jika aku yang diobati olehmu, sedikit pun aku tidak merasa khawatir," jawab Ouw Hui bcrterus terang.

"Ouw Toako," kata si nona, "Katakanlah, apa aku manusia baik atau manusia jahat?"

Ditanya begitu, Ouw Hui tergugu. "Tentu saja kau seorang baik," jawabnya.

Leng So merasa senang dan ia tertawa girang. Dengan kulitnya yang berwarna kuning dan badan-nya yang kurus kering. Thia Leng So tak bisa dikatakan satu wanita cantik. Tapi tertawanya mem¬punyai daya penarik yang sangat luar biasa. Tertawa itu yang wajar, bersih dan bebas dari segala ke-kotoran dunia, seakan-akan angin musim semi yang sejuk di atas bumi yang panas ini. Begitu melihat tertawanya si nona, Ouw Hui merasakan dadanya lapang dan bebas dari setiap kekhawatiran.

"Apa benar-benar kau percaya padaku?" tanya si nona. Mendadak, paras mukanya bcrsemu dadu, ia melengos dan tak berani mengawasi lagi kedua mata Ouw Hui.

Ouw Hui jadi jengah sendiri. Ia mengangkat tangannya dan menggampar pipi sendiri. "Biarlah aku hajar bocah yang kurang ajar ini!" katanya. Tiba-tiba hatinya berdebar. 'Kenapa sesudah bicara, Leng So melengos dengan paras muka merah?' tanyanya dalam hati. Memikir begitu, ia jadi ingat perkataan si tukang besi.

Sementara itu, dengan menggunakan jarum emas, si nona sudah menusuk jalan darah Yang-pek-hiat di atas mata Biauw Jin Hong, jalan darah Gan-beng-hiat di pinggir mata dan Sin-kie-hiat di bawah mata. Sesudah itu, ia membuat satu operasi kecil di bawah jalan darah Sin-kie hiat dan ke mudian menusuk lubang itu dengan jarum emas Begitu lekas si nona mengangkat jempolnya yanj menutupi pantat jarum, darah hitam lantas saj; mengalir ke luar. Ternyata, jarum itu berlubang d« tengah-tengahnya. Perlahan-lahan darah hitam yang mengalir ke luar, berubah ungu dan dari ungu berubah menjadi merah. Sesudah selesai dengan mata yang satu, ia mengulangi pada mata yang lain. Ouw Hui mengetahui, bahwa keluarnya darah yang berwarna merah adalah tanda, bahwa racun yang mengeram sudah ke luar semua. "Bagus!" katanya dengan suara girang.

Leng So Kemudian memetik empat lembar dauri Cit-sim Hay-tong yang lalu dihancurkan dan han-curan itu ditempelkan pada kedua mata Biauw Jin

Hong. Begitu kena, otot-otot pada muka Kim-bian-hud bergerak dan kursi yang diduduki olehnya, berkisar sedikit. "Biauw Tayhiap," kata Leng So. "Menurut Ouw Toako, kau mempunyai satu Cian-kim (gadis) yang sangat cantik. Di mana ia berada sekarang?"

"Oleh karena di sini tak aman, aku menitipkan dia di rumah tetangga," jawabnya.

"Sekarang sudah selesai," kata si nona sembari mengikat kedua mata Biauw Jin Hong yang di-bubuhkan hancuran daun obat dan dibalut dengan sobckan kain. "Lewat tiga hari, rasa sakit akan hilang dan begitu lekas Biauw Tayhiap merasakan kegatalan luar biasa, bukalah ikatan ini dan kedua matamu akan sudah sembuh seluruhnya. Sekarang, pergilah mengaso. Ouw Toako! Mari kita menanak nasi."

Biauw Jin Hong berbangkit seraya berkata: "Saudara kecil aku ingin mengajukan satu per-tanyaan. Pernah apakah Liao-tong Tayhiap Ouw It To dengan kau? Peh-hu atau siok-hu? (Peh-hu berarti paman yang usianya lebih tua dari ayah, sedang Siok-hu berarti paman yang usianya lebih muda dari ayah)."

Harus diketahui, bahwa meskipun tak bisa me-iihat, dengan menggunakan ketajaman kuping, Biauw Jin Hong mengetahui, bahwa kemahiran Ouw Hui dalam menggunakan Ouw-kee To-hoat, tak nanti dapat dilakukan oleh orang lain, kecuali ahli waris tulen dari keluarga Ouw. Ouw It To mempunyai satu putera, tapi sepanjang pengetahuannya, putera itu sudah mati tenggelam di dalam sungai. Maka itulah, ia menduga, bahwa Ouw Hui adalah ke-ponakan dari Liao-tong Tayhiap.

Ouw Hui tcrtawa sedih. "Ouw It To bukan Peh-hu dan juga bukan Siok-huku," jawabnya.

Biauw Jin Hong merasa sangat heran, karena ia yakin, bahwa Ouw-kee To-hoat tak akan sem-barangan diturunkan kepada orang luar. "Pernah apakah kau dcngan Ouw It To, Ouw tayhiap?" ia tanya lagi.

Ouw Hui merasa duka, tapi karena ia masih belum dapat membuka tabir rahasia yang menyc-lubungi hubungan mendiang ayahnya dan Biauw Jin Hong, maka ia tak mau lantas bicara sebenarnya. "Ouw Tayhiap," ia menegas. "Mereka sudah me-ninggal dunia lama sekali. Mana aku mempunyai rejeki begitu besar untuk mengenalnya?" Ouw Hui mengucapkan kata-kata itu dengan suara sedih. 'Jika aku bisa memanggil ayah dan ibu dan sekali saja mereka bisa menjawab panggilanku, aku sudah merasa sangat puas dan tidak menginginkan suatu apa lagi dalam dunia ini,' katanya di dalam hati.

Biauw Jin Hong berdiri bengong dan kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamar dengan tindakan perlahan.

Melihat paras muka Ouw Hui yang guram, dalam hati Leng So segera timbul satu keinginan untuk menggembirakannya. "Ouw Toako," katanya. "Kau sudah capai sekali. Duduklah!"

"Aku tak capai," jawabnya.

"Kau duduklah," mendesak si nona. "Aku mau bicara."

Ouw Hui tidak membantah lagi, tapi baru saja pantatnya menyentuh kursi, mendadak terdengar suara kedubrakan dan kursi itu berantakan jatuh di

lantai menjadi beberapa potong.

Leng So menepuk-nepuk tangan dan berseru sembari tertawa: "Aduh! Kerbau yang beratnya lima ratus kati, tak seberat badanmu!"

Sebagai orang yang berkepandaian tinggi, ke-dua kaki Ouw Hui sangat teguh dan biarpun kursi itu berantakan secara mendadak, ia tak sampai turut jatuh tcrguling. Tapi ia sungguh merasa heran dan tak mengerti, bagaimana bisa terjadi begitu.

Leng So tertawa dan lalu memberi keterangan. "Daun Cit-sim Hay-tong yang ditempel di mata, mengakibatkan kesakitan yang sepuluh kali lebih hebat daripada luka biasa. Jika kau yang kena, mungkin kau akan berteriak setinggi langit."

Ouw Hui turut tertawa dan sekarang baru ia mengerti, bahwa untuk menahan sakit Biauw Jin Hong telah mengerahkan tenaga dalamnya yang mengakibatkan hancurnya kursi itu.

Sesudah itu, dengan gembira kedua orang muda tersebut menanak nasi dan memasak liga rupa sa-/ur, kemudian mengundang Biauw Jin Hong untuk makan bersama-sama.

"Apa aku boleh minum arak?" tanya Kim Biau Hud sesudah menghadapi meja makan.

"Boleh," jawab Leng So. "Sama sekali tak ada pantangan."

Biauw Jin Hong lalu mengambil tiga botol arak yang kemudian ditaruh di depan setiap orang. "Tuanglah sendiri, jangan sungkan-sungkan," kata¬nya sembari menuang satu botol ke dalam mangkok yang lalu diteguk kering isinya.

Ouw Hui yang doyan arak, juga lantas meminum setengah mangkok. Leng So sendiri tak minum arak,

tapi ia menuang setengah botol ke dalam mangkok dan lalu menyiram Cit-sim Hay-tong dengan arak itu. "Inilah rahasianya," kata si nona. "Jika kena air, pohon ini akan segera mati. Itulah sebabnya, se-sudah berusaha belasan tahun, saudara-saudara se-perguruanku masih belum bisa menanamnya." Sem-bari berkata begitu, ia menuang sisa arak yang setengah botol !agi ke mangkok Biauw Jin Hong dan Ouw Hui.

Sekali lagi Biauw Tayhiap mengangkat mang-kok dan mencegluk isinya. Dikawani oleh dua jago muda yang sudah menolong dirinya, hatinya gem-bira bukan main. "Saudara Ouw," katanya. "Siapa vang ajarkan kau Ouw-kee To-hoat?"

"Tak ada yang ajar," jawabnya. "Aku mempe-lajari itu dari satu kitab ilmu silat."

"Hm," menggerendeng Biauw Tayhiap sembari mengangguk.

"Belakangan aku bertemu dengan Tio Sam tong-kee dari Ang-hoa-hwee," kata pula Ouw Hui "la telah menurunkan beberapa rahasia dari ilmu silat Thay-kek-kun kepadaku."

Biauw Jin Hong menepuk dengkul. "Apakah Cian-ciu Jie-lay (Buddha Seribu Tangan) Tio Poan San, Tio Sam-tong-kee?" tanyanya.

"Benar," sahutnya.

"Tak heran!" kata Kim-bian-hud. "Kalau begitu, tak heran."

"Kenapa?" tanya Ouw Hui.

"Selama hidup, aku selalu mengagumi kekesa-triaannya Tan Cong-to-cu (pemimpin besar dari Ang-hoa-hwee, Tan Kee Lok)," jawabnya. "Aku juga mengagumi semua orang gagah dalam Ang-

hoa-hwee. Hanya sayang, mereka sekarang sudah menyembunyikan diri di Hui-kiang, sehingga aku masih belum mendapat kesempatan untuk menemui mereka. Hal ini adalah kejadian yang selalu dibuat menyesal olehku."

Mendengar penghargaan terhadap Ang-hoa-hwee, Ouw Hui jadi girang sekali.

Sekonyong-konyong, sesudah mencegluk arak, Biauw Tayhiap berbangkit dan mengambil sebatang golok yang terletak di atas meja teh. "Saudara Ouw," katanya dengan suara terharu. "Dulu, aku pernah bertemu dengan seorang kesatria, she Ouw ber-nama It To. Ia telah menurunkan ilmu golok Ouw-kee To-hoat kepadaku. Hari ini, ilmu golok yang digunakan olehku untuk merubuhkan musuh dan ilmu golok yang digunakan olehmu untuk merubuh¬kan Tian Kui Long, adalah Ouw-kee To-hoat. Ha-ha! Sungguh indah, sungguh indah Ouw-kee To-hoat!"

Tiba-tiba ia dongak dan mengeluarkan satu teriakan yang panjang dan nyaring. Di lain saat, bagaikan seekor burung, tubuhnya "terbang" ke luar pintu dan begitu kedua kakinya hinggap di atas bumi, ia segera bersilat dengan Ouw-kee To-hoat.

Ouw Hui mengawasi dengan menumpahkan seluruh perhatiannya. Ia mendapat kenyataan, bah-wa setiap gerakan Kim-bian-hud adalah sesuai de¬ngan apa yang tercatat dalam kitab ilmu silat yang berada dalam tangannya. Perbedaannya adalah, ge¬rakan golok itu lebih ringkas dan lebih perlahan dari apa yang ia biasa lakukan. Ia menganggap, bahwa Biauw Jin Hong sengaja memperlambat ge-rakannya supaya dapat dilihat olehnya secara lebih

tegas.

Sesudah sclesai bersilat, Kim-bian-hud berdiri tegak dan berkata: "Saudara kecil, dengan kepan-daianmu yang sekarang, secara mudah kau akan dapat menjatuhkan Tian Kui Long. Akan tetapi, kau masih belum bisa menandingi aku."

"Tentu saja," kata Ouw Hui. "Tentu saja boan-pwee bukan tandingan Biauw Tayhiap."

"Bukan, bukan begitu yang dimaksudkan aku," kata Biauw Jin Hong sembari menggeleng-geleng-kan kepala. "Dulu, dengan menggunakan ilmu golok itu, empat hari lamanya Ouw tayhiap telah ber-tempur dengan aku, tanpa ada yang kalah atau menang. Dalam pertempuran itu, gerakan goloknya jauh lebih lambat daripada kau."

"Begitu?" menegas Ouw Hui dengan perasaan heran.

"Benar," jawab Biauw Jin Hong. "Daripada jadi tuan rumah yang menghina tamu lebih baik jadi tamu yang merubuhkan tuan rumah. 'Leng' (Muda) lebih baik daripada 'Loo' (Tua). 'Tit' (Perlahan) menang dari 'Kie' (Cepat) Cam, Kut, Kiauw, Cah, Ciu dan Kiat ada lebih baik daripada Tian, Mo, Kauw, Kan, Pek dan Tok."

Apa yang dikatakan oleh Biauw Tayhiap, se-perti "daripada jadi tuan rumah yang menghina tamu lebih baik jadi tamu yang merubuhkan tuan rumah", adalah istilah dari pukulan-pukulan ilmu golok. Dengan ujung golok menindih senjata musuh adalah 'Leng' (Muda). Dengan mata golok di dekat gagang menangkis senjata musuh dinamakan 'Loo' (tua). Menebas senjata musuh dengan gerakan per¬lahan adalah 'Tit' (Perlahan), sedang memapaki

senjata musuh ialah 'Kie' (Cepat). Cam, Kut, Kiauw dan Iain-lain adalah istilah dari macam-macam pu-kulan.

Sesudah itu, Biauw Jin Hong lalu duduk pula dan menyuap nasi dengan menggunakan sumpit. "Sesudah kau dapat menyelami rahasia yang baru-san diberitahukan olehku, di kemudian hari kau pasti akan menjadi satu jago Rimba Persilatan," katanya.

Ouw Hui mengangguk sembari mengangkat sum-pit untuk menyumpit sayur. Ketika, karena otak sedang diasah, sumpitnya berhenti di tengah udara. Leng So tertawa dan sembari menyentuh sumpit Ouw Hui dengan sumpitnya, ia berkata: "Hayo. jangan bengong!"

Karena seluruh perhatiannya sedang ditumpah-kan ke arah To-koat (teori ilmu golok), tanpa merasa semua tenaga Ouw Hui berkumpul di lengan kanannya, dan begitu tersentuh sumpit si nona, secara otomatis sumpit Ouw Hui mengeluarkan tenaga menolak. Tek! kedua sumpit Leng So patah, jadi empat potong.

"Ah!" Leng So mengeluarkan seruan tertahan. "Memperlihatkan kepandaian?" tanyanya sejenak kemudian sembari tertawa.

"Maaf," kata Ouw Hui sembari tertawa juga. "Karena sedang memikirkan keterangan Biauw Tay¬hiap, aku jadi sedikit linglung." Ia mengangsurkan sumpitnya sendiri kepada si nona yang lalu me-nyambuti dan mulai bersantap.

Ouw Hui kembali bengong dan mulutnya ber-kata-kata dengan suara perlahan: "Leng menang dari Loo, Tit lebih baik daripada Kie, daripada jadi

tuan rumah yang menghina tetamu...."

Tiba-tiba ia dongak dan mendapat kenyataan, bahwa Leng So sedang makan tanpa ragu-ragu dengan sumpit yang bekas digunakan olehnya. Muka Ouw Hui lantas saja berubah merah. Sebenarnya, sebelum menyerahkan sumpit yang bekas diguna¬kan olehnya, ia harus membersihkannya terlebih dulu. Tapi sekarang sudah terlambat. Ia ingin meng-haturkan maaf, tapi mulutnya terkancing. Ia tak tahu, harus berbuat bagaimana. Akhirnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata, dengan perasaan je-ngah, ia pergi ke dapur dan mengambil sepasang sumpit baru.

Sesudah menyuap nasi, Ouw Hui mengang-surkan sumpit untuk menjepit peh-cay-ca. Sesaat itu, sumpit Biauw Jin Hong, yang juga ingin me-nyumpit makanan itu, menyentuh sumpit Ouw Hui yang lantas saja jadi terpental.

"Inilah Kiat," kata Kim-bian-hud.

"Benar," kata Ouw Hui sembari turunkan kedua sumpitnya untuk menjepit peh-cay-ca itu. Tapi Biauw Jin Hong terus menjaga dengan sumpitnya, se-hingga, sesudah mencoba beberapa kali, sumpit Ouw Hui tak bisa turun ke bawah.

Bukan main herannya Ouw Hui. "Walaupun kedua matanya tak bisa melihat, dalam pertem-puran dengan menggunakan golok, memang ia ma-sih bisa menangkap gerakan-gerakan pukulan de¬ngan mendengar kesiuran angin," katanya di dalam hati. "Tapi sekarang, aku hanya menggunakan se¬pasang sumpit yang begini kecil dan yang gerakan-nya sama sekali tidak menerbitkan kesiuran angin. Bagaimana ia masih bisa mengetahui setiap ge-

rakanku?"

Ia berusaha pula beberapa kali, tapi tetap tidak •berhasil, karena Biauw Jin Hong terus menjaga dengan rapatnya di atas piring peh-cay-ca, sambil menggoyang-goyang kedua sumpitnya. Ouw Hui mengasah otaknya. Mendadak ia mendusin. Ia sa-dar, bahwa ilmu yang digunakan oleh Biauw Jin Hong adalah apa yang dinamakan Houw-hoat-cu-jin (Melawan musuh dengan gerakan yang bela-kangan).

Dalam usaha tadi, dengan rupa-rupa cara, sum-pit Ouw Hui menyambar dari atas ke bawah dan dalam gerakan itu, sumpit tersebut selalu terbentur dengan sumpit Biauw Jin Hong yang terus ber-goyang-goyang kian ke mari. Biauw Jin Hong sendiri mengambil sikap menunggu. Sesudah sumpitnya membentur sumpit Ouw Hui, barulah dengan meng-imbangi gerakan (pukulan) pemuda itu, ia meng-hantam dengan sumpitnya. Itulah yang dinamakan 'tamu merubuhkan tuan rumah' atau 'dengan Tit (Perlahan) mengalahkan Kie (Cepat)'.

Ouw Hui adalah seorang yang sangat cerdas. Begitu lekas membuka tabir rahasia, ia segera me-nukar siasat. Jika tadi sumpitnya selalu menyambar dari atas ke bawah (ke piring peh-cay-ca), sekarang ia mengangkat sumpitnya dan menghentikan ge-rakannya di tengah udara. Kemudian, sambil meng-awasi gerakan sumpit Biauw Jin Hong, ia turunkan sumpitnya sendiri sedikit demi sedikit, sampai sum-pit itu berada di atas sumpit Biauw Jin Hong yang terus bergoyang-goyang. Mendadak, pada detik sum-pit Biauw Jin Hong bergoyang ke tempat yang paling jauh, ia turunkan sumpitnya, menjepit se-



potong peh-cay yang lalu dimasukkan ke dalam mulutnya. Gerakan itu dilakukan dengan kecepatan yang sungguh luar biasa, kecepatan yang tak kalah dengan arus listrik.

Kim-bian-hud lantas saja tertawa berkakakan dan melemparkan kedua sumpitnya di atas meja.

Pada saat itulah, puteranya Liao-tong Tayhiap Ouw It To masuk ke dalam kalangan ahli-ahli silat kelas utama! Mengingat bagaimana ia sudah meng-gunakan begitu banyak tempo dan tenaga yang tak perlu untuk merubuhkan Tian Kui Long, mau tak mau, Ouw Hui jadi merasa jengah sendiri. Di lain pihak, Leng So turut merasa girang melihat ber-hasilnya pemuda itu dalam merebut peh-cay-ca yang "dilindungi" Biauw Jin Hong.

"Had ini Ouw-kee To-hoat sudah mempunyai ahli waris yang tulen," kata Kim-bian-hud. "Ah, Ouw Toako, Ouw Toako!" Kata-kata yang terakhir itu diucapkan olehnya dengan nada menyayatkan hati.

Leng So yang mengetahui, bahwa antara Biauw Jin Hong dan Ouw Hui terdapat satu persoalan yang tak mudah dibereskan, segera menyelak untuk me-nyimpangkan pokok pembicaraan. "Biauw Tayhiap," katanya. "Sengketa apakah yang terjadi antara kau dan mendiang guruku? Bolehkah kau mencerita-kannya kepada kita?"

Biauw Jin Hong menghela napas. "Sampai di ini hari, aku juga masih belum mengetahui terang," jawabnya. "Pada delapan belas tahun berselang, secara tak disengaja aku sudah melukai seorang sahabat baik. Karena pada senjata itu terdapat racun yang sangat lihay, maka jiwa sahabatku itu tak bisa ditolong lagi. Belakangan, aku menduga-

duga, bahwa racun itu mempunyai sangkut paut dengan gurumu. Aku segera menanyakan gurumu yang dengan keras sudah menyangkal tuduhanku itu. Mungkin, karena tak bisa bicara dan juga sebab waktu itu hatiku sedang jengkel, aku sudah menge-luarkankan kata-kata keras, sehingga satu pertem-puran tak dapat dielakkan lagi."

Ouw Hui tak mengeluarkan sepatah kata dan sesudah lewat beberapa saat, barulah ia menanya: "Kalau begitu, bukankah sahabatmu itu telah binasa dalam tanganmu sendiri?"

"Benar," jawab Kim-bian-hud.

"Bagaimana dengan isterinya sahabat itu?" ta-nya pula Ouw Hui. "Bukankah kau juga mem-binasakan ia untuk membasmi sampai ke akar-akarnya?"

Dengan hati berdebar Leng So mengawasi Ouw Hui yang paras mukanya pucat dan tangannya men-cekal gagang golok. Ia merasa, bahwa makan minum yang gembira itu akan segera berubah menjadi pertempuran. Ia tak tahu, siapa yang salah, siapa yang benar, tapi di dalam hati, ia sudah mengambil keputusan. "Jika mereka bertempur, aku akan mem-bantu dia," pikirnya. Tak usah dikatakan lagi, "dia" itu berarti Ouw Hui.

"Isterinya telah membunuh diri untuk mengikut sang suami," kata Biauw Jin Hong dengan suara duka.

"Jadi... jiwa nyonya itu pun melayang karena gara-garamu, bukan?" tanya Ouw Hui.

"Benar!" jawabnya.

Ouw Hui berbangkit, ia tertawa terbahak-ba-hak, tertawa yang sangat menyeramkan. "She apa

dan siapa nama sahabat itu?" tanyanya pula.

"Benar-benar kau ingin mengetahui?" mcnegas Kim-bian-hud.

"Aku ingin mengetahui," jawabnya.

"Baiklah," kata Biauw Jin Hong. "Ikutlah aku!" Dengan tindakan lebar, ia berjalan ke ruangan dalam, diikut oleh Ouw Hui. Buru-buru Leng So memondong paso Cit-sim Hay-tong dan mengikuti di belakang Ouw Hui.

Setibanya di depan satu kamar samping, Biauw Jin Hong mendorong pintu. Dalam kamar itu ter-dapat satu meja yang ditutup dengan taplak putih dan di atas meja berdiri dua Leng-pay (papan pe-mujaan). di atas Leng-pay yang satu terdapat tulisan seperti berikut: "Leng-wie (tempat pemujaan) dari saudara angkatku, Liao-tong Tayhiap Ouw-kong It To (Ouw-kong berarti paduka she Ouw)", sedang di Leng-pay yang satunya lagi terdapat tulisan: "Leng-wie dari Gie-so (isteri dari saudara angkat) Ouw Hujin (Nyonya Ouw)".

Ouw Hui mengawasi kedua Leng-pay itu de¬ngan kaki tangan dingin bagaikan es dan badan gemetar. Sudah lama ia menduga, bahwa kebinasa-an kedua orang tuanya mempunyai sangkut paut yang sangat rapat dengan Biauw Jin Hong. Akan tetapi, melihat kekesatriaan Kim-bian-hud, siang malam ia berdoa, supaya dugaannya itu tak benar adanya. Sekarang Biauw Jin Hong telah bcrterus terang dan dalam pengakuannya, ia telah mem-perlihatkan satu kedukaan yang tak ada batasnya. Ouw Hui berdiri terpaku, kepalanya pusing dan ia tak tahu, harus berbuat bagaimana.

Perlahan-lahan Biauw Tayhiap memutar badan

"Jlka kau Ingin membalaskan saklt hati Ouw Tayhla sekarang juga kau boleh turun tangan,* kata Biauw J Hong. Ouw Hui mengangkat goloknya, tetapi golok I terhenti dl tengan udara tak dapat ia menurunkan se jatanya itu.

dan sembari menggendong tangan, ia berkata: "Jika kau tak sudi memberitahukan hubunganmu dengan Ouw It Tayhiap, aku pun tak berani memaksa. Saudara kecil, kau sudah berjanji akan melihat-lihat anak perempuanku. Aku harap, janji itu tak dilupa-kan olehmu. Baiklah! Jika kau ingin membalaskan sakit hatinya Ouw Tayhiap, sekarang juga kau bolch turun tangan."

Ouw Hui mengangkat golok, tapi golok itu berhenti di tengah udara. "Jika aku turunkan golok ini dengan gerakan 'Tamu merubuhkan tuan rumah' seperti yang diajarkan olehmu, kau tentu tak akan bisa berkelit lagi,' katanya di dalam hati. "Dengan demikian, aku bisa membalas sakit hatinya ayah dan ibu."

Akan tetapi, sebelum menurunkan golok, ia mengawasi paras Biauw Jin Hong. Paras kesatria. itu, dengan segala keangkerannya, adalah tenang dan damai, bebas dari rasa menyesal dan bebas pula dari rasa takut. Tangan Ouw Hui yang mencekal golok bergemetar. Bagaimana... bagaimana ia dapat menurunkan senjata itu di lehernya seorang ke¬satria seperti Kim-bian-hud?

Mendadak, mendadak saja, sembari memutar badan, Ouw Hui mengeluarkan teriakan keras dan terus kabur.... Leng So lalu mengejar dengan meng¬gunakan ilmu entengkan badan. Dalam sekejap, seperti orang kalap, Ouw Hui sudah melalui belasan li. Sekonyong-konyong ia bergulingan di atas tanah dan menangis sekeras-kerasnya. Leng So menge-tahui, bahwa dalam keadaan begitu, tak guna ia coba menghibur. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia duduk di tanah dan membiarkan Ouw Hui me-

lampiaskan perasaan sedihnya.

Lama sekali pemuda itu menangis, ia baru ber¬henti sesudah air matanya kering. Sesudah berhenti menangis, ia duduk bengong sekian lama dan se¬sudah kenyang bengong-bengong, barulah ia ber¬kata: "Leng Kouwnio, yang membinasakan ayah dan ibuku adalah dia. Sakit hati ini aeNlah sangat besar, aku dan dia tak bisa berdiri bersama-sama di kolong langit."

"Kalau begitu, kita sudah bertindak salah," kata Leng So. "Sebenarnya tak seharusnya kita meng-obati matanya."

"Tidak, kita tak salah dalam mengobati dia," kata Ouw Hui. "Sesudah kedua matanya sembuh, aku akan balik lagi untuk membalas sakit hati." Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula: "Ha-nya ilmu silatnya terlalu tinggi. Untuk memperoleh kemenangan, aku harus berlatih terus."

"Sesudah ia menggunakan senjata beracun untuk membinasakan ayahmu, apa halangannya jika kita pun membalas dengan senjata beracun pula!" kata Leng So.

Mendengar perkataan itu, bukan main rasa terima kasihnya Ouw Hui. Akan tetapi, sungguh heran, begitu mendengar si nona ingin mengambil jiwa Biauw Jin Hong dengan menggunakan racun, hatinya jadi kurang enak. 'Otak Leng Kouwnio sepuluh kali lebih cerdas daripada aku dan ilmu silatnya pun dapat dikatakan lumayan,' katanya di dalam hati. 'Tapi hari ketemu hari, ia terus ber-kawan dengan macam-macam racun. Biar bagai-manapun juga....' Ia tak dapat meneruskan jalan pikirannya. Ia hanya merasa, bahwa main-main de-

ngan racun terus-menerus adalah tidak benar.

Sesudah kenyang menangis, sebagian besar ke-jengkelannya sudah dapat dilampiaskan. Sesaat itu, fajar sudah menyingsing. Tapi, baru saja ia ber-bangkit untuk meneruskan perjalanan, mendadak ia berseru: "Celaka!"

Ternyata, waktu kabur dan rumah Biauw Jin Hong, ia sudah lupa untuk membawa bungkusan-nya. Tentu saja ia bisa balik pula untuk mengambil-nya, tapi ia sangat sungkan bertemu muka lagi dengan Kim-bian-hud.

"Lain barang masih tak apa, tapi Giok-hong-hong (burung-burungan Hong yang terbuat dari batu pualam, pemberian Wan Cie Ie) tidak boleh hilang," kata Leng So sembari mesem.

Muka Ouw Hui lantas saja berubah merah. Sesudah berpikir sejenak, ia berkata: "Kau tunggu di sini sebentar, aku pergi untuk mengambil bung-kusan itu. Jika tak diambil, kita tak mempunyai uang untuk makan nginap."

"Aku mempunyai perak dan malahan mem¬punyai juga emas," kata si nona sembari menge-luarkan dua potong emas dari sakunya.

"Barang yang paling penting dalam bungkusan itu adalah kitab ilmu silat warisan leluhurku," kata Ouw Hui. "Biar bagaimana juga, kitab itu tak boleh hilang."

Leng So merogoh saku dan mengeluarkan se-jilid kitab. "Apa ini?" tanyanya.

Ouw Hui kaget bercampur girang, karena kitab itu memang benar adalah kitab yang dimaksudkan olehnya. "Kau sungguh hati-hati dan ingat segala apa," ia memuji.

"Hanya sayang Giok-hong-hong itu jatuh di tengah jalan," kata Leng So. "Hatiku sungguh me-rasa tak enak."

Melihat parasnya si nona yang sungguh-sung-guh Ouw Hui jadi bingung. "Aku akan coba men-carinya," katanya. "Barangkali saja masih bisa di-dapatkan." Ia memutar badan dan lantas berjalan pergi.

"Ih! Apa itu yang berkeredepan?" Tiba-tiba Leng So berseru. Ia membungkuk dan memungut scrupa benda dari rumput-rumput. Ternyata, benda itu bukan lain daripada Giok-hong-hong.

"Kau sungguh satu Cukat perempuan atau Thio Liang kecil," ia memuji. "Aku menyerah kalah." (Cukat dimaksudkan Cukat Liang, seorang perdana menteri dari kerajaan Han, di jaman Samkok, se-dang Thio Liang adalah salah satu menteri utama dari kaisar Lauw Pang, pendiri dari kerajaan Han. Baik Cukat Liang, maupun Thio Liang, dikenal scbagai orang-orang pandai pada jaman itu).

"Aduh! Girangnya!" mengejek Leng So. "Nih. aku pulangkan!" Sembari berkata begitu, ia menye-rahkan kitab dan Giok-hong-hong kepada Ouw Hui.

Si nona berdiam sejenak dan tiba-tiba ia ber¬kata: "Ouw Toako, sampai ketemu lagi!"

Ouw Hui terkejut. "Kau marah!" tanyanya.

"Kenapa mesti marah?" Leng So balas menanya. Mendadak kedua matanya merah dan ia melengos ke lain jurusan.

"Ke mana... ke mana kau mau pergi?" tanya Ouw Hui dengan suara tak lampias.

"Tak tahu," jawabnya.

"Kenapa tak tahu?" Ouw Hui mendesak.

"Aku sudah tak mempunyai ayah dan bunda," jawabnya. "Guruku juga sudah meninggal dunia. Tak ada orang yang memberikan Giok-hong-hong atau Giok-kie-lin kepadaku.... Bagaimana... bagai-mana aku tahu, kemana aku mesti pergi?" Berkata sampai disitu, Leng So tak dapat mempertahankan dirinya lagi dan air mata meleleh turun di kedua pipinya yang kurus.

Semenjak bertemu, Ouw Hui mengagumi Thia Leng So yang pintar luar biasa dan selalu dapat memecahkan setiap persoalan yang sulit-sulit. Akan tetapi pada detik itu melihat badannya yang kurus bergemetar di antara tiupan sang angin pagi, tanpa merasa dalam hatinya timbul rasa kasihan. "Leng Kouwnio," katanya dengan suara halus. "Ijinkanlah aku mengantarkan kau."

Dengan menggunakan ujung baju, Leng So menepis air matanya. "Ke mana kau mau mengan-tarkannya?" katanya. "Aku sendiri tak tahu, mau pergi ke mana. Terhadap kau, tugasku sudah selesai. Kau ingin aku mengobati mata Biauw Jin Hong dan aku sudah memenuhi keinginan itu."

Tiba-tiba Ouw Hui ingat suatu hal yang kiranya dapat menimbulkan kegembiraan si nona. "Leng Kouwnio," katanya, "Tapi masih ada satu hal yang dilupakan olehmu."

"Apa?" tanya Leng so.

"Waktu aku memohon supaya kau mengobati mata Biauw Jin Hong, kau pernah mengatakan, bahwa kau sendiri ingin mengajukan serupa permin-taan kepadaku," kata Ouw Hui. "Permintaan apakah itu? sampai sekarang kau belum mengajukannya."

Biar bagaimana juga orang muda tetap orang muda, yang gampang jengkel dan gampang pula gembira. Mendengar perkataan Ouw Hui, Thia Leng So yang barusan masih bersedih hati, lantas saja tertawa geli. "Benar, jika tidak diingatkan kau, aku sendiri sudah lupa," katanya. "Baiklah. Bukankah kau sudah berjanji akan meluluskan segala per-mintaanku?"

"Dalam batas-batas kemampuanku, aku akan melakukan apa pun juga yang diperintah olehmu," jawab Ouw Hui.

Leng So mengangsurkan tangannya seraya ber¬kata: "Bagus! Sekarang serahkanlah Giok-hong-hong itu kepadaku."

Ouw Hui terkejut, tapi karena ia adalah seorang yang selalu memegangjanji, makawalaupun dengan perasaan berat, ia segera mengangsurkan Giok-hong-hong itu kepada si nona.

Leng So tidak menyambuti. Ia menatap wajah Ouw Hui seraya berkata: "Guna apa barang begitu? Aku ingin kau menghancurkan Giok-hong-hong itu!"

Itulah satu keinginan yang benar-benar tak dapat diturut oleh Ouw Hui. Ia mengawasi Leng So dan kemudian mengawasi Giok-hong-hong, tanpa mengetahui harus berbuat bagaimana. Pada saat itu, wajah dan gerak-geriknya Wan Cie le terbayang pula di depan matanya.

Perlahan-lahan Leng So menghampiri dan meng-ambil Giok-hong-hong itu, yang kemudian lalu di-masukkan ke dalam saku Ouw Hui. "Mulai dari sekarang," katanya dengan suara halus. "Janganlah sembarangan berjanji lagi. Kau harus mengetahui.

bahwa dalam dunia ini terdapat banyak sekali pe-kerjaan yang tidak dapat dilakukan. Sudahlah! Mari kita berangkat."

Perasaan Ouw Hui pada waktu itu, sukar di-lukiskan. Dengan terharu, ia segera memondong paso Cit-sim Hay-tong dan berjalan mengikuti di belakang si nona.

Kira-kira tengah had, mereka tiba di satu kota. "Mari kita cari rumah makan untuk menangsal perut dan kemudian coba membeli dua tunggangan," kata Ouw Hui.

Baru saja ia mengucapkan perkataan itu, se-orang lelaki setengah tua yang mengenakan thung-sha (jubah panjang) dan baju sutera dan gerak-geriknya seperti satu saudagar, menghampiri dan memberi hormat. "Apakah aku sedang berhadapan dengan Ouw-ya?" tanyanya.

Ouw Hui tak kenal orang itu, tapi lantas saja ia membalas hormat seraya berkata: "Aku yang rendah memang benar she Ouw. Bagaimana tuan bisa rae-ngetahui?"

Orang itu tertawa dan lalu menjawab dengan sikap hormat. "Atas titahnya majikanku, sudah lama aku menunggu di sini. Marilah kita makan dulu seadanya." Sehabis berkata begitu ia segera berjalan menuju ke satu restoran, diikuti oleh Ouw Hui dan Leng So.

Tanpa diperintah, beberapa pelayan segera me-ngeluarkan makanan dan arak. Apa yang dikatakan "Seada-adanya", adalah makanan pilihan dari kelas satu.

Ouw Hui dan Leng So tentu saja merasa sangat heran, tapi karena orang itu tidak menyebut-nyebut

lagi siapa majikannya, mereka pun merasa tak enak untuk segera menanyakan lagi.

Sehabis bersantap, orang itu berkata: "Sekarang marilah Jie-wie mengaso di gedung yang sudah disediakan."

Di luar restoran sudah menunggu tiga ekor kuda, yang lalu ditunggang oleh mereka. Sesudah melalui kurang lebih lima li, tibalah mereka di depan satu gedung besar yang sangat indah.

Di depan gedung itu sudah menunggu enam tujuh bujang yang menyambut mereka dengan sikap hormat sekali. Si saudagar lantas saja mengundang kedua tamunya masuk ke ruangan tengah, di mana sudah disediakan satu meja teh penuh buah-buah dan kue-kue yang lezat rasanya.

Ouw Hui jadi semakin heran. "Jika aku me¬nanyakan sebab-sebab perlakuan yang begini luar biasa dia tentu tak akan bicara terus-terang," kata-nya di dalam hati. "Biarlah aku menunggu bagai¬mana akhirnya permainan ini dan bertindak dengan mengimbangi keadaan."

Sehabis minum teh, si saudagar lantas saja ber¬kata: "Ouw-ya dan nona tentu tentu merasa capai. Mandilah tukarlah pakaian dulu."

"Didengar dari bicaranya, dia ternyata tidak mengenal Leng Kouwnio," pikir Ouw Hui. "Hm!" Jika dia berani main gila di hadapan murid Tok-chiu Yo-ong, dia pasti akan mendapat hajaran keras."

Seorang pelayan segera mengantarkan Ouw Hui masuk ke ruangan dalam, sedang seorang pe¬layan lain mengantarkan Leng So.

Sesudah mandi, menukar pakaian dan mengaso sebentar, mereka berdua lalu kembali ke ruangan

tengah. Mereka saling mengawasi dengan perasaan geli, karena masing-masing sudah mengenakan pa¬kaian baru.

"Ouw Toako," kata Leng So sembari tertawa. "Apakah hari ini hari perayaan Tahun Baru? Dan-dananmu ganteng benar."

Ouw Hui juga turut tertawa, karena mendapat kenyataan, bahwa si nona bukan saja memakai pakaian baru, tapi juga memakai bedak dan yancie (rouge). "Aduh!" katanya. "Kau kelihatannya se-perti pengantin saja!"

Muka Leng so lantas saja berwarna dadu dan ia melengos tanpa meladeni ejekan orang.

Ouw Hui terkejut, sebab ia merasa sudah ber-bicara salah. Ia melirik ke arah Leng So dan hatinya agak lega, karena paras si nona tidak menunjukkan kegusarannya.

Sementara itu, dalam ruangan tersebut sudah diatur meja perjamuan dengan makanan dan arak kelas satu. Sesudah mengundang Ouw Hui dan Leng So minum tiga cawan si saudagar segera masuk ke dalam dan ke luar lagi dengan kedua tangan me-nyanggah satu penampan. Di atas penampan itu terdapat sebuah bungkusan sutera merah yang ke-tika dibuka, ternyata berisikan sejilid buku yang disulam indah sekali dengan benang emas. Di atas kulit buku itu dituliskan perkataan seperti berikut: "Dipersembahkan dengan segala kehormatan ke-pada Ouw Toaya, Ouw Hui".

Dengan kedua tangannya, dengan sikap meng-hormat luar biasa, saudagar itu mengangsurkan buku tersebut kepada Ouw Hui. "Atas perintah majikanku, siauwjin (aku yang rendah) memper-

sembahkan segala apa yang tercatat dalam buku ini, kepada Ouw Toaya, " katanya.

Ouw Hui tak lantas menyambuti buku itu. "Sia-pa majikan tuan?" tanyanya. "Kenapa ia memberi hadiah yang begitu besar kepadaku?"

"Siauwjin telah dilarang memberitahukan nama beliau," jawabnya. "Dikemudian hati, Toaya sendiri tentu akan mengetahuinya."

Didorong keheranannya, Ouw Hui menyambuti buku itu dan segera membuka halaman itu terdapat tulisan seperti berikut: "Sawah kelas satu, empat ratus lima belas bouw". Di bawah tulisan itu terdapat penjelasan tentang kedudukan sawah itu, nama-nama penggarapnya, hasil setiap tahunnya dan se-bagainya.

Bukan main herannya Ouw Hui. Ia membuka halaman kedua yang bertuliskan seperti berikut: "Sebuah gedung dari lima bagian dengan dua belas kamar loteng dan tujuh puluh tiga kamar bawah". Di bawah itu, dengan huruf-huruf kecil, juga ter¬dapat penjelasan mengenai kedudukan gedung itu, letak taman bunganya, ruangan-ruangannya, kamar-kamarnya, dapurnya dan Iain-lain.

Pada halaman-halaman yang lain terdapat daf-tar nama bujang-bujang, biaya sehari-hari, makanan yang diperlukan, kuda-kuda, kereta, perabot rumah tangga, pakaian dan sebagainya.

Ouw Hui yang berotak cerdas sekarang benar-benar merasa bingung di dalam hatinya. "Coba kau lihat," katanya sembari menyerahkan buku itu ke¬pada Leng So.

Sesudah membaca isinya, si nona pun tak dapat menembus tabir rahasia yang meliputi keanehan itu.

"Selamat, selamat!" katanya sembari tertawa. "Kau sekarang sudah menjadi hartawan besar."

"Sekarang siauwjin ingin mengantar-antarkan Ouw Toaya untuk memeriksa keadaan gedung ini," kata si saudagar.

"Kau she apa?" tanya Ouw Hui. "Siauwjin she Thio," jawabnya. "Untuk seinen-tara waktu, siauwjin mewakili Ouw Toaya untuk mengurus sawah-sawah dan gedung ini. Jika ada apa-apa yang kurang mencocoki keinginan Ouw Toaya, siauwjin harap Ouw Toaya suka lantas mem-beritahukannya. Surat-surat sawah dan rumah ber-ada di sini. Harap Ouw Toaya sudi menerimanya." Sembari berkata begitu, ia mengangsurkan seikat surat-surat.

"Kau simpan saja dulu," kata Ouw Hui. "Kata orang: 'Tanpa berjasa, tidak menerima hadiah.' Ha-diah yang begini besar belum tentu aku dapat me¬nerimanya."

"Ah! Ouw Toaya terlalu sungkan," kata si sau¬dagar. "Majikanku pernah mengatakan, bahwa ia merasa malu, karena hadiah ini terlalu kecil."

Sedari kecil, Ouw Hui berkelana di kalangan Kang-ouw dan ia sudah kenyang menemui atau mendengar kejadian-kejadian aneh. Akan tetapi, apa yang dialaminya sekarang adalah kejadian yang belum pernah dimimpikannya.

Dilihat gerak-geriknya, orang she Thio itu bu-kan seorang yang mengerti ilmu silat dan bicaranya pun bukan cara seorang Rimba Persilatan ber-bicara. Ouw Hui merasa, bahwa sebagai seorang yang diperintah, belum tentu ia mengetahui latar belakang kejadian ini.

Sehabis bersantap, Ouw Hui dan Leng So se-gera ke kamar buku untuk mengaso. Kamar itu, yang diperlengkapi dengan perabotan yang ber-harga mahal, penuh dengan lukisan-lukisan, buku-buku dan alat-alat musik. Tak lama kemudian se¬orang kacung datang mengantarkan teh dan se-sudah meletakkan tehkoan dan cangkir di atas meja, ia segera mengundurkan diri.

Leng So tertawa geli seraya berkata: "Ouw Wan-gwee (hartawan), tak dinyana di tempat ini kau menjadi seorang Loo-ya (panggilan untuk se¬orang berpangkat atau hartawan)."

Ouw Hui pun turut tertawa, tapi sesaat ke¬mudian, ia mengerutkan alisnya. "Leng Kouwnio," katanya. "Aku merasa pasti, bahwa orang yang mem-berikan hadiah ini mempunyai maksud kurang baik. Akan tetapi, aku tak dapat menebak siapa adanya orang itu. Siasat apa yang sedang diaturnya?"

"Apakah tak mungkin kerjaan Biauw Jin Hong?" tanya si nona.

Ouw Hui menggelengkan kepalanya dan ber¬kata: "W upi.n aku dan dia mempunyai permu-suhan be.-.ir, tapi menurut pendapatku, ia adalah i:iki-laki tulen yang tak akan main bergelap-ge-lapan."

"Tapi kemungkinannya tetap masih ada," kata Leng So. "Apakah tak bisa jadi, hadiah ini diberikan >lehnya karena kau sudah membantu dia dalam nenghadapi bahaya-bahaya. Mungkin sekali ia ha-nva bermaksud untuk menghaturkan terima kasih Jan menghilangkan permusuhan."

"Mana bisa aku melupakan sakit hati orang jdku karena silau melihat harta?" kata Ouw Hui.

"Tidak, tidak?" Biauw Jin Hong tak akan meman-dang aku begitu rendah."

Leng So meleletkan lidah. "Kalau begitu, aku-lah yang sudah menaksir kau terlalu rendah."

Lama juga mereka berunding, tapi hasilnya nihil. Akhirnya mereka mengambil keputusan un-tuk menginap semalam, guna menyelidiki hal itu lebih lanjut.

Malam itu, Ouw Hui tidur dalam kamar be-sarnya terletak di ruangan belakang, sedang Leng So mengambil kamar di atas loteng, di pinggir taman bunga. Selama hidupnya, belum pernah Ouw Hui tidur dalam kamar yang begitu mewah, tapi se-karang, bukan saja kamar itu, tapi seluruh gedung itu juga sudah menjadi miliknya sendiri.

Kira-kira jam dua malam, sesudah berdandan rapi dan membekal golok, Ouw Hui ke luar lewat jendela dan melompat naik ke atas genteng. la mendapat kenyataan, bahwa di bagian belakang gedung itu masih terdapat penerangan lilin. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, ia ber-lari-lari ke arah sinar api itu. Sambil mencantelkan kedua kakinya di payon rumah, sehingga badannya menggelantung ke bawah, ia mengintip dari jendela. Di dalam kamar itu terdapat si orang she Thio yang sedang menghadapi suiphoa (alat hitung Tionghoa) dan buku-buku, dengan dikawani oleh seorang tua. Ternyata, apa yang sedang dikerjakannya adalah pem-bukuan mengenai sawah dan gedung itu dan apa yang dibicarakan dengan si orang tua adalah soal-soal yang bersangkut paut dengan tugasnya. Sesudah mende-ngarkan beberapa lama, Ouw Hui belum juga men-dapatkan yang tengah dicarinya itu.

Baru saja ia ingin berlalu, ketika mendadak terdengar suara luar biasa, sehingga dengan cepat ia bersiap-siap sembari mencekal gagang goloknya. Tapi yang datang hanyalah Leng So yang segera memberi isyarat dengan gerakan tangannya. Ouw Hui menghampiri.

"Aku sudah menyelidiki seluruh gedung ini dari depan sampai di belakang, tapi belum juga bisa mendapat apa-apa yang mencurigakan," kata si nona. "Bagaimana dengan kau?"

Ouw Hui menggelengkan kepalanya dan me¬reka segera kembali ke masing-masing kamarnya. Sampai pagi mereka terus berjaga-jaga, tapi se¬malam itu tak terjadi suatu apa yang luar biasa.

Pagi-pagi sekaii, seorang kacung sudah meng-antarkan somthung (kuwah yo-som) dan yan-o-pauw, kue-kue dan arak merah yang tua sekaii.

"Dengan mempunyai Leng Kouwnio sebagai kawan, enak juga hidup di sini," kata Ouw Hui di dalam hatinya. Tapi di lain saat, ia mendapat pikiran lain. "Orang she Hong itu yang sudah membinasa-kan seluruh keluarga Ciong A-sie, sampai sekarang masih hidup dengan selamat," pikirnya. "Jika aku tak bisa membalaskan sakit hati keluarga Ciong, mana aku punya muka untuk hidup terus dalam dunia ini?" Mengingat begitu, darah kesatrianya lantas saja mendidih.

"Apakah kita lantas berangkat sekarang?" ta-nyanya kepada Leng So.

"Baiklah," jawab si nona tanpa menegaskan mau pergi ke mana.

Mereka segera kembali ke masing-masing ka¬marnya dan mengenakan lagi pakaian yang lama.

Sesudah rapih berdandan, Ouw Hui scgera me-nemui si orang she Thio dan berkata: "Aku mem-punyai urusan penting dan harus berangkat se-karang juga." Sehabis berkata begitu, ia segera berjalan pergi, diikuti Leng So.

Orang she Thio itu terperanjat dan berkata dengan suara terputus-putus: "Kenapa... kcnapa... begitu cepat? Ouw.... Toaya.... Tunggu.... Siauwjin ambil sedikit ongkos." Ia masuk dengan berlari-lari dan ke luar lagi dengan membawa penampan, tapi Ouw Hui maupun Leng So sudan tak kelihatan bayangannya lagi.

Dengan cepat Ouw Hui dan Leng So mene-ruskan perjalanan mereka kc arah utara. Kira-kira tengah hari mereka tiba di sebuah kota dan sesudah mencari keterangan, barulah mereka mengetahui, bahwa semalam mereka menginap di kota Gie-tong-tin. Ouw Hui segera membeli dua ekor kuda dan mereka meneruskan perjalanan itu dengan me-nunggang kuda, sambil membicarakan kejadian ke-marinnya yang luar biasa itu.

"Kita makan minum dan menginap dengan cuma-cuma dan sama sekali tidak terjadi apa-apa yang merugikan," kata Leng So. "Mungkin sekali, majikan rumah itu tak mengandung niatan jelek.

"Tapi aku justru mengharapkan datangnya ba-haya itu," kata si nona sembari tertawa. "Eh, Ouw Toaya! Sebenarnya, kemana kita akan pergi?"

"Aku ingin pergi ke Pakkhia," jawabnya. "Apa-kah tak baik jika kau mengikuti?"

"Baik sih baik," kata Leng So sembari mesem. "Hanya aku khawatir, jika kau akan menjadi tidak leluasa."

"Kenapa!" Ouw Hui menegas.

"Ouw Toako," kata Leng So. "Bukankah kau ingin mencari nona yang menghadiahkan Giok-hong-hong itu kepadamu!"

"Bukan," jawab Ouw Hui dengan paras sung-guh-sungguh. "Aku ingin mengejar seorang musuh. Ilmu silat orang itu tidak seberapa tinggi, tapi ia tnempunyai banyak kaki tangan dan banyak akal busuknya. Leng Kouwnio, dalam hal ini aku sangat mengharapkan bantuanmu."

Ouw Hui lantas saja menuturkan segala keja-hatan Hong Jin Eng, bagaimana manusia itu sudah membasmi keluarga Ciong A-sie dan bagaimana dia sudah terlolos dari kejarannya. Ketika mencerita¬kan pengalamannya pada malam itu di bio rusak. suara Ouw Hui agak tak lampis.

"Bukankah nona pemberi Giok-hong-hong itu juga berada di bio tersebut!" tanya Leng So secara mendadak.

Ouw Hui terkejut. Si nona ternyata cerdas luar biasa dan tak dapat dikelabui. Oleh karena yakin, bahwa segala sepak terjangnya adalah putih bersih, Ouw Hui segera bercerita tanpa tedeng aling-aling lagi. Ia menceritakan segala apa, antaranya bantuan Wan Cie le kepada Hong Jin Eng.

"Wan Kouwnio adalah wanita yang sangat can-tik, bukan?" tanya Leng So.

Muka Ouw Hui lantas saja berubah merah. "Lumayan," jawabnya.

"Bukankah ia jauh lebih cantik, jika diban-dingkan dengan aku, si wanita jelek?" tanya Leng So pula.

Mendengar pertanyaan yang tak diduga-duga itu, Ouw Hui jadi termangu-mangu. Sesudah be-ngong sejenak, barulah ia berkata: "Siapa mengata-kan, bahwa kau wanita jelek? Dia berusia beberapa tahun lebih tua daripada kau. Tentu saja, tubuhnya lebih tinggi dan besar."

Leng So tertawa. "Ketika berusia empat tahun, aku pernah bercermin dengan menggunakan kaca ibu," katanya. "Ketika itu, Ciciku berkata: 'Muka jelek, tak perlu kau mengaca. Mengaca atau tidak, jelek tetap jelek.' Hm! Aku tak memperdulikan kata-katanya. Apakah bisa menebak kejadian selan-jutnya?"

"Asal kau jangan meracuni kakakmu," kata Ouw Hui di dalam hatinya. Ia mengawasi si nona dan berkata: "Mana aku tahu?"

Leng So, yang rupa-rupanya dapat menebak jalan pikiran Ouw Hui, segera berkata sembari bersenyum: "Kau takut aku meracuni Cici? Waktu itu aku baru berusia empat tahun. Hm! Besoknya, semua cermin di rumahku hilang."

"Heran benar," kata Ouw Hui.

"Tak heran," kata si nona sembari tertawa. "Aku membuang semua cermin itu ke dalam sumur." Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula: "Tapi, sesudah itu, aku. mengerti, bahwa aku beroman jelek. Walaupun tak ada kaca, jelek tetap jelek. Permukaan air sumur masih merupakan sebuah kaca besar yang setiap waktu bisa mencerminkan rupaku yang jelek. Waktu itu, benar-benar aku ingin membuang diri ke dalam sumur!" Sehabis berkata begitu, mendadak ia mencambuk tunggangannya yang lantas saja lari seperti terbang.

Ouw Hui menyusul dan sesudah melalui belasan li, barulah Leng So menahan larat kudanya. Melihat kedua mata si nona yang bersemu merah, Ouw Hui mengetahui, bahwa Leng So sedang berduka dan ia tak berani mengawasi terlalu lama. "Leng Kouwnio, tidak secantik Wan Kouwnio, tapi juga tak bisa dikatakan jelek," katanya di dalam hati. "Bagi ma-nusia, yang terutama adalah watak dan kedua baru¬lah kecerdasan otak, sedang bagus atau jeleknya muka adalah pengasih Tuhan yang tak dapat di-ubah-ubah. Leng Kouwnio adalah seorang pintar, kenapa ia tak dapat melihat kenyataan ini?"

Melihat badan si nona yang kurus kering, ia jadi merasa sangat kasihan. "Leng Kouwnio," katanya dengan mendadak. "Aku ingin mengajukan suatu permintaan, tapi aku tak tahu, apakah kau sudi meluluskannya atau tidak. Aku tak tahu, apakah aku mempunyai kehormatan yang begitu besar." Leng So terkejut. "Apa...?" tanyanya. Dari belakang, Ouw Hui dapat melihat, bahwa kedua daun kuping dan pinggir pipi si nona ber-warna merah. "Kau dan aku sama-sama sudah tak mempunyai ayah bunda," katanya. "Aku ingin meng-angkat saudara dengan kau. Apakah kau setuju?" Dalam sekejap paras si nona yang tadi berwarna merah berubah menjadi pucat. Ia tertawa terbahak-bahak seraya berkata: "Bagus! Kenapa tak setuju? Aku sungguh merasa sangat beruntung mempunyai kakak seperti kau."

Ouw Hui merasa jengah karena ia merasa, bahwa suara si nona mengandung nada mengejek. "Aku mengajukan usul itu dengan setulus hatiku," katanya dengan suara perlahan.

"Siapa kata kau main-main?" kata Leng So

sembari meloncat turun dari tunggangannya. la segera mengambil beberapa ranting pohon yang kecil untuk digunakan sebagai hio dan lantas saja berlutut di pinggir jalan. Melihat begitu, Ouw Hui pun segera turut berlutut. Sesudah bersembahyang kepada Tuhan, mereka saling memberi hormat de-ngan berlutut. "Menurut kata orang mengangkat saudara adalah Pat-pay-cie-kauw (perhubungan dari delapan kali berlutut), maka itu kita harus berlutut delapan kali," kata Leng So. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.... Hm! Aku yang men-jadi adik, harus berlutut dua kali lebih banyak." Benar saja, ia segera menambahkan dua kali ber¬lutut.

Sesudah menjalankan upacara mengangkat sau¬dara, mereka sama-sama berbangkit. Melihat per-kataan dan gerak-gerik Leng So yang agak luar biasa, diam-diam Ouw Hui merasa kikuk. "Mulai dari sekarang, aku memanggil kau Jie-moay (adik perempuan yang kedua)," katanya.

"Hm! Kau jadi Toako," kata si nona. "Tapi kenapa kita tidak mengucapkan sumpah, seperti senang susah bersama-sama?"

"Dalam mengangkat saudara, yang penting ada¬lah kecintaan di dalam hati," jawab Ouw Hui. "Ber-sumpah atau tidak adalah sama saja."

"Oh begitu!" kata si nona sembari menyemplak tunggangannya yang lalu dilarikan dengan keras. Sampai magrib mereka melangsungkan perjalanan itu tanpa mengucapkan suatu apa.

Malam itu, selagi mereka mencari rumah pengi¬napan di suatu kota, mendadak muncul seorang pelayan hotel yang menghadang di depan kuda

mereka. "Apakah tuan OuwToaya?" tanyanya. "Mari-lah menginap di rumah penginapan kami."

"Bagaimana kau tahu?" tanya Ouw Hui dengan perasaan heran.

"Siauwjin sudah menunggu di sini lama sekali," jawabnya sembari tertawa. Sehabis berkata begitu, ia segera mengantarkan Ouw Hui dan Leng So ke sebuah hotel yang besar dan mewah. Dua kamar yang paling bagus, makanan dan minuman yang paling baik sudah disediakan untuk mereka, sedang semua pelayan melayani dua tamu itu dengan penuh perhatian.

Dengan perasaan heran, Ouw Hui menanya seorang pelayan, siapa yang sudah mengatur itu semua. "Siapakah yang tak mengenal Ouw Toaya dari Gie-tong-tin!" kata pelayan itu sembari ter¬tawa.

Keesokan paginya, pengurus hotel itu menolak pembayaran mereka sembari membongkok-bong-kok. Ia memberitahukan, bahwa sudah ada lain orang yang membayarnya dan ia tak berani me-nerima uang Ouw Hui. Dengan begitu, Ouw Hui hanya bisa memberi persen kepada beberapa pe¬layan.

Beruntun beberapa hari, mereka mendapat peng-alaman yang sama. Pada hari keempatnya, sesudah berangkat dari sebuah rumah penginapan, Leng So berkata: "Toako, sesudah memperhatikan beberapa hari, aku mendapat kenyataan, bahwa sama sekali kita tidak dikuntit orang. Kemungkinan satu-satu-nya ialah kita didahului seseorang yang mengatur segala apa dan melukiskan romanmu. Sekarang, menurut pendapatku, paling baik kita menyamar

dan memperhatikan segala apa dari pinggir. Barang-kali saja dengan berbuat begitu, kita bisa mengorek rahasia ini."

"Bagus!" kata Ouw Hui dengan girang. "Sia-satmu sungguh bagus."

Setiba mereka di sebuah pasar, mereka lalu membeli beberapa stel pakaian, sepatu dan topi dan kemudian berganti pakaian di luar kota yang sepi. Dengan menggunakan rambutnya, Leng So mem-buat sebuah kumis palsu sehingga, sesudah me-makai kumis, Ouw Hui kelihatan seperti seorang yang berusia kira-kira empat puluh tahun, sedang si nona sendiri, yang mengenakan jubah panjang dan topi, seperti juga seorang pemuda kurus. Pe-nyamaran itu bagus sekali dan mereka saling rae-mandang sembari tertawa besar.

Selanjutnya di pasar, mereka menukarkan kuda mereka dengan keledai, sedang Ouw Hui sendiri membeli sebatang huncwee (pipa panjang).

Di waktu magrib, mereka tiba di kota Kong-sui. Begitu masuk ke dalam kota, di tepi jalan sudah menunggu dua orang pelayan hotel yang matanya memperhatikan setiap orang yang berlalu lintas. Ouw Hui merasa geli, karena mengetahui bahwa mereka sedang menunggunya.

Bersama Leng So, ia segera pergi ke sebuah rumah penginapan dan meminta kamar. Melihat dandanan mereka yang sederhana, pengurus hotel tidak memandang sebelah mata dan memberikan kepada mereka dua kamar samping yang sempit.

Sesudah siang berganti malam, dua pelayan yang menunggu di pinggir jalan itu, pulang dengan uring-uringan dan memberi laporan kepada pengu-rus rumah penginapan, bahwa orang yang ditunggu tak kelihatan muncul.

Ouw Hui yang ingin mengorek keterangan, segera memanggil seorang antaranya untuk diajak bicara. Baru saja ia coba memancing-mancing, ke-tika di luar mendadak terdengar tindakan kuda, disusul masuknya beberapa orang.

"Aha!" kata pelayan itu dengan girang. "Ouw Toaya sudah datang!" Ia segera tinggalkan Ouw Hui dan berlari-lari ke luar untuk menyambut "Ouw Toaya".

Karena kepingin tahu, Ouw Hui juga segera ke luar dari kamarnya dan pergi ke ruangan tengah.

Sementara itu, di antara suara ramai terdengar teriakan seorang pelayan: "Bukan Ouw Toaya! Orang-orang dari piauwkiok!"

Hampir berbareng dengan itu, dari luar ma-suklah seorang pegawai piauwkiok yang membawa sebuah bendera piauwkiok.

Ouw Hui terkejut melihat bendera itu yang berlatar kuning dengan sulaman kuda terbang dari benang hitam. Ia ingat, bahwa bendera itu adalah lambang Hui-ma Piauw-kiok, perusahaan Pek-seng Sin-kun Ma Heng Kong yang telah menemui ajalnya di Siang-kee-po. Siapakah yang sekarang menge-palai piauwkiok itu? Bendera itu sudah kumal dan pegawai yang mencekalnya juga seorang tua yang berbadan lemah, sehingga dapatlah ditarik kesim-pulan, bahwa selama beberapa tahun Hui-ma Piauw¬kiok tidak mendapat kemajuan apa-apa.

Sesaat kemudian, dari luar berjalan masuk lagi seorang lelaki yang bertubuh kekar dan berparas keren, sedang mukanya penuh jerawat. Ouw Hui segera mengenali, bahwa ia itu adalah Cie Ceng, murid Ma Heng Kong. Di belakang Cie Ceng ber-jalanlah seorang wanita muda yang menuntun dua anak laki-laki. Wanita tersebut bukan lain daripada Ma It Hong, yang masih tetap cantik, hanya muka-nya kelihatan lesu dan mencerminkan penderitaan. Kedua anak itu, yang baru berusia kira-kira empat tahun, tampak mungil sekali dan roman mereka sangat mirip satu dengan yang lain, sehingga mung? kin sekali mereka adalah saudara kembar.

"Ibu, aku lapar," kata yang satu.

"Sebentar," kata sang ibu dengan suara per-lahan. "Sesudah ayah mencuci muka, kita makan beramai-ramai."

"Kalau begitu mereka sudah menikah dan sudah mempunyai anak," kata Ouw Hui di dalam hatinya. Sebagaimana diketahui, di waktu Ouw Hui ditang-kap oleh Siang Lootay dan kemudian dihajar oleh Siang Po Cin. Ma It Hong pernah berusaha untuk menolong dirinya. Kejadian itu sering diingat oleh Ouw Hui dengan rasa terima kasih. Jika bukan berada dalam penyamaran, ia tentu sudah meng-hampiri dan menegur kenalan lama itu.

Pada jaman itu, rumah-rumah penginapan bia-sanya tak berani berlaku sembarangan terhadap orang-orang piauwkiok. Maka itu, walaupun kereta piauwyang dilindungi Hui-ma Piauw-kiok tak lebih dari sebuah dan pakaian para pegawainya pun butut sekali, pengurus hotel tetap melayani mereka de¬ngan sikap hormat.

Begitu mendengar, bahwa kamar-kamar kelas satu sudah terisi semua, Cie Ceng mengerutkan kedua alisnya. Baru saja ia mau membuka mulut,

satu pegawai piauwkiok muncul dari ruangan bela¬kang sembari berkata: "Dua kamar besar yang meng-hadap ke selatan masih kosong. Kenapa kau kata sudah tak ada kamar kosong lagi?"

"Harap tuan sudi memaafkan," kata si pengurus hotel sembari tertawa. "Dua kamar itu sudah di-pesan orang, mungkin sekali akan digunakan malam ini."

Sebagai orang yang hidupnya tak begitu berun-tung, Cie Ceng gampang sekali naik darah. Men¬dengar keterangan si pengurus hotel, ia segera mengangkat tangan dan paras mukanya berubah gusar. Tapi, sebelum ia mengumbar nafsu, Ma It Hong sudah menarik ujung bajunya seraya berkata: "Sudahlah! Kita hanya menginap semalam. Guna apa cerewet-cerewet?"

Cie Ceng yang selalu mengindahkan isterinya, tak berani bergerak lebih jauh. Sesudah mengawasi pengurus hotel itu dengan mata melotot, ia segera mengikut isterinya ke sebuah kamar yang letaknya di sebelah barat.

"Pembayaran mengantar piauw ini ada sangat kecil dan supaya tidak menjadi rugi, kita harus berlaku hemat," kata Ma It Hong sembari menarik tangan kedua puteranya. "Dengan mengambil ka¬mar ini kita bisa menghemat sedikit."

"Perkataanmu memang benar," kata Cie Ceng. "Aku hanya merasa mendongkol melihat lagak an-jing-anjing itu yang sama sekali tidak memandang orang."

Harus diketahui, bahwa sesudah Ma Heng Kong binasa di Siang-kee-po, Cie Ceng dan Ma It Hong segera menikah dan mereka berdua mewarisi Hui-



ma Piauw-kiok. Akan tetapi, baik dalam hal ke-pandaian maupun mengenai nama, Cie Ceng masih kalah jauh dari gurunya. Di samping itu, ia berwatak terus terang dan beradat berangasan, sehingga da¬lam tiga empat tahun, beberapa kali ia "membentur tembok". Hanya berkat usaha isterinya, baru ba-haya-bahaya itu dapat diatasi. Dengan begitu, usaha Hui-ma Piauw-kiok lantas saja jadi merosot dan mereka tak mendapat kepercayaan lagi untuk meng-antar piauw yang besar. Kali ini, seorang saudagar ingin mengirimkan sejumlah perak ke kota Po-teng, di propinsi Titlee. Karena jumlah uang itu hanya sembilan ribu tahil dan jika diserahkan kepada piauwkiok besar, ongkosnya terlalu mahal, maka tugas itu lalu diserahkan kepada Hui-ma Piauw-kiok.

Sedari bermula, kedua suami isteri itu selalu mengantar piauw bersama-sama. Kali ini, karena tidak mempunyai orang yang dapat dipercaya, maka It Hong mengambil keputusan untuk membawa juga dua puteranya. Ia menganggap, bahwa jumlah uang yang begitu kecil tak akan menarik perhatian dan perjalanan itu bisa dilalui tanpa bahaya.

Sesudah mengawasi kereta piauw itu, Ouw Hui pergi ke kamar Leng So. "Jie-moay," katanya. "Ke¬dua suami isteri itu adalah kenalan lama." Sehabis berkata begitu, dengan ringkas ia menuturkan peng-alamannya di Siang-kee-po.

"Biarlah besok saja kita menegur mereka di jalan yang sepi," kata si nona.

Ouw Hui tak menjawab, ia seperti sedang me-

mikirkan apa-apa.

"Jika kita menegur di jalan yang sepi, apakah

kau khawatir mereka akan menerka kita peram-pok?" tanya Leng So sembari tertawa.

Ouw Hui juga turut tertawa. "Hm!" katanya. "Piauw yang begitu kecil tak berharga untuk Ouw Toa-cee-cu (Cee-cu berarti kepala rampok) turun tangan sendiri. Bagaimana pendapat Thia Jie-cee-cu?"

Mendengar kakaknya berkelakar, Leng So ter¬tawa geli. Sesaat kemudian, paras mukanya berubah sungguh-sungguh. "Jika tak salah, mereka berdua kosong kantongnya," katanya. "Apakah tak baik kita memberikan mereka sedikit uang?"

Ouw Hui tertawa terbahak-bahak. Ia memang mempunyai niatan begitu. Apa yang tengah di-pikirannya, adalah cara bagaimana hadiah itu harus diberikan, supaya tak sampai menyinggung pera-saan suami isteri Cie Ceng.

Malam itu, sesudah bersantap, Ouw Hui segera beristirahat di kamarnya sendiri. Kira-kira tengah malam, di atas genteng mendadak terdengar suara luar biasa. Sebagai orang yang berkepandaian tinggi, Ouw Hui mempunyai panca indera yang lebih tajam dari manusia biasa. Meskipun sedang pulas, suara itu sudah cukup untuk menyadarkannya. Dengan cepat ia bangun dan turun dari pembaringan. Ia mengetahui, bahwa di atas genteng itu terdapat dua orang, yang sesudah bertepuk tangan dengan per-lahan, segera melompat turun ke bawah. "Siapakah manusia yang bernyali begitu besar, seolah-olah di tempat ini tiada manusianya?" tanyanya kepada dirinya sendiri. Dengan sebuah jarinya ia segera melubangkan kertas jendela dan mengintip ke luar. Ia melihat, bahwa dua orang yang mengenakan

jubah panjang tanpa bersenjata, sedang menuju ke pintu sebuah kamar yang menghadap ke selatan. Begitu masuk, mereka segera menyalakan lampu.

"Ah, kalau begitu mereka bukan orang jahat," kata Ouw Hui di dalam hatinya.

Tapi baru saja ia mau merebahkan diri di pem-baringan, mendadak terdengar bunyi diseretnya ka-sut. Ternyata, yang menyeret kasut adalah pelayan hotel yang menghampiri pintu kamar dan berteriak: "Siapa? Kenapa tengah malam buta tak masuk dari pintu luar dan turun seperti bangsat?" Ia men-dorong pintu itu dan kakinya melangkah ke dalam.

Tiba-tiba terdengar teriakan, "Aduh!" disusul terpentalnya tubuh pelayan itu yang jatuh ngusruk di luar kamar.

Dengan serentak semua tamu mendusin dari tidurnya. Salah seorang dari dua tamu yang me-ngenakan jubah panjang itu, berdiri di tengah pintu. "Atas perintah Kee Kong Ong Toa-ce-cu, malam ini kami datang ke sini untuk merampas piauw," ia berteriak. "Yang kami cari adalah Cie Piauwtauw dari Hui-ma Piauw-kiok. Orang lain yang tak ada sangkut pautnya lebih baik masuk ke kamar masing-masing dan tidur saja dengan tenang."

Mendengar perkataan itu, Cie Ceng dan Ma It Hong menjadi gusar berbareng khawatir. Mereka merasa heran, bagaimana kedua penjahat itu bisa mempunyai nyali begitu besar untuk menghina orang di kota Kong-sui yang tidak kecil. Kesombongan si penjahat adalah kejadian yang belum pernah di-alami oleh mereka.

"Aku, si orang she Cie, berada di sini," kata Cie Ceng dengan suara nyaring. "Siapakah sebenarnya

Jie-wie?"

Orang itu tertawa bergelak-gelak. "Serahkan sembilan ribu tahil perak itu dan benderamu kepada tuan besarmu," katanya. "Guna apa kau menanya-nanya namaku? Biarlah kita bertemu pula di sebelah depan." Sehabis mengancam ia bertepuk tangan dua kali dan kemudian, bersama kawannya, ia melompat ke atas genteng.

Cie Ceng mengayun tangannya dan dua piauw bajanya menyambar ke atas. Orang yang melompat belakangan menyambut piauw itu dengan tangan¬nya dan kemudian balas menimpuk. Berbareng de¬ngan muncratnya lelatu api, kedua piauw itu rae-nancap di batu hijau yang terletak kira-kira satu kaki dari tempat berdirinya Cie Ceng. Timpukan itu yang tepat dan bertenaga besar berada di atas kepandaian Cie Ceng.

Kedua penjahat itu lalu tertawa terbahak-ba-hak, menyusul mana terdengar derap kaki kuda yang dilarikan ke jurusan utara.

Sesudah mereka pergi jauh, barulah semua orang berani ke luar lagi dari kamar mereka dan berunding berkelompok-kelompok. Ada yang mengusulkan supaya pengurus hotel segera melaporkan kejadian ini kepada pembesar negeri, ada yang membujuk supaya Cie Ceng mengambil jalan lain dan se-bagainya.

Cie Ceng sendiri tidak mengeluarkan sepatah kata. Sesudah mencabut senjata rahasianya yang menancap di batu, ia segera kembali ke kamarnya. Dengan suara perlahan ia segera berunding dengan isterinya. Mereka yakin, bahwa kedua orang itu bukan penjahat sembarangan. Tapi, jika benar me-

reka adalah orang-orang Kang-ouw yang kenamaan, kenapa mereka raau merampas piauw yang ber-jumlah begitu kecil? Biarpun mengetahui, bahwa jalan di depan penuh bahaya, menurut kebiasaan, piauw yang sudah ke luar tak boleh berbalik pulang. Jika mereka berbuat begitu, sama saja mereka gulung tikar.

"Sahabat-sahabat di Hekto (jalanan hitam, yaitu perampok) makin lama semakin tidak memandang orang," kata Cie Ceng dengan suara mendongkol. "Apakah kita tak boleh mencari sesuap nasi dengan melakukan pekerjaan begini? Sudahlah! Biar aku mengadu jiwa dengan mereka? Kedua anak kita...."

"Dengan kawanan Hekto, kita sama sekali tidak mempunyai permusuhan," kata sang isteri dengan suara menghibur. "Urusan ini hanyalah urusan uang. Aku merasa, mereka bukan maui jiwa kita. Tak apa jika kita membawa terus kedua anak ini." Mulutnya berkata begitu, tapi hatinya sudah merasa sangat menyesal. Memang tak pantas ia membawa-bawa dua anak itu berkelana dalam dunia Kang-ouw yang penuh bahaya.

Dengan mengintip di jendela, Ouw Hui dan Leng So sudah melihat dan mendengar segala apa. Diam-diam mereka merasa heran, karena di se-panjang jalan, mereka telah menemui kejadian-kejadian luar biasa. Sesudah menyamar, mereka sendiri berhasil meloloskan diri dari perhatian orang, tapi tak dinyana, mereka segera berpapasan dengan peristiwa aneh lain yang mengenai Hui-ma Piauw-kiok.

Besok paginya, orang-orang Hui-ma Piauw-kiok segera berangkat, dengan diikuti oleh Ouw Hui dan

Leng So dari sebelah belakang.

Melihat gerak-gerik kedua orang itu yang terus menguntit di belakang, semakin lama Cie Ceng jadi semakin bercuriga. Ia menduga, bahwa mereka itu adalah kawanan penjahat. Beberapa kali, ia mene-ngok ke belakang dan mengawasi gerak-gerik me¬reka dengan sorot mata gusar, tapi Ouw Hui dan Leng So pura-pura tak melihatnya. Di waktu rom-bongan piauw-hang mengaso sebentar untuk makan tengah hari, Ouw Hui dan Leng So pun segera turun dari tunggangannya untuk makan ransum kering, sembari beristirahat juga.

Di waktu magrib, mereka sudah tak jauh lagi dari Bu-seng-kwan. Tiba-tiba, berbareng dengan terdengarnya tindakan kuda, dari jauh muncul dua penunggang kuda yang mendatangi dengan kece-patan luar biasa. Dalam sekejap saja mereka sudah melewati kereta piauw-hang dan setelah lewat di samping Ouw Hui dan Leng So, mereka menge-luarkan tertawa nyaring yang panjang. Dilihat ro-mannya dan didengar suaranya, mereka adalah ke¬dua orang yang semalam mengacau di rumah pe-nginapan.

"Sebentar, setelah mereka berbalik dan menge-jar dari belakang, mereka tentu akan segera turun tangan," pikir Ouw Hui. Baru saja ia berpikir begitu, dari depan sekonyong-konyong mendatangi pula dua penunggang kuda, yang gerak-geriknya gesit sekali.

"Heran, sungguh heran!" kata Ouw Hui dalam hatinya.

Berjalan belum cukup satu li, untuk ketiga kalinya, dua penunggang kuda mendatangi pula dari

sebelah depan, disusul lagi oleh dua penunggang kuda lain.

Melihat kejadian itu, Cie Ceng yang sudah nekat, berbalik tertawa. "Sumoay," katanya. "Sepan-jang keterangan Suhu, jika penjahat kelas satu ingin merampas piauw kelas satu, barulah ia mengirim enam orang. Hari ini, kawanan perampok bukan mengirim enam, tapi delapan orang, seolah-olah yang mau dirampok bukan sembilan ribu tahil pe-rak, tapi sembilan ratus laksa atau sembilan ribu laksa tahil!"

Ma It Hong juga merasa heran dan semakin besar pula keheranannya, semakin besar pula ke-khawatirannya. "Sebentar jika keadaan sudah me-maksa, paling penting kita harus kabur dengan membawa dua anak ini," katanya kepada sang suami. "Sembilan ribu tahil tidak seberapa besar. Kita masih dapat menggantinya."

"Apakah nama baik Suhu boleh dirusak dengan begitu saja oleh kita yang tak punya guna?" tanya Cie Ceng dengan suara keras.

"Kau harus memikirkan keselamatan kedua anak ini," kata It Hong dengan suara duka. "Mulai dari sekarang, biarlah kita hidup melarat sebagai petani. Jangan kita meneruskan pekerjaan yang berbahaya ini."

Baru saja ia berkata begitu, tiba-tiba dari se¬belah belakang terdengar gemuruh tindakan kuda. It Hong menengok ke belakang dan melihat, bahwa di antara debu yang mengepul itu, delapan pe-nunggang kuda sedang mendatangi dengan kece-patan kilat. Sesaat kemudian, sebatang anak panah yang mengeluarkan bunyi nyaring lewat di atas

kepalanya. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, adalah bahwa dari sebelah depan kembali men¬datangi delapan penunggang kuda lain.

"Dilihat gelagatnya, mungkin sekali mereka se-benarnya ingin mencari kita," kata Ouw Hui.

"Tian Kui Long?" Leng So menegas.

"Mungkin," jawabnya. "Bisa jadi penyamaran kita kurang sempurna dan sudah dikenali mereka."

Disaat itu, delapan orang yang berada di bela¬kang dan delapan orang lagi yang berada di depan sudah menahan kuda mereka, sehingga rombongan Cie Ceng, Ouw Hui dan Leng So tergencet di tengah-tengah. Cie Ceng meloncat turun dari tung-gangannya sembari menghunus golok. Ia menyoja seraya berkata: "Aku adalah Cie...." Baru saja ia mengucapkan tiga perkataan itu, seorang tua dari barisan depan mendadak mengeprak kudanya yang lantas saja menerjang ke arah Cie Ceng. Begitu berhadapan, tanpa mengeluarkan sepatah kata, si tua mengangkat senjatanya yang berbentuk aneh dan menghantam muka Cie Ceng.

Ouw Hui dan Leng So mengawasi dari pinggir dengan siap sedia. Senjata orang tua itu berbentuk seperti cangkul, batangnya bengkok-bengkok ba-gaikan ular. Ouw Hui belum pernah melihat senjata begitu, ia berpaling kepada Leng So dan menanya: "Senjata apakah itu?"

Sebelum si nona menjawab, seorang perampok yang berdiri di belakang sudah mendahului dengan suara mengejek. "Bocah tua! Biarlah aku yang mem-beritahukannya. Senjata itu diberi nama Lui-cin-tong (Pacul geledek)."

"Kepandaian si tua tidak seberapa," kata Leng

So dengan suara tawar. "Lui-cin-tong tidak diguna-kan bersama-sama dengan San-tian-tui (Pusut kilat)."

Perampok yang tadi mengejek terkesiap dan tak berani membuka suara lagi. la melirik kepada Leng So dengan perasaan heran karena "bocah" kurus itu ternyata mengenal juga San-tian-tui.

Harus diketahui, bahwa orang tua itu adalah Suheng (kakak seperguruan yang lebih tua) pe¬rampok tersebut dan ia sendiri menggunakan sen-jata san-tian-tui. Sesuai seperti yang dikatakan Leng So, guru mereka menggunakan San-tian-tui dan Lui-cin-tong dengan berbareng. Kedua senjata itu, yang satu untuk menyerang, sedang yang lain untuk membela diri, lihay bukan main dan mempunyai banyak sekali perubahan yang tidak bisa diduga-duga. akan tetapi, karena yang satu pendek dan yang lain panjang, sukar sekali orang bisa menggunakan kedua senjata itu dengan berbareng. Sesudah be-lajar sekian banyak tahun, mereka berdua pun ha-nya bisa menggunakan salah satu antaranya saja. Ketika itu, perampok tersebut masih menyembunyi-kan senjatanya di dalam tangan baju dan ia jadi terkejut bukan main ketika mendengar perkataan Leng So.

Tentu saja ia tidak mengetahui, bahwa guru bocah" itu adalah tok-chiu Yo-ong yang berpe-ngetahuan sangat luas. Jika sedang bercakap-cakap dengan muridnya yang disayang, Bu-tin Thaysu se-ring menceritakan hal ikhwal berbagai cabang per-silatan di berbagai daerah. Itulah sebabnya, me-naapa sekali melihat, Leng So sudah mengetahui, bahwa senjata aneh itu adalah Lui-cin-tong yang



harus digunakan bersama-sama San-tian-tui.

Sementara itu, si kakek sudah menyerang de¬ngan senjatanya yang menderu-deru, seolah-olah bunyi guntur. Ilmu golok Cie Ceng juga tak lemah, tapi diserang secara begitu, dengan cepat ia jatuh di bawah angin.

Melihat begitu, kawanan perampok itu lantas mulai mengeluarkan kala-kata mengejek.

"Daripada Hui-ma Piauw-kiok lebih baik meng¬gunakan nama Hui-kauw (Anjing terbang) Piauw-kiok," kata seorang.

"Eh, anak tolol!" kata yang lain. "Melindungi sembilan ribu tahil perak saja kau tak mampu. Lebih baik kau bunuh diri saja dengan menggebuk kepala dogolmu dengan sepotong tahu."

"Sin-kun Bu-tek (si Tinju malaikat yang tak ada tandingannya) Ma Loopiauwtauw mempunyai nama yang sangat besar," kata perampok yang ketiga. "Sungguh sayang nama guru-gurumu telah dirusak oleh kau, si bocah goblok!"

"Menurut penglihatanku, kepandaian isterinya lebih tinggi sepuluh kali daripada dia," ejek penjahat ke empat.

Mendengar cacian-cacian itu, Ouw Hui merasa heran, karena kawanan penjahat itu, ternyata tahu hal ikhwal Cie Ceng seterang-terangnya. Mereka bukan saja tahu nama dan gelar gurunya, tapi juga tahu berapajumlah uangpiauw dengan tepat. Selain itu, sedang Cie Ceng disikat habis-habisan, mereka sedikit pun tidak menyinggung nama baik Ma Heng Kong atau Ma It Hong. Malahan, kata-kata mereka masih mengandung penghormatan terhadap Ma Loopiauwtauw dan puterinya.

Walaupun tak mengenal ilmu silat Lui-cin-tong, tapi dengan sekali melihat saja, Ouw Hui sudah mengetahui, bahwa orang tua itu mempunyai ke-pandaian yang cukup tinggi. "Heran, sungguh he-ran," pikirnya. "Meskipun belum boleh dihitung sebagai ahli silat kelas satu, kakek itu sudah pasti bukan orang sembarangan. Dilihat dari gerak-gerik kawanan penjahat itu, tak bisa jadi mereka sengaja datang untuk merampas sembilan ribu tahil perak. Tapi, jika mau dikatakan, bahwa mereka adalah kaki tangan Tian Kui Long yang dikirim untuk mencegat aku, kenapa mereka merasa perlu untuk meng-ganggu Cie Ceng?"

Sementara itu, Ma It Hong memperhatikan jalan pertempuran itu dengan hati berdebar-debar. Begitu bergebrak, ia mengetahui, bahwa suaminya bukan tandingan si tua. Ia ingin memberi bantuan, tapi tiada gunanya, karena kawan si kakek tentu akan segera turun tangan dan kedua puteranya bisa diculik oleh kawanan penjahat itu. Maka itulah, ia hanya bisa mengawasi dengan rasa khawatir ber-campur takut.

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, tiba-tiba senjata Lui-cin-tong itu menyambar Cie Ceng de¬ngan kecepatan luar biasa. Trang! dan golok Cie Ceng terbang ke tengah udara.

"Celaka!" Ma It Hong berseru.

Melihat serangannya berhasil, orang tua itu membarengi dengan suatu tendangan ke lutut Cie Ceng, yang dengan cepat segera loncat menyingkir. Sesaat itu, golok Cie Ceng tengah melayang turun. Salah seorang perampok mengangkat pedangnya dan memapaki golok itu. Sekali lagi terdengar suara

trang!dan golok Cie Ceng menjadi dua potong! Bclum puas dengan pertunjukan itu, si perampok menyabet lagi dua kali dengan pedangnya dan dua potongan golok itu yang belum turun ke muka bumi, berubah jadi empat potong! Penjahat itu ternyata bukan saja memiliki pedang mustika, tapi gerakan-nya pun cepat luar biasa. Dengan serentak, kawan-k a wan nya bersorak-sorai.

Ouw Hui terkesiap. Ia yakin, bahwa kawanan penjahat itu bukan semata-mata bertujuan meram¬pas piauw, tapi ingin mempermainkan Cie Ceng. Ia mengetahui, bahwa penjahat yang bersenjatakan pedang saja sudah lebih dari cukup untuk me-rubuhkan Cie Ceng dan Ma It Hong. Kenapa me¬reka harus datang dengan enam belas orang? Setiap orang itu, yang kelihatannya berkepandaian tinggi, seolah-olah kucing yang sedang mempermainkan tikus.

Cie Ceng yang sudah nekat segera menyerang mati-maiian, tanpa memperdulikan keselamatan-nya sendiri. Tapi si tua yang berkepandaian lebih tinggi dan memiliki senjata yang lebih panjang, dengan nuidah dapat memunahkan serangan-se-rangan iiu.

Sesudah bertempur lagi beberapa jurus, lutut Cie Ceng kena terpapas Lui-cin-tong musuhnya dan lanlas saja mengucurkan darah. Sesaat kemudian, puudak kirinya terpacul dan selagi ia terhuyung, si tua menendang, sehingga tak ampun lagi ia ter-guling di atas tanah.

Dengan sebelah kaki menginjak tubuh lawan-nya yang sudah terlentang, si tua berkata sembari tertawa tawar: "Aku tak menginginkan jiwamu. Cu-kup jika aku mengambil kedua biji matamu!"

Cie Ceng takut tercampur gusar, tapi ia sudah tak berdaya. Dadanya ditasanya sesak dan ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

"Sahabat!" Ma It Hong berteriak. "Jika kalian mau merampas piauw, ambillah! Dengan kalian, kami sama sekali tidak mempunyai permusuhan. Kenapa kalian berlaku begitu kejam?"

"Ma Kouwnio," kata penjahat yang bersenjata pedang. "Kau tak usah mencampuri urusan orang lain."

"Apa?" Ma It Hong menegas. "Urusan orang lain? Dia suamiku!"

"Kami justru berpendapat, bahwa dia tak pantas mempersakiti Ma Kouwnio yang cantik dan pintar," kata si kakek. "Penasaran itu tak bisa tidak diberes-kan."

Ouw Hui dan Leng So terpeianjat. Scmakin lama kejadian itu semakin sukar dimengerti. Te-ranglah sudah, bahwa kawanan perampok itu mau mencampuri urusan rumah tangga orang. Soal pe¬nasaran apakah yang perlu dibereskan oleh me¬reka? Benar-benar gila!

Sementara itu, si tua sudah mengangkat sen-jatanya dan menghantam mata kanan Cie Ceng. Ma It Hong berteriak sembari melompat untuk coba menolong suaminya, tapi ia segera dicegat oleh seorang penjahat yang bersenjata tombak.

"Ayah!" teriak dua anak itu yang lantas mem-buru ke arah ayah mereka.

Pada detik yang bagi Cie Ceng sangat berbahaya itu, mendadak terlihat berkelebatnya sebuah ba-yangan. Si tua terkesiap, pergelangan tangannya



kesemutan dan... tahu-tahu, Lui-cin-tongnya sudah tak berada lagi dalam tangannya! Dengan hati men-celos ia mengangkat kepalanya dan mendapat ke-nyataan, bahwa bayangan tadi, yang bukan lain daripada Ouw Hui sudah duduk pula di punggung keledainya, dan tangannya memegang Lui-cin-tong, senjata orang tua itu!

Itulah kejadian yang benar-benar di luar duga-an, sehingga semua perampok itu jadi kesima. Me¬reka bengong tanpa mengeluarkan sepatah kata. Sesaat kemudian, sesudah dapat menetapkan hati, baru mereka berteriak-teriak sambil mendekati Ouw Hui dengan sikap mengancam.

"Sahabat!" bentak si tua yang senjatanya diram-pas. "Siapa kau? Perlu apa kau mengganggu kami?"

"Aku hanya seorang yang biasa melakukan pe-kerjaan tanpa modal," jawabnya. "Aku sudah penuju kepada sembilan ribu tahil perak, kawalan Hui-ma Piauw-kiok ini. Tapi tak dinyana, di tengah jalan muncul enam belas Thia Kauw Kim yang ingin minta bagian. Coba kau pikir. Apakah hal itu tak mem-bikin aku jadi mendongkol?"

"Hm!" gerendeng si tua. "Sahabat, janganlah berpura-pura. Beritahukanlah namamu dan mak-sudmu yang sebenarnya."

Sesudah terlolos dari lobang jarum, Cie Ceng memeluk kedua puteranya, sedang isterinya berdiri di sampingnya sembari mengawasi Ouw Hui tanpa berkejap. Bukan main herannya Ma It Hong, karena semula ia menduga, bahwa Ouw Hui dan Leng So adalah konco-konco kawanan perampok itu.

Sementara itu, sesudah mengusap-usap kumis-nya dan menghisap huncweenya, Ouw Hui berkata

dengan suara tenang: "Baiklah, jika kau ingin aku bicara secara tcrus terang. Sin-kun Butek Ma Hcng Kong adalah sutccku (adikseperguruan). Maka itu, sebagai paman, tak dapat tidak aku harus mcn-campuri urusan Sutitku."

Perkataan itu sangat mengejutkan hati Ma It Hong. "Dari mana datangnya Supeh ini?" tanyanya di dalam hati. "Selama hidupnya ayah belum pernah memberitahukan hal ini kepadaku. Di samping itu, orang ini masih jauh lebih muda daripada ayah. Mana bisa ia menjadi Supeh?"

Sementara itu, sebisa-bisanya, Leng So mena-han rasa geli di dalam hatinya. Melihat lagak kakak-nya, hampir-hampir ia tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi di samping itu, ia juga merasa kagum, karena dalam menghadapi musuh-musuh tangguh, Ouw Hui masih bisa bersikap begitu tenang malah masih bisa membanyol.

Si tua mengeluarkan suara di hidung dan ber-kata: "Benarkah tuan menjadi Suheng Ma Heng Kong? Tidak, tak mungkin! Usia tuan masih begitu muda. Kami pun belum pernah mendengar, bahwa Ma Loopiauwtauw mempunyai kakak seperguru-an."

"Dalam rumah tangga perguruanku, tingkatan tua atau muda dihitung dari mulainya masuk bcr-guru dan bukan dari perbedaan usia," Ouw Hui menerangkan. "Ma Heng Kong bukan seorangyang tcrlalu besar, sehingga sama sekali tak perlu aku meminjam atau menyalahgunakan namanya."

Harus diketahui, bahwa kebiasaan yang dise-butkan Ouw Hui itu, adalah kebiasaan yang sering terjadi dalam suatu rumah perguruan atau cabang

persilatan. Maka itu, si tua lantas saja melirik Ma It Hong untuk menyelidiki sikap nyonya itu dan kemudian kembali menengok kepada Ouw Hui se-raya berkata: "Bolehkah aku mengetahui she dan nama tuan yang mulia!"

"Suteeku bcrnama Ma Heng Kong dan bergclar Sin-kun Butek (si Tinju malaikat yang tak ada tandingannya)," jawabnya dengan tenang. "Aku ber-nama Gu Keng Tian (Kerbau Meluku Sawah) dan bergelar Sin-kun Yoe-tek (si Tinju malaikat yang ada tandingannya)."

Siapa pun mengetahui, bahwa jawaban itu ada¬lah ejekan belaka. Jika bukan sudah merasakan kelihayan pemuda itu dan senjatanya sudah di-rampas secara begitu luar biasa, siang-siang si tua sudah turun tangan. Dengan adatnya yang bera-ngasan, begitu mendengar ejekan Ouw Hui, ia tak dapat bersabar lagi dan sembari membentak keras, ia segera menerjang.

Ouw Hui menggentak les keledainya untuk menyingkir dari serangan itu dan mengebaskan cangkul rampasannya. Hampir berbareng dengan itu, si tua merasakan suatu benda diletakkan di dalam tangannya dan... Iho! Benda itu, ternyata bukan lain daripada senjatanya sendiri. Bahwa ia sudah bisa mendapatkan kembali Lui-cin-tongnya adalah kejadian yang seharusnya menggirangkan. Akan tetapi, bagi si tua, kejadian itu benar-benar sangat memalukan, dan ia kelihatan seperti kesima.

Sementara itu, kawan-kawannya yang meng-anggap bahwa ia sudah merampas kembali sen¬jatanya dari tangan Ouw Hui, bersorak-sorai de¬ngan serentak. "Tie Toako! Kau benar-benar lihay

sekali!" mereka memuji.

Muka si tua menjadi hijau kekuning-kuningan, karena malu dan mendongkol, tapi ia tak berani mengumbar natsunya, sebab mengetahui, bahwa lawannya berkepandaian terlalu tinggi. "Tuan," kata-nya sembari menahan amarahnya. "Katakanlah! apa-kah sebenarnya maksud kedatanganmu ini?"

"Bukan aku, tapi pihakmu yang harus memberi penjelasan lebih dulu," kata Ouw Hui. "Kedua Su-titku ini telah hidup rukun sebagai suami istcri. Mereka sama sekali tak punya sangkut paut dengan kamu semua. Tapi kenapa kamu justru ramai-ramai mencegat mereka di sini dan mengatakan, bahwa kamu ingin membereskan suatu ketidakadilan?"

"Tak berguna tuan mencampuri urusan orang lain," kata si orang she Tie. "Dengan tulus hati aku menasehatkan, supaya tuan menyingkir dari sini. Sebaiknya, kita masing-masing mengambil jalan sen did."

Mendengar perkataan itu, belasan penjahat lain menjadi tercengang. Mereka merasa heran, me-ngapa si tua yang biasanya berangasan bisa berlaku begitu sabar.

Ouw Hui lantas saja tertawa besar. "Bagus!" ia Krseru. "Pendapatmu cocok sekali dengan pen--:.<patku. Memang tak berguna kita mencampuri urusan orang lain. Paling benar masing-masing ber-jalan di jalannya sendiri. Hayolah. Aku akan berlalu dari sini tetapi kamu pun lekas-Iekas menyingkir."

Si tua mundur tiga tindak untuk kemudian membentak: "Sahabat! Jika kau tak mau mendengar nasehat baik, terpaksa aku harus meminta peng-ajaranmu." Sehabis berkata begitu, ia mengangkat

Lui-cin-tongnya dan memasang kuda-kuda.

"Tidak," kata Ouw Hui. "Berkelahi satu lawan satu kurang menarik, berkelahi dengan terlalu ba-nyak orang juga kurang sedap, karena kalang kabut. Begini saja: Aku, Gu Keng Tian, akan melawan tiga orang dari pihakmu." Sehabis berkata begitu, de¬ngan huncweenya ia menuding seorang penjahat yang bersenjata pedang dan Sutee si orang she Tie.

Yang bersenjata pedang itu, berparas cakap dan sombong sekali kelihatannya, ia lantas saja tertawa terbahak-bahak. "Benar-benar kau temberang!" kata-nya.

Si tua sendiri sudah merasa, bahwa dengan bertempur satu lawan satu, mungkin sekali ia akan dirubuhkan. Maka itu, mendengar tantangan Ouw Hui, ia menjadi girang sekali. "Liap Hiantee, Siang-koan Sutee, dia sendiri yang mencari mampus dan ia tak boleh menyalahkan orang lain," katanya. "Marilah! Kita bertiga melayani dia main-main se-dikit!"

Orang she Liap itu yang merasa sungkan untuk bertiga mengerubuti seorang, lantas saja berkata: "Tie Toako, kau sendiri sudah lebih dari cukup untuk merobohkan bocah sombong itu. Begini saja: Biarlah kalian Suhengtee (kakak beradik seper-guruan, yaitu si orang she Tie dengan adik se-perguruannya) yang turun tangan, agar kita bisa menyaksikan Iihaynya Lui-tan-kauw-co (Lui-cin-tong dan san-tian-tui)." Kawan-kawannya lantas saja ber-tepuk tangan untuk menyatakan setuju.

Tapi Ouw Hui menggeleng-gelengkan kepala-nya. "Aku tak menyangka, bahwa orang muda ber-nyali begitu kecil," katanya dengan nada mengejek.

"Tak berani maju dalam pertempuran besar. Sa-yang! Sungguh sayang!"

Alis si orang she Liap berkerut dan parasnya berubah gusar. la melompat turun dari tunggangan-nya dan berkata dengan suara perlahan: "Tie Toako, harap kau suka mundur. Biarlah siauwtee yang menghajar manusia sombong itu."

"Boleh," kata Ouw Hui sembari tertawa. "Se-dikit pun aku tak merasa keberatan, jika kau bisa menghajar Sin-kun Yoe-tek Gu Keng Tian. Akan tetapi, sebelum bertempur, kita harus membuat perjanjian. Jika aku, Gu Keng Tian kalah, aku tak akan rewel-rewel lagi. Kau mau membunuh diriku, boleh lantas membunuh. Tapi bagaimana jika kau, saudara kecil, yang kalah?"

"Jangan rewel!" orang she Liap itu membentak "Jika aku kalah, kau boleh berbuat sesukamu."

"Tak berani aku berlaku begitu," kata Ouw Hui sambil menyengir. "Aku hanya ingin memohon belas kasihanmu, agar kamu selanjutnya tidak menggang-gu lagi kedua Sutitku yang sudah hidup beruntung sebagai suami isteri. Tak usah kamu memperduli-kan, apakah ada perkara penasaran atau tidak."

Orang she Liap itu menjadi gemas sekali, dan ia tak dapat bersabar lagi. Sambil mengebaskan pedangnya, ia membentak: "Ya, sudah! Aku setuju!"

Ouw Hui menyapu semua perampok dengan sepasang matanya yang tajam. "Tahan!" katanya. "Tunggu dulu, aku masih mau bicara sedikit. Sa-habat-sahabat! Apakah perkataan saudara kecil she Liap ini juga disetujui oleh kamu semua beramai-ramai? Jika dia kalah, apakah kamu setuju untuk tidak membereskan perkara penasaran yang tadi



disebut-sebut pihakmu?"

Sampai di sini, Leng So tak bisa menekan lagi rasa gelinya. Ia tertawa terpingkal-pingkal sembari menekap mulutnya sendiri dengan kedua-dua ta-ngannya. Bagaimana ia tak jadi tertawa? Ouw Hui yang pantas dipanggil "saudara kecil" sekarang me-mainkan peranan sebagai seorang tua dengan ku-misnya yang keren dan menggunakan istilah "sau¬dara kecil" terhadap orang lain. Cara-cara kawanan perampok itu juga tak kurang lucunya. Mereka mengatakan, bahwa pernikahan antara Ma It Hong dan Cie Ceng adalah seperti "bunga indah yang ditancapkan di tahi kerbau" dan oleh karenanya, mereka mengangkat senjata untuk membereskan kejadian penasaran itu, seolah-olah Ma It Hong sudah dipaksa untuk menikah dengan Suhengnya. Sekarang Ouw Hui menyelak. Mereka melarang Ouw Hui mencampuri urusan orang lain, urusan "membereskan perkara penasaran ini", dan dengan lagaknya yang lucu, Ouw Hui mengembalikan kata-kata mereka sendiri.

Kawanan perampok itu tahu, bahwa si orang she Liap bukan saja berkepandaian tinggi, tapi senjatanya pun sebatang pedang mustika yang bisa memutuskan segala jenis logam. Maka itu, mereka sudah memastikan, bahwa dalam beberapa jurus saja, si kumis pendek akan dapat dirobohkannya.

"Hei, Kumis!" bentak seorang antaranya. "Jika kau bisa mendapat kemenangan, tanpa mengusap pantat lagi kami akan segera berlalu dari tempat ini. Kami berjanji untuk mengurungkan niat kami, hen-dak membereskan urusan penasaran itu."

"Bagus!" teriak Ouw Hui. "Aku percaya, bahwa

mulutmu adalah mulut manusia, bukannya mulut pantat! Bersiaplah!" la mengebaskan huncweenya dan melompat turun dari keledainya.

Melihat ia mengebaskan hucwee itu, semua penjahat menduga, bahwa Ouw Hui akan meng-gunakannya sebagai senjata. Tapi di luar dugaan, sesudah meloncat turun dari tunggangannya, ia me-masukkan pipa itu ke dalam tangan bajunya. Me¬lihat begitu, belasan perampok itu lantas saja ber-senyum mengejek.

"Ke luarkan senjatamu!" si orang she Liap mem-bentak.

"Kerbau yang meluku sawah, harus mengguna-kan luku," kata Ouw Hui sembari menyengir. "Tie Toa-cee-cu! Senjatamu agak mirip dengan luku. Bolehkah aku meminjamnya sebentar?" Sembari berkata begitu, ia mengangsurkan tangannya ke arah si tua.

Orang she Tie itu yang sudah merasa jeri -buru-buru mundur dua tindak. "Tidak!" ia mem-bentak. "Tak nanti kau bisa menggunakan senjataku ini!"

Ouw Hui terus mengangsurkan tangannya dan berkata pula: "Hayolah! Kau rugi apa, jika aku meminjamnya sebentar saja?"

Mendadak, mendadak saja ia melompat dan... cangkul senjata orang tua itu sudah pindah ke dalam tangannya!

Kekagetan si tua tak terkira, bagaikan ia meli¬hat dirinya disambar halilintar. Ia meloncat se-tombak lebih, mukanya pucat pias lagi menyeram-kan, seperti muka setan.

Harus diketahui, bahwa ilmu merampas senjata

dengan tangan kosong adalah ilmu luar biasa yang telah diciptakan dan disempurnakan leluhur Ouw Hui, yaitu Hui-thian Ho-lie (si Rase yang terbang di langit). Dimasanya, selama ia mengabdi kepada Cwan-ong Lie Cu Seng, dengan mengandalkan ilmu itu, entah berapa banyak senjata musuh telah dapat dirampasnya. Bahwa leluhur Ouw Hui itu mendapat gelar "Hui-thian Ho-lie", sehagian besar juga berkat ilmu yang istimewa itu.

Sedang Ouw Hui tengah merebut Lui-cin-tong itu, orang she Liap itu menikam dari belakang. Dengan gesit Ouw Hui mengegos sembari mem-balas menyerang dengan senjatanya yang baru saja dirampasnya.

Si orang she Tie mengawasi dengan mulut ter-nganga dan mata terbelalak, karena ilmu silat yang digunakan Ouw Hui sedikit pun tidak berbeda de¬ngan ilmu Lui-cin-tong-hoatnya. Si orang she Siang-koan yaitu Sutee si tua, lebih besar lagi kehe-ranannya. Dengan kupingnya sendiri, ia mendengar pertanyaan Ouw Hui yang tidak mengetahui nama senjata Suhengnya. >>Bagaimana ia sekarang bisa bersilat dengan Lui^ein-tong-hoat?

Mereka berdua^tentu saja tidak mengetahui latar belakangnya.^tPertama Ouw Hui adalah se-orang yang berkepandaian tinggi dan sudah dapat menyelami intisari ilmu silat. Walaupun banyak pecahannya; pada hakekatnya, dasar berbagai ca-bang persilatan tidak berbeda banyak. Kedua, Ouw Hui adalah seorang yang cerdas luar biasa. Tadi, ia sudah menyaksikan pertempuran antara si orang she Tie dan Cie Ceng. Sekali melihat saja, ia sudah bisa mencatat berbagai pukulan yang digunakan

oleh si tua itu di dalam otaknya. Meskipun gerakan-gerakannya mirip dengan pukulan-pukulan si orang she Tie, akan tetapi tenaga dan perubahan-per-ubahan yang terdapat dalam pukulan Ouw Hui berbeda sangat jauh dari pelbagai gerakan si orang tua.

Si orang tua she Liap tidak berani memandang enteng lagi dan kemudian menyerang dengan Tat-mo Kiam-hoat yang tulen. Dalam pertempuran itu, Ouw Hui berada di pihak yang rugi, karena ia menggunakan senjata yang tak biasa digunakan olehnya dan ia bertempur dengan meniru ilmu silat si orang she Tie. Maka itu, melihat serangan-se-rangan yang sangat lihay itu, ia menjadi agak gentar dan karenanya ia segera mengasah otak untuk men-cari jalan ke luar.

"Aku percaya, bahwa enam belas orang ini adalah lawan berat semua," pikirnya. "Jika mereka beramai-ramai meluruk, biarpun aku dan Jie-moay bisa meloloskan diri, tapi Cie Ceng sekeluarga tentu akan mengalami celaka. Jalan satu-satunya adalah berdaya supaya mereka tak bisa turun tangan."

Selagi ia berpikir, pedang musuh mendadak menyambar ke arahnya secepat kilat. Trang! se¬bagian Lui-cin-tongnya sudah terpapas putus!

Tadi, melihat kepandaian Ouw Hui dalam me-rampas Lui-cin-tong si orang she Tie, hati kawanan perampok itu sudah kebat-kebit. Tapi sekarang, mereka bersorak-sorai dan si orang she Liap jadi semakin bersemangat, sehingga serangannya sema-kin bertubi-tubi.

Ouw Hui menjadi bingung juga. Pukulan-pu¬kulan yang "dicangkoknya" dari si tua sudah hampir

habis digunakan dan jika pertempuran itu ber-langsung terus secara begitu kedoknya akan segera terlucut.

Mendadak, otaknya yang cerdik mendapat sua-tu pikiran baik. Ia mengangkat Lui-cin-tongnya dan sengaja memapaki pedang musuh. Trang! sebagian senjata itu terpapas pula.

"Bagus!" kata Ouw Hui. "Benar-benar kau tak memberi muka kepada Tie Toaya. Dengan me-mutuskan senjata sahabat yang kesohor, kau sung-guh tak memandang orang!"

Si orang she Liap terkejut, karena ia merasa bahwa perkataan Ouw Hui ada benarnya juga. Tapi, di lain saat, pedangnya kembali mengutungkan se¬bagian cangkul itu, sehingga yang masih dipegang Ouw Hui hanyalah sepotong besi pendek. "Yang hanya bisa menggunakan Lui-cin-tong dan tak mam-pu menggunakan San-tian-tui, adalah tolol," kata Ouw Hui dengan suara nyaring, sembari menikam dengan potongan besi itu yang digunakan sebagai pusut.

Mendengar Ouw Hui mengaku bisa mengguna¬kan San-tian-tui, si orang she Siang-koan menjadi kaget. Akan tetapi, setelah melihat, bahwa serang-an-serangannya bukan berdasarkan Tui-hoat (ilmu silat pusut), lantas saja ia tertawa besar. "Eh, ilmu San-tian-tui apakah itu yang kau gunakan?" ia ber-teriak.

"Ilmumu salah, ilmuku yang benar," kata Ouw Hui sembari menikam berulang-ulang. Sebenar-benarnya, dalam ilmu silat dengan senjata, ia hanya mahir menggunakan golok. Serangan-serangannya dengan potongan besi itu hanyalah sandiwara be-

laka, scdang yang benar-benar lihay adalah tangan kirinya. Sembari mengempos semangatnya, ia men-desak musuhnya dengan menggunakan ilmu silat tangan kosong dari keluarga Ouw, sehingga dalam sekejap, orang she Liap itu sudah terdesak dan terpaksa berkelahi sembari mundur. Lewat bebe-rapa jurus lagi, sekonyong-konyong mcreka me-ngeluarkan teriakan "ah!" dan meloncat mundur dengan berbareng. Semua perampok terperanjat, karena pedang si orang she Liap sudah pindah ke tangan Ouw Hui!

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ouw Hui memungut sebuah batu besar dengan tangan kirinya dan mencekal pedang itu dengan tangan kanannya. Sembari menandalkan ujung pedang di tanah ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi. "Pedang ini tajam luar biasa," katanya sembari mesem. "Sekarang aku mau mencobanya dengan batu ini. Coba lihat, patah atau tidak?"

Pedang yang mana juga dalam dunia ini, tak bisa tak patah jika dihantam dengan batu sebesar itu. Si orang she Liap, yang sayang kepada senjatanya seperti menyayangi jiwanya sendiri, lantas saja pu-cat mukanya. "Tahan!" ia berseru. "Sudahlah! Aku mengaku kalah!"

"Pedang ini bagus sekali," kata Ouw Hui. "Sekali dihantam belum tentu patah."

"Jika tuan ingin, ambillah," kata orang she Liap itu sembari meringis. "Tapi janganlah dirusak. Pe-dangku itu adalah pedang mustika."

Sampai disitu Ouw Hui sudah merasa cukup. Di luar dugaan semua orang, ia mengangkat senjata itu dengan kedua tangannya dan mengangsurkan-



nya kepada si orang she Liap. "Siauwtee telah berlaku kurang ajar sekali, harap kau suka me-maafkan," katanya.

Orang she Liap itu hampir-hampir tak percaya kepada mata dan kupingnya sendiri. Ia yakin, bahwa jika Ouw Hui membatalkan niatnya untuk merusak-kan pedang itu, ia tentu akan mengambilnya untuk dirinya sendiri. Orang Rimba Persilatan manakah yang tak kepingin memiliki senjata mustika itu? Ia berdiam sejenak, kelihatannya ia masih sangsi dan sesaat kemudian baru ia menerimanya dengan ke¬dua tangan. "Terima kasih! Terima kasih!" katanya dengan suara gemetar.

Ouw Hui tahu, bahwa ia sekarang tak boleh menyia-nyiakan waktu. Ia meloncat ke punggung keledainya dan menyoja kepada kawanan perampok itu. "Atas belas kasihan saudara-saudara, dengan jaian ini siauwtee menghaturkan terima kasih," kata¬nya sembari berpaling kepada Cie Ceng dan Ma It Hong seraya berseru: "Hayo berangkat!"

Kedua suami isteri itu yang belum memperoleh kembali seantero semangat mcreka, buru-buru me-ngeprak kuda masing-masing mengiringi kcreta piauw, diikuti oleh Ouw Hui dan Leng So dari belakang. Kawanan perampok itu kedengaran be-runding dengan suara perlahan, tapi mereka tidak mengejar.

Dengan cepat mereka sudah melalui belasan li dan hati mcreka pun mulai menjadi lega. Tiba-tiba Cie Ceng menahan kudanya dan berkata: "Aku benar-benar sangat berterima kasih untuk perto-longan tuan. Akan tetapi kenapa tuan mengaku scbagai Supehku?"

Mendengar pertanyaan yang bernada menegur itu, Ouw Hui tersenyum dan menjawab: "Aku hanya iseng-iseng mengatakan begitu. Harap saudara tak berkecil hati.M

"Tuan memakai kumis palsu dan setiap orang dipanggil saudara kecil," kata Cie Ceng. "Menurut pendapatku, dengan begitu, tuan terlalu meman-dang rendah kepada semua manusia di kolong la-ngit."

Ouw Hui kaget. Bagaimana orang kasar itu bisa mengetahui rahasianya?

"Mungkin isterinya yang telah dapat menemu-kan kelemahan penyamaranmu," bisik Leng So.

Ouw Hui mengangguk sembari melirik Ma It Hong. Apakah nyonya itu juga tahu, siapa ia se-benarnya?

Melihat sikap Ouw Hui, Cie Ceng jadi semakin mendongkol. Sebagai orang yang mempunyai isteri cantik, ia selalu merasa cemburu. Semenjak Ouw Hui menguntit dari belakang, ia sudah menganggap, bahwa pemuda itu mengandung niat kurang baik. Sesudah tadi diperniainkan oleh kawanan peram-pok, ia menjadi nekat dan was-was, sehingga jalan pikirannya berbeda dengan orang sehat. Baginya, kecuali keluarganya sendiri, semua manusia pada saat itu adalah musuh. Maka itu, lantas saja ia membentak dengan suara keras: "Tuan mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Jika kau ingin meng-ambil jiwa Cie Ceng, hayolah!" Sehabis berkata begitu, ia membungkuk dan mencabut golok salah seorang pegawainya. Sesudah itu, sembari melin-tangkan senjatanya, ia memandang Ouw Hui de¬ngan mata berapi.

Ouw Hui yang tak dapat menebak jalan pikiran Cie Ceng, menjadi gugup. Baru saja ia ingin mem-berikan penjelasan, tiba-tiba di sebelah belakang terdengar bunyi kaki seekor kuda, yang larinya cepat seperti terbang. Dalam sekejap, kuda itu dan penunggangnya sudah lewat di pinggir kereta piauw. Ouw Hui melirik dan ia lantas saja mengenali, bahwa dia itu adalah salah seorang dari enam belas perampok tadi.

"Hayo kita menyingkir," Leng So berbisik. "Tak perlu kita mencampuri urusan orang lain dan coba-coba membereskan segala urusan penasaran."

Di luar dugaan, kata-kata "mencampuri urusan penasaran" sangat menusuk hati Cie Ceng. Dengan mata merah, ia mengeprak kudanya dan mengang-kat senjatanya.

"Suko!" teriak sang isteri. "Lagi-lagi kau mem-perlihatkan kesembronoanmu!"

Cie Ceng terkejut dan menahan kudanya.

Melihat lagak orang kasar itu, Leng So men¬dongkol bukan main. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia mengedut les keledainya dan menyabet keledai Ouw Hui dengan cambuknya, sehingga pada saat itu juga, kedua binatang itu kabur sekeras-kcrasnya.

"Ma Kouwnio!" teriak Ouw Hui sembari mene-ngok ke belakang. "Apakah kau masih ingat Siang-kee-po?"

Ma It Hong terperanjat dan paras mukanya lantas saja berubah merah. "Siang-kee-po.... Siang-kee-po..." katanya dengan suara perlahan. "Tentu saja aku ingat Siang-kee-po." Di depan matanya lantas saja terbayang kejadian itu, belasan tahun

yang lampau. tapi yang terbayang di depan matanya bukanlah bayangan Ouw Hui, hanya seorang lain yaitu si kongcu "mahal" yang cakap dan lemah lembut sifatnya.

Sesudah melalui satu li lebih, Leng So meng-hentikan keledainya. "Toako," katanya. "Kawanan perampok itu mengejar lagi."

Ouw Hui pun mengetahui hal ini. Ia sudah mendengar berderapnya kaki belasan ekor kuda. "Jika sampai bertempur, kita yang berjumlah sedikit tentu tak dapat mengalahkan mereka," kata Ouw Hui. "Siapa sebenarnya mereka itu?"

"Menurut pendapatku, mereka bukan peram¬pok biasa," kata si nona.

"Dalam peristiwa ini tersembunyi banyak hal aneh," kata Ouw Hui. "Aku masih tak bisa me-nembus tabir rahasia yang menyelubunginya."

Di saat itu, angin meniup dari arah barat dan sayup-sayup mereka mendengar bunyi senjata ber-adu.

"Sudah tersusul!" kata Ouw Hui.

"Kurasa Ma Kouwnio tak akan diganggu," kata Leng So. "Orang she Cie itu pun agaknya tak akan dibinasakan. Tapi dia pasti akan merasakan siksa-an."

Alis Ouw Hui berkerut. "Aku sungguh tak me-ngerti," katanya.

Pada saat itu, lapat-lapat terdengar derap kaki kuda yang menuju ke arah barat laut. Dengan kupingnya yang sangat tajam? Ouw Hui mengetahui, bahwa orang-orang itu tidak mengambil jalan besar. Di antara derap kaki kuda, ia juga mendengar jeritan seorang wanita.

Ouw Hui melarikan tunggangannya ke atas sebuah bukit kecil dan memandang ke arah itu. Segera juga ia melihat, bahwa dua penjahat yang masing-masing mendukung seorang anak kecil, se-dang mengaburkan tunggangan mereka, dikejar It Hong yang menjerit-jerit. Karena jaraknya terlalu jauh, Ouw Hui tak bisa menangkap apa yang di-teriakan nyonya itu.

Sekonyong-konyong kedua penjahat itu meng-angkat senjata mereka dan membelokkan tung¬gangan mereka ke kiri dan ke kanan untuk ke-mudian kabur terus secara berpencar. It Hong ter-tegun. Kedua anak itu sama dicintainya dan se-karang ia tak tahu, ke mana ia harus mengejar.

Darah Ouw Hui lantas saja mendidih. "Jahat betul kawanan bangsat itu!" ia menggerendeng. Ia berpaling ke arah Leng So dan berteriak: "Jie-moay, mari!" Ia mengetahui, bahwa karena jumlah musuh jauh lebih besar, tindakannya itu penuh dengan bahaya. Akan tetapi, sebagai seorang ksatria tulen, mana bisa ia melihat kejadian itu dengan berpeluk tangan? Tanpa berpikir panjang-panjang lagi, ia segera mengaburkan tunggangannya, diikuti oleh Leng So dari belakang.

Akan tetapi, karena jaraknya terlalu jauh dan keledainya pun kalah cepat dari tunggangan si pen¬jahat, maka ia hanya dapat menemukan Ma It Hong yang sedang berdiri laksana patung. Begitu besar kedukaan si nyonya, sehingga ia tak bisa menge-luarkan air mata dan hanya mengawasi ke arah depan dengan mata membelalak.

"Ma Kouwnio, jangan jengkel," kata Ouw Hui dengan suara kasihan. "Aku pasti akan membantu



kau merampas kembali kedua anak itu."

Mendengar suara Ouw Hui, It Hong agaknya tcrkejut dan buru-buru ia menekuk sebelah lutut-nya untuk berlutut.

"Jangan begitu!" Ouw Hui mencegah. "Mana Cie-heng?"

"Selagi aku sendiri mengejar anakku, ia telah ditawan musuh," jawabnya.

Di saat itu, Leng So sudah tiba di situ. Ia mendekati Ouw Hui seraya berkata: "Di sebelah utara ada musuh."

"Musuh?" Ouw Hui menegas sambil menengok ke jurusan utara. Benar saja, jauh-jauh sudah ke-lihatan debu mengepul dan dari bunyi kaki kuda yang dapat didengar, agaknya mereka berjumlah kira-kira delapan atau sembilan orang.

"Tunggangan musuh-musuh itu adalah kuda-kuda yang sangat bagus," kata Ouw Hui. "Jika kita melarikan diri, kita pasti akan tersusul. Jalan satu-satunya adalah mencari tempat bersembunyi."

Tapi di sekitar tempat itu sama sekali tak ter¬dapat kemungkinan untuk menyembunyikan diri. Daerah itu adalah tanah datar yang tandus. Hanya di sebelah barat laut terdapat sebuah hutan kecil.

"Kita pergi ke situ saja," kata Leng So sembari menuding dengan cambuknya. Ia berpaling kepada Ma It Hong dan berkata pula: "Tungganglah kuda!"

"Terima kasih, nona," kata It Hong sambil me-lompat ke atas punggung kuda.

"Kedua matamu benar tajam," memuji si nona. "Dalam bahaya, kau masih bisa mengenali, bahwa aku adalah seorang wanita yang menyamar sebagai pria." Demikianlah dengan menggunakan dua ekor



kuda, mereka bertiga lantas saja menuju ke hutan itu.

Baru saja melalui kurang lebih satu li, mereka telah dilihat oleh kawanan perampok. Sembari ber-teriak-teriak, belasan penjahat yang berada di se¬belah utara, lantas saja mengejar mereka. Ouw Hui kaburkan tunggangannya dan masuk lebih dulu ke dalam hutan. Ia mendapat kenyataan, bahwa di bagian belakang hutan itu terdapat enam tujuh rumah kecil. Ia yakin, bahwa jika lari terus mereka tentu akan kecandak, sehingga jalan satu-satunya adalah coba menyembunyikan diri di salah satu rumah itu.

Dengan cepat Ouw Hui larikan kudanya ke arah kelompok rumah-rumah itu. Ia mendapat kenyata¬an, bahwa di antara gubuk-gubuk itu terdapat satu rumah batu yang agak besar. Ia menghampiri rumah batu itu dan mendorong pintunya yang lantas saja terbuka. Dalam rumah itu terdapat satu nenek yang sedang rebah di pembaringan dalam keadaan sakit. Melihat masuknya Ouw Hui, si nenek terkejut bu-kan main dan mengeluarkan teriakan lemah.

Sementara itu, Leng So mendapat kenyataan, bahwa gubuk-gubuk tersebut tidak berjendela, se¬hingga bukan tempat tinggalnya manusia. Ia mem-buka pintunya salah satu gubuk yang ternyata terisi rumput. Dalam gubuk yang satunya lagi, ia men-dapatkan tumpukan batu-batu. Tanpa mengeluar¬kan sepatah kata, Leng So merogoh saku dan meng-ambil bahan api yang lalu dinyalakan dan kemudian digunakan untuk menyulut gubuk-gubuk yang ber¬ada di situ. Sesudah itu, ia menarik tangan Ma It Hong dan lalu masuk ke rumah batu.



Gubuk-gubuk tersebut terpisah tiga empat tom-bak dari rumah batu. Tak usah dikatakan lagi, dengan terjadinya kebakaran, mereka yang berada dalam rumah batu akan merasakan hawa panas. Akan tetapi, dengan demikian musuh jadi dapat ditahan untuk sementar waktu dan di samping itu, dengan musnahnya semua gubuk, kawanan peram¬pok itu tak mempunyai tempat lagi untuk menyem-bunyikan diri dan akan lebih banyak menghadapi kesukaran dalam penyerangannya.

Melihat kepintarannya Leng So, tanpa merasa Ma It Hong memuji: "Nona, kau sungguh pintar."

Hampir berbareng dengan terbakarnya gubuk-gubuk tersebut, kawanan perampok sudah masuk ke dalam hutan. Melihat api yang berkobar-kobar, kuda-kuda mereka tak berani menerjang masuk dan mereka terpaksa mengurung kelompok rumah-ru-mah itu dari tempat yang agak jauh.

Sesudah berada dalam rumah batu dan sema-ngatnya terkumpul kembali, Ma It Hong lantas saja ingat kedua puteranya yang diculik oleh kawanan penjahat. la adalah puteranya seorang Rimba Per-silatan kenamaan dan semenjak kecil telah meng-ikuti mendiang ayahnya berkelana di dunia Kang-ouw yang penuh marabahaya, sehingga hatinya ada banyak lebih kuat dari manusia biasa. Akan tetapi, oleh karena adanya ikatan kecintaan antara ibu dan anak, pada ketika itu, tanpa merasa, ia mengu-curkan air mata. Sambil menyusut air mata yang meleleh di kedua pipinya, ia berkata kepada Leng So dengan suara terharu: "Adik, kau dan aku belum pernah mengenal satu sama lain. Tapi kenapa, de¬ngan menempuh bahaya besar, kau sudah turun



tangan untuk menolong diriku?"

Pertanyaan itu memang pantas diajukan. Harus diketahui, bahwa semua penjahat terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi dan jumlahnya pun besar sekali. Andaikata ayahnya, Pek-seng Sin-kun Ma Heng Kong, yang menghadapi kejadian itu, biar bagaimana gagah pun, sang ayah pasti tak akan dapat melawan musuh. Tapi kedua orang itu, yang bukan sanak dan bukan kadang, dengan suka rela sudah menyerbu lautan api untuk menolong keluar-ganya. Bukankah dengan berbuat begitu, mereka akan mengantarkan jiwa dengan cuma-cuma? Ia mengetahui, bahwa nama "Sin-kun Yoe-tek Gu Keng Tian" hanyalah nama samaran untuk meng-ejek kawanan perampok. Ia juga mengetahui bahwa ayahnya telah mendapat pelajaran silat dari kakek-nya dan ayah itu sama sekali tak mempunyai saudara seperguruan.

Leng So mesem dan sambil menunjuk punggung Ouw Hui, ia menanya: "Apa kau tak kenal dia? Dia sendiri mengenal kau."

Ketika itu, Ouw Hui sedang mengintip ke luar dari lubang jendela. Mendengar perkataan Leng So, ia menengok dan tertawa. Di lain saat, ia memutar badan sambil mengangkat tangannya dan menyam-bui sebatang piauw serta satu Chiu-cian (panah tangan) yang menyambar masuk dari lubang itu. Ia nielemparkan kedua senjata rahasia itu di atas lantai dan berkata: "Sungguh sayang kita tidak membawa senjata rahasia. Tapi sekarang kita bisa meminjam senjata musuh untuk menghantam mereka. Satu, dua, tiga, empat, lima... di sebelah situ, sebelah selatan, sama sekali terdapat sembilan orang." Ia

pergi ke lain jendela dan mengintip pula. "Satu, dua, tiga... di sebelah utara ada tujuh orang," katanya. 'Hanya sayang, musuh yang di sebelah timur dan barat tak dapat dilihat olehku."

Sehabis berkata begitu, ia memutar badan dan mengawasi ruangan itu. Mendadak, ia melihat satu dapur batu di satu sudut dan otaknya yang cerdas lantas saja mendapat satu ingatan baik. Ia meng-hampiri dapur itu dan mengangkat satu kuali besi yang terletak di atasnya. Dengan tangan kanan mencekal kuping kuali dan tangan kiri memegang tutupan kuali, ia mengeluarkan badan di jendela, lalu menengok ke jurusan timur dan kemudian ke jurusan barat.

Dengan berbuat begitu, separuh badannya yang dicenderungkan ke luar, terbuka untuk serangan senjata rahasia, yang lantas saja menyambar-nyam-bar bagaikan hujan gerimis. Tapi semua senjata rahasia tak mencapai maksudnya, karena adanya kuali dan tutupannya yang digunakan sebagai ta-meng oleh Ouw Hui. Serentetan suara nyaring terdengar waktu senjata-senjata rahasia itu me-nancap di kedua tameng tersebut. Sesaat kemudian, sembari tertawa terbahak-bahak, ia menarik pula badannya dari jendela itu.

Setelah diperiksa, ditutupan kuali menancap empat lima senjata rahasia, sedang di kuali itu scndiri terapat lima enam buah, yang terdiri dari Thie-lian-cie, panah tangan, pusut, paku dan se-bagainya. Sebagian kuali itu ternyata somplak ka¬rena terpukul batu Hui-hong-sek.

"Di depan, di belakang, di kiri dan kanan se-muanya ada dua puluh satu orang," kata Ouw Hui.

"Dua bocah itu dan Cie-heng tidak terdapat di antara mereka. Jika dihitung-hitung, dengan dua orang yang melayani Cie-heng dan dua orang pula yang menculik kedua anak itu, sama sekali kita sedang menghadap dua puluh lima musuh."

"Jika mereka itu hanya manusia-manusia yang berkepandaian biasa, kita boleh tak usah takut," kata Leng So. "Tapi...."

"Jie-moay," kata Ouw Hui. "Apakah kau tahu asal usulnya orang yang bersenjata Lui-cin-tong?"

"Menurut Suhu, yang menggunakan Lui-cin-tong kebanyakan adalah orang-orang Pek-kee-po di Say¬pak," Leng So menerangkan. "Tapi coba, Toako, lihatlah yang menggunakan pedang. Ilmu pedangnya terang-terang Kie-kee-kiam-hoat (ilmu pedang ke-luarga Kie) dari Ciat-kang timur. Hm! Yang satu dari Saypak, yang lain dari Ciat-kang timur. Toako, apakah kau memperhatikan lagu bicaranya?"

"Benar," celetuk Ma It Hong. "Ada yang bicara dengan lidah Kwitang. Ada yang dari Ouw Pak, dari Ouw-lam, malah ada juga yang berbicara dengan lagu Shoa-tang dan Shoa-say."

"Tak mungkin ada kawanan perampok yang beranggotakan jago-jago dari begitu banyak tempat, mau turun tangan untuk merampas sembilan ribu tahil perak saja," kata Leng So.

Mendengar kata "hanya sembilan ribu tahil pe¬rak", muka Ma It Hong lantas menjadi merah. Semenjak mula-mula dibentuk, memang belum per-nah Hui-ma Piauw-kiok mengantar piauw yang be¬gitu kecil.

"Sekarang paling baik kita menyelidiki dulu tujuan musuh," kata Ouw Hui. "Kita harus tahu,

apakah mereka mengincar aku dan adikku, atau Ma Kouwnio dan keluarganya." Ketika baru bertemu, melihat jumlah musuh yang besar, ia menduga, bahwa mereka itu adalah orang-orang Tian Kui Long, tapi sesudah menyaksikan sepak terjang me¬reka yang hanya memusuhi keluarga Cie Ceng, ia menarik kesimpulan bahwa kawanan perampok itu tidak mempunyai sangkut paut dengan permusuhan antara Biauw Jin Hong dan Tian Kui Long.

"Sudan terang tujuan mereka adalah untuk me¬musuhi Hui-ma Piauw-kiok," kata It Hong. "Toako, apakah aku boleh mengetahui shemu yang mulia? Maafkan aku, karena benar-benar aku tak dapat mengenali kau."

Ouw Hui tertawa dan menanggalkan kumis palsunya. "Ma Kouwnio, apakah kau masih belum ingat?" tanyanya sembari tersenyum.

Ma It Hong mengawasi muka itu yang masih memperlihatkan sifat kekanak-kanakan. Lama juga ia memandangnya. Samar-samar ia merasa seperti pernah melihat muka itu, tapi entah di mana.

Ouw Hui tertawa^dan berkata: "Siang Siauwya, aku mohon kau melepaskan A-hui. Jangan meng-aniaya lagi."

It Hong terkesiap. Kedua matanya dibelalak-kan, mulutnya terbuka, tapi ia tak dapat mengeluar-kan sepatah kata.

Ouw Hui berkata lagi: "A-hui sudah digantung terlalu lama, sesungguhnya aku tak tega. Pergilah kau, melepaskan ia dulu. Sesudah itu, boleh kau datang lagi ke sini."

Itulah permohonan Ma It Hong kepada Siang Po Cin! Sebagaimana diketahui, bertahun-tahun

sebelumnya, diwaktu Ouw Hui masih kecil, ia per¬nah digantung dan dihajar di Siang-kee-po. Oleh karena merasa kasihan, It Hong telah mengajukan permohonan itu kepada Siang Po Cin, yang sudah tergila-gila kepadanya. Meskipun ia tak memerlu-kan pertolongan itu, dan sudah dapat melepaskan diri, tapi budi dan kata-kata si nona masih diingat terus oleh Ouw Hui sehingga hari itu. Besar sekali rasa terima kasihnya dan walaupun sudah ber-selang sekian tahun rasa terima kasih itu sedikit pun tak berkurang.

Untuk dua baris perkataan itu, sekarang Ouw Hui rela mempertaruhkan jiwanya guna membalas budi. Dalam keadaan berbahaya, sebaliknya dari-pada gentar, ia bahkan merasa girang karena pada kesempatan ini, ia bisa berbuat apa-apa untuk se-orang wanita yang telah mengasihinya ketika ia sedang menderita hebat.

Mendengar perkataan Ouw Hui, Ma It Hong menjadi sadar.

"A-hui!" ia berteriak, "Aduh! A-hui!" Iaberdiam sejenak dan kemudian berkata pula dengan suara lebih tenang: "Ouw Hui, Ouw Toako, putera Tay-hiap Ouw It To!"

Ouw Hui tersenyum dan mengangguk-angguk. Mendengar nama ayahnya, ia kembali teringat akan kejadian-kejadian yang lampau dan hatinya menjadi sangat sedih. "Ouw Toako," kata pula Ma It Hong dengan terharu. "Kau... kau... harus menolong ke¬dua puteraku."

"Biar apa pun yang akan terjadi, siauwtee akan berusaha sekuat tenaga," jawabnya dengan tegas. Ia berpaling seraya berkata: "Inilah adik angkatku,



Thia Leng So, Thia Kouwnio."

It Hong membungkuk dan sembari mengawasi gadis itu dengan rasa terima kasih, ia berkata: "Thia Kouwnio..."

"Drr!" pintu terpukul dengan serupa barang berat, sehingga seluruh ruangan itu jadi tergetar. Untung juga, pintu itu cukup tebal lagi teguh se¬hingga tidak sampai bobol.

Dengan mengintip dari lubang jendela, Ouw Hui mendapat kenyataan bahwa penggedoran itu telah dilakukan oleh empat penjahat. Mereka se-dang mengayun sebuah batu besar, yang diikatkan pada ujung tambang selaku menggunakan bandring-an.

"Jika pintu ini terpukul pecah dan mereka su¬dah menerobos masuk, pihakku pasti akan diring-kus," katanya di dalam hati. Diam-diam ia me-nyiapkan sebatang bun-teng dan panah tangan da¬lam kedua tangannya.

Sesaat kemudian, empat penjahat itu kembali mengeprak kuda mereka dan menerjang sambil mengayunkan bandringan batu tersebut. Ketika me¬reka sudah berada dalam jarak lima enam tombak, Ouw Hui mengayunkan kedua tangannya.

Tanpa bersuara, robohlah dua ekor kuda yang terdepan dengan serentak dan dua penunggangnya turut terguling. Karena kecelakaan itu, dua kuda yang berada di belakang jadi tersangkut tali ban¬dringan itu dan jatuh terjerunuk. Masih untung, bahwa dua penunggang itu berkepandaian cukup tinggi, sehingga mereka keburu melompat dan tiba di atas tanah dengan selamat.

Sembari mengeluarkan teriakan kaget, dua orang



itu segera memburu untuk memberi pertolongan kepada kawan mereka. Mereka mendapat kenyata¬an, bahwa dua buah senjata rahasia menancap da-lam-dalam sampai di otak kedua binatang itu. Se-mua perampok kaget bukan main dan mengawasi sembari mengulur lidah. Senjata rahasia itu di-lepaskan dengan Lweekang yang tak dapat diukur bagaimana kuatnya! Mereka juga mengerti, bahwa yang melepaskan senjata itu, sudah berlaku sangat murah hati. Jika paku dan panah tangan itu di-tujukan ke dada dua kawan mereka, kedua-duanya tentu sudah tewas. Dengan sikap ketakutan, mereka buru-buru mundur puluhan tombak, sampai di luar jarak timpukan senjata rahasia. Kasak-kusuk, de¬ngan suara tertahan merundingkan tindakan se-lanjutnya.

Dengan timpukannya itu, selain sungkan mem-binasakan orang, Ouw Hui juga mempunyai perhi-tungan lain. Memang benar, dengan mudah ia bisa mengambil jiwa tiga di antaranya atau keempat-em-patnya semua. Tapi dengan berbuat begitu, ia akan menanam benih permusuhan besar yang tak mung-kin dibereskan lagi dengan jalan damai, sedang berapa besar kekuatan musuh, belum diketahui dengan jelas. Di samping itu, ia juga ingat, bahwa kedua putera It Hong berada dalam tangan musuh, sedang nasib Cie Ceng pun belum terang. Maka, menurut pendapatnya, jalan yang paling baik adalah membereskan persoalan ini secara damai.

Sesudah kawanan itu mundur, Ouw Hui segera memeriksa pintu tadi. Ia mendapat kenyataan bah¬wa pintu itu sudah rengat dan pasti akan terbelah, jika terpukul dua tiga kali lagi.



"Ouw Toako, Thia Moay-moay, bagaimana se-karang?" tanya It Hong dengan khawatir.

Alis Ouw Hui berkerut, "Apakah di antara mereka, tak seorang juga kau kenal?" tanya Ouw Hui.

"Tidak," jawabnya, sembari menggelengkan ke-pala.

"Jika mereka musuh mendiang ayahmu, menga-pa mereka agaknya menghormati ayahmu," kata Ouw Hui. "Jika benar, bahwa mereka hanya ingrn menyusahkan dirimu dengan merampas kedua anak-mu, apakah gunanya, sedang kau sama sekali tidak mengenal mereka. Lagi pula, selama ini mereka belum pernah mengeluarkan perkataan kurang ajar terhadapmu. Terhadap Cie Toako, memang mereka sangat tak mengenal aturan. Tapi, jika berkawan mereka hanya hendak menyeterukan Cie Toako, perlu apa mereka datang dengan berkawan begitu banyak?"

"Benar," kata It Hong. "Di antara mereka, yang mana pun bisa merobohkan Suko."

Ouw Hui mengangguk seraya berkata: "Urusan ini memang sangat mengherankan. Tapi jangan khawatir. Menurut pendapatku, mereka sama sekali tak ingin mencelakakan orang. Juga terhadap Cie Toako, sikap mereka seperti hanya ingin berkela-kar."

Pada saat itu, Ma It Hong teringat kepada perkataan salah seorang penjahat tadi. "Sekuntum bunga indah ditancap di tahi kerbau." Mukanya lantas saja menjadi merah.

Sementara itu, Leng So sudah berkenalan de¬ngan wanita penghuni rumah itu dan ia sudah me-



nanak nasi. Sehabis makan, mereka mengintip dari lubang jendela. Agaknya kawanan penjahat itu se¬dang sibuk sekali, mereka mundar-mandir ke sana sini, tapi karena teraling pohon-pohon, tak ke-tahuanlah apa yang sedang dibuat mereka.

Leng So dan Ouw Hui, kedua-duanya berotak cerdas, tapi sekali ini ketajaman otak mereka tak dapat menembuskan tabir rahasia itu.

"Apakah kejadian ini ada sangkut pautnya de¬ngan hadiah yang diberikan kepada Toako?" tanya Leng So.

"Entahlah," jawab Ouw Hui. Sesaat kemudian ia berkata pula: "Daripada tetap berada dalam kabut ini, lebih baik kita keluar terang-terangan. Jika kedua peristiwa ini benar-benar mempunyai hu-bungan, kita bisa bertindak dengan mengimbangi keadaan."

"Baiklah," kata si nona sembari mengangguk. Mereka menghampiri pintu yang lalu dibukanya.

Begitu melihat pintu terbuka, kawanan pen¬jahat itu segera maju mendekati dengan berpencar.

"Saudara-saudara!" teriak Ouw Hui dengan sua-ra nyaring. "Jika kalian datang untuk mencari Ouw Hui, Ouw Hui dan adiknya, Thia Leng So, berada di sini. Jangan kalian menyeret-nyeret orang yang tidak berdosa." Hampir berbareng dengan per-kataannya, ia mematahkan huncweenya dan melo-coti semua alat penyamarannya, sedang Leng So pun segera melontarkan topinya, sehingga rambut-nya yang hitam segera terurai di pundaknya.

Semua penjahat terkesiap. Sedikit pun mereka tidak menduga, bahwa orang yang berkepandaian begitu tinggi hanyalah seorang pemuda yang baru

berusia kira-kira dua puluh tahun. Mereka saling memandang dan untuk beberapa saat, mereka tak dapat mengucapkan sepatah kata. Tiba-tiba salah seorang memajukan kudanya. Orang itu, yang muka-nya putih dan tubuhnya tinggi, bukan lain dari pada si orang she Liap yang bersenjatakan pedang.

la mengangkat kedua tangannya untuk mem-beri hormat dan berkata: "Budi tuan yang sudah memulangkan pedangku, tak bisa kulupakan," kata-nya. "Urusan hari ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan tuan berdua. Kalian boleh segera berangkat dan dengan jalan ini, aku memberi se-lamat jalan." Sembari berkata begitu, ia meloncat turun dari tunggangannya dan menepuk pundak binatang itu, yang lantas lari dan berhenti di depan Ouw Hui. Dengan demikian, penjahat itu bukan saja tidak merintangi keberangkatannya, tapi ma-lahan menghadiahkan juga seekor kuda yang sangat bagus.

Ouw Hui membalas hormatnya. "Bagaimana dengan Ma Kouwnio?" tanyanya.

"Kedatangan kami ini adalah untuk mengun-dang Ma Kouwnio pergi ke Utara," jawab orang she Liap itu. "Kami bersumpah, untuk tidak meng-ganggu selembar saja rambut nyonya itu."

"Jika benar kalian bermaksud baik, kenapa mesti mengerahkan barisan yang begini kuat dan menakut-nakuti orang?" tanya Ouw Hui, bagaikan menegur. Ia memutarkan badannya dan berteriak: "Ma Kouwnio! Kedatangan mereka adalah untuk mengundang kau. Apakah kau suka mengikut mereka?"

Ma It Hong segera menghampiri. "Aku sama sekali tidak mengenal tuan-tuan," katanya. "Untuk

apa kalian mengundang aku?"

"Tentu saja kami tak mengenal kau," kata salah seorang penjahat sembari tertawa. "Tapi ada yang mengenal kau."

"Mana anakku?" teriak It Hong. "Kembalikan-lah anakku!"

"Ma Kouwnio tak usah khawatir," kata si orang she Liap. "Kedua puteramu tak kurang suatu apa. Dengan seantero tenaga kami, kami akan melin-dungi mereka. Mana berani kami mengganggu ke¬dua kongcu (panggilan untuk putera orang ber-pangkat atau hartawan) yang tubuhnya berharga berlaksa tail emas?"

Leng So dan Ouw Hui jadi semakin heran. Semakin lama kawanan penjahat itu menggunakan kata-kata yang semakin menghormat. Cie Ceng hanyalah seorang piauwtauw miskin, sehingga tak pantas puteranya dipanggil "kongcu yang tubuhnya berharga berlaksa tahil emas."

Tapi muka Ma It Hong sekonyong-konyong menjadi merah. "Tidak, aku tak mau pergi," katanya. "Lekas pulangkan kedua anakku!" Sehabis berkata begitu, tanpa menunggu jawaban, ia memutarkan badannya dan bertindak kembali ke rumah batu itu.

Melihat gerak-gerik nyonya itu yang luar biasa, Ouw Hui menjadi semakin curiga. "Ma Kouwnio," katanya dengan suara nyaring. "Tak perduli apa yang akan terjadi, aku tak nanti akan berpeluk tangan saja."

"Walaupun berkepandaian tinggi, seorang diri tuan tak akan dapat melawan musuh yang berjumlah besar," kata orang she Liap itu. "Jumlah kami tak kurang dari dua puluh lima orang. Sebentar malam

akan datang lagi bala bantuan."

Ouw Hui percaya, bahwa jumlah yang disebut-kan orang itu, bukan gertakan belaka. Tapi sebagai ksatria yang tidak pernah bekerja kepalang tang-gung, di dalam hatinya, sedikit pun tak terdapat niat untuk meninggalkan Ma It Hong. "Tapi Jie-moay tak perlu berkorban jiwa secara cuma-cuma di tern-pat ini," katanya di dalam hati. Dengan berpikir begitu, ia berbisik: "Jie-moay, naiklah ke atas kuda ini dan segeralah menerjang ke luar. Biarlah aku sendiri yang menolong Ma Kouwnio. Dengan be¬gitu, aku bisa bergerak lebih leluasa."

Leng So mengerti maksud kakaknya, lantas saja ia berkata tegas-tegas: "Dengan maksud apa orang mengangkat saudara? Apakah bahaya harus diha-dapi bersama-sama, atau masing-masing harus ber-lomba kabur?"

"Kau sama sekali belum pernah mengenal Ma Kouwnio," kata Ouw Hui untuk membujuk. "Perlu apa kau menghadapi bahaya untuknya? Bagiku me-mang lain."

Leng So menunduk dan berkata dengan per-lahan: "Perlu apa aku menghadapi bahaya untuk¬nya? Tapi, apakah kau dan aku juga belum pernah saling mengenal?"

Mendengar kata-kata itu, bukan main terharu-nya Ouw Hui. Selama hidupnya, belum pernah ada manusia yang berlaku begitu baik terhadapnya, yang rela binasa bersama. Tentu saja, Peng Sie-siok ada-lah seorang yang bisa berbuat begitu. Tio Poan San juga bisa berkorban untuk kepentingannya. (Sung-guh mengherankan, pada saat itu, dalam otaknya berkelebat satu ingatan, bahwa Biauw Jin Hong pun

dapat berbuat begitu). Akan tetapi, dengan be-berapa ksatria itu, ia belum pernah berada dalam kedudukan yang memerlukan pengorbanan orang lain. Hari ini, di sampingnya terdapat seorang wa-nita muda, yang, tanpa bersangsi sedikit juga, rela mengorbankan jiwanya bersama-sama dengan diri-nya.

Sesudah menunggu beberapa lama tanpa ada tanda-tanda pihak Ouw Hui akan menurut, orang she Liap itu berkata pula: "Kami beramai tak akan berani mengganggu Ma Kouwnio dan terhadap Jie-wie, kami pun tidak mempunyai maksud kurang baik. Kenapa kalian memaksa hendak menempat-kan diri di tempat berbahaya? Sepak terjang tuan yang sangat mulia, kami sangat hargai. Di hari kemudian, kita tentu mempunyai lain kesempatan untuk bertemu pula. Sekarang ini, paling baik kita berpisahan secara sahabat."

"Apakah kalian bersedia untuk melepaskan Ma Kouwnio?" tanya Ouw Hui.

Orang she Liap itu menggelengkan kepala. Se-benarnya ia masih ingin membujuk, tapi kawan-ka-wannya sudah naik darah. "Bocah ini benar-benar tak kenal mampus!" berteriak seorang. "Liap Toa-ko! Tak perlu banyak bicara lagi dengan bocah itu!"

"Inilah yang dinamakan, ada sorga sungkan ke sorga, berbalik mengambil jalanan ke neraka," meng-ejek yang lain.

"Bocah!" membentak penjahat yang ketiga. "Be-rapa tinggi sih kepandaianmu?"

Tiba-tiba satu sinar putih menyambar ke arah Ouw Hui. Orang she Liap itu melompat tinggi dan menangkap senjata rahasia itu yang ternyata adalah

sebatang pisau terbang.

"Atas kebaikan tuan, aku menghaturkan banyak terima kasih," kata Ouw Hui. "Mulai dari sekarang, kita sama-sama sudah tidak berhutang budi lagi." Sehabis berkata begitu, sembari menarik tangan Leng So, ia masuk ke dalam rumah batu itu dengan tindakan cepat.

Mendadak, kupingnya yang sangat tajam me-nangkap suara menyambarnya sejumlah senjata ra-hasia. Cepat bagaikan kilat, ia menutup pintu dan hampir berbareng, terdengar suara merotoknya sen¬jata rahasia yang menancap di pintu itu. Sembari bersorak sorai, kawanan penjahat lantas saja men-dekati pintu. Ouw Hui mengambil sejumlah senjata rahasia dari atas meja dan kemudian, dari lubang jendela ia menimpuk penjahat yang paling dekat dengan sebatang piauw. Dia berteriak "aduh!" dan piauw itu menancap tepat pada pundaknya. Tapi ternyata penjahat itu berbadan kedot dan bernyali besar. "Saudara-saudara!" ia berteriak. "Apakah kita masih ada muka untuk pulang kembali, jika hari ini kita tak dapat membereskan satu bocah cilik?" Kawan-kawannya mengiyakan dan dengan seren-tak, mereka mulai merangsek dari empat penjuru.

Sesaat kemudian, tembok di sebelah timur dan barat tergedor hebat. Ternyata, karena di kedua bagian rumah itu tidak terdapat jendela, kawanan pcrampok tak khawatir lagi senjata rahasia dan mereka lalu menggunakan balok untuk coba me-rubuhkannya.

Ouw Hui yang menjaga di jendela berulang-ulang melepaskan senjata rahasia, sehingga kawan¬an penjahat yang mengepung di sebelah selatan dan

utara pada mengundurkan diri, tapi penggedoran di tembok timur dan barat terus dilangsungkan dengan hebatnya.

Sementara itu, Leng So sudah mengeluarkan lilin Cit-sim Hay-tong dan membagi obat pemudah kepada Ouw Hui, Ma It Hong dan wanita penghuni rumah itu, dengan pesanan supaya, begitu lekas lilin dinyalakan, obat itu dimasukkan ke dalam hidung. Ia bersiap untuk menyulut lilin, begitu musuh me-nerobos masuk. Akan tetapi, ia pun mengetahui, bahwa lilin racun itu tak akan dapat merubuhkan semua musuh yang berjumlah besar. Ia hanya me-lakukan apa yang masih dapat dilakukan untuk menjatuhkan musuh sebanyak mungkin. Apakah dengan bantuan lilin itu mereka akan bisa me-nerjang ke luar, adalah hal yang ia sendiri tak dapat meramalkan.

Beberapa saat kemudian, dengan satu suara "brak!", tembok di sebelah barat telah berlubang! Tapi tak seorang pun berani merangsak masuk lebih dulu, sebab mereka semua takuti kelihayan Ouw Hui. Tembok digedor terus, semakin lama lubang-nya jadi semakin besar dan pada akhirnya, lubang itu tentu akan cukup besar untuk mereka me-nerobos masuk beramai-ramai.

Ouw Hui jadi bingung. Otaknya diasah keras dan kedua matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan untuk mencari-cari alat yang bisa diguna-kan untuk menahan musuh.

"Ouw Toako!" mendadak terdengar teriakan Leng So. "Barang ini dapat menolong kita!" Ia berlutut dan kedua tangannya dimasukkan ke ba-wah pembaringan si nenek yang sedang sakit. Waktu ditarik pulang, kedua tangannya berlepotan kapur.

"Bagus!" berteriak Ouw Hui kegirangan. la me-robek jubah panjangnya dan sobekan kain itu lalu digunakan untuk membungkus kapur. Cepat bagai-kan kilat, ia melompat ke luar dari lubang tembok, meramkan kedua matanya dan lalu menimpuk mu-suh dengan bungkusan kapur itu! Di lain detik, ia sudah loncat balik ke dalam rumah.

Diserang cara begitu, kawanan perampok yang sedang merundingkan siasat untuk menerjang ma-suk, jadi gelagapan. Bagaikan halimun kapur putih itu beterbangan di tengah udara dan menyambar masuk ke dalam mata kawanan penjahat itu yang lantas saja menjerit-jerit kesakitan.

Leng So bekerja sebat sekali, ia menyerahkan dua bungkusan kapur kepadanya. "Bagus!" katanya sembari mengambil satu batu besar dari bawah dapur. Dengan tangan kirinya, ia mengangkat tinggi batu itu, lalu mengerahkan tenaga dan melompat ke atas. "Brak!" atap rumah berlubang besar. Di lain detik, ia sudah meloncat ke luar dari lubang itu dan menghantam kawanan penjahat dengan dua bung¬kusan kapur. Hampir berbareng, di luar terdengar jeritan yang ramai.

Leng So bekerja sebat sekali. Sejumlah bung¬kusan kapur sudah sedia dan Ouw Hui mengulangi serangannya terhadap musuh yang berada di se-belah selatan dan utara. Sembari berteriak-teriak dan mencaci maki, kawanan penjahat itu mundur ke dalam hutan. Enam tujuh orang rusak matanya dan untuk sementara, mereka tak berani mendekati lagi rumah batu itu.

Dengan demikian, kedua belah pihak bertahan



di masing-masing tempatnya. Kawanan penjahat tak berani mendekati rumah itu, sedang Ouw Hui ber-tiga pun tak ungkulan bisa meloloskan diri dari kepungan musuh yang berjumlah banyak lebih be¬sar. Sesudah mengalami bahaya bersama-sama, Ouw Hui dan Leng So jadi semakin rapat. Mereka me-lewati tempo sembari beromong-omong dan ter-tawa-tawa. Di lain pihak, Ma It Hong kelihatannya sangat berduka dan bingung. Ia duduk terpekur dan tidak memperdulikan dua kawannya yang sedang omong-omong dengan gembira.

"Biarlah kita menunggu sampai malam, kalau-kalau dalam gelap gulita kita bisa meloloskan diri," kata Ouw Hui. "Jika malam ini kita tak bisa me¬nerjang ke luar, hm... mungkin sekali kau harus menyerahkan jiwa kecilmu. Mengenai jiwa Sin-kun Yu-tek Gu Keng Tian.... huh-huh!" Ia meraba ba¬wah hidung dan berkata pula sembari tertawa: "Jika aku tahu urusan ini tak ada sangkut-pautnya dengan orang she Ouw, aku tentu tak membuang kumisku yang begitu keren."

Leng So mesem. "Toako," katanya dengan suara perlahan. "Jika sebentar kita gagal dalam usaha menerobos ke luar, siapakah yang akan ditolong olehmu, aku atau Ma Kouwnio?"

"Dua-duanya," jawab Ouw Hui.

"Andaikata, kau hanya dapat menolong satu orang, sedang yang satunya lagi harus menerima kebinasaan, siapakah yang akan ditolong olehmu?" mendesak si nona.

Sesudah memikir beberapa lama, Ouw Hui men-jawab: "Aku menolong Ma Kouwnio dan kita mati bersama-sama."

Sekonyong-konyong si nona mengeluarkan seruan tertahan: "Toako...!" la mencekal tangan Ouw Hui erat-erat. Hati Ouw Hui berdebar-debar. "Celaka!" katanya dengan suara di tenggorokan.

Mereka kaget karena kawanan penjahat be-ramai-ramai ke luar dari dalam hutan dengan tangan membawa kayu-kayu dan rumput kering yang ke-mudian dilemparkan ke seputar rumah itu. Dilihat gelagatnya, mereka ingin menyerang dengan meng-gunakan api. Sambil saling mencekal tangan, Ouw Hui dan Leng So saling mengawasi. Dari sorot mata mereka, mereka tak mempunyai banyak harapan.

Sekonyong-konyong Ma It Hong menghampiri jendela. "Hei!" ia berteriak. "Siapa pemimpinmu? Aku mau bicara dengan dia."

Dari antara rombongan penjahat itu berjalan keluar seorang tua yang bertubuh kecil. "Ma Kouw-nio," katanya dengan sikap hormat. "Jika kau mau bicara, bicaralah pada siauwjin (aku yang rendah)."

"Aku akan datang ke tempat kau, tapi kau tak boleh merintangi aku," kata pula Ma It Hong.

"Siapa berani merintangi Ma Kouwnio?" kata si tua.

"Ouw Toako, Thia Moay-moay," kata It Hong dengan suara perlahan. "Aku mau bicara sedikit dengan dia dan akan segera balik kembali."

"Tak boleh!" kata Ouw Hui. "Aku tak percaya omongan segala kawanan perampok. Ma Kouwnio, kau tak boleh pergi! Kau akan seperti juga meng-antarkan did ke mulut harimau!"

"Aku mengambil keputusan ini karena melihat bahaya yang sangat besar," kata Ma It Hong. "Budi kalian berdua, sampai mati siauw-moay tak akan

melupakannya."

Sebagai ksatria sejati, mana Ouw Hui mau mengerti? Melihat nyonya itu berkeras kepala dan tangannya sudah memegang palangan pintu, lantas saja ia berkata: "Kalau begitu, biarlah aku pergi bersama-sama kau."

Muka It Hong bersemu dadu. "Tak usah," kata¬nya.

Leng So yang sangat cerdik dan matanya mem-perlihatkan segala apa, jadi semakin bercuriga. Ke-napa muka Ma It Hong berulang kali berubah merah? Apakah antara mereka berdua terselip soal cinta? Memikir sampai di situ, paras mukanya sen-diri berubah merah.

"Baiklah," kata Ouw Hui. "Kau boleh pergi scndiri, tapi lebih dulu biarlah aku menangkap satu niusuh sebagai tanggungan."

"Ouw toako," kata It Hong tergugu. "Tak usah...."

Belum habis ia bicara, dengan tangan kanan mencekal golok, Ouw Hui sudah membuka pintu dan melompat ke luar. Kawanan penjahat lantas saja berteriak-teriak.

Bagaikan kilat Ouw Hui sudah menerjang rom¬bongan penjahat itu. Dua perampok memapaki ia dengan sabetan golok. Ouw Hui menundukkan ke¬pala dan melompat sembari coba menyengkeram pcrgelangan tangan satu musuh dengan tangan kiri-nya. Tapi orang itu juga gesit luar biasa. Ia membalik tangan dan membabat pula dengan goloknya, se-hingga Ouw Hui terpaksa menangkis dengan sen-jatanya. Karena kelambatan itu, tiga musuh lainnya sudah keburu menyerang, dua pian baja dan se-batang tombak menghantam dengan berbareng.

Sembari mengerahkan tenaga dalam dan mem-bentak keras, Ouw Hui menangkis dengan golok-nya. Berbareng dengan suara "trang-trang-trang!", dua pian terpental ke udara dan tombak itu kutung dua, tapi, sebab menggunakan tenaga terlalu besar, mata goloknya sendiri melengkung dan tak dapat digunakan lagi. Melihat tenaga yang begitu hebat, kawanan penjahat jadi keder dan pada lompat me-nyingkir.

"Mari main-main dengan aku!" membentak si tua yang berbadan kecil sembari meloncat maju dengan tangan kosong.

Ouw Hui kaget. "Gerakan orang ini mantap, dia bukan lawan enteng," pikirnya. "Awas piauw!" ia berteriak sembari mengayun tangan kirinya.

Si tua berhenti menyerang, ia mengawasi de¬ngan mata tajam, siap sedia untuk menyambut sen-jata rahasia Ouw Hui. Di luar dugaan, Ouw Hui hanya menggertak. Dengan sekali menjejak kaki kirinya, tubuhnya melesat ke atas dan melompati kepalanya dua penjahat. Selagi badannya terbang di udara, tangannya menyengkeram nadi salah satu penjahat yang iantas diangkat dari tunggangannya dan hampir berbareng, ia sendiri sudah menyemplak punggung kuda itu. Pada detik itu juga, Ouw Hui menendang perut kuda, yang dengan kesakitan Ian¬tas saja kabur sekeras-kerasnya.

Kawanan perampok Iantas saja berteriak-teriak dan lalu mengejar, ada yang menunggang kuda, ada juga yang jalan kaki. Baru kabur beberapa tombak, Ouw Hui merasakan sambaran angin tajam di be-lakangnya. Buru-buru ia menunduk dan dua Tiat-tui (pusut besi) lewat di atas kepalanya. Dari sambaran



angin yang dahsyat, ia mengetahui, bahwa orang yang menimpuk mempunyai kepandaian tinggi. Buru-buru ia memutar badan dan duduk di pelana dengan menghadapi pengejar-pengejarnya sembari memeluk tawanannya. "Hayo! Lepaskan senjata ra¬hasia! Makin banyak, makin baik!" ia berteriak. Penjahat itu yang dicengkeram nadinya, tidak ber-daya lagi. Ouw Hui tertawa terbahak-bahak dan menendang pula perut kuda yang Iantas kabur ter-lebih cepat. Mendadak, baru saja lari belasan tom¬bak, kuda itu rubuh terguling, karena pada waktu Ouw Hui memutar badan, sebatang pusut telah masuk ke dalam perutnya.

Dengan gerakan yang sangat indah, Ouw Hui melompat dan hinggap di atas tanah sembari terus memeluk tawanannya, dan kemudian, setindak demi setindak, ia masuk ke dalam rumah batu itu. Karena takut mencelakakan kawan sendiri, gerombolan pen¬jahat itu tak berani menerjang terus.

Demikianlah , dari bawah hidung dua puluh lebih jago-jago yang lihay, pemuda itu sudah ber-hasil membekuk satu penjahat dan kembali dengan tak kurang suatu apa. Bukan main gusarnya kawan¬an perampok itu, tapi berbareng, mereka juga harus mengakui kelihayan Ouw Hui.

"Ouw Toako, bagus! Sungguh bagus!" memuji Ma It Hong, sembari bertindak ke luar dari rumah itu. Melihat munculnya si nyonya cantik tanpa ber-senjata, semua penjahat Iantas saja turun dari tung¬gangannya dan membuka satu jalanan untuk nyonya tersebut.

It Hong berjalan terus dan baru menghentikan tindakannya ketika ia tiba di pinggir hutan yang

terpisah kurang-lebih lima puluh tombak dan ru-mah batu itu.

Dengan hati berdebar-debar, Ouw Hui dan Leng So mengawasi dari jendela. It Hong berdiri dengan membelakangi mereka dan bicara dengan si tua yang berbadan kecil.

"Toako," kata Leng So. "Kenapa dia pergi be-gitu jauh. Jika terjadi kejadian luar biasa, kita tak akan keburu untuk menolongnya."

"Hm!" menggerendeng Ouw Hui. Ia menge-tahui, bahwa jawaban untuk pertanyaan itu sudah dipunyai oleh adiknya. Benar saja, sesaat kemudian si nona berkata pula: "Karena ia tak mau kita ikut mendengarkan pembicaraan mereka!"

"Hm!" Ouw Hui menggerendeng lagi. Ia yakin, bahwa dugaan adiknya adalah tepat. Tapi, lantaran apa Ma It Hong bersikap begitu?

Pembicaraan antara Ma It Hong dan perampok itu tak dapat didengar, akan tetapi, gerak-gerik mereka dapat dilihat dari jendela. "Toako," kata Leng So. "Kepala perampok itu bersikap sangat hormat terhadap Ma Kouwnio."

"Benar," kata Ouw Hui. "Dia berjiwa besar dan kelihatannya berkepandaian tinggi."

"Bukan berjiwa besar," kata si nona sambil tertawa. "Menurut penglihatanku, sikapnya seperti juga bujang terhadap majikan."

Ouw Hui pun sudah melihat kenyataan yang luar biasa itu, tapi ia sungkan mengatakannya tcr-lebih dulu.

Sesudah mengawasi beberapa saat lagi, si nona berkata pula: "Ma Kouwnio menggeleng-gelengkan kepala. Ia tentu sedang menolak permintaan kepala

perampok itu. Tapi kenapa..." ia tak meneruskan perkataannya, ia berpaling ke arah Ouw Hui dan kemudian, seperti orang jengah, ia melengos dan memandang pula ke luar jendela.

"Apa yang mau dikatakan olehmu?" tanya Ouw Hui. "Kau kata: 'Tapi kenapa....' Kenapa kau tak bicara terus?"

"Aku tak tahu, apa boleh berterus terang atau tidak," kata Leng So. "Aku khawatir kau jadi gusar."

"Jie-moay," kata Ouw Hui. "Kau telah meng-ikuti aku sampai di sini dan kita berdua akan hidup atau mati bersama-sama. Ada soal apakah yang tidak boleh dibicarakan di antara kita berdua? Jie-moay, aku sendiri tak pernah memikir untuk me-nyembunyikan apa-apa di hadapanmu."

"Baiklah," kata Leng So sambil tertawa. "Aku merasa heran, kenapa, sebaliknya dari bergusar, muka Ma Kouwnio berubah merah, seperti orang kemalu-maluan? Ini belum seberapa. Yang lebih rnengherankan lagi, kenapa mukamu sendiri ber¬ubah merah?"

Ouw Hui tak lantas menjawab. Selang beberapa saat, barulah ia berkata: "Hatiku bercuriga karena mengingat suatu kejadian. Tapi sebelum mendapat bukti, tak dapat aku mengatakannya. Jie-moay, sau-daramu adalah laki-laki sejati. Mengenai diriku sendiri, tiada soal yang tak dapat dibicarakannya. Apa kau percaya perkataanku ini?"

Melihat sikap dan paras Ouw Hui yang sung-guh-sungguh, hati si nona jadi girang sekali. Ia tersenyum seraya berkata: "Kalau begitu, mukamu berubah merah karena urusan Ma Kouwnio. Toako, urusan orang lain tiada sangkut pautnya denganku.

Asal kau putih-bersih, bagiku sudah lebih dari cukup."

"Waktu pertama kali bertemu Ma Kouwnio, aku baru berusia tiga belas atau empat belas tahun, masih bocah cilik," kata Ouw Hui. "Karena merasa kasihan, ia telah memintakan ampun untukku...." la berhenti bicara dan mengawasi tepi langit sebelah barat, di mana sang matahari tengah menyelam. Sesaat kemudian, ia berkata pula dengan suara perlahan: "Aku tak tahu, aku tak tahu apa tin-dakanku benar atau salah.... Tapi aku yakin, ia adalah seorang baik. Hatinya cukup mulia."

Tiba-tiba perampok yang menggeletak di be-lakang mereka mengeluarkan suara merintih. Ouw Hui memutar badan dan lalu menghampirinya. Ia menepuk jalanan darah Ciang-bun-hiat dan meng-urut beberapa kali jalanan darah Thian-tie-hiat guna membuka jalanan darah perampok itu yang tadi ditotok. "Karena terpaksa, aku sudah berbuat kedosaan terhadap tuan," katanya. "Aku mengharap tuan tidak menjadi gusar. Bisakah aku mendapat tahu, she dan nama tuan yang mulia?"

Perampok itu yang alisnya tebal dan matanya besar mengawasi Ouw Hui sambil melotot. "Jangan rewel!" bentaknya. "Karena kepandaiankurang, aku sudah dibekuk olehmu. Mau bunuh boleh lantas bunuh. Guna apa kau banyak bacot?"

Mendengar cacian, Ouw Hui berbalik rnengin-dahkannya. Sambil tertawa ia berkata: "Dengan tuan aku belum pernah bertemu dan antara kita sama sekali tak ada permusuhan. Mana bisa aku mempunyai niatan kurang baik terhadapmu? Hari ini banyak terjadi kejadian luar biasa, yang sungguh-sungguh tak dapat dimengerti olehku. Apakah Loo-

heng (kakak) bisa memberi keterangan?"

"Apa kau kira aku, Ong Tiat Gok, manusia iendah?" bentaknya pula. "Sudahlah! Lebih baik kau jangan banyak bicara lagi. Jangan harap kau bisa mengorek sepatah perkataan dari mulutku."

Thia Leng So meleletkan lidah. Ia tertawa se-raya berkata: "Aha! Kalau begitu aku sedang ber-hadapan dengan Ong Tiat Gok, Ong-ya. Maaf, maaf!"

"Fui!" Tiat Gok meludah. "Bocah cilik! Kau tahu apa?"

Leng So tak meladeni, tapi ia menoleh ke arah Ouw Hui dan berkata: "Toako, orang ini adalah manusia tolol. Dia adalah dari partai Eng-jiauw Gan-heng-bun. Orang-orang yang lebih tua dari partainya, masih mempunyai hubungan rapat de¬ngan siauw-moay. Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo selalu berlaku hormat terhadapku. Maka itu, siauw-moay mengharap Toako jangan menyusahkan dia." Sambil berkata begitu, ia mengedipkan mata.

"Kau kenal Toasuheng dan Jiesuhengku?" tanya Ong Tiat Gok dengan suara heran dan dengan nada terlebih lunak.

"Kenapa tak kenal?" kata si nona. "Eng-jiauw-kang (ilmu Kuku garuda) dan Gan-heng-to (ilmu silat golok Belibis terbang) kau belum mahir betul."

"Benar," katanya sambil menunduk dengan si-kap kemalu-maluan.

Eng-jiauw Gan-heng-bun adalah suatu partai besar di wilayah utara. Ciu Tiat Ciauw, murid per¬tama dari partai itu, dan Can Tiat Yo, murid kedua, sudah lama mendapat nama besar dalam kalangan Kang-ouw. Semasa masih hidup, guru Leng So

senang sekali menceriterakan seluk beluk partai tersebut. Maka itu, ia mengetahui, bahwa murid-murid partai itu banyak menggunakan "burung" sebagai namanya. (Gok, Ciauw dan Yo adalah nama-nama burung). Begitu mendengar nama Ong Tiat Gok dan melihat golok Gan-heng-to yang digunakannya, ia segera menebak dan tebakannya ternyata jitu sekali.

"Kenapa kedua Suhengmu tidak turut serta?" tanya pula Leng So. "Apa kau tak bertemu dengan-nya?"

Sebenarnya si nona belum pernah mengenal Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo. Menurut pikiran-nya, jika mereka berada dalam rombongan peram-pok, mereka tentu menjadi pemimpin karena me-miliki ilmu silat yang tinggi. Tapi si orang tua kurus dan beberapa pemimpin lainnya tiada satu yang menggunakan golok, sehingga bisa diduga, bahwa Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo tidak berada dalam kawanan ku. Dan sekali lagi, dugaannya jitu.

"Ciu Suheng dan Can Suheng berada di Pak-khia," jawabnya. "Untuk urusan yang begini kecil tak perlu kami mengganggu mereka." Dalam mem-beri jawaban itu, suaranya bernada bangga.

"Eh eh! Di Pakkhia?" kata Leng So dalam hatinya. "Apa kawanan perampok itu datang dari Pakkhia? Hm! Coba aku memancing lagi." Memikir begitu, dengan sikap acuh tak acuh, ia berkata pula: "Pertemuan para Ciangbunjin akan segera dibuka. Dalam pertemuan itu, Eng-jiauw Gan-heng-bun tentu akan tampil kemuka dan akan memperlihat-kan keunggulannya kepada orang-orang gagah di kolong langit. Kau perlu lekas-lekas balik ke Pak-

khia untuk menyaksikan keramaian yang luar biasa itu."

"Tentu," jawabnya. Sesudah tugas ini selesai. kami semua akan segera pulang."

Ouw Hui dan Leng So terkejut. Kenapa tugas?

"Para Ceecu (kepala perampok atau berandal) yang sudah menerima panggilan negara dan bekerja untuk Hongsiang (kaisar), dengan sesungguhnya telah melakukan suatu pekerjaan yang mengharum-kan nama leluhur," kata Leng So. Kali ini tebakan si nona meleset.

Mata Ong Tiat Gok mendelik dan ia mem-bentak: "Apa? Panggilan negara? Apa kau kira kami semua kawanan bangsat?"

"Celaka!" Leng So mengeluh dalam hatinya, tapi dengan cepat ia mesem seraya berkata: "Bahwa kalian menyamar sebagai orang-orang dari jalanan hitam (perampok) kita semua sudah tahu sama tahu. Perlu apa kau bicara terang-terangan?"

Biarpun si nona sudah berusaha untuk me-nutupi kesalahannya, akan tetapi si orang she Ong masih tetap bercuriga dan meskipun dipancing lagi berulang-ulang, ia sungkan bicara lagi.

"Jie-moay," kata Ouw Hui mendadakan. "Ka¬rena kau sahabat Ong-heng, aku merasa tak perlu menahannya terlebih lama. Ong-heng, sekarang kau boleh berlalu!"

Ong Tiat Gok bangun berdiri dan Ouw Hui segera membuka pintu sambil berkata: "Sampai bertemu kembali." Tapi karena menduga Ouw Hui menggenggam maksud kurang baik, ia tak berani bergerak.

Ouw Hui tertawa seraya berkata: "Siauwtee Ouw Hui dan saudara angkatku Thia Leng So mengirim hormat untuk Ciu dan Can Jie-wie Busu." Sambil berkata begitu, ia mendorong badan Tiat Gok dan lalu menutup pintu. Sekarang barulah Tiat Gok percaya, bahwa pemuda itu melepaskan dirinya dengan setulus hati dan ia lantas saja lari ke arah hutan bagaikan terbang.

"Toako," kata Leng So. "Apa kau mengira aku benar-benar mengenal Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo? Kenapa kau melepaskan dia?"

"Aku sekarang mendapat kepastian, bahwa me-reka tak akan berani mengganggu Ma Kouwnio," jawabnya. "Di samping itu, Ong Tiat Gok adalah seorang tolol yang tentu tak mempunyai kedudukan tinggi dalam kalangan perampok. Andaikata mere-ka ingin menangkap Ma Kouwnio, mereka pasti tak akan membatalkan keinginan itu karena kita me-nahan si tolol."

"Toako benar." kata si nona sambil mengang-guk. Beberapa saat kemudian, dari lubang jendela benar saja mereka melihat kembalinya Ma It Hong yang diantar oleh kawanan perampok sampai di pinggir hutan.

Waktu It Hong masuk ke dalam rumah itu, Ouw Hui dan Leng So saling mengawasi, tapi tidak me-nanyakan suatu apa. "Mereka semua memuji Ouw-heng sebagai seorang pemuda gagah yang berke-pandaian tinggi dan berpribudi luhur," kata It Hong. Ouw Hui segera mengucapkan beberapa patah un¬tuk merendahkan diri. Beberapa saat kemudian, barulah nyonya itu berkata pula: "Saudara Ouw dan adik Thia, kalian boleh berangkat saja. Untuk urusan-ku... kalian sudah mengeluarkan banyak sekali te-

naga."

"Sebelum kau terlepas dari bahaya, bagaimana kami dapat meninggalkannya?" kata Ouw Hui.

"Tidak," membantah It Hong. "Sama sekali aku tidak berada dalam bahaya. Mereka tak akan berani mengganggu aku."

Ouw Hui jadi serba salah. Ia percaya, bahwa Ma It Hong bicara sebenarnya, akan tetapi hatinya tetap merasa tak enak untuk meninggalkan nyonya itu seorang diri di antara kawanan serigala. Ia melirik It Hong yang parasnya sebentar merah dan sebentar pucat. Keadaan sunyi senyap, baik di dalam maupun di luar rumah. Dalam keadaan bimbang, Ouw Hui segera menarik ujung baju Leng So dan mereka berdua lantas berjalan ke jendela.

"Jie-moay, bagaimana sekarang?" berbisik Ouw Hui.

"Terserah pada kau," jawabnya.

"Aku merasa curiga mengenai satu urusan, akan tetapi tak dapat ditanyakan kepada Ma Kouwnio," berbisik Ouw Hui. "Sebaliknya, jika tidak berterus terang, soal ini tidak ada keberesannya."

"Coba aku menebak," kata Leng So. "Kau me-ngatakan, bahwa dulu ada seorang she Siang yang jatuh cinta kepadanya. Bukankah begitu?"

"Benar, kau sungguh pintar," jawabnya. "Aku memang menduga begitu. Aku menduga, bahwa ka¬wanan perampok itu adalah suruhannya Siang Po Cin, sehingga mereka bersikap sangat hormat terhadap Ma Kouwnio, tapi bengis terhadap Cie Ceng."

"Dilihat gerak geriknya, Ma Kouwnio juga men-cintai orang she Siang itu," kata Leng So.

Ouw Hui mengangguk. "Itulah sebabnya, ke-

napa aku merasa bimbang," katanya.

Pembicaraan antara kedua orang muda itu di-lakukan hanya dengan menggerakkan bibir, sehing-ga meskipun Ma It Hong berada tak jauh, ia tak dapat mendengarnya. Ketika itu, matahari sudah menyelam ke barat dan siang sudah berganti dengan malam.

Sekonyong-konyong di sebelah barat terdengar suara ribut-ribut dan beberapa penunggang kuda kembali mendatangi dengan cepat sekali. "Musuh kembali mendapat bala bantuan," kata Leng So.

Ouw Hui memasang kuping. "Eh eh! Kenapa ada seorang yang berjalan kaki?" tanyanya. Benar saja, beberapa saat kemudian terlihat seorang yang mendatangi sambil berlari-lari, dikejar oleh empat penunggang kuda. Orang itu kelihatannya sengaja dipermainkan oleh para pengejarnya yang memben-tak-bentak tak hentinya, tapi menahan-nahan lari-nya kuda, sehingga jarak antara yang dikejar dan yang mengejar tetap kurang lebih dua tiga tombak. Orang itu sudah lelah sekali, rambutnya awut-awut-an, sedang tindakannya limbung.

Setelah ia datang terlebih dekat, Ouw Hui segera mengenali. "Cie Toako!" teriaknya. "Ke-mari!" Ia membuka pintu, tapi empat pengejar itu sudah mendahului dan mencegat jalan Cie Ceng. Hampir berbareng, kawanan perampok yang berada di hutan meluruk ke luar. Melihat begitu, Ouw Hui mengurungkan niatnya untuk membantu Cie Ceng, karena, jika ia menerjang ke luar, kawanan kecu bisa menerobos masuk ke dalam rumah. Dengan perasaan menyesal, ia menyaksikan dikurungnya Cie Ceng oleh kawanan penjahat itu.



"Hei! Tak tahu malu kau!" berteriak Ouw Hui. "Mengerubuti orang bukan perbuatan seorang gagah."

"Benar!" teriak salah seorang dari empat pe¬ngejar itu. "Aku memang ingin bertempur satu lawan satu untuk menjajal kepandaian murid Sin-kun Bu-tek dan mencoba-coba Toapiauwtauw dari Hui-ma Piauwkiok."

Ouw Hui kaget, suara itu dikenal baik olehnya. Ia mengawasi dan mengeluarkan seruan tertahan: "Siang Po Cin!"

"Aha! Benar-benar orang she Siang itu!" kata Leng So. Ia mendapat kenyataan, bahwa Siang Po Cin adalah seorang pria yang sepuluh kali lebih cakap dari pada Cie Ceng. Waktu melompat turun dari kuda, gerakannya pun gesit sekali. "Nah, orang itu barulah pantas menjadi suami Ma Kouwnio," katanya di dalam hati. "Tak heran kawanan bangsat itu menyebut-nyebut soal membela keadilan dan soal bunga yang ditancap di tahi kerbau." Sebagai orang muda yang tak panjang pikiran, ia tak tahan untuk tidak berkata: "Ma Kouwnio! Orang she Siang itu sudah datang!"

Tapi Ma It Hong hanya mengeluarkan suara "hm", seolah-olah tak mengerti apa yang dikatakan Lcng So.

Waktu itu, karena kawanan penjahat membuat sebuah lingkaran di sekitar Cie Ceng, Ouw Hui dan Leng So tak dapat melihat apa yang terjadi.

"Toako, mari kita ke atas genteng," kata Leng So.

"Baiklah," jawabnya dan mereka lalu melompat ke atas, dari mana mereka bisa menyaksikan apa yang terjadi dalam lingkaran itu.



Ternyata, Cie Ceng dan Siang Po Cin sudah berhadapan dengan mata beringas. Siang Po Cin bersenjata golok yang belakangnya tebal, sedang Cie Ceng bertangan kosong. "Tak adil," berbisik Leng So.

Sebelum Ouw Hui menjawab, sudah terdengar bentakan Siang Po Cin: "Cie Ceng! Aku akan ber-tempur dengan kau, satu lawan satu, lain orang tak usah membantu. Aku juga tak mau kau bertangan kosong. Kau boleh menggunakan golok dan biarlah aku melayaninya dengan tangan kosong." Sambil berkata begitu, ia melontarkan golok yang dicekal-nya ke arah Cie Ceng.

Cie Ceng menyambuti seraya membentak: "Orang she Siang! Dulu, di Siang-kee-po, kau telah berlaku kurang ajar terhadap Sumoayku. Apa kau kira mata-ku buta? Dan sekarang, dengan maksud apa kau mengejar-ngejar dengan membawa kawanan bang-sat. Sudahlah! Tak perlu aku banyak bicara lagi. Siang Po Cin! Ambillah senjatamu!"

"Aku akan melawan kau dengan tangan ko¬song!" teriak Siang Po Cin. "Toako sekalian! Wa-laupun aku terluka, kalian tidak boleh membantu."

Leng So berpaling kepada Ouw Hui dan ber¬kata: "Kenapa dia berteriak begitu keras? Rupanya dia ingin didengar oleh Ma Kouwnio."

Ouw Hui hanya menghela napas.

"Toako," kata pula Leng So. "Coba kau tebak: Pihak mana yang Ma Kouwnio ingin memperoleh kemenangan?"

"Tak tahu," jawabnya, menggelengkan kepala.

"Yang satu suami sendiri, yang lain orang luar," kata pula si nona. "Mereka berdua akan segera

berkelahi mati-hidup untuknya, tapi ia sendiri tidak memperdulikan dan bersembunyi di dalam rumah. Ouw Toako, menurut pendapatku, dalam hati kecil-nya, Ma Kouwnio mengharap supaya orang she Siang itu yang mendapat kemenangan."

Di dalam hati, Ouw Hui membenarkan per-kataan adiknya, tapi ia kembali menggelengkan kepala seraya berkata: "Aku tak tahu."

Melthat lawannya tetap sungkan mengambil senjata, sambil mengebas golok, Cie Ceng berkata: "Aku sudah berada dalam kepungan dan hari ini aku sudah tak memikir untuk hidup lagi." Ia membacok dan mereka lantas saja mulai bertempur.

Dalam ilmu silat, semenjak dulu Siang Po Cin memang terlebih unggul dari pada Cie Ceng. Se-sudah terjadi peristiwa di Siang-kee-po, sesudah ibunya meninggal dunia, pemuda she Siang itu lalu bclajar ilmu di bawah pimpinan kedua saudara Ong. Berkat kerajinannya, ia telah memperoleh kemaju-an pesat dalam Pat-kwa-to dan Pat-kwa-ciang. Di-lain pihak, Cie Ceng yang berkepandaian lebih 1 endah, juga lelah sekali karena dikejar-kejar. Maka itu, belum bertempur lama, ia sudah jatuh di bawah angin.

Alis Ouw Hui berkerut. "Orang she Siang itu licik sekali..." katanya dengan suara perlahan.

"Kau mau membantu?" tanya adiknya.

"Aku datang ke mari untuk menolong Ma Kouwnio," jawabnya. "Tapi... tapi... aku belum dapat menebak bagaimana pikirannya."

Leng So yang sekarang merasa sangat tak puas terhadap It Hong, lantas saja berkata: "Ma Kouwnio tidak berada dalam bahaya. Belum tentu ia ber-

terima kasih untuk bantuanmu. Lebih baik kita berangkat saja."

Sementara itu, keadaan Cie Ceng sudah bcr-bahaya sekali, ilmu goloknya sudah kacau, ia hampir tak dapat bergerak lagi di bawah pengaruh Pat-kwa ciang.

"Jie-moay," kata Ouw Hui mendadakan. "Kau bcnar. Kita jangan mencampuri lagi urusan ini."

Ouw Hui segera melompat turun dan masuk ke dalam rumah. "Ma Kouwnio," katanya. "Cie Toako sudah tak dapat mempertahankan diri lagi, orang she Siang itu mungkin akan turunkan tangan jahat."

Ma It Hong bengong, ia hanya menggerendeng hra .

Ouw Hui gusar bukan main. Ia berpaling ke-pada Leng So seraya berkata: "Jie-moay, mari kita berangkat!"

Ma It Hong kelihatan kaget, seperti orang baru tersadar dari tidurnya. "Ha?" katanya. "Kalian man pergi? Pergi ke mana?"

"Ma Kouwnio," kata Ouw Hui dengan suara kaku. "Dulu kau telah berusaha untuk menolong diriku dan aku merasa sangat berterima kasih. Akan tetapi, sikapmu terhadap Cie Toako...." Belum habis perkataannya, di luar terdengar teriakan menyayat-kan hati, yaitu teriakan Cie Ceng, disusul dengan suara tertawanya Siang Po Cin. "Bagus! Sungguh bagus ilmu Pat-kwa-ciang!" berteriak para peram-pok.

Ma It Hong terkesiap. "Suko!" teriaknya sambi! berlari-lari ke luar.

"Hra! Kecintaan membunuh suami! Sungguh cocok dengan keinginanmu!" kata Ouw Hui dengan



suara mendongkol.

Melihat kakaknya bergusar, Leng So coba mem-bujuk dengan berkata: "Urusan begini memang tak dapat dicampuri oleh orang luar. Toako tak perlu marah."

"Jika dia tidak mencintai Sukonya, perlu apa dia menikah dengannya?" kata Ouw Hui.

"Mungkin dipaksa ayahnya," kata si nona.

Ouw Hui menggelengkan kepala. "Tidak, bukan begitu," katanya. "Ayahnya telah meninggal dunia di Siang-kee-po, sehingga, andaikata mereka sudah ditunangkan, dia masih dapat memutuskan pertu-nangan itu. Lebih baik tak kawin dari pada terjadi kejadian yang menyedihkan ini."

Tiba-tiba di luar terdengar suara rintihan Cie Ceng.

"Cie Toako belum mati," kata Ouw Hui dengan girang. "Mari kita tengok padanya!" Sambil berkata begitu, ia melompat ke luar dan menerobos pagar manusia. Agak mengherankan, bahwa kawanan penjahat yang tadi masih bertempur dengan pe-muda itu, sekarang hanya memperhatikan Ma It Hong, Siang Po Cin dan Cie Ceng, dan sama sekali tidak menghiraukan kedatangannya.

Dengan rasa kasihan, Ouw Hui mengawasi Cie Ceng yang dadanya penuh darah dan napasnya lemah sekali. Ma It Hong berdiri di samping sua-minya, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ouw Hui berlutut dan sambil menempelkan mulutnya di ku-ping Cie Ceng, ia berkata: "Cie Toako, apakah kau mempunyai pesanan apa-apa? Aku berjanji akan mengerjakannya."

Cie Ceng mengawasi isterinya dan kemudian mengawasi pemuda itu. la mesem getir dan men-jawab: "Tidak".

"Biarlah aku pergi mcncari kedua puteramu dan akan memeliharanya sampai menjadi orang," kata pula Ouw Hui. Dengan Cie Ceng, Ouw Hui tak mempunyai hubungan apa pun. Akan tetapi melihat keadaan yang sangat menyedihkan, jiwa ksatrianya terbangun dan rela memikul tanggungan berat.

Cie Ceng kembali mesem getir. la menghela napas: "Hai...." la berdiam untuk mengumpulkan tenaga dan kemudian berkata pula dengan suara sangat lemah: "Anak... anak.... Sebelum menikah sudah ada... bukan anakku...." Sehabis berkata be-gitu, kedua matanya meram dan rohnya pulang ke alam baka.

Sekarang Ouw Hui mendusin. Segala apa sudah jadi terang baginya. Kedua anak itu adalah anak Siang Po Cin, sehingga tidaklah heran jika mereka berparas cakap dan berlainan dengan Cie Ceng yang bermuka jelek, demikian pikirnya.

Dengan rasa terharu ia bangun berdiri. Men-dadak di sebelah kejauhan kembali terdengar suara kaki kuda dan tak lama kemudian mendatangi dua penunggang kuda yang masing-masing mendukurig seorang bocah, yaitu puteranya Ma It Hong.

Ma It Hong memandang jenazah suaminya dan kemudian mengawasi Siang Po Cin. "Siang Siauw-ya," katanya. "Bukankah suamiku dibinasakan oleh-mu dengan tangan kosong?"

"Kau lihat saja sendiri," sahut Siang Po Cin. "Golok itu masih tercekal dalam tangannya. Sedikit pun aku tidak berlaku curang."

It Hong mengangguk dan seraya mengambil

golok itu dari tangan Cie Ceng, ia berkata pula: "Inilah Pat-kwa-to, golok turunan. Aku pernah me-lihatnya di Siang-kee-po."

Siang Po Cin tersenyum. "Ingatanmu kuat se-kali," ia memuji.

Mata It Hong mengawasi ke tempat jauh. "Ba-gaimana aku bisa melupakan kejadian itu?" katanya dengan suara perlahan. "Seperti juga baru terjadi kemarin."

Leng So yang berdiri di samping Ouw Hui, mengawasi nyonya itu dengan sorot mata gusar, tapi sebisa-bisa ia menahan nafsu amarahnya.

Sambil membolang-balingkan golok itu, It Hong memuji: "Sungguh bagus golok ini!" Perlahan-lahan ia mendekati Siang Po Cin yang tersenyum dan mengawasinya dengan sorot mata mencinta. Ia meng-angkat kedua tangannya untuk menyambuti golok itu yang tengah diangsurkan.

Mendadak, mendadak saja, sinar putih berkele-bat dan... bagaikan kilat, Pat-kwa-to menikam ping-gang Siang Po Cin! Sambil berteriak kesakitan, ia menghantam dengan tangannya, sehingga It Hong mundur terhuyung beberapa tindak. "Kau... kau..." katanya terputus-putus seraya menuding nyonya itu, tapi ia tak keburu bicara terus, karena di lain saat, ia sudah terjengkang dan rubuh di muka bumi.

Itulah kejadian yang sungguh-sungguh di luar dugaan! Bahwa It Hong membalas sakit hati sua-minya adalah kejadian yang sangat dapat dimengc ti. Yang mengherankan adalah perubahannya yang sedemikian mendadak. Semula, sedikit pun nyonya itu tidak memperlihatkan kedukaan dan ia bicara secara tenang dengan Siang Po Cin. Waktu semua



orang mengutuknya sebagai perempuan kejam, mendadak ia melakukan suatu tindakan yang me-mulihkan penghargaan terhadapnya.

Selagi kawanan perampok tertegun karena ka-getnya, cepat-cepat Ouw Hui menarik tangan It Hong dan bersama Leng So, ia mundur masuk ke dalam rumah batu itu.

"Aku ingin menghaturkan maaf kepadamu, ka¬rena tadi aku sudah salah menduga," kata Ouw Hui kepada It Hong. "Kau ternyata adalah seorang isteri yang mulia." Nyonya itu tak menjawab, ia duduk terpekur di pojokan rumah dengan mata mende-long. Leng So yang sekarang sudah berubah pan-dangannya, coba memberi hiburan, tapi It Hong tetap tidak meladeni.

Ouw Hui memberi isyarat dengan kedipan mata dan bersama Leng So, ia segera pergi ke jendela. "Sesudah Ma Kouwnio membinasakan musuh sua-minya, soal ini jadi semakin sulit dan semakin sukar dimengerti," kata Ouw Hui.

Si nona mengangguk. Ia juga merasa, bahwa persoalan jadi lebih berbelit. Mungkin sekali, se¬sudah melihat jenazah suaminya, rasa kasihan Ma It Hong mendadak terbangun dan ia sudah mem¬binasakan Siang Po Cin. Tapi, jika benar kawanan perampok itu adalah orang-orangnya Siang Po Cin, kenapa mereka tidak lantas menyerang sesudah sang majikan dibinasakan?

Alis Ouw Hui berkerut dan otaknya bekerja keras. "Jie-moay," kata dia akhirnya. "Aku merasa bingung sekali. Bukan tak bisa jadi, jika kita menc-ampuri terus urusan ini, sebaliknya dari kebaikan, kita mengundang bahaya untuk Ma Kouwnio. Jika



kita menanyakan Ma Kouwnio, dia tentu tak akan mau membuka mulut. Sekarang begini saja: Aku akan coba menanya kepala perampok itu."

"Apa dia mau bicara?" tanya Leng So.

"Coba-coba," jawabnya sambil membuka pintu dan lalu berjalan ke luar dengan tindakan perlahan Melihat Ouw Hui muncul seorang did tanpa mem-bekal senjata, kawanan perampok pun tidak ber gerak. Dari jarak enam tujuh tombak, ia berkata dengan suara nyaring: "Saudara-saudara! Aku mem punyai suatu rahasia yang ingin dirundingkan de¬ngan kalian. Dapatkah aku bicara dengan saudara pemimpin?" Sehabis berkata begitu, ia menepuk nepuk pakaiannya, sebagai tanda bahwa ia tidak membawa senjata.

"Kami semua adalah saudara-saudara, jika kau mau bicara, boleh bicara sekarang," kata salah se¬orang yang bertubuh tinggi besar.

"Benar, saudara-saudara semua adalah orang-orang gagah yang kenamaan dan pemimpin saudara tentulah juga seorang yang berkepandaian sangat tinggi," kata Ouw Hui. "Akan tetapi, apakah beliau tak sudi mendengar sepatah dua patah dari aku yang rendah?"

Hampir berbareng, si orang tua yang berbadan kurus melompat ke luar dari rombongan perampok dan sambil mengebas tangan kanannya, ia berkata: "Berkepandaian tinggi sih tidak. Aku merasa girang bisa bertemu dengan saudara, seorang gagah di kalangan orang-orang muda."

Ouw Hui segera memberi hormat dengan me-rangkap kedua tangannya. "Loo-ya-cu (panggilan pada orang yang berusia tua)," katanya. "Marilah



kita pergi ke sana untuk bicara sedikit." Tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan menuju ke lapangan terbuka.

Sesudah menyaksikan perbuatan Ma It Hong terhadap Siang Po Cin, hati si tua jadi kebat-kebit karena khawatir pemuda itu mengandung maksud kurang baik. Tapi jika tidak mengikut, ia merasa rnalu. Maka itu, dengan hati-hati sekali, ia segera membuntuti Ouw Hui dari belakang.

"Boanpwee she Ouw bernama Hui," ia memper-kenalkan diri. "Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama Loo-ya-cu yang mulia?"

Sebaliknya dari menjawab, si tua balas me¬nanya: "Omongan apakah ingin disampaikan oleh tuan?"

"Tak apa-apa," kata Ouw Hui sambil tertawa. "Aku ingin meminta pelajaran beberapa jurus dari Loo-ya-cu"

Paras muka orang tua itu lantas saja berubah. "Bocah!" bentaknya dengan suara gusar. "Sungguh bciani kau nienipu aku! Apakah hanya omongan yang yang ingin disampaikan kepadaku, olehmu?"

"Loo-ya-cu jangan marah," kata Ouw Hui sambil tertawa. "Aku hanya ingin bertaruh dengan main-main sedikit."

Sambil mengeluarkan suara di hidung, si tua memutar badan dan lalu berjalan pergi.

"Aku memang sudah duga, kau tak akan berani menyambutnya," mengejek Ouw Hui. "Aku tahu, meskipun aku berdiri dengan tak bergerak, kau tak akan dapat mengalahkan aku."

"Apa kau kata?" membentak orang tua itu.

Ouw Hui tersenyum seraya berkata dengan

suara tenang: "Aku berdiri tegak di sini dan kedua kakiku tidak bergerak. Kau sendiri boleh meng-gunakan kaki dan tangan sesukamu. Coba Loo-ya-cu menebak: Siapa yang akan menang?"

Sesudah menyaksikan kepandaian Ouw Hui, jika harus bertempur seperti biasa satu melawan satu, si tua memang merasa agak keder. Akan tetapi, sesudah mendengar tantangan pemuda itu yang secara temberang berjanji tak akan menggerakkan kedua kakinya, ia merasa pasti tidak akan mendapat kekalahan. Harus diketahui, bahwa ia adalah Ciang-bunjin dari Pat-kek-kun di Kay-hong-hu propinsi Holam. Ia bukan saja berkepandaian tinggi, tapi juga terkenal sebagai seorang yang berhati-hati, sehingga ia sudah menjadi pemimpin rombongan. "Baiklah, Saudara kecil," katanya sambil tertawa. "Jika kau ingin menjajal aku si tua, mau tak mau terpaksa aku mesti melayani juga. Tapi kita harus berjanji untuk tidak menggunakan senjata rahasia."

Ouw Hui tertawa. "Kita menjajal ilmu untuk mengikat tali persahabatan," katanya. "Perlu apa menggunakan senjata-rahasia?"

Si tua girang. Menurut perhitungannya, andai-kata tak dapat melawan pemuda itu, paling banyak ia hanya harus mundur beberapa tindak. Ia tentu tak akan sampai dirubuhkan, karena Ouw Hui sudah berjanji tak akan menggerakkan kedua kakinya. "Baiklah," katanya.

"Boanpwee dan Loo-ya-cu belum pernah me-ngenal satu sama lain," kata pula Ouw Hui. "Hari ini kita berselisih, karena urusan orang lain. Se-bentar, jika boanpwee kalah, bersama adik angkat-ku, boanpwee akan segera berlalu dari tempat ini."

Si tua jadi semakin girang. Jika Ouw Hui tetap melindungi Ma It Hong, urusan takgampangberes. Memang benar pihaknya dapat menggunakan keke-rasan untuk merebut nyonya itu, akan tetapi, dalam pcrtempuran, orang-orang di pihaknya tentu bakal ada yang binasa dan besar kemungkinannya, Ma It Hong pun akan turut mendapat luka. Maka itu, perkataan Ouw Hui justru cocok dengan peng-harapannya. "Benar," jawabnya. "Urusan ini me¬mang juga tak dapat dicampuri oleh orang luar. Ma Kouwnio bernasib bagus, ia tengah menghadapi suatu kemuliaan dan kemewahan. Jika kau men-cintai padanya, kau haruslah turut merasa girang."

Ouw Hui menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. "Inilah yang tidak dimengerti olehku," kata¬nya. "Andaikata, dalam pertaruhan ini Loo-ya-cu kalah, boanpwee ingin memohon supaya Loo-ya-cu sudi menjelaskan seluk beluk urusan ini."

Si tua agak terkejut, tapi ia segera menyahut: "Baiklah. Aku menyetujui syaratmu itu."

Ouw Hui segera "menancap" kedua kakinya di atas bumi dan memasang kuda-kuda. Si tua meng-awasi kuda-kuda itu yang teguh bagaikan gunung Thaysan sehingga tanpa merasa hatinya jadi keder. "Belum tentu aku bisa menang," pikirnya. Ia tidak lantas menyerang. "Saudara kecil," katanya. "Jika aku kalah, aku tentu akan mencpati janji dan akan menceriierakan seluk beluk urusan ini. Tapi, kau pun harus berjanji, tak akan memberitahukannya kepada orang lain."

"Kecuali satu, yaitu adik angkatku," kata Ouw Hui.

"Tidak, kau tak boleh memberitahukan siapa-pun juga," menolak si tua.

"Baiklah," kata Ouw Hui. "Belum tentu boan-pwee bisa menang."

"Sambutlah!" kata orang tua itu sambil meng-gerakkan kedua tangannya, telapakan tangan kiri memukul, tinju kanan dibengkokkan bagaikan gaet-an. Ouw Hui segera menyambut serangan itu, dan ternyata, si tua memiliki Lweekang yang sangat tinggi. "Loo-ya-cu, pukulanmu berat sekali," kata-nya.

Begitu pertempuran dimulai, kawanan peram-pok segera meluruk, tapi karena melihat kedua orang itu bertempur dengan bibir tersungging se-nyuman, mereka tidak turun membantu dan hanya menonton di luar gelanggang.

Begitu bergebrak, si tua segera menyerang de¬ngan pukulan-pukulan dahsyat dari Pat-kek-kun yang sudah mendapat nama besar semenjak tiga puluh tahun berselang. Pukulan-pukulannya susul menyusul bagaikan hujan dan angin, sehingga ka-wan-kawannya merasa kagum sekali. Di lain pihak, dalam babak pertama, Ouw Hui hanya membela diri. Sambil mengempos semangat, dengan kedua kaki "berakar" di tanah, ia mempunahkan setiap pukulan lawan. Sesudah bertempur beberapa lama, tiba-tiba terjadi suatu perubahan yang hanya dapat dirasakan oleh orang tua itu sendiri. Ia merasa, bahwa kedua tangannya seolah-olah "ditempel" atau "disedot" semacam tenaga yang tidak kelihatan. Semakin Ouw Hui mengempos semangat, semakin hebat "sedotan" itu.

"Celaka!" ia mengeluh dan segera bergerak untuk melompat ke belakang supaya pertempuran

itu berakhir seri. Tapi, baru menarik tangan kanan Ouw Hui sudah menangkap tangan kanannya dan hampir berbareng, tangan kiri pemuda itu menepuk sikut kanannya. Si tua mencelos hatinya dan mem-berontak, tapi tidak berhasil. Keringat dingin me-ngucur dari dahinya, ia merasa pasti lengan kanan¬nya akan terpukul patah. Di luar dugaan, seko-nyong-konyong Ouw Hui meloncat ke pinggir de¬ngan badan terhuyung. "Loo-ya-cu," katanya. "Te-nagamu benar hebat, aku takluk."

Bukan main rasa berterima kasihnya si tua. Bahwa Ouw Hui tidak menghantam lengannya, su¬dah merupakan suatu budi. Tapi, budi yang lebih besar adalah, ia sudah berlagak terhuyung, sehingga seolah-olah pertempuran itu berakhir seri dan su¬dah menolong mukanya di hadapan orang-orang yang dipimpinnya. Dengan demikian, nama besar-nya yang sudah dijaga seumur hidup, jadi tertolong. Itulah suatu budi yang benar-benar sukar dibalas. Buru-buru ia mencekal tangan Ouw Hui seraya berkata sambil tertawa: "Saudara kecil, kau sung-guh-sungguh seorang gagah yang mulia. Marilah kita omong-omong di situ, supaya tidak terganggu."

Dengan bergandengan tangan, mereka masuk ke dalam hutan. Tiba-tiba si tua melompat naik ke satu pohon besar dan menggapai. Ouw Hui turut melompat dan mereka lalu duduk di batang pohon. "Di tempat ini kita bisa bicara dengan leluasa," kata orang tua itu.

Ouw Hui menggangguk dan hatinya merasa sangat girang.

"Dari Ong Tiat Gok, aku mendapat tahu, bahwa tuan adalah seorang she Ouw bernama Hui," kata si tua. "Aku sendiri she Cin, bernama Nay Cie. Selama berkelana di kalangan Kangouw, aku sudah pernah menemui banyak juga orang-orang gagah. Akan tetapi, orang yang seperti tuan, yang berusia begitu muda dan berkepandaian begitu tinggi, baru sekarang aku pernah bertemu." la berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi: "Tuan adalah seorang yang berhati mulia dan berpemandangan jauh, se-hingga aku berani mengatakan, bahwa dalam Rimba Persilatan jarang terdapat orang gagah seperti tuan. Tanpa malu-malu, aku, si tua, mengaku kalah ter-hadapmu."

Sesudah mengucapkan kata-kata merendahkan diri, Ouw Hui berkata: "Cin-ya (Ya adalah panggilan untuk orang berpangkat atau orang yang berkedu-dukan tinggi), boanpwee ingin memohon sedikit petunjuk."

"Saudara kecil, janganlah kau menggunakan panggilan itu," kata Cin Nay Cie dengan paras sungguh-sungguh. "Begini saja: Karena aku berusia lebih tua dari padamu, biarlah aku memanggil sau dara kepadamu, sedang kau memanggil Cin Toako. Dengan menaruh belas kasihan, kau sudah me-nolong muka si tua bangka. Ajukanlah segala per¬tanyaan dan aku akan menjawab sebjsa-bisaku."

"Ah! Jangan Toako mengatakan begitu," kata Ouw Hui dengan sikap jengah. "Apa yang ingin ditanyakan olehku, adalah satu pukulan luar biasa yang tadi digunakan oleh Cin Toako. Barusan, sam-bil melenggakkan badan ke belakang, Toako telah mengirim satu pukulan luar biasa, yaitu lengan kiri disilangkan di atas lengan kanan. Pukulan itu yang mempunyai banyak perubahan aneh sudah mem-

bingungkan aku dan oleh karenanya, aku merasa sangat kagum dan kepingin tahu."

Perkataan Ouw Hui menyenangkan sangat hati Cin Nay Cie. Sesudah dikalahkan, ia harus menepati janji dan memberitahukan hal ihwal mengenai "pe-rampokan" itu. Tapi di luar dugaan, sebaliknya dari menagih janji, pemuda itu sudah menanyakan suatu pukulan yang sangat dibanggakan olehnya dan yang merupakan salah satu pukulan rahasia dari Pat-kek-kun.

Ia tersenyum seraya berkata: "Itulah suatu pu¬kulan dari partai kami yang memang agak berguna dan dinamakan Song-tah-kie-bun (Dengan dua tin-ju mcmukul pintu)." Secara terus terang ia segera menjelaskan lihaynya pukulan itu dan perubahan-perubahannya yang luar biasa. Ouw Hui mende-ngarkan dengan penuh perhatian dan mengajukan satu dua pertanyaan untuk mendapat keterangan lebih jelas.

Dalam Rimba Persilatan, setiap cabang yang sudah menjadi partai dan mempunyai banyak murid, sedikit banyak adalah cabang persilatan yang di-segani orang. Pat-kek-kun juga pernah mengalami jaman makmurnya dan di suatu masa, nama be-sarnya tidak kalah dari partai-partai kenamaan lain-nya, seperti Thay-kek, Pat-kwa dan sebagainya.

Pada waktu bertempur melawan Cin Nay Cie, Ouw Hui telah memperhatikan setiap pukulannya, sehingga ia bisa mengajukan pertanyaan-pertanya-an tepat. Semula, Cin Nay Cie masih sungkan mem-buka rahasia terlalu banyak, tapi karena setiap pertanyaan Ouw Hui mengenakan jitu intisari Pat-kek-kun, maka pada akhirnya, ia tidak dapat me-

nahan lagi hatinya dan lalu memberi keterangan sejelas-jelasnya. Di samping itu, Ouw Hui juga menambah dengan pendapatnya sendiri dan komen-tarnya itu telah membuktikan bahwa ia sudah me-nyelami dasarnya ilmu silat Pat-kek-kun.

Satu jam sudah lewat, tapi mereka belum juga turun dari pohon. Kawan-kawan Cin Nay Cie yang mengawasi dari sebelah kejauhan, tak tahu apa yang dibicarakan. Mereka hanya melihat kedua orang itu bicara sambil tertawa-tawa dan menggerak-gerak-kan kaki-tangan, seperti orang sedang bersilat. Se-sudah lewat beberapa lama, mereka tidak mem-perhatikannya lagi.

Semakin beromong-omong, penghargaan Cin Nay Cie terhadap Ouw Hui jadi semakin tinggi. "Saudara Ouw," katanya. "Pat-kek-kun adalah ca-bang persiratan yang sangat lihay. Hanya sayang, aku belum mencapai puncaknya, sehingga kena dirubuhkan olehmu."

"Cin Toako, jangan kau bicara begitu," kata Ouw Hui. "Dengan setulus hati, aku mengagumi ilmu silat Pat-kek-kun. Sekarang sudah sore dan tak pantas aku meminta pelajaran lebih banyak lagi. Di hari kemudian, jika datang di Pakkhia, aku tentu akan mengunjungi Toako untuk memohon lagi pe-tunjuk-petunjukyang lebih jelas. Untuk sementara, kita berpisahan saja." Sehabis berkata begitu, ia menyoja dan bergerak untuk melompat turun.

Orang tua itu kaget dan berkata dalam hatinya: "Sebelum bertempur, kita sudah berjanji, bahwa jika aku kalah, aku harus memberitahukan kepadanya hal ihwal perampokan ini. Tapi ia hanya menanya-kan soal-soal ilmu silat dan tidak menagih janjiku

itu. Ah! Aku mengerti. Pemuda ini ingin memberi muka kepadaku. Tapi mana bisa aku melanggar janji?" Memikir begitu, lantas saja ia berkata: "Tung-gu dulu! Saudara Ouw, jika tidak berkelahi, kita tidak bersahabat. Sesuai dengan janjiku, biarlah sekarang aku memberitahukan seluk beluk peris-tiwa ini."

"Baiklah," kata Ouw Hui. "Sebenarnya, aku pun mengenal Siang Po Cin. Aku sungguh tidak mengerti, mengapa Ma Kouwnio mendadak membinasakan-nya." Sehabis berkata begitu lantas saja ia menuturkan apa yang dulu dialaminya di Siang-kee-po.

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Si Rase Terbang (Hoei Ho Gwa Toan) Jilid 10"

Post a Comment

close