Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 29

Mode Malam
Sebuah perahu meluncur cepat sekali, didayung oleh seorang wanita cantik, menyeberang ke Nusa Kambangan. Wanita itu berusia kurang lebih tigapuluh tujuh tahun, cantik manis dengan wajah bulat telur, jelita dan anggun. Akan tetapi sepasang matanya amat tajam seperti burung rajawali, dan bibirnya yang manis itu tersungging senyuman yang aneh. Biarpun tangan dan lengan kecilnya saja, namun ketika ia menggerakkan dayung, perahu melesat seperti anak panah terlepas dari busurnya, menandakan bahwa tangan kecil ramping itu memiliki tenaga yang dahsyat.

Wanita itu bukan lain adalah Dewi Muntari yang kini hanya menggunakan nama Dewi saja. Dewi telah tamat belajar dari Ni Durgogini, dan ia mendapat tugas untuk mencari pusaka Tilam Upih. Mendengar bahwa pusaka itu berada di tangan Adipati Nusakambangan, Dewi langsung saja menuju ke pulau itu.

Begitu perhunya menepel di daratan pulau dan Dewi meloncat ke pantai, ia segera dikepung belasan orang penjaga pantai itu. Melihat seorang waita yang begitu cantik, para penjaga pantai ini bersikap ceriwis dan kurang ajar.

“Manis, siapakah engkau dan hendak mencari siapa?”

“Jangan mencari orang lain, cari saja aku berada di sini!” kata yang lain.

Mendengar ucapan dua orang itu, yang lain tertawa riuh gembira. Dewi mengerutkan alisnya.

“Mulut kalian busuk, pantas dihancurkan!” katanya tenang.

Dua orang itu terbelalak sejenak, akan tetapi akhirnya tertawa dan yang lainpun tertawa. Seorang wanita cantik seperti itu, bagaimana hendak menghancurkan mulut mereka?

“Ha-ha-ha, biar mulutku hancur kaucium..........!”

“Prakkk!” tiba-tiba saja, secepat kilat, Dewi menggerakkan dayung yang tadinya di pegangnya, tepat mengenai mulut orang itu dan mulut itu hancur, giginya berantakan.

Orang kedua terbelalak akan tetapi kembali dayung itu menyambar dan orang kedua juga terpelanting dengan mulut berdarah-darah. Melihat ini, semua orang menjadi terkejut dan marah, dan mereka segera bergerak untuk menyerang. Akan tetapi, dengan dayung di tangannya, Dewi mengamuk dan dalam waktu beberapa menit saja belasan orang itu sudah roboh dan malang melintang terkena hantaman dayungnya. Sebagian lagi lari memberi laporan kepada Adipati Surodiro.

Kini para perajurit berdatangan dan jumlah mereka puluhan orang dipimpin oleh beberapa orang panglima. Akan tetapi, melihat demikian banyaknya orang, Dewi lalu berteriak marah.

“Aku datang untuk bertemu dan bicara dengan Adipati Surodiro! Kalau kalian semua sudah bosan hidup, boleh mengeroyok aku!”




Akan tetapi karena sudah banyak penjaga yang roboh, para panglima sudah menjadi marah sekali dan mereka lalu memerintahkan para perajurit untuk mengeroyok. Tiba-tiba terdengar lengking yang memekakkan telinga. Banyak perajurit terhuyung dan roboh mendengar teriakan melengking itu.

Itulah Aji Sardulo Krodo { Harimau Marah}. Aji seperti ini merupakan pekik yang mengandung getaran penuh wibawa, seperti auman harimau yang dapat melumpuhkan calon korbannya. Banyak perajurit yang tidak kuat mendengar jerit yang mengegtarkan jantung ini dan pekik itu terdengar sampai seluruh pulau!

Dewi lalu mengamuk, menggunakan dayung di tangannya. Dengan gerakan seprti burung walet, tubuhnya menyambar-nyambar dan kemanapun dayungnya bergerak, tentu ada perajurit yang roboh. Ia memang mengendalikan tenaganya dan tidak melakukan pembunuhan karena kedatangannya ke Nusakambangan bukan untuk membunuh orang, melainkan untuk mencari Tilam Upih.

Tiba-tiba terdengar seruan lantang.

“Tahan semua senjata!”

Yang berseru ini adalah Surodiro sendiri. Mendengar ada wanita mengamuk dia segera datang ke tempat itu dan melihat para anak buahnya banyak yang roboh, dia menjadi marah dan menghentikan perkelahian itu. Semua anak buahnya mundur mendengar bentakan sang adipati ini dan kini Dewi berhadapan dengan Adipati Surodiro. Mereka berdiri saling pandang bagaikan dua ekor harimau yang saling berlagak hendak mengadu kuatnya taring tebalnya kulit.

“Heh, wanita, siapakah andika dan mengapa andika datang mengamuk di Nusa Kambangan?”

Bentak Surodiro dengan angkuh. Bagaimanapun juga, dia tidak akan menunjukkan kelemahan di depan seorang wanita, apalagi wanita yang demikian cantiknya.

Dewi mengamati pria yang berdiri di depannya itu penuh perhatian. Dari pakaiannya dia dapat menduga siapa pria yang nampak gagah perkasa, berusia limapuluh tahun ini.

“Hemm, apakah aku berhadapan dengan Adipati Surodiro sendiri?”

“Benar, akulah Adipati Surodiro?”

“Bagus andika keluar sendiri, Sang Adipati. Aku bernama Dewi dan aku sengaja datang untuk bertemu dan berbicara denganmu. Akan tetapi anak buahmu yang tidak tahu diri ini mencegah aku bertemu dengan andika, maka terjadi perkelahian ini!”

“Babo-babo, Dewi! Andika datang-datang memperlihatkan kesaktian seolah tidak memandang kepadaku. Sekarang kita sudah saling berhadapan,nah, katakan,apa kehendakmu?”

“Tidak banyak, Adipati Surodiro. Aku datang untuk minta kepadamu agar pusaka Tilam Upih diberikan kepadaku.”

“Kalau tidak kuberikan?” tantang Adipati Surodiro.

“Nusa kambangan akan kubikin karang-abang { Lautan Api }!”

“Babo-babo, sumbarmu seperti dapat memecahkan gunung Mahameru! Sebelum kita bicara lebih lanjut mengenai Tilam Upih, aku hendak mencoba dulu kedigdayaanmu. Nah, bersiaplah andika melawan aku!”

“Bagus,kalau andika juga ingin bertanding, silakan! Dan karena andika tidak menggunakan senjata, akupun akan bertangan kosong saja!” Dewi lalu mengayun dayungnya dan dayung itu menancap di atas tanah sampai setengahnya. Dari ini saja dapat dibuktikan bahwa wanita itu ternyata memiliki tenaga sakti yang dahsyat!

Ki Surodiro agaknya juga maklum bahwa lawannya bukan orang lemah, maka begitu menerjang dia sudah mengerahkan Aji Kembang Wijoyokusumo yang mengeluarkan hawa yang mengandung getaran hebat. Tangan kanannya menampar dengan jari terbuka dan ada hawa yang menggetarkan keadaan sekeliling menerpa ke arah Dewi.

Akan tetapi, Dewi sudah bersikap waspada. Yang dikhawatirkan hanya kalau sang adipati menggunakan keris Tilam Upih yang menurut gurunya amat ampuh menggiriskan. Kalau hanya pukulan tangan kosong saja ia tidak takut dan cepat iapun mengerahkan Aji Trenggiling Wesi yang membuat tubuhnya kebal. Ia mengangkat tangan menangkis sambil menggerakkan tenaga.

“Desssss.......!”

Dua lengan bertemu dan akibatnya, Adipati Surodiro melangkah mundur tiga langkah sedangkan tubuh Dewi hanya terguncang saja. Dalam pertemuan tenaga ini saja sudah dapat dibuktikan bahwa dalam hal kekuatan tenaga sakti, Dewi masih menang setingkat! Dewi tidak berhenti sampai di situ saja, ia lalu membalas dan kini ia menggunakan Aji Jaladi Geni { Lautan Api}, menampar dengan tangan kirinya. Serangkum hawa panas yang panas seperti api menyambar ke arah Adipati Surodiro. Orang ini terkejut dan cepat menangkis.

“Dessss.......!!”

Untuk kedua kalinya lengan mereka bertemu dan sekali ini Ki Surodiro terhuyung sampai lima langkah. Tahulah dia bahwa wanita ini benar-benar sakti dan kalau dilanjutkan, dia tentu akan kalah. Biarpun dia merasa penasaran sekali, akan tetapi dia tidak mau melanjutkan karena kalau sampai dia dirobohkan oleh seorang wanita di depan semua anak buahnya, hal itu akan mendatangkan malu besar baginya.

“Elhadalah! Andika memang seorang wanita sakti, Dewi. Sudah sepatutnya kalau menjadi tamuku. Mari ikut bersamaku ke kadipaten di mana kita dapat bercakap dengan leluasa!”

Dewi yang pemberani itu tidak takut akan jebakan atau perangkap.

“Baik, Adipati!” katanya dan mereka berdua lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kadipaten.

Para anak buah Nusa Kambangan tentu saja ramai membicarakan wanita sakti itu yang bukan saja amukannya telah mereka rasakan, akan tetapi juga telah sanggup menandingi Sang Adipati, hal itu sudah merupakan hal yang amat mengagumkan.

Sementara itu, Dewi sudah duduk berhadapan terhalang meja dengan Adipati Surodiro. Seorang pelayan menyuguhkan minuman dan dengan berani Dewi meminumnya ketika dipersilakan. Dari gurunya ia sudah mempelajari tentang racun dan andaikata minuman itu beracun, ia sudah dapat mencium dengan hidungnya dan merasakan dengan lidahnya.

“Nah,engkau memang seorang wanita yang gagah sejati, Dewi. Katakan, apa sebetulnya kehendakmu. Engkau menghendaki Tilam Upih, untuk siapakah?”

“Hemm, hal itu tidak perlu andika tanyakan, Adipati. Aku ingin agar engkau menyerahkan Tilam Upih kepadaku, habis perkara. Apa yang akan kuperbuat dengan keris pusaka itu, adalah urusanku sendiri.”

“Engkau datang terlambat, Dewi ketahuilah bahwa Tilam Upih tidak berada di tanganku lagi. Apakah andika tidak mendengar bahwa aku telah mengadakan sayembara tentang Tilam Upih?? Siapa yang dapat mengalahkan aku, memperoleh Tilam Upih!”

“Ada juga aku mendengar. Lalu,bagaimana hasilnya?”

Tilam upih sudah kuserahkan kepada seorang pemuda yang bernama Budhidarma dan telah dibawa pergi.”

“Andika kalah olehnya?”

“Benar, dalam sayembara itu aku dikalahkan oleh Budhidharma. Karena itu, keris pusaka Tilam Upih kuserahkan kepadanya dan telah dia bawa pergi, katanya akan diserahkan kepada Sang Parbu Jayabaya.”

Dewi mengangguk-angguk. “Aku percaya keteranganmu, Adipati. Akan tetapi hati-hatilah. Kalau kelak aku mendapat kenyataan bahwa andika telah membohongiku, aku akan kembali dan tidak akan memberi ampun!”

Wajah Adipati Surodiro berubah agak pucat mendengar ancaman ini dan dia cepat berkata, “Ada suatu rahasia yang perlu andika ketahui, Dewi. Keris pusaka Tilam Upih yang kuserahkan kepada Budhidarma itu bukanlah keris yang asli!”

Dewi terbelalak. “Ehh? Apa maksudmu? Engkau menipunya?”

“Tidak, dia juga sudah mengetahuinya! Persolannya begini. Sekitar dua bulan yang lalu aku kedatangan seorang yang berkedok. Dialah yang mengambil Tilam Upih dan menukarnya dengan yang palsu. Aku berusaha menghalanginya dan aku dipukulnya sampai pingsan. Orang itu tangguh bukan main. Hal itu terjadi dalam kamarku dan tidak diketahui orang lain. Aku malu untuk bercerita kepada orang lain. Maka aku mengadakan sayembara agar orang yang dapat mengalahkan diriku kelak dapat mencari si pencuri dan merampas Tilam Upih yang asli. Nah, begitulah persoalannya dan aku berani bersumpah bahwa memang demikian keadaannya.”

“Andika tidak menyembunyikan yang asli dan berpura-pura saja?”

“Mana aku berani? Kalau aku berpura-pura tentu Budhidarma tidak akan melepaskan aku.”

“Hemm, kita lihat saja nanti perkembangannya. Engkau tahu sendiri bahwa aku tidak akan tinggal diam seandainya engkau membohongiku!”

Setelah meninggalkan ancaman itu, Dewi lalu pergi dari pulau Nusa Kambangan, diantar oleh Adipati Surodiro sampai ke pantai.

Dewi lalu mendayung perahunya dengan cepat dan mendarat di pantai Selatan. Kalau keris pusaka itu dicuri orang, kelak ia harus mencoba untuk mencari pencuri itu. Akan tetapi di mana jejaknya? Bahkan Ki Surodiro sendiri yang menghadapi pencuri itu hanya tahu bahwa dia seorang yang berkedok, yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Ia mengesampingkan urusan Tilam Upih dan kini ia kembali ke kota raja! Masih ada dua hal penting yang harus ia kerjakan. Pertama, menyelidiki Pangeran Panjiluwih yang menurut Ki Blendu mengutus Ki Blendu untuk mebunuh ia dan suaminya. Dan kedua, untuk mencari puterinya, Niken Sasi, yang terpisah dengannya ketika Klabngkoro dan kawan-kawannya menyerangnya. Ia tidak tahu bagaimana dengan nasib Niken Sasi dan kalau ia teringat akan puterinya itu, hatinya menjadi sedih sekali, menambah kesedihannya kehilangan suaminya.

Pada suatu hari, ketika ia sedang berjalan seorang diri dengan tujuan kembali ke kota raja, Tiba-tiba ia melihat beberapa orang penunggang kuda datang dari depan. Ia cepat menyelinap dan bersembunyi di balik semak-semak karena ia tidak ingin mendapat gangguan kalau bertemu dengan orang-orang asing. Ketika rombongan terdiri dari belasan orang itu lewat, jantungnya berdebar tegang dan iapun cepat bangkit berdiri dan berlari cepat mengejar dan membayangi robongan Pangeran Panjiluwih sebagai penunggang kuda terdepan!

Penunggang kuda terdepan itu memang Pangeran Panjiluwih, seperti kita ketahui, diam-diam pangeran ini meninggalkan rombongan Senopati Lembudigdo yang kembali ke kediri dari Nusa Kambangan. Pangeran Panjiluwih diikuti belasan orang pengawal dan ditengah perjalanan dia bertemu dengan Joko Kolomurti yang sudah dikenalnya karena Joko Kolomurti dan mendiang ayahnya, Wiku Syiwakirana juga menjadi anak buah pangeran ini dalam persekutuan dengan perkumpulan Jambuka Sakti dan Gagak Seto yang dipimpin secara rahasia oleh seorang yang mereka sebut Kanjeng Gusti.

Kini mereka bersama bersatu setelah Joko Kolomurti bercerita bahwa ayahnya telah tewas dan perkumpulan Durgomontro di Bukit Girimanik telah dihancurkan oleh seorang pemuda bernama Budhidarma. Keduanya lalu meneruskan perjalanan menuju ke Gunung Anjasmoro untuk mengadakan perundingan dengan Klabangkoro dan kawan-kawannya. Sama sekali Pangeran Panjiluwih tidak pernah menduga bahwa ada seseorang yang membayanginya.

Karena ingin tahu apa yang dilakukan oleh Pangeran Panjiluwih di Bukit Anjasmoro, Dewi tidak segera menghadapi pangeran itu, melainkan terus membayangi sampai mereka tiba di perkampungan Gagak Seto. Pangeran Panjiluwih dan Joko Kolomurti diterima dengan hormat dan ramah oleh Klabangkoro dan Mayangmurko, lalu dipersilakan memasuki rumah induk dan mereka bercakap-cakap di ruangan dalam.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Dewi terus membayangi ke dalam perkampungan dan dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi Dewi dapat mengintai ke dalam ruangan itu dan mendengarkan apa yang mereka percakapan.

“Bagamana, Gusti Pangeran, apakah paduka berhasil mendapatkan Tilam Upih?” tanya Klabangkoro yang sudah tahu bahwa pangeran ini ditugaskan untuk mencari Tilam Upih.

“Wah, celaka, paman Klabangkoro. Tilam Upih itu telah terjatuh ke tangan seorang pemuda bernama Budhidarma dan seorang gadis bernama Niken.”

Dewi yang mendengarkan di luar merasa jantungnya berdebar penuh ketegangan. Siapakah yang meraka bicarakan sebagai Niken? Apakah puterinya, Niken Sasi? Ia menahan napas dan mendengarkan terus.

“Ha-ha-ha-ha-ha.........!” Klabangkoro tertawa bergelak sehingga Pangeran Panjiluwih mengerutkan alisnya tak senang. Dia menceritakan kegagalannya dan Klabangkoro berani menertawakannya!

“Kenapa andika tertawa, paman? Berani andika menertawakan kegagalanku?” Dia membentak marah.

Klabangkoro masih tertawa, akhirnya dapat juga bicara. “Maaf, Gusti Pangeran. Bukan kegagalan paduka yang saya tertawakan, akan tetapi saya mempunyai berita teramat baik dan tentu paduka akan senang sekali mendengarnya. Ketahuilah, yang namanya Budhidarma dan Niken itu sekarang sudah berada di tangan kami!”

“Eh,apa maksudmu?”

“Mereka sudah terjebak, bersama Ki Sudibyo, di dalam Goa yang sudah kami tutup dan dijaga ketat. Mereka tidak akan mampu keluar lagi dan akan mati kelaparan di dalam.”

“Akan tetapi mereka itu tangguh sekali! Bagaimana kalian dapat menagkap mereka?”

“Ha-ha-ha, kami menggunakan siasat yang cerdik. Mereka bertiga itu seperti tiga ekor tikus yang sudah terjebak dan kita hanya tinggal menanti kematian mereka saja. Kalau sudah begitu, tentu Tilam Upih yang berada di tangan mereka akan dapat paduka miliki.”

“Benarkah, paman? Ah, bagus sekali kalau begitu!” kata Pangeran Panjiluwih.

“Bagus! Kalau begitu dendam kematian ayahku dan hancurnya perkumpulan kami juga akan terbalas impas! Gadis bernama Niken itu yang telah membunuh ayah, dan bersama Budhidharma menghancurkan perkumpulan kami!” kata pula Joko Kolomurti dengan girang sekali. “Cuma sayang sekali kalau gadis bernama Niken itu mati kelaparan begitu saja. Ia cantik jelita sekali, dan kalau bisa terjatuh ke tanganku........”

Pangeran Panjiluwih tertawa. “Joko,engkau jangan hanya memikirkan kecantikanya saja,akan tetapi juga harus kau ingat kesaktiannya. Kalau ia dibebaskan, dengan kesaktiannya ia dapat membuat kita semua kewalahan.”

“Benar sekali,” kata Klabangkoro. “Gadis itu telah menguasai Aji Hasta Bajra yang berbahaya sekali. Karena itu kami menjaga tempat itu dengan ketat, khawatir kalau-kalau dengan Hasta Bajra ia akan mampu lolos!”

Dewi tidak mau mendengarkan lagi. Ia segera meninggalkan tempat persembunyiannya dan cepat ia mencari ke bagian belakang perkampungan itu.

Ketika ada seorang anggota Gagak Seto lewat ia menangkapnya dan mencekik lehernya.

“Hayo katakan, di mana tiga orang itu di sekap ? Di goa mana? Katakan atau akan kusiksa kau!”

Orang itu hampir tidak mampu bernapas, berkelonjotan dan berkata dengan susah payah.

“Di.......di belakang perkampungan......di.....dibukit itu......” Diapun terkulai dan telah tewas karena Dewi telah memperkuat cekikannya. Kemudian ia lari menuju ke balakang perkampungan, mendaki anak bukit itu dan tak lama kemudian iapun dapat melihat sebuah goa yang tertutup banyak batu besar. Dan di depan goa itu nampak puluhan anak buah Gagak Seto melakukan penjagaan!

Melihat ini, Dewi menjadi marah sekali ia meloncat dan menyerbu ke arah para penjaga itu. Gegerlah mereka! Sepak terjang Dewi memang hebat sekali. Biarpun ia hanya bertangan kosong, akan tetapi sekali tangannya bergerak, tentu ada satu dua orang penjaga yang terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali! Setelah semua penjaga kewalahan dan jerih, lalu mundur, ia segera mulai membongkar batu-batu di dalam goa itu.

Kita melihat di dalam goa. Niken sudah tidak menangisi gurunya lagi, melainkan duduk diam di sampingnya. Gurunya yang masih pingsan sepeti orang tertidur. Budhi juga duduk di dekatnya, merasa tidak enak sekali. Dia harus mengakui bahwa orang tua itu telah menyelamatkannya, bahkan telah menguras tenaganya untuk menyembuhkannya dan mengusir racun dari tubuhnya. Padahal Ki Sudibyo sendiri menderita luka yang sangat parah. Akan tetapi bagaimana dia dapat menghilangkan rasa benci terhadap orang yang telah menyuruh bunuh ayah ibunya? Dia mulai berpikir. Ibunya dikatakan menyeleweng dengan ayahnya, Margono. Katanya ibunya adalah isteri dari Ki Sudibyo ini, bahkan dia adalah putera Ki Sidibyo yang ketika Ni Sawitri melarikan diri bersama kekasihnya Margono, dia telah berada dalam kandungan ibunya.

Budhi menghela napas. Kalau memang demikian, ibunya juga bersalah! Juga ayahnya atau orang yang selama ini dianggap ayahnya yang bernama Margono itu. Biarpun Ki Sudibyo juga bersalah, telah menyuruh orang membunuh mereka berdua, akan tetapi tindakan Ki Sudibyo bukan tanpa alasan. Karena sakit hati ditinggal pergi isterinya tersayang! Dia merasa bingung dan ragu. Ayah ibunya, Margono dan Ni Sawitri, bagaimanapun telah tewas, dan orang ini, ayah kandungnya yang sejati, masih hidup dan mengharapkan dia dapat memaafkannya!”

“Sawitri........!” Ki Sudibyo berbisik. Dia telah sadar dan dalam keadaan masih pening dia mengingau, memanggil-manggil isterinya.

“Sawitri......ke sinilah, isteriku.......kenapa engkau begitu tega meninggalkan aku......Sawitri.....”

Dan kakek itu dengan mata masih terpejam lalu menangis! Air matanya jatuh berlinang dari matanya yang terpejam.

Niken yang memandang gurunya ikut pula berlinang air mata. Budhi memandang terharu.

“Sawitri.......mana anak kita......Sawitri mana......anakku? Anakku.....mendekatlah.... .anakku....ha, maafkanlah aku, anakku......anakku....” Orang tua itu semakin mengguguk dan dia menggerakkan tangan kanannya ke atas seperti hendak meraba-raba.

Tergetarlah hati Budhi. Orang tua ini keadaanya sudah payah sekali. Kalau permintaan terakhir itu tidak dilaksanakan, mungkin dia akan mati penasaran! Orang tua ini agaknya telah memaafkan kesalahan Sawitri ibunya, bahkan merindukannya, kenapa dia tidak dapat memaafkan kesalahannya.

Niken memandangnya dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya dan gadis itu sesenggukan. Budhi tidak tahu lagi. Dia lalu mengeser duduknya, mendekati kakek itu dan mengulurkan tangannya, memegang tangan kanan yang seperti hendak meraba-raba itu. Kakek itu nampak terkejut, tangannya memegang kuat-kuat, lalu perlahan-lahan dia melalui air matanya melihat siapa yang memegang tangannya, dia menghela napas panjang.

“Duh Gusti terima kasih......kau.....kau anakku.......Budhidarma......kau memaafkan ayahmu ini, nak....?”

Budhidarma tidak mampu menjawab. Kedua matanya juga basah dan dia mengangguk.

“Terima kasih.......terima kasih Gustiku....” Dan pegangan tangan itu terlepas, kakek itu terkula.

Niken menubruk gurunya,akan tetapi Budhidharma berkata,

“Jangan khawatir, dia tertidur.”

Pada saat itu dia mendengar suara gaduh dan batu-batu yang dibongkar orang.

“Ada yang membongkar batu yang menutupi goa!” kata Niken sambil melompat berdiri.

Budhidharma juga melompat berdiri dan mereka berdua lalu menggerakkan tenaga mendorong batu besar yang menutupi goa. Dengan tenaga mereka berdua, mereka berhasil membongkar bata-batu itu yang mengelinding ke luar.

Melihat ini Dewi menjadi Girang sekali dan iapun melompat ke dalam goa itu. Pertama-tama yang dilihatnya adalah Niken dan sejenak kedua orang wanita itu tertegun dan saling pandang seperti terpesona, dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Kemudian, seperti tertarik oleh besi semberani, keduanya lari saling merangkul.

“Niken........!”

“Ibu.........!” mereka berciuman dan bertangisan dalam rangkulan masing-masing.

“Niken Sasi, kiranya benar engkau.......!” Dewi Muntari membelai kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Ibu, kiranya ibu yang menolong kami.......!”

Pada saat itu Ki Sudibyo sadar dari tidurnya. Karena tadi hatinya merasa lega dan gembira penuh kebahagiaan, kini kesehatannya agak membaik dan tenaganya agak kuat. Dia bangkit duduk mendengar Niken menyebut ibu kepada wanita cantik itu, dia lalu cepat menghaturkan sembah.

“Gusti Puteri, hamba Ki Sudibyo menghaturkan sembah dan ikut bergembira atas pertemuan yang membahagikan ini.”

Dewi memandang kepada Ki Sudibyo dan bertanya kepada puterinya,

“Niken Sasi, Siapakah paman ini?”

“Ibu inilah Ki Sudibyo, ketua Gagak Seto yang telah menyelamatkan aku dan kemudian menjadi guruku.”

“Ah, terima kasih atas budhi yang andika limpahkan kepada puteri kami paman Sudibyo.” Kata Dewi. “Dan pemuda ini, apakah ini yang bernama Budhidharma?”

Sejak Budhi melihat ayahnya memberi hormat tadi, dia sudah menjadi terheran-heran. Ayahnya memberi hormat kepada wanita itu dan menyebutnya Gusti Puteri! Siapakah wanita yang menjadi ibu kandung Niken itu?

Melihat Budhi berdiri bengong saja, Ki Sudibyo yang menjawab, “Budhi anakku, berilah hormat kepada Gusti Puteri ini. Beliau adalah Gusti Puteri Dewi Muntari, puteri dari Sang Prabu Jayabaya di Kediri.”

“Ahhh..............!” Budhidharma lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepada Dewi.

“Hamba Budhidharma mengahatukan sembah kepada, Gusti Puteri.”

“Sudahlah, tidak perlu memakai banyak aturan, lihat siapa yang berdatangan itu!” kata Dewi.

Niken Sasi memandang ke depan dan wajahnya berubah merah saking marahnya.

“Ibu, mati kita basmi jahanam-jahanam busuk itu!”

Ternyata para anak buah Gagak Seto tadi sudah berlarian melapor dan kini muncullah Klabangkoro. Mayangmurko, Pangeran Panjiluwih, Joko Kolomurti, belasan orang pengawal dan anak buah Klabangkoro, juga banyak anak buah Jambuka Sakti.

Nelihat ini, Ki Sudibyo yang sudah lemah badannya itu menguatkan diri untuk berdiri, dibantu oleh Budhidarma dan kakek ini berdiri dengan gagahnya di depan goa. Dia memandang kepada para anggota Gagak Seto dan suaranya terdengar lantang dan garang.

“Para warga Gagak Seto dengarlah baik-baik! Selama ini aku dijebak dan dikurung oleh Klabangkoro dan Mayangmurko yang memberontak dan jahat! Karena itu, aku perintahkan kalian untuk tidak lagi menurut dan tunduk kepada perintah mereka yang murtad! Ingat, akulah ketua kalian yang belum diganti oleh siapapun!”

Para anggota Gagak Seto yang melihat kakek ini terkejut dan baru menyadari bahwa mereka telah dibawa menyeleweng oleh Klabangkoro. Mereka menyambut ucapan Ki Sudibyo dengan sorak-sorai.

Klabangkoro menjadi marah sekali. Dia mengandalkan orang-orang Jambika Sakti dan juga para pengawal Pangeran Panjiluwih.

“Haiii, kalian semua! Ingat dan lihat baik-baik siapa yang berdiri disisiku ini! Ini adalah Pangeran Panjiluwih, utusan Sang Prabu Jayabaya dan juga Puteranya! Kalau kalian berani melawan, kalian semua akan dicap pemberontak dan menerima hukuman!”

Pangeran Panjiluwih lalu mencabut Kyai Gliyeng, yaitu keris yang dia terima dari Sang Parbu Jayabaya ketika dia di utus mencari Kyai Tilam Upih. Sambil menodongkan kerisnya ke atas diapun berteriak.

0 Response to "Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 29"

Post a Comment