Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 15

Mode Malam
Dalam keadaan pingsan, Niken Sasi diangkut belasan orang laki-laki itu memasuki sebuah hutan di tepi selatan Sungai Brantas, di sebelah utara Lodaya. Ternyata di dalam hutan itu terdapat sebuah rumah besar dari kayu dan bambu yang dijadikan tempat markas sementara oleh kelompok Jambuka Sakti yang bekerja sama dengan anak buah Gagak Seto di bawah pimpinan Klabangkoro.

Karena sebelumnya Klabangkoro sudah memesan dengan keras, maka tidak ada anak buah Jambuka Sakti yang berani menggangu Niken Sasi. Gadis itu dibawa ke dalam sebuah kamar, dibelenggu kaki tangannya, lalu pintunya ditutup dan penjagaan ketat dilakukan anak buah Jambuka Sakti sambil menanti datangnya Klabangkoro yang akan mengambil keputusan apa yang harus dillakukan dengan gadis tawanan itu.

Senja itu sunyi sekali di dalam hutan di lembah sungai Brantas. Kurang lebih duapuluh orang anak buah Jambuka Sakti berkeliaran di luar rumah. Ada yang membuat api unggun untuk mengusir nyamuk, ada yang menjerang air, bahkan ada yang menanak nasi untuk makan malam.

Tidak ada seorangpun di antara mereka yang melihat sesosok bayangan yang berkelebat dengan cepatnya. Saking cepatnya bayangan itu berkelebat, andaikata ada yang kebetulan melihatnya tentu akan mengira bahwa itu adalah bayangan seekor binatang hutan, atau bayangan kera yang banyak terdapat di sekeliling hutan itu. Akan tetapi sebetulnya yang berkelebtan itu adalah bayangan seorang manusia, seorang pemuda tampan. Biarpun pakaian pemuda itu seperti pakaian pemuda dusun biasa, namun jelas dia bukan pemuda sembarangan. Wajahnya anggun dan tampan, matanya mencorong dalam kegelapan senja remang, gerakannya trengginas ketika dia menyelinap dari satu ke lain batang pohon sambail mengintai keadaan rumah yang terjaga ketat itu.

Sinar api unggun yang dibuat para anak buah Jambuka Sakti menyinari wajahnya dan ternyata dia adalah pemuda yang pernah dijumpai Niken siang tadi di warung nasi. Pemuda pendiam yang sikapnya acuh itu. Dia mendekam di balik rumpun semak dan matanya mengerling ke kanan kiri mempelajari keadaan. Dia tahu bahwa kalau dia muncul begitu saja, dia akan berhadapan dengan puluhan orang yang mengepungnya. Biarpun dia tidak takut menghadapi pengeroyokan, akan tetapi dalam keadaan terkepung begitu, bagaimana mungkin dia dapat menyelamatkan gadis yang tertawan itu? Gadis yang pemberani, akan tetapi sembrono, pikirnya.

Mudah percaya kepada orang. Jelas buklan gadis yang berpengalaman, walaupun dia tadi melihat
betapa gadis itu sekali sambit menjatuhkan sebuah dawegan hijau. Agaknya seorang gadis yang memiliki sedikit kegagahan sehingga menjadi berani kurang perhitungan!

Dia tidak akan begitu sembrono. Akan diperhitungkan dulu baik-baik sebelum dia berusaha untuk membebaskan gadis itu dari tangan para penawannya.

Selagi dia mengintai dan memperhatikan, tiba-tiba serombongan orang datang memasuki pagar pekarangan rumah di tengah hutan itu. Mereka adalah Ki Klabangkoro dan belasan anak buahnya, karena para anak buah Jambuka Sakti sudah mengenal Ki Klabangkoro maka mereka menyambut dan Klabangkoro lalu memasuki rumah itu. Para anak buahnya menanti di luar, terpencar.

“Sekaranglah saatnya!” pemuda yang tadi mengintai berpikir. “Atau aku mungkin terlambat!”

Dengan cepat ia merangkak di bagian belakang rumah besar itu, cepat pula mengambil sebuah obor yang bernyala di bagian belakang. Ketika ada beberapa anak buah Jambuka Sakti melangkah datang pemuda itu memegang obor dengan santai saja dan karena pada waktu itu terdapat pula rombongan tamu anak buah Gagak Seto, maka orang-orang Jambuka Sakti mengira bahwa pemuda itupun anak buah tamu.

“Andika anak buah Gagak Seto?” tanya seorang anak buah Jambuka Sakti yang menghampiri bersama seorang teman lain.

“Benar sekali kawan.” kata pemuda itu. “Kami harus menjaga keamanan di luar selagi pimpinan kami berada di dalam.”

“Ha-ha-ha, jangan khawatir, kawan. Siapa orangnya berani datang mengacau tempat tinggal kami?” dua orang itu tertawa-tawa sehingga mereka menjadi lengah.

Dalam detik selagi mereka tertawa itu, pemuda yang memegang obor dengan tangan kirinya itu cepat menyerang dengan pukulan tangan miring. Dua kali tangan kanannya menyambar, tepat mengenai leher dua orang itu yang segera roboh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi!

Setelah merobohkan dua orang itu, pemuda tadi cepat menyelinap mendekati rumah lalu menggunakan obor membakar bagian belakang rumah itu. Sebentar saja api berkobar besar dan pemuda itu lalu berteriak-teriak.

“Kebakaran.......! kebakaran.....! Tolong.......!!”

Dan dia lalu menyelinap memasuki rumah itu! Sebentar saja keadaan menjadi geger. Orang-orang berteriak-teriak dan berusaha memadamkan api yang berkobar melahap bagian belakang rumah di mana disimpan rumput kering makanan kuda sehingga api berkobar dengan cepat.

Ki Klabangkoro sedang berada di dalam kamar di mana Niken Sasi rebah telentang dan terbelenggu kaki tangannya. Tokoh Gagak Seto ini masih marah karena penolakan puteranya dan dia mengambil keputusan untuk menggagahi sendiri gadis itu. Kalau dia sendiri yang menggagahi, kelak tidak mengapalah kalau gadis itu menjadi isteri puteranya! Dia memasuki kamar itu dengan mengenakan topeng yang menutupi seluruh muka kecuali sepasang matanya.

Niken Sasi sudah siuman dari pingsannya. Tubuhnya masih merasa lemah akan tetapi ia telah sadar sepenuhnya. Begitu sadar dan ingat akan segalanya, tahulah ia bahwa ia berada dalam bahaya besar. Ia telah terjebak. Bukan oleh Jinten yang juga ia lihat pingsan karena makanan beracun. Entah apa yang terjadi dengan Jinten. Akan tetapi ia sendiri jelas tidak berada di rumah Jinten, entah di rumah siapa. Ia berusaha untuk melepaskan ikatan kaki tangannya, akan tetapi ikatan itu kuat sekali dan tubuhnya masih lemah. Ketika mendengar gerakan orang memasuki kamarny, ia cepat menengok dan terkejut melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar memakai sebuah kedok menghampirinya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, akan tetapi usahanya sia-sisa belaka.

“Siapa engkau? Mau apa engkau menjebak dan menawanku?” Niken Sasi membentak.

Orang ini tentu tidak ingin dikenal mukanya maka mengenakan topeng pikirnya dan ia memancing agar orang itu membuka mulut karena dari suaranya mungkin ia mengenal orang itu.

Akan tetapi orang itu tidak menjawab, bahkan duduk di tepi pembaringan dan tangan kirinya mulai membelai leher Niken yang putih mulus itu. Tentu saja Niken membelalakkan matanya dan dengan muka merah karena marah ia memaki-maki.

“Anjing babi hina dina! Kalau engkau memang jantan, lepaskan aku dan kita bertanding sampai seorang menggeletak tak bernyawa! Pengecut keji kau kucincang tubuhmu kalau aku bebas!”

Akan tetapi laki-laki itu agaknya tidak peduli. Pandang matanya dingin saja dan inilah yang membuat jantung Niken berdebar-debar penuh ketegangan. Orang ini akan berbuat sesuka hatinya dengan darah dingin!

“Kebakaran.........!!”

Tiba-tiba terdengar teriakan ini yang disusul keteriakan kebakaran dari banyak mulut dan terdengar orang-orang berlari-lari. Mendengar ini, Ki Klabangkoro tentu saja menjadi kaget dan diapun melompat keluar dari kamar itu untuk melihat sendiri apa yang sedang terjadi.

Baru saja Klabangkoro keluar, pemuda itu sudah menyelinap masuk dan cepat dia memondong tubuh Niken Sasi yang masih terbelenggu kaki tangannya.

Melihat pemuda itu dari sinar api penerangan dalam kamar, Niken Sasi mengenalnya sebagai pemuda tadi siang yang dijumpainya dalam warung nasi. Hatinya girang sekali dan ia segera berkata.

“Kisanak, cepat bebaskan kaki tanganku dari belenggu ini agar aku dapat membantumu menghadapi jahanam-jahanam laknat itu!”

Pemuda itu tidak berpikir lama. Benar juga, pikirnya. Biarpun dia tidak takut menghadapi pengeroyokan, akan tetapi kalau dia harus memondong tubuh gadis ini, bagaimana dia akan mampu melakukan bela diri dengan baik?

“Baik, akan kubukakan ikatan kaki tanganmu,” katanya singkat dan dia segera membuka simpul tali yang mengikat kedua kaki tangan Niken Sasi. Bukan main lega dan girangnya hati gadis itu setelah kaki tangannya terbebas dari ikatan. Tubuhnya tidak lemas lagi dan agaknya semua sisa pengaruh obat bius telah lenyap sehingga ia merasa kuat. Cepat ia mengambil keris pusaka Megantoro yang tadi oleh penawannya dicabut dari ikat pinggangnya dan ditaruh di atas meja. Dengan keris itu terselip di ikat pinggang, ia merasa semakin kuat dan siap untuk menghajar kawanan penjahat itu.

“Hayo kita hajar mereka!” Kata Niken Sasi penuh semangat dan tanpa menanti jawaban ia sudah mendahului melompat keluar dari dalam rumah itu.

Dua orang penjaga yang tadinya ikut memadamkan kebakaran dan kini teringat lagi akan tugasnya menjaga tawanan, berlari-lari menghampiri rumah itu dan mereka hampir bertabrakan dengan Niken Sasi di pintu depan. Melihat gadis itu telah bebas, dua orang ini terbelalak kaget dan segera berteriak-teriak

“Tolong.......! Tawanan lolos.......!”

Sebelum dua buah mulut yang berteriak itu sempat tertutup kembali, tiba-tiba Niken Sasi bergerak dan dua orang penjaga itu terpelanting, tak mampu mengeluarkan suara lagi. Melihat dua orang rekan mereka roboh tak bergerak lagi, banyak anak buah gerombolan itu berlari-lari menghampiri sambil berteriak-teriak dan mengacung-acungkan senjata. Setelah melihat gadis tawanan itu terlepas ditemani seorang pemuda tampan, mereka semua dapat menduga bahwa tentu pemuda itu yang membuat kebakaran lalu membebaskan gadis tawanan itu.

Sebentar saja, puluhan orang sudah mengepung Niken Sasi dan pemuda itu. Akan tetapi Niken Sasi tidak menjadi khawatir, bahkan kemarahannya berkobar. Ia meloncat ke depan dan menerjang para pengeroyok itu dan dalam segebrakan saja dua orang telah terpelanting oleh tendangan dan tamparan dara perkasa itu.

Gegerlah para aanak buah Jambuka Sakti. Apalagi ketika pemuda tampan itu juga mengamuk dan sebentar saja sudah merobohkan dua orang pengeroyok lain. Ramailah teriakan mereka sambil melakukan pengeroyokan.

Ki klabangkoro yang masih mengenakan topeng, juga terkejut melihat Niken Sasi telah terlepas dari ikatan dan kini mengamuk bersama seorang pemuda. Karena dia tidak ingin dikenal Niken Sasi, maka dia tidak melepaskan topengnya dan ikut membantu para anak buah Jambuka Saskti. Diapun ingin membuktikan sendiri kesaktian gadis itu, maka begitu menerjang maju, dia mengerahkan tenaga pada pada kedua tangannya dan menghantam ke arah dada gadis itu dengan tenaga dasyat. Tentu saja dia tidak berani mengeluarkan senjata yang ampuh, yaitu Pecut Dahono karena senjata itu tentu akan dikenal oleh Niken Sasi.

Nien Sasi mengenal pukulan ampuh ketika laki-laki bertopeng yang tinggi besar itu menyerangnya. Cepat iapun menggerakkan tangan kanannya, memutar dari kiri ke kanan setengah lingkaran menangkis pukulan ke arah dadanya itu.

“Dukkk.........!”

Niken Sasi merasa betapa lengannya yang menangkis tergetar hebat, akan tetapi penyerangnya juga terhuyung ke samping. Bukan main kagetnya hati Klabangkoro karena tadi dia telah mengerahkan seluruh tenaganya dan ternyata tangkisan itu membuat dia terpelanting dan terhuyung. Dari pertemuan tenaga itu saja terbukti sudah bahwa dalam hal tenaga sakti, dia masih kalah kuat oleh gadis ini!

Percayalah dia kini bahwa gadis itu memang benar telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari gurunya, juga melihat tenaganya, sudah pasti ia telah menguasai Hasta Bajra. Gadis ini berbahaya sekali, pikirnya. Kalau saja dapat dinodai sehingga kelak mau diperisteri Gajahpuro, memang hal yang paling baik dan menguntungkan. Akan tetapi, kalau tetap tidak mau diperisteri puteranya, gadis ini memang sebaiknya dilenyapkan saja, dibunuh. Kalau tidak, tentu akan menjadi penghalang baginya.

“Serbuuuu......!Bunuh.........!” Akhirnya dia mengambil keputusan untuk membunuh saja dara yang berbahaya ini. Kalau para anak buah Jambuka Sakti tadinya masih meragu untuk membunuh gadis tawanan itu karena semula mereka dipesan agar jangan menggangu Niken Sasi, kini mendengar teriakan Ki Klabangkoro, cepat mereka memperketat kepungan dan mulai menggunakan senjata tajam untuk menyerang Niken Sasi dan pemuda itu.

Niken Sasi tidak menjadi gentar. Kini ia sudah mengcabut Kyai Megantoro dan mengamuk. Juga pemuda di sisinya mengamuk dan pemuda itu mengeluarkan sebuah senjata aneh, sebatang suling bambu kuning! Akan tetapi suling ini ternyata hebat sekali. Sekali saja ujung suling menotok dan mengenai tubuh seorang pengeroyok, maka orang itu akan terpelanting dan tidak dapat bangun kembali!

Betapapun kuatnya Niken dan pemuda penolongnya, mereka berdua kerepotan juga. Bukan saja orang tinggi besar yang bertopeng hitam itu yang amat hebat kepandaiannya, merupakan lawan yag kuat sekali bagi Niken Sasi, akan tetapi juga beberapa jagoan tingkat atas dari Jambuka Sakti telah pula maju membantu. Mereka berdua telah merobohkan belasan orang pengeroyok, akan tetapi jumlah pengeroyok makin bertambah dan mereka terkepung ketat dan mulai terdesak.

Niken Sasi sama sekali tidak gentar dan hendak mengamuk terus,akan tetapi pemuda itu berseru kepadanya,

“Mari kita pergi!” Dan dia menggunakan kesempatan untuk memegang pergelangan tangan kiri Niken lalu mengajaknya lari secepatnya meninggalkan gelanggang pertempuran.

Niken Sasi hendak membantah, akan tetapi pemuda itu tidak memberi kesempatan kepadanya dan terus menariknya dan mengajaknya berlari cepat. Gerombolan itu melakukan pengejaran. Cuaca sudah mulai gelap dan kedua orang yang melarikan diri itu berhasil meninggalkan para pengejarnya dan tak lama kemudian mereka berhenti di tepi sungai yang banyak ditumbuhi rumput ilalang sehingga mereka tersembunyi.

Barulah Niken Sasi dapat mengucapkan ketidak senangan hatinya.

“Kenapa andika menarik tanganku dan memaksa aku melarikan diri?” Sepasang mata bersinar-sinar dalam keremangan cuaca yang diterangi bulan dan bintang-bintang. Malam itu langit bersih sekali. Sinar bulan tigaperempat sudah muncul di timur, dan dibantu bintang-bintang, sinarnya membuat cuaca menjadi remang-remang dan dingin.

“Keadaan lawan terlalu banyak dan terlalu kuat,”jawab pemuda itu.

“Aku tidak takut!” Bantah Niken Sasi, masih belum hilang kemarahannya.

“Menyelamatkan diri dari pengeroyokan banyak lawan bukan berarti takut. Sebaliknya, nekat melawan pengeroyokan banyak orang dan kemudian tewas dan mati konyol adalah perbuatan orang yang bodoh. Andika tentu tidak mau kalau dikatakan bodoh, bukan?”

Niken Sasi terdiam, menyadari kebenaran omongan pemuda itu dan ia seperti baru teringat bahwa pemuda ini telah menolongnya, melepaskannya dari belenggu. Kalau tidak datang pemuda ini menolongnya, melakukan pembakaran dan melepaskan ikatannya, entah apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia bergidik ngeri kalau mengenang kembali belaian jari-jari tangan orang bertopeng tinggi besar itu pada lehernya, seolah-olah sepuluh ekor ular yang merayap-rayap di lehernya.

“Kenpa engkau menolongku?” Tiba-tiba saja pertanyaan itu diajukan, seperti menodongkan keris di depan dada pemuda itu. Ditanya demikian secara tiba-tiba, pemuda itupun tertegun, akan tetapi pemuda itu tersenyum.

“Kenapa,ya? Kenapa aku menolongmu? Ah, kenapa tidak? Aku melihat seorang ditawan gerombolan lalu aku mebayangi gerombolan itu dan menolongnya. Bukankah itu wajar saja? Apa anehnya?”

“Hemmm........, eh siapa namamu?”

“Namaku? Namaku Joko Kolomurti. Dan engkau siapa?”

“Aku Niken.”

“Niken siapa?”

“Niken saja.”

“Niken Saja? Baiklah, nimas Niken Saja.......”

“Hushh! Bukan Niken Saja, hanya Niken tanpa tambahan apa-apa!” kata Niken Sasi sambil tersemyum karena merasa lucu.

“Ahh, maaf!” Pemuda yang mengaku bernama Joko Kolomurti itupun tertawa.

“Boleh aku menyebutmu nimas, Bukan? Nah, sekarang aku bertanya, engkau datang dari mana dan hendak pergi ke manakah, nimas?”

“Namaku Niken, jangan ditambah nimas segala. Dan akupun akan menyebutmu Joko saja. Aku tidak suka nama lengkapmu itu. Joko, aku datang dari Gunung Ajasmoro dan aku hendak pergi ke pantai Lautan Kidul. Dan engkau sendiri?”

“Ah, aku tinggal dipegunungan Kidul, yaitu di Girimanik bersama ayahku dan para pengikut ayahku. Aku baru saja hendak pulang dari perjalanan merantau yang sering kulakukan. Kebetulan sekali jalan kita menuju ke selatan yang sama. Kalau boleh aku mengetahui, ada keperluan apakah engkau hendak pergi ke pantai Lautan Kidul?”

“Tidak ada hubungannya denganmu.maka tidak perlu kuceritakan.” kata Niken jujur.

Pemuda itu tidak menjadi marah dan bangkit berdiri. “Niken, tidak enak bicara di sini. Tempat ini banyak nyamuk. Mari kita lanjutkan perjalanan ke selatan. Tak jauh dari sini ada sebuah bukit di mana terdapat banyak goa-goa yang dapat kita tempati untuk melewatkan malam.”

“Baiklah, “ kata Niken yang juga bangkit berdiri. Daerah ini tidak dikenalnya, maka kalau ada petunjuk jalan, tentu amat baik baginya. Mereka lalu melangkah perlahan-lahan, dibawah sinar bulan dan bintang-bintang.

“Kalau aku tidak salah sangka, agaknya aku mengetahui apa yang menjadi tujuan perjalananmu ke pantai Lautan Kidul.” kata Joko.

Api unggun yang kemerahan dan dia tersenyum lebar.

“Mudah saja, Niken. Aku adalah orang yang tinggal dekat pantai Laut Selatan, oleh karena itu, apabila terjadi sesuatu yang penting di daerah ini, tentu aku mendengar dan mengetahuinya. Selama berbulan-bulan ini, berbondong-bondong orang gagah, para pendekar dan para petualang, berkeliaran di sepanjang Pantai Laut Kidul. Tujuan mereka semua sama, yaitu untuk mencari keris pusaka Tilam Upih yang kabarnya pada waktu ini akan muncul dari pantai Lautan Kidul. Nah, melihat bahwa engkau juga seorang dara pendekar, apa sukarnya menebak apa yang menjadi tujuanmu datang ke daerah ini?”

Niken bernapas lega dan duduk kembali. Sejenak mereka saling pandang dari sepasang mata Joko keluar sinar kagum penuh pesona. Ditempa sinar api unggun yang kemerahan,wajah dara itu ampak semakin cantik jelita! Niken juga harus mengakui bahwa pemuda yang duduk di depannya ini adalah seorang yang tampan dan gagah.

“Ah, begitukah? Maafkan kalau tadi aku menyangaka engkau memata-matai aku. Kiranya banyak orang yang mencari Tilam Upih? Joko, dugaanmu memang tepat. Aku memang sedang mencarai keris pusaka itu. Dapatkah engkau membantuku dan memberi keterangan di mana aku bisa mendapatkan Tilam Upih?”

“Tentu saja aku dapat membantumu, Niken. Akan tetapi ada syaratnya. Aku tidak berani membantumu kecuali kalau engkau memenuhi syarat itu.”

Niken mengerutkan alisnya dan menatap tajam wajah tampan itu. Kecurigaannya bangkit kembali.

“Hemm, apa syaratnya?”

“Ketahuilah, Niken. Yang tahu banyak adalah pamanku sendiri. Karena itu, tanpa perkenan ayah, bagimana aku berani membuka rahasia pamanku itu? Nah, kalau engkau mau berkunjung kepada kami, bertemu dengan ayahku, aku akan minta perkenan ayah untuk menceritakan tentang pamanku itu. Dan agaknya tidak sukar bagimu untuk menemukan dan mendapat keris pusaka itu.”

Bukan main girangnya rasa hati Niken. “Itulah syaratmu? Tentu saja aku siap untuk mengunjungi ayahmu. Kalau hal itu menyangkut rahasia pamanmu, tentu saja syaratmu cukup pantas. Mari kita berangkat ke Girimanik untuk menghadap ayahmu!”

Melihat sikap Niken yang begitu bernafsu, Joko tertawa. “Ha-ha-ha, engkau seperti anak kecil melihat mainan. Niken! Tidak semudah kita pergi ke Girimanik malam hari begini. Perjalanan itu amat berbahaya kalau dilakukan di waktu malam. Besok pagi barulah kita dapat melanjutkan perjalanan. Malam ini kita beristirahat dulu disini. Tempat ini bersih dan cukup menyenangkan, bukan?”

Niken terpaksa membenarkan. “Baiklah, aku akan tidur di sudut sini,” katanya.

Sudut itu memang bersih dan lantainya rata, maka Niken yang sejak melakukan perjalanan sudah terbiasa tidur di mana saja untuk melewatkan malam, lalu merebahkan diri miring. Karena pengalamannya tadi menguras tenaganya, dan sisa pengaruh racun pembius masih terasa sedikit menimbulkan rasa kantuk, sebentar saja ia sudah tidur pulas.

Joko memandang sambil tersenyum senang. Setelah menambahkan kayu bakar pada api unggun yang dinyalakan di mulut goa, diapun merebahkan diri miring menghadapi gadis itu dan tertidur.

Niken menggeliat. Tiba-tiba telinganya mendengar lengking suara suling ditiup merdu sekali. Segara ia dapat menangkap tembang yang dimainkan dengan suling itu. Sekar Kinanti! Dan amat indahnya tiupan suling itu. Tembangnya meliuk-liuk bagaikan gelombang Lautan. Ia membuka mata lalu bangkit duduk. Ia mengigil. Hawa ternyata dingin sekali dan api unggun sudah padam. Akan tetapi ada sinar matahari pagi menyentuh mulut goa. Sudah pagi! Dan iapun terpesona memandang kepada pemuda yang duduk di atas sebuah batu di depan goa. Joko kiranya yang meniup suling itu. Dan ia teringat betapa pemuda itu kemarin mengamuk dengan senjata sebatang suling! Agaknya senjata itu adalah sebatang suling sungguhan yang dapat ditiup dan dimainkan. Perasaan gembira menyelinap dalam dada Niken Sasi dan dengan sendirinya ia lalu menembang, mengikuti suara suling itu.

“Esok-esok kok wis ngidung
tembange sekar kinanti......”

Pemuda yang masih meniup suling itu menengok dan Niken juga memandang, dan keduanya berhenti menembang dan meniup suling, saling pandang,terpesona.

“Wah, tiupan sulingmu indah sekali, Joko......” Niken memuji.

“Dan suaramu, bukan main merdu dan indahnya, Niken!” kata Joko pula dengan kagum.

Niken melangkah keluar, menghampiri Joko. Melihat wajah pemuda itu segar, agak basah, dan rambutnya juga agak basah, ia berkata sambil tersenyum,

“Wah, sepagi ini engkau sudah mandi agaknya. Ah, engkau membuat aku jadi merasa malas dan malu. Di mana ada sumber air?”

Joko menudingkan sulingnya ke bawah. “Di sana ada sumber air jernih Niken. Mandilah, aku menatimu di sini, sambil membakar ubi. Engkau suka ubi bakar, bukan?”

“Ubi bakar? Enak sekali. Di mana kau dapatkan ubi?”

“Di tegal sawah sana. Pemiliknya kalau mengetahui, tentu tidak keberatan merelakan beberapa buah ubinya kepada kita.” Kata pemuda itu tersenyum sambil membawa beberapa buah ubi ke dekat api unggun yang masih membara.

Niken juga tertawa lalu gadis itu berlari-lari menuruni bukit. Benar saja terdapat sumber air jernih yang mengucur turun dari celah-celah batu. Tanpa curiga lagi karena tempat itu memang sunyi sekali, ia menanggalkan seluruh pakaiannya lalu mandi dengan berjongkok di bawah air mancur. Air menimpa kepala dan tubuhnya, terasa nyaman dan sejuk bukan main, menimbulkan perasaan senang di hati.

Tak lama kemudian ia kembali kedepan goa dengan rambut terurai. Rambut itu basah dan agar cepat kering harus dibiarkan terurai. Akan tetapi Joko menyambutnya dengan pujian.

“Duh Jagat Dewa Bathara yang Maha Agung! Eangkau mengejutkan aku, Niken. Aku tadi mengira ada bidadari turun dari kahyangan! Begitu cantiknya engkau dengan rambutmu seperti itu! Sungguh mati, selama hidupku belum pernah aku melihat yang seindah engkau........!”

Niken merasa betapa mukanya panas. Ada perasaan malu, akan tetapi juga girang menyelinap dalam hatinya mendengar pujian Joko. Joko sejak kemarin bersikap sopan dan pujiannyapun sopan sehingga tidak membuat ia marah. Berbeda dengan pujian pria lain terhadap dirinya. Pujian yang selalu mengandung nafsu dan kekurang ajaran.

“Hemm, kiranya selain pandai meniup suling, engkaupun pandai merayu Joko.”

“Sungguh mati aku tidak merayu, melainkan bicara menurut kenyataannya, Niken.”

Niken menghampiri sambil tersenyum manis, dan mengebut-ngebutkan rambutnya agar cepat kering.

“Sudahlah, sudah matangkah ubinya?”

“Sudah siap, dan hemm, alangkah sedap baunya! Mari, Niken, silakan.”

Mereka lalu makan ubi. Sesungguhnyalah, lezat tidaknya makanan sebagian besar bergantung kepada keadaan perut. Kesehatan badan dan batin. Kalau nadan sehat, perut lapar dan batin senang, maka makanan sederhana sekalipun akan terasa lezat dan nikmat. Dua orang muda yang sarapan ubi bakar dan hanya minum air sumber itu benar-benar menikmati sarapan mereka sapai kenyang.

Setelah itu, mereka meninggalkan goa dan melanjutkan perjalanan menuju ke salatan. Mulailah mereka mendaki banyak bukit-bukit di selatan dan setelah matahari naik tinggi, tibalah mereka di lereng sebuah bukit. Bukit ini tidak seperti bukit lainnya yang banyak terdapat di situ, nampak hijau subur.

“Itulah Girimanik, tempat tinggal kami, Niken.” Kata Joko Kolomurti sambil menuding ke arah puncak bukit yng nampak hijau lebat penuh pohon.

Niken merasa gembira karena ia akan mendapatkan keterangan tentang pusaka yang sedang dicarinya. Tak disangkanya akan sedemikian mudahnya ia memperoleh keterangan.Tadinya ia sudah merasa bingung ke mana harus mencari Tilam Upih, kalau saja pusaka itu meninggalkan jejak. Untung baginya bertemu dengan Joko, yang bukan saja menyelamatkan dari tangan gerombolan penjahat, akan tetapi juga akan dapat memberi keterangan tentang keris pusaka Tilam Upih.

Setelah tiba di lereng terakhir dekat pucak, tiba-tiba Niken berhenti melangkah dan memandang dengan mata terbelalk kedepan. Di kanan kiri jalan yang mereka lalui kini terdapat arca-arca yang berbaris kiri kanan. Yang membuat Niken terheran dan terkejut adalah melihat arca-arca sebesar dua kali ukuran manusia itu menggambarkan wajah-wajah menakutkan, wajah-wajah raksasa dan iblis menyeramkan sekali.

“Apa itu........?”Tanya Niken kepada Joko.

Pemuda itu tertawa. “Ha-ha-ha, jangan katakan kepadaku bahwa seorang gadis perkasa seperti engkau ini takut melihat arca-arca itu, Niken.”

“Bukan takut, melainkan serem. Arca-arca apakah itu?”

“Ah, itu adalah arca-arca para pengawal dan pengikut Ibu Dewi.”

“Ibu Dewi.......?” Niken tidak mengerti.

“Ketahuilah, Niken. Kami di sini adalah pemuja Ibu Dewi. Kebetulan sekali, malam nanti adalah hari purnama sidhi (bulan purnama penuh) dan seperti biasanya setiap bulan purnama, kami mengadakan upacara pujaan kepada Ibu Dewi. Engkau akan menjadi tamu kehormatan kami, Niken. Karena itu, simpan pertanyaanmu, karena malam nanti engkau akan menyaksikan sendiri dan mengerti.”

0 Response to "Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 15"

Post a Comment