Mayat Kesurupan Roh (Gui Lian Xia Qing) Bab 6: Tangisan & Ratapan

Mode Malam
Mayat Kesurupan Roh
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------

Bab 6: Tangisan & Ratapan

Petangnya, hari belum lagi gelap, Ciok Siu-hun sudah menunggu di tempat yang dijanjikan.

Ia tidak tahu mengapa Coh Liu-hiang berjanji bertemu dengannya di sini, lebih-lebih tak terpikir olehnya bahwa dia akan mengadakan janji pertemuan dengan seorang lelaki yang baru dikenalnya di depan kuburan kakak kandungnya, akan tetapi ia toh datang juga ke sini.

Ia heran mengapa hari ini sedemikian lambat datangnya tabir malam. Untung tempat ini sangat sepi, sepanjang hari juga tiada tampak bayangan orang berlalu di situ, apalagi sekarang hari sudah hampir gelap.

Ia pandang makam kakaknya, seharusnya hatinya merasa pilu, merasa sedih, tapi sekarang bilamana teringat kepada Coh Liu-hiang, hatinya lantas menjadi bahagia, terasa manis urusan lain sudah terlupakan semua.

Kakinya memang masih sakit, namun sapu tangan sutera Coh Liu-hiang yang digunakan membalut luka kakinya itu sudah dibukanya dan disimpannya baik-baik., kini dia memakai sepasang sepatu baru bersulam bunga.

Padahal kakaknya baru meninggal beberapa hari yang lalu dan dia telah memakai sepatu bersulam bunga, tindakan ini sebenarnya tidak pantas bagi orang yang sedang berkabung. Ia pun merasa dirinya salah, tapi sepatu baru itu toh dipakainya juga. Maklumlah, ia merasa pandangan Coh Liu-hiang senantiasa tertuju kepada kakinya, ia merasa bila sekarang dia memakai sepatu baru ini, tentu akan bertambah menarik.

Akhirnya hari mulai gelap, angin pun meniup santer, Ciok Siu-hun merasa tubuhnya membara luar biasa panasnya.

"Mengapa belum nampak muncul? Jangan-jangan dia tidak datang," demikian ia pikir dengan gelisah.

Ia menggigit bibir dan memandang bulan yang baru menongol, pikirnya, "Bila bulan sudah sebatas dahan pohon sana dan dia masih belum muncul, akan kutinggal saja."

Tidak lama kemudian bulan sudah melampaui dahan pohon itu dan dia toh tetap menunggu di situ. Ia menunggu dengan termenung-menung, saat lain ia jadi mendongkol, pikirnya, "Seumpama dia datang sebentar lagi juga, takkan kugubris dia."

Hati berpikir begitu, tetapi ketika bayangan Coh Liu-hiang nampak muncul, maka lupalah segalanya, secepat terbang ia berlari-lari menyongsong ke sana.

Akhirnya Coh Liu-hiang datang juga, malahan membawa pengikut yang tidak sedikit. Baru saja Ciok Siu-hun hendak menyongsong ke sana, mendadak ia urungkan maksudnya.

Dilihatnya Coh Lhi hiang sedang tersenyum padanya, senyuman yang lembut dan manis.

"Untuk apa kau membawa orang sebanyak ini?"tanya Ciok Siu-hun, dengan mendongkol lantas ia berpaling dan melangkah pergi.

Dia berharap Coh Liu-hiang akan menyusulnya, tapi justru tidak terdengar adanya suara orang berjalan, tanpa terasa ia mengndurkan langkahnya, ia ingin menoleh, tapi kuatir ditertawakan orang.

Ia menjadi serba salah, ya mendongkol, ya gemas, ya duka, ya menyesal. Selagi bingung, tiba-tiba terdengar orang tertawa di sampingnya, entah sejak kapan Coh Liu-hiang sudah menyusul tiba dan memandangnya dengan tertawa, tertawa yang menggiurkan, tertawa yang menggemaskan, seakan-akan perasaannya telah dapat diselami olehnya.

Muka Siu-hun menjadi merah. Sebelum Coh Liu-hiang menyusul tiba, ia sengaja berhenti menunggu, setelah Coh Liu-hiang menyusulnya, mendadak ia percepat pula langkahnya dan menerobos lewat di samping Coh Liu-hiang.

Akan tetapi Coh Liu-hiang sempat menariknya dan menegur dengan suara lembut, "Akan kemana kau?"

Siu-hun menggigit bibir dan menjawab dengan mendongkol. "Lepaskan, biarkan kupergi, jika engkau tidak sudi bertemu dengan aku, untuk apa pula engkau mengganduli diriku?"

"Siapa bilang aku tidak suka bertemu dengan kau?" tanya Coh Liu-hiang.

"Jika begitu, anggaplah aku yang tidak suka bertemu dengan kau, nah biarkan kupergi," kata si nona.

"Kalau kau tidak suka bertemu denganku, mengapa kau menungguku di sini?" tanya Coh Liu-hiang.

Muka Ciok Siu-hun bertambah merah, matanya menjadi basah juga, ucapnya sambil membanting kaki, "Ya, betul, aku memang ingin bertemu dengan kau. Lantaran kau tahu aku pasti menunggumu di sini, makanya kau membawa penonton sebanyak ini untuk membuktikan betapa kelihaianmu memikat anak perempuan, dimana-mana kau selalu ditunggu anak perempuan."

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, "Sesungguhnya aku pun tidak ingin membawa serta mereka, cuma ada ada suatu urusan, terpaksa aku harus minta bantuan mereka."

"Urusan apa?" si nona menjadi heran.

"Kuminta mereka menggali kuburan ini," tutur Coh Liu-hiang.

"Apa katamu?" teriak Ciok Siu-hun. "Ap......apa kau sudah gila? Untuk apa kau hendak menggali kuburan kakakku?"

"Ini bukan kuburan kakakmu," jawab Coh Liu-hiang. "Bilamana tidak keliru dugaanku, ini pasti cuma sebuah kuburan kosong belaka."

"Siapa bilang?" teriak Ciok Siu-hun. "Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan peti mati kakakku ditanam di sini......"

"Meski peti mati ditanam di sini, tapi di dalam peti pasti tiada isinya," ucap Coh Liu-hiang sambil mengelus tangan si nona dengan pelahan, lalu katanya pula dengan lembut. "Percayalah, aku pasti tidak berdusta padamu, kalau tidak, tentu aku tidak akan mengajakmu ke sini. Asalkan kau mau menunggu sebentar, tentu akan terbukti apa yang kukatakan memang tidak keliru."

**********

Benar juga, setelah digali, di dalam peti mati memang tiada mayat segala, hanya berisi beberapa potong batu saja.

Lalu kemana perginya mayat di dalam peti ini? Apakah benar mayat kesurupan roh dan telah hidup kembali?

Gemetar sekujur badan Ciok Siu-hun, akhirnya ia tidak tahan dan menangis tergerung-gerung, ratapnya, "O, Cici, kemana perginya Ciciku? Mengapa Ciciku beruban menjadi batu?"

Jerit tangis dan ratapan memilukan itu menggema jauh dan menimbulkan kumandang suara yang seram seperti tangisan setan dan juga seperti tertawa iblis, segala setan iblis di sekeliling tanah pekuburan ini seolah-olah. membanjir keluar dalam kegelapan dan mengejek.

Menghadapi suasana yang seram ini, sekalipun anak murid Kay-pang yang sudah biasa berkecimpung di Kangouw, juga merasa merinding.

Pelahan Coh Liu-hiang merangkul bahu Ciok Siu-hun katanya, "Apakah kau pun menyaksikan sendiri mayat kakakmu dimasukkan ke dalam peti oleh mereka?"

"Ya, kusaksikan sendiri, kusaksikan dengan jelas." jawab Siu-hun.

"Dan waktu peti mati ditutup dan dipantek, juga kau saksikan?"

"Waktu......waktu peti mati ditutup dan dipantek, mestinya aku juga ingin menyaksikan, tapi.....tapi bibi kuatir aku terlalu berduka, aku dipaksa kembali ke kamar."

"Apakah pamanmu sendiri yang memantek peti matinya?" tanya Coh Liu-hiang.

Siu-hun mengiyakan sambil terisak-isak. "Dan sekarang dimana pamanmu?"

"Pada hari kedua setelah Cici dikubur, paman lantas pergi ke kota."

"Kerja apa di kota?"

"Berbelanja tahun baru bagi keluarga Sih." tutur Siu-hun.

Tugas belanja jelas adalah pekerjaan yang enak, di samping dapat pelesir ke kota, juga pasti dapat banyak kesempatan untuk korupsi. Maka terbeliaklah mata Coh Liu-hiang, tanyanya pula, "Apakah tugas belanja tahun baru itu selalu jatuh pada diri pamanmu ""

"Tidak, tahun-tahun sebelumnya paman tidak pernah mendapatkan tugas itu." jawab Siu-hun.

Tersembul senyuman Coh Liu-hiang yang penuh arti dan sukar diraba, ia berguman, "Tahun-tahun sebelumnya tidak pernah, tapi tahun ini tugas baik ini mendadak jatuh padanya......Ehm, menarik, sunguh menarik peristiwa ini.”

Sejenak kemudian, mendadak ia bertanya pula, "Apakah tugas belanja itu diperolehnya dari Sih-jikongcu?"

"Betul, justru lantaran itulah, makanya aku bertambah yakin Cici pasti dicelakai oleh Sih-jikongcu," kata Siu-hun. "Agaknya dia ingin menebus dosa, maka sengaja memberikan tugas baik kepada pamanku.7*

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya, "Mungkin bukan untuk menebus dosa, tapi......"

"Tapi apa?" sela Siu-hun.

"Persoalan ini sangat rumit, andaikan kukatakan sekarang juga kau takkan paham," kata Coh Liu-hiang.

"Aku pun tidak perlu paham, aku cuma ingin tahu kemana perginya mayat Ciciku?" keluh Siu-hun sambil mencucurkan air mata.

Coh Liu-hiang berpikir sejenak, katanya kemudian, "Apabila tidak meleset dugaanku, tidak sampai tiga hari, mayatnya pasti dapat kukembalikan kepadamu."

"Kau...... kau tahu dimana beradanya mayat Ciciku?" Siu-hun menegas.

"Sampai detik ini, aku pun hanya menduga-duga saja dan belum pasti"

"Apakah......apakah mayatnya telah dicuri orang?"

"Ehm, bisa jadi," Coh Liu-hiang mengangguk.

"Siapa yang mencuri mayatnya? Memangnya untuk apa? Kan tiada sesuatu barang berharga yang ikut dikebumikan bersama Cici, apa gunanya orang itu mencuri mayat Ciciku?"

"Sebaiknya sekarang jangan kau tanya terlalu banyak," ucap Coh Liu-hiang dengan suara lembut. "Kuberjanji padamu, dalam waktu tiga hari pasti akan kujelaskan seluruh persoalannya."

*******

Waktu Coh Liu-hiang pulang sampai di Ccng-pwe-san-ceng, sementara itu hari pun sudah hampir terang tanah.

Meski Cu Kin-hou belum lagi bangun, tapi demi mendengar pulangnya Coh Liu-hiang, cepat-cepat ia mengenakan pakaian dan mendatangi kamar Coh Liu-hiang, begitu berhadapan segera ia pegang tangan sahabatnya itu dan berkata, "Saudaraku sepanjang hari tak nampak bayanganmu, sungguh aku sangat cemas. Kemanakah kau sebenarnya? Adakah kau memperoleh susuatu berita?"

Coh Liu-hiang tertawa, ia tidak menjawab pertanyaan itu, malah balas bertanya "Bagaimana dengan Ting-jihiap?"

“Sejak tiba, Ting-loji terus mendesak padaku sehingga aku menjadi kehilangan akal," tutur Cu Kin-hou. "Tapi sampai semalam, entah mengapa mendadak, ia mohon diri dan pergi tanpa bicara apa-apa. Melihat gelagatnya, mungkin terjadi sesuatu di rumahnya."

Setelah menghela napas, lalu ia menyambung pula sambil menyengir, "Saudaraku, bukan maksudku mengharapkan kemalangan orang lain, tapi aku benar-benar berharap terjadi apa-apa di rumahnya sehingga dia tidak sempat mendesak aku lagi."

“Dan bagaimana dengan nona?" tanya Coh Liu-hiang pula.

"Dia mau juga menurut perkataanmu, sepanjang hari dia mengurung diri di dalam kamar, tidak pernah keluar."

"Dia memang anak yang baik," ujar Coh Liu-hiang.

"Akan...... akan tetapi, sebenarnya bagaimanakah urusannya? Apa yang harus kulakukan? Aku kan tidak dapat mengulur waktu terus menerus terhadap pihak keluarga Ting?"

Cu Kin-hou memegang erat-erat tangan Coh Liu-hiang, lalu menyambung pula, "Saudaraku yang baik, betapapun kau harus berdaya upaya bagiku."

“Daya akal sih ada, cuma Jiko tidak boleh terburu napsu, kukira tidak lebih dari tiga hari urusannya pasti sudah dapat dipecahkan," kata Coh Liu-hiang.

"Tiga hari, lagi-lagi tiga hari, memangnya di dalam tiga hari bisa bisa terjadi suatu mukjizat?" Mestinya Cu Kin-hou ingin tanya lebih jelas, namun Coh Liu-hiang sudah mengantuk dan terpulas.

Esoknya pagi-pagi, baru saja Coh Liu-hiang bangun tidur diberitahu bahwa dua orang sedang menunggu di luar.

Seorang anak murid Kay-pang telah diundang ke kamar tamu Cu Kin-hou dan disuguhi teh. Seorang lagi tidak mau menjelaskan maksud kedatangannya, malahan tidak mau masuk ke dalam, hanya menunggu saja di luar pintu.

Coh Liu-hiang mengerut kening demi mendengar keterangan ini, tanyanya, "Bagaimana macam orang itu?"

Pelayan yang menyampaikan laporan itu bernama Cu Seng, orang kepercayaan Cu-jiya, dengan sendirinya juga cekatan dan gesit, ia mengingat-ingat sejenak, lalu menutur, "Wajah orang itupun biasa saja, cuma gerak-geriknya mencurigakan, bahkan tidak mau bicara sejujurnya."

"O," heran juga Coh Liu-hiang.

"Dia mengaku datang dari jauh,'' tutur Cu Seng pula. "Tapi dari pakaiannya yang rapi dan bersih itu, hamba yakin dia pasti berdusta, apalagi kedatangannya juga tidak ada tanda-tanda habis menempuh perjalanan jauh.''

"Menurut pandanganmu, apakah dia mirip orang terlatih?" tanya Coh Liu-hiang.

"Langkahnya tampak enteng, gerakannya juga gesit, tampaknya memang memiliki sedikit kepandaian, tapi jelas bukan orang Kangouw, hamba berani garansi selama hidupnya pasti tidak pernah menjelajah seratus li di luar Siong-kang-hu."

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, "Pantas Cu-jiya suka memuji kecerdikanmu, melulu pandanganmu yang tajam ini sudah jarang ada bandingannya di dunia Kangouw."

"Ah, semua ini kan berkat ajaran Jiya dan Hiang-swe," ujar Cu Seng dengan hormat.

"Dan dimanakah Jiya?" tanya Coh Liu-hiang.

"Jiya telah makan obat penenang pemberian Thio-losiansing dan baru masuk tidur dini hari, maka saat ini belum lagi mendusin," jawab C u Seng.

"Lalu bagaimana dengan nona?"'

"Air muka nona tampak baik baik saja, bahkan juga sudah mau makan, hanya orang dilarang masuk kamarnya sepanjang hari ia pun menutup diri di kamarnya......." Cu Seng menghela napas, kemudian menyambung dengan suara tertahan,"Tentunya Hiang-swe tahu, dahulu nona tidak pernah bersikap begini, tidak pernah menutup diri di dalam rumah , hamba merasa persoalan ini rada........ rada aneh."

"Sebentar boleh kau laporkan kepada nona, katakan besok pasti ada kabar dariku, suruh dia jangan gelisah," kata Coh Liu-hiang setelah berpikir.

"Apakah Hiang-swe sekarang akan menemui saudara cilik dari Kay-pang yang telah menunggu cukup lama itu?" tanya Cu Seng.

"Ya, akan kutemui dia," kata Coh Liu-hiang.

Jelas si gundul sedang gelisah karena sudah menunggu sekian lamanya, ketika melihat Coh Liu-hiang, segera ia menyongsong dan memberi hormat, katanya, "Pekerjaan yang Hiang-swe serahkan kepada kami itu kini sudah ada hasilnya."

"Cepat juga cara kerja kalian," puji Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Kemarin, begitu selesai Hiang-swe memberi pesan, segera Toako menyuruh segenap saudara di seluruh kota mencari berita di setiap pelosok, maka siang tadi masuklah kabar baik."

Coh Liu-hiang tersenyum dan menantikan cerita lanjutannya.

Si gundul lantas menyambung, "Tamu dari daerah utara yang masuk Siong-kang-hu akhir-akhir ini cuma ada beberapa orang saja, rata-rata adalah saudagar yang sudah berumur, tentu bukan orang yang hendak dicari Hiang-swe. Hanya dua orang diantaranya yang rada mencurigakan, yaitu terdiri dari pasangan suami isteri yang masih muda dan juga cakap, konon putra bangsawan kotaraja yang sedang berbulan madu dengan isterinya yang baru dinikahinya. Akan tetapi dari gerak-gerik mereka, biarpun pelayan hotel juga tahu kalau mereka berdusta."

"O, apa dasarnya?" tanya Coh Liu-hiang.

"Sebab, mereka mengaku sedang berbulan madu dan ingin pesiar, akan tetapi sepanjang hari mereka sembunyi di dalam kamar dan tidak berani keluar. Meski dandanan mereka sangat perlente, namun sangat pelit, sedikitpun tiada tanda-tanda tuan muda yang kaya.

"Apakah dia she Yap?" tanya Coh Liu-hiang.

"Menurut buku hotel, nama yang tercatat adalah Li Beng-seng," tutur si gundul. " Tapi nama kan dapat diubah."

"Betul, apa susahnya pakai nama palsu," ujar Coh Liu-hiang. "Di hotel mana mereka tinggal?"

"Hotel Hok-seng di gerbang timur," kata si gundul. "Baiklah, kalian berangkat dulu dan tunggu saja di sana, segera aku menyusul," kata Coh Liu-hiang.

Dia masih harus menemui dulu orang kedua yang telah menunggunya di luar rumah. Yaitu seorang berbaju hijau, berdiri di bawah pohon dengan seekor kuda pulih, tampaknya agak gelisah karena sudah menunggu sekian lama.

Coh Liu-hiang tidak kenal dia, tapi dia kenal Coh Liu-hiang, segera ia menyongsong dan memberi hormat. "Ada keperluan apa?" tanya Coh Liu-hiang.

"Ada urusan penting, majikan mohon bertemu dengan Hiang-swe," jawab si baju hijau.

"Siapakah majikanmu?" tanya pula Coh Liu-hiang.

"Beliau adalah sahabat lama Hiang-swe." kata si baju hijau dengan tertawa. "Bila sudah bertemu, tentu Hiang-swe akan tahu sendiri, kini beliau sedang menunggu di depan sana dan hamba disuruh mengundang Hiang-swe."

"Kenapa majikanmu tidak datang sendiri dan sebab apa pula kau tidak boleh menyebutkan namanya," tanya Coh Liu-hiang.

Namun si baju hijau tidak mau bicara apa-apa lagi, ia hanya munduk-munduk sambil tertawa, namun jelas tertawa palsu, tertawa yang tak bermaksud baik.

Coh Liu-hiang juga lertawa, dengan lekat-lekat ia pandang si baju hijau, katanya kemudian "Sama sekali kau tidak mau menjelaskan apa-apa, cara bagaimana kau tahu aku akan ikut pergi bersamamu?"

"Jika Hiang-swe tidak ikut pergi kan berarti untuk selamanya engkau takkan tahu siapa siapa majikanku, untuk ini pasti Hiang-swe akan sangat menyesal,” ujar si baju hijau.

"Bagus, ternyata majikanmu dapat menyelami ciriku,," kata Coh Liu-hiang sambil tertawa.

"Memang, jika tidak kutemui dia, mungkin aku takkan enak tidur."

"Majikan juga sudah bilang, di dunia ini tiada orang yang tak berani ditemui oleh Hiang-swe dan juga tiada tempat yang tak berani didatangi olehmu," kata si baju hijau dengan tertawa, sembari melepaskan tali tambatan kuda, ia kebut-kebut debu diatas pelana lalu berkata pula sambil membungkuk tubuh, "Silakan Hiang-swe."

"O, kuda ini untukku, lalu bagaimana dengan kau?" tanya Coh Liu-hiang.

Hamba tidak diperlukan lagi, kuda ini sanggup membawa Hiang-swe ke sana," kata si baju hijau dengan tertawa.

Rupanya si baju hijau dapat menyelami watak Coh Liu-hiang, urusan yang semakin berbahaya dan semakin misterius, semakin menarik pula bagi Coh Liu-hiang. Terkadang, meski sudah jelas diketahui di depan adalah perangkap, tapi dia malah sengaja terjun ke sana.

Begitulah lantas Coh Liu-hiang berangkat mengikuti kuda putih itu, ketika melintasi jembatan kecil sayup-sayup dapat didengarnya suara tertawa si baju hijau tadi, suara tertawa vang mengandung ejekan dan jahat.

Siapakah sebenarnya gerangan majikan si baju hijau? Jangan-jangan si pemimpin komplotan pembunuh bayaran ini?

Namun Coh Liu-hiang sangat bergairah, sama riangnya seperti anak kecil yang sedang main sembunyi-sembunyian atau kucing-kucingan, terasa permainan ini cukup merangsang dan menegangkan.

Lari kuda itu sangat kencang, jelas kuda yang sudah terlatih baik. Coh Liu-hiang tidak memegang tali kendali, ia membiarkan kuda itu lari sesukanya, ternyata begitu saja ia menyerahkan nasibnya kepada kuda putih ini, malahan sama sekali tidak merasa kuatir.

Bahkan ia sengaja memejamkan mata, ia berharap bilamana nanti ia membuka mata, maka akan dilihatnya sesuatu atau seorang yang menarik. Lama juga kuda itu berlari ke depan, mendadak kuda itu berhenti, lalu meringkik. Habis itu suasana terasa sunyi senyap, namun ia tetap tidak membuka matanya.

Sejenak kemudian terdengarlah suara kresekan pelahan, suara orang berjalan yang sedang menuju kemari.

Langkah orang ini sangat enteng, sedemikian lirih suara yang ditimbulkannya, meski kakinya menginjak daun kering, kecuali Coh Liu-hiang, mungkin di dunia ini tiada orang yang mampu mendengarnya.

Masih berjarak belasan tindak, terasa oleh Coh Liu-hiang hawa pedang yang tajam, ia tidak terkejut, sebaliknya malah tertawa dan berkata, "Kiranya kau, sungguh tak tersangka oleh ku,"

Yang berhadapan dengan Coh Liu-hiang sekarang ternyata Sih Ih-jin adanya. Berdiri tegak dengan pakaiannya yang putih mulus melambai-lambai tertiup angin, di belakang punggung Sih Ih-jin menyandang pedang panjang bersarung kulit hitam, caranya pedang tersandang di punggungnya itu mempunyai gaya tersendiri, yaitu supaya pedang dapat di lolos pada waktu yang sesingkat-singkatnya.

Sekarang belum lagi pedang terlolos sarungnya, namun hawa tajam pedangnya sudah terpancar keluar. Sorot matanya tiada ubahnya seperti hawa pedangnya, maklum pada hakikatnya ilmu pedang Sih Ih-jin sudah terlatih sedemikian rupa sehingga pedang dan pribadinya seolah-olah sudah melebur menjadi satu.

Dengan tenang dan tajam ia pandang Coh Liu-hiang, jengeknya, "Tentunya sudah kau duga akan diriku bukan?"

"Betul, seharusnya kuduga akan dirimu, sampai-sampai Cu-Seng saja dapat melihat pesuruhmu itu bukanlah oarang yang dari jauh, orang Sih-keh-ceng mendatangi keluarga Cu sudah tentu tidak mau mengatakan namanya."

"Soalnya pertarungan maut sudah dekat waktunya, aku tidak ingin mencari perkara lagi dengan keluarga Cu."

"Tapi di hadapanku mengapa dia juga menolak untuk mengatakan maksud kedatangannya?"

"Sebab dia kuatir kau tidak berani ikut datang kemari"

"Tidak berani kemari? Kenapa tidak berani? Diundang sahabat, betapapun aku pasti akan datang."

"Tapi kemungkinan kau tidak berani datang, sebab kau sudah bukan lagi sahabatku," ucap Sih Ih-jin sekata demi sekata dengan melotot.

Coh Liu-hiang meraba-raba hidungnya, katanya dengan tertawa, "Kan kemarin kita masih bersahabat, mengapa sekarang sudah bukan lagi?"

"Sebenarnya aku ingin bersahabat dengan kau, makanya kau kubawa ke ruangan senjataku, siapa tahu kau...." Tiba-tiba Sih lh-jin menarik muka dan menyambung pula, "Siapa tahu kau tiada harganya untuk dijadikan kawan."

"O, apa kau kira aku.....aku telah mencuri pedangmu?"

"Lantaran sudah kuperlihatkan tempatnya, dengan sendirinya kau sudah tahu jalannya, kalau tidak masakah kau dapat menggerayanginya?".

Hampir merah hidung Coh-Liu-hiang tersosok-gosok, ucapnya dengan menyengir, "Jadi....jadi pedangmu memang benar telah tercuri?"

Sih Ih-jin tidak menjawab, ia menunduk memandangi baju sendiri yang putih itu, lalu berkata pelahan, "Baju ini buatan dua tahun yang lalu dan baru hari ini aku memakainya, sebab baru sekarang kutemukan orang yang harus kubunuh, orang yang pantas kubunuh."

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya, "Dan hari ini setelah aku berkunjung ke tempatmu dan pedangmu lantas dicuri orang, pantaslah bila engkau mencurigai diriku, akan tetapi bila kubunuh diri, maka selamanya engkau pun takkan tahu lagi siapa sesungguhnya pencuri pedangmu itu."

"Siapa lagi kalau bukan kau sendiri?" kata Sih Ih-jin. "Memangnya aku sengaja memfitnahmu? Jika aku sudah berniat membunuhmu, kan tidak perlu mencari alasan segala?"

"Dengan sendirinya kau tidak memfitnahku, tapi ada orang lain lagi yang ingin memfitnah diriku. Dia mencuri pedangmu, tujuannya supaya kau membunuhku, masakah kau tidak pernah mendengar akal 'pinjam golok membunuh orang'?"

"Memangnya siapa lagi yang memfitnah dan ingin membunuhmu?"

"Bicara terus terang, orang yang ingin mencelakai diriku jumlahnya tidak sedikit." tutur Coh Liu-hiang sambil tersenyum getir. "Kemarin aku malahan telah kena disergap orang dan terkena........."

"Kau terluka?" tukas Sih Ih-jin ragu.

“Terluka kan bukan sesuatu kebanggaan, kenapa aku harus berdusta?” jawab Coh Liu-hiang dengan gegetun.

"Siapa yang melukaimu?" tanya Sih Ih-jin.

"Ialah pentolan pembunuh bayaran yang kucari itu."

Sorot mata Sih Ih-jin yang tajam menyapu sekejap di tubuh Coh Liu-hiang, lalu bertanya pula, "Terluka di bagian mana?"

"Punggung," jawab Coh Liu-hiang.

"Hm, masakah orang menyerangmu dari belakang dan Coh Hiang-swe kita yang gagah berani sama sekali tidak tahu?" jengek Sih-Ih-jin.

Memang, hal ini seharusnya tidak mungkin terjadi atas diri Coh Liu-hiang, akan tetapi kenyataan memang sudah terjadi. Ia meraba hidung pula dan menjawab, "Waktu kutahu apa yang terjadi, namun sudah terlambat untuk mengelak."

"Kalau engkau seringkali disergap orang dan masih hidup sampai sekarang, sungguh perjuangan vang tidak mudah," kata Sih Ih-jin.

"Cayhe memang tidak jarang disergap orang, akan tetapi untuk pertama kali inilah aku terluka," ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Apakah pedangnya sangat cepat?"

"Tentu saja cepat, bahkan cepat luar biasa, selama hidupku ini belum pernah melihat pedang secepat itu," tutur Coh Liu-hiang dengan gegetun.

Sih Ih-jin berpikir sejenak, katanya kemudian, "Ada jago pedang secepat itu, ehm, aku jadi ingin bertemu dengannya.”

Kembali Coh Liu-hiang tersenyum, senyuman yang aneh dan penuh rahasia, ucapnya pula, "Jika dia sudah datang ke sini, cepat atau lambat Sih Ih-jin pasti akan bertemu dengannya."

"Lalu apakah kaukira maling pencuri pedang ini ialah dia?"

"Dengan sendirinya hal ini sangatlah mungkin."

"Tapi darimana pula dia tahu kau pernah berkunjung ke ruangan pedangku dan dari mana diketahuinya tempat penyimpanan pedangku?" tanya Sih Ih-jin dengan bengis.

"Inilah yang tak dapat kupahami," jawab Coh Liu-hiang. "Tapi asalkan aku diberi tempo beberapa hari, kujamin pasti dapat menyelidiki duduk perkaranya hingga jelas."

"Kau terluka, untung bagimu........ " Habis berkata, mendadak ia mencemplak ke atas kuda, terus dilarikan secepat terbang.

Coh Liu-hiang terdiam sejenak, lalu gumamnya, "Apabila Li Beng-seng betul samaran Yap Seng-lan, barulah aku benar-benar beruntung.”

*******

Hotel Hok-seng menurut laporan si gundul itu adalah sebuah hotel tua, kamarnya juga ketinggalan zaman, suami isteri Li Beng-seng yang dimaksudkan itu tinggal di sebuah kamar terpisah di bagian belakang.

Waktu Coh Liu-hiang tiba di sana, dilihatnya kamar mereka itu tertutup rapat, bahkan daun jendela juga tidak dibuka, meski di siang hari mereka ternyata lebih suka sembunyi di dalam kamar.

"Mereka tidak keluar?" tanya Coh Liu-hiang kepada si gundul.

"Tidak, pasti berada di dalam kamar," tutur si gundul. "Sejak kemarin selalu ada kawan kita yang mengawasinya."

Coh Liu-hiang lantas menghadap ke sana dan mendadak berseru, "Aha, mengapa Li-heng juga datang ke sini? Apakah tinggal di sini?" Sembari bicara ia terus mendekati pintu dan menggedornya sambil berseru pula, "Buka pintu!"

Segera terdengar suara kresek-kresek di dalam kamar, suara orang mengenakan baju dengan terburu-buru, selang agak lama baru terdengar seorang menjawab dengan kemalas-malasan, "Siapa itu? Kau salah alamat?"

"Aku, Thio-losam" jawab Coh Liu-hiang dengan nama palsu. "Masa Li-heng tidak kenal lagi suaraku?"

Selang sejenak pula barulah pintu itu terbuka sedikit, seraut wajah pucat dengan rambut kusut menongol keluar, itulah seorang pemuda, dia pandang Coh Liu-hiang dengan heran, lalu berkata, "Kau siapa? Aku tidak kenal kau."

"Kau tidak kenal padaku, tapi aku kenal padamu," jawab Coh Liu-hiang tertawa sembari melangkah maju.

Air muka pemuda itu menjadi lebih pucat, cepat ia menarik tubuhnya ke dalam, tetapi sebelum pintu sempat ditutupnya, sebelah kaki Coh Liu-hiang sudah keburu melangkah masuk. ia mendorong pelahan dan pintu itupun terpentang.

Pemuda itu terdorong hinga terhuyung-huyung ke belakang, dengan gusar ia berseru, "He, apakah kau gila? Mau apa kau?"

"Aku mau apa, masa kau tak tahur?" jawab Coh Liu-hiang denagn tersenyum

Di dalam kamar terdapat pula sebuah kamar samping yang pintunya tidak tertutup. Sekilas pandang Coh Liu-hiang melihat tempat tidur terbaring satu orang dan tertutup rapat oleh selimut, hanya tampak sebagian kepalanya saja dan sedang mengintip. Di depan tempat tidur ada sepasang sepatu perempuan dan di atas kursi di ujung sana tertaruh beberapa potong baju dan gaun warna jambon.

Muka si pemuda tadi pucat pasi, segera ia bermaksud merapatkan pintu kamar samping sana, namun Coh Liu-hiang keburu menyelinap maju mengadang di depannya, katanya dengan tertawa, "Kalian sudah kutemukan, untuk apa pula berdusta padaku?"

Si pemuda tampak ketakutan, tanyanya dengan suara gemetar, "Apakah keluarga Lim yang mengutusmu kemari?"

"Keluarga Lim?" Coh Liu-hiang jadi melengak malah.

Mendadak pemuda itu berlutut di depan Coh Liu-hiang dan memohon dengan sangat, "O, hamba memang pantas mampus, mohon Toaya suka memberi jalan hidup bagi kami...."

Mendadak perempuan di tempat tidur tadi melompat turun, memang masih muda dan tampaknya sangat genit, tapi juga judas, hanya sehelai baju tipis menutupi tubuhnya sehingga hampir tembus pandang, sampai bagian paha juga remang-remang kelihatan.

Namun sama sekali ia tidak ambil pusing, ia menerjang ke depan Coh Liu-hiang, dengan bertolak pinggang ia berteriak, "Jika kau ini utusan keluarga Lim, urusannya jadi lebih mudah lagi. Boleh kau pulang dan bentahukan si tua Lim, katakan aku sudah pasti akan ikut Cia cilik dan takkan pulang lagi ke sana. Meski aku membawa sekotak perhiasan, tapi semua ini adalah pemberiannya Boleh kau pikir, anak gadis seperti diriku rela hidup bersama dia selama beberapa tahun, kalau kuambil sedikit hartanya yang bau ini apakah tidak pantas? Hayo coba katakan ........... pantas tidak?"

Dasar perempuan bawel, cara bicaranya juga seperti berondongan mercon. Seketika Coh Liu-hiang jadi melengak dan serba runyam.

Sekarang jelas diketahuinya dia telah salah sasaran. Pemuda ini bukanlah Yap Seng-lan melainkan 'si Cia cilik' dan nona ini pun sama sekali bukan nona yang diperkirakannya itu. Tampaknya perempuan ini adalah gundik orang she Lim yang minggat bersama gendaknya si Cia cilik ini. Mungkin mereka kuatir ditemukan orang suruhan si tua she Lim, dengan sendirinya mereka tak berani keluar.

Sambil meraba hidung, Coh Liu-hiang bergumam. "Urusan pribadi memang sukar dicampuri orang luar. Tapi kalau kalian ingin hidup dengan baik, kalian harus mencari pekerjaan yang pantas, mana boleh tidur melulu sepanjang hari?"

Muka si Cia cilik menjadi merah, berulang-ulang dia menyatakan terima kasih atas petuah itu.

Coh Liu-hiang melangkah keluar kamar, mendadak seperti ingat sesuatu, ia berpaling dan bertanya pula., "Jika kalian datang dari kotaraja, apakah kalian tahu seorang yang bernama Yap Seng-lan?"

"Yap Seng-lan?" tukas si Cia cilik. "Apakah maksud Toaya si Yap cilik yang suka pegang peran utama di panggung sandiwara Hu-kui-pan itu?"

Jantung Coh Liu-hiang berdebar, tapi ia tetap tenang saja dan menjawab, "Ya, betul, memang dia yang kumaksudkan."

"Dua hari yang lalu baru saja aku melihat dia." tutur si Cia cilik.

"Dimana?" tanya Coh Liiu-hiang cepat.

"Dia seperti tinggal di gang depan sana, nomor berapa hamba tidak jelas, sebab gerak-geriknya kelihatan mencurigakan, seakan-akan kuatir dilihat orang," tutur si Cia cilik.

Dia hanya bercerita mengenai orang lain, tapi lupa pada dirinya sendiri yang juga main sembunyi dan takut dilihat orang.. Habis bicara, waktu dia menengadah, tahu-tahu orang di depannya sudah menghilang.

*******

Keterangan si Cia cilik itu membuat Coh Liu-hiang gembira dan juga geli.

Tanpa terduga telah diperolehnya informasi yang menyenangkan. Dugaannya juga tidak keliru, Yap Seng-lan ternyata betul sudah sembunyi di kota Siong-kang ini, yang tak tersangka olehnya ialah Yap Seng-lan itu seorang pemain sandiwara.

Gang yang ditunjuk si Cia cilik itu cukup panjang, lalu rumah yang manakah Yap Seng-lan bertempat tinggal? Selagi Coh Liu-hiang merasa bingung, tiba-tiba si gundul menepuk dada dan menyatakan dalam waktu dua jam pasti dapat diperoleh keterangan yang positif.

Sementara itu hari sudah hampir gelap. Coh Liu-hiang masuk ke sebuah rumah makan, habis mengisi perut barulah pergi mencari Ciok Siu-hun.

Rumah nona Ciok adalah sebuah rumah kecil yang habis dikapur putih bersih, bahkan daun pintunya juga baru saja dicat. Saat itu Ciok Siu-hun sedang menggiring ayam kembali ke kandang, dia memakai baju kasar, rambut juga tidak tersisir rapi, pakai bakiak, meski tak bersolek, namun cukup menggiurkan.

Coh Liu-hiang tidak lantas menegurnya, dia berdiri di luar pagar rumah dan mengamat-amatinya sejenak, habis itu barulah menyapa, "Nona Ciok, nona Siu-hun!"

Si nona terkejut, cepat ia menoleh, seketika mukanya mejadi merah, tanpa bicara ia terus berlari masuk rumah, setiba di depan pintu baru dia memberi tanda agar Coh Liu-hiang menunggunya di situ.

Tidak lama kemudian barulah Ciok Siu-hun keluar, kini rambutnya sudah tersisir rapi, bajunya juga sudah ganti, sepatu baru bersulam warna merah itu pun dipakainya lagi.

Dengan tertawa Coh Liu-hiang memuji, "Sepatumu ini sangat indah."

Tiba-tiba muka Ciok Siu-hun merah pula, sambil menggigit bibir ia mengomel, "Mau datang kemari, mengapa tak memberi tahu sebelumnya?"

"Sebenarnya aku akan datang besok, tapi terpaksa malam ini juga aku harus kemari." tutur Coh Liu-hiang.

"Sebab apa?" tanya Ciok Siu-hun.

"Dimana bibimu?" tanya Coh Liu-hiang

Si nona meliriknya sekejap, lalu menjawab. “Bibi suka bangun pagi-pagi, maka sore-sore ia pun sudah tidur."

"Dapatkah kau keluar?"

"Sudah malam, untuk apa keluar?" walau demikian ucapnya, namun napasnya lantas memburu dan suara rada gemetar.

Terguncang juga perasaan Coh Liu-hiang, tangan si nona lantas dipegangnya. Panas amat tangan yang halus itu.

"Lepaskan," seru Ciok Siu-hun tertahan. “Bila dilihat bibi, bisa jadi kakimu akan diserampang patah olehnya."

"Kenapa takut? Dia kan sudah tidur?" ujar Coh Liu-hiang sambil tertawa.

"Kau..... kau bukan orang baik-baik, aku tidak mau keluar, mau apa lagi kau?" tanya si nona.

"Jika kau tidak keluar, aku pun tidak mau pergi," ujar Coh Liu-hiang.

Siu-hun meliriknya pula, katanya menghela napas menyesal, "Ai, kau benar-benar penggoda kehidupanku, aku......."

Pada saat itulah mendadak dari dalam rumah ada seorang berseru, "Siu-hun, apakah ada tamu? Kau bicara dengan siapa?"

"O, tidak, dengan anjing." jawab si nona tegang, ia melirik pula sekejap dan tertawa geli sendiri, dicubitnya tangan Coh Liu-hiang, lalu berbisik, " Bila berhadapan denganmu, kutahu pasti konyol!"

Mendadak ia berlari keluar. Memandangi wajah si nona yang manis dengan rambutnya yang terurai, terasa sedap hati Coh Liu-hiang, terkenang olehnya masa remajanya dahulu, ketika diam-diam mengadakan pertemuan dengan anak perempuan tetangga di waktu bulan purnama.

Sementara itu Ciok Siu-hun sudah keluar, tapi hanya berdiri di ambang pintu dan tidak mau mendekat. Coh Liu-hiang lantas mendekatinya dan merangkulnya serta menggigitnya pelahan.

"Ap..... apa yang kau lakukan?" omel si nona,

"Barusan bukankah kau bilang aku ini seekor anjing, kan biasa anjing menggigit orang" ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Ya, kau bahkan anjing liar," ujar Ciok Siu-hun sambil menggigit bibir.

Mendadak Coh Liu-hiang menggonggong menirukan anjing menyalak, Ciok Siu-hun mengikik tawa terus berlari ke sana serta dikejar oleh Coh Liu-hiang.

Bintang-bintang bertaburan di langit di antara langit dan bumi, penuh diliputi rasa hangat, angin malam meniup sepoi-sepoi, siapa bilang kehidupan ini menderita?

Ciok Siu-hun berlari sambil tertawa, lari dan berlari, akhirnya ia menjatuhkan diri di atas onggokan jerami di samping gudang sana, dengan napas terengah-engah ia menjerit tertawa, "Tolong! Ada anjing gila hendak menggigit orang!"

Coh Liu-hiang sengaja menggonggong satu kali, lalu menubruk maju dan merangkul si nona, katanya dengan tertawa "Hayo, berteriaklah sesukamu. Tidak mungkin ada orang menolong kau. Biar kugigit putus dulu hidungmu, habis itu kupingmu, kemudian kugigit pecah bibirmu....." Siok-hun berkeluh tertahan dan bermaksud mendorong, namun badan terasa lemas, terpaksa ia membenamkan kepala ke pangkuan Coh Liu-hiang sambil berkata, "Ampunilah daku! Aku tidak berani lagi lain kali....." Ia tidak dapat melanjutkan ucapannya karena bibirnya telah tergigit oleh Coh-liu-hiang.

Sekejap itu sekujur badan Siu-hun serasa cair dan tenggelam ke bawah, bumi raya ini seperti telah berubah menjadi danau dan dia tenggelam ke dasar danau.............

Bintang-bintang seolah sedang berkedip kepada mereka, angin malam seperti lagi tersenyum, sampai padi yang mengu ning di sawah itu pun menunduk seakan-akan rikuh menyaksikan cumbu rayu mereka.

Kehidupan ternyata seindah ini......

Entah sudah berapa lama, tiba-tiba Coh Liu-hiang berdiri, katanya dengan suara lembut, "Sudah jauh malam, marilah kita berangkat."

Dengan lemas Ciok Siu-hun berbaring di onggokan jerami dengan pandangan yang sayu, tanyanya, "Hendak pergi kemana lagi?"

"Akan kubawa kau pergi melihat sesuatu, setelah kau lihat tentu kau akan sangat heran dan terkejut," kata Coh Liu-hiang.

Sudah tentu si nona tidak menolak. Maka dibawalah si nona itu oleh Coh Liu-hiang dengan menggendongnya. Siu-hun seperti melayang di awang-awang saja, deretan rumah dan pepohonan seakan-akan terbang lewat begitu saja di sampingnya.

Untuk pertama kalinya ia merasakan permainan yang aneh ini, ia merasa asalkan berada bersama Coh Liu-hiang maka kapan saja dan dimana pun pasti dapat terjadi hal-hal baru dan menarik.

Tidak lama kemudian mereka sudah berada di tengah sebuah taman yang luas, diam-diam mereka menyusuri hutan bambu dan tiba di suatu halaman kecil, tampak sebuah rumah mungil dengan pelita yang berkedip-kedip.

Di dalam rumah tiada orang, hanya ada sebuah peti mati. Lilin sudah lumer terbakar, hanya tersisa setitik api yang bersinar remang-remang sehinggga menambah suasana menjadi lebih sunyi dan seram.

Pada meja sembahyang ada sebuah papan yang tertulis nama yang meninggal, yaitu 'Si In'.

"Apakah tempat ini Si-keh-ceng?" tanya Siu-hun dengna suara rada gemetar.

"Ya," sahut Coh Liu-hiang.

"Untuk apa kau bawa aku ke sini?" tanya si nona.

Coh Liu-hiang tidak menjawab, tapi dia mendorong pintu dan menariknya masuk ke situ. Seketika Siu-hun merasa tubuhnya kedinginan, katanya "Kau ini memang orang aneh, untuk apa kau bawa aku kesini?"

Coh Liu-hiang tertawa, tertawa yang aneh dan penuh tanda tanya, jawabnya, "Supaya kau dapat melihat nona Si."

Keruan Ciok Siu-hun merinding, ucapnya dengan parau, "Ti....... tidak, aku tidak mau melihatnya. Lekas kita pergi....pergi saja."

Tapi bukannya membiarkan si nona pergi, sebaliknya Coh Liu-hiang malah menariknya ke samping peti mati. Saking takutnya, hampir saja Siu-hun menjerit, namun suaranya sukar keluar dari kerongkongan, saking takutnya, sungguh tak terpikir olehnya mengapa Coh Liu-hiang memperlakukannya secara begini.

Dalam pada itu Coh Liu-hiang telah mulai membuka tutup peti mati. Lantaran seluruh perhatiannya sedang tercurah ke dalam peti mati, sehingga Coh Liu-hiang tidak mengetahui ada seorang sedang mengintainya di luar jendela dengan sorot mata penuh rasa benci.

Mendadak Coh Liu-hiang memasukkan tangannya ke dalam peti mati untuk meraba muka mayat. Gigi Ciok Siu-hun sampai gemerutuk saking takutnya, hampir saja ia jatuh pingsan. Baru sekarang ia tahu Coh Liu-hiang benar-benar telah gila.

Tangan Coh Liu-hiang seperti mengusap muka mayat dan mengelotok selapis kulit tipis, habis itu ia berpaling dan berkata kepada si nona, "Coba kemari, apakah kau kenal dia?"

Sudah tentu Ciok Siu-hun tidak mau, ia menggeleng keras-keras dan berucap, "Ti....... tidak....... jangan......."

Namun Coh Liu-hiang membujuknya dengan suara lembut "Jangan takut, cukup kau melihatnya sekejap saja dan segera kau akan tahu untuk apa kuajak kau ke sini."

Sebenarnya masih diliputi rasa takut, tapi rasa ingin tahu mendorongnya melangkah maju. Akhirnya Ciok Siu-hun melongok juga ke dalam peti mati. Tapi hanya sekali pandang saja, mendadak si nona seperti kesurupan setan, ia menjerit keras-keras.

Ternyata mayat di dalam peti itu adalah Cici atau kakaknya yang telah meninggal beberapa hari yang lalu dan menghilang dari peti matinya, ketika kuburannya dibongkar Coh Liu-hiang kemarin.

Tapi sebelum suara jeritan Ciok Siu-hun tercetus, Coh Liu-hiang sempat mendekap mulutnya. Pelahan ia mengelus punggung si nona, sesudah rasa kejutnya tenang kembali barulah ia berkata dengan suara halus, "Jangan bersuara, agar tidak mengagetkan orang di sini, tahu?"

Siu-hun mengangguk, setelah Coh Liu-hiang melepaskan tangannya, air mata si nona lantas bercucuran, katanya dengan terguguk, "Mengapa mayat Ciciku bisa lari ke sini?"

Mencorong sinar mata Coh Liu-hiang. ucapnya pelahan. "Soalnya diperlukan mayat seorang untuk mewakili Si In, kebetulan Cicimu sedang sakit keras, maka pilihannya lantas jatuh atas diri Cicimu."

"Apakah orang....... orang ini telah bersekongkol dengan pamanku?" tanya Siu-hun.

"Jelas," ujar Coh Liu-hiang dengan gegetun. “Tapi maklumlah, siapa di dunia ini yang tidak kemaruk harta? Maka pamanmu juga tak dapat disalahkan."

Seketika Ciok Siu-hun hanya melongo, sungguh sukar di bayangkannya bahwa di dunia ini bisa terjadi hal-hal demikian.

Selang sejenak ia coba bertanya pula, "Jika isi peti mati ini adalah Ciciku, lalu kemana perginya Si In?"

Sekata demi sekata Coh Liu-hiang menjawab, "Bila tidak meleset perkiraanku, selekasnya kau akan bertemu dengannya."

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Mayat Kesurupan Roh (Gui Lian Xia Qing) Bab 6: Tangisan & Ratapan"

Post a Comment

close