Legenda Pulau Kelelawar Bab 10: Api yang Berkobar

Mode Malam
Bab 10: Api yang Berkobar
Seketika Thio Sam melengak, katanya sambil menyengir. "Wah, tampaknya kau seperti dewa saja. cara bagaimana kau tahu akan dia?"

Sudah tentu Coh Liu-hiang tahu. sebelumnya sudah diduganya orang macam Kau Cu-tiang itu pasti akan mengalami nasib demikian.

"Apakah Kau-heng terluka parah?" tanya Coh Liu-hiang.

Kau Cu-tiang merintih perlahan, katanya. "Hiangswe tidak perlu mengurus diriku. memang inilah ganjaranku yang setimpal. Engkau... kalian silakan pergi, Pian-hok Kongcu berada di tingkat teratas saat ini mungkin sedang menjamu tetamunya."

Mendadak seseorang menanggapi dengan nada dingin, "Mereka juga takkan pergi. mereka akan tinggal di sini untuk menemani kau, menemani kematianmu."

Suara orang itu datang dari luar pintu, sukar untuk dilukiskan betapa menakutkan. betapa mengerikan nada suaranya itu, hakikatnya mirip suara tangisan setan di kuburan sunyi di tengah malam buta. Belum habis ucapan orang, serentak Oh Thi-hoa menerjang ke sana. Tapi baru saja Oh Thi-hoa bergerak, pintu penjara sudah tertutup rapat.

Pintu itu adalah pintu batu, tebalnya hampir satu meter, dindingnya jangan ditanya lagi, jauh lebih tebal.

Bila pintu batu itu digembok dari luar. maka tempat ini akan berubah menjadi sebuah kuburan dan rombongan Coh Liu-hiang akan terkubur hidup-hidup di sini.

"Cara bagaimana kau masuk ke sini tadi?" tanya Oh Thi-hoa kepada Coh Liu-hiang.

"Di luar memang ada gemboknya, tapi gembok telah kurusak," jawab Coh Liu-hiang.

"Setelah kau masuk kemari, pintunya kau tutup kembali?" 'Sudah tentu kututup kembali. mana boleh kubiarkan ada orang mengetahui pintunya terbuka?"

"Dan adakah orang tahu kalian masuk ke sini?"

"Di luar tiada penjaga. mungkin mereka yakin tiada orang yang mampu kabur dan penjara yang tertutup rapat ini." "Jika demikian, darimana datangnya orang tadi?" Maka Coh Liu-hiang tak dapat bicara lagi.

"Bisa jadi... bisa jadi orang itu sejak mula sudah menguntit di belakang kalian," tiba-tiba Thio Sam berkata.

"Ai, mungkin....." gumam Coh Liu-hiang. Kembali Oh Thi hoa menjerit, "Mustahil, mana mungkin Coh Liu-hiang tidak tahu dikuntit orang dari belakang. kecuali orang itu adalah badan halus."

"Kau berteriak apa? Di sini memang ada setan, kalau kau menjerit-jerit lagi, mungkin setannya akan mencarimu." kata Thio Sam.

"Aku sendiri hampir berubah menjadi setan, masa kutakut pada setan? jawab Oh Thi-hoa dengan geregetan.

"Eh, siapakah yang masih menyimpan geretan api?" tiba-tiba Thio Sam bertanya.

"Darimana ada geretan api? Jangan lupa, kita ini diciduk orang dari dalam laut," kata Oh Thi-hoa dengan mendongkol.

"Aku punya," tiba-tiba Kau Cu-tiang berkata. "Aku masih menyembunyikan sebuah geretan api di balik kaos kakiku."

"Hah, tidak digeledah mereka?" seru Thio Sam girang.

"Geretan ini buatan 'Pi-lik-tong' (nama pabrik korek api) di kotaraja yang biasa melayani pesanan pihak kerajaan, bentuknya kecil mungil dan tidak takut air," tutur Kau Cu-tiang.

"Betul, aku pun pernah mendengar, konon geretan api sekecil ini bernilai ribuan tahil perak, jarang ada orang yang mampu membelinya," tukas thio Sam.

"Aha, sudah kutemukan, inilah geretannya," seru Kau Cu-tiang.

Tapi mendadak Tang-sam-nio berteriak, "Jangan, tidak boleh menyalakan api di sini."

"Tidak boleh? Apakah kuatir diketahui musuh?" tanya Oh Thi-hoa. "Kita terkurung di sini, apa yang perlu ditakutkan?"

Lalu ia menyambung pula dengan tertawa. "Apalagi aku pun ingin melihat wajahmu, setiap teman baik si kutu busuk mesti kulihat„„"

Kembali Tang-sam-nio berteriak parau. "Tidak, jangan, kumohon dengan sangat, janganlah menyalakan api. jangan!"

Suaranya penuh rasa seram dan takut. Padahal mati saja dia tidak takut. mengapa takut pada cahaya api?

Tiba-tiba Coh Liu-hiang ingat tubuh Tang-sam-nio masih telanjang bulat tanpa sehelai benang pun, Maka diam-diam ia menanggalkan baju luar sendiri dan menyelampirkan di tubuh perempuan itu.

Dengan gemetar Tang-sam-nio berkata pula. "Kumohon dengan sangat, janganlah menyalakan api, aku..... aku takut."

Tapi, waktu itu cahaya api sudah terang.

Begitu sinar api menyala. seketika semua orang terkesiap dan melenggong.

Padahal di tengah kegelapan yang mendekati keabadian ini, sekalipun setitik sinar sudah cukup membuat orang kehirangan setengah mati.

Tapi sekarang wajah setiap orang mengunjuk rasa kaget, heran, ngeri dan haru yang tak terkatakan.

Apa yang menyebabkan timbulnya macam-macam perasaan itu? Pandangan semua orang sama tertuju pada Tang-sam-nio.

Meski tubuhnya sudah dilampiri baju luar Coh Liu-hiang, tapi tetap tak dapat menutupi garis tubuhnya yang gempal dan menarik serta pahanya yang indah itu. Di bawah cahaya api, kulit badannya terlihat seputih salju.

Air mukanya putih pucat seperti kertas, mungkin lantaran sepanjang tahun tidak pernah melihat sinar matahari. Tapi wajah yang pucat itu tampaknya menjadi lebih menggiurkan.

Hidungnya mancung, bibirnya tipis dan mungil, pada waktu bicara juga kelihatan sangat menarik.

Dia benar-benar seorang perempuan cantik. Siapa yang melihatnya pasti akan tertarik. mana bisa merasa takut malah? Sebabnya adalah karena matanya.

Dia tidak punya mata, hakikatnya tidak kelihatan matanya. Kelopak matanya seakan-akan terjahit oleh semacam cara yang ajaib sehingga bagian matannya cuma kelihatan kulit yang rata, kosong, kosongnya keputus-asaan.

Jika dia seorang perempuan yang jamak, perempuan yang buruk rupa, sekalipun tidak bermata tentu orang lain takkan merasa ngeri dan takut.

Tapi dia justru sedemikian cantik sehingga membuat bagian matanya yang kosong dan rata itu menimbulkan semacam perasaan bingung, heran, ajaib dan seram.

Tangan Oh Thi-hoa sampai gemetar. Dia yang menyalakan geretan api tadi. tapi tangkai geretan api itu seakan-akan tidak kuat dipegangnya lagi.

Baru sekarang Coh Liu-hiang paham sebab apa Tang-sam-nio takut cahaya. Baru sekarang ia tahu mengapa perempuan itu lebih suka mati di sini.

Sebab dia memang tak mungkin mendapatkan terang lagi. Seketika tiada seorang pun yang sanggup bicara, tenggorokan setiap orang seolah-olah tersumbat.

"Meng.... mengapa kalian tidak bicara?" dengan suara gemetar Tang-sam-nio bertanya, "apakah..... apakah apinya sudah dinyalakan?"

"O, tidak, belum..." Coh Liu-hiang.menghiburnya dengan suara lembut Hatinva juga gemetar, tapi sedapatnya ia bicara dengan suara tenang. Sebab, dia tidak tega melukai perasaannya.

Mendadak Oh Thi-hoa berteriak, "Sialan, geretan ini, seperti sepotong batu saja, jika bisa meletikkan api, aku mau memakannya bulat-bulat."

Segera Thio Sam menyambung. "Ya, masa geretan begini juga bernilai ratusan tahil perak. sungguh tipuan belaka."

"Tampaknya aku memang tertipu," Kau Cu-tiang menyambung. "Untung aku juga mendapatkannya dari mencuri, umpama tidak berguna juga tidak soal lagi."

Coh Liu-hiang sangat berterima kasih kepada mereka. Betapapun hati manusia memang baik. Dunia ini memang masih hangat.

Barulah Tang-sam-nio menghela napas lega. katanya, "Untunglah di tempat ini tanpa api juga tidak menjadi soal. kutahu tempat ini memang tiada jalan tembus lain. seumpama ada api juga takkan terlihat apa-apa."

Tersembul senyuman manis di ujung mulutnya, tampaknya menjadi semakin lembut. Meski dia tahu tempat ini sudah buntu, tapi dia tidak gentar. Dia memang tidak takut mati, yang ditakutinya hanya kalau Coh Liu-hiang mengetahui 'matanya'.

Seketika darah panas merangsang dalam hatinya, Coh Liu-hiang terus memeluknya erat-erat, katanya dengan suara halus, "Asalkan dapat berada bersamamu, berada bersama kawan-kawanku, tanpa api juga tidak menjadi soal."

Tang-sam-nio mendekap di dada Coh Liu-hiang dan perlahan-lahan meraba mukanya, ucapnya lembut, "Aku juga menyesali sesuatu...... aku menyesal tak dapat melihatmu."

Sedapatnya Coh Liu-hiang menahan perasaannya, katanya, "Selanjutnya kau pasti akan mendapat kesempatan."

Tang-sam-nio menegas.

"Selanjutnya?"

Sebisanya Coh Liu-hiang membuat suara sendiri kedengarannya sangat gembira, katanya, "Ya, selanjutnya pasti ada kesempatan bagimu. Memangnya kau kira kita benar-benar akan mati terkurung di sini? Kuyakin tidak."

"Akan tetapi aku.,.."

"Mau tak mau kau harus ikut bersama kami," ujar Coh Liu-hiang tertawa. "Aku pasti akan membawa serta kau, agar kau dapat melihat diriku, melihat keadaan di dunia luar sana."

Muka Tang-sam-nio tampak berkerut-kerut karena rasa sedihnya. Dia menggenggam tangan sendiri erat-erat sehingga kuku jarinya ambles ke dalam daging.

Nyata sedapatnya dia hendak mengekang perasaan sendiri agar suaranya bisa kedengaran gembira. katanya, "Ya. kupercaya padamu aku pasti akan ikut pergi bersamamu, aku pasti akan melihatmu." Begitu terharu sehingga bagian matanya yang rata kosong itupun tampak gemetar.

Jika ada air mata, saat ini air matanya pasti sudah bercucuran membasahi dada Coh Liu-hiang.

Padahal siapa yang tidak ingin meneteskan air mata bila mendengar suaranya yang mengharukan dan melihat wajahnya yang sedih itu. biarpun hati baja juga pasti akan luluh. Mendadak Oh Thi-hoa tertawa.

Ia telah menggunakan segenap kekuatannya barulah sanggup tertawa, katanya. "Kukira akan lebih baik jika kau tidak melihat dia, jika benar kau lihat dia nanti, kau pasti akan kecewa."

"Seb....... sebab apa?" tanya Tang-sam-nio. "Kukatakan terus terang, dia bukan saja burikan, bahkan...... bahkan lebih buruk daripada siluman," ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa.

Tapi Tang-sam-nio lantas menggeleng, katanya. "Tidak. kalian tak dapat mendustai diriku. kutahu......orang yang baik hati seperti dia, Thian pasti tidak buruk rupa. apalagi......" lirih sekali suaranya seperti orang mengigau, sambungnya pula, "Apalagi seumpama mukanya sangat buruk. kuyakin tiada orang lain yang bisa lebih bagus daripada dia, sebab yang ingin kulihat bukanlah mukanya rnelainnkan hatinya."

Tanpa tertahan Oh Thi-hoa mengusap air matanya. Akhirnya air matanya menetes juga, air mata terharu.

ooooo0000ooooo

Geretan api buatan Pi-lik-tong ini memang terbukti hebat. Apinya terang dan dapat bertahan lama.

Sejak mula semua orang memandang kepada Coh Liu-hiang dan Tang-sam-nio sehingga tidak seorang pun yang mau memperhatikan urusan lain. Baru sekarang Thio Sam melihat di dalam penjara itu ternyata masih ada lagi seorang.

Orang ini ternyata Eng Ban-li adanya.

Hampir saja Thio Sam berteriak kaget tapi segera ia dekap mulut sendiri dan tidak jadi bersuara. Betapapun ia tidak boleh menimbulkan curiga Tang-sam-nio bahwa api telah dinyalakan. Tanpa api masa dapat melihat orang lain berada di sini?

Segera ia mendapat akal, gumamnya, "Eh, entah di sini masih ada orang tidak? Bisa jadi masih ada teman lain di sini."

Oh Thi-hoa lantas paham maksudnya, cepat ia menukas. "Ya. makin banyak kawan. tentu makin baik."

"Siau Oh," seru Thio Sam. "Bagaimana kalau kita merabanya dari kanan dan kiri. kau sebelah sana dan aku dari sini."

"Baik. aku mulai dari kanan sini," sahut Oh Thi-hoa.

Mereka sengaja berjalan perlahan seperti orang sedang meraba-raba menyusuri dindmg hingga mendekati Eng Ban-li.

Eng Ban-li meringkuk di pojok sana, mata terpejam, tapi ujung matanya juga matanya juga berair. Rupanya apa yang terjadi tadi telah disaksikan sem,uanya. cuma sayang dia tak dapat buka mulut. Sebab mulutnya tersumbat. Thio Sam sengaja berseru kaget, katanya, "Hei, benar juga di sini masih ada satu orang, entah siapa dia."

"Apa betul? Coba kurabanya...." tukas Oh Thi-hoa.

"Eh, dan telinganya yang kuraba ini rasanya seperti si telinga sakti Eng-losiansing."

Dalam pada itu Thio Sam telah mengeluarkan benda yang menyumbat mulut Eng Ban-li. Setelah melihat jelas. seketika ia ingin muntah.

Ternyata yang menyumbat mulut Eng Ban-li adalah sepotong tangan, tangan yang berlumuran darah. Waktu ia periksa keadaan Eng Ban-li. ternyata tangan kanannya telah tertabas sebatas pergelangan.

Pian-hok Kongcu itu memang bukan manusia. Manusia mana dapat berbuat sekejam ini? Sungguh luar biasa!

Ujung mulut Eng Ban-li sampai robek karena dijejal kutungan tangan yang jauh lebih besar daripada mulutnya, Begitu sumbat dikeluarkan dan Hiat-to terbuka, segera ia tumpah-tumpah, tapi tiada sesuatu yang dapat ditumpahkan, agaknya perutnya juga tak berisi sehingga tiada yang dapat ditumpahkan.

Oh Thi-hoa menggreget, sungguh jika bisa, ia ingin mengganyang Pian-hok Kongcu mentah-mentah. Ganyang tangannya. Thio Sam membangunkan Eng Ban-li dan menepuknya perlahan. katanya, "Eng-locianpwe, inilah kami, semua berkumpul di sini."

Karena gusar dan dukanya sehingga Thio Sam lupa kata-kata apa yang pantas menghibur jago tua itu. Semuanya berada di sini, kata-kata ini menandakan semuanya telah putus harapan. Eng Ban-li sudah berhenti tumpah-tumpah, darah kering masih lengket di ujung mulutnya Sekian lamanya dia megap-megap, habis itu dia baru menghela napas panjang dab berkata, "Memang sudah kuduga kalian pasti akan masuk ke sini."

"Sudah kau duga? Sebab apa?" tanya Oh Thi-hoa.

"Orang sudah siap sedia menghadapi kita, sejak mulai, setiap gerak gerik kita sudah diketahui orang dengan jelas," tutur Eng Ban-li.

Siapa yang tahu dengan jelas? Pian-hok Kongcu?" tanya Oh Thi-hoa pula.

"Betul, bukan saja dia tahu kita akan datang kemari, bahkan tahu bilakah kita tiba."

"Cara bagaimana dia bisa tahu?"

"Sudah tentu ada orang yang memberitahukan padanya, orang ini sangat jelas mengetahui setiap urusan kita."

Tanpa terasa Thio Sam melototi Kau Cu-tiang.

Cepat Kau Cu-tiang berkata, "Tidak. bukan aku, aku tidak bicara apa-apa, tanpa keteranganku mereka pun sudah tahu, bahkan jauh lebih jelas daripadaku."

Meski yakin dalam keadaan demikian tidak nanti Kau Cu-tiang berdusta, tapi Thio Sam tetap bertanya. "Jika bukan kau, habis siapa? Memangnya siapa yang tahu gerak-gerik kita?"

"Aku pun tidak tahu siapa dia, aku cuma tahu di antara kita ini ada satu orang menjadi agen rahasianya," jawab Kau Cu-tiang. Ia menghela napas gegetun, lalu menyambung pula, "Aku pun tahu ucapanku ini pasti tak dapat kalian percayai, tapi terpaksa harus kukatakan juga."

"Aku percaya padamu," tiba-tiba Coh Liu-hiang menanggapi.

"Kau percaya padanya? Sebab apa?" tanya Thio Sam.

"Yang membunuh Pek Lak pasti bukan dia, juga dia pasti tidak tahu Na-lohujin sama dengan Koh-bwe Taysu. jawab Coh Liu-hiang."

"Apakah kau anggap orang yang membunuh Pek Lak dan orang yang menewaskan Koh-bwe-taysu adalah satu orang yang sama?" tanya Thio Sam pula.

"Ya, juga orang itulah yang mengkhianati kita," kata Coh Liu-hiang.

"Dan kau sudah tahu siapa dia?"

"Sekarang belum kuketahui dengan pasti meski sudah dapat kuterka sebagian."

"Coba jelaskan, biar kami pun tahu," pinta Thio Sam.

"Sesuatu yang belum pasti biasanya takkan kuceritakan," kata Coh Liu-hiang.

Sudah tentu Thio Sam tahu, menghadapi persoalan apa pun juga Coh Liu-hiang selalu berpegang teguh pada prinsipnya itu. Terpaksa ia menyengir dan berkata. "Tapi kalau menunggu sampai kau merasa yakin. tatkala mana mungkin kami tidak dapat mendengarkan ceritamu lagi."

"Tidaklah banyak orang yang mengetahui gerak-gerik kita," ujar Eng Ban-li.

"Kecuali tiga orang yang berada di sini, Selebihnya adalah nona Ko, nona Hoa dan nona Kim. Apalah mungkin satu di antara mereka?"

"Jelas pasti bukan Ko A-lam, tidak nanti dia mengkhianati diriku," segera Oh Thi-hoa berseru.

"Apakah mungkin nona Hoa membikin celaka gurunya sendiri?" kata Thio Sam.

"Sudah tentu tidak mungkin," jawab Oh Thi-hoa.

"Jika demikian, tinggal nona Kim saja yang harus dicurigai," ucap Thio Sam dengan hambar.

"Juga pasti bukan dia," kata Oh Thi-hoa setelah melenggong sejenak.

"Jika bukan mereka bertiga. habis siapa? Apakah kau?" jengek Thio Sam.

Mau tak mau Oh Thi-hoa menjadi bungkam.

Setelah berpikir sejenak. Coh Liu-hiang berkata, "Jelas Ting Hong juga tidak tahu Na-lohujin adalah Koh-bwe Taysu. orang yang mengetahui hal ini terlebih sedikit. Eh, Eng-losiansing. apakah begitu kau sampai di sini lantas terjebak?"

"Hakikatnya belum sampai berbuat apa-apa. begitu mencapai pantai pulau ini lantas tertangkap," jawab Eng Ban-li dengan tersenyum getir.

"Jika baru berada di pantai. tentu kau daput membedakan bentuk tubuh orang itu,' kata Coh Liu-hiang.

"Betul, tatkala itu meski tiada cahaya lampu dan sinar bulan atau bintang sedikitnya lebih terang dari tempat ini."

"Dan dapatkah kau lihat orang itu?" tanya Coh Liu-hiang. "Aku cuma melihat orang itu memakai jubah hitam. muka

nya tertutup kain hitam. tinggj ilmu silatnya sungguh sukar diukur. hakikatnya sama sekali aku tidak mampu melawannya," tutur Eng Ban-li.

"Sungguh hebat, siapakah orang ini?" gumam Coh Liu-hiang sambil berkerut kening.

"Siapa lagi selain Pian-hok Kongcu?" sela Oh Thi-hoa. Ia yakin tebakannya sekali ini pasti kena.

Tak tahunya Eng Ban-li lantas menggoyang kepala, katanya, "Tidak, orang itu pasti bukan Pian-hok Kongcu."

"Darimana kau tahu pasti bukan?" tanya Oh Thi-hoa. "Sebab dia seorang perempuan," tutur Eng Ban-li. "Meski tak dapat kulihat jelas siapa dia. tapi dapat kudengar suaranya."

"Perempuan?" Oh Thi-hoa jadi melengak. "Apa mungkin perempuan yang menyambut tetamu dengan jembatan tali itu?"

"Bukan dia," kata Eng Ban-li. "Meski ilmu silatnya juga tidak lemah, tapi kalau dibandingkan perempuan yang kulihat ini mungkin tiada sepersepuluh bagiannya."

"Hah, begitu hebat," seru Oh Thi-hoa terkesiap. "Tidaklah banyak perempuan yang memiliki kepandaian setinggi itu."

Setelah berpikir agak lama, tiba-tiba Eng Ban-li berkata. "Dia bukan lain daripada orang yang bicara di depan pintu tadi."

Oh Thi-hoa berkerut kening, katanya. "Orang yang bicara tadi juga perempuan? Masa suara perempuan begitu kasar dan tak enak didengar."

"Sebenarnya suaranya tidak begitu," kata Eng Ban-li. "O. sebenarnya bagaimana suaranya? Tentu sudah kau kenal dengan baik bukan?" tanya Oh Thi-hoa.

Air muka Eng Ban-li mendadak berubah sangat aneh, kulit daging mukanya seperti mengejang akibat perasaan takut yang sukar dikatakan. Sampai lama sekali barulah ia berkata pula dengan menyesal, "Ai, aku sudah tua, telingaku sudah tidak tajam lagi, mana dapat kudengar suara orang secara tepat."

"Kau benar-benar tidak dapat mengenali suaranya atau sengaja tidak mau omong?" tanya Oh Thi-hoa pula.

"Aku aku...." bibir Eng Ban-li tampak gemetar dan sukar bersuara lagi.

Mendadak Coh Liu-hiang menyela, "Urusan ini mempunyai sangkut-paut yang sangat luas, jika Eng-losiansing dapat mendengar suaranya, masa tak diceritakannya kepada kita."

"Apapun juga, sedikitnya dia pasti bukan Ko A-lam, Hoa Cin-cin dan Kim Leng-ci, ilmu silat mereka bertiga digabung jadi satu juga tidak setinggi orang itu." ujar Oh Thi-hoa.

"Betul, baru sekarang kutahu dia pasti selalu menguntit di belakangku, tapi sedikitpun aku tidak mengetahuinya," ujar Coh Liu-hiang "Melulu Ginkangnya saja sedikitnya diperlukan latihan tiga puluh lahun lamanya."

"Jika demikian. bukankah dia adalah nenek-nenek yang sudah berusia lanjut?" kata Thio Sam.

"Kaum nenek yang berkepandaian tinggi di dunia Kang-ouw juga ada beberapa orang, tapi tiada seorang pun yang sudi menjadi antek Pian-hok Kongcu. lebih-lebih takkan tahu setiap gerak-gerik kita..." bicara sampai di sini. geretan api yang dipegang Oh Thi-hoa mendadak padam.

Eng Ban-li yang meniup padam geretan api itu. Pada saat yang sama, dengan gerak cepat Con Liu-hiang lantas melompat ke depan pintu.

Hanya mereka berdua saja yang mendengar suara dibukanya pintu.

Betul juga, pintu ternyata dibuka sedikit. Sudah tentu kesempatan ini tidak disia-siakan Coh Liu-hiang.

Tapi baru saja ia hendak menerjang keluar, tiba-tiba seorang menerjang masuk lebih dulu dan menabrak tubuh Coh Liu-hiang, habis itu "blang" pintu batu itu kembali tertutup rapat.

Secepat kilat Coh Liu-hiang lantas memegang pergelangan tangan orang ini. Tapi dimana jarinya menyentuh. ternyata kulit badan yang halus dan licin, hidungnya juga mengendus bau harum pupur. Jelas orang ini pun perempuan.

"Nona Kim?" seru Coh Liu-hiang tanpa pikir panjang.

Gigi orang itu masih gemerutuk karena menggigil, jelas dia baru saja mengalami sesuatu yang sangat menakutkan.

Tapi ia lantas tertawa dan berkata, "Untuk apa kau pegang tanganku? Kau tidak takut Siau Oh akan cemburu nanti?"

Maka geretan api lantas dinyalakan pula.

Kelihatan muka Ko A-lam pucat lesi, rambutnya kusut masai. bajunya juga berdarah. bibirnya tampak pecah sebagian, setiap orang dapat menerka nona ini pasti banyak tersiksa.

Segera Oh Thi-hoa mendekatinya dan berseru, "Mengapa kau pun masuk ke sini?"

Ko A-lam tertawa, jawabnya, "Setelah kutahu kalian berada di sini, mana bisa tidak kujenguk kalian?"

Meski dia sedang tertawa. tapi tertawa memilukan, matanya tampak merah basah.

Oh Thi-hoa memegang tangannya dan bertanya, "Siapa yang menganiaya kau? Apakah kawanan jahanam itu?"

Ko A-lam memejamkan mata. air matanya meleleh. Dengan gemas Oh Thi-hoa berkata pula. "Mengapa mereka memperlakukan kau sekejam ini? Bukankah kau termasuk tamu undangan mereka?"

"Sekarang mereka tahu siapa diriku," tutur Ko A-lam. "Bisa jadi sebelumnva mereka sudah tahu siapa aku."

Oh Thi-hoa menjadi gregetan. katanya. "Apa yang dikatakan Eng-losiansing memang betul. di antara orang-orang kita pasti ada yang berkhianat."

"Akan tetapi bagaimana dengan..... dengan nona Hoa?" tanya Coh Liu-hiang.

Ko A-lam mendengus. "Hm. tidak Perlu kau pikirkan dia lagi, dia pasti takkan datang ke sini."

"Sebab apa?" tanya Coh Liu-hiang.

Ko A-lam membuka matanya, air matanya sudah terbakar kering oleh api amarahnya, dengan gemas ia berkata. "Baru sekarang kutahu, orang yang mengkhianati kita ialah dia!"

Keterangan ini membuat semua orang tercengang, "Orang yang mencuri kitab pusaka Jing-hong-cap-sah-sik adalah dia," demikian tutur Ko A-lam pula. "Mungkin Suhu sudah lama mencurigai dia. maka sekali ini beliau sengaja membawanya keluar, tak tersangka.... tak tersangka...." Sampai di sini ia tidak sanggup menahan kesedihannya, ia terus menangis keras-keras.

Thio Sam membanting kaki. katanya. "Betul, tentunya dia tahu Na-lohujin adalah Koh-bwe Taysu. dengan sendirinya pula dia tahu setiap gerak-gerik kita. tentu juga dia mahir Ti-sim-jiu. sungguh tak terduga kita telah dijual habis-habisan oleh budak kecil ini."

Dengan gemas Oh Thi-hoa menukas. "Mungkin secara tidak sengaja Pek Lak mengetahui rahasianya. maka dia lantas mendahului membunuh Pek Lak. Waktu itu aku memang sudah menaruh curiga padanya."

"Hm, waktu itu tak kudengar kecurigaanmu kepadanya. yang kudengar adalah sanjunganmu. bahwa dia itu nona yang berbudi halus. baik hati, lemah lembut. melihat darah saja tidak tahan. terus pingsan. maka tak nanti berbuat jahat, apalagi membunuh orang."

Dengan mendongkol Oh Thi-hoa melototi Thio Sam sekejap, lalu berkata pula dengan menyesal, "Bicara sejujurnya, permainan budak ini sungguh terlalu hidup, dia seharusnya main sandiwara dan pasti diangkat menjadi bintang panggung."

Ko A-lam berkata pula dengan menangis. "Sebelum wafat. Suhu juga meninggalkan pesan padaku agar waspada padanya, tatkala mana aku pun tidak percaya. maka tidak kukatakan kepada kalian."

"Mungkin dia juga sudah tahu gurumu menaruh curiga padanya. maka dia mempercepat turun tangan keji kepada beliau." kata Thio Sam.

"Selama ini Suhu cukup baik padanya, siapa sangka dia bersekongkol dengan pihak "Pian-hok-to," ujar Ko A-lam.

Keterangan ini membuat semua orang tercengang, "Orang yang mencuri kitab pusaka Jing-hong-cap-sah-sik adalah dia," demikian tutur Ko A-lam pula. "Mungkin Suhu sudah lama mencungai dia. maka sekali ini beliau sengaja membawanya keluar, tak tersangka.... tak tersangka...." Sampai di sini ia tidak sanggup menahan kesedihannya, ia terus menangis keras-keras.

Thio Sam membanting kaki. katanya. "Betul, tentunya dia tahu Na-lohujin adalah Koh-bwe Taysu. dengan sendirinya pula dia tahu setiap gerak-gerik kita. tentu juga dia mahir Ti-sim-jiu. sungguh tak terduga kita telah dijual habis-habisan oleh budak kecil ini."

Dengan gemas Oh Thi-hoa menukas. "Mungkin secara tidak sengaja Pek Lak mengetahui rahasianya. maka dia lantas mendahului membunuh Pek Lak. Waktu itu aku memang sudah menaruh curiga padanya."

"Hm, waktu itu tak kudengar kecurigaanmu kepadanya. yang kudengar adalah sanjunganmu. bahwa dia itu nona yang berbudi halus. baik hati, lemah lembut. melihat darah saja tidak tahan. terus pingsan. maka tak nanti berbuat jahat, apalagi membunuh orang."

Dengan mendongkol Oh Thi-hoa melototi Thio Sam sekejap, lalu berkata pula dengan menyesal, "Bicara sejujurnya, permainan budak ini sungguh terlalu hidup, dia seharusnya main sandiwara dan pasti diangkat menjadi bintang panggung."

Ko A-lam berkata pula dengan menangis. "Sebelum wafat. Suhu juga meninggalkan pesan padaku agar waspada padanya, tatkala mana aku pun tidak percaya. maka tidak kukatakan kepada kalian."

"Mungkn dia juga sudah tahu gurumu menaruh curiga padanya. maka dia mempercepat turun tangan keji kepada beliau." kata Thio Sam.

"Selama ini Suhu cukup baik padanya, siapa sangka dia bersekongkol dengan pihak "Pian-hok-to," ujar Ko A-lam.

"Yang tidak habis kupahami adalah mengapa ilmu silatnya bisa setinggi itu sehingga dengan mudah dapat membinasakan Pek Lak?" kata Oh Thi-hoa.

"Pek Lak itu terhitung apa? ujar Ko A-lam dengan menggereget. "Bahkan sekalipun mungkin bukan tandingannya."

"Apa betul? seru Thio Sam "Padahal budak cilik ini tampaknya tidak tahan angin. masa punya kemampuan sebesar itu?" "Rupanya kalian lupa sesuatu/" ujar Ko A-lam dengan gegetun.

"Sesuatu apa?" tanya Thio Sam.

"Kalian lupa bahwa dia she Hoa," kata Ko A-lam.

"Kenapa kalau dia she Hoa? Masa...." sampai di sini segera Oh Thi-hoa berteriak. "He. jangan-jangan dia keturunan Lak-jiu-siancu Hoa Hui-hong dari Hoa-san-pay kalian itu?"

"Memang betul," jawab Ko A-lam. "Sebelum Hoa-cosu wafat. beliau menyerahkan semua catatan Kungfu yang berhasil dilatihnya itu kepada saudaranya. Sebab semua Kungfu ini adalah hasil jerih payahnya, beliau tidak ingin menelantarkannya dan terbuang begitu saja."

"Dan Ti-sim-jiu adalah salah satu Kungfu Hoa-cosu kalian," tanya Oh Thi-hoa.

"Benar tapi Ti-sim-jiu belum terhitung Kungfu yang paling lihai di antara Kungfu lainnya," tutur Ko A-lam. "Mungkin Hoa-cosu juga merasa Kungfu yang diciptakannya itu terlalu ganas, maka beliau memperingatkan saudaranya agar jangan sembarang melatihnya."

"Beberapa macam kungfu itu memang sudah lama tiada yang mempelajarinya, bahkan ada di antaranya tak pernah kudengar," kata Oh Thi-hoa.

"Tapi entah dengan cara bagaimana Hoa cin-cin berhasil mencuri belajar beberapa macam Kungfu itu, lalu berkunjung ke Hoa-san dan menemui guruku."

"Apakah sebelumnya dia bukan anak murid Hoa-san?" tanya Oh Thi-hoa.

"Baru beberapa tahun terakhir ini dia masuk menjadi murid Hoa-san-pay. lantaran Suhu mendengar dia adalah keturunan Hoa-cosu, dengan sendirinya memperlakukan dia dengan istimewa, sebab itulah Suhu juga mengajarkan Jing-hong-cap-sah-sik padanya."

"O, barangkali demi mendapatkan ajaran Jing-hong-cap-sah-sik itulah dia sengaja masuk ke Hoa-san-pay," kata Oh Thi-hoa setelah berpikir sejenak.

"Kukira memang begitu," kata Ko A-lam. '"Sebab meski beberapa Kungfu Hoa-cosu itu memang lihai. tapi Jing-hong-cap-sah-sik justru merupakan lawan yang mematikan."

"Bisa jadi dia sudah bersekongkol dengan Pian-hok-to sebelum masuk Hoa-san-pay," ujar Oh Thi-hoa.

Dengan sedih Ko A-lam berkata pula, "Cara Suhu menerima murid biasanya sangat keras. hanya lantaran dia keturunan Hoa-cosu, maka Suhu tidak menyelidiki dulu asal-usulnya lebih teliti, kalau tidak, tentu takkan terjadi petaka seperti sekarang."

"Jika demikian, orang yang ditemukan Eng-losiansing semalam, pasti dia juga," kata Thio Sam.

Eng Ban-li tampak ragu-ragu, seperti mau bicara. ragu dan tidak berani diutarakan, juga tidak berani memandang ke arah Coh Liu-hiang. Dia seperti telah berbuat sesuatu kesalahan sehingga tidak berani berhadapan dengan Coh Liu-hiang.

Tapi sejak tadi Coh Liu-hiang hanya diam saja tanpa memberi komentar apa-apa.

Tiba-tiba Kau Cu-tiang menghela napas, katanya, "Sekarang dapat juga kita bikin terang semua persoalan. cuma sayang sudah terlambat."

"Tapi masih ada satu hal yang tidak kumengerti," kata Oh Thi-hoa.

"Hal apa?" tanya Kau Cu-tiang.

"Yaitu kopermu," kata Oh Thi-hoa. "Sebenarnya apa ini kopermu yang berwarna hitam itu? Tentu bukan obat peledak?"

"Obat peledak adalah perbuatan Ting Hong yang diaturnya kemudian, di dalam koperku itu sebenarnya tiada berisi apapun," jawab Kau Cu-tiang.

"Tanpa isi apapun masa begitu berat?" kata Oh Thi-hoa.

"Siapa bilang koper itu berat?" Kau Cu-tiang balas bertanya.

Oh Thi-hoa meraba hidung ucapnya sambil menyengir. "Hah, tampaknya sesuatu yang kita saksikan sendiri belum pasti dapat dipercaya." iendin hclum past;

"Memang." tukas Coh Liu-hiang "Kalau mata saja terkadang tidak diandalkan, apalagi telinga."

Mendadak Eng Ban-li berontak bangun dan menubruk ke arah Kau Cu-tiang sambil berteriak bengis, "Jika kopermu kosong, lalu dimana kau sembunyikan barang rampokanmu?"

Sampai sekian lama Kau Cu-tiang menatap Eng Ban-li, jawabnya kemudian dengan menghela napas. "Aku tidak ingin mati sekarang juga."

"Siapa pun tidak ingin mati." kata Eng Ban-li.

"Tapi kalau kukatakan tempat sembunyi barang rampokan itu, hidupku pasti takkan lama lagi," ujar Kau Cu-tiang.

Selagi Eng Ban-li hendak bertanya pula. mendadak seseorang menanggapi dengan nada dingin. "Kalian memang pintar, cuma sayang. apapun juga kalian tetap tak bisa hidup lama lagi."

Di dalam penjara yang terkurung rapat ini hanya terdapat tujuh orang, yakni Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa. Thio Sam, Eng Ban-li. Kau Cu-tiang. Ko A-lam dan Tang-sam-nio. Tapi kata-kata tadi bukan diucapkan oleh salah seorang di antara mereka.

Suara itu kedengarannya sangat jauh. tapi terdengar dengan sangat jelas.

Seketika mereka melenggong. Tiada seorang pun tahu darimana datangnya suara itu.

Seketika suasana di dalam penjara batu itu menjadi hening sunyi seperti kuburan, sampai detak jantung masing-masing seakan berhenti.

Selang agak lama barulah suara tadi bergema, "Tapi aku tidak perlu terburu-buru membunuh kalian Sekarang kalian tidak dapat melihat apa-apa. Segera akan kubikin kalian juga tak dapat mendengar apapun. Habis itu perlahan-lahan akan kucabut nyawa kalian."

Dari ucapannya, jelas orang itu tidak tahu bahwa di dalam penjara batu ini sudah ada sinar api, terang dia tidak berada di dalam ruangan ini.

Lalu dimanakah dia?

Mendadak Coh Liu-hiang meloncat ke atas, melayang ke atas dinding. segera dilihatnya di pojok ruangan situ tersembul sebuah pipa tembaga.

Mulut pipa ini sangat besar sehingga mirip terompet, lalu mengecil dan ambles ke dalam dinding batu. Suara itu tersiar dari corong pipa ini.

Orang yang bicara itu berada di ujung pipa sana, jelas melalui pipa itu ia dapat mengikuti setiap gerak-gerik di sini, apa yang dikatakan mereka dapat didengarnya dengan jelas.

Eng Ban-li sedang mendengarkan pembicaraan Coh Liu-hiang, mendengarkan dengan cermat, matanya mulai bersinar lagi. Apakah dia mendengar sesuatu yang menarik?

Dalam pada itu Coh Liu-hiang sedang berkata terhadap corong pipa tembaga itu. "Apakah anda Pian-hok Kongcu?"

Dia bicara dengan sangat lambat. sekata demi sekata. suaranya tidak terlalu keras, tapi corong pipa tembaga itu seakan-akan mendengung.

Pihak lawan terdiam agak lama, lalu menjawab perlahan, "Sudah lama kudengar Ginkang Coh-hiangswe tiada bandingannya, Tidak tersangka tenaga dalamnya juga sedemikian tinggi. Bila dapat berkawan denganku, mustahil dunia ini takkan kita kangkangi, cuma sayang ..." Sampai di sini mendadak ucapannya terputus, agaknya dia sedang menghela napas menyesal.

Tapi mendadak suara menghela napas itu berubah menjadi mendenging, semula kedengarannya cumasatu nada, tapi setelah didengarkan lebih cermat seolah berubah menjadi paduan berbagai suara, susul-menyusul dan semakin cepat, semakin melengking dan akhirnya mirip suara beratus bilah senjata saling bergesekan.

Seketika corong pipa tembaga.itu tergetar dan menimbulkan gema mendengung, seluruh gua seolah-olah berguncang, tiada seorang pun yang tahan suara tajam ini.

Coh Liu-hiang hendak menyumbat corong pipa itu dengan tangannya. tapi begitu menyentuh corong itu tangannya juga tergetar hingga kesemutan, sekujur badannya seperti terkena arus listrik, kontan ia jatuh ke bawah.

Oh Thi-hoa juga merasa telinganya seperti ditusuk-tusuk oleh beratus batang jarum. Lalu dari telinga merembes ke hulu hati. tubuhnya seakan terkoyak-koyak. Tangan juga tergetar gemetar. geretan api yang dipegangnya lantas terjatuh.

Maka apapun tak kelihatan lagi, apapun tak dapat dipikir lagi. Segala daya kerjanya telah dihancurkan oleh suara gaib itu. Satu-satunya yang dapat dikerjakannya adalah mendekap telinga dengan kedua tangan. Tapi suara melengking tajam itu masih terus menyusup ke telinganya, ke hulu hatinya.

Kekuatannya seolah-olah runtuh seluruhnya, ia hampir gila, asalkan dapat mengatasi suara itu. dia tidak sayang mengorbankan apapun juga. Suruh mati pun dia rela.

Akan tetapi suara itu justru tidak mau berhenti dan masih terus mendengung.

oooo000oooo

Keadaan gelap gulita, suasana sunyi senyap. Kuping Oh Thi-hoa masih terasa mendengung, namun suara gaib yang menakutkan itu. entah sejak kapan sudah berhenti.

Sekujur badannya basah-kuyup oleh keringat, keadaannya lemah lunglai kehabisan tenaga, dia menggeletak di lantai dengan terengah seperti baru saja mengunjungi neraka dan habis berkelahi dengan kawanan setan, mirip habis bermimpi buruk.

Sampai lama sekali telinganya tak dapat mendengar suara lain. Tapi akhirnya ia dapat berdiri.

Coh Liu-hiang sering bilang tubuh Oh Thi-hoa laksana gemblengan dari baja. Asalkan dia masih bisa bernapas, dia pasti sanggup berdiri.

Tapi bagaimana dengan orang lain? Apa orang lain juga tahan digoda oleh mimpi buruk ini? Oh Thi-hoa coba meraba-raba sekitarnya untuk mencari geretan api. Tapi geretan itu entah jatuh kemana, keadaan begini gelap. cara bagaimana dapat menemukannya?

Pada saat ini dia belum mendengar cerita Coh Liu-hiang tentang caranya mencari pipa tembakau itu, sebab itulah ia pun tidak ingat hidungnya dapat dimanfaatkan untuk mencari geretan itu. Sebab geretan juga ada bau yang khas, yaitu bau belerang. Selagi Oh Thi-hoa merasa bingung cara menemukan geretan itu, sekonyong-konyong api telah dinyalakan. Seseorang tahu-tahu berdiri di depannya dengan tangan memegang geretan yang sudah menyala itu. Ternyata orang ini adalah Tang-sam-nio.

Seketika Oh Thi-hoa melengak dan memandangi perempuan ini dengan termangu-mangu, hingga lama sekali ia tak sanggup bersuara.

Wajah Tang-sam-nio tidak mengunjuk perasaan apapun juga, ucapnya kemudian, "Geretan api ini sangat bagus. memakai belerang kwalitas paling tinggi, maka baunya juga harum."

Tiba-tiba cahaya api terlihat bergoyang-goyang.

Hah. darimana datangnya angin yang membuat sumbu api bergoyang?

Cepat Oh Thi-hoa berpaling. seketika ia hampir berteriak saking kegirangan.

Pintu penjara ternyata sudah terbuka. Coh Liu-hiang juga bersandar di tepi pintu dengan mata terpejam seperti sedang tidur. Sekujur badannya juga basah kuyup, kelihatan sangat lelah, namun senyuman kecil terhias di ujung mulutnya.

Di depan pintu ada pula dua orang berkedok hitam, tangan masing-musing memegang pentung, namun pentung sudah patah dan kedna orang itupun rebah dengan meringkuk. Agaknya mereka memburu ke sini ketika melihat pintu penjara mendadak terbuka, tapi begitu dekat. segera mereka roboh tergetar oleh dengungan suara yang menakutkan itu.

Pintu batu tebal ini terbuka oleh getaran suara maut itu, ditambah lagi getaran tenaga dalam Coh Liu-hiang yang kuat.

Betapapun orang yang menakutkan, asalkan paham cara bagaimana menaklukkan dia, maka dia akan menjadi budak.

Betapapun tenaga yang menakutkan, asalkan tahu cara bagaimana menguasainya, maka akan dapat diperalat sesukanya.

Teori ini cukup dipahami Coh Liu-hiang selama ini.

Dan dimanakah Thio Sam? Ternyata si jaring kilat ini juga meringkuk di pojok ruangan sana, mirip udang kering. Dan Ko A-lam berbaring di bawah kaki Oh Thi-hoa. ia sudah dapat merangkak bangun.

Daya tahan kaum perempuan akan siksaan memang lebih kuat daripada lelaki.

Yang paling konyol adalah Eng Ban-li. Kepalanya sudah bocor karena ditumbukkan ke dinding oleh dia sendiri, kedua daun telinga palsunya juga terbetot lepas. Sebelah tangannya sudah buntung, dengan sendirinya ia tidak dapat mendekap telinganya dengan dua tangan ketika terjadi serangan suara maut.

Apalagi telinga buatan Eng Ban-li itu terbikin dari semacam logam campuran yang peka suara, seumpama tangan mendekap telinga juga sukar menolak dengungan gelombang suara yang hebat itu. Sedangkan satu-satunya tangan yang masih tersisa itu digunakan untuk mencengkeram Kau Cu-tiang.

Kau Cu-tiang adalah buronannya, mati atau hidup harus menangkapnya. Tapi Kau Cu-tiang sendiri juga jatuh pingsan.

Perlahan Tang-sam-nio menyerahkan geretan api tadi kepada Oh Thi-hoa, lalu membalik tubuh dan melangkah keluar.

Coh Liu-hiang mendusin, ia menarik tangan Tang-sam-nio, katanya dengan lembut, "Kau marah karena kubohongi kau?"

Tang-sam-nio tertawa, katanya, "Mana bisa kumarah padamu, kau.... kau kan bermaksud baik." Dia tertawa dengan lembut. juga sangat memilukan, sambungnya pula, "Kalian semua orang baik. selamanya aku akan berterima kasih..."

"Jika begitu. mengapa.... mengapa kau pergi?" tanya Coh Liu-hiang.

Tang-sam-nio termenung agak lama. jawabnya kemudian dengan agak pedih, "Apakah mungkin aku tinggal bersamamu? Kau.... kau tidak muak melihatku?"

"Aku tidak melihat apa-apa. yang kulihat hanya hatimu," ujar Coh Liu-hiang, "Aku cuma tahu, hatimu cantik melebihi siapa pun juga. dan itu sudah cukup."

Gemetar tubuh Tang-sam-nio, mendadak ia menjatuhkan diri ke pelukan Coh Liu-hiang dan menangis keras.

Tangisan tanpa air mata. Air matanya sudah lama kering. Tapi air mata Oh Thi-hoa hampir saja menetes. ia berdehem beberapa kali, lalu berseru. "Thio Sam, kau tak perlu pura-pura mampus, untuk apa kau meringkuk di situ?"

Thio Sam menghela napas, jawabnya, "Aku tidak pura-pura mampus, keadaanku memang tidak banyak berbeda dengan orang mampus. Silakan kalian pergi saja. sungguh aku tidak sanggup berjalan lagi, apalagi Eng Ban-li dan Kau Cu-tiang juga perlu orang yang menjaganya."

Mendadak Eng Ban-li membuka matanya. sorot matanya tampak buram. ia memandang sekitarnya dengan bingung dan mendadak berteriak. "Goan......" Hanya satu kata saja ia bersuara. lalu mukanya berkerut-kerut. badan juga menggigil. jelas ketakutan luar biasa seakan-akan melihat setan. Habis itu ia lantas jatuh pingsan lagi.

oooo000ooooo

Begitu keluar dari penjara batu ituj, geretan api itu tidak dapat digunakan lagi.

"Jalan ini pernah kulalui, kau ikut saja padaku," kata Ko A-lam sambil menarik tangan Oh Thi-hoa dan berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Coh Liu-hiang dan Tang-sam-nio berjalan di sisi lain.

Dengan demikian kekuatan mereka memang terpencar tapi semakin kecil Juga resiko mereka akan diketahui musuh. Seumpama diketahui musuh juga akan dapat saling memberi bantuan.

Anehnya. sepanjang jalan. hampir tidak pernah mereka menemui peronda musuh.

Bisa jadi Pian-hok Kongcu mengira mereka sudah terkurung mati di penjara itu sehingga penjagaan menjadi kendor.

Sekonyong-konyong di tengah kegelapan. muncul sederetan api setan, api fosfor.

Api itu gemerdep dan memancarkan bentuk tulisan yang berbunyi, "Akulah pembunuhnya!"

Oh Thi-hoa merasa tangan Ko A-lam mendadak berubah dingin. ia merasa tangan sendiri juga berkeringat.

Siapa pembunuhnya?

Darimana datangnya api setan ini? Apakah arwah Koh-bwe Taysu penasaran dan masih gentayangan di sini?

Selagi Oh Thi-hoa hendak memburu ke sana, mendadak deretan api itu melayang ke atas. pada saat itu pula ia merasa pinggangnva kesemutan, beberapa pentung sekaligus menutuk tubuhnya. Hiat-to sekitar punggungnya kontan tertutuk.

Ternyata setiap gerak-geriknya tetap tak dapat mengalbui Pian-hok Kongcu, kemana pun dia pergi, di situ selalu ada orang menunggu kedatangannya.

oooo000oooo

Sementara itu Coh Liu-hiang sudah melayang ke atas, ke tingkat kedua. Entah mengapa, gerak-geriknya seperti rada kasar, bisa jadi lantaran dia tahu kemana pun perginya toh pasti akan diketahui musuh. jadi tiada gunanya meski berlaku hati-hati.

Di tingkat kedua itu ternyata juga tidak menemukan peronda atau penjaga.

Baru saja Coh Liu-hiang merasa lega, mendadak terasa angin mendesir, suara kain berkibar. Suaranya sangat perlahan.

Cepat Coh Liu-hiang mendorong Tang-sam-nio ke samping. Dalam pada itu orang sudah menubruk tiba, sekaligus tiga jurus serangan dilontarkan, suara angin tajam seperti terpancar dan beberapa penjuru dan sekaligus menyerang Coh Liu-hiang.

Setelah tiga jurus serangan dihindarkan, Coh Liu-hiang tahu pendatang ini adalah lawan yang paling menakutkan dibandingkan musuh yang pernah ditemuinya selama hidup ini. Bahkan lebih menakutkan daripada Ciok-koan-im dan Sih Ih-jin, sebab dapat dirasakannya setiap jurus serangan orang itu penuh rasa dendam kesumat, seakan-akan Coh Liu-hiang ingin diganyangnya mentah-mentah. Malahan seperti bila perlu ia pun bersedia gugur bersama lawan apabila jiwa Coh Liu-hiang tidak berhasil direnggutnya.

Serangan nekat begini bukan saja menakutkan, tapi juga berbahaya. Menghadapi serangan maut begini, hakikatnya tiada pilihan lain di antara mati dan hidup...

oooo000oooo

Sementara itu ada tingkat ketiga, yaitu tingkat teratas.

Jika ada cahaya, maka orang yang berduduk di tingkat ketiga ini akan dapat melihat dengan jelas segala sesuatu yang terjadi di tingkat kedua dan tingkat bawah

Tapi suara pembicaraan di tingkat ketiga ini tak terdengar di bawah sebab tingkat ketiga ini teramat tinggi, mirip sebuah panggung sandiwara, cuma orang yang berduduk di panggung sandiwara ini bukan sedang main sandiwara, melainkan sedang menonton sandiwara.

Tapi sekarang, di tengah kegelapan begini dengan sendirinya mereka tidak dapat melihat apa-apa.

Yang dilihat mereka hanya titik-titik api setan yang gemerdep kehijau-hijauan, berputar-putar dan melompat-lompat.

Tapi di situ juga tiada suara orang bicara, yang terdengar hanya suara pernapasan yang ramai, jelas orang yang berdiam di sini tidaklah sedikit.

Api setan itu masih terus berloncatan kian kemari dengan cepat, terkadang seperti melayang ke kanan, entah mengapa sekali membelok, tahu-tahu sudah berada di sebelah kanan. Kemudian titik-titik api setan itu seakan menyambung menjadi satu garis, satu garis yang meliuk aneh. Tapi bila api setan itu menyorot ke bawah, maka terbentuklah tulisan yang berbunyi. "Akulah pembunuhnya."

Entah sudah berapa lama, akhirnya seorang tidak tahan dan bertanya, "Apakah huruf-huruf itu ditulis di tubuh orang dengan fosfor?"

Lalu seorang menjawab dengan tertawa, "Haha, betapapun pandangan Cu-siansing memang sangat tajam."

Suara orang ini besar serak, tapi membawa semacam wibawa dan kekuatan yang berpengaruh. seakan-akan satu patah katanya saja sudah dapat menentukan mati hidup orang banyak.

Jelas itulah suara Pian-hok Kongcu.

Cu-siansing yang disebut itu berkata pula dengan gegetun, "Wah bilamana betul huruf itu tertulis di tubuh manusia, maka gerakan orang itu sungguh cepat luar biasa."

"Apakah Cu-siansiag dapat menerka siapakah dia?" tanya Pian-hok Kongcu.

Cu-siansing itu berpikir sejenak, lalu berkata, "Di seluruh dunia ini, tidaklah banyak orang yang memiliki Ginkang sehebat itu. Cayhe memang teringat pada seseorang, cuma, rasanya orang itu bukanlah dia."

"Siapa yang diingat oleh Cu-siansing?" tanya pula Pian-hok Kongcu.

"Coh Liu-hiang, Coh-hiangswe," jawab Cu-siansing. "Dia memiliki gerakan cepat dan aneh begitu. kecuali Coh-hiangswe rasanya sukar dicari lagi orang kedua."

Pian-hok Kongcu tertawa, katanya, "Jika demikian, mengapa Cu-siansing bilang orang ini bukan dia?"

Cu-siansing berpikir pula, katanya kemudian, "Jika Coh-hiangswe, mana bisa di tubuhnya ditulis orang lain?"

"Bisa jadi huruf-huruf itu tidak ditulis oleh manusia, tapi ditulis oleh arwah atau setan," ucap Pian-hok Kongcu dengan perlahan. Suaranya mendadak berubah menjadi hambar dan tak enak didengar.

Cu-siansing seperti mengkirik, lalu berkata pula dengan parau, "Arwah? Setan? Memangnya arwah siapa?"

"Sudah tentu arwah orang yang dibunuhnya," kata Pian-hok Kongcu.

"Arwah orang yang dibunuhnya? Masa Coh-hiangswe juga membunuh?" seru Cu-siansing.

"Jika benar dia tidak pernah membunuh orang. mengapa ada arwah gentayangan yang mengintil dia?" kata Pian-hok Kongcu dengan hambar.

Cu-Siansing menghela napas panjang, agaknya dia dapat menerima keterangan itu. Sebab orang yang masih hidup hampir tidak rnungkin meninggalkan tulisan di tubuh Con Liu-hiang tanpa setahu 'Pendekar Harum' ini. Siapa pun tahu Ginkang Coh Liu-hiang sangat hebat, daya rasanya juga sangat peka, reaksinya cepat, mana mungkin orang dapat menyentuh tubuhnya di luar tahunya?

Selang agak lama barulah Cu-siansing itu mengemukakan perasaannya, katanya. "Melihat gelagatnya. sekarang dia seperti lagi bergebrak dengan orang."

"Ya, tampaknya memang begitu," ujar Pian-hok Kongcu.

"Dan siapakah lawannya?" kata Cu-siansing. "Tampaknya paling sedikit mereka sudah bergebrak ratusan jurus. Orang yang mampu menahan ratusan jurus serangan Coh Liu-hiang sudah tidak banyak lagi di dunia Kangouw, tapi sampai saat ini belum nampak orang ini akan dikalahkan."

"Bisa jadi dia bukan manusia," kata Pian-hok Kongcu.

Cu-siansing itu seperti mengkirik pula dan berkata, "Bukan manusia, habis apa?"

Suara Pian-hok Kongcu menjadi semakin samar-samar, katanya, "Arwah...... arwah yang hendak menagih nyawa kepada Coh Liu-hiang."

Setelah ucapan ini, suara pernapasannya seakan menjadi ringan. Pernapasan sementara orang bahkan berhenti.

Arwah! Setan!

Istilah itu sebenamya cuma khayal dan kosong. sebab siapa pun tidak pernah melihat setan, tapi sekarang, di tengah kegelapan yang menakutkan begini. kedua istilah itu mendadak menjadi kenyataan.

Ada yang rnencengkeram kencang leher baju sendiri hingga napas pun terasa sesak.

Asalkan ada setitik cahaya api saja. mereka takkan ketakutan sehebat ini. Sebab setan biasanya datang bersama kegelapan. hanya di tempat yang tiada cahayanya, di situ baru ada setan.

"Di tengah kegelapan ini entah tersembunyi berapa banyak setan atau arwah gentayangan yang hendak merenggut jiwa!"

Orang yang hadir di sini dengan sendirinya mempunyai kedudukan baik dan terhormat, sebabnya mereka menanjak ke atas sekarang. dengan sendirinya mereka pun pernah membunuh orang. entah satu. entah sepuluh.

Dan sekarang. apakah arwah orang yang pernah menjadi korban mereka itupun datang kemari? Apakah juga akan menagih nyawa kepadanya?

Soal 'setan' memang aneh, jika tidak memikirkan dia, maka dia takkan ada. Sebaliknya. jika dipikir, maka makin banyak setan akan muncul, makin banyak dipikir tentu juga makin takut.

Agaknya Pian-hok Kongcu sudah dapat menerka apa yang sedang dipikirkan orang-orang itu, mendadak ia berkata pula, "Apakah para hadirin tahu, bagaimana bentuk setan ini?"

Tiada seorang pun yang mau menjawab pertanyaan itu.

Selang agak lama baru ada seorang menanggapi dengan tergagap, "Tidak.-.. tidak kelihatan, siapa pun tak melihatnya."

"Masa?" ujar Pian-hok Kongcu. "Asalkan kau ingin melihatnya, pasti akan dapat terlihat." Lalu ia menyambung pula dengan perlahan, "Arwah setan ini tampakrvya setan perempuan, bahkan mati belum terlalu lama, maka tubuhnya masih penuh berlumuran darah. matanya juga masih mengalirkan darah..."

Dalam kegelapan terdengar suara gemeretuk gigi beradu.

Tapi sampai di sini juga ucapan Pian-hok Kongcu lantas berhenti mendadak. Titik api fosfor tadi mendadak lenyap.

Apa yang terjadi? Apakah Coh Liu-hiang sudah roboh?

Jika demikian, setelah setan perempuan itu merenggut nyawa Coh Liu-hiang, nyawa siapa pula berikutnya?

Jantung setiap orang berdebar keras. tapi tiada seorang pun yang berani buka suara.

Mendadak Pian-hok Kongcu bertepuk tangan. katanya, "Coba lihat di bawah."

Seorang lantas mengiakan. Itulah suara Ting Hong.

Lalu terdengar suara kesiur angin melayang cepat ke sana, habis itu lantas melayang kembali dengan cepat luar biasa.

"Di bawah memang tiada orang," terdengar Ting Hong melapor. Suaranya penuh rasa seram dan jeri.

"Tidak ada orang? Kemana perginya regu ronda kedelapan puluh tiga?" tanya Pian-hok Kongcu.

"Juga tidak ada di sana," jawab Ting Hong.

Pian-hok Kongcu termenung agak lama, katanya kemudian, "Orang-orang yang kuminta apakah sudah dibawa ke atas?"

Ting Hong mengiakan.

Setelah berpikir lagi agak lama, mendadak Pian-hok Kongcu berseru. "Baiklah, lelang kedua dimulai."

oooo000oooo

Bahwa Coh Liu-hiang dan 'arwah' itu lenyap. Sungguh aneh. Kemanakah mereka? Apakah berkawan menuju neraka? Suara napas orang banyak mulai normal kembali. Dengan perlahan Pian-hok Kongcu bersuara pula, "Dari jauh kuundang kalian ke sini, meski belum tentu dapat memenuhi harapan kalian dan pulang dengan rasa puas, tapi sedikitnya akan kubuat kalian tidak merasa perjalanan ini sia-sia."

Dengan tertawa Cu-siansing lantas menanggapi, "Apapun juga paling tiak kami telah menambah pengalaman dari apa yang kami lihat tadi.

Ucapan ini sama sekali tidak diplomatis, meski sekedar basa-basi saja, tapi tidak kena sasaran, sebab hakikatnya dia juga tidak melihat apa-apa, tapi sengaja bilang banyak melihat dan menambah pengalaman segala.

Pian-hok Kongcu tertawa, katanya pula, "Pada lelang pertama tadi sudah kujual kitab pusaka Tay-jiu-in milik Uikau (agama Lama) dan resep tiga belas macam racun buatan keluarga Tong di Sujwan, serta rahasia pembunuh yang menggegerkan kota Limsia lima tahun yang lalu, kuharap para pembeli tadi merasa puas."

Beberapa orang serentak menjawab. "Puas, puas sekali. Setiap orang Kangouw cukup tahu. Kongcu pasti tidak akan mengecewakan langganannya."

"Betul. tidak membikin kecewa langganan, langganan adalah raja, ini memang prinsip dagangku," ujar Pian-hok Kongcu. "Pula barang dagangan yang kujual di sini selamanya kujaga kwalitas dan pasti tulen, sekali barang sudah dijual, tidak nanti kujual lagi kepada orang lain."

Ia tertawa, lalu menyambung pula, Sebab itulah, andaikan si pembeli nama pembunuh di kota Limsia itu ialah pembunuhnya sendiri, maka dia pun boleh lapangkan hati, kujamin pasti tidak akan menyiarkan rahasia ini."

Mendadak seseorang bertanya, "Entah siapakah yang membeli rahasia ini?"

"Selalu menjaga rahasia langganannya, ini pun prinsjp dagangku," jawab Pian-hok Kongcu tegas. "Maka dari itu, barang siapa yang telah membeli apa-apa dariku. kujamin takkan diketahui orang lain."

Dalam kegelapan, seperti ada orang menghela napas lega.

Lalu Pian-hok kongcu berkata pula, "Pula. meski para hadirin sekarang berkumpul di sini. tapi siapa pun tidak dapat melihat siapa-siapa, sebutanku kepada kalian masing-masing juga dengan nama samaran yang telah kita janjikan sebelumnya. Sebab itulah kalian tidak perlu kuatir. silakan memberi penawaran, kujamin pasti tiada orang yang akan tahu siapa engkau. Asalkan bayar kontan dan barang diterima, selanjutnya pasti tidak ada kerewelan lagi."

Segera seorang bertanva. "Dan pada lelang kedua ini. barang apakah yang akan Kongcu jual?"

Pian-hok Kongcu tertawa. katanya. "Barang yang akan kujual ini memang lebih istimewa dari pada biasanya."

"Istimewa? Istimewa bagaimana?" seorang lain bertanya.

"Yang akan kujual sekarang adalah manusia!" kata Pian-hok Kongcu.

"Manusia?!" seru orang itu. "Manusia hidup atau mati?"

"Mati atau hidup boleh terserah kehendak si penawar," ujar Pian-hok Kongcu. "Cuma harganya saja yang berbeda. Orang hidup dengan harga orang hidup. orang mati tentu saja pakai tarif orang mati."

Lalu dia menepuk tangan pula dan berseru. "Nah, sekarang lelang dimulai. silakau para hadirin memberi penawaran!"

oooo000oooo

Sungguh aneh bahwa yang akan dilelang Pian-hok Kongcu sekali ini adalah manusia. Di dnnia ini memang tiada barang lain yang lebih menarik daripada manusia?

Lantas, manusia macam apa yang hendak dijualnya? Apakah perempuan secantik bidadari? Atau perempuan yang jujur dan setia? Cantik dan setia adalah urusan yang jarang sekalipun dapat ditemukan pada diri seorang perempuan.

Bisa jadi yang akan dijual adalah seorang lelaki, lalu

macam apakah? Mungkin lelaki yang gagah berani atau lelaki yang cerdik pandai dengan macarn-macam tipu akal?

Semua merasa heran, sama menebak-nebak. Semakin heran tentu juga semakin tertarik.

Maka terdengar Ting Hong mulai berteriak. "Orang pertama namanya Kau Cu-tiang. harga patokan adalah sepuluh laksa tahil perak."

Suasana hening sejenak, lalu seorang bertanya, "Macam apakah orang bernama Kau Cu-tiang ini? Namanya saja tak pernah kudengar. masa laku sepuluh laksa tahil?"

"Beberapa bulan yang lalu pernah terjadi, suatu antaran upeti telah dibegal orang di tengah jalan. tentu para hadirin masih ingat bukan?" tanya Ting Hong.

"Apakah upeti Him-tayciangkun yang kau maksud?" tanya seorang.

"Betul, dan Kau Cu-tiang adalah pelaku yang merampok upeti itu," tutur Ting Hong. "Dalam semalam saja dia membinasakan tujuh puluh orang. barang siapa yang mampu menangkap dia dan diserahkan kepada pihak yang berwajib. maka namanya seketika akan terkenal bahkan akan menerima hadiah yang tidak kecil.

"Baik, kutawar sepuluh laksa lebih lima ribu tahil," segera seorang berteriak.

"Sebelas laksa," orang kedua segera memberi lebih.

"Dua belas laksa tahil!" sejenak kemudian orang ketiga baru menambah lagi. Tampaknya para penawar tak terlalu antusias, sebab urusan ini bisa mendatangkan persoalan lain, terutama harus berhubungan dengan pihak pembesar negeri. Setiap urusan yang menyangkut pembesar negeri, biasanya menimbulkan keruwetan.

Karena tiada peminat lagi. akhirnya Ting Hong berseru, "Baik. harga penawaran terakhir. jadi dua belas laksa tahil. Silakan bayar, setelah lunas. segera barangnya bisa dibawa pergi."

"Apakah harus kuserahkan dia kepada pihak yang berwajib?" mendadak si pembeli bertanya.

"Tidak harus," jawab Ting Hong "Akan diapakan terserah kepada kehendak anda sendiri."

Tiba-tiba Pian-hok Kongcu menukas dengan tertawa, "Seorang diri Kau Cu-tiang mampu melakukan pekerjaan sebesar itu, sayang jika dia dibinasakan."

"Betul, memang sayang," si pembeli juga tertawa. "Bicara terus terang, Cayhe memang merencanakan akan melakukan beberapa pekerjaan dengan dia. sekarang biarpun ada orang berani memberi ganti rugi dua kali lipat juga takkan kuberikan."

Mendengar ini, orang-orang yang tidak memberi penawaran, tapi diam-diam menyesal mengapa tidak berpikir sampai di sini.

Ting Hong lantas berteriak pula, 'Dan orang kedua yang dilelang bernama Eng Ban-li, berjuluk Sin-eng (elang sakti). detektif terkenal di kotaraja. harga dasar juga sepuluh laksa tahil!"

Baru habis ucapannya. segera ada orang memberi penawaran, bahkan harganya melonjak cepat ke atas.

"Sebelas laksa!"

"Tiga belas laksa!"

"Tujuh belas laksa."

Selama hidup Eng Ban-li, entah berapa banyak pentolan penjahat yang ditangkapnya. dengan sendirinya musuhnya juga sangat banyak. Maka orang-orang yang membelinya ini tidak menghendaki orangnya, tapi ingin jiwanya.

Dan pembeli terakhir yang memberi penawaran tertinggi adalah dua puluh laksa atau dua ratus ribu tahil perak. "Dan orang ketiga bernam Thio......."

Belum lanjut ucapan Ting Hong, tiba-tiba Pian-hok Kongcu memotong, "Orang ketiga bernama Oh Thi-hoa, harga patokan lima puluh laksa tahil."

Begitu nama Oh Thi-hoa disebut, serentak terdengar suara berisik di tengah kegelapan sana. Ketika harga 'lima puluh laksa tahil' disebut, suara berisik bertambah ramai.

Segera seorang bertanya, "Oh Thi-hoa, apakah yang berjuluk Hoa-oh-tiap itu?"

"Betul dia," jawab Ting Hong. Mendadak semua orang terdiam.

"Hayo, siapa mulai? Mengapa tiada yang menawar?" seru Ting Hong.

Tapi tetap tiada yang bersuara.

Musuh Oh Thi-hoa tidak banyak. harga yang dipasang juga terlalu tinggi, apalagi Oh Thi-hoa juga lebih panas dibandingkan dengan Kau Cu-tiang.

"Apakah Cu-siansing juga tidak berani tawar?" tanya Ting Hong.

Cu-siansing atau tuan Cu berdehem dua tiga kali, katanya, "Bukannya tidak berani, yang benar tidak berminat, sebab.... apa gunanya setelah kubeli dia?"

"O. barangkali para hadirin menganggap harga patokannya terlalu tinggi, baik kuberi korting." kata Pian-hok Kongcu.

"Benar, asalkan bisa terjual, dengan harga berapa saja dari pada tidak laku." ujar Ting Hong.

"Harga orang mati tentu jauh lebih murah daripada orang hidup, untuk menurunkan harga, bolehlah kubunuh dia dulu," kata Pian-hok Kongcu.

"Dibunuh sekarang?" tanya Ting Hong.

"Ya, sekarang.'' jawab Pian-hok Kongcu.

Ting Hong mengiakan.

Tapi mendadak seorang berseru, "Nanti dulu, aku ingin beli orang hidup, kutawar satu juta tahil...."

Coh Liu-hiang! Itulah suara Coh Liu-hiang, entah sejak kapan Coh Liu-hiang juga sudah hadir di tingkat ketiga itu.

Sekonyong-konyong Pian-hok Kongcu bergelak tertawa, katanya, "Nah, apa kataku, betapa tinggi harga yang kupasang, akhirnya ada juga orang yang berani menawur lebih tinggi."

Suara tertawanya mendadak berhenti pula, lalu berkata dengan tenang, "Tapi jual beli di sini dilakukan dengan kontan keras. tidak boleh utang piutang. Apakah anda membawa uang sedemikian besar jumlahnya?"

"Sudah tentu tidak," jawab Coh Liu-hiang.

"Jika begitu, berdasarkan apa anda menawar?" seru Pian_ hok Kongcu dengan bengis.

"Berdasarkan diriku ini." kata Coh Liu-hiang.

"Dirimu?" Pian-hok Kongcu menegas.

"Ya. yang kau inginkan ialah diriku dan bukan Oh Thi-hoa," ujar Coh Liu-hiang.

"Masa ingin kau tukar nyawamu dengan nyawanya?" tanya Pian-hok Kongcu.

"Betul!"

"Darimana kutahu siapa kau dan adakah setimpal untuk menjadi penggantinya?"

"Sudah tentu kau tahu siapa diriku ini."

Mendadak Pian-hok Kongcu bergelak tertawa pula. katanya, "Baik, jual beli ini memang tidak merugikan."

"Ya. jual beli yang membikin rugi jelas tidak ada orang yang mau."

"Tapi jelas kau telah rugi," kata Pian-hok Kongcu dengan tertawa.

"Oo? Masa?" tanya Coh Liu-hiang. "Memangnya jiwaku berharga berapa sekilo?"

"Bukan jiwamu yang kuinginkan," kata Pian-hok Kongcu.

"Bukan jiwaku, habis apa?"

"Aku hanya menginginkan kedua biji matamu!" jengek Pian-hok Kongcu. "Nah, pisaunya berada di sini, kemarilah kau. dan cukup kucungkil kedua biji matamu. segera pula kubebaskan Oh Thi-hoa."

"Baik. jual beli ini kututup," kata Coh Liu-hiang. "Tapi jangan lupa, pisaunya berada padaku, jika kau bermaksud main gila, segera kubunuh dia lebih dulu," ancam Pian-hok Kongcu.

"Baik. aku maju, bersiaplah kau," kata Coh Liu-hiang.

Di kegelapan mendadak bergema suara orang melangkah.

Agaknya Coh Liu-hiang sengaja memperberat langkahnya, setindak demi setindak ia maju ke depan...

Suasana terasa menegangkan, tapi hawa udara mendadak berbau harum arak yang keras. Tapi lantaran semua sama menahan napas oleh suasana yang mencekam itu, sehingga tiada yang merasakan bau arak itu.

Suara tindakan semakin perlahan dan semakin berat juga kedengarannya.

Apakah berjalan saja tidak sanggup lagi Coh Liu-hiang? Apakah dia terlalu lelah? Dia benar-benar rela mengantarkan matanya untuk dicungkil?

Tiba-tiba Pian-hok Kongcu membentak, "Kurangajar! Kau main gila apa?"

Di tengah suara bentakannya, "blang"", terdengar suara letusan disertai meletiknya api. Habis itu api lantas berkobar.

Api terus berkobar dengan hebatnya, di tepi dinding tingkat ketiga itu, mendadak api menyala dan seluruh gua menjadi terang benderang.

Tiada seorang pun yang tahu darimana datangnya letupan api tadi dan menimbulkan kebakaran. setiap orang seakan-akan kesima karena terkejut.

Segera belasan bayangan hitam 'manusia kelelawar' menyambar tiba dari berbagai arah, tapi begitu mendekati kobaran api, serentak mereka menjerit dan melompat mundur lagi. Ada yang bajunya terjilat api sambil menjerit cepat menjatuhkan diri dan berguling-guling di tanah.

Mereka seperti tidak tahu sama sekali adanya api yang berkobar itu, mirip segerombolan kelelawar yang menyambar api unggun, suara kaget dan jeritan ngeri mereka sukar dilukiskan.

Dan bagaimana dengan Pian-hok Kongcu sendiri?

Di tengah-tengah situ terdapat sebuah kursi besar kulit harimau, terletak di tengah-tengah tingkatan ketiga. Suara Pian-hok Kongcu tadi datang dari situ tapi sekarang kursi itu kosong tiada diduduki orang.

Hanya Ting Hong saja kelihatan berdiri tercengang dan memandang Coh Liu-hiang dengan bingung.

Pandangan setiap orang juga sama tertuju ke arah Coh Liu-hiang.

Pakaian orang-orang ini sangat mentereng, jelas semuanya berasal dan kalangan atas, tapi sekarang semuanya mirip orang linglung. semuanya melongo bingung. Hanya di kejauhan sana berduduk seorang dengan sikap tetap tenang dan adem ayem. Orang itu ternyata Goan Sui-hun adanya. Tadinya Oh Thi-hoa, Ko A-lam dan lain-lain tergeletak di depan kursi besar itu, sekarang Hiat-to mereka sudah dilepaskan, mereka sudah berdiri. Dengan gemas Oh Thi-hoa sedang melototi Ting Hong.

Tapi sorot mata Coh Liu-hiang terus berpindah dari muka seorang ke muka orang yang lain, tiba-tiba ia tertawa katanya, "Para hadirin ternyata benar orang-orang ternama seluruhnya, sungguh tidak sedikit jumlahnya."

Dengan gemas Ko A-lam berkata, "Dan mana itu Pian-hok Kongcu. entah sudah ngacir kemana?"

Coh Liu-hiang tertawa, katanya. "'Bisa jadi ia tidak ngacir dia masih berada di sini. cuma kau tak dapat melihatnya."

Ko A-lam melengak. katanya, "Jika berada di sini, masa tak daput kulihat dia?"

"Ya. sehab hakikatnya kau tidak tahu siapakah yang mengaku sebagai Pian-hok Kongcu....." Kembali sorot mata Coh Liu-hiang menyapu sekeliling wajah para hadirin, lalu menyambung pula dengan perlahan. "Setap orang yang berada di sini ada kemungkinan ialah Pian-hok Kongcu!"

Mendadak seorang berdiri dan berteriak. "Bukan diriku. aku pasti bukan Pian-hok Kongcu!"

Orang ini bermuka burik hitam. tapi bertubuh kekar. Coh Liu-hiang memandangnya Sekejap, cuma sekejap saja, lalu berkata dengan hambar. "Sudah tentu bukan anda, sebab anda tak lain ialah pembunuh yang menggegerkan Lamsia itu."

Muka si burik seketika menjadi merah padam, teriaknya dengan gusar, "Kau ini kutu bnsuk macam apa? Kau berani sembarangan memfitnah orang?"

"Jika anda bukan pembunuhnya. mengapa tadi waktu Pian-hok Kongcu menyatakan jaminannya bagi rahasia langganannya, untuk apa anda menghela napas lega?" tanya Coh Liu-hiang. Tentunya anda tidak menduga bahwa saat itu kebetulan aku berdiri di sebelahmu sehingga dapat kudengar jelas suara helaaan napasmu."

Si buruk menampilkan rasa takut ia celingukan kian kemari, habis itu mendadak ia melompat ke atas.

Tapi baru saja tubuhnya mengapung, sekonyong-konyong ia menjerit dan terjungkal pula ke bawah dan tidak pernah bangun pula.

Pada saat itu juga lengan jubah Goan Sui-hun yang dikebaskan itu sudah ditarik kembali.

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, "Cara turun tangan Goan-kongcu memang hebat dan tak dapat ditandingi orang. Terima kasih." "Ah. Coh-hiangswe terlalu memuji," jawab Goan Sui-hun dengan tersenyum.

Memang semua orang sedang meraba-raba siapa orang ini. ada di antaranya sudah menduga pasti Coh Liu-hiang adanya, kini semuanya sudah jelas, seketika mereka menjadi melongo. "Siapa orang ini mungkin para hadirin tidak tahu," kata Coh Liu-hiang sambil menuding si burik yang menggeletak di tanah itu. Seorang lelaki setengah baya dengan jubah dan bermuka pucat lantas menanggapi. "Kukenal dia. namanya Pian-te-sam-kun-cian (uang emas berhamburan di tanah) Ci-losam."

"Betul," kata Coh Liu-hiang. "Bahwa Pian-hok Kongcu sengaja mengundang dia kemari, tujuannya justru ingin menyuruh dia membeli rahasianya sendiri. Habis itu ditegaskan pula, dia adalah si pembunuhny.a Sebab cuma si pembunuh sendiri yang pasti tidak ingin rahasianya sendiri dibeli orang lain."

"O, pantas tadi ia berlomba menawar setingg-tingginya," seorang berkata dengan gegetun.

"Dia mengira setelah membeli rahasia ini, maka dia akan aman tenteram, tidak kuatir perkaranya akan terbongkar lagi, ia tidak tahu bahwa urusan selanjutnya justru tambah konyol baginya." tutur Coh Liu-hiang.

"Konyol bagaimana?" tanya seseorang.

"Bila Pian-hok Kongcu sudah tahu jelas dia inilah pembunuhnya. apakah dia berani lagi membangkang perintah Pian-hok Kongcu jika dia menyuruhnya berbuat sesuatu?"

Setelah menghela napas, lalu Coh Liu-hiang menyambung pula, "Makanya, siapa pun juga yang telah membeli sesuatu barang di sini, selanjutnya dia pasti akan menjadi alat Pian-hok Kongcu, selamanya akan diperas. Masa hal ini tak dapat kalian selami?"

Air muka beberapa orang berubah seketika setelah mendengar komentar Coh Liu-hiang ini.

Seorang lelaki bermuka ungu lantas berseru. "Tapi kami sudah berjanji dengan jelas, bayar lunas dan terima barang. selanjutnya tidak ada ikatan apa-apa lagi."

"Jadi kalian menganggap usaha jual beli Pian-hok Kongcu ini hanya melulu untuk duit saja?" tanya Coh Liu-hiang. "Memangnya tidak?" kata lelaki tadi. "Orang semacam dia, kalau menghendaki uang saja, apa sulitnya? Buat apa mesti bersusah payah bekerja cara begini?" kata Coh Liu-hiang dengan tertawa.

Lelaki muka pucat setengah baya tadi menimbrung, "Kalau bukan demi uang, lalu apa tujuannya?"

"Ambisi tujuannya," tutur Coh Liu-hiang menghela napas. "Apa yang diperbuat hanya untuk memenuhi ambisinya saja."

"Ambisi apa?" tanya si lelaki muka ungu.

"Gila hormat, gila kuasa," kata Coh Liu-hiang. "Lebih dulu dia menggunakan segala jalan untuk membeli berbagai macam rahasia. agar suasana dunia Kangouw menjadi kacau-balau, habis itu dia akan mengancam dan memeras "langganannya" untuk dijadikan alatnya." 
Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula, "Dengan cara demikian. tidak sampai beberapa tahun saja dia akan menjadi orang yang paling berkuasa di dunia Kangouw, tatkala mana mungkin para hadirin juga akan terikat dan berubah menjadi budaknya."
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Legenda Pulau Kelelawar Bab 10: Api yang Berkobar"

Post a Comment

close