Serial Pendekar Gila episode 23 Kemelut Di Karang Galuh

Mode Malam
Firman Raharja
-------------------------------
----------------------------

Serial Pendekar Gila episode 23 Kemelut Di Karang Galuh

1

Senja itu cuaca tampak mendung. Kesunyian menyelimuti daerah sekitar Hutan Merawan. Angin yang menerpa dedaunan menimbulkan suara gemerisik. Di mana-mana tampak dedaunan kering berserakan. Langit gelap. Suasana kian mencekam ketika beberakali terdengar suara guntur menggelegar, diiringi kilat-kilat petir yang menyambar.

Pada sebuah tanah yang agak lapang di dalam hutan itu tampak seorang pemuda sedang bersila menghadapi dua buah kuburan yang nisannya nampak sudah rusak. Pemuda itu nampak sedang tepekur, wajahnya penuh kesedihan. Matanya menatapi kedua kuburan itu. Wajah pemuda itu belum begitu jelas, karena kepalanya yang masih tertunduk.

Namun dilihat dari pakaian yang dikenakannya, tak salah lagi, pemuda itu adalah Sena Manggala atau yang dikenal dengan julukan Pendekar Gila.

Kini Sena tampak bersujud di samping kuburan itu. Ternyata itulah kuburan tempat kedua orangtuanya bersemayam. Dalam hatinya pemuda itu meminta restu dan kekuatan serta keselamatan dalam menjalankan tugas kehidupan sebagai pendekar yang bertanggung jawab menegakkan kebenaran dan keadilan.

“Maafkan anakmu ini, Ayah, Ibu... Karena baru kali ini aku bisa datang kemari,” gumam Sena perlahan dengan perasaan sedih. Pendekar muda berwajah tampan itu sepertinya berat untuk segera meninggalkan tempat itu, walaupun sudah hampir setengah hari dirinya bersila di samping kuburan kedua orang-tuanya. Seakan-akan tak dipedulikannya malam yang hampir tiba. Kalau saja tak ingat akan tugasnya yang masih perlu diselesaikan, mungkin Sena tak akan beranjak dari tempat itu.

Perlahan-lahan Sena mulai berdiri. Namun matanya tak lepas, terus menatap kedua kuburan itu.

Sampai akhirnya ia berdiri tegak.

“Kalau saja kedua orangtuaku masih hidup, alangkah bahagianya aku. Ayah, Ibu, lindungi dan berilah kekuatan pada anakmu ini” ujar Sena dalam hati. Kemudian ditariknya napas dalam-dalam.

Sementara itu langit mulai gelap. Petir sebentar-sebentar menyambar permukaan bumi. Suaranya keras menyakitkan telinga. Angin pun semakin kencang tertiup menerpa dedaunan pohon dan wajah Sena. Rambutnya yang panjang sebahu tersapu angin, hingga sebagian menutupi wajah Sena. Namun pemuda berompi kulit ular itu membiarkannya.

Matanya terus memandangi kedua nisan itu.

“Aku pergi dulu, Ayah, Ibu...,” ucap Sena pelan sekali.

Kemudian tubuhnya melesat pergi, bagai burung elang terbang ke udara. Rupanya Sena mengerahkan ilmu lari 'Sapta Bayu'. Hingga dalam waktu singkat pendekar muda itu sudah berada di luar Hutan Merawan.

Di sebuah dataran luas yang sunyi Sena berjalan cepat ke arah timur. Saat itu malam pun mulai tiba.

Terpaksa Sena harus mencari tempat untuk bermalam. Langkahnya semakin dipercepat agar segera sampai di desa terdekat.

Malam makin sunyi dan sepi. Tidak ada seorang manusia pun yang berjalan di malam itu, kecuali Sena.

Ketika Sena sampai di suatu jalan lurus yang di kanan kirinya terbentang sawah yang luas, hati Sena sedikit lega karena merasa yakin sudah dekat dengan daerah pedesaan.

Sena memang merasa masih asing dengan daerah itu. Karena ketika dirinya datang mengunjungi kuburan orangtuanya, dia datang dari arah barat, Dan karena ingin melanjutkan petualangan ke timur Pulau Jawa maka Sena lewat jalan yang belum pernah dilaluinya.

“Kurasa tak jauh lagi di depan sana ada desa,”

gumam Sena dalam hati.

Pemuda gagah itu terus melangkahkan kakinya dengan mantap dan lebih cepat lagi. ***

Sena masih melangkah menyelusuri jalan

pematang sawah, ketika tiba-tiba ada sosok bayangan berkelebat di depan matanya. Karena suasana malam gelap, bayangan itu hanya nampak hitam. Sena menghentikan langkahnya. Matanya memandang ke sekeliling mencoba mengawasi keadaan. Begitu pula telinganya, dipasang untuk mendengar. Namun sesaat kemudian pemuda berambut gondrong itu kembali mengayunkan langkah dengan mantap. Matanya memandang lurus ke depan, seakan tak menghiraukan apa pun yang baru saja dilihatnya.

Ketika sampai perempatan jalan menuju desa, tiba-tiba matanya melihat lagi dua sosok bayangan berkelebat. Namun, Sena tetap tenang tak menanggapi sedikit pun. Kakinya terus melangkah dengan mantap. Tangannya mulai menggaruk-garuk kepala dan mulutnya tersenyum-senyum cengengesan.

“Hi hi hi...”

Sena mengambil jalan yang ke kanan. Di kanan-kiri sepanjang jalan itu ditumbuhi pepohonan rindang dan semak belukar.

“Berhenti...”

Suara bentakan keras tiba-tiba terdengar, disusul kemunculan dua sosok bayangan menghadang di depan Sena.

Sena berhenti. Tangannya menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan. Kilatan petir sekejap menerangi tempat itu. Saat itu Sena dapat melihat kedua orang yang berdiri lima tombak di hadapannya.

Wajah mereka seperti kera. Sedangkan pakaian keduanya serba hitam dengan ikat pinggang merah.

Rambut mereka terurai panjang melewati bahu.

Kedua sosok berwajah kera itu tampak memegang golok bergigi seperti gergaji di ujungnya.

“Hah? Manusia kera...” gumam Sena setelah sempat mengamati kedua penghadang itu sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Dua penghadang itu dikenal dengan nama

'Sepasang Manusia Kera' yang ditakuti orang-orang Kadipaten Singa Raja dan para tuan tanah.

“Apa maksud tujuanmu memasuki daerah ini?”

tanya salah seorang dari mereka yang bertubuh agak tinggi.

“Hi hi hi... Aku hanya ingin lewat, Kisanak,” jawab Sena dengan cengengesan, “Kalau boleh tahu, apa nama desa ini?”

“Bohong Apa maksud tujuanmu? Untuk apa kau datang kemari? jawab” bentak yang lebih pendek. Suaranya lebih kasar dan keras.

“Hi hi hi lucu sekali Bukankah sudah kukatakan, aku hanya ingin lewat. Aku tak punya maksud lain,”

jawab Sena sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. Melihat sikap Sena itu, orang yang bertanya menjadi geram, dan ingin segera menyerang. Namun kawannya segera melarang dengan merentangkan tangan kanan.

“Orang gila Sebaiknya kau bilang terus terang

Apa tujuanmu datang ke Desa Karang Galuh ini?”

tanya manusia kera bertubuh tinggi, yang mencegah temannya, ketika hendak menyerang Sena.

Sena tak langsung menjawab. Mulutnya cengar-cengir sambil tangan kanannya menggaruk-garuk kepala.

“Jawab Sebelum hilang kesabaran kami...”

bentak orang yang bertubuh agak pendek. Dirinya memang berperangai lebih keras dibandingkan kawannya.

“Hi hi hi... Lucu sekali, Kisanak Apa yang kukatakan tadi rasanya sudah jelas terdengar di telinga kalian,” sahut Sena agak sinis. Hal itu membuat kedua orang bermuka kera itu bertambah marah.

Hampir bersamaan dengan suara geledek yang di-dahului kilatan cahaya kedua orang berwajah kera itu melesat menyerang. Lompatan cepat yang mereka lakukan mirip kera.

Sena terkesima sesaat, karena serangan kedua manusia kera itu begitu cepat. Jurus-jurusnya pun aneh, seperti gerakan kera. Kedua golok berkelebat cepat memburu di muka Sena.

Wrt Wrt Wrt

“Hah? Hi hi hi...”

Pendekar Gila cepat melompat mundur untuk mengelak, lalu membalas dengan tendangan kedua kakinya.

“Hea...”

Degk Degk

“Huk”

“Ukh”

Kedua manusia kera itu terhuyung dua tombak ke belakang terkena tendangan. Pendekar Gila kembali cengengesan. Kedua manusia kera itu makin geram dan marah, melihat tingkah laku lawan yang dianggap mengejek mereka. Cepat-cepat keduanya membenarkan kedudukan. Mata mereka yang tajam menatap penuh kegeraman.

“Kurang ajar Kubunuh kau, Bocah Edan” dengus keduanya hampir bersamaan.

Kedua manusia kera itu, kemudian mengeluarkan jurus-jurus pembukaan dengan gerakan mirip kera.

Keduanya menggaruk-garuk ketiak sambil merundukkan kepala.

“Nguk... Nguk...”

“Nguk...”

Sena mengerutkan kening, melihat jurus-jurus lucu dan aneh kedua manusia kera itu. Seakan-akan tengah memikirkan sesuatu. Kemudian cengengesan sambil meniru gaya mereka. Kedua manusia kera itu kembali menyerangnya dengan terus berteriak seperti kera.

Dengan cepat kedua manusia kera melancarkan pukulan maut. Sebentar kemudian gerakan mereka berubah mencakar dan menendang ke tubuh Sena.

“Nguk...”

“Nguk...”

Melihat serangan yang cepat dan membahayakan, dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala Pendekar Gila segera berkelit. Kemudian dengan jurus 'Gila Menari Menepuk Lalat' segera melancarkan serangan balasan.

“Nguk...”

“Hi hi hi... Hea...”

Plakkk Brettt

Tangan mereka beradu, saling pukul dan tangkis dengan cepat. Salah seorang dari manusia kera membabatkan goloknya ke kaki Pendekar Gila. Sedangkan satunya lagi menebas kepala. Kalau saja yang dihadapi bukan Pendekar Gila, golok-golok itu sudah memutuskan kaki dan kepala lawan. Namun dengan kecepatan yang sukar ditangkap mata biasa pendekar itu melenting ke udara sambil kakinya menendang kedua manusia kera itu.

Degk Degk

“Aaa...”

“Ukh...”

Kedua manusia kera itu terhuyung dua tombak ke belakang. Keduanya saling pandang. Lalu kembali membuat gerakan untuk menyerang Pendekar Gila.

“Aha, Kisanak sebaiknya kita tak perlu adu kekuatan begini Aku tak bermaksud jahat, percayalah” ujar Pendekar Gila berusaha untuk tak melanjutkan bentrokan dengan kedua lawannya.

Namun rupanya kedua manusia kera itu tak menghiraukan ucapan Pendekar Gila. Mereka kembali menyerang dengan jurus-jurus maut. Kedua manusia kera itu membabatkan golok mereka dengan cepat.

Golok itu bagaikan kipas diputar, kemudian ditusuk-kan ke tubuh Pendekar Gila.

Wrttt

“Hea...”

Wrttt “Aits He he he...”

Pendekar Gila mengelak dengan melompat ke atas dan bersalto di udara. Kemudian Pendekar Gila mendaratkan kakinya lima tombak dari kedua manusia kera yang kini berada di belakang Pendekar Gila.

“Nguik... Ger”

“Heaaa... Herrr”

Kedua manusia kera itu pun berbalik cepat dengan berjumpalitan di tanah. Keduanya bagai seekor kera, bergulingan di tanah sambil menyerang.

Suara mereka yang keras seperti kera sedang ngamuk.

Wuttt Wuttt

Kedua manusia kera itu membabatkan golok menyerang lawan.

Pendekar Gila mengelak dengan merundukkan kepala, kemudian dengan cepat kedua kakinya direntangkan lebar-lebar ke tanah. Sehingga serangan lawan melewati kepalanya. Pada saat kedua manusia kera itu berada di atasnya, dengan cepat Pendekar Gila melancarkan serangan dengan pukulan 'Gila Menari Menepuk Lalat'.

Deg Deg

“Aaa...”

“Hrrr...”

Kedua manusia kera itu terpekik. Tubuh mereka terdorong ke belakang, lalu bergulingan sampai akhirnya membentur batang pohon besar.

Brak

Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Hi hi hi... Ha ha ha... Lucu... Lucu sekali...”

Darah meleleh di sela bibir kedua manusia kera itu. Keduanya merasakan sesak di dada. Namun, seperti tak menghiraukan keadaan, mereka segera bangkit berdiri. Dengan geram mata kedua manusia kera itu menatap Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Jangan kau anggap kami tak dapat menangkap-mu, Pemuda Gila” dengus salah seorang dari manusia kera itu sambil membuat kuda-kuda untuk menyiapkan jurus lain. Kedua tangan mereka menjulur ke depan. Sedang kedua kaki mereka bergeser, bersamaan bergerak ke depan. Tangan-tangan terbalur pakaian hitam itu bergerak-gerak bagaikan menari. Kemudian bersamaan dengan hentakan keras kaki mereka terdengar teriakan keras menggelegar....

“Hea... Hrrr...”

Wusss Wusss

Serangan angin ganas, datang dari telapak tangan kedua manusia kera itu. Itulah jurus 'Topan Beracun', Ilmu andalan kedua manusia kera itu. Pendekar Gila nelompat ke udara. Serangan itu dapat dihindari.

Namun keduanya segera mengejar Pendekar Gila dengan melompat pula ke udara. Terjadilah pertarungan di udara beberapa saat lamanya. Kedua manusia kera itu mengapit di sebelah kanan dan kiri Pendekar Gila.

“Hea...”

“Grrr. .”

Setelah saling pukul dan tangkis. Pendekar Gila akhirnya sempat memasukkan pukulan ke dada kedua manusia kera itu.

Degk

“Akh..”

“Akh...” Bersamaan dengan terdengarnya pekikan

panjang, tubuh kedua manusia kera terlempar jauh dan bergulingan di tanah. Dengan cepat Pendekar Gila meluncur. Dengan ringan kakinya mendarat di atas tanah. Mulutnya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.

“Aha, Kisanak sekalian Kurasa antara kita tak ada urusan apa-apa,” ujar Pendekar Gila dengan tingkah lakunya yang masih konyol.

Belum sempat kedua manusia kera itu berkata, Pendekar Gila telah melesat meninggalkan tempat itu. Saat itu petir menyambar-nyambar, dengan kilatnya yang menerangani bumi. Kedua manusia kera menggeram, merasa kecewa atas kekalahan mereka dengan pemuda bertingkah laku seperti orang gila. Kedua manusia kera itu masih mematung dengan mata menatap ke arah melesatnya Pendekar Gila. Seakan mereka tengah bertanya-tanya, siapa sebenarnya pemuda gila itu.

“Dimas Anila, siapa sebenarnya pemuda itu? Rasa-rasanya aku pernah mendengar namanya yang disebut-sebut banyak orang.”

“Maksud Kakang Anggada...?” tanya Anila dengan kening berkerut.

“Aku pernah mendengar namanya. Nama gelarnya yang sama dengan tingkah lakunya,” tutur Anggada.

“Maksud Kakang, Pendekar Gila?”

“Benar.”

“Kurasa juga begitu, Kang.”

“Kau yakin, Dimas Anila?” tanya Anggada.

“Entahlah,” sahut Anila.

“Kalau begitu, kita selidiki saja”

“Ayo, Kakang”

Kedua manusia kera yang ternyata bernama Anila dan Anggada segera melesat dari tempat itu.

Keduanya menembus kegelapan malam yang

nampaknya akan segera turun hujan.

***

Pagi nampak sangat cerah. Seperti biasa, Desa Karang Galuh yang aman dan subur itu mulai nampak sibuk. Penduduk desa berlalu-lalang dengan ke-sibukan masing-masing. Di desa itu udara cukup sejuk, karena terletak di kaki Gunung Anjasmara.

Sena nampak tengah duduk di serambi depan sebuah rumah bilik cukup besar, yang terletak agak di tengah desa. Tidak jauh dari rumah tempat Sena berada, ada sebuah kedai nasi. Di kedai itu nampak empat lelaki sedang bersantap.

“Aku sangat berterima kasih padamu, Ki. Karena kau telah sudi menerimaku bermalam di rumah ini...,”

ucap Sena dengan sopan dan kalem. Tidak menunjukkan tingkah lakunya yang seperti orang gila.

“Ah... Itu biasa bapak lakukan pada orang yang membutuhkan, Nak. Asal kau bermaksud baik,”

jawab Ki Praba, yang tak lain Kepala Desa Karang Galuh itu.

“Terima kasih, Ki” ucap Sena sambil menganggukkan kepala, “Saya sangat senang melihat desa yang aman tenteram seperti Desa Karang Galuh ini.

Tentunya semua ini tak luput dari kepemimpinan Ki lurah sebagai kepala desa...”

Ki Praba hanya mengusap-usap jenggotnya yang tak begitu panjang. Wajahnya nampak kalem, penuh kebapakan tapi tegas. Dari bentuk tubuh dan pancaran sinar matanya, menyiratkan bahwa dirinya memiliki ilmu silat yang cukup lumayan. Meski begitu, lelaki tua itu sangat ramah. Dan itu sebabnya penduduk Desa Karang Galuh sangat menghormati dan menyegani Ki Praba.

“Ah, bisa saja, Nak Sena. Sebenarnya bukan bapak saja yang membuat desa ini aman dari gangguan orang-orang jahat,” tutur Ki Praba dengan polos.

“Oh... jadi, siapa yang membantu Bapak dalam mengamankan desa ini?” tanya Sena ingin tahu sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Ada dua saudara. Sanjaya dan Purnama yang selalu membantuku,” jawab Ki Praba. Sena mengangguk-anggukkan kepala perlahan. Mulutnya tersenyum ramah menggambarkan rasa kagum terhadap lelaki tua, kepala desa itu.

“Ah, beruntung Ki Praba memiliki warga desa seperti mereka berdua. Aku ikut senang men-dengarnya. Sayang aku belum bisa berkenalan dengan mereka,” ujar Sena dengan ramah. Mulutnya tersenyum dengan tangan menggaruk-garuk kepala.

“Biasanya Sanjaya dan Purnama datang kemari, jika ada sesuatu masalah. Keduanya selalu minta pendapat padaku,” tutur Ki Praba dengan tenang.

“Selamat pagi, Ki...?”

Terdengar suara dari samping rumah. Ki Praba menoleh untuk mengetahui siapa yang baru saja memberi salam.

“Selamat pagi Nah, ini dia orang yang kukatakan tadi, Sena,” kata Ki Praba dengan wajah gembira, lalu menyilakan kedua bersaudara Sanjaya dan Purnama.

Sejenak Sanjaya dan Purnama menatap wajah Sena dengan pandangan penuh selidik. Seakan keduanya menaruh curiga pada tamu Ki Praba.

Sena yang merasa dicurigai hanya tersenyumsenyum. Sebentar kemudian berubah cengengesan sambil tangannya menggaruk-garuk kepala. Sikapnya itu membuat, Sanjaya dan adiknya mengerutkan kening. Matanya semakin tajam menatap wajah Sena. Kemudian kedua lelaki yang memakai pakaian serba kuning itu saling pandang. Tampaknya mereka merasa tak senang menyaksikan tingkah laku Sena yang konyol itu.

“Hhh” Sanjaya yang berkumis tebal dengan blangkon hitam mendesah. Sementara adiknya hanya menarik napas dalam-dalam. Sepertinya Purnama berusaha sabar.

Memang di antara kedua kakak beradik itu, ada perbedaan. Kalau Sanjaya berwatak keras dan cepat marah, sebaliknya Purnama agak penyabar.

Keadaan semakin kaku di antara mereka.

Beruntung Ki Praba cepat tanggap.

“Ayo, duduklah Kebetulan kami sedang membicarakan kalian berdua...,” kata Ki Praba sambil menggeser duduknya di dekat Sena. Mereka duduk di bale-bale lebar beralaskan tikar pandan.

Mendengar ucapan Ki Praba, kedua bersaudara itu saling pandang. Keduanya seakan kurang senang.

Namun karena Ki Praba sudah dianggap seperti orang-tua sendiri, Sanjaya dan Purnama menurut.

Mereka duduk di sebelah kiri Ki Praba, berhadapan dengan Sena.

“Nak Sena ini, ingin berkenalan dengan kalian.

Tadi kuceritakan sedikit tentang kalian berdua. Nak Sena merasa ikut senang desa ini aman karena kalian berdua...,” tutur Ki Praba membuka per-cakapan.

“Terima kasih, Kisanak Kami berdua juga ingin berkenalan dengan Kisanak,” sambut Sanjaya sambil menatap Sena dengan pandangan menyelidik.

Sena yang ditatap begitu hanya tersenyum-senyum sambil menggaruk-garuk kepala. Sementara Purnama yang lebih tenang hanya diam menundukkan kepala.

“Namaku Sanjaya, dan ini adikku Purnama...,”

kata Sanjaya memperkenalkan diri.

“Aku Sena. Senang aku dapat bertemu dan berkenalan dengan kalian berdua. Sebab orang-orang macam kalian sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang lemah dan perlu pertolongan, untuk ke-tenteraman desanya,” kata Sena bernada memuji.

“Terima kasih...,” sahut Sanjaya datar, “Namun kalau boleh aku tahu, apa tujuan Kisanak datang ke Desa Karang Galuh ini...?”

“Nak Sena hanya menumpang nginap di rumah ini tadi malam,” sela Ki Praba. “Kebetulan semalam Nak Sena ini ketemu bapak di kedai sebelah. Dia perlu tempat untuk bermalam. Dan bapak tahu, Nak Sena bukan orang jahat. Percayalah, Sanjaya...”

Sanjaya manggut-manggut. Namun tatapannya masih menunjukkan perasaan curiga. Sena melawan tatapan mata Sanjaya. Sesaat keduanya saling tatap dengan tajam. Namun, akhirnya Sanjaya mengalihkan pandangannya ke wajah Ki Praba.

“Ki Lurah, sudah waktunya aku mohon pamit Terima kasih atas segala kesediaan dan keramahan dalam menerimaku untuk bermalam di sini,” kata Sena tiba-tiba, “Aku harus segera pergi. Masih banyak tugas yang harus saya kerjakan.”

Sena bangkit dari duduknya.

“Lho, kok buru-buru...? Bapak tak keberatan kalau Nak Sena mau tinggal di desa ini satu dua hari lagi...,”

sahut Ki Praba dengan penuh persahabatan. Lelaki tua itu lalu berdiri dari duduknya serta diikuti Sanjaya dan Purnama.

“Mungkin kisanak ini ada tugas yang sangat penting, Ki,” sindir Sanjaya dengan nada sinis.

“Ah, kamu ini...,” ujar Ki Praba sambil memegang bahu Sanjaya.

Sena hanya nyengir kuda mendengar ucapan Sanjaya. Hatinya sudah mengerti apa maksud ucapan Sanjaya itu. Namun dirinya membalas dengan senyuman sambil menggaruk-garuk kepala.

“Terima kasih, Ki Mungkin lain waktu aku mampir kemari. Aku mohon diri...,” kata Sena sambil menyalami tangan Ki Praba. Kemudian mengangguk pada Sanjaya dan Purnama yang memandanginya dengan pandangan agak sinis.

Baru saja Sena melangkahkan kakinya dua tindak, tiba-tiba....

“Tolong... Tolong... Tolong...”

Terdengar teriak seorang wanita setengah baya yang berlari ketakutan menuju rumah Ki Lurah Praba.

Sena menghentikan langkahnya. Matanya mem-perhatikan wanita setengah baya yang berlari mendekati Ki Praba. Sanjaya dan Purnama nampak sedikit cemas. Matanya terus menatap tajam pada Sena.

“Tolong, Ki Tolong, Ranti dibawa oleh Raden Kumbara bersama anak buahnya” kata wanita itu sambil menangis.

“Raden Kumbara? dari mana kau tahu, kalau dia Kaden Kumbara?” tanya Ki Praba, kaget.

“Lelaki muda itu menyebutkan namanya Membawa Ranti dengan kereta kuda. Mereka juga membunuh suamiku, Ki” ujar Nyi Karti sambil terus menangis.

Kontan Sanjaya dan Purnama melesat cepat bagai terbang, tanpa permisi dulu pada Ki Praba.

Sena segera mendekati Ki Praba yang masih berusaha menenangkan Nyi Karti. Wanita setengah baya itu terus menangis. Hal itu karena mencemas-kan anak gadisnya, yang pasti tidak akan kembali lagi. Dirinya tahu kalau Ranti, anaknya akan dijadikan gundik setelah direnggut keperawanannya oleh Raden Kumbara.

“Ki Lurah, kalau boleh aku bertanya, siapakah Raden Kumbara itu? Dari kadipaten atau kerajaan mana?” tanya Sena ingin tahu.

“Hm... Dia sebenarnya bukan raden. Dia manusia yang berkhianat” jawab Ki Praba dengan suara sedikit bergetar, menunjukkan kemarahannya.

Mendengar ucapan Kepala Desa Karang Galuh itu Sena mengerutkan kening, tak mengerti.

“Apa maksud Ki Lurah...?” tanya Sena dengan mulut cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.

“Panjang ceritanya, Nak Sena. Sebaiknya kita menyusul Sanjaya dan Purnama dulu” ajak Ki Praba.

Sena masih merasa heran. Kenapa tiba-tiba desa yang katanya aman dan tenteram ini, tiba-tiba saja kacau karena ulah seorang yang disebut Raden Kumbara.

“Siapa Raden Kumbara itu?” tanya Sena dalam hati.

“Nyi Karti tunggulah di sini Biar aku menyusul mereka...,” ujar Ki Praba berusaha menenangkan hati Nyi Karti yang masih terus menangis sedih. “Nyimas, tolong jaga Nyi Karti” seru Ki Praba kepada istrinya yang keluar ketika mendengar tangis Nyi Karti. Wanita itu hanya menganggukkan kepala.

“Ayo, Nyi” ajak Nyi Praba sambil membimbing masuk wanita berusia lima puluh tahun itu. Dengan langkah cepat, Ki Praba segera pergi diikuti Sena menuju utara desa, arah yang dituju Sanjaya dan Purnama.

*** 2

Kereta kuda yang membawa Ranti dipacu kencang oleh sang Kusir. Di belakang kereta itu enam orang penunggang kuda mengiringi. Mereka semua berpakaian hijau-hijau dengan blangkon yang juga berwarna hijau. Keenam pengawal itu bersenjata golok berukuran panjang, terselip di pinggang. Tampang mereka garang, semuanya berkumis tebal.

Sesampai di jalan yang cukup lapang menuju pantai, tiba-tiba kereta kuda itu berhenti. Kuda-kuda yang menarik kereta itu mengangkat kedua kaki depan sambil meringkik.

Dua orang lelaki yang tak lain Sanjaya dan Purnama, menghadang lajunya kereta kuda. Hal itu membuat kusir kereta kuda itu terkejut, hingga jatuh bergulingan ke tanah.

Sedangkan di dalam kereta itu terdengar teriakan Ranti yang meratap ketakutan.

“Tolong... Tolong...”.

Sanjaya yang berwatak lebih keras dan cepat naik darah dibandingkan Purnama, segera membabatkan goloknya ke kusir kuda itu.

“Mampus kau Heaaa...” bentak Purnama.

Wrt

Crak

“Aaa...”

Seketika kusir kereta kuda itu terkapar tewas ber-lumuran darah. Golok Sanjaya mendarat telak di lehernya. Tidak lama kemudian keluarlah lelaki muda bertampang culas dengan sedikit kumis di bibirnya, wajahnya yang bengis menunjukkan jiwanya yang licik.

“Bedebah Siapa yang telah berani melawanku”

dengus lelaki berpakaian hitam yang baru keluar dari kereta.

“Kami” bentak Sanjaya gusar. Matanya menatap tajam wajah Raden Kumbara, seakan menyimpan kebencian yang meluap-luap. Gigi-giginya saling gemerutuk menahan kegeraman.

Lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun, bermuka bengis yang di tangannya memegang keris, seketika memandang kedua kakak beradik itu. Mata lelaki yang mengaku sebagai Raden Kumbara itu terbelalak, selelah tahu siapa yang menghadangnya.

“Hai..., Cecurut-cecurut.. Jangan coba-coba men-dekatiku. Wanita ini akan kugorok lehernya...” ancam Raden Kumbara dengan pongahnya, sambil mendekap Ranti dengan menempelkan keris di leher gadis cantik itu.

“Biadab kau, Kumbara Pengkhianat...” dengus Sanjaya dengan geram dan marah, “Dimas Purnama, Kita harus menggunakan siasat untuk menghadapinya, dia sangat licik”

Purnama mengangguk. Matanya terus menatap tajam wajah Raden Kumbara yang mulai melangkah mundur, membawa Ranti dengan ancaman akan membunuhnya.

Enam orang anak buah Raden Kumbara segera mengepung Sanjaya dan Purnama dengan senjata terhunus.

“Tunggu apa lagi... Habisi kedua monyet busuk itu” perintah Raden Kumbara pada anak buahnya yang menunggu perintahnya.

Keenam anak buahnya langsung menyerang Sanjaya yang masih dengan tenang berdiri di tempatnya.

“Serang...” teriak pimpinan dari keenam anak buah Raden Kumbara itu.

“Heaaa...”

Trang Trang Trang

Senjata mereka saling beradu. Sanjaya nampak dengan tenang menghadapi keenam anak buah Raden Kumbara. Dirinya hanya berkelit ke kiri dan ke kanan, serta melompat mundur dan menangkis serangan mereka. Kemudian sesekali melancarkan serangan balik yang mematikan.

“Heaaa...”

“Aaa...”

“Ukh...”

Maka terdengarlah teriakan kematian dari anak buah Raden Kumbara yang ilmu silatnya memang jauh di bawah Sanjaya. Sehingga hanya dalam beberapa gebrakan Sanjaya sudah dapat menghabisi empat orang.

Sementara itu Purnama melenting ke udara sambil bersalto, mencoba menghadang Raden Kumbara yang berusaha lari dari tempat itu menuju pantai.

“Heaaa...”

Raden Kumbara terkejut ketika ia berbalik ternyata Purnama sudah ada di hadapannya. Dituding-kan kerisnya lurus ke arah Purnama yang dengan tenang melangkah mendekati. Lelaki berpakaian serba hitam itu melangkah mundur sambil mengancam Purnama.

“Ha ha ha... Kau mau jadi pahlawan untuk gadis ini, hah? Gadis ini akan jadi gundikku. Tak ada seorang pun yang bisa menghalangiku He he he...”

ujar Raden Kumbara sambil menempelkan keris ke leher Ranti yang sudah makin pucat wajahnya.

Karena begitu ketakutan gadis itu nampak seperti pasrah, tak berdaya.

Raden Kumbara terus mundur menuju pantai. Di sana terlihat sebuah perahu berukuran besar tertambat di pinggiran pantai.

“Rupanya bangsat ini sudah menyiapkan perahu untuk membawa Ranti ke Pulau Neraka itu...”

gumam Purnama dalam hati.

Raden Kumbara terus menyeret Ranti dengan kasar menuju perahu itu. Purnama pun terus mengawasi gerak-gerik Raden Kumbara sambil menahan rasa geram.

Sementara itu Sanjaya terus berusaha melumpuh-kan dua pengawal Raden Kumbara yang ilmu silatnya lumayan tangguh. Dengan cepat Sanjaya membabatkan golok bergigi itu ke perut kedua lawannya.

“Heaaa... Mampus kau...” seru Sanjaya dengan penuh kegeraman.

Wret Jrabs

“Aaakh...”

“Aaa...”

Perut kedua pengawal Raden Kumbara terkoyak lebar terbabat senjata Sanjaya. Namun orang kepercayaan Kepala Desa Karang Galuh itu tampaknya belum puas. Dengan bengis kembali dibabarkan goloknya ke leher kedua lawan.

Crak Crak

“Aaa...”

Darah segar muncrat dari leher kedua pengawal Raden Kumbara yang terjungkal ke tanah. Mereka langsung tewas seketika dengan leher putus.

Sanjaya tertawa puas, kemudian melesat meninggalkan dua mayat tersebut. ***

Baru saja Sanjaya pergi, Ki Praba dan Sena tiba di tempat itu.

“Ya, Tuhan...” gumam Ki Praba ketika melihat keenam pengawal Raden Kumbara yang mati dengan keadaan mengerikan. Apalagi ketika melihat dua di antara enam mayat itu kepalanya putus.

Sena menggaruk-garuk kepala melihat mayat-mayat tergeletak di jalan itu, Ki Praba tiba-tiba melesat cepat meninggalkan Sena. Melihat kepala desa itu telah hilang dari dekatnya, Sena cengengesan.

“Hebat juga lelaki tua itu...,” gumamnya dalam hati.

Kemudian Sena pun melesat dengan ilmu lari

'Sapta Bayu'-nya. Bagai terbang Sena melesat dari tempat itu.

Sementara itu di tepi Pantai Karang, Raden Kumbara sudah berada di atas perahu. Namun ketika siap membawa kabur Ranti, tiba-tiba saja lelaki muda itu terpekik keras. Bersamaan dengan itu Ranti terlepas dari pegangannya. Gadis malang itu terjatuh di dalam perahu. Rupanya senjata rahasia yang sempat dilontarkan Purnama mendarat telak di bahu Raden Kumbara.

Ranti yang terbebas dari ancaman Raden

Kumbara dengan ketakutan berusaha lari meninggalkan pesisir.

Raden Kumbara yang kesakitan, tak mampu mengejar Ranti, sehingga gadis itu dengan aman berlari berusaha menjauhi perahu Raden Kumbara.

Kesempatan itu dipergunakan Purnama dengan baik. Tubuhnya melesat bagai seekor elang menuju perahu untuk menyelamatkan Ranti. Namun sial baginya, Raden Kumbara rupanya telah mengetahui maksud Purnama. Maka...,

“Heaaa...”

Bukkk Plakk

Purnama tak menyangka kalau Raden Kumbara akan dapat menyerangnya setelah terkena senjata rahasianya. Sehingga dirinya tak mampu melakukan gerakan untuk menghindar ketika pukulan telapak tangan Raden Kumbara mendarat di dadanya.

“Huk”

Purnama terhuyung ke belakang lalu terjengkang ke pasir pantai. Sambil merintih, tangannya meraba dada yang berbekas telapak tangan biru kehitaman.

Seketika mata Purnama terbelalak kaget.

“Hah? Pukulan 'Tapak Maut'” gumam Purnama sambil menahan sakit

Tepat ketika Purnama menghadapi keadaan bahaya, Sanjaya datang. Melihat adiknya dalam keadaan terluka parah Sanjaya langsung menyerang Raden Kumbara dengan sabetan dan tusukan goloknya.

Raden Kumbara yang sudah berada di pasir pantai dengan cepat melakukan lompatan untuk mengelak sambil balas menyerang dengan sebatang kerisnya ke rusuk Sanjaya yang berada di sebelah kirinya.

Sanjaya tersentak kaget mendapat serangan balik dari Raden Kumbara.

“Heaaa...”

Bret

Baju Sanjaya tersambar keris Raden Kumbara.

Robek Kalau saja Sanjaya terlambat mengelak ke belakang, tak pelak lagi rusuknya akan tergores senjata tajam itu. “Bangsat Hampir igaku remuk” gumam Sanjaya dalam hati.

Kemudian Sanjaya kembali dengan kuda-kudanya untuk siap melakukan serangan dengan jurus mautnya. Kaki kanan dan kirinya bergerak perlahan ke kanan dan ke kiri. Sedang tangannya yang memegang golok dipermainkan dengan cepat, diputarnya hingga golok itu bagai kipas.

Wukkk Wukkk

Sementara itu, Raden Kumbara tak mau kalah.

Dirinya juga mempersiapkan kuda-kuda yang mantap.

Kaki kirinya diangkat sambil ditekuk, kemudian diturunkan kembali dengan mantap bersama dengan gerakan tangannya yang memegang keris. Tampaknya lelaki berpakaian serba hitam itu hendak mengerahkan jurus ampuhnya.

Mata kedua lelaki ini saling tatap dengan tajam.

Tak berkedip sedetik pun. Sebab sekali berkedip saja serangan lawan dapat membuyarkan dirinya. Setelah cukup lama mereka berpandangan dan mempersiapkan kuda-kuda, tiba-tiba keduanya saling memekik keras.

“Heaaa...”

“Heaaa...”

Trangngng

Keduanya sama-sama menyerang maju, dan saling papak. Golok dan keris beradu. Saling tebas dan tusuk. Sanjaya kemudian melenting ke udara sambil membabatkan goloknya ke kepala Raden Kumbara.

Wrettt

“Ukh...” pekik Raden Kumbara.

Blangkonnya rusak dan terlepas dari kepala.

Sehingga rambutnya terurai. Belum lagi Raden Kumbara sempat melancarkan serangan balik, Sanjaya sudah mendahului dengan tendangan keras ke punggungnya

“Heaaa...”

Bluk

“Akh...”

Raden Kumbara terhuyung-huyung hingga me-nabrak perahu yang masih berada di atas pasir pantai. Sanjaya yang sudah sangat marah dan benci terhadap Raden Kumbara, kembali melancarkan serangan susulan.

“Heaaa... Sekarang mampus kau, Pengkhianat”

teriak Sanjaya sambil melompat ke tubuh Raden Kumbara yang berusaha mengelak serangan Sanjaya.

Namun, karena Raden Kumbara sudah terluka, babatan golok Sanjaya yang cepat bagai kilat menyambar leher Raden Kumbara....

Jrabs

“Aaa...”

Leher Raden Kumbara terkoyak hampir putus

Namun tak hanya sampai di situ. Sanjaya yang sudah kalap dan dihinggapi oleh kebencian yang mendalam menghujani tusukan ke perut dan membabat tangan kanan Raden Kumbara yang masih menggenggam keris.

Crak Crakkk

Darah segar muncrat ke wajah dan pakaian Sanjaya. Raden Kumbara mati dengan keadaan mengerikan. Tangan kanannya putus dengan masih menggenggam keris. Sanjaya tertawa terbahak-bahak. Hatinya benar-benar merasa puas.

Kemudian diambilnya keris dalam genggaman tangan Raden Kumbara yang sudah kaku itu dengan jalan memotong jari-jarinya dengan bengis dan sadis sekali. Diselipkan keris itu ke pinggang dengan tangan kirinya. Sanjaya mengangkat goloknya hendak memotong kepala Raden Kumbara.

“Tunggu...”

Terdengar seruan dari seorang lelaki Suara itu begitu berwibawa. Sanjaya mengurungkan niatnya.

Kepalanya menoleh ke belakang. Ternyata Ki Praba yang berseru tadi. Di belakangnya nampak Sena tengah menggaruk-garuk kepalanya, sambil memandangi mayat Raden Kumbara yang tergeletak di dekat perahu dengan leher hampir putus.

“Aku tak menyangka kalau kau akan melakukan semua ini dengan keji, Sanjaya,” ucap Ki Praba dengan nada suara agak marah.

“Dia pantas mendapat ganjaran seperti ini, Ki.

Sudah banyak harta, nyawa, serta kemerdekaan kita diinjak-injak oleh kelompok orang-orang yang mengaku seorang raden, ini. Yang sebenarnya adalah pengkhianat-pengkhianat Kadipaten Singa Raja,”

jawab Sanjaya dengan napas terengah-engah.

Dadanya naik turun pertanda kemarahannya yang menggelegak.

“Aku mengerti. Tapi bagaimana nantinya, jika terdengar ayah Raden Kumbara bahwa putranya mati oleh orang Karang Galuh” ujar Ki Praba sambil menunjuk ke wajah Sanjaya. Lalu bergeleng kepala,

“baru berjalan lima bulan ini desa kita aman.... Kini kembali akan menjadi neraka bagi kita...,” tambahnya sambil terus menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara itu Sena sedang menolong Purnama yang sudah nampak pucat dan agak kebiruan. Lelaki berpakaian kuning itu terkena racun keris Raden Kumbara. Sena berusaha menyembuhkan dan menghilangkan racun itu dengan ilmu 'Penawar Racun Ungu'. Tangan Sena menotok bagian tubuh tempat racun itu bersarang. Tubuh Purnama bergoncang bagai kena setrum bertegangan tinggi. Mulutnya berteriak-teriak keras, mendengar itu, Sanjaya dan Ki Praba segera mendekati Sena yang sedang mengobati Purnama.

“Hai... Kau Mau kau apakan adikku? Kau rupanya orang-orang dari Pulau Neraka itu...” bentak Sanjaya marah dan ingin menyerang Sena. Namun Ki Praba cepat melarang dengan menahan Sanjaya.

Sanjaya tak berani melawan, karena Ki Praba sudah seperti orangtuanya sendiri. Karena sejak Sanjaya dan Purnama jadi anak-anak yatim, Ki Praba yang tak mempunyai keturunan, mengangkat mereka sebagai anak angkat.

Sanjaya hanya dapat menahan rasa cemas, khawatir terhadap keadaan adiknya.

Setelah beberapa lama Sena mengobati, Purnama yang tadinya pucat, kini nampak mulai sehat kembali.

Wajahnya sudah kembali berubah segar. Bahkan sesaat kemudian Purnama tertidur dengan tenang.

Sanjaya menarik napas lega. Begitu pula Ki Praba.

Lelaki tua itu menyalami Sena.

“Nak Sena..., kalau ada kata-kata yang lebih ber-harga dari terima kasih, itulah yang akan kuucapkan kepadamu...,” ujar Ki Praba dengan wajah gembira.

“Ah, sudah kewajiban bagiku menolong sesama manusia, Ki. Bukan hanya Purnama, tapi semua orang yang perlu pertolongan... “ jawab Sena dengan santai sambil mengusap wajahnya yang berkeringat, setelah mengeluarkan tenaga dalam cukup banyak.

“Begitu mulia hatimu, Nak Sena...” puji Ki Praba lagi sambil menepuk-nepuk bahu Sena yang hanya cengar cengir. “Jangan terlalu memujiku, Ki Aku hanyalah manusia biasa yang bisa saja melakukan kesalahan.

Semua ini kehendak Yang Maha Kuasa. Tanpa bantuan dan kehendak-Nya, tak mungkin aku bisa menyembuhkan Purnama...,” ujar Sena dengan mantap.

Ki Praba manggut-manggut sambil memegangi jenggotnya. Lelaki tua itu nampak begitu kagum akan jawaban Sena yang tulus dan polos itu.

“Baru kali ini kudengar ucapan anak muda seperti ini.... Siapa sebenarnya pemuda gagah ini. Walaupun tingkah lakunya terkadang seperti orang sinting, gila..., tapi...,” ujar Ki Praba dalam mulai bertanya-tanya sendiri.

Sanjaya pun mulai sadar, bahwa Sena bukanlah pemuda sembarangan. Dan dirinya pun tak lupa mengucapkan terima kasih pada Sena, dan ber-jabatan tangan erat, menunjukkan bahwa keduanya mengikat persahabatan yang dalam.

Ki Praba memandangi dengan hati penuh gembira dan haru. Lelaki tua itu tersenyum-senyum.

“Jaya...,” panggil Ki Praba pada Sanjaya.

“Ya, Ki...”

“Sebaiknya kita kubur dulu mayat Raden Kumbara itu... Biar pun jahat, pernah melukai hati dan memeras kita, dia juga manusia.... Ayo” perintah Ki Praba lalu melangkah mendekati mayat Raden Kumbara, diikuti Sanjaya dan Sena.

“Oh, ya. Ke mana si Ranti...?” tanya Sanjaya yang tiba-tiba teringat gadis anak Nyi Karti itu.

“He he he... Kulihat gadis itu tadi sudah pergi meninggalkan tempat ini,” sahut Sena dengan cengengesan.

“Iya. Mungkin dia tak tega menyaksikan tindakanmu, Sanjaya,” ujar Ki Praba.

Setelah mengubur mayat Raden Kumbara tak jauh dari pantai itu, Sena dan Sanjaya menggotong Purnama yang belum sadarkan diri.

*** 3

Malam-itu suasana Desa Karang Galuh yang biasanya tenang, seketika diselimuti ketegangan. Semenjak kejadian tadi pagi, yang menyebabkan tewasnya Raden Kumbara, para penduduk terutama Ki Praba justru tak tenang. Hal itu karena mereka takut kalau-kalau pimpinan Raden Kumbara yang tiada lain Kala Bendana akan kembali memerintah anak buahnya untuk membuat kekacauan di Desa Karang Galuh.

Malam itu, di rumah kepala desa, nampak masih ada tiga orang berkumpul. Dua duduk di bale-bale, sedangkan seorang lagi ngobrol bersama Ki Praba di dalam. Kedua orang yang duduk di bale-bale, tak lain Purnama dan Sena, sedangkan yang tengah berbincang di dalam bersama Ki Praba, tiada lain Sanjaya.

Purnama bersandar di dinding rumah, duduk bersila. Sedangkan Sena duduk di sebelah kanannya.

“Hhh... Aku telah berhutang budi padamu,” desah Purnama lirih dengan penuh perasaan terima kasih.

Wajahnya menoleh kepada Sena yang cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.

“Aha, mengapa kau bicara begitu, Kisanak?” tanya Sena seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Ya, jika tidak kau tolong, mungkin aku sudah mati.”

“Aha, tidak juga, Kisanak. Kurasa, aku bukan apa-apa. Semua hanya karena Hyang Widi semata,” ujar Sena dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. “Ya, aku tahu. Tapi kalau tak ada kau dan Ki Praba, tak mungkin ada orang yang bisa menyembuhkan dan membunuh racun keris milik Raden Kumbara,” kata Purnama masih tetap berkeyakinan, kalau semua perbuatan Sena merupakan budi baik yang tak terhingga.

“Aha, lupakanlah”

Beberapa saat kemudian, keduanya terdiam.

Hanya perasaan dan pikiran mereka yang berbicara.

Keduanya saling tatap penuh persahabatan.

Kemudian di bibir keduanya mengurai senyum.

“Ah, tak kusangka, kalau pemuda bertingkah laku gila ini memiliki budi pekerti yang luhur,” gumam Purnama dalam hati, “Sungguh bukan sembarangan pendekar. Betapa berdosanya aku, yang semula menaruh syak wasangka yang tak baik kepadanya.”

“Aha, kau termenung, kenapa...?” tanya Sena sambil mengambil bulu burung yang terselip di ikat pinggang. Kemudian dikorek telinganya dengan bulu burung. Tampak mulutnya cengar-cengir kegelian.

Matanya merem-melek memandang wajah Purnama yang menggeleng-geleng kepala sambil mendesah berat.

“Tidak..., tidak apa-apa,” sahut Purnama lirih, berusaha menutupi apa yang sebenarnya berkecamuk dalam pikirannya.

“Ah ah ah... Kurasa tak baik melamun, Kisanak,”

seloroh Sena sambil terus mengorek telinga. Mulutnya cengengesan, membuat Purnama tersenyum menggeleng-gelengkan kepala.

Purnama benar-benar tersindir mendengar selorohan yang diucapkan Sena. Namun hatinya senang, karena tiba-tiba merasa terhibur kelucuan Sena. “Aha, kalau boleh kutahu, mengapa kakakmu Sanjaya begitu benci pada Raden Kumbara? Sampai-sampai tadi pagi Sanjaya seperti hendak melumatkan Raden Kumbara. Sepertinya ada dendam di hatinya...,” tanya Sena berusaha ingin tahu.

Tersentak Purnama mendengar ucapan Sena.

Keningnya mengerut, matanya menyipit memandang Sena dengan agak menyelidik. Namun Sena nampak masih tenang, cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.

“Aha, janganlah berprasangka buruk, Kisanak Aku hanya ingin tahu. Mungkin kita sejalan, karena aku pun tak senang pada penindasan dan pemerasan terhadap kaum lemah,” ujar Sena sebelum Purnama menyahut. Sena melihat tatapan mata Purnama agak menaruh prasangka tak baik terhadap dirinya.

Purnama tercenung diam. Sepertinya dia tengah berpikir dan menerka-nerka siapa Sena sebenarnya.

Setelah yakin kalau Sena bukan orang yang patut dicurigai, dengan helaan napas panjang, Purnama menuturkan apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya dan Sanjaya.

“Baiklah, sahabat. Aku akan menceritakan padamu mengenai kami berdua, juga mengenai desa ini.

Karena semua kejadian ini ada sangkut pautnya,”

ujar Purnama.

***

Lima tahun yang silam, Sanjaya dan Purnama pulang dari mencari kayu di hutan. Hal itu dilakukan mereka setiap tiga hari sekali. Istri Sanjaya yang bernama Lestari, anak Tumenggung Kalisewu, selalu menyambut kedatangan suami dan adik iparnya dengan senyum manis dan ramah. Hal itu menjadikan rasa lelah kedua kakak-beradik itu hilang.

Antara Sanjaya dan Lestari sangat saling men-cintai. Hal itu dibuktikan Lestari, yang sudi meninggalkan ketumenggungan dan kekayaan untuk hidup miskin bersama lelaki yang sangat dicintainya.

Namun, hubungan mereka tidak direstui orangtua Lestari.

Setelah kabur dari ketumenggungan, Sanjaya dan istri serta adiknya hidup di lereng bukit yang jauh dari keramaian. Hal itu dimaksudkan agar orang-orang ketumenggungan tak ada yang tahu tempat mereka.

Di lereng Bukit Kadal, mereka hidup bersama dua tetangga lain. Beruntung kedua tetangga mereka sangat baik, bahkan menganggap anak pada mereka.

Hari demi hari kehidupan mereka tenang, terlepas dari perasaan was-was. Hal itu karena mereka terlarut dalam suasana kekeluargaan yang erat, yang satu sama lain tolong-menolong. Hingga sampai pada suatu hari....

“Purnama,” panggil Sanjaya pada adiknya.

“Ada apa, Kang?”

“Aku tiba-tiba mendapat firasat tak baik,” desah Sanjaya dengan wajah diluputi kecemasan. Sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkan. Hal itu membuat Purnama mengerutkan kening, menatap pada kakaknya dengan perasaan tak mengerti.

“Tentang apa, Kang?” tanya Purnama ingin tahu.

“Duduklah dulu” perintah Sanjaya.

Purnama menurut duduk di samping kakaknya yang tampak murung. Beberapa kali Sanjaya menarik napas dalam-dalam, atau terkadang menengadah ke atap rumahnya. Seakan-akan hatinya sangat berat untuk berbicara. “Katakanlah, Kang” pinta Purnama.

“Aku mendapat firasat, kalau orang-orang jahat akan datang ke tempat kita,” desah Sanjaya setelah termenung agak lama. Mendengar ucapan itu Purnama tersentak kaget.

“Maksudmu, Kang” tanya Purnama semakin penasaran.

“Entahlah, sejak kakakmu melahirkan, perasaanku mengatakan bencana akan datang.”

“Mungkin itu hanya perasaanmu, Kang. Karena kau sangat menyanyangi Mbakyu Lestari,” tukas Purnama berusaha menghibur Sanjaya dari ke-gelisahan.

“Mungkin juga,” tukas Sanjaya, “Kuharap tak ada apa-apa.”

“Begitu juga denganku, Kang.”

“Ah, sudahlah Hari sudah larut, bukankah kita besok akan mencari kayu?” ujar Sanjaya mengingatkan adiknya.

“Biarlah aku saja yang pergi, Kang Sementara Kakang tetap di rumah saja menjaga mbakyu,” kata Purnama mengusulkan. Dirinya tak ingin Lestari yang baru tiga bulan melahirkan harus ditinggal seorang diri. Meski di tempat itu ada Ki Praba dan Nyi Bawok serta suaminya. Namun alangkah baiknya jika Sanjaya menjaga istri dan bayinya.

“Itu gampang. Sekarang tidurlah.”

Purnama menuruti kata-kata kakaknya. Dia pun berlalu meninggalkan Sanjaya yang masih duduk termenung memikirkan firasatnya.

*** Purnama menarik napas dalam-dalam, seakan-akan berusaha mengisi rongga paru-parunya yang kering. Sedangkan Pendekar Gila nyengir dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Matanya melihat perubahan wajah Purnama, yang tengah mengenang kejadian pahit yang pernah dialami.

“He he he...” Sena tertawa terkekeh-kekeh.

Purnama mencoba tersenyum, meski senyumannya terasa sangat hambar. Matanya menatap wajah Pendekar Gila yang bertingkah laku konyol. Kemudian Purnama tersenyum-senyum. Ada perasaan senang, bisa berteman dengan pemuda lucu yang mampu menghibur hatinya di kala duka seperti itu.

“Aha, lalu bagaimana selanjutnya?” tanya Sena ingin tahu. Purnama tersenyum.

“Baiklah, kurasa tak ada salahnya kau mengetahui semuanya.”

Setelah menarik napas dalam-dalam, Purnama pun melanjutkan ceritanya.

Pagi itu, Purnama melihat kebimbangan di wajah kakaknya. Hal itu membuat Purnama mengerutkan kening. Dirinya yang sudah siap mencari kayu, melangkah menghampiri Sanjaya.

“Kang, kalau Kakang bimbang, biarlah aku saja yang pergi mencari kayu” pinta Purnama.

Sanjaya menghela napas panjang, kemudian ia menggelangkan kepala sambil memandang wajah adiknya.

“Tidak, Adikku. Aku akan turut bersamamu.”

“Tapi, Kang. Bagaimanapun Kakang harus menjaga mbakyu dan Ragil. Mereka baru tiga bulan lepas dari perjuangan hidup,” Purnama berusaha mencegah niat kakaknya. “Lagi pula, bukankah Kakang merasa ada firasat tak enak?” Sanjaya menarik napas dalam-dalam. Seolah-olah dirinya masih dalam kebimbangan. Saat itu Nyi Tarsih dan suaminya datang. Seperti biasanya, kedua suami istri itu setiap pagi berkunjung untuk menjenguk bayi Sanjaya. Keduanya memang sangat menyayangi Ragil, dan menganggap cucu mereka sendiri.

Sanjaya menuturkan pada Nyi Bawok dan suaminya, bahwa dia dalam keadaan bimbang untuk pergi mencari kayu. Hal itu karena dia masih memikirkan istri dan anaknya.

“Ah, Nak Sanjaya tak perlu khawatir. Biarlah kami yang menjaga mereka Pergilah mencari kayu

Percayalah, kami akan menjaga keduanya dengan sebaik mungkin” saran Nyi Bawok berusaha menenangkan hati Sanjaya.

Sanjaya tercenung. Sepertinya tengah mempertimbangkan saran Nyi Tarsih.

“Baiklah kalau begitu, Nyi. Tolong jaga mereka”

ujar Sanjaya.

Kemudian Sanjaya melangkah mendekati Lestari yang sedang menidurkan bayinya. “Diajeng, hati-hati, ya Kakang pergi mencari kayu.”

“Kakang juga harus hati-hati,” sahut Lestari.

Pagi itu juga, Sanjaya dan Purnama pergi untuk mencari kayu bakar.

***

Dari kedua belah mata Purnama, nampak meleleh air mata. Sepertinya Purnama merasa duka, jika mengingat kejadian yang pernah dialaminya.

Melihat hal itu, Sena meringis. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Disimpannya bulu burung di ikat pinggang. Wajahnya pun turut berduka. “Oh, kenapa kau sedih, Kisanak?” tanya Sena dengan wajah sedih. Namun secepat itu pula, kembali pada tingkahnya yang konyol. Cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.

Melihat tingkah laku Sena yang lucu, meski menangis Purnama tersenyum juga. Dirinya benar-benar tak mengerti, mengapa Sena yang tadi ber-sedih tiba-tiba tersenyum-senyum.

“Benar-benar gila” pikir Purnama dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Aha, kurasa tak sebaiknya menangis, Kisanak. Hi hi hi... Zaman ini memang aneh. Hi hi hi... lucu sekali,” gumam Sena dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Purnama menarik napas dalam-dalam. Disekanya air mata yang meleleh. Bibirnya semakin melebarkan senyum, geli menyaksikan ucapan dan tingkah laku pemuda mirip orang gila di sampingnya. Baru kali ini Purnama melihat tingkah laku konyol itu.

“Ah, kau memang benar-benar mampu menghibur orang yang sedang sedih, Kisanak,” ujar Purnama polos, memuji Sena yang semakin cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.

“Ah ah ah... Memang aku gila. Tetapi, kurasa ada yang lebih gila. Ya, orang-orang yang berhasrat besar dengan keduniaan. Hi hi hi... Bukankah begitu, Kisanak?” tanya Sena masih cengengesan.

“Ya, kau benar, Pendekar.”

“Aha, mengapa kau panggil aku pendekar? Sebut saja kawan atau Sena. Hi hi hi...”

“Baiklah,” sahut Purnama.

“Aha, lalu apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Sena ingin tahu.

Purnama tak langsung bercerita. Lama dirinya terdiam dengan mata menatap lepas ke depan.

Dihelanya napas dalamnya.

“Kejadian keji itu kami tak tahu. Tapi kami men-dengarnya dari Ki Kerta, yang masih hidup dan menyaksikan kejadian itu dengan sembunyi.”

Purnama menarik napas dalam-dalam. Kemudian menceritakan apa yang diceritakan Ki Kerta kepadanya.

Sore itu Lestari merasa tak betah diam di rumah, badannya terasa tambah lemas kalau tak bekerja.

Maka dirinya segera membawa bakul berisi pakaian kotor untuk dicuci di sungai.

“Lho... Mau ke mana kamu Lestari...?” tanya Nyi Bawok yang sedang memberesi kayu-kayu bakar di halaman rumahnya.

“Mau mencuci pakaian kotor, Nek...” jawab Lestari lemah sambil melangkah mendekati wanita tua itu.

“Sudah... Sudah... Cari penyakit. Kamu kan sudah dipesan sama suamimu? Agar jangan ke mana-mana,” kata Nyi Bawok mengingatkan Lestari. “Dan lagi anakmu di dalam sendirian..., walah Tari, Tari...?

Bagaimana kamu ini. Ayo, jangan pergi, nanti aku kena salah kalau kamu pergi... Sana masuk lagi...”

kata Nyi Bawok dengan nada memerintah pada Lestari.

“Tapi Nek... saya juga ingin mandi. Badan terasa panas dan tak enak rasanya. Sebentar kok Nek....

Tolong jagakan si Ragil ya, Nek...” kata Lestari.

Nyi Bawok menghela napas panjang dan meng-gelengkan kepala, tanda tak menyetujui maksud Lestari. Namun Lestari dengan manjanya meminta agar N Bawok mau memberikan izin untuknya.

“Kamu ini memang bandel Tari Tapi Nenek juga kasihan. Baiklah..., tapi jangan lama-lama Tuh, lihat mendung...” ujarnya pada Lestari sambil menunjuk ke atas. Langit memang mulai mendung. Walaupun biasanya sinar matahari masih dapat menerangi bumi.

Lestari tertawa senang karena Nyi Bawok meng-izinkannya.

“Terima kasih, Nek...”

Selesai berkata demikian, Lestari segera berlalu meninggalkan Nyi Bawok sambil membawa bakul tempat pakaian kotor. Perempuan muda itu menuju sungai yang ada di bawah bukit, tak berapa jauh dari rumahnya.

Kaki Lestari menuruni jalan setapak yang berumput. Langkah kakinya cepat. Dan tak lama kemudian Lestari sudah sampai di sungai yang tak begitu besar. Airnya jernih dan bersih. Di pinggir sungai itu ada batu-batu hitam. Di situlah Lestari mencuci pakaian-pakaian kotor itu. Selesai mencuci Lestari mulai mandi dengan hanya mengenakan kain sarungnya.

Tanpa disadarinya sepasang mata mengamati tubuh mulus yang sedang mandi itu dari balik semak-semak di seberang sungai.

Lestari masih asyik mandi dengan tenang sambil bersenandung kecil, menggosoki tubuh dan wajahnya. Kemudian dibenamkan wajahnya ke air sungai yang jernih itu. Lalu timbul lagi dengan menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, meremas-remas rambutnya yang panjang dengan kedua belah tangannya.

Setelah merasa cukup segar merendam di air sungai itu, Lestari segera mengeringkan tubuhnya dengan kain kering. Menggelung rambut sedemikian rupa, lalu melangkah meninggalkan tempat itu.

Wajahnya nampak puas, karena merasa segar habis mandi. Kembali Lestari melangkahkan kakinya di jalan setapak yang berumput itu. Namun kali ini ia menaiki jalan yang menanjak menuju rumahnya.

Tanpa dia sadari, ada langkah-langkah kaki mengikuti jejaknya. Dan ketika Lestari ingin mencapai bukit, kakinya tiba-tiba menginjak duri pohon.

“Aaa...”

Lestari memekik lirih, lalu menghentikan langkah dan mengangkat kaki kirinya yang menginjak duri tadi. Darah keluar tak begitu banyak ketika duri di telapak kaki dicabutnya.

“Aneh, tak biasanya ada duri di jalan...?” gumam nya dalam hati.

Setelah selesai mengikat kaki yang terkena duri dengan sobekan kain bekas mengeringkan badan tadi, Lestari kembali melanjutkan langkah menuju rumah.

“Hah...?”

Lestari sangat terkejut ketika melihat kandang ayam dan tempat penyimpanan kayu bakar

berantakan. Segera Lestari berlari menuju rumahnya.

Dengan, perasaan cemas dan khawatir.

Benar, ketika Lestari masuk rumah, anaknya tak ada di tempat tidurnya. Dengan panik Lestari kembali keluar.

“Nek... Nek Bawok...” panggil Lestari sambi berlari menuju rumah Nyi Bawok yang tak jauh dari rumahnya. Karena ia pikir bayinya pasti ada di rumah Nyi Bawok.

Namun apa yang dilihatnya sangat mengejutkan.

Nyi Bawok bersama suaminya Ki Harja telah mati dengan leher terbabat senjata tajam. Kedua orang itu terkapar di lantai pondoknya.

“Hah? Aaaa..”

Lestari menjerit karena ketakutan dan kaget.

Kakinya segera berlari ke luar sambil berteriak minta tolong.

Pada saat itu Ki Kerta yang sejak tadi bersembunyi di semak-semak, ingin menolong dan memberitahukan Lestari. Namun dirinya takut. Karena empat orang lelaki tak dikenal telah membunuh Nyi Bawok dan Ki Harja.... Serta menyandera bayi Lestari yang baru berumur tiga bulan itu.

Ketika Lestari ingin kembali ke rumahnya, tiba-tiba muncul lelaki muda berwajah culas dengan kumis tipis di atas bibirnya. Matanya menatap penuh birahi sambil tertawa terbahak-bahak. Di tangan kirinya menjinjing bayi Lestari.

“Siapa kau? Kembalikan anakku...” bentak Lestari dengan marah. Lalu mencoba merebut anaknya lari tangan lelaki muda itu. Namun lelaki itu mempermainkan Lestari dengan tertawa-tawa men-jauhinya sambil menjinjing anak yang tak berdosa itu.

“Ha ha ha...” lelaki muda itu tertawa-tawa diikuti ketiga temannya yang berpakaian serba hijau dengan ikat kepala hitam. Wajah ketiganya tak sedap di-pandang alias buruk rupa. Salah seorang bermata juling. Ketiganya bersenjatakan tombak.

Lelaki yang menjinjing bayi Lestari rupanya pimpinan mereka. Dilihat dari pakaiannya, lebih bagus.

Kepalanya ditutupi blangkon hitam. Rambutnya dibiarkan lepas sepanjang bahu. Sedang bajunya yang hitam berlengan panjang. Kancing bagian atas sengaja dibuka, hingga terlihat dadanya yang penuh bulu itu, terselip sebilah keris di pinggangnya. “Kau tentunya sangat sayang dengan anakmu ini, bukan...? He he he...” ejek lelaki muda itu.

Lestari menangis sambil terus berusaha mendapatkan bayinya. Wanita itu mencakar dan me-mukuli lelaki muda itu. Namun tiba-tiba Lestari didorongnya dengan kasar, hingga terhuyung dan jatuh. Kainnya yang hanya diikatkan sampai ke dada dengan mudah terlepas dan terselip. Tubuh kuning dan kedua paha, serta betisnya yang mulus jelas terlihat oleh keempat lelaki itu.

Mata mereka membelalak melihat keindahan tubuh Lestari yang cantik itu. Keempatnya menelan ludah. Lestari yang sadar kalau kainnya terlepas, dengan cepat merapikannya kembali. Lalu lari ke dalam rumah bermaksud ingin mengambil golok.

Ketika Lestari keluar memegang golok, salah seorang berpakaian hijau yang bermata juling merenggutnya dengan kasar. Lestari berontak sambil berteriak-teriak. Karena lelaki itu lebih kuat usaha Lestari sia-sia. Namun karena didorong tekadnya untuk menyelamatkan diri dan mengambil anaknya, wanita itu akhirnya berhasil, digigitnya lengan lelaki juling itu.

Lalu dengan cepat membabatkan goloknya sembarangan menyerang lelaki juling itu.

“Aaa... ukkk” pekikan panjang terdengar dari lelaki juling. Perutnya ternyata tergores golok Lestari.

Dan melihat wanita itu mulai kalap. Lelaki lainnya segera melompat dan mengepung Lestari. Karena Lestari tak punya ilmu silat, dalam sekejap wanita itu dapat dijinakkan oleh kedua lelaki berpakaian hijau.

Kaki Lestari dipegang kedua lelaki berbaju hijau yang berhasil menangkapnya, kemudian direntangkan lebar-lebar dengan paksa. Kedua tangannya direntang pula, lalu diikat di tanah. Lestari berusaha memberotak, tapi sia-sia. Sambil menjinjing bayi, lelaki muda berpakaian hitam melangkah dengan pongah mendekati tubuh Lestari yang sudah terikat di tanah itu. Kedua anak buahnya memegangi kaki Lestari. Lelaki juling yang dilukai Lestari memegangi kedua tangan wanita itu sambil menjulurkan lidah, serta mengancam Lestari dengan tombaknya.

“Lepaskan Lepaskan... Tolooong, tolooong...”

teriakan Lestari tak ada yang mendengar. Karena tempat itu sangat terpencil dari desa mana pun.

Akhirnya wanita malang itu hanya menerima kenyataan yang sangat menyedihkan.

Lelaki muda itu menyetubuhi Lestari sepuas-puas hatinya. Setelah puas, ketiga anak buahnya pun diberi kesempatan menikmati secara bergantian.

Sampai akhirnya Lestari pingsan. Dengan darah terus mengucur dari kedua selangkangan.

Setelah itu Lestari dilepas begitu saja. Dan bayi yang tak berdosa itu ditaruh di dekat ibunya yang tak berdaya. Namun, entah dari mana Lestari mendapatkan kekuatan, tubuhnya menggeliat bangkit lalu menyerang salah seorang berpakaian hijau dengan menusukkan golok yang sempat dipungut di tanah.

Jrabs

“Aaa...”

Tusukan Lestari yang sepenuh tenaga itu tembus ke dada lelaki itu. Ambruklah tubuh lelaki berpakaian hijau itu. Namun, ketika Lestari hendak membabatkan pedang lagi, tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat di dadanya.

“Akh...”

Lestari terpekik keras dan tubuhnya langsung roboh ke belakang. Dan menindih bayinya Kontan bayi itu mati. Melihat Lestari mati bersama bayinya, lelaki muda itu memerintahkan anak buahnya agar segera pergi.

“Ayo, kita segera kembali ke seberang Tapi kita perlu mengambil hadiah pekerjaan ini. Lalu kita habisi sekalian tumenggung bodoh itu...” perintah lelaki muda bertampang culas itu.

“Ya... Kita habisi Tumenggung Kalisewu itu bersama seluruh anak buahnya. Kita kuras harta mereka Ha ha ha...” sahut si juling dengan tertawa terbahak-bahak.

Dengan cepat mereka meninggalkan tempat itu.

Ki Kerta yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu, tak mampu berbuat apa-apa. Sekujur tubuhnya gemetaran. Rasanya tak kuat berdiri.

Sementara itu langit makin gelap, awan hitam bergulung bagai ombak laut. Dan sebentar-sebentar geledek dan petir menyambar. Seakan langit akan runtuh Angin pun bertiup sangat kencang. Hingga pondok Lestari dan lainnya bagai hendak roboh terkena tiupan angin yang sangat kencang itu.

Ki Kerta masih saja bersembunyi di tempatnya, dengan tubuh gemetaran. Matanya menatap mayat Lestari yang tertelungkup di tanah menindih bayinya.

Ki Kerta berusaha berdiri, tapi terasa berat. Mungkin karena rasa takut yang berlebihan, serta kesedihan melihat kejadian mengenaskan dan biadab tadi.

Kembali petir menyambar, diiringi suara guntur mengelegar. Awan hitam berarak-arakan tertiup angin semakin menambah suasana yang mencekam saat itu.

Dari arah barat tampak dua lelaki memanggul kayu bakar berjalan menuju rumah Lestari. Kedua orang itu tak lain Sanjaya dan Purnama. Wajah mereka nampak kelelahan. Keringat membasahi kening dan mukanya, walaupun udara saat itu dingin karena hembusan angin yang kencang.

Ketika Purnama dan Sanjaya memasuki pagar halaman rumah, mereka tersentak kaget bukan kepalang. Sanjaya menatap tubuh wanita yang begitu dikenalnya tertelungkup dengan darah di bagian perut.

“Lestari... Tari...?” teriak Sanjaya setelah sadar kalau yang dilihat ternyata istrinya.

Dengan gemetaran Sanjaya membalikkan tubuh Lestari yang telah mati. Dan...

“Hah...? Anakku, anakku...?” Sanjaya makin membelalakkan mata ketika melihat bayinya telah mati tertindih tubuh Lestari.

“Hah...? Setan, Iblis siapa yang berani berbuat semua ini Aaahhh... Oh, Gusti Gusti... Kenapa tidak diriku saja yang menjadi korban kebiadapan manusia itu... Keluar kau Iblis, dedemit... Ayo hadapi akuuu..., keluaaar...”

Sanjaya berteriak-teriak karena marah, jengkel, menyesal, dan kecewa. Bagai orang gila, lari ke sana kemari dengan memegang golok terhunus. Purnama berusaha mencegahnya. Namun justru dipukul dan ditendangnya.

“Sabar, Kang Sabarlah...” Purnama coba menenangkan kakaknya. Namun Sanjaya tetap saja ngamuk, semua yang ada di depannya ditendang dan dihancurkan. Matanya merah bagai banteng marah.

Giginya beradu, bergemeretakan. Dadanya naik turun dengan cepat. Menandakan lelaki itu sangat marah.

Saat itu muncul Ki Kerta dari balik semak-semak.

“Nak Purnama... tolong Tolooong saya..., Nak Purnama...” seru Ki Kerta yang berusaha berdiri, tapi jatuh lagi. Purnama menoleh ke asal suara panggilan itu, setelah mencari sebentar, muncul kembali kepala Ki Kerta dari balik semak-semak.

“Hah? Ki Kerta...?” pekik Purnama lirih, lalu melompat.

Dalam sekejap Purnama telah sampai di dekat Ki Kerta. Purnama segera menggotong Ki Kerta.

Sementara itu Sanjaya masih mengamuk. Setelah hujan mulai turun, barulah Sanjaya agak sadar. Dirinya berlutut di dekat mayat Lestari. Dipeluknya tubuh Lestari lalu digendongnya sang Bayi yang tak berdosa itu. Sungguh hancur hati dan perasaan Sanjaya. Di-ciuminya pipi bayi itu berulang-ulang.

“Oh, Gusti..., tunjukkan siapa yang melakukan semua ini Aku harus membuat pembalasan... Oh, anakku Maafkan ayahmu...” Sanjaya memeluk bayinya penuh kasih sayang dan kembali menciumi.

Purnama yang telah membawa masuk Ki Kerta ke pondok, kembali keluar menghampiri Sanjaya. Kakinya ikut berjongkok, memandangi kakaknya dengan perasaan iba.

“Kang, sebaiknya Mbakyu Lestari kita bawa masuk Kasihan dia...,” ucap Purnama kemudian dengan suara pelahan.

Sanjaya tak menjawab dan tidak menoleh sedikit pun. Lelaki yang malang itu terus saja menciumi bayinya. Lalu memandangi mayat istrinya yang cantik dan berhati mulia itu.

“Kalau saja aku tak membawanya pergi..., tak mungkin semua ini terjadi Aku telah berdosa,”

gumam Sanjaya lirih sekali.

Hujan semakin deras. Petir menyambar, menambah suasana makin keruh dan mencekam. Langit semakin gelap oleh awan hitam yang bergayut.

Segelap hati Sanjaya saat itu. “Kang, kasihan istrimu. Hujan semakin deras...,”

ajar Purnama lagi. Namun Sanjaya tetap diam, hanya memandangi wajah istrinya yang telah menjadi mayat itu. Purnama yang merasa tak tahan melihat mayat kakak iparnya tergeletak dan basah diguyur hujan, segera mengangkatnya. Dibawanya tubuh basah berlumur darah itu ke dalam pondoknya.

Sanjaya rupanya kaget dan sadar. Dengan meng-gendong mayat bayinya, Sanjaya pun berdiri dan melangkah pelahan ke pondoknya. Sehari setelah penguburan Lestari, Sanjaya suka menyendiri. Setiap hari duduk melamun di makam istrinya. Nafsu makannya berkurang, tidak mau kerja lagi kecuali termenung dan menyendiri. Keadaan seperti itu berjalan hampir sebulan. Untung Ki Praba datang ketika mendengar peristiwa itu.

“Jaya..., sebaiknya kau lupakan peristiwa itu Kalau terus-menerus begini tak akan ada habisnya,” nasihat Ki Praba dengan nada berat. “Sekarang, sebaiknya kau mulai memperdalam ilmu silatmu. Untuk membalas dendammu demi istri dan anakmu,” lanjut Ki Praba.

Sanjaya yang masih duduk bersila di atas potongan batang pohon besar di dalam pondoknya hanya menghela napas panjang.

“Menurut keterangan Ki Kerta, sebelum mereka pergi menyebutkan kata ke seberang. Dan menyebut juga Tumenggung Kalisewu, orangtua istri kakakmu bukan begitu Purnama?” tanya Ki Praba sambil menoleh ke Purnama.

“Benar, Ki,” jawab Purnama perlahan sambil mengangguk.

“Jelas sudah. Setelah aku mendengar berita itu aku dan beberapa penduduk desa menyelidiki keadaan Ketumenggungan Kalisewu. Ternyata Ketumenggungan Kalisewu telah musnah porak poranda. Pangeran Cakra dan Tumenggung Rogo Kusuma, ayah Lestari mati terbunuh” tutur Ki Praba tegas.

“Hah? Mati...?” gumam Sanjaya kaget dan tak mengerti. Matanya terbelalak menatap Ki Praba dan Purnama bergantian. Dengan kening berkerut mulutnya terbuka sepertinya ingin menanyakan sesuatu, tapi tak bisa keluar suaranya.

“Kau tentu heran, dan bertanya siapa pembunuh itu, bukan?” ujar Ki Praba tiba-tiba, “Pembunuhnya tak lain orang yang dibayar oleh orangtua Lestari untuk membunuhmu” sambung Ki Praba.

Sanjaya kembali terkejut, matanya terbelalak lebar. Dadanya naik turun dengan cepat, menahan amarah. Dirinya masih belum bisa mengeluarkan kata-kata.

“Tapi karena kau tak ada, dan melihat istrimu yang cantik itu. Manusia-manusia biadab itu membunuh Lestari setelah menggauli Lestari,” sejenak Ki Praba menghentikan kata-katanya. Lelaki itu tahu kalau hati Sanjaya sedang menahan marah dan dendam yang amat besar.

“Dan Lestari yang juga sudah kuanggap sebagai anakku akhirnya menemui ajalnya. Karena ia kena pukulan lelaki itu, setelah Lestari berhasil membunuh salah satu dari mereka...” ucap Ki Praba lagi mengakhirinya.

“Siapa lelaki itu, Ki?” tanya Sanjaya dengan suara bergetar.

Ki Praba tak segera menjawab. Lelaki itu menatap sejenak wajah Sanjaya. Kemudian mengalihkan pandangan ke tempat lain seraya menghela napas panjang.

“Beruk Ireng Salah satu dari tiga bersaudara dalam kelompok Serigala Hitam Rupanya orang-orang yang dibayar oleh Tumenggung Rogo Kusuma, mertuamu itu berkhianat Mereka menghancurkan ketumenggungan itu dengan licik dan keji....”

“Beruk Ireng” Sanjaya geram. Giginya bergemeretak. Sedang matanya membeliak tajam.

Jemari tangannya mengepal kuat, seakan menahan amarah yang menggelegak.

*** 4

Selesai bercerita panjang lebar, Purnama lalu bergerak turun dari bale-bale. Kemudian melangkah mendekati tiang penyangga rumah bilik itu. Kedua tangannya dilipat di dadanya. Matanya menatap jauh kegelapan malam. Ditariknya napas dalam-dalam.

Seakan-akan hatinya kembali sedih teringat peristiwa lima tahun silam.

Sena manggut-manggut, lalu menggaruk-garuk kepalanya.

“Ah mengharukan.... Lalu bagaimana nasib dan kelanjutan Ketumenggungan Kalisewu...?” tanya Sena lagi.

Purnama menoleh ke wajah Sena, lalu kembali memandang ke depan.

“Ketumenggungan itu dikuasai kelompok Serigala Hitam bersaudara. Karena dendam kami yang membara. Maka aku dan Kakang Sanjaya, dibantu penduduk desa, melawan mereka. Kami serang mereka ketika tengah mengadakan pesta gila

Tengah malam, Ketika mereka mabuk dan tertidur karena minuman tuak, kami menyerang. Dengan mudah kami dapat membasmi manusia-manusia pengkhianat dan pemeras itu. Beruk Ireng yang terbangun mendengar ribut-ribut, keluar dari sebuah kamar dalam keadaan mabuk. Dan Kakang Sanjaya yang melihatnya tak memberikan kesempatan

Dihabisi si Beruk Ireng dengan memenggal kepalanya. Kemudian tubuhnya dicincang. Habis...”

Purnama menghentikan kata-katanya sejenak, ditariknya napas panjang. “Kalau saja Beruk Ireng dalam keadaan sadar, tak mungkin Kakang Sanjaya dapat mengalahkannya. Sebab ilmu Beruk Ireng cukup tinggi Namun sayang, kami tak dapat menemukan Raden Kumbara dan saudara tertuanya, yaitu Kala Bendana Ilmunya sangat tinggi. Dan dialah dalang semua kejahatan ini”

“Jadi sejak itu mereka lalu mencari tempat di seberang? Atau...,” tanya Sena ingin tahu.

“Ya. Mereka tinggal di pulau seberang sana. Dan orang-orang rimba persilatan menjuluki dengan nama Pulau Neraka,” jawab Purnama.

“Tapi bagaimana tadi dia mendapatkan kereta kuda dan beberapa kuda? Dan kenapa Raden Kumbara tiba-tiba muncul dengan sengaja memancing kekeruhan lagi?” tanya Sena.

Mendengar pertanyaan Sena, Purnama jadi berpikir. Dirinya sendiri merasa agak aneh. Lalu Purnama menoleh ke wajah Sena dan melangkah ke bale-bale lagi, lalu duduk di pinggirnya.

“Aku sendiri masih mencari-cari jawabannya,”

sahut Purnama dengan nada datar.

“Dan aku heran, mengapa baru sekarang mereka membalas dendam itu. Semestinya kalau mereka memang orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, akan segera membalas kalian” ujar Sena mencoba memberi pendapat pada Purnama.

Purnama manggut-manggut sambil memegang keningnya. Pemuda itu masih berpikir keras.

“Mungkinkah mereka menyusun kekuatan Karena semua antek-anteknya telah kami habisi. Tinggal Raden Kumbara dan Kala Bendana yang saat itu tak kami temukan. Sebenarnya mereka tak memiliki ilmu silat yang tinggi. Hanya keberanian dan kelicikan yang membuat mereka disegani dan dianggap jago di rimba persilatan...” ujar Purnama setelah mendapatkan jawaban dan dugaan. Purnama kembali berdiri dan mondar-mandir dengan kedua tangannya di belakang. Kepalanya tertunduk menatapi lantai tanah.

“Aha Pendapatmu agak masuk akal. Tapi kita harus tetap waspada. Dan perlu aku beritahukan, kemarin malam ketika aku hendak memasuki Desa Karang Galuh ini, aku dicegat dua manusia yang mirip kera Apakah mereka itu orang Serigala Hitam...?”

tanya Sena.

Mendengar keterangan Sena, Purnama merasa kaget. Segera dibalikkan tubuhnya menghadap ke Sena. Matanya menatap wajah Sena seakan menyelidik. Lalu kembali membuang muka dan mondar-mandir.

Melihat sikap Purnama, Sena tercenung. Keningnya tampak terkemyit, dan menggaruk-garuk kepala dengan tangan kanan. Kemudian cengar-cengir sendiri.

“Apakah pertanyaanku tadi menyinggung perasa-annya? Atau...,” gumam Sena lirih. Sambil terus menggaruk-garuk kepalanya.

Pada saat itu keluarlah Ki Praba dari dalam rumah.

“Rupanya kalian berdua sangat akrab. Apa yang sedang kalian obrolkan...?” tanya Ki Praba seraya tersenyum.

“Kami hanya bercerita tentang masa lalu, Ki.

Untuk menghilangkan kantuk. Sebab kita harus berjaga-jaga. Siapa tahu orang-orang Serigala Hitam menyerang kita,” jawab Purnama sambil menundukkan kepala. Purnama maupun Sanjaya sangat menghargai kepala desa yang telah dianggap orangtua mereka.

Mendengar jawaban Purnama, Ki Praba hanya manggut-manggut sambil memegangi jenggotnya.

“Bagus Malam ini memang terasa panjang bagi kita. Seakan tak akan berganti pagi. Ini semua merupakan cobaan dan ujian bagi kita semua. Benar kan, Nak Sena...?” tanya Ki Praba kemudian. Matanya menatap Sena.

“Benar, Ki,” jawab Sena singkat. Ki Praba tersenyum. Lalu kembali masuk ke rumahnya. Kali ini Purnama yang mengikutinya.

“Sebentar aku ambilkan minum di dalam...” kata Purnama pada Sena yang masih duduk bersila di bale-bale. Sena hanya menganggukkan kepala.

“Kenapa Purnama tampak terkejut dan gelisah ketika aku tanya tentang kedua manusia kera?” kata Sena dalam hati. “Ada apa sebenarnya? Atau...?”

Sena lalu kembali cengengesan sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala.

***

Malam terlewati tanpa kejadian apa-apa. Suasana di Desa Karang Galuh tampak sepi dan sunyi. Tak seperti hari-hari sebelum kejadian penculikan Ranti anak Nyi Karti.

Sore harinya ketika penduduk tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ki Praba, Sena, Sanjaya, dan Purnama tengah terlibat dalam perbincangan di serambi depan rumah kepala desa itu.

Tiba-tiba terdengar derap kaki-kaki kuda memasuki Desa Karang Galuh. Sepuluh orang penunggang kuda, lengkap dengan senjata
tombak menggebah kuda mereka memasuki mulut desa.

Pakaian mereka beraneka ragam. Ada yang coklat, hitam, merah, hijau, dan abu-abu Tampang mereka yang tampak garang terhias kumis tebal. Semua mengenakan ikat kepala berwarna-warni.

Ketika memasuki desa, sepuluh orang berkuda itu berpencar. Dengan teriakan-teriakan keras mereka mengobrak-abrik rumah para penduduk Melukai orang yang berlarian ketakutan. Mereka tak segan-segan membabat dan menusuk, serta memukulkan tombak masing-masing ke tubuh penduduk desa yang berpapasan. Tak peduli lelaki atau perempuan.

Dengan bengis mereka dibunuh dan dilukai.

Jeitan dan teriakan orang-orang desa didengar Ki Praba, Sena, dan Purnama. Keempat orang itu terkejut. Namun Sena tampak lebih tenang. Sena tak segera bangkit. Bahkan justru menggaruk-garuk kepalanya seperti merasa gatal.

Ki Praba, Sanjaya, dan Purnama melesat keluar dari serambi rumah.

Crak Crak

“Aaa...”

“Ukh...”

“Tolooong... Tolooong...”

Teriakan dan jeritan kematian terdengar di sana-sini. Dan orang-orang berkuda itu seperti kesetanan, tanpa belas kasihan sedikit pun. Mereka terus memporak-porandakan desa itu.

“Heaaa...”

Sanjaya dan Purnama segera melompat sambil bersalto ke tempat orang-orang berkuda. Sanjaya dan Purnama menghadang mereka sambil membabatkan goloknya dengan geram dan ganas

Crakkk Jrabs “Aaakh...”

“Ukh...”

Dua orang dari gerombolan itu terpelanting dari punggung kuda ketika golok Sanjaya dan Purnama membabat perut mereka. Kedua kakak-beradik itu kemudian berpencar, sama-sama menghadapi lawan.

Ketika Sanjaya sedang bertarung dan berhasil menjatuhkan salah seorang dari kuda, tiba-tiba dari belakang, seorang lawan yang lain melarikan kudanya dengan kencang. Tampaknya lelaki bersenjata tombak itu hendak menerjang Sanjaya.

“Heaaa...”

Namun belum sempat orang berkuda itu menerjang dan menusukkan tombaknya tahu-tahu terpekik keras. Tubuhnya terjungkal dengan kepala pecah membentur tanah.

Sanjaya yang baru sadar, menoleh cepat. Dilihatnya orang itu sudah mati. Lalu dengan cepat lelaki muda berpakaian serba kuning itu menghadapi lawannya yang sudah terluka sabetan goloknya.

“Manusia macam kalian ini mesti mampus...”

dengus Sanjaya. Dengan geram orang kepercayaan kepala desa itu melesat menyerang. Tombak dan golok saling beradu.

Trang Trang Trang

Dukkk

“Ukh...”

Orang itu terpekik ketika tinju Sanjaya mendarat telak dirusuknya. Seketika tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dengan mulut meringis kesakitan. Sanjaya tak ingin memberi kesempatan pada lawannya. Tangannya kembali membabatkan goloknya dengan sekuat tenaga.

Jrab Jrabs Perut dan leher penjahat itu hampir putus Darah segar muncrat membasahi sekujur tubuhnya yang telah terkapar tak bernyawa. Melihat lawannya telah roboh Sanjaya mengalihkan perhatian ke tempat pertempuran lain. Tampak Purnama, adiknya tengah berusaha menghadapi dua orang lawan.

“Heat...”

Trak Trakkk

Dengan gesit dan tangkas Purnama menghadang serangan dua lawannya yang sudah turun dari kuda.

Golok Purnama beradu keras, dengan dua tombak lawan. Lalu dengan cepat sekali kakinya menendang perut lawan sambil berputar.

“Hea...”

Bluk Bluk

“Aaakh...”

Kedua lawan itu terhuyung, namun segera kembali memasang kuda-kuda dan siap menyerang secara bersamaan.

“Heaaa...”

“Heaaa...”

“Heh?”

Kedua penjahat itu tersentak kaget, ketika melihat Purnama tiba-tiba melenting ke udara. Tubuh terbalut pakaian serba kuning itu melesat cepat sambil membabatkan goloknya ke leher kedua lawan.

Jrab Brettt

“Aaakh...”

Pekikan keras terdengar dari kedua lelaki itu ketika golok Purnama membabat telak leher mereka.

Telah lima orang dari gerombolan berkuda tewas di tangan kedua kakak-beradik itu.

Tak jauh dari rumah kepala desa, tampak Ki Praba tengah menghadapi dua lawan yang masih berada di punggung kuda. Ki Praba yang memiliki ilmu silat cukup lumayan dapat mengimbangi kedua lawannya.

“Hah? Mampus kau, Kakek Tua” seru salah seorang penunggang kuda sambil menusukkan tombak ke dada Ki Praba. Kepala Desa Karang Galuh itu menoleh sambil tetap mencekal kuat tombak lawan yang lain.

Wuttt

Ki Praba mengelak dengan merebahkan badan disertai tarikan kuat tangan kanannya yang mengunci tombak lawan. Sehingga tombak itu dapat dikuasai Ki Praba.

Melihat Ki Praba telentang di tanah sambil memegang tombak, penjahat yang gagal mencederai lelaki tua itu bergerak. Dengan cepat ditancapkan tombaknya ke dada Ki Praba.

Namun bersamaan dengan itu tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat cepat merenggut tubuh kepala desa itu dari ancaman maut.

Entah kapan sosok penolong Ki Praba itu melancarkan serangan. Gerakannya yang begitu cepat tak tertangkap mata biasa. Ki Praba sendiri tersentak kaget melihat lawannya tiba-tiba telah ambruk dengan dada hangus seperti terbakar.

Ternyata Sena yang menolong Ki Praba dari bahaya kematian. Pemuda berompi kulit ular itu mengamankan kepala desa di serambi rumahnya.

Lalu dengan cepat kembali melesat ke arena pertempuran.

Gerombolan itu kini tinggal tiga orang. Nampaknya ketiganya memiliki ilmu yang tak boleh diremehkan.

Nyatanya Sanjaya dan Purnama yang menghadapi mereka nampak terus terdesak dan kewalahan.

Permainan tombak mereka tampak begitu sempurna. Dibabatkan ke sana kemari dengan cepat dan terkadang diputar-putarnya tombak itu hingga seperti baling-baling.

“Heaaa...”

“Hah...”

Wuttt Wuttt

Trang Trang Trang

Dentang nyaring terdengar beberapa kali ketika senjata mereka saling beradu keras.

“Aaa...” tiba-tiba Purnama terpekik. Ternyata rusuknya terserempet ujung tombak lawan. Darah segar mengucur. Namun pemuda itu kembali menyerang dibantu kakaknya yang mengetahui bahwa Purnama terluka.

Namun ketiga lawan tampaknya mampu membaca serangan yang dilancarkan kedua kakak-beradik berpakaian kuning itu. Sehingga tanpa menemui kesulitan, ketiga orang jahat itu mematahkan serangan Purnama dan Sanjaya.

“Heaaa...”

“Heaaa...”

Teriakan-teriakan keras menggelegar mengiringi serangan mereka.

Trang Trang Trang Crabs Jrabs

“Hukh..”

“Aaa...”

Pekikan keras terdengar susul-menyusul. Dada Sanjaya tertusuk tombak lawan. Begitu pula yang dialami Purnama. Wajahnya tersambar tombak hingga robek dan mengucurkan darah. Pada saat kedua bersaudara ini sudah mulai terhuyung-huyung menahan sakit, ketiga orang itu secara serentak melancarkan serangan, tanpa memberi ampun.

“Heaaa...” “Heaaa...”

Ketiga anggota gerombolan itu melompat cepat ke udara untuk menghabisi nyawa Sanjaya dan Purnama. Namun tanpa diduga sama sekali sesosok bayangan berkelebat begitu cepat memapak serangan dahsyat mereka.

Pletak

Blukkk

“Akh...”

“Aaa...”

Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Dalam sekejap mata ketiga anggota gerombolan jahat telah bergelimpangan tewas di tanah. Di antara ketiga mayat itu berdiri seorang pemuda berpakaian rompi dari kulit ular. Siapa lagi kalau bukan Pendekar Gila.

Sanjaya dan Purnama yang telah terluka sempat tersentak kaget. Apalagi ketika mata mereka melihat benda yang digenggam pemuda bertingkah laku aneh itu. Sena tersenyum lucu sambil memegangi Suling Naga Saktinya.

Keterkejutan pun dialami Ki Praba. Kepala desa itu tengah memegangi tangannya yang terluka karena terinjak kaki-kaki kuda, ketika tadi menjatuhkan diri menghindari serangan musuh. Dari serambi rumahnya Ki Praba sempat melihat senjata Sena yang tadi dipergunakan untuk menghabisi ketiga lawannya.

Sebuah suling berkepala ular naga

“Sudah kuduga dari semula.... Pemuda gagah ini bukan pemuda biasa. Benda yang digenggamnya itu menunjukkan siapa Nak Sena sebenarnya. Nak Sena ini...,” gumam Ki Praba lirih sambil manggut-manggut.

Nampaknya lelaki tua itu telah tahu, kalau Sena tak lain si Pendekar Gila dari Goa Setan. Murid Singo Edan yang sudah kesohor di dunia persilatan. Sepuluh mayat nampak bergeletakan di sana-sini.

Sena masih berdiri di tempatnya. Matanya memandangi mayat-mayat dengan perasaan tak karuan.

Hatinya merasa iba pada penduduk desa yang lemah, menjadi korban para durjana tak dikenal itu.

“Apa ini ada hubungannya dengan kematian Raden Kumbara...?” gumam Sena dalam hati.

Ketika Sanjaya dan Purnama mendekatinya, Sena menyelipkan kembali Suling Naga Sakti ke pinggang.

“Terima kasih... Pendekar...,” ucap Sanjaya dengan lemah.

Sena yang disebut pendekar tampak mengerutkan kening. Lalu menggaruk-garuk kepalanya.

“Ah ah ah... Kenapa kau menyebutku

pendekar...?” tanya Sena sambil menggeleng-geleng kepala dan cengengesan.

“Kau pantas disebut, pendekar, Sena...”

Terdengar suara Ki Praba yang berjalan mendekati mereka.

Sena dan Sanjaya, serta Purnama menoleh pada Ki Praba. Sena kembali menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan. Hal itu membuat Ki Praba makin yakin terhadap dugaannya.

“Bukan saja karena Nak Sena telah membantu dan menolong kami. Tapi karena benda yang terselip di pinggangmu itu. Aku mengenal benda itu milik seseorang yang sangat kukagumi sampai saat ini.

Dan kaulah Pendekar Gila dari Goa Setan, murid Singo Edan” ucap Ki Praba jelas dan mantap.

“Ah ah ah... Ki Praba mungkin salah. Aku hanya seorang pemuda biasa dan bodoh” sahut Sena sambil cengengesan.

Ki Praba menepuk bahu Sena, lalu merangkulnya.

“Aku bagaikan mimpi bertemu dengan murid Singo Edan yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Dan kuharap kau mau tinggal di desa ini sesuka hati, Nak Sena... Bagaimana, Jaya, Purnama”

“Kami berdua bukan hanya setuju, Ki. Bahkan dengan sangat hormat mengharapkan Pendekar mau mengabulkan permohonan kami,” jawab Sanjaya dengan wajah berseri-seri penuh harap.

“Bukankah kita telah saling akrab? Walaupun semula kami berdua merasa curiga terhadap Pendekar...,” sahut Purnama menyambung kata-kata kakaknya.

“Benar,” Kembali Sanjaya membenarkan, “Maafkan atas kecurigaan kami itu...”

Pendekar Gila hanya tertawa sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya menatap wajah Purnama dan Sanjaya dengan mulut cengengesan.

“Sudah pernah kukatakan kepada Purnama

bahwa aku tak ingin melihat orang lemah tertindas, diperas, dan disakiti. Aku sangat senang dapat berkawan, bahkan menjalin persaudaraan dengan kalian berdua. Juga semua penduduk di desa ini. Tapi aku tak bisa tinggal lebih lama di sini...,” ujar Sena.

Mendengar ucapan akhir Sena wajah mereka nampak berubah, penuh kekecewaan. Harapan mereka agar pendekar itu bisa memberikan ketenangan bagi warga Desa Karang Galuh.

Melihat itu, Sena memahami dan harinya

tergugah.

“Tapi..., demi Ki Praba dan kalian, serta semua penduduk Desa Karang Galuh..., aku setuju. Tapi mungkin hanya satu atau dua hari saja...,” ujar Sena seraya cengengesan.

Walaupun merasa kurang puas dengan jawaban Sena. Ki Praba, Sanjaya, dan Purnama nampak sedikit gembira. Setidak-tidaknya mereka dapat terhibur. Dan dapat bertukar pikiran dengan Sena yang mereka segani dan kagumi.

Sena merangkul Sanjaya dan Purnama, dengan penuh keakraban.

“Ayolah, kita kembali ke rumah...” ajak Ki Praba kemudian.

“Bagaimana dengan mayat-mayat ini, Ki?” tanya Purnama.

“Oh, ya. Sebaiknya kita bereskan dan kita kubur mereka,” jawab Kepala Desa Karang Galuh itu.

Maka bergegaslah mereka mengumpulkan para penduduk untuk menguburkan mayat-mayat itu.

***

Sore telah berganti malam. Suasana di Desa Karang Galuh nampak mulai tenang. Terdengar suara gamelan dari salah satu rumah penduduk. Gending yang dibawakan begitu meresap, lalu mengalun merdu suara seorang wanita yang diiringi gending Jawa itu.

Nyanyian itu menggambarkan kesuburan desa dan gagahnya pendekar pelindung kaum lemah. Gamelan dan gending mengalun terus sampai jauh malam.

“Alangkah senang dan tenteramnya hati, jika kita dapat merasakan keadaan seperti ini selama-lamanya...” ujar seorang lelaki yang duduk di serambi rumah bersama beberapa orang warga desa lainnya.

'Ya..., aku selalu berdoa agar pendekar itu tetap tinggal di desa ini...” sahut seorang pemuda yang duduk di sisinya.

“Tapi, kurasa cukup Den Sanjaya dan Purnama saja. Keduanya juga memiliki ilmu yang cukup lumayan,” sahut yang lainnya.

“Benar. Tapi kau lihat tadi. Kalau saja pendekar itu tak cepat bertindak, tentu Den Sanjaya dan Purnama akan dapat dikalahkan oleh orang-orang jahat itu.

Bahkan mungkin juga Ki Lurah,” sahut yang lain lagi.

“Ya, gerakan dan serangan yang dilakukan sukar dilihat dengan mata. Tahu-tahu lawan sudah ambruk, mati”

Kemudian mereka kembali terdiam, mendengarkan gending yang masih tetap berkumandang itu.

Malam itu Desa Karang Galuh tampak tenang dan aman. Walaupun ada sebagian penduduk yang sedih, karena suami atau anak mereka tewas dalam pertarungan tadi sore.

Sementara di rumah Ki Praba, tampak Sena, Sanjaya, Purnama, dan Ki Praba tengah terlihat dalam pembicaraan di ruang tengah. Mereka duduk bersila di lantai beralaskan tikar. Meski ada meja kursi di ruangan cukup luas itu, mereka memilih duduk di lantai.

Itulah kebiasaan Ki Praba jika sedang merunding-kan atau membicarakan suatu masalah yang penting.

Suasana terasa lebih akrab dan tidak kaku.

Di luar suasana gelap. Angin bertiup lebih kencang, menghembuskan hawa dingin. Gemerisik dedaunan dan angin menerpa dinding rumah Ki Praba terdengar di antara sayup-sayup alunan gamelan.

Lampu-lampu rumah penduduk sudah mulai

dipadamkan. Hanya obor-obor bambu yang ter-pancang di depan rumah penduduk masih menyala terang. Apinya bergoyang-goyang tertiup angin malam.

Sementara itu alunan gamelan sudah tak terdengar lagi. Suasana berubah sepi. Dingin dan mencekam. Namun di rumah kepala desa masih menyala lampu ruangan tengah. Ki Praba masih berbincang-bincang dengan Sena serta kakak beradik Sanjaya dan Purnama.

“Menurutku kejadian tadi ada hubungannya dengan kematian Raden Kumbara. Aku yakin mereka orang-orang dari Serigala Hitam pimpinan Kala Bendana. Dan kabarnya ia mendapat bantuan dari orang-orang aliran hitam lain...,” tutur Ki Praba perlahan.

“Tapi apa sebenarnya maksud tujuan mereka, Ki...?” tanya Sanjaya seperti orang bodoh.

“Kamu ini apa sudah linglung? Pertama Raden Kumbara terbunuh olehmu. Kedua, tampaknya Kala Bendana berhasrat tetap ingin menguasai desa kita yang subur ini...,” ujar Ki Praba.

“Tapi, mereka yang lebih dulu mencari gara-gara

Memancing kemarahan kita dengan membawa Ranti seenaknya tanpa ada basa-basi pada Ki Praba. Dan juga pantas Kakang Sanjaya membunuhnya, karena Raden Kumbara adalah saudara Beruk Ireng yang dengan keji membunuh Kak Lestari,” sahut Purnama membela kakaknya.

“Aku mengerti..., aku mengerti. Tapi desa kita akan dibumihanguskan Mereka kini sangat kuat.

Bagaimana nanti nasib penduduk desa ini...? Ini yang sangat aku khawatirkan Bukan karena aku takut terhadap mereka. Mereka memang harus dimusnah-kan. Tapi bagaimana caranya untuk melawan mereka...?” tutur Ki Praba dengan suara bergetar cemas.

Keempat lelaki itu diam tak bersuara beberapa saat. Hanya wajah-wajah mereka yang menunjukkan ketegangan dan cemas. Namun Sena tampak tenang. Tangan kanannya mengusap-usap kening, lalu menggaruk-garuk kepala, sambil mulutnya cengengesan.

“Apakah ada maksud lain, selain mereka ingin menguasai Desa Karang Galuh ini, Ki?” tanya Sena membuka kesunyian.

“Aku rasa tak ada. Memang aku mendengar kabar, bahwa mereka telah mengumpulkan kekuatan untuk menguasai desa-desa di Jawadwipa ini. Mereka ingin memusnahkan tokoh-tokoh aliran putih dengan cara mereka,” tutur Kepala Desa Karang Galuh memberikan keterangan. “Menurut kabar, kelompok Serigala Hitam pun bersekutu dengan Purba Kelakon.

Pimpinan orang-orang aliran sesat Purba Kelakon memiliki ilmu dalam tiga puluh dua jurus yang tak terlihat; Alias semu Selain itu dia pun memiliki serbuk beracun; yang mematikan. Tak sampai lima belas langkah, orang yang terkena serbuk racun

'Pemunah Jiwa' akan mati Mungkin hanya Nak Sena yang dapat melawan racun ganas itu...,” ujar Ki Praba seraya menatap wajah Sena.

“Aku tak tahu, Ki Lurah. Apa diriku mampu melawan racun itu. Walaupun aku menguasai ilmu pemunah racun seperti itu. Kekuatan racun ber-macam-macam...,” jawab Sena kalem.

Mendengar jawaban Sena, Ki Praba mengangguk-angguk sambil mengusap jenggotnya. Sementara, Sanjaya dan Purnama nampak cemas dan menundukkan kepala.

Pada saat mereka terdiam tiba-tiba Sena melesat ke atas atap rumah, hingga jebol.

“Hih”

Brukkk

Sanjaya, Purnama, dan Ki Praba hanya mampu terperangah melihat gerakan Sena melesat.

Ternyata di atas rumah kepala desa ada sesosok tubuh manusia berwajah kera berpakaian serba hitam yang tengah berusaha kabur. Rupanya orang itu tadi mendengarkan pembicaraan mereka.

“Kau lagi rupanya” bentak Sena pada orang bermuka kera itu, yang pernah menghadang Sena ketika memasuki Desa Karang Galuh tiga hari yang lalu.

Tokoh bermuka kera itu tiba-tiba menyerang Sena dengan senjata rahasia. Pendekar Gila terkesiap dibuatnya. Namun, karena dirinya memiliki ilmu yang cukup tinggi, senjata rahasia yang dilemparkan manusia kera itu melesat. Pendekar Gila melenting ke udara sambil bersalto berulang kali. Kemudian sangat ringan kakinya mendarat di atap rumah di belakang manusia berwajah kera itu. Pendekar Gila segera membalas dengan tendangan dan pukulan yang cepat ke dada dan muka lawannya.

Plakkk Blukkk

“Ukh...”

Lelaki bermuka kera itu terpekik, ketika tendangan dan pukulan Pendekar Gila mendarat di punggungnya. Namun seakan tak merasa sakit, tubuhnya segera bangkit. Kemudian dengan cepat goloknya menyabet kaki Pendekar Gila. Secepat kilat Pendekar Gila melompat meluncurkan tendangan.

Plak

Kembali tendangan Pendekar Gila mendarat wajah lawannya. Karena terdesak, orang bermuka kera itu melompat turun sambil bersalto ke tanah. Pendekar Gila mengejarnya. Belum sampai kaki orang bermuka kera itu menginjak tanah, Pendekar Gila sudah mendahului, dengan menendang sambil berputar ke muka dan dada lawan.

“Heaaa...”

Blukkk

“Aaa...”

Orang bermuka kera itu tersungkur bergulingan di tanah. Tangannya memegangi dada. Darah segar keluar dari mulutnya. Pendekar Gila segera menghampiri dan memegang baju orang itu.

“Katakan, apa maksudmu mengintai dan mendengarkan kami bicara? Siapa yang menyuruhmu?”

tanya Pendekar Gila dengan geram.

Pada saat itu Ki Praba, Sanjaya, dan Purnama.

Sudah berada di dekat Pendekar Gila, berdiri memandangi orang bermuka kera itu.

“Ayo, katakan Kalau tidak kau kubunuh...” bentak Sanjaya dengan keras sambil mengacungkan goloknya ke kepala orang bermuka kera itu.

“Ayo, katakan Kami tak akan membunuhmu...,”

kata Sena lagi. Nadanya lebih perlahan.

Belum sempat orang bermuka kera itu memberikan jawaban, tiba-tiba berontak. Sanjaya bermaksud menjambak rambutnya. Namun alangkah terkejutnya mereka semua. Ternyata rambut itu lepas dari kepalanya.

“Hah?”

Semua membelalakkan mata. Karena ternyata orang itu mengenakan topeng. Dan seorang wanita muda berparas cantik yang tak lain Ranti tampak tersentak pula.

“Ya, Gusti...” gumam Ki Praba.

Belum sempat mereka menanyakan sesuatu pada Ranti, tiba-tiba mata gadis itu mendelik dan mulutnya terbuka lebar, dengan lidah terjulur panjang. Sesaat tubuhnya berkelojotan, tapi kemudian diam tak bergerak. Mati

“Ilmu setan...” gumam Pendekar Gila lirih.

“Apa hubungan Ranti dengan mereka...?” tanya Sanjaya pada dirinya sendiri.

“Ranti diperalat oleh Purba Kelakon yang menguasai ilmu sesat. Ilmu setan, ilmu sihir Dan Ranti sudah dimasuki pikiran dan kekuatan gaib manusia itu. Mengerikan...,” tutur Ki Praba sambil menggeleng kepala.

“Kalau begitu mungkin Nyi Karti juga diperalat mereka, Ki,” kata Purnama yang teringat akan Nyi Karti, ibunya Ranti.

“Bisa jadi. Ayo, kita cari Nyi Karti,” ajak Ki Praba.

Mereka segera pergi dengan cepat ke rumah Nyi Karti.

“Aku yakin mereka juga ingin membunuhku...,”

ujar Sena dalam hati.

***

Ketika Sanjaya dan Purnama memasuki rumah Nyi Karti, ternyata wanita separo baya itu telah mati dengan keadaan mengerikan. Dadanya berlubang, seperti terhantam senjata tajam.

“Ya, Gusti...” gumam Ki Praba. Lelaki itu kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Biadab...” dengus Sanjaya dengan geram.

“Lalu siapa orang bertopeng kera satu lagi...?”

tanya Sena dalam hati.

Sena menggaruk-garuk kepala. Sepertinya tak menghiraukan keadaan yang sudah mulai mencekam dan seram itu. Pemuda berompi kulit ular itu nampak tak sedikit pun merasa tegang. Dirinya bahkan terus cengengesan. “Bagaimana menurut pendapatmu, Nak Sena?”

tanya Ki Praba yang nampak mulai gelisah.

Sena menggaruk-garuk kepala. Sejenak matanya menatap Sanjaya dan Purnama sambil cengengesan.

“Sebelum penduduk menjadi korban lagi,

sebaiknya kita melakukan penyelidikan secepat mungkin ke tempat mereka. Apa ada yang tahu di mana sarang manusia-manusia keparat itu...?” tanya Sena ingin tahu.

“Kami belum tahu dengan jelas. Karena mereka sangat pintar. Tak seorang pun mengetahui sarang mereka dengan pasti. Namun menurut perasaanku di dua tempat itu. Pertama di seberang, di Pulau Neraka. Dan satu lagi di bekas bangunan tempat tinggal Pangeran Cakra Sentana. Karena waktu Raden Kumbara menculik Ranti, datang dengan kereta kuda bekas milik Pangeran Cakra Sentana”

kata Sanjaya memberikan keterangan.

“Hm...” Sena manggut-manggut sambil menggaruk-garuk kepala dan cengengesan. Lalu tertawa-tawa sendiri, membuat ketiga orang yang me-nemaninya bingung serta merasa aneh melihat Sena.

Namun ketiganya segera memaklumi.

“Kita harus merencanakan sesuatu...” usul Sena sambil melangkah dan menggaruk-garuk kepala tanpa mempedulikan ketiga orang yang diajak bicara.

Melihat Sena yang seperti orang acuh itu, Ki Praba, Sanjaya, dan Purnama terpaksa beranjak dari tempatnya dan mengikutinya. Sena terus berjalan menuju rumah Ki Praba.

“Pendekar ini memang aneh. Namun menyenangkan...,” gumam Sanjaya lirih.

Tiba-tiba Sena menghentikan langkahnya, demikian juga Ki Praba, Sanjaya, dan Purnama. “Aku sudah menemukan cara untuk menemukan sarang mereka...,” kata Sena dengan wajah ceria sambil menggaruk-garuk kepala. “Ssst Ssst...” lalu Sena membisikkan sesuatu ke telinga Sanjaya.

Sanjaya mengangguk dan tersenyum.

Pada saat itu sepasang mata mengamati gerak-gerik mereka dari balik semak-semak, tak jauh dari rumah Ki Praba. Kemudian sepasang mata itu melesat hilang di kegelapan malam.

Sena bersama Ki Praba, Sanjaya, dan Purnama lalu masuk rumah Ki Praba. Suasana kembali sunyi, sepi, dan makin mencekam. Hanya suara binatang-binatang malam yang terdengar, memecah keheningan malam yang gelap gulita.

*** 5

Sinar matahari pagi menghangatkan bumi. Suasana cerah melingkupi sekitar pantai. Angin yang bertiup kencang dari laut menerpa pepohonan. Ombak laut tampak bergulung-gulung berkejaran menuju pantai.

Seakan hendak mendorong sebuah perahu yang tengah berlayar perlahan menuju daratan. Tak lama kemudian perahu yang tidak terlalu besar itu telah sampai di pantai.

Dari perahu itu tampak berlompatan tiga orang lelaki berwajah garang. Baru saja berjalan beberapa langkah ketiganya dikejutkan adanya suara seperti tiupan suling di kejauhan.

“Heh, suara suling...” desis salah seorang dari ketiga lelaki yang berusia sekitar empat puluh tahun, berpakaian rompi belang merah hitam.

“Ya Suara suling itu aneh,” sambung lelaki bermuka lonjong, tapi hampir mirip dengan yang pertama. Hanya berbeda pada hidungnya yang besar, meski mancung.

“Kurasa itu bukan suling biasa,” sambut lelaki berbadan agak pendek dengan cambang bauk lebat.

Ketiga lelaki itu terkenal dengan julukan 'Tiga Mata Setan'.

Tiga Mata Setan merupakan anak buah Purba Kelakon yang ditugaskan untuk datang ke Desa Karang Galuh. Orang pertama dari Tiga Mata Setan bernama Tangkur Wulung. Yang kedua bernama Braja Wulun. Dan yang ketiga bernama Barong Wulung.

Ketiganya bersenjatakan sama, rantai besi berduri. Sementara itu suara suling makin terdengar jelas di telinga mereka. Tiga Mata Setan segera melangkah ke darat.

“Suara suling itu membuat kupingku bisa tuli...”

sungut Tangkur Wulung sambil matanya mencari-cari dari mana asal suara suling itu.

“Kenapa kau pusingkan suara suling itu. Tujuan kita mencari makan, perempuan, dan harta” sahut Braja Wulung yang berjalan di sisi kirinya.

Suara suling makin jelas lagi ketika ketiganya telah melewati beberapa gubuk milik penduduk di pinggir pantai itu dan terus naik ke daratan yang lebih tinggi.

Tiba-tiba Barong Wulung yang bertubuh paling besar itu menghentikan langkah. Sepertinya ada sesuatu yang dilihatnya. Hal itu dilakukan pula kedua kawannya. Ketiganya melihat seorang pemuda bertengger di pohon besar dan rindang.

“Sepertinya aku kenal pemuda yang memainkan suling di atas cabang pohon itu. Hati-hati, kalau dugaanku benar kita harus menangkapnya” ujar Barong Wulung. Matanya terus menatap tajam pemuda berpakaian rompi dari kulit ular yang terus meniup sulingnya.

“Siapa pemuda itu Kakang Barong...?” tanya Braja Wulung sambil melemparkan pandangan ke atas pohon.

“Dia Pendekar Gila yang kita cari. Kau lupa bahwa Kala Bendana akan memberikan hadiah pada siapa pun yang dapat menangkap Pendekar Gila itu hidup atau mati, untuk diserahkan padanya... He he he...”

jawab Barong Wulung sambil memelintir kumisnya.

“Kalau begitu kita segera ringkus pemuda itu..., kata Tangkur Wulung yang berbadan lebih kecil dari dua temannya. “Kau jangan gegabah Pemuda itu bukan pendekar sembarangan, bisa-bisa kita yang jadi korbannya”

jawab Barong Wulung. “Kita berpencar Kalian berdua harus selalu siap dan bergerak cepat jika aku dalam kesulitan. Ayo, kita mulai pekerjaan kita”

Pemuda yang tengah meniup suling memang tak salah lagi, dia Sena Manggala atau lebih dikenal dengan julukan si Pendekar Gila. Pemuda tampan berambut gondrong itu masih asyik mengalunkan lagu merdu dengan Suling Naga Saktinya. Seakan-akan tak menghiraukan sama sekali ada tiga orang yang tengah mengancam jiwanya. Tak bergeming sedikit pun dari tempatnya. Tubuhnya dengan enak berbaring di sebatang cabang pohon dengan kaki terjuntai ke bawah, Barong Wulung makin dekat dari tempat Sena berada. Ketika lelaki bertubuh besar dan berkumis melintang itu berada sekitar delapan tombak dari pohon tiba-tiba melancarkan serangan kilat. Tangannya yang kokoh besar melontarkan senjata berupa rantai ke tubuh Sena yang masih terbaring di atas cabang pohon.

Srattt Crakkk... .

Suara yang ditimbulkan dari lontaran senjata itu keras sekali, dan senjata yang berupa baja bulat berduri itu menghantam batang pohon di dekat kepala Pendekar Gila.

Namun tanpa terkejut sedikit pun, kepala Pendekar Gila dengan perlahan menoleh ke Barong Wulung yang tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba Pendekar Gila ikut tertawa-tawa sambil menggaruk-garuk kepala. Lalu mulutnya cengengesan persis orang gila.

“Hi hi hi... Kau rupanya punya mainan yang menarik, Kisanak” seru Pendekar Gila dari atas pohon. Tampak tangannya menggaruk-garuk kepala.

Mendengar ucapan Pendekar Gila, Barong Wulung terbelalak marah. Kemudian dengan geram melangkah mendekati pohon tempat Pendekar Gila bertengger.

“Hei Kau pemuda gila, turun... Jangan berlagak bodoh kau Tunjukkan kebolehanmu Aku sengaja datang untuk mencincangmu, Pendekar Gila” teriak Barong Wulung sambil menuding-nudingkan tangannya ke atas pohon.

“Hi hi hi... Lucu sekali orang ini He he he... Ha ha ha... Pagi-pagi aku bertemu badut berkumis melintang Hi hi hi...” ejek Pendekar Gila yang kini telah duduk di cabang pohon menghadap Barong Wulung.

Sementara itu dari dua arah kiri dan kanan Pendekar Gila muncul Tangkur Wulung dan Braja Wulung sambil memutar-mutarkan bola baja berduri terikat rantai. Keduanya tersenyum sinis dengan mata merah membara.

“Ha ha ha... Hi hi hi...”

Pendekar Gila tertawa-tawa terus sambil menggaruk-garuk kepala. Tingkah laku aneh itu membuat Tiga Mata Setan semakin geram.

“Orang gila Mulutmu perlu merasakan senjataku ini...”

Selesai berkata begitu, Barong Wulung dengan cepat melancarkan serangan dengan menghantam-kan senjatanya ke kepala Pendekar Gila.

Srattt Wrettt Wusss

Hembusan angin dari lontaran ketiga senjata berbentuk bola duri itu terasa menyentakkan dedaunan.

Namun Pendekar Gila dengan cepat pula menjatuhkan tubuhnya sambil bersalto ke belakang beberapa kali untuk mengelakkan serangan dahsyat itu.

Blarrr Brakkk

Suara ledakan terdengar ketika dua bola berduri itu menghantam batang pohon. Seketika batang pohon itu hancur dan roboh. Bagai tersambar petir.

Sementara itu, Pendekar Gila sudah mendaratkan kakinya di tanah. Dengan cengengesan tangan kanannya menepuk-nepuk pantat sambil gelang-geleng kepala. Tingkah lakunya yang lucu, persis orang gila.

“Hi hi hi... Ternyata kalian ini pengecut. Tak cocok dengan badan kalian yang seperti kebo,” ejek Pendekar Gila.

Mendengar ejekan itu, wajah Tiga Mata Setan berubah merah. Dengan cepat dan geram Braja Wulung melontarkan senjatanya menyerang Pendekar Gila. Serangan dahsyat kali ini disertai pergerakan tenaga dalam yang kuat.

“Nih rasakan..., mampus kau, Gila Heaaa...”

Bola baja berduri itu melesat cepat. Deru anginnya terasa menggetarkan. Namun Pendekar Gila dengan cepat mengelak, hanya dengan memiringkan tubuhnya ke samping. Kemudian dengan cepat pula pemuda itu melancarkan serangan balasan yang tak terduga sama sekali.

“Heaaa...”

Wusss

Plakkk

“Ugkh...”

Braja Wulung terpekik ketika pukulan jarak jauh yang dilancarkan Pendekar Gila menghantamnya, tubuhnya terhuyung beberapa tombak ke belakang. Melihat kawannya terjatuh, Barong Wulung dan Tangkur Wulung kaget. Mereka kian murka. Matanya membelalak lebar merah menahan geram. Mata itu bagai mempunyai kekuatan gaib, mampu mengeluarkan sinar merah. Diiringi teriakan keras menggelegar Barong Wulung dan Tangkur Wulung bergerak menyerang.

“Heaaa...”

“Heaaa...”

Melihat sinar merah yang cukup membahayakan itu, Pendekar Gila segera mencabut senjata andalannya. Dengan cepat dan kuat Suling Naga Sakti dihentakkan untuk memapak sinar merah serta gempuran bola baja berduri yang meluncur menyerangnya.

Trakkk

Jglarrr.

“Uaaakhhh...”

Teriakan panjang terdengar dari kedua Mata Setan itu. Karena tangkisan Pendekar Gila dengan Suling Naga Saktinya mampu membalikkan serangan mereka. Sehingga sinar merah dari mata Barong Wulung dan Tangkur Wulung berbalik dan menghantam tubuh mereka. Maka tak ayal lagi, tubuh kedua Mata Setan terpental deras sekitar lima tombak ke belakang. Sementara itu, Pendekar Gila tetap berdiri dengan kuda-kudanya yang mantap.

Dengan cengengesan matanya menatap kedua lawan yang terkapar tak berkutik. Dada kedua lelaki berwajah garang itu hangus terhantam kekuatan senjata mereka.

Sementara itu Barong Wulung yang tadi terkena pukulan jarak jauh, berusaha bangkit dan hendak menyerang Pendekar Gila. “Hei... Kalau kau masih ingin hidup jangan coba-coba melawanku” ujar Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepala dan cengengesan. “Kau rupanya orang-orang Beruk Ireng dan Kala Bendana...”

Tiga Mata Setan tak menjawab karena masih merasa kesakitan. Mereka saling mendekap dada dengan mulut meringis-ringis.

Pada saat itu tiba-tiba muncul Sanjaya dengan wajah geram menatap ketiga begundal. Begitu pula Purnama yang muncul dari arah lain.

Sanjaya yang mengenali Tiga Mata Setan dengan bengis menatap mereka penuh dendam.

“Apa benar ketiga orang ini antek-antek Kala Bendana dan Purba Kelakon?” tanya Pendekar Gila pada Sanjaya.

“Hm...,benar, Pendekar. Mereka manusia keparat yang harus kita hukum setimpal dengan perbuatan mereka selama ini. Ketiga orang inilah yang menjadi mata-mata serta tukang cari perempuan-perempuan desa untuk dipersembahkan kepada Purba Kelakon si penganut ilmu setan itu” tutur Sanjaya dengan geram. Seakan-akan sudah tak sabar untuk memusnahkan Tiga Mata Setan.

Sena menggangguk-angguk sambil menggaruk kepala dengan cengengesan. Kemudian menyelipkan Suling Naga Saktinya di pinggang.

“Tapi kita tidak boleh menghukum sendiri.

Sebaiknya mereka kita bawa ke desa agar diadili...”

ujar Sena.

“Hhh... Aku kurang setuju, Sena. Percuma orang macam mereka ini diadili. Dan aku punya rencana...,”

sanggah Purnama yang dari tadi diam.

Purnama mendekati Sena dan membisikkan sesuatu di telinganya. Sena mengerutkan kening, lalu tertawa-tawa sambil menggaruk-garuk kepala.

Setelah itu tangannya menepuk-nepuk pantat, persis seperti kera.

“Hi hi hi.... He he he... Ternyata saudara yang satu ini punya gagasan baik. Coba kau beritahu Sanjaya...” ujar Pendekar Gila sambil terus menggaruk-garuk kepala.

Purnama pun segera membisikkan hal yang sama pada kakaknya. Sanjaya mengerutkan kening lalu menganggukkan kepala menyetujui rencana adiknya.

“Hei Kalau kalian masih ingin hidup, tunjukkan di mana pimpinan kalian bersembunyi saat ini? Cepat katakan atau kalian pilih mati” perintah Sanjaya dengan suara keras.

Tiga Mata Setan diam, tak menjawab. Seakan-akan mereka lebih memilih mati daripada hidup.

Karena mereka pikir sama saja. Tiga Mata Setan bungkam sambil menundukkan kepala.

Melihat ketiganya seperti tak menghiraukan per-mintaannya, Sanjaya makin marah. Dengan geram ditendangnya salah seorang dari Tiga Mata Setan.

Namun Pendekar Gila cepat melarang ketika Sanjaya hendak melakukan lagi.

“Tunggu Sanjaya Sabarlah, lebih baik kita lepas saja mereka. Tak ada gunanya lagi orang macam begini. Biarlah mereka pergi...” ujar Pendekar Gila sambil mengedipkan mata pada Sanjaya. Sanjaya mengerti maksud isyarat itu.

“Tidak, Pendekar. Jangan seenaknya kita melepas orang-orang ini Mereka nanti akan terus berbuat seenaknya. Tunggu apa lagi Sebaiknya kita kubur mereka di sini Atau kita bunuh saja, baru kita ikat di pohon, biar semua orang tahu Dan pasti pimpinan mereka akan murka, lalu kita dapat menangkapnya,”

ujar Sanjaya dengan penuh emosi dan marah.

“Tenang, tenang Kita tak boleh gegabah dan bertindak di luar batas. Aku yakin mereka akan memberitahukan di mana sarang mereka sebenarnya,” sahut Sena dengan kalem sambil cengar-cengir dan terus menggaruk-garuk kepala.

Purnama sudah mengerti maksud Sena. Matanya melirik pada Sanjaya dan menghela napas dalam-dalam. Sena, Sanjaya, dan Purnama sudah mempunyai cara dan rencana untuk memancing Tiga Mata Setan.

Sena kemudian berjongkok, dengan perlahan bertanya pada Barong Wulung yang tertua dari ketiganya.

“Kisanak, sebaiknya Kisanak memberitahukan, di mana Kala Bendana dan Purba Kelakon berada. Kami ingin kejujuran Kisanak. Kami akan melepaskan kalian bertiga. Percayalah... Bagaimana?”

Tiga Mata Setan tetap bungkam, tak mau memberitahu atau buka mulut. Bahkan tiba-tiba mereka mengeluarkan sesuatu dari pinggangnya dan dengan cepat menelannya. Dan..., tak beberapa lama kemudian Tiga Mata Setan kejang-kejang dan mukanya membiru. Matanya melotot bagai mau keluar... Mati

Sena mengetahui maksud mereka. Dengan cepat berusaha menghalangi. Namun terlambat karena racun yang mereka telan itu telah bekerja dengan kecepatan luar biasa. Itulah racun 'Pencabut Nyawa'

Rupanya Tiga Mata Setan itu sangat setia akan janji sumpah mereka. Mungkin karena pengaruh ilmu sihir milik Purba Kelakon.

“Rupanya mereka telah terkena ilmu sihir manusia setan itu. Sampai
ketiganya rela mati demi sang Pemimpin mereka yang murka itu. Gila Gila...”

dengus Sanjaya geram. Purnama menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti. Sedangkan Sena menggaruk-garuk kepala sambil cengar-cengir....

“Hhh.. Kita terlambat,” desah Sanjaya merasa kecewa sekali, karena tak dapat mengorek keterangan dari Tiga Mata Setan.

“Aha, kau benar Kita terlambat,” sahut Sena.

Ketiganya terdiam sesaat, sepertinya sedang mencari jalan lain untuk mendapat keterangan mengenai markas Purba Kelakon dan Kala Bendana berada.

“Jika mereka senantiasa menghilangkan jejak sulit bagi kita untuk dapat menemukan tempat mereka,”

gumam Purnama sambil menghela napas pelan.

“Kau benar, Dimas. Kalau mereka selalu bunuh diri seperti ini kita tak akan dapat menemukan markas mereka,” timpal Sanjaya dengan wajah menggambarkan kejengkelan. Selama ini, dendamnya pada Kala Bendana dan para begundalnya yang telah membunuh istri dan anaknya beberapa tahun yang lalu terus berkobar-kobar di dada.

Sena nampak masih tak menanggapi ucapan ke-iua kakak-beradik itu. Dirinya masih berpikir keras sendiri. Meskipun mulutnya tampak cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Matanya memandang lepas ke arah utara, tempat Pulau Neraka nerada. Di tempat itu Kala Bendana dan antek-anteknya bersembunyi.

Sebenarnya Sena ingin berangkat ke tempat itu, tapi menurut kabar, tempat itu sangat sulit ditempuh.

Di samping jauh dan keadaannya sangat berbahaya, markas mereka pun sangat tersembunyi.

“Aha, mengapa tak kukirim saja mayat ketiga orang ini?” gumam Sena dalam hati, “Bukankah de ngan sampainya ketiga mayat ini ke markas mereka, akan dapat membuat Kala Bendana mengirim anak buahnya untuk datang lagi?”

Sena semakin cengengesan dengan tangan

kembali menggaruk-garuk kepala. Sambil menepuk-nepuk kening dengan tangan kiri Sena melangkah mendekati Sanjaya dan Purnama yang masih diam tercenung. Keduanya nampak masih memikirkan bagaimana un tuk dapat mengundang Kala Bendana dan antek-anteknya datang ke desa itu.

“Aha, mengapa kalian masih juga melamun?”

tanya Sena dengan tingkah lakunya yang konyol.

Mulutnya cengengesan, sedangkan tangannya menggaruk-garuk kepala.

“Kami sedang berpikir, bagaimana caranya dapat mengundang Kala Bendana dan Purba Kelakon datang ke desa ini,” jawab Sanjaya dengan tangan mengepal.

“Aha, apakah kalian siap kalau mereka datang?'

tanya Sena, yang membuat kakak-beradik Sanjaya dan Purnama mengerutkan kening dan memandai lekat wajahnya.

“Apa maksudmu, Sena?” tanya Purnama.

“Apa kau mengira kami takut pada Kala Bendana dan Purba Kelakon?” sergah Sanjaya, sepertinya me rasa tak senang dirinya diremehkan Sena.

“Aha, kurasa bukan itu maksudku,” tukas Sena.

Mulutnya tetap cengengesan dengan tangan masih menggaruk-garuk kepala. Matanya kembali memandang ke utara. Tampak lautan membentang luas dan di tengahnya terdapat sebuah pulau karang yang disebut Pulau Neraka.

“Lalu...?” desak Sanjaya. Sena tak langsung menjawab. Dirinya merenung sejenak dengan kening mengerut. Ditengadahkan wajahnya memandang ke langit yang biru bening.

Dihelanya napas dalam-dalam. Kemudian dihempas-kan secara perlahan.

“Hi hi hi... Kalian memang tak takut pada Kala Bendana dan Purba Kelakon. Namun, bagaimana dengan warga desa ini?” tanya Sena, balik bertanya sambil memandang lekat wajah kakak-beradik itu.

Keduanya terdiam, seakan-akan merenungkan kata-kata yang diucapkan Sena.

Apa yang dikatakan Sena benar. Kedua kakak-beradik itu memang tak akan takut terhadap Kala Bendana dan Purba Kelakon. Tetapi, bagaimana dengan penduduk desa yang tak berdosa? Tentunya Kala Bendana dan Purba Kelakon tak datang sendirian. Sudah barang tentu mereka akan membawa laskar. Dan bukan tak mungkin kalau laskarnya akan membuat kerusuhan. Bukankah dengan begitu rakyat yang akan menanggung akibatnya?

Sanjaya menghela napas pelan. Matanya kini memandang ke arah Pulau Neraka, tempat markas Kala Bendana berada.

“Kau memang benar, Sena. Memang, kalau Kala Bendana datang bersama pasukan sudah barang tentu rakyat akan turut terlibat di dalamnya,” desah Sanjaya menyadari akan kekeliruannya dalam berpikir. Selama ini dirinya selalu diperbudak nafsu dan dendam, yang membuatnya tak mampu berpikir secara jernih. Yang lipikirkan hanyalah pembalasan dendam dan kebencian, serta antipati terhadap Kala Bendana dan Purba Kelakon serta antek-anteknya yang telah membuat mah tangganya berantakan.

“Ya. Aku pun merasa ucapan Sena benar. Tetapi, kalau Kala Bendana dan Purba Kelakon belum kita tumpas, desa ini tak akan pernah aman,” tutur Purnama.

“Sena tersenyum seraya mengangguk-anggukkan kepala. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala.

Matanya masih menatapi langit yang biru.

Angin bertiup lembut, menerpa rambut ketiganya.

Sena dan dua kakak-beradik Sanjaya dan Purnama masih berdiri mematung di tempat itu. Mereka masih merenungkan bagaimana cara yang baik untuk menumpas Kala Bendana dan Purba Kelakon serta antek-anteknya tanpa harus melibatkan penduduk desa.

“Bagaimana kalau kita menantang Kala

Bendana?” tanya Sanjaya meminta saran, tentu kepada Sena. Karena tatapan matanya kini tertuju kepada Sena yang masih cengengesan dengan tangan menggaruki garuk kepala.

“Bagaimana, Saudara Sena?” tanya Purnama me-'

minta kepastian pendapat dari Pendekar Gila.

“Aha, kalau memang itu sudah menjadi keputusan kalian, aku hanya setuju,'“, sahut Sena, 'Tapi, apakah

kalian yakin Kala Bendana mau datang seorang diri?”i Sanjaya dan Purnama kembali diam dan salinjjj pandang. Kening keduanya mengerut. Hati mereka kembali bimbang. Memang ucapan Sena benar. TentJ

Kala Bendana yang licik, tak akan bersedia datang se»' orang diri. Sudah barang tentu, Kala Bendana akan datang bersama anak buahnya. Hal itu sudah dapat dipikirkan, karena kebanyakkan tokoh sesat berla” seperti itu. Mereka tak akan menghargai jiwa ksatria.

Mereka akan menghalalkan segala macam cara.

Yang ada dalam benak mereka, hanyalah kemenangan dan kepuasan.

“Benar juga katamu, Sena. Bukan menjadi rahasia umum lagi, kalau tokoh hitam akan menghalalkan segala cara,” gumam Sanjaya sambil menggaruk-garuk kepala. Dihelanya napas panjang-panjang, seakan berusaha membuang perasaan gemasnya yang selalu melekat di dada.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Sena? Kami tak bisa menunggu sampai datangnya para dewa yang akan menolong kami,” ujar Purnama dengan penuh harap terhadap gagasan Sena yang akan mampu memberi pandangan baik bagi mereka dan warga Desa Karang Galuh.

“Aha, kurasa hanya ada satu jalan,” ujar Sena yang langsung mendapat tanggapan dari kakak-beradik itu.

“Apa itu, Sena?” tanya keduanya bersamaan sambil memandang penuh harap ke wajah Sena.

Sena tak langsung menjawab. Mulutnya tampak cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Tatapan matanya kini tertuju kepada mayat Tiga Mata Setan yang tergeletak tak jauh dari mereka.

Sepertinya ada sesuatu gagasan untuk menggunakan mayat ketiganya dalam menempuh jalan bagi mereka.

“Hi hi hi... Kalian lihat tiga mayat itu?”

'Ya,” sahut Sanjaya dengan kening mengerut, tak mengerti maksud Sena yang sebenarnya. Begitu pula halnya dengan Purnama, dia masih belum mengerti maksud Sena. Matanya menatap Sena dengan pandangan tak mengerti. Keningnya mengerut, berlipat-lipat. Mulutnya bungkam, menunggu jawaban dari Sena yang masih cengengesan itu. “Untuk apa mayat mereka?”

“Aha, aku ada akal Dengan mayat mereka, tentunya Kala Bendana akan marah. Dia akan mengirim pasukan. Kita tinggal menunggu mereka,”

ujar Sena membeberkan gagasannya.

“Aku belum mengerti,” dengus Sanjaya.

“Ya Katakanlah apa sebenarnya rencanamu itu”

pinta Purnama yang masih bingung.

Sena tak langsung menjawab. Mulutnya nyengir kuda, sedang matanya memandang lepas ke lautan luas. Kemudian tangannya menepuk-nepuk pantat.

Ditariknya napas dalam-dalam, kemudian dihempas-kan penahan.

“Baik..., hi hi hi... Akan kuterangkan,” ujar Sena.

Kemudian setelah cengengesan dengan tangan kembali menggaruk-garuk kepala sesaat, dirinya mulai menjelaskan. “Dengan ketiga mayat itu, kita akan memancing Kala Bendana, agar keluar. Kita kirim ketiga mayat itu ke Pulau Neraka.”

“Dengan apa?” sela Sanjaya tak sabar.

“Ya Siapa yang akan membawa mereka ke sana?”

tanya Purnama masih belum mengerti.

“Aha, kurasa kita tak perlu repot mengutus seseorang. Ketiga mayat itu, kita kirim dengan menggunakan peti,” sahut Sena.

Sanjaya dan Purnama melongo bengong mendengar penuturan Sena. Mereka tak menyangka, kalau Sena berpikiran begitu tajam. Padahal pemuda berpakaian rompi kulit ular itu persis orang gila.

Namun ternyata pikirannya sangat tajam.

“Bagaimana, Kisanak?” tanya Sena.

“Aku setuju,” sahut Sanjaya.

“Aku juga,” sahut Purnama menimpali.

“Aha, kini semuanya sudah kita sepakati. Kita tinggal meminta pendapat pada Ki Lurah. Bagaimanapun Ki Praba merupakan orang tua di desa ini. Sudah selayaknya dia kita mintai pendapat,” tutur Sena.

“Bagaimana dengan ketiga mayat itu?” tanya Sanjaya, “Aku khawatir ada orang yang akan membawanya. Bukankah dengan begitu gagal rencana kita?”

Sena memonyongkan mulutnya. Kemudian

cengengesan dengan tangan kembali menggaruk-garuk kepala. Matanya menatap ketiga mayat itu, kemudian menengadah ke langit, seakan mencari sesuatu di atas sana.

“Aha, kalau begitu, kita harus membawanya,” kata Sena sambil menoleh pada Sanjaya dan Purnama yang saling pandang. “Bagaimana?”

“Baiklah.”

Mereka segera mengangkat seorang satu mayat Tiga Mata Setan. Ketiganya kemudian melangkah menuju rumah Kepala Desa Karang Galuh, untuk meminta pendapat orang tua itu atas rencana mereka.

Di timur, mentari nampak merangkak perlahan naik menyinari bumi. Penduduk Desa Karang Galuh pun kelihatan mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. *** 6

Siang dengan terik mentari yang panas bagaikan hendak memanggang bumi dan seisinya. Namun orang-orang penduduk Desa Karang Galuh nampak tetap bekerja. Mereka bagaikan tak mengenal lelah, terus bekerja untuk mengolah hidup dan kehidupan.

Mereka bertani sibuk di sawah. Yang nelayan tampak tengah mempersiapkan jaring dan perahunya.

Pemandangan seperti itulah yang tampak setiap hari di Desa Karang Galuh yang memang tak jauh letaknya dari pantai.

Di bale-bale bambu di rumah Ki Praba nampak empat lelaki duduk bersila. Di hadapan mereka, terdapat empat cangkir kopi dengan dua piring ubi rebus yang hjngat Keempat lelaki itu, tiga masih muda sedangkan seorang lagi tua. Mereka tiada lain Ki Praba, Sanjaya, Purnama, dan Sena. Nampaknya mereka tengah berbincang-bincang.

Di ruangan depan rumah Kepala Desa Karang Galuh itu tampak tergeletak tiga sosok mayat. Ketiga mayat itu tak lain Tiga Mata Setan. Ketiga mayat itu sedang dijaga beberapa penduduk desa yang sengaja diundang Ki Praba.

“Apa rencana kalian?” tanya Ki Praba seraya mengangkat cangkir kopinya. Matanya memandang satu persatu wajah tiga lelaki muda yang ada di hadapannya. Kemudian tatapan mata lelaki tua itu, tertuju pada wajah Sanjaya.

“Kami mempunyai rencana mengirim ketiga mayat anak buah Kala Bendana, Ki,” sahut Sanjaya. Ki Praba mengerutkan kening. Matanya menyipit, masih menatap wajah Sanjaya. Kepalanya mengangguk-angguk, sedangkan tangannya membelai-belai jenggot yang tak begitu panjang dan berwarna keputihan.

“Dengan apa?”

“Dengan peti kayu, Ki,” sahut Purnama.

“Untuk apa...?” kini tatapan mata lelaki tua Kepala Desa Karang Galuh tertuju pada Purnama yang menjawab pertanyaannya tadi.

“Saudara Sena yang akan menjelaskannya, Ki,”

ujar Purnama melimpahkan jawaban pada Sena yang masih cengengesan sambil menundukkan kepala.

Sedangkan tangannya kini menggaruk-garuk kepala.

Sementara tangan kirinya, mempermainkan tikar yang terbuat dari-pandan.

“Katakanlah, Nak Sena” pinta Ki Praba ingin tahu apa yang direncanakan Sena. Pemuda tampan berambut gondrong yang mengikat kepalanya dengan kulit ular itu masih tampak cengengesan. Setelah mengelus-elus rompinya yang juga terbuat dari kulit ular, pendekar yang sangat kesohor di rimba persilatan itu muiai membuka mulut

“Aha, begini, Ki. Selama ini, kita tak dapat menumpas gerombolan Kala Bendana. Hal itu karena kita tak mampu menghadapinya secara langsung.

Kabarnya persembunyian mereka sulit ditembus.

Untuk itulah kami bermaksud mengirim mayat Tiga Mata Setan. Aku berharap Kala Bendana akan keluar dari sarang dan menghadapi kita. Hal ini kuanggap cara paling tepat untuk dapat menghadapi dan menumpasnya....”

Ki Praba sejenak terdiam dengan kening mengerut Nampaknya lelaki tua itu tengah mempertimbangkan gagasan Sena. Bagaimanapun, sebagai kepala desa dirinya harus mempertimbangkan segala sesuatu sebelum melakukan tindakan. Karena semuanya menyangkut keselamatan hidup warga desanya.

“Dengan kata lain, kalian akan menantang Kala Bendana dan Purba Kelakon ke desa ini?” tanya Ki Praba.

“Begitulah, Ki,” sahut Sanjaya. “Bagaimana jika yang datang anak buahnya?” “Aha, itu memang yang kami inginkan,” jawab Sena.

“Maksudmu...?” tanya Ki Praba masih tak mengerti.

“Aha, bukankah dengan kedatangan anak

buahnya, kita akan semakin ringan? Semakin banyak anak buah Kala Bendana yang tertumpas, semakin kecil kekuatannya. Cepat atau lambat Kala Bendana akan keluar,” ujarnya dengan mulut cengengesan sambil tangan kirinya masih mempermainkan tikar pandan.

Ki Praba mengangguk-anggukkan kepala, mendengar keterangan Sena. Seulas senyum

mengembang di bibirnya yang tua. Seakan gagasan Sena memberi jalan terang baginya, untuk -dapat melepaskan desa dan penduduknya dari ancaman Kala Bendana yang selama ini masih terus meng-hantui.

“Bagaimana, Ki?” tanya Sanjaya meminta

kepastian.

“Gagasan yang bagus” puji Ki Praba, “Aku setuju.”

“Aha, terima kasih,” sahut Sena sambil menundukkan kepala.

“Kalau begitu, kita harus membuat peti untuk ketiga mayat itu,” kata Purnama.

“Benar Sebaiknya, kita kumpulkan warga desa untuk membantu kita membuat peti,” usul Ki Praba.

“Kami setuju,” jawab Sanjaya.

“Kamil...” seru Ki Praba memanggil salah seorang penduduk desanya yang sedang menjaga ketiga mayat Tiga Mata Setan.

“Saya, Ki” sahut seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahunan, dengan perawakan kurus tinggi. Lelaki yang dipanggil Kamil melangkah mendekati tempat kepala desanya dan Sena serta kakak-beradik Sanjaya dan Purnama berada. Kemudian lelaki itu menjura, memberi hormat, “Ada apa, Ki?”

“Aku perintahkan agar seluruh warga desa berkumpul di sini,” ujar Ki Praba.

“Baik, Ki. Sekarang juga, Ki Lurah?” sahut Kamil.

“Ya sekarang. Kapan lagi?”

“Baik, akan saya laksanakan.”

Setelah menjura memberi hormat pada keempat lelaki yang duduk di bale-bale, Kamil pun beriari-lari untuk memberitahukan pada penduduk Desa Karang Galuh akan panggilan Ki Praba. Sedangkan temannya yang lain, segera membunyikan kentongan panggilan.

Dalam sekejap saja, semua penduduk desa yang mendengar suara kentongan ditabuh dengan keras, berduyun-duyun datang ke rumah kepala desa. Di wajah mereka, tergambar ketidakmengertian akan panggilan itu.

Ki Praba, Sanjaya, dan Sena atau Pendekar Gila sepontan bangun dari duduknya melihat warga desa berbondong-bondong datang. Sesaat kemudian halaman rumah Kepala Desa Karang Galuh telah dipadati warga desa. Terdengar mulut-mulut mereka bertanya-tanya.

“Ada apa Ki Lurah memanggil kami?” salah seorang warga bertanya. “Apakah Kala Bendana hendak menyerang desa kita?”

“Tidak Bahkan kitalah yang akan menumpas gerombolan Kala Bendana” sahut Ki Praba dengan mata berbinar-binar, merasa gembira melihat warganya masih menurut dan sangat patuh terhadap semua aturan.

“Apakah kita mampu, Ki Lurah?” warga yang lain bertanya.

Ki Praba tersenyum, kemudian menoleh ke wajah Sanjaya, Purnama, dan Sena.

“Kalian lihat, tiga orang anak buah Kala Bendana telah mati di tangan Sena. Berarti kekuatan Kala Bendana dapat kita kurangi. Maka itu pula, aku mengundang saudara-saudara untuk datang. Aku ingin meminta dukungan pada seluruh warga desa untuk membuat peti bagi ketiga mayat itu” ujar Ki Praba sambil menunjuk mayat-mayat Tiga Mata Setan yang tergeletak di sisi kanan depan rumah dan sedang dijaga sepuluh warga desa.

Semua warga seketika memandang ke arah tiga mayat yang ditunjuk Ki Praba. Mata mereka membelalak, setelah tahu siapa ketiga mayat itu.

Tanpa sadar, dari mulut mereka serentak terdengar menyebut gelar ketiganya.

“Tiga Mata Setan...?”

“Benar Mereka Tiga Mata Setan, yang selama ini kita takuti. Namun dengan adanya Pendekar Gila di desa kita ini, kita tak perlu takut pada mereka,” ujar Ki Praba sambil menoleh ke wajah Sena yang cengengesan memandang ke langit dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Seketika semua warga kembali tersentak kaget mendengar Ki Praba menyebut Pendekar Gila. Tentu saja para warga terkejut melihat pendekar muda yang sangat kesohor itu ada di rumah kepala desa.

“Pendekar Gila?” seru warga.

“Ya”

“Apakah kau tidak hanya berusaha menenangkan hati kami, Ki Lurah?” tanya warga desa tak percaya kalau di desa mereka telah datang Pendekar Gila.

Pendekar yang namanya akhir-akhir ini menjadi perbincangan dan sangat dikenal baik di kalangan rimba persilatan maupun orang-orang biasa.

“Tidak Aku tak pernah berdusta. Lihat oleh kalian sendiri Yang berdiri di sebelah kiri Purnama, adalah Pendekar Gila, murid Singo Edan dari Goa Setan,”

tutur Ki Praba memperkenalkan Sena pada warga desanya. Orang-orang semakin membuka mata dengan mulut ternganga, setelah tahu kalau selama ini orang yang bertingkah laku gila di desanya ternyata pendekar sakti.

Secara serentak semua warga desa menjura, padahal tak ada yang memerintah. Mereka baru menyadari kalau pemuda berpakaian rompi kulit ular itu Pendekar Gila.

“Terimalah hormat kami, Tuan Pendekar” seru beberapa orang yang di barisan depan.

“Aha, mengapa kalian berlaku begitu? Aku bukanlah dewa, yang patut kalian sembah. Aku manusia seperti kalian. Aku datang, karena panggilan nurani-ku, yang tak suka pada tindak kejahatan. Marilah, kita bahu-membahu menghancurkan kejahatan” ujar Sena dengan tingkah lakunya yang konyol persis orang gila. Sambil berkata begitu mulutnya cengengesa sambil menggaruk-garuk kepala dengan tangan kanan.

“Setuju...”

“Kami siap” “Perintahkan pada kami Kami telah siap menjalankan perintah Demi keselamatan warga desa...

Demi Desa Karang Galuh”

“Ya, kita ganyang Kala Bendana”

“Kita tumpas kejahatan...”

Sorak-sorai yang gemuruh riuh warga desa tampak bersemangat menyambut Pendekar Gila, laksana air bah yang tak terbendung lagi. Mereka mengeluarkan perasaan yang selama ini terpendam, karena tekanan rasa takut terhadap Kala Bendana yang mempunyai mata-mata di mana-mana. Namun dengan adanya Sena, semangat warga desa, yang semula hampir padam, kini menyala berkobar.

“Terima kasih... terima kasih atas kesediaan kali an. Namun belum saatnya kita berperang. Aku hanya meminta kalian, untuk membuatkan tiga peti.

Kemudian, kuharap semua warga berwaspada dan selalu siap. Karena jika ketiga peti mati itu sampai di tempat Kala Bendana, bukan tak mungkin Kala Bendana akan mengirim pasukan,” ujar Ki Praba penuh wibawa. Peringatan itu tampaknya disambut baik seluruh warga desa. Mereka mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

“Kapan kami membuat peti, Ki Lurah?” tanya warga.

“Bila mungkin, saat ini juga” sahut Sanjaya. “Baik.

Kami akan membuatnya” Warga desa dengan hati penuh harap agar di nya terbebas dari Kala Bendana, segera bekerja. Mereka langsung menebang pohon.

Ada yang membelah, Ada yang menggergaji. Ada yang menghaluskan serta membuat dan merancang.

Mereka bekerja dengan penuh semangat, bergotong royong.

Ketika mentari bergeser agak ke barat, tiga peti yang diminta kepala desa pun telah selesai dibuat.

Warga Desa Karang Galuh segera memasukkan ketiga mayat itu ke dalam peti. Kemudian mereka langsung menggotong ketiga peti itu ke tepi laut Dengan menggunakan getek, ketiga peti mati yang berisi mayat Tiga Mata Setan dialirkan ke tengah.

“Kita harus senantiasa siap” ujar Ki Praba kembali memperingatkan warga desanya.

“Kami siap...” sahut seluruh warga sambil mengangkat ke atas tangan kanan yang memegang golok.

Di laut, getek yang membawa tiga peti mati, perlahan-lahan terus bergerak ke tengah. Cepat atau lambat getek itu pasti akan ditemukan para anak buah Kala Bendana di Pulau Neraka sana.

***

Senja telah datang, sinar mentari redup tak sepanas ketika siang. Di Pulau Neraka, nampak dua orang prajurit bersenjatakan tombak sedang mengawasi sekitar pulau itu. Mata mereka yang tajam, memandang ke selatan. Tampaklah samar-samar daratan tanah Jawa yang hijau. Ketika keduanya menajamkan pandangan ke lautan, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan adanya sebuah getek atau rakit yang menuju Pulau Neraka, tempat mereka berada. Di atas rakit itu, terdapat tiga peti mati.

“Kala Kuning Lihat, ada tiga peti di atas rakit”

seru Kala Hijau pada temannya sambil menunjuk ke laut. Rakit itu bergerak perlahan, semakin mendekat ke tepian Pulau Neraka.

“Hai, benar Siapakah yang telah mengirim peti mati itu?” gumam Kala Kuning dengan mata masih menatap rakit yang di atasnya terdapat tiga peti.

“Apakah Tiga Mata Setan yang mengirimnya, karena mereka telah berhasil membunuh Ki Praba serta dua saudara Sanjaya dan Purnama?” tanya Kala Hijau menerka-nerka. Matanya terus menatap tajam rakit pembawa tiga peti mati.

“Mungkin juga. Sebaiknya kau lapor pada pimpinan, biar aku menunggu di sini” usul Kala Kuning.

“Baiklah kalau begitu.”

Kala Hijau pun bergegas meninggalkan tepian Pulau Neraka untuk melaporkan hal itu pada ketuanya, Kala Bendana. Sementara, Kala Kuning menunggu sampai rakit itu menepi, untuk mengetahui apa isi peti mati itu.

Kala Hijau dengan terburu-buru melangkah ke; markasnya, di mana tiga pimpinannya berada. Saat itu, Kala Bendana, Braga Kunta dan Purba Kelakon tengah berkumpul. Nampaknya ketiga pimpinan Gerombolan Iblis Merah sedang membicarakan sesuatu.

“Ampun Ketua, Kalau Hijau menghadap,” seru lelaki berusia sekitar empat puluh tahun dengan wajaH garang berpakaian hijau. Kala Hijau menjura hormat.

Ketiga pimpinan Gerombolan Iblis Merah seketika menghentikan pembicaraan mereka. Ketiganya langsung menoleh kepada Kala Hijau.

“Ada apa, Kala Hijau?” tanya lelaki bermuka kasar dengan cambang bauk tebal yang tak lain Ka Bendana.

“Kami melihat rakit membawa tiga peti mati,” ujar Kala Hijau melaporkan. “Hm, apakah kalian telah memeriksa isinya?”

tanya lelaki bertubuh gagah berpakaian serba hitam.

“Belum, Ketua. Itu sebabnya hamba menghadap,”

jawab Kala Hijau.

“Baiklah, kami akan segera ke sana,” kali ini yang berkata lelaki berusia sekitar enam puluh lima tahun dengan jenggot dan kumis tebal yang tak lain Purba Kelakon.

Ketiga lelaki yang memimpin Gerombolan Iblis Merah itu melangkah meninggalkan ruang per-temuan, keluar dari tempat itu. Kala Hijau mengikuti di belakang. Mereka melangkah menuju tempat Kala Hijau dan Kala Kuning bertugas hari itu.

“Hm, mungkinkah Tiga Mata Setan telah berhasil menunaikan tugasnya?” gumam Kala Bendana.

“Mungkin juga, Kakang. Tetapi, mengapa hanya tiga? Tidak sekalian dengan Pendekar Gila?” tanya Braja Kunta, lelaki berusia sekitar enam puluh tahun, mengenakan pakaian coklat Pertanyaannya seperti bergumam padajdiri sendiri. Matanya memandang ke rakit yang semakin mendekat ke pantai.

“Cepat kau panggilkan teman-temanmu untuk menarik rakit itu ke sini” perintah lelaki berjubah ungu dan mengenakan blangkon batik berwarna hitam yang bernama Purba Kelakon.

“Baik, Ketua” jawab Kala Kuning. Tanpa di-perintah kedua kalinya, Kala Kuning segera berkelebat pergi untuk memanggil rekan-rekannya. Tidak lama kemudian, Kala Kuning telah kembali datang dengan dua puluh orang anak buah Gerombolan Iblis Merah. Gerombolan Iblis Merah merupakan nama baru gabungan antara anak buah Kala Bendana dengan Purba Kelakon.

“Kala Kuning, tarik rakit itu dan angkat peti itu...” perintah Kala Bendana.

“Daulat, Ketua”

Kala Kuning dan kedua puluh rekannya segera menceburkan diri ke laut untuk menarik rakit yang jaraknya tinggal lima belas tombak dari daratan.

Kedua puluh satu anak buah Kala Bendana segera berenang mendekati rakit. Kemudian mereka menarik dan mendorong rakit kayu itu, semakin mendekat ke pimpinan mereka yang menunggu di daratan.

Rakit itu pun sampai. Kala Bendana dan dua ketua lainnya segera mendekati anak buah yang mengangkat rakit ke daratan.

Kala Bendana segera membuka satu persatu peti mati itu. Seketika mata mereka membelalak, setelah tahu isi peti mati itu. Dari mulut mereka mendesis, menyebutkan nama ketiga orang yang telah mati.

“Tiga Mata Setan...”

“Kurang ajar Mereka benar-benar mencari penyakit Berani benar mereka menghinaku” dengus Kala Bendana geram. Gigi-giginya saling beradu, menandakan kemarahannya sudah tak terbendung lagi. Tangannya mengepal-ngepal; sepertinya siap meremukkan batok kepala orang yang telah berani mengirim mayat ketiga anak buah kepadanya, “Akan kuremukkan batok kepalanya”

“Sabar, Adi Kala Bendana Kita tidak boleh terbawa perasaan kita,” ujar Purba Kelakon berusaha menyabarkan rekannya yang tampak sudah sangat marah, “Kau harus ingat. Tentunya orang yang mengirim Tiga Mata Setan bukanlah tokoh sembarangan. Tiga Mata Setan bukan orang-orang sembarangan. Ilmu mereka jelas tinggi. Namun mengapa mereka sampai mati dengan muka gosong?”

Kala Bendana terdiam. Namun wajahnya masih menggambarkan amarah yang meluap-luap. Dia benar-benar merasa dihina oleh orang yang mengirim ketiga peti mati beserta isinya.

“Benar, Kakang. Apa yang dikatakan Kakang Purba Kelakon memang benar. Jelas yang melakukan semua ini, bukan orang sembarangan seperti Ki Praba dan dua bersaudara Sanjaya dan Purnama.

Hm, aku jadi yakin, tentunya pendekar itu ada di Desa Karang Galuh,” gumam Braga Kunta, bekas anggota Gerombolan Serigala Hitam itu. Braga Kunta adalah kawan seperguruan dengan Beruk Ireng yang dibunuh Sanjaya dalam pesta gila.

“Bagaimana kau bisa yakin kalau ini semua tindakan Pendekar Gila...?” tanya Kala Bendana dengan kening mengerut, belum percaya.

“Kau lihat wajah mereka seperti terbakar, Kakang?”

“Ya”

“Kau tahu, kenapa mereka, Kakang?”

“Tidak” sahut Kala Bendana cepat.

Braga Kunta menarik napas dalam-dalam.

Matanya menatap tajam pada mayat Tiga Mata Setan. Ada dua kemungkinan yang sedang dipikirkan.

Kala Bendana memandangi wajah adik seperguruannya yang nampak kalem, seakan ada sesuatu yang sedang dipikirkan Braga Kunta.

“Ada dua kemungkinan yang menjadikan ketiganya mati.”

“Apa itu?” desak Kala Bendana ingin tahu.

“Pertama, mereka menyerang dengan ilmu Mata Setan, dan ditangkis oleh Suling Naga Sakti milik Pendekar Gila...,” tutur Braga Kunta. “Ah, bagaimana mungkin hanya sebuah suling bisa mengembalikan sinar api mereka?” bantah Kala Bendana tak percaya.

Braga Kunta tersenyum sambil menghela napas, kemudian digeleng-gelengkan kepalanya.

“Memang kalau belum melihat dengan mata kepala sendiri, sulit untuk dipercaya, Kakang. Suling itu memang merupakan senjata sakti bagi Pendekar Gila. Itu pula yang menjadikannya semakin bertambah sakti,” jawab Braga Kunta.

“Hm,” gumam Kala Bendana tak jelas, “Lalu kemungkinan kedua?”

Braga Kunta tak langsung menjawab. Kembali dia menghela napas panjang, berusaha menenangkan hatinya. Bagaimanapun dirinya belum pernah bentrok melawan Pendekar Gila. Namun setidaknya tokoh dalam Serigala Hitam ini sering mendengar sepak terjang pendekar muda itu. Dan selama ini, di-dengarnya kalau pendekar muda itu belum ada yang mampu mengalahkannya. Itu juga yang membuat Braga Kunta merasa cemas, karena bagaimanapun tidak mudah bagi mereka untuk dapat mengalahkan pendekar murid Singo Edan penghuni Goa Setan itu

“Kemungkinan kedua, Tiga Mata Setan terkena sinar sakti dari sepasang mata kepala Naga di Suling Naga Sakti milik Pendekar Gila.”

“Heh?”

“Hah?” Kala Bendana dan Purba Kelakon

tersentak mendengar penuturan Braga Kunta.

Mereka baru mendengar tentang suling yang mampu mengeluarkan sinar sakti. Selama ini, mereka menganggap senjata-senjata mereka yang berbentuk caping maut dan sangat besar merupakan senjata-senjata sakti, dan tak ada lagi senjata sakti lainya. “Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Bendana minta pendapat dari adik seperguruannya yang lebih cerdas dibandingkan dengan dirinya.

“Kita kirim pasukan ke Desa Karang Galuh.

Sebisanya, harus ada yang hidup untuk melaporkan pada kita akan apa yang sebenarnya ada di Desa Karan Galuh,” usul Braga Kunta.

“Benar Aku setuju,” sambut Purba Kelakon.

“Baiklah kalau begitu. Kala Hijau, kau pimpin d puluh orang untuk menyerbu ke Desa Karang Galuh.

Sebisanya, kau harus memberi laporan ke sini” pe rintah Kala Bendana.

“Baik, Ketua” jawab Kala Hijau. Sore itu pula, Kala Hijau dengan dua puluh anak buah Gerombolan Iblis Merah berangkat untuk mela kukan penyerbuan ke Desa Karang Galuh sekali memeriksa benar tidaknya kalau Pendekar Gilaa di desa tersebut.

*** 7

Malam baru saja tiba dengan gelap yang menyelimuti bumi. Begitu pula keadaan di Desa Karang Galuh, gelap bagaikan sebuah kelambu raksasa yang membentang dan menyelimuti desa itu. Namun, lain dengan malam-malam biasa yang sepi, malam itu Desa Karang Galuh kelihatan masih hidup. Masih banyak warga yang berlalu-lalang di pantai. Atau di dalam desa yang terletak di pesisir laut itu.

Semenjak sore Sena, Sanjaya, dan Purnama berada di rumah Ki Praba. Seperti biasanya, mereka duduk-duduk di bale-bale bambu di ruang tengah.

Malam itu mereka menyusun rencana untuk dapat menghancurkan Gerombolan Iblis Merah. Namun saat itu, bukan hanya keempat orang pendekar saja.

Ada sekitar sepuluh orang warga desa ikut berbincang-bincang bersama kepala desa mereka.

“Apakah Nak Sena yakin kalau Kala Bendana akan mengirim pasukannya?” tanya Ki Praba seperti belum yakin, kalau Kala Bendana akan mengirim pasukan.

“Aha, kurasa begitu, Ki. Dengan kematian tiga orang utusannya, Kala Bendana akan marah,” jawab Sena dengan mulut cengengesan.

“Hm, tetapi sudah malam, mereka belum datang,”

gumam Ki Praba melemparkan pandangan ke utara.

Jarak rumah Ki Praba dengan pesisir, tidak begitu jauh. Hanya sekitar seratus tombak.

“Mungkin Kala Bendana sedang mengatur siasat.

“Ya Kurasa begitu,” Purnama menimpali. “Bagaimanapun penjagaan di pesisir harus kuat. Kita juga harus siap jika Kala Bendana menggunakan siasat yang di luar dugaan kita. Bukan begitu, Kakang Sena?” Kali ini Purnama menyebut kakang terhadap Pendekar Gila, sebagai tanda hormatnya.

“Aha, kau benar, Purnama. Bisa saja Kala Bendana melakukan serangan tidak dari laut.

Mungkin saja dari arah timur, barat, ataupun selatan,” jawab Pendekar Gila. Jawaban itu membuat Ki Praba mengangguk-anggukkan kepala.

“Parlan, apakah batas desa telah dijaga ketat?”

tanya Ki Praba kepada utusannya yang bernama Parlan.

“Sudah, Ki.” jawab Parlan tegas.

“Bagus Kurasa kita memang harus waspada.

Selain licik, mereka terkenal bengis dan buas. Mereka tak segan-segan membunuh siapa saja, tanpa mengenal belas kasihan,” gumam Ki Praba.

Tiba-tiba dari arah utara seorang penduduk desa nampak berlari-lari menuju rumah. Hal itu membu?

orang-orang yang berada di rumah kepala desa seketika menoleh kepada lelaki, berusia sekitar tiga puluh tahun yang menuju ke tempat itu.

“Musuh datang, Ki Lurah,” seru lelaki kurus ber kumis tipis itu dengan napas tersengal-sengal.

“Hm, benar juga dugaanmu, Nak Sena. Mari, kita sambut kedatangan mereka Parlan, perintahkan para para penjaga batas desa untuk ke pesisir”

perintah Praba kepada Parlan.

“Baik, Ki Lurah.”

“Ah ah ah... Kurasa malam ini kita akan pesta dengan tangan menggaruk-garuk kepala.

“Kita harus ke pesisir. Ayo...” ajak Ki Praba.

Mereka pun segera berlarian menuju pesisir untuk menyambut kedatangan anak buah Gerombolan Iblis Merah. Sedangkan Parlan, kini berlari untuk meng-hubungi rekan-rekannya yang bertugas menjaga di perbatasan Desa Karang Galuh.

***

Dari arah utara, masih dalam jarak sekitar seratus tombak nampak sebuah perahu berlayar menuju ke pesisir. Di dalam perahu itu, terlihat dua puluh satu orang mengenakan pakaian serba hitam dengan wajah tertutup kain ala ninja. Di punggung mereka, bertengger pedang panjang.

“Jangan kita serang dulu, sebelum mereka turun”

perintah Ki Praba pada warga desa yang bersembunyi di balik rerumputan tinggi yang tumbuh di pesisir pantai. Sedangkan Sena, kini dengan tenang duduk bertengger di sebuah cabang pohon besar.

Mata Sena terus mengawasi gerak-gerik pasukan berpakaian hitam yang masih berada di atas perahu.

Mulutnya cengengesan, tangannya menggaruk-garuk kepala. Sengaja Sena naik ke pohon, agar dapat memantau gerak-gerik kedua puluh satu orang yang semakin bertambah dekat ke pesisir.

“Aha, kurasa sebentar lagi akan ada pesta besar,”

jumam Sena dengan mulut cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya kemudian memandang rerumputan yang paling dekat dengan pantai, empat Sanjaya dan Purnama, serta Ki Praba berada. Orang-orang berpakaian serba hitam itu berlompatan turun dari perahu, karena telah sampai di depan. Mata mereka memandang tajam ke sekeliling tempat itu. Kemudian seorang yang berjalan di depan menggerakkan tangan kanan, memerintah pada kedua puluh temannya agar bergerak maju.

Mereka baru saja berjalan sekitar sepuluh langkah meninggalkan perahu ketika tiba-tiba dari semak-semak terdengar seruan Ki Praba memerintah pada warganya untuk menyerang.

“Serang...”

“Hea”

“Yea”

Dari semak-semak yang lebat, bermunculan warga desa dengan senjata terhunus menyerang dua puluh satu manusia berpakaian hitam. Pasukan ber-selubung kain hitam itu tersentak kaget. Lalu segera mencabuti pedang yang tersampir di pundak masing-masing.

“Serbu” perintah Kala Hijau terdengar. Tangan-nnya bergerak memberi isyarat agar menyerang.

Kedua puluh anak buah segera merangsek maju memapak serangan dari warga Desa Karang Galuh.

Srtttl Srttt

“Heaaa...”

Trang Trang Trang

“Heaaa...”

Malam itu pun pertarungan seru tak dapat di-cegah. Mereka membaur dalam persabungan nyawa yang menggariskan. Siapa yang lengah, akan menemui ajal. Suasana di pesisir yang semula tenang dan indah seketika berubah menjadi ajang pertarungan. Jeritan-jeritan kematian dan pekikan menyerang, terdengar membelah kegelapan malam.

Kemarahan seluruh warga Desa Karang Galuh seperti menemukan tempat pelampiasan. Mereka bertemu dengan sepasukan berpakaian hitam yang marah karena Tiga Mata Setan terbunuh.

Sena masih bertengger di atas cabang sebuah pohon sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Matanya terus menyaksikan pertarungan seru itu. Digeleng-gelengkan kepalanya, seakan berusaha membuang perasaan hatinya yang sedih. Sedih melihat nyawa-nyawa manusia harus melayang. Sedih melihat keangkaramurkaan senantiasa datang menjarah dan menyusahkan manusia yang tidak berdosa. Seperti yang sedang dialami warga Desa Karang Galuh.

“Jagat Dewa Batara Sampai kapan pertumpahan darah berakhir?” gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala.

“Bantu Ki Lurah Serang...” dari arah timur, dua puluh warga langsung membantu Ki Praba menghadapi pasukan yang
dikirim Kala Bendana.

“Hea”

Wrttt

Trangngng

Dentang suara benturan pedang, golok, dan keris terus terdengar memecah keheningan malam.

Teriakan dan pekikan keras penuh kemarahan ber-baur dengan suara ombak laut.

Cras

“Akh...”

Bersamaan jeritan itu, menggelepar sesosok tubuh manusia, terbanting di pasir. Sesaat tubuh itu menge-ang sekarat, kemudian diam bersimbah darah.

Meski dikeroyok puluhan warga desa, nampaknya anak buah Kala Bendana tidak gentar sedikit pun.

Mereka terus menghadang serangan dengan penuh keberanian. Pedang panjang di tangan mereka bergerak cepat membabat dan menangkis seran golok warga desa yang juga kalap. Pertarungan semakin seru. Seakan-akan tak ada tanda bakal berhenti. Sementara angin laut bertiup kencang. Dingin mencekam.

“Habisi mereka...” teriak Sanjaya dengan lantang, kemudian tubuhnya berkelebat menghadang Kala Hijau yang sedang mengamuk sambil menebaskan pedangnya menyerang lima warga desa yang menyerangnya,

“Aku lawanmu Hea...”

Dengan penuh kemarahan dan dendam, Sanjaya segera menyerang Kala Hijau. Pedang di tangannya bergerak cepat dengan jurus 'Tapak-Tapak Dewa Air'

Gerakan pedang di tangan Sanjaya, tak ubahnya se perti air yang mengalir. Sekali serangan gagal, tahu-tahu pedangnya telah kembali menyerang dengan tusukan dan tebasan ke tubuh lawan. Cepat dan beruntun

“Heaaa...”

Wuttt Wuttt

“Aits...” Kala Hijau tersentak kaget, segera dimiringkan tubuhnya ke samping kiri mengelak. Hal itu membuat tusukan pedang Sanjaya melesat beberapa jari di samping kanannya. Namun belum juga Kala Hijau mengubah kedudukan, dengan cepat Sanjaya telah mengirimkan sebuah tendangan kaki kanannya.

“Yea”

Wrettt

“Heh?” Kala Hijau tersentak kaget, tak menyangka kalau lawan akan menyerang dengan tendangan Dirinya berusaha menangkis dengan membabatkan pedang ke kaki lawan.

“Hih...”

Wuttt

Sanjaya segera menarik kaki kanannya dengan cepat. Kemudian menyusulkan pukulan tangan kirinya ke dada lawan secepat pedang lawan terangkat.

“Hea”

Degk

“Ukh...” Kala Hijau melenguh tertahan. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Matanya memandang ke sekelilingnya, berusaha mencari Pendekar Gila.

Namun tak dilihatnya Pendekar Gila berada di tempat itu.

“Hm, aku harus pergi untuk memberitahukan pada Ketua, bahwa di sini tak ada Pendekar Gila,” gumam hati Kala Hijau sambil berusaha mengelakkan serangan-serangan Sanjaya yang cepat dan mematikan.

“Mampuslah kau, Bajingan Hea...” dengan di-landasi perasaan marah dan dendam, Sanjaya terus menyerang. Pedang di tangannya menyambar-nyabar ke tubuh Kala Hijau. Namun, dengan cepat Kala Hijau melentingkan tubuh ke atas. Kemudian dengan lompatan ' Harimau'-nya Kala Hijau melesat menuju laut. Dan tanpa rasa takut, Kala Hijau langsung mencebur ke laut.

Byurrr

“Hai, mau lari ke mana kau, Bajingan” bentak Sanjaya seraya mengejar. Namun tubuh Kala Hijau telah menghilang, tenggelam ke dalam laut. Sanjaya tak peduli, terus memandangi laut tempat tubuh Kala Hijau tenggelam, menunggu sampai Kala Hijau muncul.

Lama sekali Sanjaya menunggu, tetapi Kala Hijau tak juga muncul ke permukaan. Kala Hijau bagaikan tenggelam di dasar laut Merasa lawan sudah tak aka muncul lagi, Sanjaya pun kembali berkelebat ke tempat pertempuran. ***

Pertarungan semakin seru, dengan kehadiran Sanjaya yang langsung mengganas. Namun, pertempuran kini nampak tak seimbang lagi. Kedua puluh lawan, mulai terdesak. Apalagi dengan kehadiran Sanjaya. Pedang di tangan pemuda berpakaian kuning itu bagaikan haus darah. Sekali berkelebat, seketika itu pula nyawa melayang.

“Hea”

Wrt

“Akh...” satu orang lawan terbabat pedang Sanjaya. Perutnya terkoyak dengan usus terburai keluar. Tubuh lelaki berpakaian hitam itu meregang.

Kemudian menggelepar-gelepar dan diam tak bernyawa.

Sanjaya dan Purnama bagaikan dua ekor banteng teriuka. Marah Pedang di tangan mereka, bergerak cepat dengan jurus andalan 'Sepasang Pedang Dewa Angin'. Jurus itu sangat dahsyat, terbukti pedang di tangan kedua kakak-beradik itu bagaikan menghilang. Yang nampak hanya kilatan-kilatan samar.

“Heaaa”

“Yeaaa”

Wrt Wrttt

Dengan jurus pemungkas, Sanjaya dan Purnama terus merangsek lawan-lawannya. Pedang mereka menebas dan menusuk sangat cepat. Sehingga sulit bagi lawan untuk dapat mengelakkan serangan mereka.

Wrttt

Brettt

“Akh...” kembali pedang di tangan Sanjaya meminta korban. Kali ini leher lawannya sebagai sasaran. Leher itu hampir putus. Darah menyembur deras. Sesaat tubuh korban menggelepar, kemudian diam. Tewas

Purnama pun tak mau kalah. Dengan jurus yang sama pemuda itu bergerak cepat menusukkan pedang ke lawan-lawannya. Gerakan menusuknya sangat cepat. Sehingga lawan tak mampu bergerak untuk mengelak.

“Hea”

Wrttt

Blesss

“Aaakh...” seorang lawan tertembus pedang di tangan Purnama sampai ke punggung. Dan ketika Purnama mencabut pedangnya, saat itu pula nampak tubuh bagian dada lawan berlubang dan menyem-burkan darah deras, membasahi sekujur tubuh. Lelaki berpakaian hitam itu terbelalak. Tubuhnya menge-jang, kemudian ambruk mencium tanah dan mati.

Di pihak lain, Ki Praba dan warga desa pun tak mau kalah. Mereka mengamuk dengan ganas, men-desak lawan-lawannya.

“Bunuh semuanya..” teriak Ki Praba.

“Habisi mereka...” warga menyahuti dengan mengangkat senjata mereka. Salah seorang warga membawa pentungan sepanjang lengan. Dipentung-kannya kayu itu ke rubuh manusia berpakaian hitam dari belakang.

Pletakkk

“Aduh...” orang itu menjerit. Pedangnya terlepas.

Kemudian tangannya langsung memegangi kepala yang pecah akibat pentungan salah seorang warga desa. Tubuhnya berputar-putar sambil terus mendekap kepalanya yang pecah. Darah merembes keluar bercampur otak. Tubuhnya melemas, lalu ambruk mencium pasir pantai.

Pendekar Gila yang masih bertengger di atas cabang pohon tak mau tinggal diam. Ketika ada salah seorang lawan melenting ke udara, dengan cepat tangannya bergerak menyambar pakaian orang itu.

Trep

“Hi hi hi... Mau lari ke mana, Kawan?” tanya Sena sambil cengengesan dengan tangan kiri menggaruk-garuk kepala. Diangkatnya tubuh orang itu tinggi-tinggi. Kemudian dengan mengerahkan tenaga dalam dilemparkan tubuh orang itu ke atas.

Werrr

“Wuaaa... Tolooong...” tubuh orang itu terlontar ke atas, kemudian menukik ke bawah dengan cepat Kepalanya berada di bawah. Sehingga ketika sampai di tanah, tubuh itu langsung menancap dengan kepala terbenam di tanah.

“Hua ha ha...” Sena tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala, menganggap kejadian itu sebuah lelucon. “Lucu... Lucu sekali Ada juga orang yang main akrobat dalam pertempuran seperti ini.”

Sisa pasukan berpakaian hitam yang tinggal lima orang itu, kini semakin bertambah ketakutan. Apalagi setelah mereka tahu kalau Pendekar Gila ada di situ.

Mereka merasa telah ditipu mentah-mentah oleh Pendekar Gila, yang bersembunyi dan bertengger di cabang pohon.

“Heaaa”

Salah seorang dari kelima menusia berpakaian hitam itu melesa hendak menyerang Pendekar Gila, namun ketika tubuhnya sedang melayang ke atas, Ki Praba mendadak membabatkan pedangnya ke atas.

“Hih” Wrt

Cras

“Akh...” orang yang melayang hendak menyerang Pendekar Gila seketika terbanting. Perutnya me-nganga, tersambar pedang kepala desa itu.

“Hua ha ha...” Pendekar Gila tertawa-tawa sambil berjingkrakan seperti seekor kera di atas pohon, “Ah ah ah, kau telah berjasa padaku, Ki.”

Ki Praba hanya tersenyum melihat tingkah laku Sena yang konyol. Yang lain bertempur, Pendekar Gila justru berjingkrakan sambil tertawa terbahak-bahak dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Kalau saja yang bertingkah begitu bukan Pendekar Gila, Kepala Desa Karang Galuh itu tentu marah dan menganggap orang itu pengecut yang hanya berani sembunyi.

Pertarungan semakin tak seimbang. Empat orang berpakaian hitam terdesak semakin hebat Apalagi dua di antara gerombolan itu kini harus menghadapi Sanjaya dan Purnama yang berilmu di atas mereka.

“Hea”

Dengan penuh amarah Sanjaya menggebrak.

Dengan jurus 'Angin Menuai Bunga' pemuda itu membabatkan pedangnya ke tubuh lawan yang semakin kewalahan. Lawan kini bagaikan tak diberi kesempatan sedikit pun untuk melakukan serangan.

Bahkan kini untuk mengelak pun seperti kehilangan ruang geraknya. Ke mana dia melesat, ke situ pula pedang Sanjaya memburu. Sampai akhirnya....

“Heaaa...”

Bret

“Akh... pedang Sanjaya kembali memakan korban.

Tubuh lawan sesaat menggelepar dengan perut mem-burai. Kemudian diam tak bernyawa. Bersamaan dengan itu pula, Purnama pun menusukkan pedangnya ke leher lawan.

“Hea”

Suiiit Bret

“Akh...”

Leher lawan pun seketika tertembus pedang Purnama, hingga hampir putus. Dalam sekejap saja, kini anak buah Kala Bendana habis tak tersisa lagi.

Warga Desa Karang Galuh bersorak-sorai penuh kemenangan, meski pengorbanan di pihak mereka tidak sedikit

“Hidup Ki Praba...”

“Hidup dua pendekar bersaudara...”

“Hidup Desa Karang Galuh...”

Warga desa segera mengangkat tubuh Ki Praba, dan membawanya ke desa. Mereka bagaikan melupakan apa yang baru saja terjadi, bahkan melupakan korban-korban yang bergeletakan ke pasir pantai.

Warga desa terus mengarak kepala desa mereka berkeliling desa dengan penuh kegembiraan.

*** 8

Kala Hijau yang luput dari kematian setelah bertarung melawan warga Desa Karang Galuh, dengan ilmu

'Katak'-nya berhasil mencapai Pulau Neraka. Namun begitu, dadanya terasa sakit akibat pukulan Sanjaya.

Dengan sisa-sisa tenaganya Kala Bendana terus berusaha menuju Pulau Neraka, tempat markasnya berada.

“Ukh Sakit sekali dadaku,” keluh Kala Hijau sambil terus berenang.

“Hai? Kala Hijau, kaukah itu...?” terdengar suara Kala Kuning berseru.

“Ukh Tolong aku, Kuning,” pinta Kala Hijau sambil menggapai-gapaikan tangan kanannya.

Kala Kuning yang saat itu sedang jaga bersama Kala Merah dan Kala Biru segera mendekat dan menolong Kala Hijau. Mereka memapah tubuh Kala Hijau yang lemas ke darat Kemudian ketiganya mengantar Kala Hijau menemui pimpinan mereka, di dalam markas.

Saat itu Kala Bendana tengah merenung seorang diri, menunggu kedatangan salah seorang anak buahnya. Dirinya terkejut, ketika Kala Hijau dengan dipapah tiga temannya datang menghadap.

“Kala Hijau, kau telah pulang. Bagaimana keadaan di Desa Karang Galuh...?” tanya Kala Bendana.

“Ampun, Ketua. Di sana tak ada Pendekar Gila.

Yang ada hanya Sanjaya dan Purnama. Namun begitu, ternyata ilmu silat Sanjaya dan Purnama sangat tinggi. Entah bagaimana nasib kedua puluh rekan hamba,” Kala Hijau melaporkan sambil meringis-ringis menahan rasa sakit di dadanya.

“Apakah kau yakin, di sana tak ada Pendekar Gila?” tiba-tiba dari dalam muncul Braga Kunta diikuti Purba Kelakon.

“Yakin, Ketua. Hamba telah berusaha mencari Pendekar Gila, tapi memang tak ada;” ujar Kala Hijau meyakinkan.

“Hm...” gumam Braga Kunta tak jelas. Diangguk-anggukkan kepalanya, seperti percaya. Namun kemudian menggeleng-geleng dengan bibir mengurai senyum, “Aku tak percaya, Kala Hijau. Betapapun kehebatan Sanjaya dan Purnama, mereka tak akan mungkin dapat mengalahkan Tiga Mata Setan”

ujarnya dengan sinis.

“Tapi, Ketua...”

“Kau tak tahu, kalau Pendekar Gila mungkin sengaja sembunyi, dengan harapan dapat memancing kami,” ujar Purba Kelakon dengan senyum sinis mengembang di bibirnya. Kepalanya menggeleng-geleng, tak percaya.

“Jelas, Pendekar Gila memang menantang kami”

timpal Braga Kunta dengan suara penuh ketegasan.

“Kita harus ke sana Masak menghadapi Pendekar Gila kita akan kalah?” dengus Kala Bendana tak sabar. Ingin rasanya Kala Bendana segera berangkat ke Desa Karang Galuh, untuk bertemu dengan Pendekar Gila. Dirinya memang belum pernah bertemu dengan Pendekar Gila. Sehingga ingin menjajaki sampai sejauh mana ilmu silat pendekar muda, yang namanya sangat kesohor itu.

“Sabar, Kakang Kita....”

Belum selesai Braga Kunta berkata, Kala Bendana telah menukasnya dengan cepat. “Braga Kunta, sejak kapan kau menjadi pengecut, heh? Kalau kau takut menghadapi Pendekar Gila, biar aku sendiri yang menghadapinya Kau dan Kakang Purba Kelakon menghadapi Ki Praba dengan dua orang cecunguknya” sentak Kala Bendana keras dan tajam. Sehingga Braga Kunta tak dapat berkata-kata, untuk membantah. Dirinya tahu bagaimana sifat kakak seperguruannya. Jika sudah menentukan, maka tak ada yang bakal mampu menghalanginya.

“Aku tak takut, Kakang”

“Kalau begitu, kita segera ke sana”

“Malam ini juga...?” tanya Purba Kelakon.

“Ya Malam ini juga.”

Malam itu juga, Kala Bendana dan sepuluh anak buahnya berangkat ke Desa Karang Galuh untuk melakukan penyerbuan kedua. Kala Bendana tak sabar lagi untuk segera menyingkirkan Ki Praba dan dua kakak-beradik Sanjaya dan Purnama. Dengan menggunakan perahu, mereka pun berangkat menyeberangi laut menuju selatan.

***

Di rumah Kepala Desa Karang Galuh, malam itu penduduk desa nampak berkumpul. Setelah kemenangan atas pertarungan melawan anak buah Kala Bendana, mereka hendak melakukan syukuran.

Mereka sibuk dengan kegiatan di rumah Ki Praba.

Acara syukuran atas kemenangan mereka bertarung melawan anak buah Kala Bendana baru saja hampir dilakukan. Namun ketika Ki Praba hendak membaca doa tiba....

“Tolooong... Tolooong...”

Dari arah barat, terdengar jeritan ketakutan seorang wanita. Hal itu membuat semua orang yang berkumpul di rumah Ki Praba tersentak kaget.

Serentak mereka saling pandang, kemudian bangkit dan segera berhamburan keluar.

Di sebelah barat nampak api berkobar-kobar.

Sepertinya tengah terjadi kebakaran. Dari arah yang sama, beberapa orang wanita berlarian menuju rumah kepala desa.

“Aha, kurasa itu bukan kebakaran biasa, Ki,” ujar Sena dengan mata menyipit serta kening mengerut Firasatnya sebagai seorang pendekar, mengatakan bahwa kebakaran di sebelah barat Desa Karang Galuh, bukan kebakaran biasa. Pasti ada yang sengaja membakar. Telinganya yang tajam, mendengar suara gelak tawa seseorang yang bersuara besar dan keras di tempat kebakaran itu.

“Maksudmu?” tanya Ki Lurah Praba.

“Apakah Kala Bendana memiliki suara berat dan keras?” Pendekar Gila balik bertanya.

“Benar,” sahut Sanjaya.

“Aha, kalau begitu mereka datang, Ki Lurah”

“Kala Bendana...?” hampir semua tersentak kaget mendengar, ucapan Sena.

“Benar Kala Bendana datang,” jawab Sena tegas.

Mereka semakin tersentak kaget, ketika lima orang wanita yang berlari menuju rumah Ki Lurah berteriak-teriak menyebut nama Kala Bendana.

“Tolong, Ki Lurah Kala Bendana mengamuk, mencari Ki Lurah dan Pendekar Gila...” salah seorang dari wanita penduduk Desa Karang Galuh menuturkan dengan wajah cemas.

“Hm, mengapa tak langsung ke rumahku saja?”

gumam Ki Lurah Praba.

“Mereka membakari rumah, memperkosa anak kami,” tutur yang lain.

“Aha, jelas ini tak bisa didiamkan, Ki. Aku akan ke sana,” ujar Sena. Kemudian sebelum Ki Praba sempat berkata, tubuhnya telah melesat laksana terbang menghilang di kegelapan malam.

“Kita harus membantunya Ayo...” ajak Ki Praba.

Kini semua bergerak menuju tempat kobaran api kebakaran.

***

Kala Bendana dan anak buahnya benar-benar

melampiaskan kemarahan dengan membakar rumah-rumah penduduk. Menyeret anak gadis, kemudian dengan biadab memperkosa di tempat terbuka, disaksikan anak buahnya.

“Hua ha ha...” Kala Bendana tertawa terbahak-bahak setelah melampiaskan nafsu setannya pada seorang gadis. “Mana Pendekar Gila, hadapi aku

Lihat Pendekar Gila, aku Kala Bendana telah datang menantangmu Keluarlah kau, Pangecut.”

Braga Kunta saudara seperguruannya hanya mampu menghela napas panjang mendengar seruan Kala Bendana yang sangat keterlaluan. Bagaimana pun, Braga Kunta merasa kalau kakak seperguruannya terlalu sombong dan takabur. Apalagi dengan memperkosa gadis, yang merupakan pantangan baginya. Namun Kala Bendana nampaknya tak peduli. Keangkuhan dan kesombongannya, telah membuat Kala Bendana merasa, di dunia ini tak ada yang sakti, kecu

“Ayo, keluarlah Pendekar Gila, Pengecut Hua ha ha... Rupanya Pendekar Gila hanya seekor kecoa busuk yang pengecut dan penakut Hua ha ha...” Kala Bendana tertawa terbahak-bahak disertai dengan ejakan dan hinaan yang ditujukan pada Pendekar Gila.

“Hua ha ha... Lucu sekali..., lucu sekali Ada babi tolol yang berteriak di tengah malam”

Tiba-tiba terdengar suara mengejek dari kejauhan.

Hal itu membuat Kala Bendana dan para anak buahnya tersentak kaget. Suara itu dirasakan begitu keras hingga memekakkan telinga yang mendengar.

“Pendekar Gila...” seru Braga Kunta yang merasa yakin kalau suara itu milik Pendekar Gila.

“Cuih Kalau kau benar Pendekar Gila, keluarlah”

tantang Kala Bendana, “Apa kau tak melihat, aku memperkosa gadis Kalau kau memang berani, hadapi aku” teriaknya dengan suara lantang.

“Aku di sini, Babi Tolol. Hi hi hi...”

Kala Bendana dan anak buahnya semakin

terperanjat. Mata mereka terbelalak ketika entah dari mana, tiba-tiba Pendekar Gila telah berdiri di belakang Kala Bendana berjarak sekitar tiga tombak.

Tingkahnya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala dengan tangan.

Dilihat dari cara keluar dan kemunculannya yang tiba-tiba dan tak diketahui, seharusnya Kala Bendana menyadari kalau ilmu pemuda bertingkah laku gila itu tinggi. Namun, kesombongan dan kecongkakan, telah menyebabkan Kala Bendana tak mau membuka mata. Bahkan dia semakin bertambah angkuh.

“Hm, jadi kau Pendekar Gila itu?” bentak Kala Bendana dengan mata membelalak tajam pada Pendekar Gila.

Wajah Pendekar Gila pun telah berubah merah.

Hal itu sebagai tanda kalau hatinya telah marah, menyaksikan semua tindakan Kala Bendana yang sangat biadab.

“Ya Aku Pendekar Gila,” jawab Sena dengan tegas. Meski masih cengengesan, wajahnya yang merah membara tak dapat menyembunyikan

kemarahan. “Percuma kau memiliki ilmu setinggi langit, Kala Bendana, kalau kesombongan dan keangkaramurkaan tak dapat kau atasi”

“Cuih Lancang sekali kau berani mengguruiku, Bocah Edan” bentak Kala Bendana, tak menaruh rasa takut sedikit pun pada Pendekar Gila yang sudah memuncak amarahnya.

“Hm, jadi kau tak mau sadar, Kala Bendana?”

“Phuih... Lagakmu seperti seorang resi Hadapi aku, jangan banyak mulut Akan kukirim kau ke akherat sana Dan di sana kau boleh mengajar para dedemit Hua ha ha...” ejek Kala Bendana yang semakin membuat Pendekar Gila bertambah marah.

“Aku layani tantanganmu, Kala Bendana

Waspadalah”

Baik Kala Bendana maupun Pendekar Gila kini menyurut mundur tiga tindak. Semua orang yang ada di situ, kini membentuk lingkaran. Mereka yang semula hendak bertarung, kini hanya menjadi penonton. Mereka semua hendak menyaksikan duel Kala Bendana melawan Pendekar Gila.

“Bersiaplah untuk mampus, Bocah Edan Hea...”

Kala Bendana langsung menggebrak dengan jurus andalannya 'Serigala Iblis Merangsek Rusa'. Tangannya mencengkeram ke sana kemari. Namun dengan enteng Pendekar Gila berkelit. Tubuhnya meliuk-iiui sana menari, disertai dengan pukulan telapak tangan.

“Hea”

Plakkk

“Ukh” Tubuh Kala .Bendana yang gendut besar itu terhuyung-huyung ke belakang, terkena pukulan telapak tangan Pendekar Gila. Matanya terbelalak kaget Hampir tak percaya kalau pemuda bertingkah laku gila itu dalam segebrakan saja mampu menghantam-kan pukulan aneh ke dadanya.

“Cuih Jangan dikira kau akan menang melawanku, Bocah Edan Terimalah ajian 'Lumpur Maut'-

ku. Hea...”

Zrttt

“Aits” dengan cepat Pendekar Gila melentingkan tubuh ke atas untuk mengelak. Namun Kala Bendana tak mau membiarkan Pendekar Gila lepas dari ajian mautnya. Lelaki bertubuh gendut itu mencecar dengan ajian 'Lumpur Maut'-nya.

“Hea”

Zrttt Zrttts

“Aits” Pendekar Gila melompat dan berjumpalitan mengelakkan hantaman ajian maut itu. Sehingga serangan itu menerjang sebatang pohon. Aneh

Pohon yang terhantam ajian itu seketika mengecil dan semakin kecil sampai akhirnya hilang. “Demi setan Aku tak bisa terus begini” dengusnya.

Pendekar Gila segera mencabut Suling Naga Saktinya, kemudian dengan cepat dibabatkan tepat pada ajian 'Lumpur Maut' yang meluncur mem-burunya.

Zrttt

Wrt

'Lumpur Maut' itu seketika berbalik ke pemiliknya.

Kala Bendana tersentak kaget Dengan mata terbelalak dirinya berusaha menghindar. Kala Bendana sungguh tak menyangka akan mendapat serangan balik dari ajiannya. Tanpa ampun lagi, tubuhnya harus menjadi sasaran ajiannya sendiri.

Zrttt

“Tobaaat...” Kala Bendana menjerit setinggi langit dan berusaha melepaskan diri dari lumpur mautnya.

Namun, lumpur hitam itu telah menggulungnya.

Kejadian aneh pun terjadi. Tubuh Kala Bendana semakin lama semakin kecil dan akhirnya hilang bersama lumpur maut itu.

Melihat pimpinan mereka mati, para anak buah Kala Bendana pun segera menyerah. Bahkan Braga Kunta yang mendahului menyerah bersama Purba Kelakon.

Mereka digiring ke balai desa, untuk mendapat hukuman yang setimpal.

Pagi telah datang, ketika Pendekar Gila meminta izin untuk meneruskan perjalanannya mengembara.

Ki Praba, Purnama, dan Sanjaya serta warga Desa Karang Galuh berusaha mencegah. Namun akhirnya mereka melepas juga kepergian Pendekar Gila.

Mereka memahami tanggung jawab yang diemban Pendekar Gila sebagai penegak dan pembela kebenaran.... SELESAI

*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Pendekar Gila episode 23 Kemelut Di Karang Galuh"

Post a Comment

close