Pendekar Bodoh Jilid 21-25

Mode Malam
Pendekar Bodoh Jilid 21-25

Setelah lewat tengah malam, mendadak Cin Hai menghentikan gerakan-gerakannya dan mukanya menjadi agak pucat. Dia memandang kepada Ang I Niocu dan berkata,

“Niocu, terima kasih atas petunjuk dan nasehatmu tadi. Agaknya aku telah mendapatkan semacam ilmu silat ciptaanku sendiri.”

Ang I Niocu girang sekali dan berkata, “Coba kau sempurnakan ilmu itu dengan pedang, Hai-ji!”

Cin Hai lalu mencabut pedangnya dan berkata lagi,

“Ketika aku bersilat dan mengumpulkan tipu-tipu gerakan semua cabang persilatan yang pernah kulihat, tiba-tiba aku melihat bahwa memang selama ini aku terlalu lemah dan tak pernah mempunyai pikiran untuk membalas menyerang lawan. Aku tidak ingat bahwa aku tak perlu mengerahkan seluruh perhatian untuk pertahanan, karena sebetulnya aku telah memiliki daya tahan yang otomatis hingga tak perlu menggunakan seluruh perhatian lagi. Karena kesalahan itu, maka dulu aku tidak melihat lowongan-lowongan dan kesempatan-kesempatan yang sebenarnya dapat kumasuki untuk merobohkan lawan.”

Setelah berkata demikian, dia menghampiri serumpun bambu dan tetumbuhan lain yang tumbuh dengan suburnya di dekat situ. Tetumbuhan itu penuh dengan daun-daun hingga batang-batangnya yang kecil hampir tidak tampak dari luar dan oleh karena angin malam pada saat itu bertiup kencang, maka semua daun-daun yang berbentuk runcing itu bagai ratusan senjata menyerang ke depan dan melindungi batang-batang mereka yang kecil.

Cin Hai lalu membayangkan bahwa ratusan daun itu adalah senjata-senjata musuh yang melindungi tubuh musuh, dan bahwa ia harus berusaha menyerang tubuh-tubuh musuh yang kini dilindungi oleh ratusan pisau yang bergerak-gerak itu.

Dia lantas menggerakkan Liong-coan-kiam di tangan kanannya dan mulai bersilat dengan gerakan aneh. Gerakannya mula-mula lambat seakan mengintai rumpun itu, akan tetapi makin lama semakin cepat. Ia berusaha untuk melukai tubuh-tubuh yang bersembunyi di balik ratusan senjata itu tanpa mengadu pedangnya dengan senjata itu!

Hal ini tentu saja sukar bukan main oleh karena ratusan daun itu bergerak-gerak cepat dan tidak menentu karena tertiup angin hingga tubuh-tubuh atau batang-batang itu hanya nampak sekelebat dan sekilat saja! Akan tetapi, Cin Hai berlaku cepat dan hati-hati dan setiap kali daun-daun itu bergerak hingga sebatang pohon kecil nampak, biar pun hanya sekilas, namun dengan pedangnya sudah memasuki lowongan itu dan ujung pedangnya tepat menusuk batang itu tanpa mematahkannya!

Gerakan-gerakan pedangnya ini luar biasa sekali hingga Ang I Niocu yang masih duduk di dekat api, ketika melihat ini menjadi kagum sekali. Ia merasa begitu gembira sehingga diam-diam dia pun menggerakkan kedua tangannya, kemudian bersilat meniru-niru dan mengimbangi gerakan pedang Cin Hai!

Ia melihat betapa gerakan-gerakan anak muda itu masih nampak kaku, karena itu sambil menggerakkan kedua tangannya, dia berkali-kali menyerukan bahwa tangan kiri pemuda itu harus begini dan sikap tubuhnya harus begitu! Pendek kata, pada waktu itu Cin Hai bersama dengan Ang I Niocu sedang menciptakan semacam ilmu pedang. Cin Hai yang mencipta ilmu pedangnya, sedangkan Gadis Baju Merah itu memperbaiki gerak gayanya!

Setelah Cin Hai selesai bersilat, Ang I Niocu lalu menghampiri rumpun bambu dan ketika dia menyibakkan daun-daun yang menutupnya, ternyata batang-batang yang jumlahnya puluhan itu semua sudah berlubang bekas tusukan ujung pedang Ci Hai! Ang I Niocu bersorak girang dan menari-nari bagaikan anak kecil!

Cin Hai juga merasa girang sekali dan ia tidak menolak ketika Ang I Niocu mengajak dia sekali lagi bertanding dan dia diharuskan menggunakan ilmu pedangnya yang baru saja diciptakannya itu! Dan hasilnya benar-benar hebat!

Setiap jurus bila mana Cin Hai menyerang, selalu serangannya ini membingungkan Ang I Niocu. Dan kalau saja pemuda itu menyerang dengan sungguh-sungguh, dalam sepuluh jurus saja Pendekar Wanita Baju Merah ini pasti akan roboh!

Ternyata bahwa Cin Hai sudah menciptakan sebuah ilmu pedang yang benar-benar luar biasa, sebab ilmu pedangnya ini didasarkan atas kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan ilmu silat lain yang telah dilihatnya. Ia pergunakan kesempatan untuk mengisi lowongan-lowongan serta menyerbu bagian-bagian yang lemah dengan gerakan-gerakan aneh, bahkan kadang-kadang kedudukan kaki atau tangannya berbalik dan merupakan kebalikan dari pada gerakan ilmu silat biasa!

Ang I Niocu merasa gembira sekali dan minta Cin Hai bersilat pedang lagi seorang diri. Pada gerakan yang kaku, gadis yang memang ahli tari dan memiliki gerak gaya indah ini lalu memperbaiki tanpa merusak gerakan asli.

Sampai fajar menyingsing, kedua orang ini tiada hentinya berlatih, atau lebih tepat lagi Cin Hai melatih diri dan Ang I Niocu membantunya dengan nasehat-nasehat mengenai keindahan gerakannya. Semalam suntuk mereka tidak beristirahat.

Pada keesokan harinya mereka hanya beristirahat sebentar, kemudian Cin Hai kembali melatih diri dengan ilmu silat pedangnya yang baru itu. Ang I Niocu melihat dari samping memberi petunjuk di bagian yang masih kaku gerakannya.

Walau pun ilmu pedang ini dapat dilihat dan ditirukan oleh Ang I Niocu, akan tetapi oleh karena untuk menggunakan ilmu pedang ini sebelumnya harus memiliki kepandaian dan pengertian pokok tentang segala gerakan ilmu silat sebagaimana yang sudah dimiliki Cin Hai, maka ilmu pedang ini tidak akan ada gunanya bagi Ang I Niocu. Pendeknya, tanpa pengetahuan dasar yang diajarkan oleh Pun Su, orang lain tidak mungkin menggunakan ilmu ini dalam menghadapi lawan!

Demikianlah, setelah berlatih terus-menerus selama tiga hari tiga malam, akhirnya ilmu pedang ini mampu dimainkan secara baik sekali oleh Cin Hai hingga Ang I Niocu menjadi puas dan girang. Pada waktu dia mencoba untuk melawan ilmu pedang ini dengan ilmu pedangnya, maka dalam tiga jurus saja pedangnya telah dapat dirampas oleh Cin Hai.

“Aduh Hai-ji! Ilmu pedangmu ini benar-benar luar biasa dan jangankan Hai Kong Hosiang, biar Hek Pek Moko sendiri tentu akan roboh di tanganmu! Kionghi, kionghi! (Selamat).”

Tiba-tiba saja terdengar suara orang berkata dengan suara nyaring, “Ya, kionghi, kionghi! Akan tetapi berhati-hatilah kau, Cin Hai, agar ilmu jahat ini tidak merusak hatimu menjadi jahat dan kejam pula!”

Cin Hai dan Ang I Niocu terkejut sekali dan tahu-tahu Bu Pun Su sudah berdiri di dekat mereka!

“Cin Hai, ilmu pedang tadi memang baik sekali dan tak kusangka bahwa kau yang bodoh ini mampu mencipta ilmu pedang seperti itu! Akan tetapi oleh karena kau melatih dengan melukai batang-batang bambu dengan ujung pedangmu, maka ketika menghadapi lawan, kau baru akan dapat merobohkan dia dengan tusukan yang melukainya pula! Ini jahat sekali, muridku!”

Cin Hai merasa bingung dan terkejut sekali oleh karena kata-kata gurunya tadi memang betul semua. Tadi dia berhasil merampas pedang Ang Niocu oleh karena gadis pendekar itu terlalu terdesak oleh ilmu pedangnya sehingga memungkinkan dia menyambar lantas merampas pedang gadis itu. Sedangkan apa bila bertempur dengan lawan yang melawan dengan mati-matian, maka untuk merobohkannya dia harus mempergunakan pedangnya yang mengirim serangan-serangan maut itu!

“Mohon ampun, Suhu, dan sudi memberi petunjuk-petunjuk kepada teecu,” katanya.

Bu Pun Su tersenyum dan tiba-tiba dengan suara sungguh-sungguh dia berkata, “Coba cabutlah pedangmu itu dan seranglah aku!”

Cin Hai tidak ragu-ragu untuk melakukan hal ini oleh karena ia mempunyai kepercayaan penuh akan kesaktian suhu-nya. Karena itu, sesudah memberi hormat sekali lagi, dia lalu mencabut Liong-coan-kiam dan lantas menyerang dengan hebat. Pedangnya berkelebat merupakan sinar yang melenggang-lenggok dan dia sudah mempergunakan jurus ke lima yang dianggapnya cukup berbahaya.

Ia maklum bahwa suhu-nya memiliki mata tajam sekali dan telah hafal sekali akan segala gerakan pundak yang mendahului semua gerakan pukulan tangan dan juga sudah tahu akan pergerakan lutut yang mendahului semua gerakan kaki, maka ia lalu mengeluarkan serangan jurus ke lima ini.

Memang dalam menciptakan ilmu pedangnya, Cin Hai juga memikirkan kemungkinan apa bila menghadapi orang yang telah mempunyai kepandaian melihat gerakan orang seperti yang sudah dipelajarinya dari Bu Pun Su. Karena itu dalam beberapa gerakan ia sengaja membuat ilmu serangan yang dilakukan dengan gerakan-gerakan terbalik!

Menurut gerakan ilmu silat biasa, jika pundaknya bergerak itu tentu menjadi tanda bahwa pedang di tangan kanannya akan ditusukkan ke depan, akan tetapi sebelum pedangnya menusuk, secepat kilat gerakan itu sudah dibalik dan menjadi sabetan pada kedua kaki lawan dan sebelum sabetan ini diteruskan, kembali telah dibalikkan pula menjadi sebuah serangan memutar ke arah leher!

“Ganas sekali!” Bu Pun Su berseru sambil meloncat ke belakang oleh karena guru yang lihai ini benar-benar tercengang dan terkejut melihat kehebatan serangan muridnya. “Ayo kau serang terus dan keluarkan semua ilmu pedangmu yang liar ini!” katanya.

Cin Hai tak berani membantah dan segera maju menyerang terus.

Akan tetapi, ilmu meringankan tubuh dari Bu Pun Su sudah sampai pada tingkat tertinggi sehingga boleh dibilang tubuhnya seperti sehelai bulu yang dapat bergerak pergi tiap kali angin pedang menyambar hingga biar pun pedang Cin Hai hampir menyerempet pakaian kakek itu, namun tetap pedang itu tak dapat melukainya!

Akan tetapi kali ini Bu Pun Su benar-benar menghadapi semacam ilmu pedang yang luar biasa dan hanya dengan mengerahkan seluruh ginkang-nya saja maka ia bisa mengelak bagaikan seekor burung beterbangan di antara sambaran pedang!

Ang I Niocu memandang demonstrasi yang dilakukan oleh guru dan murid ini dengan mata terbelalak saking kagum dan herannya. Selama hidupnya belum pernah dia melihat kelihaian seperti ini dan hatinya diam-diam girang sekali memikirkan bahwa Cin Hai kini telah menjadi seorang jago pedang tingkat tinggi!

Ilmu pedang Cin Hai seluruhnya ada tiga puluh sembilan jurus dan sesudah semuanya dia mainkan, akhirnya pemuda ini meloncat ke belakang sambil berkata dengan napas terengah-engah, “Sudahlah, Suhu, teecu tidak kuat lagi!”

Dia lalu berlutut dengan muka merah karena hatinya kecewa betapa dengan mudahnya kakek itu dapat mengelak dari serangannya. Ia anggap ilmu pedangnya ini tiada gunanya sama sekali dan bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu tiga hari tiga malam!

“Ha-ha-ha-ha!” Bu Pun Su tertawa terkekeh-kekeh karena kakek ini maklum dan dapat membaca isi hati Cin Hai dari muka pemuda itu, “Jangan kecewa, Cin Hai. Ketahuilah, bahwa ilmu pedang yang baru saja kau mainkan ini kelihaiannya jauh melebihi dugaanku semula!”

“Mohon Suhu jangan mentertawakan kebodohan teecu,” kata Cin Hai.

“Siapa yang mentertawakan kau? Anak bodoh, dengan ilmu pedangmu tadi, kau boleh menjelajah ke seluruh negeri dan mengharapkan kemenangan dari setiap pertempuran! Akan tetapi, jangan kira bahwa aku merasa senang atau bangga melihat ilmu pedangmu ini! Mungkin kau kira aku tidak percaya atau tidak suka kepadamu maka aku tidak pernah menurunkan ilmu kepandaian menyerang kepadamu? Ketahuilah, dan kau juga Im Giok, aku memang sengaja tidak mengajarkan ilmu serangan kepadamu, oleh karena apakah baiknya menyerang orang? Akan tetapi, memang segala apa sudah ditentukan oleh takdir sehingga kau yang tidak mempelajari ilmu menyerang, ternyata kini menghadapi banyak musuh yang lihai. Namun jangan kau anggap bahwa ilmu pedangmu ini saja akan cukup kuat untuk menghadapi Si Rangka Hidup Kam Ki Sianjin, supek dari Hai Kong Hosiang itu! Ahh, kau terlalu mengunggulkan diri kalau kau mempunyai pikiran demikian! Di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang pandai dan mungkin kelak sewaktu-waktu engkau akan menemui musuh yang lebih lihai lagi! Sekarang engkau telah berhasil menciptakan semacam ilmu menyerang, maka biarlah supaya jangan kepalang tanggung, kau pelajari juga Ilmu Silat Tangan Kosong Kong-ciak Sin-na beserta Ilmu Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih).”

Bukan main girang rasa hati Cin Hai dan segera mengangguk-anggukkan kepala untuk menghaturkan terima kasih.

“Juga kau yang telah banyak membuat jasa boleh mempelajari ilmu ini, Im Giok.” Ang I Niocu lalu berlutut dan mengucapkan terima kasih pula.

Demikianlah, selama dua pekan, Bu Pun Su memberi pelajaran dua macam ilmu silat itu kepada Cin Hai dan Ang I Niocu yang dipelajari dengan penuh perhatian oleh dua orang pendekar muda itu.

Pek-in Hoat-sut adalah ilmu sihir yang sebetulnya hanya sebutannya saja ilmu sihir, oleh karena ilmu ini merupakan gerakan ilmu silat yang sepenuhnya digerakkan oleh tenaga khikang sehingga dari kedua kepalan tangan yang memainkannya keluar uap putih bagai awan yang dapat menolak setiap hawa serangan dari lawan yang bagaimana jahat pun!

Uap putih ini terjadi dari keringat yang berubah menjadi uap sebagai akibat dari dorongan tenaga khikang yang panas dan disalurkan ke arah kedua lengan dalam setiap serangan. Meski lawan menggunakan ilmu hitam atau pukulan keji seperti Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) dan lain-lain, apa bila bertemu dengan orang yang mempergunakan Pek-in Hoat-sut ini akan mati kutunya, tenaga serangan mereka yang buyar dengan sendirinya. Oleh karena tenaga hebat inilah maka ilmu ini disebut ilmu sihir!

Ilmu ke dua adalah Ilmu Silat Tangan Kosong Kong-ciak Sin-na atau Ilmu Silat Tangan Kosong Burung Merak. Gerakan-gerakan ilmu silat ini selain memukul juga menggunakan jari-jari tangan untuk mencengkeram dan merampas senjata musuh sehingga tepat sekali digunakan dengan tangan kosong apa bila menghadapi lawan yang bersenjata.

Setelah kedua orang itu mempelajari dua macam ilmu silat itu dengan sempurna, Bu Pun Su lalu berkata,

“Cin Hai dan Im Giok! Walau pun kalian tidak bertanya, akan tetapi aku maklum bahwa kalian ingin sekali mendengarkan tentang nasib Lin Lin.”

Cin Hai mendengarkan dengan wajah tiba-tiba berubah pucat, sedang Ang I Niocu juga mendengarkan dengan hati berdebar khawatir.

“Kalian jangan khawatir, menurut dugaanku Lin Lin telah selamat dan kalau tidak keliru ia sedang melakukan perjalanan bersama kawan-kawan baik. Sekarang ada hal yang lebih penting lagi. Orang-orang Turki dan orang-orang Mongol sedang berlomba untuk merebut sebuah pulau di laut timur dan apa bila pulau ini sampai jatuh ke dalam tangan mereka, maka bahaya besar mengancam seluruh negeri! Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa ratusan orang-orang Turki dan Mongol dengan diam-diam dipimpin oleh orang-orang berilmu dari kedua bangsa itu dan secara bersembunyi mereka menyerbu ke daerah timur untuk berlomba menemukan pulau itu. Oleh karena ini, kalian berdua segera berangkatlah ke laut timur melalui sungai yang mengalir di sebelah utara ini, oleh karena hanya di sana saja, maka kalian akan dapat bertemu dengan Lin Lin, bahkan mungkin dapat bertemu pula dengan musuh besarmu yang bernama Hai Kong Hosiang itu. Nah, sekarang aku hendak pergi!”

Cin Hai dan Ang I Niocu maklum akan sikap aneh dari orang tua ini yang bicaranya selalu mengandung rahasia. Mereka maklum pula bahwa secara membuta mereka juga harus menurut petunjuk ini, oleh karena petunjuk ini pasti betul dan biar pun tidak jelas, namun kalau tidak nyata tentu tak akan dikeluarkan dari mulut kakek luar biasa itu.

Tanpa menunda lagi, Cin Hai serta Ang I Niocu berlari cepat ke utara dan tidak lama kemudian mereka bertemu dengan sungai yang melintang dan mengalir ke arah timur itu. Di tempat itu tidak terlihat perahu dan keadaannya sunyi sekali, maka keduanya segera mempergunakan ilmu lari cepat dan mengikuti aliran sungai menuju ke timur. Akan tetapi, jalan di tepi sungai itu sukar sekali, penuh rawa dan hutan-hutan berbahaya, juga amat sukar dilalui.

Setelah mereka berlari selama dua hari, akhirnya mereka melihat sebuah dusun kecil dan mereka menjadi girang sekali saat melihat beberapa buah perahu diikat di pinggir sungai. Segera Cin Hai mencari pemilik perahu untuk disewa atau dibelinya.

Dua orang menghampiri mereka dan bertanya, “Jiwi membutuhkan perahu?”

“Betul,” kata Cin Hai dengan girang. “Kami berdua ingin menyewa atau membeli sebuah perahu.”

“Membeli?” kedua orang itu saling pandang “Ahh, Kongcu. Di sini tidak ada yang mau menjual perahunya. Pernah kau mendengar ada orang menjual isterinya?”

“Apa katamu?” Cin Hai bertanya heran dan tak senang, oleh karena menyangka bahwa nelayan itu hendak mempermainkannya.

“Kongcu ingin membeli perahu, sedangkan bagi seorang nelayan sebuah perahu adalah sama dengan seorang isteri. Siapakah yang mau menjual perahu atau isterinya? Tidak, Kongcu, kalau kalian berdua hendak menyewa, boleh kalian pakai perahuku ini. Biar pun kecil, tetapi kuat dan laju!”

Cin Hai tersenyum geli. “Boleh, aku hendak menyewa perahumu ini.”

“Jiwi hendak ke manakah?” tanya nelayan yang seorang lagi.

Ang i Niocu tidak senang melihat ada orang lain turut bicara, bahkan bertanya tentang maksud kepergian mereka.

“Apa perlunya kau ikut campur dan bertanya ke mana kami hendak pergi?” tanyanya tak senang.

Orang itu berkata sambil mengangkat dadanya, “Aku berhak penuh untuk turut campur, oleh karena perahu ini adalah milik kami berdua!”

Cin Hai tertawa. “Aha, kalau begitu isterimu ini mempunyai dua orang suami?”

Kedua orang nelayan itu tertawa. “Kongcu, kami adalah orang-orang miskin sehingga dua orang memiliki sebuah perahu saja.”

“Kami berdua hendak menuju ke laut dan hendak mencari sebuah pulau.”

Kedua orang itu nampak terkejut sekali. “Apa? Hendak mencari pulau? Apakah itu Pulau Emas?”

Cin Hai dan Ang I Niocu tercengang, akan tetapi mereka memang hendak menyelidiki pulau yang belum pernah meraka ketahui ini sedangkan Bu Pun Su juga tidak memberi penjelasan, maka Cin Hai lalu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ya, kami mencari Pulau Emas!”

Tiba-tiba salah seorang di antara kedua nelayan itu menjadi pucat dan berkata kepada kawannya, “Twako, marilah kita pergi dan jangan melayani mereka ini. Agaknya mereka ini pun sudah kegilaan emas dan mungkin akan timbul mala petaka kembali apa bila kita membawa mereka seperti hal kita tempo hari itu!”

Cin Hai menjadi tertarik, dan Ang I Niocu segera membentak,

“Apakah yang terjadi? Apa ada orang lain yang juga mencari Pulau Emas itu?”

Kedua nelayan itu saling pandang dan keduanya kemudian berdiri hendak meninggalkan tempat itu, sama sekali tidak berani menjawab. Ang I Niocu cepat meloncat dan sekali tangannya bergerak, maka pedang yang tajam telah dicabutnya dan pedang itu sekarang menempel di leher seorang nelayan.

“Ke mana engkau hendak pergi? Jangan main-main, sebelum kalian menceritakan hal itu kepada kami, jangan harap akan dapat pergi dengan kepala menempel di lehermu!”

Nelayan itu menghela napas. “Apa kataku, Twako? Pulau Emas itu benar-benar pulau berhantu dan hanya setan-setan saja yang berani mengunjungi pulau itu! Toanio, harap kau berlaku murah dan jangan begini galak. Kami hanya nelayan-nelayan biasa saja dan kalau Toanio menghendaki, baiklah kami tuturkan pengalaman kami. Beberapa hari yang lalu, kami kedatangan seorang asing yang sangat murah hati dan royal dengan hadiah-hadiahnya. Ia minta kami suka mendayung perahunya yang besar, oleh karena ia berkata bahwa ia tidak kenal daerah sini. Ia hendak pergi ke laut dan mencari Pulau Emas seperti kalian pula. Tetapi pada suatu malam perahu orang asing bangsa Turki ini kedatangan seorang perwira yang galak dan gagah, sedangkan perwira ini ketika datangnya saja sudah sangat aneh dan menakutkan, yaitu ia mengempit tubuh seorang gadis muda yang cantik jelita!”

Berdebarlah hati Cin Hai dan Ang I Niocu. Bukankah gadis yang dimaksudkan ini Lin Lin adanya? Akan tetapi Cin Hai lalu mendesak, “Teruskan, teruskan ceritamu!”

“Setelah perwira galak ini naik ke dalam perahu kami, maka kami berdua lalu mendapat perintah untuk mendayung perahu dan sepanjang yang kami dengar, perwira itu tadinya hendak membunuh gadis yang ditawannya, akan tetapi maksudnya dihalangi oleh orang asing itu, dan agaknya Si Perwira takut dan tunduk kepadanya. Gadis itu lalu ditahan di dalam kamar perahu dan tidak diganggu. Akan tetapi, memang setan berkeliaran di atas sungai ini! Tiba-tiba perahu yang kami dayung itu bertumbuk dengan sebuah perahu lain yang biar pun kecil, akan tetapi maju dengan kuat hingga perahu kami terhalang. Dan yang lebih hebat lagi, ketika kami menegur nelayan tua yang berada di perahu kecil itu, ia menjadi marah dan sekali memukulkan dayungnya yang besar, perahu yang kami dayung menjadi pecah dan bocor hingga tenggelam!”

“Nelayan Cengeng!” tak terasa lagi Cin Hai berseru.

Nelayan yang bercerita itu menjadi terkejut karena menyangka bahwa dialah yang dimaki cengeng. Akan tetapi sebelum ia sempat bertanya, Cin Hai sudah kembali mendesaknya. “Teruskanlah, teruskanlah!”

“Penumpang-penumpang kami orang Turki yang aneh dan perwira yang galak itu menjadi marah kemudian melompat ke darat, sedangkan gadis cantik yang ditawan itu pun tak tersangka-sangka lihai juga dan dapat pula melompat ke darat! Kami berdua tak dapat melompat sejauh itu maka kami lalu menceburkan diri ke dalam air dan berenang ke tepi. Ternyata di tepi itu terjadi pertempuran hebat! Orang Turki bertempur melawan nelayan tua yang memegang dayung dan yang sudah memecahkan perahu kami, sedangkan Si Perwira dikeroyok oleh gadis tawanannya dan seorang pemuda tampan kawan nelayan tua itu.”

“Ma Hoa!” kata Ang I Niocu dan kembali nelayan itu memandang heran karena tidak tahu maksud Dara Baju Merah yang berseru karena amat tertarik mendengar penuturan ini.

“Dan bagaimana hasil pertempuran itu?” Cin Hai mendesak dengan tak sabar, karena ia telah merasa pasti bahwa yang mengeroyok perwira itu tentu Lin Lin dan Ma Hoa dan yang bertempur melawan orang Turki tentu Si Nelayan Cengeng.

“Kesudahannya mengerikan sekali...” nelayan yang pandai bercerita itu sengaja berhenti sebentar untuk membikin pendengar-pendengarnya makin bernafsu dan ceritanya makin menarik, “perwira yang galak dan gagah itu tewas. Kepalanya remuk dipukul oleh dayung yang dipegang gadis tawanannya, sedangkan dadanya bolong-bolong tertembus pedang Si Pemuda tampan!”

Baik Cin Hai mau pun Ang I Niocu menghela napas lega. “Mampuslah si keparat!” seru Cin Hai dengan gembira, kemudian ia menegaskan, “Bukankah perwira itu masih muda, kira-kira tiga puluh tahun, dan bibirnya tebal?”

Nelayan itu memandangnya heran, “Betul sekali, apakah Kongcu kenal padanya?”

Akan tetapi Cin Hai tidak menjawab pertanyaan ini, hanya bertanya lagi, “Dan bagaimana hasil pertempuran orang Turki melawan nelayan tua itu?”

“Mereka bertempur secara luar biasa sekali hingga kami berdua tidak dapat melihat siapa menang siapa kalah. Mendadak mereka berhenti bertempur dan agaknya lalu mengikat persahabatan. Si Nelayan Tua itu benar-benar setan air! Ia menyelam ke dalam air dan berhasil mencari dan mengambil perahu yang sudah tenggelam itu. Bukan main! Selama hidupku belum pernah aku melihat orang dapat melakukan hal semacam itu. Tentu ia iblis air sungai itu!”

“Hush! Jangan membuka mulut sembarangan saja. Sekali lagi kau memaki dia, kutampar mulutmu!” kata Cin Hai sambil mendelikkan matanya sehingga nelayan itu terkejut dan merasa ketakutan. “Teruskan ceritamu, bagaimana selanjutnya dengan mereka itu?”

“Selanjutnya? Tak ada apa-apa lagi. Setelah memperbaiki perahu, mereka berempat lalu berangkat pergi dan kami ditinggalkan dengan perahu kecil ini dan hadiah uang!”

“Jadi perahu kecil ini adalah perahu kepunyaan nelayan tua itu?” tanya Cin Hai dengan girang. Kedua nelayan itu menjadi pucat karena mereka telah kelepasan omong.

“Kalau begitu kami hendak memakai perahu ini,” kata Ang I Niocu yang merogoh keluar dua potong uang perak dari sakunya. “Nih, kalian ambillah seorang satu! Perahu ini kami ambil!”

Melihat bahwa perahu itu hanya diganti dengan dua potong uang perak, kedua nelayan itu menjadi bingung, “Ehh, Siocia, ehhh... Toanio, nanti dulu, perahu... perahu kami ini harganya lebih dari lima potong uang perak!”

Ang I Niocu mengangkat tangan mengancam. “Perahu ini bukan perahu kalian! Memberi dua potong perak sudah terlalu banyak untukmu dan itu pun bukan untuk membeli perahu ini, akan tetapi sebagai upah kalian bercerita tadi!”

Cin Hai dan Ang I Niocu lalu melompat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu ke tengah sungai. Kedua nelayan itu tidak berani berbuat sesuatu, hanya melihat perahu itu pergi makin jauh dengan hati memaki-maki kalang kabut, akan tetapi mulut tidak berani bersuara!

Dua hari kemudian, saat perahu melalui sebuah hutan, Ang I Niocu melihat pohon-pohon buah lenci di dekat pantai. Melihat buah yang bergantungan dan sudah masak itu, timbul seleranya dan dia mengusulkan untuk berhenti dan beristirahat sebentar sambil mencari dan makan buah. Cin Hai setuju, oleh karena dia pun merasa ingin makan buah yang segar nampaknya itu.

Mereka kemudian mendayung perahu ke pinggir dan menarik perahu kecil itu ke darat. Kemudian, oleh karena melihat tempat itu sunyi dan indah sekali, timbullah kegembiraan mereka dan keduanya lalu melompat ke atas cabang pohon dan memilih buah sesuka hati mereka.

Akan tetapi tiba-tiba Cin Hai berseru kaget dan cepat melompat turun dan ketika Ang I Niocu memandang ke arah perahu mereka, ia pun terkejut sekali. Seorang tosu (pendeta penganut Agama Tao) sedang menarik perahu mereka ke arah air, dan agaknya tosu ini ingin menggunakan kesempatan itu untuk mencuri perahu mereka! Ang I Niocu menjadi marah sekali dan ia pun cepat melompat turun dari atas pohon.

Ketika Cin Hai dan Ang I Niocu berlari ke arah perahu mereka, tiba-tiba dari balik batang pohon besar melompat keluar seorang hwesio (pendeta penganut Agama Buddha) yang bertubuh pendek namun gemuk sekali. Hwesio ini kelihatan lucu sekali, mukanya seperti muka anak kecil yang gemuk, dan jika dilihat, ia persis seperti boneka besar atau Jilaihud yang berwajah baik dan peramah.

Mukanya yang bulat itu selalu tersenyum ramah. Tubuhnya bagian atas yang serba bulat dan gemuk dililit kain yang hanya menutupi kedua pundak dan lengannya saja, ada pun tubuh atas bagian depan terbuka sama sekali! Dadanya yang bergajih dan pusarnya yang besar kelihatan menambah kelucuannya.

Ia menghadang Cin Hai dan Ang I Niocu sambil tertawa-tawa dan berkata, “Ai, aih, kalian sepasang burung dara yang bahagia! Kenapa melayang turun dari pohon dan berlari-lari. Bukankah lebih senang bermain-main di atas pohon?”

Bukan main marahnya Cin Hai mendengar ini, ada pun Ang I Niocu dengan muka merah lalu membentak, “Bangsat gundul kurang ajar! Tutup mulutmu dan minggirlah!”

Akan tetapi hwesio tadi memandang heran dan tertawa lagi, “Ehh, ehh, mengapa kalian malah marah-marah? Apakah aku mengganggu kalian?”

“Hwesio gemuk, jangan kau menghadang di depan kami!” kata Cin Hai yang lebih sabar, “Kami akan mengejar pencuri perahu itu!”

Si Hwesio tertawa terus dan berkata, “Pencuri perahu? Kau maksudkan tosu itu? Ahh, dia adalah saudaraku! Kami hanya ingin pinjam sebentar perahumu itu!”

“Bagus, hwesio maling!” kata Ang I Niocu yang segera melompat maju sambil mengayun kepalan tangannya menghantam dada hwesio yang gemuk itu. Akan tetapi Ang I Niocu terkejut sekali karena tidak menyangka bahwa hwesio segemuk ini dapat bergerak gesit sekali ketika ia mengelak dari pukulan Ang I Niocu.

“Waduh, ganas... ganas...!” seru hwesio gendut itu yang masih saja tertawa-tawa meski pun Ang I Niocu menyerang bertubi-tubi dengan pukulan cepat hingga ia harus mengelak ke sana ke mari dengan repot sekali.

Sementara itu, tosu yang hendak mencuri perahu tadi, ketika melihat betapa saudaranya diserang oleh Ang I Niocu dan terdesak sekali, cepat-cepat menarik kembali perahu itu ke darat dan berlari-lari ke arah tempat pertempuran.

“Jangan kau memukul Adikku!” teriaknya dan segera menyerang Ang I Niocu.

Melihat serangan ini hebat juga datangnya, Cin Hai lalu maju menangkis dan keduanya lalu bertempur ramai! Keadaan tosu ini sama sekali berbeda dengan hwesio itu. Kalau hwesio itu gemuk dan pendek bermuka ramah dan mulutnya selalu tersenyum, adalah Si Tosu ini mukanya seperti orang sedang mewek dan menangis. Matanya yang sangat sipit itu seakan-akan memandang dengan sedih sehingga membikin sedih pula kepada orang yang melihatnya.

Walau pun Ang I Niocu sedang marah, akan tetapi melihat betapa hwesio itu biar pun terdesak sekali masih saja tertawa-tawa dengan muka sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan, menjadi tidak tega hati untuk melukainya, dan hanya mendesak dengan ilmu silat yang baru dipelajarinya dari Bu Pun Su, yaitu ilmu Silat Kong-ciak Sin-na sehingga hwesio itu tak dapat membalas menyerang dan dipermainkan oleh Ang I Niocu bagaikan seekor kucing. Ang I Niocu memang sengaja menggunakan hwesio itu sebagai ujian bagi ilmu silatnya yang baru dan ia merasa girang sekali mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang dipelajarinya dari Bu Pun Su ini memang betul-betul luar biasa.

Sebaliknya, dengan mudahnya Cin Hai pun dapat mendesak Si Tosu. Kemudian, sebelah kakinya berhasil menggaet kaki tosu itu yang segera jatuh terguling-guling dan mengeluh kesakitan.

“Nah, biar kau kapok mendapat hajaran sedikit!” kata Cin Hai. “Dan supaya lain kali tidak berani mencoba untuk mencuri perahu lain orang.”

Dengan muka seperti orang menangis, Si Tosu itu menoleh ke arah hwesio yang masih diserang kalang-kabut oleh Ang I Niocu. Ia mengeluh lagi dan berseru.

“Ceng Tek, sudahlah baik kita menyerah. Mereka ini bukan makanan kita!”

Mendengar kata-kata ini, hwesio gemuk itu cepat melompat mundur dan berkata sambil tertawa, “Sudahlah Nona, pinceng mengaku kalah!”

Ang I Niocu menjadi geli hatinya dan ia pun tidak tega untuk menyerbu terus.

“Siapakah kalian dua orang tua ini, dan mengapa kalian hendak mencuri perahu kami?” tanyanya.

Kedua pendeta itu saling pandang dan sambil menjura, tosu itu berkata. “Kami dua kakak beradik adalah pendeta-pendeta perantau. Adikku ini bernama Ceng Tek Hwesio ada pun pinto sendiri bernama Ceng To Tosu. Tadinya kami mengira bahwa kalian berdua adalah sepasang orang muda yang hendak berpelesir di sini, maka kami berani mengganggu dan hendak meminjam perahu kalian. Tidak tahunya, melihat pakaian serta kepandaian Nona ini, kami tidak akan heran apa bila kau mengaku wanita yang berjuluk Ang I Niocu!”

Ang I Niocu tersenyum. “Memang dugaanmu tepat sekali, Totiang. Memang aku adalah Ang I Niocu dan saudaraku ini adalah Pendekar Bodoh!”

Kedua mata Ceng To Tosu yang sipit itu dipentang lebar. “Apa? Dengan kepandaiannya seperti itu, ia masih disebut Pendekar Bodoh? Ah, kalau yang bodoh saja kepandaiannya setinggi ini, apa lagi yang pintar?”

Biar pun tosu ini mengucapkan kata-kata yang mengandung kelakar, namun tetap saja mukanya mewek seperti mau menangis! Dan hwesio pendek gemuk itu tetap tersenyum dengan muka sesenang-senangnya!

Cin Hai tertarik sekali melihat dua saudara yang aneh ini, maka ia lalu bertanya. “Harap kau dua orang suci suka berkata terus terang saja. Sebenarnya mau meminjam perahu kami hendak pergi ke manakah?”

Kini hwesio gemuk itu yang menjawab dan ucapannya penuh kejujuran. “Kami hendak pergi ke laut dan mencari sebuah pulau.”

“Pulau Emas?” Cin Hai cepat menyambung dan kedua pendeta itu tercengang.

“Kau... sudah tahu?”

“Tentu saja! Kami hendak pergi ke sana!”

“Aha! Sungguh kebetulan sekali. Sudahkah kalian dua anak muda tahu di mana letaknya Kim-san-to (Pulau Gunung Emas)?”

Secara terus terang saja Cin Hai menyatakan belum tahu. Kedua pendeta itu lalu saling pandang dan akhirnya Si Tosu berkata,

“Baiklah, sekarang diatur begini saja. Perahu ini cukup lebar untuk ditumpangi oleh empat orang. Kami berdua membonceng kalian dan sekaligus menjadi penunjuk jalan. Kalian mempunyai perahu akan tetapi tidak mengenal jalan, sedangkan kami berdua yang kenal jalan tidak mempunyai perahu! Bukankah kita dapat saling menolong?”

Cin Hai dan Ang I Niocu kini saling berpandangan dan akhirnya Cin Hai mengangguk dan berkata,

“Kata-katamu ini pantas juga. Biarlah kita bersama-sama mencari pulau itu dan kalian berdua menjadi penunjuk jalan!”

“Akan tetapi perahu kita kecil dan hwesio gemuk ini tentu berat sekali! Asal saja kau tidak banyak bergerak hingga jangan-jangan perahu kita akan terguling dan tenggelam!” kata Ang I Niocu sambil tertawa sehingga mereka berempat sama-sama tertawa gembira.

Cin Hai dan Ang I Niocu merasa suka pada dua orang aneh itu. Mereka dapat menduga bahwa kedua orang ini tentulah orang-orang kang-ouw yang berwatak baik.

Beberapa hari kemudian, empat orang dalam perahu kecil itu sudah sampai di samudera dan mulai dengan usaha mereka untuk mencari Pulau Kim-san-tho. Atas petunjuk kedua pendeta itu, perahu lalu didayung ke kiri melalui pantai yang curam dan batu-batu karang yang tinggi.

Ketika perahu mereka bergerak perlahan di tepi batu karang yang tinggi dan hitam, dari atas tiba-tiba saja menyambar turun bayangan yang gerakannya cepat sekali! Bayangan ini menyambar ke arah dada dan perut Ceng Tek Hwesio yang telanjang.

Empat orang di dalam perahu itu terkejut sekali ketika melihat bahwa yang menyambar adalah seekor burung rajawali yang besar dan buas sekali! Agaknya burung ini tertarik oleh kegemukan dada dan perut Ceng Tek Hwesio yang bergajih dan montok itu, hingga ia menyambar turun dan hendak mencengkeram daging gemuk itu!

Ceng Tek Hwesio merasa kaget dan hendak berkelit, namun berat badannya membuat perahu itu berguncang!

“Hai, jangan bergerak!” Ang I Niocu mencegah.

Gadis ini dengan cepat lalu menendang ke arah burung yang menyambar turun itu dan alangkah kagetnya ketika burung itu dengan cepat mampu mengelak dari tendangannya dan melayang ke atas lagi!

Cin Hai yang berdiri di kepala perahu dan memandang tajam, juga merasa kagum melihat ketangkasan dan kecepatan burung yang besar itu. Sedangkan hwesio pendek gemuk itu melihat bahwa dirinya diserang oleh burung rajawali, hanya tersenyum-senyum dan tertawa ha-ha hi-hi saja, dan biar pun hatinya berdebar ngeri, akan tetapi mukanya tetap tersenyum. Sebaliknya, muka Ceng To Tosu makin nampak sedih dan mewek bagaikan betul-betul hendak menangis tersedu-sedu oleh karena ia merasa kuatir dan juga marah kepada burung pemakan manusia itu.

Sekarang burung rajawali itu dengan cepatnya menyambar turun dari atas. Ang I Niocu yang merasa mendongkol melihat tendangannya tadi dapat dikelit oleh burung besar itu, berkata kepada kawan-kawannya,

“Jangan bergerak dan biarkan aku bikin mampus burung celaka itu!”

Ketika burung itu mengulur cakarnya dan kembali hendak menyerang hwesio gendut itu, Ang I Niocu cepat menghantam sekerasnya dengan tangan kanannya! Namun kembali ia tertegun oleh karena burung itu dapat miringkan tubuh dan mengibas dengan sayapnya seakan-akan menangkis pukulan Ang I Niocu!

Akan tetapi pukulan itu bukanlah pukulan biasa dan dilakukan dengan tenaga lweekang sehingga biar pun burung itu menangkis dengan sayap, tetapi tubuh burung itu terlempar jauh dan oleh karena sakitnya, tiba-tiba sambil memekik keras burung yang terlempar ke atas itu mengeluarkan kotoran yang jatuh berhamburan menimpa ke arah perahu seperti hujan. Kebetulan sekali kotoran itu jatuh tepat ke arah Ceng Tek Hosiang dan Ceng To Tosu sehingga muka dan baju kedua pendeta itu menjadi kotor kena kotoran burung itu.

Ang I Niocu makin gemas dan marah karena burung itu agaknya tidak terluka dan hanya terpental serta kaget saja. Juga burung itu kini terbang berputaran di atas perahu sambil mengeluarkan suara nyaring. Ang I Niocu mencabut keluar pedangnya dan dengan muka merah karena gemas ia berkata,

“Burung keparat, turunlah kalau kau berani!”

Seakan-akan mengerti dan dapat mendengar tantangan gadis itu, burung rajawali yang berbulu kuning emas dan berparuh merah itu memekik panjang dan kembali menyerang turun. Kini dia bukan menyerang kepada hwesio gendut, akan tetapi langsung menyerang Ang I Niocu, oleh karena agaknya dia marah sekali kepada Dara Baju Merah yang telah dua kali menyerangnya itu.

Burung ini adalah sejenis Kim-tiauw atau Rajawali Emas yang jarang terdapat dan yang disebut raja segala burung. Ketika dia menyerang Ang I Niocu, gerak tubuhnya cepat dan tak terduga oleh karena ia bukan menyerang langsung dari atas, akan tetapi turun sambil bergerak-gerak ke kanan kiri dengan cepatnya.

Ang I Niocu bukanlah sembarang gadis yang takut akan segala macam burung. Dengan seruan keras, sebelum burung itu menyambar, Ang I Niocu sudah mendahului melompat ke atas sambil menyambar dengan pedangnya.

Kembali burung Kim-tiauw itu secara aneh mampu mengelak dan mumbul lagi ke atas, kemudian berkali-kali dia menyerang turun. Terjadilah pertempuran yang hebat dan indah dipandang antara Ang I Niocu di atas perahu dengan burung rajawali yang menyambar-nyambar dari atas.

Beberapa kali pedang Ang I Niocu yang hampir saja dapat memenggal leher burung itu, tiba-tiba dapat disampok dengan sayap atau cakar dengan kuku burung itu, hingga Ang I Niocu menjadi semakin marah dan penasaran saja. Biar pun Ang I Niocu belum berhasil membunuh Kim-tiauw, akan tetapi banyak bulu burung itu sudah rontok ketika sayapnya menyampok pedang, sedangkan burung itu sama sekali tak mendapat kesempatan untuk menyerang gadis perkasa itu.

Sebenarnya, apa bila dia berada di atas tanah keras, tentu Ang I Niocu sudah berhasil membunuh Kim-tiauw itu. Akan tetapi kini dia berada di atas perahu yang bergerak-gerak sehingga membuat gerakannya tidak leluasa sekali.

Sesudah berkali-kali serangannya gagal, bahkan hampir saja pedang tajam menembus dadanya dan memenggal leher, akhirnya Kim-tiauw itu agaknya mengakui kelihaian Ang I Niocu dan sambil mengibaskan sayapnya yang lebar dan kuat serta mengeluarkan bunyi seperti orang mengeluh panjang, ia kemudian terbang pergi dengan cepat sekali hingga sebentar saja tubuhnya hanya merupakan titik kuning emas di langit biru.

Ang I Niocu menyimpan kembali pedangnya dan duduk dengan muka merengut. Hatinya tidak puas sekali karena kegagalannya membunuh burung besar itu, akan tetapi Ceng To Tosu lalu berkata sambil menghela napas panjang,

“Baiknya kau tidak membunuhnya Lihiap.”

“Ehh, mengapa kau berkata baik sedangkan hatiku kecewa sekali karena tidak berhasil membunuhnya?” kata Ang I Niocu sambil memandang heran.

“Burung itu adalah burung Kim-sin-tiauw atau Rajawali Sakti Berbulu Emas, dan burung itu di daerah ini terkenal sebagai burung pembawa rezeki dan kebahagiaan. Kita sudah bertemu dengan dia dan memusuhi kita, hal ini tidak baik sekali, apa lagi kalau kau tadi sampai salah tangan dan membunuhnya!”

Diam-diam Cin Hai terkejut sekali mendengar ini, akan tetapi Ang I Niocu lantas berkata, “Burung jahat itu mana bisa membawa kebahagiaan?”

Biar pun Cin Hai tidak setuju mendengar ucapan gadis ini akan tetapi oleh karena ia telah maklum bahwa gadis ini tidak takut apa pun juga, ia diam saja dan tidak menyatakan kekuatirannya, hanya berkata memuji,

“Kim-sin-tiauw itu lihai sekali dan gerakannya tangkas dan cepat.”

“Kalau di darat ada harimau menjadi raja dan di laut ada naga, maka Kim-sin-tiauw boleh dibilang menjadi raja di angkasa!” kata Ceng Tek Hwesio yang masih tersenyum-senyum seakan-akan kejadian tadi adalah hal yang menyenangkan hatinya!

“Dan raja angkasa itu hampir saja berpesta pora menikmati kelezatan dagingmu yang gemuk!” kata Cin Hai.

Semua orang tertawa geli, kecuali Ceng To Tosu yang agaknya selama hidup tak pernah tertawa. Dia hanya mengutarakan kegelian hatinya dengan mewek makin menyedihkan!

Kita tinggalkan dulu perahu kecil yang dinaiki empat orang yang sedang mencari Pulau Emas itu, pulau yang aneh dan mengandung rahasia dan yang pada waktu itu menjadi sebab terjadinya hal-hal yang hebat karena ada tiga bangsa sedang berusaha merampas pulau itu…..

********************
Pada waktu itu, Kerajaan Turki yang telah mendengar tentang adanya Pulau Emas di laut timur Negara Tiongkok sudah mengirim dan menyebar para penyelidiknya, di antaranya Yousuf yang cerdik dan yang menjadi orang pertama mendapatkan pulau itu. Di samping menyebar mata-mata, Kerajaan Turki lalu mengirim pula sejumlah besar tentaranya untuk menyerbu ke daerah ini.

Mereka tak berani melalui daratan Tiongkok, oleh karena maklum bahwa apa bila mereka melalui daratan pedalaman Tiongkok mereka pasti akan menghadapi rintangan-rintangan besar yang memungkinkan gagalnya usaha mereka, oleh karena selain memiliki daerah luas yang berbahaya, Tiongkok juga mempunyai banyak orang pandai yang tentu akan melawan tentara Turki yang menjelajah negaranya.

Oleh karena ini, barisan Turki itu mengambil jalan memutar dari utara, bergerak ke timur melalui sepanjang perbatasan Negara Tiongkok dan masuk di daerah Mongol. Mereka ini pun tidak tinggal diam dan melawan barisan asing yang memasuki tanahnya. Akan tetapi oleh karena pada waktu itu bangsa Mongol masih belum kuat dan hidupnya berkelompok-kelompok ini, dengan mudah dapat dihalau oleh barisan Turki yang kuat.

Barisan Turki ini dipimpin oleh orang-orang pandai, bahkan di dalam barisan ini terdapat seorang pemimpin aneh yang merupakan seorang pendeta bertubuh besar sekali seperti seorang raksasa akan tetapi agak pendek. Pendeta ini berkepala botak, berjenggot hitam dan kaku bagaikan kawat dan yang menyongot ke sana ke mari tidak terawat.

Tubuhnya yang gemuk besar itu mengenakan pakaian yang amat aneh pula, oleh karena pakaian ini terbuat dari banyak macam kain kembang yang ditambal-tambal. Dilihat dari keadaan pakaiannya, pendeta ini lebih pantas disebut seorang pengemis jembel!

Pendeta ini lihai dan sakti sekali dan ia adalah jago nomor satu di seluruh Kerajaan Turki. Namanya di Turki terkenal sebagai Balutin, sedangkan pendeta yang sudah sering kali merantau di pedalaman Tiongkok ini disebut dalam bahasa Tiongkok sebagai Pouw Lojin. Oleh karena sering masuk di daerah Tiongkok, maka Balutin pandai bicara dalam bahasa Tionghoa.

Dengan adanya pendeta ini, maka ekspedisi Turki ini tidak mengalami banyak rintangan, oleh karena setiap penghalang yang kuat selalu hancur kalau saja berhadapan dengan Balutin yang lihai. Selain ilmu silatnya yang tinggi, Balutin juga mahir dalam ilmu sihir, dan lweekang serta khikang-nya sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Gerakan tentara Turki ini membuat bangsa Mongol merasa gelisah sekali. Mereka ini pun akhirnya bisa juga mencari tahu akan rahasia Kerajaan Turki dan dapat pula mengetahui bahwa bangsa Turki ini hendak mencari sebuah Pulau Emas di Laut Tiongkok.

Karena itu, bangsa Mongol lalu menguasakan kepada Pangeran Vayami yang cerdik dan mempunyai kepandaian tinggi untuk menghubungi Kaisar Tiongkok. Ini pulalah sebabnya maka Hai Kong Hosiang diutus oleh kaisar untuk mengundang Pangeran Vayami datang ke istana kaisar.

Setelah Vayami bertemu dengan kaisar, secara cerdik sekali Vayami lalu menghasut dan memberi tahu bahwa tentara Turki bermaksud mengurung ibu kota Tiongkok dan merebut sebuah pulau di Laut Tiongkok yang mengandung banyak emas! Dengan cerdik sekali Pangeran Vayami menghasut dan hendak mengadu dombakan tentara Turki dan tentara Tiongkok, sedangkan diam-diam pangeran yang cerdik dan licin ini telah menyiapkan kaki tangannya untuk secara mendadak menyerbu pulau itu. Ia memakai siasat ‘Membiarkan Dua Ekor Anjing Berebut Tulang’ dan kemudian diam-diam membawa tulang itu berlari sementara kedua anjing itu masih bergumul!

Akan tetapi, Kaisar Tiongkok pun bukan orang bodoh, dan seandainya dia sendiri bodoh, akan tetapi para penasehatnya adalah orang-orang cendekiawan yang berpemandangan luas. Memang kaisar sudah masuk dalam perangkapnya dan mengirimkan barisan besar yang bergerak menuju ke pantai laut di sebelah utara dekat tapal batas negeri Tiongkok, di mana menurut keterangan Pangeran Vayami tentara Turki itu berkumpul.

Barian besar ini dikepalai oleh Beng Kong Hosiang beserta beberapa orang perwira yang tertinggi kepandaiannya. Bahkan kepala bayangkari, yaitu seorang perwira kekasih kaisar yang amat tinggi kepandaiannya dan bernama Lui Siok In, mendapat tugas khusus untuk memimpin barisan itu bersama-sama Beng Kong Hosiang dan lain-lain perwira.

Sementara itu, kaisar memerintahkan Hai Kong Hosiang untuk tetap menemani Pangeran Vayami dengan alasan melindungi keselamatan tamu agung itu dalam perjalanan kembali ke negerinya. Akan tetapi sebetulnya kaisar ini bukan ingin menjaga keselamatan orang, namun bahkan hendak mengawasi dan mengikuti gerak-geriknya, dan membatasi segala usaha kecurangan yang mungkin akan dilakukan oleh Pangeran Vayami yang cerdik itu. Oleh karena ini, Hai Kong Hosiang mendapat tugas istimewa dan hwesio ini pun lantas mengajak supek-nya, yaitu Kiam Ki Sianjin yang telah pikun dan gagu, akan tetapi masih lihai sekali itu.

Pangeran Vayami lalu keluar dari istana bersama Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin, dan pangeran ini langsung menuju ke utara pula dan memberi tahukan kepada Hai Kong Hosiang tentang adanya Pulau Emas itu.

Walau pun Hai Kong Hosiang seorang pendeta, namun hatinya tertarik dan ingin sekali mendapatkan gunung emas itu, maka ia pun segera menyetujui ajakan Pangeran Vayami untuk menyaksikan pulau itu dari dekat dan apa bila mungkin mendarat di pulau itu. Hal ini menurut Hai Kong Hosiang tak ada salahnya, oleh karena tugasnya yang didapat dari kaisar hanya mengawasi dan menjaga agar pangeran ini jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan. Pendeknya, kaisar mencurigai Pangeran Vayami dan Hai Kong Hosiang bertugas mengawasinya.

Ketika tentara Turki yang dipimpin dan dilindungi oleh Balutin itu tiba di tepi pantai laut, mereka berhenti dan memasang kemah. Sementara itu, bagian perlengkapan lalu sibuk membuat perahu-perahu untuk keperluan menyeberang. Biar pun mereka telah lebih dulu menyiapkan segala keperluan untuk membuat perahu-perahu ini, akan tetapi oleh karena jumlah tentara yang hendak diseberangkan ini tak kurang dari seribu orang, maka proses pembuatan perahu itu makan waktu berhari-hari.

Dan pada saat mereka sedang sibuk membuat persiapan untuk menyeberang, datanglah tentara Kerajaan Tiongkok yang dipimpin oleh Lui Siok In, Beng Kong Hosiang dan para perwira lainnya! Tentara Tiongkok lebih banyak jumlahnya, dan karena mereka datang di waktu hari sudah menjadi gelap, maka tentara Tiongkok di bawah pimpinan Lui Siok In yang pandai ini lalu diam-diam mengurung perkemahan tentara Turki. Kemudian, tentara Tiongkok yang telah mengurung ini serentak memasang obor sehingga keadaan menjadi terang sekali bagaikan siang hari!

Tentu saja tentara Turki menjadi panik ketika tiba-tiba melihat ribuan obor menyala yang mengelilingi tempat mereka. Namun, dengan senyumnya yang selalu menghias mukanya yang bulat dan gemuk, Balutin berhasil menyuruh anak buahnya berlaku tenang. Mereka diperintahkan untuk memasang serta memegang obor pula, kemudian dia lalu berdiri di depan barisannya menanti kedatangan musuh.

Dengan tindakan gagah, pedang di pinggang dan bulu sayap garuda menghias topinya, tanda bahwa ia adalah seorang perwira Sayap Garuda tingkat tertinggi, Lui Siok In diikuti oleh perwira-perwira lain dan Beng Kong Hosiang, maju menghampiri Balutin dan berkata dengan suara lantang,

“Hai, tentara Turki! Kalian telah melanggar wilayah kami dan karena sekarang kamu telah dikurung dan tak berdaya lagi, maka lebih baik kamu menyerah saja agar supaya menjadi orang-orang tawanan yang akan kami perlakukan dengan baik-baik!”

Di bawah penerangan obor di sekeliling mereka yang dipegang oleh tentara kedua belah fihak, Balutin kelihatan seperti seorang raksasa pendek. Pendeta Turki ini lalu melangkah maju dan sambil tertawa ia menuding ke arah Lui Siok In dan berkata,

“Hai, Perwira muda! Siapakah yang menjadi pemimpin besar barisanmu ini? Suruhlah dia sendiri maju, dan jangan majukan segala perwira hijau untuk bicara dengan aku!”

Mendengar bahwa dirinya disebut ‘perwira hijau’ oleh pengemis jembel yang amat gemuk ini, tentu saja Lui Siok In menjadi marah.

“Bangsat jembel, siapakah kamu?”

Balutin tertawa bergelak sambil memegangi perutnya. “Kau mau tahu aku siapa? Akulah pemimpin besar barisan Turki! Akulah Balutin atau bisa juga kau sebut Pouw Lojin! Anak muda, panggillah keluar pemimpin besarmu agar dapat bicara dengan aku!”

Lui Siok In terkejut mendengar bahwa yang berdiri di depannya seperti seorang pengemis jembel ini adalah Balutin sendiri, tokoh yang amat terkenal sejak tentara Turki menyerbu melalui Mongol. Nama Balutin ini pernah disebut-sebut oleh kaisar sendiri ketika memberi perintah kepadanya untuk memimpin barisan, karena kaisar pun sudah mendengar dari Pangeran Vayami yang sangat memuji-muji Balutin sebagai orang gagah dan pemimpin besar.

Lui Siok In tidak sudi memperlihatkan kelemahan dan kejeriannya, maka sambil tertawa ia pun berkata,

“Aha, pemimpin besar tentara Turki yang bernama Balutin dan yang disohorkan sangat gagah perkasa itu tak tahunya hanya seorang pengemis jembel yang terlantar. Ha-ha-ha! Ketahuilah, Jembel gemuk, akulah pemimpin barisan ini dan namaku adalah Lui Siok In. Lebih baik kau menyerah saja agar kau dapat diberi makan enak dan tidak usah mampus di ujung senjata!”

Balutin memandang dengan rasa heran dan hampir tidak percaya bahwa panglima besar tentara Tiongkok hanyalah seorang perwira muda ini. Ia lalu berkata menghina,

“Agaknya Tiongkok telah kehabisan orang gagah maka terpaksa memajukan kau sebagai panglima. Mari, hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu!'

Sambil berkata demikian, Balutin menengok ke arah pohon yang tumbuh di dekat sana. Daun-daun pohon itu bergantungan di atasnya dan dia kemudian menggerakkan kedua tangannya menampar ke arah daun-daun pohon itu.

Angin besar keluar dari kedua lengannya yang dipenuhi tenaga khikang itu dan beberapa helai daun di pohon itu lantas rontok dan melayang ke bawah! Balutin masih menggerak-gerakkan kedua tangannya dan daun-daun pohon yang melayang ke bawah itu kelihatan bergerak-gerak di udara akan tetapi tak dapat melayang turun, seakan-akan tertahan oleh tiupan dari bawah dan kini bermain-main di udara bagaikan hidup!

Lui Siok In merasa terkejut sekali dan ia mengerti bahwa Balutin sedang mempergunakan kepandaian khikang yang disebut Mempermainkan Daun Rontok! Ia juga maklum bahwa daun-daun ini biar pun ringan, akan tetapi dapat digerakkan dengan tenaga khikang dan dapat dipakai menyerang lawan seperti senjata-senjata rahasia hebat! Di Tiongkok juga terdapat ilmu ini yang dipelajari sambil menggunakan tenaga khikang dan angin gerakan tangan dapat diarahkan kepada daun-daun itu sehingga daun-daun itu dapat digerakkan ke mana saja menurut kehendak orang.

Benar saja sebagaimana dugaan Lui Siok In. Tiba-tiba saja Balutin lalu membuat gerakan dengan kedua telapak tangannya dan daun-daun itu dari atas langsung menyambar turun hendak menyerang tubuh Lui Siok In. Perwira muda ini bukan orang sembarangan dan ia juga memiliki kepandaian tinggi. Kalau ia tidak lihai, mana ia bisa diterima menjadi kepala pengawal pribadi kaisar.

Dia kemudian berseru keras dan membuat gerakan pula dengan jari-jari tangannya yang ditelentangkan. Dari kedua telapak tangannya ini keluarlah tenaga khikang yang hebat pula dan aneh. Daun-daun yang tadinya meluncur dari atas kini melayang naik kembali, dan kemudian terapung-apung di tengah udara.

Pertempuran dahsyat dan adu tenaga khikang ini berlangsung lama serta menegangkan sehingga semua tentara yang memegang obor dan menyaksikan pertandingan hebat ini menahan napas. Kedua panglima itu berhadapan dengan mata saling memandang dan dua tangan bergerak-gerak serta diulur ke depan seakan-akan dua orang pengemis yang sedang minta sedekah, sedangkan daun-daun itu terus melayang-layang di tengah udara, sebentar menyambar turun, sebentar melayang naik kembali.

Akan tetapi, akhirnya ternyata bahwa Lui Siok In kalah tinggi kepandaiannya dan tenaga khikang-nya masih kalah setingkat oleh Balutin yang lihai itu. Beberapa kali kedua orang itu berseru mengerahkan tenaga, dan perlahan tapi tentu, kedua tangan Lui Siok In mulai gemetar, sedangkan pada mukanya yang pucat itu mengucur peluh membasahi jidat dan pipinya. Daun-daun yang bergerak-gerak di udara itu mulai mendesak turun dan semakin mendekati kepala Lui Sok In.

Perwira she Lui itu maklum bahwa apa bila adu khikang ini diteruskan, keadaannya akan berbahaya sekali. Maka secepat kilat dia lantas membuat gerakan Ikan Gabus Melompat Tinggi, menjatuhkan diri ke belakang sambil membuat gerakan berjungkir balik, lalu cepat menjatuhkan diri pula sambil bergulingan di atas tanah.

Dia memang harus menggunakan gerakan ini, karena kalau tidak dia akan terpukul oleh tenaga khikang yang telah menekan dan mendesaknya. Dengan cara bergulingan itu dia memulihkan aliran darahnya kembali dan membebaskan dia dari serangan daun-daun itu yang lalu meluncur dan jatuh ke atas tanah.

Balutin tertawa bekakakan sambil bertolak pinggang. “Ha-ha-ha-ha! Hanya begitu sajakah kepandaianmu, Perwira muda? Dan tadi kau berani bersombong hendak menawan aku? Ha-ha-ha!”

“Balutin jembel busuk, jangan sombong!” teriak Lui Siok In dengan marah sekali dan dia lalu mencabut pedang dan menyerang Balutin dengan hebat.

Balutin hanya tertawa dan dia memberi tanda ke belakang sambil mengelak ke samping. Salah seorang pembantunya segera melompat dan melemparkan sebatang tongkat yang panjang dan besar kepada Balutin. Setelah Balutin menerima senjatanya ini ternyata oleh Lui Siok In bahwa senjata itu adalah sebatang tongkat yang nampaknya berat sekali dan entah terbuat dari apa, karena kekuning-kuningan dan berkilau bagaikan emas.

Maka keduanya kemudian bertanding hebat sekali dan para tentara yang tadinya hanya bersorak sorai saja menyaksikan pertandingan ini, lalu bergerak maju semakin mendekat! Perwira-perwira kedua belah fihak sudah melompat maju dan pertandingan semakin seru hingga akhirnya kedua barisan maju saling gempur menimbulkan suara hiruk-pikuk!

Ujung pedang, golok dan lain-lain senjata berkelebat dan berkilauan di bawah sinar obor, dan lantas terdengar pekik jerit kemenangan tercampur keluh kesakitan. Darah mengucur keluar bersama peluh kemudian membasahi tanah yang terpaksa harus menerima segala kengerian yang dilakukan oleh manusia-manusia tu!

Balutin benar-benar tangguh sekali. Baru bertempur beberapa puluh jurus saja Lui Siok In maklum bahwa ia tak akan dapat mengalahkan pendeta gemuk ini, maka ia lalu berteriak memberi perintah sehingga beberapa orang perwira maju mengeroyok. Juga Beng Kong Hosiang tidak ketinggalan mengeroyok Balutin.

Kepandaian Beng Kong Hosiang setingkat dengan kepandaian Lui-ciangkun, maka tentu saja Balutin mulai terdesak ketika dia pun turut menyerbu bersama perwira-perwira lain. Akan tetapi, dua orang perwira Turki maju dengan ilmu silat mereka yang aneh dan cepat sehingga kembali pihak Balutin dan kawan-kawannya yang mendesak hebat!

Beng Kong Hosiang yang melihat betapa pihaknya terdesak hebat, menjadi marah sekali. Ia lalu memutar-mutar senjatanya yang istimewa, yaitu pacul yang bergagang bengkok itu dan menyerang Balutin dengan sepenuh tenaga. Memang sejak tadi yang diperhatikan oleh Balutin hanya Beng Kong Hosiang yang kini menyerangnya dengan ganas, maka dia pun cepat menangkis dan kedua orang ini bertempur seru sekali.

Pada suatu saat, ketika Beng Kong Hosiang menyerampang kaki Balutin dengan senjata paculnya, Balutin lalu menangkis sekuat tenaga hingga terdengar bunyi keras sekali dan gagang pacul Beng Kong Hosiang telah patah! Akan tetapi, tongkat di tangan Balutin juga terlepas dari pegangan. Demikian hebat dan keras benturan tenaga itu!

Melihat betapa senjatanya telah patah, Beng Kong Hosiang lantas berseru keras dan dia menyambitkan sisa senjatanya ke arah Balutin yang mengelak cepat. Gagang pacul yang disambitkan itu meluncur cepat bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya dan dengan jitu menancap di dada seorang Turki yang bertempur di belakang Balutin!

Beng Kong Hosiang masih marah dan bagaikan seekor banteng terluka, ia lalu menubruk maju ke arah Balutin dengan Eng-jiauw-kang atau Cengkeraman Kuku Garuda! Tangan kirinya mencengkeram ke arah dada dan tangan kanannya ke arah leher lawan!

Serangan ini hebat sekali. Balutin berseru keras, menundukkan kepala untuk menghindari serangan leher dan serangan tangan pada dadanya ia tangkis dengan tangan kiri. Akan tetapi, gerakan Beng Kong Hosiang cepat dan ganas sekali sehingga ketika lengan kiri Balutin menangkis, maka tangan kirinya itu berhasil pula mencengkeram lengan tangan Balutin yang menangkis! Balutin berseru kesakitan dan tangan kanannya lalu memukul ke dada lawan.

“Bukkk!”

Terdengar suara keras ketika pukulan tangan ini dengan tepat menghantam dada Beng Kong Hosiang. Pukulan ini keras sekali datangnya hingga dari mulut Beng Kong Hosiang keluar darah segar dan tubuh hwesio itu langsung terpental ke belakang dalam keadaan tidak bernyawa lagi! Akan tetapi, cengkeraman tangannya pada lengan kiri Balutin masih belum terlepas sehingga tubuh Balutin terbawa maju.

Balutin cepat sekali menggunakan dua jarinya mengetuk sambungan siku lawannya yang telah mati itu. Ketika kena totokan ini, urat lengan Beng Kong Hosiang yang telah kaku itu menjadi mengendur dan pegangan atau cengkeramannya terlepas hingga tubuhnya lalu menggelinding ke bawah.

Balutin lalu memandang ke arah lengan kirinya yang sudah menjadi matang biru karena cengkeraman lawan tadi! Dia menggeleng-geleng kepala dan kagum akan ketangguhan Beng Kong Hosiang. Luka pada lengan kirinya tidak berbahaya, maka dia lalu mengambil senjatanya lagi dan kembali mengamuk hebat. Banyak perwira roboh di bawah pukulan tongkatnya.

Sementara itu, tentara Tiongkok yang kurang terlatih oleh karena kaisar dan para perwira selama ini hanya ingat bersenang-senang saja, tak kuat pula menghadapi tentara musuh. Apa lagi mereka baru habis melakukan perjalanan sehingga keadaan mereka masih lelah sekali, sedangkan pihak musuh sudah berhari-hari beristirahat di sana, maka meski pun jumlah mereka lebih besar, namun korban yang jatuh di pihak mereka juga lebih banyak.

Melihat kerugian yang diderita oleh pihaknya dan melihat pula kelihaian Balutin, Lui Siok In segera memberi perintah mundur, sedangkan dia sendiri pun lalu melompat mundur. Tentara Tiongkok menarik diri dan mundur. Beberapa orang perwira segera diutus untuk mencari bala bantuan!

Tentara Turki sengaja tidak mau mengejar oleh karena mereka mempunyai tugas yang lebih penting, yakni menyelesaikan pembuatan perahu untuk dipakai menyeberang dan mengurus korban-korban yang roboh di pihak mereka. Mereka hanya berjaga-jaga saja kalau-kalau pihak musuh datang menyerbu lagi.

Akan tetapi, oleh karena bala bantuan yang diharapkan masih jauh dan belum tentu akan dapat segera datang, maka pihak Turki mendapat kesempatan pula untuk menyelesaikan pembuatan perahu dan mereka lalu beramai-ramai menurunkan perahu-perahu itu ke air dan mulai berlayar! Beberapa orang kawan Yousuf yang dahulu bersama-sama pergi dan mendapatkan Pulau Emas itu, menjadi penunjuk jalan.

Ketika bala bantuan yang diharapkan datang dari daerah yang jauh letaknya dari tempat itu, pihak tentara kerajaan pun langsung mempergunakan perahu-perahu untuk mengejar sehingga terjadilah pengejaran ramai di atas laut. Akan tetapi perahu-perahu Tiongkok ini terlambat dua hari sehingga telah tertinggal jauh…..

********************

Dengan mempergunakan sebuah perahu besar dan mewah, Pangeran Vayami, pangeran bangsa Mongol yang menjadi pemimpin Agama Sakya Buddha itu berlayar ditemani oleh Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin. Di atas perahu besar ini juga sudah disediakan dua buah perahu-perahu kecil untuk keperluan khusus dan perahu ini berlayar cepat ke tengah samudera.

Ketika terjadi pertempuran pada malam hari itu, Pangeran Vayami dan Hai Kong Hosiang bisa melihat dari atas perahu mereka. Akan tetapi mereka hanya melihat obor menerangi seluruh pantai dan mendengar suara teriakan mereka yang berperang. Secara diam-diam Pangeran Vayami bersorak girang di dalam hatinya oleh karena tipu dayanya berhasil baik. DIa sudah memberi perintah kepada anak buahnya, yaitu pendeta-pendeta Sakya Buddha untuk dengan diam-diam menuju ke Pulau Emas yang diperebutkan itu.

Tipu daya Pangeran Vayami amat jahat dan licin. Ia memerintahkan para pengikutnya itu untuk mengangkut harta benda berupa emas yang berada di pulau itu. Sesudah berhasil mencari dan mengangkutnya ke perahu, para pendeta itu diharuskan membakar sebuah telaga yang mengandung minyak bakar agar pulau itu terbakar habis!

Sebetulnya, pada saat mendengar akan adanya Pulau Emas itu, Pangeran Vayami sudah pernah pergi menyelidiki dan dia mendapat kenyataan bahwa pada malam hari pulau itu mengeluarkan cahaya berkilauan dan terang sekali, seakan-akan sekujur gunung di pulau itu terbuat dari pada emas yang bersinar gemilang.

Akan tetapi, ketika ia mendarat di pulau itu, ia tidak bisa mendapatkan di mana adanya emas yang bercahaya pada waktu malam itu, bahkan yang didapatkannya hanya sebuah telaga kecil yang airnya berkilauan dan berwarna kehitam-hitaman. Untuk penyelidikan, ia mengambil sebotol air dan ketika pada malam harinya dia membuat penerangan, hampir saja tangannya terbakar. Tangan yang masih basah terkena benda cair itu tercium api, lalu bernyala hebat!

Ia tidak tahu bahwa pulau itu mengandung minyak tanah dan hanya menduga benda cair di telaga itu adalah air mukjijat yang mudah terbakar. Ia lalu menyulut air di dalam botol itu yang segera berkobar dan terbakar dengan sangat mudahnya. Oleh karena inilah, dia menggunakan tipu daya untuk membakar telaga itu apa bila emas sudah didapatkan oleh kaki tangannya, agar semua orang yang berada di pulau itu dan hendak mencari emas, termakan habis oleh api yang membakar pulau dan anak buahnya dapat melarikan emas itu dengan aman!

Tentu saja tipu dayanya ini tidak diberi tahukan kepada Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin, oleh karena ia pun maklum bahwa kedua orang tua luar biasa ini mendapat tugas untuk menjaga dirinya, dan ia dapat menduga pula bahwa kaisar telah mencurigainya!

Pangeran Vayami sengaja memutar-mutar perahunya dan tidak mau membawa Hai Kong Hosiang menuju ke pulau itu untuk memberikan kesempatan kepada para anak buahnya. Demikianlah, perahunya hanya berputaran melewati pulau-pulau yang sangat banyak itu.

Ketika rombongan perahu Turki menyeberang ke lautan, Pangeran Vayami merasa kuatir sekali. Anak buahnya belum kelihatan kembali dan sekarang perahu-perahu Turki sudah menyeberang ke pulau itu! Hatinya menjadi gelisah sekali, terutama ketika melihat betapa rombongan perahu tentara kerajaan mengejar pula.

Celaka, pikirnya, pulau itu tentunya akan penuh dengan tentara kedua pihak dan mungkin sekali akan terjadi perang hebat di pulau itu. Lalu bagaimana anak buahnya akan dapat bekerja dengan baik?

Ia ingin sekali pergi ke pulau itu untuk memimpin sendiri pekerjaan anak buahnya, akan tetapi ia tidak berdaya oleh karena selalu ditemani oleh Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin. Tiba-tiba Pangeran Vayami yang cerdik ini mendapatkan akal baik.

Pada saat itu, Hai Kong Hosiang juga sedang berdiri di kepala perahu dan melihat betapa perahu-perahu Turki telah mendahului berlayar dan kemudian dikejar oleh perahu-perahu tentara kerajaan. Hwesio ini memandang dengan penuh rasa khawatir. Ia dapat menduga bahwa peperangan semalam tentu dimenangkan oleh pihak musuh, kalau tidak demikian tentu musuh tak akan dapat menyeberang!

”Hai Kong Bengyu…,” Pangeran Vayami berkata. ”Apakah kau dapat menduga apa yang menjadikan kegelisahan hatiku?”

Hai Kong Hosiang sebenarnya dapat menduga bahwa Pangeran Mongol ini tentu menjadi gelisah dan kuatir melihat pergerakan barisan Turki itu, akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan menggelengkan kepala.

“Hai Kong Bengyu, tidakkah kau melihat betapa barisan Turki sudah mempergunakan perahu-perahu dan menyeberang ke pulau-pulau? Ini berarti bahwa barisan kerajaanmu itu telah kalah perang! Dan apakah kau tega melihat hal itu terjadi begitu saja? Kurasa di pihak barisan Turki terdapat orang-orang pandai, maka memang sebaiknya kau bersama supek-mu tinggal saja di sini.”

Di samping mencela, Pangeran Vayami juga sengaja membakar panas hati pendeta itu. Akan tetapi Hai Kong Hosiang hanya diam saja, seolah-olah tidak mengerti akan maksud sindiran Pangeran Vayami.

”Untung sekali kau berada di sini, Hai Kong Bengyu, kalau kau ikut menyerbu tentu kau berada dalam bahaya. Aku mendengar bahwa panglima Turki yang bernama Balutin atau Pouw Lojin itu sangat sakti dan lihai hingga kurasa tidak ada orang Han (Tionghoa) yang mampu mengalahkannya!”

Hai Kong Hosiang tak dapat menahan sabarnya lagi dan dia memandang kepada Vayami dengan mata mendelik. Akan tetapi Vayami sama sekali tidak mempedulikannya, bahkan berlaku seakan-akan tidak melihat kemarahan Hai Kong Hosiang, dan ia lalu menambah omongannya seperti berikut,

“Sungguh celaka! Aku mendengar bahwa seheng-mu yang bernama Beng Kong Hosiang juga ikut dalam barisan kerajaan! Jangan-jangan Seheng-mu terkena celaka, oleh karena aku merasa ragu-ragu apakah dia sanggup menghadapi Balutin yang sakti itu?”

“Vayami! Kau sungguh-sungguh memandang rendah kekuatan kami! Kau kira aku takut kepada segala macam orang seperti Balutin itu? Baik! Aku dan Suhu-ku akan menyusul dan menghancurkan mereka itu, anjing-anjing bangsa asing yang kurang ajar!” Di dalam makian ini, otomatis Vayami terkena dimaki juga, karena bukankah ia pun di hadapan Hai Kong Hosiang merupakan orang asing pula?

Hai Kong Hosiang segera memberi tahu kepada supek-nya yang gagu itu, dan Kiam Ki Sianjin mengangguk-angguk menyatakan setuju untuk menggempur barisan Turki itu. Hai Kong Hosiang kemudian menurunkan sebuah dari pada perahu kecil yang berada di situ, kemudian ia menghampiri Vayami dan berkata,

“Pangeran Vayami, aku dan Supek akan pergi dulu, dan kau...” Setelah berkata demikian, secepat kilat Hai Kong Hosiang mengulurkan tangan menotok.

Vayami terkejut sekali, akan tetapi terlambat, oleh karena jari tangan Hai Kong Hosiang sudah menotok jalan darahnya dengan tepat hingga pangeran itu roboh terduduk dengan tubuh lemas dan tak mampu bergerak lagi.

“Maaf, Pangeran Vayami. Aku terpaksa melakukan ini untuk menjaga agar kau tidak bisa sembarangan bergerak.” Hai Kong Hosiang lalu tertawa bergelak-gelak dengan girangnya dan Vayami terpaksa tak dapat berdaya sesuatu dan hanya memandang keberangkatan dua orang itu dengan hati gemas dan mendongkol sekali.

Sambil tertawa-tawa puas melihat hasil kecerdikannya, Hai Kong Hosiang serta Kam Ki Sianjin lalu mendayung perahu kecilnya menuju ke arah pulau di mana kedua barisan itu menuju. Di atas pulau itu telah terjadi kembali pertempuran hebat antara barisan kerajaan yang telah mendapat bala bantuan dengan pasukan Turki.

Akan tetapi, kembali Balutin mengamuk sehingga puluhan prajurit kerajaan tewas dalam tangannya. Banyak perwira mengeroyoknya, akan tetapi tak ada seorang pun yang dapat menandingi kelihaian pendeta gemuk ini.

Ketika sampai di tempat pertempuran, Hai Kong Hosiang mendengar mengenai kematian suheng-nya di tangan Balutin, maka bukan kepalang marahnya. Sambil mencabut keluar tongkat ularnya, ia melompat dan menerjang Balutin sambil berteriak,

“Balutin bangsat besar! Akulah lawanmu!” Ia lalu menyerang dengan hebat sekali.

Balutin terkejut melihat sepak terjang pendeta ini dan melawan dengan hati-hati. Mereka berdua ternyata merupakan tandingan yang sangat setimpal dan seimbang, baik dalam kepandaian mau pun dalam kehebatan tenaga mereka.

Tak seorang perwira dari kedua pihak berani maju mendekat oleh karena beberapa orang perwira yang mencoba untuk membantu kawan, ternyata baru beberapa gebrakan saja telah roboh dan tewas oleh amukan kedua orang yang sedang bertempur sengit ini.

Keduanya mengeluarkan seluruh kepandaian serta tenaganya. Ada pun Kiam Ki Sianjin yang telah tua itu hanya memandang dan menonton dari pinggir saja, akan tetapi dengan penuh perhatian dan siap menolong apa bila Hai Kong Hosiang berada dalam bahaya…..

********************

Perahu besar Vayami yang ditinggal seorang diri terapung-apung di atas laut, terdampar ombak dan kebetulan sekali mendekati pulau itu. Mendadak kelihatan perahu kecil yang cepat sekali majunya dan perahu ini bukan lain adalah perahu yang ditumpangi oleh Cin Hai, Ang I Niocu, Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu.

Melihat perahu besar yang sedang terombang-ambing seakan-akan tidak ada orang yang mengemudikannya itu, Cin Hai dan Ang I Niocu segera melompat ke atas perahu itu dan meninggalkan tosu serta hwesio itu di dalam perahu kecil.

Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Vayami duduk tak bergerak bagaikan patung batu. Juga Vayami sangat terkejut melihat kedua orang ini, akan tetapi dia hanya dapat duduk tanpa mengeluarkan suara apa-apa. Cin Hai maklum bahwa pangeran ini berada di bawah pengaruh totokan, maka dia lalu mengulurkan tangan memulihkan totokan yang mempengaruhi tubuh Pangeran Vayami.

Pangeran Vayami cepat berdiri menjura dengan hormat sekali kepada Cin Hai dan Ang I Niocu.

“Terima kasih, Taihiap. Syukurlah engkau datang menolong, kalau tidak entah bagaimana dengan nasibku yang buruk ini.” Sambil berkata demikian, dia mengerling kepada Ang I Niocu dengan bibir tersenyum, akan tetapi hatinya berdebar khawatir dan takut!

Cin Hai dan Ang I Niocu merasa amat sebal dan benci melihat pangeran ini, akan tetapi mereka berdua tertarik untuk mengetahui apakah yang sedang dilakukan oleh pangeran aneh dan licin ini di atas perahu di dekat Pulau Emas itu.

“Bagaimana kau bisa berada di sini seorang diri dan mengapa dalam keadaan tertotok orang? Siapakah yang melakukan itu dan apa pula maksudmu berada di sini?” tanya Cin Hai tanpa memakai banyak peradatan lagi.

Pangeran Vayami menghela napas dan dia mengebut-ngebutkan pakaiannya yang indah model bangsawan Han itu. “Dasar Hai Kong Hosiang yang jahat dan berhati palsu!”

Cin Hai girang sekali mendengar nama itu disebut-sebut. “Eh, apakah bangsat Hai Kong Hosiang berada di sini? Katakanlah di mana dia!”

Vayami menghela napas dan memutar otaknya yang licin dan cerdik. Ia maklum bahwa di antara Hai Kong dengan anak muda ini tentu terdapat permusuhan besar sekali sehingga pemuda ini selalu berusaha membunuhnya, dan dia teringat pula bahwa dulu Cin Hai di perahunya pernah memberitahu bahwa Hai Kong Hosiang adalah musuh besarnya. Maka ia segera mengarang sebuah alasan untuk mengadu domba lagi demi keuntungan dirinya sendiri.

“Sebagaimana kau ketahui, Hai Kong Hosiang membawaku untuk menemui kaisar. Akan tetapi hwesio itu mendengar bahwa aku mengetahui tentang Pulau Emas di laut ini, lalu timbul hati jahatnya dan bersama Supek-nya yang gila dan gagu itu, dia memaksa aku mengantarkan mereka berdua ke sini! Akan tetapi setelah sampai di sini dan mengetahui tempat itu, dia lantas menotokku dan mencuri perahu kecilku, kemudian bersama dengan Supek-nya dia lalu menuju ke sana!”

Mendengar tentang Pulau Emas ini tiba-tiba saja Ang I Niocu dan Cin Hai teringat kepada si tosu dan si hwesio yang tidak kelihatan lagi, dan ketika mereka memandang ternyata perahu kecil itu telah bergerak maju dan telah jauh meninggalkan tempat itu!

”Hai...!” Ang I Niocu berteriak marah ”Kembalilah kalian!”

Akan tetapi dari jauh kedua pendeta hanya melambaikan tangan saja, si hwesio tetap tertawa dan si tosu tetap mewek! Ang I Niocu marah sekali dan hendak menggunakan perahu kecil yang berada di perahu besar Vayami itu untuk mengejar, akan tetapi Vayami mengangkat kedua tanganya dan berkata mencegah,

“Lihiap, jangan mengejar. Mereka akan pergi ke Kim-san-to, biarlah mereka ikut dibakar hidup-hidup!”

Ang I Niocu dan Cin Hai terkejut, cepat memandang kepada pangeran yang tersenyum-senyum girang itu dengan heran. Pada waktu itu, hari telah mulai gelap dan angin bertiup kencang.

“Pangeran Vayami, apa maksudmu dengan ucapan tadi?” tanya Cin Hai dan Ang I Niocu yang tidak jadi mengejar kedua pendeta itu oleh karena dia pun tidak mempunyai urusan dengan mereka. Tadi ia hendak mengejar hanya karena merasa marah saja dan kini dua orang pendeta itu telah lenyap dan tak tampak lagi pula.

Vayami tersenyum dan berkata, “Sebelum aku menceritakan kepada kalian, lebih dahulu bantulah aku memasang layar ini sebab aku hendak menunjukkan sebuah pemandangan indah kepada kalian!”

Cin Hai lalu membantunya memasang layar dan sebentar saja perahu besar itu bergerak laju ke kanan. Ternyata Vayami yang juga pandai mengemudikan perahu, telah memutar perahunya mengelilingi Pulau Kim-san-to. Dan sesudah melakukan pelayaran lebih dari dua jam, kini perahu itu berada di belakang pulau.

“Nah, kalian lihat itu!” kata Pangeran Vayami menunjuk ke pulau.

Ang I Niocu dan Cin Hai cepat memandang dan mereka berdua menjadi amat tercengang melihat pemandangan yang mereka lihat di depan mereka. Di atas Pulau Kim-san-to itu kelihatan sebuah bukit yang menjulang tinggi dan berujung runcing. Kini di dalam gelap senja, bukit itu nampak bercahaya dan seakan-akan mengeluarkan sinar yang berkilauan! Puncak bukit itu nampak nyata berwarna putih kuning kemerah-merahan bagaikan emas murni, dan di bawah bukit membentang pohon-pohon yang gelap dan hitam.

Ang I Niocu berdiri di pinggir perahu dengan penuh takjub sehingga untuk beberapa lama gadis itu berdiri tak bergerak laksana patung! Sementara itu Cin Hai yang dapat menekan perasaan heran dan kagetnya, segera minta keterangan dari Vayami!

“Ketahuilah, Taihiap, inilah Bukit Emas yang dicari-cari oleh mereka semua! Tentu kau juga sudah melihat bahwa tentara-tentara Turki dan tentara kerajaan telah saling gempur dan kini pun sedang bertempur mati-matian di atas pulau itu untuk memperebutkan Bukit Emas itu. Semua orang yang berjumlah ribuan itu, mereka berebut mati-matian untuk memiliki Bukit Emas. Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka sudah berada di tepi neraka. Ha-ha! Juga Hai Kong yang jahat itu sebentar lagi takkan dapat menyombongkan kepandaiannya karena ia pun akan mati terpanggang api, di pulau itu, ha-ha-ha!”

Mendengar keterangan ini, Cin Hai merasa heran sekali. Dia lalu membentak, “Pangeran Vayami! Kau jelaskanlah semua ini kepadaku! Apakah maksudmu?”

Sesudah berusaha keras untuk menekan kegirangan dan kegelian hatinya yang hendak tertawa saja, Vayami lalu berkata lagi,

“Dengarlah, Taihiap dan kau juga, Lihiap. Kami orang-orang Mongol tidaklah segoblok orang-orang Turki atau orang-orang dari kaisarmu itu. Aku tidak sudi harus bersusah payah mengerahkan barisan tentara untuk memperebutkan pulau ini. Sebentar lagi, pulau ini akan menjadi lautan api dan semua emas akan berada di tanganku. Ya, semua emas akan berada di tangan Pangeran Vayami!”

Cin Hai makin heran dan ia memandang Pangeran Pemuka Agama Sakya Buddha yang muda dan tampan ini. Ia melihat bahwa pakaiannya pemberian kaisar sebagai hadiah dan tanda perhahabatan, akan tetapi tetap saja mukanya masih jelas bahwa dia adalah orang Mongol.

Cin Hai sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Pangeran Vayami yang cerdik ini sengaja membawa perahunya ke tempat itu oleh karena memang ia telah berjanji kepada anak buahnya untuk menanti dengan perahu besar di tempat itu untuk menerima mereka setelah selesai mengerjakan tugas mereka.

Pangeran Vayami memang mempunyai pikiran yang cerdik sekali. Ia maklum bahwa Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianli lihai sekali, maka sesudah melihat munculnya Cin Hai dan Ang I Niocu, ia berniat menarik kedua orang ini untuk menjadi pembela-pembelanya dan untuk menghadapkan dua orang gagah ini kepada Hai Kong Hosiang apa bila hwesio itu muncul untuk mengganggunya.

Oleh karena ia menganggap bahwa kedua orang muda gagah ini tidak memiliki hubungan sesuatu dengan Turki mau pun dengan tentara kerajaan, maka tanpa ragu-ragu lagi dia segera melanjutkan ceriteranya dengan suara yang jelas menyatakan kebanggaan akan kecerdikannya.

“Orang-orang Turki dan barisan kerajaan kaisar sedang memperebutkan harta di pulau itu, dan oleh karena mereka sedang bertempur mati-matian, mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mencari emas itu yang belum dapat diketahui secara pasti di mana tempatnya. Dan diam-diam aku telah menyuruh anak buahku yang tiga puluh enam orang banyaknya untuk mencarinya semenjak tiga hari sebelum tentara-tentara kedua pihak itu tiba dan telah memerintahkan apa bila mereka telah dapat mengangkut harta itu, mereka segera harus membakar sebuah danau di pulau itu yang airnya dapat terbakar seperti minyak domba! Bahkan aku memerintahkan supaya seluruh hutan di situ dibakar semua sampai habis, baru mereka mengangkat kaki dan mengangkut semua emas itu ke sini!”

Cin Hai dan Ang I Niocu bergidik memikirkan kekejian orang ini, dan Cin Hai yang teringat kepada Lin Lin tiba-tiba menjadi pucat wajahnya dan saling pandang dengan Ang I Niocu. Juga Ang I Niocu teringat bahwa Lin Lin diduga pergi ke pulau itu, maka cepat bertanya,

“Bilakah kiranya perintahmu yang kejam itu dilakukan?”

Vayami memandang dengan muka berseri. “Malam ini, tepat tengah malam, jadi tak lama lagi!” katanya sambil memandang ke arah pulau.

Diam-diam pangeran ini juga merasa sangat khawatir oleh karena orang-orangnya yang sedang ditunggu-tunggu belum kelihatan muncul seorang pun.

Ang I Niocu dan Cin Hai merasa makin terkejut. “Vayami, tahukah kau di mana adanya seorang Turki yang bernama Yousuf?” tanya Cin Hai yang teringat bahwa Lin Lin, Ma Hoa, dan Nelayan Cengeng berlayar dengan orang Turki ini dan nama ini dia dengar dari dua orang nelayan yang menceritakan pengalaman mereka dulu.

Vayami berubah air mukanya mendengar nama ini. Dia pernah bertemu dengan Yousuf dan tahu akan kelihaian orang Turki ini yang sebenarnya menjadi penemu pertama dari Kim-san-to.

“Kau mencari setan itu? Ha-ha-ha-ha! Tentu dia juga berada di pulau itu. Ya, setan yang bernama Yousuf itu pun berada di atas pulau dan sebentar lagi ia pun akan musnah!”

“Dan kawan-kawannya yang berlayar bersama dia?” tanya pula Cin Hai dengan suara gemetar.

“Kawan-kawannya?” kata Vayami yang mengira bahwa ‘kawan-kawan’ yang dimaksudkan oleh Cin Hai ini tentulah orang-orang Turki lainnya. “Ha-ha-ha-ha! Semua kawan-kawan Yousuf juga akan terpanggang mampus di pulau itu.”

“Bangsat besar!” Tiba-tiba Cin Hai memaki dan ketika tangannya menampar, pipi Vayami kena ditampar hingga giginya rontok dan tubuhnya terguling ke atas papan perahu.

Pangeran ini mengeluh dan merintih-rintih sambil mengusap-usap pipinya yang menjadi matang biru dan memandang kepada Cin Hai dengan heran.

“Niocu, jaga bangsat ini! Aku hendak menyusul Lin Lin!”

“Jangan, Hai-ji! Pulau itu sebentar lagi akan terbakar dan siapa tahu, danau berminyak itu bisa meledak'!' kata Ang I Niocu dengan wajah pucat.

“Lin Lin berada di sana, karena itu bahaya besar apakah yang dapat mencegah aku pergi menolongnya?” tanya Cin Hai dengan napas memburu dan ia lalu pergi ke perahu kecil dan hendak melemparnya ke air untuk dipakai menyusul ke Pulau Kim-san-to.

Akan tetapi, pada saat itu pula dia melihat bahwa perahu itu telah dikelilingi oleh banyak perahu-perahu kecil dan mendadak dari perahu-perahu kecil itu berlompatan naik tubuh orang-orang tinggi besar yang berjubah merah. Kiranya orang-orang ini adalah anak buah Pangeran Vayami, pendeta-pendeta Sakya Buddha yang memiliki ilmu tinggi dan yang kini berlompatan ke atas perahu besar dengan senjata di tangan. Jumlah mereka banyak sekali sehingga terpaksa Cin Hai melompat mundur ke dekat Ang I Niocu, bersiap sedia menghadapi keroyokan.

Ketika melihat bahwa tiba-tiba anak buahnya muncul, Pangeran Vayami menjadi girang sekali dan ia lalu timbul pikiran jahat. Memang hatinya amat tertarik oleh kecantikan Ang I Niocu dan kalau saja kepandaiannya lebih tinggi dari Gadis Baju Merah yang cantik jelita itu, tentu dia telah memaksa Ang I Niocu untuk menjadi isterinya. Kini melihat datangnya semua anak buahnya yang dia percaya akan dapat menundukkan kedua anak muda itu dengan keroyokan, lalu ia memerintah,

“Tangkap pemuda itu dan lempar dia ke laut! Tetapi jangan ganggu gadis itu dan tawan dia.”

Bagaikan serombongan anjing pemburu yang terlatih dan mendengar perintah tuannya, tiga puluh enam orang pendeta Sakya Buddha itu lalu menyerbu dengan mengeluarkan seruan-seruan menyeramkan. Cin Hai dan Ang I Niocu mencabut pedang masing-masing dan melakukan perlawanan dengan gagah.

Semua pendeta itu adalah orang-orang pilihan yang sengaja dibawa oleh Vayami untuk melakukan tugas pekerjaan penting, maka mereka ini rata-rata memiliki kepandaian yang tidak rendah, bahkan ilmu silat mereka yang bercorak ragam itu membuat Ang I Niocu dan Cin Hai menjadi bingung juga.

Akan tetapi kedua orang muda ini memiliki ilmu kepandaian sempurna, terutama Cin Hai. Maka, baru beberapa jurus saja mereka bertempur, dua orang pengeroyok sudah dapat dirobohkan.

Meski pun demikian, kesetiaan anak buah Pangeran Vayami terhadap pangeran itu besar sekali. Mereka tidak mundur, malah makin mendesak maju. Jangankan baru menghadapi dua orang anak muda yang lihai, biar pun harus menyerbu ke lautan api, mereka takkan segan-segan buat mentaatinya asal perintah itu keluar dari mulut Pangeran Vayami, oleh karena mereka menaruh kepercayaan penuh bahwa kesetiaan mereka ini akan diganjar hadiah Sorga ke tujuh oleh pemimpin agama itu.

Cin Hai dan Ang I Niocu menjadi serba salah. Untuk membinasakan semua pengeroyok ini bukanlah hal yang terlalu sulit bagi mereka berdua, akan tetapi hati mereka tidak tega untuk membunuh sekian banyak orang yang hanya menjalankan perintah. Dan keduanya masih merasa gelisah memikirkan nasib Lin Lin yang berada di pulau itu!

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan hebat dan tahu-tahu tiga bayangan orang meloncat ke atas perahu dan langsung mengamuk dengan hebatnya disertai suara tertawa menyeramkan! Pada saat Cin Hai memandang, ternyata bahwa yang naik adalah Hek Mo-ko, Pek Mo-ko, dan Kwee An! Ia merasa girang sekali akan tetapi berbareng juga terkejut dan heran oleh karena bagaimana pemuda itu dapat datang bersama kedua iblis ini?

Ketika melihat Pek Hek Mo-ko dan Kwee An mengamuk dan membabat semua pendeta Sakya Buddha, Cin Hai lalu melompat ke pinggir perahu dengan maksud hendak segera menyusul Lin Lin.....

Akan tetapi, ketika ia memandang, ia menjadi terkejut sekali oleh karena dalam kekalutan itu, Ang I Niocu sudah mendahuluinya dan telah melempar perahu kecil yang tadi berada di atas perahu kemudian mendayungnya sekuat tenaga menuju ke pulau yang bukitnya bersinar-sinar itu!

“Niocu, tunggu!” teriak Cin Hai.

Akan tetapi Ang I Niocu melambaikan tangan padanya sambil menjawab, “Jangan, Hai-ji. Biar aku saja yang menyusul, jangan kita berdua terancam bahaya bersama. Kau tunggu saja, aku pasti akan membawa Lin Lin kepadamu!” Setelah berkata demikian Ang I Niocu mendayung makin cepat!

Cin Hai bingung sekali dan ia cepat melihat ke bawah oleh karena teringat bahwa semua pendeta Sakya Buddha tadi datang dengan perahu-perahu kecil. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kini tak sebuah pun perahu kecil nampak di situ, dan perahu-perahu ini sudah dipukul hancur dan tenggelam oleh Hek Pek Mo-ko dan Kwee An ketika ketiganya datang dan melompat ke atas!

Dalam kebingungannya, dan karena keadaan di situ makin gelap sehingga sukar mencari perahu kecil yang dapat membawanya ke Pulau Kim-san-to, Cin Hai lalu berlaku nekad dan mengayun dirinya ke laut! Ia mengambil keputusan bendak berenang ke arah pulau yang tak seberapa jauh itu! Ia tidak rela kalau sampai Ang I Niocu berkorban seorang diri dalam usaha menolong Lin Lin, sedangkan dia sendiri harus enak-enak menunggu!

Sementara itu, di dalam kegembiraan mereka mengamuk serta membasmi para pendeta Sakya Buddha itu, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko tidak mempedulikan lagi hal-hal lain dan sama sekali tidak melihat Cin Hai dan Ang I Niocu. Sedangkan Kwee An yang melihat mereka, tak mengerti maksud mereka itu dan ia pun sedang dikeroyok oleh banyak lawan sehingga tidak mendapat kesempatan bertanya lagi.

Amukan Hek Mo-ko serta Pek Mo-ko hebat sekali, bagaikan sepasang naga yang haus darah. Terutama sekali Pek Mo-ko yang masih menderita duka akibat kematian puterinya, kini mengamuk dan merupakan seorang iblis tulen! Baik Hek Mo-ko mau pun Pek Mo-ko tak memiliki alasan untuk memusuhi pendeta-pendeta baju merah ini. Mereka bertempur hanya atas permintaan Kwee An yang melihat Cin Hai dan Ang I Niocu dikeroyok!

Kedua iblis ini memang suka sekali bertempur, dan asalkan mereka bisa bertempur serta membunuh banyak orang, tidak peduli lagi apa alasannya, mereka sudah cukup merasa senang dan puas! Inilah sifat aneh yang membuat kedua orang ini disebut Iblis Putih dan Iblis Hitam!

Sedangkan Kwee An yang juga tak mengerti sebab-sebab pertempuran, hanya bertindak untuk menolong kedua orang kawannya itu. Kini melihat kedua orang itu lari ke laut, dia menjadi menyesal akan tetapi tidak berdaya untuk mencegah kedua iblis itu mengamuk dan melakukan pembunuhan besar-besaran.

Tak lama kemudian, habislah ketiga puluh enam orang pendeta Sakya Buddha ini berikut Pangeran Vayami terbunuh mati semua oleh Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko! Sambil tertawa bergelak-gelak kedua iblis ini lalu menendangi mayat-mayat itu ke dalam laut.

Pangeran Vayami yang bernasib malang itu sampai tidak mengetahui bagaimana hasil dari perintahnya kepada anak buahnya untuk mencari emas itu! Kalau saja ia tahu bahwa anak buahnya tidak mendapatkan emas sepotong pun, jika dia masih hidup pun tentu dia akan jatuh binasa karena kecewa dan menyesal!

Anak buahnya ternyata tak berhasil mendapatkan sedikit pun emas di pulau itu, biar pun sudah berhari-hari mereka mencari-cari, karena di pulau itu tidak terdapat emas sepotong kecil pun! Akan tetapi, mereka mentaati perintah Pangeran Vayami dan ketika melihat peperangan hebat yang terjadi antara barisan Turki melawan barisan dari kaisar, mereka lalu membakar minyak yang memenuhi danau kecil di atas bukit itu! Danau itu kini mulai terbakar dan bernyala-nyala hebat, akan tetapi hal ini masih belum diketahui oleh kedua fihak yang mabok perang…..

********************

Cin Hai mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk dapat berenang secepat mungkin, akan tetapi di dalam air dia tidak seleluasa seperti di darat di mana dia boleh mempergunakan ginkang-nya untuk bergerak cepat. Tidak saja kepandaian renangnya memang kurang sempurna, akan tetapi air laut itu berombak dan dia tidak kuat melawan ombak air sehingga tubuhnya hanya maju perlahan saja dan sebentar juga perahu yang dinaiki Ang I Niocu telah jauh meninggalkannya.

Keadaan di atas permukaan laut itu lebih gelap lagi. Satu-satunya petunjuk jalan bagi Cin Hai adalah cahaya terang yang memancar keluar dari Bukit Kim-san-to itu.

Ia masih bergulat dengan ombak laut ketika Ang I Niocu sudah lama mendarat dan gadis ini tanpa mempedulikan mereka yang berperang mati-matian, segera berlari naik ke atas bukit untuk mencari Lin Lin. Ketika dia naik semakin tinggi, sungguh luar biasa, karena cahaya terang itu semakin menghilang dan keadaan di atas bukit sunyi sekali! Bahkan di atas bukit itu tidak terlihat pohon sama sekali.

Ang I Niocu berseru keras memanggil, “Lin Lin…!”

Suaranya yang dikerahkan dengan tenaga khikang ini terdengar bergema nyaring sekali, bahkan terdengar lapat-lapat oleh Cin Hai yang masih berenang di laut!

“Niocu...!” Cin Hai berseru memanggil karena ia mengenal suara Ang I Niocu.

Hatinya bingung dan cemas sekali. Akan tetapi, biar pun ia mengerahkan khikang-nya, di dalam air itu suaranya tak terdengar jelas dan menjadi kacau oleh bunyi riak ombak yang menggelora.

“Lin Lin...!” terdengar lagi teriakan Ang I Niocu dan suara ini membangunkan semangat Cin Hai yang lalu mengerahkan tenaganya sehingga ia dapat maju lebih cepat.

Ang I Niocu terus berlari ke atas sambil memanggil nama Lin Lin. Ia telah berjanji kepada Cin Hai untuk menemukan gadis kekasih pemuda itu, maka ia bertekad tak akan kembali sebelum mendapatkan Lin Lin.

Ketika Ang I Niocu tiba di sebuah puncak yang tinggi, tiba-tiba ia memandang ke bawah. Kedua matanya langsung terbelalak dan dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi matanya oleh karena tiba-tiba matanya menjadi silau.

Di bawah, tidak jauh dari situ dia melihat pemandangan yang dahsyat dan menggetarkan sanubarinya. Di bawah puncak itu ia melihat api sedang berkobar-kobar besar sekali dan bernyala-nyala seolah-olah neraka sendiri yang terbuka di hadapan kakinya! Inilah danau penuh minyak tanah yang dibakar oleh kaki tangan Pangeran Vayami!

Dengan hati penuh kengerian dan cemas, Ang I Niocu berteriak lagi, “Lin Lin…! Lin Lin…! Di mana kau…??”

Akan tetapi suara teriakannya yang amat keras ini seakan-akan hanya menambah besar berkobarnya api yang membakar seluruh danau itu! Ang I Niocu dengan mata terbelalak memandang ke arah api dan tiba-tiba ia melihat seolah-olah bayangan Pangeran Vayami berdiri di tengah-tengah api sambil tersenyum-senyum serta melambai-lambaikan tangan kepadanya!

Ang I Niocu menggigil dengan penuh kengerian dan mukanya penuh keringat. Dia cepat menggosok-gosok kedua matanya, akan tetapi bayangan Pangeran Vayami makin jelas saja. Sambil berseru ngeri dan takut, Ang I Niocu lalu berlarian ke sana ke mari sambil memekik-mekik memanggil nama Lin Lin,

“Lin Lin...! Lin Lin...! Keluarlah, Lin Lin. Hai-ji menunggu kau...!”

Namun, sampai serak suaranya memanggil-manggil dengan kerasnya sambil berlari-lari menubruk sana menubruk sini, akan tetapi yang dipanggilnya tidak juga menjawab atau muncul.

Nyala api di danau yang membesar dan membubung tinggi itu terlihat juga oleh Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin. Maka Hai Kong Hosiang segera menyerang semakin keras kepada Balutin sambil berteriak minta supaya supek-nya membantu.

Kiam Ki Sianjin lalu melompat maju dan menyerang Balutin dengan kebutan ujung lengan bajunya yang lebar. Balutin terkejut sekali oleh karena merasa betapa angin sambaran ujung baju itu keras dan luar biasa! Dia mencoba berkelit, akan tetapi serangan susulan dari Kiam Ki Sianjin membuatnya terhuyung-huyung ke belakang, dan pada saat itu pula tongkat ular Hai Kong Hosiang tepat menusuk jalan darah yang ada di lehernya. Sambil mengeluarkan teriakan keras, Balutin roboh dan tewas!

Kiam Ki Sianjin lalu mengempit tubuh Hai Kong Hosiang dan dengan lari cepat bagaikan terbang, kakek gagu ini cepat meninggalkan tempat pertempuran menuju ke pantai dan keduanya lalu melarikan diri di atas sebuah perahu!

Cin Hai juga melihat membubungnya api yang menjilat-jilat langit dan seolah-olah hendak membakar awan-awan di atas itu. Dia semakin bingung dan gelisah, lalu berteriak-teriak sambil berenang cepat-cepat.

“Niocu...! Lin Lin...!” Akan tetapi lagi-lagi suaranya tenggelam ditelan suara ombak yang menderu.

Pada waktu itu, terdengar ledakan yang kerasnya sampai menggetarkan tubuh Cin Hai yang sedang berenang di air! Pemuda ini melihat betapa api yang berkobar di atas bukit itu mendadak saja pecah dan pulau itu dalam sekejap mata menjadi terang oleh karena sudah terbakar menjadi lautan api! Tepat sebagaimana ramalan Pangeran Vayami, pulau itu berubah menjadi neraka!

Cin Hai membelalakkan matanya dan pada saat setelah suara menggelegar itu lenyap, ia masih mendengar suara Ang I Niocu lapat-lapat.

“Lin Lin... Lin Lin... Hai-ji...!”

Cin Hai merasa seakan-akan jantungnya berhenti berdetik dan tenggorokannya seakan-akan tercekik oleh sesuatu! Sebagai akibat dari pada letusan dahsyat itu, tiba-tiba ombak besar datang menggulung dirinya dan tubuhnya terlempar ke atas, lalu diterima lagi oleh ombak dan dibawa hanyut jauh kembali ke tempat semula!

Cin Hai mencoba berseru lagi. “Niocu... Lin Lin...!”

Akan tetapi suaranya tak dapat keluar dari kerongkongannya. Ia merasa betapa tubuhnya menjadi lemas dan tidak kuat berenang pula! Perlahan-lahan tubuhnya tenggelam, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara bisikan.

“Hai-ji... kuatkanlah hatimu... Lin Lin menanti-nantimu...”

Cin Hai terkejut. Inilah suara Ang I Niocu! Cepat ia mengerahkan tenaga dan dapat timbul lagi ke permukaan air. Dia memandang ke sana ke mari mencari-cari, akan tetapi yang nampak hanya ombak dengan kepala ombak keputih-putihan yang menyambar kembali hingga ia terombang-ambing dan menjadi permainan ombak. Kembali tubuhnya menjadi lemas dan ketika dia sudah merasa putus asa tiba-tiba dia melihat bayangan wajah Ang I Niocu di dalam air dan bibir bayangan gadis itu bergerak-gerak dalam bisikan,

“Hai-ji... kuatkanlah hatimu... kuatkanlah, aku mencari Lin Lin untukmu...”

Dengan tenaga terakhir Cin Hai berenang lagi dan tiba-tiba tangannya menyentuh benda keras yang ternyata adalah sebuah perahu kecil yang terbalik. Dia segera mengangkat perahu itu dan membalikkannya, ternyata itu adalah perahunya yang siang tadi dia naiki bersama Ang I Niocu dan yang sudah dilarikan oleh Si Hwesio dan Si Tosu, Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu!

Agaknya perahu itu terpukul ombak lantas terguling, dan entah bagaimana nasib kedua pendeta itu! Dengan sekuat tenaga Cin Hai mengangkat tubuhnya ke dalam perahu dan akhirnya jatuh pingsan di dalam perahu kecil yang masih terombang-ambing oleh ombak besar itu.

Ternyata bahwa oleh karena pulau itu mengandung minyak yang terbakar dan meletus, maka minyak yang telah menjadi api itu lalu membakar seluruh pulau, bahkan kini minyak yang bernyala-nyala terbawa oleh air sampai di mana-mana hingga seakan-akan laut itu telah terbakar! Daya tekan letusan hebat itu telah menimbulkan gelombang hebat yang susul menyusul dengan dahsyatnya.

Seluruh benda, berjiwa mau pun tidak, yang berada di atas pulau itu binasa dan terbakar habis. Jangankan makhluk tanpa sayap yang tak dapat melarikan diri, sedangkan burung-burung yang berada di atas pohon pun tak dapat menghindarkan diri dari bencana sebab sebelum mereka terbang cukup tinggi, sudah terpukul oleh letusan itu dan runtuh ke atas tanah untuk menjadi korban api yang mengamuk hebat.

Perahu kecil yang ditumpangi Cin Hai terdampar ombak hingga kembali ke pantai daratan Tiongkok. Ketika Cin Hai siuman dari pingsannya, dia merasa kepalanya masih pening. Pemuda itu bangkit perlahan dan ternyata dia sudah berada di dalam perahu kecil itu semalam penuh karena waktu itu telah menjelang pagi! Karena melihat bahwa dia berada dekat dengan pantai, maka Cin Hai lalu melompat turun ke air yang dangkal dan berlari cepat ke pantai.

Tiba-tiba ia mendengar suara luar biasa, teriakan yang dibarengi suara senjata beradu! Ia cepat berlari menuju ke arah suara itu dan menjadi kaget berbareng girang ketika melihat bahwa di sebelah kiri, yakni dekat pantai di mana air laut masih bergelombang memukul batu-batu karang, di situ terdapat dua orang yang sedang bertempur hebat!

Ketika dia sudah datang mendekat, maka yang bertempur itu adalah Hek Mo-ko melawan Pek Mo-ko. Inilah yang membuat dia kaget dan heran, sedangkan yang membuat hatinya memukul girang adalah ketika ia melihat bahwa di dekat tempat pertempuran itu, empat orang sedang berdiri sebagai penonton, yaitu bukan lain Kwee An, Biauw Suthai, Pek I Toanio dan Si Nelayan Cengeng!

Hati Cin Hai berdebar girang sekali karena melihat hadirnya Si Nelayan Cengeng di sana, karena bukankah Lin Lin bersama-sama dengan nelayan tua itu? Akan tetapi hatinya kecut dan cemas kembali, karena ia tidak melihat Lin Lin dan Ma Hoa berada di situ!

Cin Hai lalu berlari cepat menghampiri mereka dan tanpa mempedulikan orang lain mau pun yang sedang bertempur, dia lalu menghampiri Kong Hwat Tojin Si Nelayan Cengeng dan terus menjatuhkan diri berlutut sambil bertanya dengan suara tak sabar,

“Locianpwe, di mana adanya Lin Lin?”

Kedatangan pemuda ini sama sekali di luar dugaan Nelayan Cengeng dan yang lain-lain, maka mereka berempat lalu mengurung pemuda ini, hanya Pek Mo-ko dan Hek Mo-ko yang tidak ambil peduli dan terus bertempur dengan hebat dan mati-matian!

“Locianpwe, bagaimana dengan Lin Lin?” Cin Hai bertanya lagi dengan muka pucat dan tubuh menggigil karena terdorong oleh gelora hatinya yang penuh kecemasan.

“Ah, Cin Hai... engkau selamatkah...?” tanya Si Nelayan Cengeng dengan terharu sekali. Kemudian, ketika melihat keadaan pemuda itu yang sangat mengkhawatirkan, dia segera menyambung. “Lin Lin dan Ma Moa selamat, mereka berdua pergi dengan Yousuf!”

Mendengar betapa Lin Lin sudah selamat, tiba-tiba saja Cin Hai menangis tersedu-sedu, menggunakan kedua tangan menutupi mukanya dan setelah menjerit perlahan, “Lin Lin... ahh, Niocu...!” lalu pemuda itu jatuh pingsan lagi!

Semua orang sibuk sekali, terutama Kwee An yang terus memeluk tubuh kawannya itu dan memijat-mijat belakang kepala Cin Hai hingga tak lama kemudian pemuda ini sadar kembali dalam pelukan Kwee An. Melihat Kwee An, Cin Hai lalu membalas memeluk dan pemuda ini menangis lagi.

Seribu satu macam hal sudah berada di ujung lidah mereka hendak diceritakan atau pun ditanyakan kepada Cin Hai, akan tetapi kini mereka terganggu oleh pertempuran hebat di dekat mereka. Malah Cin Hai juga tak sempat menceritakan pengalamannya, dan sambil memandang ke arah dua iblis yang sedang bertempur itu, dia tak tahan pula untuk tidak menyatakan keheranannya dan bertanya kepada Kwee An,

“Mengapa mereka saling hantam sendiri?”

Dengan muka sedih Kwee An berkata kepadanya tanpa menjawab pertanyaan itu, “Cin Hai, hanya kau yang dapat menolong. Gunakanlah kepandaianmu dan cegahlah mereka saling membunuh.”

Cin Hai tidak mengerti akan maksud Kwee An, oleh karena ia tidak tahu hubungan Kwee An dengan Hek Mo-ko. Akan tetapi oleh karena dia percaya penuh kepada Kwee An, dia lalu bangkit berdiri dan mengumpulkan seluruh tenaganya yang telah lemas.

Akan tetapi ia terlambat. Pada saat itu, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko yang bertempur sambil menggunakan pedang mereka yang luar biasa, sudah menggunakan serangan-serangan nekad dan pada suatu saat, keduanya menjerit ngeri dan terhuyung-huyung ke belakang.

Pek Mo-ko terus roboh binasa dengan dada terluka oleh pedang Hek Mo-ko, sedangkan Iblis Hitam ini sendiri telah kena pukulan tangan kiri Pek Mo-ko yang tepat menghantam dadanya sehingga Pek Mo-ko mendapat luka dalam yang sangat hebat dan jantungnya terguncang.

Setelah melihat Pek Mo-ko roboh tak bernyawa, Hek Mo-ko yang masih dapat bergerak lalu merangkak menghampiri adik seperguruannya ini dan setelah tertawa bergelak-gelak ia lalu memeluk mayat Pek Mo-ko sambil menangis sedih sekali. Kemudian ia muntahkan darah dari mulutnya dan roboh pingsan di dekat mayat Pek Mo-ko.

Mengapa kedua iblis yang biasanya sehidup semati dan saling membela ini tiba-tiba bisa bertempur mati-matian dan saling membunuh di pantai itu, ditonton oleh Kwee An, Biauw Suthai, Pek I Toanio dan Si Nelayan Cengeng? Baiklah kita melihat keadaan di tempat itu sebelum Cin Hai terdampar ke pantai.

Setelah Kwee An serta kedua iblis itu mengamuk lalu membasmi Pangeran Vayami dan seluruh anak buahnya, mereka bertiga kemudian mengajukan perahu itu ke arah Pulau Kim-san-to. Akan tetapi di pulau itu, mereka melihat api berkobar hebat sehingga menjadi takut dan memutar arah perahu.

Tiba-tiba terjadi letusan hebat itu hingga perahu mereka yang besar menjadi permainan gelombang air laut dan terbawa ke pantai daratan Tiongkok kembali. Dengan pucat dan ketakutan ketiganya cepat melompat ke darat sambil memandang ke arah Pulau Emas yang menjadi neraka itu. Mereka bergidik, bahkan Hek Pek Mo-ko dua iblis yang berhati kejam dan tidak kenal takut, kini sesudah melihat pemandangan mengerikan itu, menjadi pucat dan merasa ngeri juga.

Terutama sekali Kwee An, oleh karena pemuda ini teringat akan Cin Hai dan Ang I Niocu yang telah disaksikan dengan kedua mata sendiri bahwa kedua orang itu tadi menuju ke Pulau Emas. Bagaimanakah nasib mereka?

Tanpa terasa pula Kwee An mengalirkan air mata karena ia tidak ragu-ragu lagi bahwa jiwa kedua orang itu pasti sukar ditolong dalam keadaan seperti itu. Siapakah orangnya yang kuasa menolong mereka yang berada di dekat neraka dan lautan api itu?

Menjelang fajar tiba-tiba ada sesosok bayangan orang melompat dari air ke dekat mereka dan ternyata bahwa bayangan orang ini adalah Si Nelayan Cengeng! Tepat pada saat itu, dari jurusan darat datang berlari dua orang yang gerakannya cepat sekali dan ketika telah dekat, kedua orang itu bukan lain adalah Biauw Suthai dan Pek I Toanio! Kwee An yang mengenal ketiga orang yang baru muncul pada waktu yang bersamaan ini segera berlari menghampiri dan berteriak memanggil.

Akan tetapi, Pek Mo-ko yang masih haus darah dan agaknya masih belum puas dengan pembunuhan-pembunuhan hebat yang dia lakukan bersama Hek Mo-ko di atas perahu Pangeran Vayami, sudah mendahului Kwee An dan tanpa bertanya apa-apa lagi dia lalu menyerang Si Nelayan Cengeng yang berada terdekat.

Nelayan Cengeng terkejut sekali ketika melihat dirinya diserang hebat oleh seorang tinggi besar yang berjubah putih! Akan tetapi Nelayan Cengeng bukanlah orang lemah, maka dengan mudah ia lalu berkelit dan balas menyerang sambil berseru,

“Ehh, iblis dari mana datang-datang menyerang orang? Apakah tiba-tiba kau kemasukan setan Pulau Kim-san-to?”

Akan tetapi, ketika melihat bahwa kakek yang muncul dari dalam air itu dengan mudah dapat mengelak dari seranganya, Pek Mo-ko menjadi marah sekali dan menyerang lebih hebat lagi.

“Pek-susiok, jangan menyerang dia! Dia adalah Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng!” Akan tetapi, Pek Mo-ko tidak mau pedulikan teriakan Kwee An bahkan menyerang makin hebat lagi.

Sementara itu, Biauw Suthai yang mendengar nama dua orang yang sedang bertempur itu disebut oleh Kwee An, tidak ragu lagi untuk memilih pihak. Dia sudah lama mendengar nama Nelayan Cengeng sebagai seorang tokoh persilatan golongan pendekar berbudi, sedangkan nama Pek Mo-ko sudah terkenal sebagai iblis jahat yang kejam. Maka, ketika melihat bahwa lambat laun Si Nelayan Cengeng terdesak hebat, Biauw Suthai segera melompat maju sambil mencabut keluar hudtim-nya dan berseru,

“Pek Mo-ko, jangan kau mengganggu orang di depanku!”

Pek Mo-ko tertawa pada saat melihat tokouw ini, oleh karena ia dapat mengenal wanita pendeta yang bermata satu dan beroman buruk ini.

“Biauw Suthai, kebetulan sekali aku sedang gembira! Marilah kau maju sekalian untuk menerima binasa!” Sambil berkata begini Pek Mo-ko lantas mencabut keluar pedangnya yang luar biasa itu dan menyerang dengan penuh semangat.

Biauw Suthai cepat menangkis dan Si Nelayan Cengeng yang mendengar nama Biauw Suthai, lalu berkata,

“Suthai, jangan kuatir, aku membantumu membasmi iblis ini,”

Lalu kakek nelayan yang gagah ini maju pula dengan tangan kosong melawan pedang Pek Mo-ko. Dia mengeluarkan pukulan-pukulan keras dan lihai dan meski pun bertangan kosong, namun kakek yang lihai ini tidak kurang berbahayanya.

Dikeroyok dua, Pek Mo-ko menjadi sibuk juga dan terdesak. Pengeroyoknya bukanlah orang-orang biasa dan adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi, maka tidak heran apa bila Pek Mo-ko kehilangan kegarangannya menghadapi mereka ini.

Akan tetapi, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan tahu-tahu Hek Mo-ko sudah masuk menyerbu ke tengah pertempuran, membantu Pek Mo-ko. Ilmu silat dua iblis ini memang merupakan kepandaian pasangan sehingga apa bila kedua iblis ini telah maju berbareng, maka kelihaian mereka menjadi berlipat-ganda. Sebentar saja Biauw Suthai dan Nelayan Cengeng terdesak hebat oleh kedua pedang Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko yang luar biasa.

Ketika melihat gurunya berada dalam bahaya, Pek I Toanio tidak mau tinggal dan maju membantu. Namun apa artinya bantuan Pek I Toanio yang tingkatnya masih kalah jauh? Tetap saja sepasang iblis itu mendesak hebat sambil tertawa-tawa.

Kwee An menjadi sibuk sekali. Berkali-kali dia berteriak mencegah Hek Pek Mo-ko, akan tetapi suaranya tak dihiraukan oleh kedua iblis yang sedang bergembira itu, seperti biasa kalau mereka berkelahi dan dapat mendesak serta mempermainkan lawan! Kwee An tak dapat membiarkan dua iblis itu membunuh tiga orang ini, maka terpaksa ia lalu mencabut pedang dan ikut menyerbu membantu Biauw Suthai dan kawan-kawannya.

Pertempuran berjalan makin hebat. Akan tetapi ketika Hek Mo-ko melihat ‘anaknya’ maju membantu lawan, dia pun menjadi ragu-ragu dan tiba-tiba berteriak,

“Tahan dan mundur semua!” Suaranya menggeledek dan berpengaruh sekali sehingga semua orang menahan senjata masing-masing.

“Siauw-mo (Setan Cilik), mengapa kau membantu musuh?” Hek Mo-ko bertanya sambil memandang Kwee An dengan heran tapi suaranya penuh nada mencinta.

“Maaf, Ayah. Mereka ini adalah kawan-kawan baikku, bahkan Kong Hwat Locianpwe ini masih dapat pula disebut guruku sendiri. Ayah dan Pek-susiok tidak boleh membinasakan mereka!” kata Kwee An dengan gagah sambil menentang pandang mata ayah angkatnya.

Hek Mo-ko menghela napas kemudian berkata perlahan, “Kalau begitu biarlah aku tidak menyerang mereka lagi.”

Akan tetapi Pek Mo-ko tiba-tiba menjadi beringas dan marah sekali. Ia menuding dengan pedangnya ke arah Kwee An dan membentak. “Anjing tak kenal budi! Beginikah cara kau membalas kami? Bagaimana pun, hari ini aku harus mencium bau darah orang-orang ini!”

Sesudah berkata demikian, Pek Mo-ko maju menyerang lagi dengan hebat. Akan tetapi pedang Kwee An segera menangkis pedangnya dan anak muda ini berseru, '“Pek-susiok! Kebaikan mereka lebih dari pada kekejamanmu! Kalau kau tetap berkeras, terpaksa aku memberanikan diri melawanmu!”

Pek Mo-ko makin marah. “Bagus sekali! Aku akan membunuh kau lebih dahulu!”

Ia lalu mengirim serangan hebat dan ketika Kwee An menangkis, pemuda ini terkejut oleh karena tenaga Pek Mo-ko benar-benar hebat hingga tangkisan itu membuat ia terhuyung-huyung belakang. Pek Mo-ko memburu dan mengirim serangan hebat sehingga terpaksa Kwee An membuang diri ke belakang sambil terus bergulingan di atas tanah untuk dapat menghindarkan diri dari serangan maut.

“Ha-ha-ha! Bangsat rendah, kau hendak lari ke mana!” teriak Pek Mo-ko sambil memburu untuk memberi tusukan terakhir.

Akan tetapi pada saat itu Hek Mo-ko melompat maju dan menangkis pedang Pek Mo-ko sehingga terdengar suara keras dan kedua pedang itu mengeluarkan api! Baru sekali ini selama mereka hidup, pedang mereka ini saling beradu.

Pek Mo-ko memandang kepada Hek Mo-ko dengan mata terbelalak dan muka berubah merah, tanda bahwa dia merasa penasaran dan marah sekali, juga heran.

“Suheng, kau... kau... hendak melawan aku?” tanyanya gagap.

Hek Mo-ko memandang tajam. “Sute, kau tidak boleh turunkan tangan kepada anakku!”

“Apa? Dia bukan anakmu, dia adalah kawan musuh-musuh kita!” Pek Mo-ko membentak sambil menubruk lagi ke arah Kwee An yang telah bersiap sedia dan menangkis.

“Pek-sute! Jangan kau serang anakku!” teriak Hek Mo-ko dengan marah.

“Suheng, tinggal kau pilih. Kau akan membela aku atau membela binatang ini!” jawab Pek Mo-ko dengan melolotkan mata.

“Pikir saja sendiri olehmu! Anak dan Sute, mana lebih berat?”

Tiba-tiba Pek Mo-ko tertawa bergelak. “Anak? Ha-ha-ha, kau mabok, Suheng! Kau tidak punya anak! Ha-ha, kau tidak punya anak lagi! Anakmu telah mampus, seperti anakku!”

Kini mengertilah semua orang bahwa sebenarnya Pek Mo-ko yang kematian puterinya itu, merasa iri hati melihat Hek Mo-ko mengambil Kwee An sebagai anak angkat! Biauw Suthai, Pek I Toanio, dan Si Nelayan Cengeng memandang perdebatan ini dengan penuh perhatian dan tanpa terasa pula mereka berdiri saling mendekati, merupakan kelompok yang menonton pertentangan antara kedua iblis itu.

Mendengar ucapan adiknya itu, Hek Mo-ko menjadi marah bukan main. Karena itu ia lalu menggerak-gerakkan pedang di tangannya dan berkata tegas. “Siapa peduli ocehanmu? Pendeknya, kalau kau mengganggu Siauw Mo, kau harus dapat mengalahkan pedangku ini dulu!”

“Kau sudah bosan hidup!” Pek Mo-ko membentak dan menyerang dengan hebat.

Hek Mo-ko juga menggereng marah dan menangkis lalu balas menyerang. Demikianlah, dua saudara yang tadinya sehidup semati itu kemudian bertempur mati-matian sehingga mereka tidak menghiraukan kedatangan Cin Hai dan bahkan kemudian Pek Mo-ko mati di ujung pedang Hek Mo-ko, sedangkan Iblis Hitam ini juga terkena pukulan hebat dari Pek Mo-ko sehingga menderita luka dalam yang berbahaya dan roboh pingsan.

Melihat keadaan Hek Mo-ko, hati Kwee An yang merasa sayang karena berhutang budi, menjadi terharu sekali. Pemuda ini menubruk tubuh Hek Mo-ko dan mengangkat kepala iblis itu di pangkuannya sambil mengeluh,

“Ayah...”

Tentu saja Cin Hai dan lain-lainnya merasa heran sekali dan saling pandang dengan tak mengerti melihat kelakuan Kwee An itu!

Kwee An segera memeriksa keadaan Hek Mo-ko, lalu pemuda ini menengok pada Biauw Suthai yang pandai dalam hal pengobatan sambil berkata,

“Suthai, tolonglah kau obati dia ini!”

Biar pun hatinya meragu untuk memeriksa dan menolong Iblis Hitam yang terkenal jahat dan kejam itu, Biauw Suthai tidak menolak permintaan Kwee An. Ia lalu menghampiri dan memeriksa dada yang terpukul, akan tetapi ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata,

“Tak ada gunanya lagi. Jantungnya telah kena pukul dan terluka. Tidak ada obatnya bagi pukulan ini.” Ia lalu mengurut dan menotok dada Hek Mo-ko untuk mengurangi rasa sakit yang diderita oleh Iblis Hitam itu.

Tidak lama kemudian Hek Mo-ko membuka matanya. Ketika melihat bahwa dia berada di dalam pelukan Kwee An, dia tersenyum dan dari kedua matanya mengalir air mata!

“Bagus... bagus... kau benar-benar anakku yang kusayang, Siauw Mo! Aku... aku puas dapat mati dalam pelukan anakku...” Agaknya Hek Mo-ko telah menggunakan tenaganya yang terakhir untuk mengucapkan kata-kata ini, karena lehernya lalu tiba-tiba menjadi lemas dan dia pun menghembuskan napas terakhir.

Kwee An menahan isak tangis yang mendorong perasaannya dari dalam dada. Kemudian dengan hati sedih dan tak banyak mengeluarkan kata-kata dia lalu menggali lubang, dan dibantu oleh Cin Hai dan Si Nelayan Cengeng, mereka lalu menguburkan kedua jenazah sepasang iblis yang telah menggemparkan dunia kang-ouw untuk puluhan tahun lamanya itu.

Sesudah penguburan kedua jenazah itu selesai, barulah semua orang berkumpul untuk menuturkan riwayat serta perjalanan masing-masing. Sebelum menuturkan pengalaman dirinya, lebih dulu Cin Hai menengok ke arah Pulau Kim-san-to dengan pandangan sayu dan melihat betapa pulau itu masih tetap berkobar bagaikan api neraka mengamuk.

Dengan suara terputus-putus dan keharuan besar mempengaruhi lidahnya, dia kemudian menceritakan riwayatnya, semenjak berpisah dari Kwee An dalam pertempuran melawan Hai Kong Hosiang dulu sampai tertolong oleh Ang I Niocu dan bersama Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu mencari Pulau Emas. Ketika dia menceritakan tentang pertempuran Ang I Niocu dengan seekor burung Kim-tiauw, dia menghela napas dan berkata,

“Memang betul ramalan pendeta itu bahwa pertempuran dengan burung Rajawali Emas itu mendatangkan bencana besar. Niocu yang bertempur melawan burung itu sekarang tak ketahuan nasibnya di pulau yang berubah menjadi neraka, sedangkan kedua pendeta yang tertimpa kotoran burung itu pun agaknya telah kena bencana pula. Buktinya perahu mereka kudapatkan terbalik di lautan sedangkan mereka tidak kelihatan lagi!”

Semua orang merasa terharu dan kasihan sekali pada Ang I Niocu yang telah mencegah Cin Hai mendekati pulau untuk mencari Lin Lin, bahkan yang menggantikan pemuda itu menuju ke pulau yang berbahaya, padahal dia sudah mendengar dari Pangeran Vayami bahwa pulau itu hendak dibakar dan diledakkan!

Dara Baju Merah yang luar biasa itu ternyata sudah mengorbankan diri guna menolong dan membela Cin Hai dan Lin Lin. Sungguh perbuatan yang mulia sekali. Apa lagi bagi Cin Hai yang mengetahui apa yang terkandung dalam hati sanubari Dara Baju Merah itu terhadap dirinya.

Sesudah Cin Hai selesai menuturkan pengalamannya yang mengerikan, lalu tiba giliran Kwee An untuk menuturkan perjalanannya. Dia menceritakan betapa setelah ia terlempar ke dalam sungai lalu dirinya terbawa hanyut dan diserang oleh ratusan ekor buaya yang ganas dan kemudian jiwanya tertolong oleh Hek Mo-ko.

Kemudian ia diambil anak oleh Iblis Hitam itu dan diberi pelajaran silat, dan bersama Hek Pek Mo-ko lalu pergi mencari Pulau Emas hingga berhasil membantu Cin Hai dan Ang I Niocu yang dikeroyok di perahu Pangeran Vayami. Ia menuturkan betapa kedua iblis itu sudah membasmi seluruh anak buah Pangeran Vayami dan membinasakan pangeran itu sendiri dan betapa perahunya terdampar oleh gelombang besar ke pantai.

Setelah ia menuturkan semua pengalamannya, maka mengertilah semua orang mengapa Kwee An yang telah diakui sebagai anak dan diberi nama Siauw Mo atau Iblis Kecil oleh Pek Mo-ko itu begitu sayang kepada lblis Hitam ini. Dan hal ini pun dianggap wajar oleh semua pendengarnya, oleh karena memang demikianlah semestinya sifat seorang ksatria yang biar pun kejam dan jahat, namun masih diliputi hati sayang dan cinta suci terhadap seorang anak pungut.

Biauw Suthai dan Pek I Toanio yang mendapat giliran menuturkan pengalaman mereka, tidak dapat bercerita banyak. Mereka ini oleh karena mengkhawatirkan keadaan Ang I Niocu dan Lin Lin yang diam-diam pergi meninggalkan rumah tanpa memberi tahu, lalu menyusul.

Akan tetapi, walau pun sudah merantau berapa lama, mereka tak berhasil mendapatkan jejak dua orang gadis itu. Akhirnya mereka bertemu dengan orang-orang dusun di utara yang bicara tentang penyerbuan tentara Turki ke timur hingga hal yang aneh ini menarik hati Biauw Suthai dan dia pun mengajak muridnya untuk menyusul ke timur dan melihat apakah sebenarnya yang dikerjakan oleh barisan asing itu. Akhirnya mereka dapat pula menyusul ke pantai ini dan melihat Si Nelayan Cengeng bertempur melawan Pek Mo-ko dan membantu kakek nelayan yang gagah ini.

Sekarang tiba giliran Si Nelayan Cengeng untuk menuturkan riwayatnya yang didengar dengan penuh perhatian oleh Cin Hai, Kwee An, Biauw Suthai dan muridnya. Kong Hwat Lojin menghela napas berulang-ulang, kemudian ia mulai ceritanya yang panjang…..

Sebagaimana telah diketahui di bagian depan, setelah Nelayan Cengeng memperlihatkan kemahirannya di dalam air dan berhasil mengambil perahu Yousuf yang tenggelam dari dasar sungai, dia dan Yousuf dengan bantuan Ma Hoa dan Lin Lin segera memperbaiki perahu itu dan kemudian berangkat berlayar menuju ke laut.

Di sepanjang pelayaran mereka, Yousuf dapat menggembirakan hati Nelayan Cengeng, Lin Lin dan Ma Hoa dengan bermacam-macam cerita yang didongengkannya. Ternyata bahwa orang Turki ini telah memiliki banyak sekali pengalaman hidup dan sudah banyak melakukan perantauan-perantauan ke luar negeri. Ia bercerita tentang orang-orang yang tinggi besar seperti raksasa, berambut merah dan bermata biru, sehingga Lin Lin dan Ma Hoa menjadi ngeri dan takut.

“Apakah mereka itu suka makan orang?” Ma Hoa bertanya sambil menggeser duduknya mendekati Lin Lin oleh karena ketika itu telah malam dan kegelapan malam membuat dia membayangkan hal-hal yang mengerikan pada waktu mendengar cerita Yousuf tentang orang-orang aneh itu.

Mendengar pertanyaan ini, Yousuf lalu tertawa geli. “Ahh, tidak, mereka itu juga manusia seperti kita. Bahkan, mereka itu mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan dapat membuat barang-barang yang aneh dan indah. Hanya saja, mereka itu bersikap kasar dan tidak tahu adat. Mereka tinggal di Barat.”

“Apakah yang disebut Dunia Barat?” tanya Lin Lin.

Pada waktu itu Tiongkok telah mengenal India yang di sebut dengan Dunia Barat, bahkan Agama Buddha datangnya juga dari India. Mendengar bahwa raksasa-raksasa berambut merah dan bermata biru itu berada di Barat, maka Lin Lin mengajukan pertanyaan itu.

“Bukan, mereka bahkan tinggal lebih jauh lagi dari Dunia Barat. Orang-orang di Dunia Barat memang tinggi besar akan tetapi kulit dan warna rambut mereka sama dengan kita. Mungkin banyak yang lebih hitam kulitnya kalau dibandingkan dengan kalian orang-orang Han. Akan tetapi adat istiadat mereka itu tak berbeda jauh dengan kita sendiri.”

Kemudian Yousuf menceritakan pula pengalaman-pengalamannya pada saat ia merantau jauh ke utara hingga ia menyebut-nyebut tentang bukit-bukit es yang dinginnya membuat ludah yang dikeluarkan dari mulut menjadi beku sebelum tiba di atas tanah! Pendeknya, banyak hal-hal aneh yang terjadi di luar Tiongkok yang bagi ketiga orang pendengarnya, jangan kata menyaksikan, bahkan mendengar pun belum pernah, diceritakan oleh Yousuf hingga ketiga orang itu menjadi tertarik dan senang sekali.

Juga perasaan mereka terhadap Yousuf yang peramah dan pandai membawa diri itu jadi makin berkesan baik. Setelah bergaul selama beberapa hari di atas perahu, kedua gadis itu harus mengakui bahwa Yousuf adalah seorang laki-laki yang sopan santun, pandai berkelakar dengan sopan, dan memiliki pribudi tinggi. Bahkan Nelayan Cengeng terpaksa harus melempar syakwasangka yang tadinya timbul di hatinya ketika bertemu dengan orang Turki ini.

“Dahulu kau berkata tentang Pulau Kim-san-to, maukah kau menceritakan tentang pulau itu? Kita sedang menuju ke sana, maka ada baiknya bagi kami bertiga untuk mengetahui serba cukup mengenai hal-ihwal pulau itu,” kata Nelayan Cengeng, dan Lin Lin serta Ma Hoa pun mendesak sambil mendengarkan.

Sesudah bergaul dengan ketiga orang Han ini, Yousuf juga mendapat kesan baik sekali dan ia mengagumi sepenuh hatinya sifat-sifat mereka yang gagah berani. Ia kini percaya bahwa di Tiongkok memang banyak sekali pendekar-pendekar atau orang-orang gagah yang pekerjaannya hanya menolong sesama manusia dan menjadi pelopor-pelopor serta penegak-penegak keadilan.

Terhadap Nelayan Cengeng dia merasa kagum sekali dan memandang penuh hormat seperti seorang saudara tua, sedangkan terhadap Ma Hoa dan Lin Lin, ia merasa sayang dan suka. Hatinya yang tadinya tertarik seperti tertariknya hati laki-laki terhadap seorang wanita, lambat laun berubah menjadi kasih sayang seorang tua terhadap anaknya atau seorang kakak terhadap adiknya.

Hal ini timbul dari kesadarannya yang tinggi dan tak mengijinkan hatinya untuk memaksa seorang gadis mencintainya, dan meski ia mencinta gadis itu dengan sungguh-sungguh, melihat sikap Lin Lin terhadapnya yang polos dan jujur bagai sikap seorang adik sendiri, maka nafsu-nafsu birahi yang tadinya mengotori kasih sayangnya terhadap gadis itu, kini menjadi luntur dan banyak mengurang.

Pada saat mendengar permintaan mereka untuk menceritakan perihal Pulau Kim-san-to, Yousuf merasa ragu-ragu. Akan tetapi, kemudian ia berkata,

“Cerita ini sekaligus membongkar rahasiaku dan keadaan diriku. Apakah hal ini tak akan menimbulkan kekecewaan kalian dan tidak akan membuat kalian membenciku? Sungguh tak enak kalau kita yang melakukan pelayaran seperahu dan setujuan ini akan memiliki perasaan tak suka dan benci satu kepada yang lain!”

Nelayan Cengeng tertawa. “Saudara Yo Se Fei! Kau sungguh-sungguh terlalu sungkan! Bila sekiranya hal ini tak dapat kau ceritakan kepada kami, janganlah kau ceritakan! Kami juga tidak begitu nekat untuk memaksamu, bukankah begitu, anak-anak?”

Akan tetapi Nelayan Cengeng menjadi tertegun ketika Ma Hoa dan Lin Lin dengan suara berbareng dan tegas berkata, “Ahh, Yo-sianseng (Tuan Yo) harus menceritakan tentang pulau itu kepada kita!”

Bahkan Lin Lin segera berkata lagi, “Apakah Yo-sianseng kurang percaya kepada kami sehingga masih menyimpan segala rahasia?”

Kalau Nelayan Cengeng tercengang, Yousuf tertawa terbahak-bahak dan ia lalu berkata, “Ha-ha, Kong Hwat Lojin yang masih mempunyai sikap sungkan-sungkan, bukan aku dan bukan pula kedua nona ini! Baiklah, aku akan menceritakan pengalamanku!” Kemudian setelah minum air teh yang dibuat oleh Lin Lin dan dihidangkan oleh Ma Hoa, orang Turki itu bercerita,

“Beberapa tahun yang lalu, aku dan dua orang kawanku berlayar di laut ini. Pada suatu malam, ketika kami melalui banyak pulau di pantai laut ini, tiba-tiba kami dikejutkan oleh pemandangan yang dahsyat dan aneh, dan yang sebentar lagi juga akan dapat kalian saksikan. Sebuah pulau di depan kami, yakni pulau yang disebut Pulau Gunung Emas, nampak bercahaya mengeluarkan sinar kuning emas yang menakjubkan. Kami bertiga merasa takut sekali karena pemandangan itu sungguh aneh sekali. Kami lalu berhenti berlayar dan malam itu kami tidak tidur, terus berdiri di perahu mengagumi keindahan pulau itu dari jauh. Pada keesokan harinya, kami mendayung perahu mendekati pulau itu kemudian mendarat. Akan tetapi, apa yang menyambut kami? Sungguh di luar dugaan! Ketika kami mendarat di pulau itu, dari belakang sebatang pohon, tiba-tiba saja keluarlah seekor harimau besar yang memiliki sebuah tanduk di tengah-tengah kepalanya! Harimau itu lari menerjang, kami terpaksa melawannya. Harus diketahui bahwa kedua kawanku itu pun memiliki kepandaian yang hanya berada sedikit di bawah kepandaianku, akan tetapi kami bertiga masih tak dapat mengalahkan harimau itu! Dan dalam saat yang berbahaya itu tiba-tiba dari atas menyambar turun seekor burung rajawali berbulu kuning emas ke arah kami kemudian menyerang dengan tidak kalah hebatnya! Kami menjadi sibuk dan terdesak hebat, bahkan seorang kawan kami sudah kena cakar harimau itu dan dipukul dengan sayap oleh Kim-tiauw hingga keadaan kami makin berbahaya! Akan tetapi, ketika kami sudah berada di pinggir jurang maut, tiba-tiba datanglah penolong yang tidak kalah anehnya. Penolong ini adalah seekor burung merak yang besar sekali dan bulunya hijau bercampur kuning keemasan yang indah sekali. Merak ini cepat menyambar turun sambil mengeluarkan bunyi nyaring dan aneh! Dan begitu melihat merak ajaib ini, Rajawali Emas dan Harimau Bertanduk itu lalu mengeluarkan keluhan panjang kemudian berlarian pergi seolah-olah dalam ketakutan hebat!”

“Merak ajaib itu lalu turun dan sambil mengembangkan semua sayap dan ekornya yang indah, ia berjalan hilir mudik seolah-olah membanggakan keunggulan dan kecantikannya. Aku merasa sangat tertarik dan timbul keinginanku hendak menangkap dan memelihara Sin-kong-ciak (Merak Sakti) itu, akan tetapi tiba-tiba dia mengibaskan sayap kirinya dan aku jatuh terpelanting! Angin kibasan sayapnya ini mempunyai tenaga yang luar biasa besarnya hingga aku mengerti mengapa Harimau Bertanduk dan Rajawali Emas itu takut menghadapinya. Ternyata merak itu bukanlah binatang sembarangan dan mempunyai kesaktian luar biasa!”

Nelayan Cengeng menjadi kagum sekali mendengar cerita tentang merak ajaib ini, maka dia lalu berkata, “Aku pernah mendengar tentang burung merak yang datang dari negeri sebelah selatan Tiongkok, dan kabarnya merak di negeri itu pun sangat cantik dan kuat, akan tetapi belum pernah aku mendengar tentang burung merak sehebat seperti yang kau ceritakan itu.”

Juga Lin Lin dan Ma Hoa merasa kagum sekali, dan Lin Lin segera mendesak supaya Yousuf suka melanjutkan penuturannya.....

“Terpaksa kami berdua membawa kawan kami yang terluka dan melarikan diri ke atas perahu. Kami tidak berani mendarat oleh karena pulau itu ternyata mempunyai penghuni yang aneh-aneh dan lihai sekali. Kami hanya mendayung perahu mengitari pulau itu dan sungguh aneh. Selain tiga ekor binatang aneh itu, kami tidak melihat apa-apa lagi. Kami lalu mendarat pada bagian lain untuk menyelidiki, dan ternyata di puncak bukit terdapat sebuah telaga yang airnya berwarna indah, kadang kala hijau, ada merahnya, lalu kuning, bagaikan warna pelangi di udara, akan tetap pada dasarnya berwarna kehitam-hitaman. Kami mempunyai keyakinan bahwa pulau itu tentulah menyimpan harta yang luar biasa, sebab itu kami lalu berputar sambil memeriksa. Untung sekali kami tidak pergi terlalu jauh dari pantai, oleh karena selagi kami berjalan, tiba-tiba saja dari atas terdengar suara yang menakutkan dan betul saja, burung Rajawali Emas yang kami takuti itu telah menyambar dari atas dan menyerang kami! Kami berdua lalu memutar-mutar pedang di atas kepala untuk melindungi kepala kami dari terkaman burung hantu itu sambil berlarian ke perahu kami. Dan dengan penuh ketakutan, kami lalu pergi dari pulau itu, dan kawan kami yang terluka itu terpaksa kami lempar ke laut oleh karena dia meninggal dunia karena lukanya. Demikianlah, kami lantas kembali ke negeri kami dan Raja kami yang mendengar tentang penuturanku, lalu memerintahkan barisan besar untuk menyelidiki keadaan pulau itu. Dan harap kalian tidak kaget, aku adalah orang yang ditugaskan untuk memimpin rombongan penyelidik atau mata-mata Pemerintah Turki.”

Ketika melihat betapa ketiga orang Han itu tidak terpengaruh oleh pengakuannya, ia lalu melanjutkan, “Aku pergi sekarang ini pun oleh karena perintah Rajaku untuk membuka jalan sebagai perintis menuju ke pulau itu.” Sambil berkata begini, ia memandang tajam kepada Nelayan Cengeng untuk melihat perubahan muka pendengarnya.

Akan tetapi Nelayan Cengeng agaknya tidak tertarik sama sekali, bahkan ia lalu berkata, “Aku ingin sekali melihat binatang-binatang aneh itu.”

Juga Lin Lin dan Ma Hoa berkata. “Alangkah senangnya kalau dapat membawa pulang burung merak sakti itu.”

Maka gembiralah hati Yousuf melihat keadaan ketiga orang itu yang sama sekali tidak mau atau tak ambil peduli tentang segala urusan negeri. Saking girang dan lega hatinya, Yousuf lalu menyanyikan sebuah lagu Turki yang didengar oleh kawan-kawannya dengan penuh perhatian, kagum dan geli, oleh karena biar pun mereka harus mengakui bahwa Yousuf memiliki suara yang empuk dan merdu, namun lagu yang dinyanyikannya terasa asing bagi telinga mereka sehingga terdengar sumbang dan lucu.

Pada saat Yousuf selesai bernyanyi, hari telah menjadi gelap dan mereka telah sampai di dekat Pulau Kim-san-to. Tiba-tiba Yousuf menunjuk ke depan dan berkata, “Nah, kalian lihatlah baik-baik, bukanlah Kim-san-to benar-benar pulau yang menakjubkan?”

Nelayan Cengeng, Lin Lin dan Ma Hoa menengok dan ketiganya menahan napas dengan mata terbelalak pada saat melihat pemandangan ajaib yang terbentang di hadapan mata mereka. Mereka telah melihat Kim-san-to di waktu malam, melihat bukit yang mencorong dan berkilauan seakan-akan bukit itu terbuat dari pada emas murni.

“Mungkinkah ini?” Nelayan Cengeng menggerakkan bibirnya.

“Apakah aku sedang bermimpi?” bisik Lin Lin sambil mengucek-ngucek kedua matanya seakan-akan tidak percaya kepada matanya sendiri. Ma Hoa juga terpesona hingga gadis ini berdiri diam bagaikan patung batu.

“Hebat bukan? Aku sendiri pada waktu melihat untuk pertama kalinya, telah berlutut dan menyebut nama Dewata, karena menyangka bahwa aku telah melihat Surga diturunkan di atas tempat ini. Tempat seperti itu, pantasnya menjadi kediaman para Dewata, bukan?” terdengar Yousuf berkata hingga ketiga orang itu tersadar dan menghela napas.

“Betul-betul hebat, Saudara Yousuf. Terus terang saja, tadinya aku masih ragu-ragu dan timbul persangkaanku bahwa kau berbohong atau melebih-lebihkan ceritamu. Akan tetapi melihat pemandangan ini aku menjadi percaya penuh kepadamu, juga tentang penghuni pulau yang aneh-aneh itu,” kata Nelayan Cengeng.

“Mari kita ke sana sekarang juga!” kata Ma Hoa dengan gembira.

Lin Lin juga mendesak supaya mereka segera pergi ke pulau indah dan ajaib itu. Akan tetapi Yousuf menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata,

“Jangan pergi sekarang. Aku belum tahu benar, apakah selain ketiga binatang sakti itu tidak ada makhluk lain yang berbahaya di pulau itu. Mendarat malam-malam adalah hal yang sembrono dan berbahaya sekali. Lebih baik kita menanti di perahu sampai besok pagi, barulah kita mendarat dengan hati-hati.”

Nelayan Cengeng yang dapat memaklumi hal ini dan dapat berpikir lebih luas, menyetujui ucapan ini sehingga terpaksa Lin Lin dan Ma Hoa yang sudah tidak sabar menanti itu menekan perasaan mereka dan semalam suntuk mereka tidak mau tidur, hanya duduk di atas perahu sambil menikmati pemandangan indah itu dan mengaguminya.

Melihat pemandangan indah sekali itu, Lin Lin dan Ma Hoa yang duduk berdua saja, lalu teringat kepada kekasih masing-masing. Dan mendadak wajah mereka menjadi berduka. Ma Hoa tahu akan perubahan pada muka Lin Lin, maka dia bertanya perlahan,

“Lin Lin mengapa tiba-tiba kau menghela napas dan seperti orang berduka?”

Lin Lin tiba-tiba menjadi merah mukanya dan dengan perlahan sambil memegang tangan Ma Hoa, ia bertanya, “Enci Hoa, apakah kau tidak teringat pada kakakku Kwee An?”

Ma Hoa memegang tangan Lin Lin erat-erat sambil bermerah muka, lalu berkata, “Jadi itukah yang mengganggu pikiranmu? Kita harus meneguhkan hati dan bersabar, Adikku. Aku yakin bahwa Saudara Cin Hai dan... dia akan selamat oleh karena mereka berdua memiliki kepandaian yang tinggi.”

Lin Lin maklum bahwa keadaan hati serta pikiran Ma Hoa pada saat itu sama dengan keadaan hati dan pikirannya maka dia tidak mau bicara mengenai hal kedua pemuda itu terlebih lanjut. Dalam berdiam, mereka seakan-akan mendengar bisikan jantung mereka masing-masing yang membuat mereka merasa saling tertarik lebih dekat lagi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sesudah matahari naik ke puncak bukit, Yousuf baru berani mendarat di pulau yang aneh itu. Dilihat pada siang hari, pulau itu merupakan sebuah pulau kecil yang berbukit satu dan yang kelihatan biasa saja seperti pulau-pulau lainnya.

Mereka berempat lalu mendarat dan bersiap sedia dengan senjata mereka kalau-kalau ada binatang luar biasa yang datang menyerang. Akan tetapi aneh sekali, dan terutama Yousuf merasa heran karena binatang yang dulu dilihatnya tak ada seekor pun kelihatan muncul.

“Apakah selama beberapa tahun ini mereka telah mati?” katanya pada diri sendiri akan tetapi diucapkan dengan mulut.

“Mungkin juga, karena benda atau makhluk apakah di dunia ini yang tidak akan menyerah terhadap kematian?” kata Nelayan Cengeng yang membawa dayungnya yang besar dan berat dipanggul di pundak.

Mereka lalu menjelajah di pulau itu dan ternyata bahwa selain burung-burung kecil yang berkicau di atas pohon, pulau itu nampaknya tidak ada makhluk yang berbahaya. Mereka kemudian mengunjungi danau yang pernah diceritakan oleh Yousuf, dan bersama-sama mengagumi danau yang berwarna macam-macam itu.

“Agaknya ada sesuatu yang mengerikan di bawah danau ini,” Nelayan Cengeng berkata sehingga Lin Lin dan Ma Hoa lalu saling mendekat dan saling berpegangan tangan oleh karena kedua gadis ini pun merasa betapa danau ini agak berbeda dengan danau biasa, seakan-akan ada sesuatu di dasarnya yang hitam dan mengerikan!

Yousuf lalu mengajak mereka memeriksa terus keadaan pulau itu dengan pengharapan untuk mendapatkan harta atau emas yang disangkanya berada di pulau itu, akan tetapi mereka tidak mendapatkan sesuatu yang berharga.

Matahari sudah naik tinggi pada saat mereka tiba di sebuah puncak lain yang ditumbuhi banyak bunga-bunga indah.

Tiba-tiba Lin Lin berseru, “Ada goa di sini!”

Pada saat semua orang menghampiri, benar saja, tertutup oleh rumput alang-alang yang tinggi terdapat pintu goa yang cukup besar dan tinggi. Goa itu tadinya gelap oleh karena terhalang oleh alang-alang, akan tetapi segera setelah Yousuf menggunakan pedangnya untuk membabat alang-alang itu, di dalam goa menjadi terang karena kebetulan sekali goa itu menghadap ke barat dan matahari yang sudah condong ke barat itu menyinarkan cahayanya ke dalam goa.

Dengan didahului Yousuf dan Nelayan Cengeng, empat orang itu segera memasuki goa dengan perlahan dan hati-hati, dan tidak lupa mereka juga menyiapkan senjata di tangan masing-masing untuk menghadapi bahaya yang mungkin timbul. Kiranya goa itu memang cukup luas, akan tetapi dalamnya hanya kira-kira tiga tombak saja dan di dalam goa itu kosong tidak menampakkan sesuatu yang aneh.

Tiba-tiba saja Lin Lin menjerit perlahan dan melompat seakan-akan sudah diserang oleh sesuatu yang mengerikan dari bawah tanah! Semua orang terkejut dan bertanya, “Ada apakah?”

Dengan tangan menggigil Lin Lin menunjuk ke bawah, dan ternyata bahwa kaki gadis itu tadi sudah tersangkut oleh sebuah tulang tangan orang yang menonjol keluar dari tanah yang tertutup pasir itu! Tangan ini hanya kelihatan lima jarinya saja, sedangkan tulang rangka selebihnya terpendam di bawah pasir! Tentu saja melihat lima buah jari tangan yang sudah menjadi rangka itu di tempat yang mengerikan menimbulkan hati takut dan ngeri.

“Tentu ada apa-apanya di bawah ini,” berkata lagi Nelayan Cengeng dan ia segera mulai menggali pasir yang menimbun tangan rangka itu.

Setelah digali, maka tampaklah rangka manusia yang lengkap terpendam di pasir dan di sebelah rangka itu terdapat sebatang pedang yang telah habis dimakan karat dan pedang itu hanya tinggal sisanya sepanjang paling banyak satu kaki saja lagi. Sisa ini pun sudah merupakan besi berkarat dan gagangnya sudah tinggal sepotong kayu lapuk.

Sambil memegang pedang bobrok itu dan mengamat-amatinya dengan penuh perhatian, Nelayan Cengeng berkata sambil menghela napas.

“Ah, kalau saja pedang bobrok ini dapat bicara, tentu ia akan menceritakan riwayat orang ini yang tentu indah menarik sekali. Apa lagi tubuh manusia, sedangkan pedang yang aku percaya tadinya adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh, kini hanya tinggal sisanya saja yang sudah tidak berharga lagi!” Sambil berkata demikian, Nelayan Cengeng segera menaruh kembali pedang yang tinggal sepotong dan karatan itu di dekat rangka itu.

“Kita harus tanam kembali rangka ini dengan pasir,” katanya penuh kekecewaan karena tidak mendapatkan sesuatu di situ.

“Nanti dulu, Locianpwe!” tiba-tiba Lin Lin berkata. “Agaknya tidak percuma tangan rangka ini tadi menowel kakiku dan karena di sini tidak terdapat sesuatu, biarlah kusimpan sisa pedang ini sebagai kenang-kenangan kunjunganku ke pulau ini.”

Nelayan Cengeng tertawa. “Engkau ini memang aneh! Untuk apakah sisa pedang bobrok itu?”

Akan tetapi semua orang tidak melarang pada waktu Lin Lin dengan hati-hati mengambil pedang bobrok itu dan membungkusnya dengan baik-baik di dalam sapu tangannya, lalu menyelipkannya di ikat pinggang.

Setelah mengubur kembali tulang itu secara baik-baik, mereka lalu mengambil keputusan untuk bermalam di goa ini yang merupakan tempat yang baik sekali untuk berlindung dari serangan angin atau binatang buas yang mungkin menyerang di waktu malam.

Berhari-hari keempat orang itu tinggal di Pulau Kim-san-to dan setiap hari Yousuf keluar melakukan pemeriksaan dan mencari-cari harta yang disangkanya berada di pulau itu. Akan tetapi usahanya selalu gagal dan sia-sia, karena yang didapatnya di pulau itu hanya batu-batu karang yang tidak berharga. Sedangkan Nelayan Cengeng serta kedua orang gadis itu yang tidak terlalu bernafsu untuk mencari harta terpendam, maka jarang ikut dan hanya berjalan-jalan menikmati pemandangan di pulau itu.

Pada hari ke tiga, mendadak terdengar jeritan Yousuf dari dekat. Ketiga orang kawannya menjadi kaget sekali dan cepat memburu ke arah suara jeritannya. Mereka kaget melihat Yousuf sedang mencekik seekor ular yang besarnya hanya selengan tangan orang, akan tetapi wajah orang Turki itu telah menjadi pucat sekali. Lin Lin memburu dengan pedang di tangan dan sekali bacok saja tubuh ular itu telah terpotong menjadi dua.

Yousuf melepaskan leher ular yang sedang dicekiknya itu ke atas tanah. Namun semua orang menjadi kaget sekali melihat bahwa bagian yang seharusnya menjadi ekor ular itu, ternyata merupakan kepala pula dan yang telah menggigit pundak Yousuf dan kini masih menempel di situ.

Ternyata bahwa ular itu adalah seekor ular kepala dua. Ketika Yousuf sedang memeriksa dan mencari-cari sambil menyingkap rumput alang-alang, mendadak ular tadi menyambar dan hendak menggigitnya. Yousuf tidak keburu berkelit, maka dia cepat mengulur tangan menangkap leher ular yang menyambarnya itu dan langsung menggunakan kekuatannya mencekik leher ular yang tak dapat melepaskan diri lagi.

Akan tetapi, mendadak Yousuf merasa pundaknya sakit sekali dan alangkah kaget serta herannya pada waktu melihat bahwa ekor ular itu dapat menggigit pundaknya. Dia tidak menyangka bahwa ekor ular itu pun merupakan kepala kedua sehingga dia tidak sempat mengelak dan pundaknya lalu kena tergigit. Yousuf merasa tubuhnya menjadi panas dan pundaknya sakit sekali, maka tanpa terasa pula dia menjerit sehingga kawan-kawannya datang menolong.

Sesudah melepaskan kepala ular yang dicekiknya, Yousuf lantas roboh pingsan dengan muka merah sekali. Ketika Nelayan Cengeng meraba jidatnya, ternyata tubuh orang Turki itu terasa panas sekali. Kong Hwat Lojin lalu mencabut kepala ular yang masih menggigit pundak walau pun telah mati dan melemparkannya jauh-jauh, kemudian dia memondong tubuh Yousuf ke dalam goa tempat mereka bermalam.

Lin Lin yang biar pun sedikit tapi pernah mempelajari ilmu pengobatan dari gurunya yaitu Biauw Suthai, lalu memeriksa luka pada pundak Yousuf. Ia terkejut sekali melihat betapa pundak itu sudah menjadi matang biru dan maklum bahwa ular yang menggigit Yousuf itu adalah ular beracun yang berbahaya sekali.

Selagi mereka bertiga kebingungan, tiba-tiba di luar goa terdengar suara aneh. Mereka memburu keluar dan melihat seekor burung merak yang berbulu biru bercampur kuning keemas-emasan sehingga dari jauh nampak seperti hijau. Merak ini indah sekali dan juga besarnya melebihi merak biasa.

Mereka terkejut karena teringat akan cerita Yousuf tentang merak sakti yang amat lihai. Nelayan Cengeng dan Ma Hoa telah siap dengan senjata mereka untuk menyerbu, akan tetapi tiba-tiba Lin Lin berseru,

“Jangan ganggu dia! Lihat, dia membawa buah Pek-kim-ko (Buah Emas Putih). Buah inilah yang kubutuhkan pada saat ini untuk menolong jiwa Yo sian seng.”

Merak itu seakan-akan mengerti bicara Lin Lin, karena ia berhenti dan berdiri di depan Lin Lin sambil memandang ke arah gadis itu dengan kedua matanya yang merah dan indah. Lin Lin lalu melangkah maju tanpa kelihatan jeri sedikit pun, karena di dalam hatinya dia menganggap tidak mungkin seekor burung yang begini indahnya dapat mempunyai watak jahat.

Setelah dekat, Lin Lin tidak berani langsung mengambil buah itu dari mulut merak karena menganggap hal itu kurang patut dan tidak menghargai burung itu, maka dia kemudian mengulurkan tangan kanan seperti orang minta-minta. Dan benar saja, merak ajaib itu lalu mengulurkan lehernya ke depan dan menjatuhkan buah yang berwarna putih itu ke dalam telapak tangan Lin Lin. Lin Lin menerima buah itu dan ketika melihat bahwa itu adalah benar-benar buah Pek-kim-ko seperti yang ia duga, ia menjadi girang sekali dan tak terasa pula ia mengangguk kepada burung merak itu dan berkata,

“Sin-kong-ciak-ko (Saudara Merak Sakti), terima kasih banyak!”

Lalu gadis ini berlari masuk ke dalam goa, diikuti oleh Nelayan Cengeng serta Ma Hoa yang memandang terheran-heran. Lin Lin segera menghampiri Yousuf yang masih rebah di atas pembaringan tanpa dapat berkutik lagi dan mukanya makin menjadi merah serta tubuhnya panas sekali bagaikan dibakar.

Tanpa banyak membuang waktu dan banyak bicara lagi, Lin Lin cepat-cepat mencabut pedangnya dan mempergunakan ujung pedang itu untuk digoreskan ke pundak Yousuf yang telah dibuka bajunya, yaitu di bagian yang bengkak dan matang biru, bekas gigitan ular tadi. Kulit pundak dan daging di situ terbuka dengan mudah oleh ujung pedang yang tajam dan runcing itu, lalu setelah menyimpan pedangnya, Lin Lin lalu memasukkan buah Pek-kim-ko itu ke mulutnya terus dikunyah dan dimakan.

Rasa buah itu pahit sekali dan di dalamnya mengandung getah yang melekat di seluruh lidah, gigi, dan kulit di dalam mulut. Lin Lin lalu menempelkan bibirnya yang merah dan berbentuk indah itu ke arah luka bekas goresan pedang pada pundak Yousuf, lalu segera dihisapnya! Setelah menghisap, dia lalu meludahkan darah hitam yang dapat disedot dari luka itu.

Berkali-kali dia menghisap dan meludah sambil kadang-kadang berhenti untuk mengurut jalan darah di sekitar pundak yang tergigit ular itu. Dan akhirnya, habislah bisa ular yang meracuni darah Yousuf dan lenyaplah warna merah di mukanya dan warna matang biru pada pundaknya, sedangkan panasnya juga otomatis menurun.

Ternyata bahwa khasiat buah Emas Putih itu ialah untuk menjaga mulut dan tenggorokan Lin Lin, agar jangan sampai terpengaruh bisa yang jahat itu. Tanpa buah Pek-kim-ko, Lin Lin tidak akan berani melakukan penghisapan racun dengan mulutnya itu, karena hal ini berbahaya sekali dan dapat menewaskannya.

Setelah jiwa Yousuf tertolong dari ancaman racun ular, Lin Lin lalu keluar dari goa untuk mencari air dan mencuci mulutnya sampai bersih. Nelayan Cengeng dan Ma Hoa saling pandang. Rasa haru yang mendalam terasa oleh hati kedua orang ini melihat ketinggian budi Lin Lin. Mereka memuji kemuliaan hati gadis itu.

Ketika Lin Lin sedang mencuci mulut dan tangannya di sebuah sumber air kecil di puncak gunung itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara geraman hebat di belakangnya dan ketika ia menoleh, terlihat olehnya seekor harimau yang besar sekali! Yang aneh adalah bahwa di tengah-tengah jidat harimau itu tumbuh sebuah tanduk yang melengkung ke atas laksana tanduk seekor badak.

Lin Lin cepat berdiri dan melompat ke tempat yang lebih lega dan rata, karena maklum bahwa binatang ini tentulah harimau jahat dan lihai yang pernah diceritakan oleh Yousuf di atas perahu dulu.

Memang benar bahwa harimau inilah yang dulu menyerang Yousuf dan kawan-kawannya dan binatang ini lihai dan kuat. Akan tetapi melihat Lin Lin, harimau ini agaknya ragu-ragu untuk menyerang, hanya memandang dan menggeram beberapa kali, lalu mengaum kecil seakan-akan menyatakan keraguannya apakah ia harus menyerang gadis ini atau tidak.

Mendadak terdengar suara pukulan sayap dari atas dan Lin Lin merasa datangnya angin menyambar kepalanya dari arah atas. Cepat gadis ini mengelak secara tepat oleh karena tanpa peringatan lagi, dari atas telah manyambar turun seekor Rajawali Emas yang amat besar! Kalau Lin Lin tadi tidak mengelak secara tepat, tentu kepalanya telah kena dipatuk oleh burung yang gelak itu!

Lin Lin makin terkejut oleh karena dia telah mendengar akan kelihaian burung ini dan kini setelah dua macam binatang lihai ini berada di depannya, apakah yang dapat ia lakukan? Sedangkan Yousuf yang begitu gagah dan dibantu oleh dua orang kawannya pun masih tidak kuat melawan dua ekor binatang ini, apa lagi dia kini berada seorang diri dan tidak memegang senjata pula?

Namun gadis ini memang mempunyai hati yang tabah dan pada mukanya tidak terlihat rasa takut sedikit pun. Bahkan ketika itu dia memandang kepada harimau dan rajawali sakti itu dengan pandangan mata kagum dan senang.

Setelah menyambar turun rajawali itu lalu berdiri di dekat harimau bertanduk dan ternyata bahwa tubuh rajawali itu jauh lebih tinggi dari pada tubuh harimau itu! Dua ekor binatang ini memandang kepada Lin Lin dan agaknya mereka keduanya merasa ragu-ragu melihat seorang manusia cantik yang tidak mengambil sikap bermusuhan dengan mereka, malah tidak mengeluarkan senjata untuk melukai mereka.

Tiba-tiba saja terdengar bunyi nyaring dari atas dan ketika Lin Lin memandang, ternyata merak yang luar biasa tadi telah melayang turun dan berdiri di atas tanah di depan kedua binatang itu. Harimau bertanduk lalu menggoyang-goyangkan ekornya dan menundukkan kepala, ada pun Rajawali Emas itu lalu mengebut-ngebutkan sepasang sayapnya sambil menunduk pula, seakan-akan keduanya memberi hormat kepada merak ini.

Merak Sakti itu mengangkat dadanya dengan bangga, lalu memutar menghadapi Lin Lin dan gadis ini gembira sekali oleh karena ternyata bahwa merak ini berdiri hanya dengan sebelah kakinya sedang kakinya sebelah lagi mencengkeram serumpun daun Coa-tok-te, yaitu sejenis daun yang merupakan obat khusus untuk menyembuhkan luka akibat gigitan ular beracun. Lin Lin dengan girang melangkah maju dan sambil tersenyum manis gadis itu berkata,

“Ah, Saudara Merak Sakti. Sungguh kau benar-benar baik hati dan amat pandai.” Sambil berkata demikian Lin Lin mengulurkan tangan menerima rumput atau daun-daun panjang itu dari kaki merak. Kemudian dengan mesranya Lin Lin mengelus-elus bulu merak yang indah sekali serta halus dan bersih itu.

Merak itu menjulurkan lehernya yang panjang untuk dibelai-belaikan pada lengan tangan gadis yang mengelus-elusnya itu, seolah-olah ia merasa gembira sekali. Sikapnya seperti seekor binatang peliharaan yang amat jinak. Sedangkan harimau bertanduk dan Rajawali Emas itu pun melangkah maju perlahan-lahan dengan mata mengeluarkan pandangan mengiri.

Lin Lin tertawa dan dengan tabahnya dia pun lalu menghampiri kedua binatang buas itu dan mengelus-elus punggung mereka. Si Harimau bertanduk itu menggoyang-goyangkan ekornya dan mengeluarkan keluhan perlahan seperti seekor kucing yang merasa senang dan manja, sedangkan Rajawali Emas itu pun kemudian mengembangkan sayapnya dan merendahkan diri sambil membuka paruhnya bagaikan seekor burung murai yang dibelai oleh pemiliknya dengan kasih sayang.

Tiba-tiba harimau itu mencium-cium ke arah pinggang Lin Lin dan tiba-tiba ia menggeram keras sehingga gadis itu terkejut, juga Rajawali Emas dan Merak Sakti nampak kaget. Lin Lin teringat akan pedang karatan yang berada di pinggangnya dan otomatis ia mencabut pedang itu, dan sungguh aneh. Ketika melihat pedang karatan itu, ketiga binatang itu lalu mengeluarkan keluhan panjang dan sedih dan ketiganya lalu mendekam di hadapan Lin Lin seakan-akan berlutut.

Lin Lin adalah seorang gadis yang cerdik dan dapat mengerjakan otaknya cepat sekali. Ia dapat menduga tepat bahwa ketiga binatang sakti ini tentulah murid-murid atau binatang-binatang peliharaan orang sakti yang telah meninggal dunia di dalam goa dan kini ketiga ekor binatang ini mengenal pedang pusaka orang sakti itu!

Maka Lin Lin lalu ikut berlutut pula dan mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, seakan-akan hendak memperlihatkan kepada ketiga binatang itu bahwa dia juga menjunjung tinggi dan menghormat pemilik pedang itu. Kemudian ia berdiri dan memasukkan pedang bobrok itu ke dalam ikat pinggang lagi. Kini ketiga binatang itu nampak girang sekali dan mereka menjadi begitu jinak seperti tiga ekor anjing yang amat menurut.

Pada saat itu terdengar seruan heran dan ketika Lin Lin memandang, ternyata bahwa Nelayan Cengeng dan Ma Hoa telah berdiri mengintai dari belakang pohon dengan mata terbelalak heran. Lin Lin tersenyum lalu berkata kepada binatang itu dengan suara keras tapi halus,

“Sin-kong-ciak (Merak Sakti), Sin-kim-tiauw (Rajawali Emas Sakti), dan kau It-kak-houw (Harimau Tanduk Satu). Lihatlah baik-baik kepada dua orang itu. Mereka adalah sahabat-sahabat baikku dan janganlah kalian mengganggunya. Juga kawan yang sedang terluka oleh ular berbisa itu adalah kawan baikku!”

Ketiga ekor binatang sakti itu mengangguk-angukkan kepala seakan-akan mereka dapat mengerti ucapan Lin Lin sehingga Nelayan Cengeng dan Ma Hoa menjadi terheran dan girang sekali. Kini mereka tidak ragu-ragu lagi dan melangkah maju serta mengelus-elus pundak ketiga ekor binatang itu yang menjadi heran sekali. Terutama Ma Hoa, gadis ini merasa suka benar kepada Sin-kong-ciak dan mengagumi bulu merak itu tiada habisnya.

Kemudian mereka lalu kembali ke goa, diikuti oleh tiga ekor binatang itu. Ternyata bahwa tadi Nelayan Cengeng dan Ma Hoa juga mendengar suara binatang-binatang itu hingga mereka lalu memburu keluar karena khawatir kalau-kalau Lin Lin berada dalam bahaya. Akan tetapi mereka berdiri tercengang sambil mengintai dari balik pohon ketika melihat peristiwa yang aneh dan menakjubkan yang terjadi antara Lin Lin dan ketiga binatang itu.

Lin Lin lalu meremas-remas daun Racun Ular, dan obat ini digunakan untuk mengobati luka Yousuf, dibalurkan di tempat bekas gigitan dan sebagian airnya diminumkan.

Tak lama kemudian Yousuf siuman kembali dan keadaannya baik sekali. Ketika melihat betapa Lin Lin merawatnya dengan telaten dan open, tak terasa pula air mata mengalir turun dari kedua matanya. Apa lagi ketika Ma Hoa menceritakan betapa Lin Lin menyedot keluar semua racun yang ada di dalam tubuhnya dengan menggunakan mulutnya, orang Turki ini tidak dapat lagi menahan keharuan hatinya dan dia menangis terisak-isak di atas pembaringannya. Dia tak dapat mengucapkan kata-kata, hanya memandang kepada Lin Lin dengan pandangan penuh mengandung pernyataan terima kasih yang besar.

Lin Lin tersenyum dengan muka merah.

“Enci Ma Hoa,” katanya kepada gadis itu, “mengapa kau menceritakan hal itu? Kau hanya melebih-lebihkan hal yang tidak ada artinya.” Kemudian kepada Yousuf ia berkata,

“Yo-sianseng, kita adalah sahabat-sahabat baik yang sedang berada di tempat asing dan berbahaya. Bila kita tidak saling menolong, bagaimana kita bisa hidup? Aku yakin bahwa kau pun tentu tidak akan ragu-ragu lagi melakukan hal ini apa bila aku yang mendapat kecelakaan.”

Yousuf hanya mengangguk-anggukkan kepala, tapi ia masih belum dapat mengeluarkan kata-kata oleh karena hatinya merasa terharu sekali dan penyesalan besar membuat ia tak kuasa membuka mulut. Dia ingin sekali membenturkan kepalanya pada dinding goa karena menyesal kepada diri sendiri dan diam-diam ia memaki pada diri sendiri.

“Ahh, Yousuf! Kau manusia tersesat dan gila! Mengapa kau biarkan setan menguasai hati dan pikiranmu hingga kau pernah tergila-gila dan memiliki pikiran buruk terhadap seorang gadis yang demikian mulia hatinya? Kalau kau mempunyai seorang anak perempuan pun belum tentu ia akan semulia dan sebakti gadis ini!”

Demikianlah Yousuf menyesali diri oleh karena memang ia pernah mengandung maksud untuk mengambil Lin Lin sebagai permaisurinya apa bila cita-citanya tercapai. Semenjak saat itu rasa cintanya kepada Lin Lin sama sekali berubah dari cinta seorang lelaki pada seorang wanita menjadi cinta kasih seorang ayah terhadap seorang anak perempuannya!

“Lin Lin,” katanya ketika gadis itu menyiapkan obat untuknya dan mereka berada berdua saja, karena Ma Hoa beserta Nelayan Cengeng dengan ditemani oleh harimau bertanduk dan Rajawali Emas sedang keluar mencari buah-buahan yang enak dimakan. “Setelah apa yang kau lakukan untuk membelaku, sudilah kiranya kau menyebut Ayah kepadaku? Kau kuanggap anakku sendiri, Lin Lin, dan oleh karena kau tak berayah ibu lagi, biarlah aku menjadi pengganti Ayahmu. Sukakah kau, Nak?”

Mendengar suara yang diucapkan dengan menggetar, juga melihat betapa wajah Yousuf memandangnya dengan penuh harapan, Lin Lin menjadi amat terharu dan teringat pada ayahnya. Maka dia segera berlutut di depan pembaringan Yousuf dan tanpa ragu lagi dia menyebut, “Ayah!” sambil menangis.

Yousuf yang sudah kuat kembali tubuhnya lalu bangun dan duduk. Ia meletakkan kedua tangannya di atas kepala gadis itu dan berkata,

“Lin Lin, semenjak saat ini kau adalah anakku dan aku akan membelamu dengan seluruh tubuh dan nyawaku, semoga Dewata Yang Agung memberkahimu.”

Ketika Nelayan Cengeng dan Ma Hoa mendengar tentang pemungutan anak ini, mereka berdua juga merasa girang sekali. Nelayan Cengeng sudah percaya penuh akan ketulus ikhlasan dan kejujuran hati orang Turki itu, maka ia pun tidak merasa keberatan apa-apa, sedangkan Ma Hoa yang juga telah kehilangan ayahnya, lalu menangis dengan terharu sekali sambil memeluk leher Lin Lin.

Nelayan Cengeng menghela napas, “Ma Hoa, aku tahu apa yang menjadikan kau merasa sedih, akan tetapi kau ingatlah, Ma Hoa, bahwa semenjak saat kau merantau denganku, aku Kong Hwat Lojin sudah menjadi guru dan ayahmu sendiri! Walau pun kau menyebut Suhu kepadaku, tapi kau kuanggap anak sendiri dan hal ini pun tentu kau maklumi, maka janganlah kau bersedih, Anakku.”

Ma Hoa menjatuhkan diri berlutut di hadapan suhu-nya dan berkata, “Terima kasih, Suhu, dan demi Tuhan, sedikit pun tak pernah teecu meragukan kemuliaan hati Suhu.”

Setelah Yousuf sembuh kembali, mereka melanjutkan pemeriksaan dan mencari harta di pulau itu, akan tetapi kalau dulu Yousuf mencari dengan cita-cita hendak mengangkat diri menjadi kaisar dan mengawini Lin Lin, kini cita-citanya itu diubah sedikit. Dia masih ingin menjadi kaisar dan memiliki harta besar itu, akan tetapi semua itu demi kemuliaan Lin Lin yang akan dijadikan seorang puteri kerajaan yang agung.

Akan tetapi, sesudah beberapa hari tinggal di pulau itu, ternyata belum juga didapatkan tanda-tanda bahwa pulau itu betul-betul mengandung banyak emas seperti yang tadinya disangka.

Pada suatu hari, ketika Yousuf dan kawan-kawannya sedang memeriksa di puncak bukit, mereka melihat banyak sekali pendeta Sakya Buddha anak buah Pangeran Vayami naik ke pulau itu dan melakukan pemeriksaan pula. Yousuf dan kawan-kawannya lalu cepat mempergunakan alang-alang dan pohon-pohon kecil untuk dipakai menutupi goa mereka sehingga tidak mungkin akan terlihat oleh orang lain, lantas diam-diam mereka mengintai pendeta-pendeta itu untuk melihat apa yang mereka kerjakan.

Ketika Nelayan Cengeng mengusulkan untuk menyerang Pendeta-pendeta Jubah Merah itu, Yousuf mencegahnya dan berkata,

“Aku tahu, mereka ini adalah kaki tangan Vayami, Pangeran dari Mongol dan agaknya mereka sudah tahu di mana letak harta terpendam. Baiknya kita menanti sampai mereka mendapatkannya baru kita turun tangan. Sementara itu, biarlah kita mengintai saja dan melihat apa yang mereka lakukan.”

Lin Lin lalu memerintahkan kepada ketiga binatang sakti untuk berdiam diri dan jangan menyerang orang-orang itu. Selama tiga hari pendeta-pendeta itu bekerja, akan tetapi sebagaimana hasil kerja Yousuf, mereka juga tidak mendapatkan apa-apa.

Kemudian, dengan kaget sekali Yousuf dan kawan-kawannya melihat datangnya perahu-perahu pasukan Turki sedang disusul dan dikejar oleh perahu-perahu pasukan kerajaan. Yousuf tahu bahwa barisan bangsanya telah tiba di situ dan hendak menguasai pulau itu sebagai mana direncanakannya dan tahu pula bahwa kalau mereka melihatnya, tentu dia akan ditangkap oleh karena selama itu dia tidak pernah memberi kabar mengenai hasil penyelidikannya sehingga ia dapat dituduh sebagai pengkhianat yang hendak mengambil sendiri harta itu.

Kemudian mereka melihat pertempuran besar yang terjadi antara pasukan Turki dengan barisan Tiongkok, dan ketika Yousuf menyelidiki keadaan Pendeta Sakya Buddha itu, ia menjadi terkejut sekali oleh karena pendeta-pendeta itu kemudian menyalakan api dan membakar danau minyak yang segera berkobar hebat menjadi lautan api.

“Celaka! Danau itu dibakar dan mungkin akan meledak. Hayo, cepat kita harus pergi dari pulau neraka ini!' katanya.

Kawannya menjadi panik dan Nelayan Cengeng segera memanggil Lin Lin dan Ma Hoa yang masih mengintai dan menonton pertempuran hebat dari jauh.

Kedua orang gadis itu pun terkejut sekali mendengar berita ini dan Lin Lin lalu memberi tanda suitan memanggil ketiga binatang sakti itu. Mereka lalu lari cepat ke perahu mereka yang disembunyikan di belakang alang-alang, diikuti oleh ketiga binatang itu. Akan tetapi, ketika mereka telah naik ke atas perahu, tiba-tiba ketiga binatang itu memekik keras dan ketiganya lalu membalikkan diri dan kembali ke pulau.

Lin Lin berteriak-teriak memanggil sambil mengejar dan ketika ia memasuki goa, ternyata tiga ekor binatang sakti itu sedang mendekam dan berlutut di depan makam rangka yang mereka tanam dahulu. Lin Lin membetot-betot mereka, akan tetapi ketiganya tidak mau pindah dari tempat mereka, seakan-akan bersiap untuk mati di depan kuburan tuannya. Lin Lin menjadi bingung dan memeluk leher Merak Sakti. Ia berkata sambil menangis,

“Saudara Merak Sakti, bagaimana aku dapat tega meninggalkan kau? Kau adalah seperti saudaraku sendiri, dan pulau ini akan terbakar habis. Marilah kau ikut padaku. Tegakah kau membiarkan aku merasa sedih seumur hidupku?”

Merak Sakti itu mengeluarkan keluhan panjang dan dari kedua matanya yang indah itu mengalir keluar dua butir air mata. Dari jauh terdengar suara Yousuf memanggil-manggil namanya, dan Lin Lin terpaksa keluar dari goa sambil menangis. Beberapa kali ia masih menengok memandang ketiga kawannya yang aneh ini.

Dan ketika ia berlari ke perahu dengan tubuh lemas dan hati berduka, tiba-tiba terdengar suara keras di atas kepalanya dan ternyata bahwa Merak Sakti itu telah menyusulnya. Lin Lin menjadi girang sekali dan segera lari ke perahu diikuti oleh Merak Sakti yang agaknya tidak tega untuk melepas Lin Lin pergi seorang diri dan ikut menyusul.

Baru saja Lin Lin naik ke perahu, tiba-tiba serombongan Pendeta Baju Merah itu melihat mereka. Sambil berteriak-teriak buas mereka langsung menyerbu dan Nelayan Cengeng serta kawan-kawannya segera menyambut serangan mereka dan terjadilah pertempuran sengit.

“Lekas kalian bertiga jalankan perahu, biarlah aku sendiri menahan serbuan anjing-anjing merah ini!” kata Nelayan Cengeng.

Yousuf yang melihat betapa api berkobar semakin hebat, lalu cepat menjalankan perahu, akan tetapi Ma Hoa berteriak,

“Suhu jangan melawan mereka seorang diri, teecu akan membantumu!”

“Jangan!” teriak Si Nelayan Cengeng dengan suara tetap dan keras. “Kau harus ikut pergi lebih dulu! Aku tidak takut segala anjing ini, dan biar pun tanpa perahu, aku mudah saja menyeberang ke daratan Tiongkok!” jawab suhu-nya yang gagah perkasa sambil terus memutar-mutar dayungnya dan mengamuk hebat.

Lin Lin mendapatkan akal. Dia segera menghampiri Merak Sakti dan berkata, “Saudaraku yang baik. Kau bantulah Nelayan Cengeng dan cakarlah habis-habis pendeta busuk itu!”

Sin-kong-ciak mengeluarkan pekik keras, tanda bahwa dia girang sekali menerima tugas ini dan sebentar saja tubuhnya melesat dan melayang ke atas. Sesudah Merak Sakti ini menyerbu, maka terdengarlah jerit dan tangis yang ribut sekali di kalangan para Pendeta Sakya Buddha ini dan Nelayan Cengeng menjadi gembira sekali.

“Bagus Kong-ciak-ko, bagus! Hayo, kita hantam bersama!”

Perahu yang ditumpangi oleh Yousuf, Lin Lin dan Ma Hoa, telah pergi jauh dan pendeta-pendeta Baju Merah itu merasa tidak kuat menghadapi Nelayan Cengeng yang tangguh dan yang dibantu oleh Merak Sakti yang aneh itu. Maka sambil berteriak-teriak ketakutan mereka lalu melarikan diri ke arah perahu-perahu kecil mereka di lain bagian. Dengan cepat mereka segera melarikan diri dengan perahu-perahu itu dari pulau yang telah mulai berkobar hebat itu.

Nelayan Cengeng juga tidak membuang waktu lagi, ia berkata kepada Merak Sakti,

“Kong-ciak-ko, sekarang kau terbanglah menyusul perahu Lin Lin dan aku akan berenang. Hayo kita berlomba, kau terbang dan aku berenang. Siapa yang lebih cepat menyusul perahu, dialah yang menang!”

Merak Sakti agaknya mengerti omongan ini dan sambil mengeluarkan teriakan panjang dan girang, ia lalu terbang melayang ke atas dan mencari-cari perahu Lin Lin yang telah berlayar jauh sekali.

Sementara itu, Nelayan Cengeng juga segera menceburkan diri ke dalam laut, kemudian mempergunakan kepandaian dan tenaganya yang luar biasa untuk berenang ke daratan pantai Tiongkok. Akan tetapi dia telah tertinggal jauh dan dia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mengejar perahu itu sehingga dia berenang cepat sekali bagaikan seekor ikan besar. Air tidak kelihatan terpercik ke atas, namun tubuhnya bergerak maju pesat sekali.

Akan tetapi, setelah ia dapat melihat bayangan perahu itu dalam kegelapan, tiba-tiba saja terdengar letusan hebat dari pulau yang terbakar itu sehingga Kong Hwat Lojin terlempar jauh, terbawa ombak yang datang setinggi gunung dan yang melemparkannya ke arah lain, jauh dari kapal itu, dan ke lain jurusan!

Ilmu kepandaian di dalam air yang dimiliki oleh Nelayan Cengeng memang hebat sekali, maka ketika melihat betapa dirinya menjadi permainan ombak, dia lalu menahan napas dan menyelam ke dalam. Tekanan air makin ke bawah semakin kuat, akan tetapi tidak bergelombang sehebat di permukaan air itu. Dengan demikian, Nelayan Cengeng dapat berenang terus, dekat di atas dasar laut itu dan ia pun menuju ke pantai.

Akan tetapi oleh karena gelombang yang hebat itu pun membuat perahu yang ditumpangi oleh Yousuf dan kedua gadis itu terbawa ombak dan tidak tentu arahnya, ketika Nelayan Cengeng sudah muncul di darat, ia berada jauh sekali dari perahu itu, dan sedikit pun tidak tahu dirinya berada di mana!

Dan pada waktu dia melompat ke darat, datanglah Hek Pek Mo-ko, dan Pek Mo-ko lalu menyerangnya hingga terjadi pertempuran sengit yang kemudian disusul oleh datangnya Biauw Suthai dan Pek I Toanio dan yang mengeroyok Hek Pek Mo-ko. Dan seperti yang telah diketahui, akhirnya karena Kwee An ikut mencampuri pertempuran itu, Hek Mo-ko bertempur sendiri melawan Pek Mo-ko yang mengakibatkan tewasnya kedua orang Iblis Hitam dan Putih itu!

Kwee An dan Cin Hai merasa senang sekali mendengar bahwa Lin Lin dan Ma Hoa ada di bawah perlindungan Yousuf yang baik hati. Sungguh pun mereka tidak tahu ke mana perginya ketiga orang itu, namun mereka percaya bahwa kedua gadis itu tentu berada dalam keadaan selamat.

Sementara itu, Pulau Kim-san-to masih saja berkobar sampai dua hari dua malam! Cin Hai berkeras tidak mau meninggalkan pantai sebelum keadaan aman kembali, dan dia berniat hendak menggunakan perahu mencari Ang I Niocu!

Semua orang tahu akan isi hati serta kehancuran kalbu pemuda ini. Maka, oleh karena mereka semua pun merasa sangat kagum dan kasihan kepada Ang I Niocu, mereka juga menunggu di pantai sambil melihat ke arah pulau yang musnah dimakan api itu.....

Pada hari ke tiga, padamlah api yang membakar seluruh Pulau Kim-san-to dan lenyaplah gelombang besar yang diakibatkan oleh kejadian mengerikan itu. Laut kembali menjadi tenang dan semua orang memandang ke arah pulau itu, hati mereka tertegun dan untuk beberapa lama tak seorang pun di antara mereka dapat mengeluarkan kata-kata.

Ternyata bahwa pulau yang tadinya menjulang dari permukaan laut dan pada malam hari nampak bagaikan sorga itu, kini telah lenyap sama sekali, bagaikan sepotong kue besar yang habis ditelan oleh mulut raksasa. Sedikit pun tak nampak bekas-bekasnya lagi.

Semua orang lalu mulai dengan usaha mereka mencari-cari, tetapi ke manakah mereka harus mencari Ang Niocu? Cin Hai sendiri lalu menggunakan perahu kecil bersama Kwee An dan mendayung perahu itu ke tempat di mana tadinya terdapat pulau itu.

Mereka melihat banyak barang mengambang di permukaan air laut, barang besar kecil yang berupa benda-benda hitam memenuhi air laut itu. Sesudah mereka berputar-putar sehari lamanya dan orang-orang lain telah kembali ke pantai oleh karena telah berputus asa, tiba-tiba Cin Hai melihat sesuatu mengambang di air dan dia lalu menjerit dengan suara mengandung isak tangis.

“Niocu!” Kemudian pemuda ini lalu melompat ke dalam air.

Kwee An terkejut sekali dan mendayung perahunya mengejar Cin Hai yang berenang cepat ke depan. Dia melihat Cin Hai mengambil sesuatu dari permukaan air laut itu dan saat dilihatnya, ternyata bahwa yang dipegang oleh Cin Hai adalah selembar kain warna merah. Sambil menangis Cin Hai berenang kembali ke perahu dan naik ke dalam perahu sambil memegang erat-erat potongan kain merah itu, lalu dia terduduk menangis sambil menyembunyikan mukanya di dalam kain itu dan mengeluh tiada hentinya.

“Niocu... Niocu...”

Kwee An teringat bahwa kain ini sama benar dengan kain pakaian yang biasa dipakai oleh Ang I Niocu, maka dia menjadi amat terharu dan tak dapat berkata-kata apa kecuali menggunakan tangannya menepuk-nepuk Cin Hai.

“Kuatkanlah hatimu, Cin Hai... dan bolehkah aku mendayung perahu kembali ke pantai?”

Cin Hai tak dapat mengeluarkan suara, hanya mengangguk-angguk dengan muka masih tersembunyi ke dalam sobekan kain merah itu. Agaknya tubuh Ang I Niocu telah hancur karena ledakan dahsyat itu dan secara ajaib sekali sepotong pakaiannya sudah terlempar dan terbawa hawa ledakan hingga jatuh di air dan tidak ikut terbakar. Tentu saja Cin Hai menjadi sedih sekali oleh karena sobekan pakaian ini menjadi bukti nyata bahwa Gadis Baju Merah itu telah tewas dan hanya meninggalkan sesobek kain dari pakaiannya.

Nelayan Cengeng yang hampir seharian penuh berenang kian-kemari mencari-cari, juga tidak menemukan sesuatu dan sekarang telah berada di pantai dengan orang-orang lain. Pada saat mereka melihat kain merah yang ditemukan oleh Cin Hai, mereka hanya dapat menghela napas saja, bahkan Pek I Toanio tidak dapat menahan keharuan hatinya dan berkata kepada Cin Hai.

“Jangan kau terus bersedih hati, karena itu tidak ada gunanya. Ang I Niocu agaknya telah tewas, tetapi dia tewas sebagai seorang pendekar gagah perkasa dan boleh dibanggakan maka tidak perlu kita terlalu menyedihi kematiannya. Bukankah kita semua ini kelak pun akan pergi ke tempat di mana dia mendahului kita? Lebih baik sekarang kita berusaha mencari di mana adanya Lin Lin dan Ma Hoa.”

Nelayan Cengeng yang diam-diam juga mengalirkan air mata tanda menangis itu cepat menggunakan ujung lengan bajunya yang basah oleh air untuk mengusap pipinya sambil mengangguk-angguk. “Benar ucapan Pek I Toanio. Marilah kita sekarang menyusul dan mencari ke mana mendaratnya perahu Yousuf itu.”

Kata-kata ini memperingatkan Cin Hai bahwa Lin Lin masih hidup dan hal ini merupakan hiburan yang besar sekali. Dia lalu mempertahankan dan menguatkan hatinya, kemudian memandang kepada mereka.

“Maafkanlah kelemahanku dan terima kasih kuucapkan kepada Cuwi sekalian yang telah begitu baik hati untuk ikut bersusah payah.”

Setelah mengadakan perundingan, maka diputuskan bahwa mereka akan dipecah dalam tiga rombongan sebagai usaha mereka mencari kedua gadis itu. Kwee An hendak pergi bersama Cin Hai, Pek Toanio bersama gurunya dan Nelayan Cengeng pergi seorang diri. Tempat di mana perahu orang Turki itu mendarat belum diketahui, maka mereka segera berpencar dan mulai mencari dan menyusul Lin Lin, Ma Hoa dan Yousuf…..

********************

Berkat kecerdikannya dan kepandaian supek-nya yang gagu, Hai Kong Hosiang berhasil melarikan diri dari Pulau Kim-san-to dan karenanya ia terhindar dari bahaya maut. Ketika perahunya mendarat, ia pun dapat melihat pula pertempuran yang terjadi antara Nalayan Cengeng yang dibantu Biauw Suthai dan Toanio melawan Hek Pek Mo-ko.

Akan tetapi, oleh karena melihat bahwa yang bertanding itu adalah tokoh-tokoh ternama yang memiliki kepandaian tinggi sekali, terutama Hek Pek Mo-ko yang sudah dia ketahui memiliki ilmu kepandaian luar biasa, Hai Kong Hosiang segera mengajak supek-nya yang gagu untuk terus berlari dan jangan mencampuri urusan mereka.

Hatinya merasa mendongkol dan marah sekali oleh karena kembali dia sudah mengalami kesialan. Pertama, dia telah kena dibujuk oleh Pangeran Vayami, kedua ia telah bertemu dengan Balutin dan bertempur tanpa bisa merobohkan pendeta asing itu, dan ketiganya ia hampir saja mendapat celaka besar di pulau yang terbakar dan meledak.

Di sepanjang jalan Hai Kong Hosiang terus menyumpahi Cin Hai. Dia merasa menyesal sekali mengapa dulu ketika Cin Hai terjatuh ke dalam tangan Pangeran Vayami, ia tidak lekas-lekas membunuh anak muda itu.

Sekarang anak muda itu tentu masih hidup dan selanjutnya akan merupakan penghalang besar baginya oleh karena bahwa Cin Hai bersama beberapa orang kawannya tentu tak akan tinggal diam saja dan akan terus mengejar-ngejarnya untuk membalas dendam atas kematian keluarga Kwee! Sedangkan kepandaiannya sendiri yang tadinya dia banggakan itu, baru menghadapi Balutin saja belum mampu mengalahkannya!

Maka ia lalu mengajak supek-nya, yakni Kiam Ki Sianjin yang telah pikun dan gagu untuk bersembunyi di atas sebuah gunung yang sunyi, lalu mengerahkan seluruh perhatiannya untuk memperdalam ilmu silatnya di bawah pimpinan Kiam Ki Sianjin yang lihai! Dengan bujukan-bujukan dan pujian-pujian, ia berhasil mengeduk semua ilmu yang dimiliki Kim Ki Sianjin yang lihai, sehingga kepandaian Hai Kong Hosiang sudah meningkat tinggi sekali, bahkan dia dengan giatnya meyakinkan ilmu lweekang yang berdasarkan ilmu yoga dari barat.

Lweekang ini dilatih secara terbalik, yaitu mengatur pernapasan dan pergerakan tenaga dalam secara jungkir balik, kepala di bawah dan dua kaki di atas. Berkat latihan ini, maka Hai Kong Hosiang mempunyai ilmu silat yang diajarkan oleh supek-nya, yakni Ilmu Silat Kalajengking yang amat lihai.

Ilmu silat ini bukan digerakkan dengan tubuh dalam keadaan biasa, akan tetapi dalam keadaan kaki di atas dan kepala di bawah! Dengan kepala di atas tanah, kedua kaki Hai Kong Hosiang bisa bergerak secara lihai sekali, mengirim serangan-serangan maut yang tidak terduga datangnya. Oleh karena tenaga kaki memang lebih besar dari pada tenaga tangan maka kedua kaki yang menendang-nendang dan menyerang secara hebat itu sulit ditahan oleh lawan.

Ini masih belum begitu hebat, akan tetapi kedua tangannya pun tidak tinggal diam dan melancarkan serangan-serangan dari bawah dengan secara tiba-tiba dan sukar dilawan. Kalau lawan sampai kena terpegang kakinya oleh tangan Hai Kong Hosiang yang berada di bawah, maka celakalah dia!

Ilmu kepandaian Kiam Ki Sianjin lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaian Hek Pek Mo-ko. Dalam usia yang sangat tua saja ia masih amat lihai, maka kini setelah Hai Kong Hosiang dapat mewarisi seluruh kepandaiannya dapatlah dibayangkan betapa hebatnya kelihaian Hai Kong Hosiang yang masih kuat dan bertenaga besar itu!

Selain Ilmu Silat Kalajengking yang lihai ini, juga Hai Kong Hosiang mempelajari Ilmu Kebal Kim-ciong-ko yang membuat kulit dan dagingnya dapat menahan serangan senjata tajam. Kim-ciong-ko yang dapat dipelajari oleh Hai Kong Hosiang ini bukan Kim-ciong-ko yang biasa dipelajari dalam dunia persilatan, oleh karena didasarkan khikang yang dilatih secara jungkir balik sehingga dia bisa menyalurkan tenaga dalamnya disertai hawa dalam badan yang membuat kulitnya dapat melembung dan mengempis laksana karet. Karena itu, jangankan pedang biasa, bahkan pedang pusaka yang tajam pun apa bila digunakan oleh orang yang memiliki tenaga biasa tidak akan dapat melukainya!

Setelah merasa bahwa kepandaiannya sudah sempurna betul, Hai Kong Hosiang turun dari gunung dan bersama supek-nya lalu pergi ke kota raja. Di situ ia mendengar tentang terbunuhnya perwira Boan Sip. Maka kebencian dan kemarahannya kepada Cin Hai dan kawan-kawannya makin meluap dan bersumpah hendak membunuh mereka ini semua!

Nama-nama Cin Hai, Kwee An, Lin Lin, Nelayan Cengeng, Ma Hoa, Biauw Suthai, serta Pek I Toanio termasuk dalam daftarnya dan dia hendak mencari orang-orang ini untuk dibinasakan! Tentu nama Bu Pun Su juga tak pernah terlupa olehnya walau pun ia masih merasa jeri dan ragu-ragu apakah ia akan dapat menghadapi kakek jembel yang sangat kosen itu!

Pada suatu hari, Hai Kong Hosiang dalam perantauannya tiba di sebuah dusun kecil dan oleh karena di dusun itu tak ada penginapan, ia lalu memilih sebuah rumah yang terdekat dan masuk saja tanpa permisi kepada tuan rumah.

Seorang petani tua yang mendiami rumah itu menjadi marah sekali saat melihat seorang gundul memasuki rumahnya begitu saja, maka ia lalu membentak,

“Eh, ehh, hwesio dari manakah dan perlu apa memasuki rumahku tanpa permisi.”

Hai Kong Hosiang memandang kepada petani tua itu dengan mendelik, dan sekali dia mengulurkan tangan, pundak petani itu telah kena dipegangnya dan ia lalu melemparkan tuan rumah itu keluar jendela. Tubuh petani itu jatuh berdebuk di luar rumah, kemudian bergulingan beberapa kali. Untung sekali Hai Kong Hosiang tidak berniat membunuhnya dan ia terbanting di atas rumput tebal, kalau tidak tentu ia akan tewas seketika itu juga.

Petani ini menjadi marah sekali. Dia lalu memaki-maki sambil berlari ke dalam kampung dan memberi tahukan kepada semua tetangga. Beberapa orang laki-laki yang mendengar kekurang ajaran ini, segera membawa senjata hendak mengusir Hai Kong Hosiang, akan tetapi baru saja mereka tiba di muka rumah kecil itu, Hai Kong Hosiang telah melompat keluar dengan bertolak pinggang.

“Kalian ini orang-orang dusun mau apakah?” tanyanya dengan muka bengis.

“Hwesio kurang ajar! Mengapa kau merampas rumah orang begitu saja?”

“Siapa merampas rumah? Aku hendak meminjamnya sebentar untuk beristirahat. Kalian orang-orang kampung sungguh tak tahu aturan. Sepatutnya kalian cepat menghidangkan makanan dan minuman untukku seperti layaknya tuan rumah menghormati tamunya.”

“Mana ada aturan macam itu?” berkata seorang petani lain yang menjadi marah melihat sikap dan mendengar perkataan yang keterlaluan ini. “Kau bukanlah seorang tamu, akan tetapi kau masuk rumah orang seperti perampok, bahkan sudah berani melempar tuan rumah yang mempunyai rumah ini.”

“Sudahlah, jangan banyak cakap lagi. Kalian mau memberi hidangan cepat keluarkan dan jangan banyak mengobrol karena aku menjadi tidak sabar lagi.”

“Hweso jahat!” teriak orang-orang kampung itu kemudian menyerbu hendak memukul dan mengusir Hai Kong Hosiang.

Akan tetapi, orang-orang kampung yang lemah dan yang hanya mengandalkan tenaga kasar ini mana dapat menghadapi orang kosen seperti Hai Kong Hosiang yang memiliki kepandaian tinggi.

Ketika berbagai senjata menyambar ke tubuhnya, Hai Kong Hosiang lalu menggunakan lengan kiri untuk menangkis senjata-senjata itu, ada pun tangan kanannya tetap bertolak pinggang. Semua petani berteriak kesakitan saat senjata-senjata mereka beradu dengan lengan tangan Hai Kong Hosiang, karena senjata-senjata itu terpental dan terlepas dari pegangan, sedangkan telapak tangan mereka menjadi perih dan sakit.

Beberapa orang yang berhati tabah masih merasa penasaran dan maju memukul. Akan tetapi pada saat kepalan tangan mereka mengenai dada Hai Kong Hosiang yang bidang, mereka kembali menjerit-jerit kesakitan dan tangan mereka menjadi bengkak-bengkak.

“Ha-ha-ha-ha! Cacing tanah busuk! Hayo kalian lekas ambil pergi semua makanan yang enak untukku, kalau tidak mau, semua orang kampung ini akan kubikin mampus semua!” Sesudah berkata demikian, Hai Kong Hosiang bergerak cepat dan melempar-lemparkan orang-orang yang terdekat dengannya seperti orang melempar-lemparkan rumput kering saja.

Orang-orang kampung berteriak-teriak kesakitan. Mereka merasa terkejut sekali dan juga takut menghadapi hwesio yang jahat seperti setan dan yang mempunyai ilmu kepandaian mukjijat yang belum pernah mereka saksikan selama hidupnya. Maka sambil berteriak-teriak mereka lalu melarikan diri dan sekali lagi Hai Kong Hosiang membentak,

“Tidak lekas kau sediakan makanan enak dan arak yang baik? Atau kalian menunggu sampai aku membikin dusun ini hancur lebur?”

Takutlah orang-orang kampung itu mendengar ancaman ini oleh karena mereka percaya bahwa hwesio jahat ini pasti sanggup membuktikan ancamannya itu. Maka mereka lalu cepat mengeluarkan semua hidangan yang ada pada mereka dan menyuguhkan kepada Hai Kong Hosiang.

Akan tetapi, demi melihat suguhan-suguhan yang terdiri dari sayuran-sayuran dan hanya sedikit terdapat daging, Hai Kong Hosiang menjadi marah dan sekali dia menggerakkan kakinya, semua hidangan melayang dan hancur berantakan di atas tanah. Orang-orang kampung mundur ketakutan dan hwesio jahat itu lalu membentak,

“Bawa ke sini seekor babi. Hayo cepat!”

“Kami...kami orang sedusun tidak mempunyai babi seekor pun,” jawab seorang petani mewakili kawan-kawannya.

“Tidak ada babi? Awas, jangan kau membohong! Kalau kau membohong, kau sendirilah yang kujadikan babi dan kupanggang tubuhmu!”

“Benar-benar kami tidak mempunyai babi, Losuhu,” kata seorang petani lain.

Hai Kong Hosiang baru mau percayai keterangan mereka. “Kalau begitu, bawalah seekor kerbau ke sini!”

Orang-orang kampung itu menjadi pucat. “Kami hanya mempunyai beberapa ekor kerbau yang kami pekerjakan sebagai penggarap sawah ladang. Kalau Losuhu mengambilnya, bagaimana nasib kami?”

“Tutup mulut kalian dan lekas bawa seekor kerbau yang paling gemuk! Awas, aku sudah lapar sekali dan kalau aku habis sabar, mungkin kau yang akan kumakan!”

Tentu saja semua orang terkejut dan ngeri mendengar ancaman ini dan mereka terpaksa lalu menuntun kerbau tergemuk di kampung itu ke hadapan Hai Kong Hosiang. Hwesio itu memandang tubuh kerbau yang gemuk ini dan mulutnya tersenyum lebar.

“Nah, ini pun boleh!”

Secepat kilat ia merampas sebatang golok dari tangan seorang petani dan sekali saja tangannya bergerak, leher kerbau itu telah putus. Darah menyembur-nyembur keluar dari dalam perut binatang itu melalui lehernya yang berlubang dan kedua mata binatang itu masih terbuka lebar. Keempat kakinya berkelojotan lalu terdiam.

Terdengar pekik seorang kanak-kanak dan mendadak dari rombongan para petani yang memandang penyembelihan kerbau secara istimewa ini dengan wajah pucat dan mata terbelalak, keluar berlari seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun lebih. Anak ini segera menubruk tubuh kerbau yang telah mati itu sambil menangis keras.

“Heii, siapakah anjing kecil ini?” Hai Kong Hosiang bertanya kepada seorang wanita yang menarik-narik anak itu sambil mengeluarkan kata-kata hiburan.

“Dia... dia ini adalah anakku dan kerbau itu… adalah kerbau kesayangannya. Semenjak kecil dia bersama-sama kerbau ini, maka ia menjadi sayang sekali. Maafkan dia Losuhu, karena dia tidak tega melihat kawan bermainnya itu terbunuh.”

“Ha-ha-ha! Anak goblok! Anak bodoh! Apakah dia belum tahu bagaimana rasanya daging sahabatnya itu? Kalau sudah tahu, ha-ha-ha! Tentu ia akan senang melihat sahabatnya disembelih! Hayo anak kau ikut aku pesta dan menikmati daging sahabatmu ini!” Sambil berkata demikian, Hai Kong Hosiang memegang tangan anak itu dan menariknya masuk ke dalam rumah. Ketika ibunya hendak mengejar, Hai Kong Hosiang membentak,

“Aku hendak mengajak anakmu makan besar, apa salahnya?! Kalau kau mengganggu, aku akan bunuh kamu berdua!”

Terpaksa ibu ini melangkah mundur dengan muka pucat, kemudian ia menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis. Seorang tetangganya lalu menariknya pergi dari sana oleh karena merasa khawatir kalau hwesio jahat itu akan marah dan benar-benar melakukan pembunuhan.

“Hayo lekas masak daging ini!” Hai Kong Hosiang memerintah sambil minum arak yang disuguhkan di atas meja dalam rumah itu.

Anak yang tadi ditariknya kini didudukkan di depannya dan sambil memandang anak itu, Hai Kong Hosiang tiada hentinya minum arak sambil terus tertawa-tawa. Anak itu duduk dengan muka pucat dan tubuh menggigil, tetapi ia tidak berani berteriak!

Setelah masakan daging kerbau sudah matang dan disuguhkan di atas meja depan Hai Kong Hosiang dan anak itu, Hai Kong Hosiang lalu mulai makan dengan enaknya.

“Hayo kau makan daging kawanmu ini. Enak dan lezat sekali rasanya!” berkata Hai Kong Hosiang kepada anak itu. Akan tetapi sambil menggigit bibirnya dan menahan runtuhnya air mata yang mengembeng di bulu matanya, anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hayo makan!” teriak Hai Kong Hosiang dengan suara yang menggeledek laksana guntur hingga semua orang tani yang berada di luar rumah itu menjadi terkejut dan kuatir sekali.

Akan tetapi, sekali lagi anak itu menggelengkan kepala karena jangankan harus makan daging kerbaunya yang dikasihinya itu, baru melihat saja betapa daging kawan baiknya kini sudah dimasak dan dimakan oleh hwesio itu, hatinya telah terasa perih dan hancur sekali.

Melihat kekerasan anak ini, Hai Kong Hosiang menjadi marah dan penasaran. Dia lalu mengambil sepotong daging dengan tangannya dan begitu ia mengulurkan tangan, maka tangan kirinya sudah menangkap mulut anak itu hingga dipaksa menyelangap dan lalu memasukkan daging itu ke dalam mulut anak tadi! Anak itu membelalakkan matanya dan ketika merasa betapa daging itu dimasukkan ke dalam mulutnya, lantas tiba-tiba dia pun muntah-muntah!

Bukah main marahnya Hai Kong Hosiang melihat hal ini. Ingin dia memukul mati anak di depannya ini, akan tetapi baru saja ia mengangkat tangannya untuk memukul, ia teringat bahwa jika membunuh anak ini, maka setidaknya tentu akan terjadi heboh dan ribut yang hanya akan mengganggu istirahatnya saja. Karena itu dia tidak jadi memukul, akan tetapi memegang batang leher anak itu dan sekali ia menggerakkan tangan, anak itu menjerit karena tubuhnya terlempar keluar pintu!

Baiknya di luar pintu itu orang-orang tani sedang duduk berkumpul dengan hati berdebar penuh kekhawatiran, karena itu tubuh anak kecil itu jatuh menimpa mereka hingga tidak mengalami luka hebat. Anak itu jatuh pingsan karena sedih, ngeri dan rasa takutnya, dan orang-orang kampung itu cepat menggotongnya pulang sambil menghela napas, bahkan ada yang mengucurkan air mata karena merasa sedih, dan tak berdaya!

Hai Kong Hosiang melanjutkan makan-minumnya seakan-akan tak pernah ada gangguan apa-apa. Nafsu makannya besar sekali dan sebentar saja hidangan yang disuguhkan di atas meja itu habis bersih!

Memang hwesio ini mempunyai sifat aneh. Dia dapat bertahan tidak makan sampai tiga hari tiga malam, dan sekali dia makan, agaknya dia hendak menebus hutangnya kepada perutnya itu dan takaran makan yang tiga hari itu dirangkap menjadi sekali makan!

Setelah hidangan itu habis semua, ia lalu merebahkan dirinya di atas sebuah balai-balai reyot di dalam rumah petani itu dan sebentar lagi terdengar suaranya mendengkur keras, seolah-olah kerbau yang dagingnya telah memasuki perutnya itu tiba-tiba bangkit kembali di dalam perut dan menguak-uak!

Semalam suntuk itu Hai Kong Hosiang tertidur tanpa berkutik dari tempat tidurnya. Telah beberapa pekan dia meninggalkan kota raja dan supek-nya ditinggalkan di kota raja, oleh karena supek-nya yang sudah tua itu menyatakan lelah dan bosan merantau, hingga Hai Kong Hosiang pergi seorang diri.

Pada keesokan harinya, kebetulan sekali Biauw Suthai bersama Pek I Toanio yang pergi mencari jejak Lin Lin, Ma Hoa dan Yousuf tiba di dusun itu. Kedua orang ini merasa heran melihat kelesuan muka orang-orang kampung itu ketika pada pagi hari itu mereka pergi ke ladang sambil memanggul cangkul mereka.

Pek I Toanio lalu bertanya kepada seorang petani tua yang bertemu di jalan,

“Lopek (Uwa), agaknya kalian penduduk desa ini sedang berduka dan kebingungan. Mala petaka apakah gerangan yang menimpa desamu?”

Tadinya si petani ini tak berani banyak bicara. Akan tetapi ketika melihat gagang pedang yang tergantung di punggung Pek I Toanio, segera timbul kepercayaannya, bahkan ia lalu berharap kalau-kalau dua wanita yang nampak gagah ini akan dapat menolong desanya.

“Ketahuilah, Toanio. Desa kami baru saja kedatangan seorang hwesio jahat sekali yang mengganggu kami dan bahkan merampok kami. Itu masih belum seberapa, bahkan dia berani memukul dan melukai orang.”

Bangkitlah semangat pendekar dalam dada Pek I Toanio ketika mendengar penuturan ini, ada pun Biauw Suthai yang lebih sabar lalu minta kepada petani tua itu untuk menuturkan sejelasnya. Petani itu lalu menceritakan tentang kejahatan Hai Kong Hosiang dan Biauw Suthai menjadi marah sekali, apa lagi saat mendengar betapa hwesio jahat itu memaksa anak kecil itu makan daging kerbaunya sendiri dan kemudian melempar tubuh anak itu keluar ketika dia tidak mau makan daging kerbau kesayangannya.

“Hwesio bangsat yang kurang ajar! Hendak kulihat siapakah dia yang begitu jahat dan tak mengenal kemanusiaan itu.”

Sesudah berkata demikian, dengan tindakan kaki lebar dan diikuti oleh muridnya, Biauw Suthai langsung pergi menuju ke rumah yang diceritakan oleh petani tadi. Sementara itu, petani tua itu lalu menceritakan kepada kawan-kawannya dan sebentar saja semua orang tahu bahwa ada dua orang wanita gagah yang hendak mengusir dan menghukum hwesio jahat yang mengganggu mereka. Semua orang lalu meninggalkan pekerjaan mereka dan beramai-ramai menuju ke rumah itu. Akan tetapi mereka tidak datang mendekat, hanya memandang dari jauh dengan perasaan tegang.

Ketika melihat bahwa pintu rumah itu masih tertutup, Biauw Suthai dan Pek I Toanio lalu melompat ke atas genteng dan membuka dua genteng untuk mengintai ke dalam. Dan mereka melihat pemandangan yang aneh.

Seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis menakutkan, sedang berdiri dengan kepala di tanah dan kedua kakinya di atas. Hwesio ini menaruh kedua tangannya di belakang kepala dan saat itu sedang memutar-mutar tubuhnya sedemikian rupa sehingga dari atas kelihatan bagaikan sebuah gangsingan atau semacam barang permainan yang terputar-putar. Di dekatnya kelihatan menggeletak sebuah topi bambu yang lebar.

Ketika Biauw Suthai dan muridnya memandang dengan penuh perhatian, mereka terkejut sekali karena mengenal hwesio itu yang bukan lain adalah Hai Kong Hosiang. Ternyata bahwa Hai Kong Hosiang sedang melatih lweekang-nya yang hebat dan aneh. Kepalanya dapat berloncat-loncat dan berpindah-pindah dengan cepat tanpa mengeluarkan suara, ada pun sepasang kakinya bergerak-gerak sehingga di dalam kamar itu berkesiur angin yang kuat.

Tiba-tiba terdengar Hai Kong Hosiang tertawa bergelak dan tahu-tahu sepasang kakinya ditendangkan ke atas. Angin hebat menyerang ke atas genteng di mana Biauw Suthai dan Pek I Toanio sedang mengintai.

“Awas!” seru Biauw Suthai dan untung ia masih keburu membetot lengan muridnya, oleh karena tiba-tiba genteng di mana mereka tadi berdiri tiba-tiba pecah dan terpental ke atas tinggi sekali sebagai akibat pukulan angin tendangan Hai Kong Hosiang yang dahsyat.

”Hai Kong pendeta bangsat!” Biauw Suthai memaki keras dan tiba-tiba tubuh Hai Kong Hosiang sudah berada di luar dan berdiri sambil tertawa berkakakan dan memandang ke atas genteng di mana Biauw Suthai dan Pek I Toanio masih berdiri.

Biauw Suthai menjadi marah sekali dan sambil mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebuah kebutan berbulu merah, dia lalu melayang turun dari genteng diikuti oleh Pek I Toanio yang juga telah mencabut keluar pedangnya.

“Ha-ha-ha, tokouw mata satu yang buruk! Akhirnya aku dapat bertemu dengan engkau. Dan agaknya engkaulah orang pertama yang akan mampus dalam tanganku, mendahului anjing-anjing lain yang hendak kubasmi semua. Dan muridmu yang cantik ini pun takkan ketinggalan dan akan mengiringkan kau! Ha-ha-ha!”

“Hai Kong Hwesio keparat yang patut mampus. Memang sudah sejak lama pinni hendak menyingkirkan kau dari muka bumi ini oleh karena kedosaanmu telah melewati takaran. Bersedialah untuk mati!” Sambil berkata demikian Biauw Suthai lalu menggerak-gerakkan hudtim-nya yang lihai.

Kalau dulu sebelum memperdalam ilmu silatnya, jika ia harus berhadapan dengan Biauw Suthai, tentu Hai Kong Hosiang akan merasa jeri oleh karena ia pun telah maklum akan ketangguhan tokouw mata satu ini, dan karena ia maklum akan kelihaian para musuhnya, maka ia lalu mengajak supek-nya untuk menemaninya dalam perantauan.

Akan tetapi, sekarang setelah mempelajari banyak macam ilmu silat yang lihai-lihai dari Kiam Ki Sianjin, ia memandang rendah kepada musuh-musuhnya, dan berani melakukan perjalanan seorang diri tanpa dikawani supek-nya.

Memang Hai Kong Hosiang mempunyai dasar watak yang sombong dan tinggi hati serta memandang rendah kepandaian orang lain, akan tetapi harus diakui bahwa dia memang mempunyai dasar atau bakat yang baik sekali. Jarang ada orang yang dapat mempelajari ilmu silat sebaik dan secepat dia.

Ilmu Silat Kalajengking yang aneh gerakannya dan dilakukan secara berjungkir balik itu telah dapat dimainkannya dengan sempurna dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan saja. Juga di samping ilmu silat ini dia telah meyakinkan ilmu-ilmu silat lain dan bahkan sudah mendapat kemajuan ilmu lweekang yang berdasarkan yoga dari Barat.

Kini melihat betapa Biauw Suthai sudah menggerak-gerakkan ujung kebutan yang lihai hingga bulu-bulu halus kebutan itu mulai menggetar dan seakan-akan menjadi hidup oleh karena tenaga dalam tokouw itu telah disalurkan ke dalam senjatanya untuk menghadapi hwesio yang sangat tangguh ini, Hai Kong Hosiang kembali tertawa bergelak-gelak dan tiba-tiba ia menyerang dengan tangan kosong.

Serangan ini berarti penghinaan serta memandang rendah terhadap Biauw Suthai yang memegang kebutan, maka tokouw ini menjadi marah sekali. Benar-benarkah hwesio ini mengangap ia begitu ringan sehingga tak perlu dilawan dengan senjata? Ia berseru keras dan menggerakkan kebutannya dalam tipu gerakan Angin Badai Memutar Ombak.

Terdengar angin bersuitan ketika hudtim berkelebat merupakan cahaya merah dan dalam segebrakan saja ujung hudtim-nya menyambar-nyambar ke tiga tempat, pertama ke arah pelipis kepala Hai Kong Hosiang lalu ke dua meluncur terus ke arah jalan darah di leher untuk melakukan totokan maut dan terus disambung lagi dengan serangan ke tiga yaitu mengebut ke arah ulu hati hwesio itu.

Akan tetapi Hai Kong Hosiang memang lihai sekali. Melihat gerakan serangan yang sekali serang mengancam tiga tempat yang berbahaya dan yang membawa hawa maut ini, dia tidak menjadi gugup. Dia gunakan kedua tangannya yang dibuka untuk digerak-gerakkan ke arah ujung kebutan dan ternyata tenaga khikang yang kuat sekali itu berhasil memukul buyar ujung hudtim sebelum senjata itu mengenai tubuhnya.

Biauw Suthai terkejut bukan main. Tak pernah disangkanya bahwa kepandaian Hai Kong Hosiang telah maju sedemikian hebatnya dan diam-diam ia maklum bahwa tenaga dalam hwesio ini telah maju pesat dan telah berada di tingkat yang lebih tinggi dari pada tenaga dalamnya sendiri.

Akan tetapi, Hai Kong Hosiang terlampau memandang rendah Biauw Suthai. Ia tidak tahu bahwa tokouw ini adalah tokoh persilatan yang boleh dibilang ‘kawakan’ atau jago tua yang telah malang melintang dalam dunia kang-ouw sampai puluhan tahun lamanya dan jarang menemui tandingan.

Biauw Suthai telah terlalu sering menghadapi orang-orang pandai dan lawan-lawan yang tangguh, hingga ia tidak menjadi jeri menghadapi Hai Kong Hosiang, biar pun ia maklum bahwa hwesio ini berkepandaian tinggi sekali. Ia lalu mengeluarkan kepandaiannya yang terlihai dan sekarang kebutannya bergerak bagaikan seekor naga mengamuk dan semua serangannya ditujukan ke arah urat-urat kematian Hai Kong Hosiang agar supaya dapat mempertahankan nyawanya lagi.

Sesudah bertempur dengan hebatnya sampai lima puluh jurus lebih, Hai Kong Hosiang terpaksa mengakui keunggulan permainan silat Biauw Suthai dalam lima puluh jurus lebih itu. Telah beberapa kali ia mengeluarkan keringat dingin dan menjadi pucat sebab hampir saja ia menjadi korban senjata hudtim lawannya. Maka ia segera berseru keras,

“Biauw Suthai, rasakan kerasnya senjataku!” dan ia lalu mencabut keluar tongkat ularnya yang terkenal ganas dan ampuh.

“Hai Kong manusia sombong! Hayo kau keluarkan semua kesaktianmu, dan jangan kira aku takut kepadamu!”

“Ha-ha-ha! Biauw Suthai, kematian sudah di depan mata tapi kau masih berani berlagak. Sungguh-sungguh tua bangka tak tahu diri. Muridmu yang cantik itu telah menjadi pucat dan tidak berani bergerak, maka jagalah dirimu baik-baik!” Sambil berkata demikian, Hai Kong Hosiang menubruk maju sambil menggerakkan tongkatnya yang istimewa sehingga Biauw Suthai harus berlaku hati-hati karena maklum akan berbahayanya tongkat ini.

Sementara itu, Pek I Toanio mendengar penghinaan Hai Kong Hosiang yang mengatakan bahwa mukanya pucat dan takut bergerak menjadi marah sekali. Sambil melompat maju dia menyerang dengan pedangnya dan membentak, “Hwesio gundul keparat! Aku Pek I Toanio tidak takut iblis macam kau!”

“Jangan maju!” teriak Biauw Suthai memperingatkan muridnya, akan tetapi terlambat.

Ketika pedang Pek I Toanio menusuk dada Hai Kong Hosiang, pendeta gundul ini sama sekali tidak menangkis karena maklum bahwa tenaga Pek I Toanio tidak perlu dia takuti, maka sengaja ia memasang dadanya untuk menerima tusukan itu. Terdengar bunyi kain terobek pedang!

Akan tetapi Pek I Toanio terkejut sekali karena di balik pakaian itu, ujung pedangnya membentur kulit dan daging yang keras dan dapat membuat pedangnya terpental kembali seakan-akan dia menusuk sebuah benda yang keras dan licin. Sebelum hilang kagetnya, ujung tongkat Hai Kong Hosiang yang sebenarnya adalah seekor ular kering dan berbisa itu telah menyambar dan tepat mengenai lehernya.

Pek I Toanio memekik perlahan sambil memegangi lehernya. Tubuhnya terhuyung-huyung kemudian roboh dan tewas dengan muka serta leher berubah menjadi hitam karena pengaruh bisa yang keluar dari tongkat itu.

“Ha-ha-ha-ha, Biauw Suthai, lihatlah! Muridmu yang cantik sudah berubah buruk seperti mukamu!”

Bukan main marah dan sedihnya hati Biauw Suthai melihat hal ini. Dia berubah menjadi buas dan liar karena marahnya.

“Hai Kong, kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang tewas saat ini!”

Lalu hudtim-nya diputar hebat dan ia pun menyerang dengan mati-matian! Belum pernah selama hidupnya Biauw Suthai marah seperti ini dan tentu saja serangannya menjadi ganas dan berlipat ganda lebih hebat dari pada biasa.

Hai Kong Hosiang terkejut dan diam-diam dia mengakui bahwa ilmu kepandaian Biauw Suthai benar-benar hebat. Dia memainkan tongkatnya dengan hati-hati dan tidak berani berlaku sembrono, sebab maklum bahwa serangan-serangan tokoh yang disertai dengan kemarahan hebat dan penuh dendam ini bukanlah hal yang boleh dipandang ringan!

Setelah mereka bertempur seratus jurus lebih dengan ramai dan hebat sekali sehingga orang-orang kampung yang tadinya menonton dari jauh dan takut melihat betapa Pek I Toanio tewas, kini tidak berani bergerak atau mengeluarkan suara melihat pertempuran yang luar biasa ramainya itu, tiba-tiba Biauw Suthai lalu merubah gerakannya dan kini ia menujukan perhatian serta mencurahkan tenaganya untuk merampas tongkat Hai Kong Hosiang yang lihai.

Pada suatu ketika ujung kebutan Biauw Suthai berhasil membelit ujung tongkat ular itu dengan erat sekali. Hai Kong Hosiang mengerahkan tenaganya untuk menarik kembali tongkatnya, akan tetapi tidak berhasil.

Tiba-tiba Hai Kong Hosiang mengeluarkan seruan aneh dan menyeramkan dan tahu-tahu tubuhnya berjungkir balik, kepalanya di atas tanah dan pada saat itu juga, kedua kaki dan tangannya bergerak menyerang Biauw Suthai!

Gerakan ini sungguh-sungguh diluar dugaan Biauw Suthai. Tadi setelah ujung hudtim-nya berhasil membelit, Hai Kong Hosiang berusaha membetot tongkatnya, karena itu ia cepat mengerahkan lweekang-nya untuk menahan dan pada waktu Hai Kong Hosiang tiba-tiba melepaskan pegangan, tongkat itu tertarik oleh hudtim dan melayang kepadanya, maka cepat-cepat Biauw Suthai mengelak. Akan tetapi dia tidak menyangka sama sekali bahwa sesudah melepaskan tongkatnya, Hai Kong Hosiang lalu berjungkir balik dan menyerang dirinya dalam keadaan yang aneh sehingga dia menjadi bingung.

Sebagaimana sudah jadi watak wanita, dia paling takut diserang dari bawah, maka Biauw Suthai terlalu mencurahkan perhatian pada dua tangan Hai Kong Hosiang yang bergerak menyerang dari arah bawah! Ia menggerakkan hudtim-nya untuk menyapu ke bawah dan menangkis pukulan-pukulan itu, akan tetapi tahu-tahu sepasang kaki Hai Kong Hosiang bergerak bagaikan dua batang cangkul ke arah pundaknya di kanan kiri dengan tenaga yang hebat sekali!

Biauw Suthai terkejut hingga mengeluarkan seruan kaget serta cepat miringkan tubuh. Ia dapat mengelak dari serangan pada pundak kanannya, akan tetapi secara telak pundak kirinya telah kena terpukul oleh ujung sepatu dari kaki Hai Kong Hosiang. Terdengar jerit perlahan dan tubuh Biauw Suthai terhuyung-huyung ke belakang.

Tokouw bermata satu ini telah menderita pukulan maut yang hebat sekali dan kalau lain orang yang terkena pukulan ini, pasti pada saat itu juga telah roboh tak bernyawa! Biauw Suthai yang telah menderita luka dalam yang hebat oleh karena totokan keras di pundak ini tidak saja membuat tulang punggungnya remuk, akan tetapi hawa pukulan juga telah menyerang jantungnya, masih kuat melayangkan kebutannya dengan gerakan terakhir yang hebat ke arah tubuh Hai Kong Hosiang.

Akan tetapi, biar pun keadaannya berjungkir dengan kepala di atas tanah dan kedua kaki di atas, tapi gerakan pendeta gundul ini tidak kalah cepatnya. Kepalanya cepat membuat gerakan dan tubuhnya tiba-tiba saja rebah di atas tanah hingga sambitan hudtim itu tidak mengenai sasaran.

Hudtim itu melayang cepat dan menghantam sebuah batu besar di belakang Hai Kong Hosiang. Terdengar suara keras karena sebagian besar batu itu hancur terpukul hudtim! Dapat dibayangkan bahwa apa bila hudtim itu mengenai tubuh manusia maka tentu akan hancur lebur. Demikian hebatnya tenaga sambitan yang dilakukan dengan menggunakan tenaga terakhir itu.

Setelah menyambit dengan hudtim-nya, Biauw Suthai lantas roboh dan ternyata dia telah menghembuskan napas terakhir. Tubuhnya menggeletak di samping tubuh Pek I Toanio.

Hai Kong Hosiang tertawa bergelak-gelak, akan tetapi sesudah melakukan pembunuhan hebat ini ia merasa lebih aman untuk segera meninggalkan tempat itu, oleh karena siapa tahu kalau-kalau kawan-kawan tokouw itu berada di dekat tempat itu. Bukan karena dia takut kepada mereka, akan tetapi oleh karena dalam pertempuran dengan Biauw Suthai tadi dia sudah mengerahkan banyak sekali tenaga dan sudah menjadi lelah, maka kalau sekarang harus menghadapi musuh tangguh yang lain lagi, hal ini akan berbahaya. Maka dia segera angkat kaki dan meninggalkan tempat itu.

Sesudah melihat bahwa hwesio jahat itu benar-benar telah pergi meninggalkan kampung mereka, para petani baru berani beramai-ramai menghampiri dua mayat yang tergeletak di situ. Mereka merasa terharu sekali oleh karena kedua wanita itu binasa dalam tugas membela mereka sekampung.

Karena itu kedua jenazah Biauw Suthai dan muridnya lalu diurus baik-baik, ditangisi dan dikabungi, kemudian dikebumikan dengan penuh penghormatan. Bahkan petani tua yang rumahnya dirampas oleh Hai Kong Hosiang, lalu menyimpan hudtim Biauw Suthai dan pedang Pek I Toanio yang dipasangnya di dinding rumahnya sebagai perhormatan dan setiap orang kampung apa bila melihat kedua senjata ini, mereka menundukkan kepala kepada dua senjata itu untuk memberi hormat…..

********************

Perahu yang ditumpangi oleh Yousuf, Lin Lin dan Ma Hoa bergerak maju dengan cepat meninggalkan pulau yang telah berkobar dan dimakan api. Tak lama kemudian, terdengar suara burung merak sakti dan Lin Lin menjadi girang sekali melihat merak sakti melayang turun kemudian berdiri di atas perahu. Akan tetapi dia merasa kuatir karena tidak melihat Nelayan Cengeng. Juga Ma Hoa semenjak tadi melihat ke arah air oleh karena maklum bahwa suhu-nya tentu akan menyusul dengan berenang.

“Kong-ciak-ko, di mana Kong Hwat Lojin?” tanya Lin Lin sambil memegang leher merak sakti.

Binatang sakti itu hanya mengeluarkan suara perlahan dan memandang ke arah pulau, seolah-olah hendak mengatakan bahwa tadi mereka berpisah di pantai Pulau Kim-san-to. Lin Lin dan Ma Hoa menjadi gelisah sekali, demikian pula Yousuf. Mereka bertiga lalu berdiri di pinggir perahu sambil memandang ke air. Tiba-tiba, di bawah cahaya api yang berkobar besar, mereka melihat bayangan hitam bergerak di permukaan air.

“Itu tentu Suhu!” kata Ma Hoa dengan girang sekali dan dia merasa yakin bahwa yang begerak-gerak itu tentu suhu-nya yang berenang cepat laksana seekor ikan. Mendengar seruan ini, Lin Lin dan Yousuf juga ikut bergirang hati.

Tiba-tiba terdengar letusan hebat dari pulau itu sehingga ketiganya terhuyung dan jatuh di dalam perahu. Bukan main terkejut hati mereka dan sebelum mereka sempat melihat di mana adanya Nelayan Cengeng, tiba-tiba datang lagi gelombang sebesar gunung yang membawa perahu mereka terlempar jauh sekali.

Dengan dibantu dua orang gadis itu, Yousuf mengerahkan tenaga dan kepandaian untuk mencegah perahu mereka terbalik dan dalam keadaan tidak berdaya itu mereka terpaksa mengikuti kemana ombak besar membawa perahu mereka. Jika perahu itu kecil, mungkin mereka masih sanggup menguasainya di antara permainan ombak, akan tetapi perahu mereka besar dan berat sehingga mereka benar-benar tak berdaya.

Ombak demi ombak datang menyerbu dan membawa perahu mereka semakin jauh dari tempat yang mereka tuju. Perahu itu terus terbawa menuju ke utara. Sampai satu malam penuh mereka terbawa semakin jauh dan pada keesokan harinya barulah ombak menjadi lemah sehingga mereka dapat mendayung perahu itu ke arah pantai. Akan tetapi mereka maklum bahwa mereka telah terdampar jauh sekali dari pantai yang hendak mereka tuju.

Ketika mereka telah mendarat dan beristirahat oleh karena lelah sekali, mendadak datang barisan besar ke tempat itu. Kagetlah Yousuf ketika mendapat kenyataan bahwa barisan ini adalah tentara Turki yang sengaja datang menyusul rombongan pertama. Pada saat melihat Yousuf, pemimpin barisan itu lalu berseru,

“Tangkap pengkhianat itu!”

Banyak anggota tentara lalu menyerbu hendak menangkap Yousuf. Akan tetapi beberapa orang di antara mereka jatuh tunggang langgang karena dihantam dengan sengit oleh Lin Lin dan Ma Hoa.

Pemimpin barisan merasa kaget dan heran sekali, kenapa Yousuf dibela oleh dua orang gadis Han yang cantik jelita. Maka dia lalu tertawa menghina dan memaki,

“Bagus sekali, Yousuf! Kau tidak saja pandai mengkhianati kerajaan dan menipu kami, akan tetapi juga pandai membujuk dua orang gadis Han yang cantik untuk menjadi bini muda dan pembela. Ha-ha-ha...!”

“Bangsat anjing bermulut jahat!” Lin Lin memaki sengit sebab gadis ini sedikit-sedikit telah mempelajari bahasa Turki dari Yousuf maka ia dapat mengerti ucapan pemimpin itu.

Dalam kemarahannya, Lin Lin mencabut pedang dan menyerang pemimpin barisan itu. Akan tetapi, puluhan tentara Turki lalu maju mengeroyok karena agaknya mereka ini suka sekali untuk menghadapi dua orang gadis cantik itu. Mereka berniat mempermainkan dua dara jelita ini, tidak tahunya, begitu Lin Lin bergerak diikuti oleh Ma Hoa, beberapa orang serdadu terguling mandi darah.

Kini mereka baru tahu bahwa kedua orang gadis itu adalah pendekar pedang yang luar biasa, maka sambil berteriak-teriak marah, Lin Lin dan Ma Hoa dikeroyok oleh puluhan orang, sedangkan ratusan tentara berteriak-teriak di belakang mereka yang mengeroyok. Yousuf marah sekali dan sekali tubuhnya bergerak, dia sudah berhasil menangkap dua orang tentara yang diputar-putar di sekelilingnya dan digunakan sebagai senjata.

Tentara Turki terkejut sekali dan mereka menjadi jeri karena sudah tahu bahwa Yousuf merupakan seorang jagoan terkenal di negeri mereka, maka dengan amukan Yousuf ini, kepungan mengendur dan pengeroyok-pengeroyok berkelahi dengan hati-hati.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari angkasa dan tahu-tahu seekor burung merak yang indah dan besar, menyambar-nyambar turun dan setiap kali sayapnya menyampok, maka seorang Turki segera terpukul roboh tanpa dapat bangun kembali. Amukan burung merak ini ternyata lebih hebat dari pada amukan Yousuf.

Menghadapi empat orang lawan yang tangguh luar biasa ini, pengeroyokan tentara Turki menjadi kacau balau dan Yousuf yang tidak saja segan untuk melawan serta mengamuk bangsa sendiri akan tetapi juga berpikir bahwa tidak mungkin mereka harus menghadapi jumlah lawan yang sedikitnya ada lima ratus orang itu, lalu berseru,

“Mari kita pergi!”

Lin Lin dan Ma Hoa mengerti pula bahwa jumlah musuh terlalu banyak, karena itu tanpa membantah, mereka cepat-cepat ikut melompat pergi, melalui kepala pengeroyok sambil menggulingkan tiap penghalang. Juga Sin-kong-ciak lalu memekik nyaring dan mengikuti ketiga orang itu. Sebenarnya burung merak ini merasa kecewa karena baru enak-enak membabat lawan-lawannya yang empuk itu, kini diperintahkan untuk pergi.

Ilmu berlari cepat dari ketiga orang itu cukup tinggi untuk memungkinkan mereka segera lari meninggalkan mereka yang mengejar sambil berteriak-teriak, dan tak lama kemudian mereka bertiga tak mendengar lagi suara teriakan barisan Turki yang mengejar itu. Merak sakti tetap terbang di atas mereka dan ketika Yousuf berhenti, merak itu pun melayang turun dan membelai-belai tangan Lin Lin dengan leher dan kepalanya.

“Lin Lin dan Ma Hoa,” kata Yousuf yang kini juga menyebut nama Ma Hoa biasa saja oleh karena orang tua ini sudah menganggap dia sebagai keluarga sendiri. “Kalian tahu bahwa aku dikejar-kejar dan dimusuhi, oleh karena dianggap menipu dan mengkhianati mereka.” Ia menghela napas panjang. “Maka, demi keselamatan kalian berdua, kalian kembalilah ke pedalaman Tiongkok untuk mencari kawan-kawanmu dan Nelayan Cengeng. Biarkan aku melarikan diri dan bersembunyi di gunung sebelah utara itu. Kalau kalian bersama dengan aku maka kalian hanya akan menghadapi bahaya saja.”

“Ayah, janganlah kau berkata begitu,” bantah Lin Lin. “Bagiku, kau adalah ayahku sendiri, dan ke mana kau pergi, aku sudah sewajarnya ikut.”

“Yo-peh-peh,” kata Ma Hoa yang kini menyebut peh-peh atau uwa kepada Yousuf, “benar seperti yang dikatakan Lin Lin. Semenjak berlayar kita telah bersama-sama dan aku pun menganggap kau sebagai orang tua sendiri, maka kenapa sedikit bahaya saja membuat kita harus berpisah? Marilah Peh-peh bersama aku dan Adik Lin Lin kembali ke selatan kemudian mencari Suhu dan kawan-kawan lainnya. Ada pun tentang segala bahaya yang menyerang dirimu, akan kita hadapi bertiga, bahkan berempat dengan Sin-kong-ciak.”

Yousuf merasa terharu sekali. Dia lalu menggunakan kedua tangannya untuk memegang tangan Lin Lin dan Ma Hoa.

“Kalian memang anak-anak baik dan berhati mulia. Semenjak dahulu aku hidup sebatang kara, setelah bertemu dengan kalian, seakan-akan mendapat kurnia besar sekali. Takkan ada di dunia ini perkara yang lebih kusukai dari pada hidup di dekat kalian dan sahabat-sahabat baik seperti Kong Hwat Lojin, akan tetapi kalian anak-anak muda harus tahu pula bahwa aku adalah seorang Turki. Apakah mungkin aku harus melawan serta membunuh tentara bangsaku sendiri? Ahh, itu tidak mungkin. Lebih baik untuk sementara waktu aku bersembunyi di tempat sunyi dan kelak apa bila tentara Turki sudah kembali ke negeriku dan keadaan sudah aman kembali, barulah aku menyusul ke selatan dan mencari kalian.”

Akan tetapi Lin Lin merasa tidak tega untuk meninggalkan Yousuf dalam keadaan sedang dikejar-kejar itu. Bagaimana kalau dia diketemukan dan akhirnya sampai mati?

“Tidak, Ayah. Biarlah aku ikut kau bersembunyi untuk sementara waktu, dan nanti kalau keadaan telah aman kembali, kita bersama menuju ke selatan mencari kawan-kawan.”

Ma Hoa yang berpikir bahwa keadaan itu tak akan berlangsung lama, oleh karena setelah ternyata bahwa Pulau Kim-san-to terbakar habis, tentu tentara Turki itu tidak mau tinggal berlama-lama di tempat yang bukan menjadi daerah mereka ini, maka ia segera berkata,

“Memang demikian sebaiknya, Yo-peh-peh. Lin Lin dan aku akan ikut kau bersembunyi untuk beberapa pekan, atau beberapa bulan kalau memang keadaan menghendaki.”

Yousuf merasa girang sekali dan wajahnya yang agak kecoklat-coklatan itu berseri-seri gembira. “Bagus, anak-anakku, kalian benar-benar membuat aku merasa bahagia sekali. Jangan kalian kuatir, di lereng salah satu bukit dekat tapal batas Tiongkok, aku dulu telah meninggalkan sebuah rumah yang mungil dan indah. Mari kita pergi ke sana dan untuk sementara waktu kita tinggal di tempat itu, di mana pemandangannya indah dan hawanya sejuk. Tentang biaya, jangan kuatir!” Sambil berkata demikian Yousuf pun mengeluarkan sekantung emas yang disimpan di dalam saku dalam bajunya.

Demikianlah, ketiganya, berempat dengan Merak Sakti, lalu segera menuju ke bukit yang dimaksudkan oleh Yousuf.....

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bodoh Jilid 21-25"

Post a Comment

close