Ang I Niocu Bab 08 - Pertandingan Di Air

Mode Malam
 Bab 8 - Pertandingan Di Air

Melihat ini, Hek-te-ong terkejut dan marah sekali. Dengan suara menggereng seperti binatang buas, ia menubruk Bu Pun Su dengan kedua tangan direnggangkan, lakunya seperti seekor biruang menerkam. Bu Pun Su tak dapat mengelak lagi, juga tidak tega untuk menyerang lawan dengan pedangnya. Cepat ia membanting pedang sehingga menancap di atas tanah, dan dengan kedua tangannya, ia menyambut datangnya lawan. Dua pasang tangan yang amat kuat bertemu, saling cengkeram dan saling membetot. Dua orang sakti mengadu tenaga lwee-kang, karena dari sepuluh jari tangan masing-masing keluar hawa lwee-kang yang disalurkan.

“Krek... krek... krek...!” Suara ini amat mengerikan mereka yang menonton pertempuran, karena jelas bahwa itu adalah suara tulang-tulang yang patah! Tak lama kemudian, Hek-te-ong menjerit panjang dan tubuhnya terjengkang ke belakang, lalu roboh dengan jari-jari tangan masih merupakan cengkeraman kuku iblis. Akan tetapi ia sudah tidak bernapas lagi dan tubuhnya kaku seperti balok. Ternyata bahwa dalam adu tenaga lwee-kang tadi, ia terkena pukulan hawa lwee-kangnya sendiri yang membalik karena tidak dapat menahan sin-kang yang mengalir keluar dari jari-jari tangan Bu Pun Su.

Bu Pun Su menarik napas panjang. “Siancai... siancai...” katanya perlahan, “Hek-te-ong dan Pek-in-ong binasa karena kehendak Tuhan…”

Cheng-hai-ong berdiri pucat. Ia marah dan sedih sekali melihat dua orang kakak seperguruannya tewas dalam keadaan mengerikan. Ia maklum bahwa kalau dua orang kakaknya kalah oleh Bu Pun Su, apalagi dia yang kepandaiannya lebih rendah. Akan tetapi, ia tidak dapat membiarkan begitu saja tanpa menuntut balas. Malu kalau ia tidak turun tangan. Diam-diam otaknya bekerja dan ia lalu maju menghampiri Bu Pun Su, sikapnya tenang.

“Bu Pun Su, kau telah menewaskan kedua orang suhengku. Kau tentu maklum bahwa hal ini tak dapat kubiarkan begitu saja. Terpaksa aku melupakan kebodohan sendiri dan menantangmu mengadu nyawa.”

“Aku tahu dan aku bersedia, Cheng-hai-ong,”, jawab Bu Pun Su sambil menarik napas panjang. Kalau tidak amat terpaksa dan demi keselamatan kaum pendekar di kang-ouw, ia segan untuk membunuh oriang.

“Kedua suhengku mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi dariku, toh mereka tewas dalam tanganmu. Apalagi aku. Oleh karena itu, kiranya sebagai orang yang lemah aku berhak menentukan sifat pertandingan ini, ataukah kau merasa keberatan, Bu Pun Su?”

Bu Pun Su tersenyum dingin, “Sesukamulah, aku akan selalu mengiringi kehendakmu. Pertandingan mengadu kepandaian macam apa pun akan kuterima.”

“Bagus!” Tiba-tiba sikap lemah-lembut dan mengalah dari Cheng-hai-ong lenyap, berganti dengan sikap yang gembira dan sinar mata yang kejam! “Bu Pun Su adalah seorang tokoh besar, kiranya takkan menjilat ludah sendiri yang sudah dikeluarkan. Bu Pun Su, aku disebut orang Cheng-hai-ong (Raja Laut Hijau), maka sedikit kepandaian yang kumiliki tentu saja ada hubungannya dengan air, atau lebih tepat lagi, aku lebih leluasa bergerak di dalam air daripada di atas bumi. Oleh karena itu, Bu Pun Su, aku menantangmu untuk mengadu nyawa di dalam air sungai ini!” Ia menudingkan telunjuknya ke arah air Sungai Yalu Cangpo yang airnya mengalir tenang dan lambat, menandakan bahwa air itu amat datam.

Biarpun di dalam hatinya Bu Pun Su merasa kaget sekali karena tidak menyangka bahwa lawannya demikian licik dan menjalankan siasat yang amat curang, namun pada wajahnya tidak sedikit pun nampak rasa gelisah atau takut. Ia bahkan tersenyum dan berkata,

“Cheng-hai-ong, aku sama sekali tidak ingin mencelakai siapapun juga. Sekarang kedua suhengmu telah tewas karena kesalahan mereka sendiri. Kalau kau mengembalikan kitab dan pedang secara sukarela kemudian kau kembali ke tempat asalmu dan jangan mengganggu kami, juga melepaskan Mo-kauw dari pimpinanmu, siapakah yang sudi mencampuri urusan dunia yang menyulitkan? Akan tetapi kau bahkan menantangku, tidak tahu kau menantang untuk memperlihatkan kepandaian di air ataukah untuk bertempur?”

Cheng-hai-ong sebenamya memang gentar menghadapi Bu Pun Su yang lihai. Biarpun ia yakin bahwa di dalam air, ia akan lebih unggul akan tetapi orang semacam Bu Pun Su ini, biarpun di dalam air atau di lautan api sekalipun, tetap merupakan lawan yang berbahaya dan tangguh. Maka ia ingin berlaku hati-hati dan menjawab,

“Bu Pun Su, pertama-tama aku menantang kau mengadakan pertunjukan di permukaan air, kita sama lihat siapa di antara kita yang lebih pandai.” Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawab agar tidak memberi kesempatan membantah kepada Bu Pun Su, orang ke tiga dari Thian-te Sam-kauwcu ini melompat dan tubuhnya sudah melayang turun ke dalam Sungai Yalu Cangpo. Semua orang berlari-lari mendekati tebing sungai untuk melihat. Mereka menjadi kagum sekali dan di sana-sini terdengar seruan memuji. Memang kepandaian Cheng-hai-ong hebat. Lain orang kalau ingin terapung di air, tentu jalan satu-satunya hanya berenang. Ini pun hanya membuat sebagian tubuh saja yang terapung. Akan tetapi, tidak demikian dengan Cheng-hai-ong. Entah bagaimana, dengan kedua kaki digerakkan cepat-cepat dan aneh, ia dapat membuat tubuhnya terapung dalam keadaan berdiri tegak dan yang tenggelam ke dalam air hanya kaki sebatas lutut saja! Lutut itu bergerak-gerak terus dan dapat diduga bahwa kedua kaki itulah yang bergerak secara istimewa sehingga tubuhnya dapat tegak di permukaan air, dan tangan kanan Cheng-hai-ong sudah memegang senjatanya yang luar biasa, yakni rantai dengan ujungnya tengkorak manusia! Orang ini tertawa mengejek sambil memandang ke arah Bu Pun Su!

“Bu Pun Su, beranikah kau turun ke sini?” tantangnya dengan nada suara mengejek.

“Kwan Cu, jangan kena terjebak oleh tipu muslihatnya!” Bun Sui Ceng mencegah Bu Pun Su, kemudian dengan suara keras dan mengamang-amangkan cambuknya ke arah Cheng-hai-ong, ia membentak keras, “Cheng-hai-ong, manusia busuk! Kau hendak mempergunakan kecurangan, memancing lawan ke dalam air. Kami bukan sebangsa katak yang biasa main di darat dan di air, mana kami sudi melayanimu di air, kau katak bukan tikus pun bukan? Hayo naik ke darat dah kau boleh mencoba rasanya cambukku ini sebelum bangkaimu kulemparkan ke dalam air.”

Bu Pun Su tersenyum. “Air Sungai Yalu Cangpo boleh lebar dan dalam mengerikan, akan tetapi selama masih ada nelayan, kita takut apakah?” Tiba-tiba tubuhnya melayang ke bawah, ke air sungai yang demikian lebar dan dalam!

Semua orang melongok ke bawah, kawan-kawan Bu Pun Su amat khawatir karena mereka belum pernah mendengar bahwa pendekar sakti ini pandai pula bermain di air. Akan tetapi apa yang mereka lihat di permukaan air Sungai Yalu Cangpo benar-benar membuat mereka melongo, bahkan pihak Mo-kauw yang menyaksikan pemandangan ini menjadi pucat dan tak berani bernapas. Apakah yang mereka lihat? Bu Pun Su telah melompat dan tiba di permukaan air seperti di atas tanah keras saja! Pendekar sakti ini berdiri di permukaan air, tidak bergeming, tidak sukar sama sekali, tersenyum-senyum dan enak saja menghadapi Cheng-hai-ong yang menjadi pucat.

Ini tak mungkin, pikir Cheng-hai-ong. Ia adalah seorang ahli dalam permainan di air dan ia tahu bahwa berdiri tanpa bergerak di permukaan air seperti sehelai daun kering, adalah hal yang tak mungkin dilakukan oleh manusia hidup. Kalau sekiranya ia melihat Bu Pun Su berlari-lari cepat di permukaan air, ia masih percaya karena seorang yang gin-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi seperti Bu Pun Su, kiranya dapat melakukan hal itu. Akan tetapi berdiri tegak di permukaan air tanpa bergerak?

Kemudian, tiba-tiba Cheng-hai-ong teringat akan peristiwa sebelum Bu Pun Su muncul di tempat itu. Ketika ia dan suheng-suhengnya menanti datangnya Bu Pun Su, ada suara ketawa aneh di permukaan air, dan ia telah menyerang dengan jarum ke arah permukaan air, akan tetapi tidak kelihatan siapapun juga. Apakah tak mungkin ada orang pandai yang bersembunyi di dalam air? Dan sekarang orang itu telah membantu Bu Pun Su dan menyangga kedua kakinya?

“Jahanam, jangan main sembunyi, keluarlah kalau laki-laki!” seru Cheng-hai-ong dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak dan beberapa batang jarum hijau menyambar ke arah air tepat di bawah kaki Bu Pun Su!

Bu Pun Su menggerakkan kakinya menendang ke arah sinar hijau itu dan jarum-jarum itu menyeleweng ke kiri.

“Kong Hwat, kaulawanlah dia ini, sama-sama setan air!” kata Bu Pun Su dan sekali ia menggerakkan kakinya, tubuhnya melesat naik ke tebing sungai lagi.

Terdengar suara ketawa bergelak dan di permukaan air, di mana tadi Bu Pun Su “berdiri” di atas air, muncul kepala seorang laki-laki yang begitu muncul begitu ketawa terkekeh-kekeh, nampaknya seperti orang kegirangan sekali. Akan tetapi sepasang matanya tidak ikut tertawa bahkan seperti orang menangis. Kalau saja dari rambutnya tidak menetes-netes turun air sungai, tentu orang akan melihat air matanya bercucuran!

“Dia Nelayan Cengeng!” seru Sui Ceng dan ia memandang heran kepada Bu Pun Su karena kini tahulah ia bahwa Bu Pun Su tadi sebelum melompat ke dalam sungai sudah tahu bahwa Nelayan Cengeng berada di bawah permukaan air itu. Bagaimana Bu Pun Su bisa mengetahui hal ini?

Adapun Cheng-hai-ong ketika melihat bahwa benar saja dugaannya di bawah air terdapat kawan Bu Pun Su, menjadi marah sekali. Ia menggerakkan rantainya dan tengkorak di ujung rantai menyambar ke arah kepala Kong Hwat atau Si Nelayan Cengeng. Akan tetapi, tengkorak itu hanya menyambar air, karena kepala yang diserang telah lenyap lagi ke bawah permukaan air. Tiba-tiba nampak Cheng-hai-ong meronta-ronta dan memaki-maki. Senjatanya bergerak memukul ke bawah, akan tetapi tetap saja tubuhnya diseret turun ke dalam air oleh Nelayan Cengeng! Sebentar kemudian, dua orang ”setan air” itu telah tenggelam dan orang-orang yang berada di tebing tidak melihat apa-apa lagi. Hanya air sungai yang tadinya mengalir tenang itu kini nampak bergelombang, tanda bahwa di dasar sungai terjadi pergumulan hebat.

Bu Pun Su memang datang bersama Kong Hwat yang ia jumpai di tengah perjalanannya menuju ke Yalu Cangpo. Dua orang kenalan lama itu bercakap-cakap dan ketika mendengar bahwa Bu Pun Su hendak menghadapi orang-orang Mo-kauw yang dipimpin oleh Thian-te Sam-kauwcu, Kong Hwat menjadi gembira sekali dan dengan sukarela ikut ke tempat itu. Akan tetapi ia tidak langsung menuju ke tempat itu, melainkan mengambil jalan dari sungai, mendayung perahu kecilnya, kemudian ia bahkan telah mendahului Bu Pun Su dan telah mengeluarkan suara ketawa ketika para anggauta Mo-kauw mentertawakan Bu Pun Su yang belum datang.

Sementara itu, orang-orang Mo-kauw yang melihat dua orang pemimpin mereka telah tewas, menjadi marah sekali. Terutama Hek Pek Mo-ko dan Pek Hoa Pouwsat. Mereka bertiga ini berseru keras memberi aba-aba kepada kawan-kawannya dan menyerbulah mereka sehingga kembali terjadi perang tanding hebat antara orang-orang Mo-kauw melawan orang-orang Siauw-lim dan Kun-lun. Adapun Hek Pek Mo-ko, Pek Hoa Pouwsat, Kiam Ki Sianjin, dan beberapa orang tokoh Mo-kauw yang berkepandaian tinggi, tentu saja segera disambut oleh Bun Sui Ceng, Swi Kiat Siansu, The Kun Beng, Han Le, Pok Pok Sianjin, dibantu oleh Kiang Liat dan tokoh-tokoh Siauw-lim dan Kun-lun.

Pertandingan ini tidak seimbang. Setelah Thian-te Sam-kauwcu tidak berada di situ, kekuatan pihak Mo-kauw kalah jauh, apalagi kalau Bu Pun Su ikut membantu kawan-kawannya. Pendekar Sakti ini yang melihat bahwa pihaknya unggul, hanya berdiri menonton, kadang-kadang menengok ke arah sungai.

Pergumulan di dalam sungai antara Nelayan Cengeng dan Cheng-hai-ong benar-benar hebat. Sayangnya mereka yang berada di darat tidak dapat menyaksikan pertandingan istimewa ini antara dua orang manusia yang memiliki kepandaian seperti ikan. Sebetulnya, kalau bertanding di darat, kepandaian Cheng-hai-ong masih lebih unggul dan kiranya Kong Hwat takkan dapat bertahan sampai lima puluh jurus. Akan tetapi, Nelayan Cengeng ini memang cerdik. Ia tahu bahwa ia menghadapi lawan-lawan tangguh, oleh karena itu ia sengaja tidak mau ikut Bu Pun Su menghadapi mereka di darat, melainkan menanti di air, di mana ia boleh membanggakan kepandaiannya dan tak usah takut terhadap siapapun juga. Biarpun kini ia menghadapi Cheng-hai-ong yang lihai, namun ternyata setelah mereka bertanding di dalam air, Cheng-hai-ong harus mengakui keunggulan lawannya yang istimewa itu. Pertempuran di dalam air berbeda dengan pertempuran di darat. Tenaga lwee-kang tidak begitu ampuh lagi setelah orang berada di dalam air, apalagi segala macam senjata rahasia seperti yang menjadi keunggulan Cheng-hai-ong, sama sekali jarum-jarumnya tak dapat dipergunakan. Di dalam air, yang diandalkan adalah kegesitan, ketajaman mata dan telinga, dan terutama sekali keuletan dan kekuatan bertahan napas.

Dalam hal ini pun Cheng-hai-ong kena diakali oleh Nelayan Cengeng. Kalau mereka berdua bertanding kekuatan menahan napas di dalam air kiranya Kong Hwat hanya menang sedikit saja. Akan tetapi, setelah mereka bergumul beberapa lama dan keduanya hampir kehabisan napas diam-diam Kong Hwat mengeluarkan sebatang tangkai rumput alang-alang yang dalamnya berlubang. Tangkai alang-alang yang seperti pipa kecil ini ujungnya ia masukkan mulut dan pipa alang-alang yang panjang itu timbul di permukaan air ketika Kong Hwat meniup ujung yang dimasukkan mulutnya. Kemudian, dengan leluasa ia dapat berganti hawa dan bernapas melalui pipa kecil itu!

Dengan akal ini, tidak heran apabila tak lama kemudian, ia dapat menggempur dada Cheng-hai-ong dengan senjatanya, yakni sebatang dayung besi yang berat! Cheng-hai-ong yang napasnya memang sudah hampir putus itu, mana kuat menerima pukulan ini? Tubuhnya menjadi lemas dan ia tersembul ke atas dengan tubuh tak bernyawa lagi, lalu hanyut oleh air sungai yang mengalir tenang. Kong Hwat sendiri cepat naik dan me.nyembulkan kepala di atas permukaan air. Ia melihat pertempuran berjalan ramai akan tetapi Bu Pun Su hanya berdiri saja menonton, maka tahulah ia bahwa ia tidak perlu turun tangan membantu. Ia lalu berenang dengan cepat sekali mengikuti aliran air, pergi dari tempat itu.

Para anggauta Mo-kauw melihat pula tubuh Cheng-hai-ong yang sudah menjadi mayat dan hanyut di permukaan air sungai, maka hati mereka makin gelisah sehingga perlawanan mereka makin kalut. Banyak sudah orang pihak mereka roboh dan binasa.

Tiba-tiba terdengar pekik nyaring, “Lu Kwan Cu, aku perintahkan kau menghentikan perlawanan pihakmu!”

Seorang wanita melompat dan memegang sebatang tusuk konde perak ke atas sambil menghampiri Bu Pun Su. Pendekar ini menjadi pucat dan kaget sekali. Ia hendak melarikan diri, namun sudah tidak keburu. Terpaksa ia melompat ke tengah pertempuran dan membentak,

“Semua kawan tahan senjata!”

Bun Sui Ceng yang lain-lain heran sekali dan melompat mundur. Beberapa orang Siauw-lim dan Kun-lun yang masih mendesak lawan, tentu saja tidak mau mundur karena selagi mereka menang dan mendesak lawan, mengapa disuruh berhenti? Tiba-tiba mereka melihat bayangan orang berkelebat cepat di depan mereka dan tahu-tahu senjata di tangan mereka telah lenyap dirampas orang! Terpaksa mereka melompat mundur dengan kaget, dan makin heranlah mereka ketika mendapat kenyataan bahwa yang merampas senjata mereka tadi bukan lain adalah Bu Pun Su sendiri!

“Wi Wi, lekas kau pergilah. Kalau tidak, aku tidak tahu apakah aku masih

“Wi Wi, kau dan kawan-kawanmu pergilah!” kata Bu Pun Su dengan suara kaku dan muka pucat.

Semua orang menjadi terheran-heran. Bun Sui Ceng tentu saja menjadi amat penasaran dan marah. Ia melangkah maju dan cambuknya berbunyi keras ketika cambuk ini menyambar ke arah Wi Wi Toanio!

Akan tetapi, sekali menggerakkan lengan, Bu Pun Su menerima cambuknya itu dengan lengannya. Agar jangan menyinggung perasaan Bun Sui Ceng, pendekar sakti ini tidak mengerahkan tenaga dan membiarkan cambuk itu melukai kulit lengannya. Darah mengucur dari kulit yang pecah terkena cambuk!

“Ayaaa....!” Sui Ceng melompat ke belakang dengan kaget sekali. “Kwan Cu, apakah kau sudah gila?” Ia memandang ke arah Bu Pun Su, kemudian menoleh kepada Wi Wi Toanio dan matanya mengancam. “Kau mau membela dia? Akan kubunuh wanita jahanam ini....” akan dapat mentaati permintaanmu.” kata pula Bu Pun Su kepada Wi Wi Toanio.

Wi Wi Toanio tersenyum mengejek. Pada saat seperti itu, ia tidak dapat mendesak Bu Pun Su karena orang-orang yang menjadi lawan adalah orang-orang yang amat lihai, apalagi suaminya sudah meninggal dan perlu diurus. Dapat menyelamatkan diri saja sudah lebih dari cukup dan boleh dibilang untung sekaii, karena ia maklum bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, pihak Mo-kauw pasti akan tewas semua. Sambil tertawa dan menangis seperti orang gila, Wi Wi Toanio menyambar tubuh An Kai Seng, kemudian berlari pergi dari situ, diikuti oleh semua orang.

Hek Pek Mo-ko sendiri, dan juga Pek Hoa Pouwsat, tidak berani menentang Bu Pun Su lebih lama lagi dan mereka pun melarikan diri dan mempergunakan kesempatan aneh itu. Mereka pergi dengan hati mengandung dendam besar, akan tetapi apakah daya mereka menghadapi orang-orang seperti Bu Pun Su dan yang lain-lain itu?

Setelah pihak lawan pergi semua membawa mayat dan mereka yang terluka, Bun Sui Ceng tak dapat menahan lagi kemarahannya. Sambil menatap wajah Bu Pun Su yang pucat, ia menegur,

“Kwan Cu, apakah kau tiba-tiba menjadi gila? Orang Mo-kauw itu perlu dibasmi, mengapa kau bahkan memberi kesempatan kepada mereka untuk lari?”

“Thian-te Sam-kauwcu sudah tewas, dan tidak ada alasan bagi kita untuk membasmi orang-orang Mo-kauw. Sebelum muncul Thian-te Sam-kauwcu, antara kita dan pihak Mo-kauw memang tidak ada permusuhan sesuatu, mengapa kita harus terlalu mendesak?” kata Bu Pun Su. Kata-kata ini dapat dimengerti oleh semua orang dan pihak Siauw-lim-si serta Kun-lun-pai juga menganggap urusan sudah selesai. Kitab dan pedang telah dapat dirampas kembali dan pencurinya, yakni Thian-te Sam-kauwcu, sudah tewas. Mengapa harus memperbesar permusuhan dengan Mo-kauw yang sebetulnya hanya diperalat oleh Thian-te Sam-kauwcu?

Maka setelah mengambil benda pusaka masing-masing, orang-orang Siauw-lim-si dan Kun-lun-pai lalu meninggalkan tempat itu, membawa jenazah dan anggauta-anggauta yang terluka.

Berturut-turut Swie Kiat Siansu, Pok Pok Sianjin, Han Le, dan Kiang Liat mengundurkan diri. Akhirnya hanya tinggal Bu Pun Su, Bun Sui Ceng dan Kun Beng saja yang masih berada di tempat itu. Bun Sui Ceng berkeras minta penjelasan dari Bu Pun Su mengapa pendekar ini begitu menurut dan takut-takut kepada Wi Wi Toanio.

Bu Pun Su tersenyum dan memandang kepada The Kun Beng yang semenjak tadi diam saja, kadang-kadang memandang kepada Sui Ceng, kadang-kadang melirik ke arah Bu Pun Su dan kadang-kadang menundukkan mukanya. Memang di antara tiga orang pendekar yang kini sudah tua itu, dahulu terjalin kisah yang amat mengharukan dan juga membingungkan, kisah asmara segitiga yang sulit. Setelah berpisah puluhan tahun, kini mereka bertemu kembali dan tentu saja kenang-kenangan masa lampau terbayang (baca kisah Pendekar Sakti).

“Sui Ceng, kau ternyata masih keras hati seperti dulu. Sebetulnya aku mengharapkan untuk melihat kau dan Kun Beng menjadi suami isteri dan mempunyai keturunan yang gagah agar aku dapat membantu mendidiknya. Tidak tahunya... kita masih sama saja seperti dahulu!”

“Kwan Cu,” kata Sui Ceng bersungguh-sungguh tanpa merasa sungkan lagi kepada bekas tunangannya, yakni The Kun Beng, “kau sudah tahu bahwa hatiku semenjak dahulu sudah beku terhadap laki-laki. Kuanggap laki-laki adalah mahluk yang tak dapat dipercaya dan berhati palsu, kecuali engkau. Kalau saja isi dada Kun Beng seperti isi dadamu, kiranya sekarang kami telah menjadi suami isteri.”

Tentu saja Kun Beng merasa terpukul, akan tetapi ia sudah terlalu lama menderita patah hati sehingga kini tidak terasa lagi olehnya.

“Memang Saudara Kwan Cu seorang laki-laki sejati seorang pria tak tercela. Oleh karena itu maka dosamu makin bertumpuk, Sui Ceng. Melukai hatiku boleh kauanggap sebagai hukuman atas perbuatanku yang menyeleweng, akan tetapi melukai hati Kwan Cu... benarbenar kau telah berdosa!”

Kata-kata ini benar-benar mengenai tepat. Tak terasa lagi dua butir air mata menitik turun dari sepasang mata yang masih indah dan bening itu. Terbayanglah di depan mata Sui Ceng semua pengalamannya dahulu dan betapa Lu Kwan Cu amat kasih kepadanya.

Mendengar kata-kata dua orang itu, Bu Pun Su tersenyum pahit. “Ahh, kalian salah duga. Di dunia ini, manakah ada seorang manusia yang bersih dan suci tak ternoda? Kalian menganggap aku seorang baik hanya karena kalian tidak tahu akan perbuatanku yang menyeleweng seperti yang pernah dilakukan oleh Kun Beng, bahkan lebih hebat dan keji lagi...”

Sui Ceng dan Kun Beng mengangkat muka memandang, agaknya tidak percaya.

“Sui Ceng kau tadi bertanya tentang sikapku yang aneh terhadap Wi Wi Toanio; isteri dari An Kai Seng. Nah, sekarang untuk membuka matamu bahwa bukan hanya tunanganmu laki-laki tunggal yang menyeleweng di dunia ini, baiklah kuceritakan tentang sebab sikapku yang aneh tadi.” Kemudian ia menceritakan betapa ia pernah terpikat oleh kecantikan Wi Wi Toanio sehingga melakukan hal yang amat keji dan rendah memalukan, yakni mengadakan perhubungan dengan isteri orang!

“Nah, sekarang kalian tahu akan kenyataan bahwa Bu Pun Su adalah seorang manusia busuk Lu Kwan Cu sudah mampus dan yang ada hanya Bu Pun Su!” Setelah berkata demikian, dengan suara ketawa yang pahit dan terdengar menyeramkan, Bu Pun Su berkelebat dan lenyap dari hadapan dua orang sahabatnya itu. Hanya suara ketawanya saja yang masih bergema dari tempat jauh.

Setelah meninggalkan lembah Sungai Yalu Cangpo, Kiang Liat melakukan perjalanan cepat untuk segera sampai kepada isterinya, juga amat rindu kcpada Im Giok, puterinya. Tiga bulan ia berpisah dengan mereka! Kalau ia mengenangkan semua pengalamannya selama tiga bulan ini, diam-diam Kiang Liat bergidik dan merasa beruntung bahwa ia masih selamat dan dapat keluar dari semua ancaman dan bahaya itu dengan tak kurang suatu apa. Juga ia telah mendapat pengalaman pertempuran hebat di mana kedua matanya terbuka bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang pandai. Kiang Liat ingin membuat girang hati isterinya dan ingin membuat kedatangannya tidak tersangka-sangka. Sambil tersenyum-senyum geli dan gembira mengenangkan betapa isterinya akan terkejut dan girang, ia merencanakan untuk memasuki rumahnya tanpa diketahui oleh siapapun dan tahu-tahu ia akan tidur di atas pembaringan di dalam kamarnya sampai isterinya masuk ke kamar dan mendapatkannya sudah tidur di situ?

Manusia manakah yang tahu akan ketentuan nasibnya? Siapakah yang mengerti akan rahasia besar nasib manusia yang hanya dipegang dan ditentukan oleh Tangan Thian Yang Maha Kuasa sendiri? Bukti kekuasaan Tuhan memang kadang-kadang amat aneh, ganjil, dan sukar dimengerti. Kadang-kadang bahkan nampak tidak adil! Misalnya, seorang yang berwatak jahat hidup dalam keadaan senang dan makmur, sebaliknya seorang yang berwatak baik hidup sengsara. Ada pula seorang yang hidupnya penuh dosa selalu sehat, sebaliknya orang yang hidup saleh bahkan menderita penyakit berat. Terlontarlah kata-kata “tidak adil” dari mulut mereka yang masih belum kuat iman dan kepercayaannya terhadap Tuhan dan kekuasaannya. Akan tetapi tidak demikian sikap orang budiman, atau seorang yang memang menaruh kepercayaan akan keadilan Tuhan secara mutlak.

Dia ini bahkan akan menerima segala apa yang oleh manusia dianggap “sengsara” atau “menderita” dengan hati tenang dan penuh penyerahan sebulatnya kepada Yang Maha Kuasa, menerima lahir batin dengan penuh kepercayaan dan keyakinan bahwa segala apa yang menimpa dirinya itu adalah kehendak Tuhan yang tak dapat diubah pula oleh siapapun juga, dan bahwa di balik semua hal yang menimpa dirinya itu terdapat sesuatu yang adil dan baik. Bahagialah orang yang menerima kemalangan sebagai orang menghadapi ujian, tahan uji, kuat dan akhirnya lulus! Kasihan mereka yang lemah hati, yang tidak kuat menghadapi kemalangan, sehingga kepercayaan menjadi luntur, watak yang baik menjadi buruk, dan kemalangan menyeretnya ke dalam penyelewengan yang akan menghancurkan hidupnya sendiri!

Kiang Liat tak menyangka sama kali bahwa ia akan menghadapi hal yang amat berat baginya. Ketika ia tiba di kotanya, siang telah terganti senja dan keadaan di jalan sudah mulai sunyi. Dengan mudah, Kiang Liat dapat mempergunakan kepandaiannya sehingga tak seorang pun melihatnya ketika ia tiba luar tembok belakang rumahnya. Sekali melompat ia telah berada di dalam kebun belakang rumah, kemudian ia melompat-lompat dan di lain saat telah berada di luar kamarnya, di dekat jendela. Dan pada saat itulah ia mendengar suara orang bercakap-cakap di dalam kamarnya, suara isterinya dan seorang wanita lain, yang kemudian ia kenal sebagai suara Ceng Si, bekas pelayan yang telah dikawinkan dengan Cia Sun sastrawan miskin itu!

“Ceng Si, kau dan Cia Sun benar-benar keterlaluan. Kurang bagaimanakah aku menolong kalian? Kurang banyakkah uang dan perhiasan yang kuberikan kepada Cia Sun? Mengapa kalian seakan-akan tidak mengenal puas dan hendak menghabiskan kekayaan kami? Ah, kau tahu bahwa suamiku sedang pergi, mengapa kau tidak datang mengawani dan menghibur hatiku yang gelisah memikirkan dia, sebaliknya kau datang untuk mengganggu dan lagi-lagi kau minta uang dalam jumlah yang terlalu besar. Darimana aku bisa mendapatkan uang itu?”

Mendengar kata-kata isterinya ini, Kiang Liat menjadi pucat dan ia menahan napas, mendengarkan percakapan dengan hati tidak enak sekali. Kemudian terdengarlah suara Ceng Si, nadanya mengejek dan menghina benar-benar di luar persangkaan Kiang Liat. Semenjak kapankah pelayan ini begitu berani bicara kasar dan menghina terhadap isterinya?

“Nyonya muda mengapa begitu pelit? Kalau tidak untuk menutupi rahasiamu terhadap suamimu, siapakah sudi menikah dengan siucai miskin itu? Di waktu dahulu, Nyonya yang main-main dan bersurat-suratan, bercinta-cintaan dengan Cia Sun. Setelah Nyonya menikah dan mendapat kedudukan baik, akhirnya akulah yang dijadikan korban untuk melayani siucai bekas kekasih nyonya muda itu.”

Kiang Liat tak sanggup mendengarkan terus. Hampir saja ia menendang jendela untuk mengamuk, akan tetapi baiknya ia dapat menahan gelora hatinya dan sebaliknya ia lalu melompat pergi! Hati dan pikirannya tidak karuan. Ia masih bersangsi apakah benar-benar isterinya dahulu telah melakukan hal yang demikian memalukan? Benarkah isterinya dahulu menjadi kekasih Cia Sun? Tak mungkin! Isterinya begitu mencintanya.

Akan tetapi kalau ia ingat betapa semua perhiasan isterinya tak pernah dipakai, dan kalau ia ingat akan kata-kata isterinya tadi kepada Ceng Si bahwa banyak sudah uang dan perhiasan diberikan oleh isterinya kepada Cia Sun. Ah, apa artinya ini? Dan kata-kata Ceng Si, tadi? Hampir pecah kepala Kiang Liat dan hampir meledak dadanya, membuat ia berjalan di malam buta, tak tentu arah tujuannya, bicara seorang diri, berbantah-bantahan dengan diri sendiri, kadang-kadang tertawa mengejek, kadang-kadang membentak-bentak, dan kadang-kadang ia tertunduk di pinggir jalan menangis tersedu-sedu! Semalam suntuk Kiang Liat berkeliaran di sekitar kota seperti orang gila, terjadi perang tanding hebat di dalam dada dan akhirnya, pada keesokan harinya, pagi-pagi hari kalau orang melihat Kiang Liat, tentu akan pangling. Ia nampak lesu dan susut, waktu semalam suntuk itu seakan-akan sepuluh tahun sehingga ia nampak sepuluh tahun lebih tua dari kemarin sore!

Tukang kuda di belakang gedungnya kaget setengah mati ketika pagi-pagi sekali ia melihat majikannya menyerbu kandang kuda, tanpa bicara sepatah pun kata lalu mengeluarkan kuda dan membalapkan kuda itu ketuar dari kandang! Tukang kuda itu melongo, menggosok-gosok matanya, kemudian ia berlari-lari ke gedung, minta menghadap nyonya muda!

“Hujin, celaka. Telah terjadi sesuatu yang ganjil dan aneh pada diri Wan-gwe!”

Song Bi Li, isteri Kiang Liat, pucat seketika. “Eh, pagi-pagi kau mengapa bicara yang bukan-bukan? Majikanmu belum pulang, bagaimana kau bisa bicara seperti itu? Hati-hatilah dengan mulutmu, jangan kau kurang ajar!” kata Bi Li marah.

“Hamba bersumpah tidak berani main-main, Hujin. Benar-benar baru saja hamba melihat Wan-gwe datang ke kandang dan keluar pula menunggang kuda kesayangannya. Dan keadaan Wan-gwe... pakaiannya kusut, mukanya seperti tidak mengenal hamba lagi dan... dan... sinar matanya begitu mengerikan. Hamba takut, Hujin....”

Bi Li mengerutkan keningnya. Tak mungkin suaminya berkelakuan seperti itu, datang lalu pergi lagi sebelum menjumpainya. Apakah yang telah terjadi?

“Kiu Pek-pek, coba kauajak kawan-kawan untuk menyusul dan menyelidiki keadaan yang aneh ini!” katanya, kemudian Bi Li masuk ke dalam gedung dan sebentar kemudian kegelisahannya berkurang ketika Im Giok bangun dari tidur dan dipangkunya.

Ketika memikirkan keadaan isterinya selama semalam suntuk, Kiang Liat dapat mengambil kesimpulan. Boleh jadi sekali isterinya dahulu berkasih-kasihan dengan Cia Sun, kemudian setelah menjadi isterinya, Bi Li diperas oleh Cia Sun dengan bantuan Ceng Si! Tak bisa salah lagi, tentu demikian duduknya perkara, pikirnya. Oleh karena itu, orang pertama yang menjadi sasaran kemarahannya adalah Cia Sun. Ia mengambil kudanya karena tubuhnya terasa lelah dan lemas sekali, kemudian membalapkan kuda itu menuju ke tempat tinggal Cia Sun.

Memang Cia Sun sekarang sudah makmur keadaannya. Uang dan perhiasan yang diperasnya dari Bi Li bukan sedikit. Ia kini dapat membeli tanah sebagai seorang kaya raya. Setiap pagi ia berjalan-jalan menunggang kuda, memeriksa tanahnya seperti seorang tuan tanah yang hartawan. Akan tetapi karena ia terlalu royal, selalu ia kekurangan uang dan jalan satu-satunya hanyalah memeras Bi Li dengan perantaraan Ceng Si yang sudah menjadi isterinya!

Pada pagi hari itu, tanpa menyangka bahwa hari itu akan merupakan hari sial baginya, Cia Sun menunggang kuda hendak menuju ke sebuah dusun yang berdekatan. Semalam isterinya, Ceng Si, datang membawa perhiasan dan uang dan tentu saja seperti biasanya, begitu mendapat uang, Cia Sun lalu mengambil sedikit untuk berpesta di rumah pelacuran di dusun sebelah barat, atau untuk bermain judi dengan kawan-kawannya!

Akan tetapi baru saja ia hendak meninggalkan jalan simpang di luar dusunnya, tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda dan dari jauh datanglah Kiang Liat yang membalapkan kudanya. Hati Cia Sun terkejut bukan main. Mengapa Ceng Si malam tadi tidak bilang apa-apa? Mengapa tidak bilang bahwa Kiang Liat sudah pulang? Ataukah... barangkali pagi ini baru pulang? Biarpun hatinya berdebar, Cia Sun menahan kudanya dan bahkan memutar binatang tunggangannya itu untuk menyambut kedatangan Kiang Liat.

Dari jauh ia sudah menjura di atas kudanya dan berkata ramah,

“Selamat pagi, Kiang-wan-gwe. Berkat kebaikan Wan-gwe, sekarang siauwte telah memperoleh banyak kemajuan.” Kata-kata ini diucapkan untuk mengambil hati Kiang Liat, akan tetapi bagi pendekar ini merupakan sindiran yang membuat hatinya makin terluka dan perih.

“Jahanam keparat!” serunya dan sekali ia menggerakkan tubuh, ia telah melayang dari atas kudanya, menyambar tubuh Cia Sun yang dibantingnya ke atas tanah. Dua ekor kuda itu ketakutan dan menjauhkan diri, kemudian melihat mereka tidak diganggu, dua ekor kuda itu makan rumput di bawah pohon, tenang-tenang saja, tidak menghiraukan lagi dua orang yang kini berhadapan dalam keadaan tegang itu.

“Ampun Wan-gwe. Apa dosaku maka Wan-gwe datang-datang marah kepada siauwte?” Cia Sun berlutut sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi untuk minta ampun.

Kalau menuruti hawa nafsu di dalam dadanya, ingin sekali Kiang Liat membunuh siucai ini tanpa bertanya-tanya lagi. Akan tetapi ia hendak mendengar pengakuan Cia Sun, karenanya ia menahan-nahan kemarahan hatinya dan membentak,

“Bajingan besar, lekas kau mengaku. Kau ada hubungan apakah dahulu dengan Song Bi Li?”

Kalau ia mendengar kilat menyambar di tengah hari, belum tentu Cia Sun akan sekaget ketika ia mendengar pertanyaan ini.

“Apa...! Hamba... hamba tidak... tidak ada hubungan dengan Hujin...”

Sebuah tendangan membuat tubuh Cia Sun terjengkang dan terguling beberapa kali. Ia cepat berlutut dan mulai menangis, memohon ampun.

“Hayo mengaku terus terang!” Kiang Liat membentak lagi. “Aku menyebut nama Siong Bi Li dan kau tahu bahwa dia isteriku, apakah kau hendak bilang tidak ada perhubungan apa-apa? Hayo lekas bilang sebelum aku hilang sabar dan menghancurkan kepalamu!”

Cia Sun benar-benar bingung. Saking bingungnya, siucai yang bersifat pengecut ini dalam usahanya membersihkan dan menolong diri, bahkan melontarkan fitnah kepada Bi Li. “Ampun, Kiang-wan-gwe, sesungguhnya siauwte... siauwte tidak bersalah, tidak berdosa apa-apa. Dahulu itu… yaa... sesungguhnya adalah Song-siocia yang mendesak siauwte, yang menyatakan cinta, memberi surat dan lain-lain. Siauwte sendiri mana berani? Siauwte... siauw ...” Kata-kata ini terputus dan disusul jeritnya karena Kiang Liat telah mengayun tangan. Tubuh Cia Sun terguling dan hanya jerit itulah yang dapat ia keluarkan sebelum napasnya terputus oleh pukulan yang mengenai jalan darah kematiannya.

Pada waktu itu, beberapa orang dusun tiba di tempat itu dan melihat Kiang Liat yang banyak dikenal itu membunuh Cia Sun, mereka menjadi ketakutan dan melarikan diri. Sebentar saja, semua orang tahu akan pembunuhan ini, akan tetapi siapakah yang berani mengganggu Kiang Liat? Pendekar ini menunggang kudanya dan kembali ke kota, langsung menuju ke gedungnya.

Song Bi Li yang semenjak pagi tadi gelisah dan cemas, mendengar suara derap kaki kuda di luar, segera memburu keluar sambil menggendong Im Giok. Alangkah girangnya ketika ia melihat bahwa yang datang benar-benar adalah suaminya yang dinanti-nanti. Akan tetapi, ia pun kaget bukan main melihat wajah suaminya yang muram dan kelihatan tua. Lebih-lebih terkejutnya ketika ia melihat sikap suaminya yang sama sekali tidak mau menengok ke arahnya, bahkan dengan langkah lebar terus masuk ke dalam gedung dan menuju ke kamar.

Dengan muka pucat, hati berdebar dan kedua kaki gemetar, Bi Li mengikuti suaminya setelah memberikan Im Giok kepada inang pengasuh. Ia melihat suaminya duduk di atas bangku di dalam kamar, tak bergerak bagaikan patung batu, nampaknya berduka sekali. Bi Li menekan perasaannya, memperlihatkan wajah ramah dan manis, lalu maju dan berlutut di dekat kaki suaminya, meraba sepatunya,

“Suamiku, kau baru datang? Tentu kau lelah sekali.” Suaranya halus dan manis sedangkan kedua tangannya mulai membuka sepatu suaminya. Biasanya memang Bi Li amat cinta kepada suaminya dan setiap kali suaminya datang dari tempat jauh, ia lalu membuka sepatu, menyediakan air hangat pencuci kaki dan air teh untuk minum. Ia tidak mengijinkan pelayan melakukan hal ini, tidak puas kalau tidak melayaninya sendiri! Biasanya Kiang Liat merasa girang dan terharu kalau melihat pernyataan kasih sayang yang demikian besar dari isterinya. Akan tetapi kali ini, ketika melihat isterinya membungkuk dan meraba sepatunya, tiba-tiba kakinya bergerak dan tubuh Bi Li terlempar ke sudut kamar! Setan cemburu telah menguasai hatinya, membikin buta matanya dan mengalahkan cinta kasih terhadap Bi Li.

Bi Li tidak mengeluarkan keluhan sakit, hanya menjadi pucat sekali dan memandang kepada suaminya dengan mata terbelalak kaget. Sikap suaminya kepadanya jauh lebih menyakiti hati daripada rasa sakit yang diderita oleh pundak dan kepalanya ketika ia terbentur pada dinding. Ia merayap bangun dan berjalan periahan menghampiri suaminya, lalu berlutut lagi di sampingnya.

“Suamiku, apakah dosanya isterimu yang bodoh? Katakanlah, aku bersedia menebusnya dengan nyawa kalau memang berdosa...!” katanya halus dengan suara tergetar, sedangkan dari sepasang matanya menetes dua titik air mata.

Melihat keadaan isterinya itu, melihat rambut yang ia sayang dan biasa ia belai itu awut-awutan, muka yang biasa ia ciumi itu menjadi pucat seperti mayat, sepasang mata yang biasanya ia anggap sebagai sepasang batu kemala terindah di dunia ini sekarang memandang kepadanya dengan sayu, Kiang Liat hampir tak kuat menahan lagi. Ingin ia memeluk isterinya, berlutut di depannya dan minta ampun atas perbuatannya tadi, ingin ia menangis seperti anak kecil dan menceritakan semua kesusahan hatinya di dada isterinya. Akan tetapi, bayangan Cia Sun tak pernah meninggalkan ruang matanya, membuat Kiang Liat makin benci melihat isterinya. Terpaksa ia meramkan matanya, tidak berani memandang muka Bi Li, lalu berkata perlahan akan tetapi tajam seperti ujung pedang,

“Dosamu? Tanyalah kepada jahanam keparat Cia Sun yang sudah kukirim ke neraka! Tanyalah kepada kekasihmu, kau siluman betina!”

Bi Li terkejut sekali, bukan hanya karena suaminya telah dapat mengetahui rahasianya, terutama sekali karena mendengar bahwa suaminya telah membunuh Cia Sun.

“Kau... kau membunuhnya...?” Ucapan ini sebetulnya keluar dari kegelisahan hati Bi Li mendengar suaminya membunuh orang, akan tetapi bagi Kiang Liat yang sedang dikuasai oleh cemburu dan nafsu marah, dianggap sebagai pernyataan kaget dan duka dari Bi Li bahwa kekasihnya telah dibunuh.

“Kautangisi kekasihmu yang sudah mampus? Perempuan rendah, kalau aku tahu... kau ternyata hanya seorang perempuan hina-dina, perempuan tak tahu malu. Anak itu... anak itu pun barangkali bukan anakku...!”

Bi Li menjerit dan di lain saat ia telah roboh pingsan di depan kaki Kiang Liat! Ia tidak kuat menerima pukulan batin yang hebat ini, tidak kuat menerima kata-kata keji yang keluar dari mulut Kiang Liat, suaminya yang ia cinta sepenuh jiwa raganya.

Ketika Bi Li siuman kembali, ia melihat suaminya berjalan mondar-mandir di dalam kamar dan mulutnya bergerak-gerak mengeluarkan kata-kata yang sukar dimengerti. Barangkali penderitaan batin Kiang Liat di saat itu tidak kalah hebatnya kalau dibandingkan dengan Bi Li. Melihat suaminya, teringatlah Bi Li akan semua fitnah dan caci-maki tadi, maka tak tertahankan pula ia menangis terisak-isak.

Kiang Liat menengok, pandang matanya penuh benci dan jemu.

“Apa lagi yang kautangiskan?”

“Suamiku... kau... kau terlalu kejam...”

Kiang Liat hampir saja menendang tubuh isterinya karena kembali ia salah sangka, mengira bahwa isterinya menuduhnya kejam karena membunuh Cia Sun. Akan tetapi ia dapat menguasai kemarahannya dan hanya berdiri memandang dengan mata melotot.

“Kau... kejam sekali menuduh aku berbuat yang bukan-bukan... tak perlu kusangkal lagi, memang betul dahulu sebelum aku bertemu dengan engkau... aku... aku ada hubungan surat-menyurat dengan orang she Cia itu. Akan tetapi... tidak ada apa-apa yang kotor di dalam hubungan itu... percayalah, aku bersumpah demi nama Thian, demi Langit dan Bumi, demi kesucian nama anak kita Im Giok... suamiku, hubungan itu hanya su-rat-menyurat belaka...”

“Bohong! Kauhabiskan uang dan perhiasan untuk Si Bedebah Cia Sun, kau mempergunakan Ceng Si sebagai jembatan, kaukira aku tidak tahu? Hayo, kau mau bilang apa lagi?”

“Ampunkan aku, suamiku... memang, aku telah bersalah, tidak memberitahukan semuanya kepadamu... aku tadinya... aku... takut kalau kau marah dan... aku takut kehilangan cinta kasihmu... akan tetapi sungguh mati aku tidak melakukan hal yang tidak patut, hubungan itu tetap bersih... ampunkanlah....”

“Perempuan rendah!” Kiang Liat berlari keluar kamar dan membanting daun pintu, meninggalkan Bi Li Yang menangis tersedu-sedu di dalam karnar itu, di atas lantai.

***

Semenjak hari itu, Kiang Liat tidak pulang lagi ke rumahnya. Ia meninggalkan isteri dan anaknya, membawa kuda dan uang, pergi merantau di dunia kangouw dengan hati patah dan pikiran selalu diliputi kedukaan dan kekecewaan. Cinta kasihnya kepada isterinya tak dapat ia lupakan, bahkan makin jauh ia pergi, makin rindulah ia kepada isterinya dan puterinya. Berkali-kali ia mengambil keputusan untuk kembali, untuk memaafkan isterinya, untuk kembali hidup berumah tangga dengan anak isterinya, berbahagia seperti dahulu lagi. Akan tetapi, perasaan cemburu yang sudah mencuci hati dan pikiran seorang pria memang paling hebat dan berbahaya, dapat membuat pikirannya menjadi gelap dan pertimbangannya patah. Cinta kasih yang sebesar-besarnya dapat berubah menjadi kebencian yang dahsyat. Rasa rindu kepada anak isterinya, oleh Kiang Liat bukan dianggap sebagai besarnya rasa cinta kasihnya dan tidak dijadikan dasar untuk mengampuni isterinya, sebaliknya ia malah benci kepada diri sendiri dan menganggap diri sendiri terlalu lemah. Maka ia lalu merantau makin jauh lagi dari rumahnya, melakukan perbuatan seperti yang layak dilakukan oleh seorang pendekar. Karena ini, namanya menjadi makin ternama di dunia kang-ouw dan julukan Jeng-jiusian (Dewa Tangan Seribu) makin terkenal.

Waktu berjalan cepat tak terasa dan empat tahun telah lewat semenjak Kiang Liat meninggalkan rumahnya. Pada suatu hari ketika ia sedang duduk seorang diri mengenang nasibnya yang buruk, dalam sebuah kelenteng bobrok di Propinsi Shansi sebelah selatan, hujan turun dengan derasnya. Beberapa kali Kiang Liat menarik napas panjang dan mukanya kelihatan sedih sekali. Terbayang di depan matanya betapa dahulu di waktu hujan seperti sekarang ini, ia duduk di kamar pinggir bersama isterinya, duduk menghadapi jendela terbuka dan bersama-sama melihat air huian turun. Alangkah mesra dan bahagianya waktu itu, dan mengingat akan semua ini, ditambah pula dengan bayangan wajah Im Giok yang tersenyum-senyum dan secara lucu menyebut-nyebut “pa-pa” berkali-kali, air mata mengucur turun dari sepasang mata pendekar itu. Cepat-cepat ia mengusapnya dengan punggung tangan. Tak patut seorang pendekar gagah mengucurkan air mata, pikirnya dengan hati dikeraskan. Akan tetapi percuma saja, hatinya sudah terlalu lama menderita sehingga ia tak dapat menahan lagi air matanya yang mengucur terus, menyaingi air hujan yang bercucuran dari atas.

Selagi Kiang Liat menumpahkan kesedihan hatinya seorang diri di ruang kelenteng itu, tiba-tiba ia mendengar suara perlahan. Ketika ia mengangkat mukanya yang tadi ia sembunyikan di atas lutut, ia melihat seorang kakek pengemis berdiri di hadapannya dengan sikap tenang.

“Suhu...” Kiang Liat menjatuhkan diri berlutut dan buru-buru ia menghapus air matanya.

“Orang bodoh, kau pulanglah, isterimu menderita sakit, anakmu lenyap diculik. Menyiksa diri sendiri dan memaksa diri membenci keluarga, tidak mau pulang akan tetapi dirantau berduka selalu, benar-benar perbuatan yang amat pandir. Pulanglah kau!”

Sebelum Kiang Liat sempat bertanya, tiba-tiba bayangan itu berkelebat dan lenyap dari situ. Kiang Liat maklum bahwa watak suhunya amat aneh, dan percuma saja kalau ia akan mengejar juga. Ia tidak memikirkan lagi tentang suhunya, pikirnya penuh dengan berita yang diterimanya. Mendengar isterinya sakit dan anaknya diculik orang, ia terkejut bukan main dan seketika itu rasa marah jauh lebih besar daripada kesedihannya. Tanpa mempedulikan hujan angin yang masih mengamuk di luar, di lain saat Kiang Liat sudah melompat dan berlari cepat menerjang hujan.

Berita mengejutkan yang disampaikan oleh Han Le kepada muridnya itu memang nyata. Semenjak ditinggalkan oleh suaminya. Bi Li hidup dalam kedaan sengsara, menderita batinnya. Kalau saja tidak mengingat kepada puterinya, kiranya nyonya muda ini takkan dapat menahan lebih lama lagi hidup di dunia. Baginya, derita lahir jauh dari suami masih dapat ditahannya, akan tetapi derita batinnya, yakni sangkaan suaminya bahwa dia telah berlaku jina sebelum menjadi isterin yang benar-benar terasa tak kuat ia menahan. Setelah bertahun-tahun suaminya tidak pulang dan ia menerima ejekan dan sindiran dari orang-orang yang tidak suka kepada keluarga Kiang. Bi Li sering kali jatuh sakit. Selama empat tahun ini, perhiasan dan barang-barang berharga di rumah sudah banyak dijualnya untuk makan, membayar pelayan dan membeli obat dan lain keperluan. Keadaannya makin lama makin buruk, akan tetapi Bi Li tidak mempedulikan keadaannya sendiri. Siang malam yang menjadi ingatannya hanya suaminya.

Kiang Liat yang dirindukannya setiap saat. Hampir setiap malam Bi Li bersembahyang mohon kepada Yang Maha Esa agar supaya suaminya dapat memaafkan kesalahannya dan dapat pulang kembali.

Akan tetapi, sudah terlampau banyak buktinya, harapan manusia selalu tidak cocok, bahkan sebaliknya dengan kenyataan yang datang. Bukan Kiang Liat yang datang, melainkan seorang yang menambah beban deritanya, yakni Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat!

Wanita yang berusia hampir empat puluh tahun akan tetapi masih memiliki kecantikan seorang gadis remaja berusia dua puluhan ini, datang tanpa diundang, bahkan tanpa diketahui orang, tahu-tahu sudah berada di kamar Bi Li seperti kedatangan seorang dewi atau seorang siluman!

Bi Li segera mengenalnya, maka biarpun amat terkejut, nyonya muda ini menjadi girang sekali. Ia segera maju berlutut, akan tetapi ia ditarik bangun oleh Pek Hoa Pouwsat.

“Adikku yang manis, mengapa kau kelihatan kurus dan pucat? Ah, kau bahkan tidak sehat kiranya...” Pek Hoa berkata dengan suaranya yang merdu dan ramah.

Mendengar teguran ini Bi Li tak dapat tahan lagi lalu menangis tersedu-sedu. Dengan suara terputus-putus nyonya muda yang mengira bahwa ia berhadapan dengan seorang dewi kahyangan, menceritakan nasibnya, yang amat sengsara, betapa ia dahulu tertipu oleh Cia Sun dan Ceng Si dan sekarang suaminya mengetahui semua rahasia sehingga marah-marah, membunuh Cia Sun dan meninggalkannya.

Orang seperti Pek Hoa ini mana tahu akan rasa kasihan? Sebaliknya, di dalam hati ia merasa geli. Akan tetapi mulutnya berkata lain dan ia menghibur Bi Li.

“Mengapa susah-susah? Lebih baik mencari hiburan sendiri sambil memelihara anak. Mana anakmu?”

Setelah melihat Im Giok yang sudah berusia hampir enam tahun, Pek Hoa Pouwsat memandang dengan mata terbelalak kagum. Seorang anak perempuan berpakaian merah, dengan rambut hitam panjang dikuncir menjadi dua terikat dengan pita biru tergantung di depan pundak, sepasang mata yang bening dan berbentuk indah, bergerak-gerak membayangkan kecerdikan luar biasa, hidung yang mungil dan mancung nampak lucu sekali, mulutnya kecil dengan bibir merah segar, potongan muka bulat telur dengan dagu meruncing, sepasang pipi kemerahan. Pendeknya, wajah seorang bocah perempuan yang sehat dan mungil sekali. Biarpun baru berusia enam tahun, Im Giok sudah memperlihatkan kecantikan dan setiap orang dengan mudah akan mengatakan bahwa bocah ini adalah calon seorang gadis yang cantik luar biasa.

“Pek Hoa-cici, benar-benar anakku Im Giok ini seperti kau wajahnya...!” Bi Li mengulangi kata-kata yang sering kali ia katakan sebelum Pek Hoa datang berkunjung.

Pek Hoa Pouwsat adalah seorang wanita yang usianya sudah hampir empat puluh satu tahun, seorang wanita yang hidup menyeleweng melalui jalan kotor, tidak pernah ia mengenal kebahagiaan rumah tangga dan kebahagiaan seorang ibu. Sekarang, melihat Im Giok tiba-tiba saja ia menjadi terharu, apalagi setelah mendengar ucapan Bi Li, ia terpaksa mengerahkan tenaga untuk menahan jatuhnya air mata. Diam-diam ia berkata kepada diri sendiri bahwa anak inilah yang paling tepat untuk dijadikan muridnya!

Kedatangan Pek Hoa Pouwsat menghibur hati Bi Li. Dengan ramah nyonya muda ini lalu berusaha sedapat mungkin untuk menjamu tamunya dan pada malam hari itu, Pek Hoa Pouwsat dipersilakan tidur di dalam satu kamar dengan Bi Li dan Im Giok.

Adapun Im Giok sendiri, amat suka kepada Pek Hoa Pouwsat. Ia memandang kepada tamu ini dengan matanya yang jeli, dengan berterang ia memuji, “Ibu, Bibi ini cantik sekali, ya?”

Pek Hoa menangkap dan mengangkatnya di atas pangkuan. “Anak yang baik, kelak kau lebih cantik daripada aku atau ibumu.” Katanya sambil mengusap-usap kepala Im Giok dan beberapa kali meraba lengan, pundak, punggung, dan pangkal paha untuk memeriksa apakah bocah ini mempunyai bakat. Bukan main girang hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa bocah ini memang bertulang pendekar, yakni memiliki tubuh sehat, tulang-tulang kuat dan perjalanan darahnya baik sekali. Ditambah dengan kecerdikan yang membayang di kedua mata anak ini, dapat diduga bahwa kelak tentu akan menjadi seorang pandai.

Untuk mengetahui isi hati dan pikiran anak itu, Pek Hoa lalu bertanya, “Im Giok sukakah kau menjadi muridku?”

Bocah itu melirik ke arah ibunya, lalu berkata dengan senyum lucu. “Belajar membaca dan menulis lagi, Bibi? Ah, ibu sudah mengajarku dan aku adalah orang yang paling malas belajar dan membaca dan menulis, demikian kata ibu. Bibi tentu akan kecewa mengajarku, karena aku benar-benar malas dan tidak suka. Lebih senang belajar menjahit dan menyulam! Apalagi menggambar atau bernyanyi, lebih senang lagi aku.”

Pek Hoa tertawa. “Kau suka belajar menari.”

Im Giok melompat turun dari pangkuan Pek Hoa, memandang kepada wajah tamu ini dengan mata berseri. “Menari seperti anak-anak wayang yang pernah kulihat bermain di kelenteng itu? Wah, aku senang sekali! Aku sudah minta ibu mengajarku, akan tetapi ibu tidak dapat, Bibi, kalau kau mau mengajarku menari penyanyi, melukis, dan menyulam, aku suka sekali!”

“Apa kelak kau ingin menjadi anak wayang tukang menari?” tanya ibunya, pura-pura tak senang.

“Apa salahnya, ibu? Mereka itu cantik-cantik dan pandai. Buktinya banyak orang gemar menonton dan banyak orang memuji. Kalau tidak pandai masa disukai orang? Aku lebih suka ditonton daripada menonton. Bibi, mau kau mengajarku?” Dengan sifat manja Im Giok menarik-narik tangan Pek Hoa dan ketiga orang itu tertawa-tawa.

Demikianlah hati Bi Li gembira sekali mendapat teman seperti Pek Hoa ini dan sampai jauh malam mereka bercakap-cakap gembira. Akan tetapi, menjelang fajar, Bi Li terkejut mendengar suara anaknya memanggil. Ia terbangun dan dilihatnya Pek Hoa sudah memondong Im Giok dan tamunya itu sekali bergerak telah “terbang” ke jendela yang sudah terbuka. Bukan main kagetnya Bi Li, apalagi Im Giok berkali-kali memanggil “Ibu...! Ibu...! Bibi, aku tidak mau pergi kalau ibu tidak ikut!”

“Enci Pek Hoa, kau hendak bawa anakku ke manakah?” Bi Li mengejar dan bertanya kaget karena ia takut kalau-kalau anaknya dibawa ke kahyangan tempat para bidadari!

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa terkekeh-kekeh nyaring dan lenyaplah sifat ramah-tamah dari Pek Hoa, terganti sifat mengejek dan tarikan air mukanya mengandung kekejaman luar biasa.

“Ha, ha, ha, Bi Li! Tak usah kau ribut-ribut. Anakmu tak perlu kaupikirkan lagi. Dia sudah menjadi anakku atau muridku dan akan kubawa pergi. Ha, ha, mungkin dahulu kau selalu membanggakan kecantikanmu, ya? Sekarang baru kau tahu bahwa kecantikan tidak membawa bahagia. Bukan aku saja yang mengalami, akan tetapi kau juga... ha, kau juga, Bi Li. Tunggulah saja di rumah mengenang suami dan anak yang hilang!” Sekali berkelebat tubuh Pek Hoa lenyap bersama Im Giok, hanya gema suara ketawanya masih terdengar dari jauh seperti suara ketawa seorang siluman wanita!

Sejak tadi, Bi Li berdiri terpaku di lantai. Melihat Pek Hoa yang memondong puterinya berdiri di jendela sambil mengeluarkan kata-kata keji dan air mukanya yang menyeringai mengerikan itu, hati Bi Li seakan-akan berhenti berdetik. Setelah Pek Hoa lenyap bersama Im Giok, barulah Bi Li sadar. Ia menjerit dan memburu ke jendela, akan tetapi mana bisa ia mendapatkan Pek Hoa yang sudah melompat ke atas genteng dan berlari cepat sekali?

“Im Giok... anakku... Im Giok... kembalikanlah anakku... Im Giok...!” Setelah memanggil-manggil sampai suaranya hampir habis, akhirnya Bi Li menjadi lemas. Dipaksanya berlari ke luar dan mengejar ke sana ke mari, terhuyung-huyung dan akhirnya ia roboh pingsan di luar rumah, dekat jalan, di atas tanah yang basah.

Setelah matahari naik tinggi, baru ada para tetangga yang melihat keadaan Bi Li dan ramai-ramai mereka menolong nyonya muda yang bernasib malang ini. Akan tetapi, tubuh nyonya muda yang selama ini memang lemah dan sering sakit, tidak dapat menahan serangan batin yang hebat ini. Bi Li jatuh sakit berat. Karena tetangga yang mau menolong dan merawatnya juga amat miskin, terpaksa seluruh isi rumah dari Bi Li dijual untuk membeli obat dan keperluan lain.

Keadaan Bi Li amat payah. Siapa yang dapat menolongnya? Kakeknya sendiri, Song Lo-kai telah meninggal dunia tak lama setelah Kiang Liat pergi. Nyonya muda yang hidup sebatang kara ini terserang sakit panas dan batuk-batuk, setiap saat ia hanya memanggil dan menyebut-nyebut nama suaminya dan anaknya. Sebulan kemudian, Bi Li menghembuskan nafas terakhir. Tak seorang pun menangisi kematiannya, para tetangga yang cukup baik hati menjaganya, hanya menarik napas panjang dan merasa kasihan.

Kegotong-royongan para tetangga yang miskin pulalah yang mencegah jenazah nyonya muda ini terlantar. Mereka bekerja sama dan dengan amat sederhana dan bersahaja, jenazah Bi Li dimasukkan dalam peti mati tipis dan disembahyangi sekedarnya.

Baru saja peti itu hendak diangkat orang untuk dibawa ke kuburan, tiba-tiba seorang wanita jembel datang berlari-lari dan menjatuhkan diri berlutut di depan peti sambil menangis terlolong-lolong. Pakaiannya kotor tambal-tambalan, rambutnya awut-awutan mukanya penuh debu dan lumpur sehingga ia menjijikkan sekali. Tak seorang pun di antara para tetangga itu mengenalnya.

“Hujin... mengapa kau tega meninggalkan hamba...? Siapa yang akan merawat dan melayanimu Hujin? Bawalah hamba serta... Hujin, hamba... hamba mohon ampun atas segala dosa...” Wanita ini menangis sedih sekali, tiba-tiba ia berhenti menangis dan... tertawa bergelak! “Ha, ha, ha, Kiang Liat! Kau kehilangan anak dan isteri, bagus! Cia Sun, kau mampus dengan mata mendelik, salahmu sendiri. Ha, ha, ha!”

Sekarang baru para tetangga itu mengenalnya. Perempuan jembel yang otaknya sudah tak beres ini bukan lain adalah Ceng Si. Memang semenjak suaminya, Cia Sun, tewas oleh Kiang Liat, Ceng Si menjadi ketakutan selalu, takut kalau-kalau Kiang Liat juga akan mencari dan membunuhnya. Ia insyaf bahwa ia pun berdosa dalam urusan pemerasan terhadap Bi Li. Di samping rasa takut terhadap Kiang Liat, ia pun benci kepadanya. Ketika mendengar bahwa suaminya dibunuh oleh Kiang Liat Ceng Si melarikan diri ke luar kota.

Ia terjatuh ke tangan orang jahat. Karena Ceng Si memang masih muda dan mempunyai wajah cantik dan tubuh menarik, ia menjadi permainan orang-orang jahat. Selama tiga tahun lebih ia terjatuh dari satu ke lain tangan dan terperosok makin dalam ke jurang kehinaan. Akhirnya, Ceng Si mulai berubah pikirannya. Bajingan-bajingan yang mempermainkannya, melihat otaknya sudah miring, tentu saja lalu menendangnya dan demikianlah, Ceng Si hidup berkeliaran sebagai seorang wanita jembel yang gila! Kebetulan sekali saat Bi Li menghembuskan napas terakhir, Ceng Si telah tiba di kota itu kembali dan wanita setengah gila ini mendengar tentang berita kematian Bi Li lalu berlari-lari mendatangi rumah bekas majikannya.

***

Rumah gedung bekas tempat tinggal keluarga Kiang masih berdiri tegak, akan tetapi sekarang keadaannya menyeramkan sekali. Rumah besar itu kelihatan gelap dan kotor, penuh sarang laba-laba dan debu. Tak sebuah pun prabot rumah kelihatan menghias rumah gedung itu, karena semua prabot rumah dijual oleh para tetangga untuk membiayai perawatan Bi Li ketika sakit dan meninggal. Sungguhpun rumah itu sudah kosong tidak ada penghuninya, namun tak seorang pun berani mengganggu atau menjualnya, karena siapakah yang berani menjual rumah gedung milik keluarga Kiang? Mereka semua tahu bahwa biarpun Kiang Liat pada waktu itu tidak ada di situ, akan tetapi kalau pendekar itu kembali dan melihat rumahnya dijual orang, tentu orang yang menjualnya itu takkan diberi ampun. Semua orang di kota Sian-koan tentu saja sudah mengenal nama Kiang Liat sebagai seorang yang memiliki kepandaian silat tinggi.

Semenjak meninggalnya Bi Li rumah itu dikosongkan saja. Akan tetapi tetap setiap hari sekali, kadang-kadang sore dan ada kalanya pagi-pagi, halaman depan rumah gedung kosong itu tentu disapu dan dibersihkan oleh seorang perempuan jembel gila, yakni Ceng Si!

Pada suatu pagi, kurang lebih sepekan setelah Bi Li meninggal, Kiang Liat tiba di kota Sian-koan! Bagaimanapun gelisah hatinya mendengar dari gurunya bahwa puterinya diculik orang dan isterinya sakit keras, namun Kiang Liat masih ingat untuk bertukar pakaian yang pantas sehingga ketika ia masuk kota Sian-koan, ia telah merupakan seorang laki-laki muda berpakaian seperti seorang- pendekar yang gagah.

Tentu saja penduduk Sian-koan mengenalnya dan semua orang memandangnya dengan sinar mata berkasihan. Siapa yang tidak merasa kasihan melihat orang laki-laki yang telah ditinggal mati isterinya dan anaknya diculik orang pula? Akan tetapi, semua orang merasa takut dan segan untuk menegur Kiang Liat, karena mereka tahu akan pembunuhan yang dilakukan oleh Kiang Liat kepada Cia Sun tanpa mereka ketahui latar belakangnya.

Namun, Kiang Liat juga tidak mempedulikan pandang mata semua orang itu. Ia bergegas menuju ke rumahnya. Akan tetapi, setelah tiba di jalan depan rumah, ia berdiri terpaku dan mukanya menjadi pucat. Rumahnya nampak seram dan kosong. Dengan langkah lambat ia memasuki pintu pekarangan dan berjalan perlahan menuju ke ruang depan.

Tiba-tiba ia mendengar suara ketawa terkekeh-kekeh, suara ketawa seorang wanita. Cepat Kiang Liat memutar tubuh memandang ke sebelah kanan. Di bawah pohon ia melihat seorang wanita jembel memegang sebatang sapu, tertawa-tawa memandang kepadanya, bahkan kadang-kadang telunjuknya menuding ke arahnya, nampaknya perempuan itu geli sekali.

“Kau siapakah dan apa yang kaulakukan di sini?” tanya Kiang Liat.

“Hi, hi, hi... Kiang Liat, kau sudah lupa lagikah kepadaku? Aku siapa? Ha, ha, lucu sekali. Bukankah aku ini bekas kekasihmu yang bernama Ceng Si? Sudah begitu pelupakah engkau?”

Kiang Liat terkejut dan tak terasa melangkah mundur dua tindak dengan hati kasihan dan ngeri.

“Ceng Si...! Kau... kau gila...? Mau apa kau di sini dan mana... mana Bi Li?”

Tiba-tiba Ceng Si menangis tersedu-sedu. “Song-hujin sudah mati... kau yang membunuhnya... kau yang mencabut nyawanya .... !”

Kian Liat makin pucat mukanya dan otomatis ia menoleh ke arah rumah gedungnya yang kosong dan kotor, lagi sunyi sekali, sama dengan perasaan hatinya yang kosong dan sunyi.

“Ceng Si, kau mengacau, bagaimana aku bisa membunuhnya? Aku baru saja datang...”

Ceng Si memekik keras dan matanya memancarkan sinar kemarahan ketika ia melangkah maju dan seperti hendak memukul kepala Kiang Liat dengan sapunya.

“Kau laki-laki jahanam! Kau manusia kejam! Kau telah membunuh suamiku dan sekarang... ha, ha, ha! Isterimu mati, anakmu lenyap, semua karena kejahatanmu sendiri! Kiang Liat, aku puas melihatmu sekarang, setan dan iblis telah membalas kejahatanmu. Kau marah-marah meninggalkan isterimu, isteri yang berhati putih bersih dan suci! Kaukira dia bermain gila dengan Cia Sun? Ha, ha, ha, goblok sekali engkau! Bi Li dahulu seorang gadis suci bersih, mana bisa ia bermain gila dengan seorang laki-laki? Cia Sun sengaja memancingnya, untuk mendapatkan hartanya, aku menjadi pembantunya yang setia! Ha, ha, Bi Li yang bodoh itu mudah saja kami tipu, mudah saja kami takut-takuti kalau tidak mau memberi harta benda akan kami adukan kepada suaminya yang tolol. Ha, ha, dan suaminya menjadi cemburu, membunuh Cia Sun lalu meninggalkannya.” Ceng Si tadinya marah-marah, lalu tertawa-tawa mengejek, kemudian tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu.

“Kasihan Bi Li... kasihan Song-ciocia nonaku yang manis budi... kasihan sekali karena ditinggal suami dan disakiti hatinya, dituduh yang bukan-bukan... kasihan sekali, hatinya hancur, hidupnya sengsara... semua karena Kiang Liat, jahanam yang telah membunuh suamiku....”

Makin banyak mendengar kata-kata Ceng Si, makin pucatlah muka Kiang Liat. Akhirnya ia tidak tahan dan sekali kedua tangannya digerakkan ia telah memegang kedua pundak Ceng Si, menekannya keras-keras sehingga perempuan itu menjerit kesakitan,

“Jangan bunuh aku...!” jeritnya sekali-kali dengan muka takut sekali. Rasa takut yang dulu membuatnya melarikan diri sekarang memenuhi hatinya lagi, maka ia menjerit-jerit minta ampun.

“Ceritakan semua tentang hubungan Bi Li dan Cia Sun!” bentak Kiang Liat. “Kalau kau bohong, kepalamu akan kuhancurkan di sini juga!”

“Ampun Kiang-wangwe... ampunkan hamba... sesungguhnya saya tidak salah apa-apa, yang salah adalah bangsat Cia Sun itulah. Dia yang dulu sengaja memancing Siocia dan membujukku. Dia bilang kalau Siocia bisa menikah dengannya, aku kelak akan ia ambil sebagai ji-hujin. Karena itu, aku membujuk-bujuk Siocia yang masih muda dan hijau, kuserahkan surat-surat dan sajak-sajak indah dari Cia Sun dan memaksa Siocia membalas surat-suratnya. Setelah itu, surat-surat dari Siocia itu disimpan dan dipergunakan sebagai alat pemeras. Siocia ketakutan sekali kalau-kalau surat-suratnya terlihat oleh Kiang-wangwe, maka segala permintaan kami berdua diturutinya saja. Banyak sudah uang dan perhiasan dapat kami peras dari Siocia dan...”

Kata-kata Ceng Si berhenti sampai di situ saja, disambung dengan keluhnya mengaduh-aduh ketika tubuhnya terlempar dan menubruk batang pohon. Saking gemas dan tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi, Kiang Liat melemparkan tubuh perempuan itu. Tadinya ia hendak membunuhnya, akan tetapi ia masih ingat bahwa perempuan ini sudah menjadi orang gila, hukuman yang sudah cukup hebat bagi hidupnya.

Dengan kedua kaki lemas, Kiang Liat berlari memasuki gedungnya. Berlari-lari memasuki kamar isterinya dan di depan ambang pintu ia terpaku dengan mata terbelalak. Seakan-akan ia melihat isterinya berdiri di tengah kamar.

“Bi Li, isteriku sayang... kau ampunkan dosaku, Bi Li...” ia berbisik dan maju lalu menjatuhkan diri berlutut, kedua lengan menubruk dan hendak memeluk kaki isterinya. Akan tetapi, ia memeluk tempat kosong dan ketika ia mengangkat muka, ternyata di situ tidak ada siapa-siapa dan ia berlutut di tengah kamar yang kosong, kotor, dan penuh sarang laba-laba!

“Bi Li...” hatinya merasa tertusuk-tusuk dan di lain saat Kiang Liat terjungkal pingsan di tengah kamar itu. Sudah terlalu lama Kiang Liat menahan tekanan batin yang maha dahsyat, dan akhir-akhir ini ditambah lagi dengan penyiksaan diri secara sengaja, yakni sering kali mengosongkan perut. Bahkan sebelum pulang ke Siang-koan, sudah sepekan Kiang Liat tidak makan. Sekarang, pukulan terakhir yang hebat, yang dilakukan oleh Ceng Si, merupakan tusukan yang jitu dan melukai jantungnya. Ia amat mencinta Bi Li isterinya, kemudian karena cemburu dan kecewa, ia meninggalkan isterinya yang disangka dahulu melakukan penyelewengan kesusilaan itu dengan hati sakit sekali.

Kini, tidak saja ia mendengar anaknya telah hilang diculik orang, bahkan mendengar isterinya itu, telah meninggal dunia, ini semua tidak begitu hebat kalau dibandingkan dengan pengakuan Ceng Si bahwa sebenarnya Bi Li sama sekali tidak berdosa, sama sekali tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak baik bahkau telah menjadi korban penipuan dan pemerasan Cia Sun dan Ceng Si! Dan isterinya meninggal dunia karena sedih dan sengsara, akibat ditinggalkan suaminya! Jadi tepat sekali kata-kata Ceng Si si gila itu bahwa dialah yang membunuh isterinya sendiri.

Kiang Liat menggeletak pingsan di tengah kamar isterinya itu sampai lewat tengah hari. Ketika ia siuman dan dapat bergerak kembali, kamar itu telah gelap. Kiang Liat nanar seketika, tubuhnya panas, kepalanya pusing dan kedua kakinya gemetar lemas. Ia merangkak bangun, terhuyung-huyung dan ketika teringat olehnya akan segala sesuatu yang dialaminya pagi tadi, bibirnya mengeluarkan keluhan, hatinya terasa disayat-sayat.

“Bi Li... Bi Li...” kedua matanya menjadi basah dan tak lama kemudian, ia merupakan seorang laki-laki yang layu, terhuyung-huyung keluar dari rumah gedung itu dengan langkah lemas.

Tetangganya, Empek Lai yang bekerja sebagai penjual sayur, memandangnya dengan sepasang mata berkasihan ketika Kiang Liat berdiri di depan pintu rumahnya.

“Lai-lopek, tolonglah kaututurkan kepadaku apa yang kau tahu tentang hilangnya anakku Im Giok...” kata Kiang Liat dengan suara hampir berbisik.

“Aah... Kiang-wangwe, marilah masuk. Silakan duduk... ah, sayang datangmu terlambat, Wan-gwe... kasihan anak dan isterimu...” kata empek itu dengan suara bernada kasihan.

Kiang Liat menggeleng kepalanya, kata-kata empek itu makin menyedihkan hatinya. “Lopek, tak usahlah, terima kasih. Katakan saja siapa yang telah menculik anakku…”

“Tak seorang pun di antara kami yang mengetahui dengan pasti, Wan-gwe. Kami temui Hujin telah menggeletak pingsan di atas tanah di luar rumahnya, kami menolongnya dan setelah ia siuman dari pingsannya, ia jatuh sakit hebat. Dalam igauannya, kami mendengar berkali-kali ia menyebut-nyebut namamu dan nama Nona Im Giok, kemudian ada juga ia menyebut nama Enci Pek Hoa dan minta kembali anaknya dari orang yang ia sebut Enci Pek Hoa...”

Keterangan ini menambah perih hati Kiang Liat. Apalagi di bagian isterinya pingsan di luar rumah, kemudian bagian yang menceritakan betapa dalam sakit menghadapi maut isterinya masih terus menyebut-nyebut namanya, ini benar-benar membuat hatinya berdarah dan sakit bukan main. Kiang Liat tak dapat menahan lagi, terus saja ia membalikkan tubuh tanpa minta permisi lagi, pergi dari situ dengan kaki limbung dan tangan kirinya menekan dada kiri yang terasa sakit sekali. Tak lama kemudian ia terbatuk-batuk dan... darah segar keluar dari mulutnya!

“Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat…” demikian ia berbisik. “Anakku terjatuh di tangannya... aku... aku harus hidup, menolong anakku. Awas kau, siluman... aku akan mengadu nyawa denganmu...”

Dalam keadaan yang amat sengsara, dan kadang-kadang batuk-batuk dan muntahkan darah, Kiang Liat meninggalkan kota Sian-koan, dalam perjalanan mencari Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, orang yang telah menculik Kiang Im Giok, puterinya.

***

“Bibi, aku mau kembali ke rumah ibu...” Suara ini terdengar nyaring dan keras. Kalau ada orang yang kebetulan berada di hutan besar itu, tentu akan terheran-heran mendengar suara ini, suara seorang anak perempuan. Bagaimana seorang anak perempuan dapat berada di dalam hutan yang begitu liar dan luas? Apalagi kalau orang itu melihat bahwa anak perempuan itu hanya berdua saja dengan seorang gadis yang cantik sekali. Dua orang perempuan, seorang gadis dan seorang bocah, berdua saja di dalam hutan yang terkenal banyak binatang buas dan perampok-perampok ini, benar-benar aneh!

Anak perempuan itu adalah Kiam Im Giok, puteri tunggal dari Kiang Liat dan Bi Li yang telah diculik oleh Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat. Im Giok malam tadi ketika sedang tidur nyenyak, diam-diam telah didekati oleh Pek Hoa, ditekan jalan darahnya sehingga anak ini terus tidur seperti pingsan, tidak merasa sesuatu lagi. Pada keesokan harinya, setelah pergi jauh dari kota Sian-koan, Pek Hoa menyadarkannya. Im Giok merasa terheran-heran ketika mendapatkan dirinya berada dalam pondongan tamu yang cantik itu.

”Bibi, bagaimana kita bisa berada di sini? Kau hendak membawaku ke manakah?”

“Im Giok, anak baik, bukankah kau sudah mau menjadi muridku? Sebagai murid yang baik, kau harus ikut ke mana pun juga gurumu pergi.”

Akan tetapi Im Giok sudah teringat akan ibunya. Ia memberontak minta turun dan setelah ia diturunkan dari pondongan Pek Hoa, ia berkata keras,

“Bibi, aku mau kembali ke rumah ibu!”

Kata-kata ini ia ulangi terus dan sepasang matanya yang tajam itu menatap wajah Pek Hoa, seakan-akan hendak menjenguk isi hati wanita itu, untuk menetapkan, apakah wanita itu baik atau jahat.

“Im Giok, bukankah kau sudah menyatakan suka menjadi muridku? Ayahmu seorang gagah, dan kau sebagai anaknya juga harus berwatak gagah, tidak boleh menarik kembali janjimu.”

“Aku memang suka menjadi muridmu, akan tetapi di rumah ibu. Aku tidak tega meninggalkan ibu seorang diri. Ibu sering kali sakit...”

Pek Hoa tersenyum. Diam-diam ia kagum sekali melihat anak itu. Cantik dan gagah, berdiri tegak menentangnya seperti seekor harimau kecil! Benar-benar seorang murid yang banyak harapan, pikirnya.

“Im Giok, jangan khawatir. Ibumu sudah kusembuhkan.”

“Bagaimana kau bisa menyembuhkannya, Bibi?” Im Giok memandang tidak percaya.

Pek Hoa tertawa memperlihatkan barisan gigi yang putih seperti mutiara di balik sepasang bibirnya yang merah sehat.

“Kau anak bodoh! Masih tidak percaya akan kepandaian gurumu sendiri? Orang menyebutku Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, tidak tahukah kau artinya?”

Biarpun baru berusia enam tahun, Im Giok sudah pandai membaca kitab dan ia mengerti akan arti huruf-huruf dan sebutan-sebutan.

“Artinya bahwa kau seorang Bidadari Cantik. Memang, kau cantik sekali, Bibi, lebih cantik dari ibu. Akan tetapi, apa buktinya kau seorang bidadari yang pandai mengobati ibu? Kata orang, bidadari pandai terbang, apa kau bisa terbang?”

Kembali Pek Hoa tertawa dan memuji sifat teliti dari anak itu.

“Bagus, kau masih belum percaya kalau belum melihat bukti. Sifat ini amat baik dan harus kaupelihara selama hidupmu. Apalagi menghadapi kaum pria, kau jangan gampang percaya. Kau masih sangsi apakah aku bisa terbang? Tentu saja bisa. Kalau kau sudah melihat buktinya, apakah kau takkan rewel lagi dan mau ikut dengan aku tanpa banyak tanya?”

Im Giok memang masih kecil, baru enam tahun usianya. Akan tetapi ia seorang anak cerdik sekali. Ia semenjak kecil telah ditinggalkan ayahnya yang berkepandaian tinggi, maka dalam hal ilmu silat tinggi, boleh dibilang ia masih buta. Maka tentu saja ia menganggap mustahil bagi seorang manusia untuk dapat terbang seperti bidadari atau burung. Oleh karena ini, tanpa banyak sangsi lagi ia mengangguk. Ia rela meninggalkan ibunya untuk menjadi murid seorang bidadari yang pandai terbang, bukankah itu enak sekali? Ia bisa mengajak ibunya bertamasya ke... bulan!

“Kaulihatlah, bukankah di puncak pohon itu terdapat seekor burung kecil yang indah sekali?” tanya Pek Hoa sambil menunjuk ke atas.

Im Giok memandang dan sebentar saja sepasang matanya yang berpandangan tajam itu dapat melihat seekor burung dada kuning sedang berloncat-loncatan dari ranting ke ranting puncak pohon yang tinggi.

“Aku melihat, burung dada kuning, bukan?”

“Bagaimana orang dapat menangkapnya?”

“Mana bisa ditangkap? Burung itu pandai terbang. Kalau kita memanjat pohonnya, tentu ia sudah lari terbang ketakutan,” jawab Im Giok.

“Nah, kau lihat baik-baik. Aku akan terbang ke atas pohon dan menangkapnya!” Sebelum Im Giok mengeluarkan ucapan tidak percaya, Pek Hoa menggerakkan kedua lengannya dan tubuhnya melayang naik dengan gerakan cepat sekali sehingga Im Giok memandang ke atas dengan melongo. Gadis cilik ini melihat betapa Pek Hoa benar-benar seperti seekor burung besar menyambar ke atas, baju celananya dari sutera itu berkibar-kibar tertiup angin membuat ia kelihatan seperti seorang bidadari cantik jelita tengah terbang bermain-main dengan bunga dan burung.

Tentu saja sepasang mata Im Giok yang belum terlatih itu tidak dapat melihat bahwa Pek Hoa tentu saja sama sekali bukan “terbang”, melainkan melompat ke atas, menyambar dahan untuk menarik tubuh makin ke atas, demikianlah, dari cabang ke cabang, Pek Hoa sempat membuat tubuhnya kelihatan seperti terbang. Gin-kangnya memang sudah tinggi sekali sehingga jangan kata Im Giok seorang bocah, biarpun orang dewasa kalau belum tajam pandangan matanya, pasti akan mengira dia benar-benar pandai terbang seperti bidadari.

Tak lama kemudian, Pek Hoa melayang turun dan di tangannya sudah tergenggam seekor burung kecil dada kuning yang tadi kelihatan oleh Im Giok, Im Giok tidak tahu bahwa Pek Hoa tadi telah mempergunakan tenaga lwee-kang untuk menghantam burung itu. Ketika ia melompat ke atas, burung itu hendak terbang, akan tetapi dengan menggerakkan tangan kanan ke arah burung, Pek Hoa telah berhasil membuat burung itu jatuh ke bawah yang segera ia sambar dengan tangan kiri.

Dalam anggapan Im Giok, Pek Hoa tadi tentu telah terbang, maka kini percayalah ia bahwa Pek Hoa tentu seorang bidadari yang pandai. Cepat ia menjatuhkan diri dan berlutut sambil berkata,

“Pouwsat, teecu sekarang suka menjadi murid dan ikut pergi ke manapun juga, asal teecu diajar terbang!”

Pek Hoa tertawa girang. “Bodoh, aku bukan bidadari jangan memanggil pouwsat. Mulai sekarang kau menjadi muridku, kau harus mentaati semua perintahku, akan tetapi kau tidak boleh menyebut pouwsat, harus menyebut Enci Pek Hoa saja. Mengerti?”

Im Giok merasa heran, akan tetapi ia lebih suka menyebut enci daripada harus menyebut pouwsat.

“Baikiah, Enci Pek Hoa. Lekas kau beri pelajaran terbang padaku, Enci...”

Pada saat itu, terdengar suara orang-orang tertawa dan tak lama kemudian muncul tiga orang laki-laki dari semak-semak belukar. Mereka ini adalah tiga orang perampok yang berwatak kasar dan kejam. Usia mereka sedikitnya ada empat puluh tahun, dan ketiga-tiganya menakutkan sekali dengan cambang-cambang bauk dan tubuh kekar berotot.

“Siapakah mereka, Enci...?” Im Giok bertanya, agak kaget akan tetapi tidak takut.

“Diam dan lihatlah saja bagaimana aku menghadapi orang-orang macam ini,” kata Pek Hoa.

Sementara itu, tiga orang perampok itu memang datang karena tertarik oleh suara Im Giok dan Pek Hoa. Tadinya mereka mengira bahwa tentu ada rombongan yang lewat dan di dalam rombongan terdapat wanita-wanitanya yang kini agaknya tengah beristirahat di situ dan bercakap-cakap. Oleh karena itu dengan hati-hati mereka menghampiri dan mengintai, karena biasanya rombongan yang lewat di hutan ini tentu dikawal oleh piauwsu (pengawal) pandai ilmu silat. Setelah mereka mengintai, hampir mereka tak dapat percaya akan penglihatan sendiri. Bagaimana seorang wanita dan seorang bocah dapat berada di tengah hutan tanpa pengawal? Mereka segera melompat keluar dari semak-semak dan menghampiri Pek Hoa dan Im Giok.

Kalau tadi tiga orang perampok itu sudah terheran-heran, kini setelah berhadapan dengan Pek Hoa dan Im Giok, mereka menjadi bengong. Tiga pasang mata yang kemerahan dibuka lebar-lebar, mengagumi wajah Pek Hoa yang luar biasa cantiknya itu. Kemudian, tiga buah kepala digerakkan saling pandang, lalu meledaklah suara ketawa mereka yang menyeramkan.

“Ha, ha, ha, Ji-te dan Sam-te, alangkah lucunya! Kita tiga orang laki-laki yang tidak takut menghadapi harimau betina, kini harus bersembunyi untuk mengintai, tak tahunya yang diintai hanyalah seorang bidadari cantik dan seorang anak mungil. Ha, ha, ha!”

Dua orang adik angkatnya tertawa-tawa geli pula, dan pandangan mata tak pernah dilepaskan dari wajah Pek Hoa, bahkan kini sikap mereka kurang ajar sekali.

“Twako, biarpun tadi kita menyusup-nyusup dan bersembunyi-sembunyi, akan tetapi sama sekali tidak rugi. Biar aku disuruh menyusup-nyusup lagi sampai tertusuk-tusuk duri, aku bersedia asal bisa mendapatkan seorang bidadari seperti dia ini. Ha, ha, ha!”

“Huah, siauwte. Bunga indah seperti ini, mana Twako mau memberikan kepada kita? Bagiku, lebih baik aku mengambil bocah ini kalau dipelihara beberapa tahun lagi saja, kiranya takkan kalah cantik oleh dara itu.”

Orang pertama, yang agak pendek tubuhnya dan yang paling tua, tertawa bergelak. “Ji-te memang benar sekali. Bunga ini indah dan cantik, selama hidupku sudah banyak aku memetik bunga, akan tetapi belum pernah aku melihat yang seindah ini. Ji-te dan Sam-te terpaksa kuminta supaya kali ini mengalah.” Kemudian ia melangkah maju menghampiri Pek Hoa yang masih berdiri memandang sambil tersenyum manis sekali.

“Aduh, Nona... senyummu itu... ah, kau bisa bikin orang menjadi gila dengan senyum seperti itu! Mari ikut dengan aku, Nona. Jangan kau takut-takut. Ketahuilah, aku ini jelek-jelek juga raja hutan ini, orang menyebutku Hek-lim-ong (Raja Hutan Hitam). Dua orang ini adalah adik-adikku, atau calon adik-adikmu, juga bukan sembarang orang karena kiranya tidak ada keduanya orang-orang yang disebut Siang-san-houw (Sepasang Harimau Gunung) seperti mereka ini. Mari, Nona manis, mari kupondong agar kedua kakimu tidak lelah. Kau siapakah? Dari mana hendak ke mana?” Dengan lagak dibuat-buat dan menjemukan sekali, Hek-lim-ong menghampiri Pek Hoa. Lagaknya demikian menjemukan dan menakutkan sehingga Im Giok menjadi ketakutan juga.

“Enci Pek Hoa, lekas kauusir mereka...” katanya.

Orang ke dua dari tiga sekawan ini, yakni Twa-san-houw (Harimau Gunung Tertua), menyengir dan ikut melangkah maju.

“Aha, kiranya enci adik! Pantas saja yang kecil demikian cantik mungil, hampir sama dengan yang besar. Twako, kau tangkap yang besar, biar aku menangkap yang kecil.”

Sementara itu, biarpun bibirnya yang merah dan berbentuk indah tersenyum manis dan matanya bersinar-sinar namun di dalam hatinya Pek Hoa sudah marah sekali sehingga ia merasa seakan-akan dadanya hendak meledak. Ia maklum bahwa kalau saja ia memperkenalkan nama dan julukannya, tiga orang ini kalau tidak lari tunggang-langgang tentu menjatuhkan diri berlutut minta ampun. Akan tetapi ia tidak menghendaki terjadinya hal ini. Keinginan hatinya pada saat itu tak lain hanya membunuh tiga orang yang sudah menghinanya ini.

“Bagus! Bagus sekali kalian sudah menyebutkan nama, karena kalau tidak, aku tentu akan selalu merasa kecewa. Tidak enak mencabut nyawa orang-orang yang tidak diketahui siapa namanya.”

Mendengar kata-kata ini, Ji-san-houw (Harimau Gunung ke Dua) tertawa terkekeh-kekeh.

“Ha, ha, ha, alangkah lucunya! Mencabut nyawa? Heh-heh-heh, memang nyawa terasa tercabut kalau melihat senyumnya, melihat lirikan matanya, nyawaku rela tercabut kalau aku bisa...”

Kata-kata ini disusul oleh jeritan menyayat hati ketika tangan kiri nona ini bergerak dan sinar putih menyambar ke arah dada Ji-san-houw. Ketika Hek-lim-ong dan Twa-san-houw kaget memandang adik mereka, ternyata Ji-san-houw telah rebah tak bernyawa lagi, matanya mendelik dan dari mulut serta hidungnya mengalir darah menghitam. Ternyata ia telah terkena serangan Pek-hoa-ciam (Jarum Bunga Putih) dari Pek Hoa, semacam am-gi (senjata rahasia) jarum putih berkepala bunga yang mengandung racun berbahaya sekali!

Suasana berubah seketika. Kalau tadi Hek-lim-ong dan Twa-san-houw tertawa-tawa geli, sekarang mereka menjadi pucat sekali dan Twa-san-houw dengan amat marahnya mencabut senjata golok besar dari pinggang.

“Eh, tidak tahunya setangkai bunga hutan liar, bukan sembarang bunga. Hayo lekas berlutut minta ampun kalau kau tidak ingin lehermu kupenggal sekarang juga!”

Benar-benar Twa-san-houw tidak dapat melihat keadaan. Hal ini bukan karena ia bodoh atau nekat melainkan karena kepandaiannya masih tidak begitu tinggi sehingga ia tidak dapat menduga apakah yang telah menjadi sebab kematian Ji-san-houw.

“Cacing busuk, apakah kau tidak ingin menyusul kawanmu? Dengan cara bagaimana kau hendak menyusulnya? Hayo katakan, kau boleh pilih sendiri, ingin cepat atau lambat?” kata Pek Hoa dengan suara mengejek.

Twa-san-houw mengeluarkan gerengan keras dan ia cepat menyerbu, membacokkan goloknya ke arah leher Pek Hoa.

“Ji-te, jangan merusak mukanya yang cantik...!” Hek-lim-ong berseru mencegah. Memang Hek-lim-ong ini mata keranjang sekali. Seorang wanita muda biasa sudah dapat membuat ia tergila-gila, apalagi sekarang ia menghadapi seorang dara seperti Pek Hoa yang memang memiliki kecantikan seperti bidadari. Maka, biarpun seorang kawannya telah terbunuh oleh Pek Hoa, masih saja ia tidak menaruh hati benci kepada dara ini dan masih saja ia ingin memiliki nona yang jelita itu. Maka ia mencegah ketika melihat Twa-san-houw menyerang nona itu dengan sungguh-sungguh.

Akan tetapi, dalam sekejap saja kekhawatiran Hek-lim-ong akan keselamatan nona cantik itu lenyap menjadi perasaan gelisah akan keselamatannya sendiri. Dengan sepasang matanya ia menyaksikan kejadian yang benar-benar hebat. Ketika tadi golok di tangan Twa-san-houw menyambar ke arah lehernya, Pek Hoa sama sekali tidak mengelak atau menangkis. Hanya kedua kakinya bergerak cepat luar biasa mengirim tendangan kilat ke arah bawah pusar lawannya. Hanya terdengar pekik dari mulut Twa-san-houw dan di lain saat, tubuh rampok itu terjengkang, goloknya berpindah tangan dan nyawanya telah melayang dan menyusul adiknya sebelum tubuhnya menyentuh tanah!

Kepandaian Hek-lim-ong tentu saja lebih tinggi daripada kepandaian kedua orang kawannya yang sudah tewas. Gerakan yang dilakukan oleh Pek Hoa ketika merampas golok dan mengirim tendangan maut, membuka mata Hek-lim-ong. Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang dara perkasa yang memiliki kepandaian silat tinggi. Dalam sekejap mata nafsu hatinya untuk memiliki diri nona itu lenyap terganti nafsu hati untuk membunuh Pek Hoa dan melindungi keselamatan diri sendiri. Tanpa mengeluarkan suara lagi ia mencabut goloknya dan menyerbu, membacok dengan gerak tipu Tiong-sin-hian-in (Menteri Setia Persembahkan Cap Kebesaran). Bacokannya cukup cepat dan dilakukan dengan tenaga yang besar sekali.

Namun, Hek-lim-ong adalah seorang kasar dan bodoh. Ilmu silatnya hanyalah ilmu silat kampungan belaka, ilmu silat yang biasa dipelajari oleh penjahat-penjahat kecil. Dalam setiap perkelahian, Hek-lim-ong lebih mengandalkan tenaga dan keberanian serta gertakan belaka. Kini ia menghadapi Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, murid terpandai dan terkasih dari Thian-te Sam-kauwcu. Sama saja halnya dengan sebuah semangka besar menghadapi sebilah pisau kecil!

Pek Hoa menggerakkan golok di tangan, yang tadi ia rampas dari Twa-san-houw, menangkis serangan lawan dengan pengerahan tenaga lwee-kang. Goloknya digerakkan dan begitu sepasang golok bertemu, Hek-lim-ong tak kuat memegang senjatanya lagi. Seakan-akan lengan yang memegang golok terkena aliran yang membuat lengannya lumpuh dan kesemutan. Golok terlepas dari tangan dan tanpa kenal malu lagi Hek-lim-ong membalikkan tubuh dan melarikan diri seperti dikejar setan.

Pek Hoa tertawa nyaring dan merdu, tangan kanannya bergerak, golok meluncur dan Hek-lim-ong mengeluarkan jerit kematian yang panjang mengerikan, tubuhnya tersungkur ke tanah, akan tetapi dadanya tak dapat menyentuh tanah karena tertahan oleh ujung golok. Ternyata golok yang dilontarkan oleh Pek Hoa tadi telah menembus punggungnya dan ujung golok sarnpai keluar dari dadanya!

Semua peristiwa ini disaksikan oleh Im Giok yang berdiri seperti patung, sepasang matanya terbelalak lebar, kedua kakinya gemetar dan dadanya berdebar keras. Selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan orang mati, apalagi orang terbunuh secara demikian mengerikan. Sekarang ia memandang dengan mata penuh kengerian kepada Pek Hoa.

“Im Giok, kenapakah? Takutkah kau melihat semua ini?”

“Tidak takut, akan tetapi ngeri sekali Enci Pek Hoa. Kenapa kau membunuh mereka?”

“Mereka orang-orang jahat, harus dibunuh. Kelak kalau kau sudah besar dan memiliki kepandaian seperti aku, kau pun harus membunuh orang-orang seperti ini.”

“Aku tidak akan berani melakukan, Enci Pek Hoa. Terlalu mengerikan.”

“Mengerikan? Apanya yang ngeri? Coba kau tengok dan pandang muka mereka itu, bukankah lebih buas daripada binatang hutan? Macam mereka, kalau tidak dibunuh, bagi kita, lebih-lebih bagi wanita muda, amat berbahaya, jauh lebih berbahaya daripada binatang hutan.”

“Aku tidak berani melihat muka mereka!”

Tiba-tiba Pek Hoa menyambar lengan tangan Im Giok dan ditariknya anak itu di dekat mayat Ji-san-houw. Mayat ini paling mengerikan karena mukanya menyeringai dan dari mulut hidung keluar darah hitam, tanda terkena senjata rahasia Pek-hoa-ciam.

“Buka matamu, lihat muka penjahat ini baik-baik. Hayo pandang!” kata Pek Hoa kepada Im Giok yang menutup matanya. “Im Giok, apakah pada harl pertama kau sudah lupa akan janjimu? Kau harus taat kepada semua perintahku, mengerti? Hayo buka matamu dan pandang baik-baik muka tiga orang laki-laki jahat ini!”

Im Giok terpaksa membuka matanya. Pek Hoa membawanya dekat sekali dengan mayat Ji-san-houw sehingga tercium olehnya bau yang amat tidak enak.

“Lihat! Pandang terus sampai muka ini kelihatan jahat dan buasnya olehmu. Kau tidak boleh merasa ngeri melihatnya, bahkan harus merubah rasa ngeri menjadi benci! Kau harus membenci laki-laki seperti ini. Harus! Pandang terus sampai kau tidak merasa ngeri lagi.”

Memang, obat paling manjur untuk mengatasi perasaan adalah kenekatan. Orang yang penakut akan menjadi berani kalau nekat. Demikian pula Im Giok. Gadis cilik ini tadinya merasa ngeri dan takut-takut untuk mendekati mayat-mayat itu, apalagi disuruh memandangnya dari dekat. Akan tetapi, setelah ia dipaksa oleh Pek Hoa dan ia menjadi nekat, benar saja, tak lama kemudian lenyap rasa ngeri dan takut-takut. Yang ada hanya sebal, muak dan benci.

“Ingatlah, laki-laki macam ini kalau tidak dibunuh, akhirnya akan mencelakakan kita sendiri. Kau tentu masih ingat akan ucapan-ucapan mereka tadi. Mereka ini kurang ajar, tidak menghormati wanita, tidak menghargai wanita. Mereka ini bisanya hanya menghina dan mengganggu wanita belaka, menganggap wanita seperti manusia peliharaan, seperti benda perhiasan, seperti baju atau topi, bahkan seperti sepatu mereka! Kelak kau harus menghukum dan membasmi laki-laki kurang ajar seperti ini. Mengerti?”

Im Giok masih kanak-kanak. Usianya baru enam tahun, akan tetapi ia memang cerdik sekali sehingga ia dapat menangkap maksud dari semua kata-kata Pek Hoa. Jiwa yang masih bersih, hati yang masih kosong itu kini terisi oleh ajaran-ajaran watak yang amat berbahaya dan aneh dari Pek Hoa Pouwsat, siluman wanita murid Thian-te Sam-kauwcu. Sedikit demi sedikit, Pek Hoa hendak menjadikan anak yang disayangnya ini men jadi seperti dia! Cantik jelita, berilmu tinggi ganas dan bebas melakukan apa saja tanpa mempedulikan tata hukum atau tata susila. Apa saja dapat dilakukan oleh Pek Hoa asalkan ia menganggapnya benar dan hal ini menyenangkan hatinya!

Makin giranglah hati Pek Hoa setelah beberapa bulan kemudian ia mendapat kenyataan bahwa tepat sebagaimana yang ia duga, Im Giok memiliki bakat yang luar biasa dalam ilmu silat. Semua teori dan dasar persilatan yang diajarkan kepadanya dapat ia terima dengan mudah, bahkan ketika ia mulai dilatih bersilat, gerakannya amat indah dan lemah gemulai seperti orang menari! Makin sayanglah Pek Hoa kepada muridnya ini, dan dengan giat ia mulai menurunkan ilmu kepandaiannya yang tinggi kepada Im Giok.

Hati Pek Hoa masih belum puas. Musuh besarnya terlalu banyak dan ia bercita-cita untuk membalas mereka semua. Ia harus membalas atas kematian tiga orang suhunya. Musuh besarnya yang harus dibalas adalah Kiang Liat, Han Le, Bu Pun Su, Bun Sui Ceng, Swi Kiat Siansu, Pok Pok Sianjin, The Kun Beng, dan orang-orang Siauw-lim-pai dan Kun-lun! Terlalu banyak. Akan tetapi, dapat kubalas seorang demi seorang, pikir Pek Hoa. Yang paling ditakutinya adalah Bu Pun Su seorang. Yang lain-lain sih tidak begitu berat. Sekarang ia telah dapat membalas kepada orang yang pernah menolak cinta kasihnya, orang yang paling lemah di antara musuh-musuh besarnya, yakni Kiang Liat. Ia memang tidak mempunyai niat untuk membunuh Kiang Liat, hanya ingin melihat Kiang Liat menderita. Oleh karena itu, ia merasa cukup kalau sekarang dapat merampas Im Giok dan menjadikan murid sehingga kelak Kiang Liat akan mendapat malu.

Karena maklum bahwa musuh-musuh besarnya, selain Kiang Liat, adalah tokoh-tokoh terkemuka, yang pandai dan lihai, untuk sementara waktu, Pek Hoa tidak berani memperlihatkan diri dan tidak banyak beraksi di dunia kang-ouw. Ia maklum bahwa kalau hendak membalas sakit hati, ia harus memperdalam kepandaiannya. Di antara banyak macam kepandaian yang pernah ia pelajari dari Thian-te Sam-kauwcu, ada semacam kepandaian ilmu silat yang tadinya ia anggap rendah sehingga tidak begitu ia pelajari secara mendalam. Ilmu kepandaian ini adalah semacam ilmu silat yang khusus diciptakan oleh Pek-in-ong tokoh dua dari barat ini, khusus diciptakan untuk Pek Hoa, murid yang terkasih itu. Seperti telah diketahui, tiga orang tokoh barat itu selain ahli ilmu silat tinggi, juga ahli ilmu sihir. Melihat muridnya yang cantik jelita, yang selain menjadi murid juga menjadi kekasih, Pek-in-ong lalu menciptakan ilmu silat yang sesungguhnya bukan merupakan ilmu pukulan, melainkan merupakan ilmu sitat yang diubah sedemikian rupa sehingga dalam setiap gerakan mengelak, menangkis, maupun memukul menjadi gerakan tari yang dapat menjatuhkan iman seorang laki-laki. Gerakan yang demikian memikat dan lebih tepat kalau disebut tarian yang melanggar kesopanan, tarian cabul yang ddpat membangkitkan nafsu jahat dan dapat menyelewengkan hati pria yang tadinya bersih!

Dahulu Pek Hoa tidak begitu memperhatikan ilmu silat baru yang namanya juga mengerikan, yakni ilmu silat Bi-jin-khai-i (Wanita Cantik Membuka Pakaian)! Dianggapnya bahwa ilmu silat ini diciptakan oleh Pek-in-ong hanya untuk memuaskan nafsu hati guru ke dua ini saja, atau untuk melihat dia menari-nari menghibur hatinya. Akan tetapi sekarang, setelah menghadapi musuh-musuh lihai dan memutar daya upaya untuk membalas dendam, ia teringat akan ucapan Hek-te-ong, tokoh pertama dari barat atau suhunya yang pertama ketika gurunya ini menyaksikan ia bermain Bi-jin-khai-i. “Pek Hoa, sayang ilmu silat ciptaan Pek-in-sute ini tidak ada isinya. Ataukah kau yang tidak berlatih sungguh-sungguh. Kalau kau sudah dapat menangkap isinya dan kaumainkan dengan pengerahan tenaga rahasia, kiranya kelak akan dapat kaupergunakan merobohkan lawan yang ilmu silatnya jauh melebihi tingkatmu.”

Teringat akan ini, Pek Hoa lalu melatih diri dengan ilmu silat Bi-jin-khai-i. Kini terbukalah ingatan dan matanya akan kelihaian dan keajaiban ilmu silat ini maka diam-diam ia merasa bersukur sekali. Selama empat tahun ia membawa Im Giok bersembunyi di sebelah puncak yang sunyi dari Pegunungan Ci-lin-san. Setiap hari, tiada bosannya Pek Hoa melatih diri dan melatih muridnya.

Im Giok makin lama makin nampak kecantikannya. Akan tetapi setelah bertahun-tahun ia hidup bersama Pek Hoa, banyak sifat-sifat Pek Hoa menurun pula kepadanya. Yang terutama sekali adalah kesukaannya untuk berhias. Artinya, Im Giok juga menjadi seorang pesolek! Anak ini semenjak kecil sudah dilatih cara menghias diri dan menjaga wajah serta tubuh agar selalu kelihatan bersih menarik. Bahkan pada suatu hari Im Giok melihat Pek Hoa mengeluarkan sebutir telur yang kemudian dipecahkan lalu dicampur dengan obat, lalu diminumnya!

“Eh, Enci Pek Hoa. Biasanya kita makan telur setelah dimasak dahulu, mengapa kau minum telur mentah?”

“Kau tahu apa, Im Giok? Telur yang tadi kuminum dapat membuat aku selama hidup tidak akan menjadi tua!”

Im Giok yang baru berusia sepuluh tahun itu menggerak-gerakkan alisnya seperti cara Pek Hoa menggerakkan alisnya, gerakan yang amat genit sungguhpun harus diakui amat menarik hati pula. Memang, banyak gerak-gerik genit dari Pek Hoa, seperti menggerakkan bibir di waktu bicara dan cara senyumnya yang kesemuanya amat manis dan menarik, telah menurun kepada Im Giok!

“Enci Pek Hoa, aku selalu percaya kepadamu, akan tetapi kali ini agaknya aku sukar untuk percaya. Bagaimana telur dapat membikin orang menjadi muda selamanya?”

Pek Hoa tersenyum dan kembali Im Giok melihat betapa manisnya senyum ini. Kembali diam-diam ia harus mengakui bahwa gurunya ini adalah seorang wanita yang cantik dan muda.

“Im Giok, yang biasa kita makan itu bukan telur seperti ini. Telur ini bukan sembarang telur, dan amat sukar didapatkan. Ini adalah telur burung rajawali putih yang hanya dapat ditemukan di daerah yang amat sukar di utara. Yang kuminum tadi telur terakhir, maka kau akan kuajak ke sana untuk mencari telur ini.”

“Akan tetapi apa buktinya bahwa telur itu betul-betul dapat membuat orang selamanya menjadi tetap muda?”

“Kaulihat aku? Coba katakan, Im Giok, apakah aku tidak cantik?”

“Kau cantik sekali, Enci Pek Hoa.” Pek Hoa tersenyum puas. “Kelak kau lebih cantik daripada aku, Im Giok. Kaubilang aku cantik dan berapa kaukira usiaku?”

“Kalau kubandingkan dengan wanita-wanita lain yang kita jumpai, paling banyak kau tentu berusia dua puluh tahun.”

Kembali senyum manis membayang bibir Pek Hoa yang merah tanpa gincu itu.

“Dua puluh tahun? Anak baik, usiaku sudah, dua kali itu, lebih lagi...”

“Empat puluh tahun?” Im Giok berseru tidak percaya.

Pek Hoa mengangguk. “Inilah bukti khasiat telur pek-tiauw (burung rajawali putih).”

Im Giok menjadi girang sekali. “Mari kita mencari telur seperti itu, Enci. Aku pun ingin muda selalu dan cantik seperti engkau.”

Demikianlah sifat-sifat Pek Hoa banyak yang menurun kepada anak itu, dan memang benar seperti yang dikatakan oleh Pek Hoa, anak itu makin lama makin cantik dan agaknya ia takkan kalah oleh Pek Hoa dalam kecantikan.

Im Giok juga amat suka mempercantik diri dengan pakaian indah. Pek Hoa yang sayang kepadanya sering kali datang membawa pakaian-pakaian indah dan mahal, terbuat dari sutera halus. Dan yang selalu dipilih oleh Im Giok adalah pakaian berwarna merah.

“Bagus, kau mempunyai kesukaan yang sama dengan aku di waktu masih remaja, Im Giok. Aku pun suka akan warna merah. Warna merah membuat hati gembira dan membesarkan nyali. Juga kau amat pantas memakai pakaian merah, cocok betul dengan kulitmu yang putih halus itu.”

Selain mewarisi beberapa sifat dan watak Pek Hoa, juga selama empat tahun ini, Im Giok sudah menerima pelajaran dasar-dasar ilmu silat tinggi. Bakatnya memang luar biasa sekali, apalagi memang Pek Hoa mengajar dengan sungguh hati. Dalam waktu empat tahun saja, Im Giok sudah menjadi seorang anak yang lihai permainan pedangnya, bahkan kalau ia melihat Pek Hoa berlatih ilmu silat Bi-jin-i, ia menonton dan memperhatikan.

“Enci Pek Hoa, ilmu silat yang kaumainkan itu seperti tarian yang indah sekali. Aku ingin mempelajari ilmu silat itu Enci?”

Pek Hoa tiba-tiba menghentikan permainan silatnya dan memandang dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri.

“Hush, kau anak kecil bagaimana bisa mempelajari ilmu silat ini? Ilmu silat ini hanya boleh dimainkan oleh seorang dara yang sudah dewasa.”

Im Giok merasa aneh dan kecewa. Diam-diam tiap kali gurunya bersilat, ia memperhatikan dan diam-diam ia dapat memetik beberapa jurus dari ilmu silat ini, di bagian yang indah gerakannya. Im Giok tentu saja memandang ilmu silat ini dari segi keindahan dan ia ingin memetiknya untuk memperindah gaya dan gerakan ilmu silat yang dilatihnya. Memang nona cilik ini amat suka akan tari-tarian dan akan segala yang indah-indah.

Pada suatu hari, Pek Hoa mengajak muridnya turun dari puncak persembunyian itu. Tidak seperti biasanya kalau mengajak muridnya turun gunung bertamasya ke dusun-dusun, kali ini Pek Hoa membawa buntalan pakaian dan menyuruh muridnya membawa semua pakaiannya pula.

“Enci Pek Hoa, kita akan pergi ke manakah?” tanya Im Giok yang seperti semua anak-anak, amat girang diajak bepergian.

“Kita turun gunung dan pergi jauh, tidak kembali ke sini lagi.”

Hampir saja Im Giok bersorak kegirangan. Sudah empat tahun lebih ia tahan saja, menindas hatinya yang rindu kepada ibu dan rumah.

Akan tetapi setelah mendapat latihan dari Pek Hoa, bocah ini pandai sekali menyembunyikan perasaannya. Maka betapapun girang hatinya, pada wajahnya yang manis sekali itu tidak nampak perubahan.

“Apakah Enci akan membawaku ke Sian-koan? Ataukah hendak mencari Ayah?” Dua macam pertanyaan ini sudah meliputi seluruh isi hati Im Giok. Dengan pertanyaan pertama ia menyatakan keinginan hatinya untuk bertemu dengan ibunya, karena ibunya tinggal di Sian-koan. Adapun tentang ayahnya, ia sudah mendengar dari Pek Hoa bahwa ayahnya telah meninggalkan ibunya, ayahnya yang bernama Kiang Liat dan berjuluk Jeng-jiu-sian adalah seorang gagah di dunia kang-ouw yang suka merantau. Ia mendengar pula penuturan Pek Hoa bahwa ayahnya sengaja meninggalkan ibunya setelah ayahnya membunuh bekas kekasih ibunya!

“Sebelum menikah dengan ayahmu, ibumu dahulu telah mempunyai seorang kekasih. Kekasihnya itu seorang sastrawan lemah, tentu saja ayahmu lebih tampan, lebih gagah dan lebih menyenangkan. Setelah bertemu dengan ayahmu, ibumu melepaskan kekasih lama. Akan tetapi setelah kau terlahir, kembali ibumu teringat akan kekasihnya dan hal ini membuat ayahmu marah dan cemburu. Maka dibunuhnya sastrawan kekasih ibumu itu dan ayahmu lalu pergi meninggalkan ibumu.” Demikian Pek Hoa mengarang, hati Im Giok tergores luka. Ia merasa kasihan kepada ayahnya dan sebaliknya mencela sikap ibunya, sungguhpun tak mungkin ia dapat membenci ibunya.

“Akan tetapi sekarang kabarnya ayahmu telah menjadi gila.” Kata-kata ini membuat hati Im Giok terharu sekali sehingga pernah ia mengajukan permohonan kepada gurunya untuk mencari ayahnya. Akan tetapi Pek Hoa selalu menjawab bahwa belum tiba waktunya bagi mereka untuk meninggalkan puncak gunung. Sekarang begitu gurunya mengajaknya turun gunung, otomatis Im Giok mengajak gurunya mencari ibu atau ayahnya.

“Tidak, Im Giok. Kita tidak pergi ke Sian-koan, juga tidak mencari ayahmu. Aku mempunyai urusan yang lebih penting lagi. Aku harus pergi ke Kun-lun-san, kemudian ke kuil Siauw-lim-si untuk membalas sakit hati. Kau harus ikut!”

Tentu saja Im Giok tidak berani membantah.

“Ingatlah, Im Giok. Aku telah dihina dan dibikin sakit hati oleh beberapa orang kang-ouw yang selain telah membunuh tiga orang guruku, juga telah mendatangkan malu besar kepadaku. Kau ingatlah baik-baik nama musuh-musuh besarku itu. Akan tetapi, karena mereka itu lihai sekali, biarlah yang lain-lain aku yang akan mencari dan membalasnya. Hanya terhadap satu orang, aku mengharapkan kau sebagai muridku kelak akan dapat membalaskan sakit hatiku. Orang itu adalah Bu Pun Su.”

“Bu Pun Su...?” baru kali ini Im Giok mendengar nama pendekar sakti yang namanya sederhana sekali itu.

“Im Giok, jangan kaupandang rendah orang ini. Memang betul namanya hanya Bu Pun Su (Tiada Kepandaian), akan tetapi dialah orang yang paling lihai di antara semua musuhku. Aku sendiri tidak berdaya terhadap dia, dan kelak kau orangnya yang kuharapkan akan dapat membalasnya.”

Demikianlah, sambil menuturkan pengalamannya, Pek Hoa melakukan perjalanan bersama muridnya yang kini sudah cukup pandai sehingga dapat mempergunakan ilmu berlari cepat, menuruni puncak bukit di mana mereka bersembunyi sambil berlatih silat selama empat tahun lebih. Setelah merasa yakin akan kelihaian ilmu silat baru yang dilatihnya, Pek Hoa berbesar hati dan berani muncul lagi. Yang ia takuti hanya dua orang, yakni pertama Bun Sui Ceng dan kedua Bu Pun Su. Ia gentar menghadapi Bun Sui Ceng karena musuh besar ini adalah seorang wanita sedangkan ilmu silat Bi-jin-khai-i yang baru ia latih sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap lawan wanita.

Adapun rasa gentarnya terhadap Bu Pun Su adalah karena ia maklum bahwa tingkat kepandaian pendekar sakti ini sudah amat tinggi, jauh lebih tinggi dari tingkat kepandaian mendiang tiga orang suhunya sendiri! Karena itu, ia merasa ragu-ragu apakah ilmu silatnya yang baru itu akan dapat mengalahkan Bu Pun Su.

***

Tidak ada orang yang berjumpa dengan mereka terutama sekali kaum pria, yang tidak memandang dengan penuh kekaguman yang tak mudah dilihat setiap kali. Seorang dara berbaju biru putih, cantik jelita dan nampaknya takkan lebih dari dua puluh tahun usianya.

Rambutnya hitam panjang, digelung dengan model gelung dewi kahyangan, di sebelah kiri dihias setangkai bunga putih yang harum, yakni bunga Cilan, di sebelah kanan terhias burung hong dari emas dan permata. Sepasang anting-anting panjang berrnata merah tergantung di bawah telinga, bergerak-gerak membelai pipi menambah kemanisan. Pakaian dan sepatunya baru dan terbuat dari bahan mahal. Gagang sepasang pedang yang, menempel di punggung, dengan ronce-ronce pedang warna merah berkibar di atas pundak, membuat Si Cantik itu nampak gagah sekali. Sepasang pedang ini pula yang membuat tiap orang laki-laki yang memandang kagum, tidak berani bersikap kurang ajar.

Yang ke dua masih belum dewasa, baru berusia sepuluh atau sebelas tahun, akan tetapi sudah kelihatan luar biasa cantiknya. Dillhat sepintas lalu, wajahnya hampir sama dengan wajah dara yang dewasa itu, patut kiranya menjadi adiknya. Akan tetapi kalau diperhatikan betul-betul nampak benar perbedaan yang jauh, terutama sekali pada sinar mata dan tekukan bibir. Juga gadis cilik ini menarik hati setiap orang. Tidak saja manis dan jelita, juga amat gagah. Pakaiannya serba merah, terbuat dari sutera indah pula. Rambutnya dikucir dan dihias dengan pita merah pula. Juga di punggung bocah perempuan ini kelihatan gagang sebatang pedang pendek dan langkah kakinya yang tegap dan lincah itu mendatangkan kesan bahwa dia memiliki ilmu silat tinggi seperti kawannya.

Pek Hoa dan Im Giok, dua orang itu, di sepanjang jalan bergembira mengagumi pamandangan di kota-kota, terutama sekali Im Giok. Mereka tidak mempedulikan pandangan mata kagum dari para laki-laki yang mereka jumpai di tengah perjalanan. Bagi Im Giok, semua pandang mata itu tidak ada artinya. Akan tetapi tidak demikian dengan Pek Hoa. Sudah empat tahun lebih ia tidak pernah menghadapi pandang mata kagum dari para pria maka kini ia merasa gembira dan bangga bukan main. yata bahwa empat lima tahun tidak mengurangi kecantikannya, tidak merubah usianya! Ini semua berkat telur pek-tiauw yang benar-benar memiliki khasiat membuat orang menjadi awet muda. Yang menyebalkan hati Pek Hoa adalah kenyataan bahwa tidak ada laki-laki yang cukup tampan dan gagah di antara mereka yang ia jumpai. Maka ia pun bersikap seperti Im Giok, tidak peduli sama sekali akan pandang mata orang-orang itu, melainkan tersenyum makin manis dan bangga.

Akan tetapi, setelah kembali terjun ke dalam dunia ramai, timbul pula penyakit lama dalam diri Pek Hoa. Hati dan tangannya gatal-gatal kalau tidak melakukan perbuatan seperti dahulu-dahulu. Mulailah Im Giok terkejut sekali ketika menyaksikan perbuatan gurunya. Sering kali di waktu malam Im Giok diajak mendatangi rumah orang di mana Pek Hoa mengambil barang berharga dan emas sekehendak hati sendiri. Bahkan di depan mata Im Giok, ketika tuan rumah bangun dari tidur dan melihat pencurian yang dilakukan, Pek Hoa membunuh tuan rumah itu bagaikan orang membunuh semut saja!

“Enci Pek Hoa, mengapa setelah mengambil barangnya, kau masih membunuh orangnya yang tidak mempunyai dosa apa-apa?” Im Giok memprotes.

“Im Giok, mengapa ribut-ribut urusan mati hidupnya seorang manusia macam dia? Dia telah memergoki kita, ini artinya dia harus mampus. Orang macam dia, mati atau hidup apa sih artinya? Kita boleh berbuat sesuka kita, itulah hukum kang-ouw, siapa kuat dia menang!”

Jawaban ini meragukan hati Im Giok. Biarpun semenjak berusia enam tahun ia telah ikut Pek Hoa dan selalu melihat contoh-contoh buruk, namun Im Giok adalah keturunan orang baik-baik. Ibunya seorang wanita bijaksana, ayahnya seorang laki-laki gagah perkasa maka sedikitnya ia pun mempunyai watak yang baik dan gagah. Menghadapi perbuatan yang keterlaluan dari Pek Hoa, hatinya memberontak. Apalagi ketika ia melihat beberapa kali Pek Hoa tidak bermalam di kamar hotel dan diam-diam pergi meninggalkannya sampai semalam suntuk dan keesokan harinya pagi-pagi baru datang dengan senyum-senyum aneh, ia menjadi makin curiga. Namun ia tidak dapat menentang wanita yang menjadi pendidiknya ini. Betapapun juga, ia harus akui bahwa Pek Hoa telah bersikap amat baik terhadapnya, amat baik dan penuh kasih sayang.

Beberapa pekan kemudian, Pek Hoa mengajak Im Giok masuk ke dalam pekarangan sebuah gedung besar di tengah kota Cin-an. Im Giok merasa heran karena biasanya kalau Pek Hoa memasuki gedung besar, waktunya tengah malam dan jalan masuknya melalui genteng!

“Enci Pek Hoa, rumah siapakah ini?”

“Rumah seorang gagah bernama Kam Kin berjuluk Giam-ong-to (Si Golok Maut). Kau harus sebut Susiok (Paman Guru) kepadanya.”

Kedatangan mereka segera disambut oleh tuan rumah, seorang laki-laki berusia tiga puluh lebih, tubuhnya tinggi besar, wajahnya tampan dan sikapnya cukup gagah. Hanya sayangnya, pandang matanya kejam dan senyum bibirnya membayangkan watak mata keranjang dan curang.

“Aduuh, pantas saja aku bermimpi kejatuhan bulan!” laki-laki itu berseru sambil tertawa-tawa dan kedua lengannya dibentangkan ketika ia menyambut Pek Hoa, seakan-akan siap hendak memeluknya. “Tidak tahunya benar saja dewiku yang jelita datang berkunjung...”

Kata-katanya berhenti ketika Pek Hoa mengerutkan alis dan memberi isarat dengan matanya ke arah Im Giok, mencegah laki-laki itu bicara secara demikian bebas di depan Im Giok. Kam Kin, laki-laki itu, tertawa menyeringai dan ketika ia menengok ke arah Im Giok, sinar kagum terbayang dalam pandang matanya.

“Aha Pek Hoa-suci, muridmu ini benar-benar hebat dan manis sekali! Kalau kau seperti bunga cilan putih yang sudah mekar semerbak harum, muridmu ini adalah tunas cilan yang merah. Ha, ha, ha!”

Sekali pandang saja, Im Giok merasa benci kepada laki-laki yang menyambut mereka ini. Sungguhpun ia dapat menekan perasaannya, namun tetap saja wajahnya kehilangan serinya.

“Im Giok, beri hormat kepada Kam-susiok,” kata Pek Hoa.

Terpaksa Im Giok menjura untuk memberi hormat tanpa memandang wajah orang.

“Teecu Kiang Im Giok memberi hormat kepada Kam-susiok,” katanya sederhana lalu berdiri lagi di samping gurunya.

“Ha, ha, bagus sekali. Orangnya manis, namanya indah dan suaranya merdu seperti gurunya,” Kam Kin menepuk tangan tiga kali dan dari dalam muncullah tiga orang wanita muda yang cantik-cantik. Mereka ini adalah pelayan-pelayan dari hartawan ini, akan tetapi pakaian mereka sesungguhnya tidak patut bagi para pelayan, lebih pantas kalau mereka ini disebut selir-selir dari Kam Kin.

“Siapkan, kamar yang bersih dan layani Nona Kiang Im Giok ini baik-baik,” katanya kepada mereka. Sambil tertawa-tawa tiga orang perempuan muda itu lalu menggandeng tangan Im Giok dan ditariknya nona cilik ini di dalam gedung. Tadinya Im Giok hendak menolak, akan tetapi Pek Hoa berkata, “Kau pergilah beristirahat, Im Giok. Tak usah sungkan-sungkan, kita berada di rumah sendiri. Besok pagi-pagi kita bertemu kembali di ruang depan ini. Aku ada perundingan penting dengan susiokmu.”

Terpaksa Im Giok ikut dengan tiga orang pelayan itu dan di belakangnya ia mendengar suara ketawa-ketawa dari Pek Hoa dan Kam Kin, dan lapat-lapat ia mendengar lagi sebutan-sebutan mesra dari mulut Kam Kin kepada gurunya.

Di dalam kamarnya Im Giok hampir menangis. Ia kecewa sekali. Makin terbukalah matanya dan biarpun belum berani ia menuduh gurunya sebagai seorang penjahat wanita cabul, akan tetapi kepercayaannya mulai berkurang dan hatinya mulai ragu-ragu. Ia tidak ragu lagi bahwa tuan rumah yang bernama Giam-ong-to Kam Kin ini bukanlah orang baik-baik. Bagaimanakah gurunya bisa bergaul dengannya? Ia tidak dapat tidur sama sekali. Bocah yang baru berusia sepuluh tahun lebih ini mulai merasa sengsara dan gelisah. Ia amat merindukan ibunya, bahkan ia mencoba untuk mengingat-ingat bagaimana bentuk wajah ayahnya. Ketika ayahnya pergi meninggalkan ibunya, ia baru berusia dua tahun dan tak dapat mengingat lagi bagaimana bentuk wajah ayahnya. Ia mulai rindu kepada ibunya, kepada ayahnya, kepada kebebasan! Biarpun Pek Hoa baik terhadapnya, namun ia tidak merasa bebas. Ia harus tunduk dan taat, harus menelan apa saja yang disuguhkan kepadanya. Semua perbuatan gurunya yang sebetulnya ia anggap amat tidak patut dan tidak menyenangkan hatinya, mau tidak mau harus ia terima dan ia anggap baik, atau setidaknya, ia tidak boleh menyatakan pendapatnya.

Seperti biasa, di mana saja Pek Hoa membawanya, ia tidak pernah kekurangan makan. Di rumah gedung dari orang she Kam ini pun ia dilayani dengan baik-baik, bahkan ia disuguhi makanan-makanan lezat dan mewah. Akan tetapi, Im Giok tidak dapat merasai kenikmatan makanan itu, bahkan ia menelan makanan dengan paksa hanya untuk berlaku pantas karena ia sungkan menolak sambutan orang yang demikian baik.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Im Giok sudah siap untuk melanjutkan perjalanan dengan gurunya. Alangkah girangnya ketika pagi itu Pek Hoa sudah datang ke kamarnya dan berkata dengan wajah berseri,

“Im Giok, mari kita berangkat! Kau akan melihat betapa aku memberi hajaran kepada seorang di antara musuh-musuh besarku.”

“Yang mana, Enci?” tanya Im Giok ikut gembira karena hendak menyaksikan pertempuran.

“Hwesio-hwesio dari Siauw-lim-si, Kok Beng Hosiang dan dua orang hwesio muridnya. Kebetulan sekali dia dan muridnya berada di sebuah kelenteng tak jauh dari kota ini.”

Akan tetapi, kegembiraan Im Giok segera lenyap ketika ia melihat Giam-ong-to Kam Kin telah menanti di pekarangan rumah dengan tiga ekor kuda. Jelas bahwa laki-laki ini hendak ikut pergi pula! Pek Hoa bermata tajam dan ia dapat melihat kerutan alis muridnya, maka ia cepat berkata,

“Susiokmu akan ikut membantuku, Im Giok, kau naiki kuda yang putih itu, kelihatannya paling, baik.” Kata-kata terakhir ini diucapkan oleh Pek Hoa untuk menyenangkan hati muridnya.

“Jangan yang itu. Kuda itu masih setengah liar. Lebih baik Im Giok naik yang ini!” Kam Kin cepat berkata sambil menuntun seekor kuda bulu hitam dan didekatkan kepada Im Giok.

Im Giok tidak biasa menunggang kuda. Akan tetapi sebagal murid orang pandai yang sudah memiliki kepandaian lumayan, ia tidak merasa takut dan dengan gerakan ringan ia melompat ke atas punggung kuda hitam itu.

Mereka segera berangkat. Kam Ki dan Pek Hoa menjalankan kuda berdampingan, sedangkan Im Giok menjalankan kuda di belakang mereka. Dengan hati sebal dan muak ia melihat betapa sikap gurunya dan susioknya amat mesra. Di sepanjang jalan kedua orang itu bersendau-gurau dengan sikap mesra. Makin besarlah perasaan tidak suka mendesak di hati Im Giok, rasa tidak suka terhadap orang yang selama ini ia anggap sebagai gurunya.

*** ***
Note 15 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Membaca cersil dapat menimbulkan efek candu!!!."

(Regards, Admin)

0 Response to "Ang I Niocu Bab 08 - Pertandingan Di Air"

Post a Comment

close