Serial Dewa Arak 13 - Peninggalan Iblis Hitam

Mode Malam
13 - Peninggalan Iblis Hitam

Krik, krik, krik...!

Riuh suara jangkrik dan binatang malam lain mengusik keheningan malam yang hanya diterangi sinar bulan sepotong. Angin dingin yang sesekali berhembus keras semakin menambah heningnya suasana malam.

Tapi ternyata suasana seperti itu tidak menghalangi perjalanan sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda. Perlahan-lahan kereta kuda yang jendela-jendelanya tertutup kain hitam bergerak menuju mulut hutan.

Ctar, ctar...!

Sang Kusir melecutkan cambuk ke pantat dua ekor kuda di depannya. Seketika langkah binatang penarik kereta yang sudah kelihatan lelah kembali ber­gerak cepat.

"Uhk,..! Uhk!"

Terdengar batuk keras beruntun dari dalam kereta yang mempunyai pintu di samping kanan kiri.

"Masih jauhkah Hutan Karimun, Pandora?" tanya orang di dalam kereta setelah batuknya mereda.
"Tidak, Tuan," sahut kusir yangg dipanggil Pan­dora. "Hutan Karimun sudah di depan kita."

"Syukurlah...!" sambut orang di dalam kereta yang temyata majikan Pandora. Nada suaranya menyiratkan perasaan lega. Seketika suasana kembali hening setelah orang yang berada di dalam kereta menghentikan ucapannya. Kini yang terdengar hanya derap langkah dua ekor kuda dan suara gemeretak roda kereta.

"Mudah-mudahan tidak ada orang persilatan yang mencium kepergian kita," ucap orang yang berada di dalam kereta penuh harap. "Hhh...! Sepasang Iblis Gurun Banjar benar-benar tangguh."

'Tapi biar bagaimanapun Tuan berhasil mengalahkan mereka," bantah Pandora. Hatinya tidak senang mendengar majikannya memuji-muji sepasang iblis itu. "Padahal Tuan belum menggunakan mantel pusaka...."

"Jangan sebut-sebut benda itu lagi, Pandora," tegur orang di dalam kereta tidak senang .

"Maafkan aku, Tuan," desah Pandora. Dari nada suaranya dapat dirasakan adanya penyesalan.

"Sampai kapan pun aku tidak akan menggunakan benda itu. Dan kepergianku membawanya bukan karena aku ingin memilikinya. Tapi karena aku tidak ingin pusaka ini jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab! Biarlah pusaka-pusaka leluhurku ini tidak mendapatkan ahli waris, daripada jatuh ke tangan orang-orang sesat seperti Sepasang Iblis Gurun Banjar! Kau mengerti, Pandora?"

"Mengerti, Tuan," sahut kusir yang kepalanya tertutup caping bambu dengan suara mendesah.

Orang yang berada di dalam kereta menghentikan ucapannya. Sementara Pandora pun tidak berkata kata lagi. Pelayan setia yang merangkap sebagai kusir ini sibuk melecutkan cambuk, memaksa kuda-kuda pe- narik kereta terus melangkah.

Tapi tiba-tiba Pandora memandang berkeliling. Sepasang matanya merayapi pohon-pohon di sekitar penuh curiga.

Pendengaran Pandora yang tajam me­rangkap suara-suara mencurigakan di sekelilingnya. Tentu saja hal ini membuat urat-urat syarafnya menegang.

Dan kecurigaan Pandora memang beralasan. Barn beberapa tombak kereta kuda itu bergerak maju, tiba-tiba terdengar suara oerdesingan nyaring yang disusul berkelebatannya beberapa benda berkilat ke arahnya dan juga ke arah kuda-kuda penarik kereta.

"Hmh...!"

Pandora hanya mendengus. Cepat laksana kilat cambuknya berkelebat

Ctar, ctar, ctar...!

Terdengar suara lecutan beberapa kali. Dan seketika itu juga benda-benda berkilat yang ternyata adalah beberapa bilah pisau terbang rontok ke tanah. Tidak satu pun pisau-pisau terbang yang lolos dari sambaran cambuk. Jelas, kalau kusir ini bukan kusir sembarangan.

Bertepatan dengan runtuhnya pisau-pisau terbang, tiba-tiba dari balik rerimbunan pohon dan semak yang lebat melesat beberapa sosok bayangan.

"Ada ара, Pandora?" tanya orang di dalam kereta. Rupanya majikan Pandora juga mendengar keributan di luar.

"Tidak ada apa-apa, Tuan," jawab Pandora cepat "Hanya hambatan kecil,"

Setelah menjawab pertanyaan sang Majikan, Pan­dora memandang lurus ke depan. Di hadapan kereta, kini menghadang beberapa sosok berpakaian serba hi­tam. Pandora menghitung jumlah penghadang dengan matanya. Tujuh orang, desis kusir ini dalam hati.

"Mengapa kalian menghadang perjalananku?" ta­nya Pandora tenang. Jelas kalau kusir ini tidak menganggap hadangan tujuh orang berpakaian bitam sebagai masalah besar.

"Serahkan pusaka peninggalan Iblis Hitam. Baru kami biarkan kalian melanjutkan perjalanan," ucap laki-laki bertubuh kurus dan berwajah kuning yang rupanya pimpinan penghadang.

"Hm...," Pandora bergumam tak jelas. Dibukanya caping yang menutupi kepalanya. Kini wajah kusir itu tertihat jelas di bawah keremangan cahaya bulan. Tampak jelas kalau Pandora temyata adalah seorang kakek. Kulit wajahnya yang berwarna coklat dipenuhi bintik-bintik putih.

"Cepat serahkan pusaka itu sebelum kesabaran kami hilangl" bentak laki-laki berwajah kuning bemada peringatan.

"Kalian sudah buta rupanya! Mengapa meminta pusaka peninggalan Iblis Hitam padaku?! Memangnya ada hubungan ара aku dengan Iblis Hitam?" sahut Pandora mengelak.

'Так usah pura-pura bodoh!" sergah si muka ku­ning cepat "Kau memang tidak memiliki pusaka itu. Tapi majikanmu yang di dalam memilildnya! Cepat serahkan! Atau..., kau ingin kami merebutnya dengan kekerasan?!"

Setelah berkata demikian, laki-laki bermuka ku­ning mengeHing ke arah kereta.

"Majikanku memilikinya? Kalian keliru rupanya! Majikanku bukan tokoh aliran sesat. Ара kau tidak pemah mendengar julukan Pendekar Golok Baja?" gertak kusir kereta kuda.

"Keparat! Kau kira kami bisa kau bodohi? Kami pun tahu kalau majikanmu berjuluk Pendekar Golok Baja! Tapi jangan kira kami bisa tertipu. Semua tokoh persilatan sudah tahu kalau majikanmu keturunan Iblis Hitam!" tandas pimpinan penghadang keras.

Wajah Pandora seketika pucat. Sungguh tidak disangka kalau rahasia majikannya sudah terbongkar. Entah siapa yang membocorkan rahasia yang selama Ini tersimpan rapi. Kalau begitu mulut tujuh orang ini harus dibungkam agar tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar, tekad Pandora dalam hati.

"Kalau begitu, kalian harus mati! " tegas kakek berwajah bintik-bintik putih seraya melompat dari kereta.

"Ha ha ha...!" pimpinan penghadang tertawa bergelak. "Kaulah yang akan kami bereskan sebelum majikanmu yang kini sudah jadi macan ompong!"

Setelah berkata demikian, laki-laki berwajah ku­ning itu mengibaskan tangannya. Kontan enam orang anak buahnya segera melangkah maju.

Sraffi, srattt...!

Sinar terang berkilatan begjtu tujuh orang ini menghunus senjata masing-masing. Tujuh orang ber­pakaian serba hitam itu temyata bersenjata pedang semua.

"Kalian bereskan pelayan busuk ini! Biar aku yang urus macan ompong itu!" perintah si muka kuning sambil menudingkan jari telunjuk ke arah kereta.

"Baik, Kang," sahut enam anak buahnya berbareng.

Perlahan-lahan laki-laki berwajah kuning mendekati kereta. Tapi baru beberapa tindak kakinya me­langkah, tiba-tiba berkesiur angin dingin. Sesaat kemudian di hadapan si muka kuning telah berdiri Pan­dora.

"Langkahi dulu mayatku. Baru kalian bisa men- jamah kereta ini!" ujar kakek berwajah bintik-bintik putih itu penuh wibawa.

"Kalau memang itu maumu, mampuslah kau...!" teriak pimpinan penghadang seraya menusukkan pe­dang ke arah perut Pandora.

Angin dingin bersiutan cukup keras sebelum tusukan pedang tiba. Tapi Pandora hanya mendengus. Kakek berwajah bintik-bintik putih ini memang bukan orang sembarangan. Dia adalah pelayan kesayangan .

Pendekar Golok Baja yang sudah puluhan tahun ikut majikannya. Dan Pendekar Golok Baja yang tahu kesetiaan Pandora, tidak segan-segan menurunkan kepandaiannya kepada kakek itu. Walaupun tidak berbakat, tapi berkat ketekunan Pandoro akhimya sebagian besar ilmu sang Majikan berhasil dikuasai.

Мака tidak mengherankan ketika menghadapi tusukan pedang lawan, kakek berwajah bintik-bintik putih itu tidak menjadi gugup. Segera kakinya dilangkahkan ke kanan seraya mendoyongkan tubuh, sehingga serangan lawan lewat di sebelah kiri pinggangnya.

Belum lagi si muka kuning sempat berbuat sesuatu, tangan Pandora cepat melakukan bacokan dengan sisi tangan dimiringkan pada pergelangan tangan yang menggenggam pedang. Laki-laki berwajah kuning itu kaget dan berusaha menarik pulang tangannya. Tapi ...

"Akh...!"

Pimpinan penghadang memekik tertahan. Per­gelangan tangan yang terkena bacokan pelayan Pen­dekar Golok Baja terasa seperti patah tulangnya. Dan seketika itu pula pedangnya terlepas dari genggaman.

Tidak hanya sampai di situ saja yang dilakukan Pandora. Secepat bacokan tangan kosongnya menge- nai sasaran, secepat itu pula posisi tangannya dike- palkan. Dan langsung dihantamkan ke wajah lawan dengan punggung tangan.

Desss!
"Akh...!"

Untuk ke dua kalinya laki-laki berwajah kuning memekik ketika pukulan Pandora telak dan keras menghantam wajahnya. Dan seketika itu pula terde­ngar suara berderak keras dari tulang-tulangnya yang retak. Sesaat tubuh pimpinan penghadang itu menggelepar-gelepar. Sekejap kemudian tubuhnya sudah tidak bergerak lagi untuk selamanya dengan hidung dan mulut mengalir darah segar! Rupanya Pandora yang tengah dilanda rasa cemas telah mengerahkan seluruh kepandaian yang dimilikinya.

Melihat pemimpinnya tewas, tentu saja enam penghadang lain menjadi terkejut Keenam orang ber­pakaian serba hitam itu sama sekali tak menyangka kalau ketua mereka dapat ditewaskan pelayan Pende­kar Golok Baja secara mudah. Memang kejadian itu berlangsung begitu cepet, sehingga mereka tidak sempat berbuat apa-apa. Sesaat lamanya keenam orang itu terpaku menatap mayat ketuanya, seolah-olah tak percaya pada ара yang dilihatnya.

Tapi begitu orang-orang itu sadar dari keterpakuan, kemarahan yang amat sangatlah yang timbul Disertai teriakan nyaring, enam laki-laki berpakaian serba hitam menerjang Pandora. Sinar-sinar berkilat dari enam batang pedang yang berkelebatan ke arah pelayan Pendekar Golok Baja untuk beberapa saat membuat suasana malam yang remang-remang men­jadi terang.

Melihat lawan-lawannya menyerang kalap. Pan­dora tetap bersikap tenang. Sekali lihat saja pelayan setia berwajah bintik-bintik putih itu sudah dapat mengukur tingkat kepandaian enam laki-laki ber­pakaian serba hitam. Dan dengan mengandalkan ke­pandaian yang jauh di atas lawan-lawannya, enak saja Pandora mengelakkan semua serangan. Tubuhnya menyelinap di antara kelebatan sinar pedang yang sewaktu-waktu bisa saja merenggut selembar nyawanya.

Memang, dengan ilmu meringankan tubuh yang jauh di atas lawan-lawannya, tidak sulit bagi Pandora mengelakkan hujan senjata lawan. Dan begitu kakek Ini balas menyerang, terdengar jerit memilukan saling susul yang diiringi dengan robohnya enam penghadang satu demi satu. Roboh dan tidak pernah bangkit lagi untuk selamanya!

Dalam waktu singkat sudah tidak ada lagi lawan yang berdiri tegak. Semua penghadang telah bergeletakan bersimbah darah di tanah. Pandora meman- dangi tujuh mayat yang bergelimpangan di tanah dengan sorot mata sedih.

Kakek berwajah bintik-bintik putih ini membunuh tujuh orang lawan bukan karena jiwanya yang kejam, tapi karena terpaksa. Kalau mereka segera tidak dibunuh, Pandora khawatir orang-orang ini akan menyebarkan berita mengenai majikannya. Dan hal inilah yang ingin dihindari pelayan setia Pendekar Golok Baja.

Orang-orang persilatan memang sudah lama mengincar pusaka peninggalan Iblis Hitam. Sedangkan majikannya yang menyimpan pusaka itu adalah ketu- runan Iblis Hitam. Dan seandainya tokoh-tokoh persilatan tahu siара majikannya, sudah dapat dipastikan kalau mereka akan memburu Pendekar Golok Baja. Sedangkan pendekar itu kini sedang dalam keadaan terluka parah.

"Hhh...!"

Pandora menghela napas panjang untuk menguat- kan hatinya yang agak terguncang. Pelayan setia ini sadar kalau bukan hanya untuk sekali ini saja dirinya harus bertindak keras. Seandainya tokoh tokoh persilatan telah mencium berita tentang pusaka pening­galan Iblis Hitam ada di tangan Pendekar Golok Baja, mau tidak mau dia harus bertindak kejam untuk menyelamatkan majikannya. Dan juga pusaka warisan Iblis Hitam tentunya.

Pandora kembali menaiki kereta. Tapi baru saja pantatnya diletakkan, terdengar teguran dari dalam kereta.

"Bagaimana, Pandora?"
"Maafkan aku, Tuan. Aku terpaksa membunuh mereka."
"Hhh...!"

Terdengar suara hempasan napas berat dari dalam kereta. Tapi biar bagaimanapun, Pendekar Golok Baja tidak bisa menyalahkan perbuatan pelayan setianya. Tadi, pendekar ini juga telah mendengar pembicaraan antara Pandora dengan rombongan penghadang. Mungkin seandainya dirinya tidak teriuka parah, dia pun akan turun tangan membantu Pandora.

Pandora kembali menghentakkan tali kekang kuda sambil mendecakkan mulutnya. Dan kereta itu bergerak kembali setelah beberapa saat tertahan.

***

Kereta kuda terus bergerak di bawah keremangan malam memasuki Hutan Karimun.

"Pandora...," kembali terdengar suara teguran pelan dari dalam kereta.
"Ada ара, Tuan?" tanya Pandora.
"Setelah tiba di tempat tinggal paman guruku, kau boleh pergi, Pandora."

"Maksud, Tuan...?" tanya Pandora gugup. Jelas ada keterkejutan yang amat sangat dalam nada sua­ranya.

"Barangkali kau ingin bebas..., tidak terikat Aku ikhlas. Pandora," sambung Pendekar Golok Baja.

"Tidak, Tuan," bantah Pandora tegas. "Aku tidak akan meninggalkan Tuan. Kecuali..., Tuan sudah tidak membutuhkanku lagi...."

Seketika suasana menjadi hening ketika Pandora menyelesaikan ucapannya. Baik Pendekar Golok Baja maupun pelayan setianya tidak berkata apa-apa. Keduanya tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Sesekali Pandora melecutkan cambuk bila melihat langkah kudanya mulai pelan. Sedangkan Pendekar Golok Baja masih tenggelam dalam lamunannya. Orang yang disebut paman guru, sebenarnya adalah gurunya sendiri Karena gurunya adalah adik seperguruan ayahnya .

"Hhh...!" Pendekar Golok Baja menghela napas berat "Berhenti dulu, Pandora...!"

Kakek berwajah bintik-bintik putih segera menarik tali kekang, sehingga kuda-kuda penarik kereta meng- hentikan larinya.

"Ada ара, Tuan?" tanya Pandora.

"Aku ingin duduk di luar saja, Pandora," sahut Pendekar Golok Baja, seraya membuka pintu kereta.

Melihat hal ini, buru-buru pelayan setia itu melompat dari tempat duduknya. Ingin membantu sang Majikan naik ke sebelah tempat duduk kusir.

'Tidak usah, Pandora," cegah Pendekar Golok Baja. "Biar aku naik sendiri."

Pandora pun mengurungkan niatnya. Baru setelah Pendekar Golok Baja sudah duduk di sebelah kursi kusir, dia bergegas naik dan duduk di kursinya.

"Mengapa Tuan pindah kemari?" tanya pelayan setia itu heran.
"Aku ingin berbincang-bincang denganmu, Pan­dora," sahut sang Majikan.

Pandora hanya mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti. Kemudian menghentakkan tali kekang seraya berdecak pelan. Sesaat kemudian kuda-kuda itu pun sudah kembali melangkah. Dan roda kereta kembali bergulir, menembus kegelapan Hutan Karimun.

"Pandora...," ucap Pendekar Golok Baja ketika kereta sudah bergerak cukup jauh.

"Ya, Tuan," sahut Pandora sambil memalingkan wajahnya, menatap majikannya. Dilihatnya seraut wajah pucat dari seorang laki-laki gagah berusia lima puluh tahun. Raut wajahnya kelihatan keras dihiasi cambang lebat. Dan, pakaian sang Majikan yang berwama putih kian menambah kewibawaan.

"Aku masih terharu kalau teringat kebaikan paman guru."
"Maksud, Tuan?" tanya Pandora, masih belum mengerti.
"Coba pikir. Pandora. Kau kan tahu bagaimana hubungan antara kakekku dengan ayah paman guru,bukan?"

Kakek berwajah bintik-bintik putih itu menganggukkan kepala.

"Kakek Tuan adalah kakak seperguman ayah pa­man guru Tuan. "
"Benar," jawab Pendekar Golok Baja sambil menganggukkan kepala.
"Tapi, kau tahu cerita selanjutnya, Pandora?"

"Hanya sedikit, Tuan," jawab pelayan setia itu sejujumya. Memang, kakek ini hanya tahu sedikit mengenai leluhur majikannya. Pandora tidak berani lancang, bertanya kalau tidak majikannya sendiri yang membicarakannya.

"Hampir seratus tahun lalu," ucap Pendekar Go­lok Baja memulai cerita.

"Kakek punya adik sepergu­ruan, yaitu ayah paman guru. Tapi, antara kakek dengan adik seperguruannya ada pertentangan pendirian Kakek mengambil jalan sesat Dan akhimya mcnjadi datuk sesat yang tidak terkalahkan, berjuluk Iblis Hitam. Sementara adik seperguruan kakek tetap mengambil jalan lurus. Akibatnya hubungan antara kakek dan adik seperguruannya pun putus."

Pendekar Golok Baja menghentikan ceritanya sebentar. Sementara Pandora tetap mendengarkan cerita majikannya penuh perhatian.

"Kebrutalan kakek dilanjutkan ayah. Ayah menggantikan kedudukan kakek sebagai Iblis Hitam."

Kembali Pendekar Golok Baja menghentikan ceri­ta. Sepasang matanya, dan juga wajahnya mendadak berubah muram. Jelas kalau kelanjutannya amat menyedihkan hatinya.

"Suatu hari, selagi hendak memperkosa seorang gadis pendekar, beliau dikeroyok orang-orang persilatan aliran putih yang sudah sejak lama mengincarnya. Betapapun saktinya ayah, tapi karena jumlah pengeroyok terlalu banyak, akhimya beliau terdesak hebat dan terluka parah."

"Ya, aku pun telah mendengar cerita itu, Tuan," selak Pandora, begitu sang Majikan menghentikan ceritanya. "Kalau saja saat itu ayah Tuan sempat mengenakan mantel pusaka, beliau tak mungkin bisa dilukai."

"Hhh...!" Pendekar Golok Baja menghela napas berat. "Kedatangan para pengeroyok ayah terlalu tiba- tiba, Pandora. Beliau tidak sempat mengenakan kem­bali mantel pusaka...."

'Tapi, meskipun tanpa pusaka itu.... Ayah Tuan masih mampu menunjukkan kelihaiannya. Beliau mampu meloloskan diri dari kepungan para penge­royok, dan membawa lari mantel pusaka."

Pendekar Golok Baja mengangguk-anggukkan ke­pala.

"Ada beberapa hal yang membuatku kagum pada almarhum ayah," ucap Pendekar Golok Baja lagi.

Pandora terdiam seketika, menunggu kelanjutan ucapan majikannya.

"Hal pertama yang membuatku kagum adalah pe­san pertama beliau padaku..."
"Pesan ара, Tuan?" tanya Pandora.
"Ayah berpesan, aku tidak boleh membalas dendam atas kematiannya."

Pandora mengangguk-anggukkan kepala. Meinang, dia sudah mendengar semua pesan yang ditujukan pada Pendekar Golok Baja sebelum ayah majikannya itu menghembuskan napas terakhir.

"Kau tahu pesan ayah yang lain, Pandora?"
'Tahu, Tuan."
"Ара itu, Pandora?" tanya Pendekar Golok Baja Ingin tahu.

"Majikan Tuan memberi nasihat agar Tuan tidak mengikuti jejak leluhur Tuan," jawab Pandora.

"Itulah yang menyebabkan aku kagum pada Ayah," ucap Pendekar Golok Baja lagi dengan suara mendesah. ingatannya langsung menerawang pada kejadian puluhan tahun silam.

Di saat menjelang ajal, Iblis Hitam memberikan pesan pesan terakhir pada kedua anak dan pembantunya.

Pendekar Golok Baja saat itu baru berusia tujuh belas tahun. Sedangkan adiknya sepuluh tahun. Se­mentara Pandora berusia tiga puluh tahunan. Saat itu Iblis Hitam menyuruh Pandora mengantar kedua majikan mudanya ke Hutan Karimun, menjumpai adik sepergumannya. Juga tak lupa datuk sesat itu menitipkan sebuah surat untuk adik seperguruannya yang menyepi di Hutan Karimun.

Setelah meninggalkan pesan, Akhimya Iblis Hitam menghembuskan napas terakhir. Tanpa sempat mengubur mayat Iblis Hitam, Pandora segera membawa kedua anak majikannya ke Hutan Karimun. Pelayan setia itu khawatir para pengeroyok yang mengejar Iblis Hitam keburu datang. Dan bila hal itu sampai terjadi, celakalah nasib kedua majikan mudanya.

"Hhh...!" untuk kesekian kalinya Pendekar Golok Baja menghela napas berat. Ada rasa ham yang melanda haflnya setiap kali teringat almarhum ayahnya. Bagaimana tidak? Sang Ayah meninggal di depan matanya sementara dia tidak sempat mengubur mayatnya.

Pandora menolehkan kepala. Sepasang matanya yang sejak tadi menatap ke depan, kini beralih memandang wajah majikannya penuh selidik. Pendekar Golok Baja pun menatap wajah pelayan setianya lekat-lekat.

"Ada yang meresahkan hati Tuan?" tanya kakek berwajah bintik-bintik putih itu setengah hati. Sebenarnya dia ingin membantu meringankan keruwetan pikiran majikannya, tapi khawatir dituduh lancang.

"Aku teringat pada Adi Kala Sunggi...," desah Pendekar Golok Baja pelan. Suaranya hampir tidak terdengar.

Wajah Pandora seketika berabah, begitu mendengar ucapan junjungannya. Kala Sunggi adalah adik kandung Pendekar Golok Baja. Dia lenyap begitu saja sewaktu berburu bersama kakaknya dan Pandora. Meskipun sudah dibantu paman guru majikan muda­nya, Kala Sunggi tetap tidak berhasil mereka temukan."Нооор...!"

Pandora menarik tali kekang kuda. Sekefika itu Juga kuda-kuda berhenti berlari. Dan dengan sendi- rlnya kereta pun berhenti melaju.

"Hup...!"

Pandora melompat dari kereta. Pendekar Golok Baja pun melompat turun. Tapi berbeda dengan pelayannya yang mendarat dengan mantap, laki-lald gagah bercambang lebat itu mendarat di tanah dengan agak terhuyung-huyung. Bergegas Pandora memegangi tangan majikan mudanya. Tapi dengan halus Pendekar Golok Baja menolak.

"Uhk... uhk...!"

Kembali terdengar batuk-batuk beruntun dari mulut Pendekar Golok Baja. Pandora hanya dapat me- mandangi majikannya dengan perasaan khawabr. Apa- lagi ketika melihat percikan cairan merah rnengiringi suara batuk-batuk itu.

"Bawa peti ini, Pandora," ucap Pendekar Golok Baja seraya menyerahkan sebuah buntalan kain berwarna hitam pekat.

Pandora yang tahu isi buntalan itu, segera mengulurkan tangan menyambut. Sebuah peti terbuat dari kayu jati berwarna hitam mengkilat,yang di dalamnya berisi mantel pusaka dan kitab-kitab ilmu silat peninggalan Iblis Hitam.

"Apakah Tuan perlu kupapah?" tanya Pandora menawarkan diri.

'Tidak perlu," sahut Pendekar Golok Baja seraya menggelengkan kepala. "Aku masih sanggup berjalan sampai di tempat tinggal paman guru."

Pandora tercenung sesaat. Kemudian bergegas melepaskan ikatan kuda dari keretanya.

Ctar, ctar...!

Beberapa kali Pandora melecutkan cambuk di udara dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Hebat akibatnya! Suara lecutan cambuk tak ubahnya suara petir. Karuan saja suara itu membuat kedua ekor kuda jadi terkejut. Sambil meringkik keras, kedua binatang itu berlari cepat meninggalkan kedua majikannya.

Pandora menatap kuda-kuda itu hingga lenyap ditelan keremangan malam. Baru setelah itu meng- hampiri kereta. Sesaat kemudian tangan dan kaklnya berkelebat.

Krakkk, brakkk...!

Terdengar suara-suara berderak keras setiap kali tangan dan kaki pelayan renta itu bergerak. Pendekar Golok Baja hanya memandangi perbuatan Pandora tanpa berkata apa-apa. Laki-laki gagah bercambang lebat ini sudah tahu maksud pelayan setianya menghancurkan kereta.

Так lama kemudian kereta itu pun sudah tidak berbentuk lagi Yang tertinggal hanyalah serpihan-serpihan kayu belaka Kakek berwajah bintik-bintik putih pun menghentikan gerakannya. Kemudian mengambil pecahan-pecahan kereta, lalu disebarkan di rerimbunan semak yang terpisah.

"Mudah-mudahan dengan cara begini, jejak pelarian kita tidak dapat ditemukan, Tuan," ucap Pandora setengah berharap.

"Hm...,"

Pendekar Golok Baja hanya bergumam tidak jelas. Dia tidak begitu yakin kalau usaha yang dilakukan pelayannya akan berhasil. Tapi pendekar ini tidak mau mengecilkan hati kakek itu dengan mengatakan ketidak yakinannya.

Pandora menghapus sedikit peluh yang membasahi kening. Rupanya pekerjaan menghancurkan kere­ta tadi cukup menguras tenaga.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, Pandora," ajak Pendekar Golok Baja seraya berjalan mendahului pe­layannya.

Tanpa berkata-kata apa-apa lagi, Pandora mengikuti majikannya. Memang, perjalanan di tempat ini tidak bisa dilalui dengan berkuda. Apalagi dengan kereta kuda. Itulah sebabnya mengapa Pandora terpaksa menghancurkan kereta dan mengusir kuda-kuda itu.

Dengan langkah terhuyung-huyung dan sesekali diselingi batuk-batuk keras, Pendekar Golok Baja menerobos rerimbunan semak. Bahkan tak jarang ta­ngan pendekar ini harus bekerja keras menguak rerimbunan semak-semak yang terlalu rapat.

Setelah melalui jalan berkelok-kelok, akhimya kedua orang itu tiba di sebuah lembah. Meskipun suasana malam remang-remang, tak jauh dari situ terlihat cukup jelas sebuah pondok berdinding bilik.

Pendekar Golok Baja segera mempercepat langkahnya begitu melihat pondok berdinding bilik itu.

Dan Pandora pun terpaksa mempercepat langkahnya. Ka­kek berwajah bintik-bintik putih ini sebenarnya khawatir pada luka-luka parah yang diderita sang Majikan. Semestinya saat ini tidak boleh terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Tapi, ара dayanya? Pendekar Golok Baja tidak mau dibantah.

Так lama kemudian, Pendekar Golok Baja telah berada di depan pondok berdinding bilik itu.

Ток, tok, tok...!

Terdengar suara ketukan, begjtu kepalan tangan laki-laki gagah itu menyentuh pintu. Pelahan saja pintu itu diketuk. Tapi karena suasana malam sangat hening, ketukan tadi terdengar agak keras.

Kriiit...!

Terdengar suara berderit tajam begitu pintu terbuka. Disusul munculnya seraut wajah keriput dari balik pintu. Kekagetan terbayang jelas di wajah orang Itu begitu melihat siapa yang telah mengetuk pintu. Memang suasana malam remang-remang, tapi cukup untuk menerangi wajah Pendekar Golok Baja.

Mendadak saja tubuh Pendekar Golok Baja ambruk. Kalau saja kakek pemilik pondok tidak cepat-cepat menangkap, tentu tubuh laki-laki gagah bertam- bang bauk lebat itu sudah mencium tanah.

"Prajasena...?!" pekik kakek pemilikpondok. Sua­ranya jelas mengandung kekagetan.

"Tuan...!" ucap Pandora seraya bergegas menn- buru tubuh junjungannya.

Melihat ada orang lain memburu tubuh Pendekar Golok Baja, kakek pemilik pondok baru sadar kalau orang yang dipanggilnya Prajasena tidak datang sen- dirian. Perhatiannya segera dialihkan pada kakek berwajah bintik-bintik putih itu. Sesaat lamanya sepa­sang mata pemilik pondok menatap penuh selidik.

"Kau... kau..., Pandora?" tanya kakek pemilik pondok dengan wajah berseri-seri.

Walaupun cukup lama Pandora dan Pendekar Golok Baja pergi meninggalkan Hutan Karimun, na- mun wajah kedua orang itu masih tertanam dalam ingatannya. Sehingga tidak aneh kalau pemilik pondok yang temyata adalah paman guru Pendekar Golok Baja masih mengenal Pandora.

"Benar, Tuan," jawab kakek berwajah bintik-bintik putih seraya menganggukkan kepala. Pandora me- manggil paman guru majikan mudanya dengan pang- gilan tuan juga.

"Ара yang terjadi, Pandora? Katakanlah...! Ada ара dengan Prajasena? Siapa yang telah melakukan semua ini padanya?" kakek pemilik pondok membe- rondong Pandora dengan pertanyaan bertubi-tubi,

"Ceritanya cukup panjang, Tuan," sahut Pandora.
"Apakah tidak lebih baik kalau Tuan memeriksanya dulu?"
"Akh..., kau benar," sambut paman guru Pende­kar Golok Baja. Kini perhatiannya segera dialihkan pada Prajasena yang berada dalam pelukannya.

"Man masuk dulu, Pandora," ajak kakek pemilik pondok pada pelayan setia Pendekar Golok Baja alias Prajasena, seraya mendahului masuk ke dalam.

Tanpa berkata apa-apa, Pandora segera melangkah masuk. Dan begitu telah berada di dalam, dia segera menutup pintu pondok.

Paman guru Pendekar Golok Baja membawa Pra­jasena ke dalam kamar khusus semadi yang cukup luas. Kemudian tubuh yang tergolek pingsan itu di- rebahkan perlahan-lahan di atas balai-balai bambu.

Sepasang alis yang sudah berwarna dua itu tampak berkerut ketika memeriksa sekujur tubuh Prajasena.

"Racun...," desah kakek pemilik pondok seraya menatap tajam wajah Pandora yang berdiri di sampingnya Sepasang mata paman gum Prajasena penuh pertanyaan.

"Hhh...!"

Pandora hanya menghela napas berat. Pandang mata penuh pertanyaan dari pemilik pondok sama sekali tidak dihiraukannya. Kakek berwajah bintik-bin­tik putih ini terlalu mengkhawatirkan keadaan majikan mudanya. Yang ada dalam benaknya hanyalah, bagaimana secepatnya memberi pertolongan kepada Pra­jasena. Masalah-masalah lain bisa diurus belakangan.

Kakek pemilik pondok rupanya dapat merasakan ара yang dirasakan Pandora. Dihampirinya pelayan setia itu sambil tersenyum lebar, kemudian menepuk-nepuk bahunya.

"Tenanglah, Pandora. Pertanyaanku tadi bukan karena aku tidak ingin buru-buru menolong Prajasena. Tapi agar aku tahu jenis racun yang mengeram di da­lam tubuhnya. Kau bisa mengerti, bukan?"

Pandora menganggukkan kepala pertanda meng­erti. Diam-diam dia memaki kebodohan dirinya sendiri. Kakek di depannya ini adalah paman guru dan sekaligus gum majikan mudanya. Dan belum tentu kasih sayang kakek itu pada Prajasena kalah besar jlka di- bandingkan dengan kasih sayangnya.

Lagi pula, mana mungkin seorang gum tidak khawatir bila muridnya sedang sekarat? maki Pandora dalam hati.

"Katakanlah, dengan siapa Prajasena bertarung?" tanya kakek pemilik pondok lagi.
"Tuan bertarung dengan Sepasang Iblis Gumn Banjar," sahut pelayan setia Pendekar Golok Baja pelan.

"Sepasang Iblis Gurun Banjar...," ulang paman gum Prajasena dengan alis berkemt. "Jadi, dugaanku tepat rupanya...."

"Tuan sudah tahu...?" tanya Pandora setengah tak percaya.

Kakek pemilik pondok hanya menganggukkan ke­pala.

"Aku sudah menduganya begitu memeriksa luka- nya. Pertanyaanku hanya untuk memastikan saja. Dan, temyata dugaanku memang benar. Hhh...! Sungguh tidak kusangka kalau Sepasang Iblis Gurun Banjar bentrok dengan Prajasena."

"Dalam salah satu pengembaraannya, tuan telah membunuh murid Sepasang Iblis Gurun Banjar," ucap Pandora menjelaskan.

"Pantas...," sambut kakek pemilik pondok sete- ngah mendesah. "Rupanya mereka ingin membalas dendam...."

"Benar, Tuan."

"Pandora, kumohon kau jangan memanggilku de­ngan panggilan tuan lagi. Gatal telingaku rasanya. Panggil aku dengan namaku saja, Wirageni."

"Baiklah, Tu... eh, Eyang." Pandora sengaja menyebut eyang karena penduduk dusun di sekitar Hutan Karimun memanggil paman guru Prajasena ini dengan sebutan Eyang Wirageni.

"Sekarang kau tenanglah, Pandora. Atau... lebih baik kau berjaga-jaga. Barangkali ada tamu-tamu tak diundang yang datang kemari. Malam ini aku punya firasat tidak enak, Pandora."

Ucapan Eyang Wirageni membuat Pandora gelisah. Laki-laki berwajah bintik-bintik putih ini kenal betul siapa Eyang Wirageni. Beliau adalah seorang tokoh sakti yang memiliki perasaan amat tajam.

"Apakah pengobatan majikanku butuh waktu cu­kup lama, Eyang?" tanya Pandora ingin tahu.

"Lama sih, tidak. Tapi, pengobatan ini butuh tenaga dalam yang amat kuat. Dan sudah pasti akan inenguras seluruh tenagaku. Perlu kau ketahui, Pan­dora. Prajasena terkena racun yang bernpa uap. Jadi, aku harus mengobatinya dengan cara mendorong uap beracun itu dengan tenaga dalamku. Kau tahu, Pan­dora, dalam keadaan begitu, mudah saja begi seseorang membunuhku. Dan kalau pengobatan sudah ku- mulai, di tanganmulah terfetak keselamatanku dan majikanmu. Mengerti, Pandora?"

"Mengerti, Eyang," sahut Pandora sambil meng­anggukkan kepala. Diam-diam jantung kakek berwajah bintik-bintik putih ini berdebar tegang, mengingat tugas berat yang harus diemban Dua nyawa orang-orang yang sangat dihormati, kini bergantung kepadanya. Mudah-mudahan saja tidak ada apa-apa, harap pela­yan setia ini dalam hati.

"Bersiaplah, Pandora. Aku akan mulai" Setelah berkata demikian, Eyang Wirageni naik ke balai-balai bambu, kemudian duduk bersila. Perlahan- lahan tubuh Pendekar Golok Baja yang tertelentang, dibalikkan jadi tertelungkup. Kemudian dibukanya pakaian pendekar itu.

Eyang Wirageni menarik napas dalam-dalam sera­ya menarik tangannya yang terkepal di kedua sisi pinggang .

"Ssshhh...!"

Terdengar suara berdesis begitu Eyang Wirageni mengeluarkan udara yang tadi disedot. Berbarengan dengan hembusan napas melalui muiut, kedua tangan- нуа didorong ke depan dengan jari-jari terbuka.

Lambat dan perlahan-lahan kedua tangan keriput itu didorong. Dan setelah itu, Eyang Wirageni kembali mengepalkan kedua tangannya ke sisi pinggang. Kali ini tanpa mengambil napas.

Kemudian kedua telapak tangannya ditempelkan pada punggung Pendekar Golok Baja. Kakek pemilik pondok ini mulai menyalurkan tenaga dalam untuk mengusir uap racun yang mengendap di tubuh murid keponakannya.

Pandora mulai pasang sikap waspada. Buntalan kain hitam yang sejak tadi dijinjing, ditaruh di bawah balai-balai bambu. Sepasang matanya diedarkan ber- keliling, ke setiap sudut ruangan.

Kakek berwajah bintik-bintik putih ini merasa waktu berjalan begitu lambat Sebentar-sebentar sepa­sang matanya dialihkan, antara sekeliling ruangan dan dua sosok tubuh yang berada di balai-balai bambu. Dan kini dilihatnya bintik-bintik keringat mulai membasahi wajah Eyang Wirageni. Mula-mula hanya sedi­kit, tapi semakin lama semakin banyak. Sampai akhimya sekujur tubuh kakek itu mandi keringat.

Sepasang mata Pandora membelalak begitu meli­hat uap tipis berwarna kehijauan, keluar dari kedua lubang hidung majikan mudanya. Pelayan setia ini tahu kalau asap itu adalah uap racun yang berhasil didesak keluar oleh hawa murni Eyang Wirageni.

Semakin lama uap itu semakin bertambah tebal. Dan Pandora melihat kedua tangan Eyang Wirageni yang ditempel di punggung Pendekar Golok Baja mulai beigetar. Tahu kalau Eyang Wirageni telah mengerahkan tenaga dalam melewati batas, diam-diam jantung Pandora berdebar tegang.

Mendadak wajah Pandora berubah ketika pendengarannya yang tajam mendengar suara banyak lang- kah kaki mendekati pondok. Suara langkah yang ringan, pertanda pemiliknya memiliki ilmu meringankan tubuh cukup tinggj. Karuan saja suara-suara tadi membuat pelayan setia ini jadi gelisah. Ternyata dugaan Eyang Wirageni tidak meleset, banyak tamu- tamu tak diundang yang berkunjung ke pondok ini.

Dengan gerak mata kalap, Pandora melirik ke arah dua sosok yang masih berada di atas balai-balai bambu. Tampak olehnya kalau asap yang keluar dari lubang hidung sang Majikan sudah menipis. Rerarti tak lama lagi seluruh uap racun akan musnah dari tubuh majikannya.

Sementara itu, kedua tangan Eyang Wirageni semakin keras bergetar. Samar-samar tampak asap Bpis mengepul dari kepala Eyang Wirageni yang wajahnya merah padam. Kian lama uap itu kian me- nebal. Pandora khawatir andaikan racun dalam diri Pendekar Golok Baja belum habis keluar, tapi Eyang Wirageni sudah roboh kehabisan tenaga.

Di saat-saat yang menegangkan itu, tiba-tiba....

Brakkk...!

Terdengar suara berderak keras dari arah luar kamar. Tanpa melihat pun Pandora tahu kalau pintu depan pondok telah dibobol orang. Jantung pelayan setia ini semakin berdebar keras karena tahu kalau tamu-tamu tak diundang sudah masuk di dalam pon­dok.

Meskipun begitu, Pandora tetap tidak bergeming dari tempatnya. Kakek berwajah bintik-bintik putih ini tidak berani meninggalkan kedua tubuh tak berdaya Itu begitu saja. Khawatir kalau begitu ditinggalkan, tamu tak diundang masuk ke kamar dan membunuh kedua orang itu.

Kekhawatiran itulah yang membuat Pandora mengambil keputusan menunggu kedatangan tamu- tamu tak diundang di dalam kamar semadi Eyang Wi­rageni. Kakek berwajah bintik-bintik putih ini tahu kalau tamu tak diundang itu akhimya akan mencari majikannya ke ruangan ini juga.

Dan dugaan Pandora tidak meleset! Beberapa saat setelah suara berderak keras terdengar, tahu-tahu di ambang pintu kamar, berdiri beberapa sosok berpakaian serba merah. Sekelebatan saja kakek berwajah bintik-bintik putih ini tahu jumlah mereka. Lima orang, desis Pandora.

Lima orang berpakaian serba merah melangkah memasuki pintu kamar. Sekilas pandangan mereka melirik ke arah balai-balai bambu. Так sadar kakek berwajah bintik-bintik putih itu pun mengikuti arah lirikan tamu-tamu tak diundang Dan diam-diam pe­layan setia ini bersyukur dalam hati melihat Eyang Wirageni telah menyelesaikan pengobatan. Dan kini dilihatnya tengah bersemadi memuShkan tenaga dalam yang terkuras tadi.

"Serahkan pusaka Iblis Hitam. Dan kami berjanji tidak akan mengganggu kalian," ujar salah seorang tamu tak diundang. Pandang matanya ditujukan pada Pandora.

"Siapa kalian? Dan ара yang kalian maksudkan dengan pusaka Iblis Hitam?" tanya Pandora, pura-pura tidak mengerti.

"Kami adalah Lima Alap-alap Bukit Jabal," jawab laki-laki berkumis melintang, yang tadi meminta pusa­ka peninggalan Iblis Hitam. "Dan kami tidak suka main-main. Cepat serahkan pusaka itu. Atau..., kami ambil dengan kekerasan?!"

Pandora tidak mau bersikap main-main lagi. Sebelum tamu-tamu tak diundang lain berdatangan ke- mari, kelima orang ini harus cepat dibungkam.

"Kalian boleh mengambil pusaka itu setelah melangkahi mayatku!" tandas Pandora tegas.

"Keparat!" teriak laki-laki berkumis melintang, sambil melesat ke depan. Kaki kanannya dikibaskan ke arah pelayan setia Pendekar Golok Baja seraya memutar tubuh.

Wuttt...!

Angin cukup keras berkesiut mengiringi tibanya serangan laki-laki berkumis melintang.

Pandora menyeringai lebar. Dari deru angin yang mengiringi tibanya serangan, kekuatan tenaga dalam lawan sudah bisa diukurnya. Мака tanpa ragu-ragu lagi tangan kirinya segera diangkat melindungi pelipis sambil melontarkan tendangan kaki kanannya ke arah lutut kiri laki-laki berkumis melintang itu.

Plakkk...! Tukkk!
"AkK..!"

Laki-laki berkumis melintang yang juga merupakan orang pertama dari Lima Alap-alap Bulat Jabal berseru tertahan. Kaki kanannya yang tertangkis ta­ngan kakek berwajah bintik-bintik putih tadi terasa sakit dan ngilu bukan main. Dan belum lagi rasa sakit itu hllang, tendangan lawan telah mengenai lutut kirinya. Kontan sambungan tulang lututnya terlepas.

Melihat dalam segebrakan saja rekan mereka telah dipecundangi, tentu saja keempat Alap-alap Bukit Jabal terkejut bukan main Salah seorang dari mereka bergegas menangkap tubuh sahabatnya yang terhuyung-huyung.

"Kiгапуа kau memiliki kepandaian juga, Kakek Peot," ucap salah seorang Alap-alap Bukit Jabal yang bermata plcak. Selesai berkata begitu, diterjangnya Pandora dengan serangan bertubi-tubi,

Dan belum lagi serangan laki-laki bermata picak tiba, empat kawannya yang kini telah tahu kalau kakek berwajah bintik-bintik putih bukan orang sembarangan, segera ikut menyerang. Так terkecuali laki-laki ber­kumis melintang Dengan agak terpincang-pincang, dia Ikut membantu serangan saudara-saudaranya.

Dan sekali menyerang, Lima Alap-alap Bukit Jabal Hah menggunakan senjata andalaa Mereka semua menggunakan sepasang pedang pendek berwama hitam mengkilat.

Suara berkesiutan nyaring dari udara yang terbesel kelebatan pedang-pedang pendek Lima Alap-alap Bukit Jabal memecah keheningan malam. Pandora yang memang sudah memutuskan untuk tidak bertin­dak setengah-setengah, segera mencabut sebatang go lok pendek berwarna putih mengkilat.

Srattt!

Seketika memancar sinar terang menyilaukan ma­ta ketika golok pendek keluar dari sarungnya. Dan secepat golok itu tercabut, secepat itu pula Pandora i menangkis hujan serangan tamu tak diundang.

Trang, trang, tranggg...!

Terdengar suara berdentangan nyaring yang di- iringi pijaran bunga-bunga api di udara, tatkala golok pelayan setia itu berbenturan dengan senjata-senjata para pengeroyok. Suara-suara pekikan kaget segera terdengar dari mulut Lima Alap-alap Bukit Jabal. Bahkan bukan itu saja, tubuh-tubuh merekapun terhuyung-huyung ke belakang. Jelas kalau tenaga dalam yang dimiliki keltma pemburu pusaka peninggalan Iblis Hitam itu masih jauh di bawah tenaga dalam Pandora.

Dan selagi tubuh-tubuh mereka terhuyung-hu- yung, pelayan setia Pendekar Golok Baja itu kembali menyabetkan golok berwarna putih mengkilat. Dan....

Srattt, srattt...!
"Aaakh...! Aaa...!

Terdengar jeritan-jeritan panjang menyayat begitu golok Pandora membabat leher Lima Alap-alap Bukit Jabal satu persatu. Darah segar kontan bermuncratan dari leher mereka yang terkoyak lebar. Seketika itu juga tubuh kelima orang itu roboh ke tanah. Setelah menggelepar-gelepar sesaat, akhimya diam tidak bergerak lagi. Tragis sekali nasib Lima Alap-alap Bukit Jabal, mereka tewas di tangan orang yang sama sekali tidak terkenaL

"Hhh...!"

Terdengar helaan napas berat dari mulut Pandora. Wajah pelayan setia Prajasena ini tidak tampak gem- bira meskipun melihat kelima lawan telah tewas. Bah- kan terlihat penyesalan mendalam di wajah tua yang berbintik-bintik putih itu. Memang sebenarnya Pandora inenyesal sekali telah membunuh Lima Alap-alap Bukit Jabal. Kalau saja bukan karena terpaksa, belum tentu kakek ini tega membunuh kelima orang itu. Tapi setidak-tidaknya kematian Lima Alap-alap Bukit Jabal Itu telah mengurangi momok yang selama ini menakut- nakuti penduduk sekitar bukit itu.

Setelah memandangi lima sosok mayat yang tergolek bermandi darah sejenak, Pandora segera menyarungkan kembali goloknya. Так lupa menyeka dulu darah yang menodai batang golok dengan pa- kaian salah seorang mayat Lima Alap-alap Bukit Jabal.

Trekkk!

Kini golok putih berkilat telah masuk kembali ke dalam sarungnya. Baru setelah itu, Pandora mengalih- kan perhatian ke arah dua sosok tubuh yang tergolek di atas balai-balai bambu. Ditatapnya Eyang Wirageni yang masih khusuk bersemadi penuh perhatian. Terdengar desahan lembut berirama tetap setiap kali pa­man guru majikannya itu menarik dan mengeluarkan napas.

Sesaat kemudian, Pandora mengalihkan pandangan ke arah tubuh junjungan mudanya yang masih tergolek di balai-balai bambu. Desah napas lembut tapi teratur menandakan kalau Pendekar Golok Baja tengah tertidur lelap.

"Uuuhhh...!"

Mendadak terdengar keluhan pelan mengiringi tubuh Prajasena yang menggeliat. Melihat hal ini, seketjka wajah Pandora berseri-seri. Bergegas dia mendekati balai-balai bambu.

"Tuan...," panggil kakek berwajah bintik-bintik putih itu. Nada suaranya menyiratkan rasa gembira yang menggelora.

"Pandora...," desah Pendekar Golok Baja pelan. Setelah mengerjap-ngerjap beberapa saat, baru kemu­dian sepasang kelopak matanya membuka. Dan yang pertama kali dilihat adalah wajah pelayan setianya. Tapi, masih teriihat samar-samar. Memang tadi Praja­sena memanggil nama Pandora sebelum membuka matanya. Dia memanggil pelayannya karena mende- ngar panggilan Pandora.

"Ya, Tuan...," sahut Pandora gembira.

Pandora tahu kalau majikan mudanya telah bebas dari cengkeraman racun jahat Sepasang Iblis Gurun Banjar. Wajah itu telah agak memerah kembali, sungguhpun masih agakpucat. Dan sepasang bola mata yang tidak kehijauan seperti sebelumnya, telah inenjadi bukti nyata kalau Pendekar Golok Baja telah Iwbas dari racun. Memang, semula wajah dan sepasang bola mata Prajasena berubah kehijauan.

"Di manakah aku, Pandora...," tanya Prajasena ftambil mengedarkan pandangan berkeliling.

'Tuan, lupa...?" Pandora sengaja tidak segera inenjawab pertanyaan Pendekar Golok Baja. Dibiar- kannya Prajasena mengamati seluruh penjuru tempat itu .

"Rasanya aku mengenal tempat ini...," gumam Prajasena pelan sambil mengernyitkan dahi. Jelas ka­lau Pendekar Golok Baja tengah menguras ingatannya.

"Ingat-ingatlah, Tuan...," sambut Pandora. 'Teru- tama sejak Tuan berhasil mengusir Sepasang Iblis Gurun Banjar."

"Ah...! Aku ingat sekarang...!" sentak Pendekar Golok Baja setelah termenung sejenak. Apalagi setelah terpandang olehnya tubuh Eyang Wirageni yang te­ngah bersemadi.

"Ара yang telah terjadi, Pandora? Dan mengapa eyang bersemadi?"

Pandora tertegun sejenak. Dan sebelum sempat menjawab pertanyaan junjungannya, kembali terde­ngar suara bernada terkejut dari mulut Prajasena.

"Siapa mereka, Pandora?" tanya Pendekar Golok Baja sambil menudingkan jari telunjuk pada lima sosok mayat yang tergolek di'lantai. "Dan..., siapa yang membunuh mereka?""Hhh...!"

Kembali terdengar helaan napas berat dari mulut Pandora. Akhimya kakek ini pun menceritakan semua yang telah terjadi.

Sambil tetap berbaring di balai-balai bambu, Pen­dekar Golok Baja mendengar penuturan pelayannya penuh perhatian Sesekali terdengar seruan kaget dari mulutnya, selagi pelayan setia itu bercerita.

"Jadi, Eyang bersemadi untuk memulihkan tenaganya yang terkuras ketika mengusir racun yang mengeram di tubuhku," gumam Prajasena setengah berdesah.

"Dan..., sungguh sama sekali tidak kusangka kalau Lima Alap-alap Bukit Jabal bisa sampai kemari Ahhh...! Sudah dapat kuduga kalau berita pusaka Iblis Hitam telah tersiar luas di dunia persilatan...."

"Ара yang kau katakan sama sekali tidak salah, Pendekar Golok Baja," sahut sebuah suara, me- nanggapi gumaman laki-laki bercambang lebat itu.

Tentu saja sambutan yang sama sekali Hdak di- sangka-sangka Itu membuat Prajasena terkejut. Bah- kan bukan hanya Pendekar Golok Baja saja, Pandora pun dilanda perasaan yang sama. Sebelumnya mereka sama sekali tidak mendengar langkah orang mendekati tempat ini. Hampir berbareng Pendekar Golok Baja
dan Pandora menoleh ke arah asal suara.

***
Di ambang pintu pondok Eyang Wirageni telah lwrdiri sesosok tubuh kurus kering. Usia laki-laki yang hnmpir-hampir tak berdaging ini sukar ditebak. Tapi, yang Jelas sudah lebih dari enam puluh tahun. Warna kulit yang kemerahan berlawanan sekali dengan pakaian serba putih yang dikenakannya. Sementara di ta­ngan kanan tergenggam sebatang tongkat merah ber- u)ung tengkorak kepala manusia.

"Tengkorak Merah...," desis Pendekar Golok Baja pelan. Nada suara dan wajahnya memperlihatkan ke- terkejutan yang amat sangat. Laki-laki gagah bercambang lebat ini memang pemah mendengar julukan to­koh itu. Tengkorak Merah adalah salah seorang tokoh allran hitam yang terkenal dengan kesaktian dan kekejamannya. Bahkan nama besar Tengkorak Merah tak kalah tenar dengan Sepasang Iblis Gurun Banjar.

Pandora terkejut bukan main manakala tahu kalau lamu tak diundang yang berdiri di ambang pintu adalah Tengkorak Merah. Mendadak wajah pelayan setia ini seketika pucat pasi. Karena mengkhawatirkan kese- lamatan majikannya. Meskipun racun yang mengeram di tubuh Prajasena telah lenyap, tapi Pandora tahu kalau saat ini tubuh majikan mudanya itu berada dalam keadaan tidak berdaya. Tenaga dalam Pendekar Golok Baja belum pulih sama sekali.

"Ah...! Temyata matamu masih awas juga, Pei dekar Golok Baja," ucap Tengkorak Merah sambil tersenyum mengejek. Suaranya melengking mirip suar; wanita. "Sayang..., saat ini kau dalam keadaan lemah. Kalau tidak..., mungkin akan sangat membahagiakan hatiku. Sudah lama aku bem'iat menguji kepandaian-i mu. Sekadar ingin tahu, apakah nama besarmu setara | dengan kepandaianmu."

'Tidak usah bertele-tele, Tengkorak Merah!" sergah Pendekar Golok Baja keras, seraya berusah bangkit dari pembaringan. Kedua tangannya menggigil ketika berusaha bangkit dengan bertumpu pada kedua I tangannya. "Langsung katakan saja maksud kedatang-1 anmu kemari!"

Sepasang mata laki-laki bertubuh kurus kering itu nampak berkilat-kilat penuh kemarahan ketika men­dengar jawaban yang bernada kasar.

"Sungguh tidak kusangka kalau dalam keadaan seperti ini pun kau masih bersikap galak, Pendek Golok Baja. Kau lahu, kalau aku mau, mudah saja I aku membunuhmu!" ancam Tengkorak Merah.

"Kalau mau bunuh, silakan bunuh! Kau pildr aku I takut mati?" sahutan dari Prajasena masih tetap kasar | dan bemada tinggi.

"Kaparat! Mulutmu semakin kurang ajar, Pen­dekar Golok Baja Kalau tidak kuberi pelajaran, kau akan menginjak kepalaku!"Setelah berkata demikian, Tengkorak Merah me- ngibaskan tangan kin. Pelan saja kelihatannya. Tapi hebatnya, dari tangan kurus itu berhernbus serangkum angin keras ke arah Prajasena yang sudah mampu du­duk di atas balai-balai.

Wuttt... !
Bresss...!
"Akh!"

Pendekar Golok Baja memekik tertahan ketika lubuhnya teHempar hingga menabrak dinding di belakangnya.

Brukkk!

Terdengar suara berdebukan keras ketika tubuh laki-laki gagah bercambang lebat itu jatuh ke tanah.

"Tuan...!"

Pandora berseru kaget melihat keadaan majikan mudanya Cepat-cepat kakek berwajah bintik-bintik putih itu melesat menghampiri Pendekar Golok Baja. Kejadian itu memang begitu mendadak sehingga Pandora tadi tidak sempat memberi pertolongan.

Pendekar Golok Baja meringis merasakan sekujur tubuhnya sakit-sakit akibat membentur dinding. Pra­jasena berusaha bangkit, namun temyata tidak mam­pu. Pendekar ini membutuhkan waktu cukup lama untuk bersemadi kalau ingin memulihkan tenaganya.

Pandora segera membungkukkan tubuh untuk memeriksa keadaan majikan mudanya. Lega rasa hatinya ketika mengetahui Pendekar Golok Baja sama sekali tidak teriuka. Hanya rasa sakit dan nyeri-nyeri yang melanda sekujur tubuh laki-laki gagah bercambang lebat ini. Itu pun karena benturan dengan dinding dan lantai, bukan karena serangan yang di lakukan Tengkorak Merah. Memang laki-laki bertubuh kurus kering itu hanya bermaksud melempar tubuh I Prajasena, sama sekali tidak bermaksud melukai.

"!tu hanya sekadar pelajaran saja, Pendekar Golok I Baja, agar kau bisa berkata sedikit lembut kepadaku!" ejek Tengkorak Merah.

Pendekar Golok Baja hanya mendengus.

"Cepat serahkan pusaka peninggalan Iblis Hitam padaku kalau kau ingin selamat, Pendekar Golok Ba-i ja!"
"Kau hanya dapat memffikinya kalau aku telah jadi mayat!" tandas Prajasena tegas.
"Keparat! Kalau memang itu keinginanmu, mam- puslah...!"

Setelah berkata demikian, Tengkorak Merah me­lompat menerjang. Tongkat merah berujung tengkorak diayunkan ke arah kepala Pendekar Golok Baja.

Wuuut..!

Angin keras beihembus deras sebelum sambaran tongkat tiba. Pandora tentu saja Hdak membiarkar kepala majikan mudanya pecah terhantam tongkai laki-laki bertubuh kurus kering Secepat kilat kakek berwajah bintik-bintik putih itu bangkit seraya menghunus golok pendeknya. Srattt!

Begitu golok berwarna putih mengkilat keluar dari •nrungnya, langsung saja Pandora memapak samb.irari inngkat Tengkorak Merah.

Tranggg...!

Terdengar suara berdentang nyaring begitu kedua «irjata berbenturan. Seketika bunga-bunga api berpijaran di udara.

"Akh...!"

Pandora memekik tertahan. Tubuhnya kontan wrhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. Sekujur tangannya terasa kesemutan, bahkan golok yang dgenggam hampir-hampir teriepas dari pegangan. Sementara Tengkorak Merah sama sekali tidak leipengaruh. Jelas kalau tenaga dalam laki-laki ber­tubuh kurus kering itu jauh di atas tenaga dalam yang dimiliki Pandora.

"Pelayan keparat!" maki Tengkorak Merah keras. Tokoh aliran hitam ini merasa geram bukan main melihat serangannya ditangkis Pandora. Dan kini kemarahannya dilampiaskan pada kakek berwajah bintik-bintik putih itu.

Wuuut..!

Kembali Tengkorak Merah melancarkan serangan. Tnpl kali ini kepada Pandora. Tongkat berkepala tengkoraknya ditusukkan cepat ke arah dada Pandora yang masih terhuyung-huyung.

Pandora kaget bukan main. Untuk mengelak ra- tanya sudah tidak mungkin lagi dapat dilakukan. Jangankan mengelak, mematahkan daya dorong yang membuat tubuhnya terhuyung-huyungpun dia tak mampu Tidak ada jalan lain baginya kecuali menangkis tusukan tongkat berujung tengkorak kepala manusia. Dan itulah yang dilakukan Pandora untuk menyelamatkan selembar nyawanya. Buru-buru goloknya digerakkan menangkis.

Tranggg...!
"Akh...!"

Untuk kedua kalinya Pandora memekik tertahan Tubuhnya kembali terhuyung-huyung ke belakang Bahkan kali ini diikuti dengan terlepasnya golok dari genggam nya.

"Haaat..!"
Disertai teriakan nyaring, Tengkorak Merah kembali menyabetkan tongkat merahnya ke arah Pandora .

Kali ini Pandora tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Kakek berwajah bintik-bintik putih ini hanya dapat pasrah menanti ajal datang menjemput. Tubuh yang masih terhuyung-huyung, menyulitkan dirinya mengelakkan sabetan tongkat.

Tapi di saat kritis bagi keselamatan Pandora terdengar suara berdesing nyaring yang disusul denga melesatnya seleret sinar putih berkilat ke arah tongkat yang mengancam kepala pelayan setia itu.

Tranggg...!

Seketika itu juga benda putih berkilat terpenta balik ketika berbenturan dengan tongkat berujung tengkorak kepala manusia milik Tengkorak Merah Dan langsung menancap di dinding sampai tembus ke gagangnya. Rupanya benda putih berkilat itu adalah sebilah pisau terbang.

Tengkorak Merah menggeram keras, manakala mendapati serangannya kembali digagalkan orang. Dan belum lagi dia sempat berbuat sesuatu, tahu-tahu melesat sesosok bayangan putih. Sesaat kemudian di tk'pan laki-laki bertubuh kurtis kering itu telah berdiri I yang Wirageni dengan tenangnya. Rupanya begitu melihat keselamatan Pandora terancam, kakek ini se- цега turun tangan tanpa mempedulikan tenaganya yang belum pulih seluruhnya. Karena waktu yang sudah mendesak, dilemparkannya sebilah pisau ter­bang sebagai penghambat serangan Tengkorak Merah.

"Pandora..., cepat kau bawa Prajasena dari sini!" sambil berkata begitu, Eyang Wirageni segera menerjang Tengkorak Merah. Tongkat baja yang sejak tadi lergenggam di tangannya segera menotok cepat ke arah ulu hati lawan.

Pandora adalah seorang yang telah kenyang pe- ngalaman. Мака sekali lihat saja kakek berwajah hlntik-bintik putih Ini lahu kalau Eyang Wirageni •engaja mengorbankan nyawanya untuk keselamatan ilia, Pendekar Golok Baja, dan terutama sekali pusaka Iblis Hitam. Pandora tahu kalau Eyang Wirageni belum herhasil memulihkan seluruh tenaganya.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pandora segera menghampiri Pendekar Golok Baja dan memanggulnya. Так lupa menyambar buntalan kain hitam yang berisi pusaka peninggalan Iblis Hitam. Dan sebelum melesat kabur dari situ, dia menyempatkan melirlk pertarungan yang terjadi antara Tengkok Merah dengan Eyang Wirageni.

Sementara itu, Eyang Wirageni terus menghujani Tengkorak Merah dengan serangan-serangan dahsyat untuk memberi kesempatan Pandora kabur.

Tengkorak Merah meraung murka melihat Pindora berhasil kabur dengan membawa pusaka yang diincamya. Kini kemarahannya dilampiaskan pada Eyang Wirageni.

Eyang Wirageni menggertakkan giginya, mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Tapi, temyata hasilnya tetap sia-sia. Tenaga dalamnya be­lum kembali seluruhnya. Dan dengan berkurai tenaga dalam, berkurang pula kemampuannya. Sesekali kedua senjata mereka beradu, Eyang Wiragei selalu terhuyung ke belakang dengan tangan yang menggenggam tongkat tergetar hebat. Sementara lawannya sama sekali tidak menderita suatu ара. DI jurus-jurus awal, pertarungan antara kedua orang tokoh sakti ini masih berlangsung imbang. Tapi menginjak jurus ke lima belas, tampak keunggulan Tengkorak Merah.

Sebenamya kalau saja Eyang Wirageni berad dalam kondisi biasa, belum tentu Tengkorak Метан! mampu mendesak. Tapi, karena kakek yang menjadi guru Pendekar Golok Baja ini belum berhasil memulihkan seluruh tenaga dalamnya, laki-laki bertubuh kurus kering itu bisa mendesaknya.

Tranggg...!

Kembali untuk kesekian kalinya senjata kedua tokoh sakti berbenturan. Kali ini benturan yang terjadi demikian keras, sehingga tak pelak lagi Eyang Wirageni terjengkang ke belakang. Dan sebelum paman guru Prajasena ini berbuat sesuatu, tahu-tahu tongkat berujung kepala tengkorak lawan telah meluruk cepat ke dada.

Wuuut...! Bukkk!
"Huakkk...!"

Terdengar suara berderak keras ketika tongkat bemjung kepala menghantam telak dan keras dada Eyang Wirageni. Seketika itu juga tubuh paman guru Pendekar Golok Baja terlempar jauh ke belakang. Darah segar berhamburan deras dari mulut, hidung, dan telinga Eyang Wirageni. Nyawa Eyang Wirageni meninggalkan raganya dengan sekujur tulang dada remuk.

Melihat lawannya tewas, tanpa membuang-buang waktu lagi Tengkorak Merah melesat meninggalkan pondok. Mengejar Pandora yang telah membawa lari pusaka dan juga majikan mudanya.

Sementara itu Pandora terus berlari cepat me­ninggalkan pondok Eyang Wirageni Walaupun agak repot karena tangan kanannya harus memegangi tu­buh Pendekar Golok Baja yang terpanggul di bahu, sedangkan tangan kiri sibuk menjunjung buntalan kain hitam, kakek berwajah bintik-bintik putih terus berlari.

Tapi belum berapa jauh melangkah, mendadak Pandora berhenti berlari. Kedua kaki kakek ini menggigil keras, sementara sepasang matanya membelalak ke depan. Kalau saja suasana malam tidak remang- remang, tentu akan. terlihat jelas betapa pucatnya wajah pelayan setia ini.

"Ada ара, Pandora?" tanya Pendekar Golok Baja begitu merasakan kakek itu menghentikan larinya secara tiba-tiba.

"T... Ttt.., Tuan lihat saja sendiri...," sahut pela­yan setia itu. Suaranya terputus-putus seperti orang diserang demam hebat .

"Kalau begitu..., turunkan aku, Pandora," pinta Prajasena. Laki-laki gagah ini jadi ingin tahu ара yang telah membuat pelayan setianya kelihatan takut bukan main.

Pandora segera menurunkan tubuh majikan mu­danya dengan pandangan mata masih tertuju ke de­pan.
Ternyata bukan hanya Pandora saja yang terkejut melihat pemandangan yang terpampang di depan, Pendekar Golok Baja pun dilanda perasaan serupa.

"M.... Mmm... mustahil...," meskipun dengai agak gagap akhimya keluar juga ucapan bernada terkejut itu. Mungkin sebenarnya akan keras suara yang keluar dari mulut Pendekar Golok Baja. Tapi karena keterkejutan yang amat sangat, suaranya malah tersumbat di tenggorokan.

"Tidak salahkah yang kita tihat ini, Tuan?" tanya Pandora yang telah berhasil mengatasi rasa terkejut.

'Tidak, Pandora," sahut Pendekar Golok Baja nambil menggelengkan kepala. "Dia memang Iblis Hitam...."

Di bawah keremangan malam, di hadapan kedua orang itu, terlihat sesosok tubuh berpakaian serba hitam tengah mengamuk menghadapi belasan penge­royok. Sosok itu memang pantas bila dijuluki Iblis Hitam, karena sekujur tubuhnya terbalut kain serba hitam. Mulai dari kepalanya yang tertutup selubung berwarna hitam, dan yang terlihat hanya sepasang matanya saja, sampai ke kaki dan sepatunya berwarna hitam. Kedua tangannya terbungkus sepasang sarung tangan yang juga berwarna hitam.

Pakaian sosok serba hitam yang berjuluk Iblis Hitam adalah sebuah mantel hitam yang berkibaran keras setiap kali tubuhnya bergerak.

"Lalu..., bagaimana dengan isi buntalan ini, Tu­an?" tanya Pandora lagi, seraya mengangkat buntalan kain hitam yang sejak tadi dijinjingnya.

Pendekar Golok Baja terperanjat kaget, laki-laki gagah ini baru teringat pada buntalan kain hitam yang selama ini diketahuinya berisi seluruh perlengkapan Iblis Hitam. Apakah Iblis Hitam ada dua? tanyanya dalam hati dengan perasaan bingung. Atau..., memang реti kayu jati yang terdapat dalam buntalan kain hitam ini sebenamya tidak berisi apa-apa?

Teringat semua itu, Prajasena kembali memperhatikan sosok serba hitam yang masih saja melakukan pembantaian. Jelas terlihat kalau di kedua belah tangan sosok serba hitam itu tergenggam sepasang kapak hitam mengkilat Tidak salah lagi! Sosok serba hitam itu adalah Iblis Hitam!

"Buka buntalan itu, Pandora," ucap Pendekar Golok Baja setelah tercenung sesaat. Ingin membuktikan apakah semua benda yang terdapat dalam peti kayu jati hitam masih ada di dalamnya? Terlihat jelas kalau sosok serba hitam itu memiliki semua ciri-ciri Iblis Hitam. Mulai dari perlengkapan, sampai pada jurus-jurus yang dimainkannya.

Pandora segera membuka buntalan kain hitam, dan menyerahkan peti kayu jati pada majikan muda­nya, Setelah menerimanya, Pendekar Golok Baja memperhatikan seluruh bagian luar peti sejenak. Baru kemudian mengeluarkan sebuah anak kunci dari balik baju. Memang peti itu terkunci dengan sebuah gembok.

Tanpa sepengetahuan Pendekar Golok Baja dan Pandora, Tengkorak Merah diam-diam sudah berada di belakang mereka. Dan seperfi juga kedua orang itu, Tengkorak Merah juga merasa terkejut begitu melihat sosok serba hitam yang diketahuinya berjuluk Iblis Hitam tengah mengamuk menghadapi belasan tokoh- tokoh persilatan. Так salah lagi, orang-orang itu berusaha memperebutkan pusaka warisan Iblis Hitam, juga Tengkorak Merah.

Dan seperti juga Pendekar Golok Baja dan Pan­dora, Tengkorak Merah pun tidak percaya kalau sosok serba hitam di hadapannya adalah Iblis Hitam. Sepengetahuannya, tokoh aliran hitam yang mengerikan itu lelah meninggal dunia puluhan tahun silam. Dan pusaka iblis itu kini ada di tangan Pendekar Golok Haja. Bagaimana mungkin Iblis Hitam bisa muncul dan mengamuk di sanа ? Tengkorak Merah tak habis meng­erti.

Didorong oleh rasa ingin tahu, diam-diam Teng­korak Merah mengintai Pendekar Golok Baja yang tengah membuka peti.

Dengan jantung berdebar-debar, Prajasena mem­buka tutup peti yang telah dibuka gemboknya. Dan....

"Kosong...?!"

Hampir serentak Pendekar Golok Baja dan Pan­dora mendesis begitu melihat di dalam peti tidak lerdapat apa-apa, kecuali sebuah balok kayu yang mungkin sengaja dimasukkan agar peti tidak kosong sama sekali , Kalau saja suasana malam tidak remang-remang, akan terlihat jelas kalau wajah Prajasena dan pelayan setianya pucat pasi. Jantung keduanya berdebar keras saking tegangnya.

Pendekar Golok Baja kembali memandang ke depan. Dilihatnya pengeroyok Iblis Hitam yang semula berjumlah puluhan tinggal beberapa gelintir lagi.

"Aaakh...!"

Kembali untuk kesekian kali terdengar jeritan memilukan yang disusul dengan robohnya sesosok tu-buh tanpa nyawa di tanah. Pemt orang itu robek lebai terkena babatan kapak Iblis Hitam.

"Ha ha ha...!"

Sosok serba hitam itu memperdengarkan tawa aneh. Suaranya pelan, berat, tapi bergaung. Dan semakin lama semakin mengeras. Para pengeroyok yang sejak tadi sudah merasa gentar, segera melesat kabur Tapi sebelum mereka melangkah jauh, terdengar suara mendengus keras. Dan belum lagi gema lengusan lenyap, sesosok bayangan hitam menyambar tubuh mereka. Dan....

"Aaakh...!"
"Aaa...!"

Sisa pengeroyok menjerit memilukan. Sebentar mereka bergeleparan di tanah, sebelum akhimya diam tidak bergerak lagi. Tewas dengan luka-luka mengang; akibat sambaran sepasang kapak sosok serba hitam!

'Itulah hukuman bagi orang yang mencoba-col memperebutkan pusaka Iblis Hitam! Ha ha ha...!" lagi-lagi terdengar tawa aneh dari mulut sosok tubi serba hitam.

Setelah puas tertawa, Iblis Hitam mengalihl pandangan ke arah dua sosok yang sejak tadi mem] hafikan dengan sorot mata tegang. Siapa lagi kala! bukan Pandora dan Pendekar Golok Baja. Sedangkai Tengkorak Merah yang melihat kalau peti pusaka Ibl Hitam kosong, sudah sejak tadi kabur dari situ.

Так sadar Pendekar Golok Baja dan Pandon melangkah tiga tindak ke belakang begitu Iblis Hitai nn.natap ke arah mereka. Perbawa Iblis Hitam sejak puluhan tahun bahkan mungkin seratus tahun yang lulu memang menggiriskan. Ternyata bukan hanya Pandora dan Pendekar Golok Baja yang terkejut, Iblis Hitam pun dilanda perasaan serupa. Tampak sepasang mata yang mencorong itu terbelalak kaget.

Luar biasa! hanya dengan sekali melangkah, tubuh Iblis Hitam sudah berada lebih dari sepuluh tombak di depan.

"Luar biasa...," desah Pendekar Golok Baja begitu perasaan tegang yang melanda hafinya mulai ama. Kepandaiannya luar biasa sekali...."

"Tuan...," ucap Pandora ragu-ragu.

"Ada ара, Pandora?" tanya Prajasena, tanpa inengalihkan pandangan ke arah Iblis hitam lenyap ditelan kegelapan malam.

"Sejarah akan berulang, Tuan," keluh kakek berwajah bintik-bintik putih itu. Suaranya pelan.
"Ара maksudmu, Pandora?" tanya Pendekar Go­lok Baja belum mengerti karena perhatiannya masih tertuju pada Iblis Hitam.

"Sejarah Iblis Hitam yang berlumuran darah...," Jawab Pandora dengan suara mengambang.

"Hhh...!"

Pendekar Golok Baja menghela napas berat. Nampak jelas kalau laki-laki gagah ini merasa tertekan melihat kenyataan yang dihadapinya.

"Tidak ada yang bisa kulakukan, Pandora," sete­lah sekian lama akhimya keluar Juga ucapan dari mulut Prajasena.

"Maksud, Tuan...?" Pandora masih belum jela» dengan ucapan sang Majikan.
"Kepandaianku sama sekali tidak berarti bll« dibandingkan dengan kepandaiannya...," keluh Prajasena.

"Bagaimana Tuan bisa tahu?" tanya Pandora. Ada nada penasaran dalam suaranya. "Apakah Tuan pernah bertarung dengan dia?"

Pendekar Golok Baja menggelengkan kepala.

"Eyang Wirageni yang mengatakan padaku."
"Maksud..., Tuan...?"

"Sejak zaman Iblis Hitam pertama sampai yang terakhir, yaitu ayahku, leluhur-leluhur Eyang Wirageni berusaha menahan sepak terjang Iblis Hitam. Baik dengan cara halus maupun cara kasar."

"Lalu..., hasilnya bagaimana, Tuan?" tanya Pandora ingin tahu.

"Iblis Hitam menaklukkan mereka," keluh Praja­sena. "Kepandaian Iblis Hitam turun temurun jauh diatas keturunan Eyang Wirageni."

"Apakah Iblis Hitam dan keturunannya membasmi leluhur-leluhur Eyang Wirageni?" tanya Pandora lagi.
Pendekar Golok Baja menggelengkan kepala.

"ltulah hebatnya," sahut Prajasena bemada me muji. "Betapapun sesatnya Iblis Hitam dan keturunan­nya..., mereka tetap tidak membunuh leluhur-leluhur Eyang Wirageni turun temurun. Padahal jelas-jelas kalau dari dulu leluhur Eyang Wirageni berusaha sekuat tenaga menaklukkan mereka."

"Pantas Eyang Wirageni mau menerima Tuan dan ndlk tuan. Meskipun dia tahu kalau Tuan dan adik luan adalah keturunan Iblis Hitam," sambut pelayan setia itu mulai paham.

"Yahhh...! Eyang Wirageni merasa berhutang budi."

Suasana menjadi hening ketika Pendekar Golok Baja menyelesaikan ucapannya. Kini yang terdengar ditempat itu hanya suara jangkrik dan serangga malam lainnya.

"Jadi..., atas dasar kekalahan leluhur-leluhur Eyang Wirageni turun temurun itulah yang menyebabkan Tuan tidak yakin mampu mengalahkan Iblis Hitam?" tanya Pandora lagi, memecahkan keheningan malam .

"Ya," sahut Prajasena. "Kini aku terhitung ketu­runan Eyang Wirageni. Dan aku telah menguasai se­luruh ilmu leluhurnya. Tapi, Iblis Hitam yang tadi muncul juga telah menguasai seluruh ilmu warisan Iblis Hitam. Jadi, mana mungkin aku mampu mengalahkan dia. Di samping itu ada pantangan besar menentang leluhurku."

Pandora terdiam seketika.

"Hanya yang masih membuatku bingung, dari mana Iblis Hitam tadi mendapatkan pusaka-pusakanya? Padahal, aku tahu pasti kalau ayah telah mewaris- kan semuanya padaku. Dan sejak diwariskan, peti itu sdalu kubawa-bawa. Dan hampir setiap hari aku memeriksa gemboknya," ucap Prajasena dengan suara mengandung keheranan besar.

"Sewaktu Tuan memeriksa peti, apakah Tuan juga memeriksa isinya?" tanya Pandora ingin tahu.

"Kuakui aku memang ceroboh, Pandora. Aku sama sekali tidak memeriksa isinya. Begitu kulihat tutup peti masih tergembok, dan keadaan gembok tidak mengalami suatu ара, tenanglah hatiku. Sungguh tidak kusangka kalau kecerobohanku berakibat fatal."

Pandora menatap wajah majikan mudanya yang dipenuhi rasa penyesalan mendalam. Pelayan setia ini tidak berani mengeluarkan kata-kata lagi.

"Entah sejak kapan pusaka itu telah lenyap dari tempatnya," kembali Pendekar Golok Baja menggumam pelan.

"Hhh...!"

Suara helaan napas berat Pandora saja yang menjawab pertanyaan Prajasena. Kakek berwajah bintik-bintik putih itu tidak tahu harus berkata ара.

"Entah siapa orang yang telah mencemari nama leluhurku," ucap laki-laki gagah bercambang lebat itu lagi. Masih bernada keluhan.

"Dunia persilatan akan gempar kembali, Tuan," akhimya keluar juga kata-kata dari mulut Pandora.
"Yahhh...!" Pendekar Golok Baja hanya mendesah pelan.

"Iblis Hitam akan merajalela kembali tanpa ada seorang pun yang bisa menahannya," sela Pandora.

Pendekar Golok Baja sama sekali tidak menanggapi ucapan Pandora. Kakinya kembali dilangkahkan menuju pondok Eyang Wirageni. Kehadiran Iblis Hitam membuat Prajasena mendadak bisa bangkit berdiri dan berjalan normal. Hanya saja tenaga dalam­nya belum pulih secara keseluruhan.

"Eyang...!" seru Pendekar Golok Baja begitu melihat tubuh paman gurunya tergeletak tak berdaya di lantai. Darah menggenang di sekitar tubuh Eyang Wirageni. Dengan langkah terhuyung-huyung karena kondisi yang memang masih lemah, Prajasena berlari menghambur ke arah tubuh yang tergolek.

Terdengar suara berkerotokan keras ketika laki- laki gagah bercambang lebat itu menggertakkan gigi. Kemarahan bercampur kesedihan yang amat sangat melanda hati Prajasena.

"Aku berjanji Eyang. Akan kubalas kekejian ini. Tengkorak Merah! Tunggulah pembalasanku!" desis Prajasena penuh ancaman.

"Pandora...! tolong angkat mayat Eyang," ucap Pendekar Golok Baja pada Pandora, setelah berhasil meredakan perasaan hatinya yang terguncang. Suaranya masih terdengar serak. Jelas kalau Praja­sena dilanda perasaan sedih yang menggelegak. Kalau saja kondisi pendekar ini tidak dalam keadaan lemah, mayat Eyang Wirageni sudah diangkatnya sendiri.

"Hhh...!"

Hanya helaan napas berat yang dapat dikeluarkan oleh Pendekar Golok Baja untuk melampiaskan perasaan geram yang melanda dirinya. Ара lagi yang dapat dilakukannya, dalam keadaan tidak berdaya seperti ini?
Pandora segera membungkukkan tubuh. Lalu mengangkat mayat Eyang Wirageni, dan membawanya keluar rumah. Prajasena mengikuti di belakang. Dan malam itu juga, mayat Eyang Wirageni dikuburkan.

***

Tengkorak Merah bertari cepat mengerahkan selurah ilmu meringankan tubuhnya. Sekali lihat, laki-laki bertubuh kurus kering ini sadar kalau dirinya bukan tandingan Iblis Hitam yang menggiriskan. Itulah sebabnya dia mengambil keputusan untuk melarikan diri sebelum Iblis Hitam menghabiskan semua lawannya .

Hati laki-laki bertubuh kurus kering ini sudah agak lega setelah beberapa saat berlari, temyata tidak ada tanda-tanda yang mengejamya. Tapi, mendadak jan­tung Tengkorak Merah berdebar tegang melihat sosok serba hitam berdiri beberapa tombak di hadapannya Iblis Hitamkah sosok yang menghadang jalannya ! desis laki-laki kurus kering ini dalam hati.

"Ha ha ha...!"

Sosok serba hitam itu memperdengarkan tawa aneh. Suaranya pelan, berat, tapi bergaung. Sepertl tawa itu terdengar dari mulut setan penghuni kuburan.

"Iblis Hitam...," desis Tengkorak Merah. Suaranya bergetar karena ketegangan yang melanda hatinya.
"Ha ha ha...!"

Hanya tawa aneh Iblis Hitam saja yang menyahut ucapan Tengkorak Merah.

"Mengapa kau hadang jalanku, Iblis Hitam?" ta­nya laki-laki bertubuh kurus kering itu parau. "Bukankah aku tidak pernah punya urusan denganmu?!"

"Hmh...!" Iblis Hitam mendengus. "Tidak usah berdusta, Tengkorak Merah!"
"Aku tidak berdusta," Tengkorak Merah mencoba membantah.
"Hmh...!" kembali Iblis Hitam mendengus. "Kini kau telah membuat tiga kesalahan, Tengkorak Merah!"
'Tiga kesalahan?"
"Ya!" Iblis Hitam menganggukkan kepala.

"Per­tama, kau ikut memperebutkan pusaka peninggalan leluhurku! Kedua, kau telah membunuh Eyang Wira- geni, keturunan adik seperguruan leluhurku. Dan ketiga, kau telah berdusta padaku! Kau punya tiga ke- salahan, Tengkorak Merah. Nyawa busukmu tidak akan cukup untuk menebus kesalahanmu!"

Seketika wajah Tengkorak Merah pucat karena tahu kalau dirinya bukan tandingan Iblis Hitam. Meskipun begitu, tentu saja lald-laki kurus kering ini tidak mau menyerahkan nyawa begitu saja. Sadar kalau tidak akan mendapat ampunan Iblis Hitam, perasaan gentarnya berubah menjadi rasa nekat.

"Keparat! Kaulah yang akan mampus di tanganku, Iblis Hitam!"

Setelah berkata demikian, Tengkorak Merah sege­ra memutar-mutar tongkat merah berujung tengkorak kepala manusia yang tergenggam di tangannya.

Wukkk, wukkk, wukkk...!

Angin menderu keras mengiringi putaran tongkat Itu. Kemudian disertai teriakan nyaring, Tengkorak Merah menyodokkan tongkatnya ke dada Iblis Hitam .

"Ha ha ha...!"

Iblis Hitam hanya tertawa menyeramkan. Serangan maut yang mengancamnya sama sekali tidak dihiraukan. Padahal angin serangan tongkat itu saja sudah membuat batu-batu kecil beterbangan tak tentu arah.

Tengkorak Merah agak terkejut juga melihat kejadian ini, Dia memang sudah mendengar legenda ka­lau Iblis Hitam tak mungkin bisa dilukai oleh serangan ара pun karena kemukjizatan pusakanya. Bahkan tadi pun telah disaksikannya sendiri kalau iblis itu memang tidak bisa dilukai. Tapi, sebelum membuktikanriyi sendiri, laki-laki bertubuh kurus kering ini tidak percaya. Dan inilah kesalahannya!

Bukkk!

Telak dan cepat sekali ujung tongkat yang berbentuk tengkorak kepala manusia menusuk dada Iblis Hitam Tapi aneh! Sosok itu tak bergeming sedikit pun .

"Ah...!"

Tengkorak Merah memekik kaget. Dan sebelui sempat berbuat sesuatu, tahu-tahu kaki kanan Iblis Hitam telah melesat ke perutnya.

Wuttt! Bukkk!
"Hugh!"

Tengkorak Merah mengeluh tertahan dengan tu­buh terbungkuk. Seketika rasa sakit dan mual melanda perut laki-laki bertubuh kurus kering ini. Tendangan keras itu telak mengenai perut Ada cairan merah kental menitik di sudut-sudut mulutnya.

Iblis Hitam tidak hanya bertindak sampai di situ saja , Cepat laksana kilat tangan tokoh sesat yang menggiriskan itu menampar deras ke arah pelipis.

Wuttt! Plakkk!
Krakkk!

Terdengar suara berderak keras ketika tamparan Iblis Hitam telak mengenai pelipis Tengkorak Merah.

Dan, kontan tubuh laki-laki kurus kering ini terpelanting dengan mulut, hidung, dan telinga mengalir darah se- gar. Tengkorak Merah tewas seketika! Tewas sebelum sempat ambruk ke tanah.

Menyedihkan sekali! Seorang tokoh sesat. yang memiliki kepandaian tinggi, tewas hanya dalam tiga gebrakan saja. Dan itu teijadi karena keteledora Tengkorak Merah sendiri. Kalau saja dia bersikap waspada begitu melihat sikap Iblis Hitam yang tidak menghiraukan serangannya, tidak akan semudah itu Tengkorak Merah bisa ditewaskan.

"Ha ha ha...!"

Iblis Hitam kembali tertawa menyeramkan. Setelah memandangi sejenak mayat Tengkorak Merah yang tergolek di tanah, tubuhnya melesat meninggal кап tempat itu. Sesaat kemudian suasana di situ kembali sepi. Yang terdengar hanyalah gema suara tawa IbBs Hitam yang melayang terbawa angin.

***

Hari mulai siang ketika matahaii perlahan lahan merangkak ke arah Barat. Udara pun sudah tidak lagi segar, ketika seorang pemuda dan seorang wanita muda melangkah pelan memasuki sebuah kedai di Desa Jolang.
Pemuda itu paling banyak baru berusia dua puluh satu tahun. Rambut panjangnya yang berwarna putih keperakan dibiarkan riap-riapan. Di punggung pemuda berpakaian ungu itu tersampir sebuah guci arak dari perak.

Sementara wanita muda berpakaian serba putih yang beijalan di sebelahnya, berusia sekitar dua puluh tahun. Wajahnya cantik bukan main. Rambut hitam dan panjang yang dibiarkan terurai, loan menambah daya tank penampilannya.

Sejenak kedua muda-mudi itu tertegun di pintu kedai. Sepasang mata mereka merayapi setiap sudut kedai, mencari meja yang masih kosong. Saat Ini kedai memang ramai dipenuhi pengunjung. Banyak orang yang tengah bersantap di dalamnya. Dan menilik dari pakaian yang mereka kenakan, bisa ditebak kalau pengunjung kedai adalah orang-orang persilatan.

Untunglah masih ada sebuah meja yang masih kosong. Agak bergegas kedua muda-mudi itu meng- hampiri. Kemudian menghenyakkan tubuh di kursi.

Seorang laki-laki setengah tua, bertubuh pendek tergopoh-gopoh menghampiri. Sewaktu berjalan, perutnya yang buncit mirip gentong air, terlihat bergoyang-goyang.

"Mau makan ара, Den?" tanya laki-laki yang ternyata adalah pemilik kedai.

"Kau mau pesan ара, Melati?" tanya pemuda berambut putih keperakan seraya menatap wajah temannya.

"Terserah kau sajalah, Kang Arya," sahut gadis berpakaian serba putih yang temyata adalah Melati. Putri angkat Raja Kerajaan Bojong Gading.

Pemuda berambut putih keperakan yang memang adalah Arya Buana alias Dewa Arak, mengangkat bahunya. Kemudian memesan beberapa macam ma- kanan dan minuman. Dan khusus untuknya dipesan seguci arak.

Laki-laki bertubuh pendek dan berperut buncit itu bergegas melangkah ke dalam. Так lama kemudian sudah kembali dengan membawa pesanan Arya.

"Mari kita makan, Melati," ucap pemuda beram­but putih keperakan seraya menjumput guci arak di punggungnya. Guci itu telah kosong.

Arya meletakkan guci arak di atas meja. Kemudian mengambil guci arak pesanan, lalu dituangkan ke dalam gucinya sendiri.

Melati belum menyantap makanan, menunggu Arуа selesai mengisi penuh-penuh guci araknya. Gadis ini tahu arti penting arak itu bagi pemuda berambut putih keperakan yang sekaligus tunangannya. Baru setelah melihat Arya selesai mengisi penuh guci arak, Melati mulai menyantap makanannya.

"Dunia persilatan kembali geger...."

Terdengar oleh Arya dan Melati ucapan salah seorang pengunjung kedai. Ucapan itu keluar dart mu­lut seorang laki-laki bertubuh kekar, berwajah merah. Mau tidak mau ucapan tadi membuat kedua muda mudi ini tertarik mendengarkan.

Memang, sejak tadi Arya dan Melati sudah agak curiga melihat banyaknya pengunjung kedai ini. Menilik dari sikap dan pakaian yang mereka kenakan, Arya dan Melati tahu kalau orang-orang ini adalal tokoh-tokoh persilatan aliran putih. Itulah sebabnya kedua muda-mudi ini tertarik mendengar ucapan laki-laki berkulit merah tadi. Terutama sekali Arya!

Tadi sebelum duduk di kursi, secara sambil lalu Dewa Arak sempat melihat wajah-wajah para pengun­jung. Dan, pemuda berambut putih keperakan ini jadi agak terkejut melihat wajah-wajah yang rata-rata menyorotkan kegagahan itu diliputi kecemasan.

Ucapan laki-laki bertubuh kekar berwajah meral. tidak ada yang menanggapi. Sehingga suasana di kedai pun jadi hening. Yang terdengar hanyalah suara berisik makanan dan minuman disantap.

"Ара yang kau katakan tidak salah, Ular Merah, ucap seorang laki-laki berwajah hitam, bertubuh kecil dan ramping. "Malapetaka besar akan menimpa golongan kita. Hhh...! Sungguh tidak kusangka kalau iblis yang telah sekian puluh tahun lenyap, kini muncul lagi."

"Dan.., seperti kejadian sebelumnya... sudah bisa kuperldrakan kalau kali ini pun Iblis Hitam tidak akan mengalami kesulitan melakukan kejahatannya," sambut Ular Merah. Suaranya terdengar penuh keputus-
asaan .

"Dia pasti akan membalas sakit hati leluhurnya dulu...," sambung salah seorang lainnya .

"Kau ketinggalan berita, Kisanak," selak laki-laki berwajah hitam. "Iblis Hitam telah melancarkan pem- balasannya."

"Benarkah itu, Kucing Muka Hitam?" tanya Ular Merah setengah tidak percaya.

Laki-laki yang yang ternyata berjuluk Kucing Muka Hitam itu menganggukkan kepalanya.

"Kemarin malam Perguruan Bangau Tong-tong telah hancur diobrak-abrik Iblis Hitam!"

"Ah...! Kalau begitu benar! Iblis Itu mulai membalaskan dendam leluhurnya!" sambut Ular Merah kaget ."Ketua Perguruan Bangau Tong-tong dulunya adalah salah seorang pengeroyok Iblis Hitam."

"Benar," Kucing Muka Hitam menganggukkan kepala. "Dan nanti malam..., Iblis Hitam akan menyatroni Perguruan Cakar Harimau. Si Harimau Terbang, Ketua Perguruan Cakar Harimau juga salah seorang pembunuh leluhur Iblis Hitam."

"Apakah kau benar-benar yakin, Kucing Muka Hitam?" tanya salah seorang tokoh persilatan lain, meminta ketegasan.

Laki-laki berwajah hitam, bertubuh kecil dan ramping itu menganggukkan kepala.

"Kemarin malam..., Perguruan Cakar Harimau telah menerima ancaman itu. Di papan nama perguruan mereka terdapat tanda tapak tangan hitam. Tanda khas Iblis Hitam."

"Kita tidak boleh tinggal diam!" sambut tokoh persilatan yang Iain lagi.
"Ya!" sambut yang seorang lagi.
"Betul!" sahut lainnya menyetujui.
"Kita bantu Perguruan Cakar Harimau menghadapi iblis keparat itu!"
"Akur...!"

Seluruh dinding kedai bergetar begitu para tokoh yang jumlahnya dua belas orang berikrar berbarengan .
Так lama kemudian, mereka bergegas mening­galkan kedai setelah membayar pesanannya pada pemilik kedai.

Так sedikit pun mereka menoleh pada Arya atau Melati. Seluruh pikiran mereka tertuju pada tokoh yang berjuluk Iblis Hitam.

Sepeninggal tokoh-tokoh persilatan golongan putih itu, Arya termenung. Dahi pemuda berambut putih keperakan ini berkemyit dalam. Jelas ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Paman...!"

Arya melambaikan tangan memanggil laki-laki tua pemilik kedai.

"Ada ара, Den?" tanya laki-laki berperat buncit Itu seraya bergegas menghampiri.

Sejak tadi pemilik kedai ini memang dilanda perasaan bingung melihat Arya. Seumur hidupnya, dia belum pernah melihat orang yang masih begitu muda memiliki rambut putih. Putihnya indah lagi! Apakah yang menyebabkannya? tanya laki-laki setengah tua, berperut buncit ini dalam hati.

"Bisa kau ceritakan padaku, ара yang tengah terjadi di desa ini?" tanya Arya seraya menatap tajam wajah pemilik kedai. Karuan saja laki-laki setengah tua tni menjadi gugup. Sepasang bola mata pemuda be­rambut putih.keperakan dilihatnya mencorong. tajam, seperti mata seekor harimau dalam gelap.

"Ses... sebetulnya..., tidak ada ара-ара. Den...," eahut pemilik kedai setelah beberapa saat terdiam. Ucapannya terbata-bata.

'Tapi, sebenamya ada kan, Paman?" Arya memojokkan laki-laki berperut buncit itu.

Periahan kepala laki-laki pemilik kedai itu terngguk pelan.

'Tapi..., belum menimpa para penduduk desa...."
"Jadi...," Arya mulai mengerti.

"Ya..., hanya menimpa orang-orang persilatan saja," sambung pemilik kedai. "Mungkin bagian untuk penduduk desa hanya tinggal menunggu waktu saja. Iblis Hitam telah turun temurun merajalela tanpa ter- tandingi. Saat ini dia belum meresahkan penduduk karena ingin membalaskan kematian leluhurnya dulu Bagitulah menurut pendapatku, Den."

"Kau tahu.., di mana letak Perguruan Cakar Harimau, Paman?" tanya Arya yang telah memutuskan untuk melihat sendiri, seperti ара tokoh yang begitu ditakuti itu.

"Kau... kau hendak ke sana, Den?!" laki-laki ретШк kedai Itu tampak terkejut. "Kalau mau men­dengar nasihatku..., pergilah jauh-jauh dari desa ini. Dan..., jangan coba-coba mencampuri urusan Iblis Hitam, Den. Percuma!"

"Memangnya kenapa, Paman?" Melati yang sejak tadi diam, akhimya tidak tahan memendam rasa ingin tahu. Sikap lald-laki berperut buncit yang terlalu meremehkan Arya dan dia, membuat hatinya dongkoL

"Iblis Hitam tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapa pun! Dan itu memang telah terbukti. Lebih dari seratus tahun Iblis Hitam bercokol di wilayah Utara ini tanpa ada seorang pun yang sanggup mencegah."

"Seratus tahun?!" pekik Arya karena terkejut "Jadi, Iblis Hitam sudah tua, Paman?!"

"Sama sekali tidak, Den," sahut pemilik kedai. "Kejahatan Iblis Hitam dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya. Baru pada keturunan yang entah ke berapa..., akhimya Iblis Hitam berhasil ditewaskan. Itu pun karena Iblis Hitam tidak sempat menggunakan pusakanya. Tambahan lagi pengeroyoknya adalah pentolan tokoh-tokoh persilatan aliran putih. Sungguh tidak disangka setelah puluhan tahun menghilang,keturunan Iblis Hitam muncul kembali," ucap laki-laki itu mengakhiri ceritanya. "Bagaimana? Masih kepingin ke Perguruan Cakar Harimau, Den?"

"Maaf, Paman. Bukannya aku tidak menghargai nasihatmu. Tapi, aku ingin sekali melihat tokoh yang begitu menggiriskan itu!"

"Hhh...!"

Pemilik kedai menghela napas berat Kemudian menunjukkan jalan yang harus ditempuh menuju Per­guruan Cakar Harimau.

"Terima kasih, Paman," ucap Arya. Setelah membayar pesanannya, kedua muda-mudi ini bergegas
meninggalkan kedai dengan tergesa-gesa.

***

Suara kukuk burung hantu menguak keheningan malam. Langit nampak bersih, tak terlihat sedikit pun awan yang menggantung. Bulan penuh di langit nam­pak Indah, terselaput warna kuning keemasan. Semen­tara bintang-bintang yang berkelap-kelip semakin me- nambah indahnya malam.

Di bawah terangnya suasana malam pumama, nampak sesosok bayangan hitam berkelebat, Gerakan- nya cepat bukan main. Sehingga yang terlihat hanyalah sekelebat bayangan hitam saja.

Sosok bayangan serba hitam itu terus berkelebat. Rupa sosok bayangan hitam itu terlihat jelas di bawah Jllatan sinar rembulan. Sosok bayangan itu temyata Iblis Hitam.

Iblis Hitam terus berlari cepat. Langkahnya baru agak diperiambat ketika mulai mendekati bangunan besar berhalaman luas. Sebuah bangunan megah yang dikelilingi pagar kayu bulat tinggi.

Sepasang mata Iblis Hitam berbinar-binar begitu menatap bagian atas pintu gerbang Di sana terpampang sebuah papan tebal berukir yang bertufiskan huruf-huruf indah. 'Perguruan Cakar Harimau'.

Sekali melompat, tubuh iblis itu telah berada tepat di depan pintu gerbang Perguruan Cakar Harimau Dan, begitu telah berada tepat di depannya, Iblis Hitam menghantamkan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam ke daun pintu.

Brakkk!

Terdengar suara berderak keras yang diikuti de­ngan hancurnya pintu gerbang berkeping-keping.

Tentu saja suara hiruk-pikuk itu mengejutkan orang-orang yang berada di bagian dalam pintu ger­bang. Sejak tadi mereka memang telah bersiap-siap menyambut kedatangan iblis yang menggiriskan itu Di antara murid-murid Perguruan Cakar Harimau itu sendiri, terlihat Ular Merah, Kucing Muka Hitam, dan semua tokoh persilatan yang tadi ada di kedai.

"Ha ha ha...!"

Iblis Hitam memperdengarkan tawa aneh. Suaranya pelan, tapi berat dan bergaung. Sepertinya tawa itu tidak mungkin keluar dari mulut manusia biasa.

Iblis Hitam menatap puluhan sosok yang berdiri sekitar lima tombak di depannya sambil terus tertawa. Di tangan mereka telah tergenggam berbagai jenis senjata.

"Rupanya kau sudah siap menyambut kedatanganku, Harimau Terbang," dengus Iblis Hitam.
"Tidak usah banyak basa-basi, Iblis Hitam!" sergah Harimau Terbang keras.

"Aku memang tidak ingin berbasa-basi dengan pembunuh leluhurku!" sahut Iblis Hitam dingin. "Aku datang untuk mengambil nyawamu, Harimau Ter­bang!"

Begitu menyelesaikan ucapannya, Iblis Hitam yang memang sudah tidak sabar lagi segera bersiap-siар mengeluarakan ilmu andalannya, 'Ilmu Tapak Penggetar Jagat'.

Aneh sekali jurus pembukaan ilmu ini. Dada dan perutnya dihadapkan ke samping kiri. Begitu juga arah ujung-ujung jari kaki. Kedua kaki Iblis Hitam agak menjinjit. Posisi jari-jari kedua tangannya terbuka. Bagian tubuh sebelah kanan agak direndahkan sambil menarik tangan kirinya ke pinggang. Sementara tangan kanan yang semula berada di depan dada, perlahan- lahan tapi penuh tenaga didorong ke depan. Seketika terdengar suara angin berkerosak nyaring ketika ta­ngan itu bergerak mendorong.

Dan secepat jurus pembukaannya dimulai, secepat ttu pula tokoh hitam ini melesat. Cepat bukan main gerakannya. Sehingga yang terlihat hanya sekelebat bayangan hitam yang meluruk cepat ke arah KetuaPerguruan Cakar Harimau. Jubahnya berkibaran terhembus angin.

Aneh bukan main ilmu yang dimainkan oleh Iblis Hitam. Mula-mula kedua tangannya, dengan jail-jari tangan terbuka disilangkan di depan dada. Tangan kanan berada di atas tangan kiri. Kemudian, cepat bukan main badannya agak diputar sedikit ke kanan sambil menyampokan kedua tangannya berbarengan mengancam dada dan ulu hati lawan. Suara berkerosakan nyaring terdengar sebelum serangan Iblis Hitam tiba.

Harimau Terbang tidak berani bersikap main-main. Kakek berkumis mirip harimau ini segera mencabut sebatang pedang bergagang kepala harimau. Dan kemudian dikelebatkan, menangkis serangan yang mengancam dada dan ulu hatinya.

Singgg!
Trakkk!

Benturan antara sebatang pedang dan sepasang tangan terbungkus sarung tangan hitam terdengar ke- ras. Akibatnya, tubuh Harimau Terbang terhuyung-huyung lima tombak ke belakang. Sekujur tangan yang memegang pedang dirasakan lumpuh seketika. Bahkan dadanya pun terasa sesak bukan main. Так dapat dicegah lagi, keluar keluhan tertahan dari mulutnya.

Iblis Hitam yang sama sekali tidak terpengaruh oleh tangkisan pedang Harimau Terbang kembali mendengus. Bahkan kini dia sudah memburu tubuh yang tengah terhuyung-huyung itu.

Melihat nyawa Harimau Terbang terancam, tentu saja murid murid dan rekan-rekannya tidak tinggal diam. Mereka bergegas melompat, mencoba menjegal serangan Iblis Hitam.

Sebenamya mereka tahu kalau sekujur tubuh Iblis Hitam tidak dapat dilukai oleh senjata ара pun. Tapi, sasaran mereka adalah menghalau cecaran Iblis Hitam pada Ketua Perguruan Harimau Terbang. Dan, itulah yang sekarang mereka lakukan.

IbBs Hitam mendengus begitu menyadari usahanya untuk membunuh musuh besar leluhurnya dihalangi hujan senjata yang mengarah berbagai bagian tubuhnya sama sekali tidak dihiraukan. Tapi mendadak kedua tangannya berkelebatan cepat.

Bukkk! Takkk! Dukkk!

Telak dan keras bukan main berbagai macam sen­jata itu mengenai sasaran. Tapi, tidak sedikit pun ada yang melukai kulit tubuhnya. Bahkan sebaliknya, terdengar jerit-jerit mengerikan begitu sepasang tangan Iblis Hitam menyambar para pengeroyoknya.

Murid-murid Perguruan Cakar Harimau berpentalan bagai dilanda angin topan. Mereka tewas seketika sebelum sempat jatuh ke tanah. Beruntung, Ular Merah dan Kucing Muka Hitam cepat melemparkan tu­buhnya dan berguling menjauh. Sehingga mereka selamat dari tangan maut Iblis Hitam.MeBhat banyak saudara-saudara mereka merijadi korban, murid-murid Perguruan Cakar Harimau lainnya menjadi geram.

Berbondong-bondong mereka menyerbu Iblis Hitam. Так ketinggalan pula Ular Merah dan Kucing Muka Hitam serta Harimau Ter­bang.

Sesaat kemudian pertarungan sengit pun terjadi. Iblis Hitam yang sudah mulai mengamuk. Sama sekali tidak mempedulikan setiap serangan yang mengancam berbagai bagian tubuhnya.

Terdengar jerit kematian saling susul dari penge­royok yang roboh setiap kali sepasang telapak tangan Iblis Hitam berkelebat. Mengerikan, setiap orang yang tersambar serangan balasan Iblis Hitam tidak akan pernah bangkit lagi selamanya. Malam itu halaman depan Perguruan Harimau Terbang benar-benar menjadi arena pembantaian besar-besaran.

Harimau Terbang menggertakkan gigi. Pedang bergagang kepala harimau di tangannya berkelebatan semakin dahsyat Berbagai macam perasaan bercampur aduk dalam hati Ketua Perguruan Cakar Harimau ini. Perasaan sedih, marah, dan sakit hati bercampur baur melihat murid-muridnya berguguran tanpa mam­pu melindungi mereka. Kini kemarahannya diiampias- kan dalam serangannya.

Belum lagi sepuluh jurus pertarungan berlangsung, sudah tidak terhitung lagi jumlah korban amukan Iblis Hitam. Dan beberapa jurus selanjutnya yang tinggal hanyalah Harimau Terbang, Kucing Muka Hitam, dan Ular Merah. Akhir dari pertarungan sudah bisa dira- malkan. Iblis Hitam akan keluar sebagai pemenang.

"Ha ha ha...l" Iblis Hitam kembali tertawa ter- bahak-bahak. "Kematianmu sudah di ambang pintu, Harimau Terbang."

Harimau Terbang hanya dapat menggertakkan gigi untuk mengusir kegeraman hatinya Sejak awal sebenarnya kakek ini menyadari tidak ada gunanya menyarangkan serangan. Tapi, Ketua Perguruan Ca­kar Harimau ini tetap memaksakan diri terus menye­rang.

"Haaat...!"

Disertai teriakan keras, Ular Merah mengayunkan ruyungnya ke arah pelipis kiri lawan dengan kekuatan penuh. Dia tidak percaya seandainya kepala Iblis Hitam mampu bertahan terhadap pukulan ruyungnya

Wuttt..!

Angin bertiup keras mengiringi tibanya serangan ruyung Ular Merah. Dan pada saat yang bersamaan, cakar baja Kucing Muka Hitam ditusukkan ke pelipis kanan Iblis Hitam. Sedangkan Harimau Terbang me­lompat dan menusukkan pedang ke arah mata.

Iblis Hitam hanya mendengus. Tahu-tahu tangan­nya bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa. Dan sesaat kemudian di kedua tangannya telah tergenggam sebatang kapak hitam mengkilat, Secepat kedua kapak telah berada di tangan, secepat itu pula tubuhnya dirundukkan dan menyelinap ke depan seraya membabatkan kapaknya.

Wuttt! Wuttt!
Crattt! Crattt!

Tubuh Harimau Terbang, Kucing Muka Hitam, dan Ular Merah menggelepar. Tepat sekali sepasang kapak di tangan Iblis Hitam menyerempet perut mereka. Seketika itu juga darah mengalir dari luka di perut yang menganga lebar.

"Ha ha ha...!"

Iblis Hitam tertawa bergelak melihat tubuh ketiga pengeroyoknya mulai limbung. Tapi, hal itu hanya ber langsung sesaat saja. Kemudian tubuh mereka roboh di lanah sambil bergeleparan sebelum akhimya diam tidak bergerak lagi. Harimau Terbang, Kucing Muka Hitam, dan Ular Merah tewas dengan sekujur kulit membiru.

"Kau dengar suara tawa itu, Melati?" tanya Dewa Атак tanpa mengurangi kecepatan larinya. Kepalanya ditolehkan ke arah seraut wajah cantik jelita yang tengah berlari di sebelahnya.

"Ya, Kang," sahut gadis berpakaian putih seraya menganggukkan kepala.
"Aku khawatir kita teriambat, Melati," ucap Arya lagi.

"Maksudmu...?" tanya Melati walaupun sebenarnya sudah bisa menduga arah pembicaraan tunangannya.

"Iblis Hitam telah membalas dendamnya!"

"Ahhh...!" hanya suara keluh keterkejutan saja yang terdengar dari mulut gadis berpakaian putih itu.

Arya tidak berkata-kata lagi. Sepasang kaldnya terns saja bergerak cepat menuju markas Perguruan Cakar Harimau.

"Hey...!"

Arya berseru kaget ketika di depannya melesat eesosok bayangan hitam yang memotong arah larinya. Terpaksa pemuda berambut putih keperakan ini agak menahan langkahnya agar tidak menabrak sosok ba­yangan hitam ladi.Sementara sosok bayangan hitam yang ternyata adalah Iblis Hitam sama sekali tidak ambil peduli. Iblis itu terus berlari cepat

Arya menghnfikan larinya sejenak. Sepasang matanya menyipilmemperhatikan sosok bayangan hitam yang semakin lama semakin menjauh. Dan akhir nya lenyap ditela kegelapan malam.

Melati juga berhenti berlari. Gadis berpakaian putih ini juga meliat sosok bayangan hitam yang memotong di depan kekasihnya.

"Siapa dia, Kang Arya?" tanya Melati.
"Mungkin... dia adalah Iblis Hitam...?!" gumam Dewa Arak seper bertanya pada dirinya sendiri.
"Memangnya kalau orang tadi Iblis Hitam kenapa?" Melati malal balas bertanya.

Arya tidak lagsung menjawab. Sepasang mata nya dialihkan ke arah asal bayangan itu. Seketika alis pemuda berambu putih keperakan ini berkerut Arah yang ditinggalkan bayangan hitam tadi adalah tempat yang akan ditujunya. Markas Perguruan Cakar Hari­mau.

"Ahhh.... Kedatangan kita terlambat," ucap Arya bemada mengelu.
"Maksudmu.?" dada Melati berdebar tegang.

"Iblis Hitam telah menyelesa kan tugasnya. Dan... Perguruan Cakar larimau hanya tinggal nama saja," sahut pemuda berambut putih keperakan, bernada memberi tahu.

"Dari mana ka mengambil kesimpulan demikian,Kang Arya?" tanya Melati ingin tahu.
"Kau tahu, dari arah mana bayangan hitam tadi berasal?" Dewa Arak malah balas bertanya.

Tanpa dugaan apa-apa, Melati mengarahkan pandangannya ke arah asal sosok bayangan hitam tadi. Dan seketika gadis ini terkejut .

"Perguruan Cakar Harimau...," desis Melati pelan.

Nada keterkejutan yang amat sangat terlihat jelas di wajahnya. Arya sama sekali tidak menanggapi, hanya kepalanya saja yang mengangguk pelan. Meskipun begitu, sudah cukup dimengerti oleh Melati.

"Kalau begitu..., kita harus cepat-cepat ke sana, Kang Arya."

Belum habis gema ucapan Melati, tahu-tahu tubuh Arya dan kekasihnya telah melesat dari situ.

***

Berkat ilmu meringankan tubuh kedua muda-mudi yang telah mencapai tingkat tinggi, dalam waktu ringkat markas Perguruan Cakar Harimau telah tam­pak.

"Ah...!"

Terdengar pekik tertahan dari mulut Arya.

"Ada ара, Kang Arya?" tanya Melati yang sama sekali tidak tahu ара yang telah membuat pemuda berambut putih keperakan itu terkejut .

"Kau lihat pintu gerbang perguruan itu, Melati,"sahut Dewa Arak.

Seiring dengan semakin dekatnya jarak antara mereka dengan markas Perguruan Cakar Harimau, ара yang tampak oleh mata muda-mudi itu pun semakin jelas. Dan Melati melihat jelas ара yang ditunjukkan Arya.

Sekejap kemudian Dewa Arak dan Melati tiba di depan pintu gerbang Perguruan Cakar Harimau.

"Ара yang semula kukhawatirkan akhirnya terjadi juga...," keluh Dewa Arak begitu sepasang matanya tertumbuk pada puluhan mayat yang bergeletakan di halaman Perguruan Cakar Harimau.

Dengan langkah lesu, Arya menghampiri orang orang malang itu. Melati pun mengikuti di belakang dengan bulu kuduk merinding.

Arya menggeleng-gelengkan kepala begitu melihal mayat-mayat yang bergeletakan di tanah. Semuanya sudah mulai kaku.

"Keji...," hanya ucapan Itu yang keluar dari mulut Arya.

Mendadak pemuda berambut putih keperakan itu menelengkan kepala ketika menangkap suara langkah kaki mendekat. Pendengarannya yang tajam me­nangkap kalau pendatang itu tidak hanya satu orang .

Temyata bukan hanya Arya saja yang mendengar suara itu. Melati pun mendengarnya. Terbukti, gadis ini menoleh ke arah kekasihnya.

Bagaikan dikomando, Arya dan Melati bergegas bersembunyi di balik rerimbunan pohon yang ada di halaman Perguruan Cakar Harimau dari situ, kedua muda-mudi ini menanti langkah yang mendekati tempat itu.

Так lama kemudian dari arah pintu gerbang melesat cepat dua sosok tubuh. Yang seorang adalah laki-laki gagah berusia sekitar empat puluh tahun. Wajahnya terlihat keras, dihiasi kumis dan jenggot yang terpelihara baik Sementara orang kedua adalah se­orang kakek berusia seita lima puluh tahun. Bertubuh sedang, dan berwajah bintik-bintik putih. Kedua orang ini adalah Pendekar Golok Baja dan Pandora.

Tanpa mengetahui adanya Arya dan Melati, Pendekar Golok Baja dan Pandora segera menghampiri puluhan mayat yang beijekakan.

"Lagi-lagi kita terlambat, Pandora," ucap Pendekar Golok Baja. Nada suranya menyiratkan rasa sesal yang tidak terhinga. Bahkan wajah laki-laki gagah ini terlihat murung .

"Tuan harus bertindak "ucap Pandora lembut

"Ара dayaku, Pandra':Aku tidak akan mampu menandinginya. Dan lagi ..,sepertinya Iblis Hitam selalu menghindari kita. Dia tidak mau bentrok dengan kita."

"Tapi, Tuan ..."

"Pandora, aku tidak bisa bertarung dengan leluhurku sendiri!" tandas Pedkar Golok Baja yang sebenarnya bemama Prajasen.

"Maaf, Tuan,"selakPriora. "Bukan aku hendak menentang Tuan. Tapi.. aku tidak percaya kalau orang di balik seragam Iblis Hitam adalah Ieluhur Tuan!"

"Hhh...!" Pendekar Golok Baja menghela napas sambil tetap memperhatikan mayatmayat yang bergeletakan.

"Ada yang belum kau ketahui tentang Iblis Hitam dan keturunannya, Pandora."

"Maksud, Tuan?" tanya pelayan setia itu tak mengerti.

"Kalau bukan keturunan Iblis Hitam, kegunaan pusaka-pusaka itu tidak akan berarti banyak," jawab Prajasena mencoba memberi tahu.

Pandora mengemyitkan kening, sementara sepa sang matanya menatap majikan mudanya dengan sorot mata penuh tanda tanya.

Pendekar Golok Baja yang tahu kalau laki-laki berwajah bintik-bintik putih ini belum mengerti maksud kata-katanya, menerangkan lebih lanjut

"Lama sebelum tiba hari naasnya, ayah telah men- ceritakan semua kegunaan pusaka peninggalan le­luhurku. Yang terutama sekali adalah mantel, dan se lubung. Perlu kau tahu, Pandora. Jika pusaka pe­ninggalan leluhurku jatuh ke tangan orang lain, tubuh pemakainya hanya kebal terhadap senjata-senjata ta­jam."

Pendekar Golok Baja menghentikan cerita untuk mengambil napas. Ditatapnya wajah Pandora sejenak. Tapi temyata kakek itu tengah serius memperhatikan penuturannya.

Tanpa sepengetahuan kedua orang itu, Arya dan Melati ikut mendengar percakapan dari balik pepo honan.

"Menghadapi serangan-serangan benda tumpul, seperti gada, ruyung, atau tongkat, mantel itu sama sekali tidak berguna. Jadi, boleh dibilang, untuk pemakai yang bukan keturunan Iblis Hitam, pusaka Itu hanya berguna sedikit sekali. Jadi walaupun sudah mengenakan semua perlengkapan Iblis Hitam, orang itu akan tetap terluka bila terkena pukulan atau ten- dangan lawannya."

"Jadi..., mantel dan selubung itu hanya berguna pada saat berhadapan dengan orang yang bersenjata tajam saja, Tuan?" Pandora kini mulai mengerti.

Pendekar Golok Baja menganggukkan kepalanya.

"Kenapa bisa begitu, Tuan? Mengapa hanya pada keturunan Iblis Hitam saja, pusaka-pusaka itu berguna sampai ke puncaknya?"

"Ada rahasianya, Pandora," sahut Prajasena sete­lah beberapa saat termenung.
"Boleh aku tahu, Tuan?"

"Kau betjanji tidak akan mengatakannya pada orang lain?" Pendekar Golok Baja malah balik berta­nya. Pertanyaan pelayan setianya sama sekali tak dihi- raukan.

"Aku beijanji, Tuan!" tandas Pandora tegas.
"Kalau begitu, dengar baik-baik cerita yang kudengar dari ayahku ini."

Prajasena tercenung sejenak. Entah untuk ара laki-laki gagah ini tercenung. Mungkin mencari kata-kata untuk mulai bercerita. Atau mengerahkan ingatan pada cerita ayahnya.

"Menurut cerita almarhum ayah, leluhurku mem- buat seragam Iblis Hitam sekitar seratus tahun yang lalu. Entah dari bahan ара, ayah pun Hdak tahu, ka- rena kakek memang tidak menceritakan padanya."

Pandora mengangguk-anggukkan kepala. Sementara Arya dan Melati semakin tertarik mendengarkan Rupanya tokoh sesat yang berjuluk Iblis Hitam meml- lild riwayat yang menarik, pikir kedua muda-mudi itu kagum.

"Tapi yang jelas, keistimewaan semua perleng kapan yang dibuat leluhurku tidak seperti yang selama ini kita dengar. Dengan berbagai macam cara, le­luhurku berusaha menambah kegunaan periengkapannya. Campuran antara ilmu hitam, racun dan entah ара lagi yang aku tidak tahu.

Hingga akhimya per- lengkapan itu mempunyai kegunaan seperti sekarang."

"Lalu..., mengapa pada orang lain kegunaannya Hdak bisa sampai ke puncaknya, Tuan?" tanya Pan­dora tidak sabar begitu melihat majikannya menghen- tikan cerita.

"Karena leluhur-Ieluhur Iblis Hitam telah member! ramuan-ramuan dan cara-cara aneh sehingga pusaka peninggalan mereka menyatu dengan keturunannya."

"Tuan tahu cara-caranya?" tanya Pandora irigin tahu.
Pendekar Golok Baja menggelengkan kepala.
"Pelajaran mengenai cara-cara itu ada di dalam
kitab pusaka peninggalan leluhurku."
"Kitab pusaka yang hilang itu, Tuan?!" Pandora meminta ketegasan.

Prajasena mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Kini, aku baru tahu... mengapa Tuan tidak ingin bentrok dengan Iblis Hitam...."

"Bukannya aku tidak mau bentrok dengan Iblis Hitam, Pandora," ralat Pendekar Golok Baja. "Biar bagaimanapun, sudah jadi kewajibanku sebagai keturunan Iblis Hitam untuk mengetahui, siapa sebenamya orang yang berada di balik seragam Iblis Hitam. Mungkin saja ayahku punya saudara, dan apabila benar, orang yang berada di balik seragam itu adalah adik atau kakak ayahku. Dan sudah menjadi kewajibanku menyampaikan pesan almarhum ayah padanya."

Pandora mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti.

"Sudahlah, Pandora. Mari kita ikuti jejak Iblis Hitam," ajak Prajasena seraya meninggalkan halaman Perguruan Cakar Harimau. Dan tanpa banyak tanya lagi, pelayan setia itu mengikuti tuannya.

Beberapa saat kemudian, Pendekar Golok Baja dan Pandora sudah Ienyap dari situ.

Setelah yakin kalau kedua orang itu sudah pergi jauh, Dewa Arak dan Melati baru keluar dari tempat persembunyian.

"Ара yang harus kita lakukan sekarang, Kang Arya?" tanya Melati meminta pendapat kekasihnya

Dewa Arak menatap wajah cantik di sebelahnya."Kita harus mencari jejak Iblis Hitam!"

"Ke mana, Kang?"
"Ke Desa Jolang!" sahut Arya mantap.

"Lalu..., akan lata apakan mayat-mayat ini, Kanq Arya?" tanya Melati sambil menunjuk mayat-mayat yang berserakan di tanah.

'Tidak ada yang dapat kita lakukan, Melati," keluh Dewa Arak. "Mayat-mayat ini terlalu banyak. Meski pun beketja sampai pagi, kurasa kita tidak akan selesai mengubur semua mayat-mayat ini "

"Jadi...?"
"Biarlah penduduk desa yang mengurus," sahut Arya kalem.
"Kok begitu, Kang?" tanya Melati dengan alis berkerut
"Bagaimana kalau kau bakar saja mayat mereka? Dengan jurus 'Membakar Matahari'mu, kurasa peker- jaan itu tidak sulit."

"Aku juga punya pikiran begitu, Melati," sahut Dewa Arak sabar. 'Tapi..., biarkan orang-orang me- ngetahui peristiwa ini dulu. Barangkali orang yang punya hubungan dengan salah satu mayat-mayat ini ingin melihat wajah si mayat Kau mengerti, Melati?"

Gadis berpakaian putih itu menganggukkan kepa­la.

"Mari kita menuju Desa Jolang," ajak pemuda be­rambut putih keperakan itu. Sesaat kemudian, Dewa Arak dan Melati telah bergegas meninggalkan halaman Perguruan Cakar Harimau yang baru saja menjadiajang pembantaian.

"Mengapa harus ke Desa Jolang, Kang Arya?" tanya Melati seraya menatap wajah tampan di sebelah- nya, tanpa mengurangi kecepatan larinya.

"Kau tidak ingat cerita kakek pemffik kedai?" Aiya malah balas bertanya.

"Cerita yang mana, Kang Arya?" gadis berpakaian putih itu malah balas bertanya lagi. Cerita pemilik kedai memang terlalu banyak. Dan Melati tidak tahu cerita mana yang dimaksud tunangannya.

"Cerita mengenai kebiasaan IbBs Hitam turun temurun," jawab Dewa Arak. "Mereka selalu mencari wanita untuk dijadikan pemuas nafsunya."
'Tapi..., mengapa harus ke Desa Jolang, Kang?" tanya Melati..Masih dengan nada bingung.

"Karena desa itulah yang paling dekat dengan lempat ini," jawab Arya memberi tahu.

Hening sejenak setelah Arya menghentikan ucap- annya karena Melati tidak bertanya lagi. Tapi langkah- langkah kaki mereka terns bergerak cepat menuju Desa Jolang.

ter saat kemudian, Arya dan Melati mulai memasup hutan kecil. Di balik hutan ftulah Desa Jolang I

Tanpa ragu-ragu Melati dan Arya memasuki hu­tan. Tapi baru beberapa tindak, tiba-tiba kedua sejoli ini menghentikan langkah. Ada rintihan lirih tertangkap oleh pendengaran mereka. Rintihan seorang wanita. Tapi sesaat kemudian rintihan itu lenyap.Meskipun hanya mendengar sebentar, Arya dan Melati dapat mengetahui asal suara rintlhan. Kini mereka bergegas melesat ke arah asal suara.

Arya dan Melati terperanjat kaget begitu melihat sosok serba hitam tengah berdiri bertolak pinggang di hadapan seorang wanita muda berwajah cantik yang tergolek dalam keadaan tanpa busana Sekali lihat, Dewa Arak maupun Melati tahu kalau wanita itu telah tewas setelah lebih dulu diperkosa.

Hanya sekilas saja Melati dan Arya melihat wanita malang itu. Kedua sejoli ini merasa risih melihat pe- mandangan di depan mereka. Terutama sekali Arya. Seketika itu juga wajah pemuda ini memerah. Apalagl ketika teringat di sebelahnya ada Melati. Мака buru-buru perhatiannya dialihkan pada sosok serba hitam.

Diam-diam jantung pemuda berambut putih keperakan ini berdetak keras.

"lnikah Iblis Hitam? Wajarlah kalau dia begitu ditakuti," pikir Dewa Arak dalam hati.

Wibawa Iblis Hitam memang sangat luar biasa. Sekujur tubuhnya mulai dari ujung rambut sampa ujung kaki hitam semua. Tapi matanya... mencorong tajam, menyorotkan sinar kehijauan. Mirip mata seekor harimau dalam gelap. Ada pengaruh aneh yang memancar dari sepasang mata itu.

Arya saja sampai terpengaruh oleh wibawa yang dipancarkan Iblis Hitam, apalagi Melati! Gadis ber­pakaian putih ini merasakan bulu kuduknya merinding.

Arya menggertakkan gigi untuk mengusir pengaruh aneh yang mencekam dirinya.

"Kaukah yang membunuh wanita itu?" tanya Arya. Dan inilah kelebihan sikap Dewa Arak. Meskipun sudah yakin kalau pembunuh wanita itu adalah sosok serba hitam di hadapannya, tapi pemuda berambut putih keperakan ini masih tetap merianyakan keje- lasannya

"Ha ha ha..!"

Hanya suara tawa menyeramkan yang menyahuti pertanyaan Arya. Suara tawa yang tidak sepantasnya keluar dari mulut manusia. Tapi dari mulut setan penghuni kuburan.

"Memang aku yang membunuhnya, setelah lebih dulu kuperkosa!" sahut sosok serba hitam dengan nada tajam. "Aku...! Kau dengar...? Aku yang melakukannya. Aku! Iblis Hitam!"

Deg!

Arya dan Melati terhenyak kaget. Walaupun sudah menduga sebelumnya, tetap saja pengakuan itu me- ngejutkan mereka. Cepat Arya memasang sikap waspada. Pemuda berambut putih keperakan ini sadar kalau kali ini sedang berhadapan dengan tokoh yang sukar diukur kepandaiannya.

Kenyataan kalau Iblis Hitam turun temurun mampu merajalela tanpa ada orang yang mampu menandinginya menjadi bukti kesaktian tokoh sesat ini!

"Sungguh tidak kusangka kalau malam ini aku untung besar. Ada bidadari nyasar datang menyerahkan diri. Orang secantik kau tentu saja punya umur lebih lama di tanganku!" ucap Ibliss Hitam sambil menundingkan Jari tehinjuk pada Melati. Suaranya menggetarkan hati. "Tidak seperti dia yang hanya berumur sehari! Ha ha ha...!"

"Iblis terkutuk!" maki Dewa Arak. Seketika kemarahannya berkobar. Iblis itu harus melangkahi mayatnya dulu sebelum menjadikan Melati sebagai pemuas nafsu binatangnya. Seketika itu juga dijumput guci araknya dan dituangkan ke mulut

Gluk... gluk... gluk...!

Terdengar suara berceglukan ketika arak melewati kerongkongan Arya. Kontan ada hawa hangat yang berputar di perutnya, kemudian pedahan naik ke kepala.

Tapi, Arya masih kalah cepat Terdengar pekik melengking dari mulut Melati begitu mendengar ucapan kotor sosok serba hitam tadi. Dan setting dengan keluarnya lengkingan itu, gadis berpakaian serba putih ini melompat menerjang. Kedua tangannya yang membentuk cakar naga dan berwama merah sampal ke pergelangan, meluncur cepat ke arah Iblis Hitam. Yang kanan mengarah ke leher, sementara yang kiri ke arah perut .

Dalam kemarahan dan keyakinan kalau yang dihadapi kali Ini adalah lawan yang amat tangguh, Melati langsung memainkan ilmu 'Cakar Naga Merah'!

Terdengar suara mendengus dari balik selubung Iblis Hitam. Kemudian kaki kanannya ditarik ke belakang seraya langsung menekuk lututnya. Seluruh kekuatan kuda-kuda bertumpu di kaki itu. Dengan sendirinya serangan yang mengarah ke lehemya me- ngenai tempat kosong. Sekitar sejengkal di depan wajahnya. Sementara serangan yang mengancam pe­rut, dipapak dengan tepakan tangan kiri dari atas ke bawah.

Plakkk!

Melati menyeringaL Seluruh jari-jari tangannya sakit bukan main begitu berbenturan dengan tangan Iblis Hitam. Bahkan sekujur tangannya dirasakan lumpuh. Dan sebelum gadis berpakaian putih ini sempat berbuat sesuatu, Iblis Hitam telah merubah posisinya menjadi kuda-kuda serong. Dan seketika itu juga tangan kiri yang habis menangkis serangan, melakukan gedoran dengan tangan terbuka.

Melati terkejut bukan main melihat serangan sosok serba hitam yang datang begitu tiba-tiba. Dengan sebisa-bisanya serangan itu ditangkis dengan kedua tangannya.

Plakkk!

Untuk kedua kalinya tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi kembali beradu. Akibatnya, tubuh Melati terjengkang lima tombak ke belakang dengan isi dada terasa sesak. Sementara ke­dua tangannya terasa lumpuh seketika. Apalagi tangan kanannya!

***


Tapi sebelum Iblis Hitam mengirimkan serangan susulan pada Melati, Dewa Arak lebih dulu memotong arah serangannya. Arya melancarkan tendangan ter­bang ke arah dada Iblis Hitam.

Wuttt!

Angin berkesiut nyaring mengiringi tibanya ten­dangan Dewa Arak. Tapi sungguh di luar dugaan, to­koh sesat yang menggiriskan itu sama sekali tidak mengelakkan serangan. Bersamaan dengan tibanya serangan Dewa Arak, Iblis Hitam melancarkan serang­an bacokan sisi telapak tangan ke arah kaki itu.

Dukkk! Takkk!

Hampir berbarengan dengan tibanya tendangan Dewa Arak pada dada Iblis Hitam, tangan kanan tokoh sesat itu pun telak menghantam tulang betis Arya.

Iblis Hitam terlempar jauh ke belakang akibat kuatnya tendangan Dewa Arak. Luncurannya baru terhenti ketika menghantam sebatang pohon yang cukup besar.

Brakkk!

Seketika pohon tadi ambruk ke tanah sambil mengeluarkan suara hiruk-pikuk. Bahkan langsung me­nimpa tubuh Iblis Hitam di bawahnya.

Bukan hanya Iblis Hitam saja yang menerima akibat itu. Dewa Arak pun demikian pula. Tubuh pe­muda itu tersungkur ke tanah. Mulutnya menyeringai menahan rasa sakit yang mendera tulang betis. De­ngan terpincang-pincang, Dewa Arak berusaha berdiri. Rasa sakit dan nyeri bukan kepalang melanda sekujur kakinya.

Dewa Arak menatap ke arah tubuh Iblis Hitam yang tertindih pohon. Seketika perasaan curiga melan­da hatinya. Begitu mudahkah tokoh yang berjuluk Iblis Hitam itu dapat ditaklukkannya? Atau..., jangan-jangan dia Iblis Hitam palsu! Kemudian sekilas ditatapnya Melati.

Gadis itu kini sudah bisa memperbaiki posisinya walaupun dengan mulut agak menyeringai menahan rasa sakit yang masih mendera kedua ta­ngannya

Mendadak terdengar suara hiruk-pikuk yang disu- sul dengan terpentalnya pohon yang tadi m'enindih tubuh Iblis Hitam. Tapi Arya sama sekali tidak terkejut. Kemungkinan ini memang sudah diperhitungkan! Ka­lau benar orang ini Iblis Hitam, mana mungkjn se- mudah itu bisa ditaklukkan?

Yang semakin membuat hati pemuda ini terkejut adalah ketika mengetahui Iblis Hitam sama sekali tidak teriuka! Arya menatap dengan sorot mata tidak per caya pada ара yang dilihatnya. Bukankah tendangan- nya tadi dilakukan dengan pengerahan seluruh tenaga dalam. Jangankan tubuh manusia yang hanya terdiri dari daging dan tulang, batu karang yang paling keras pun akan hancur lebur terkena tendangan itu.

"Ha ha ha...! Kaget?!" Iblis Hitam berseru mengejek, Tahu kalau lawannya terkejut melihat keadaannya.

Tapi, hanya sesaat saja perasaan kaget yang melanda Dewa Arak. Segera saja dia teringat penuturan yang didengar dari cerita kakek pemilik kedai maupun oleh orang yang diketahuinya sebagai majikan Pan­dora.

Tiba-tiba tawa Iblis Hitam lenyap. Kepalanya ditelengkan seperti hendak mendengarkan sesuatu. Arya pun jadi agak heran melihat sikap tokoh sesat itu. Dahinya berkemyit dalam. Tapi sesaat kemudian baru Dewa Arak tahu penyebab Iblis Hitam bersikap aneh. Ada dua pasang kaki bergerak cepat mendekati tempat mereka.

Kembali Dewa Arak dilanda perasaan terkejut yang amat sangat Terpaksa harus diakui kalau pendengaran Iblis Hitam masih lebih unggul darinya. Iblis itu telah dapat mendengar kedatangan orang ke tempat Itu sebelum Aiya mendengar apa-apa!

"Hih...!"

Seraya mengeluarkan seruan tertahan, sosok ser­ba hitam melompat. Karuan saja Dewa Arak menjadi kaget. Dan seketika itu juga bersiap siap menghadapi segala kemungkinan. Tapi, Arya kecelik. Temyata Iblis Hitam sama sekali tidak menyerangnya, melainkan melompat ke arah... Melafi! Iblis ini rupanya takut kepada pemilik langkah yang mendatangi.

Gadis berpakaian putih itu terkejut bukan main melihat peibuatan sosok serba hitam. Ара yang di lakukan Iblis Hitam, terlalu mendadak sekali datang- nya Meskipun begitu, Melafi sempat mempertunjuk- kan kelihaiannya. Cepat laksana kilat, dipapaknya Iblis Hitam yang meluncur ke arahnya dengan serangan- serangan ilmu 'Cakar Naga Merah'.

Iblis Hitam hanya mendengus. Dibiarkan saja semua serangan yang tertuju ke arahnya seraya balas melancarkan totokan bertubi-tubi ke arah gadis ber­pakaian putih itu.

Bukkk! Bukkk! Tukkk!
"Akh...!"

Melati memekik tertahan. Seketika tubuhnya tera­sa lemas begitu tangan Iblis Hitam menotok jalan darah di punggungnya. Sementara pukulan bertubi-tubi yang menghantam dada sosok serba hitam, sama sekali tidak membawa pengaruh bagi tokoh sesat itu.

Dan begitu Melafi terkulai lemas, Iblis Hitam segera menyambar dan membawanya lari.

Semua kejadian itu memang berlangsung begitu cepat Sehingga Dewa Arak sendiri tidak sempat ber- buat sesuatu untuk mencegah. Baru ketika melihat Iblis Hitam melesat kabur sambil membawa tubuh Melati, Arya segera bergerak mengejar.

Bertepatan dengan melesatnya tubuh Dewa Arak, fiba-fiba dari balik rerimbunan semak-semak muncul dua sosok tubuh yang tak Iain dari Pendekar Golok Baja dan Pandora.

Dewa Arak sama sekali tidak mempedulikan keha- diran orang itu. Sungguhpun di hatinya ada rasa heran melihat Iblis Hitam sepertinya takut terhadap dua orang itu, tapi Dewa Arak tidak bisa berpikir lebih lama la®. Saat ini Melati berada dalam bahaya besar dan memerlukan pertolongan secepat mungkin. Segera rasa herannya dibuang jauh-jauh, dan segera memu- satkan perhatian pada sosok serba hitam di hadapannya.

Kembali Dewa Arak mengeluh dalam hati. Sung- guh tidak disangka kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki tokoh sesat yang menggiriskan itu benar-benar luar biasa. Tidak kalah dengan ilmu meringankan tubuh miliknya. Jangankan mengejar, memperpendek jarak pun sulit.

Kegelisahan yang amat sangat melanda hati Dewa Arak. Bagaimana hatinya tidak menjadi khawatir? Kalau saja adu kejar terjadi di tempat terbuka, dia tidak akan secemas ini. Tapi kejar-kejaran ini terjadi di dalam hutan yang dipervuhi pohon-pohon dan kerimbunan semak-semak. Di waktu malam lagi! Setiap saat bisa saja musuhnya lenyap di balik rerimbunan pohon dan semak yang lebat.

Tapi rupanya Iblis Hitam tidak menggunakan kesempatan itu. Iblis itu terus berlari melalui tempat terbuka. Dan hal ini tentu saja membuat hati Arya lega, karena tidak terlalu sulit mengikuti jejak Iblis itu.

Baru saja Dewa Arak merasa lega. Tiba-tiba Iblis Hitam melesat ke dalam kerimbunan semak-semak.

Dengan kekhawatiran yang menggelegak, beberapa saat kemudian Arya segera menyusul ke dalam rim- bunan semak Dan, ара yang dikhawatirkan akhimya terjadi. Iblis Hitam telah lenyap.

"Melati...!" Dalam cekaman kekhawatiran yang menggelegak pada malapetaka yang akan menimpa kekasihnya, Arya berteriak keras. Berteriak dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam. Dan akibatnya, seisi hutan seperti diaduk-aduk angin. topan dahsyat.

Dewa Arak menunggu sia-sia. Panggjlannya sama sekali tidak ada sahutan. Dan hal ini pun sebenamya sudah diduga oleh pemuda berambut putih keperakan II itu. Tapi kekhawatiran yang menggelegak membuat- I nya lupa. Hanya gema suara panggilannya saja yang menyambuti .

Sekujur tubuh Arya menggigil hebat akibat rasa cemas yang belum pemah dia rasakan sebelumnya. Kecemasan yang timbul pada keselamatan gadis yang dicintainya.

"Iblis Hitammm...!!! Keluar kau!!! Ayo, hadapl aku! Pengecuti IbBs Hitam...! Pengecut...!"

Dalam puncak kecemasan, Arya memaki penculik tunangannya sejadi-jadinya. Untuk pertama kalinya pikiran jernih Dewa Arak menguap entah ke mana. Yang ada di dalam hatinya hanyalah perasaan khawatir yang amat sangat!

"Keluar kau, Iblis Hitam! Hiyaaa...!"

Dewa Arak berteriak nyaring sambil menghentakkan sepasang tangan ke arah rerimbunan semak dan pepohonan di sekitamya.

Wusss! Wusss!

Angin keras berhembus deras ke arah rerimbunan pepohonan dan semak yang ada di depannya.

Brakkk...!

Terdengar suara hiruk-pikuk begitu angin pukulan Dewa Arak menghantam sasaran. Seketika itu juga pe­pohonan bertumbangan, semak-semak beterbangan, tercabut hingga ke akamya.

Arya yang masih penasaran, kembali menghentakkan kedua tangannya ke rerimbunan semak-semak dan pepohonan lain. Kembali hal yang sama terulang kembali. Dewa Arak terus saja mengamuk menghambur-hamburkan pukulan yang sudah dialiri tenaga dalam. Dan dalam sekejap, keadaan di sekitar tempat itu porak-poranda.

Dalam puncak kecemasan yang amat sangat akan keselamatan gadis yang amat dicintainya, Dewa Arak kehilangan kontrol diri. Dan kekhawatirannya dilampiaskan dalam serentetan pukulan ke arah rerimbunan semak-semak dan pepohonan sekitarnya. Di samping sebagai sasaran pelampiasan, juga ada secercah harap- an kalau Iblis Hitam masih bersembunyi di situ.

Mendadak pendengarannya yang tajam menangkap langkah-langkah kaki mendatangi tempatnya. Ada dua orang yang menuju ke arahnya. Secepat kilat Dewa Arak menoleh ke arah asal suara. Siapa tahu Iblis Hitam yang datang. Walaupun sebenarnya harapan itu kecil sekali.

Rasanya tak mungkin kalau iblis itumempunyai langkah kaki yang begitu berat

Memang benar! Yang datang bukan Iblis Hitam, melainkan Pendekar Golok Baja dan Pandora.

Sepasang alis Pendekar Golok Baja berkerut melihat keadaan hutan. Seketika timbul kembali se mangat Dewa Arak begitu melihat kehadiran Pandora dan Pendekar Golok Baja Pemuda berambut putih keperakan ini tahu kalau majikan Pandora ini adalah keturunan langsung Iblis Hitam.

"Siapa kau, Anak Muda? Dan..., kaukah yang melakukan semua ini?" tanya Pendekar Golok Baja Nada suaranya penuh teguran.

Sepasang matanya menatap wajah pemuda di hadapannya penuh rasa ingin tahu. Jelas ada sesuatu yang menarik perhatian iaki-laki gagah ini.

Dewa Arak tidak langsung menjawab pertanyaan Pendekar Golok Baja. Meskipun kini dadanya sudah terasa agak lega setelah melampiaskan kekhawatiran pada pepohonan dan semak-semak di sekitamya. Tapi tak urung Arya masih menyempatkan diri menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kuat- kuat untuk menenangkan hati Dan memang, usaha yang dilakukannya membuahkan hasil. Hatinya kem­bali tenang.

"Aku Arya. Dan..., aku terpaksa melakukan semua ini agar Iblis Hitam keluar dari tempat persembunyiannya!"

Berubah wajah Pendekar Golok Baja mendengar ucapan Dewa Arak.

"Arya? Apakah паша lengkapmu Arya Buana?" kembali Prajasena bertanya.

Sementara pandang matanya semakin lekat tertuju ke sekujur tubuh pemuda di hadapannya. Memang, sebagai pendekar besar yang telah malang-melintang di dunia persilatan, Pendekar Golok Baja telah mendengar kabar angin tentang se- orang tokoh muda yang menggempatkan dunia per­silatan. Pendekar muda itu bernama Arya Buana dan berjuluk Dewa Arak.

"Begitulah nama yang diberikan orang tuaku."

"Kalau begitu..., kaukah tokoh yang telah menggemparkan dunia persilatan?! Kaukah tokoh yang berjuluk Dewa Arak?!"

"Ah, cerita kosong itu terlalu berlebih-lebihan," sahut Arya merendah.

"Sama sekali tidak, Dewa Arak! Bukti kehebatanmu telah kulihat sendiri," bantah Prajasena seraya memandang berkeliling ke arah semak-semak dan pepohonan yang porak-poranda di sana-sini. "Aku Prajasena. Orang-orang persilatan menjulukiku Pende­kar Golok Baja."

"Aku mohon..., panggillah aku dengan nama pemberian orang tuaku. Risih rasanya mendengar orang seperti kau memanggilku seperti itu, Paman," pinta Dewa Arak.

"Baiklah, Arya," Prajasena mengalah. "Sekarang, ceritakan padaku. Mengapa kau mencari Iblis Hitam?!"

"Hhh...!"

Dewa Arak menghela napas berat. Pertanyaan Pendekar Golok Baja membuatnya teringat kembali keadaan Melati. Seketika itu juga kekhawatirannya timbul kembali.

"Iblis Hitam telah menculik teman wanitaku...," jawab Dewa Arak separuh benar, separuhnya lagi dusta. Sebab Melati bukan hanya sekadar kawan, melainkan tunangannya

"Ahhh...!"

Terdengar seruan terkejut dari mulut Pandora. Karuan saja seruan itu membuat Dewa Arak mengalih kan perhatian ke arahnya.

"Mengapa, Paman?" tanya Dewa Arak seraya me­natap kakek berwajah bintik-bintik putih itu tajam- tajam.

"Bahaya sekali, Arya," hanya itu yang diucapkan Pandora. Kakek ini memang tahu kebiasaan Iblis Hitam turun temurun. Kekhawatiran Dewa Arak pun semakin menjadi-jadi mendengar ucapan pelayan setia Pendekar Golok Baja itu.

"Tenangkan hatimu, Arya," Pendekar Golok Baja ikut buka suara. "Percayalah padaku. Untuk malam ini kawan wanitamu pasti selamat."

"Akan kuingat kata-katamu, Pendekar Golok Ba­ja. Aku tahu ара hubunganmu dengan Iblis Hitam...."

"Kau tahu...?!" Pendekar Golok Baja setengah tidak percaya

"Aku dan teman wanitaku telah mendengar pembicaraanmu di halaman Perguruan Cakar Harimau, Pendekar Golok Baja. Tapi, aku mohon, kau bersedia menjelaskan agar hatiku jadi tenang. Mengapa kau begitu yakin kalau kawan wanitaku pasti selamat malam ini. Padahal sudah menjadi rahasia umum kalau kebiasaan leluhurmu pada wanita-wanita muda kurang baik?"

'Yahhh...!" Pendekar Golok Baja menghela napas pelan. "Aku pun menyesali hal itu, Arya. Tapi, perlu kau ketahui, apabila malam ini Iblis Hitam telah menyelesalkan 'tugas' dengan korban wanitanya. Korban selanjutnya mendapat giliran malam berikutnya."

Memang, Pendekar Golok Baja dan Pandora telah melihat mayat seorang wanita yang kelihatannya sebelum dibunuh, diperkosa lebih dulu. Sekali lihat saja, mereka dapat menebak kalau yang melakukan perbuatan keji itu adalah Iblis Hitam.

"Kalau begitu..., aku hanya punya waktu satu malam saja untuk mengetahui ke mana Iblis Hitam membawa lari temanku."

Pendekar Golok Baja menganggukkan kepala.

"Bisakah kau menunjukkan tempatnya padaku, Pendekar Golok Baja?" pinta Dewa Arak.

"Sayang sekali, Aiya. Aku tidak berani mengkhia- nati leluhurku. Merupakan pantangan besar bagi ketu­runan Iblis Hitam untuk menentang orang yang lebih tua. Aku sendiri tidak tahu mengapa Tapi, begitulah pesan ayahku. Dan aku harus mematuhinya Jadi, maafkan aku, Arya. Aku tidak bisa memberitahukan- rau."

"Hhh..!"Dewa Arak menghela napas, bingung. Perasaan cemas pada keselamatan Melati kembali melanda hatinya.
"Kalau begitu, aku permisi dulu, Pendekar Golok Baja."

Setelah berkata demikian, Dewa Arak melesat dari situ. Meninggalkan Pendekar Golok Baja dan Pandora yang hanya dapat memandang kepergiannya. Dalam waktu sebentar saja bayangan pemuda berambut putih

keperakan itu telah lenyap ditelan kegelapan malam. ###Suara kokok ayam hutan dan cicit burung di dahan menyambut riang datangnya mentari. Bola raksasa berwarna merah mulai nampak di ufuk Timur ketika Arya masih berada di dalam hutan kecil. Sepasang matanya menatap nyalang merayapi setiap sudut hu­tan.

Meskipun semalaman Dewa Arak tidak tidur, tapi perasaan kantuk yang menyerangnya ditahan sekuat tenaga. Dijelajahinya seluruh penjuru hutan. Tapi, tetap saja jejak Iblis Hitam tidak berhasil ditemukan. Suaranya sudah mulai serak karena berkali-kali berte­riak memanggil nama Melati dan menantang Iblis Hitam.

Arya menggertakkan gigi. Baru sekali inilah pemu­da berambut putih keperakan ini merasa tidak berdaya Perasaan marah, kecewa, khawatir dan berbagai ma- cam perasaan lain berkecamuk dalam hatinya.

Perasaan cemas di hatinya semakin besar seiring dengan hari yang telah semakin siang.

"Melati, ah..., Melati...," rintih Dewa Arak lirih. Untuk kesekian kalinya Arya menyebut nama kekasih- nya. Dihempaskan tubuhnya di bawah sebatang po­hon. Kepalanya tertunduk dalam, sementara kedua ta-ngannya menutupi wajah.

"Hhh...!"

Entah untuk yang ke berapa puluh kali Dewa Arak menghela napas panjang. Wajahnya ditengadahkan, menatap hamparan langit biru di atas sana Tapi mendadak pemuda berambut putih keperakan ini tersentak. Mengapa dia tidak meminta pertolongan gurunya? pikir Dewa Arak dengan mata berbinar-binar.

Semangat Dewa Arak pun bangkit kembali. Meski- pun ada perasaan malu karena meminta bantuan guru­nya, tapi ditekannya perasaan itu demi keselamatan Melati! Gadis yang disayanginya melebihi rasa sayang pada dirinya sendiri. Sekarang ini hanya gurunya saja yang dapat menolong. Gurunya banyak memiliki ilmu-ilmu ajaib!

Dengan semangat berkobar-kobar, Arya bangldt dari duduknya. Kemudian menyebut nama gurunya tiga kali, lalu menghentakkan kaki kanannya ke tanah sekali.

Derrr!

Ajaib! Kini di hadapan Dewa Arak telah berdiri se- orang kakek berpakaian serba putih. Rambutnya di- gelung ke atas. Di tangannya tergenggam seuntai tasbeK Alis, kumis, jenggot, dan cambangnya telah memutih semua. Bahkan panjang jenggotnya pun te­lah melewati dada. Sekujur tubuh kakek ini seperti bersinar. Terutama sekali wajahnya. Inilah guru Aiya, Ki Gering Langit.

"Guru...!" seru Arya sambil memberi hormat tanpa berani bertama-lama menatap wajah gurunya Sepasang matanya tak kuat memandang wajah yang bersinar menyilaukan itu.
Ki Gering Langit tersenyum sambil mengusap usap rambut Aiya yang setengah berlutut di hadapan- nya.

"Bangunlah, Muridku. Katakanlah..., ара yang membuatmu memanggilku...?" tanya kakek berpakai­an seiba putih itu lembut.

"Aku hanya ingin minta petunjuk Guru...."

"Petunjuk? Petunjuk ара, Aiya?" suara Ki Gering Langit tetap lembut. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, menimbulkan perasaan tenang di hati Arya.

Tanpa ragu-ragu Arya segera menceritakan kesu- litannya.

"Begitulah kejadiannya, Guru," ucap Aiya menutup ceritanya.

Ki Gering Langit mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian memegang tangan kanan Aiya dengan ta­ngan kiri. Sementara tangan kanannya menuding ke samping kanan.

Ajaib! Di sebelah kiri Arya terpampang sebuah gua berbentuk tengkorak kepala manusia. Di dalamnya, di sebuah balai-balai bambu, tergolek tubuh seorang wanita cantik jelita berpakaian serba putih. Sementara tak jauh dari situ duduk sosok berselubung dan ber­pakaian serba hitam.

"Kau tahu di mana tempat itu, Arya?" tanya Ki Gering Langit.'Tahu, Guru," sahut Aiya seraya menganggukkan kepala. Dan memang sebenarnya pemuda berambut putih keperakan ini mengetahuinya. Dia sering mendengamya dari mulut para penduduk sekitar Gunung Jolang, tempat Gua Tangkorak itu berada. Jadi rupa­nya Iblis Hitam membawa Melati ke sana. Tempat yang dijauhi para penduduk.

Ki Gering Langit pun melepaskan pegangannya. Dan seketika itu juga ара yang tad dilihat Arya, kembali lenyap. Kini yang nampak hanyalah rerimbun­an semak dan pepohonan yang lebat.

"Aku melihat kekuatan aneh yang dimi|iki sosok serba hitam itu, Arya," ucap Ki Gering Langit pelan. "Kau tidak akan mampu mengalahkan dia. Ada kekuatan campuran yang membuat orang itu tak bisa dibunuh atau dilukai."

'Tapi, biar bagaimanapun..., aku akan tetap ke sana dan menyelamatkan Melati, Guru. Meskipun aku harus тай di tangan iblis itu," mantap dan tegas sekali kata-kata yang keluar dari mulut Arya.

"Kalau begitu..., kau tunggu sebentar, Arya."

Setelah berkata demikian, kakek berpakaian serba putth itu mendadak lenyap dari pandangan. Arya ha­nya dapat menggeleng-gelengkan kepala melihat ke- saktian gurunya.

Sesaat kemudian, Ki Gering Langit telah kembali berada di hadapan Arya. Di tangan kanannya tergeng- gam sebatang pedang. Aiya kenal pedang itu. Pedang Bintang! Sebilah pedang pusaka yang telah mengan- tarnya menjadi seoiang tokoh menggemparkan ber- juluk Dewa Arak (Untuk jelasnya, baca serial Dewa Arak dalam episode perdananya, "Pedang Bintang").

Srattt!

Ki Gering Langjt menghunus Pedang Bintang dengan tangan kanannya. Ujung pedang diacungkan ke langit Sejenak kakek berpakaian serba putih itu memejamkan matanya. Kemudian pedahan-lahan ta­ngan kirinya terangkat naik.

Tiba-tiba sepasang mata Arya terbelalak melihat tangan ldri gurunya, sebatas pergelangan, meman- carkan sinar terang yang menyilaukan. Arya yang tidak sanggup memandangnya, terpaksa menundukkan ke­pala. Dan menggntai melalui celah-celah jari tangan yang menutupi wajahnya.

Sesaat kemudian tangan kiri Ki Gering Langit di- usapkan ke arah batang pedang. Mulai dari pangkal sampai ke ujungnya. Pada saat tangan kiri Ki Gering Langit mengusap, mata Pedang Bintang diselimuti sinar putih berkilauan yang menyilaukan mata. Sesaat kemudian cahaya menyilaukan tadi lenyap pedahan- lahan.

Trekkk!

Ki Gering Langit menyarungkan Pedang Bintang kembali. Kemudian diberikan pada Arya.
"Pergunakan pedang ini untuk menghadapi Iblis Hitam."

"Baik, Guru," sahut Arya seraya menevima Pe­dang Bintang penuh hormat."Ada yang ingin kau utarakan lagj padaku, Arya?" tanya Ki Gering Langit

"Anu, Guru...," sahut Dewa Arak ragu-ragu.
"Ара itu, Arya? Katakanlah...."

"Aku hanya ingin tahu.... Ilmu apakah yang membuat Guru datang dan per® ke setiap tempat de­ngan begitu mudah?" tanya Arya ingin tahu.

"Ooo... itu," Ki Gering Langit tertawa terkekeh. "Ada dua, Arya. Yang pertama adalah ilmu 'Urai Bumi', yaitu apabila kau memanggilku. Sedangkan bila aku datang tanpa pariggilanmu, itu adalah ilmu 'Ring- kas Bumi'. Puas? Lain kali akan kuterangkan panjang lebar. Sekarang selamatkan dulu calon istrimu...."

Setelah berkata demikian, Ki Gering Langit men- dadak lenyap. Arya segera memberi penghormatan melepas kepergian gurunya.

Tanpa membuang-buang waktu lagi Arya segera melesat dari situ. Perasaan cemasnya telah berganti dengan perasaan tenang. Bahkan kini ada rasa sejuk di dalam dadanya. Dan ini dialaminya setiap kali dia habis berjumpa dengan gurunya!

***

Matahari telah mulai condong ke Barat. Semburat warna lembayung pun telah nampak di lan®t sebelah Barat ketika Dewa Arak tiba di depan gua tempat Melati disekap.

Baru saja Arya hendak melangkah masuk, tiba-tiba dari dalam melesat sesosok tubuh serba hitam yang memiliki sepasang mata bersinar kehijauan. Siapa tagi kalau bukan Iblis Hitam!
"Ha ha ha..!" Iblis Hitam tertawa bergelak melihat kedatangan Dewa Arak. "Rupanya kau in®n kukirim ke neraka juga, heh!"

"Kita lihat saja, Iblis Hitam!" sahut Dewa Arak tak kalah gertak. "Siapa di antara kita yang akan pergi ke neraka?! Kau atau aku!"

Setelah berkata demikian, Dewa Arak segera men- cabut Pedang Bintang yang tergantung di pinggangnya.

Srattt!

Teipancar sinar terang berwarna putih menyi laukan begitu Pedang Bintang tercabut dari sarungnya.

"Ah...!"

Iblis Hitam berseru kaget ketika sepasang matanya menatap pedang yang terhunus di tangan lawan. Kakinya pun melangkah mundur ke belakang .

Diam-diam Dewa Arak terkejut. Rupanya tokoh sesat ini tahu kalau pedang di tangannya bakal mampu menembus pusakanya.

Cepat laksana kiiat kedua tangan Iblis Hitam bergerak. Sesaat kemudian di kedua tangannya telah tergenggam dua batang kapak berwarna hitam meng­kilat. Kapak yang mengandung racun ganas tak terkira.

Wukkk, wukkk!

Secepat kedua kapak itu berada di tangannya, secepat itu pula diputar-putar di depan dada Anginbercuitan nyaring mengiringi setiap gerakan kedua kapak.

Cuittt, cuittt!

Dewa Arak yang tidak mau kalah, segera memu- tar-mutarkan Pedang Bintang di depan dada. Sekejap kemudian sekujur tubuhnya terbungkus sinar berwama putih menyilaukan.

Dan begitu pemuda berambut putih keperakan ini menghenfikan putaran pedang, dia langsung dengan pembukaan 'Ити Pedang Pembunuh Naga'. llmu yang diwarisi dari Pendekar Ruyung Maut, ayah Arya (Untuk jelasnya, baca serial Dewa Arak dalam episode perdananya, "Pedang Bintang").

Dewa Arak membentuk kuda-kuda rendah dengan lutut kiri ditekuk ke belakang. Kaki kanan dijulurkan ke depan dengan ujung kaki menyentuh tanah. Sepa­sang malanya menatap ke depan. Tangan ldri terkepal di pinggang.

Sementara tangan kanan mengacungkan pedang yang dijulurkan menukik ke depan. Ujung pedang menyentuh tanah. Inilah pembukaan 'Ити Pe­dang Pembunuh Naga' yang telah disesuaikan dengan ilmu andalannya, 'Dmu Belalang Sakti'!

Iblis Hitam tidak mau kalah. Tokoh sesat ini pun membentuk pembukaan ilmunya. Mirip dengan kuda- kuda Dewa Arak. Hanya saja posisi kuda-kudanya ti­dak terlalu rendah. Kaki larinya berada di depan. Dan jarak antara tapak kaki kiri dan kaki kanan pun Hdak sejauh kuda-kuda Dewa Arak. Kedua kapaknya disi- langkan di depan wajah.

"Hiyaaa...!"

Sambil mengeluatkan teriakan nyaring, Arya me- loncat menyerang. Pedang di tangan kanannya ditu- sukkan bertubi-tubi ke arah leher.

Sin®ig!

Terdengar suara mendesing nyaring yang menya- kitkan telinga, mengiringi berkelebatnya sebaris sinar berwarna putih menyilaukan mata.

Kali ini Iblis Hitam rupanya tidak berani gegabah mengandalkan keistimewaan pusakanya. Kapak di ta­ngan kirinya segera digerakkan menangkis, seraya me- miringkan tubuh bagian kanan ke bawah. Berbareng dengan itu, kapaknya diayunkan ke perut Dewa Arak.

Tranggg!

Bunga api berpijar ketika dua buah senjata pusaka beradu. Baik Dewa Arak maupun Iblis Hitam merasa- kan tangan yang menggenggam senjata tergetar hebat.

Begitu serangannya tertangkis, Dewa Arak segera melempar tubuh ke belakang dengan memarifaatkan daya dorong benturan kedua senjata tadi.

Wusss!

Sambaran kapak Iblis Hitam lewat sejengkal di depan perut Dewa Arak.Tapi Iblis Hitam yang tidak ingin memberi kesempatan lawanhya memperbaiki posisi kuda-kuda, kem­bali melompat memburu. Sepasang kapaknya berkele- batan menyambar berbagai bagian tubuh Dewa Arak.

Tapi Arya yang memang sejak semula sudah bersiap sedia, segera menghadapi amukan Iblis Hitam dengan 'llmu Pedang Pembunuh Naga'. Pedang Bin­tang A tangannya pun berkelebatan ke sana kemarl mencari sasaran.

Hebat bukan main akibat pertarungan kedua tokoh sakti ini. Angin bercicitan tajam dari udara yang terobek mengiringi setiap gerakan senjata mereka.

Pertarungan antara Dewa Arak dan Iblis Hitam berlangsung cepat, sehingga sebentar saja lima puluh jurus telah berialu. Dan sampai sejauh itu behim nampak tanda-tanda ada yang akan terdesak. Tanah sudah terbongkar di sana-sini. Debu pun mengepul tings ke udara. Sementara batu-batu besar-kecil ber- pentalan tak tentu arah. Suasana di sekitar mulut gua seketika jadi kacau-balau.

Menginjak jurus ke seratus, Dewa Arak mulai nampak terdesak. Memang dalam. hal ilmu meri- ngankan tubuh dan tenaga dalam, keduanya berimbang. Tapi dalam hal mutu ilmu silat, Iblis Hitam masih lebih unggul. Permainan sepasang kapak Iblis Hitam berada di atas mutu 'Ilmu Pedang Pembunuh Naga' milik Dewa Arak. Мака tidak mengherankan kalau perlahan namun pasti Arya mulai terdesak hebat!

"Ha ha ha...!"

Iblis Hitam tertawa bergelak. Gerakan sepasang kapak di tangannya pun semakin menghebat Dewa Arak kini hanya mampu menangkis dan mengelak. Hanya sesekali saja mengirimkan serangan balasan.

Tanpa sepengetahuan kedua orang itu, ada dua sosok yang menyaksikan pertarungan. Pendekar Go­lok Baja dan Pandora diam-diam sudah tiba di tempat itu sejak Dewa Arak dan Iblis Hitam ribut mulut sampai keduanya bertarung.

Pendekar Golok Baja mengerutkan alisnya begitu melihat gulungan sinar putih menyllaukan semakin kecil. Sementara gulungan sinar berwarna hitam se­makin merajalela. Pendekar ini segera tahu kalau Dewa Arak terdesak hebat

"Sungguh tidak kusangka kalau Iblis Hitam adalah dia...," ucap Pendekar Golok Baja setengah mengeluh. Memang, Prajasena telah mengetahui orang di balik seragam Iblis Hitam.

Kini suara orang yang berada di balik pusaka-peninggalan Iblis Hitam amat dikenalnya, karena sangat jelas terdengar. Bahkan bukan hanya Pendekar Golok Baja saja. Pandora pun mengenalnya.

"Jadi..., Tuan bisa mencegah mereka berdua mengadu nyawa...," sahut Pandora.

"Mudah-mudahan saja Pandora," ucap Pendekar Golok Baja setengah mengharap. "Mudah-mudahan saja dia masih taat pada aturan leluhur Iblis Hitam."

"Bukankah Tuan pernah bercerita... kalau aturan leluhur Tuan harus ditaati setiap keturunannya?" tanya Pandora mengingatkan.

Belum juga Pendekar Golok Baja menjawab, ter­dengar suara melengking nyaring. Seketika itu juga pandangan laki-laki gagah ini dialihkan ke arah pertempuran. Kontan sepasang matanya terbelalak. Pan­dora pun mengalihkan perhatiannya.

Rupanya saat itu Dewa Arak tengah melancarkan serangan ke arah IbBs Hitam. Batang pedangnya tiba-tiba bergetar hebat, sehingga terlihat menjadi belasan pedang yang semuanya menuju ke arah Iblis Hitam.

"Hih!"

Iblis Hitam yang tidak berani mengelakkan serang­an, segera mengayunkan kedua kapak di tangannya. Melakukan tangkisan menggunting.

Tranggg!

Bunga api memercik ke udara ketika tiga buah senjata pusaka beradu. Seketika tubuh kedua orang sakti itu sama-sama terhuyung-huyung ke belakang. Tapi, secepat itu pula keduanya kembali melancarkan serangan susulan ke arah lawan masing-masing.
Cappp! Srattt!

Perisflwa yang teijadi berlangsung begitu cepat. Pedang Bintang Dewa Arak menusuk bagian atas dada kiri Iblis Hitam. Sebaliknya, kapak di tangan kanan tokoh sesat itu menyerempet dada Arya.

Kedua tokoh sakti itu sama-sama memekik ter­tahan. Tubuh keduanya pun langsung terhuyung ke belakang. Balk Dewa Arak maupun Iblis Hitam sama- sama mendekap luka masing-masing.

Dewa Arak terkejut bukan main ketika merasakan hawa dingin yang amat sangat menyebar dari luka di dadanya. Hawa dingin yang hampir membuat sekujur ototnya mendadak kaku. Seketika itu juga tubuhnya terguling di tanah.

"Racun...," desis Dewa Arak terkejut, seraya buru-buru menjumput guci araknya. Diangkatnya ke atas kepala, dan dituangkan ke mulut Tampak jelas kalau Arya harus berjuang keras meraih guci dan menuangkan ke mulutnya. Kekakuan yang melanda sekujur otot-otot dan urut-urat tubuhnya membuat dia susah menggerakkan anggota tubuh.

Gluk... gluk... gluk...!

Suara berceglukan terdengar begitu arak melewatt kerongkongan Dewa Arak. Arya tahu kalau arak yang berada di dalam gucinya sanggup menawarkan racun. Dan itulah keistimewaan guci pusaka miliknya. Setiap racun yang, masuk ke dalam guci langsung tawar. Bahkan bukan hanya itu saja, setiap arak yang masuk ke dalam guci pusakanya langsung keras dan dapat langsung merjadi obat penawar racun.

"Ha ha ha...I"

Iblis Hitam tertawa bergelak begitu melihat Dewa Arak terkena babatan kapaknya. Sungguhpun dia sendiri teriuka, tapi jelas terlihat kalau tokoh sesat ini gembira bukan main. Iblis Hitam tahu kaiau racun kapaknya sudah bekeija.

Arya menggertakkan gigi. Racun yang terkandung dalam kapak sosok serba hitam itu ternyata benar-benar racun luar biasa. Padahal dia telah minum arak dari guci pusakanya. Tapi, kekakuan pada sekujur Otot-otot dan urat-urat di sekujur tubuhnya trtap saja tidak berkurang. Hanya rasa pening yang tadi melan- danya, kini telah lenyap.

Selangkah demi selangkah Iblis Hitam mengham­piri Dewa Arak yang teigeletak kaku di tanah. Betapapun pemuda berambut putih keperakan itu mencoba mengerahkan 'Tenaga Sakti lnti Matahari' miliknya untuk mengusir hawa dingin, namun tetap saja hasilnya nihil.

"Ha ha ha...!"

Iblis Hitam yang tahu keadaan lawannya, terns menghampiri sambil tertawa terkekeh-kekeh. Jaraknya dengan pemuda berambut putih keperakan itu tinggal lima langkah lagi.

"Hentikan, Kala Sunggi!"

Mendengar bentakan itu, Iblis Hitam terlonjak kaget bagai disengat kalajengking. Bahkan tubuhnya sampai beijingkat Jelas kegugupannya terlihat ketika kepalanya menoleh ke arah asal bentakan.

Terkejut juga hati Dewa Arak ketika melihat Iblis Hitam yang menggiriskan itu melangkah ke belakang. Sementara orang yang mengeluarkan suara bentakan tengah melangkah menghampiri tokoh sesat itu. Dia adalah Pendekar Golok Baja!

"Sudah terlalu banyak orang yang kau bunuh, Kala Sunggi Dan..., aku tidak ingin kau mengotori tanganmu dengan darah orang-orang tak berdosa lagi!" ucap Prajasena penuh wibawa. Kakinya tetap me­langkah mendekati Iblis Hitam yang diyakininya adalah Kala Sunggi "Cepat buka seragam leluhur kita! Kau tidak berhak memakainya, Kala Sunggi!"

"Tapi..., aku hanya bermaksud membalas dendam kematian ayah, Kakang Prajasena...,"

Iblis Hitam membela diri dengan suara gugup. Hilang sudah kegarangannya. Rupanya Iblis Hitam adalah Kala Sunggi, adik kandung Pendekar Golok Baja yang hilang beberapa tahun yang lalu. Kiranya Kala Sunggi menghilang setelah mencuri pusaka peninggalan Iblis Hitam, dan mempelajarinya.

"Hm.... Bukankah semua pembunuh ayah sudah kau binasakan? Bahkan aku juga tahu kalau kau telah membunuh Tengkorak Merah.; Tapi, mengapa kau hendak membunuh pemuda itu?" -desak Pendekar Golok Baja sarpbil menuding ke arah Dewa Arak.

"Dia yang mencari urusan denganku, Kang," bantah Iblis Hitam.
"Pemuda itu hanya ingin menyelamatkan teman wanitanya yang kau culik?" sentak Prajasena keras.

Iblis Hitam pun terdiam. Kepalanya tertunduk dalam.

"Ingat, Kala Sunggi. Selama masih ada aku..., kau tidak boleh mengambil peninggalan Iblis Hitam! Aku yang berhak. Itu adalah aturan turun temurun leluhur kita. Kau tahu...., sepanjang sejarah, tidak ada seorang pun keturunan leluhur kita yang menentang aturan itu. Apakah kau hendak menentangnya? Dan..., beranikah kau menentangnya?"

"Tidak, Kang. Aku tidak berani menentang," sahut Iblis Hitam lirih.

"Kalau kau sudah menyadari kesalahanmu, cepat kau berikan penawar racun untuk pemuda itu!" ucap Prajasena bemada memerintah.

"Baik, Kang," sahut Iblis Hitam seraya mengham­piri Dewa Arak yang masih tergolek di tanah. Kemu­dian mengeluarkan sebutir pil berwarna kemerahan. Lalu diberikan pada Dewa Arak yang segera menetannya.

Arya takjub. Pil berwarna kemerahan itu temyata memiliki khasiat yang sangat mujarab. Begitu masuk ke dalam perutnya, langsung bereaksi dengan cepat Perlahan-lahan rasa dingin yang melanda sekujur tubuhnya mulai berkurang. Setelah semakin berkurang, pemuda berambut putih keperakan itu mengusir pengaruh hawa dingin yang tersisa dengan mengerahkan 'Tenaga Sakti Inti Matahari'.

Sesaat kemudian Dewa Arak sudah bisa bangkit kembali.

"Cepat kau minta maaf pada Dewa Arak!" ucap Pendekar Golok Baja.

Tanpa banyak membantah, Kala Sunggi alias Iblis Hitam segera menghampiri Dewa Arak Kemudian mengulurkan tangannya.

"Maafkan semua kesalahanku, Dewa Arak," ucap Kala Sunggi pelan.

"Lupakanlah, Iblis Hitam," sahut Arya seraya menggenggam tangan tokoh sesat itu erat erat.

"O, ya... Kawanmu ada di dalam," beri tahu Iblis Hitam. Nada suaranya tidak terdengar garang lagi.

"Mari kita pergi," ajak Pendekar Golok Baja.

Sesaat kemudian, tiga sosok tubuh tadi sudah melesat meninggalkan sekitar mulut gua. Kini di tempat itu tinggal Dewa Arak seorang diri.

"Hhh...!"

Arya menghela napas lega. Sungguh tidak disangka kalau persoalan ini akan selesai begitu mudah. Sejenak ditatapnya tubuh ketiga orang yang sudah kian mengecil, sebelum kakinya sendiri bergerak cepat masuk ke gua.

Dan seperti ара yang diperlihatkan gurunya, Melati terbaring di atas balai-balai bambu. Kaki dan tangan gadis berpakaian putih itu terikat di tiap sudut balai- balai. Terikat terpentang.

"Melati...," desis Arya, antara perasaan lega dan haru yang menyemak.

"Kang Arya...," Melati balas menyahut Suaranya pelan mirip desahan. Bahkan terdengar sedikit isakan keluar dari mulutnya.

Walaupun masih tampak pucat, tapi sinar matanya memancarkan kegembiraan yang amat sangat .

Memang sejak kemarin Melati telah dicekam rasa takut pada malapetaka yang akan menimpanya. Так sanggup gadis ini membayangkan apabila yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Mungkin seumur hidup dia tidak akan berani bertemu muka dengan tunangannya.

"Kau tidak apa-apa, Melati?" tanya Dewa Arak.

Ada nada kekhawatiran yang amat sangat dalam suaranya. Sepasang matanya merayapi sekujur wajahdan tubuh Melafi dengan pandang mata cemas. Se­mentara tangannya yang menggenggam Pedang Bin­tang mengiris tali-tali yang mengikat tangan dan kaki Melati.

Tali itu ternyata alot bukan main. Pantaslah kalau Melati tidak mampu membebaskan diri, pikir Arya maklum.

"Kang Arya...!"

Melati langsung bangkit duduk. Kemudian dipeluknya tubuh Arya, begitu tali-tali pengikatnya putus. Pemuda berambut putih keperakan itu pun balas memeluk gadis yang dicintainya erat-erat, seolah-olah tidak ingin dilepaskan lagi. Diusap usapnya rambut Melati yang hitam, panjang dan indah dengan penuh kasih sayang.

"Untung kau cepat datang, Kang Arya," ucap Melati dengan suara mengandung isak. Untuk pertama kalinya Melati dicekam rasa takut yang hebat. Sepa­sang matanya berkaca-kaca menahan rasa haru.

"Lupakanlah..., semuanya sudah berlalu," ucap Dewa Arak sambil melepaskan pelukannya pedahan- lahan, kemudian menceritakan semua yang terjadi. Sementara Melati hanya mendengarkan saja. Sedangkan sepasang matanya yang bening dan indah merayapi wajah tampan di depannya.

"Mari kita tinggalkan tempat ini, sebelum hari menjadi gelap," ajak Arya.

Setelah berkata demikian, Dewa Arak pun bangkit dari duduknya seraya menggandeng tangan Melati.

Mereka berdua bergegas keluar dari gua .

Keadaan di luar gua memang telah mulai gelap .

Matahari telah condong ke Barat,Dan bercak sinar lembayung nampak di kaki langit sebelah Barat, ketika Dewa Arak dan Melati bergegas menuruni lereng gunung .

SELESAI

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Dewa Arak 13 - Peninggalan Iblis Hitam"

Post a Comment

close