Serial Dewa Arak Eps 23 - Setan Mabok

Mode Malam
Eps 23 - Setan Mabok

Hari sudah agak siang. Sang surya pun telah hampir di atas kepala. Tapi karena ada awan tebal yang menutupinya, suasana di bumi jadi agak gelap. Mendung.

Dalam suasana yang tidak panas dan angin bertiup lembut, tampak empat orang berwajah kasar sedang me-langkah memasuki sebuah kedai di Desa Koneng. Rata-rata mereka mengenakan rompi dengan sebilah golok ter-selip di pinggang.

Dengan sikap kasar dan jumawa mereka masuk ke dalam kedai, lalu mengedarkan pandangan berkeliling. Pengunjung kedai itu ternyata ramai juga, terbukti hampir semua bangku terisi.

Melihat kedatangan empat orang itu, pemilik kedai yang ternyata seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun dan bertubuh kurus kering tergopoh-gopoh me-langkah menghampiri. Wajahnya yang kurus dan terlihat kering itu dihiasi kumis dan jenggot yang jarang-jarang. Sehingga, makin menambah kegersangan wajahnya. Menilik dari sikapnya, jelas kalau pemilik kedai ini mengenal empat orang kasar itu

"Aduh, Den ...!" Belum apa apa pemilik kedai itu sudah meratap-ratap. "Kasihani aku, Den. Tolong, jangan buat keributan di sini"

Sambil berkata demikian, laki-laki kurus kering ini merangkapkan kedua tangan di depan dada sambil membungkuk-bungkukkan badan. Sementara pengunjung lain yang tengah menikmati makan pun tampak ketakutan. Kini, mereka tidak lagi menyantap makanan, melainkan bersiap-siap kaliur dari situ. Ini bisa dibuktikan dari sepasang mata mereka yang menatap liar ke sana kemari.

Tapi, rupanya keempat orang kasar itu sudah memperhitungkannya. Maka begitu masuk ke dalam kedai, dua di antara mereka telah berdiri menghadang di ambang pintu. Tangan kiri bertolak pinggang. Sementara tangan

kanan mengelus-elus dagu.

"Hmh...! Kau berani menantangku, Giri?!"

Salah satu dari dua orang kasar yang dihampiri pemilik kedai itu, mendengus. Tangan kanannya mencengkeram leher baju laki-laki bertubuh kurus kering yang ternyata bernama Giri. Sementara penduduk sekitar Desa Koneng sering memanggil dengan sebutan Ki Giri.

Dan sekali tangannya bergerak mengangkat, tubuh Ki Giri telah terangkat naik. Mau tak mau kedua kakinya kini tergantung sekitar dua jengkal di atas tanah. Apalagi orang yang melakukannya memiliki tubuh tinggi besar, dan yang pasti kepandaiannya patut diperhitungkan. Cambang bauk yang lebat tampak menghias wajahnya. Kedua tangannya yang besar-besar, juga berbulu lebat Seperti layaknya seekor monyet

Seketika wajah Ki Giri pucat karena mendapat per-lakuan seperti itu. Kakinya coba digerak-gerakkan untuk mencapai lantai. Dan memang keadaan seperti itu menyakitkan lehernya. Tapi, usahanya ini sia-sia. Kedua kakinya tetap saja tidak bisa mencapai lantai. Jarak antara kakinya dengan lantai terlalu jauh untuk bisa dijangkau.

"Ti… ti.... Tidak, Den Jagar...," meskipun terputus-putus, Giri berhasil juga membuka suara. "Mana aku berani..."

"Ha... ha... ha...!"

Jagar tertawa terbahak-bahak. Keras sekali suaranya, dan jelas dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi. Sehingga pemilik kedai itu sampai menekapkan kedua tangan pada telinganya karena merasa bising.

Begitu tawa itu selesai, tangan yang mencengkeram leher baju itu bergerak melemparkan tubuh Ki Giri. Enak saja laki-laki bertubuh tinggi besar itu melakukannya. Seolah-olah, tubuh laki-laki kurus kering itu tak ubahnya sehelai karung basah.

Ki Giri langsung menjerit ketakutan begitu tubuhnya melayang deras ke belakang. Dan....

Brakkk...!

Suara berderak keras seketika terdengar begitu tubuh pemilik kedai yang malang itu menghantam bangku dan meja. Tak pelak lagi, bangku-bangku itu terguling ke sana kemari.

Ki Giri mengaduh-aduh kesakitan. Apalagi tubuhnya sebagian besar hanya terdiri dari tulang-tulang saja. Bisa dibayangkan, betapa sakitnya terbentur bangku dan meja.

Jagar tidak mempedulikan keadaan laki-laki kurus kering itu. Begitu kepalanya diegoskan, maka seketika itu juga ketiga orang rekannya bergerak menghampiri para pengunjung kedai. Sedangkan Jagar hanya berdiam diri, sambil mengawasi dengan kedua tangan berkacak pinggang. Jelas, laki-laki bertubuh tinggi besar ini adalah pimpinan gerombolan itu.

Jagar tersenyum sambil memilin-milin kumisnya yang tebal. Matanya terus mengawasi ketiga orang rekannya yang telah mulai dengan tugas yang memang sudah direncanakan. Merampok harta para pengunjung kedai memang sudah jadi rencana mereka. Maka tentu saja hal itu membuat para pengunjung kedai panik bukan kepalang. Apalagi, bagi mereka yang kebetulan habis men-jual barang dagangannya.

"Cepat serahkan semua hartamu...!" bentak rekan Jagar yang bertubuh kurus dan berkulit kuning, pada salah seorang pengunjung kedai tanpa menghunus goloknya.

Rupanya, dia merasa tidak perlu menggunakan golok-nya. Dan sambil berkata demikian tangan kanannya diulur-kan untuk merampas buntalan uang yang terselip di pinggang.

Tapi, rupanya calon korban itu tidak sudi membiarkan begitu saja uangnya diambil. Maka diputuskanlah untuk mengadakan perlawanan, begitu melihat orang yang hendak merampas buntalan uangnya seperti orang penyakitan. Kebetulan, pengunjung ini memiliki bentuk tubuh kekar dan berotot.

Maka begitu tangan laki-laki bertubuh kurus itu me-luncur ke arah pinggang, bergegas tangannya menangkap.

Kreppp...!

Begitu tangan laki-laki berkulit kuning ini berhasil ditangkap, langsung dilayangkannya tinju kanan ke arah wajah orang yang hendak merampas uangnya.

"Hmh...! Berani kau memukul Gojang?!" dengus laki-laki bertubuh kurus yang ternyata bernama Gojang. Tangan kirinya pun seketika bergerak. Dan...

Tappp...!

Hanya sekali gerak saja, serangan laki-laki bertubuh kekar itu bisa dikandaskan. Bahkan jari-jari tangan Gojang sudah mencengkeram pergelangan tangan pengunjung kedai itu.

Gojang tidak hanya bertindak sampai di situ saja. Ber-bareng dengan gerakan tangan kiri, pergelangan tangan-nya pun diputar.

Gila! Hanya sekali memutar pergelangan saja, Gojang telah membuat cekalan laki-laki bertubuh kekar itu ter-lepas. Bahkan dengan gerak tangan luar biasa, dia malah telah balas mencekal pergelangan lawan. Hasilnya, kini Gojang telah berhasil menangkap kedua pergelangan lawan.

Sebelum laki-laki bertubuh kekar itu berbuat sesuatu, kedua tangan Gojang telah cepat bergerak membetot. Tak pelak lagi, rubuh pengunjung kedai yang sial itu tertarik deras ke depan, ke arah Gojang! Begitu kerasnya tenaga betotan itu, sampai tubuhnya terhuyung-huyung.

Langsung laki-laki bertubuh kurus itu tertawa menye-ramkan. Dan begitu tawanya habis, kepalanya digerakkan. Jelas, maksudnya adalah mengadu kepala pengunjung kedai itu dengan kepalanya sendiri. Dan karena terhuyung-huyung, kepala laki-laki bertubuh kekar itu bergerak maju lebih dulu daripada kaki atau tubuhnya.

Duggg...!

Benturan antara dua buah kepala yang begitu keras tak dapat dielakkan lagi. Menilai dari besarnya kedua kepala, sebenarnya kepala Gojanglah yang akan menerima akibat yang lebih buruk. Tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya! Laki-laki bertubuh kekarlah yang justru memekik keras kesakitan. Dari bagian dahinya yang terluka nampak mengalir darah.

Tubuh laki-laki yang sial itu seketika terkulai. Tidak pingsan atau mati, tapi lemas. Sementara kepala Gojang tetap utuh! Jangankan terluka, tergores pun tidak.

"He... he... he...!"

Gojang tertawa terkekeh-kekeh, sehingga terdengar menyeramkan sekali. Kini pegangan tangannya berpindah. Tangan kiri mencekal leher baju, dan tangan kanannya bergerak menampar wajah laki-laki bertubuh kekar itu.

Plak, plak, plak...!

Suara keras beradunya telapak tangan dengan pipi terdengar berkali-kali. Kepala pengunjung kedai yang malang itu sampai terpaling ke kanan dan ke kiri. Darah segar muncrat-muncrat dari mulutnya. Bahkan ada be-berapa benda putih sebesar kuku jari kelingking yang terlompat keluar dari dalam mulutnya. Jelas, benda itu adalah gigi.

Tanpa mengenal rasa kasihan, Gojang terus saja meneruskan tindakannya. Darah segar pun keluar lebih banyak lagi. Bahkan kali ini tidak hanya dari mulut saja, tapi juga dari hidung.

Setelah merasa puas, Gojang lalu melepaskan cekalan-nya. Akibatnya, rubuh laki-laki sial itu pun ambruk di tanah seperti sehelai kain basah.

"Cuhhh…!”

Segumpal ludah kental keluar dari mulut Gojang, dan mendarat dengan manisnya di wajah laki-laki bertubuh kekar yang sudah megap-megap seperti ikan terdampar ke darat.

Rupanya, laki-laki berkulit kuning ini masih belum puas dengan apa yang dikerjakannya. Sambil menyeringai kejam yang nampak di mulutnya, kakinya ditaruh di kepala laki-laki bertubuh kekar. Dan sekali kakinya bergerak menekan, nyawa pengunjung kedai yang sial itu melayang ke alam baka seiring terdengarnya suara gemeretak ketika kepala itu pecah berantakan.

Darah segar pun kembali muncrat-muncrat.

"Ha... ha... ha...!"

Gojang tertawa terbahak-bahak. Keras sekali sehingga membuat suasana di dalam kedai menjadi gaduh. Apalagi ketika ketiga orang kasar lainnya pun tertawa pula. Bahkan dinding-dinding kedai itu sampai bergetar seperti akan runtuh.

Melihat kejadian mengenaskan yang menimpa laki-laki bertubuh kekar itu, karuan saja membuat nyali para pengunjung lain menjadi ciut. Mereka kini pasrah saja ketika rekan-rekan Jagar merampas semua harta benda yang ada.

Tapi meskipun tidak ada yang mengadakan perlawanan, bukan berarti para pengunjung kedai bebas dari ke-kejaman. Dan memang, tetap saja mereka mendapat hadiah dari tiga orang kasar itu.

Suara pukulan-pukulan nyaring terdengar silih berganti diiringi jerit dan keluh kesakitan dari mulut pengunjung kedai.

Tubuh-tubuh pengunjung yang sial itu satu persatu roboh di lantai. Memang, tidak ada seorang pun yang tewas kecuali laki-laki bertubuh kekar tadi. Tapi meskipun begitu, tidak ada seorang pun di antara mereka yang sanggup berdiri.

Darah kini telah membasahi lantai kedai. Semua pengunjung kedai menderita luka yang lumayan. Ada yang patah kaki, namun tidak sedikit yang patah tangan atau copot giginya.

"Ha... ha... ha...!"

Jagar tertawa keras begitu melihat ketiga orang rekannya telah menyelesaikan tugas, dan bergerak menghampirinya dengan harta rampasan di tangan.

"Terima kasih, Ki Giri…!" seru laki laki bercambang bauk lebat itu dengan suara keras menggelegar. "Lain kali, kami pasti datang lagi...!"

Masih sambil tertawa-tawa, Jagar dan kawan-kawannya melangkah meninggalkan kedai. Tidak ada seorang penduduk pun yang mengetahui atau mendengar adanya keributan di situ. Memang, letak kedai agak jauh dari rumah-rumah penduduk lainnya. Tambahan lagi, pada saat seperti ini sebagian besar penduduk Desa Koneng tengah berada di sawah. Tidak heran, karena penduduk desa itu sebagian besar adalah petani.

Suasana kembali menjadi sepi ketika Jagar dan rekan-rekannya telah cukup jauh meninggalkan tempat itu. Kini yang terdengar hanyalah suara rintihan dan keluhan dari mulut-mulut orang yang terluka.

***

Belum berapa lama Jagar dan ketiga rekannya meninggalkan kedai milik Ki Giri, nampak seorang laki-laki berwajah gagah dan berpakaian kuning berjalan perlahan mendekati kedai.

Usia laki-laki itu tak kurang dari tiga puluh tahun. Kumis dan jenggotnya terawat baik, sehingga menambah kegagahannya. Sebatang pedang bergagang kepala naga juga tampak tersampir di punggung. Bisa ditebak kalau laki-laki ini memiliki kepandaian saat ini bisa dibuktikan dengan adanya sulaman benang hijau bergambar seekor naga di bagian dada sebelah kiri pakaiannya.

Dengan langkah gesit dan ringan, laki-laki berkumis rapi ini melangkah memasuki pintu kedai. Tapi baru sebelah kakinya masuk ambang pintu, dia terperanjat melihat sosok-sosok tubuh yang bergeletak tak tentu arah di lantai. Bahkan beberapa buah meja dan kursi nampak terbalik. Malah ada beberapa di antaranya yang patah-patah.

Kalau saja laki-laki berjenggot rapi ini tidak bersiul-siul sewaktu melangkah menghampiri kedai, mungkin akan terdengar rintihan dan keluhan dari mulut para pengunjung kedai yang terluka.

"Ki…!”

Laki-laki berkumis rapi ini berseru ketika melihat Ki Giri yang tengah berusaha bangkit. Memang, di antara semua orang yang berada di situ, laki-laki bertubuh kurus kering inilah yang menderita luka paling ringan. Dari ucapannya, bisa diketahui kalau laki-laki berkumis rapi ini mengenal Ki Giri.

Sambil berseru demikian, laki-laki berkumis rapi itu ber-gerak cepat menghampiri tubuh pemilik kedai. Menilik dari gerakannya yang cepat bisa diperkirakan kalau tingkat kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng.

"Apa yang terjadi, Ki?! Katakanlah...!" desak laki-laki berkumis rapi, ketika tubuhnya sudah berjongkok di dekat tubuh Ki Giri. Ada suara gemeretak keras keluar dari mulutnya, pertanda kalau dirinya tengah dilanda perasaan geram.

"Para pengacau datang, merampok dan menganiaya para pengunjung kedai ini. Den Subarji...." Jelas Ki Giri dengan suara tersendat-sendat

Laki-laki berjenggot rapi yang ternyata bernama Subarji mengepalkan kedua tangannya, sehingga terdengar bunyi berderak keras seperti ada tulang-tulang yang patah.

Ki Giri mengangguk.

"Siapa, Ki?!" tanya Subarji lagi.

"Jagar dan kawan-kawannya," jawab Ki Giri pelan, mirip desahan.

"Hm.... Kiranya Jagar....”

Subarji mengangguk-anggukkan kepala. Dia memang telah sering mendengar nama Jagar, sebagai orang yang selalu membuat onar. Bukan hanya di Desa Koneng saja, tapi juga di desa-desa sekitarnya. Maka meskipun belum pernah bertemu, tapi Subarji telah mengetahui ciri-ciri laki-laki bertubuh tinggi besar itu.

"Baru saja mereka pergi, Den Subarji...," Ki Giri kembali membuka suara.

"Ke arah mana perginya, Ki?"

"Barat, Den."

Memang, Ki Giri tadi sempat melihat kepergian Jagar dan kawan-kawannya ke samping kanan kedainya. Dan itu berarti mereka pergi ke arah Barat

"Kalau begitu, mereka harus cepat kukejar...! Orang-orang seperti mereka harus dilenyapkan selama-lamanya."

Setelah berkata demikian, Subarji segera bangkit berdiri dan melesat keluar kedai. Dan secepat tubuhnya telah berada di luar, secepat itu bergerak mengejar ke arah Barat.

***

2

Subarji berlari cepat mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh yang dimiliki. Ucapan Ki Giri yang memberi tahu kalau Jagar dan rekan-rekannya belum lama meninggalkan kedai, membuatnya bertindak seperti itu.

Ternyata, pemberitahuan pemilik kedai itu tidak salah. Belum berapa lama Subarji berlari, di kejauhan terlihat empat sosok tubuh yang berjalan cepat. Kontan semangat laki-laki berkumis rapi ini bangkit. Meskipun belum pasti kalau keempat sosok tubuh itu adalah orang yang dicari, tapi melihat dari jumlahnya, Subarji yakin kalau yang dilihatnya adalah Jagar dan kawan-kawannya.

Karena Subarji berlari mengerahkan ilmu meringankan tubuh, sementara empat sosok tubuh itu berlari seenak-nya, maka jarak di antara mereka semakin lama semakin bertambah dekat. Seiring semakin bertambah dekatnya jarak, maka sosok-sosok tubuh itu pun semakin jelas terlihat

Dan begitu jarak di antara mereka terpisah lima tombak lagi, Subarji yakin kalau empat sosok itu adalah orang-orang yang dikejarnya.

Memang meskipun hanya melihat dari belakang, laki-laki berjenggot rapi ini bisa mengetahui kalau empat sosok tubuh di hadapannya adalah Jagar dan ketiga orang rekan-nya. Dia telah mendengar kalau Jagar selalu mengenakan rompi berwarna kuning, yang pada bagian belakangnya bergambar seekor kelabang. Dan kini gambar itu telah dilihatnya.

Jagar dan tiga orang rekannya yang tengah berbincang-bincang, sama sekali tidak mengetahui kalau di belakang ada orang yang mengejar. Mereka terus saja berlari tanpa mengerahkan ilmu meringankan tubuh.

"Berhenti...!"

Keempat orang kasar ini baru terkejut ketika mendengar bentakan. Belum juga mereka menyadari, sesosok bayangan kuning telah melesat melewati kepala mereka dan tahu-tahu telah berdiri menghadang.

Bagai diberi aba-aba, keempat orang ini berhenti melangkah. Kini kedua belah pihak berdiri berhadapan dalam jarak sekitar tiga tombak, dengan mata saling mengamati.

"Hmh…!"

Jagar mendengus geram begitu melihat sosok bayangan kuning telah menghadang perjalanan mereka. Memang dia tidak mengenal orang yang menghadang ini. Tapi dari pakaian yang dikenakan, dan sulaman gambar naga dari benang hijau pada dada sebelah kiri, bisa diketahui asal perguruan laki-laki berkumis rapi ini.

"Tikus usilan dari Perguruan Naga Hijau rupanya...," kata laki-laki bercambang bauk lebat ini sambil tersenyum mengejek.

Jagar memaki Subarji demikian karena Perguruan Naga Hijau beraliran putih. Para muridnya selalu menentang tindak kejahatan. Tidak heran jika murid-murid perguruan yang telah cukup kemampuannya, harus mengamalkan ilmu. Mereka kebanyakan menyebar di berbagai desa. Dan Subarji memilih tinggal di Desa Koneng, desa kelahirannya.

"Jadi, kau rupanya yang bernama Jagar...," kata Subarji.

Ada nada kegeraman dalam suara Subarji. Ditatapnya sosok tubuh tinggi besar di hadapannya penuh selidik dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Ooo... Kau baru tahu rupanya?" Jagar tersenyum sinis. "Memang! Akulah Jagar! Lalu, kau mau apa?!"

"Pasti kau dan rekan-rekanmu ini yang telah merampok kedai Ki Giri, bukan?!"

Subarji langsung mengedarkan pandangan ke arah buntalan kain yang dibawa keempat orang berwajah kasar di depannya.

"Ha... ha... ha...! Tidak salah...!" jawab Jagar, lantang. "Kau ingin merampasnya kembali? Silakan!"

Subarji menggertakkan gigi mendengar kata-kata bernada tantangan itu. Sementara, tiga orang rekan Jagar segera melemparkan buntalan-buntalan kain yang berisi harta rampasan di tanah. Memang, harta yang dirampas dari para pengunjung kedai, biasa dimasukkan ke dalam buntalan kain.

"Kirim tikus usilan itu ke neraka...!" perintah Jagar pada ketiga orang rekannya.

Srattt, srattt, srattt...!

Sinar-sinar terang berkeredep tatkala ketiga orang kasar itu menghunus golok masing-masing, seiring lenyapnya perintah laki-laki bertubuh tinggi besar itu. Mereka tahu, lawan yang kali ini dihadapi tidak sama dengan orang-orang di kedai. Maka, tanpa ragu-ragu mereka segera menggunakan senjata.

Begitu golok telah berada dj tangan, ketiga orang itu menyebar mengurung Subarji. Sudah bisa ditebak maksudnya. Ingin menyerang laki-laki berjenggot rapi ini dari tiga jurusan.

"Hm...."

Sambil menggumam, Subarji mencabut pedangnya. Sepasang matanya beredar berkeliling, memperhatikan gerak-gerik ketiga orang lawan yang semakin dekat dan semakin mengurungnya. Telah diputuskannya untuk melenyapkan gerombolan Jagar sebelum semakin meraja-lela dan menimbulkan korban baru. Itulah sebabnya Subarji langsung menghunus senjatanya.

"Haaat...! "

Sambil mengeluarkan pekik nyaring, laki-laki berkulit kuning mendahului menyerang. Goloknya meluncur deras ke arah dada. Memang, saat itu dia berhadapan dengan lawannya.

Belum juga serangan laki-laki bertubuh kurus itu tiba, serangan dari dua orang lain datang menyusul. Orang yang berada di kanan, menyabetkan goloknya ke arah leher. Sementara yang di kiri menusuk ke arah pinggang.

Suara angin mendesir cukup nyaring mengiringi tibanya ketiga serangan yang masing-masing mampu mengantarkan nyawa ke alam baka bila mendarat.

Namun Subarji tetap bersikap tenang. Melihat dari kecepatan serangan itu, sudah bisa diketahui kalau ilmu meringankan tubuh ketiga orang lawan cukup jauh di bawahnya, itulah sebabnya, dia tidak terburu-buru ber-tindak.

Baru ketika serangan itu menyambar semakin dekat, Subarji menjejakkan kakinya. Sesaat kemudian, tubuhnya melayang ke atas. Maka semua serangan lawan hanya mengenai tempat kosong, lewat di bawah kakinya.

Tindakan laki-laki berkumis rapi ini tidak hanya sampai di situ saja. Begitu tubuhnya berada di udara, pedang di tangannya langsung meluncur deras ke arah ubun-ubun laki-laki bertubuh kurus. Sementara kaki kanannya menendang ke arah kepala lawan yang berada di sebelah kanan. Sedangkan lawan yang berada di sebelah kiri, disampok dengan tangan kirinya ke arah pelipis.

Balasan serangan mendadak ini tentu saja membuat ketiga orang rekan Jagar terperanjat. Apalagi, datangnya terlalu tiba-tiba! Mereka baru mengetahui adanya bahaya setelah serangan itu mendekati sasaran. Hembusan angin cukup keras yang mengiringi tibanya serangan, membuat mereka sadar akan adanya bahaya mengancam.

Karena mengelak sudah tidak mungkin lagi, maka ketiga orang kasar itu pun memutuskan untuk menangkis. Laki-laki bertubuh kurus menangkis dengan golok, sementara dua rekannya menangkis dengan tangan kanan.

Tranggg, plakkk, plakkk...!

Suara berdentang keras diiringi suara tangan dan kaki berbenturan terdengar bertubi-tubi. Akibatnya, tubuh ketiga orang rekan Jagar terhuyung-huyung ke belakang. Sekujur tangan yang digunakan untuk menangkis seketika bergetar hebat dan terasa ngilu bukan main. Jelas, tenaga dalam mereka masih jauh di bawah lawan.

Sebuah keuntungan bagi mereka, karena Subarji tidak bisa melancarkan serangan susulan. Keadaannyalah yang tidak memungkinkan. Tubuhnya saat itu tengah berada di udara. Maka begitu semua lawan terhuyung-huyung sehabis menangkis serangan, kedua kakinya pun men-darat di tanah.

Begitu laki-laki berkumis rapi ini hinggap di tanah, ketiga orang lawannya telah berhasil memperbaiki sikap kembali. Bahkan kemudian kembali menyerang.

Dan kini pertarungan sengit pun terjadi. Baik Subarji maupun ketiga orang rekan Jagar, sama-sama mengerah-kan seluruh kemampuan masing-masing. Kedua belah pihak memang sudah berniat merobohkan lawan secepat-nya.

Suara bercuitan yang cukup nyaring pun terdengar mengiringi pertarungan itu. Masing-masing pihak mengeluarkan ilmu andalan dalam usaha untuk meroboh-kan lawan.

Tapi, ternyata Subarji terlalu lihai untuk bisa di-pecundangi ketiga lawannya. Belum juga pertarungan menginjak jurus kesepuluh, laki-laki berkumis rapi itu sudah bisa mendesak lawan-lawannya, hingga terpontang-panting ke sana kemari dalam usaha menyelamatkan selembar nyawa.

"Keparat..!"

Jagar menggertakkan gigi melihat keadaan rekan-rekannya yang terdesak. Maka goloknya segera dicabut dan dengan senjata tercekal di tangan, laki-laki bertubuh tinggi besar ini melompat menerjang. Jadi, kini Subarji dikeroyok empat orang!

Mau tak mau, Subarji harus berjuang lebih keras lagi untuk menanggulanginya. Memang dengan ikut sertanya Jagar dalam kancah pertarungan, membuat keadaan ketiga orang rekannya tidak terlalu dikejar-kejar maut seperti tadi.

Tapi ketiga orang berwajah kasar itu tidak bisa terlalu lama menarik napas lega. Bantuan dari Jagar ternyata hanya berguna tak lebih dari tiga puluh jurus saja. Setelah masuknya laki-laki bercambang bauk lebat itu pun, justru Subarji kembali berhasil mendesak kembali.

Betapapun Jagar dan ketiga rekannya berusaha keras menanggulangi Subarji, tapi terap saja tidak mampu. Kepandaian laki-laki berkumis rapi itu memang masih lebih tinggi dibanding mereka berempat. Padahal, seluruh kemampuan yang dimiliki telah dikeluarkan. Bahkan semakin lama mereka semakin terdesak. Sampai pada suatu saat...

Crasss...!

Telak dan keras sekali pedang Subarji membabat leher laki-laki yang bertubuh kurus. Kontan darah memercik keras dari leher yang terobek ujung pedang. Tubuh laki-laki berkulit kuning itu terpelanting jatuh ke tanah, laki diam tak bergerak lagi untuk selamanya. Suara mengorok terdengar keluar dari mulutnya sebelum tewas.

Gerombolan Jagar menggeram hebat melihat kematian salah seorang rekan mereka. Tapi apa daya? Subarji memang terlalu lihai dihadapi! Darah yang keluar dari leher laki-laki bertubuh kurus itu belum juga berhenti ketika dua orang rekan Jagar yang tersisa menjerit keras. Pedang Subarji kembali telah menelan korban! Tubuh mereka langsung jatuh ke tanah, dan diam tidak bergerak lagi.

Jagar meraung melihat kematian ketiga orang rekannya. Tanpa mempedulikan keselamatannya lagi, laki-laki ber-tubuh tinggi besar itu melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Subarji. Tak dipedulikan lagi pertahanannya yang terbuka di sana-sini. Yang ada di benaknya hanya satu. Membalas kematian ketiga orang rekannya, meskipun harus kehilangan nyawa!

Tapi bagaimana mungkin Jagar dapat melakukannya? Dengan dibantu tiga orang rekannya saja tidak mampu mengalahkan Subarji, apalagi kini yang tinggal hanya dia seorang. Semua serangannya dengan mudah dapat dipatahkan lawan. Dan kini robohnya Jagar hanya tinggal menunggu saat saja.

Dan belum juga pertarungan kedua orang itu ber-langsung lama, tiba-tiba....

"Telah lama kudengar kalau orang-orang Perguruan Naga Hijau memang usil! Tapi baru kali ini kulihat sendiri kenyataannya. Mereka menganggap orang lain jahat karena sering membunuhi orang. Tapi, padahal apa yang mereka lakukan? Membelai-belai orang? Sama sekali tidak! Justru yang kulihat malah sebaliknya! Orang Per-guruan Naga Hijau membunuhi orang seperti membunuh nyamuk! Keji! Sungguh keji!"

Jagar dan Subarji terperanjat. Meskipun suara itu terdengar pelan saja, tapi mengandung getaran yang membuat isi dada terguncang hebat. Maka dengan sendiri-nya, pertarungan antara kedua orang itu pun terhenti.

Baru saja gema suara itu lenyap, meluncur cepat bagai kilat seleret benda hitam yang langsung membelit mata pedang Subarji.

Karuan saja laki-laki berkumis rapi ini terkejut bukan main. Dan sebelum sempat berbuat sesuatu, benda hitam panjang yang ternyata sebuah cambuk berwarna hitam telah membetot pedangnya. Keras bukan main tenaga tarikan itu, sehingga Subarji sama sekali tidak menyangka. Bahkan tidak mampu mempertahankan senjatanya.

Subarji tidak rela pedangnya dirampas. Maka segera tubuhnya melompat untuk menangkap kembali senjatanya. Matanya juga sempat sekilas melihat pemilik cambuk itu. Seorang laki-laki bertubuh kecil kurus, mengenakan rompi berwarna hitam. Sebaris bulu-bulu berwarna hitam dan tebal menghias atas bibirnya.

Hanya ciri-ciri itu yang sempat dilihat Subarji, karena dirinya harus sudah sibuk merampas kembali pedangnya. Tapi sungguh di luar dugaan, belitan cambuk itu mengendur. Tak pelak lagi, pedang Subarji terjatuh di tanah. Dan sebelum laki-laki berkumis rapi ini berbuat sesuatu, ujung cambuk itu telah memapak lompatannya, dan langsung melecut dadanya.

Ctarrr...!

Subarji menggigit bibir untuk menahan rasa sakit yang mendera dada ketika ujung cambuk itu telak dan keras sekali menghantam dada. Seketika itu juga, tubuhnya terjengkang kembali ke belakang. Darah kental langsung menetes di sudut-sudut bibirnya.

Meskipun begitu, Subarji masih mampu membuktikan kalau dirinya bukan tokoh sembarangan. Kedua kakinya masih mampu mendarat di tanah walaupun agak ter-huyung-huyung,

"Hmh...!"

Laki-laki kecil kurus berkumis tebal mendengus. Dan kini sama sekali tidak dilancarkannya serangan lagi. Sikapnya jelas memandang rendah sekali pada Subarji.

Subarji tidak mempedulikannya. Dirinya tengah disibuk-kan rasa sakit yang mendera dadanya. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu dihembuskannya kuat-kuat sekadar untuk menghilangkan rasa sakit.

Ctarrr...!

Ledakan cambuk membuat laki-laki berkumis rapi ini terkejut dan bersiap-siap menghadapi serangan susulan. Tapi ternyata tidak ada serangan yang tertuju ke arahnya. Cambuk hitam itu sama sekali tidak menuju ke arahnya, tapi ke arah pedang miliknya yang tertancap di ranah.

Rrrttt..!

Laksana ular membelit mangsanya cambuk itu melilit batang pedang. Dan begitu laki-laki berkumis tebal ini bergerak membetot pedang itu pun tercabut.

"Kukembalikan pedangmu...!" seru laki-laki bertubuh kecil kurus itu.

Sesaat kemudian pedang yang terlilit cambuk itu meluncur deras ke arah Subarji hingga mengeluarkan suara mendesing nyaring. Padahal, kelihatannya pelan saja cambuk itu bergerak. Dari pertunjukan ini saja sudah bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki pemilik cambuk itu.

Sementara itu Subarji terkejut bukan kepalang. Terdengar suara mengaung mengiringi tibanya luncuran pedang itu. Maka laki-laki berjenggot rapi ini segera menjumput sarung pedangnya, langsung menangkis serangan itu. Tanpa tanggung-tanggung lagi segera

dikeluarkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.

Trakkk...!

Sarung pedang itu kontan hancur berantakan ketika kedua benda itu saling berbenturan. Subarji terkejut bukan kepalang. Tangannya seketika terasa sakit dan ngilu bukan kepalang Tubuhnya pun tanpa dapat ditahan lagi ter-huyung-huyung ke belakang. Jelas kalau tenaga yang terkandung dalam luncuran pedang itu lebih kuat daripada tenaga dalam miliknya.

Hal ini benar-benar membuat Subarji terperanjat. Apalagi, diketahuinya kalau tenaga dalam lawan belum seluruhnya dikeluarkan sewaktu melemparkan pedang dengan cambuk. Baru dengan tenaga sebegitu saja Subarji sudah tidak mampu bertahan. Lali bagaimana kalau pemilik cambuk itu mengerahkan seluruhnya? Sulit bagi laki-laki berkumis rapi ini untuk membayangkannya.

Mendadak tubuh Subarji yang terhuyung-huyung, ber-henti seketika tatkala membentur sosok tubuh berpakaian kuning yang mendadak muncul di belakangnya.

Karuan saja hal ini membuat Subarji kaget. Secepat tubuhnya membentur, secepat itu pula melompat ke depan. Tubuhnya langsung berbalik dan bersikap siap siaga menghadapi serangan mendadak.

Tapi sekujur urat-urat syaraf dan otot-otot laki-laki berkumis rapi ini mengendur kembali ketika melihat sosok tubuh yang dibenturnya.

"Guru...!" sebut Subarji seraya melangkah menghampiri dan memberi hormat.

Dia ternyata seorang kakek bertubuh tinggi kekar. Orang yang dipanggil guru oleh Subarji langsung tersenyum. Raut wajahnya memang menyenangkan bagi orang lain yang melihatnya. Wajahnya bulat seperti juga perutnya, dan selalu dihiasi senyum. Rambutnya yang putih, digelung ke atas.

"Menyingkirlah, Subarji...! Dia bukan tandinganmu...!" ujar kakek bertubuh tinggi kekar itu.

Terdengar sungguh-sungguh dan penuh perintah ucapan yang dikeluarkan kakek itu. Tapi begitu melihat wajahnya, orang akan mengira kalau dia tengah bercanda! Kakek itu mengucapkan perintah begitu sungguh-sungguh, disertai senyum di bibir dan sepasang mata bersinar-sinar seperti orang menang lotre! Selebar wajahnya pun merautkan kegembiraan.

Tanpa menunggu perintah dua kali, laki-laki berkumis rapi ini segera melangkah mundur. Dibiarkan saja gurunya itu melangkah mendekati si pemilik cambuk. Telah diketahuinya kelihaian gurunya. Maka Subarji percaya kalau kakek berwajah penuh senyum itu akan mampu mengalahkan lawan.

"Ha... ha... ha...!" laki-laki berompi hitam itu tertawa ber-gelak. "Sungguh tidak kusangka kalau kau bisa keluar dari kandangmu yang menjijikkan itu, Buntara!"

Kakek berwajah penuh pesona yang ternyata bernama Buntara, sama sekali tidak merasa marah atau tersinggung atas pertanyaan yang bernada kasar. Bahkan mulutnya tetap menyunggingkan senyum lebar.

"Aku terpaksa keluar dari kandang untuk mengambil sisa kotoranku yang tertinggal di sini. Dan kaulah kotoran itu. Kera Bukit Setan!"

Luar biasa sekali ucapan Buntara. Meskipun dikeluar-kan dengan wajah penuh keceriaan, namun mampu membuat kuping panas. Seketika selebar wajah laki-laki berompi hitam yang berjuluk Kera Bukit Setan jadi merah padam menahan amarah.

Sementara kedua orang itu terlibat dalam adu mulut, Jagar dan Subarji sibuk dengan urusan masing-masing. Jagar tampak sibuk menenangkan deru napasnya yang masih memburu sehabis bertarung dengan Subarji. Sementara, laki-laki berkumis rapi itu tampak menahan geram. Sehingga, tampak wajahnya masih memerah.

Meskipun begitu, tidak berarti kalau kedua orang itu tidak mendengar percakapan antara Buntara dengan Kera Bukit Setan. Dan karena itulah mereka tahu, kedua orang yang tengah berhadapan itu ternyata saling mengenal satu sama lain.

Sama sekali Subarji dan Jagar tidak mengetahui kalau Buntara maupun Kera Bukit Setan sudah saling mengenal. Di samping itu, Subarji juga tidak kenal siapa Kera Bukit Setan itu. Juga Jagar tidak tahu, siapa Buntara itu. Mereka hanya mengetahui dari ciri-ciri yang pernah didengar.

Kera Bukit Setan menggeram. Dia memang tidak bisa berdebat. Maka begitu mendapat balasan makian dari Buntara, dia tidak bisa membalasnya.

Sambil menghentakkan kaki sehingga membuat tanah amblas sampai semata kaki, laki-laki berompi hitam ini menyelipkan cambuknya di pinggang.

"Tidak ada seorang pun yang boleh menghina Kera Bukit Setan...!" teriak laki-laki bertubuh kecil kurus keras.

Dan belum habis gema ucapan itu, tubuhnya telah meluruk cepat ke arah Buntara. Kedua tangannya yang berbentuk cakar, meluncur cepat ke arah dada dan ulu hati secara bertubi-tubi.

***

3

Wuttt, Wuttt...!

Deru angin keras terdengar begitu serangan cakar Kera Bukit Setan meluncur cepat ke arah sasaran.

Buntara tahu kedahsyatan serangan yang mengandung tenaga dalam kuat itu. Apabila terkena, batu yang paling keras pun akan hancur berantakan. Maka, laki-laki tua itu tidak berani bersikap main-main. Buru-buru kaki kanannya melangkah ke kanan sambil mendoyongkan tubuh. Pada saat yang bersamaan, tangan kirinya dikibaskan ke arah pelipis lawan.

Wukkk...!

Kera Bukit Setan tidak terkejut melihat serangan lawan, karena memang sudah diperkirakan. Baik mengenai serangannya yang dapat mudah dielakkan, maupun balasan serangan itu sendiri.

Karena sudah memperkirakannya, maka laki-laki kecil kurus ini sudah bersiap-siap menangkalnya. Buru-buru tangan kirinya digerakkan untuk menangkis serangan itu. Arah gerakannya dari dalam ke luar.

Takkk...!

Suara keras seperti terjadi benturan antara dua benda logam terdengar ketika kedua tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi itu beradu.

Tubuh Kera Bukit Setan langsung terhuyung-huyung ke belakang. Mulutnya seketika menyeringai, jelas benturan itu terasa benar akibatnya. Sekujur tulang-tulang tangan kirinya terasa sakit bukan kepalang. Disadarinya kalau tenaga dalam Buntara berada di atasnya. Buktinya, kakek berwajah penuh senyum itu sama sekali tidak terpengaruh oleh benturan tadi.

Tapi Kera Bukit Setan sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Begitu kekuatan yang membuat tubuhnya terdorong habis, kembali dilancarkannya serangan susulan.

Buntara yang kini sudah bisa memperkirakan kepandaian lawan, segera menyambutnya. Tak pelak lagi, pertarungan antara kedua tokoh yang sama-sama sakti itu pun berlangsung sengit.

Jagar dan Subarji memperhatikan jalannya pertarungan dengan penuh perhatian. Meskipun mereka tidak bisa melihat terlalu jelas karena begitu cepatnya kedua tokoh itu bergerak, tapi setidak-tidaknya bisa memperkirakan siapa yang mulai unggul.

Memang karena perbedaan pakaian yang dikenakan antara kedua tokoh itu terlalu menyolok, sehingga mem-buat Jagar dan Subarji tidak mengalami kesulitan me-mastikannya.

Karena cepatnya pertarungan kedua tokoh itu, maka yang terlihat hanyalah sekelebatan bayangan kuning dan hitam. Terkadang saling belit, tapi tak jarang pula saling pisah.

Berkali-kali Jagar dan Subarji melihat kalau bayangan hitam sering keluar dari kancah pertarungan. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena sosok bayangan kuning langsung memburunya. Sehingga, dua bayangan itu kembali saling belit.

Ternyata perbedaan tingkat kepandaian antara kedua tokoh itu terpaut terlalu jauh. Buktinya, belum juga pertarungan itu berlangsung dua puluh lima jurus, Kera Bukit Setan sudah terdesak. Kini tokoh sesat ini selalu bermain mundur, dan hanya sesekali saja menangkis. Namun, ternyata menangkis serangan justru merugikan dirinya sendiri. Maka dia memutuskan untuk mengelak. Hal ini disebabkan, tenaga dalamnya berada cukup jauh di bawah lawan.

"Hih...!"

Kera Bukit Setan menggertakkan gigi seraya melompat ke belakang. Dan begitu kedua kakinya menjejak tanah, cambuknya langsung dilecutkan. Dia benar-benar khawatir kalau lawan akan menyerangnya.

Tapi ternyata Buntara sama sekali tidak melancarkan serangan susulan. Kakek berwajah penuh senyum itu membiarkan lawannya melompat ke belakang, sehingga serangan cambuk sama sekali tidak mengenainya. Ujung cambuk itu meledak di udara, menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga.

Buntara tidak berani bertindak gegabah. Padahal tingkat kepandaiannya memang lebih tinggi daripada tingkat kepandaian yang dimiliki Kera Bukit Setan. Dan memang, dia tidak mau meladeni lawan yang menggunakan senjata andalan dengan tangan kosong. Sebab, akibat yang dihadapinya tidak kecil.

Maka begitu melihat lawan mengeluarkan senjata andalan, dia pun segera menjumput pedangnya.

Srattt..!

Sinar terang berpendar ketika pedang itu keluar dari sarungnya.

Kini dengan senjata andalan di tangan masing-masing, kedua tokoh sakti itu kembali saling gebrak. Maka, kini serangan-serangan kedua tokoh itu berlangsung lebih sengit. Suara mengaung, mendesing, dan meledak-ledak meramaikan pertarungan antara Buntara dan Kera Bukit Setan.

Tapi hanya beberapa puluh jurus saja pertarungan antara kedua tokoh sakti itu berlangsung cukup seru. Menginjak jurus ketiga puluh lima, Kera Bukit Setan kembali terdesak. Suara meledak-ledak yang keluar dari lecutan cambuknya perlahan semakin jarang terdengar. Sebaliknya, suara mendesing dan mengaung yang kini sering terdengar.

Menjelang jurus keempat puluh tiga, keadaan Kera Bukit Setan semakin gawat. Tubuhnya sudah terpontang-panting ke sana kemari dalam upaya menyelamatkan selembar nyawa. Sudah bisa diperkirakan, tewasnya laki-laki bertubuh kecil kurus ini hanya tinggal menunggu saatnya saja.

Kini ledakan cambuk laki-laki berompi hitam itu sudah hampir tidak terdengar lagi. Yang terdengar hanyalah suara mendesing dan mengaung dari pergerakan pedang Buntara yang memekakkan telinga.

"He... he... he...! Lucu! Lucu sekali...! Ada kambing kurus dan kerbau gendut tengah menari-nari! Menari-nari..., la... la... la...!"

Suara pelan dan tak jelas seperti keluar dari mulut orang yang tengah mengigau terdengar. Itu pun masih di-tambah lagi dengan suara tegukan keras. Tampaknya pemilik suara itu tengah menenggak minuman dengan cara kasar.

Hebatnya, sungguhpun terdengar pelan saja, tapi suara itu mampu mengalahkan suara desingan dan aungan ribut yang keluar dari gerakan pedang Buntara!

Buntara dan Kera Bukit Setan terkejut bukan main. Sebagai tokoh sakti yang berpengalaman, mereka segera tahu ada tokoh tangguh luar biasa datang. Bagai diberi aba-aba, kedua orang ini segera melompat ke belakang dan langsung menoleh ke arah asal suara. Dengan sendirinya, pertarungan pun terhenti.

Sekitar lima tombak di sebelah kanan mereka, tampak berdiri seorang kakek bertubuh pendek gemuk dan ber-perut buncit. Kepalanya botak dan licin. Tidak ada sedikit pun bulu yang menghiasi wajahnya. Bahkan sama sekali tidak memiliki alis!

Karena perut kakek itu gendut sekali, rompi yang terbuat dari anyaman bulu burung garuda itu sama sekali tidak mampu menutupi bagian depan tubuhnya. Tampak di tangan kanan kakek ini tergenggam sebuah guci besar yang selalu dituang ke mulutnya.

Glek.. glek... glek...!

Suara tegukan terdengar ketika kakek berperut buncit itu menuangkan arak dalam guci besar itu ke mulutnya. Kini jelas sudah, mengapa tadi sewaktu kakek itu berkata-kata terdengar juga suara tegukan.

Beberapa tetes arak jatuh ke tanah ketika kakek ber-kepala botak itu menuangkan araknya. Bahkan sekitar mulutnya dibasahi arak.

Dengan gerakan kasar dan sembarangan, kakek ber-perut buncit itu mengusap mulut dengan punggung tangan, sehabis menuangkan arak. Kemudian, guci arak itu di-turunkan dari atas wajahnya seraya melangkah maju.

Buntara dan Kera Bukit Setan mengerutkan alisnya melihat kakek berkepala botak itu berkali-kali hampir jatuh ketika melangkah. Tubuhnya oleng ke sana kemari. Jelas, kakek ini dalam keadaan mabuk.

Mendadak wajah kedua tokoh sakti itu memucat ketika teringat seorang tokoh yang mempunyai ciri-ciri seperti itu. Seorang tokoh sesat yang tak kenal ampun, dan sudah lama mengasingkan diri. Sehingga, julukannya sudah mulai dilupakan orang! Setan Mabuk, itulah julukannya! Tapi bukankah tokoh yang menggiriskan ini tinggal di Gunung Langkat, yang jauh dari tempat ini? Mengapa sampai tiba di sini? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak kedua orang itu.

***

"He he he...! Mengapa berhenti. Sapi Gendut..?!" sambil melangkah sempoyongan, kakek berkepala botak yang berjuluk Setan Mabuk itu menegur Buntara. "Mengapa tarian sapi gendut itu dihentikan?!"

Mendengar kata-kata yang bernada hinaan, selebar wajah Wakil Ketua Perguruan Naga Hijau itu merah padam. Meskipun begitu, tetap saja raut wajahnya tidak menampakkan kemarahan. Wajah Buntara tetap cerah, dan senyum tetap mengembang di bibirnya. Sepasang matanya pun berbinar-binar.

"Kau juga, Kambing Kurus. Mengapa berhenti menari? Teruskan...!"

Sambil berkata demikian. Setan Mabuk kembali mengangkat guci araknya yang besar, dan menuangkan ke mulutnya.

Glek... glek... glek...!

Suara tegukan keras terdengar ketika arak itu melalui tenggorokan kakek berkepala botak itu.

"Ah...! Nikmaaat..!"

Dengan punggung tangan. Setan Mabuk mengusap tumpahan arak yang membasahi sekitar mulutnya. Kasar sekali caranya. Bahkan berkesan menjijikkan.

"Keparat...!"

Kera Bukit Setan berteriak memaki. Laki-laki berompi hitam ini tidak tahan dihina seperti itu. Maka....

Ctarrr...!

Suara menggelegar keras diiringi mengepulnya asap berwarna putih terdengar ketika ujung cambuk itu melecut di udara. Baru kemudian, ujung cambuk itu meluncur cepat ke arah ubun-ubun kepala Setan Mabuk.

Kejam dan telengas sekali gerakan Kera Bukit Setan. Sekali menyerang sudah meluncurkan serangan yang dapat membuat nyawa kakek berkepala botak itu pergi ke alam baka. Ubun-ubun merupakan salah satu bagian terlemah pada tubuh manusia. Dan kini, ujung cambuk yang mampu menghancurkan batu karang itu meluncur deras ke bagian itu.

Buntara terperanjat juga melihat serangan maut itu. Apalagi, tampaknya Setan Mabuk seperti tidak mengetahui adanya bahaya. Dia masih sibuk mencium-cium bau araknya.

Melihat hal ini, semula kakek berwajah penuh senyum itu ingin menolong. Tapi niatnya segera diurungkan ketika teringat kalau kakek ini memiliki kepandaian amat tinggi. Hal itu bisa diketahui dari suara Setan Mabuk yang mampu menindih suara gerakan pedangnya. Padahal, tokoh sesat pemabukan itu hanya pelan saja mengucapkannya.

Tindakan Buntara menahan gerakannya ternyata tepat sekali. Buktinya, begitu ujung cambuk itu hampir mengenai sasaran, tanpa mengangkat wajah, Setan Mabuk mengulur tangan menyambut.

Wajah Buntara dan Kera Bukit Setan berubah seketika. Apa yang dilakukan Setan Mabuk benar-benar di luar dugaan! Ujung cambuk yang mampu menghancurkan batu yang paling keras sekalipun, hanya ditangkis dengan tangan kosong! Suatu hal yang tidak akan mungkin dapat dilakukan Buntara!

Itulah sebabnya, tindakan Setan Mabuk benar-benar menimbulkan keterkejutan Buntara dan Kera Bukit Setan. Apalagi, cara kakek berkepala botak itu memapak, seperti-nya tanpa mengerahkan tenaga dalam sama sekali. Gerakannya begitu sembarangan saja!

Prattt..!

Telak dan keras sekali ujung cambuk itu berbenturan dengan tangan Setan Mabuk. Dan sebelum Kera Bukit Setan sempat berbuat sesuatu, tangan kakek berbaju rompi bulu burung itu bergerak menangkap. Dan...

Tappp...!

Tanpa mampu dicegah, ujung cambuk Kera Bukit Setan telah tertangkap tangan Setan Mabuk. Dan secepat cambuk itu tercekal, secepat itu pula kakek berkepala botak ini membetotnya.

Kera Bukit Setan tentu saja tidak merelakan senjata andalannya dirampas. Maka begitu lawan membetot, seluruh tenaga dalamnya dikerahkan untuk mempertahankannya.

Tapi usaha yang dilakukan laki-laki berompi hitam ini sia-sia. Tenaga betotan itu memang terlalu kuat. Karena bersikeras mempertahankan cambuk, maka Kera Bukit Setan pun ikut tertarik ke depan.

Masih bersikap sembarangan, Setan Mabuk kembali menggerakkan tangannya. Kali ini tangan yang meng-genggam cambuk diputar-putarkan.

Gila! Betapapun Kera Bukit Setan berusaha memper-tahankannya, tetap saja tubuhnya ikut terbawa arah gerakan tangan Setan Mabuk. Dan kini tubuh laki-laki berompi hitam itu terputar-putar di udara. Dan dengan sendirinya, Kera Bukit Setan tidak mampu mengadakan perlawanan lagi. Tidak ada lagi landasan baginya untuk dijadikan tempat menahan putaran tangan lawan. Kini, dia hanya bisa pasrah saja.

"He... he... he...! Menarik sekali..! Ada kambing kurus yang bisa terbang dan berputaran di udara...!"

Setan Mabuk tertawa-tawa gembira. Bahkan juga menambah tenaga putaran tangannya, sehingga membuat putaran tubuh Kera Bukit Setan semakin cepat.

Laki-laki kecil kurus itu menggigit bibir. Pening kepala-nya karena diputar-putar seperti itu. Sekelilingnya tampak berputar cepat. Disadari, kalau tidak berbuat sesuatu, keadaannya semakin gawat.

***

Buntara memperhatikan semua itu dengan mata terbelalak. Kalau tidak melihatnya sendiri, dia mungkin tidak akan percaya akan kenyataan ini. Telah dibuktikan-nya sendiri kelihaian Kera Bukit Setan. Tapi, mengapa Setan Mabuk mampu melumpuhkannya dalam se-gebrakan? Sulit dibayangkan, sampai di mana ketinggian ilmu kakek berkepala botak ini.

Melihat kenyataan ini saja, Buntara tahu kalau dirinya pun bukan tandingan kakek pemabukan itu. Tapi meskipun begitu, kakek berwajah penuh senyum ini tidak sudi ber-sikap pengecut dan melarikan diri. Buntara memutus-kan untuk tetap berada di situ, dan melihat perkembangan yang akan terjadi.

Sementara itu putaran tubuh Kera Bukit Setan semakin menjadi-jadi. Tubuh laki-laki berompi hitam itu sudah tidak tampak lagi oleh pandangan mata, karena tubuhnya begitu cepat berputar. Yang terlihat kini hanyalah sekelebatan bayangan hitam yang berputaran cepat di atas kepala Setan Mabuk.

"He... he... he...! Sekarang kambing kurus ini akan pergi ke neraka...!"

Setelah berkata demikian, kakek berkepala botak itu melepaskan cekatannya pada cambuk itu. Tak pelak lagi, tubuh yang tengah berputaran itu terlontar jauh!

Bagai diberi aba-aba, tiga buah kepala sama-sama memandang ke arah tubuh Kera Bukit Setan melayang. Kepala Buntara, Jagar, dan Subarji mengikuti arah tubuh Kera Bukit Setan yang meluncur deras.

Kera Bukit Setan saat itu sudah setengah sadar. Rasa pusing dan mual seketika berkumpul menjadi satu. Bahkan telah hampir pingsan! Mungkin kalau Setan Mabuk sedikit menunda lemparannya, laki-laki kecil kurus ini sudah pingsan.

Karena masih ada kesadaran yang tersisa, sehingga membuat Kera Bukit Setan berusaha menyelamatkan selembar nyawanya. Dia berusaha melihat keadaan tempat tubuhnya meluncur. Tapi rasa pusing yang mendera, membuat pandangannya tetap berputar.

Dalam kesadaran yang hanya tinggal sedikit itu, laki-laki berompi hitam ini berusaha terus menggunakan akalnya. Dia tahu, saat ini pandangannya tidak bisa diandalkan. Betapapun telah dipaksakan melihat ke depan, tetap saja seperti berputar.

Maka, untung-untungan laki-laki kecil kurus ini men-julurkan kedua tangannya ke depan seraya mengerahkan seluruh tenaga dalam. Maksudnya, agar bila membentur pohon besar atau batu, kedua tangannya itulah yang menahannya lebih dulu. Dan karena tangannya telah dilindungi pengerahan tenaga dalam, kemungkinan untuk celaka kecil sekali.

Srakkk...!

Rupanya keberuntungan masih bersahabat dengan Kera Bukit Setan. Dan memang, ternyata tubuhnya meluncur deras ke arah semak-semak. Suara berkerosakan nyaring yang diakhiri suara berdebuk keras terdengar ketika tubuh laki-laki berompi hitam itu menerobos kerimbunan semak dan roboh di tanah.

"He... he... he...! Rupanya nasib kambing kurus itu bagus juga...!" kata Setan Mabuk sambil terkekeh.

Setan Mabuk dan juga tiga orang lainnya terus memperhatikan tubuh Kera Bukit Setan. Guci arak kakek berkepala botak itu segera diangkat kembali ke arah wajah, lalu menuangkan isinya ke mulut. Suara tegukan nyaring kembali terdengar ketika arak itu meluncur menuju perutnya.

Dengan gerakan kasar, kakek berkepala botak itu menurunkan kembali guci araknya, lalu dipegang dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya, dengan gerakan kasar mengusap mulutnya yang penuh ceceran arak di sana-sini.

"He... he... he. .! Kalian pun akan mengalami hal yang serupa apabila tidak mau menunjukkan di mana Dewa Arak sekarang berada. He... he... he...!"

Dengan terputus-putus karena pengaruh hawa arak, kakek berkepala botak itu mengucapkan ancaman seraya melangkah terhuyung-huyung mendekati Buntara.

"Dewa Arak...?!"

Hampir berbareng Buntara, Subarji, dan Jagar meng-gumamkan julukan itu. Raut wajah mereka seketika mem-bayangkan keterkejutan yang hebat.

"He... he... he...! Benar! Dewa Arak...!" dengan suara tawa terkekeh yang tidak pernah tinggal dari mulutnya, kakek berkepala botak itu menyahuti. Jelas, pengaruh araklah yang membuatnya mudah sekali tertawa. "Kalau tidak mau memberi tahu di mana dia berada, kalian akan mengalami nasib yang sama."

Sambil berkata demikian, Setan Mabuk menatap tajam ke arah Buntara. Sepasang mata kakek berkepala botak ini tampak merah menyala. Entah karena memang warna matanya yang demikian, atau karena terlalu banyak minum arak.

"Aku memang sering mendengar nama besarnya. Tapi aku tidak tahu di mana adanya pendekar besar itu. Andaikan tahu, tidak bakalan akan kuberitahukan padamu!"

Tegas dan mantap kata-kata yang keluar dari mulut kakek berwajah penuh senyum itu. Jelas, seperti men-cerminkan kekukuhan yang tidak mungkin mampu digoyahkan. Apalagi sehabis mengucapkan kata-kata itu, Buntara menyilangkan pedangnya di depan dada. Semakin terlihat keteguhan hatinya memegang ucapannya. Hanya saja, raut wajah kakek ini tidak terlihat bersungguh-sungguh. Sehingga orang yang melihatnya, akan mengira Buntara bersikap main-main.

"He... he... he...!" Setan Mabuk kembali tertawa terkekeh-kekeh. "Rupanya sapi gendut ini minta cepat-cepat disembelih!"

Buntara sama sekali tidak mempedulikan hinaan itu. Bahkan tanpa ragu-ragu lagi segera melangkah mendekati. Langkahnya tidak sembarangan, tapi menyilang. Semen-tara sepasang matanya beredar mencari-cari bagian tubuh lawan yang akan diserang.

"He... he... he...!"

Setan Mabuk hanya tertawa terkekeh saja melihat sikap lawannya, dan tampak memandang remeh sekali.

"Haaat..!"

Diiringi teriakan keras yang menggetarkan jantung, dan membuat kedua kaki Jagar dan Subarji mendadak lemas, Buntara menusukkan pedang ke arah dada Setan Mabuk. Suara mendesing nyaring dari udara yang terobek terdengar ketika pedang itu meluncur menuju sasaran.

***

4

Setan Mabuk tertawa terkekeh. Kemudian dengan langkah terhuyung seperti akan jatuh, kakinya melangkah ke kanan sambil mendoyongkan tubuh. Maka serangan itu pun kandas, lewat setengah jengkal di samping kiri tubuhnya.

Buntara menggertakkan giginya. Rasa penasaran melanda hatinya. Maka begitu serangan pertamanya ber-hasil dielakkan, segera disusuli dengan serangan bertubi-tubi lainnya.

Wakil Ketua Perguruan Naga Hijau ini mengerahkan seluruh kemampuannya. Pedang di tangannya ber-kelebatan cepat ke arah berbagai bagian tubuh lawan. Menusuk, membacok, menetak, dan menyontek. Tapi, tak satu pun yang mengenal sasaran. Setan Mabuk dengan gerakan seperti akan jatuh, membuat semua serangan Buntara kandas percuma!

Meskipun berkali-kali serangannya gagal, kakek ber-wajah penuh senyum itu tidak putus asa. Dia terus melancarkan serangan bertubi-tubi. Tekadnya tidak akan membiarkan lawan melancarkan serangan balasan.

Sampai dua puluh jurus lebih, Buntara mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menjatuhkan serangan pada anggota tubuh Setan Mabuk. Tapi semua usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil seperti yang diharap-kan. Setan Mabuk dengan gerakan-gerakan aneh benar-benar membuat serangan Buntara jadi kandas.

"He... he... he...! Kini giliranku, Sapi Gendut..!" kata Setan Mabuk.

Dan begitu ucapannya selesai, gerakannya pun berubah mendadak. Tidak lagi lemas dan meliuk-liuk seperti akan jatuh. Namun kejang, keras, dan kasar penuh kekuatan.

Dan kini tangan kanan Setan Mabuk mendadak dan tiba-tiba meluncur deras ke arah pelipis.

Buntara terkejut bukan kepalang menghadapi perubahan yang begitu mendadak ini, sehingga membuat-nya agak gugup. Tanpa pikir panjang lagi dia melompat ke belakang.

Usaha kakek berwajah penuh senyum ini ternyata tidak sia-sia. Sambaran tangan itu berhasil dielakkan, lewat beberapa jengkal dari sasaran semula.

Tapi serangan Setan Mabuk ternyata tidak hanya sampai di situ. Begitu serangan pertama berhasil dielak-kan, segera menyusuli dengan serangan selanjutnya.

Kini setelah kakek berkepala botak itu melancarkan serangan balasan, dan tidak hanya mengelak saja seperti sebelumnya, Buntara baru merasakan betapa dahsyat lawannya. Memang diakui dia kalah dalam segala-galanya dibanding Setan Mabuk. Baik ilmu meringankan tubuh, tenaga dalam, maupun mutu ilmu silat.

Dan begitu kakek berkepala botak mulai balas menyerang, serangan Buntara berhenti seketika. Wakil Ketua Perguruan Naga Hijau ini hanya mampu mengelak. Tubuhnya harus terpontang-panting ke sana kemari untuk menghindari serangan yang berkali-kali hampir merenggut nyawanya.

Kini Buntara hanya mampu mengelak. Menangkis pun hanya kalau ada kesempatan saja. Bila mengelak sudah tidak memungkinkan lagi, sementara menyerang pun hanya sekali-sekali saja dilakukannya. Kakek berpakaian kuning ini benar-benar terdesak hebat. Sudah bisa dipasti-kan kalau robohnya Wakil Ketua Perguruan Naga Hijau ini hanya tinggal menunggu waktu saja.

Wuttt..!

Dengan gerakan tidak terduga-duga karena posisi kakinya tidak tetap. Setan Mabuk mengayunkan gucinya ke arah kepala Buntara.

Karena tidak ada kesempatan mengelakkan serangan, terpaksa Buntara memutuskan untuk menangkis demi menyelamatkan selembar nyawanya.

Tranggg..!

Suara berdentang nyaring terdengar ketika pedang Buntara berbenturan dengan guci Setan Mabuk. Akibatnya, kakek berwajah penuh senyum itu langsung memekik tertahan. Tangannya terasa lumpuh, sehingga tanpa dapat ditahan pedangnya terlepas dari pegangan dan terlempar jauh.

Sebelum Buntara berhasil memperbaiki posisi, tangan Setan Mabuk telah meluncur deras ke arah dadanya. Dan....

Bukkk...!

Tubuh Buntara terlempar ke belakang diiringi suara berderak keras dari tulang-tulang yang patah terkena pukulan. Darah segar langsung berceceran seiring melayangnya tubuh kakek berwajah penuh senyum itu.

Brukkk...!

Tidak ada geliat-geliat pada tubuh Buntara begitu menghantam tanah. Memang, nyawa Wakil Ketua Perguruan Naga Hijau ini telah melayang selagi tubuhnya berada di udara.

"He... he... he...!"

Setan Mabuk tertawa terkekeh-kekeh melihat lawannya kini diam tidak bergerak lagi. Sejenak, diperhatikannya tubuh yang tergolek diam di tanah.

***

Subarji terpaku menatap mayat gurunya. Tapi, hanya sesaat saja dia berlaku demikian. Karena, kemarahan yang amat sangat telah menyadarkannya kembali dari ke-terpakuan.

Maka, sambil meraung keras seperti binatang buas ter-luka, Subarji melompat ke atas. Beberapa kali tubuhnya berputar di udara, lalu dari atas pedangnya menusuk cepat ke arah ubun-ubun.

"He... he... he...!"

Setan Mabuk hanya tertawa terkekeh. Dengan gerakan sembarangan, tangan kanannya segera terulur. Dan….

Tappp…!

Sungguh di luar dugaan, mata pedang Subarji berhasil ditangkap! Bahkan tidak sedikit pun tangan Setan Mabuk terluka. Dan secepat senjata itu tertangkap, secepat itu pula dibetotnya.

Tak pelak lagi, tubuh Subarji pun tertarik ke bawah. Tenaganya memang jauh di bawah tenaga Setan Mabuk. Jadi, tidak aneh jika dia ikut tertarik ke bawah sewaktu kakek berkepala botak itu membetotnya. Apalagi, keadaannya memang tidak memungkinkan. Tubuhnya tengah berada di udara, dan tidak memiliki tandasan untuk berpijak.

Begitu tubuh Subarji telah tertarik. Setan Mabuk langsung menyodokkan pedang yang digenggamnya.

Blesss...!

"Akh...!”

Subarji menjerit keras ketika gagang pedang miliknya amblas ke dalam perutnya sendiri hingga sampai ke punggung. Darah segar seketika muncrat-muncrat dari lukanya. Dan begitu kakek berkepala botak itu melepaskan pegangan, tubuh Subarji ambruk ke tanah. Sebentar laki-laki berkumis rapi itu menggelepar, lalu diam tak berkutik lagi. Mati.

Perhatian Setan Mabuk kini beralih pada Jagar yang berdiri dalam jarak sekitar tujuh tombak di hadapannya.

"Tahan, Setan Mabuk..!" seru Jagar keras seraya men-julurkan kedua tangannya ke depan.

Laki-laki bertubuh tinggi besar ini sengaja buru-buru berteriak mencegah, sebelum kakek berkepala botak itu melakukan tindakan terhadapnya.

"He... he... he...! Mengapa, Lutung Jelek?! Apakah kau tahu di mana Dewa Arak sehingga berani mencegahku? Perlu kau ketahui, aku tidak akan mengampunimu kalau kau tidak memberi tahu di mana adanya orang yang berani-beraninya menyaingi julukanku!"

Jagar menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Ucapan kakek berkepala botak itu membuatnya merasa gentar bukan kepalang.

"Aku memang tidak mengetahui di mana Dewa Arak, Setan Mabuk. Tapi aku tahu, bagaimana caranya supaya dia datang mencarimu!"

Setan Mabuk mengangguk-anggukkan kepala.

"He... he... he...! Bagus! Bagus sekali...! Bagaimana caranya, Lutung Jelek?!"

Sambil berkata begitu. Setan Mabuk melangkah meng-hampiri Jagar. Tentu saja dengan langkahnya yang ter-huyung-huyung seperti akan jatuh.

Kedua kaki Jagar mendadak lemas tatkala kakek ber-kepala botak itu mendekatinya. Rasa gentar dan ngeri membuat kedua kakinya lemas mendadak.

"Buat kekacauan saja...! Pasti, Dewa Arak akan datang."

"Kalau dia tidak muncul, bagaimana...?!"

"Pasti datang, Setan Mabuk'" sahut Jagar yakin. "Aku tahu betul, Dewa Arak adalah orang yang mempunyai sifat usilan. Dia selalu ikut campur urusan orang lain."

Jagar menghentikan ucapannya sejenak. Diperhatikan-nya wajah Setan Mabuk lekat-lekat. Tegang hatinya ketika melihat kakek berkepala botak itu mengernyitkan dahinya, pertanda tengah berpikir keras. Dua pilihan kini tengah ditunggunya. Apakah Setan Mabuk ini menolak, atau menerimanya.

"Aku yakin, dia akan muncul ke tempat kekacauan itu, Setan Mabuk. Karena aku tahu. Dewa Arak telah berada di wilayah ini. Itu kudengar dari mulut perampok Hutan Gembor yang diampuninya."

"He... he... he...! Kau benar, Lutung Jelek! Aku pun men-dengarnya. Itulah sebabnya, mengapa aku keluar dari tempatku. Ingin kulihat, seperti apa orang yang berani menyaingi julukanku! He... he... he..!"

"Kalau begitu, aku akan menghubungi rekan-rekanku dulu. Setan Mabuk."

"He... he... he.... Untuk apa, Lutung Jelek?!"

"Tentu saja untuk membuat kekacauan di mana-mana. Tapi..."

"Tapi apa?!" sentak Setan Mabuk begitu Jagar meng-hentikan ucapannya.

Terlihat Jelas, laki-laki bercambang bauk lebat itu merasa ragu-ragu meneruskan ucapannya. Jagar tidak langsung menjawab, dan hanya berdiam diri dengan sikap gugup.

"Cepat katakan, sebelum kesabaranku hilang dan kau kujadikan bangkai..!" ancam Setan Mabuk.

Wajah Jagar seketika memucat mendengar ancaman kakek berkepala botak itu. Dia tahu. Setan Mabuk tidak pernah bermain-main dengan ancamannya. Laki-laki ber-tubuh tinggi besar ini merasakan adanya nada kesung-guhan dalam ucapan tokoh sesat yang menggiriskan itu.

"Selama ini, tindakan kami selalu dihalang-halangi murid-murid Perguruan Naga Hijau...," sahut Jagar dengan nada terpaksa.

"He... he... he...! Kukira apa! Tak tahunya hanya itu saja, Lutung Jelek?! Mengenai Perguruan Naga Hijau, biar aku yang urus! Aku akan datang ke sana untuk memusnahkan perguruan itu selama-lamanya!" tandas Setan Mabuk. Keras dan lantang suaranya.

"Tapi... Tapi..., di tiap desa ada murid-murid Perguruan Naga Hijau yang menetap, Setan Mabuk...!"

Kakek berkepala botak itu kebingungan sesaat.

"Kau boleh pergi dengan si kambing kurus itu...!" kata tokoh sesat pemabukan itu sambil menudingkan telunjuk-nya ke arah kerimbunan semak-semak, tempat Kera Bukit Setan tadi terjatuh.

Tak puas hanya dengan menunjuk. Setan Mabuk melangkah menghampiri kerimbunan semak-semak itu. Luar biasa! Hanya sekali langkah saja, tubuhnya telah melesat sejauh sebelas tombak. Dari sini saja sudah bisa diketahui, betapa tingginya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kakek berkepala botak ini. Tidak heran dalam sekejapan saja, dia sudah berada di tempat yang dituju.

Srakkk…!

Terdengar suara berkerosak ketika semak itu tersibak.

Dan bertepatan dengan terkuaknya kerimbunan semak-semak itu. Kera Bukit Setan baru saja bangkit dari ber-baringnya.

"Kau mau menjadi anak buahku, Kambing Kurus?!" tanpa menunggu lebih lama lagi. Setan Mabuk langsung mengajukan pertanyaan.

Tanpa pikir panjang lagi. Kera Bukit Setan menganggukkan kepala.

"Jawab kalau kutanya, Kambing Kurus?!" sergah kakek berkepala botak itu keras.

"Aku bersedia...!" jawab Kera Bukit Setan.

"He... he... he...! Sekarang dengar baik-baik perintahku." Langsung saja Setan Mabuk memberi perintah. "Kau ber-sama lutung jelek itu harus membuat kekacauan di setiap desa. Dan bila telah melihat kedatangan Dewa Arak, segera beri tahu aku...! Mengerti?!"

"Mengerti, Setan Mabuk."

"He... he... he...! Bagus...! Bagus...! Kau memang tidak terlalu dungu, Kambing Kurus!"

Sambil berkata demikian, tangan Setan Mabuk bergerak menepuk-nepuk pipi Kera Bukit Setan yang hanya bisa berdiam diri saja. Laki-laki berompi hitam ini tahu, tidak ada gunanya melawan kakek berperut buncit itu. Melawan, berarti mati. Maka lebih baik mengalah saja.

"Ada satu lagi yang perlu kau ingat, Kambing Kurus," sambung Setan Mabuk lagi.

"Apa itu, Setan Mabuk?!"

"Setiap membuat kekacauan, jangan kau membinasa-kan semua orang. Sisakan beberapa orang agar memberi laporan pada Dewa Arak. Katakan! Bila Dewa Arak tidak ingin semua ini terjadi, dia harus datang dan meladeni tantanganku! Jelas?!"

"Jelas!" Kera Bukit Setan menganggukkan kepala.

"Kalau begitu, pergilah...!"

Kakek berkepala botak ini lalu mengibaskan tangannya. Perlahan saja kelihatannya, tapi akibatnya tubuh Kera Bukit Setan terlempar jauh. Apalagi laki-laki kecil kurus ini sama sekali tidak menduga mendapat perlakuan seperti itu.

Baru ketika tubuhnya telah berada di udara, Kera Bukit Setan berusaha keras agar tubuhnya tidak terbanting di tanah. Dengan kelihaiannya, tidak sulit mematahkan daya lontaran itu. Kemudian, kakinya mendarat ringan dan mantap di sebetah Jagar.

"Ingat! Kalau main-main, tahu sendiri akibatnya...!"

Seketika tubuh Setan Mabuk pun berkelebat dari situ. Hanya dalam beberapa kali lesatan saja, tubuhnya sudah berupa titik hitam. Semakin lama semakin mengecil, dan akhirnya lenyap di kejauhan.

"Hhh...!"

Hampir berbareng Jagar dan Kera Bukit Setan menghela napas lega. Kini hati mereka tenang kembali begitu Setan Mabuk tidak terlihat lagi. Keduanya kemudian saling pandang sejenak

"Kau bersedia menjadi anak buahnya?" tanya Kera Bukit Setan sambil menatap wajah Jagar lekat-lekat.

"Apa boleh buat, daripada nyawaku melayang," sahut laki-laki bercambang bauk lebat itu. "Toh, tidak ada ruginya mempunyai pimpinan seperti dia. Kepandaiannya luar biasa! Bersama dia, aku akan bebas berbuat semauku tanpa takut lagi pada orang-orang usilan dari Perguruan Naga Hijau! Dan pasti perguruan itu tak lama lagi akan musnah!"

"Heh...?!" Kera Bukit Setan terperanjat "Benarkah ucapanmu itu?"

Jagar mengangguk.

"Setan Mabuk pergi ke sana untuk menghancurkannya."

Kera Bukit Setan mengangguk-anggukkan kepala per-tanda mengerti.

***

Setan Mabuk berlari cepat mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya. Tokoh sesat berkepala botak itu ingin buru-buru tiba di tempat yang ditujunya. Padahal, markas Perguruan Naga Hijau terletak cukup jauh dari tempatnya sekarang berada. Namun bila dibanding desa-desa lainnya. Desa Koneng memang ter-letak paling dekat dengan Perguruan Naga Hijau di lereng Gunung Koneng.

Berkat ilmu meringankan tubuh yang sudah amat tinggi, dalam waktu tak berapa lama kakek berkepala botak ini telah berada di kaki Gunung Koneng. Dan kini, dia mulai sibuk mendaki ke atas.

Lincah dan gesit laksana kera, Setan Mabuk ber-lompatan ke sana kemari. Tubuhnya melenting ke atas, kemudian hinggap pada batu-batuan yang menonjol. Begitu ujung kakinya menotok bebatuan, tubuhnya kembali melenting ke atas. Begitu seterusnya. Memang bagi seorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh sepertinya bukan merupakan hal yang sulit untuk melakukan semua itu.

Tak lama kemudian, pandangan matanya sudah menangkap bangunan besar dan megah di kejauhan.

Melihat hal ini, semangat Setan Mabuk pun semakin bertambah. Dan dengan demikian, larinya pun semakin cepat pula.

Sementara itu di Perguruan Naga Hijau, dua orang murid penjaga gerbang tampak mengernyitkan dahi. Mereka melihat di kejauhan ada sesosok tubuh yang tengah bergerak mendekati perguruan. Karena belum mengetahui maksud kedatangan sosok tubuh yang tengah bergerak, kedua orang itu harus bersikap waspada.

"He... he... he...!"

Begitu telah berjarak dua tombak dengan kedua orang penjaga pintu gerbang. Setan Mabuk tertawa terkekeh, setelah terlebih dahulu menghentikan langkahnya. Kemudian, diangkatnya guci yang sejak tadi digenggam dengan tangan kiri.

Dan kini terdengar suara tegukan ketika cairan arak melewati tenggorokan kakek berkepala botak itu.

"Siapa kau?!" tegur seorang murid Perguruan Naga Hijau yang berkulit kemerahan. "Apa keperluanmu datang kemari?"

"He... he... he...!"

Setan Mabuk menurunkan guci araknya, seraya mengusap sekitar mulutnya yang basah dengan punggung tangan. Kemudian dengan keadaan tubuh doyong ke sana kemari, kakinya melangkah mendekati kedua orang murid Perguruan Naga Hijau.

"Aku? Kau bertanya siapa diriku. Kodok Buduk?! He... he... he...! Lucu! Kau tidak mengenalku? Aku Setan Mabuk! Dengar, Setan Mabuk! Dan keperluanku adalah akan membasmi perguruan kalian!"

"Keparat!" maki penjaga pintu gerbang yang seorang lagi.

Dan...

Srattt...!

Sinar terang berkilatan ketika penjaga itu meloloskan pedang dari sarungnya.

"Cabut senjatamu, Setan Mabuk! Sebelum pedang di tanganku merobek-robek perutnya yang bulat seperti guci arakmu!"

"Hm...!" terdengar suara gumaman dari hidung Setan Mabuk.

Mendadak...
Pruhhh...!

Dari mulut Setan Mabuk tiba-tiba keluar butir-butir arak. Rupanya kakek berperut buncit ini tadi tidak meminum arak seluruhnya. Sebagian disimpannya di mulut, dan langsung disemburkan ke arah murid Perguruan Naga Hijau yang telah menantangnya.

Semburan arak Setan Mabuk tidak bisa dianggap remeh, karena dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi. Sehingga, semburan itu tak ubahnya luncuran anak panah.

Kedua orang murid Perguruan Naga Hijau yang menjaga pintu gerbang seketika terperanjat Apalagi, rekan si laki-laki berkulit kemerahan yang mendapat serangan itu. Dengan agak gugup pedangnya digerakkan untuk menangkis serangan semburan arak itu.

Tring, tring. tring...!

Tasss, tasss, tasss…!

"Akh...!"

Murid Perguruan Naga Hijau menjerit memilukan ketika butiran-butiran arak itu mengenai beberapa bagian wajahnya. Akibatnya mengerikan sekali. Sekujur wajah yang terkena semburan arak itu berlubang. Darah segar langsung menetes dari bagian yang terkena. Tak pelak lagi, selebar wajah murid yang sial itu dipenuhi darah. Rasa sakit dan perih yang amat sangat mendera rekan laki-laki berkulit kemerahan itu.

Dan belum sempat murid yang sial itu berbuat sesuatu, tangan Setan Mabuk telah bergerak melambai. Seketika murid Perguruan Naga Hijau itu tertarik keras ke depan. Dan begitu tubuhnya telah dekat, kakek berkepala botak itu mengayunkan gucinya ke arah kepala.

Wuttt ! Prakkk..!

Suara berderak keras mengiringi pecahnya kepala rekan laki-laki berkulit kemerahan. Cairan merah bercampur putih seketika muncrat-muncrat. Tubuh orang itu langsung ambruk tanpa bersuara lagi. Saat itu juga, nyawa murid Perguruan Naga Hijau seketika melayang meninggalkan raganya

Laki-laki berkulit kemerahan terperanjat melihat kematian kawannya secara begitu mudah dan mengerikan. Tapi sesaat kemudian, rasa terkejutnya segera sirna dan berganti kemarahan yang amat sangat. Kakek ini datang-datang telah menurunkan tangan maut pada rekannya. Ini tidak bisa didiamkan.

Srattt...!

Laki-laki berkulit kemerahan itu pun mencabut pedang, dan langsung menusukkannya ke arah dada kakek berperut buncit.

"He... he... he...!"

Setan Mabuk hanya tertawa terkekeh. Sama sekali tidak dipedulikannya sambaran pedang yang meluncur cepat ke arah perutnya.

Takkk...!

Pedang murid Perguruan Naga Hijau langsung terpental kembali begitu mengenal sasaran. Sepertinya, yang ditusuk laki-laki berkulit kemerahan adalah gumpalan karet kenyal! Maka laki-laki berkulit kemerahan itu terperanjat begitu melihat perut lawan sama sekali tidak terpengaruh oleh tusukan pedangnya. Bahkan justru tangannya yang terasa bergetar hebat.

Belum lagi rasa terkejutnya hilang, tangan Setan Mabuk telah mencengkeram pangkal lehernya. Langsung dibentur-kannya kepala murid Perguruan Naga Hijau dengan kepalanya sendiri.

Prakkk...!

Terdengar suara berderak keras ketika kepala laki-laki berkulit kemerahan itu hancur berantakan. Tubuhnya limbung sejenak, lalu ambruk ke tanah. Sebentar dia menggelepar, kemudian tak berkutik lagi.

"He... he... he...!”

Setan Mabuk tertawa terkekeh melihat lawan tak ber-daya lagi. Kemudian bagaikan melempar sebuah karung basah, mayat laki-laki berkulit kemerahan itu dicampakkan begitu saja ke tanah. Lalu, tokoh sesat itu melesat ke dalam.

***

Baru saja melewati pintu gerbang yang memang terbuka, di hadapan Setan Mabuk telah berdiri belasan orang berseragam kuning bergambar naga pada dada kirinya. Semuanya murid Perguruan Naga Hijau. Rupanya, mereka mendengar adanya keributan di luar, sehingga berbondong-bondong menuju ke luar.

Betapa terkejutnya hati murid-murid Perguruan Naga Hijau begitu melihat seorang kakek berkepala botak telah melesat masuk sambil tertawa terkekeh-kekeh. Dari sikapnya yang kasar, bisa diduga golongan kakek gendut itu berasal. Tidak salah lagi! Pasti golongan hitam!

Melihat orang kasar seperti kakek itu bisa masuk ke dalam, sudah dapat dipastikan kalau masuknya pasti dengan cara paksa. Dan itu berarti dua orang penjaga pintu gerbang telah berhasil digilasnya. Tanda noda darah di bagian kepala Setan Mabuk kian memperjelas persoalannya.

"He... he... he...!"

Setan Mabuk tertawa terkekeh melihat keterkejutan belasan murid Perguruan Naga Hijau di hadapannya. Kakek berkepala botak ini memang sudah memutuskan untuk menghancurkan Perguruan Naga Hijau, bukan karena ingin membantu Jagar, tapi karena ingin membuat kerusuhan sebanyak mungkin agar Dewa Arak muncul.

Maka tanpa sungkan-sungkan lagi, segera diserbunya belasan murid Perguruan Naga Hijau yang memang sudah bersiap dengan senjata di tangan.

Sekali menyerang, Setan Mabuk langsung mengeluar-kan ilmu andalannya, 'Seribu Satu Gerakan Setan Mabuk'. Kedua tangannya yang terbentuk cakar aneh, guci, dan juga araknya dikeluarkan untuk menghadapi belasan orang pengeroyoknya.

Sepak terjang Setan Mabuk benar-benar menggiriskan. Setiap kali tangan, guci, atau araknya meluncur, sudah dapat dipastikan ada sosok tubuh yang ambruk ke tanah. Dalam waktu sebentar saja, empat orang murid Perguruan Naga Hijau roboh bergelimpangan untuk selama-lamanya.

Murid-murid Perguruan Naga Hijau yang tersisa terkejut bukan main melihat kehebatan kakek berperut buncit itu.

Sungguh tidak disangka kalau dalam beberapa gebrakan saja, Setan Mabuk mampu membinasakan keempat rekan mereka.

Pikiran seperti itu membuat mereka memaksakan diri untuk mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Senjata-senjata mereka pun berkelebat mencari sasaran.

Tapi perlawanan keras murid-murid Perguruan Naga Hijau sama sekali tidak berarti banyak. Setan Mabuk terlalu tangguh untuk dapat ditandingi. Setiap serangan pedang yang menyambar, selain ke arah matanya dibiarkan saja.

Hebatnya, setiap serangan yang menyambar berbagai bagian tubuh Setan Mabuk kembali membalik seperti menghantam gumpalan karet kenyal. Tidak hanya itu saja. Tangan yang menggenggam pedang pun bergetar hebat seperti akan lumpuh.

Sebaliknya, setiap serangan kakek berperut buncit itu selalu diakhiri oleh lolong kesakitan yang menyayat hati. Kedua tangan, guci, dan arak kakek itu sudah beberapa kali merenggut nyawa. Penjagalan manusia secara tak ber-perikemanusiaan pun berlangsung di halaman Perguruan Naga Hijau.

"He... he... he...!"

Setan Mabuk kembali tertawa terkekeh begitu tidak ada lagi lawannya yang berdiri tegak. Semua tergolek di tanah dalam keadaan tidak bernyawa.

Setelah puas memperhatikan mayat-mayat yang ter-kapar di tanah. Setan Mabuk bergerak menghampiri bangunan Perguruan Naga Hijau. Diambilnya beberapa batang kayu dari sekitar bangunan, lalu digosokkannya satu sama lain.

Dengan tenaga dalam yang dimilikinya, bukan hal yang sulit untuk menyalakan api. Sesaat kemudian, api pun memercik dan mulai membakar kayu-kayu itu.

"He... he... he...!"

Masih dengan tawa terkekeh, Setan Mabuk melempar-kan potongan-potongan kayu itu ke arah bangunan.

Tak lama kemudian, api mulai membakar bangunan itu. Semakin lama, api semakin besar dan membumbung tinggi. Asap tebal dan hitam pun memenuhi angkasa. Tidak ada jerit kematian, karena seluruh murid Perguruan Naga Hijau memang telah dibinasakannya. Namun, entah berada di mana ketua perguruan itu. Mungkin saja dia tengah bersemadi di puncak Gunung Koneng.

Seiring semakin membesarnya api, sekeliling tempat itu pun terasa panas di kulit Setan Mabuk laki melangkah ke belakang, karena hawa panas mulai menyengat kulit tubuhnya. Kakek berperut buncit ini memperhatikan api yang membakar bangunan perguruan itu dari jarak yang cukup jauh.

"He... he... he...!"

Dengan tawa terkekeh yang selalu keluar dari mulutnya, Setan Mabuk melangkah meninggalkan tempat itu. Dengan langkah agak terhuyung-huyung, tubuhnya melesat cepat bagai kilat.

Semakin lama, suara tawa kakek berkepala botak itu semakin mengecil. Suara tawa itu akhirnya lenyap, seiring dengan tubuhnya yang lenyap di kejauhan.

***

Suara gemeretak kayu yang terbakar diiringi meletiknya beberapa gelintir bara api, menyemaraki kesibukan seorang pemuda tampan berambut putih keperakan yang tengah memanggang seekor ayam hutan.

Dengan jakun turun naik dan air liur yang hampir menitik, pemuda berpakaian ungu itu terus tenggelam dalam kesibukannya. Tangan kanannya mengebut-ngebutkan daun nangka yang dijadikannya kipas. Sedang-kan tangan kirinya sibuk memutar-mutar bambu yang memanggang ayam.

Cuping hidung pemuda itu kembang kempis begitu mencium bau sedap daging terbakar. Memang sebelum memanggang, dia telah membubuhkan bumbu secukupnya. Tidak aneh jika akhirnya tercium bau sedap, sehingga perut yang sudah lapar semakin menjerit-jerit minta segera diisi.

Setelah yakin kalau panggangannya telah matang, pemuda berambut putih keperakan itu mulai menik-matinya. Tentu saja setelah tidak terasa panas menyengat mulut lagi.

Rupanya, pemuda itu dilanda lapar yang amat sangat. Terbukti begitu potongan yang pertama telah habis disikat lalu dilanjutkan dengan potongan selanjutnya. Dalam waktu tak lama, panggang ayam hutan itu telah habis dilahap.

"Ahhh...!"

Pemuda berambut putih keperakan itu mendesah puas. Diusapnya pinggir-pinggir mulut yang penuh minyak dengan punggung tangan. Kemudian, tubuhnya disandarkan di pohon seraya menepuk-nepuk perutnya yang kini sudah tidak kempes lagi.

Perlahan-lahan dijumput guci arak yang tadi diletakkan di dekatnya, lalu didekatkan ke mulut. Dan....

Gluk... gluk... gluk...!

Terdengar tegukan ketika arak itu melewati tenggorokan. Menilik dari warna rambut, pakaian yang dikenakan, dan guci arak yang terbuat dari perak, sudah bisa diterka sosok pemuda itu. Ya! Dialah Arya Buana alias Dewa Arak.

Tentu saja sewaktu meminum arak, Dewa Arak tidak bermaksud mempergunakan ilmu 'Belalang Sakti'. Pemuda berambut putih keperakan itu hanya minum sekadarnya saja. Itulah sebabnya. Begitu araknya diminum, dia tidak terpengaruh sama sekali.

Perut kenyang, tubuh bersandar, dan angin pagi yang semilir, tidak aneh kalau membuat orang mengantuk. Begitu pula dengan Arya. Rasa kantuk ini mulai menyerang matanya. Perlahan-lahan sepasang matanya terpejam sendiri.

Tapi rasa kantuknya kontan menguap entah ke mana ketika terdengar langkah-langkah kaki mendekati tempat-nya. Seketika itu juga sekujur urat-urat syaraf dan otot-otot Arya menegang waspada, siap menghadapi segala kemungkinan.

Semakin lama, langkah kaki itu semakin jelas terdengar. Jelas, pemilik langkah itu tengah bergerak mendekati Dewa Arak. Maka pemuda berambut putih keperakan ini lang-sung bergerak bangkit.

Guci arak yang tergeletak di samping kanannya, dibiarkan saja, karena saat ini memang belum diperlukan.

Kini Dewa Arak duduk tegak menunggu. Ingin diketahui-nya pemilik langkah itu. Menilik dari suaranya, dia tahu kalau pemilik langkah itu tidak hanya seorang saja.

Tak lama kemudian, dari arah sebelah kiri Dewa Arak tampak muncul serombongan orang berwajah angker. Empat orang di antara mereka memikul sebuah tandu.

Melihat hal ini, kewaspadaan Dewa Arak mulai mengendur. Menilik dari tandu itu, bisa diduga kalau rombongan yang seluruhnya berjumlah enam belas orang adalah pengawal pemilik tandu yang akan pindah tempat.

Arya melirik sekilas ke arah rombongan itu. Tampak empat orang berada di depan tandu yang dipikul oleh empat orang bertubuh kekar dan kuat. Sementara di belakang, berjalan tak kurang dari delapan orang.

Kemudian tanpa mempedulikan lagi, Dewa Arak segera menyandarkan punggungnya kembali ke pohon. Memang pohon tempatnya bersandar berada di hadapan bagian hutan yang biasa dijadikan orang untuk menempuh perjalanan. Maka, sudah bisa ditebak kalau tidak lama lagi rombongan orang itu akan berlalu di depan Arya.

Semula Arya menduga kalau pemilik banyak langkah itu adalah rombongan perampok. Itulah sebabnya, mengapa sikapnya begitu waspada. Maka begitu tahu kalau pemilik langkah itu hanyalah rombongan orang yang mengawal sebuah tandu yang sudah pasti dimiliki seorang saudagar, dia pun tidak ambil peduli lagi.

Semakin lama rombongan itu semakin dekat dengan tempat Arya bersandar. Meskipun terlihat tidak peduli, tapi tetap saja Dewa Arak memasang pendengarannya tajam-tajam. Maka dia bisa tahu, rombongan itu semakin men-dekati tempatnya.

Mendadak, terdengar suara pelan seperti ada kain ter-singkap. Dewa Arak yang merasa curiga segera membuka mata. Secepat matanya terbuka, secepat itu pula hatinya tercekat. Suara kain yang tersingkap ternyata berasal dari samping kanan tandu.

Yang mengejutkan Arya bukan tirai yang tersingkap, tapi 'sesuatu' yang melesat cepat dari dalam tandu. Ternyata, empat bilah pisau melesat ke arahnya disertai suara mendesing nyaring.

Namun Dewa Arak tidak berani bertindak ceroboh. Menilik dari suara mendesing nyaring yang mengawali tibanya serangan, sudah bisa diterka kekuatan tenaga dalam yang terkandung di dalamnya. Dewa Arak tidak berani menangkis, karena tidak ada kesempatan lagi untuk mengambil guci.

Arya tidak punya pilihan lain lagi kecuali menggulingkan tubuhnya ke samping.

Cappp, cappp...!

Tiga bilah pisau langsung menancap sampai gagangnya di batang pohon tempat bersandar Dewa Arak tadi. Dari sini saja sudah bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam orang yang melemparkannya.

Belum juga Arya sempat memperbaiki keadaannya, dari batik tirai tandu melesat sesosok bayangan putih. Langsung dicecarnya pemuda berambut putih keperakan itu dengan pukulan bertubi-tubi ke arah dada dan ulu hati.

Kali ini Dewa Arak terpaksa menyalahi kebiasaannya. Biasanya, pemuda berpakaian ungu ini tidak pernah menangkis langsung serangan sebelum bisa memper-kirakan kekuatan tenaga dalam lawan. Tapi kali ini, karena kesempatan yang dimiliki tidak memungkinkan, terpaksa tangannya bergerak menangkis. Sadar akan kekuatan tenaga dalam lawan, tanpa sungkan-sungkan lagi segera seluruh tenaga dalam yang dimilikinya dikerahkan dalam tangkisan itu.

***

6

Plak, plak…!”

Serangan sosok bayangan putih itu semuanya berhasil dikandaskan Dewa Arak. Bahkan tubuh sosok bayangan itu pun terpental balik ke belakang. Sementara kedua tangan Arya hanya terasa bergetar hebat.

Lagi-lagi sebelum pemuda berambut putih keperakan itu berhasil memperbaiki keadaannya, kembali datang serangan dahsyat. Kali ini bukan dari sosok bayangan putih, melainkan dari orang-orang berwajah angker yang mengawal tandu.

Secara serempak, mereka semua meluruk memburu tubuh Dewa Arak yang masih tergeletak di tanah. Senjata-senjata yang tergenggam dj tangan segera berkelebatan cepat ke arah berbagai bagian tubuh Dewa Arak.

Sing, sing, sing...!

Suara-suara mendesing nyaring mengawali tibanya serangan senjata para pengawal tandu itu.

Kali ini, Dewa Arak sama sekali tidak mengelakkan serangan. Arya tahu, perbedaan kekuatan tenaga dalam antara dirinya dengan orang-orang berwajah angker itu sangat jauh. Dengan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki, semua senjata itu mampu ditangkisnya tanpa terluka.

Tak, tak, tak...!

Suara berdetak keras terdengar berulang-ulang ketika senjata-senjata itu berbenturan dengan kedua tangan Dewa Arak. Arya yang tidak mau bersikap main-main lagi, langsung mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki.

Akibatnya sudah bisa diduga. Seketika terdengar jeritan-jeritan kaget dari mulut para pengawal tandu itu ketika tangan mereka mendadak lumpuh. Tak pelak lagi, senjata yang digenggam pun terlepas dari tangan dan berpentalan entah ke mana.

Tidak hanya sampai di situ saja tindakan Dewa Arak. Kedua tangannya pun diputar di depan dada. Kontan dari kedua tangan yang berputaran itu muncul angin keras. Akibatnya, tubuh para pengeroyoknya berpentalan tak tentu arah seperti dilanda angin topan.

“Hih…!”

Sambil mengeluarkan teriakan keras menggetarkan jantung, sosok bayangan putih itu melompat menerjang Dewa Arak. Tapi kali ini, Arya sama sekali tidak ingin menangkis serangan, karena empat orang pemikul tandu telah bergerak menghampiri guci araknya yang tertinggal. Sudah bisa diperkirakan tindakan yang akan dilakukan mereka.

Maka seketika tubuh Arya melenting ke atas, melompati tubuh sosok bayangan putih. Pemuda berambut putih keperakan ini berburu dengan waktu. Guci araknya harus cepat diambil lebih dulu sebelum empat orang pemikul tandu itu merampasnya.

Menyadari kalau tidak akan sampai lebih dulu, karena jaraknya dengan guci terlalu jauh, dan sementara empat orang itu sudah hampir mencapainya. Dewa Arak tidak mempunyai pilihan lain lagi. Sambil melompat, langsung dilancarkannya pukulan jarak jauh ke arah dua di antara empat orang yang sudah hampir mencapai guci.

Wuttt..!

Bresss...!

Jeritan-jeritan ngeri terdengar ketika pukulan jarak jauh Dewa Arak telak dan keras sekali menghantam punggung dua orang yang ditujunya. Seketika itu juga, darah segar muncrat dari mulut ketika tubuh dua orang pemikul tandu itu terjungkal ke depan. Tubuh kedua orang yang sial itu menggelepar-gelepar sejenak, kemudian diam tidak bergerak lagi selama-lamanya.

Sementara dua orang lainnya terkejut bukan main melihat kejadian ini. Dengan sendirinya, langkah mereka terhenti. Dan di saat itulah tubuh Arya melayang cepat. Seperti seekor burung garuda menyambar mangsa, dia meluruk dan menyambar guci araknya.

Tappp...!

Dewa Arak melentingkan tubuhnya beberapa kali. Dan begitu kedua kakinya hinggap di tanah, pandangannya langsung beredar ke arah para pengeroyoknya yang ternyata tidak melancarkan serangan kembali. Arya sempat melihat kalau sosok bayangan putih itu melarang para pengawalnya untuk melancarkan serangan lagi. Kini, sosok bayangan putih itu melangkah menghampiri pemuda berpakaian ungu itu.

"Siapa kalian? Mengapa menyerangku?" tanya Dewa Arak, penuh wibawa.

Mata pemuda itu langsung menatap sosok bayangan putih yang ternyata seorang laki-laki berwajah pucat seperti mayat. Tampangnya benar-benar menyeramkan. Pakaian-nya yang berwarna putih, semakin menambah seram penampilannya.

"Aku berjuluk Mayat Kuburan Koneng," sahut orang ber-pakaian putih itu. Suaranya terdengar aneh. Pelan, tapi bergaung mirip hantu kuburan. Kedua belah pipinya hampir tidak bergerak sama sekali ketika berbicara. Mungkin itulah yang membuat suaranya terdengar tidak jelas. "Memang tidak setenar julukanmu, Dewa Arak!"

Arya mengernyitkan alisnya. Dia memang tidak mengenal Mayat Kuburan Koneng.

"Mengapa kau menyerangku, Mayat Kuburan Koneng?" tanya Arya lagi, karena laki-laki berpakaian putih bersih itu sama sekali tidak menyahuti pertanyaannya.

"Aku hanya ingin menjajal kepandaianmu saja, Dewa Arak. Apakah julukan yang kau sandang sebanding dengan kepandaianmu, sehingga menggemparkan dunia per-silatan?!"

"Hhh...!"

Arya mengela napas berat. Disadari kalau pertarungan tidak bisa dielakkan lagi.

"Kudengar, Setan Mabuk menantangmu. Terpaksa aku mendahuluinya. Karena apabila dia lebih dulu bertarung denganmu, kau tidak akan pernah bisa bertarung kembali denganku, Dewa Arak'" sambung Mayat Kuburan Koneng

Pemuda berambut putih keperakan ini mengerutkan alisnya.

"Setan Mabuk menantangku? Mengapa aku tidak tahu? Jangankan tahu tentang tantangan itu, mendengar julukan-nya saja baru kali ini! Tapi yang jelas, tokoh itu pasti memiliki kepandaian yang amat tinggi. Mayat Kuburan Koneng yang diketahuinya memiliki kepandaian tinggi, secara tidak langsung mengakui kalau Setan Mabuk memiliki kepandaian di atasnya," kata hati Dewa Arak

"Ada satu hal lagi yang membuatku terpaksa men-dahului Setan Mabuk, Dewa Arak'"

Kali ini suara laki-laki berpakaian putih itu terdengar ber-sungguh-sungguh. Ada nada ancaman dalam suaranya yang terdengar mengerikan itu.

"Kau kenal Janggulapati?"

Arya mengernyitkan alisnya sebentar, mengingat-ingat nama yang diucapkan Mayat Kuburan Koneng. Baru sesaat kemudian, dia teringat Janggulapati adalah suami Gayatri. Mereka berdua terkenal berjuluk Sepasang Alap-Alap Bukit Gantar (Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Sepasang Alap-Alap Bukit Gantar").

Perlahan-lahan kepala pemuda berpakaian ungu itu ter-angguk-angguk. Sementara tangan kanannya memegang dagu.

"Dia tewas di tanganmu, bukan?!" desak laki-laki ber-pakaian putih dengan suara semakin tidak enak didengar.

"Benar!" sahut Dewa Arak, mantap. Memang dialah yang telah menewaskan Janggulapati.

"Perlu kau ketahui, Dewa Arak. Janggulapati terhitung saudara seperguruanku. Walaupun setelah itu kami menempuh cara sendiri-sendiri untuk memperdalam ilmu, tapi aku tidak rela dia dibunuh orang! Bersiaplah, Dewa Arak. Aku akan membuat perhitungan denganmu atas pembunuhan yang kau lakukan terhadap Janggulapati!"

Belum juga gema suara itu habis. Mayat Kuburan Koneng telah meluruk menerjang Dewa Arak. Laki-laki berpakaian putih ini membuka serangan dengan sebuah tendangan lurus ke arah dada.

Arya segera menarik kaki kanan ke belakang seraya mendoyongkan tubuh. Maka serangan itu tidak mencapai sasaran, masih berjarak sekitar sejengkal di hadapannya.

Tapi, Mayat Kuburan Koneng tidak sudi memberi kesempatan. Begitu Dewa Arak berhasil mengelakkan serangan, segera disusulinya dengan serangan berikut. Kaki kanannya kini sedikit ditarik pulang, lalu meluncur lagi mengancam leher Arya dengan sebuah tendangan miring

Kali ini Arya terpaksa melompat ke belakang untuk mengelakkan serangan itu. Kemudian dia bersalto beberapa kali di udara. Dan begitu hinggap, tangannya telah menggenggam sebuah guci arak.

Gluk.. gluk.. gluk..!

Suara tegukan terdengar ketika Arya menuangkan arak ke mulutnya. Sesaat kemudian, hawa hangat merayapi perutnya, dan perlahan naik ke atas kepala membuat tubuhnya oleng ke kanan dan ke kiri.

Dan bertepatan dengan pemuda berpakaian ungu itu menurunkan guci araknya, serangan dari Mayat Kuburan Koneng telah datang menyambar.

Tak pelak lagi, pertarungan sengit pun tidak bisa dihindari.

Mayat Kuburan Koneng mengamuk seperti banteng terluka. Dia rupanya sangat mendendam atas kematian Janggutapati di tangan Dewa Arak. Terbukti, setiap serangannya selalu mengancam bagian-bagian yang mematikan. Bahkan selalu dilepaskan lewat pengerahan tenaga dalam penuh.

Suara angin bercicitan mengiringi tibanya setiap serangan yang dilancarkan Mayat Kuburan Koneng. Jelas, setiap serangannya mengandung tenaga dalam tinggi.

Tapi orang yang diserangnya kali ini adalah Dewa Arak. Seorang pendekar yang meskipun masih berusia muda, tapi telah memiliki kepandaian amat tinggi. Ilmu andalannya, yang bernama 'Belalang Sakti' merupakan sebuah ilmu aneh yang dahsyat. Dan kini menghadapi lawannya, ilmu andalannya itu langsung dikeluarkan.

Mayat Kuburan Koneng menggertakkan gigi karena perasaan geram yang melanda hatinya. Telah belasan jurus menyerang kalang kabut, tapi tak satu pun yang mengenai sasaran. Padahal sepertinya Dewa Arak hanya mengelak dengan gerakan-gerakan tidak teratur.

Tapi anehnya, setiap serangan yang dikirimkan Mayat Kuburan Koneng selalu mengenai tempat kosong. Serangan itu selalu dielakkan Dewa Arak dengan gerakan-gerakan seperti orang akan jatuh. Bahkan terkadang seperti memapak serangan yang dilancarkan dengan tubuhnya. Anehnya, justru dengan berbuat seperti itu, serangan lawan bisa dikandaskan.

Semula, Arya sama sekali tidak bermaksud mengadakan perlawanan. Dia sama sekali tidak mempunyai perselisihan dengan Mayat Kuburan Koneng. Tambahan lagi, rasanya tak ada alasan untuk membunuh laki-laki berpakaian putih ini. Arya belum melihat adanya kejahatan yang tidak terampunkan pada Mayat Kuburan Koneng.

Tapi rupanya sikap mengalah Dewa Arak ditafsirkan lain oleh Mayat Kuburan Koneng. Laki-laki berpakaian putih ini malah menganggap pemuda berambut putih keperakan itu meremehkannya. Dan sebagai akibatnya, serangan-serangannya pun berlangsung semakin dahsyat.

Kesabaran Dewa Arak pun habis. Tokoh sesat ber-pakaian putih ini benar-benar tidak bisa dikasih hati. Dia yakin, Mayat Kuburan Koneng tahu kalau dirinya telah terlalu banyak mengalah. Laki-laki berpakaian putih itu adalah seorang tokoh sesat yang memiliki kepandaian tinggi. Jadi, mustahil bila tidak mengetahui kalau dirinya telah terlalu banyak mengalah! Begitu kesimpulan yang didapat Arya.

Maka, setelah pertarungan berlangsung lebih dari tiga puluh lima jurus, dan serangan-serangan Mayat Kuburan Koneng malah semakin membabi buta, Arya pun memutuskan untuk mengadakan perlawanan.

Seketika itu pula gerakan Dewa Arak berubah dahsyat. Kini gerakan-gerakannya tidak lagi meliuk-liuk dan lemas seperti sebelumnya, tapi diselingi gerakan-gerakan kasar dan keras secara mendadak. Bahkan boleh dibilang, sulit ditebak. Terkadang lemas seperti tidak bertenaga, dan ter-huyung-huyung seperti akan jatuh. Tapi di lain saat, berubah menjadi kasar, keras, dan penuh kekuatan. Gerakan-gerakannya pun jadi terlihat liar! Ini pertanda kalau pemuda berpakaian ungu itu telah mengeluarkan Jurus 'Belalang Mabuk'nya.

Mayat Kuburan Koneng terperanjat begitu merasakan perubahan yang begitu mendadak ini. Terasa adanya tekanan-tekanan berat dari setiap serangan Dewa Arak. Seketika itu juga, porsi serangan laki-laki berpakaian putih ini berkurang banyak.

Memang setelah Arya mulai balas menyerang, Mayat Kuburan Koneng tidak lagi bisa leluasa melancarkan serangan membabi buta seperti sebelumnya. Dan biasanya melakukan penyerangan berarti membuka pertahanan. Semakin banyak menyerang, semakin banyak pertahanan yang terbuka di sana-sini.

Tadi sewaktu Dewa Arak sama sekali tidak melakukan perlawanan, laki-laki berpakaian putih ini bebas menge-luarkan serangan, tanpa mempedulikan pertahanan lagi. Tapi kini pemuda berpakaian ungu itu mulai balas me-nyerang. Dan bila Mayat Kuburan Koneng terus menyerang membabi buta seperti sebelumnya, maka mudah bagi Dewa Arak untuk memasukkan serangan ke berbagai bagian tubuh yang terbuka.

Memang hebat bukan kepalang, Jurus 'Belalang Mabuk' itu. Sesuai dengan nama jurusnya, serangan-serangan itu memang terlihat liar, ganas, dan penuh tekanan. Tidak aneh kalau dalam beberapa jurus saja, Mayat Kuburan Koneng telah kewalahan.

Serangan-serangan Mayat Kuburan Koneng semakin berkurang. Bahkan sebaliknya lebih banyak mengelak, karena menangkis pun akan menimbulkan akibat buruk. Tenaga dalam Dewa Arak jelas-jelas masih berada di atasnya. Maka bila terus-menerus menangkis serangan, jelas akan menderita kerugian.

Berbeda dengan Mayat Kuburan Koneng, keadaan Dewa Arak malah sebaliknya. Serangan-serangan pemuda ini semakin bertubi-tubi menghujani lawan.

Dalam menghadapi Mayat Kuburan Koneng, Arya tidak menguras seluruh kemampuannya. Bahkan gucinya tidak digunakan, karena lawan belum menggunakan senjata. Meskipun begitu, sesekali guci araknya dijumput dan ditenggak isinya. Kemudian gucinya disampirkan kembali ke punggung.

Tentu saja hati Mayat Kuburan Koneng semakin ber-tambah geram. Pemuda berambut putih keperakan itu dianggap sengaja memperlihatkan, kalau sambil minum arak, mampu bertarung. Berarti, Mayat Kuburan Koneng sama sekali tidak dianggap Dewa Arak. Maka, kontan kemarahannya semakin berkobar.

Kemarahan hebat yang membakar dada, membuat Mayat Kuburan Koneng mengambil keputusan untuk mengadu nyawa. Dia tahu, Dewa Arak terlalu sakti untuk bisa dikalahkan. Pemuda berambut putih keperakan itu telah terlalu banyak membuatnya malu di hadapan anak buahnya. Padahal, dendam atas kematian Janggulapati saja belum bisa terbalaskan. Yang jelas, kalau tak bisa menewaskan Dewa Arak, dia tidak akan bisa mati meram.

Dengan munculnya tekad untuk mengadu nyawa, kini Mayat Kuburan Koneng kembali melancarkan serangan secara membabi buta. Bahkan tidak dipedulikan lagi per-tahanan dirinya. Yang ada di benaknya hanya satu. Meningkatkan serangan terhadap Dewa Arak.

Arya terkejut begitu merasakan perubahan mendadak pada serangan lawan yang menjadi liar dan kalang-kabut kembali. Sama sekali tidak mempedulikan pertahanan diri sendiri.

Plak... plak... plak..!

Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Mayat Kuburan Koneng berhasil ditangkis Dewa Arak. Akibatnya, tubuh laki-laki berpakaian putih itu terhuyung-huyung ke belakang seraya meringis kesakitan. Kedua tangan terasa linu dan sulit digerakkan.

Tapi, Mayat Kuburan Koneng yang telah kalap langsung mematahkan kekuatan yang mendorong tubuhnya itu. Kembali dilancarkannya serangan bertubi-tubi ke arah berbagai bagian tubuh Dewa Arak.

Melihat hal ini, Arya sadar kalau lawan mengajaknya me-ngadu nyawa. Tentu saja pemuda berambut putih ke-perakan itu tidak meladeninya. Maka kembali di-gunakannya jurus 'Delapan Langkah Belalang' untuk menghindari diri dari setiap serangan lawan.

Kembali pertarungan berlangsung seperti pada jurus-jurus awal Mayat Kuburan Koneng menyerang kalang kabut, sementara Dewa Arak mengelak ke sana kemari dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang’.

Mayat Kuburan Koneng menggertakkan gigi. Rasa marah, malu, sakit hati, dan penasaran bercampur aduk dalam hatinya. Keinginan untuk membunuh Dewa Arak telah begitu menggebu-gebu. Tapi sayangnya hal itu tidak mampu diwujudkannya, sehingga membuat dadanya terasa seperti akan pecah menahan berbagai macam luapan perasaan yang bergejolak.

Lebih dari dua puluh jurus laki-laki berpakaian putih ini menyerang kalang kabut. Tapi, tetap saja tidak mampu menyarangkan tangan atau kakinya pada sasaran. Bahkan, mendesak Dewa Arak pun belum mampu.

Mayat Kuburan Koneng ingin menjerit keras saking bingungnya. Pertarungan telah berlangsung lebih dari seratus lima puluh jurus, tapi sampai selama itu tetap saja belum mampu mendesak Dewa Arak.

Sementara kelelahan perlahan mulai melandanya. Padahal lawannya tampak masih segar seperti sediakala.

Melihat keadaan ini, Mayat Kuburan Koneng khawatir tidak akan bisa mewujudkan maksudnya untuk membunuh Dewa Arak. Maka tanpa ragu-ragu lagi, anak buahnya segera diberi isyarat untuk membantunya.

Begitu melihat tanda dari pemimpinnya, belasan orang itu segera bergerak meluruk ke arah Dewa Arak. Memang, sejak tadi orang-orang berwajah angker itu tinggal menunggu perintah saja. Mereka sudah bersiap-siap dengan senjata terhunus di tangan.

Tak pelak lagi, hujan belasan senjata itu menyerang ke arah Dewa Arak disertai desingan-desingan nyaring yang merobek udara.

Arya terkejut bukan kepalang melihat hai ini. Serangan belasan orang berwajah angker itu sama sekali tidak diduga. Padahal, serangan Mayat Kuburan Koneng baru saja dielakkannya. Tambahan lagi, para pengeroyok itu menyerangnya dari berbagai jurusan. Sudah dapat diterka kalau belasan orang itu sudah terbiasa melakukan serangan secara bersama-sama.

Tanpa membuang-buang waktu lagi. Dewa Arak segera memutar-mutarkan kedua tangannya di depan dada. Maka kejadian seperti yang sebelumnya terulang kembali. Tubuh sebagian para pengeroyoknya berpentalan ke belakang seperti dilanda angin topan. Senjata-senjata mereka pun berpentalan tak tentu arah.

Sedangkan serangan dari yang lainnya dibiarkan saja mengenai tubuhnya. Arya memang langsung mengerahkan tenaga dalam agar tubuhnya tak mempan dihantam senjata. Memang dengan perbedaan tenaga dalam di antara kedua pihak yang terlalu jauh, pemuda berambut putih keperakan itu sama sekali tidak mengalami kesulitan membuat tubuhnya tidak bisa dilukai senjata.

Sementara, sungguh di luar dugaan Dewa Arak kalau pada saat yang sama, Mayat Kuburan Koneng melancar-kan serangan susulan ke arahnya. Bertubi-tubi, dan meng-ancam berbagai bagian tubuhnya. Tidak ada kesempatan lagi bagi Dewa Arak untuk mengelakkan serangan itu. Dan andaikata bisa, serangan lanjutan dari laki-laki berpakaian putih itu sulit dielakkannya. Memang sebagai seorang tokoh tingkat tinggi, Arya tahu kalau serangan yang di-lancarkan Mayat Kuburan Koneng kali ini merupakan serangan dalam satu rangkaian. Susul-menyusul dan sambung-menyambung laksana gelombang laut.

Karena tidak ada pilihan lain lagi, terpaksa Dewa Arak menghentakkan kedua tangannya ke depan. Langsung digunakannya jurus 'Pukulan Belalang".

Wusss...!

Angin keras berhawa panas berhembus keras dari kedua tangan Arya yang dihentakkan.

Mayat Kuburan Koneng terperanjat. Apalagi tubuhnya tengah berada di udara, dan jaraknya sudah terlalu dekat dengan Dewa Arak. Maka tidak ada lagi kesempatan baginya untuk menghindari serangan itu, dan hanya sempat membelalakkan sepasang matanya. Maka....

Bresss...!

"Aaa...!"

Jeritan ngeri terdengar dari mulut laki-laki berpakaian putih itu, begitu pukulan jarak jauh Dewa Arak keras dan telak sekali menghantam perutnya.

Seketika itu juga tubuh Mayat Kuburan Koneng terlempar jauh ke belakang, dan baru mendarat keras di tanah ketika telah melayang-layang jauh. Laki-laki ber-pakaian putih ini tewas dalam keadaan seluruh tubuh gosong. Bau sangit daging yang terbakar seketika menyebar di tempat itu.

Belasan pasang mata anak buah Mayat Kuburan Koneng terbelalak begitu melihat kematian laki-laki ber-wajah pucat itu. Tahu kalau lawan yang masih muda itu memiliki kepandaian luar biasa, mereka pun cepat-cepat membalikkan tubuh dan berlari tunggang-langgang. Sama sekali tidak dihiraukan rekan-rekan mereka yang belum mampu bangkit karena luka yang diderita.

Namun Arya sama sekali tidak mengejar, dan juga tidak mempedulikan para pengeroyok yang merintih-rintih di tanah tak mampu bangkit.

Sambil menghela napas berat, dihampirinya tubuh Mayat Kuburan Koneng yang tergolek di tanah. Kini tokoh sesat yang berjuluk 'mayat’ itu benar-benar telah menjadi mayat. Untuk kesekian kalinya, ada perasaan sesal di hati Dewa Arak karena telah menjatuhkan tangan maut pada lawannya. Memang, Arya sebenarnya tidak ingin membunuh.

Pemuda berambut putih keperakan itu menatap sebentar mayat yang tergolek dalam keadaan hangus itu. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu dihembuskannya kuat-kuat. Paling tidak itu untuk mengusir perasaan sesal yang merayapi hatinya. Arya menghibur hatinya sendiri agar perasaan sesalnya hilang. Toh, dia memang tidak ber-maksud membunuh. Tapi, lawanlah yang terlalu memaksanya.

"Urus mayat pemimpin kalian. Mengerti?!" ujar Dewa Arak pada beberapa orang anak buah Mayat Kuburan Koneng yang masih tergolek di situ. Mereka semua menundukkan kepala, karena khawatir Dewa Arak akan melepaskan tangan kejam.

"Mengerti, Tuan Pendekar...." Hampir berbareng para pengeroyok yang tergolek, dan berjumlah lima orang itu menganggukkan kepala.

Arya tersenyum pahit, kemudian melangkah meninggal-kan tempat itu. Masih sempat didengarnya desah kelegaan dari kelima orang pengeroyoknya. Pemuda berambut putih keperakan ini tahu penyebabnya. Apa lagi kalau bukan karena tidak jadi dibunuh?

***

7

Matahari sudah naik tinggi ketika di kejauhan Dewa Arak melihat tembok batas sebuah desa. Kontan wajah pemuda berambut putih keperakan itu jadi berseri. Dia memang merasa agak lelah, dan ingin singgah sebentar di sebuah kedai. Di samping untuk minum dan sedikit melepaskan lelah, juga untuk mengisi guci araknya kembali. Memang, guci araknya telah hampir kosong.

Terdorong perasan ingin buru-buru tiba, Dewa Arak menambah kecepatan larinya. Hasilnya, dalam waktu sekejap saja sudah berada dalam jarak sekitar delapan tombak dari tembok batas gerbang desa.

Mendadak dahi pemuda berambut putih keperakan ini berkernyit, ketika melihat sesuatu pada tembok batas desa itu. Perasaan penasaran mendorongnya untuk bergerak lebih mendekati.

Hanya dalam sekejap saja, Dewa Arak telah berada di dekat tembok batas desa itu. Sepasang matanya yang sejak tadi menatap penuh rasa ingin tahu, kini malah terbelalak.

Pada tembok batas desa itu tertancap sebatang kayu sebesar jari telunjuk sepanjang tiga jengkal. Tapi bukan itu yang menyebabkan Dewa Arak terkejut. Sebagai seorang pendekar yang telah memiliki kekuatan tenaga dalam tinggi, dia tidak kaget melihat ada sebatang kayu tertancap di tembok batu sedalam lebih dari setengah jengkal. Dia sendiri pun mampu melakukan hal yang sama. Bahkan tidak hanya dengan kayu, tapi sebatang lidi!

Yang membuat Arya terkejut adalah sehelai kain berisi tulisan yang tertancap oleh kayu itu. Dengan perasaan ingin tahu, pemuda berpakaian ungu itu membacanya.

Dewa Arak....

Melalui surat ini, kuberitahukan padamu.... Kalau kau

sampai tidak datang menemuiku, di Kuburan Desa

Koneng, kejadian yang menimpa desa ini akan terulang

lagi di desa lain.

Setan Mabuk

"Setan Mabuk..?" sebut Dewa Arak dengan kening berkernyit.

Lagi-lagi didengarnya julukan tokoh itu. Pertama kali dari mulut Mayat Kuburan Koneng. Dan kini dari surat tantangan yang ditancapkan di tembok desa. Tokoh itu sendirilah yang mengirimkannya.

Baru saja Arya mengulurkan tangan hendak mencabut kayu itu, pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki. Arahnya dari dalam desa.

Maka, terpaksa niatnya diurungkan. Kemudian kepala-nya menoleh ke arah asal suara itu.

Dari suara langkah kaki itu, Arya tahu kalau orang yang datang memiliki kepandaian. Dan dari situ pula, diketahui kalau kepandaian yang dimiliki orang itu tidak terlalu tinggi.

Sesaat kemudian, di hadapan Dewa Arak telah muncul seorang gadis cantik. Rambutnya digelung ke atas. Pakai-annya kuning dan ada gambar seekor naga yang disulam dari benang berwarna hijau pada dada kiri pakaiannya. Jelas kalau gadis itu ada hubungannya dengan Perguruan Naga Hijau.

"Kaukah orang yang berjuluk Dewa Arak?!" tanya gadis berambut digelung itu tatkala telah berada di hadapan Arya.

"Benar," jawab Arya sambil menatap gadis itu penuh selidik.

Pemuda berambut putih keperakan ini sama sekali tidak terkejut mendengar gadis yang baru saja dilihatnya itu telah tepat menebak dirinya. Dan memang, ciri-ciri yang dimilikinya amat mencolok.

Yang membuat Arya terkejut adalah ketika melihat ada kesedihan di wajah gadis cantik itu. Bahkan sepasang matanya yang bening dan indah itu terlihat menyimpan kesedihan yang mendalam. Bisa diterka kalau gadis itu telah mengalami kejadian yang menyedihkan.

"Kau harus bertanggung jawab atas semua musibah yang terjadi di sini, Dewa Arak!"

Keras dan penuh tekanan ucapan yang keluar dari mulut gadis berpakaian kuning itu. Sepasang matanya pun berkilat-kilat pertanda hatinya tengah dilanda kemarahan hebat. Bahkan tangannya pun telah menyentuh gagang pedangnya.

"Sabar, Nisanak..!" bujuk Arya menenangkan, sambil menjulurkan kedua tangan ke depan untuk mencegah gadis itu melanjutkan tindakannya. "Aku sama sekali tidak mengetahui maksudmu."

Gadis berambut digelung itu menatap wajah Arya penuh selidik. Dia melihat adanya kesungguhan, baik pada raut wajah maupun pada ucapan pemuda yang berdiri di hadapannya. Maka perlahan tangan yang telah mengejang itu mengendur, kemudian turun kembari ke sisi pinggang.

"Kau benar-benar tidak mengerti?'' tanya gadis itu ber-usaha memastikan. Nada suaranya terdengar bergetar.

Arya menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit.

"Apakah wajahku mirip wajah seorang penipu?" pemuda berpakaian ungu itu balas bertanya, setengah bergurau "Aku baru saja tiba di daerah sini, Nisanak. Jadi, sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraanmu ini!"

Gadis berpakaian kuning itu mengalihkan pandangan ke arah kain yang tertancap di tembok batas desa.

"Kau sudah membaca tulisan itu?" tanya gadis berambut digelung itu lagi, seraya menudingkan telunjuknya ke arah kain yang terpampang di tembok batas desa.

"Sudah," jawab Dewa Arak, mantap.

"Dan kau masih belum mengerti?!" tanya gadis ber-pakaian kuning itu setengah tidak percaya. Dahinya nampak berkernyit ketika mengajukan pertanyaan itu.

"Sedikit," sahut Arya kalem.

Semakin dalam kerutan pada dahi gadis berambut digelung itu.

"Apa kesimpulan yang kau dapat dari surat itu?" desak gadis berpakaian kuning.

"Ada orang yang mengajakku bertarung untuk alasan yang aku sendiri belum tahu. Anehnya, kenapa dia mem-bawa-bawa penduduk dalam masalah ini?"

"Karena Setan Mabuk khawatir kau tidak berani me-menuhi tantangannya," sabut gadis berambut digelung, cepat.

"Hm..." gumam Arya pelan, untuk menyambuti ucapan gadis berpakaian kuning itu.

"Kau tahu..., sudah berapa lama surat itu terpampang di situ?"

Arya menggelengkan kepala. Dan memang, hal itu sama sekali tidak diketahuinya.

"Sudah dua hari. Setan Mabuk tidak sabar lagi me-nunggu. Dikiranya, kau menganggap ancamannya hanya gertak sambal belaka. Maka, ancamannya pun diwujudkan. Gerombolannya kemudian menghancurkan Desa Gempol."

"Ah...!"

Dewa Arak mendesah kaget. Memang pemuda be-rambut putih keperakan itu terkejut bukan kepalang. Betapa tidak? Dia sama sekali tidak tahu tentang tantangan, tapi kenapa para penduduk yang menjadi sasaran.

"Kalau hari ini kau tidak datang menemuinya..., desa lain akan menjadi giliran selanjutnya," sambung gadis berambut digelung itu. "Di mulut Desa Gempol pun dipancangkan surat tantangan seperti ini."

Sambil berkata demikian, gadis berpakaian kuning itu menudingkan telunjuk kanannya ke arah carikan kain yang terpampang di tempat batas Desa Koneng.

"Apakah..., tidak ada orang yang menentang tindakan Setan Mabuk itu?" tanya Arya setelah beberapa saat lamanya terdiam.

"Memang ada. Tapi hanya ada beberapa gelintir saja.

Dan mereka adalah murid Perguruan Naga Hijau." jawab gadis berambut digelung seraya tersenyum getir.

"Lalu..., hasilnya bagaimana?" tanya Dewa Arak setengah hati.

Namun Arya seketika baru menyadari, betapa bodoh pertanyaannya, ketika teringat sesuatu. Tidak mungkin usaha murid-murid Perguruan Naga Hijau akan berhasil. Buktinya sudah jelas, sudah banyak desa dihancurkan. Itu saja sudah merupakan jawaban ketidakberhasilan usaha mereka.

"Mereka semua tewas," Jawab gadis berpakaian kuning dengan suara bergetar. Jelas kalau ucapannya diutarakan penuh perasaan.

Arya pun mengerutkan alisnya. Terdengar ada nada kesedihan yang mendalam pada suara gadis berambut digelung itu. Apakah ada hubungan antara gadis itu dengan murid-murid Perguruan Naga Hijau yang terbunuh?

Tanpa sadar, pandangan Dewa Arak tertumbuk pada sulaman benang hijau bergambar naga yang menempel di bagian dada kiri pakaian gadis itu. Naga hijau! Apakah gadis ini juga murid Perguruan Naga Hijau? Kembali pertanyaan itu menggayuti benak Dewa Arak.

"Apakah mereka saudara seperguruanmu?" tanya Arya hati-hati.

Gadis berambut digelung itu hanya menganggukkan kepala. Tapi hal itu sudah cukup untuk menjadi jawaban bagi pertanyaan yang diajukan Dewa Arak.

"Ah...! Maaf...!" ucap Arya buru-buru. "Aku sama sekali tidak mengira akan hal itu. Aku turut berduka cita."

"Terima kasih," hanya ucapan itu yang keluar dari mulut gadis berpakaian kuning itu.

"Apakah hal itu sudah kau beritahukan pada gurumu?" tanya Arya lagi.

Gadis berambut digelung itu menggelengkan kepalanya.

"Mengapa?" kejar Arya lagi.

"Guruku yang sekaligus ayah kandungku tengah ber-semadi di puncak Gunung Koneng. Beliau tak ingin terjun dalam rimba persilatan, karena sudah benar-benar tidak mau mencampuri urusan duniawi lagi. Dan yang jelas, Perguruan Naga Hijau telah musnah."

"Ah...!"

Keluh keterkejutan keluar dari mulut Dewa Arak begitu gadis berambut digelung itu mengakhiri ucapannya. Ada isak tertahan yang keluar dari mulut gadis itu seiring ucapannya selesai.

Terdengar suara gemeretak dari mulut Dewa Arak. Jelas, pemuda berambut putih keperakan ini dilanda kemarahan yang amat sangat.

"Keji...!" Arya mendesis pelan, tapi tajam penuh tekanan karena keluar dari hati yang penuh diliputi amarah. "Siapa yang melakukan semua kekejian itu?"

"Setan Mabuk..." jawab gadis berpakaian kuning masih dengan suara serak. "Dia seorang diri mengamuk dan membasmi semua murid Perguruan Naga Hijau, dalam usahanya untuk memancing kedatanganmu. Itulah sebab-nya, ada beberapa murid Perguruan Naga Hijau yang tidak dibinasakannya. Dia berharap, murid-murid itu akan menyampaikan pesannya kepadamu. Apakah kau bertemu mereka?''

Arya menggelengkan kepala.

"Sedangkan murid-murid Perguruan Naga Hijau yang berada di desa-desa dibasmi kaki tangan Setan Mabuk. Memang, dengan lenyapnya Perguruan Naga Hijau, mereka bebas berbuat kejahatan."

"Heh...?!" Dewa Arak terperanjat "Mengapa begitu?"

"Karena selama ini, semua orang yang bermaksud jahat selalu berhasil dipukul mundur murid-murid Perguruan Naga Hijau," gadis berpakaian kuning tersenyum getir. Rupanya, dia teringat kembali sewaktu Perguruan Naga Hijau masih berdiri.

Kali ini Arya sama sekali tidak menyahuti ucapan gadis berpakaian kuning itu. Dan karena gadis itu sendiri tidak melanjutkan ucapannya, suasana pun menjadi hening.

"O, ya.... Siapakah namamu, Nisanak?" tanya Arya tibatiba. "Rasanya aneh kalau kita telah berbincang-bincang sekian lamanya, tapi belum saling mengenal nama."

"Aku sudah tahu julukanmu," kalem suara gadis berambut digelung itu. Sebuah senyuman yang dipaksakan tersungging di bibirnya.

"O, ya?" Dewa Arak yang ingin membuat gadis itu terlupa dengan kesedihannya mencoba melucu.

"Ayah sudah sering membicarakanmu. Rupanya beliau amat mengagumimu."

Dewa Arak hanya tersenyum getir mendengar namanya banyak dikagumi tokoh persilatan. Dia memang paling risih namanya dipuja-puja orang.

"Lalu, bagaimana kejadiannya hingga murid-murid Per-guruan Naga Hijau dibantai Setan Mabuk?" tanya Dewa Arak mengalihkan pembicaraan.

"Aku tidak tahu bagaimana kejadiannya. Yang jelas, ku-temui mayat Wakil Ketua Perguruan Naga Hijau bersama mayat Kakang Subarji di tengah jalan..."

"Kakang Subarji..?" Dewa Arak mengerutkan alisnya.

"Murid Perguruan Naga Hijau yang telah keluar perguruan," jelas putri Ketua Perguruan Naga Hijau itu dengan suara yang tidak begitu serak lagi. Rupanya dia sudah mulai bisa menguasai perasaannya.

Dewa Arak menganggukkan kepala pertanda mengerti.

"Jadi..., kau tidak melihat siapa pembunuh mereka?"

Gadis berpakaian kuning itu mengangguk.

"Lalu..., dari mana kau tahu kalau pembunuhnya adalah Setan Mabuk?" desak Dewa Arak ingin tahu.

"Dari mulut Kakang Subarji, sebelum tewas," jawab gadis berambut digelung itu.

"Rupanya kau mengikuti kepergian mereka secara diam-diam...," tuduh Arya dengan nada mendesah.

Wajah gadis itu kontan memerah.

"Ayah telah berpesan agar aku tidak pergi ke mana-mana. Maka diam-diam aku mengikuti Paman Buntara. Aku juga ingin mengetahui, seperti apa orang yang julukannya telah begitu menggemparkan...."

"Tak seperti yang kau bayangkan, bukan," tukas Arya buru-buru.

"Terus terang, aku agak kaget melihatmu, Arya? Nama-mu Arya, kan?"

Pemuda berpakaian ungu itu tersenyum getir.

"Kau curang, Nisanak."

"Curang?!" dahi gadis berpakaian kuning itu berkenyit.

"Ya! Kau telah tahu namaku, tapi aku sama sekali tidak tahu namamu."

"Namaku Malinda," sebut gadis itu malu-malu.

"Malinda... sebuah nama yang bagus," tanggap Arya.

Pujian Dewa Arak membuat wajah gadis berpakaian kuning yang ternyata bernama Malinda jadi bersemu merah. Rupanya, dia risih juga menerima pujian. Apalagi datangnya dari mulut orang seperti Dewa Arak! Seorang pemuda berwajah tampan dan berkepandaian tinggi. Hati siapa yang tidak berbunga-bunga?

"Laki, apa tindakanmu selanjutnya, Dewa Arak?" tanya Malinda, pelan.

"Memenuhi tantangan yang diajukan Setan Mabuk!" jawab Arya tegas.

"Kalau begitu, mari kita ke sana!" ajak Malinda cepat.

"Kau tahu tempatnya, Malinda?" Malinda menganggukkan kepala.

"Bagaimana? Setuju?"

Mulut Dewa Arak menyunggingkan senyuman lebar, kemudian perlahan kepalanya terangguk.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, gadis berambut digelung ini melesat meninggalkan tempat itu.

Arya menggeleng-gelengkan kepala. Bisa diduga kalau gadis berpakaian kuning itu ingin menguji kepandaiannya. Maka begitu gadis itu melesat kabur, dia pun bergerak menyusulnya.

Sesaat kemudian, yang terlihat hanyalah dua sosok bayangan yang berkelebatan cepat. Yang satu berwarna ungu, sementara yang satu lagi berwarna kuning.

Malinda berlari cepat mengerahkan seluruh kemampuannya. Dia memang bermaksud menguji kemampuan Dewa Arak. Maka tanpa ragu-ragu lagi, segera dikeluarkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya.

Semula Malinda sudah merasa gembira begitu tidak melihat adanya bayangan pemuda berpakaian ungu itu di belakangnya. Tapi, keceriaannya langsung memupus tat-kala mendadak di samping kanannya muncul sesosok bayangan ungu. Seketika senyum yang tadi mengembang di bibirnya pun lenyap.

Karuan saja hal ini membuat Malinda merasa pe-nasaran bukan kepalang. Digertakkan gigi dalam usahanya menambah kecepatan larinya. Tapi semua usaha yang di-lakukannya sia-sia saja. Tetap saja Dewa Arak berada di samping kanannya.

Malinda semakin terkejut ketika melihat raut wajah Dewa Arak. Wajah itu sama sekali tidak menunjukkan kalau tengah mengerahkan tenaga sewaktu berlari. Raut wajah itu masih tetap tenang seperti semula.

Setelah cukup lama berlari sambil mengerahkan seluruh tenaga, nampak Dewa Arak masih tetap berada di sebelahnya. Maka, gadis berpakaian kuning itu akhirnya mengalah. Perlahan-lahan kecepatan larinya dikendurkan, dan akhirnya berhenti sama sekali.

Bertepatan dengan berhentinya kaki Malinda, Arya pun menghentikan langkah kakinya pula.

Malinda menatap wajah Dewa Arak. Perasaan terkejut semakin melanda hatinya tatkala melihat wajah Arya sama sekali tidak menampakkan perubahan apa pun. Wajah itu tetap mulus, seperti sediakala. Setetes pun tak ada peluh menggantung di sana. Deru napas pemuda itu pun biasabiasa saja, tidak terengah-engah.

Sedangkan dirinya? Peluh membasahi sekujur wajah. Terutama sekali dahi dan lehernya. Napasnya pun menderu-deru hebat. Meskipun tidak melihat sendiri, Malinda sudah bisa memperkirakan kalau wajahnya merah padam.

"Masih jauhkah tempat itu dari sini, Malinda?" tanya Arya. Suaranya terdengar biasa saja, tidak terputus-putus dan memburu seperti layaknya orang habis berlari jauh.

Gadis berpakaian kuning itu tidak langsung menjawab pertanyaan, dan malah sibuk menenangkan deru napasnya yang memburu. Memang dia tadi berlari dengan mengerah-kan seluruh kemampuan yang dimilikinya.

"Tidak jauh lagi." sahut Malinda.

Mendengar jawaban itu, Arya melayangkan pandangan ke depan. Tak jauh di depannya, tampak mulut sebuah hutan.

"Hutan...?!" Dewa Arak mengerutkan alisnya. Padahal, belum lama dia keluar dari hutan itu.

"Ah...! Hanya sebuah hutan kecil, Dewa Arak. Tapi di hutan itulah letaknya Kuburan Koneng."

Arya mengangguk-anggukkan kepala saja. Dewa Arak memang tidak mengetahui, di mana letaknya kuburan yang dimaksudkan Setan Mabuk. Maka begitu mendengar jawaban itu, dia tidak membantahnya. Tanpa bicara lagi, langkah kakinya dilanjutkan.

Kini Dewa Arak dan Malinda melanjutkan perjalanannya dengan berjalan biasa. Dan tak lama kemudian, mulut hutan pun sudah dilalui. Malinda terus saja melangkah. Begitu pula Arya yang berada di sampingnya.

Mendadak Malinda menghunus pedang yang tergantung di pinggang. Dan secepat pedang itu lolos dari sarungnya, secepat itu pula disabetkannya ke leher Dewa Arak.

Singgg..!

Suara mendesing nyaring yang terdengar menjadi pertanda kuatnya tenaga dalam yang terkandung dalam serangan pedang itu.

Arya terperanjat. Keterkejutan yang amat sangat seketika melandanya. Memang serangan itu sama sekali tidak disangkanya. Tapi meskipun begitu, karena memang sudah terbiasa berhadapan dengan hal yang tiba-tiba, Dewa Arak masih bisa mengelak.

Crasss...!

Namun tak urung, ujung pedang Malinda berhasil juga menyerempet pundak Arya. Kontan darah segar mengalir keluar dari bagian yang terluka.

Tidak hanya itu saja menimpa pemuda berpakaian ungu. Begitu kedua kakinya mendarat, mendadak landasan yang diinjaknya naik ke atas. Tahu-tahu, tubuh Dewa Arak telah terkurung dalam sebuah jaring yang tergantung di atas pohon.

Arya terperanjat begitu menyadari tubuhnya telah terkurung dalam jaring. Segera dicengkeram tali-tali jaring itu, laki dikerahkan tenaga dalam untuk memutuskannya. Tapi ternyata tali-tali itu alot bukan main. Betapapun telah dikerahkan seluruh tenaga dalamnya, tetap saja tidak mampu.

"Hi hi hi...!”

Malinda tertawa terkikih. Lenyap sudah sorot kesedihan dari sinar matanya. Yang terlihat kini hanyalah sorot kebengisan dan dendam. Dan semua itu tertuju pada Dewa Arak.

Arya terperanjat melihat sorot mata gadis itu. Namun dia masih belum mengerti maksud gadis berpakaian kuning ini bertindak seperti itu terhadapnya.

"Malinda...! Apa maksud perbuatanmu ini..?!" tanya Dewa Arak ingin tahu.

"Maksudku sudah jelas. Pemuda Sombong! Aku ingin membalaskan kematian ayahku!" tandas gadis berambut digelung dengan nada bengis.

"Heh ..?! Bukankah ayahmu tengah bersemadi, dan saudara seperguruanmu dibunuh oleh Setan Mabuk?" kejar Arya penasaran.

"Kau percaya dengan semua cerita itu, Pemuda Dungu?!" sergah Malinda keras.

"Jadi..?!" Dewa Arak mulai paham.

"Ya! Semua cerita itu hanya karanganku saja! Ayahku telah mati terbunuh di tanganmu, Dewa Arak! Kutegaskan sekali lagi, ayahku tewas di tanganmu!"

Pemuda berpakaian ungu itu pun terdiam.

"Siapakah ayahmu, Malinda?" tanya Arya, masih tetap lembut suaranya. Pemuda berpakaian ungu ini masih mengharapkan semua hanya sebuah kesalahpahaman belaka.

Suiiit...!

Terdengar suitan nyaring dari mulut Malinda. Keras dan melengking pertanda didukung pengerahan tenaga dalam.

Tak lama kemudian terdengar suara berkerosakan, disusul munculnya beberapa sosok tubuh yang dikenal Dewa Arak. Mereka adalah anak buah Mayat Kuburan Koneng.

Sekejap kemudian, orang-orang berwajah angker yang jumlahnya tak kurang dari sebelas orang itu telah berdiri di belakang Malinda dengan kepala tertunduk. Jelas kalau kedudukan gadis itu lebih tinggi dari mereka.

"Kau kenal mereka, Dewa Arak?" tanya Malinda dengan bibir menyunggingkan senyuman sinis.

"Kenal sih, tidak. Tapi aku memang pernah bentrok dengan mereka," jawab Dewa Arak, tenang.

"Kini kau bisa menerka, siapa ayahku bukan?"

Arya mengerutkan keningnya sejenak.

"Mayat Kuburan Koneng?" duga Dewa Arak, pelan.

Arya masih merasa ragu mengingat Malinda mengena-kan pakaian seragam yang bersulamkan gambar naga, yang dikatakan gadis itu adalah lambang Perguruan Naga Hijau. Ataukah cerita gadis itu semua hanyalah hasil karangan belaka, termasuk cerita mengenai Perguruan Naga Hijau dan kehancurannya?

"Jadi, semua ceritamu tadi hanya hasil karanganmu saja?" tanya Arya sambil memikirkan cara untuk meloloskan diri.

"Tidak seluruhnya, Dewa Arak!" gadis berpakaian kuning itu menyahut, namun tetap menyunggingkan senyum sinis. “Perguruan Naga Hijau memang benar ada dan hancur di tangan Setan Mabuk. Begitu pula tentang maksud ke-pergiannya untuk menemuimu."

Pemuda berpakaian ungu itu terdiam. Kini sudah dimengerti masalahnya.

"Kini sudah tiba saatnya bagiku untuk membalas dendam, Dewa Arak!"

"He... he... he...!"

Mendadak terdengar suara tawa yang menggetarkan jantung, menggema di sekitar tempat itu. Jelas, suara itu dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam.

Semua yang berada di situ terperanjat mendengar tawa mendadak itu. Hanya saja, ada perbedaan tanggapan di antara mereka. Dewa Arak hanya terkejut saja. Tapi, tidak demikian halnya dengan Malinda dan anak buah ayahnya. Wajah mereka mendadak pucat pasi. Dan memang, mereka tahu pemilik suara tawa itu. Siapa lagi kalau bukan Setan Mabuk!

Dan sebelum suara tawa itu lenyap, berhembus angin berkesiur pelan. Tak lama kemudian, muncul seorang kakek bertubuh pendek gemuk, berperut buncit, dan ber-kepala botak. Benar! Dialah Setan Mabuk.

Malinda menggertakkan gigi. Dia tahu kalau tidak ber-tindak cepat, maka Dewa Arak tidak akan bisa dibunuhnya. Dan yang jelas Setan Mabuk akan mendahuluinya. Maka tanpa mempedulikan akibatnya nanti, gadis itu melompat. Pedangnya meluncur deras ke arah tubuh Dewa Arak yang tengah terkurung di dalam jaring.

***

8

Singgg...!

Menilik dari suara mendesing nyaring yang mengiringi tibanya serangan, sudah bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang terkandung dalam serangan itu.

"He... he... he...!"

Setan Mabuk tertawa terkekeh. Tubuhnya yang pendek berkelebat, memotong serangan Malinda. Tangan kanannya cepat terulur. Dan....

Tappp...!

Sungguh mengagumkan! Pedang di tangan gadis ber-pakaian kuning itu telah tertangkap tangan Setan Mabuk. Dan sekali tangan kakek berkepala botak itu bergerak menekan, maka pedang di tangan putri Mayat Kuburan Koneng pun patah jadi dua.

Dan sebelum Malinda sempat berbuat sesuatu, tangan kiri Setan Mabuk telah meluncur cepat ke arah dadanya. Seketika gadis berambut digelung ini kaget bukan kepalang. Apalagi, tubuhnya tengah berada di udara. Dengan sebisa-bisanya tubuhnya digeliatkan untuk mengelakkan serangan itu. Tapi....

Plakkk…!

Tangan kakek berkepala botak itu tetap saja meng-hantam tubuhnya. Hanya saja tidak mengenai dada, melainkan bahu. Seketika itu juga tubuh putri Mayat Kuburan Koneng terlempar ke belakang dan bergulingan di tanah. Darah segar langsung muncrat dari mulutnya. Jelas Malinda telah terluka dalam.

"He... he... he...!"

Begitu kedua kakinya mendarat di tanah, kakek ber-perut buncit itu sudah tertawa terkekeh-kekeh. Dengan sorot mata penuh ancaman, kakinya melangkah meng-hampiri tubuh Malinda.

"Jangan harap bisa mendahuluiku, Wanita Liar! Kau tahu, di semua mulut desa telah kusebar anak buahku. Dan mereka langsung memberitahuku begitu melihat Dewa Arak. Dan atas kelancanganmu berani mendahului tin-dakanku, kau akan menerima akibatnya!"

Melihat bahaya mengancam putri majikannya, anak buah Mayat Kuburan Koneng tidak tinggal diam. Walaupun dalam hati merasa jeri terhadap Setan Mabuk tetapi mereka tetap bergerak menyerang kakek berkepala botak itu. Senjata-senjata di tangan mereka berkelebatan cepat, menyambar berbagai bagian tubuh Setan Mabuk yang mematikan, diiringi suara mendesing nyaring,

"He... he... he...!"

Setan Mabuk tertawa terkekeh. Tanpa mempedulikan semua serangan yang bertubi-tubi mengancam, guci araknya diangkat.

Glek… glek... glek...!

Suara tegukan dari arak yang melewati tenggorokan Setan Mabuk terdengar. Dan di saat itulah senjata-senjata anak buah Mayat Kuburan Koneng tiba.

Takkk, takkk, takkk..!

Gila! Semua senjata yang mengenai berbagai bacaan tubuh kakek berkepala botak itu terpental balik, seakan-akan menghantam gumpalan karet keras. Bukan hanya itu saja. Tangan yang menggenggam senjata itu pun terasa sakit-sakit

"He... he... he...!”

Setan Mabuk hanya tertawa terkekeh seraya meng-gerakkan tangannya. Jerit-jerit kesakitan pun terdengar diiringi robohnya satu persatu anak buah Mayat Kuburan Koneng. Pukulan jarak jauh yang dilepaskan Setan Mabuk sungguh dahsyat! Buktinya tidak seorang pun dari para pengeroyok yang tersisa. Mereka semua roboh, dan tak bangun lagi.

Kini sambil tertawa terkekeh-kekeh, Setan Mabuk me-langkah menghampiri Malinda yang belum mampu bangkit. Memang, akibat serangan kakek berperut buncit itu hebat bukan main, meskipun hanya mengenai bahu.

Putri Mayat Kuburan Koneng itu berusaha bangkit, tapi tidak mampu. Sebuah seringai kesakitan yang muncul di mulutnya telah menjadi tanda kalau gadis itu telah terluka dalam yang cukup parah. Dan Malinda hanya bisa menatap Setan Mabuk yang menghampirinya dengan dada berdebar tegang.

Setan Mabuk menghentikan suara tawanya begitu telah berada di dekat Malinda. Sesaat sepasang matanya meng-awasi sekujur tubuh gadis berpakaian kuning itu, kemudian tangan kanannya bergerak.

Brettt..!

Suara dari kain robek terdengar ketika tangan Setan Mabuk merenggutnya. Malinda langsung terpekik ngeri. Pakaian yang dikenakan, dari bagian dada sampai perut telah sobek.

Arya terkejut bukan kepalang melihat hal ini. Diakui, Malinda adalah seorang wanita sesat, dan mendendam padanya. Tapi biar bagaimanapun, dia tidak tega kalau gadis itu diperkosa Setan Mabuk.

Sementara kakek berkepala botak yang sudah kerasukan nafsu setan, begitu melihat pemandangan indah yang terpampang di hadapannya, segera menubruk tubuh Malinda dan menciuminya dengan kasar. Tangannya juga mulai sibuk melucuti sisa pakaian putri Mayat Kuburan Koneng itu.

Malinda yang tengah tertuka dalam, tidak mampu berbuat apa-apa selain menjerit-jerit keras dan meronta-ronta. Tapi hal itu justru menambah nafsu setan kakek ber-perut buncit itu membara. Dan dengan sendirinya, tindakannya pun semakin brutal

"Setan Mabuk! Tahan...!" teriak Arya keras. "Kalau per-buatanmu dilanjutkan, aku tidak akan sudi meladeni tantanganmu!"

Kakek berkepala botak itu langsung menoleh dengan napas menderu hebat. Sepasang matanya telah memerah, karena nafsu telah bergolak dalam dirinya. Tapi peringatan Dewa Arak-lah yang membuatnya bimbang.

Setan Mabuk memang bukan orang yang suka mem-perkosa wanita. Dan perbuatan yang akan dilakukannya terhadap Malinda, semula bukan terdorong nafsu. Melain-kan, keinginan untuk menghancurkan gadis itu. Namun, begitu melihat kemulusan tubuh gadis itu, dia menjadi ter-pengaruh. Hanya saja, ancaman Dewa Arak telah mem-buatnya bimbang.

Beberapa saat lamanya Setan Mabuk tercenung memikirkannya.

"Kali ini kau kuampuni, Wanita Liar! Menyingkirlah cepat sebelum pikiranku berubah!"

Dengan kedua tangan menutupi bagian tubuhnya yang terbuka lebar, Malinda berusaha bangkit. Luar biasa! Kali ini usaha gadis berambut digelung itu berhasil. Rupanya rasa takut yang melanda akan terjadinya peristiwa yang mengerikan, membuat kekuatannya muncul kembali. Memang, meskipun seorang wanita sesat, tapi Malinda masih seorang gadis tulen.

"Akan kuingat budimu. Dewa Arak...!"

Setelah berkata demikian, gadis berpakaian kuning ini melangkah terseok-seok meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian, bayangan tubuhnya lenyap ditelan lebat-nya pepohonan.

Setan Mabuk memungut pedang yang berserakan di tanah, kemudian melontarkannya ke arah tali yang menggantung Jaring pengurung tubuh Dewa Arak

Tasss...!

Tali itu putus seketika. Dengan sendirinya, jaring yang membungkus tubuh Dewa Arak pun terjatuh ke tanah. Maka, Arya pun bergegas keluar dari dalam jaring.

Begitu Arya keluar dari jaring. Setan Mabuk langsung saja menyerang. Kedua tangannya terkembang mem-bentuk cakar dan menyambar bertubi-tubi ke arah perut, dada, dan ulu hati pemuda berpakaian ungu itu.

Arya langsung terperanjat. Datangnya serangan yang ter-lampau tiba-tiba, membuatnya terkejut bukan kepalang. Disadari kalau dirinya tidak akan bisa mengelakkan serangan itu. Tidak ada pilihan lagi, kecuali menangkisnya. Tanpa ragu-ragu lagi, segera dikerahkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki untuk menangkis.

Plak, plak, plak...!

Suara berderak keras terdengar berkali-kali ketika kedua tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi berbenturan. Akibatnya, kedua belah pihak sama-sama terhuyung mundur selangkah ke belakang. Jelas, tenaga dalam kedua tokoh ini berimbang.

Setan Mabuk mengawasi Dewa Arak dari ujung rambut sampai ujung kaki. Namun Dewa Arak pun berbuat serupa.

"He... he... he...! Semua berita yang kudengar tentang dirimu ternyata cocok sekali dengan kenyataan yang kulihat," kata Setan Mabuk setelah puas memperhatikan Dewa Arak. "Tapi aku belum puas, Dewa Arak!"

Setelah berkata demikian, Setan Mabuk kembali menerjang Dewa Arak. Gucinya yang besar itu sama sekali tidak dipergunakan. Memang, kakek ini belum mau mengeluarkan ilmu simpanannya.

Sebagai seorang tokoh persilatan yang mempunyai kepandaian tinggi, Arya tentu saja tahu kalau lawan belum menggunakan ilmu andalan. Maka Dewa Arak pun hanya mengeluarkan ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau' dan ilmu 'Sepasang Tangan Penakluk Naga' untuk menghadapinya.

Kedua macam ilmu yang dimiliki Dewa Arak, menitik-beratkan pada penyerangan. Begitu pula ilmu yang dimiliki Setan Mabuk. Tak pelak lagi, pertarungan sengit pun terjadi.

Dalam sekejap saja, pertarungan sudah berlangsung tiga puluh lima jurus. Dan selama itu, belum nampak ada tanda-tanda yang akan terdesak.

"Cukup, Dewa Arak..!"

Terdengar seruan keras dari mulut Setan Mabuk. Pada saat yang bersamaan, tubuhnya pun melenting ke belakang menjauhi kancah pertarungan.

Arya pun menghentikan gerakannya. Kini kedua belah pihak saling menatap, dengan penuh selidik.

"Kau tahu, mengapa aku mencari dan menantangmu, Dewa Arak?" tanya Setan Mabuk dengan senyum ter-kembang di bibir. Kakek berperut buncit ini merasa puas begitu mengetahui kelihaian Dewa Arak.

Memang sudah menjadi penyakit seorang ahli silat dia merasa gembira bila bertemu lawan yang setingkatan.

Arya menggelengkan kepala. Memang, pemuda ber-pakaian ungu itu belum mengetahuinya.

"Karena kau berani berjuluk Dewa Arak!" tandas Setan Mabuk lagi. "Kau tahu, sebelum kau lahir ke dunia ini, aku sudah terkenal sebagai dedengkotnya arak. Sudah tidak terhitung lagi, berapa kali aku mengadu kuat minum arak. Dan karena tidak pernah terkalahkan, aku mendapat julukan-julukan Setan Mabuk."

Kakek berperut buncit itu menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas. Ditatapnya wajah Dewa Arak untuk mengetahui tanggapannya.

"Karena merasa sudah tua, sekitar satu tahun yang lalu, aku mengundurkan diri dari dunia persilatan. Tapi, ter-paksa aku keluar lagi, karena kudengar di dunia persilatan ada tokoh muda yang berani berjuluk Dewa Arak. Jadi, aku merasa tertantang ingin kubuktikan sendiri, apakah orang itu berhak mendapat julukan seperti itu."

Kini Arya mengerti akan duduk permasalahannya.

"Baiklah. Agar tidak terjadi korban di antara orang yang tidak bersalah, aku menerima tantanganmu, Setan Mabuk"

"Bagus!" sahut Setan Mabuk gembira. "Tapi perlu kau ketahui, Dewa Arak. Kita tidak hanya bertanding dalam minum arak saja. Tapi, juga dalam ilmu silat."

"Aku mengerti," kata pemuda berambut putih keperakan itu. "Kapan waktunya, Setan Mabuk?"

"Purnama depan!"

"Purnama depan?!" Arya mengerutkan alisnya. Karena waktu yang ditentukan masih lebih dari sepekan. "Mengapa harus menunggu begitu lama, Setan Mabuk?"

"Karena, bulan purnama depan adalah waktu bagi rajaraja arak untuk mengadu kekuatan minum dan ilmu silat," jelas kakek berperut buncit itu. "Bertahun-tahun akulah juaranya. Tapi tahun kemarin, aku tidak mengikutinya. Sehingga, aku tidak tahu, siapa yang menjadi juaranya."

Arya mengernyitkan dahinya. Sungguh tidak disangka kalau persoalannya jadi semakin membesar begini.

"Bila ingin julukanmu diresmikan raja-raja arak, kau harus mengikuti pertarungan di sana, Dewa Arak. Dan kalau tidak, hanya dunia persilatan saja yang mengakuimu. Tapi, tidak bagi jago-jago minum. Bagaimana? Kau bersedia?!"

"Aku sudah berjanji, Setan Mabuk. Jadi, mau tak mau harus memenuhinya. Aku akan datang. Tapi..., di mana pertarungan itu dilangsungkan?"

"Tempatnya selalu berpindah-pindah, Dewa Arak" jawab Setan Mabuk. "Tapi yang jelas, mereka selalu memilih tempat-tempat yang sepi. Kudengar, tahun ini tempat pertarungan itu akan berlangsung di Pulau Selaksa Setan. Kau tahu tempatnya, Dewa Arak?!"

Arya menganggukkan kepala. Memang dia tahu, di mana letak pulau itu.

"Kau ingin bersamaku atau ingin pergi sendiri, Dewa Arak?!" tanya Setan Mabuk.

"Aku pergi sendiri saja," Jawab Dewa Arak mantap.

"He... he... he...!”

Setan Mabuk tertawa terkekeh. Dan seiring suara tawanya, tubuh kakek berperut buncit itu berkelebat dari situ. Hanya dalam sekejapan saja, dia telah berada dalam jarak lebih dari sebelas tombak.

Arya menggeleng-gelengkan kepala. Dia memang sudah menduga kelihaian kakek ini dari pertarungan tadi, meskipun hanya bertarung sebentar saja. Disadari kalau Setan Mabuk adalah seorang lawan yang amat tangguh.

"Hhh....!”

Pemuda berambut putih keperakan itu menghela napas berat. Dipandanginya tubuh Setan Mabuk yang semakin lama semakin mengecil, dan akhirnya lenyap di kejauhan.

Kemudian baru kakinya melangkah meninggalkan tempat itu. Dia harus bergegas menuju tempat yang dimaksud, untuk memenuhi janjinya terhadap Setan Mabuk.

Apa yang akan ditemui Dewa Arak di Pulau Selaksa Setan? Siapakah yang akan memenangkan pertarungan adu minum itu? Dan bagaimana nasib Malinda yang mendendam pada Dewa Arak, tapi juga ingin membalas budi? Lalu bagaimanakah Kera Bukit Setan, Jagar, dan yang lain-lain? Apakah Arya tidak membasmi mereka? Jawaban untuk semua itu ada dalam judul "Pertarungan Raja-Raja Arak'. Di sana, Dewa Arak akan menemui kejadian yang sama sekali tidak pernah diduganya.

SELESAI

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Dewa Arak Eps 23 - Setan Mabok"

Post a Comment

close