Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 141-150

Mode Malam
Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 141-150
Walaupun si gadis telah mengerahkan tenaganya, dia tidak berhasil menarik pedangnya itu dari batang pohon tersebut.

Karena dari itu nona Cin akhirnya telah berdiam diri sambil menyusuti keringatnya. Ia berpikir keras, dia mengawasi pedangnya itu, sampai akhirnya dia tidak berusaha mencabut lagi pedangnya, karena menyadari percuma saja tidak akan berhasil menarik pedangnya itu.

Tengah si gadis gelisah sekali disebabkan dia tidak bisa menarik pedangnya itu, justeru tampak beberapa sosok tubuh yang tengah berlari-lari mendatangi.

Hati si gadis tercekat.

“Apakah Kam Yu datang kembali dengan membawa teman-temannya?” Berpikir si gadis. Dia kuatir kalau memang Kam Yu datang bersama teman-temannya, niscaya akan membuat dia dan Kim Lo sulit meloloskan diri dari tangan Kam Yu.

Tapi setelah dia memperhatikan dengan seksama dia bisa bernapas lega, karena yang tengah berlari-lari mendatangi itu bukanlah Kam Yu, seperti yang diduganya, melainkan yang berlari di sebelah depan adalah seorang gadis yang cantik bukan main.

Nona Cin jadi heran, dia memperhatikan terus, sedangkan orang-orang yang tengah berlari mendatangi, semakin dekat. Di belakang gadis itu tampak seorang lelaki berusia pertengahan baya.

Gerakan tubuh mereka sangat ringan, karena gin-kang mereka tampaknya tinggi sekali.

Di belakang sekali dari si gadis dan lelaki setengah baya tersebut berlari juga seorang wanita, dengan sikap seenaknya mukanya pun cantik sekali. Hanya usianya sudah pertengahan dan mungkin juga dia ibu dari si gadis.

Kim Lo yang tengah bertempur dengan si nenek tua bungkuk Su Nio Nio, jadi girang bukan main ketika melihat orang-orang itu, semangatnya terbangun.

“Yo Kouwnio…….! Lie Pehu! Pehbo!” Memanggil Kim Lo dengan suara yang nyaring.

“Kim Lo jangan takut!” Terdengar si gadis yang berlari di depan sudah berseru dengan suara yang sangat nyaring.

Malah dia berlari terus dengan cepat sekali, tanpa memperdulikan nona Cin yang tengah mengawasi padanya dengan sinar mata bertanya-tanya dan keheran-heranan, sedangkan waktu dia melewati nona Cin menegurnya, karena dia menyangka tentunya ke tiga orang ini sahabat Kim Lo, dia melihat betapa Kim Lo menyambut kedatangan ke tiga orang itu dengan kegembiraan yang meluap-luap.

Hanya saja gadis itu telah berlari terus menghampiri ke arah si nenek tua bungkuk, tangannya sudah mencabut pedangnya, segera dia menikam. Cepat dan hebat sekali, tenaga tikaman si gadis. Jauh lebih liehay dari cara menikam nona Cin, membuat si nenek yang tengah mendesak Kim Lo tidak berani meremehkannya.

Dia juga telah beberapa kali berseru dengan marah dia merasakan, betapa kuatnya tenaga serangan dari pedang gadis itu.

Malah disaat itu terlihat Kim Lo membarengi menyambar serulingnya, akan menotok jalan darahnya.

Dengan begitu si nenek tua bungkuk Su Nio Nio sudah menghadapi Kim Lo dan gadis she Yo itu, yang kepandaiannya ternyata tidak terpaut jauh dengan kepandaian Kim Lo, sangat liehay sekali.

Siapakah gadis she Yo itu?

Dia tidak lain Yo Bie Lan, putri dari Yo Him dengan Sasana! Cucu dari Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie.

Maka dari itu tidak mengherankan kalau begitu dia menyerang, ilmu pedangnya itu tinggi sekali, dan pedangnya menyambar dengan hebat.

Lalu siapa kedua orang usia pertengahan yang pria dan wanita itu?

Mereka tak lain dari Ko Tie dan Giok Hoa suami isteri yang liehay sekali.

Waktu itu Ko Tie dan Giok Hoa sudah datang dekat, tapi mereka tidak ikut menerjang maju mereka hanya berdiri di pinggiran dan menyaksikan pertempuran yang tengah berlangsung itu.

Di kala itu Yo Bie Lan sudah menyerang dengan setiap tikaman yang bisa mengancam si nenek pada kematian, memaksa si nenek tua itu harus main mundur.

Malah dengan pedangnya Yo Bie Lan tidak jeri untuk saling bentur dengan tongkat Su Nio Nio. Setiap kali tongkat si nenek menyambar kepadanya, dia menangkisnya dengan kuat sekali.

“Traaanggg…….,” sama sekali pedang si gadis tidak tergoyahkan, malah selalu dia bisa menarik pulang pedangnya dengan baik dan meneruskan serangan yang beruntun lagi.

Setelah mengalami beberapa kali benturan antara tongkatnya dengan pedang membuat si nenek tua bungkuk itu akhirnya jadi mengetahui bahwa kepandaian Yo Bie Lan memang sangat tinggi.

Dia jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, karena ia tidak tahu entah siapa gadis yang liehay ini! Dia melihat usia si gadis sangat muda sekali, tapi ilmu pedangnya sangat hebat.

Sedangkan si nenek juga melihat di tempat itu telah datang sepasang pria dan wanita usia pertengahan baya, yang diduganya sebagai orang tua dari si gadis yang tangguh ini. Tentu kepandaian kedua orang itu jauh lebih liehay.

Karena dari itu, hati si nenek tua jadi kecut. Belum lagi Kim Lo yang liehay. Kalau memang ke empat orang ini serentak turun tangan mengeroyoknya, bukankah ia akan menemul ajalnya? Bukankah dengan mudah dia bisa dirubuhkan?”

Dalam suatu kesempatan, waktu Yo Bie Lan tengah mengelakkan serangan tongkatnya dan Kim Lo juga tengah melompat mengelak dari serangan telapak tangan kirinya. Si nenek telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat ke belakang, dia telah menjauhkan diri.

“Suatu waktu nanti aku akan mencari kalian buat memperhitungkan semua ini!” Teriaknya dan dia angkat kaki, berlari dengan cepat sekali.

Yo Bie Lan hendak mengejar, namun Kim Lo mencegahnya

“Biar dia pergi!”

Kemudian Kim Lo menghampiri Ko Tie dan Giok Hoa. Ia berlutut memberi hormat pada suami isteri yang tangguh itu.

“Bangun Kim Lo, jangan banyak peradatan!” kata Ko Tie dengan sikap yang sabar.

Pertemuan ini memang membuat mereka jadi gembira. Karena mereka telah saling bertanya apa saja yang telah mereka hasilkan dalam perjalanan dan usaha mereka.

“Apakah kau sudah berhasil menyelidiki Giok-sie Kim Lo?” tanya Ko Tie kemudian.

Kim Lo mengangguk.

“Ya, justeru nenek tua bungkuk itupun ingin sekali memiliki Giok-sie. Ia telah menghadapi Kam Yu yang telah sempat menghilangkan jejak, sedangkan Giok-sie berada di tangan Kam Yu.......!” Setelah berkata begitu, Kim Lo segera menceritakan apa yang telah dialaminya.

Setelah selesai bercerita, barulah ia teringat pada nona Cin.

“Oh ya, belum lagi boanpwe memperkenalkan Pehhu dan Pehbo serta kau Yo Kouwnio, kepada nona Cin…….!” Sambil bilang begitu dia menoleh ke tempat di mana tadi nona Cin berdiri.

Tapi gadis itu sudah tidak terlihat bayangannya lagi! Kosong, yang tampak hanyalah pedang si gadis yang berada di batang pohon itu menancap dalam sekali.

Diwaktu itu tampak Kim Lo jadi kaget.

“Ihhh, ke mana?” serunya.

“Siapa?” Tanya Yo Bie Lan.

“Nona Cin, yang tadi kuceritakan!”

Muka Yo Bie Lan berobah, tapi dia berusaha tersenyum. Walaupun seketika hatinya jadi tidak gembira, karena dia agak cemburu.

“Apakah....... apakah gadis yang mengenakan baju hijau dan celana biru?” Tanyanya.

Kim Lo mengangguk.

“Ya, kami telah melihatnya tadi! Dia telah pergi meninggalkan tempat ini. Semula kami menduga bahwa dia adalah orangnya si nenek, kami membiarkan saja dia pergi.......!” Kata Ko Tie.

“Dialah nona Cin…….!”

“Hemmm, kalau begitu kita perlu mencari dia, buat menanyakan kepadanya, sebetulnya siapa dia mengapa dia bisa mengetahui Giok-sie sudah berada di tangan Kam Yu?”

“Ya, mengapa dia pergi tanpa memberitahukan lagi!” Gumam Kim Lo.

Waktu itu Ko Tie mengajak Kim Lo dan yang lainnya buat masuk ke dalam kuburan, pintu rahasianya masih terbuka dan belum tertutup.

Tapi setelah mereka acak-acak isi kuburan itu tetap saja Giok-sie tidak bisa mereka temukan.

Kembali kita menemui jalan buntu!

“Kalau saja nona Cin tidak pergi, tentu kita bisa meminta keterangan dari dia dan ini penting sekali!” Kata Kim Lo.

Yo Bie Lan tampaknya kurang senang. Dia sudah bilang: “Tanpa nona Cin itu pun kita bisa menyelidikinya……. Bukankah kita sudah sampai di sini, dan kita bisa saja melakukan penyelidikan lebih jauh, karena memang diwaktu sekarang ini kita pun sudah mengetahui beberapa hal tertentu.......!”

“Ya..... memang akupun berpikir begitu,” katanya, mengalah. Dia juga tertawa, menyeringai. Namun diwaktu itu tutup mukanya masih dikenakan maka si gadis tidak mengetahui Kim Lo menyeringai.

Sedangkan Ko Tie dan Giok Hoa berunding sejenak lalu Ko Tie menyarankan agar mereka mencari saja nona Cin itu karena tentunya nona Cin itu belum lagi jauh, dan mereka masih bisa mencarinya? Dari nona Cin itu, tentu akan bisa dimintai keterangan. Dan disebabkan itu pula, akhirnya membuat Kim Lo berempat berusaha untuk mencari nona Cin.

Waktu mereka pergi melakukan perjalanan, tampak Kim Lo dengan nona Yo itu bercakap-cakap dengan gembira sekali, banyak yang mereka ceritakan. Terutama sekali, justeru memang hal-hal yang menyangkut Giok-sie.

“Jadi sekarang Hui-houw-to telah pergi menyingkirkan diri?” tanya Ko Tie.

Kim Lo menggeleng.

“Entah kami juga tidak mengetahui dengan pasti apakah ia pergi meninggalkan daerah ini, atau memang ia masih berusaha untuk melakukan tugasnya, guna memperoleh upah yang besar itu. Atau memang ia pun hendak pergi menyelamatkan diri dari ketua Khong-tong-pay, karena ia tidak berhasil melaksanakan tugasnya, hal itu kami tidak mengetahuinya.......!”

“Tapi dia sebetulnya merupakan kunci yang terpenting untuk urusan Giok-sie ini justeru lewat surat yang ditulis ketua Khong-tong-pay, dunia persilatan sudah tergoncangkan untuk memperebutkan Giok-sie.......!”

“Ya, dia pun menyadari hal itu!”

“Sebetulnya…….!” Berkata sampai begitu, Giok Hoa tidak berkata lebih jauh.

Suaminya menoleh.

“Ada apa Hoa-moay?” Tanya Ko Tie.

“Aku ingin meninggalkan, bahwa sekarang ini di dalam rimba persilatan sudah terlalu panas!”

“Terlalu panas?”

“Ya……!”

“Mengapa?!”

“Karena hampir semua orang rimba persilatan yang kepandaiannya tinggi hendak memperebutkan Giok-sie. Demikian juga halnya dengan orang kerajaan, karena Kaisar penjajah itu pun bermaksud hendak memperoleh Giok-sie. Entah sudah berapa banyak pahlawan kerajaan yang dikerahkannya buat mencari Giok-sie.

“Hemmm, itu belum seberapa, yang cukup berbahaya adalah ketua Khong-tong-pay itu karena ia seakan juga mengetahui jelas tentang Giok-sie.

“Ya…..!” Tampak Giok Hoa pun menghela napas kemudian menoleh kepada Kim Lo. “Apakah dalam hal ini terjadi urusan yang kau temukan…… umpamanya tentang Giok-sie itu!”

Kim Lo menggeleng.

“Tidak ada yang berani, karena si gadis she Cin itu telah pergi sebelum aku sempat memperoleh keterangan! Waktu kami berdua datang ke kuburan ini kami tidak memiliki kesempatan buat terlalu banyak bicara.

“Karena di waktu itu ada dua orang anak buah Kam Yu yaitu Ang-lie dan Tang Mun….. Belum banyak keterangan yang diberikan nona Cin kepadaku?”

“Baiklah! Apakah kau tidak ingat atau memang pernah nona Cin itu memberitahukan padamu sesungguhnya dia dari mana?” Tanya Ko Tie.

Kim Lo menggeleng.

“Tidak! Malah dia belum lagi memberitahukan namanya, dia cuma memberitahukan she nya itu!”

“Hemm, benar-benar gadis itu diliputi rahasia yang sangat mengherankan sekali.”

“Ya, ia merupakan seorang gadis yang luar biasa!” Kata Kim Lo sambil mengangguk.

Muka Yo Bie Lan berobah.

“Hemm, memang luar biasa cantiknya!”

Kim Lo melirik.

Dia jadi kaget melihat mata Yo Bie Lan. Cepat-cepat dia berusaha bilang lagi buat menyelesaikan persoalan yang sebenarnya.

“Untuk urusan ini tidak terdapat hubungan apapun di antara kami, karena kami baru saja berkenalan....... Justru dia telah pergi sebelum lagi memberitahukan hal-hal yang penting! Tampaknya nona Cin mengetahui banyak tentang Giok-sie……..!”

“Kemudian bagaimana nasib nelayan yang beruntung memperoleh Giok-sie itu?!”

“Kalau tidak dibunuh oleh Kam Yu dan anak buahnya tentu dia masih hidup!”

Ko Tie dan Giok Hoa tersenyum mendengar perkataan Kim Lo. Demikian juga Yo Bie Lan yang tidak urung tertawa.

Kim Lo jadi malu. Dia tadi telah salah bicara maka dia membisikinya:

“Maksudku kalau memang nelayan itu memberikannya secara baik-baik kepada Kam Yu, niscaya setelah memperoleh Giok-sie itu, Kam Yu tidak membunuh si nelayan, cuma memindahkannya ke tempat lain agar si nelayan tidak membuka mulut lagi di luaran....... tentu saja dengan memberikan juga hadiah yang sangat besar sekali kepada nelayan itu.”

Ko Tie mengangguk,

“Ya, kemungkinan itu bisa saja terjadi kalau memang kita bisa mencari jejak si nelayan buat meminta keterangan dirinya itu pun sangat penting!”

“Benar Pehu, dan nona Cin tampaknya mengetahui di mana beradanya si nelayan! Sampai Giok-sie berada di tangan Kam Yu dia mengetahui dengan jelas…….!”

Yo Bie Lan mendengus dingin.

“Ya, memang nona Cin mu telah serba tahu akan persoalan!” katanya tak senang.

Kim Lo tak melayani sikap si gadis.

“Pehhu, apakah kita akan mencari terus jejak nona Cin?” tanyanya.

“Ya!”

“Baiklah, kalau begitu coba kita pergi ke tempat dimana aku pernah bertemu pertama kalinya dengan gadis she Cin itu, mungkin ia berada di sekitar tempat itu!”

Yo Bie Lan tak bilang apa-apa, ia jalan di belakang rombongan. Mukanya cemberut, tampaknya masam. Ia tidak senang dan tengah mendongkol.

Ko Tie dan Giok Hoa senyum-senyum saja melihat sikap si gadis, sedangkan Kim Lo pura-pura tak melihat sikap si gadis.

Diwaktu itu, Yo Bie Lan akhirnya tidak bisa menahan perasaannya.

“Kim Koko, aku ingin membicarakan suatu padamu!” Katanya.

Kim Lo menoleh.

“Dengan aku?” Tanyanya sambil menunjuk diri.

Yo Bie Lan mengangguk.

“Ya!”

Kim Lo menoleh kepada Ko Tie dan Giok Hoa.

“Maafkan Pehhu dan Pehbo……. nona Yo ingin membicarakan sesuatu denganku.”

“Silahkan!”

Giok Hoa menyeletuk menggoda si nona Yo. “Apakah kami tidak boleh diajak mendengarkan percakapan kalian?”

Pipi nona Yo berobah merah, tapi dia masih bisa memaksakan diri tersenyum.

Selama berjalan berdua begitu, hati Kim Lo jadi berdebar keras sekali. Dia sering melirik dan melihat, walaupun dalam keadaan cemberut masam seperti itu, muka si gadis cantik bukan main.

Dan gadis she Yo ini seperti juga secantik bidadari. Entah apa akan dibicarakannya?

“Nona Yo…….!” Panggil Kim Lo akhirnya, setelah melihat si gadis berdiam diri saja.

“Ya.”

“Apakah yang hendak nona katakan padaku?” tanya Kim Lo lagi.

Yo Bie Lan tampak bimbang sekali, ia berhenti melangkah dan memetik sekuntum bunga di tepi jalan, lalu berjalan lagi perlahan-lahan.

“Memang ada yang ingin kutanyakan padamu, tapi entah Kim Koko akan marah atau tidak?!” tanya si gadis kemudian, suaranya perlahan.

Hati Kim Lo semakin berdebar. Ia heran, mengapa sikap si gadis yang biasanya terbuka, jadi demikian pemalu.

“Mengapa harus marah nona Yo? Katakanlah, apa yang ingin kau tanyakan?!”

“Sebetulnya tentang........ tentang…..!!”

“Tentang apa nona Yo?!”

“Perihal nona Cin mu itu…….!”

“Oh, nona Cin?!” Kim Lo jadi tertawa.

Yo Bie Lan menoleh mukanya cemberut.

“Mengapa kau tertawa?!” Tanyanya tidak senang.

Mulut Kim Lo seketika terkatup, lenyap tertawa. Diapun menunduk.

“Tidak apa-apa.......!” sahutnya segera.

“Apakah pertanyaanku itu lucu sehingga perlu kau tertawakan?” tanya si gadis, yang tampaknya tersinggung.

“Oh bukan…... bukan begitu nona Yo. Semula aku menduga, persoalan yang ingin kau tanyakan adalah persoalan Giok-sie atau urusan yang sangat penting. Siapa tahu akhirnya ternyata yang hendak kau tanyakan adalah hanya persoalan nona Cin belaka.......

“Aku jadi merasa geli karena sebelumnya aku menduga urusan yang menyenangkan hati, di mana tadi aku terus terang memang merasa tegang. Tidak tahunya hanya urusan biasa saja?”

“Ya…… urusan nona Cin pun kukira sangat penting. Bukankah sekarang ini kita pun tengah mencari jejaknya, karena dari dia akan kita peroleh banyak keterangan?!”

Kim Lo mengangguk.

“Karena itu, kukira yang akan kutanyakan tentang nona Cin pun merupakan urusan yang sangat penting sekali.”

“Ya, ya, tadi aku tidak terpikir sampai ke situ!”

“Maafkan aku nona Yo!”

“Yang ingin kutanyakan…..!” Berkata sampai di situ, tampak si gadis bimbang.

“Mengapa nona?!”

“Tentang pribadinya tentu kau mengetahuinya?!”

Kim Lo tertegun sejenak, kemudian tertawa lagi. Tapi baru saja dia tertawa sebentar, dia sudah berhenti tertawa, karena dia teringat tadi si gadis tidak senang dia tertawa. Maka dari itu cepat-cepat dia berhenti tertawa.

Yo Bie Lan menoleh kepada Kim Lo. Tatapan matanya agak aneh luar biasa membuat Kim Lo heran dan telah menunduk karena dia tidak berani menantang tatapan mata si gadis. Sampai akhirnya si gadis bertanya kepada Kim Lo.

“Benarkah gadis itu tidak pernah menceritakan sesuatu apapun padamu?!”

Kim Lo semakin heran, ia mengangguk.

“Ya. Apakah ada sesuatu yang tak beres, nona Yo?” tanya Kim Lo kemudian.

Gadis itu tampak muram ia bilang: “Kulihat hubunganmu dengan gadis itu cukup baik karena tadi....... tadi…….!”

“Ya?!”

“Gadis itu dalam keadaan terluka. Bukankah begitu?!”

Kim Lo mengangguk.

“Benar, Gadis itu memang tengah terluka, kepandaian nona Cin memang belum begitu sempurna, sehingga ia kena dilukai oleh Su Nio Nio si nenek tua itu!”

“Hemmm, tentunya ia bertempur mati-matian karena membela kau bukan?”

“Ya, memang aku merasa berhutang budi padanya. Waktu aku terdesak oleh nenek tua bungkuk itu, ia telah menerjang nekad dengan pedangnya.

“Malah akhirnya membuat ia terluka seperti itu, dan ia dua kali terkena serangan Su Nio Nio. Sedangkan aku sendiri akhirnya dapat terlolos dari ancaman!”

Muka Bie Lan jadi semakin guram.

“Kalau memang demikian halnya, maka jelas kalian memang memiliki hubungan yang jauh lebih intim. Jika tidak mustahil dia mau membela mati-matian seperti itu kepadamu?”

Muka Kim Lo terasa panas, tapi karena dia mengenakan penutup muka, maka si gadis tidak mengetahui perubahan muka si pemuda, dia sudah menghela napas dalam-dalam, dia bilang.

“Jika memang nona bilang begitu kukira salah. Tapi jika memang nona Cin memiliki maksud tertentu, yaitu hendak meminjam tanganku buat melakukan sesuatu kemungkinan itu jauh lebih besar.”

“Baiklah!” kata nona Yo, “Jika memang demikian, ya sudah!”

“Sebetulnya ada apa nona Yo?!”

“Tidak ada apa-apa……..!”

“Tampaknya kau menaruh perhatian kepada nona Cin!”

Muka Yo Bie Lan berobah merah.

“Justeru aku kuatir karena melihat wajahnya yang cantik, lalu kau bisa diperalat oleh dia untuk merebut Giok-sie tanpa ingat lagi kepada kami!”

Yo Bie Lan waktu bilang begitu, suaranya tawar.

Kim Lo terkejut.

“Ohhh, untuk ini tentu saja tidak mungkin terjadi!! Justeru lewat nona Cin itu aku ingin mengorek keterangan darinya…….!”

“Benarkah?” Bie Lan melirik

Kim Lo mengangguk.

“Tentu saja benar, nona Yo!”

“Apakah sudah menerima keterangan darinya?”

“Be……… belum. Tidak ada kesempatan untuk membicarakan sesuatu lainnya, karena di waktu itu beruntun kami menghadapi Su Nio Nio juga Kam Yu dengan anak buahnya.”

“Hemmm, tapi aku jadi curiga.”

“Apa yang kau curigakan, nona!”

“Kalian tentu bukan bersungguh-sungguh untuk mengurus Giok-sie melainkan……. melainkan…..”

“Melainkan apa nona Yo?!”

“Justeru aku curiga bahwa kalian justeru bukannya mencari Giok-sie, malah kalian telah berkasih-kasihan…….!”

Kaget Kim Lo.

“Oh, nona Yo…… mengapa kau memiliki dugaan seperti itu…..?”

“Karena aku tadi melihat sinar mata dari nona Cin mu itu, yang mengandung perasaan tidak puas, waktu melihat aku dengan paman Ko Tie dan bibi Giok Hoa tiba di sini…….!”

“Hemmm, kalau memang demikian halnya nona memiliki dugaan yang keliru……!”

“Dugaan keliru bagaimana?”

“Karena tampaknya nona tidak melihat bahwa betapa canggungnya nona Cin itu. Dimana ia tidak kenal dengan kalian dan dia malah tidak tahu harus menegur bagaimana pada kalian!

“Akupun menyesal, karena gembira melihat kedatangan kalian, aku telah melupakan dan tidak mengacuhkannya, sehingga ini mungkin saja membuat dia tersinggung karena merasa tidak diacuhkan oleh kita!”

“Hemmm, memang jelas ia tersinggung dan malah…… malah kulihat ia cemburu! Karena melihat orang yang dikasihinya tidak melayaninya dengan baik.”

Setelah berkata begitu, Yo Bie Lan tertawa perlahan, tapi sinis sekali suara tertawanya itu.

Kim Lo menghela napas. Memang sulit sekali mengenal hati wanita. Sebetulnya nona Yo sangat baik padanya entah mengapa sekarang justeru nona Yo tampaknya selalu mengejeknya dan sikapnya dingin sekali.

Tapi Kim Lo tidak berani untuk berpikir sejauh itu. Ia tahu Yo Bie Lan memiliki sikap yang agung tidak sembarangan pria yang bisa mendekatinya.

Dan juga memang Yo Bie Lan sangat cantik sekali. Akan banyak pria tampan dan gagah bersedia menjadi suaminya, sedangkan Kim Lo sendiri teringat kepada mukanya, yang seperti kera.

Dia jadi rendah diri. Dia tidak berani untuk berpikir yang tidak-tidak, sejauh ini, selama waktu-waktu yang lewat, Kim Lo memang masih belum bersedia untuk membuka tutup mukanya pada siapapun juga dan memang si gadis belum lagi mengetahui tentang keadaan Kim Lo yang sebenarnya.

Kim Lo jadi tertegun saja, ia seperti termenung tanpa berkata apapun juga.

Diwaktu itu tampak nona Yo telah bilang dengan suara yang perlahan, karena melihat Kim Lo tengah termenung tanpa bicara sepatah perkataan pun juga: “Tengah memikirkan nona Cin mu? Sudah rindu sekali rupanya?”

Kim Lo menghela napas.

“Nona Yo........ harap nona jangan menggoda terus menerus.......!”

“Menggodamu? Hemm kukira aku tidak menggoda, memang tampaknya kau tengah memikirkan, nona Cin mu itu!” Setelah berkata begitu, Yo Bie Lan menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat sangat cepat sekali, ia menyusuli Ko Tie dan Giok Hoa.

Kim Lo terkejut.

“Nona Yo…….!” panggilnya.

Yo Bie Lan tetap berlari, ia tak memperdulikan panggilan Kim Lo.

Terpaksa Kim Lo mengejarnya.

“Nona Yo. Apakah kau marah padaku!” Tanya Kim Lo.

Yo Bie Lan menoleh, tapi dia berlari terus.

“Mengapa harus marah?” Tanyanya.

“Hemmmm, tampaknya nona tidak menyukai hubunganku dengan nona Cin?”

“Mengapa aku tidak senang? Itu bukan urusanku!” Kata si gadis. Dia berlari lebih cepat.

“Tugggu dulu nona Yo…….!”

Tapi Bie Lan sudah berlari terus.

Kim Lo tidak mengejar lagi. Dia menghela napas.

Memang sebenarnya dia merasakan betapa pun juga si gadis tidak menyukai hubungannya dengan nona Cin.

Di waktu itu tampak Kim Lo sudah menyusul Ko Tie dan Giok Hoa. Dia telah menghampiri Ko Tie, bilangnya: “Paman Ko Tie. Kita ingin pergi ke mana??”

“Kita mencari nona Cin!” Menyahuti nona Yo dengan suara nyaring. Mendahului Ko Tie.

Ko Tie dan Giok Hoa tersenyum.

“Ya, kita akan mencari nona Cin. Setelah bertemu dengannya. Tentu kita bisa mendengar

keterangan yang lebih jelas darinya.”

“Tapi kita mau mencarinya ke mana?” Tanya Kim Lo.

“Tentu saja kita harus berusaha? Karena memang di waktu sekarang ini entah dia sudah pergi ke mana?”

Kim Lo terdiam. Dia berjalan terus di samping Ko Tie! Di dalam hatinya ia berpikir, betapapun juga, memang dia akan berusaha untuk mencari nona Cin, karena dia ingin memperlihatkan kepada Yo Bie Lan, bahwa antara dia dengan nona Cin itu tidak memiliki hubungan apa pun juga.

Tapi kemanakah mereka ingin mencari nona Cin itu? Sedangkan tempat nona Cin itu tidak mereka ketahui dengan jelas dan memang gadis she Cin itu sudah pergi ke mana atau memang dia sudah pergi jauh sekali.

Mereka akhirnya tiba di sebuah kampung perkampungan yang cukup besar dan ramai. Kampung Yang-wie-cung sebuah kampung yang merupakan penduduknya lebih banyak bertani. Di waktu mereka tiba di pintu kampung justeru perhatian mereka tertarik kepada orang ramai yang tengah mengerumuni sesuatu.

Cepat-cepat mereka menghampiri.

Ternyata yang tengah dikerumuni orang banyak itu adalah sesosok mayat laki-laki berusia pertengahan. Mukanya rusak sampai tidak bisa dikenali lagi. Tubuhnyapun rusak karena senjata tajam. Darah melumuri tubuhnya.

“Siapa orang itu?” Tanya Ko Tie kepada salah seorang yang berada di dekatnya.

“Entah, kami sendiri tidak mengetahui!” Menjawab orang itu.

“Mengapa dia terbunuh?”

“Kami juga tidak mengetahui, karena kami datang diwaktu ia telah menggeletak tidak bernyawa di situ.”

“Apakah tidak ada yang sampai melihat siapa yang telah membunuhnya?”

Orang itu menggeleng.

Ko Tie memperhatikan sejenak lagi. Dilihat dari cara berpakaian orang itu tampaknya dia berasal dari kalangan Kang-ouw.

“Hemm, entah siapa yang telah turunkan tangan telengas seperti ini?” menggumam Ko Tie.

Kim Lo pun memperhatikan. Tapi dia tidak melihat tanda-tanda di diri orang itu, siapa yang telah membunuh orang tersebut.

Kemudian mereka sepakat buat meneruskan perjalanan mereka, masuk ke dalam kampung itu. Mencari rumah penginapan dan meminta tiga kamar.

Waktu pelayan sedang menyediakan air teh, Ko Tie telah menanyakan kepada pelayan itu tentang pembunuhan di pintu kota.

Muka pelayan itu agak pucat, sikapnya ragu-ragu sekali.

“Memang belakangan ini seringkali terjadi pembunuhan kejam seperti itu. Toaya!” Kata si pelayan: “Entah siapa pembunuhnya yang bertangan telengas itu!”

“Seringkah terjadi pembunuhan seperti itu?” Tanya Giok Hoa.

Pelayan itu mengangguk.

“Malah tidak jarang dalam hari yang sama ada dua kurban!”

“Apakah di dalam kampung ini terdapat perkumpulan silat? Atau pintu perguruan silat?” Tanya Kim Lo.

Pelayan itu menggeleng.

“Tidak ada!”

“Tapi orang yang dibunuh itu apakah orang atau penduduk kampung ini?”

“Tampaknya bukan. Karena tidak ada sanak famili di kampung ini yang merasa terbunuh!”

“Hemmm, jadi korban pembunuh itu umumnya orang luar?” Tanya Ko Tie.

Pelayan itu mengiayakan.

“Pendatang asing!”

“Tidak pernah ada yang bisa menduga-duga apa yang telah melakukan pembunuhan itu!”

Pelayan itu menggeleng.

Karena pelayan itu tidak mengetahui banyak tentang pembunuhan tersebut, Ko Tie pun tidak bertanya lebih banyak lagi.

Setelah pelayan itu pergi, Ko Tie bilang kepada Kim Lo. “Menurut keterangan pelayan itu, memang di sini seringkali terjadi pembunuhan seperti itu…....”

“Ya…... jika memang demikian di kampung ini tentu si pembunuh berkeliaran.......!”

Ko Tie mengangguk.

“Malam ini kita pergi menyelidiki.”

Begitulah, mereka telah melewati waktu menantikan sampai tibanya malam.

Di saat malam telah larut, Ko Tie berpesan kepada Giok Hoa, agar isterinya itu berdiam saja di rumah penginapan bersama Yo Bie Lan. Dia bersama Kim Lo akan pergi melihat-lihat keadaan kampung ini untuk menyelidiki siapakah pembunuh bertangan telengas itu.

Giok Hoa tidak keberatan. Dia memang tengah lelah. Dia ingin beristirahat. Tapi Yo Bie Lan mendesak ingin ikut serta.

“Kau menemani bibimu nanti, kita pun akan segera kembali! Jika memang kami gagal dengan penyelidikan kami, besok kalian boleh ikut. Siapa tahu pembunuhnya berdiam di rumah penginapan ini juga.”

Yo Bie Lan akhirnya mau juga mengerti. Ia tidak mendesak lebih jauh untuk ikut serta.

Begitulah, setelah mengencangkan baju mereka, Ko Tie dengan Kim Lo pergi meninggalkan rumah penginapan dengan mengambil jalan di atas genting rumah penduduk. Mereka mengandalkan gin-kang mereka yang mahir, dapat bergerak leluasa sekali.

Malam telah larut dan sepi.

Ko Tie dengan Kim Lo berlari di atas genting mengelilingi kampung itu.

Di waktu itu tampak juga betapa keadaan di kampung tersebut memang sangat sepi sekali.

Malah tidak terlihat orang yang berkeliaran karena mungkin penduduk kampung telah tertidur nyenyak di pembaringan masing-masing.

Kim Lo dan Ko Tie telah berlari-lari mengelilingi kampung itu, tapi mereka tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan.

Akhirnya Ko Tie telah bilang kepada Kim Lo: “Kita kembali saja!”

“Tunggu dulu paman!” Kata Kim Lo. Dia melihat sesuatu di sebelah bawah sana.

Kim Lo segera dia mengangguk.

Keduanya seperti telah berjanji, melompat turun dari atas genting rumah penduduk di mana mereka berada.

Ternyata di sebelah bawah sana tampak sesosok bayang merah yang tengah berlari dengan gesit sekali, merupakan gulungan warna merah.

Melihat cara berlarinya sosok bayangan merah itu maka jelas itulah seseorang yang mengenakan pakaian merah, yang memiliki gin-kang sangat tinggi.

Entah apa yang tengah dikejar oleh orang berpakaian baju merah itu.

Kim Lo dan Ko Tie mengejarnya.

Karena mereka mengejar dengan hati-hati dan berusaha agar orang di sebelah depan tidak mengetahui dirinya tengah dikuntit, maka mereka berlaku hati-hati sekali dengan mengejar tidak terlalu dekat.

Sosok bayangan merah itu terus juga berlari gesit dan lincah sampai akhirnya dia menikung di sebuah tikungan yang kecil.

Kim Lo dan Ko Tie memburunya, mereka mengejar sampai di tikungan itu.

Tapi mereka kehilangan jejak. Mereka tidak melihat sosok bayangan merah itu.

Di waktu Lie Ko Tie sudah mengawasi sekitar tempat itu dia heran bukan main.

“Apakah dia sudah masuk ke dalam salah satu rumah penduduk di jalan ini?” Gumam Ko Tie perlahan.

Kim Lo mengangguk.

“Mungkin! Mari kita lihat, paman Lie!”

Sambil bilang begitu dia pun telah menjejakan kakinya, tubuhnya segera juga melompat ke atas genting rumah penduduk.

Dari atas genting rumah penduduk Kim Lo bisa mengawasi sekitar tempat itu dengan leluasa.

Ko Tie sudah menyusul.

Tapi sosok bayangan merah itu tidak terlihat, dia seperti telah lenyap begitu saja masuk ke dalam perut bumi.

“Aneh! Ke mana perginya orang itu?!” Menggumam Ko Tie. “Kita mengejarnya tidak terlalu jauh, dan kitapun masih bisa tiba di tikungan itu cuma beberapa detik. Mengapa dia bisa mengghilang dalam waktu begitu singkat?!”

Kim Lo dari Ko Tie jadi penasaran. Mereka terus juga mencarinya. Tapi sosok bayangan merah itu tetap saja tidak ada.

Tapi, mata Kim Lo yang tajam, ketika dia menoleh ke belakang, dia melihat sosok bayangan merah itu, jauh sekali, terpisah beberapa puluh rumah.

“Ihhh!” Kim Lo mengeluarkan seruan tertahan. Tanpa bilang suatu apapun juga dia sudah mengejarnya ke arah sosok bayangan merah itu.

Tubuh Kim Lo pesat sekali seperti terbang. Ko Tie juga sudah menyusul sama gesitnya.

Sosok bayangan merah kali ini tidak berlari di jalan, melainkan di atas genting rumah penduduk.

Rupanya dia mengetahui tadi dirinya tengah diikuti, maka ketika menikung, dia sudah merobah arahnya. Dia melompat ke atas genting dan berlari di atas genting. Karena itu, buat sementara waktu Kim Lo dan Ko Tie tidak melihatnya.

Tapi sekarang, walaupun jarak mereka terpisah cukup jauh, Kim Lo dan Ko Tie telah mengejarnya terus. Dengan mengerahkan tenaga dan gin-kang mereka, ke dua orang ini akhirnya bisa memperpendek jarak pisah diantara mereka dengan si bayangan baju merah.

Orang yang dikejar mereka tampaknya mengetahui dirinya tengah dikejar sama Kim Lo dan Ko Tie. Ia berlari semakin cepat juga. Dia berlari seperti terbang saja layaknya.

Dalam keadaan seperti ini Ko Tie habis kesabarannya, ia melompat tinggi dan tubuhnya melesat sangat cepat sekali. Diapun berseru nyaring, “Sahabat di depan berhentilah! Ada yang hendak kami bicarakan dengan kau!”

Tapi sosok bayangan merah itu terus juga berlari dengan lincah sekali, tubuhnya terus juga berkelebat seperti gumpalan bayangan merah. Dia tidak memperdulikan teriakan Ko Tie.

Ko Tie dan Kim Lo semakin curiga.

Melihat sosok bayangan merah itu selain memiliki kepandaian yang tinggi, juga seperti tengah berusaha menyingkir dari mereka, maka dari itu, Kim Lo dan Ko Tie yakin, tentunya si sosok bayangan merah ini adalah si pembunuh yang selalu membinasakan korbannya dengan kejam sekali.

Tanpa buang waktu Kim Lo dan Ko Tie telah mengejar lagi lebih cepat.

Dalam saat-saat seperti itu, mereka seperti tengah saling kejar mengejar main petak kucing. Dan orang berbaju merah tersebut akhirnya berlari keluar dari kampung itu.

Kim Lo dan Ko Tie tetap saja tidak mau melepaskan buruan mereka, malah Ko Tie sudah mengempos semangatnya, dia mengejar semakin cepat lagi.

Jika sebelumnya jarak mereka terpisah puluhan tombak, sekarang hanya beberapa tombak saja.

Kim Lo yang sudah tidak sabar, mengayunkan tangan kanannya, menimpukan belasan batang jarum. Belasan batang jarum itu melesat ke arah sosok bayangan merah itu dengan kekuatan penuh.

Namun sosok bayangan merah itu benar-benar tangguh. Dia bukan seperti biasanya, orang lain yang mengelakkan serangan semacam itu dengan mengerahkan sin-kangnya dan mengibaskan lengan bajunya, menahan larinya. Dia malah menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat ke depan jauh lebih cepat, berulang kali dia melompat.

Di saat itu terlihat juga betapa orang berbaju merah ini berusaha menghindar dari kejaran Ko Tie dan Kim Lo, karena dia telah berlari terus.

Dalam keadaan seperti ini Ko Tie dan Kim Lo benar-benar penasaran. Dia heran mengapa sosok bayangan merah itu berusaha menghindar dirinya, sedangkan kepandaian sosok bayangan merah itu tidak rendah.

Setelah kejar-mengejar sekian lama akhirnya mereka tiba di tegalan.

Sosok bayangan merah itu masih berusaha berlari cepat seperti terbang. Cuma saja yang mengejarnya adalah orang-orang yang memiliki gin-kang sempurna, dengan demikian membuat jarak mereka semakin dekat.

Ko Tie yang sudah penasaran sekali, mengempos semangatnya dan mengejar semakin cepat juga. Demikian pula halnya dengan Kim Lo. Mereka berdua mengejar sesosok bayangan merah itu dengan mengerahkan gin-kang mereka, maka mereka seperti juga terbang dan ke dua kaki mereka seakan juga tidak menginjak tanah.

Bayangan merah itu rupanya menyadari bahwa akhirnya dia tidak akan dapat meloloskan diri dari Kim Lo dan Ko Tie. Dia menahan langkah kakinya, mendadak sekali berhenti.

Malah ia memutar tubuhnya, menantikan kedatangan Ko Tie dan Kim Lo. Dia juga bertolak pinggang disusul dengan suaranya yang nyaring.

“Mengapa kalian terus juga mengikuti aku?”

Waktu Kim Lo telah tiba. Dia melihat sosok bayangan merah itu. Dia jadi kaget dan heran karena dia segera mengenali siapa adanya orang itu.

Dialah seorang wanita yang cantik sekali dan ia tidak lain dari Ang-hoa Liehiap.

“Hemmm, kiranya kau?” Tegur Kim Lo dengan suara yang tawar.

Ang-hoa Liehiap juga tertawa dingin.

“Benar! Memang aku! Hemm….. tidak tahunya orang yang mengejar aku adalah si kera bertubuh manusia? Pantas larinya seperti kera.”

Diejek seperti itu darah Kim Lo meluap tapi ia belum lagi bisa berkata.

Ko Tie mendahuluinya: “Engkaukah yang selama ini sering melakukan pembunuhan di kampung ini, Siocia?!”

“Hemm, dia seorang iblis yang bertangan telengas sekali, paman Lie! Pasti semua pembunuh kejam itu dilakukan olehnya!” teriak Kim Lo.

Ko Tie menoleh kepada Kim Lo.

“Kau kenal padanya?”

“Dialah Ang-hoa Lehiap! Tapi seharusnya dia digelari Ang-hoa Tok-kwie (Iblis Beracun Bunga Merah)

Muka Ang-hoa Lehiap berobah merah.

“Hemm, mulutmu kurang ajar sekali! Sudah mukamu seperti kera, masih tidak tahu diri kau minta mampus rupanya?”

Kim Lo tertawa.

“Baiklah dulu kita belum lagi puas untuk main-main……. sekarang marilah kita main-main.......!”

Setelah berkata begitu, Kim Lo menjejakkan kakinya, tubuhnya segera juga melesat ke depan Ang-hoa Lehiap. Malah di tangan Kim Lo telah tercekal serulingnya, yang telah dicabutinya dengan cepat sekali.

Serangan Kim Lo dengan serulingnya memang sangat cepat karena dia tahu Ang-hoa Lehiap memiliki kepandaian tinggi, dia tidak boleh memandang remeh padanya. Dia harus menghadapinya dengan sebaik mungkin.

Waktu itu Ang-hoa Liehiap telah berkelit dengan lincah, dia tertawa dingin.

“Rupanya kau malu jika rupamu seperti kera itu diperlihatkan kepada orang lain, membuat engkau tetap saja menyelubungi mukamu dengan kain penutup itu!”

Diejek begitu, kembali Kim Lo tambah murka.

Serulingnya telah menyambar-nyambar dengan gencar kepada Ang-hoa Lehiap.

Dalam keadaan seperti ini, Ang-hoa Lehiap, wanita yang cabul ini sama sekali tidak gentar. Dia balas menyerang dengan hebat.

Di waktu itulah tampak Kim Lo juga sudah berusaha mendesaknya, mereka jadi bertempur dengan seru.

Ko Tie mengawasi saja. Dia merasa tidak pantas jika memang dia harus turun tangan mengeroyok Ang-hoa Lehiap seorang wanita. Karena dari itu, dia cuma berdiri diam saja di pinggiran, menyaksikan bagaimana ke dua orang itu tengah bertempur.

Setelah mengawasi sekian lama. Ko Tie merasa kagum sekali dengan kemajuan yang telah diperoleh Kim Lo.

Mereka berpisah belum begitu lama. Sekarang setelah bertemu kembali, kepandaian Kim Lo ternyata sudah memperoleh kemajuan yang sangat pesat sekali.

Demikian juga halnya dengan Ang-hoa Lehiap. Di melihat kepandaian wanita cantik ini tidak rendah. Dia jadi heran, entah siapa adanya Ang-hoa Lehiap ini?

Kepandaiannya campur baur, seperti ada jurus-jurus Siauw-lim-sie, ada jurus-jurus dari Bu-tong-pay atau Kun-lun-pay. Dengan demikian sulit menerka asal usul wanita tersebut dilihat dari ilmu silatnya.

Pertempuran antara Kim Lo dan wanita itu berlangsung terus dengan seru.

Ang-hoa Lehiap sendiri mulai mengerahkan seluruh kepandaiannya buat menghadapi Kim Lo. Ia merasakan betapa semakin lama serangan Kim Lo semakin hebat.

Karena dari itu, ia tahu jika ia main-main, dengan sikapnya melayani Kim Lo, berarti dirinya sendiri yang akan celaka. Itulah sebabnya mengapa ia akhirnya telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Malah waktu ia mulai terdesak karena melayani Kim Lo dengan tangan kosong belaka, akhirnya ia sudah mencabut pedangnya. Dengan pedangnya itu ia memberikan perlawanan, menangkis berulangkali seruling Kim Lo yang menuju ke dirinya.

Dalam keadaan seperti itu, tampaknya kepandaian mereka memang berimbang.

Ang-hoa Lehiap sendiri heran, mengapa berpisah belum begitu lama, kepandaian Kim Lo sudah memperoleh kemajuan yang lebih hebat dari yang dulu.

Mereka pernah bertempur dan Ang-hoa Liehiap merasakan kepandaian Kim Lo lebih hebat dari dulu.

Walaupun dulu kepandaian Kim Lo tinggi, tapi tidak sehebat sekarang.

Setelah bertempur seratus jurus lebih, napas Ang-hoa Lehiap mulai memburu karena sejak tadi dia lebih banyak mengelakkan diri dari sambaran seruling lawannya.

Kim Lo sendiri semakin lama semakin penasaran, dia melancarkan totokan dan tabasan dengan serulingnya, setiap kali menyerang dia mengerahkan tujuh bagian tenaga dalamnya. Dan setiap kali pedang lawan ditangkis keras oleh serulingnya, tentu akan menimbulkan suara bentrokan yang sangat nyaring.

Dalam keadaan seperti itu, Kim Lo berusaha mencari kelemahan musuhnya. Namun dia belum juga bisa melihat dimana letak kelemahan ilmu pedang lawannya.

Ang-hoa Lehiap mendongkol bukan main telah melampiaskan kemarahannya dengan berulangkali memaki Kim Lo yang disebut-sebut sebagai manusia kera.

Ko Tie sendiri akhirnya melihat bahwa Ang-hoa Lehiap memang memiliki kepandaian tinggi. Malah ilmu pedangnya itu telengas sekali, arah yang diincarnya selalu dipilih bagian yang bisa mematikan. Karena dari itu dia juga telah memutuskan, bahwa dia harus ikut menerjang buat merubuhkan Ang-hoa Lehiap.

Dalam keadaan seperti ini, setelah berpikir sejenak, Ko Tie menyampingkan soal malu atau tidak, yang penting dia harus menangkap Ang-hoa Lehiap untuk mengorek keterangan dari mulutnya. Jika mengandalkan Kim Lo, mungkin akan makan waktu lama sekali, agar wanita itu dapat dirubuhkan.

Belum tentu Kim Lo akan bisa merubuhkannya. Itulah sebabnya Ko Tie akhirnya menerjang, dia mempergunakan pedangnya disaat mana pedang Ang-hoa Lehiap tengah menyambar kepada kepala Kim Lo.

Diapun berseru: “Kim Lo kau mundurlah, biarkan aku yang melayaninya!”

Kim Lo tidak membantah dia mengetahui liehaynya ilmu pedang paman Lie ini. Karena dari itu, dengan majunya Ko Tie, tentu Ang-hoa Lehiap akan dapat menghadapi dengan mudah. Maka dia pun melompat mundur.

Di waktu itu, Kim Lo pun melihat Ang-hoa Liehiap sudah mulai letih. Tentu dengan turun tangannya Ko Tie tidak akan lama lagi Ang-hoa Liehiap akan dapat dirubuhkannya.

Ang-hoa Liehiap memandang Ko Tie sejenak, dia kemudian tersenyum manis.

“Pria tampan dan gagah. Walaupun usiamu telah tinggi, tapi engkau seorang pria yang matang sekali!” Kata Ang-hoa Liehiap dengan sikap yang genit.

Ko Tie mendongkol sekali, mukanya berobah muram dan merasa muak melihat sikap centil dari perempuan itu. Maka dia sudah berseru nyaring,

“Lihat serangan........!” Pedangnya meluncur sangat cepat sekali, di mana dia sudah membuka serangan.

Ang-hoa Liehiap sudah menyerang juga bertubi-tubi kepada Ko Tie karena dia membalas menyerang dengan sekaligus lima kali serangan.

Begitulah, mereka berdua telah bertempur dengan seru sekali, sama-sama memakai pedang sebagai senjata mereka. Sama memiliki kepandaian yang tinggi. Maka pedang mereka berkelebat-kelebat merupakan sinar keperak-perakan.

Tubuh mereka pun sudah merupakan bayangan saja melompat ke sana ke mari.

Dikala itu Ko Tie merasakan ilmu pedang Ang-hoa Liehiap memang aneh, karena jurus-jurusnya dapat berobah di luar dugaan. Jika sebelumnya, ia menyerang dengan jurus “Naga Mencakar Awan” maka dalam waktu singkat, ia sudah bisa merobahnya dengan jurus “Burung Terbang Bebas”.

Jika jurus pertama itu berasal dari perguruan Kun-lun, justeru jurus kedua merupakan ilmu pedang dari Go-bie-pay. Karena dari itu, Ko Tie jadi heran sekali, mengapa ilmu pedang Ang-hoa Liehiap demikian campur aduk?

Tapi setelah bertempur sekian lamanya, barulah Ko Tie bisa melayani dan bisa mengatasi setiap jurus Ang-hoa Liehiap karena ia mulai mengetahui dengan cara apa ia bisa menghadapinya. Jika sebelumuya ia sering kecele disebabkan setiap serangan Ang-hoa Liehiap dapat berobah-robah dengan cepat dan aneh.

Justeru sekarang ini dia mulai mendesak Ang-hoa Liehiap tanpa memperdulikan perobahan ilmu pedang Ang-hoa Liehiap. Pedang Ko Tie telah menyambar-nyambar cepat sekali, seperti juga hujan yang sangat deras, setiap serangan yang dilakukan Ko Tie benar-benar dahsyat karena perlahan-lahan Ang-hoa Liehiap mulai jatuh di bawah angin, ia mulai terdesak.

Dalam keadaan seperti itu terlihat Ang-hoa Liehiap pun tak mau membiarkan dirinya jatuh di bawah angin, ia berusaha untuk dapat menghadapi tikaman dan tebasan pedang Ko Tie dengan sebaik-baiknya.

Sekarang ia sudah tak banyak bicara, tak lagi bersikap centil dan genit, ia malah telah mencurahkan seluruh perhatiannya buat menghadapi serangan yang dilakukan Ko Tie.

Demikianlah kedua orang itu bertempur dengan seru sekali, sampai akhirnya suatu kali Ang-hoa Liehiap sudah mengayunkan tangan kirinya, tersiar harum semerbak. Ko Tie kaget, dia menduga itu adalah racun ataupun obat pulas dan bisa melemaskan dirinya, ia menarik pulang serangan pedangnya itu, ia melompat ke belakang.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Ang-hoa Liehiap buat melompat ke belakang. Ia memutar tubuhnya, berlari dengan cepat sekali, gerakannya memang ringan sekali. ia berlari buat menjauhi diri.

Ko Tie jadi mendongkol,,

“Kau mau lari kemana?” iapun mengejarnya.

Kim Lo pun ikut mengejar.

Namun Ang-hoa Liehiap telah berlari jauh, tidak memperdulikan siapapun juga, berlari dengan seluruh kekuatan gin-kangnya, tubuhnya yang berwarna merah bagaikan terbang pesat sekali.

Kim Lo dan Ko Tie mengejar terus.

Setelan berlari sekian lama, akhirnya mereka tiba di depan sebuah bangunan rumah yang herada di tempat terpencil itu. Rumah itu gelap tidak memiliki lampu penerangan.

Ang-hoa Liehiap tidak ragu-ragu berlari menghampiri rumah itu. Malah dia mendorong daun pintu yang rupanya tidak terkunci. Dia menyelusup masuk ke dalam rumah itu.

Ko Tie dan Kim Lo tidak berani lancang menerobos masuk, karena mereka kuatir serangan bay-hok, yaitu panyerangan secara mendadak dan membokong.

“Ang-hoa Liehiap, keluarlah! Mengapa kau seperti tikus menyembunyikan ekor.”

Tidak terdengar jawaban.

“Hemm, mari kita menerobos ke dalam!” kata Ko Tie. Dia juga tidak menantikan jawaban Kim Lo, melainkan sudah melompat maju dengan pedang tercekal di tangan kanannya.

“Hati-hati, paman Lie!” kata Kim Lo mengikutinya menghampiri daun pintu rumah itu.

Ko Tie mendorong perlahan daun pintu. Daun pintu itu bergerak, karena tidak terkunci dari dalam.

Ko Tie terdiam sejenak, dia jadi curiga.

Mengapa Ang-hoa Liehiap tidak mengunci pintu ini? Apakah begitu Ang-hoa Liehiap menerobos masuk ke dalam rumah ini, kemudian pergi meninggalkannya dari belakang rumah itu?

Karena terpikir begitu tidak membuang waktu lagi, Ko Tie segera mendorong daun pintu dengan mendadak. Ia juga membolang-balingkan pedangnya buat menjaga suatu kemungkinan serangan mendadak atau membokong. Ia juga menerobos masuk ke dalam rumah.

Tapi tak ada orang, hanya saja begitu Ko Tie melesat masuk, menyambar angin serangan yang kuat dan dingin sekali.

Ko Tie menangkis dengan pedangnya.

Namun seketika Ko Tie jadi terkejut.

Karena pedangnya terlilit oleh sesuatu dan malah terasa ada teriakan yang kuat sekali. Pedangnya hendak dirampas.

Ko Tie mengempos semangatnya, dia menarik juga.

Akhirnya lilitan itu terbuka, dan pedangnya bebas, terdengar tertawa dingin seorang laki-laki,

“Hemm, memang liehay!” kata orang itu dari tempat gelap. “Memang tak percuma Lie Ko Tie terkenal dalam kalangan Kang-ouw sebagai seorang pendekar yang sangat tinggi kepandaiannya........!”

Di waktu itu Ko Tie yang memiliki pandangan mata sangat tajam, sudah mengawasi cermat.

Di tempat yang gelap tampak sosok bayangan tubuh yang besar dan tinggi tegap, seorang laki-laki.

Ko Tie, jadi heran, kemana perginya Ang-hoa Liehiap? Apakah laki-laki itu temannya?

Belum lagi Ko Tie sempat menjawab pertanyaan hatinya sendiri, justeru laki-laki itu sudah menggerakkan tangan kanannya, maka menyambar cambuk yang sangat kuat, memperdengarkan suara “tarr!” nyaring sekali.

Ko Tie mundur keluar dari rumah itu.

“Dia berada di dalam!” Kata Ko Tie memberitahukan kepada Kim Lo, yang memandang heran padanya, mengapa Ko Tie melompat keluar lagi dari dalam rumah itu.

“Biar aku yang masuk, paman Lie…..” melompat Kim Lo dengan segera.

“Tunggu dulu…… ada temannya!” kata Ko Tie.

Baru saja Ko Tie berkata begitu, dari dalam rumah itu telah melompat keluar seorang pendeta! Dia tidak lain Pu San Hoat-ong! Tangannya mencekal cambuk dan siap untuk membuka serangan.

Melihat Pu San Hoat-ong, Ko Tie jadi tertawa dingin.

“Hemm! Dugaanku memang tidak salah bahwa Ang-hoa Liehiap bukan manusia baik-baik. tidak tahunya memiliki tulang punggung kau, manusia rendah…....!”

Pu San Hoat-ong tidak memperdulikan ejekan itu karena dia sudah tertawa bergelak dengan suara menyeramkan. Cambuknya menyambar ke mulut Ko Tie.

“Akan kuhancurkan mulutmu…….!” Kata Pu San Hoat-ong kemudian.

Diwaktu itu Kim Lo melompat ke depan. Dia mawakili Ko Tie untuk menangkis serangan cambuk dari Pu San Hoat-ong.

Malah dia pun telah melompat ke depan lagi untuk membalas dan menyerang. Dengan cara demikian, dia tidak mau memberikan kesempatan kepada Pu San Hoat-ong untuk meneruskan serangan berikutnya.

Diwaktu itu tampak Pu San Hoat-ong sudah mengerahkan tenaganya, mengayunkan cambuknya untuk menyerang lagi semakin hebat. Serangan cambuknya memang dahsyat sekali, walaupun hanya merupakan cambuk belaka, tapi Pu San Hoat-ong dengan menyalurkan lweekang pada cambuknya, dia bisa merobek dan menabas pecah kain yang paling tipis sekalipun juga!

Diwaktu itu Kim Lo sudah bertempur dengan Pu San Hoat-ong. Ko Tie setelah mengawasi beberapa jurus, dan yakin Kim Lo tidak memperoleh kesulitan dari Pu San Hoat-ong, dia pun segera melompat masuk ke dalam rumah lagi, untuk mencari Ang-hoa Liehiap.

Begitu tubuh Ko Tie melambung masuk ke dalam rumah, dengan terjangan yang cepat sekali, justeru diwaktu itu berkelebat sinar terang menikam ke dadanya.

Ang-hoa Liehiap telah menikam padanya sambil mengeluarkan suara tertawa dingin.

Ko Tie mengelak.

Ang-hoa Liehiap membarengi dengan penyerangan berikutnya lagi, pedangnya menyambar-nyambar dengan cepat.

Ko Tie menangkis beberapa kali memakai pedangnya, suara yang nyaring terdengar.

Begitulah, sambil menghadapi serangan Ang-hoa Liehiap, Ko Tie mundur berulangkali sehingga akhirnya mereka bertempur di luar rumah itu.

Dengan demikian, pertempuran yang terjadi di tempat itu terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah Pu San Hoat-ong kemudian dengan Kim Lo sedangkan kelompok yang satunya lagi adalah Ko Tie dengan Ang-hoa Liehiap. Tapi mereka berempat memang memiliki kepandaian yang tinggi, dengan demikian mereka bertempur seru sekali.

Pu San Hoat-ong mengandalkan cambuknya yang panjang berulang kali menyerang Kim Lo. Dia yakin, dengan bersenjatakan seruling, niscaya Kim Lo kurang leluasa menghadapi cambuknya.

Tapi Kim Lo sendiri memiliki perhitungan bahwa lawannya dengan cambuknya yang panjang seperti itu, dia harus menghadapinya dari jarak dekat.

Karena dari itu, telah berhasil untuk dapat mendesak lawannya. Empat kali dia mengelak dari serangan cambuk lawannya dan akhirnya dia bisa mendekati lawannya.

Dengan melawan dari jarak dekat dengan sendirinya Pu San Hoat-ong tidak bisa memanfaatkan cambuknya yang panjang itu. Dengan jarak mereka yang begitu dekat, maka membuat Pu San Hoat-ong berulang kali gagal dengan serangan cambuknya. Tidak mungkin cambuk itu dapat dipergunakan untuk menyerang dari jarak dekat.

Dalam keadaan seperti itu terlihat betapa pun juga Kim Lo sudah mengeluarkan sebagian besar kepandaiannya, dia sudah memperlihatkan gin-kang dan juga tenaga dalamnya.

Entah sudah berapa jurus yang mereka lewati. Tampak Pu San Hoat-ong tiba- tiba melompat keluar kalangan. Dan mengibaskan cambuknya, dia bilang: “Tahan!”

Kim Lo menahan serulingnya.

“Hemmm kau ingin menjual lagak?” Tanya Kim Lo mengejek. “Ayo keluarkan kepandaianmu, mari kita main-main sampai seribu jurus.

“Urusan itu gampang, nanti kita bermain-main sampai selaksa jurus. Aku akan tetap menemani keinginanmu!” Kata Pu San Hoat-ong. “Tapi sekarang dengarlah dulu! Aku hendak membicarakan sesuatu dengan kalian!”

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Tentang Giok-sie!”

“Hemm, Giok-sie tak memiliki sangkutan apapun dengan kami, karena kami tak tahu menahu tentang Giok-sie. Nah, ayo kau mulai dengan seranganmu, aku ingin belajar kenal dengan ilmu cambukmu yang katanya sangat liehay itu!”

Kim Lo telah bersiap lagi dengan serulingnya, buat menerjang menyerang Pu San Hoat-ong.

“Tahan! Ohhhh, tahan dulu! Dengarkan dulu kata-kataku! Ini adalah pesan Hong-siang!” berseru Pu San Hoat-ong.

“Pesan Hong-siang? Hem, kami tak ada urusan dengan Hong-siang kalian!” kata Kim Lo.

“Tapi kalian dengar dulu. Hong-siang telah berpesan, jika memang kalian mau bekerja sama dengan kami buat memperoleh Giok-sie, tentu kalian akan dihadiahkan pangkat dan harta yang banyak. Urusan di masa lampau dibikin habis sampai di sini saja.......!”

Kim Lo tertawa dingin.

“Siapa yang sudi bekerja buat rajamu?”

“Tapi, jika memang kalian memihak memusuhi Hong-siang, berarti kalian mencari maut!”

“Soal mati ada di tangan Thian, bukan di tangan rajamu!” Menyahut Kim Lo ketus.

Muka Pu San Hoat-ong berobah merah.

“Hong-siang telah perintahkan tigaratus pahlawan istana buat mencari Giok-sie. Dan jika ada orang-orang yang berusaha merintangi usaha kami, maka orang itu harus disingkirkan?

“Apakah kau kira, dengan hanya memiliki kepandaian seperti itu, maka bisa menghindar dari orang-orang Hong-siang? Hemmm, lebih baik kalian menerima baik uluran tangan Hong-siang?”

“Tidak sudi aku bekerja buat raja busuk itu! Raja penjajah!” Teriak Kim Lo sambil bersiap-siap hendak menyerang lagi.

Sedangkan Ko Tie yang sejak tadi telah berhenti bertempur dengan Ang-hoa Liehiap, karena ingin mendengar juga apa yang hendak dikatakan Pu San Hoat-ong, telah berseru:

“Kim Lo kemari!”

Kim Lo jadi batal menerjang Pu San Hoat-ong. Dia memutar tubuhnya, menghampiri Ko Tie.

“Biarkan dia bicara dulu!” Kata Ko Tie kemudian.

Pu San Hoat-ong tampaknya jadi girang, sedangkan Kim Lo memandang heran kepada Ko Tie.

“Paman Lie.......?!”

“Biarkan ia menceritakan lebih dulu, apa yang dikehendakinya!” Kata Ko Tie.

Kim Lo sudah tidak rewel lagi, segera berdiri di samping Ko Tie. Sedangkan Pu San Hoat-ong telah menghampiri Ang-hoa Liehiap, yang waktu itu tengah tersenyum-senyum dengan lagaknya yang genit sekali.

“Hemmm…….!” Kata Pu San Hoat-ong kemudian, dengan sikap yang dibuat semanis mungkin. “Tampaknya Lie Ko Tie pun merupakan seorang pendekar yang bisa melihat angin baik! Karena itu, jika saja ada kerja sama di antara kita, Hong-siang pasti akan memberikan penghargaan yang besar kepada Lie Tayhiap! Dan nanti jika aku telah pulang ke kota raja, tentu kepada Hong-siang akan kusampaikan tentang Lie Tay-hiap agar dicatat dalam buku daftar jasa.......!”

“Hemm, urusan itu tidak menjadi persoalan kami,” kata Ko Tie, “Tapi yang ingin kutanyakan dengan cara apa kau hendak mengajak kami bekerja sama mencari Giok-sie?”

Pu San Hoat-ong tertawa.

“Tentu saja caranya tidak berat, katanya yang terpenting kalian memang harus membantu kami, agar Giok-sie bisa kami peroleh. Dan nanti setelah mempersembahkan kepada Hong-siang, diwaktu itu jasa kalian tidak akan di sia-siakan oleh Hong-siang……..!”

“Tapi kami belum lagi mengetahui di mana beradanya Giok-sie!” Kata Ko Tie, sengaja memancing, karena ia ingin mengetahui apakah pihak kerajaan, yang telah menyebar orang-orangnya begitu banyak bisa memiliki sumber keterangan yang lebih banyak?

Pu San Hoat-ong mengangguk sambil tertawa.

“Urusan itu adalah urusan kami!” Katanya. “Kami memang telah mengetahui Giok-sie berada di tangan siapa!”

“Di tangan siapa?!”

“Sabar! Jika memang kalian setuju untuk bekerja sama dengan kami, berarti kami akan memberitahukan juga pada akhirnya dimana Giok-sie berada.”

Ko Tie terdiam sejenak, kemudian baru mengangguk.

“Baiklah!” Katanya. “Nah, sekarang kau beritahukan di mana adanya Giok-sie dan apa yang harus kami lakukan?”

“Paman Lie?” Kim Lo jadi terkejut.

“Biarlah! Memang kita sudah melihat betapa pun juga kita hanya dapat bekerja untuk kebaikan saja, yaitu kita jangan perdulikan Giok-sie jatuh ke tangan siapa, asal bisa melenyapkan bencana di dalam rimba persilatan. Jika memang Giok-sie sudah jatuh ke dalam tangan raja yang sekarang, tentunya orang di dalam rimba persilatan akan menghentikan perebutannya.......!”

Kim Lo tidak puas tapi diam saja, sedangkan hatinya heran bukan main, mengapa Ki Tie bisa menerima begitu saja tawaran Pu San Hoat-ong, buat bekerja sama dengan pihak kerajaan.

Tapi, Kim Lo di hati kecilnya pun meduga-duga, apakah paman Lie ini hanya bersandiwara saja, sedangkan sesungguhnya ada sesuatu yang direncanakannya, dengan berpura-pura bersedia untuk bekerja sama dengan pihak kerajaan?

Sedangkan Pu San Hoat-ong sudah manggut-manggut sambil tertawa.

“Bagus! Memang Lie Tayhiap memiliki pandangan yang luas! Dengan jatuhnya Giok-sie ke tangan Hongsiang, maka diwaktu itu akan lenyaplah korban-korban yang selama ini berjatuhan disebabkan Giok-sie!”

“Ya, sekarang jelaskan di mana Giok-sie itu dan apa yang kami lakukan!”

“Gampang! Kalian tetap ikut dengan kami dan kami akan mendatangi orang yang memegang Giok-sie itu.”

“Siapa orangnya?”

“Kam Yu!”

“Ohhhh……..!”

“Kau kenal dengannya, Lie Tayhiap?”

Ko Tie menggeleng.

“Tidak, cuma saja aku pernah mendengar memang Giok-sie berada di tangan Kam Yu.............. entah ia berada di mana sekarang?”

Pu San Hoat-ong tertawa.

“Dulu ia di kuburan Neraka, tapi baru-baru ini kuburan Neraka itu sudah kosong dan entah Kam Yu sudah bersembunyi di mana. Namun kawan- kawanku telah menyelidikinya dan menyampaikan laporan bahwa Kam Yu berada tak jauh dari kuburan Neraka itu!”

“Di mana?”

“Di satu tempat yang belum dapat kami sebutkan! Dan Lie Tayhiap ikut dengan kami nanti juga akan mengetahui!”

Ko Tie tidak segera menyahuti, ia melirik. Dilihatnya Ang-hoa Liehiap tengah mengawasi ia dengan sikap yang genit dan tersenyum-senyum cantik!

Di saat itu Kim Lo sudah berkata dengan sikap tidak senang: “Hemmm, kepandaian Kam Yu tidak seberapa. Mengapa kalian tidak pergi mencarinya sendiri, mengapa harus mengajak kami bekerja sama?”

Pu San Hoat-ong mengangguk.

“Benar…… memang kepandaian Kam Yu tidak terlalu tinggi. Dia boleh lihay, tapi jumlah kami banyak.

“Kami tentu bisa menawannya atau juga membunuhnya tapi justeru Giok-sie yang dikabarkan berada di tangannya justeru sesungguhnya barang itu tidak tersimpan pada dirinya….... Ia telah menitipkan Giok-sie kepada seseorang?”

“Menitipkan Giok-sie pada orang lain?” tanya Ko Tie dan Kim Lo heran, saling pandang satu dengan yang lain.

Pu San Hoat-ong mengawasi mereka dan kemudian tersenyum, ia mengangguk.

“Ya, benar……. ia sudah menitipkan Giok-sie kepada orang lain. Dengan demikian ia hendak mengalihkan perhatian, di mana semua orang menduga bahwa Giok-sie berada di tangannya, tapi sesungguhnya tidak ada. Dengan begitu, sampai matipun orang tidak akan dapat memperoleh Giok-sie itu.”

“Lalu, orang yang dititipi Giok-sie itu akan mengangkangi!”

“Ohh, orang itu adalah orang kepercayaannya yang kesetiaannya sudah tidak diragukan oleh Kam Yu! Orang itupun berjumlah banyak, bukan satu orang!

“Dengan demikian walaupun kami mengetahui bahwa Giok-sie telah dititipkan kepada seseorang namun kami belum lagi mengetahui dengan pasti siapa orang yang sebenarnya, dari sekian banyak orang kepercayaan Kam Yu.”

“Dan, kalian sudah menyelidikinya dengan betul di mana berdiamnya orang-orang kepercayaan Kam Yu?”

Pu San Hoat-ong mengangguk.

“Ya….. justeru kami sudah mengetahui tempat mereka dan kami akan mengejar terus.”

“Di mana?”

“Di kampung ini……. Orang-orangnya itu tersebar di berbagai tempat. Dan orang-orangnya itu berada di sekitar kampung ini. Tapi belum lagi diketahui, yang mana di antara mereka yang memegang Giok-sie…….”

Kim Lo segera teringat sesuatu.

“Apakah orang-orang yang selama ini terbunuh dengan cara yang mengerikan di kampung ini adalah orang-orang kepercayaan Kam Yu?” Tanyanya.

Pu San Hoat-ong tertawa.

“Ternyata Kongcu, sangat cerdas sekali!” Kata Pu San Hoat-ong kemudian, “Memang benar apa yang Kongcu tanyakan. Orang-orang itu telah kami bunuh!

“Mereka adalah kaki tangan Kam Yu, mereka kami tangkap, kami siksa dengan hebat, namun tidak pernah di antara mereka yang mau membuka suara sepatah perkataan pun tentang Giok-sie……. karenanya walaupun kami telah berhasil membunuh delapan orang kaki tangan Kam Yu maka kami belum lagi berhasil untuk mengetahui Giok-sie berada di tangan kaki tangan Kam Yu yang mana.

“Dan akan diteruskan penyelidikan di kampung ini?” Tanya Kim Lo.

Pu San Hoat-ong menggeleng.

“Tidak! Tentu orang yang berkepentingan yang memegang Giok-sie, siang-siang sudah angkat kaki! Dia tentu mengetahui di kampung ini sudah tidak aman lagi baginya!

“Begitu mengetahui satu atau dua orang temannya terbunuh maka diapun akan segera angkat kaki buat mencari tempat persembunyian yang lebih baik lagi. Tapi kawan-kawannya tetap saja berdiam diri di kampung ini, buat mengalihkan perhatian belaka, agak memberikan kesempatan dia melarikan diri ke tempat yang jauh…….!”

Ko Tie dan Kim Lo mengangguk. Mereka mulai mengerti duduknya persoalan.

“Apakah orang-orangmu sekarang telah mengejar orang itu?” Tanya Ko Tie.

Pu San Hoat-ong mengangguk.

“Ya....... namun loceng belum lagi memperoleh laporan hasil pengejaran itu! Yang ingin kami cari lagi adalah Kam Yu.

“Jika memang kami bisa menangkap Kam Yu, niscaya kami tidak akan memperoleh kesulitan yang lebih lama lagi. Karena dari mulutnya, kami akan bisa mengorek keterangan yang sebenarnya.

“Tapi Taysu sudah bilang bahwa Kam Yu sudah tidak berada di kuburan neraka, tidak mungkin kita bisa mencarinya? Tentu dia sudah menghilang entah kemana.”

Pu San Hoat-ong tertawa.

“Urusan itu tidak sulit buat kami. Walaupun Kam Yu melarikan diri ke ujung dunia tetap saja kami akan berhasil mencari jejaknya karena orang-orang kami yang disebar sangat banyak sekali!

“Karenanya juga, kalau memang Lie Tayhiap dan para pendekar lainnya mau berpikir jauh, demi keselamatan orang-orang disebabkan memperebutkan Giok-sie alangkah baiknya membantu kami! Jika Giok-sie sudah berada di tangan Hong-siang, niscaya Giok-sie tidak akan diperebutkan lagi, dengan demikian jelas tidak akan ada lagi korban yang berjatuhan.

Ko Tie menghela napas, dia mengangguk.

“Baiklah, kalau memang demikian kami mau bekerja sama! Tapi untuk bergabung dengan kalian, tentu saja hal ini tidak mungkin.”

“Mengapa tidak mungkin?”

“Aku berjalan dengan isteri dan teman-temanku, tapi Taysu berjalan dengan anak buah Taysu. Karena dari itu, kalau memang kita bergabung hanya akan mendatangkan kesulitan baru dan juga kecurigaan.

“Kalau memang Taysu bersedia, biarlah kita mengambil jalan masing-masing. Kalau memang kami yang beruntung memperoleh lebih dulu Giok-sie maka Giok-sie mau kami berikan kepada kalian……. agar Giok-sie dipersembahkan kepada Hong-siang…….

“Dengan demikian tentu akan jauh lebih baik lagi. Asalkan Taysu juga memberitahukan di mana orang yang memegang Giok-sie dan apa yang kalian harus lakukan.”

Pu San Hoat-ong berpikir sejenak. Tampaknya dia jadi bimbang dan ragu-ragu.

“Bagaimana Taysu?” Tanya Ko Tie lagi.

“Hemm, kalau memang Tay-hiap hendak mengaturnya demikian tentu saja Loceng tidak bisa bilang apa-apa……. asalkan memang Tayhiap mau berlaku jujur karena sekali saja begitu Giok-sie jatuh di dalam tangan Tay-hiap lalu Tayhiap hendak memilikinya. Di saat itu akan memancing timbulnya pergolakan yang hebat sekali.”

Ko Tie tersenyum.

“Mengancam nih?”

Pu San Hoat-ong menggeleng segera.

“Lonceng bukan mengancam, tapi mengatakan dari hal yang sebenarnya……”

“Baiklah, jadi tugas kami yang pertama, apa yang harus kami lakukan?”

“Kalian ingin pergi kemana?”

“Sementara ini kami tengah bermalam di rumah penginapan yang ada di kampung itu!”

“Hemm, baiklah! Besok pagi kami akan menghubungi kalian.”

“Dan juga ingat, akupun memerlukan engkau Lie Tayhiap! Kau pria yang tampan, tentu engkau tidak keberatan kalau kau bermain-main denganku sejenak?” Kata Ang-hoa Liehiap dengan suara yang manja dan mesra sikapnya genit sekali.

Diwaktu itu Ko Tie telah menoleh kepada Ang-hoa Liehiap, kemudian bilangnya dengan suara yang tawar.

“Di antara kita hanya terdapat hubungan kerja tidak lebih dari itu! Terima kasih atas tawaran liehiap.”

Setelah berkata begitu Ko Tie merangkapkan tangannya memberi hormat. Kemudian dia memutar tubuhnya buat berlalu.

Kim Lo mengikutinya.

Pu San Hoat-ong cuma tertawa. Dia menarik tangan Ang-hoa Liehiap.

“Kau ini benar-benar mata keranjang. Kau pernah bilang padaku tengah kesepian. Setelah aku menemani, kau malah masih melihat-lihat laki-laki lain!” Kata Pu San Hoat-ong.

“Aku cuma menggoda ia saja!” Kata Ang-hoa Liehiap.

Mereka pun telah masuk ke dalam rumah itu.

Rumah ini sebetulnya milik seorang petani. Tapi sejak Pu San Hoat-ong tiba disitu dan bermaksud memakai rumah itu, maka ia telah membunuh pemilik rumah tersebut. Mayat mereka dibuang jauh-jauh.

<> 

Mari kita menengok Ko Tie dengan Kim Lo. Mereka berdua telah berlari-lari untuk pulang ke kampung, dan ke rumah penginapan di mana Giok Hoa dan Yo Bie Lan tengah menantikan mereka.

Ketika berada dalam perjalanan itu, Kim Lo sudah tidak bisa menekan terus perasaan ingin tahunya.

“Paman Lie……, mengapa paman menerima tawaran pendeta busuk itu, untuk bekerjasama dengannya?” tanya Kim Lo.

Ko Tie melirik padanya.

“Jadi kau belum lagi mengerti maksudku, Kim Lo?” tanyanya sambil tertawa.

Kim Lo menggeleng sambil tersenyum.

“Belum!”

“Hemm, sesungguhnya aku yang hendak meminjam tangan dia agar bisa memberitahukan kepada kita, sekarang ini Giok-sie berada di mana? Bukankah dia dengan anak buahnya berjumlah banyak dan menyelidiki lebih luas lagi, sehingga kesempatan buat mengetahui dimana beradanya Giok-sie jauh lebih cepat kalau dibandingkan dengan kita?”

Kim Lo baru tersadar.

“Ya, aku baru mengerti paman Lie!”

Ko Tie tersenyum.

“Bagus jika memang kau sudah mengerti! Mulai sekarang kita harus mengatur segalanya dengan sebaik-baiknya, karena dengan meminjam tangan mereka, niscaya kita bisa lebih cepat lagi memperoleh Giok-sie…….!”

“Tapi paman Lie!” Setelah berkata sampai di sini, Kim Lo terdiam, tampaknya dia ragu-ragu buat meneruskan kata-katanya tersebut.

Ko Tie menahan larinya, dia memutar tubuhnya, berdiri menghadapi Kim Lo. Kim Lo juga berhenti berlari.

“Apa yang mau kau katakan Kim Lo?”

“Aku….. aku telah mendengar baru-baru ini!” Dan Kim Lo berdiam lagi.

“Katakanlah, jangan ragu-ragu apa yang telah kau dengar?”

“Aku mendengar bahwa di Utara telah timbul pemberontak yang dipimpin oleh Cu Goan Ciang,” Kata Kim Lo akhirnya.
Ko Tie mengangguk.

“Ya, akupun sudah mendengar hal itu……. lalu ada hubungan apa dengan kita?”

“Bukankah jika kita bergabung dengan rombongan Cu Goan Ciang, kita bisa memperkuat barisannya,” Kata Kim Lo. “Cu Goan Ciang memang bangkit didukung oleh rakyat karena dia mau memperjuangkan kepentingan rakyat.”

Kim Lo berkata sampai di situ, akhirnya berdiam lagi. Barulah kemudian dia meneruskan kata-katanya.

“Justeru memang Cu Goan Ciang memerlukan Giok-sie, untuk menghimpun rakyat lebih banyak lagi! Kalau memang nanti, kita telah berhasil memperoleh Giok-sie apakah tidak ada baiknya Giok-sie diserahkan buat Cu Goan Ciang.

“Beberapa waktu yang lalu, kita pernah membicarakan hal itu!” Kata Ko Tie. “Tapi sekarang disaat Giok-sie belum lagi berada di tangan kita, berarti kita tidak bisa lapor apa-apa. Dan juga memang dalam hal ini belum bisa kita pastikan.

“Jika nanti Giok-sie sudah dapat kita peroleh, disaat itu barulah kita memikirkannya kepada siapa Giok-sie berhak diserahkan. Jika memang benar-benar Cu Goan Ciang berjuang untuk kepentingan rakyat, apa salahnya kalau kita serahkan Giok-sie kepadanya.”

Kim Lo menghela napas.

“Maaf paman Lie…….” Katanya lagi, “Aku mau menyampaikan apakah paman tidak marah?”

“Katakanlah, Kim Lo! Kau seperti belum kenal aku saja…….”

Kim Lo mengawasi Ko Tie sejenak lalu dia baru lapor, “Selama ini aku justeru tidak melihat ada pejuang yang lainnya yang gagah perkasa dan berani seperti Cu Goan Ciang yang berani menghimpun rakyat untuk mengadakan pemberontakan. Kalau memang dia bisa menghimpun rakyat lebih besar apakah paman Lie akan menyerahkan Giok-sie kepadanya?”

“Itu terserah kepada orang-orang lainnya, para pendekar gagah lainnya. Jika mereka setuju, akupun tidak keberatan.

“Tapi ingat Kim Lo betapapun juga Giok-sie bukanlah urusan yang kecil, dan harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Karena jika kita terlalu ceroboh niscaya akan menimbulkan bencana yang tidak kecil.”

Kim Lo mengangguk.

“Benar, paman Lie....... dan juga dalam hal ini aku menyerahkan saja pada paman Lie buat menghaturnya…….!”

Ko Tie tersenyum ia menepuk-nepuk pundak Kim Lo kemudian dia mengajak si pemuda buat melanjutkan perjalanan mereka.

Namun Kim Lo menggelengkan kepalanya.

“Nanti dulu, paman Lie masih ada yang perlu kukatakan kepadamu!”

“Apa itu?!”

“Tentang urusanku paman!”

“Tentang kau?”

“Ya……. sebetulnya sudah cukup lama juga urusan ini hendak kusampaikan kepada paman buat meminta paman, namun masih belum juga ada kesempatan!”

“Nah sekarang kau sampaikanlah kepadaku. Apa yang hendak kau beritahukan?”

Ko Tie jadi ragu-ragu,

“Tentang keadaan diriku, paman Lie!”

“Ya……. katakanlah! Jika memang kau memiliki kesulitan, aku tentu akan berusaha membantumu!”

“Dalam hal ini, sebetulnya benar-benar membuat aku jadi malu sekali!”

“Mengapa harus malu?”

“Tahukah paman Lie, mengapa berapa waktu yang lalu aku sengaja memisahkan diri dan menyatakan aku ingin melakukan perjalanan lebih dulu, dengan suatu alasan bahwa dengan bekerja sendiri aku bisa untuk menyelidiki tentang Giok-sie lebih baik lagi?”

Ko Tie mengangguk.

“Ya....... kenapa? Dulu akupun heran. Padahal, dengan kita melakukan perjalanan bersama pun tidak akan memperoleh kesulitan....... tapi justeru engkau malah hendak memisahkan diri seperti itu. Apakah ada sesuatu yang tidak dapat kau ceritakan kepadaku?”

Kim Lo menghela napas.

“Paman Lie, kau lihatkah tutup mukaku ini....... dan paman tentu mengetahui, mengapa aku selalu mengenakan tutup muka ini?” Tanya Kim Lo.

Ko Tie mengangguk, seketika dia teringat sesuatu. Waktu Kim Lo masih kecil, dan dirawat oleh Oey Yok Su, ia telah melihat bentuk muka Kim Lo seperti kera. Maka dia itu apakah dengan menutupi mukanya selalu, muka Kim Lo memang masih berupa ujud kera walaupun dia telah dewasa!

Karena berpikir begitu Ko Tie tidak menjawab, dia hanya mengawasi saja.

“Nah, Paman Lie......... apakah paman masih ingat, betapa buruknya mukaku ini!”

Ko Tie tertawa,

“Tapi muka buruk itu tidak terlalu penting, yang terpenting hati seseorang yang cantik.”

Kim Lo menghela napas.

“Urusan inilah yang selalu menggoda hatiku paman Lie?” Kata Kim Lo.

Ko Tie coba menghiburnya.

“Kau jangan rendah diri disebabkan mukamu yang seperti itu karena engkau sudah banyak melakukan kebaikan dan selama ini engkau pun tengah memperjuangkan sesuatu pekerjaan besar. Kukira kau malah harus merasa bahagia.”

Kim Lo menggeleng,

“Tidak bisa paman, justeru aku merasa malu! Dan waktu aku memaksa melakukan perjalanan seorang diri, aku kuatir kalau nona Yo mengetahui tentang keadaan mukaku ini!”

Ko Tie tertawa.

“Kalau memang dia mengetahui tentang keadaan mukamu itu, memangnya kenapa?”

“Aku merasa malu paman!” Dan sambil menyahuti begitu Kim Lo menghela napas dalam-dalam.

“Kim Lo kuingatkan padamu, seorang pendekar tak dapat bersikap seperti kau! Jika sebagai seorang pendekar tak dapat melakukan pekerjaan baik, maka diwaktu itulah ia boleh merasa malu.

“Walaupun seandainya bercacat kehilangan tangan dan kaki atau tubuh yang buruk namun berhasil melakukan pekeriaan besar, maka itu sangat agung dan mulia sekali, malah akan membuat bangga. Tak akan mendatangkan malu terlebih lagi dari kau yang tak memiliki cacad, mengapa harus malu?”

“Tapi........ tapi paman Lie, aku tak mau kalau sampai nona Yo mengetahui tentang keadaan mukaku ini!”

Ko Tie tersenyum.

“Kalau menurut pendapatku, walaupun nona Yo mengetahui tentang keadaan mukamu seperti itu, tentu iapun tak akan menghina dan mengejekmu, percayalah padaku, Kim Lo!”

Kim Lo menghela napas.

“Jika nona Yo mengetahui keadaan mukaku seperti ini, tentu ia tak mau dekat-dekat denganku.”

“Mengapa begitu?”

“Tentu saja dia tidak mau memiliki teman yang seperti aku, yang mukanya seperti kera.”

“Itu hanya perasaanmu saja!”

“Justeru aku takut sekali, paman!”

“Takut apa?”

“Takut dijauhi oleh nona Yo dan dia akan memandang sinis padaku!”

Ko Tie tiba-tiba tersadar.

“Ohh, sekarang aku tahu!” Katanya.

“Tentang apa paman?”

Ko Tie mengawasi Kim Lo.

“Tentunya kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur, Kim Lo. Kau harus memberikan keterangan yang jujur!”

“Baiklah paman…….”

“Kau mencintai nona Yo, bukan?”

Kim Lo jadi ragu-ragu.

“Kau harus memberikan keterangan yang jujur padaku!”

Akhirnya Kim Lo mengangguk.

“Memang aku tertarik sekali padanya paman Lie.

“Hemmmm, jadi kau mencintainya?”

“Ya.”

“Lantas kau merasa malu dan juga takut kalau-kalau nona Yo meninggalkanmu!”

“Ya, disebabkan itulah aku selalu berusaha melindungi mukaku ini dengan secarik kain. Aku kuatir sewaktu-waktu nanti ia melihatnya juga!”

Ko Tie terdiam sejenak barulah kemudian ia berkata lagi:

“Kim Lo, sesuatu lebih baik dilakukan dengan berterus terang, karena jika memang kita menutup-nutupi niscaya hal itu akan mendatangkan kecewa, kalau saja sampai urusan itu terbuka, lebih baik kau memperlihatkan apa adanya……. mengertikah kau akan maksudku itu Kim Lo?”

Kim Lo terdiam.

“Kau mengerti Kim Lo?” tanya Ko Tie.

Kim Lo menghela napas.

“Sulit paman Lie!”

“Sulit bagaimana?”

“Sulit untuk melakukan seperti apa yang paman Lie katakan, yaitu berterus terang pada nona Yo dan juga memperlihatkan mukaku yang sebenarnya........!”

“Kukira malah itu yang jauh lebih baik!” Kata Ko Tie.

“Tapi justeru sewaktu-waktu ia bisa menjauhi aku!”

“Tidak, aku jamin itu!”

“Tapi paman Lie.......!”

“Aku jamin ia akan tetap baik padamu!”

Kim Lo menghela napas ia menggeleng perlahan.

Ko Tie tersenyum, memang demikianlah, jika muda mudi tengah jatuh cinta, tidak si pemuda tidak si pemudi. Ia pernah menyaksikan betapa Yo Bie Lan cemburu sekali karena Kim Lo waktu itu berada bersama nona Cin.

“Sudahlah Kim Lo, aku yakin bukan disebabkan wajah saja seorang wanita bisa jatuh cinta, juga sepak terjangmu yang bisa mendatangkan rasa kagum dihatinya.”

Kim Lo menghela napas, ia masih ragu.

“Untuk urusan ini harap paman Lie tidak menceritakannya kembali pada nona Yo…….!”

“Ohh tentu saja. Kau anggap aku ini manusia macam apa, Kim Lo?”

Kim Lo cepat-cepat merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat.

“Maafkan paman Lie, bukan maksudku untuk merendahkan paman, dan bukan maksudku tidak percaya pada paman, tapi justeru aku kuatir nanti paman membicarakannya lagi dengan nona Yo.”

Ko Tie tersenyum.

“Jika memang terjadi seperti itu, kukira jauh lebih baik……..!”

“Lebih baik bagaimana, paman?”

“Bukankah nona Yo bisa mengetahui keadaanmu yang sebenarnya, dan selanjutnya engkau tidak perlu dikejar-kejar perasaan gelisah dan takut kalau nanti sewaktu-waktu nona Yo itu mengetahui keadaan mukamu yang sebenarnya?”

“Tapi paman.”

“Sudahlah Kim Lo. Jika ia telah melihat keadaan mukamu yang sebenarnya, maka segalanya serahkan saja padanya? Jika memang iapun mencintaimu, kau boleh saja mencintainya terus.

“Tapi jika memang dia mundur dia tidak bisa mencintaimu maka aku tidak bisa memberikan saran apa-apa padamu, selain kau juga perlu mundurkan diri! Cinta yang terlalu dipaksa-paksakan akan menyiksa diri. Percayalah padaku Kim Lo!”

Kim Lo cepat-cepat merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat.

“Terima kasih atas nasehat paman, tapi aku takut harus kehilangan dia?”

“Kenapa?”

“Aku…… aku sangat mencintainya.”

Ko Tie tertawa.

“Sudahlah. Nanti paman akan merundingkan hal ini dengan bibimu, mudah-mudahan saja bisa dicari jalan keluar yang sebaik-baiknya.”

Kim Lo memberi hormat lagi mengucapkan terima kasihnya kepada Ko Tie.

“Ayo kita pulang!” Ajak Ko Tie.

Kim Lo mengangguk.

Mereka berlari-lari buat kembali ke perkampungan dan ke rumah penginapan mereka.

Giok Hoa dengan Yo Bie Lan belum lagi tidur. Mereka tengah menantikan kembalinya Ko Tie berdua Kim Lo dengan bercakap-cakap.

Tampaknya Giok Hoa dengan Yo Bie Lan sangat cocok satu dengan yang lainnya. Malah Giok Hoa memperlakukan Bie Lan seakan juga memperlakukan anaknya sendiri.

Di waktu itulah tampak Ko Tie telah melambaikan tangannya memanggil isterinya.

“Bie Lan, hari sudah larut malam, maafkan bibi akan tidur dulu?” kata Giok Hoa kemudian!

Bie Lan tersenyum.

“Selamat malam Bibi!” Katanya.

Setelah Giok Hoa masuk ke dalam kamar maka Bie Lan melihat Kim Lo yang masih berdiri di luar rumah penginapan.

Sedangkan Kim Lo bukannya tidak mengetahui bahwa dia tengah dihampiri Yo Bie Lan, hatinya jadi tergoncang keras sekali. Tadi memang tidak ikut serta ke dalam rumah penginapan itu, karena dia ingin menantikan sampai Bie Lan sudah masuk ke dalam kamarnya, barulah dia mau masuk ke delam kamar. Hal ini hanya untuk menghindarkan pertemuan antara dia dengan Bie Lan.

Tapi siapa tahu, justeru gadis itu telah keluar dan menghampirinya, membuat hati Kim Lo berdebar keras. Pemuda ini juga gugup sekali.

Heran bukan main Kim Lo, karena biasanya walau menghadapi pertempuran yang menentukan mati hidupnya, tidak pernah dia gugup seperti itu, tidak pernah merasa kuatir dan gelisah seperti itu dan diapun tidak pernah menjadi canggung. Tapi sekarang telah dihampiri si gadis tampak dia jadi begitu gugup, malah hatinya berdebar sangat keras.

Saat itu Yo Bie Lan sudah datang dekat.

“Kim Koko, kau belum tidur?”

“Hawa udara panas!” Menyahuti Kim Lo gugup. “Dan kau nona Yo, kau belum beristirahat?”

Yo Bie Lan tersenyum, sikapnya berbeda sekali dengan siang tadi. Jika siang tadi dia selalu cemberut dan mukanya masam, tapi sekarang justeru ramai dengan senyumnya.

Kim Lo jadi semakin berdebar hatinya melihat senyum si gadis yang begitu manis.

“Nona Yo!” Katanya dengan agak gugup.

“Ya!”

“Aku ingin meminta maaf kepadamu karena siang tadi sikapku kurang baik agak kurang ajar!” Kata Kim Lo.

Bie Lan tertawa.

“Justeru aku yang hendak meminta maaf kepada Kim Koko, sebab tadi siang aku bersikap seperti kekanak-kanakkan dan juga ngambul seperti itu, perbuatan yang seharusnya tidak terjadi dan juga tidak baik!”

Sambil berkata begitu, Bie Lan telah merangkapkan tangannya, dia memberi hormat kepada Kim Lo.

Karuan saja Kim Lo jadi bukan main, dia cepat-cepat menyingkir. Dia tidak mau menerima hormat si gadis, dia menyingkir ke pinggir.

“Nona Yo jangan, apa-apaan ini?” Tanya Kim Lo dengan suara yang agak yugup.

Bie Lan tersenyum,

“Untuk meminta maafmu. Bukankah engkau mau memaafkan aku, Kim Koko?”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Tidak ada yang kau lakukan sesuatu yang salah. Karena dari itu tidak ada yang perlu dimaafkannya!” Berkata Kim Lo tergesa-gesa.

Bie Lan tersenyum.

“Kalau memang demikian, kau tentunya masih tidak ikhlas memaafkan aku. Kau tidak memaafkan kesalahanku!” Kata si gadis.

“Apa yang perlu dimaafkan?”

“Tentu kelakuan dan sikapku yang tidak baik siang tadi itu!” Berkata Bie Lan.

Kim Lo menghela napas dalam-dalam.

“Baiklah kalau memang demikian kehendakmu, anggap saja berdua telah bersalah dan kita saling memaafkan.”

Bie Lan tersenyum dan senang.

“Jadi kau bersedia memaafkan aku?”

“Tentu saja…….! Malah akupun perlu meminta maaf kepadamu, nona Yo?”

Dan tanpa memperdulikan beberapa orang pelayan yang tengah mengawasi kelakuan mereka berdua, Kim Lo sudah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada Bie Lan.

Bie Lan tidak menyingkir, dia merangkapkan tangannya membalas hormat Kim Lo

Para pelayan itu diam-diam merasa geli di dalam hati mereka. Namun mereka tidak berani tertawa.

Di waktu itu Bie Lan bilang, “Jika memang Kim Koko belum mengantuk, maukah Kim Koko menemani aku berangin-angin dulu?”

Kim Lo girang, tapi juga gugup.

“Tentu saja mau!” sahutnya mengangguk.

Bie Lan tersenyum melihat sikap Kim Lo seperti itu, ia melangkah perlahan untuk pergi ke pekarangan belakang rumah penginapan itu.

Kim Lo mengikuti di belakangnya.

Begitulah, akhirnya di pekarangan tersebut mereka jalan berendeng, perlahan-lahan. Walaupun mereka tidak berendeng terlalu rapat, tokh hal ini membuat Kim Lo jadi tergoncang-goncang keras dengan jantung berdebar- debar.

“Kim Koko…….!” Kata Bie Lan kemudian, dengan suara perlahan-lahan.

“Ya?”

“Kau melihat rembulan?”

“Ya. Kenapa, nona Yo?”

“Tidakkah indah? Hanya sayang rembulan itu cuma sepotong saja…….!”

“Ya……. jika memang rembulan tengah bersinar penuh, niscaya sinarnya lebih cemerlang!”

Bie Lan mengangguk.

“Senangkah kau jika tengah menggadangi si dewi malam yang tengah bersinar penuh?” Tanya Bie Lan.

Kim Lo mengiyakan.

“Senang sekali!” Katanya kemudian.

“Akupun demikian......... sayang sekarang bukan tengah Cap-go sehingga rembulan tidak bersinar penuh........!” Kata Bie Lan dengan suara yang perlahan.

Kim Lo menghela napas.

“Tapi, malam ini jauh lebih gembira dan cemerlang indah dibandingkan dengan malam Cap-go…….”

Bie Lan menarik napas.

“Kenapa Kim Koko?”

“Karena…….. karena wajahmu lebih indah dari rembulan…..!”

“Ohhh, kau bergurau?” Kata Bie Lan. Pipinya segera memerah karena malu dan senang.

“Aku tidak bergurau nona Yo……. memang sebenarnya wajahmu cantik sekali. Rembulan yang kau bilang indah itu, selalu masih ada cacad dan kurangnya.

“Tapi rembulan yang ada di malam ini di dekatku, wajahmu yang seperti rembulan penuh itu, betapa indah sekali, sangat cantik! Tidak ada cacadnya……. keindahan yang benar-benar menakjubkan!”

“Merayu nih!”

Kim Lo tertegun, tapi kemudian menghela napas.

“Maafkan nona Yo……. Aku tidak pandai untuk merayu. Tapi tadi aku mengatakan dari hal yang sebenarnya. Memang kau cantik sekali!

“Wajahmu lebih indah dari rembulan. Karena itu juga, malam ini jauh lebih cemerlang jika dibandingkan malaman Cap-go walaupun rembulan di langit tengah bersinar penuh!

“Kim Koko, aku ingin bertanya padamu. Apakah kau bersedia untuk menjawab dengan sejujurnya?”

“Adik Bie Lan apa yang ingin kau tanyakan itu?”

“Apakah sebabnya kau menutupi mukamu dengan kain penutup muka itu?” berkata si gadis dengan tersenyum.

“Kau mau tahu sebabnya?”

“Ya, apa sebabnya?”

“Justeru melihat engkau mengenakan kain penutup mukamu terus menerus, aku jadi curiga selalu padamu! Aku selalu jadi tidak bisa mempercayai kau sepenuhnya, karena mukamu saja tidak mau kau perlihatkan kepadaku?”

Terasa lemas sekujur tubuh Kim Lo. Inilah yang ditakuti. Akhirnya datang juga. Perasaan takut jadi berkecamuk di dalam hatinya.

“Ini....... ini…..” Tampaknya Kim Lo gugup sekali.

Si gadis tersenyum.

“Nah, lihat! Sekarang bukankah engkau tengah memutar otaknya untuk mencari-cari alasan lagi, agar kerudung mukamu tetap tak dapat kulihat?”

Kim Lo tambah gugup!

“Bukan begitu……. bukan begitu nona Yo!” Katanya.

“Bukan begitu, begitu bagaimana?”

“Aku memiliki kesulitan nona Yo?”

“Hemm, baiklah. Kau selalu menutupi mukamu dengan kain dan tidak memberikan kesempatan kepadaku buat melihatnya! Apakah mukamu demikian buruk sehingga malu jika dilihat orang lain?”

Mendengar pertanyaan si gadis seperti itu, Kim Lo jadi menggigil. Dia merasa jadi lebih takut. Dia juga merasa sedih. Karena itu dia pun berdiam diri saja.

“Kim Koko…….!” Panggil Yo Bie Lan ketika melihat Kim Lo cuma berdiam diri saja.

“Ya?” Kim Lo tersentak mengangkat kepalanya mengawasi si gadis.

“Apakah memang wajahmu terlalu buruk membuat kau malu, memperlihatkannya kepada orang lain?!” Menegasi si gadis.

“Bukan begitu, aku memiliki kesulitan yang belum lagi bisa diceritakan kepadamu nona Yo.”

“Kesulitan apa?” Tanya Gadis itu.

“Kesulitan……. Kesulitan…..” sampai disitu Kim Lo tiba-tiba teringat sesuatu. Dia segera melanjutkan kata-katanya. “Ada yang ingin kutanyakan kepadamu, nona Yo. Kuharap engkau menjawabnya dengan jujur!”

Yo Bie Lan, mengangguk.

“Boleh.”

“Apakah jika aku memiliki wajah benar-benar buruk, kau masih mau bersahabat denganku?”

Bie Lan kembali tersenyum.

“Sejak kita bertemu, aku belum pernah melihat wajahmu, apakah aku pernah memperlakukan engkau tidak baik?”

“Tapi kalau memang wajahku buruk sekali, kau tetap mau bersahabat denganku?”

Muka si gadis berobah merah.

“Apakah sebuah persahabatan itu ditentukan dengan ganteng atau buruknya wajah seseorang?”

Kim Lo berdebar hatinya.

“Justeru memang wajahku terlalu buruk, nanti kau segan berteman terus denganku?”

Bie Lan jadi girang.

“Jadi……. kau bersedia buat memperlihatkan mukamu padaku?” Tanyanya. “Walaupun bagaimana buruknya sekali pun, aku tetap akan bersahabat denganmu! Ini janjiku.......”

Kim Lo merasakan hatinya berdebar keras.

“Benarkah itu nona Yo?”

“Ya…….”

“Baiklah kalau begitu. Aku akan membuka tutup mukaku ini, membiarkan nona melihat mukaku.

“Ya, bukalah.”

Perlahan-lahan tangan Kim Lo memegang ujung kain penutup mukanya, tangannya gemetaran hatinya tergoncang keras.

“Kau jangan takut jika melihat mukaku yang buruk ini nona Yo!”

“Ya, bukalah!”

Kim Lo membuka tutup mukanya.

Yo Bie Lan mengawasinya, tiba-tiba ia berseru sambil mundur ke belakang. Muka si gadis jadi pucat, tangannya menutupi mulutnya yang hampir menjerit.

Wajah yang ada di depannya bukan wajah seorang pemuda tampan tapi wajah seekor kera.

Dengan tubuh menggigil, akhirnya nona Yo bisa bilang juga: “Kau….. kau…….!”

Mendadak Kim Lo tertawa bergelak,

“Nah sekarang kau telah melihatnya, kan? Jelas bukan? Kau tentu akan puas? Dan silahkan kau mentertawakan aku!”

Bie Lan tidak bilang apa-apa, ia memutar tubuhnya, ia ingin berlari meninggalkan tempat itu.

Setelah tertawa, Kim Lo bisa menguasai dirinya lagi, ia melompat menghadang di depan si gadis.

“Nona Yo, kau…… kau…….”

“Biarkan aku pergi, aku ingin tidur!” kata si gadis.

“Tadi kau berjanji akan tetap berteman denganku walaupun bagaimana buruk sekali mukaku!”

Bie Lan menghela napas. Gadis inipun rupanya sudah bisa menindih perasaan kagetnya.

Sama sekali, tidak disangka, bahwa pria yang dikaguminya, ternyata seorang pemuda dengan wajahnya yang seperti kera, seraut wajah yang penuh dengan bulu-bulu halus kuning.

“Baiklah! Kita memang akan tetap bersahabat!” Kata Yo Bie Lan.

Sedih hati Kim Lo. Suara si gadis didengarnya begitu tawar.

“Terima kasih nona Yo.......!” Katanya tidak bersemangat.

Bie Lan melangkah hendak pergi, diwaktu itulah Kim Lo teringat sesuatu: “Nona Yo, kalau memang kau malu bersahabat denganku, aku pun tidak memaksa, asal kau mau anggap aku sebagai sahabatmu, itupun sudah lebih cukup……..!”

Bie Lan menoleh.

“Ya, aku akan tetap menganggap kau sebagai sahabatku!”

Setelah berkata begitu, si gadis memutar tubuhnya, dia bermaksud hendak berlari meninggalkan pekarangan belakang rumah penginapan tersebut, karena dia bermaksud untuk kembali ke kamarnya.

Tapi baru saja dia melangkah dua tindak, mendadak sekali dia mendengar suara orang merintih.

Bie Lan melihat ke arah sampingnya.

Bie Lan jadi batal untuk masuk ke ruang dalam rumah penginapan, dia menghampiri.

Setelah melihat orang itu, Bie Lan mengeluarkan suara tertahan dan berjongkok di dekatnya.

“Kau…… kau kenapa?”

Orang itu yang terluka tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dia cuma bisa merintih.

Kim Lo juga sudah datang menghampiri.

Justeru melihat sosok tubuh itu, setelah melihat mukanya seketika Kim Lo kaget sampai dia berseru nyaring! Dia memanggil orang itu, tidak lain dari Su Nio Nio.

“Su Nio Nio.......!” Akhirnya Kim Lo bilang begitu dengan suara tertahan.

Yo Bie Lan menoleh.

“Kau kenal padanya?”

Kim Lo mengangguk.

“Ya, dialah si nenek yang kemarin telah kau hadapi!” kata Kim Lo.

Sekali lagi si gadis memperhatikan muka si nenek! Dia kemudian melihat punggung si nenek, barulah di waktu itu Bie Lan mengenalinya bahwa nenek tua ini benar-benar Su Nio Nio si Nenek tua bungkuk.

“Ihhh, mengapa kau bisa terluka demikian parah?” menggumam si gadis.

Si nenek tua bungkuk itu telah mengerang perlahan, kemudian tangannya terangkat: “Ini……., ini Giok-sie, cepat kalian bawa Giok-sie sembunyikan. Sebentar lagi Kam Yu akan datang menyusul ke mari bersama-sama dengan anak buahnya!”

Bie Lan kaget di tangan si nenek tua bungkuk yang sudah keadaannya sudah sekarat itu, memang tercekal Giok-sie. Benda yang terbuat dari batu Giok, yang jadi rebutan orang-orang rimba persilatan.

Tanpa ragu-ragu Bie Lan telah menerima Giok-sie itu. Kemudian diberikan kepada Kim Lo.

“Aku….. aku, sudah merampas Giok-sie itu dari tangan Kam Yu, tapi aku tidak lolos dari tangannya dan tangan jahat anak buahnya. Aku terluka hebat sekali.......

“Namun aku masih bisa meloloskan diri dari mereka, aku telah bisa melepaskan diri dan sekarang mereka tengah mencari jejakku….. Cepat selamatkan Giok-sie itu, cepat pergi!”

Napas si nenek itu memburu keras sekali, mukanya yang penuh dengan keriput ketuaan, telah pucat pias. Tampaknya seperti tidak berdarah.

Matanyapun tidak bersinar, guram sekali. Tubuhnya menggigil menahan sakit.

Di waktu itu tampak Bie Lan berusaha menotok beberapa jalan darah di tubuh si nenek. Tapi sudah tidak dapat tertolong lagi jiwa tua si nenek, karena di waktu itu dia sudah menghembuskan napasnya yang terakhir.

Kim Lo menggidik!

Su Nio Nio memiliki kepandaian yang tinggi. Dia saja, tidak bisa merubuhkan nenek tua ini, tapi mengapa justeru Su Nio Nio bisa terluka demikian hebat di tangan Kam Yu dan anak buahnya! Malah akhirnya dia buang jiwa karena Giok-sie.

Sedangkan Giok-sie sudah berada di tangannya. Melihat si nenek tua itu sudah binasa malah cepat-cepat Kim Lo menarik tangan Bie Lan.

“Mari kita beritahukan kepada paman Ko Tie,” Katanya.

Bie Lan juga segera mengangguk, mereka masuk ke dalam rumah penginapan. Mengetuk pintu kamar Ko Tie.

Ko Tie dan Giok Hoa yang tengah tertidur nyenyak, terkejut. Karena pintu kamar mereka diketuk begitu keras, segera juga melompat turun dari pembaringan, dan membuka pintu kamarnya.

Di saat itu tampak Ko Tie masih ngantuk, namun melihat Kim Lo dan Yo Bie Lan yang di depan pintu kamarnya itu, dia menduga tentunya urusan penting. Dia pun segera membuka lebih lebar, tanyanya. “Ada apa?”

Kim Lo menyodorkan Giok-sie, ia menceritakan apa yang terjadi.

Cepat-cepat Ko Tie merapikan pakaiannya, begitu juga Giok Hoa. Mereka keluar untuk melihat keadaan si nenek tua itu, Su Nio Nio, yang sudah rebah menjadi mayat.

“Menurut keterangan, Kam Yu dengan anak buahnya akan segera tiba di sini, ia menganjurkan agar kita berlalu dari tempat ini…….” Kata Kim Lo.

Ko Tie mengangguk. Mereka cepat-cepat merapihkan buntalan mereka masing-masing, meninggalkan rumah penginapan itu diam-diam dengan meninggalkan uang sepuluh tail di atas pembaringan sebagai bayaran sewa kamar tersebut.

Kim Lo berempat telah meninggalkan rumah penginapan itu berlari-lari terus. Giok-sie sudah berada di saku baju Ko Tie, karena dia memiliki kepandaian yang tertinggi. Karenanya dengan berada di sakunya, Giok-sie akan terlindung dengan aman.

Tapi mereka berlari belum lama, tiba-tiba di belakang mereka ada belasan sosok bayangan yang mengejar mereka.

Belasan sosok bayangan itu berseru-seru berisik sekali. Malah di antara mereka ada yang bilang, “Itu mereka, jangan lepaskan!”

Disaat itu Ko Tie telah bilang kepada Kim Lo: “Kau hadapi mereka, aku akan melindungi Giok-sie ini!”

Kim Lo mengiyakan.

“Paman Lie, pergilah selamatkan Giok-sie!”

Sedangkan Giok Hoa dengan Yo Bie Lan tidak berlari juga, mereka akan membantu Kim Lo untuk menghadapi pengejar-pengejar mereka.

Ko Tie sendiri berlari beberapa langkah, tiba-tiba teringat sesuatu.

“Kalian ke mari!” Panggilnya.

Kim Lo bertiga cepat-cepat menghampiri.

“Kita pancing mereka ke tempatnya Pu San Hoat-ong, kita beritahukan bahwa mereka adalah orang-orang Kam Yu, malah di antaranya mungkin terdapat Kam Yu.”

Kim Lo dan yang lainnya setuju, karena mereka anggap itulah akal yang sangat baik.

Begitulah, mereka berempat telah berlari-lari lagi menuju ke luar kampung, mereka ingin pergi ke rumah di mana adanya Pu San Hoat-ong dan Ang-hoa Liehiap.

Setelah berlari sekian lama, Ko Tie berempat tiba. Mereka mengetuk pintu rumah.

Pu San Hoat-ong berdua Ang-hoa Liehiap muncul dengan segera!

“Taysu, itulah orang-orang Kam Yu. Mungkin di antara mereka terdapat Kam Yu, orang yang Taysu bilang memiliki Giok-sie.

Pu San Hoat-ong terkejut bercampur girang. Tidak berayal lagi ia melepaskan beberapa batang anak panah berapi, yang apinya bersinar terang sekali dalam kegelapan malam.

Pu San Hoat-ong melepaskan anak panah berapi itu, buat memanggil teman- temannya yang terpencar di berbagai tempat di kampung itu. Dan ia sendiri sudah menoleh kepada Ang-hoa Liehiap, dia bilang,

“Mari kita hadapi mereka!” sambil berkata begitu, Ang-hoa Liehiap dengan Pu San Hoat-ong telah melesat ke depan.

Ko Tie memberi isyarat kepada Kim Lo dan yang lainnya, agar ikut membantui Pu San Hoat-ong.

Kim Lo, Yo Bie Lan dan Giok Hoa mengerti apa maksud Ko Tie. mereka segera melompati untuk membantui Pu San Hoat-ong.

Waktu itu tampak Pu San Hoat-ong berdiri bertolak pinggang menantikan kedatangan orang-orang itu.

Benar saja, diantara orang-orang itu terdapat Kam Yu, yang berlari secepat terbang.

Kam Yu sudah berseru, “Tangkap mereka semuanya. Tangkap!”

Orang-orangnya yang berjumlah belasan menyerbu dengan nekad.

Pu San Hoat-ong merangkapkan tangan kanannya, dia menghantam hebat sekali. Pukulan yang mengandung lweekang dahsyat menghantam dada dari lawannya menyerbu paling depan.

Tapi orang itu tidak memiliki kepandaian yang rendah. Walaupun memiliki sebutan sebagai kaki tangan Kam Yu, tokh kepandaiannya liehay sekali.

Malah waktu tangan Pu San Hoat-ong menyambar, dan sudah mengalahkannya dengan mudah. Gerakannya itu memang sangat gesit sekali. Ia berhasil untuk menghindarkan pukulan telapak tangan Pu San Hoat-ong malah dia membarengi membalas menyerang.

Hebat cara menyerang Pu San Hoat-ong biarpun lawannya bisa berkelit dan balas menyerang padanya. Dia masih menguraskan serangannya dengan cepat, telapak tangannya bergerak beralih arah dan sasaran. Sama hebatnya seperti tadi. Tadi dia sudah menghantam lagi.

Dimana berkesiuran angin yang kuat itu, tampak Pu San Hoat-ong menggunakan tangan kirinya buat menjambak juga.

Kali ini orang tidak bisa berkelit keseluruhannya karena dia bisa menghindar dari telapak tangan kanan Pu San Hoat-ong, tapi dia tidak bisa menghindarinya dari cengkeraman (tangan kirinya) Pu San Hoat-ong, yang mencengkeram sangat kuat sekali di pundak orang itu.

Seketika orang tersebut menjerit keras, karena tulang pie-peenya telah hancur kena diremas oleh cengkeraman tangan kiri Pu San Hoat-ong.

Yang 1ainnya sudah menyambar datang maka tidak ayal lagi Pu San Hoat-ong menggentak tangan kirinya, dia pun melemparkan tubuh korbannya itu yang terlempar jauh.

Kim Lo sendiri sudah menerjang kepada dua orang lawannya yang paling dekat dengan serulingnya.

Kepandaian Kim Lo pun hebat sekali. Serulingnya itu seperti juga seperti seekor ular naga yang menyambar ke sana ke mari. Totokan ujung serulingnya mengenai tepat pada jalan darah yang membuat kedua orang itu terjungkal dengan menjerit keras dan pingsan tidak sadarkan diri.

Dalam keadaan seperti itu, segera tampak betapa pun juga memang Kim Lo lebih gesit dari yang lainnya, dia melompat ke sana ke mari. Jika yang lainnya lebih banyak menunggu saja, jika diterjang barulah menyerang.

Giok Hoa turun tangan tidak tanggung-tanggung karena diapun sudah mencabut pedangnya. Dengan pedangnya dia menyerang dengan lawan-lawannya yang menerjang dekat padanya. Bie Lan pun demikian. Kedua wanita itu berhasil melukai beberapa orang lawan mereka.

Diwaktu itu tampak Ko Tie pun tidak ketinggalan. Dengan pedangnya yang liehay dia bisa melukai beberapa orang.

Kam Yu yang melihat keadaan seperti itu, jadi kaget tidak terkira. Tapi dia tengah murka, karena itu dia telah melompat tinggi, tahu-tahu tangannya tengah menyambar ke arah Ko Tie. Maksudnya hendak menghantam jalan darah mematikan di dekat leher Ko Tie.

Tapi Ko Tie dapat bergerak gesit, dia menghindarkan diri dengan segera. Bahkan dia sudah menikam dengan pedangnya ke perut lawannya.

Walaupun tubuh Kam Yu tengah terapung di tengah udara, dia tidak mudah ditikam. Dia bisa mengelakkan tikaman itu dengan meliukkan tubuhnya.

Di antara berkelebatnya pedang Ko Tie tampak tubuh Kam Yu sudah meluncur turun.

Dalam keadaan seperti itu, di antara suara berisiknya orang yang tengah bertempur tampak berlari-lari mendatangi puluhan orang yang berseru-seru dengan suara yang bengis dan ramai sekali. Mereka semuanya berpakaian sebagai tentara kerajaan.

Mereka juga masing-masing mencekal senjata yang terdiri berbagai macam. Mereka adalah para pahlawan Kaisar yang telah mendatangi cepat sekali. Begitu mereka melihat panah api di tengah udara, isyarat panggilan buat mereka dari Pu San Hoat-ong.

Dengan datangnya para tentara kerajaan itu, yang semuanya merupakan pahlawan istana, keadaan berobah cepat sekali, karena anak buah Kam Yu bisa dirubuhkan dalam waktu yang singkat.

Kam Yu melihat keadaan yang tidak menguntungkan dirinya, maka dia segera juga mendesak Ko Tie. Waktu Ko Tie mengelak ke sana ke mari, dia ingin menjejakkan kakinya tubuhnya melompat ke belakang.

Dan dia telah menjauhi diri. Malah dia sudah memutar tubuhnya, dia berlari untuk meloloskan diri.

“Kejar! Jangan lepaskan orang itu!” Teriak Pu San Hoat-ong yang melihat betapa Kam Yu hendak meloloskan diri.

Para pahlawan istana telah mengejarnya.

Ko Tie menghela napas dalam-dalam.

Pu San Hoat-ong sudah menghampiri Ko Tie.

“Apakah dia membawa Giok-sie?” Tanyanya.

“Entahlah! Kami bertemu dan kami segera menyerang, tapi jumlah mereka terlalu banyak,” berdusta Ko Tie.

“Baiklah. Terima kasih untuk jasa kalian ini. Aku berjanji nanti akan melaporkannya kepada Hoang-siang…….!” Kata Pu San Hoat-ong.

Ko Tie mengangguk sambil tersenyum.

“Mari kita mengejar mereka……!” Kata Pu San Hoat-ong.

Tapi Ko Tie menggeleng.

“Kami menunggu di sini, atau kalau perlu kami akan pergi lagi, nanti jika memang ada sesuatu yang mencurigakan tentang Giok-sie, kami akan ke mari lagi seperti tadi. Memancing pihak lawan dengan demikian Taysu bisa menjaring mereka.”

Pu San Hoat-ong tidak bercuriga, dia mengangguk.

Setelah itu dia pun memutar tubuhnya dengan beberapa kali menjejak tanah, tubuhnya melesat pergi diikuti oleh Ang-hoa Liehiap.

Ko Tie tersenyum.

“Mari kita tinggalkan tempat ini!” Ajaknya kepada teman-temannya dan isterinya.

Kim Lo, Bie Lan dan Giok Hoa pun girang. Karena tipu muslihat Ko Tie berhasil, sekarang justeru disaat Giok-sie sudah berada di tangan mereka berarti mereka harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini dan juga mereka akan membiarkan Pu San Hoat-ong berurusan dengan Kam Yu!

Bukankah itu tidak merugikan mereka malah telah mendatangkan untung? Siapa tahu Su Nio Nio ternyata menjadi penyebab mereka bisa memperoleh Giok-sie.

Sambil berlari-lari mereka meninggalkan tempat itu. Mereka mengerahkan gin-kang masing-masing.

Mereka dapat berlari dengan cepat sekali, dan dalam waktu yang singkat mereka sudah melalui puluhan lie. Bahkan waktu fajar menyingsing mereka sudah berlari hampir seratus lie lebih.

Sambil berlari, hati Kim Lo tidak tenang karena berkali-kali ia melirik kepada si gadis.

Sedangkan si gadis telah berlari tanpa pernah melirik, cuma saja wajahnya guram bukan main, karena dia berdiam diri dengan wajah diselubungi oleh kabut yang tebal.

Waktu itu hati Kim Lo jadi semakin tidak tenang, karena ia melihatnya betapa pun juga sikap si gadis terhadapnya, telah berobah.

Dalam keadaan seperti itu, segera juga Kim Lo berlari berusaha berada di dekat si gadis sampai akhirnya dia bisa berlari di sisi si gadis.

“Nona Yo…...!” Panggilnya kemudian dengan suara perlahan, karena ia kuatir kalau saja Ko Tie dengan Giok Hoa yang berlari di sebelah depan bisa mendengar kata-katanya.

Bie Lan melirik, tapi ia tidak mengatakan sesuatu apa pun juga, hanya wajahnya memperlihatkan bahwa dia memang tengah menantikan kata-kata selanjutnya dari Kim Lo.

“Nona Yo, apakah kau marah kepadaku?” Tanya Kim Lo lagi.

“Marah? Mengapa harus marah?” Tanya si gadis, tanpa memandang Kim Lo, dia meneruskan larinya.

Disaat itu Kim Lo, jadi semakin tidak tenang, karena itu ia pun segera juga telah bertanya lagi,

“Tapi…… tadi sikap nona berobah sekali.......!”

“Berobah?”

“Ya…..!”

“Apanya yang berobah?”

“Sikapmu!”

“Sikapku?”

“Ya.”

“Mengapa berobah?”

Kim Lo diam. Dia sendiri tidak mengetahui bagaimana mengemukakan perasaannya itu, dia memang hanya merasakan bahwa sikap Yo Bie Lan padanya sangat berobah.

Namun ia tak bisa mengemukakan hal itu. Iapun tak bisa mengatakannya lewat rangkaian kata-kata, karena itu akhirnya Kim Lo jadi bungkam.

Diwaktu itu tampak Yo Bie Lan pun sudah tak berselera buat bercakap-cakap dengan Kim Lo karena ia berlari dengan berdiam diri saja.

Perasaan Kim Lo benar-benar tertekan. Ia juga diliputi perasaan tidak tenang, karena jika memang si gadis berobah, niscaya ia yang akan tersiksa lebih jauh.

Karena diwaktu itu ia memang sangat mencintai si gadis. Ia memang sudah jatuh hati dan jatuh cinta pada si gadis sejak pertemuan mereka yang pertama.

Sekarang setelah si gadis melihat wajahnya yang sebenarnya justeru sikapnya telah berobah karena itu perasaan Kim Lo terluka. Sedangkan si gadis pernah berjanji padanya, walaupun ia melihat muka Kim Lo buruk bagaimana, tetap saja ia tak akan berobah, ia akan tetap bersahabat baik dengan Kim Lo.

Dalam keadaan seperti sekarang, Kim Lo benar-benar tertekan sekali perasaannya. Dia pun telah berulangkali menghela napas, malah berlari terus di sisi si gadis.

Lama juga mereka berlari terus sampai melewati beberapa puluh lie lagi, dan Kim Lo tidak bisa menekan terus perasaannya, sampai akhirnya dia bilang. “Nona Yo, ada yang ingin kusampaikan kepadamu!”

Si gadis menoleh.

“Apa yang ingin kau sampaikan?” Tanyanya.

“Aku…… aku sebetulnya ingin sekali bersahabat dan tetap baik padamu!”

Si gadis tersenyum, walaupun jelas sekali itulah senyum paksaan.

“Sekarang kita pun bersahabat cukup baik,” katanya dengan suara yang tawar.

Kim Lo menghela napas.

“Tapi justeru aku menghendaki hubungan yang jauh lebih baik lagi seperti yang nona ketahui bahwa aku…... bahwa aku…….” Berkata sampai di situ, Kim Lo bimbang dan gugup. Ia tidak bisa meneruskan lagi kata-katanya.

“Kenapa?” Tanya si gadis sambil melirik.

“Justeru aku sangat……. sangat sayang padamu!” kata Kim Lo setelah menguatkan hatinya buat melontarkan kata-kata itu walaupun dia merasakan tenggorokannya seperti tersumbat dan kering, sulit mengucapkan juga.

Yo Bie Lan tidak menyahuti. Dia berlari saja, dia berdiam tidak memberikan komentar atas kata-kata Kim Lo.

Kim Lo tahu sekarang pandangan si gadis terhadapnya telah berobah, setelah melihat mukanya yang buruk seperti kera, tentunya menyesal sekali. Dan yang lebih menyakiti hati Kim Lo dia pun menduga tentunya si gadis pun di dalam hatinya akan mencemohokannya.

Karena dari itu, mau atau tidak maupun merasa rendah diri. Larinya jadi semakin perlahan sehingga dia tertinggal dengan si gadis yang terus berlari, dimana akhirnya Kim Lo hanya berlari di belakang si gadis.

Waktu itu Yo Bie Lan pun mengetahui larinya Kim Lo semakin perlahan namun dia tidak mengacuhkannya. Dia berlari terus. Malah semakin cepat maka dia telah berada dekat sekali di belakang Ko Tie dan Giok Hoa.

Sedangkan Kim Lo yang berlari semakin perlahan tertinggal semakin jauh.

Jika memang menuruti isi hatinya tentu ia sudah memutar tubuhnya buat berlari meninggalkan ke tiga orang itu, Bie Lan, Ko Tie maupun Giok Hoa.

Tapi mengingat tugasnya sangat berat yaitu harus melindungi Giok-sie, mau atau tidak, dia memang harus dapat terus melindungi dan membantu Ko Tie yang waktu itu sudah memperoleh Giok-sie!

Dan karena itu juga, telah membuat Kim Lo tidak bisa membawa adatnya. Ia harus berlari terus mengikuti si gadis. Dia telah berlari dengan perasaan tidak karuan!

Dilihat dari sikapnya, tampaklah si gadis sudah tidak mengacuhkannya. Dan memang si gadis telah berobah. Berobah pula pandangannya tentunya, malah, dilihat dari sikapnya yang begitu tawar dan sangat dingin, dia seakan juga mengandung kekecewaan.

Kim Lo menghela napas beberapa kali, tanpa disadarinya dia telah menitikkan butir-butir air mata. Dia berduka sekali hatinya juga sangat kecewa bukan main.

Sedangkan Yo Bie Lan yang sudah berlari dekat dengan Ko Tie dan Giok Hoa, dia bilang, “Paman Lie dan bibi, mari kita beristirahat dulu……. aku sangat lelah sekali!”

Ko Tie dan Giok Hoa menahan langkah kaki mereka, dan berhenti dengan memutar tubuh mereka.

“Kita menjauhi tempat ini sejauh mungkin, karena kalau Pu San Hoat-ong mengetahui Giok-sie berada di tangan kita dari pengakuan Kam Yu, niscaya dia bersama anak buahnya akan mengejar kita. Berarti kita memperoleh kesulitan!”

Yo Bie Lan menghela napas.

“Aku lelah sekali.......!” Katanya.

“Baiklah! Kita beristirahat sejenak di sini, lalu kita akan melanjutkan perjalanan dengan segera! Oya, mana Kim Lo?!” Sambil berkata berkata begitu Ko Tie telah menoleh ke belakang.

Di waktu itu tampak Kim Lo berlari mendatangi. Memang dia terpisah cukup jauh. Namun akhirnya tiba juga di hadapan Ko Tie, Giok Hoa dan Yo Bie Lan. Dia melirik kepada Bie Lan.

Di saat itu Bie Lan tidak mau memandang Kim Lo, dia cukup menunduk saja pura-pura tidak melihat kedatangan Kim Lo. Si gadis telah duduk di bawah sebatang pohon.

Sedangkan Kim Lo sudah menghela napas, dia bertanya kepada Ko Tie: “Paman Lie, apakah kita masih perlu pergi ke tempat yang lebih jauh?”

Ko Tie mengangguk.

“Ya, semakin jauh semakin baik?”

“Kalau memang demikian, mari kita lanjutkan perjalanan!” Kata Kim Lo.

Ko Tie melirik kepada Bie Lan yang tengah duduk beristirahat, dia lalu bilang, “Kita beristirahat dulu di sini, nanti kita akan melanjutkan lagi!”

Kim Lo cuma mengangguk, tentunya si gadis yang ingin beristirahat. Malah dilihat dari sikapnya seperti itu, sikap yang dingin sekali si gadis benar-benar tampaknya sudah tidak mau memperhatikan Kim Lo.

Melihat keadaan Kim Lo seperti itu, Ko Tie dengan Giok Hoa saling pandang. Mereka heran bukan main sampai akhirnya Ko Tie telah menarik tangan Giok Hoa diajak menjauh sedikit.

“Tampaknya terjadi perselisihan antara Kim Lo dan Bie Lan!” Kata Ko Tie.

Giok Hoa mengangguk.

“Kalau didengar dari pengakuannya, Bie Lan memang menaruh hati kepada Kim Lo, ia pernah menceritakan perasaannya kepadaku, bahwa dia menaruh perhatian kepada Kim Lo. Tapi kali ini aku benar-benar heran, karena sikap Bie Lan tampaknya begitu dingin dia seakan juga tidak mengacuhkan Kim Lo!”

Ko Tie menghela napas.

“Memang demikianlah jika sepasang muda-mudi yang tengah jatuh cinta, tentu akan diselingi oleh segala macam pertengkaran!” Ko Tie berkata sambil tersenyum, “Seperti dulu kita.”

Pipi Giok Hoa berobah merah, dia mencubit lengan Ko Tie.

“Kau jail.......!”

“Ouhh, sakit sekali…….!” Katanya sambil merabah dan mengusap-usap tangannya.

Diwaktu itu tampak Kim Lo sudah mengambil tempat yang terpisah cukup jauh dia telah duduk beristitrahat.

Selama beristirahat seperti itu Kim Lo selalu melirik kepada si gadis, karena dia ingin mengetahui apa yang tengah diIakukan Bie Lan.

Tapi si gadis beristirahat dengan memejamkan matanya sama sekali dia tidak memperdulikan sekelilingnya.

Di waktu itu tampak Kim Lo sudah tidak bisa menahan diri. Dia bangkit dari duduknya, dia melihat Ko Tie dan Giok Hoa berada di tempat yang terpisah cukup jauh, maka dia mendekati Bie Lan!

“Nona Yo!” Panggilnya setelah dia berada dekat dengan tempat di mana Bie Lan tengah duduk beristirahat.

Bie Lan membuka matanya, dia mengawasi Kim Lo kemudian, tanyanya. “Ada apalagi? Aku lelah sekali……, aku ingin beristirahat…….!”

“Maaf, aku mengganggumu sejenak nona!”

“Ya.”

“Aku…… aku ingin menanyakan sesuatu!!”

“Ya!”

“Kau tentunya tidak akan marah kalau aku kemukakan?”

Si gadis membuka matanya lebar-lebar, tapi sikapnya dingin sekali.

“Mengapa aku harus marah. Memangnya kau berlaku kurang ajar padaku, Kim koko?”

Kim Lo menghela napas.

“Mudah-mudahan saja kau tidak marah!”

Setelah berkata begitu Kim Lo menghela napas, dia bilang: “Sebetulnya aku ingin bertanya kepadamu setelah engkau melihat mukaku apakah engkau jadi muak dan kecewa kepadaku!”

Yo Bie Lan mengawasi sejenak, kemudian dia menghela napas dalam-dalam.

“Wajah seseorang adalah pemberian Tuhan bagaimana buruk atau bagaimana tampanmu bukan kita yang membuatnya. Jika Tuhan memberikan kita memiliki wajah yang tampan tentu kita memiliki wajah yang tampan, demikian juga sebaliknya. Mengapa aku harus merasa membenci dan kecewa padamu, Kim koko?”

Muka Kim Lo berobah, hatinya berdebar keras penuh kecewa, dan hanya saja pada saat itu mukanya memang ditutupi oleh kain penutup mukanya, dengan demikian Yo Bie Lan tidak melihat perobahan wajah Kim Lo.

“Ada lagi yang hendak aku tanyakan?!”

“Apa lagi?”

“Tentang....... tentang diriku!”

“Kenapa dirimu?”

“Aku……. aku sangat sayang kepadamu!”

Si gadis tersenyum, sekali ini Kim Lo bisa melihat betapa senyuman si gadis benar-benar dipaksakan sekali.

“Kenapa dirimu, Kim koko? Mengapa kau bertanya seperti itu? Jika memang engkau merasa sangat sayang kepadaku, tentu saja aku sangat berterima kasih sekali……. .karena dari itu, kukira jelas aku yang harus bersikap baik padamu, karena engkau sangat sayang kepadaku.”

“Aku……. aku ingin bersahabat terus denganmu, nona Yo!”

“Ohhh, tentu? Tentu, memang aku pun senang sekali bersahabat dengan kau, Kim koko.......”

Mendengar kata si gadis yang terakhir, maka di waktu itu habislah harapan Kim Lo, karena dia menyadari bahwa si gadis rupanya memang sudah tidak dapat digoyahkan kembali perasaannya. Maka dia pun menghela napas.

“Baiklah nona Yo, terima kasih selama ini nona cukup baik padaku!”

“Ya,” si gadis hanya menjawab begitu saja. “Apakah kau tidak ingin beristirahat, aku sangat lelah sekali!”

Kim Lo menggeleng.

“Terima kasih!” Katanya.

Si gadis memejamkan matanya.

Kim Lo tidak segera pergi, dia masih berdiri di tempatnya, dia menghela napas berulang kali. Dia mengawasi si gadis, sampai akhirnya dia telah memutar tubuhnya perlahan-lahan melangkah pergi.

Diwaktu itu tampak jelas sekali, betapapun juga sikap si gadis padanya sangat tawar. Dan juga memang disaat itulah dia sudah habis harapannya, punah harapannya bahwa dia akan bisa mempersunting si gadis. Walaupun bagaimana memang dia harus menyadarinya, dia tidak akan cocok dan tidak sesuai menjadi suami si gadis.

Cuma saja sayangnya dia justeru telah terlanjur merasa sangat sayang kepada si gadis, dia telah merasa mencintainya. Karena dari itu, dia mau atau tidak memang harus dapat berusaha mendekatinya terus si gadis kalau saja hati si gadis dapat merobah keputusannya dan menaruh belas kasihan kepadanya.
“Kasihan?”

Ohh, Kim Lo tak menghendaki balas kasihan dari si gadis dan karena dari itu juga iapun tak mau dikasihani si gadis. Jika memang si gadis menaruh balas kasihan padanya dan mencintainya maka hal itu tentu saja tak dikehendakinya.

Kim Lo menghela napas, ia telah duduk kembali beristitahat.

0 Response to "Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 141-150"

Post a Comment