Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 41-50

Mode Malam
Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 41-50
Benar saja, sepasang muda-mudi itu mengeluarkan suara tertawa tawar, tubuh mereka bergerak sangat lincah. Entah kapan, tahu-tahu di tangan mereka telah tercekal sebatang pedang dan mereka seperti juga bayangan saja, melesat ke sana ke mari, dan mereka menyerang dengan hebat sekali mempergunakan pedangnya.

Para tentara kerajaan itu jadi terkejut, mereka melihat Siangkoan Yap memperoleh bantuan, malah tenaga bantuan yang datang itu, merupakan pasangan muda-mudi yang memiliki kepandaian sangat tinggi, karena tubuh mereka bergerak ke sana ke mari seperti bayangan saja, sehingga para tentara itu telah merasakan, kepandaian dua orang ini mungkin berada di atas kepandaian mereka semuanya.

Di antara berkesiuran angin serangan itu, kedua muda-mudi itu sulit dilihat jelas, mereka hanya tampak dalam bentuk sosok bayangan belaka. Dan juga, setelah senjata lawan menyerang padanya, tentu mereka dapat menghalaunya dengan mudah dan balas menyerang lagi.

Dalam waktu yang singkat pasangan muda mudi itu telah dapat mengacaukan kepungan para tentara kerajaan itu, karena ilmu pedang mereka ternyata sangat lihay.

Mereka telah berhasil melukai empat orang tentara kerajaan.

“Cepat menyingkir!” Berseru pemuda yang tampan itu sambil melirik kepada Siangkoan Yap. “Bukankah kau tengah terluka?”

Siangkoan Yap tersadar. Memang dia semula masih memberikan perlawanan pada para tentara kerajaan yang mengepungnya. Tapi mendengar peringatan dari pemuda itu, seketika Siangkoan Yap tersadar.

Bahwa dia tidak ada gunanya melayani terus para tentara kerajaan tersebut, karena bukankah pasangan muda-mudi itu sengaja telah membuka jalan membantunya agar ia bisa menyingkirkan diri. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Siangkoan Yap segera memutar pedangnya, dikala tiga orang tentara kerajaan yang mengepung dirinya tengah melompat mundur menghindarkan diri. Ia segera melompat ke sampingnya dan menerobos keluar dari pintu kamar, karena ia ingin melarikan diri meninggalkan kamar tersebut.

Tapi, waktu dia menerobos keluar dari pintu, menyambar dua batang golok, untung saja dia berlaku waspada. Ia menyampok dengan pedangnya, kemudian ia meneruskan larinya.

Pasangan muda mudi itu juga tidak tinggal diam, setelah berhasil melukai dua tentara kerajaan lagi, diwaktu lawan-lawan mereka tengah berdiri bimbang, justeru keduanyapun telah menerobos ke pintu, untuk menyingkirkan diri.

Para tentara kerajaan itu membentak berisik sekali, mereka berusaha untuk merintangi, akan tetapi mereka tidak berhasil. Kepandaian sepasang muda mudi itu memang lihay dan sebentar saja mereka telah meninggalkan dua lie lebih para tentara kerajaan itu.

Mereka telah meninggalkan warung arak itu, meninggalkan juga kota tersebut. Mereka telah berada di luar kota.

Y

Siapakah pasangan muda mudi itu? Mereka tidak lain dari Ko Tie dan Giok Hoa, pasangan suami isteri muda itu.

Sesungguhnya mereka telah berusia lebih dari apa yang diduga orang jika melihat wajah mereka yang tetap awet muda karena latihan lweekang mereka yang murni. Usia mereka sebetulnya sudah duapuluh tujuh buat Ko Tie sedangkan Giok Hoa berusia duapuluh lima tahun.

Tapi, lweekang yang mereka latih merupakan tenaga dalam beraliran lurus dan bersih, mereka pun menerima petunjuk dari Yo Ko maupun Swat Tocu, dengan demikian, membuat mereka tetap awet muda selalu terlihat segar. Kepandaian mereka selama sepuluh tahun ini, sejak mereka menikah pun telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, karena mereka terus berlatih diri.

Tidak terlalu mengherankan kalau tentara kerajaan itu tidak berhasil untuk menghadapi mereka. Karena Ko Tie dan Giok Hoa merupakan pasangan suami istri yang kepandaiannya sekarang ini jarang sekali bisa dicari tandingannya.

Setelah Ko Tie dan Giok Hoa berlari sekian lama, mereka berhasil menyusul Siangkoan Yap, yang dilihatnya tengah berlari sekuat tenaga.

Di belakang mereka suara teriakan para tentara kerajaan tengah mengejarnya terdengar semakin jauh.

“Mari kita kejar!” Ajak Ko Tie kepada Giok Hoa.

Isterinya mengangguk, dan mereka mengerahkan gin-kang masing-masing. Dalam waktu singkat mereka telah berada dekat sekali dengan Siangkoan Yap.

Siangkoan Yap mengetahui dirinya dikejar orang, dia melirik ke belakang tanpa mengendorkan larinya. Ketika memperoleh kenyataan yang mengejarnya adalah sepasang muda mudi yang telah menolongi dirinya, segara ia menghentikan langkah kakinya.

Dia menunggu, sampai Ko Tie dan Giok Hoa tiba dihadapannya, baru dia merangkapkan sepasang tangannya, dia bilang: “Terima kasih atas pertolongan kalian, Siauwte dengan ini mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang tidak terhingga. Terimalah pemberian hormat siauwte.......!”

“Jangan anda berlaku seperti itu dengan segala peradatan. Kami hanya melakukan kewajiban sebagai seorang Kang-ouw, yang harus menolongi orang-orang yang tengah dalam kesulitan.

“Perbuatan para tentara kerajaan itu bukan perbuatan yang terpuji. Mereka mengepungmu dengan tidak tahu malu, karena itu kami turun tangan untuk membantu dan menghajar para tentara itu!”

Kata Ko Tie sambil tersenyum. Iapun kemudian melanjutkan perkataannya lagi,

“Jika memang kami tidak salah lihat, tampaknya saudara dari Siaum-lim-sie, bukan?”

Muka Siangkoan Yap berobah merah, tampaknya dia jengah sekali.

“Benar!” Katanya kemudian, “Sayangnya aku seorang yang bodoh, sehingga sia-sia belaka jerih payah guruku yang telah mendidik bersusah payah, namun aku tidak berhasil menguasai ilmu silat Siauw-lim-sie yang sejati dan hebat itu, membuat aku tidak berdaya menghadapi para tentara kerajaan……”

“Itulah disebabkan mereka berjumlah sangat banyak dan juga tampaknya para tentara kerajaan itu bukan tentara kerajaan biasa. Mereka semuanya memiliki kepandaian yang tinggi!

“Mungkin mereka orang-orang Kaisar, para pahlawan istana yang menyamar sebagai tentara kerajaan! Hemmm, kami memang paling membenci mereka yang telah memperhamba diri kepada pemerintah penjajah itu!”

Waktu berkata begitu, Ko Tie memperlihatkan sikap yang sangat keren. Rupanya ia teringat betapa dulu perjuangan dari para pendekar gagah yang berusaha membendung dan menghalau penjajahan dari daratan Tiong-goan.

“Siauwte she Siangkoan bernama Yap. Jika memang in-kong tidak keberatan sudi kiranya memberi tahukan nama in-kong berdua yang sangat harum…….”

“Jangan memanggil kami dengan sebutan In-kong, kami tak merasa menolong anda!” kata Ko Tie. “Jika aku she Lie dan bernama Ko Tie, ini istriku, bernama Giok Hoa!”

Merekapun saling memberi hormat untuk berkenalan. Setelah bercakap-cakap mereka tampaknya jadi intim dan juga menceritakan ke mana tujuan mereka sebenarnya.

“Siangkoan, heng-tay,” kata Ko Tie kemudian, dalam suatu kesempatan, waktu mereka tengah melangkah perlahan-perlahan. “Sesungguhnya kami tengah melakukan perjalanan ke Pit-mo-gay lembah iblis itu. Kami kebetulan sekali melihat kau tengah dikeroyok oleh para tentara itu, maka kami turun tangan!

“Jika memang dilain waktu kita masih ada kesempatan dan jodoh, tentu kita bertemu lagi! Urusan kami ke Pit-mo-gay sangat penting sekali, sehingga maafkanh kami tidak bisa menemani terlebih lama lagi!”

Muka Siangkoan Yap berobah.

“Kalian berdua hendak……. hendak ke Pit-mo-gay?” tanyanya tidak lancar.

Ko Tie dan Giok Hoa melihat perobahan muka Siangkoan Yap, mereka jadi heran. Tapi kemudian Ko Tie mengangguk, katanya: “Benar. Kami memang ingin pergi ke Pit-mo-gay.”

“Aku……. akupun ingin pergi ke sana!” Kata Siangkoan Yap sambil memperlihatkan sikap sungguh-sungguh. “Siauwte pun ingin melakukan sesuatu yang cukup penting di sana! Atau mungkin juga kita memiliki tujuan yang sama?”

Ko Tie dan Giok Hoa saling pandang, kemudian dengan tenang Ko Tie bilang: “Jika memang Heng-tay memiliki urusan pergi ke Pit-mo-gay, maka mari kita pergi melakukan perjalanan bersama-sama, bukankah kita satu tujuan?”

“Tapi.......!” Siangkoan Yap ragu-ragu.

“Kenapa?” Tanya Ko Tie.

“Sesungguhnya....... jika memang siauwte boleh tahu urusan apakah yang ingin kalian lakukan?” tanya Siangkoan Yap.

Ko Tie tidak segera menyahuti.
“Kami ingin menemui Mo-in-kim-kun,” menyahuti Giok Hoa yang mewakili suaminya.

“Menemui Mo-in-kim-kun?” Tanya Siangkoan Yap. “Untuk apa?”

Giok Hoa tidak segera menyahuti, tampak ia ragu-ragu untuk memberikan penjelasan. Ko Tie sendiri telah ragu-ragu sejenak kemudian tersenyum.

“Itulah urusan yang tidak dapat kami bicarakan dengan sembarangan orang, dan maafkanlah atas kesulitan kami ini!” Kata Ko Tie kemudian sambil merangkapkan kedua tangannya memberi hormat. “Dan, Heng-tay pergi ke Pit-mo-gay tentu ingin menemui seseorang juga?”

Siangkoan Yap mengangguk.

“Ya….. memang benar!” sahutnya kemudian. “Dan orang itu, yang hendak kutemui adalah Mo-in-kim-kun juga!”

“Apa?” Ko Tie Gan Giok Hoa tampaknya jadi heran.

“Seperti juga jie-wi berdua, maka akupun ingin pergi menemui Mo-in-kim-kun ada urusan yang penting harus kusampaikan kepadanya.”

“Apakah heng-tay orang Pit-mo-gay juga?” Tanya Ko Tie dan Giok Hoa sambil menatap heran mengandung kecurigaan.

Siangkoan Yap menggeleng.

“Bukan! Ini semua hanya untuk memenuhi dan melaksanakan perintah guruku, Yang-bun Siansu!

“Beliau perintahkan aku turun gunung untuk mengacaukan tentara kerajaan yang hendak menumpas orang-orang Pit-mo-gay, dan jika memang usahaku gagal, maka aku harus pergi ke Pit-mo-gay dan menggabungkan diri dengan mereka, sebab menurut guruku, mereka itu merupakan pendekar-pendekar yang cinta pada tanah air.......!”

Ko Tie dan Giok Hoa saling pandang mereka menghela napas. Malah Ko Tie kemudian bilangi,

“Jika menurut kami, pandangan gurumu itu salah heng-tay. Karena justeru yang kami ketahui, orang yang berada di lembah Pit-mo-gay bukanlah sebangsa manusia baik........

“Justeru dengan adanya mereka, telah timbul kekacauan di dalam rimba persilatan. Mereka berkedok sebagai pencinta tanah air, tapi sesungguhnya mereka tengah berjuang untuk memenuhi keinginan pribadi masing-masing belaka. Dan merekapun tidak bersungguh-sungguh ingin mengusir penjajah Tay Goan!”

“Mengapa begitu?!” Tanya Siangkoan Yap heran.

“Karena mereka justeru ingin berjuang menggerakkan rakyat dan rakyat diperalat oleh mereka, agar kelak mereka bisa memiliki kerajaan. Bisa naik takhta.

“Dan terutama sekali Mo-in-kim-kun, pemimpin mereka, yang seperti sinting ingin menjadi Kaisar. Ia ingin mempergunakan Giok-sie, cap kerajaan, menggerakkan rakyat.

“Di samping itu, mereka juga mengganas. Rakyat yang tidak bersedia melibatkan diri dengan pergolakan yang ada tentu mereka binasakan. Demikian juga orang-orang rimba persilatan yang tidak bersedia tunduk padanya, Mo-in-kim-kun selalu menurunkan kematian! Kami justeru datang ke lembah Pit-mo-gay ingin meminta Giok-sie dari tangannya…….!”

“Giok sie?” Tanya Siangkoan Yap sambil mementang matanya lebar-lebar.

“Ya!” mengangguk Ko Tie.

“Soal Giok-sie memang pernah diberitahukan oleh guruku tapi guruku tidak perintahkan untuk merebut Giok-sie. Malah, guruku mengatakan, aku harus membantu pendekar yang ingin berjuang mengusir penjajah, mendukung dan membantu berjuang menghadapi kerajaan Tay-goan!”

“Mungkin juga Yang-bun Siansu locianpwe telah menerima berita yang tidak lengkap, sehingga memiliki penilaian yang keliru seperti itu. Dan mungkin saja, Yang-bun Siansu locianpwe belum lagi mengetahui bahwa Mo-in-kim-kun sesungguhnya bukan manusia baik-baik.

“Dan juga dia bukannya seorang manusia yang dapat dipercaya untuk menggerakkan perjuangan. Di tangannya, niscaya rakyat akan menjadi korban yang jatuh tentu saja tidak sedikit…….!”

Siangkoan Yap berdiri termenung sejenak, sampai akhirnya barulah dia bilang,

“Kalau begitu biarlah aku akan melihat perkembangannya saja setelah aku berada di lembah Pit-mo-gay, jika memang ada yang perlu di jelaskan jie-wi berdua benar adanya, maka aku malah akan meminta dan merampas Giok-sie dari tangan Mo-in-kim-kun.”

“Ada yang harus kau ingat dan perhatikan, Siangkoan heng-tay. Sesungguhnya Mo-in-kim-kun bukan orang sembarangan.

“Ia memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Anak buahnyapun umumnya memiliki kepandaian yang tinggi, kukira tidak mudah heng-tay ingin meminta Giok-sie dari tangannya.”

Muka Siangkoan Yap memerah, tapi tidak tersinggung, dia tertawa.

“Ya, tentu saja siauwte bukan bekerja sendiri, siauw-te hanya sekedar membantu jie-wie berdua untuk merampas Giok-sie, dan jika memang Giok-sie telah berhasil dirampas Siauwte tidak akan menginginkannya, akan menyerahkan kepada jie-wi berdua.

“Dengan demikian, tentu saja siauwte berhasil untuk bertindak dengan benar. Dan nanti setelah kembali ke gunung menemui guruku, maka siauwte akan memberikan penjelasan kepadanya!”

Ko Tie dan Giok Hoa mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“Tapi Giok-sie itu pun bukan untuk kami,” kata Giok Hoa sambil tersenyum. “Kami hanya akan merampasnya dan kelak diserahkan kepada seorang pendekar yang benar-benar sejati! Dan kami sendiri, memang hanya akan membantu untuk berjuang mengusir penjajah.”

Sambil berjalan perlahan-lahan, Ko Tie menceritakan kepada Siangkoan Yap, bahwa di dalam rimba persilatan telah tersiar berita tentang Giok-sie, karena itu mereka segera datang ke Pit-mo-gay. Dan justeru berita Giok-sie yang ada di tangan Mo-in-kim-kun tersebar sangat luas serta banyak orang-orang gagah rimba persilatan yang bermaksud untuk mencari Giok-sie merampasnya dari tangan Mo-in-kim-kun, dan kemudian memiliki Giok-sie, untuk dirinya sendiri.

Bukankah ada kata-kata yang menyatakan jika seseorang berhasil memiliki Giok-sie, maka orang itu akan menjadi Kaisar, dan bisa duduk di singgasana sebagai junjungan rakyat di daratan Tiong-goan?

Siangkoan Yap menyatakan, dia baru hari ini mendengar urusan yang lebih jelas perihal Giok-sie. Gurunya memberikan gambaran yang belum begitu jelas. Dia pun bersyukur bahwa ia bertemu pasangan suami isteri ini, Ko Tie dan Giok Hoa, sehingga dia tidak salah melangkah dan berbuat.

Dan jika dia tidak mendengar keterangan itu dari Ko Tie niscaya setibanya di Pit-mo-gay ia akan menyatakan bahwa dirinya bersedia bekerja membantu Mo-in-kim-kun, berarti dia melakukan sesuatu yang tidak benar membela orang yang tidak pantas untuk dibelanya. Dan tentu diapun akan ditertawakan oleh orang-orang gagah rimba persilatan.

Ko Tie menyatakan pada Siangkoan Yap juga setibanya mereka di Pit-mo-gay, mereka harus hati-hati karena di sana berkumpul banyak sekali tokoh-tokoh rimba persilatan, yang bekerja untuk Mo-in-kim-kun. Mereka umumnya merupakan tokoh-tokoh dari kalangan sesat.

Demikianlah setelah melakukan perjalanan sekian lama, mereka tiba di kaki gunung Song-san, mereka pun mendaki dan selang setengah hari tibalah mereka di mulut lembah Pit mo-gay.

Waktu itu Giok Hoa menunjuk kepada seseorang yang tengah berlari-lari di mulut lembah itu

“Lihatlah! Seekor mahluk aneh!” Berseru Giok Hoa.

Dia menyebutnya dengan sebutan “seekor mahluk aneh” karena dilihatnya dari dalam lembah itu, berlari-lari keluar sesosok tubuh kecil, yang berpakaian seperti manusia, kanak-kanak. Tapi mukanya penuh bulu kuning, demikian pula dengan tangannya yang berbulu.

Mukanya pun tidak mirip-mirip muka manusia, melainkan muka seekor kera. Dengan bulu-bulu yang tumbuh cukup lebat berwarna kuning.

Mahluk ini juga berlari gesit sekali. Mulutnya yang lebar dan monyong itu benar-benar seperti mulut kera, hidungnya yang pesek sekali, sehingga terlihat kedua lobang hidungnya.

Dan kepalanya di bagian atas yang berbentuk kecil lancip. Benar-benar merupakan mahluk yang sangat aneh sekali.

Cepat sekali anak kecil itu, yang keadaannya mirip seperti kera, telah berada di depan Giok Hoa bertiga.

“Siapa kalian?” tegur mahluk kecil itu dengan suara yang lancar, cuma saja suaranya agak nyaring, seperti juga pekik seekor kera.

Giok Hoa memandang Ko Tie dan Siangkoan Yap sejenak, akhirnya ia tertawa geli.

Melihat wanita ini tertawa geli, makhluk aneh itu jadi kurang senang, tampaknya ia tersinggung.

“Apa yang kau tertawakan, Cie-cie?” tegurnya dengan napas tak tenang.

“Lucu! Lucu! Kau pandai sekali bicara!” kata Giok Hoa sambil diselingi tertawanya, karena ia masih juga tertawa.

“Apa yang lucu?”

“Kau bicara seperti seorang manusia!”

“Bisa bicara seperti manusia? Mengapa? Atau memang aku ini tidak mirip manusia?” Tanya mahluk kecil itu.

“Bukankah kau……kau.......!”

Anak kecil itu, mementang matanya lebar-lebar kemudian tanyanya.

“Bukankah kenapa?”

“Jadi kau manusia?” Tanya Giok Hoa.

Anak kecil yang mukanya seperti kera itu sekali ini tidak bisa menahan kemendongkolan hatinya, dia bilang, “Jika memang aku bukan manusia adakah aku bisa bercakap-cakap dengan kalian?”

Mendengar nada suaranya yang melengking nyaring seperti itu, Giok Hoa bertiga ketika menyadari bahwa mahluk aneh ini yang mirip manusia tadi juga mirip seekor kera, mereka tahu bahwa mahluk aneh ini tengah gusar. Giok Hoa berhenti tertawa.

“Siapa namamu?” Tanya Giok Hoa kemudian.

“Kim Lo!” menyahuti anak itu.

“Kim Lo?” Tanya Ko Tie.

“Ya! Apakah namaku juga aneh?”

“Oh tidak....... !” Cepat-cepat Ko Tie menyahuti. “Siapa ayah ibumu?”

“Tidak perlu kalian mengetahuinya! Sejak tadi kalian tampaknya kalian kurang ajar sekali! Tertawa-tawa tidak karuan, rupanya hendak mengejek diriku, heh?”

“Oh tidak! Tidak!” Menyahuti Ko Tie segera. “Kami cuma heran, karena tadinya kami mengira bahwa kau adalah orang dari lain belahan bumi ini.”

“Hemm, apakah kalian beranggapan mukaku buruk sekali?” Tanya anak itu, yang memang tidak lain dari Kim Lo, putera Kam Lian Cu.

“Mana berani! Mana berani kami memiliki perkiraan dan pandangan sejelek itu?” Menyahuti Siangkoan Yap.

“Jika saja Kong-kongku mengetahui akan tindak tanduk kalian, yang memang kelihatannya hendak mengejek aku, hemmm, hemmm, Kong-kongku tidak mau mengerti!”

“Siapa Kong-kongmu, adik?”

“Tidak perlu kalian tahu!”

“Mengapa tidak boleh tahu?”

“Kalian tampaknya bukan sebangsa manusia baik-baik!”

“Hemm,” mendengus Giok Hoa tidak senang, “Kau kecil sudah memiliki mulut yang pedas!” katanya, “Dan kau juga memiliki tabiat yang buruk sekali, cepat tersinggung dan marah!”

Kim Lo tertawa dingin, tanyanya kemudian dengan suara nyaring: “Sekarang katakanlah apa yang ingin kalian lakukan datang ke Lembah Pit-mo-gay ini?!”

“Apakah kami tidak boleh datang ke Pit-mo-gay?” Balik tanya Giok Hoa jadi mendongkol.

Walaupun anak ini yang mukanya seperti kera, dan berbulu merupakan seorang anak kecil, namun Giok Hoa tidak senang diperlakukan seperti itu.

“Tidak diijinkan siapapun juga memasukkan lembah Pit-mo-gay ini, karena jika orang sembarangan nama ke lembah Pit-mo-gay, orang itu akan menemui kematian!”

“Mengapa?” tanya Ko Tie, tertawa.

“Mo-in-kim-kun akan membunuh dengan cara keji sekali!”

“Lalu mengapa kau berada disini?” Tanya Ko Tie.

“Karena aku bersama Kong-kong ingin meminta kembali Giok-sie dari tangan Mo-in-kim-kun. Giok-sie sebetulnya milik Kong-kong, tapi telah dirampas oleh Mo-in-kim-kun dengan cara licik. Sebelum Mo-in-kim-kun menyerahkan dan mengembalikan Giok-sie, kami tidak meninggalkan lembah Pit-mo-gay ini!”

“Adik Kim Lo, siapa Kong-kongmu?” tanya Ko Tie sambil memperhatikan anak itu.

Mata anak itu dipentang lebar-lebar.

“Sudahlah, kalian tidak perlu mendengar nama Kong-kongku, karena jika kuberitahukan kalian akan kaget.

“Mengapa kaget?” tanya Ko Tie.

“Kalian tentu akan kaget dan melarikan diri!”

“Kami tidak memiliki kesalahan apa-apa dengan Kong-kongmu, mengapa kami harus melarikan diri?” tanya Giok Hoa tidak bisa menahan diri.

“Ya, beritahukan kepada kami, adik Kim Lo, siapa nama Kong-kongmu?” membujuk Siangkoan Yap. “Siapa tahu Kong-kongmu itu kenalan kami!”

Kim Lo mengawasi mereka satu persatu. Matanya tajam sekali, kemudian barulah dia bilang: “Hemm kenalan kalian? Apakah Kong-kongku bisa memiliki kenalan seperti kalian?

“Umur kalian saja masih muda! Kong-kongku mana mungkin punya kenalan seorang masih muda? Kalian hendak mendustai aku?”

Ditegur seperti itu muka Ko Tie bertiga jadi berobah merah, mereka merasa lucu juga, karena anak ini ternyata cerdik dan teliti, padahal wajahnya seperti wajah seekor kera.

Tapi Ko Tie, kemudian dengan sabar bilang: “Kong-kong mu itu tentunya seorang yang memiliki kepandaian tinggi bukan?”

“Tentu saja!” Menyahuti Kim Lo, “kepandaian kong-kongku tidak ada duanya. Dia tokoh sakti rimba persilatan, setiap orang menghor¬matinya.”

“Tentunya jika seorang tokoh sakti tidak akan menyembunyikan nama!” kata Giok Hoa.

Mata Kim Lo mencilak.

“Menyembunyikan nama? Siapa yang menyembunyikan nama?!” Tanyanya sengit.

“Kong-kongmu!” Menyahuti Giok Hoa sambil tertawa. “Bukankah sampai sekarang kau menyembunyikan nama kakekmu itu, seakan juga Kong-kongmu itu pernah melakukan kesalahan besar, sehingga malu untuk disebutkan namanya.”

“Ohhh, mulutmu terlalu jahat, Cie-cie?” Kata Kim Lo sengit. “Jika kong-kongku mendengarnya, tentu kau akan dihukumnya! Siapa bilang kong-kongku telah melakukan kesalahan sehingga takut dan menyembunyikan nama. Kong-kongku itu she Oey.......!!”

Tapi berkata sampai di sini, bocah ini ragu-ragu lagi untuk menyebutkan namanya.

“Oey apa?” tanya Ko Tie, “Oey An? Oey Sie Keng? Atau Oey apa?”

“Tidak perlu! Aku tidak mau memberitahukan kepada kalian!” kata Kim Lo sambil menggelengkan kepalanya.

“Hemmm, kami tahu sekarang!” kata Giok Hoa.

“Tahu apa?”

Kong-kongmu itu tentu terlalu jelek sehingga malu memperlihatkan diri! Dan sampai namanya saja kau malu menyebutkannya!”

“Mengapa harus menyebutkan nama Kong-kongku?” bentak Kim Lo sengit.

“Buktinya kau malu untuk menyebutkannya!”'

“Aku tidak malu!”

“Jika memang tidak malu menyebutkan nama Kong-kongmu, tentu kau akan memberitahukan kepada kami siapa nama Kong-kongmu itu!” Kata Giok Hoa.

Kim Lo tertawa dingin.

“Hemmm, kau angin memancing aku agar menyebutkan nama Kong-kong? Jangan harap!” Kata Kim Lo.

Giok Hoa kecele lagi. Tadinya dia menduga bisa memancing anak itu.

“Baiklah adik!” kata Ko Tie kemudian, “kami akan memberikan hadiah kepadamu, jika kau mau menyebutkan nama kakekmu itu?!”

“Cisss, siapa yang kesudian hadiah kalian?” Tanya Kim Lo sengit. “Apapun Kong-kong punya, dan apa saja yang aku inginkan tentu bisa diberikan oleh Kong-kong! Mengapa harus mengharapkan hadiah dari kalian?”

Buntu jalan buat Ko Tie bertiga, akhirnya dengan jengkel Giok Hoa bilang: “Sudahlah! Jika memang engkau tidak mau memberitahukan nama kakekmu itu, kami juga tidak membutuhkannya untuk mendengar! Kami juga tidak perlu mengetahui siapa kakekmu itu!”

“Hemmm, memang aku tidak mau memberitahukannya! Kalian justru yang mendesak terus menerus agar aku memberitahukan! Jika benar-benar kaliau tidak mau mengetahui, ya pergilah! Aku memang tidak akan menyebutkannya.”

“Hemmm, aku tahu!” Tiba-tiba Siangkoan Yap berseru.

“Tahu apa?” Tanya Ko Tie.

“Aku tahu, tentunya Kong-kong adik Kim Lo ini bernama Oey Su Ling, seorang bajak laut yang paling ganas yang telah membunuh ratusan jiwa di sungai Tiang-kang!”

“Jangan bicara ngaco kalau tidak karuan!” bentak Kim Lo sengit, “Jangan bicara sembarangan! Itu bukan kakekku?”

“Hemmm, pasti, pasti! Kakekmu tentu Oey Su Ling, penjahat laut itu!” Kata Siangkoan Yap.

“Bukan, bukan, bukan?” Teriak Kim Lo, sengit bukan main. “Kakekku bukan seorang penjahat, kakekku seorang pendekar besar yang dihormati oleh seluruh orang rimba persilatan?”

Ko Tie yang tahu bahwa Siangkoan Yap tengah sengaja memanas-manaskan anak itu, segera menimpalnya:

“Atau jika memang bukan Oey Su Ling, tentunya Oey Tang seorang begal sungai di Ho-pak. Bukankah benar kakekmu bernama Oey Tang?”

“Bukan! Bukan! Kakekku, bukan Oey Tang….!” menyahuti Kim Lo tambah sengit.

“Hemmm sudahlah memang kakeknya manusia busuk nomor satu di dunia ini, dia mana mau memberitahukan namanya. Dia malu untuk menyebut nama kakeknya.” Kata Giok Hoa menimpali.

Kim Lo mendidih darahnya. Dasar dia masih anak-anak dan kurang pengalaman dia kena di bakar, akhirnya setengah berteriak ia bilang,

“Aku akan memberitahukan! Siapa bilang aku malu menyebutkan nama kakekku! Kong-kongku bukan manusia busuk, dan malah pendekar sakti nomor satu! Dia she Oey bernama Yok........” Berkata sampai disitu, kembali Kim Lo ragu-ragu.

Muka Ko Tie bertiga berobah seketika, mereka teringat sesuatu. Malah Ko Tie tidak sabar telah bertanya: “Apakah kau maksudkan Oey Yok Su Locianpwe?”

Kini giliran Kim Lo yang kaget.

“Mengapa kau bisa mengetahui?” tanyanya.

“Aha, benar Oey Locianpwe!” berseru Ko Tie sambil tertawa. “Sudah kukatakan pada adik Kim Lo, kami adalah sahabat-sahabat Oey locianpwe, Kong-kongmu itu!”

Kim Lo mementang matanya lebar-lebar.

“Benarkah itu?” Tanyanya.

Ko Tie mengangguk. Giok Hoa mengangguk dan Siangkoan Yap juga mengangguk, walaupun dia agak ragu-ragu.

Kim Lo mengawasi mereka, kemudian katanya: “Sekarang kalian katakan, ayo apakah kakekku itu seorang manusia busuk atau seorang bajak laut atau seorang begal?” tanya anak itu.

Ko Tie tertawa.

“Ya, jika memang benar kakekmu itu Oey Yok Su locianpwe, tentu saja Kong-kongmu itu seorang pendekar nomor satu, tokoh sakti yang tidak ada duanya di jaman ini!”

Muka Kim Lo berseri-seri.

“Lihatlah!” Kata Kim Lo. “Bukankah aku tidak membohongi kalian bahwa Kong-kongku adalah seorang tokoh sakti nomor satu, seperti apa yang kukatakan tadi.”

“Benar! Benar!” Kata Siangkoan Yap sambil mengangguk-angguk dan tertawa.

“Di mana Kong-kongmu sekarang berada?” Tanya Ko Tie. “Kami ingin menghadap untuk memberi hormat.”

“Hemmm, Kong-kong sedang beristirahat! Kong-kong sudah berpesan, jika aku bertemu dengan orang dan tidak boleh manyebutkan siapa adanya Kong-kong. Aku kuatir, nanti Kong-kong menghukumku karena telah melanggar pesannya!”

“Kami tidak akan memberitahukan kepadanya!” Berjanji Ko Tie.

Tiba tiba Kim Lo teringat sesuatu, dia menepuk pahanya, dan bilang: “Tidak memberitahukan kepada Kong-kong? Jadi kalian menduga aku bersalah? Ciss! Aku tidak bersalah! Kalian yang mendesak terus.

“Dan akupun tidak memberitahukan nama Kong-kong selengkapnya kepada kalian! Cuma kalian belaka yang menerka-nerka dan akhirnya menyebutkan nama Kong-kong! Jadi bukan aku yang menyebutkannya?”

Ko Tie bertiga tersenyum memang Kim Lo tampaknya licin dan cerdik. “Ya! Ya, memang kami yang menyebutkannya!” Kata Ko Tie, mengalah.

“Sekarang cepat kalian tinggalkan tempat ini sebelum kalian dilemparkan kakekku!” kata Kim Lo serius.

“Mengapa harus pergi?” Tanya Ko Tie.

“Kakekku tidak mau diganggu siapapun juga, jika memang kakek tengah marah, hemmm, siapapun tidak berani padanya! Aku sendiri tidak berani pada kong-kong kalau beliau tengah marah!” Kata Kim Lo sambil mementang matanya lebar-lebar.

Ko Tie bertiga tertawa.

“Kau ajak kami menemui kong-kongmu adik Kim Lo! Yakinlah kong-kongmu tidak akan memarahimu!”

“Kami tidak mendustaimu!”

“Hemmm, jika kau berdusta?” tanya Kim Lo mementang matanya lebar-lebar.

“Bukankah kong-kongmu seorang tokoh sakti nomor wahid dijaman ini? Jika kami berbohong, tentu kakekmu itu kelak yang akan menghukum kami.”

Kim Lo berpikir sejenak, namun akhirnya mengangguk.

“Baiklah! Mari kuantarkan!” katanya kemudian dengan berlari-lari setengah melompat dan gayanya mirip lompatan yang dilakukan seekor kera. Kim Lo masuk ke dalam Lembah, diikuti oleh Giok Hoa dan Siangkoan Yap.

Setelah memasuki lembah itu agak dalam tiba-tiba Kim Lo berdiri mengejang di tempatnya, matanya terpentang lebar-lebar, mulutnya juga menggumam perlahan.

“Ihhh....... mengapa tidak ada?”

“Apanya yang tidak ada?” Tanya Ko Tie sambil mengawasi ke arah yang ditatap oleh Kim Lo sebatang pohon.

“Kakekku?” Menyahuti Kim Lo.

“Kong-kongmu tidak ada?”

“Tadi Kong-kong tidur di situ!”

“Lalu, sekarang di mana?”

“Aku mana tahu! Tadi di situ!”

“Mungkin kau berdusta!”

“Berdusta??” Tanya Kim Lo. “Mengapa aku harus berdusta?”

“Mungkin kau menjual nama Oey Yok Su locianpwe!” kata Siangkoan Yap.

“Tadi……. tadi Kong-kong tidur disitu.”

Ko Tie mengawasi sekitar tempat itu, merangkapkan sepasang tangannya. Katanya. “Oey locianpwe, kami datang untuk menanyakan kesehatan kau si orang tua!” Seruannya itu disertai tenaga dalam, tentu akan terdengar jauh sekali.

“Hemmm, tidak ada jawaban!” Kata Giok Hoa. “Mungkin juga dia memang berdusta?!” berkata begitu Giok Hoa melirik kepada Kim Lo.

Kim Lo sendiri telah berlari untuk memasuki lembah itu lebih jauh sambil memanggil!

“Kong-kong! Kong-kong! Dimana kau?”

Tidak terdengar jawaban.

Mendadak sekali, dalam kesunyian seperti itu terdengar suara tertawa yang nyaring. Menyusul di puncak sebuah tebing yang tinggi, sesosok bayangan yang tengah berlari-lari mendatangi.

“Aku datang Kim Lo…….!” terdengar orang itu menyahuti suaranya seperti juga tengah berbisik, tapi jelas sekali. Samar-samar tapi dapat didengar jelas.

Dan itu menunjukkan lweekang yang telah mahir sekali yang mengirim suaranya dari tempat yang terpisah begitu jauh dengan jelas. Suaranya begitu halus tapi jelas terdengar dan juga seperti berbisik di telinga seperti suara kelenengan yang halus sekali.

Muka Ko Tie bertiga berobah. Mereka segera mengetahui, itulah suara seorang yang lihay sekali. Terutama Ko Tie dan Giok Hoa mereka berdua melihat orang itu memang tidak lain dari tocu pulau Tho-hoa-to yang mengenakan jubah warna hijau.

Oey Yok Su segera tiba di depan mereka, sambil tertawa Oey Yok Su menegur: “Kalian berada di sini?” Pertanyaan itu ditujukan kepada Giok Hoa dari Ko Tie.

Mereka berdua tidak ayal lagi terus berlutut memberi hormat.

Siangkoan Yap juga cepat-cepat memberi hormat kepada tokoh sakti itu. Ia sering mendengar cerita dari gurunya, Yang-bun Siansu, perihal kehebatan tokoh sakti yang seorang ini.

Oey Yok Su perintahkan, mereka bangun, malah iapun bilang, “Bagus tidak disangka kalian berada di sini! Kita bisa lebih leluasa menghajar orang-orang Pit-mo-gay yang kurang ajar itu!” Sambil berkata begitu, Oey Yok Su melemparkan sosok tubuh yang dikempitnya.

Kim Lo memegang lengan baju Kong-kongnya, manja sekali: “Kong-kong, kemana tadi kau pergi? Kukira Kong-kong sudah meninggalkan tempat ini!”

Oey Yok Su tersenyum sambil mengusap-usap kepala anak itu!

“Tentu saja Kim Lo!” Katanya sabar, “Tadi Kong-kong pergi menangkap kelinci buduk ini!”

Sambil berkata begitu, Oey Yok Su menunjuk sosok tubuh yang meringkuk di tanah tanpa bisa bergerak, cuma matanya saja yang terbeliak mencilak-cilak tidak bisa diam. Rupanya dia dalam keadaan tertotok.

Dan dia seorang lelaki berusia empatpuluh tahun tubuhnya tegap, dan seharusnya dialah seorang yang berkepandaian tinggi, terlihat dari sinar matanya yang memancar tajam, di balik dari kemarahannya. Cuma saja, dengan Oey Yok Su, dia seperti seekor kutu yang tidak berdaya.

“Siapa dia, Kong-kong?” Tanya Kim Lo.

“Dia anak buah Mo-in-kim-kun, yang rupanya diperintahkan untuk mengintai kita, apakah kita telah pergi atau belum!” Menerangkan Oey Yok Su, sambil berkata begitu Oey Yok Su menoleh kepada Ko Tie, dia bilang:

“Apakah kau masih ingat kepada seseorang, yaitu Kam Lian Cu Kouwnio?”

“Ko Tie mengangguk, Giok Hoa juga mengangguk sambil mengiakan. Mereka memandang heran kepada Oey Yok Su.

Sambil tertawa Oey Yok Su berkata, “Nah sekarang kau terka, siapa Kim Lo ini sebenarnya.”

Ko Tie dan Giok Hoa memandangi Kim Lo, dihati mereka menduga tentunya anak Kam Lian Cu. Hal ini disebabkan merekapun cerdik, mereka segera dapat menangkap ke arah mana perkataan Oey Yok Su. Cuma saja, mereka tokh masih bertanya; “Anak siapa Locianpwe?”

“Putera Kam Lian Cu Kouwnio!” Menyahuti Oey Yok Su.

Baru tersadar Ko Tie dan Giok Hoa. Sesungguhnya, anak ini mirip dengan seekor kera. Bukankah Kam Lian Cu dulu diperkosa oleh seekor kera berbulu kuning emas, Kim Go dan bukankan dulu dia dalam keadaan hamil waktu ikut Oey Yok Su ke pulau Tho-hoa-to.

“Nah, Kim Lo! Cepat kau memberi hormat, kepada paman dan bibimu itu!” Perintah Oey Yok Su.

Kim Lo tidak berani berayal, cepat-cepat dia menekuk ke dua kakinya, dia berlutut memberi hormat kepada Ko Tie dan Giok Hoa bergantian. Katanya:

“Kim Lo memberi hormat kepada paman dan bibi, harap kau memberikan petunjuk kepada Kim Lo.”

Ko Tie dan Giok Hoa tersenyum mereka cepat-cepat memimpin bangun bocah itu.

“Bangunlah adik Kim Lo. Jangan banyak peradatan,” Kata Ko Tie, “Sayang sekali paman dan bibi tidak tahu akan bertemu dengan kau, sehingga kami tidak mempersiapkan hadiah untukmu,”

Setelah berkata begitu Ko Tie berdiam sejenak, dia merabah pinggangnya mengeluarkan sebuah seruling. Dan seruling itu diberikannya kepada Kim Lo. “Ambilah seruling ini sebagai hadiah kami Kim Lo!”

Bukan main girangnya Kim Lo. Dia menyambuti dengan kedua tangannya.

“Terima kasih paman! Terima kasih!” Dan ia mengawasi seruling itu dengan tertarik. “Kong-kong juga sering meniup seruling! Kong-kong telah mengajarkan aku beberapa lagu! Aku akan coba memainkannya, sekarang kau tidak perlu meminjam seruling Kong-kong karena aku telah memiliki seruling sendiri.”

Sambil berkata begitu, Kim Lo mulai meniup serulingnya membawakan lagu yang bersemangat. Ternyata bocah ini memang pandai dan mahir sekali meniup serulingnya.

Rupanya waktu Ko Tie dan Giok Hoa meresmikan pernikahan mereka. Yo Him telah menghadiahkan mereka sebuah kado yang berisi seruling yang merupakan senjata pusaka dulu dipergunakan Yo Him.

Dan dengan dihadiahkan seruling itu sebagai hadiah perkawinan Ko Tie, Yo Him mengharapkan Ko Tie bisa mempergunakan sebagai senjatanya. Karena memang Yo him tidak mau mempergunakan seruling pusaka itu sebagai senjatanya.

Akan tetapi Ko Tie justru telah melatih ilmu pedang bersama Giok Hoa, mereka berdua mempergunakan pedang sebagai senjata mereka. Seruling itu tidak pernah dipergunakan. Tapi selalu dibawanya ke mana saja mereka pergi sebagai kenang-kenangan yang diberikan Yo Him.

Siapa tahu sekarang mereka bertemu dengan Kim Lo, bocah yang telah dianggap sebagai cucu dari Oey Yok Su. Mereka tidak memiliki hadiah untuk pertemuan pertama ini, karenanya Ko Tie berpikir pada seruling pusakanya itu, dan menghadiahkannya kepada Kim Lo.

Siangkoan Yap sendiri tidak memiliki barang berharga, dia telah mengeluarkan sebatang kipas biasa. Dia berikan kepada Kim Lo, katanya: “Paman cuma bisa memberikan kipas ini. Kipas ini bukan kipas luar biasa, tapi memiliki kelebihan dibandingkan kipas biasa, lihatlah!”

Sambil berkata begitu, kipas itu dilontarkannya, kipas meluncur seperti terbang, karena terbuka lebar, menyambar keranting pohon. Ranting pohon itu terbabat putus, karena seperti bumerang saja kipas itu berkelebat tajam.

Rupanya kipas itu selain terbuat dari dasar kain cita yang kuat juga rangkanya terbikin dari besi campuran beberapa macam logam yang keras, juga pada rangkai rangka itu dibuat sedemikian rupa, sangat tajam. Kipas itu bisa sewaktu-waktu dipergunakan sebagai pengganti senjata jika memang tidak dipergunakan sebagai pengipas.

Kim Lo girang bukan main, dia mengucapkan terima kasih.

Oey Yok Su sendiri segera menceritakan pengalamannya dia berada di Lembah Pit-mo-gay berdua dengan Kim Lo.

“Kalau begitu!” Kata Ko Tie sengit. “Kita harus merampas pulang Giok-sie!”

“Ya! Memang kita akan merampasnya pulang. Jika mereka tidak mau menyerahkan juga biarlah aku akan mengambilnya dengan membuka jalan berdarah!”

Berkata sampai disitu, Oey Yok Su teringat kepada tawanannya, lelaki berusia pertengahan baya yang tengah rebah tidak berkutik karena tertotok. Kaki kanan Oey Yok Su melayang mendadak ke pinggang orang itu.

Dia menjerit kesakitan dan terbebas dari totokan. Dengan wajah ketakutan dicampur mendongkol orang itu merangkak untuk berdiri.

“Ceritakan yang jujur, apa saja yang tengah dilakukan Mo-in-kim-kun?” bentak Oey Yok Su.

“Ini……. ini.......!”

Oey Yok Su tidak sabar. Lengan bajunya dikibaskan. “Plokk” keras sekali menyampok muka orang itu, seketika mata orang tersebut berkunang-kunang.

Jika sampokan biasa memang tidak membawa akibat apa-apa padanya, tapi sampokan Oey Yok Su tentu saja jauh lebih hebat jika disampok dengan lempengan besi sekali pun. Malah giginya ada yang rontok. Dan orang itu tambah ketakutan, karena dia memang tidak mungkin berdaya menghadapi tokoh sakti yang hebat kepandaiannya ini.

“Kauw-cu....... kauw-cu tengah berunding…….!” Katanya kemudian.

“Apa yang dirundingkan?”

“Ingin mencari jalan keluar dari kesulitan yang tengah kami hadapi! Kauw-cu bermaksud menyerbu keluar dan mengepung….. mengepung…….. mengepung…….!”

“Mengepungku?” Tanya Oey Yok Su dengan tertawa sinis mengejek.

“Benar. Tapi yang lainnya berpendapat lebih baik membiarkan saja Locianpwe berdiam di sini, beberapa waktu lagi, sampai nanti lenyap kesabaran locianpwe dan meninggalkan lembah ini dengan sendirinya.

“Lalu apa yang diputuskan oleh Kauw-cumu.......” Tanya Oey Yok Su dingin!

“Belum lagi ada keputusan!”

“Dan kau diperintahkan untuk mengintaiku?” Tanya Oey Yok Su lagi.

“Be….. benar……. untuk melihat apakah locianpwe sudah pergi atau belum?” Menyahuti orang itu sambil menunduk.

Oey Yok Su tertawa dingin. Rupanya tadi waktu Oey Yok Su tengah beristirahat tidur di bawah sebatang pohon, dikala Kim Lo tengah bermain-main ke mulut lembah.

Tiba-tiba Oey Yok Su membuka matanya, karena perasaannya menyatakan, ada seseorang yang tengah mengawasi dirinya. Matanya yang memang tajam segera melihat, di puncak tebing itu ada sesosok tubuh.

Segera juga Oey Yok Su pergi melesat ke arah puncak tebing itu, ia memiliki gin-kang yang sempurna, karenanya cepat dan mudah sekali ia berada di hadapan orang yang tengah mengintai tersebut.

Orang ini ingin melarikan diri, tapi sudah tidak keburu, sebab tahu-tahu Oey Yok Su telah berada di depannya. Karena terpojokan, ia ingin melakukan penyerangan bersikap nekad.

Cuma saja, apa yang bisa dilakukannya? Mudah sekali ia ditawan oleh Oey Yok Su, yang kemudian membawanya turun.

Setelah mendengar keterangan anak buah Mo-in-kim-kun, segera Oey Yok Su menendang lagi.

Orang itu menjerit kesakitan tubuhnya menggigil, ia juga kemudian berjingkrak.

“Ampun….. ampun Locianpwe!”

Tampaknya ia menderita kesakitan hebat, mukanya pucat pias dan juga keringat membasahi sekujur tubuhnya. “Jika memang locianpwe ingin membunuhku, bunuhlah, jangan menyiksa seperti ini!”

Siangkoan Yap heran, betapa hebatnya Oey Yok Su. Dengan satu kali tendangan ia telah membuat orang itu berjingkrak-jingkrak dan bergulingan, karena tersiksa rasa sakit yang luar biasa. Dan karenanya, Siangkoan Yap jadi kagum bukan main.

Sedangkan Oey Yok Su tertawa dingin.

“Rasa sakit itu satu jam lagi akan lenyap dan kepandaianmu diwaktu itu akan lenyap. Dan kau akan menjadi manusia yang bercacad, dengan tenaga yang lemah, jauh lebih lemah dari orang-orang yang sehat umumnya.

“Semua ini mencegah jangan sampai kelak kau menimbulkan ancaman buat masyarakat, karena memang kau bukan manusia baik-baik! Masih bagus aku mau mengampuni jiwamu! Hemmm, walaupun kau tunggang tungging memohon ampun, tapi jika memang aku tidak bersedia mengampuni jiwamu, jelas kau tidak bisa hidup!

“Sekarang pergilah kau kembali ke markasmu. Sampaikan pesanku kepada Kauw-cumu, bahwa kami akan segera mendatangi tempatnya!”

Muka orang itu semakin pucat.

“Locianpwe, ijinkanlah aku pergi meninggalkan lembah ini……. jika kembali ke dalam dengan keadaan seperti ini, tentu aku akan di hukum mati oleh Kauw-cu.......!”

Suara orang itu tergetar dan tubuhnya menggigil ketakutan, sambil meringis menahan rasa sakitnya.

Oey Yok Su tertawa dingin. “Pergilah…..!” Katanya dengan suara yang tawar.

Orang itu sambil menahan sakit yang tidak terhingga telah pergi dari lembah itu, entah dia mau pergi ke mana?

Setelah orang itu pergi, Ko Tie bilang kepada Oey Yok Su: “Oey-locianpwe, apakah tidak lebih baik kita menyerbu saja ke dalam sarang mereka?”

Oey Yok Su tertawa perlahan, dia bilang, “Sarang mereka diperlengkapi alat-alat rahasia sehingga tidak mudah ditemukan!”

“Kalau begitu……. biarlah boanpwe pergi membekuk lagi orang itu agar dia mau menunjukan jalan menuju ke sarang mereka!” Kata Ko Tie segera.

“Jangan, biarkan dia pergi! Memang aku tidak mau mempergunakan kekerasan. Jika aku memaksa menyerbu ke dalam, untuk merampas Giok-sie, niscaya akan jatuh korban yang banyak sekali!

“Inilah yang tidak kukehendaki, dalam usia demikian lanjut aku harus membunuh sekian banyak manusia….. jika memang Mo-in-kim-kun dapat dihadapi dengan satu-satu tentu Giok-sie bisa kita rampas pulang……. sedangkan yang lain kita hanya perlu, memusnahkan kepandaian mereka, jika perlu baru membinasakannya.

Ko Tie mengangguk, dia tidak mendesak lagi.

“Rencanaku selanjutnya ialah menanti di lembah ini, sampai akhirnya persediaan makanan mereka habis, mustahil mereka tidak ke luar lagi dari sarang mereka?”

Yang lainnya menyatakan setuju.

Y

Mo-in-kim-kun duduk di dalam ruangan yang mewah itu dengan muka yang murung. Ia menyadari, Oey Yok Su bukanlah sebangsa manusia yang mudah dihadapi, karena tong-shia memang merupakan seorang yang sulit sekali untuk dihadapi.

Dia aneh adatnya dan sesat perangainya disamping kepandaiannya yang tinggi sekali. Jika ingin diukur dengan sejujurnya, Mo-in-kim-kun masih berada satu tingkat di bawah kepandaian Oey Yok Su, dan ia mengakuinya di dalam hati.

Kalau memang beberapa saat yang lalu dia bisa meloloskan diri dari kejaran Oey Yok Su, pertama-tama dia memperoleh kelonggaran sebab mempergunakan Kim Lo sebagai tameng, kedua dia pun memiliki gin-kang istimewa, yaitu ilmu lari cepat bagaikan iblis.

Itulah yang diandalkannya, walaupun Oey Yok Su memiliki gin-kang yang sama mahirnya, tokh dengan menggendong Kim Lo, niscaya Oey Yok Su tidak akan dapat mendahuluinya dan mengejarnya sampai terlalu dekat.

Tapi, sekarang disaat dia terkurung di dalam sarangnya bersama semua anak buahnya dia tahu keadaan ini tidak menguntungkan dirinya. Jika keluar, jelas dia harus menghadapi Oey Yok Su.

Walaupun anak buahnya banyak yang memiliki kepandaian tinggi, tokh mereka tidak mungkin bisa menghadapi tocu pulau Tho-hoa-to. Dan dia sendiri yang akhirnya harus berhadapan dengan Oey Yok Su.

Mo-in-kim-kun bukan jeri bertempur satu-satu dengan Oey Yok Su, justru sekarang ini dia tengah dilambungkan cita-cita dan khayalan yang ingin memperoleh negeri, dia ingin jadi Kaisar. Bukankah Giok-sie berada di tangannya.

Ia kuatir kalau bertempur dengan Oey Yok Su, akhirnya malah membuat dia tercelaka, terluka berat atau terbinasa. Itulah yang tidak diinginkannya.

Hari itu, persediaan makanan mereka hampir habis. Beberapa orang anak buahnya telah menganjurkan agar mereka bersama-sama menerjang keluar untuk mengepung Oey Yok Su.

Mustahil dengan jumlah yang banyak dan juga mereka umumnya orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, tidak akan dapat menghadapi Oey Yok Su?

Tapi Mo-in-kim-kun justeru tidak menyetujui usul itu. Dia beranggapan jika mereka keluar mengepung Oey Yok Su, berarti dia telah mempertaruhkan nasibnya.

Dia akan berhadapan dengan Oey Yok Su, sebagai Kauw-cu, pimpinan jika sampai anak buahnya tidak sanggup mengatasi Oey Yok Su berarti dia yang akan muncul untuk menghadapinya. Inilah yang membuat Mo-in-kim-kun harus berpikir dua kali terhadap usul yang diberikan anak buahnya.

Memang tempatnya ini diperlengkapi dengan pintu rahasia dan berada di dalam perut tebing. Dengan demikian tentu Oey Yok Su tidak mudah, untuk mencari tempat bersembunyinya ini.

Dan juga tidak banyak yang bisa dilakukan, Oey Yok Su. Cuma saja terkurung terus menerus seperti itu bukanlah hal yang menggembirakan, juga jika kelak persediaan makanan mereka habis, jelas mereka kelaparan dan diwaktu itu mereka harus terpaksa keluar.

Tadi dia telah perintahkan salah seorang anak buahnya keluar untuk menyelidiki, melihat-lihat, apakah Oey Yok Su masih menunggu di dalam lembah. Tapi dia telah menanti sekian lama, anak buahnya itu belum juga kembali. Dia memiliki dugaan bahwa anak buahnya itu telah dibinasakan oleh Oey Yok Su.

Tengah Mo-in-kim-kun termenung dengan muka yang murung sekali, tiba-tiba didengarnya suara langkah kaki dari luar kamar itu. Dia meliriknya, dilihatnya Pang Tauw, seorang pembantunya, telah melangkah masuk.

Pang Tauw memberi hormat, kemudian duduk dihadapan Mo-in-kim-kun, katanya.

“Hong-siang, seharusnya kita bertindak sekarang! Dengan ratusan kawan kita menyerbu sekaligus, dan Hong-siang ikut mengepungnya.

“Mustahil Oey Yok Su bisa menghadapi kita? Walaupun dia memiliki tiga kepala tiga pasang tangan tidak nantinya dia bisa meloloskan diri dari pengepungan kita……..!”

“Jangan sekarang belum waktunya!” kata Mo-in-kim-kun. “Kita harus menanti beberapa saat lagi, siapa tahu akhirnya dia merasa jemu untuk menanti dan meninggalkan lembah ini…..!”

“Tapi dia mengincar Giok-sie juga tentu dia tidak akan pergi…….!”

“Sesungguhnya kita harus mengusahakan menangkap bocah yang bersamanya itu, barulah kita bisa menekannya jadi tidak berdaya!” Kata Mo-in-kim-kun dengan suara setengah menggumam.

“Kalau begitu biarlah kami pergi keluar untuk berusaha menangkap bocah itu!”

“Jangan, kalian akan celaka di tangan Oey Yok Su!”

“Kami akan hati-hati menghadapinya, Hong-siang!”

Tapi Mo-in-kim-kun menggelengkan kepalanya beberapa kali, kemudian berdiam diri lagi.

Diwaktu itu tampak Pang Tauw tidak sabar, dia bilang: “Ijinkanlah kami, Hong-siang, tentu kami akan berusaha sekuat kemampuan kami untuk menculik bocah yang bersama Oey lo-shia!”

Mo-in-kim-kun menggeleng lagi.

“Nanti akan kupanggil. Sekarang kau keluar dulu, jangan ganggu aku!” kata Mo-in-kim-kun.

Dengan wajah yang memancarkan rasa tidak puas, Pang Tauw telah keluar dari kamar Kauw-cunya, yang dipanggil oleh mereka dengan sebutan Hong-siang, yaitu Kaisar.

Mo-in-kim-kun yang berada seorang diri telah berpikir keras untuk mencari jalan sebaik-baiknya, sampai akhirnya dia menepuk pahanya.

“Mengapa aku tidak berpikir sejak tadi?” Menggumam Kauw-cu dari orang Pit-mo-gay itu. Diapun telah melompat berdiri, memanggil Pang Tauw.

Pang Tauw, segera menghadap, dan Mo-in-kim-kun membisikan sesuatu padanya. Dia tampak berseri-seri dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Cepat-cepat dia berlalu dari kamar Kauw-cunya setelah memberi hormat.

Y

Oey Yok Su bersama Kim Lo, Ko Tie, Giok Hoa dan Siangkoan Yap tengah duduk bercakap.cakap di bawah sebatang pohon yang rindang setelah mereka terhindar dari sinar mata hari yang terik.

Tiba-tiba dari kejauhan, di puncak tebing yang tinggi sekali terlihat beberapa sosok tubuh yang tengah melompat dan berlari-lari menuruni tebing itu. Yang berlari di depan rombongan orang itu tubuhnya tegap, di tangan kanannya membawa sebatang bendera putih, yang dikibarkannya, sebagai tanda bahwa mereka datang tidak dengan maksud yang jahat.

Oey Yok Su mengerutkan alisnya. Ko Tie melompat berdiri menantikan datangnya orang-orang itu.

Setelah dekat, mereka melihat jumlah orang itu mungkin duapuluh orang, semuanya bertubuh tinggi tegap. Dan yang di depan tidak lain dari Pang Tauw, dia yang mengibarkan bendera putih itu.

Waktu berada di dekat Oey Yok Su, terpisah beberapa belas tombak, rombongan Pang Tauw memberikan bendera putihnya kepada kawannya yang disamping kanan, ia sendiri telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat.

“Oey Locianpwe, kami mengundang Oey locianpwe bersama cucu locianpwe untuk makan, Kauw-cu kami ingin mengundang Oey Lo-cianpwe untuk di jamu.........!”

Oey Yok Su mendengarkan suara, “Hemmmm!” Kemudian melompat berdiri. Dengan suara yang bengis dan lantang ia menyahuti:

“Kalian jangan berusaha mencoba berbagai jalan licik untuk memperdayakan aku si tua bangka. Lebih baik kalian menyerahkan Giok-sie kepadaku, Oey Loshia akan segera meninggalkan lembah ini!

“Tapi jika kalian tak mau menyerahkan Giok-sie, hemmm, aku mau lihat berapa lama kalian bisa bertahan berkurung di dalam goa batu tempat sarang kalian itu!”

Pang Tauw tak berobah mukanya, walaupun hatinya mendongkol, tetap memperlihatkan sikap yang manis.

“Kauw-cu mengatakan, memang ia telah memikirkannya bulak balik selama dua hari ini. Dia akhirnya, Kauw-cu kami menyadari, orang yang paling tepat memiliki Giok-sie adalah Locianpwe! Memang maksud Kauw-cu memang kami mengundang Oey Locianpwe untuk sekalian nanti menyerahkan Giok-sie!”

Oey Yok Su tertawa dingin, mana dia bisa dipercaya? Dia seorang yang cerdik, dan kecerdikannya yang telah diwariskan kepada Oey Yong saja memperlihatkan betapa pun Oey Yok Su merupakan tokoh yang paling cerdas dan cerdik. Oey Yong, putrinya pun tidak kalah cerdiknya.

Sekarang mendengar perkataan, Pang Tauw seperti itu, Oey Yok Su tertawa dingin.

“Aku tidak perlu makanan kalian, dan kalian silahkan membawa saja Giok-sie untuk diserahkan kepadaku! Jangan rewel, karena tetap aku tidak akan meninggalkan lembah ini sebelum Giok-sie diberikan kepadaku!”

Pang Tauw tertawa,

“Locianpwe……!” Baru saja berkata begitu tiba-tiba diluar mulut lembah terdengar suara tambur dan gembreng yang ramai bukan main, menyusul mana tampak menyerbu masuk ratusan orang berpakaian seragam kerajaan.

Di depan pasukan kerajaan yang menyerbu masuk itu, berlari pesat dan ringan seorang Lhama. Dialah Bun-ong Hoat-ong.

Oey Yok Su mengerutkan alis. Melihat keadaan ini, jelas mereka telah berada dalam posisi yang tidak memungkinkan lagi menghindarkan pertempuran, karena pasukan tentara kerajaan telah menjadi pihak ketiga untuk memperebutkan Giok-sie.

Karena itu, Oey Yok Su segera bilang kepada Pang Tauw, “Sekarang sudah tidak ada waktu untuk bicara lagi! Kalian lihatlah, pasukan tentara kerajaan telah menyerbu kemari!”

Pang Tauw pun telah berobah mukanya. Dia segera memutar tubuhnya tanpa mengucapkan sepatah perkataan juga. Dia bermaksud mengajak kawan-kawannya untuk kembali ke tempat semula.

Hanya saja, belum lagi mereka bisa berlalu jauh, beberapa sosok tubuh telah berkelebat mengejarnya. Mereka adalah Oey Yok Su, Siangkoan Yap dan Giok Hoa.

Tiga orang itu bermaksud menawan Pang Tauw, untuk menyerbu ke dalam sarang Mo-in-kim-kun karena dalam waktu yang singkat itu Oey Yok Su segera menyadari, percuma saja dicari lebih jauh dengan Pang Tauw, bukan pasukan tentara kerajaan telah menyerbu masuk ke lembah itu?

Dan pertempuran tentu tidak bisa dielakan lagi. Jika nanti telah timbul pertempuran yang menentukan antara orang-orang Pit-mo-gay dengan tentara kerajaan, kesempatan memperoleh Giok-sie jadi lebih sulit. Sebab di dalam pasukan tentara kerajaan itu pasti banyak terdapat orang-orang pandai berkepandaian sangat tinggi.

“Berhenti!” Bentak Oey Yok Su.

Pang Tauw tahu bahwa mereka tidak mungkin bisa meloloskan diri dari Oey Yok Su, karena jika mereka meneruskan lari untuk kembali ke pintu rahasia yang menghubungi dengan tempat persembunyiannya itu mereka, niscaya Oey Yok Su pun akan dapat ikut masuk serta, karena jarak mereka terpisah tidak jauh lagi, sedangkan Oey Yok Su memiliki gin-kang yang sempurna.

Ko Tie tetap menunggu disamping Kim Lo untuk melindungi bocah tersebut. Dia tidak ikut mengejar Pang Tauw.

Oey Yok Su bukan hanya membentak Pang Tauw, melainkan tangannya dipakai untuk menyerang.

Pang Tauw menangkis, dia mengelak juga sambil membalas menyerang. Duapuluh orang lebih anak buahnya meluruk untuk mengepung Oey Yok Su.

Tapi mereka kebingungan juga melihat di mulut lembah tentara kerajaan tengah menyerbu masuk dalam jumlah yang besar. Suara tambur dan gembreng juga terdengar ramai.

Oey Yok Su bekerja cepat. Dalam lima jurus, dia berhasil membekuk Pang Tauw.

“Cepat bawa aku ke tempat Kauw-cumu!” bentaknya bengis sambil mencekal jalan darah Pu-siang-hiat di pundak lawannya.

Pang Tauw yang sudah mati kutu, tidak berdaya cuma mengangguk-angguk saja.

Dua orang anak buah Pang Tauw bermaksud menolongi Pang Tauw, mereka melompat akan menerjang Oey Yok Su.

Tapi dua orang ini mudah sekali telah didepak keras oleh Oey Yok Su, sampai mereka terguling-guling, memuntahkan darah tiga kali lalu masing-masing menggeletak di tanah tanpa bergerak lagi, pingsan.

Yang lainnya jadi gugup, mereka ingin melarikan diri secepat-cepatnya.

Siangkoan Yap dan Giok Hoa tidak diam, mereka berdua menggerakkan pedangnya menahan enam orang anak buah Pang Tauw yang mau melarikan diri. Mereka bertempur belasan jurus, lalu dua orang di antara mereka berhasil dilukai oleh Siangkoan Yap dan Giok Hoa.

Pasukan tentara kerajaan telah menyerbu datang semakin dekat. Ko Tie yang menjaga keselematan Kim Lo jadi mengerutkan sepasang alisnya, akhirnya dia melihat tidak mungkin berdiam terus di situ.

Dia berpaling kepada Kim Lo, katanya: “Adik Kim Lo, kau lompat naik ke atas pundak, aku akan membawamu ke tempat yang aman!”

Kim Lo tertawa senang.

“Baik paman!” Berseru Kim Lo, dia juga menjejakan sepasang kakinya, tubuhnya ringan hinggap di pundak Ko Tie.

Ia memang memiliki gin-kang terlatih baik, karena oleh Oey Yok Su ia selama sepuluh tahun telah dididik, cuma penggemblengan serius belaka yang belum diterimanya.

Menurut Oey Yok Su, dalam usia duabelas tahun barulah Kim Lo dapat dididik dengan baik, dan dapat menerima pelajaran ilmu silat dengan sempurna. Sedangkan selama sepuluh tahun ini cuma sekedar menerima pelajaran dasar belaka.

Setelah Kim Lo duduk di pundaknya, cepat sekali Ko Tie mengerahkan gin-kangnya. Ia melesat menyerbu kepada orang-orang Pit-mo-gay. Begitu tangannya bergerak, dua orang terjungkal rubuh, sebab Ko Tie mempergunakan jurus-jurus dari ilmu pukulan Cap-lak-kan yang diterimanya dari Oey Yok Su sepuluh tahun yang lalu.

Oey Yok Su segera berteriak: “Bawa Kim Lo ke tempat yang aman!” Rupanya Oey Yok Su juga kuatir untuk keselamatan Kim Lo.

Ko Tie sebetulnya hendak melabrak lagi orang-orang Pit-mo-gay, cuma saja mendengar perintah Oey Yok Su ia sama sekali tidak berani membantah. Dan segera juga telah membawa Kim Lo ke tempat yang tinggi di atas tebing,

Ko Tie tidak berani meninggalkan Kim Lo di situ seorang diri, karena ia kuatir kalau-kalau nanti ada orang Pit-mo-gay sengaja menawan Kim Lo untuk dijadikan sandera, sedangkan Kim Lo masih terlalu kecil. Biarpun dia memang telah dididik oleh Oey Yok Su ilmu yang hebat-hebat, akan tetapi tetap saja tangannya masih terlalu kecil dan juga belum berpengalaman.

Jika sampai ia dikepung dua atau tiga orang Pit-mo-gay yang berkepandaian biasa saja, belum tentu Kim Lo bisa menghadapinya, disebabkan ilmu-ilmu yang sangat hebat dan telah dipelajarinya dari Oey Yok Su belum bisa dipergunakannya dengan sebaik-baiknya dan pada cara yang sesempurna mungkin.

Sedangkan Oey Yok Su kali ini turun tangan tidak tanggung-tanggung, ia bergerak ke sana ke mari sambil menenteng Pang Tauw, tangan kiri maupun ke dua kakinya bergerak ke sana ke mari menendang dengan kekuatan yang mengejutkan, sebab orang-orang Pit-mo-gay itu jungkir balik bagaikan diterjang oleh badai angin puyuh.

Demikian juga Giok Hoa dan Siangkoan Yap, mereka bergerak lincah sekali dengan pedang masing-masing melukai orang-orang Pit-mo-gay.

“Di mana Mo-in-kim-kun?” bentak Oey Yok Su dengan suara bengis kepada Pang Tauw.

“Ada…… ada di dalam……!” menyahuti Pang Tauw dengan sikap dan ketakutan, sebab ia merasakan cengkraman Oey Yok Su sangat kuat, juga lehernya seperti tercekik, disamping itu ia tertotok, membuat tenaganya seperti lenyap meninggalkan tubuhnya.

“Bawa aku ke sana!” perintah Oey Yok Su. “Tunjukkan jalannya!”

Pang Tauw tidak berani membantah, segera ia memberitahukan jalan untuk mencapai ruang dalam di perut tebing ruangan rahasia. Oey Yok Su memasuki lorong itu cepat sekali dengan Pang Tauw masih ditentengnya terus.

Di waktu itu tampak Pang Tauw beberapa kali hendak mencoba membebaskan diri dari totokan, dia mengempos semangatnya, namun gagal, sebab totokan di tubuhnya tidak juga bisa dipunahkannya. Malah dia merasakan sekujur tubuhnya lemas dan benar-benar sekali ini dia di tangan Oey Yok Su jadi mati kutu.

Waktu Oey Yok Su melesat ringan memasuki lorong itu, dari depan, menyerbu puluhan orang yang menggenggam berbagai senjata tajam. Tapi Oey Yok Su tidak menghentikan langkah kakinya, dia berlari terus.

Waktu orang-orang hendak mengepungnya justeru Oey Yok Su bagaikan mengamuk. Tubuhnya melesat ke sana ke mari dengan telapak tangan kirinya dia menghajar ke sana ke mari, maka tampak tubuh orang-orang Pit-mo-gay itu terpental saling menabrak sesama kawan.

Suara mereka berisik sekali, suara jerit dan teriakan kaget, karena banyak senjata yang makan tuan.

Oey Yok Su nembuka jalan dengan kehebatannya yang menakjubkan, karena tidak ada seorangpun di antara orang-orang Pit-mo-gay yang sanggup membendungnya.

Siangkoan Yap berdua dengan Giok Hoa berusaha mengikuti di belakang Oey Yok Su. Mereka memang lebih leluasa, karena boleh dibilang orang-orang Pit-mo-gay telah dihajar oleh tocu pulau Tho-hoa-to tersebut.

Merekapun mempergunakan ilmu pedang mereka yang hebat karenanya tidak ada anak buah Pit-mo-gay yang bisa membendung mereka. Ko Tie tetap berada di tempatnya untuk menjaga keselamatan Kim Lo.

Cuma saja yang menguatirkan buat hati Ko Tie, justeru ia melihat pasukan tentara kerajaan sudah berada di mulut lembah. Mereka akan segera menerjang maju.

Kalau sampai tentara kerajaan sudah menyerbu maju ke dalam lembah, banjir darah sulit dihindarkan.

Oey Yok Su cepat sekali menerobos sampai di dalam tebing kamar rahasia di mana orang-orang Pit-mo-gay menyembunyikan diri. Dan banyak orang orang Pit-mo-gay yang sudah dirubuhkan, sehingga yang lainnya tidak berani maju menghalangi Oey Yok Su sebab menyadari mereka akan menjadi korban empuk tangan besi Oey Yok Su.

“Hentikan!” Tiba-tiba suara bentakan menggelegar terdengar memecahkan serta suara ribut-ribut di dalam tebing itu.

Semua anak buah Pit-mo-gay rupanya mengenali suara siapa itu karena mereka segera mematuhi. Mereka telah mundur dengan cepat untuk membiarkan Oey Yok Su berdiri dengan tangan masih menenteng Pang Tauw.

Dengan sorot mata yang tajam Oey Yok Su melirik ke arah orang yang membentak keras itu. Ia segera mengenali orang itu adalah orang yang tengah dicarinya, segera juga tangan kanannya mengibas tubuh Pang Tauw terlontar jauh sekali bergulingan di tanah, karena ia sudah tidak diperlukan lagi oleh Oey Yok Su.

“Bagus! akhirnya kau keluar juga!” kata Oey Yok Su dingin. “Cepat kau serahkan Giok-sie jika memang kau masih ingin bernapas lebih lama di dunia ini!”

Orang yang baru muncul itu memang tak lain dari Mo-in-kim-kun yang diiringi anak buahnya. Para pembantunya berdiri dalam keadaan bersiap-siap. Dan diwaktu itu merekapun telah mencekal senjata masing-masing, sikap mereka seakan juga hendak menerjang untuk mengeroyok cuma menantikan perintah dari Mo-in-kim-kun saja.

Mo-in-kim-kun tertawa dingin, sikapnya angkuh. Waktu itu otaknya tengah berpikir keras. Ia menyadari percuma saja ia perintahkan para pembantunya pergi mengeroyok Oey Yok Su, sebab hanya akan menyebabkan anak buahnya itu akan menjadi korban di tangan Oey Yok Su.

Karenanya ia bermaksud hendak menghadapi Oey Yok Su satu dengan satu. Ia memang ingin memperlihatkan juga bahwa ia tidak jeri pada tocu pulau Tho-hoa-to tersebut.

“Oey Loshia, kau keterlaluan!” kata Mo-in-kim-kun dingin suaranya.

“Keterlaluan?” mendengus Oey Yok Su, tawar. “Kau telah merampas secara kurang ajar Giok-sie dari tanganku. Jika sekarang kau tidak cepat-cepat mengembalikan Giok-sie itu kepadaku, jangan harap kau terus bernapas di dunia ini dengan tenang! Cepat serahkan kembali Giok-sie itu!”

Mo-in-kim-kun tertawa dingin. Tangannya merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sesuatu yang dibolang-balingkannya di depan mukanya.

“Inikah yang kau cari dan kehendaki?” Tanya Mo-in-kim-kun mengejek, karena di tangannya itu memang Giok-sie. “Tapi kukira tidak mudah buat kau mengambil Giok-sie ini dari tanganku!”

Setelah berkata begitu, Mo-in-kim-kun memasukan kembali Giok-sie ke dalam sakunya. Ia berobah berdirinya, sikapnya angkuh sekali. Ia bilang: “Hemmm, sekarang ingin kutanya, apakah kau bersedia bekerja sama denganku atau ingin kumusnahkan? Kau tidak perlu tekebur karena dunia Kang-ouw telah mengagul-ngagulkan dirimu sebagai tocu Tho-hoa-to yang berkepandaian tinggi.

“Dimataku kau tidak berarti apa-apa! Jika kau mengenal selatan, kau membantu dan bekerja sama denganku, maka jika kelak aku berhasil dengan cita-citaku engkaupun akan kuangkat pada kedudukan yang paling mulia!”

Muka Oey Yok Su merah padam. Tadi waktu melihat Giok-sie dikeluarkan Mo-in-kim-kun, sebetulnya ia sudah ingin menerjang untuk merebutnya dengan kekerasan. Namun sebagai orang yang cerdik, seketika ia berpikir,

“Kepandaian iblis ini tidak rendah, jika aku menggunakan kekerasan, mungkin beberapa ratus jurus masih belum berhasil merebut Giok-sie itu. Lebih baik aku mempergunakan tipu muslihat!”

Seketika muka Oey Yok Su berobah lunak, sikapnyapun jadi sabar.

“Baiklah! Apa maksudmu dengan perkataan mengajakku bekerja sama?” Tanya Oey Yok Su kemudian.

Girang Mo-in-kim-kun melihat perobahan sikap Oey Yok Su, dengan sikap tidak seangkuh tadi ia bilang:

“Oey Loshia, seperti kau ketahui Giok-sie akan kupergunakan untuk mengatur negeri. Jika memang kelak aku telah duduk di singgasana sebagai Kaisar, kau tentu tidak akan kulupakan, kau akan kutempati di tempat kemuliaan tertinggi! Yang terpenting sekali kau mau bekerjasama denganku, untuk menghadapi pihak kerajaan.”

Oey Yok Su tidak segera menyahuti, seakan juga ia tengah berpikir.

“Tapi, kukira aku sudah terlalu tua untuk ikut-ikutan mengurus negeri…..!” Kata Oey Yok Su kemudian dengan suara yang perlahan, seperti tengah menggumam.

“Nah, jika memang begitu pikiran Oey Loshia, baiklah! Oey Loshia tidak perlu menggangguku, kelak aku akan ingat budi kebaikanmu!” Kata Mo-in-kim-kun cepat.

“Tapi…….!”

“Ada lagi yang hendak kau katakan?”

“Sesungguhnya aku ingin memberikan Giok-sie kepada seseorang yang sesuai untuk mengatur negeri kelak!” kata Oey Yok Su.

Mo-in-kim-kun tertawa, malah sampai terbahak-bahak.

“Oey Loshia, sesungguhnya untuk urusan ini kau tidak perlu pusingkan lagi, karena aku berjanji kelak akan mengatur negeri sebaik-baiknya!”

Oey Yok Su menghela napas, ia melangkah mendekati Mo-in-kim-kun, sedangkan Mo-in-kim-kun mengawasi sambil tersenyum senang, karena ia beranggapan Oey Yok Su sudah merobah pikirannya.

Oey Yok Su tak bilang apa-apa, waktu sudah dekat dengan Mo-in-kim-kun, ia menggumam lagi: “Apa benar kau cocok untuk memikul tugas yang begitu berat?”

Sambil mengguman seakan-akan tidak yakin seperti itu Oey Yok Su mengelilingi Mo-in-kim-kun.

Senang hati Mo-in-kim-kun, ia yakin bisa menguasai Oey Yok Su dengan jalan lunak.

“Oey Loshia, percayalah akupun sudah tua jika tokh aku berhasil duduk di singgasana, itupun tidak akan lama lagi, karena memang aku hanya ingin memperbaiki nasib rakyat belaka. Nanti Giok-sie akan diturunkan kepada penerus yang benar-benar terampil. Tapi sekarang jika kau coba merintangi aku, berarti hanya akan menghambat perbaikan nasib rakyat, dan kasihan nasib mereka.......!”

Oey Yok Su menghela napas. Ia menepuk beberapa kali pundak Mo-in-kim-kun.

“Baiklah, dilihat demikian jelas maksudmu luhur. Karena itu, selayaknya kalau saja aku pun tidak mencampuri lagi urusan tersebut. Sambil berkata begitu, Oey Yok Su merangkapkan tangannya, membungkukkan tubuhnya, ia memberi hormat.

Mo-in-kim-kun cepat-cepat membalas hormat Oey Yok Su. Dan belum lagi mereka berdiri tetap di tempat masing-masing justeru di luar terdengar suara ramai-ramai.

Mo-in-kim-kun melirik kepada orangnya yang terdekat, dan orang itu mengerti berlalu cepat untuk pergi melihat apa yang terjadi di luar ruang rahasia.

Tidak lama kemudian ia kembali, membisiki sesuatu pada Mo-in-kim-kun.

Wajah Mo-in-kim-kun berobah, ia menoleh pada Oey Yok Su, katanya: “Oey Loshia, lihatlah, betapa tentara kerajaan sudah datang! Kita harus pergi menghadapinya!”

Habis berkata begitu ia menjurah memberi hormat kepada Oey Yok Su, katanya lagi: “Laote harap, Oey-loshia bersedia membantuku, untuk menghadapi mereka!”

Oey Yok Su mengangguk girang.

“Ya, Mari kita lihat!” Kata Oey Yok Su.

Bukan kepalang girangnya Mo-in-kim-kun karena ia sama sekali tidak menyangka bahwa Oey Yok Su bisa beralih dan merobah haluan di mana kini Oey Yok Su berdiri di pihaknya malah akan membantunya menghadapi pasukan tentara kerajaan.

Mereka cepat sekali berada di luar tebing sedangkan Giok Hoa berdua Siangkoan Yap berdiri disamping Oey Yok Su dengan sikap kebingungan.

“Oey locianpwe…….!” Bisik Siangkoan Yap dengan sikap ragu-ragu.

Oey Yok Su melirik kepadanya.

“Kau ingin menanyakan mengapa aku membantu pihak iblis itu bukan?” tanya Oey Yok Su sambil tersenyum, tenang sekali tampaknya.

Siangkoan Yap mengangguk, Giok Hoa pun segera bilang, “Oey Locianpwee….. apakah……. apakah memang kita harus membantu iblis itu?”

Oey Yok Su melirik kelilingnya, dan mengetahui Mo-in-kim-kun dengan orang-orangnya tidak memperhatikan mereka, karena tengah mengawasi ke arah di mana tampak pasukan tentara kerajaan tengah berduyun-duyun menyerbu masuk ke dalam lembah dengan sikap yang garang dan hiruk pikuk, ia baru bilang.

“Kalian jangan kuatir urusan telah beres.”

“Urusan telah beres?” Tanya Giok Hoa berdua Siangkoan Yap seperti takjub.

Mereka benar-benar tidak mengerti. Bukankah Oey Yok Su ingin merampas Giok-sie? Dan Giok-sie memang belum lagi jatuh ke tangan mereka?

Mengapa justeru sekarang Oey Yok Su bilang urusan telah beres? Apa maksud Oey Yok Su sebenarnya?

Oey Yok Su tidak memperdulikan sikap keheranan Giok Hoa dan Siangkoan Yap, ia hanya bilang, “Kalian jangan kuatir, percayalah padaku, urusan telah beres. Kalian pergi ajak Ko Tie mengajak Kim Lo berlalu dari lembah ini. Kalian menanti di sebelah Selatan lembah, nanti aku menyusul kalian!”

Walaupun masih tidak mengerti, namun Siangkoan Yap berdua Giok Hoa mengiakan juga. Mereka segera meninggalkan Oey Yok Su, dan mengerahkan gin-kang mereka, agar cepat-cepat tiba di tempat Ko Tie dan Kim Lo berada, karena mereka kuatir kalau-kalau nanti tentara kerajaan keburu sampai dan ditimbul korban pertempuran?

Pasukan tentara kerajaan sudah tiba, orang-orang Pit-mo-gay pun tidak sempat berpikir lagi, karena mereka harus segera menghadapinya. Mo-in-kim-kun menoleh kapada Oey Yok Su, ia melihat pendekar tua yang jadi tocu pulau Tho-hoa-to tersebut berdiri tenang-tenang saja disampingnya. Cuma Siangkoan Yap berdua dengan Giok Hoa tidak berada di situ.

Dan memang ia tidak menaruh kecurigaan, sebab ia menduga tentunya kedua muda mudi itu ingin pergi untuk menghindarkan diri dari serbuan tentara kerajaan. Bukankah Oey Yok Su sudah berdiri di pihaknya? Karena dari itu, ia segera juga tersenyum kepada Oey Yok Su.

Waktu itulah tampak Oey Yok Su bilang dengan suara perlahan kepada Mo-in-kim-kun, “Sayang sekali aku tidak dapat membantumu untuk menghadapi kurcaci itu! Aku ingin pergi!”

“Oey Loshia….. tunggu dulu!” Mo-in-kim-kun kaget dan coba mencegah kepergian Oey Yok Su.

Tapi Oey Yok Su tidak memperdulikan sikap dan kata-kata Mo-in-kim-kun, sebab ia telah menjejakan kakinya. Tubuhnya seketika melesat ke tengah udara. Ia telah melesat seperti juga terbang, menuju ke mulut lembah.

Memang pasukan tentara kerajaan tengah menyerbu dari mulut lembah. Namun Oey Yok Su tidak jeri, karena mudah saja ia mempergunakan gin-kangnya, melesat di tengah udara dan dengan, melompat ke sana ke mari, dia sudah bisa menghindarkan diri dari para tentara kerajaan tersebut.

Ada dua orang perwira yang melompat ke depan Oey Yok Su, coba untuk mencegah jago tua itu pergi meninggalkan tempat itu dengan serangan yang beruntun. Namun Oey Yok Su tetap, tidak mau melayani karena dengan mengibaskan tangannya, ia berhasilkan merubuhkan dua orang perwira tersebut yang terjengkang ke belakang. Untung saja mereka tidak sampai terguling rubuh di tanah, cuma terhuyung ke belakang dan mereka hampir rubuh.

Oey Yok Su berlari dengan cepat sebentar saja ia sudah berhasil mencapai mulut lembah.

Ia melihat Giok Hoa dengan Siangkoan Yap tengah dikeroyok oleh pasukan tentara kerajaan. Ia cepat-cepat menyerbu uatuk membantu mereka.

Mudah sekali Oey Yok Su melemparkan mereka seorang demi seorang, untuk membuka jalan. Giok Hoa dan Siangkoan Yap bersorak girang. Karena mereka girang melihat datangnya Oey Yok Su, berarti mereka tak memperoleh kesulitan lagi.

Cepat bukan main mereka bertiga berlari terus meninggalkan lembah itu. Mereka melihat Ko Tie dengan memanggul Kim Lo tengah berlari cepat menjauhi diri dari mulut lembah itu, menuju ke arah selatan.

Oey Yok Su bersiul. Tubuhnya melesat cepat sekali, sebentar saja ia sudah bisa mengejar Ko Tie.

“Lontarkan Kim Lo kepadaku!” teriaknya kemudian.

Perintahnya dipatuhi Ko Tie, yang segera melontarkan Kim Lo kepada Oey Yok Su.

Kim Lo berseru kaget, karena tubuhnya melayang di tengah udara ringan sekali, secara cepat ia segera bergerak berputar di tengah udara mempergunakan gin-kang yang pernah dipelajarinya dari Oey Yok Su. Tubuhnya berputar tiga kali.

Waktu tubuhnya telah hinggap di pundak Oey Yok Su, tangan Oey Yok Su menjambret menurunkannya sambil tertawa-tawa: “Anak nakal, enaknya kau dibawa berlari-lari seperti tadi…….?”

“Kong-kong! Kong-kong!” teriak Kim Lo kemudian dengan sikap yang manja. “Tadi Kongkong pergi ke mana? Aku berkuatir sekali kalau saja Kong-kong mengalami sesuatu yang tidak enak.”

“Ayo kita tinggalkan tempat ini secepatnya.......!” Ajak Oey Yok Su.

“Tunggu dulu Oey Locianpwee.......!” Kata Ko Tie dengan sikap ragu-ragu dan saling melirik kepada Giok Hoa dan Siangkoan Yap.

Oey Yok Su menoleh, “Kenapa?” tanyanya

“Bukan….. bukankah kita belum lagi memperoleh.......” Kata Ko Tie ragu-ragu.

“Kau maksud Giok-sie?” tanya Oey Yok Su.

Ko Tie mengangguk.

“Ya, apakah kita pergi begitu saja?” Tanya Ko Tie kemudian.

Oey Yok Su tersenyum.

“Inikah yang kau maksudkan?” Tanyanya

Mata Ko Tie, Siangkoan Yap dan Giok Hoa terbuka lebar-lebar, mereka memandang heran. Karena benda yang ada di tangan Oey Yok Su tidak lain dari Giok-sie.

“Jadi……. jadi Giok-sie sudah berada di tangan Oey Locianpwe?” tanya Ko Tie bertiga dengan suara agak tergagap.

Oey Yok Su mengangguk.

“Ya, memang Giok-sie sudah berada di tanganku! Tadi aku telah berhasil mengambilnya dari iblis itu…….!” menjelaskan Oey Yok Su.

Ko Tie bertiga dengan Siangkoan Yap dan Giok Hoa memandang takjub, seakan juga mereka tidak mempercayai keterangan Oey Yok Su, karena tidaklah mudah untuk merebut Giok-sie dari tangan Mo-in-kim-kun yang mereka ketahui memiliki kepandaian sangat tinggi, hanya setingkat di bawah kepandaian Oey Yok Su.

Walaupun Oey Yok Su memang memiliki kepandaian tinggi, tapi merebut begitu saja dari tangan Mo-in-kim-kun bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukannya begitu cepat.

Oey Yok Su tersenyum, ia memasukan kembali Giok-sie ke dalam sakunya.

“Nanti akan kujelaskan sekarang mari kita tinggalkan dulu tempat ini, nanti akan timbul kesulitan yang tidak kita inginkan!” Kata Oey Yok Su.

Ia kemudian melesat dengan pesat sambil meggempit Kim Lo. Ko Tie bersama Giok Hoa dan Siangkoan Yap tidak berani berayal, mereka pun cepat menyusulnya.

Pertempuran di dalam lembah ternyata berlangsung sangat hebat. Walaupun kepandaian orang-orang Pit-mo-gay umumnya tidak rendah tapi jumlah pasukan tentara kerajaan melebihi dari jumlah mereka.

Karenanya membuat mereka terdesak. Banyak korban yang berjatuhan. Di lembah tersebut terjadi banjir darah.

Mo-in-kim-kun yang murka bukan main telah mengamuk hebat dengannya telengas dan ganas sekali. Ia selalu menggerakkan tangannya meminta korban. Karena tidak ada satu kali pun ia gagal membunuh korbannya setiap kali ia menggerakkan tangannya.

Pertempuran mati-matian dua pihak itu berlangsung terus selama setengah harian.

Pihak kerajaan pun telah berusaha untuk dapat memusnahkan orang-orang Pit-mo-gay. Malah, beberapa orang perwira kerajaan telah berseru-seru agar Mo-in-kim-kun menyerahkan saja Giok-sie dan mereka akan diampuni serta akan diberikan kedudukan maupun pangkat jika mereka mau menyerah dan patuh pada kerajaan.

Mo-in-kim-kun bertempur terus, sampai suatu saat ia teringat pada Giok-sie nya. Ia meraba sakunya. Mukanya seketika berobah pucat pias.

Kantongnya kosong, ia menekan saku yang kempis, ia berseru kalap ketika mengetahui Giok-sie lenyap dari sakunya. Tapi ia cerdas sekali, segera teringat kepada Oey Yok Su.

Tentu ia telah dikerjakan oleh Oey Yok Su yang telah merampas Giok-sie secara diam-diam diluar tahunya. Dengan membentak bengis, tubuhnya segera melesat berlari ke mulut lembah, ia bermaksud ingin mengejar Oey Yok Su.

Namun Oey Yok Su sudah tidak terlihat bayangan lagi. Dan Mo-in-kim-kun yang kecewa dan marah, melampiaskan kemurkaannya itu pada tentara kerajaan. Bengis dan telengas sekali ia membunuh tidak sedikit tentara kerajaan.

Banjir darah yang sangat mengerikan. Tapi Mo-in-kim-kun justeru seperti kerasukan setan karena tidak hentinya ia membinasakan lawan- lawannya.

Belasan orang perwira segera juga mengeroyoknya. Tapi mereka seorang demi seorang cepat sekali dirubuhkan Mo-in-kim-kun, yang tengah kalap dan murka.

Waktu itu tampak jelas sekali, betapa Mo-in-kim-kun memang merupakan orang yang sangat tangguh sekali, pihak kerajaan tidak berdaya untuk membendung amukannya.

Cuma saja, anak buah Mo-in-kim-kun umumnya sebagian besar telah jatuh menjadi korban, jumlah mereka tinggal sedikit. Menyaksikan itu selera bertempur Mo-in-kim-kun terlebih lagi ia teringat kepada Giok-sie yang telah lenyap maka ia segera setelah membunuh empat orang perwira kerajaan, kemudian meninggalkan lembah itu. Tidak seorang pun yang dapat mencegah kepergiannya, sambil berlari seperti terbang, ia berseru nyaring sekali…….

Sisa orang-orang Pit-mo-gay mudah sekali dirubuhkan dan ditangkap oleh pihak kerajaan. Dan mereka telah tidak berdaya, jumlah mereka yang semakin sedikit, juga memang mereka pun sudah kehilangan semangat sebab melihat pemimpin mereka pun telah pergi meninggalkan lembah itu. Dengan begitu, mereka mudah ditawan.

<> 

Oey Yok Su mengajak Siangkoan Yap, Ko Tie, Giok Hoa dan Kim Lo ke sebuah dusun kecil. Mereka beristirahat disitu. Dan setelah bersantap malam, mereka berunding, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

“Kita berpisah di sini saja!” Kata Oey Yok Su pada akhirnya dengan keputusannya. “Aku akan membawa Kim Lo pulang, dan mendidiknya dengan baik, agar kelak ia bisa mewarisi kepandaian Lohu! Dan juga, tentang Giok-sie, kelak akan Lohu serahkan kepada Kim Lo, jika ia telah berusia duapuluh tahun.

“Waktu itulah Kim Lo akan lohu perintahkan mencari kalian, untuk bekerja sama dengan kalian membangun satu kerajaan yang sungguh-sungguh adil membawa kesentausaan buat rakyat! Jadi tegasnya, sembilan tahun mendatang, di bulan tujuh pada tanggal limabelas, kalian akan bertemu dengan Kim Lo di dusun Yang-cung ini! Mengertikah kalian?”

Ko Tie bertiga Giok Hoa dan Siangkoan Yap segera menyatakan mereka mengerti. Bahkan mereka girang mendengar Oey Yok Su mencanangkan Kim Lo sebagai calon pendekar yang akan dididiknya dengan sebaik-baiknya.

Tentu saja mereka yakin, jika kelak Kim Lo telah dewasa, niscaya ia akan muncul sebagai seorang pendekar yang tangguh sekali. Karena Oey Yok Su bertekad hendak mendidik dan mewarisi seluruh kepandaiannya.

“Juga selama sembilan tahun menantikan tibanya hari pertemuan itu, kalian beritahukan kepada pendekar-pendekar lainnya. Juga pada puteriku Oey Yong dan lain-lainnya.

“Jika dapat mereka berkumpul di dusun kecil ini, buat menyambut Kim Lo, yang kelak harus mereka dukung dengan sebaik-baiknya! Itulah harapan lohu agar kalian bersungguh-sungguh hati mendukung Kim Lo, agar ia bisa menperoleh tempat yang selayaknya!”

Ko Tie tersenyum, ia bilang: “Kami tentu tidak akan melupakan pesan Locianpwe…..!”

Oey Yok Su perintahkan Kim Lo bersiap-siap untuk berangkat pulang ke Tho-hoa-to.

Kim Lo tampak merasa berat buat berpisah dengan Ko Tie dan yang lainnya.

“Paman, ikut saja kalian dengan kami ke Tho-hoa-to!” Kata Kim Lo dengan wajah muram.

Ko Tie menggeleng sambil tersenyum.

“Tugas berat berada di pundakmu. Kau harus belajar ilmu silat yang tinggi, Kim Lo. Karena itu, selama ini baik-baiklah kau belajar ilmu silat yang tinggi, agar kau tidak mengecewakan harapan kami!” Kata Ko Tie, “kelak kita tokh akan bertemu lagi!”

Setelah berkata begitu, Ko Tie memutar tubuhnya, ia berdiri di hadapan Oey Yok Su merangkapkan sepasang tangannya, memberi hormat meminta pamit. Kemudian ia melesat pergi. Demikian juga Giok Hoa dan Siangkoan Yap.

Setelah berada berdua dengan Kim Lo, Oey Yok Su menghela napas, ia melihat dua butir air mata menitik dari pelupuk mata Kim Lo, katanya:

“Kim Lo mulai detik ini dan selanjutnya Kong-kong tidak mau melihat hatimu lemah dan mudah menitikkan air mata. Ingatlah kata-kata Kong-kong!”

Kim Lo menyusut air matanya, ia mengiakan dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

Oey Yok Su menuntun anak itu, untuk di ajak pergi meninggalkan desa Yang-cung. Sebentar saja, mereka telah berada di tepi pantai, di mana mereka menyewa sebuah perahu, dan Oey Yok Su mendayungnya cepat sekali untuk kembali ke Tho-hoa-to.

Keadaan di desa Yang-cung tampak sunyi.

Pihak kerajaan terus juga mencari Giok-sie.

Cuma saja sejauh itu belum juga diketahui lagi, dimana beradanya Giok-sie. Sedangkan Mo-in-kim-kun seperti juga lenyap tidak diketahui jejaknya.

Kemanakah Mo-in-kim-kun?

Ternyata ketika mengetahui Giok-sie lenyap dari sakunya, ia marah bukan main. Ternyata waktu Oey Yok Su menepuk-nepuk pundaknya, kesempatan itu dipergunakan Oey Yok Su diam-diam mengambil Giok-sie dari saku Mo-in-kim-kun.

Kepandaian Mo-in-kim-kun boleh tinggi, tapi ia mana bisa menghadapi Loshia yang sangat ku-koay dan kepandaiannya hebat itu? Dengan mengandalkan tangannya yang hebat luar biasa, Oey Yok Su berhasil mengambil Giok-sie tanpa Mo-in-kim-kun mengetahuinya.

Karena itu, bukan kepalang marahnya Mo-in-kim-kun setelah mengetahui lenyapnya Giok-sie. Segera juga ia meninggalkan lembah tersebut, meninggalkan semua anak buahnya, orang-orang Pit-mo-gay itu, dan langsung pergi mencari Oey Yok Su.

Sebagai orang yang sangat cerdik, segera ia menduga tentunya Oey Yok Su setelah berhasil mengambil Giok-sie, akan segera menuju ke Tho-hoa-to, segera juga Mo-in-kim-kun pergi ke Tho-hoa-to.

Hanya saja sangat sayang, bahwa di Tho-hoa-to bukan seperti tempat yang lainnya. Pulau Tho-hoa-to merupakan pulau yang penuh misteri dan telah diatur sedemikian rupa oleh Oey Yok Su.

Mo-in-kim-kun boleh saja berkepandaian tinggi tapi ia tak berdaya buat menerobos masuk ke pulau Tho-hoa-to. Karenanya ia berputar-putar selama lima hari di pulau itu, kelaparan dan kehausan. Karenanya, juga membuat ia jadi jeri sendirinya.

Jika memang ia tetap bersikeras untuk mencari jalan menerobos masuk ke Tho-hoa-to, niscaya dirinya sendiri yang akan menderita kerugian. Karenanya ia telah berusaha untuk mengingat setiap letak dan kedudukan tempat-tempat di pulau Tho-hoa-to, barulah ia meninggalkan Tho-hoa-to.

Ia mencari tempat yang sunyi untuk menyembunyikan diri. Dan ia memilih gunung Hoa-san sebagai tempat yang dianggapnya sangat cocok buat dia hidup mengasingkan diri sambil memeras otaknya untuk memecahkan jalan-jalan rahasia di pulau tersebut.

Ia sangat cerdik dan cerdas sekali, namun ia tidak bisa segera untuk memecahkan rahasia yang terdapat di pulau Tho-hoa-to dan tetap saja dari tahun ke tahun ia tidak pernah berhasil untuk memecahkan misteri yang menyelubungi pulau Tho-hoa-to.

Enam tahun kemudian ia pergi lagi ke Tho-hoa-to. Tetap saja ia tidak berhasil menembus jalan rahasia di pulau itu. Malah lebih parah lagi, ia terkurung sampai setengah bulan dalam kelaparan dan kehausan, beruntung akhirnya ia bisa keluar pula dan meninggalkan pulau Tho-hoa-to.

Lewat empat tahun lagi, ia kembali mendatangi pulau Tho-hoa-to dengan penasaran. Apa yang dialaminya tetap saja sama, dan akhirnya ia jadi putus asa. Ia mengurung diri dan ia masih berusaha terus untuk memecahkan rahasia yang menyelubungi pulau Tho-hoa-to tersebut.

Y

Pagi itu dingin sekali. Bunga salju turun rintik-rintik. Jalan sepi. Hanya tampak sebuah kereta yang dalam cuaca buruk seperti itu masih melakukan perjalanan.

Kusir kereta itu seorang lelaki tua yang lanjut sekali usianya. Mungkin sudah berumur tujuhpuluh tahun lebih tubuhnya kurus kering dan kerempeng, tapi ia ulet sekali. Dengan baju tebal menyelubungi tubuhnya, ia berusaha memaksa kuda-kuda keretanya berjalan terus, sedangkan di dalam kereta berkuda dua itu, duduk sepasang laki-laki dan perempuan berusia pertengahan.

Tampaknya yang laki-laki agak miring duduknya, nyender di pundak wanita itu, yang rupanya isterinya. Ia tengah sakit parah sekali. Mukanya pucat dan tubuhnya menggigil.

“A Sam, apakah Po-sinshe mau menolongi suami ini?” Tanya wanita tengah baya itu, suaranya berkuatir sekali. “Tampaknya suamiku sudah tidak kuat lagi diserang angin buruk seperti ini!”

Kusir itu, A Sam, tersenyum dengan bibir yang menggigil dan pucat. “Tan hujin tak perlu kuatir, tentu Tan Hengte (adik Tan) akan dapat ditolong oleh Po-sinshe, ia seorang tabib yang sangat pandai serta murah hati.”

Kemudian tangannya mengayun cambuknya kembali, bunyinya yang membeletar tak hentiya memecahkan kesunyian di tempat itu. Kereta itu, terus juga meluncur perlahan-lahan, karena roda kereta itu sulit sekali melewati tumpukan-tumpukan salju, cuaca benar-benar buruk.

A Sam, kusir kereta itu terus juga berusaha mengendalikan keretanya, agar dapat maju terus, tampaknya ia bekerja keras.

Laki-laki setengah baya di dalam kereta yang tengah sakit itu, mengerang menggigil, mukanya pucat sekali.

“Sudahlah….. aku tidak tahan lagi, aku mau mati di rumah saja. Percayalah, belum lagi kita bisa bertemu dengan tabib itu, aku sudah tidak kuat dan mati.......!”

Isterinya menghela napas.

“Sabarlah…… percayalah kita pasti bisa menemui Po-sinshe. Ia terkenal sangat luhur dan mulia hatinya, tentu bersedia menolong kita kau jangan putus asa. Bukankah kau ingin cepat-cepat sembuh suamiku?”

Suaminya cuma mengerang saja.

Kereta itu masih terus juga meluncur merangkak perlahan-lahan dihela dua ekor kuda.

Tiba-tiba roda kereta yang sebelah kanan kejeblos masuk ke dalam tumpukan salju dan sulit untuk digerakkan lagi. Dua ekor kuda penghela telah didera terus menerus oleh A Sam, akan tetapi tetap saja kedua ekor kuda tersebut tidak berhasil untuk menarik kereta itu maju lebih jauh.

A Sam tampaknya jadi gugup sekali, ia menyumpah serapah. Yang lebih gugup adalah wanita setengah baya di dalan kereta itu. Tan Hujin berdoa kepada Thian untuk memperoleh kelancaran dalam perjalanan ini agar bisa bertemu dengan Po-sinshe dapat mengobati suaminya ini yang tampaknya semakin lemah.

Yang membuat Tan Hujin tambah kuatir justeru tubuh suaminya menggigil semakin keras juga, suara erangan nya semakin lemah. Di antara kepucatan wajahnya, pada pipinya tampak warna gelap kebiru-biruan, dan inilah membuat Tan Hujin tambah berkuatir saja.

A Sam telah melompat turun dari tempat duduknya. Ia mendorong kereta tersebut buat menolong kedua ekor kuda itu menghelanya. Namun tetap saja tidak berhasil, ini benar-benar membuat A Sam jadi gugup bukan main.

“Celaka! Celaka! Jika memang roda kereta tak bisa digerakkan, kita akan terhambat di sini!” Menggerutu kusir tua tersebut putus asa.

Waktu itu tampak jelas bahwa Tan Hujin sudah tidak bisa menahan perasaan kuatir dan cemasnya.

“Suamiku kau rebah saja dulu di sini, aku ingin membantu A Sam untuk menggerakkan kereta agar rodanya tidak terpendam terus ditumpukan salju!” kata Tan Hujin pada suaminya! Suaranya cuma menggerang menggigil tidak menyahuti.

Tan Hujin melompat turun bersama A Sam berusaha mengangkat roda kereta yang terpendam itu. Tapi usaha mereka gagal. Roda kereta terpendam cukup dalam.

Waktu itu tampak Tan Hujin putus asa benar. Ia menangis duduk mendeprok di tumpukan salju. Ia putus asa dan mulai kuatir bahwa suaminya sulit dapat ditolong dari keadaannya itu.

A Sam juga jadi ikut panik dan gugup melihat Tan Hujin menangis, sibuk sekali ia menghiburnya, ia juga tidak hentinya berusaha menghela kudanya agar menarik kereta itu. Dia pun mencoba untuk bantu menggerakkan roda kereta sambil mencambuk bertubi-tubi pada kudanya tersebut.

Waktu itu tampak seorang melangkah mendekati ke tempat mereka. Orang itu mengenakan baju putih, seluruhnya putih. Dari baju panjangnya maupun celananya, berwarna putih.

Demikian juga sepatunya berwarna putih. Kopiahnya pun berwarna putih. Jika dilihat sepintas lalu ia seperti seorang pelajar. Tapi yang aneh, ia mengenakan sehelai kain putih menutupi sebagian wajahnya, sehingga yang tampak sepasang matanya belaka.

Ada lagi keanehan pada diri orang yang baru datang ini. Ia mengenakan baju dan celana putih itu terbuat dari bahan sutera yang tipis dibawa udara demikian dingin. Sedangkan A Sam dan Tan Hujin yang mengenakan mantel bulu yang tebal masih kedinginan.

Tapi orang itu justeru tampaknya tenang-tenang saja, seakan juga hawa udara yang demikian dingin dan buruk tidak mengganggunya. Walaupun ia memakai baju tipis, sama sekali ia tidak kedinginan.

“Tampaknya kalian tengah menghadapi kesulitan?” tanya orang itu pada A Sam. Suaranya halus. Tapi mulutnya tidak terlihat, karena tertutup kain putih yang menutupi sebagian wajahnya.

A Sam girang melihat orang ini.

“Benar! Benar!” Katanya cepat. “Dapatkah saudara membantu kami untuk mengangkat roda kereta yang terpendam di dalam tumpukkan salju? Di dalam kereta itu ada orang yang tengah sakit keras, kami sedang tergesa-gesa untuk pergi menemui tabib, tapi apa celaka justeru roda kereta kami telah terpendam seperti ini. Tolonglah kami, saudara!”

A Sam berkata begitu, karena ia yakin, jika ditambah satu tenaga lagi, mereka tentu akan dapat mengangkat roda kereta yang terpendam ditumpukkan salju.

Sedangkan Tan Hujin setelah memandang tertegun sejenak segera berlutut dengan sepasang kaki tertekuk, ia menggangguk-anggukan kepalanya berulang kali,

“Tolonglah kami, tuan....... tolonglah kami....... kami benar-benar manusia yang tengah ditimpah kemalangan. Suamiku tengah sakit keras sekali dan membutuhkan pertolongan tabib…….” sambil memohon dan mengangguk-anggukan kepalanya. Tan Hujin pun sudah menangis terisak-isak.

Orang itu mengangguk-angguk beberapa kali.

“Ya, biarlah aku membantu kalian!” Katanya dengan suara menggumam perlahan. “Kong-kong selalu berkata, setiap kali ada kesempatan untuk menolong, aku harus segera menolong orang yang tengah dalam kesulitan!”

Tan Hujin bukan main girang mendengar kata-kata orang berpakaian serba putih itu, ia tetap berlutut sambil memanggut-manggutkan kepalanya lebih gencar mengucapkan terima kasihnya.

A Sam juga girang bukan main, ia berlari mendekati kereta untuk mengangkat. A Sam yakin, dengan dibantu orang itu sebentar lagi roda kereta akan dapat diangkat dari tumpukan salju itu.

Tapi belum lagi A Sam memegang kereta tersebut, orang berpakaian serba putih tersebut telah mencegah.

“Kau mundur saja paman!” Katanya, sabar suaranya, iapun melangkah mendekati kereta.

A Sam tertegun.

“Apa…..?” tanyanya terheran-heran.

“Biarkan aku saja yang mengangkatnya!” kata orang berpakaian serba putih itu, tenang sekali.

A Sam tertegun lagi, tapi kemudian ia jadi tidak senang. Ia melihat orang itu terlalu angkuh.

Mana mungkin ia bisa mengangkat keluar roda kereta yang terpendam di dalam tumpukan salju itu? Sedangkan tadi saja dibantu dengan tarikan sepasang kudanya, A Sam dengan Tan Hujin masih tidak berhasil menarik keluar roda kereta yang terpendam itu.

Tapi, orang berpakaian serba putih itu tidak memperdulikan sikap A Sam dan Tan Hujin yang mengawasi padanya dengan sorot mata tidak mempercayai. Ia mengulurkan tangannya mementang roda kereta.

Kemudian ringan sekali, seakan juga tidak mempergunakan tenaga, ia mendorong. Roda kereta itu bergerak, bergerak dan akhirnya roda keluar dari tumpukan salju itu!

Suatu pertunjukan yang menakjubkan sekali. A Sam berdua dengan Tan Hujin mengawasi seperti tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Tadi mereka mati-matian mengerahkan seluruh tenaga mereka, tapi tetap saja tidak berhasil menggeser roda kereta itu walaupun hanya untuk satu dim.

Tapi sekarang orang berpakaian serba putih tersebut cuma menggunakan tangan kirinya, mendorong perlahan, namun roda kereta itu bergerak, bahkan akhirnya telah dapat dikeluarkan dari tumpukan salju! Benar-benar menakjubkan sekali.

Sedangkan orang yang berpakaian serba putih telah menoleh kepada A Sam.

“Sekarang kalian sudah bisa melanjutkan perjalanan kalian!” katanya sabar.

A Sam tertegun terus, sampai akhirnya ia tersadar dan telah memberi hormat kepada orang berpakaian serba putih itu.

“Terima kasih atas pertolongan Sianjin (manusia dewa)! Sungguh menakjubkan sekali! Tentu Sianjin memang seorang dewa yang sengaja turun ke dunia untuk menolong kami....... Inilah berkat kebesaran Thian.......!”

Sedangkan Tan Hujin berlutut terus dengan gencar manggut-manggutkan kepala sambil menangis kegirangan.

“Terima kasih, Sianjin! Terima kasih, Sianjin…..!” Katanya di antara isak tangisnya.

“Bukankah suami nyonya tengah sakit keras dan membutuhkan pertolongan?” Tanya orang itu. “Jika tidak cepat-cepat pergi ke tabib bagaimana mungkin orang di dalam kereta itu dapat ditolong jiwanya?”

Ditegur seperti itu, tampak Tan Hujin dan A Sam tersadar. Mereka mengucapkan terima kasih lagi. Lalu, cepat-cepat pergi ke kereta.

“Tunggu dulu!” Tiba-tiba orang itu berseru dengan suara yang nyaring.

A Sam dan Tan-hujin merandek. Mereka segera pikir, apakah orang itu bermaksud meminta upah atas pertolongannya.

“Ada....... apa Sianjin?” Tanya A Sam kemudian sambil tersenyum dan cepat-cepat menghampiri.

Orang itu yang tidak bisa dilihat mukanya tampak berdiam sejenak.

“Orang di dalam kereta itu sakit apa?” Tanyanya kemudian.

A Sam angkat pundaknya. Ia bilang: “Sangat membingungkan sekali Sianjin....... sakitnya tampaknya parah sekali….. entah sakit apa....... Kami akan pergi ke Po-sinshe, mungkin juga Po-sinshe bisa menolongnya........!”

Orang berpakaian serba putih itu menganggukkan kepalanya beberapa kali, kemudian ia bilang! “Jika aku coba-coba uutuk mengobatinya apakah kalian mengijinkan?”

A Sam tertegun sejenak, tapi kemudian ia jadi girang bukan main. Bukankah tadi ia telah menyaksikan bahwa orang yang berpakaian serba putih ini bukan orang sembarangan dan juga memiliki kepandaian hebat!

Bukankah ini memang seorang dewa yang turun ke dunia untuk menolongi suami Tan Hujin? Karena itu cepat-cepat A Sam menjura memberi hormat mengucapkan terima kasih.

“Kami sangat bersyukur sekali jika memang Sianjin mau menolongi suami Tan Hujin!” Katanya.

Tan Hujin yang mendengar orang yang berpakaian serba putih itu ingin mencoba mengobati suaminya, bukan main bersyukurnya. Segera juga dengan terisak-isak menangis ia berlutut memohon bantuan dan pertolongan orang berpakaian serba putih itu.

Tanpa mengatakan sesuatu apa pun juga orang berpakaian serba putih tersebut menghampiri kereta. Ketika ia melihat keadaan orang she Tan yang rebah menggigil mengerang dengan muka pucat, ia menghela napas.

“Sesungguhnya, sakitnya adalah sakit biasa, ia hanya terganggu angin jahat saja!” Kata orang berpakaian serba putih tersebut dengan suara yang perlahan. “Dan, ia cuma perlu diobati dan kemudian beristirahat…..!”

Setelah berkata begitu, orang berpakaian serba putih tersebut merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sesuatu, yaitu obat. Disesapkan dalam mulut suami Tan Hujin.

Ajaib sekali, begitu obat tertelan segera juga suara erangan orang she Tan lenyap. Ia segera dapat tidur, tidak menggigil lagi. Jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Tan Hujin bersyukur sekali. Ia yakin, tentu orang yang berpakaian serba putih itu adalah dewa yang turun dari Kerajaan Langit. Begitu pula A Sam.

Selain tenaga dan kepandaian yang menakjubkan, dengan mudah sekali mempergunakan tangan kirinya, mendorong roda kereta itu keluar dari tumpukan salju, juga kini dengan sebutir obat saja, ia sudah mengurangi penderitaan orang she Tan itu.

Tak hentinya Tan Hujin mengucapkan terima kasih. Kemudian orang berpakaian serba putih tersebut mengeluarkan dua butir obat lagi.

“Nyonya, anda tidak usah kuatir, besok pagi berikan satu butir kepadanya. Yang tinggal sebutir diberikan lusanya, ia akan segera sembuh!” dan obat itu diberikan pada Tan Hujin.

Tan Hujin menyahuti obat tersebut dan tidak hentinya mengucapkan terima kasih.

Kemudian Tan Hujin setelah menyimpan obat tersebut, ia menanyakan nama tuan penolongnya tersebut, tapi orang berpakaian serba putih itu cuma menggelengkan kepala belaka.

Tan Hujin, A Sam baru saja ingin menanyakan sesuatu lagi, orang berpakaian serba putih itu telah memutar tubuh melangkah meninggalkan mereka.

A Sam dan Tan Hujin bengong sejenak, waktu mereka tersadar, segera keduanya berlutut sambil memanggut-manggut kepala mereka semakin yakin juga mereka orang berpakaian serba putih itu adalah seorang dewa turun ke dunia.

Tengah A Sam dan Tan Hujin berlutut, dari belakang mereka terdengar suara orang bersenandung.

“Hatinya mulia seperti dewa.......! Putih seperti salju!
Tapi kekejaman yang sangat telengas dan bengis seperti iblis……..”

Perlahan suara senandung itu, namun terdengar jelas sekali.

Waktu Tan Hujin dan A Sam berpaling mereka jadi heran, seorang pengemis setengah baya melangkah di atas salju tertatih-tatih. Dia yang bersenandung dan jaraknya terpisah puluhan tombak. Namun langkah kakinya bagitu cepat, karena sebentar saja ia sudah sampai di dekat Tan Hujin.

Inilah yang membuat A Sam dan Tan Hujin jadi heran sekali karena mereka melihat jelas pengemis itu melangkah tertatih-tatih sulit sekali di atas tumpukan salju. Namun mengapa bisa tiba di dekat mereka begitu cepat? Bukankah tadi masih puluhan tombak tentu saja hal ini membuat Tan Hujin dan A Sam jadi heran memandang tercengang.

Pengemis itu tidak mengacuhkan Tan Hujin dan A Sam. Ia cuma melirik, kemudian sambil bersenandung terus, ia telah menghampiri orang berpakaian serba putih itu.

Sebentar saja ia sudah berada di dekat orang berbaju putih itu, sedangkan orang berpakaian serba putih pun menghentikan langkah kakinya, ia berdiri sambil berpaling. Ia melihat si pengemis. Matanya jadi bersinar, ia seakan juga terkejut.

Pengemis itu telah sampai di depan orang berpakaian serba putih tersebut, ia masih bersenandung:

“Hatinya mulia seperti dewa.......! Putih seperti salju!
Tapi kekejaman yang sangat telengas dan bengis seperti iblis……..”

Orang berpakaian serba putih diam saja, ia mengawasi si pengemis, sedangkan si pengemis telah berdiam diri waktu berada di depan orang berpakaian serba putih. Mulutnya terbuka sedikit bergerak-gerak untuk bersenandung, namun suara apa pun tidak terdengar, dia mengawasi orang berpakaian serba putih itu dari atas sampai ke ujung sepatunya.

Dan akhirnya pengemis itu bilang: “Sungguh mulia sekali apa yang telah tuan lakukan! Tuankah yang tadi berada di kota Loan-san.......?”

Orang yang memakai baju serba putih itu terdiam sejenak, alisnya tampak mengkerut lalu ia menggeleng perlahan. Tapi tak sepatah perkataan pun juga yang diucapkannya.

Pengemis itu tertawa.

“Ohh, tuan ingin mengartikan bahwa tuan bukan orang yang tadi di kota Loan-san?” tanyanya lagi.

Orang berpakaian serba putih itu menggeleng lagi.

Pengemis itu tertawa, tapi diluar dugaan, tangan kanannya sebat sekali diulurkan untuk menyambret kain putih penutup muka orang tersebut.

“Coba aku si pengemis miskin melihat wajah tuan……!” katanya.

“Hemmm!” mendengus orang berpakaian serba putih itu, ia memiringkan sedikit kepalanya. Biarpun tangan pengemis itu cepat sekali menyambar ke arah kain penutup mukanya, tokh ia tidak berhasil menjambretnya.

Pengemis itu tertegun sejenak.

“Ihhh, hebat memang kepandaianmu!” Menggumam pengemis itu yang jadi penasaran. Ia sebetulnya merupakan pengemis yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

Tadi ia telah mempergunakan gerakan dari ilmu menjambret Eng-jiauw-kang atau Cakar Garuda. Biasanya tak pernah ia dengan jambretannya terlebih lagi ia melakukannya setengah membokong dan cepat sekali. Namun, hasilnya memang nihil. Tentu saja ia jadi penasaran.

Cepat sekali bertubi-tubi tangannya telah menjambret lagi. Ia mengulangi sampai tiga kali.

Orang berpakaian serba putih itu sama sekali tidak menggeser kedudukan kakinya. Ia cuma mengelak ke sana ke mari dan berhasil menghindarkan mukanya dari jambretan tangan si pengemis. Kakinya sama sekali tidak tergeser satu dim saja.

Pengemis itu jadi penasaran, namun ia tidak meneruskan jambretannya.

“Aku si pengemis miskin yakin bahwa tuan adalah orang yang tadi di kota Loan-san!” Katanya kemudian matanya memandang tajam kepada orang berpakaian serba putih itu.

Orang itu hanya menjawab, “Hemm!” Mendengus perlahan, menggelengkan kepalanya.

Tetap saja, tidak sepatah perkataan juga terdengar diucapkan olehnya. Cuma saja matanya yang memancarkan sinar sangat tajam.

Dikala itu, Tan Hujin dan A Sam memandang berkuatir. Mereka jadi takut dan berkuatir takut karena menduga bahwa pengemis itu orang jahat.

Bukankah pengemis itu datang-datang tidak hujan tidak angin telah menyerang orang berpakaian serba putih itu. Tuan penolong mereka mengalami sesuatu yang tidak mereka inginkan di tangan si pengemis.

Waktu itu pengemis tersebut telah bilang, “Jika memang tuan seorang Ho-han dan mau mengakui serta bertanggung jawab apa yang telah tuan lakukan, perkenalkanlah diri tuan kepada aku si pengemis miskin!

“Dan juga, jika tuan mau untuk mempertanggung jawabkan perbuatan tuan, tentu kami tidak akan melakukan tindakan yang dapat memojokkan tuan sebagai pencuri cilik yang tidak bernama! Mari silahkan ikut dengan kami buat menemui tetua-tetua kami.”

Pengemis tersebut bicara dengan sikap yang sabar, tapi jelas bahwa ia tengah menindih perasaan tidak senang dan penasaran di hatinya. Ia tidak bertindak lagi dengan ceroboh karena dalam beberapa jurus itu ia segera memperoleh kenyataan kepandaian orang berpakaian serba putih tersebut memang sangat tinggi sekali.

Dan jelas, bahwa ia tak bisa meremehkannya. Karena itu, ia berusaha menempuh jalan lunak.

Tapi orang berpakaian serba putih itu menggelengkan kepalanya. Malah disusul kemudian dengan kata-katanya: “Sayang sekali aku masih memiliki urusan penting yang perlu kuselesaikan. Maaf, tidak bisa aku ikut dengan kau…...!”

“Tuan, jika memang tuan tidak mau berterang, dan memperkenalkan diri, tentu aku si pengemis miskin So Pang akan lancang meminta pelajaran dari tuan!”

“Hemmm, jangan memaksa aku.......!” menggumam orang berpakaian serba putih itu.

“Maaf, aku meminta pengajaran!” kata pengemis itu, yang katanya bernama So Pang. Ia bukan bicara saja, tangan kanannya tahu-tahu meluncur lurus ke arah dada orang berpakaian serba putih itu!

Tapi orang berpakaian serba putih tersebut sama sekali tidak berusaha mengelakkan tangan si pengemis. Ia tetap berdiri di tempatnya. Waktu tangan si pengemis hampir tiba di dekat dadanya, tahu-tahu ia menyentil dengan jari telunjuknya.

“Tukkkk!” Pelahan suaranya tapi hebat kesudahannya.

Tubuh Si pengemis terjengkang, bergulingan sampai tiga tombak ke belakang. So Pang juga mengeluarkan jerit kesakitan. Itulah hebat.

Ia seorang pengemis berkepandaian tidak rendah tapi cuma disentil perlahan, ia sudah terpelanting saperti itu. Yang membuat dia kaget lagi tulang pergelangan tangannya sakit sekali seperti retak, membuat ia meringis kesakitan.

“Maaf……. aku tidak bisa menemani lebih lama lagi!” Kata orang berpakaian serba putih itu sambil memutar tubuhnya dan melangkah pergi.

So Pang tidak bilang apa-apa lagi, ia duduk dengan muka meringis menahan sakit. Dan memandang takjub bercampur kagum pada orang aneh itu, yang menutupi sebagian besar wajahnya dan kepandaiannya hampir tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Karena dengan hanya sentilan jari telunjuk tangannya, membuat So Pang tidak berdaya seperti itu. Tentu saja setelah menerima pelajaran pahit seperti itu So Pang tidak berani lancang untuk menerjang orang berpakaian serba putih itu.

Dalam sekejap mata saja orang berpakaian serba putih itu, telah lenyap dari pandangan mata So Pang.

Dengan muka meringis menahan sakit So Pang bangun dan menghampiri Tan Hujin dan A Sam.

“Siapa nama orang itu? Apakah ia menyebut namanya pada kalian?” Tanya So Pang kemudian.

Tan Hujin dan A Sam menggeleng.

Waktu So Pang mendesak, A Sam menjelaskan apa yang telah mereka alami, yaitu mereka telah ditolong oleh orang berpakaian serba putih itu, juga menceritakan obat orang aneh berpakaian putih itu sangat manjur.
So Pang menghela napas.

“Aneh! Memang benar apa yang dikatakan kawan-kawanku, bahwa ia seorang aneh yang luar biasa, tapi siapakah dia?”

Dan So Pang menghela napas lagi, setelah memandang ke arah tempat di mana tadi orang aneh berpakaian serba putih itu pergi. Iapun pergi ke tempat dari arah mana tadi ia mendatangi. Dan ia melangkah cepat sekali, sekejap mata ia telah lenyap dari pandangan Tan Hujin dan A Sam.

A Sam dan Tan hujin jadi saling pandang satu dengan yang lain, dan akhirnya mereka mengangguk dan mengangkat bahu. Mereka benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi tadi.

Dan melihat apa yang dilakukan oleh orang yang berpakaian serba putih itu, memang luar biasa sekali, sebab ia begitu tenang dan, malah biarpun ia diserang begitu gencar oleh pengemis yang bernama So Pang tersebut kenyataannya ia bisa menghindarkan diri tanpa merobah kedudukan kakinya.

Dan juga waktu ia diserang dengan pukulan yang hebat, mudah saja ia menyentil dengan jari telunjuk tangannya dan So Pang dibuat tidak berdaya. Siapakah sebenarnya orang yang berpakaian serba putih itu, yang mukanya sebagian besar, tertutup oleh kain putih, sehingga tidak bisa dilihat wajahnya dan serba mistertus itu?

<> 

Ya, siapakah orang berpakaian serba putih itu?

Ternyata ia seorang yang benar-benar diselubungi oleh rahasia. Setelah meninggalkan So Pang yang dirubuhkan oleh sentilan jari tangannya, ia menuju ke arah barat.

Gerakan tubuhnya perlahan dan langkah kakinya satu-satu. Tapi kesudahannya buat orang yang melihatnya akan menakjubkan sekali karena tubuhnya seperti juga mengambang di atas salju dan meluncur sangat cepat luar biasa.

Orang berpakaian putih itu memang tidak ingin mencari keributan dengan So Pang jika sedikit lagi saja ia menambahkan tenaga dalamnya. niscaya So Pang akan menerima pelajaran yang lebih pahit lagi. Di samping itu, sedikit saja ia menambah tenaganya, niscaya So Pang akan. terluka di dalam yang tidak ringan.

Dan sekarang ia menuju ke arah barat dengan langkah yang tetap dan seperti terbang melayang di atas salju. Kalau saja orang diwaktu itu melihatnya, niscaya akan menduga bahwa orang ini tidak berjalan, melainkan melayang di atas salju.

Setelah melewati beberapa belas lie, ia berdiam diri sejenak, berdiri tegak dan mengawasi sekitarnya. Sekeliling tempat itu berwarna putih oleh salju, sejauh memandang cuma warna putih yang tampak. Salju juga masih turun, bunga-bunga salju, tampak semakin lebat juga.

Dilihat dari keadaan seperti itu, orang berpakaian serba putih itu mengetahui tentunya hujan salju bukannya semakin redah dan kecil, malah sebaliknya. Akan tambah besar dan lebat.

Setelah menghela napas, ia melanjutkan lagi jalannya. Dan ia pun telah menuju ke arah barat daya. Ia menuju ke kampung Ta-sien, sebuah kampung yang tidak begitu besar. Ia menghampiri sebuah rumah penginapan yang tidak terlalu besar, dan memesan kamar.

Kemudian ia rebah di dalam rumah penginapan itu, ia beristirahat. Dalam cuaca demikian buruk, berdiam diri di dalam kamar rumah penginapan, dengan tubuh diselubungi selimut tebal memang jauh lebih nyaman dibandingkan ketika ia masih berada diperjalanan.

Setelah rebah sejenak, orang yang berpakaian serba putih itu bangun duduk. Ia duduk bersila, mengerahkan tenaga dalamnya, dan meluruskan lweekangnya.

Ia mulai melatih tenaga dalamnya. Dengan melatih tenaga dalam seperti itu akan 1enyap keletihan yang menguasai dirinya.

Dan juga memang ia memiliki sin-kang yang tinggi. Hanya kurang lebih sebakaran satu batang boa, ia sudah bisa memperoleh kesegarannya memulihkan semangatnya.

Selesai melatih sin-kangnya, iapun perlahan-lahan membuka kain putih yang menutupi wajahnya. Luar biasa mukanya itu. Usianya memang masih muda.

Akan tetapi pada sekujur tubuh maupun mukanya sampai ke dagu dan lehernya ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna kuning ke emas-emasan. Keadaan seperti itu benar-benar menakjubkan sekali.

Mungkin itu pula sebabnya mengapa ia selalu menutupi sebagian besar wajahnya dengan kain putih dan tidak mau orang lain melihatnya.

Setelah meletakan kain putih itu di pinggir pembaringan, ia turun dari pembaringan. Menghampiri cermin dan memandangi wajahnya. Lama ia memandangi wajahnya, sampai akhirnya ia menghela napas dalam-dalam. Wajahnya jadi muram.

Dilihat dari bentuk wajahnya, memang ia tidak buruk rupa. Juga tidak terlalu tampan. Tapi, hidung maupun mulutnya lumayan baik bentuknya.

Cuma saja, adanya bulu-bulu kuning memenuhi seluruh wajahnya membuat ia seperti juga seekor kera berbulu kuning. Dan juga mulutnya yang lebar dan agak monyong, memberikan kesan seperti mulut seekor kera.

Mungkin juga keadaannya seperti itu yang membuat ia berkesal hati. Dan ia tampak murung. Duduk di tepi pembaringan. Kemudian menghela napas beberapa kali lagi.

“Kong-kong telah berpesan, bahwa aku harus menemui para paman-paman dan sahabat-sahabat yang akan mendukungku melakukan sesuatu pekerjaan besar….. tapi....... apakah mereka sungguh-sungguh akan membantuku?”

Menggumam pemuda itu, pemuda yang mukanya seperti kera ini mungkin baru duapuluh tahun.

Waktu itu, tampak ia menghela napas lagi. Siapakah sebenarnya pemuda yang keadaan mukanya luar biasa ini, yang seperti muka kera dengan bulu-bulu yang halus kuning memenuhi seluruh muka dan tubuhnya?

Ternyata dia tidak lain dari Kim Lo. Dan ia memang sudah tiba waktunya untuk berkelana.

Selama sembilan tahun ia berlatih ilmu silat yang lebih tinggi dari Oey Yok Su. Di mana selama ini Oey Yok Su bertekad hendak mendidik Kim Lo agar kelak menjadi seorang yang berkepandaian sangat tinggi tanpa tandingan lagi di dalam rimba persilatan!

Sebagai seorang tokoh rimba persilatan yang terkenal sangat ku-koay dan disegani oleh semua orang gagah, Oey Yok Su tentu saja tidak mau kalau Kim Lo memiliki kepandaian biasa saja. Murid yang sudah dianggap sebagai cucunya itu, dididik dengan sebaik-baiknya.

Mungkin juga, dibandingkan dengan apa yang dilakukan Oey Yok Su dulu-dulu, waktu ia mendidik Oey Yong, kepada Kim Lo jauh lebih teliti dan lebih sayang. Karena seluruh perhatiannya benar-benar ditumpahkannya kepada Kim Lo.

Tidak terlalu mengherankan kalau Kim Lo telah memiliki kepandaian yang tinggi sekali, walaupun usianya masih muda. Dan memang ia telah berhasil menguasai seluruh ilmu silat yang diwarisi Oey Yok Su.

Cuma yang masih kurang adalah latihan, mengingat usianya yang masih begitu muda. Juga pengalaman. Karena itu Oey Yok Su telah perintahkan kepadanya buat berkelana, terlebih lagi memang Oey Yok Su ingin memenuhi janjinya pada Ko Tie, Giok Hoa dan Siangkoan Yap.

Juga tentunya pada orang-orang gagah lainnya yang telah diberitahukan oleh Ko Tie begitu, bahwa pada tanggal limabelas bulan tujuh mendatang, Kim Lo akan mencari mereka, menemui untuk minta dukungan mereka, guna melakukan sesuatu pekerjaan besar. Dan mereka akan bertemu di Yang-cung, dusun kecil itu.

Kim Lo telah memenuhi perintah Kong-kongnya itu. Telah dua bulan ia meninggalkan pulau Tho-hoa-to, dan ia menuju ke tempat yang ditentukan oleh Oey Yok Su beberapa waktu yang lain, yaitu dusun kecil Yang-cung.

Perjalanan yang dilakukan Kim Lo sesungguhnya perjalanan yang kurang menyenangkan karena waktu itu telah tiba musim dingin dan karenanya telah membuat ia kurang gembira. Hujan salju yang berkepanjangan membuat perjalanan itu dilakukannya agak lambat.

Memang benar, salju tidak membuat kesukaran buat Kim Lo, karena ia sudah memiliki sin-kangnya buat menghangatkan tubuhnya melawan hawa dingin.

Musim dingin yang datang lebih cepat dari biasanya ini, merupakan musim dingin yang benar-benar buruk sekali. Dan Kim Lo tetap melakukan perjalanan, dengan menutup sebagian mukanya dengan kain putih, karena ia tidak mau kalau sampai timbul kerewelan dalam perjalanannya, di mana orang-orang yang melihat bentuk mukanya yang berbulu itu tentu akan banyak tanya dan juga memandanginya dengan keadaan yang sangat menjengkelkannya.

Karena dari itu telah membuat Kim Lo mengaturnya sebaik-baiknya. Jika memang dapat ia tidak akan memperlihatkan mukanya pada siapa pun juga.

Pakaiannya yang serba putih itu, merupakan warna paling disenanginya, karena memang ia menyukai warna putih. Dan salju yang sepanjang perjalanannya dilihat merupakan apa yang disenangi. Cuma saja, justeru kesepian yang ada di dalam perjalanan itulah yang membuat Kim Lo jadi kurang gembira.

Sedangkan selama dalam perjalanan, Kim Lo juga turun tangan menolong orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Bukan sekedar orang-orang yang ditindas oleh penjajah, tapi orang-orang yang membutuhkan tenaganya buat urusan lainnya.

Seperti yang dialami Tan Hujin, dimana tampak Kim Lo telah turun tangan tanpa diminta, buat menolongi mereka, menolong orang she Tan dari sakitnya, dan memberi obatnya.

Banyak orang yang menduga-duga, entah siapa orang berpakaian serba putih ini. Tapi sama sekali tidak ada yang menduga bahwa wajah yang ada dibalik kain putih itu sesungguhnya wajah seorang pemuda yang baru berusia duapuluh tahun.

Mereka umumnya menduga orang yang selalu berpakaian putih itu adalah seorang tokoh persilatan ternama, yang sementara itu tidak mau memperhatikan dirinya.

Dan karena itu, mereka semakin yakin dengan kepandaian yang diperlihatkan Kim Lo, bahwa orang yang berpakaian serba putih itu adalah tokoh persilatan yang sangat terkenal.

Kim Lo sendiri jika tidak dalam keadaan terpaksa dan terpojokkan sekali, ia tidak pernah mau memperlihatkan ilmu silatnya, seperti yang kita ketahui. Ketika So Pang mendesaknya terus menerus, sampai akhirnya ia mempergunakan ilmu It-yang-cie untuk merubuhkan So Pang dengan hanya satu sentilan jari telunjuk saja.

Untuk bicara soal kepandaian yang sudah dimiliki Kim Lo, mungkin dijaman itu sudah tidak ada orang kedua yang bisa menandinginya. Cuma saja Kim Lo masih kurang pengalaman dan juga latihan.

Semua ilmu yang diwarisi oleh Oey Yok Su merupakan ilmu silat tingkat tinggi yang hebat-hebat dan jarang sekali ada yang memilikinya. Karena ilmusilat tocu pulau Tho-hoa-to merupakan ilmu silat yang benar-benar sangat dahsyat.

Seperti kita ketahui, dulu Oey Yok Su terhitung satu dari lima jago luar biasa di daratan Tiong-goan. Kita bisa membayangkan, betapa ilmu silat yang diwarisi Oey Yok Su pada Kim Lo merupakan ilmu yang hebat bukan main.

Sedangkan pada puteri kandungnya sendiri Oey Yong, tak pernah Oey Yok Su menurunkan ilmu silatnya keseluruhan, mungkin Oey Yong yang pendekar wanita yang sangat lihay cuma menguasai tiga bagian dari ilmu silatnya.

Lalu sekarang pada Kim Lo disebabkan rasa kasihan dan iba terhadap nasib anak ini, Oey Yok Su telah mewarisi seluruh kepandaiannya. Dan memang ia merupakan suatu keberuntungan yang tidak kecil buat Kim Lo sendiri.

0 Response to "Pendekar Aneh Seruling Sakti Jilid 41-50"

Post a Comment