Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 19

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 19

Muka Siauw Kwie semakin berobah merah padam, ia bilang dengan sikap tetap galak: “Tidak perlu banyak bertanya, sekarang engkau harus melaksanakan perintahku, kutungkan lenganmu, jika tidak, aku yang akan bertindak mengambil jiwamu!”

Melihat sikap Siauw Kwie kurang ajar dan galak seperti itu terhadap gurunya membuat Ko Tie yang jadi gusar dan mendongkol, ia melangkah maju sambil katanya: “Suhu!”

Tapi cepat sekali Swat Tocu telah menggerakkan tangannya, katanya: “Jangan, kau berdiri saja menyaksikan dari sana! Menarik sekali wanita ini sungguh galak namun sangat cantik!”

Ko Tie tidak berani membantah perintah gurunya, segera ia berdiri di pinggir di luar gelanggang, buat menyaksikan saja, padahal hatinya panas sekali karena melihat kekurang ajaran Siauw Kwie.Ia berdiri di samping Giok Hoa, yang waktu itu berdiri dekat di sisi kanannya.

Tampaknya gadis ini lebih tenang dibandingkan dengan tadi, karena sekarang telah dilihatnya, bahwa Swat Tocu memang tidak mempersulit gurunya, dan malah membela gurunya. Sekarang tengah menghadapi Siauw Kwie karena dari itu, senang hati Giok Hoa, sehingga ia melirik kepada Ko Tie sambil tersenyum.

Kebetulan waktu itu memang Ko Tie tengah mengawasi si gadis, sehingga mata mereka bertemu, membuat pipi si gadis berobah merah dan terasa panas. Ia cepat-cepat membuang pandang ke arah lain.

Ko Tie juga segera memandang lagi ke gelanggang, karena ia ingin melihat apa yang hendak dilakukan gurunya terhadap Siauw Kie.

Waktu itu Swat Tocu sambil tersenyum tenang berkata kepada Siauw Kwie: “Sesungguhnya apa yang kau inginkan? Apakah tanganku ini cukup menarik, sehingga kau perintahkan aku membuntungi tanganku ini? agar dapat kau ambil dan menyimpannya baik-baik?”

Muka Siauw Kwie jadi tambah merah padam karena marah yang meluap, ia berkata dengan suara yang penuh kegusaran:

“Baik! Baik! Rupanya engkau sengaja hendak mempermainkan aku! Walaupun aku tahu, engkau adalah Swat Tocu yang diagul-agulkan kepandaianmu di dalam rimba persilatan, namun aku justeru ingin sekali melihat dan membuktikan sendiri sebelum mengagumimu!”

Setelah berkata begitu, cepat luar biasa tangan kanan Siauw Kwie bergerak ke punggungnya. Tahu-tahu dia telah mencekal gagang pedangnya yang terhunus, di mana ia telah melompat gesit sekali, pedangnya berkelebat dalam bentuk gulungan sinar putih menerjang pada Swat Tocu.

Memang Swat Tocu memiliki kepandaian yang tidak jeri berhadapan dengan Siauw Kwie yang tampaknya selain memiliki lwekang yang tinggi, juga ilmu pedangnya tidak boleh dipandang ringan. Karena dari itu, segera juga ia telah bertindak cepat, ia tidak mau memandang enteng, dan telah mengulurkan tangan kanannya, dengan jari telunjuknya disentil pedang itu.

Namun gagal, karena waktu itu pedang Siauw Kwie telah ditarik pulang batal menyerang, dia tidak mau membiarkan pedang kena disentil. Kemudian pedang itu telah berkelebat pula dengan cepat sekali, meluncur akan menikam dada Swat Tocu.

Swat Tocu tersenyum, tubuhnya tahu-tahu berkelebat, pedang itu lewat di sisi ketiaknya, dan disaat itulah tangan kirinya menyampok ke arah muka Siauw Kwie.

Kaget Siauw Kwie menerima serangan yang tidak terduga itu, ia memiringkan kepalanya mengelak. Tapi buat kagetnya yang bertambah juga, dirasakannya angin serangan itu seperti juga es yang membuat pipinya seperti membeku!

Tepat sekali. Swat Tocu digelari sebagai majikan dari Pulau Es, karena ilmu pukulannya itu memang memiliki hawa yang sedingin es, yang bisa membekukan!

Di waktu itu tampak jelas, Siauw Kwie mulai tergetar hatinya. Dia memang telah sering kali mendengar akan kehebatan Swat Tocu, telah sering mendengar juga akan ilmu pukulan Swat Tocu yang luar biasa.

Namun dalam keadaan seperti itu, tentu saja ia menyadari, ia tidak bisa memperlihatkan rasa takutnya, karena hanya akan menurunkan semangat anak buahnya. Maka dia tidak memperlihatkan rasa takutnya, di samping itu memang ia ingin sekali untuk menguji kebenaran berita-berita yang didengarnya mengenai Swat Tocu.

Ia ingin melihat apakah Swat Tocu benar-benar memiliki ilmu yang tinggi dan liehay sekali. Karena dari itu, dia telah melakukan penyerangan.

Namun siapa sangka, begitu bergebrak justeru di waktu itulah dia telah merasakan hebatnya kepandaian dari lawannya ini. Dia berusaha untuk memulihkan ketenangan dirinya dan setelah berdiri diam sejenak, sebelum Swat Tocu berkata, ia telah membarengi dengan terjangan lagi.

Pedangnya bergulung-gulung dalam bentuk sinar putih yang menutupi dan melindungi sekujur tubuhnya. Dengan demikian membuatnya jadi terlindung jika seandainya ada serangan dari luar.

Ujung pedang juga telah melingkar ke sana ke mari mencari sasaran di tubuh Swat Tocu. Sedangkan Swat Tocu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri, ia hanya mengawasi saja datangnya serangan tersebut. Dan di waktu itulah, pedang dari Siauw Kwie telah hampir tiba pada paha Swat Tocu, namun Swat Tocu dengan segera menggeser kakinya, dia berhasil membuat pedang jatuh pada sasaran yang kosong.

Di kala itu, pedang Siauw Kwie tahu-tahu telah naik ke atas, menyontek dengan kuat sekali, dibarengi dengan tenaga dorongan akan menikam dada Swat Tocu. Itulah memang sasaran yang benar-benar sulit dielakkan oleh jago-jago sembarangan.

Namun bagi Swat Tocu, serangan seperti itu tidak berarti apa-apa baginya. Tubuhnya berkelebat, tahu-tahu telah berada di belakang Siauw Kwie. Diulur tangan kanannya maksudnya akan menepuk pundak Siauw Kwie.

Namun Siauw Kwie pun bukan jago sembarangan, dia wanita yang memiliki ilmu liehay. Selama puluhan tahun dengan saudara-saudaranya dia telah berkelana dan berkecimpung menjagoi rimba persilatan, membuatnya dapat mengangkat namanya sangat terkenal sekali.

Sekarang menghadapi Swat Tocu yang memang liehay bukan main, dia mana mau mengalah begitu saja, karenanya, begitu mengetahui Swat Tocu mengelakkan tikamannya itu dengan berkelebat ke belakangnya, dia menyadari bisa saja Swat Tocu melakukan serangan di saat itu. Buat mencegahnya, ia telah membalikkan pedangnya, tanpa memutar tubuhnya, hanya menekuk sepasang kakinya. Dia menabaskan pedangnya ke belakang dengan cepat sekali, sehingga pedangnya itu menyambar menimbulkan sambaran angin yang berkesiuran dingin serta kuat sekali.

Swat Tocu pun agak terkejut melihat kegesitan dan hebatnya ilmu pedang Siauw Kwie sehingga terpaksa ia harus melindungi tangannya, yang ditarik pulang dengan cepat. Kalau tidak tentu akan tertabas kutung oleh sambaran pedang lawannya.

Siauw Kwie telah mempergunakan ilmu pedang Sin-kiam-hwat atau Ilmu Pedang Sakti, di mana setiap jurusnya memiliki perobahan-perobahan yang banyak sekali. Dan juga memiliki perhitungan yang tepat buat menghadapi lawan yang tangguh. Maka setiap kali terancam, dia bisa merobah jurus serangannya dengan segera, dan dia bisa menghadapi Swat Tocu dengan baik.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian telah mencapai tingkat yang tinggi seperti Swat Tocu dan jarang sekali ada orang yang sanggup menandinginya pula, sekarang memperoleh lawan seperti Siauw Kwie, sedikitnya menarik hati Swat Tocu. Dia jadi tertarik buat main-main dengan Siauw Kwie puluhan jurus.

Dan sekarang dia merobah sikapnya. Jika tadi dia hanya berdiam diri dan mengelak dari setiap serangan Siauw Kwie, justeru setelah tangannya diselamatkan dari tebasan pedang lawannya, tubuhnya itu seperti juga bayangan belaka, bergerak sangat lincah sekali, sebentar berada di sebelah kiri atau kanan dari Siauw Kwie. Malah diapun seperti telah mengelilingi Siauw Kwie.

Semula Siauw Kwie agak bingung menghadapi cara penyerangan Swat Tocu yang baru ini, namun segera juga ia bisa mengatasi diri. Dia telah berusaha mengempos semangatnya, sepasang matanya dipentang lebar-lebar, dia telah mengawasi ke arah mana lawannya bergerak dan pedangnya menyambar dengan segera mengandung tenaga menikam yang sangat kuat.

Terlebih lagi memang Swat Tocu tidak mencabut senjata, hanya bertangan kosong belaka, dia jadi semangat sekali mengempos kekuatannya menyerang semakin hebat, pikirnya di dalam hatinya: “Walaupun engkau memiliki kepandaian tinggi, tetapi dengan bertangan kosong seperti itu, jangan harap engkau bisa menghadapi ilmu pedangku!”

Dia telah mempergencar tikamannya, seperti juga hujan pedang belaka ke arah tubuh Swat Tocu.

Swat Tocu sambil melompat ke sana ke mari berkelebat-kelebat seperti bayangan, terdengar tertawa sambil katanya: “Sekarang engkau harus hati-hati karena aku akan segera mulai balas menyerang!”

Di mana tubuh Swat Tocu tiba-tiba sekali mandek, dia telah mengayunkan ke dua tangannya. Gerakannya itu mantap sekali, di saat mata pedang Siauw Kwie tengah menyambar ke arahnya, sehingga mata pedang itu seperti terbentur sesuatu yang kuat sekali, mencong dan beralih ke arah sasaran lainnya, membuat pedang itu juga tergetar sangat keras.

Siauw Kwie terkejut, dia menjejak ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke belakang, karena ia merasakan betapa pedihnya telapak tangannya, sampai pedangnya hampir terlepas dari cekalannya.

Dengan tersenyum Swat Tocu bertanya: “Apakah main-main ini akan dilanjutkan, karena tampaknya engkau masih penasaran? Mari...... mari….. mari kita teruskan. Kemarilah, kita main-main lagi, aku akan menemani.....!”

Sambil berkata begitu Swat Tocu melambaikan tangannya. Jelas itulah sikap mengejek yang membuat Siauw Kwie meluap darahnya.

“Hemmmm, kau jangan sombong tua bangka, karena walaupun engkau memiliki nama yang sangat terkenal, belum tentu engkau bisa merubuhkan aku, Siauw Kwie!” teriaknya sambil bersiap-siap hendak menerjang lagi.

“Ohhhh.......... kiranya Siauw Kwie yang terkenal dengan perkumpulan itu, Lang-kauw?

“Baik! Baik! Bagaimana dengan Sun Kauw-cu? Apakah dia dalam keadaan baik-baik saja?!”

“Hemmmm, rupanya engkau telah mendengar nama besar Lang-kauw!” teriak Siauw Kwie yang terbangun semangatnya, karena ia mengetahui, tentunya Swat Tocu sedikitnya pernah mendengar nama besar Kauw-cunya, maka dari itu, dia telah tambah berani. “Mari, mari kita teruskan main-main ini!”

Swat Tocu tertawa.

“Ya….. memang aku pernah mendengar perihal Lang-kauw, yang mengganas dan sekarang ini semakin menggila dengan perbuatan kejam perkumpulan tersebut! Aku justeru hendak mencari Kauw-cu Lang-kauw, buat memberantasnya!”

Waktu itu Siauw Kwie tidak memperdulikan ejekan Swat Tocu, melainkan pedangnya dengan sinarnya yang keperak-perakan telah menyambar dengan cepat sekali, seperti juga kilat, mendesir menimbulkan kesiuran angin yang dingin sekali, menyambar kepada ulu hati Swat Tocu.

Di kala itu Swat Tocu sendiri masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak, karena memang dia tengah mengawasi wanita berbaju merah ini, buat melihat berapa tinggi sesungguhnya kepandaian yang dimiliki Siauw Kwie, karena memang Swat Tocu telah pernah mendengar akan diri Siauw Kwie, salah seorang di antara sembilan Kwie lainnya yang sangat hebat kepandaiannya. Membuat Swat Tocu tidak mau sembarangan dalam turun tangan.

Dia tidak mau menanam permusuhan dengan Siauw Kwie. Dan juga memang Swat Tocu belum mengetahui apakah saudara-saudara Siauw Kwie yang lainnya berada di sekitar tempat itu, dan ia harus memelihara tenaga.

Memang kepandaiannya lihay dan terlatih mahir sekali, dengan sin-kang yang telah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Tetapi menghadapi Siauw Kwie terdapat kesulitan apa-apa, jika memang semua saudara Siauw Kwie muncul dan mengeroyoknya itulah lain urusan.

Waktu itu pedang Siauw Kwie menyambar dengan hebat sekali, tenaga sin-kang yang disalurkan pada ujung pedangnya menimbulkan angin yang tajam sekali. Di samping itu ujung pedang tergetar, seperti juga pedang tersebut telah berobah menjadi puluhan batang dan sasaran yang diincarnya jadi sulit sekali diterka. Itulah keistimewaan Sin-kiam-hwat. Karenanya Swat Tocu mementang matanya mengawasi cermat sekali.

Waktu serangan telah dekat, dia berkelit sambil mengibaskan lengan bajunya. Gerakan yang dilakukannya begitu cepat dan mengandung kekuatan sin-kang yang hebat membuat Siauw Kwie satu kali lagi harus melompat mundur, karena dia terdorong oleh suatu kekuatan yang dingin, menggigilkan tubuh.

Bukan kepalang penasaran dan kaget Siauw Kwie, karena dia tidak tahu ilmu apa yang dipergunakan Swat Tocu. Setiap kali dia mempergunakan tenaga dalamnya, akan mendatangkan rasa dingin yang begitu hebat di samping sangat kuat sekali! Dia seperti berada di sekeliling es yang bisa membekukan darah di sekujur tubuhnya!

Sekali ini Siauw Kwie ragu-ragu buat menerjangnya lagi, karena telah dua kali ia melihat, begitu Swat Tocu mengerahkan tenaga dalam dan menyerangnya, dia terdorong hebat dan juga diterjang oleh hawa dingin yang luar biasa hebatnya yang seperti bisa membekukan tubuhnya. Dia memperhitungkannya tidak mau Siauw Kwie berlaku nekad.

Setelah memandang sejenak lamanya kepada Swat Tocu dengan mata memancarkan kemarahan dan penasaran, Siauw Kwie berkata dengan marah:

“Baiklah, rupanya kali ini aku tidak dapat menghukummu, tetapi Lang-kauw tidak akan menghabisi urusan ini sampai di sini saja...... Kami akan datang mencarimu suatu saat kelak engkau harus menerima hukuman dari Lang-kauw!”

Waktu berkata begitu, Siauw Kwie bermaksud hendak memutar tubuhnya, karena ia ingin meninggalkan tempat itu, guna mengajak anak buahnya berlalu, dia berpikir, tidak ada manfaatnya jika dia bertempur terus melayani Swat Tocu. Namun belum lagi dia menggeser kedudukan kakinya dan belum memutar tubuhnya, justeru diwaktu itu terdengar suara orang yang bernina bobo:

“Tidurlah anakku sayang….. tidurlah,
ibu akan menemanimu,
nanti ibu akan memetikkan buah,
menangkap burung buat engkau bermain,

Sekarang engkau tidurlah manis……,
tidurlah yang nyenyak,
karena besok engkau akan bermain lagi dengan riang……
tidurlah anak sayang.......”

Senandung itu disenandungkan seorang wanita, yang suaranya sangat bening sekali.

Mendengar suara senandung itu, wajah Siauw Kwie tiba-tiba berobah menjadi cerah dan terang, karena dia menjadi girang sekali.

“Tok-kui-sin-jie (Setan Racun dengan Anak Sakti) Khiu Bok Lan!” Berseru Siauw Kwie dengan suara yang nyaring, memperlihatkan kegirangan hatinya yang meluap-luap.

Swat Tocu sendiri mengerutkan sepasang alisnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara senandung itu, demikian juga Ko Tie, Giok Hoa dan yang lainnya, telah menoleh ke tempat dari mana datangnya suara senandung tersebut. Cuma bedanya, anak buah dari Siauw Kwie memperlihatkan kegirangan bukan main, seperti juga mereka telah kedatangan seorang yang sangat mereka andalkan!

Dari arah sebelah kanan, di balik dari batu-batu gunung yang bertonjolan dan diselimuti oleh tumpukan salju, tampak melangkah ke luar seorang wanita. Usianya telah setengah baya, namun wajahnya masih cantik dan ia bersolek sangat jelita sekali.

Di punggungnya tampak tersembul gagang pedang yang berkilauan kekuning-kuningan, pakaiannya sangat reboh sekali. Rambutnya disanggul dua, dan yang luar biasa, di tangannya tampak dia menina-bobokan sesuatu. Bukan seorang anak, melainkan sebatang pohon yang dipahat kasar dalam bentuk seperti seorang anak kecil!

Menyaksikan sikap dan kelakuan wanita itu, yang melangkah keluar mendatangi ke tempat Siauw Kwie berada, rupanya wanita ini tidak beres pikirannya alias sinting. Karena batang kayu yang digendongnya itu digoyang-goyangkan, seperti juga dia tengah menina-bobokan seorang anak kecil dengan penuh kasih sayang dan sangat memanjakannya. Begitu merdu suaranya, halus dan lembut sekali, penuh kasih sayang seorang ibu.

Siapakah wanita aneh ini yang tampaknya sinting? Tentu para pembaca telah dapat menduganya siapa dia!

Benar! memang dia tidak lain dari Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan, wanita sinting yang selalu membawa-bawa mayat anaknya. Sayang sekali mayat anaknya telah dibanting oleh Ko Tie, sehingga rusak, dan akhirnya dikubur.

Dan sebagai gantinya, dia telah memahat kasar sepotong batang kayu, yang dinina-bobokan digendong-gendong kemana saja dia pergi. Dia memperlakukan potongan kayu itu seperti juga menghadapi anaknya masih hidup!

Mengerikan dan terkadang mendirikan bulu roma bagi orang yang sempat menyaksikan tingkah laku Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan tersebut. Swat Tocu sendiri yang melihat kelakuan wanita itu jadi mengerutkan kening dan sepasang alisnya dalam-dalam.

Ko Tie yang melihat munculnya Tok-kui-sin-jie jadi kaget tidak terkira. Wajahnya berobah hebat, karena dia teringat waktu kecil dulu dia pernah jatuh di dalam tangan wanita ini dan dipaksa menjadi penina-bobo mayat anak wanita sinting tersebut.

Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan telah berhenti bernyanyi, dia memandang sekelilingnya. Pertama-tama dia memandang Siauw Kwie, dia tersenyum dan Siauw Kwie juga dengan muka berseri-seri tersenyum lebar.

Kemudian Tok-kui-sin-jie telah menoleh kepada Swat Tocu, lalu dia menggumam: “Hemm, tua bangka tidak menarik! Sungguh memuakkan melihat kau!”

Dan tahu-tahu Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan memberikan potongan kayu yang digendong-gendongnya itu kepada Siauw Kwie. Kemudian dengan langkah lebar, dia menghampiri Swat Tocu, bola matanya terbuka lebar, memancarkan sinar yang sangat mengerikan sekali.

“Hati-hati Suhu…… dia wanita sinting!” teriak Ko Tie, yang sangat menguatirkan gurunya.

Giok Hoa dan gurunya melihat wanita sinting tersebut juga jadi bergidik. Biarpun cantik tetapi di tubuh Tok-kui-sin-jie tersebut memancarkan hawa yang sangat menakutkan sekali, sehingga membuat orang merasa seram sekali, seperti terdapat sesuatu kekuatan yang aneh dan agak mistik.

Sedangkan Swat Tocu tersenyum tenang saja, dia hanya merasa kasihan melihat keadaan wanita sinting itu. Mendengar peringatan muridnya, dia hanya mengangguk.

Tidak demikian halnya dengan Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan, karena tiba-tiba sekali dia menahan langkah kakinya, memutar tubuhnya, menoleh kepada Ko Tie. Bola matanya memain sejenak, lalu wajahnya yang bengis itu berobah menjadi lunak dan lembut sekali. Dia tersenyum manis, sambil menghampiri Ko Tie.

“Anak yang manis, engkau sekarang telah besar dan dewasa! Anak manis! Anak manis! Sekarang engkau telah menjadi pemuda yang gagah..... anak manis, ke mari dekat pada ibu! Mari nak!”

Sambil berkata begitu, Tok-kui-sin-jie melangkah menghampiri ke arah Ko Tie, sikapnya seperti juga wanita sinting ini tengah berhadapan dengan puteranya yang dianggapnya telah menjelang dewasa, pemuda tampan yang gagah. Mengkirik Ko Tie melihat sikap wanita sinting itu, sedangkan kakinya tanpa dikehendaki jadi melangkah mundur dua tindak.

Memang Ko Tie yang sekarang ini bukan Ko Tie yang dulu, yang akan menurut saja apa yang dikatakan Bok Lan. Dia sekarang telah memiliki kepandaian yang tinggi, menjadi murid Swat Tocu dan memperoleh gemblengan yang sangat baik sekali. Namun melihat sikap sinting Bok Lan justeru dia tetap saja menggidik ngeri dan timbul perasaan seramnya, sehingga dia jadi mundur dua langkah ke belakang tanpa dikehendakinya.

“Mari! Ke marilah nak, dekatlah kepada ibu!” panggil Bok Lan sambil melambaikan tangannya.

“Pergi….. jangan mendekati aku!” teriak Ko Tie dengan suara tergetar.

Entah mengapa menghadapi wanita sinting ini, tergetar hati Ko Tie, sebab walaupun bagaimana ia telah mengetahui bahwa wanita ini sinting dan juga telah membekukan mayat anaknya, yang selalu dibawa-bawanya. Dan Ko Tie pernah menggendong anak wanita sinting ini, dalam bentuk mayat yang telah dibekukan. Dengan demikian membuat Ko Tie selalu merasa ngeri dan seram jika melihat wanita sinting tersebut.

Waktu itu jarak antara Bok Lan dengan Ko Tie tidak terlalu jauh lagi. Swat Tocu sendiri membiarkan Bok Lan menghampiri muridnya.

Dia justeru hendak melihat apa yang ingin dilakukan oleh Bok Lan, sehingga dia hanya berdiri dengan tersenyum-senyum saja mengawasi dengan keadaan bersiap sedia. Jika memang muridnya membutuhkan pertolongannya, barulah dia akan turun tangan buat menolonginya.

Bok Lan tiba-tiba tertawa bergelak, katanya: “Sangat girang hatiku melihat engkau telah menjadi besar dan gagah seperti sekarang ini..... mari anak, mari ke dekat ibu, anakku. Ibu ingin memelukmu….. ibu telah rindu sekali padamu!”

Dan wanita sinting itu bukan hanya sekedar memanggil-manggil belaka, sebab tubuhnya tahu-tahu telah melesat, menubruk akan memeluk Ko Tie.

Bukan main kaget dan ngerinya Ko Tie, ia sampai mengeluarkan seruan tertahan, keringat dingin telah keluar dari kening dan tubuhnya, dia berkelit menghindar dari tubrukan Bok Lan. Benar gerakan Bok Lan sangat cepat, namun Ko Tie lebih cepat lagi menghindar, sehingga Bok Lan tidak berhasil memeluknya.

“Eh..... anakku, gesit sekali kau!” kata Bok Lan sambil tertawa.

Sama sekali dia tidak marah atau kurang senang, malah tampaknya dia girang sekali, seperti tengah bermain-main dengan anaknya riang sekali.

Ko Tie kewalahan juga, tiga kali Bok Lan mengulangi tnbrukannya hendak merangkulnya.

Giok Hoa yang melihat Ko Tie begitu panik selalu menghindar dari tubrukan Bok Lan tidak bisa menahan tertawanya. Dia geli sekali dan beranggapan itulah urusan yang lucu sekali, lenyap perasaan seramnya.

Bahkan gadis ini, yang memang memiliki perasaan halus, segera merasa berkasihan kepada Bok Lan. Karena dia beranggapan Bok Lan tentu menjadi sinting karena mengalami sesuatu pada diri puteranya, sehingga setiap kali melihat anak kecil atau pemuda yang baru meningkat dewasa, dianggap sebagai anaknya.

Yo Kouw-nio, guru Giok Hoa, menghela napas berulang kali. Dia telah mengetahui siapa adanya Bok Lan, iblis sinting yang sangat berbahaya sekali, dengan kepandaiannya yang sangat tinggi.

Sekarang dia muncul disini, tampaknya Bok Lan memiliki hubungan baik sekali dengan Lang-kauw. Karena dari itu, rupanya Yo Kouw-nio memang akan menghadapi urusan yang tidak ringan, tampaknya Lang-kauw memiliki banyak sekali orang pandai yang memiliki kepandaian sangat lihay.

Di kala itu, Ko Tie tengah sibuk, dua kali mengelakkan lagi tubrukan dari Bok Lan, dan pemuda ini yang telah jadi begitu jijik dan menggidik ngeri, berulang kali berseru:

“Suhu..... Suhu..... bagaimana ini?!”

Swat Tocu tertawa melihat muridnya jadi panik seperti itu, dia bilang dengan suara nyaring dan tetap tidak bergerak dari tempatnya berdiri:

“Mengapa engkau jadi bingung seperti itu? Apakah selama ini engkau kudidik buat menjadi seorang pemuda pengecut seperti itu?!”

Ditegur seperti itu barulah Ko Tie tersadar, segera juga ia mentertawai dirinya yang bodoh sekali. Dia sekarang ini bukan Ko Tie yang dulu, yang harus takut kepada wanita sinting ini. Bukankah sekarang dia telah memiliki kepandaian yang tinggi digembleng oleh gurunya yang memang liehay itu, dia bisa saja menghadapi Bok Lan dengan baik.

Dan segera juga Ko Tie berhenti melompat ke sana ke mari menghindar dari tubrukan Bok Lan. Dia malah berdiri tegak dan menantikan Bok Lan menubruknya lagi.

Dan Bok Lan memang telah menjejak ke dua kakinya, tubuhnya melesat sangat cepat dan gesit sekali. Sambil tertawa-tawa dia terus mengoceh:

“Ke mari anakku..... ke mari..... mengapa engkau terus menghindar dari ibu? Ibu sudah sangat rindu sekali padamu! Ke marilah anakku..... kemarilah, ibu hendak memelukmu!”

Tubuh Bok Lan gesit luar biasa telah tiba di dekat Ko Tie dengan sepasang tangan yang terulurkan hendak merangkul. Tampaknya dia girang sekali, karena kali ini dirasakannya bahwa rangkulannya akan berhasil. Sebab Ko Tie tidak bergerak dari tempatnya berada, sama sekali pemuda itu tidak berusaha menghindar dari maksud Bok Lan yang ingin memeluknya dengan mesra, penuh kasih sayang dari seorang ibu.

Ko Tie telah mementang matanya, hatinya masih agak berdebar. Namun dia tidak berusaha menghindar, hanya saja begitu melihat sepasang tangan Bok Lan hampir tiba terulurkan padanya, dia menyampok dengan tangan kanannya.

Ko Tie menyampok bukan sembarangan menyampok, sebab tangannya itu telah disertai tenaga sin-kang yang mengalir pada telapak tangannya. Begitu dia menyampok, seketika serangkum angin yang kuat sekali menerjang kepada Bok Lan, membuat Bok Lan kaget tidak terkira, karena tahu-tahu tubuhnya telah tersampok dengan hebat. Dia memang tidak menyangka sama sekali akan disampok seperti itu sehingga tubuhnya jadi terpental.

Bok Lan benar-benar liehay walaupun dia disampok seperti itu tanpa menduga sebelumnya namun dia tidak sampai terbanting di tanah karena begitu tubuhnya terpental dan melambung ke tengah udara, segera juga dia berjumpalitan sehingga dia bisa hinggap di atas tanah dengan ke dua kaki terlebih dulu. Dia memandang dengan sepasang mata terpentang lebar-lebar.

“Anakku….. engkau begitu tega hati menolak pelukan ibumu......... dan telah membuat ibu terpental seperti ini? Ohhh, anakku, engkau tega terhadap ibumu? Tahukah engkau bahwa ibu telah merindukan engkau selama ini, telah disiksa oleh perasaan rindu itu….. kemarilah anakku, marilah anakku.....!”

Dan sama sekali Bok Lan tidak marah disampok seperti itu, malah mukanya memperlihatkan dia sedih sekali. Dia menghampiri sambil mengulurkan ke dua tangannya, bermaksud memeluk lagi pada Ko Tie.

Kembali jiwa Ko Tie tergoncang dengan hati yang berdebaran terus-menerus, karena dia menggidik lagi, melihat wajah wanita sinting itu, yang memancarkan suatu kekuatan mistik yang menakutkan dan menjijikan. Terlebih lagi jika Ko Tie teringat bahwa wanita ini adalah seorang wanita sinting, membuat dia tambah menggidik dan jadi surut dengan langkahnya ke belakang dua tindak.

“Pergi......aku bukan anakmu...... pergi! Jangan dekati aku!” akhirnya Ko Tie berseru seperti itu.

Dia sebetulnya tidak tega juga jika harus mengerahkan tenaga dan kekuatan sin-kangnya sepenuh-penuhnya, yang pasti akan bisa mencelakai wanita sinting itu. Yang membuat Ko Tie tidak tega melihat wajah Bok Lan yang begitu sedih, maka dia hanya mengusir saja!”

Namun Bok Lan justeru jadi menangis, sambil perlahan-lahan menghampirinya.

“Anakku….. ohhhh, benar-benar engkau begitu tega mengusir ibumu? Ohhh, apakah engkau ingin menjadi seorang anak yang tidak berbakti, seorang anak durhaka terhadap orang tuamu?

“Mari, mari, ibu sudah rindu sekali, kemari nak….. Berikanlah kesempatan pada ibu buat merangkul satu kali saja kepadamu, melepaskan rindu ibu.........!”

Ngiris hati Ko Tie, namun dia mana mau membiarkan dirinya dirangkul wanita sinting itu? Karenanya segera juga dia menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat ke belakang sejauh tiga tombak lebih menjauhi Bok Lan. Begitu kakinya menyentuh tanah, segera dia menjejak lagi, tubuhnya telah melesat lagi ke belakang, karena memang Ko Tie bermaksud hendak menjauhi Bok Lan.

Melihat Ko Tie melompat terus menerus seperti itu, Bok Lan jadi menangis menggerung-gerung, katanya: “Anakku…… ooooohhhh anakku, mengapa engkau begitu kejam?!” Sambil menangis seperti itu, dengan air mata yang mengucur deras sekali, tubuh Bok Lan berkelebat buat menyusuli Ko Tie.

Menyaksikan sikap wanita sinting itu, semua orang jadi ngiris hati, terlebih lagi Giok Hoa dan Yo Kouw-nio yang tidak mengerti, mengapa wanita sinting seperti Bok Lan justeru memiliki ilmu silat dan sin-kang yang tinggi sekali?

Di waktu itu, Yo Kouw-nio sendiri menggidik jika harus maju menghadapi wanita sinting itu. Terlebih lagi Giok Hoa, gadis ini siang-siang sudah merasa ngeri, lenyap rasa lucunya, dan dia mengawasi dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar kepada Ko Tie yang tengah berusaha menjauhi diri dari Bok Lan, di mana Giok Hoa tergetar hatinya, karena kuatir sekali kalau-kalau sampai Ko Tie kena dirangkul oleh wanita sinting itu. Dalam keadaan menangis seperti itu tampaknya Bok Lan jadi menakutkan sekali.

Hati Ko Tie juga mengkeret, dia telah berseru dengan panik: “Jika engkau tetap mendekati aku, jangan mempersalahkan aku jika aku menyerang dirimu…..!”

Sambil berkata begitu, dengan sikap mengancam, tampak Ko Tie telah mempersiapkan kekuatan tenaga sin-kangnya pada ke dua kepalan tangannya. Dia bersiap-siap menyerang Bok Lan memaksa hendak memeluknya.

Sedangkan Siauw Kwie berulang kali memperdengarkan suara tertawanya. Dia bilang: “Baru dipeluk saja mengapa harus begitu panik? Sudah, biarkan Tok-kui-sin-jie memelukmu, bukankah enak dan sedap dipeluk seorang wanita cantik seperti dia......?”

Bukan main mendongkolnya Ko Tie, jika dapat, dia sesungguhnya bermaksud hendak menampar mulut Siauw Kwie. Di waktu itu dilihatnya Bok Lan telah mendatangi dekat sekali, dan tidak ada jalan lain buat Ko Tie selain menyerangnya.

Dia kali ini telah menghantam dengan ilmu pukulan Inti Esnya, sehingga angin pukulannya itu dingin bukan main, seperti akan membekukan tubuh Bok Lan.

Bok Lan sendiri tidak menyangka dirinya akan diserang dengan pukulan yang aneh itu. Dia tadinya menyangka paling tidak pemuda itu akan memukulnya dengan kekuatan tenaga dalam dan membuat dia terpental.

Karena rasa rindu terhadap anak, membuatnya jadi tidak memperdulikan jiwanya bisa terancam. Tetapi dia jadi kaget tak terkira waktu merasakan angin serangan itu dingin sekali, seperti juga menyambarnya es, dan membuat darah di sekujur tubuhnya seperti membeku. Disamping itu, sampokan angin serangan tangan Ko Tie kuat sekali, kuda-kuda ke dua kakinya mulai tergoyahkan, dan dia akan terpelanting.

Beruntung bahwa Bok Lan memang memiliki latihan lweekang yang kuat sekali, sehingga dia bisa mengerahkan lweekangnya buat memperkokoh kuda-kuda kakinya, di mana ia telah berusaha berdiri tetap di tempatnya. Kembali dia jadi kaget.

Sekujur tubuhnya diselubungi oleh lapisan salju yang tipis sekali, sampai rambutnya juga terbungkus oleh lapisan salju yang tipis! Dingin sekali!

“Ihhh!” Bok Lan berseru tertahan, dan matanya telah memandang Ko Tie dengan tajam sekali, tampaknya dia seperti baru tersadar dari sintingnya, karena dia segera berkata.

“Oh pemuda yang tangguh, rupanya engkau bukan anakku..... kau bukan anakku……!”

Dan dia mengerahkan sin-kangnya membuat tubuhnya panas. Lapisan salju yang tipis itu segera mencair, dan cepat sekali, tanpa menanti semua salju tipis di tubuhnya mencair, dia melesat dan menghantam dengan telapak tangan kanannya.

Ko Tie menangkisnya.

“Dukkk, dukkk, dukkk, dukkk!” empat kali tangan mereka saling membentur dengan keras sekali, dan tubuh Ko Tie jadi tergoncang keras.

Beruntung Ko Tie telah menerima gemblengan yang sangat baik dari Swat Tocu, dia bisa menguasai tubuhnya dengan segera. Dan dia malah balas menghantam dengan tangan kirinya, memaksa Bok Lan harus menangkisnya.

“Dukkk, dukkk!” dua kali terdengar suara benturan tangan mereka.

Tubuh Bok Lan tahu-tahu telah melesat ke tengah udara, dia juga telah mengayunkan tangan kanannya ke pundaknya, tahu-tahu dia telah mencekal pedangnya. Sinar kuning keemas-emasan menyambar bergulung-gulung kepada Ko Tie dengan cepat sekali.

Ko Tie terkesiap, itulah hebat, karena ilmu pedang Bok Lan tidak rendah. Sedangkan dia bertangan kosong. Namun dia tidak jeri, dan kini juga memaklumi, gurunya berada di tempat tersebut, berarti dia tidak boleh memperlihatkan kelemahannya. Jika saja dia sampai rubuh di tangan Bok Lan, jelas akan membuat dia malu, pun akan membuat gurunya tidak puas.

Karena dari itu, segera juga tubuh Ko Tie berkelebat beberapa kali, tahu-tahu tangan kanannya telah menyambar dengan sebat sekali ke arah pinggangnya. Diapun telah mencabut pedangnya.

Dengan pedangnya dia mengadakan perlawanan. Terdengar suara benturan kedua pedang itu yang nyaring.

Girang Swat Tocu melihat muridnya bertempur melawan Bok Lan, sehingga dia semakin anteng menyaksikan jalannya pertempuran itu karena ingin sekali mengetahui sudah berapa tinggi kepandaian yang dimiliki muridnya tersebut, dan berapa banyak kemajuan yang telah dicapai muridnya. Malah Swat Tocu sambil tersenyum-senyum girang, telah duduk bersila di atas tumpukan es!

Di kala itu Bok Lan seperti sudah mengetahui bahwa Ko Tie bukan anaknya, walaupun dia masih mengoceh tidak keruan, tetapi dia sama sekali tidak memperlihatkan sikap ingin bersikap lembut kepada Ko Tie. Malah pedangnya itu menyambar-nyambar dengan cepat dan dahsyat sekali, seperti juga Bok Lan tengah merangsek dan menyerang seorang musuh besarnya!

Pedangnya itu menimbulkan sinar bergulung-gulung mengurung Ko Tie, sehingga Ko Tie mati-matian mengerahkan seluruh kepandaian ilmu pedang yang dipelajarinya buat menghadapi setiap serangan lawannya yang sinting ini.

Memang benar Bok Lan tidak boleh dipandang remeh, karena ilmu pedangnya itu lebih liehay dibandingkan dengan ilmu pedang Siauw Kwie!

Hebat setiap serangannya, tikaman maupun tabasannya, karena dia selalu mengincar bagian-bagian yang mematikan dan berbahaya di tubuh Ko Tie.

Sedangkan Ko Tie sendiri memutar pedangnya itu bergulung-gulung rapat sekali melindungi tubuhnya. Begitu cepatnya dia memutar pedangnya tersebut, sehingga seperti juga setitik air sulit menembusi pertahanannya.

Berulangkali pedang mereka saling bentur dan berulang kali pula terdengar seruan kaget dari Bok Lan, karena sering juga Ko Tie membarengi menangkis dan menikam dengan serangan yang tiba-tiba, membuat Bok Lan, biarpun bisa menghindarkan tikaman itu, tokh dia menjadi kaget.

Bok Lan terus merangsek semakin hebat, wanita sinting ini semakin lama bertempur semakin kalap.

Sedangkan Swat Tocu melihat, biarpun ilmu pedang yang dipergunakan Ko Tie tidak berada di bawah keampuhan ilmu pedang Bok Lan, namun pengalaman yang masih kurang dari Ko Tie, membuat pemuda itu seringkali terdesak.

“Hemm, biarlah aku memisahkan.....!” pikir Swat Tocu kemudian, karena dia berpikir jika membiarkan Ko Tie terus lebih lama menghadapi wanita sinting itu, kemungkinan suatu waktu nanti Ko Tie akan terluka di mata pedang lawannya.

Segera juga, tanpa bangkit dari bersilanya, Swat Tocu telah menjejakkan kakinya itu, dalam keadaan semedhi tubuhnya melesat ke tengah udara diiringi dengan siulannya yang nyaring. Dan waktu tubuhnya melambung ke tengah udara dalam sikap bersemedhi, ke dua tangannya bergerak saling susul menyerang kepada Bok Lan.

Hantaman dari tengah udara sebetulnya merupakan pukulan yang mirip dengan ilmu pukulan Pek-kong-ciang atau Memukul Udara Kosong. Namun disebabkan yang melakukan pukulan itu adalah Swat Tocu maka menjadi lain, jadi sangat hebat sekali. Angin pukulannya itu mengandung hawa dingin bukan main, seperti gumpalan es belaka.

Bok Lan yang tengah sengit menikam dan menabas kepada Ko Tie dengan desakan tidak hentinya, kaget waktu merasakan dari belakangnya menyambar angin yang dingin sekali di samping sangat dahsyat. Dia bukan menangkis dengan pedangnya, hanya saja dia segera menarik pulang pedangnya itu kemudian dia menjejakkan sepasang kakinya, tubuhnya mencelat dengan gesit sekali, membuat pukulan Swat Tocu jatuh di tempat kosong.

Ko Tie yang tidak diserang lagi lawannya, segera menjejakkan kakinya, dia melompat mundur menjauhi diri dan bisa bernapas lega!

Ketika melihat gurunya telah turun tangan, dia girang dan merasa lega, karena dia tidak perlu menghadapi wanita sinting yang merupakan lawan berat itu.

Sedangkan tubuh Swat Tocu telah meluncur turun, dia hinggap di atas tumpukan salju dalam sikap bersemedi.

Di waktu itu terlihat Bok Lan dengan bengis telah mendelik kepada Swat Tocu, katanya: “Hemm, membokong orang bukan perbuatan yang bagus! Baik! Baik! Biarlah anakku itu tidur dulu, kebetulan sekali tidurnya memang nyenyak sekali, sehingga kita bisa main-main sepuas hati……”

Setelah berkata begitu, cepat sekali tubuhnya melesat ke tengah udara, meluncur dengan pedangnya menyambar akan menikam Swat Tocu yang masih duduk bersila dalam sikap bersemedi.

Swat Tocu tidak jeri, dia tetap duduk bersemedi, sama sekali dia tidak menggeser tempat duduknya. Ketika dia melihat ujung pedang telah dekat, tahu-tahu dia membuka mulutnya, dan ujung yang menyambar datang itu disambuti dengan mulutnya. Pedang itu tidak bisa meluncur maju terus, karena tergigit kencang sekali, tidak bergeming pula.

Tubuh Bok Lan juga telah hinggap di atas tanah. Dia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya berusaha menusukan pedangnya itu lebih dalam, agar menerobos masuk menikam tenggorokan lawannya.

Tetapi biarpun dia telah mengerahkan tenaganya kuat sekali, tetap saja dia tidak berhasil mendorong pedangnya itu, sehingga membuat telapak tangannya sendiri yang pedih dan sakit. Ujung pedang tetap tergigit kencang sekali, sama sekali tidak bergerak.

Swat Tocu juga tidak mau melepaskan gigitannya, waktu Bok Lan menarik pulang pedangnya itu, justeru Swat Tocu masih menggigitnya, membuat pedang itu sama sekali tidak bergerak. Mendorong dan menarik berulang kali dilakukan Bok Lan, tetap saja pedang itu tidak bergeming, usahanya itu tidak berhasil.

“Tua bangka yang sudah mau mampus, jika memang engkau seorang yang gagah, lepaskan pedangku…... mengapa engkau seperti seekor kuda tua yang main gigit belaka?!” ejek Bok Lan gusar bukan main bercampur dengan penasaran. Diapun bukan hanya sekedar mencaci belaka, karena tangan kanannya telah menghantam dengan tenaga sin-kang yang kuat.

Swat Tocu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya, tetap menggigit pedang lawannya. Dia membiarkan pukulan Bok Lan mengenai tubuhnya.

“Bukkk!” angin pukulan Bok Lan memang mengenai telak sekali pundak Swat Tocu.

Tetapi tubuh Swat Tocu tidak bergeming. Dia memang telah mengerahkan sin-kangnya melindungi pundaknya, sehingga dia bisa menerima angin pukulan itu.

Bukan main meluap darah Bok Lan, wanita sinting ini jadi mencaci kalang kabutan sambil berusaha menarik dan memasukkan pedangnya yang sama sekali tidak bisa bergeming itu, dengan selalu menyebut-nyebut, anakku manis, anakku sayang, tidurlah anakku!

Sedangkan Swat Tocu ingin melihat sampai berapa tinggi kepandaian Bok Lan, maka dia sengaja menerima pukulan dari wanita sinting itu.

Setelah menerima angin pukulan itu, Swat Tocu dapat menduga berapa tinggi kekuatan tenaga sin-kang lawannya, dan dia tersenyum dengan giginya tetap menggigit kuat sekali pedang wanita sinting itu.

Setelah puas melihat Bok Lan kalap seperti itu, ketika wanita sinting tersebut tengah menarik pedangnya sekuat tenaganya, tahu-tahu gigitannya dilepaskan. Karena begitu mendadak sekali dilepaskannya dan juga Bok Lan memang menariknya sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, tahu-tahu tubuh Bok Lan terjungkal ke belakang.

Untung saja wanita sinting ini memang memiliki gin-kang atau ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Begitu dia terguling segera dia bisa berdiri tegak lagi dengan muka merah padam karena murka dan penasaran!

Pedangnya itu berkelebat lagi, namun sekarang Bok Lan lebih hati-hati.

Siauw Kwie menyaksikan Bok Lan yang diketahuinya memiliki kepandaian tinggi, berada setingkat di atas kepandaiannya, masih tidak bisa menghadapi Swat Tocu, pun tidak mau tinggal diam, pedangnya tahu-tahu berkelebat dia menyerang Swat Tocu dengan beberapa tikaman, dia bermaksud membantui Bok Lan buat mengeroyok Swat Tocu.

Tetapi tocu Pulau Es itu sama sekali tidak gentar, walaupun dikeroyok kedua wanita yang sangat lihay itu. Dengan tenang dia melompat berdiri, bersamaan waktu dengan menyambarnya pedang Bok Lan dan Siauw Kwie. Swat Tocu mengibaskan lagi tangannya, di mana dia membuat ke dua batang pedang itu mencong arah sasarannya, dan telapak tangan Bok Lan maupun Siauw Kwie terasa pedih bukan main.

Di waktu itu tampak Swat Tocu juga sudah tidak mau tinggal diam. Dia membarengi begitu ke dua batang pedang lawannya mencong arah sasarannya, cepat sekali tubuhnya berkelebat, ke dua tangannya digerakan sebat sekali.

Tahu-tahu pedang Bok Lan dan pedang Siauw Kwie berhasil dirampasnya! Malah seketika itu juga ke dua batang pedang tersebut dijadikan satu, ditekuk dengan ke dua tangannya, membuat pedang-pedang itu menjadi patah tiga!

Bok Lan dan Siauw Kwie kaget tidak terkira, karena mereka sama sekali tidak menyadari kapan dan bagaimana caranya Swat Tocu merampas pedang mereka. Setelah saling pandang, antara wanita sinting dan Siauw Kwie, ke duanya tahu-tahu menjejakkan kaki mereka, tubuh mereka melesat mundur dan kemudian memutar tubuh, melarikan diri.

Siauw Kwie pun telah meneriaki anak buahnya agar segera meninggalkan tempat itu.

Swat Tocu tertawa bergelak-gelak nyaring sekali, tapi ia tidak mengejarnya, membiarkan orang-orang Lang-kauw itu meninggalkan tempat tersebut.

Sedangkan Giok Hoa telah menghela napas, melihat Swat Tocu begitu mudah mengusir orang-orang Lang-kauw tersebut. Yo Kouw-nio sendiri cepat-cepat menghampiri Swat Tocu, dia menjurah dalam-dalam, katanya:

“Terima kasih atas pertolongan locianpwe yang tidak terkira besarnya ini….. Kalau saja locianpwe tidak datang, tentu boanpwe telah menjadi korban mereka!”

Swat Tocu berhenti tertawa, katanya: “Yo Kouw-nio, kau terlalu merendah! Siapakah didunia ini yang bisa mencelakai puteri Yo Tay-hiap yang begitu terkenal? Siapa yang berani berbuat kurang ajar kepada puteri Sin-tiauw-tay-hiap?!

“Sudahlah….. sudahlah, jangan terlalu banyak peradatan! Kudengar bahwa engkau tinggal di sekitar tempat ini....... benarkah itu?!”

Yo Kouw-nio mengangguk dengan cepat, ia menunjuk rumah yang sebagian telah terbakar itu.

“Benar, itulah Boanpwe!” katanya.

Swat Tocu memandangi rumah yang terbakar sebagian, kemudian menghela napas.

“Tentu dibakar oleh orang-orang tadi?!” katanya dengan suara menggumam.

Yo Kouw-nio mengangguk mengiyakan.

“Sesungguhnya di antara kalian terdapat permusuhan apa sehingga mereka berusaha mencelakaimu?!” tanya Swat Tocu lagi.

“Siauw Kwie mempunyai dendam pada ayahku! Ia tampaknya memang sengaja memasuki perkumpulan Lang-kauw, di mana ia hendak meminjam kekuatan Lang-kauw guna memusuhi ayahku!”

“Hemmm…… perbuatan rendah! Sudah kepandaiannya yang rendah dan memang tidak memiliki kesanggupan buat menandingi ayahmu ternyata ia mencari jalan buat meminjam kekuatan orang lain untuk meruntuhkan ayahmu! Malah, terhadap Sin-tiauw-tay-hiap dia tidak berani berurusan, maka dia mencari kau, anaknya, yang jelas kepandaiannya masih berada di bawah Sin-tiauw-tay-hiap!”

Yo Kouw-nio mengangguk, dan dia segera menoleh kepada Giok Hoa, melambaikan tangannya, katanya: “Giok Hoa, cepat beri hormat kepada Swat Locianpwe!”

Giok Hoa ragu-ragu sejenak, namun dia tidak berani membantah perintah gurunya. Cepat-cepat kemudian dia menghampiri Swat Tocu, dia memberi hormat, sambil katanya: “Swat Locianpwe, boanpwe memberi hormat……!”

“Hemmmm, budak kecil yang nakal, rupanya engkau murid Yo Kouw-nio! Jika dulu-dulu engkau memberitahukan kepadaku, jelas aku tidak akan mempersulit dirimu!” dan sambil berkata begitu, Swat Tocu tertawa.

Yo Kouw-nio memperlihatkan sikap terheran-heran memandang bergantian pada muridnya dan Swat Tocu, lalu tanyanya:

“Jadi..... Swat Locianpwe pernah bertemu dengan Giok Hoa?”

Swat Tocu mengangguk, dan menceritakan apa yang pernah terjadi, sehingga dia menawan Giok Hoa. Waktu Swat Tocu menceritakan hal tersebut, muka Giok Hoa sebentar-sebentar berobah merah, tampaknya ia sangat malu.

Di waktu itu juga Ko Tie sambil tersenyum-senyum ikut mendengarkan di samping gurunya matanya sering melirik ke arah Giok Hoa, dengan sinar mata penuh arti.

Giok Hoa sendiri berulang kali telah melirik ke arah Ko Tie, namun jika mata mereka saling berlemu, tentu gadis itu akan menunduk dengan sikap likat sekali dan pipi terasa panas memerah.

“Mari silahkan Locianpwe singgah di rumah Boanpwe!” menawarkan Yo Kouw-nio kepada Swat Tocu.

Tawaran itu diterimanya dengan baik-baik oleh Swat Tocu, yang segera melangkah menuju ke rumah itu mengikuti Yo Kouw-nio dan yang lainnya.

Tiba-tiba terdengar pekik biruang salju, Swat Tocu melambaikan tangannya, serunya dengan disertai lweekangnya: “Kau tunggu saja di sana……!”

Belum lagi suara Swat Tocu habis, diwaktu itu terdengar pekik burung rajawali, pekik yang nyaring tengah berputar-putar di tengah udara.

Kini giliran Giok Hoa yang melambaikan tangannya, dan burung rajawali itu rupanya memang mengerti maksud lambaian tangan Giok Hoa, karena dia telah terbang meninggi dan berputar-putar di tengah udara. Dia terbang menjauh.

Waktu sampai di dalam rumah Yo Kouw-nio, ternyata ada sebagian rumah tersebut yang tidak termakan api. Ruangan tamunya, yang sederhana masih utuh, lengkap dengan kursi dan mejanya. Maka mereka duduk bercakap-cakap.

“Jika memang Locianpwe tidak keberatan, sudi kiranya locianpwe menginap di rumah Boanpwe untuk beberapa hari…… karena…… karena……” Waktu berkata sampai disitu, nampak Yo Kouw-nio ragu-ragu meneruskan perkataannya.

Swat Tocu tertawa besar, suara tertawanya itu bergelak-gelak.

“Ya, aku tahu, engkau berbaik hati menawarkan tempat berteduh buatku, karena engkau memiliki maksud-maksud tertentu! Karena engkau ingin memancing pelajaran ilmu silatku. Benar bukan begitu?!”

Muka Yo Kouw-nio berobah memerah, dia mengangguk sambil tersenyum.

“Ya, boanpwe ingin meminta petunjuk berharga dari Locianpwe......!” menyahuti Yo Kouw-nio. Dan kemudian menoleh kepada Giok Hoa, katanya: “Giok Hoa, cepat ucapkan terima kasih buat kebaikan Swat Locianpwe.....!”

Giok Hoa cerdik. Walaupun dia penah merasa tidak senang dan tidak menyukai Swat Tocu, namun setelah bercakap-cakap dan melihat gerak-gerik Swat Tocu, dia memperoleh kenyataan Swat Tocu seorang yang baik hati. Bahkan tadi, musuh-musuh gurunya, Swat Tocu pula yang telah mengusirnya, dengan demikian Yo Kouw-nio tertolong tidak perlu menghadapi kesulitan di tangan musuh-musuhnya.

Sekarang mendengar perintah gurunya seperti itu, segera Giok Hoa melompat bangun dari duduknya. Dia menghampiri Swat Tocu, menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Tocu Pulau Es tersebut.

“Swat Locianpwe, terima kasih atas budi kebaikanmu!” kata Giok Hoa segera sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.

Swat Tocu tertawa bergelak-gelak lagi melihat sikap Giok Hoa, katanya: “Akh…… anak licik! Engkau rupanya sengaja cepat-cepat mengucapkan terima kasih, karena hendak mengikat diriku, agar aku ini tidak bisa tidak memenuhi keinginanmu, buat memperoleh beberapa jurus ilmu silat! Hahaha-hahah!” Dan setelah tertawa begitu, tangan kanan Swat Tocu mengibas, katanya: “Bangunlah!”

Hebat kibasan lengan dari Swat Tocu, karena mendatangkan kesiuran angin yang halus namun kuat. Giok Hoa sendiri tercekat hatinya, dia tengah berlutut dan merasa diterjang suatu kekuatan yang membuatnya terlontar seperti juga dipaksa untuk berdiri.

Karena dia mengadakan perlawanan dan tetap ingin berlutut, membuatnya jadi menerima dorongan yang lebih kuat lagi, menyebabkan tubuhnya bukan hanya terdorong buat berdiri belaka, juga tubuhnya itu telah terlempar ke tengah udara.

Untung Giok Hoa memang telah menerima gemblengan cukup baik dari Yo Kouw-nio, selama ini dia memiliki gin-kang yang tinggi dan terlatih mahir, membuatnya segera berpok-say di tengah udara, waktu tubuhnya meluncur turun, segera juga dia hinggap dengan sepasang kakinya terlebih dulu menginjak lantai membuat dia tidak perlu terbanting!

“Salah!” kata Swat Tocu dengan suara yang tawar ketika melihat Giok Hoa mengatasi keadaan dirinya dengan berpok-say seperti itu.

“Sama sekali tidak benar gerakan itu! Jika engkau menghadapi musuh, tentu musuh akan dapat mencelakai dirimu disaat engkau tengah berpok-say seperti itu!

“Bukankah musuh tidak akan tinggal berdiam diri hanya mengibas satu kali. Dia akan menyusuli lagi dengan kibasan lain, yang mengandung kekuatan lebih hebat, dan engkau sendiri tengah berjumpalitan di tengah udara, sehingga engkau sama sekali tidak memiliki kesempatan buat menghindar dan kibasan kedua itu akan mencelakai dirimu! Salah sekali jika engkau menghadapi dorongan itu dengan berpok-say!”

Muka Giok Hoa berobah merah. Apa yang dikatakan Swat Tocu memang tidak salah. Seorang musuh tentu akan mempergunakan kesempatan tersebut buat menyerang dengan kibasan berikutnya pasti dia bercelaka.Karena dari itu, Giok Hoa segera berlutut lagi:

“Harap Swat locianpwe mau memberikan petunjuk yang sangat berharga!” Dia menganggukkan kepalanya lagi.

Yo Kouw-nio sendiri diam-diam kaget dan sangat kagum akan kekuatan sin-kang yang dimiliki Swat Tocu.

“Benar-benar lihay….. Tampak sin-kang Swat Locianpwe tidak berada di sebelah bawah sin-kang ayah……!” diam-diam Yo Kouw-nio berpikir. “Tidak kecewa Swat Tocu memiliki nama yang begitu besar pantas ia disegani oleh semua tokoh rimba persilatan!”

Waktu itu Swat Tocu berkata, dengan suara sabar: “Aku akan mengulangi lagi! Bersiaplah.” Dan berbareng dengan habisnya perkataannya itu, tangan kanan Swat Tocu telah bergerak perlahan mengibas lagi.

Luar biasa, memang kibasannya kali jauh jauh lebih ringan dibandingkan dengan kibasannya yang terlebih dulu tadi, hanya saja, tenaga yang, menerjang Giok Hoa jauh lebih kuat, sehingga membuat tubuh Giok Hoa telah terangkat dan terlempar ke tengah udara, bahkan telah berputar di tengah udara. Walaupun Giok Hoa berusaha menguasai keseimbangan tubuhnya, dia gagal. Tubuhnya meluncur dan akan terbanting di atas lantai.

Tubuh Swat Tocu melesat sangat ringan sekali, mudah bukan main dengan tangan kanannya dia mencekal baju gadis tersebut dan menurunkannya perlahan-lahan.

Dikala itu muka Giok Hoa berobah memerah, hatinya berpikir: “Benar-benar kepandaian Swat Tocu luar biasa mengagumkan, sungguh berbahaya, jika tadi dia tidak menolongiku dengan mencekal bajuku, sehingga aku terbanting itulah bantingan yang tidak ringan, pasti sedikitnya ada tulangku yang patah, yang luar biasa, adalah tenaga sin-kangnya, dia mengibas perlahan, namun dapat mempergunakan tenaga yang begitu kuat, sungguh menakjubkan sekali.

Walaupun Giok Hoa berpikir seperti itu, namun ia juga tidak berayal buat menyatakan terima kasihnya, karena telah ditolongi Swat Tocu dan juga diberi petunjuk. Dia menekuk ke dua kakinya, tubuhnya berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sikap menghormat sekali.

Jika sebelumnya dia memiliki sedikit perasaan tidak senang pada Swat Tocu, justeru sekarang ini si gadis telah takluk benar dan merasa kagum sekali atas kepandaian yang dimiliki Swat Tocu. Jika memang bertempur bersungguh-sungguh dan Swat Tocu memiliki maksud tidak baik terhadapnya, jelas dirinya dengan mudah hanya dalam satu atau dua jurus saja sudah dapat dicelakainya! Karena dari itu, Giok Hoa sekarang merasa takluk sekali terhadap Swat Tocu.

Ko Tie menyaksikan gurunya tengah memberikan pelajaran ilmu gin-kang dan juga cara menghindarkan diri dari keadaan terapung di udara, jadi tersenyum senang. Tadinya ia kuatir kalau-kalau antara gurunya dengan Giok Hoa tidak terdapat kecocokan satu dengan yang lainnya, seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

Namun sekarang melihat hubungan mereka yang terjalin cukup baik, membuat Ko Tie sangat senang. Dia memang telah menerima pelajaran tersebut dari gurunya, dan Ko Tie telah berhasil menguasainya dengan baik.

Dalam keadaan seperti itu, si pemuda hanya mengawasi saja kepada Giok Hoa, karena memang dia hendak melihat bagaimana daya tangkap yang dimiliki gadis itu, yang tampaknya memang cerdik.

Apa yang diduga Ko Tie ternyata tidak salah, sebab dalam dua kali gebrakan seperti itu, Giok Hoa telah bisa menangkap pelajaran yang diberikan Swat Tocu dengan cara yang halus dan tidak berterang. Otak si gadis memang terang, sehingga bisa segera mencernakan arti dari pelajaran yang diberikan Swat Tocu.

Dengan dua kali mengalami dibuat terpental oleh tenaga kibasan tangan Swat Tocu membuat Giok Hoa dapat memahami, di mana kelemahan dirinya dan dengan cara bagaimana harus menghadapi tenaga kibasan yang kuat seperti itu.

“Bersiaplah, aku akan melontarkan kau lagi!” kata Swat Tocu waktu itu.

Giok Hoa masih dalam keadaan berlutut mengucapkan terima kasihnya, mendengar perkataan Tocu dari Palau Es tersebut, segera juga dia bersiap-siap.

Waktu itu Swat Tocu perlahan sekali mengibaskan lagi pergelangan tangannya, seperti juga tengah mengibas seekor lalat yang mengganggu terbang di depan mukanya. Tenaga yang meluncur dari telapak tangannya ternyata luar biasa menakjubkan, karena kuat dan dingin sekali seperti bisa membekukan.

Giok Hoa biarpun telah bersiap-siap tetap saja terkejut menerima dorongan yang begitu kuat mengandung hawa dingin seperti gumpalan es yang tengah menerjang kepada dirinya. Namun Giok Hoa tadi selama dua kali dibikin terpental oleh kibasan tangan Swat Tocu, telah bisa mengetahui kelemahan dirinya.

Karenanya, menghadapi tenaga kibasan yang kuat seperti itu, sama sekali dia tidak berusaha mengadakan tenaga perlawanan, dia hanya membiarkan saja tenaga kibasan Swat Tocu menerjang dirinya. Malah Giok Hoa membantu dengan menjejakan ke dua kakinya, tubuhnya jadi seperti terbang saja terdorong tenaga itu, di mana tubuhnya telah melambung ke tengah udara.

Cuma saja tanpa berjungkir balik, dia berhasil hinggap di lantai dengan ringan di atas ke dua kakinya tanpa terbanting sedikitpun juga! Ternyata Giok Hoa yang cerdik itu telah mengetahui menghadapi kekuatan tenaga kibasan Swat Tocu yang tidak mungkin tertandingi oleh kekuatan sin-kangnya, harus dihadapi dengan cara lunak.

Dia mempergunakan taktik satu tail merubuhkan seribu tail. Tenaga yang besar dari Swat Tocu telah dilenyapkan dengan keseimbangan tubuhnya tanpa adanya daya melawan, membuat tubuh Giok Hoa dengan ringan dan leluasa dapat meluncur turun dan hinggap di lantai dengan ringan sekali!

“Bagus! Bagus!” berseru Swat Tocu dengan suara nyaring dan bertepuk tangan, tampaknya Swat Tocu puas dan girang. Dia telah berseru-seru beberapa kali, karena dia tidak menyangka bahwa Giok Hoa hanya dalam waktu singkat telah dapat mengatasi dan menguasai diri buat menghadapi tenaga kibasannya.

Dengan demikian, jelas membuktikan Giok Hoa merupakan seorang gadis yang sangat cerdik sekali.

“Engkau benar-benar cerdas, hanya dalam waktu yang singkat, tanpa aku terangkan sejelas-jelasnya, kau telah berhasil untuk memecahkan persoalan itu…… di mana engkau telah berhasil mengetahui kelemahan dirimu sendiri.

“Dengan demikian engkau bisa menghadapi musuh yang lebih tangguh di masa mendatang, karena engkau telah mengetahui kuncinya. Di mana kekuatan tenaga belaka, tanpa perhitungan yang baik, tentu akan membuat gagal usaha seseorang menyerang lawannya!

“Dan engkau, dengan mempergunakan kecerdasan dan perhitungan yang tepat, walaupun tenaga sin-kangmu masih lebih rendah dibandingkan dengan lawan itu, tetap saja engkau bisa menerima dan mengatasi serangan itu!”

Dan Swat Tocu tertawa lagi bergelak-gelak.

Muka Yo Kouw-nio berseri-seri, guru Giok Hoa tampak girang bukan main. Dia melihat secara tidak langsung muridnya tengah menerima petunjuk pelajaran silat kelas tinggi oleh Swat Tocu.

Setelah memandang beberapa saat lagi, di saat mana Swat Tocu dan Giok Hoa seperti asyik berlatih diri lagi. Swat Tocu selalu memberikan petunjuknya. Yo Kouw-nio pergi untuk mempersiapkan hidangan buat mereka.

Ko Tie hanya duduk diam tenang-tenang mengawasi bagaimana Giok Hoa menerima petunjuk dari gurunya.

Di luar, biruang putih itu rupanya iseng, di mana biruang salju tersebut telah melompat ke sana ke mari berlari-lari cukup jauh. Gerakannya begitu lincah, biarpun tubuhnya tinggi besar, karena memang biruang salju ini telah menerima didikan yang sangat baik sekali dari Swat Tocu, sehingga selain dia mengerti ilmu silat, juga dia memiliki gin-kang yang cukup tinggi, membuat gerakannya jadi ringan sekali

Burung rajawali putih juga terbang di tengah udara. Sesungguhnya rajawali putih tersebut bermaksud hendak bermain-main dengan majikannya, yaitu Giok Hoa. Hanya sayang Giok Hoa tidak muncul, membuatnya terbang mengikuti biruang salju, di mana burung rajawali putih tersebut terbang di atasnya, sekali-kali memperdengarkan suara pekikannya.

Di waktu itu terlihat biruang salju juga rupanya dalam keadaan iseng. Dia melihat burung rajawali putih tengah mengikutinya. Dan tiba-tiba mengerang dan melambaikan tangannya.

Sebagai sesama binatang, tampaknya rajawali putih itu memahami apa yang diinginkan si biruang salju. Dia menukik terbang turun dan hinggap di tempat yang tidak begitu jauh dari si biruang salju.

Sedangkan biruang salju itu, dengan diiringi suara erangannya, tahu-tahu tubuhnya dengan ringan sekali melesat sambil mengulurkan ke dua tangannya untuk mencengkeram burung rajawali putih itu.

Kelakuan biruang salju itu membuat burung rajawali putih tersebut terkejut. Dia mengelak sambil terbang rendah, dan mempergunakan sayap kanannya buat menyampok.

Sampokan yang cukup kuat, dan membuat tubuh biruang salju itu terhuyung. Dalam keadaan seperti itu membuat biruang salju itu mengerang dengan suara yang cukup nyaring.

Dan di saat seperti itulah, tubuhnya melesat lagi, sambil mengulurkan kedua tangannya, dia berusaha menjambret rajawali putih itu. Namun gagal, Rajawali putih itu terbang lebih tinggi lagi, membuat jambretan kedua tangan biruang salju tersebut mengenai tempat kosong.

Diwaktu itu biruang salju tersebut mengerang beberapa kali sambil melambai-lambaikan tangannya. Rupanya dia tengah penasaran dan mengajak burung rajawali putih itu turun buat mereka main-main alias bertempur!

Burung rajawali itu, walaupun seekor binatang, namun tampaknya setelah dididik oleh Yo Kouw-nio dan Giok Hoa, memiliki harga diri, karena melihat biruang salju itu berulang kali gagal menyerangnya dan sekarang biruang salju tersebut seperti menantangnya, mengerang-erang dan melambai-lambaikan tangannya maka dia menukik turun lagi buat menyambar kepada biruang salju tersebut. Dia memang telah terlatih dengan baik, gerakan tubuhnya waktu menyambar tidak meluncur terus, melainkan meliuk-liuk, karena dia mengambil gerakan seekor ular.

Biruang salju yang menantikan tibanya terjangan burung rajawali putih tersebut, jadi heran juga dan merasa aneh melihat gerakan meliuk dari burung rajawali putih tersebut. Namun biruang salju ini memang berani, dia telah memperoleh gemblengan yang sangat keras dari Swat Tocu, diapun pernah mengalami beberapa kali pertempuran dengan jago-jago silat, yang semuanya memiliki kepandaian tinggi dan masih tidak bisa merubuhkannya.

Apalagi hanya buat menghadapi seekor burung rajawali, tampaknya biruang putih itu tidak memandang sebelah mata.

Setelah melihat burung rajawali putih itu terbang menukik menyambar ke arah dirinya dengan pesat, biruang salju tersebut menantikan dengan mata terpentang lebar, sepasang kakinya yang berdiri agak terpentang. Itulah cara berdiri dari seorang jago silat dengan kuda-kuda di ke dua kaki yang kuat, pada ke dua tangannya juga telah terkumpul suatu kekuatan.

Burung rajawali putih itupun bukannya seekor burung rajawali biasa, ia sangat cerdas sekali, karena dia memiliki perhitungan dalam menyerang lawannya. Begitu akan tiba menerjang biruang salju, cepat sekali sayap kanannya bergerak, menyampok dengan kuat.

Angin menderu-deru, karena dari sayapnya yang lebar itu meluncur angin yang sangat dahsyat. Dan disusul kemudian dengan sampokan sayap kirinya. Dengan demikian, biruang salju itu diterjang oleh sesuatu kekuatan tenaga yang tidak kecil.

Biruang salju tersebut berusaha bertahan namun kagetnya tidak terkira waktu tahu-tahu sepasang kaki rajawali putih itu tengah mengancam akan mencengkeram batok kepalanya! Segera juga biruang salju tersebut memiringkan kepalanya sambil mengerang, dan tangan kanannya mendorong.

“Dukkk!” tubuh rajawali putih itu kena dipukulnya telak, sampai burung rajawali tersebut mengeluarkan suara pekik nyaring, dan telah terpental, namun ia segera terbang lagi ke atas, menghindarkan kemungkinan biruang salju tersebut menyerangnya lagi!

Dalam keadaan seperti itulah tampak biruang salju itu telah berlari-lari dengan cepat sekali, dan juga mengerang-erang, seperti juga dia tengah menantang lawannya itu, agar terbang turun dan mereka bertempur lagi. Dan pertempuran antara seekor biruang salju dengan rajawali putih, merupakan pertempuran yang aneh.

Yang seekor merupakan biruang berpotongan tinggi besar, memiliki tenaga yang sangat kuat dan terlatih ilmu silat dengan baik-baik, namun hanya bisa bersilat di daratan belaka. Dan yang seekor lagi merupakan rajawali yang selalu terbang di tengah udara.

Jika ingin dibandingkan kekuatan tenaga dari ke dua binatang ini, mungkin hampir berimbang, karena ke dua sayap dari burung rajawali putih itupun tidak bisa diremehkan, sampokan sayapnya akan dapat menghancurkan bungkahan batu.

Karena dari itu, dia terbang di tengah udara hanya menantikan kesempatan buat sewaktu-waktu menyerang biruang salju. Memang dasar pertamanya, kedua binatang itu cuma iseng belaka, tetapi setelah main-main, di mana mereka saling kena terserang, ke duanya jadi penasaran dan ingin bertempur lebih lanjut.

Burung rajawali putih itu terbang berputar-putar beberapa kali. Perasaan sakit masih dirasakan pada tubuhnya yang tadi kena dihantam telapak tangan biruang salju tersebut, membuat rajawali putih ini bukannya takut, malah bermaksud hendak membalas menyerang lawannya.

Waktu melihat ada kesempatan segera juga dia memekik nyaring, tubuhnya meluncur dengan pesat sekali, sepasang sayapnya dikibaskan berulang kali, sehingga saat itu di tempat tersebut seperti juga tengah berlangsung serangan angin puyuh yang dahsyat sekali. Batu dan pasir terbang di sekitar biruang salju, dan bungkahan salju juga terbang terbongkar dari atas bumi, karena kuatnya terjangan angin dari sampokan kedua sayap rajawali putih tersebut.

Dalam keadaan seperti inilah, si biruang salju juga tidak mau tinggal diam, dia juga mengerak-gerakkan ke dua telapak tangannya, menyerang dan memukul ke arah atas. Dari ke dua telapak tangannya meluncur tenaga yang kuat sekali, seperti juga hendak menandingi tenaga sampokan sepasang sayap burung rajawali putih itu.

“Dukkk, dukkk, dukkk, dukkk!” terdengar suara benturan yang sangat hebat sekali, diantara dua kekuatan, tenaga biruang salju dan burung rajawali putih itu.

Tubuh rajawali putih itu terpental ke tengah udara, memekik nyaring, namun dia masih bisa terbang, walaupun ada beberapa bulu sayapnya yang rontok, terbang berayun-ayun di tengah udara dan kemudian jatuh di bumi.

Tubuh biruang salju itupun terpental karena kuatnya tenaga benturan itu, membuat dia terguling. Walaupun demikian, dia tidak sampai terluka di dalam, sebab cepat sekali tampak biruang salju itu telah melompat berdiri lagi, dan dengan sikap yang agak lucu karena dia marah telah menantang rajawali putih itu agar turun, biar mereka dapat melanjutkan pertempuran tersebut.

Burung rajawali putih itu tampaknya tengah memperhitungkan, dengan cara bagaimana dia dapat menyerang lagi kepada biruang salju itu.

Tadi dia merasakan betapa kuatnya tenaga biruang salju itu, yang sama halnya seperti dia, bahwa biruang salju itu juga bukan binatang sembarangan, tenaga pukulannya itu seperti telah dialiri sin-kang (tenaga sakti) yang memang terlatih baik atas didikan dari Swat Tocu.

Tentu saja, tadi waktu terpukul, menyebabkan beberapa lembar bulunya jatuh berguguran rontok ke bumi, dan dia juga merasa kesakitan bukan main, menyebabkan sementara waktu itu rajawali putih itu hanya berputar-putar terbang di tengah udara, dia tidak segera menukik menyerang lagi. Sedangkan biruang salju itu juga telah memekik-mekik sambil

Halaman 62 x x x x x x x x x
M i s s i n g . . . . . . . . (Sayang..... nggak ada yang bisa sharing........)
Halaman 63 x x x x x x x x x

Justeru adanya teriakan seperti itu, membuat biruang salju maupun rajawali itu terkejut, malah mereka serentak telah menarik pulang tenaga mereka, masing-masing batal menyerang.

Mereka juga telah memandang ke arah dari mana datangnya suara orang yang menganjurkan mereka bertempur terus. Dan ke duanya jadi mengeluarkan erangan dan pekik yang aneh ketika melihat jelas orang yang menganjurkan mereka mengukur tenaga, diiringi tepuk tangannya itu!

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 19"

Post a Comment

close