coba

Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 12

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 12

Dan kini Sin-tiauw telah mati. Dan mungkin rajawali putih yang dipelihara Giok Hoa, kalau memang dididik dengan sebaik-baiknya, burung rajawali putih ini akan sama tangguhnya dengan Sin-tiauw yang pernah menjadi sahabat karib Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.

Sasana sendiri telah memuji akan keindahan bulu burung rajawali putih itu, yang begitu mulus dan juga gerakan sayapnya yang begitu kuat, setiap kali mengibas menimbulkan angin yang sangat dahsyat sekali. Dan juga tenaga yang dimiliki burung rajawali putih itu sangat kuat sekali, berbeda dengan burung-burung rajawali biasa.

Dengan demikian telah membuat Sasana pun merasa kagum bukan main. Dan ia menyatakan kepada Giok Hoa, kalau saja iapun bisa memperoleh seekor saja dari anak rajawali putih, seperti yang dimiliki Giok Hoa.

Tetapi Giok Hoa menceritakan, umumnya burung burung rajawali putih bermusuhan dengan burung rajawali hitam, di mana ia selalu bertempur. Padahal, jika memang Sasana ingin sekali memiliki dan memelihara seekor anak rajawali putih, dia tentu dapat saja pergi ke tempat di mana Giok Hoa dulu memperoleh anak burung rajawali putih itu.

Di sana memang banyak sekali terdapat burung rajawali putih dan rajawali hitam. Hanya saja, untuk mencari seekor anak rajawali putih tentunya tidak terlalu mudah, sebab induknya tidak akan sembarangan membiarkan orang mengambil anak mereka.

Sasana tersenyum.

“Ya, jika kelak kami mempunyai waktu tentu kami akan pergi ke sana. Siapa tahu kami pun akan bertemu dan memperoleh seekor anak rajawali putih, sama halnya seperti yang kau alami itu, Giok Hoa?”

Giok Hoa mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Tetapi Cie-cie harus ingat, hahwa dalam urusan ini sebetulnya merupakan urusan yang tidak terlalu sulit buat Cie-cie dan Koko berdua karena kalian memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Kalian bisa mencari sarang burung rajawali putih.

“Harus Cie-cie dan Koko ketahui, bahwa burung-burung rajawali putih umumnya merupakan burung-burung yang sangat baik, mereka tidak akan menyerang mangsanya dengan ganas. Berbeda dengan burung-burung rajawali hitam, yang selalu menyerang mangsanya dengan ganas. Dengan begitu, jelas akan membuat siapa yang berani mendekati sarang dan tempat mereka, akan diserang hebat oleh puluhan ekor burung rajawali hitam, hal inilah yang berbahaya.....!”

Sasana dan Yo Him menggangguk mengerti. Tetapi di dalam hati mereka sendiri berpikir, jelas mereka tidak akan jeri berurusan dengan rajawali hitam, namun hal dan perasaan itu tidak diutarakannya?

Bun Kie Lin tersenyum.

“Jika memang kalian menginginkan seekor anak rajawali, maka akupun menghendakinya..... Siapa tahu anak rajawali yang kupelihara itu kelak dapat juga untuk diperintah-perintah untuk melayaniku?! Bukankah aku tidak memiliki seorang pelayan pun juga?!”

Yo Him, Sasana dan Giok Hoa telah tertawa, karena beranggapan bahwa perkataan dari Bun Kie Lin sangat lucu.

Hok An yang mendengar perkataan Bun Kie Lin, telah ikut tersenyum.

Begitulah, Hok An diijinkan oleh Bun Kie Lin untuk berdiam di tempatnya sampai sembuh benar. Hal ini menggembirakan Yo Him maupun Sasana, karena dengan beradanya di tempat itu, mereka bertambah tenang.

Jelas hal ini menyebabkan mereka tidak perlu berkuatir, kalau suatu saat Hok An kumat kembali luka-lukanya itu. Karena di situ terdapat Bun Kie Lin yang dapat memberikan pertolongannya.

Keesokan harinya, Hok An benar-benar telah sehat. Dia telah dapat duduk, malah telah meminta makan.

Sedangkan Bun Kie Lin rajin memeriksa keadaaannya. Melihat kemajuan dalam perkembangan kesehatan Hok An membuat Bun Kie Lin merasa gembira.

Malah tidak jarang Bun Kie Lin telah bilang:

“Apa yang kukatakan, bahwa aku akan dapat menyembuhkan lukanya itu bukan suatu dusta belaka, bukan? Sekarang Hok Heng-tay telah sembuh..... besok dia telah boleh jalan-jalan ke mana dia suka.”

Yo Him mengangguk-angguk sambil tidak hentinya memuji akan keliehayan tabib itu.

Sedangkan Giok Hoa pun tidak jarang mengucapkan syukur dan terima kasihnya kepada Bun Kie Lin.

Waktu itulah Sasana telah melihat bahwa pada bekas-bekas luka di tubuh Hok An, terutama sekali pada ujung-ujung jari tangannya, telah merapat. Dan ini memperlihatkan kemajuan yang pesat sekali. Jarang ada seseorang yang menjadi korban penyiksaan yang begitu hebat, bisa sembuh dalam waktu sesingkat ini.

Hal ini menunjukkan ilmu pengobatan Bun Kie Lin memang sangat hebat dan bisa diandalkan. Dan keyakinan Sasana, bahwa setelah kelak dia menelan pil-pil yang diberikan Bun Kie Lin padanya niscaya akan membuat dia dapat hamil bertambah tebal......!

Begitulah, setelah lewat satu hari lagi, Hok An benar-benar dapat berdiri, kini boleh dibilang dia telah sembuh keseluruhannya. Hanya saja yang terasa sekarang adalah perasaan lemasnya. Tinggal melatih otot-ototnya lagi. Dia sembuh tanpa perlu mengalami cacad pada tubuhnya, inilah yang menggembirakan Hok An, terutama sekali lweekang yang dimilikinya itu tidak juga menjadi berkurang.

Hok An memang telah dapat berjalan, dia melangkah perlahan-lahan. Lewat dua hari lagi, dia bisa berlari walaupun tidak terlalu cepat.

Setelah lewat satu minggu, Hok An benar-benar telah sembuh dan tidak memerlukan lagi perawatan dari Bun Kie Lin.

Sedangkan Sasana dan Yo Him telah melihat Hok An sembuh benar, segera juga menyatakan bahwa mereka ingin melanjutkan perjalanan mereka dan akan berpisah.

Walaupun Giok Hoa menyatakan keberatannya, karena berat harus berpisah dengan Yo Him dan Sasana, yang sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri. Namun Sasana memberikan pengertian kepadanya bahwa mereka tokh akhirnya harus berpisah, karena Yo Him masih mempunyai urusan lainnya, yang harus diselesaikan bersama dengan isterinya.

Akhirnya, setelah dibujuk, barulah Giok Hoa mau berpisah melepaskan kepergian Yo Him dan Sasana dengan linangan air mata.

Sedangkan Hok An merasa terharu sekali. Dia mengucapkan terima kasih yang tidak hentinya kepada Yo Him dan Sasana. Juga kepada Bun Kie Lin.

◄Y►

Setelah Yo Him dan Sasana berlalu, Hok An pun akan menyatakan kepada Bun Kie Lin bahwa ia akan mengajak Giok Hoa buat melanjutkan perjalanan pula, juga ia tidak lupa mengucapkan syukur dan terima kasih tidak terhingga kepada Bun Kie Lin, karena Bun Kie Lin lah yang telah menyelamatkan jiwanya dari kematian.

Sedangkan Giok Hoa menjanjikan, kelak jika memang ia lewat di sekitar tempat ini, akan sering-sering menjenguk Bun Kie Lin.

Bun Kie Lin sendiri telah melepaskan kepergian Hok An dan Giok Hoa dengan hati yang berat. Namun orang tua she Bun ini tidak memperlihatkan perasaan sedihnya, dia telah melepaskan dengan tersenyum lebar dan melambai-lambaikan tangannya.

Hok An dan Giok Hoa telah menuruni gunung tersebut, dan ia sampai di rumah Ho Sin-se.

Tabib kampung itu segera banyak bertanya mengenai keadaan Bun Kie Lin.

“Jika memang kau bermaksud menjadi pelayannya, cepat kau pergi menemuinya, mungkin permintaanmu akan dipenuhinya, karena memang Bun Locianpwee tengah membutuhkan seseorang yang bisa membantuinya. Tetapi ingat, engkau harus memiliki hati dan jiwa yang bersih. Engkau harus bersetia, karena sekali saja engkau mempunyai hati yang bengkok, begitu Bun Locianpwe mengetahui, tentu engkau akan dibuatnya bercacad.....”

Ho Sin-se tampak ragu-ragu dan Giok Hoa telah menyambungi perkataan Hok An: “Jika memang kau mengandung maksud buruk pada Bun Locianpwe, maka kemungkinan kau melarikan diri ke ujung langit sekalipun, Yo Him Koko bersama Sasana Cie-cie, tentu tidak akan melepaskan engkau. Mereka akan mengejar dan membinasakan kau!!”

Ho Sin-se berdiam diri termenung, kebingungannya jadi bertambah besar. Dia berpikir di dalam hatinya, memang dia bermaksud mencari jalan guna memperoleh ilmu pengobatan dari Bun Kie Lin. Karena itu, jika perlu, ia pun akan mencari jalan tertentu buat membinasakannya.

Namun jika gagal, tentu dia sendiri yang akan bercelaka. Terlebih lagi sekarang mendengar ancaman dari Giok Hoa seperti itu, membuat Ho Sin-se bertambah ragu-ragu.

Tampak Giok Hoa telah bertanya pula: “Apakah engkau tidak jadi pergi kepada Bun Locianpwee?!”

Ho Sin-se tidak segera menyahuti, waktu itu dia telah berpikir lagi:

“Jika memang aku bekerja dengan hati yang jujur, tidak mungkinaku dicelakai olehnya..... aku tentu akan diwarisi juga ilmu pengobatannya..... Aku sesungguhnya tidak mengharapkan yang terlalu banyak. Ia menurunkan sepersepuluh saja dari ilmu pengobatannya itu, tentu aku sudah boleh bersyukur.....”

Setelahberpikir begitu, Ho Sin-se mengangguk.

“Ya, aku akan segera pergi ke tempat Bun Locianpwe, untuk bekerja melayaninya.....!” kata Ho Sin-se kemudian. “Tentu saja aku akan bekerja dengan baik yang jujur dan sebaik-baiknya, karena aku tidak akan memperdayakan Bun Locianpwe, dan juga tidak memiliki pikiran yang kotor.....!” kata Ho Sin-se dengan sikap yang bersemangat sekali. “Dan juga, aku akan melayani Bun Loncianpwe selain sebagai majikan juga sebagai guru......!”

Hok An tersenyum tawar,

“Soal engkau bermaksud untuk bekerja dengan setia dan jujur, atau juga bersikap curang, itu juga terserah kepadamu sendiri, karena akibat buruknya engkau sendiri juga yang akan merasakannya. Kami hanya menasehati kau agar engkau bersikap baik-baik terhadap Bun Locianpwe, karena sekali saja engkau memiliki maksud jahat dan juga hati yang kurang baik niscaya engkau sendiri yang akan mengalami nasib yang buruk sekali......!”

Ho Sin-se mengangguk, katanya: “Ya..... memang aku mengetahui! Oya, sekarang engkau telah sembuh keseluruhannya, engkau telah dapat melakukan perjalanan lagi dengan tubuh yang telah sehat karena luka-lukamu itu telah sembuh dan kembalinya tenagamu.....”

Hok An berkata.

“Semua ini berkat pertolongan yang diberikan Bun Locianpwe. Memang Bun Locianpwe seorang tabib yang pandai. Jika bukan dia, belum tentu segera sembuh dalam waktu sesingkat ini, yaitu kurang dari setengah bulan!”

Ho Sin-se menjawab.

“Justeru aku bermaksud melayani Bun Locianpwe itu adalah untuk mempelajari ilmu pengobatannya itu, agar aku bisa memperoleh ilmu pengobatan yang lebih mendalam lagi. Bukankah jika aku bisa memperoleh ilmu pengobatan yang berarti, aku akan dapat menolong orang-orang yang tengah kesulitan dan terluka berat. Dengan demikian aku bisa melakukan banyak perbuatan kebaikan.”

Hok An tersenyum sinis.

“Tetapi kukira engkau berbeda dengan Bun Locianpwe. Jika kau tentu dipentingkan adalah masalah uang.....!” kata Hok An terbuka. “Jika seseorang membutuhkan pertolonganmu, tetapi tidak memiliki uang, tentu engkau tidak akan menolongnya, bukankah begitu?”

Ho Sin-se berobah mukanya menjadi memerah, sama sekali dia tidak menyangka bahwa Hok An akan bicara terus terang seperti itu. Namun, memang dasar watak Sin-se seorang yang tebal muka, walaupun dia merasa malu, tokh dia tersenyum juga sambil mengangguk:

“Benar! Di dalam dunia ini uang yang memegang peranan. Tanpa uang apakah engkau dapat makan? Tanpa uang apakah engkau dapat membeli pakaianmu, tanpa uang apakah akan ada tabib yang mau mengobati luka-lukamu! Hemmm, tanpa uang jangan harap engkau akan dapat hidup sebagai manusia yang layak di duniaini!”

Mendengar perkataan rendah tidak tahu malu dari Ho Sin-se, membuat Hok An tidak berselera untuk bercakap-cakap lebih lama dengan Ho Sin-se, dia telah mengajak Giok Hoa buat melanjutkan perjalanannya.

Begitulah, Giok Hoa dengan Hok An telahmeninggalkan tempat tersebut, diawasi oleh Ho Sin-se, yang rupanya masihragu-ragu apakah dia akan pergi menghadap Bun Kie Linatau memang tidak.

Sedangkan Hok An mengajak Giok Hoa mengambil arah ke jurusan barat, di mana mereka melakukan perjalanan dengan di atas mereka selalu terdengar suara pekik dari burung rajawali putih itu. Dengan demikian mereka mengetahui, burung rajawali putih yang jinak dan penurut itu, tetap mengikuti mereka terbang di tengah udara.

Setelah berjalan belasan lie, tampak Hok An memburu napasnya, juga keringat memenuhi mukanya. Maka Giok Hoa mengajaknya buat beristirahat.

Ho An pun tidak membantah, karena iapun merasakan tenaganya belum pulih keseluruhannya. Jika dalam keadaan seperti itu melakukan perjalanan terus, memaksakan diri, mungkin akan menyebabkan kesehatannya terganggu. Dia duduk beristirahat di bawah sebatang pohon.

Giok Hoa telah berkata kepadanya: “Paman Hok, aku akan pergi mencarikan buah-buahan segar buatmu......!”

Hok An hanya tersenyum saja, entah mengapa dia sangat sayang sekali pada gadis cilik ini, puteri dari wanita yang sangat dicintanya.

Dulu, karena dia telah pergi berpisah dari calon isterinya, sehingga calon isterinya itu menjadi isteri orang lain. Dan selama bertahun-tahun Hok An bersengsara mencari jejak calon isterinya.

Waktu dapat ditemuinya, telah menjadi isteri orang lain, dan telah berputeri seorang, yaitu Giok Hoa. Di saat ke dua orang tua Giok Hoa terbunuh dan mati, maka Giok Hoa hidup sebatangkara.

Dan kini Hok An telah menganggap Giok Hoa sebagai anaknya sendiri, dia memanjakannya dan sangat sayang sekali. Karena itu, hatinya terharu sekali melihat Giok Hoa begitu memperhatikan keadaan dan kesehatannya. Dan Hok An pun mengetahui, entah berapa banyak air mata yang telah ditumpahkan Giok Hoa waktu menguatirkan kesehatannya sebelum sembuh.

Tiba-tiba Giok Hoa telah bersiul nyaring sekali, dan burung rajawali putih itu telah memekik nyaring dan terbang meluncur turun, hinggap tepat di sisi si gadis cilik.

“Pek-jie, antarkan aku ke tempat yang banyak terdapat buah-buahan segar.....” kata Giok Hoa.

Burung rajawali putih itu seperti mengerti apa yang dikatakan Giok Hoa. Ia telah menekuk ke dua kakinya, tubuhnya jadi merunduk rendah. Giok Hoa segera melompat duduk diatas punggung burung rajawali itu.

Setelah duduk benar di atas punggung rajawali itu, barulah Giok Hoa menepuk leher burung rajawali tersebut. Dan burung rajawali itu telah mengibaskan sayapnya, mulai terbang ke angkasa.

Giok Hoa memandang sekelilingnya, ke arah bawah. Segala apa mulai tampak mengecil.

Demikian juga halnya dengan Hok An yang tengah duduk beristirahat di bawah sebatang pohon, di mana tampak kecil sekali. Di waktu itulah tampak, betapa hutan-hutan di kejauhan, yang sangat lebat sekali. Sedangkan Pek-jie, burung rajawali putih itu telah terbang ke arah hutan-hutan belukar tersebut.

Terbang di tengah udara sesungguhnya merupakan hal yang sangat mengasyikkan sekali buat Giok Hoa. Namun karena Giok Hoa tahu Hok An sangat haus dan letih, maka dia tidak berani berlambat-lambat dan berayal. Segera dia membisiki Pek-jie, katanya:

“Pek-jie, cepat pergi ke hutan-hutan itu. Tentu di hutan itu kita bisa memperoleh buah-buahan segar yang kita inginkan..... paman Hok sangat haus dan letih sekali!”

Burung rajawali itu seperti mengerti juga apa yang diinginkan oleh Giok Hoa, segera mengibaskan sayapnya lebih kuat, tubuhnya meluncur jauh lebih cepat. Dengan demikian, tidak lama kemudian burung rajawali yang membawa Giok Hoa terbang di punggungnya telah berputar-putar di sana.

Sebelum meluncur turun, burung rajawali itu telah memekik nyaring gembira karena dilihatnya hutan itu benar-benar lebat dan rimbun, juga di hutan itu terdapat banyak sekali buah-buahan.

Karena itu, burung rajawali putih tersebut tidak hentinya memekik.

Giok Hoa pun telah melihat buah-buahan yang ranum dan matang-matang itu. Dia girang bukan main, sambil menepuk-nepuk leher burung itu, katanya: “Pek-jie, ayo kita turun......!”

Burung rajawali itu telah menukik turun dan hinggap di tanah dengan sigap. Dan Giok Hoa pun telah melompat turun. Dilihatnya di sekelilingnya terdapat banyak sekali pohon buah-buah, segera Giok Hoa sambil bernyanyi-nyanyi kecil karena riang, telah memetik buah-buah itu, di mana dia telah mengumpulkan buah-buah yang masak, dan salah satu telah dimakannya.

Kemudian Giok Hoa pun telah memetik sebuah yang masak, dilontarkan kepada burung rajawali putih itu. Burung rajawali itu menyambuti dengan patuknya, sehingga buah itu menancap di paruhnya, dan burung rajawali putih itu memakannya dengan nikmat. Waktu buah itu telah termakan habis, tinggal hati buah tersebut yang dibuangnya, burung rajawali itu memekik perlahan, seakan juga merengek meminta lagi.

Giok Hoa mengerti apa yang diinginkan burung rajawali putih itu. Segera dilemparkannya sebuah lagi, yang disambar burung rajawali putih tersebut dengan cepat sekali, sehingga dia bisa memakannya dengan nikmat.

Giok Hoa masih memetiki buah-buah yang terdapat di tempat itu. Setelah merasa cukup, dia pun segera menghampiri burung rajawalinya.

Namun, disaat Giok Hoa tengah melangkah, terdengar seseorang yang berkata dengan suara yang agak bengis:

“Kebetulan sekali, memang aku tengah mencari jejakmu! Siapa tahu bisa bertemu denganmu di sini.....!” Dan menyusul dengan perkataan itu, tampak sesosok bayangan yang berkelebat cepat sekali, dan tahu-tahu telah menghadang di depan Giok Hoa.

Giok Hoa mementang matanya lebar-lebar, namun belum lagi dia melihat jelas, diwaktu itu telah dirasakannya berkesiuran angin yang sangat kuat sekali. Tahu-tahu tubuhnya telah melayang ringan dan buah-buah yang dipetiknya tadi telah berjatuhan.

Karena kagetnya, Giok Hoa sampai mengeluarkan jerit tertahan. Suara jerit tertahan Giok Hoa menyadari burung rajawali itu, yang seketika telah memekik dan segera memburu akan mengejar orang yang telah mengempit Giok Hoa dan melarikan gadis cilik tersebut.

Dengan sebat burung rajawali itu telah mementang sayapnya dan tubuhnya melesat sangat cepat sekali menerjang kepada orang yang hendak menculik Giok Hoa. Namun orang yang menculik Giok Hoa sama sekali tidak memiliki keinginan buat melayani burung rajawali itu.

Dia berlari-lari cepat seperti bayangan belaka, dengan menikung ke kanan kiri di antara batang-batang pohon. Dengan sikap seperti itu, tentu saja orang tersebut bermaksud hendak mempersulit burung rajawali itu mengejar dirinya.

Dan memang burung rajawali putih itu sulit buat mengejar orang yang telah menculik Giok Hoa, karena dia tidak bisa menerjang dengan cepat. Dia harus melewati batang pohon yang tumbuh berjarak tidak terlalu berjauhan. Untuk terbang pun dia tidak dapat, hanya sambil terus mengejar, burung rajawali itu telah mengeluarkan suara pekik yang berisik sekali.

Giok Hoa yang berada dalam kempitan orang itu merasakan tubuhnya seperti melayang-layang terbang di angkasa, karena dia dibawa lari cepat sekali oleh orang itu, dirasakannya tangan orang yang menculiknya itu mengempitnya dengan kuat dan kencang sekali.

Segera juga Giok Hoa berusaha meronta, gagal. Tenaganya tidak bisa menandingi kekuatan tenaga orang tersebut. Seketika itu juga dia merasakan kempitan tangan orang itu sangat kuat dan keras membuatnya jadi merasa sakit pada pinggangnya.

Waktu itu Giok Hoa berusaha mengangkat kepalanya buat melihatnya, dan dia jadi kaget waktu melihat muka orang itu, karena orang yang telah menculiknya itu tidak lain dari orang berbadan kurus tinggi itu, yang disebut oleh Bun Kie Lin sebagai orang she Bong dan murid dari Hek-pek-siang-sat.

Giok Hoa jadi mengeluh. Orang ini rupanya memang telah mengikuti jejaknya dan berusaha menantikan kesempatan yang baik untuk membalas sakit hatinya. Dan melihat Giok Hoa berada seorang diri, dia segera turun tangan.

Hanya saja disebabkan di tempat itu terdapat burung rajawalinya, dengan sendirinya orang bertubuh tinggi kurus itu yang pernah merasakan hebatnya burung rajawali putih tersebut, tidak mau melayani burung rajawali itu. Dia telah membawa lari Giok Hoa secepatnya, untuk menyingkirkan diri.

Sedangkan burung rajawali putih itu semakin lama mengejar semakin cepat juga, dengan suara pekikannya yang semakin ramai, karena dia menguatirkan sekali keselamatan Giok Hoa.

Giok Hoa masih terus meronta, malah dia menundukkan kepalanya, berusaha menggigit lengan orang bertubuh tinggi kurus itu, dia juga menggigitnya dengan keras sekali. Dengan begitu, dia bermaksud agar orang itu melepaskan cekalannya sehingga burung rajawali putih itu akan dapat mengejarnya dengan cepat dan mempermainkan diri orang bertubuh tinggi kurus itu.

Akan tetapi orang she Bong itu hanya merasa kesakitan sedikit, malah kemudian dia mengempit semakin kuat, dan tangan yang lainnya dipergunakan buat menghantam punggung Giok Hoa, sehingga gadis cilik tersebut merasakan kepalanya pusing dengan mata berkunang-kunang. Diwaktu itulah tampak tubuh orang she Bong itu melesat semakin cepat.

Setelah berlari-lari sekian lama, dia memasuki hutan semakin dalam, sehingga pohon-pohon yang tumbuh di situ semakin lebat juga. Burung rajawali itu tidak bisa mengejar lebih jauh.

Dengan mengibas-ngibaskan sayapnya dan mengeluarkan suara memekik yang berisik sekali, burung rajawali putih itu seperti mengamuk. Setiap kali sayapnya menghantam batang pohon, maka seketika batang pohon itu tergoncang sangat keras sekali, dan daun kering yang berterbaran di tanah telah beterbangan karena angin yang ditimbulkan oleh gerakan sepasang sayap dari burung rajawali putih tersebut sangat kuat sekali.

Orang she Bong itu telah berlari semakin cepat juga, dan akhirnya dia telah menghentikan larinya, mengangkat kepalanya memandang ke atas pohon.

“Suhu..... tecu telah menangkap orang yang telah menghina tecu, pemilik dari burung rajawali putih yang tecu ceritakan itu.....!” kata orang she Bong tersebut.

“Hemmmmm……!” terdengar suara yang perlahan dan tawar dari atas pohon itu.

Giok Hoa berusaha mengangkat kepalanya, sehingga dilihatnya dua orang tengah duduk di cabang pohon itu dengan sikap seenaknya, yang seorang memakai baju warna putih, dengan kulit muka yang cukup putih, usianya telah lanjut, dialah seorang laki-laki tua yang memiliki wajah dan sikap yang dingin sekali.

Sedangkan yang seorang lagi mengenakan baju warna hitam, yang mukanya hitam seperti pantat kuali. Matanya sangat besar, dia memelihara berewok yang kasar, dan mukanya sama seperti kawannya, dingin dan tidak memperlihatkan perasaan apapun juga.

Waktu itu, orang she Bong itu telah melemparkan Giok Hoa ke tanah, sehingga gadis cilik itu terguling-guling di tanah. Dan Giok Hoa berusaha untuk bangun dan berlari meloloskan diri dari orang she Bong itu.

Namun usahanya itu tidak berhasil. Begitu dia bermaksud hendak berlari, orang she Bong tersebut mengibaskan tangannya, maka tubuh Giok Hoa telah terguling-guling di tanah, karena diterjang oleh tenaga yang sangat kuat dari kibasan baju orang she Bong tersebut.

Ke dua orang yang duduk di atas cabang pohon yang hitam dan putih itu, tidak lain dari Hek-pek-siang-sat. Mereka telah melompat turun dengan gerakan yang sangat ringan sekali. Mereka telah memandang dengan sorot mata yang sangat tajam dan memperhatikan Giok Hoa dengan sikap seperti juga memperhatikan sesuatu barang yang indah dan baik.

“Hemmmmmmm, anak sekecil ini dapat menghina dirimu?!” tanya orang yang bermuka hitam itu. Suaranya mengandung ejekan dan perasaan gusar. “Kami telah mendidik engkau bersusah payah selama enam tahun, lalu engkau dapat dihina oleh seorang gadis cilik seperti dia?”

Orang she Bong itu berdiri dengan sepasang tangan diturunkan, sikapnya menghormat sekali. Mukanya pun berobah menjadi merah, tampaknya dia malu menerima teguran dari gurunya.

“Bukan dia yang telah membuat tecu jatuh terguling dan diperhina, tetapi justeru dia adalah pemilik burung rajawali putih itu! Sedangkan seperti tecu katakan, bahwa yang telah menghina tecu tidak lain dari Yo Him, putera dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.....!”

Orang bermuka hitam itu tidak berkata apapun lagi, dia hanya memperhatikan gadis cilik itu. Sedangkan yang memakai baju putih itu, telah berkata tawar:

“Gadis ini memiliki bakat yang menakjubkan..... dan juga dia seorang gadis kecil yang agak luar biasa! Jika mendengar ceritamu bahwa gadis cilik ini dapat memerintah burung rajawali putih itu, tentunya diapun bukan gadis sembarangan?”

Setelah berkata begitu, orang bermuka putih tersebut telah menoleh kepada Giok Hoa,yang waktu itu tengah merangkak bangun dengan pipi kanannya agak membengkak karena, telah terguling-guling akibat kibasan tangan dari orang she Bong itu.

“Siapa kau nak? Dan mengapa engkau memusuhi muridku, kau perintahkan burung rajawalimu itu buat menghina muridku itu?!” tanya pula orang berpakaian serba putih itu, sikapnya berobah jadi sabar sekali.

Giok Hoa telah berhasil merangkak bangun berdiri dengan kepala ditengadahkan. Sikapnya berani sekali, karena gadis cilik ini merasa marah.

Apalagi setelah mengetahui bahwa ke dua orang ini, si Hitam dan si Putih, adalah dua orang guru dari orang she Bong itu. Tentunya mereka berdua pun bukan manusia baik-baik?? Karena itu, dengan suara yang lantang dan berani dia menyahuti,

“Tidak perlu engkau mengurusi diriku! Tidak perlu kalian mengetahui siapa diriku! Tetapi yang terpenting, kalian harus mendidik murid kalian itu agar menjadi manusia yang cukup baik dan tidak mengumbar kebengisannya belaka.....

“Masih untung waktu dulu aku tidak perintahkan Pek-jie agar mematuk biji matanya, agar buta.....! Hemmmmm, siapa sangka, setelah diberi hajaran oleh Pek-jie, ternyata dia masih berani mengumbar hatinya yang busuk itu.....!”

Hek-pek-siang-sat tertegun mendengar kata-kata Giok Hoa yang begitu berani. Tetapi mereka berdua benar-benar merupakan manusia yang aneh sekali. Mereka selalu menempuh jalan sekehendak hati mereka, sehingga orang-orang dalam rimba persilatan tidak bisa memasukkan mereka dalam golongan putih atau golongan hitam.

Karena terkadang Hek-pek-siang-sat menolong orang yang tengah dalam kesulitan dan juga membela kebenaran, tetapi tidak jarang pula Hek-pek-siang-sat menolongi penjahat untuk melakukan sesuatu kejahatan! Dengan demikian, sukar sekali diterka sesungguhnya ke dua orang yang berkepandaian luar biasa ini termasuk dalam golongan mana.

Dan ada lagi sifat mereka yang agak aneh jika mereka bertemu dengan seseorang yang penakut dan bermuka-muka pada mereka, ke duanya akan merasa benci dan juga akan bersikap bengis. Tetapi menyaksikan Giok Hoa, walaupun masih demikian kecil, namun sangat berani dan gagah sekali, mereka jadi kagum dan malah tidak marah ditegur seperti itu oleh Giok Hoa.

“Nona manis, kau berkata bahwa kami tak dapat mendidik murid kami dengan baik-baik, lalu dengan alasan apakah kau bisa berkata seperti itu?” tanya si Putih sambil tersenyum tidak memperlihatkan kemarahan, malah dari wajahnya terlihat dia merasa senang melihat sikap gadis kecil yang berani ini!

Giok Hoa telah bertolak pinggang, dia bilang: “Aku telah menyaksikan sendiri, tidak hujan tidak angin, muridmu telah mencari urusan dengan Yo Koko........ malah dia berusaha untuk turunkan tangan kematian, karena itu Yo Koko turunkan tangan keras padanya. Dan akupun telah memberikan ganjaran padanya dengan perintahkan Pek-jie agar mempermainkannya!

“Hemmmm, dengan begitu, ternyata dia masih tidak kapok dan masih berusaha menghina diriku. Malah caranya hina sekali, karena dia menantikan di kala aku seorang diri, dia baru menculik diriku, dan melarikan diri ketakutan dari Pek-jie! Jika memang dia seorang Ho-han dan gagah perkasa, tentu dia tidak akan melarikan diri dari Pek-jie, dan akan menghadapi Pek-jie dengan gagah.”

Hek-pek-siang-sat saling tatap satu dengan yang lainnya, ke duanya saling tersenyum.

Malah Hek-siang-sat telah berkata dengan, suara yang tawar: “Lalu menurut pendapatmu, dengan cara apa yang pantas buat kami mengajar murid kami itu?!”

“Hukum dia dan menuntut agar dia bersumpah keras, bahwa dia tidak akan berbuat rendah dan memalukan. Disampingitu tidak melakukan hal-hal yang berbau kejahatan.....!”

Mendengar jawaban Giok Hoa seperti itu Hek-pek-siang-sat tertawa bergelak-gelak. Mereka beranggapan perkataan Giok Hoa lucu sekali.

“Kau aneh bukan main, nona manis.....” kata si putih kemudian.

“Aneh? Aku tidak aneh, aku memiliki sepasang telinga, sepasang hidung, mulut dan mata..... mengapa aneh? Aku sama seperti kalian, tetapi yang kuinginkan orang itu yang menjadi muridmu tidak menjadi manusia rendah yang hanya berani terhadap orang yang tidak berdaya seperti aku, seorang anak-anak!

“Mengapa dulu waktu menghadapi Yo Koko dan juga Pek-jie, dia melarikan diri secara pengecut! Dan kini pura-pura garang padaku, ingin menghina diriku! Apakah tidakan dan perbuatannya itu berarti perbuatan seorang Ho-han?!”

Muka Hek-pek-siang-sat berobah ketika mendengar perkataan Giok Hoa, dan kemudian katanya: “Hemmm, dengan berkata begitu jelas nona ingin mengartikan bahwa kami ini merupakan manusia-manusia tidak punya guna, yang tidak dapat mendidik murid sendiri. Bukankah begitu?”

“Aku tidak berkata begitu, tetapi kenyataan yang kulihat memang begitu.....” jawab Giok Hoa dengan lantang dan berani sekali.

Tertegun kembali Hek-pek-siang-sat mendengar jawaban Giok Hoa yang berani itu, karena mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Giok Hoa memiliki keberanian seperti itu.

Dan akhirnya Pek-siang-sat telah berkata dengan suara yang dingin: “Sekarang coba kau sebutkan, apakah muridku ini harus di hukum?”

Giok Hoa mengangguk cepat.

“Ya, tentu saja harus dihukum. Memiliki murid yang hanya pandai melakukan kejahatan dan menghina orang tidak berdaya, disamping itu juga melakukan perbuatan-perbuatan rendah, hanya mengundang rasa malu pada guru-gurunya belaka! Karena itu, murid seperti dia harus dihukum sekeras-kerasnya, agar dilain saat dia tidak melakukan perbuatan yang memalukan lagi!”

Hek-pek-siang-sat tiba-tiba tertawa bergelak-gelak dengan suara yang nyaring sekali, malah Pek-siang-sat telah berkata nyaring:

“Bagus! Bagus! Jika memang nona berkata seperti itu, menandakan bahwa nona bersemangat sekali! Tetapi kami tidak akan menghukum murid kami, karena kami yang lebih mengetahui watak dan tabiatnya!

“Kami juga tidak akan melarangnya buat melakukan sesuatu apapun juga, karena itu menjadi haknya. Jika memang dia bisa melakukannya dan sanggup, bahkan memiliki kemampuan buat melakukan segalanya, mengapa pula kami harus melarangnya......!”

Waktu berkata begitu, tiba-tiba terdengar suara pekik burung rajawali putih di tengah udara. Terdengarnya begitu nyaring dan panjang, seakan juga burung rajawali putih itu tengah diliputi kemarahan, dan suara pekikannya itu terdengar demikian nyaring.

Rupanya burung rajawali putih itu setelah mengetahui tidak mungkin dia memasuki lebih jauh hutan itu, dia segera keluar dari hutan itu, lalu ia terbang ke tengah udara berputar-putar di atas hutan itu, berusaha untuk mencari-cari di mana jejak dari majikannya, Giok Hoa.

Tetapi hutan itu terlalu lebat dan tertutup sehingga dia tidak bisa melihat dari atas menembus ke dalam hutan itu. Lebatnya daun-daun dan ranting pada pohon-pohon di hutan itu menyebabkan Pek-jie tidak bisa melihat keadaan di bawahnya. Apa yang dilihatnya hanyalah daun-daun yang tebal sekali.

Sedangkan Hek-siang-sat waktu itu telah berkata dengan suara yang perlahan, mengandung keraguan: “Jika melihat sikapmu seperti ini, tentunya engkau bukan seorang gadis cilik sembarangan. Siapa ayahmu? Dan apa hubungan antara kau dan Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.....”

Giok Hoa tertawa tawar, katanya: “Tidak perlu kalian bertanya-tanya tentang diriku! Sudah kukatakan lebih baik engkau berdua mengurusi murid kalian itu! Oh ya, apakah aku sudah boleh pergi meninggalkan tempat ini, tampaknya Pek-jie tengah mencari-cariku.”

“Biarkan Pek-jie datang ke mari, aku ingin melihat berapa hebatnya burung rajawali putih yang telah menghina muridku, sehingga muridku itu tidak dapat menghadapinya.....!” kata Pek-siang-sat.

Dan diapun telah menggerakkan tangan kanannya, maka terlontarlah secerah sinar kuning ke tengah udara, menimbulkan suara mengaung yang nyaring sekali. Hal itu menunjukkan bahwa tenaga lontaran dari Pek-siang-sat memang sangat kuat sekali.

Dan rupanya Pek-jie melihat dan mendengar suara mengaung dari benda kuning itu, yang menerobos ke tengah udara melewati hutan itu. Dia memekik dengan nyaring. Pek-jie telah terbang meluncur turun di atas hutan itu, sepasang sayapnya telah digerakkan dengan beruntun, mengibas-ngibas, maka timbullah hembusan angin yang bergemuruh, seperti juga badai yang tengah mengamuk di tempat itu, menjibakkan daun-daun itu, yang jadi bergoyang-goyang.

Pek-jie telah menggerakkan terus sayapnya dan dia seperti hendak mengamuk.

Dalam keadaan seperti itu, Hek-pek-siang-sat telah mengangguk-angguk,

“Ya, burung rajawali putih yang seekor ini memang lain dari burung rajawali yang lainnya. Ia memiliki tenaga yang kuat sekali,” kata Pek-siang-sat, “dan aku semakin tertarik buat melihatnya.”

Setelah berkata begitu, Hek-pek-siang-sat telahmengeluarkan lagi semacam benda berwarna kuning, seperti juga sebatang paku, dilontarkan ke tengah udara, malah tampaknya lontarannya kali ini jauh lebih kuat, menimbulkan suara mengaung yang sangat keras sekali.

Dan yang lebih luar biasa, Pek-siang-sat seperti juga telah mengetahui beradanya burung rajawali putih itu, di mana dia telah menimpukkannya ke arah itu, sehingga benda kuning tersebut mengenai sayap dari burung rajawali itu, yang memekik nyaring kesakitan.

Karena kesakitan justeru rajawali putih itu semakin mengamuk hebat. Sepasang sayapnya telah menghantam ke sana ke mari menimbulkan gemuruh angin yang hebat sekali, bagaikan amukan topan yang tengah berlangsung di tempat tersebut. Dalam keadaan seperti itulah, maka tampak Hek-pek-siang-sat saling pandang satu dengan yang lainnya, dan akhirnya mereka telah mengangguk.

“Burung rajawali yang luar biasa..... dan menarik sekali!” kata mereka berdua hampir berbareng.

Memang tabiat dan perangai Hek-pek-siang-sat agak aneh. Semakin luar biasanya yang dihadapi mereka, maka semakin besar pula semangat mereka terbangun.

Waktu itu Giok Hoa yang menguatirkan Pek-jie mengamuk terus menerus dan juga akan terkena serangan senjata rahasia yang mungkin dilepaskan oleh Hek-pek-siang-sat, segera bersiul nyaring, dan suara siulan tersebut memerintahkan Pek-jie agar segera berlalu menjauhi diri.

Sesungguhnya suara siulan yang dikeluarkan Giok Hoa hampir tidak terdengar, karena tertindih oleh suara bergemuruh akibat mengamuknya Pek-jie. Akan tetapi burung rajawali putih itu benar-benar memiliki pendengaran yang sangat tajam sekali, sehingga dia dapat mendengar juga suara siulan dari majikannya dan segera terbang menjauhi diri.

Dengan demikian, meredahlah suara bergemuruh akibat mengamuknya Pek-jie.

Sedangkan Hek-pek-siang-sat telah saling pandang, lalu kata Pek-siang-sat: “Mari kita lihat burung rajawali itu!”

Kemudian dia memberikan isyarat kepada muridnya, agar dia mencekuk Giok Hoa.

Orang she Bong itu mengerti perintah gurunya, tanpa mengatakan sepatah perkataanpun juga, tubuhnya telah melesat ke samping Giok Hoa. Belum lagi Giok Hoa mengetahui suatu apa pun juga, di saat itu telah terlibat pinggangnya kena dilingkari tangan orang she Bong tersebut.

Dalam kagetnya Giok Hoa hanya dapat memukul serabutan dengan kepalan tangannya yang berukuran kecil itu kepada dada orang she Bong tersebut. Dia memukulnya berulang kali, sambil meronta-ronta.

Namun pukulan kepalan tangan Giok Hoa sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit, malah telah membuat orang she Bong itu tertawa mengejek, dan berkata dengan suara menghina: “Kau pilihlah bagian yang empuk di tubuhku, pukullah terus!”

Dan dia telah berhasil mengempit Giok Hoa, sambil tertawa mengejek, dia menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya segera melesat menyusul ke dua gurunya.....!

Hek-pek-siang-sat waktu itu tengah berlari-lari dari hutan tersebut. Dalam sekejap mata saja mereka telah berada di depan hutan itu.

Maka mereka melihat Pek-jie tengah terbang berputaran di tengah udara. Dan Hek-pek-siang-sat saling memandang satu dengan yang lainnya, tampak di wajah mereka perasaan kagum, karena dilihatnya burung rajawali itu berukuran sangat besar sekali, jauh lebih besar dari burung-burung rajawali umumnya.

“Ini memang burung rajawali yang agak luar biasa!” menggumam Pek-siang-sat dengan suara tertahan.

Hek-siang-sat mengangguk.

Orang she Bong itu telah tiba di tempat itu juga dengan mengempit tubuh Giok Hoa.

Sedangkan Pek-jie yang tengah terbang berputar di tengah udara, ketika melihat munculnya Hek-pek-siang-sat, disusul kemudian dengan orang she Bong yang pernah dipermainkannya, dan melihat Giok Hoa terkempit di tangan orang she Bong itu dalam keadaan tidak berdaya, jadi mengeluarkan suara pekik yang nyaring. Ia telah terbang meluncur turun akan menyambar orang she Bong.

Akan tetapi orang she Bong itu yang telah mengetahui kehebatan burung rajawali putih ini tidak berani menghadapi terjangan burung tersebut. Ia segera menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat ke samping, berlindung di balik sebatang pohon yang cukup besar.

Hek-pek-siang-sat yang melihat burung rajawali putih itu telah menyambar ke bawah. segera melompat menghadangnya, mencegah burung rajawali itu menyerang murid mereka.

Dengan tenang dan penuh keyakinan, bahwa mereka akan dapat menangkap burung rajawali putih yang luar biasa ini. Hek-pek-siang-sat berdiri bersiap-siap di tempatnya. Di waktu itu terlihat betapa Hek-pek-siang-sat telah mengerahkan tenaga dalam pada telapak tangannya, dan Pek-siang-sat berdiri tenang belum mengerahkan tenaganya.

Ketika burung rajawali putih itu telah meluncur turun menyambar ke bawah, dia telah disambut dengan pukulan telapak tangan dari Hek-siang-sat. Sedangkan Pek-siang-sat telah menjejakkan sepasang kakinya, tubuhnya dengan ringan sekali telah melesat ke tengah udara, begitu dia berpok-say segera dia hinggap di punggung burung rajawali putih tersebut.

Dengan kuat sepasang tangan Pek-siang-sat merangkul batang leher tersebut, ia melingkarkan tangannya dengan ketat.

Pukulan telapaktangan dari Hek-siang-sat telahmenyambar ke arah dada burung rajawali itu. Itulahpukulan yang mengandung, kekuatan lweekang bisamenghancurkan, karena Hek-siang-sat hendak melukai dulu burung rajawali putih itu.

Namun untuk herannya, waktu pukulan Hek-siang-sat hampir mengenai dada burung rajawali putih itu, dengan gerakan yang aneh sekali seperti juga gerakan seekor ular yang berlenggang lenggok dan melejit ke samping, cepat sekali burung rajawali itu telah dapat menghindar dari terjangan tenaga pukulan Hek-siang-sat.

Dengan demikian, gagallah serangan yang dilakukan Hek-pek-siang-sat.

Dan burung rajawali itu telah bergerak lincah sekali. Begitu dia bisa berkelit dari angin serangan Hek-siang-sat, cepat sekali dia telah menyambar ke arah batok kepala Hek-siang-sat, yang hendak dipatuknya dengan paruhnya.

Gerakan burung rajawali yang demikian aneh membuat Hek-siang-sat jadi mengeluarkan seruan heran. Namun seketika terbangun semangatnya, dia jadi sangat tertarik sekali dan semakin bersemangat untuk main-main dengan burung rajawali putih itu.

Dalam keadaan demikianlah Hek-siang-sat juga telah menghantam lagi beberapa kali.

Namun burung rajawali itu telah dapat menghindar dengan gerakan tubuh yang meliuk-liuk. Dan juga setiap kali dia berkelit, tentu sayapnya akan mengibas, menimbulkan sambaran angin yang gemuruh dahsyat sekali.

Hek-siang-sat yang melihat keadaan seperti bukannya menjadi jeri, malah jadi semakin tertarik dan gembira. Tubuhnya telah melompat ke sana ke mari untuk membingungkan burung rajawali itu, tangannya juga tidak tinggal diam. Dia telah menyerang kepada burung rajawali putih itu berulang kali, dengan maksud jika pukulannya itu sekali saja mengenai sasarannya, niscaya akan menyebabkan burung rajawali putih itu akan luka berat.

Namun benar-benar burung rajawali putih yang tengah mereka hadapi ini merupakan seekor burung rajawali yang luar biasa sekali. Karena setiap hantaman dan pukulan telapak tangan Hek-siang-sat, yang sesungguhnya sangat kuat dan hebat itu masih dapat dielakkannya dengan gerakan tubuh aneh seperti gerakan seekor ular.

Dan dengan demikian, disamping heran, tentu saja Hek-siang-sat semakin penasaran. Jangan kata seekor burung rajawali, sedangkan tokoh rimba persilatan saja yang memiliki kepandaian tinggi, belum tentu dapat menghadapi serangan Hek-siang-sat.

Tetapi burung rajawali putih ini justeru tampaknya begitu mudah selalu memunahkan tenaga serangan dari Hek-siang-sat. Berkelit ke sana ke mari dengan tubuh yang seperti dapat meliuk-liuk.

Waktu itu padahal Pek-siang-sat masih duduk di punggungnya, dengan mengempitkan ke dua tangannya pada batang leher burung rajawali tersebut. Tetapi burung rajawali itu seperti tidak memperdulikan sikap dan perlakuan dari Pek-siang-sat.

Dia seperti juga tidak memperdulikan betapa ke dua tangan Pek-siang-sat telah melingkari lehernya begita kuat. Dia menerjang terus Hek-siang-sat.

Malah suatu waktu, ketika dilihatnya Hek-siang-sat tengah melompat jauh dari dirinya, cepat sekali burung rajawali putih itu telah meluncur turun dengan pesat. Tahu-tahu dia telah memutar tubuhnya, sepasang kakinya menghadap ke langit, begitu juga dengan perutnya.

Dengan demikian, waktu akan menghantam tanah punggungnya itulah yang akan menubruk bumi. Berarti burung rajawali ini hendak membenturkan tubuh Pek-siang-sat pada tanah dengan keras.

Sedangkan Pek-siang-sat yang merasakan tahu-tahu tubuh rajawali itu telah berputar, dia jadi kaget. Namun Pek-siang-sat tidak menjadi gugup, dan dia segera melepaskan kempitan sepasang tangannya pada leher burung rajawali itu, kemudian telah melesat cepat sekali, sehingga dia bisa meloloskan diri dari bantingan burung rajawali itu.

Ketika Pek-siang-sat telah meninggalkan punggungnya dengan melompat menjauhi diri dan juga merasakan punggungnya ringan disamping lehernya telah terbebas tidak dikempit terus oleh Pek-siang-sat, maka burung rajawali itu membatalkan menumbukkan punggungnya pada tanah. Segera juga dia telah terbang menukik naik lagi dengan cepat, luar biasa, tubuhnya telah mengangkasa lagi sambil mengeluarkan suara pekikan yang sangat nyaring sekali.

Pek-siang-sat waktu itu telah berdiri di samping Hek-siang-sat. Ke duanya telah saling pandang. Hek-pek-siang-sat diam-diam di hati mereka merasa kagum bukan main, karena mereka melihatnya burung rajawali itu memang sangat cerdik sekali, di samping memiliki kekuatan yang luar biasa.

“Tentunya burung rajawali putih itu telah terdidik baik sekali!”

Begitulah Pek-siang-sat menggumam sambil mengawasi burung rajawali putih yang tengah terbang berputar-putar di tengah udara, sementara waktu burung rajawali itu tidak menukik turun buat menerjang pada ke dua orang itu, si Hitam dan si Putih.

Hek-siang-sat tampak penasaran sekali, dia tersenyum sambil memandang kepada Pek-siang-sat.

“Memang kali ini kita menghadapi lawan yang agak luar biasa..... dia seperti dapat berkelit dari setiap seranganku, di mana dia dapat meliukkan tubuhnya bagaikan gerakan seekor ular..... luar biasa sekali!”

Dan memang Hek-siang-sat jadi tambah penasaran karena itu dia jadi semakin ingin sekali merubuhkan burung rajawali itu.

Sebagai seorang tokoh rimba persilatan di mana Hek-pek-siang-sat keduanya merupakan orang-orang yang disegani oleh semua orang gagah rimba persilatan, baik dari kalangan hitam maupun dari kalangan putih, sekarang seperti tidak berdaya buat merubuhkan burung rajawali putih itu.

Walaupun ke duanya telah beberapa jurus berusaha menyerang rajawali itu, tokh keduanya masih tidak bisa dirubuhkan Pek-jie, sehingga burung rajawali putih itu masih dapat terbang berkeliaran di tengah udara.

Dengan demikian telah membuat Hek-pek-siang-sat benar-benar penasaran sekali. Karena itu, mereka bersiap-siap untuk bersungguh-sungguh menghadapi burung rajawali itu.

Namun burung rajawali itu tidak juga segera menukik turun lagi, dia berputar-putar di tengah udara, sambil memekik tidak hentinya. Rupanya burung rajawali putih itu mengetahui ke dua orang yang dihadapinya kali ini bukan sebangsa manusia sembarangan.

Tadi dia telah melihatnya, betapa setiap pukulan-pukulan yang dilakukan oleh ke dua orang itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang dahsyat sekali. Juga tadi dia merasakan cekikan tangan dari Pek-siang-sat, membuatnya hampir sulit bernapas.

Karena itu, telah membuat burung rajawali putih tersebut tidak segera menukik turun buat menyerang pula. Dia hanya berputar-putar di tengah udara sambil mengeluarkan suara pekikan tidak hentinya.

Dalam keadaan seperti inilah segera juga terlihat bahwa ke dua orang Hek-pek-siang-sat semakin tidak sabar. Hek-pek-siang-sat telah menoleh kepada muridnya, katanya: “Suruh gadis cilik itu buat memerintahkan burung rajawali itu terbang turun.....”

Orang she Bong itu mengiyakan, segera juga perintahnya kepada Giok Hoa: “Cepat kau perintahkan burung rajawali itu terbang turun......”

Tetapi Giok Hoa berdiam diri saja.

“Jika engkau tidak menuruti perintahku, hemmmm, hemmmm, tentu aku akan menyiksamu, sehingga akhirnya mau atau tidak engkau akan mematuhi perintahku!”

“Manusia rendah tidak tahu malu!” memaki Giok Hoa karena tidak bisa menahan kemarahan hatinya.

Bukan main mendongkol hatinya. Jika saja menuruti kemarahan hatinya dan dia itu tidak ada ke dua gurunya, tentu orang she Bong itu telah menghantam batok kepala gadis kecil ini buat membinasakannya.

Namun akhirnya dia menahan kemarahan hatinya, dia telah berkata dengan tawar, “Baiklah, jika memang engkau tidak mau menuruti perintahku, hemm, hemm, dengan begini apakah engkau tidak mau mematuhi perintahku!”

Dan setelah berkata begitu, segera juga orang she Bong itu telah menelikung tangan kiri Giok Hoa. Dia memijitnya kuat-kuat.

Tentu saja Giok Hoa jadi kesakitan sampai gadis kecil itu karena terlalu kesakitan, telah menitikkan air mata.

Tetapi Giok Hoa tetap tidak mau memenuhi perintah dari orang she Bong itu, dia tidak mau bersiul, hanya menggigit bibirnya kuat-kuat.

Disaat itu, Hek-pek-siang-sat telah menoleh kepada muridnya, tanyanya: “Apakah kau tidak dapat perintahkan gadis cilik itu agar memerintahkan burung rajawali itu turun!”

Itulah teguran yang nadanya biasa saja, tetapi orang she Bong itu mengetahui gurunya itu sudah tidak sabar lagi. Dan jika dia masih tidak berhasil memaksa Giok Hoa memanggil turun burung rajawali itu, kemungkinan besar amarah gurunya itu akan ditimpahkan kepadanya. Segera juga orang she Bong itu menelikung tangan Giok Hoa semakin keras, membuat Giok Hoa jadi tambah kesakitan.

Karena sudah tidak tahan perasaan sakit pada tangannya, yang seperti juga hendak patah, dengan sendirinya telah membuat Giok Hoa menjerit kesakitan. Namun tetap saja dia tidak mau bersiul memanggil burung rajawali itu turun.

Burung rajawali putih itu yang tengah terbang berputar-putar di tengah udara, mendengar suara jerit kesakitan Giok Hoa. Diapun melihat tangan Giok Hoa tengah ditelikung ke belakang tubuhnya oleh orang she Bong itu. Maka burung rajawali putih yang sangat cerdik segera mengetahui majikannya tengah disiksa.

Cepat seperti kilat, tahu-tahu tubuhnya telah menukik turun, menyambar kepada orang she Bong itu. Gerakan burung rajawali itu sangat cepat sekali, tubuhnya telah melesat sampai di dekat orang she Bong itu.

Belum lagi orang she Bong tersebut mengetahui apa yang terjadi, justeru di waktu itulah telah terlihat sayap kanan dari burung rajawali itu, tepat sekali menghantam batok kepalanya.

Beruntung orang she Bong itu kenal bahaya, dia mengetahui. Jika saja batok kepalanya kena dikepret oleh sayap burung rajawali yang begitu kuat dan besar tentu batok kepalanya akan hancur. Maka dia mati-matian telah membuang dirinya bergulingan di tanah. Dengan demikian dia hanya merasakan menyambarnya angin kibasan sayap dari burung rajawali itu yang sangat kuat sekali, namun kepalanya tetap utuh.

Dan sebagai penggantinya, sebungkah batu yang sangat besar telah terhantam sayap burung rajawali putih itu, dengan menimbulkan suara yang bergemuruh, batu itu telah terpental hancur menjadi potongan-potongan kecil.

Melihat hebatnya sampokan sayap burung rajawali itu, muka orang she Bong tersebut seketika berobah pucat.

Dan di waktu itu juga terlihat betapa Hek-siang-sat yang memang semakin tertarik buat main-main dengan burung rajawali putih yang hebat itu, telah menjejakkan kakinya. Tubuhnya bagaikan anak panah telah melesat ke dekat burung rajawali tersebut, dia menghantam dengan tangan kirinya.

Angin hantaman itu cukup kuat dan burung rajawali itu mengelak, maka Hek-siang-sat telah menghantam dengan tangan kanannya. Rupanya serangan tangan kirinya merupakan gertakan belaka.

Dalam keadaan seperti itulah terlihat, betapapun cepatnya gerakan burung rajawali putih itu, tokh tetap saja dia tidak berhasil menghindarkan diri lagi dari serangan tangan kanan Hek-siang-sat.

Hantaman itu kuat sekali, burung rajawali putih tersebut sampai mengeluarkan pekik kesakitan.

Namun burung rajawali putih itu tidak berdiam diri belaka, dia telah mengibaskan sayap kanannya.

Maka tidak ampun lagi Hek-siang-sat pun kena disapu oleh sayap burung rajawali itu, sampai tubuhnya terpental karena memang Hek-siang-sat sama sekali tidak menyangkanya bahwa rajawali itu setelah kena dihantamnya dengan pukulan yang sangat dahsyat, ternyata masih dapat mengibaskan sayapnya itu begitu kuat. Yang membuat Hek-siang-sat tidak menyangkanya pula adalah kekuatan burung rajawali itu yang demikian dahsyat, sehingga begitu disapu oleh sayapnya seketika tubuhnya terpental rubuh di atas tanah.

Mungkin, tadi merupakan satu-satunya pengalaman yang pernah dialami oleh Hek-siang-sat, sedangkan jika bertempur dengan tokoh-tokoh persiIatan tidak mungkin dia tersapu terguling seperti itu.

Dasarnya Hek-siang-sat memiliki kepandaian yang tinggi, begitu terguling, tubuhnya sudah melentik melompat sambil telapak tangannya menyambar kepada ujung sayap dari si burung rajawali. Dengan memusatkan kekuatan tenaga dalamnya, dia berusaha menariknya di mana dia telah membetotnya sangat kuat sekali, sehingga menyebabkan burung tersebut telah mengeluarkan suara pekik kesakitan yang keras sekali, dan menggerakkan sayapnya itu berusaha melepaskan cekalan Hek-siang-sat.

Namun cekalan Hek-siang-sat kuat sekali. Diapun telah mempergunakan ilmu memberatkan tubuh seribu kati. Dengan demikian sepasang kakinya seperti tertanam dalam di bumi walaupun burung itu menghentak keras, tokh Hek-siang-sat tidak bergeming lagi dari tempatnya.

Mengetahui bahwa lawannya seorang manusia yang memiliki kepandaian tinggi sekali, burung rajawali tersebut tidak tinggal diam, segera dia merobah cara. Dia tidak menggerakkan sayapnya yang tercekal, hanya serentak dia menggerakkan sepasang sayapnya itu, angin menderu-deru. Namun tetap Hek-siang-sat telah mencekalnya kuat-kuat, karena itu, tubuh Hek-siang-sat terangkat sedikit demi sedikit, karena burung itu hendak membawanya terbang.

Begitu telapak kaki Hek-siang-sat terpisah dari tanah, maka punahlah kekuatan memberatkan tubuh seribu kati. Dia berusaha melepaskan cekalannya.

Namun belum lagi Hek-siang-sat menjalankan kehendaknya itu, di mana dia hendak menyelamatkan diri dengan menjauhkan diri dari burung rajawali itu, justeru di waktu itulah terlihat burung rajawali putih itu telah menggerakkan sepasang sayapnya semakin hebat. Dengan demikian membuat tubuh Hek-siang-sat terangkat tinggi sekali ikut terbang dengan burung rajawali putih itu.

Malah sebelum Hek-siang-sat sempat untuk melepaskan cekalannya, burung rajawali putih yang cerdik itu telah mengibaskan sayapnya yang dicekal Hek-siang-sat. Seketika itu juga tubuh Hek-siang-sat terlempar tinggi sekali, ke tengah udara bagaikan dilontarkan oleh suatu kekuatan yang sangat hebat.

Dalam keadaan seperti itu Hek-siang-sat pun menyadarinya bahwa dia tidak bisa melawan dengan kekerasan, karenanya dia telah meringankan tubuhnya, membiarkan tubuhnya itu terlontar ke tengah udara, dia berpok-say dengan maksud hendak melompat turun dengan sepasang kaki terlebih dulu.

Hanya saja yang membuat Hek-siang-sat jadi kaget tidak terkira justeru di saat itulah terlihat bahwa burung rajawali itu telah menerjang kepadanya terbang dengan sepasang sayap yang besar itu bermaksud hendak menyampok kepadanya.

Hati Hek-siang-sat tercekat kaget, dia terkesiap. Inilah hebat. Dia bisa bercelaka oleh sampokan sayap dari burung rajawali putih tersebut.

Dalam keadaan seperti ini Hek-siang-sat tidak menjadi gugup. Dia melihat betapa sayap itu menyampok kepadanya kuat sekali dan telah dekat.

Begitu tinggal beberapa dim, cepat-cepat Hek-siang-sat menghantam dengan tangannya, meminjam sampokan angin pukulan tersebut, tubuhnya telah mencelat setombak lebih, terpisah dari burung rajawali itu, kedudukannya tepat di atas sayap burung rajawali tersebut. Maka sepasang kaki Hek-siang-sat telah menotol sayap burung rajawali tersebut dan tubuhnya mencelat tinggi sekali tiga tombak lebih dengan meminjam tenaga totolan pada kakinya kemudian berpok-say di tengah udara.

Dalam keadaan seperti inilah segera tampak bahwa Hek-siang-sat bisa menyelamatkan diri tiba di tanah dengan ke dua kaki terlebih dulu. Namun tidak urung dia mengucurkan keringat dingin juga karena dia melihatnya bahwa dengan cara seperti tadi, dia bagaikan baru saja lolos dari lobang jarum. Dan karenanya dia telah berusaha untuk mengatur pernapasannya menenangkan perasaannya.

Pek-siang-sat yang sempat terpaku menyaksikan hebatnya burung rajawali putih itu, diam-diam tergetar juga hatinya. Hanya saja dia segera tersadar, maka dia menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat ke tengah udara. Cepat sekali tangan kanannya bergerak, dia telah menimpuk dengan senjata rahasia.

Tiga batang paku berwarna kuning emas itu dapat dihindarkan oleh burung rajawali putih yang waktu itu hendak memutar tubuhnya buat terbang menerjang pada Hek-siang-sat. Tetapi salah satu dari paku-paku itu telah menghujani sayapnya. Segera juga burung rajawali putih itu mengeluarkan pekik kesakitan, dan telah terbang menjauh.....!”

Hek-siang-sat pun tidak tinggal diam. Dia telah melancarkan serangan, sambil mengerahkan sebagian besar tenaga lweekangnya, namun burung rajawali itu sama sekali tidak memperdulikan pukulan yang jatuh di tubuhnya, sayapnya menyampok tubuh Hek-siang-sat.

Hantaman sayap dari burung rajawali itu yang memiliki tenaga sangat kuat sekali, telah membuat Hek-siang-sat seperti diterjang oleh suatu kekuatan yang bagaikan gunung runtuh menyebabkan dia terhuyung lagi. Beruntung saja Hek-siang-sat telah keburu mengerahkan tenaga dalamnya, dia telah mengempos semangatnya untuk memperkokoh sepasang kakinya dengan demikian membuat dia tidak sampai terguling, hanya merasakan napasnya agak sesak.

Burung rajawali putih itu benar-benar nekad, dia seperti tidak memperdulikan pukulan-pukulan Hek-siang-sat, juga dia tidak memperdulikan sayapnya telah terluka. Dia masih juga menyerang dengan kalapnya, seakan juga burung rajawali itu benar-benar setia ingin menolong Giok Hoa, majikannya itu.

Menyaksikan kekalapan burung rajawali putih tersebut, Hek-pek-siang-sat menyadari mereka mungkin saja bisa menghadapi burung rajawali ini, akan tetapi untuk merubuhkan burung rajawali tersebut tentu saja dibutuhkan tenaga yang berlebihan.

Dan sebelum mereka mengetahui dengan cara bagaimana lebih mudah merobohkan burung rajawali putih tersebut, burung itu telah terbang melayang ke dekat orang she Bong, guna menyerangnya untuk menolongi Giok Hoa

Tetapi orang she Bong juga cerdik, mana mau dia menghadapi burung rajawali putih yang tengah kalap itu. Melihat burung rajawali putih itu terbang ke arahnya, cepat sekali dia telah berlari ke dalam hutan. Dia mengambil tempat yang lebat ditumbuhi pohon-pohon, di mana dia sengaja bersembunyi di situ.

Tentu saja burung rajawali putih yang berukuran sangat besar tersebut tidak bisa mengejar terus, hanya saja disebabkan burung rajawali putih itu sangat marah, dia telah menggerakkan sayapnya, menyampok berulang kali ke batang-batang pohon di dekatnya, sehingga batang pohon itu seperti dihantam suatu kekuatan yang dahsyat, membuatnya bergoyang-goyang tidak hentinya.

Sedangkan orang she Bong itu merasakan berkesiuran angin kibasan tersebut, yang membuat mukanya terasa pedih dan nyeri. Diam-diam hati orang she Bong tersebut bergidik.

Bagaimana akibatnya jika saja ia berhadapan langsung dengan burung rajawali putih itu, yang memiliki tenaga begitu besar dan kuat. Karenanya, hal ini telah membuat orang she Bong tersebut menyelusup masuk ke dalam hutan lebih jauh lagi, tanpa memikirkan pula keadaan ke dua gurunya. Giok Hoa tetap saja dikempitnya dan dibawa berlari dengan cepat.

Dalam keadaan demikian Hek-siang-sat telah melompat ke dekat burung rajawali. Dengan serentak mereka menghantam burung rajawali putih itu, tangan mereka yang lainnya telah melontarkan juga senjata rahasia.

Hanya saja membuat mereka berbalik kaget tidak terkira. Justeru senjata rahasia yang mereka lontarkan itu, telah kena disampok oleh sayap burung tersebut, sehingga paku-paku senjata rahasia itu telah beterbangan menyambar kepada mereka sendiri!

Untung saja Hek-siang-sat memang liehay. Mereka dapat berkelit dari sambaran senjata-senjata rahasia yang hampir makan majikan itu!

Tetapi selanjutnya Hek-pek-siang-sat tidak mau menerjang terlalu dekat pada burung rajawali itu. Mereka melihatnya burung rajawali tersebut masih saja menggerakkan sepasang sayapnya tidak hentinya. Setiap hantaman sayapnya telah membuat pohon-pohon di dekatnya bergoyang-goyang, seperti pada waktu itu tengah terjadi gempa bumi.

Karena kehilangan jejak orang she Bong, dan juga tengah kalap, burung rajawali putih itu bagaikan tidak memperdulikan bulu-bulunya yang rontok akibat sampokan sepasang sayapnya, yang hendak menumbangkan pohon-pohon itu, untuk mengejar si orang she Bong.

Cuma saja, setelah melakukan sampokan-sampokan berulang kali tanpa hasil, burung rajawali putih itu sambil mengeluarkan pekik yang nyaring mengandung kekesalan, kemarahan dan juga kekalapan, telah memutar tubuhnya, terbang ke tengah udara. Dia berputar-putar di atas udara, di mana dia seperti tengah mencari-cari jejak orang she Bong yang masih menawan Giok Hoa.

Hek-pek-siang-sat yang melihat kelakuan burung rajawali putih tersebut, diam-diam jadi geleng-geleng kepala, mereka sangat kagum sekali, karena mereka telah melihatnya, betapa burung rajawali putih itu di samping tangguh, juga merupakan seekor burung rajawali yang sangat setia sekali, sehingga dia harus terluka seperti itu, tokh burung rajawali putih tersebut masih terus berusaha mencari majikannya, Giok Hoa.

Setelah berputar-putar sekian lama di tengah udara sambil mengeluarkan pekikan tidak hentinya, burung rajawali itu kemudian terbang menjauhi. Tidak lama kemudian telah terbang mendatangi lagi.

Begitulah burung rajawali putih tersebut berulang kali terbang ke sana ke mari, di mana dia telah berusaha untuk mencari jejak dari orang she Bong itu.

Namun orang she Bong yang menjadi murid Hek-pek-siang-sat telah menyembunyikan diri terus. Dia tidak berani keluar dari dalam hutan itu, karena sekali saja dia keluar dan kena dicengkeram oleh burung rajawali putih tersebut, niscaya akan menyebabkan tubuhnya dapat dirobek-robek.

Sedangkan Hek-pek-siang-sat waktu itu telah beberapa kali memanggil-manggil muridnya, namun orang she Bong itu tidak menyahuti dan tidak keluar. Hek-pek-siang-sat akhirnya masuk ke dalam hutan itu.

Mereka mencari-cari cukup jauh juga, rupanya orang she Bong itu telah memasuki hutan itu cukup dalam untuk menghindar dari burung rajawali tersebut. Karena dari itu, ketika melihat muridnya masih mengempit Giok Hoa dan tengah bersembunyi di balik sebungkah batu di tengah-tengah hutan tersebut, Hek-siang-sat telah membentaknya:

“Kie Siu, keluar..... sekarang burung rajawali putih itu telah pergi.....!”

Orang she Bong itu keluar juga dari balik batu tersebut, dia telah mengempit Giok Hoa kuat-kuat, karena jika Giok Hoa masih berada di tangannya dan gadis itu tidak mau memerintahkan burung rajawalinya pergi, sehingga jiwanya terancam, dia akan membunuh gadis cilik tersebut.

Ketika melihat ke dua gurunya, hatinya agak tenang. Tadi dia telah menyaksikan, gurunya yang begitu gagah dan liehay ternyata masih agak kewalahan juga menghadapi kekalapan burung rajawali putih yang memiliki tenaga begitu kuat. Dengan demikian membuat Bong Kie Siu, murid Hek-pek-siang-sat tersebut tidak berani untuk keluar dari hutan itu mukanya masih pucat.

“Mengapa kau meninggalkan kami?!” bentak Hek-siang-sat dengan suara yang agak bengis. “Hemmm, mengapa engkau tidak memaksa gadis cilik itu agar bersiul perintahkan burung rajawali putih itu agar pergi dari tempat ini?!”

“Maafkan Suhu..... sesungguhnya memang gadis kecil ini keras kepala, dia tidak mau menuruti perintahku, dan dia membandel bila perintahkan burung rajawali itu pergi dari tempat ini.....!” menyahuti Bong Kie Siu, dengan sikap takut-takut.

“Lepaskan gadis itu.....!” perintah Pek-siang-sat dengan suara yang lebih sabar dibandingkan sikap Hek-siang-sat.

Bong Kie Siu mematuhi perintah gurunya. Dia melepaskan kempitannya pada Giok Hoa, tetapi Bong Kie Siu tetap berwaspada, di mana dia berusaha untuk mengawasi gadis itu, kalau-kalau gadis cilik tersebut berusaha untuk melarikan diri.

Dalam keadaan seperti ini telah membuat Giok Hoa tidak berdaya untuk meloloskan diri dari ke tiga orang ini. Giok Hoa pun menyadarinya, bahwa Hek-pek-siang-sat memiliki kepandaian yang tinggi. Jika memang Giok Hoa berusaha melarikan diri, tentu dengan mudah dia akan dapat dicekuk kembali.

Itulah akhirnya membuat Giok Hoa telah berdiam diri saja. Dia mengawasi Hek-pek-siang-sat beberapa saat lamanya dengan sorot mata mengandung kebencian.

Pek-siang-sat telah tersenyum tawar, katanya: “Nona manis, kami tidak akan mempersulit engkau..... siapa engkau sebenarnya? Siapa gurumu? atau siapa ayah dan ibumu?”

Pek-siang-sat bertanya begitu karena menduga Giok Hoa tentunya seorang puteri dari tokoh terkemuka di dalam rimba persilatan.

Tetapi Giok Hoa diam seribu bahasa, dia bungkam dan tidak mau memberikan penyahutan sepatah perkataan pun juga.

Pek-siang-sat yang melihat sikap gadis cilik itu, telah tersenyum lagi.

“Nona manis, kami merasa kagum kepadamu, walaupun usiamu masih muda sekali, tokh engkau telah dapat menjinakkan seekor burung rajawali sehebat itu..... karena dari itu, terdorong oleh rasa kagum kami, membuat kami bermaksud bersahabat dengan kau dan ingin mengetahui siapakah sebenarnya engkau ini?!”

Mendengar perkataan Pek-siang-sat itu. yang berusaha untuk menghadapinya dengan cara yang lunak, Giok Hoa tetap tidak mau melayaninya, bahkan gadis cilik ini telah berkata dengan suara yang tawar: “Jangan banyak bertanya.....!” kemudian bungkam lagi.

Bong Kie Siu rupanya sudah tidak bisa menahan diri, dia membentak marah: “Biarlah Suhu, aku akan menyiksanya! Mustahil dia tidak mau bicara!”

Dan sambil berkata bengis seperti itu, Bong Kie Siu telah melangkah buat menghampiri Giok Hoa.

Namun Pek-siang-sat telah mengulapkan tangannya.

“Jangan!” kata si putih. “Kau tidak boleh mempersakiti nona manis ini!”

Giok Hoa tertawa dingin.

“Jika kalian hendak menyiksaku, siksalah, aku tidak takut!” tantangnya.

Melihat keberanian gadis cilik itu, bertambah kagum juga hati Hek-pek-siang-sat. Mereka berdua memang merupakan manusia-manusia aneh, semakin memperoleh sesuatu yang luar biasa, semakin terbangun semangat mereka untuk dapat menguasainya. Dan demikian juga halnya dengan Giok Hoa, semakin keras dan ketusnya gadis cilik itu menghadapi mereka, maka semakin bersemangat sekali Hek-siang-sat hendak menguasainya. Tampak Pek-siang-sat sambil tersenyum lebar telah mengangsurkan tangan kanannya menunjukkan ibu jarinya.

“Hebat! Engkau hebat sekali, nona manis......!” pujinya. “Engkau ternyata seorang nona manis yang benar-benar sangat tabah, menambah kekaguman kami saja!”

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 12"

Post a Comment