coba

Beruang Salju Bab 56 Perintah Membunuh Dari Lang-kauw-cu!

Mode Malam
56 Perintah Membunuh Dari Lang-kauw-cu!

Yo Him dan Sasana kembali ke kamar masing-masing, tampaknya mereka tidak memperdulikan sikap orang-orang itu.

Malam itu, Yo Him dan Sasana tertidur nyenyak. Walaupun demikian, mereka tetap berlaku waspada dan tidak lenyap kesiap siagaan mereka, kalau-kalau orang-orang Lang-kauw menyatroni mereka. Tetapi malam itu berlalu tanpa terjadi sesuatu apapun juga.....

Keesokan paginya, waktu matahari pagi telah terbit agak tinggi, Yo Him dan Sasana telah melanjutkan perjalanan mereka. Ke duanya tetap mempergunakan kuda mereka yang dijalankan perlahan-lahan, karena memang mereka melakukan perjalanan tidak terlalu tergesa-gesa.

Setelah meninggalkan kota tersebut belasan lie, tiba-tiba pasangan muda mudi ini bertemu dengan suatu peristiwa yang menegangkan sekali, peristiwa yang di luar dugaan dan bisa mendirikan bulu tengkuk.

Awal peristiwa tersebut dimulai ketika Yo Him akan mengajak Sasana untuk beristirahat. Waktu itulah mata Sasana telah melihat sesuatu yang menggeletak di tengah jalan.

“Engko Him...... lihat.....!” teriak Sasana sambil menunjuk ke arah benda itu.

Yo Him memperhatikan arah yang ditunjuk oleh Sasana sehingga dia bisa melihat benda yang menpgeletak di tengah jalan. Setelah memperhatikan dengan cermat, maka dia memperoleh kenyataan itulah sesosok tubuh manusia yang tengah rebah di tengah jalan. Tentunya itulah sesosok tubuh manusia yang telah mati, karena sama sekali tidak bergerak.

Cepat-cepat Yo Him melarikan kudanya lebih cepat menghampiri sosok tubuh itu. Sasana mengikuti di belakang si pemuda.

Ketika sampai di dekat sosok tubuh itu, Sasana mengeluarkan seruan tertahan terlebih dulu, sedangkan muka Yo Him berobah, karena dilihatnya sosok tubuh itu merupakan sosok tubuh manusia yang telah menjadi mayat.

Hanya saja keadaan mayat tersebut luar biasa, tubuhnya seperti dicingcang oleh senjata tajam. Orang tersebut menemui kematian dengan cara yang mengenaskan sekali, tubuhnya hancur seperti juga tidak ada salah satu anggota tubuhnya yang utuh.

Yo Him cepat melompat turun dari kudanya, dia memeriksa keadaan mayat itu. Mayat seorang laki-laki berusia antara limapuluh tahunan. Walaupun mukanya tercacah rusak dan sulit dikenali lagi, namun masih bisa diketahui akan usia lanjut itu.

Sasana yang tidak kuat hatinya melihat pemandangan yang mengiriskan hati itu, telah membuang pandang ke arah lain, dan dia tidak mau melihat keadaan mayat tersebut yang telah rusak seperti itu.

Sedangkan Yo Him memeriksa terus keadaan mayat tersebut, sampai akhirnya dia melihat dari cara berpakaian mayat tersebut, tentunya orang ini adalah seorang rimba persilatan. Dia mungkin telah bertempur dengan musuhnya dan dibinasakan dengan cara yang mengenaskan seperti itu.

Setelah memeriksa sekian lama, akhirnya Yo Him menghampiri Sasana.

“Korban dari pertempuran, dia mungkin di binasakan oleh seseorang yang telengas sekali dan tubuhnya telah dicingcang hancur lumat.....” menjelaskan Yo Him.

“Mari kita berangkat!” mengajak Sasana yang tidak mau melihat lagi mayat yang telah hancur rusak itu.

Yo Him mengangguk sambil melompat ke atas kuda tunggangannya.

Tetapi baru saja Yo Him duduk di atas kudanya, tiba-tiba menyambar dua batang panah yang pesat sekali. Panah itu telah melesat sebatang ke arah punggung Yo Him, sedangkan yang sebatang lagi menyambar ke punggung Sasana. Panah itupun menyambar dengan cepat dan kuat, menimbulkan kesiuran angin yang keras sekali.

Sasana terkejut, dia mempergunakan cambuk di tangannya menyampok anak panah yang menyambar ke arah punggungnya, karena untuk mengelakkan sambaran anak panah itu, penyerangnya memang memanah secara membokong.

Tetapi berbeda dengan Yo Him, waktu dia merasakan sambaran anak panah ke arah punggungnya, pemuda ini tetap tenang. Dia memutar tubuhnya sedikit, kemudian mempergunakan jari telunjuknya untuk menyentil.

Perlahan sentilan yang dilakukan Yo Him namun kesudahannya sangat hebat, karena anak panah itu seketika menjadi patah dua dan jatuh di atas tanah.

Sedangkan Sasana melompat turun dari kudanya, tangannya cepat sekali mencabut pedangnya. Gerakan yang dilakukannya itu merupakan gerakan berwaspada terhadap serangan berikutnya dari musuh.

Yo Him bukan bertindak seperti Sasana, karena tahu-tahu tangan pemuda ini telah menekan pelana kudanya. Kemudian tubuhnya dengan ringan melesat ke belakang berjumpalitan beberapa kali di udara, tubuhnya melesat ke arah dari mana datangnya sambaran anak panah itu.

Waktu tubuh Yo Him tengah meluncur di tengah udara, telah menjepret lagi suara yang keras, disusul dengan mengaungnya menyambar sebatang anak panah lagi.

Sasana menjerit perlahan dengan kaget, sebab Yo Him tengah terapung di tengah udara. Jelas sulit baginya untuk menghindarkan diri dari sambaran anak panah itu. Terlebih lagi anak panah itu dilepaskan dengan tenaga yang kuat sekali, menyambarnya sampai mengaung.

Yo Him sebenarnya terkejut juga waktu melihat sebatang anak panah menyambar ke arahnya dengan pesat. Waktu itu jaraknya pun sudah tidak jauh lagi. Akan tetapi sebagai seorang yang memiliki kepandaian telah tinggi, ia tidak menjadi gugup.

Anak panah menyambar lurus ke arah dirinya, melesat dengan cepat. Dan jalan satu-satunya Yo Him hanya mementang mulutnya. Begitu anak panah itu menyambar tiba, dia menggigitnya. Sedangkan tubuhnya sendiri meluncur turun terus dengan pesat. Tangan kanannya digerakkan menghantam ke arah sebatang pohon yang ada di dekat tempat itu.

Batang pohon itu bergoyang keras, karena seperti dihantam oleh lempengan baja, banyak daunnya yang rontok. Dari atas pohon itu telah melesat sesosok tubuh, dengan tangan kanannya mencekal busur yang berukuran besar. Rupanya akibat goncangan di pohon tersebut memaksa dia melompat turun.

Dialah seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih, dengan muka yang bengis. Dan orang tersebut, dengan memakai baju singsat warna hijau dan celana biru, telah menggerakkan busurnya ketika tubuhnya tengah meluncur turun, di mana tubuh Yo Him juga berada tidak jauh dari tempatnya berada. Karena itu ujung anak panah itu menyambar tepat di jurusan pundaknya pemuda she Yo itu.

Yo Him rupanya telah mengetahui bahwa penyerang gelap itu bersembunyi di atas pohon tersebut, karenanya dia menghantam dengan kekuatan lweekangnya ke arah pohon tersebut.

Sekarang melihat orang itu melompat turun dari atas pohon dan mempergunakan busurnya untuk menyerang dan menotok pundaknya, Yo Him telah memperdengarkan tertawa dingin. Cepat sekali tangan kanannya digerakkan, dia menyampok dengan kuat.

“Takkk.....!” terdengar suara benturan antara tangan Yo Him dengan busur tersebut. Tetapi Yo Him jadi terkejut, hatinya terkejut, karena dia merasakan pergelangan tangannya sakit bukan main. Jika sebelumnya Yo Him menduga bahwa busur itu terbuat dari kayu seperti umumnya busur yang ada, tetapi sekarang dia menemui kenyataan yang mengejutkan.

Busur itu terbuat dari semacam benda logam yang keras sekali. Karenanya waktu pergelangan tangannya menangkis dan saling bentur dengan ujung busur tersebut, membuat Yo Him menderita kesakitan.

Tetapi laki-laki yang bersenjata busur itupun bukannya tidak kaget karena diapun mengeluarkan seruan-seruan tertahan dan melompat mundur beberapa langkah ke belakang dengan muka berobah. Kiranya tangkisan tangan Yo Him yang mengandung kekuatan lweekang, membuat busur logamnya itu tergetar, dan getaran yang terjadi menyebabkan telapak tangan orang tersebut pedih sekali. Itulah sebabnya dia mengeluarkan seruan jeritan tertahan.

Yo Him mengawasi orang itu beberapa saat, kemudian tanyanya dengan sabar: ”Siapa kau? Mengapa menyerang menggelap seperti itu kepada kami?!”

Laki-laki bersenjata busur tersebut melintangi busurnya, sahutnya angkuh: “Tidak perlu kau mengetahui siapa aku dan dari mana datangnya, lalu apa sebabnya aku menyerang kalian...... yang terpenting kalian harus mampus di tanganku!”

Yo Him tidak segera menyahuti. Dia mengawasi orang itu sampai akhirnya dilihatnya, orang tersebut memiliki mata yang sipit sekali seperti mata elang, sedangkan bibirnya lebar dengan hidung yang besar bengkung. Karenanya dia segera menduga orang ini memang bukan sebangsa manusia baik-baik.

“Hemmm, aku mengerti, tentunya kau tidak mau menyatakan bahwa dirimu adalah anak buah dari Sun Cie Siang Kauw-cu, dari Lang-kauw itu, bukan?!”

Orang tersebut mukanya berobah, tetapi sejenak kemudian dia telah berkata: “Hemmm, dari mana kau mengetahui bahwa aku adalah orang kepercayaan dari Sun Kauw-cu? Memang Sun Kauw-cu mengutus diriku untuk mengambil jiwa kalian.....!”

Yo Him tersenyum.

“Apakah belasan orang kawanmu yang telah kami berikan pelajaran sedikit pahit itu cukup sebagai contoh dan kau pun ingin minta diberikan hajaran?!” tanyanya dengan suara yang tawar.

Orang tersebut telah gusar dan bentaknya: “Kau terlalu bicara besar, tahukah kau siapa diriku sebenarnya?!”

“Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa aku tidak perlu mengetahui siapa namamu, dari mana asalmu.....? Karena itu, akupun tidak ingin mengetahui siapa adanya kau! Hanya saja sebagai salah seorang kaki tangan Sun Cie Siang dari Lang-kauw, jelas kau bukan sebangsa manusia baik-baik!”

Kembali orang bermuka bengis itu telah mengibaskan busurnya, serunya gusar: “Hemm, engkau terlalu congkak, pemuda jelek! Kau kira di Lang-kauw tidak terdapat orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, sehingga kau menjadi congkak seperti itu.....! Baiklah! Baiklah kau terimalah ini!”

Dan berbareng dengan perkataannya itu, dengan sebat sekali tangan kanannya bergerak ke arah sampingnya. Tahu-tahu dia mengambil sebatang anak panah, tanpa mengatakan suatu apapun juga, terdengar suara menjepret dari busurnya. Anak panah itu melesat menyambar ke arah Yo Him dengan cepat sekali.

Yo Him berdiam diri di tempatnya, sama sekali tidak mengelakkan sambaran anak panah itu, walaupun jarak mereka sangat dekat sekali.

Orang dari Lang-kauw yang bersenjata panah itu rupanya girang bukan main, dia yakin Yo Him akan celaka oleh kesombongannya sendiri. Jarak mereka terlalu dekat, dan jarang sekali ada orang yang bisa menghindarkan anak panahnya dari jarak sedekat itu. Sedangkan untuk menghindarkan diri dari sambaran anak panahnya di jarak yang cukup jauh saja sudah sulit bukan main.

Dengan senyum dikulum, dia telah menggerakkan tangan kirinya lagi, menyusul busurnya itu menjempret, dan menyambar pula anak panah lainnya.

Yo Him telah melihat anak panah pertama menyambar ke arahnya. Cepat luar biasa Yo Him membuka mulutnya, dia menunduk sedikit dan tahu-tahu telah menggigit anak panah itu.

Kemudian tampak anak panah ke dua yang telah menyambar. Yo Him mempergunakan anak panah tersebut, dia menjepit dengan mempergunakan ibu jari dan telunjuknya, menjepit anak panah tersebut yang tidak bergeming lagi.

Bukan main terkejutnya orang dari Lang-kauw tersebut karena betapa kuatnya tenaga gigitan gigi Yo Him dan jepitan dari telunjuk dan ibu jarinya itu, sehingga menunjukkan bahwa Yo Him memang memiliki lweekang yang tinggi sekali.

Sebagai seorang ahli panah yang telah puluhan tahun mengandalkan kepandaian memanahnya tersebut, yang selain memiliki kekuatan memanahnya tersebut, yang selain memiliki kekuatan memanah yang kuat sekali, karena busur yang yang dipergunakannya terbuat dari besi, juga memang orang tersebut memiliki tenaga dalam yang cukup terlatih baik.

Dengan demikian, setiap kali dia melepaskan anak panahnya ke korbannya, tentu tenaga melesat anak panah itu bisa menembus sebungkah batu dalam sekali. Terlebih lagi jika menembusi tubuh manusia, tentu akan menembusi sampai anak panah itu meluncur keluar dari bagian lainnya tubuh sang korban.

Tetapi sekarang Yo Him dengan mudah memunahkan sambaran anak panahnya. Ada yang digigit tidak berdaya oleh giginya, juga hanya dijepit oleh jari telunjuk dan ibu jarinya. Dengan demikian membuat orang tersebut jadi memandang tercengang sejenak.

Yo Him tertawa sambil melontarkan anak panah yang dijepitnya tadi oleh telunjuknya. Dia melontarkan ke arah batang pohon di belakang orang tersebut.

Anak panah itu melesat memperdengarkan suara mengaung yang keras. Orang itu melompat ke samping kiri karena menyangka dirinya yang diserang. Sedangkan anak panah yang dilontarkan Yo Him telah menyambar batang pohon tersebut dan menancap dalam sekali, sampai di ekornya.

Tentu saja satu kali lagi orang Lang-kauw itu tercengang dengan hati tercekat. Yo Him melontarkan anak panah tersebut dengan mempergunakan tangannya belaka, diapun melempar dengan seenaknya dan tampaknya tidak mempergunakan tenaga. Namun anak panah bisa menembus begitu dalam di batang pohon. Dengan demikian memperlihatkan tenaga menimpuk Yo Him memang sangat luar biasa.

Sedangkan anak panah yang tergigit di gigi Yo Him telah diturunkan oleh tangan kiri Yo Him. Kemudian kembali Yo Him menimpuk.

Kali ini Yo Him menimpuk ke arah atas, ke tengah udara. Anak panah ini melesat tinggi sekali, kemudian membalik, meluncur turun, dan kemudian menancap di bumi. Akan tetapi yang luar biasa melesatnya anak panah itu menancap bukan pada mata panah belaka, melainkan telah menembus terus ke dalam bumi sampai lenyap, ekor anak panah itu sama sekali tidak terlihat lagi.

Itulah satu pertunjukan yang benar-benar mengagumkan sekali tanpa terasa orang Lang-kauw itu berseru memujinya: “Bagus!” Dan di saat itu tangan kirinya berperak dengan cepat sehingga disusul dengan beruntun suara menjepret yang tidak berkesudahan.

Ternyata orang Lang-kauw itu telah memanah tidak hentinya. Dia melepaskan anak panahnya disusul dengan anak panah yang berikutnya, lalu disusul dengan yang lainnya lagi, sehingga anak panah itu seperti berangkai dalam menyambar ke arah sasarannya, yaitu Yo Him.

Yo Him kagum terhadap kesebatan tangan dari orang tersebut, yang bisa memanah begitu cepat. Disamping itu yang membuat Yo Him kagum juga adalah kekuatan memanahnya. Busur yang dipegangnya adalah busur yang terbuat dari benda logam dan berat sekali. Untuk merentangkan busur tersebut memerlukan tenaga menarik yang kuat sekali. Sekarang orang tersebut telah dapat memanah beruntun seperti itu. Bisa dibayangkan tenaga yang telah dipergunakan.

Waktu itu Yo Him tidak bisa berpikir terlalu lama, karena melihat sambaran anak panah yang begitu beruntun tidak hentinya saling susul menyambar ke dirinya. Tapi dengan sebat Yo Him bisa menghadapi ancaman bahaya serangan anak panah itu dengan mudah.

Anak panah yang pertama telah disentilnya dan anak panah itu terpental ke sampingnya, menyambar ke arah sebatang pohon dan menancap dalam di situ. Anak panah ke dua disentil lagi, kemudian anak panah ke tiga dielakkannya dengan melompat ke samping, anak panah keempat telah disentil pula.

Akan tetapi orang dari Lang-kauw itu juga liehay dalam hal mempergunakan panahnya. Waktu Yo Him merobah ke dua kakinya, dia pun telah merobah arah memanahnya, sehingga anak panahnya itu tetap saja berangkai dan bagaikan memiliki mata, mengikuti arah di mana Yo Him berada.

Karena jengkel dan mendongkol, Yo Him mengeluarkan pedangnya, diputar pedangnya sehingga bergulung-gulung menimbulkan angin berkesiuran. Kemudian anak panah yang menyambar datang ditabasnya. Dengan demikian, setiap anak panah yang menyambar ke arah Yo Him, selain terpental ke arah lain tidak berhasil mengenai sasaran, juga anak panah itu telah tertabas putus menjadi dua atau tiga potong.

Tidak bosannya orang Lang-kauw itu memanah terus, dan anak panah menyambar membanjir ke arah Yo Him. Dan selama itu Yo Him melindungi dirinya dengan pedangnya yang diputar cepat dan kuat.

Terdengar suara “tringg, trakkkk, trukkk!” berulang kali. Anak panah yang dilepaskan oleh orang Lang-kauw yang bermuka bengis itu selalu gagal mengenai sasarannya.

Rupanya orang tersebut telah habis sabar. Dia melihat biarpun dia memanah terus tentu tidak mungkin dapat mendesak Yo Him, kalau saja dia mempergunakan cara memanah seperti itu. Karenanya, sekarang dia merobah cara memanahnya.

Cepat bukan main, dia memanah berbagai tempat. Jika sebelumnya dia memanah satu jurusan, sehingga anak panahnya itu seperti berangkai dan menyambar beruntun ke arah Yo Him. Sekarang justru anak panah itu dibagi empat arah. Dia memanah ke arah tengah di dada Yo Him, memanah paha, memanah lengan dan juga memanah ke arah atas, yaitu tenggorokan pemuda itu.

Dengan demikian telah membuat Yo Him harus memecahkan perhatiannya, arah dan sasaran anak panah orang tersebut tidak berketentuan menyambarnya, juga sebentar ke bawah, ke atas atau ke kiri kanan tidak menentu dan sulit diterka. Akan tetapi yang jauh lebih hebat lagi anak-anak panah itu seperti nyambung menyambung tidak pernah terpisah satu dengan yang lainnya.

Karena bernafsu sekali memanah seperti itu, tanpa disadarinya persediaan anak panahnya telah habis. Karena sudah tidak memiliki anak panah lagi yang bisa dipergunakan, orang Lang-kauw itu telah menggereng gusar.

Begitu dia melepaskan anak panahnya yang terakhir, berbareng tubuhnya juga menerjang kepada Yo Him. Gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat dan bengis sekali, di mana busurnya yang terbuat dari logam itu telah menyambar ke bagian yang bisa mematikan, yaitu jalan darah Su-kiong-hiat di dekat dada sebelah kiri Yo Him.

Menyaksikan menyambarnya serangan busur lawannya, Yo Him tidak tinggal diam. Setelah pedangnya itu menangkis anak panah terakhir yang dilepaskan lawannya, Yo Him pun cepat sekali menekuk kaki kanannya, tubuhnya mencongkol dan di waktu itulah pedangnya telah diangkat dengan mata pedang menghadap ke arah atas. Dengan demikian, jika saja orangnya Sun Cie Siang menyerang terus dengan busur besinya tersebut, niscaya dada orang itu akan berlobang oleh mata pedang lawannya!

Menyaksikan apa yang dilakukan oleh Yo Him, orang tersebut terkejut, cepat-cepat dia menarik pulang busurnya. Dia membalingkannya satu kali, ujung busurnya itu telah menyampok pedang Yo Him, sehingga terdengar suara benturan yang keras sekali, pedang Yo Him jadi mencong ke samping.

Yo Him juga mempergunakan kesempatan tersebut untuk melompat mundur. Akan tetapi orangnya Sun Cie Siang tersebut kembali menerjang bengis sekali dengan busurnya. Busur besi itu diputar, sehingga ke dua ujung busur itu menyambar silih berganti mengancam akan menotok bagian-bagian yang mematikan Yo Him.

Akan tetapi kepandaian Yo Him telah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Mana mungkin orang itu bisa berhasiI dengan busurnya tersebut untuk menotok jalan darah di tubuh Yo Him? Karena waktu pedangnya itu mencong, dengan mudah Yo Him menggeser kaki kanannya, dan cepat luar biasa pedangnya telah menyambar kembali ke arah perut lawannya!

Orangnya Sun Cie Siang tersebut kaget bukan main, karena dia tidak menyangkanya bahwa Yo Him bisa bertindak secepat itu. Dengan menggeser kedudukan kakinya, Yo Him telah menghindarkan diri dari totokannya. Dan kini malah pedang pemuda tersebut yang telah menikam ke arah perutnya. Jika memang dia tidak keburu berkelit, niscaya perutnya itu akan berlobang.

Lekas-lekas orang itu berusaha untuk menangkis dengan mempergunakan busurnya, dia telah mengibas, dan busur besi itu telah menyampok pedang Yo Him. Dan berbareng dengan itu, tangan kanannya telah diulurkan lebih panjang sehingga busurnya itu akan menyampok ke arah muka Yo Him.

Hebat cara menyerang orang itu, karena dia bertindak bagaikan dia telah nekad dan hendak mengadu jiwa dengan Yo Him.

Tetapi Yo Him dengan mudah dapat menghindarkan kembali serangan busur orang tersebut dan pedangnya berkelebat dua kali. Kali ini tidak ampun lagi pundak dari lawannya tergores mata pedangnya, sehingga bajunya pecah robek dan juga kulit di pundaknya telah terluka sehingga darah mengucur dengan deras.

Orang itu mengeluarkan seruan gusar, tanpa memperdulikan lukanya itu, dia menerjang lagi dengan busurnya. Kali ini benar-benar dia kalap dan nekad sekali. Sebab dia tidak memperdulikan keselamatan dirinya pula, dia menyerang beruntun sampai lima jurus.

Yo Him menggerakkan pedangnya dengan lincah, tiga kali beruntun pemuda ini berhasil melukai tubuh orang itu, sehingga darah melumuri sekujur tubuh orang tersebut. Barulah lawannya itu menghentikan penyerangannya dan meloncat mundur dengan wajah merah padam karena murka dan penasaran.

Yo Him tersenyum sabar, katanya: “Lebih baik kau menggelinding pergi..... Hemmm, jika memang engkau memaksa terus, maka aku akan menurunkan tangan yang lebih keras lagi. Jelas jiwamu sulit untuk dilindungi.....!”

Lawannya yang telah terluka sama sekali tidak mengacuhkan perkataan Yo Him, telah menggerakkan busurnya, untuk mulai menyerang pula. Belum lagi dia menerjang maju, justru dari kejauhan terdengar suatu suara nyaring: “Thang Suko mengapa kau terluka seperti itu?!” Suara itu terdengar jelas sekali, walaupun dari jarak yang cukup jauh.

Yo Him menoleh ke arah datangnya suara tersebut, dilihatnya bahwa sesosok tubuh tengah melesat mendatangi dengan cepat sekali, dan sosok tubuh itu adalah seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih, dengan tubuh yang penuh oleh bulu-bulu halus. Wajahnya yang bengis berpotongan panjang, dengan bibir yang lebar, tampak mirip sekali dengan muka seekor kera!

Sasana juga telah melihat muka orang itu yang menyerupai muka monyet, hampir saja si gadis mengeluarkan seruan kaget. Dia memandang heran, mengapa ada seorang manusia yang memiliki muka demikian buruk sehingga mungkin lebih baik muka seekor monyet dibandingkan dengan mukanya itu.

Cepat sekali orang bermuka seperti monyet itu telah tiba di dekat Yo Him dan yang lainnya berada. Dia segera juga menghampiri orang yang bersenjata busur besi sambil serunya: “Thang Suko, apakah orang ini telah menghinamu?!”

Orang yang bersenjata busur besi tersebut, yang dipanggil dengan sebutan Thang Suko itu mendengus perlahan, katanya dengan penuh kebencian pada Yo Him: “Ya, kami tengah bertempur, dan aku bermaksud untuk membunuhnya, karena ini ada perintah dari Sun kauw-cu!”

Orang bermuka monyet, dengan sekujur tubuh yang ditumbuhi bulu-bulu kuning keemas-emasan itu, telah tertawa keras sekali, tubuhnya sampai tergoncang, katanya: “Baik, serahkanlah kepadaku..... biar aku saja yang membunuhnya..... Tahu beres, kau tidak perlu bersusah payah, Thang Suko!”

Thang Suko itu mengangguk, dia masih sempat bilang: “Kau harus hati-hati Sam laote!”

Orang bermuka seperti monyet itu, yang dipanggil dengan sebutan Sam laote telah mengangguk, dia tidak menyahuti dan tubuhnya meluncur menerjang ke arah Yo Him. Gerakannya memang gesit sekali.

Tadi saja waktu dia mendatangi telah diperlihatkannya ginkang yang tinggi. Karena dari tempat yang begitu jauh, dalam waktu hanya beberapa detik saja, telah berhasil tiba di dekat Thang sukonya, dan kini juga menyerang dengan gerakan yang sama lincah dan gesitnya. Sepasang tangannya itu telah meluncur ke arah Yo Him.

0 Response to "Beruang Salju Bab 56 Perintah Membunuh Dari Lang-kauw-cu!"

Post a Comment