Beruang Salju Bab 35 Sintong, Murid Swat Tocu

Mode Malam
35 Sintong, Murid Swat Tocu

Pangeran Ghalik mengangguk sambil menghela napas. “Tapi sama sekali tidak kusangka bahwa akan terjadi penghianatan Tiat To Hoat-ong seperti sekarang ini.....! Sayangnya, aku mengambil tindakan yang kurang cepat, sehingga dia bisa menghimpun kekuatan yang tidak kecil..... Jika dulu waktu aku menerima laporan mengenai maksud dan rencana busuknya yang ingin menindih pengaruhku itu, dan segera aku bertindak, tentu tidak akan terjadi peristiwa seperti sekarang ini.....!” dan pangeran Ghalik telah menghela napas beberapa kali.

Hek Pek Siang-sat waktu itu telah ikut berkata suara parau mereka. “Pangeran, apakah tidak lebih baik jika kita berangkat sekarang saja?”

Pangeran Ghalik mengangguk.

“Pergilah kalian menyelidiki keadaan di luar dulu!” perintah pangeran Ghalik. “Apakah Koksu dan kaki tangannya telah meninggalkan istana atau belum!”

Hek Pek Siang-sat terima perintah dan segera mereka berlalu.

Tidak lama kemudian mereka telah kembali mengatakan bahwa istana sangat sepi boleh dibilang menyerupai istana kosong belaka. Karena Tiat To Hoat-ong telah mengajak semua kaki tangannya meninggalkan istana.

Pangeran Ghalik menghela napas. Dia pun perintahkan untuk mempersiapkan kuda dan perbekalan. Karena mereka begitu fajar menyingsing akan segera berangkat menuju ke kota raja.

Selama itu Yo Him sendiri tenggelam dalam pikirannya sendiri karena dia tengah memikirkan entah kemana perginya Ko Tie. Waktu Sasana menanyakan padanya, mengapa dia hanya melamun belaka, pemuda ini telah menceritakan perihal lenyapnya Ko Tie membuat dia tidak tenang, karena dia yakin bocah itu tentu masih berada di sekitar istana ini.

“Jika begitu, mari kita pergi mencarinya!” ajak Sasana.

Yo Him setuju, maka sambil menantikan keberangkatan mereka meninggalkan istana. Sasana berdua Yo Him telah mencari Ko Tie di sekitar istana ini. Dan mereka memperoleh hasil yang nihil karena memang Ko Tie seperti lenyap masuk ke dalam perut bumi......

Dengan muka muram, akhirnya Yo Him dan Sasana kembali ke kamar rahasia di bawah tanah. Waktu itu Hek Pek Siang-sat telah mempersiapkan perbekalan mereka. Dan rombongan itupun berangkatlah meninggalkan istana tersebut, yang telah sunyi sekali. Beberapa orang pengurus dapur dan juga pelayan-pelayan wanita telah dipesan oleh pangeran Ghalik agar mengurus istana ini baik-baik selama pangeran tersebut meninggalkannya.

Perjalanan ke kota raja bukanlah perjalanan yang dekat harus memakan waktu dua bulan lebih. Dan juga perjalanan menuju ke kota raja harus melewati dua propinsi Siam-say dan Kiang-po. Waktu itu, pangeran Ghalik boleh dibilang sudah lenyap setengah semangatnya karena ia memikirkan betapa sebagian besar dari pengikutnya dan orang-orang kepercayaannya telah berpihak pada Tiat To Hoat-ong. Bahkan beberapa orang tawanan penting pangeran Ghalik telah dibebaskan oleh Tiat To Hoat-ong, dan mengambil orang-orang itu untuk dijadikan kaki tangannya.

Sasana berulang kali menghibur ayahnya, dan puterinya itu mengatakan, jika mereka telah menghadap Kaisar, tentu pengkhianatan Tiat To Hoat-ong dapat dibeber dan nanti Kaisar akan mengambil tindakan yang semestinya pada Koksu negara terebut.....
Sepanjang perjalanan, pangeran Ghalik lebih banyak berdiam diri saja.......

Y

Kemanakah perginya Ko Tie, yang tidak berhasil ditemui jejaknya oleh Yo Him?

Ternyata, ketika Swat Tocu memasuki istana pangeran Ghalik, dia meninggalkan biruang saljunya di luar istana. Dan setelah menantikan sekian lama, Swat Tocu masih belum kembali. Biruang Salju itu tampaknya jadi tidak sabaran, diapun jadi iseng dan dengan lompat yang ringan telah masuk ke dalam istana. Setelah mutar ke sana ke mari, kebetulan dia melihat Ko Tie yang tengah berdiri di depan pintu dari ruangan, di mana dia bersama Cin Piauw Ho dan yang lainnya di tempatkan.

Ko Tie mengenali biruang saljunya Swat Tocu, anak ini jadi girang, dia menghampirinya dan bermain-main dengan biruang salju itu. Tapi tidak disangkanya, si biruang salju telah melibat pinggangnya dan anak itu dibawa berlari-lari keluar istana lagi! Semula Ko Tie memang merasa takut, tapi setelah tiba di luar istana, biruang salju itu menggesek-gesekkan kepalanya pada punggung Ko Tie, tampaknya bersahabat sekali. Ko Tie pun gembira bisa bermain dengan biruang salju yang luar biasa ini.

Mereka berdua, biruang dan si bocah, sama sekali tidak mengetahui bahwa di dalam istana tersebut sesungguhnya tengah berlangsung pertempuran yang hebat sekali, dan juga Swat Tocu waktu itu tengah mengamuk hebat. Hanya saja akhirnya mereka melihat kobaran api, yang menunjukkan bagian belakang istana pangeran Ghalik tengah terbakar.

Biruang Salju semula hendak melompat masuk ke dalam istana, namun akhirnya dia batal sendirinya, hanya mengeluarkan suara erangan perlahan sekali menggerakkan kepalanya di punggung Ko Tie. Lama mereka menanti, Swat Tocu belum kembali.

Sampai akhirnya biruang salju itu memekik dengan suara erangan yang panjang dan keras sekali. Suara erangan itulah yang telah menyebabkan Swat Tocu meninggalkan lawan-lawannya, dan telah keluar dari istana tersebut.

Ketika melihat biruang salju tidak mengalami sesuatu, hatinya jadi lega karena semula waktu mendengar suara erangan binatang peliharaannya itu, dia menduga bahwa biruang saljunya tengah menghadapi bahaya. Dan dia jadi heran dan girang ketika melihat Ko Tie berada bersama-sama dengan biruang saljunya. Merekapun segera berangkat meninggalkan tempat itu, di mana Ko Tie sudah tidak bisa tawar menawar lagi harus ikut serta bersama Swat Tocu.

Beberapa kali Ko Tie berusaha untuk memberikan penjelasan pada Swat Tocu bahwa dia harus pamitan dulu pada Yo Him dan yang lainnya, namun Swat Tocu tidak mengacuhkan permintaan si bocah, yang telah digendongnya terus dan dibawa berlari dengan çepat sekali...... Biruang salju itu pun sebentar-sebentar mengeluarkan pekiknya, pekik girang karena selanjutnya dia akan memperoleh sahabat yaitu Ko Tie......

Swat Tocu ternyata menyukai Ko Tie yang dilihatnya bahwa anak ini selain memiliki bakat yang baik, pun merupakan seorang bocah ajaib, yaitu Sin-tong, yang jarang terdapat pada bocah-bocah lainnya. Karena Ko Tie selain memiliki tulang yang bagus, otot-otot yang berisi dan padat sekali, juga memiliki bahan yang baik untuk digembleng ilmu silat.

Swat Tocu sering merabah-rabah dan mengurut tubuh Ko Tie agar seluruh jalan darah anak itu terbuka dan lancar, karena selama merabah itulah, Swat Tocu jadi memperoleh kenyataan Ko Tie memang memiliki tulang yang bagus sekali. Dengan demikian Swat Tocu jadi tambah menyukai Ko Tie.

Ko Tie sendiri selama dalam perjalanan selalu merengek minta pada Swat Tocu agar di pertemukan lagi dengan Yo Him.

Begitu juga ketika mereka berada di sebuah pinggiran kampung yang sunyi, Ko Tie telah berkata: “Paman, mengapa aku dibawa-bawa olehmu..... Tidakkah kau kasihan padaku, nanti paman Yo tentu bingung dan mencari-cariku! Satu kali saja kau pertemukan kami setelah memberitahukan paman Yo, maka selanjutnya engkau hendak mengajakku kemana saja aku tentu tidak akan banyak rewel lagi.”

Swat Tocu telah tertawa sambil katanya: “Engkau terlalu rewel.....! Hmm apakah kau kira mudah seorang anak yang ingin ikut serta bersama-sama denganku? Tidak mudah! Tidak semudah itu. Banyak syarat-syaratnya!”

Ko Tie yang waktu itu berada di punggung biruang salju, telah menoleh.

“Syarat-syarat?” tanyanya. “Syarat-syarat apakah itu?”

Swat Tocu memperdengarkan tertawanya.

“Tentu saja syarat-syarat yang kuberikan, dengan demikian, jika seorang anak bisa memenuhi syarat-syaratku itu tentu ia baru bisa ikut bersamaku!” sahutnya.

“Apakah syarat-syaratnya itu, paman?” tanya Ko Tie.

“Tidak berat, tapi yang pertama-tama anak itu harus merupakan seorang Sin-tong, seorang anak ajaib!” menyahuti Swat Tocu.

“Sin-tong? Apakah itu, paman?” tanya Ko Tie tambah tidak mengerti. “Lalu apa bedanya seorang anak biasa dengan seorang Sin-tong?”

“Bedanya besar sekali!” menyahuti Swat Tocu. “Ayo kau turun dulu, duduk di sini. Aku akan menceritakan segalanya padamu, sambil kita beristirahat!”

Sedang biruang salju itu telah menurunkan Ko Tie dari punggungnya waktu Ko Tie menepuk bahunya sambil katanya: “Turunkanlah aku, sahabatku.....!”

Setelah duduk di dekat Swat Tocu, yang waktu itu telah duduk di bawah sebatang pohon, Ko Tie bertanya lagi: “Coba paman tolong jelaskan, apa bedanya seorang anak biasa dengan seorang anak yang disebut Sin-tong!”

Swat Tocu mengangguk. Sesungguhnya tokoh persilatan yang awet muda dan memiliki kepandaian yang tinggi sekali dan memiliki ilmu andalan tenaga Inti Es itu memiliki adat yang aneh sekali, ku-koay bukan main. Namun terhadap Ko Tie. entah mengapa sifat ku-koaynya itu jadi hilang dan senang sekali dia bercerita pada anak ini yang memang disukainya.

“Seorang anak Sin-tong tentu saja memiliki tulang dan bakat seperti halnya anak-anak biasa lainnya. Tetapi Sin-tong, seorang anak ajaib, tentu memiliki kelainan, selain tulangnya yang bagus, juga otot-ototnya yang baik, dan memiliki bakat yang sangat baik untuk menerima pelajaran ilmu silat.....!”

“Hemmmm, jika memang demikian, tentunya anak itu seorang anak yang sangat luar biasa sekali.....!” kata Ko Tie.

Swat Tocu mengangguk.

“Ya.....! Memang begitu. Memang begitu!” menyahuti Swat Tocu, “Itulah memang anak yang luar biasa dalam segala-galanya.”

“Lalu mengapa aku diijinkan oleh paman untuk ikut serta, malah paman yang telah membawaku dan tidak mengacuhkan permintaanku agar mempertemukan dulu antara aku dengan paman Yo?!”

Swat Tocu tersenyum, katanya sabar: “Justru engkau seorang anak yang patut disebut Sin-tong!”

“Apa, paman.....?” tanya Ko Tie heran dan agak terkejut. “Aku..... aku seorang Sin-tong?!”

Swat Tocu mengangguk.

“Ya, memang demikian adanya!” kata Swat Tocu, “Kulihat engkau memiliki tulang yang bagus, memiliki otot-otot yang baik dan bakat yang sangat cemerlang. Jika memang engkau memperoleh bimbingan yang baik, tentu engkau akan memperoleh kemajuan yang pesat untuk mempelajari ilmu silat tingkat tinggi!”

Ko Tie jadi memandang bengong kepada Swat Tocu, sampai akhirnya dia bertanya: “Tapi paman..... dalam hal ini......!”

“Dalam hal ini apa?!” tanya Swat Tocu sambil memandangi anak itu.

“Menurut pendapatku, apa yang paman duga mengenai diriku tentunya tidak tepat. Aku seorang anak yang biasa saja, seorang anak yang tidak memiliki keluar biasaan..... Akupun merupakan seorang anak yang berasal dari keturunan yang miskin, anak yatim piatu, di mana ke dua orang tuaku sudah tiada, dan aku hidup terlunta-lunta mengandalkan belas kasihan!

“Dulu aku telah ditolong oleh pamanku, yang diajak untuk berkelana, sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita sinting yang selalu menggendong-gendong mayat bayi, yang menurut keterangan pamanku bergelar Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan. Sampai akhirnya aku telah dipaksa untuk menjadi pelayan, untuk menggendong-gendong mayat bayinya yang telah dikeraskan dan diawetkan itu. Sungguh menyeramkan sekali!

“Untung saja datang paman Yo yang segera menolongku, di mana akhirnya untuk selanjutnya aku hanya mengikuti saja kemana paman Yo Him pergi, ke sanalah aku pergi! Maka tidak benar apa yang dikatakan oleh paman, bahwa aku adalah seorang Sin-tong yang memiliki keluarbiasaan-keluarbiasaan yang paman katakan tadi!”

Swat Tocu tersenyum. “Ko Tie,” katanya, “Engkau bicara sebenarnya, itu dapat kumaklumi. Tapi engkau mana mengetahui keadaanmu yang sebenarnya? Justru aku yang telah melihatnya, bahwa engkau memang merupakan seorang Sin-tong. Seorang anak mujijat yang ajaib sekali, yang memiliki banyak keluarbiasaan yang tidak terdapat pada anak-anak lainnya!”

Ko Tie jadi terdiam, tampaknya anak ini tengah berpikir.

“Apa yang kau pikirkan??” tanya Swat Tocu sambil tertawa.

“Aku sedang teringat pada keadaan ayah dan ibu, yang telah meninggal dunia. Keadaan kami waktu itu pun miskin sekali! Hai, hai, betapa aku seorang anak yang malang sekali, tapi meñgapa paman mengatakan bahwa aku seorang anak yang memiliki bakat yang bagus, tulang yang baik, dan juga sebagai Sin-tong! Sungguh membuat aku benar-benar tidak mengerti!”

“Mengapa kau tidak mengerti?!”

“Seorang anak yang malang nasibnya, apakah memang benar dapat merupakan seorang Sin-tong yang memiliki keluar biasaan seperti yang dikatakan oleh paman?”

“Tentu saja bisa terjadi. Memang tidak dalam sepuluhribu anak terdapat seorang Sin-tong, karena itu, kau merupakan seorang anak yang baik, jika engkau memperoleh bimbingan seorang guru yang pandai. Tentu engkau kelak akan manjadi manusia yang sangat berguna sekali!”

Ko Tie telah mengawasi Swat Tocu beberapa saat lamanya, sampai akhirnya anak ini telah berkata lagi dengan sikap yang ragu-ragu: “Paman ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada paman. Entah boleh kutanyakan atau tidak dan kau akan marah atau tidak, paman?”

“Mengapa aku harus marah? Pertanyaan apa yang ingin kau ajukan?” tanya Swat Tocu sambil tertawa lebar. “Nah, kau tanyalah, jika memang mengetahui tentu aku akan menjawab dengan sebenarnya.”

“Paman, sesungguhnya..... sesungguhnya, apakah maksud paman mengajakku selalu bersamamu?” tanya Ko Tie.

Swat Tocu tidak segera menyahuti, dia menunduk memandang pada pakaiannya yang diperhatikan sesaat lamanya, kemudian baru mengangkat kepalanya mengawasi Ko Tie. Tanyanya: “Ko Tie, kau lihat pakaianku ini?”

Ko Tie mengangguk.

“Tentu engkau melihat aku berpakaian seperti ini yang tidak karuan macam, tentunya kau beranggapan bahwa aku seorang yang tidak mempunyai harta dan benda seorang yang miskin, dan juga sampai pakaian saja tidak ada. Itukah yang memberatkan hatimu selama ini untuk ikut bersamaku?”

Ko Tie menggeleng.

“Bukan!” sahutnya, “Aku hanya tidak mengetahui mengapa paman justru mengajakku bersama-sama denganmu, sedangkan tampaknya paman tengah memiliki urusan yang penting di istananya pangeran Ghalik!”

Swat Tocu tersenyum.

“Memang aku telah datang kembali ke istananya pangeran Ghalik ingin menghajar si pendeta gundul yang menjadi Koksu negara. Dia memang memiliki kepandaian yang tinggi dan ilmu andalan yang agak aneh, namun sayangnya kurang latihan, di mana ilmunya yang luar biasa itu belum dilatih sempurna.”

“Apakah paman bermusuhan dengannya?” tanya Ko Tie.

“Tidak!” Swat Tocu menjawab. “Aku hanya ingin mengetahui berapa tinggi kepandaian yang dimiliki Koksu itu! Dan sesungguhnya aku memang tidak mempunyai urusan lainnya lagi, karena itu, melihat kau, aku jadi tertarik dan membawamu serta. Apa kau tidak senang dengan maksudku hendak mengajakmu pesiar ke sebuah tempat yang indah, yang tidak mungkin dilihat oleh sembarangan orang?!”

“Paman hendak mengajakku pesiar ke suatu tempat yang indah? Tempat apakah itu, paman?” tanya Ko Tie.

“Hmm nanti akan kujelaskan!” kata Swat Tocu. Dan waktu itu mukanya telah berubah keren sekali, Swat Tocu juga menggeser duduknya jadi tegak menghadapi Ko Tie dengan tatapan mata yang tajam sekali, bagaikan dari bola matanya itu memancar kilatan api.

“Sekarang kau katakan yang jujur, jika ada orang yang pandai dan memiliki kepandaian tinggi yang hendak mengambil kau sebagai muridnya untuk dididik agar kau menjadi seorang yang berguna dan memiliki kepandaian yang tinggi, apakah kau bersedia menerima maksud baik orang itu atau memang akan menolaknya?”

Ko Tie bingung menghadapi pertanyaan seperti itu, dia telah mengawasi Swat Tocu beberapa saat, sampai akhirnya dia telah menundukkan kepalanya.

“Aku..... aku seorang anak yang berasal dari keluarga miskin dan juga tidak memiliki sanak saudara...... sebagai anak yatim piatu apakah bisa memiliki keberuntungan sebagai itu?!”

“Hmmm, kau bukannya menjawab pertanyaanku, malah mengoceh yang tidak-tidak!” kata Swat Tocu. “Sekarang kau jawab dulu pertanyaanku!”

Ko Tie bersenyum, katanya: “Tentu saja aku akan berterima kasih sekali jika ada orang yang menaruh kasihan dan sayang padaku seperti itu..... Perhatian yang diberikannya tentu saja harus dihargai!”

Swat Tocu tersenyum, tampaknya dia puas oleh jawaban yang diberikan Ko Tie.

“Baiklah, sekarang kau jawab pertanyaanku!” kata Swat Tocu. “Apakah kau bersedia untuk menjadi muridku?!”

“Apa...... apa paman?” tanya Ko Tie kemudian dengan suara tergagap.

“Aku bertanya kepadamu, apakah engkau bersedia menjadi muridku?”

Ko Tie memang cerdik, tapi walaupun dia mengetahui Swat Tocu adalah tokoh persilatan yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, dia juga pernah menyaksikan Yo Him bersikap hormat sekali pada Swat Tocu, dan biarpun telah sanggup menerima tiga jurus serangan Swat Tocu, tokh Yo Him sesungguhnya berada di bawah tingkat kepandaian Swat Tocu.

Sekarang Swat Tocu hendak mengangkat dirinya menjadi murid bukankah hal itu menggémbirakan sekali? Namun yang membuat Ko Tie jadi berat perasaannya, yaitu dia belum bertemu dengan Yo Him.

Swat Tocu mengawasi tajam pada anak ini dia melihat anak itu hanya bengong saja, tidak menjawab pertanyaannya, maka akhirnya Swat Tocu telah bertanya: “Bagaimana? Apakah engkau menerima tawaranku itu?”

Ko Tie akhirnya mengangguk, tahu-tahu dia telah menekuk kakinya berlutut di hadapan Swat Tocu, katanya: “Jika memang paman memandangku demikian tinggi, tentu saja aku berterima kasih sekali. Sedangkan untuk meminta saja agar diterima menjadi muridmu aku tidak berani....., tapi paman sekarang telah menawarkan. Bukankah itu merupakan suatu yang sangat sulit sekali untuk dibalas walaupun sampai menjelang akhir hidupku?!”

“Ha, engkau bicara seperti seorang kakek-kakek saja!” kata Swat Tocu. “Ayo bangun! Ayo bangun! Akupun menyukaimu, maka jika engkau bersedia menjadi muridku tentu aku senang menerima kau menjadi muridku!”

Ko Tie telah bangun dari berlututnya, dia berkata dengan ragu-ragu. “Tadi paman telah mengatakan bahwa untuk selamanya bersama denganmu seorang aku harus memiliki syarat-syarat tertentu, syarat pertama telah paman sebutkan lalu syarat-syarat apa lagi yang lainnya?”

“Hmm, itulah syarat-syarat yang mengharuskan seorang anak memiliki bakat yang baik, tulang yang baik dan sebagai seorang Sin-tong. Disamping itu juga, harus memiliki kecerdasan yang baik, dapat menghormati guru sebagai pengganti orang tua, tidak boleh membantah perkataan guru, tidak boleh mengkhianati pintu perguruannya.

“Dan jika memang melanggar salah satu dari larangan yang telah kusebutkan itu, maka murid itu tentu akan menerima hukuman yang berat. Untuk urusan lainnya, mengenai tidak boleh melakukan tindak kejahatan, belum kau mengerti walau kujelaskan di sini, maka jika kelak kau sudah lebih dewasa, aku akan menyebutkannya satu demi satu lebih terperinci.”

Ko Tie mengangguk.

“Jika memang demikian syarat-syarat yang paman katakan itulah demi kebaikan,” kata Ko Tie kemudian.

“Ya, memang begitu maksudnya!” menyahuti Swat Tocu. “Lalu, kau bersedia untuk mematuhi semua syarat-syarat itu?!”

Ko Tie mengangguk dan berlutut lagi, dia memanggil: “Suhu!” dan anak itu telah mengangguk-anggukkan kepalanya sembilan kali.

Waktu itu, Swat Tocu telah mengangkat Ko Tie agar berdiri, katanya, “Mulai sekarang kau telah menjadi muridku dan kaupun akan mewarisi kepandaianku! Seumur hidupku belum pernah menerima murid. Jadi engkau merupakan muridku yang pertama juga yang terakhir sebab memang aku hanya menghendaki seorang murid tunggal belaka!

“Secara kebetulan sekali aku menemukan bahan yang baik seperti kau, maka aku puas! Asal kau harus rajin-rajin dan tekun belajar, dan kita akan kembali ke pulauku, di sana kita akan hidup dengan tenang dan kau bisa mempelajari ilmu silat yang akan kuwarisi sebaik mungkin......!”

Ko Tie mengucapkan terima kasihnya dan juga berjanji akan belajar dengan rajin.

Sedangkan Swat Tocu telah berdiri, dia memberikan isyarat kepada biruang saljunya yang menghampirinnya. Kemudian Ko Tie diangkat oleh Swat Tocu, di mana anak tersebut telah didudukkan di punggung biruang salju itu.

“Mari kita meneruskan perjalanan kita untuk mencapai pulau tempat kediamanku, mungkin akan memakan waktu perjalanan selama dua bulan lebih......”

Ko Tie yang duduk di punggung biruang salju telah mengiyakan. Dan waktu Swat Tocu berlari dengan cepat, kala itu biruang salju itupun telah berlari dengan gesit mengikuti dari belakangnya.

Begitulah, Swat Tocu telah melakukan perjalanan dengan mengajak biruang salju dan Ko Tie untuk kembali ke pulau tempat kediamannya, di mana Swat Tocu memang bermaksud untuk mendidik Ko Tie agar anak itu telah kelak menjadi seorang pendekar yang memiliki kepandaian yang tinggi dan sakti......

Sepanjang perjalanan yang dilakukan olah pangeran Ghalik ternyata tidak selancar apa yang diduga sebelumnya, karena mereka selalu menemui berbagai kejadian yang menghambat perjalanan mereka.

Seperti pada waktu itu, rombongan pangeran Ghalik, yang terdiri Hek Pek Siang-sat, Sasana, Yo Him dan enam orang pahlawan pangeran Ghalik tengah beristirahat di sebuah rumah penginapan di kota Kiu-san-kwan. Kota itu memang tidak terlalu besar, namun cukup penting, karena banyak para pedagang dari daerah Ho-pak dan Ho-lam yang ingin menuju ke Siam-say harus melewati daerah tersebut.

Memang terdapat jalan lain, yang lebih jauh dan harus memutar, disamping itu jalur jalan yang satu itu pun tidak aman sering terjadi perampokan. Karena itu, banyak sekali para pedagang yang memilih jalur jalan di kota Kiu-san-kwan sebagai jalur lintas mereka yang lebih dekat dan aman. Dengan demikian, jelas betapa kota itu selalu kebanjiran para pengunjung yang terdiri dari para pedagang keliling maupun juga para pelancong yang ingin pesiar ke berbagai daerah yang berdekatan.

0 Response to "Beruang Salju Bab 35 Sintong, Murid Swat Tocu"

Post a Comment