Beruang Salju Bab 04 Pengeroyokan Si Budha Tertawa

Mode Malam

04 Pengeroyokan Si Budha Tertawa

Tetapi waktu melihat beberapa kali tubuh Lie Su Han terhuyung seperti akan rubuh si hwesio mengeluarkan suara seruan yang tiada henti-hentinya: “Sayang, sayang..... seorang diri, melawan tikus-tikus besar yang berjumlah begitu banyak. Inilah tidak pantas! Inilah tidak pantas! Tidak sedap dilihat!” dan setelah berkata begitu, segera Hwesio mengetuk kayu bok-hienya itu lebih gencar, sehingga terdengar suara, “ting-tong, ting-tong, ting-tok, ting-tok!” Ramainya suara dari terketuknya kayu bok-hie tersebut, yang sekali-sekali diselingi dengan terketuknya pembalut tepian kayu bok-hie itu, ramai sekali memenuhi ruangan tersebut, sehingga pertempuran yang tengah berlangsung itu seperti juga merupakan suatu pertunjukan yang benar-benar menarik hati.

Lie Su Han rupanya memang telah terdesak hebat sekali, dan juga tampaknya tenaganya mulai berkurang banyak, sehingga ia berulang kali harus terhuyung-huyung akan rubuh dan terdesak keras oleh lawan-lawannya.

Namun Lie Su Han juga memiliki latihan yang cukup matang pada ilmu silatnya, sehingga sejauh itu ia masih bisa mempertahankan diri, walaupun dengan luka-luka yang mulai memenuhi di beberapa bagian anggota tubuhnya.

Satu kali tampak Lie Su Han mengeluarkan seruan kaget, karena mata pedang dari Bo Liang Cinjin telah menyambar dekat sekali dadanya sebelah kiri hanya terpisah kurang lebih empat dim, dan jika mata pedang itu berhasil menembusi dadanya tentu akan menembus langsung ke jantung! Hal itu tentu saja berarti kematian untuk Lie Su Han.

Dengan demikian Lie Su Han jadi agak gugup juga, ia mengangkat pedang pendeknya dan mempergunakan untuk menyampok, dengan jurus Menyingkap Awan Melihat Langit, di mana pedangnya itu berhasil menangkis pedangnya Bo Liang Cinjin. Namun pendeta dari agama To tersebut rupanya tidak menyerang sampai di situ saja, ia telah membarengi dengan kebutan-kebutan hud-timnya pada kepala Lie Su Han, di mana bulu kebutan hud-timnya telah berkumpul menjadi satu dan menyambar akan menghantam hebat kepada sasarannya.

Po San Cinjin juga telah mempergunakan pedangnya menikam ke arah pinggang Lie Su Han diiringi juga dengan kebutan Hud-timnya ke arah lutut Lie Su Han, di mana bulu-bulu hud-tim itu tidak berkumpul malah berpencar satu dengan lainnya, mekar seperti sekuntum bunga.

Itulah serangan yang berbahaya, karena ujung dari bulu-bulu hud-tim itu seperti juga mata jarum. Bila mengenai sasarannya, jelas akan membuat jalan darah yang terletak di sekitar lutut Lie Su Han akan tertotok. Belum lagi tikaman pedang dari Po San Cinjin pada pinggangnya.

Benar-benar keadaan Lie Su Han terjepit menghadapi serangan lawan-lawannya itu, ke sembilan golok dari para tentara Mongolia juga telah menyambar kilat ke berbagai tubuhnya. Tiada jalan mundur atau berkelit bagi Lie Su Han di mana membuat ia jadi mengeluh sendirinya.

“Habislah aku kali ini.......,” teriak Lie Su Han di dalam hatinya.

Kini hwesio gemuk itu sudah tidak bisa tertawa lagi waktu melihat keadaan Lie Su Han terjepit seperti itu. Ketukan pada kayu bok-hie juga berhenti.

Walaupun tubuhnya gemuk. Namun gerakan si hwesio ternyata lincah dan gesit sekali, karena begitu dia menjejakkan kakinya, tubuhnya seperti sebuah bola yang melambung di tengah udara. Dan di saat itu kayu bok-hie di tangannya, berikut pemukulnya juga telah dimasukkan ke dalam jubahnya, di mana kemudian waktu tubuhnya meluncur di dekat gelanggang pertempuran itu, si hwesio telah menggerakkan kedua telapak tangannya dengan cepat.

“Aduuuh!” terdengar suara jerit kesakitan, lalu disusul dengan suara jeritan lainnya lagi. Saling susul tampak sembilan tubuh telah terpental berjumpalitan dan kemudian membentur keras sekali dinding ruangan itu. Rupanya ke sembilan tentara Mongolia itu telah dapat dibikin terpental satu demi satu oleh si hwesio gemuk tersebut, sehingga begitu mereka membentur dinding, tubuh mereka terkulai rubuh di lantai dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri.

Sesungguhnya Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin tengah dalam kegembiraan yang melihat bahwa lawan mereka dalam beberapa saat lagi akan berhasil mereka rubuhkan, karena mereka melihat bahwa Lie Su Han memang sudah tidak memiliki jalan mundur lagi untuk menyelamatkan dirinya.

Namun betapa terkejutnya mereka waktu melihat kejadian yang tidak pernah mereka sangka, yaitu ke sembilan dari tentara Mongolia itu, masing-masing telah berhasil dibuat terpental begitu rupa oleh si hwesio gemuk tersebut. Karena kedua tojin itu terkejut maka mereka menahan sedikit serangan mereka yang merandek beberapa detik.

Mempergunakan kesempatan itulah si hwesio gemuk tersebut telah mengulurkan tangan kanannya mencengkeram baju di punggung Lie Su Han, dan menghentaknya, menarik dengan cepat, sehingga tubuh Lie Su Han bisa diselamatkan dari serangan kedua tojin itu. Bukan main marahnya Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin, mereka telah mengawasi si hwesio dengan sorot mata yang tajam bengis.

”Kerbau..... siapa kau yang begitu lancang tangan berani mencampuri urusan kami?” bentak Bo Liang Cinjin kemudian dengan suara bengis mengandung kemarahan yang sangat.

“Ya, kau rupanya mencari mampus, kerbau gundul!” teriak Po San Cinjin dengan suara yang tidak kalah bengisnya.

Si hwesio gemuk tertawa bergelak, ia melepaskan cekalannya pada pakaian Lie Su Han, yang waktu itu telah merasa bersyukur, karena dirinya telah diselamatkan oleh si hwesio.

“Aku si pendeta miskin yang tidak bernama...... Kebetulan aku menyaksikan pertandingan yang tidak sedap dipandang, sehingga Siauw-ceng terpaksa ikut mencampurinya.......!” menyahuti hwesio tersebut dengan sikapnya yang tetap riang. “Siauw-ceng hanya menghendaki kalian bertempur dengan cara yang adil, seorang demi seorang, tidak seperti tadi, main meluruk begitu......!” dan si pendeta tersebut telah tertawa bergelak.

Bo Liang Cinjin dari Po San Cinjin membuka mata lebar-lebar dan membentak mengandung kemarahan yang sangat: “Engkaukah yang bergelar Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu?” tanya Bo Liang Cinjin kemudian.

Si pendeta tertawa sambil mengangguk. Memang gelarannya adalah Sung Ceng Siansu. Tetapi disebabkan ia gemar sekali tersenyum dan tertawa tidak henti-hentinya setiap menghadapi lawan bicaranya, maka pendeta ini telah diberikan julukan lainnya, yaitu Bi-lek-hud, si Buddha tertawa.

“Memang tidak salah, rupanya Totiang berdua memiliki mata yang sangat tajam......!” kata Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu. Dan sekarang apakah totiang berdua akan meneruskan main-main dengan senjata tajam itu dengan tuan ini?” sambil berkata begitu, si Bi-lek-hud telah menunjuk kepada Lie Su Han, yang waktu itu berdiri di sampingnya.

Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin berdua sesungguhnya telah cukup lama dan sering mendengar nama Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu, yang merupakan seorang hwesio yang memiliki kepandaian tinggi dan disegani oleh jago-jago rimba persilatan.

Tetapi walaupun begitu Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin juga merupakan dua orang tojin dari pintu perguruan Kun-lun-pay yang memiliki kepandaian tinggi. Mereka juga merupakan dua orang murid tingkat ketiga, dengan demikian mereka memiliki nama dan tingkat derajat yang tinggi dalam bilangan pintu perguruan Kun-lun-pay.

Sekarang, dalam keadaan marah seperti itu, walaupun mereka telah mengetahui bahwa hwesio gemuk tersebut adalah Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu yang kesohor namanya di dalam kalangan Kang-ouw, tokh mereka tidak merasa gentar.

“Kami tidak akan memperdulikan dulu pemberontak itu. Jika memang Taysu bisa merubuhkan kami berdua, maka pemberontak itu akan kami ijinkan untuk pergi bebas kemana dia mau.....!”

Hebat kata-katanya yang diucapkan oleh Bo Liang Cinjin, karena itulah sebuah tantangan untuk Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu.

Tetapi Sung Ceng Siansu tidak melawan kata-kata tantangan itu dengan sikap mendongkol atau marah, ia malah tertawa. Sama seperti julukannya, yaitu Bi-lek-hud, ia telah memperlihatkan sikapnya yang selalu riang.

“Lucu sekali,” kata Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu kemudian. “Kalian membawa sikap seperti anak kecil. Jika boleh siauw-ceng ingin sekali mengetahui gelaran yang mulia dari Jie-wie totiang......!”

“Pinto Bo Liang Cinjin dan ini adikku Po San Cinjin,” kata Bo Liang Cinjin, suaranya tetap memperlihatkan perasaan tidak senang dan membenci kepada Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu. “Dan kami justru hendak meminta petunjuk dari Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu yang begitu terkenal namanya di kalangan Kang-ouw!”

“Hahaha,” tertawa pendeta yang selalu riang itu sambil mengusap-usap perutnya yang memang membuncit, dan kemudian ia berkata, “Benar-benar lucu! Rupanya hari ini Siauw-ceng berjodoh bertemu dengan dua orang tokoh Kun-lun-pay yang memiliki nama begitu menggetarkan rimba persilatan! Inilah namanya suatu rejeki yang besar dan keberuntungan yang tidak pernah siauw-ceng berani harapkan sebelumnya! Apa lagi sekarang, jie-wie totiang hendak mengajak siauw-ceng main-main, dengan begini, itulah suatu penghormatan yang besar untuk siauw-ceng. mana berani siauw-ceng untuk menampiknya?”

Sambil berkata, tangan kanan Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu telah mengusap-usap perutnya yang memang sangat buncit itu.

Mendengar bahwa tantangan mereka itu diterima dengan cara seperti itu, Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin tidak membuang-buang waktu pula. Bo Liang Cinjin menggerakkan pedangnya di tangan kanannya menikam ke arah perut si hwesio, gerakannya cepat sekali. Dan juga Hud-tim nya telah dikebutkan ke kepala si hwesio.

Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu mengeluarkan suara teriakan kaget diiringi tawanya, “Celaka.....” serunya, dan tangan kanannya mengusap perutnya yang buncit lebih cepat, tangan kirinya menutupi kepalanya yang gundul itu, seperti takut kena dikemplang.

Dan sambil berbuat dengan tingkah laku yang lucu seperti itu, ia juga telah mencelat ke samping, gerakannya begitu ringan dan cepat sekali. Dan gerakan dari Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu tersebut telah membuat tikaman dan kejaran hud-tim Bo Liang Cinjin jatuh di tempat kosong.

Sedangkan Po San Cinjin yang melihat tikaman dan kemplangan hud-tim dari saudara seperguruannya tidak berhasil mengenai sasarannya, jadi mengeluarkan suara seruan nyaring sambil menggerakkan pedang dan hud-timnya juga menikam dari mengebut kepada Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu. Gerakan yang dilakukannya itu disertai oleh kerahan tenaga lweekang sembilan bagian. Hal ini disebabkan Po San Cinjin menyadari bahwa orang yang tengah dihadapinya ini adalah seorang lawan yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali dengan demikian telah membuat ia melakukan tikaman dan kebutan hud-timnya itu dengan mempergunakan tenaga lweekang yang tidak kepalang tanggung.

Tetapi seperti tadi, Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu telah mengulap-ulapkan tangannya, sambil berkata: “Celaka perutku......! Celaka perutku! Habislah kepalaku! Ohhh, celaka! Sungguh celaka!”

Walaupun Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu berbuat tingkah laku yang jenaka seperti itu, tokh kenyataannya gerakan tubuhnya cepat dan gesit sekali, sama sekali serangan yang dilakukan Po San Cinjin tidak berhasil mengenai sasarannya, karena pedang dan hud-timnya telah menyerang ke tempat kosong.

Dengan begitu Po San Cinjin dan Bo Liang Cinjin penasaran bukan main, dan mereka telah berbareng mengeluarkan suara bentakan sambil menggerakkan senjata mereka, yaitu sepasang pedang dan sepasang hud-tim saling samber cepat sekali dari empat jurusan kepada Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu.

Tetapi Sung Ceng Siansu telah melompat ke sana ke mari dengan gerakan tubuh yang ringan sekali, di mana ia pula acap kali berteriak-teriak, “Celakalah aku! celakalah aku.....! Ooh perutku tersayang, akan robeklah engkau dicium pedang totiang ini......! Sungguh celaka kalau sampai kepalaku yang gundul ini kena dibelai oleh bulu-bulu dari totiang-totiang itu.....!” dan tubuhnya telah melejit ke sana ke mari.

Memang cukup menakjubkan, walaupun bentuk tubuhnya gemuk bundar seperti itu, kenyataannya Sung Ceng Siansu bisa bergerak begitu gesit dan lincah. Malah sering sekali ia berteriak-teriak seperti orang ketakutan, tidak lupa ia menyelingi dengan suara tertawanya.

Setelah lewat sepuluh jurus, semakin lama Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin semakin panas hatinya. Keduanya telah mengerahkan seluruh kekuatan lweekang mereka dan telah menikam dan mengebut dengan hud-tim dan pedang mereka gencar sekali.

Kenyataannya, kedua tojin tersebut tetap mendesak Sung Ceng Siansu.

Malah setelah lewat sepuluh jurus pula di saat mana Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin tetap tidak berhasil untuk melukai Sung Ceng Siansu. Bahkan mendesak si hwesio saja mereka tidak bisa, di saat itulah Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu telah berkata dengan suara yang sangat nyaring:

“Aha haha haha, rupanya sekarang giliran aku si gemuk untuk memperlihatkan betapa tebalnya perutku ini, dan betapa atosnya kulit kepalaku...... hihihihi, hahahaha.....!” dan sambil tertawa begitu, tahu-tahu Sung Ceng Siansu sambil berkelit mengelakkan tikaman dari Bo Liang Cinjin yang menggerakkan pedangnya ke arah pahanya. Tubuh pendeta gemuk itu telah melambung ke atas setombak lebih, kedua kakinya ditekuk. dan kedua tangannya dilibatkan pada kedua kakinya di mana tubuhnya yang gemuk itu benar-benar jadi bulat seperti juga sebuah bola. Dan tubuh dari Sung Ceng Siansu berputaran di tengah udara. Lalu kepalanya itu menyeruduk kepada Bo Liang Cinjin, di saat tubuh hwesio tersebut meluncur turun dengan cepat.

Bo Liang Cinjin yang, menyaksikan cara menyerang Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu yang aneh dan luar biasa ini, tertegun sejenak, karena ia tidak mengerti, bahwa hwesio ini benar-benar membuktikan ancamannya, bahwa ia akan memperlihatkan kekedotan dan keatosan kulit kepalanya.

Namun Bo-liang tidak bisa berlaku ayal, karena tubuh Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu telah meluncur cepat sekali dan kepalanya yang gundul itu hanya terpisah tiga dim dari dada Bo Liang Cinjin. Mati-matian Bo Liang Cinjin telah menjengkangkan tubuhnya ke belakang, dengan gerakan “Tiat-pan-ko” atau jembatan besi, sehingga walaupun tubuhnya terjengkang ke belakang, ia masih bisa berdiri di atas kedua kakinya yang tertekuk dalam-dalam itu. Sikap yang diperlihatkan pada gerakannya benar-benar mirip dengan Jembatan Besi, seperti nama dari jurus itu.

Karena tidak mengenai sasarannya, maka serudukan Sung Ceng Siansu mengenai dinding, ia tidak bisa menahan meluncurnya tubuhnya yang berputar seperti bola itu, maka kepalanya yang gundul plontos menghantam kuat sekali dinding ruangan sebelah kanan. Terdengarlah suara menggelegar yang sangat keras sekali, dan dinding itu jadi jebol berlobang, karena dinding itu seperti dihantam oleh sesuatu benda yang keras dan kuat sekali.

Sedangkan Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu sendiri sambil tertawa, “Hahaha!” telah berdiri dengan kedua kakinya, sedikitpun tidak terlihat mabok atau pusing akibat benturan kepalanya itu dengan dinding tersebut yang jadi berantakan batunya, meluruk hancur di kaki tembok.

Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin jadi berdiri kaku kaget dan heran, mereka tidak mengerti betapa kuatnya kepala botaknya si Buddha tertawa itu, Sung Ceng Siansu.

Sambil tertawa hahahaha tidak hentinya, Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu telah melangkah mendekati Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin! Tiba-tiba hwesio gemuk ini duduk di lantai sambil tertawa tergelak-gelak tiada hentinya, kedua tangannya mengusap-usap perutnya yang buncit.

“Lucu sekali..... lucu sekali......!” kata hwesio gemuk tersebut terus menerus dengan tertawanya yang terpingkal. “Seperti itu, sungguh menggelikan...... hahaha...... sungguh lucu!”

Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin yang telah tersadar dari tertegunnya dan berkurang perasaan kaget mereka, ketika melihat tingkah laku hwesio jenaka tersebut yang seperti juga mengejek diri mereka. Keduanya jadi memandang benci dan Bo Liang Cinjin telah bertanya dengan suara membentak, “Apanya yang lucu?”

“Kalian berdua, lucu sekali......!” menyahuti Sung Ceng Siansu sambil terus tertawa keras terpingkal-pingkal.

“Ada apa pada kami yang lucu?” bentak Po San Cinjin, yang jadi mendongkol bukan main.

“Kalian berdua merupakan tojin-tojin yang tidak punya guna..... lucu sekali, seperti anak kecil yang takut menghadapi kodok...... mengapa kalian tidak menangkis terjanganku tadi dan melainkan kalian hanya berusaha menyingkir menyembunyikan ekor?” menyahuti Sung Ceng Siansu dengan diselingi suara tertawanya yang bergelak-gelak.

Muka Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin jadi berobah merah padam, mereka gusar dan penasaran bukan main, keduanya menahan kemarahan mereka sampai tubuh mereka menggigil.

“Baiklah,” kata Bo Liang Cinjin dengan suara yang keras. “Pinto ingin melihat sampai berapa tinggi kepandaian dari Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu yang dipuji-puji orang rimba persilatan.....” dan membarengi perkataannya tampak Bo Liang Cinjin telah mengebutkan hud-timnya ke samping, lalu pedang di tangan kanannya menyambar ke arah Sung Ceng Siansu, yang masih tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak.

Po San Cinjin juga rupanya tidak mau berdiam diri. Ia pun penasaran karena dengan maju berbareng berdua seperti itu, biasanya mereka merupakan jago yang sulit sekali ditundukkan oleh siapapun juga. Namun sekarang malah hwesio berkepala gundul yang jenaka ini bagaikan tidak memandang sebelah mata pada mereka. Dengan demikian, perasaan penasaran telah meliputi kedua tojin, sekarang turun tangan mereka melakukan tikaman dengan pedang masing-masing, juga melancarkan kebutan dengan hud-tim mereka. Kedua tojin itu melakukan dengan bersungguh-sungguh dengan mempergunakan jurus ilmu pedang Kun-lun-kiam-hoat.

Ilmu pedang Kun-lun-kiam-hoat terdiri dari delapanpuluh enam jurus. Dan setiap jurus dipecah menjadi dua gerakan, dengan demikian, jumlah seluruh gerakan dari Ilmu pedang itu menjadi seratus tujuhpuluh bagian. Ilmu pedang Kun-lun juga memiliki banyak perubahan, antara jurus satu dengan jurus lainnya selalu memiliki hubungan yang erat. Jika serangan pertama gagal maka jurus selanjutnya akan segera menambal kekurangan yang terdapat pada jurus yang terdahulu itu. Dengan begitu, ilmu pedang tersebut bagaikan memiliki rangkaian yang erat dan selalu beruntun sekali jurus demi jurus mengepung lawannya.

Terlebih lagi sekarang Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin melakukan serangan kepada si pendeta jenaka itu dengan berbareng, sekaligus maju berdua, dan juga mereka memainkan ilmu pedang Kun-lun-kiam-hoat dengan bersungguh-sungguh. Dengan demikian, telah menyebabkan setiap jurus yang mereka pergunakan memiliki kekuatan yang bisa mematikan.

Tetapi Sung Ceng Siansu sama sekali tidak jeri untuk berurusan dengan kedua tojin Kun-lun-pay tersebut, ia masih tetap duduk di tempatnya dengan tertawanya yang bergelak-gelak tidak hentinya. Waktu dilihatnya kedua batang pedang Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin itu menyambar ke arah perut dan pundaknya, Sung Ceng Siansu tetap tertawa malah iapun berseru: “Ohh, bisa celaka aku! Sungguh berbahaya.....!”

Lalu tubuhnya seperti bola bundar telah menggelinding di lantai, dan kemudian telah duduk pula di bagian lainnya. Dengan demikian sambaran kedua batang pedang Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin mengenai tempat kosong.

“Ayo kita bermain petak......!” kata hwesio jenaka tersebut. “Aku gembira sekali bisa bermain-main dengan kalian berdua, jie-wi Totiang!”

Muka Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin jadi berobah merah, karena mereka benar-benar penasaran sekali. Tidak disangka oleh mereka sama sekali, bahwa kini justru mereka seperti juga dipermainkan oleh pendeta gundul yang jenaka itu, dan seperti juga ilmu pedang mereka yang sesungguhnya telah dilatih mahir, bagaikan tidak memiliki arti apa-apa lagi buat si pendeta berkepala botak tersebut.

“Baiklah lihat serangan.....” Bo Liang Cinjin telah membentak, sambil melompat pedang di tangannya digetarkan sekaligus melancarkan tikaman ke tiga bagian di tubuh anggota bagian pendeta gundul tersebut yaitu lengan, dada dan perut.

Po San Cinjin juga rupanya tak mau ketinggalan, ia maju mendekati si hwesio jenaka itu dari arah samping kanan, pedangnya digerakkan menabas ke arah pinggang si hwesio.

Tetapi Sung Ceng Siansu tergelak-gelak tiada hentinya. Kini ia tidak menggelinding di lantai seperti biasanya tetapi tetap duduk di tempatnya, kedua tangannya telah digerakkan yang tangan kiri diulurkan untuk menjepit pedang Bo Liang Cinjin dengan jari telunjuk dengan jari tengahnya, kemudian tangan satunya lagi digerakkan untuk menjepit pedang Po San Cinjin.

0 Response to "Beruang Salju Bab 04 Pengeroyokan Si Budha Tertawa"

Post a Comment