Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 39

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 39

Kam Lian Cu memutar tubuhnya dibarengi dengan tikaman pedangnya, karena dia menduga kakek tua itu berada di situ.

Tapi dia menikam tempat kosong, kakek tua itu berdiri cukup jauh.

“Hentikan segala kelakuanmu itu, jika memang engkau tidak mau kubuat tidak berdaya!” bentak Bun Siang Cuan mengancam.

Sambil berkata begitu, tangan kiri dari Bun Siang Cuan menggenggam gagang pedang itu, sedangkan dua jari tangannya yang lain telah menjepit pedang itu, sehingga seketika dia mengerahkan tenaga dalamnya, maka pedang itu telah menjadi patah.

Di waktu itu terlihat kakek itu telah membuang patahan pedang tersebut. Dan dia pun telah berkata lagi dengan suara yang dingin: “Hemmm, dengan adanya peristiwa ini, engkau baru mengetahui siapa adanya Bun Siang Cuan……!”

Kam Lian Cu menangis terisak-isak dengan hati yang hancur bukan main, dia juga telah mengawasi kakek tua itu dengan sorot mata penuh kebencian.

“Kam Lian Cu……! Jika memang engkau tidak bisa membunuh kakek keparat itu dan kera keparat itu, engkau tidak boleh mati dulu!”

Begitulah bisik hatinya. “Ingatlah baik-baik?! Namanya adalah Bun Siang Cuan! Bun Siang Cuan! Bun Siang Cuan.....!”

Setelah berdiam sesaat, kakek tua itu bersiul dengan suara yang nyaring sekali.

Dari kejauhan tampak berlari-lari sesosok bayangan kuning. Dan setelah mendekat, Kam Lian Cu bisa melihat dengan jelas, itulah si kera bulu kuning Kim Go!

Dengan penuh kebencian, dan mata yang memancarkan sinar bagaikan mata pedang ataupun berapi, dia mengawasi Kim Go.

Kim Go telah berdiri di samping kakek tua she Bun itu, dengan mengeluarkan suara pekik perlahan.

Dengan mengeluarkan suara jeritan mengandung kebencian dan dendam yang mendalam, bercampur baur dengan sakit hati dan kehancuran hatinya, ke dua tangannya meluncur mencekik leher Kim Go.

Kera itu kelejatan kaget, karena tahu-tahu napasnya tersumbat. Ke dua tangannya bergerak-gerak, dia mencakar ke sana kemari dan mengeluarkan suara pekikan.

Kam Lian Cu tidak memperdulikan tubuhnya sebagian telah kena dicakar oleh kuku-kuku jari tangan Kera itu. Malah mukanya juga kena tercakar sampai mukanya itu terluka dan mengalirkan darah merah yang sangat deras sekali.

Dia mencekik terus dengan sekuat tenaganya, malah dia bermaksud untuk mencekik terus kera itu sampai mati.

Dan kelak setelah dia berhasil membunuh kakek tua Bun Siang Cuan juga, barulah dia akan membunuh diri. Karena dia tidak sanggup dengan aib dan malu yang telah dideritanya, berhubungan dengan seekor kera.....

Ketika menyaksikan apa yang dilakukan oleh si gadis, si kakek jadi marah bukan main.

“Perempuan hina dina……!” makinya, dan dia mengulurkan tangannya untuk menjambak baju di punggung si gadis. Dia telah menghentaknya dan melontarkan tubuh si gadis dengan kuat sekali.

Tubuh Kam Lian Cu terbanting bergulingan di atas tanah. Sedangkan Kim Go mengerang-erang kesakitan sambil memegangi lehernya.

Si kakek Bun Siang Cuan segera berjongkok buat menguruti leher kera itu.

“Tidak apa-apa..... memang seorang isteri terkadang galak dan ganas..... Nanti dia juga akan tunduk dan patuh kepadamu……!” kata Bun Siang Cuan.

Kera itu mengeluarkan suatu yang aneh sekali, seperti sikap seorang anak yang manja terhadap ayahnya.

Waktu itu Kam Lian Cu telah bangun berdiri, seperti orang yang berobah pikiran dan menjadi sinting, sambil menangis keras dan kalap dia berlari-lari ke sana ke mari.

Sedangkan waktu itu si kakek telah mengejarnya.

“Berhenti!” bentaknya.

Tapi Kam Lian Cu tidak juga mau berhenti.

Dia mengejarnya dan ketika dapat mengejar telah dekat, dia menggunakan tenaga jari telunjuknya untuk menotok.

Si gadis terjungkel.

Walaupun tubuhnya tidak dapat digerakkan, tapi dia jadi menangis sedih sekali.

Di waktu itu, si kera bulu kuning pun telah mengejar tiba, dia mengeluarkan suara “ngukkk, ngukkk” berulang kali sambil menunjuk-nunjuk kepada si gadis.

Bun Siang Cuan telah bilang: “Kau jangan kuatir, aku tidak akan mencelakai isterimu! Tapi sayang sekali, mukanya telah rusak sebagian karena engkau cakar……!” Sambil berkata begitu, si kakek telah berjongkok.

Dilihatnya muka Kam Lian Cu penuh oleh bekas cakaran, luka yang agak dalam dan juga mengeluarkan darah segar yang merah membasahi wajahnya.

“Hemmm, penyakit yang dicari sendiri!” menggumam si kakek tua she Bun itu.

Kemudian dia mengajak kera itu buat meninggalkan tempat tersebut.

Namun kera itu mengeluarkan suara “ngukk, ngukk” beberapa kali, kemudian menunjuk-nunjuk kepada Kam Lian Cu, seakan juga dia hendak memberitahukan kepada Bun Siang Cuan, bahwa dia tidak mau meninggalkan “isteri” nya.

Bun Siang Cuan tersenyum.

“Jangan kuatir, aku ingin pergi mengambil obat-obatan buat mengobati mukanya itu.....!” kata Bun Siang Cuan. “Dia dalam keadaan tertotok, tidak mungkin dia bisa melarikan diri!”

Kera itu baru mau ikut dengannya.

Kam Lian Cu rebah sendiri di atas tanah dengan isak tangisnya yang kalap.

“Ohhhhhh Thian....... mengapa nasibku demikian buruk ?!” sesambatan si gadis.

Dia terus juga sesambatan, di antara tangisnya.

Tidak lama kemudian dia mendengar suara berkerisik rumput tidak jauh dari tempatnya berada.

Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dia hanya menoleh ke arah datangnya suara itu. Karena dia menduga bahwa yang datang tentunya si kakek tua itu bersama keranya yang katanya diangkat menjadi anaknya.

Tapi kemudian dia jadi kaget sendirinya.

Orang yang tengah mendatangi adalah seorang laki-laki berusia limapuluh tahun, berpakaian seorang pendeta yang alim dan wajahnya welas asih.

Pendeta itu kaget tidak terkira ketika melihat seorang wanita yang mukanya berlumuran darah rebah di tanah. Dia menduga itulah semacam Yauw-koay, yaitu siluman, yang hendak menggodanya.

“Omitohud.....!” Segera juga pendeta itu memuji akan kebesaran sang Buddha.

Tapi ketika ia melihat wanita itu dalam keadaan tertotok dan dalam keadaan tidak bisa bergerak, menangis terisak-isak dia jadi memandang lagi beberapa saat. Kemudian hatinya tergerak.

Dia berpikir: “Apakah wanita ini bukan korban dari begal yang telah menganiaya dan meninggalkannya dalam keadaan tertotok?”

Setelah berpikir begitu, pendeta itu menghampiri Kam Lian Cu lebih dekat. Dia segera bertanya: “Omitohud! Siancai! Siancai! Apakah kau bukan Yauw-koay?”

Kam Lian Cu menangis terisak-isak. Dia kaget dan malu.

Kaget karena telah ada orang asing di tempat itu, yang jika mengetahui urusannya tentu sangat memalukan sekali, di mana dia telah “dikerjakan” oleh seekor kera. Hanya saja dia bersyukur bahwa orang itu adalah seorang pendeta.

“Taysu..... tolonglah aku..... tolonglah aku..... aku benar-benar manusia yang paling sengsara dan menderita menerima beban percobaan yang berat sekali di dunia ini……!”

“Siapa kau sebenarnya?” tanya si pendeta itu sambil mengawasi Kam Lian Cu dalam-dalam.

“Nanti akan kuceritakan, sekarang kau tolonglah aku, karena jika terlambat, penjahat itu akan kembali, celakalah aku dan kau juga Taysu, akan celaka?!”

“Ohhhhh, kau telah dianiaya oleh penjahat?” tanya pendeta itu lagi.

“Ya…… tolonglah aku, Taysu……!”

“Mari...... mari bangun!” kata pendeta itu sambil mengulurkan tangannya.

“Aku dalam keadaan tertotok……!” berkata Kam Lian Cu dengan isak tangisnya.

Hanya satu-satunya harapannya, yaitu si pendeta. Karena jika si pendeta mau membawanya kabur meninggalkan tempat itu dan jejak mereka tidak dapat dicari oleh si kakek Bun Siang Cuan, maka si gadis akan terhindar dari perbuatan mesum terkutuk kera bulu kuning itu.

“Gotonglah Taysu...... gotonglah aku…… aku dalam keadaan tertotok!” berseru ia kepada pendeta itu.

“Omitohud! Betapa jahatnya penjahat itu mukamu pun telah rusak!” kata pendeta itu.

Dia memang seorang ahli silat juga, seorang pendeta pengelana yang berilmu tinggi. Setelah memuji lagi akan kebesaran sang Buddha, dia membuka totokan pada tubuh Kam Lian Cu.

Pendeta itu mengikuti sambil bertanya-tanya kepadanya, apa sesungguhnya telah terjadi.

Tapi Kam Lian Cu tidak mau menceritakannya, dia hanya bilang: “Nanti jika telah tiba di tempat aman, aku akan menceritakannya, sekarang yang terpenting kita mencari tempat yang aman buat menyingkirkan diri dari kejaran si penjahat.....!”

“Kau beritahukan kepada Lolap, siapakah sebenarnya penjahat itu. Biarlah Lolap nanti pergi membasminya!” kata pendeta itu gusar.

“Jangan Taysu, Taysu bukan tandingannya, dia sangat lihay sekali.....!” kata Kam Lian Cu masih terus berlari sekuat tenaganya.

Si pendeta tampak jadi penasaran.

“Tapi lolap rela mengorbankan jiwa untuk menumpas kebathilan dan kejahatan!” katanya kepada si gadis.

Kam Lian Cu tidak melayani, dia berlari terus. Setelah berlari belasan lie, dilihatnya sebuah mulut lembah. Tanpa pikir panjang lagi Kam Lian Cu berlari-lari masuk ke dalam lembah itu.

Si pendeta juga telah ikut masuk ke dalam lembah. Masih Kam Lian Cu berlari terus, karena dia masih ingin mencari tempat yang benar-benar terlindung dengan aman, tidak meninggalkan jejak, sehingga Bun Siang Cuan tidak dapat mencarinya.

Jika dia terjatuh ke dalam tangan Bun Siang Cuan lagi, tentunya Kam Lian Cu menjadi permainan dari si kera bulu kuning itu. Dengan begitu pula akan membuatnya jadi bulan-bulanan permainan hina dina!”

Jika menuruti hati kecilnya, sesungguhnya Kam Lian Cu sudah tidak mau hidup.

Penderitaan malu yang diperolehnya dari apa yang dilakukan oleh si kakek Bun Siang Cuan berdua dengan kera bulu kuning itu, benar-benar membuat jiwa si gadis hancur.

Namun justeru dendamnya yang membara kepada Bun Siang Cuan, kakek tua keparat yang dianggapnya sebagai sumber dari bencana itu, dan biang keladinya juga, membuat dia tidak mau mati dulu.

Dia bermaksud dan bertekad, walaupun bagaimana hendak menuntut balas dan membunuh kakek tua itu dengan tangannya sendiri. Juga dia ingin membunuh kera bulu kuning itu, Kim Go.

Karena itu, walaupun bagaimana si gadis masih mau hidup, dia masih mau hidup, dia masih akan mempertahankan jiwanya.

Ketika sampai di sebuah lekukan tebing yang dalam sekali, merupakan tempat yang sangat baik buat menyembunyikan diri, Kam Lian Cu akhirnya berhenti berlari dan merebahkan dirinya di situ.

Napas Kam Lian Cu tampak memburu keras, ia letih bukan main, karena tadi dia telah berlari sekuat tenaganya.

Pendeta itu pun telah duduk di dekatnya, tapi napasnya sama sekali tidak memburu. Sikapnya tetap tenang, dan dia hanya tersenyum mengawasi si gadis.

Di kala itu Kam Lian Cu kebetulan menoleh kepadanya, dia melihat keadaan si pendeta, jadi terkejut dan bercampur dengan perasaan kagum.

Dengan keadaannya seperti itu menunjukkan bahwa pendeta ini memang memiliki kepandaian yang tinggi.

Kam Lian Cu tadi telah berlari begitu cepat dan juga telah berusaha untuk menggunakan seluruh tenaganya, sampai ia begitu letih dan napasnya memburu keras.

Tapi kenyataannya pendeta itu sama sekali tidak memburu sedikitpun juga napasnya. Dia malah tampak tenang-tenang saja.

Dengan demikian seperti itu, segera juga Kam Lian Cu dapat menarik kesimpulan bahwa pendeta ini tentunya seorang yang memiliki kepandaian yang tidak ringan dan tidak mau menonjolkan diri.

Sebagai seorang rimba persilatan, si gadis yang juga mengerti, tentunya pendeta ini bukan orang sembarangan. Cepat-cepat Kam Lian Cu bangun berdiri, dia menjatuhkan dirinya dihadapan si pendeta. Sambil menangis menggerung-gerung dan katanya:

“Locianpwe, terima kasih atas pertolongan locianpwe……!”

Pendeta itu memintanya agar dia bangun dan tidak melakukan peradatan. Pendeta itu kemudian bilang:

“Sekarang maukah kau nona menceritakan apa yang sesungguhnya telah terjadi?!”

Pipi Kam Lian Cu berobah merah. Dia malu bukan main mengingat lagi akan peristiwa yang membawa aib luar biasa buat dirinya. Namun di antara isak tangisnya, dengan suara yang tersendat-sendat, dia menceritakan apa yang telah terjadi dan menimpah dirinya.

Mendengar cerita Kam Lian Cu seperti itu, maka pendeta tersebut jadi merah padam, dia tampaknya murka bukan main. Malah tangan kanannya telah menepuk batu di sampingnya.

“Plakkk!” batu itu kena dihantamnya sampai sempal dan sebagian hancur menjadi bubuk. Malah dengan suara mengandung kemurkaan dia bilang:

“Sungguh biadab sekali manusia she Bun itu…..! Bun Siang Cuan. Itulah nama baru buat rimba persilatan. Tapi perbuatannya ini, suatu perbuatan yang biadab yang selama ini belum pernah Lolap dengar.......!”

Waktu berkata begitu, tubuh si pendeta tampak menggigil keras karena menahan kemarahan yang sangat hebat.

Sedangkan Kam Lian Cu jadi menangis tambah sedih terisak-isak.

“Sebetulnya Locianpwe....... boanpwe tadinya bermaksud hendak membunuh diri. Tapi akhirnya boanpwe bertekad buat hidup terus. Karena boanpwe bermaksud membalas sakit hati yang sedalam lautan ini.....!” kata Kam Lian Cu kemudian.

Pendeta itu menghela napas lagi.

“Kau jangan berputus asa dalam usia semuda ini, karena masih banyak yang perlu engkau lakukan untuk dapat melakukan perbuatan besar.....!” dan si pendeta telah mengawasi si gadis, akhirnya dia menghela napas lagi.

“Nasibmu memang malang benar.....!”

Tiba-tiba Kam Lian Cu telah berlutut di hadapan si pendeta sambil mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Dia menangis sesambatan.

Kemudian katanya di antara isak tangisnya:

“Locianpwe, tolong boanpwe! Terimalah boanpwe sebagai murid, karena boanpwe kelak hendak membalas sakit hati dengan membunuh Bun Siang Cuan dengan tangan boanpwe sendiri, begitu juga si..... si..... si kera..... kera bulu kuning itu.....!”

Pendeta itu tampak tertegun sejenak. Sulit baginya buat menerima seorang murid wanita. Dia adalah seorang pendeta, dengan demikian tidak pantas dilihat umum kalau saja memang dia menerima seorang murid wanita.

Akhirnya pendeta itu menghela napas.

“Baiklah.....!” katanya kemudian dengan suara yang terharu. “Aku bersedia menerima engkau, tapi bukan sebagai murid, hanya sebagai sesama manusia yang tengah dalam kesulitan dan ditimpah bencana, di mana Lolap akan mewarisi seluruh kepandaian dan ilmu Lolap..... Namun tidak bisa di antara kita diadakan sebutan Suhu atau murid. Mengertikah kau?!”

Bukan kepalang girangnya Kam Lian Cu, ia berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.

“Terima kasih Locianpwe….. terima kasih locianpwe..... boanpwe sangat bersyukur sekali!” kata Kam Lian Cu, karena kini muncul setitik harapan di dalam hatinya.

Walaupun kepandaian Bun Siang Cuan sangat tinggi sekali, tapi dengan mempelajari ilmu silat si pendeta yang tampaknya juga tidak rendah, dan juga mengharapkan dengan latihan yang tekun, Kam Lian Cu bisa memperoleh kepandaian yang tinggi. Dan dengan bertambah tuanya usia dari kakek Bun Siang Cuan tentu tenaganya agak berkurang, maka ada harapan bahwa ia kelak akan berhasil membalas sakit hatinya itu.

Si pendeta telah memimpin Kam Lian Cu buat bangun berdiri. Dia pun telah bilang:

“Lolap harap kau belajar dengan tekun dan giat. Karena dengan mempelajari seluruh kepandaian lolap, tapi tanpa berlatih dengan sebaik mungkin, tidak mungkin kau akan dapat menguasai seluruh ilmu silat itu dengan baik. Mengertikah kau?!”

Kam Lian Cu mengangguk beberapa kali mengiyakan.

Begitulah, mereka berdua telah memasuki lembah itu lebih dalam lagi. Mereka mencari tempat yang sekiranya cocok buat menjadi tempat tinggal mereka.

Di dalam lembah itu memang terdapat banyak sekali goa-goa, dan juga banyak tebing-tebing yang bertonjolan. Dengan demikian tidak sedikit tempat yang bisa dipergunakan sebagai tempat tinggal atau berteduh.

Tapi Kam Lian Cu dan si pendeta mencari tempat yang benar-benar tersembunyi yang sekiranya sulit ditemukan orang yang kebetulan lewat di tempat itu.

Akhirnya mereka memilih sebuah goa yang tidak jauh dari lekukan batu tebing. Dengan demikian goa ini berada di belakang lekukan batu tebing. Jika memang orang tidak memperhatikan dengan teliti dan baik-baik, tentu tidak mengetahui di belakang tebing itu ada goa yang tersembunyi.......

Demikianlah, Kam Lian Cu mulai melatih diri di bawah bimbingan pendeta itu.

Ia memang telah memiliki kepandaian yang tinggi. Sekarang memperoleh petunjuk dari guru tak resminya itu, kepandaian dari tingkat atas, membuat Kam Lian Cu memperoleh kemajuan yang pesat.

Yang membuat pendeta itu jadi girang, justeru setiap jurus yang diturunkannya, dapat dicernakan oleh Kam Lian Cu dengan mudah dan cepat.

Di samping tekadnya yang kuat, Kam Lian Cu memang memiliki bakat dan tulang yang bagus. Karenanya, semakin lama si pendeta semakin tertarik pada Kam Lian Cu. Hanya disayangkan olehnya bahwa Kam Lian Cu adalah seorang wanita, dengan demikian, tentu saja sulit buat dia menerimanya dengan resmi sebagai muridnya.

Tapi si pendeta bersungguh-sungguh sekali dalam mewarisi kepandaiannya. Dia telah menurunkan ilmu silat yang hebat dan cara melatih lweekang yang benar-benar ampuh sekali dari tingkat tinggi.

Kam Lian Cu giat sekali berlatih diri. Dia tidak mengenal lelah dan berlatih terus dengan rajin, sehingga dia memperoleh kemajuan yang sangat pesat.

Namun jika dia tengah duduk termenung seorang diri, air matanya sering menitik berlinang, karena dia berduka bukan main mengingat akan nasibnya yang sangat buruk itu.

Dia masih berusia muda sekali. Cantik jelita. Juga memiliki bentuk tubuh yang menarik. Dia pun telah mencintai Ko Tie, dan tampaknya Ko Tie pun mencintainya.

Tapi sekarang, justeru dia telah berpisah dengan Ko Tie dan akhirnya mengalami peristiwa yang biadab dan menyedihkan sekali itu. Benar-benar membuat hati si gadis jadi hancur.

Terlebih lagi sekarang wajahnya pun terdapat cacad bekas cakaran kuku dari kera bulu kuning itu, sehingga wajahnya, walaupun memang masih tampak sisa-sisa kecantikannya, tokh mukanya itu tampak jadi menyeramkan.

Dan setiap kali teringat akan semua itu, Kam Lian Cu jadi berduka. Hatinya hancur dan air matanya telah menitik turun.

Tanpa disadarinya, dia telah belajar ilmu silat kepada si pendeta selama empat bulan.......

Di waktu itu, tubuhnya pun mengalami perobahan, karena perutnya dari pertama, bulan ke dua dan ke tiga, lalu memasuki bulan ke empat, berobah menjadi besar.

Semula Kam Lian Cu menduga bahwa ia bertambah gemuk. Akan tetapi seketika ia memberitahukan keadaannya kepada si pendeta.

Dan juga memang belakangan ini si pendeta sering memperhatikan perobahan perut Kam Lian Cu, jadi memeriksa dengan memegang nadi dipergelangan tangan Kam Lian Cu.

Wajah si pendeta berobah.

“Oohh, inilah urusan yang benar-benar ajaib sekali!” mengeluh si pendeta yang mukanya segera memperlihatkan perasaan tegang sekali.

“Siancai! Siancai! Kau dalam keadaan mengandung.....!”

Bukan kepalang kagetnya Kam Lian Cu. Dia mengandung? Apakah hubungan dengan kera kuning itu bisa membuahi rahimnya? Benar-benar tidak masuk akal!

Si gadis jadi menangis menggerung-gerung. Dia tidak bisa membayangkannya, entah bagaimana kelak jika anaknya ini telah dilahirkan. Dan dia tidak berani membayangkan juga, entah bagaimana bentuk dari anaknya itu kelak.

Bukankah ia yang mengetahui dengan pasti, bahwa ia “diperkosa” oleh kera berbulu kuning. Apakah hubungan tersebut justeru dapat membuahi seorang anak?

Apakah antara kera dengan manusia bisa terjadi sesuatu kehamilan? Betul-betul membuat hati Kam Lian Cu tambah berduka saja.

Ia menangis menggerung-gerung dan hampir jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Si pendeta telah menghiburnya.

Begitulah tiga hari tiga malam Kam Lian Cu menangis tidak hentinya menyesali akan nasibnya. Bahkan dia pun telah bermaksud untuk membunuh diri saja.

Betapa memalukan sekali!

Bagaimana kelak jika ia telah melahirkan dan yang dilahirkannya itu adalah seorang bayi, yang keadaannya mirip dengan seekor kera? Atau memang benar-benar dia melahirkan bayi seekor kera?

Dan Kam Lian Cu tidak bisa membayangkan apa yang harus dilakukannya di waktu itu. Membunuh bayi itu? Atau pun memeliharanya? Apakah bayinya itu akan bisa bicara?

Sebetulnya, Kam Lian Cu sudah tidak kuat menanggung semua penderitaan ini. Terlebih lagi setelah dia mengetahui bahwa dirinya dalam keadaan mengandung.

Hanya saja disebabkan dendamnya yang besar terhadap Bun Siang Cuan, telah membuat dia menguatkan hatinya untuk hidup terus. Dan juga memang si pendeta selalu menghiburnya, meminta agar Kam Lian Cu menguatkan hatinya.

Karena dari itu, akhirnya dia bisa menguatkan hatinya dan dia pun telah berhasil untuk dapat menetapkan pendiriannya, bahwa dia siap menantikan kelahiran bayinya itu.

Walau bagaimana bentuk bayi itu, tokh tetap saja anaknya. Hanya saja kedatangan anak itu di permukaan bumi ini, akan mendatangkan linangan air mata calon sang ibu tersebut.

Si pendeta semakin sayang dan berkasihan terhadap nasib si gadis. Dia bisa membayangkan betapa hebatnya penderitaan bathin dari Kam Lian Cu, karena memang di waktu itu bisa dibayangkan, bagaimana perasaan dari Kam Lian Cu yang menantikan kelahiran bayinya, akibat dari benih yang disebarkan oleh seekor kera di dalam rahimnya?

Dan urusan ini memang merupakan peristiwa yang jarang sekali terjadi. Peristiwa yang benar-benar sangat hebat sekali, peristiwa yang mungkin akan mencengangkan setiap orang yang mendengarnya.

Dan Kam Lian Cu sebagai orang yang bersangkutan, tentu saja menerima percobaan hidupnya ini dengan hati yang terluka dan hancur sekali diliputi oleh kesedihan yang tidak terkira……

Di waktu itu si pendeta telah menasehati si gadis, karena sekarang telah diketahui bahwa Kam Lian Cu tengah hamil, maka dia tidak boleh melatih ilmu silat yang berat-berat. Juga tidak boleh melatih ilmu sin-kang yang terlalu tinggi.

Jika setiap hari dia melatih sin-kangnya, karena ilmu tenaga dalamnya merupakan hawa murni yang mengelilingi perutnya, tentu akan membuat gangguan yang tidak kecil buat kandungannya itu.

Kam Lian Cu mematuhi akan nasehat si pendeta. Dia pun terus banyak beristirahat.

Dan yang luar biasa tabahnya gadis ini, ia pun bersedia dengan penuh tekad dan kesabaran menantikan kelahiran bayinya. Walaupun bagaimana, yang berada dalam kandungannya adalah bayinya.

Cuma saja yang dikuatirkannya, begitu ia melahirkan, yang dilahirkannya adalah bayi dalam bentuk seratus prosen seekor kera..... Dan dia pun tidak bisa membayangkan, entah dengan cara bagaimana kelak dia melatih anaknya itu, kalau memang bayi itu dalam bentuk kera.

Tentunya pun tidak akan secerdik manusia..... tapi jelek, bagus atau pun juga bodoh atau pintarnya bayi itu, tetap saja bayi tersebut anaknya. Dan ia memang akan mencintainya, cinta seorang ibu.......

Giok Hoa telah kita tinggalkan cukup lama, marilah sekarang kita melihat keadaannya.

Giok Hoa telah berkelana dari kota yang satu ke kota lainnya. Diapun berusaha menyelidiki di mana jejak Ko Tie, karena iapun sangat menguatirkan sekali kalau-kalau terjadi sesuatu pada diri pemuda itu.

Ia mengakui, memang ia sangat mencintai Ko Tie. Jika sebelumnya dia tidak merasakan terlalu keras perasaannya itu, dan ia pun kurang begitu yakin dia mencintai Ko Tie.

Tapi setelah ia berpisah dengan Ko Tie dan kehilangan jejak pemuda itu, barulah dia merasakan betapa pun juga ia sangat membutuhkan sekali pemuda itu. Ia sangat merindukannya.

Seringkali jika malam hari dia tengah berada di kamar rumah penginapan yang disinggahinya, si gadis jadi duduk termenung dengan hati yang sangat rindu sekali kepada Ko Tie.

Dan dia mengharapkan dapat bertemu dengan Ko Tie secepat mungkin.

Tapi usahanya itu, yang berusaha menyelidiki jejak Ko Tie tetap saja tidak berhasil. Karena dia tidak pernah mendengar perihal si pemuda.

Keadaan seperti ini telah membuat Giok Hoa jadi berduka bukan main. Tubuhnya juga agak kurus, karena selalu memikirkan pemuda pujaan hatinya itu.

Demikianlah, dia menyesali juga tindakannya, yang telah meninggalkan rumah penginapan dan dari Ko Tie begitu saja. Dia telah membawakan adatnya begitu dan memisahkan diri dengan Ko Tie.

Dia telah meninggalkan surat buat Ko Tie, di mana dia menjelaskan bahwa dia telah pergi hendak berkelana seorang diri.

Namun setelah dia mengetahui bahwa dirinya sangat merindukan Ko Tie, segalanya telah terlambat. Dia telah demikian rindunya walaupun dia berpisah dengan Ko Tie belum lagi begitu lama.

Juga diapun segera berobah haluan, dia mencari Ko Tie lagi. Justeru sekarang tidak mudah baginya buat mencari Ko Tie, karena Ko Tie seperti juga telah lenyap begitu saja dari tempatnya, dan tidak meninggalkan jejak.

Giok Hoa mencarinya ke sana ke mari, dengan perasaan rindu yang semakin mencekam dirinya. Sayangnya Giok Hoa tetap saja tidak berhasil dengan usahanya tersebut.

Akhirnya Giok Hoa berusaha mengendalikan perasaan rindunya itu. Dia mengalihkan perhatiannya dengan berusaha turun tangan membantu orang-orang yang tengah dalam kesulitan dan juga terancam bahaya oleh perbuatan si jahat tapi kuat.

Karena itu, sedikitnya, Giok Hoa bisa mengalihkan perhatiannya dan setiap hari tidak memikirkan Ko Tie selalu.

Memang terkadang sulit sekali menduga hati wanita. Jika sebelumnya Giok Hoa yang meninggalkan Ko Tie. Dia hanya meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan bahwa dia telah berangkat lebih dulu dan melanjutkannya seorang diri.

Namun setelah berpisah, justru timbul rindunya dan Giok Hoa menyadarinya bahwa dia sangat membutuhkan dan mencintai Ko Tie. Tapi justeru belakangan dia sulit sekali buat mencari jejak Ko Tie.

Dengan begitu, akhirnya si gadis hanya mengharap kelak dia bisa bertemu lagi dengan Ko Tie. Dia telah tiba di kota yang cukup ramai dalam bilangan propinsi Hu-nan.

Kota itu dikenal sebagai kota yang berpenduduk rapat sekali, karena merupakan simpang lintas dari kampung-kampung yang ada di sekitarnya dan tempat ditumpahkannya barang-barang kebutuhan dari penduduk kampung di sekitarnya. Kota itu bernama Yun-cie-kwan.

Dan memang Yun-cie-kwan merupakan sebuah kota yang luas sekali. Semakin lama kota itu semakin melebar juga. Jika sebelumnya kota itu hanya memiliki empat pintu kota, maka sekarang jadi delapan pintu kota.

Sebuah kota dengan pintu kota sejumlah delapan buah itu, menunjukkan bahwa kota tersebut memang merupakan kota yang terhitung besar. Terlebih lagi penduduknya juga sangat padat dan ramai sekali.

Giok Hoa tiba di kota tersebut di waktu mendekati sore hari. Dia segera memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar dan bertingkat dua.

Dia telah pergi ke tingkat dua, pelayan melayaninya dengan ramah sekali. Dan Giok Hoa itu berpakaian sebagai seorang pria dengan demikian membuat orang-orang di dalam rumah makan itu sama sekali tidak memperhatikannya.

Giok Hoa bersantap dengan cepat. Kemudian ia membayar harga makanan, dan menanyakan kepada pelayan, di mana dia bisa memperoleh rumah penginapan yang cukup baik dan bersih.

Pelayan itu mengawasi Giok Hoa beberapa saat. Dilihatnya si “pemuda” adalah seorang yang putih dan tampan sekali, sehingga tentunya dia adalah pemuda dari keluarga kaya. Dia tentu juga menginginkan sebuah rumah penginapan yang besar dan bersih.

“Mungkin di Tian-men terdapat kamar kosong, coba saja Kongcu lihat ke sana..... Tapi menurut kabar yang kami dengar, di Tian-men justeru tengah diadakan pesta buat para pembesar setempat, yang menerima kunjungan para pembesar ibu kota.....

“Karena itu, mungkin tidak ada kamar kosong. Rumah penginapan itu satu-satunya merupakan rumah penginapan yang termewah dan terbesar.”

Giok Hoa mengangguk. Setelah mendengar keterangan di mana letak rumah penginapan tersebut, diapun segera meninggalkan rumah makan itu.

Ketika dia tiba di depan rumah penginapan Tian-men, benar saja, rumah penginapan itu ramai bukan main. Juga tampaknya banyak sekali pembesar kerajaan.

Mereka rupanya tengah berpesta dan seluruh kamar telah dipakai oleh para pembesar kerajaan, karena waktu Giok Hoa, hendak memasuki rumah penginapan itu, dia telah dihadang oleh seorang pelayan, yang memberitahukan kepadanya, orang luar tidak boleh masuk, karena rumah penginapan Tian-men hari ini tidak melayani tamu umum, telah diborong oleh pembesar kerajaan.

Giok Hoa akhirnya meninggalkan rumah penginapan itu. Dia berjalan mengelilingi kota karena dia bermaksud hendak mencari sebuah rumah penginapan lainnya.

Tapi, ia melihat sebuah rumah penginapan yang tidak begitu besar dan agak kotor. Si gadis tidak menyukai tempat seperti itu.

Terlebih kemudian dia melihat di dalam rumah penginapan itu seperti juga berkumpul cukup banyak buaya-buaya darat. Maka dia telah batal memasuki rumah penginapan tersebut dan mencari rumah penginapan lainnya.

Setelah menilai dan mempertimbangkan di antara empat rumah penginapan, akhirnya Giok Hoa memilih rumah penginapan yang memasang merek Kuo-men, di jalan Cing-lu, di mana rumah penginapan itu memang cukup bersih dan besar. Tapi yang mengherankan rumah penginapan ini sepi sekali, hanya tampak satu-dua orang tamu belaka.

Para pelayan di rumah penginapan ini tampak menganggur karena tidak ada kesibukan buat mereka.

Giok Hoa disambut oleh dua orang pelayan dengan ramah dan sopan, menghormat sekali. Mereka telah menanyakan apakah tamu ini membutuhkan kamar.

Giok Hoa meminta sebuah kamar yang bersih, kemudian dia dibawa oleh pelayan itu ke tingkat dua, di sebuah kamar yang bersih dan teratur baik. Dia bisa beristirahat dengan tenang.

Ketika Giok Hoa merebahkan dirinya di pembaringannya, pikirannya jadi melayang-layang. Dia teringat Ko Tie lagi.

Betapa tidak, perasaan rindunya demikian kuat sekali mendesak Ko Tie.

Justeru sekarang di saat dia berpisah dengan Ko Tie, dia baru menyadarinya, betapapun dia sesungguhnya memang sangat membutuhkan Ko Tie, sangat mencintainya. Dengan adanya Ko Tie, dia tidak pernah merasa kesepian seperti itu.

Giok Hoa pun teringat kepada gurunya! Kepada Swat Tocu, entah apa yang mereka lakukan. Dan juga gurunya tentu bergaul dengan baik bersama Swat Tocu, tokoh sakti itu. Dan tentunya gurunya tidak akan kesepian.

Tapi, menurut pengamatan Giok Hoa selama menjadi murid gurunya, dia memperoleh kenyataan gurunya itu lebih senang buat mengurung diri mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi. Entah Swat Tocu mau meluluskan permintaan gurunya yang bermaksud untuk minta agar Swat Tocu mengajarkan kepadanya ilmu sin-kangnya yang istimewa, yaitu ilmu Inti Esnya.

Sebelum Giok Hoa berangkat bersama Ko Tie, memang guru Giok Hoa pernah memberitahukan kepadanya, bahwa gurunya itu bermaksud meminta kepada Swat Tocu untuk mengajarkan kepadanya ilmu Pukulan Inti Es nya. Tapi Giok Hoa sendiri tidak yakin bahwa Swat Tocu bersedia mengajarkan ilmu andalannya itu.

Tengah rebah di pembaringan seperti itu pikiran Giok Hoa jadi menerawang ke sana ke mari. Dan akhirnya dia memutuskan untuk keliling kota melihat-lihat keramaian di kota itu, karena ia belum lagi bisa tidur. Karenanya Giok Hoa turun dari pembaringan dan dia mengenakan baju luarnya.

Tapi ketika dia mengenakan baju luarnya tiba-tiba dia merandek. Karena dia merasakan ada sesuatu yang dicurigakannya, dia merasakan, seperti juga ada seseorang yang tengah mengintai dirinya.

Dengan segera Giok Hoa memperhatikan keadaan di kamarnya itu, dan dia yakin ada orang mengintai dari lobang kunci di pintu kamarnya.

Tahu-tahu dengan gerakan yang sebat sekali seperti terbang, ia melesat ke pintu. Pintu itu dibukanya dengan mendadak sekali, digentaknya. Dan di hadapannya berdiri si pelayan dengan wajah yang sangat pucat pias.

“Apa kerjamu mengintai di situ?” bentak Giok Hoa marah.

Pelayan itu yang ketangkap basah atas perbuatannya itu, jadi meringis salah tingkah.

“Aku…… aku….. aku ingin menanyakan kepada kau, Kongcu. Apa yang ingin kongcu pesan, apakah air teh atau makanan kecil?”

Giok Hoa menjambak baju di dada pelayan itu, katanya dengan suara yang bengis: “Katakan terus terang, apa maksudmu mengintai di situ?”

Pelayan itu kesakitan.

“Lepaskan…… oooohhhhh, lepaskan……!” katanya ketakutan sekali. Mukanya juga pucat pias seperti mayat!

“Jika memang engkau tidak mau mengatakan yang sebenarnya, hemmmm akan kuhajar kau!” kata Giok Hoa dengan sikap mengancam dan matanya memandang tajam.

Pelayan itu jadi ketakutan, terlebih lagi dia merasakan cengkeraman tangan Giok Hoa semakin kuat dan keras, menyebabkan dia menderita kesakitan.

“Aku..... aku mohon maaf..... memang aku…… aku sengaja mengintai..... karena……!” Dan pelayan itu tidak meneruskan perkataannya.

“Katakan terus, karena apa?” bentak Giok Hoa dengan suara yang bengis.

“Karena…… karena aku melihat…… Kongcu mirip…… mirip seorang wanita, dan aku ingin mengetahui apakah Kongcu memang sesungguhnya seorang wanita yang tengah menyamar!” mengaku si pelayan.

Seketika juga Giok Hoa menyadari bahwa pelayan itu seorang yang ceriwis. Rupanya penyamarannya sebagai seorang pria tidak sempurna, sehingga pelayan ini dapat menduga dia adalah seorang wanita yang tengah menyamar.

Dan memang pada dasarnya pelayan itu yang ceriwis, yang mungkin memiliki kegemaran mengintip, maka dengan segera tangan Giok Hoa digerakkan. Dia melemparkan tubuh si pelayan, sehingga pelayan itu terbanting di lantai lebih beberapa tombak dan menggelinding bergulingan sambil menjerit-jerit.

Pelayan-pelayan lain yang mendengar suara ribut-ribut itu, segera juga berlari menghampiri.

Mereka berdiri tertegun menyaksikan apa yang terjadi, dan muka mereka pun berobah. Tampaknya mereka jadi tidak senang ketika memandang kepada Giok Hoa.

Giok Hoa tidak memperdulikan sikap para pelayan itu, dengan suara yang bengis dia bilang: “Jika dilain kali aku mengamproki kau masih mengintip juga, maka di waktu itu tidak ada tawar menawar, tentu aku akan membunuhmu……!”

Setelah berada di dalam kamarnya, Giok Hoa memasang pendengarannya. Dia tidak mendengar sesuatu yang mencurigakan.

Dibukanya pakaian baju luarnya, kemudian dia pun telah membuka juga bajunya untuk salin dengan baju tidurnya.

Tanpa setahu Giok Hoa, sesungguhnya beberapa orang pelayan yang tadi di luar rumah penginapan itu, sebetulnya telah bersiap-siap hendak mengintainya lagi.

Ketika Giok Hoa telah masuk ke dalam kamarnya, lima orang pelayan itu berindap-indap menuju ke belakang rumah penginapan, bagian taman bunga. Ternyata tembok kamar Giok Hoa memang menghadapi taman bunga itu.

Dengan hati-hati sekali ke lima pelayan tersebut telah menghampiri jendela. Merekapun telah mengintai dari lobang-lobang yang sebelumnya telah mereka bikin.

Seketika ke lima pelayan itu jadi terbelalak matanya. Karena mereka segera juga melihat bahwa Giok Hoa memang bukan seorang pemuda, melainkan seorang gadis.

Karena waktu itu Giok Hoa telah membuka baju luarnya kemudian baju dalamnya, tampak dadanya yang kulitnya begitu putih seperti salju.

Jantung ke lima pelayan itu berdebar keras. Karena mereka jadi mengawasi dengan perasaan yang bergolak di dalam hatinya masing-masing melihat seorang gadis cantik jelita yang tengah salin pakaian.

Dan waktu itu Giok Hoapun telah membuka kopiahnya, sehingga rambutnya yang panjang dan hitam lemas itu tergerai di bahunya, menambah kecantikannya.

Benar-benar para pelayan itu tidak menyangka bahwa “pemuda” tersebut adalah seorang gadis yang demikian jelita.

Mereka jadi mengintip terus, dan mereka melihat Giok Hoa telah merebahkan dirinya di pembaringan. Tangan kanannya dikebaskan, api lilin segera padam.

Menyaksikan hebatnya tenaga dalam gadis itu, ke lima pelayan tersebut jadi meleletkan lidahnya dan mereka saling pandang beberapa saat, mereka kagum dan juga jeri,

Kemudian dengan berindap-indap hati-hati sekali merekapun meninggalkan tempat mengintai mereka, karena kamar itu sudah gelap dan mereka tidak bisa melihat sesuatu apapun juga.

Salah seorang di antara mereka, ketika telah berada di ruang depan rumah penginapan itu, segera berkata: “Kita harus segera melapor kepada Lo-ya.....!”

“Ya, tentu Lo-ya akan girang bukan main, kita akan diberi hadiah!” menyahuti yang lain.

Segera juga tiga orang dari ke lima pelayan itu pergi ke ruang tengah penginapan tersebut! Tiba di depan sebuah kamar, salah seorang di antara mereka telah mengetuk pintu.

“Mau apa?” terdengar orang di dalam kamar itu menegur, rupanya dia telah dapat menduga siapa yang mengetuk kamar tersebut!

“Ada berita bagus, Lo-ya.....!” menyahuti ke tiga pelayan itu serentak, namun dengan suara yang perlahan.

“Berita bagus? Masuk!” perintah orang di dalam kamar itu.

Pelayan-pelayan itu segera mendorong daun pintu yang ternyata tidak terkunci.

Di atas pembaringan tampak rebah seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun. wajahnya keren, di mana dia memiliki sepasang alis yang tebal. Bibir yang tebal dan hidung yang tebal. Gagah sekali tampaknya. Dia mengawasi ke tiga orang pelayan yang baru masuk itu!

“Kabar bagus apa yang kalian bawa?” tanya orang itu, yang dipanggil Lo-ya.

Kedua pelayan itu masing-masing memperlihatkan sikap girang, sambil mengacungkan ibu jari mereka.

“Kabar yang benar-benar menggembirakan! Ada ikan kakap yang masuk jaring.....!” kata mereka hampir berbareng.

“Gadis yang cantik luar biasa Lo-ya.....!” kata yang lainnya kemudian.

“Cantik luar biasa.....!” nimbrung yang lainnya lagi, untuk meyakinkan si Lo-ya itu.

Lo-ya itu duduk dan mengawasi ke tiga pelayan itu.

“Kalian apakah bukan tengah mempermainkan aku?” tanya Lo-ya itu tersenyum,

“Mana berani! Mana berani!” menyahuti ke tiga pelayan itu yang tersenyum juga. “Memang gadis itu cantik bukan main. Mungkin selama ini, baru kali ini rumah penginapan kita menerima kunjungan tamu seorang gadis secantik dia........!”

“Di kamar berapa?” tanya si Lo-ya.

“Kamar duapuluh empat......!”

“Seorang diri?”

“Ya, dia seorang diri……!”

“Sudah tidur?”

“Kami baru saja mengintainya…… Api penerangan kamarnya telah dipadamkan setelah dia naik ke pembaringan. Diapun telah salin pakaian. Kami telah melihatnya semua, Lo-ya, ohhhh, betapa putihnya kulitnya……”

Mata Lo-ya itu mencilak memain sejenak, wajahnya tampak berseri-seri.

“Hemmmm, jika memang berita kalian ini bukan kabar bohong, aku akan menghadiahkan kepada kalian sejumlah besar uang……!” janjinya.

“Terima kasih Lo-ya…… memang itu yang kami harapkan……!” kata ke tiga pelayan itu.

“Tapi Lo-ya.....!” Dan berkata sampai di situ, salah seorang dari ke tiga pelayan itu telah berhenti sejenak, tampaknya dia ragu-ragu.

“Kenapa?!”

“Tampaknya gadis itu memiliki ilmu silat yang tidak ringan!” menyahuti si pelayan.

Dia menceritakan juga, waktu sore tadi justeru salah seorang kawan mereka telah mengintai dari pintu dan diketahui si gadis yang telah menghantamnya. Untung saja dia diampuni.

Lo-ya itu tersenyum.

“Jadi dia gadis dari kalangan Kang-ouw?” tanyanya dengan suara yang tawar.

Pelayan-pelayan itu mengangguk serentak.

“Tampaknya memang demikian.....!” kata mereka serentak juga.

Lo-ya itu tersenyum.

“Jangan kuatir. Bagaimana tingginya kepandaian gadis itu, aku akan dapat menghadapinya.....!” katanya kemudian sambil tertawa tawar, seperti juga dia tidak memandang sebelah mata terhadap cerita para pelayan itu.

Kemudian Lo-ya itu telah turun dari pembaringan, dia mengenakan baju luarnya.

“Kalian boleh pergi, nanti jika sudah berhasil, aku akan memberikan hadiahnya.......!” kata Lo-ya itu.

Ke tiga pelayan itu nyengir.

“Jika bisa sekarang saja diberikan sebagian, Lo-ya. Kami ingin minum arak……!” kata salah seorang di antara mereka.

“Tapi jika kalian mendustai aku?!” tanya si Lo-ya itu sambil senyum dan mengawasi dengan pandangan menyelidik kepada ke tiga pelayan tersebut.

“Mana berani kami memperdaya Lo-ya....., kami telah memberitahukan apa yang sebenarnya!”

“Hemmm, baiklah!” kata Lo-ya itu, dia merogoh sakunya, memberikan duapuluh tail.

Pelayan-pelayan itu kegirangan, mereka mengucapkan terima kasihnya berulang kali.

Setelah pelayan itu pergi, si Lo-ya kemudian pergi ke belakang rumah penginapan itu, ke taman bunga.

Dia mengetahui, jendela mana yang merupakan jendela kamar dari nomor duapuluh empat itu.

Dia pun menghampiri dengan langkah kaki yang ringan, tidak memperdengarkan suara.

Ketika sampai di samping jendela, dia merogoh sakunya, mengeluarkan semacam obat bubuk, yang kemudian dibakarnya.

Asap yang keluar dari obat bubuk yang dibakarnya itu, telah melambung tinggi. Dia meniupnya perlahan-lahan, sehingga asap itu menyelusup masuk ke dalam kamar.

Rupanya si Lo-ya tengah membakar semacam obat bius, untuk membuat Giok Hoa di dalam kamar itu tidak sadarkan diri, dan dia akan mudah melakukan apa yang diinginkannya.

Asap itu memang menyelusup masuk ke dalam kamar tersebut melewati kisi-kisi jendela.

Setelah menantikan sekian lamanya, akhirnya si Lo-ya beranggapan telah cukup dia menghembuskan asap obat pulasnya itu. Dengan gembira dia mengulurkan tangannya, berani sekali dia mencongkel jendela, daun jendela itu terbuka. Keadaan di dalam kamar gelap sekali, tapi dia melompat masuk.

“Bukkk! Aduhhh!” Tiba-tiba dalam kegelapan itu terdengar suara yang nyaring di susul jeritan si Lo-ya.

Malah tidak lama kemudian tampak si Lo-ya telah melompat keluar lewat jendela itu. Mukanya meringis menahan sakit.

Menyusul dengan melompatnya si Lo-ya, juga menyusul sesosok bayangan yang melompat keluar jendela.

Dialah Giok Hoa, yang mukanya merah padam karena murka bukan main.

“Hemmm……!” dia mendengus dengan suara yang dingin sekali. “Kau Cay-hoa-cat yang tidak tahu mampus!” Setelah berkata begitu, pedang di tangannya menikam berulang kali.

Tapi Lo-ya itu telah mengelak ke sana ke mari, dia ripuh sekali. Rupanya usahanya kali ini telah gagal, malah dia kena terpancing oleh Giok Hoa.

Mengapa Giok Hoa tidak terpengaruh oleh obat bius tersebut?

Rupanya Giok Hoa memang menaruh kecurigaan bahwa di rumah penginapan ini memiliki pelayan-pelayan yang tidak baik. Walaupun sesungguhnya dia mengantuk, namun dia tidak segera tertidur.

Pendengarannya yang tajam segera mendengar suara langkah kaki mendekati jendela kamarnya. Waktu itu keadaan malam hening sekali, sehingga dia bisa mendengar jelas suara langkah kaki itu.

Jika memang orang biasa, tentu tidak akan dapat mendengar suara langkah kaki yang perlahan sekali. Tapi bagi Giok Hoa yang memang memiliki pendengaran yang tajam, segera mengetahui ada seseorang yang tengah mendekati jendela kamarnya.

Malah menyusul kemudian didengarnya suara dinyalakannya bibit api.

Diapun segera mencium bau harum. Seketika Giok Hoa menyadari tentunya ada seorang Cay-hoa-cat yang hendak mengganggunya dengan mempergunakan obat bius.

Dia segera mengeluarkan tempat simpanan obatnya. Dia pun telah menelan sebutir obat sehingga dia tidak terpengaruh oleh obat bius tersebut.

Kemudian Giok Hoa pun bersiap-siap di sudut ruangan itu dekat jendela. Dia menantikan sampai si maling pemetik bunga itu hendak bekerja dan masuk ke dalam kamarnya.

Benar saja, setelah asap itu berkurang, daun jendela dicongkel oleh seseorang, dari luar. Giok Hoa tetap menantikan dengan sabar. Keadaan di dalam kamarnya memang gelap gulita, karenanya Giok Hoa tidak perlu kuatir.

Dia memiliki mata yang tajam, yang bisa melihat dalam kegelapan. Karena dari itu, seketika juga dia telah melihat Lo-ya itu melompat masuk ke kamarnya lewat jendela.

Secepat kilat pedangnya bekerja menikam. Namun si Lo-ya bisa mengelakkan dari tikaman pedang itu. Cuma saja hantaman tangan kiri Giok Hoa telah mengenai dada si Lo-ya.

Suara “Bukkk!” itulah yang terdengar akibat terpukulnya si Lo-ya, di susul dengan jerit kesakitan dari si Lo-ya itu sendiri.

Tapi memang Lo-ya itupun tampaknya memiliki kepandaian tidak rendah. Dia telah dapat melompat keluar dari kamar itu lewat jendela yang tadi dibukanya.

Giok Hoa mengejarnya.

Sekarang mereka telah berhadapan dan Giok Hoa pun mulai menyerang dengan pedangnya. Si Lo-ya mengelak ke sana ke mari dengan lincah sekali.

Giok Hoa tambah penasaran.

“Hemmm, tidak tahunya di daerah ini berkeliaran seorang pemetik bunga! Jika aku tidak dapat membunuhmu hari ini, tentu di belakang hari engkau akan menyebabkan jatuhnya korban yang cukup banyak! Karena itu engkau harus dimampusi!”

Sambil berseru begitu, tampak dia telah menikam berulang kali mempergunakan pedangnya.

Si Lo-ya tampaknya jadi ripuh sekali, karena si gadis telah menikamnya dengan mempergunakan jurus-jurus ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat, yang hebat itu.

Si Lo-ya berusaha mati-matian mengelakan diri dari setiap tikaman si gadis, sampai akhirnya dia baru memiliki kesempatan buat mencabut senjatanya, sebatang golok berukuran kecil.

Dia mempergunakan golok kecilnya itu buat menangkis salah satu tikaman yang dilakukan Giok Hoa.

“Tranggggg......!” terdengar pedang dan golok itu telah saling bentur.

Benturan yang terjadi begitu keras dan kuat, sehingga golok dan pedang sama-sama tergetar. Rupanya memang si Lo-ya ini telah mengerahkan tenaga lweekangnya waktu menangkis.

Giok Hoa tercekat juga hatinya, diam-diam dia berpikir: “Hemmm, tidak kusangka dia memiliki kepandaian yang lumayan…… Jika demikian dialah bukan seorang pemetik bunga sembarangan……!”

Karena berpikir begitu, Giok Hoa bersikap jauh lebih hati-hati. Dia selalu memperhitungkan setiap serangannya.

Pedangnya itu berkelebat-kelebat semakin cepat. Tubuh Giok Hoa juga mencelat ke sana ke mari seperti sesosok bayangan belaka sulit diikuti oleh mata si Lo-ya, membuat dia mulai bingung.

Permainan ilmu goloknya juga mulai kacau, karena dia tidak jarang jadi terdesak hebat sekali dan hampir saja tidak bisa memunahkan serangan Giok Hoa.

Melihat lawannya telah terdesak seperti itu, semangat Giok Hoa terbangun..... Pedangnya berkelebat-kelebat seperti mengelilingi si Lo-ya itu.

Semakin lama si Lo-ya semakin kebingungan. Dia juga mengeluh, karena tidak menyangka bahwa lawannya ini demikian tinggi ilmu pedangnya.

Tampak Giok Hoa berhasil menikam dan melukai beberapa bagian anggota tubuh dari lawannya, membuat si Lo-ya benar-benar jadi panik karena berulang kali dia harus menyelamatkan diri.

Si Lo-ya telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, akan tetapi tetap saja dia tidak bisa mengelakkan diri dari desakan Giok Hoa.

Malah semakin lama tampak jelas sekali dia semakin terdesak hebat.

Dua kali dia telah kena dilukai lagi, dan mengeluarkan suara jeritan kesakitan.

Menyusul dengan itu, juga terlihat bahwa memang pada saat itu Giok Hoa tengah mendesak dia semakin hebat, dan ketika goloknya kena disampok oleh tabasan pedang si gadis, tidak ampun lagi golok pendek itu telah terbang terlepas dari cekalannya.

Muka si Lo-ya berobah pucat, dia berdiri kaku, dengan ujung pedang Giok Hoa telah menempel di lehernya.

“Jangan..... jangan membunuhku.....!” Dia sesambatan dengan tubuh menggigil ketakutan.

Giok Hoa tertawa dingin. Dia segera juga menjejakkan kakinya, tubuhnya melayang ke tengah udara, pedangnya bergerak sebat sekali.

“Sreeettttt!” muka si Lo-ya telah kena digores oleh mata pedangnya, melintang panjang sekali, juga di waktu itu muka si Lo-ya telah dilumuri oleh darah merah yang kental……

Lo-ya itu menutupi mukanya sambil menjerit, lemaslah sepasang lututnya. Dia pun segera berlutut sambil sesambatan……

Giok Hoa yang telah turun pula hinggap di tanah, tertawa dingin.

“Hemmm, penjahat pemetik bunga seperti engkau harus dimampusi, untuk menghilangkan bencana buat umum……!” kata Giok Hoa dengan suara yang dingin sekali.

Di kala itu tampak si Lo-ya telah menggigil ketakutan dan menangis: “Ampunilah aku…… aku tidak akan melakukannya lagi……!”

Dan tanpa memperdulikan rasa malu lagi dia pun berlutut sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

Giok Hoa tertawa dingin, pedangnya bergerak.

“Sreeettt……!” punggung si Lo-ya kena digores lagi dengan mata pedangnya.

Lo-ya itu menjerit kesakitan, tubuhnya terjengkit karena goresan mata pedang itu.

“Ampuuuuun……!!” dia menjerit.

Giok Hoa berdiri dengan gagah.

“Hemmm, rupanya engkau yang menjadi penjahat pemetik bunga, jika memang aku tidak salah, bukankah engkau ini si pemilik rumah penginapan ini?!”

Si Lo-ya ketakutan, dia tidak berani berdusta.

“Benar..... benar….. ampunilah aku....... Aku akan merobah kelakuanku...... dan kuberikan kau menginap gratis sesuka hatimu……!”

Muka Giok Hoa berobah merah padam karena murka.

“Atau kau kira aku ini sebagai wanita rendah yang silau oleh sejumlah uang?!” tanyanya dengan suara bengis. “Hemmmm, akupun memiliki uang yang jumlahnya tidak sedikit.....!”

Muka si Lo-ya berobah pucat, dia mengerti bahwa dia kembali telah salah bicara lagi.

Maka cepat-cepat dia segera berkata: “Ampunilah aku..... Aku bersungguh-sungguh tidak akan melakukan perbuatan buruk itu lagi?”

“Aku tidak bisa mempercayai janjimu.....!” kata Giok Hoa. “Penjahat busuk seperti engkau ini adalah kematian merupakan bagianmu!”

Menggigil tubuh si Lo-ya. Dia segera juga mengangguk-anggukan kepalanya.

“Ampunilah aku Lihiap……, aku benar-benar tidak akan melakukan sesuatu yang buruk lagi.......!” Dan dengan tidak tahu malu, malah si Lo-ya ini telah menangis terisak-isak.

Giok Hoa mendongkol bukan main melihat sikap pengecut dari penjahat pemetik bunga ini. Dialah merupakan penjahat yang berbahaya sekali, yang tentunya akan merusak kehormatan anak dan isteri orang. Karena itu, Giok Hoa telah memutuskan, bahwa dia akan membinasakan si Lo-ya itu.

“Baiklah, karena engkau merupakan penjahat yang paling rendah, yang tidak kenal malu dan paling busuk, yang tentunya telah banyak mengganggu isteri dan anak gadis orang, maka engkau harus di kirim ke neraka, agar kelak di kemudian hari tidak ada yang mempersulit penduduk setempat......!”

Bukan main ketakutan si Lo-ya, dia sampai menggigil keras sekali. Karena saking ketakutan dan mengetahui Giok Hoa tidak akan mengampuni jiwanya, dia jadi nekad.

Tiba-tiba saja si Lo-ya telah melompat bangun untuk membarengi melarikan diri.

Cuma saja, baru dua langkah dia berdiri, pedang Giok Hoa telah bekerja. Mata pedang itu tepat sekali menghujam punggung si Lo-ya tersebut dalam sekali.

Waktu Giok Hoa menarik pedangnya, seketika darah memancur deras dari luka di punggung si Lo-ya.

Dia pun tidak bisa menjerit lagi, cuma matanya mendelik, mulutnya terbuka, dan dia tampaknya menderita kesakitan yang hebat. Kemudian rubuh terguling rebah tidak bergerak lagi. karena jiwanya telah melayang ke neraka.....!

Giok Hoa menyusut pedangnya yang berlumuran darah di baju si Lo-ya, kemudian memasukkan ke dalam sarungnya.

Dengan mendengus dingin, dan memandang jijik kepada mayat si Lo-ya. Giok Hoa telah melompat masuk kembali ke dalam kamarnya.

Dia telah mengunci jendela kamarnya. Lalu merebahkan dirinya di pembaringan untuk tidur……

Besok paginya, pintu kamar Giok Hoa digedor keras sekali dari luar, terdengar juga suara yang ramai-ramai, sehinggga membuat Giok Hoa terbangun dengan terkejut.

“Buka! Ayo buka pintu, penjahat!” teriak orang-orang di luar kamarnya.

Muka Giok Hoa berobah, seketika dia menduga bahwa yang telah menggedor pintu kamarnya tentunya adalah polisi setempat.

Tapi dengan tenang kemudian Giok Hoa turun dari pembaringan.

“Tunggu!” bentaknya dengan suara yang nyaring. Kemudian dia mengenakan pakaiannya, merapihkan juga buntalannya, lalu pauw-hoknya itu telah disandangkan di pundaknya.

Sedangkan di luar masih ramai juga orang yang menggedor pintu. Ketika Giok Hoa membuka pintu kamarnya, semua orang jadi berdiri tertegun.

Di hadapan mereka berdiri gagah sekali seorang wanita, dengan pedang tergenggam di tangannya. Wajahnya cantik luar biasa. Beberapa orang polisi yang berada di situ jadi saling pandang, mereka heran rupanya.

“Ada apa?!” tanya Giok Hoa kemudian dengan suara yang tawar kepada mereka.

Para pelayan yang berdiri di belakang para polisi itu telah menunjuk sambil berseru- seru.

“Dialah pembunuhnya! Dialah pembunuhnya!”

Rupanya para pelayan itu telah melihat majikannya mereka terbunuh mati.

Seketika mereka menyadari apa yang terjadi. Rupanya gadis yang hendak dijadikan calon korban dari si Lo-ya itu memang memiliki kepandaian yang tinggi, sehingga dia bisa membunuh si Lo-ya.

Pagi-pagi sekali para pelayan itu segera melaporkan peristiwa pembunuhan tersebut kepada para pembesar yang berwenang di kota itu. Terlebih lagi memang si Lo-ya memiliki hubungan dengan beberapa orang pembesar tinggi.

Kemudian, Tie-kwan juga telah perintahkan beberapa orang polisi buat menangkap si pembunuh.

Hanya saja mereka tidak menyangka, bahwa yang disebut sebagai pembunuh si Lo-ya tidak lain seorang wanita cantik.

Padahal mereka mengetahui bahwa si Lo-ya sesungguhnya memiliki ilmu golok yang cukup lihay.

Polisi-polisi itu memandang Giok Hoa seakan juga tidak mempercayai bahwa gadis inilah sebagai pembunuhnya.

Sedangkan para pelayan itu masih terus berseru-seru: “Dialah pembunuhnya! Siluman wanita itulah pembunuhnya!”

Muka Giok Hoa berobah merah karena mendongkol.

“Benar, memang aku yang membunuh majikan kalian! Dan kalian semuanya pun perlu dihajar, karena kalian pun bukan sebangsa manusia baik-baik!

“Aku baru mengerti mengapa rumah penginapan ini sangat sepi. Karena tampaknya orang-orang telah mengetahui pemiliknya adalah manusia tidak tahu malu.....!!”

Sambil berkata begitu, Giok Hoa menghunus pedangnya dan melangkah akan keluar dari kamarnya.

Para pelayan itu jadi ketakutan, mereka berhamburan melarikan diri.

Tapi para polisi itu segera menghadang di depan Giok Hoa.

“Serahkan pedangmu, atau engkau hendak membangkang kepada kami!!” kata salah seorang di antara polisi itu. “Dan kau sebagai pembunuh, dengan ini kami tahan untuk diperiksa!”

Giok Hoa tertawa dingin. Mana mau dia membiarkan dirinya ditangkap oleh polisi-polisi itu.

Segera juga dia menggerakkan pedangnya, polisi itu yang tidak menyangka dirinya akan ditikam seperti itu, seketika menjerit, sebab pundaknya tertikam.

Dia terhuyung mundur. Mempergunakan kesempatan itu Giok Hoa menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat ke tengah udara. Dia pun memutar pedangnya.

Para polisi yang lainnya segera mencabut golok mereka, ramai-ramai mereka menyerang.

Akan tetapi Giok Hoa bisa menangkis semua serangan itu, dia memutar pedangnya melindungi dirinya.

Dengan mengandalkan gin-kangnya, Giok Hoa bisa meninggalkan rumah penginapan itu, melepaskan diri dari kepungan para polisi tersebut. Dia berlari pesat sekali keluar kota.

Para polisi itu mengejar sambil berteriak- teriak: “Tangkap pembunuh! Tangkap pembunuh……!”

Tapi mereka mana bisa mengejar Giok Hoa, yang memiliki gin-kang yang tinggi dan dalam waktu yang singkat saja telah lenyap dari pandangan mereka.

Giok Hoa sendiri memang sudah mengetahui bahwa dia tentu akan menghadapi kesulitan, karenanya tadi dia telah mengenakan pakaian baju luarnya, dia pun telah membawa pauw-hoknya, maka dia bisa berlari dengan pesat sekali meninggalkan kota tersebut..... sedangkan para pengejarnya tertinggal jauh sekali, mereka tidak berhasil mengejarnya.

Setelah berada di luar kota, Giok Hoa masih berlari terus dengan cepat sekali..... karena dia masih kuatir kalau-kalau tentara kerajaaan dikerahkan buat menangkap dirinya, sehingga biarpun dia memiliki kepandaian tinggi, jika memang dikeroyok dalam jumlah yang besar, niscaya dia akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil.

Karena itu Giok Hoa terus juga berlari. Semakin lama semakin jauh meninggalkan kota tersebut. Dia mengambil arah ke Barat, karena memang dia tidak mengetahui, ke arah mana dia harus pergi.....

Y

Kita kembali kepada Ko Tie, dimana keadaannya berangsur memang mulai membaik.

Karena Oey Yok Su telah berhasil untuk menyalurkan sin-kangnya, membuat Ko Tie dapat mempergunakan bantuan itu buat menyalurkan lweekangnya sendiri.

Diapun telah berhasil untuk menyalurkan sin-kangnya pada beberapa jalan darah besarnya, karena jalan darah terpenting di tubuhnya telah dibuka oleh Oey Yok Su. Dengan demikian, pesat sekali Ko Tie pulih kesehatannya.

Karena itu, Ko Tie dapat segera duduk pada hari ke duanya. Dia pun sudah dapat bercakap-cakap dengan Oey Yok Su maupun penduduk kampung itu.

Pada sorenya, Ko Tie telah menanyakan burung rajawalinya itu, Tiauw-jie, bagaimana keadaannya.

“Aku telah mengobati luka pada sayapnya. Dia mengalami patah tulang pada sayap kanannya!” menjelaskan Oey Yok Su.

Dan kemudian Oey Yok Su keluar buat memeriksa keadaan rajawali itu. Tidak lama kemudian dia kembali.

“Dia telah sembuh, dan bisa terbang kembali dengan leluasa!” kata Oey Yok Su kemudian menjelaskan kepada Ko Tie, membuat pemuda itu girang bukan main.

Setelah beberapa saat, Oey Yok Su memandangi si pemuda, dia pun bilang: “Ada yang hendak kutanyakan, apakah engkau bersedia menjawabnya?”

Ko Tie terkejut.

“Silahkan locianpwe, mengapa harus sungkan begitu? Setiap pertanyaan locianpwe, pertanyaan apa saja. Jika memang aku mengetahuinya tentu saja boanpwe harus menjelaskannya.....!” kata Ko Tie kemudian dengan sikap hormat sekali!

Oey Yok Su menghela napas panjang!

“Melihat burung rajawalimu itu, maka aku jadi teringat kepada Sin-tiauw, rajawali-rajawali yang dipelihara puteriku itu, dan yang hendak kutanyakan, dari mana engkau memperoleh burung rajawali itu?!”

Sambil bertanya begitu Oey Yok Su mengawasi Ko Tie dalam-dalam. Dia memperoleh kenyataan pemuda itu memang tidak bimbang lagi telah menyahuti, menjelaskan bahwa burung itu sebetulnya burung peliharaan Giok Hoa.

“Oh, murid dari puterinya Yo Ko?!” tanya Oey Yok Su setelah mendengar habis cerita Ko Tie.

Ko Tie mengangguk.

“Benar Locianpwe……!”

“Sekarang dia berada di mana?!”

“Entahlah, dia telah meninggalkan boanpwe, sehingga boanpwe tidak mengetahui di mana sekarang dia berada!” menyahuti Ko Tie sejujurnya.

Oey Yok Su menghela napas.

“Hai! Hai! Memang begitulah adat-adat orang muda!” kata Oey Yok Su kemudian. “Mungkin juga kawan wanitamu itu membawa adatnya!”

Ko Tie jadi jengah, dia likat sekali, sampai dia tersenyum saja dengan pipi yang berobah memerah.

Di waktu itu Oey Yok Su telah bilang lagi dengan suara yang perlahan: “Mengapa engkau tidak berusaha mencarinya?!”

Ko Tie terkejut ditegur seperti itu.

“Boanpwe telah berusaha mencari dirinya akan tetapi boanpwe tidak berhasil menemukan jejaknya.....!” menjelaskan Ko Tie dengan memperlihatkan sikap menyesal.

Betapapun juga memang Ko Tie pun menyesali dirinya, mengapa dia tidak berusaha mencari si gadis. Bukankah apa yang dikatakan oleh Oey Yok Su memang benar, yaitu bahwa si gadis mungkin membawa adatnya dan mungkin juga di mata si gadis, Ko Tie telah melakukan suatu yang kurang menyenangkan hatinya.

Karena itu, Ko Tie teringat kepada Kam Lian Cu.

Mungkin pula, di saat dia tengah bercakap-cakap dengan Kam Lian Cu, justeru Giok Hoa telah melihatnya, sehingga membuat gadis itu akhirnya angkat kaki meninggalkannya dan jika memang demikian, seharusaya Ko Tie mesti mencarinya.

Karena berpikir begitu, akhirnya Ko Tie memutuskan, begitu dia telah sembuh dari lukanya ini, dia akan segera berusaha mencari jejak si gadis.

Sedangkan di waktu itu Oey Yok Su telah berkata lagi: “Dalam waktu empat hari lagi, lukamu telah sembuh keseluruhannya, dan engkau boleh melakukan perjalanan dan kita berpisah, karena aku tidak mungkin buat menemani engkau terus menerus..... Akupun ingin pergi melanjutkan perjalanan!”

Ko Tie mengiakan.

Pada waktu itu penduduk kampung juga telah mengetahui bahwa Oey Yok Su sesungguhnya bukanlah seorang tabib, dan juga tidak buta matanya. Malah uang mereka telah dikembalikan oleh Oey Yok Su, dan tokoh sakti rimba persilatan ini telah memuji semua penduduk kampung itu sebagai orang-orang yang berbudi tinggi, dan mereka telah berusaha menolongi Ko Tie dengan bersungguh-sungguh hati.

Oey Yok Su pun telah memberitahukan kepada penduduk kampung itu. Jika memang di antara penduduk kampung itu ada yang menderita penyakit aneh, dia boleh berobat kepadanya, tentu Oey Yok Su bersedia menolonginya.

Tentu saja penduduk kampung itu jadi girang. Memang beberapa orang di antara mereka ada yang menderita sakit yang aneh dan selama bertahun-tahun tidak pernah juga sembuh, walaupun telah berobat terus kepada Yang Sin-se.

Setelah memeriksa mereka, Oey Yok Su memberikan mereka semacam obat. Ketika mereka menelan obat itu, dirasakan obat itu harum semerbak dan menyegarkan.

Lalu Oey Yok Su membagikan setiap orangnya tiga butir dengan pesan setiap harinya harus menelan satu butir. Dan penyakit mereka dalam waktu tiga hari akan sembuh keseluruhannya.

Bukan main gembiranya penduduk kampung tersebut. Terlebih lagi Oey Yok Su pun telah mengajarkannya mereka untuk berlatih beberapa jurus gerakan ilmu silat yang dapat membuat tubuh mereka jadi sehat.

Rajin sekali para pemuda dan laki-laki yang berusia agak lanjut penduduk kampung itu berlatih diri dengan ajaran yang diberikan Oey Yok Su.

Ko Tie pun berangsur-angsur telah sembuh dan ia sudah dapat turun dari pembaringan setelah lewat beberapa hari lagi di bawah pengobatan yang diberikan oleh Oey Yok Su.

Sebagai seorang yang memang semula memiliki sin-kang dan kepandaian yang tinggi tentu saja Ko Tie pun dapat mempergunakan sin-kangnya untuk lebih mempersehat tubuhnya. Terlebih lagi memang setiap harinya dua kali menerima kiriman sin-kang dari Oey Yok Su lewat dari pundak dan perutnya.

Setelah lewat beberapa hari lagi, benar-benar Ko Tie telah sembuh keseluruhannya. Malah sin-kangnya pun bertambah kuat.

Juga telah memperoleh beberapa jurus ilmu silat yang telah diwariskan oleh Oey Yok Su. Sebuah ilmu silat itu adalah ilmu silat hasil ciptaan tocu dari To-hoa-to, yang merupakan ilmu silat yang diciptakannya belum lagi begitu lama.

Justeru setelah puluhan tahun tidak memperoleh tandingan dengan sepak terjangnya yang aneh, akhirnya ketika semua orang gagah mengasingkan diri, dan Oey Yok Su sendiri telah mengambil tempat di pulaunya, untuk melewati hari tuanya, dia merenungkan seluruh ilmu silatnya.

Kemudian dia menciptakan ilmu baru, yang merupakan inti dari seluruh ilmu silat yang dimilikinya. Tentu saja setiap ilmu silatnya, dari bermacam ragam itu, telah diperkecil dan juga dipersedikit gerakannya, melainkan diambil intinya saja.

Dengan begitu, dia telah berhasil untuk menciptakan ilmu silat yang hebat luar biasa, ilmu silatnya dari gabungan seluruh ilmu silatnya. yang dapat dipersusut hanya menjadi enam jurus.

Setiap jurus dari ilmu silat yang baru diciptakannya tersebut, dia telah bisa membuat gerakan yang banyak sekali, sekehendak hati. Dan yang lebih menakjubkan, setiap gerakannya itu memiliki tenaga sin-kang yang jauh lebih sempurna pengerahannya, karena dengan ilmu ciptaannya yang baru, Oey Yok Su telah mengatur segala-galanya lebih cermat dan teliti.

Di samping juga memperhatikan faktor-faktor manfaat dari setiap pengerahan tenaga sin-kangnya, walaupun pengerahan yang paling sedikit ataupun yang terkecil sekalipun.

Di waktu itu, Oey Yok Su memberikan nama pada ilmu silat ciptaannya yang baru itu dengan “Cap-lak-kun”, enam belas macam ilmu pukulan.

Nama yang sangat sederhana sekali buat ilmu pukulan tersebut, akan tetapi ilmu pukulan itu mungkin yang terhebat di dalam rimba persilatan.

Sekarang ini justeru Ko Tie tampaknya sangat beruntung sekali. Ia berhasil menerima ilmu silat pukulan “Cap-lak-kun” tersebut yang diwarisi oleh Oey Yok Su.

*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 39"

Post a Comment

close