Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 32

Baca Cersil Mandarin Online: Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 32
 
Anak rajawali Jilid 32

Ko Tie cuma berdiam diri saja di tempatnya. Dia sama sekali tidak memperlihatkan gerakan apapun. Sikapnya sangat tenang, seperti juga ia tidak memandang sebelah mata terhadap lawannya.

Kiang-lung Hweshio mengerang satu kali lagi, mendadak sekali kayu pengetuk bok-hienya telah dipergunakan menimpuk kepada Ko Tie. Timpukan yang dilakukannya itu menimbulkan kesiuran angin yang sangat dahsyat, membuat Ko Tie tak berani memandang rendah terhadap timpukan itu, dia telah mengelakkannya.

Waktu Ko Tie mengelak, kayu pengetuk bok-hie itu seperti memiliki mata, tahu-tahu telah berbalik dan menyambar kepada jalan darah Kie-bun di dekat pundak Ko Tie.

Ko Tie tertawa dingin. Kepandaian yang dipergunakan oleh pendeta itu merupakan kepandaian yang memang langka dan jarang sekali dimiliki tokoh-tokoh rimba persilatan. Karena jika orang yang sin-kangnya masih rendah, niscaya tidak akan dapat mempergunakan tenaganya itu dengan demikian baiknya, mengendalikan setiap timpukannya.

Karena itu kembali ia mengelak lagi, sambil berkelit. Dia juga telah mengulurkan tangan kanannya, dia mencengkeram dan mengambil kayu pengetuk bok-hie yang tengah menyambar itu.

Gagal! Cengkeraman Ko Tie mengenai tempat kosong.

Seperti tadi dikatakan, bahwa pengetuk kayu bok-hie tersebut benar-benar seperti memiliki mata, karena tahu-tahu kayu pengetuk bok-hie tersebut telah melesat ke samping. Dengan demikian membuat ceogkeraman Ko Tie mengenai tempat kosong.

Kayu pengetuk bok-hie tersebut telah melesat ke samping dan menyambar terus kepada si pendeta, dan telah diterima oleh pendeta itu dengan mudah. Malah dia mengeluarkan suara dengusan.

“Hemmm, ternyata engkau telah mewarisi kepandaian yang tidak terlalu buruk dari gurumu. Pantas saja engkau berani bersikap kurang ajar dan angkuh.....!”

Sambil berkata begitu, dia melangkah maju. Ke dua tangannya tahu-tahu bergerak dengan cepat dan juga teratur saling susul.

Namun tenaga serangannya itu kuat sekali dan berbahaya, bisa menghancurkan jika mengenai sasarannya, karena datangnya secara bertubi-tubi, maka tenaga serangan itu seperti tidak berkeputusan.

Ko Tie tidak mau membuang-buang waktu lagi. Dia bersilat dengan lincah sekali, tubuhnya berkelebat ke sana ke mari dengan gesit.

Setiap kali dia berkelit, tentu Ko Tie akan balas menghantam dengan pukulan Inti Es nya. Dia melakukan semua itu dengan serentak, berkelit dan membarengi dengan menyerang. Dengan demikian membuat pendeta itu menerima perlawanan yang tidak ringan.

Dalam waktu yang sangat singkat, mereka telah bertempur sampai tigapuluh jurus lebih. Malah terlihat betapapun juga si pendeta tidak berhasil mendesak dan membuat si pemuda terdesak oleh setiap gempurannya. Bisa-bisa dirinya sendiri yang mulai terdesak.

Karena belakangan ini, setelah lewat tigapuluh jurus, tampak Ko Tie menyerang semakin gencar. Si pendeta cuma bisa mengelakkan diri ke sana ke mari dengan gin-kang yang dimilikinya. Dia sama sekali belum bisa membalas mendesak Ko Tie lagi.

“Hemm!” tiba-tiba si pendeta telah mendengus, tahu-tahu dia merobah cara menyerangnya, karena sepasang tangannya telah digerak-gerakkannya bertubi-tubi, seperti juga melindungi sekujur tubuhnya.

Dalam keadaan seperti itu sebetulnya Ko Tie hendak menerjang terus buat mendesak dengan serangan-serangannya. Akan tetapi justeru ia tidak bisa.

Tenaga bergulung-gulung dari ke dua tangan Kiang-lung Hweshio ternyata memang hebat sekali, seperti juga mengurung tubuhnya dan berusaha melibat Ko Tie, sehingga pemuda itu tidak bisa bergerak dengan leluasa.

Dikala itu terlihat, Ko Tie berusaha mengamat-amati cara menyerang dari lawannya itu. Dia melihatnya, bahwa secara teratur, si pendeta menghirup napas dalam-dalam.

Itulah kunci rahasianya, karena setiap kali si pendeta menghirup hawa udara, maka tenaga serangannya itu semakin kuat juga.

Karena itu, Ko Tie sengaja membiarkan Kiang-lung Hweshio menyerangnya dengan beruntun. Dan setiap kali sebelum si pendeta berhasil buat menghirup udara segar, ia merangsek dengan mempergunakan tenaga Pukulan Inti Es, yang hebat luar biasa, di samping ia mempergunakan delapan bagian dari tenaga dalamnya. Dengan demikian membuat Kiang-lung Hweshio benar-benar jadi jatuh di bawah angin.

Kiang-lung Hweshio merasakan dirinya seperti dikelilingi oleh uap yang dingin sekali, sehingga tubuhnya itu seperti juga dibungkus oleh lapisan es yang membuat jalan darahnya tidak lancar peredarannya lagi.

Dengan demikian, gerakannya juga jadi terlambat dan tidak segesit tadi, karena itu pula, membuat Kiang-lung Hweshio jadi gugup. Ia mengempos sin-kangnya, berusaha untuk membuat pernapasannya berjalan lancar, dan juga terutama sekali menghangatkan tubuhnya, agar dapat mengusir hawa dingin itu, dan memperlancar kembali peredaran darahnya.

Ko Tie yang melihat Kiang-lung Hweshio mulai terdesak di bawah angin tidak mau merobah cara menyerangnya.

Kiang-lung Hweshio semakin lama jadi semakin terdesak. Malah kini ia main mundur dan hanya bisa melindungi tubuhnya tanpa bisa membalas menyerang pula.

Di antara berkesiuran angin serangan yang begitu hebat, Kiang-lung Hweshio menyadari dirinya sudah tidak mungkin bisa melawan terus, maka dia telah membiarkan Ko Tie bergerak terus dengan cepat untuk membuat pemuda itu letih sendirinya. Dia cuma menutup diri dan mengadakan perlawanan guna membendung serangan itu saja.

Cara membela diri seperti itu memang berhasil membuat Kiang-lung Hweshio tidak terdesak hebat seperti tadi. Karena sekarang ini ia berhasil untuk menjaga dirinya dari semua serangan Ko Tie.

Dan dengan ketatnya ia melindungi tubuhnya mempergunakan sin-kang nya, berhasil untuk “memanaskan” jalan peredaran darahnya, membuat darahnya tidak terasa membeku seperti tadi. karena memang sekarang dia berhasil memanaskan kembali tubuhnya, sambil memelihara tenaga dalamnya yang tidak mau dihambur-hamburkannya.

Kiang-lung Hweshio yakin bahwa Ko Tie akhirnya akan kehabisan tenaga dan tentu akan dapat dirubuhkannya dengan lebih mudah di saat dia tengah lelah.

Duapuluh jurus telah lewat, disusul kemudian tigapuluh jurus lagi.

Tetap saja Ko Tie menyerangnya dengan hebat, hal ini membuat Kiang-lung Hweshia jadi heran juga.

Biasanya, jika seorang menyerang dengan bernafsu dan hebat seperti itu, tentu akan memakan banyak sekali tenaga dan cepat meletihkan.

Tapi tidak demikian halnya dengan Ko Tie, karena pemuda itu tetap saja dapat bertempur dengan bersemangat dan juga kekuatan tenaga serangannya itu tidak pula berkurang. Dengan demikian membuat Kiang-lung Hweshio jadi penasaran.

Telah beberapa puluh jurus dilewatkan kembali olehnya. Akhirnya napas Kiang-lung Hweshio memburu keras, keringat pun telah membanjiri tubuhnya, sampai suatu saat, kerena sudah tidak kuat buat bertahan terus, ia melompat mundur.

Dengan muka yang merah padam dia bilang: “Baiklah, sekarang pinceng mau mengampuni engkau, karena kau telah berhasil menahan duaratus jurus serangan pinceng. Namun nanti pinceng akan mencarimu lagi, buat menghajarmu!”

Setelah berkata begitu, dia mengetuk bok-hienya, dan menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melompat dengan ringan sekali ke tengah udara.

Begitu dia berpok-say di tengah udara, maka dia hinggap di tembok pekarangan. Kemudian dia tertawa dingin, lalu menjejak lagi kakinya, maka tubuhnya segera melesat keluar, lenyap di dalam kegelapan malam.

Giok Hoa penasaran sekali, mendahului Ko Tie menjejakkan kakinya. Tubuhnya segera melesat ke atas tembok.

Ko Tie juga telah menyusulnya: “Kita kejar!”teriak Giok Hoa dengan suara yang nyaring sekali.

“Ya!” menyahuti Ko Tie, karena diapun penasaran dan hendak mengetahui siapakah sebenarnya pendeta itu, yang telah sengaja mencari urusan dengannya.

Karena gin-kang Ko Tie dan Giok Hoa yang telah mahir, mereka bisa mengejarnya dengar cepat sekali. Tubuh mereka melesat seperti juga terbang, dan mereka mengejar ke arah menghilangnya Kiang-lung Hweshio.

Setelah melewati beberapa lie, mereka melihat di kejauhan si pendeta yang tengah berlari dengan pesat.

“Itu dia!” berseru Giok Hoa dengan suara nyaring, dan dia mengejar semakin cepat.

Demikian juga halnya dengan Ko Tie yang mengempos semangatnya dan telah mengejarnya dengan pesat sekali, tubuhnya seperti terbang di tengah udara.

Kiang-lung Hweshio semula berpikir bahwa ia akan dapat meloloskan diri dari Ko Tie dan Giok Hoa, karena ia melihat pertama kalinya muda-mudi itu tidak mengejarnya, dan ia hanya berlari dengan tenaga yang tidak sepenuhnya.

Namun setelah menoleh ke belakang dan melihat Ko Tie dan Giok Hoa mengejarnya, seketika juga ia mengempos semangatnya dan berlari lebih cepat. Cuma saja sudah terlambat karena Ko Tie dan Giok Hoa mengejarnya semakin dekat.

Karena yakin ke dua muda-mudi itu tidak mau melepaskan dirinya, si pendeta tidak berlari lebih jauh. Dia berdiri tegak dan menantikan tibanya Ko Tie dan Giok Hoa. Malah mulutnya seketika mengeluarkan suara siulan, suara siulannya itu melengking nyaring.

Ko Tie dan Giok Hoa cepat sekali tiba di dekat si pendeta, malah mereka bermaksud begitu hendak menyerangnya, agar si pendeta kelak dapat dipaksanya buat mengaku siapa sebenarnya dia dan mengapa Kiang-lung Hweshio bermaksud mencari gara-gara dengan mereka.

Tapi, belum lagi Ko Tie dan Giok Hoa mendekati pendeta itu, mendadak sekali dari samping kiri dan kanan jalan itu, dari tempat yang gelap pekat, telah melesat belasan sosok tubuh bayangan, yang berkelebat sangat gesit, dengan di tangan masing-masing mencekal senjata tajam.

Bahkan senjata tajam itu telah menyambar kepada Ko Tie dan Giok Hoa dengan serentak, karena belasan sosok tubuh itu menyerang dengan serentak, di saat tubuh mereka masih melayang di tengah udara!

Ko Tie dan Giok Hoa bukannya sebangsa manusia lemah, maka biarpun demikian mendadak belasan sosok tubuh itu melompat keluar, dan juga menyerang dengan senjata tajam, tapi ke duanya tidak menjadi gentar atau gugup.

Cepat sekali tubuh mereka melesat ke tengah udara, dan terjangan belasan orang itu mengenai tempat kosong. Karena mereka melompat begitu, sama saja mereka menghampiri Kiang-lung Hwesio.

Si pendeta yang tengah berdiri dengan tegak, mengawasi dengan tajam, melihat meluncurnya tubuh ke dua muda-mudi itu, tertawa dingin. Dia menyambutnya dengan pukulan yang dahsyat.

Ko Tie dan Giok Hoa yang tengah meluncur di tengah udara, tidak mau berayal. Mereka menyadari hebatnya tenaga pukulan dari pendeta tersebut, karena itu, mereka telah menangkisnya dengan mengerahkan tenaga dalam mereka. Jika Ko Tie malah menangkisnya dengan mempergunakan juga ilmu Pukulan Inti Esnya.

Dengan begitu, bentrokan tenaga dalam yang hebat itu, di mana si pendeta menghadapi tenaga gempuran dari ke dua orang itu, benar-benar membuat dia terdesak sekali. Bahkan kuda-kuda ke dua kakinya telah tergempur dan tubuhnya terhuyung sampai tiga langkah.

Ko Tie dan Giok Hoa juga seperti terbendung meluncurnya tubuh mereka di udara, karena seketika itu juga mereka telah terdorong, dan kemudian meluncur turun ke tanah.

Disaat itu baru saja kaki mereka jatuh di tanah, justeru belum lagi mereka bisa berdiri tetap di tempat masing-masing, tiba-tiba terlihat belasan orang yang tadi menyerang Ko Tie dan Giok Hoa dan gagal mengenai tempat kosong, sekarang telah menerjang lagi dengan senjata mereka.

Belasan senjata tajam itu meluncur dengan cepat sekali kepada Ko Tie dan Giok Hoa. Malah setiap serangan mereka, mengincar bagian yang mematikan.

Karena itu, Ko Tie dan Giok Hoa tidak mau membuang-buang waktu lagi. Mereka menghadapinya dengan pedang masing-masing, dengan serentak mereka berdua telah mencabut pedang masing-masing, yang diputar dan dipergunakan buat menangkis serangan belasan dari orang itu.

Seketika terdengar suara jeritan beberapa orang di antara mereka yang terluka oleh pedang Ko Tie dan Giok Hoa, malah juga terdengarnya benturan senjata tajam mereta. Dengan demikian benar-benar membuat belasan orang itu tidak berani menerjang terlalu dekat.

Ko Tie dan Giok Hoa berdiri gagah sekali di tempat mereka. Mengawasi dengan sorot mata yang tajam, di mana tangan mereka mencekal senjata mereka erat-erat.

Tiba-tiba Kiang-lung Hweshio telah berseru dengan suara nyaring: “Bunuh mereka……!”

Sedangkan belasan orang yang mengepung Ko Tie dan Giok Hoa tidak lain dari belasan orang pendeta. Dikala itu, mereka memang telah mengepung Ko Tie dan Giok Hoa di tengah-tengah dan siap menerjang.

Cuma saja. Disebabkan tadi mereka telah menyaksikan betapa lihaynya kepandaian muda-mudi ini membuat mereka tidak berani sembarangan maju menerjang.

Sekarang mendengar perintah dari Kiang-lung Hweshio membuat mereka jadi terpaksa menerjang juga. Mereka tidak berani membantah perintah itu, walaupun hati mereka agak jeri, tokh mereka segera mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur dan telah menerjang dengan senjata masing-masing.

Sedangkan Ko Tie dan Giok Hoa telah menggerakkan pedang mereka, menghalau senjata lawan. Dan mereka berhasil membendung serbuan dari belasan orang lawan ini, yang semuanya memiliki kepandaian cukup tinggi.

Rupanya belasan pendeta ini anak buah Kiang-lung Hweshio, karena mereka semuanya berpakaian sebagai pendeta, dan juga mereka memang patuh terhadap perintah Kiang-lung Hweshio. Dengan demikian, membuat mereka juga tampaknya ingin mempertaruhkan diri, asal mereka bisa menangkap atau membunuh Ko Tie dan Giok Hoa.

Dikala itu, Ko Tie dan Giok Hoa beruntun telah berhasil merubuhkan tiga orang lawannya, memang belasan orang pendeta itu bukanlah lawan mereka yang setimpal, karena dengan mudah Ko Tie dan Giok Hoa berhasil untuk mendesak mereka, sehingga belasan orang pendeta itu tidak bisa mendesak maju terlalu dekat.

Tubuh Kiang-lung Hweshio tampak menggigil menahan amarah, ia telah berseru dengan suara yang bengis sekali:

“Serang mereka, bunuh! Ayo, jangan membuang-buang waktu lagi……!”

Sambil memberikan perintahnya itu tampak dia telah melangkah maju satu langkah, tampaknya memang dia tidak sabaran dan bermaksud hendak melangkah maju buat bantu menyerang.

Tapi kenyataannya Kiang-lung Hweshio tidak maju menyerang, karena dia telah berdiri tegak dengan selalu menganjurkan belasan orang anak buahnya buat maju lebih berani untuk membunuh Ko Tie dan Giok Hoa. Anak buahnya yang diperintahkan berulang kali menerjang maju, telah jatuh lagi dua orang korban di antara mereka, karena seketika itu juga terdengar suara jeritan, jerit kematian.

Tampak Kiang-lung Hweshio semakin tidak sabar. Cuma iapun jeri dan gentar buat maju menyerang kepada Ko Tie dan Giok Hoa.

Ia telah menyaksikan betapa muda-mudi ini memang memiliki kepandaian yang tidak rendah, karena itu, ia tahu, jika ia maju, pun memang tidak banyak yang bisa dilakukannya. Maka ia cuma memberikan perintah kepada anak buahnya.

Di waktu itu terlihat betapa semua anak buahnya semakin ragu-ragu, mereka gentar buat menerjang terus kepada Ko Tie dan Giok Hoa.

Sedangkan Kiang-lung Hweshio mengerutkan sepasang alisnya. Dia berpikir:

“Hemmm, kepandaian mereka memang sangat tinggi sekali, terutama pemuda itu. Tidak kecewa dia menjadi muridnya Swat Tocu, karena memang dia memiliki kepandaian yang luar biasa. Jarang seorang pemuda dalam usia seperti dia bisa memiliki kepandaian begitu tinggi……!”

Sambil berpikir begitu, Kiang-lung Hweshio juga bermaksud hendak mengundurkan diri. Dia ingin meninggalkan tempat itu secara diam-diam.

Tapi belum lagi pendeta tersebut memutar tubuhnya meninggalkan tempat itu, mendadak berkelebat dari atas sebatang pohon sesosok tubuh manusia.

Gerakan sosok tubuh itu gesit sekali, karena tahu-tahu ia telah berada di samping Kiang-lung Hwesio.

Malah disusul dengan tertawanya. Ia telah bilang dengan suara yang cukup nyaring:

“Apa yang kukatakan, Taysu, bukankah memang benar bahwa muda-mudi itu memiliki kepandaian yang tinggi dan kau tidak mungkin bisa membekuk mereka ......?!”

Kiang-lung Hweshio menoleh, maka dia melihatnya. Itulah seorang pemuda, yang berusia antara tigapuluh tahun, di mana tampak matanya yang bengis.

Dia tidak lain dari Gorgo San, pemuda yang jadi muridnya Dalpa Tacin, yang telah menceritakan kepadanya bahwa Ko Tie dan Giok Hoa merupakan pasangan muda-mudi yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Dan semula pendeta itu beranggapan si pemuda memang merasa gentar dan jeri pada Ko Tie dan Giok Hoa, sehingga membesar-besarkan dalam ceritanya itu mengagulkan kepandaian ke dua orang tersebut.

Namun setelah ia sendiri berusaha untuk membekuk ke dua orang itu, tetap saja ia gagal dan juga menderita malu, karena sama sekali dia tidak berdaya buat merubuhkan Ko Tie dan Giok Hoa. Menghadapi Ko Tie seorang diri saja ia masih tidak sanggup mendesak pemuda itu, malah dia yang telah terdesak.

Dengan demikian membuktikan bahwa kepandaian Ko Tie berada di atas kepandaiannya dan terlebih lagi jika memang dia dikeroyok oleh pasangan muda-mudi itu, tentu tidak banyak yang bisa dilakukannya.

Dikala itu terlihat, banyak anak buah dari Kiang-lung Hweshio yang terluka, dan tampak Gorgo San telah tertawa tergelak-gelak.

Memang sesungguhnya, ia telah meminta kepada Kiang-lung Hweshio, agar pendeta ini bersama murid-muridnya membantu dia.

Pertemuan antara Gorgo San dengan Kiang-lung Hweshio terjadinya sangat kebetulan sekali, karena memang pemuda itu, yang bersahabat dengan Kiang-lung Hweshio, tidak menyangka akan bertemu dengannya di situ. Segera Gorgo San menceritakan, bahwa ia baru saja menghadapi pasangan muda-mudi yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.

Karenanya, Kiang-lung Hweshio tidak mempercayainya dan berkata bahwa ia akan dapat membekuk ke dua muda-mudi itu dengan mudah, asal saja Gorgo San memberitahukan kepadanya, di mana beradanya muda-mudi itu.

Segera juga Gorgo San memberitahukan di mana tempat Ko Tie dan Giok Hoa menginap. Dan si pendeta telah pergi ke sana, untuk mencari gara-gara dengan ke dua muda-mudi itu.

Tapi dalam pertempuran yang terjadi tadi malah si pendeta yang terdesak, dengan demikian membuatnya jadi mengakui, kepandaian Ko Tie dan Giok Hoa sangat tinggi, karena dia yang semula beranggapan dirinya memiliki kepandaian yang tinggi dan jarang sekali memiliki tandingan, ternyata telah dapat didesak oleh Ko Tie dan tidak berdaya untuk balas mendesak Ko Tie, apa lagi untuk mendesak sekali gus dengan si gadis.

Karena itu, ia merasa malu ditegur seperti oleh Gorgo San. Namun kedatangan dan munculnya Gorgo San seperti dalam keadaan itu, malah membuat hatinya jadi girang sekali. Ia segera berpikir, dengan maju berdua dengan Gorgo San, tentu dengan mudah mereka dapat merubuhkan dan membekuk Ko Tie dan Giok Hoa.

Gorgo San berpikir yang sama, ia yakin, jika ia maju berdua dengan si pendeta, tentu dengan mudah dia bisa menghadapi Ko Tie dan Giok Hoa.

Terlebih lagi. dia memang telah tergila-gila melihat kecantikan dan kelembutan wajah Giok Hoa, ia bermaksud dengan cara bagaimanapun juga buat membekuk gadis itu. Karenanya, dia memang telah merencanakannya untuk memanfaatkan tenaga Kiang-lung Hweshio dalam merubuhkan Ko Tie dan Giok Hoa.

“Kita akan maju berdua membekuk mereka……!” membisiki Gorgo San kepada Kiang-lung Hweshio dengan suara perlahan. “Mustahil mereka bisa menghadapi kita berdua!?”

Kiang-lung Hweshio mengangguk.

“Ya..... aku yakin, tentu mereka dengan mudah dapat kita bekuk! Walaupun bagaimana hebat kepandaian mereka, tapi usia mereka masih muda, dan tentu saja mereka tidak memiliki lweekang sekuat kita……!”

Sambil berkata begitu, segera juga terlihat Gorgo San telah mengibaskan tangannya. Dia memberikan isyarat kepada Kiang-lung Hweshio, agar mereka segera maju ke depan.

Kiang-lung Hweshio memangguk, ia melompat dan dengan ringan dia telah berhasil berada di dalam kalangan.

Di waktu itu, Gorgo San pun tidak mau membuang-buang waktu lagi, karena dia pun melompat dengan tubuh yang berjumpalitan sangat cepat sekali.

Sambil bergerak seperti itu, tangan Gorgo San telah bergerak menghantam Ko Tie.

Dengan segera Gorgo San dapat mendesak Ko Tie, karena Ko Tie baru saja menghadapi belasan lawan. Sebelumnya memang dia telah bertempur dengan Kiang-lung Hweshio, sehingga tenaganya belum lagi pulih keseluruhannya, dan ia sangat lelah.

Sekarang Gorgo San telah menyerangnya begitu hebat. Sedangkan Gorgo San masih memiliki tenaga dan semangat yang penuh, tidak terlalu mengherankan, dalam tiga jurus, Ko Tie dapat didesaknya.

Memperoleh kenyataan seperti ini, telah membuat Gorgo San jadi girang, sampai dia tambah bersemangat. Karena semangatnya terbangun serangannya pun jadi semakin hebat juga, ke dua tangannya bergerak-gerak dengan dahsyat.

Di waktu itulah terlihat Gorgo San dengan beruntun telah menyerang sampai empat jurus lagi. Serangan yang pertama belum lagi selesai, dia telah menyusuli pula dengan serangan berikutnya.

Dengan demikian benar-benar membuat Ko Tie terdesak. Pedangnya juga tidak dapat dipergunakan dengan leluasa, hal ini disebabkan karena memang Ko Tie didesak dari jarak yang dekat oleh lawannya.

Jika lawan terpisah cukup jauh, tentu dengan mudah dia bisa mengeluarkan seluruh ilmu silat pedangnya, kiam-hoat yang lihay. Hanya saja sayang sekali, justeru di saat itu Gorgo San telah merangseknya dari jarak yang dekat, sehingga membuat dia tidak leluasa untuk menyerang dengan pedangnya.

Di antara berkesiuran angin serangan dari Gorgo San, Ko Tie kemudian menyimpan pedangnya, karena dia berpikir, menghadapi Gorgo San memang lebih leluasa dengan mempergunakan tangan kosong belaka.

Gorgo San bermata jeli. Dia tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada.

Waktu melihat Ko Tie tengah berusaha memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya, dengan demikian pemuda itu merandek sejenak. Segera terlihat Gorgo San membarengi dengan menyerang dahsyat sekali. Angin pukulannya menderu-deru.

Sedangkan Ko Tie yang memang memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya, waktu itu tidak keburu buat mengerahkan tenaga dalamnya pada telapak tangannya buat menangkis serangan itu. Dan jalan satu-satunya buat dia hanyalah menjatuhkan diri bergulingan di atas tanah, dia bergulingan sambil memasukkan pedangnya. Dia berhasil menghindarkan diri dari serangan dan juga selesai memasukkan pedangnya itu ke dalam sarungnya.

Dengan gerakan Lee-ie-ta-teng, atau ikan Gabus meletik, tampak ia melompat berdiri, dan ke dua tangannya dengan serentak dilonjorkannya. Dia telah menghantam dengan mempergunakan ilmu Pukulan Inti Es nya.

Hebat sekali tenaga serangan itu, yang seperti datangnya angin topan menyambar ke diri Gorgo San sehingga Gorgo San yang tidak wenyangka akan diserang seperti itu, sudah tidak keburu buat mengelakkan lagi serangan Ko Tie.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan lihay, dalam keadaan terancam seperti itu tentu saja Gorgo San tidak mau berdiam diri. Segera ia berusaha mengelakkan diri mati-matian ke samping. Tidak urung, dadanya kena dihantam juga oleh pukulan yang kuat sampai tubuhnya terpental beberapa tombak jauhnya.

Dalam dunia persilatan, jika seseorang terluka oleh senjata tajam, hal itu mungkin masih merupakan luka yang tidak membahayakan jiwa. Tapi jika memang seseorang terkena serangan telapak tangan yang mengandung kekuatan sin-kang, tentu jiwanya terancam maut yang tidak kecil, atau jika jiwanya bisa diselamatkan, ia pun terancam cacat seumur hidup.

Apalagi, memang Ko Tie menyerangnya dengan mempergunakan sebagian besar tenaga sin-kangnya dan juga ilmu Pukulan Inti Es nya, sehingga Gorgo San buat sementara waktu tidak bisa melakukan sesuatu, terduduk di tanah dengan muka meringis menahan sakit. Ia baru saja mengempos semangat murni dan tenaga dalamnya, untuk melancarkan pernapasannya.

Gorgo San tidak sampai mati, tapi ia terluka di dalam yang parah. Kalau memang ia tidak segera mengobatinya dengan tepat dan sementara waktu menyimpan tenaga, tidak mengerahkan tenaga untuk melakukan sesuatu yang berat, ia bisa selamat dan tidak sampai perlu ilmu silatnya lenyap.

Sekarang, jika ia penasaran dan menuruti adat, memang ia masih bisa menyerang Ko Tie, tapi tentu saja, hal ini berarti ia mempergunakan tenaga, malah kemungkinan ia mempergunakan tenaga berlebihan, yang akan membuat ia terluka di dalam yang lebih parah dan kelak sulit menyembuhkan lukanya, juga akan membuat ia terbinasa oleh lukanya itu.

Karena itu, Gorgo San setelah berhasil merangkak berdiri, akhirnya dia menyingkir ke tepi, dengan muka yang pucat pias.

Kiang-lung Hweshio yang menyaksikan apa yang telah dialami oleh Gorgo San jadi tertegun, karena biarpun ia memiliki kepandaian yang tinggi, tidak urung ia menggidik juga. Sebab ia merasa jeri dan gentar menghadapi Ko Tie yang disaksikannya memang memiliki kepandaian luar biasa.

Tengah Kiang-lung Hweshio tertegun seperti itu, justeru Ko Tie telah mendengus: “Hemmm, kalian manusia-manusia busuk dan hina, ternyata hanya pandai buat mengeroyok orang dan bertindak sewenang-wenang…….!”

“Baiklah, sekarang kami runtuh di tanganmu, tapi nantikanlah pembalasan kami kelak! Aku Gorgo San tidak akan menyudahi urusan ini sampai di sini saja, walaupun langit runtuh, dan kalian melarikan diri ke ujung langit, tetap saja aku akan mencari kalian buat memperhitungkan semua yang telah terjadi hari ini……!”

Sambil berkata begitu, tampak Gorgo San telah melirik kepada Giok Hoa. Walaupun gadis itu sangat cantik, namun Gorgo San menyadari, tidak mungkin ia memiliki gadis itu, karenanya ia telah bermaksud untuk pergi meninggalkan tempat itu. Setelah melirik bengis sekali lagi kepada Ko Tie, dengan muka yang masih pucat pasi, tampak ia telah memutar tubuhnya dan berlalu.

Kiang-lung Hwehio menyaksikan Gorgo San yang memiliki kepandaian tidak berada di bawahnya telah dapat dirubuhkan oleh Ko Tie dan juga sudah pergi meninggalkan tempat itu. Karena dia telah diruntuhkan dan dilukai di dalam yang cukup parah, bermaksud hendak pergi, maka iapun segera mengeloyor mengajak anak buahnya buat berlalu.

Ko Tie dan Giok Hoa kali ini sudah tidak mengejar lebih jauh, karena mereka telah mengetahui bahwa pendeta itu adalah sahabat Gorgo San, maka dari itu mereka dapat menduganya, bahwa Gorgo San tentu yang telah menghasut pendeta itu buat memusuhi mereka.

Dan mereka hanya menganggap bahwa ke dua orang itu, berikut anak buahnya, merupakan manusia-manusia rendah hina dina. Dan mereka tidak mau mendesak lebih jauh, karena Gorgo San tengah terluka berat, dan jika mereka mendesak terus, itulah bukan tindakan yang terpuji, di mana mereka mendesak lawan yang tengah tidak berdaya.

Setelah melihat Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio pergi, maka Ko Tie menoleh kepada Giok Hoa, diajaknya si gadis untuk berlalu juga. Di waktu itu, Giok Hoa menghela napas dalam-dalam.

“Mereka merupakan manusia-manusia lihay dan berbahaya sekali, karena hati mereka kejam dan tangan mereka telengas. Entah sudah berapa banyak kejahatan yang mereka lakukan?”

“Ya, sesungguhnya manusia-manusia seperti merekalah yang berbahaya, karena mereka tentu akan malang melintang di dalam Kang-ouw dengan sewenang-wenang. Dan memang jarang sekali orang yang bisa mengendalikan mereka!

“Beruntung mereka telah kita hajar sekali ini. Dengan demikian, tentu diwaktu lain, mereka akan lebih berpikir jika hendak melakukan kejahatan.”

Tapi Giok Hoa menggeleng tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Ko Tie, dia bilang:

“Sesungguhnya, manusia-manusia seperti mereka tidak mungkin akan sadar. Mereka tentu akan berusaha untuk berlatih diri, agar mereka bisa memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi. Di waktu itu mereka tentu akan melakukan kejahatan yang lebih besar lagi.....

“Karenanya, jika mereka tidak ditumpas, tetap saja mereka merupakan manusia-manusia yang berbahaya dan mengancam keselamatan dunia persilatan……!” Setelah berkata begitu, tampak Giok Hoa menghela napas beberapa kali lagi.

Ko Tie mengajak si gadis kembali ke rumah penginapan. Malam itu mereka tidur nyenyak sekali. Dan besok paginya, mereka berangkat meninggalkan tempat itu.

Sama sekali mereka berdua tidak menyangkanya, justeru dengan bentroknya mereka dengan Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio, mereka telah memancing kerusuhan yang cukup besar dan kesulitan yang tidak kecil. Karena setiap saat mereka selalu terancam dan akan dicari oleh kawan-kawan Gorgo San dan kalangan Hek-to (jalan hitam), yang umumnya memiliki kepandaian tinggi!

Sedangkan Ko Tie dan Giok Hoa telah melanjutkan perjalanan mereka, dari kota yang satu ke kota yang lainnga, dimana mereka juga telah beberapa kali berusaha menolongi orang-orang yang tengah dalam kesulitan. Karena memang mereka memperoleh kenyataan, ke mana saja mereka pergi, maka tampaklah banyak peristiwa yang tidak adil, pihak yang lemah ditindas oleh si kuat tapi jahat.

Karenanya, banyak sekali yang dapat dilakukan oleh Ko Tie dan Giok Hoa, mereka selalu melakukan perbuatan amal kebaikan. Nama mereka pun semakin terkenal di dalam rimba persilatan.

Apalagi dengan ilmu silat mereka yang lihay dan tangguh sekali. Sebagai jago-jago remaja yang memiliki kepandaian yang begitu hebat.

Ko Tie dan Giok Hoa melakukan sesuatu dan perbuatan baik tanpa mengharapkan imbalan dari orang yang mereka tolong, karena jika mereka menyaksikan ada seseorang yang tengah dalam kesulitan, tentu mereka turun tangan dan menolonginya. Banyak penjahat tangguh yang rubuh di tangan mereka.

Disamping itu pula, memang tampaknya Ko Tie dan Giok Hoa kian lama turun tangan tidak tanggung-tanggung. Mereka sudah tidak pernah memberikan belas kasihan lagi kepada penjahat-penjahat yang diketahui pasti oleh mereka melakukan kejahatan, tentu jika tidak dibikin bercacad dan memusnahkan seluruh kepandaian ilmu silatnya, maka mereka akan dibinasakan!

Karena itu, untuk semua sepak terjang Ko Tie dan Giok Hoa, telah menggemparkan rimba persilatan. Banyak jago-jago dari Pek-to, yaitu jalan putih, di dalam Kang-ouw, yang merasa kagum atas sepak terjang pasangan remaja itu.

Tapi justeru para jago dari jalan Hek-to semuanya menaruh sikap antipati dan sakit hati kepada Giok Hoa dan Ko Tie. Karena mereka beranggapan, Ko Tie dan Giok Hoa merupakan musuh-musuh mereka yang berbahaya sekali.

Seperti diketahui, dengan banyaknya Ko Tie dan Giok Hoa menolongi orang-orang yang tengah dalam kesulitan dan tertindas, dan para penjahatnya mereka beri hajaran dengan keras. Ada yang terbinasa, ada pula yang telah dimusnahkan seluruh kepandaiannya, maka membuat banyak penjahat lain, yang saudara, kawan atau juga sanak famili mereka, yang kebetulan telah dirubuhkan oleh Ko Tie dan Giok Hoa, jadi dendam dan mencari Ko Tie dan Giok Hoa dengan maksud membalas dendam.

Dan memang Ko Tie bersama Giok Hoa, benar-benar setiap detik harus berlaku waspada. Tidak mungkin mereka dapat berlaku lengah, sebab mereka setiap detik terancam jiwanya oleh intaian maut…….

Y

Sore itu tampak Ko Tie dan Giok Hoa memasuki kota Pan-lu-kwan, sebuah kota yang tidak begitu besar di daerah Utara. Tetapi penduduk kota tersebut, yang umumnya lebih banyak berdagang, tidak terlalu padat dan tidak terlalu ramai, karena memang kota yang kecil itupun terletak pada jalan lintas yang mati, di mana jarang sekali ada orang asing yang melintas memakai jalur jalan tersebut.

Kota inipun hanya terdapat dua buah rumah penginapan, yang tampak kurang terurus dengan baik. Banyak tempat dan bagian yang kotor dan belum diperbaiki. Sewa kamar di rumah pemginapan inipun tidak terlalu mahal.

Waktu Ko Tie dan Giok Hoa memasuki kota tersebut, banyak penduduk kota itu yang menawarkan bermacam-macam barang dagangan mereka dengan sikap yang sangat manis. Dan Ko Tie bersama Giok Hoa telah membeli beberapa macam barang yang mereka butuhkan, seperti mantel dan juga beberapa barang lainnya. Barulah mereka menuju ke rumah penginapan.

Di rumah penginapan itu, mereka dilayani oleh seorang pelayan yang sudah berusia lanjut. Mukanya kuning dan pucat, bicaranya tidak lancar, namun sikapnya sangat ramah dan sopan sekali, dengan menghormat dia melayani ke dua tamunya ini.

Ia menyediakan teh hangat buat ke dua tamu itu selama pelayan lain mempersiapkan sebuah kamar buat mereka. Setelah selesai mereka memberitahukan Ko Tie dan Giok Hoa, bahwa kamar mereka telah disiapkan.

Ko Tie dap Giok Hoa masuk ke dalam kamar itu. Sebuah kamar yang tidak begitu besar, dan juga perabotan yang berada di dalam kamar itu merupakan barang-barang yang tidak terlalu bagus, merupakan barang-barang tua.

Mungkin karena sepinya daerah tersebut, penginapan seperti jarang sekali mereka menerima tamu. Dengan begitu juga, telah membuat kurangnya biaya buat pemugaran dari rumah penginapan itu, yang dari tahun ke tahun keadaannya semakin buruk dengan kerusakan-kerusakan yang terdapat di beberapa bagian.

Namun Ko Tie dan Giok Hoa memang sudah terlalu letih, mereka segera merebahkan tubuh di pembaringan masing-masing. Mereka bermaksud beristirahat. Perjalanan sehari suntuk memang melelahkan sekali.

Tiba-tiba Giok Hoa menoleh kepada Ko Tie, ia berkata dengan suara yang tidak begitu keras.

“Engkoh Tie.....!” panggilnya kemudian.

“Apakah engkau tidak melihat sesuatu yang aneh waktu kita memasuki rumah penginapan ini?”tanya Giok Hoa.

Ko Tie memperlihatkan perasaan heran. “Sesuatu yang mencurigakan?” dia balik bertanya, kemudian menggelengkan kepalanya katanya lebih jauh:

“Kukira tidak ada sesuatu yang mencurigakan, karena memang inilah kota kecil, rumah penginapan inipun boleh disebut sebuah rumah penginapan yang cukup baik, karena tentu saja di kota sepi ini sebuah rumah penginapan tidak dapat hidup dengan baik……!”

“Bukan begitu maksudku!” kata Giok Hoa segera memotong perkataan Ko Tie.

“Lalu, apa yang kau maksudkan dengan mencurigakan itu?!” tanya Ko Tie.

“Mata dari pelayan itu. Mereka semuanya memandang kita dengan sorot mata yang mencurigakan!” menjelaskan Giok Hoa.

Ko Tie tersenyum.

“Adik Hoa, tampaknya engkau memang terlalu bercuriga! Mereka memperlakukan kita dengan hormat. Mereka merupakan manusia-manusia lemah. Tubuh mereka saja begitu kurus seperti penyakitan dan kurang makan. Jika memang mereka bermaksud melakukan sesuatu terhadap kita maka apa yang bisa mereka lakukan?!”

Giok Hoa menghela napas.

“Jika demikian, engkau tidak melihat apa yang kulihat tadi, bahwa mereka semuanya mencurigakan sekali!” bilang Giok Hoa. “Memang tampaknya mereka itu sebagai manusia-manusia yang lemah dan berpenyakitan. Tapi sinar mata mereka cukup tajam, ternyata mereka adalah orang-orang yang mengerti ilmu silat dan memiliki tenapa lweekang......!”

Ko Tie tidak segera menyahuti, dia berdiam diri beberapa saat, sampai akhirnya ia mengangguk.

“Ya, ya, aku baru ingat.....!” kata Ko Tie kemudian, dengan suara tidak begitu keras mirip seperti dia tengah menggumam seorang diri.

“Memang apa yang kau katakan itu tidak salah! Waktu pelayan tua itu menyediakan teh buat kita, sempat aku melihat ia melirik kepada kau dengan sinar mata yang tajam.

“Semula aku tidak begitu memperhatikan hal itu yang tidak menjadi pikiranku. Karena kuanggap biasa saja setiap lelaki akan memandangmu seperti itu, karena ia merasa kagum dengan kecantikan yang engkau memiliki! Tapi sekarang justeru urusannya jadi lain.......!”

Giok Hoa tampak girang mendengar Ko Tie tidak membantahnya lagi. Segera dia melompat duduk di atas pembaringannya, diapun bertanya. “Menjadi lain bagaimana?”

“Aku baru teringat bahwa sinar mata seperti itu bukanlah sinar mata dari seseorang yang tengah mengagumi kecantikan seorang gadis, tapi justeru sinar mata itu memang memperlihatkan pelayan tua itu mahir lweekangnya……!”

Dan berkata sampai di situ, tampak Ko Tie berdiam diri sejenak. Dia menghela napas beberapa kali, barulah dia meneruskan lagi kata-katanya:

“Jika melihat keadaannya demikian, jelas kita tidak lama lagi akan menghadapi sesuatu…… kita harus waspada……!”

“Nah, justeru yang tengah kupikirkan, memang kita bisa berwaspada jika ada orang yang menyerang kita secara menggelap. Tapi bagaimana jika pelayan rumah penginapan itu meracuni kita?

“Apa yang hendak kita lakukan jika kita tidak minum dan tidak makan apa yang disajikan oleh rumah penginapan ini! Tentu kita akan kelaparan?”

Sambil berkata begitu, Giok Hoa mengawasi kekasihnya dengan teliti. Tampaknya dia ingin melihat reaksi dari kekasihnya tersebut, sampai akhirnya Giok Hoa bertanya:

“Lalu bagaimana menurut pikiranmu?”

“Untuk ini kita perlu waspada, tapi kita tidak perlu kuatir, karena kita akan dapat menghadapi mereka. Walaupun tampaknya mereka memiliki ilmu yang tidak rendah, tapi setinggi-tingginya kepandaian mereka, tentu dapat kita hadapi dengan baik……!”

Setelah berkata begitu, tampak dia telah merebahkan tubuhnya lagi di pembaringannya.

“Engkoh Tie!” panggil Giok Hoa yang jadi tidak senang karena Ko Tie tampaknya tidak tertarik buat membicarakan hal itu lebih jauh lagi.

“Apalagi, adik Hoa!?”tanya Ko Tie sambil bangun pula.

“Ya, kau tampaknya memang meremehkan mereka! Bukan ilmu silat mereka yang perlu kita takuti, tapi justeru jika mereka meracuni kita dengan mempergunakan dan mencampuri racun dalam makanan!”

“Itu hanya kekuatiran yang terlalu berlebih-lebihan……!” menyahuti Ko Tie.

“Tapi engkoh Tie.....!”

“Sudahlah adik Hoa, tidurlah. Bukankah kita letih sekali setelah melakukan perjalanan sehari suntuk?” kata Ko Tie kemudian,

Giok Hoa mengangguk perlahan, dengan kesal dia merebahkan tubuhnya lagi.

Tapi matanya tidak mau terpejamkan, dia berpikir keras. Apa yang dilihatnya. Memang mendatangkan kecurigaan buatnya, karena dia melihat gerak gerik para pelayan di rumah penginapan ini yang sungguh mencurigakan.

Juga sinar mata mereka yang tajam, membuktikan mereka memiliki kepandaian yang cukup. Karenanya, hati si gadis jadi tidak tenang.

Terlebih lagi dia membayangkan, bahwa dilihat dari wajahnya, walaupun mereka bersikap sangat menghormat, tentunya para pelayan itu bukanlah sebangsa manusia-manusia baik. Namun si gadis cantik itu yang tidak bisa memaksakan keyakinannya pada Ko Tie terhadap kecurigaannya pada para pelayan itu. Ia hanya dianggap oleh Ko Tie terlalu bercuriga saja.

Giok Hoa memejamkan matanya, tapi mendadak sekali, terdengar suara ketukan pada pintu kamar mereka.

“Siapa!” bentak Giok Hoa yang jadi terbangun duduk dengan perasaan terkejut.

“Kongcu dan Kouw-nio, Siauw-jin (hamba) membawakan minuman buat Kongcu dan Kouw-nio……!” menyahuti orang di luar, ternyata seorang pelayan.

Giok Hoa turun dari pembaringannya, dia membuka pintu. Pelayan tua yang mukanya kuning, yang pertama kali melayani mereka, telah masuk dengan membawa seteko air teh hangat dengan dua cawan.

Diletakkannya teko dan cawan itu di atas meja yang terdapat di dalam kamar, kemudian pelayan itu menoleh kepada Ko Tie, katanya: “Kongcu, apakah Kongcu tidak mau mandi?!”

Ko Tie heran, dia mengawasi pelayan itu, kemudian tanyanya: “Apakah di sini terdapat kamar mandi yang khusus, sehingga seorang tamu yang datang ditanyakan apakah hendak mandi?!”

Mendengar perkataan Ko Tie seperti itu, pelayan itu menggelengkan kepalanya.

“Bukan begitu, jika memang Kongcu dan Kauwnio hendak mandi sekarang, Siauw-jin akan mempersiapkan air yang diperlukan oleh kalian……!”

“Jika memang begitu, siapkan saja!” kata Ko Tie kemudian. “Jika memang sudah waktunya, kami pun akan pergi mandi!”

Pelayan itu mengiyakan, dan telah mohon diri keluar dari kamar.

Giok Hoa menguncinya lagi, tapi Ko Tie segera berkata: “Tampaknya pelayan itu memang mencurigakan!”

“Kau melihat sesuatu yang mencurigakan, engkoh Tie pada dirinya?!” tanya Giok Hoa.

Ko Tie menghela napas dan mengangguk.

“Seperti tadi, dia menanyakan apakah kita hendak pergi mandi, itulah sebuah pertanyaan yang dibikin-bikin, tampaknya memang dia tidak memiliki pertanyaan lain yang lebih baik......! Entah maksud apa yang dikandung olehnya.....!”

Dengan adanya kecurigaan seperti itu, Giok Hoa dan Ko Tie jadi tidak tenang tinggal di rumah penginapan tersebut, karenanya, mereka selalu berwaspada.

Selama itu sudah tidak terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan mereka. Keadaan di dalam rumah penginapan itu sunyi sekali, karena sepinya rumah penginapan itu, yang memang jarang dikunjungi tamu.

Setelah perasaan lelahnya berkurang, tampak Ko Tie melompat turun dari pembaringannya.

“Aku ingin pergi mandi dulu, adik Hoa!” kata Ko Tie kemudian.

Giok Hoa mengiyakan, dan Ko Tie telah membuka pintu kamarnya, melangkah keluar, untuk pergi ke kamar mandi. Namun waktu ia membuka pintu kamarnya, di balik lorong dari hadapan kamarnya itu, dia melihat sesosok bayangan yang menyelinap hilang di tikungan.

Gerakan sosok bayangan itu gesit sekali, sehingga Ko Tie tidak bisa melihat jelas sosok bayangan tersebut. Ia hanya melihat berkelebatnya warna baju yang kuning.

Cepat sekali Ko Tie menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat untuk mengejar sosok bayangan itu.

Namun ketika Ko Tie tiba di ujung lorong itu, di dekat tikungannya, ia kehilangan orang buruannya.

Keadaan di tempat itu sepi sekali, malah tampak, seorang pelayan tua yang tadi menghantarkan teh hangat buat mereka, tengah mendatangi dengan tubuh terbungkuk-bungkuk. Mukanya kuning pucat dan juga napasnya agak memburu, dengan susah ia bertanya:

“Apakah ada sesuatu yang bisa Siauw-jin bantu?!”

Ko Tie mengawasi sejenak pada pelayan tua itu, kemudian tanyanya: “Di rumah penginapan ini sekarang ada berapa tamu?!”

“Hanya Kongcu dan Kouw-nio berdua! Di sini, mengusahakan penginapan sangat sulit, karena sepi dan jarang sekali menerima tamu! Seperti Kongcu lihat, betapa banyak bagian dari rumah penginapan ini yang rusak-rusak dan kami tidak memiliki biaya buat membetulkanya……!”

Ko Tie menghela napas, katanya. “Tadi aku melihat sesosok bayangan menyelinap ke mari, entah siapa orang itu..... Dia segera menghilang waktu kukejar!” kata Ko Tie menjelaskan kepada pelayan tua itu. Sedangkan dia mengawasi dengan sorot mata yang tajam menyelidik, seperti juga bertanya heran kepada pelayan itu dan membutuhkan keterangan.

Pelayan tua itu mementang sepasang matanya lebar-lebar, tampaknya dia heran sekali,

“Tadi Kongcu melihat seseorang di sini? Siapa dia? Tentunya jika orang itu melarikan diri, dia tentu akan bertemu denganku, karena dia tentu berlari keluar! Tidak mungkin! Mungkin juga Kongcu hanya salah mata saja…….!”

Ko Tie menggeleng perlahan.

“Tidak! Aku tidak salah mata! Aku telah melihatnya dengan jelas. Memang aku melihat sesosok tubuh yang berkelebat lenyap di tikungan ini……!”

“Aneh! Apakah karena usia rumah penginapan ini telah demikian tua dan tidak terurus baik, maka telah menyebabkan hantu-hantu senang menempatinya? Dan apakah yang telah dilihat oleh Kongcu tadi adalah hantu.....!”

Ko Tie tersenyum pahit. Mana mungkin dia mempercayai adanya hantu?

Dan dia memang telah melihatnya dengan jelas, bahwa yang tadi berkelebat adalah sesosok tubuh manusia yang mengenakan baju kuning, cuma sayangnya karena terlalu cepatnya orang itu menghilang, membuat dia jadi tidak bisa melihat wajah orang itu, maupun bentuk tubuhnya dengan baik.

“Tidak mungkin hantu, tentu ada seseorang yang berkeliaran di sini yang hendak mengintai kami!” kata Ko Tie dengan suara sang pasti.

Pelayan itu berobah mukanya, dia telah berkata dengan suara yang terheran-heran:

“Sungguh menyeramkan……. apakah memang mungkin bahwa yang berkelebat dan dilihat oleh Kongcu adalah hantu? Jika memang benar hantu, ohhh, betapa mengerikannya……!” Sambil berkata begitu, tubuh si pelayan tua tersebut telah menggigil, tampaknya dia merasa ngeri.

Ko Tie tersenyum.

“Sudahlah, aku hendak pergi mandi!” kata Ko Tie kemudian sambil melangkah meninggalkan pelayan tua itu.

Pelayan tua itu memperlihatkan sikap seperti ketakutan dan merasa ngeri, waktu Ko Tie sempat mengerlingnya, dia melihat pelayan tua itu memang seperti tengah ketakutan.

Tapi setelah Ko Tie pergi cukup jauh, di luar jangkauan dari penglihatan Ko Tie, justeru pelayan tua itu telah tersenyum sinis, matanya bersinar, dan sinar matanya itu mengerikan sekali…….!

Setelah mencari ke sana ke mari beberapa saat, akhirnya, Ko Tie kembali ke kamarnya. Ia menceritakan kepada Giok Hoa, ia gagal mengejar sosok tubuh yang menghilang dengan cepat itu.

Giok Hoa mengerutkan alisnya, kata si gadis.

“Apakah kau memperhatikan sikap pelayan tua itu? Bukankah aneh dan mencurigakan sekali dia bisa muncul begitu tiba-tiba di saat engkau tengah mencari orang yang tadi kau lihat berkelebat menghilang di tikungan itu?!”

Ko Tie tidak segera menyahuti. Dia seperti tengah berpikir, sampai akhirnya dia berseru perlahan dan memukul lututnya.

“Benar!” berseru pemuda itu.

“Apanya yang benar?!” tanya Giok Hoa.

“Ya, memang pelayan tua itu mencurigakan sekali, walaupun ia tampaknya terheran-heran namun kenyataan yang ada memperlihatkan sikap terheran-herannya itu terlalu dibuat-buat.....!”

Giok Hoa mengangguk sambil tersenyum,

“Memang waktu pertama kali aku datang di rumah penginapan ini, aku sudah bisa melihat kejanggalan itu. Karena mata para pelayan di rumah penginapan ini memang sangat mencurigakan. Malah menurut hematku, mereka itu bukan sebangsa manusia baik-baik......!” kata Giok Hoa kemudian.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?!” tanya Ko Tie sambil mengawasi si gadis dengan sorot mata yang tajam, seperti ingin sekali meminta pendapat gadis itu.

Giok Hoa tertawa.

“Mengapa kau bertanya kepadaku, seharusnya aku yang bertanya kepadamu, apa yang harus kita lakukan, mengingat bahwa engkau memang jauh lebih berpengalaman dariku!” menyahuti Giok Hoa.

Ko Tie tidak urung tersenyum oleh jawaban si gadis, kemudian dia bilang:

“Ya, jika memang demikian berarti kita harus menangkap manusia-manusia itu. Jika kita bisa menangkap basah akan perbuatan mereka..…!”

Sambil berkata begitu, segera juga terlihat betapa Ko Tie tahu-tahu menjejakkan ke dua kakinya. Tubuhnya dengan cepat melesat ke pintu. Begitu tangannya bergerak, daun pintu menjeblak terbuka lebar-lebar.

Sedangkan Giok Hoa mengawasi heran, namun perasaan herannya itu berlangsung tidak lama, karena segera juga terlihat si gadis telah mengerti apa yang terjadi.

Ternyata Ko Tie mendengar suara langkah kaki yang perlahan sekali di luar kamarnya, karena itu dengan ringan dia telah melompat keluar kamarnya. Dan dia bukan hanya sekedar membuka pintu itu, sebab dia dengan cepat telah mengulurkan tangannya, menyambak kepada seseorang yang waktu itu tengah terkejut, karena memang daun pintu tahu-tahu menjeblak terbuka seperti itu.

Tapi orang itu pun cukup lihay, karena dia tidak berhasil dicekuk oleh Ko Tie. Malah dengan gesit tubuhnya melesat ke tempat lain, dan dia bermaksud melarikan diri, larinya cepat sekali, dia ingin menuju ke lorong dan menikung.

Tapi kali ini Ko Tie sudah tidak mau melepaskannya. Segera ia mengejar dengan tubuh yang melesat seperti terbang, dan dia pun dalam waktu singkat telah berada di belakang orang itu.

Dia menghantam dengan telapak tangannya, kuat sekali angin serangan tersebut. Dengan demikian membuat orang itu merandek untuk memutar tubuhnya menangkis serangan Ko Tie. Jika memang dia berlari terus, niscaya dia akan terserang hebat pada pundaknya itu.

Orang itu menangkis bukan dengan tenaga yang lemah, cuma Ko Tie yang merasa tadi telah sempat dipermainkan oleh orang ini, yang diduga tentunya orang yang telah menghilang di lorong pada tikungan di ujung itu, maka dia menyerangnya dengan hebat.

“Tukkk!”

“Aduhhhh!” terdengar suara jerit kesakitan dari orang tersebut, yang tubuhnya seketika terpental jatuh di lantai bergulingan. Cuma saja, karena dia memang memiliki gin-kang yang lumayan, begitu dia terguling-guling di lantai, segera dia bisa melompat bangun pula!

Begitu berdiri, segera dia mementang ke dua kakinya, bermaksud hendak melarikan diri.

Ko Tie sudah tidak mau memberikan hati, dia membentak dan telah menghantam lagi dengan tangannya. Ilmu pukulan yang dipergunakannya adalah Inti Es, dan cara menyerangnya memang hebat sekali.

Sedangkan orang tersebut, yang merasakan menyambarnya angin serangan, kembali batal melarikan diri, dia melayani Ko Tie.

Beberapa jurus telah lewat, tapi Ko Tie belum juga bisa membekuk orang itu, tapi dia sudah bisa melihat dengan jelas muka orang itu, membuat Ko Tie sangat gusar.

“Hemm, engkau?!” bentaknya dengan suara yang mengandung kemarahan dan serangannya jadi semakin hebat.

Orang itu tertawa bergelak-gelak nyaring sekali, dia telah berseru: “Ya, memang benar aku…… kau heran?!”

Ternyata orang itu tidak lain seorang hweshio, yaitu Kiang-lung Hweshio. Dia tentu saja tidak mudah buat dihantam oleh Ko Tie, apalagi ingin dibekuknya. Karena memiliki kepandaian yang tinggi, dia bisa memberikan perlawanan yang gigih.

Ko Tie meluap darahnya.

“Pendeta keparat, beberapa saat yang lalu aku telah mengampuni jiwamu, tapi ternyata engkau telah benar-benar tidak tahu diri!”

Dan sambil berkata begitu, Ko Tie serentak menyerang beruntun dengan tiga jurus ilmu pukutan Inti Es-nya. Dan setiap hantamannya itu mengandung kekuatan tenaga yang dingin sekali, sedingin es.

Sedangkan Kiang-lung Hweshio memberikan perlawanan, walaupun ia selalu tertawa mengejek, kenyataannya dia jeri sekali buat lama-lama bertempur dan terlibat dengan pemuda yang tangguh ini. Dia mengelakkan ke tiga serangan itu, kemudian dengan segera dia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebutir pil yang besar, kemudian dibantingnya kuat-kuat di lantai.

Terdengar suara ledakan yang mengguntur. Sekitar tempat itu dilapisi oleh kabut yang tebal, asap yang bergulung naik memenuhi tempat itu.

Waktu ledakan itu terjadi, Ko Tie kaget juga. Ia segera menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat mundur, dengan gerakan yang lincah.

Dia bisa menjauhi diri. Dan dia mementangkan matanya lebar-lebar, mengawasi di mana beradanya Kiang-lung Hweshio.

Tapi asap itu sangat tebal, sementara itu ia tidak bisa melibat dengan jelas bahkan dia telah merasakan matanya pedih.

Giok Hoa yang mendengar suara ledakan itu, dengan segera telah muncul dari dalam kamar.

Dikala itu terlihat betapa Ko Tie telah berusaha mengawasi dengan sepasang mata dipentang lebar, asap itu mulai menipis, tapi bayangan dari Kiang-lung Hweshio sudah tidak terlihat lagi, karena pendeta itu telah pergi entah ke mana.

Tidak lama kemudian muncul si pelayan itu yang dengan sikap terheran-heran, bertanya: “Ada…… ada apa, Kongcu...... ooh, asap ini, apakah terjadi kebakaran.....?!”

Ko Tie menggeleng,

“Tadi ada orang jahat........!” menyahuti pemuda ini.

“Ada penjahat, Kongcu…… ooohhh, apakah engkau tidak apa-apa?! Mana penjahatnya?!” tanya pelayan itu gugup sekali dan memandang sekitarnya.

“Aku tidak apa-apa. Penjahat itu telah melarikan diri!” menjelaskan Ko Tie.

Lalu bersama Giok Hoa, Ko Tie telah kembali ke dalam kamarnya. Di dalam kamar segera juga Ko Tie bilang:

“Seperti engkau telah ketahui, justeru yang mengintai kita bukan pelayan rumah penginapan ini, tapi justeru pendeta keparat itu…… dan juga, kita cuma salah lihat dan menduga saja tentang para pelayan itu. Karenanya, kita tidak bisa mencurigai mereka lebih jauh. Mungkin memang tampang mereka saja seperti manusia jahat tapi hati mereka bersih……!”

Giok Hoa juga tampaknya bingung, dia bilang, “Kalau begitu sosok tubuh yang berkelebat lenyap waktu engkau mengejarnya itu, adalah si kepala gundul itu juga?!”

Ko Tie mengangguk.

“Kukira memang begitu, karena waktu itu aku melihat sosok tubuh itu mengenakan baju warna kuning. Tapi aku tidak sampai pikir pada pendeta keparat tersebut……!”

Sambil berkata begitu, segera juga terlihat betapapun juga, Ko Tie dan Giok Hoa memang harus bersikap jauh lebih waspada. Karena sewaktu-waktu musuh bisa saja muncul untuk membinasakan mereka, atau setidak-tidaknya mencelakai mereka.

Dikala itu terlihat Ko Tie telah mengajak Giok Hoa untuk keluar dari rumah penginapan. Dan mereka pergi menikmati keindahan kota tersebut. Walaupun merupakan sebuah kota yang kecil, menjelang malam kota ini memiliki keindahan yang menakjubkan, dengan rembulan yang tergantung di langit.

Setelah mereka berdua merasa mengantuk, juga selama mengelilingi kota tidak ketemu dengan jejak si pendeta Kiang-lung Hweshio. Dengan demikian tentu saja telah membuat mereka menduga bahwa Kiang-lung Hweshio mungkin sudah angkat kaki dari kota ini.

“Tidak mungkin!” bantah Giok Hoa waktu Ko Tie mengemukakan perkiraannya itu. “Dia sengaja mengikuti kita, berapa jauh dia telah mengikuti kita tanpa kita sendiri mengetahuinya, karena, sekarang tidak mungkin dia menyingkirkan diri. Dia tentu bersembunyi di sebuah tempat.”

Ko Tie ragu-ragu, tapi berpikir. Tentunya memang apa yang dikatakan Giok Hoa tidak terlalu salah.

“Kalau begitu kita nantikan saja apa yang hendak dilakukan si kerbau gundul itu!” kata Ko Tie yang jadi sengit sendirinya.

Giok Hoa mengangguk.

“Ya, kita yang terpenting berwaspada, lalu mencoba untuk dapat memancing si kepala gundul itu keluar dari tempat persembunyiannya. Di waktu itulah kita tidak boleh membiarkan ia meloloskan diri lagi.......!” kata si gadis.

Ko Tie setuju, dan mereka kembali ke rumah penginapan.

Tapi waktu mereka masuk ke dalam kamar, ke duanya jadi kaget. Karena barang mereka telah acak-acakan, dan buntalan mereka terbuka dengan isinya yang berantakan.

Tentu saja hat ini membuat Ko Tie dari Giok Hoa buat sejenak memandang tertegun, karena mereka segera mengetahui tentu ada orang yang memasuki kamar mereka.

Dan baru saja mereka hendak memanggil pelayan, justeru di waktu itu tampak daun jendela telah terbuka lebar-lebar.

Seketika itu juga Ko Tie dan Giok Hoa menduga, tentunya juga yang telah memasuki kamar mereka dengan membongkar jendela adalah si pendeta Kiang-lung Hweshio. Bukan main gusarnya Ko Tie dan Giok Hoa.

Mereka telah memandang dengan sinar mata yang mengandung kemarahan kepada barang-barang mereka yang berantakan itu. Namun setelah mereka membereskan barang itu, tidak ada satupun yang lenyap.

Ko Tie duduk di tepi pembaringan.

“Tampaknya si gundul itu bersama dengan si pendeta yang bernama Gorgo San ingin mencari sesuatu dari kita……!” katanya dengan suara yang tawar.

Giok Hoa mengangguk.

“Jika memang mereka hendak mengambil uang kita, tentu bungkusan uang kita telah digasaknya. Namun kenyataan yang ada, mereka tidak mengambil uang kita….. semuanya masih utuh, tentunya mereka memang bermaksud untuk mencari sesuatu, yang diduga berada pada kita!”

Mereka berdua jadi saling pandang, beberapa saat kemudian Ko Tie bilang: “Kalau begitu, selanjutnya kita memang harus lebih hati-hati……!”

Begitulah, mereka menutup daun jendela setelah mengawasi keluar. Mereka melihat tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Malam itu mereka tidur dengan penuh kewaspadaan, sampai akhirnya menjelang pagi tidak terjadi sesuatu apapun juga. Setelah salin pakaian, Ko Tie dan Giok Hoa menghadapi sarapan yang diantar oleh pelayan tua itu.

Mereka bersantap bernafsu sekali, memang mereka tengah lapar. Dalam keadaan seperti itulah terlihat Ko Tie tiba-tiba berseru kaget, mukanya berobah.

Dia melompat berdiri dan membanting cawannya. Sepasang matanya terbuka lebar-lebar.

Giok Hoa kaget bukan main, segera juga ia menanya dengan sikap yang heran dan bingung:

“Mengapa engkau, engkoh Tie?!”

“Racun! Di dalam teko teh itu terdapat racun!” berseru Ko Tie dengan suara tersendat.

Dan iapun segera mengambil teko teh itu, dibantingnya sampai teko itu pecah berantakan.

Seketika air teh yang membasahi lantai itu, berobah warnanya menjadi agak kehitam-hitaman.

Dan muka Giok Hoa jadi berobah pucat. Dia memang belum lagi meminum teh di dalam cawannya, akan tetapi ia jadi menguatirkan sekali keselamatan Ko Tie, karena Ko Tie telah meminum tehnya itu.

“Engkoh Tie…… jadi....... jadi engkau keracunan?” tanyanya dengan suara tergagap.

Muka Ko Tie waktu itu berobah, sebentar pucat sebentar merah, sebentar lagi berobah agak kehijau-hijauan. Dikala itulah dia telah cepat-cepat mengerahkan tenaga dalamnya, karena dia berusaha mendesak air teh yang telah diminumnya itu agar naik kembali ke lehernya untuk di muntahkan.

Namun dia tidak berhasil, sebab racun itu mulai bekerja. Tubuh Ko Tie terhuyung.

Bukan kepalang kagetnya Giok Hoa, segera juga ia terhuyung-huyung mundur dan dengan muka yang pucat pias, ia telah berkata: “Engkoh Tie…….!”

Ko Tie cepat-cepat menjatuhkan dirinya di lantai, dia mengempos semangatnya. Dia berusaha untuk menindih racun itu sebelum bekerja lebih jauh.

Karena Ko Tie menyadari, kalau racun itu telah bekerja sampai ke jantungnya, niscaya akan membuat dia menemui ajalnya. Atau jika tertolong, namun racun telah terlanjur bekerja, niscaya akan membuat dia bercacat.

Giok Hoa teringat sesuatu. Bukankah santapan mereka ini disiapkan oleh pelayan tua itu? Kecurigaannya jadi semakin kuat, bahwa pelayan-pelayan itu memang bukan sebangsa manusia baik-baik.

Ia bermaksud hendak keluar dari kamar itu buat mencari dan menangkap pelayan tua itu. Tapi waktu dia membuka daun pintu tersebut seketika ia merandek.

Ia ingat akan keselamatan Ko Tie. Bukankah Ko Tie tengah keracunan? Jika dalam keadaan seperti itu ada orang yang masuk ke kamarnya dan bermaksud menganiaya Ko Tie, bukankah akan membuatnya tidak berdaya?

Dan Ko Tie memang membutuhkan perlindungannya. Segera Giok Hoa membatalkan maksudnya hendak pergi keluar dari kamar itu, segera berjongkok di samping Ko Tie.

Waktu itu Ko Tie tengah berusaha mengempos terus tenaga dalamnya. Tapi tetap ia merasakan kepalanya pusing, racun telah bekerja dan beredar dalam peredaran darahnya. Dengan begitu, membuatnya benar-benar jadi tidak berdaya, karena sekujur tubuhnya dirasakannya lemas sekali.

Iapun gagal untuk menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya. Dan kenyataan yang pahit sekali, racun telah bekerja di dalam peredaran darahnya, membuat setiap kali dia mengerahkan tenaga dalamnya, selalu gagal dan tenaga dalamnya itu seperti terbendung dan tidak bisa disalurkan menembus ke Tan-tiannya.

Diam-diam Ko Tie mengeluh. Jika memang dia tidak berhasil buat mengerahkan tenaga dalamnya, niscaya akan membuatnya benar-benar jadi keracunan, dan kalau sampai racun itu bekerja lebih hebat, niscaya dia akan mati dengan sendirinya.

Giok Hoa waktu itu tengah merogoh sakunya. Mengeluarkan bungkusan kantong obatnya. Dia mengeluarkan beberapa butir obat, dan menyesapkan ke dalam mulut si pemuda.

“Telanlah, engkoh Tie.......!” katanya dengan suara yang berbisik.

Ko Tie menelan tiga butir obat yang diberikan Giok Hoa. Di waktu itulah terlihat daun pintu terbuka, masuk si pelayan tua.

Ketika melihat Ko Tie tengah duduk hersemedi dan Giok Koa berjongkok di sampingnya, juga teko teh dan cawan telah pecah hancur berantakan di lantai, ia tampak terkejut dan heran.

“Ihhh…… apa yang terjadi?!.” tanyanya dengan suara tergagap.

Giok Hoa melihat pelayan tua tersebut jadi murka bukan main. Dengan lincah tubuhnya melesat ke samping pelayan itu, tangan kanannya diulurkan buat menampar.

“Kau yang telah menaruhkan racun pada minuman kami!” bentaknya.

Pelayan tersebut kaget tidak terkira, dan dia segera mengelak ke samping.

“Tunggu dulu..... Kouw-nio ada apa?” katanya.

Mata Giok Hoa jadi terbuka lebih lebar. Sekarang dia semakin yakin dan pasti bahwa pelayan ini adalah seorang yang memiliki ilmu silat yang tidak rendah, karena tadi dia telah menampar dengan tangan yang meluncur sangat kuat dan cepat sekali.

Namun dia bisa menghindarkannya dengan mudah. Karena itu, segera ia menyusuli dengan tiga serangannya tanpa mengatakan apapun juga.

Tapi pelayan itu tetap saja bisa mengelakkan diri, malah dia dapat bergerak gesit sekali. Dia melompat ke sana ke mari dengan gerakan yang sangat lincah, dan sama sekali Giok Hoa tidak berhasil menyerangnya.

“Hemmm, kalau demikian memang benar engkau orangnya!” bentak Giok Hoa yang semakin gusar. Tahu-tahu tubuhnya telah melesat dengan ringan, dan sepasang tangannya bergerak cepat sekali tidak bisa diikuti oleh pandangan mata.

Tahu-tahu tengkuk pelayan tua itu telah kena dicekuknya. Namun begitu tengkuk pelayan tua itu kena dicengkeramnya. Giok Hoa merasakan kulit di bagian tengkuk itu licin dan keras sekali, sampai jari tangannya melejit dan mencengkeram tempat kosong.

Di waktu itulah terlihat betapa pelayan tua itu membuang dirinya ke lantai dan bergulingan di situ sambil bersiul nyaring.

Dari luar segera menyerbu masuk empat orang, semuanya pelayan di rumah penginapan itu.

Mereka melihat si pelayan tua yang tengah berdiri dan Giok Hoa yang hendak menyerang lagi. Segera mereka melompat mengurung Giok Hoa.

Sedangkan tangan mereka dengan sebat telah mencabut senjata masing-masing dari balik baju mereka. Pelayan tua ini pun merabah dadanya, dari balik bajunya telah dikeluarkan sebatang golok pendek.

“Hemmm!” Giok Hoa tertawa dingin, dia bilang: “Dengan demikian terbukalah topeng kalian! Apa maksud kalian dengan menaruhkan racun pada minuman kami?”

Pelayan tua itu sudah tidak memperlihatkan sikap yang terheran-heran atau kaget seperti tadi. Malah dia berdiri tegak dengan goloknya dilintangkan di dadanya. Dia telah bilang:

“Hemmm, engkau rupanya telah mengetahui semua ini! Baiklah, kami membuka kartu saja! Sesungguhnya kami menginginkan uang dan barangmu! Jika memang engkau ingin hidup dan meninggalkan kota ini masih bernapas, tinggalkan barang-barang dan uang kalian, dan cepat angkat kaki dari tempat ini!”

Mata Giok Hoa mendelik besar sekali, dia bilang. “Apakah begitu mudah kalian menghendaki barang kami?”

Dan dengan gusar ia telah menerjang buat menghantam si pelayan tua.

Pelayan tua itu menggerakkan goloknya, membacok, namun Giok Hoa bisa menghindar dengan mudah.

Sedangkan empat orang pelayan lainnya segera menggerakkan golok masing-masing, membacok serentak kepada Giok Hoa.

Giok Hoa yang tengah murka, segera mengerahkan gin-kangnya. Tangannya juga tidak berayal telah mencabut keluar pedangnya, dengan segera diputarnya pedang itu dengan jurus-jurus ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat.

Sinar pedang bergulung-gulung menyambar kepada lawan-lawannya. Jika sebelumnya tampak para pelayan itu lemas dan sikapnya menghormat, maka kini mereka tampaknya gagah dan bengis-bengis.

Setiap bacokan mereka berkesiuran sangat cepat, karena kepandaian mereka walaupun belum tinggi, juga tidak terlalu rendah. Apa lagi memang mereka itu memiliki hati yang kejam dan bengis, dengan demikian membuat setiap bacokan mereka selalu mengandung maut. Namun gulungan sinar pedang Giok Hoa membuat mereka jadi tidak berdaya untuk merangsek terlalu dekat.

Ko Tie yang tengah duduk bersemedhi mengatur jalan pernapasannya, seakan juga tidak memperhatikan pertempuran yang terjadi di dekatnya. Ia terus juga mengatur jalan pernapasannya, karena memang dia bermaksud untuk mendesak racun yang terlanjur telah memasuki peredaran darahnya itu agar tidak menjalar terlalu jauh, sehingga menuju ke jantung.

Dan untuk itu ia mengerahkan seluruh sin-kang nya, karena jalan pernapasannya tidak bisa berjalan lancar. Dan juga setiap kali ia mengerahkan sin-kangnya, tenaga dalamnya seperti mandek terhalang sesuatu, membuatnya jadi tidak bisa untuk menembus sampai ke Tan-tian.

Karena itu Ko Tie masih terus berusaha mengerahkan tenaga dalamnya, menembus sampai ke Tan-tian. Jika tenaga dalamnya berhasil menembusi rintangan itu dan bisa mengalir sampai ke Tan-tian berarti untuk selanjutnya tidak ada kesulitan buat Ko Tie membendung beredarnya racun lebih jauh.