coba

Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 50 (Tamat)

Mode Malam
Bagian 50 (Tamat)
Mereka berempat menuju pekarangan rumah. Tio Cie Hiong berdiri di tengah-tengah pekarangan itu, kemudian menyuruh monyet bulu putih turun. Monyet bulu putih itu segera meloncat turun dari bahunya.

"Nah sekarang kalian berdua boleh menyerangku dengan pedang," ujar Tio cie Hiong sungguh-sungguh .

"Baik," Ek Liong dan Ek Houw mengangguk. Mereka berdua segera menyerang Tio Cie Hiong dengan ilmu pedang andalan mereka.

Akan tetapi, Tio cie Hiong langsung berkelit, sehingga kedua bilah pedang Ek Liong dan Ek Houw menyerang tempat kosong.

Plak Plak Lengan mereka tertepuk oleh telapak tangan Tlo Cie Hiong, membuat pedang mereka terlepas.

"Hebat Hebat" seru Jenderal Wan memuji. "Baru satu jurus pedang kalian telah terlepas Bukan main tingginya kepandaian Tayhiap"

"Tayhiap." ujar Ek Liong bermohon. "sudikah Tayhiap mengajar kami semacam ilmu pedang?"

"Aku justru sedang memikirkan tentang ini. Ilmu pedang apa yang cocok bagi kalian berdua," sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan. "Tapi kuharap kalian jangan memanggilku tayhiap. panggil saja aku saudara Tio"

"Itu...." Ek Liong dan adiknya tampak ragu.

"Kalau kalian tidak memanggilku saudara Tio, aku pun tidak akan mengajar kalian ilmu pedang." tegas Tio cie Hiong.

"Baiklah, saudara Tio." Ek Liong dan adiknya mengangguk.

"Aku akan mengajar kalian Tui Hun Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pengejar Roh). Ilmu pedang tersebut sangat lihay dan ganas. Terdiri dari tujuh jurus, dan setiap jurusnya terdapat tiga perubahan. Kalau tidak dalam keadaan bahaya, janganlah kalian mengeluarkan ilmu pedang tersebut Karena setiap jurus pasti mematikan orang, maka disebut Tui Hun Kiam Hoat." Tio Cie Hiong memberitahukan, lalu mulai mengajar mereka berdua.

Ek Liong dan Ek Houw belajar dengan tekun. sekali. Sedangkan Jenderal Wan terus memperhatikan, dan diam-diam mengakui kehebatan ilmu pedang tersebut.

Setelah hari mulai terang, barulah Ek Liong dan Ek Houw berhasil menghafal semua jurus-jurus tersebut, dan mereka terus berlatih.

"Bukan main hebatnya ilmu pedang itu" puji Jenderal Wan. Ternyata Jenderal itu terus berdiri di tempat menyaksikan kedua pengawal pribadinya berlatih.

"Jenderal Wan" Tio Cie Hiong tersenyum. "Kok tidak beristirahat sama sekali? Tidak merasa lelah atau ngantuk?"

"Ha ha ha Jenderal Wan tertawa gelak. "Tiga hari tiga malam aku tidak tidur pun tidak apa-apa. Lagi pula... aku sedang menunggu.."

"Jenderai Wan menunggu apa?"

"Lupa ya? Bukankah engkau telah berjanji akan memberi petunjuk kepadaku? Mungkin sekarang sudah waktunya."

"Jenderai wan...."

"Tayhiap Jangan ingkar janji lho"

"Baiklah. Tapi Jenderal Wan jangan memanggilku tayhiap. cukup panggil saja namaku"

"Ha ha ha" Jenderai Wan tertawa gelak. "Baiklah. Aku akan memanggilmu saudara Tio juga."

"Jangan" Tio Cie Hiong menggelengkan kepala. "Panggil saja namaku"

"Eh? saudara Tio...." Jenderai Wan mengerutkan kening.

"Jenderai Wan, semalam aku sudah bilang, bahwa usiaku masih muda," ujar Tio Cie Hiong sambil melepaskan kedok kulitnya.

"Haaah? "Jenderai Wan terbelalak. "Ternyata benar engkau masih begitu muda dan tampan sekali Sungguh di luar dugaan"

"Maafkan aku, Paman" ucap Tio Cie Hiong.

"Ek Liong, Ek Houw" seru Jenderai Wan. " cepat kalian melihat ke mari"

Kedua orang itu segera berhenti berlatih, lalu memandang ke arah mereka. Ketika melihat Tio Cie Hiong yang telah melepaskan kedok kulit, Ek Liong dan adiknya pun terbelalak. "Eh? saudara Tio...."

"Jenderai Wan, inilah sebabnya kenapa aku menolak mengangkat saudara dengan jenderal, sebab aku memang masih muda," ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Ha ha ha" Jenderai Wan tertawa gembira. "Mulai sekarang engkau tidak boleh memanggilku jenderal, dan harus memanggilku paman"

"Ya, Paman." Tio Cie Hiong mengangguk. kemudian memakai kembali kedok kulitnya.

"cie Hiong Jenderai Wan menatapnya heran. "Kenapa engkau harus memakai kedok kulit itu?"

"Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan," jawab Tio cie Hiong dan melanjutkan. "sebab aku sedang melacak jejak musuh besarku, jadi aku harus memakai kedok kulit ini."

"oooh" Jenderal Wan manggut-manggut.

"saudara Tio...." Ek Liong dan adiknya mendekati Tio cie Hiong. "Aku tidak menyangka, bahwa

engkau masih begitu muda, namun kepandaianmu sungguh tinggi sekali"

"Terus terang ilmu pedang yang kuajarkan kepada kalian itu adalah ilmu pedang andalan Tui Hun Lojin. Maka kalian jangan sembarangan membunuh orang dengan ilmu pedang itu" ujar Tio Cie Hiong.

"Apa?" Ek Liong terperanjat. "Itu... itu adalah ilmu pedang andalan Tui Hun Lojin?"

"Benar." Tio cie Hiong mengangguk.

"saudara Tio murid beliau?" tanya Ek Liong.

"Bukan, tapi aku kenal baik dengan Locianpwee itu," jawab Tio cie Hiong dan menambahkan. "Aku berani mengajar kalian ilmu pedang itu, karena aku mempunyai alasan tertentu."

"oooh" Ek Liong dan Ek Houw manggut-manggut.

"cie Hiong Bagaimana paman nih?" tanya Jenderai Wan sambil tertawa. "Terus terang, paman pun ingin belajar semacam ilmu pedang."

"Maaf, Paman" ucap Tio Cie Hiong sungguh-sungguh. "Sebelumnya aku ingin menyaksikan kepandaian Paman dulu, setelah itu barulah kuajarkan semacam ilmu pedang."

"Baik. Jenderal Wan mengangguk. sekaligus menghunus pedangnya dan mulailah memperlihatkan ilmu pedangnya .

Tio Cie Hiong menyaksikannya sambil manggut-manggut. Berselang sesaat barulah Jenderai Wan menghentikan gerakannya. "cie Hiong, bagaimana ilmu pedangku?"

"Hebat dan lihay," sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh. "Hanya saja masih terdapat beberapa kekurangan."

"Nah, engkau harus memberiku petunjuk" ujar Jenderal Wan sambil tersenyum.

"Begini saja" Tio cie Hiong memberitahukan setelah berpikir. "Aku akan mengajar Paman semacam ilmu pedang, yang sesungguhnya ilmu tongkat, tapi kuubah menjadi ilmu pedang."

"Oh? Ilmu tongkat apa itu?"

"San ciat Kun Hoat (Tiga Jurus Tongkat Maut), yaitu ilmu tongkat andalan Sam Gan Sin Kay, Tetua Kay Pang." Tio cie Hiong menjelaskan. "Namun kini akan kuubah menjadi Sam ciat Kiam Hoat"

"Apa?" Jenderal Wan terkejut. "Engkau kenal Pengemis sakti?"

"Kenal baik dan kami pun akrab sekali," ujar Tio cie Hiong, yang kemudian berjalan ke tengah-tengah pekarangan. "Aku akan perlihatkan ilmu pedang itu."

Tio cie Hiong mulai mempertunjukkan ilmu pedang tersebut, dan seketika tampak pedangnya berkelebatan. la tidak menggunakan suling pualam, melainkan menggunakan pedang yang dipinjamnya dari Ek Liong tadi. Dapat dibayangkan betapa dahsyat dan lihaynya ilmu pedang itu, sebab diubahnya berdasarkan ilmu Tongkat Maut andalan Sam Gan Sin Kay.

Jenderal Wan, Ek Liong dan Ek Houw menyaksikan ilmu pedang itu dengan penuh kekaguman, karena sekujur badan Tio cie Hiong tertutup oleh bayangan pedang, sehingga badannya tak kelihatan sama sekali.

Berselang sesaat, barulah Tio Cie Hiong berhenti. Tak henti-hentinya Jenderal Wan memuji keiihayan ilmu pedang tersebut, begitu pula Ek Liong dan Ek Houw.

"Bukan main sungguh hebat dan lihay ilmu pedang itu" ujar Jenderal Wan sambil menghela

nafas panjang, kemudian menambahkan. "Cie Hiong, hanya engkau yang dapat melawan Lu Thay Kam itu."

"Paman" Tio cie Hiong tersenyum. "Perhatikan baik-baik, aku akan mulai mengajar ilmu pedang

ini"

"Ya ." Jenderal Wan mengangguk dan mulai mencurahkan perhatiannya.

Sedangkan Tio cie Hiong mulai mengajar Jenderal Wan ilmu pedang tersebut sejurus demi sejurus.

Setelah hari mulai petang, barulah Jenderal Wan berhasil menguasai sam Ciat Kiam Hoat

Jenderal Wan terus berlatih. Berselang beberapa saat kemudian, mereka berpamit kepada petani yang baik hati itu, lalu melanjutkan perjalanan.

"Cie Hiong...." Jenderal Wan menatapnya ketika mereka berhenti di persimpangan jalan. "Paman

tahu engkau tidak berniat bekerja untukku, namun apabila engkau ke ibukota kelak. mampirlah di rumahku"

"Ya, Paman." Tio cie Hiong mengangguk.

"Sesungguhnya...," ujar Jenderal Wan sambil menghela nafas panjang. "Dinasti Beng dalam kekacauan, tetapi kalau engkau bersedia menyumbangkan sedikit tenagamu, aku yakin Dinasti Beng tidak akan mengalami keruntuhan."

"Paman" Tio Cie Hiong menggelengkan kepala. "Aku tidak mau mencampuri urusan kerajaan, sebab aku ingin bisa hidup tenang dan damai."

"Yaaah Aku tidak bisa memaksamu, tapi... seandainya.... Aaak sudahlah" Jenderal Wan

menghela nafas lagi. "Aku tidak akan memaksamu, namun aku tetap akan berjuang demi Kerajaan Beng. Aku akan berusaha menasehati kaisar agar memperhatikan rakyat, karena kini rakyat mulai bangkit untuk memberontak. sedangkan Lu Thay Kam mulai bersekongkol dengan bangsa Manchuria. Kemungkinan besar Lu Thay Kam itu ingin mengambil alih kekuasaan."

"Paman Apakah tiada seorang pun di istana, yang mampu melawannya?" tanya Tio Cie Hiong.

"Memang tidak ada. siapa yang berani menentangnya pasti mati," jawab Jenderal Wan. "Butinya telah muncul orang-orang Hiat Ih Hwe ingin membunuhku. Aku yakin, mereka adalah para anak buah Lu Thay Kam."

"Paman" Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepata. "sayang sekali, aku tidak berniat sama sekali mencampuri urusan kerajaan"

"Itu yang kusayangkan."

"Ohya" Mendadak Tio Cie Hiong berpesan. "Paman, apabila perlu sesuatu, suruh saja Ek Liong atau Ek Houw ke markas Kay Pang"

"Baiklah ." Jenderal Wan mengangguk, kemudian tersenyum getir. "Cie Hiong, setelah kita berpisah di sini, entah kapan kita akan berjumpa lagi?"

"Mudah-mudahan kita akan berjumpa kembali" sahut Tio Cie Hiong. "Aku mohon pamit Paman, saudara Ek Liong dan Ek Houw sampai jumpa"

"saudara Tio" Ek Liong dan Ek Houw menatapnya dengan mata basah. "selamat jalan" "sampai jumpa" ucap Tio Cie Hiong dan sekaligus melesat pergi.

Jenderal Wan, Ek Liong dan Ek Houw saling memandang dengan wajah mura kemudian mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan.

Bab 83 Utusan Bu Lim sam Mo

Tampak sosok bayangan putih berkelebat ke puncak Gunung Hong Lay san. Dalam waktu singkat Bu Lim Ji Khie muncul seraya membentak. "siapa?"

"Aku, Cie Hiong." Ternyata sosok bayangan putih itu adalah Tio Cie Hiong, yang telah tiba di Gunung Hong Lay san.

"oh, engkau" sam Gan sin Kay menarik nafas lega. "Mari kita ke goa itu"

"Kakek Pengemis, lebih baik kita berkumpul di biara nenekku saja," ujar Tio cie Hiong.

"Baiklah." sam Gan sin Kay mengangguk. "Aku akan memberitahukan yang lain, engkau dan Kim siauw suseng ke biara itu dulu"

Sam Gan sin Kay melesat pergi, sedangkan Tio Cie Hiong dan Kim siauw suseng menuju biara tersebut.

Mereka berdua duduk di ruang depan. Tak lama kemudian muncullah sam Gan sin Kay, Tui Hun Lojin, Tio Tay seng dan lainnya.

"Paman" panggil Tio Cie Hiong.

"Cie Hiong...." Tio Tay seng menatapnya seraya bertanya. "Bagaimana? Engkau sudah

menemukan jejak Bu Lim sam Mo?" Tio cie Hiong menggelengkan kepala.

"Paman, belum ada utusan Bu Lim sam Mo yang ke mari?" tanyanya kemudian.

"Tidak ada sama sekali," sahut Tio Tay seng sambil menghela nafas panjang. "sungguh mengherankan"

"Cie Hiong" tanya Lim Peng Hang. "Adakah sesuatu yang engkau atami selama mencari jejak Bu Lim sam Mo?"

"Banyak yang kualami...," jawab Tio Cie Hiong sekaligus menutur. "Kini telah muncul Hiat Ih

Hwe, namun aku tidak tahu siapa ketua perkumpulan itu. Yang jelas dia memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali."

"Kalau begitu...." sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala. "Rimba persilatan akan

bertambah kacau."

"Menurutku tidak," sahut Kim siauw suseng. "Karena sasaran Hiat Ih Hwe adalah para menteri dan Jenderal yang setia. Buktinya Jenderal Wan mau dibunuh. Kalau Cie Hiong tidak mengetahuinya Jenderal Wan yang setia itu pasti sudah mati."

"Benar." Tio Tay seng manggut-manggut. "Jangan-jangan ketua Hiat Ih Hwe itu adalah Lu Thay Kam"

"Tidak mungkin," ujar Tui Hun Lojin. "sebab Lu Thay Kam tidak akan meninggalkan istana. Mungkin orang itu adalah wakilnya."

"Masuk akal." Sam Gan Sin Kay manggut-manggut, kemudian memandang Tio Cie Hiong seraya bertanya, "Engkau mengajarkan ilmu pedang kepada Yosuan Hiang Jenderal Wan, Ek Liong dan adiknya?"

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk. "Aku mengajar Yosuan Hiang ilmu pedang Hong Lui Kiam Hoat, mengajar Jenderal Wan ilmu pedang sam Ciat Kiam Hoat dan mengajarkan ilmu pedang Tui Hun Kiam Hoat kepada Ek Liong bersaudara. Apakah Kakek Pengemis dan kakek Tui Hun berkeberatan?"

"Tentu tidak," sahut sam Gan sin Kay dan Tui Hun Lojin serentak. "sebaliknya kami malah merasa bangga sekali."

"oh?" Tio Cie Hiong berlega hati.

"Cie Hiong" sam Gan sin Kay menatapnya. "Jenderal Wan adalah Jenderal yang sangat setia dan baik, lagi pula engkau telah mengubah sam Ciat Kun Hoat menjadi sam Ciat Kiam Hoat, tentunya tidak masalah."

"Terimakasih Kakek Pengemis" ucap Tio cie Hiong.

"Ek Liong dan Ek Houw adalah pengawal pribadi Jenderal Wan, maka tidak ada salahnya engkau mengajar mereka ilmu pedang Tui Hun Kiam Hoat, karena mereka berdua harus melindungi Jenderal Wan," ujar Tui Hun Lojin sung-guh-sungguh. "oleh karena itu, aku pun merasa bangga sekali."

"Kalau begitu..." Tio Cie Hiong tersenyum. "Legalah hatiku Aku pun memberitahukan kepada mereka mengenai sumber kedua macam ilmu pedang itu."

"Bagus Ha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa gelak. "Tapi...."

"Kenapa?" tanya Tio Cie Hiong heran karena air muka Sam Gan Sin Kay tampak agak berubah.

"Yang kukhawatirkan adalah mantan Menteri Yo," sahut sam Gan sin Kay sambil menghela nafas. "sebab dia tidak mengerti ilmu silat, hanya mengandalkan putrinya saja. Aku yakin para pembunuh itu tidak akan tinggal diam."

"Aku sudah berpesan kepada mereka, apabila ada sesuatu harus segera ke markas pusat Kay pang." Tio cie Hiong memberitahukan.

"Eh?" sam Gan sin Kay mengerutkan kening. "Kini markas pusat kita masih porak poranda, bahkan masih kosong"

"Maksudku kalau dalam beberapa hari ini tiada utusan Bu Lim sam Mo ke mari, kita kembali ke markas pusat saja," ujar Tio Cie Hiong.

"cie Hiong," sela Tio Tay seng. "Lebih baik kita tunggu di sini saja. Karena pihak Bu Tek Pay tahu kita berada di sini, aku yakin tidak lama lagi akan muncul utusan Bu Lim sam Mo ke mari."

"Tapi tetap mengherankan...." sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa Bu Lim

sam Mo tidak segera mengutus seseorang ke mari, melainkan harus menunggu sampai sekian lama?"

"Mereka ingin membuat kita bingung dan cemas, mungkin juga mereka sedang menyelidiki identitas lelaki yang membawa monyet," sahut Kim siauw suseng. "Karena itu, sasaran mereka adalah Tio Cie Hiong."

"Kalau begitu..." sam Gan sin Kay menghela nafas. "Bukankah kejadian dua tahun lampau itu akan terulang lagi?"

"Itu tidak jadi masalah," ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum getir. "Yang penting nenek, Adik Im dan lainnya bisa selamat."

"cie Hiong...." Tio Tay seng menatapnya dan menghela nafas panjang. "setelah utusan Bu Lim

sam Mo ke mari, barulah kita rundingkan bersama."

"Ya, Paman." Tio Cie Hiong mengangguk. kemudian membelai-belai monyet bulu putih yang duduk di bahunya. "Kauw heng, aku bingung sekali...."

Sementara itu, di dalam markas Bu Tek Pay terdengar suara tawa yang penuh kegembiraan. Ternyata Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, LEk Kui dan Ang Bin sat sin sedang minum-minum sambil tertawa-tawa. Mereka tampak gembira sekali.

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo terus tertawa gelak. "Aku yakin pihak Kay Pang, yang berada di Gunung Hong Lay san sedang kebingungan."

"Tidak salah," sahut Thian Mo sambil meneguk minumannya. "Terutama pengemis bau dan ketua Kay Pang itu, dalam dua bulan ini mereka pasti tidak bisa makan dan tidur."

"ohya" Te Mo teringat sesuatu. "Bagaimana cara kita menghadapi lelaki yang punya monyet itu?"

"Gunakan cara lama" sahut Tang Hai Lo Mo.

"Maksudmu kita mengancam tawanan-tawanan kita untuk memaksa lelaki itu menyerah?" tanya Te Mo.

"Betul." Tang Hai Lo Mo manggut-manggut. "sebab telah terbukti dia mempunyai hubungan dengan pihak Kay Pang."

"Jadi kita memusnahkan kepandaiannya?" tanya Thian Mo.

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa. "Kita harus membunuhnya, setelah itu barulah kita habiskan yang lain jadi selanjutnya tiada gangguan apa-apa lagi bagi kita."

"Bagaimana kalau orang itu tidak mau menyerah?" tanya siluman Kurus mendadak. "Apakah kita harus membunuh tawanan-tawanan itu?"

"Itu sudah pasti," sahut Tang Hai Lo Mo.

"Seandainya orang itu mau menyerah, kita pun harus membunuh para tawanan itu?" tanya siluman Gemuk.

"Tentu," Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Bahkan yang lainpun harus kita habiskan semua. Ha ha ha..."

"Kalau begitu...." siluman Gemuk mengerutkan kening. "Kita akan melanggar janji?"

"Mereka semua merupakan duri dalam mata kita. Kalau kita tidak membunuh mereka semua, berarti kita meninggalkan penyakit bagi diri kita sendiri" Tang Hai Lo Mo menjelaskan. "oleh karena itu, kita harus membunuh mereka."

Kwan Gwa siang Koay diam, sedangkan Lak Kui terus menerus meneguk minuman masing-masing .

"Lo Mo, kapan kita mengutus seseorang pergi menemui mereka?" tanya Ang Bin sat sin mendadak.

"Besok pagi," sahut Tang Hai Lo Mo.

"Lo Mo ingin mengutus siapa ke sana?" tanya Ang Bin sat sin lagi.

Tang Hai Lo Mo berpikir sejenak. lalu menjawab sambil memandang Ang Bin sat sin. "Engkau."

"Baik," Ang Bin sat sin mengangguk. "Besok pagi aku akan berangkat ke Gunung Hong Lay san menemui mereka. Lalu apa yang harus kukatakan pada mereka?"

"Suruh mereka dan orang itu ke Lembah seribu Bunga tada tanggal lima belas" sahut Tang Hai Lo Mo memberitahukan. "orang itu harus menyerah. Kalau tidak, para tawanan pasti dibunuh."

"Ya." Ang Bin sat sin mengangguk.

"Kwan Gwa siang Koay dan Luk Kui, di saat kita sampai di Lembah seribu Bunga, kalian harus menjaga para tawanan. Apabila orang itu berani melawan, bunuhlah para tawanan itu" pesan Tang Hai Lo Mo.

"Ya," sahut Kwan Gwa siang Koay dan Luk Kui serentak.

Tawanan-tawanan itu telah kita beri minum racun pelemah badan, jadi mereka tidak bisa kabur maupun melawan." Tang Hai Lo Mo memberitahukan. "Gampang sekali membunuh mereka. oh ya, kalau kami bertiga telah berhasil memusnahkan kepandaian orang itu, kalian pun harus turun tangan membunuh para tawanan itu."

"Baik." Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui mengangguk.

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "setelah kita membunuh mereka semua, rimba persilatan betul-betul akan jadi milik kita Ha ha ha..."

Bu Lim Ji Khie, Tio Tay seng, Tio Cie Hiong dan lainnya duduk termangu-mangu di ruang depan. Kelihatannya mereka sedang memikirkan sesuatu

"Ayah, kenapa Bu Lim sam Mo masih belum mengutus seseorang ke mari?" tanya Tio Hong Hoa heran.

"Mungkin mereka sedang mengatur suatu rencana busuk," sahut Tio Tay seng.

"Paman, kalau Bu Lim sam Mo tidak mengutus seseorang ke mari, lalu kita harus bagaimana?" tanya Lie Man chiu murid Tayli Lo Ceng.

"Aku pun tidak tahu apa yang harus kita lakukan," sahut Tio Tay seng sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Hm" dengus sam Gan sin Kay. "Bu Lim sam Mo pasti mengutus orang ke mari, hanya saja mereka sedang mengatur suatu siasat untuk menghadapi Cie Hiong."

"Tapi...," ujar Tio Cie Hiong. "Bu Lim sam Mo masih mengira bahwa aku telah mati. Ba-gaimana mungkin...."

"Maksudku lelaki yang membawa monyet," sahut sam Gan sin Kay memberitahukan. "Yang mereka takuti adalah engkau yang menyamar, maka sasaran mereka adalah dirimu..."

"Ada orang ke mari" seru Tio Cie Hiong mendadak. "Mungkin utusan Bu Lim sam Mo"

"Bagus" sam Gan sin Kay manggut-manggut. "Kita memang sedang menunggu kedatangannya."

"Ha ha ha" Terdengar suara tawa dan tampak sosok bayangan melesat masuk seraya berkata, "selamat bertemu Ha ha ha..."

"Ang Bin sat sin" bentak sam Gan sin Kay. "Bagus engkau ke mari Bu Lim sam Mo yang mengutusmu ke mari, bukan?"

"Tidak salah," sahut Ang Bin sat sin yang telah berdiri di hadapan mereka. "Tepat sekali dugaanmu, Pengemis bau"

"Apa pesan Bu Lim sam Mo?" sam Gan sin Kay menatapnya tajam.

"It sim sin Ni, Lim Ceng Im dan lainnya berada di tangan kami." sahut Ang Bin sat sin sambil memandang Tio Cie Hiong. "Mereka baik-baik saja. Tapi...."

"Kenapa?" tanya Lim Peng Hang.

"Bu Lim sam Mo akan melepaskan mereka, asal kalian memenuhi sebuah syarat." Ang Bin sat sin memberitahukan.

"Apa syarat itu?" tanya sam Gan sin Kay.

"Karena kalian mempunyai hubungan dengan orang itu." Ang Bin sat sin menunjuk Tio Cie Hiong yang memakai kedok kulit. "Maka kalian harus menyerahkannya kepada Bu Lim sam Mo, jadi It sim sin Ni dan lainnya akan dibebaskan"

"Ang Bin sat sin" bentak sam Gan sin Kay. "orang ini tamu kami, bagaimana mungkin kami menyerahkannya kepada Bu Lim sam Mo?"

"Kalau tidak...." Ang Bin sat sin tertawa dingin. "Keselamatan It sim sin Ni dan lainnya tidak

terjamin."

"Kalian memang licik" caci sam Gan sin Kay.

"Ha ha ha" Ang Bin sat sin tertawa. "Kalau kami tidak licik, tentunya sulit bagi kami menguasai rimba persilatan."

"Bagaimana cara kami menyerahkan orang ini kepada Bu Lim sam Mo?" tanya Tio Tay seng dingin.

"Engkau siapa? Kenapa turut bicara?" bentak Ang Bin sat sin. "Kurang ajar" hardik Tio Tay seng mengguntur. "Lihatlah apa ini?"

Tio Tay seng melempar sesuatu ke arah Ang Bin sat sin, cepatnya laksana kilat sehingga Ang Bin sat sin tidak sempat berkelit.

Plaak sebuah benda melekat di dada Ang Bin sat sin. Benda itu ternyata Hong Hoang Leng.

"Haaah?" Ang Bin sat sin terkejut bukan main ketika melihat benda itu, bahkan dadanya terasa sakit sekali. "Hong Hoang Leng...."

"Kalau engkau bukan utusan Bu Lim sam Mo, pasti sudah kubunuh" ujar Tio Tay seng dingin. "Engkau... engkau pemilik Hong Hoang Leng?" tanya Ang Bin sat sin dengan air muka berubah. "Ya." Tio Tay seng mengangguk. "juga pemilik pulau Hong Hoang To."

"Bagus, bagus Kini kalian berkumpul semua" Ang Bin sat sin tertawa dan melanjutkan, "Pada

tanggal lima belas nanti, kalian harus mengantar orang itu ke Lembah seribu Bunga. Kalau tidak, It sim sin Ni dan lainnya pasti tak bernyawa lagi."

"Ang Bin sat sin" bentak Tio Cie Hiong dengan suara parau. "Jadi aku harus menyerahkan diri kepada Bu Lim sam Mo?"

"Betul. Bu Lim sam Mo akan memusnahkan kepandaianmu, setelah itu barulah melepaskan It sim sin Ni dan lainnya," sahut Ang Bin sat sin memberitahukan.

"Baik" Tio Cie Hiong mengangguk. "sam-paikan kepada Bu Lim sam Mo, bahwa pada tanggal lima belas nanti, kami pasti ke sana. Aku pasti menyerahkan diri di Lembah seribu Bunga"

Kalau begitu, aku mohon diri" ucap Ang Bin sat sin lalu melesat pergi seraya tertawa gelak. "Ha ha ha sampai jumpai di Lembah seribu Bunga"

Monyet bulu putih mau bergerak. tapi Tio eie Hiong cepat-cepat mencegahnya. "Kauw heng, biar orang itu pergi" katanya.

Monyet bulu putih langsung diam, namun bercuit-cuit seakan bersungut-sungut.

"cie Hiong," tanya sam Gansin Kay. "Bagaimana menurut pendapatmu?"

"Yah, apa boleh buat" jawab Tio Cie Hiong sambil menghela nafas panjang. "Aku akan menyerahkan diri kepada Bu Lim sam Mo."

"Tapi...." Kim siauw suseng menggeleng-gelengkan kemala. "Bu Lim sam Mo aka memusnahkan

kepandaianmu."

"Itu tidak jadi masalah," ujar Tio Cie Hiong telah mengambil keputusan. "Yang penting nenek, Adik Im dan lainnya selamat, aku kehilangan kepandaian tidak apa-apa."

"Belum tentu Bu Lim sam Mo cuma memusnahkan kepandaianmu, mungkin... mereka ingin membunuhmu," ujar Tui Hun Lojin.

"Kalaupun begitu, aku tetap pasrah," sahut Tio Cie Hiong sambil membelai monyet bulu putih yang duduk di bahunya.

"Cie Hiong," sela TioTay seng. "Bagaimana kalau engkau pura-pura menyerahkan diri, tapi di saat Bu Lim sam Mo turun tangan memusnahkan kepandaianmu, di saat itu pula engkau menyerang mereka?"

"Paman" Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. "Itu tidak mungkin, sebab Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin pasti akan membunuh nenek. Adik Im dan lainnya, apabila aku menyerang Bu Lim sam Mo."

"Kami akan menyerang mereka dengan serentak." ujar sam Gan sin Kay. "Agar mereka tidak bisa turun tangan."

"Itu tidak mungkin." Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. "Karena tidak keburu."

"Apa yang dikatakan cie Hiong memang benar," ujar Kim siauw suseng. "Kita tidak mempunyai peluang itu. "

"Lalu kita harus bagaimana?" tanya sam Gan sin Kay dan berkeluh. "Aaakh..."

"Biar Bu Lim sam Mo memusnahkan kepandaianku" ujar Tio Cie Hiong. "urusan jadi beres"

"Tidak akan beres segampang itu." Tio Tay seng menghela nafas panjang dan melanjutkan, "Aku yakin Bu Lim sam Mo mempunyai rencana busuk lain."

"Apa rencana busuknya?" tanya sam Gan sin Kay.

"Menurutku...," sahut Tio Tay seng dengan kening berkerut. "Bu Lim sam Mo pasti berniat membunuh kita semua."

"Kalau begitu...." Wajah sam Gan sin Kay tampak cemas sekali. "Kita harus bagaimana?"

"Tiada jalan lain, kecuali pasrah dan melihat bagaimana keadaan di Lembah seribu Bunga nanti,"

sahut Kim siauw suseng. "Sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa."

"Adik Hiong," ujar Tio Hong Hoa mendadak. "Bagaimana kalau engkau minta bantuan kauw heng?"

"Tidak mungkin." Tio Cie Hiong menggelengkan kepala. "Sebab Bu Lim Sam Mo bukan orang bodoh. Mereka pasti tidak mengijinkan kauw heng mendekati Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin."

"Tadi kita telah salah," ujar Kim siauw suseng. "seharusnya kauw heng menguntit Ang Bin sat sin."

"Percuma," ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan. "Kalau kauw heng pergi menguntitnya, malah akan membuat nenek. Adik Im dan lainnya bertambah cepat celaka."

"Kalau begitu...." Kim siauw suseng menghela nafas panjang.

"Bagaimana nanti saja." Tio Cie Hiong tampakpasrah. "Tiada artinya kita membicarakannya sekarang. Paling terulang lagi kejadian dua tahun yang lampau itu, mungkin sudah merupakan takdirku."

"ohya" Mendadak Kim siauw suseng teringat sesuatu "Ketika Tayli Lo Ceng mau pergi, bukankah pernah bilang bahwa semua itu pasti beres? Mungkinkah ini yang dimaksudkannya?"

"Iya." sam Gan sin Kay manggut-manggut. "Lo Ceng itu memang pernah bilang begitu. Yah, mudah-mudahah benar apa yang dikatakannya"

Ang Bin sat sin telah kembali ke markas Bu Tek Pay melalui terowongan rahasia. setelah duduk ia langsung memberitahukan.

"Telah kusampaikan kepada mereka. Kebetulan orang itu pun berada di sana"

"oh? Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Ternyata benar orang itu mempunyai hubungan dengan pihak Kay Pang"

"Tapi...." Thian Mo menggeleng-gelengkan kepala. "Sebetulnya siapa orang itu?"

"Kita tidak perlu tahu siapa orang itu," sahut Tang Hai Lo Mo. "Yang penting dia harus menyerahkan diri kepada kita. Beres, kan?"

"Betul." Te Mo manggut-manggut dan menambahkan. "Setelah kita membunuhnya dan menghabiskan yang lain, barulah Bu Tek Pay berkuasa penuh di rimba persilatan. Ha ha ha..."

"Ohya" Ang Bin Sat Sin memperiihatkan Hong Hoang Leng. "Pemilik Hong Hoang Leng juga berada di sana."

"Kami pernah bertarung dengan dia," sahut Kwan Ga Lak Kui sambil tertawa. "Bahkan kami pun berhasil melukainya."

"Tapi...." Ang Bin sat Sin mengerutkan kening. "orang itu juga pemilik Hong Hoang To, mungkin...."

"Maksudmu yang bertarung dengan kami itu bukan pemilik Hong Hoang Leng, yang asli?" tanya Tiau Am Kui dengan kening berkerut.

"Ya." Ang Bin Sat Sin mengangguk

"Eeeh?" seru Tang Hai Lo Mo mendadak. "Jangan-jangan orang yang kita suruh menyerahkan diri itu adalah pemilik Hong Hoang Leng yang asli, sedangkan yang lain hanya mengaku-aku saja"

"Mungkin." Thian Mo manggut-manggut.

"Siapa pun dia, tanggal lima belas nanti harus menyerahkan diri kepada kita," sahut Te Mo sambil tertawa. "Kita bunuh saja dia, habis perkara Ha ha ha...."

"siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin," ujar Tang Hai Lo Mo dengan wajah serius. "Nanti kalian tidak boleh bergeser sedikit pun dari It sim sin Ni dan lainnya. Apabila orang itu bergerak, kalian harus segera membunuh mereka."

"Baik." siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin mengangguk.

"Setelah itu.. ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Kita habiskan yang lain. Nah, rimba persilatan pasti akan menjadi milik kita. Ha ha ha..."

Bab 84 Penolong yang tak diduga

Suasana di Lembah seribu Bunga hening mencekam. Tampak dua kelompok orang berdiri berhadapan dengan jarak puluhan depa, yaitu kelompok Bu Lim sam Mo dan kelompok Bu Lim Ji Khie.

It sim sin Ni, Lim Ceng Im, Tan Li Cu dan kedua murid It sim sin Ni duduk di bawah dijaga ketat oleh Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin. It sim sin Ni dan lainnya tampak lemas, tak bertenaga. sedangkan Lim Ceng Im telah terisak-isak dengan air mata bercucuran. Wajah pucat pias dan kurusan pula.

"Bu Lim sam Mo" seru sam Gan sin Kay.

"Orang yang kalian hendaki telah berada di sini Bagaimana kemauan kalian sekarang?"

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Kami ingin memusnahkan kepandaiannya"

"Bu Lim sam Mo" ujar Tio Cie Hiong, yang memakai kedok kulit. "Aku tidak berkeberatan tentang itu, tapi... benarkah kalian akan melepaskan mereka?"

"Tentu" sahut Tang Hai LoMo. "Setelah kami memusnahkan kepandaianmu, kami pasti melepaskan mereka"

"Tidak akan ingkar janji?" tanya Tio Cie Hiong dengan suara parau.

"Tentu tidak" Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Tapi... di saat kami memusnahkan kepandaianmu, tidak boleh engkau melawan atau menangkis Apabila engkau berbuat begitu, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin pasti membunuh mereka tanpa ampun"

"Baik" Tio Cie Hiong mengangguk.

"Engkau harus ke tengah dan duduk di situ, kami bertiga akan mendekatimu" ujar Tang Hai Lo Mo dan menambahkan. "Monyet itu tidak boleh kau bawa"

"Ya" Tio Cie Hiong mengangguk lagi, kemudian berkata kepada monyet bulu putih, "Kauw heng, turunlah"

Monyet bulu putih kelihatan tidak mau turun, melainkan terus menatap Bu Lim sam Mo.

"Kauw heng, demi keselamatan mereka, engkau turunlah" ujar Tio Cie Hiong lembut. Monyet bulu putih bercuit perlahan seakan mengeluh, lalu meloncat turun.

"Nah sekarang engkau boleh maju ke tengah" seru Tang Hai Lo Mo.

Tio cie Hiong mulai melangkah ke tengah. Langkahnya bagaikan sebuah martil memukul hati pihak Bu Lim Ji Khie. Mereka semua memandang Tio Cie Hiong dengan mata basah, namun tiada seorang pun mengeluarkan suara.

Begitu pula Lim Ceng Im. sesungguhnya ia ingin berseru memanggil Tio Cie Hiong. Tapi melihat Tio Cie Hiong masih memakai kedok kulit itu, maka ia terus bertahan untuk tidak mengeluarkan suara.

Setelah berada di tengah-tengah, Tio cie Hiong lalu duduk bersila sambil memejamkan matanya.

Bulim sam Mo mulai melangkah mendekatinya sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka bertiga kelihatan gembira sekali.

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara tawa yang sangat nyaring menusuk telinga. Begitu mendengar suara tawa itu, semua orang yang berada di situ pun menjadi tertegun karena mengenali suara tawa tersebut, yang tidak lain suara tawa Kou Hun Bijin.

"Hi hi hi Hi hi hi" Menyusul melayang turun sosok bayangan di hadapan Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin.

"Haah? Bijin?" Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui tersentak. sedangkan wajah Ang Bin sat sin pun berubah.

Sementara Bu Lim sam Mo juga berdiri di tempat. Tio Cie Hiong pun membuka sepasang matanya memandang ke arah Kou Hun Bijin.

"Hi hi Hi" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. "Ada apa nih? Kok begitu ramai?"

"Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin" seru Tang Hai Lo Mo dengan suara lantang. "Jangan membiarkan Bijin mendekati mereka"

"Ya," sahut siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin serentak.

"siang Koay, Lak Kui" bentak Kou Hun Bijin. "Kalian tidak boleh membunuh It sim sin Ni, Ceng Im dan lainnya"

"Bijin Kami...." siang Koay dan Lak Kui tampak serba salah. "Kami...."

"Hm" dengus Kou Huh Bijin dingin. "Kalian berani membantah?"

"Kami... kami telah bekerja sama dengan Bu Lim sam Mo, kami tidak boleh...."

"Diam" bentak Kou Hun Bijin gusar. "Kalian berani melawanku?"

"Siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin" seru Tang Hai Lo Mo. "Cepat serang dia"

Siang Koay Lak Kui tampak ragu.

"Hi hi Hi" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. "siang Koay, Lak Kui Kalian berani menyerangku? Lihat apa ini”

Mendadak Kou Hun Bijin mengeluarkan dua buah medali, lalu diangkatnya tinggi-tinggi.

"Haah?" siang Koay Lak Kui tampak terkejut sekali, lalu segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kou Hun Bijin. "Hamba memberi hormat kepada Yang Agung Ada perintah apa, Yang Agung?"

"Kalian semua harus menjaga keselamatan It sim sin Ni, Ceng Im dan lainnya Ini perintahku"

"Hamba semua terima perintahmu."

"Sekarang kalian boleh bangun"

"Terima kasih Yang Agung" siang Koay Lak Kui segera bangkit berdiri

"Siang Koay" Kou Hun Bijin memberi perintah. "Ang Bir sat sin terlampau jahat, kalian berdua harus membunuhnya "

"Hamba terima perintah," sahut siang Koay dan langsung menyerang Ang Bin sat sin.

"Siang Koay Kalian...." Ang Bin sat sin berusaha berkelit.

Akan tetapi, belasan jurus kemudian, Ang Bin sat sin mulai terdesak. Berselang sesaat, terdengariah suara jeritannya.

"Aaaakh..." Tubuh Ang Bin Sat Sin terpental belasan depa, lalujatuh terkapar dan nyawa pun melayang seketika.

"Siang Koay" bentak Tang Hai Lo Mo gusar.

"Kalian berdua berani mengkhianati kami? Baik Kami bertiga terpaksa membunuh kalian"

Bu Lim Sam Mo langsung melesat ke arah Kwan Gwa Siang Koay, sekaligus menyerang mereka dengan Pak Kek Sin Ciang.

"Lawan mereka" seru Kou Hun Bijin. "Lak Kui, cepat bantu Siang Koay"

"Ya, Yang Agung," sahut Kwan Gwa Lak Kui dan langsung membantu Siang Koay menyerang Bu Lim Sam Mo.

Terjadilah pertarungan yang amat dahsyat, sebab siang Koay mengeluarkan ilmu Tok Im Ciang (Ilmu Pukulan Dingin Beracun), sedangkan Lak Kui mengeluarkan Ku Lu Ciang IHoat (Ilmu Pukulan Tengkorak).

Namun ilmu pukulan Pak Kek Sin Ciang memang merupakan pukulan yang sangat dahsyat, bahkan mengeluarkan hawa yang amat dingin, sehingga membekukan rumput-rumput di sekitar tempat itu.

Sementara Tio Tay Seng, Tio Lo Toa, Tio Hong Hoa dan Lie Man Chiu telah melesat ke arah It Sim Sin Ni, sedangkan Sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang melesat ke hadapan Lim Ceng Im. Gadis itu langsung mendekap di dada Lim Peng Hang sambil menangis terisak-isak.

Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong terus menyaksikan pertarungan itu dengan mata tak berkedip. Namun Kim Siauw Suseng malah memandang Kou Hun Bijin, kemudian mendadak melesat ke arah wanita cantik itu.

"Bijin" panggilnya dengan suara rendah.

"Kim siauw suseng" Kou Hun Bijin tersenyum. "Aku tahu engkau terus menerus memandangku. Apakah engkau menyukaiku?"

"Bijin...." Kim siauw suseng menundukkan kepala.

"Terus terang," bisik Kou Hun Bijin. "Aku menyukaimu."

"Apa?" Kim siauw suseng menatapnya tidak percaya. "Betulkah Bijin menyukaiku?"

"Hi hi Hi Walau aku pernah merasa suka kepada gurumu, tapi aku tidak pernah mengatakannya. Terhadap engkau, aku malah berterus terang dan berani mengatakannya. Karena itu, aku sama sekali tidak bergurau."

"Terima kasih Bijin Terimakasih...."

"Nanti saja kalau engkau mau mencurahkan isi hatimu, sekarang perhatikan pertarungan itu" "Ya, Bijin." Kim siauw suseng mengangguk.

Mereka berdua sama sekali tidak tahu, bahwa sam Gan sin Kay terus memperhatikan mereka sambil tersenyum-senyum.

Sementara pertarungan yang sedang berlangsung itu bertambah seru dan sengit. siang Koay dan Lak Kui tampak matimatian melawan Bu Lim sam Mo.

Tio Cie Hiong yang duduk bersila mulai bangkit berdiri dengan perlahan-lahan, sedangkan monyet bulu putih langsung meloncat ke bahunya.

"Kauw heng, lindungilah Ceng Im" ujar Tio Cie Hiong sambil membelainya. "Aku akan menghadapi Bu Lim sam Mo."

Monyet itu manggut-manggut, lalu melesat ke arah Lim Ceng Im sambil bercuit-cuit gembira.

Tio Cie Hiong memperhatikan pertarungan itu, kemudian mendadak mengeluarkan siulan panjang dan sangat nyaring.

"Berhenti" bentaknya menggunakan Iweekang.

Betapa terkejutnya Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui, dan seketika juga mereka berhenti bertarung.

Bu Lim sam Mo memandang Tio Cie Hiong, sedangkan Tio Cie Hiong melepaskan kedok kulitnya dengan perlahan-lahan.

"sam Mo" Tio Cie Hiong menatap mereka tajam. "Kalian bertiga masih mengenalku?"

"Haah...?" Bu Lim sam Mo terbelalak. "Engkau... engkau adalah Pek Ih sin Hiap Tio Cie Hiong?" "Betul." Tio cie Hiong melangkah maju ke hadapan mereka.

"Engkau... engkau belum mati?" tanya Tang Hai Lo Mo dengan air muka berubah.

"Aku memang belum mati," sahut Tio Cie Hiong dingin. "Bu Lim sam Mo, yang sudah biarlah berlalu Kalian bertiga sudah tua, lebih baik hidup tenang di suatu tempat, jangan membuat kacau rimba persilatan lagi, sebab aku pun tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan."

Sesungguhnya Tio Cie Hiong tetap merasa tidak tega membunuh mereka, maka menasehati mereka agar mau hidup tenang di tempat sepi.

Akan tetapi, Bu Lim Sam Mo malah salah tanggap. Mereka mengira Tio Cie Hiong takut, sehingga ingin berdamai dengan mereka.

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa terbahak-bahak. "Engkau takut, bukan? Pokoknya hari ini kami harus melenyapkanmu"

"Bu Lim sam Mo" Tio cie Hiong menghela nafas. "untuk apa kalian berbuat begitu? Tiada artinya sama sekali."

"Hm" dengus Thian Mo. "Engkau merupakan penghalang bagi kami untuk menguasai rimba persilatan oleh karena itu, hari ini kami bertiga harus membunuhmu"

"Aaaah" Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian bertiga telah berusia hampir sembilan puluh, tapi kenapa tidak mau menikmati hari-hari yang tenang dengan penuh kedamaian dalam hati?"

"Jangan banyak omong" bentak Tang Hai Lo Mo. "Bersiap-siaplah untuk mampus"

Bu Lim sam Mo segera mengambil posisi mengurung, sedangkan Tio Cie Hiong tetap berdiri di tempat. Matanya memandang mereka sambil menghela nafas panjang.

"Bu Lim sam Mo, tiada gunanya kita bertarung. Bagaimana kalau aku mengaku kalah, tapi kalian bertiga mulai sekarang tidak menimbulkan bencana dalam rimba persilatan?" katanya.

"Jangan omong kosong" bentak Thian Mo. "Ajalmu tetah tiba hari ini, bersiap-siaplah untuk mati"

"Aaah" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang, kemudian mulai mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kangnya.

Bu Lim Sam Mo mengerahkan Pak Kek Sin Kang, sehingga hawa di sekitar tempat itu berubah menjadi dingin sekali.

It sim sin Ni, Bu Lim Ji Khie, Lim Ceng Im dan lainnya mulai tercekam ketegangan. Mereka tahu bahwa tidak lama lagi akan terjadi pertarungan sengit.

"Ayah," bisik Lim Ceng Im. "Apakah Kakak Hiong sanggup melawan Bu Lim sam Mo?" "Sanggup," sahut Lim Peng Hang.

"Ayah...." Lim Ceng Im ingin mengatakan sesuatu, namun dibatalkannya karena Bu Lim sam Mo

telah mulai menyerang Tio Cie Hiong.

Tio Cie Hiong berkelit dengan ilmu Kin Kiong san Tian Pou, sekaligus balas menyerang dengan Bit Ciat sin ci (Ilmu Jari sakti).

Sementara monyet bulu putih menyaksikan pertarungan itu dengan penuh perhatian.

Kelihatannya ia sudah siap membantu apabila Tio Cie Hiong berada di bawah angin.

Tang Hai Lo Mo menyerang dengan jurus Swat Hoa Phiau Phiau (Bunga salju Beterbangan), Thian Mo menyerang menggunakan jurus Han Thian soh swat (Menyapu salju Hari Dingin), sedangkan Te Mo menyerang dengan jurus Ling swat Teng Hai (saiju Menutupi Laut).

Tio Cie Hiong diserang dari tiga jurusan, namun tidak gugup maupun panik, Mendadak badannya berputar-putar melambung ke atas, sekaligus balas menyerang dengan jurus Man Thian sing sing (Bin-tang-Bintang Bertaburan Di Langit) jurus tersebut justru dapat mematahkan serangan-serangan yang dilancarkan Bu Lim sam Mo.

Tak terasa pertarungan telah melewati puluhan jurus, namun mereka masih bertarung seimbang. Tiba-tiba Bu Lim sam Mo berhenti, lalu saling memandang dan manggut-manggut.

Tio Cie Hiong tahu, bahwa Bu Lim sam Mo akan segera mengeluarkan ilmu simpanan. Karena itu, ia menghimpun Iweekang Kan Kun Taylo sin Kang.

Memang tidak salah dugaan Tio Cie Hiong, ternyata Bu Lim sam Mo mulai mengerahkan Iweekang Hian Bun Kui Goan Kang Khi.

Mendadak Bu Lim sam Mo membentak keras, lalu dengan serentak menyerang Tio Cie Hiong dari tiga jurusan, dan mengeluarkan tiga jurus ilmu pukulan Hian Bun sam Ciang.

Tio Cie Hiong tidak berkelit, melainkan menangkis serangan-serangan itu dengan ilmu pukulan Kan Kun Taylo ciang Hoat, mengeluarkan jurus Kan Kun Taylo Bu Pien (Alam semesta Tiada Batas).

Daaaar... Terdengar suara benturan, yang memekakkan telinga.

Bu Lim sam Mo termundur tiga langkah, sedangkan Tio Cie Hiong tetap berdiri tegak di tempat.

Betapa terkejutnya Bu Lim sam Mo, karena mendadak iweekang mereka berbalik menyerang diri mereka sendiri Mereka bertiga saling memandang memberi isyarat, kelihatannya mereka ingin mengerahkan iweekang sepenuhnya.

Tio Cie Hiong menghimpun iweekang Kan Kun Taylo sin Kang hingga puncaknya. Betapa tegangnya suasana di tempat itu Para penonton semakin tercekam, terutama Lim Ceng Im.

"Kauw heng, apakah Kakak Hiong sanggup menangkis serangan-serangan mereka?" tanya gadis itu dengan nada cemas.

Monyet bulu putih bercuit-cuit, kelihatannya mulai tegang juga, bahkan maju beberapa langkah siap membantu Tio Cie Hiong.

Pada saat bersamaan, terdengarlah bentakan keras. Ternyata Bu Lim sam Mo telah menyerang Tio Cie Hiong dengan lweekang sepenuhnya.

Tio Cie Hiong menangkis dengan jurus Kan Kun Taylo Kwi Cong (segala-galanya Kembali Ke Alam semesta) .

DaarDaaarDaaaar... Terdengar suara ledakan dahsyat, yang diiringi pula oleh suara jeritan. "Aaaakh Aaaakh Aaaakh..."

Bu Lim sam Mo terpental belasan depa, kemudian roboh dengan mulut mengucurkan darah segar.

Sedangkan Tio Cie Hiong tetap berdiri di tempat Wajahnya tampak pucat pias, kemudian duduk bersila.

"Kakak Hiong" teriak Lim Ceng Im.

"Jangan mengganggu dia" bisik Lim Peng Hang.

Sementara monyet bulu putih telah melesat ke arah Tio Cie Hiong, bahkan sekaligus memeriksanya. setelah itu, monyet bulu putih tampak berlega hati.

Berselang sesaat, barulah Tio cie Hiong bangkit untuk berdiri, lalu mendekati Bu Lim sam Mo.

Tio cie Hiong memeriksa nadi mereka, lalu menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang. setelah itu ia memasukkan pil ke mulut Bu Lim sam Mo. sesaat kemudian, Bu Lim sam Mo memandang Tio Cie Hiong dengan mata redup.

"cie Hiong...," ujar Tang Hai Lo Mo lemah. "Terima kasih, engkau memang berhati bajik Tapi... sudah terlambat karena tadi kami tidak mau mendengar nasehatmu."

"Bu Lim sam Mo, kalian ingin meninggalkan suatu pesan?" tanya Tio Cie Hiong lembut.

"cie Hiong...," sahut Thian Mo dengan nafas memburu. "Tolong... tolong cari Liu siauw Kun, nasehati dia agar tidak melakukan kejahatan"

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk. Padahal ia sudah tahu bahwa Liu siauw Kun telah mati di tangan Tan Li cu, namun ia tidak ingin mengecewakan Bu Lim sam Mo yang telah sekarat.

"cie Hiong...," Tang Hai Lo Mo tersenyum. "Kami... kami yang bersalah, karena tidak mau mendengar nasehat paman guruku. Kami... kami...."

Mendadak kepala Tang Hai Lo Mo terkulai, begitu pula Thian Mo dan Te Mo. Ternyata nafas mereka telah putus.

"Aaaah..." Tio Cie Hiong menghela nafas panjang. "Aku tidak tega membunuh kalian, tapi kalian yang menyerangku dengan iweekang sepenuhnya. Kalau tidak. kalian pasti tidak akan mati."

"Kakak Hiong" Lim Ceng Im mendekatinya. "Kakak Hiong...."

"Adik Im...." Tio Cie Hiong langsung memeluknya, sekaligus membelainya dengan penuh cinta

kasih.

"Kakak Hiong...." Lim Ceng Im menangis tensak-isak dengan air mata berderai-derai.

"Adik Im, jangan menangis Aku telah berada di sisimu." Tio Cie Hiong membelainya lagi. "Huaha ha ha" sam Gan sin Kay yang usil itu tertawa gelak. "Dekap dan membelai nih ya"

"Kakek...." Kali ini Lim Ceng Im tidak cemberut, melainkan tersenyum gembira, lalu mendadak

mengecup pipi Tio cie Hiong.

"Wuaaah" sam Gan sin Kay tertawa lagi. "Kecupan mesra tuh"

Lim Ceng Im tersenyum malu dan Tio Cie Hiong menatapnya mesra. setelah itu, ia mengeluarkan sebutir pil.

"Adik Im, telanlah obat pemunah racun ini" Lim Ceng Im mengangguk dan langsung menelan obat tersebut. Kemudian Tio Cie Hiong mendekati It sim Sin Ni dan lainnya. la pun memberikan obat pemunah racun kepada mereka, kemudian berkata pada Kou Hun Bijin. "Terima kasih, Kak"

"Hi hi Hi" Kou Hun Bijin tertawa gembira. "Adik kecil kini malah engkau yang berhutang budi kepadaku."

"Kak. aku harus bagaimana membalas budi kebaikanmu?"

"Cukup dengan mencintai dan menyayangi Ceng Im. selamanya kalian tidak boleh ribut, harus hidup rukun dan bahagia."

"Ya, Kak."

"Bijin" It sim sin Ni mulai bersuara. Kelihatannya racun yang mengidap di tubuhnya telah punah. "Bagaimana engkau bisa muncul begitu kebetulan?"

"Sesungguhnya bukan kebetulan, melainkan memang sengaja muncul untuk menolong kalian," jawab Kou Hun bijin jujur. "Aku sudah tahu tentang kalian ditangkap. hanya saja aku tidak berani turun tangan menolong kalian, sebab kepandaian Bu Lim sam Mo sangat tinggi."

"Kok engkau bisa tahu?" tanya It sim sin Ni.

"Itu adalah jasa Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui." Kou Hun Bijin memberitahukan. "Mereka yang memberitahukan kepadaku secara diam-diam. Namun ketika aku muncul, kami berpura-pura bersitegang. setelah itu, aku mengeluarkan dua buah medali."

"Benarkah kedua medali itu begitu berkuasa atas diri Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui?" tanya It sim sin Ni.

"Tentu tidak," sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan. "Itu hanya sandiwara belaka. Hi hi hi..."

"Kakak...." Tio Cie Hiong terbelalak mendengar penuturan wanita itu.

"Bagaimana adik kecil? Kakak cukup baik terhadapmu, bukan?" Kou Hun Bijin menatapnya sambil tersenyum.

"Terima kasih atas semua kebaikan Kakak" ucap Tio Cie Hiong sambil memberi hormat.

"sama-sama" Kou Hun Bijin tertawa, kemudian mendadak berseru dengan suara nyaring. "Kini kalian boleh keluar"

Tiba-tiba muncul beberapa orang, yang ternyata para ketua tujuh partai besar.. "Eeeeh?" Bu Lim Ji Khie dan lainnya terheran-heran. "Kok mereka juga ada di sini?"

"Aku yang mengundang mereka ke mari," sahut Kou Hun Bijin memberitahukan. "Mereka semua sudah tahu bahwa,Tio Cie Hiong memakai kedok kulit"

"Omitohud omitohud...," ucap Hui Khong Taysu ketua siauw Lim Pny. "Kini segalanya telah beres. omitohud...."

"Ha ha ha" It Hian Tejin tertawa gelak. "Mulai sekarang rimba persilatan akan aman."

"Pek Ih sin Hiap memang luar biasa" ujar wie Hian cinjin, ketua Kun Lun pay. "Sekaligus telah menyelamatkan rimba persilatan."

Para ketua tujuh partai terus-menerus memuji dan menyanjung Tio Cie Hiong sehingga membuat pemuda itu menjadi kikuk. Lie Man chiu yang menyaksikan itu, mendadak terasa ada suatu ganjalan di dalam hatinya. Ganjalan apa itu? Hanya dia seorang yang mengetahuinya.

Sementara Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui menggali sebuah lubang, lalu mengubur mayat Bu Lim sam Mo.

"Adik kecil," ujar Kou Hun Bijin sambil tersenyum. "Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui memang sering melakukan kejahatan, tapi kini merekalah yang paling berjasa dalam hal menolong nenekmu dan lainnya. oleh karena itu, kakak harap. engkau sudi mengampuni mereka"

"Pek Ih sin Hiap." ucap Kwan Gwa siang lyoay dan Lak Kid. "Kami semua bersedia dihukum."

"Siang Koay Lak Kui," sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum. "Aku sungguh harus berterima kasih kepada kalian. Kalau tiada, kaliah, tentu nenekku dan lainnya akan celaka."

"Jangan berkata begitu...." Kwan Gwa siang Koay menundukkan kepala. "Kami... kami mohon

ampun"

"Siang Koay Lak Kui" Tio Cie Hiong memegang bahu mereka seraya berkata, "Kita adalah teman."

"Terimakasih, Pek Ih sin Hiap Terima-kasih...."

"Kini urusan di sini telah beres" seru Sam Gan Sin Kay lantang. "Mari kita ke markas pusat Kay Pang"

Betapa ramainya suasana di markas pusat Kay Pang, bahkan sangat semarak pula dan terdengar suara tawa gembira di sana-sini. Mereka bersulang dengan wajah ceria, terutama Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im.

"Lim Pangcu," ujar Tio Tay seng sambil tertawa gelak. "Kini secara resmi kami, pihak Hong Hoang To melamar putrimu untuk Cie Hiong."

"Ha ha ha" Lim Peng Hang tertawa gembira, "Tanpa dilamar pun telah kuterima Cie Hiong sebagai mantu"

"Huaha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak. "Tio Tocu, kapan akan dilangsungkan pernikahan mereka?"

"Kami akan mengadakan pesta di pulau Hong Hoang To," sahut Tio Tay seng dan menambahkan. "Karena putriku juga akan melangsungkan pernikahannya dengan Lie Man chiu."

"Ayah...." Wajah Tio Hong Hoa langsung memerah.

"Terimakasih, Paman" ucap Lie Man Chiu dengan tersenyum gembira.

Pada saat bersamaan, mendadak muncul rombongan Tayli, yaitu sin san Lojin, Ang Kin sian Li, Toan wie Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong hujin, Lam Kiong Bie Liong dan Toan pit Lian.

"Kakek. Ayah" seru Gouw sian Eng dan langsung mendekap di dada Gouw Han Tiong.

"Nak...." Gouw Ha n Tiong membelainya dengan penuh kasih sayang.

Toan wie Kie segera memberi hormat kepada Gouw Han Tiong dan Tui Hun Lojin, juga memberi hormat kepada yang lain.

"Huaha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa gelak. "Bagaimana kalian bisa tiba di sini begitu tepat waktunya?"

"Ha ha ha" sin san Lojin tertawa. "Belasan hari yang lalu, Tayli Lo Ceng menyuruh kami berangkat ke mari. Lo Ceng itu bilang, semua urusan di sini telah beres, maka kami boleh ke mari."

"Sialan tuh kepala gundul" Caci Kou Hun Bijin. "Dia sudah tahu akan kejadian ini, namun... malah bersembunyi di tempat yang begitu jauh."

"Bijin," bisik Kim siauw suseng. "Tidak baik mencaci Lo Ceng itu."

"Eh? Engkau...." Kou Hun Bijin melotot, tapi kemudian malah tersenyum. "Benar, benar.

Memang tidak baik mencaci Tayli Lo Ceng."

"Bukan main" seru sam Gan sin Kay. "Kou Hun Bijin bisa menuruti perkataan sastrawan sialan itu Ha ha ha..."

"Pengemis bau" Wajah Kou Hun Bijin langsung berubah kemerah-merahan, sehingga menambah kecantikannya. Itu membuat Kim siauw suseng menatapnya dengan mata terbelalak, sudah barang tentu membuat wajah Kou Hun Bijin bertambah merah. "Kenapa sih engkau menatapku dengan cara begitu?"

"Itu pertanda dia sangat mencintaimu, Bijin,” sahut sam Gan sin Kay sambil tertawa. "Eh? Pengemis bau" Kou Hun Bijin melotot. "Engkau belum pernah ditampar, ya?" "Jangan, jangan" sam Gan sin Kay cepat cepat mundur.

"Kou Hun Bijin Kim Siauw Suseng" Mendadak It Sim Sin Ni memandang mereka dengan serius sekali. "Benarkah kalian sudah saling mencinta?"

"Kami... ini... itu...." Kou Hun Bijin tergagap. tapi matanya melirik Kim siauw suseng.

"sin Ni," jawab Kim siauw suseng sungguh-sungguh. "Kami berdua memang telah saling mencinta."

"Kalau begitu, kalian berdua boleh menikah," ujar It sim sin Ni sambil tersenyum.

"Terimakasih, sin Ni" ucap Kim siauw suseng sambil memberi hormat. Begitu pula Kou Hun Bijin.

"selamat, selamat" sam Gan sin Kay dan lainnya langsung memberi selamat kepada mereka berdua.

"Kim siauw suseng, kita tinggal di Kwan Gwa saja" bisik Kou Hun Bijin.

"Ya." Kim siauw suseng mengangguk. "Tapi sebelumnya kita harus menghadiri pesta pernikahan Tio Cie Hiong dengan Lim Ceng Im di pula Hong Hoang To"

"Baik," Kou Hun Bijin menurut.

"Paman" tanya Tio Cie Hiong. "Kapan kita berlayar ke pulau Hong Hoang To?"

"Besok." sahut Tio Tay seng lalu berseru. "Aku mengundang semuanya ke pulau Hong Hoang To untuk menghadiri pesta pernikahan cie Hiong dan putriku"

"Kalau begitu, kita harus membeli sebuah kapal besar," usul sam Gan sin Kay dan melanjutkan. "Agar semuanya bisa berangkat bersama."

"Benar." Tio Tay seng mengangguk.

Di saat bersamaan, muncul seorang gadis berlari ke dalam dengan rambut awut-awutan seraya berseru-seru. "Kakak Cie Hiong Kakak Cie Hiong"

Semua orang terbelalak ketika melihat gadis itu, karena tiada seorang pun mengenalnya. "Eh? Adik Hiang?" Tio cie Hiong tertegun. "Engkau...."

"Kakak Cie Hiong" Gadis itu ternyata Yo suan Hiang, putri Yo Huai An. la langsung mendekap di dada Tio cie Hiong sambil menangis sedih. "Kakak cie Hiong...."

"Adik Hiang, kenapa engkau ke mari?" tanya Tio Cie Hiong keheranan.

"Ayahku telah meninggal...." Yo suan Hiang memberitahukan dengan air mata berderai-derai.

"Tunanganku dan ayahku telah dibunuh...."

"oh?" Tio Cie Hiong tersentak. "Siapa yang membunuh ayahmu dan mereka?"

"orang-orang Hiat Ih Hwe. Aku... aku berhasil meloloskan diri, maka segera ke mari."

"Tenang, tenang"

"Kakak Cie Hiong, kini aku sudah sebatang kara. Aku... aku harus bagaimana?"

"Tenang" Tio Cie Hiong tidak tahu harus bagaimana menghibur gadis itu. sedangkan Lim Ceng Im hanya berdiri melongo di tempat. Kejadian yang mendadak itu membuatnya tertegun.

"Cie Hiong" Tio Tay seng mengerutkan kening. "siapa gadis itu?"

"Paman, dia adalah Yo suan Hiang, putri mantan Menteri Yo." Tio Cie Hiong memberitahukan.

"oooh" Tio Tay seng manggut-manggut.

"Paman," ujar Tio Cie Hiong bermohon. "Kini dia telah sebatang kara bagaimana kalau Paman menerimanya sebagai murid?"

"Baik, baik" sahut Tio Tay seng karena merasa simpati kepada gadis itu.

"Adik Hiang, cepatlah engkau berlutut kepada pamanku, sebab engkau akan diterima sebagai murid" ujar Tio Cie Hiong. Yo suan Hiang segera berlutut di hadapan Tio Tay seng.

"Suan Hiang memberi hormat kepada Guru" ucapnya dengan terisak-isak.

"Suan Hiang" Tio Tay seng tersenyum. "Mulai saat ini engkau menjadi muridku, maka engkau harus ikut kami kepulau Hong Hoang To untuk belajar kepandaian tinggi."

"Ya, Guru. suan Hiang harus menuntut balas kelak"

"Sekarang bangunlah"

"Ya, Guru" Yo suan Hiang bangkit berdiri, dan mendadak teringat sesuatu. "Kakak Cie Hiong, di mana calon istrimu?"

"Ini." Tio Cie Hiong menunjuk Lim Ceng Im, yang berdiri melongo itu.

"Adik Ceng Im, maafkan aku jangan salah paham, aku menganggap Kakak Cie Hiong sebagai kakakku sendiri" ujar Yo suan Hiang.

"Kak. aku tidak akan salah paham." Lim Ceng Im tersenyum sambil menggenggam tangannya. "Hanya saja aku sempat kaget, karena Kakak Hiong belum menceritakan kepadaku tentang dirimu."

"oh?" Yo suan Hiang merasa heran.

"Ha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa. "cie Hiong lelah menceritakan kepada kami. Hanya belum sempat menceritakan kepadamu, cucuku."

"ooooh" Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Kawan-kawan dan para ketua tujuh partai" ujar Tio Tay seng dengan suara lantang. "Besok kita akan berlayar ke pulau Hong Hoang To"

Mulai sekarang Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im tidak akan berkisah lagi. Mereka telah melewati berbagai percobaan yang membuat mereka menderita, namun akhirnya mereka hidup bahagia di

pulau Hong Hoang To, tak berpisah selama-lamanya, bahkan mereka tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan.

Setelah Bu Lim sam Mo mati, betulkah rimba persilatan akan aman dan damai tiada badai apa pun?

Justru sungguh di luar dugaan, dalam rimba persilatan telah muncul Hiat Ih Hwe siapa ketua perkumpulan itu, tiada seorang kaum rimba persilatan yang mengetahuinya. Di samping itu, timbul pula pemberotakan pemberotakan di mana-mana....

TAMAT

0 Response to "Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 50 (Tamat)"

Post a Comment