--> -->

Serial Pendekar Mabuk 078 Dewi Kesepian

1

BUKIT yang tak seberapa tinggi itu menjadi ajang pertarungan dua wanita berusia sebaya, sekitar dua puluh tujuh tahun. Keduanya sama-sama punya kecantikan dan daya tarik yang cukup kuat. Bedanya, yang satu berbadan langsing namun sekal, yang satu berbadan padat berisi dan tampak lebih tinggi.

Yang lebih tinggi mengenakan jubah biru tanpa lengan. Jubahnya itu tidak dikancingkan, tapi ia mengenakan penutup dada semacam kutang namun terbuat dari kain tipis warna hitam. Tipisnya kain membuat gumpalan montok di dadanya itu tampak membayang dari luar. Kelihatan kencang dan menantang. Sedangkan pakaian bawahnya berupa kain tipis warna hitam berbelahan depan dari bawah sampai ke atas. Jika kakinya menendang, belahan kain itu menyingkap dan tampaklah sesuatu yang ada di balik kain tanpa penutup lagi.

"Gila! Ck, ck, ck, ck...! Bertarung sambil pamer perabot begitu bisa bikin lawannya gugup kalau lawannya seorang pria," ujar batin seorang pemuda yang menyaksikan pertarungan itu dari atas pohon.

Pemuda tersebut berbaju coklat, celana putih, pakai ikat pinggang kain merah, membawa bumbung tuak, rambutnya panjang tanpa ikat kepala, wajahnya ganteng tanpa jerawat, dan... siapa lagi kalau bukan muridnya si Gila Tuak yang dikenal dengan nama Suto Sinting alias Pendekar Mabuk. Hobinya memang mengintip, tapi yang diintip bukan perawan mandi, melainkan sebuah pertarungan. Dari seringnya melihat pertarungan, Suto akan punya ingatan tentang beberapa jurus yang perlu dipelajari kelemahannya, sehingga sewaktu-waktu ia berhadapan dengan seseorang yang menggunakan jurus tersebut, ia tidak akan kewalahan lagi.

Perhatian Suto Sinting cenderung kepada perempuan tinggi sekal itu. Ibarat ayam, ayam Bangkok. Penampilannya benar-benar mantap, baik mantap untuk pertarungan di arena maupun untuk pertarungan asmara.

Apalagi dengan rambut digulung ke atas asal-asalan tapi dijepit pakai penjepit dari perak, perempuan itu seakan memamerkan lehernya yang kuning mulus tanpa cupang sedikit pun. Menggemaskan hati setiap pria.

"Aku baru sekarang melihatnya," ujar Suto dalam hati. "Hidungnya mancung, bibirnya yang bawah agak tebal tapi menarik sekali. Pas satu kecupan. Matanya memang agak lebar, tapi indah dan sedikit sayu, bikin hatiku gemas juga. Oh... kenapa ia sejak tadi hanya menghindar dan menangkis? Mana serangannya? Mengapa tak memberi perlawanan kepada si langsing?"

Si langsing itu juga berhidung mancung, tapi kecil. Wajahnya berkesan mungil. Matanya bundar, rambutnya pendek, diikat dengan kain merah. Pakaiannya serba ungu komprang. Kulitnya sawo matang. Tapi dadanya tampak kencang dan sekal, walau tak semontok si jubah biru muda itu.

Si baju ungu menyelipkan pedang di pinggangnya, si jubah biru juga menyelipkan pedang dari logam putih anti karat di pinggang. Tetapi ketika si baju ungu mencabut pedangnya, perempuan berjubah biru itu tidak ikut-ikutan mencabut pedang, ia hanya mundur dua tindak dan memasang kuda-kuda secara tak nyata. Seakan ia malas melayani serangan lawannya.

"Sudah tiba saatnya kau kukirim ke neraka, Perempuan Lacur! Jangan lari dariku kau!" seru si langsing berbaju ungu.

"Dewi Kesepian tak pernah lari dari pertarungan, Ambarini! Sebelum lawannya mati, Dewi Kesepian tak akan hentikan pertarungan!"

"Mengapa kau tak membalas seranganku?!"

"O, itu urusanku! Mau membalas atau tidak, itu bukan urusanmu," seru si jubah biru yang ternyata bernama Dewi Kesepian itu, Katanya lagi, "Aku sebenarnya hanya ingin tahu, seberapa kekuatan jurusmu untuk mengalahkan kekuatanku! Ternyata dari tadi seranganmu tak ada yang membahayakan nyawaku. Sama seperti seekor semut yang menggigit, panas sedikit tapi tidak bikin koit!"

Si langsing yang bernama Ambarini itu menjawab berseru semakin berang, karena hatinya kian panas mendengar ejekan Dewi Kesepian.

"Kalau begitu, terimalah jurus 'Pedang Walet' ini!

Hiaaah...!"

Ambarini lakukan lompatan yang mirip seekor burung walet terbang. Wuuut...! Pedangnya menebas leher Dewi Kesepian. Tetapi dengan gerakan merendah hingga berlutut satu kaki, Dewi Kesepian berhasil hindari tebasan pedang itu.

Di luar dugaan, Ambarini bersalto satu kali di belakang Dewi Kesepian, lalu pedangnya menyabet dari bawah ke atas. Wuus...! Craas...!

"Uuhk...!" Dewi Kesepian yang baru mau bangkit itu terpaksa melompat dengan berjungkir balik menggunakan dua tangan sebagai tumpuannya. Bruuk..!

Kedua kakinya tepat menapak di tanah namun dalam keadaan tidak serempak, ia berusaha berdiri, tapi tubuhnya menggeloyor limbung.

Rupanya pedang Ambarini telah kenai punggung Dewi Kesepian hingga jubah birunya robek dan berlumur darah. Luka itu tepat menghadap ke arah tenpat persembunyian Suto Sinting, sehingga pemuda itu dapat melihat jelas betapa panjang dan mengerikannya luka itu. Darah yang keluar berwarna merah kehitam-hitaman, menandakan luka itu beracun dan racun itu cukup berbahaya.

"Hiaaat...!" Ambarini lakukan lompatan lagi dengan tubuh melayang lurus bersama pedang yang disentakkan ke depan. Wuuut...!

Dewi Kesepian menahan sakit, tapi ia masih bisa putar tubuhnya dan layangkan tendangan kaki kanannya.

Wuuut, beet...! Wees...!

Pedang Ambarini terpental lepas dari genggamannya karena lengannya terkena tendangan kuat bertenaga dalam dari Dewi Kesepian. Ambarini sempat limbung dalam gerakan terbangnya, ia tak bisa menjaga keseimbangan karena sentakan kaki kuat tadi.

Akibatnya, Dewi Kesepian dapat menghantam punggung Ambarini dengan pangkal telapak tangannya. Dees...!

Buuhk...!

"Heekh...!"

Brrruk...! Ambarini jatuh terbanting. Hampir saja wajahnya menghantam sebongkah batu hitam yang sejak tadi diam di situ tak mau ikut campur dalam pertarungan.

Namun Ambarini segera mengangkat batu yang besarnya seukuran kepala kuda itu. "Heeaaah...!"

Batu itu dilemparkan ke atas, lalu ditendang dengan ujung kakinya. Wuuut, dees...!

Weerr...! Batu itu melayang ke arah dada Dewi Kesepian. Dengan gerakan cepat, dihantamnya batu yang mendekatinya menggunakan kepalan tangan kanannya. Dees...! Pyaaar...!

Batu itu hancur menjadi butiran sebesar merica, menandakan betapa tinggi kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Dewi Kesepian itu sebenarnya. Andai yang dihantam adalah kepala Ambarini, tentu kepala itu akan remuk dan kelak tengkoraknya tak akan berbentuk seperti layaknya tengkorak orang mati puluhan tahun.

Perempuan langsing itu masih penasaran, ia segera melepaskan pukulan tenaga dalamnya dari jarak jauh.

Dengan sentakkan tangan kiri, telapak tangan itu keluarkan sinar hijau lurus yang segera menghantam perut Dewi Kesepian. Claap...!

Beesss...!

"Aauhk...!" Dewi Kesepian terbungkuk sambil menyeringai, kedua tangannya pegangi perut. Dari sela-sela jemari keluar asap menandakan perutnya luka bakar, entah bolong atau hanya lecet, yang jelas Dewi Kesepian sangat kesakitan.

Bet, bres, bres, plook...!

Wajah Dewi Kesepian menjadi sasaran empuk bagi kaki Ambarini. Dewi Kesepian dihajar habis oleh Ambarini. Tapi anehnya Ambarini tak bisa membunuh Dewi Kesepian dengan tangan kosong. Sekalipun Dewi Kesepian telah babak belur dan lukanya amat parah, namun ia tetap berusaha bangkit berdiri. Walau sebelum sempat berdiri, ia selalu tumbang kembali karena tendangan atau pukulan Ambarini.

Melihat keadaan Dewi Kesepian berlumur darah, Suto Sinting tak tega. Maka ketika Ambarini berusaha mengambil pedangnya untuk mengakhiri nyawa Dewi Kesepian, Suto Sinting melepaskan jurus 'Jari Guntur' nya, berupa sentilan yang mengandung kekuatan tenaga dalam, besarnya seperti tendangan seekor kuda jantan.

Pertama-tama pedang itu disentil lebih dulu dari jarak jauh. Tess...! Zraaak...! Pedang itu terpental jauh, membuat Ambarini terbengong. Saat perempuan itu terbengong, Suto Sinting menyentilkan jarinya lagi ke arah pinggang Ambarini. Tess...! Buuhk...!

"Auh...!" Ambarini memekik dan terlempar kembali.

"Siapa orang yang menyerangku? Dari mana datangnya? Pasti dia ada di pihak Dewi Kesepian! Agaknya ilmunya cukup tinggi. Tulangku menjadi linu semua mendapat serangan tenaga dalamnya," pikir Ambarini sambil menyeringai menahan sakit dan berusaha bangkit.

Baru saja dapat separo berdiri, tiba-tiba perutnya bagaikan ada yang menendang dengan kuat. Buuuhkk...!

"Heeehk...!" Ambarini terpental ke belakang dalam keadaan tubuh melengkung ke depan. Brruuk...! Ia pun jatuh terduduk dengan keras. Perut menjadi mual, tulang punggung terasa mau patah.

"Keparat! Rasa-rasanya aku akan kewalahan jika melayani orang yang memihak Dewi Kesepian itu! Sebaiknya kutinggalkan saja perempuan itu, sebentar lagi pasti mati karena luka racun dari pedangku tadi!"

Ambarini akhirnya melompat menyambar pedangnya, kemudian sambil terhuyung-huyung ia berlari menjauhi tempat itu. Sampai di kejauhan ia berhenti sebentar dan serukan kata kepada Dewi Kesepian yang tersandar di bawah pohon.

"Sekali lagi kau mengganggu suamiku, kutebas batang lehermu, Perempuan Jalang!"

Tanpa peduli suaranya didengar lawan atau tidak, Ambarini segera melesat pergi menerabas semak belukar. Dan pada saat itulah Suto Sinting segera muncul dari persembunyiannya. Dengan gunakan jurus 'Gerak Siluman', yang mampu bergerak secepat gerakan cahaya, Pendekar Mabuk tahu-tahu sudah berada di samping Dewi Kesepian.

Zlaaap...!

la segera geleng-geleng kepala melihat keadaan Dewi Kesepian yang babak belur itu. Wajahnya penuh luka, berlumur darah, tak punya tenaga lagi, ooh...menyedihkan sekali. Pendekar Mabuk segera mengambil bumbung tuaknya yang menyilang di punggung.

"Kasihan, wajah cantik-cantik jadi seperti topeng leak!" gumam Suto Sinting, kemudian berusaha menuangkan tuak ke mulut Dewi Kesepian dengan hati-hati.  Sedikit demi sedikit tuak tertelan oleh Dewi Kesepian. Perempuan itu tak tahu apa yang masuk ke mulutnya, yang jelas bisa ditelan dan bisa dipakai membasahi kerongkongannya yang kering, ia berhasil meneguk tuak sekitar lima tegukan. Setelah itu Suto Sinting menenggak tuak sendiri, lalu menghembuskan napas lega. Matanya memandang sekeliling, mencari tempat yang lebih teduh lagi. Ketika dilihatnya ada tempat yang lebih teduh, walau keadaan tanahnya agak miring, Suto pun membawa Dewi Kesepian ke tempat itu dengan mengangkatnya memakai kedua tangan.

Dewi Kesepian tak tahu bahwa ia telah menelan tuak sakti yang berkhasiat menyembuhkan luka serta penyakit dalam waktu singkat. Sebenarnya bukan tuaknya yang sakti, melainkan bumbung tuak itulah yang mempunyai kekuatan sakti karena jelmaan dari seorang tokoh dunia persilatan masa lalu yang sering disebut-sebut Suto sebagai Eyang Buyut Guru Wijayasura, kakek gurunya si Gila Tuak. Segala macam jenis tuak dari mana pun jika sudah masuk ke bumbung bambu itu maka ia akan berubah menjadi tuak sakti.

Terbukti dalam beberapa saat saja keadaan Dewi Kesepian sudah mulai normal kembali. Luka-lukanya mengering, kemudian luka itu menyempit dan akhirnya hilang bagai terserap ke dalam kulit. Luka di punggung akibat pedang beracun si Ambarini juga mengering dan lenyap tak berbekas. Darah yang berceceran di tubuh dan pakaian Dewi Kesepian bagaikan menguap diserap angin.

Dewi Kesepian terkejut setelah menyadari tubuhnya bersih dari luka dan tidak merasa sakit di bagian mana pun. Justru badannya merasa lebih segar dari saat sebelum bertarung melawan Ambarini tadi.

Perempuan itu semakin tampak kecantikannya. Tubuhnya yang kuning langsat itu ternyata ditumbuhi bulu-bulu halus yang menggetarkan hati setiap lelaki. Bulu halus itu tumbuh sampai di bagian lengan, belakang pergelangan tangan, dan sekitar tengkuknya. Suto Sinting sempat merinding karena menahan getaran hati yang gemas-gemas senang melihat bulu halus itu.

"Ooh... kau...?!" Dewi Kesepian terkejut setelah mengetahui ada seorang pemuda tampan berambut lurus sepundak duduk di atas akar pohon yang menonjol bagai batu itu. Lebih terkejut lagi setelah Pendekar Mabuk sunggingkan senyum, maka Dewi Kesepian mulai merasakan ada sentakan halus di dalam hatinya.

Sentakan itu menimbulkan rasa nyaman dan indah, sehingga ia pun menjadi grogi sesaat, ia memandang sekeliling, ternyata Ambarini sudah tak ada dan orang lain pun tak ada kecuali si pemuda tampan berhidung bangir dan bermata bening teduh itu.

"See... seingatku aku tadi terluka parah, ter... terkena... terkena racun pedangnya Ambarini. Tapi mengapa sekarang aku... aku jadi bersih tanpa luka sedikit pun?" ucapnya lirih bagai bicara pada diri sendiri.

"App... apakah kau yang menolongku dan menyembuhkan lukaku tadi?"

"Mungkin," jawab Pendekar Mabuk sok berlagak cuek.

Perempuan yang mempunyai suara agak besar dan serak-serak menggairahkan itu mulai perdengarkan suaranya lagi setelah ia memandang ketempat pertarungannya tadi, ternyata di sana tak ada Ambarini.

"Ke mana Ambarini tadi? Apakah dia melarikan diri?"

"Barangkali," jawab Suto lagi berlagak angkuh.

"Dingin sekali sikapnya," ujar batin Dewi Kesepian.

Lalu, ia pun mulai menampakkan sikap angkuhnya untuk membalas keangkuhan Suto Sinting. "Terima kasih atas bantuanmu!" ucapnya datar, lalu ia segera melangkah pergi.

"Hei, tunggu dulu!" Suto Sinting mengejar, Dewi Kesepian tetap melangkah dengan wajah memandang lurus ke depan. Suto terpaksa menghadang langkahnya.

"Begitukah sikapmu terhadap orang yang telah menolongmu?"

"Minggir...!" katanya dengan sedikit menyentak bernada sinis. Tetapi Suto tetap tak mau minggir. Maka, Dewi Kesepian segera sentakkan tangannya ke depan, dan tiba-tiba Suto seperti diterjang badai besar yang membuatnya terpental terbang dengan ringannya.

Wuuut...! Brruuk...!

Punggung Suto membentur pohon dengan kuat. Duuur...! Pohon itu sampai bergetar, beberapa daun dan bunganya berguguran. Suto menyeringai merasakan tulang punggungnya terasa remuk dan sukar untuk berdiri. Akhirnya ia hanya terengah-engah sambil bersandar pada batang pohon itu. Matanya memandang lesu ke arah wajah cantik berbibir menggemaskan itu.

"Gila! Sentakan tangannya begitu kuat dan berbahaya sekali. Kalau tak kuimbangi dengan menahan napas murniku, bisa jebol perutku," ujar Suto Sinting dalam hati.

Dewi Kesepian melangkah lagi tinggalkan Suto, seakan ia tak peduli keadaan Pendekar Mabuk, walau ia yakin bahwa pemuda tampan itulah yang tadi menolongnya dari luka parah itu. Namun ia pun yakin bahwa sikapnya yang cuek dan angkuh akan membuat si pemuda menjadi penasaran.

Keyakinan itu memang benar. Sebab setelah Suto Sinting menenggak tuaknya untuk obati rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia segera mengejar langkah Dewi Kesepian dan menghadang langkah perempuan itu lagi.

"Kau punya kekuatan hebat! Tapi mengapa tidak kau gunakan untuk melawan Ambarini tadi?!" sambil Suto menuding-nuding seperti protes terhadap sikap Dewi Kesepian di dalam pertarungan tadi.

"Jangan halangi langkahku!" Dewi Kesepian tetap berlagak angkuh, belum puas membalas keangkuhan Suto Sinting.

"Tunggu dulu, ada yang ingin ku...."

Beet! Tiba-tiba kaki Dewi Kesepian berkelebat tak diketahui kapan bergeraknya. Tahu-tahu dada Suto Sinting sudah menjadi sasaran empuk dan membuat tubuh pemuda gagah dan kekar itu terlempar ke belakang dan jatuh berguling-guling menuruni lereng bukit. Jika tak ada akar pohon yang tumbuh mirip papan berlapis-lapis itu, mungkin Suto akan menggelinding terus sampai di kaki bukit.

Dewi Kesepian membelokkan arah langkahnya dan tetap cuek terhadap keadaan Suto Sinting.

"Kampret...!" teriak Suto memaki nasibnya yang sial. Tapi justru makian itu membuat langkah Dewi Kesepian terhenti dan memandang Suto dengan sinis.

"Namaku Dewi Kesepian, bukan Kampret! Kampret itu nama kakekku. Lengkapnya: Ki Dulang Kampret!"

Suto tertawa geli sambil menahan sakit di lututnya yang tadi membentur batu.

"Hei, aku tidak bermaksud memanggilmu atau menyebutkan nama kakekmu! Aku memaki diriku sendiri yang bernasib sial! Sudah menolong, eeh...dadanya nyaris bolong!"

Pendekar Mabuk menenggak tuak lagi, hanya dua teguk. Karena tiba-tiba jantungnya terasa melemah, kadang detakannya menyendat-nyendat, kadang justru hilang tanpa detakan. Pendekar Mabuk cemas akan keadaan jantungnya, maka ia segera meminum tuak itu.

Dan pada saat itu ia mendengar Dewi Kesepian berkata sambil hampiri dirinya.

"Itulah sebabnya, kalau diajak bicara orang jangan berlagak angkuh!"

Pendekar Mabuk menyeringai. "Maaf, aku tadi memang menggodamu."

"Anggap saja aku pun menggodamu."

"Iya, tapi tidak perlu sampai mau menjebolkan dadaku."

"Aku hanya menendang urat jantungmu."

"Urat jantungku?!" Suto berkerut dahi.

"Apakah jantungmu merasa tersendat-sendat dan sesekali terasa seperti tidak berdetak lagi?"

"Hmmm... hmmm... iya, memang begitu."

"Nah, itulah yang dinamakan jurus 'Tendangan Jalur Jantung', dalam sepuluh helaan napas kau akan pingsan!"

"Tapi... sekarang jantungku tidak mengalami perubahan apa-apa lagi."

"Kuhitung empat kali, kau pasti roboh! Satu...."

Suto Sinting nyengir sambil menempelkan telapak tangannya ke dada, merasakan detak jantungnya yang memang normal karena sudah minum tuak.

"Dua.... Tiga...."

"Habis ini aku roboh, ya?"

"Iya. Empat...!"

"Robohnya di sebelah mana?!" Suto clingak-clinguk mencari tempat. "Enaknya aku pingsan di bawah pohon itu saja, ya? Biar teduh!"

"Konyol!" geram Dewi Kesepian yang merasa terheran-heran. "Mengapa kau tidak langsung pingsan dan bahkan masih bisa bersikap konyol begitu?"

"Mungkin tendanganmu hanya berlaku untuk jantung pisang. Bukan jantung manusia!" sindir Suto membuat Dewi Kesepian menjadi malu dan dongkol, ia menarik napas dan membuangnya dalam dengus kekesalan hati.

Suto Sinting hanya cengar-cengir sambil melihat-lihat keadaan di atas pohon, sengaja bersikap meremehkan jurus yang dibanggakan perempuan itu.

"Ternyata kau orang kuat!" ujar Dewi Kesepian secara jujur. "Selama ini belum pernah ada orang yang bisa menahan jurus 'Tendangan Jalur Jantung'-ku. Baru kaulah orangnya."

"Mengapa tidak kau pakai untuk melawan Ambarini?"

"Oh, kau kenal dengan Ambarini?"

"Aku hanya mengutip bicaramu saat menyebutkan namanya tadi," jawab Suto sambil menunduk sebentar dan garuk-garuk kepala. Kemudian ia memandang Dewi Kesepian dan bicara dengan serius.

"Dari dua seranganmu yang kurasakan tadi, menurutku kau seharusnya bisa menumbangkan Ambarini! Tapi mengapa kau sepertinya tak mau menyerang atau melukainya, bahkan membiarkan dirimu dihajar habis-habisan begitu?! Hampir saja kau mati karena racun pedangnya kalau tidak kupaksa untuk meminum tuakku."

"O, jadi tuak itu yang membuatku sehat secara ajaib ini?" pikir Dewi Kesepian, tapi mulutnya melontarkan kata lain.

"Aku merasa bersalah kepadanya. Kuterima hajarannya yang bertubi-tubi itu sebagai hukuman kesalahanku."

"Boleh kutahu kesalahan apa yang membuatmu rela dihukum sedemikian rupa "

Dewi Kesepian memandang Suto dengan tegas, tanpa sungkan dan malu-malu.

"Aku tidur dengan suaminya; si Rayundita."

Suto Sinting tertawa panjang tapi tak sampai terbahak-bahak. Dewi Kesepian tetap pandangi Suto dengan mata tak berkedip, tajam dan penuh ketegasan.

Ketika menyadari dipandang tajam oleh Dewi Kesepian yang tidak tersenyum sedikit pun itu, Suto Sinting buru-buru hentikan tawanya, karena ia segera sadar tawanya itu menyinggung perasaan si perempuan cantik itu.

"Kau jujur sekali. Tapi mengapa kau sampai tidur dengan si Rayundita?"

"Karena aku tak tahu kalau dia sudah beristri!"

"Apakah dia tampan?"

"Tidak setampan dirimu!" jawabnya tegas lagi tanpa senyum sedikit pun.

"Apakah dia perkasa?"

"Tidak seperkasa dirimu juga!"

"Atau... mungkin kau mencintainya?"

"Tak ada cinta di hatiku!"

"Lalu, apa yang meribuatmu nekat tidur dengannya?"

"Karena aku butuh darahnya."

"Hah...?! Butuh darahnya?"

"Darah kemesraan ssorang lelaki harus kuperoleh setiap malam. Aku hanya bisa bertahan tidak menerima darah kemesraan seorang lelaki selama dua malam. Itu pun sudah membuatku amat tersiksa."

"Mengapa begitu?!"

"Aku terkena kutukan beracun dari Penguasa Pulau Siluman...."

"Oh, maksudmu.... Nyai Ronggeng Iblis?!"

"Benar! Rupanya kau mengenalnya?!"

"Hmmm... eeh... ya, aku mengenalnya, tapi langsung membunuhnya!"

Dewi Kesepian terperanjat dan menjadi tegang.

"Kau...?! Kau membunuh Nyai Ronggeng Iblis?!" ia seakan tak percaya.

"Ya, aku membunuhnya demi menyelamatkan seorang gadis yang terkena pukulan 'Sabda Sirna', yang membuat gadis itu tak memiliki raga," (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Gadis Tanpa Raga").

Dewi Kesepian tiba-tiba melemas dan jatuh terduduk dengan wajah sedih.

"Hei, kenapa kau?! Kenapa kau jadi lemas dan pucat?!"

Perempuan itu tak menjawab, namun bola matanya mulai berkaca-kaca pertanda sebentar lagi tangisnya akan datang. Suto semakin kebingungan.

*

* *

2

DEBUR ombak di pantai curam terdengar bagai irama nyanyian setan. Pantai curam itu mempunyai tebing tinggi berdinding karang tegak lurus. Di atas tebing itu, tampak seorang pemuda berusia dua puluh tahun sedang ditempa ilmu kanuragan oleh gurunya.

"Tendangan kiri, hup...! Tendangan kanan, huup...! Tendangan depan, huup...! Tendangan belakang, huup...!"

Brruk...!

Sang Guru jatuh sendiri, maklum usianya sudah hampir seratus tahun kurang beberapa bulan. Kumis, jenggot, dan alis sudah memutih semua. Rambut di kepalanya tinggal tujuh belas lembar lebih sedikit. Tubuhnya yang kurus tampak sudah lemah untuk lakukan gerakan-gerakan menyentak. Namun sang Guru masih bisa menutupi kelemahannya itu di depan muridnya.

"It tad ten yang sal...!"

"Apa maksud Guru?"

"Itu tadi contoh tendangan yang salah, Tolol! Jangan ditirukan!"

Sang murid justru cekikikan menertawakan alasan sang Guru dan membayangkan jatuhnya sang Guru yang seperti kodok gagal melompat. Melihat muridnya cekikikan, sang Guru dekati sang murid lalu menamparnya. Plook...!

"Kal sed lat jang ter!"

"Apa artinya itu, Guru?'

"Kalau sedang latihan jangan tertawa!"

Sang murid langsung diam, tak berani cekikikan, bahkan tak berani tersenyum. Berdirinya tegak, wajahnya serius menyedihkan, pandangannya lurus dan mulutnya ternganga sedikit. Sang Guru berkata kembali sambil mundur tiga langkah.

"Cob ul jur yang tad!"

Sang murid paham maksud gurunya, ia disuruh mengulangi jurus yang tadi. Maka, sang murid pun lakukan tendangan kiri, kanan, dan depan. Sang Guru manggut-manggut sambil berucap lirih.

"Bag, bag, bag...."

"Maksudnya; bagong, Guru?"

"Bagus!" bentak sang Guru, suaranya masih rada lantang, tak kentara seperti suara orang berusia hampir seratus tahun. Sedangkan suara sang murid kecil cempreng seperti kaleng kerupuk dipukul pakal sandal.

Rupanya sang Guru mempunyai kebiasaan bicara pendek. Dulu ketika ia menuntut ilmu di sebuah perguruan, ia diajarkan bahasa sandi untuk berbicara dengan sesama rekan perguruannya. Bahasa sandi itu sampai sekarang menjadi bahasa sehari-hari baginya.

Akibat kebiasaan itulah maka sejak usia empat puluh tahun ia dikenal dengan nama si Omong Cekak. Setelah tua dikenal dengan panggilan; Eyang Omong Cekak.

Sedangkan muridnya yang kurus berambut pendek lurus itu bernama Temon. Nama itu pemberian dari Eyang Omong Cekak, karena bocah itu ditemukan hanyut di sebuah sungai yang sedang dilanda banjir dalam usia tujuh belas tahun. Ketika ditemukan, ia tidak tahu siapa keluarga dan di mana rumahnya, bahkan ia tidak tahu namanya sendiri. Mungkin kepalanya terbentur-bentur benda keras saat hanyut di sungai sehingga membuatnya lupa ingatan (amnesia). Benturan benda keras pada kepalanya itu juga mengakibatkan ia tumbuh sebagai pemuda yang kadang-kadang goblok, kadang-kadang cerdas. Bukan pintar-pintar bodoh, tapi bodoh-bodoh pintar.

"Sek jur puk tang kos."

Sang murid berkerut dahi pertanda kurang mengerti terjemahan bahasa sandi itu. Eyang Omong Cekak akhirnya menjelaskan dengan bahasa yang benar.

"Sekarang latihan jurus tangan kosong!"

"Oooo...," Temon manggut-manggut. Bajunya yang berlengan panjang longgar warna putih bola-bola merah seperti celananya itu segera dirapikan sebentar, kemudian ia mengambil sikap kuda-kuda berkaki rendah renggang ke samping.

"Yang sep kem mar, ya?"

"Maksudnya, yang seperti kemarin itu, Guru?"

"Ya. Siap?!"

"Siap, Guru!"

"Mul...!"

Temon masih diam saja dengan posisi kaki rendah menyamping kedua tangan menggenggam rapat di pinggang.

"Mul...!" bentak si Omong Cekak dengan jengkel sambil dekati Temon. Temon memandang dengan berkerut dahi.

"Muuuul...!" seru sang Guru makin jengkel. Temon clingak-clinguk. Plaaak...!

"Kenapa malah clingak-clinguk!" sentak sang Guru.

"Kusangka Guru memanggil temanku; si Mulyana."

"Mul itu artinya mulaiiiii...! Uhuk, uhuk, uhuk."

Omong Cekak terbatuk-batuk karena terlalu emosi dalam bicaranya. "Ayo, mul...!" perintahnya. Maka Temon pun segera berlatih jurus pukulan ke depan. Gerakannya sangat

kaku dan lamban, seakan tidak bertenaga. Omong Cekak jengkel, akhirnya kepala Temon dikeplaknya. Plaaak...!

"Aduh...!" Temon tersentak menggeloyor. "Kenapa aku dikeplak, Guru?"

"Karena kau punya kepala!" jawab Omong Cekak seenaknya. "Tenagamu mana?! Tenagamu manaaaa...?!" teriak Omong Cekak saking jengkelnya, lalu terbatuk-batuk lagi.

"Kal memuk har pak ten... pak ten... pak ten!" ulangnya dengan jengkel.

"Apa itu pak ten?"

"Kalau memukul harus pakai tenaga, pakai tenaga, pakai tenagaaaa...! Goblok!" lalu Omong Cekak menggerutu sambil bersungut-sungut. "Sudah tiga tahun jika muridku masih belum becus menggunakan jurus pukulan! Das ot ud!"

"Ya, memang das ot ud, Guru."

"Apa kau tahu artinya das ot ud?"

"Tidak, Guru!" jawab Temon tegas seperti prajurit.

"Kenapa pakai bilang: ya? Das ot ud itu artinya 'dasar otak udang', tahu?!"

Temon diam, wajahnya menyedihkan, matanya kedip-kedip seperti anak cacingan, ia tetap tegak, memandang lurus ke depan. Sang Guru berdiri di depannya dengan tongkat kayu hitam berujung ukiran tangan menggenggam tetap dipegang tegang dengan tangan kanannya.

"Kalau satu tahun lagi kau belum bisa kuasai jurus pukulan, kubuntungi kedua tanganmu. Mengerti?"

Temon tersenyum sambil memandang lurus ke depan dan tetap berdiri tegak seperti prajurit.

"Satu tahun kemudian, kau tidak bisa kuasai jurus tendangan, kubuntungi juga kedua kakimu. Paham?"

Temon tersenyum lagi, matanya mengerling genit.

"Genap enam tahun, kau tidak bisa kuasai jurus apa-apa dariku, lehermu kubuntungi. Jelas?"

Temon mengedipkan mata sebelah sambil makin tersenyum. Tapi berdirinya masih tetap tegak, kaki rapat, tangan rapat, wajah lurus ke depan.

"Sampai sepuluh tahun kau tidak bisa kuasai jurus apa pun dariku, perutmu kubuntungi! Ingat itu!"

Temon tersenyum, anggukkan kepala sedikit, mata kanan berkedip-kedip genit.

Plook...!

Tiba-tiba Temon menggeragap kaget karena wajahnya ditampar oleh sang Guru.

"Diberi tahu malah senyum-senyum dan kedip-kedip! Meremehkan, ya? Kau meremehkan nasihatku ini, ya?!" gertak sang Guru.

"Tidak, Guru!" jawab Temon tegas bersuara keras.

"Mengapa kau sejak tadi hanya senyum-senyum ganjen dan kedip-kedip mainkan mata?!"

"Karena...," jawab Temon tegas dan keras juga.

"Karena... di depanku ada wanita cantik, Guru!"

"Ah, yang bener...?!" bisik sang Guru, kemudian mencoba melirik ke belakang.

Omong Cekak kaget, ternyata di belakangnya dalam jarak tujuh langkah telah berdiri seorang perempuan cantik berjubah biru muda.

Perempuan itu tak lain adalah Dewi Kesepian yang larikan diri dari Suto sebelum memberi penjelasan lebih lengkap tentang wajah sedihnya saat mendengar Nyai Ronggeng Iblis telah dibunuh Suto itu. Diam-diam Suto pun mengikuti kepergian Dewi Kesepian dan mengintainya dari kejauhan.

Melihat kehadiran seorang wanita cantik bertubuh sexy menggairahkan, Omong Cekak menjadi salah tingkah. Jubahnya dirapikan, badannya ditegakkan biar kelihatan gagah, bahkan ia berbisik kepada Temon.

"Pin sis, pin sis...!"

"Apa maksud Guru?"

"Pinjam sisirnya, Tolol!"

"Wah, dari rumah aku tidak membawa sisir, Guru. Lagi pula, rambut Guru tinggal tujuh belas lembar saja kok mau disisir!"

"Bi kel gan."

"Bi kel gan itu apa, Guru?"

"Biar kelihatan ganteng."

"Walaaa... sudah tua kempot gigi nyaris omong begitu kok masih kepingin ganteng."

"Car ak sis...," bisik Omong Cekak lagi dengan menyenggol lengan muridnya. "Carikan aku sisir, Dungu!"

"Di pantai begini mana ada sisir? Kalau toh ada paling-paling hanya duri ikan yang mirip sisir! Guru mau sisiran pakai duri ikan?"

"Amis, Tolol!"

"Makanya... sudahlah, kepala Guru digosok saja biar mengkilat, nanti kan kelihatan ganteng!"

"Malah seperti biji salak, Bodoh!"

Akhirnya Omong Cekak dekati Dewi Kesepian dengan langkah tertatih-tatih namun dipaksakan untuk tegak dan berusaha agar kelihatan gagah. Temon diam di tempat, tertawa cekikikan melihat tingkah sang Guru.

"Sudah tua, peot, keriput, kok masih genit kalau melihat perempuan. O, ala.... Guru, Guru... apa ya masih bisa kencan orang sepertimu itu," ujar Temon pelan sekali. "Benar-benar tua-tua keledai, makin tua makin mirip keledai. Jalan saja sudah sempoyongan kok masih mau naksir perempuan. Uuh...! Kalau tidak ingat aku tak punya saudara lagi, malas aku ikut dia! Mana tiap hari dibentak-bentak, digoblok-goblokkan, salah sedikit main keplak, yuh... sengsara betul aku ikut dia. Tapi, yaah... daripada aku telantar tanpa tempat tinggal tanpa tempat makan, biarlah kukuat-kuatkan ikut dia...."

Temon penasaran, ingin mendengar apa yang dibicarakan oleh sang Guru dengan perempuan cantik itu. Maka ia berlagak mencari sesuatu sambil mendekati tempat pertemuan sang Guru dengan Dewi Kesepian.

"Hai...," sapa kakek setua Omong Cekak itu. Alisnya disentakkan naik dengan senyum tua dari mulut yang sudah miskin gigi itu.

"Sendirian saja Nona?"

"Ya, sendirian saja. Kenapa?" Dewi Kesepian bicara dengan senyum geli tertahan.

"Mau gabung dengan kami? Kami sedang berlatih jurus 'Sapu Langit'. Satu kali pukulan langit akan pecah menjadi delapan bagian."

"Hmmm...," Dewi Kesepian hanya tersenyum bernada sinis.

"Bela pad ku cuk mur dan tid bay."

Dewi Kesepian berkerut dahi. "Kau bicara apa, Kakek Kempot?"

"Belajar padaku cukup murah dan tidak bayar."

"Aku tidak tertarik pada ilmumu! Aku justru ingin mengangkat pemuda itu menjadi muridku!"

"Eit, tid bis...!"

"Apa itu tid bis?"

"Tidak bisa! Temon adalah muridku. Sudah tiga tahun dia menjadi muridku, mengapa kau mau serobot dia?"

"Aku mau! Aku mau!" seru Temon tiba-tiba.

Buuhk...! Kaki si Omong Cekak menendang perut Temon, membuat Temon berhenti bicara, hilang kegembiraan, berganti wajah menyeringai menahan mual pada perutnya.

"Aku merawatnya sebagai murid selama tiga tahun, mengapa kau tiba-tiba mau menyerobotnya! Itu namanya mematikan semangatku sebagai seorang Guru yang harus mengamalkan ilmunya pada orang lain!" Omong Cekak mulai ngotot.

"Jadi apa maumu?" tantang Dewi Kesepian.

"Kalau mau mengangkat Temon sebagai muridmu, kau harus mau mengangkatku sebagai Maha Guru, yang berarti lebih tinggi kedudukannya darimu!"

Dewi Kesepian tersenyum sinis, lalu dengan cueknya melangkah dekati Temon. Pemuda itu langsung tegak, kaki rapat, wajah menghadap ke depan, tanpa senyum apa pun, seperti prajurit menunggu perintah panglimanya.

"Kau mau jadi muridku?"

"Siap! Saya mau, Nona!" jawab Temon keras dan tegas.

"Sudah dapat apa kau selama tiga tahun menjadi murid Kakek itu?"

"Siap. Tidak dapat apa-apa kecuali tamparan dan makian, Nona!"

"Jang buk kar!" sambil Omong Cekak sodokkan tongkatnya ke betis Temon.

"Kau bilang apa, Kakek?"

"Jangan buka kartu!" jawab Omong Cekak dengan cemberut. "Memalukan saja anak ini!" ia menyambung dengan gerutuan, tapi gerutuan itu tak dihiraukan oleh Dewi Kesepian.

Perempuan tinggi itu masih berdiri di depan Temon, kedua tangannya bersidekap di dada. Mata Temon sempat melirik ke dada itu, namun segera memandang lurus kembali ketika belahan dada yang montok itu sengaja ditutup dengan telapak tangan pemiliknya .

Temon sedikit grogi karena Dewi Kesepian memandanginya tanpa bicara lagi. Omong Cekak segera berkata kepada Dewi Kesepian.

"Bol ku tah sia nam?"

Dewi Kesepian berkerut dahi pertanda tak mengerti maksud Omong Cekak. Maka kakek itu pun segera mengulang ucapannya dengan bahasa yang benar.

"Boleh kutahu siapa namamu, Nona?"

"Dewi Kesepian!" jawabnya singkat.

"Oh, bag sek nam it! Eeh... maksudku, bagus sekali nama itu. Sangat serasi dengan namaku, Sayang."

"Siapa namamu, Kakek?"

"Namaku Jejaka Rindu!"

Temon menyahut dengan kendorkan sikap kakunya.

"Lho... katanya Guru bernama si Omong Cekak. Kok sekarang ganti Jejaka Rindu?"

"Wangsit wasiat dari dewata itu datangnya tidak diduga-duga, Temon! Kalau wangsit wasiat mau datang sore, ya sore itulah kudapatkannya. Kalau mau datang pagi atau siang, tak ada yang melarang!"

"O, jadi Guru tadi baru saja kedatangan wangsit wasiat dari dewata?"

"Iya. Dan sang dewata membisikkan kata padaku, bahwa aku harus mengubah nama menjadi Jejaka Rindu. Karena selama ini aku memang merindukan cinta suci seorang wanita sejati, contohnya seperti si Dewi Kesepian ini! Bukankah begitu, Dewi?"

"Bukan!" jawab Dewi Kesepian dengan tegas.

"Wangsit dewata sudah lewat, kau ketinggalan, Kakek. Karenanya, sebaiknya kau tetap saja memakai nama mu: Omong Cekak!"

"Lho, jadi si wangsit sudah lewat? Kok tidak mampir padaku, ya?" gumam si Omong Cekak bagai bicara sendiri.

"Temon!" tegur Dewi Kesepian. "Sudah siapkah kau menjadi muridku?!"

"Siap, Ibu Guru!" jawab Temon dengan tegas dan tegak kembali.

"Eh, tunggu dulu! Bagaimana dengan diriku? Kau belum mengangkatku sebagai Maha Guru kalian!" Omong Cekak protes.

Dewi Kesepian sunggingkan senyum tipis sinis.

"Maha Guru...?! Apa kehebatanmu sehingga minta diangkat sebagai Maha Guru, Omong Cekak?"

"Meremehkan...!" geram Omong Cekak. Kemudian ia tancapkan tongkatnya ke tanah. Craak...! Tongkat kayu itu ternyata mampu ditancapkan pada tanah berbatu karang keras. Jika tanpa tenaga dalam, tak mungkin kayu itu bisa menancap di tanah berbatu karang keras seperti menancap di tanah persawahan.

"Kau ingin lihat kemampuanku? Inilah buktinya!" kata Omong Cekak. "Coba cabut tongkat ini kalau memang kau mampu!"

Dewi Kesepian sunggingkan senyum makin lebar, ia melirik Temon, kemudian berkata dengan pelan tapi bernada penuh wibawa.

"Sebagai calon murid, tolong cabutkan tongkat itu. Kau mewakili aku, Temon!"

"Siap, Ibu Guru!" seru Temon penuh semangat, kemudian ia bergegas mencabut dengan dua tangan.

"Hiak...! Hiaak..., aahhh!"

Temon mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencabut tongkat itu. Napasnya sampai ngos-ngosan, keringatnya bercucuran, wajahnya jadi merah, tapi tongkat itu masih belum bisa dicabut dari tempatnya, bahkan bergerak sedikit pun tidak. Omong Cekak pun menertawakannya.

"Hieh, heh, heh... hoh, hoh... hih, nih...! Carilah seratus orang untuk membantumu, kau tak akan bisa mencabutnya, Temon! Hieh, heh, heh... hoh, hoh... hih, hih...!"

"Calon Guru... tongkat ini pasti digigit naga di dalam tanah! Sukar dicabut, Calon Guru!"

"Minggir...!" Dewi Kesepian bergegas maju dekati tongkat.

"Hieh, heh, heh... hoh, hoh... hih, hih...! Apalagi perempuan, tenaganya seberapa? Yang lelaki saja tak kuat mencabut, kok yang perempuan mau ikut? Hieh, heh, heh... hoh, hoh... hih, hih...!"

Pendekar Mabuk yang sejak tadi bersembunyi di suatu tempat yang aman dan rapi, sempat berkata dalam batinnya.

"Rupanya si Omong Cekak baru keluarkan kesaktiannya. Sejak tadi tak kulihat kehebatan Ilmunya.

Agaknya ia ingin sekali diakui sebagai orang berilmu yang lebih tinggi dari Dewi Kesepian. Tapi... apakah Dewi Kesepian sanggup mencabut tongkat itu?!"

Dengan sekuat tenaga, Dewi Kesepian mencoba menarik tongkat ke atas dengan satu tangan.

"Hiaaah...! Huuuhk... aaah...!"

"Hieh, heh, heh... hoh, hoh... hih, hih.... Biar sampai perutmu jebol, tak mungkin kau bisa mencabutnya, Dewi Kesepian!"

Rasa penasaran membuat Dewi Kesepian mencabut dengan dua tangan. Tenaga dalamnya dikerahkan, urat-uratnya keluar semua, tapi ternyata tongkat itu tetap menancap kuat, seakan telah menembus belahan bumi di bagian lain. Omong Cekak terpingkal-pingkal bangga melihat Dewi Kesepian terengah-engah dan gagal mencabut tongkatnya.

"Hieh, heh, heh... hoh, hoh... hih, hih...! Ayo, keluarkan semua kekuatan tenaga dalammu! Biar sampai beranak tujuh, tak mungkin kau bisa mencabut tongkatku, Sayang! Hieh, heh, heh, hoh, hoh, huh, huh, huh, hah, hih, hih, huuuuaah...! Hieh, hieh, hieh...!"

Pendekar Mabuk membatin dari persembunyiannya, "Itu orang tertawa apa kesurupan?! Tertawa kok seperti orang kesurupan?!"

Sebenarnya Pendekar Mabuk juga penasaran dan ingin mencoba. Tapi perasaan itu ditahannya kuat-kuat. Ia harus tetap bersembunyi agar tidak diketahui Dewi Kesepian bahwa ia mengikuti gerakan perempuan itu.

"Bag, ma ing cob?"

"Aku tak tahu bahasamu!" sentak Dewi Kesepian.

"Bagaimana, apa masih ingin coba?" Temon menerjemahkan bahasa sandi itu.

"Baiklah. Kuakui kau punya kehebatan yang tak bisa kukalahkan!"

"Kau menyerah? Baik... beginilah cara mencabutnya!

Huup...!"

Omong Cekak menghentakkan kakinya ke tanah.

Duuhk...!

Ia terbengong, "Lho, kok tidak melesat naik?!"

Dewi Kesepian dan Temon sengaja memperhatikan terus, membuat si Omong Cekak jadi salah tingkah.

Duuhk, duuhk, duuhk...!

Kaki dihentakkan ke tanah berulang-ulang, tapi tongkat itu masih tetap diam tak bergeming. Omong Cekak jadi bingung sendiri dan garuk-garuk kepala.

"Manaa...? Kok tidak bisa tercabut, Guru?" ujar Temon sambil mencibir meremehkan.

"Biasanya bisa terbang sendiri dalam satu hentakan kakiku!"

"Mungkin salah mantra, Gurul"

"Mungkin juga! Hmmm... coba kupusatkan tenaga dalamku ke telapak kaki!"

Omong Cekak pejamkan mata, tangannya bergerak naik pelan-pelan dan menyentak turun dengan cepat sambil hentakkan kaki ke tanah. Duuuhk...!

"Waah... tongkatnya terbang tinggi sekali! Wah, wah, wah...!" Temon memandang ke langit, padahal tongkat masih tetap tidak bergeming. Omong Cekak jadi malu dan dongkol mendengar sindiran Temon.

"Ya, ampuuun... tongkatnya sampai menembus langit lho. Kalau sa...."

Plook...! Mulut Temon ditabok oleh Omong Cekak. Pemuda itu kaget dan gelagapan.

"Ja menghin il ku, ya?! Sekali lagi kau menghina ilmuku, kupecahkan rahangmu!"

"Kau tak perlu marah begitu, Omong Cekak! Kau memang terbukti tak punya kemampuan mencabut tongkat sendiri. Wajar kalau Temon mengejekmu, karena tadi kau juga menghinanya!" ujar Dewi Kesepian membela Temon.

"Sial! Terpaksa harus dicabut dengan cara biasa saja!" gerutu Omong Cekak, kemudian ia mencabut tongkat dengan tangan satu.

"Huuup...!"

Tongkat masih tak bisa tercabut. Omong Cekak jengkel, lalu mencabutnya dengan tangan dua. "Huuh...!"

Brruuk..! Omong Cekak jatuh terduduk dan napasnya terengah-engah. Tongkat itu belum bisa dicabut. Dewi Kesepian tersenyum geli, Temon cekikikan dengan berlindung di belakang Dewi Kesepian. Omong Cekak bangkit berdiri dan berlagak tenang.

"Kubilang juga apa... susah dicabut tongkat ini, Nak!"

Lalu, ia clingak-clinguk sambil menggerutu sendiri,

"Sialan! Kenapa jadi susah dicabut, ya? Aduh, malu sekali aku kalau begini caranya! Mau pamer ilmu di depan perempuan cantik malah malu sendiri."

Pendekar Mabuk pun ikut heran dari tempat persembunyiannya. "Mengapa bisa begitu?! Kurasa ada yang tak beres di sekitar mereka."

Omong Cekak masih penasaran. Untuk menutupi rasa malunya kepada Dewi Kesepian, ia mengerahkan tenaga intinya hingga seluruh tubuhnya gemetar. Lalu, tongkat itu digenggam ujung atasnya dan ditarik ke samping dengan penuh tenaga. Setidaknya ia berharap tongkat akan tercabut bersama jebolnya tanah di bawahnya. Tetapi agaknya tongkat tetap tidak bisa ditarik begitu saja.

Kepala tongkat yang licin membuat tongkat terlepas dari genggaman tangan si Omong Cekak. Akibatnya, tongkat itu melentur balik seperti dari karet.

Plaas, bletok...!

Kepala tongkat yang berupa ukiran tangan menggenggam itu memantul kenai kepala si Omong Cekak sendiri. Omong Cekak tak bisa berteriak, ia pengangi jidatnya yang langsung bengkak membiru. Tangan yang satunya meraba-raba mencari pegangan karena tubuhnya limbung. Akhirnya ia jatuh terkapar tak sadarkan diri alias pingsan.

Brrruk...!

"Lho, Guru...?! Guru...?! Tongkatmu belum tercabut kok sudah pingsan?!" Temon mengguncang-guncang tubuh Omong Cekak. Dewi Kesepian bergegas menarik lengan Temon.

"Lekas kita tinggalkan tempat ini. Aku yakin ada yang tak beres di sekitar sini, Temon!"

"Maksud Ibu Guru bagaimana?"

"Sudahlah, kita lari dulu! Aku punya tempat yang aman untuk kita berdua! Nanti kujelaskan di sana!"

"Tapi... tapi.. bagaimana dengan Eyang Guru Omong Cekak ini?!"

"Biarkan saja dia pingsan, nanti akan siuman sendiri."

"Tapi...."

"Kau mau jadi muridku apa tidak?!" sentak Dewi Kesepian.

"Mmmma... maau... mau sekali!"

"Lekas ikut aku!"

Dewi Kesepian akhirnya membawa lari Temon, sementara si Omong Cekak masih tetap cuek karena pingsan. Pendekar Mabuk menjadi bingung, mau menyelidiki sekitar tempat itu atau mengikuti Dewi Kesepian?

"Aku yakin ada tokoh sakti yang jahil di sekitar tempat ini! Entah apa maksudnya mempermainkan si Omong Cekak itu. Tetapi... tetapi aku ingin tahu apa yang dilakukan Dewi Kesepian terhadap Temon.

Benarkah dia akan ajarkan ilmunya dan mengangkat Temon sebagal muridnya? Atau... mungkin dia punya maksud lain terhadap Temon?!"

*

* *

3

SESUATU yang tak beres seperti dugaan Pendekar Mabuk itu akhirnya menampakkan diri. Mula-mula Suto melihat cahaya merah samar-samar bergerak bagaikan nyala api yang hampir redup. Cahaya merah samar-samar itu mendekati tongkat si Omong Cekak.

Makin lama cahaya itu semakin redup. Tetapi di balik keredupannya tampak sebentuk bayangan yang samar-samar. Pendekar Mabuk menjadi penasaran hingga ia bergerak lebih dekat lagi dengan tetap menjaga kerapian persembunyiannya.

"Benda apa itu? Bentuknya seperti obor, tapi juga seperti keris. Sekarang malah menjadi tinggi dan membentuk seperti bayangan manusia?! Hmmm... apa itu, ya?"

Pendekar Mabuk tetap pertahankan diri di tempat persembunyiannya, walaupun di tempat itu ia mulai dirayapi semut merah yang jika menggigit terasa panas, namun Suto berusaha untuk tidak keluarkan suara apa pun. Bahkan mengusir semut pun dengan belaian lembut, wajahnya hanya menyeringai merasakan gigitan panas semut-semut itu.

Beberapa kejap kemudian, gigitan panas dari semut-semut itu tidak terasa lagi karena perhatian Suto semakin tertarik pada sebentuk bayangan aneh yang tadi tampak samar-samar itu. Bayangan tersebut sekarang kian jelas, dan semakin jelas lagi sampai membentuk sosok tubuh manusia seutuhnya.

Kini sosok tubuh manusia itu tidak membayang kabur lagi. Benar-benar jelas seperti halnya memandang Omong Cekak yang masih terkapar dalam keadaan pingsan itu. Pendekar Mabuk kerutkan dahi, karena baru kali ini melihat seorang perempuan berwajah tua, keriput, tapi masih bertubuh sekal, dadanya masih montok berisi, bahkan pinggulnya masih tampak menggiurkan, seperti halnya pinggul milik perempuan usia dua puluh lima tahun.

"Wajahnya begitu tua dan keriput-keriput, matanya cekung besar dan hidungnya pesek nyaris gerumpang.  Bibirnya pecah-pecah dan giginya bertonjolan tak rata. ih... menyeramkan sekali! Tapi mengapa tubuhnya masih semontok itu, ya? Siapa dia gerangan?" pikir Suto Sinting sambil keluarkan napas pelan-pelan, takut helaan napasnya terdengar oleh si perempuan berjubah hijau tipis dan berpinjung kuning gading sama dengan warna celana ketatnya yang sebatas betis itu. Rambut perempuan itu masih hitam, meriap lembut sepanjang punggung. Kepalanya mengenakan ikat kain merah berbintik-bintik kuning, ia selipkan senjata berupa kipas warna hijau di pinggangnya.

Perempuan itu berjari lentik dengan kuku tidak begitu panjang tapi berbentuk bagus. Jari lentik itu diacungkan ke arah Omong Cekak. Claaap...! Sinar putih perak keluar dari salah satu jarinya, lalu sinar itu menghantam tubuh Omong Cekak. Tiba-tiba tubuh tua si Omong Cekak tersentak dan ia menjadi siuman.

Omong Cekak segera terkejut melihat kehadiran tokoh wanita berwajah menyeramkan itu. Tetapi rasa kaget itu tidak membuat Omong Cekak ketakutan seterusnya, ia hanya menarik napas dengan gerutu tak jelas seraya menepuk-nepuk dadanya yang terasa tersentak saat melihat kehadiran si wajah menyeramkan.

"Seperti anak kecil saja kau, Tanuyasa! Sudah tua masih mau pamer ilmu di depan perempuan cantik! Maksudmu biar si Dewi Kesepian tadi terpikat olehmu, bukan?!"

"Kutu kambing! Rupanya kau yang menggangguku tadi, Rupa Setan!" geram Omong Cekak sambil bersungut-sungut melengos.

"Aku sengaja membuat tongkatmu terpaku dengan bumi biar kau mendapat malu di depan perempuan cantik itu!"

"Ter, ap mak mu?!"

Rupa Setan mengerti maksudnya. Omong Cekak menanyakan, "Terus, apa maksudmu?"

Maka si Rupa Setan pun menjawab, "Kuingatkan padamu, sebaiknya kau pulang ke pertapaan!"

"Aku sudah bosan bertapa!" gerutu Omong Cekak.

"Aku terlalu rajin bertapa, akhirnya lupa belum punya istri! Aku kepingin punya istri, Rupa Setan!"

"Sudah terlambat, Tanuyasa!" ujar Rupa Setan dengan memanggil nama asli si Omong Cekak. "Usiamu sudah tidak memungkinkan punya keturunan lagi!"

"Tapi... tapi aku masih punya gairah! Mau dibuang ke mana gairahku? Ke sungai terus, bosan!"

"Buanglah gairahmu padaku, Tanuyasa!"

"Uh, malas!" Omong Cekak makin cemberut, ia mencoba mencabut tongkatnya. Bluuus...! Mudah sekali, bagai dicabut tanpa butuh tenaga. Anak kecil pun mampu mencabutnya. Itu pertanda si Rupa Setan telah lepaskan kekuatannya yang tadi dipakai memaku tongkat tersebut dengan bumi.

"Kalau aku mau, sejak dulu kau sudah kukawini. Setidaknya kugerayangi!"

"Mengapa kau selalu menolak kehadiranku, Tanuyasa?" Rupa Setan makin mendekat.

"Habis, ilmuku tidak setinggi ilmumu! Kau tidak mau membagi ilmumu, sehingga aku malu mempunyai istri yang ilmunya lebih tinggi dariku."

"Mengapa malu?"

"Karena... karena kalau aku menamparmu, kau bisa membalasku dan aku bisa bonyok!" jawab Omong Cekak bernada jengkel.

Pendekar Mabuk berucap membatin, "Ooo... ternyata si Rupa Setan naksir Tanuyasa sejak lama, tapi Tanuyasa tidak mau menanggapi. Agaknya mereka bersahabat sudah sejak lama. Mungkin sejak usia muda. Berarti, usia si Rupa Setan itu juga sudah setua Tanuyasa alias si Omong Cekak? Mungkin karena menggunakan ramuan khusus atau mantra ilmu pengawet muda, sehingga Rupa Setan masih tampak segar dan montok, cuma sayangnya ilmu awet muda itu tidak bisa membuat wajahnya cantik dan muda."

Rupa Setan berkata lagi, "Tanuyasa, apakah kau lupa dengan nasihat Guru kita? Kau harus bertapa selama delapan puluh tahun. Mengapa baru empat puluh lima tahun bertapamu sudah kau hentikan?"

"Sudah kubilang aku bosan, aku bosan...! Bertapa terus di tempat sepi, tak ada hiburan tak ada kesenangan. Sedangkan ilmuku belum juga bertambah! Lebih baik sisa hidupku kugunakan untuk mencari kenikmatan yang belum pernah kurasakan, yaitu kawin dan tidur dengan istriku!"

"Bukankah mendiang Guru kita pernah bilang, bahwa setelah kau selesaikan bertapamu maka kau akan menjadi semuda dulu, ketika kau berusia tujuh belas tahun dan baru masuk ke perguruan? Dan kemudaan-mu itu akan abadi, kau bisa memilih calon istri seperti apa pun cantiknya, karena kau akan kembali setampan dulu!"

"Ah, tanpa bertapa pun aku masih tampan, gagah, dan menawan!" sambil Omong Cekak merapikan pakaian, memamerkan kegagahan dan ketampanannya yang hanya bisa diakui oleh orang buta dari jarak jauh.

Omong Cekak berkata lagi, "Pergilah sana, jangan ganggu aku lagi! Aku mau mengejar Dewi Kesepian!"

"Bukankah aku ada di dekatmu, Tanuyasa?"

"Aku suka sama Dewi Kesepianl Ilmunya pas-pasan kalau kutampar akan menangis, kalau sudah menangis baru minta dipeluk. Bukan seperti kau, kalau ditampar ganti menampar, meretakkan kepalaku! ingatlah kau, dulu kau pernah meretakkan kepalaku?!"

"Karena kau meremas dadaku tanpa izin, Tanuyasa!"

"Mana ada meremas dada pakai izin dulu! Uuh... konyol itu namanya! Meremas dada ya tak perlu izin. Sejak saat itulah aku tak suka padamu, Rupa Setan! Oleh sebab itu, carilah pria lain dan biarkan aku mengejar Dewi Kesepian! Pasti dia akan semakin kesepian jika tidak mendapat pelukanku!"

"Kau belum tahu siapa dia, Tanuyasa!"

"Tentu saja aku tahu dia, karena aku tidak buta!"

"Tapi kau belum tahu bahwa dia perempuan yang terkena pencemaran kutuk!"

"Ap maksudmu?" Omong Cekak kerutkan dahi.

"Dewi Kesepian terkena kutuk beracun dari Ronggeng Iblis," tutur si Rupa Setan. "Kutukan beracun itu menyiksa hidupnya, karena dia akan selalu membutuhkan darah kemesraan seorang lelaki untuk meredam racun kutukan itu. Jika sampai dua malam ia tidak mendapatkan darah kemesraan seorang lelaki, maka seluruh darah merahnya akan membusuk, jantungnya pun membusuk dan napasnya menyebarkan wabah penyakit bagi siapa saja yang berada dalam jarak sepuluh langkah darinya. Kutukan beracun itu hanya diucapkan oleh si Ronggeng Iblis dan langsung mengenai dirinya. Tak ada obat yang mampu kalahkan kekuatan racun kutukan itu kecuali dari diri si Ronggeng Iblis sendiri. Tetapi kudengar, Ronggeng Iblis telah binasa di tangan pendekar muda yang bernama Suto Sinting."

Pendekar Mabuk membatin, "Ooo... pantas Dewi Kesepian menjadi lemas dan menangis ketika kukatakan bahwa Nyai Ronggeng Iblis telah tewas di tanganku!"

Tanuyasa masih ngotot, "Kebetulan kalau dia selalu membutuhkan darah kemesraan, aku akan berpesta cinta setiap malam dengannya."

"Kau tidak akan mampu bertahan sampai satu purnama, karena siapa pun yang telah bercumbu dengannya, siapa pun yang kencan dengan Dewi Kesepian, maka jalan darahnya akan mengalami pembekuan dan cepat atau lambat pria itu akan mati!" kata si Rupa Setan.

"Hmmm... kau mengarang cerita untuk mencegahku agar tidak mengejar si Dewi Kesepian itu, Anjardani! Aku tak percaya!"

"Terserah kau percaya atau tidak, tapi aku tak ingin kau menjadi korban wabah kutukan beracun itu, Tanuyasa! Karena itu, maafkan aku jika aku mengambil jalan pintas untuk selamatkan dirimu!"

Claaap...! Tiba-tiba dari kedua bola mata yang cekung mendalam itu keluar dua sinar hijau lurus. Kedua sinar hijau itu menjadi satu di pertengahan jarak, lalu menghantam dada kiri Omong Cekak. Deeebs...!

Uuuhkk...!" Omong Cekak tersentak dan terbungkuk, ia berpegangan tongkatnya untuk menahan tubuh agar tak limbung. Matanya memandang sayu kepada si Rupa Setan.

"Kau jah pad ku, Rup Set!"

"Ak terpak iak dem kesel mu!"

"Tap buk beg car...."

"Tak ad car ia kec beg, Tan yas!"

Tanuyasa jatuh berlutut napasnya tersendat-sendat.

"Ak ku bal perbu mu in, Rup Set!"

"Jang mar, ak kuba kau ke pon ku!"

Pendekar Mabuk hanya menggerutu dalam hati, "Sialan! Ngomong apa mereka itu sebenarnya?! Kak, kuk, kak, kuk... seperti bebek mau dipotong saja!"

Tetapi kejap berikutnya, Pendekar Mabuk melihat si Rupa Setan memutar kedua tangannya di samping telinga dalam keadaan kedua jari masing-masing tangan dikeraskan. Lalu, kedua tangan itu menyentak ke depan seperti melemparkan pisau. Wuuut...! Dari kedua ujung jari tersebut keluar sepasang sinar hijau kebiru-biruan.

Sinar itu segera membungkus tubuh Tanuyasa. Zaaab, suuurrb...! Tubuh si Omong Cekak menyusut kecil, lalu menjadi satu genggaman, menggumpal dan memancarkan cahaya hijau kebiru-biruan. Cahaya itu pun segera melesat setelah si Rupa Setan yang bernama asli Anjardani itu berubah menjadi bayangan, lalu lenyap dan berganti sinar merah samar-samar. Sinar merah itu menyangga sinar hijau kebiru-biruan.

Weeesss...! Kedua sinar itu melesat ke atas bagai menembus langit. Pendekar Mabuk hanya bisa dibuat terbengong-bengong penuh keheranan sambil memandang langit. Seekor burung terbang melintas, di atas kepala Suto. Burung itu membuang kotoran.

Craat...!

Plook...! Kotoran burung jatuh di kening Suto Sinting, barulah pemuda tampan itu sadar dari keterbengongannya dan segera menggerutu tak karuan sambil kebingungan membersihkan kotoran burung tersebut..

"Jangan-jangan si Rupa Setan yang buang ingus ke jidatku! Kurang ajar!" sambil ia bergegas menuju ke tepian pantai datar untuk membersihkan kotoran burung tersebut.

Sambil mencuci kepalanya dengan air laut, Suto merenungkan kata-kata si Rupa Setan.

"Tak kusangka keberhasilanku membunuh Nyai Ronggeng Iblis ternyata bukan saja menyelamatkan salah satu jiwa, namun juga mencelakakan jiwa lain. Kasihan amat si Dewi Kesepian itu. Ia tak punya obat untuk melumpuhkan kekuatan kutuk beracun yang di deritanya! Hmmm... mengerikan sekali. Seandainya aku bercumbu dengannya dan sampai mencapai puncak kenikmatan bersama, maka aku akan tertulat penyakit aneh itu, jalan darahku akan membeku, lalu aku akan mati. Tetapi si Dewi Kesepian itu tetap akan hidup mencari korban baru. Oh, haruskah perempuan itu dimusnahkan agar tak menyebarkan wabah bagi kaum lelaki di dunia ini?!"

Tiba-tiba renungan itu terhenti, kecamuk batin Suto pun hilang seketika, ia selesai mencuci rambut dan kepalanya. Saat mau berbalik ke tempat yang kering, langkahnya terhenti juga karena memandang seraut wajah yang sudah ada di sana, seakan menunggunya dengan penuh kesabaran.

"Resi...?! Resi Pakar Pantun...?! Ha, ha, ha, ha...!"

Suto Sinting berlari kegirangan karena sudah cukup lama tidak bertemu dengan tokoh tua yang amat akrab dengannya itu.

"Janda genit jangan diajak bertapa,

sekali bertapa maunya main cinta.

Lama kita tak pernah jumpa, s

ekali jumpa mengapa mirip gurita?"

Suto Sinting segera membalas pantun si Resi Pakar Pantun dengan wajah ceria dan tangan terbuka.

"Naik perahu turun gunung,

gunung di dada banyak lumutnya.

Memang lama kita tak jumpa,

tapi kau lebih mirip ikan baronang!"

"Janda kembung beranak golok,

ndak nyambung goblok!"

Suto Sinting tertawa, karena memang ia tak ahli membuat pantun. Tapi justru hadirkan kelucuan setelah mendengar pantun kejengkelan si tokoh tua berpakaian model biksu warna abu-abu itu.

"Dari mana saja kau, Suto?! Mengapa lama tak kulihat di rimba persilatan?"

"Kaulah yang bersembunyi, Eyang Resi! Aku sudah melanglang buana, sampai menjelajah alam gaib dan dunia dasar bumi, tapi aku tak menemukan dirimu. Kusangka kau sudah berteman dengan rayap-rayap pengunyah mayat!"

"Doamu jelek sekali. Orang tua kok didoakan cepat mati!" gerutu Resi Pakar Pantun.

Suto Sinting hanya tertawa geli. Tapi tawanya segera hilang setelah Resi Pakar Pantun tampak murung dan merenung, walau matanya memandang jauh ke cakrawala.

"Ada apa, Eyang Resi? Kau kelihatannya murung dan sedih?"

"Pelayanku hilang!"

"Maksudmu, si Kadal Ginting itu?"

"Benar! Beberapa waktu yang lalu kupergoki ia sedang bercinta dengan seorang perempuan, kemudian ia takut padaku dan melarikan diri, sampai sekarang ia tak kembali padaku."

"Kadal Ginting bercumbu dengan seorang perempuan, begitu maksudmu?"

"Ya. Dia bercumbu di semak-semak tanpa mengajakku. Padahal aku tahu siapa perempuan itu. Dia adalah perempuan berbahaya. Kudengar kabar dari mulut ke mulut, perempuan itu menyimpan wabah penyakit berbahaya karena terkena racun kutukan atau kutukan beracun!"

"Maksudmu... maksudmu si Dewi Kesepian?"

"Ya, benar!" jawab Resi Pakar Pantun dengan cepat.

"Celaka! Kalau begitu Kadal Ginting dalam bahaya!"

"Apakah kau bertemu dengan Kadal Ginting?"

"Ya, tapi tak kulihat ia bersama si Dewi Kesepian. Tapi ia bersama... bersama.... Wah, jangan-jangan Temon jadi korban wabah kemesraan beracun itu?!" pikir Suto dengan tegang dan cemas, ia segera berkata lagi kepada sang Resi, "Aku tahu ke mana arah kepergian Dewi Kesepian! Aku akan mencari dan menanyakan tentang Kadal Ginting kepadanya!"

Kecemasan Suto ada benarnya. Temon dibawa oleh Dewi Kesepian ke dalam sebuah gua yang biasa dipakai beristirahat para pencari kayu atau para pengembara.

Kala itu, senja mulai datang dan Dewi Kesepian sudah persiapkan kayu bakar untuk nyalakan api unggun di dalam gua tersebut.

"Kita bermalam di sini dulu, Temon. Apakah kau keberatan?"

"Tidak, Ibu Guru! Aku sangat tidak keberatan bermalam di sini bersamamu, asalkan aku mendapatkan ilmu yang dahsyat seperti ilmunya Pendekar Mabuk itu!"

"Oh, apakah kau kenal dengan Pendekar Mabuk?"

"Tidak, tapi aku sering mendengar cerita kehebatannya dari beberapa orang yang makan di kedai-kedai itu, Ibu Guru. Dia hebat, sakti, gagah, dan ganteng."

Dewi Kesepian tarik napas, terbayang wajah Suto Sinting. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang membuatnya sempat gelisah dan resah. Namun kegelisahan dan keresahan itu dibuangnya sedikit demi sedikit dalam bentuk hembusan napas beberapa kali.

"Memang dia gagah dan ganteng...," ucapnya lirih sambil menata kayu untuk dibakar.

"Ibu Guru sudah pernah bertemu?"

"Pernah, tapi... tapi hanya sebentar," jawab Dewi Kesepian dengan lirih juga.

"Ibu Guru suka pada ketampanannya dan kegagahannya?"

"Entahlah! Kurasa kau tak perlu banyak bertanya tentang itu. Kita lupakan saja tentang Pendekar Mabuk untuk sesaat. Kau siapkan diri untuk pelajari ilmu pertama dariku."

"Baik, ibu Guru! Sekarang juga aku harus mulai belajar?"

"Sebentar lagi, kalau petang sudah datang dan dingin mulai mencekam."

Kayu unggun segera dinyalakan. Cukup dengan melepaskan satu pukulan tenaga dalam bersinar merah kecil dari telunjuk Dewi Kesepian, kayu itu sudah bisa terbakar dan suasana di dalam gua menjadi temaram.

Saat itu Temon sedang menata beberapa ilalang kering yang untuk dijadikan alas tidur. Temon melepas bajunya sendiri dan digelar di atas ilalang kering itu sebagai pelapis alas tidur untuk sang guru.

"Kenapa bajumu kau lepas?"

"Ibu Guru silakan tidur di atas baju saya biar tubuh Ibu Guru tidak gatal. Saya cukup menggunakan alas tidur tanpa pelapis, karena sudah biasa tidur di rumput, he, he, he...."

Dewi Kesepian sunggingkan senyum kecil. "Rupanya ia punya bakat jadi pelayan setiaku," pikirnya sambil melirik Temon sebentar. "Temon, kau bisa memijat?"

"Bisa, ibu Guru...."

"Panggii saja aku: Guru."

"O, ya. Baik. Hmmm... aku memang punya tugas tiap malam memijat punggung Eyang Omong Cekak, Guru.

Apakah Guru ingin dipijat punggungnya?"

"Ya, punggungku terasa pegal. Soalnya tadi aku habis bertarung dengan seorang musuh."

"Wah, hebat sekali! Guru pasti menang, bukan?"

"Yah, seperti yang kau lihat sendiri," sambil Dewi Kesepian melepaskan jubahnya dan meletakkan pedangnya di samping pembaringan. "Tubuhku tak ada yang terluka, bukan?!"

"Benar. Tubuh Guru tetap utuh, halus, mulus, dan...."

Temon tertegun sesaat, karena Dewi Kesepian bukan saja melepas jubahnya, namun juga melepas penutup dadanya. Sayang sekali kala itu Temon berada di belakang Dewi Kesepian, sedangkan sang Dewi segera menelungkupkan badan ke atas pembaringan.

"Pijatlah sekarang juga, Mon."

"Bba... ba... baik, Guru," Temon menjawab dengan menggeragap, karena hatinya berdebar-debar dan tangannya menjadi gemetar.

"Mengapa tanganmu gemetar, Mon?"

"Hmm... hmmm... iya, anu... soalnya Eyang Omong Cekak tidak pernah pijat sambil lepas baju begini, Guru."

"Apa bedanya? Toh sama saja."

"Hmmm... eeh... ya, tidak ada bedanya. Tapi... tapi saya belum pernah... belum pernah memegang tubuh perempuan tanpa baju, Guru," ujar Temon semakin tampak gemetar. Keringatnya mulai tersumbul di bagian kening karena jantungnya berdetak-detak cepat ketika merasakan kehangatan tubuh yang dipijatnya. Dewi Kesepian tertawa dalam hati, dan ia berlagak tidak mempedulikan gemetarnya tubuh Temon itu. Ia sengaja menikmati pijatan tangan Temon yang memang terasa enak.

"Pijatan tanganmu enak sekali, Mon. Kau pantas menjadi dukun pijat."

"Tee... terima... terima kasih atas pujian Guru," jawab Temon mulai parau karena kerongkongannya ikut gemetar.

"Agak ke bawah sedikit, Mon. Pinggangku capek sekali rasanya."

Perintah itu dituruti oleh Temon. Ia memijat bagian pinggang dengan keringat mulai mengalir dari pori-pori lengannya.

"Oh, enak sekali pijatanmu. Coba ke bawah sedikit, Mon."

Jantung Temon semakin berdetak-detak karena ia harus memijat bagian pinggul. Pinggul itu terasa bagai digagahi oleh kedua tangan Temon. Bertambah menyentak-nyentak degup jantung Temon pada saat itu.

"Bawah lagi, Mon...."

Sebenarnya Temon ragu. Tapi karena ingin dianggap murid yang patuh perintah Guru, maka Temon pun memijat bagian pantat Dewi Kesepian.

"Agak kuat sedikit remasanmu, Temon."

"Bbbbaabb... bbbaaabb... bababbb...."

"Mau omong apa kau ini?"

"Baaaik, Guruuu..," lalu napas Temon terhembus lepas, ia terengah-engah menahan gejolak yang sudah membakar hatinya. Gejolak itu tak lain adalah gejolak gairah bercinta yang selama ini hanya bisa tumbuh dalam angan-angan semata.

"Agak ke tengah, Mon. Jangan pinggirnya saja," perintah Dewi Kesepian. Tentu saja Temon semakin gemetaran karena jika ia harus meremas bagian tengah berarti akan menyentuh bagian yang selama ini belum pernah disentuhnya dari seorang wanita.

"Yaah... itu, Mon! Ooh... enak sekali pijatanmu, jangan terlalu keras. Kurangi sedikit dan, oh... yaaa... itu enak, Mon. Begitu terus, ya?"

"Bbbbaaaabb... bababbbbi... eehh, bbbaabbbii... aduh, bbbbaaaab...."

"Ada apa, Mon."

"Anu, anu, annuuuu... aannnn...."

"Ada apa dengan anumu?"

"Anuu... yaaa... anu, Guru...."

Dewi Kesepian cekikikan geli.

"Tunggu sebentar, Mon." Dewi Kesepian berbalik badan. Kini ia telentang dengan kaki sedikit renggang.

"Pijat bagian betis, Mon."

"Iiyyy... iya, Guru," jawab Temon dengan wajah pucat dan keringat bercucuran. Padahal malam telah tiba dan angin malam membawa udara dingin masuk ke gua tersebut. Namun tubuh Temon justru dibanjiri oleh keringat yang membuat badannya berkilauan. Dewi Kesepian tersenyum-senyum melihat Temon memijat bagian betis sambil tundukkan kepala, seakan tak mau menampakkan wajahnya.

"Naik sedikit, Mon...."

Bagaimana jantung Temon tidak seperti genderang perang jika ia harus memijat lebih atas lagi dari betis, berarti memijat bagian paha. Sedangkan kain hitam yang membungkus bagian kaki hingga perut terbuat dari kain tipis berbelahan tengah. Saat itu belahannya menyingkap dan tampaklah sebentuk kemulusan kuning langsat dari paha sekal itu.

Karena perintah Guru, mau tak mau Temon memijat bagian paha. Sedangkan Dewi Kesepian hanya mengenakan kain hitam itu saja, tak ada kain lagi yang merangkapinya. Tak heran jika remasan tangan yang memijat itu semakin lemah dan lemah sekali. Justru yang dirasakan Dewi Kesepian adalah getaran kuat dari jari-jari yang menempel di pahatnya itu.

"Naik sedikit lagi, Mon...," perintah Dewi Kesepian.

Tapi perintah tersebut kali ini disertai suara mendesah, karena Dewi Kesepian sudah mulai dibakar oleh gairah yang bergolak dalam dadanya. Hasrat ingin bercumbu mulai timbul karena sentuhan tangan Temon.

Terlebih setelah Temon menuruti perintahnya memijat bagian lebih atas lagi, hati perempuan itu semakin berdesir-desir ditaburi rasa nikmat yang mencekam jiwa.

"Bergeserlah agak mendekat kemari, Temon," sambil tangan Dewi Kesepian menarik kain celana Temon agar duduknya lebih mendekat ke samping pinggangnya.

Temon pun bergeser sesuai keinginan sang Guru. Dengan begitu, tangan Dewi Kesepian dapat mencapai paha Temon dan tangan itu mulai meremas-remas lembut, lalu merayap lebih ke dalam lagi. Temon tak bisa bicara sama sekali, karena napasnya kian memburu dan mulutnya sibuk menelan ludah. Tangan Temon sendiri menjadi kian gemetar pada saat ia merasakan menyentuh sesuatu yang lebih hangat dari bagian lainnya.

Dewi Kesepian menarik simpul kain ikat pinggang Temon. Lepasnya kain ikat pinggang membuat kendurnya celana Temon, sehingga tangan perempuan itu pun semakin lebih nakal lagi, menelusup dan meraih sesuatu yang membuat jantung Temon menendang-nendang dadanya, ia belum pernah dijamah perempuan, baru kali ini ia merasakan jamahan perempuan sehingga sulit sekali bagi Temon untuk mengendalikan diri.

"Temon...!" ucap Dewi Kesepian sambil bangkit.

Kini ia duduk berdekatan dengan Temon, tapi tangan kanan Temon masih tetap memijat bagian yang diminta sang Guru tadi. Pijatan itu cenderung berupa usapan jari yang penuh getaran, sehingga Dewi Kesepian semakin ditaburi rasa nikmat menjerat hati.

Tangan kiri Dewi Kesepian meraba kepala Temon.Mengusap rambut kepala itu dengan pandangan kian sayu. Bibirnya mulai merekah seakan menantang untuk dikecup. Tapi Temon hanya diam saja karena tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Anak ini benar-benar lugu, belum pernah bercinta dengan siapa pun," pikir Dewi Kesepian. Mau tak mau ia mendekatkan kepala Temon ke dadanya.

"Ambil... ambillah, Temon...."

"Mmmaak... maaak... maksud Guru bagaimana?"

Dewi Kesepian tidak bisa menjawab karena tangan Temon yang sedang memijat halus itu semakin bergetar kuat. Akhirnya ia hanya bisa meletakkan mulut Temon tepat di ujung gumpalan dada kanannya. Kepala itu sedikit ditekan dan ujung dada itu pun terbenam masuk ke mulut Temon.

"Aaaow...!" Dewi Kesepian memekik dan segera menarik kepala Temon.

"Jangan digigit, Tolol!" sentaknya bernada manja.

"Hab... hab... hab... habis diapakan, Guru?"

"Kau tahu bagaimana jika bayi sedang kehausan?"

"Hmmm... iya... iya, tahu sekali, Guru."

"Jadilah bayi! Kau bayinya dan aku ibunya. Paham?"

"Tap... tapi... tapi bayi tidak sedang haus, Guru."

"Ini pelajaran jurus pertama! Kau harus menjadi bayi yang kehausan, dan aku pura-pura Ibumu. Bisakah kau lakukan hal itu?"

"Oh, biss... bisa...!" jawab Temon dengan berseri-seri.

Kemudian ia pun menjadi bayi yang kehausan.

"Ooooh...!" Dewi Kesepian mengerang panjang dengan mata terpejam kuat. Lalu bibirnya digigit sendiri dengan suara erangan mirip gumam memanjang.

"Temon, tunggu dulu! Berhenti sebentar."

Temon berhenti menjadi bayi. Ia memandang Dewi Kesepian dengan napas terengah-engah.

"Sekarang akan kuajarkan jurus 'Induk Kucing' namanya."

"Ya, ya, ya...!" Temon bersemangat sekali. "Kau pernah melihat seekor kucing memandikan anaknya?"

"Hmmm... o, ya! Pernah. Dia memandikan anaknya dengan lidah, Guru."

"Nah, sekarang kau menjadi ibu kucing, aku menjadi anak kucing. Kau bisa lakukan?"

"Bisa... bisa sekali, Guru!"

"Tapi supaya pernapasanmu teratur dan peredaran darah kita tidak terhambat, sebaiknya lepaskan saja apa pun yang menutupi tubuh kita."

"Lho... kalau begitu...?"

"Lakukan saja, ini, jurus kedua!"

"O, ya... baik, Gurru! Akan kulakukan apa perintahmu, Guru."

"Bagus...!" Dewi Kesepian girang sekali mendapat mangsa sebodoh itu.

Temon segera menjadi seekor Induk kucing yang sedang memandikan anaknya, dan sang Guru dianggap anak kucing. Dari ujung kepala sampai ujung kaki sang Guru dimandikan oleh 'sang induk kucing', membuat 'si anak kucing' mengerang-ngerang ditikam seribu kenikmatan yamg menggairahkan.

"Meeeeong... meeeong... meeeong...l"

"Tidak usah pakai meong!" kata Dewi Kesepian sambil menepak paha Temon. Maka, suara 'meong' segera dihilangkan, kini berganti suara dengus napas yang memburu, karena Dewi Kesepian juga melakukan kecupan-kecupan yang nyaris meledakkan jiwa si pemuda polos itu.

"Oh, Temon... lakukan di tempat itu agak lama. Aku suka sekali, Temon. Ooh... yaah, indah sekali itu, Temon...," celoteh Dewi Kesepian.

Begitu asyiknya mereka berlatih jurus-jurus 'maut', sampai tak sadar kalau ada sepasang mata yang mengintip dari balik bebatuan dengan pintu gua.

Sepasang mata itu milik pemuda tampan yang tak lain adalah Suto Sinting, ia berpisah arah dengan Resi Pakar Pantun, karena sang Resi segera bertemu dengan kenalannya yang mengaku melihat Kadal Ginting di sebelah selatan. Sang Resi dan kenalannya itu pergi ke selatan, Suto ke arah yang dituju Dewi Kesepian dan Temon.

"Oh, Muridku... berhenti dulu. Sekarang pelajaran ketiga, Muridku."

"Bbbaaa... baik... baik, Guru," jawab Temon dengan napas ngos-ngosan karena dikejar gairah yang menyentak-nyentak sejak tadi.

"Kita pelajari jurus 'Aji Tonggak Bumi' yang dahsyat itu."

"Caranya bagaimana, Guru?!"

Dewi Kesepian menggenggam sesuatu yang selama ini dirasakan Temon belum pernah digenggam oleh perempuan mana pun.

"Ini kita anggap tonggak. Dan tonggak ini harus disatukan ke bumi agar bisa keluarkan kekuatan dahsyat yang dapat melambungkan sukma."

Temon melakukan hal itu sesuai dengan petunjuk yang diterimanya. Tetapi sang bumi berguncang memutar ke sana kemari, membuat Temon memberi perlawanan agar sang tonggak tidak terguncang ke sana-sini.

Sementara itu, di balik pengintaian, Suto Sinting jadi panas-dingin dan keringatnya mulai membasah di sekitar kening, dahi, serta bagian dagu dan atas mulut.

"Sialan! 'Aji Tonggak Bumi' benar-benar membuatku sesak napas. Oh, celaka! Temon yang polos pasti terkena wabah menular dan jalan darahnya akan beku. Kalau begini aku sulit mengambil langkah; menghentikan perbuatan itu, sama saja membunuh Dewi Kesepian.

Membiarkan hal itu terjadi, sama saja membunuh Temon. Apa yang harus kulakukan jika begini?"

*

* *

4

UNTUK menentukan sikap, Pendekar Mabuk harus mengetahui lebih jelas lagi siapa Dewi Kesepian itu sebenarnya. Dari aliran hitam atau aliran putih. Jika memang Dewi Kesepian dari aliran hitam, Suto akan mempertimbangkan sejauh mana tindakan kekejiannya.

Jika memang ia perempuan yang keji, Pendekar Mabuk tak segan-segan melenyapkan Dewi Kesepian, ketimbang menjadi wabah yang berbahaya bagi kaum lelaki.

"Tapi jika ia dari aliran putih, dan selama ini berbuat kebajikan, aku tak mungkin tega membunuhnya. Tapi aku juga belum punya jalan keluar bagaimana mengatasi penyakit racun kutukan itu."

Dewi Kesepian mempunyai tempat sendiri yang tersembunyi, ia tinggal di tengah hutan, di dalam sebuah rumah gubuk yang sangat sederhana. Barangkali di situlah ia mengasingkan diri dari dunia ramai, karena tak ingin banyak orang mengetahui racun kutukan yang dapat menular ke mana-mana itu. Sekaligus tempat itu dijadikan tempat persembunyian bagi para pengejarnya yang ingin menuntut tindakannya itu.

Temon dibawanya ke pondok tersebut pada esok harinya setelah bermain di dalam gua. Pendekar Mabuk mengikuti terus dari tempat yang aman dan terlindung, sehingga ia bisa mengetahui pondok kediaman Dewi Kesepian itu.

"Bagaimana kalau aku mendatangi mereka?" pikir Suto. "Setidaknya aku dapat mengenal lebih dekat siapa Dewi Kesepian itu, sehingga aku bisa mengambil sikap harus bagaimana terhadap perempuan tersebut."

Namun baru saja Suto menimbang-nimbang, tiba-tiba ia mendengar sebuah ledakan di sebelah barat, lalu gumpalan asap hitam tampak membubung tinggi bagai muncul dari balik bukit. Perhatian Suto tertarik pada asap ledakan itu. Ia berani memastikan, bahwa di sana pasti sedang terjadi pertarungan cukup seru. Dan Pendekar Mabuk paling gemar mengintai sebuah pertarungan untuk memperkaya khasana pengetahuan tentang jurus dan ilmu di dunia persilatan. Maka ia pun segera berkelebat ke arah barat dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya.

Zlaaaaapp...!!

Pertarungan itu dilakukan oleh dua tokoh tua yang agaknya sama-sama berilmu tinggi. Kedua tokoh tua itu sangat mengejutkan Suto Sinting, karena ia kenal betul dengan keduanya.

"Si Kapas Mayat bertarung dengan Resi Badranaya?!" gumamnya dalam keheranpn. "Oh, apa yang membuat mereka saling beradu ilmtu sedahsyat itu?!"

Kapas Mayat tokoh tua berusia sekitar tujuh puluh tahun bertubuh agak pendek, bahkan tergolong kerdil, karena tingginya hanya sebatas tinggi perut Suto. Ia berambut abu-abu dengan jubah lengan panjang dan celana warna abu-abu juga. Tubuhnya kurus, tulang iganya tampak bertonjolan karena jubah itu tidak dikancingkan, ia mempunyai seorang cucu cantik yang pernah diselamatkan Pendekar Mabuk dari pertarungannya dengan Ratu Dayang Demit. Cucu cantiknya itu bernama Kelambu Petang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Gairah Sang Ratu").

Sedangkan Resi Badranaya adalah sahabat si Gila Tuak, guru Suto Sinting. Tokoh yang satu ini berusia sekitar sembilan puluh tahun, tapi masih tampak tegar dan gesit. Badannya yang gemuk selalu mengenakan pakaian model biksu warna kuning. Tokoh berkepala gundul ini ke mana-mana selalu membawa kalung tasbih putih sebesar kelereng, kadang ditenteng kadang dikalungkan sepanjang perut, ia termasuk tokoh tua yang kumis, jenggot, dan brewoknya sudah putih rata. Mempunyai seorang murid bernama Darah Prabu, yang juga menjadi sahabat karib Suto Sinting, "Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Gadis Buronan")

"Semestinya antara Resi Badranaya dan si Kapas Mayat bersahabat, sebab para sahabat guruku tak ada yang saling bermusuhan. Jika sekarang ternyata mereka bermusuhan, pasti ada penyebabnya yang sangat penting dan tidak bisa diremehkan begitu saja," pikr Suto dari persembunyiannya.

Resi Badranaya tampak memutar-mutar tasbihnya di atas kepala sambil melangkah ke samping dengan kedua kaki merendah, ia tampak serius sekali dan pandangan matanya yang berwibawa itu memancarkan kebencian yang jelas di depan si Kapas Mayat.

Sedangkan Kapas Mayat yang cenderung bersikap lebih santai. Tak ada kuda-kuda atau jurus yang dilakukan, selain hanya mengikuti gerakan Resi Badranaya dengan pandangan matanya yang mengecil penuh kewaspadaan.

Ketika Resi Badranaya melemparkan tasbihnya, tasbih itu segera menyala merah seperti kobaran api dan menghantam tubuh si Kapas Mayat. Sayangnya, sebelum tasbih itu kenai si Kapas Mayat, orang kecil bertongkat punya dua cabang itu segera lakukan lompatan ke samping dan menghantam tongkatnya ke arah tasbih tersebut. Wuuwt..! Beeet...!

Jegaaaarrrrr....!

Tasbih itu padam dan terpental ke arah lain, sementara tanah dan pepohonan bergetar hebat karena gelombang ledakan yang dahsyat tadi. Resi Badranaya sentakkan tangan ke arah tasbihnya yang terbang menjauh. Dalam sekejap tasbih itu berputar balik dan meluncur ke arah pemiliknya lalu ditangkap dengan sigap. Teek...!

Tongkat si Kapas Mayat yang bercabang dua seperti ketapel itu juga mempunyai karet dan tempat batu pelontar. Kapas Mayat terlempar di belakang dan jatuh terbanting akibat ledakan tadi. Hanya saja, dengan tangkas ia pergunakan tongkatnya untuk menahan hempasan tubuh sehingga ia tak sampai terbanting, melainkan menukik dengan kaki di atas dan kedua tangan bertumpu pada tongkat. Dalam sekejap ia telah berdiri kembali dengan tegak menghadapi lawannya.

Resi Badranaya berseru sambil menuding si Kapas Mayat.

"Kalau kau tak mau bertanggung jawab, jangan salahkan diriku jika cucumu pun tak selamat, Kapas Mayat!"

"Kalau tak salah dugaanku...," ujar Kapas Mayat dengan ucapan khas yang selalu menggunakan kalimat, 'kalau tak salah dugaanku' itu.

"... kau tak bisa menuntut kepada cucuku; si Kelambu Petang, Kakang Badranaya! Cucuku tidak punya kesalahan apa-apa. Kalau tak salah dugaanku, dia hanya seorang gadis yang waras. Artinya, punya rasa suka kepada lelaki dan punya hasrat kepada lawan jenisnya."

"Tapi gara-gara bergaul dengan cucumu, muridku si Darah Prabu akhirnya terancam racun yang sukar disembuhkan. Menurut pengakuannya, racun itu mengenainya setelah ia bercumbu dengan Kelambu Petang, cucumu itu!"

"Belum tentu, Kakang!" ujar Kapas Mayat cenderung lebih kalem dari Resi Badranaya. "Kalau tak salah dugaanku, cucuku tak punya racun apa-apa dalam tubuhnya. Tak masuk akal kalau muridmu keracunan cinta setelah bercumbu dengan cucuku! Justru kalau tidak salah akulah yang harus menuntutmu agar segera mengawinkan cucuku dengan muridmu, sebab dia sudah 'menikmati' kesucian si Kelambu Petang!"

"Tak sudi aku mengawinkan muridku dengan cucumu!" bentak Resi Badranaya. "Sama saja aku mengawinkan si Darah Prabu dengan Iblis perempuan!"

"Eh, jangan mengatakan cucuku Iblis perempuan, Badranaya! Kalau tak salah dugaanku, cucuku itu bukan iblis. Tapi muridmu itu yang penganut setia iblis sesat!"

"Berarti kau mengatakan aku iblis sesat?! Kurobek mulutmu, Kipas Mayat! Heeeaahh...!"

Resi Badranaya melayang bagaikan terbang. Tasbihnya dikalungkan, kedua tangannya diacungkan ke depan. Kedua tangan itu memancarkan warna hijau bening, sepertinya tangan Resi Badranaya terbuat dari batu giok yang bersinar.

Serangan itu disambut oleh si Kipas Mayat dengan satu lompatan yang membawa tubuh kecilnya terbang dengan cepat. Kapas Mayat pegangi tongkatnya dengan kedua tangan di bagian tengah. Weees...! Lalu, tubuh mereka bertabrakan di udara. Kedua tangan Resi Badranaya menghantam kedua sisi tongkat si Kapas Mayat.

Blegaaarrr...!

Claaaap...! Warna merah membias lebar dan lenyap seketika dengan asap tipis berhembus ke atas. Kedua tokoh itu sama-sama terpental ke belakang dan jatuh berguling-guling di tempat berdirinya semula. Namun dalam sekejap keduanya sudah sama-sama bangkit berdiri dan siap lepaskan serangan lagi.

Resi Badranaya mengeluarkan darah kental dari hidungnya, si Kapas Mayat keluarkan darah kehitam-hitaman dari tepian mulutnya. Keduanya terluka dalam akibat adu kesaktian di udara tadi. Tapi keduanya sama-sama tak ada yang merasa jera.

Wuk, wuk, wuk...! Kapas Mayat memainkan tongkatnya dengan dikibaskan ke kanan-kiri, lalu terjepit lurus di ketiak kanannya, tangan kirinya mulai membentuk cakar yang mengeras dan lambat laun keluarkan asap putih tipis dari sela-sela jemarinya.

Tangan itu segera berkelebat menyentak ke atas.

Claaap...! Sinar biru bundar seperti buah kedondong melesat ke arah Resi Badranaya. Sinar biru itu berekor asap kehijau-hijauan yang punya kecepatan cukup tinggi.

Melihat kedatangan sinar biru itu, Resi Badranaya segera sentakkan kedua jarinya ke depan dan meluncurlah selarik sinar lurus warna kuning emas menuju ke sinar biru itu. Claaap, weeeess...!

Tetapi tiba-tiba Suto Sinting melihat sekelebat sinar merah bagai membias dari dasar bumi. Sinar merah tipis dan lebar itu seperti nyala api yang menghalangi pertemuan sinar kuning dan sinar biru.

Blaaab...! Blegaaaarrr. .!

Alam sekitarnya bagai dilanda kiamat lokal. Pohon-pohon tumbang, tanah retak, bahkan ada yang longsor ke dalam. Suto Sinting sendiri hampir terkubur hidup-hidup karena tanah yang dipijaknya longsor ke bawah, ia buru-buru melesat dan hinggap di atas sebuah batu yang masih kokoh. Jleeeg...!

Ia segera terkejut melihat Resi Badranaya terkapar dan mengerang, juga si Kapas Mayat terjungkal nungging sambil mengerang kesakitan. Ketika keduanya berhasil berdiri, tampaklah kedua wajah mereka menjadi biru kehitam-hitaman bagai habis dipukuli orang satu kadipaten.

Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah munculnya perempuan berambut hitam berikat kepala merah, mengenakan jubah hijau dan dalaman kuning. Perempuan itu mempunyai wajah yang menyeramkan; tua, keriput, cekung, hidungnya hampir bolong dan giginya amburadul, ia tak lain adalah si Rupa Setan alias Anjardani.

Kemunculan si Rupa Setan bukan membuat terkejut Pendekar Mabuk saja, namun juga membuat kaget Resi Badranaya dan Kapas Mayat. Pendekar Mabuk segera menenggak tuaknya sedikit untuk menghilangkan rasa sakit di dadanya akibat hentakan gelombang ledak tadi.

"Rupa Setan...!" Resi Badranaya bersuara sedikit menggeram. "Cukup lama kau tak muncul, begitu muncul mau mencampuri urusanku! Patutkah tindakanmu ini, Rupa Setan?!"

Sebelum si Rupa Setan menjawab, Kapas Mayat serukan suaranya.

"Kalau tak salah dugaanku, kau adalah si Rupa Setan alias Anjardani, saudara perguruannya Tanuyasa, si Omong Cekak itu! Wah, wah, wah... kusangka kau sudah mati, Anjardani. Ternyata begitu muncul bikin wajahku memar dan nyaris terbakar hangus begini.

Kalau tak salah dugaanku, ini sakit lho, Njar...!" sambil menuding wajahnya sendiri.

Dalam hati Suto berkata, "Wah, seru kalau begini! Mereka bertiga tokoh sakti semua. Si Rupa Setan mau memihak siapa kalau begini?" Lalu, suara Rupa Setan terdengar lantang, setelah ia melangkah mundur beberapa kali, mengambil jarak agar bisa bicara dengan kedua tokoh yang ada di kanan-kirinya itu.

"Badranaya dan Kapas Mayat, kemunculanku kali ini bukan untuk memihak salah satu di antara kalian berdua. Aku hanya ingin meluruskan anggapan kalian yang keliru! Sejak tadi kudengarkan tuntutanmu, Badranaya. Aku mulai paham dengan persoalan kalian!"

"Apa yang kau tahu tentang tuntutanku?!" sergah Resi Badranaya.

"Muridmu yang bernama Darah Prabu terkena racun setelah bercumbu dengan cucunya si Kapas Mayat yang bernama Kelambu Petang!"

"Bagus! Kalau begitu kau benar-benar paham dengan persoalanku, Rupa Setan!" ujar Resi Badranaya dengan tegas. "Perlu kau ketahui, bahwa muridku sekarang dalam keadaan sekarat. Sekujur tubuhnya pucat pasi berbintik-bintik hitam, ia tak bisa bicara, tak bisa berkedip, napasnya tersentak-sentak bagai mengalami penyumbatan pada pernapasan dan jalan darahnya."

"Bukan penyumbatan, tapi pembekuan!" sahut si Rupa Setan.

"Sudah kukerahkan hawa murniku untuk sembuhkan penyakitnya itu, tapi tak berhasil. Bahkan beberapa tabib sahabatku kumintai bantuannya, tapi juga tidak berhasil!"

"Tentu saja, sebab penyakit itu tak akan bisa terobati. Obat satu-satunya adalah kematian!" kata si Rupa Setan.

"Penyebabnya jelas bukan dari cucu si Kapas Mayat. Aku tahu betul jenis wabah itu. Datangnya dari seorang perempuan yang terkena kutukan beracun milik mendiang Ronggeng Iblis. Kutukan beracun itu diberinya nama: racun 'Asmara Kubur'. Racun itu keluar dari sebuah kutukan bermantra. Perempuan yang terkena racun 'Asmara Kubur' itu adalah si Yundawuni, yang sejak terkena racun 'Asmara Kubur' mengubah namanya menjadi Dewi Kesepian."

"Siapa sebenarnya perempuan yang bernama Dewi Kesepian itu, Rupa Setan?"

Kapas Mayat menyahut, "Kalau tak salah dugaanku, Yundawuni adalah muridnya Pendeta Amor alias Amoroso Kumbaya dari Selat Darah!"

"Benar, Kapas Mayat!" sahut si Rupa Setan.

"Yundawuni adalah murid murtadnya si Pendeta Amor. Ia tak diakui sebagai murid lagi karena tak mau mengikuti ajaran sesat gurunya, ia menyimpang dari aliran hitam, lalu mengabdi kepada Prabu Dasawalatama di Kerajaan Kincir Bantala."

Pendekar Mabuk sempat terperanjat, karena ia pernah mendengar nama Prabu Dasawalatama dari Kerajaan Kincir Bantala dalam peristiwa pusaka Panji-panji Mayat, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Perawan Titisan Peri").

Kalau begitu, Dewi Kesepian itu tokoh aliran putih? Sebab, dia dipecat oleh Pendeta Amor karena tak mau ikuti jejak sesat sang Guru," pikir Suto Sinting sambil membayangkan wajah Pendeta Amor yang pernah bertarung melawannya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Misteri Tuak Dewata").

Kedua tokoh itu akhirnya berkumpul dan membicarakan tentang kutukan beracun 'Asmara Kubur' itu. Suto mencuri dengar percakapan ketiga tokoh sakti itu dengan menggunakan jurus 'Sadap Suara' yang mampu mendengar suara dari kejauhan.

"Kalau tak salah dugaanku," kata si Kapas Mayat,

"Berarti Darah Prabu pernah kencan dengan Dewi Kesepian, lalu terkena penyakit laknat itu!"

Resi Badranaya menggumam bagai menggerutu,

"Mengapa Darah Prabu tidak ceritakan tentang si Dewi Kesepian itu?!"

"Tentu saja ia malu padamu, juga malu kalau sampai didengar oleh cucunya si Kapas Mayat," ujar Rupa Setan.

Sebelum Resi Badranaya bicara lagi, tiba-tiba sekelebat bayangan melesat hampiri mereka. Suto Sinting terkejut dan berkerut dahi saat melihat bayangan berkelebat itu. Setelah bayangan tersebut hentikan langkah di samping Resi Badranaya, Suto Sinting semakin berkerut dahi. Bayangan itu tak lain adalah Resi Pakar Pantun.

Kemunculan Resi Pakar Pantun memang mengejutkan Suto Sinting dan ketiga tokoh sakti itu, karena Resi Pakar Pantun datang sambil memondong tubuh kurus si Kadal Ginting, pelayannya. Tampaknya Kadal Ginting dalam keadaan tak sadar, sehingga sang Resi terpaksa memondongnya terus dengan kedua tangan.

"Pakar Pantun...?! Siapa yang kau bawa itu? Pelayanmukah?" sapa si Rupa Setan yang ternyata sudah mengenal Resi Pakar Pantun.

"Benar," jawab Resi Pakar Pantun bernada sedih.

"Kadal Ginting, pelayanku ini, kutemukan dalam keadaan terkapar di bawah sebatang pohon. Keadaannya sangat menyedihkan sekali. Lihatlah...!"

Ketiga tokoh sakti itu memperhatikan Kadal Ginting setelah diletakkan di rerumputan oleh Resi Pakar Pantun.

Kadal Ginting tampak pucat pasi, sekujur tubuhnya berwarna kuning bintik-bintik hitam. Matanya terbeliak memutih, mulutnya ternganga. Napasnya tersendat-sendat bagai sedang sekarat.

"Kalau tak salah dugaanku, pelayanmu ini sedang sakit, Pakar Pantun!"

"Orang budek juga tahu kalau dia sedang sakit!" gertak Resi Pakar Pantun kepada si Kapas Mayat sambil cemberut kesal.

"Rupa Setan," ujar Resi Badranaya."... seperti inilah keadaan muridku; Darah Prabu! Persis seperti ini!"

Rupa Setan mengangkat wajah pelan-pelan dan pandangi Resi Pakar Pantun. Suaranya yang mirip orang kumur-kumur itu terdengar oleh telinga batin Suto Sinting.

"Apakah ia bercumbu dengan...."

"Dewi Kesepian!" sahut Resi Pakar Pantun. Ketiga tokoh itu akhirnya manggut-manggut.

"Kupergoki dia sedang bercumbu di balik semak bersama Dewi Kesepian, lalu mereka lari dan baru kutemukan sekarang."

"Berapa lama ia menghilang sejak kau pergoki itu?" tanya Resi Badranaya.

"Sekitar sepuluh hari."

"Oh, kalau begitu lebih dulu muridku! Muridku sudah lima belas hari menderita seperti ini, makin lama semakin parah."

"Apakah muridmu juga...."

"Dia tidak mengaku," sahut Resi Badranaya.

"Setahuku belakangan ini ia akrab dengan cucunya si Kapas Mayat yang bernama Kelambu Petang. Dalam pengakuan muridku, ia pernah berbuat dengan Kelambu Petang. Maka kusangka, si Kelambu Petang itulah yang menanamkan wabah beracun dalam tubuh Darah Prabu, ia tidak ceritakan kalau pernah bercumbu dengan si Dewi Kesepian."

Resi Pakar Pantun berkata dengan lemas. "Aku tak tahu apakah Kadal Ginting bisa kuselamatkan atau tidak. Yang jelas, sudah kucoba beberapa saat dengan ilmu pengobatanku, tapi tak berhasil."

Kapas Mayat bicara kepada Rupa Setan.

"Kalau tak salah dugaanku, apakah tak ada obat sama sekali yang bisa sembuhkan penyakit seperti ini?!"

"Tidak ada!" jawab Rupa Setan dengan tegas. "Orang yang bisa mengobati penyakit seperti ini adalah Ronggeng Iblis dengan menggunakan 'Aji Mantra Balik'... "

"Dari mana kau tahu kalau hanya si Ronggeng Iblis yang bisa lakukan?" tanya Resi Badranaya setengah kurang percaya dengan si Rupa Setan. Sambungnya lagi,

"Bukankah kau bermusuhan dengan Ronggeng Iblis? Bukankah Ronggeng Iblis pernah memporak-porandakan kuilmu di Pulau Katong?!"

"Benar. Tapi ingat, bahwa Ronggeng Iblis pernah menjadi istri adikku, dan mendiang adikku pernah bercerita padaku tentang rahasia ilmu hitamnya si Ronggeng Iblis saat sebelum ia meninggal akibat pukulan beracunnya si Ronggeng Iblis."

"Kalau begitu, akan kupaksa si Ronggeng Iblis untuk sembuhkan penyakit muridku!" ujar Resi Badranaya sambil ingin bergegas pergi. Tapi Rupa Setan cepat menghentikan langkahnya dengan sebaris kata,

"Ronggeng Iblis telah mati di tangan Pendekar Mabuk."

"Hahh...?!" Resi Badranaya terkejut.

"Kudapatkan keterangan itu dari Tenda Biru, beberapa waktu yang lalu, ketika Tenda Biru menceritakan nasibnya saat menjadi gadis tanpa raga."

"Siapa Tenda Biru itu?" tanya Resi Badranaya.

"Bekas muridnya Gerang Sayu yang pindah ke aliran putih menjadi muridnya Tapak Lintang."

"Tapak Lintang adalah kakaknya Ronggeng Iblis, bukan?" sahut Resi Pakar Pantun.

"Benar. Tapi mereka berbeda aliran."

Mereka diam sesaat dan manggut-manggut. Suto Sinting pun tetap menyimak dan memperhatikan ke tempat tokoh tua itu. Percakapan mereka sangat menarik bagi Pendekar Mabuk, karena dengan begitu pengetahuannya tentang para tokoh dan kesaktian-kesaktiannya semakin bertambah.

Setelah masa bungkam itu lewat, Resi Pakar Pantun ajukan tanya kepada Rupa Setan.

"Jadi menurutmu, apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi keganasan gairah Dewi Kesepian itu, Anjardani?!"

"Aku tak tahu, Pakar Pantun! Yang jelas, semasa Dewi Kesepian masih hidup, ia akan mencari mangsa sebagai tumbal penyakitnya, dan kaum lelaki akan habis termakan korban racun 'Asmara Kubur' dalam kemesraannya itu."

"Kalau begitu, kita cari perempuan itu dan harus segera dilenyapkan agar tak menjadi wabah cinta yang mengerikan bagi keturunan kita!" usul Resi Badranaya penuh semangat.

"Kurasa tak ada jalan lain untuk hentikan wabah kutukan beracun itu!" timpal si Rupa Setan.

Resi Pakar Pantun berkata, "Kalian saja yang mencarinya, aku akan berusaha mencari obat penyembuh penyakit ini. Kalau obat itu kudapatkan, aku akan segera menghubungimu, Badranaya! Kasihan muridmu jika sampai mati karena bercumbu dengan perempuan beracun. Alangkah jatuh nama baikmu selama ini. Kurasakan nama baikku pun bisa jatuh jika kematian Kadal Ginting sampai tersebar seantero jagat!"

"Kalau tak salah dugaanku..., aku tak perlu ikut campur, karena aku tak punya cucu atau murid lelaki."

"Kalau begitu kau hanya mementingkan dirimu sendiri, Kapas Mayat!" geram Resi Badranaya.

"Ya, bukan begitu maksudnya. Tapi kalau tidak salah dugaanku...."

"Kau harus ikut!" sentak Resi Badranaya. "Sebagai tokoh aliran putih kau harus bertanggung jawab atas musibah yang terjadi di permukaan bumi kita ini!"

"Kalau tak salah dugaanku... kau telah membuka kesadaranku, membuatku terpaksa harus ikut mencari Dewi Kesepian itu!"

"Kita berpencar!" kata si Rupa Setan. "Terakhir kulihat ia bersama Temon, murid dungunya si Tanuyasa!"

"Kalau tak salah dugaanku.... Temon akan menjadi korban seperti Kadal Ginting dan Darah Prabu."

"Jangan banyak bicara! Kita berpencar sekarang juga!" kata Resi Badranaya. Lalu ia melesat, pergi lebih dulu dalam bentuk asap tebal.

Rupa Setan pergi dalam bentuk bayangan samar-samar, seakan dirinya ditelan udara. Sedangkan si Kapas Mayat pergi tanpa bisa dilihat. Tahu-tahu datang angin ribut yang menggoyang pepohonan merontokkan dedaunan, meninggalkan bau wangi setanggi dari tongkatnya itu. Resi Pakar Pantun sampai menghadangkan tangannya karena takut matanya terkena debu akibat angin ribut itu.

"Kapas Mayat tokoh paling brengsek! Datang dan pergi selalu bikin ribut dengan anginnya!" gerutu Resi Pakar Pantun, kemudian mengangkat tubuh Kadal Ginting yang menyentak-nyentak itu dan membawanya pergi dengan satu lompatan cepat.

Pendekar Mabuk diam tertegun di tempatnya.

*

* *

5

JERAM berair deras hamburkan air menutup pintu gua pada dinding tebing tersebut. Tebing yang bagian bawahnya adalah sungai lebar berair jernih dari air terjun itu dinamakan Jurang Lindu. Gua di balik curahan air terjun itulah tempat gurunya Pendekar Mabuk mengasingkan diri untuk dapatkan ketenangan dan pendekatan kepada Myang Widi Wasa alias Sang Pencipta alam semesta ini.

Di tempat itulah Suto Sinting ditempa menjadi seorang pendekar perkasa beraliran putih. Di situ juga, seluruh ilmu si Gila Tuak mengalir ke diri murid tunggalnya. Bahkan ilmu terakhir si Gila Tuak juga diturunkan kepada Suto di Jurang Lindu. Ilmu tersebut dinamakan ilmu 'Sukma Lingga', yang dapat membuat Suto mengubah diri menjadi raksasa atau makhluk lainnya.

Ilmu 'Sukma Lingga' itu diturunkan untuk gantikan ilmu 'Dewatakara' pemberian dari Payung Serambi, utusan dari Istana Laut Kidul. Karena jika Pendekar Mabuk masih mempunyai ilmu 'Dewatakara' yang kesaktiannya sama dengan ilmu 'Sukma Lingga' itu, maka dalam diri Suto akan mengalir darah siluman dan ia tak bisa menikah dengan perempuan yang bukan siluman, ia hanya bisa menikah dengan rakyat Istana Laut Kidul saja. Padahal Suto jatuh cinta sekali kepada calon istrinya; Dyah Sariningrum; penguasa Puri Gerbang Surgawi di Pulau Serindu itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Gerbang Siluman" dan "Bencana Selaput Iblis").

Kali ini Suto datang lagi menghadap gurunya di Jurang Lindu.

"Ada apa lagi?! Masih kurang jelas tentang Ilmu 'Sukma Lingga' yang telah kau miliki itu?"

"Bukan soal itu, Kakek Guru," ujar Suto menyebut gurunya dengan kata 'kakek', karena sejak kecil ia ikut Gila Tuak dan sudah terbiasa memanggilnya kakek.

"Lalu, apa yang membuatmu datang padaku dengan tegang begini?"

"Kakek Guru, aku menghadapi kesulitan yang meragukan. Seseorang telah terkena kutukan beracun yang dinamakan racun 'Asmara Kubur' dan...."

"Racun 'Asmara Kubur'...?! Hmmm... itu ilmunya si Ronggeng Iblis!" ujar sang Guru yang dikenal sebagai tokoh tertinggi, namanya tercantum paling atas dari deretan tokoh-tokoh sakti di dunia persilatan. Tak heran juga Gila Tuak mengetahui siapa pemilik Racun 'Asmara Kubur' itu.

"Apa yang Kakek Guru ketahui tentang racun itu?"

Suto justru ganti bertanya, karena ia yakin gurunya pasti sudah banyak tahu tentang racun tersebut.

"Racun itu tersebar bersama kutukan kekuatan iblis," jawab Gila Tuak dengan penuh wibawa. Usianya yang sudah mencapai dua ratus lima belas tahun itu tidak membuatnya bungkuk, melainkan tetap tegak, tegar, dan suaranya tetap lantang.

"Seseorang yang terkena langsung racun itu, ia akan menyebarkan wabah penyakit yang sangat mematikan. Darah dan jantungnya akan membusuk. Napasnya akan berubah menjadi napas beracun, dan dari situlah wabah tersebut tersebar," ujar si Gila Tuak dengan duduk bersila menatap muridnya penuh ketegasan.

Sambungnya lagi,

"Orang yang terkena racun itu harus bercumbu setiap malam. Dalam dua malam dia tidak bercumbu dengan lawan jenisnya, maka ia akan mengalami pembusukan seperti yang kuceritakan tadi."

"Bagaimana cara mengatasinya, Guru?"

"Musnahkan orang itu!"

Suto terhenyak sesaat pandangi gurunya. Sang Guru menyambung kata lagi dengan tenang.

"Jika ia tokoh sesat aliran hitam, jangan ragu-ragu, lenyapkan dia! Karena jika dibiarkan hidup, ia akan memakan korban lawan jenisnya. Makin lama lawan jenisnya akan semakin berkurang dan habis!"

"Tapi jika ia tokoh aliran putih bagaimana, Guru?"

Gila Tuak tarik napas. "Pertanyaanmu agak menyulitkan diriku, Suto."

"Bukankah Guru pernah ajarkan padaku bahwa kita harus menghadapi kenyataan sesulit apa pun."

"Memang benar. Tapi aku perlu berpikir dulu untuk pertanyaanmu.itu," ujar si Gila Tuak yang segera berdiri, melangkah ke salah satu sisi sambil merenung dalam bungkam.

Beberapa saat kemudian, suaranya terdengar kembali menggugah lamunan Suto.

"Siapa orang yang terkena racun 'Asmara Kubur' itu?"

"Yundawuni, Guru!"

"Oh, muridnya si Pendeta Amor yang tempo hari mau membunuhku itu?"

"Betul, tapi dia dianggap murid murtad, karena tak mau ikuti jalan sesat gurunya. Sekarang ia mengabdi kepada pihak Kerajaan Kincir Bantala, Guru."

"Hmmm...," Gila Tuak manggut-manggut. Merenung lagi sebentar, kemudian berkata kembali sambil pandangi muridnya.

"Sudah ada yang menjadi korbannya?"

"Sudah, Guru! Kadal Ginting, Darah Prabu, dan mungkin yang lainnya. Sedangkan sekarang, Resi Badranaya, Kapas Mayat, si Rupa Setan dan entah siapa lagi, sedang sepakat memburu Yundawuni untuk dibunuh. Aku kasihan, Guru...."

"Kau juga telah jadi korbannya?"

"Belum, Guru. Kalau tak percaya, geledahlah aku, Guru!"

"Apanya yang digeledah!" gerutu Gila Tuak melangkah sambil berpikir.

"Aku bingung mengambil sikap, Guru. Haruskah kubiarkan perempuan itu mati di tangan Resi Badranaya atau si Rupa Setan? Atau, haruskah aku membela Yundawuni dan itu berarti aku harus berhadapan dengan Resi Badranaya. Bolehkah aku menyerang Resi  Badranaya, dan beberapa sahabat Guru lainnya itu?"

"Dengan ilmu pemberian calon mertuamu; Ratu Kartika Wangi itu, Badranaya, Rupa Setan, Kapas Mayat, atau yang lainnya adalah bukan tandinganmu! Kau bisa tumbangkan mereka sekali gebrak saja."

"Kalau begitu..."

"Tapi itu tidak baik!" sergah Gila Tuak. "Masih ada jalan lain yang bisa kau lakukan, Suto."

"Tunjukkan jalan itu padaku, Guru!"

"Memang akan kutunjukkan, tapi aku harus mengingat-ingat sesuatu dulu!" ujar si Gila Tuak setelah menarik napas lagi, Suto Sinting diam, menenggak tuaknya tiga teguk dalam keadaan tetap duduk di lantai.

Karena sang Guru diam sampai beberapa saat lamanya, Suto pun mencoba menanyakan masalah lain.

"Guru, Rupa Setan itu siapa sebenarnya?"

"Penguasa Kuil Tembus Jagat di Pulau Katong. Dia dan saudara seperguruannya yang bernama Tanuyasa pernah menjadi Ketua Partai Petapa Sakti, namun sekarang sudah tidak lagi, karena masing-masing sibuk bertapa sendiri-sendiri."

Suto Sinting diam kembali setelah menggumam dan manggut-manggut. Tapi karena Gila Tuak masih diam, dan belum memberikan perintah atau penjelasan apa-apa, Suto Sinting ajukan tanya kembali.

"Kakek Guru, dapatkah racun 'Asmara Kubur' diobati dengan tuak saktiku tadi?"

"Tidak bisa! Racun itu tercipta dari napas nenek moyang iblis yang usianya jauh lebih tua dari usia Eyang Buyut Guru-mu yang menjelma dalam bumbung tuakmu itu. Jadi... tuakmu kalah tua dengan racun 'Asmara Kubur'."

"Bagaimana kalau dilawan dengan 'Air Sendang Ketuban' yang ada di negeri Wilwatikta itu, Guru?"

"Tidak bisa! Air itu tercipta dari darah petapa sakti yang usianya masih kalah tua dibanding usia racun

'Asmara Kubur'. Jadi...."

Tiba-tiba Gila Tuak berhenti bicara. Ada sesuatu yang diingatnya, hingga ia buru-buru dekati murid Sintingnya itu.

"Ada obat yang dapat menolak wabah penyakit seperti yang diderita Darah Prabu. Aku baru ingat sekarang!"

"Apa nama obat itu, Guru?" cecar Suto dengan penasaran sekali.

Ki Sabawana alias si Gila Tuak itu diam sebentar, memandang ke arah pintu keluar dengan mata menerawang. Sesaat kemudian ia berkata dengan suara pelan.

"Batu Tembus Jagat...."

"Apa maksudmu, Kakek Guru?" tanya Suto sambil mendekat.

"Kau harus dapatkan 'Batu Tembus Jagat' yang ada di Gua Mahkota Dewa. Goa itu terletak di perbatasan alam gaib dan alam nyata! Ciri-cirinya, gua itu penuh dengan batu aneka warna dan indah-indah. ""Perbatasan...? Perbatasan alam gaib dan alam nyata? Oh, sepertinya aku pernah berada di gua itu, Guru," ujar Suto pelan seperti bicara pada diri sendiri. Lalu ia memandangi gurunya dan berkata lagi,

"Apakah gua itu terletak di hutan cemara merah?"

"Tepat sekali!" jawab Gila Tuak dengan tegas. Suto tersenyum girang sambil membayangkan sebuah gua yang berisi bebatuan warna-warni dan indah-indah. Gua itu terletak di bukit cemara merah. Suto berada di sana karena diselamatkan oleh gadis cantik yang bernama Nirwana Tria dari jeratan asmara maut Ratu Kamasinta, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Ratu Maksiat").

Untuk mencapai ke perbatasan alam gaib dan alam nyata, Pendekar Mabuk cukup mengusapkan tangannya ke kening. Karena di kening Pendekar Mabuk terdapat noda merah yang berkekuatan gaib, bisa untuk keluar-masuk alam gaib atau melihat sesuatu yang tak tampak di mata manusia biasa. Noda merah itu pemberian dari calon mertuanya; Gusti Ratu Kartika Wangi yang menjadi penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi di alam gaib. Anaknya; Dyah Sariningrum, penguasa Puri Gerbang Surgawi di alam nyata, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Manusia Seribu Wajah").

Gila Tuak berkata lagi kepada murid tunggalnya yang memang mempunyai ilmu edan-edanan itu, sehingga ia dinamakan Suto Sinting.

"Rupa Setan sendiri tidak mengetahui di mana letak Batu Tembus Jagat itu. Karena pada waktu gurunya si Rupa Setan dan Omong Cekak mau meninggal, ia berada di pangkuanku dan sempat sebutkan letak Batu Tembus Jagat. Aku tidak bicara kepada si Rupa Setan maupun Omong Cekak, karena memang tidak ada perintah untuk sampaikan hal itu kepada mereka dari sang Guru."

Sambil sunggingkan senyum Suto angguk-anggukkan kepala.

"Batu itu berwarna kuning kunyit, bentuk dan ukurannya seperti... seperti belimbing sayur."

"Belimbing wuluh."

"Ya. Seperti itulah bentuk dan ukurannya. Jika batu itu kau ambil dan kau masukkan dalam tuakmu, maka ia akan larut. Tuakmu akan berwarna kuning kunyit. Dan aku yakin larutan itu dapat untuk melawan kekuatan racun 'Asmara Kubur', sebab batu itu sendiri tercipta dari keringat dewa yang teraniaya."

"Oh, tentu saja khasiatnya sangat luar biasa."

"Jika batu itu kau ambil, kemudian batu itu larut di dalam tuakmu, maka di sana, di Gua Mahkota Dewa, batu itu tumbuh lagi pada tempat semula, seolah-olah kembali ke tempat asalnya. Begitulah kesaktian batu itu jika diambil seseorang untuk kebaikan."

"Kalau begitu, para korban seperti Darah Prabu dan Kadal Ginting bisa disembuhkan dengan larutan batu itu dengan bumbung ini, Guru?" sambil Suto tunjukkan bumbung tuaknya.

"Tentu saja bisa! Tetapi, tunggu dulu... kalau hanya untuk sembuhkan Darah Prabu, kurasa kau bisa mencampur tuakmu dengan air kelapa gading."

"Kelapa kuning maksudmu,, Guru?"

"Benar! Karena orang seperti Darah Prabu bukan terkena kutukan beracun, tapi terkena wabah penyakit, penyakit menular. Tidak ada hal gaib di dalamnya! Tapi juga tidak mudah penyembuhannya."

"Jadi, bagaimana langkahku sebaiknya, Guru?"

"Selamatkan dulu mereka yang menjadi korban asmara Yundawuni. Lalu pergilah ke Gua Mahkota Dewa dan ambil Batu Tembus Jagat itu, sembuhkan si Yundawuni dengan batu itu dan tuakmu. Tapi ingat, jangan kau katakan kepada siapa pun tentang di mana letaknya Batu Tembus Jagat itu, kecuali kepada muridmu kelak jika kau punya murid!"

"Kalau begitu, aku akan berangkat sekarang, Guru!"

"Ingat, jangan sampai kau tergoda oleh rayuan Yundawuni dan menjadi korban seperti Darah Prabu!"

Gila Tuak acungkan jarinya mempertegas peringatannya. Suto Sinting hanya nyengir malu.

"Itu tidak mungkin terjadi, Guru. Kecuali... memang kepepet!"

Zlaaap...!

Setelah bicara begitu, Suto langsung lenyap dari hadapan gurunya, pergi dengan gunakan jurus 'Gerakan Siluman'. Sang Guru hanya geleng-geleng kepala dan bergumam lirih, "Mirip kenakalanku waktu masih muda...."

Sasaran pertama Pendekar Mabuk adalah pergi ke pondoknya Dewi Kesepian dan membawa perempuan itu bersembunyi di suatu tempat. Kemudian ia akan mencari air kelapa gading dan mencampurkan dalam tuaknya sebagai obat untuk Kadal Ginting dan Darah Prabu, atau para korban lainnya yang diketahui.

Tetapi alangkah kagetnya Suto ketika tiba di pondok persembunyian Dewi Kesepian, ternyata pondok itu sudah rata dengan tanah, menjadi abu. Hutan di sekelilingnya juga telah terbakar dan sisa arangnya masih berserakan di sana-sini, namun kepulan asap dan bara api sudah tak ada.

"Edan! Kutinggal dua hari menghadap Guru, hutan dan gubuk ini sudah menjadi seperti ladang arang?!" gumam Suto pelan, bicara pada diri sendiri. "Lalu, siapa yang melakukannya? Di mana si Dewi Kesepian dan Temon?!"

Pendekar Mabuk memeriksa puing-puing gubuk yang menjadi pondok persembunyian Dewi Kesepian.

Ternyata di sana tak terdapat mayat seseorang, bahkan di sekeliling tempat itu telah diperiksanya, juga tak ditemukan mayat yang mati hangus.

"Berarti Dewi Kesepian dan Temon masih hidup!" ujarnya membatin. "Ke mana aku harus mencari perempuan itu?!" Pendekar Mabuk diam termenung beberapa saat.

Tiba-tiba telinganya menangkap suara orang melintas di hutan sebelah sana yang tidak ikut terbakar. Mata pun segera memandang penuh curiga dan ketajaman.

Sekelebat bayangan melintas di sela pepohonan yang masih hijau. Pendekar Mabuk tak tahu siapa orangnya yang berkelebat pergi di hutan seberang sana. Tapi ia segera memburunya dengan gerakan yang kecepatannya menyamai kecepatan cahaya itu.

Zlaaap, zlaaap, zlaaap...!

Wees, wees, wees...!

Ternyata orang yang dikejar juga mampu bergerak cepat, walau tidak secepat gerakan Suto Sinting. Tetapi agaknya ia menguasai hutan tersebut, sehingga mampu menyelinap ke sana-sini tanpa takut tersesat. Pendekar Mabuk justru salah arah beberapa kali. Namun ia tidak mau menyerah begitu saja. Bumbung tuak yang disandang melintang di punggung membuatnya lebih leluasa lagi dalam bergerak.

Wuuut...! Suto Sinting naik ke atas pohon gua memperluas pandangannya. Tapi setelah beberapa saat di atas pohon, akhirnya ia menggerutu sendiri dengan hati kesal.

"Sial! Ke mana tadi orang itu? Mencurigakan sekali gerakannya. Bikin hatiku penasaran kalau begini! Coba kucari ke arah timur!"

Zlaaap, zlaaap...!

Suto Sinting melompat dari pohon ke pohon. Selain jurus 'Gerak Siluman' yang dipergunakan, tapi juga pergunakan jurus peringan tubuh sehingga mampu lebih cepat lagi.

Bayangan itu tampak menyeberang sungai besar. Sepertinya berjalan di atas permukaan air dengan lincahnya. Suto dapat pastikan bayangan tersebut adalah orang yang berilmu tinggi, karena dapat seberangi sungai selebar itu dalam waktu amat singkat.

Sebenarnya Suto Sinting pun mampu lakukan hal yang sama. Tapi langkahnya segera terhenti karena mendengar suara letusan di arah kanannya. Letusan itu sangat dekat dengannya, sehingga rasa tertarik untuk melihat ke arah kanan lebih besar.

"Di sana ada pertarungan!" pikir Suto. "Siapa lagi yang mengadu kekuatan tenaga dalamnya di sebelah sana? Tak mungkin si bayangan yang sedang kukejar itu! Hmmm... bagaimana kalau begini? Mengejar bayangan itu atau melihat siapa yang bertarung di sana?!"

Pendekar Mabuk bimbang sejenak, matanya memandang ke arah kanan dan ke seberang sungai secara bergantian.

*

* *

6

DENGAN maksud sekadar untuk hilangkan rasa penasarannya, Suto Sinting akhirnya menengok pertarungan itu sebentar. Maksud untuk menengok sebentar menjadi berkepanjangan karena ternyata dua pihak yang bertarung itu ternyata adalah Dewi Kesepian melawan Resi Badranaya dan si Kapas Mayat.

"Celaka! Bisa mati tanpa bangkai si Yundawuni melawan dua tokoh berilmu tinggi itu. Aku harus segera bertindak sebelum segalanya menjadi lebih kacau lagi!" pikir Pendekar Mabuk, kemudian segera menenggak tuaknya sebentar.

Yundawuni tampak masih mampu hindari serangan-serangan kedua lawannya. Tetapi, Resi Badranaya yang sangat berang terhadap Yundawuni segera lepaskan jurus andalannya. Dengan satu sentakan napas, tubuhnya berubah menjadi asap dan asap itu menerjang Dewi Kesepian tanpa bisa dipukul lagi.

Bluuub, wwwwuuusss..!

Asap hitam itu jelas racun yang mematikan. Dewi Kesepian tampak cemas, ia berusaha hindari asap hitam yang berkelebat cepat bagai tertiup badai. Sementara itu, si Kapas Mayat menghadang gerakan Dewi Kesepian dengan lepaskan sinar kuning patah-patah dari kedua cabang tongkatnya secara berturut-turut. Cap, cap, cap, cap...!

Dewi Kesepian tak punya tempat untuk menghindar. Di belakangnya sinar kuning di depannya asap hitam. Satu-satunya jalan ia harus lakukan lompatan ke atas setinggi mungkin.

Tetapi sebelum hal itu dilakukan, Suto Sinting lebih dulu berkelebat cepat menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya. Tubuh kecil si Kapas Mayat diterjangnya dari samping kiri. Zlaaap...! Brruusss...!

Kapas Mayat terpental dan terguling-guling di semak-semak yang jauhnya sekitar delapan tombak dari tempatnya berdiri. Pada waktu itu, Dewi Kesepian sentakkan kaki dan tubuhnya melambung ke atas dengan gerakan jungkir balik beberapa kali, bagaikan bola tertendang naik. Tetapi asap hitamnya Resi Badranaya dapat meliuk ke atas dan mengejar tubuh Dewi Kesepian.

Suto Sinting cepat ambil bumbung tuaknya. Tapi bumbung tuak digenggam dan bumbung itu diputar cepat di atas kepalanya hingga terdengar suara berdengung memanjang.

Wuuuuungg...!

Jurus 'Kipas Malaikat' yang dipergunakan Suto hadirkan angin kencang yang membuat asap itu berantakan tak jadi mencapai tubuh Dewi Kesepian.

Weeesss...! Asap yang buyar berantakan membentuk gumpalan-gumpalan kabut kecil di sana-sini. Sementara itu Dewi Kesepian berhasil hinggap di atas sebuah dahan pohon agak tinggi. Jleeg...!

"Oh, dia...?!" Dewi Kesepian terperanjat memandang kehadiran Suto yang tampak membelanya.

Bumbung tuak segera dihentikan. Jika tidak, maka putaran bumbung itu bukan saja mengeluarkan angin kencang tapi juga akan menimbulkan busa-busa salju yang dingin sekali.

"Bocah tolol! Kalau tidak salah dugaanku.... Mengapa kau menyerangku dan memihak perempuan beracun itu, Suto?!" teriak Kapas Mayat yang tampak sehat-sehat saja tanpa luka sedikit pun walau sudah terbanting dan terguling-guling sedemikian rupa.

"Maaf, Pak Cilik...!" ujar Suto yang mempunyai sebutan khas untuk si Kapas Mayat. Kulakukan semua ini demi meluruskan langkah yang keliru, Pak Cilik!"

"Kalau tidak salah dugaanku, langkahmu itu yang keliru!" bantah Kapas Mayat sambil hampiri Suto.

"Perempuan itu memang cantik, tapi kalau tidak salah dugaanku... bagian dalamnya mengandung racun yang dapat merenggut nyawamu. Kalau tak percaya, cobalah kau pakai sebentar perempuan itu. Kalau tidak salah dugaanku, kau akan kejang-kejang seperti terkena sawan babi!"

Gumpalan kabut hitam itu menyatu kembali.

Zuuubbs...! Lalu membentuk sosok Resi Badranaya yang sudah mengerutkan dahi dan menaikkan alisnya karena berang kepada Suto Sinting.

"Murid Sinting! Mengapa kau membela penyakit berbahaya itu, hah?! Pergi dan jangan halangi maksud kami menghancurkan wabah yang dapat memusnahkan kaum lelaki di permukaan bumi ini!"

"Maaf, Eyang Resi Badranaya...," ujar Suto dengan sedikit membungkuk sebagai tanda tetap menghormat.

"Kita telah salah langkah. Ada cara yang lebih baik untuk memecahkan masalah ini, Eyang Resi Badranaya!"

"Jangan mengguruiku, Murid Sinting! Kuadukan kepada Gila Tuak, gurumu itu, bisa dihukum kau!"

"Justru tindakanku ini sudah seizin Kakek Guru Gila Tuak, Eyang Resi!"

"Ooo... kalau begitu Gila Tuak juga ikut-ikutan sinting!" ujar Kapas Mayat masih tetap tenang, tidak seberang Resi Badranaya.

Dengan napas memburu karena dibakar kemarahan, Resi Badranaya dekati Suto Sinting hingga berjarak kurang dari satu langkah. Tangannya mencengkeram baju Suto dan tubuh Suto sedikit diangkat naik.

"Kau tidak tahu, sahabatmu sebentar lagi mati gara-gara racun dalam tubuh perempuan terkutuk itu! Darah Prabu hampir mati dan sekarang sedang sekarat!" bentak Resi Badranaya setelah menggerang panjang.

"Sabar, Eyang... aku akan mengobatinya!"

"Omong kosong!" tubuh Suto disentakkan hingga jatuh terduduk. Suto tidak melawan, ia bangkit dengan menarik napas sebagai tanda mempertahankan kesabarannya.

"Penyakit itu tidak ada obatnya!" bentak Resi Badranaya.

Kapas Mayat menimpali, "Kalau tidak salah dugaanku, obatnya adalah kematian. Dan kalau tidak salah dugaanku, kematian itu ngeriiii... sekali!" sambil ia bergidik sekali.

"Eyang Resi dan Pak Cilik.... Yundawuni atau si Dewi Kesepian itu tokoh dari aliran putih. Justru ia membela aliran putih hingga rela dipecat menjadi murid Pendeta Amor. Justru karena dia ada di pihak aliran putih, maka dia melawan Nyai Ronggeng Iblis. Mengapa kita harus lenyapkan dia jika ia memang terkena racun 'Asmara Kubur', seharusnya kita tolong dia untuk lepaskan diri dari kutukan beracun itu."

"Kalau tidak salah dugaanku, kau terlalu banyak ngomong, Suto!" sela Kapas Mayat.

"Kalau tidak salah dugaanku, kau belum tahu apa racun 'Asmara Kabut' itu!" ujar Resi Badranaya.

"Kalau tidak salah dugaanku, aku sudah dapat keterangan dari Kakek Guru dan diberi tahu bagaimana cara melawan Racun 'Asmara Kubur' itu!" kata Suto.

Resi Badranaya berkata lagi, "Kalau tidak salah dugaanku...," tapi segera dibentak oleh Kapas Mayat.

"Jangan ikut-ikutan berkata begitu. Itu kebiasaanku!"

"Kau pikir hanya kau sendiri yang bisa berkata 'kalau tidak salah dugaanku'?" geram Resi Badranaya.

"Eyang Resi dan Pak Cilik... izinkan aku mendapat kesempatan untuk sembuhkan Darah Prabu dengan tuakku."

"Kalau tidak salah dugaanku, tuakmu tidak akan bisa sembuhkan penyakitnya Darah Prabu," ujar Kapas Mayat.

"Dengan dicampur air kelapa gading, tuak ini dapat untuk sembuhkan wabah yang menjangkit di tubuh Darah Prabu, Kadal Ginting, dan yang lainnya, terutama yang pernah bercumbu dengan Dewi Kesepian. Kau bisa mencobanya lebih dulu, Pak Cilik!"

"Kalau tidak salah dugaanku, kau kurang ajar, Suto! Apa kau kira aku pernah bercumbu dengan Dewi Kesepian?! Mampu saja sudah tidak, kok mau bercumbu!" gerutu Kapas Mayat sambil bersungut-sungut.

"Setan! Perempuan itu telah pergi dari kita!" seru Resi Badranaya. "Kapas Mayat, kejar perempuan itu!"

"Kalau tidak salah dugaanku...."

"Aaaah, jangan terlalu banyak dugaan!" sentak Resi Badranaya. "Kita kejar dia, jangan sampai menyebarkan wabah kepada pemuda lain!"

Wuuut...! Jleeeg...!

Pendekar Mabuk melompat di depan langkah Resi Badranaya dan Kapas Mayat.

"Maaf, Eyang Resi dan Pak Cilik... mungkin akulah yang harus lebih dulu Eyang dan Pak Cilik hadapi sebelum menangkap Dewi Kesepian!"

"Grrrmmm...!" geram Resi Badranaya penuh kemarahan.

"Kalau tidak salah dugaanku, baru saja kau ngomong apa itu, Badranaya?!"

"Aku menggeram, Tolol!" bentak Resi Badranaya semakin jengkel.

"Suto, minggir atau melawanku!" ancam sang Resi.

"Barangkali aku terpaksa melawanmu, Eyang Resi," jawab Suto pelan.

"Kurang ajar!"

"Kalau tak salah dugaanku, dia memang kurang ajar!" timpai Kapas Mayat.

"Sebenarnya aku tidak menghendaki pertarungan di antara kita, Eyang Resi. Seandainya saja Eyang Resi mau percaya padaku dan memberi kesempatan padaku untuk mengobati Darah Prabu, barangkali kita tidak akan saling berselisih seperti ini!"

"Kalau tidak salah dugaanku, apakah kau benar-benar sanggup menyembuhkan muridnya si gendut ini?" sambil Kapas Mayat menuding Resi Badranaya yang berbadan gemuk itu. Sang Resi melirik dengan geram tertahan. Kapas Mayat cuek, seakan tak merasa menyinggung perasaan Resi Badranaya.

"Aku sanggup, Pak Cilik! Sanggup sekali menyelamatkan nyawa Darah Prabu, sebab biar bagaimanapun juga dia adalah sahabatku. Tak mungkin kubiarkan dia celaka karena penyakit itu! Yang penting, ku mohon Pak Cilik dan Eyang Resi mau membantuku mencarikan air kelapa gading!"

"Di kaki gunung tempatku tinggal, banyak pohon kelapa gading!" kata sang Resi tetap garang.

"Kalau begitu, tak ada masalah lagi. Serahkan padaku maka Darah Prabu akan sehat kembali, Eyang!"

"Apa jaminannya!" sentak Resi Badranaya.

"Nyawaku, Eyang!" jawab Suto tegas dan jelas.

"Hmmmm... baik! Kuberi kesempatan padamu kalau sampai muridku mati, kau akan kukirim ke neraka, Suto!"

"Aku tak keberatan, Eyang. Tapi sekarang aku harus kejar Dewi Kesepian itu dan mengasingkannya di suatu tempat agar tidak menimbulkan korban bagi lelaki lain!"

"Pergilah, dan aku akan siapkan air kelapa gading itu!"

"Kalau tidak salah dugaanku, aku ikut siapa, Badranaya?"

"Terserah! Mau ikut kena penyakit juga terserah! Itu urusanmu!"

"O, kau tak bisa begitu, Badranaya. Kalau tidak salah dugaanku...."

Zlaaap...! Suto sudah meninggalkan mereka sebelum mereka selesai berdebat, ia mengejar Dewi Kesepian menuruti langkah nalurinya.

Blegaaarrr...!

Suara ledakan dahsyat menggema, bahkan sempat menggetarkan tanah tempat Suto berada. Suara ledakan itu segera diburu. Firasatnya mengatakan, di sanalah Dewi Kesepian berada, sedang lakukan pertarungan dengan seseorang. Zlaaap, zlaaap...!

Ternyata suara ledakan itu berasal dari seberang sungai yang tadi. Asap ledakan masih tersisa membubung ke atas. Maka Pendekar Mabuk pun segera berkelebat menyeberang sungai dengan melemparkan helai-helai daun sebagai tempat berpijak alas kakinya.

Helai-helai daun yang mengambang di permukaan air sungai itu pun segera dilaluinya dengan menggunakan ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi. Tab, tab, tab, tab, tab...!

Letusan kecil terdengar lagi. Pendekar Mabuk berkelebat ke arah letusan kecil tersebut. Akhirnya ia menemukan gundukan tanah yang membukit tak seberapa tinggi, ia melompat ke atas gundukan tanah yang membukit itu. Wuuut...! Jleeg...!

Di balik gundukan tanah yang membukit itulah pandangan mata Suto menatap dengan tajam-tajam, karena di sana sedang terjadi pertarungan antara Dewi Kesepian dengan si Rupa Setan.

Tuak diteguk sebentar. Pada saat itu, Dewi Kesepian terlempar dan terbanting akibat sapuan tangan si Rupa Setan yang berkelebat ke atas dari jarak enam langkah. Sapuan lembut itu ternyata hadirkan tenaga dalam besar yang melemparkan tubuh tinggi sekal milik Dewi Kesepian. Brrruk...!

Agaknya Dewi Kesepian sudah terluka sebelumnya. Mulutnya sudah melelehkan darah. Ditambah lagi bantingan kuat itu telah membuat luka dalamnya semakin parah. Darah mengalir dari hidung dan telinganya. Ketika ia mencoba bangkit, lututnya menjadi lemas hingga ia sempoyongan mau jatuh.

"Dengan sangat terpaksa aku harus memusnahkanmu, Yundawuni!" ujar si Rupa Setan yang memunggungi gundukan tanah membukit itu.

"Tidak ada yang harus dimusnahkan!" seru sebuah suara yang membuat Rupa Setan berpaling ke belakang, lalu pandangannya menangkap seraut wajah pemuda tampan berambut lurus sepundak tanpa ikat kepala, membawa bumbung tuak. Tak salah lagi ciri-ciri yang dicatat dalam ingatan Rupa Setan itu, pasti dialah orangnya yang bernama Suto Sinting.

"Hmmm.... Pendekar Mabuk!" gumamnya menyerupai geram.

Zlaaap...!

Suto Sinting tiba di depan si Rupa Setan pada saat Rupa Setan masih memandang ke arah gundukan tanah yang membukit itu. Rupa Setan sempat terperanjat kecil karena ketika ia berpaling mau memandang Dewi Kesepian, ternyata Suto Sinting bagaikan sudah berada di depan hidungnya.

"Sudah kuduga kau akhirnya akan bertemu denganku, Pendekar Mabuk."

Suto Sinting rapatkan kaki dan sedikit membungkuk.

"Hormatku untukmu, Penguasa Kuil Tembus Jagat!" ucap Suto Sinting dalam ketegasan yang membanggakan hati Rupa Setan.

"Ternyata kau sudah mengenaliku, Pendekar Mabuk?!"

"Guruku, si Gila Tuak, menyuruhku mengenalimu, Rupa Setan!"

"Sampaikan salamku kepada Kakang Sabawana alias si Gila Tuak itu!"

"Akan kusampaikan kalau kau mau melepaskan ancaman mati untuk Dewi Kesepian!"

Wajah keriput dan buruk dengan gigi simpang siur itu ditarik satu sentakan kecil menandakan ia sedang terkejut mendengar ucapan Pendekar Mabuk.

"Apa maksudmu berkata begitu, Pendekar Mabuk?"

"Aku tidak setuju jika kau membunuh Dewi Kesepian hanya untuk lenyapkan kutukan beracun itu! Bukan jalan yang terbaik bagiku melakukan hal seperti rencanamu itu, Rupa Setan!"

"Murid si Gila Tuak ternyata pandai bicara! Tapi ia tidak pandai menggunakan akal sehatnya, sehingga ingin membiarkan kaum lelaki di seluruh dunia ini lenyap karena racun kutukan itu!"

"Aku akan mengobati penyakitnya, Rupa Setan! Aku akan melawan racun 'Asmara Kubur' yang ada pada diri Yundawuni itu!"

"Aneh sekali!" gumam Rupa Setan dengan nada tertawa meremehkan, ia melangkah ke samping, dan Pendekar Mabuk melangkah dekati Yundawuni.

"Minum tuakku, tapi jangan dihabiskan!" katanya kepada Dewi Kesepian. Maka perempuan itu menenggak tuak tersebut, karena ingat saat tubuhnya terluka parah oleh serangan Ambarini, pemuda tampan itulah yang melenyapkan seluruh lukanya.

"Pendekar Mabuk, apakah gurumu tidak tahu bahwa racun 'Asmara Kubur' itu tidak bisa disembuhkan dengan cara apa pun kecuali dengan kematian?!"

"Guru tidak berkata begitu!" jawab Suto tegas. "Guru mengutusku untuk mencari obat penawar racun 'Asmara Kubur' itu. Karenanya Guru mengutusku juga untuk selamatkan Dewi Kesepian!"

Suto menerima bumbung tuaknya dari tangan Dewi Kesepian, ia sempat ajukan tanya pelan, "Di mana Temon?"

"Ada di tempat persembunyianku!" jawab Dewi Kesepian yang rasa sakitnya mulai berkurang.

Rupa Setan bicara dengan hentikan langkah dan menghadap tegak ke arah Pendekar Mabuk.

"Kurasa kau berdusta padaku dengan membawa-bawa nama gurumu! Kurasa kau naksir perempuan itu tanpa peduli racun di dalam tubuhnya!"

Pendekar Mabuk maju empat langkah. Matanya memandang lurus dengan sikap menantang.

"Kau sangka aku berani menjual nama guruku?!"

"Untuk dapatkan tempat pelampiasan gairah kejantananmu, kurasa kau memang cukup berani menjual nama gurumu di depanku!"

"Kau picik, Rupa Setan!" geram Suto dengan hati tersinggung oleh tuduhan itu.

"Hah, hah, hah, nah...!" Rupa Setan yang bersuara agak besar itu tertawa panjang. Tiba-tiba tawanya itu hilang dan pandangan mata cekungnya tertuju tajam ke arah Suto Sinting.

"Apa pun alasanmu, perempuan itu tetap harus kulenyapkan! Kau tak bisa melarangku, Pendekar Mabuk!"

"Kau akan berurusan denganku, Rupa Setan!"

"Tak jadi masalah. Kalau kau memang bisa unggul melawanku, kau boleh lindungi perempuan itu! Kau boleh selamatkan dia dengan tipu muslihatmu itu!"

"Aku sudah cukup siap menghadapimu, Rupa Setan!"

"Baik...!" ucap si Rupa Setan dengan nada menggeram, seakan penuh nafsu untuk hancurkan Pendekar Mabuk juga.

Rupa Setan melangkah ke samping, kembali ke tempatnya berdiri semula. Tapi tiba-tiba kedua tangannya menyentak naik bagai membentangkan sayap bersama gerakan jubahnya yang berkelebat. Wuuuk...!

Pendekar Mabuk tahu-tahu terjungkal ke belakang bagai disambar badai cukup kuat. Bruuuk...! Ia jatuh dua langkah dari tempatnya berdiri. Dewi Kesepian tampak cemas dan bersembunyi di balik pohon besar.

"Hiiiaah...!"

Rupa Setan cepat hentakkan kakinya ke tanah.

Duuuhk...! Krraaak...!

Tanah pun retak. Suto Sinting terperosok ke dalam retakan tanah itu pada saat ia mau bangkit. Bruuusk...!

"Heeeah...!" Rupa Setan menyentakkan kakinya lagi ke tanah. Maka tanah yang retak itu pun merapat kembali, menjepit tubuh Pendekar Mabuk sebatas dada.

"Aaahk...!" Suto memekik dengan wajah menyeringai dan mata terpejam kuat. Tubuhnya tergencet tanah dan seluruh tulangnya terasa patah, ia berusaha keluar dari jepitan tanah itu, tapi tenaganya terasa terkuras habis.

"Hah, hah, nah...! Keluarlah dari situ kalau kau memang mampu mengungguliku!" seru si Rupa Setan dengan berjalan mondar-mandir ke kanan-kiri sambil pandangi usaha Suto melepaskan diri dari gencetan tanah itu.

"Uuhk...! Ahhhkk...!" Suto Sinting kewalahan hadapi bahaya itu. Wajahnya sampai merah, pertanda gencetan tanah itu sangat kuat menjepitnya.

"Hiiiaaah...!"

Buuurk...! Rupa Setan sentakkan kedua kakinya ke tanah dengan satu lompatan pendek. Tanah yang menggencet Suto melambung naik pertanda gencetan itu semakin kuat.

"Aaaaahhkk...!" Suto Sinting menyeringai dengan mata terpejam kuat karena menahan rasa sakit yang semakin menyesakkan pernapasan.

Melihat keadaan itu, Dewi Kesepian diam-diam segera loloskan diri. Ia merasa tak akan mampu menghadapi Rupa Setan yang ilmunya cukup tinggi itu.

Rupa Setan tak memperhatikan kepergian Dewi Kesepian, karena ia cenderung memperhatikan usaha Suto Sinting dalam mempertahankan diri. Bahkan kini ia lakukan lompatan sambil menendang kepala Suto.

"Hiaaattt...!"

Wuuus...! Prrrrok...!

"Aaaahk...!"' Suto Sinting hanya bisa keluarkan suara pekikan tertahan saat kepalanya terkena tendangan dengan telak sekali. Tak heran jika mulutnya menjadi keluarkan darah dan telinganya pun keluarkan darah kental.

Walau kedua tangan Suto masih di atas tanah bersama bumbung tuaknya, tetapi gencetan itu bagai menahan seluruh uratnya sehingga kedua tangan itu tak sukar digerakkan.

Namun setelah mendapat tendangan yang kedua, urat-urat yang mengejang itu terasa longgar sedikit. Suto berhasil gerakkan tangannya pelan-pelan, lalu menuang tuak ke mulutnya dengan berhamburan tak teratur.

"Minumlah dulu sebelum ajalmu tiba!" ujar Rupa Setan sambil bertolak pinggang dalam jarak lima langkah di depan Suto.

Tuak itu membuat tenaga Suto menjadi pulih kembali. Bahkan kekuatannya menjadi berlipat ganda.

Rasa sakit lenyap sama sekali. Dengan satu sentakan kaki di dalam tanah, Suto Sinting akhirnya bisa melesat ke atas menjebol tanah yang menggencetnya dari tadi.

"Heeeeeeaaahh...!!"

Brrruuuull...!

Rupa Setan terkejut. Gerakan melambung ke atas yang dilakukan Suto seperti roket lepas dari landasannya. Daun-daun dan dahan pohon diterjangnya hingga patah berantakan. Hal itulah yang membuat Rupa Setan terperanjat dan terkesima beberapa saat.

Wuuusss...! Jleeeg...!

Suto Sinting bergerak turun dan mendaratkan kakinya tepat tiga langkah di depan Rupa Setan. Perempuan itu semakin terperangah. Saat ia terperangah itulah, Suto Sinting segera lepaskan tendangan kipasnya yang memutar tubuh dengan cepat.

"Heeah...!"

Plook...!

Tubuh Rupa Setan terlempar dan membentur pohon. Sebelum tubuh itu merosot turun, Suto Sinting melesat maju dan menghantamkan jurus 'Mabuk Lebur Gunung', menggeloyor seperti orang mabuk dan jatuh, namun tiba-tiba menyodokkan bumbung tuaknya ke dada Rupa Setan. Buuuhk...!

"Heeeekh...!" Rupa Setan mendelik dalam keadaan diam tak bergerak. Mulutnya semburkan darah kental yang nyaris mengenai tubuh Suto jika Suto tak segera melompat ke belakang.

Pendekar Mabuk sengaja biarkan Rupa Setan merosot ke bawah dan akhirnya jatuh terkulai bersandar pohon yang tadi bergetar dan daunnya rontok saat Suto sodokkan bumbung tuak ke dada Rupa Setan.

Brrruk...!

"Uuhhhkk...!" Rupa Setan keraskan seluruh tubuhnya. Agaknya ia melawan kekuatan dahsyat dari sodokan bumbung tuak tadi.

"Gila! Mestinya orang yang terkena jurus 'Mabuk Lebur Gunung' akan menjadi biru legam dan rambutnya rontok. Tapi kenapa dia tidak begitu? Kenapa justru keluarkan asap dari tiap lubang kulitnya?" gumam Suto dalam hati bernada heran.

Ia segera berseru, "Kusempurnakan penderitaanmu dengan jurus 'Tangan Guntur'-ku ini, Rupa Setan!

Heeeeah...!"

"Tahan!" pekik Rupa Setan sambil mengulurkan tangannya. "Aak... aku mengakui keunggulanmu...l"

Suto Sinting kendorkan tangannya yang nyaris melepaskan sinar biru besar dan dapat membuat lawannya keropos dalam keadaan menjadi arang.

"Baiklah, saat ini kau unggul, Pendekar Mabuk! Uuuhk...!"

Suto tak sampai hati menghabisi nyawa orang yang sudah mengakui kekalahannya, ia justru mendekati Rupa Setan dan menyodorkan bumbung tuaknya.

"Buka mulutmu dan minum tuakku biar lukamu sembuh!"

Rupa Setan akhirnya menuruti perintah itu. Tuak dituangkan ke mulut pelan-pelan. Beberapa saat kemudian, tubuh Rupa Setan pun segar kembali.

"Kuakui kehebatanmu, Bocah Bagus! Tapi wabah Dewi Kesepian ada dalam tanggung jawabmu!"

"Akan kuselesaikan masalah ini!"

"Dengan apa kau mau melawan racun 'Asmara Kubur' itu?"

Pendekar Mabuk diam sebentar, lalu berkata dengan suara pelan.

"Dengan sebuah batu yang bernama 'Batu Tembus Jagat'!"

"Hahh...?!" Rupa Setan terperanjat. "Itu... itu batu keramat! Tak mungkin bisa kau dapatkan, karena di tempatku tak ada batu itu. Aku penguasa Kuil Tembus Jagat. Aku tahu batu itu tidak ada!"

"Batu itu ada dan aku tahu tempatnya."

"Di mana tempatnya?!" sergah Rupa Setan tampak bernafsu ingin mengetahui.

Suto Sinting sunggingkan senyum. "Hanya gurumu dan guruku yang mengetahuinya. Sekarang ditambah satu orang lagi yang mengetahui, yaitu aku!"

"Hmmm... ehh... kalau begitu, bolehkah aku membantumu, Pendekar Mabuk?"

"Aku tak menolak uluran tanganmu. Tapi ada saatnya sendiri kubutuhkan bantuanmu, Rupa Setan!" jawab Pendekar Mabuk dengan kedengaran gagah dan mantap, mengagumkan hati si Rupa Setan.

"Sekarang yang penting adalah menolong Darah Prabu, Kadal Ginting, dan yang lainnya," tambah Suto.

"Apakah... apakah mereka juga bisa kau sembuhkan?"

"Kenapa tidak?! Resi Badranaya dan Kapas Mayat sedang mencari kelapa gading untuk campuran tuakku. Campuran itu yang akan menjadi obat mujarab bagi penderita wabah asmara Dewi Kesepian! Dan... oh, di mana perempuan itu?!"

Pendekar Mabuk mencari sekeliling tempat itu, tapi Dewi Kesepian tak ditemukan. Lalu ia berucap dalam hatinya,

"Aku tahu di mana ia bersembunyi bersama Temon. Tapi, sebaiknya kuselesaikan dulu tugasku menyembuhkan para korban asmaranya itu!"

Dan ternyata, campuran tuak Suto dengan air kelapa gading memang berhasil selamatkan nyawa Darah Prabu. Kadal Ginting serta beberapa korban lainnya yang sama-sama pernah menikmati kehangatan tubuh Dewi Kesepian. Kini tugas Suto hanya satu; mengambil Batu Tembus Jagat di Gua Mahkota Dewa, setelah itu menyelamatkan Dewi Kesepian dari cengkeraman racun 'Asmara Kubur'.

Namun selama Suto pergi ke perbatasan alam nyata dan alam gaib itu adakah korban lain lagi yang menikmati maut di sela-sela pelukan hangat Dewi Kesepian itu? Selain Temon, siapa lagi yang ingin menuju liang kuburnya dalam cumbuan sang Dewi Kesepian?

SELESAI