--> -->

Serial Pendekar Mabuk 51 Sabuk Gempur Jagat

SISA-SISA kebakaran membentuk bayangan
kerangka hitam menyeramkan. Pilar-pilar istana
bagaikan sosok hantu hitam tanpa gerak dan
suara.
Diwarnai oleh kepulan asap tipis sisa
kebakaran dan bau daging hangus di sana-sini,
siapa pun  yang lewat di hamparan puing-puing
hitam itu akan merinding bulu kuduknya.
Begitu pula yang dirasakan oleh pemuda
tampan berambut lurus sepundak tanpa ikat
kepala. Pemuda yang kenakan baju tanpa lengan
warna coklat dan celana putih lusuh itu pandangi
tiang-tiang hitam yang menjadi saksi bisu atas
kekejian yang telah melanda tempat tersebut.

Pemuda berbadan tegap, kekar, dan gagah itu
mempunyai sepasang mata tajam yang kala itu tak
mampu berkedip karena terperangah menyaksikan
keadaan sekitarnya. Bumbung tuak yang
disandang melintang di punggung itu menjadi ciri
penampilannya sebagai murid Gila Tuak dan
Bidadari Jalang yang dikenal dengan nama Suto
Sinting alias si Pendekar Mabuk dari Jurang
Lindu.
"Mengapa bisa jadi begini?" Pendekar Mabuk
membatin dengan heran. "Siapa orangnya yang
telah membumihanguskan istana ini? Apakah tak
satu pun ada yang selamat? Oh... menjijikkan
sekali. Di sana-sini bergelimpangan mayat
terbakar hangus,  sebagian  masih ada yang tak
sampai menjadi arang. Aku hampir tak percaya
melihat istana ini menjadi ladang  hitam begini.
Melihat sisa asap yang masih mengepul, pasti
kejadiannya belum berselang lama."
Sekalipun di sana-sini banyak mayat
menjijikkan karena luka bakar, namun Pendekar
Mabuk tetap menyusuri tempat itu dengan
langkah hati-hati. Matanya pandangi tiap mayat
karena hatinya mencari berapa wajah yang
dikenalinya. Namun wajah-wajah mayat di situ
sukar dikenali lagi. Bahkan pakaian mereka pun
tak ada yang tersisa hingga tak bisa dijadikan ciri
bagi pemakainya. Pendekar Mabuk masih
mencoba membedakan mana mayat lelaki dan
mana mayat perempuan.
"Selama menjadi pendekar, baru sekarang
aku kebingungan memilih mayat lelaki dan mayat
perempuan," pikir Suto Sinting. "Ada baiknya
kalau kuperiksa saja sekeliling tempat ini, siapa
tahu kutemukan korban yang masih hidup atau
dalam keadaan sedang sekarat sehingga bisa
kudengarkan penjelasannya tentang musibah
maut ini."
Bau daging hangus sempat bikin perut mual.
Pendekar Mabuk terpaksa meraih bumbung
tuaknya dan menenggak tuak beberapa teguk.
Tuak itu membuat rasa mual lenyap seketika.
Suto hembuskan napas lega, lalu segera menutup
bumbung tuaknya.
Pada saat itulah tiba-tiba sekelebat benda
tampak melayang dari arah samping kanannya.
Suto Sinting cepat sentakkan kaki dan tubuhnya
melompat dalam  gerakan bersalto ke belakang
satu kali. Wuuut...! Dan benda yang melesat itu
tak jadi kenai tubuhnya.
Weess... Taab!
Benda yang melintas cepat itu menancap
pada sebatang pilar kayu yang sudah hangus dan
bagian atasnya telah menjadi arang keropos.
Pandangan mata Suto Sinting terarah pada benda
yang menancap pada bekas pilar itu; ternyata
sebatang anak panah dengan panjang sehasta
lebih sedikit. Pendekar Mabuk cepat alihkan
pandangan matanya ke arah datangnya anak
panah tersebut.
"Hmmm...?! Rupanya dia yang menyerangku
dengan panahnya?!" gumam si tampan sinting
murid Gila Tuak itu.
Di balik reruntuhan arang telah berdiri
seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun.
Lelaki itu mengenakan celana merah tanpa baju.
Tubuhnya sedikit gemuk tapi tidak begitu tinggi.
Rambutnya panjang belakang bagian depannya
botak licin. Wajahnya tampak sedikit angker tapi
tak seangker kuburan tua. Berkumis tipis namun
panjang hingga melengkung sampai ke dagu. Ia
masih pegangi busur yang sudah ditarik talinya
dengan sebatang anak panah terarah kepada Suto
Sinting.
Meski dirinya terancam anak panah yang
akan dilepaskan ke dadanya, tapi Suto Sinting
tetap diam di tempat dengan sorot pandangan
mata tak berkedip. Berdiri tegak, dada sedikit
membusung sehingga tampak gagah dan berkesan
tak merasa gentar sedikit pun. Ujung panah itu
justru ditatapnya tajam-tajam, seakan ditantang
untuk lepas dari tali busurnya. Tetapi orang
bercelana merah itu tak mau segera lepaskan
anak panah tersebut, ia justru berseru dengan
nada tak ramah dan berkesan menggertak
Pendekar Mabuk.
"Tinggalkan tempat ini atau kau kehilangan
nyawa sekarang juga!"
Sehela napas ditarik dan dihembuskan
pelan-pelan  sebagai penenang keadaan dirinya.
Pendekar Mabuk mulai kendurkan ketegangannya
dan senyum tampannya mekar seulas dengan tipis
sekali.
"Sangkamu siapa diriku ini, Paman?" ujar
Suto dengan kalem, ia justru melangkah dekati
orang tersebut.
"Berhenti!" sentak orang itu dengan mata
melebar. "Selangkah lagi kau maju, dadamu akan
ditembus oleh panahku ini!"
"Apakah kau kira tubuhku terbuat dari
getuk, sehingga mudah ditembus anak panah?
Coba saja lepaskan kalau kau sanggup membidik
dadaku, Paman!"
Orang itu tidak main-main, ia benar-benar
lepaskan anak panah dari busurnya. Slaaap...!
Anak panah meluncur cepat ke dada Suto Sinting.
Kaki anak muda itu masih tegak berdiri
dengan sedikit merenggang, ia tidak menghindar,
melainkan meraih bumbung tuaknya dan
menghadangkan di depan dadanya. Anak panah
itu akhirnya kenai bumbung tuak yang terbuat
dari bambu bukan sembarang bambu itu.
Traaang...! Suara anak panah menghantam
bumbung tuak seperti anak panah menghantam
besi baja berongga.
Orang yang memanah Pendekar Mabuk
menjadi terbelalak kaget melihat anak panahnya
memantul dan berbalik arah dengan kecepatan
lebih tinggi. Hampir saja orang itu celaka dihujam
panahnya sendiri kalau saja ia tidak segera
gulingkan diri di udara dalam satu lompatan
cepat. Wuuut...!
Jrrabb...! Anak panah itu menancap pada
puing-puing sisa kebakaran dan membuat puing-
puing itu menjadi hancur berantakan bagaikan
dipukul dengan pukulan bertenaga dalam cukup
tinggi. Brraaass...! Puing-puing itu menyebar ke
segala arah, menimbuni kepala si pemilik panah
tersebut.
Orang bermata agak besar itu hanya
terperangah bengong pandangi Pendekar Mabuk.
Namun hatinya sempat menggumam sendiri,
"Hebat sekali dia? Panahku bisa
dikembalikan dalam keadaan lebih cepat dan
berkekuatan tenaga dalam cukup dahsyat?! Gila!
Agaknya aku tak boleh anggap remeh anak mudah
itu? Hmmm... siapa dia sebenarnya? Aku
sepertinya pernah melihatnya secara sepintas, tapi
tak sempat mengenalnya lebih dekat lagi. Dilihat
dari raut mukanya, agaknya dia bukan orang
jahat. Sebaiknya kukurangi kecurigaan jelekku
terhadap anak muda itu."
Pendekar Mabuk semakin dekati orang
tersebut. Dalam jarak tujuh langkah kurang ia
berhenti dan menyapa dengan suaranya yang
bernada kalem, mata memandang tanpa kesan
permusuhan.
"Apa maksudmu menyerangku, Paman?
Siapa kau sebenarnya?"
"Justru seharusnya aku yang berkata
begitu!" jawab orang itu masih menampakkan
sikap permusuhannya.
Suto Sinting tidak cepat jawab pertanyaan si
pemanah tersebut, melainkan justru pandangi
keadaan sekeliling dengan raut wajah kian datar,
sepertinya sedang memendam perasaan duka yang
tak ingin diketahui siapa pun. Kejap berikut
barulah terdengar suaranya tanpa pandangi orang
di depannya.
"Tak kusangka Lembah Birawa menjadi
seperti ini. Kaukah pelakunya, Paman?"
"Kurobek mulutmu jika bicara selancang itu
lagi!" sentak orang bersabuk hitam itu. Ia pun
segera maju tiga langkah dan berdiri dengan sikap
menantang di depan Suto Sinting. "Justru aku
yang curiga padamu sebagai orang yang
menghancurkan Istana Lembah Birawa ini! Pasti
kau yang melarikan Ratuku; Gusti Ratu
Jiwandani!"
"O, kalau begitu kau adalah prajurit dari
Lembah Birawa ini. Tapi  mengapa kau  tidak
mengenaliku, Paman? Apakah kau lupa bahwa
aku pernah selamatkan Ratu Jiwandani dari
ancaman Demit Lanang?"
"Ap... apakah kau yang bernama Suto
Sinting; Pendekar Mabuk?" orang itu agak gugup.
"Benar. Agaknya baru sekarang kau
melihatku, Paman."
"Mma... maafkan aku, kala itu aku tidak ada
di tempat, bertugas menghubungi seorang sahabat
Ratu untuk meminta bantuan dalam menghadapi
Demit Lanang. Tapi ketika aku berhasil pulang
dengan membawa bantuan, ternyata keadaan
sudah aman dan aku hanya mendengar cerita
tentang dirimu. Maafkan aku yang pikun ini,
Pendekar Mabuk."
Suto Sinting sunggingkan senyum
sekadarnya. Benaknya masih membayangkan
peristiwa beberapa waktu yang lalu ketika ia
terlibat dalam perkara kekejaman si Demit
Lanang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam
episode: "Manusia Pemusnah Raga").
"Jadi, kau ada di pihak Ratu Jiwandani,
Paman?"
"Benar," jawab orang itu yang mulai semakin
bersikap lunak. "Aku prajurit sandi; namaku
Wirya Tabah."
"Pantas kau tak tampak sedih melihat
keadaan seperti ini. Mungkin kau orang paling
tabah di dunia, Paman."
"Yang ada dalam hatiku bukan kesedihan
tapi kemarahan. Aku ingin membalas dendam
kepada orang yang telah membumihanguskan
tempat ini. Ia harus menebusnya dengan
nyawanya sendiri."
"Apakah kau tak tahu siapa pelakunya?"
Wirya Tabah gelengkan kepala sambil
menarik napas. "Tadi pagi aku baru saja kembali
dari Pulau Lintang untuk mencari obat buat
sembuhkan adikku yang sakit. Tapi begitu tiba di
sini, ternyata adikku sudah tak ada dan mungkin
termasuk salah satu dari sekumpulan mayat-
mayat hangus ini!"
Mata lebar Wirya Tabah pandangi mayat-
mayat yang bergelimpangan di sana-sini. Tulang
rahangnya bergerak-gerak tanda sedang
menggeletukkan gigi menahan dendam yang
belum bisa terlampiaskan.
"Paman Wirya Tabah, apakah kau juga tidak
mengetahui bagaimana nasib hidupnya Kinanti?"
tanya Suto Sinting yang sejak tadi menyimpan
pertanyaan itu dalam hatinya.
"Jika nasib Gusti Ratu saja tidak kuketahui,
tentunya nasib Kinanti pun tidak kuketahui, Suto.
Rupanya kau kenal dekat dengan Kinanti. Apakah
kau kekasihnya?"
Suto hanya sunggingkan senyum geli. Ia
sengaja tak memberi kepastian jawaban kepada
Wirya Tabah, karena pada saat itu tiba-tiba
pandangan matanya tertarik pada sekelebat
bayangan yang melesat dari samping belakang.
Kelebatan bayangan itu  membuat Pendekar
Mabuk cepat palingkan wajah dan ikuti dengan
pandangan mata berkerut dahi. Jleeg...!
Bayangan itu berubah menjadi sesosok
tubuh berjubah kuning gading. Suto Sinting
makin lebarkan senyum melihat wajah si jubah
kuning gading yang cantik dengan rambut panjang
disanggul sebagian, ia adalah seorang gadis
berpinjung penutup dada warna hijau tua cukup
ketat hingga tampak sekali kemontokannya, ia
menyandang sebilah pedang di punggungnya
dengan gagang pedang diberi hiasan rumbai-
rumbai benang sutera warna merah.
"Kinanti...," sapa Pendekar Mabuk dengan
suara lembut. "Baru saja kami membicarakan
tentang dirimu."
Kinanti, pengawal Ratu Jiwandani itu, tak
bisa sunggingkan senyum sedikit pun. Wajahnya
tampak murung; antara duka dan benci. Bahkan
ketika ia pandangi keadaan sekelilingnya, kian
lama kedua matanya kian digenangi air bening. Air
mata itu akhirnya meleleh ke pipi berkulit kuning
langsat.
Wirya Tabah segera menghadang dengan
sedikit bungkukkan badan tanda menghormat.
Berarti kedudukan Kinanti lebih tinggi dari Wirya
Tabah.
"Ke mana saja kau, Wirya Tabah?!" hardik
Kinanti dengan suara parau.
"Maafkan aku yang terlambat datang. Tapi
kepergianku mencari obat untuk adikku sudah
seizin Gusti Ratu, Kinanti."
Plaaak...!
Tiba-tiba Kinanti layangkan tamparan
tangannya ke wajah Wirya Tabah tanpa tanggung-
tanggung lagi. Lelaki yang usianya lebih banyak
dari Kinanti itu terpelanting jatuh bersimpuh
akibat tamparan tersebut. Wajah yang ditampar
menjadi merah, menandakan tamparan itu disertai
hempasan tenaga dalam walau berukuran sedang-
sedang saja. Wirya Tabah tak berani melawan atau
membalas, ia hanya bangkit dan tetap tundukkan
kepala bersikap sebagai orang bersalah.
"Di mana rasa baktimu kepada negeri dan
ratumu, Wirya Tabah?! Dalam keadaan diserang
bahaya sekeji ini kau pergi tanpa mau
menanggung akibatnya. Pengabdian macam apa
yang kau miliki itu, Wirya Tabah!"
Kinanti angkat tangan kanannya dan ingin
tampar Wirya Tabah lagi, tapi seruan Suto Sinting
menghentikan gerak tangan tersebut.
"Cukup!" Suto Sinting kian mendekati
Kinanti. "Jangan limpahkan dendam dan
kemarahanmu kepada Paman Wirya Tabah,
Kinanti. Bukankah ia pergi sudah seizin sang
Ratu?"
Mata gadis cantik itu memandang Suto
dengan tajam. Napasnya ditarik dalam-dalam.
Tangan yang sudah terangkat diturunkan. Setelah
sesaat saling beradu pandang dengan Suto
Sinting, Kinanti pandangi arah jauh bagaikan
menerawang.
Terdengar Wirya Tabah ajukan tanya dengan
suara lirih, "Bagaimana keadaan Gusti Ratu?
Apakah beliau selamat? Jika selamat, di mana
beliau sekarang?"
"Kuselamatkan ke Puncak Bukit Wangi."
"Maksudmu, Gusti Ratu sekarang bersama
Ki Galak Gantung?"
"Benar! Pergilah ke sana dan jaga beliau.
Siapa tahu orang itu masih memburu Gusti Ratu."
"Tapi bukankah Ki Galak Gantung cukup
mampu mengatasi bahaya yang mengancam sang
Ratu?"
"Ki Galak Gantung sedang sakit,
kekuatannya berkurang. Muridnya sedang tidak
ada di tempat. Pergilah ke sana sekarang juga,
Wirya Tabah, lindungi Ratu dari bahaya yang
mengancamnya sewaktu-waktu!"
Pendekar Mabuk masih bungkamkan mulut.
Tapi hatinya berkecamuk sendiri, ingatannya
kembali pada seraut wajah tua milik Galak
Gantung yang pernah dikenalnya dalam satu
peristiwa pembebasan seorang tabib wanita yang
ditawan Ratu Sukma Semimpi, (Baca serial
Pendekar Mabuk  dalam episode : "Pusaka
Bernyawa"). Galak Gantung adalah sahabat dari si
Gila Tuak, karenanya Suto Sinting merasa aman
jika Ratu Jiwandani diungsikan ke pondok Galak
Gantung, sebab orang tua itu berilmu tinggi.
Sekalipun dalam keadaan sedang sakit, namun
kesaktiannya masih mampu melindungi Ratu
Jiwandani dari bahaya apa pun. Suto percaya
akan hal itu.
Maka ketika Wirya Tabah pergi menjalankan
perintah Kinanti; menuju puncak Bukit Wangi
yang menjadi tempat kediaman Galak Gantung,
kejap berikutnya Suto pun perdengarkan
suaranya dari belakang Kinanti.
"Kurasa Ki Galak Gantung cukup mampu
lindungi Ratu Jiwandani. Kau tak perlu khawatir
lagi jika Gusti Ratu-mu sudah ada dalam
lindungan Ki Galak Gantung. Aku kenal betul
kesaktian sahabat guruku itu."
Kinanti masih diam saja, seakan ia tak ingin
menanggapi kata-kata itu. Pandangan matanya
menerawang lurus pada kepergian Wirya Tabah,
sehingga Pendekar Mabuk merasa perlu sadarkan
lamunan duka Kinanti dengan sebuah teguran
lembut dari arah sampingnya.
"Kinanti, jelaskan padaku siapa orang yang
telah membumihanguskan Lembah Birawa ini?"
"Aku tak tahu," jawab Kinanti dengan datar.
"Orang itu menyerang pada tengah malam, tak
terlihat jelas wajahnya. Namun seorang anak
buahku yang saat itu belum menjadi korban
sempat memberitahukan padaku, bahwa orang
yang datang menyerang Istana itu bersenjata
Sabuk Gempur Jagat. Ia  tahu ciri-ciri sabuk
pusaka itu, tapi sayang anak buahku itu sekarang
sudah tiada. Jasadnya hancur disabet sabuk
pusaka itu di seberang kaki hutan sebelah utara
sana."
"Sabuk Gempur Jagat...?!" Suto Sinting
menggumam bernada heran dan penuh curiga,
sebab ia pernah mendengar nama pusaka tersebut
ketika menyelesaikan perkara dengan Pipit
Serindu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam
episode: "Kutukan Pelacur Tua"). Karenanya
gumaman itu pun berkelanjutan dengan nada
datar,
"Kalau tak salah, Sabuk Gempur Jagat kala
itu sedang diperebutkan antara Resi Pakar Pantun
dengan si Tulang Naga."
Tiba-tiba wajah Kinanti berpaling pandangi
Suto dengan sorot mata tajamnya.
"Siapa itu Tulang Naga?"
"Penguasa Telaga Siluman!"
"Di mana letak Telaga Siluman?!"
"Apa maksudmu bertanya begitu?"
"Aku akan ke sana untuk temui si Tulang
Naga dan bikin perhitungan dengannya. Hanya
ada dua pilihan; nyawaku atau nyawanya yang
harus binasa!" geram Kinanti dengan dendam
berkobar dalam hatinya. Wajahnya pun
menampakkan kobaran dendam yang tak bisa
tertahan lagi.

*
* *

2

TULANG NAGA adalah tokoh aliran hitam
yang ganas dan berbahaya. Senjata andalannya
yang bernama Pusaka Nenggala Kubur itu sudah
cukup berbahaya bagi lawannya, apalagi jika
ditambah dengan senjata pusaka Sabuk Gempur
Jagat, tak heran jika Tulang Naga dapat
membumihanguskan sebuah negeri dalam waktu
singkat.
Sambil melangkah menuju Telaga Siluman
mendampingi Kinanti, ingatan Suto masih tertuju
pada seraut wajah bermata cekung dan bertubuh
kurus; wajah itu adalah wajah si Tulang Naga.
Rambutnya yang putih sepanjang pinggang tanpa
ikat kepala bertebaran menghiasi bayangan di
benak Suto Sinting. Murid si Gila Tuak itu teringat
betul saat ia hampir mati di tangan Tulang Naga
dalam mempertahankan mayat bayi anak pertama
Ratna Udayani dan Raden Prajita. Bayi yang
menjadi cucu Sultan Renggana itu sangat diminati
oleh beberapa tokoh aliran hitam sebagai
penambah kekuatan kesaktiannya, dan salah satu
orang yang bernafsu memiliki mayat bayi tersebut
adalah Tulang Naga, (Baca serial Pendekar Mabuk
dalam episode: "Bayi Pembawa Petaka").
Pada waktu itu, Pendekar Mabuk berhasil
dilumpuhkan oleh senjata Neggala Kubur-nya si
Tulang Naga. Namun ketika Penguasa Telaga
Siluman  itu  ingin menghabisi nyawa Suto, tiba-
tiba muncul serangan berbahaya dari Hantu Laut
yang kenal si Tulang Naga dan membuat si Tulang
Naga akhirnya lari tinggalkan mayat bayi tersebut.
"Apakah Ratu Jiwandani punya masalah
dengan si Tulang Naga?" tanya Suto Sinting
kepada Kinanti saat mereka berhenti di sebuah
lembah yang teduh. Lembah itu tak seberapa jauh
dari pantai, sehingga gemuruh suara ombak
terdengar samar-samar dari tempat mereka
berada.
"Setahuku, kami tidak punya masalah apa-
apa dengan tokoh sesat yang bernama Tulang
Naga dari Telaga Siluman itu. Yang kutahu, orang
tersebut menyerang kami di tengah malam dan
dalam sekejap Lembah Birawa dibuat menjadi
lautan api yang sukar dipadamkan. Aku segera
melarikan Ratu Jiwandani tanpa diketahui oleh
prajurit lainnya melalui jalan lorong bawah tanah."
"Apakah Ratu Jiwandani tak tahu juga
bahwa orang itu adalah si Tulang Naga?"
"Ratu tidak mengenal nama itu, karena ia


tidak sebut-sebut nama Tulang Naga."
"Jika Ratu tidak kenal dengan Tulang Naga,
berarti orang yang membumihanguskan Lembah
Birawa bukan dia."
Kinanti segera berpaling menatap Pendekar
Mabuk. Dahinya berkerut, pandangan matanya
tajam penuh tanda tanya. Pendekar Mabuk
alihkan perhatian sebentar dengan menenggak
tuaknya beberapa teguk. Glek, glek, glek...!
Napas terhempas panjang menandakan rasa
lega sedang dialami Pendekar Mabuk. Setelah itu
ia tatap si cantik Kinanti yang sukar tersenyum
itu, lalu  terdengar ia berkata bagaikan orang
sedang menggumam.
"Jika bukan Tulang Naga,  lalu siapa
orangnya yang memegang pusaka Sabuk Gempur
Jagat? Setahuku sabuk pusaka itu dipegang
olehnya."
"Baru sekarang kudengar ada pusaka Sabuk
Gempur Jagat," ujar Kinanti. "Tapi aku belum
pernah melihat bentuknya."
"Apakah malam itu kau tidak melihat sabuk
pusaka itu digunakan oleh orang tersebut?"
Kinanti gelengkan kepala. "Aku hanya
mendengar pengaduan dari anak buahku. Api
telah berkobar dan aku segera larikan sang Ratu
tanpa sempat berhadapan dengan orang tersebut."
"Jadi kau tidak tahu ciri-ciri si pemegang
Sabuk Gempur Jagat?"
Kinanti gelengkan kepala lagi. "Repotnya
semua saksi mata yang pernah berhadapan


dengan orang itu tak ada yang selamat. Semuanya
mati hangus seperti apa yang kau lihat di puing
reruntuhan istana tadi."
"Kalau begitu, belum tentu si Tulang Naga
yang menghanguskan Lembah Birawa. Mungkin
musuh lain yang sangat menaruh dendam
kesumat kepada Ratu Jiwandani. Atau...."
Kata-kata itu terhenti seketika, karena ekor
mata Suto Sinting melihat sekelebat bayangan
benda yang meluncur dari belakang Kinanti.
Tubuh Kinanti segera ditarik ke samping kirinya
hingga gadis itu nyaris tersungkur mencium
tanah. Suto Sinting melompat maju, crrab...!
Sebilah pisau pendek berukuran sejengkal
ditangkap dengan mulut Pendekar Mabuk. Pisau
itu  kini ada dalam gigitannya, tak sedikit pun
menggores bibir maupun lidah Suto. Keadaan itu
membuat Kinanti belalakkan mata dan segera
bangkit dalam memasang kuda-kuda siap tempur.
Pendekar Mabuk segera lakukan lompatan
bersalto ke atas. Kepalanya menyentak ke samping
dan pisau pada mulutnya itu terlempar ke arah
datangnya tadi. Wuuut...! Sraaab...! Juuub...!
"Aaaaahg...!" terdengar suara pekikan orang
kesakitan dari balik semak belukar. Rupanya
pisau itu kenai tubuh pelemparnya yang masih
bersembunyi di baik semak, ia tak menyangka
pisau itu akan dilemparkan secepat itu hingga tak
sempat hindari senjatanya sendiri.
Orang yang memekik kesakitan itu roboh
dengan berguling keluar dari kerimbunan semak.


Mata Kinanti dan Suto Sinting pandangi orang
tersebut. Ternyata seorang lelaki kurus yang
masih meraung kesakitan karena bagian bawah
pundak kanannya ditembus pisau kecil. Pisau itu
beracun dan membuat lukanya menjadi
menghitam, pisau itu sendiri sukar dicabut dari
tubuh korban.
"Aauhh...! Tolooong... tolong cabut pisau
ini...!" ratap orang kurus itu sambil kelojotan
menderita rasa sakit.
Kinanti menggumam kata lirih, "Racun
Serap Darah?!"
"Apa maksudmu?"
"Pisau itu mengandung Racun Serap Darah,
yang membuatnya tak bisa lepas dari tubuh
korban karena menyerap darah korban. Sebelum
darah korban habis terserap ia tetap akan
menancap dan sukar dicabut."
"Aaahg...! Aaaahg...! Tolooong...," orang itu
meratap semakin lirih, gerakannya semakin
lemah.
Suto Sinting cepat-cepat menenggak tuak,
kemudian menyemburkan tuak dari mulutnya ke
arah pisau tersebut. Bruuusss...!
Jrooossss...! Luka itu kepulkan asap tebal,
seperti besi membara disiram air dingin. Orang itu
kian mengerang dengan tubuh mengejang.
Pendekar Mabuk segera cabut pisau itu dan
ternyata dapat dilepas dengan mudah sekali.
Jurus 'Sembur Husada' yang digunakan Suto
membuat luka itu terkatup dan menjadi kering,


dalam beberapa kejap saja sudah hilang secara
ajaib.
Kinanti hanya bisa diam terbengong melihat
kesaktian Suto dengan rasa kagum yang
menggumpal di dadanya. Karena memang baru
sekarang ia melihat kehebatan jurus 'Sembur
Husada' diperagakan oleh Suto Sinting walau
tidak dengan maksud pamer kesaktian.
"Biasanya kau menyuruh orang yang terluka
meminum tuakmu, tapi kali ini mengapa hanya
kau sembur saja?"
"Jurus ini dapat membuat orang yang
kutolong lupa kepadaku, seperti merasa baru
mengenalku. Ingatannya tentang diriku ikut
lenyap bersama lukanya. Karena itu, jurus
'Sembur Husada' tak pernah kulakukan untuk
mengobati orang yang sudah mengenalku. Jika
orang kurus ini lupa tentang diriku, tak jadi soal,
karena memang ia belum mengenalku." (Jurus ini
pernah digunakan dalam serial Pendekar Mabuk
episode : "Pusaka Tuak Setan").
Orang kurus itu segera bangkit dengan
perasaan penuh rasa kagum atas kesembuhan
lukanya. Namun ketika ia sadar dirinya berada di
depan Pendekar Mabuk dan Kinanti, ia buru-buru
bergegas melarikan diri. Namun Kinanti berhasil
menyambar lengan si kurus itu. Wuuut...!
"Mau ke mana kau!"
"Aaak... aku hanya... hanya disuruh
seseorang, Nona."
"Siapa yang menyuruhmu!" gertak Kinanti,


"Hmmm... eeh...," orang itu kebingungan dan
ragu menjawab. Pendekar Mabuk segera
mendesak dengan pertanyaan lain.
"Siapa yang ingin kau bunuh? Dia atau
aku?"
"Hmmm... hmm... anu...."
"Di sini tidak ada yang bernama 'Anu', jawab
yang jelas!" sentak Kinanti bagaikan tak sabar
ingin menampar mulut orang kurus itu.
"Aku disuruh membunuhmu, Nona!"
Kinanti beradu pandangan mata sejenak
dengan Suto Sinting. Kemudian ia kembali
mendesak orang kurus itu dengan pertanyaan
yang mendesak sekali.
"Kau murid dari Bukit Kasmaran, bukan?"
"Buk... bukan! Aku...."
"Omong kosong!"
Plaaaak...!
Kinanti menampar keras-keras wajah orang
kurus itu hingga orang tersebut terpelanting
berputar empat kali dengan cepat. Kejap
berikutnya ia roboh akibat tendangan kaki Kinanti
yang cukup kuat. Tubuhnya terkapar di bawah
pohon dalam keadaan tidak berkutik lagi. Sebuah
pekikan kecil sempat didengar oleh mereka
sebelum orang itu roboh.
Pendekar Mabuk segera mendekati orang
tersebut dengan perasaan heran dan curiga, ia
memeriksanya dengan pandangan mata dan dahi
berkerut. Kinanti menyusul mendekati Suto
Sinting.


Wajah orang kurus itu telah memucat,
mulutnya ternganga dan matanya terbeliak tak
berkedip. Tak satu pun bagian tubuhnya yang
bergerak. Bahkan dadanya tidak kelihatan sedang
bernapas.
"Dia tewas!" ujar Suto Sinting sambil pegangi
urat leher orang itu dan matanya memandang
Kinanti.
Gadis berjubah kuning gading itu setengah
tidak percaya, kemudian memeriksa pergelangan
tangan orang tersebut. Ternyata memang tak ada
denyut nadi lagi. Itu tandanya orang tersebut
sudah tidak bernyawa lagi. Gumam Kinanti pun
terlontar lirih bernada heran.
"Aneh. Mestinya ia tak sampai kehilangan
nyawa. Pukulan dan tendanganku tadi tidak
begitu membahayakan nyawa seseorang?!"
Pendekar Mabuk yang sempat menaruh
curiga atas kematian orang tersebut segera
membalikkan badan si korban, ia terperanjat,
demikian pula Kinanti, mereka melihat sebilah
pisau kecil seperti tadi menancap di punggung
orang tersebut. Rupanya pisau itulah yang
membuat nyawa orang kurus itu melayang, lepas
dari raganya.
"Ternyata ada pihak lain yang menyerang
orang ini hingga tewas."
"Kurasa dilakukan saat orang ini melayang
karena terkena tendanganmu tadi, Kinanti," kata
Suto Sinting sambil matanya memandang ke alam
sekitarnya.


"Sial! Kita terlambat mengorek keterangan
dari  mulutnya!" geram Suto Sinting yang merasa
penasaran karena belum mengetahui dengan pasti
siapa orang yang menyuruh si kurus untuk
membunuh Kinanti itu.
Namun gadis cantik berdada montok itu
berkata, "Aku yakin ia orang Bukit Kasmaran,
anak buah si Merak Cabul."
Pendekar Mabuk kerutkan dahi karena
merasa pernah mendengar nama Merak Cabul.
Hatinya bahkan berkata, "Kalau tak salah Bukit
Kasmaran adalah asal perguruannya Dinada atau
Milasi?" Dan seraut wajah cantik yang mempunyai
jurus maut dalam tiupan serulingnya terbayang
dalam ingatan Pendekar Mabuk, (Baca serial
Pendekar Mabuk dalam episode : "Gelang Naga
Dewa").
Setelah sama-sama memeriksa keadaan
sekeliling mencari pembunuh si kurus itu, mereka
kembali bertemu di dekat mayat tersebut. Suto
Sinting sempat ajukan tanya kepada Kinanti.
"Dari mana kau yakin kalau orang ini adalah
orang si Merak Cabul?"
"Karena hanya Merak Cabul dan beberapa
orangnya yang mempunyai Racun Serap Darah
pada pisau mereka," jawab Kinanti.
Setelah merenung sejenak, Pendekar Mabuk
segera perdengarkan suaranya yang mirip orang
menggumam itu,
"Apa kira-kira alasan si Merak Cabul,
sehingga mengutus orang kurus itu untuk


membunuhmu?"
"Entahlah," jawab Kinanti dengan wajah
masih kaku karena menahan kemarahan. "Yang
jelas, aku tak pernah bentrok dengan si Merak
Cabul, walau aku selalu menunjukkan sikap tak
suka kepadanya."
"Kepada pihak Ratu Jiwandani apakah ada
masalah dengan si Merak Cabul?"
"Pernah terjadi bentrokan kecil  antara sang
Ratu dengan Merak Cabul gara-gara sebuah kitab
pusaka. Bentrokan itu sebenarnya hanya salah
paham si Merak Cabul yang menyangka Kitab Jati
Mulya ada di tangan sang Ratu. Padahal sang
Ratu tidak tahu-menahu tentang kitab tersebut."
"Mengapa Merak Cabul menuduh Ratu
Jiwandani memiliki Kitab Jati Mulya? Ada
hubungan apa antara Ratu Jiwandani dengan
pihak Merak Cabul?"
"Dulu, Ratu Jiwandani bersahabat akrab
dengan Nyai Guntur Ayu, ketua perguruan Bukit
Kasmaran. Ketika Nyai Guntur Ayu tewas, Kitab
Jati Mulya lenyap, entah siapa yang mencurinya.
Kecurigaan kuat si Merak Cabul, kitab itu
dititipkan kepada Ratu Jiwandani, padahal sama
sekali tidak."
Suto menggumam panjang dan pelan sambil
angguk-anggukkan kepala. Agaknya ia sedang
renungi rangkaian cerita itu. Sampai akhirnya ia
temukan satu kesimpulan yang masih meragukan
bagi hatinya sendiri.
"Apakah... apakah menurutmu ada kemung-


kinan penyerangan yang membumihanguskan
Bukit Birawa itu dilakukan oleh si Merak Cabul?"
"Maksudmu, Merak Cabul yang memegang
pusaka Sabuk Gempur Jagat itu?"
Suto Sinting angkat bahu, "Mungkin saja!"
"Hmmm... kalau begitu aku harus
menyerang Bukit Kasmaran dan bikin perhitungan
dengan Merak Cabul!" geram Kinanti dengan
kedua tangan menggenggam kuat-kuat.
"Nanti dulu, itu baru sebuah dugaan yang
belum  pasti. Kita harus punya bukti jika ingin
bertindak. Seandainya...."
Kata-kata Suto terhenti karena hembusan
angin dari arah belakangnya. Angin yang terasa
mendekatinya itu cukup besar sehingga naluri
Suto pun segera bekerja. Kakinya menyentak ke
tanah dan tubuhnya melayang ke samping dalam
gerakan lompat yang sangat cepat. Wuuut...!
Jleeg...!
Sesosok tubuh berdiri di depan Kinanti pada
saat Suto Sinting mendaratkan kakinya ke tanah.
Sosok tubuh itu milik seorang nenek berjubah
merah, rambutnya abu-abu  dikonde, bertubuh
kurus kerempeng, berusia sekitar enam puluh
tahun.
Melihat kehadiran nenek kerempeng itu
mata Suto Sinting segera terkesiap, sedikit
mengecil dengan dahi berkerut, karena ia merasa
pernah jumpa dengan nenek itu. Ingatan Suto pun
kembali  ke sebuah pertarungan yang dilakukan
oleh  nenek itu dengan seorang berbadan gemuk


yang dikenal dengan nama si Jubah Kapur.
"Nyai Songket...!" gumam Suto Sinting
bagaikan tak sadar mulutnya mengucap nama itu
begitu ingatannya menemukan sepotong nama
tersebut.
Tapi sang nenek bagaikan tak peduli dengan
gumaman Suto Sinting. Matanya yang cekung
tertuju pada Kinanti.  Agaknya gadis cantik itu
juga sudah mengenal  Nyai Songket, sehingga ia
segera menyapa dengan sikap tak ramah.
"Rupanya kaulah yang membunuh orang
kurus itu, Nyai Songket!"
"Tutup mulut bodohmu, Kinanti. Aku tidak
mengenal mayat orang kurus itu! Aku datang
untuk  bikin perhitungan sendiri denganmu! Kau
telah membunuh muridku; Widowidi. Sekarang
aku menuntut balas atas kematian murid
kesayanganku itu, Kinanti!"
Suto Sinting sempat membatin, "Bahaya!
Nyai Songket ini terkenal dengan ilmu teluhnya.
Kinanti tak akan mampu mengimbangi kekuatan
Nyai Songket. Agaknya aku harus segera bergerak
untuk mematahkan tiap serangan Nyai Songket."
"Hutang nyawa balas nyawa, Kinanti!" ujar
Nyai Songket sambil bergeser ke samping dan
diikuti oleh pandangan mata Kinanti. Nenek kurus
itu bicara lagi,
"Satu nyawa muridku kau binasakan, maka
tebusannya adalah seratus nyawamu, Kinanti!"
"Kalau begitu kaulah yang menghancurkan
orang-orang itu, Nyai Songket! Keparat kau!


Heeeah...!"
Kinanti menyerang lebih dulu dengan satu
lompatan cepat menerjang ganas. Tendangan kaki
Kinanti ditangkis dengan tangan kanan Nyai
Songket, lalu tangan kirinya menghantam pangkal
paha Kinanti. Untung tangan Kinanti dengan cepat
mampu menahan pukulan tersebut, hingga
pangkal pahanya selamat dari hantaman kuat
Nyai Songket.
Plak...! Plak, plak, buuhg...!
Nyai Songket terhantam dadanya oleh
tangan kiri Kinanti. Pukulan bertenaga dalam itu
membuat tubuh kurus itu melayang terpental ke
belakang dan jatuh terjungkal di semak-semak
berduri. Gusraaak...!
"Bangsat!" pekik Nyai Songket yang segera
menghentakkan telapak tangannya ke tanah dan
tubuhnya melenting di udara. Dalam kejap berikut
ia sudah berdiri dengan kaki merenggang dan
kedua tangannya terangkat ke samping kanan
kiri. Rupanya pukulan itu telah melukai bagian
dalamnya, sehingga wajah Nyai Songket tampak
sedikit pucat, hidungnya berdarah walau tak
seberapa banyak.
"Haaahhh...!" Nyai Songket mengerang
panjang, seluruh tubuhnya mengeras. Lambat
laun tampak keajaiban terjadi pada dirinya.
Ujung-ujung jari tangannya keluarkan kuku
runcing dan tiap kuku memancarkan warna
merah bening bagaikan gumpalan lahar panas.
Asap mengepul tipis dari tiap kuku yang tumbuh


secara ajaib itu.
"Kinanti, mundurlah! Dia berbahaya untuk
kau lawan!" ujar Suto Sinting sambil mendekati
gadis Itu.
"Minggirlah, Suto! Ini saatku membalas
dendam atas kekejiannya yang telah
membumihanguskan tempatku!"
"Kurasa bukan dia orangnya. Dia tidak
pergunakan senjata Sabuk Gempur Jagat!"
Kinanti segera sadar akan hal itu. Ia
bermaksud menuruti saran Pendekar Mabuk dan
menyerahkan pertarungan itu kepada sang
pendekar tampan. Tetapi tiba-tiba mereka berdua
dibuat kalang kabut oleh kilatan cahaya merah
yang datang beruntun dan berkelok-kelok seperti
tali-tali bercahaya merah.
Kilatan cahaya merah yang jumlahnya
sepuluh bias itu melesat bagai ingin menyergap
mereka berdua setelah Nyai Songket gerakkan
kedua tangannya secara serabutan dengan
teriakan melengking tinggi.
"Heeeaaahh...!"
Clap, clap, clap, clap, clap...!
Gerakan sinar merah itu begitu cepat dan
membingungkan sehingga Kinanti sempat dibuat
panik oleh keadaan seperti itu. Namun Suto
Sinting mencoba menghadangnya dengan
mengibaskan bumbung tuaknya di atas kepala.
Tali bumbung dipegang dan bumbung bambu itu
berputar cepat di atas kepala hingga timbulkan
bunyi yang mendengung.


Wuuuung, wuuung, wuung...!
Kibasan bumbung yang berputar itu ternyata
menghasilkan gelombang penangkis yang tak
terlihat bentuk dan besarnya. Namun ketika sinar-
sinar merah itu mendekati bumbung tuak
tersebut, gerakan selanjutnya sangat tak diduga-
duga oleh Nyai Songket. Cahaya merah itu
membalik arah dan kini berdatangan menyergap
dirinya sendiri dengan kecepatan tinggi dan
bentuk sinarnya berubah lebih besar hingga yang
semula menyerupai tali kini menjadi seperti
tambang.
"Bangsat kurap, heaaah...!"
Nyai Songket terdesak, mau tak mau ia
lepaskan pukulan dari dua telapak tangannya.
Kedua telapak tangan itu disentakkan ke depan
dan keluarlah sinar hijau berukuran besar. Sinar
hijau itulah yang dihantam oleh kilatan-kilatan
sinar merahnya sendiri.
Blar, blegaaarrr...!
Bumi terguncang, pepohonan nyaris
tumbang, hentakan gelombang ledak tadi cukup
besar dan kuat. Nyai Songket terlempar jauh dan
membentur sebatang pohon besar. Suto Sinting
dan Kinanti terlempar tunggang langgang tak bisa
kendalikan keseimbangan tubuh. Mereka sama-
sama terbanting di semak-semak ilalang.
Kejap berikutnya terdengar suara pohon
tumbang.
Kraaakk... brrruuk...!
"Aaaauhg...!" terdengar pekik Nyai Songket


dalam suara gemuruh gema ledakan yang masih
tersisa itu. Suto dan Kinanti sama-sama belum
bisa melihat keadaan Nyai Songket. Mereka masih
terkulai lemas dengan dada terasa sesak.
"Gila! Jurus apa yang dipergunakan si
dukun teluh itu?!" gumam Kinanti dalam keadaan
suara berat karena menahan rasa sakit di
dadanya.
Setelah ia diberi minuman tuaknya Suto,
rasa sakit itu pun menjadi lenyap, ia bisa berdiri
dengan tubuh terasa segar. Suto Sinting sudah
lebih dulu  mengalami kelegaan seperti itu,
sehingga ia bisa menuangkan tuak pelan-pelan ke
mulut Kinanti.
Kini keduanya sama-sama terperanjat
melihat Nyai Songket tertimpa pohon yang begitu
besar. Tubuh kurus kerempeng itu tak bisa
bergerak lagi. Mulutnya semburkan darah dalam
keadaan badan tengkurap. Hidung dan telinganya
pun keluarkan darah segar. Keadaan nenek renta
itu sudah tidak bernyawa lagi. Rupanya di
samping ia tertimpa pohon besar, lehernya
tertusuk tonggak runcing bekas patahan pohon
kering. Tonggak itu menghujam dari leher hingga
tembus ke tengkuk, sedangkan dari batas
punggung sampai kaki tertimpa pohon, tak dapat
dilihat lagi karena besarnya batang pohon
tersebut.

*
* *



3

PUSAT perhatian Kinanti tertuju pada Merak
Cabul di Bukit Kasmaran. Menurutnya,  orang
kurus yang menyerangnya dengan pisau beracun
itu pasti suruhan Merak Cabul. Besar
kemungkinan Merak Cabul tidak kehendaki orang
Bukit Birawa ada yang masih hidup, sehingga ia
menyuruh orang kurus itu untuk membunuh
Kinanti.
Suto akhirnya mengalah, tak mau berdebat
panjang lebar tentang perbedaan pendapat itu.
Sebab menurut Suto, Merak Cabul tidak terlibat
dalam perkara pembakaran istana Lembah Birawa
itu. Jika benar orang yang menyerang istana
Lembah Birawa adalah orang yang bersenjata
Sabuk Gempur Jagat, maka Tulang Naga itulah
orangnya.
"Pihakku tidak ada hubungannya dengan
Tulang Naga. Kami tidak kenal dengan Penguasa
Telaga Siluman itu. Tak ada alasan bagi Tulang
Naga untuk menyerang istana kami! Pasti
serangan itu datang dari si Merak Cabul yang
masih menyimpan kecurigaan tentang
tersimpannya Kitab Jati Mulya di tangan ratuku!"
Kinanti ngotot sekali, sehingga Suto Sinting
akhirnya hanya angkat bahu dan mengikuti jejak
Kinanti menuju ke Bukit Kasmaran. Untuk
mencapai ke Bukit Kasmaran mereka harus


melewati beberapa desa. Satu di antaranya adalah
desa yang pernah disinggahi Suto saat melakukan
perjalanan menuju Bukit Bunting bersama
Tembang Selayang. Desa itu bernama desa
Panganbumi yang mempunyai kehidupan lebih
maju dari desa-desa lainnya. Banyak keluarga
saudagar yang tinggal di desa itu, karena letaknya
tak begitu jauh dari kotaraja. Suto Sinting pun
mengajak Kinanti untuk singgah di sebuah kedai
milik Ki Punjul yang dulu disinggahi Suto dengan
Tembang Selayang, (Baca serial Pendekar Mabuk
dalam episode : "Kapak Setan Kubur").
Petang belum datang, tapi suasana desa
sudah sepi. Kesepian itu menimbulkan rasa curiga
di hati Suto Sinting. Maka setelah ia mengisi
bumbung tuaknya dengan tuak baru, ia pun
segera bertanya kepada Ki Punjul,
"Ki Punjul, malam belum tiba tapi mengapa
suasana desa sudah sesepi ini? Dulu ketika aku
datang dan bermalam di sini keadaan tidak sesepi
ini, bukan?"
"Hmmm... iya. Keadaan dulu dan sekarang
berbeda, Pendekar Mabuk."
"Apa yang membuatnya menjadi berbeda?"
"Penduduk desa kami dihantui oleh
perasaan takut, yaitu takut mengalami nasib
seperti desa Kijangan."
Bukan hanya Suto yang kerutkan dahi,
melainkan Kinanti ikut kerutkan dahi pertanda
merasa heran mendengar ucapan Ki Punjul.
"Apa yang terjadi terhadap desa Kijangan itu,


Ki?" tanya Suto dengan rasa penasaran.
"Desa itu sekarang sudah menjadi arang.
Seluruh bangunan dan rumah-rumah penduduk
hangus dilalap api. Bahkan penduduknya
sebagian lari mengungsi ke desa lain, sebagian lagi
mati terbakar di tempat itu. Yang mati terbakar
separuh bagian lebih."
Kini sepasang mata Kinanti menatap
Pendekar Mabuk. Mata si pendekar tampan itu
pun menatap Kinanti, seakan keduanya
menampakkan sikap semakin ingin tahu. Kinanti
tak sabar dan segera ajukan tanya kepada Ki
Punjui,
"Apa yang membuat desa itu terbakar habis,
Ki?"
"Seseorang telah mengamuk kepada Lurah
Kijangan. Ia menggunakan pusaka bernama
Sabuk Gempur Jagat, dan... begitulah akhirnya,
desa itu habis terbakar oleh kekuatan sakti Sabuk
Gempur Jagat!"
Debar-debar  dalam  dada Kinanti bagaikan
sesuatu yang ingin menjebolkan tulang dada.
Napas pun mulai  terasa berat, karena dendam
Kinanti terhadap si pemegang Sabuk Gempur
Jagat mulai meluap-luap.
Pendekar Mabuk mencoba bersikap tenang
agar Kinanti ikut terpengaruh oleh
ketenangannya. Kejap berikut barulah Suto
Sinting ajukan tanya kembali kepada Ki Punjul.
"Siapa orang yang memegang Sabuk Gempur
Jagat itu, Ki Punjul? Apakah kau tahu namanya?"


Ki Punjul berpikir sebentar, kejap berikutnya
perdengarkan suaranya yang pelan, bagaikan
orang dalam keragu-raguan.
"Beberapa pengungsi dari desa Kijangan
pernah menyebutkan nama Tulang Ular. Tapi saya
tak tahu apakah orang itu yang mengamuk
dengan Sabuk Gempur Jagat itu atau bukan."
"Tulang Ular?!" Kinanti menggumam heran.
Suto Sinting bertanya, "Tulang Ular atau
Tulang Naga?"
"Maksud saya... Tulang Ular Naga. Eh...
entahlah, saya kurang jelas soal nama itu.
Mungkin yang mereka maksud Tulang Naga,
mungkin juga Tulang Ular. Yang jelas mereka
sebut-sebut nama yang pakai kata 'tulang',
begitu."
"Pasti yang dimaksud adalah Tulang Naga,"
ujar Pendekar Mabuk kepada Kinanti.
Gadis cantik berpinjung hijau beludru itu
diam saja. Kini ia menjadi termenung lama
menimbang-nimbang langkahnya. Hatinya sempat
dibuat dongkol oleh ketidakpastian antara Tulang
Naga dan Merak Cabul. Siapa pemegang Sabuk
Gempur Jagat itu sebenarnya? Sukar sekali
dipastikan dalam keadaan serba tak jelas begitu.
"Aku butuh waktu untuk berpikir," kata
Kinanti. "Agaknya malam ini kita harus bermalam
di sini untuk menentukan langkah kita, Suto."
"Aku tak keberatan," jawab Suto Sinting. "Ki
Punjul juga menyediakan kamar untuk
penginapan para tamunya."


Ketika hal itu dikemukakan Ki Punjul, orang
berusia di atas empat puluhan tahun itu berkata,
"Tinggal satu kamar yang masih kosong.
Apakah kalian ingin menggunakan kamar itu
untuk berdua? Jika mau begitu, silakan saja."
Kinanti menatap Suto Sinting dengan mulut
terkatup rapat. Tak ada senyum seulas pun di
bibir mungil menggemaskan itu. Suto Sinting yang
nyengir sambil garuk-garuk kepala serta berkata
dengan gumam lirih,
"Sial. Hanya ada satu kamar."
"Tak usah berlagak mengeluh. Hatimu girang
kalau kita tinggal satu kamar, bukan?"
"Dugaanmu mengada-ada," jawab Suto
sambil tertawa kecil.
"Biarlah kita satu kamar, tapi kau tidur di
lantai dan jangan seranjang denganku!" ujar
Kinanti agak ketus.
"Kenapa begitu? Kau takut aku kurang ajar
padamu?"
"Kau nakal," jawabnya sambil melengos ke
arah lain. Ia biarkan senyum pemuda tampan itu
mengembang makin mekar dengan suara tawa
yang mengikik lirih.
Tiba-tiba pandangan mata Kinanti tertuju ke
arah pintu masuk kedai. Dua orang lelaki
berbadan besar baru saja memasuki kedai
tersebut dan segera mengambil tempat duduk
bersebelahan dengan Kinanti. Kedua lelaki itu
berwajah buas, penuh dengan cambang dan
kumis. Dari caranya memandang dapat diketahui


sifatnya yang kasar dan urakan. Rambut mereka
sama-sama panjang selewat pundak, tapi yang
satu diikat dengan ikat kepala dari kulit macan
tutul, yang satu lepas tanpa ikat kepala.
Orang yang berikat kepala kulit macan tutul
itu mengenakan celana hitam dan baju merah tua
tak dikancingkan bagian depannya, sehingga
sebilah golok besar yang terselip di sabuk
hitamnya terlihat jelas. Sedangkan orang yang
tidak memakai ikat kepala itu mengenakan
pakaian serba abu-abu, dari baju sampai
celananya. Dadanya yang berbulu tampak jelas
karena bajunya yang tanpa lengan itu tidak
dikancingkan, ia menggenggam sebilah kapak dua
mata yang segera diletakkan di atas meja dengan
kasar, menimbulkan suara mengagetkan, hingga
memancing perhatian orang lain.
"Ki, sediakan kami arak putih dua poci!"
seru orang berpakaian abu-abu kepada Ki Punjul
dengan keras dan kasar. "Cepat, ya! Jangan
lamban. Kalau lamban kuobrak-abrik kedaimu
ini!"
"Bba... baik. Akan segera kusediakan, Tuan,"
Ki Punjul tampak ketakutan.
"Sabrawi," ujar si baju abu-abu kepada
temannya setelah ia melirik ke arah Kinanti
dengan nakal, ia berkata melanjutkan ucapannya
tadi setelah temannya memandangnya.
"Agaknya kita malam ini akan pesta
kehangatan. Ada mangsa emas di sini, Sabrawi!
Ha, ha, ha, ha...!"


Orang berikat kepala kulit macan tutul itu
ikut tertawa setelah melirik ke arah Kinanti. Wajah
Kinanti lurus ke depan tak mau memperhatikan
ke arah kedua orang kasar tersebut, sedangkan
Suto tampak tenang dan sesekali sunggingkan
senyum sambil berlagak memainkan cangkir
tuaknya.
"Kurasa malam ini kita memang bernasib
mujur sekali, Polang! Sudah hampir satu purnama
aku tidak menikmati kehangatan seorang wanita
karena sibuk mengejar pemegang Sabuk Gempur
Jagat. Sekaranglah saatnya aku istirahat  dan
menikmati kehangatan yang kurindukan, sebelum
kita menemukan si Jejak Setan dan merebut
sabuk pusaka itu!"
Senyum Suto Sinting segera lenyap. Kini ia
melirik Kinanti dengan keheranan tersimpan di
ujung lirikannya. Kinanti pun sedikit kerutkan
dahi pertanda memendam rasa jengkel yang
mengusik hatinya. Pendekar Mabuk segera bicara
pelan kepada gadis berjubah kuning gading itu.
"Apakah kau tahu, siapa Jejak Setan itu?"
"Murid Nyai Pegat Raga dari Lembah Petang,"
bisik Kinanti pelan sekali, tapi mengejutkan hati
Suto Sinting dan membuat wajah tampan itu
berkerut dahi semakin tajam.
"Maksudmu, Jejak Setan itu muridnya si
Pelacur Tua?"
"Benar. Apakah kau mengenalnya?"
"Aku telah mengenalnya," bisik Suto Sinting
lirih, dan terbayang peristiwa yang terjadi di Bukit


Kemenyan, (Baca serial  Pendekar Mabuk dalam
episode : "Kutukan Pelacur Tua").
Pendekar Mabuk segera membatin,
"Benarkah sabuk pusaka itu ada di tangan Jejak
Setan?"
Kata batinnya segera dihentikan karena
kedua orang kasar yang ternyata bernama Polang
dan Sabrawi itu segera unjuk tingkah dengan
melemparkan sebutir kacang tanah yang masuk
ke cangkir minuman Kinanti. Pluuung...!
"Ha, ha, ha, ha...!" mereka tertawa
kegirangan. Kinanti diam saja, sedangkan Suto
Sinting mulai waswas terhadap sikap Kinanti yang
bisa mengamuk membabi buta karena memang
sudah lama menahan kemarahan dalam hati.
"Hei, Nona Cantik...," sapa Polang dengan
seringai memuakkan. "Tolong lemparkan kemari
kacang itu, aku salah lempar."
Kacang dalam cangkir diambil dengan
tenang. Digenggam sesaat, lalu dilemparkan ke
arah Polang  tanpa memandang kedua orang
tersebut. Wuuut...! Lemparan kacang kenal jidat
Polang. Deess...!
"Aaauw...!"
Brrruk...! Polang jatuh terjungkal ke
belakang membuat Sabrawi terjengkang pula dan
jatuh tertindih tubuh Polang hingga terdengar
suaranya yang tergencet berat itu.
"Heegh...!"
Gadis cantik tanpa senyum itu tetap diam di
tempat tanpa berpaling sedikit pun, sementara


semua mata pengunjung kedai tertuju pada Polang
dan Sabrawi yang saling berebut untuk segera
bangkit. Suto Sinting hanya sunggingkan senyum
tipis, sambil membatin dalam hatinya,
"Boleh juga pelajaran dari Kinanti itu. Aku
yakin sebelumnya ia telah  tanamkan tenaga
dalamnya pada kacang tersebut, sehingga ketika
kenai  kening orang berbaju abu-abu itu mampu
membuat kepala orang tersebut bagaikan
ditendang kaki kuda. Masih untung kepala itu tak
sampai pecah. Hmmm... diam-diam gadis ini
punya simpanan yang boleh juga dibanggakan.
Oh... sekarang keduanya sudah berdiri, agaknya
mereka marah kepada Kinanti dan  akan
menyerang bersama. Aku harus siaga melindungi
Kinanti!"
"Gadis setan!" maki Polang yang keningnya
menjadi biru legam dan nyaris tidak dipercaya
oleh pandangan para pengunjung kedai.
"Hanya terkena sebutir kacang tanah saja
bisa menjadi sememar itu?" ucap salah seorang
pengunjung secara bisik-bisik.
Sabrawi tidak sabar, ia segera mendekati
Kinanti dan menampar wajah Kinanti seenaknya
saja.
Wuuut...! Taaab...!
Tamparan tangan kanan Sabrawi ditangkap
oleh Kinanti. Pergelangan tangan itu diremasnya
kuat-kuat dengan curahan tenaga dalam, hingga
beberapa orang yang ada di dekat mereka
mendengar suara tulang diremukkan.


Krraaaak...!
"Aaauh...!" Sabrawi menjerit kesakitan,
sedangkan Kinanti segera melepaskan. Wajahnya
tetap memandang lurus, seakan tidak melirik ke
arah lawannya sedikit pun. Tangan yang meremas
tulang pergelangan Sabrawi itu segera menyentak
dan tubuh Sabrawi bagaikan didorong oleh tenaga
kuda dengan cepat. Wuuut...! Buuurkk...!
"Heegh...!"
Kali ini yang terpekik tertahan adalah
Polang, karena tubuhnya tertabrak badan
Sabrawi. Ia jatuh terkapar dan tubuh Sabrawi
menjatuhinya dengan telak.
"Anjing kurapan!" sentak Sabrawi sambil
bangkit sempoyongan. "Heeeaat...!"
Sabrawi hendak menyerang dengan satu
tendangan yang disertai lompatan pendek. Tetapi
jari tangan Suto Sinting segera melepaskan jurus
'Jari Guntur' berupa sentilan kecil ke arah
Sabrawi. Teees...! Buuhg...!
"Uhhg...!" Sabrawi bagaikan sukar bernapas
lagi. Matanya mendelik karena ulu hatinya terkena
sentilan bertenaga dalam dari jarak jauh.  Tubuh
itu terlempar mundur kembali dan jatuh menindih
Polang yang baru saja mau bangkit berdiri.
"Heehg ..!" Polang terpekik dengan suara
tertahan, matanya mendelik karena perutnya
kejatuhan tubuh besarnya Sabrawi.
"Setan binal! Bunuh dia!" teriak Polang
dengan wajah kian beringas.
"Tanganku tak bisa dipakai memegang


senjata!" kata Sabrawi sambil menyeringai
merasakan sakit akibat tulang pergelangan
tangannya remuk.
Polang tak sabar, segera sambar kapaknya di
meja dan menyerang dengan hantaman kapak dari
atas ke bawah. Wuuut...!
Jraaak...!
Kapak menghantam bangku tempat duduk
Kinanti. Gadis itu telah lenyap dari tempatnya.
Rupanya sebelum kapak menghantamnya, ia
sudah lebih dulu melesat dan berpindah ke tempat
lain dengan satu sentakan kaki ke lantai.
Gerakannya cukup cepat sehingga mirip orang
menghilang.
Kapak Polang menancap di bangku dengan
kuatnya, sukar dicabut kembali dengan cepat.
Sementara itu, Suto Sinting masih duduk di
bangku tersebut dengan tenangnya, padahal
kapak itu menancap dalam jarak empat  jengkal
dari pahanya.
Melihat ketenangan Suto Sinting, Polang
menjadi semakin berang. Maka begitu kapak
berhasil dicabut, langsung dihantamkan ke
punggung Suto Sinting. Wuuut...!
Ternyata kaki Suto Sinting bergerak lebih
cepat dari gerakan kapak. Kaki itu menendang ke
dada Polang. Dug...!
"Uuhg...!" mulut Polang pun segera
semburkan darah segar dalam keadaan tubuh
melayang ke belakang dan menabrak Sabrawi
hingga keduanya jatuh saling tindih kembali.


"Sekali  lagi  kalian coba mengganggu kami,
akan kubuat patah batang leher kalian!" hardik
Suto dalam keadaan tetap duduk di tempat.
Sabrawi segera berkata kepada Polang,
"Cepat tinggalkan tempat ini dan laporkan kepada
ketua kita, Polang!"
Dengan langkah sempoyongan, akhirnya
mereka segera meninggalkan kedai. Tapi di pintu
keluar Polang sempat tinggalkan ancaman,
"Tunggu pembalasanku!"

4

MENURUT Ki Punjul, Sabrawi dan Polang
adalah orang Tanah Hitam yang dikuasai oleh
seseorang yang berjuluk Maha Syiwa.
Tetapi yang
jadi pemikiran Suto dan Kinanti bukan nama
Maha Syiwa melainkan nama si Jejak Setan.
Mereka dalam kebingungan mencari jawaban yang
pasti; siapa pemegang Sabuk Gempur Jagat
sebenarnya? Tulang Naga atau Merak Cabul, atau
pula si Jejak Setan seperti kata kedua anak buah
Maha Syiwa itu.
"Ke mana langkah kita pagi ini?" tanya Suto
Sinting saat mereka selesai menikmati sarapan
pagi; sebungkus nasi jagung dan dua cangkir tuak
untuk Suto.


Wajah Kinanti tampak lebih cantik di pagi
itu. Suto mengakui dalam hatinya, bahwa
kecantikan Kinanti kian tampak jelas jika gadis itu
sedikit merapikan diri selesai mandi. Wajah itu
kelihatan bersih dan lembut, bibirnya tampak
selalu basah walaupun tanpa gincu seoles pun.
Sayang wajah yang semestinya berseri-
berseri itu kurang ceria karena kebingungan
menentukan langkah selanjutnya. Bahkan
pertanyaan Suto tadi dibiarkan saja tanpa
jawaban. Kinanti membisu seribu kata dengan
pandangan mata menerawang lurus ke arah meja.
Saat matahari mulai meninggi, seorang lelaki
berusia sekitar empat puluh tahun datang dengan
terhuyung-huyung memasuki kedai itu. Ia
disambut oleh Ki Punjul dengan wajah tegang.
Agaknya Ki  Punjul sudah mengenali lelaki
berpakaian compang-camping dalam keadaan
tubuh kotor dan banyak luka. Wajahnya memar
membiru dan bibirnya bagian bawah terdapat luka
pecah akibat hantaman keras. Sebagian dada
serta lengan kanan juga tampak memar
kehitaman bagaikan luka bakar yang membuat
kulitnya sedikit melepuh.
"Bagor, apa yang terjadi?!" Ki Punjul segera
memapah lelaki itu.
"Tolong, tolong aku, Kang Punjul...!" lelaki
bernama Bagor itu terengah-engah bagaikam
hampir kehabisan napas, ia didudukkan di salah
satu bangku oleh Ki Punjul.
"Mengapa kau sampai terluka separah ini,


Bagor?! Apa yang terjadi pada dirimu?
Ceritakanlah!"
Dengan susah payah Bagor yang terluka
parah itu mencoba bicara kepada Ki Punjul. Suto
Sinting dan Kinanti mengikuti pembicaraan itu
dari tempat duduk mereka. Tak satu pun dari
mereka yang bergerak mendekat. Namun wajah
mereka sama-sama memancarkan rasa ingin tahu
cukup besar.
"Seseorang... seseorang telah  mengamuk di
perguruanku, ia hanya seorang diri, tapi... tapi ia
mampu membuat perguruanku rata dengan
tanah. Sebagian besar teman-temanku mati di
tangannya. Bahkan... bahkan Eyang Guruku
sendiri tak tertolong jiwanya. Beliau tewas dalam
keadaan hancur dihantam memakai sabuk...
sabuk yang mempunyai kekuatan dahsyat...."
Kinanti berbisik kepada Suto, "Kalau orang
itu  tidak dalam keadaan terluka parah, ia akan
mampu menceritakan ciri-ciri orang yang
menyerangnya memakai sabuk dahsyat itu."
Suto Sinting paham maksud Kinanti. Gadis
itu secara tak langsung menyuruh Suto segera
menyembuhkan orang tersebut. Maka tanpa
bicara lagi Pendekar Mabuk segera dekati Bagor
dan meminumkan tuak dari bumbungnya.
Ki Punjul berkata, "Tidak usah repot-repot,
Pendekar Mabuk. Aku masih punya tuak
untuknya. Biar kuambilkan tuak dari dapur saja."
"Tuak yang sudah masuk ke bumbungku
mempunyai khasiat penyembuhan cukup


mujarab, Ki. Berbeda dengan meminum tuak dari
cangkirmu. Hmmm... siapa orang ini sebenarnya?"
"Bagor adalah adik sepupuku, Pendekar
Mabuk."
"Aku akan menolong adik sepupumu, Ki
Punjul. Suruh dia buka mulut dan meneguk
tuakku ini."
Kinanti memperhatikan dari tempat
duduknya. Saat itu kedai belum terlalu ramai.
Hanya ada empat orang pembeli selain Suto dan
Kinanti. Keempat orang  itu juga memperhatikan
keadaan Bagor dengan tegang dan perasaan ngeri.
Beberapa saat setelah Bagor meneguk
tuaknya Suto, keadaan luka mulai tampak
membaik. Napasnya tidak terasa sakit lagi jika
dihela, ia mulai bisa bicara dengan lancar
menjelaskan apa yang terjadi di perguruannya.
Kinanti sendiri ikut nimbrung mendekat dengan
sesekali mengajukan pertanyaan kecil kepada
Bagor.
"Apa yang dituntut oleh tamu ganas
terhadap pihak perguruanmu itu, Bagor?" tanya
Pendekar Mabuk.
"Aku tidak tahu dengan pasti, Pendekar
Mabuk," jawab Bagor yang tadi sudah diberi tahu
oleh Ki Punjul siapa kedua tamu mudanya itu.
"Apakah kau yakin yang dipergunakan oleh
tamu  itu adalah senjata sabuk? Apakah bukan
cambuk atau sejenisnya?"
"Tidak. Aku melihat saat ia melepaskan
sabuknya itu dan menghantamkan ke arah tiga


pengawal Guru. Sabuknya itu bukan hanya
menghancurkan tubuh tiga pengawal Guru,
namun juga menyebarkan api yang membakar
pondok kami. Beberapa temanku ikut terbakar
dan apinya sukar dipadamkan. Aku pun ikut kena
hembusan angin sabuk itu. Hembusannya
menghadirkan gelombang hawa panas yang
mampu melelehkan pedang serta tombak kami."
Kinanti melirik Suto Sinting. Pandangan
mata mereka saling beradu sesaat. Kinanti sempat
berbisik lirih kepada Suto Sinting,
"Apakah benar demikian kedahsyatan sabuk
itu?"
"Aku kurang tahu soal kedahsyatannya. Tapi
agaknya orang itulah yang memegang Sabuk
Gempur Jagat."
Bagor berkata kepada Ki Punjul, "Tanah di
sekitar padepokan kami menjadi retak serta
sebagian longsor dan beberapa temanku ada yang
mati tertimbun longsoran tanah itu, atau terkubur
dalam keretakan tanah tersebut, Kang. Aku
sendiri hampir terkubur masuk ke dalam retakan
tanah kalau tak segera melompat menghindari
bahaya itu."
Kinanti ajukan tanya, "Bagaimana ciri-ciri
sabuk orang itu?"
"Ak... aku tak begitu jelas. Tapi sempat
kulihat sabuk itu sepertinya dari kulit ular
berwarna merah kehitaman. Jika disabetkan
memancarkan sinar merah."
Kinanti berbisik kembali kepada Suto,


"Begitukah ciri-ciri Sabuk Gempur Jagat?"
"Aku belum pernah melihatnya. Tak ada
yang menjelaskan padaku tentang ciri-cirinya."
Kinanti menghempaskan napas sedikit
kecewa dengan jawaban Suto Sinting. Tetapi kejap
berikut Suto segera ajukan tanya kepada Bagor
yang sudah tampak lebih sehat lagi itu.
"Bagaimana ciri-ciri orang yang mengamuk
dengan menggunakan sabuk itu?"
"Ciri-cirinya...?" Bagor merenung memba-
yangkan orang yang dimaksud. "Hmmm...
seingatku dia sudah cukup tua. Rambutnya putih,
wajahnya angker, badannya kurus, matanya
tampak buas...."
"Mengenakan jubah apa?"
"Hmmm... jubahnya... jubahnya kalau tidak
salah berwarna abu-abu lusuh," jawab Bagor
sambil menatap Pendekar Mabuk.
"Tak salah lagi," ucap Suto sambil
memandang ke arah luar kedai.
"Tak salah bagaimana maksudmu?" desak
Kinanti.
"Itu ciri-ciri si Tulang Naga!"
"Kalau begitu kita segera pergi mengejar
orang tersebut!"
Suto Sinting sempatkan diri bertanya kepada
Bagor, "Kapan perguruanmu diserang?"
"Tad... tadi malam. Menjelang fajar aku
melarikan diri kemari."
"Saat kau lari apakah orang itu masih
ngamuk di sana?"


"Masih, ia masih menghancurkan ruang
pemujaan."
"Cepat kejar dia, Suto!" seru Kinanti tak
sabar lagi.
Blaas...!
Suto dan Kinanti akhirnya melesat pergi
tinggalkan kedai Ki Punjul. Sebelum mencapai
perbatasan desa, mereka terhenti seketika.
Pendekar Mabuk yang mengawali hentikan
langkah dan menahan lengan Kinanti.
"Ada apa?" Kinanti merasa heran terhadap
sikap Suto yang menghentikan langkah.
Suto Sinting nyengir dan garuk-garuk
kepala.
"Siapa yang bodoh sebenarnya? Kau atau
aku?"
"Apa maksudmu bertanya begitu?" Kinanti
kerutkan dahi.
"Kita mau ke mana sebenarnya, Kinanti?"
"Ke perguruannya si Bagor."
"Kau tahu di mana letak perguruannya?"
Kinanti diam sesaat, lalu gelengkan kepala.
"Aku juga tidak tahu di mana letak
perguruannya berada. Kita lupa menanyakan
tempat itu," Suto Sinting tertawa geli sendiri.
"Kau saja yang kembali ke kedai dan
menanyakan kepada Bagor."
"Itu soal mudah. Tapi ada satu persoalan
yang harus kau selesaikan sendiri."
"Persoalan apa lagi?" Kinanti agak jengkel.
"Ki Punjul  belum kita bayar! Biaya makan,


minum, dan bermalam belum kita lunasi. Ki
Punjul bisa teriak 'maling' kepada kita, Kinanti."
"Uuuhh...!" Kinanti menghempaskan napas
menahan rasa kesal. "Kalau begitu sekalian saja
kau selesaikan urusan itu."
"Mana mungkin bisa kuselesaikan?"
"Apakah kau tak becus menghitung jumlah
biaya makan kita?!"
"Soal menghitung, becus saja. Tapi apa kau
sangka aku sekarang punya uang? Aku sedang tak
mempunyai uang sepeser pun, Kinanti!"
"Ya, ampuun... jadi siapa yang mau bayar
biaya makan, minum, dan bermalam kita itu?"
"Tentu saja kau yang harus bayar, karena
kau yang mendesak untuk bermalam di situ."
"Kau pikir sekarang aku pegang uang?
Sepeser pun aku tak pegang uang, Suto."
"Mampuslah kalau begini! Kasihan Ki
Punjul, dagangan habis, tuak habis, tapi uang tak
dapat," Suto Sinting garuk-garuk kepala.
"Baiklah, kita kembali ke kedai dan bicara
apa adanya kepada KI Punjul. Kurasa dia tidak
keberatan kalau kita menghutang kepadanya."
Malu tak malu mereka berdua menemui KI
Punjul lagi dan mengatakan keadaan sebenarnya.
Untung Ki Punjul orang yang baik hati, sehingga
hal  itu tidak dipersoalkan. Kinanti sempat pula
tanyakan letak perguruan Bagor, lalu mereka
segera pergi ke perguruan tersebut mengejar si
pemegang Sabuk Gempur Jagat.
Tetapi sampai di tempat tujuan, ternyata


keadaan sudah sepi. Tak ada manusia yang hidup
satu pun. Tak ada mayat yang utuh tanpa luka
bakar. Bangunan-bangunan hancur menjadi
rongsokan kayu arang. Wajah-wajah mereka sukar
dikenali karena luka bakar yang amat parah.
Bahkan di sana-sini terdapat serpihan daging
manusia yang sudah menghangus pertanda
korban itu mati dalam keadaan hancur.
Keadaan itu membuat wajah Kinanti
menahan duka. Ia teringat keadaan di Lembah
Birawa yang sama persis dengan keadaan di
perguruannya Bagor itu. Melihat ciri-ciri
kehancuran tersebut, Kinanti dan Suto Sinting
yakin bahwa pelakunya memang orang yang
memegang Sabuk Gempur Jagat. Bongkahan
tanah retak dan longsor bagaikan sisa-sisa kiamat
di tempat itu, sama persis dengan sisa-sisa kiamat
di Lembah Birawa.
"Tulang Naga...! Aku yakin pelakunya adalah
si Tulang Naga, orang berjubah abu-abu,
berbadan kurus, berambut putih, dan berwajah
angker itu!" geram Suto Sinting sambil pandangan
matanya menerawang jauh.
"Ke mana arah kepergiannya?"
"Sulit dilacak," jawab Suto Sinting tanpa
memandang Kinanti. "Tapi melihat beberapa
pohon tumbang menjauh ke arah barat,
kemungkinan besar Tulang Naga menuju ke arah
barat!"
"Kita coba mengejar ke sana saja!" ujar
Kinanti tanpa menunggu pendapat Suto, ia


langsung berkelebat ke arah barat. Suto Sinting
terpaksa mengikutinya.
Mereka semakin yakin arah barat
merupakan arah kepergian Tulang Naga, karena di
sana tercecer beberapa potongan tubuh manusia,
mayat-mayat yang mati hangus dan pepohonan
yang rusak terbakar serta  mengering sebagai
tanda amukan tersebut berlanjut ke arah barat.
Namun semakin ke barat, tanda-tanda
kehancuran itu semakin menghilang, sampai
akhirnya mereka berhenti di kaki sebuah bukit
dan merasa kehilangan jejak.
"Kita kehilangan arah, Kinanti."
"Ya, tapi seingatku tempat ini tak jauh dari
Bukit Kasmaran."
"Apakah kau masih menduga sabuk itu di
tangan Merak Cabul?"
Kinanti diam sejenak, mempertimbangkan
pendapatnya tentang si Merak Cabul. Kejap
berikut terdengar suaranya berkata pelan bagai
orang menggumam.
"Merak Cabul mempunyai seorang kakek
berbadan kurus dan berambut putih, ia berjuluk:
Dewa Putih."
"Dewa Putih? Baru sekarang kudengar nama
itu."
"Sudah lama Dewa Putih tidak muncul ke
dunia persilatan, ia mengasingkan diri dan tak
mau ikut campur perkara duniawi lagi. Tapi siapa
tahu dia berubah pikiran, atau karena sesuatu hal
ia akhirnya turun ke rimba persiiatan lagi dan


berhasil kuasai Sabuk Gempur Jagat itu?!"
"Jika ia dari aliran putih, ia tak akan
bertindak sekejam itu."
"Barangkali atas dorongan sang cucu, bisa
saja  ia lakukan kekejaman seperti itu. Sebab
menurut cerita yang kudengar dari salah seorang
murid Bukit Kasmaran, Dewa Putih sangat sayang
kepada cucu-cucunya. Tapi dari sekian cucu yang
paling disayang adalah Pancasurti alias si Merak
Cabul."
Pendekar Mabuk manggut-manggut
merenungkan penjelasan tersebut. Tapi ia belum
bisa mengambil sikap harus berbuat apa dalam
keadaan serba tidak pasti itu.
Setelah saling bungkam beberapa saat
lamanya, akhirnya Kinanti mengambil keputusan
dengan tegas.
"Aku harus ke Bukit Kasmaran. Sebelum
bertemu dengan si Merak Cabul, rasa-rasanya
masih belum lega hatiku."
"Aku ikut saja ke mana kau pergi," ujar Suto
Sinting setelah meneguk tuaknya. "Bagiku yang
penting aku harus selamatkan sabuk pusaka itu
agar tidak digunakan untuk kekejaman tanpa
batas."
Sambil bergerak mengikuti langkah Kinanti,
Suto Sinting sempat mengingatkan gadis itu akan
keadaan Ratu Jiwandani. Tapi menurut Kinanti, ia
akan menghadap Ratu Jiwandani jika sudah
selesaikan urusan tentang si pemegang Sabuk
Gempur Jagat.


"Karena tugas utamaku dari beliau adalah
menghancurkan si pemegang Sabuk Gempur
Jagat sebagai pembalasan kekejamannya yang
menghancurkan pihakku itu!"
"Baiklah jika memang begitu tekadmu.
Kurasa Ratu-mu dalam keadaan aman bersama Ki
Galak Gantung," kata Suto Sinting yang merasa
tenang, tak mencemaskan sang Ratu sedikit pun.
Dan tiba-tiba langkah mereka harus terhenti
karena Pendekar Mabuk tarik tangan Kinanti
hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya. Kinanti
berlagak berang walau sebenarnya  dalam  hati
merasa senang berada dalam pelukan si tampan
Suto itu.
"Apa-apaan kau ini?! Mau bertindak kurang
ajar padaku, hah?!"
Suto Sinting tidak menjawab selain hanya
sunggingkan senyum dan lepaskan pelukan. Tapi
tangan kirinya yang menggenggam  segera
disodorkan. Tangan itu membuka genggamannya,
dan mata Kinanti terbelalak melihat sekeping
logam bergerigi tajam ada di tangan Suto.
"Senjata rahasia milik siapa itu?!"
Suto Sinting hanya angkat bahu, "Yang jelas
jika tidak segera kutangkap dan dirimu kutarik
dalam pelukan, benda ini sudah menembus kulit
tubuhmu yang mulus itu, Kinanti."
Gadis berjubah kuning gading itu kulit
wajahnya berubah merah. Bukan karena malu
dipuji kemulusan kulitnya, tapi marah karena ada
seseorang yang ingin membunuhnya dengan licik,


ia  segera pandangi keadaan sekeliling dengan
mata tampak berang.
Akhirnya ia pun berseru, "Jika kau ingin
unjuk kesaktian, keluarlah dari persembunyianmu
dan hadapilah aku! Jika kau masih bersembunyi,
kuanggap kau seorang pengecut yang masih perlu
berguru lagi atau pulanglah dan menyusulah
kepada ibumu!"
Ejekan itu sengaja dilakukan untuk
memancing kemarahan si penyerang gelap.
Rupanya pancingan itu berhasil membangkitkan
kemarahan si penyerang gelap, sehingga dari atas
pohon berdaun rindang meluncurlah sesosok
tubuh berpakaian biru muda. Wuuuttt...!
Zing, zing, zing...!
Orang yang meluncur turun dari atas pohon
itu melepaskan senjata rahasianya lagi bertubi-
tubi ke arah Kinanti. Dengan cepat Kinanti cabut
pedangnya dan kepingan baja putih itu
ditangkisnya menggunakan pedang tersebut.
Tring, tring, tring...!
Jeb, jeb, jeb...!
Tiga keping logam bergerigi itu menancap
pada batang pohon. Pemilik senjata rahasia itu
tampak menggeram melihat serangannya dapat
ditangkis Kinanti, ia memandang Kinanti dengan
mata tajam, demikian pula Kinanti tak mau kalah
tajam dalam memandang. Suto Sinting hanya
tertegun dengan wajah tampak terperangah
kagum, karena orang yang turun dari atas pohon
itu berparas cantik dan bertubuh menggiurkan


sekali.
"O, jadi kaulah orangnya, Sanjung Rumpi?!"
Kinanti manggut-manggut dengan senyum
sinisnya.
Gadis cantik berusia sekitar dua puluh
empat tahun itu melangkah dekati Kinanti. Dalam
jarak lima langkah ia berhenti dan pandangi wajah
Pendekar Mabuk. Kala itu, kekaguman Pendekar
Mabuk sudah mampu disembunyikan, sehingga
kini sang pendekar tampan itu sunggingkan
senyum yang menawan hati.
Kinanti segera menyodokkan sikunya ke
pinggang Suto dan menghardik dengan suara
bisik, "Tak perlu tersenyum kepadanya!"
Hati Suto menjadi geli, tapi mulutnya
berbisik kepada Kinanti dengan mata masih
pandangi Sanjung Rumpi.
"Siapa gadis itu, Kinanti?"
"Sanjung Rumpi, tangan kanannya si Merak
Cabul."
"Ooo...," Suto manggut-manggut kecil.
"Menyingkirlah, biar kuhadapi sendiri orang
ini! Kuingatkan jangan sering-sering menatapnya."
"Kenapa begitu?"
"Dia mempunyai kekuatan daya pikat di
wajahnya. Kau bisa terjerat cinta jika terlalu lama
memandangnya!"
"Ingin kucoba seberapa kekuatan daya
pikatnya!"
"Kupenggal sendiri lehermu kalau berani
coba-coba terpikat olehnya."


"Eh, galak juga kau jadinya. Baiklah aku
akan menyingkir ke bawah pohon sana...," sambil
Suto Sinting tertawa kecil tanpa suara, ia
menyingkir ke bawah pohon, tanpa melirik
Sanjung Rumpi walau tahu sedang dipandangi
oleh gadis berpakaian seronok warna biru tipis itu.
"Kalau tak ingat Dyah Sariningrum sudah
kutomplok gadis itu," katanya membatin, lalu
terbayang sekilas wajah calon istrinya yang
menjadi Ratu di negeri Puri Gerbang Surgawi dan
bergelar Gusti Mahkota Sejati itu.
Bayangan wajah Dyah Sariningrum hilang
setelah Suto mendengar Kinanti berseru kepada
Sanjung Rumpi dengan nada tak bersahabat sama
sekali.
"Rupanya kau yang membunuh lelaki kurus
yang gagal membunuhku kemarin siang, Sanjung
Rumpi!"
Suto Sinting pandangi pinggang Sanjung
Rumpi,  ternyata memang masih tersisa enam
pisau kecil yang melingkar bagaikan sabuk itu.
Sanjung Rumpi sendiri hanya tersenyum sinis
mendengar tuduhan tersebut.
"Ya, memang aku yang menyuruh Bergala
membunuhmu. Sayang ia terlalu bodoh dan layak
dimusnahkan nyawanya!"
Dengan pedang masih di tangan Kinanti
serukan suara kembali, "Lalu siapa yang
menyuruhmu membunuhku?! Jawab!"
"Ketuaku; Merak Cabul!"
"Bagus. Dugaanku tak salah lagi sekarang.


Tak perlu kutanyakan apa sebabnya, yang pasti
Merak Cabul juga yang menghancurkan Lembah
Birawa dengan Sabuk Gempur Jagat!"
"Yang kutahu kau adalah sisa dari
kehancuran itu! Ketua menyuruhku
membunuhmu, Kinanti! Tapi ketua juga
menyuruhku mengampunimu jika kau mau
serahkan Kitab Jati Mulya kepadaku!"
"Persetan dengan Kitab Jati Mulya!" geram
Kinanti. "Tak ada kitab apa pun di tempatku, tapi
kalian sudah membumihanguskan istana kami,
membantai seluruh penghuninya, dan sekarang
tinggal membayar hutang nyawa kepadaku.
Heeeaat...!"
Kinanti maju dalam satu lompatan, pedang
siap ditebaskan ke arah lawan. Namun Sanjung
Rumpi tak mau tinggal diam saja. Ia pun bergerak
dengan cepat, tangannya tiba-tiba melemparkan
dua pisau beracun Serap Darah itu. Wuuut,
wuuut...!
Kinanti mengibaskan pedangnya dengan
kecepatan tinggi pula. Trang, trang...! Kedua pisau
itu mampu ditangkisnya. Kini ia menebaskan
pedang dari atas ke bawah, sasarannya adalah
kepala Sanjung Rumpi. Wuuut...!
Sanjung Rumpi menghindar dengan
memiringkan tubuh dan membungkuk. Kakinya
menyapu kaki Kinanti. Weess...!
Tapi Kinanti lompat ke atas dan segera
menghujamkan pedang ke punggung Sanjung
Rumpi yang membungkuk. Suuut...!


"Heeaat...!" Sanjung Rumpi berguling di
tanah. Kakinya berkelebat ke atas dan tubuhnya
terpental bangkit dalam satu sentakan manakala
pedang itu menancap di tanah. Lalu kaki itu
berkelebat menendang rusuk Kinanti dengan
cepat. Deeg...!
"Uuhg...!" Kinanti terguling-guling.
Pedangnya tertinggal dalam keadaan menancap di
tanah.
Sanjung Rumpi bermaksud mencabut
pedang  itu, tapi tangan Kinanti segera lepaskan
pukulan  bersinar merah bagaikan besi membara
yang memancar lurus ke arah Sanjung Rumpl.
Claaap...!
Sinar tanpa putus itu kenai tangan Sanjung
Rumpi yang ingin memegang gagang pedang.
Cras...!
"Aaauh...!" Sanjung Rumpi memekik
kesakitan, lalu melompat mundur dalam keadaan
tangannya terluka hangus pada bagian
pergelangannya. Ia menyeringai kesakitan sambil
pegangi tangan kanannya itu.
Kinanti segera melompat dan menyambar
pedangnya. Wuuus...! Kini ia tiba di depan
Sanjung Rumpi dalam jarak dua langkah.
Pedangnya segera ditebaskan dari atas ke bawah.
Namun baru saja tangan Kinanti terangkat, tiba-
tiba seberkas sinar hijau kecil melesat dari balik
sebuah pohon dan menghantam dada kanan
Kinanti. Claaap...! Dees...!
"Aaaahg...!" Kinanti terpekik panjang,


tubuhnya melayang  bagai terbuang ke belakang.
Lalu tubuh itu roboh dalam keadaan telentang.
Bluuk...!
"Aaahg...! Ahhg...! Aaaahg...!" Kinanti
kelojotan, tubuhnya tersentak-sentak dengan
mata mendelik dan mulut ternganga. Sinar hijau
itu menimbulkan luka berbahaya di bagian dalam
tubuh Kinanti. Nyawanya mau lepas dari raga.
Mulutnya semburkan darah segar beberapa kali.
"Celaka!" gumam Suto Sinting dengan
cemas. "Aku harus segera selamatkan Kinanti!"
Zlaaap...! Suto Sinting menyambar tubuh
Kinanti yang sekarat, ia menggunakan jurus
'Gerak Siluman' yang kecepatannya melebihi anak
panah lepas dari busur. Kinanti berhasil dibawa
lari bersama pedangnya. Namun sepintas
terdengar seruan seorang perempuan yang
agaknya ditujukan kepada Sanjung Rumpi.
"Kejar mereka! Jangan biarkan gadis itu
lolos!"

*
* *

5

KEADAAN Kinanti tak bisa bertahan lagi.
Suto Sinting sudah merasakan tubuh gadis itu
dingin bagaikan salju. Mau tak mau Suto hentikan
pelariannya di perjalanan.


"Ia harus meminum tuakku secepatnya.
Terlambat sedikit ia akan mati!"
Pendekar Mabuk memaksakan gadis itu
meneguk tuaknya. Tuak itu dituangkan ke mulut
Kinanti melalui mulut Suto, lalu sedikit ditiup biar
tuak bisa masuk ke tenggorokan dan tertelan.
Sekalipun hal itu dilakukan di tempat terbuka,
mudah diketahui oleh pengejarnya, namun Suto
merasa tindakan itu adalah tindakan yang terbaik
ketimbang harus membawa lari Kinanti ke tempat
yang aman, tapi ternyata sampai di tempat aman
nyawa Kinanti sudah melayang.
Usaha tersebut mulai menampakkan
hasilnya. Napas Kinanti sudah tidak sesak lagi.
Gadis itu mulai mampu bernapas dengan lega.
Kelopak matanya bisa berkedip-kedip. Suara
erangannya sangat lirih, namun membuat Suto
Sinting merasa gembira. Itu merupakan tanda-
tanda jiwa Kinanti telah selamat dari maut yang
nyaris merenggutnya tadi. Tuak pun kini
dituangkan secara langsung, tidak melalui
bantuan mulut Suto lagi. Kinanti sempat terbatuk-
batuk karena meneguk tuak dalam keadaan
berbaring.  Suto merasa lega dan sengaja
membiarkan Kinanti terbatuk-batuk.
"Ooh... dadaku panas sekali.  Panas sekali,
Suto...," rintih Kinanti dalam keadaan tergolek di
rerumputan. Tepat di bawah pohon teduh.
"Minumlah tuak dari bumbungku ini.
Minumlah lagi, Kinanti."
Mau tak mau Kinanti menuruti saran Suto


Sinting. Sebentar-sebentar ia meneguk tuak itu
sambil keringatnya diusap oleh Suto. Perlakuan
Suto yang lembut bak penuh kesetiaan serta kasih
sayang itu mulai terasa menyentuh hati Kinanti.
Namun gadis itu diam saja dan tak mau
menunjukkan rasa hati sebenarnya.
"Sebentar lagi kau sembuh. Percayalah!
Mereka tak akan mampu membunuhmu jika aku
ada di sampingmu, Kinanti," ucap Suto dengan
lembut sekali.
"Mereka... mereka mengejar kita?" tanya
Kinanti setelah teringat serangan dari balik pohon
yang berarti Sanjung Rumpi tidak sendirian.
"Biarkan mereka mengejar kita. Aku akan
menghadapi mereka. Kau istirahatlah dulu jika
sampai mereka menemukan kita di sini, Kinanti."
Sambil bicara begitu, Suto Sinting
mengusap-usap kening Kinanti sampai ke rambut.
Elusan pelan membuat hati Kinanti semakin
menemukan kebahagiaan  yang samar-samar.
Mestinya ia tak ingin menikmati kebahagiaan itu,
namun keadaannya yang tergolek lemah membuat
setiap sentuhan tangan Pendekar Mabuk terasa
jelas di hati Kinanti, seolah-olah elusan itu
menjamah hati dengan mesranya.
"Suto, mengapa kau bersikap baik sekaii
kepadaku?"
"Karena kau pun bersikap baik padaku.
Kalau kau musuhku, aku tak akan bersikap
seperti ini padamu, Kinanti," jawab Suto dengan
suara pelan namun sangat jelas terasa


menghadirkan debaran indah di hati Kinanti.
"Tapi... tapi aku  tak ingin mempunyai
kekasih seperti kau, Suto."
"Aku tidak berpikir ke arah itu, Kinanti.
Hanya saja, kalau boleh kutahu, mengapa kau
tidak ingin mempunyai kekasih seperti diriku?"
"Karena kau mata keranjang."
Pendekar Mabuk sunggingkan senyum geli.
Bahkan tawa kecilnya terlepas lirih bagai orang
menggumam. Kinanti menatapnya, dan Suto
menjadi salah tingkah, akhirnya lemparkan
pandangan ke arah lain.
Tepat pada saat pandangan terlempar, saat
itu Suto melihat kemunculan Sanjung Rumpi
dengan seorang perempuan yang berusia sekitar
dua puluh tujuh tahun. Wajahnya cantik,
berbentuk lonjong. Hidungnya mancung dan
bibirnya sangat menggiurkan. Kulit perempuan itu
kuning langsat. Rambutnya disanggul rapi dengan
sisa anak rambut terjuntai di smping kanan-kiri.
Namun  hal yang membuat Suto Sinting
menjadi berdebar-debar adalah pakaian
perempuan itu. Ia mengenakan pakaian hijau
berbunga-bunga seperti bulu merak. Terbuat dari
kain tipis yang dibentuk jubah berlengan panjang.
Jubah hijau merak itu tidak dikancingkan
bagian  depannya, sedangkan bagian dadanya
hanya ditutup dengan kain tipis dan kecil. Seakan
hanya menutupi bagian yang penting saja.
Demikian pula bagian bawahnya, tak ada kain lain
kecuali kain penutup tipis dan kecil, menutup


bagian penting secukupnya. Tapi tipisnya kain
penutup itu membuat apa yang ditutupnya
menjadi tampak samar-samar dan mengguncang
hati setiap lelaki.
"Mereka datang juga akhirnya," gumam Suto
Sinting yang membuat Kinanti akhirnya bangkit
dengan perlahan-lahan.
"Celaka! Sanjung Rumpi datang bersama si
Merak Cabul!"
"Perempuan berjubah hijau itukah yang
bernama si Merak Cabul?"
"Benar. Hati-hati, jangan terlalu lama
pandangi matanya. Kekuatan matanya bisa
membuat lelaki bertekuk lutut kepadanya dan
pasrah diperintahkan apa saja."
Suto kurang begitu menghiraukan kata-kata
Kinanti. Namun ia sempat menggumam lirih
sambii melepaskan tangannya dari lengan Kinanti
yang sejak tadi dipeganginya.
"Pantas ia berjuluk Merak Cabul,
pakaiannya memang sangat cabul. Tapi...
menggairahkan sekali untuk dinikmati dengan
mata telanjang seperti ini."
"Suto!" sentak Kinanti menyadarkan
pendekar tampan yang agaknya hanyut dalam
buaian kecabulan perempuan berjubah hijau itu.
Suto Sinting pun tersentak kaget dan segera
sadar.
"Kau diam saja di sini, biar kuhadapi
mereka!" katanya sambil bangkit berdiri.
Kemudian ia maju menyongsong langkah Sanjung


Rumpi dan si Merak Cabul yang berusaha dekati
Kinanti. Dalam jarak enam langkah mereka sama-
sama berhenti. Mata Suto tertuju lurus pada mata
si Merak Cabul.
Merak Cabul sunggingkan senyum pemikat.
Namun Suto Sinting segera gunakan jurus
'Senyuman iblis' warisan dari bibi gurunya:
Bidadari Jalang. Jurus senyuman itu membuat
Merak  Cabul  dan Sanjung Rumpi menjadi
berdebar-debar.
"Sial! Mengapa hatiku jadi berdebar-debar
sekali. Ooh... hasratku ingin bercumbu dengan si
tampan itu menjadi bergejolak, makin lama
semakin menyesakkan pernapasan," kata Sanjung
Rumpi dalam batinnya. Tangan yang terluka bakar
agaknya sudah disembuhkan oleh si Merak Cabul,
hingga tampak utuh tanpa bekas luka menghitam
seperti tadi.
Bukan hanya Sanjung Rumpi yang berdebar-
debar, ternyata Merak Cabul pun membatin dalam
kegelisahannya.
"Celaka betul. Kekuatan daya pikatku
ternyata kalah dengan senyumannya. Ooh... aku
bergairah sekali terhadap pemuda tampan itu.
Jiwaku menuntut pelukan dan ciumannya.
Aduuuh... keinginanku bercumbu sangat besar.
Aku tak sabar menunggu lebih lama  lagi. Aku
ingin segera dipeluk dan dicumbunya. Oooh...
bagaimana aku harus bertahan jika begini
jadinya?"
Suto Sinting tetap sunggingkan senyum dan


pandangi mata kedua perempuan itu secara
berganti-gantian. Kekuatan 'Senyuman iblis'
semakin membuat mereka berdua sangat gelisah.
Bahkan Sanjung Rumpi menjadi salah tingkah,
antara takut kepada Merak Cabul dan ingin segera
memeluk Suto Sinting.  Kedua tangannya mulai
meremas-remas sendiri dengan napas mulai
memberat, dan sesekali tersengal resah.
Kinanti tidak mengerti apa yang dilakukan
Suto  Sinting, ia hanya menduga Suto telah
terpengaruh kekuatan pelet yang ada pada diri
Merak  Cabul. Maka dengan hati geram Kinanti
lepaskan pukulan jarak jauhnya ke arah Merak
Cabul.
Wuuut...! Pukulan itu berupa sinar merah
kecil lurus tanpa putus. Arahnya tepat ke dada
Merak Cabul.
Melihat kedatangan sinar merah bagaikan
kilat, Merak Cabul  segera sentakkan tangan
kirinya dan dari telapak tangan kiri keluar  sinar
hijau lurus tanpa putus yang menghantam tepat
sinar merah tersebut. Claaap....!
Blaaar...!
Ledakan yang memercikkan bunga api
menyebar itu mempunyai gelombang hentak yang
cukup besar. Pendekar Mabuk terjungkal  karena
hentakan gelombang ledak tersebut. Sanjung
Rumpi juga terpelanting jatuh dan berguling-
guling di tanah. Merak Cabul terdorong ke
belakang hingga tubuhnya membentur sebatang
pohon,  lalu jatuh terduduk di bawah pohon


tersebut. Sedangkan Kinanti hanya tersentak ke
belakang tak sampai jatuh karena ia segera
berpegangan dahan pohon kecil.
Alam sunyi sejenak. Kemudian mereka yang
berjatuhan mulai bangkit dengan pandangan
saling bermusuhan. Merak Cabul menatap Kinanti
dengan gigi menggeletuk menahan kebencian.
Sanjung Rumpi memandang Kinanti, namun
segera beralih kepada Suto Sinting karena hatinya
masih gundah karena gairahnya yang tergugah
oleh senyum pemikat Suto tadi.
Pendekar Mabuk kibaskan kepalanya
membuang rasa pusing akibat jatuhnya tadi. Ia
segera menenggak tuaknya sambil mengarah
kepada Kinanti, ia tahu dirinya didekati Kinanti,
karenanya matanya sempat melirik sebentar saat
menenggak tuak tiga teguk.
"Kupikir kau ingin lakukan pertarungan
dengan mereka. Ternyata kau justru menikmati
kecabulan perempuan itu!" sentak Kinanti dengan
suara pelan. Wajah cantiknya cemberut hingga
mulutnya tampak runcing.
Suto hanya nyengir geli, lalu berkata, "Kau
tidak tahu apa yang kulakukan, Kinanti."
Wajah Suto mendekat di telinga Kinanti,
"Aku menyerang hati mereka. Hampir saja mereka
lumpuh bersamaan."
"Hmmm... alasan!" Kinanti mencibir ketus.
Suto Sinting justru makin menertawakan walau
tanpa suara tawa yang nyata.
"Merak  Cabul!" seru Kinanti kepada


perempuan berdandanan seronok itu. "Apa
alasanmu membumihanguskan Lembah Birawa
dengan Sabuk Gempur Jagat itu?!"
"Hik, hik, hik, hik...!" Merak Cabul tertawa,
lalu tawa itu tiba-tiba  hilang  dan wajahnya
berubah ketus. "Kalau aku punya Sabuk Gempur
Jagat, sudah kuhancurkan kepalamu saat tadi
melawan Sanjung Rumpi!"
"Mengapa tidak kau lakukan! Aku siap
melayanimu dengan senjata pusaka apa saja!
Keluarkan semua pusaka di Bukti Kasmaran, aku
tak akan gentar menghadapimu. Perempuan
cabul!"
"Aku hanya menghendaki Kitab Jati Mulya!
Kulihat Lembah Birawa sudah hancur, sisanya
tinggal dirimu seorang, Kinanti. Tak perlu  kau
bertahan dan bersikeras sembunyikan Kitab Jati
Mulya. Kau tidak akan mampu menandingi
kemarahanku, walaupun kau bersahabat dengan
si tampan itu! Kalau si tampan itu ikut campur,
akan kubuat berlutut dan menjadi pelayan
cintaku setiap malam!" 
"Aku bersedia!" sahut Suto Sinting. 
Kinanti berpaling sambil mendengus jengkel.
Suto Sinting agak menggeragap dan segera
berkata membetulkan maksud ucapannya tadi.
"Maksudku, aku bersedia bertarung
melawanmu demi membela Kinanti!"
"Hik, hik, hik, hik...," Merak Cabul
perdengarkan tawanya, lalu  berhenti mendadak
seperti tadi dan berwajah ketus pandangi Suto


Sinting.
"Bocah tampan," katanya. "Kau tak akan
mendapatkan keindahan jika berada di pihak
Kinanti. Gadis itu tidak bisa memberikan surga
terindah untukmu. Tapi jika kau ada di pihakku,
kau akan mendapatkan surga terindah di antara
surga-surga yang ada di dunia ini!"
"Aku sudah melihat pintu surgamu itu, tapi
aku tidak tertarik untuk masuk ke dalamnya,
Merak Cabul. Aku lebih tertarik pada surganya
Kinanti yang masih tertutup rapat, tak
dipamerkan pada setiap pria. Berarti surganya
masih bersih dan dijamin tak ada penyakit di
dalamnya!"
Suto Sinting sengaja bicara sedikit seronok
karena  ia bermaksud memancing kemarahan
Merak Cabul agar dialihkan kepadanya. Pendekar
Mabuk punya pertimbangan, bahwa Kinanti tidak
akan mampu mengungguli Merak Cabul, sehingga
sangat membahayakan jiwa jika Merak Cabul
murka kepada Kinanti. Satu-satunya cara untuk
mengurangi  datangnya bahaya pada  diri Kinanti
adalah dengan memancing perhatian Merak Cabul
dengan meremehkan kemesraan yang menjadi
andalan perempuan seronok itu.
"Kau belum tahu siapa aku, Bocah Tampan!"
Merak Cabul segera menggeram pertanda
kemarahannya  mulai  datang. Suto Sinting
sunggingkan senyum tipis, melangkah melintasi
dengan Kinanti dan berkata dalam bisik,
"Mundur, biar kuhadapi!" Walau ucapan itu


tak begitu jelas, tapi Kinanti merasakan
kesungguhan Suto yang ingin menghadapi Merak
Cabul. Kinanti pun akhirnya mundur pelan-pelan
menjauhi Suto Sinting sambil matanya sesekali
melirik ke arah Sanjung Rumpi, karena khawatir
datang serangan tiba-tiba dari Sanjung Rumpi.
Ternyata Sanjung Rumpi saat itu sedang
bersembunyi di balik pohon. Tangannya meraba-
raba tubuhnya sendiri, ia tampak  sedang
kasmaran dan memburu puncak gairahnya sambil
sesekali mencuri pandang ke arah Suto Sinting.
Kinanti kerutkan dahi dan membatin,
"Gila orang itu! Kenapa dia justru kasmaran
sendiri di pojokan sana?!"
Kinanti tak tahu bahwa Sanjung Rumpi
masih terkena pengaruh pelet dari jurus
'Senyuman  iblis' yang tadi dilancarkan Suto
Sinting. Pengaruh itu membuatnya tak mampu
menahan gairah dan ingin melepaskannya
bersama Suto. Namun karena Suto berhadapan
dengan Ketua-nya, ia tak berani lakukan apa pun
kecuali mencari keindahan dengan tangannya
sendiri.
"Bocah tampan," ujar Merak Cabul  dengan
mata  mulai  tampak  liar. "Kuberi kesempatan
sekali  lagi, kau mau berada di pihakku atau di
pihak Kinanti?"
"Tentu saja di pihak Kinanti!" jawab Suto
tegas-tegas.
"Kau tak ingin bermesraan denganku?"
Suto tertawa pendek. "Kemesraanmu sudah


basi, ibarat sayur sudah sayu dan hambar. Tidak
sesegar kemesraan Kinanti."
"Keparat kau! Terimalah jurus 'Racun Teluh
Cinta' ini, hiaaaat...!"
Claap...! Tiba-tiba dari mata kiri Merak
Cabul melesat sinar kuning lurus tanpa putus ke
arah Suto Sinting. Gerakan sinar itu sangat cepat,
bagaikan anak panah melesat dari busur dalam
jarak enam langkah. Kinanti sampai tak sadar
berseru,
"Awaass...!"
Tapi Pendekar Mabuk ternyata sudah siaga
penuh waspada. Tangannya yang menggenggam
tali bumbung berkelebat cepat mengarahkan
bumbungnya ke depan. Teeb...! Sinar kuning itu
kenai bumbung tuak. Lalu membalik arah sedikit
lebih rendah dari ketinggian geraknya tadi. Sinar
kuning yang membalik arah ke pemiliknya itu
menjadi lebih cepat dan lebih besar, sehingga
Merak Cabul tak sempat menghindar lagi. Jurus
'Racun Teluh Cinta' akhirnya menghantam
perutnya sendiri. Jrebb...!
"Aahhh...!" Merak Cabul  tersentak mundur,
suara pekikannya lemah, bukan dalam  nada
kesakitan, tapi bernada orang terkejut dalam
keindahan.
Tubuhnya yang molek tersandar di pohon, ia
masih berdiri dengan mata mulai  sayu. Makin
lama tubuhnya semakin menggigil  gemetaran.
Merak Cabul  mulai  tersenyum-senyum dengan
kepala  sedikit mendongak dan lidahnya  menjilati


bibir sendiri.
Jurus 'Racun Teluh  Cinta'  telah  menguasai
naluri dan jiwanya lebih  dahsyat dari aslinya.
Jurus itu membuat seseorang menjadi tunduk dan
patuh kepada perintah Merak Cabul. Tapi karena
berubah lebih besar dan mengenai dirinya sendiri,
maka Merak Cabul  menjadi  lupa daratan.
Gairahnya menggebu-gebu di luar  kewajaran, ia
tertawa cekikikan sendiri sambil  meraba-raba
tubuhnya.
Dengan gerakan pelan  bagai orang menari
jubahnya ditanggalkan. Napasnya mendesah-
desah, sesekali  keluarkan suara merintih nikmat
atau meratap diburu gairah cinta. Tubuhnya
meliuk-liuk bagaikan mengikuti irama gairahnya.
"Gawat! Kenapa dia jadi begitu setelah
terkena jurusnya sendiri?" pikir Kinanti sambil
hatinya berdebar-debar dan merasa kikuk sendiri.
Pendekar Mabuk hanya tersenyum-senyum nakal,
bahkan sesekali melirik Kinanti sambil  tertawa
pelan.
"Suto, kau apakan dia?"
"Sekadar membalikkan jurus 'Racun Teluh
Cinta'-nya."
"Dia menjadi gila! Gila kemesraan!"
Erangan memanjang dari mulut Merak
Cabul terdengar mendesirkan hati Kinanti, ia jadi
tak enak hati, lalu  segera menarik lengan Suto
Sinting sambil membentak,
"Palingkan muka dan tinggalkan tempat ini!
Jangan kau tonton tingkahnya itu, kau bisa ikut-


ikutan gila seperti dia!"
Kinanti menarik Suto Sinting mengajaknya
pergi. Pendekar Mabuk hanya tertawa kecil,  ia
masih sempat berpaling memandangi Merak Cabul
yang  telah  melepas seluruh penutup tubuhnya.
Bahkan langkahnya yang gontai telah  sampai di
tempat Sanjung Rumpi. Mereka bagai tak ingat
apa-apa  lagi. Sanjung Rumpi dipeluk dan
dicumbunya dengan jeritan-jeritan mesra yang
membangkitkan gairah siapa saja yang
mendengarnya.
"Ayolah, kita pergi dari sini!" Kinanti
mendorong pipi Suto agar tidak memandang ke
belakang sambil menarik pemuda tampan itu agar
cepat tinggalkan tempat.
Namun sebelum mereka pergi jauh, tiba-tiba
mereka dikejutkan oleh suara pekikan melengking
tinggi dari balik pohon tempat Merak Cabul
bercumbu dengan Sanjung Rumpi.
"Aaaahg...!"
Kali ini suara pekikan itu mengundang
perhatian dan bayangan berbeda. Nada pekikan
bukan seperti orang sedang menikmati puncak
kemesraan, namun seperti orang diterkam
kesakitan. Pendekar Mabuk segera palingkan
wajah, dan Kinanti pun ikut memandang ke sana.
"Ooh...?!" Kinanti tersentak kaget melihat
darah menyembur dari punggung Merak Cabul.
Lebih terkejut lagi melihat seseorang sedang
berdiri di samping kedua perempuan itu dengan
tongkat tergenggam di tangannya. Tongkat


berujung runcing itu berlumur darah, tampak
habis dihujamkan ke tubuh Merak Cabul.
Sedangkan Sanjung Rumpi tampaknya tak
bergerak lagi dalam tindihan tubuh Merak Cabul.
Rupanya ia pun terkena hujaman benda runcing
yang datang dari punggung Merak Cabul, tembus
ke ulu hati dan kenai jantungnya sendiri.
"Mengerikan sekali!" geram Kinanti bersuara
lirih. Mereka tak jadi teruskan langkah. Mata
mereka memandang si pemegang tongkat runcing
yang masih berdiri pandangi kedua perempuan
tersebut.
"Merak  Cabul  tewas!" gumam Suto Sinting
setelah melihat kaki Merak Cabul tersentak yang
terakhir kali, kemudian meiemas dan tak bergerak
lagi.
"Siapa orang bertongkat runcing itu?"
tanyanya kepada Kinanti.
"Dia yang bernama Dewa Putih."
"Edan! Kenapa ia membunuh cucunya
sendiri? Katamu tadi, ia paling sayang kepada
Merak Cabul?"
"Aku tak tahu mengapa ia jadi begitu.
Sebaiknya kita tinggalkan saja. Jangan berurusan
dengannya. Kulihat ia sedang murka dan...."
"Tunggu!" sergah Suto Sinting sambil
menarik tangan Kinanti yang ingin pergi. "Kita
temui saja dia. Bukankah dia salah satu orang
yang kau curigai sebagai pemegang Sabuk
Gempur Jagat?" 
Wuuut...! Jleeg...!


Kinanti dan Suto Sinting sama-sama
terkejut. Tahu-tahu si kakek berambut putih
sepanjang tengkuk tanpa ikat kepala  itu sudah
berada di samping mereka. Padahal jarak mereka
dengan mayat Merak Cabul cukup jauh. Tapi sang
kakek  yang berjuluk Dewa Putih itu mampu
bergerak cepat, hingga dalam  sekejap sudah
berada di samping Kinanti. Jika bukan karena
ilmunya yang tinggi, tak mungkin ia mampu
bergerak secepat jurus 'Gerak Siluman'-nya
Pendekar Mabuk.
Dewa Putih yang bertubuh kurus itu
memandang dingin kepada Kinanti dan Suto
Sinting. Jubahnya yang berwarna putih kusam
melambai-lambai  ditiup angin kaki bukit.
Wajahnya tampak kaku karena tonjolan  tulang
pipinya terlihat jelas. Pandangan mata yang dingin
itulah yang menimbulkan kesan angker walau
sebenarnya kesan itu lebih cenderung berwibawa.
"Kaukah yang bernama Dewa Putih, Kek?"
tanya Suto sekadar pembuka kata.
Dewa Putih sedikit bungkukkan badan.
Kinanti heran melihat tokoh tua yang usianya
sudah mencapai seratus tahun itu bersikap
menghormat kepada Pendekar Mabuk. Bahkan
jawabannya pun menimbulkan keheranan yang
lebih dalam lagi bagi Kinanti.
"Benar, akulah yang berjuluk Dewa Putih,
Nak Mas Manggala Yudha!"
"Manggala Yudha...?!" gumam hati Kinanti.
Suto Sinting menjadi kikuk sendiri.  Sulit


menjelaskan kepada Kinanti bahwa dirinya akan
dipanggil sebagai Manggala Yudha jika seseorang
mengetahui noda merah kecil di keningnya. Noda
merah itu adalah tanda penghormatan tinggi yang
diberikan  oleh  Ratu Kartika Wangi, penguasa
negeri Puri Gerbang Surgawi di alam gaib. Ratu itu
adalah  calon mertuanya, yang berarti ibu dari
Dyah Sariningrum yang menjadi penguasa negeri
Puri Gerbang Surgawi di alam nyata, tepatnya di
Pulau Serindu.
Tanda merah kecil di kening Suto hanya bisa
dilihat  oleh  tokoh-tokoh berilmu tinggi, yang
sudah mencapai tingkat pengendalian indera
ketujuh. Siapa pun yang mampu melihat  noda
merah di kening  Suto akan menaruh hormat,
setidaknya merasa sungkan terhadap murid
sinting si Gila Tuak itu. Karena noda merah
tersebut merupakan tanda tingkatan tertinggi
setelah Ratu Kartika Wangi. Noda merah itu
adalah  lambang jabatan Suto Sinting sebagai
Panglima Perang alias Manggala Yudha Kinasih
bagi negeri Puri Gerbang Surgawi di alam gaib.
Sedangkan para tokoh sakti mana pun paling
sungkan  jika berurusan dengan orang-orangnya
Ratu Kartika Wangi, karena ilmu mereka jauh
lebih tinggi dari para tokoh di rimba persilatan di
alam  kasatmata, (Baca serial Pendekar Mabuk
dalam episode : "Manusia Seribu Wajah").
"Damai hidupmu, panjanglah umurmu, Ki
Dewa Putih."
Begitulah sapaan keselamatan dari Suto


Sinting jika mendapat hormat dari seseorang yang
menganggapnya sebagai Manggala Yudha dari Puri
Gerbang Surgawi. Ucapan selamat itu bagai
berkah seorang raja kepada hambanya.
"Rupanya aku datang terlambat," ujar Dewa
Putih. "Seharusnya aku datang sebelum  cucuku
termakan oleh tingkahnya sendiri."
"Mengapa kau bunuh cucumu sendiri, Ki
Dewa Putih?"
"Terlalu  sesat, memalukan nama keluarga.
Namaku sendiri menjadi tercoreng karena
tingkahnya yang tak tahu susila itu!"
Dewa Putih bicara dengan tegas dan penuh
wibawa. Kinanti memandanginya dengan rasa
sungkan. Namun akhirnya ia pun mencoba bicara
kepada kakek yang usianya sekitar seratus tahun
itu,
"Apakah kau ingin menghancurkan diriku
juga, Dewa Putih?"
Orang berkumis dan berjenggot putih itu
pandangi Kinanti tanpa berkedip, ia menggumam
lirih dan pendek, kemudian berkata dengan nada
pelan,
"Aku tahu maksudmu. Aku telah membaca
pikiranmu, Nona. Kau anak buah dari Ratu
Jiwandani, bukan?"
"Benar! Kaukah yang melakukan bencana
itu?" 
Dewa Putih diam sebentar, melirik Suto
Sinting sekejap, kemudian kembali tatap mata
Kinanti sambil ucapkan kata,


"Kau menyangka aku mempunyai Sabuk
Gempur Jagat.  Itu sangkaan yang keliru, Nona.
Kalau aku mau hancurkan Lembah Birawa, tak
mungkin akan tersisa satu nyawa seperti saat ini.
Kau pun pasti ikut hancur bersama mereka, juga
ratumu pasti akan hancur dan tidak akan sampai
ke pondoknya sahabatku, si Galak Gantung."
"Hebat. Dia tahu kalau Ratu ada di sana?"
pikir Kinanti dengan mulut terkatup dan mata
memandang tak berkedip.
"Ilmu teropongnya cukup tinggi," ujar Suto
dalam hatinya, namun ia sengaja tak mau angkat
bicara untuk sesaat, ia ingin dengarkan apa pun
ucapan si tokoh tua berkulit hitam itu.
"Sabuk Gempur Jagat memang menjadi
bahan rebutan. Tapi percayalah, sabuk pusaka itu
tidak ada padaku, Nona. Jangan beranggapan
cucuku si Merak Cabul yang memegang sabuk itu.
Dia mengejarmu hanya untuk dapatkan Kitab Jati
Mulya, karena ia menyangka kitab itu ada pada
ratumu, ia tidak tahu sebelum ibunya wafat
terlebih  dulu menitipkan kitab itu padaku. Jadi,
kuharap jangan hubungkan persoalan kitab itu
dengan bencana yang melanda Lembah Birawa."
"Maafkan aku," kata Kinanti dengan tegas.
"Jika begitu, siapa orang yang telah
menghancurkan Lembah Birawa itu?"
Suto Sinting menimpali, "Di tangan siapa
sebenarnya Sabuk Gempur Jagat itu berada, Ki
Dewa Putih?"
Tokoh tua itu diam sebentar, matanya tidak


terpejam, namun menatap ke salah satu arah.
Pandangan matanya bagaikan sedang menerawang
selama dua helaan napas. Mungkin begitulah
caranya meneropong suatu keadaan dengan
kekuatan indera ketujuhnya.
"Sampai tadi malam sabuk pusaka itu ada di
tangan si Tulang  Naga," kata Dewa Putih setelah
menarik napas satu kali dan melempar pandangan
kepada Suto Sinting.
"Ke mana arah kepergian si Tulang Naga itu,
Ki Dewa Putih?"
"Selatan!" jawabnya singkat, membuat
Kinanti dan Suto Sinting saling berpandang mata.
"Arah selatan adalah arah menuju ke Bukit
Wangi," ujar Kinanti kepada Suto dengan suara
pelan.
Dewa Putih menyahut, "Dia tidak berhak
memegang Sabuk Gempur Jagat. Pusaka itu harus
dikembalikan kepada pemiliknya."
"Siapa pemilik sebenarnya, Ki?"
"Begawan Rampak Dalu, dari Tebing Papak."
Pendekar Mabuk manggut-manggut. Lalu,
sebelum ia berucap kata, Dewa Putih lebih dulu
bicara kepadanya.
"Pakar Pantun tahu persis di mana Begawan
Rampak  Dalu  berada, karena Begawan Rampak
Dalu  adalah  sahabat karib si Pakar Pantun. Nak
Mas Manggala Yudha tentunya kenal baik dengan
si Pakar Pantun."
"Ya, aku memang kenal  baik dengan Resi
Pakar Pantun."


"Saat ini ia sedang mencari di mana Tulang
Naga berada, karena ia juga bermaksud merampas
sabuk itu dan ingin mengembalikan kepada
sahabatnya itu. Sabuk Gempur Jagat jika tidak
segera diselamatkan dapat menimbulkan bencana
di mana-mana dan menghancurkan dunia, kecuali
sabuk pusaka itu ada di tangan tokoh aliran
putih, seperti guru Nak Mas sendiri, si Gila Tuak."
Pendekar Mabuk agak kaget mendengar
nama gurunya disebutkan. Rupanya tokoh tua
yang sudah lama menghilang dari rimba persilatan
itu cukup kenal dengan si Gila Tuak.
"Ki Dewa Putih agaknya kenal  baik dengan
guruku?"
"Aku sahabatnya di masa kami sama-sama
berusia empat puluh tahun."
"Ooo...," Suto Sinting manggut-manggut,
hatinya pun membatin, "Kalau begitu usia Dewa
Putih itu sama dengan usia Guru?"
"Nak Mas Manggala Yudha, sudah
sewajarnya jika menyelamatkan Sabuk Gempur
Jagat dari tangan-tangan sesat itu. Tugas Nak Mas
sebagai Pendekar Mabuk adalah  menyelamatkan
dunia dari kehancuran si tangan sesat."
"Mengapa bukan kau sendiri yang  merebut
Sabuk Gempur Jagat dari tangan si Tulang Naga?"
ujar Kinanti menyela pembicaraan.
"Aku sudah tidak mau berurusan lagi
dengan hal-hal seperti itu. Aku keluar dari
pengasinganku, karena tak tahan mendengar
sepak terjang cucuku yang kelewat sesat. Aku tak


rela jika cucuku dibunuh orang lain. Maka
sebelum  orang  lain membunuhnya, aku lebih
dahulu melakukannya. Kukorbankan perasaan
kasih sayangku kepada Merak Cabul  untuk
selamatkan isi dunia dari kecabulannya."
"Aku... aku kagum pada sikapmu, Dewa
Putih," ucap Kinanti lirih, namun jelas  terdengar
oleh yang bersangkutan.
"Tak ada yang perlu dikagumi dariku, Nona.
Aku bertindak sebagaimana harusnya manusia
bertindak. Kau pun bisa berbuat seperti apa yang
kuperbuat jika kau mengerti bagaimana
seharusnya manusia berbuat di alam
kehidupannya ini."
"Wah, kalau sudah bicara soal  begini,
puyeng juga kepalaku mengartikannya," pikir Suto
Sinting. Pada saat itu ia segera dipandang oleh
Dewa Putih.
"Nak Mas tidak perlu  puyeng. Kata-kataku
ini bukan untuk dipikirkan tapi untuk dicerna dan
dipahami."
Pendekar Mabuk tersenyum malu karena
jalan pikirannya sempat terbaca oleh Dewa Putih.
Kinanti sendiri merasa berhadapan dengan orang
yang serba tahu, sehingga ia pergunakan
kesempatan itu untuk menanyakan sebab
kehancuran Lembah Birawa.
"Tentunya kau tahu apa sebab Tulang Naga
menghancurkan Lembah Birawa? Tolong jelaskan
padaku agar aku tidak penasaran dalam
sepanjang hidupku."


Mata dingin namun tajam itu beralih
pandang ke arah Kinanti.
"Ratu Jiwandani mempunyai seorang ayah
yang berjuluk si Tudung Geni. Dari situlah titik
persoalannya."
Kinanti kerutkan dahi sambil  menggumam,
"Ya, aku pernah dengar nama Tudung Geni. Itu
memang nama ayah Ratu Jiwandani. Apakah
Tulang  Naga bermusuhan dengan si Tudung
Geni?"
"Sangat bermusuhan.  Tudung Geni yang
membunuh ayahnya Tulang  Naga yang dikenal
dengan nama Panglima Setan Biru. Kematian itu
meninggalkan dendam di hati Tulang Naga. Maka
ketika ia menemukan tempat kediaman keturunan
si Tudung Geni, dendamnya dilampiaskan secara
membabi buta."
"Agaknya Tulang Naga manusia yang penuh
dengan dendam kesumat. Benarkah penilaianku
itu, Ki Dewa Putih?"
"Memang benar, Nak Mas Manggala Yudha.
Tulang Naga manusia penuh dendam. Karenanya,
begitu ia memegang Sabuk Gempur Jagat, dendam
kesumatnya dilampiaskan kepada siapa saja yang
pernah bentrok dengannya dan ia mengalami
kekalahan. Termasuk seorang Lurah yang menjadi
kepala desa di desa Kijangan, serta beberapa
orang lainnya. Bahkan tak menutup kemungkinan
ia akan memburu dendamnya pada si Galak
Gantung  yang akhirnya akan sampai pada Guru
Nak Mas Manggala Yudha, si Gila Tuak."


Suto terkesiap seketika begitu mendengar
nama gurunya akan menjadi tempat pelampiasan
dendam si Tulang  Naga. ia sedikit heran
mendengar  kata-kata Dewa Putih. Bahkan ia
sempat bertanya kepada sahabat gurunya itu,
"Apakah kau tak salah ucap, Ki Dewa Putih?
Guruku akan menjadi sasaran dendam
kesumatnya si Tulang  Naga? Benarkah demikian
kejadiannya nanti?"
"Benar, jika Sabuk Gempur Jagat tidak
segera diselamatkan dari tangannya. Sabuk
pusaka itu memang sukar dicari tandingannya.
Tulang  Naga akan malang melintang terus jika
memegang Sabuk Gempur Jagat, sebab kesaktian
sabuk itu sangat dahsyat. Mampu
menghancurkan gunung, mampu membelah
lapisan  tanah, mampu meremukkan baja setebal
apa pun,  bahkan mampu hadirkan badai panas
yang bisa melelehkan logam."
"Hebat  sekali?!" gumam Kinanti secara tak
sadar.
"Jika sabuk itu diputar dan memancarkan
sinar hijau, maka sinar itu akan menjadi perisai
bagi pemegangnya. Sinar itu tak bisa ditembus
oleh sinar tenaga dalam apa pun juga," tutur Dewa
Putih, tanpa diminta ia menjelaskan sendiri
kehebatan Sabuk Gempur Jagat itu. Sambungnya
lagi,
"Repotnya, sabuk itu tak bisa putus oleh
senjata apa pun, sukar dihancurkan karena
terbuat dari kulit ular Onak Setan. Ular itu sangat


jarang dan menurut mendiang guruku, ular Onak
Setan hanya ada tujuh yang hidup di permukaan
bumi. Salah satunya ada yang pernah hidup di
tempat kita ini, ratusan tahun yang lalu. Begawan
Rampak  Dalu  mendapat warisan pusaka itu dari
leluhurnya yang diwariskan secara turun
temurun."
Rasa tenang Suto Sinting saat mendengar
Ratu Jiwandani ada bersama Galak Gantung tiba-
tiba berubah menjadi sebuah kecemasan.
Kecemasan itu timbul karena Suto baru saja ingat
bahwa Galak Gantung adalah  musuh utama
Tulang  Naga. Bahkan si Gila Tuak, guru Suto
Sinting itu, juga termasuk musuh si Tulang Naga.
Pada saat Suto bertemu dengan Tulang Naga
memperebutkan mayat bayi yang mati digantung
oleh ayahnya sendiri itu, Tulang  Naga sempat
melepas ucapan bahwa Gila Tuak termasuk salah
satu musuhnya yang akan dibinasakan. Persoalan
itu sebenarnya persoaian lama, tapi masih
membekas di hati Tulang  Naga. Persoalan itu
menyangkut tentang kematian kakaknya Tulang
Naga yang dibunuh oleh Galak Gantung. Pada
waktu  Tulang  Naga  ingin membalas dendam
kepada Galak Gantung, si Gila Tuak datang
memihak Galak Gantung. Akibatnya Tulang Naga
larikan diri tak sanggup hadapi si Gila  Tuak,
namun dendamnya semakin membengkak dan
nama si Gila  Tuak tertera dalam  daftar nama
orang-orang yang akan dimusnahkan secara cepat
atau lambat.


"Ki Dewa Putih, agaknya perjumpaan kita
tak bisa lebih lama  lagi," kata Suto Sinting yang
membuat Kinanti memandangnya. Pendekar
Mabuk lanjutkan bicara kepada Dewa Putih yang
masih mampu berdiri tegak dan gagah itu.
"Seperti katamu tadi, Tulang  Naga punya
dendam kepada Galak  Gantung yang nantinya
akan menjalar kepada guruku; si Gila  Tuak.
Sedangkan sekarang Ratu Jiwandani ada bersama
Ki  Galak  Gantung. Tak bisa kubayangkan apa
jadinya jika Tulang Naga sampai ke pondok Ki
Galak Gantung  dalam keadaan masih bersenjata
Sabuk Gempur Jagat itu. Maka sebelum ia tiba di
Bukit Wangi, aku harus lebih dulu merampas
sabuk pusaka itu!"
"Firasatku mengatakan, Tulang Naga sedang
menuju ke Bukit Wangi untuk temui Galak
Gantung!" kata Dewa Putih yang membuat Kinanti
menjadi berwajah tegang.

*
* *

6

JALAN pintas menuju Bukit Wangi yang
paling  aman dan cepat adalah  melalui pantai.
Kinanti menjadi pemandu perjalanan itu, karena
Pendekar Mabuk belum  pernah datang ke Bukit
Wangi dan tidak tahu di mana letak bukit


tersebut.
Namun ketika mereka melalui jalan pantai,
tiba-tiba langkah mereka dihentikan oleh  suara
dentuman yang cukup mengelegar dari arah
kedalaman hutan. Pendekar Mabuk yang punya
sifat selalu ingin melihat  pertarungan  itu  segera
mengajak Kinanti untuk menengok keadaan di
dalam hutan.
"Aku hanya ingin tahu, siapa yang bertarung
di sana. Siapa tahu Tulang Naga sedang lakukan
pertarungan dengan seseorang yang perlu  kita
tolong," kata Suto Sinting. Walaupun sebenarnya
Kinanti merasa jengkel dengan ajakan itu, namun
dalam  hati  kecilnya sendiri ia terusik oleh  rasa
ingin tahu dan berharap Tulang  Naga ada dalam
pertarungan tersebut. Maka mau tak mau ia pun
mengikuti  langkah Suto Sinting untuk kembali
masuk ke hutan. Sasaran mereka adalah tempat
datangnya suara dentuman tadi.
"Kita  lewat jalan atas saja!" kata Suto, lalu
tubuhnya melesat naik dan hinggap di salah satu
dahan. Kinanti ternyata mampu mengikuti
gerakan serupa itu. Maka keduanya pun berlari
menuju ke satu arah  dengan melompati dahan
demi dahan, bagaikan sepasang burung besar
yang terbang dari pohon ke pohon.
"Suto, kulihat gerakan seseorang di sebelah
kanan kita!" ujar Kinanti, maka mereka bergerak
ke arah yang dimaksud.
Sebidang tanah yang jarang ditumbuhi
pohon terhampar di depan mereka. Tanah itu


seperti bekas rawa yang sudah mengering dan
mengeras. Ada beberapa batu besar yang
menjulang setinggi rumah di tanah datar itu. Di
antara batu-batu besar itulah mereka melihat dua
orang yang sedang bertarungan dengan tangan
kosong. Masing-masing mengandalkan kekuatan
tenaga dalam mereka. Sementara satu orang lagi
diam di bawah pohon agak jauh dengan wajah
dicekam rasa takut.
Orang yang ketakutan itu berusia sekitar
empat puluh tahun, mengenakan baju hijau tua,
ikat kepala dari kain putih, rambutnya pendek.
Orang tersebut berbadan kurus, pendek, berkulit
agak hitam, ia tanpa kumis dan jenggot, namun
guratan ketuaan sudah tampak jelas  di
permukaan wajahnya.
Suto Sinting tak bisa lupa dengan orang
tersebut karena ia pernah menggunakan ikat
kepala orang itu untuk menutup matanya dalam
pertarungannya dengan Pipit Serindu, (Baca serial
Pendekar Mabuk dalam episode : "Kutukan
Pelacur Tua"). Orang yang ketakutan itu tak lain
adalah  si Kadal Ginting, pelayan dari Resi Pakar
Pantun.
Salah satu dari  dua orang yang bertarung
tanpa senjata tajam itu tak lain adalah Resi Pakar
Pantun; berusia sekitar delapan puluh tahun,
mengenakan pakaian model biksu berwarna abu-
abu, rambutnya beruban dan tipis hingga
berkesan botak. Jenggot dan alisnya juga putih
dan tergolong lebat.


Tetapi orang yang melawan Resi Pakar
Pantun itu sangat asing bagi Suto Sinting. Baru
sekarang si Pendekar Mabuk melihat orang
tersebut; berusia sekitar lima puluh tahun,
badannya berotot dan tampak kekar. Mengenakan
baju tanpa lengan warna hitam dan celananya pun
warna hitam. Rambutnya masih hitam, tak begitu
panjang dan diikat dengan kain merah kusam.
Orang itu tak berkumis dan tak berjenggot.
Matanya agak lebar dan memancarkan pandangan
yang buas. Dengan ditambah alis yang lebat, ia
tampak berwajah bengis dan angker.
Gerakan orang berwajah angker itu cukup
gesit dan lincah. Kecepatan geraknya pun bisa
dijadikan andalan dalam pertarungan, ia pun
tampak tangguh dan tahan pukulan. Terbukti dua
kali Resi Pakar Pantun menghantam dada orang
itu, ternyata tidak mengakibatkan orang tersebut
tumbang atau terluka.
"Siapa orang berbaju hitam itu? Kau
mengenalnya, Kinanti?" bisik Suto Sinting dari
tempat persembunyiannya.
"Aku  belum  pernah melihat  orang itu
sebelum ini. Yang jelas, dia pasti mempunyai
lapisan tenaga dalam setebal baja, sehingga
pukulan dan tendangan lawannya itu tak
membuatnya terluka."
Suto Sinting menjelaskan tentang Resi Pakar
Pantun kepada Kinanti. Gadis berjubah kuning
gading itu hanya menggumam tipis dengan mata
masih memandang ke arah pertarungan tanpa


berkedip. Agaknya ia sangat tertarik dengan jurus-
jurus si wajah angker itu, hingga tak sadar
mulutnya sampai  ternganga bengong dengan
wajah memancarkan kekaguman.
Suto Sinting hanya tersenyum kecil dan
membiarkannya, ia tak mau mengganggu
keasyikan Kinanti karena ia sendiri segera hanyut
dalam keasyikan menyaksikan pertarungan
tersebut. Setiap jurus, setiap gerakan, seakan
tercatat dengan sendirinya dalam  benak Suto
Sinting, sehingga dalam gerakan silatnya Suto
Sinting sering pergunakan pengembangan yang
diperoleh  dari mengingat-ingat jurus orang lain
yang dikagumi.
Dua orang yang bertarung itu akhirnya
mengadu telapak tangan di udara. Keduanya
sama-sama melompat maju bagaikan terbang.
Tangan mereka saling menghentak ke depan dan
beradu dengan kuatnya.
Duaaar...!
Ledakan yang tak seberapa besar itu terjadi
akibat perpaduan telapak tangan mereka yang
rupanya sama-sama berkekuatan tenaga dalam
tinggi. Ledakan itu membuat tubuh Resi Pakar
Pantun terpental ke belakang dan jatuh terguling-
guling, sedangkan lawannya hanya jatuh terduduk
lalu segera bangkit kembali.
"Sudah waktunya kau copot usia, Pakar
Pantun! Terimalah kematianmu ini. Hiaaat...!"
Si muka angker menggerakkan tangannya ke
samping kanan kiri dengan cepat, lalu  kedua


tangan menghentak bersamaan dan dari kedua
telapak tangan itu keluar dua berkas sinar
menyerupai bintang berekor berwarna merah
membara. Wuuut, wuuuut...!
Resi Pakar Pantun terperanjat melihat
kedatangan dua sinar tersebut, ia segera
merentangkan kedua tangannya dalam keadaan
masing-masing jari tengah menuding ke depan.
Suuut...! Clap, clap...!
Dua sinar hijau lurus tanpa putus keluar
dari masing-masing jari tengah sang Resi. Sinar
hijau itu menghantam masing-masing sinar merah
secara telak. Des, des...!
Blegaaarrr...!
Ledakan dahsyat terjadi begitu mengagetkan
satwa di sekitar tempat itu. Bumi terasa
berguncang, beberapa pohon ikut bergetar,
bahkan ada yang tumbang dalam keadaan
akarnya mencuat keluar dari tanah.
Ledakan bergelombang besar itu membuat
Resi Pakar Pantun terlempar dan menabrak batu
sebesar rumah. Beeehg...!
"Iaauh...!" pekik sang Resi dengan wajah
menyeringai kesakitan. Batu itu sampai bergetar
dan serpihannya berhamburan karena kerasnya
benturan tubuh sang Resi.
Lawan sang Resi terlempar juga dan sempat
berguling-guling di udara bagai tak bisa
kendalikan keseimbangan tubuh lagi. Akhirnya
orang itu terbanting keras di atas sebuah batu
yang tingginya sebesar lutut. Beehg...!


"Heeehg...!" ia memekik tertahan dengan
mata terbeliak. Napasnya menjadi sesak karena
tulang rusuknya bagaikan patah akibat bantingan
keras tersebut.
"Hoooek...!" Resi Pakar Pantun
memuntahkan darah kental saat berusaha bangkit
dengan limbung.
"Dia terluka parah!" bisik Kinanti sambil
matanya memperhatikan sang Resi dengan tegang.
"Agaknya memang begitu. Tapi biarkan dulu,
aku ingin tahu sampai di mana kekuatan lawan
sang Resi itu."
Ternyata lawan sang Resi cukup tangguh.
Dalam beberapa kejap saja ia sudah mampu
bangkit lagi dengan sehat. Rasa sakitnya bagaikan
lenyap setelah ia menarik napas panjang-panjang
dan meraba perut sampai dada dengan tangan
gemetar. Rupanya ia menyalurkan hawa murni
melalui tangannya untuk obati seluruh luka
dalam.
Sang Resi berusaha bangkit dengan tegak
walau dengan berpegangan dinding batu. Matanya
tertuju kepada lawan yang mendekatinya dalam
satu lompatan bersalto.
"Kurang ajar kau, Jejak Setan!" geram sang
Resi. Suto Sinting dan Kinanti saling
berpandangan setelah mendengar nama lawan
sang Resi ternyata adalah si Jejak Setan, murid
mendiang Pelacur Tua alias Nyai Pegat Raga yang
kala itu menyaru nama Pipit Serindu.
Sang Resi terdengar berkata lagi,



"Sayur lodeh jamur paku,
kecambah goreng dibungkus daun pare.
Biarpun tua ragaku,
tapi tak kan mundur melawan bayi kemarin
sore."

Kinanti berbisik kepada Suto, "Mantra apa
yang ia ucapkan itu?"
"Ia bermain pantun, bukan mantra!"
Jejak Setan yang berdiri di depannya dalam
jarak empat langkah segera mendenguskan napas.
"Sekali  lagi kuberi kesempatan padamu,
serahkan Sabuk Gempur Jagat yang tempo hari
ada padamu itu, Resi Pakar Pantun. Jika kau
masih ngotot tak mau berikan, kuhabisi nyawamu
sekarang juga!"
"Sudah kubilang, sabuk itu tidak ada
padaku, tapi ada pada si Tulang Naga!" bantah
sang Resi. "Segalak apa pun kau padaku, tak akan
bisa kau dapatkan sabuk pusaka itu, Bocah
Bodoh!"
"Baiklah, kalau begitu kau memang memilih
mati daripada hidup damai bersamaku, Pakar
Pantun!" geram Jejak Setan sambil menggenggam
kuat-kuat. Kedua tangannya mulai terangkat
dengan genggaman merenggang kaku membentuk
cakar.
"Sayur lodeh buat renang bekicot jamu,
lompat ke darat berjalan kaku.
Biar sampai ngotot pantatmu,


cambuk pusaka tetap tak kan kau dapat
dariku."
Jejak Setan semakin berang mendengar
pantun itu.
"Biadab kau!"
"Kau juga biadab!"
"Heeeaah...!"
Wuuut...! Jejak Setan berkelebat sangat
cepat menerjang Resi Pakar Pantun dalam
sekejap. Ternyata ia berhasil menjejak dada sang
Resi hingga tubuh sang Resi membentur dinding
batu lagi.
"Uuuhg...!" sang Resi tersentak berdiri. Lalu
kedua tangan Jejak Setan menghantam perut dan
ulu hati sang Resi dengan telapak tangannya.
Buhk, plak...!
"Huuuoooeek...!"
Sang Resi semburkan darah segar cukup
banyak. Brruuus...! Ceproot...!
Semburan darah itu mengenai kepala Jejak
Setan, hingga wajah si Jejak Setan berlumur
darah. Wajah itu menjadi merah menjijikkan
sekaligus mengerikan. Padahal yang dalam
keadaan mengerikan adalah sang Resi, karena
pukulan lawannya nyaris menghancurkan jantung
dan hatinya.
"Monyet tua!" maki si Jejak Setan. "Berani-
beraninya kau meludahi mukaku, hah! Kurang
ajar! Heeeatt...!"
Wuuuuus...!
Tubuh Resi Pakar Pantun dilemparkan ke


belakang oleh Jejak Setan. Tangannya dipegang,
kaki Jejak Setan masuk ke perut sang Resi lalu
mengangkat tubuh sang Resi dan melemparkan
dalam  satu hentakan kaki. Tubuh tua itu
melayang melewati atas kepala  Jejak Setan dan
jatuh terbanting di tanah. Buuuhg...!
"Huuuhgg...!" sang Resi memekik tertahan
dengan mata mendelik.
"Habislah riwayatmu, Monyet Tua!
Heeaaah...!"
Wuuut...! Brrrus...!
Jejak Setan bermaksud menginjak leher Resi
Pakar Pantun. Namun baru saja ia mengangkat
kakinya, tiba-tiba ada sesuatu yang berkelebat
menerjangnya. Terjangan kuat dan cepat itu
membuat Jejak Setan terpental terbang bagaikan
seonggok daging dibuang tanpa guna. Dinding
batu besar menjadi sasaran telak. Brruuss...!
Tubuh itu menghantam dinding batu besar,
kepalanya membentur sangat kuat. Prraaak...!
"Aaahg...!" ia memekik dengan suara lirih
karena kelewat sakit. Saat ia jatuh terpuruk di
bawah dinding batu besar, kepalanya yang terkena
semburan darah itu dipegangi dengan dua tangan.
Kepala itu bocor, tapi kelihatannya tidak berdarah
sebab wajahnya sudah penuh darah.
"Bangsat!" geramnya sambil  berusaha
bangkit. Hatinya pun berkata, "Siapa yang ikut
campur ini?! Tenaganya luar biasa besarnya.
Kalau bukan orang berilmu tinggi tak mungkin
bisa melemparkan tubuhku sekeras tadi!"


Ternyata terjangan itu dilakukan oleh
Pendekar Mabuk yang menggunakan jurus 'Gerak
Siluman'. Kecepatan geraknya tak bisa dilihat
mata lagi, dan berkekuatan melebihi angin badai.
Jika Suto tidak lekas bergerak maka leher Resi
Pakar Pantun akan patah dan nyawa sang Resi
pun akan melambai-lambai di udara, di luar
raganya.
Kinanti ikut tampil menghadang Jejak Setan
ketika Suto Sinting meminumkan tuaknya kepada
sang Resi. Melihat kecantikan Kinanti, mata Jejak
Setan jadi melebar dan berusaha untuk bangkit
tegak, seakan ingin tunjukkan keperkasaan dan
kegagahannya.  Ia mencoba menghardik Kinanti
dengan suara serak.
"Siapa kau, Manis?! Apa perlumu ikut
campur urusan ini dengan pemuda gelandangan
itu, hah?!"
"Aku tidak ikut campur urusanmu," ujar
Kinanti dengan ketus. "Aku hanya menyelamatkan
orang tua yang sudah tidak berdaya tapi masih
kau siksa terus itu."
"Apa hubunganmu dengan si Pakar Pantun
itu?!"
"Tak ada hubungan apa pun, kecuali
hubungan seorang anak muda dengan orang yang
lebih tua."
Jejak Setan menggeram jengkel dengan
wajah berlumur darah, hingga ia tampak semakin
menyeramkan. Kebocoran kepalanya tidak
dihiraukan sesaat karena dalam  hatinya ia


menyukai kecantikan Kinanti. Matanya berbinar-
binar kala memandangi kecantikan Kinanti,
terutama jika memandangi di sekitar wilayah
dada.
"Kuingatkan, Nona... mundurlah dan jangan
coba-coba halangi niatku mendapatkan sesuatu
dari Pakar Pantun. Aku bisa murka padamu jika
kau masih berdiri di situ bersikap menentangku.
Jika aku murka padamu, aku tak berselera lagi
memperistri dirimu, Nona!"
"Puih...!" Kinanti hanya meludah, sengaja
memancing kemarahan Jejak Setan.
Sementara itu, Suto Sinting sudah selesai
meminumkan tuak ke mulut sang Resi. Orang tua
itu telah meneguk beberapa kali dan kini sedang
menunggu saat-saat kesembuhan. Suto Sinting
segera bangkit dan hampiri Kinanti, ia berdiri di
samping Kinanti dalam jarak tiga langkah.
Matanya memandang ke arah Jejak Setan dengan
senyum tipis yang menawan, namun bagi si Jejak
Setan senyuman itu memuakkan.
Melihat si Jejak Setan terpikat oleh
kecantikan dan kemolekan tubuh Kinanti, Suto
Sinting sengaja lebih merapatkan diri kepada
Kinanti. Tangan Suto merangkul pundak Kinanti
dari samping sambil senyumnya kian dipamerkan
di depan si Jejak Setan. Panas hati Jejak Setan
kian membara. Rasa iri dan dengki berkobar
dalam hatinya, sehingga ia pun segera serukan
kata sambil menuding Pendekar Mabuk.
"Siapa kau sebenarnya, hah?! Apa


maksudmu pamer kemesraan di depanku?!"
"Mengapa kau jadi  berang dengan
kemesraan kami?"
Jejak Setan bukan hanya berang, namun
juga gusar dan salah tingkah. Rupanya ia punya
penyakit cemburu jika melihat  sepasang anak
manusia bermesraan. Rasa cemburu yang sudah
menjadi satu penyakit itu timbul  dikarenakan
selama ini Jejak Setan selalu dibenci oleh wanita
kecuali  oleh  gurunya sendiri, ia tak sadar bahwa
selama ini ada pengaruh dari ilmu yang
diturunkan oleh si Pelacur Tua yang membuat
menjadi dibenci oleh para wanita. Berulang kali ia
mendekati wanita namun selalu  dijauhi tanpa
alasan yang pasti. Karenanya ia menjadi benci
melihat sepasang insan yang bermesraan di
depannya.
Suto tidak mengetahui hal  itu. Sikapnya
bermesraan dengan Kinanti hanya sekadar iseng
saja. Namun melihat  berangnya Jejak Setan,
pendekar tampan itu segera menarik kesimpulan
bahwa kemesraan merupakan sesuatu yang
membuat jiwa Jejak Setan menjadi guncang.
Itulah sebabnya Suto Sinting semakin
memamerkan kemesraannya dengan sesekali
mengusap-usap pundak atau lengan Kinanti.
Sedangkan Kinanti sendiri sempat merasa aneh
menerima sikap Suto yang tampak sayang
kepadanya. Hatinya berdebar-debar antara
percaya dan tidak.
Jejak Setan akhirnya berseru dengan kasar,


"Minggat  kalian dari hadapanku! Atau
kuhancurkan kalian bersama si tua Pakar Pantun
itu!"
Resi Pakar Pantun yang sudah sehat kembali
itu segera bangkit, ia melangkah mendekati Suto
Sinting  sambil  serukan kata kepada si Jejak
Setan.
"Jangan coba-coba melawan anak muda ini,
Jejak Setan. Kau bisa dibuatnya terbang menuju
akhirat tanpa pamit lagi kepada kami!"
"Bangsaaaat...!" teriaknya dengan liar dan
buas. "Kuhancurkan mulutmu, Pakar Pantun!
Heeeah...!"
Jejak Setan yang merasa terhina dan
diremehkan menjadi murka luar  biasa, ia
sentakkan kedua tangannya ke depan dan dari
dua tangan itu keluar sinar biru bersama asap
yang mengepul tebal. Sinar biru itu berbentuk
seperti bintang berekor, besar dan ganas.
Sasarannya ke arah Resi Pakar Pantun dan
Pendekar Mabuk.
Wuuuus, wuuus...!
Pendekar Mabuk melompat pendek ke
depan. Tangan kirinya menghentak maju dan
keluarkan sinar hijau melesat dari tangan Suto.
Jurus pukulan 'Guntur Perkasa' itu menghantam
sinar biru lawan.
Blaaar...!
Sedangkan sinar biru yang satunya
dihantam dengan kelebatan bumbung tuak di
tangan kanan Suto. Wuuut...! Duuub...! Woooss...!


Sinar biru itu membalik arah dan menjadi
lebih besar serta lebih  cepat gerakannya. Jejak
Setan terperanjat kaget dan berusaha melompat
ke samping menghindarinya. Tapi ledakan yang
terjadi akibat benturan sinar biru dengan sinar
hijaunya tadi sempat timbulkan gelombang
sentakan cukup kuat, sehingga tubuh Jejak Setan
pun terpental terbang cukup jauh, lalu  jatuh
terkapar di tanah berbatu. Braaak...!
Bleggaar...!
Sinar biru yang berbalik arah itu
menghantam dinding batu besar. Batu itu meledak
dan hancur menjadi bongkahan sebesar kepalan
tangan. Brrruus...!
Pecahan batu besar itu menjatuhi tubuh
Jejak Setan. Sebagian pecahan itu ada yang
menuju ke tempat Suto, dan hampir kenai kepala
Kinanti. Namun sebagian besar pecahan batu itu
menghambur ke arah tubuh Jejak Setan. Tak ayal
lagi Jejak Setan berteriak kesakitan karena
dihujani batu dalam keadaan terkapar akibat
terbanting tadi.
"Kau pikir enak dapat hujan batu?!" seru
Resi Pakar Pantun dengan wajah ceria, lalu ia
terkekeh-kekeh sendiri.
Jejak Setan mengerang kesakitan dan
berusaha untuk bangkit. Tapi hatinya sempat
berkecamuk sendiri bernada penuh gerutu.
"Iblis dari mana anak muda itu?! Pukulanku
bisa dibuat seperti ini! Bangsat! Pakar Pantun
mendapat dukungan setangguh ini, bisa-bisa aku


mati tanpa hasil  jika nekat melawan anak muda
itu! Sebaiknya aku melarikan diri dulu,
sembuhkan  luka dan pulihkan kekuatanku, lalu
mengejar Pakar Pantun lagi  untuk dapatkan
Sabuk Gempur Jagat. Atau... jika benar sabuk
pusaka itu ada di tangan si Tulang Naga, aku
akan coba temui dia dan melihat apakah sabuk itu
ada padanya. Jika benar ada padanya, berarti aku
harus mengubah sasaran. Tulang  Naga yang
harus kuserang habis-habisan untuk dapatkan
sabuk itu!"
Wuuut...! Jejak Setan tahu-tahu melesat ke
dalam  semak-semak, setelah itu tak pernah
muncul lagi batang hidungnya. Pendekar Mabuk
menenggak tuaknya dua teguk. Kinanti masih
pandangi kepergiln Jejak Setan sambil membatin
dalam hatinya,
"Murid si Gila Tuak itu memang ilmunya
edan-edanan. Pantas jika ia dipanggii Suto
Sinting, sebab ilmunya memang sinting! Kurasa ia
akan berhasil merebut Sabuk Gempur Jagat
karena kesaktian ilmunya cukup layak untuk
lakukan tugas itu."
Sementara itu, Suto Sinting membiarkan
pundaknya ditepuk-tepuk oleh Resi Pakar Pantun.
Orang tua itu merasa bangga dan bersyukur dapat
bertemu dengan Pendekar Mabuk yang sudah
beberapa kali selamatkan nyawanya dari maut,
(Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode:
"Pisau Tanduk Hantu").
"Sayur lodeh kesayangan dewaku,


lebih hangat dicampur param kocok buat
ibuku.
Sekian kali kau selamatkan nyawaku,
namun belum pernah kau selamatkan
perutku."
Suto Sinting tertawa kecil mendengar pantun
sang Resi. Kala itu, sang pelayan; Kadal Ginting,
mendekat dengan wajah berseri menampakkan
kelegaannya melihat tuannya selamat dari
ancaman mati si Jejak Setan. Kinanti justru
kerutkan dahi karena tak paham dengan arti
pantun tersebut.
"Apa maksud pantunmu itu, Resi?"
"Perutku lapar, sudah tujuh hari tak
kemasukan apa-apa."
"Perut saya juga, Eyang Resi," sahut Kadal
Ginting. "Sudah tujuh hari tak kemasukan apa-
apa."
Resi Pakar Pantun memungut sebuah batu
kecil dan menyodorkannya kepada Kadal  Ginting
sambil berkata, "Masukkan saja ini kalau kau
mau."
Kadal  Ginting bersungut-sungut dengan
gerutu tak jelas. Suto Sinting tertawa makin geli,
sedangkan Kinanti hanya tersenyum tipis.
Batu itu segera dilemparkan oleh Resi Pakar
Pantun ke sembarang arah. Ternyata kenai
sebatang pohon dan ledakan kecil pun terjadi saat
batu menyentuh pohon. Duaaar...! Pohon
berguncang, daunnya rontok sebagian, namun tak
membuat pohon menjadi tumbang.


Kadal Ginting mencibir. "Jangan pamer ilmu
di depan Pendekar Mabuk. Nanti Eyang Resi
ditertawakan!"
"Maaf, aku tidak sengaja menyalurkan
tenaga dalamku melalui batu ini," katanya kepada
Suto Sinting. "Aku hanya jengkel pada perutku
yang tak mau diajak damai agar tak mencari
makanan dulu."
"Kau lapar sekali, Resi?"
"Sangat  lapar, Suto. Kulakukan pengejaran
berhari-hari sampai aku lupa makan, namun
hasilnya masih nihil."
"Siapa yang kau kejar?" tanya Kinanti
dengan rasa ingin tahu.
"Tulang Naga!" jawab sang Resi. "Dialah yang
membawa Sabuk Gempur Jagat milik sahabatku;
Begawan Rampak Dalu. Jika sabuk itu masih di
tangannya, atau di tangan orang sesat seperti si
Tulang Naga, maka bumi akan cepat hancur
karena kekejiannya."
"Lalu, mengapa Jejak Setan bersikeras
mendapatkan sabuk pusaka itu dari tanganmu,
Resi?" tanya Suto agak curiga.
"Jejak Setan bernafsu sekali untuk dapatkan
Sabuk Gempur Jagat, karena ia ingin membalas
kematian gurunya: Nyai Pegat Raga, si Pelacur Tua
itu. Menurutnya, orang yang berhasil membunuh
gurunya adalah orang berilmu tinggi yang tak
mungkin bisa ditandingi jika tidak dengan
menggunakan pusaka Sabuk Gempur Jagat, ia
tidak tahu kalau pembunuh gurunya adalah kau


sendiri, Suto."
Suto Sinting manggut-manggut, tapi Kinanti
segera ajukan tanya,
"Mengapa ia ngotot sekali menganggap
sabuk itu ada padamu, Resi? Bukankah tadi
kudengar kau sudah mengatakan bahwa sabuk itu
ada di tangan si Tulang Naga?"
"Karena ia pernah melihat aku merebut
sabuk itu dari tangan gurunya, ia tidak tahu kalau
sabuk itu sudah direbut si Tulang Naga."
"Jika begitu, rasa-rasanya kita tak punya
banyak waktu untuk bicarakan hal itu di sini. Kita
harus segera ke Bukit Wangi, Resi," ujar Suto
Sinting.
Resi Pakar Pantun kerutkan dahi. "Mengapa
harus ke Bukit Wangi? Di sana hanya akan kita
temui si Galak Gantung. Tulang Naga tinggal di
Telaga Siluman, menjadi penguasa telaga itu."
"Benar. Tapi Tulang Naga seorang
pendendam dan ia masih punya dendam kesumat
kepada Ki Galak Gantung. Bukankah kakaknya
dulu dibunuh oleh Ki Galak Gantung?"
"Aha, pikiran yang bagus itu, Suto! Baru
sekarang terpikirkan olehku tentang dendam si
Tulang Naga kepada Galak Gantung, bahkan bisa
jadi ia juga mendendam kepada gurumu; si Gila
Tuak."
"Itu yang kucemaskan, Resi. Karena aku
harus segera menyusul si Tulang Naga sebelum ia
mengamuk di Bukit Wangi...."
"Sebab ratuku ada di sana!" sahut Kinanti.


"Kalau begitu...."
"Sayur lodeh buat rebus angkin,
mertua gawat berurat kawat.
Perut lapar masih bisa disumpal angin,
tapi nyawa sahabat tak bisa dibiarkan
lewat."
Suto menimpali dengan pantunnya,
"Sayur lodeh di dalam mangkuk,
ambil garam sekarung tuang semua...."
Suto diam berpikir, lalu sang Resi bertanya,
"Apa artinya?"
"Artinya, sayur lodeh itu pasti asin sekali!"
Kinanti tertawa geli hingga terkikik-kikik.
Baru sekarang Suto melihat Kinanti tertawa.
Padahal ia tidak bermaksud membuat lelucon
untuk Kinanti, ia hanya mencoba membuat
pantun namun gagal. Gadis itu sembunyikan
wajah di belakang punggung Suto, seakan malu
dilihat tawanya yang terkikik geli.
Sang Resi berpantun lagi:
"Sayur lodeh dibungkus kain batik...."
"Bocor, Eyang...," sahut Kadal Ginting.
"Ini pantun, Goblok!" sentak sang Resi. Lalu
ia lanjutkan pantun tadi.
"Sayur lodeh dibungkus kain batik,
istri satu tak pernah ada yang sewa.
Hentikan tawamu Nona Cantik,
karena Tulang Naga sedang memburu
nyawa."
Kinanti segera hentikan tawanya. Bayangan
wajah sang Ratu terancam bahaya mulai


tersumbul  dalam  ingatan. Bayangan Lembah
Birawa yang hancur menjadi arang pun timbul di
setiap pandangan mata, sehingga dendam dan
kemarahannya mulai terbakar dan meletup-letup
dalam jiwanya, mendidihkan seluruh darah yang
mengalir dalam tubuhnya.

*
* *

7

MEREKA berempat bergegas menuju Bukit
Wangi.  Dalam  hati mereka sempat diliputi
kecemasan karena menurut perhitungan, jika
Tulang Naga pergi menuju Bukit Wangi sejak tadi
pagi, maka saat itu Tulang Naga pasti sudah
sampai ke pondoknya si Galak Gantung. Itulah
sebabnya Suto Sinting mengajukan usul untuk
mendahului mereka dengan menggunakan jurus
'Gerak Siluman'-nya.
"Terlambat sedikit saja, Ki Galak Gantung
dan Ratu Jiwandani akan binasa di tangan Tulang
Naga," ujar Suto Sinting.
"Kurasa itu hal yang baik," kata Resi Pakar
Pantun. "Daripada kita terlambat semua, lebih
baik tiga yang terlambat, satu yang menjadi
penyelamat!"
Kinanti diam saja tak memberi tanggapan.
Dari wajahnya tampak rasa kurang suka jika ia


ditinggalkan Suto Sinting. Wajah itu dipandangi
Kadal Ginting, dan si pelayan sang Resi itu
berkata,
"Nona Kinanti tidak perlu cemas. Tak ada
Suto, masih ada saya!"
"Maksudmu, kalau ada bahaya kau bisa
melindungi Kinanti?" tanya sang Resi.
"Maksud saya, kalau butuh gendongan, saya
sanggup menggendong Nona Kinanti, Eyang,"
sambil Kadal Ginting nyengir.
"Kenapa tidak aku saja yang kau gendong?"
"Wah, kalau Eyang Resi yang saya gendong,
sama saja saya dijepit kepiting. Habis Eyang Resi
tulang semua, tak ada dagingnya!"
"Sekali lagi kau menghinaku begitu,
kubuang kau ke dasar jurang!" sentak sang Resi
dengan dongkol, namun membuat mereka
tersenyum geli.
Senyum dan langkah mereka terhenti ketika
Suto Sinting segera berseru dengan tangan
merentang memberi isyarat untuk berhenti.
"Darah...?!"
Semua memandang ke tanah di mana
terdapat tetesan darah segar. Daun-daun ilalang
pun basah oleh darah yang tampak belum
mengering. Kinanti menjadi cemas sekali sebab
tempat itu sudah dekat dengan Bukit Wangi.
"Darah siapa itu, Eyang! Hiiii...!" Kadal
Ginting bergidik merinding dan mendekati sang
Resi. Merapatkan tubuh ke badan sang Resi,
membuat sang Resi mendorong kesal pelayannya.


"Kau ini seperti banci saja!"
"Ada darah, Eyang...!"
"Iya, aku pun tahu kalau di sini ada darah.
Tapi kamu tak perlu mendesakku sampai
menginjak-injak kakiku segala!"
"Jangan ribut sendiri!" sentak Kinanti
sebagai pelampiasan rasa cemasnya.
"Bukan soal  ribut, ini soal  darah, Non...,"
gerutu Resi Pakar Pantun dalam gumam lirihnya.
"Daun-daun semak di sebelah sana juga
dilumuri darah!" ujar Kadal Ginting.
Suto Sinting bergegas mengikuti tetesan
darah segar itu. Dalam hatinya juga timbul
kekhawatiran, "Jangan-jangan Tulang Naga telah
temukan Ki Galak Gantung dan Ratu Jiwandani
lalu menyerang mereka, dan mereka lari dalam
keadaan terluka berdarah?! Celaka betul kalau hal
itu sampai terjadi."
Langkah kaki mereka menyusuri tetesan
darah, sampai akhirnya Suto rentangkan tangan
memberi isyarat agar mereka berhenti melangkah.
Ada sesuatu yang ditemukan oleh si murid sinting
Gila  Tuak itu. Sebuah benda berujung runcing.
Benda itu adalah sepotong gading panjang tiga
jengkal, kedua ujungnya runcing tajam. Suto dan
Resi Pakar Pantun mengenali benda tersebut.
"Pusaka Nenggala Kubur," ucap sang Resi
saat benda itu diambil Suto Sinting.
"Seingatku ini senjatanya Tulang Naga," ujar
Suto bagai bicara sendiri.
"Memang senjata Nenggala Kubur adalah


senjata si Tulang Naga," sang Resi membenarkan.
"Tapi, mengapa bisa ada di sini?"
"Jangan-jangan dibuang oleh si Tulang Naga
karena ia sudah tidak membutuhkan senjata itu
lagi. Sabuk Gempur Jagat lebih dahsyat dari
senjata itu," ucap Kinanti sambil pandangi tetesan
darah dan mulai melangkah lagi mengikuti tetesan
darah yang ada di rerumputan.
Langkah gadis berjubah kuning gading itu
mendahului mereka sejauh lima tindak. Lalu
terdengar suaranya berseru dengan nada terkejut,
"Ada mayat!"
"Hahh... mayat...?! Hiii...!" Kadal Ginting
merapatkan tubuh ke badan sang Resi.
"Apa-apaan kau ini!" sang Resi mendorong
tubuh Kadal Ginting hingga jatuh terduduk.
"Kasar sekali Eyang padaku."
"Keringatmu bau bangkai. Aku tak mau
pakaianku terkena aroma bangkai seperti
keringatmu!" sang Resi  menggerutu sambil
melangkah dekati Kinanti.
Suto Sinting berdiri di dekat mayat seorang
lelaki berbadan kurus, berjubah abu-abu, rambut
putih panjang tanpa ikat kepala. Orang itu terluka
parah bagian punggungnya. Berlubang bagaikan
terowongan perut gunung. Sepertinya ia dihantam
dari belakang dengan pukulan tenaga dalam yang
cukup dahsyat.
Resi Pakar Pantun membelalakkan matanya
begitu melihat mayat yang terkapar di
rerumputan.


"Ooh...?! Tulang Naga?!"
"Seseorang telah membunuh Tulang Naga.
Kurasa belum lama pertarungan itu terjadi di
sekitar sini," ujar Suto Sinting.
"Lalu, siapa orangnya yang membunuh
Tulang Naga, dan ke mana sabuk pusaka itu?!"
ucap sang Resi.
Mereka saling pandang dalam ketegangan.
Hati mereka saling menduga. Namun dugaan
paling kuat tertuju pada Galak Gantung. Mereka
bayangkan Tulang Naga menyerang Galak
Gantung dan Ratu Jiwandani. Tulang Naga
terdesak dan larikan diri sampai di tempat itu.
Galak Gantung mengejarnya, kemudian berhasil
membunuh Tulang Naga. Sabuk Gempur Jagat
pun diambil oleh si Galak Gantung,
"Tapi bagaimana jika dugaan kita itu
meleset?" ujar Suto Sinting setelah merenung
beberapa saat. "Bagaimana kalau Sabuk Gempur
Jagat ada di tangan tokoh lain yang beraliran
hitam?"
"Sebaiknya kita temui dulu Gusti Ratu-ku
dan Ki Galak Gantung," usul Kinanti. Lalu, mereka
pun bergegas teruskan perjalanan menuju Bukit
Wangi yang sudah kelihatan dari tempat mereka
berada.
Jlegaaarr...!
Tiba-tiba sebuah ledakan menggelegar
terdengar begitu dahsyatnya, hingga tanah di
sekitar mereka terguncang hebat. Pepohonan pun
nyaris tumbang, daun-daun dan ranting kering


berguguran. Tapi di sebelah timur, beberapa
pohon menjadi tumbang bersusulan. Angin panas
berhembus membuat kulit tubuh mereka bagai
disengat angin lahar. Suara gemuruh menggema
membuat alam bagai terancam kiamat. Warna
merah menyebar dari arah timur saat suara
ledakan dahsyat tadi terdengar.
"Ini kekuatan dari Sabuk Gempur Jagat!"
ujar sang Resi dengan tegang. "Ada orang yang
bertarung di timur dan menggunakan sabuk itu!"
Zlaaaap...!
Suto Sinting tak banyak bicara lagi, ia
melesat dengan kecepatan yang tak bisa dilihat
mata manusia biasa. Jurus 'Gerak Siluman'
digunakan dan membuat mereka bertiga
tertinggal, lalu segera saling susul dengan
pergunakan ilmu peringan tubuh masing-masing
agar bisa melaju dengan cepat. Kadal Ginting yang
tertinggal dan berlari tunggang langgang, karena ia
tidak mempunyai ilmu peringan tubuh.
"Eyaaaang... tungguuuu...! Saya takut
mayatnya bangkit lagi, Eyaaang...!" serunya dalam
nada ketakutan.
Tentu saja Pendekar Mabuk lebih dulu tiba
di tempat pertarungan. Sebuah lembah berpohon
renggang telah menjadi rusak bagaikan habis
dilanda gempa bumi cukup parah. Tanah di sana-
sini mengalami keretakan. Pepohonan tumbang,
bahkan sebagian menjadi kering dan hangus
menjadi arang hitam. Angin panas masih tersisa
dan membuat suasana sekitar tempat itu menjadi


seperti di tepian kawah gunung berapi.
Sementara itu, seorang lelaki tua berpakaian
jubah putih berdiri tegak tanpa gerak. Tokoh tua
berambut pendek putih dengan kumis dan
jenggotnya yang putih memegang tongkat kayu
hitam dengan kepala tongkat berbentuk cakar
lima jari. Orang itu bertubuh gemuk, dikenal
sebagai Ketua Kelompok Gelandangan. Suto
mengenal orang tersebut dengan julukan si Jubah
Kapur.
Kehadiran Jubah Kapur di tempat itu
memang mengejutkan bagi Suto Sinting, bahkan
ketika Resi Pakar Pantun dan Kinanti
menyusulnya, mereka juga merasa heran melihat
keberadaan Jubah Kapur di tempat tersebut.
Namun yang lebih mengherankan mereka adalah
lawan yang dihadapi si Jubah Kapur.
Sosok berwajah dingin itu mengenakan
kerudung hitam dari kepala sampai kaki. Wajah di
balik kerudung hitam itu tampak pucat sekali,
bibirnya berwarna biru. Sekalipun kelihatan masih
muda dan berhidung bangir, tapi kekejiannya
terpancar dari sorot matanya yang bagai ingin
membekukan darah tiap manusia yang
dijumpainya. Orang berkerudung hitam itu
memegang tongkat berujung parang lengkung
yang dinamakan pusaka El Maut. Siapa lagi dia
kalau bukan Siluman Tujuh Nyawa yang terkenal
sebagai tokoh paling sesat dan ditakuti oleh
beberapa tokoh di rimba persilatan.
"Siluman Tujuh Nyawa...?!" gumam Resi


Pakar Pantun dengan mata mendelik. "Bbba...
bagaimana mungkin dia bisa ikut ambil bagian
dalam perkara Sabuk Gempur Jagat ini? Dan...
dan... dan sabuk itu ternyata sudah tergenggam di
tangan kirinya? Gila! Jubah Kapur bisa hancur
jika melawan si Durmala Sanca itu?"
Durmala Sanca adalah nama asli Siluman
Tujuh Nyawa. Musuh utama tokoh terkeji di
seluruh rimba persilatan itu tak lain adalah
Pendekar Mabuk; Suto Sinting. Pengembaraan
Suto selama ini adalah memburu Siluman Tujuh
Nyawa untuk memenggal kepala orang tersebut
sebagai maskawin untuk meminang Gusti
Mahkota Sejati; Dyah Sariningrum.
Selama ini Suto selalu gagal menumbangkan
Siluman Tujuh Nyawa, karena tokoh  yang tak
pernah punya perubahan air muka itu bukan saja
keji tapi juga licik dan licin bagaikan belut.
Kesaktiannya sangat tinggi, namun jika
berhadapan dengan Suto selalu melarikan diri
sebelum berhasil ditumbangkan. Dengan Sabuk
Gempur Jagat di tangan kirinya, apakah kali ini ia
akan lolos dari incaran Suto Sinting?
"Pantas kalau si Tulang Naga mampus,
ternyata orang yang merebut sabuk itu adalah
Siluman Tujuh Nyawa?!" gumam Resi Pakar
Pantun tepat di seberang telinga Kinanti. Gadis itu
hanya diam dan tak berani berbuat banyak karena
ia pernah mendengar kekejaman dan kesaktian
Siluman Tujuh Nyawa.
"Jubah Kapur, kita selesaikan persoalan


lama sekarang juga!" ujar Siluman Tujuh Nyawa
dengan suara datar berkesan dingin.
"Kelancanganmu tak bisa kuampuni lagi,  dan
sekarang kau harus menebusnya! Jika tadi aku
hanya menguji kesaktianmu, sekarang aku ingin
mencopot nyawamu!"
Sabuk Gempur Jagat yang ada di tangan kiri
Siluman Tujuh Nyawa itu mulai diangkat. Sabuk
itu ternyata terbuat dari kulit ular berduri dengan
tengkorak kepala ular menjadi hiasan ujung
sabuk. Agaknya keadaan ular masih utuh, dari
kepala sampai ekor. Bagian ekornya bertaji
runcing seukuran kelingking. Duri-duri runcing di
sekujur tubuh ular yang sudah tak berdaging lagi
itu tampak mengering hitam  kebiruan bertanda
mempunyai racun yang berbahaya bagi orang yang
tergores kulitnya.
Jubah Kapur masih diam saja walau
Siluman Tujuh Nyawa sudah mengangkat Sabuk
Gempur Jagat. Namun ketika sabuk itu
disabetkan dengan satu lompatan menyerang,
Jubah Kapur bergerak cepat menghindar.
Wuuut...! Tapi tongkatnya tersambar ekor sabuk
tanpa disengaja. Duaaarrr...!
Ledakan keras terjadi, dan tongkat itu
hancur seketika menjadi serpihan kayu tanpa arti.
Kini Jubah Kapur sudah tidak bersenjata
lagi. Tapi ia tidak melarikan diri dan tetap hadapi
lawannya dengan penuh keberanian. Bahkan
sekarang ia bergerak menyerang dengan satu
gerakan cepat yang tak bisa dilihat mata manusia


biasa. Weeess...!
Siluman Tujuh Nyawa juga bergerak cepat
menghindari terjangan lawan. Weeeess...!
Tahu-tahu mereka sudah berpindah tempat
dan saling berhadapan kembali. Siluman Tujuh
Nyawa sabetkan sabuk itu ke udara, arahnya ke
tubuh Jubah Kapur. Wuuut...! Wooooss...!
Api menyambar Jubah Kapur, untung segera
dapat dihindari dengan gerakan mirip orang
menghilang itu. Slaaap...! Dan api pun menyambar
pepohonan di belakang Jubah Kapur. Lalu hutan
di sekitar pohon itu pun terbakar, nyala apinya
berkobar-kobar, makin lama semakin melebar.
Badai angin panas berhembus ke selatan
membuat tanaman menjadi layu dan kering,
bahkan ada yang langsung menghangus menjadi
arang.
"O, mungkin begitulah cara si Tulang Naga
saat membumihanguskan istana Lembah Birawa
dan orang-orangnya," pikir Kinanti dari tempat
persembunyiannya.
Clap, clap...!
Jubah Kapur keluarkan sinar putih dari
kedua telapak tangannya. Tapi kedua sinar putih
itu segera dihantam dengan Sabuk Gempur Jagat
yang disabetkan dengan cepat. Wut, wut...!
Blegaaarr...!
Ledakan besar mengguncangkan bumi,
membuat Jubah Kapur terpental jatuh. Pada saat
itulah Siluman Tujuh Nyawa menerjang maju dan
menghantamkan sabuk yang dipegang bagian


ekornya. Kepala sabuk pun menghantam ke tubuh
Jubah Kapur. Namun orang gemuk itu mampu
bergerak gesit menghindar ke samping, sehingga
hantaman sabuk itu kenai tanah.
Jegaaarrr...!
Suara gemuruh menggema. Tanah menjadi
retak di beberapa tempat. Asap mengepul dari
retakan tanah. Alam pun terguncang bagai
diserang gempa secara mendadak. Warna hitam
hangus tampak nyata pada tanah yang terkena
hantaman kepala sabuk tersebut.
Jubah Kapur segera sentakkan tangannya ke
tanah dan tubuhnya melayang di udara lalu
bersalto satu kali. Wuuut...! Jleeg...! Kakinya
menapak kekar di tanah.
"Manusia sesat!" geram Jubah Kapur. "Kini
saatnya ajalmu tiba!"
Jubah Kapur gerakkan tangannya ke sana-
sini, sementara itu Siluman Tujuh Nyawa
memutar-mutar Sabuk Gempur Jagat di atas
kepala. Putaran itu memancarkan sinar hijau yang
melebar dan menjadi dinding perisai di
sekelilingnya. Jubah Kapur lepaskan jurus
mautnya; sepuluh larik sinar biru keluar dari tiap
ujung jarinya. Zrrrraab...!
Blegaaar...!
Sepuluh larik sinar biru tak mampu
menembus cahaya hijau. Justru menghadirkan
ledakan dahsyat yang membuat tubuh gemuk
Jubah Kapur terpental kuat dan menghantam
pohon di kejauhan sana. Duuurrr...! Krrraaak,


brrrruuuk...!
Pohon itu tumbang akibat benturan tubuh
Jubah Kapur. Darah kental keluar dari mulut,
hidung, dan telinga si Jubah Kapur, ia terluka
parah pada bagian dalam akibat gelombang
ledakan yang begitu kuat itu. Napasnya mulai
tersengal-sengal dan tak mampu bangkit lagi.
Melihat keadaan Jubah Kapur separah itu,
Suto Sinting segera melesat dari tempat
persembunyiannya. Zlaaap...! Tahu-tahu sudah
berada di depan Siluman Tujuh Nyawa. Jleeg...!
Anehnya tokoh sesat itu tidak merasa terkejut
sedikit pun. Wajahnya datar-datar saja, bahkan
senyum sinis pun tak mengembang di bibirnya
yang biru itu. 
"Akulah lawanmu!"
"Kau datang mengantar nyawa, Bocah
Ingusan! Barangkali memang sudah saatnya kau
menemui ajalmu di sini!" ujar Siluman Tujuh
Nyawa sambil masih memutar sabuk pusaka dan
tubuhnya dilapisi sinar hijau bening.
"Kaulah yang akan binasa, Durmala Sanca!"
"Lakukan jika kau mampu menyerangku!" 
Ingat peristiwa Dyah Sariningrum pernah
dilukai oleh Siluman Tujuh Nyawa menggunakan
pukulan 'Candra Badar', (Baca serial Pendekar
Mabuk dalam episode : "Pusaka Tombak Maut"),
Suto Sinting tak mau buang-buang waktu lagi. Ia
segera lepaskan pukulan 'Pecah Raga' dari telapak
tangannya. Sinar hijau keruh menghantam
lapisan sinar hijau bening. Claaap...! Blegaaar...!


Ledakan dahsyat terjadi lagi, bukan saja
mengguncang bumi namun membuat langit
menjadi mendung seakan ingin runtuh. Suto
Sinting terlempar dalam satu sentakan gelombang
ledak yang maha dahsyat. Tubuhnya berguling-
guling dan hidung serta telinganya melelehkan
darah kental.
Ia segera bangkit bersama murkanya.
Napasnya menghadirkan angin kencang yang
menyingkapkan rerumputan dan menebarkan
tanah di bagian depannya.
"Hiaaat...!" Pendekar Mabuk melompat ke
udara dan bersalto dua kali tanpa hiraukan darah
dari hidung dan telinganya. Saat di udara ia
sentakkan tangannya, lalu sinar perak keluar dari
telapak tangannya. Itulah yang dinamakan 'Jurus
Yudha' pemberian Ratu Kartika Wangi yang
berupa puluhan bintang  segi lima kecil-kecil
berwarna perak menyala. Sinar perak itu
menghantam lapisan sinar hijau yang mengelilingi
tubuh Siluman Tujuh Nyawa. Jegaaarrr...!
Sinar itu hancur menyebar lalu padam
seketika. Sentakan gelombang ledaknya membuat
tubuh Siluman Tujuh Nyawa terjungkal ke
belakang berguling-guling. Sabuk Gempur Jagat
lepas dan terpental.
Zlaaaap...!
Suto Sinting menyambar sabuk itu dan
dalam sekejap sudah berada di tangannya. Tapi
Siluman Tujuh Nyawa tak mengalami luka parah
kecuali hangus di bagian telapak tangan kirinya.


Kalau tak ada sinar hijau bening, tentunya
tubuhnya akan terpotong-potong menjadi
beberapa bagian.
Melihat sabuk pusaka itu sudah ada di
tangan Suto, dengan gerakan cepat tanpa kalimat,
Siluman Tujuh Nyawa melesat pergi masuk ke
alam gaib. Zluuub...! Suto Sinting yang ingin
lepaskan jurus 'Manggala' terpaksa  urung, ia
mengejar masuk ke alam gaib dengan meraba
noda merah di keningnya. Zluuub...!
Kejap berikut ia kembali lagi dengan napas
terengah-engah. Pengejarannya melalui alam gaib
ditunda karena ia ingat keadaan Jubah Kapur
yang butuh pertolongan dengan segera.
Sabuk Gempur Jagat kini telah berhasil
diselamatkan dari tangan orang sesat. Jubah
Kapur akhirnya tertolong juga oleh tuak saktinya
Pendekar Mabuk. Tokoh tua yang menjadi
gurunya Inupaksi itu, (Baca serial Pendekar
Mabuk dalam episode : "Bayi Pembawa  Petaka"),
akhirnya berkata kepada Suto Sinting,
"Terima kasih, kau telah menyelamatkan
nyawaku. Hanya saja, sayang sekali iblis sesat itu
tak sempat kau cabut nyawanya!"
"Itu bagianku nanti, Ki Jubah Kapur. Tapi...
mengapa kau sampai terlibat perkara dengan
Siluman Tujuh Nyawa?"
"Dulu aku pernah menggagalkan rencana
busuknya, menculik putri seorang raja. Ia masih
mendendam padaku. Kebetulan aku ingin
bertandang ke pondoknya si Galak Gantung. Aku


memergoki dia sedang bertarung dengan Tulang
Naga. Setelah ia berhasil membunuh Tulang Naga
dan mengambil sabuk pusaka itu, ia ganti
menyerangku dan aku tak bisa lari kecuali
menghadapinya secara untung-untungan!"
"Ternyata kau benar-benar untung," sela
Resi Pakar Pantun. "Kalau tak untung, kepalamu
saat ini sudah buntung!"
Mereka tertawa kecil. Kemudian Suto Sinting
serahkan Sabuk Gempur Jagat kepada Resi Pakar
Pantun.
"Tolong kembalikan kepada Begawan
Rampak Da!u," katanya dengan bijaksana sekali.
Kinanti sempat menggumam, "Aku heran,
Siluman Tujuh Nyawa itu ilmunya sudah cukup
tinggi, mengapa masih menghendaki sabuk
pusaka itu?"
"Setiap pusaka yang dapat membahayakan
jiwanya selalu ingin dikuasai, supaya tak ada
orang yang dapat kalahkan dirinya," jawab Jubah
Kapur. Kinanti pun manggut-manggut.
Setelah sabuk diterima sang Resi, Suto pun
bergegas pergi dan Kinanti mengejarnya.
"Suto, mau ke mana kau?!" 
"Mengejar lawanku tadi ke alam  gaib!"
jawabnya sambil melambaikan tangan dan Kinanti
hanya memandang dengan hati sedih.

SELESAI