--> -->

Serial Pendekar Mabuk-16 Mustika Serat Iblis

SEBUAH kedai di sudut jalan itu tak pernah sepi pengunjung. Bahkan sampai jauh malam kedai itu masih buka. Bukan hanya karena kedai itu menyediakan berbagai macam makanan dan minuman, tapi karena kedai itu mempunyai pemanis.

Rusminah, anak gadis Ki Sumowito, pemilik kedai itu, adalah daya tarik utama bagi para pengunjung kedai. Rusminah perawan desa yang cantik dan menarik hati. Ia ramah dan murah senyum, sehingga pembeli di kedai itu merasa ketagihan. Sekali mereka datang, esoknya ingin kembali datang.

Menurut kabarnya, Rusminah bukan hanya cantik tapi juga pandai memasak. Apa saja yang dimasaknya selalu terasa lezat bagi para pembelinya. Entah karena memang Rusminah pandai memasak atau karena kecantikannya itu yang mempengaruhi setiap masakan menjadi lezat, yang jelas setiap pembeli betah nongkrong di kedai Ki Sumowito sampai berlama-lama.

Salah satu pelanggan tetap kedai pojok itu adalah seorang pemuda bertubuh tegap dan berwajah tampan, ia selalu kenakan pakaian biru muda bersabuk kuning. Rambutnya panjang lurus dan lemas, diikat kain kuning pula. Usianya sekitar tiga puluh tahun, lima tahun lebih tua dari Rusminah sendiri. Pemuda ini selalu memilih tempat paling sudut, dekat dengan jalan kecil menuju meja makanan. Karena dari tempatnya itu, ia bisa melihat Rusminah yang mondar-mandir melayani pembeli. Jika Rusminah menatapnya, gadis itu selalu membalas senyuman kepada pemuda tersebut.

Siang itu, Rusminah sibuk. Pembelinya banyak. Ki Sumowito juga ikut sibuk membawanya ke meja pembeli sambil se sekali terima gangguan-gangguan kecil yang sudah tak asing lagi baginya. Pemuda berpakaian biru muda itu pun sudah ada di pojok sejak tadi. Ia sudah menghabiskan satu poci arak dan beberapa potong ketan bakar.

Kejap berikutnya, muncul tiga orang yang masih asing wajahnya bagi penduduk desa itu. Bahkan para pengunjung kedai merasa belum pernah berjumpa wajah-wajah mereka bertiga.

"Mari, Kang... silakan duduk! Masih ada tempat di sebelah situ, Kang!" sambut Rusminah dengan ramah. Tapi ketiga tamunya itu berwajah angker. Tak ada yang tersenyum sedikit pun. Mata mereka memandang sekeliling, seolah-olah tiap wajah dipandanginya secara teliti.

"Mungkin mereka mencari seseorang yang jadi musuhnya!" bisik Ki Sumowito kepada anak gadisnya. "Hati-hati, Nduk... jangan terlalu dekat ke sana! Nanti kalau mereka pesan makanan dan minuman biar aku saja yang layani!"

"Iya. Aku juga ngeri lihat yang berwajah codet itu. Angker sekali, Pak! Jangan-jangan dia baru bangkit dari kubur?!"

"Ssst...! Jangan keras-keras bicaramu, nanti didengar mereka!" Ki Sumowito segera sentakkan pakaian Rusminah sebagai tanda kecemasannya.

"Agaknya mereka tuli, Pak. Buktinya kusuruh duduk di tempat yang masih kosong, mereka masih saja berdiri cari-cari tempat!"

"Bukan cari-cari tempat, tapi cari-cari perkara! Ia pandangi mereka satu persatu, kalau ada yang tersinggung pasti mereka bertiga sudah siap menghadapi orang yang tersinggung itu!"

"Ah, hatiku jadi tak enak kalau begini, Pak. Mestinya Bapak kasih tulisan di depan pintu masuk sana 'wajah angker dilarang masuk' gitu, Pak! Jadi mereka tak masuk kemari"

"Ssst...! Sudah, sudah... jangan pandangi mereka. Mereka sedang melirikmu!" Ki Sumowito buru-buru melakukan sesuatu biar kelihatan sibuk, demikian pula dengan Rusminah.

Si wajah codet tiba-tiba menggebrak meja kosong.

Brakkk...!

Beberapa orang tersentak kaget. Setiap mata palingkan pandang ke arah si wajah codet yang berseru, "Minta arak tiga poci, dan ciu Mataram tiga poci!" "Baik, Kang. Segera kami siapkan!" jawab Rusminah sambil paksakan senyum supaya bikin senang ketiga orang angker itu. Sementara itu, di sisi lain ada yang berbisik-bisik,

"Gila! Mereka hanya bertiga tapi pesan minuman langsung enam poci! Mau diminum atau buat kumur- kumur saja itu minuman?!"

"Pasti mereka para setan arak yang tak pernah mabuk walau minum sepuluh poci pun! Apalagi yang dipesan adalah ciu Mataram! Aku saja yang sudah biasa minum, kalau sudah kena setengah cangkir ciu Mataram, sudah tak bisa melihat orang dengan jelas. Tapi mereka mau menghabiskan satu poci arak dan satu poci ciu Mataram tiap orang, itu benar-benar hebat!"

"Jangan-jangan mereka tidak mabuk, tapi langsung pingsan satu-persatu? Hi hi hi...!"

Orang yang tertawa cekikan itu segera berhenti karena si wajah codet memandangnya dengan mata tajam dan berkesan angker. Orang ini mengenakan baju merah model rompi tapi panjang sampai bawah pusarnya. Diberi sabuk hitam, sesuai dengan warna celananya. Selain punya codet miring di pipi kanannya, juga bermata besar melotot bagai mau keluar saja biji mata itu. Tubuhnya besar, rambutnya panjang diikat kain pu-tih. Rambut itu acak-acakan hingga kepalanya tampak besar, ia mengenakan cincin yang terbalik, batu cincin itu ada di telapak tangan, warnanya merah, besarnya seukuran permukaan jempol tangan.

Orang inilah yang masuk pertama kali ke dalam kedai, lalu diikuti kedua orang di belakangnya. Masuknya orang ini telah membuat suasana kedai tidak lagi meriah. Yang tertawa menjadi diam, yang bicara keras segera kecilkan suara, yang semula merasa santai sekarang merasa tegang. Bahkan yang sejak tadi menggoda Rusminah, kali ini jadi diam tak berani melanjutkan celoteh godaannya.

Pemuda tampan yang sejak tadi tetap tenang itu memanggil Rusminah dengan isyarat tangan. Rusminah mendekat dan duduk di samping pemuda berbaju biru itu.

"Suruh orang-orang ini tinggalkan kedaimu untuk sementara waktu."
"Kenapa begitu?"

"Ketiga tamu yang baru datang itu akan bikin onar di sini dan sedang cari-cari perkara! Bisiki mereka satu persatu supaya cepat tinggalkan kedaimu ini!"

Tiba-tiba si wajah codet berseru kepada Rusminah, "Hai, Perempuan cantik! Kerjamu melayani semua tamu di sini! Bukan hanya satu tamu saja! Coba kau kemari...!"

"Iyy... iya, sebentar! Sebentar, Kang!"
"Cepat kemari!"

Brakkk...!

Si wajah codet menggebrak meja lagi. "Kalau dipanggil Garong Codet jangan menunda-nunda, tahu?!"
Rusminah segera datang dengan rasa takut yang disembunyikan. Tapi mereka menjadi tahu, bahwa orang berwajah codet yang angker itu berjuluk Garong Codet. Sesuai dengan namanya.

Dengan suara lantang, Garong Codet ucapkan kata kepada Rusminah,

"Siapa namamu, Cah Ayu...?!"
"Rusminah, Kang!"

"Bagus! Begini, Rus..., kalau sekiranya di kedai ini ada orang yang tidak suka pada kehadiranku, suruh dia berdiri dan panggil namaku dari tempat duduknya! Kedua sahabatku ini, Tikus Ningrat dan Setan Culik, akan siap menjemput orang itu dari tempat duduknya!"

Sambil berkata begitu, mata lebar Garong Codet sebentar-sebentar melirik ke arah pemuda tampan berbaju biru. Si pemuda tampan tahu dirinya sedang dipancing dan disindir, tapi ia tidak tanggapi sindiran dan pancingan itu. Ia meneguk minumannya dengan tenang.

Rusminah berkata dengan ramah paksaan, "Kurasa di sini tidak ada yang tidak suka padamu, Kang! Mereka punya urusan masing-masing, jadi mereka tidak pedulikan urusanmu, Kang."

"Aku cuma ingatkan padamu! Kalau kamu dengar ada yang kasak-kusuk merasa tak suka dengan kehadiran kami, suruh dia berdiri!"
"Baik, Kang. Nanti akan kusampaikan padamu jika ada yang tak suka dengan kehadiran Kang Garong Codet!"

"Bagus, bagus...!" Garong Codet sunggingkan senyum, bukan jadi tampan tapi tambah angker, ia tepuk-tepuk pipi Rusminah seenaknya saja. Hal itu membuat pemuda yang duduk di pojokan jadi panas hati. Namun ia bisa kendalikan nafsu amarahnya, ia tetap tenang dan meneguk minumannya lagi.

Orang yang dijuluki Tikus Ningrat itu memang wajahnya mirip tikus. Wajah itu runcing, dagunya maju ke depan, hidungnya mancung, tapi pipinya kempot. Usianya sekitar lima puluh tahun, sebaya dengan usia Garong Codet. Matanya kecil, alisnya tipis, kumisnya hanya beberapa lembar dan kaku. Pakaiannya abu-abu, rambutnya panjang kucal, sering meriap ke depan karena tidak kenakan ikat kepala. Mulutnya terkesan lancip karena ada sebagian gigi yang menjorok ke depan. Tubuhnya kurus kering, menyandang golok di pinggangnya.

Yang punya nama julukan Setan Culik itu juga bertubuh kurus, tapi lebih pendek dari si Tikus Ningrat. Rambutnya cepak kaku, usianya sekitar empat puluh tahun. Setan Culik punya wajah aneh, hidung kecil bulat, mata bundar licik, alis tebal, pipi tembem mirip bakpau. Kulitnya lebih gelap dari kulit kedua rekannya, ia mengenakan baju hijau tanpa lengan dan celana abu-abu kusam. Di lengannya ada gambar tato berbentuk centong nasi bersayap. Entah apa maksud gambar itu.

Ketiga orang bertampang angker itu sebentar- sebentar melirik ke arah meja pojok. Pemuda tampan itu rupanya sedang jadi bahan kasak-kusuk mereka. Si pemuda diam saja. Tapi pada saat Tikus Ningrat angkat poci untuk tuangkan minuman, tiba-tiba poci itu tersentak ke samping dan jatuh bagai ada yang menamparnya. Prangngng... !

Tikus Ningrat kaget, demikian pula Garong Codet dan Setan Culik. Mulanya mereka berdua tak terlalu pikirkan tumpahnya poci tersebut. Tapi Tikus Ningrat segera berbisik,

"Kurasakan ada gerakan angin yang menampar pociku tadi!"
"O, benar begitu?" Setan Culik mulai curiga.

"Pasti ada orang berilmu tinggi di sini!" bisik Tikus Ningrat lagi. Lalu, Garong Codet melirikkan matanya ke arah pemuda tampan itu, namun si pemuda memandang ke arah lain, seakan tidak memperhatikan tiga manusia berwajah angker itu. Tangan si pemuda menggaruk- garuk kepala. Wajahnya kelihatan biasa-biasa saja. Lalu Garong Codet pandangi orang-orang di sekelilingnya.

Si pemuda melihat Setan Culik ingin menyantap ketan bakarnya. Tapi belum sampai ketan bakar itu dicaploknya, tiba-tiba tangan Setan Culik tersentak ke samping dan ketannya jatuh di lantai. Plukkk...! Hal itu membuat Tikus Ningrat dan Garong Codet terkesiap sejenak.

"Ada tenaga yang menampar tanganku," kata Setan Culik dengan suara geram menahan jengkel. Matanya segera dipandangkan kearah si pemuda tampan. Pemuda itu biasa-biasa saja. Bahkan dengan kalemnya dia menuang minuman lagi ke cangkir untuk diteguknya.

Tapi tiba-tiba sebuah sentakan tak terlihat diarahkan kepadanya. Sentakan jarak jauh itu dilakukan oleh Tikus Ningrat. Mestinya tangan si pemuda yang mau mengangkat cangkir itu tersentak dan cangkirnya terlempar.

Tapi nyatanya pemuda itu tetap mengangkat cangkirnya dengan pelan-pelan, seakan melawan suatu hal yang membuat berat gerakannya. Akhirnya ia berhasil minum dengan cangkir itu, walau gerakannya sangat lamban.

"Tak salah lagi," bisik Tikus Ningrat. "Pemuda itu berilmu tinggi. Dia bisa melawan tenaga sentakanku dari jarak jauh."

"Kalau begitu, dialah orang yang kucari!" bisik Garong Codet dengan suara gemas, tapi bernada girang juga. "Tapi siapa tahu di sini ada lebih dari satu orang berilmu, jadi kita tidak perlu susah-susah mencarinya!"

Kemudian semua orang satu persatu dipandangi oleh Garong Codet. Ia tahan napas diam-diam, dan gerakan telapak tangannya di bawah meja bagaikan menekan sesuatu.

Terjadi suatu keanehan. Mereka yang ada di kedai menjadi bingung. Cangkir mereka tak bisa diangkat. Sepertinya terpatri dengan meja. Bahkan pisang goreng, ubi rebus, dan makanan lainnya tak bisa diangkat dari tempatnya. Seakan semua makanan punya daya rekat yang amat kuat. Bahkan sebuah kerupuk pun tak bisa diambil dari dalam kalengnya. Pisang, tak bisa dipulir dari tandannya. Mereka saling berkasak-kusuk gemuruh seperti lebah bergaung. Tikus Ningrat dan Setan Culik cekikikan. Hanya mereka berdua yang bisa mengangkat cangkir dan meneguk minumannya. Mereka tahu, ini ulah Garong Codet.

Tetapi mereka terkejut melihat pemuda itu dengan entengnya melakukan apa saja yang ingin dilakukan, ia dapat dengan mudah mengangkat cangkirnya, mengambil ubi goreng, bahkan sempat berjalan memetik pisang di meja depan dan mengupasnya dengan tenang sekali. Sepertinya tak mengalami hal aneh seperti yang dialami oleh pengunjung kedai lainnya itu.

"Nah, jelas hanya dia yang berilmu tinggi, Tikus Ningrat!" bisik Garong Codet. "Yang lainnya tak bisa angkat makanan ataupun barang apa pun di depan mereka, tapi anak muda itu bisa melakukan dengan mudah. Jika tidak berilmu tinggi, dia tidak akan mudah memetik pisang dari tandanannya. Lihat, dia tuangkan poci ke dalam cangkir dengan mudah sekali! Jelas dia orang yang kucari untuk tumbal cincinku ini! Pancing dia, Setan Culik!"

"Beres! Aku sudah punya cara untuk memancingnya!" kata Setan Culik, lalu bergegas bangkit dan mendekati Rusminah yang ada di balik meja dagangan.

"Rus, apa di sini ada kamar kosong?"
"Hmmm... iya, ada! Kenapa, Kang?"
"Aku ingin istirahat sebentar di kamar itu. Berapa sewanya?"

Ki Sumowito yang menjawab, "Kami tidak sewakan kamar itu, tapi kalau kau ingin pakai untuk istirahat, silakan pakai!"

"Aku ingin istirahat di kamar itu, tapi harus ditemani dengan anakmu, Pak Tua!"

"Ha ha ha ha ha...!" Tikus Ningrat serukan tawa bersama Garong Codet. Tawa yang pecah dan serak, sangat tak enak didengar itu, ternyata telah membuat telinga pemuda tampan merah bagai digosok pakai amplas. Tapi ia masih tetap tenang.

"Ayo, temani aku istirahat sebentar, Rus...!" tangan Setan Culik segera meraih tangan Rusminah. Tentu saja gadis itu segera sentakkan tangannya.

"Jangan begitu, Kang! Aku bukan wanita penghibur!"

"Sekali-sekali menghibur tamu kan tak apa-apa, Rusminah. Biar langgananmu makin banyak! Ha ha ha ha...!" tangan Setan Culik meremas dada. Rusminah memekik kaget dan pucat wajahnya.

"Aaah...!"

Melihat kelakuan seperti itu di depan matanya, pemuda tampan itu tak bisa menahan kesabaran lagi. Ia segera berdiri dan mencekal punggung baju si Setan Culik, kemudian melemparkan tubuh itu hingga melayang dan jatuh di meja depan Garong Codet. Brakkkk....!

Terkejut Garong Codet dan Tikus Ningrat melihat temannya dilemparkan begitu saja oleh si pemuda tampan. Terkejut pula semua tamu di kedai itu. Mereka mulai menyingkir satu persatu.

Terdengar suara Rusminah yang ketakutan berkata kepada pemuda itu.

"Soka Loka...! Sudahlah, jangan layani mereka!"

Tapi pemuda yang bernama Soka Loka itu tidak pedulikan ucapan Rusminah. Arak yang diteguknya mempengaruhi keberanian dan kesabarannya. Soka Loka cepat melompati meja dagangan dan dalam kejap berikut sudah berada di depan meja dagangan, menghadap tegap ke arah ketiga manusia berwajah angker itu.

"Siapa kau?! Berani-beraninya kau berbuat tak sopan terhadap temanku ini, hah?!" bentak Garong Codet, matanya melotot bagai ingin lompat dari kelopaknya.

"Temanmu yang lebih dulu bertindak tak sopan! Sekarang apa mau kalian sebenarnya?!" tantang Soka Loka.
"Mauku memenggal kepalamu!" jawab Garong Codet dengan keras.
"Kalau begitu, silakan keluar lebih dulu dari kedai ini! Kita bertarung di luar kedai, supaya tidak merugikan Ki Sumowito!"
Garong Codet segera berkata kepada kedua rekannya, "Tikus Ningrat, Setan Culik, hadapi dia di luar!"

"Hiaaat...!" Tikus Ningrat mau bergerak menyerang, tapi punggungnya segera dicengkeram Garong Codet, ia dibentak,
"Kataku di luar! Bukan di sini!"

"O, iya...! Baik. Aku tunggu di luar!" Tikus Ningrat kendorkan ketegangannya, kemudian ia lompatkan diri melalui dinding kedai yang hanya separo bagian itu. Wuttt... ! Ia sudah berada di luar kedai. Setan Culik menyusulnya.

Soka Loka tetap berdiri di tempat. Garong Codet berkata, "Lihat, kedua temanku sudah ada di luar! Mereka siap menghadapi tantanganmu!"

"Aku memilih melawanmu lebih dulu. Hiaaah...!" Soka Loka sentakkan tangannya dan sebuah pukulan tenaga dalam cukup besar terlepas dari telapak tangan itu. Wusss...!

Bueggh... !

Garong Codet terkena dadanya. Tubuh besarnya terhempas menerjang bangku dan meja di belakangnya, ia tak menyangka akan datang serangan secepat itu. Ia menjadi malu, karenanya ia geram dan marah sekali. Cepat-cepat ia bangkit dengan mata semakin ingin lompat dari dalam kelopaknya.

"Bangsat kau!"

Dihantamnya Soka Loka dengan tangan kiri bertenaga dalam. Soka Loka tidak menghindar, karena ia tahu jika menghindar, maka Rusminah dan Ki Sumowito yang ada di belakangnya akan jadi sasaran pukulan tenaga dalam yang berbahaya itu. Maka, Soka Loka menahan pukulan itu dengan telapak tangannya di dada. Ia dorong kekuatan yang mendesaknya dengan kuat itu. Ia kerahkan tenaga dalamnya sampai kedua kakinya gemetaran.

Tapi tiba-tiba, tangan kanan Garong Codet segera diangkat ke atas. Cincin merah yang ada di telapak tangan kanan itu pantulkan cahaya sinar matahari. Pantulan itu segera dikibaskan ke arah leher Soka Loka.

Clapp... !
Crasss... !

"Aaaa...!" bukan Soka Loka yang menjerit, tapi Rusminah. Perempuan itu menjerit sekuat tenaga karena melihat kepala Soka Loka jatuh menggelinding terpotong rapi tanpa darah menyembur. Pemandangan yang amat mengerikan dan di luar dugaan itu yang membuat Rusminah menjerit sekeras-kerasnya sambil memeluk ayahnya.

"Siapa lagi yang mau coba rasakan Cincin Mustika Serat Iblis-ku ini?!" sentak Garong Codet sambil pandangi semua orang yang berkerumun di luar kedai. Yang di dalam kedai sudah tak ada.

"Ayo, siapa lagi yang mau persembahkan kepalanya untuk kupenggal dengan Cincin Mustika Serat Iblis ini?! Mumpung masih butuh banyak tumbal! Silakan maju yang bersedia melawanku!"

Tak ada yang berani buka suara. Mereka semua bagai terpaku di tempat dengan kedua kaki gemetaran. Sementara itu, kepala Soka Loka tergeletak kaku di bawah kaki bangku, badannya jatuh di lantai.

Ki Sumowito merasa heran dan takjub terhadap cincin yang bernama Mustika Serat Iblis itu. Padahal Soka Loka dikenal sebagai pemuda tangkas berilmu tinggi, murid dari Eyang Danujaya yang terkenal bijak dan sakti itu. Semudah itu Soka Loka dipenggal pakai sinar cincin tersebut. Berarti kekuatan yang terpancar di dalam Cincin Mustika Serat Iblis itu sungguh dahsyat.

*2
SALAH seorang murid rendahan Eyang Danujaya melihat peristiwa pemenggalan kepala Soka Loka. Segera sang murid yang bernama Tuban itu menemui Eyang Danujaya di padepokan. Padepokan itu tak jauh letaknya dari desa tempat kedai Rusminah berada. Hanya menyeberangi persawahan beberapa bentangan sudah sampai ke padepokan Eyang Danujaya. Sejak Eyang Danujaya mendirikan padepokan di situ, keadaan desa tersebut menjadi aman. Baru sekarang terjadi kerusuhan yang begitu menggemparkan seluruh masyrakat desa.

Tuban menghadap Eyang Danujaya pada saat di paseban terjadi perbincangan antara Eyang Danujaya dengan ketiga murid unggulan, yaitu Jayengrono, Randu Galak, dan Roro Manis. Sebenarnya, jika sedang terjadi satu pembicaraan di paseban, tak ada murid yang berani datang mengganggu atau menyela pembicaraan Eyang Danujaya. Tetapi agaknya kali ini Tuban sengaja memberanikan diri menghadap Eyang Danujaya dengan wajah pucat dan napas terengah-engah tegang.

"Ampun, Guru! Saya terpaksa menghadap! Sangat terpaksa, Guru!"

Semua orang yang ada di situ sama-sama kerutkan dahi pandangi Tuban. Terutama Eyang Danujaya, memandang agak lama seperti sedang meneropong hati dan pikiran Tuban, setelah itu bertanya dengan suaranya yang bernada bijak,

"Ada apa, Tuban? Kau sangat ketakutan sekali kelihatannya!"
"Saya mau laporkan tentang Kakang Soka Loka, Guru!"
"Soka Loka?! Ada apa dengan Soka Loka?"
"Kakang Soka Loka... tewas, Guru!"
"Hah...?!" Roro Manis, Randu Galak, dan Jayengrono sama-sama tersentak kaget dan mata terbelalak lebar.

Eyang Danujaya hanya kerutkan dahi sedikit. Matanya menyipit. Lalu ia tarik napas dan hempaskan pelan-pelan. Duduknya tetap tegak bersila. Matanya lurus ke depan bagai menerawang. Kejap berikutnya, terdengar suara Randu Galak ajukan tanya pada Tuban,

"Siapa yang membunuh Soka Loka?! Siapa, hah?!"

Sentakan suara Randu Galak yang sudah menjadi ciri khas kegalakannya itu membuat Tuban gemetar dan tergagap-gagap sebentar. Setelah itu, barulah Tuban bisa menjawab dengan lancar,

"Tiga orang datang ke kedai Ki Sumowito. Salah satunya bernama Garong Codet, dan...!"
"Tunggu!" potong Eyang Danujaya. "Siapa nama orang itu?"
"Garong Codet, Guru!"

"Garong Codet?!" gumam Eyang Danujaya. "Kalau tak salah dia perampok dari tanah seberang. Perampok kawakan yang licin dan sukar dibunuh! Hmmm... teruskan ceritamu, Tuban!"

"Baik, Guru!" Tuban menelan ludahnya sendiri untuk atasi kegugupan dalam penuturan ceritanya, ia berkata,
"Garong Codet berhasil memenggal kepala Kakang Soka Loka, Guru!"
"Kepala Soka Loka dipenggal?!" sentak Jayengrono dengan geram.
"Betul, Kang Jayeng!"

Eyang Danujaya menyahut, "Garong Codet memang jago main pedang. Tak heran kalau Soka Loka terpenggal kepalanya!"

"Tapi dia memenggal kepala Kakang Soka Loka bukan dengan pedang, Guru," sanggah Tuban.
"Bukan dengan pedang? Lantas dengan apa?"

"Dengan sebuah cincin yang dipakainya terbalik. Mata cincin ada di telapak tangan, Guru! Cincin itu berwarna merah bening. Garong Codet menyebutnya Cincin Mustika Serat Iblis!"

"Apa...?!" Eyang Danujaya tersentak kaget.
"Cincin Mustika Serat Iblis, Guru!" ulang Tuban menyangka gurunya kurang jelas pendengarannya.

Danujaya tertegun dan terkunci mulutnya beberapa saat. Para muridnya saling berwajah tegang, pandangi gurunya, menunggu ucapan dari sang Guru. Tetapi sang Guru justru bangkit berdiri dan melangkah ke tepian ruangan yang berdinding separo badan itu. Ia termenung beberapa saat di sana. Tuban melanjutkan cerita lengkapnya kepada Roro Manis dengan suara bisik- bisik.

Sejenak kemudian terdengar suara Eyang Danujaya berkata,
"Jayengrono, hadapi dia!"
"Baik, Guru!" jawab Jayengrono dengan patuh.
"Hati-hati! Hindari kilatan cahaya dari cincin itu!"
"Saya paham, Guru!"
"Seret dia kemari untuk kita adili. Tapi jika terdesak, bunuh dia di tempat supaya aman Desa Sambiroto dan sekitarnya!"
"Baik, Guru! Saya berangkat sekarang juga!"

Eyang Danujaya berbalik dan kini mengangguk sambil pandangi Jayengrono yang segera tinggalkan tempat.

Pemuda berusia sekitar tiga puluh tahun itu mengenakan rompi hitam dan celana biru dengan ikat pinggang kuning. Rambutnya cepak, badannya tinggi tegap, ia bersenjatakan sabit kembar yang diselipkan di pinggang belakang. Ketika meninggalkan tempat, tak ada kesan ragu sedikit pun. Justru penuh semangat dalam langkahnya.

"Guru," kata Randu Galak. "Mengapa Jayengrono yang harus menghadapi Garong Codet?! Mengapa bukan saya atau Roro Manis?!"

"Jayengrono punya jurus 'Gerak Petir', ia cukup lincah dan gesit. Mustika Serat Iblis harus dilawan dengan orang yang mampu bergerak gesit. Jika Mustika Serat Iblis memantulkan sinar matahari, atau sinar lampu minyak, dia akan bisa dipakai memotong benda sekeras apa pun. Bahkan jika mendapat pantulan dari sinar rembulan, dia dapat memotong gunung baja sebesar apa pun. Itulah kehebatan Mustika Serat Iblis. Seorang sahabatku yang bernama Ki Madang Wengi, punya banyak cerita tentang Mustika Serat Iblis. Dan menurutnya, hanya orang yang bisa bergerak gesit dan lincah yang bisa selamat dari cahaya Mustika Serat Iblis."

Jayengrono memang punya gerakan gesit, karena dia mempelajari jurus 'Gerak Petir', ia mampu melesat ke sana kemari dan sukar diikuti pandangan mata. Karenanya, Jayengrono sendiri tak merasa gentar mendapat perintah untuk melawan Garong Codet.

Waktu Jayengrono tiba di kedai Rusminah, orang masih berkerumun di depan kepala Soka Loka. Orang- orang itu menyisih setelah melihat kehadiran Jayengrono, karena mereka tahu Jayengrono satu perguruan dengan Soka Loka.

Melihat kepala dan raga Soka Loka terpisah, darah Jayengrono gemuruh bagai mendidih, ia segera tarik napas untuk menahan luapan kemarahannya. Lalu dengan suara pelan ia bicara kepada Ki Sumowito, ayah Rusminah,

"Tolong bawa mayat saudaraku ini ke padepokan. Serahkan kepada Eyang Guru biar dimakamkan selayaknya."
"Baik. Kami akan bawa ke sana, Jayengrono."
"Ke mana perginya Garong Codet itu?!"

Salah seorang menyahut, "Mereka kulihat sedang menuju perbatasan desa. Kurasa mereka belum jauh kalau kau ingin mengejarnya, Kang Jayengrono!"

"Terima kasih!" jawab Jayengrono, lalu segera tinggalkan kedai dan menyusul tiga manusia berwajah angker itu.

Garong Codet melangkah di tengah dengan langkah tegapnya. Matanya masih melotot bagai tak bisa berkedip lagi. Ia memandang sekeliling, seperti mencari sasaran lain. Ia berkata kepada kedua anak buahnya, yaitu Tikus Ningrat dan Setan Culik,

"Masih banyak kepala yang harus kucari! Jumlahnya harus genap tiga puluh tiga kepala sebelum purnama muncul."
"Bagaimana jika hanya tiga puluh dua yang kita peroleh?" tanya Tikus Ningrat.
"Berarti kepalaku sendiri yang akan hancur sebagai pelengkap tumbal yang ketiga puluh tiga!"
Setan Culik menggumam, "Sembilan belas, dua puluh, dua puluh satu yang di hutan, dua puluh dua yang di jembatan, terus...."
"Kau bicara apa, Setan Culik?!" sentak Tikus Ningrat.
"Aku menghitung jumlah kepala yang sudah terpenggal oleh Mustika Serat Iblis!" jawab Setan Culik sambil tetap langkahkan kaki.

Kemudian Tikus Ningrat tertawa pendek, setelah itu berkata kepada Garong Codet.

"Apakah tumbal kepala itu harus dari orang berilmu tinggi? Jika bukan orang berilmu tinggi, bagaimana?"

"Tidak bisa! Suara gaib yang kudengar setelah aku berhasil membunuh harimau berbulu merah itu adalah tiga puluh tiga kepala orang sakti harus kusediakan sebagai tumbal Mustika Serat Iblis. Jika tidak, maka kepalaku sendiri akan hilang alias pecah, dan Cincin Mustika Serat Iblis ini akan lenyap dengan sendirinya. Pusaka ini sayang sekali kalau sampai lenyap, karena kabarnya tidak semua orang bisa bertemu dengan harimau berbulu merah api dan bisa mendapatkan Mustika Serat Iblis ini!"

"Berarti kau termasuk tokoh dunia persilatan yang paling beruntung, Garong Codet! Tak ada orang seberuntung kamu!" kata Tikus Ningrat, sementara Setan Culik sibuk mengingat-ingat hitungan orang yang sudah jadi korban Mustika Serat Iblis, ia menghitungnya dari awal lagi.

Angin berhembus dari arah barat. Mereka bertiga menuju desa di balik bukit sana untuk mencari tumbal kepala orang berilmu tinggi. Tetapi langkah itu jadi terhenti karena tiba-tiba selembar pelepah daun pisang yang masih muda melayang deras ke arah mereka, datangnya dari samping kanan.

"Setan Culik, awas...!" sentak Garong Codet. Ia sendiri segera melompat, dalam satu hentakan kaki ke tanah. Tikus Ningrat berguling ke depan, sedangkan Setan Culik cepat bersalto ke belakang.

Wutt wutt wuttt...!
Wesss... !

Selembar pelepah daun pisang yang masih berwarna hijau ranum itu melesat di tempat mereka berjalan beriringan. Gerakannya yang cepat membuat pelepah pisang itu langsung meluncur dan menghantam sebuah pohon pete di pinggiran jalan itu. Crasss...! Kriett...!

Pelepah daun pisang menembus batang pohon pete bagaikan kapak tajam yang terbang dengan cepat. Hampir saja pohon tersebut terpotong dan tumbang. Daun pisang itu kini menancap di dalam batang pohon, sementara hembusan angin membuat pohon itu bergerak-gerak hampir tumbang.

"Tumbal datang, Tikus Ningrat!" kata Garong Codet. Tapi matanya melirik ke kanan-kiri mencari orang yang datang menyerang dengan daun pisang. Hati Garong Codet kegirangan, karena ia akan bertemu dengan orang berilmu tinggi. Sebab, jika bukan orang berilmu tinggi, tak mungkin bisa melemparkan daun pisang menjadi seperti kapak terbang yang amat tajam dan bisa memotong pohon pete sebesar itu.

Ketiganya segera mengambil sikap saling merapat dan saling adu punggung. Walaupun tak sampai punggung mereka bersentuhan, tapi sikap mereka sudah menandakan siap terima serangan dari lawan yang ada di arah mana saja.

Zlappp... !

Tiba-tiba mereka melihat sekelebat sinar atau bayangan tak jelas. Mereka sempat terkesiap sejenak. Garong Codet berkata,

"Sepertinya ada yang melintas di depanku, Setan Culik!"

"Ya. Memang ada. Aku rasakan angin gerakannya cukup panas. Pasti orang itu berilmu tinggi dan cocok jadi tumbalmu!"

Mereka saling pandang ke arah sekeliling. Tak ada manusia yang terlihat di sana-sini. Tetapi Tikus Ningrat terkejut dan cepat tertawa geli setelah pandangi Garong Codet.

"Apa yang lucu?! Mengapa kau tertawa!" bentak Garong Codet.

Setan Culik begitu melihat Garong Codet mendelik marah, ia jadi ikut tertawa dengan mulut ditutup tangan. Garong Codet semakin geram ditertawakan dua sahabatnya yang menjadi pengikutnya itu. Ia segera meremas baju Setan Culik, wajahnya didekatkan ke muka Setan Culik seraya ia mendelik dan berkata,

"Apa yang lucu, hah?! Mengapa kau menertawakan diriku?! Jawab!"
"Kum... kum... kum..., hi hi hi hi...!" Setan Culik tak bisa menjawab dan menjadi geli sendiri.

Plakkk...! Garong Codet menampar wajah Setan Culik hingga orang sedikit pendek itu jatuh ke tanah. Tapi ia masih saja tertawa terkikik-kikik.

Tawa yang ditahan mati-matian itu tak lagi bisa dikendalikan. Akhirnya Setan Culik melepaskan tawa keras-keras dan Tikus Ningrat pun melepaskan tawa terbahak-bahak sambil pegangi perutnya. Sementara itu, Garong Codet semakin geram, kemudian kakinya menendang keras perut Tikus Ningrat dan menyepak kepala Setan Culik yang masih terduduk di tanah.

Akibat sepakan itu, Setan Culik terpelanting dan berhenti dari tawanya, Tikus Ningrat terlempar ke belakang dengan perut terasa mual akibat ditendang keras, ia pun menghentikan tawanya,
sampai akhirnya Garong Codet kembali ajukan tanya,

"Apa yang membuat kalian menertawakan aku! Coba jawab!"
"Kumismu," jawab Tikus Ningrat.

"Mengapa dengan kumisku, hah?!" tanpa sadar tangan Garong Culik meraba kumisnya dan ia tersentak kaget. Ternyata kumisnya yang tebal itu hilang separo. Kumis kiri masih utuh, tapi kumis kanan lenyap dan... tak tersisa sedikit pun.

"Celeng! Siapa yang berani mempermainkan aku sedemikian rupa?!" geramnya dalam hati. Tangannya masih mengusap-usap kumis kanannya yang plontos dan tentunya sangat lucu, karena kumis yang kiri cukup tebal.

"Alis kananmu juga," kata Setan Culik, buru-buru menutup mulutnya karena takut semburkan tawa lagi. Dan Garong Codet segera meraba alis kanannya.

"Monyet Bunting!" cacinya dengan geram kejengkelan. Ternyata alis kanannya pun tercukur habis hingga plontos. Tapi alis kirinya masih tebal menghitam.

Alangkah malunya Garong Codet berwajah seperti itu. Tanpa alis dan kumis kanan, sementara alis dan kumis kiri sangat tebal, sungguh merupakan pemandangan yang menggelikan. Lucu dan aneh. Pantas jika Tikus Ningrat dan Setan Culik menertawakannya sampai terpingkal-pingkal.

"Pekeijaan siapa ini!" geram Garong Codet dengan mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Giginya menggeletuk ingin melampiaskan marah tapi tak punya tempat dan sasaran. Menurutnya, jelas ada orang berilmu tinggi yang berkelebat cepat dan memotong kumis serta alisnya tanpa terasa.

"Tikus Ningrat! Setan Culik! Cepat cari orang yang telah berani mempermalukan diriku seperti ini! Cari cari cari i i...!" teriak Garong Codet dengan mata melotot, menambah lucu wajahnya.

Tetapi sebelum Tikus Ningrat dan Setan Culik bergegas pergi, tiba-tiba Jayengrono muncul dari balik pohon seberang. Dari sana ia berseru,

"Tak perlu kalian repot-repot mencariku!"
"Itu dia orangnya!" sentak Setan Culik sambil menuding. Tangan yang menuding itu dipukul oleh Garong Codet. Plakkk... !
"Kalau dia sudah muncul aku pun tahu di mana dia! Goblok!"

Setan Culik meringis. Tulang lengannya bagai ngilu semua karena pukulan telapak tangan kiri Garong Codet. Tikus Ningrat cekikikan dengan menutup mulut dan sembunyikan wajah. Setan Culik menendang tulang kaki Tikus Ningrat. Plokk...! Tikus Ningrat meringis kesakitan dan menggerutu habis-habisan.

Tanpa sadar mereka kehilangan Garong Codet. Orang yang kini berwajah angker-angker lucu itu sudah bergegas mendekati Jayengrono ke seberang. "Bocah Kunyuk! Apa maksudmu mencukur alis dan kumisku yang sebelah kanan, hah?!" sentak Garong Codet.

"Untuk membuktikan bahwa aku bisa membunuh mu dengan mudah!" jawab Jayengrono dengan berani, ia pun sunggingkan senyum menahan rasa geli melihat wajah Garong Codet.

"O, jadi kau ingin membunuhku?!"
"Ya. Untuk membalas kematian saudara seperguruanku yang kau penggal di kedai Rusminah itu!"

"Aha... ! Jadi kau punya perguruan? Tentunya di perguruanmu banyak orang berilmu tinggi?! Sangat kebetulan sekali aku membutuhkan kepala orang berilmu tinggi buat tumbal Mustika Serat Iblis-ku!"

"Belum sampai kau pijakkan kakimu ke sana, kepalamu sudah akan menggelinding dengan sendirinya, seperti halnya aku mencukur kumis dan alismu, Garong Codet!"

Srekk...! Jayengrono mengeluarkan sabit kembarnya di kanan-kiri tangan. Sabit kembar itu dipermainkan kembangan jurusnya seraya mata Jayengrono tak berkedip pandangi tiap gerakan lawan.

"Kuingatkan kepadamu, Kunyuk Kasap! Kau datang padaku sama saja serahkan kepalamu untuk kujadikan tumbal Mustika Serat Iblis. Sekali kau datang menghadapku, berarti kau tak akan bisa pulang dengan kepala tetap menempel di lehermu!"

"Kau pun tak akan bisa lolos dari sabit kembarku!"

Jayengrono melangkah ke kiri dua tindak sambil kelebatkan kedua sabit runcingnya ke sana-sini. Sedangkan Garong Codet hanya pasang kuda-kuda dengan tangan kanan menggenggam ke atas kepala, ia siap melepaskan pantulan sinar matahari dari Mustika Serat Iblis yang ada dalam genggamannya, ia menunggu Jayengrono sampai pada titik di mana pantulan sinar matahari akan menjangkau tempatnya.

Zlappp...! Jayengrono bergerak cepat. Tak terlihat oleh mata Garong Codet. Tahu-tahu ikat kepala putih putus dan terlepas dari kepala Garong Codet. Sabit kembarnya telah berhasil berkelebat memutuskan ikat kepala itu tanpa mengenai kulit kepala sedikit pun. Zlllap...! Zlappp...! Zlappp...!

Beggg...! Tangan kiri Garong Codet menyentak ke depan. Tanpa sengaja tepat mengenai tubuh Jayengrono yang berkelebat mengitari tubuh Garong Codet. Tubuh yang terkena sentakan telapak tangan kiri itu terpental dan jatuh berguling-guling di tanah.

Garong Codet merasa lega dan bangga bisa kenai tubuh lawan dengan gerak tangan yang bersifat untung- untungan tadi. Tetapi ia menjadi curiga dan merasakan ada keanehan. Apalagi melihat Tikus Ningrat dan Setan Culik makin menertawakan dirinya, maka segera Garong Codet meraba wajahnya.

"Hahh...?!" ia tersentak kaget. Sekarang wajahnya menjadi bersih. Tanpa kumis, tanpa jenggot, juga tanpa alis mata. Dapat dibayangkan olehnya, betapa aneh dan lucu wajahnya yang bertulang besar pada pipi itu tanpa kumis, alis dan jenggot sedikit pun.

"Edan!" geramnya kaget, ia meraba rambutnya yang panjang. Ternyata rambut itu menjadi cepak. Terpotong- potong tak rapi. Panjang rambut tak sampai lewat tengkuk. Kira-kira tiap rambut sepanjang kelingkingnya.

Bahkan bisa lebih pendek lagi. Rambut itu menjadi rambut trondol yang tak jelas potongannya. Sedangkan Garong Codet pun merasakan tak memiliki bulu mata lagi.

Jelas ia bisa membayangkan betapa lucu dan memalukan sekali wajahnya itu. Karenanya ia sangat murka dipermainkan sedemikian rupa. Pada saat Jayengrono bergegas bangkit, Garong Codet berteriak,

"Modar kau bocah kunyuk! Hiaaat...!"

Pukulan tenaga dalam dilepaskan dari tangan kiri. Jayengrono melompat ke kanan, tapi tangan kanan Garong Codet segera dibuka, matahari pantulkan sinarnya melalui batu Cincin Mustika Serat Iblis itu. Dan, clapp...! Wesss...!

Crass...! Sinar merah seperti lidi itu memenggal putus kepala Jayengrono. Tak ada ampun lagi, kepala itu pun menggelinding ke tanah dan tidak keluarkan darah sedikit pun.
* * *
3
SETELAH memakamkan jenazah Soka Loka, Roro Manis berdiri murung di bawah sebuah pohon besar yang rindang. Wajah dukanya masih terlihat jelas, ia seperti merasa kehilangan saudara kandung. Soka Loka sudah seperti kakaknya sendiri dalam hubungan sehari- hari. Seperti halnya Jayengrono dan Randu Galak, sudah dianggap saudara sendiri. Sehingga kematian Soka Loka sangat memukul hati wanita cantik berpakaian merah tembaga yang terang mencolok mata warnanya.

Eyang Danujaya belum kembali ke padepokan, ia dan Randu Galak masih ada di tanah makam. Eyang Danujaya sengaja menyediakan tempat pemakaman khusus untuk murid-muridnya yang gugur. Letak tanah pemakaman itu ada di belakang padepokan, dekat sebuah sungai kecil.

Semua murid yang ikut memakamkan Soka Loka diperintahkan untuk kembali ke padepokan. Eyang Danujaya bersikap tenang walau menyimpan duka di dasar hatinya, ia dekati gadis cantik bertahi lalat kecil di bawah mata kirinya itu. Rambutnya yang panjang diikat kain biru tampak bergerai-gerai disapu angin menjelang sore.

"Roro Manis," tegur Eyang Danujaya. Perempuan itu segera palingkan wajah, lalu tunduk dalam duka yang disembunyikan.

"Manusia hidup tidak harus turuti kedukaan hati. Kedukaan itu hanya boleh lewat di depan hati kita, tapi tidak boleh menetap. Karena jika kedukaan menetap di hati, maka jiwa pun menjadi ikut mati. Relakan kematian saudaramu, supaya arwahnya tidak terjerat oleh dukamu, Roro Manis."

"Saya... saya tidak apa-apa, Eyang Guru!" ucap Roro Manis lirih. Eyang Danujaya pandangi Randu Galak yang berdiri di belakangnya, lalu ucapkan kata,

"Bawa dia kembali ke padepokan, Randu Galak! Biarkan aku di sini sendirian untuk menikmati sore tiba."

"Baik, Eyang Guru!" jawab Randu Galak dengan wajah terbungkus duka pula. Kemudian ia melangkah bersama Roro Manis segera tinggalkan bawah pohon rindang itu.

Tetapi baru saja ia langkahkan kaki dua tindak, tiba- tiba ada sesuatu yang jatuh di depan langkahnya. Blukk...! Sesuatu yang jatuh itu menggelinding sebentar, dan berhenti tepat di depan kaki Roro Manis.

"Haaah...?!" Roro Manis terpekik keras, ia sangat terkejut, demikian juga Randu Galak. Suara pekik itu membuat Eyang Danujaya bergegas memandang ke arah kedua muridnya itu. Dan mata orang tua berkepala gundul dengan uban tipis putih itu menjadi terbelalak pula setelah tahu, bahwa benda yang jatuh menggelinding itu adalah kepala Jayengrono.

Detak jantung mereka bagai tersentak-sentak didalam dada. Darah mereka bagaikan mendidih dan siap menyembur keluar dari pori-porinya. Tangan pun gemetar karena menahan luapan amarah yang begitu besar.

Lemparan kepala Jayengrono adalah suatu penghinaan besar dan tantangan yang mendatangkan murka di hati mereka. Tetapi Eyang Danujaya segera pejamkan mata dan tarik napas dalam-dalam untuk memperoleh ketenangannya kembali.

Mata Randu Galak menjadi beringas. Mata itu terarah ke seberang sungai, dan ia tatap tajam wajah tiga orang di sana, yaitu wajah Garong Codet, Tikus Ningrat, dan Setan Culik. Melihat mata Randu Galak berbinar-binar penuh dendam, Roro Manis segera mengikuti pandangan mata itu, hingga ia temukan tiga wajah angker yang sunggingkan senyum tantangan itu.

"Eyang Guru, izinkan saya menyeberang ke sana!" ucap Randu Galak dengan suara gemetar karena menahan amarah.

Danujaya pandangi wajah ketiga orang di seberang sungai dengan mata menyipit. Kemudian tanpa berpaling memandang Randu Galak, ia ucapkan kata datar,

"Berangkatlah ke seberang, Randu Galak! Aku akan menyusulmu!"

"Baik. Terima kasih, Guru!" Randu Galak tampak gembira dalam kobaran api amarah dan dendam. Maka, dengan cepat ia melesat menuju ke tanah seberang sungai.

Lebar sungai yang kira-kira lima tombak itu hanya dilompati dengan sekaii sentak kaki. Tubuh Randu Galak yang sedikit gendut dan berkumis lebat itu bagaikan terbang, lalu bersalto dua kali di udara. Kejap berikutnya dia sudah tiba di tanah seberang sungai, dalam jarak delapan langkah dari tempat Garong Codet berdiri.

"Eyang Guru, bolehkan saya ikut ke seberang sungai?!" desak Roro Manis.

"Jangan! Kau harus bersamaku jika mau ke sana," jawab Eyang Danujaya. "Ambillah Pusaka Tombak Kiai Jagat di ruang panembahan!"

"Baik, Eyang Guru!" maka dengan cepat Roro Manis segera pergi untuk mengambil Pusaka Tombak Kiai Jagat yang menjadi andalan Eyang Danujaya itu.

Sementara di daerah seberang sungai sana, Randu Galak sudah tak sabar menghadapi Garong Codet. Tanpa sebutkan nama, Randu Galak sudah dapat menerka yang mana yang bernama Garong Codet. Tak salah dugaannya, bahwa manusia berwajah angker lucu bercodet bekas luka di pipi kanannya itulah yang bernama Garong Codet.

"Sudah kuduga, kau pasti tertarik dengan undanganku lewat kepala kunyuk kurap itu!" kata Garong Codet.

"Manusia iblis!" geram Randu Galak. "Kau pikir kami akan gentar walau dua kepala orang kami sudah kau penggal begitu saja, hah?!" Mata Randu Galak melotot lebar, dan juga berkesan angker. Tetapi sikap galak itu justru ditertawakan oleh Tikus Ningrat dan Setan Culik.

Randu Galak yang berpakaian coklat tua dengan sabuk putih yang penuh pisau mengelilingi pinggangnya itu, tampak tak mau banyak bicara lagi.

Gerakannya sangat cepat, terutama dalam mencabut dan melemparkan pisaunya. Terbukti dalam satu kejap berikut, sebuah pisau telah melayang ke arah Tikus Ningrat yang bergerak maju dua tindak ingin menghadapinya.

Wuttt...! Pisau itu terbang bagaikan kilat. Sangat cepat dan hanya bisa dihindari sekejap. Tapi tetap saja Tikus Ningrat terlambat bergerak. Lompatannya masih terjangkau oleh pisau pertama dari Randu Galak.

Jruss...! Pisau itu menancap di betis Tikus Ningrat.

"Uhh...!" Tikus Ningrat terpekik. Pisau itu tetap menancap di betis kurusnya. Dengan cepat dicabutnya sendiri pisau itu, lalu dilemparkan kembali ke arah Randu Galak sambil berseru,

"Makan pisaumu sendiri! Hihh...!"

Wutt... ! Pisau itu meluncur cepat ke dada Randu Galak. Orang itu tidak bergerak menghindar, tapi justru menghadangkan telapak tangannya di dada. Lalu pisau itu membentur telapak tangan tersebut.

Tebb...! Pisau itu digenggam cepat oleh Randu Galak. Tangannya tak terluka sedikit pun. Dan jurus seperti itu jarang dimiliki orang. Tentu saja hanya orang berilmu tinggi yang bisa kuasai gerakan pisau dan meredamnya dengan gelombang tenaga dalam lewat telapak tangan.

Bahkan begitu pisau terpegang tangan, Randu Galak cepat membalikkan gerak dan melemparkan kembali ke arah Setan Culik yang terlihat bergerak ke samping untuk cari kesempatan menyerang. Wussst...! Pisau itu terbang cepat ke arah dada Setan Culik.

"Hiaaat...!" Setan Culik melompat ke kiri untuk menghindari pisau itu. Tetapi tiba-tiba Randu Galak sentakkan tangannya ke arah pisau yang telah meleset sasaran itu. Tiba-tiba pisau itu bisa berbalik arah terbangnya ke kiri, dan menuju ke tubuh Setan Culik.

"Kurang ajar! Dia mengejarku?!" sentak Setan Culik, kemudian cepat bersalto mundur dengan agak menyamping. Gerakannya itu punya keterlambatan sedikit, sehingga pisau itu melesat di samping kanannya. Pundaknya pun tergores oleh ketajaman pisau berukuran
satu jengkal itu. Srett...!

"Auh...!" Setan Culik terpekik dan cepat mendekap pundaknya yang berdarah, ia bersungut-sungut melontarkan seribu makian tak jelas.
Randu Galak cepat menarik tangannya ke belakang, dan pisau yang telah melukai pundak Setan Culik itu bergerak kembali ke arah Randu Galak. Wusst...! Tebb..! Pisau itu pun kini berada di tangan Randu Galak lagi.

Plok plok plok plok...! Garong Codet bertepuk tangan dengan wajah berseri riang. Kemudian manusia yang kini tanpa bulu di wajahnya itu ucapkan kata,

"Bagus, bagus...! Kau telah tunjukkan kehebatan ilmumu. Jadi aku tak sangsi lagi, bahwa kau pun pantas menjadi tumbal Mustika Serat Iblis! Bagus bagus bagus...!"

Garong Codet maju dua tindak. Tikus Ningrat dan Setan Culik mengundurkan diri. Tugasnya sebagai penguji ilmu lawan sudah selesai. Lawan sudah diketahui tingkat ketinggian ilmunya. Kini Garong Codet yang ambil alih arena pertarungan itu.

"Ilmu pisaumu cukup hebat! Tenaga dalammu pun kulihat cukup tinggi, karena bisa kendalikan gerak pisau dari tempatmu berdiri. Tapi kau jangan merasa bangga lebih dulu, karena sebentar lagi kepalamu pun akan terpenggal seperti dua kepala saudara seperguruanmu itu, Kunyuk Wengur!"

"Kau pikir mudah mengalahkan Randu Galak?! Hmm... ! Tak semudah menggempur gunung karang, kalau kau mau tahu!"
"O, namamu Randu Galak? Wah, bagus sekali! Seperti nama seekor anjing piaraan!"

Tikus Ningrat dan Setan Culik ikut tertawa. Randu Galak semakin panas hatinya. Tak banyak bicara lagi, langsung melepaskan pukulan maut bertenaga dalam cukup tinggi. Pukulan itu dinamakan pukulan 'Beruang Terbang'. Sebuah sinar kuning berpendar-pendar keluar dari kesepuluh jari tangannya. Sinar kuning itu berkelok- kelok dan menghantam badan lawan. Tetapi, rupanya tak semudah itu menghantam badan besar Garong Codet.

Dengan satu lompatan ke kanan, Garong Codet berhasil menghindari sepuluh sinar kuning berkelok- kelok itu. Wusss...! Sinar kuning berkelok-kelok itu menghantam pohon. Pohon tersebut menjadi rusak dari akar sampai ranting paling atas. Seperti habis dikoyak- koyak oleh puluhan beruang ganas. Benturan sinar kuning itu timbulkan suara gemerisik pada pohon tersebut.

Cras krak krak krasak cras grusuk crass... ! Seandainya tubuh Garong Codet terkena sinar kuning itu, maka akan terkoyak habis tubuhnya seperti pohon tersebut. Untung dia bisa menghindarkan diri dengan gerakan cepatnya. Tapi pukulan dari Randu Galak pun kembali terlepas dalam bentuk sentakan tangan kiri yang keluarkan cahaya merah kecil ke arah kepala Garong Codet. Wutt... !

Blarrr...! Sinar kecil itu timbulkan suara dentuman besar ketika menghantam gugusan batu di belakang Garong Codet. Sebab Garong Codet berhasil berguling ke tanah dua kali. Lalu dengan satu kaki berlutut, ia mengangkat tangan kanannya ke atas kepala, ia buka tangan itu hingga mendapatkan pantulan sinar matahari pada Mustika Serat Iblis.

Clappp....! Begitu cepat sinar itu melesat. Tak sempat terlihat mata datangnya. Sinar merah itu menggores leher Randu Galak. Crass! Dan tak urung kepala Randu Galak pun terpenggal putus begitu saja.

Plokk...! Kepala itu jatuh di tanah dan menggelinding sesaat.

Brukk...! Raga tanpa kepala itu pun rubuh ke depan dan tak berkutik, maupun berdarah lagi. Mulut Randu Galak masih sempat keluarkan suara serak, matanya berkedip-kedip, kemudian tak bergerak lagi dalam keadaan mendelik, dan suara serak pun hilang.

Eyang Danujaya melihat pertarungan itu. Ia terlambat menghantamkan pukulan jarak jauhnya untuk menahan sinar merah dari Mustika Serat Iblis. Gerakan sinar merah begitu cepat dan tak diduga-duga, sehingga pukulan penangkis jarak jauh yang dilepaskan dalam bentuk kilatan cahaya putih itu hanya mengenai sebuah pohon. Pohon itu langsung rubuh dalam keadaan telah hangus seluruhnya. Hampir saja rubuhnya pohon menimbuni tubuh Setan Culik. Untung saja Setan Culik cepat melompat dengan gesitnya, sehingga pohon yang sudah menjadi arang itu jatuh di tempat kosong.

Tapi mata Eyang Danujaya segera beradu pandang dengan mata Garong Codet. Tangan Garong Codet melambai, menantang Danujaya dengan sikap meremehkan. Kemudian terdengar suaranya yang keras, "Muridmu terpenggal lagi! Kalau kau mau, silakan datang! Tak terasa sakit sedikit pun, Botak! Kalau tak percaya, tanyakan sendiri kepada kepala-kepala muridmu yang sudah kupenggal itu!"

Baru saja Garong Codet katupkan mulut tanda selesai bicara, tahu-tahu dari arah belakangnya terdengar suara, "Aku telah datang penuhi undanganmu!" Garong Codet cepat palingkan pandang, ia terkesiap sejenak, karena ternyata yang di belakangnya adalah Danujaya yang berpakaian putih-putih itu. Cepat ia palingkan pandang ke arah seberang sungai lagi. Ternyata di sana sudah tak ada Danujaya.

"Edan lagi orang ini! Baru selesai kuajak bicara, tahu- tahu sudah ada di belakangku!" pikir Garong Codet. "Mustika Serat Iblis pasti senang mendapat santapan orang sesakti dia!"

Tikus Ningrat dengan terpincang-pincang mendekati Garong Codet dan berkata pelan, "Perlu kujajal dulu ilmu orang ini?!"

"Tak perlu! Dengan gerakannya yang tahu-tahu ada di belakang kita sudah menunjukkan bahwa dia berilmu tinggi! Dan lagi, dia adalah Guru dari para tumbal kita belakangan ini!"

Terdengar suara Eyang Danujaya dengan nada tetap sabar dan bijaksana,

"Garong Codet, hentikanlah perburuanmu itu! Sudah cukup banyak korban yang berjatuhan hanya untuk memenuhi nafsu iblismu!"

"O, belum bisa! Masih kurang banyak kepala! Aku harus mendapatkan tiga puluh tiga kepala sebagai tumbal memiliki Mustika Serat Iblis!"

"Aku tahu! Tapi mustika itu hanya akan membawa hidupmu makin sesat saja! Kau makin banyak musuh, makin banyak orang yang menaruh dendam padamu, dan kau akan banyak dikutuk oleh keluarga korban!"

Garong Codet melepaskan tawa walau tak keras tapi memanjang dan bernada menyepelekan kata-kata Eyang Danujaya. Kemudian ia pun ucapkan kata bernada angkuh,

"Siapa orangnya yang berani menaruh dendam kepada Garong Codet? Apakah dia ingin mati terpenggal seperti yang lainnya?! Kurasa kau tak perlu mengguruiku, Pak Tua! Aku tak akan mundur oleh ucapanmu itu! Bahkan semakin bernafsu untuk memenggal kepalamu, Pak Tua!"

Danujaya berkata, "Aku sudah tua. Kalau toh aku mati memang sudah waktunya. Layak sudah aku mati saat ini. Tapi bagaimana jika ternyata yang terpenggal adalah kepalamu sendiri? Kurasa kau belum layak untuk mati, Garong Codet!"

"Hah! Gertakan halusmu itu kau pikir bisa membuatku gentar?! Tidak! Sama sekali aku tak pernah gentar berhadapan dengan siapa pun, Pak Tua! Ha ha ha ha...!"

"Aku tahu kau tak gentar menghadapiku! Tapi mengapa celanamu basah, Garong Codet?! Kau buang air dalam celana?!"

Bukan Garong Codet saja yang pandangi celananya, tapi Tikus Ningrat pun pandangi celana Garong Codet yang ternyata basah kuyup itu. Garong Codet terkejut sekali, karena ia tak merasa ngompol, tapi mengapa tahu-tahu celananya basah dan bau pesing?!

Eyang Danujaya ucapkan kata lagi, "Wajahmu pun pucat, Garong Codet! Apakah kau takut padaku?"

"Tidak! Aku tidak takut padamu!" jawab Garong Codet, lalu ia palingkan wajah kepada kedua temannya itu dan bertanya, "Apakah wajahku pucat?"

"Ya, pucat sekali!" jawab Setan Culik.
"Pucat seperti mayat?"
"Sangat seperti mayat!" jawab Tikus Ningrat.
"Aneh. Padahal aku tidak merasa takut!" gumam Garong Codet.

Danujaya segera berkata, "Jika tak merasa takut, mengapa tubuhmu gemetaran dan menjadi menggigil?"

"Jangan ngaco bicaramu, Pak Tua! Aku tidak gemetar dan tidak menggigil! Aku justru sangat bernafsu untuk memenggal kepalamu!" sambil berkata begitu, tanpa sadar tubuh Garong Codet bergetar seluruhnya. Bahkan kini ia seperti kedinginan dan menggigil dengan jelas- jelas. Tikus Ningrat jadi menegurnya,

"Mengapa tubuhmu menggigil?"

"Entahlah!" bisik Garong Codet. "Tiba-tiba aku merasa sangat kedinginan! Wwrrr...! Seperti berada di dalam gunung es rasanya!"

"Serang dia! Dia telah mempermainkan jiwamu dengan tiap ucapan yang kau sanggah!!"
"Iiy... iyy... iya! Akan kuserang ddi... dia...! Uuh... dinginnya bukan main, Tikus!"

Eyang Danujaya sunggingkan senyum tipis, ia perhatikan tangan kanan yang bercincin Mustika Serat Iblis itu. Tangan tersebut mulai diangkat dengan gemetar karena menggigil. Cepat-cepat Eyang Danujaya sentakkan kaki dan melompat tinggi, lalu kakinya menendang tangan itu.

Plakkk...!

Tangan tersebut terangkat dan terlempar ke belakang akibat tendangan kilat itu. Berat badan Garong Codet menjadi tak seimbang, ia terhempas ke belakang dan jatuh terkapar. Blukk..!

Tanpa disengaja tangan kanan itu terbuka dari genggaman. Sinar matahari memancar dan memantul ke batuan merah tersebut. Pantulan sinarnya melesat ke arah tangan Danujaya. Clapp...!

Crasss... !

Eyang Danujaya tersentak dalam pekik tertahan. Tangan kanannya terpotong oleh kilatan sinar merah dari Mustika Serat Iblis, ia terbungkuk seketika begitu tangan kanannyajatuh ke tanah.

"Serang dia! Lekas...!" seru Setan Culik.

Garong Codet bergegas bangkit dengan tertatih-tatih karena menggigil. Pada saat itu Roro Manis tiba di tempat tersebut sambil membawa Tombak Kiai Jagat. Melihat tangan gurunya telah putus, Roro Manis segera melompat dan menerjang Garong Codet dari belakang. Tombak dihujamkan ke tubuh Garong Codet. Tetapi karena Garong Codet menggigil dan limbung dalam berdirinya, akibatnya tombak itu meleset sasaran. Hanya melintas di depan pundak Garong Codet. Wuttt...!

Tapi kaki Roro Manis segera menjejak punggung Garong Codet dengan telaknya. Bukkk...! Dan tubuh besar itu tersentak ke depan, jatuh berguling-guling.

"Roro Manis...!" ucap Danujaya yang menahan rasa sakit akibat terpotong tangan kanannya. "Cepat lari, hubungi Ki Madang Wengi!"
"Tapi Eyang Guru...."

"Kerjakan perintahku! Biar aku bertahan di sini dengan senjata pusaka itu!" Clapp...! Trakk...!

Sinar merah kembali memancar dari batu Mustika Serat Iblis. Sinar itu bukan saja memotong kaki kiri Danujaya, namun juga memotong tombak pusaka tersebut. Blappp... ! Percikan sinar merah melesat, pertanda kekuatan tombak telah punah dipenggal oleh sinar Mustika Serat ibiis.

"Guru...?!" pekik Roro Manis dalam keadaan bimbang.

"Lekas kerjakan perintahku, Roro Manis!" sentak Eyang Danujaya sambil menahan rasa sakit akibat kakinya terpotong sebatas lutut. Kini ia rubuh dan berusaha berdiri dengan satu kaki. Roro Manis tak tega, ia menangis dalam kebimbangan antara mengerjakan perintah Guru atau menolong keadaan Guru?!

Garong Codet makin menggigil, ia dibantu Tikus Ningrat dan Setan Culik agar bisa berdiri dan pergunakan mustika itu. Karenanya, gerakan sinar mustika tidak bisa terkendali. Memotong ke sana-sini,

walau akhirnya, clapp...! Crasss...!

Leher Danujaya pun terpenggal putus seketika. Roro Manis memekik keras di kejauhan karena ia melihat saat kepala gurunya menggelinding jatuh di tanah.

"Guruuu....!"

Roro Manis ingin menghamburkan tangis memeluk gurunya. Tapi kilat cahaya merah memotong pohon di sampingnya. Clapp...! Crass...!
Wrrr... bruk...! Pohon itu rubuh. Roro Manis merasa dalam bahaya jika mendekati jenazah gurunya yang sudah tidak berkepala lagi itu. Maka dengan cepat Roro Manis pun melesat pergi tinggalkan tempat itu. Tangisnya dibawa lari secepatnya, karena ia mendengar suara Garong Codet berseru gemetar,

"Kejar gadis itu! Kejaaar...!"
*
* * 4
SEKELEBAT bayangan coklat berlari cepat. Namun mendadak ia terhenti dan tampaklah wajah tampan seorang pemuda yang menyandang bumbung tuak di punggungnya. Siapa lagi penggendong bumbung tuak selain Pendekar Mabuk, murid sintingnya si Gila Tuak yang akrab dipanggil sebagai Suto Sinting itu. Kali ini Suto terpaksa hentikan langkahnya melihat dua mayat tergeletak tanpa kepala di jalanan.

Dua mayat itu adalah mayat perempuan cantik. Yang satu berpakaian kuning dan yang satu mengenakan pakaian merah. Kepala mereka terpisah dari raganya, yang satu menggelinding di dekat gugusan batu, yang satunya lagi ada di bawah pohon.

"Aneh, penjagalan kepala manusia ini tidak mengeluarkan darah sedikit pun?! Senjata apa yang digunakannya?!" pikir Pendekar Mabuk sambil memperhatikan kepala korban. "Keji sekali orang yang melakukannya. Gadis-gadis ini cukup cantik! Mengapa tidak diambil istri atau gundik saja daripada dipenggal begini! Hmm...! Pasti ini pekerjaan orang gila!"

Pendekar Mabuk; Suto Sinting itu segera memandang ke arah sekelilingnya, ia mencari seseorang yang barangkali saja bersembunyi di balik semak belukar. Tapi ternyata tak ada siapa pun di hutan itu. Suasananya sangat sepi dan hening, ia kembali dekati kepala yang ada di bawah pohon dan memperhatikan baik-baik.

Tiba-tiba sekilas sinar hijau melesat dari arah samping kirinya. Suto segera bersalto ke belakang dari keadaan jongkok menjadi berdiri. Wuttt.... Dan sinar kuning itu menghantam pohon di samping Pendekar Mabuk. Zlapp...! Duarrr...!

Wutt, wutt... !

Pendekar Mabuk terpaksa melompat lagi ke arah lain, karena pohon yang terkena sinar kuning itu hancur di bagian bawahnya dan segera rubuh ke tempat di mana Suto tadi berdiri. Weer... Brukk...!

"Edan!" maki Pendekar Mabuk. "Siapa yang menyerangku secara sembunyi-sembunyi ini?!"

Mata Suto memandang ke arah sekeliling dengan lebih jeli lagi. Kemudian ia temukan bayangan pakaian berwarna gelap. Orang itu ada di atas pohon seberang, agak jauh dari tempat Suto berdiri. Tetapi dengan cepat Pendekar Mabuk sentakkan tangan kirinya dan terlepaslah sinar merah melesat bagai mata tombak. Wutt!

Blarrr...!

Roboh dan hancur pohon yang dipakai bersembunyi orang tersebut. Sedangkan dari pohon itu tampak sekelebat bayangan berlari-lari melompati dahan demi dahan, dan akhirnya bersalto turun dalam keadaan sudah berada di depan Pendekar Mabuk, jarak mereka sekitar tujuh tombak.

"Oh, ternyata seorang nenek?!" gumam Suto memandangi seorang perempuan tua bertubuh kurus, berambut abu-abu, memakai kalung manik-manik dengan giwang hitam yang besar.

Nenek itu menggenggam tongkat merah berkepala burung garuda. Pendekar Mabuk memandangi nenek itu dengan berkerut dahi karena ia tidak mengenal nenek itu. Sang nenek melangkah dengan tegak walaupun sebenarnya sedikit bungkuk, tapi tampak digagah-gagahkan. Wajahnya tanpa senyum dan keramahan sedikit pun. Kira-kira jarak mereka tinggal tiga tombak, nenek itu berhenti dengan mata cekungnya memandang tajam pada Suto.

"Mengapa kau menyerangku dari kejauhan sana Nek?" sapa Suto mencoba untuk terkesan ramah. Tapi nenek itu menyahut dengan ketus,

"Biar kau mati!"
"Mengapa kau menghendaki aku mati, Nek? Aku tak punya salah!"
"Jangan berlagak bodoh!" sentaknya.
"Aku sungguh tidak mengerti apa salahku?! Kau sendiri siapa sebenarnya, Nek?"

"Aku Nyai Komprang, Guru dari kedua korbanmu itu!" sambil Nenek Komprang menuding dengan tongkat ke arah dua gadis yang terpenggal kepalanya itu.

"O, jadi kedua gadis itu muridmu?"
"Ya. Benar! Dan sekarang aku menuntut balas atas kematian kedua muridku itu!"
"Mengapa menuntutnya kepadaku?!" Suto Sinting kerutkan dahi sambil sedikit tertawa geli.
"Kau yang memenggal kepalanya, bukan?!"

"Bukan!" jawab Pendekar Mabuk dengan tegas. "Kalau aku melawan kedua muridmu tidak akan kupenggal kepalanya! Mungkin akan kucubit dagunya! Sebab mereka sebenarnya cantik-cantik!"

"Tutup otak ngeresmu, Setan!" bentak Nyai Komprang. "Kau tak perlu bersilat lidah lagi di depanku! Hanya ada kau di sini! Dan kulihat dari kejauhan kau sedang kegirangan melihat kepala muridku terpisah dari raganya!"

"Justru aku sendiri baru datang. Baru saja!"
"Omong kosong! Hiaaat...!"

Nyai Komprang bagaikan terbang. Tak diketahui langkahnya tahu-tahu tubuhnya telah melesat dan tongkatnya sudah disodokkan. Wutt!
Debb...! Tangan Suto dengan cekatan menahan kepala tongkat yang disodokkan ke dadanya itu. Kepala tongkat itu disentakkan ke depan. Wutt...! Dan tiba-tiba tubuh Nyai Komprang ikut terpental membalik arah dengan cepatnya. Wesss...! Brukk...! Nenek tua itu jatuh terkapar, lalu segera bangkit dan berdiri lagi. Napasnya ngos-ngosan. Dalam hatinya Nyai Komprang membatin,

"Siapa anak muda ini?! Hebat sekali ilmunya! Dia bisa menahan sodokan tongkatku dan mendorongku sebegini rupa! Kalau tidak berilmu tinggi, tidak mungkin dia bisa melakukannya! Berarti benar dugaanku, kedua muridku itu terpotong lehernya oleh kelakuannya!"

Pendekar Mabuk berkata kepada Nyai Komprang, "Nyai... kusarankan agar jangan menuduhku! Nanti di antara kita ada pertikaian. Itu tak baik, sebab antara kita sebenarnya memang tidak ada persoalan apa-apa! Percayalah, bukan aku yang memenggal kepala kedua muridmu ini! Bukan aku, Nyai! Kau lihat sendiri, aku tidak membawa pedang atau senjata apa pun! Sedangkan potongan pada kepala dan leher korban itu sangat rapi, bagai dipotong dengan senjata yang amat tajam!"

"Aku tahu kau berilmu tinggi! Tanpa pedang pun kau bisa memotong pohon besar atau memenggal kepala orang!"

"Ya, memang bisa! Tapi ada perkara apa, aku dengan kedua muridmu itu jika aku harus memotong kepalanya?! Sebesar apa pun kesalahannya, tak mungkin secepat ini aku ambil keputusan untuk memenggal kepala mereka!"

"Jangan banyak omong kau! Hihh...!" tongkatnya disentakkan dan keluar kilatan cahaya seperti jarum berwarna merah tembaga. Jarum-jarum yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu melesat ke arah dada Suto Sinting. Namun dengan cepat Pendekar Mabuk itu meraih bumbung tuaknya dan menghadangkan di depan dadanya. Zrubbb...! Jarum-jarum itu hanya membentur bumbung tuak dan membatik dengan jumlah lebih dari lima puluh jarum dan bergerak sangat cepat.

Nyai Komprang terkejut melihat jarum-jarumnya berubah banyak dan membalik ke arahnya dengan cepat. Buru-buru Nyai Komprang melompat dan berjumpalitan di udara menghindari jarum-jarumnya itu. Akibatnya, jarum-jarum itu pun menancap di sebatang pohon yang ada di belakang Nyai Komprang berdiri tadi. Zrobbb...! Jarum-jarum itu masuk ke dalam batang pohon. Kejap berikutnya, batang pohon itu menjadi layu, kering, daunnya juga bergerak menjadi bergulung-gulung keriting dan tangkai serta dahannya pun mengerut, kulit batang pohon terkelupas. Akhirnya pohon itu mati dalam keadaan kering.

Nyai Komprang kembali membatin, "Hebat sekali anak muda itu! Biasanya jarum-jarumku hanya bisa bikin hangus batang pohon atau tubuh manusia! Tapi kali ini bisa bikin mati pohon dalam waktu kurang dari sepuluh hitungan! Luar biasa ilmu anak muda itu!"

Kemudian, dengan suara menyentak keras, Nyai Komprang berseru,

"Anak muda, siapa kau sebenarnya, hah?!"
"Yang jelas aku bukan tukang bantai seperti tuduhanmu tadi, Nyai!"
"Iya, tapi siapa namamu?! Muridnya siapa kau, hah?!"

Dengan tenang, Pendekar Mabuk membuka tutup bumbungnya, ia tidak segera menjawab pertanyaan itu, melainkan menenggak tuaknya dari bumbung dan meneguknya beberapa kali. Glek glek glek...!

"Bocah Sinting! Ditanya siapa namanya, siapa gurunya malah minum tuak! Apa kau sudah sinting, hah?!"
"Ya," jawab Suto sambil tersenyum. "Memang itulah namaku Suto Sinting!"
"Omong kosong!" bentak Nyai Komprang. "Setahuku yang bernama Suto Sinting itu adalah Pendekar Mabuk!"
"Ya. Memang akulah yang bergelar Pendekar Mabuk!"
"Dusta mulutmu!" sentak orang tua cerewet itu. "Jika kau benar-benar Pendekar Mabuk, coba sebutkan siapa gurumu?"
"Si Gila Tuak!"

Nyai Komprang terbungkam sebentar. "Benar juga?" gumamnya dalam hati. Tapi agaknya dia belum puas dan berkata menguji,

"Siapa nama asli si Gila Tuak?"
"Ki Sabawana!"
"Benar lagi?!" Pikir Nyai Komprang. Masih penasaran lagi ia bertanya menguji Suto,
"Sabawana punya saudara seperguruan, siapa namanya?"
"Bidadari Jalang! Itu juga bibi guruku!"
"Edan! Jadi kau benar-benar murid si Gila Tuak itu?!"
"Sudah kujawab tadi, ya!"

Kemudian terdengar suara Nyai Komprang bernada rendah, "Kalau begitu, aku salah duga! Aku tahu Sabawana tidak akan mendidik muridnya jahat seperti dugaanku tadi!" Nyai Komprang berjalan mendekati Pendekar Mabuk dan menepuk-nepuk pundaknya,

"Maafkan tuduhanku tadi, Suto!"
"Tak apalah! Apakah kau mengenal guruku, Nyai?"

"Ya. Sangat kenal. Dulu aku naksir dia, tapi dia sudah ditaksir orang lain, jadi aku tidak mau naksir dia! Cuma aku menaruh hormat padanya sebagai tokoh golongan putih yang disegani di rimba persilatan ini!"

"Kalau nanti aku bertemu dengan Guru, akan kuceritakan pertemuan kita ini, Nyai Komprang!"
"Katakan, dapat salam dari Widyawati!"
"Apakah itu nama aslimu, Nyai?"

"Benar! Tapi setelah setua ini, nama itu tidak cocok bagiku. Maka aku cari nama seenaknya sendiri! Nyai Komprang lebih cocok bagi orang berwujud tua seperti ini. Tapi... ngomong-ngomong siapa yang memenggal kedua muridku ini...?!" nada sedih mulai terdengar dari mulut Nyai Komprang. Satu persatu wajah muridnya didekati, lalu diangkat pelan-pelan dan dirapatkan kembali pada raga masing-masing. Nenek tua itu tampak sedih, mengusap-usap rambut muridnya yang sudah tak bernyawa itu.

"Nyai, aku tak bisa membantu mencarikan siapa pembunuhnya. Tapi aku yakin, kau sendiri pasti bisa melacaknya! Izinkan aku meninggalkan tempat ini, Nyai!"

"Mau ke mana kau?"

"Mencari tempat tinggal seorang tabib sakti yang bernama Tabib Awan Putih. Tapi aku belum tahu di mana dia tinggalnya?!"

"O, kalau begitu, berjalanlah ke arah utara terus. Dia tinggal di tebing bergua lebar, namanya Pantai Tanjung Keramat!"

"O, ya... terima kasih, Nyai!" Pendekar Mabuk pun segera bergegas meninggalkan tempat itu, menuju Pantai Tanjung Keramat.

* * *

Pagi baru menghilang dan matahari sedang merayap untuk menyusuri siang, di lereng sebuah bukit bertanaman pohon jati itu telah ramai oleh perang mulut dan perang tenaga dalam. Sesekali terdengar suara letupan, atau bahkan ledakan menggema akibat benturan dua tenaga dalam dari dua orang berilmu tinggi.

Kehidupan alam di lereng Bukit Tangkal itu bagai tak ramah terhadap lingkungannya.

Pohon-pohon yang menjulang tinggi, tak pernah mau peduli terhadap dua orang yang berselisih dalam suasana pincang. Yang satu, seorang nenek berjubah kuning, bermata cekung, bertubuh kurus, berambut abu-abu disanggul, berkalung manik-manik dengan giwang hitam, bertongkat kayu merah dengan kepala tongkat berbentuk kepala burung garuda, tampak sangat sengit menyerang lawannya. Nenek yang berjuluk Nyai Komprang ini tampak sangat penasaran, karena sejak tadi jurusnya bisa ditangkis dan dihindari oleh lawannya.

Sang lawan adalah seorang lelaki berusia sekitar tujuh puluh tahun, sama dan sebaya dengan usia Nyai Komprang sendiri. Orang ini mengenakan jubah abu- abu, rambut putih, botak tengahnya, badan agak gemuk dan sedikit pendek, celananya biru bersabuk hitam besar. Di pinggangnya tergantung kantong dari kulit kambing berisi makanan. Sebentar-sebentar orang gemuk ini melahap singkong bakar yang sudah dikuliti dan dimasukkan dalam kantong kulit yang menyerupai atas itu. Nyai Komprang memanggil lawannya dengan sebutan Madang Wengi.

Nyai Komprang tersentak kaget, ia membatin, "Konyol betul orang itul Mestinya sinar hijau itu akan meleburkan tubuhnya, menjadi berkeping-keping! Tapi kini ia tetap utuh dan tetap makan! Edan! Sekarang malah sinar hijauku itu padam?!"

Sinar hijau memang padam. Tubuh Madang Wengi tidak lagi terbungkus sinar hijau. Dan hal itu sangat membuat heran Nyai Komprang. Karena biasanya jurus 'Pijar Selaksa' itu akan meleburkan benda apa pun yang dikenainya.

Semakin penasaran hati nenek galak itu. Maka, dengan geram terdengar memanjang, ia sentakkan kaki dan melesat terbang ke arah Madang Wengi, lalu tongkatnya siap ditusukkan ke arah kepala lawannya, ia bergerak dari samping kanan.

Tetapi dalam keadaan tak diduga-duga, sebuah pukulan jarak jauh dilepaskan oleh seseorang, sehingga pinggang Nyai Komprang menjadi sasaran empuk, dan tubuh itu terpelanting terbang ke samping dan terguling- guling. Brukk...! la jatuh tanpa bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.

Jatuhnya Nyai Komprang membuat Madang Wengi terkejut dan ia pun segera bangkit berdiri, ia pandangi tubuh Nyai Komprang dengan dahi berkerut. Kemudian hatinya membatin,

"Siapa yang menyerangnya?! Ilmu orang itu memang tidak terlalu tinggi, tapi sudah cukup hebat bisa bikin Nyai Komprang terguling-guling dan jatuh tak berdaya begitu! Yang jelas, pasti ada orang lain di sekitar sini yang memihakku! Hmm... siapa orangnya?!"

Nyai Komprang bergegas bangkit dan menggerutu tak jelas. Lalu, ia serukan kata,

"Kau benar-benar membuatku murka, Madang Wengi! Terimalah jurus 'Catur Sukma' ini...! Heaaah...!"

Wuttt, brrukkk... !

Tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang melesat dan menerjang tubuh Nyai Komprang. Terjangan itu membuat Nyai Komprang jatuh kembali. Tapi kali ini tubuh penyerangnya terlihat jelas, karena ikut jatuh bersama Nyai Komprang.

"Setan Alas! Siapa kau, hah?! Berani-beraninya mencampuri urusanku dengan si tua pikun jelek itu! Siapa kau, jawab!"
"Roro Manis namaku, Nyai!"

Madang Wengi segera menyambut gadis cantik bertahi lalat kecil di bawah mata kirinya itu.

"Roro Manis...?! Seingatku... kau murid Danujaya! Benarkah?!"
"Benar, Ki Madang Wengi. Saya murid Eyang Danujaya!"

Nyai Komprang segera berseru memotong, "Ooo... jadi sekarang kamu kembali menjadi lelaki buaya dan mata keranjang, Madang Wengi?! Kamu sekarang sudah mulai doyan daun muda, ya?!"

"Tutup mulut tuamu, Nyai Komprang! Roro Manis ini murid sahabatku dan tak ada hubungan apa-apa dengan pribadiku!"

"Ah, kurasa kau memang janjian mau ketemu dia di sini!"
"Terserah apa katamu, Nenek Cerewet!"

"Memang aku tak peduli hubunganmu dengan gadis cantik itu! Aku hanya ingin mencabut nyawamu sebagai balasan atas kematian dua muridku itu, Madang Wengi!"

"Nyai Komprang, kuingatkan sekali lagi! Bukan aku yang memenggal kepala kedua muridmu! Bukan aku! Titik!"

"Titiknya kuhapus!" bantah Nyai Komprang. "Bukan kamu yang membunuh kedua muridku, tapi senjatamu itu yang memenggal kepala mereka dengan rapi dan tanpa darah! Hah, itu sama saja!"

"Tunggu sebentar, Nyai," sela Roro Manis. "Agaknya di antara Nyai Komprang dan Ki Madang Wengi ada kesalahpahaman!"

"Ah, kau bocah ingusan tak perlu ikut campur urusan orang tua!" bentak Nyai Komprang. Roro Manis jadi diam, tak berani lanjutkan kata. Untunglah Ki Madang Wengi cepat ajukan tanya,

"Roro Manis, bagaimana kabar gurumu Danujaya itu?!"

Roro Manis tundukkan kepala, wajahnya berubah duka. Nyai Komprang sempat mengikuti perubahan wajah itu secara tak sadar. Bahkan ia pun secara tak sadar ikut kerutkan dahi, seperti apa yang dilakukan oleh Madang Wengi.

"Roro Manis, kutanyakan bagaimana kabar gurumu, mengapa kau jadi murung begitu?! Apa yang sebenarnya terjadi, Roro Manis?!"

Dengan suara lirih, Roro Manis ucapkan kata, "Guru telah tewas, Ki Madang!"
"Danujaya tewas?! Maksudmu, dia terkena penyakit dan meninggal, begitu?!"

"Guru tewas dipenggal kepalanya, Ki Madang!" jawab Roro Manis. Air mata duka mulai mengembang di sudut matanya.

Ki Madang Wengi tertegun sejenak, terkenang kebaikan Danujaya semasa mereka masih sering bertemu di waktu muda. Nyai Komprang sendiri merasa kenal dengan nama Danujaya, tapi ia lupa kapan ia pernah bertemu. Yang ia ingat, Danujaya adalah orang yang
bijak dan tak pernah mau membunuh lawannya.

"Siapa yang membunuh gurumu, Roro Manis?!"
"Garong Codet, Ki Madang!"

Terkesiap mata Ki Madang Wengi, demikian juga Nyai Komprang. Mereka sama-sama kaget mendengar nama Garong Codet sebagai nama orang yang membunuh Danujaya. Hati kecil mereka mengatakan, itu tak mungkin terjadi. Sebab mereka tahu, Danujaya orang sakti dan berilmu tinggi, mustahil bisa dikalahkan oleh Garong Codet, yang hanya berilmu pas-pasan dan modal tampang angker untuk menjadi perampok tanah seberang.

Terucap gumam dari mulut Nyai Komprang bagai bicara pada dirinya sendiri, "Rasa-rasanya tak mungkin Danujaya bisa dipenggal kepalanya oleh Garong Codet?!"

"Dia menggunakan sejata khusus untuk memenggal kepala Eyang Danujaya, juga memenggal kepala Soka Loka, Jayengrono, dan Randu Galak!"

"Senjata apa?!" tukas Ki Madang Wengi.
"Mustika Serat iblis, Ki Madang!"

"Apa...?!" Ki Madang Wengi dan Nyai Komprang sama-sama terkejut dan terpekik. Mata mereka sama- sama mendelik.

"Mustika Serat Iblis ada di tangan Garong Codet?! Apa kau tak salah lihat atau salah dengar, Cah Ayu?!" kata Nyai Komprang yang agaknya mulai surut murkanya, ia jadi tertarik membicarakan tentang Mustika Serat Iblis.

Roro Manis lontarkan jawab, "Kurasa aku tak salah dengar dan tak salah lihat, Nyai. Karena setiap kepala yang dipenggal melalui pantulan sinar dari mustika tersebut, membuat korban putus kepalanya tanpa mengeluarkan darah. Potongan kepala itu sangat rapi tanpa ada serat daging yang rusak."

"Bagaimana bentuk mustika itu, Roro Manis?" tanya Ki Madang Wengi sambil diam-diam melahap singkong bakarnya.

"Setahuku, bentuknya seperti cincin, dipakai di telapak tangan. Warnanya merah. Dan jika kena pantulan sinar matahari, keluar sinar merah yang memotong benda apa pun dengan rapi."

"Benar kalau begitu," kata Nyai Komprang. "Memang begitulah ciri-ciri Mustika Serat Iblis! Jika begitu... jika begitu kedua muridku yang terpenggal kepalanya itu adalah korban dari keganasan Mustika Serat Iblis! Karena kepala kedua muridku terpenggal dengan rapi dan tanpa ada darah sedikit pun yang muncrat keluar!"

"Kurasa begitu, Nyai. Sebab, semua korban mengalami hal yang sama dalam kematiannya!"

"Madang Wengi!" kata Nyai Komprang. "Beruntung gadis ini lekas datang, jadi aku tidak salah tuntut padamu!"

"Masa bodoh!" Ki Madang Wengi cemberut jengkel.

"Aku harus cepat tinggalkan kau, Madang Wengi! Akan kutemui Garong Codet itu untuk bikin perhitungan dengannya! Hmmm... Roro Manis, di mana Garong Codet terakhir kalinya kau lihat?"

"Di desa Sambiroto! Tapi agaknya ia mengejarku, Nyai!"
"Akan kuhadang dia sekarang juga!"

Wesss...! Nyai Komprang cepat pergi bagaikan angin. Ki Madang Wengi hanya pandangi kepergian itu dengan senyum sinis karena kedongkolannya belum tercurah. Namun kedongkolan itu bisa segera dilebur habis, karena ia menjadi lebih tertarik membicarakan nasib Danujaya dan kehebatan Mustika Serat Iblis itu.

"Untung kau segera lari, jika tidak, kau akan jadi tumbal bagi Mustika Serat Iblis," katanya kepada Roro Manis. "Mustika Serat Iblis itu pusaka yang berbahaya. Tidak setiap orang bisa punya kesempatan memiliki mustika tersebut!"

"Milik siapakah mustika itu sebenarnya, Ki?"

"Bukan milik siapa-siapa. Mustika itu sebenarnya adalah empedu seekor macan merah yang usianya sudah ribuan tahun!"

"Harimau merah? Apakah ada harimau berwarna merah?"

"Ada! Dan di dunia ini mungkin hanya satu. Harimau merah api adalah titisan seorang tokoh sakti di zaman dulu. Empedunya sampai membentuk batu warna merah. Dan sulit ditangkis atau dilawan karena sinar mustika itu bisa memotong apa saja. Satu-satunya senjata yang bisa untuk melawan sinar Mustika Serat Iblis adalah sebuah perisai, namanya Perisai Naga Bening. Perisai itu dari kaca yang sulit dipecahkan oleh benda atau sinar apa pun. Perisai itu milik seorang pendekar yang bergelar Pendekar Awan Putih, dari negeri Cina. Tapi sekarang ia sudah menjadi tabib, yaitu Tabib Awan Putih. Dia tinggal di Pantai Tanjung Keramat! Jika kita ingin melawan Garong Codet, kita harus pergunakan Perisai Naga Bening itu!"

"Kalau begitu, sebaiknya aku segera pergi menemui Tabib Awan Putih, untuk meminjam perisainya!"

"Hmmm...!" Ki Madang Wengi berpikir sebentar, lali lanjutkan kata, "Ya, kurasa itu lebih baik. Pergilah kepada Tabib Awan Putih, dan sementara itu aku akan menyusul Nyai Komprang, bekas pacarku masa muda dulu. He he he...!"

***5

SEBATANG tongkat kecil yang tingginya seukuran tinggi pundak orang dewasa disebut toya. Jurus-jurus yang dimainkan dengan toya tak jauh beda dengan jurus yang dimainkan dengan tombak. Kedua senjata itu sama- sama bisa digunakan untuk menebas, menusuk, dan menggaet kaki lawan. Sekalipun hanya sebatang kayu kecil, jika dimainkannya dengan menggunakan tenaga dalam, kayu kecil itu pun bisa digunakan untuk menembus batang pohon besar. Sebatang toya bisa dipakai untuk menangkis senjata lawan dan memagari diri pemiliknya dengan berputar bagai baling-baling melalui sela-sela jemari pemegangnya.

Senjata itulah yang dipegang oleh seorang pemuda cakap yang gemar mengenakan pakaian kuning gading. Rambutnya yang panjang diikat kain warna biru muda. Pemuda ini dikenal dengan nama Satria Tangkas. Nama julukan itu diberikan oleh Ki Madang Wengi, sebab Satria Tangkas memang murid Ki Madang Wengi.

Dalam perjalanan pulang dari ziarah ke makam orangtuanya, Satria Tangkas sempatkan diri beristirahat di tempat yang teduh. Rasa haus membuat ia punya gagasan untuk memetik buah kelapa muda. Sebatang pohon kelapa muda ada di depannya. Tapi cukup tinggi dan melelahkan jika dipanjat. Karena itu, Satria Tangkas hanya mendekati pohon tersebut, lalu ia menotokkan ujung toyanya ke batang pohon kelapa. Debb...! Satu kali totokan toya, sebuah kelapa jatuh. Walau di atas sana ada lebih dari delapan buah, tapi hanya satu yang jatuh dan itu pun yang benar-benar muda serta banyak airnya.

Wuuttt...! Sebutir batu dilemparkan seseorang. Satria Tangkas yang dilempar dari arah belakang itu cepat balikkan badan sambil kelebatkan toyanya. Trakk...! Clapp...! Toya itu berhasil menghantam batu sebesar biji salak, langsung pecah dengan menimbulkan nyala percikan api merah karena batu itu bertenaga dalam dan toya itu pun punya aliran tenaga dalam.

Tapi gerakan cepat Satria Tangkas yang bisa menghantam batu kecil dengan toyanya itu sungguh suatu jurus yang cukup pantas mendapat acungan jempol. Bahkan ketika Setan Culik mendapat kesempatan melemparkan batu yang lebih kecil lagi dari arah belakang Satria Tangkas, pemuda itu tidak membalikkan badannya, namun menyodokkan toya ke belakang.

Wutt... ! Trakk... !

Pruss...! Batu itu hancur, tepat tersodok ujung toya. Padahal Satria Tangkas tidak memandang ke arah belakang, namun ujung toya itu bagaikan punya mata sendiri dan bisa menghantam batu kecil yang bergerak dengan cepat itu. Jika bukan berilmu tinggi tak mungkin orang bisa melakukan gerakan setangkas itu.

Satria Tangkas merasa ada yang jahil padanya. Kemudian ia berseru dengan suaranya yang berkesan tenang dan kalem.

"Jika ingin berkenalan denganku, silakan keluar dari persembunyian kalian! Mungkin aku pun akan senang bisa berkenalan dengan kalian bertiga!"

Dalam bisikannya Setan Culik berkata kepada Garong Codet, "Gila! Dia bisa tahu kalau kita bertiga!"

"Jelas ia punya ilmu tinggi. Cocok untuk tumbal berikutnya!" kata Garong Codet. "Kalian tak perlu menjajal ilmunya, nanti malah kalian tewas lebih dulu! Biar langsung kuhadapi saja!"

"Terserah kamu saja," kata Tikus Ningrat. "Kebetulan kakiku yang terkena pisau masih terasa sakit, jadi aku libur dululah...!"

Tikus Ningrat memang berjalan pincang akibat pisau Randu Galak. Betisnya yang kurus itu kini dibalut dengan kain robekan ikat kepala Garong Codet yang lepas karena kibasan cepat sabit Jayengrono. Luka itu diberi borehan daun pengering luka. Sekalipun begitu, masih sedikit terasa sakit jika digunakan berjalan. Namun toh tidak mengurangi semangat Tikus Ningrat untuk mengikuti jejak Garong Codet dalam memburu tumbal berikutnya.

Bahkan ketika Garong Codet tampakkan diri dari persembunyiannya, Tikus Ningrat pun ikut keluar dari persembunyian, ia berdiri bersebelahan dengan Setan Culik. Mereka bersikap sebagai penonton yang baik, yang tak mau ikut-ikutan menyerang lawan yang sedang dihadapi oleh Garong Codet.

"Maaf, Kisanak... aku tidak kenal siapa kamu dan bagaimana harus menyebutmu!" kata Satria Tangkas kepada Garong Codet.

"Kau tak perlu namaku, dan aku tak perlu namamu! Yang kuperlukan adalah kepalamu!"

Terkesiap mata Satria Tangkas mendengar ucapan Garong Codet. Ia kini memandang dengan mata sedikit menyipit, ia menangkap gelagat tak beres pada sorot pandangan mata lawannya. Lalu, ia pun berkata,

"Apa yang kamu cari dalam kepalaku?"
"Apalagi kalau bukan satu penggalan tanpa rasa sakit sebagai tumbal yang kubutuhkan! Ha ha ha ha...!"

****
Sambil tetap memegang tongkat toyanya, Satria Tangkas langkahkan kaki ke kanan dua tindak, kemudian berdiri tegak lagi menghadapi Garong Codet. Matanya masih memandang dengan menyipit, mencoba mempelajari wajah aneh tanpa bulu dan berambut trondol itu. Satria Tangkar temukan sifat angkara murka dan keji di balik wajah aneh itu.

"Jadi kau menginginkan kepalaku sebagai tumbal?"
"Ya! Tak salah lagi dugaanmu!"

Satria Tangkas manggut-manggut dan berkata, "Mengapa harus kepalaku? Mengapa bukan kepala kedua temanmu yang mirip tikus dan mirip kelinci hutan itu?!"

"Mereka bukan orang berilmu tinggi seperti kau! Cincin Mustika Serat Iblis menolak tumbal kepala orang yang tidak berilmu tinggi!"

Satria Tangkas sunggingkan senyum tipis.

"Aku berterima kasih kepadamu, karena secara tak langsung kau telah memujiku dan mengakuiku sebagai orang berilmu tinggi! Tapi ketahuilah, Sobat..., Orang berilmu tinggi mana pun tak ada yang mau sumbangkan kepalanya secara sia-sia untuk keperluan pribadi seseorang. Jadi jangan harap kau bisa ambil kepalaku sebagai tumbalmu!"

"O, keliru! Kau keliru, Anak Dungu! Bukan jangan harap aku bisa ambil kepalamu, tapi jangan harap kamu bisa pertahankan kepalamu!"
"Kulayani tantanganmu! Tapi aku tidak mau bertanggung jawab jika nyawamu melayang dari ragamu! Heah...!"

Satria Tangkas segera membuka jurus kuda-kudanya. Toya digenggam dengan satu tangan. Rapat dengan lengan kanannya dan mengarah ke belakang, sementara kakinya pun ditarik rendah ke belakang dengan tangan kiri terbuka di atas kepala.

"Ha ha ha ha ha...! Jurusmu seperti jurus monyet kesurupan begitu?! Aha, mana bisa kau pertahankan kepalamu jika menggunakan jurus itu, Anak Dungu!

Wuttt... ! Dugg... !

Gerakan Satria Tangkas begitu cepat. Ucapan Garong Codet belum selesai tapi sudah terkena sodok toya bagian bawah lehernya. Gerakan toya menyodok itu tidak tertangkap oleh mata Garong Codet, sehingga tubuh besar itu bukan saja terpental ke belakang tapi juga terbatuk-batuk dan merasa sakit jika dipakai menelan ludah. Sedangkan Satria Tangkas sudah kembali berdiri dengan sikap tenang dan santai, ia sunggingkan senyum sambil pandangi lawannya yang berusaha berdiri sambil batuk-batuk. Wajah Garong Codet menjadi merah karena batuknya itu.

Dari tempatnya Setan Cilik berseru, "Perlu bantuan...?!"

"Tidak, Goblok!"

Garong Codet jadi tambah terkejut. Suaranya menjadi serak dan pecah. Perih rasanya jika dipakai untuk bicara. Kegeramannya bertambah, nafsu untuk membunuh lawan menjadi kian berkobar.

Lalu, Garong Codet sentakkan tangan kirinya, melepaskah pukulan jarah jauhnya yang bersinar merah bagai piringan kecil melayang itu. Cepat dan sulit dihindari. Wuussstt...!

Tetapi Satria Tangkas pun dengan cepat menghantamkan toya ke arah samping depan. Hantaman itu tepat mengenai sinar merah hingga timbulkan suara ledakan yang cukup keras.

Dueerr... !

Pada saat itulah Garong Codet mengangkat tangan kanannya dan membuka genggaman tangan itu. Lalu, Mustika Serat Iblis mendapat cahaya dari matahari dan pantulkan sinar merah yang diarahkan ke leher Satria Tangkas.

Clapp...! Crasss..!

"Auh...!" Satria Tangkas terpekik, ia sangat terkejut melihat kelebatan sinar itu dan menghindar dengan secepatnya. Tapi tangan yang memegangi toya itu menjadi sasaran sinar merah, sehingga pergelangan tangannya menjadi putus total. Pluk....! Jatuhlah telapak tangan kanan Satria Tangkas ke tanah dalam keadaan masih menggenggam toya.

Satria Tangkas terkesima memandang tangannya jatuh di tanah. Saat terkesima itu digunakan oleh Garong Codet untuk mengarahkan pantulan sinar mustika ke leher Satria Tangkas.

Clapp...! Sinar itu bagaikan lidi yang berjulur merah dari telapak tangan Garong Codet. Lidi merah itu bergerak dari arah kanan Satria Tangkas memenggal ke arah kiri melewati lehernya. Crasss...!

Satria Tangkas mendelik seketika. Terpatung sejenak. Lalu kepalanya pun jatuh menggelinding dari raganya. Plokkk...! Maka habislah riwayat si jago toya itu di tangan Garong Codet.

Prok prok prok...! Tikus Ningrat dan Setan Culik memberi sambutan dengan tertepuk tangan. Semakin bengkak dada Garong Codet mendapat pujian seperti itu. Semakin besar kepala trondolnya, merasa menjadi orang hebat yang dapat dengan mudah menumbangkan para pendekar berilmu tinggi. Mustika Serat Iblis semakin digenggamnya, ia pun melangkah dengan senyum bangga, mendekati dua konconya itu.

"Gerakanmu tadi cukup indah! Aku suka sekali melihatnya!" kata Setan Culik memuji Garong Codet.
"Itu belum seberapa," jawab Garong Codet. Tapi ia buru-buru pegangi lehernya dan mendehem beberapa kali.
"Suaramu menjadi rusak, Garong Codet! Seperti kaleng jatuh di atas tumpukan kaleng rombeng."

"Bangsat itu yang merusak suaraku! Aduh, perih...! Hm hm hm...!" Garong Codet mendehem-dehem lagi. Ia sempat menyeringai ketika menelan ludah sendiri.

Mata Setan Culik tak berkedip pandangi bagian tepat di bawah leher Garong Codet. Bagian itu membekas memar membiru berbentuk penampang ujung toya. Bundar bentuknya. Lebih besar dari uang logam. Jika toya itu tidak dialiri tenaga dalam yang tinggi, tak mungkin bisa timbulkan bekas yang biru kehitam- hitaman seperti itu.

"Sebaiknya kita cepat cari buah jeruk buat mengobati tenggorokanmu yang rusak itu, Garong Codet!" usul Tikus Ningrat.

Namun tiba-tiba seseorang menyahut dari tempat jatuhnya mayat Satria Tangkas itu.

"Tak perlu repot-repot mencari jeruk! Aku bisa mengobatimu, Garong Codet!"

Suara tua itu cepat dipandang oleh mereka bertiga. Terkesiap mata mereka melihat seorang nenek berjubah kuning sudah berdiri di sana dengan tongkat kayu merahnya yang berkepala burung garuda.

"Mau apa nenek peot itu kemari?" geram Garong Codet pelan.
Tikus Ningrat menyahut, "Mungkin mau mendaftarkan diri sebagai tumbal berikutnya!"

Pada saat itu, Nyai Komprang segera sentakkan tongkatnya ke tanah. Jleeg...! Sentakan itu sangat pelan, tapi menghadirkan kekuatan yang cukup dahsyat. Tubuh Setan Culik terpental ke atas hingga kepalanya membentur dahan pohon dengan keras.

Wuttt... ! Prokkk... !

Krakkk...! Dahan pohon sebesar betis itu patah seketika karena terkena sodokan kepala Setan Culik dengan sangat kuat dari arah bawah. Patahan dahan itu menjatuhi tubuh Tikus Ningrat yang tak sempat menghindar.

Prukk... ! Beengg... !

Kepala Tikus Ningrat terhantam dahan sebesar betis. Sementara itu, Garong Codet sudah lebih dulu menjauh dari tempat itu untuk menghindari dahan yang jatuh. Akibat kepalanya terkena dahan, Tikus Ningrat pun jatuh terduduk dengan lemas. Kepalanya pusing tujuh keliling, seperti banyak bintang yang mengelilingi kepalanya. Sedangkan Setan Culik terkulai lemas, jatuh di sebuah dahan. Tubuhnya tersampir di dahan itu seperti sarung sedang dijemur.

"Hebat sekali, kau, Nek?!" kata Garong Codet dengan suara sember. "Rupanya kau datang untuk sumbangkan kepala sebagai tumbal Mustika Serat Iblis juga?!"

"Aku datang untuk menuntut kematian kedua muridku! Nyawa kalian bertiga belum impas untuk menebus kematian kedua muridku itu!"

"Kalau begitu, nyawamu ditambahkan juga sebagai pelengkapnya biar impas!" Garong Codet tak bisa membentak, karena tenggorokannya terasa sakit jika digunakan bicara terlalu keras, sehingga sejak tadi bicaranya cukup pelan dan berkesan lembut bagai orang sedang memadu kasih. Garong Codet benci dengan keadaan suaranya, tapi demi menahan supaya tidak menjadi lebih parah lagi, ia terpaksa bertutur kata dengan suara lemah lembut.

"Garong Codet! Bersiaplah untuk mati di tanganku, Keparat!"

Nyai Komprang menyodokkan kepala tongkatnya ke depan. Dari kepala tongkat itu melesat cahaya putih perak. Cahaya itu mengarah ke tubuh Garong Codet. Dengan satu sentakan kaki Garong Codet melenting di udara dan bersalto satu kali. Saat itu pula Nyai Komprang ikut melayang di udara dan menyerang Garong Codet dengan kepala tongkat.

Duarr...! Sinar putih perak tadi menghantam batang pohon kelapa. Buah pohon berjatuhan. Tapi sudah berubah menjadi busuk. Sedangkan batangnya pun menjadi keropos seketika, dan rubuh tanpa timbulkan suara bunyi berdebam.

Saat itu pula, dua tubuh yang melayang di udara itu saling melepaskan pukulan tenaga dalamnya. Garong Codet melepaskan pukulan tenaga dalam dari siku kanannya. Sebuah sinar kuning seperti bola kecil melesat. Wutt...! Dari kepala tongkat Nyai Komprang keluar lagi sinar putih perak. Wuttt...!

Blaarrr...! Kedua sinar itu saling menghantam dan pecah dengan timbulkan ledakan dahsyat. Gelombang ledakan itu melemparkan tubuh Nyai Komprang ke belakang hingga berguling-guling tak terkendalikan keseimbangannya. Sedangkan tubuh Garong Codet melengkung ke depan lalu membentur pohon besar dalam jarak lebih dari tujuh kaki di belakangnya.

Buuhhg                !

Garong Codet sebenarnya merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tapi ia paksakan untuk berdiri secepatnya, karena ia melihat keadaan lawannya sangat lemah. Maka, dibukalah tangan kanan yang menggenggam Mustika Serat Iblis itu. Lalu, pantulan cahaya matahari keluarkan sinar merah tanpa putus ke arah tubuh Nyai Komprang. Wusttt...! Clappp...!

Nenek berjubah kuning itu terkejut dan tak sempat menghindar. Akibatnya sinar tak terputuskan itu bergerak menebas leher sang nenek dengan cepat. Crass...! Dan kepala sang nenek pun jatuh menggelinding di tanah, menyusul bagian badannya rubuh bagaikan batang pohon pisang. Bruukkk...!

Tikus Ningrat mendekati pohon tempat tersangkutnya Setan Culik. Tapi pohon itu tiba-tiba berguncang pada saat Setan Culik sedang kebingungan mencari jalan untuk turun. Wurrr...!

Bukkk...! Setan Culik jatuh tepat di depan Tikus Ningrat, ia tidak segera ditolong, tapi justru ditertawakan oleh manusia berwajah runcing seperti tikus itu.

Setan Culik cepat bangkit dan lompatkan diri dalam satu tendangan ke arah Tikus Ningrat. Plaak...! Tikus Ningrat cepat menangkis kaki Setan Culik yang tak pedulikan rasa sakit membiru di lengan kanannya itu.

"Kenapa kau menyerangku?!"
"Kau mengguncangkan pohon itu hingga aku jatuh!" sentak Setan Culik dengan berang.
"Bukan aku yang guncangkan pohon! Angin yang bikin pohon berguncang!"
"Tak ada angin sekencang itu!"
"Kalau begitu, seseorang telah mengguncangkan pohon itu dengan kekuatan jarak jauhnya!"

Setan Culik diam, Tikus Ningrat pun diam. Karena tiba-tiba dari arah belakang mereka terdengar suara menyahut,

"Aku yang mengguncangkan pohon!"

Garong Codet juga terkesiap melihat kemunculan tokoh tua yang tampil sambil mengunyah makanan. Tokoh tua itu jadi lebih terkejut dan berhenti mengunyah setelah ia perhatikan ke arah mayat Satria Tangkas yang kepalanya berjarak tiga langkah dari raganya.

"Satria...?!"

Tokoh tua itu cepat mendekati kepala Satria Tangkas. Serta-merta makanan yang dikunyahnya disemburkan keluar. Bruss...! Kemudian ia palingkan pandangan ke arah Garong Codet. Matanya mulai pancarkan api dendam kemarahan.

"Kau telah membunuh muridku, Garong Codet!" geram orang itu yang tak lain adalah Ki Madang Wengi. Napasnya terengah-engah tangannya mulai gemetar. Gigi pun menggeletuk tanda menahan kemarahan besar.

"Apakah anak muda itu muridmu, Pak Tua?"

"Semua orang tahu, Satria Tangkas adalah murid Madang Wengi!" Ki Madang Wengi menepuk dadanya sendiri untuk melampiaskan kemarahannya yang sudah tak tertahankan lagi itu.

Tikus Ningrat segera maju mendekati Ki Madang Wengi dengan berkata,
"Jangan marah-marah, Pak Tua. Muridmu Cuma mati, cuma terpenggal saja! Dia tidak merasa...."

Dengani cepat Ki Madang Wengi mencabut bambu runcingnya di pinggangnya. Wuttt...! Crapp...! Bambu runcing tiga jengkal menancap di dada Tikus Ningrat, tepat di bagian jantungnya. Darah pun menyembur keluar sambil Tikus Ningrat tenganga mulutnya, terdongak kepalanya, dan mendelik matanya.

Slapp...! Bambu dicabut dari dada Tikus Ningrat. Kemudian tubuh Tikus Ningrat dijejak kuat oleh Ki Madang Wengi. Bukkk...!

Wusttt...! Tubuh itu terlempar begitu jauhnya. Lebih dari lima belas langkah. Bagai boneka dari kain tubuh itu menghantam ke sebuah pohon tepat di bagian kepalanya.

Prokk....! Kepala itu pecah karena kecepatan melayang tubuh Tikus Ningrat.

Tentu saja Garong Codet dan Setan Culik terperangah kaget melihat Tikus Ningrat bermandi darah dan tak bernyawa lagi. Garong Codet segera berbalik pandang dan menggeram dengan mata melotot. Cuping hidungnya kembang kempis. Wajah tanpa kumis dan alis itu menjadi merah padam.

"Jahanam kau, Madang Wengi! Kau bunuh sahabatku yang setia itu! Kubalas kau tanpa ampun lagi! Heeaah...!"

Clapp, clappp...! Mustika Serat Iblis segera melepaskan pantulan sinarnya ke arah Ki Madang Wengi. Orang tua berjubah abu-abu itu melompat ke sana kemari dengan gerakan cepat tak terlihat mata. Tahu-tahu ia sudah berada di belakang Setan Culik.

Wuttt...! Bukkk!

Tangan kiri Ki Madang Wengi menyentak cepat bagai gerakan tak direncana. Tangan itu menghantam punggung Setan Culik. Yang dihantam terpental jauh dan terguling-guling. Lalu di sana ia muntahkan darah kental dari mulutnya.

"Jahanam busuk kau, Madang Wengi! Hiih...!"
Clap, clap, clap, dap...!

Ki Madang Wengi dihujani kilatan cahaya merah dari Mustika Serat Iblis, ia menghindar dengan lincah, dan beberapa pohon pun tumbang terpotong oleh kilatan cahaya merah Mustika Serat Iblis.

Rupanya Garong Codet benar-benar marah melihat dua sahabatnya dilukai oleh Ki Madang Wengi. Tak ada hentinya Garong Codet melepaskan sinar pemotong yang amat berbahaya itu. Mau tak mau Ki Madang Wengi hanya bisa menghindar, karena ia tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan celah menyerang.

"Modar kau, jahanaaam...!" Garong Codet berseru garang dengan suara serak, tanpa pikirkan rasa sakitnya di tenggorokan. Mustika Serat Iblis tetap menghujani Ki Madang Wengi secara bertubi-tubi, tapi manusia selincah petir itu sulit dikenai anggota tubuhnya. Lebih dari sepuluh pohon menjadi sasaran sinar merah yang mematikan itu. Lebih dari dua puluh batang menjadi terpotong-potong oleh pantulan sinar Mustika Serat Iblis.

Ki Madang Wengi merasa terdesak, ia tak punya harapan dapat menyerang, karena ketika ia mencoba melepaskan pukulan tenaga dalam bersinar kuning untuk melawan sinar merah dan terputus itu, ternyata sinar kuningnya kalah. Tak bisa menahan sinar merah tersebut.

Merasa dirinya terdesak bahaya yang tak bisa ditawar lagi itu, Ki Madang Wengi cepat melarikan diri tanpa keluarkan sepatah kata pun. Hanya suara Garong Codet yang terdengar keras dan serak.

"Ke mana pun kau lari akan kukejar, Madang Wengi! Bangsaaat...!"

Ki Madang Wengi tak peduli dikatakan bangsat, karena ia sedang cari selamat. Gerakannya yang cepat itu pun tak bisa diikuti lawan.

* * *
6

PANTAI Tanjung Keramat suatu tempat yang sunyi. Jauh dari kehidupan masyarakat pedesaan. Pantai itu banyak dikelilingi oleh gugusan karang yang menggunung. Dua gugusan karang yang paling besar tingginya antara tiga puluh tombak lebih. Dua gugusan karang itu membentuk celah tebing yang berhadapan. Di tebing karang itu terdapat sebuah tempat datar. Tempat datar itu terletak di depan sebuah gua bermulut lebar. Di dalam gua itulah Tabib Awan Putih tinggal di sana sendirian.

Bekas seorang pendekar dari dataran Cina itu kini telah mengasingkan diri dari keramaian duniawi, ia lebih menekuni pengobatan dan meramu berbagai macam obat dari ramuan alam berupa dedaunan pohon, akar pohon, kulit, daun, kayu, bunga, getah dan yang lainnya, ia memasak obat-obatan itu di dalam gua, sehingga ciri khas Pantai Tanjung Keramat adalah udara berbau rempah-rempah.

Tabib Awan Putih sudah berusia sekitar delapan puluh tahun. Tapi tubuhnya masih segar dan gesit. Memang sedikit bungkuk, tapi tidak membuat langkahnya tertatih-tatih. Rambutnya putih tipis, agak gundul, matanya kecil tapi masih tajam memandang jarum jatuh di tanah. Jenggotnya putih panjang, dan kumisnya yang putih itu melengkung ke bawah melewati dagu. Ia mengenakan pakaian jubah putih. Semuanya serba putih kecuali dua biji matanya yang punya warna hitam.

Suara tuanya masih terdengar jelas, Tidak bergetar seperti suara orang awam seusia delapan puluhan, ia orang yang berpenampilan tenang, walaupun kadang- kadang sering jengkel pada dirinya sendiri jika melakukan kesalahan.

Rupanya hari itu sang tabib sedang kedatangan tamu, yaitu seorang pemuda tampan berpakaian celana putih dengan baju tanpa lengan berwarna coklat. Rambut pemuda itu tergerai panjang. Lemas dan halus. Sorot matanya lembut dan hidungnya bangir. Ke mana pun pemuda, itu berada ia selalu tak jauh dari bumbung bambu tempat tuak yang panjangnya antara satu depa. Melihat bumbung tempat tuak itu, orang akan cepat mengenalinya sebagai murid edan si Gila Tuak yang punya nama panggilan Suto Sinting, dengan julukan Pendekar Mabuk.

Dia memang seorang peminum tuak. Tapi tak pernah menjadi mabuk dan bikin onar. Julukan Pendekar Mabuk itu diberikan oleh gurunya, karena dia punya gerakan jurus mirip orang mabuk. Tubuh meliuk ke kanan kiri, sempoyongan ke sana-sini, tapi setiap gerak timbulkan jurus dan melepaskan pukulan maut.

Ia dikatakan sinting karena setiap gerakan jurusnya menghasilkan satu kejutan yang gila-gilaan. Kadang ia terlihat diam saja, tapi sebenarnya sedang menyerang lawannya dengan jurus yang membahayakan. Bahkan dalam keadaan bahaya pun Suto masih sempat menenggak tuaknya dengan tenang, dan tuak itu ternyata menghasilkan satu kekuatan dahsyat yang membuat orang terperangah terheran-heran. Belum lagi jika ia menghembuskan napas Tuak Setan-nya, badai datang mengamuk dan menumbangkan apa saja yang ada di depannya. Sungguh sinting ilmu yang dimiliki Suto, tapi toh tidak membuatnya menjadi takabur ataupun sombong. Justru Suto banyak menahan diri dan mencari perdamaian dengan lawannya siapa saja.

Hanya satu lawan yang tak bisa diajak damai dan tak perlu ditawarkan perdamaian lagi, yaitu Siluman Tujuh Nyawa. Tokoh sesat berilmu tinggi yang telah banyak menelan korban itu sedang diburunya untuk dipenggal kepalanya. Bukan semata-mata dendam yang ada di hati Pendekar Mabuk, bukan pula semata-mata kepala itu menjadi mas kawin bagi pinangannya terhadap Dyah Sariningrum, Ratu Puri Gerbang Surgawi yang punya panggilan Gusti Mahkota Sejati itu, tapi karena tugas menyelamatkan banyak jiwa dari kekejaman Siluman Tujuh Nyawa, maka Suto memburu tokoh sesat berilmu tinggi itu.

Hanya saja, kali ini kedatangan Pendekar Mabuk ke Tanjung Keramat bukan untuk membicarakan tentang Siluman Tujuh Nyawa, melainkan untuk membicarakan masalah Bunga Bernyawa (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pawang Jenazah"). Perempuan cantik yang pernah menjadi sandera dan sekaligus gundik Laksamana Cho itu adalah putri seorang kaisar di negeri Cina.

Sudah cukup lama Pendekar Mabuk meninggalkan Bunga Bernyawa di Pegunungan Mahagiri bersama Mayang Suri, bayinya, dan Eyang Juru Taman. Tentunya perempuan putri kaisar itu sudah ingin pulang ke tanah kelahirannya. Pendekar Mabuk pernah berjanji akan mengatur perjalanan pulangnya Bunga Bernyawa. Tapi sampai sekarang ia belum punya waktu dan belum punya kapal yang bisa membawa pulang Bunga Bernyawa.

"Aku kenal ayah Bunga, yaitu Kaisar Shiauw-ong alias si Raja Kecil itu," kata Tabib Awan Putih sambil menghisap-hisap sebatang huncwe (pipa tembakau panjang), ia berjalan mondar-mandir di depan Pendekar Mabuk. Kemudian lanjutnya,

"Tapi kalau aku mengantarkan Bunga pulang ke sana, maka aku akan berhadapan dengan musuh lamaku, Lim- ong, alias si Raja Hutan! Padahal aku sudah bersumpah untuk tidak membunuh orang lagi, selain binatang. Aku pun tidak mau dibunuh begitu saja. Sebab itu aku lebih tenang tinggal di pantai ini."

"Jadi, jelasnya kau keberatan untuk mengantarkan Bunga Bernyawa pulang ke negerinya?!"

"Aku keberatan, Suto! Kusarankan kau sewa kapal saja dan bawa sendiri gadis itu pulang ke negerinya! Di sana kau pasti akan sangat dihargai karena dianggap sebagai pahlawan yang bisa selamatkan putri kaisar!"

"Aku tak punya uang untuk sewa kapal," kata Suto jujur apa adanya.

Tabib Awan Putih melepaskan tawa terkekeh. Setelah menghisap satu kali pipanya itu, ia pun ucapkan kata,

"Aku punya kenalan seorang saudagar yang punya kapal empat. Aku bisa pinjamkan kapal itu, karena aku pernah tolong dia dan dia merasa berhutang nyawa padaku! Kalau kau mau, segera kuhubungi sahabatku itu!"

"Tapi aku masih buta pelayaran menuju Laut Cina, Tabib!"

"Hei hei hei...!" Tabib Awan Putih mendekati Suto. "Kalau gurumu si Gila Tuak mendengar ucapanmu ini, kamu pasti ditamparnya! Aku tahu watak sahabat lamaku yang jadi gurumu itu, dia paling tidak suka dengan kata menyerah. Harus berusaha dulu, setelah berulang kali gagal, baru boleh menyerah. Tapi bukan untuk kalah, melainkan untuk cari kemenangan di jalur lain!"

Pendekar Mabuk tersenyum. Agaknya orang berjubah putih ini tahu betul watak si Gila Tuak, gurunya. Kemudian Suto berkata,

"Aku bukan menyerah, Tabib. Aku hanya mengakui kebodohanku tentang pelayaran ke Laut Cina."

"Tapi nada bicaramu berkesan menyerah, Suto Sinting! Itu tidak baik untuk jiwamu! Cobalah dulu bawa kapal ke Laut Cinta, eh... ke Laut Cina! Cobalah dulu. Dan lagi, setahuku Bunga Bernyawa pandai dalam ilmu jalur pelayaran, karena semua anak kaisar harus menguasai jalur pelayaran laut!"

Pendekar Mabuk menarik napas, ia teguk tuaknya kembali, sedangkan Tabib Awan Putih menghisap huncwe-nya dalam-dalam, ia duduk di sebuah bangku kecil yang rendah, di depan sebuah pelita menyala.

"Baiklah, akan kucoba berlayar ke sana bersama Bunga Bernyawa!" ujar Suto setelah sama-sama bungkam beberapa saat. "Lantas, kapan aku bisa mendapatkan kapal itu, Tabib?!"

"Tiga hari lagi!"
"Mengapa tiga hari lagi?"
"Perjalanan menuju tempat sahabatku itu sudah memakan waktu satu hari satu malam. Belum lagi membawa kapalnya kemari dan...."

Tiba-tiba Tabib Awan Putih menghentikan ucapannya. Matanya melirik ke arah luar gua, sepertinya ada sesuatu yang ia curigai. Suto mencoba mencari sesuatu yang dicurigai itu, tapi ia tak temukan apa-apa. Hanya kesunyian yang ada di luar gua. Kemudian Suto pun ajukan tanya,

"Ada apa, Tabib?"
"Ada orang menuju kemari!"
"Dari mana kau tahu?"
"Getaran nadinya kurasakan mendekat kemari."
"Mungkin itu getaran nadi binatang."

"Tidak sekeras ini getaran nadinya. Hmmm... langkahnya pun langkah telapak kaki manusia!" Tabib Awan Putih sipitkan matanya lagi. Setelah itu kembali tarik napas dan bersikap biasa saja.

"Sampai mana percakapanku tadi?" tanyanya kepada Suto.
"Sampai... sampai telapak kaki manusia, Tabib!"
"Bukan. Soal kapal tadi!"

"O, hmmm... yah, kurasa aku memang harus segera hubungi Bunga Bernyawa. Aku siap berangkat ke Laut Cina kapan saja. Terserah harinya, kau yang tentukan, Tabib. Sebab kau yang punya kesanggupan menolong putri kaisar itu untuk mencarikan kapal!"

"Ya. Tapi menurutku, kalau kau mau kawini Bunga Bernyawa, maka Bunga akan betah tinggal di sini, Suto!"

Pendekar Mabuk tertawa kecil. "Mengapa kau bilang begitu, Tabib?"

"Wanita-wanita ningrat seperti Bunga Bernyawa itu sangat menyukai pemuda yang mempunyai ilmu tinggi namun bijaksana, berjiwa ksatria dan berwajah tampan. Sedangkan semua itu menurutku ada padamu, Suto!"

"Ah, tidak semudah itu, Tabib! Cinta tidak datang dari sikap saja! Cinta adalah gerakan batin yang sangat naluriah sekali, Tabib. Tak bisa diatur kedatangannya!"

"Atau... barangkali kau sudah punya kekasih sendiri di negeri yang tak bisa dilihat mata orang biasa?"
"Apa maksudmu, Tabib?"
"Maksudku, kau punya calon istri di alam gaib?"
"Di alam gaib? Mengapa kau bicara soal alam gaib?" Pendekar Mabuk kerutkan dahi dalam lagak bingungnya. Tabib Awan Putih tersenyum.

"Aku melihat noda merah kecil di keningmu, Suto. Aku tahu, noda itu sebagai tanda bahwa kau bisa masuk ke alam gaib. Dan satu-satunya negeri alam gaib yang pernah kudatangi sebagai kunjungan persahabatanku ialah negeri Puri Gerbang Surgawi, yang dipimpin oleh seorang ratu cantik bernama Ratu Kartika Wangi!"

Pendekar Mabuk sedikit terkesiap dan menjadi tersipu. Ternyata Tabib Awan Putih itu memang tinggi ilmunya. Dia bisa mengenal Gusti Ratu Kartika Wangi yang ada di alam gaib, yang mempunyai negeri Puri Gerbang Surgawi. Sedangkan negeri Puri Gerbang Surgawi di alam nyata ini dipegang oleh Dyah Sariningrum, calon istri Suto. Karena itu, Suto Sinting hanya tersenyum-senyum saja saat Tabib Awan Putih membeberkan tentang negerinya Gusti Ratu Kartika Wangi.

"Hanya orang terhormat dan punya penghargaan tinggi yang diberi tanda merah di kening oleh Ratu Kartika Wangi. Dia mempunyai dua putri, yaitu Betari Ayu dan Dyah Sariningrum. Barangkali salah satu dari kedua anaknya itulah yang menjadi kekasihmu!"

"Aku tak bisa bohong di depanmu, Tabib!" Pendekar Mabuk tersenyum kecil, menahan malu.

"Pantas kalau kau menolak Bunga Bernyawa, karena kau punya kekasih salah satu dari anak Ratu Kartika Wangi. Tapi kalau boleh aku tahu, yang mana kekasihmu itu, Suto?"

"Gusti Mahkota Sejati," jawab Pendekar Mabuk menyebut nama julukan kekasihnya.
"O, itu julukan dari Dyah Sariningrum!"

"Tak salah, Tabib!" sambil Suto sunggingkan senyum bangga dan berbunga hatinya. Rupanya Tabib Awan
Putih banyak tahu tentang Puri Gerbang Surgawi, sehingga hafal nama julukan Dyah Sariningrum. Kemudian Tabib Awan Putih berkata,

"Sampaikan salamku kepada Ratu Kartika Wangi jika kau jumpa dia kapan saja. Katakan bahwa...."

Ucapan Tabib Awan Putih kembali terputus dengan sendirinya. Suto berkerut dahi dan berkata dalam hati, "Mungkinkah ia takut banyak menceritakan dan sebut- sebut nama Gusti Ratu Kartika Wangi...?" (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Manusia Seribu Wajah").

Rupanya berhentinya kata-kata itu segera disusul dengan bangkitnya Tabib Awan Putih dari tempatnya bersila. Kemudian ia melangkahkan kaki ke mulut gua. Tepat kakinya ada di luar gua, seorang wanita melompat dari atas dan mendaratkan kakinya di tempat datar, di depan Tabib Awan Putih. Suto jadi tertarik dan ikut keluar.

Kedua mata wanita cantik itu memandang mata Pendekar Mabuk. Ada rasa debaran aneh di dalam hatinya yang membuat ia pun jadi resah serta sedikit gugup. Tapi cepat-cepat ia alihkan pandangan kepada Tabib Awan Putih, sehingga kegugupannya yang aneh itu menjadi hilang.

Wanita cantik yang datang dengan melalui jalan curam itu berpakaian merah tembaga terang, bertahi lalat kecil di bawah mata kiri, menyandang pedang di pinggangnya. Siapa lagi yang bertahi lalat kecil di bawah mata kirinya itu jika bukan Roro Manis, murid Eyang Danujaya? Tetapi agaknya Tabib Awan Putih tidak mengenalinya, sehingga ia sedikit kerutkan dahi dalam memandang. Sedangkan Suto Sinting diam membatin dalam hati,

"Mungkin wanita ini yang denyut nadi dan langkah kakinya dirasakan oleh Tabib Awan Putih. Benar-benar kagum aku pada Tabib Awan Putih. Bukan hanya indera keenamnya yang tajam, tapi ia juga bisa menerka isi hatiku. Hm... sebaiknya kusimak dulu apa perlunya gadis cantik itu datang kemari. Sepertinya, Tabib Awan Putih merasa asing dengan gadis itu!"

Benar dugaan Suto, buktinya tabib segera ajukan tanya kepada gadis itu, "Siapa dirimu, Nona?"
"Namaku Roro Manis. Aku dari padepokan desa Sambiroto, murid Eyang Guru Danujaya."

"Danujaya...?!" tabib menggumam agak bingung. "Silakan masuk!" Ia melangkahkan kaki lebih dulu masuk ke dalam gua yang penuh dengan guci obat dan kotak rempah-rempah.

Roro Manis sempat melirik Pendekar Mabuk lagi ketika melangkah masuk. Suto sunggingkan senyum dan ucapkan kata,

"Namaku Suto Sinting!"

"Aku belum berminat menanyakannya!" Roro Manis berlagak ketus. Padahal hatinya berdebar indah mendengar nama pemuda tampan itu. Ia melanjutkan kata, "Aku masih butuh bicara dengan Tabib Awan Putih!"

Pendekar Mabuk tertawa dalam gumam. Kemudian ia biarkan Roro Manis masuk mengikuti langkah Tabib Awan Putih. Suto sendiri membuka bumbung tuak dan menenggak tuaknya beberapa teguk. Setelah itu ia kembali pusatkan perhatian kepada pembicaraan Roro Manis dengan Tabib Awan Putih.

"Apa perlumu datang kemari, Roro Manis?"
"Untuk menemui Tabib Awan Putih."
"Akulah orang yang kau cari. Dari mana kau mengenalku?"
"Ki Madang Wengi menyuruhku datang kemari."

"O, Madang Wengi?! Ya ya ya...!" tabib manggut- manggut sambil sunggingkan senyum mengenang Madang Wengi. Ia segera lanjutkan kata,

"Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak jumpa dengan Madang Wengi. Bagaimana kabarnya?"
"Dia dalam keadaan baik, Tabib. Sekarang dia sedang mengawasi bekas kekasihnya semasa muda...."
"Nyai Komprang, maksudmu?" potong tabib dengan cepat.
"Benar, Tabib!"
"He he he...! Kudengar belakangan ini mereka saling bermusuhan!"

"Memang, Tabib. Tapi agaknya bukan musuh bebuyutan! Terbukti Ki Madang Wengi masih sempat cemaskan Nyai Komprang saat Nyai Komprang mau temui Garong Codet!"

"Garong Codet...?! Maksudmu, si perampok dari tanah seberang itu, Roro Manis?"
"Betul, Tabib!" jawab Roro Manis dengan tegas tapi sopan.

"Ada persoalan apa Nyai Komprang sampai berurusan dengan Garong Codet itu? Ilmu Nyai Komprang jauh lebih tinggi, mau-maunya dia berurusan dengan anak kemarin sore?!"

"Nyai Komprang yakin kedua muridnya dipenggal oleh Garong Codet! Dan saya pun berpendapat begitu, karena penggalan kepala di kedua murid Nyai Komprang tidak semburkan darah sedikit pun. Penggalan itu sama persis dengan penggalan kepala tiga saudara seperguruanku dan bahkan Eyang Guru sendiri juga dipenggal oleh Garong Codet! Itulah sebabnya Nyai Komprang mau menuntut balas kepada Garong Codet. Tapi Ki Madang Wengi cemaskan jiwa Nyai Komprang!"

"Mengapa Madang Wengi cemaskan jiwa Nyai Komprang? Bukankah dia tahu Nyai Komprang berilmu tinggi?!"
"Karena Garong Codet bersenjatakan Mustika Serat Iblis!"

"Hah...?!" Tabib Awan Putih tersentak kaget hingga mulutnya terbengong melongo. Sedangkan Pendekar Mabuk diam saja, karena dia tidak tahu kehebatan Mustika Serat Iblis. Tapi dia jadi sangat tertarik begitu melihat Tabib Awan Putih tersentak kaget. Pendekar Mabuk pun mendekatkan diri tapi tetap tidak ikut bicara.

"Mana mungkin batu Mustika Serat Iblis bisa dimiliki Garong Codet...?!" Tabib Awan Putih bicara seperti pada dirinya sendiri.

"Aku melihatnya sendiri, Tabib! Bahkan aku hampir saja menjadi korban keganasan Mustika Serat Iblis!" kata Roro Manis. "Aku melarikan diri kepada Ki Madang Wengi. Lalu, Ki Madang Wengi menyuruh aku kemari untuk meminjam Perisai Naga Bening darimu, Tabib!"

Tabib Awan Putih diam tertegun beberapa saat lamanya. Karena suasana menjadi sunyi, maka Pendekar Mabuk yang mulai penasaran dengan berita tentang mustika tersebut, segera ajukan tanya kepada Tabib Awan Putih,

"Apa kehebatan Mustika Serat Iblis itu, Tabib?'

"Bisa memotong baja setebal apa pun! Pantulan cahayanya sangat berbahaya. Mustika itu hanya dimiliki pada seekor harimau berbulu merah api. Harimau itu sudah berusia ribuan tahun, dan empedunya menjadi batu warna merah. Jika terkena pantulan cahaya apa saja, bisa memotong benda apa pun, termasuk tubuh manusia. Di dunia ini hanya ada tiga harimau berbulu merah api, dan ia tidak berkembang biak seperti hewan lainnya. Tak ada yang bisa menahan pantulan sinar yang membias lewat batu Mustika Serat Iblis selain Perisai Naga Bening .... "

"Menurut Ki Madang Wangi, perisai itu adalah milikmu, Tabib!"

"Ya. Benar. Tapi...," suara itu melemah, "Tapi perisai itu telah hilang. Jatuh di tengah lautan saat aku bertarung melawan Durmala Sanca...."

"Siluman Tujuh Nyawa?!" sahut Suto tegang.
"Ya. Benar. Kau mengenalnya, Suto?"
"Aku bukan mengenalnya, tapi memburunya! Rupannya kita punya musuh yang sama, Tabib!"

"Ya. Tapi itu dulu. Sekarang aku tak punya minat untuk membunuh Durmala Sanca! Karena memang aku sudah tidak mau membunuh lagi!"

Roro Manis agak kesal karena percakapannya dialihkan ke masalah Siluman Tujuh Nyawa. Maka segera ia ajukan tanya,

"Jadi mengenai Perisai Naga Bening itu bagaimana, Tabib?"

Tabib segera pandangi Roro Manis dan berkata, "Perisai itu terkubur di dasar lautan. Aku kehilangan perisai itu sekitar sepuluh tahun yang lalu."

"Ah, sayang sekali! Padahal Garong Codet sedang mencari tumbal untuk mustika itu," kata Roro Manis, "Ia butuh tumbal sejumlah...."

"Tiga puluh tiga kepala," sahut Tabib Awan Putih dengan cepat. Roro Manis berdecak kagum dan tak bicara sesaat. Karena ternyata Tabib Awan Putih lebih banyak tahu tentang Mustika Serat Iblis daripada yang lainnya. Tabib Awan Putih pun melanjutkan ucapan katanya,

"Garong Codet tak akan berhenti mencari tumbal sebelum purnama muncul! Jika sebelum purnama muncul ia sudah mendapatkan tiga puluh tiga kepala orang sakti, maka Mustika Serat Iblis itu akan menjadi miliknya. Selamanya ia akan memiliki pusaka itu. Walau dibuang ke kutub utara tetap saja batu mustika itu akan kembali sendiri kepadanya! Tapi jika sebelum purnama tiba ia tidak bisa mendapatkan tiga puluh tiga kepala tumbal, maka kepalanya sendiri yang akan meledak hancur sebagai korban penghabisan!"

"Padahal dia sekarang sedang mengejarku, Tabib!" ucap Roro Manis dengan nada cemas.

"Kalau begitu kau harus bersembunyi! Kau tidak bisa melawan kekuatan Mustika Serat Iblis itu. Aku pun tak akan bisa melawannya! Satu-satunya cara untuk melawannya adalah bersembunyi serapi mungkin, sambil tunggu purnama lewat. Jika purnama telah lewat, seandainya mustika itu tetap ada di tangan Garong Codet, itu tidak terlalu membahayakan jiwamu! Karena Garong Codet tidak akan memburu tumbal dengan membabi buta. Hanya jika ada orang yang terlibat bentrok dengannya saja ia akan menggunakan mustika itu. Jika tidak ada masalah dengannya, ia tak perlu memenggal kepala orang itu karena tidak diburu jumlah tumbal yang harus diperolehnya!"

Tabib Awan Putih memandang Pendekar Mabuk dan berkata, "Kau pun bisa dibunuhnya jika ia tahu kau orang berilmu tinggi, Suto! Kusarankan, kalian berdua bersembunyilah di suatu tempat yang aman. Jangan di sini! Karena kalau dia mengamuk di sini, aku akan jadi korban yang sia-sia!"

"Jadi ke mana tempat yang baik menurutmu untuk bersembunyi?"

"Bawa perempuan ini ke Gua Mulut Dewa! Di sana kalian akan lebih aman," kata Tabib Awan Putih setelah berpikir sejenak.

Lalu Suto berkata,

"Aku setuju saja. Tapi bagaimana dengan Roro Manis? Apakah dia mau kubawa bersembunyi ke sana?!"

Roro Manis memandang Pendekar Mabuk dengan mata tak berkedip. Lalu terdengar kata-katanya yang sengaja dibuat ketus,

"Aku masih bisa bersembunyi sendiri!"

Tabib Awan Putih menyahut kata, "Jangan sendirian! Kau perlu pelindung yang mampu melarikan dirimu secepat setan! Dia, si Pendekar Mabuk ini, punya kesanggupan bergerak seperti setan!"

"Barangkali memang dia setan asli, Tabib!"
Tabib Awan Putih hanya sunggingkan senyum kecil. Katanya,

"Pergilah kalian ke Gua Mulut Dewa! Jangan tunggu lama-lama! Karena sifat orang yang memegang Mustika Serat Iblis dan sedang mencari tumbal adalah mengejar orang berilmu tinggi yang sudah telanjur dipergokinya! Lekaslah kalian pergi, dan jangan sekali-kali melawannya!"

Kepada Pendekar Mabuk, orang tua itu berkata, "Bumbungmu tak akan mampu menahan sinar merah dari Mustika Serat Iblis. Jadi lebih baik menghindar jika berjumpa si Garong Codet!"

"Baiklah, aku mengerti maksudmu, Tabib! Rasanya memang lebih baik aku berangkat sekarang juga! Terserah perempuan ini mau ikut aku atau mau sumbangkan kepalanya kepada Garong Codet!"

Roro Manis segera bangkit dan berkata, "Kalau aku ke Gua Mulut Dewa bukan berarti aku mengikuti langkahmu, tapi aku ikuti saran Tabib Awan Putih!"

Pendekar Mabuk hanya angkat bahu. "Kalau di perjalanan kau kepergok Garong Codet, jangan minta bantuan padaku!"
"Aku tidak akan minta bantuan sedikit pun padamu! Tapi apakah kau tega melihat kepalaku terpenggal?"

"Kenapa tidak?" jawab Pendekar Mabuk seenaknya. Roro Manis pun tertegun menahan dongkol, ia sengaja ketuskah diri di depan Suto, untuk menutupi perasaannya yang menjadi tertarik dan berdebar-debar indah, ia perlukan sikap ketus supaya dirinya tidak dianggap wanita murahan. Tapi sebenarnya ia berharap Pendekar Mabuk tetap melindungi dirinya dari serangan Garong Codet yang amat membahayakan itu.
*
* * 7

SALAH satu sebab mengapa Pendekar Mabuk memikirkan Mustika Serat Iblis karena timbulnya perasaan cemas di dalam hatinya. Mustika itu adalah senjata berbahaya yang sukar dicari tandingnya. Satu- satunya tandingan Mustika Serat Iblis adalah Perisai Naga Bening. Tapi perisai itu sudah hilang dan terkubur di dasar lautan. Hal itu secara tak langsung telah membuat Mustika Serat Iblis merupakan senjata
terampuh dan tak bisa dikalahkan.

Senjata seperti itu jelas tak akan luput dari incaran Siluman Tujuh Nyawa. Tokoh tua yang sesat dan masih berwajah muda itu jelas akan berusaha mendapatkan Mustika Serat Iblis untuk melawan Pendekar Mabuk, yang dianggap sebagai musuh terberatnya.

Karenanya, di dalam otak Suto terjadi suatu pergolakan tentang mencari cara untuk meleburkan Mustika Serat Iblis agar tidak jatuh ke tangan Siluman Tujuh Nyawa. Setidaknya Suto harus bisa merebut mustika itu sebelum orang lain mendahuluinya. Tetapi, mengingat nasihat Tabib Awan Putih, Suto menjadi ragu untuk menghadapi Garong Codet. Apalagi Tabib Awan Putih sudah kasih peringatan, bahwa bumbung tuak Pendekar Mabuk yang dikenal ampuh bisa mengembalikan serangan lawan dengan lebih besar dan lebih cepat bergeraknya itu, tidak bisa untuk menangkis sinar dari Mustika Serat Iblis, ini membuat Suto berpikir, harus dengan apa ia melawan kekuatan mustika tersebut.

Satu-satunya cara yang ditemukan Suto adalah menantang pertarungan dengan Garong Codet di tempat gelap. Sebab di tempat gelap mustika itu tidak akan memperoleh sinar dan tidak bisa pantulkan cahaya mautnya kepada lawan. Tetapi, tempat gelap yang mana yang bisa dijadikan pertarungan? Malam hari pun masih bisa hadirkan cahaya walau dari bintang atau rembulan, atau mungkin nyala api dari pelita. Tempat yang paling bagus adalah ruangan tertutup tanpa cahaya apa pun. Dan ruangan tertutup itu agaknya adalah sebuah gua lebar yang jauh dari mulutnya. Mungkin tempat yang cocok untuk mengadakan pertarungan itu ialah Gua Mulut Dewa?

Ki Madang Wengi tak tahu kalau Roro Manis pergi ke Gua Mulut Dewa bersama murid si Gila Tuak itu. Ki Madang Wengi menyangka Tabib Awan Putih masih memiliki Perisai Naga Bening. Karenanya, pelarian Ki Madang Wengi menuju ke arah Pantai Tanjung Keramat. Sementara itu, Garong Codet tetap mengejarnya, karena ia punya dendam tersendiri atas matinya Tikus Ningrat di tangan Ki Madang Wengi.

Tabib Awan Putih merasa tak enak hati sejak hari kepergian Roro Manis dengan Pendekar Mabuk. Karenanya, pagi itu Tabib Awan Putih sengaja berdiri di pesisir pantai, pandangi lautan lepas yang membiru dengan gelombangnya yang tak seberapa besar. Jubah putihnya dibiarkan tertiup angin hingga berkelebat- kelebat ke belakang.

Menjelang siang, apa yang dicemaskan hatinya benar-benar terjadi. Ki Madang Wengi tampak berlarian menuju ke arahnya. Tabib Awan Putih sudah siap menyambut kehadiran sahabat lamanya itu. Ketika Ki Madang Wengi tiba di depannya, Tabib Awan Putih segera berkata,

"Roro Manis telah menceritakan segalanya!"

"O, ya..! Syukurlah...!" Madang Wengi terengah- engah, ia merogoh tempat kantung kulit dan mengeluarkan sisa singkong bakar, lalu mengunyahnya.

" Sekarang Roro Manis pergi bersama murid si Gila Tuak ke Gua Mulut Dewa! Kusuruh mereka bersembunyi, di sana!"
"Mengapa?"
"Karena Perisai Naga Bening sudah tak ada padaku!"
"O, sial!" Ki Madang Wengi menggeram sendiri dengan jengkelnya. "Ke mana perisaimu itu, Awan Putih?"
"Jatuh di tengah lautan sepuluh tahun yang lalu! Mungkin sekarang sudah terkubur di dasar lautan!"
"Di lautan yang mana? Akan kucari perisai itu!"

Tabib Awan Putih menggeleng-gelengkan kepala, ia masih pegangi pipa tembakau yang panjang itu. Sekalipun bara apinya telah padam, namun sisa tembakau masih dihisap-hisapnya lewat ujung pipa.

"Pekerjaan mencari Perisai Naga Bening adalah pekerjaan yang sia-sia, Madang Wengi! Saranku, cepatlah susul Roro Manis dan Suto Sinting ke Gua Mulut Dewa! Bersembunyilah di sana sampai purnama lewat. Karena jika Garong Codet mengejar kalian ke dalam gua itu, maka kekuatan Mustika Serat Iblis akan pudar. Tak akan bisa memantulkan sinar, asal kalian jangan menyalakan obor di dalam gua sana!"

Ki Madang Wengi kembali melahap singkong bakarnya, ia diam sesaat, pandangi lautan lepas. Kejap berikut terdengar suaranya berkata dengan lemah,

"Nyai Komprang mati terpenggal, dia bekas kekasihku! Aku masih suka padanya! Cuma karena dia cerewet dan tidak mau mengalah dalam semua hal, aku jadi sebal dengannya! Satria Tangkas, muridku sendiri, juga tewas terpenggal oleh mustika itu! Haruskah aku lari sembunyi dan takut mati?"

"Sembunyi bukan berarti takut mati, Madang Wengi! Sembunyi adalah mencari kemenangan di hari nanti! Sekarang kau tak akan bisa mengalahkan Garong Codet, karena inderanya menjadi peka terhadap orang berilmu tinggi yang diburu-burunya. Pada saat itulah kau punya kesempatan untuk melawannya!"

"Maksudmu, memanfaatkan kelemahannya?"" "Tepat! Jadi, ada baiknya jika kau susul Roro Manis ke Gua Mulut Dewa! Pergilah ke sana sebelum Garong Codet temukan dirimu."

"Kenapa kau sendiri tidak bersembunyi ke sana?" "Aku tak punya urusan dengan Garong Codet! Kalau toh ia datang temui aku, aku harus bisa menjadi orang bodoh tanpa ilmu apa pun! Kurasa dia tak akan memenggal kepalaku jika ia tahu aku tak berilmu apa pun. Kadang-kadang orang bodoh pun bisa selamat dari maut, mengapa orang pandai tidak bisa?!"

Ki Madang Wengi diam terpekur di atas sebuah batu. Mulutnya masih mengunyah makanan, matanya memandang lurus ke arah lautan. Lalu, Tabib Awan Putih yang berjarak enam langkah darinya itu segera mendekati dan berkata pelan,

"Cepatlah pergi dan bersembunyi! Kurasa orang yang mengejarmu sebentar lagi datang!"

Ki Madang Wengi dongakkan kepala memandang wajah Tabib Awan Putih. Sebelum Madang Wengi ucapkan kata, Tabib Awan Putih sudah bicara,

"Kurasakan getaran nadinya semakin mendekat. Lekaslah bersembunyi supaya kau selamat!"
"Aku masih ragu untuk bersembunyi atau membela kematian muridku!"

"Jangan menjadi bodoh karena otak ceroboh! Jangan menjadi dungu karena dendam yang membelenggu! Pembalasan akan tiba saatnya sendiri, tidak harus kapan hati berkehendak untuk membalas diri."

Kembali merenung Madang Wengi, tapi Tabib Awan Putih semakin cemas, ia merasakan getar nadi seseorang semakin mendekat. Karena dilihatnya Madang Wengi masih saja diam tak bergerak, maka Tabib Awan Putih pun segera menyodokkan pipa panjangnya ke pinggang Madang Wengi. Duhgg!

Ki Madang Wengi seketika itu mengejang dengan mata mendelik Tubuhnya membujur kaku. Mulutnya ternganga, ia telah bertotok jalan darah utama melalui sodokan pelan pipa panjang itu. Ia tak bisa bergerak apa- apa lagi, walaupun ia mendengar suara apa pun yang ada di sekitarnya.

Tubuh yang kaku itu segera diangkat oleh Tabib Awan Putih. Lalu, kaki kirinya menghentak pelan ke tanah, dan tiba-tiba tubuh Tabib Awan Putih melesat naik dalam satu ketinggian yang hampir mencapai pucuk pohon kelapa. Sebelum itu, kaki kanan Tabib Awan Putih cepat sentakkan lagi ke salah satu batang pohon kelapa yang terdekat. Wuttt...!

Kembali tubuh itu melesat lebih tinggi ke arah samping. Dan kejap berikutnya ia sudah hinggap di atas pohon kelapa. Di sana tubuh Ki Madang Wengi disembunyikan. Tubuh itu dibaringkan pada jajaran pelepah daun kelapa. Setelah itu, Tabib Awan Putih melesat turun lagi dengan gerakan ringan bagai seekor bangau hendak hinggap ke kubangan. Wusttt...!

Kejap selanjutnya kaki Tabib Awan Putih telah memijak tanah tempatnya berdiri tadi. Ia mendongak ke atas sebentar, ternyata tubuh Ki Madang Wengi tidak terlihat dari bawah. Selain pohon kelapa itu berbuah banyak, juga berdaun rimbun. Tubuh Madang Wengi tertutup rapat oleh pelepah daun dan buah kelapa yang menggerumbul.

Tak berapa lama kemudian, muncul dua sosok manusia berwajah angker. Walaupun wajah itu sudah tercukur gundul dan berambut trondol, tapi kesan angker masih terlihat dari tonjolan tulang pipi dan rahang yang besar. Mereka tak lain ialah Garong Codet dan Setan Culik.

Rupanya keadaan Setan Culik sudah lumayan dari luka dalam akibat pukulan maut Ki Madang Wengi itu. Garong Codet telah menyalurkan hawa dingin ke tubuh Setan Culik, sehingga luka pukulan itu bisa ditawarkan. Garong Codet memang bisa selamatkan Setan Culik, tapi ia tak bisa selamatkan Tikus Ningrat. Kematian Tikus Ningrat itulah yang membuat Garong Codet semakin penasaran mengejar Ki Madang Wengi untuk dibunuhnya.

Melihat kehadiran dua orang yang sudah diperkirakan itu, Tabib Awan Putih tetap berdiri tegak di tepi pantai memandang ke arah laut. Sikap berdirinya tak tampak kekar. Kedua kakinya merapat, satu tangan dilipat di dada, tangan yang satunya menopang dagu. Kepalanya sedikit miring dengan wajah dibuat lesu, mata dibuat sayu.

"Setan Culik! Menurutmu apakah kita salah arah mengejar orang berbaju biru dan berjubah abu-abu tadi?!" tanya Garong Codet.

"Kurasa tidak! Arahnya pasti ke pantai ini!"

"Tapi mengapa dia menghilang? Ke mana lagi larinya?" sambil berkata demikian mata Garong Codet mengarah ke Tabib Awan Putih. Kemudian Garong Codet berbisik,

"Menurutmu, siapa orang berbaju putih di sana itu?"
"Aku tidak kenal dengannya. Mungkin dia tokoh sakti!" jawab Setan Culik. "Coba kita dekati dan kita uji kemampuannya!"

Keduanya bergegas menemui Tabib Awan Putih. Sekalipun Tabib Awan Putih tahu kedua orang itu mendekat satu dari kiri dan satu dari kanan, tapi ia tetap dalam posisinya berdiri bagai orang sedang merenung sedih. Wajah murungnya semakin terlihat jelas.

"Pak Tua," kata Garong Codet dengan suara pelan, karena memang tenggorokannya tak bisa dipakai mengeluarkan suara bentakan.

Mendengar teguran itu, Tabib Awan Putih memandang Garong Codet. Matanya tetap sayu mirip seorang peminum yang sedang mabuk. Pipa tembakaunya diselipkan di pinggang.

"Apa yang kau lakukan di sini, Pak Tua?" tanya Garong Codet.

"Menunggu kekasihku," jawab Tabib Awan Putih dengan suara pelan bagaikan lemas karena menahan lapar.

"Ke mana kekasihmu?"
"Jauh...!" jawabnya.
"Jauh ke mana?!" sentak Setan Culik.
"Pergi!"
"Ke lautan?"
"Seberang," jawab Tabib Awan Putih dengan lemah.

Setan Culik segera menjelaskan pada Garong Codet. "O, dia menunggu kekasihnya yang pergi jauh ke seberang lautan!"

"Sejak kapan perginya?" tanya Garong Codet.
"Jauh."
"Iya. Pergi jauhnya sejak kapan!" sentak Setan Culik agak jengkel.
"Lama."
"Dua hari?"
"Lewatlah hari," jawab Tabib Awan Putih.
"Dua bulan?"
"Lewatlah bulan."
"Dua tahun?"
"Lewatlah dua!"
"Sepuluh tahun?"

Tabib Awan Putih diam, memandang bengong. Lalu menghitung jarinya sendiri dengan mulut umik-umik. Setelah itu menjawab,

"Dua puluh...."
"Dua puluh tahun?!" Setan Culik mendelik.
"Lama," jawab Tabib Awan Putih.
"Lama sekali itu! Dan kau tetap tunggu kekasihmu di sini?"
"Janji," jawab Tabib Awan Putih lagi.

"Oo..., maksudnya kekasihmu sudah berjanji mau kembali, tapi sampai dua puluh tahun kau menunggu di sini dia belum kembali?"

"Kasihan."
"Siapa yang kasihan?"
"Aku," jawab Tabib Awan Putih.

Kemudian setelah bicara begitu, ia kembali bertopang dagu seperti sikap semula, seakan menunggu kedatangan kapal yang membawa kekasihnya pulang padanya.

Setan Culik miringkan jari tangan di kening sambil pandangi Garong Codet. "Gila...!" ucapnya pelan. Garong Codet mengangguk. Tapi segera ajukan tanya kepada Tabib Awan Putih,

"Kau lihat orang berjubah abu-abu lewat ke sini?!"

Tabib Awan Puti berkerut dahi. Garong Codet menjelaskan ciri-ciri Madang Wengi, "Badannya agak gemuk, rambutnya putih, botak tengahnya, agak pendek, membawa senjata bambu kuning yang runcing!"

"Bukan," jawab Tabib Awan Putih.
"Bukan bagaimana?" tanya Setan Culik.
"Bukan kekasihku!"

Setan Culik agak membentak, "Yang kami tanyakan memang bukan kekasihmu, tapi seseorang berjubah abu- abu!"

"Lari," jawab Tabib Awan Putih datar dan pelan.
"Lari ke mana...?!" geram Setan Culik. "Ke mana?"
"Jauh!"
"Arahnya ke mana...?!" geram Setan Culik.
"Ke sana!" Tabib menuding arah sembarangan.
"Sudah lama?"
Tabib menghitung tangannya lalu menjawab, "Dua puluh ........... "
"Dua puluh tahun?!" Setan Culik kembali mendelik.
"Dua puluh napas," jawabnya.

Setan Culik bicara kepada Garong Codet, "Dua puluh helaan napas kira-kira. Berarti baru saja dan belum jauh! Masih ada waktu untuk mengejarnya, Garong!"

"Baik! Kita segera kejar dia!"
Garong Codet menepuk punggung Tabib Awan Putih sambil berkata, "Terima kasih, Tua Gila!"

Plok...! Brukk...! Tubuh Tabib Awan Putih jatuh tersungkur. Tepukan itu dirasakan bukan tepukan kosong, tapi bertenaga dalam. Tabib Awan Putih tak mau melawan tepukan tenaga dalam itu. Ia sengaja kosongkan diri sehingga jatuh tersungkur dengan kerasnya.

"Dia memang bukan orang berilmu! Buktinya kutepuk pelan saja sudah jatuh tersungkur begitu kerasnya!" kata Garong Codet kepada Setan Culik. Dan Setan Culik menjawab,

"Sudah kubilang dia hanya orang gila karena putus asa menunggu kepergian kekasihnya! Jadi tuanya bukan
karena tua berilmu, tapi tua dimabuk rindu!"

Samar-samar percakapan itu terdengar oleh telinga Tabib Awan Putih. Dan Tabib Awan Putih tetap tak mau bangun lekas-lekas. Namun begitu Garong Codet dan Setan Culik menjauh, ia cepat bangkit dan berucap kata,

"Benar apa kata Roro Manis. Orang itu membawa Mustika Serat Iblis! Untung aku berpura-pura gila dan kosong ilmu! Jika tidak, habislah kepalaku dipenggalnya!"
* * *
8

TANPA disengaja arah yang dituju Garong Codet adalah lembah yang mengarah ke Gua Mulut Dewa. Sekalipun jaraknya masih jauh dari gua tersebut, tetapi hal itu cukup membahayakan bagi Roro Manis dan Pendekar Mabuk. Bukan hal yang mustahil jika dalam upayanya mengejar Ki Madang Wengi akhirnya Garong Codet akan sampai pula ke gua tersebut.

Namun agaknya Garong Codet tak menyadari bahwa pengejarannya terhadap Ki Madang Wengi sekarang sudah menjadi lain. Ada sosok hitam yang mengikutinya sejak dari pantai. Sosok hitam itu sudah ada di pantai sebelum Garong Codet dan Setan Culik datang. Sosok hitam itu juga menyadap pembicaraan Tabib Awan Putih dengan Ki Madang Wengi. Setan Culik hanya merasa tak enak dalam hatinya ketika Garong Codet
menghentikan langkah dan ucapkan kata,

"Di sini udaranya sangat panas. Kita cari tempat meneduh sementara. Rasa-rasanya napasku makin lama semakin tipis. Sesak sekali dihelanya. Aku tak kuat mengejar orang berjubah abu-abu itu!"

"Napasmu semakin sesak? Rasanya udara makin panas? Ah, menurutku tidak!" kata Setan Culik. "Udara justru semakin sejuk. Dan kulihat tak biasanya kau mengeluh sesak napas! Kau termasuk orang yang bernapas panjang, Garong!"

"Mungkin karena pengaruh luka di tenggorokanku ini!" ucapnya pelan sambil mengusap tenggorokan yang bernoda biru kehitaman.
"Kalau kita istirahat, kita bisa kehilangan orang itu, Garong! Orang itu pasti lari terus tanpa berhenti!"

"Biarlah! Biar dia lepas. Masih banyak orang sakti lainnya yang bisa kita jadikan tumbal!"

Setan Culik hanya membatin, "Biasanya ia tak semudah ini untuk menyerah. Tapi mengapa dia sepertinya mulai lemah? Apakah benar karena pengaruh luka akibat pukulan toya di tenggorokannya itu?"

Dalam masa bungkamnya itu, Garong Codet mulai melepas Cincin Mustika Serat Iblis dari tangannya. Cincin itu diamat-amati beberapa saat, kemudian ia ucapkan kata kepada Setan Culik.

"Rasa-rasanya aku capek memakai cincin ini. Mengganggu kebebasan bergerakku!"

"Kau ini aneh-aneh saja! Itu cincin maut. Jangan kau lepas sembarangan. Nanti ada orang melihatnya bisa
direbut begitu aja!"

"Entah mengapa tiba-tiba aku ingin sekali membuang cincin ini!"

"Edan kamu ini!" sentak Setan Culik. "Ada apa dengan hatimu? Mengapa kamu tiba-tiba mempunyai niat seperti itu? Pasti ada yang tak beres dalam jiwamu, Garong! Ayo lekas pakai cincin itu!"

"Tapi...."
"Pakailah! Pakai dulu nanti kita bicarakan sesuatu yang ganjil!"
"Tentang apa itu, Setan Culik!"

"Pakailah dulu cincinmu!" desak Setan Culik. Dan dengan perasaan malas cincin itu pun dikenakan kembali oleh Garong Codet. Setan Culik pun segera berkata dengan suara pelan.

"Dengar, ada sesuatu yang kurasakan tak beres dalam pikiranmu! Sesuatu itu telah mempengaruhi jalan pikiranmu untuk melepas cincin itu! Kau harus melawan perasaan seperti itu! Kau harus bertahan kenakan cincin itu! Tumbal sudah banyak kau peroleh, tinggal satu lagi! Menurut perhitunganku, tinggal satu kepala lagi yang harus kamu dapatkan. Padahal esok malam sudah malam bulan purnama!"

"Seingatku memang sudah mencapai tiga puluh dua tumbal sejak terpenggalnya nenek tua itu!" kata Garong Codet.

"Benar. Tapi mengapa susah-payahmu itu akan kau sia-siakan dengan tidak ingin menggunakan cincin mustika itu lagi? Padahal kau mencarinya sangat susah payah! Kau telah bertarung dengan harimau merah api itu. Nyaris nyawamu jadi korban! Karena itu, pertahankan terus batu Mustika Serat Iblis itu! Jangan merasa malas memakainya!"

Garong Codet merenungkan kata-kata Setan Culik. Kejap berikutnya dia berkata, "Aku mempunyai perasaan benci terhadap cincin ini, Setan Culik! Benci dengan warna merahnya!"

"Lawan perasaan bencimu itu, Garong! Lawan terus! Sadarlah bahwa perasaan benci itu datang karena hatimu dipengaruhi oleh kekuatan gaib yang tidak kau sadari! Sekarang sadarilah bahwa kekuatan gaib itu menghendaki kau benci kepada warna merah di batu itu! Padahal warna merah itu sangat bagus dan menjadi kebanggaanmu! Kau harus pakai terus mustika itu supaya kau merajai seluruh rimba persilatan!"

Dengan suara pelan lagi Garong Codet berucap kata, "Rasa-rasanya aku tak mau penggal orang lagi! Tanganku sudah berlumur darah dan harus segera berhenti dari tindakan seperti itu, dan...."

Buhkkk...! Setan Culik memukulkan telapak tangannya ke dada Garong Codet. Pukulan itu cukup keras dan cepat, sehingga Garong Codet terjengkang ke belakang dan berguling satu kali.

Baru saja Garong Codet mengangkat kepalanya, tiba- tiba tendangan kaki Setan Culik melesat cepat. Plakk... ! Wajah Garong Codet terlempar ke samping dan tubuhnya pun terpelanting. Setelah itu Setan Culik membiarkan Garong Codet berusaha bangkit dengan
mata melotot penuh kemarahan.

"Bangsat kau! Mengapa kau serang aku, hah?!" suaranya pelan tapi bernada marah. Setan Culik sunggingkan senyum.
"Aku sengaja menyerangmu, supaya pengaruh yang meracuni otak dan hatimu menjadi buyar!"
"Pengaruh apa?!"
"Kau ingin melepaskan mustika itu dan benci dengan warna merahnya! Kurasa itu tak wajar ada padamu!"
"Siapa bilang aku benci dengan warna merahnya?! Siapa bilang aku ingin melepaskan Cincin Mustika Serat Iblis ini?!"
"Kau ingin berhenti mencari tumbal terakhir!"
"Apa aku orang bodoh, kok mau berhenti cari tumbal?!"

"Bagus. Berarti kau sudah kembali menjadi dirimu sendiri. Sekarang kalau kau mau balas seranganku tadi, balaslah! Aku tak akan melawan! Balaslah...!"

Tapi Garong Codet menjadi ragu walau ia telah kepalkan tinjunya. Setan Culik kelihatan pasrah dan hal itu sangat aneh buat Garong Codet. Selama ini Setan Culik selalu menurut pada perintahnya dan tak pernah menyerang. Jika sampai Setan Culik sengaja melepaskan serangan padanya, pasti ada sesuatu yang tak beres pada dirinya.

Garong Codet segera tarik napas dalam-dalam dan kendurkan urat-urat marahnya, ia segera berkata,

"Apakah benar aku tadi berkata seperti itu?"
"Ya. Benar. Kalau aku tidak menyerangmu, jati dirimu terkuasai oleh pengaruh kekuatan gaib yang ada di sekitar sini!"
"Berarti ada orang yang ingin memiliki Mustika Serat Iblis dengan cara mempengaruhi otak dan jiwaku?"
"Benar! Sebaiknya kita cari saja siapa yang...."
Zlapp zlappp zlappp...!

"Heghhh...!" Setan Culik tiba-tiba tersentak tubuhnya mengejang dalam keadaan melengkung ke belakang. Setan Culik membuka mulutnya dalam pekik yang tertahan. Matanya mendelik bagai mau lepas dari kelopaknya.

"Hei, kenapa kau?! Jangan menakut-nakuti aku begitu, Setan!"

Setan Culik tetap diam. Berlutut dengan tubuh melengkung ke belakang. Wajahnya makin lama semakin biru. Dari warna pucat pias, lalu membiru samar-samar. Warna matanya pun mulai menguning.

Garong Codet segera mengerti, bahwa Setan Culik bukan menakut-nakuti dirinya. Tapi pasti ada sesuatu yang telah terjadi pada diri Setan Culik. Kemudian, Garong Codet memeriksa tubuh Setan Culik, dan ia tersentak kaget dengan mata melebar. "Gila...?!" ucapnya di luar kesadaran. Garong Codet menemukan tiga bunga menancap di punggung Setan Culik. Tiga bunga warna merah yang menyerupai mawar tapi tak punya bau wangi itu mempunyai tangkai panjang sekitar seukuran jari tengah. Ketiga tangkai bunga itu menembus masuk di punggung Setan Culik.

Garong Codet cepat mencabut salah satu bunga.

Zlepp...! Ternyata tangkai bunga itu berwarna hitam. Pasti mengandung racun yang amat ganas. Hanya saja, siapa orangnya yang bisa menggunakan bunga tersebut sebagai senjata rahasia yang dapat menancap di tubuh Setan Culik? Tangkai hitam itu sangat lemas, tapi kenyataannya bisa berubah menjadi sekeras paku baja saat menancap di tubuh Setan Culik.

Hal yang membuat Garong Codet menjadi berang adalah rubuhnya tubuh Setan Culik. Tubuh itu rubuh ke depan dengan kepala berpaling ke kiri dan mata tetap mendelik. Tetapi kulit wajahnya berubah menjadi biru dan Setan Culik enggan bernapas lagi. Ia mati diterkam racun ganas dari bunga merah itu.

"Setan! Setan Culik...!" seru Garong Codet, tak jelas memanggil nama temannya atau mencaci-maki keadaan yang buruk itu. Yang pasti, Garong Codet segera berdiri dengan menggeram. Wajahnya menjadi merah karena darahnya bagai mendidih dan menyirat ke atas melihat Setan Culik mati dibunuh orang bersembunyi.

Dengan suara serak menahan sakit, Garong Codet berseru,

"Bangsat mana yang berani menantangku dengan cara seperti ini, hah?! Siapa orangnya?! Keluar!"
Sssuut...! Jlegg...!

Seperti anak panah datangnya. Tak bisa dilihat mata manusia. Tahu-tahu manusia berkerudung hitam telah berdiri di samping kanan Garong Codet. Orang itu berwajah putih bagai mengenakan bedak. Sorot matanya dingin. Bibirnya biru. Sekujur tubuhnya dibungkus kain hitam dari kepala sampai kaki. Tangannya menggenggam tongkat berujung sabit panjang melengkung. Tongkat El Maut.

Siluman Tujuh Nyawa tampakkan diri. Garong Codet tak tahu, dia adalah tokoh sesat yang merajai lautan utara. Ilmunya cukup tinggi. Bahkan boleh dikata sangat tinggi. Siluman Tujuh Nyawa adalah manusia yang tak kenal belas kasihan sedikit pun terhadap musuhnya. Usianya sudah dua ratus tahun lebih tapi masih tampak muda dan berwajah tampan. Hidungnya mancung, matanya indah. Sayang berkesan dingin menampakkan sikap kejinya selama ini. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Cermin Pemburu Nyawa" dan "Prahara Pulau Mayat").

Hanya Suto Sinting, si Pendekar Mabuk itulah yang bisa menandingi ilmunya Siluman Tujuh Nyawa itu. Tetapi sampai sekarang Suto masih belum bisa memenggal kepala tokoh sesat itu, karena Siluman Tujuh Nyawa cukup licin, ia segera melarikan diri jika bertemu dengan Suto, tapi ia punya cita-cita ingin membunuh Pendekar Mabuk juga dengan kelicikannya.

Kali ini apa yang diduga Suto Sinting memang benar, bahwa Siluman Tujuh Nyawa pasti bermaksud ingin merebut Mustika Serat Iblis dari tangan Garong Codet. Tanpa Mustika Serat Iblis ia sulit menandingi Pendekar Mabuk itu. Sementara, tanpa Mustika Serat Iblis, Garong Codet bukan tandingan Durmala Sanca yang bergelar Siluman Tujuh Nyawa.

Tetapi karena Garong Codet tidak mengenal siapa orang berciri kerudung hitam dan tongkat El Maut itu, maka Garong Codet pun tak merasa gentar sedikit pun. Bahkan dengan beraninya ia berucap kata,

"Iblis dari mana kau, berani-beraninya mengganggu ketenanganku?!"
"Aku iblis dari neraka!" jawab Siluman Tujuh Nyawa.

"Apa maumu memancing perkara denganku, hah?! Kalau kau ingin serahkan nyawamu sebagai tumbal Mustika Serat Iblis, tak perlu kau bunuh sahabat setiaku ini!"

"Membunuh itu kegemaranku! Jadi jangan salah sangka bahwa aku hanya membunuh temanmu yang telah membuyarkan pengaruh batinku terhadapmu tadi! Aku pun akan membunuhmu, Garong Codet!"

"Apakah kau mampu?! Kau yang kurus kerempeng tertutup kain hitam begitu, mau membunuh orang sesakti aku?! Apa itu bukan mimpi belaka?!"

Tak pernah Siluman Tujuh Nyawa menerima hinaan seperti itu dari orang serendah Garong Codet. Tentu saja hatinya mulai bergolak dan darah membunuhnya mulai mendidih. Maka dengan gerakan yang amat cepat, Siluman Tujuh Nyawa berkelebat cepat menyerang Garong Codet.
Wut wut wuttt... !

Zregg...! Siluman Tujuh Nyawa berhenti bergerak dan sudah berada di depan Garong Codet. Mata orang yang diserangnya itu tak sempat berkedip. Tapi menjadi sangat terkejut setelah melihat ikat pinggangnya terpotong, bajunya koyak-koyak, demikian pula celananya bagai habis dicabik-cabik seekor beruang ganas. Garong Codet menjadi seperti gelandangan yang berpakaian compang-camping. Tapi kulit tubuhnya tak ada yang terluka sedikit pun.

"Edan...!" pikirnya. "Cepat sekali gerakannya! Lihai juga dia menggunakan senjata itu, sampai tak terasa dalam sekejap tubuhku telah dibuat berpakaian compang-camping begini?! Jelas dia orang berilmu tinggi! Agaknya inilah tumbal terakhirku!"

Wajah dan pandangan mata Durmala Sanca masih sedingin gunung es. Mulutnya terkatup rapat menampakkan bentuk bibir yang indah sebenarnya, tapi sayang berwarna biru mayat. Garong Codet sempat berdebar setelah tahu kecepatan gerak dan keganasan senjata El Maut itu. Namun sekarang tangan kanannya yang terus-terusan menggenggam itu kini mulai dikendurkan supaya cepat pantulkan cahaya melalui batu Mustika Serat Iblis yang dipakainya sebagai cincin itu.

"Kau benar-benar cari mati, Iblis Gila!" geram Garong Codet. "Kau belum tahu kehebatan Cincin Mustika Serat Iblisku!'

"Aku sudah cukup tahu tentang kehebatan Mustika Serat Iblis," kata Siluman Tujuh Nyawa dengan nada datar dan dingin. "Pusaka hebat seperti itu dulu pernah kukejar-kejar, tapi aku tak berhasil mendapatkannya! Aku juga tahu bagaimana keganasan pantulan sinarnya yang bisa memenggal orang dengan mudah dan memotong benda apa saja, termasuk pilar baja sebesar
gunung sekalipun!"

"Rupanya kau banyak tahu tentang Mustika Serat Iblis ketimbang aku!"

"Sudah kubilang, aku sangat tahu tentang mustika itu! Juga aku tahu siapa orang yang kau kejar-kejar dari kemarin! Ki Madang Wengi, itulah orang yang ingin kau jadikan tumbal terakhirmu! Tapi ketahuilah, kau telah ditipu oleh Tabib Awan Putih yang tadi kau jumpai di pantai sebagai orang gila! Dia sebenarnya orang sakti. Dia telah sembunyikan Ki Madang Wengi di atas pohon kelapa! Dia juga telah menyuruh perempuan yang kau kejar, yaitu Roro Manis untuk sembunyi di Gua Mulut Dewa bersama seorang pendekar sinting yang bernama Suto Sinting, si Pendekar Mabuk!"

"Kau ada di pihaknya?! Kurang ajar betul orang tua di pantai itu! Kalau begitu, kaulah yang harus menerima akibat penipuannya!"

"Tunggu...!" Siluman Tujuh Nyawa mencegah gerakan Garong Codet yang ingin membuka telapak tangan kanannya. Mendengar seruan itu, Garong Codet urungkan niat untuk menyerang lawannya.

"Kalau kau butuh tumbal orang berilmu tinggi, carilah di Gua Mulut Dewa, tak jauh dari sini! Arahnya ada di sebelah kananmu! Di sana kau bisa bertemu dengan seorang pemuda bernama Suto Sinting, yang ke mana-mana..selalu membawa bumbung tempat tuak! Dia orang yang ilmunya lebih tinggi dariku!"

"Mengapa susah-susah ke sana? Kau sendiri orang berilmu tinggi dan layak menjadi tumbal Mustika Serat Iblis!"

Siluman Tujuh Nyawa terkesiap sejenak, ia seperti baru menyadari bahwa dirinya pun memang layak dijadikan tumbal dan diburu oleh Mustika Serat Iblis. Sementara itu, ia pun mengakui bahwa mengalahkan keganasan Mustika Serat iblis bukanlah hal yang mudah. Memang bisa saja ia memotong tangan Garong Codet lalu mengambil cincinnya. Tapi jika ia salah gerak dan terlambat bertindak, ia bisa mati terpenggal oleh pantulan sinar Mustika Serat Iblis. Menyesal juga ia tadi ketika bergerak, mengapa hanya mencabik-cabik pakaian Garong Codet? Mestinya tadi ia memotong tangan Garong Codet.

"Garong Codet, kau tidak akan bisa membunuhku dengan mudah. Tapi kau dapat membunuh Pendekar Mabuk dengan satu kali gebrakan!"

"Justru semakin sulit dibunuh berarti kau punya ilmu sangat tinggi. Mustika Serat Iblis akan merasa lebih senang mendapatkan tumbal yang sulit dibunuh?'

Dalam hati Siluman Tujuh Nyawa berucap kata, "Celaka! Aku masuk dalam jebakanku sendiri!"

Garong Codet segera mengangkat tangan kanannya ke atas kepala sambil berkata, "Sekarang tiba giliranmu untuk mati sebagai penebus kematian sahabatku itu! Kau berhutang nyawa pada Setan Culik dan aku akan mengirimkan nyawamu sebagai pembalasan dan tumbal!"

"Tunggu dulu...!"

Baru saja Siluman Tujuh Nyawa mau bergerak, tiba- tiba kilatan cahaya merah tanpa putus telah menyerangnya. Clapp...! Mau tak mau Siluman Tujuh Nyawa cepat menghindarkan diri. Gerakan cepatnya membuat Garong Codet terpaksa pantulkan cahaya mustika secara membabi buta.

Clap clapp clappp clap clap clapp...! Siluman Tujuh Nyawa terdesak serangan maut yang membabi buta itu. Ia tahu, sinar tersebut tak boleh ditangkis oleh apa pun kecuali oleh Perisai Naga Bening. Karena itu, Siluman Tujuh Nyawa tak berani menerjang atau menangkis kilatan cahaya merah yang bergerak dengan membabi buta itu.

"Bisa mampus aku di sini! Sebaiknya kugiring saja dia ke arah Gua Mulut Dewa, biar dia berhadapan dengan Suto. Aku akan punya kesempatan menebas tangannya dan membawa lari tangan itu untuk memiliki Mustika Serat Iblis...!" Durmala Sanca membatin demikian.

Lalu, dengan gerakan cepat juga ia melesat pergi. Namun sengaja tampakkan diri sebentar supaya dikejar Garong Codet. Ternyata pancingannya mengena. Garong Codet mengejar terus ke mana pun larinya Siluman Tujuh Nyawa.
* * *
9

RORO Manis berjalan lebih dulu. Gua Mulut Dewa telah kelihatan. Tinggal beberapa saat lagi mereka akan sampai di sana dan beristirahat. Tetapi suasana bungkam masih menyelimuti antara mereka berdua sejak dalam perjalanan. Pendekar Mabuk sendiri bungkam karena memikirkan cara mengalahkan Garong Codet. Sedangkan Roro Manis bungkam karena bertahan diri untuk tidak menegur Suto lebih dulu. Walau dalam hatinya sangat berharap untuk mendapat teguran dari Suto dan bisa bicara panjang lebar, tapi Roro Manis tetap bertahan diri untuk bersikap acuh.

Tetapi ketika mulut gua tinggal beberapa langkah lagi, Roro Manis punya alasan mendahului bicara dengan ajukan sebuah pertanyaan,

"Itukah gua yang dimaksud Tabib Awan Putih?"

"Mungkin," jawab Pendekar Mabuk pendek sambil hanyut kembali dalam renungannya. Roro Manis mendengus kesal hatinya, ia melangkahkan kaki untuk mendekati mulut gua yang dari kejauhan mirip bentuk bintang berlubang hitam itu.

Roro Manis tidak langsung masuk, karena ia curiga dan takut ada binatang buas di dalamnya, ia berharap Suto masuk lebih dulu untuk memeriksanya. Tapi pemuda tampan itu justru berhenti dari langkahnya dan meneguk tuak beberapa kali. Setelah itu ia melemparkan pandangan ke arah bawah, ke arah kaki bukit dan bentangan sawah di kejauhan sana. Laut pun tampak dari tempat mereka berdiri.

"Masuklah sana," kata Pendekar Mabuk kepada Roro Manis.

"Aku bukan orang bodoh, Suto! Aku tak mau menjadi umpan binatang buas! Kalau kau mau, silakan kau masuk lebih dulu untuk memeriksa apakah gua ini bukan sarang harimau atau sarang ular naga?!"

Pendekar Mabuk sunggingkan senyum kecil. "Kau takut?"
"Aku tidak takut! Tapi aku orang yang dididik oleh Guru untuk menjadi manusia penuh waspada!"

Suto makin melebarkan senyum sindiran. Roro Manis membuang muka. Pendekar Mabuk pun segera masuk, ia memeriksa keadaan di dalam gua yang punya lorong panjang dan gelap. Hidungnya mengendus-endus, ia hanya, mencium bau kelembaban udara dan tanah. Tak ada bau kotoran hewan atau bau keringat binatang. Itu tandanya gua dalam keadaan aman. Bahkan kotoran kelelawar pun tak ada. Gas beracun juga tak dijumpainya. Tanah hanya sedikit lembek, tapi bagian lebih ke dalam terasa keras. Banyak bebatuan di kanan kiri gua. Tapi sekali lagi telinga Suto tidak menangkap adanya desis seekor ular.

Ia pun segera keluar dari gua untuk memberitahukan bahwa keadaan di dalam gua cukup aman. Tetapi alangkah terkejutnya Pendekar Mabuk ketika keluar dari gua ternyata matahari sudah banyak condong ke barat. Padahal baru saja ia masuk dan matahari belum mencapai pertengahan jarak edarnya. Di atas kepala manusia pun belum, mengapa sekarang matahari telah bergeser dan condong ke barat. Dan satu hal lagi yang ia herankan, ke mana Roro Manis? Gadis itu hilang! Entah sekarang ada di mana.

Pendekar Mabuk segera mengejar ke tempat semula. Jalan yang digunakan untuk datang ke situ disusurinya lagi. Dan ternyata, kira-kira dalam jarak sepuluh langkah dari mulut gua, ia sudah bisa melihat Roro Manis berkelebat terbang menghindari suatu serangan.

"Celaka! Pasti orang itulah yang bernama Garong Codet!" pikir Suto Sinting, ia menjadi berdebar-debar melihat Roro Manis melenting ke sana-sini menghindari pukulan tenaga dalam lawannya. Dan makin terkejut lagi ketika Suto melihat kilatan sinar merah dari telapak tangan bercincin batuan merah. Sinar merah itu bisa dihindari oleh Roro Manis, tapi sinar itu segera memotong pohon sebesar dua pelukan manusia. Pohon besar itu terpotong dengan cepat dan rapi, sehingga segera tumbang dalam beberapa kejap saja.

"Benar-benar celaka! Apa yang harus kulakukan jika sudah begini?! Tabib Awan Putih berpesan wanti-wanti agar jangan menghadapi Garong Codet. Langkah yang terbaik adalah menghindari pertemuan dan bentrokan dengan Garong Codet. Tapi keadaan sudah menjadi begini? Kalau Roro Manis pintar, ia harusnya memancing Garong Codet agar masuk gua! Di dalam gua nanti biar aku yang membereskan! Ah, tapi agaknya Roro Manis sendiri terdesak dan tak bisa melarikan diri kemari!"

Pendekar Mabuk merasa perlu mengulur waktu untuk sesaat, ia segera melepaskan pukulan jarak jauhnya yang bernama 'Turangga Laga'. Dua jarinya dikeraskan menjadi kaku, menempel di kening sebentar, lalu disentakkan ke depan. Zlappp...! Sinar ungu keluar dari jari itu melesat ke arah Garong Codet.

Sayang sekali Garong Codet bergerak menyerang Roro Manis, sehingga sinar ungu itu hanya menyerempet di bagian punggung Garong Codet. Srett...!

"Waaak...!" Garong Codet terpekik kaget. Punggungnya bagai dirobek dengan senjata tajam, ia jatuh terbungkuk. Padahal mestinya sinar ungu itu bisa membuat jantung Garong Codet berhenti dalam beberapa saat. Lalu, dengan begitu berarti ada kesempatan untuk melepas cincin tersebut dari tangan Garong Codet.

Sekalipun hanya merobek punggung, tapi Suto punya kesempatan untuk memanggil Roro Manis dengan isyarat tangan melambai. Roro Manis melihat gerakan tangan Suto yang melambai lalu menuding gua. Roro Manis segera tanggap bahwa ia harus memancing Garong Codet untuk masuk ke dalam gua. Setidaknya isyarat itu mengatakan bahwa Roro Manis harus segera bersembunyi ke dalam gua.

Maka dengan gerakan cepat Roro Manis melarikan diri. Pedang masih digenggam di tangan kanan. Gerakannya lebih dipercepat lagi. Dalam kejap berikutnya, Roro Manis sudah berada di samping Suto Sinting.

"Cepat masuk ke dalam gua!"
"Jangan hadapi dia! Dia punya cincin maut! Kau pun harus cepat masuk gua, Suto...!"
"Hei, aku juga punya cincin pusaka?! Aduh! Hampir saja aku lupa!"

Suto Sinting mempunyai cincin pusaka yang terkenal dahsyat. Cincin itu milik bibi gurunya, yaitu Bidadari Jalang. Cincin itu pernah diperebutkan oleh para tokoh tua di rimba persilatan. Cincin itu bernama Cincin Manik Intan. Benda pusaka itu pernah membawa maut yang begitu mengerikan dalam suatu pertempuran hebat di Istana Garinda (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Murka Sang Nyai"). Cincin itu disimpannya dalam tabung tempat tuak dan tak pernah lepas dari tempat penyimpanannya.

Sengaja Pendekar Mabuk tidak menggunakan cincin itu di tangannya, karena sedikit sentakan tenaga saja sudah menghasilkan seratus kali lipat tenaga yang keluar. Cincin itu pun sangat ganas dan sukar dikendalikan. Kadang ia keluarkan sinarnya sendiri di luar kesadaran pemakainya manakala si pemakai keluarkan tenaga dalam tanpa sengaja. Cahaya cincin bisa keluar menyerang ke mana-mana.

Garong Codet segera lompat mengejar Roro Manis. Pada saat itu, Pendekar Mabuk segera menenggak habis tuak dalam bumbungnya. Karena jika tanpa menenggak habis tuak maka cincin itu sulit diambilnya. Bahkan cincin tersebut sempat masuk ke mulut Pendekar Mabuk namun tak sempat tertelan. Pendekar Mabuk segera mengambil dan memakainya. Cara memakai cincin itu juga disamakan dengan cara memakai Cincin Mustika Serat Iblis, yaitu letak batuannya ada di bagian telapak tangan. Suto segera menggenggam cincin tersebut ketika dilihatnya Garong Codet mulai mendekat. Suto menghadang langkah orang itu.

"Apa maksudmu menghadang langkahku?!" gertak Garong Codet dengan suara serak menahan sakit.
"Apa maksudmu datang kemari?" Suto ganti bertanya.
"Persetan dengan pertanyaanmu! Minggir! Biarkan aku mengejar perempuan berilmu tinggi itu!"
"O, kau sedang memburu tumbal?" kata Suto melecehkan.
"Siapa kau sebenarnya?!"
"Suto Sinting!"

"Ooo... jadi kaulah orang yang dikatakan berilmu tinggi itu?" Garong Codet manggut-manggut, tak menghiraukan rasa sakit di punggungnya.

"Siapa yang mengatakan aku orang berilmu tinggi?"
"Seseorang yang bersenjata El Maut!"

Suto kerutkan dahi. "Maksudmu, orang bersenjata tongkat berujung sabit dan mengenakan kain hitam dari kepala sampai kaki, serta berwajah putih dan...."

"Iya. Iya! Sudah jangan banyak bicara!" potong Garong Codet. "Siapa pun dirimu, kulihat kau pancarkan sinar ungu dari tempat ini. Jadi kau pasti berilmu tinggi dan layak jadi korban tumbalku!"

Pendekar Mabuk diam sesaat. "Rupanya dia sudah bertemu dengan Siluman Tujuh Nyawa! Hemm... tapi mengapa Siluman Tujuh Nyawa tidak merampas Mustika Serat Iblis? Apakah Garong Codet sudah berhasil membunuh Siluman Tujuh Nyawa?!" pikir Suto Sinting sambil matanya tak lepas memperhatikan tangan kanan Garong Codet yang selalu mengenggam.

Sekelebat ia bisa tangkap pandangan ke arah mulut gua. Tenyata gadis yang berlagak ketus itu belum mau masuk ke dalam gua. Dia masih mengintip dari batuan di mulut gua. Dia ingin tahu seberapa hebat gerakan yang dimiliki oleh Pendekar Mabuk.

"Suto Sinting! Aku telah gagal membunuh orang berjubah hitam itu sebagai tumbal terakhirku. Tapi aku telah mendapatkan kamu di sini, kekecewaanku telah terobati! Kuharap kau tidak lari terbirit-birit seperti orang berkerudung yang bikin pakaianku compang- camping seperti ini!"

"Aku tak akan lari, karena aku ingin lihat saat nyawamu lari dari ragamu! Tapi jika kau mau turuti saranku untuk melepaskan cincin mustika itu, dan membuang jauh-jauh, kau akan selamat dari ancaman mautku! Percayalah, Garong Codet... cincin mustika itu hanya bikin kamu sesat dan tidak punya kedamaian dalam hidupmu!"

"Bocah kencur mau kasih nasihat orang seperti aku?! Lebih baik kukirim ke neraka kau sekarang juga! Hiaaat...!"

Garong Codet bergerak menghantamkan pukulannya ke arah dada Suto. Tapi tanpa diduga-duga Suto bergerak memutar sangat cepat dan kakinya berkelebat menendang. Duhggg... !

Roro Manis kejap-kejapkan mata. Ia tak bisa melihat gerakan Pendekar Mabuk, tahu-tahu Garong Codet terpental dan terguling-guling beberapa tindak di belakangnya. Terlalu cepat gerakan Pendekar Mabuk buat mata Roro Manis, sehingga Roro Manis semakin mendekat untuk melihat lebih jelas lagi.

Tetapi pada saat itu, Garong Codet berada dalam cahaya sinar matahari, ia cepat kembangkan tangan kanannya, berdirinya agak merendah, lalu kilatan sinar merah terpantul dari Mustika Serat Iblis itu. Clappp...!

Pendekar Mabuk cepat sentakkan kakinya dan bersalto di udara untuk menghindari sinar merah itu. Crass...! Batu yang ada di samping Roro Manis itu terpotong menjadi dua bagian. Rapi sekali potongannya, tapi sempat membuat jantung Roro Manis copot. Karena beberapa jengkal lagi sinar itu bisa mengenai dirinya.

Kini keadaan Pendekar Mabuk yang dipandang kembali. Roro Manis melihat Suto berdiri di tempat terbuka tanpa ada rasa gentar, seperti saat ia menghadapi Garong Codet tadi. Justru Roro Manis yang berdebar- debar melihat Suto Sinting berada di tempat terbuka dan enak dijadikan sasaran cahaya merah Mustika Serat Iblis itu.

"Suto!" teriak Garong Codet. "Kau tak akan lolos dari sinar merahku ini! Hiaaah...!"

Tangan kanan Garong Codet kembali membuka. Sinar merah pun melesat karena mendapat pantulan matahari. Tetapi dengan cepat, Suto pun membuka tangan kanannya yang menggenggam Cincin Manik Intan berwarna putih. Sentakan tenaga dalam melalui cincin itu timbulkan sinar putih yang melesat sangat cepat.

Clapp...! Arah sinar putih itu tepat mengenai batu merah di tangan Garong Codet. Zzzrrruubb...!

Krakkk... ! Sinar merah yang memantul seharusnya melesat cepat ke arah Pendekar Mabuk. Tapi sinar putih dari Cincin Manik Intan lebih dulu menghantam cincin merah itu. Akibatnya cincin mustika menjadi retak dan remuk. Tak bisa lagi pantulkan sinar merah seperti biasanya.
Garong Codet tersentak amat kaget sampai matanya terbuka lebar-lebar. Lebih kaget lagi setelah ia tahu, sinar putih dari cincin di tangan Pendekar Mabuk keluar lagi dengan cepat dan menghantam dadanya.

Bross...!

Dada itu berlubang besar, tembus sampai ke belakang. Cepat-cepat Pendekar Mabuk menggenggam kembali Cincin Manik Intan. Sikapnya tetap tenang dalam berdiri tegak. Garong Codet ternganga mulutnya. Ingin pekikkan suara namun tak mampu lagi. Ia pun akhirnya menghembuskan napas terakhir. Mati tanpa bersuara lagi.

Sekelebat bayangan hitam muncul. Siluman Tujuh Nyawa berdiri tak jauh dari mayat Garong Codet. Suto sempat terkejut lalu segera melepaskan pukulan Cincin Manik Intannya lagi. Tapi sebelum sempat hal itu dilakukan, Siluman Tujuh Nyawa telah melesat pergi dengan lebih dulu menebaskan senjatanya, memotong tangan kanan Garong Codet. Potongan tangan itu dibawanya lari menghilang. Dan Suto jadi tertawa kegelian sendiri pada akhirnya.

Siluman Tujuh Nyawa merasa Cincin Mustika Serat Iblis masih utuh di tangan Garong Codet. Tak terbayangkan alangkah kecewa dan murkanya siluman berwajah dingin itu jika mengetahui bahwa Mustika Serat Iblis telah hancur tak berguna lagi.

"Roro Manis, kau sekarang bebas berkeliaran ke mana saja maumu!" kata Suto Sinting. Roro Manis hanya tertegun bengong. Tak mampu berucap kata, tak mampu berkedip mata. Ketampanan Pendekar Mabuk terasa seimbang dengan kehebatan ilmunya yang amat mengagumkan itu. Dan untuk semua itu, Roro Manis hanya bisa diam dalam kecamuk hatinya yang berdebar- debar penuh keindahan.

"Akankah ia tetap bersamaku?" tanya Roro Manis.

SELESAI