--> -->

Serial Pendekar Mabuk 36 Tabib Darah Tuak

GEMURUH yang terdengar adalah suara curahan air sungai yang mengalir deras. Banjir datang dari kulon. Tiga hari lamanya hujan turun di wilayah barat tanpa henti, sehingga mendatangkan banjir yang melanda beberapa perkampungan penduduk. Ada pun air sungai dibagian utara yang berlimpah-limpah itu adalah banjir kiriman dari barat.

Banjir bukan hanya mengirimkan air saja, tapi juga mengirimkan bangkai ternak yang hanyut disapu sang banjir. Selain bangkai ternak juga ada mayat manusia yang tak sempat tertolong oleh ganasnya sang banjir.

Atap rumah juga terapung-apung ikut hanyut bersama meja, bangku, almari, bakul nasi, centongnya tidak kelihatan, lalu... tempayan juga Ikut hanyut ke muara. Tikar yang hanyut dalam keadaan robek sana-sini, ada juga keranjang tempat rumput, dipan tanpa kasur, celengan dan masih banyak barang-barang lain yang dihanyut-kan oieh sang banjir.

Beberapa penduduk di perkampungan dekat muara menyambut meriah acara banjir itu, karena mereka dapat mengambll barang-barang yang bisa dlpakal. Ada yang mengambilnya menggunakan galah panjang untuk meralh barang di tengah sungai, ada yang nekat berenang memunguti barang-barang itu dengan tubuh diikat tambang dan tambangnya diikat pada pohon, jadi ia tak bisa terbawa arus sungai yang kencang itu. Sebuah jembatan bambu di pedalaman menjadi rendah karena permukaan air sungai naik setengah tanggul.

Di jembatan bambu itu, berdiri seorang kakel berusia sekitar dclapan puluh tahun lebih, mungkin juga sembilan puluh tahun lebih. Pokoknya tua, renta dan kempot. Kakek itu berdiri memperhatikan arus banjir yang menghanyutkan tetek-bengek. la geleng-geleng kepala dengan wajah sedih memperhatikan bencana alam itu. Jubah putihnya melambai-lambai disapu angin. Rambut putihnya yang panjang jatuh meriap-riap dipermainkan angin. Untung bukan Angin Betina yanc mempermainkan rambut itu.

Sang kakek agaknya memang menyukai warna putih. Selain jubahnya putih, celananya juga putih. Ikat pinggangnya putih, ikat kepalanya putih. Tapi ikat kepala itu sudah dibuang sejak muda, jadi sekarang ia tidak memakai ikat kepala. Alisnya putih, kuiitnya putil pucat, matanya juga putih, tapi ada hitamnya di bagiai tengah. Mata itu cekung, tulang pipinya tampak me iengkung. Kalau berjalan tertatih-tatih menampakkan ketuaannya.

Saat ia lanjutkan langkah sampai ke pertengaha. jembatan bambu, seorang pemuda tampan berpakaian coklat tanpa lengan muncul dari ujung jembatan. Ia ingin melintasi jembatan itu, dan terhenti sejenak karena melihat sang kakek yang serba putih itu.

Sang kakek memperhatikan ke arah banjir. Pemuda berparas tampan, dengan bumbung tuak menyilang di punggung, menjadi tertarik untuk ikut perhatikan banjir dan barang-barang hanyutannya itu. Pemuda berambut panjang, lurus, lemas, sebatas lewat pundak itu tak lain adalah si Pendekar Mabuk, murid sintingnya Gila Tuak dan Bidadari Jalang.

Dia itulah yang dikenal pula dengan nama Suto Sinting.Tokoh tua itu pasti berilmu tinggi. Angin sekencang ini tak bisa membuat tubuhnya yang kurus terpelanting terbang.

Setidaknya ia punya kekuatan tenaga dalam yang sukar ditumbangkan," pikir Suto Sinting sambil memperhatikan dan melangkah pelan-pelan mendekati sang kakek. Entah mengapa tiba-tiba hati Pendekar Mabuk merasa dipanggil oleh sang kakek, padahal sang kakek tidak memperhatikan ke arahnya.

Ada satu kekuatan aneh yang membuat Pendekar Ma­buk semakin mendekati sang kakek dan akhirnya ber-henti dua langkah di samping sang kakek. Bahkan tiba-tiba Suto Sinting punya naiuri aneh yang membuat-nya membungkuk memberikan hormat kepada sang kakek.

"Kenapa aku menghormat kepadanya?' pikir Suto Sinting dengan bingung. Sang kakek sendiri acuh tak acuh, seakan tidak tahu ada orang menghormat dl sampingnya. Anehnya lagi, Suto Sinting bingung mengawali percakapannya. Apa yang harus diucapkan untuk menyapa sang kakek, ia tidak tahu. Akhirnya Suto hanya diam, ikut pandangi arus banjir yang deras itu.

Tiba-tiba mata Suto melihat seseorang sedang hanyut dan tenggelam di sungai itu. Orang tersebut datang dari arah belakang Suto, lewat kolong jembatan dan terus menuju ke arah muara. Orang itu tak terlihat wajahnya. la menggapai- gapaikan tangannya yang muncul dari permukaan air sungai. Anehnya sang kakek yang serba putih itu hanya melambaikan tangannya dengan tenang. Saat ituiah timbul gagasan di benak Suto untuk menegur sang kakek.

"Kenapa kau hanya melambaikan tangan saja, Kek?!"

"Lho, dia orang ramah. Biar tenggelam masih sempat melambaikan tangan kepadaku. Maka aku harus ramah juga, harus membalas lambaian tangannya."

"Dia bukan melambai karena ramah. Dia melambaikan tangan untuk minta tolong?!"

"Ooo... kalau begitu, tolonglah dia," kata sang kakek tenang sekali, seperti tanpa perasaan apa-apa.

Suto Sinting segera berkelebat terjun ke sungai. Tapi badannya tidak amblas ke dalam air sungai. Kaki Suto menapak pada papan-papan yang hanyut, melompat ke sana kemari dengan ilmu peringan tubuhnya. Tab, tab, tab...! Wuuttt...! Tangan itu disambarnya, lalu berkelebat cepat dan sulit diikuti oleh pandangan mata. Tahu-tahu Suto sudah ada di atas tanggul sungai dan seorang pemuda direbahkannya di rerumputan tanggul.

Kakek berpakaian serba putih itu tepuk tangan sendiri dari jembatan. Seakan ia memuji kehebatan Pendekar Mabuk dalam bergerak menyelamatkan pemuda yang tenggelam itu. Suto Sinting memandang sang kakek dari tanggul. la tidak pedulikan lagi. la lebih pedulikan pemuda yang terbatuk-batuk sambil menyemburkan air. Perutnya ditekan-tekan hingga air yang terminum keluar semua.

Pemuda itu bercelana hitam, mengenakan rompi merah dan berkalung ketapel. Ditaksir oleh Suto, usianya sekitar delapan belas tahun. Masih sangat muda, tapi mempunyai wajah yang tampan. Bulu matanya lentik dan lebat untuk ukuran se­orang pemuda. Hidungnya bangir, kulitnya coklat sawo matang. Rambutnya ikal bergelombang, agak panjang, diikat dengan kain putih. Ikat kepala itu hampir sa«a ikut terbawa hanyut. Untung masih sempat tersangkut di bawah telinga.

"Apakah dia selamat?" tegur sebuah suara yang mengejutkan Suto, sebab suara itu datang dari belakangnya. Ketika Suto palingkan wajah, ternyata kakek serba putih ituiah yang menegurnya.

Suto Sinting yang heran itu segera membatin, "Cepat sekali ia tiba di belakangku? Padahal jarak jembatan dengan tempat ini cukup jauh. Apakah dia terbang melintasi permukaan air sungai? Hmmm... tak salah dugaanku, dia pasti orang berilmu tinggi."

Kemudian Suto Sinting menjawab sapaan tadi, "Dia selamat, Kek. Curna, napasnya masih terengah-engah dan tubuhnya lemas."

"Berilah minum tuakmu biar cepat segar kemball."

Suto Sinting terkejut, segera bangkit dari jongkoknya dan menatap sang kakek. Yang ditatap acuh tak acuh, memandangi pemuda yang masih terkapar dan terengah-engah itu. Suto Sinting bertanya dengan suara pelan,

"Bagaimana kau tahu kaiau tuakku bisa menyembuhkan keadaan seperti ini?"

"Hanya kira-kira saja. Tubuhnya kedinginan. Tuak bersifat memanaskan badan. Jadi kalau dia minum tuak, maka hawa dinginnya akan terusir dan tubuhnya akan menjadi segar," sang kakek bertutur secara masuk akal.

Suto Sinting tak bisa membantah atau berkata apa pun. la segera meminumkan tuaknya yang selalu tersimpan dalam bumbung bambu warna coklat muda itu. Tuak tersebut adalah tuak sakti yang mampu sembuhkan luka atau kembalikan tenaga yang lemah lesu. Tuak dari mana pun jika sudah masuk ke bumbung bambu itu akan menjadi tuak mujarab, sehingga Suto tadi terkejut mendengar kata-kata kakek serba putih itu yang seolah-oiah mengetahui kemujaraban tuaknya.

Seperti apa kata sang kakek, pemuda itu cepat menjadi segar kembali setelah meneguk tuaknya Suto Sinting. Napasnya lega, badannya tak terasa lemas, bahkan wajahnya yang pucat pasi menjadi cerah segar. Luka goresan di lengan kirinya, yang mungkin terkena benda tajam pada waktu terbawa arus air tadi, tiba-tiba mengering dan kian lama kian menutup. Luka itu menjadi hilang dan kulit tersebut menjadi halus bagai tak pernah terluka. Itulah kesaktian tuak dari bumbung bambu milik Pendekar Mabuk.

Kakek tanpa kumis tanpa jenggot itu berkata kepa-da anak muda berompi merah,

"Kau harus berterima kasih kepada Pendekar Mabuk ini! Karena dialah yang selamatkan nyawamu. Jangan bengong saja begitu. Nanti disambar lalat bisa te-was kau!"

"Pen... pendekar... Pendekar Mabuk? Oh, maksudnya... kau yang bernama Suto Sinting itu, Kang?" tanya pemuda yang berkesan masih sangat muda itu.

"Ya, aku Suto Sinting; Pendekar Mabuk. Dari mana kau tahu namaku?"

"Oh, Kang... aku merindukan ingin bertemu de-nganmu! Aku sering mendengar namamu dibicarakan orang di kedai-kedai. Oh, terima kasih, Kang! Terima kasih kau telah menyelamatkan nyawaku dari banjir. Padahal aku tadi hanya mengambil sebuah pedang yang hanyut, tapi aku justru terseret oleh banjir. Terima kasih, Kang...!"

Anak muda itu berlutut dan mengangguk-angguk memberi hormat atas rasa terima kasihnya. Suto Sinting menyuruhnya berdiri dengan menarik lengannya dan berkata,

"Tak perlu sampai berlutut begitu. Menoiong itu sudah kewajiban semua orang. Menolong bukan saja perbuatan dewa, tapi juga perbuatan kita semua yang cinta damal dan saling menghormati sesama."

Kakek itu terkekeh-kekeh membuat Suto Sinting segera menatapnya, sang anak muda juga ikut memandang dengan heran.

"Kenapa tertawa, Keek?" tanya Suto Sinting pelan.
"Kata-katamu lucu sekali, Pendekar Mabuk. Lucu sekali."
"Di mana letak lucunya, Keek?"

"Kau bilang cinta damai, tapi kau sendiri jika dipukul orang pasti akan membalas! Apakah itu namanya cinta damaf"

"Kita punya hak mempertahankan hidup. Jika kita dipukul dan kita membalas itu hanya semata-mata kita bertahan untuk tetap hidup, Kek!"

"Apakah kedamaian itu bukan berarti suatu kehidupan?"

"Kedamaian bisa berarti kehidupan atau kematian. Karena dalam kematian pun seseorang bisa merasakan kedamaian di alam sana!"

"He, he, he, he...!" kakek serba putih itu terkekeh lagi, kail ini sambil manggut- manggut. "Boleh, boleh, boleh...l Pengetahuanmu tentang hidup dan kehidupan cukup lumayan. Aku sengaja memancing pengetahuanmu untuk memastikan sejauh mana kepandaian murid si Gila Tuak itu."

Suto Sinting kerutkan dahi mendengar nama gurunya disebutkan. "Apakah Kakek mengenal guruku?"

"Sangat kenal," jawabnya sambii melengos, me-mandang ke arah banjir.
"Siapa sebenarnya dirimu, Keek?"

"Carllah sendiri siapa diriku. Kau pasti mampu mencarinya, karena kau murid sinting si Gila Tuak."

"Apakah aku harus datang kepada Guru hanya untuk menanyakan nama seseorang?"

"Tidak perlu! Murid si Gila Tuak tidak dididik untuk menjadi sebodoh itu! Aku hanya merasa bangga mendengar keharuman namamu, Pendekar Mabuk. Aku juga berterima kasih atas bantuanmu yang telah menolong adikku."

"Siapa adikmu itu?" tanya Suto Sinting dengan penasaran. Tapi kakek serba putih itu tiba-tiba hentakkan kakinya ke bumi. Buukk...! Buuusss...! Asap mengepul sangat tebal. Putih warnanya, membungkus sekujur tu-buh sang kakek. Ketika Itu Suto Sinting dan anak muda yang tertolong segera sentakkan kaki untuk mundur. Bahkan anak muda itu sempat berlari ke baiik pohon dengan rasa takut dan mata melotot.

Asap putih itu lenyap. Mata Suto Sinting siap memandang apa yang timbul dari asap putih itu. Sosok seperti apa yang akan dilihatnya dari perubahan si kakek serba putih tadi.

"Hilang...?" gumam anak muda dari balik pohon. Suto Sinting hanya kerutkan dahi semakin tajam meiihat sosok kakek tersebut lenyap bagaikan terbawa asap yang terbang entah ke mana. Maka membatinlah hati sang Pendekar Mabuk,

"Tokoh sakti dari mana dia sebenarnya? Dia bilang aku telah menolong adiknya? Siapa adiknya itu? Apakah anak muda yang nyaris tenggelam itu?"

Suto Sirting segera dekati anak muda itu, matanya memandang tajam penuh selidik. Batinnya berkata lagi, "Sepertinya tak mungkin sekali. Jika kakaknya setua tadi, masa adiknya semuda itu? Jauh lebih muda dari-ku."

Rasa penasaran Suto Sinting akhirnya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan,

"Apakah kau adik kakek itu tadi?"
Anak muda itu gelengkan kepala. "Aku tidak punya kakak hantu, Kang."
"Hantu...?"

"Kakek tua itu tadi pasti hantu. Buktinya dia bisa berubah jadi asap dan lenyap begitu saja!" katanya dengan wajah masih menegang.

"Tidak. Dia bukan hantu. Dia orang berilmu tinggl," kata Suto Sinting.
"ilmu apa itu tadi, Kang?"

Sambil membuka tutup bumbung tuaknya Suto menjawab, "Itu namanya ilmu Lesu Diri," kemudian ia meneguk tuak dengan santalnya.

"Hebat sekali?!" gumam anak muda itu. "Apa artinya ilmu Lesu Diri Itu?"

"Lesu Diri artinya Lenyap Susah Dicari!" sambii Suto sunggingkan senyum geli karena ia memang asai ja-wab saja. Tapi anak muda itu menggumam sambii manggut-manggut seakan percaya betul dengan jawaban Suto Sinting.

"Ooo... Lesu Diri...? Lenyap Susah.... Dicari? Aneh juga namanya."

"Nama aneh karena kita baru mendengarnya. Kalau sudah sering mendengar menjadi tidak aneh iagi. Sama halnya dengan namaku; Suto Sinting. Kalau orang baru mendengarnya pasti merasa aneh, tapi kalau sudah sering mendengarnya perasaan aneh itu sudah tidak ada lagi. Hmmm... siapa namamu?"

"Pande Bungkus, Kang."

Suto Sinting tertawa kecil. "Setahuku yang ada Pande Besi, artinya tukang bikin senjata dari besi atau perabot dari besi. Kalau Pande Bungkus itu apa?"

"Yaa... ya pandai membungkus, Kang?" jawabnya dengan geli sendiri. "Soalnya dulu ibu saya pedagang nasi bungkus, Kang. Dan saya membantunya, tugas saya membungkus nasi-nasi itu."

"Aneh juga namamu."

"Karena masih baru, Kang. Kalau sudah lama ya tidak aneh lagi," kata Pande Bungkus mengutip keterangan Suto tadi. Pendekar Mabuk tertawa tanpa suara. Baru saja Suto ingin berkata lagi, tiba-tiba mulutnya terbungkam rapat dan tangannya berkelebat menarik anak muda itu. Wuuuttt...! Anak muda itu terpelanting bersama Pendekar Mabuk, jatuh ke tanah pada saat sebuah pisau melesat nyaris menancap di punggung anak muda itu. Wess...!

Jreeb...!

Pisau itu menancap di pohon yang tak jauh dari ka-ki Suto Sinting. Mata mereka memandang lebar ke arah pisau itu, lalu kaki Suto Sinting menendang batang pohon dengan kekuatan tenaga dalamnya. Duuug...! Claaak...! Pisau yang menancap terpental balik ke arah datangnya. Weesss...! Gusraak...! Sebuah suara aneh terdengar dari semak bambu. Lalu sekelebat bayangan tampak melesat dari sana, menghindari pisau tersebut. Jleegg...! Bayangan itu menjadi wujud utuh di depan Suto dan Pande Bungkus.

Ternyata si pelempar pisau itu seorang lelaki gemuk agak pendek berkumis lebat, bercambang tebal, rambutnya ikal pendek berikat kepala kuning. Lelaki gemuk itu kenakan kalung dari tulang tengkorak bu-rung yang dililit tali hitam.

Bajunya yang merah longgar tidak dikancingkan, sehingga perutnya yang gendut itu tampak menonjol jelas ke atas celana birunya. Di pinggang si gendut itu melingkar sabuk hitam penuh dengan pisau seukuran satu jengkal.

Pande Bungkus tampak terperangah meiihat orang itu, wajah takutnya kian jelas terlihat oieh Suto Sinting. Sikapnya berdiri di belakang Suto menandakan niatnya berlindung dari sesuatu yang menakutkan.

"Pande Bungkus!" gertak orang gendut itu. "Mana pedang pusaka itu?!"
"Buk... bukan aku, Kang! Bukan aku yang dapatkan pedang pusaka itu!"

"Bohong! Kulihat kau tadi berenang mengejar pedang pusaka itu!" sentak orang beralis tebal menyeramkan itu.

"Tapi... tapi aku tidak berhasil mendapatkannya, Kang. Aku lupa bahwa diriku sebenarnya tidak bisa berenang. Sumpah! Aku tidak dapatkan pedang pusaka itu, Kang Gembong Alas!"

"Pasti kau serahkan kepada orang itu! Mengakulah daripada kurobek jantungmu dengan pisau terbangku!" hardik orang yang disebut Gembong Alas itu. la maju dua tindak dengan berang, tapi tangan Suto memberi isyarat agar langkahnya dihentikan. Pendekar Mabuk bicara dengan tenang.

"Sabar. Tahan amarahmu, Sobat!"

"Kau mau meiindungi dia? Kau mau jadi pahlawannya?! Kau belum tahu siapa si Gembong Alas ini, hah?!" bentak orang gemuk itu.

"Aku memang belum tahu siapa dirimu. Tapi aku hanya sarankan agar jangan mengumbar amarah yang belum tentu benar," kata Suto Sinting. "Tadi aku melihat Pande Bungkus hanyut dan hampir mati. Lalu dia kutolong, kuangkat kemari tanpa membawa pedang atau barang apa pun kecuali barangnya sendiri!"

"Barang apa maksudmu?!"

"Sebuah ketapel yang dipakai buat kalung itu!" Suto menjelaskan sambil menuding ketapel di dada Pande Bungkus. Tapi Gembong Alas menggeram penuh ke jengkelan dan ketidakpercayaan.

"Omong kosong! Pedang itu pasti sudah berhasil didapatkannya!"

"Berani sumpah serapah, Kang! Pedang itu hanyut ke dalatm air sungai dan aku sendiri banyut tak terkendali!" kata Pande Bungkus dengan takut.

"Aku tidak percaya dengan murid Gelung Gesang! Kau rupanya haru kupaksa dengan"kekerasan, Pande Bungkus! Heaaah...!'

Gembong Alas nekat melompat hendak menerjang Pande Bungkus yang ada di belakang Suto. Tentu saja gerakan itu ditahan oieh Suto Sinting dengan sentak kan tangannya yang menyentikkan jemari. Tuuuss...! Buugh...! Terdengar suara benda besar menghantam perut Gembong Alas. Orang itu terpental melayang ke belakang dan membentur pohon tak seberapa besar. Beehg...! Bruukkk...!

Jurus 'Jari Guntur' yang keluarkan tenaga dalam dari sentilan jari Pendekar Mabuk telah membuat Gembong Alas mendelik sekejap, lalu setelah jatuh ia menyeringai menahan perut dengan tangan. Berdiri pun tak bisa tegak lagi, sedikit membungkuk ke depan dan kedua kakinya merapat.

"Kurang ajar! Uuh... celaka kalau begini!" gumamnya penuh gerutu.

Pande Bungkus memandang penuh heran kepada Gembong Alas yang clingak- clinguk dengan pantat songgeng ke belakang. Bahkan.tiba-tiba ia berlari melesat menuruni tanggul, mencari tempat yang enak untuk buang air besar.

"Kenapa dia tadi, Kang?"
"Mules!" jawab Suto Sinting. "Sebaiknya tinggalkan dia sekarang juga!"

"Aku tak tahu harus pergi ke mana, Kang. Rumahku kebanjiran, hanyut sampai atap-atapnya segala, Kang. Hmmm... bagaimana kalau aku ikut kau saja, Kang?"

"Ke mana arah pergiku belum tentu sama dengan arahmu."

"Ke mana saja aku ikutlah! Ibuku sudah tiada, ayahku juga sudah tiada. Aku tidak punya kakak tak punya adik. Rumah pun sekarang sudah tak punya. Jadi ke mana saja aku pergi tak ada yang melarang, tak ada yang kupikirkan lagi!"

"Terserah kau kalau mau ikut aku!" Suto Sinting segera bergegas pergi dengan berjalan kaki menyusuri tepian tanggul. Pande Bungkus mengikutinya Semen-tara itu terdengar seruan Gembong Alas yang sedang nongkrong di tepi sungai dengan kesibukannya yang tak bisa ditinggalkan lagi itu.

"Hoooiii...! Tunggu! Jangan pergi kau! Kau harus menerima balasanku! Akan kubuat perutmu lebih mules dari perutku iiiinni...!" sambii napas menghentak ba- gaikan menemukan kelegaan. Pande Bungkus hanya tertawa geli.

Pendekar Mabuk sempat bertanya dalam perja-lanannya, "Gembong Alas menuduhmu mendapatkan pedang pusaka. Apa benar kau sedang mengejar pedang pusaka? Dan pedang apa itu namanya? Siapa pemiliknya?"

"Memang benar, Kang. Pedang itu bernama Pedang Panah Aji, milik seorang ketua perampok bernama si Darah Hitam. Beberapa waktu yang lalu, kabarnya Darah Hitam sudah mati terbunuh oieh orang-orang I Perguruan Pisau Kilat, yaitu perguruannya Gembong Alas. Lalu, pedang itu buat rebutan orang-orang Perguruan Pisau Kilat. Mereka bertarung sendiri-sendiri sampai akhirnya pedang itu jatuh ke ngarai, hanyut terbawa banjir. Aku melihatnya, lalu kukejar dengan cara menceburkan diri ke sungai. Aku lupa kalau aku ini tidak bisa berenang. Maka pedang itu tenggelam entah ke mana dan aku sendiri juga tenggelam entah bagaimana."

"Hmmm...," Suto Sinting manggut-manggut. "Apa keistimewaan pedang itu?"

"Kabarnya, kalau pedang itu disentakkan ke de-pan, bisa keluarkan panah dalam bentuk sinar merah. Kalau kena orang bisa bikin orang itu hancur jadi debu. Cuma itu kehebatan Pedang Panah Aji, tapi banyak yang ingin memiiikinya."

"Termasuk kau sendiri?"

Pande Bungkus tersenyum malu. "lya, Kang. Mak-sudku, kalau aku punya Pedang Panah Aji, aku bisa jadi orang sakti, Kang. Tak takut melawan siapa pun."

"Apa kau pandai main pedang?"
"Ah, Kang Suto ini menghina apa menyindir? Mana bisa aku bermain pedang?"

"Apakah gurumu tidak mengajarkan bermain pedang? Bukankah kudengar tadi kau adalah murid Gelung Gesang?!"

"Memang guruku bernama Gelung Gesang, tapi tak pernah ajarkan iimu silat apa-apa, Kang."
"Lho, jadi apa yang kau pelajari dari si Gelung Gesang itu?"

"Aku belajar membaca, Kangl" jawab Pande Bungkus polos sekaii. "Dan sekarang aku menjadi pemuda yang sudah bisa membaca, Kang!" la tampak bangga.

Pendekar Mabuk manggut-manggut sambii menahan tawa geli. Tawa itu terhenti bersama langkah Suto dan Pande Bungkus, karena tiba-tiba di depannya su­dah berdiri dua sosok tubuh yang agaknya sengaja menghadang Suto. Tapi Suto bertanya dalam hatinya, "Siapa yang dihadang? Aku atau Pande Bungkus?"KALI ini Pande Bungkus tidak merasa takut sedikit pun walau dihadang oleh dua orang di depannya. Karena kedua orang penghadang itu adalah gadis-gadis cantik yang punya bentuk tubuh aduhai dan pakaiannya sangat membuat kepala nyut0nyutan.

Suto Sinting berbisik kepada Pande Bunykus, "Kau kenal mereka?" "Belum, Kang. Tapi aku sanggup kenalan dengan mereka lebih dulu."

Suto Sinting menggerutu tak jelas, Pande Bungkus hanya cengar cengir malu, tapi matanya seakan tak mau lepas dari pandangan ke depannya. Karena di depan sanalah sebentuk keindahan yang mendebarkan hati bagaikan dipamerkan oieh kedua gadis cantik itu.

Mereka sama-sama mengenakan pakaian jubah tipis membayang. Bentuk bagian dalam jubah itu terlihat samar-samar, sebagai bagian penutup dada mereka hanya kecil saja. Hanya menutup bagian yang membu-sung saja, sedangkan tali pengikatnya kain berukuran kecil. Demikian pula penutup bawahnya kecil saja, se­akan hanya menutup bagian yang perlu saja. Semua penutup itu berwarna kuning. Bukan hanya bentuk tubuh mereka yang tampak samar-samar tapi warna kulit mereka yang putih mulus pun terlihat jelas.

Yang satu berambut panjang warna kuning keemasan. Si rambut pirang itu kenakan jubah tipis warna merah jambu. Rambutnya yang panjang lurus sebatas punggung itu dililit ikat kepala dari tali sutera warna hitam, mempunyai bandul batu hijau giok di keningnya sebesar biji sawo. ia bersabuk rantai emas lebar. Sa-buk itu digunakan untuk menyelipkan pedang pendek. Gagang dan sarung pedang terbuat dari gading polos tanpa ukiran. Ujung gagangnya dihiasi ronce-ronce benang sutera warna merah. Celana panjang yang dikenakan seperti kain tipis karena berukuran longgar, komprang-komprang.

Satunya lagi berambut hitam lembut dan tampak berkilauan, panjangnya selewat pundak, bagian depannya diponi. Jubah tipisnya berwarna biru muda, celana tipisnya juga biru muda, penutup bagian-bagian yang penting berwarna kuning, juga hanya tertutup seperlunya saja. Pedangnya berwarna perunggu dengan ujung gagangnya beronce-ronce benang biru. Kepalanya tanpa tali pengikat dan batuan giok.

Keduanya sama-sama berhidung mancung, hanya saja yang berambut pirang berbibir sedikit tebal tapi menggoda hati lelaki, yang berambut hitam berbibir mungi! menggemaskan hati lelaki. Yang berambut pirang punya mata kebiru-biruan, yang berambut hitam punya mata hitam bening dan mengenakan kalung dari tali sutera warna hitam dengan bandul batuan giok hijau, seperti yang diikatkan di kepala si rambut pirang.

Tipisnya pakaian mereka membuat Pande Bungkus sering lupa kedipkan mata. Secara jujur Pendekar Mabuk akui bahwa hatinya bergetar meiihat penampilan dua gadis seronok berusia sekitar dua puluh tiga tahun itu. Tubuh mereka tinggi, sesuai dengan sekalnya tubuh, tapi tidak lebih tinggi dari Suto. Sejajar dengan tingginya badan Pendekar Mabuk.Mereka tampil bersebelahan dengan kaki merenggang dan kedua tangan dikaitkan pada sabuk rantai di depan pusarnya yang tampak samar-samar itu. Gaya berdirinya yang tenang berkesan menantang hasrat lelaki, sehingga Pande Bungkus berulangkali berdecak lirih, membuat telinga Suto menjadi risi.

"Jangan berdecak begitu! Memalukan!" bisik Suto Sinting daiam hardikan.

Kemudian ia kembali menatap wajah cantik dua gadis di depannya yang tampak kalem-kalem saja itu. Si pirang segera berkata dengan mata tertuju pada Pendekar Mabuk.

"Siapa di antara kalian berdua yang bergelar Pendekar Mabuk?"

Pande Bungkus menjawab, "Terserah kalian. Yang mana saja boleh. Dia boleh, aku juga boleh!"

Suto menyikut rusuk Pande Bungkus dengan gerakan tak terlihat. Pande Bungkus menyeringai dan undurkan diri satutindak. Suto Sinting bertanya, "Ada perlu apa kau mencari Pendekar Mabuk?"

"Ada suatu keperluan penting yang tak perlu diketahui orang iainl" jawab si rambut pirang. "Katakan saja, yang mana yang bernama Pendekar Mabuk?"

Si rambut hitam menyahut, "Atau keduanya bukan Pendekar Mabuk?"

Suto Sinting diam sejenak dan membatin, "Kellhat-annya mereka sangat penasaran dan ingin bertemu denganku. Tapi apa perlunya? Kalau dilihat dari caranya bersikap yang sedikit ketus walaupun kalem, agaknya dua orang itu punya masalah denganku. Tapi aku tidak mengenal mereka? Hmm... sebaiknya kuakui saja siapa Pendekar Mabuk. Kalau mereka ternyata macam-macam, kulumpuhkan juga nantinya. Tapi... rasa-rasanya sayang sekali kalau harus memukul dua tubuh aduhai itu."

Kenakalan pikiran Suto Sinting adalah kenakalan yang wajar terjadi pada pemuda seusianya. Namun kenakalan pikiran itu akhirnya cepat-cepat disingkirkan dari benaknya, dan Suto Sinting segera menjawab pertanyaan tadi.

"Aku yang bergelar Pendekar Mabuk!"

Dua gadis cantik yang menggiurkan hati itu sama-sama diam. Tidak ada gerakan apa pun kecuali saling memandang satu arah, yaitu ke wajah Suto Sinting. Tentu saja Suto merasa aneh, dan Pande Bungkus pun merasa heran. Baru saja Pande Bungkus mau berbisik kepada Suto Sinting, tiba-tiba tangan kanan si rambut hitam menyodok ke depan dalam keadaan empat jari merapat terbuka, telapak tangan menghadap tanah, jempolnya terlipat ke samping. Suuuttt...!

Clap, clap...!

Dua sinar kuning emas melesat dari ujung jari tangan tersebut. Keduanya sama-sama mengarah ke dada Suto Sinting. Pande Bungkus cepat gulingkan badan ke samping dengan rasa takut dan kagetnya. Tapi Pendekar Mabuk tetap berdiri di tempat. Tangannya berkelebat, bumbung tuaknya tahu-tahu sudah meng-hadang di depan dada dalam genggaman satu tangan. Dua sinar kuning emas itu menghantam bumbung tuak tersebut. Tuub, tuub...! Sinar-sinar itu membalik arah dalam bentuk lebih besar dan lebih cepat.

Zraab, zraab...!

Kedua gadis cantik itu tersentak kaget, lalu keduanya segera melesat ke samping kanan kiri dan dua sinar kuning emas itu menghantam satu pohon besar yang tumbuh berjarak delapan langkah dari mereka. Blegaarrr...!

Pohon besar itu hancur menjadi serbuk coklat yang berhamburan. Tak sehelai daun pun yang tersisa utuh. Kedua gadis itu memandang dengan mata melebar penuh rasa heran dan kagum, sebab mereka tak menyangka kalau sinar kuning emasnya bisa membuat pohon besar menjadi lembut dalam sekejap. Padahal biasanya sinar kuning emas itu jika mengenai pohon hanya akan membuat pohon itu terbakar hangus seketika, menjadi arang yang masih tegak menunggu hembusan angin kencang baru roboh.

Dua gadis itu segera berpaiing kemball ke arah Suto Sinting. Wajah mereka masih menampakkan sisa ter-cengang. Tapi sikap mereka sudah meiunak, tidak se- kaku tadi. Hanya saja, tiba-tiba si rambut pirang berkelebat ke samping dalam satu lompatan dan tangannya menyambar sesuatu yang meleset melayang dengan cepat menuju ke dada Suto Sinting Wuuuttt...! Teebbb...!

Sebilah pisau terbang tertangkap di tangan kirinya. Meiihat bentuk pisau yang berukuran satu jengkai itu, Suto Sinting dan Pande Bungkus segera tahu bahwa si pelemparnya pasti Gembong Alas. Mungkin orang gemuk itu sudah selesai dengan kesibukannya di tepi sungai tadi, lalu menyusul mengejar Suto dan Pande Bungkus.

Si rambut poni berkata kepada si rambut pirang, "Jarha rango tui!"

"Ngomong apa dia, Kang?"

"Entah!" Suto Sinting angkat bahu. Tapi mereka berdua sama-sama melihat si rambut pirang menghentamkan kedua tangannya ke arah tanah semak belukar. Wuuusss...! Tenaga dalam bergelombang besar dilepaskan dan membuat semak belukar itu bagaikan tercabut dan tersentak ke atas. Terdengar pula suara orang memekik tertahan dari balik semak.

"Uuhhg...!"

Kemudian terlihat sekelebat tubuh gemuk terlempar dari semak itu, jatuh berguling di depan kaki si rambut pirang. Gembong Alas tak bisa bersembunyi lagi. la terkapar di depan si rambut pirang. Dan kaki si rambut pirang segera diangkat untuk menginjak dada Gembong Alas.
"Tahan...!" seru Suto Sinting yang membuat kaki berbetis indah itu tak jadi dihentakkan ke dada Gembong Alas.

Pendekar Mabuk bergegas dekati rambut pirang. Saat itu tangan si rambut pirang mencengkeram baju Gembong Alas dan mengangkatnya dengan ringan sekali hingga Gembong Alas berdiri. Pande Bungkus terperangah dan membatin,

"Gila! Dia angkat Gembong Aias yang gemuk begitu seperti mengangkat jemuran jatuh saja?! Pakai tenaga apa gadis itu, ya?"

Tangan kiri rambut pirang ingin menghantam dada Gembong Alas, tapi Pendekar Mabuk segera cekal tangan itu dari samping. Taab...! Mereka beradu pandang.

"Jangan!" kata Suto.
"Dia ingin membunuhmu!"

Dia tidak sadar akan kesalahannya. Lepaskan dia. Kalau masih membandel, biar kuberi pelajaran yang lebih berat dari pelajaran pertamaku tadi."

Gembong Alas terengah-engah dengan wajah pucat. la melirik si rambut pirang dengan cemas, kemudian melirik Suto Sinting lebih cemas lagi. Suto Sinting hanya berkata,

"Kau ingin ke tepi sungai lagi? "

Gembong Alas gemetar dan geleng-geleng kepala dengan mulut melongo.

Kuharap kau tidak menggangguku lagi, juga tidak mengganggu Pande Bungkus. Apa yang kau cari benar-benar tak ada pada kami. Paham?l"

"Iiy... iya... paham sajalah!" jawabnya sambii meng-angguk-angguk takut.

"Apa yang kau cari ada di dalam sungai, mungkin hanyut, mungkin tenggelam di tempatnya jatuh. Cari saja di sana I"

"Iiy... iya... permisl...!" Gembong Alas menunduk-nunduk dalam langkahnya meninggalkan tempat itu. Menengok ke arah dua gadis cantik sebentar, ketika didekati si rambut pirang,

Gembong Alas jera dan cepat larikan diri menerabas semak ilalang. Brruus...! Duugh...!

Aaauw...!" pekiknya dari dalam semak ilalang. la tak tahu kalau di balik kerimbunan semak itu ada gugusan batu setinggi tubuh Suto Sinting. Keningnya membentur gugusan batu itu dan membuatnya membelok arah dengan serangkaian sumpah serapah tak jelas.

Kini sang pendekar tampan memandang si pirang dengan wajah tetap tidak bermusuhan. Pendekar Mabuk berusaha menenangkan getaran hatinya akibat pandangan matanya yang beradu dengan si pirang ber-mata kebiruan itu.

"Siapa kalian sebenarnya? Mengapa tadi menyerangku dan sekarang membelaku?" tanya Suto Sinting sambii biarkan Pande Bungkus mendekatinya dari arah samping kanan.

"Aku bernama Jelita Buleningtyas," kata si rambut pirang bermata biru. "Panggil saja Jelita Bule. Dan dia temanku bernama...."

"Pesona Indah," jawab si rambut hitam yang tadi menyerang Suto. Pande Bungkus tertawa pelan dan berkata takut-takut, "Namanya mirip nama perkampungan orang-orang kadipaten. Pesona Indah. Hi hi hi hi "

"Siapa namamu, Bocah Tampan?" tanya Pesona Indah kepada Pande Bungkus sambii tersenyum bagai menyindir sinis.

"Namaku...? Hmmm... namaku Arya Suteja Laksana."

"Kudengar tadi Pendekar Mabuk memanggiimu Pande Bungkus?!"senyum Pesona Indah makin mengejek. Pande Bungkus tersipu malu, sedikit tundukkan wajah.

"Hmmm... ya, memang. Tapi itu nama kecilku. Nama yang sekarang...."

Pesona Indah cabut pedang separo bagian. Mata Pande Bungkus membelalak seketika. Lalu dengan gugup ia menjawab, "Iiiiy... iya! Memang namaku yang se­karang ya tetap Pande Bungkus. Jangan marah dulu, Nona!"

Craakk...! Pedang perunggu dimasukkan kembaii dalam satu sentakan diiringi senyum geli Pesona Indah. Anak muda itu sangat malu dtertawakan oieh Jelita Bule dan Suto Sinting.
Kemudian terdengar suara Pesona Indah berkata kepada Pendekar Mabuk,

"Maaf atas seranganku tadi. Aku hanya ingin meyakinkan apakah kau benar-benar Pendekar Mabuk yang asli atau palsu. Sebab kami tak mau terkecoh oleh tipuan beberapa orang yang pernah kami temui."

Apakah kalian pernah temui orang yang mengaku Pendekar Mabuk?"

"Ya," jawab Jelita Bule. "Empat orang pemuda mengaku bernama Pendekar Mabuk, tapi sebenarnya bukan, dan mereka hanya ingin melampiaskan hasratnya kepada kami. Ketika kami coba dengan jurus "Kencana Lepas', mereka terluka dan kami terpaksa obati luka mereka lalu meninggalkannya."

Pesona Indah menimpali, "Kabar yang pernah kami dengar, Pendekar Mabuk bisa kembalikan serangan dengan lebih cepat dan lebih dahsyat. Ketika kucoba menyerangmu, ternyata kau bisa kembalikan jurusku dengan lebih dahsyat. Maka kami percaya bahwa kau adalah Pendekar Mabuk. Ciri-cirimu pun persis seperti apa kata orang-orang yang kami dengar di rimba persilatan Ini."

"Nyatater pantam gaju!" kata Pesona Indah kepada Jelita Bule.
"Vangsa dakti tehbo taki dago!"

"He-eh...," jawab Pesona Indah sambii tersenyum kecil. Keduanya jika tersenyum sama-sama bertambah cantik dan menjerat hati.

"Ngomong apa dia itu, Kang?" bisik Pande Bungkus yang penasaran dengan bahasa kedua gadis itu.

"Mungkin mereka gunakan bahasa Purba Kunol Aku tak tahu bahasa itu," bislk Suto Sinting pelan sekali.

Kedua gadis itu memang punya bahasa sendiri, yaitu bahasa yang berlaku di negeri mereka. Bahasa tersebut sebenarnya tidak sulit dlartikannya, karena suku katanya hanya dibalik saja. Sebuah kata 'Sayang' diucapkan menjadi 'Yangsa dan begitu seterusnya. Pendekar Mabuk tidak menyangka kalau bahasa itu hanya bahasa pembalikan suka kata, sehingga ia hanya diam saja ketika kedua gadis itu membicarakan ketam-panannya.

"Baik, sekarang apa mau kalian setelah bertemu denganku?" tanya Suto agar tidak dijadlkan bahan percakapan rahasia lagi.

Jelita Bule menjelaskan, "Kami mendengar kabar bahwa Pendekar Mabuk adalah juga seorang tabib sakti yang cukup ampuh dalam penyembuhannya."

Pendapat itu terlalu berlebihan. Aku bukan tablb. Aku hanya seorang penegak keadilan dan pembela kebenaran," kata Suto dengan senyum merendah diri.

"Aku tak percaya," kata Jelita Bule. Senyumnya mekar menylmpulkan sanjungan batln untuk Suto Sinting. "Banyak orang berkata, Pendekar Mabuk adalah Tabib Darah Tuak.

Kesembuhannya dijamin cepat dan mujarab. Kebetulan sekarang ratu kami sedang dalam ke-adaan sakit karena terkena Racun Bulan Madu."

"Apa...?!" Pande Bungkus menyela kata dalam nada heran.
"Racun Bulan Madu" tegas Pesona Indah.

"Jangan-jangan ratu kalian hanya terkena sawan pengantin?!" ujar Pande Bungkus dengan sungguh-sungguh.

Suto segera memotong percakapan Pande Bungkus dengan berkata kepada Pesona Indah,

"Siapa ratu kalian? Dan dari negeri mana kalian berdua sebenarnya?"
"Ratu kami adalah Ratu Rangsang Madu yang berkuasa dl Negeri Malaga."
"Di mana itu Negeri Malaga?"
"Di Pulau Selayang," jawab Jelita Bule.

Suto Sinting berkerut dahi, karena merasa asing dengan nama Pulau Selayang. Sementara itu, Pande Bungkus yang selalu ingin terlibat pembicaraan dengan kedua gadis cantik itu menyela kata kembali,

"Ratu Rangsang Madu terkena Racun Bulan Madu? Wah, pas itu! Cocok sekali dengan namanya!"

"Bulan madu bukan berarti madu yang harus diminum oieh sang rembulan!" gerutu Pesona Indah dengan cemberut jengkel kepada Pande Bungkus. Anak muda itu hanya menghindari tatapan mata sambii terki-kik pelan. Pesona Indah yang diam- diam sering mencuri pandang terhadap ketampanan Pande Bungkus itu segera mengulum senyum dalam kecemberutannya.

"Apa yang terjadi pada diri seseorang yang terkena Racun Bulan Madu?" tanya Suto Sinting. Jelita Bule yang menjawab dengan suaranya yang bernng,

"Racun Bulan Madu membuat seseorang menjadi gila. Setiap malam tiba, sejak matahari tenggelam, ia selalu bernafsu memakan tubuhnya sendiri. Apa yang ada di tubuhnya selalu ingin dikunyah dan ditelannya. Karena itu setiap menjelang matahari tenggelam, kami selalu memasung ratu kami agar ia tidak bisa berontak untuk memakan anggota tubuhnya sendiri."

"lih...!" Pande Bungkus bergidik sendiri.

Suto Sinting hanya berkerut dahi, lalu bertanya, "Siapa pemilik Racun Bulan Madu Itu?"
"Tokoh sakti beraliran hitam; Nyai Sunti Rahim."

Suto Sinting tersentak kaget mendengar nama itu, sebab ia ingat bahwa Nyai Sunti Rahlm adalah guru dari Perawan Maha Sakti yang memiiiki ilmu 'Darah Gaib' dan ilmu 'Bias Dewa'. Kedua ilmu itu memang telah dilenyapkan oieh siasat Suto Sinting, tapi agaknya sang Nyai sendiri membahayakan bagi orang lain. Ilmunya dapat membuat setiap orang mati bunuh diri karena Racun Bulan Madu itu, (Baca serial Pendekar Mabuk episode: "Perawan Maha Sakti").

"Apa yang membuat Ratu Rangsang Madu diserang Nyai Sunti Rahim?"

"Nyai Sunti Rahim mengincar para prajurit Negeri Malaga yang masih gadis. la ingin turunkan ilmu yang hanya bisa dimiliki oleh para gadis yang benar-benar masih perawan "

"'Darah Gaib' dan 'Bias Dewa'?!" sahut Suto. "Tepat sekali. Rupanya kau sudah mengenal kedua jurus itu?!" kata Jeiita Bule.

"Hanya mengenal namanya saja," kata Suto Sinting tak mau tonjolkan diri bahwa ia pernah melenyapkan kedua jurus itu dengan sebuah siasat.

Pesona Indah menyambung kata, "Pihak kami tak ada yang mau menjadi murid Nyai Sunti Rahim. Sang Ratu pun menentangnya, hingga terjadi pertarungan yang membuat sang Ratu terkena Racun Bulan Madu."

Jelita Bule menambahkan kata lagi, "Racun itu tak bisa disembuhkan dengan cara apa pun. Menurut para tabib yang pernah kami mintai bantuannya, juga para peramal yang kami temu, Racun Bulan Madu kalahnya dengan darah seorang pendekar tanpa pusar. Yang kami dengar, pendekar tanpa pusar itu berjuluk Pendekar Mabuk."

Suto Sinting terkesiap memandang kedua gadis cantik yang berpakaian menggoda iman itu. Mulutnya terbungkam sesaat. la dipandangl oleh Pande Bung­kus. Kejap berikutnya terdengar suara Pande Bungkus berbisik,

"Jangan mau ke sana, Kang. Nanti kau mati diambil darahnya!"

Pendekar Mabuk masih diam membisu, berdiri mematung dengan bumbung tuak menggantung di pundak kanan dan kedua tangannya terlipat di dada. Lengan tangannya tampak kekar dan berotot. Kakinya sedikit me-renggang bagaikan tak akan tergoyahkan walau terhempas badai.

"Dengan rendah hati kami mohon kau mau datang untuk sembuhkan ratu kami," Jelita Buie memohon dengan suara lembut.

"Kami tidak terlalu banyak memohon kerelaanmu," ujar Pesona Indah. "Kami hanya memohon darahmu. Toionglah ratu kami itu, Pendekar Mabuk yang budiman"

Suto Sinting masih diam. la membatin, "Meinbutuhkan darahku berarti membutuhkan kematianku? ini sebuah tantangan atau permohonan? Tak jelas maksudnya. Kalau hanya setetes dua tetes, mungkin bisa kuberikan. Tapi kalau dia menginginkan semua darahku, sa-ma saja dia menginginkan kematianku? Apakah aku harus turuti; berkorban demi ratu mereka yang tidak punya hubungan apa-apa denganku itu?"

Renungan Pendekar Mabuk menjadi buyar mendadak karena tiba-tiba dari arah belakang kedua gadis itu melesat sebuah sinar merah bergelombang- gelombang. Sinar itu melebar sehingga satu hantaman bisa kenai kedua gadis utusan Ratu Rangsang Madu.

Suto Sinting yang melihat kelebatan sinar merah itu segera sentakkan napas ke perut, tubuhnya terbang melayang ke atas dan bersalto satu kali melintasi kepala dua gadis itu. Wuuukkk...!

Begitu tiba di belakang gadis itu secara beradu punggung, Suto Sinting segera lepaskan pukulan 'Tangan Guntur'-nya yang memancarkan sinar biru besar dari telapaknya itu.

Claaapp...! Blegaarrr...!

Dentuman hebat terjadi. Gelombang panas meng-hentak kuat, membuat tubuh Suto Sinting tersentak ke belakang menabrak tubuh dua gadis itu, dan tubuh dua gadis itu melayang jungkir balik dengan cepatnya. Jleg, jleg...! Keduanya mampu kuasai keseimbangan dengan cepat dan berdiri dengan tegak. Sedangkan Pande Bungkus terlempar jauh masuk ke semak-semak dan mengerang di sana.

Suto Sinting terjungkal ke tanah dengan wajah membiru dan darah keluar dari lubang hidungnya. ia mengerang panjang saat berusaha untuk bangkit.

Rupanya sinar bergelombang-gelombang tadi mempunyai kekuatan amat dahsyat sehingga jurus 'Tangan Guntur' tak mampu menahannya di pertengahan jarak. Gelombang ledakannya masih mengandung kekuatan tenaga dalam cukup tinggi, sehingga Suto Sinting terluka dalam, wajahnya pucat membiru.

Sebentar kemudian ia segera memuntahkan darah kental dari mulutnya saat berusaha berlutut dengan satu kaki. Bumbung tuaknya sendiri sempat terpentai lepas dari pundak dan tergeletak dalam jarak dua jangkauan dari tempatnya berlutut.

"Rangse honpo bubam tui!" (Serang pohon bamboo itu).

Maka Jelita Bule dan Pesona Indah segera lepaskan jurus 'Kencana Lepas' yang berwarna kuning keemasan itu. Slaaapp...! Blegaarrr...!Dari semak belukar itu muncul sesosok tubuh ramping dengan pakaian kuning gading. Pakaian itu dilapisi jubah longgar berwarna abu-abu. Seorang perempuan berambut putih uban merata berdiri tegak di depan kedua gadis utusan Ratu Rangsang Madu. Wajahnya masih cantik, hidungnya kecii bangir, bi-birnya mungil, tubuhnya sekai montok, tapi sebenarnya usia sudah cukup banyak. Di atas tujuh puluh tahunan. Rambut uban rata yang meriap ituiah bukti bahwa ia sudah berusia lanjut.

"Nyai Sunti Rahim!" geram Pesona Indah. "Apa maksudmu menyerang Pendekar Mabuk, hah?!"
Nyai Sunti Rahim sunggingkan senyum sinis. "Pancinganku mengenai sasaran," katanya.

"Kalau yang kuserang dia, maka dia punya banyak waktu untuk bergerak dan bertimbang pikir dalam menangkis seranganku. Tapi jika yang kuserang kalian berdua, maka dia akan berusaha selamatkan kaiian dengan ge-rakan naluri yang tak sempat bertimbang pikir lagi. Ter-nyata perhitunganku tidak meleset! Dia akan mati oieh 'Racun Garang'-ku!"

"Kejam kau!" geram Pesona Indah yang sangat bernafsu ingin membaiasnya.

Suto Sinting mendengar semua ucapan itu walau pandangan matanya samar- samar karena sedang dihancurkan oleh racun sinar bergelombang merah tadi. la berusaha meraih bumbung tuaknya. Tetapi Nyai Sunti Rahim berkelebat cepat menendang bumbung tuak itu. Duuss...! Bumbung tuak jatuh ke jurang, di mana dasar jurang itu adalah aliran sungai yang membanjir tadi.

"Aaahhg...!" Suto Sinting mengerang sambii ter-sungkur karena tangannya tak berhasii meraih bumbung tuak itu. Wajahnya kian membiru dan matanya sudah mulai semburat merah.
Jelita Bule segera lepaskan pukulan tenaga dalam tanpa sinar ke arah Nyai Sunti Rahim. Tetapi dengan cepat Nyai Sunti Rahim sentakkan tangan kirinya bagaikan menepis sesuatu. Sentakan itu mengeluarkan gelombang tenaga dalam tanpa sinar juga, sehingga kedua gelombang tenaga dalam itu saling berbenturan di udara. Baangg...!

Tapi dua jari Nyai Sunti Rahim segera disentakkan ke depan. Dua jari kanan itu melesatkan sinar merah lurus ke arah Jelita Bule. Slaapp...! Pesona indah segera menerjang sinar merah itu dengan tangan menyentak ke depan melepaskan sinar hijau lebar. Biaarrr...!

"Uuhg...!"

Pesona Indah terlempar ke atas, melayang dl udara dalam keadaan tak berkutik lagi. Darah menetes dari mulutnya. Jelita Bule segera sentakkan kaki dan melompat menyambar tubuh Pesona Indah. Wuuusss...! Tetapi gerakan melesat naik ternyata lebih cepat dilakukan oleh Nyai Sunti Rahim. Wuuutt...!

Dalam kejap berikutnya, tubuh Pesona Indah sudah di tangan Nyai Sunti Rahim. Kaki Nyai Sunti Rahim yang masih melayang Itu segera lepaskan tendangan ke arah dada Jelita Bule yang juga dalam keadaan masih melayang tak berhasii menyambar tubuh temannya.

Deegh...!"Ahhg...!" tubuh Jelita Bule tersentak ke belakang karena tendangan bertenaga dalam besar itu. Begitu ia jatuh ke tanah terpuruk di bawah sebuah pohon, ia langsung muntahkan darah segar dari mulutnya. Sementara Pesona indah sudah berada di atas pundak Nyai Sunti Rahim.

"Lepaskan dia!" Jelita Bule masih bisa berseru mengancam dengan mencoba bangkit dan sempoyongan. ia segera jatuh terhuyung bagaikan tanpa tenaga.

"Aku tidak akan lepaskan temanmu Ini! Aku yakin dia masih perawan dan akan kujadikan muridku untuk menerima ilmu andalanku! Kalian nanti akan dlbunuh semua oleh gadis Ini. Dia akan menjadi muridku yang menurut apa kataku!"

"Keparat kau, Sunti Rahim!" geram Jelita Bule yang berusaha bangkit lagi, namun kakinya bagaikan tak bertulang. Brruk...! la jatuh kembali dengan darah semakin banyak yang keluar dari mulutnya.

"Dan kau, Pendekar Mabuk...!" Nyai Sunti Rahim menuding Suto Sinting yang menggeliat kesakitan. "Seharusnya kau mati di depan gurumu karena muridku Perawan Maha Sakti Itu akhirnya tak tertolong juga karena ulahmu melenyapkan kedua ilmu itu, dan melenyapkan nyawa muridku. Aku tak sabar meiihat lagakmu yang seolah-olah tersakti dl seluruh jagat ini! Kau akan matl membusuk dalam waktu singkat! Gurumu akan kukabari 'Jalur Batin', biar dia tahu bahwa Nyai Sunti Rahim bukan orang selemah dulu! Kau tak akan bisa sembuhkan Ratu Rangsang Madu jika darahmu sudah membusuk bersama ragamu!"

Slaaap...!

Nyai Sunti Rahim lenyap bagal ditelan bum! sambii memanggul Pesona Indah. Gerakannya yang begitu cepat hanya bisa dilihat oleh mata kebiruan si Jelita Bule sebagai sinar kuning yang lenyap begitu saja.

"Kaaang...! Kang Sutooo...!" ratap suara di semak-semak. Pande Bungkus merangkak keluar dari semak-semak itu dengan wajah pucat. Hanya dia yang tidak keluarkan darah dari bagian tubuhnya karena hanya terkena sisa hentakan gelombang berdaya ledak tinggi tadi. la hanya merasakan mual, pusing, dan lemas di sekujur tubuh.

la merangkak mendekati Suto Sinting bersamaan dengan gerakan Jelita Bule yang duduk merayap mendekati Suto juga. Jelita Bule mencoba mengangkat kepala Suto Sinting yang kian membiru itu. Napas Suto Sinting tinggal sedikit. Bau busuk mulai menyebar keluar dari pori-pori tubuh Pendekar Mabuk.

Jelita Bule segera kerahkan tenaga hawa murninya untuk sembuhkan luka parahnya Pendekar Mabuk. Tetapi ketika ia lakukan hal itu, tiba-tiba kepalanya tersentak dan darah keluar dari mulutnya lagi. Brruuss.,.! Arahnya tepat di depan wajah Pande Bungkus yang merangkak itu. Akhirnya wajah Pande Bungkus tersembur darah dan menjadi merah berlumuran
"Nasib...!" ucapnya dengan sedih dan suara berat.

Agaknya Jelita Bule tak bisa gunakan hawa murninya karena tendangan tadi tepat kenai jantung dan pernapasan. la menjadi tambah bingung meiihat Suto Sin­ting semakin meredupkan mata. Bagian telinganya mulai tampak menghitam.

"Celaka...!" ucap Jelita Bule dengan nada sedih. "Dia... akan membusuk dan mati...!"

"Kaaang...!" rengek Pande Bungkus dengan hati iba. "Jangan mati sekarang, Kang Suto. Nanti-nanti saja...!"

Jelita Bule tarik napas pelan-pelan dengan mena-han rasa sakit di dada. Kemudian ia berusaha memangku kepala Suto Sinting yang sudah tak ingat apa-apa lagi itu. Napas yang terengah-engah berat dipakainya untuk bicara pelan kepada Pande Bungkus.

"Lekas, cari obat untuknya! Cari...!"

"Obat apa?" tanya Pande Bungkus dengan nada suara sedih bagai mau menangis.

"Apa saja! Apa yang kau tahu tentang pengobatan, cobalah untuk mengobati Pendekar Mabuk ini! Lekas...!"

"Bagaimana... bagaimana kalau daun jambu batu? Kulihat di sebelah sana tadi ada pohon jambu batu! Pucuk-pucuk daun yang masih muda biasanya buat menyumbat orang yang sakit buang-buang air. Siapa tahu bisa untuk menyumbat darah Kang Suto Sinting biar tak keluar terus."

"Tidak bisa! Daun itu tidak berguna. Dia akan membusuk karena racun itu!" Jelita Bule bicara dengan susah payah. "Cari seekor uiar!"

"Apa?! Ular...?! Hiii...!" Pande Bungkus bergidik dan gelengkan kepala. "Lainnya ular saja, Nona!"

"Tak bisa, Pande! Harus ular berbisa. Akan kuambil bisa ular itu dan kumasukkan untuk melawan racun dalam tubuh Pendekar Mabuk ini!"

"Aku tidak berani pegang ular, Nona. Tidak berani! Lainnya ular saja. Kalau... kalau ayam hutan bagaimana?!"

"Cari ular, iekaasss...!" Jelita Bule jengkel dan membentak sebisa-bisanya. Pande Bungkus ketakutan, apalagi Jelita Bule mendelik dan menyemburkan darah lagi. Maka Pande Bungkus pun segera pergi dengan langkah terhuyung-huyung masuk ke rimbunan semak.

"Pendekar Mabuk...! Pendekar Mabuk, sadarlah...!" Jeiita Bule tampak cemas sekali. la menepuk-nepuk pipi Suto Sinting, tapi mata Suto Sinting hanya bisa terbuka sedikit, lalu meredup lagi, tak bisa bicara atau mengerang.

Tiba-tiba dari arah jurang melesat sesosok bayangan putih yang melenting tinggi dan bersalto satu kali. Wuukkk...! Bayangan putih itu menapakkan kaki-nya ke tanah tanpa suara. Jelita Buie memandangl dengan terpana. Hal yang membuatnya heran lagi adalah bumbung tuak itu ternyata sudah ada di tangan orang tersebut.

Dia adalah seorang kakek berpakaian serba putih. Kakek misterius itu muncul lagi membawa bumbung tuaknya Suto yang tadi ditendang Nyai Sunti Rahim masuk ke jurang. Dari tempatnya berpijak, kakek serba putih melangkah tertatih-tatih dengan lamban. Begitu tiba di depan Jelita Bule, ia menyodorkan bumbung tuak itu sambii berkata,

"Berikan minuman ini untuknya. Masukkan ke mulut, jangan ke mata...!" Jelita Bule bagaikan bisu sejenak. ia hanya mengangguk-angguk dalam keadaan masih tertegun memandangi kakek yang tak dikenalnya itu. Setelah menerima bumbung tuak, maka dengan pelan-pelan Jelita Buie menuangkan tuak ke mulut Suto Sinting yang ternganga sedikit untuk jalan napasnya itu.

"Siapa yang membuatnya menjadi seperti ini?"

"Nyai Sunti Rahim," jawab Jelita Bule pelan dengan hentikan meminumkan tuak ke mulut Suto Sinting.

Kakek serba putih itu melangkah ke belakang Jeiita Bule sambii berucap kata pelan, "Sunti Rahim...?! Ternyata dia menjadi murka dan penasaran!"

Jelita Bule tidak hiraukan ucapan itu karena ia coba memasukkan tuak lagi ke mulut Pendekar Mabuk. Seteguk dua teguk tuak terminum oieh Suto.

Terdengar lagi suara kakek misterius itu berkata di belakang Jelita Bule,

"Kau juga... minumlah tuak itu. Tapt jangan banyak-banyak nanti kau mabuk." Gadis berambut kuning pirang itu tidak menjawab, namun ia menuruti saran itu. la meneguk tuak dengan menenggak beberapa saat. Selesal itu, ia merasakan kepala Pendekar Mabuk yang ada di pangkuannya itu bergerak pelan. Jelita Bule buru-buru memperhatikannya. la sedikit kaget meiihat daun telinga yang semula sudah menghitam itu kini menjadi biru samar-samar. Dada Suto Sinting muiai tampak bergerak lebih jelas lagi, sepertinya pernapasan agak lancar dari sebelum minum tuak itu.

Kian lama terjadi perubahan semakin nyata. Jelita Bule sendiri merasa dadanya yang tadi sesak dan sakit jika dipakai bernapas kini tidak sakit lagi. Bahkan ber- tambah lama bertambah enak dipakai untuk bernapas. Suto Sinting yang biru legam mulai pulih, dan napasnya pun kian teratur. Bahkan ketika ia membuka matanya, ia terkejut menyadari terbaring di pangkuan si gadis rambut pirang dan bermata kebiruan itu. ia buru-buru bangkit, dan gerakan itu bisa dilakukan dengan cepat.

Wuuttt...!

"Jelita...? Apa yang telah terjadi pada diriku tadi?"
"Apakah kau tak ingat diserang Nyai Sunti Rahim?!"

"Sunti Rahim...?!" Suto Sinting menggumam lirih dan mencoba mengingat- ingat. Peristiwa itu kini terba-yang lagi dalam benak Pendekar Mabuk yang segera menggumam dan manggut-manggut.

"Ya, aku ingat sekarang. Tapi... seingatku bumbung tuak ini ditendang olehnya sampai jatuh ke jurang sana!"

"Ada yang membawanya kemari, muncul dari kedaiaman jurang itu."
"Siapa yang membawanya?"

"Beliau ini yang...," Jelita Bule terhenti kaget, gerakan tangan yang menunjuk ke belakang diam tak bergerak lagi. Matanya memandang sekeliling dengan wajah penuh keheranan.

"Orang itu tadi ada di belakangku!"
"Seperti apa orangnya?"

"Seomng kakek berpakaian serba putih dengan rambut putih semua. Dia yang menyuruhku meminumkan tuak ke mulutmu dan menyarankan agar aku memi- numnya pula. Tapi... aneh?! Ke mana perginya si kakek serba putih tadi?"

"Kakek serba putih?" renung Pendekar Mabuk yang segera ingat perjumpaannya dengan kakek misterius di jembatan bambu tadi. Tubuh segar Jelita Bule membuat gadis itu mencari sang kakek di beberapa tempat, lalu kembaii lagi dengan tangan hampa.

"Dia tak kutemukan. Tapi menurutku dia belum jauh dari sini. Sebab tadi kulihat jalannya tertatih-tatih lamban sekali." . Suto Sinting tarik napas panjang, iaiu berkata, "Sudahlah. Tak perlu dicari lagi. O, ya... mana Pande Bungkus tadi?!"

Sebelum Jelita Bule menjawab, Pande Bungkus keiuar dari semak-semak dengan wajah pucat. Tangan kirinya pegangi siku kanan. Tangan kanan itu mengejang kaku dalam keadaan bengkak membiru. Wajah tampan Pande Bungkus tampak sedih bercampur takut.

"Kenapa tanganmu, Pande Bungkus?!" tegur Suto Sinting.

Sekalipun hati Pande Bungkus sebenarnya kaget juga meiihat Suto Sinting sudah sehat seperti sediakala, tapi la menjawab dengan nada sedih,

"Tanganku dipatuk ular, Kang!"
"Kenapa bisa begitu?"

"Ular sedang bertelur dipegang ekornya, eeh... kepalanya mengibas. Pletuk! Kena jempol tanganku."

"Ada-ada saja kau ini! Minum tuakku, lekas!" Suto Sinting menyodorkan bumbung bambunya. Pande Bungkus menenggak tuak dengan satu tangan.

"Aku yang menyuruhnya mencari ular," kata Jelita Bule. "Kupikir, ular itu akan kuambil racunnya dan akan kumasukkan ke tubuhmu biar bertarung melawan 'Racun Garang'-ku Nyai Sunti Rahim. Sebab... keadaanmu sangat parah dan sudah hampir membusuk."

"Pande Bungkus pemuda yang tidak bisa apa-apa, jangan kau suruh lakukan hal-hal berbahaya. O, ya... mana Pesona Indah?"

"Dibawa lari oieh Nyai Sunti Rahim!"

Pendekar Mabuk terkesiap sejenak, lalu menggumam, "O, benar. Aku ingat samar-samar saat ia bicara padaku dengan memanggul Pesona Indah."

"Aku harus bebaskan Pesona Indah sebelum dia dijadikan murid Nyai Sunti Rahim!"
"Itu tergantung Pesona Indah. Dia bisa menolaknya dengan berbagai cara!"
"Aku... aku takut dia dibunuh perempuan jahat itu!"
"Kenapa?"

"Sebab... sebab Pesona Indah sudah tidak... tidak pantas dan tidak bisa menerima dua ilmu andalan tersebut!" jawab Jelita Bule dengan bahasa halus. "Dia tidak sama denganku," tambahnya lagi.

Suto Sinting paham betul dengan bahasa halus tersebut. Pesona Indah sudah tidak perawan lagi. Berbeda dengan Jelita Bule yang masih perawan. Begitulah klra- kira maksud si rambut pirang.

"Kang, tanganku sembuh, Kang...!" seru Pande Bungkus sesaat setelah minum tuak dan tangannya yang bengkak menjadi kempes. la tampak girang.

"Tuak itu mujarab sekali, ya Kang?"

Pendekar Mabuk hanya tersenyum tipis. Tapi pada saat itu ia tersentak kaget dengan berkelebatnya Jelita Bule yang menerabas pepohonan kecil itu. Wrrrsss...! Mata Suto Sinting segera terbelalak.

"Jelita! Mau ke mana kau?!"

Tak ada jawaban yang didengar. Suto Sinting hanya mengejar beberapa langkah, lalu berhenti karena merasa sia-sia. Masih ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan olehnya.
Pande Bungkus berkata, "Pasti dia lapor sama gurunya, Kang!"

"Tidak. Dia pergi membebaskan Pesona Indah yang dibawa Nyai Sunti Rahim!"
"Lho... jadi si rambut hitam itu dibawa kabur oleh... oleh siapa tadi?"
"Nyai Sunti Rahim!"

"O, penyerangnya seorang perempuan?" Pande Bungkus memang tak meiihat kemunculan Nyai Sunti Rahim karena ia terperosok jatuh ke semak belukar, tak bisa melihat apa-apa dalam sejenak, tak ingat suara apa pun untuk sesaat.

"Sunti... Rahim...?!" Pande Bungkus mengeja nama itu sambii berpikir. "Sepertinya aku pernah dengar nama itu, Kang." "Dari siapa?"

"Dari seseorang yang bicara dengan temannya sewaktu ibuku masih hidup dan berjualan nasi di pintu masuk pasar. Kalau tak salah... kalau tak salah nama itu pernah diucapkan oleh mulut seorang pengemis, Kang. Hmmm... ya, benar. Aku ingat, seorang pengemis yang mengucapkan nama itu."

"Lupakan saja. Sebaiknya...."

Kata-kata Suto Sinting terhenti karena melihat sekelebat bayangan kuning melesat di sela-sela pepohonan. Suto Sinting tertegun sejenak. Gerakan mata mengikuti gerakan bayangan kuning itu yang ternyata berbelok arah menuju ke tempatnya berdiri.

Wuutt...! Jleegg...!

Tokoh tua muncul di depan kedua pemuda itu membuat Pande Bungkus terpekik kaget dan lari ke belakang Suto Sinting. la menggeragap mencari batu dan setelah ditemukan sebutir batu langsung dipasang di ketapelnya. Karet ketapel direntangkan ke arah tokoh tua itu dengan wajahnya yang tegang.

Melihat yang muncul kali itu adalah tokoh tua berambut putih digulung sebagian di tengah kepala, ber-dirinya membungkuk dengan bertopang tongkat yang ujungnya berbentuk bola licin hitam, Suto Sinting langsung berkata kepada Pande Bungkus dengan tegas.

"Turunkan ketapelmu, Pande Bungkus!"
"Orang ini pasti bahaya juga, Kang! Biar kuhajar pakal ketapelku. Pasti tepat di dahinya!"

"Turunkan!" hardik Suto Sinting dengan memandang tajam. Pande Bungkus takut, ketapel pun diturunkan dan dikendurkan.

Orang tua berpakaian kuning lusuh hampir kecoklatan itu hanya tersenyum tipis sekali sambii pandangi Pande Bungkus, lalu ia bertanya kepada Suto,

"Apakah dia muridmu, Suto?"

"Bukan, Ki Bongkok Sepuh. Dia seorang teman baru," jawab Suto Sinting dengan memanggil orang tersebut Ki Bongkok Sepuh. Sebab orang tua itu memang si Bongkok Sepuh yang oieh para tokoh persilatan dikenal dengan nama Setan Arak. Hanya Suto Sinting yang mengenal nama Bongkok Sepuh, sebab pada waktu berkenalan dengan Suto Sinting, ia sudah tidak doyan arak lagi dan ingin menghapus julukan Setan Arak, di-ganti dengan si Bongkok Sepuh, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Perawan Maha Sakti").

Bongkok Sepuh masih pandangi Pande Bungkus yang jadi salah tingkah itu.

"Kulihat ia punya harapan untuk menjadi muridmu, Suto."

Pendekar Mabuk hanya melirik Pande Bungkus sebentar sambii tersenyum tipis tak pedulikan ucapan itu, kemudian ia kembali menatap Bongkok Sepuh.

"Bekas istrimu hampir saja membunuhku, Bongkok Sepuh."

Mata si Setan Arak itu terkesiap pandangi Suto Sinting, "Aku baru saja mau sampaikan berita penting untukmu tentang Sunti Rahim, makanya aku mencari- carimu ke mana-mana. dan kutemukan di sini."

"Berita apa?"

"Muridnya tak tertolong. Sunti Rahim marah besar kepadamu. Dia mengancam nyawamu. Tapi dia kudengar berusaha mencari murid baru untuk turunkan kedua ilmu itu. Yang menjadi sasaran adalah orang-orang Negeri Malaga, karena para prajuritnya Ratu Rangsang Madu pada umumnya berilmu tinggi, jadi Sunti Rahim hanya akan tambahkan dua iimu dahsyat itu saja; 'Darah Gaib' dan 'Bias Dewa'. Tapi dia terhalang oieh kekuatan Ratu Rangsang Madu, dan sang Ratu sekarang menderita Racun Bulan Madu yang berbahaya bagi dirinya sendiri!"

"Semua sudah kudengar dari dua utusannya yang mencariku, Ki Bongkok Sepuh. Tapi ketika Nyai Sunti Rahim menyerang kami, ia berhasil membawa lari satu utusan Ratu Rangsang Madu yang akan dijadikan muridnya."

Bongkok Sepuh melangkah ke samping sambil berpikir. Kemudian ia kembali perdengarkan suaranya, "Kau sudah berhadapan dengan Sunti Rahim?!" nadanya berkesan tidak percaya.
"Sudah. Bahkan seperti kubilang tadi, aku hampir saja mati membusuk! Untung ada seorang kakek aneh yang selamatkan aku."

"Kakek aneh siapa?"
"Entah. Dia tidak mau sebutkan namanya."

Pande Bungkus menyahut, "Rambutnya putih, alisnya putih, pakaiannya putih, pokoknya serba putih!"

"Apakah jalannya tertatih-tatih?"
"Benar!" kata Suto Sinting bersemangat. "Kau mengenalnya, Ki?"
"Hmmm... ya, aku mengenalnya. Dia yang bernama Setan Merakyat."
"Setan Merakyat? Aneh sekali namanya?" gumam Suto Sinting.

"Kalau dulu aku dijuluki Setan Arak, maka dia dljuluki Setan Merakyat, karena ramah dan baik kepada siapa saja, sekalipun kepada petani desa. Dia adalah kakakku sendiri."

Pendekar Mabuk terperanjat. Maka teringatlah Suto Sinting pada kata-kata kakek serba putih itu yang mengucapkan terima kasih atas pertolongan Suto kepada adiknya. Rupanya si Setan Arak alias Bongkok Sepuh itulah adiknya.

"Untuk apa dia muncul? Ada masalah apa?" gumam Bongkok Sepuh bagai menyimpan teka-teki yang mencemaskan hati menegangkan pikiran.Panorama pantai menjelang sore dihiasi cahaya merah tembaga. Matahari yang mulai di ambang cakrawala menyiramkan cahayanya bagai sedang melukis langit dengan warna merah lembayung.

Di atas gugusan batu karang dalam ketinggian tebing yang cukup curam, sesosok tubuh berdiri tegak mematung, pandangannya terlempar pada gugusan pulau nun jauh di sana hingga merupakan sebuah titik hitam mendekati batas cakrawala. Angin pantai menerpa rambutnya yang putih berpotongan model Suto Sinting. Rambut itu meriap hingga sebagian menutup wajahnya. Jubah kuningnya yang sebagian membungkus ceiana biru tanpa baju itu juga melambai bagaikan ben- dera sebuah kapal perampok. Sekalipun sudah berusia lanjut, tapi berdirinya masih tegak, kedua kakinya masih tampak kokoh berpijak.

Tokoh tua yang sesekali terdengar batuknya ber bagai irama itu sempat membatin dalam kebisuannya.

"Kalau saja Raja Maut tidak mengingatkanku untuk mengatur rencana lebih matang lagi, sudah kuhancurkan Pulau Intan itu! Tapi agaknya aku harus bersabar menunggu waktu yang baik untuk menyerang Tuanku Nanpongoh, menunggu kelengahan orang-orang Pulau Intan yang biadab itu! Kasihan sekali adikku; si Cakradayu, kehilangan istri dan anak-anaknya, belum lagi menghadapi nasib Dewi Angora, si anak sulungnya yang hamil tanpa seorang ayah. Terlalu berat beban itu bagi seorang lurah seperti Cakradayu. Keluhannya yang sering terlontar di depanku secara tak sadar, telah membuatku semakin sayang kepadanya!"

Sesaat kemudian terdengarlah suara batuknya yang aneh, "Uhuk, uhuk, ehek. uhuk, ihik, hik, hiiikkk... hoek! Cuih!"

Irama batuk seperti itu hanya dimiliki oleh tokoh sakti tingkat tinggi yang dikenal dengan nama Batuk Maragam. Meski wajahnya sering berkesan cengengesan, tapi ia sebenarnya tokoh tua yang punya wibawa tersembunyi di depan tokoh-tokoh seangkatan dengannya.

Sikapnyayang cenderung sebagai pengasuh bagi yang muda, sering membuatnya menjadi dikagumi dan digemari oleh para tokoh muda di rimba persilatan, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Peri Sendang Keramat").

Ki Lurah Cakradayu, ayah dari Dewi Angora, bermaksud membalas dendam atas kematian istri dan tiga anaknya di tangan Tuanku Nanpongoh. Tetapi Batuk Maragam sebagai sang kakak selalu menahan hasrat Ki Lurah Cakradayu. Begitu sayangnya ia kepada adiknya, sehingga ia bertekad membalaskan seluruh sakit hati sang adik kepada Tuanku Nanpongoh yang lamar-annya ditolak oieh Dewi Angora.

Tetapi banyak tokoh tua seangkatan Batuk Maragam memberi saran agar tidak melakukan penyerangan ke Pulau Intan dalam waktu dekat ini. Beberapa tokoh yang memberi saran seperti itu adalah Raja Maut, Setan Arak, bahkan gurunya Suto Sinting pun menyarankan demikian.

"Jika kau menyerang ke Pulau Intan sekarang-sekarang ini, maka kau akan terjebak oieh maut yang sudah dipersiapkan untukmu di sana. Tuanku Nanpongoh mempunyai sejumlah pasukan kuat dan memegang pusaka Gada Rujak Pala, yang konon merupakan pusaka peninggalan zaman pewayangan, milik Raden Bima. Entah kabar itu benar atau tidak, tapi beberapa orang pernah menjadi korban pusaka Gada Rujak Pala itu. Jadi hati-hatilah sebelum bertindak," tutuk Ki Sabawana yang dikenal dengan nama si Gila Tuak.

"Apa kehebatan pusaka Gada Rujak Pala itu?" tanya Batuk Maragam seusai menghadiri undangan Peri Sendang Keramat di Bukit Rongga Bumi.

Gila Tuak yang dikenal tokoh teratas di antara para tokoh itu menjawab dengan pelan dan tegas, "Gada Rujak Pala dapat menghancurkan kepalamu dari jarak jauh dengan cara menghantamkannya ke bekas telapak kakimu! Itu salah satu kehebatan pusaka Gada Rujak Pala."

Saat saran-saran mereka direnungkan, tiba-tiba mata tua Batuk Maragam meliihat sekelebat bayangan muncul dari hutan pantai dan berhenti di tepian. Mata tua itu sedikit terkeslap, kemudian membatin kata dl ha-tinya.

"Sunti Rahim! Mau apa dia bawa-bawa tubuh seorang gadis di pundaknya? Hmmm... firasatku menangkap niat tak beres pada diri Sunti Rahim!"

Slaapp...! Tubuh Batuk Maragam bagaikan menghilang. Dalam sekejap ia sudah berada di belakang Nyai Sunti Rahim tanpa suara. Maka terdengarlah suara batuknya yang sempat mengejutkan Nyai Sunti Rahim.

"Uhuk, uhuk, ehek, ehek, hhooek...l Cuih!"

Berpalinglah Nyai Sunti Rahim ke belakang, berkerutlah kening perempuan tua yang masih berwajah cantik itu. Lalu terdengar ia menyapa Batuk Maragam de­ngan suara bernada ketus.

"Mau membokongku, Batuk Maragam?!"

"Apa kau suka diserang dari belakang?" Batuk Maragam ganti bertanya dengan sikapnya yang tenang. "Aku hanya ingin menyapamu saja, Sunti Rahim. Siapa gadis yang ada di pundakmu itu?"

"Siapa pun dia ini bukan urusanmu, Batuk Maragam!"

"Memang. Tapi jika sudah menyangkut kedamaian orang banyak, mau tak mau aku terlibat secara tak langsung dalam urusanku. Uhuk, uhuk, ahak, ahak, ahiiik... ahh!"

Nyai Sunti Rahim terpaksa turunkan tubuh Pesona Indah karena dilihatnya Batuk Maragam bermaksud ingin menahan langkahnya. Gadis itu dibaringkan di pasir pantai dalam keadaan tubuh setengah bersandar pada sebongkah batu hitam.

"Apa maumu sebenarnya, Brajamusti?!" Nyai Sunti Rahim sebutkan nama asli Batuk Maragam.

Tokoh tua yang separo lebih dari usianya dihabiskan untuk bergu-ru di Pegunungan Sojiyama itu mendekati gadis yang terbaring dan memandanginya. Lalu, ia menggumam tertuju kepada Nyai Sunti Rahim.

"Cantik juga anak ini. Apakah dia muridmu, Sunti Rahim?"
"Calon muridku."
"Calon...?!"
"Muridku yang asli; Perawan Maha Sakti telah mati karena ulah Pendekar Mabuk."

"Ooo... ya, ya! Sekarang aku ingat tentang itu," kata Batuk Maragam sambii manggut-manggut. Gara-gara muridmu kau bekali ilmu 'Darah Gaib' dan ilmu 'Bias Dewa', hampir saja Suto Sinting mati karena iimu itu. Aku pernah mendengar ceritanya dari yang bersangkutan. Jadi, sekarang aku bisa menangkap maksudmu. Kau ingin turunkan kedua iimu berbahaya itu kepada gadis ini!"

"Pikiran tuamu masih lumayan juga, Brajamusti!" Nyai Sunti Rahim sunggingkan senyum sinis. Di balik senyum itu terbias kesan bangga atas kehebatan dirinya yang mampu turunkan dua ilmu dahsyat itu.

"Aku tidak setuju dengan rencanamu, Sunti Rahim!" kata Batuk Maragam dengan tegas. "Kedua ilmu itu hanya akan mengacaukan kehidupan di permukaan bumi."

"Lalu apa maumu?" tantang Nyai Sunti Rahim yang merasa tak punya rasa takut sedikit pun kepada Batuk Maragam, walau ia tahu Batuk Maragam tokoh berilmu tinggi.

"Hentikan niatmu itu, tinggalkan gadis itu, biar kubawa pulang ke tempat asalnya. Uhuk, uhuk, uhuk, ihiiik... aah!"

"Jika kau bermaksud menghalangi niatku, sama saja kau ingin menjajagi ilmuku, Brajamusti!"

"Tidak. Tidak begitu," jawabnya dengan sabar dan kalem. Aku hanya ingin sampaikan kesepakatan para tokoh seangkatan kita setelah kami hadiri undangan di Bukit Rongga Bumi itu, bahwa kami bersepakat agar kedua iimu itu tidak dipergunakan lagi oieh satu orang. Boleh diturunkan dan dimiliki oieh seorang gadis, tapi hanya salah satu saja. Tak boleh keduanya dimiliki oieh satu orang, karena hal itu akan membuat orang tersebut menjadi seorang angkara murka yang bertindak semena-mena."

"Persetan dengan kesepakatan kalian! Aku tetap akan lakukan hal itu!"
"Berarti kau menentang undang-undang persilatan!"
"Itu urusanku."

"Tak bisa. Jika kau menentang undang-undang persilatan, kau akan berurusan denganku pula, Sunti Rahim!"

"Aku tak merasa takut jika harus bertarung denganmu, Brajamusti!"

Batuk Maragam memandang mata Nyai Sunti Rahim dengan tajam. Yang dipandang juga memberi balasan serupa. Tiba-tiba kedua mata Nyai Sunti Rahim melesat dua benda logam putih kemilau. Slaaapp...! Batuk Maragam cepat menahan napas. Beesss...! la bagaikan lenyap, dan tahu-tahu sudah ada di sisi lain.

Dua logam yang ternyata jarum berkekuatan tenaga dalam sangat tinggi itu melesat tak kenai sasarannya, melainkan menghantam dua gugusan batu karang yang berjarak sepuluh tindak dari tempat Batuk Maragam berdiri semula.

Sraab...! Blaaarr...! Dua batu itu pun pecah memercik ke berbagai arah. Menjadi serpihan- serpihan lembut yang mempunyai panas api membara.

"Uhuk, uhuk, uhuk...!" Batuk Maragam mulai beraksl. Suara batuknya mempunyai getaran gelombang tenaga dalam yang segera mengguncangkan pepohonan hutan pantai dan menggetarkan dinding tebing karang. Brrr...!

"Uhuk, ehek, ehek, ehek, ehek, ehek...!"

Nyai Sunti Rahim menutup kedua telinganya. Suara-batuk itu bagaikan menembus masuk kedua gendang telinganya dan ingin memecahkan gendang telinga itu. Nyai Sunti Rahim menahannya dengan mata terpejam kuat-kuat dan tubuh mulai limbung ke sana-sini.

"Ehek, ehek, ehek, ahaak... ahak, ohok, ahak, ahok, ahak, ohooooeek...!"
Brrrukk...!

Nyai Sunti Rahim jatuh berlutut dengan napas terengah-engah dan telinganya merembeskan darah. Wajah menjadi pucat dan kedua tangan yang memegangi telinga itu gemetaran.

Suara batuk itu juga memecahkan empat bongkah-an batu hitam sebesar kerbau, dan beberapa gugusan batu karang yang ada di sekitar tempat itu menjadi re-tak. Bahkan ada yang terbelah menjadi dua atau tiga bagian. Dinding tebing karang rontok, sebagian ada yang merekah bagai ingin terbelah.

"Heeeaaatt...!" Nyai Sunti Rahim kerahkan tenaga murkanya. la melesat dalam keadaan seperti terbang. Tubuh Batuk Maragam yang masih terbungkuk-bungkuk dan keluarkan batuk lagi itu diterjangnya. Breesss...! Wuut...! Tubuh tua itu terlempar jauh dan terbanting menghantam batu karang runcing.

Tetapi sebelum tubuh itu menyentuh batu karang runcing, tiba-tiba ada asap menyentak dari tangan Batuk Maragam dan asap itu menguap tebal membungkus diri.

Buuusss...!

Tubuh Batuk Maragam tak terlihat lagi begitu asap hilang terhembus angin. Nyai Sunti Rahim yang kesa-kitan pada kedua telinganya mencoba mencari sosok Batuk Maragam. Ternyata tokoh berambut abu-abu itu sudah berada di atas tebing karang, tempatnya berdiri semula.

"Keparat kau, Brajamusti!" teriak Nyai Sunti Rahim dengan amat murka. Karena dilihatnya tubuh Pesona Indah sudah ada di pundak Batuk Maragam. Gerakan cepat Batuk Maragam dalam menyambar tubuh Pesona Indah sempat tidak terlihat oieh mata Nyai Sunti Rahim.

"Heeeaaat...!" Nyai Sunti Rahim berkelebat bagaikan angin lewat.

Buusss...!

Asap putih mengepul lagi dengan tebal membungkus tubuh Batuk Maragam sebelum Nyai Sunti Rahim tiba di atas tebing karang itu. Ketika perempuan tersebut sampai di sana, ternyata Batuk Maragam sudah lenyap bersama Pesona Indah. Nyai Sunti Rahim mencarinya dengan napas terengah-engah. Ta-hu-tahu dilihatnya sosok Batuk Maragam sudah berada di pantai tempat pertarungan mereka tadi.

"Uhuk, uhuk, hoooaaak...! Hoooaaak...!"
Glegeeer...!

Guntur menggelegar, langit berkerilap bagaikan mau pecah. Awan hitam menggumpal-gumpal di angkasa. Tanah bergetar meruntuhkan dinding tebing ka­rang. Dan saat ituiah tubuh Nyai Sunti Rahim jatuh ter-jungkal ke jurang karang. Tubuh itu melayang-layang sambii serukan teriakan liar,

"Kubalas kau, Brajaaa...!"

Batuk Maragam diam dalam pandangan ke arah dasar jurang yang penuh dengan bebatuan runcing itu. Alam sudah tidak lagi bergetar karena Suara batuk bergelombang tenaga dalam tinggi itu. Batuk Maragam berkata lirih,

"Aku tahu kau tak akan mati di sana, Sunti Rahim! Tapi kalau kau masih nekat mau menerjang undang-undang persilatan yang telah disepakati bersama oleh kami, kau tetap akan berhadapan denganku dan mungkin akan menderita lebih parah lagi!"

Setelah berkata bagaikan bicara sendirian itu, Batuk Maragam cepat tinggalkan tempat itu menyusuri pantai. Langkah pertama yang dilakukan adalah membawa gadis yang terluka parah itu ke pondoknya. Wajah sang gadis sudah sangat pucat, bibirnya membiru, tubuhnya dingin.

Namun sebelum mencapai tempat kediamannya yang kala itu ditunggui oleh bekas murid Peri Sendang Keramat yang telah murtad dari ajaran sang Peri, yaitu Camar Sembilu, tiba-tiba langkah Batuk Maragam terhadang oieh sebuah kilatan sinar kuning emas yang melesat dari arah kirinya. Claaap...! Blaar!

Sinar kuning emas itu dihindari Batuk Maragam dengan sentakkan kaki yang membuat tubuhnya melesat naik dalam keadaan tetap memanggul Pesona Indah. Sinar tersebut menghantam gugusan batu karang yang jauh dari pantai, dan batu karang putih itu mendadak menjadi hitam dan berasap, bagai seonggok arang me­nunggu rapuh karena terjangan ombak.

Batuk Maragam mencari penyerangnya. Tiba-tiba dari belakang melesat sesosok tubuh yang berkelebat cepat melancarkan tendangan miringnya. Wuuuttt...! Batuk Maragam cepat putar badan dan kaki kanannya juga berkelebat bagai kipas.

Wuuusss...! Praakk...!
"Auhg...!"
Brrruk...!

Tubuh si rambut pirang jatuh tersungkur. la menyeringai karena tulang kakilnya bagaikan patah ataupun remuk sebagian. la merasa seperti menen- dang pilar besi sekencang-kencangnya.

"Mengapa kau menyerangku, Nona Cantik?! Uhuk, uhuk uhuk...!" suara batuk itu tanpa saluran tenaga dalam.

Jelita Bule berusaha bangkit dengan terpincang-pincang. Matanya masih mencoba memandangi Batuk Maragam dengan sikap bermusuhan.

"Serahkan gadis di pundakmu itu!"
"Apakah kau anak buah Nyai Sunti Rahim?!"
"Apakah kau ada di pihaknya, Pak Tua?!" Jelita Bule ganti bertanya.
"Kalau kau ada dipihaknya, kau layak menerima pembelaanku ini. Hiaaah.. I"

Claaap...!

Dari tangan yang disentakkan melesat selarik sinar hijau lurus, arahnya ke dada kanan Batuk Maragam. Tetapi tangan Batuk Maragam segera menghadang. Telapak tangannya dipakai sebagai penghadang sinar hijau itu. Jeeeb...!

Rupanya Batuk Maragam ingin kembalikan sinar hijau itu dengan tenaga dalamnya yang mendorong sinar tanpa putus tersebut, sedangkan Jelita Bule ber­usaha menekan sinar itu agar tembus ke telapak tangan lawannya. Mereka saling kerahkan tenaga, saling berusaha menumbangkan, hingga akhirnya seberkas sinar merah melesat dari samping bagaikan memotong sinar hijau lurus itu. Blaarr...!

Jelita Bule terpental terbang ke belakang dan jatuh terpuruk di semak. Batuk Maragam hanya mundur dua tindak dalam sentakan yang hampir membuatnya menggeloyor jatuh. Tapi tubuh Pesona Indah masih ada di pundaknya, dipegang kuat-kuat. Batuk Maragam segera memandang ke arah datangnya sinar merah kecil itu.

"Setan Arak...?!" sapa Batuk Maragam yang segera terbatuk-batuk sesaat.

Bongkok Sepuh dan Suto Sinting datang hampiri Batuk Maragam. Mata gadis berambut pirang memandang dengan hati lega. Sebab ia merasa seandainya tidak dihentikan oleh kehadiran Suto Sinting, ia akan kalah hadapi Batuk Maragam yang mampu menahan sinar hijaunya dengan tangan telanjang dan tanpa luka sedikit pun. Bagi Jelita Bule keadaan itu sudah menandakan bahwa lawannya berilmu lebih tinggi darinya.

Pande Bungkus datang menyusul setelah beberapa saat Suto Sinting dan Bongkok Sepuh berada di tempat itu. Bongkok Sepuh langsung menyapa Batuk Maragam,

"Mengapa kau lawan gadis semuda itu, Brajamusti? Jelas dia bukan tandinganmu. Kalau tidak kupatahkan dengan sinar merahku, bisa hancur tubuh gadis cantik itu, Brajamusti!"

"Dia ingin mengambil orang yang kupanggul ini. Tapi dia terlalu kasar dan berani menyerangku. Aku hanya bertahan saja, tidak memberi serangan balasan!"

" Pesona Indah...?" gumam Pendekar Mabuk setelah memperhatikan gadis yang dipanggul Brajamusti.

"Apakah kau kenal dengan gadis culikan Sunti Rahim ini, Suto?"
"Sangat kenal. Dia teman gadis berambut kuning yang menyerangmu itu!"
"Ooo... pantas! He he he he... uhuk, uhuk, uhuk, uhuk!"
"Hentikan tawamu supaya lenyap batukmu, Brajamusti," kata Bongkok Sepuh.

Jelita Bule dekati Suto Sinting dengan terpincang-pincang. Pande Bungkus meiihat Jelita Bule berjalan dengan susah, maka ia segera membantu, memapahnya tanpa canggung-canggung lagi. Jelita Bule tidak menolak, dan ia diantarkan untuk mendekati Suto.

"Beri aku tuak, sakit sekali kakiku!"

Suto Sinting sunggingkan senyum sambii sodor-kan bumbung tuaknya. la sempat berkata pelan, "Hati-hati, jangan sampai ketagihan sepertikul"

Batuk Maragam bertanya kepada Suto Sinting, "Siapa sebenarnya gadis ini, juga gadis rambut aneh itu?"

"Utusan dari Ratu Rangsang Madu," jawab Suto Sinting, dan jawaban itu membuat Batuk Maragam berkerut dahi.

"Ada urusan apa sehingga ia mengirimkan dua utusannya?"
"Dia terkena Racun Bulan Madu, kiriman dari Nyai Sunti Rahim!"

"Gawat!" gumam Batuk Maragam dengan cemas. Pesona Indah diletakkan di atas rumpun. "Tolong beri dia tuak dulu biar tidak terlambat!"

Jelita Bule yang memberikan tuak kepada Pesona Indah. Menuangkan ke mulutnya pelan-pelan. Sementara itu Batuk Maragam berkata,

"Setan Arak, aku ingin bicara denganmu sebentar!"

Suto Sinting berkerut dahi walau tetap tersenyum. Matanya pandangi dua tokoh tua yang berkasak-kusuk di bawah pohon, sekitar tujuh langkah dari orang- orang muda itu. Agaknya ada pembicaraan rahasia yang dila-kukan oieh dua tokoh tua itu. Suto Sinting mencoba mencuri dengar dengan iimu Sadap Suara' yang dimi- likinya dari Bidadari Jalang.

"Apakah kau akan datang ke Pulau Selayang?" tanya Batuk Maragam.

"Tidak. Aku tidak mau ikut ke sana. Bukan karena aku tak kasihan kepada bekas kekasih lamaku sebelum beristril Nyai Sunti Rahim, tapi... aku tidak mau mengulang kenangan lama. Kau sajalah yang ke sana menengoknya. Mungkin kau bisa mengobatinya juga."

Aku tak pernah tahu apa obat untuk Racun Bulan Madu itu! Dan lagi kalau aku ke sana, aku takut dia akan tahu tentang diriku dan menuntut haknya!"

"Kasihan kalau dia tak kau tengok. Sudah berapa lama kau tak menengoknya?"
"Hampir empat puluh tahun lebih."

"Kurasa dia masih punya hati padamu, karenanya sampai sekarang belum mau menikah dengan siapa pun."

"Tidak, Setan Arak! Aku yakin dia masih mengharapkan kau kembali padanya!"
"Aku tidak bersedia! Aku sudah terlalu melukainya."
"Justru sekaranglah saatnya kau mengobati lukanya."

Bongkok Sepuh diam termenung beberapa saat. Suara bisik bisik mereka terdengar jelas di telinga Suto Sinting, karena Pendekar Mabuk mempunyai iimu 'Sadap Suara'. Karenanya dahi Suto pun berkerut kala mencoba menyimpulkan percakapan kedua tokoh tua itu.
Terdengar lagi Bongkok Sepuh berkata, "Bagaimana kalau kita datang berdua?"

Itu akan melukainya, karena ia tak bisa curahkan perasaan kepada kita secara bersamaan."

"Tapi... ah, tidak. Aku tidak mau datang. Kau saja yang datang dan kupaksa agar datang menemuinya! Setidaknya membantunya menyembuhkan Racun Bulan Madu!"

"Kau tak sakit hati kalau aku datang?" bisik Batuk Maragam setelah mengerutkan keningnya beberapa saat untuk mempertimbangkan langkah.

"Tidak. Kita sudah sama-sama tua. Yang tersisa hanya kenangan masa muda! Datanglah kepadanya, dan sampaikan salamku padanya. Kau memang lebih berhak menemuinya, karena kau sampai sekarang pun belum beristri lagi, bukan?"

"Hmmm... ya. Terus terang saja, karena aku masih terpaku oieh kenangan masa muda bersamanya."

"Bawalah Suto Sinting ke sana. Mustikasari membutuhkan bantuan Suto!"
"Baiklah kalau kau memang tak punya rasa apa-apa terhadapku."

Bongkok Sepuh tepuk-tepuk pundak Batuk Maragam. "Aku sudah tak seperti dulu. Tak pernah punya rasa cemburu kepada teman yang bisa dapat kekasih cantik. Lupakan semua masa lalu kita yang buruk-bu ruk. Kenang saja yang indah-indah!"

Pendekar Mabuk berkata dalam hatinya, "Sepertinya mereka berdua punya hubungan dekat dengan Ratu Rangsang Madu? Agaknya hubungan mereka sangat pribadi dengan sang Ratu yang punya nama asli... Mustikasari itu. Tapi hubungan yang bagaimana sebenarnya? Hak apa yang akan drtuntut oieh sang Ratu jika Batuk Maragam datang menemuinya? Aku jadi ingin tahu kisah lalu orang-orang seperti mereka Itu"Desakan Suto Sinting membuat Batuk Maragam tak bisa sembunyikan rahasia masa lalunya. Dalam perjalanan menuju Pulau Selayang, Suto Sinting sempat mengancam dalam candanya,

"Kalau Paman tidak mau ceritakan masalah Ratu Rangsang Madu, saya akan loncat dari perahu ini dan pulang ke Jurang Lindu. Tak mau ikut ke Pulau Selayang!"

"Kau sama nakalnya dengan gurumu semasa mudanya, Suto!" gerutu Batuk Maragam.

Keduanya tetap berdiri dl bagian buritan perahu.

"Semasa mudanya, Ratu Rangsang Madu bernama Mustikasari. Dia adalah wanita tercantik di rimba persilatan. Ketika ia berdekatan dengan Setan Arak, atau si Bongkok Sepuh, aku merebutnya. Aku iatuh cinta pada Mustikasari. Aku juga mengadukan hubungan cinta Setan Arak dengan Mustikasari kepada guru si Setan Arak, yaitu Nyai Sunti Rahim sendiri. Akhirnya Nyai Sunti Rahim ikut mendukungku, menjauhkan Setan Arak dengan Mustikasari. Setan Arak dikuasai oieh gurunya, lalu menikahlah mereka sebelum akhirnya bercerai karena Setan Arak tergoda oieh rayuan Bidadari Jalang."

"Lalu hubungan Paman dengan Mustikasari tetap berlanjut?"

"Ya. Tapi waktu itu aku masih nakal," Batuk Maragam tertawa sendiri, lalu terbatuk-batuk. "Usia mudaku membuat aku nekat menghanyutkan diri dalam pelukan Mustikasari, sampai akhirnya ia hamil dan punya anak. Tapi waktu itu aku sudah telanjur meneruskan pelajaranku, pergi ke Pegunungan Sojiyamadi Negeri Matahari Terbit itu. Kudengar Mustikasari melahirkan anak perempuan, yang kemudian dibuang olehnya. Tugasku harus menemukan anak perempuan itu dan menyerahkan kembali kepadanya jika aku ingin kembali hidup bersamanya."

"Lalu anak perempuan itu sudah Paman temukan?" "Belum. Karena memang aku tidak mencarinya. Aku berusaha melupakan Mustikasari, sebab aku merasa berdosa besar kepadanya. Penyesalanku sudah kian menua, hingga tak terasa lagi menduka di hati."

Dalam hati Pendekar Mabuk berkata,

"Ternyata kenakalan para pendekar semasa mudanya sama saja. Tak jauh dari soal cinta. Dan karma itu telah hadir menimpa Paman Batuk Maragam, yaitu dengan menyaksikan keponakannya hamil tanpa suami.
Ah... itu cerita usang yang memang abadi. Tak perlu terlalu dipikirkan. Hanya saja, apa yang harus kuperbuat nanti jika berte-mu dengan Ratu Rangsang Madu yang membutuhkan darahku? Kalau saja bukan karena mengikuti bujukan Paman Batuk Maragam, aku tidak mau ikut ke Pulau Selayang. Sayang sekali tadi Paman Batuk Maragam memohon-mohon dengan sangat agar aku mau datang, aku tak tega dengan orang yang bersikap baik padaku ini, akhirnya aku mau ikut juga ke sana."

Suto Sinting sempat berkata kepada Batuk Maragam, "Paman, kalau Racun Bulan Madu itu meminta tebusan darahku, berarti aku harus mati untuk Ratu Rangsang Madu?! Padahal aku tidak punya hubungan apa-apa dengan beliau."

"Aku ingin memeriksanya dulu, sejauh mana darahmu dibutuhkan. Kalau toh itu akan membuatmu mati, aku sendiri tak setuju. Tapi jika kau setuju aku pun tak melarangmu untuk mati demi seseorang.""Kurasa itu tak mungkin, Paman Batuk Maragam!"

"Kalau memang tak mungkin mati untuk orang lain, ya sudah. Tak usah mati. Kau akan kularikan dan kulindungi kalau ada yang mencoba memaksa nyawamu!"

Kembali Suto Sinting membatin, "Orang ini kalau ngomong enak saja. Seolah- olah tidak mempunyai beban perasaan apa-apa. Tapi entah bagaimana aku jadi sangat percaya dengan janjinya dan apa saja yang dikatakannya. Sedikit pun aku tak punya curiga jelek kepada Paman Batuk Maragam ini! Aneh sekali. Apakah ini termasuk pengaruh kesaktiannya yang membuat orang seialu percaya dengan apa saja yang dikatakan-nya?"

Di bagian haluan, Pande Bungkus bicara dengan Jelita Bule dan Pesona Indah yang sudah segar bugar seperti tak pernah terluka parah sedikit pun. Tuak Suto itulah yang membuat Pesona Indah menjadi sesegar itu, melebihi segarnya saat belum meminum tuak tersebut.

"Aku tak percaya pemuda setampan dirimu dan de-kat dengan Pendekar Mabuk, tapi tidak punya ilmu apa-apa!" kata Pesona Indah kepada Pande Bungkus.

"Aku hanya punya ilmu membidik dengan ketapel."
"Tapi menurutku kau juga pandai membidik hati wanita," kata Jelita Bule sambii tersenyum-senyum.

"Ah, tidak terlalu pandai. Hanya selalu tepat sasar-an saja," kata Pande Bungkus dengan hati berdebar bangga. la biarkan pipinya dicubit oieh Pesona Indah. la biarkan pula wanita berpakaian sungguh menantang itu kian dekat dengannya. Lalu, la mendengar suara Indah berbisik pelan di telinganya,

"Kamu sudah punya kekasih?"
Belum. Masih kosong. Yang mau masuk silakan saja. Tapi harus mau menerima apa adanya."
"Kamu menggemaskan sekali!"
"Pesona, jangan kelewat batas!" Jelita Bule mengingatkan.

"Aku tak menyentuh batasnya, Jelita Bule. Jangan khawatir." Pesona Indah tertawa seiring dengan tawa tampannya Pande Bungkus.

"Adi sabi lagiter-lagi mudapa!" kata Jelita Bule.
"Arbijasa. Kua frasu nyadapa."

Pande Bungkus ikut-ikutan bicara seperti itu, "Su-pa musi-musi, muntah!"

"Apa Itu artinya?"
Kepalaku puyeng!" jawab Pande Bungkus hadirkan tawa bagi mereka bertiga.

Tawa tersebut segera terhenti ketika Batuk Maragam berseru, "Hei, lihat di sebelah timur sana, ada kapal yang mendekati kita!"

Semua mata tertuju ke arah timur. Ternyata apa kata Batuk Maragam memang benar. Sebuah kapal bertiang layar dua dengan bendera merah di ujung tiap-tiap layarnya sedang bergerak ke arah perahu mereka.

"Bajak taut!" teriak Pande Bungkus dengan tegang.

Tetapi Batuk Maragam terdengar menggumamkan sepotong nama yang tidak dikenal oleh mereka.

"Syakuntala!"

Gumam yang didengar mereka membuat Batuk Maragam menjadi pusat perhatian semua mata. Pandangan mereka membuat Batuk Maragam bagai dipaksa untuk menjelaskan siapa Syakuntala itu.

"Syakuntala adalah Perwira Tanah Hindus berilmu tinggi. Dia musuh lamaku. Pernah kutumbangkan dalam suatu pertarungan. Tapi pernah membuatku hampir mati kalau tidak ditolong oieh seorang sahabat."

Pande Bungkus berkata, "Kalau begitu, dia menghampiri kita untuk bikin perhitungan tersendiri dengan Paman??"

"Aku tidak tahu apa maksudnya. Kita lihat saja nanti."

Suto Sinting angkat bicara, "Apakah tidak sebaik-nya kita hindari saja?"

"Ke mana pun kita menghindar dia dapat mengejar dalam jarak seperti sekarang ini. Percuma saja kita menghindar, uhuk, uhuk, uhuk, ihiiikk...!"

Kapal berwarna hitam kehijauan karena lumut itu turunkan jangkarnya dalam jarak sekitar empat tombak dari perahu berlayar satu. Orang-orang kapal tersebut berjajar di geladak dengan senjata masing-masing. Mereka berkulit hitam dan masing-masing kenakan rompi warna merah dan kuning. Celana mereka pada umumnya berwarna hitam. Kalaupun ada yang kenakan ceiana biru, hanya beberapa orang saja yang mondar-mandir lakukan kesibukan lain di atas kapal tersebut. Pandangan mata mereka yang bercelana hitam tertuju ke kapal Suto Sinting yang tidak bisa bergerak bagai ditahan oieh suatu kekuatan gaib.

Seorang berkepala gundul tapi bercambang dan berkumis tebal muncul dari salah satu barak. Orang tersebut bertubuh kekar, baju putihnya tanpa lengan. Ceiana putihnya terikat di bagian bawah betisnya. la mengenakan anting-anting bundar di kedua daun telinga. la mempunyai sepasang mata bundar lebar, mempunyai ketajaman sinar pandangnya dan mempunyai kekuatan aneh yang membuat hati Jelita Bule, Pesona Indah, dan Pande Bungkus bergetar hati.

Hanya Pendekar Mabuk dan Batuk Maragam yang kelihatan tenang. Bahkan Pendekar Mabuk dengan santainya menenggak tuak beberapa teguk bagai tidak hiraukan orang-orang di atas kapal tersebut.

"Masih ingat aku, Batuk Maragam?!" seru orang gundul itu.

"Rasanya cukup sulit melupakanmu, Syakuntala!" balas Batuk Maragam berseru juga. "Apa maksudmu menahan perahu kami?!"

Kau masih berhutang satu kelingking denganku, Batuk Maragam!"

Syakuntala angkat tangan kirinya dan memperhatikan kelingkingnya yang hilang bagaikan bekas terpotong lama itu. Batuk Maragam terkekeh panjang.

"Apakah kau ingin menuntutku sekarang juga?! Kurasa kali ini aku tak akan sisakan lagi jari-jari tanganmu jika memang kau menghendaki pertarungan dl te­ngah lautan ini!"

"Seharusnya memang demikian. Tapi sayang sekali kali ini aku punya tugas lain. Kuselesaikan dulu tugasku, baru kutuntut hutangmu!"

Jika begitu, silakan selesaikan tugasmu dulu, Syakuntala. Aku siap menerima tuntutanmu kapan saja!" lalu Batuk Maragam terbungkuk-bungkuk karena keluarkan batuknya. Batuk itu membuat kapal besar tersebut tiba-tiba menjadi terguncang- guncang dan dua-tiga prajurit yang berdiri di tepiannya jatuh terpelanting, bahkan ada yang hampir tercebur ke laut. Rupanya Batuk Maragam keluarkan tenaga dalam yang menyerang kapal itu melalui suara batuknya.

Syakuntala rapatkan telapak tangan dl dada. Lalu kedua tangan itu bergerak mengembang dengan pelan-pelan. Tiba-tiba sebuah getaran dirasakan pula oieh pa­ra penghuni perahu kecil tersebut. Perahu tersebut bagaikan diguncang suatu kekuatan yang akhirnya menjadi oleng tak karuan gerakannya. Batuk Maragam jatuh terduduk di buritan.

Jelita Bule dan Pesona Indah pegangi tiang layar. Pande Bungkus nyaris terpelanting, tapi tubuhnya langsung ditangkap Pesona Indah hingga pria itu bagai berada dalam pelukan si cantik berambut hitam. Sementara itu, Suto Sinting hanya berdiri diam tanpa ikut terguncang. la bagaikan pilar besi yang taktergoyahkan. Namun matanya memandang tajam ke arah si Perwira Tanah Hindus itu. Dan tiba-tiba jari tangannya menyentil.

Teeess... !

Brruukk...! Syakuntala jatuh ke belakang dengan terkejut. la tak tahu kalau akan mendapat serangan tenaga dalam yang cukup besar. Bahkan ia tidak melihat bahwa jari tangan pemuda tampan yang membawa bumbung bambu tuak itu bergerak menyentil sebagai gerakan lepaskan jurus 'Jari Guntur' yang mempunyai kekuatan sentak seperti kekuatan tendangan kuda.

Syakuntala bergegas bangkit dan melihat beberapa orangnya menarik busur panah, slap lepaskan panahnya ke arah Batuk Maragam, karena mereka menyangka Batuk Maragam-lah yang menyerang Syakuntala dengan kekuatan tenaga dalam.

"Tahan!" seru Syakuntala kepada para pemanah itu. Kemudian ia berseru kepada Batuk Maragam yang sudah berdiri tegak karena perahu sudah tidak oleng hebat seperti tadi. Namun keadaan perahu masih tertahan oieh suatu kekuatan yang diduga datangnya dari kapal besar itu.

"Batuk Maragam! Kau tak perlu tunjukkan bahwa kekuatanmu masih ada. Aku bisa rasakan kau masih mempunyai kekuatan seperti dulu, dan aku pun merasa dapat tumbangkan dirimu dengan lebih mudah lagi dari yang dulu. Tapi aku punya kepentingan tersendiri dengan dirimu, Batuk Maragam!"

"Apa kepentinganmu selain menuntut balas pada-ku?!"
"Dari jauh kucium bau tuak yang aneh. Kurasa salah satu dari orang-orangmu itu ada yang sedang kucari-cari!"

"Apa yang kau, uhuk, uhuk, ihiiik... ihiiik... heoik!" Batuk Maragam benar-benar terbatuk tanpa sengaja. la terpaksa ulangi kata-katanya tadi.

"Apa yang kau cari, Syakuntala?!"
"Seorang tabib ampuh yang kondang dengan nama Tabib Darah Tuak!"

Bule terperanjat, demikian pula Pesona Indah. Kedua gadis cantik itu memandang ke arah Pendekar Mabuk yang masih diam berdiri tak jauh dari mereka. Pande Bungkus Ikut-ikutan memandang Pendekar Mabuk, karena la pernah mendengar nama julukan Tabib Darah Tuak yang disebutkan dua gadis itu kepada Suto Sinting. Sementara Suto Sinting sendiri mulai merasa sedang diperhatikan oleh ekor mata Syakuntala, karena ia ingat sebutan yang didengarnya dari mulut Jelita Bule tentang dirinya.

Syakuntala, kami tidak mempunyai tabib di sini!" seru Batuk Maragam.

"Apakah aku harus percaya dengan ucapanmu, Pendusta Tua?!" kata Syakuntala menandakan tidak percaya dengan kata-kata Batuk Maragam. "Bagaimana dengan pemuda berbaju coklat itu, Batuk Maragam?"

"O, dia hanya seorang pedagang arak yang kebetulan menumpang perahuku!" jawab Batuk Maragam bermaksud menutupi siapa diri Suto sebenarnya. Jelita Bule dan Pesona Indah setuju dengan jawaban Itu. Tetapi Pande Bungkus yang ingin tetap bersama pendekar kebanggaannya itu segera dekati Suto Sinting dan berseru kepada Syakuntala,

"Kalian tidak bisa membawa Kang Suto! Karena Pendekar Mabuk kami Ini bukan Tabib Darah Tuak!"

Namun ucapan Pande Bungkus itu justru membuat Syakuntala serukan tawanya. Hati kedua gadis dan Batuk Maragam sempat kesal atas seruan Pande Bungkus. Slkap itu justru menunjukkan bahwa Suto Sinting adalah Tabib Darah Tuak.

"Batuk Maragam, orangmu telah mengakul bahwa pemuda ini bukan seorang pedagang arak, melainkan dialah Tabib Darah Tuak yang kami cari-cari itu!"

Jelita Bule segera menarik Pande Bungkus dengan mencengkeram rompinya.

"Kau ternyata mata-mata mereka, Pande Bungkus!" geram Jelita Bule. Tentu saja anak muda yang polos itu menjadi bingung dan merasa takut melihat wajah Jelita Bule tampak berang.

Suto Sinting segera berkata pelan, "Dia bukan mata-mata. Dia hanya melepas kepolosannya yang cenderung berkesan bodoh."

"Tidak bisa! Dia pasti orang kapal itu yang menyamar menjadi pemuda bodoh!" geram Jelita Bule lagi tanpa memandang Suto melainkan menatap tajam ke wajah Pande Bungkus.

"Paman," kata Pesona Indah. "Apa pun yang terjadi kami akan pertahankan Suto Sinting agar tak berurusan dengan Syakuntala!"

"Tenanglah dulu kalian ini. Jangan tampakkan ketegangan sendiri di depan Syakuntala. Nanti dia akan manfaatkan ketegangan di antara kita," kata Batuk Ma­ragam yang tak jadi lanjutkan ucapannya karena Syakuntala telah berseru dengan suaranya yang lantang.

"Aku akan membawa Tabib Darah Tuak itu ke Tanah Hindus, Batuk Maragam! Beritahukan kepada orang-orangmu agar tak menghalangi niatku jika mau selamat!"

"Orang-orangku tak akan menghalangi, tapi akulah yang akan menghalangi niatmu itu, Syakuntala!"

"Batuk Maragam," geramnya keras sekali. "Jangan memancing kemarahanku saat ini! Kita punya waktu sendiri untuk sallng lepaskan dendam. Sekarang kumohon kau tidak mempersulit niatku agar perahumu itu tidak pecah dan perjalananmu tidak terganggu!"

Paman, ini sebuah ancaman!" kata Pesona Indah. "Saya akan hadapi ancaman Itu demi kesembuhan sang Ratu!"

Jelita Bule pun menimpali, "Kami berdua akan menyerangrrya, Paman!"

"Jangan! Tahan dulu. Kalian tak perlu ikut berurusan dengannya!" kata Batuk Maragam dengan suara pelan.

Akhirnya Suto Sinting bicara juga setelah melihat orang-orang perahu saling bersitegang."

Pendekar Mabuk segera melangkah ke tempat yang lebih tinggi dan berseru kepada Syakuntala,

"Apa maumu, Syakuntala?!"

"Membawa Pendekar Mabuk yang menjadi Tabib Darah Tuak ke Tanah Hindus. Raja kami dalam keadaan sakit parah dan membutuhkan pertolonganmu, Tabib!"

"Aku bukan tabib! Aku manusia biasa!"

Syakuntala diam saja, matanya memandang tajam kepada Pendekar Mabuk. Tiba-tiba tangannya menyentak ke depan bagai membuang sesuatu. Ternyata sekilas sinar hijau kecil melesat dari tangan itu menghantam perut Pande Bungkus yang sedang kebingungan mencari tempat berlilndung. Claapp...! Bllesss...!

"Aahg...!" Pande Bungkus terpekik tertahan. Matanya sempat terbellak sebentar, lalu ia pun roboh dl ba-wah tiang layar. Brrukk...! Semua mata memandang ke arahnya dan menjadi tegang karena meiihat tubuh Pande Bungkus keluarkan asap putih dengan kullt bergerak-gerak ingin mengelupas berwarna merah matang.

Syakuntala berteriak dalam tawa,

"Ha, ha, ha, ha...! Anak muda Itu telah terkena Racun Llur Naga-ku. Dalam dua puluh hitungan dia akan mati terkelupas dan matang tubuhnya. Seperti kau ketahui, Batuk Maragam, bahwa Racun Llur Naga tak pernah ada penangkalnya dan hanya bisa dlsembuhkan oieh tuak sakti milik seorang tokoh tua yang tinggal di Jurang Lindu. Konon tokoh tua itu adalah murid si Tabib Darah Tuak. Jika begitu, maka anak muda itu akan tertolong nyawanya se-andainya Tabib Darah Tuak segera menyembuhkannya!"

Batuk Maragam tampak tegang walau tetap berusaha ditutup-tutupi. Tapi kedua gadis utusan Negeri Malaga itu tak bisa menutupi kecemasan dan ketegangannya. Mata mereka tertuju kepada Suto Sinting seakan ingin meiihat apa yang akan dilakukan Suto Sinting terhadap Pande Bungkus.

Suto Sinting hanya membatin, "Dia menjebakku! Pandai sekali caranya membuktikan kebenaran dugaannya tentang diriku. Sial! Mau tak mau aku harus sembuhkan Pande Bungkus agar anak muda itu tak menjadi korban sia-sia."

Pendekar Mabuk bergegas dekati Pande Bungkus, tapi langkahnya dihadang oieh Jelita Bule. Gadis itu pegangi dada Suto Sinting dan berkata,

"Jangan lakukan apa-apa terhadap Pande Bungkus, nanti dia tahu kalau kau adalah Tabib Darah Tuak!"

"Aku tak pedull dia tahu atau tidak, tapi Pande Bungkus tak boleh mati sia-sia. Dia tidak bersalah kepada kita atau kepada mereka. Kasihan kalau dia harus jadi korban."

"Kumohon jangan lakukan demi sembunyikan jati dirimu!" Pesona Indah menimpali dalam ucapan bisik-blsik.

Tetapi Suto Sinting agaknya tidak mau pedulikan cegahan mereka. Tubuh Jelita Bule segera disingkirkan dengan menepiskan tangan penahannya. Lalu tubuh itu didorong ke samping dengan sentakan kecil, Suto Sinting dekati Pande Bungkus yang kulit tubuhnya mulai terkelupas di sana-sini. Anak muda itu mengerang kesakitan dengan suara lirih. Suto Sinting buru-buru tuangkan tuaknya ke mulut Pande Bungkus hingga tuak tertelan dan Pande Bungkus terbatuk-ba-tuk. Sementara itu Batuk Maragam jadi ikut-ikutan batuk karena mendengar suara Pande Bungkus yang ter-sedak dan terbatuk-batuk.

Syakuntala dan orang-orang kapal memusatkan pandangan mata ke arah Suto Sinting. Mereka meiihat asap yang mengepul dari tubuh Pande Bungkus mulai berkurang. Warna merah matang pada tubuh Pande Bungkus pun mulai pudar. Sementara itu, Pendekar Mabuk segera temui Batuk Maragam dan berkata,

"Maafkan aku, Paman! Aku harus lakukan penghajaran kepada Syakuntala!"

"Dia berbahaya," bisik Batuk Maragam bernada tegang. "Bisa-bisa yang lain menjadi korban murka. Tapi kuharap kau tidak turuti keinginannya untuk membawa- mu ke Tanah Hindus. Sebab jika sudah sampai sana mustahil kau dllepaskan dan bisa kembali. Mereka akan menawanmu dan memaksamu menjadi Tabib Darah Tuak yang akan mendampingi Raja setiap saat. Raja Kulana Baham mempunyai tiga puteri cantik-cantik, salah satunya mirip dengan kekasihmu; Dyah Sari-ningrum, yang pernah kulihat melalui teropong batinku itu. Kau akan terpikat dengannya karena mereka dibekali ilmu pemikat hati yang amat tinggi."

"Jika begitu aku harus gunakan siasat untuk me-nundukkannya," gumam Pendekar Mabuk seperti bicara dengan diri sendiri. Gumaman itu didengar oleh Jelita Bule dan Pesona Indah. Kedua gadis itu hanya saling pandang tanpa bicara apa pun.

Pande Bungkus tampak segar, ia sudah bisa bangkit dan duduk dalam keadaan tubuhnya pulih seperti sediakala. Keadaan itu membuat senyum Syakuntala kian lebar, wajah para anak buahnya juga tampak cerah ceria.

"Tak salah dugaanku, ternyata memang Tabib Darah Tuak ada di perahu itu!" seru Syakuntala kepada anak buahnya, tapi maksud seruan itu ditujukan kepada Batuk Maragam. Sambungnya lagi,

"Sebaiknya sekarang juga jemput pemuda tampan itu dan pindahkan ke kapal kita! Lakukan...!"

"Tunggu...!* seru Pendekar Mabuk yang membuat dua orang yang ditugaskan menjemput Suto itu menjadi berhentl tak lanjutkan gerak. Syakuntala memandang Pendekar Mabuk dengan jumawanya.

Syakuntala! Aku mau kau bawa ke Tanah Hindus jika kau bisa kalahkan diriku dalam pertarungan satu lawan satu!"

"Kau hanya membuang-buang waktu, Tabib Darah Tuak!"

"Kalau kau tak berani menghadapi tantanganku, berarti kau berilmu rendah dan tak pantas dihormati oleh para anak buah! Aku mau dibawa ke Tanah Hindus asalkan dijemput orang tersakti di Tanah Hindus."

"Akulah penjemputmu, Tabib Darah Tuak!"

Syakuntala kelihatan mulai terpancing oleh keangkuhannya sendiri. Pendekar Mabuk sengaja membangkitkan kemarahan Syakuntala untuk mengatur siasat. Suto pun berseru kembali,

"Raja Kulana Baham salah pilih. Mestinya dia mengutus orang yang bisa unggul dalam pertarungan melawan Pendekar Mabuk, bukan orang yang besar mulut tapi tak mempunyai kemampuan menundukkan Pendekar Mabuk"

"Kau pikir aku perwira biasa, hah?! Aku adalah Panglima Pasukan Tanah Hindus, bukan sekadar manusia berderajat perwira biasa!" nada bicara Syakuntala mulai meninggi dengan mata mulai mendelik lebar.

Itulah yang diharapkan Suto Sinting sehingga Suto pun berseru lagi,

"Jika benar kau seorang panglima terpercaya, tentunya kau bersedia menerima tantangan kesatriaanku, Syakuntala! Kurasa kau hanya mengaku-aku sebagai panglima biar disegani dan dihormati oieh orang-orang di sekelilingmu itu. Buktinya kau berusaha menghin-dari pertarungan denganku." Syakuntala menggeram penuh kemarahan karena pada saat itu beberapa orang yang menjadi prajuritnya memandang ke arahnya, seakan ingin mengetahui ke putusan Syakuntala dalam menghadapi tantangan tersebut. Dengan wajah semburat merah karena menahan malu dan marah, Syakuntala pun berseru,

"Baikl Kuterima tantanganmu, Tabib Darah Tuak! Tentukan di mana tempatnya kita lakukan pertarungan, dan kapan waktunya?!"

Pendekar Mabuk berbisik kepada Batuk Maragam yang bersebelahan dengan Jelita Bule, sedangkan Pande Bungkus dalam pengawasan Pesona Indah.

"Berapa lama kita akan tiba di Negeri Malaga dan berapa hari kita akan berada di sana, Paman??"
"Perjalanan akan sampai tujuan esok pagi," jawab Jelita Bule. Batuk Maragam menimpali,
"Tentang waktu di sana kau bisa perkirakan sendiri."

Setelah diam sesaat, Pendekar Mabuk berseru kepada Syakuntala, "Syakuntala! Lima hari lagi kita bertemu di Bukit Mata Laut, yang ada di pesisir utara tanah Jawa! Kurasa kau dapat temukan bukit itu dengan mudah jika kapalmu berlayar lurus ke arah selatan."

"Baik. Kubuktikan kemampuanku menundukkan dirimu di bukit itu!"

PELAYARAN menjelang matahari tenggelam sung-guh merupakan pelayaran yang sangat indah. Mentari berubah menjadi merah dan sinarnya membentuk cahaya indah juga yang memancar mero-nai langit dengan warna-warna tembaga berkilauan. Cakrawala kelihatan menghitam bagaikan bibir raksasa yang siap menelan sang mentari. Pelayaran senja membuat para penghuni perahu kecil itu memandang terpesona ke arah cakrawala, kecuali Batuk Maragam. Tokoh tua Ini justru diam dan menyendiri di buritan dengan berlipat tangan di dada, rambutnya meriap-riap dipermainkan oieh hembusan angin laut.

Batuk Maragam ituliah orang pertama yang meiihat sebuah titik bergerak menuju ke perahunya dengan kecepatan tinggi. Titik hitam itu makin lama semakin jelas bentuknya. Ternyata ia adalah seorang perempuan yang berdiri di atas selembar daun kelapa hijau. Daun kelapa hijau bergerak cepat bagaikan dikendalikan oieh kekuatan tenaga dalamnya yang terpancar dari kedua kaklnya. Jika bukan orang berilmu tinggi, tak mungkin daun kelapa yang masih hijau itu mampu digu-nakan alas berdiri dan tidak tenggelam menahan beban tubuh si perempuan tersebut.

Pandangan mata Batuk Maragam semakin dipertajam untuk mengenali siapa perempuan yang seolah-olah unjuk kesaktiannya di atas daun kelapa hijau itu. Pakaiannya ketat warna ungu muda model angkin sampai dada, celana beludrunya berhias benang emas pada tepiannya. Jubah yang dikenakan adalah jubah ungu tua. la adalah seorang gadis yang usianya sekitar dua puluh lima tahun, tapi sebenarnya sudah lanjut usia. la menyandang pedang yang dibalut kain ungu di punggungnya. Rambutnya disanggul sebagian sisanya me-riap-riap dihembus angin kecepatan geraknya. Semakin dekat semakin terlihat bentuk kecantikannya yang berhidung mancung dan bermata indah tapi berkesan galak.

Gemuruh ombak yang ditimbulkan dari gerakan laju daun kelapa itu menimbulkan daya tarik sendiri bag! Suto Sinting dan dua utusan Negeri Malaga itu untuk berpaling memandang ke arah depan perahu. Suto Sinting terkesiap dalam pandangan herannya, sedangkan dua gadis utusan Ratu Rangsang Madu itu segera ke-rutkan dahi dan bergegas dekati arah buritan perahu.

Jelita Bule ucapkan kata kepada Pesona Indah dengan tetap pandangi gadis yang menuju ke perahu mereka itu,

"Rasa-rasanya kita kenal dengan wanita itu, Pesona Indah!"

"Ya. Aku tidak lupa dengannya. Dia adalah Pelangi Sutera, orang andalan Ratu Asmaradani dari Negeri Kencana Ringgit yang ada di dasar laut!"Memang benar, wanita itu adalah Pelangi Sutera yang mempunyai nama asli Sumbaruni, bekas istri Jin Kazmat. Suto Sinting kenal betul dengan perempuan cantik itu, sebab perempuan cantik itu pernah nyatakan cinta kepada Suto dan ingin bersuamikan Pendekar Mabuk.

Suto juga tahu bahwa Pelangi Sutera dulu memang panglima negeri dasar laut yang dipimpin oieh seorang ratu cantik bernama Ratu Asmaradani, tapi sekarang Sumbaruni sudah tinggalkan negeri itu dan tidak menjadi panglima lagi. la membaur dalam kancah persilatan sebagai tokoh yang sering membantu Pendekar Mabuk dalam menghadapi kesulitan demi cintanya dan rasa tak ingin kehilangan murid sinting si Gila Tuak itu. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Ratu Tanpa Tapak").

"Ada apa dia menyusulku kemari? Apakah Guru sedang sakit?" pikir Suto, karena ia tahu bahwa Sumbaruni belakangan ini memang sering adakan pertemuan dengan gurunya; Gila Tuak dan Bidadarl Jalang. Barangkali pendekatan terhadap gurunya Suto Sinting itu mempunyai maksud agar Sumbaruni dapat membujuk sang Guru supaya memaksa muridnya mengawini Sumbaruni. Tapi hal seperti itu hanya merupakan dugaan semata yang terlintas di benak Suto Sinting.

Kehadiran Sumbaruni memang menimbulkan pertanyaan batin bagi Batuk Maragam. Wajah cantik perempuan itu tampak muram dan memendam kemarahan. Ketika sudah mendekati perahu, tubuh Sumbaruni segera melompat dan bersalto satu kali di udara, lalu dengan sigap kakinya menapak di atas atap barak pe-lindung yang ada di perahu itu, sehingga ia berada di-ketinggian tempat. Daun kelapa hijau dibiarkan tera-pung-apung dipermainkan ombak sore; tapi tak hanyut terbawa ombak, melainkan bagaikan mengikutl laju perahu layar putih itu. Sepertinya Sumbaruni tanamkan satu kekuatan pada daun kelapa satu pelepah utuh itu sebuah kekuatan yang dapat menglkutinya ke mana pun ia pergi bersama perahu tersebut.

"Sumbaruni, apa maksudmu datang kemari?!" sapa Batuk Maragam dari tempatnya. Perempuan cantik itu diam saja, pandangi wajah Jelita Bule dan Pesona Indah. Sikap memandangnya itu berkesan penuh permusuhan, walau sebenarnya antara Negeri Malaga dengan Negeri Kencana Ringgit tak punya masalah apa-apa. Tapi agaknya kali ini Sumbaruni pribadi merasa punya masalah dengan kedua orangnya Ratu Rangsang Madu itu.

"Apa maksudmu memandangiku begitu, Pelangi Sutera?!" sapa Jelita Bule dengan nada menghardik.

"Aku hanya ingin melihat wajah orang lancang, yang berniat mengorbankan jiwa tak bersalah sebagai tumbal kesembuhan orang lain!" kata Sumbaruni dengan ketus.

"Apa maksudmu berkata begitu?!" sentak Pesona Indah yang tampak siap menyerang sewaktu-waktu.

"Aku tak Izinkan Pendekar Mabuk pergi ke Pulau Selayang! Aku mendengarnya dari Setan Arak, bahwa ratu kalian terkena Racun Bulan Madu milik Nyai Sunti Rahim. Aku bisa mengetahui kekuatan racun itu, tak akan bisa disembuhkanoleh siapa pun kecuali oieh darah Pendekar Mabuk. Itu sama saja kalian menghendaki kematian Suto Sinting sebagai tumbal kesembuhan ratu kalian! Aku tak rela kalau Pendekar Mabuk kalian jadikan tumbal. Bila perlu aku akan hadapi ratu kalian dengan caraku sendiri untuk menegur perintah ke-jinya itu!"

Sraangng...! Pesona Indah cabut pedang lebih dulu.

Sraang...! Sumbaruni juga mencabut pedangnya. Sementara itu Jelita Bule masih belum menghunus pedangnya, tapi tangan sudah menggenggam gagang pe­dang. la mundur dua langkah seakan berikan tempat buat Pesona Indah untuk lakukan serangan terhadap Sumbaruni yang dianggap berani menantang ratu mereka itu.

Tapi Suto Sinting segera melompat dan kini ada diatas atap barak juga.

"Sumbaruni, tahan kemarahanmu!"

"Kau pendekar bodoh!" geramnya dalam sentakan pelan. "Kau mau dijadikan tumbal kesembuhan Ratu Rangsang Madu, mengapa kau tidak menolak dan melawan niat mereka?!"

"Aku datang ke sana hanya untuk melihat sejauh mana kekuatan Racun Bulan Madu, dan dengan cara apa bisa disembuhkan tanpa menggunakan darahku! Kalau toh harus gunakan darahku, sebanyak apa yang dibutuhkannya. Jika hanya setetes dua tetes, apa sa-lahnya jika aku menoiong seseorang dengan memberikan darahku?"

"Darah yang dibutuhkan untuk memusnahkan racun itu adalah separo dari jumlah darah yang ada dalam tubuhmu. Dan itu berarti kau akan mati kehabisan da­rah, Suto!"

"Dari mana kau mengetahuinya?"

"Aku mempunyai iimu 'Getar Sukma' yang bisa mengukur kekuatan ilmu seseorang dan jenis-jenis iimu itu dengan hanya mendengar namanya saja. Tidak- kah kau ingat tentang iimu 'Getar Sukma'-ku itu, Suto Sinting?!"

Pendekar Mabuk segera tarik napas dalam-dalam. la terbungkam sesaat merenungi kata-kata itu. Jelita Bule berbisik kepada Pesona Indah,

"Rangse jasa, arbi dakti kinbi bibta bahru rankirpi!"
"Gutung ludu. Hatlih nyasantuspu."

Sementara itu Sumbaruni berkata kepada Suto, "Pikirkanlah langkahmu yang bodoh itu. Jangan kau ke-cewakan guru-gurumu hanya karena kematian murid bodohnya. Sebaiknya pulang saja, jangan mau peduli lagi tentang mereka!"

"Aku penasaran, ingin meiihat seperti apa kekuatan Racun Buian Madu di tanganku. Benarkah harus dengan cara mengorbankan jiwaku atau...."

"Pulang saja!" potong Sumbaruni dengan tegas, "Atas perintah gurumu, aku harus memaksamu pulang, Suto Sinting!"

"Sumbaruni!" seru Batuk Maragam. "Aku yang bertanggung jawab tentang keseiamatan Pendekar Mabuk selama di Pulau Selayang!"

"Kau tak tahu banyak tentang kekuatan Racun Bulan Madu itu, Brajamusti!" geram Sumbaruni dengan berani karena sebenarnya ia berusia sama dengan Batuk Maragam yang bernama asli Brajamusti itu.

"Tahu ataupun tidak tahu, aku yang bertanggung jawab atas keselamatan murid si Gila Tuak! Jadi kurasa kau tak perlu memaksanya untuk puiang!"

"Aku diperintahkan oieh si Gila Tuak!" sentak Sumbaruni. "Kalau kau mau berurusan dengan si Gila Tuak silakan saja! Aku tak mau ikut campur! Kalau kau tetap ingin bawa Suto Sinting ke Pulau Selayang, kau harus meminta izin kepada Gila Tuak dan Bidadari Jalang lebih dulu, Brajamusti!"

"Waktunya terlalu sempit," Brajamusti beralasan, setelah itu terbatuk-batuk sebentar, lalu berkata lagi, "Aku akan berurusan dengan Gila Tuak dan Bidadari Jalang sepulang kami dari Pulau Selayang!"

"Aku tetap tidak izinkan kalian membawa Suto ke sana!"

"Kaiau begitu aku harus memaksamu puiang sendiri dengan kekerasan, Pelangi Sutera!" ujar Pesona Indah dengan mata menyipit penuh tantangan.

Sumbaruni menatap Pesona Indah, tajam sekali tatapannya itu. Ternyata tatapan mata tersebut mempunyai gelombang tenaga dalam yang terpancar dan membuat Pesona indah bagai dibakar sekujur tubuhnya. Panas dan menyakitkan. Tetapi Pesona Indah sadar akan hal itu, maka ia segera kerahkan tenaga hawa dinginnya secara diam-diam untuk meiawan gelombang hawa panas itu. Tubuh Pesona Indah menjadi gemetar dan urat-urat iengannya tampak mengencang.

Jelita Bule tahu bahwa temannya sedang diserang. Maka dengan cepat ia lepaskan sinar kuning emasnya ke arah Sumbaruni. Ciaapp...! Suto Sinting yang meii­hat kiiatan cahaya kuning emas mengancam nyawa Sumbaruni. ia sendiri tak mau Sumbaruni menjadi korban perkara itu. Maka dengan sentakan cepat ia mendorong tubuh Sumbaruni hingga terjatuh, sementara Suto sendiri mundur dalam satu sentakan cepat.

Wuuuttt...!

Brruukk...!

Sumbaruni jatuh terpelanting tepat sinar kuning emas melintas di tempat berdiri semula, sedangkan Pendekar Mabuk yang menyentak mundur itu tak perhitungkan langkah hingga ia jatuh ke laut. Byuuurr...!

Sumbaruni yang merasa telah diserang terang-te-rangan segera lepaskan pukuian peiumpuh yang beru-pa sinar kuning berbentuk seperti bintang dengan cara melemparkannya menggunakan tangan kiri. Slaapp...! Slaapp...! Sinar kuning itu bergerak dengan cepat. Jika bukan orang berilmu tinggi seperti Batuk Maragam atau Pendekar Mabuk, tak bisa meiihat bentuk sinar kuning itu. Ternyata sinar kuning tersebut tepat kenai uiu hati dan pinggang kedua utusan tersebut. Jeebs, jleebs...!

Brruukk...! Kedua utusan Pulau Selayang roboh di tempat bagaikan kehilangan seluruh tenaganya. Tak satu jari pun bisa digerakkan oleh Jelita Bule maupun Pesona Indah. Bahkan ketika mereka mengerang, suara mereka lirih sekali karena seluruh tenaganya bagaikan lenyap seketika itu. Brruss...!

Sesosok tubuh melompat dari kedalaman air dan hinggap di tepian lambung perahu. Sosok tubuh itu adalah Pendekar Mabuk yang tadi terjatuh karena bergerak mundur tanpa perhitungan. Kemunculan Suto dari dalam laut sebenarnya ingin mencegah terjadinya pertarungan yang membahayakan kedua utusan tersebut. Sebab Suto Sinting tahu bahwa Sumbaruni mempunyai ilmu lebih tinggi daripada ilmu yang dimiliki Jelita Bule dan Pesona indah. Tetapi agaknya dia sudah terlambat. Kedua utusan itu telanjur lumpuh mendadak bagai kehilangan seluruh ilmunya.

"Sumbaruni!" sentak Suto. "Aku tak setuju kau mempergunakan pukulan 'Anak Rembuian'-mu itu! Kau curang!"

"Aku tak peduli! Tugasku hanya membawa kau pulang dan menghadapkan kepada kedua gurumu yang sekarang berkumpul di Jurang Lindu!" kata Sumbaruni hanya sekadar mempengaruhi pikiran Suto, padahal ia tidak mempunyai perintah apa-apa, bahkan bertemu dengan Gila Tuak pun tidak, selain hanya bertemu si Setan Arak alias Bongkok Sepuh.

Pande Bungkus yang melihat Pesona Indah jatuh lumpuh segera mencari simpanan batu kerikiinya yang sudah dipersiapkan sebelum perahu berlayar dari pantai. Batu itu ada yang disembunyikan di buritan, galang-an, bawah tiang layar dan di beberapa tempat iainnya. Batu itu segera diambilnya salah satu, lalu dipasang pa- da ketapelnya. Dengan berlindung tiang layar, Pande Bungkus melepaskan ketapelnya ke arah Sumbaruni. Breeett...! Weess...!

Sumbaruni menyangka mendapat serangan berbahaya, ia segera kibaskan pedangnya ke samping. Trrrilng...! Batu Itu berhasil dibelah dengan pedangnya sambii tubuh meliuk ke samping untuk hindari batu tersebut. Karena tak ada ledakan apa pun, maka Sumbaruni tahu batu itu hanyalah batu biasa tanpa tenaga dalam. Matanya segera memandang tajam ke arah Pande Bungkus yang ketakutan dan bersembunyi di balik tiang. Sumbaruni melompat turun ke geladak dan ingin hampiri Pande Bungkus. Tetapi Batuk Maragam segera lompat ke depan dan tegak dl hadapan Sumbaruni. Langkah wanita cantik berkesan galak itu pun terhenti dan mata menatap tajam pada Batuk Maragam.

"Jangan sangka aku mundur walau kau yang maju, Brajamusti!" geram Sumbaruni. "Bagaimanapun juga aku akan berusaha membawa puiang Suto Sinting!"

"Agaknya memang harus begitu; kita berhadapan dan saling pertahankan pendirian masing-masing, Sumbaruni!"

Setelah berkata demikian, Brajamusti pun lepaskan suara batuknya yang mengandung kekuatan tenaga dalam, "Uhuk, uhuk, ehek, ohok, ihuk, Ihuk, ihiikk!"

Tubuh Sumbaruni terpental ke sana-sini bagai menghindarl gelombang getaran tenaga dalam yang memekakkan telinganya dan menyambar tubuhnya kian kemari. Telinga Sumbaruni hampir saja pecah jika ia tidak imbangi dengan suara siulan dari mulutnya yang dinamakan jurus 'Siulan Hantu' itu.

"Siiuutt... ! siuuttt... siiuuutt...!"
Krrraaak... ! Braaakk... !

Tiang layang patah dan tumbang ke buritan. Hampir saja tubuh Pande Bungkus terhimpit tiang layar itu. Siulan tersebut hadirkan kekuatan tenaga dalam cukup besar hingga dapat patahkan tiang layar. Tentu saja Batuk Maragam merasakan sentakan kuat di telinganya kala siulan itu melengking tinggi.

Suto Sinting yang baru saja mau tuangkan tuak ke mulut Jelita Bule menjadi terkejut dan tersentak mendengar siulan itu. ia bahkan sempat mundur selangkah dari jongkoknya dan segera tahan napas untuk kerahkan tenaga pembendung suara itu. Dengan demikian Pendekar Mabuk bisa atasi gelombang suara bertenaga pemecah gendang telinga. Telinganya tidak mengalami luka, namun ia segera meiihat darah mengaliir dari lubang telinga Jelita Bule, juga lubang telinga Pesona Indah. Sedangkan Pande Bungkus sibuk membebaskan diri dari layar yang membungkus tubuhnya dan robek di beberapa tempat itu.

"Bahaya! Sumbaruni mengamuk kepada Paman Batuk Maragam yang jadi korban pihak lain! Kutunda dulu pengobatan kepada Jelita Bule dan Pesona indah...!" pikir Suto segera bangkit dan menutup bumbung tuaknya.

Batuk Maragam lepaskan pukuian tanpa sinar dari jarak jauh ke tubuh Sumbaruni yang sudah berada di atas atap barak lagi itu. Wuuutt...! Pukuilan dari sodokan empat jari tangan kanannya itu segera ditahan dengan tangan kiri Sumbaruni yang merentangkan telapak tangannya tepat di ulu hati. Deeb...! Telapak tangan itu langsung berasap dan melepuh karena tak kuat menahan hawa panas tinggi dari pukulan jarak jauh Batuk Maragam.

Sumbaruni buru-buru mengibaskan tangannya sambil sentakkan kaki dan meienting di udara. ia ber-saito satu kali, hingga di tepian lambung, menyentak-kan kaki lagi sehingga tubuhnya melesat bagaikan ter-bang sambii mengibaskan pedangnya ke arah Batuk Maragam. Weesss...! Trang, trang, trang...!

Tiga kali tebasan pedang Sumbaruni hanya ditang-kis dengan kelebatan tangan kanan-kiri. Lengan Batuk Maragam bisa mengeras seperti baja yang mampu memercikkan bunga api ketika beradu dengan pedang Sumbaruni.

Plaakk ..! Tangan itu berkelebat menampar wajah Sumbaruni dan dalam satu tamparan saja wajah perempuan cantik itu menjadi biru legam separo bagian. Tu­buhnya terlempar, jatuh membentur dinding barak. Braakk...! Dinding barak dari kayu jati pecah sebagian akibat benturan tubuh Sumbaruni.

"Celaka! Dia benar-benar kerahkan tenaga untuk membunuhku?" pikir Sumbaruni dengan mengibaskan kepalanya karena pandangan matanya menjadi buram dan rasa panas menyengat sekujur kepala. Sumbaruni ingin lepaskan tenaga daiamnya dari tangan kiri, tetapi tangan kirinya sudah telanjur meiepuh dan berwarna merah matang. Namun ia segera bangkit dan masih berusaha menghadapi Batuk Maragam dengan pedang di tangan kanannya.

Batuk Maragam bergerak tak terlihat. Tahu-tahu sudah berada di belakang Sumbaruni. Naiuri perempuan itu terpasang dengan peka, sehingga ketika ia rasakan ada hembusan udara panas dari arah belakang, ia segera putarkan tubuh dan kakinya berkelebat menendang.

Wuuu...! Wuuuss...! Plookk...!

Wajah Batuk Maragam tertampar oleh tendangan kaki Sumbaruni. Sementara pukulan tenaga dalam yang keluar dari telapak tangan Batuk Maragam melemparkan tubuh Sumbaruni jatuh ke perairan laut. Byuurrr...! Batuk Maragam sendiri teriempar ke samping, membentur dinding barak dengan keras. Braakkk...!

"Celaka kalau begini!" gumam Suto sendirian. "Bagaimana aku harus meleraikan pertarungan mereka?! Mereka tampak menggunakan jurus-jurus maut! Salah-salah nyawaku bisa jadi korban kemurkaan mereka."

"Kang, tolong aku, Kang!" terdengar suara Pande Bungkus sedang berkutat keblngungan keluar dari kain iayar yang membungkusnya. Suto Sinting terpaksa membantunya keluar dari selubung kain layar itu. Perahu itu terapung-apung dipermainkan ombak yang kian membesar akibat senja semakin tua, matahari tinggal mengintip separo bagian dl cakrawala merah sana.

Brruusss...! Sumbaruni melompat dari kedalaman laut, langsung hinggap di tepian perahu. Kemunculan-nya segera disambut oleh Batuk Maragam dengan ge­rakan tubuh yang melayang menerjang cepat. Wuusss...! Tetapi tubuh itu pun segera disongsong oieh jurus pedang Sumbaruni yang membuat tubuhnya Ikut melayang menerjang lawan. Akibatnya, ujung pedang Sumbaruni dihujamkan ke dada Batuk Maragam dengan telak sekali dan terlihat jelas oleh Pendekar Mabuk.

Suutt...!
Traaang...!

Telapak tangan Batuk Maragam menghadang tepat di ujung pedang. Telapak tangan itu pun berubah bagaikan baja yang tak mampu ditembus ujung pedang Sumbaruni. Benturan ujung pedang dengan telapak tangan membuat Sumbaruni terpental mundur kembali, demikian pula tubuh Batuk Maragam. Tapi keduanya mendaratkan kakinya di tepian lambung perahu saling berseberangan.

"Sumbaruni! Hentikan pertarungan ini! Hentikan...!" teriak Pendekar Mabuk. "Paman, jangan teruskan pertarungan ini! Berhentilah kalian!"

Rupanya teriakan Suto Sinting tak dihiraukan oleh mereka. Terbukti tubuh mereka saling melesat sama-sama melayang di udara dan saling berbenturan kem­bali. Kali ini tangan Batuk Maragam menyala merah bara keduanya. Berkelebat dengan cepat memainkan jurus dalam keadaan melayang, sedangkan Sumbaruni sendiri mempunyai pedang yang juga menyala merah bara karena disaluri tenaga dalam yang tinggi. Bau besi terbakar menyebar karena arah angin menuju ke tempat Suto Sinting berdiri.

Ketika keduanya saling beradu kecepatan tangan dl udara menimbulkan suara denting bergemerincing, Pendekar Mabuk menerjang dengan satu gerakan me­lompat cepat ke arah mereka bagaikan angin berkelebat. Wuusss...!

Beeenggg...!

Tubuh Suto Sinting terlempar sebelum menyentuh tubuh mereka. Gelombang tenaga dalam terpancar dari tubuh kedua tokoh yang bertarung itu. Rupanya gelom­bang tenaga dalam yang terpancar itu sama-sama besar dan kuatnya, sehingga ketika tubuh Pendekar Mabuk menerjangnya bersama bumbung tuak di pundak kiri, kekuatan terjang Suto Sinting itu menimbulkan benturan keras dengan gelombang tenaga dalam itu.

Byuuurrr...! Pendekar Mabuk jatuh ke lautan dalam jarak tiga tombak dari perahunya. Bumbung tuaknya teriempar lepas dari tangan.

"Kang Sutooo...!" teriak Pande Bungkus sekuat tenaga. Teriakan itu membuat Batuk Maragam dan Sumbaruni yang berdiri di tepian lambung perahu setelah sama-sama tersentak mundur itu memandang dengan kaget. Mereka sama-sama hentikan serangan dan memperhatikan arah jatuhnya Pendekar Mabuk.

"Kalian jahat! Kalian membuat Kang Suto tenggelam!" teriak Pande Bungkus kepada Batuk Maragam dan Sumbaruni yang terengah-engah dengan wajah ha-ngus sebelah. Mereka tetap membisu dan memandang cemas ke arah jatuhnya bumbung bambu dan ke arah jatuhnya tubuh Pendekar Mabuk.

Mereka semakin lebih cemas lagi karena sampai sekian lama Pendekar Mabuk tidak muncul, bumbung tuaknya pun tenggelam tak terlihat kemunculannya lagi. Sumbaruni sempat membatin,

"Ada apa di dasar laut sana? Mengapa Suto tidak muncul lagi? Apakah ia tenggelam atau sengaja bersembunyi di bawah sana? Tapi sudah sangat lama ia sembunyi di sana, mampukah ia menahan napasnya selama ini?"

Batuk Maragam pun membatin, "Jangan-jangan ia tergencet celah karang dan tak bisa keluar dari sana? Hmm...! Bumbung tuaknya terpisah darinya. Tapi mengapa tenggelam terus? Mestinya bumbung tuak itu muncul lagi di permukaan air. Ah, aku jadi curiga dengan nasibnya! Aku bisa celaka kalau dia benar-benar dalam bahaya besar di sana! Gila Tuak pasti akan murka kepadaku dan aku tak akan sanggup menandingi ilmunya Gila Tuak!"

Wajah cemas Batuk Maragam kian jelas. la bergegas ke buritan, Sumbaruni pun ke sana. Keduanya berdiri berjajar menunggu kemunculan Pendekar Mabuk.SAMPAI tengah malam mereka menunggu kemunculan Pendekar Mabuk dan mencarinya berulang kali, tapi Pendekar Mabuk dan bumbung tuaknya tidak ditemukan oieh mereka. Hampir saja Sumbaruni beradu nyawa dengan Batuk Maragam karena saling salah-menyalahkan. Untung keduanya segera sadar bahwa pertengkaran mulut mereka tidak membawa hasil yang diharapkan, yaitu kemunculan Suto Sinting kembali.

"Baiklah kita akui semua ini kesalahan kita berdua!" kata Batuk Maragam. "Sebaiknya kita pula yang ber-tanggung jawab atas hilangnya Pendekar Mabuk!"

"Kalau sudah begini apa yang harus kita lakukan?!" tanya Sumbaruni sambii hempaskan napas kekesalan hatinya. ia sudah berhasil sembuhkan luka meiepuh di tangannya itu, dan luka hangus di sebagian wajahnya pun mampu disembuhkan sendiri dengan mengerah-kan hawa murninya ke bagian yang terluka. Bahkan atas bujukan Batuk Maragam, Sumbaruni sembuhkan Jeiita Buie dan Pesona indah dari kelumpuhan dengan menggunakan jurus 'Lidah Mentari' yang berupa sinar putih dari telunjuknya itu.

Hampir saja Jelita Buie marah besar mendengar Suto Sinting hilang bagaikan tertelan ombak lautan. Untung Batuk Maragam segera berkata,

"Kalian tak perlu khawatir, tak akan disalahkan oleh Ratu Rangsang Madu. Aku akan bicara dengannya dan bertanggung jawab atas hilangnya Tabib Darah Tuak itu! Kalau ratu kalian mau marah, biarlah marah kepadaku!"

"Itu bisa saja diatur," kata Jelita Bule. "Tapi bagaimana dengan nasib ratu kami yang terserang Racun Bulan Madu itu?!"

"Beliau akan kecewa sekali karena hanya darah Tabib Darah Tuak yang diharapkan dapat menawarkan racun tersebut," timpal Pesona Indah dengan melirik dongkol kepada Sumbaruni. "Gara-gara kau semuanya jadi kacau!"

"Aku hanya tak rela kalau ia mati!" kata Sumbaruni dengan nada dingin.

Ada dua pihak yang kehendaki hadirnya Suto Sinting; Ratu Rangsang Madu dan Raja Kulana Baham dari Tanah Hindus. Keduanya sama-sama membutuhkan penyembuhan yang hanya bisa dilakukan oleh Pende-kar Mabuk. Keduanya sama- sama mendengar nama Tabib Darah Tuak dari mulut orang-orang yang kagum ke­pada cara penyembuhan Pendekar Mabuk itu. Sementara Pendekar Mabuk sendiri menolak dirinya dikatakan sebagai tabib.

Tetapi agaknya ada pihak lain yang membantu Ratu Rangsang Madu. Pihak lain itu tentunya punya maksud tersendiri untuk kepentingan pribadi atau kepentingan perguruannya. Maksud tersebut tak jelas dan tak mudah dipahami, karena Suto merasa habis mengalami masa pingsan yang panjang. Begitu sadar ia sudah berada di depan gerbang sebuah istana megah.

"Siapa yang membawaku kemari?" pikirnya dengan heran dan memandang ke sana-sini.

Pemandangan pagi di sebuah tempat yang asing baginya itu telah mem­buat Suto Sinting seperti pemuda bodoh yang clingak-clinguk sambil garuk-garuk kepala. la pun terkejut ketika melihat bumbung tuaknya ada di balik pohon itu, disandarkan dalam keadaan berdiri. Padahal seingatnya ketika ia terlempar dari perahu, bumbung tuaknya terlepas dan terlempar entah ke mana.Mata Pendekar Mabuk terkesiap ketika memandang ke arah bangunan megah berbenteng putih dan berpintu gerbang warna hijau muda. Bangunan itu jelas sebuah istana. Jaraknya dengan tempat tersebut sekitar lima puluh langkah. Bangunan istana itu tampak asing bagi Pendekar Mabuk, sehingga terdengar gumam dari mulutnya yang seolah-olah bicara dengan diri sendiri.

"Istana Muara Singa? Oh, bukan! Istana Negeri Kencana Ringgit? Juga bukan! Lalu aku ini ada di depan istana apa?"

Bluub...! Tiba-tiba segumpal asap berhembus dari sebuah letupan yang terjadi di tanah samping kiri Suto Sinting. Kala itu Pendekar Mabuk baru saja selesai menenggak tuak dan menutup bumbung bambunya. Asap itu lama-lama memudar dan sesosok tubuh tua dengan keadaan serba putih terlihat jelas berdiri di sana. Suto Sinting berkerut dahi dengan rasa kaget dan heran.

"Kakek serba putih...?!" ucapnya dalam hati. "Aneh. Orang tua ini sepertinya seialu mengikutiku. Apa maksudnya?"

Kakek serba putih yang tak lain adalah Setan Merakyat, kakak dari si Bongkok Sepuh itu, tampak sunggingkan senyum tuanya dan berjalan pelan, tertatih-tatih dekati Pendekar Mabuk.

"Akhirnya kau sampai juga kemari, Anak Muda."

"Kaukah yang selamatkan aku dari laut dan membawanya kemari?" tanya Suto dengan nada pelan karena masih tercekam rasa heran.

"Aku sekadar selamatkan calon muridku saja," kata Setan Merakyat yang membuat dahi Suto kian berkerut.

"Aku tak paham maksud kata-katamu, Kakek Setan Merakyat."
"Oho, ho, ho, ho... rupanya kau sudah mengetahui namaku, Suto?"
"Ki Bongkok Sepuh atau si Setan Arak yang mem-beritahukan namamu."

"Bagus sekali! Sudah kuduga kau akan mengetahui namaku tanpa mendengar dari mulutku sendiri!" Setan Merakyat kian dekat, lalu pundak Suto ditepuk-te- puknya. la memaparkan wajah bangganya.

"Maukah kau menjelaskan apa maksudmu membawaku kemari, Keek?"
"Aku membawamu kemari karena di sinilah tempat tujuan perjalananmu."
"Maksudnya perjalanan apa?"
"Bukankah kau dan Brajamusti sedang menuju Pulau Selayang, untuk menemui Ratu Rangsang Madu?"

"Benar. Apakah ini Negeri Malaga, tempat sang Ratu Rangsang Madu bertakhta?" tanya Suto dengan nada bimbang. Setan Merakyat manggut-manggut.

'Kau cerdas menyimpulkan perkataan seseorang, Anak Muda. Aku sengaja membawamu kemari ketika kau pingsan di dalam lautan, karena aku pun inginkan kau sembuhkan Ratu Rangsang Madu dari cekaman Racun Bulan Madu itu."

"Mengapa kau menginginkan demikian pula?"
"Ratu itu adalah anak angkatku."
"Maksudmu, Mustikasari adalah anak angkatmu?"
"Yang menjadi ratu di negeri ini sekarang bukan Mustikasari, tetapi anaknya yang bernama Indriani Puspita Dewi."

Suto Sinting tertegun sejenak, mengingat-ingat cerita yang dituturkan oleh Batuk Maragam tentang anak gadis Mustikasari yang dibuang itu. Bahkan Pendekar Mabuk berani membantah kata-kata Setan Merakyat atas dasar cerita itu.

"Bukankah anak itu sudah dibuang oieh Mustikasari, dan menjadi tugas Batuk Maragam untuk menemu-kannya kembali jika hubungan mereka ingin berlanjut?" "Memang dibuang. Dan akulah yang menemukan anak itu, lalu tanpa setahu siapa pun kubesarkan anak Itu di Puncak Gunung Kemuning, kudidik sebagai muridku, namun tak sampai tamat ia sudah telanjur ingin menemui ibunya. Ketika kuantarkan kemari, Mustikasari dalam keadaan sakit parah. Anak itu sempat hidup bersama Ibunya selama delapan bulan. Setelah ibunya meninggal, ia mewarisi takhta kerajaan dan diminta untuk tetap menggunakan nama Ratu Rangsang Madu. Karena kedua perempuan itu ternyata sama-sama menyukai madu lebah hutan. Wajah mereka tidak jauh berbeda, tapi beberapa slfatnya memang ada yang berbeda."

Pendekar Mabuk angguk-anggukkan kepala menandakan telah mengerti keadaan sang Ratu yang sebenarnya. Setan Merakyat kelihatan senang sekali melihat Suto Sinting memahami ceritanya. Sedangkan Suto sendiri segera ajukan tanya,

"Apakah Setan Arak juga mengetahui siapa Ratu yang sekarang?"

"Tidak," jawab Setan Merakyat. "Selama aku mendidik anak itu aku tak pernah keluar dari pesanggrahan. Tak seorang pun yang tahu aku mendidik anak itu, karena tak seorang pun yang bisa temukan diri kami di Puncak Gunung Kemuning itu."

"Mengapa segalanya bersifat rahasia?"

"Karena aku takut adikku tersinggung dan meng-anggapku ikut campur urusan pribadinya. Tentunya kau sudah mendengar bahwa Mustikasari hamil tanpa suami?"

"Benar. Aku sudah mendengarnya."

"Waktu itu Setan Arak bermusuhan dengan Batuk Maragam. Jika aku merawat anaknya Batuk Maragam maka Setan Arak akan menganggapku memihak Batuk Maragam. Padahal hal itu kulakukan semata-mata karena kasihan kepada sang bayi. Jadi untuk menghindari pertengkaran antara aku dengan adikku, maka terpak-sa segalanya kulakukan secara diam-diam."

Pendekar Mabuk manggut-manggut kembali. Setan Merakyat berkata,

"Sekarang secara pribadi aku memohonmu menyembuhkan anak angkatku itu dari keganasan Racun Bulan Madu. Jika dia takterkena Ra-cun Bulan Madu, mungkin aku masih diam di pertapa-anku itu."

Setelah diam sesaat, Pendekar Mabuk pun berkata, "Kakek Setan Merakyat, benarkah racun itu hanya bisa dipunahkan oleh darah tuakku?"

"Benar."
"Apakah itu akan membawa kematianku?"

"Tidak, Anak Muda. Memang pada dasarnya racun itu hanya bisa disembuhkan oleh darahmu, tetapi se-sungguhnya bukan karena darah racun itu menjadi ta-war, melainkan karena darahmu sudah mengandung tuak sakti, sehingga tuak itulah yang sebenarnya menyembuhkan atau menawarkan racun tersebut. Jadi, mereka agaknya punya salah penafslran. Bukan darahmu yang menyembuhkan sang Ratu nantinya, melainkan tuakmu. Siapa pun orangnya yang telah pernah meminum tuak saktimu ia akan mempunyal darah ber-jenis darah tuak. Darah mereka bisa menawarkan racun itu jika diminum sang Ratu. Dan hanya itu kelebihan orang yang punya darah mengandung tuak saktimu, tak bisa untuk kepentingan yang lain. Tetapi siapa orangnya yang mau berkorban diminum darahnya agak ba-nyak walau darahnya itu mengandung tuak racunmu. Dia akan mati."

"Jadi... sebenarnya tuakku inilah yang dlbutuhkan untuk menawarkan Racun Bulan Madu I tu?"
" Benar! Sebaiknya pergilah sekarang juga dan te-muilah sang Ratu. Aku tak bisa mengantarmu sampai ke istana."

"Apa sebabnya?" tanya Suto yang selalu ingln tahu.

"Aku sudah dilupakan oleh Indriani Puspita Dewi," jawabnya dengan nada sedikit sendu. "Sejak ia menjadi ratu, ia tak pernah menengokku, tak pernah kirlm utus-an padaku atau mengundangku untuk datang. Aku me-rasa telah dilupakan olehnya, dan aku tak akan datang jika tidak diundangnya."

Hati Pendekar Mabuk seketika menjadi haru, seakan ia dapat rasakan kesedihan Setan Merakyat pada saat itu juga. Barangkali Setan Merakyat klrimkan rasa ke kalbu sang pendekar, sehingga sang pendekar lang-siing menangis dalam hatinya.

"Mengapa kau masih mau mempedulikan kesela-matan anak yang melupakan dirlmu itu, Kakek Setan Merakyat?"

"Rasa kasih tidak mengenal pembalasan. Rasa kasih hanya mengenal kasih dan sayang tanpa benci dan murka di dalamnya. Karena sifat bumi yang ada padaku sangat menyatu dengan sifat air yang selalu ingin kucurahkan padanya."

"Apa maksudnya sifat bumi dalam ucapanmu, Kek?"

"Bumi adalah kedamaian. Pernahkah kau melihat bumi melawanmu ketika ia kau injak atau kau cangkuli? Bukankah bumi justru tetap memberikan kehidupan pa­da saat ia dicangkuli hingga hancur?"

"Lalu sifat air yang kau maksudkan?"

"Air adalah kesejukan. la mampu memadamkan api yang ada di dalam diri kita, yaitu api kemarahan dan api murka. Jika kesejukan dan kebeningan itu berkuasa dalam dirimu, maka kau hanya akan mengenal kasih dan sayang yang senantiasa ingin kau curahkan kepada setiap orang."

Pendekar Mabuk segera menunduk, sedikit membungkuk sebagai rasa hormat atas pelajaran baru yang diterimanya diluar dugaan. la merasa bangga menerima pelajaran tersebut, sehingga mengerti bagaimana seharusnya mengendaiikan hidup di padang kehidupan ini. Pelajaran yang sederhana itu diterimanya sebagai pelajaran yang amat berharga, melebihi sebuah jurus dahsyat pelebur gunung.

"Manusia adalah bagian dari keempat sifat; bumi, air, angin, dan api. Jika sifat api dan angin lebih besar, maka kau akan dikuasai oieh tindak angkara murka yang membahayakan bagi kepentingan hidupmu mau-pun kepentingan orang lain. Hendaknya memang keempat sifat Itu tumbuh dalam jiwamu secara bersama-an, karena manusia yang kehiiangan sifat apinya, ia tidak mampu mempertahankan kehidupannya. Di dalam api itu ada kehidupan, tapi di dalam kehidupan Itu ter-dapat banyak ragam api yang membahayakan jika tidak terkendali secara baik."

"Terima kasih atas wejanganmu, Kakek Setan Merakyat! Seperti mimpi aku menerima wejangan yang amat berharga seperti ini," tutur Suto penuh hormat.

"Apakah gurumu tak pernah menjabarkan makna keempat unsur dalam diri kita itu, Anak Muda?"
"Tidak segamblang ini, Kakek Setan Merakyat!"

"Barangkali Gila Tuak belum sempat menjabarkan secara gamblang tapi kau sudah lebih dulu turun gunung menembus belantara kehidupan," kata Setan Me­rakyat dengan sikap menutupi keiemahan gurunya Suto Sinting. Dan sikap itu pun mendapat pujian di hati sang murid.

Pendekar Mabuk akhirnya melangkah menuju istana Malaga. Seorang penjaga gerbang mengantarkan Pendekar Mabuk sampai ke serambi istana. Dari sana Suto diantar memasuki bangsal pertemuan setelah seorang pengawal lainnya memberitahukan kedatangan Suto Sinting kepada sang Ratu.

Rasa risi menggeluti hati.Suto Sinting ketika menunggu kemunculan sang Ratu, karena para pengawal maupun pelayan istana yang pada umumnya terdiri dari gadis-gadis cantik itu saling membisikkan kata kepada temannya, memandangi Suto Sinting sambii berkasak-kusuk cekikikan. Bahkan ada yang tertawa lepas hingga mengundang perhatian Suto Sinting untuk menoleh kepadanya, dan prajurit pengawai istana itu menjadi malu, menyembunyikan wajahnya di punggung teman sendiri.

"Apakah kau tidak datang bersama Jelita Bule dan Pesona Indah?" tanya seorang pengawal istana yang bertugas menerima setiap tamu sebelum Ratu mene- mui tamu tersebut.

"Tidak. Pada mulanya aku bersama mereka, tapi kami berpisah di perjalanan."
"Mengapa?"

"Aku bergerak lebih cepat dari mereka berdua," jawab Suto menutupi keadaan yang bisa membuat orang-orang istana Malaga akan marah jika disebutkan tentang rintangan yang datang dari Sumbaruni.

Seorang wanita cantik berusja sekitar dua puluh deiapan tahun, berwajah bulat telur tapi bermata sayu menggemaskan, muncul dari salah satusisi. Wanita itulah yang bernama Ratu Rangsang Madu atau Indriani Puspita Oewi. Tak heran jika para pejabat istana dan para pengawal lainnya segera menghaturkan sembah kepada si cantik bermahkota emas.

Suto Sinting lupa tak memberikan hormat karena terpukau memandang penampilan sang Ratu yang melebihl para prajurit atau pengawalnya. Jika para pengawalnya berpakaian seperti Jelita Bule dan Pesona Indah, maka sang Ratu lebih tipis lagi pakaiannya.

"Bisa mati kehabisan getaran jantung jika aku terlalu lama ada di sini," pikir Pendekar Mabuk dengan mata tak berkedip.

Sang Ratu berambut putih perak, lembut, dan halus. la mengenakan jubah hijau muda tertutup depan beiakang, tapi sangat tipis hingga bagian dalamnya terlihat jelas-jelas. Padahal bagian dalamnya hanya ditutup dengan kain secukupnya saja dari bahan kain emas. Dadany a mempunyai bentuk yang amat bagus, dan kain emas menutup hanya di ujung-ujungnya saja.

Demikian pula bagian bawahnya hanya tertutup kain emas secukupnya. Sangat kecil penutup itu, dan dihubungkan dengan tali benang emas yang juga tipis serta kecil. Padahal kulit tubuhnya putih mulus tanpa cacat dan mempunyai bentuk yang gempal tapi indah, mem-bangkitkan hasrat setiap lelaki yang memandangnya, termasuk Suto.

Karenanya Suto Sinting segera menyadari sikapnya dan tak berani terlalu sering memandang sang Ratu, sebab jubah hijau tipis itu mempunyai belahan setinggi hampir mencapai pinggul. Bila duduk, belahan kain itu menylngkap dan tampaklah paha yang dapat membuat kepala Suto menjadi berkunang-kunang. Sang Ratu sendiri sebenarnya dapat membawa diri sehingga tampH dengan tenang, penuh kharisma dan cahaya anggun yang memukau. Lehernya yang jenjang dan berkulit putih itu mengenakan kalung batuan ber-warna bening dalam bentuk seperti tetesan air. Ukuran batu bening itu sebesar ujung jarinya.

Batu itu bernama Batu Combong Raos. Warnanya bisa berubah-ubah tergantung perasaan si pemakainya. Kali Ini batu itu berwarna hijau, menandakan perasaan tertarik atau kasmaran bagi hati sang Ratu. Jika batu itu berwarna putih, berarti perasaan sang Ratu tenteram atau bahagia. Jika batu itu berubah warna biru, menandakan sang Ratu sedang sedih hatinya. Warna merah, sedang memendam kemarahan dalam hatinya.

Dalam beberapa saat setelah sang Ratu pandangi Suto Sinting, batuan itu berubah warna dari hijau menjadi ungu. Menurut cerita Setan Merakyat sebelum me- lepas kepergian Suto Sinting ke istana, jika batuan itu berwarna ungu, Suto harus cepat-cepat aiihkan pan­dangan matanya, sebab warna ungu menandakan hati sang Ratu sedang dicekam rasa bergairah ingin bercumbu. Tatapan mata sang Ratu dapat meluluhkan hati lelaki sekeras apa pun, jadi harus segera dihindari. Karenanya Suto Sinting buru-buru tundukkan pandang-annya, menatap bagian kaki indah sang Ratu yang mengenakan gelang kaki dari emas murni.

"Benarkah kau datang tanpa bersama Jelita Bule dan Pesona Indah, Pendekar Mabuk?" tanya sang Ratu dengan suara sedikit serak, bagai suara pemancing gairah lelaki.

"Benar," jawab Suto seraya memandangi wajah-wajah para pengawal dan pejabat istana yang mengelilinginya. "Aku datang tanpa mereka. Karena aku merasa ada orang yang sangat membutuhkan diriku. Aku harus cepat tiba di sini."

"Aku tak menyangka kalau kau mempunyai perasaan setajam itu, Pendekar Mabuk," kata sang Ratu. "Hanya saja, aku ingin tahu bagaimana caramu bisa sampai ke pulau ini dan langsung tiba di istanaku?"

"Seseorang memanduku datang kemari."
"Siapa orang tersebut?"

"Tokoh berusia lanjut yang sangat sayang kepadamu dan mendesakku agar cepat lakukan penyembuhan terhadap dirimu, Ratu."

Ratu Rangsang Madu yang memang pantas mempunyai nama itu, segera berkerut dahi mencari jawaban yang pasti. Tetapi karena ia tak punya jawaban yang pasti tentang seseorang yang amat sayang padanya itu, maka ia pun ajukan tanya,

"Siapa orang yang sayang sekali kepadaku itu?"

"Orang yang sayang kepadamu adalah orang yang membuatku menjadi mau mengorbankan apa saja demi kesembuhanmu, demi melepaskan dirimu dari Racun Bulan Madu yang berbahaya itu."

"Sebutkan siapa orangnya!" sang Ratu tak sabar, sehingga warna batunya berubah menjadi merah samar-samar.

Suto Sinting baru berani menatap karena batu sudah berubah merah samar- samar. Lalu dengan tegas ia berkata,

"Aku ingin kau mengingat dan mengenang seseorang yang amat berjasa dalam hidupmu. Jika kau tidak mengingatnya, aku tidak akan melakukan penyembuhan apa-apa pada dirimu, Indriani Puspita Dewil"
Ratu Rangsang Madu terkejut mendengar nama aslinya disebutkan oieh Suto Sinting. Seketika itu pula ia terbayang wajah tua seseorang yang berambut putih dan tinggal di Puncak Gunung Kemuning. Batu yang menjadi hiasan kalungnya itu berubah warna menjadi biru, menandakan hati sang Ratu sedang sedih.

"Bapa Guru Murdawira? Alias... si Setan Merakyat?"
"Kurasa ingatan seorang anak angkat masih cukup tajam untuk mengenang nama ayah angkatnya."
"Ya...," jawab sang Ratu semakin duka hatinya karena batu di kalungnya semakin berwarna biru.

"Aku... aku selama ini memang telah melupakan beliau. Tak pernah kirim kabar atau menjenguknya. Lalu... lalu di mana beliau?"

"Ada di luar, jauh dari gerbang istana."
"Mengapa tidak kau ajak datang bersamamu kemari?"
"Ki Setan Merakyat tak mau datang sebelum kau mengundangnya."

Ratu Rangsang Madu segera tarik napas, lalu memandang kepada pengawalnya dan ucapkan perintah, "Cari orang berambut putih dan berpakaian serba putih. Bawa beliau kemari, pergunakan tandu emas untuk menjemput beliau!"

Suto Sinting pun ikut hempaskan napas sebagai kelegaan dan rasa senang melihat sikap sesal sang Ratu. Ketika para pengawal pergi tunaikan tugas, sang Ratu pun berkata kepada Suto Sinting dengan mata kian sayu.

"Aku lalai. Aku memang salah. Kupikir Bapa Guru tidak mau menikmati kehidupan di istana yang masih bersifat duniawi ini. Aku tak pikirkan bahwa undangan-ku memang tak terlalu penting, tapi kehadiranku men-jenguk beliau di Puncak Gunung Kemuning adalah se-suatu yang amat berharga dalam hidup beliau."

"Aku bersyukur dan merasa senang melihat penye-salanmu. Kurasa memang sudah waktunya aku melihat kau tersenyum menyambut kedatangan Ki Setan Me­rakyat itu, Ratu Rangsang Madu."

"Barangkali untuk awalnya aku perlu tersenyum padamu sebagai ucapan terima kasih atas teguran halusmu tadi, Tabib Darah Tuak," ujarnya sambil menyunggingkan senyum dan Suto Sinting membalas dengan senyumannya yang biasa membuat hati wanita berdebar-debar itu. Terbukti batu di kalung sang Ratu berubah warna menjadi hijau kembali, sebagai lambang hati yang kasmaran.

"Ah, kenapa hatiku menjadi gundah dalam keindahan?" pikir Suto Sinting. "Mungkinkah karena aku telah memandang sorot matanya dalam keadaan ia sedang tersenyum? Celaka! Kalau sampai aku terpikat pada-nya, lalu mau dikemanakan calon istriku tercinta Dyah Sariningrum itu?"

Seorang pengawal gerbang datang menghadap dengan terburu-buru. Telinganya terpotong satu, darah pun bercucuran dari luka tersebut. Tentu saja kehadiran pengawal itu mengejutkan mereka yang tergabung dalam ruang pertemuan. Sang Ratu pun terperanjat te-gang walau sikapnya tetap tenang.

"Gusti Ratu... orang gila itu datang lagi dan mende-sak masuk kemari!" ujar si pengawal yang menahan rasa sakit akibat telinganya terpotong itu.

"Orang gila siapa maksudmu?!"
"Nyai Sunti Rahim."

Pendekar Mabuk terperanjat lagi. Sang Ratu segera bangkit berdiri dan serukan perintah kepada para pengawal pilihannya, "Tangkap dia hidup atau mati! Ja-ngan biarkan lolos lagi!"

"Biar aku yang menghadapinya!" sahut Suto Sinting. "Jangan korbankan rakyat dan prajuritmu terlalu banyak untuk menghadapi orang itu."

Kalung itu berubah warna menjadi merah. Mata Ratu Rangsang Madu memandang Suto dengan berbagai perasaan tak menentu, sedangkan Pendekar Mabuk segera berkata sambil menatapnya lekat-lekat,

"Izinkan aku menghadapinya!"
" Baik. Kuizinkan!"

menunggu lebih lama lagi, Suto Sinting segera melesat keluar dari paseban dan tahu-tahu sudah ada di luar benteng istana. Padahal pintu gerbang dalam keadaan tertutup rapat, hanya beberapa prajurit yang berhamburan keluar menahan amukan Nyai Sunti Rahim, setelah mereka berhamburan keluar gerbang ditutup kembali. Tapi ternyata Pendekar Mabuk bisa lekas sampai luar gerbang, karena tak seorang pun melihat gerakan Pendekar Mabuk melompati tembok benteng, melintas di atas kepala penjaga di sana.
Ratu Rangsang Madu menjadi cemas.

"Seharusnya ia tidak kuizinkan menghadapi Nyai Sunti Rahim. Seharusnya kutahan tabib itu agar tak terjadi apa-apa pada dirinya," pikir sang Ratu. "Jika ia sampai mati melawan Sunti Rahim, lalu bagaimana dengan racun yang mengancamku setiap malam ini?"

Lalu ia berseru, "Pengawal, dampingi aku keluar untuk membantu Tabib Darah Tuak agar tak celaka melawan Sunti Rahim!"

Kehadiran Suto Sinting ditandai dengan terlepasnya tenaga dalam dari jurus 'Jari Guntur' yang membuat Nyai Sunti Rahim terpelanting berjungkir balik ke be­lakang pada saat hendak lepaskan serangannya kepada dua prajurit.

Beehg...! Wuuurrt...! Brrukk...!

Nyai Sunti Rahim tak sempat jaga keseimbangan tubuh sehingga ia jatuh bersimpuh. Melihat hal itu para prajurit menjadi heran. Tapi segera menyingkir setelah mereka meiihat Pendekar Mabuk yang mereka kenal sebagai Tabib Darah Tuak muncul dengan gagahnya. Sepuluh prajurit yang mengepung Nyai Sunti Rahim segera melebarkan kepungannya. Mereka tetap berjaga-jaga dengan senjata masing-masing di tangan.

Nyai Sunti Rahim yang masih kelihatan cantik dan mungil itu segera bangkit dari jatuhnya. la sunggingkan senyum tipis begitu meiihat Suto Sinting tampil sebagai lawan tandingnya. Pendekar Mabuk menghadapi dengan tenang, bahkan sempat menenggak tuaknya beberapa teguk.

"Sudah kuduga kau ada di sini, karena kucium bau darah tuakmu, Suto!" ucap Nyai Sunti Rahim sambii hentikan langkah dalam jarak enam tindak di depan Suto Sinting.

"Kudengar kau telah mati masuk ke jurang karena melawan Brajamusti, Nyai!" kata Suto dengan kalem, senyumnya membayang tipis di wajah membuat beberapa prajurit pengepung merasa kagum atas ketenangan sikap Suto dalam menghadapi lawan yang mereka anggap sangat berbahaya itu.

"Kau kira Brajamusti mampu tumbangkan diriku? Hemm...!" Nyai Sunti Rahim mencibir angkuh. "Brajamusti bukan orang tandinganku. Dengan tipuan penyelamat diri seperti itu saja ia sudah terkecoh olehku!"

"Barangkali akulah orang yang menjadi tandingan-mu jika kau masih nekat mengacau kehidupan di Pulau Selayang ini, Nyai. Tapi kita bisa menjadi sahabat jika kau mau tinggalkan sikap angkaramurkamu itu!"

"Bocah kemarin sore sudah berani menasihati orang tua?! Hmm...! Agaknya kau perlu dihajar agar tahu adat bicara dengan orang tua, Suto Sinting! Hiah!"

Sentakan cepat terjadi pada tangan kiri Nyai Sunti Rahim yang ada di samping. Tangan kiri itu menyentak pendek, tapi hasilkan gelombang tenaga dalam jarak jauh yang tak diduga-duga oieh Pendekar Mabuk. Wuuss...! Beeehg...!

Suto Sinting teriempar melambung ke atas. Keseimbangan tubuhnya nyaris hilang karena sentakan itb amat mengejutkan dan perut Suto menjadi mual ingin muntah. Tapi Pendekar Mabuk cepat kuasai diri ketika tubuhnya bergerak turun, sehingga ia mampu menangkis pukuian kedua dari Nyai Sunti Rahim yang keluar dari telapak tangan kanan berupa sinar hijau lurus. Claaap...!

Traakk...! Sinar hijau kenai bumbung tuak, memantul balik lebih cepat dan lebih besar, sehingga Nyai Sunti Rahim terkejut dan berjumpalitan meninggalkan tempatnya berpijak.

Daarrr...! Sinar itu menghantam tanah, tanah menyembur ke atas dan membentuk lubang besar berwarna hitam dan mengepulkan asap putih tebal. Suto Sinting segera kejar Nyai Sunti Rahim dengan lompatan secepat kilat. Ziaap...! Tapi pada saat itu rupanya Nyai Sunti Rahim juga gunakan gerakan cepatnya untuk me­nerjang Pendekar Mabuk. Slaapp...! Breess...! Mereka bertabrakan di udara. Keduanya sama-sama terpental ke belakang dan saling jatuh tanpa keseimbangan ba-dan. Namun dalam sekejap keduanya sama-sama berdiri lagi.

Nyai Sunti Rahim sunggingkan senyum sinis sambil berkata, "Pulanglah, Nak. Tak perlu kau tawarkan racun itu karena bukan urusanmu!"

"Urusanku adalah urusan perdamaian. Jika kau mau berdamai aku pun akan meninggalkan tempat ini, Nyai!''

"Kau akan kehilangan masa depan jika tetap ngotot melawanku!"

"Aku sudah siap kehilangan apa saja demi membela kebenaran!" ujar Pendekar Mabuk dengan kalem namun bernada tegas.

"Apakah kau tak melihat di dadamu telah membekas dua totokan jari tanganku yang menghitam itu? Sebentar lagi kau pun akan terkena Racun Bulan Madu, Suto! Rasakanlah akibatnya setelah matahari terbenam," sambil senyum sinisnya diperlebar sedikit.

Suto Sinting sedikit terperanjat ketika melihat bekas totokan dua jari di dada kirinya yang menghitam,agak kebiru-biruan. Berarti pada waktu berbenturan di udara tadi Nyai Sunti Rahim berhasil totokkan dua Jarinya ke dada Suto dan totokan itu mengandung Racun Bulan Madu. Tapi Suto Sinting tak terlalu cemas karena sudah mengetahui penangkal racun itu. Kini Pendekar Mabuk berkata,

"Aku tak pernah gentar dengan racun apa pun yang kau miliki, Nyai Sunti Rahim. Tapi perhatikaniah dirimu sendiri yang sebentar lagi akan membusuk karena pukulanku yang membekas di tengah dadamu itul"

Nyai Sunti Rahim segera memperhatikan dadanya. Ternyata kain penutup dada montoknya bolong dan membekas bentuk telapak tangan. Bekas telapak ta­ngan itu terlihat membiru legam di permukaan kulit dada, tepat di pertengahan gumpalan besarnya, Nyai Sunti Rahim jelas-jelas terbelalak kaget karena ia tak merasakan pukulan tersebut, tahu-tahu membekas sehebat itu.

"Kurang ajar!" geram Nyai Sunti Rahim dengan ke-marahan yang meluap. "Dasar murid binal Bidadari Jalang! Kulumatkan seluruh tubuhmu sekarang juga! Heaaah...!"

...! Kaki Nyai Sunti Rahim menghentak bumi, dan dari matanya keluar beberapa jarum beracun yang mampu menghancurkan batu karang dan sangat ber­bahaya bagi nyawa manusia. Jarum itu jumlahnya lebih dari sepuluh batang. Menerjang ke arah Pendekar Mabuk secara bersamaan. Zraab...! Pada waktu itu Pendekar Mabuk baru saja menenggak tuaknya. Begitu melihat jarum-jarum itu menyerangnya, langsung tuak dalam mulut disemburkan sambil tubuhnya melenting ke atas dan melampaui ketinggian jarum-jarum itu.

Brruusss...!
Tar, tar, tar, pletar, traak... taar... tar, taaar...!

Jarum-jarum itu saling meletus hingga timbulkan suara berisik karena terkena semburan tuak Pendekar Mabuk. Hal itu membuat Nyai Sunti Rahim semakin jengkel, maka dilepaskanlah pukuian berbahaya yanng mampu membuat tubuh manusia hilang lenyap seketika jika terkena sinar merah yang melebar dari atas ke ba-wah. Wuuuttt...! Slaaapp...!

Pendekar Mabuk segera lepaskan jurus pukuian 'Guntur Perkasa' yang mampu menembus dan sekaligus memadamkan sinar merah lebar itu. Claapp...! Weerrb! Sinar hijau dari tangan Suto Sinting itu berkelebat menghantam dada Nyai Sunti Rahim walau sudah memadamkan sinar merahnya lawan. Blaarrr...! Suara gelegar aneh terdengar bagaikan kilat mengamuk dalam pelariannya.

Pukulan itu tak bisa dihindari lagi oieh Nyai Sunti Rahim, sehingga perempuan itu diam mematung di tempat. Wajah dan beberapa tubuhnya tampak menghitam, yang lainnya kelihatan biru legam. la jatuh terkulai lemas dalam keadaan bersimpuh. Lama-lama jatuh terpuruk tak berdaya lagi. Kian lama bau busuk pun menyebar dan tubuh Nyai Sunti Rahim pun mulai ditumbuhi beiatung sebagai tanda bahwa tubuh itu cepat menjadi busuk dan tak bernyawa.

Para pengepung bersorak serentak sebagai tanda kemenangan di pihak pendekar tampan itu. Pintu gerbang pun dibuka, dan beberapa prajurit, pejabat, dan pengawal istana menghambur keluar menyambut kemenangan Pendekar Mabuk. Ratu Rangsang Madu sendiri ikut keluar dengan wajah ceria dan kebanggaan yang tiada tara. Batuan di kalungnya berwarna putih, menandakan hatinya sedang senang atau bahagia.

"Terima kasih, kau sungguh telah berbuat sesuatu yang amat besar bagi kehidupanku," kata sang Ratu setelah Pendekar Mabuk mengajarinya meneguk tuak dari bumbung. Walau sempat terbatuk-batuk, dan ditertawakan para abdinya, tapi sang Ratu merasakan kelegaan yang damai karena yakin bahwa Racun Bulan Madu akan lenyap dalam beberapa waktu lagi.

"Aku tak tahu harus bagaimana membalas jasamu, Tabib Darah Tuak!"

"Balaslah dengan bersikap baik kepada orang yang sedang diusung dengan tandu emas dan menuju kemari itu," kata Pendekar Mabuk seraya menunjuk ke arah selatan. Ternyata para pengusung tandu emas telah berhasil temukan Setan Merakyat dan sedang membawanya mendekati sang Ratu yang masih ada di depan pintu gerbang.

Ratu Rangsang Madu langsung bersujud di depan Setan Merakyat dengan air matanya berlinang sebagai tanda penyesalan dan duka. Tak berapa lama kemudian duka mengalir itu harus ditahan dan disimpan oleh sang Ratu, karena dari arah pantai muncul empat orang berlari-lari mendekatinya. Mereka adalah Jelita Bule, Pesona Indah, Batuk Maragam, dan Pande Bungkus. Di belakangnya melesat sesosok tubuh yang melintasi mereka dan lebih dulu tiba di samping Suto. Orang itu adalah Sumbaruni yang segera berkata,

"Syukurlah kau selamat! Hampir saja aku mati kekeringan air mata karena kupikir kau mati tenggelam di lautan."

Pande Bungkus yang terheran-heran meiihat Suto sudah sampai di situ lebih dulu hanya bisa terbengong memandangi Suto, lalu berbisik,

"Kapan kau bertarung dengan Syakuntala, Kang? Sebaiknya biar aku saja yang melawannya! "

Suto hanya tersenyum geli dan menepuk-nepuk pundak anak muda polos itu.

SELESAI