--> -->

Serial Pendekar Mabuk 33 Kitab Lorong Zaman

1
ASAP masih mengepul tipis pada celah-celah bebatuan. Warna hitam menghiasi pemandangan sekitar celah berasap. Warna hitam itu juga terdapat pada tubuh mayat-mayat yang bergelimpangan di sana-sini. Para korban menderita mati hangus akibat suatu pukulan dahsyat.

Sudah tentu orang berilmu tinggi yang mampu melakukan semua itu.

Di atas reruntuhan yang serba hitam dan masih hangat itulah, sesosok pemuda tampan berambut lurus sepanjang lewat pundak berdiri memandangi keadaan sekelilingnya. Pemuda yang mengenakan baju coklat tanpa lengan dan celana putih kusam itu menahan haru di dalam hatinya. Mata memandang ke sana-sini dengan sedih. Bambu bumbung tempat tuak masih disandang di pundak kanan. Si tampan bertubuh tegap dan gagah itu tak lain adalah Suto Sinting, Pendekar Mabuk, murid tokoh aliran putih kesohor; si Gila Tuak.

Setelah menatap sekelilingnya yang serba hitam itu, sang pendekar tampan melompat ke sana-sini untuk mencari sosok korban yang dikenalnya. Sosok korban itu akhirnya ditemukan tergeletak hangus di sela-sela reruntuhan kuil. Hati Suto kian trenyuh memandangi korban yang hampir tak bisa dikenalinya lagi itu. Tetapi melihat bentuk wajahnya dan tasbih batu hitam sebesar melinjo itu tergeletak tak jauh dari tangan korban, maka Suto Sinting yakin betul bahwa mayat itu adalah mayat Pendeta Mata Lima.

Biara Damai hancur menjadi arang. Guru di biara itu, Pendeta Mata Lima, ikut hancur bersama biaranya. Mengenaskan sekali. Tak ada satu pun murid Pendeta Mata Lima yang bisa tertolong dan diselamatkan. Pendekar Mabuk hanya mengeluh dalam hatinya,

"Terlambat. Aku terlambat tiba di sini. Kurasa biara ini dihancurkan beberapa saat sebelum aku tiba di sini. Siapa pelakunya?"



Keluh dalam renungan itu terputus. Pendekar Mabuk merasa gelombang hawa panas hendak menerpa tubuhnya. Buru-buru ia hentakkan kaki kirinya ketanah bebatuan yang dipijaknya. Wuuuttt...! Tubuhnya melenting ke atas dalam gerakan cepat. Tak berapa lama ia sudah mencapai sebuah dahan yang ada pada pohon berdaun lebar dan rindang. Jleegg...! Kakinya mendarat di pohon itu tanpa timbulkan suara, bahkan tak ada getar sedikit pun pada pohon tersebut. Ini menunjukkan ilmu peringan tubuh Pendekar Mabuk sangat tinggi dan mampu membuat lawan kebingungan mencari keberadaannya.

Rupanya gelombang hawa panas itu tidak tertuju kepadanya, tapi ke permukaan tanah bekas biara tersebut. Seberkas sinar kuning berbentuk bola seukuran genggaman tangan bayi melesat bagai jatuh dari langit. Gerakannya lurus ke bumi dan menghantam tanah bekas biara itu tanpa timbulkan suara gelegar apa pun. Hanya menyerupai suara besi panas dimasukkan dalam air.

Joosss...!

Saat sinar kuning menghantam bumi dan timbulkan suara aneh, asap mengepul dengan sedikit tebal dan berwarna kuning indah. Asap kuning itu menyebar, semakin lama semakin tebal, semakin lebar, sampai akhirnya menutupi reruntuhan bangunan biara tersebut.

Dari atas pohon tempat persembunyiannya, Suto Sinting memandang dengan mata penuh keheranan. Kini yang dapat dilihatnya hanyalah bentangan asap kuning yang kian menebal dan bergulung-gulung. Semua warna hitam dari reruntuhan tak dapat terlihat lagi. Mayat-mayat hangus yang bergelimpangan di sana-sini juga tak terlihat karena tertutup ketebalan asap kuning yang menyerupai kabut aneh membungkus permukaan tanah.

"Siapa pemilik sinar kuning aneh itu?" pikir Suto Sinting, matanya memandang sekeliling dari atas pohon, tapi ia tidak temukan sosok orang yang dicurigai. Tempat di sekitar itu tampak sepi, seakan tak ada kehidupan apa pun kecuali kehidupan dirinya sendiri. Ilmu lacak jantung dipergunakan oleh Suto, tapi ia tidak menangkap suara detak jantung orang lain, kecuali jantungnya sendiri. Itulah sebabnya Pendekar Mabuk merasa aneh, karena hati kecilnya merasa yakin adanya seseorang yang mengirimkan sinar kuning tersebut. Tak mungkin sinar kuning itu jatuh sendiri dari langit, itulah keyakinan Suto Sinting.

Keheranan Suto Sinting semakin besar lagi setelah melihat asap kuning yang melapisi permukaan tanah  dengan ketebalan setinggi lutut itu, ternyata cepat sekali hilangnya bagaikan terserap ke dalam bumi. Hilangnya kabut kuning itu bersamaan pula hilangnya reruntuhan biara tersebut. Semua benda, baik batu, kayu, maupun mayat yang bergelimpangan tadi ternyata lenyap bagaikan ditelan bumi.

"Ajaib sekali!' gumam hati Pendekar Mabuk dengan mata tak berkedip. "Semuanya lenyap tak berbekas?! Reruntuhan bekas pilar sebesar itu bisa hilang tanpa tersisa serpihannya sedikit pun?! Luar biasa hebatnya sinar kuning tadi? Hampir-hampir aku tak mempercayai penglihatanku sendiri!"

Memang sulit dipercaya. Tanah di mana semula terdapat reruntuhan biara yang terbakar habis bersama penghuninya itu kini menjadi rata. Rata dan berwarna coklat kehijauan, karena ada rumput-rumput yang tumbuh pendek bagaikan baru saja bersemi. Tak terlihat bekas reruntuhan sedikit pun, sehingga bagi orang yang baru datang akan menyangka di tanah tersebut tak pernah ada bangunan biara dengan kuil bertingkatnya yang telah hancur terbakar. Tanah tersebut seperti tanah lapang yang mempunyai kesuburan tersendiri dan bersuasana tenang, hening, dan bersih dari sampah dan kotoran apa pun.

Rasa heran yang begitu besar telah menguasai hati Pendekar Mabuk, membuatnya tertegun bagaikan patung di atas sebatang dahan pohon. Karena pada saat itu terbayang dalam benaknya, seandainya ia tadi tidak cepat hindari sinar kuning yang datang dari langit, lurus ke kepalanya itu, pasti saat ini ia sudah ikut lenyap bersama reruntuhan biara dan para mayat korban. Pasti saat ini ia tidak bisa berdiri di atas dahan dan menyaksikan keajaiban yang sulit dipercayai oleh siapa pun jika dituturkannya.

"Ternyata hari ini aku hampir saja musnah dan berakhir masa hidupku," pikir Suto Sinting setelah ia sadar dari ketertegunannya dan buru-buru menenggak tuaknya beberapa teguk. "Apakah si pemilik sinar kuning tadi bermaksud melenyapkan diriku, atau melenyapkan sisa reruntuhan biara? Jika ia bermaksud melenyapkan diriku, berarti dia adalah musuhku. Jika bermaksud melenyapkan sisa reruntuhan biara, berarti dialah orang yang menghancurkan biara itu!"

Baru saja Pendekar Mabuk ingin turun dari pohon untuk mencari seseorang di sebelah timur, tapi niatnya itu tertahan oleh kemunculan seseorang yang berlari dari suatu arah dan berhenti di tengah tanah lapang bekas reruntuhan itu. Orang tersebut memandang ke sana-sini dengan bingung, raut wajahnya penuh dengan perasaan heran yang membimbangkan hatinya sendiri.

"Siapa perempuan itu?" pikir Suto Sinting dengan hati sedikit berdebar karena perempuan yang ada di tengah tanah lapang itu berpakaian seronok dengan wajah cantik dan tubuh sangat elok menantang gairah lelaki.

"Aku merasa baru kali ini melihatnya. Sepertinya  perempuan itu sedang mencari-cari biara yang lenyap. Mungkin ia merasa bahwa di situ dulunya ia temukan sebuah biara, tapi sekarang tak berbekas sedikit pun. Pasti dia terheran-heran, dan akan semakin heran jika kuceritakan apa yang terjadi pada Biara Damai bersama para penghuninya."

Perempuan itu berambut panjang, digelung sebagian, mengenakan tusuk konde dari logam putih anti karat berbentuk bintang dengan satu sisinya runcing memanjang, ia kenakan pakaian pinjung sebatas dada warna merah jambu, ketat sekali sehingga gumpalan dua daging di dadanya sedikit tersumbul, menampakkan kemulusan kulit putihnya dan kepadatan yang aduhai mendebarkannya. Pakaian pinjung merah jambu dengan celana beludrunya yang sama warna itu dilapisi dengan jubah putih berhias benang emas pada tepiannya, ia bukan saja tampak cantik, namun juga tampak anggun dengan wajah bulat telurnya berhidung mancung dan bermata sedikit lebar, indah tapi punya kesan tegas. Dilihat dari raut muka dan kecantikannya, perempuan itu menampakkan usia matang yang mencapai sekitar tiga puluh tahun.

"Tak ada salahnya kalau ia kutemui. Barangkali ia membutuhkan penjelasan dariku tentang Biara Damai dan Pendeta Mata Lima," ucap Suto membatin. Sebelum bergegas menemui perempuan cantik itu, Suto Sinting lebih dulu meneguk tuaknya beberapa kali sebagai penyegar semangat.

Tetapi niat Suto untuk turun dari atas pohon tertunda kembali, karena tiba-tiba ia dikejutkan dengan munculnya tiga pisau terbang yang masing-masing berukuran satu jengkal. Tiga pisau terbang itu melesat berjajar bersamaan menuju ke arah punggung perempuan berjubah putih sutera itu. Hampir saja tangan Suto menyentak ke depan untuk melepaskan pukulan penghancur tiga pisau terbang itu. Namun niat tersebut tertunda pula karena tiba-tiba perempuan cantik itu berkelebat membalik dan tahu-tahu telah menyambar tiga pisau terbang itu dengan pedangnya. Trang, trang, trang.



"Wow...! Gerakan pedangnya cukup hebat. Lincah dan cepat!" puji Suto dalam hati sambil mengantongi kelegaan. Sesungguhnya Pendekar Mabuk akan merasa kecewa jika perempuan anggun itu terluka oleh salah satu dari tiga pisau terbang tersebut. Maka ketika ia melihat pisau terbang mental kedua arah dan salah satunya menancap di sebatang pohon, hati Pendekar Mabuk merasa senang dan lega sebab perempuan anggun itu tak jadi terluka.

Sekelebat bayangan melesat cepat bagaikan badai menerjang perempuan anggun. Wuuuttt! Terjangan itu kembali disertai kilatan dua logam putih yang tak lain adalah dua pisau terbang sejenis dan serupa dengan yang tadi. Mestinya kedua pisau itu menancap di dada perempuan anggun, sebab jarak lemparnya lebih dekat lagi. Hati Suto Sinting berdesir cemas.

Namun ternyata gerakan perempuan itu tak bisa dianggap enteng oleh lawan, ia mampu bersalto ke belakang dan menendangkan kakinya dengan tendangan tampar menggunakan telapak kaki beralas kulit itu.

Tendangan tamparnya membuat kedua pisau itu bagaikan dibuang ke arah samping dan keduanya menancap di sebuah pohon kapuk randu. Jrab, jrab...! Perempuan itu terhindar lagi dari maut yang membahayakan jiwanya. Jika ia tergores sedikit saja oleh pisau terbang itu, maka tubuhnya yang putih mulus itu akan menjadi busuk, karena memang demikianlah nasib sebuah pohon yang tertancap pisau terbang yang dilemparkan pertama tadi. Pohon itu menjadi busuk sedikit demi sedikit.

"Racun berbahaya ada di mata piaau terbang itu," pikir Suto sambil tak berkedip memperhatikan keadaan di tanah lapang bekas reruntuhan biara tadi. Kini yang terlihat di depannya adalah seorang perempuan cantik dan anggun, sedang berhadapan dengan seorang lelaki tokoh tua berjenggot putih.



"Aku belum pernah melihat tokoh tua itu?" pikir Suto Sinting. "Siapa orang itu dan ada persoalan apa dengan si cantik berbibir merekah itu?"

Lelaki tokoh tua yang dimaksud Suto berusia sekitar delapan puluh tahunan, ia mengenakan jubah abu-abu dengan rambut putihnya yang sedikit panjang tanpa ikat kepala sehingga meriap-riap diterbangkan angin yang berhembus agak kencang. Tubuhnya kurus, kulitnya berkeriput, tapi masih tampak tegar dan kuat. Berdirinya tegak, tanpa bungkuk sedikit pun. Di pinggangnya terselip senjata cambuk digulung berwarna hitam kemerah-merahan.

Suto mendengar perempuan cantik itu menggeram kepada lawannya dengan mata sedikit menyipit menandakan benci.

"Manusia licik kau, Urat Setan! Setua itu masih saja mau bertindak curang! Hmm...! Benar-benar orang tua yang tak tahu malu, menyerang orang muda dari belakang. Sama halnya kau telah mengakui bahwa ilmumu ternyata tak ada sekuku hitamnya dibandingkan ilmu-ku, Urat Setan!"

Pendekar Mabuk membatin, "O, rupanya dia yang berjuluk si Urat Setan? Aku pernah dengar namanya ketika makan di sebuah kedai. Urat Setan atau Ki Brajalinu adalah ketua Perguruan Hantu Terbang. Pantas jika di jubahnya terdapat gambar tengkorak bersayap. Seingatku, orang-orang kedai pernah menyebutkan  bahwa Urat Setan berilmu tinggi, tapi juga termasuk tokoh pembunuh berdarah dingin, ia pernah ditolak menjadi pengikut Siluman Tujuh Nyawa, musuh utamaku yang masih kukejar-kejar itu. Konon penolakan itu dikarenakan Urat Setan tidak berhasil mencuri sebuah pusaka sebagai syarat menjadi anggota Siluman Tujuh Nyawa. Sekarang ia berhadapan dengan perempuan cantik itu, apakah karena dalam upaya memburu sebuah pusaka atau karena ada persoalan lama yang perlu diselesaikan secara tuntas? Hmm... sebaiknya kusimak saja percakapan mereka itu."

Menurut dugaan dan takaran sepintas, perempuan itu akan tumbang di tangan ketua Perguruan Hantu Terbang. Sebagai ketua perguruan, tentunya Urat Setan tidak berilmu pas-pasan. Dan kemudaan usia perempuan itu jika dibandingkan dengan usia Urat Setan sangat menyolok. Kemudian usia tersebut menggambarkan kerapuhan ilmu si perempuan yang diduga mudah tumbang oleh ilmunya Urat Setan. Tetapi perempuan tersebut tampaknya tak gentar sedikit pun menghadapi musuh tuanya, ia tetap berdiri tegak dengan kedua kaki sedikit merenggang dan tangannya masih menggenggam pedang perunggu.

Urat Setan perdengarkan suaranya, "Perempuan binal, kalau kau meremehkan diriku sama saja kau sedang menggali liang kuburmu sendiri. Serangan awalku tadi hanya sebuah permainan iseng untuk mengganggumu. Kalau aku mau, sangat mudah menghancurkan tubuhmu yang montok itu dari belakang."

"Kau tak akan mampu, karena itu kau tak melakukannya, Urat Setan!"

Dengan sikap dingin Urat Setan berkata, "Sangat mampu, Lancang Puri. Tapi aku tak ingin kau mati sebelum kau serahkan benda itu padaku!"



"Hmmm...!" perempuan itu mencibir dan mendesis benci.

Hati si tampan di atas pohon itu membatin, "O, ternyata perempuan cantik itu bernama Lancang Puri. Hmm... sebuah nama yang bagus dan mudah kuingat. Tapi siapa sebenarnya Lancang Puri, aku belum tahu secara pasti. Tak pernah kudengar nama Lancang Puri disebutkan oleh para tokoh di rimba persilatan. Mungkin dia tokoh dari pulau lain yang jauh dari tanah ini?"

Terdengar lagi suara Lancang Puri yang merdu itu berkata lantang sementara sikap bermusuhannya kian tampak jelas,

"Urat Setan! Perguruanmu tak pernah punya persoalan dengan perguruanku. Selama ini kami selalu menghindari bentrokan dengan perguruanmu, karena kita satu Eyang Guru, satu aliran silat. Tapi jangan anggap hal itu disebabkan karena pihak perguruanku takut kepadamu, Urat Setan! Jika sekarang kau membuat persoalan denganku, maka akan kutumpas habis seluruh anggota perguruanmu yang kudengar mulai mempunyai aliran menyimpang dari ajaran Eyang Guru Resi Demang Sudra!"

Pendekar Mabuk kembali membatin, "Berani amat Lancang Puri mengancam seperti itu? Lagi pula, ia membawa-bawa nama Resi Demang Sudra, apakah ada hubungannya dengan Eyang Begawan Demang Budana atau Nyai Demang Ronggeng?" (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Keris Setan Kobra" dan "Tandu Terbang").

Tokoh tua yang benar-benar tidak sebanding jika melawan perempuan semuda itu, ternyata masih tetap berpenampilan dingin, seakan tak punya perasaan apa pun. Pandangan matanya tampak datar dalam menatap Lancang Puri. Kedua tangannya terlipat di dada. Berdirinya tetap tegak, bagaikan tonggak batu yang tak akan tumbang walau diterjang badai besar.

"Tak perlu banyak sesumbar Lancang Puri. Yang kuinginkan hanyalah pusaka itu. Serahkan padaku dan aku tak akan mengganggumu lagi!"

"Pusaka apa?!" Lancang Puri berkerut dahi walau bernada kesal. "Aku tak tahu arah pembicaraanmu, Urat Setan!"

"Jika begitu, aku harus membuatmu tahu dengan kekerasanku!"

"Sejak tadi sudah kutunggu tindakan jantanmu, Urat Setan. Mengapa justru kau berhenti menyerangku? Apakah kau ingin menyerangku dari belakang lagi?"

"Sungguh bocah dungu tak tahu dikasih ampun kau ini!" geram Urat Setan, tiba-tiba ia sentakkan kedua tangannya ke samping, membentang lebar-lebar, lalu telapak tangannya saling beradu di depan dada. Plakkk...! Dari ujung perpaduan kedua telapak tangan itu melesat sinar merah yang menerjang dada Lancang Puri. Claapp...! Selarik sinar merah itu besarnya seukuran kelingking. Gerakannya sangat cepat, walau ternyata masih kalah cepat dengan gerakan Lancang Puri yang bagai tanpa menghentakkan kaki tahu-tahu sudah melesat ke atas dan bersalto maju dua kali. Wuusss! Wut, wutt...!

Jlaabb...! Durrb...!

 Sinar merah menghantam pohon besar, bunyi ledakannya bagai punya peredam. Tak menggelegar, namun cukup membuat pohon besar itu tumbang dalam terpotong-potong menjadi puluhan bagian. Beerrk...! Pohon itu menumpuk tanpa menimbulkan suara keras.

"Maut juga sinar merahnya itu!" gumam Suto dalam hati, namun matanya segera berpindah ke arah tubuh Lancang Puri yang bergerak turun dari udara tepat di depan Urat Setan. Pedang perempuan itu menebas cepat ke berbagai sisi sehingga tak terlihat gerakan mata pedangnya. Yang terdengar hanya desing suara tebasan bagal hembusan angin kencang terpotong-potong. Wus, wus, wus, wus!

Blaabb...!

Tiba-tiba seberkas sinar putih lebar menghantam tubuh Lancang Puri. Rupanya tebasan pedang itu dapat dihindari oleh gerakan kilat Urat Setan yang tidak bergeser dari tempatnya kecuali meliuk ke kanan, kiri, dan belakang. Tak satu pun ada tebasan yang kenai sasaran. Sebaliknya justru Urat Setan dapat memukul Lancang Puri dengan pukulan tenaga dalam bersinar putih silau keluar dari telapak tangannya.

Akibat pukulan itu, tubuh Lancang Puri tersentak kuat-kuat, melayang ke belakang bagaikan daun kering terhempas badai, ia tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya, akhirnya jatuh terpuruk tepat di dekat pohon yang terpotong menjadi beberapa puluh bagian itu.

Bruukk...!

"Wah, matilah perempuan itu!" pikir Suto agak tegang.

Tapi ternyata dugaan hati Pendekar Mabuk masih salah. Dalam beberapa kejap saja Lancang Puri sudah mampu berdiri tegak walau mulutnya melelehkan darah tak seberapa banyak. Itu sudah merupakan tanda, Lancang Puri terluka bagian dalamnya. Agaknya luka itu tak dipedulikan dan tak mengurangi ketegarannya, ia berdiri dengan kedua kaki agak renggang dan pedang masih di tangan kanannya.

Pedang itu segera disabetkan ke depan. Wuusss...! Urat tubuhnya yang mengencang menandakan tenaga dalamnya sedang disalurkan menyentak ke pedang tersebut. Dan dari pedang itu keluarlah puluhan jarum emas yang menyerang ke tubuh Urat Setan. Jarum-jarum emas itu bagaikan disemburkan dari ujung pedang yang runcing lurus itu. Zraabb...!

Entah berapa jumlah jarum yang melesat dari ujung pedang itu, Suto Sinting tak sempat menghitungnya. Namun yang jelas jarum-jarum emas itu menyambar lebar bagai hendak mengurung tubuh Urat Setan. Apa yang terjadi jika jarum-jarum kuning emas itu mengenai tubuh Urat Setan? Suto juga tak tahu, karena ternyata Urat Setan sudah berpindah tempat dengan cepat dan nyaris tak terlihat gerakannya, sehingga jarum-jarum itu menancap di beberapa pohon.

Jraabbb...!

Tiga pohon yang menjadi sasaran jarum-jarum emas itu tiba-tiba berubah warnanya dari hijau menjadi coklat, dan kian lama cepat berubah menjadi hitam. Daun- daunnya rontok dalam keadaan kering garing. Tiga pohon itu dalam waktu dua helaan napas sudah berubah menjadi kayu bakar yang berasap dan masih berdiri menunggu angin kencang menumbangkannya.

"Gila! Pohon itu langsung menjadi arang. Alangkah dahsyatnya jarum-jarum itu. Untung Urat Setan mampu bergerak secepat kilat, sehingga selamat dari ancaman hangus jarum-jarum emas itu!" pikir Suto terbengong kagum.

Gerakan Urat Setan yang amat cepat itu membuat Lancang Puri nyaris terlambat bergerak, karena tiba-tiba dari arah sampingnya melesat sinar merah berbentuk pisau terbang, jumlahnya tiga sinar yang menerjang berjejeran. Sraabb...! Sinar merah berbentuk pisau terbang itu keluar dari lengan berjubah longgar yang disentakkan ke depan. Wuuttt...!

Tubuh Urat Setan tahu-tahu seperti menghilang, padahal bergerak sangat cepat dan kini sudah berdiri di sebelah kirinya Lancang Puri. Pada waktu itu Lancang Puri sedang sibuk menghindari sinar merah berbentuk pisau itu. Di luar dugaannya ia sudah diserang lagi dari sisi yang berlawanan dengan sinar merah yang sama, berbentuk tiga pisau terbang. Claapp...!

Boleh jadi Lancang Puri dapat hindari sinar merah dari kanannya, tapi ia tak akan bisa hindari tiga sinar merah dari sebelah kirinya yang mempunyai jarak lebih dekat dan kecepatan lebih tinggi dari sinar sebelah kanan. Lancang Puri pasti terkena sinar dari sebelah kirinya itu. Mungkin akan mati hancur atau hangus atau entah bagaimana saja hasilnya, yang jelas menurut dugaan Suto perempuan itu akan mati di tangan Urat Setan.

Merasa sayang melihat perempuan cantik mati dalam keadaan terdesak, Suto Sinting beranikan diri melepaskan pukulan jarak jauhnya yang bernama jurus 'Tangan Guntur'. Kedua tangan disentakkan ke depan dari atas pohon, lalu melesat sinar biru bagaikan kilat dan menyambar tiga sinar merah berbentuk pisau terbang itu. Claappp...!

Blaarr...!

Urat Setan terpelanting karena sentakan gelombang  ledak itu sampai tubuhnya berputar empat kali dan menabrak pohon. Bruusss...! Sedangkan Lancang Puri terpental dalam keadaan tubuh melayang dan jatuh terjungkal, hampir saja pedangnya menembus perut sendiri. Di sana ia terkapar dan mengerang lirih.

"Jahanam kau, Lancang Puri!" seru Urat Setan yang kini nyata-nyata tampak marah. "Rupanya kau telah kuasai ilmu 'Pantulan Cakra' secara diam-diam! Tunggu aku di sini! Akan kuambilkan Cermin Neraka untuk melawanmu!"

Wuuttt...! Urat Setan melesat pergi dengan cepat. Namun Suto Sinting melihat jenggot orang itu terbakar sebagian dan wajahnya pucat pasi.

*

* *

2

SETIDAKNYA Lancang Puri akan menderita luka parah yang mengancam jiwa jika sinar merah itu tidak  segera dipatahkan oleh Pendekar Mabuk. Lancang Puri juga akan sekarat dan mati jika Pendekar Mabuk tidak segera muncul dari persembunyiannya dan memberikan pertolongan dengan tuaknya. Karena perempuan itu meneguk tuak dari bumbung dengan cara terpaksa, maka luka dalam yang dideritanya itu lenyap dalam beberapa saat, tubuhnya menjadi segar kembali.

Melihat siapa yang menolongnya, Lancang Puri memandang dengan sikap ragu dan heran. Akhirnya tercetus pula kata tanya yang mewakili keheranan dan keraguan dalam hatinya itu,

"Apakah kau yang bernama Suto Sinting, si Pendekar Mabuk yang kesohor itu?"

Dengan senyum ramah menawan hati, pendekar tampan itu berkata, "Namaku memang Suto Sinting, gelarku memang Pendekar Mabuk, namun aku bukan orang kesohor. Aku orang biasa-biasa saja."



"Oh, syukurlah aku bisa jumpa kau," ucap Lancang Puri dengan wajah kian menjadi cerah ceria. Hatinya membatin, "Tak kusangka akhirnya aku akan berhadapan muka dengan pendekar yang digembar-gemborkan ketampanannya itu. Dan ternyata memang tampan, pantas jika para tokoh wanita di rimba persilatan banyak yang menyanjung dan membicarakannya. Kuakui dia memang tampan dan  sangat menawan hati, tapi haruskah aku seperti wanita lain yang selalu ingin berdekatan dengannya? Oh, tidak! Aku tidak boleh sama seperti mereka!"

Hati membatin demikian, tapi mulut berkata lain, "Apakah kau yang menolongku? Maksudku, kau yang selamatkan aku dari serangan Urat Setan tadi?"

Dengan canda Suto menjawab, "Bukan. Mungkin orang lain." Tapi tentu saja Lancang Puri tidak percaya dan mengerti jawaban itu hanya sebuah kelakar. Lancang Puri membalas kelakar itu dengan tawa kecil, senyum lembut yang tipis. Senyum itu yang membuat kecantikannya terlipat ganda dan mendebarkan hati.

"Terima kasih atas pertolongan dan penyelamatanmu ini. Aku tak tahu dengan cara bagaimana harus membalas budi baikmu ini, Pendekar Mabuk."

"Kurasa dengan menceritakan siapa dirimu, kau sudah membalas budi baik yang kau maksud itu, Lancang Puri."

"Oh, aku baru saja mau ceritakan siapa aku, tapi ternyata kau sudah tahu namaku? Bagaimana mungkin kau bisa mengetahuinya, Pendekar Mabuk?"

"Kudengar percakapanmu dengan si Urat Setan itu. Kudengar ia memanggilmu dengan nama Lancang Puri."

Perempuan itu sempat membatin, "Dia cukup cerdas. Kurasa aku harus hati-hati jika bicara dengannya."

Perempuan yang mempunyai kecantikan matang itu berkata pula, "Aku memang punya persoalan sedikit dengan Urat Setan. Repotnya, jika aku berhadapan dengannya, hatiku selalu tak tega untuk membunuhnya. Bagaimanapun juga kami sebenarnya masih satu aliran ilmu silat warisan Eyang Guru kami."

"Resi Demang Sudra?"

"Benar," jawab Lancang Puri sambil membatin, "Ah, dia benar-benar tahu segalanya kalau begitu."

"Siapakah Eyang Guru Resi Demang Sudra itu?" tanya Suto Sinting dengan sorot pandangan mata lembut penuh persahabatan tertuju ke wajah Lancang Puri. Tambah Suto lagi, "Apakah ada hubungannya dengan Begawan Demang Buwana dan Nyai Demang Ronggeng?"

Lancang Puri justru terkesiap. "Kau mengenal nama mereka berdua?" katanya lirih bagai menggumam.

"Aku pernah bertemu dengan mereka," jawab Suto dengan kalem. Jawaban itu membuat Lancang Puri kian terkesiap dan merasa heran.

"Jika kau bertemu dengan Nyai Demang Ronggeng, Itu hal yang wajar dan sangat memungkinkan, karena Nyai Demang Ronggeng adalah adik bungsu dari delapan bersaudara. Tapi aku tak yakin mendengar pengakuanmu, bahwa kau pernah bertemu dengan Eyang Begawan Demang Buwana, sebab menurutku beliau sudah meninggal sebelum kau lahir. Eyang Guru Resi Demang Sudra adalah adik kedua Eyang Demang Buwana. Ketika aku diangkat sebagai murid dari Resi Demang Sudra, kakak beliau itu sudah tiada. Sudah lama moksa."

"Aku tak begitu berharap kau mempercayai pengakuanku itu, karena memang aku sendiri kaget ketika diberi tahu bahwa Begawan Demang Buwana itu sebenarnya sudah lama meninggal sebelum pertemuanku dengan beliau itu. Yang ingin kutanyakan, apakah Urat Setan itu memang benar satu guru denganmu?"

"Ya. Tapi dia jauh lebih lama menjadi murid Eyang Guru Resi Demang Sudra. Bahkan ketika ia murtad dan terusir dari padepokan, aku belum menjadi murid Resi Demang Sudra, itulah sebabnya kuakui ilmuku dibawah ilmu si Urat Setan, karena hampir semua Ilmu Eyang Guru diwariskan padanya. Tapi ada beberapa ilmu andalan yang tidak diwariskan kepadanya, melainkan diwariskan kepadaku. Jadi aku merasa berani dan merasa mampu jika harus bertarung melawan Urat Setan."

"Kudengar ia menghendaki sebuah pusaka darimu. Kalau boleh kutahu, pusaka apa itu?" tanya Suto setelah diam beberapa kejap.

Lancang Puri tidak langsung menjawab, ia memandang keadaan sekeliling, bagaikan ingin mencari letak biara yang hilang. Bahkan ia perdengarkan suaranya yang mirip orang menggumam itu,

"Aneh sekali. Mengapa tidak ada di sini?"

"Maksudmu... Biara Damai?" sahut Suto.

Perempuan itu cepat palingkan wajah pandangi Pendekar Mabuk.

"Apakah kau tahu tentang Biara Damai?"

"Aku juga kenal dengan Pendeta Mata Lima."

"Oh, kalau begitu... kalau begitu kau tahu di mana kakekku itu berada?"

"Kakekmu? Maksudmu Pendeta Mata Lima itu?"

"Benar. Beliau adalah kakekku yang sudah lama tidak kutengok. Tapi ketika aku datang ke sini, sepertinya aku salah alamat. Mengapa di sini tidak ada bangunan biara dengan kuil-kuilnya? Padahal seingatku bangunan itu dulu ada di sini, di tanah lapang ini. Seandainya pindah, setidaknya sisa petilasannya ada walau hanya berupa tonggak batu. Mengapa kenyatasnnya tanah ini menjadi bersih tanpa jejak petilasan biara itu?"

"Biara Damai telah hancur, hangus menjadi arang, dan lenyap secara aneh bersama korban-korban yang bergelimpangan di sana-sini, termasuk Pendeta Mata Lima."

"Oh...?! Benarkah itu, Suto?!" Lancang Puri terbelalak kaget dengan mata melebar dan mulut ternganga kecil.

"Waktu aku tiba di sini beberapa saat sebelum kemunculanmu tadi, puing reruntuhan biara masih ada, termasuk jenazah kakekmu. Tapi beberapa saat kemudian seberkas sinar kuning datang dan menyebarkan kabut tebal, lalu kabut itu lenyap bersama petilasan biara. Semua yang ada di atas tanah ini bagaikan tersedot ditelan bumi. Seseorang telah melakukan hal itu dengan maksud yang tak kuketahui. Siapa orangnya pun aku tak bisa menerkanya, karena setahuku musuh utama Pendeta Mata Lima adalah Raja Tumbal. Tapi sekarang Raja Tumbal sudah tiada. Mengapa setelah kematian Raja Tumbal justru bencana itu datang dengan sangat menyedihkannya bagi Biara Damai? Aku turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kematian kakekmu itu, Lancang Puri."

Perempuan itu tundukkan kepala dengan murung. Cukup lama ia membungkam mulut, bagaikan sedang meresapi sebuah duka atas kematian seorang kakek.

"Lancang Puri," Suto memecah kebisuan di antara mereka. "Kudengar tadi Urat Setan mau mengambil Cermin Neraka, apa itu sebenarnya Cermin Neraka?"

Setelah menarik napas bagai menyimpan duka, Lancang Puri menjawab, "Cermin Neraka adalah sebuah senjata dari kaca yang dapat memantulkan serangan lawan sebelum serangan itu melesat lebih jauh dari tangan lawan, ia menduga sinar biru tadi datang dari pantulan mataku, sebab ia menyangka aku memiliki Ilmu 'Pantulan Cakra'. Padahal Ilmu 'Pantulan Cakra' belum sempat diturunkan oleh Eyang Guru kepadaku, tapi Eyang Guru sudah wafat lebih dulu."



Pendekar Mabuk menggumam lirih sambil mangut-manggut. Lalu katanya, "Agaknya Urat Setan bernafsu sekali ingin membunuhmu jika kau tidak serahkan pusaka yang dimaksud kepadanya. Aku ingin tahu, pusaka apa itu?"

Perempuan itu menatap dengan bibir terkatup. Sepertinya ada kebimbangan yang sedang dilawan dalam hatinya. Sayang sekali sebelum ia menjawab pertanyaan yang sudah dua kali dilontarkan Suto itu, tiba-tiba tubuhnya harus bergerak melesat. Tubuh berjubah putih itu melenting di udara dan bersalto dua kali melintasi atas kepala Suto. Jleegg...! Ia mendaratkan kedua kakinya tepat di belakang Suto, membuat pendekar tampan itu cepat balikkan badan.

Ternyata Lancang Puri sedang sentakkan tangan kirinya ke depan, sebuah sinar merah lebar melesat dari tangan kanan itu. Sinar tersebut menyongsong datangnya sinar hijau lurus dari segerombol semak ilalang.

Claapp...!

Blaarr...!

Sinar hijau itu dipecahkan oleh sinar merah lebar, bunyi ledakannya cukup menggelegar pertanda kedua sinar itu mempunyai tenaga dalam tinggi dan saling beradu di pertengahan jarak. Hentakan gelombang ledaknya membuat tubuh Lancang Puri tersentak mundur. Hampir saja jatuh kalau tidak segera diterima oleh kedua tangan Suto, sehingga perempuan itu bagaikan jatuh dalam pelukan pendekar tampan.

Rupanya ada seseorang yang ingin menyerang Pendekar Mabuk dari belakang. Kilatan cahaya hijau yang baru sekelebat itu ditangkap mata Lancang Puri, lalu perempuan itu bergegas menahan dan mematahkan  sinar hijau yang ingin membunuh Pendekar Mabuk. Menurutnya, jika ia tidak segera bertindak maka Pendekar Mabuk akan dihantam sinar hijau itu, kecilnya akan terluka parah, besarnya akan mati dalam keadaan tubuh hancur atau terbakar bagian dalamnya. Lancang Puri merasa sayang jika pemuda tampan itu harus mati di depan matanya, sehingga ia cepat lakukan penyelamatan sekaligus membalas hutang budinya terhadap penyelamatan Suto atas dirinya tadi.

Padahal sebelum Lancang Puri bergerak, Suto sudah rasakan ada sesuatu yang tak beres di belakangnya yang membuat nalurinya memaksa untuk berpaling ke belakang. Hanya saja gerakan berpaling ke belakang itu belum sempat dilakukan sudah didului oleh gerakan terbang bersalto dari Lancang Puri. Maka Pendekar Mabuk pun hanya tersenyum dalam hati, karena ia tahu perempuan tersebut bermaksud membalas budi baik yang diterimanya tadi.

"Seseorang ingin membunuhmu, ia berada di semak-semak sebelah timur itu!" kata Lancang Puri. "Akan kupaksa keluar dengan caraku sendiri!" tambahnya.

Suto ingin mencegah, tapi tangan Lancang Puri sudah lebih dulu bergerak cepat, menghentak ke depan seperti tadi, dan sinar merah lebar melesat dari telapak tangannya. Sinar itu menghantam semak ilalang rimbun.

Wuuttt...! Zaark!

Duaar...!

Wut, wut, wut...! Sesosok tubuh melenting di udara dan bersalto tiga kali, keluar dari balik semak yang kini sedang terbakar karena serangan sinar merah.



Seorang pemuda ganteng berdiri di depan Suto dan Lancang Puri. Pemuda itu kenakan baju ungu satin, rapi, dan bersih. Rambutnya yang ikal panjang dilapisi dengan ikat kepala dari lempengan perak hias berwarna merah dan hijau. Pedang pendek di pinggang bersarung logam kuningan ukir. Melihat kumis tipis pemuda itu, Suto merasa pernah bertemu dengan orang tersebut. Setelah diingatkan sebentar, Suto pun segera tahu bahwa pemuda itulah yang bernama Dewa Rayu, yang tempo hari diintip Suto hendak bermesraan dengan gadis dari Ringgit Kencana, anak buah Rindu Malam yang bernama Kusuma Sumi, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Seruling Malaikat").



"Apakah kau mengenalnya?" tanya Lancang Puri berbisik di samping Suto.

"Namanya Dewa Rayu. Putera raja Pengging yang dibuang, lalu menjadi muridnya Patih Janur Sulung di Bukit Karangapus, tapi ia memihak perguruan Pasir Tawu karena setelah kematian sang guru ia ikut dengan adik gurunya yang bernama Dwipajati alias si Jejak Iblis."

"Jejak Iblis...!" suara Lancang Puri menggeram bagai menyimpan dendam tersendiri. Suto segera tambahkan bisikannya.

"Tapi orang yang bernama Jejak Iblis itu sekarang sudah mati di tangan Rindu Malam, orang dari negeri Ringgit Kencana."

Lancang Puri tampak terperanjat sedikit dan cepat melirik Pendekar Mabuk. Tapi sang pendekar murid Gila Tuak itu tetap tenang menatap Dewa Rayu yang juga berpenampilan tenang namun bersikap sinis kepada Suto.

Terdengar Suto menyapa Dewa Rayu yang pernah dibuatnya malu di depan Rindu Malam itu, "Apa maksudmu menyerangku dari belakang, Dewa Rayu?"

"Biar kau mati!" jawab Dewa Rayu dengan seenaknya, tapi segera lemparkan pandangan ke arah Lancang Puri. Perempuan cantik yang selayaknya sudah bersuami itu menatap dengan mata tak berkedip. Hatinya sempat membatin,

"Ganteng juga dia?! Aku menyukai pria berkumis tipis seperti dia. Tapi... ah, lupakan saja dulu. Ada hal lain yang harus kupikirkan dengan sungguh-sungguh.Tak mau tercampur aduk oleh perasaan asmaraku."

"Mengapa kau inginkan kematianku, Dewa Rayu?" tanya Suto setelah meneguk tuaknya beberapa kali.

"Karena kau adalah satu-satunya orang yang menjadi penghalangku."

"Penghalang dalam hal apa?"

"Jika tak ada kau, Rindu Malam akan jatuh dalam pelukanku."

Suto Sinting sungglngkan senyum geli. "O, rupanya  kau punya hati kepada Rindu Malam?"

"Aku mencintainya dan ingin mengawininya."

"Bagus. Itu sikap seorang lelaki yang jantan," kata Suto sambil menghabiskan sisa senyumnya.

"Karena itu," kata Dewa Rayu, "Kita harus bertarung pertaruhkan nyawa untuk tentukan siapa yang berhak menjadi suami Rindu Malam!"

"Tunggu...," Suto belum selesai bicara, tahu-tahu Dewa Rayu berkelebat cepat menerjang Pendekar Mabuk dengan gerakan tubuh memutar cepat. Kakinya menampar wajah Pendekar Mabuk. Plookk...! Wuuttt...! Pendekar Mabuk nyaris terlempar bagaikan sehelai daun kering. Tendangan itu cukup keras. Tapi urat di wajah Suto cepat mengencang dan membuat tendangan keras itu tidak menyakitkan kecuali hanya menyentak dan membuatnya terhuyung-huyung ke samping belakang.

Sebenarnya Pendekar Mabuk bisa saja menangkis tendangan itu. Tapi ia merasa tak perlu lakukan karena sempat melihat tangan Lancang Puri berkelebat menahan gerakan kaki Dewa Rayu. Suto tak sangka kalau tangkisan Lancang Puri ternyata meleset dan akhirnya tendangan itu kenai wajah Suto. Namun hati Pendekar Mabuk masih bersabar dan tak merasa sakit hati, sebab ia tahu bahwa Dewa Rayu salah anggapan, menyangka Rindu Malam kekasih Suto.

Tetapi agaknya tindakan itu tidak bisa diterima di hati Lancang Puri. Serangan Dewa Rayu yang kenai wajah Suto membuat Lancang Puri marah, karena merasa sayang jika Suto diserang orang. Menurut Lancang Puri, ketampanan Suto sungguh lebih menawan dan seperti bola kristal yang amat disayangkan jika disentuh dengan kasar. Sebab itulah Lancang Puri segera membalaskan serangan yang mengenai wajah Suto itu dengan sebuah tendangan kaki bergerak memutar cepat ke udara. Dengan melompat ke atas, tubuh berputar cepat, kedua kakinya pun berhasil menampar wajah Dewa Rayu secara berturut-turut. Plak, plak, plak!

Dewa Rayu terpelanting tak tentu arah. Wajahnya bagai dihantam godam. Pandangan matanya sempat gelap sesaat. Pada saat itulah Lancang Puri menerjang Dewa Rayu dengan tendangan menyerupai seekor kuda betina mengamuk.

Bruusss...! Kuuuttt...! Bluugh...!

Tubuh Dewa Rayu tahu-tahu terkapar di bawah pohon yang jaraknya tujuh langkah dari tempatnya semula, ia mengerang lirih sambil berusaha bangkit dengan wajah menyeringai. Dadanya dipegangi karena merasa sakit, seolah-olah tulang dadanya remuk karena tendangan terakhir tadi.

"Lancang Puri! Tahan seranganmu!" seru Suto Sinting, karena ia melihat Lancang Puri bergegas hendak lakukan serangan lagi kepada Dewa Rayu. Seruan itu berhasil menahan gerakan Lancang Puri, sehingga perempuan itu hanya hempaskan napas panjang sambil tetap pandangi Dewa Rayu.

"Dia salah pengertian, Lancang Puri. Jangan layani serangannya."

"Aku jengkel dengannya!" geram Lancang Puri.  "Setelah kutahu namanya, baru kuingat bahwa dia pernah mempermainkan cinta anak buahku dan membuat anak buahku itu mati bunuh diri karena cintanya dikhianati oleh tikus itu!"

"Tahan amarahmu," kata Suto pelan bernada sabar.

 "Ingin rasanya aku meremukkan mulut dan leher si mata keranjang itul"

Rupanya ucapan tersebut didengar oleh Dewa Rayu yang sudah berdiri dan mengendalikan rasa sakit dengan tarikan napasnya beberapa kali. Dewa Rayu pun segera berkata penuh kegeraman dan kejengkelan,

"Jangan sesumbar di depanku, Perempuan gatal! Aku bisa membuatmu bertekuk lutut di depanku dan mengemis cinta padaku!"

"Semudah itukah kau membayangkannya?! Hmm..., Justru kau yang akan merangkak di depanku dan menangis-nangis memohon kehangatan dariku!"

"Kalau begitu kita buktikan siapa yang akan mengemis cinta di antara kita! Hiaaatt...!" Dewa Rayu melompat maju sambil menyentakkan tangan kirinya dalam keadaan telapak tangan terbuka. Dari telapak tangan itu menyembur asap kuning tipis ke arah wajah Lancang Puri.

"Racun Kuda Binal!" seru Dewa Rayu pada saat asap kuning itu menyembur.

Rupanya Lancang Puri tak mau kalah, ia pun segera sentakkan tangan kanannya yang berjari lurus dan rapat, bagai menusukkan sebilah pedang. Wuuttt...!

"Racun Edan Cumbu!" seru Lancang Puri bersamaan menyemburnya asap hijau dari ujung jari-jarinya. Wuusss...! Asap itu menerpa asap kuningnya Dewa Rayu. Wajah pemuda itu bagaikan disambar asap tersebut, sedangkan wajah Lancang Puri juga diterpa asap kuning. Pada saat kedua asap itu saling bertabrakan di pertengahan jarak, memerciklah bunga api berbintik-bintik mirip ratusan kunang-kunang, namun segera lenyap setelah kedua asap itu tetap melesat ke arah masing-masing.

Suto Sinting berkerut dahi dari tempatnya, ia sempat melompat mundur karena tak mau diterpa asap dari siapa pun. Bahkan ia juga menahan napas beberapa saat supaya asap itu tidak ada yang terhirup masuk ke pernapasannya. Sebab dalam benak Pendekar Mabuk segera berpikir, "Kedua asap beracun, mungkin sangat berbahaya. Kalau aku ikut menghirup asap itu, aku pun bisa jadi korban kedua racun tersebut."

Kini Pendekar Mabuk sengaja berdiri di bawah pohon sambil menenggak tuak, sebagai sikap jaga-jaga kalau-kalau ada uap racun yang terhirup maka tuaknya akan menawarkan racun tersebut. Setelah itu, Pendekar Mabuk jadi berkerut dahi memandangi Dewa Rayu dan Lancang Puri.

"Aneh...?! Kok mereka jadi begitu?" pikir Suto Sinting.

Dewa Rayu berdiri tegak memandangi lurus ke arah Lancang Puri. Perempuan itu pun berdiri tegak menampakkan sikap tegasnya dan tak mau menyerah kalah. Tetapi kejap berikutnya, mata Dewa Rayu menjadi redup, mata Lancang Puri menjadi sayu. Keduanya melangkah pelan-pelan menempuh jarak yang sebenarnya bisa dicapai dalam empat langkah saja.

Setelah jarak mereka kurang dari satu langkah, mereka sama-sama berhenti. Suto Sinting melihat Dewa Rayu mulai bernapas tidak teratur. Keringatnya mulai tersumbul berbintik-bintik di kening, pelipis, dan sekitar hidung. Lancang Puri sendiri kelihatan menahan sesuatu yang bergejolak dalam hatinya, ia tampak berjuang mengalahkan sesuatu yang bergejolak itu sampai-sampai kedua tangannya menggenggam dengan gemetar. Napasnya pun mulai tampak tidak teratur. Lalu, Pendekar Mabuk mendengar suara pelan yang diucapkan oleh Dewa Rayu,

"Kau... kau menggairahkan sekali, Sayangku."

Lancang Puri membalas dengan ucapan lembut yang lebih lirih, "Kau pun... kau pun demikian. Oh... peluklah aku. Peluklah, lekas...!" rintihnya pelan.

Tangan Dewa Rayu bergerak pelan, ragu-ragu, sementara Lancang Puri memandang penuh gairah dengan menggigit bibir beberapa kali. Akhirnya karena Dewa Rayu hanya menyentuh kedua pundaknya saja, Lancang Puri menerkam tubuh pemuda berkumis tipis itu. Ia memeluk dengan penuh ungkapan gairah. Pelukan itu disambut hangat oleh Dewa Rayu. Wajah Lancang Puri diciuminya dengan penuh nafsu. Bibir perempuan itu dilumat habis, dan perempuan itu pun melumat pula dengan lebih bersemangat lagi. Tangan mereka mulai meremas apa saja yang bisa mendatangkan rasa nikmat, sampai-sampai Lancang Puri membantu Dewa Rayu melepaskan jubah yang dipakainya.

"Gawat...?!" pikir Suto dalam ketegangan. "Keduanya jadi bergairah?! Itu berarti keduanya saling terkena racun masing-masing. Lancang Puri terkena asap Racun Kuda Binal-nya Dewa Rayu, dan Dewa Rayu terkena asap Racun Edan Cumbu-nya Lancang Puri. Akhirnya keduanya sama-sama bertekuk lutut dan saling bergairah. Ya, ampuuun... mimpi apa aku semalam sehingga siang ini punya tontonan gratis seperti ini?!"

Suto Sinting sendiri hanya tersenyum-senyum geli dengan jantung berdebar-debar karena memandangi mereka berdua sudah sama-sama berada di permukaan tanah berumput, saling bercumbu dan bergulat walau

belum tiba pada puncak keinginan. Mereka masih sama-sama kenakan pakaian walau sudah berantakkan tak seperti semula.

"Mau dipisah, sayang. Tidak dipisah, jalang. Ah, serba bingung kalau begini, serba salah aku jadinya!" pikir Suto dengan jengkel sendiri.

Wuutt...! Tiba-tiba sesosok bayangan hitam menyambar tubuh dan jubah Lancang Puri ketika Dewa Rayu berada dibawahnya. Suto Sinting sempat kaget dan tak menduga kalau ada orang yang tega lakukan hal itu. Tentu saja Dewa Rayu berteriak berang karena kemesraannya terputus.

"Bangsat! Mau dibawa ke mana kekasihku itu!"

Lancang Puri berteriak pula, "Lepaskan aku! Aku ingin dalam pelukannya! Lepaskan aku, Bibi!" Perempuan itu bagai ingin menangis.

Perempuan tua, berpakaian serba hitam dan berusia sekitar lima puluh tahun itu segera mengenakan jubbah putih ke tubuh Lancang Puri sambii membentak, "Ada tugas lain, Lancang Puri! Kita harus cepat tangani!"

"Tidak! Tidak... mau! Aku ingin dalam pelukan Dewa Rayu. Aku cinta kepadanya, Bibi! Lepaskan aku...!"

Dewa Rayu pun bergegas merebut Lancang Puri sambil berseru, "Lepaskan kekasihku atau kubunuh kau, Nyai Gandrik! Hiaaat...!"

Wuutt...!

Claap...! Dess...!

Sinar merah kecil melesat dari tangan orang yang dipanggil dengan nama Nyai Gandrik itu. Sinar tersebut membuat Dewa Rayu tersentak ke tempat semula dan mengerang panjang dengan dada bagaikan terbakar hebat bagian dalamnya.

"Aaaahh...! Lancang Puri... peluklah aku! Peluklah aku, Puriii...!"

"Dewa Rayu... aku ikut! Aku ikut kau! Ambillah aku, Sayang...!"

Lancang Puri yang meronta-ronta saat dibetulkan letak pakaiannya itu akhirnya ditotok oleh Nyai Gandrik.

Teess...!

"Racun Kuda Binal memang berbahaya bagimu, Lancang Puri! Aku harus segera menawarkan racun itu dulu! Ingat pusaka itu, Lancang Puri! Ingat!"

Weesss...! Lancang Puri dipanggul dan segera dibawa pergi oleh perempuan bersanggul utuh dengan rambut bercampur uban sebagian. Sementara itu Dewa Rayu masih menggeliat dan mengerang-erang bagaikan merasakan luka bakar di dalam dadanya.

Suto Sinting hanya geleng-geleng kepala memandangi kejadian itu sambil menggumam lirih,



"Siapa perempuan yang dipanggil sebagai Bibi dan oleh Dewa Rayu dipanggil Nyai Gandrik itu? Ia juga menyebut-nyebut pusaka. Hmm... pusaka apa sebenarnya? Aku jadi penasaran sekali. Tapi, oh... hampir saja aku lupa. Dewa Rayu butuh pertolongan. Racun Edan Cumbu itu agaknya akan semakin menghancurkan tubuhnya yang terkena pukulan sinar merahnya Nyai Gandrik tadi!"

Pendekar Mabuk segera bergegas hampiri Dewa Rayu. Tapi pemuda berkumis tipis itu justru mendelik dan berteriak keras,

"Minggir kau! Kau bukan Lancang Puri, tak pantas memelukku. Minggir!"

"Siapa yang mau memelukmu?!" sentak Suto agak jengkel.

"Aku tak mau bercumbu denganmu!"

"Aku juga tak mau! Kau kira aku sudah gila?! Mau diobati malah menuduh yang bukan-bukan." gerutu Suto sambil mencoba memaklumi keadaan yang terjadi.

*

* *



3

RACUN Edan Cumbu ternyata cukup berbahaya. Sulit ditawarkan dengan tuaknya Suto. Sudah tiga kali Suto berhasil paksa Dewa Rayu untuk meminum tuaknya, tapi Dewa Rayu masih berceloteh menyebut-nyebut nama Lancang Puri. Bahkan Dewa Rayu sempat menangis seperti anak kecil, duduk di tanah sambil menyentak-nyentakkan kakinya.

"Aku ingin dipeluk Lancang Puri. Aku ingin dicium dia! Aku tidak mau dicium sapi, aku mau dicium dia!' Lancaaang...! Lancang Puriii...! Aku rindu padamu, Sayangku. Oooh... di mana kau sayang...?!"

"Celaka!" pikir Suto Sinting. "Ternyata Racun Edan Cumbu sulit disembuhkan. Lebih berbahaya dari Racun Kuda Binal-nya pemuda malang ini. Hmmm... bagaimana cara menawarkan racun itu?"

Selagi Suto berpikir dalam renungannya, tiba-tiba Dewa Rayu bangkit dan melepaskan bajunya. Suto Sinting kaget dan buru-buru mencegah,

"Hei, mau apa kau melepas baju?! Jangan dilepas! Memalukan!"

"Persetan dengan laranganmu, Beruk Hitam! Aku mau tidur bersama Lancang Puri. Aku mau bercumbu dengannya."

"Tapi di sini tidak ada Lancang Puri!"

"Itu...! Itu dia ada di situ!"

"Mana? Itu pohon kapuk randu. Batangnya berduri. Kalau kamu memeluknya dan bercumbu dengannya, tubuhmu bisa tercabik-cabik!"

"Omong kosong!" bentak Dewa Rayu sambil menghindari jangkauan tangan Suto. "Nah, itu dia...! Itu Lancang Puri lari ke sana!" sambil Dewa Rayu menuding seekor landak jantan yang berkelebat masuk ke semak-semak. "Lancaaang...!" Teriaknya sambil melompat masuk ke semak-semak. Bruusss...!

"Aaaa...!" Dewa Rayu berteriak, keluar dari semak tubuhnya berdarah terutama bagian kedua lengannya. Karena ketika ia menerkam makhluk yang dianggap Lancang Puri itu, ternyata yang diterkam dan dipeluknya adalah seekor landak berduri tajam.

Sambil meraung kesakitan, Dewa Rayu berlari-lari menuju tempat tak pasti. Gerakannya cepat sekali, sambil sebentar-sebentar terdengar suaranya yang memanggil-manggil Lancang Puri. Suto Sinting yang melihat keadaan itu menjadi sangat kasihan, maka ia segera menyusul Dewa Rayu.

"Bocah itu harus diselamatkan. Jika tidak, bisa-bisa ia menjadi seorang pemerkosa berdarah dingin. Kebutuhan batinnya-yang menggila karena racun itu dapat membuatnya beranggapan setiap wanita adalah Lancang Puri!"

Suto Sinting memang tidak pergunakan gerak siluman yang mampu berlari dan bergerak secepat badai, dua kali kecepatan anak panah yang melesat dari busurnya. Suto hanya berlari biasa, karena menganggap Dewa Rayu tak akan berlari cepat. Tapi ternyata Suto kehilangan jejak pemuda berkumis tipis itu, sehingga tiba di suatu tempat, matanya memandang ke sana-sini dengan clingukan. Ia menyimak suara, tapi tak ada seruan Dewa Rayu yang memanggil-manggil Lancang Puri.

"Ke mana bocah itu?" pikir Suto sambil melangkah yang akhirnya membawanya tiba di sebuah pantai. Pandangan matanya dilemparkan ke arah lautan. Tak ada siapa-siapa di lautan sana. Dewa Rayu tak tampak di sela-sela karang atau di atas bebatuannya.

Tetapi tiba-tiba gelombang panas datang dari arah belakang Suto Sinting. Dengan cepat Suto Sinting lakukan lompatan ke atas dan bersalto satu kali. Wuuuttt...! Jleeg...! Dalam kejap berikutnya ia sudah berdiri di atas gugusan batu karang yang permukaannya datar. Gelombang hawa panas itu menghantam gugusan  batu karang yang tumbuh di permukaan air laut. Duaaarr...! Gugusan batu karang itu pecah menyebar dan tak terlihat lagi wujudnya.

Ternyata penyerangnya itu adalah Urat Setan yang segera muncul dari balik sebuah pohon besar. Rupanya Urat Setan saat lari dari pertarungan dengan Lancang Puri tidak pergi jauh, melainkan bersembunyi di suatu tempat untuk mengintai apakah Lancang Puri mati atau luka parah. Ternyata Urat Setan semakin tertarik dengan pengintaiannya setelah tahu bahwa sinar biru yang menghancurkan sinar merahnya itu ternyata berasal dari tangan Pendekar Mabuk. Dan baru kali itu ia tahu sosok Pendekar Mabuk yang dikenalnya dari mulut orang-orang persilatan. Rasa kecewanya atas ikut campurnya Suto dalam pertarungan dengan Lancang Puri membuat Urat Setan mencari kesempatan baik untuk membalas Dan ternyata di pantai itulah Urat Setan merasa memperoleh kesempatan bagus untuk melepaskan pembalasannya.

"Tak perlu berbasa-basi lagi, aku sudah tahu, bahwa kaulah orang yang mematahkan seranganku terhadap Lancang Puri!" ucap Urat Setan dengan nada dingin.

"Aku hanya mencegah agar di antara kalian jangan saling membunuh," kata Suto beralasan, lalu ia cepat-cepat menenggak tuaknya.

Urat Setan merasa disepelekan oleh sikap kalemnya Suto yang tidak punya rasa kaget dan takut atas kemunculannya. Maka ketika Suto sedang menenggak tuaknya, sebuah pukulan bersinar merah dalam bentuk pisau terbang dilepaskan. Claaapp...! Sinar merah berbentuk pisau terbang itu menghantam pinggang Suto. Tetapi karena Suto cepat-cepat turunkan bumbung tuaknya, maka sinar itu menghantam bumbung tuak tersebut. Trak... deesss...!

Sinar merah itu berbalik arah dengan gerakan lebih cepat. Bentuknya yang menyerupai pisau terbang itu menjadi lebih besar, sehingga layak dikatakan berbentuk golok terbang. Hal itu sangat mengejutkan Urat Setan, sehingga hampir saja orang itu mati karena sinarnya sendiri kalau tak segera melompat ke samping dan berguling-guling di pasir pantai.

Wuuuss...! Blegaarr...!

Dentuman keras menggema di pantai itu. Dentuman tersebut terjadi karena sinar merah besar telah membentur sebatang pohon di hutan pantai. Pohon itu pecah menjadi potongan-potongan sebesar lengan bayi dan menumpuk di tempatnya. Kejadian itu membuat Urat Setan tertegun memandanginya dan membatin,

"Gila! Bisa seperti itu jadinya? Aku harus hati-hati melawan anak muda itu. Kalau perlu kutinggalkan saja, karena tak punya urusan penting denganku!"

Tetapi agaknya Urat Setan perlu mengatakan sesuatu  kepada Suto Sinting, sehingga dengan sikapnya yang kembali dingin itu, ia berseru dari tempatnya yang berjarak sekitar tujuh langkah dari batu yang dipijak Suto.

"Pendekar Mabuk, kusarankan agar lain kali kau tak perlu ikut campur dengan urusanku. Pembelaanmu terhadap Lancang Puri adalah tindakan yang sia-sia. Kau akan kecewa jika berada di pihaknya, karena Lancang Puri bukan perempuan baik-baik. Dia perempuan keji yang mewarisi watak bibinya; Nyai Gandrik. Seperti kau ketahui sendiri, Lancang Puri mempunyai Racun Edan Cumbu yang tak akan bisa disembuhkan dengan obat penawar apa pun, seperti yang dialami pemuda yang tadi kau panggil sebagal Dewa Rayu itu. Racun itu amat kejam. Dapat membuat penderitanya menjadi gila cumbuan, gila gairah, tak segan-segan melampiaskan kepada siapa pun dan apa pun. Dalam waktu kurang dari tiga hari Racun Edan Cumbu akan merusak urat syaraf penderitanya. Bukan saja menjadi gila, namun juga menghancurkan hati, jantung, paru-paru, dan limpanya!"

"Haruskah aku mempercayai kata-katamu Urat Setan?!"

"Terserah dirimu! Tetapi kau bisa buktikan kebenarannya. Tunggu tiga hari lagi, dan lihatlah nasib si Dewa Rayu itu. Jika ia tidak terbunuh oleh orang lebih dulu, maka dalam tiga hari kau akan temukan Dewa Rayu mati dalam keadaan membusuk dan berbelatung di sekujur tubuhnya."

"Sebutkan obat penawarnya. Kau pasti tahu, Urat Setan!"

"Tidak. Aku tidak tahu, sebab Racun Edan Cumbu itu bukan milik guru kami, melainkan milik Nyai Gandrik, bibinya Lancang Puri. Jika kau ingin mencari obat penawar racun itu, carilah pada Nyai Gandrik. Tapi aku sangsi, mungkin kau tak akan mampu menghadapi ilmunya yang lumayan tinggi itu."

Suto Sinting diam memandangi lawannya dengan mata tajam tak berkedip. Ada beberapa pertimbangan yang berkecamuk dalam benaknya. Namun sebelum ia sempat bicara, ternyata Urat Setan lebih dulu berkata,

"Baiklah. Kita tak punya urusan apa-apa. Jangan bikin persoalan lagi kepadaku, Pendekar Mabuk!"

"Tunggu!" sergah Suto sambil lompat dari atas gugusan batu dan turun ke bumi. Langkah Urat Setan yang ingin tinggalkan tempat itu menjadi terhenti, ia berpaling menatap Suto kembali dengan sorot pandangan matanya yang dingin.

"Aku tahu kau dan Lancang Puri memperebutkan sebuah pusaka. Aku ingin tahu, pusaka apa itu? Hanya sekadar ingin tahu biar hatiku tak penasaran!"

"Aku bukan orang bodoh. Kalau kau tahu, kau akan ikut memperebutkannya juga, Pendekar Mabuk. Aku tak mau ada pihak lain yang ikut memperebutkannya!"

"Aku berjanji tidak akan ikut memperebutkan pusaka itu jika kau memberitahukan padaku apa pusaka yang kalian perebutkan itu?'

"Aku tak punya waktu lagi! Aku harus segera susul Lancang Puri dan Nyai Gandrik sebelum mereka kuasai pusaka itu secara nyata!"

Weesss...!

Setelah bicara begitu, Urat Setan bagaikan menghilang. Gerakan kepergiannya disertai gerakan ilmu peringan tubuh, sehingga ia seperti menghilang. Suto bisa saja mengimbangi gerakan itu, tapi ia tak mau mengejar Urat Setan karena lebih tertarik merenungi kata-kata Urat Setan tadi tentang Racun Edan Cumbu. Benarkah tak bisa ditawarkan? Benarkah obat penawarnya hanya ada pada diri Nyai Gandrik?

Belum lama Urat Setan pergi, muncul sekelebat bayangan dari arah berlawanan. Bayangan itu segera menjelma menjadi sesosok tubuh gemuk dan beralis tebal. Seorang lelaki berwajah galak itu mempunyai kumis lebat dengan kulit wajah hitam, bagaikan terlalu sering terbakar sinar matahari. Matanya lebar dan rambutnya lebat, diikat dengan kain biru separo selendang. Orang gemuk itu mengenakan pakaian serba hijau tua, tapi bajunya tidak dikancingkan, sehingga dadanya yang berbulu tampak berminyak dan membusung seperti sebongkah batu gunung yang amat keras, ia mengenakan gelang akar bahar di tangan kirinya. Senjata yang ada di pinggangnya adalah sebilah golok bergagang kepala singa. Usianya sekitar lima puluh tahun, tapi rambutnya belum ada yang beruban.

"Angker sekali wajah orang ini?" pikir Suto. "Kurasa dia orang yang galak dan berdarah dingin.  Mudah tersinggung dan mudah mencabut nyawa orang. Wajahnya yang sadis itu dapat mengecilkan nyali lawan sebelum bertarung dengannya. Hmm... tapi siapa orang ini? Aku merasa baru melihatnya sekarang."

Mata lebar itu melirik ke kanan-kiri sebentar, seakan memeriksa keadaan sekelilingnya demi keamanan jiwa. Sebentar-sebentar ia mengusap kumisnya yang lebat dengan lagaknya yang benar-benar menakutkan nyali orang awam.

"Apa maksudmu menemuiku di sini, Paman?" Suto menyapa dengan sopan, walau penuh curiga dan waspada terhadap orang tersebut.

"Aku mencari seseorang," jawabnya. Dan Suto Sinting terkejut sekali serta menahan tawa dalam hati.

"Ya, ampun...?! Suaranya seperti suara perempuan manja?! Mirip gadis pingitan yang sedang kasmaran. Idiih... amit-amit!" pikir Suto geli sendiri.

"Kenapa tersenyum-senyum?" sambil orang itu mendekat dengan gaya perempuannya. "Kenapa senyum-senyum terus, heh? Ih, benci aku!" lalu ia mencubit lengan Suto Sinting. Cubitannya lembut, takterasa sakit, tapi justru sangat menggelikan bagi Suto. Akhirnya Suto tak tahan dan ia pun tertawa dengan mulut tertutup tangan sendiri.

Orang gendut berwajah sangar itu cemberut, buang muka sebentar, dan melirik genit sambil tangannya bermain ujung bajunya.

"Diajak bicara malah cengengesan. Genit amat kau, Cah Bagus!" katanya sambil bersungut-sungut, benar-benar mirip gadis yang sedang sewot.

Suto Sinting mencoba menahan tawa, tapi senyum gelinya tak bisa hilang.

"Siapa namamu, Paman?"

"Jangan panggil aku paman, ah! Panggil saja... Bibi! katanya genit sekali. "Atau... kalau tidak panggil saja; Sayang, gitu!"

Suto terpaksa buang muka, memunggungi orang berwajah ganas namun bersikap selembut perawan pingitan itu. Suto memunggunginya bukan lantaran muak, tapi mencoba sembunyikan tawanya tanpa suara. Tawa itu hanya mengguncang-guncang badan, membuat orang gemuk yang ganjen itu kian mendekat dan mencubit pinggang Suto lagi sambil berkata,

"Ada apa tertawa terus? Suka, ya? Suka...?!"

Tentu saja Suto masih belum bisa menghentikan tawanya. Bagi Suto perbedaan wajah dengan gaya dan suara itu sangat menggelikan, karena baru sekarang ia bertemu orang berwajah angker, sadis, tapi bergaya perempuan manja.

"Cah bagus, tataplah aku," katanya. Suto memaksakan diri dengan menahan geli sekali, mencoba memandang ke arah orang sadis itu.

"Kau tadi menanyakan namaku, bukan?"

"Ya, benar. Sebab... sebab kita baru kali ini berjumpa."

"Nama julukanku Harimau Jantan."

"Harimau Jantan...?!" Suto menggumam sambil membatin, "Apa dia bisa mengaum?"

"Seram ya nama julukanku itu?" katanya dengan suara kecil.

"Iya. Seram sekali. Tapi nama aslimu siapa?" Suto sengaja menggoda.

"Nama asliku... Karina Tosi Kusuma Sirna, disingkat Karto Kusir."

Bisa dibayangkan betapa gelinya Pendekar Mabuk mendengar nama cantik yang disingkat menjadi Karto Kusir itu. Tak aneh lagi kalau Pendekar Mabuk terkikik-kikik tak kuat menahan tawa geli yang mengeraskan urat perut itu. Harimau Jantan hanya memandangi Suto yang terbungkuk-bungkuk sambil memunggungi. Mungkin karena tak kuat menahan jengkel akibat ditertawakan, Harimau Jantan menendang pantat Suto Sinting dengan keras. Beet...! Buuhk...!

Wuuut...! Gubrass...!

Pendekar Mabuk terjungkal di pasir pantai. Tawanya terhenti sejenak karena kaget mendapat tendangan keras. Tulang ekornya sampai terasa ngilu. Suto Sinting cepat bangkit dan tak marah, karena ia bisa memaklumi kejengkelan Karina Tosi Kusuma Sirna yang disingkat Karto Kusir itu. Tapi senyum geli tersembunyi masih saja mekar di bibir Suto.

"Oh, senyumnya menawan sekali," gumam Harimau Jantan dengan suara lirih yang didengar Suto. Pandangan matanya berbinar-binar bagaikan merasakan debaran hati yang sedang berbunga indah.

"Ganteng sekali kau, Cah Bagus. Siapa namamu, Sayang?" tanyanya setelah mendekat dan menatap penuh bunga-bunga kemesraan yang membuat Soto merinding.

"Namaku... Suto," jawab Pendekar Mabuk singkat saja.

"Oh, sebuah nama yang bagus, sebagus berlian dari dasar bumi," puji Karto Kusir dengan gaya seorang perempuan perayu, ia melangkah ke samping Suto dengan langkahnya yang meliuk-liuk genit mirip perempuan gendut cari perhatian. Setelah di samping Suto, Harimau Jantan yang tidak pantas menjadi harimau itu berkata dengan gaya perempuannya,

"Suto, Sayang... apakah kau tadi berbicara dengan seseorang yang berjuluk Urat Setan?"

"Dari mana kau tahu?" dahi Suto mulai berkerut serius.

"Kulihat dikejauhan, sepertinya orang yang bicara denganmu tadi adalah Urat Setan, dari Perguruan Hantu Terbang."

"Ya, memang benar. Apakah kau ada keperluan dengannya?"

"Sangat ada," jawab Karto Kusir sambil meremas-remas jemarinya sendiri. "Aku sedang memburunya untuk menagih hutang nyawa padanya. Eh, kau tahu ke mana perginya Urat Setan itu, Sayang?" sambil ia mendekat, membelai rambut Suto.

Pendekar Mabuk mundur sedikit, karena merinding dibelai orang sangar bergaya puteri raja itu. Lalu, Suto pun menjawab,

"Arahnya ke selatan. Tapi aku tak tahu ke mana tujuannya. Dugaanku mengatakan, Urat Setan pergi mencari Lancang Puri dan bibinya yang bernama Nyai Gandrik."

"Hmm... memang tak salah dugaanku. Sama persis dengan dugaanmu," kata Harimau Jantan sambil melenggok manja. "Kalau begitu aku harus menyusulnya. Aku tahu ke mana ia pergi. Pasti ke Biara Damai!"

Suto Sinting menyahut dengan cepat, "Biara Damai telah musnah, hilang bagaikan tertelan bumi bersama seluruh penghuninya yang telah menjadi mayat itu! Apakah kau belum mengetahuinya, Harimau Jantan?"

"O, ya...?!" ucapnya ganjen sekali. "Kalau begitu ia pasti pergi ke Biara Genta untuk temui Pendeta Jantung Dewa, adik Pendeta Mata Lima!"

Hati sang pendekar tampan tersentak kecil, ia baru ingat bahwa Pendeta Mata Lima yang menjadi guru di Biara Damai itu memang mempunyai adik di Biara Genta, bernama Pendeta Jantung Dewa. Jika sekarang Biara Damai telah lenyap, tentunya Pendeta Jantung Dewa bisa menjelaskan apa penyebabnya dan siapa pelaku pembunuhan sadis di Biara Damai itu.

"Aku akan pergi ke sana," kata Harimau Jantan dengan suara wanitanya, kepalanya pun ikut melenggok-lenggok jika bicara. Kemayu!

"Harimau Jantan, tahukah kau mengapa Urat Setan pergi ke Biara Genta?"

"Yah, sebab ia mengejar Lancang Puri dan Nyai Gandrik."

"Apakah kau yakin Lancang Puri dan Nyai Gandrik pergi ke Biara Genta?"

"Yakin sekalilah yaow...!" jawabnya ganjen. Suto menahan tawa.

"Mengapa kau yakin mereka ke sana?"

"Kalau menurutmu tadi Biara Damai sudah lenyap, berarti sasaran mereka ke Biara Genta. Sebab di sanalah kemungkinan pusaka itu disimpannya. Tapi...."

Suto Sinting yang mau bertanya tak jadi bersuara karena kata-kata Harimau Jantan bagaikan sulit diputus.

"Tapi aku ke sana bukan karena ingin merebut pusaka itu. Aku ke sana untuk selesaikan urusan perguruanku dengan perguruannya si Urat Setan itu. Dia harus membayar tiga nyawa muridku yang dibantai seenaknya oleh Urat Setan!"

"Apakah...."

"Aku tidak takut kepada Urat Setan! Aku berani adu nyawa. Dan aku merasa akan unggul melawannya."

"Ya. Tapi bolehkah aku...."

"Ilmunya tak terlalu tinggi menurutku. Walaupun perguruanku hanya perguruan kecil dengan jumlah murid empat orang, tapi aku merasa sanggup menumbangkan si Urat Setan."

"Begini, maksudku...."

"Aku punya dua jurus andalan yang sanggup menumbangkan Urat Setan. Bahkan jika Lancang Puri dan Nyai Gandrik ikut membelanya, kuhancurkan juga mereka berdua dengan jurus 'Lamunan Sakti'-ku itu."

Harimau Jantan berhenti berceloteh. Tapi Suto tidak mau bicara lagi. Hatinya sedang dongkol karena setiap perkataannya selalu dipotong oleh celoteh Harimau Jantan, sehingga ia selalu gagal mengutarakan maksudnya. Kini mereka sama-sama diam. Harimau Jantan memandang ke arah lautan. Sebentar kemudian melirik Suto Sinting dan menghampirinya dengan gaya seorang wanita penuh kemesraan dan kesetiaan. Rambutnya dikibaskan ke belakang dengan sentuhan tangan gemulai.



"Bocah bagus, susullah Bibi ke sana jika kau rindu. Jangan bertahan memendam rindu, karena memendam rindu sama saja memendam borok yang tak akan pernah sembuh kalau belum jumpa dengan orang yang kau rindukan. Bibi akan menunggumu di sana. Dan kau akan lihat sendiri bagaimana Bibi melawan Urat Setan. Kau pasti kagum dengan jurus mautku yang bernama 'Lamunan Sakti' itu, Sayang."

Rasa-rasanya Suto Sinting ingin meludah pada saat itu karena jijik dengan sentuhan tangan genit si Harimau Jantan itu. Tapi tentunya hal itu tak mau dilakukan oleh Suto karena takut menyinggung perasaan lelaki banci itu. Suto hanya tersenyum-senyum tawar sampai akhirnya membiarkan Harimau Jantan pergi menyusul Urat Setan untuk bikin perhitungan pribadi.

"Selamat jumpa lagi. Dah, Sutooo...!" ucapnya seraya berjalan melenggok-lenggok seperti bebek keberatan pantat, lalu tahu-tahu melesat cepat bagaikan kapas terhembus angin pantai. Wuuuttt...!

"Tinggi juga ilmu peringan tubuhnya," pikir Suto.

"Tapi benarkah Urat Setan ada di Biara Genta? Pusaka apa yang ingin diperebutkan oleh mereka?"

*

* *



4

RASA penasaran membuat Pendekar Mabuk segera menuju ke Lembah Canang, tempat Biara Genta berada. Ketika ia pulang dari negeri dasar laut untuk membantu Pendeta Agung Dewi Rembulan yang terkena kutuk itu, ia sempat mampir ke Biara Damai dan Biara Genta. Sebab itulah Suto tahu ke mana arah Lembah Canang, tempat berdirinya bangunan dengan dua kuil yang cukup luas dan lebar, berpagar tembok kokoh warna kuning bertepian merah. Pendeta Jantung Dewa adalah ketua sekaligus guru di biara tersebut. Jumlah muridnya konon ada tujuh puluhan lebih. Aliran silat mereka sangat terkenal di kalangan Lembang Canang dan sekitarnya.

Perjalanan ke Lembah Canang ditempuh dalam waktu satu malam, karena Suto harus bermalam di sebuah desa sekaligus mengisi bumbung tuaknya dengan tuak baru hingga penuh. Pagi hari Suto lanjutkan perjalanan itu dengan hati tenang sebab bumbung tuaknya terisi penuh, tak merasa takut kehabisan.

Namun perjalanan pagi itu sempat terhenti karena melihat sekelebatan sosok seorang wanita yang sudah dikenalnya. Wanita itu berlari dengan cepat sepertinya terburu-buru. Bergerak dari lereng bukit menuju ke hutan yang ada di sebelah timur, berarti yang ada di depan Pendekar Mabuk. Maka Pendekar Mabuk pun buru-buru menyusul perempuan itu dengan rasa ingin tahu.

"Lancang Puri," ucap Suto dalam hati. "Ada apa dia? Kelihatannya terburu-buru dan tegang sekali?"

Untuk sesaat Suto sempat kehilangan jejak Lancang Puri yang agaknya sudah dibebaskan oleh Nyai Gandrik dari pengaruh Racun Kuda Binal-nya Dewa Rayu. Beberapa saat kemudian, Lancang Puri ditemukan Sutokembali tapi dalam keadaan tidak sendirian. Perempuan cantik berjubah putih itu sedang berhadapan dengan orang tinggi besar berkulit hitam dan hanya mengenakan cawat. Pendekar Mabuk terkejut melihat sosok tinggi besar dan berkulit hitam itu.

"Logo...?! Anak jin itu ada di sini?!"

Orang tinggi besar berkepala botak tapi mempunyai kuncir di tengahnya itu memang anak jin hasil perpaduan cinta antara Sumbaruni dengan Jin Kazmat yang kala itu menjelma menjadi manusia. Tetapi seingat Suto, Logo dikabarkan jatuh ke Jurang Petaka. Mengapa sekarang masih hidup dan dalam keadaan ganas, tidak seperti biasanya? (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Ratu Tanpa Tapak" dan "Bandar Hantu Malam").

Anak jin itu mempunyai ilmu silat cukup tinggi, tentunya ilmu itu diperoleh dari ibunya; Sumbaruni, yang pernah menjadi panglima perangnya negeri Ringgit Kencana di dasar laut dengan nama Pelangi Sutera. Menurut dugaan Suto, Lancang Puri akan tumbang jika berhadapan langsung dengan Logo. Tenaga yang dimiliki anak jin itu sangat besar, apalagi sekarang kelihatan menjadi liar dan ganas. Berulangkali terdengar suara geramnya yang menggetarkan pepohonan di kanan-kiri mereka.

Namun agaknya Lancang Puri tidak merasa takut atau gentar sedikit pun. Dengan keberaniannya yang luar biasa ia melompat dan menyabetkan pedangnya di udara. Pedang yang disabetkan itu menyebarkan asap kehitaman. Asap itu membentuk semacam jala yang segera menyergap tubuh Logo.

Tetapi sebelum Logo terperangkap asap kehitaman itu, kedua pipinya segera mengembung dan dihebuskanlah napas dari mulutnya itu. Wuuusss...! Yang keluar angin besar mengguncangkan pepohonan, mematahkan beberapa dahan. Asap kehitaman itu lenyap dalam sekejap, sedangkan tubuh Lancang Puri sendiri terpental tujuh langkah jauhnya.

Buuuhg...! Tubuh perempuan cantik itu jatuh terpuruk tanpa bisa menjaga keseimbangan badan. Logo segera menerjang dengan satu lompatan kaki yang telapakannya satu setengah lebih besar dari telapak kaki manusia biasa. Kaki besar itu ingin menginjak tubuh Lancang Puri. Sekali injak pasti remuk tulang-tulang di tubuh Lancang Puri.

Melihat keadaan seperti itu, Pendekar Mabuk segera bertindak. Berkelebat dengan pergunakan gerak silumannya dan menyambar tubuh yang terpuruk itu. Wuuusss...! Zlaapp...! Dalam sekejap saja Suto Sinting sudah berada di sisi lain, sekitar enam langkah dari Logo.

"Oh, kau lagi yang selamatkan aku, Suto?!" ucap Lancang Puri setelah dilepaskan dari pelukan Pendekar Mabuk.

"Jangan hadapi dia. Larilah. Dia anak jin yang berilmu tinggi."

"Tapi...."

"Larilah, lekas! Biar kujinakkan anak jin itu! Aku kenal dengannya!"

Lancang Puri segera melesat berlari melalui jalan ke belakang Suto Sinting. Logo berteriak dengan suaranya yang menggema memenuhi hutan itu.

"Jangan lari kau! Jangan lari....!"

Bluk, bluk, bluk, bluk...! Langkah Logo mengejar Lancang Puri mengguncangkan bumi, walau hanya berupa getaran-getaran kecil, namun terasa jelas bagi manusia yang ada di sekitarnya. Suto Sinting segera melompat menghadang langkah anak jin itu.

"Hentikan pengejaranmu, Logo! Pandanglah aku!"

"Gggrrr...!" Logo memandang dengan liar dan buas. Mulutnya menggeram dengan menganga, seakan memamerkan giginya yang besar-besar dan kuning itu.

"Siapa kau?! Aku tidak mengenalmu, Monyet!"

Suto Sinting terkesiap. "Tak biasanya ia berlaku sekasar itu padaku; bahkan sampai tak mengenaliku?

Ada apa pada dirinya?"

"Minggir kau! Atau kuremukkan seluruh tulangmu, Monyet!"

"Logo!" sentak Pendekar Mabuk bermaksud menyadarkan kemarahan Logo. "Ingatlah padaku! Aku Pendekar Mabuk! Suto Sinting, teman dari ibumu!"

"Aku tak punya ibu! Minggat kau, heaaaah...!"

Tangan Logo menampar wajah Pendekar Mabuk dengan gerakan cepat. Wuuuss...! Pendekar Mabuk bermaksud menghindar dengan menarik kepala ke belakang. Tapi tarikannya itu kurang cepat, sehingga wajahnya pun terkena tamparan tangan kanan Logo yang bergerak dari kiri ke kanan. Ploookk...!

Bruus...! Suto Sinting terlempar ke semak-semak, ia buru-buru bangkit sambil kibaskan kepala. Pandangan matanya sempat berkunang-kunang. Tamparan tangan besar itu sungguh keras. Jika orang tak berilmu yang terkena tamparan itu, pasti seluruh giginya akan rontok dan orang tersebut langsung kelenger. Untung Suto punya lapisan tenaga dalam, sehingga ia hanya terjungkal dan merasa pening sedikit.

"Edan! Bocah itu benar-benar menyerangku. Kupikir hanya main-main?!" pikir Pendekar Mabuk.

"Tamparannya seperti kayu balok menghantam pipi kananku. Oh, jangan-jangan rahangku pecah?"

Suto segera memeriksa rahangnya, menggerak-gerakkan dengan ternganga-nganga. Pada saat itu Logo mendekatinya dengan suara geram menggetarkan pepohonan. Suto Sinting kaget, dan segera mundur dua tindak lalu bersiap siaga jika sewaktu-waktu tamparan keras itu datang lagi.

"Tahan amukanmu, Logo!"

"Setan! Kau membuatku kehilangan buronan! Kau harus bertanggung jawab, Monyet...! Heaaah...!"

Logo melepaskan pukulan bersinar merah dari telapak tangan kirinya. Claapp...! Sinar merah itu segera dikembalikan oleh Pendekar Mabuk dengan menghadangkan bumbung tuaknya yang terbuat dari bambu sakti itu. Dees...! Zlaap...! Sinar itu berubah lebih besar dan berbalik arah lebih cepat. Akibatnya mengenai perut besar Logo dengan telak. Buuuhg...!

Wuuuss...! Tubuh Logo terlempar bagai diseruduk banteng. Tubuh itu melayang dalam keadaan telentang dan jatuh berdebam di bumi bagai sebatang pohon besar yang rubuh. Blaaamm...! Daun-daun pohon berguguran sebagian karena terguncang oleh getaran jatuhnya Logo itu.

"Gggraaaoww...!" Rupanya ia jatuh dalam keadaan yang menyakitkan hingga menggeram dengan mulut terbuka, mengerang kesakitan. Tetapi perutnya yang terkena sinar merah itu tidak menjadi jebol, hanya saja dari mulut itu keluar darah merah kehitaman. Matanya terbeliak-beliak walau tetap berusaha untuk bangkit dengan sempoyongan.

Suto Sinting membiarkan hal itu terjadi sambil membatin setelah menenggak tuaknya beberapa teguk untuk menghilangkan rasa sakit di wajahnya.

"Ada perubahan yang tak beres dalam jiwa anak itu. Dia menjadi liar dan ganas, tak mengenaliku dan tak mengenali ibunya. Hmm... apakah Sumbaruni sudah mengetahui keadaan Logo yang sekarang?"

Kabar terakhir yang diterima Suto setelah ia dan Sumbaruni melawan Raja Tumbal demi selamatkan negeri Muara Singa, konon Sumbaruni masih kebingungan mencari anaknya itu. Sekarang waktu sudah lewat beberapa purnama, apakah Sumbaruni masih belum bertemu dengan anaknya, atau memang sang anak sudah dididik untuk menjadi liar dan ganas? Suto Sinting tak berani lakukan penyerangan yang berbahaya, karena jika ia membunuh Logo maka urusannya akan panjang. Sumbaruni pasti akan menuntut kematian Logo dan bisa jadi perempuan sakti itu akan membencinya seumur hidup.

Suto Sinting mencoba menyadarkan keganasan Logo lagi dengan mendekatinya penuh kewaspadaan. Sikapnya masih tidak bermusuhan, hal itu dilakukan demi memperlihatkan sikap bersahabat kepada Logo agar kemarahan Logo berkurang. Tetapi agaknya anak jin yang bermata lebar dan berhidung lebar pula itu masih memancarkan sinar permusuhan dari pandangan matanya dan geraman mulutnya.

"Mengapa kau mengejar perempuan itu, Logo? Ada persoalan apa?"

"Kau tak perlu tahu, Monyet!"

"Namaku Suto, bukan Monyet."

"Tidak. Aku lebih suka memanggilmu Monyet!" geram Logo penuh nafsu membunuh.

"Biasanya ia tak bicara sekasar itu dan sebanyak itu. Pasti ada sesuatu yang membuat jiwanya menjadi tak beres. Aku harus menyadarkannya. Rupanya aku perlu melumpuhkan dia agar bisa menjinakkan kembali," pikir Suto sambil pandang segala gerakan tangan dan kaki anak jin itu.

"Logo, sadarlah. Jangan turuti dorongan murka yang menguasai jiwamu. Kuasailah dorongan murka itu supaya...."

"Heaaahh...!"

Suto belum selesai bicara, tahu-tahu Logo sudah melompat bagaikan singa raksasa ingin menerkam Suto. Wuutt...! Suto terpaksa bersalto ke belakang dua kali. Plak, plak...! Dengan sikap berdiri sedikit merendah dan miring jari tangan Pendekar Mabuk menyentil ke depan dua kali. Tes, tes...! Jurus 'Jari Guntur' dipergunakan.

Sentilan itu keluarkan tenaga dalam cukup besar. Deeb, deeb...! Pukulan tenaga dalam dari sentilan itu tepat kenai ketiak kanan-kiri. Tubuh Logo yang sedang melayang berjumpalitan di udara dan jatuh dengan tengkuk membentur tanah lebih dulu.

Bluukk...!

Wwrrr...! Daun-gaun berguncang dan bergetaran kembali akibat jatuhnya tubuh besar itu. Seandainya bukan Logo yang bertulang leher keras dan besar, pasti tulang leher itu sudah patah karena terjungkal keras. Tapi agaknya tulang leher Logo tidak mengalami cedera. Hanya saja, ia terkapar tak berkutik karena ternyata sentilan bertenaga besar itu telah menotok jalan darah anak jin tersebut.

"Gggrr...! Ggrrr...!" Logo hanya bisa mengerang dengan mulut terbuka, dan mulut itu agaknya sudah sulit tertutup. Persendian tulang rahangnya mengunci dalam keadaan ternganga. Matanya membelalak liar ke sana-sini, seakan ingin luapkan amarah karena tubuhnya dibuat lemas seperti tak bertulang dan tak berurat lagi.

Tiba-tiba seberkas sinar hijau berkelebat dari balik semak-semak. Sinar hijau itu mengarah ke dada Logo. Dengan cepat Pendekar Mabuk melompat melintasi tubuh besar yang telentang tak berdaya itu. Bumbung tuaknya disodokkan ke depan sehingga sinar hijau itu membentur bumbung tuak dan membalik arah dengan lebih cepat dan lebih besar. Zlaapp...! Blegaaarrr...!

Semak-semak itu langsung hancur dan menyebar kemana-mana. Tempat yang rimbun itu menjadi terang benderang tanpa tanaman semak sedikit pun. Tapi orang yang lepaskan sinar hijau itu tidak terlihat ada di sana.

 "Seseorang kehendaki Logo mati dalam keadaan seperti ini. Hmm... siapa orang itu? Di mana dia sekarang. Kudengar detak jantung orang lain masih ada di sekitar sini."

Mata Pendekar Mabuk melirik ke sana-sini penuh selidik. Lalu ia merasakan datangnya gelombang panas yang bergerak dengan cepat bagaikan tertuju ke arah kepalanya. Dengan cepat Pendekar Mabuk mendongak dan sentakkan tangan kanannya hingga melepaskan pukulan tenaga dalam cukup besar tanpa sinar.

Wuuukkk...!

Blegaarr...!

Gelombang itu membentur pukulan tak bersinar dan menimbulkan ledakan yang dahsyat. Jika gelombang hawa panas itu tidak besar dan tak seberapa hebat, ledakannya tak akan membuat pohon tumbang. Tapi karena kedua pukulan tenaga dalam itu ternyata sangat besar, maka tiga-empat pohon segera tumbang bagaikan dihempas badai maha dahsyat. Bahkan pohon-pohon lainnya ada yang mengalami patah dahan dan ada pula yang miring ke salah satu sisi dalam keadaan akarnya tercongkel naik.

Ledakan itu membuat tubuh Suto terjungkal ke belakang, namun segera berdiri tegak kembali dengan satu sentakan pinggul, ia berdiri di samping tubuh besar yang terkapar, sengaja menjaga keselamatan Logo. Sedangkan dari atap pohon yang tumbang itu segera meluncur sesosok bayangan hitam yang kemudian mendarat di tanah seberang Suto.

Seseorang yang mengenakan kerudung kain hitam dari kepala sampai kaki berdiri tegak dengan menggenggam tongkat berujung sabit lengkung. Itulah yang dikenal dengan nama senjata pusaka El Maut. Wajah dingin, pucat pasi dengan bibir membiru tampak tersumbul dari balik kain kerudung hitamnya. Melihat kehadiran tokoh yang tak asing lagi bagi Suto itu, sang Pendekar Mabuk sempat terperanjat namun segera bersiap untuk lakukan penyerangan, sebab tokoh itu tak lain adalah Siluman Tujuh Nyawa.

"Durmala Sanca...! Akhirnya kau muncul juga dari tempat persembunyianmu selama ini!" ucap Suto dengan nada dingin, wajahnya memancarkan semangat untuk menumbangkan tokoh sesat yang ditakuti oleh para tokoh golongan hitam itu.

Di hati Suto sempat membatin, "Pantas pukulan tenaga dalamnya besar sekali! Rupanya dia yang menghendaki kematian Logo. Atau... oh, ya! Aku tahu sekarang. Dialah orang yang membuat jiwa Logo menjadi liar dan ganas. Entah dengan cara bagaimana, maka ia bisa mengendalikan jiwa Logo menjadi sejahat itu. Hmm... sayang sekali saat ini aku tak membawa Pedang Kayu Petir. Tapi akan kucoba untuk memancingnya dengan caraku sendiri."

Saat itu terdengar Siluman Tujuh Nyawa perdengarkan suaranya yang tenang, kalem, tanpa perasaan. Wajahnya datar dan dingin. Nada bicaranya tak bisa jelas dipahami, apakah marah, benci, senang, atau kecewa.



"Sepak terjangmu selama ini sudah membuatku semakin benci padamu, Suto! Namamu semakin dikenal dan menjadi kebanggaan para gadis cantik di mana pun berada. Agaknya memang sekaranglah saatnya kuhancurkan seluruh kehidupanmu dengan ilmu baruku!"

 "Kalau kau merasa mampu, lakukanlah sekarang juga, Durmala Sanca!"

Tantangan itu bagaikan tidak mendapat balasan. Wajah putih berkesan muda dan tampan tapi pucat dan bengis itu tetap datar-datar saja. Matanya menatap bagai ingin membekukan darah. Pendekar Mabuk sudah siap hadapi serangan lawannya, karena Siluman Tujuh Nyawa adalah musuh utama Suto yang dikejar-kejarnya selama ini. Kepala manusia paling sesat dan kejam itu adalah maskawin bagi Suto untuk diberikan kepada Ratu di negeri Puri Gerbang Surgawi yang selama ini menjadi kekasih Suto dan calon istrinya; Gusti Mahkota Sejati yang bernama asli Dyah Sariningrum.

Saling bungkam dan saling beradu pandang ternyata merupakan pertarungan batin mereka dalam kadar ilmu tinggi. Suto merasakan hawa panas mulai mengalir bersama darahnya. Semakin lama darahnya terasa semakin mendidih dan menyengat anggota dalam tubuhnya. Jantung menjadi lemah dan pernapasan menjadi sesak. Suto mulai sadar bahwa Siluman Tujuh Nyawa telah melepaskan serangan melalui pandangan matanya. Maka Suto Sinting pun tak mau kalah serang.

Pertama-tama yang dilakukan adalah menyalurkan hawa murni agar menguasai tubuhnya. Hawa es mulai meresap ke dalam darah dan memadamkan rasa panas yang nyaris melumerkan jantung, paru-paru, hati, limpa dan sebagainya. Hawa panas itu juga hampir saja memutuskan seluruh otot dan urat nadi. Tapi segera kuat serta kokoh kembali setelah Suto menyalurkan hawa es sebagai tandingannya.

Dengan kekuatan pandangan mata pula, hawa es itu disalurkan oleh Suto dan menyerang Siluman Tujuh Nyawa. Tubuh orang berkerudung hitam itu tampak bergerak-gerak menggigil. Bibirnya pun mulai kelihatan bergetar. Tetapi genggaman tangannya pada tongkat tampak kian kuat, pertanda Siiuman Tujuh Nyawa juga melawan kekuatan hawa es yang nyaris membekukan semua cairan dalam tubuhnya itu.

Tiba-tiba dari kedua mata dingin itu keluar dua berkas sinar merah yang melesat cepat menuju ke tubuh Suto. Dua berkas sinar merah itu sangat pendek, dan ketika melintasi perbatasan jarak warna sinarnya hilang, berubah menjadi dua mata pisau tanpa gagang. Mata pisau itu bagaikan terbuat dari logam anti karat yang ujungnya runcing dan gerakannya cepat.

Suto Sinting tak mau kalah gertak, ia segera berkelebat, tangannya yang sudah berkuku merah bara itu bagaikan memercikkan air ke depan. Ternyata yang keluar adalah percikan bunga api warna merah bintik-bintik, itulah jurus 'lintang Kesumat' yang jarang digunakan oleh Pendekar Mabuk. Percikan bunga api yang keluar dari ujung-ujung kuku itu menyergap dua benda runcing. Seketika itu kedua benda tersebut meledak dengan keluarkan gelombang ledakan yang cukup besar, sentakan anginnya membuat tubuh Pendekar Mabuk terjungkal ke belakang dan tubuh Siluman Tujuh Nyawa terpelanting mundur tiga tindak.

Blegaaar...!

Pendekar Mabuk jatuh terguling-guling. Rupanya daya sentak lebih kuat ke arahnya daripada ke arah Siluman Tujuh Nyawa. Akibatnya, tokoh sangat kejam dan berdarah dingin itu lebih dulu berdiri tegak ketimbang Suto Sinting. Pada saat Pendekar Mabuk bangkit setengah badan, Siluman Tujuh Nyawa segera angkat tongkat El Maut-nya dan dari ujung mata sabit tajamnya itu memancarkan tiga larik sinar biru berkelok-kelok bagaikan tiga benang yang menyergap tubuh Pendekar Mabuk. Clap, crat, crat, crat...! Jraab...!

Kilatan cahaya biru kenai tubuh Suto. Pendekar Mabuk pejamkan mata kuat-kuat dengan tubuh kejang berlutut. Kepalanya mendongak dan mulutnya mengerang.

"Aaahg...!" kulit tubuh Pendekar Mabuk mulai merah, makin lama makin matang, bahkan berwarna kebiru-biruan. Tubuh itu bergetar kuat, dan Suto berusaha menahannya, ia meraih bumbung tuaknya yang sempat jatuh di tanah dekat lututnya. Ia ingin meminum tuaknya, namun tiba-tiba tubuh Siluman Tujuh Nyawa berkelebat menerjangnya. Wuuutt...! Praak...! Bumbung tuak itu disamparnya dan terlempar ke belakang Suto Sinting, jauh dari jangkauan.

"Sudah saatnya kau mati di tanganku, Bocah Dungu!" kata Siluman Tujuh Nyawa dengan suara datar, bagai tak mempunyai tekanan kebencian. Tetapi senjata pusaka El Maut segera diangkat dan diayunkan untuk menebas leher Suto.

Wuuutt...!

Duaaar...! Tiba-tiba sinar perak berkelebat menghantam ujung senjata El Maut. Sinar perak itu yang membuat gerakan tongkat yang diayunkan menjadi terhenti dan memantul balik, menyentak kuat sekali sehingga tubuh Siluman Tujuh Nyawa terpelanting ke belakang.



Sekelebat bayangan melintas di atas tubuh Logo yang masih terkapar tak berdaya. Bayangan yang berkelebat cepat sekali itu menerjang tubuh Siluman Tujuh Nyawa. Braass...! Entah dengan tendangan atau pukulan, tak terlihat dengan jelas serangan yang dilancarkan. Yang bisa dilihat jelas, tubuh Siluman Tujuh Nyawa terlempar beberapa tindak dari tempatnya berdiri. Namun tokoh sesat itu tak sampai jatuh terkapar, ia hanya jatuh berlutut dan menyangga tubuh dengan berpegangan pada tongkat El Maut-nya.

Kaki orang yang berkelebat itu segera menendang bumbung tuak, dan bumbung tuak itu meluncur di permukaan tanah berumput lalu membentur lutut Suto. Deeg! Dengan susah payah Suto berusaha gerakkan tangannya untuk ambil bumbung tuaknya dan menenggak tidak beraturan. Air tuak meleleh ke mana-mana membasahi wajah dan sebagian tubuhnya. Tapi beberapa bagian tuak sudah bisa diteguknya.

Siluman Tujuh Nyawa segera tegakkan kepala, pandangi tokoh yang baru datang itu. Tapi ia sempat terperanjat melihat tokoh itu ternyata sudah bergerak amat dekat dengannya dengan menebaskan pedangnya dalam gerakan yang nyaris tak bisa terlihat. Secepatnya tongkat El Maut dihadangkan sebagai jurus penangkis pedang lawan. Dan pedang itu tiba-tiba tersentak mental sebelum menyentuh dan beradu dengan senjata pusaka Ei Maut.

Wuuttt...! Gelombang sentakan dari senjata El Maut begitu besar, membuat pedang itu lepas dari tangan pemiliknya dan melayang jatuh di seberang sana. Dengan cepat Siluman Tujuh Nyawa bangkit dan sodokkan tongkatnya ke arah depan. Keluarlah segepok jarum merah dari ujung tongkat bersabit lengkung panjang itu. Gerombolan jarum merah itu menerjang tubuh lawan. Namun dengan gerakan cepat sang lawan menghindar. Tiba-tiba ia telah melompat dan berada di atas pohon. Jarum-jarum merah yang menggerombol itu menerjang pohon di seberang, dan pohon itu lenyap menjadi debu-debu coklat yang berserakan. Zrrrub...! Jraab...

Jraasss...! Debu-debu coklat berhamburan, mengerikan jika dibayangkan seandainya tubuh manusia yang terkena jarum-jarum merah tadi. Tetapi tokoh yang ada di atas pohon itu tak mau terlalu lama membayangkan hal itu, maka secepatnya ia lepaskan pukulan bersinar putih perak lagi ke arah Siluman Tujuh Nyawa. Clap, clap...! Kali ini dua sinar putih perak dilepaskannya.

Siluman Tujuh Nyawa hanya menudingkan satu jari telunjuk kirinya. Jari itu keluarkan gelombang getar yang tak terlihat wujudnya. Gelombang getar menangkap dua sinar putih, lalu mengadukan di udara sehingga dua sinar tersebut saling berbenturan sendiri.

Blaarr...!

Akibatnya ledakan dahsyat kembali terdengar berkat benturan dua sinar sejenis itu. Gelombang ledaknya membuat tubuh si tokoh di atas pohon terpental dan jatuh ke tanah dalam keadaan hilang keseimbangan. Siluman Tujuh Nyawa segera menyambarnya dengan tebasan sabit lengkung di ujung tongkat El Maut-nya. Tetapi gerakan tersebut menjadi berbeda arah Karena Suto kirimkan pukulan jarak jauhnya yang dinamakan jurus 'Pecah Raga'. Sinar hijau melesat dari telapak tangan Suto. Sinar itu tepat kenai lambung Siluman  Tujuh Nyawa.

Tubuh berkerudung hitam itu terjungkal hingga membentur pohon dan kayu pohon itu menjadi retak sampai di bagian atas, di persimpangan dahan.

Duuurr...! Kraakk...!

Biasanya jurus 'Pecah Raga' adalah jurus yang membuat lawan menjadi pecah raganya jika terkena sinar hijau itu. Tetapi tokoh yang satu ini memang kuat dan alot, sukar dikalahkan. Tubuhnya masih utuh, bahkan masih mampu berdiri dengan sedikit libmung. Tentu saja ia mempunyai lapisan tenaga dalam yang amat tebal dan besar sehingga bisa menjadi perisai bagi serangan bersinar seperti tadi. Namun keadaannya sudah tak setegar tadi. Agaknya ia mengalami luka dalam akibat sinar hijau dari tangan Suto Sinting tadi. Mulutnya yang berbibir biru itu melelehkan darah kental walau bibir tersebut tetap terkatup.

Suto Sinting yang sudah segar kembali akibat minum tuaknya segera persiapkan jurus 'Manggala' untuk menyerang Siluman Tujuh Nyawa. Jurus 'Manggala' adalah gerakan tangan menyentak ke depan dalam keadaan miring dan mampu keluarkan pisau-pisau kecil yang jumlahnya tergantung hentakan napas pada saat itu.Jurus 'Manggala' dapat membuat lawan mati berdiri dalam keadaan tubuh sudah menjadi gumpalan debu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Bandar Hantu Malam" dan "Cermin Pemburu Nyawa"). Jurus itu adalah jurus sakti pemberian Ratu Kartika Wangi, calon mertua Pendekar Mabuk yang menjadi ratu di negeri alam gaib.

Tetapi gerakan Suto itu terlambat setengah kedipan. Siluman Tujuh Nyawa lebih dulu sentakkan kakinya dan melesat pergi. Gerakannya begitu cepat, lalu hilang bagai memasuki lapisan udara yang tak bisa terlihat mata manusia biasa. Pendekar Mabuk menggeram kesal.

"Dia masuk ke alam gaib! Aku harus mengejarnya!"

Sebenarnya Pendekar Mabuk bisa mengejar masuk ke alam gaib, karena ia mempunyai tanda merah di keningnya yang hanya bisa dilihat oleh tokoh berilmu tinggi. Dengan mengusap tanda merah di keningnya menggunakan tangan kanannya. Tetapi niat itu tertunda karena suara erangan lirih yang terdengar menyayat kalbu. Erangan itu datang dari tokoh yang tadi sempat jatuh dari atas pohon dan kini sedang terkapar dengan mulut dan hidung berdarah.

"Dia telah selamatkan aku dari kematian yang mengerikan. Jika bumbung tuakku tidak ditendangnya,  aku tak bisa meraihnya lagi dan tak mungkin bisa terhindar dari luka dalam yang amat parah tadi. Sebaiknya aku harus selamatkan dulu jiwanya sebelum kukejar kembali Durmala Sanca, si manusia sesat itu!"

Tokoh yang punya keberanian tinggi, dan berhasil membuat Siluman Tujuh Nyawa nyaris tumbang tadi, terpaksa mau meneguk tuak dari bumbungnya. Sebab keadaan tokoh itu sangat parah. Jika tidak menenggak tuak maka diperkirakan nyawanya akan lenyap dari tubuh dalam waktu dua puluh helaan napas lagi.

Rupanya pertarungan itu ada yang mengintainya. Orang yang mengintai pertarungan tersebut hanya bertanya dalam hati, "Siapa tokoh yang berani menyerang Siluman Tujuh Nyawa itu? Hampir saja ia mati kalau Suto tidak segera lepaskan sinar hijaunya tadi. Dan... ternyata Pendekar Mabuk memang mempunyai kesaktian tinggi, dapat sembuh dari luka separah itu dengan meminum tuaknya. Sungguh-sungguh mengagumkan. Lalu... orang hitam yang hanya bercawat itu bagaimana? Apakah dia sekarang sudah mati karena serangan Suto tadi?" Lanjut ke bagian 2

** *

5

BUKAN hanya si penolong saja yang mendapat pengobatan melalui tuak Suto, melainkan Logo juga mendapatkannya. Mulutnya yang ternganga tak bisa terkatup lagi karena totokan jalan darahnya itu membuat Suto mudah menuangkan tuaknya ke mulut itu, seperti menuang air dalam selokan kecil. Krucuk, krucuk, krucuk...! Glek, glek, glek...!

Mau tak mau tuak itu terminum dengan sendirinya. Setelah beberapa saat, Suto pun membebaskan totokannya pada Logo. Sementara orang yang tadi menyelamatkan Suto dari pancungan senjata Siluman Tujuh Nyawa itu segera mengambil pedangnya yang terlempar jauh. Pedang itu kini dimasukkan ke dalam sarung pedang dan digenggam dengan tangan kirinya.

Sang pengintai yang tadi mengikuti pertarungan itu segera pergi, karena menurutnya tak ada sesuatu yang perlu disimak lagi. Jurus-jurus maut yang dikeluarkan dalam pertarungan tadi sudah dicatat dalam benaknya, ia merasa lebih penting melanjutkan perjalanannya daripada menyimak percakapan antara Suto Sinting dengan tokoh perempuan berambut acak-acakan yang gemar kenakan pakaian seperti terbuat dari karet yang ketat sekali dengan tubuhnya dan berwarna hitam. Perempuan itu berwajah cantik, namun berkesan liar karena rambutnya tak pernah tertata rapi dan selalu acak acakan seperti perempuan gila. Perempuan itu tak lain adalah Angin Betina, orang yang terang-terangan mencintai Suto Sinting dan tak pernah rela melihat Suto disakiti orang lain. (Tentang Angin Betina, baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pedang Kayu Petir").

Wanita berhidung kecil tapi mancung, berbibir sedikit tebal tapi indah itu segera dekati Pendekar Mabuk yang sedang bicara dengan Logo, anak jin. Orang gundul berkuncir dan kenakan anting satu di sebelah kiri itu duduk bersandar pada sebatang pohon yang belum sempat tumbang akibat pertarungan tadi. Keadaan Logo sudah kembali seperti semula; polos, jujur, dan kekanak-kanakan.

"Kau ingat siapa diriku?" tanya Suto mencoba ingatan Loga. "Suto Sinting," jawab Logo dengan polos, matanya memandang lugu.

"Siapa ibumu?"

"Ibu Sumbaruni," jawabnya lagi.

"Bagus. Kau sudah memperoleh jati dirimu kembali," kata Suto sambil berdiri dari jongkoknya, ia segera memandang Angin Betina dan bertanya,

"Bagaimana keadaanmu?"

"Tak apa. Sudah segar kembali berkat tuakmu."

"Sepertinya aku tak percaya kalau ada perempuan yang berani menyerang Siluman Tujuh Nyawa dalam keadaan sedang murka seperti tadi. Kupikir tadi bukan kau yang datang menolongku. Sungguh aku kagum dengan keberanianmu, Angin Betina."

Wanita tanpa senyum itu hanya menghela napas satu kali dan berkata, "Aku sendiri tak sangka kalau punya keberanian seperti itu. Padahal aku tahu persis ilmuku tidak ada sekuku hitamnya dengan Siluman Tujuh Nyawa. Dulu mendiang guruku; Nyai Pancungsari berpesan wanti-wanti padaku agar hindari pertemuan dengan Siluman Tujuh Nyawa. Tapi sekarang justru aku hampiri tokoh sesat itu dan menyerangnya. Kurasa ini karena hatiku tak rela jika melihat kau disakiti orang lain, dan aku sudah berjanji pada dirimu akan melindungimu. Jika kau mati, pada saat itulah aku sudah menjadi bangkai.  Aku tak ingin kau mati lebih dulu dariku, Suto."

Suto Sinting hanya tersenyum, diam-diam merasa kagum dengan kesetiaan cinta Angin Betina yang sudah berulangkali ditolak tapi masih saja ngotot ingin mencintai Suto Sinting. Sebaris kalimat yang pernah diucapkan Angin Betina selalu terbayang dalam ingatan Suto;

"Kau boleh menolak cintaku tapi jangan larang aku untuk tetap mencintaimu!"

Ungkapan hati itu sekarang pun terngiang kembali di hati Suto Sinting. Ada keharuan yang membersit di tepian hati, namun Suto Sinting tak mau hanyut dalam keharuan itu, sehingga ia segera alihkan percakapan ke masalah lain.

 "Bagaimana kau tahu kalau aku ada di sini?"

"Aku baru saja pulang dari pondoknya Resi Wulung Gading. Kudengar suara gelegar ledakan dari sini, lalu aku penasaran dan ingin melihat siapa orang bertarung. Ternyata kau dan Siluman Tujuh Nyawa. Aku tak tahu orang hitam keling ini ada dipihakmu atau di pihak Siluman Tujuh Nyawa. Yang kutahu, aku harus selamatkan dirimu dari pancungan si raja sesat itu!"

Logo bangkit dan berkata dengan nada protes, "Aku bukan hitam keling. Kata ibu aku hitam manis!"

"Iya, benar. Kau hitam manis. Angin Betina salah ucap!" kata Suto yang segera menenangkan Logo kembali. Angin Betina hanya sunggingkan senyum tipis. Matanya melirik Suto pada saat Pendekar Mabuk itu berkata,

"Dia anaknya Sumbaruni yang sedang dicari-cari."

Angin Betina manggut-manggut samar, nyaris tak terlihat gerakan kepalanya, ia hanya berkata dengan nada ketus karena dipengaruhi rasa cemburu,

"Maksudmu, Sumbaruni yang jatuh cinta padamu itu?"

Suto tidak menjawab. Hanya tersenyum kecil, karena ia tahu jika pertanyaan itu dijawab dengan sanggahan akan menghadirkan perang mulut saat itu juga. Suto Sinting bahkan segera alihkan pembicaraan lagi ke arah Logo.

"Logo, apakah kau ingat mengapa kau mengejar-ngejar perempuan tadi?"

"Karena disuruh."

"Siapa yang menyuruh?"

"Siluman Tujuh Nyawa."

"Bagaimana kau bisa mengenalnya?"

"Ditolong dia."

"Sejak kapan?"

"Sejak jatuh dari atas jurang."

"Hmmm...?!" Suto manggut-manggut  sambil menggumam. Rupanya saat Logo dikabarkan jatuh terpeleset di Jurang Petaka, ia segera diselamatkan oleh Siluman Tujuh Nyawa. Lalu hidup bersama tokoh sesat itu selama beberapa waktu. Agaknya Logo mendapat pengaruh buruk dari tokoh sesat itu, atau jiwanya berhasil dipecundangi oleh Siluman Tujuh Nyawa, sehingga Logo menjadi pengikutnya yang setia dengan perintah dan tugas-tugasnya. Pantas jika Siluman Tujuh Nyawa ingin membunuh Logo, sebab ia takut Logo buka rahasia tentang tempat persembunyiannya selama ini. Tentunya Siluman Tujuh Nyawa tahu, bahwa kesadaran Logo bisa dipulihkan kembali oleh Suto, sehingga anak jin itu akan ingat tentang dirinya dan tentang hal-hal yang dilakukan di Jurang Petaka bersama si tokoh sesat itu.

Logo mengaku pernah mendapat siraman cahaya dari sepasang mata dinginnya Siluman Tujuh Nyawa, sehingga ia merasa semua orang adalah musuhnya. Yang dianggap sahabat atau orang baik hanyalah Durmala Sanca atau Siluman Tujuh Nyawa itu.

"Lalu, mengapa Siluman Tujuh Nyawa menyuruhmu mengejar-ngejar perempuan itu? Apa yang ia harapkan? Apakah kau tahu?"

"Tahu," jawab Logo, tapi setelah itu diam saja, tak menjelaskan apa yang diketahuinya. Pada saat itu Angin Betina merasa kurang tertarik dengan percakapan tersebut, sehingga ia memotong dengan kata-kata,

"Resi Wulung Gading menyuruhku menengok Biara Genta. Menurut firasat beliau, ada bahaya di sana. Aku sekarang mau ke Biara Genta, apakah kau mau ikut denganku atau mengantar bocah itu sambil memadu rindu kepada ibunya?"

Suto sengaja tak menanggapi sungguh-sungguh, karena hanya akan memancing pertengkaran mulut. Nada cemburu itu hanya dibiarkan saja, kecuali sepatah kata melintas, "Sebentar...," setelah itu Suto kembali bicara kepada Logo.

"Jika kau tahu apa yang diharapkan Siluman Tujuh Nyawa, tolong jelaskan!"

"Aku disuruh merebut."

"Merebut perempuan itu tadi?"

Logo menggelengkan kepala dengan mulut melongo.

"Lantas disuruh merebut apa?"

"Pusaka."

"Pusaka apa?"

"Kitab!" jawab Logo pendek-pendek, karena memang itu kebiasaannya bicara. Begitulah keadaan Logo aslinya, bicara selalu pendek dan apa perlunya saja.

Tapi mendengar Logo disuruh merebut pusaka dan pusaka itu adalah sebuah kitab, kening Suto menjadi berkerut. Angin Betina juga memandang penuh perhatian, karena merasa tertarik ingin mengetahui tentang kitab yang dimaksud Logo itu. Maka Angin Betina pun segera ajukan pertanyaan.

"Kitab pusaka apa? Kau ingat namanya?"

"Tidak," jawab Logo sambil menggeleng iugu.

"Coba ingat-ingat... apa nama kitab itu?" kata Suto.

Logo berkerut dahi, tundukkan kepala beberapa saat, lalu ia pandangi Suto dan menggeleng.

"Jadi, kau tak ingat nama kitab itu?"

"Tidak."

"Apakah Siluman Tujuh Nyawa tak sebutkan nama kita itu?"

"Memang tidak."

"Pantas," gerutu Angin Betina. "Biar disuruh mengingat satu tahun penuh tak akan ingat namanya, sebab memang nama kitab itu tak disebutkan."

"Siluman Tujuh Nyawa hanya suruh aku rebut kitab yang ada pada perempuan itu," kata Logo agak panjang setelah diam beberapa saat dan menyusun kalimat seperti itu dalam benaknya.

"Aku akan menuju Biara Genta. Kalau kau tak mau ikut, akan kutinggalkan," kata Angin Betina yang mulai tidak tertarik dengan kebodohan Logo lagi.

"Aku juga akan ke sana," kata Suto. "Perjalananku terhenti karena melihat Lancang Puri bertarung melawan Logo."

"Lancang Puri...?!" gumam Angin Betina dengan dahi berkerut.

"Dia adalah cucunya Pendeta Mata Lima."

Kerutan dahi Angin Betina kian tajam. "Cucu...?!

Setahuku Pendeta Mata Lima dan Pendeta Jantung Dewa tidak pernah kawin. Bagaimana mungkin dia bisa punya cucu?"

"Hmmm... yah, mungkin cucu angkatnya?!"

"Aku curiga!" kata Angin Betina. "Aku kenal Lancang Puri, keponakan dari tokoh berdarah dingin yang menguasai Pulau Lanang, hidupnya tergantung dari kemesraan seorang lelaki. Nama perempuan itu adalah Nyai Gandrik!"

"Tepat sekali dugaanmu. Lancang Puri memang bersama Nyai Gandrik."

"Hati-hati jika bertemu dengan Nyai Gandrik. Kesaktian dan kekuatannya ada pada cumbuan asmara seorang lelaki. Kau akan dibuat jatuh berlutut jika sudah berhadapan dengannya. Karena dia punya penyakit kutukan, dalam satu purnama tak bergumul dengan lelaki, ia akan mati lemas."

Pendekar Mabuk menjadi sangat tertarik dengan cerita itu, terutama tentang pengakuan Lancang Puri, sebagai cucu Pendeta Mata Lima. Atas persetujuan  Angin Betina, akhirnya Logo diizinkan ikut ke Biara Genta, karena Suto Sinting merasa khawatir jika Logo disuruh pulang ke gua pantai Bukit Semberani sendirian. Takut dikuasai oleh Siluman Tujuh Nyawa lagi. Maka sambil melangkah menuju Biara Genta, Suto Sinting mendesak agar Angin Betina lanjutkan ceritanya tentang Nyai Gandrik dan Lancang Puri.

"Percayalah padaku, Lancang Puri bukan cucunya Pendeta Mata Lima. Tak ada hubungan apa pun dengan pendeta kakak beradik itu. Mendiang guruku sangat kenal dengan Nyai Gandrik, beberapa kali aku pernah ikut dalam pertemuan mereka. Lancang Puri mempunyai perguruan sendiri yang bernama Perisai Sakti. Aliran silatnya merupakan aliran silat gabungan antara jurus-jurusnya Resi Demang Sudra dan jurus-jurus Nyai Gandrik. Sebab di dalam perguruan itu, Nyai Gandrik adalah sesepuh dan guru agung."

"Kau pernah jumpa dengan Lancang Puri?"

"Pernah satu kali, tapi ia tidak kenal diriku. Akupun tak berminat mengenalnya karena kesombongannya sebagai guru di antara para muridnya."

"Masih semuda itu sudah menjadi guru?"

"Sebenarnya yang banyak berperan dalam perguruan Perisai Sakti adalah Nyai Gandrik. Jabatan guru disandangnya sebagai bahan kebanggaan dan angkuh- angkuhan saja. Sebenarnya Lancang Puri ilmunya belum seberapa. Aku masih sanggup menumbangkannya."

"Apakah kau juga tahu tentang Urat Setan?"

Langkah perempuan berwajah cantik tapi berkesan liar itu terhenti sesaat. Matanya menatap lurus kepada Suto Sinting.

"Kau mengenal Urat Setan juga?"

"Kulihat Lancang Puri bertarung melawan Urat Setan gara-gara rebutan sebuah pusaka."

"Urat Setan satu perguruan dengan Lancang Puri, tapi beda masa. Urat Setan sudah pergi dari perguruan dan diusir oleh Resi Demang Sudra, lalu beberapa saat barulah sang Resi mengangkat murid lagi yaitu Lancang Puri. Jika mereka berebut pusaka, pastilah pusaka peninggalan gurunya itu."

"Kalau begitu, pusaka tersebut adalah kitab, dan kitab itu sekarang ada di tangan Lancang Puri. Buktinya Logo diperintahkan Siluman Tujuh Nyawa untuk merebut kitab tersebut."

"Kurasa memang begitu. Tapi sebaiknya kita tak perlu ikut campur karena itu urusan perguruan mereka."

"Aku setuju. Tapi aku masih merasa heran, mengapa Lancang Puri harus mengaku sebagai cucu dari Pendeta Mata Lima. Ia sangat sedih ketika mengetahui Biara Damai lenyap tak berbekas dan...."

"Lenyap...?!" Angin Betina memotong dengan nada heran. Langkahnya terhenti lagi, dan telinganya menyimak baik-baik cerita dari Suto tentang nasib Biara Damai dan Pendeta Mata Lima yang bagaikan ditelan bumi setelah reruntuhan itu terbungkus asap kuning.

Wajah cantik berkesan ganas itu menjadi tegang. Kecemasan tersembunyi di balik sikap diamnya itu.

Lalu, ia segera berkata, "Kalau begitu kita harus lekas-lekas tiba di Biara Genta. Mungkin hal itulah yang diterima firasat Resi Wulung Gading sebagai firasat tak baik tentang kedua biara tersebut."

Gerak langkah mereka kian dipercepat, sepertinya sangat terburu-buru. Ternyata dalam waktu lebih singkat lagi mereka sudah sampai di Lembah Canang. Tetapi mereka sama-sama tertegun bengong mencari Biara Genta. Mereka berdiri di atas tanah lapang berumput tipis tanpa pohon kecuali di tepian jauh sana, wajah Angin Betina kian menampakkan kecemasannya.

"Hilang...?!" gumam Suto Sinting seperti bicara pada diri sendiri.

"Tak mungkin. Kurasa kita salah alamat."

"Tidak, Angin Betina! Aku ingat betul, di sinilah letak bangunan Biara Genta berdiri. Aku masih ingat patokannya, yaitu, tiga pohon pinang tinggi yang tumbuh di kaki bukit itu. Tiga pohon pinang tinggi itu tumbuh tepat membentuk garis lurus dengan pintu gerbang biara tersebut. Dan di sinilah letak garis lurus itu, Angin Betina."

"Ya," jawab Angin Betina pelan sekali dengan wajah tegang. "Berarti nasib Pendeta Jantung Dewa dan biaranya sama persis dengan nasib Pendeta Mata Lima dan biaranya juga?!"

"Maksudmu, seseorang telah membantai habis penghuni biara beserta Pendeta Jantung Dewa, lalu orang itu memusnahkan reruntuhan dan korbannya dengan cara seperti yang kulihat di Biara Damai itu?"

"Tepat! Kurasa begitu."

"Lalu, menurutmu siapa yang melakukanpemusnahan seperti ini?!"

Bingung juga menjawab pertanyaan itu. Angin Betina hanya diam sambil matanya memandang ke sana-sini dengan tegang, ia sedang berpikir, siapa pelakunya? Dan pada saat hening itu, tiba-tiba Logo berkata kepada Suto,

"Aku mendengar suara orang merintih di kejauhan sebelah utara sana!"

"Orang merintih? Hmmm... mari kita periksa, Logo!"

Suto Sinting dan Logo bergerak ke arah utara. Angin Betina masih terpaku heran di tempat berdirinya, ia hampir-hampir tak percaya melihat bangunan biara sekokoh dan sebesar itu bisa lenyap dengan ajaib sekali. Tak bisa dibayangkan ilmu apa sebenarnya yang dipergunakan untuk melenyapkan bangunan sebesar itu bersama para penghuninya? Apakah para penghuninya dibunuh dulu semuanya, baru dilenyapkan?

Angin Betina bergegas menyusul Suto dan Logo. Ternyata kedua orang itu telah menemukan seorang korban yang terjepit di sela-sela dua batu. Entah terjepit secara tak sengaja atau memang sengaja bersembunyi di dua batu besar lalu tak bisa keluar karena dadanya terluka parah, yang jelas orang itu masih hidup. Dilihat dari pakaiannya yang serba kuning dan kepalanya polos tanpa rambut, orang berusia sekitar empat puluh tahun dan bertubuh kurus itu pasti murid dari Biara Genta yang sempat larikan diri. Luka di dadanya itu menghitam bekas torehan pedang atau senjata tajam lainnya. Luka itu tidak hanya menghitam, namun juga membusuk sehingga tumbuh belatung yang merayap ke sekitar luka, bagaikan menggerogoti sisa daging yang masih ada.

Keadaan orang itu sudah parah. Sangat pucat, menyerupai kertas putih. Tapi Suto Sinting segera menuangkan tuak ke mulut orang itu, meminumkannya beberapa teguk. Logo diperintahkan menyingkirkan salah satu batu besar yang menghimpit tubuh kurus itu. Orang tersebut akhirnya berhasil diangkat dari celah- celah dua batu besar, ia dibaringkan di bawah pohon. Tapi keadaannya bukan semakin sembuh namun semakin parah. Napasnya tersengal-sengal dengan mata mulai terbeliak-beliak.

Ia hanya sebutkan kata, "Kitab... Lorong Zaman...dicuri... orang...."

Wajah Angin Betina tersentak kaget dan kian tegang. Padahal kitab itulah yang membuatnya ingin masuk ke perguruan salah satu dari dua pendeta kakak-beradik itu. Ia ingin pelajari isi Kitab Lorong Zaman.

"Mengapa ia menjadi bertambah parah setelah minum tuakku?" gumam Suto seperti bicara pada diri sendiri. Rupanya gumaman itu sempat didengar oleh si sakit, dan si sakit berkata terputus-putus.

"Aku... telah... bersumpah... tidak akan... minum tuak lagi. Jika aku minum... tuak... maka aku... akan mati.... Dan, sekarang... aku meminumnya...."

"Ya, ampun...?! Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kau punya sumpah seperti itu. Maafkan aku!" kata Suto penuh sesal karena telah meminumkan tuaknya dengan maksud mengobati orang tersebut. Tetapi justru orang tersebut sekarang menghembuskan napas terakhirnya tanpa memberi penjelasan siapa orang yang datang menyerang biara dan mencuri Kitab Lorong Zaman.

Angin Betina diam dalam keadaan murung di kejauhan sana. Suto Sinting tahu, Angin Betina sangat kecewa. Sebab ketika ia utarakan maksudnya kepada Suto untuk menjadi murid salah satu dari kedua pendeta itu, Suto sarankan agar Angin Betina tinggalkan jalan sesatnya. Dan ternyata wanita itu sudah menuruti kata-kata Suto. Ia tidak lagi menjadi tokoh silat beraliran hitam, ia bahkan menjadi prajurit di istana Muara Singa, kepala pengawal Ratu dan termasuk orang andalan Ratu Galuh Puspanagari.

Tapi keinginannya untuk pelajari isi Kitab Lorong Zaman cukup besar, sehingga ia mengundurkan diri dari jabatan itu dan ingin bergabung dengan salah satu pendeta kakak-beradik itu. Sebelumnya ia perlu meminta saran kepada Resi Wulung Gading, tapi justru Resi Wulung Gading menyarankan agar Angin Betina selekasnya datang ke Biara Genta, karena firasat sang Resi mengatakan ada sesuatu yang membahayakan Biara Genta. Karenanya Angin Betina segera menuju ke Biara Genta dan bertemu Suto di perjalanan tadi.

Kitab Lorong Zaman itu ternyata telah dicuri oleh seseorang. Biara Genta dan Biara Damai telah lenyap bagaikan tak pernah ada di permukaan bumi. Semua penghuninya ikut lenyap kecuali seorang korban yang baru saja menghembuskan napas terakhir. Hati Angin Betina sangat sedih memendam kekecewaan. Padahal Kitab Lorong Zaman itu mempunyai ilmu yang istimewa dan sangat menarik untuk dipelajari. Kitab itu yang membuat seseorang bisa mempunyai ilmu 'Tembus Waktu' sehingga bisa melompat ke kehidupan masa lalu atau masa mendatang.

"Siapa pencurinya? Lancang Puri-kah? Tapi sehebat itukah ilmu Lancang Puri?" pikir Angin Betina dalam kesendirian.



*

* *



6

PELARIAN Lancang Puri tertahan karena rubuhnya dua pohong menghadang langkahnya. Brruuk, gusraak...! Andai saja Lancang Puri tidak hentikan langkah secara mendadak, tubuhnya akan tertimpa dua pohon yang tumbang dari kanan-kirinya. Secepat kilat Lancang Puri sentakkan kaki, melenting ke atas dan bersalto mundur dua kali. Wuk, wuuk...! Jleg! Hati perempuan itu mulai curiga, dan kecurigaannya ternyata benar. Tumbangnya pohon itu disebabkan ulah seseorang yang pasti sudah dikenalnya. Orang tersebut tak lain adalah si Urat Setan. Wajah tuanya muncul dari sisi kiri dengan tenang dan dingin. Tapi Lancang Puri tampak sedikit tegang. Tidak setenang waktu berhadapan di petilasan Biara Damai itu.

"Kali ini kau tak bisa menyangkal anggapanku lagi, Lancang Puri. Kulihat sendiri Biara Genta telah kau lenyapkan bersama Nyai Gandrik, bibimu! Tentunya Kitab Lorong Zaman telah ada di balik jubahmu itu!"

Sambil berkata demikian, Urat Setan melangkah tenang dekati Lancang Puri hingga jaraknya mencapai tiga tombak. Lancang Puri memandang sengit kepada Urat Setan. Mulutnya masih terbungkam dengan sikap berdiri sedikit merenggang.

"Demi keselamatan nyawamu, Lancang Puri, sebaiknya serahkan saja kitab pusaka itu padaku!"

"Kitab itu tidak ada padaku! Kalau kau menginginkannya, kejarlah bibiku yang menuju Pulau Lanang itu!"

"Aku bukan anak kecil yang mudah kau bodohi, Lancang Puri. Jika kitab itu ada pada bibimu, kau tak akan beri tahukan hal itu padaku. Jadi, aku semakin yakin bahwa kitab pusaka itu ada padamu!"

"Kau tak akan memperoleh apa-apa jika mendesakku. Mungkin malah akan memperoleh celaka yang membuatmu menyesal seumur hidup, Urat Setan!"

Mata Urat Setan memandang penuh selidik. Dilihatnya Lancang Puri tidak membawa benda apa pun. Tapi Urat Setan masih curiga dengan keadaan di balik jubah putih Lancang Puri.

"Setidaknya kitab itu disembunyikan di pinggang belakang," pikirnya dengan mulut terkatup rapat. "Aku harus bisa memastikan adakah sesuatu di pinggang belakangnya itu?"

Sesaat kemudian, Urat Setan perdengarkan suaranya, "Jika kau masih bersikeras sembunyikan kitab itu di pinggang belakangmu, maka aku pun tak akan ragu-ragu lagi untuk mengakhiri riwayat hidupmu, Lancang Puri!"

"Gertakanmu tidak membuatku ciut nyali, Urat Setan! Bertindaklah sekehendak hatimu, aku akan melayani dengan tanpa ragu pula!"

"Keparat kau!" geram Urat Setan mulai tak bisa bersabar lagi. Tiba-tiba tubuhnya tersentak maju dan melayang di udara. Wuuuttt...!

Lancang Puri tidak menghindar, melainkan justru menyambut serangan itu dengan gerakan melesat ke depan, kedua tangannya siap dihantamkan lawan.

Wuuuttt...!

Plak, plak, plak, duaarr...!

Beradu kecepatan pukulan tangan di udara menghasilkan bunyi ledakan yang membuat mereka sama-sama terpental. Bunyi ledakan tadi terjadi ketika telapak tangan mereka beradu dan memercikkan sinar merah terang. Rupanya mereka sama-sama pergunakan jurus serupa dan mempunyai kekuatan yang seimbang. Perpaduan dua jurus serupa hanya membuat tubuh mereka sama-sama terpental tanpa luka sedikit pun. Dalam kejap berikutnya, mereka sudah sama-sama terpental berdiri sigap dan siap lakukan serangan berikutnya.

Urat Setan mengambil sikap berdiri tegak, keduakakinya merenggang dan sedikit merendah. Lalu kedua tangannya bertelapak mengembang, tapi ibu jarinya terlipat sementara jari-jari lainnya merapat lurus. Kedua tangan itu berada di masing-masing pinggang dalam keadaan telapakannya terbuka ke atas. Dengan sentakan tak bernapas, kedua telapak tangan itu disodokkan lurus ke depan, namun tak sampai membuat sikunya tegak. Suuutt...!

Clap, clap...! .

Dua sinar merah lebar melesat dari kedua tangan tersebut. Sebelum mencapai pertengahan jarak, sinar itu bergabung menjadi satu dan membentuk wujud gumpalan asap merah membara sebesar bola. Gumpalan sinar merah membara itu melesat lebih cepat lagi ke arah sasaran.

Lancang Puri segera berlutut satu kaki. Kemudian tangan kanannya membentuk cakar dan disentakkan di atas kepala. Dari tengah cakar itu melesat sinar hijau lebar membentuk piringan. Penampang sinar itulah yang bagaikan tangan raksasa menangkap bola asap merah membara. Zluubb...! Sinar hijau menggulung gumpalan asap merah sesaat, kejap berikutnya kedua sinar yang bertarung sendiri itu sama-sama meledak.

Blegaarr...!

Ledakan itu melepaskan angin badai ke berbagai arah. Menghentak begitu kuatnya, sehingga tubuh Urat Setan terlempar membentur gundukan batu cadas di belakangnya, sedangkan tubuh Lancang Puri buru-buru tiarap, namun terdorong pula oleh hembusan angin membadai hingga ia bagaikan diseret dari belakang. Untung kedua kakinya segera menemukan akar pohon yang menonjol besar, sehingga ia bisa bertahan menghadapi dorongan angin badai itu. Brruuukk...! Blaaammm...!

Dua pohon tumbang lagi karena dihempas angina badai yang keluar dari ledakan dua sinar tadi. Lancang Puri tidak pedulikan tumbangnya dua pohon itu. Ia cepat-cepat berdiri dan berlari menuju lawannya sambil mencabut pedang. Sraang...! Wuuttt...! Tubuhnya melompat ketika berjarak lima langkah dari si Urat Setan yang baru saja berdiri. Pedang pun ditebaskan dengan gerak tipuan ke arah pundak kiri lawan. Wuuss...!

Slaap...! Urat Setan bagai menghilang seketika. Pedang itu mengenai tempat kosong. Sedangkan Urat Setan tahu-tahu sudah berada di belakang Lancang Puri. Sebuah pukulan tangan kanan yang menyodok ke depan dilakukan dengan kaki menghentak ke bumi. Jluugh...! Dan tiga pisau terbang melesat dari tangan itu, bagaikan keluar dari dalam kain jubah yang membungkus lengannya secara longgar itu. Slap, slap, slap...!

Punggung Lancang Puri menjadi sasaran paling empuk bagi tiga pisau terbang itu. Sayang sekali seberkas sinar lurus lebar meluncur dari arah samping berbentuk seperti bambu tanpa ruas. Sinar hijau tua itu menghantam tiga pisau terbang tersebut. Prakkk...! Blaarr...!

Tiga pisau terbang hancur menjadi berkeping-keping, menyebar ke arah samping. Tak satu pun bagian kepingan itu yang kenai tubuh Lancang Puri. Perempuan itu cepat balikkan badan dan sedikit terperanjat setelah mengetahui bahwa dirinya tadi nyaris mati jika tidak tertolong oleh melesatnya sinar hijau tua itu. Ia segera berpindah tempat dengan satu lompatan menyamping. Keadaannya sekarang sedikit terhadang gugusan batu cadas.

Urat Setan dongkol sekali. Semestinya ia sudah bisa membunuh Lancang Puri, tapi karena ada yang ikut campur dalam pertarungannya, maka Lancang Puri masih berdiri tegar di depannya. Bahkan perempuan itu kini sudah berada di atas gugusan batu cadas dengan pedang tergenggam penuh tantangan. Jubahnya yang putih melambai-lambai tertiup angin.

"Laknat! Busuk! Siapa yang berani ikut campur urusanku, hah?!" teriak Urat Setan dengan berang sambil matanya memandang ke sana-sini, bagai tak pedulikan keadaan Lancang Puri yang bisa menyerangnya sewaktu-waktu itu.

Tiba-tiba dahan pohon yang tepat berada di atas kepala Urat Setan itu patah dalam keadaan meruncing. Ujung runcingnya meluncur ke bawah bagaikan ingin memantek kepala Urat Setan. Krak...! Wuuusstt...!

Urat Setan sigap, ia segera berguling ke samping dan cepat cabut cambuknya dari pinggang. Dengan satu kaki berlutut ia lecutkan cambuk itu ke arah dahan besar yang meluncur ke bawah itu. Taarr...! Dahan tersebut terkena cambukan satu kali, pecah menjadi serpihan-serpihan sebesar kelingking.

"Siapa yang membantuku? Tak kulihat gerakan orangnya?" pikir Lancang Puri. "Yang jelas jurus itu bukan milik Bibi Gandrik. Gaya menyerangnya tidak menyerupai penyerangan Bibi Gandrik. Pasti ada orang lain. Apakah pendekar tampan itu yang menolongku? Ah, aku jadi serba salah kalau berhadapan dengan Suto, si pendekar tampan itu."

Terdengar seruan Urat Setan yang sudah semakin marah itu, "Keluar kau, Bangsat! Maju ke depanku kalau kau ingin menjajal ilmuku!"

Dari semak belukar muncul sesosok tubuh berbadan tegap dan berparas tampan. Lancang Puri sempat terkejut melihat kemunculan orang itu. Hatinya mulai membatin, "Celaka! Pemuda itu lagi! Dia pasti masih terkena pengaruh Racun Edan Cumbu-ku!"

Dewa Rayu sengaja tampakkan diri dan dekati gugusan batu cadas tempat berdirinya Lancang Puri. Tapi pandangan matanya tertuju ke arah Urat Setan. Pemuda yang masih dalam pengaruh Racun Edan Cumbu itu sudah dalam keadaan tidak serapi dulu. Kain bajunya membuka hingga menampakkan dadanya yang bidang. Letak sabuknya pun tidak mengikat baju lagi. Letak ikat kepala dari lempengan perak pun sudah tidak lurus dan rapi seperti semula, ia tampil dalam keadaan kusut, seperti orang tidak tidur dua hari dua malam.

"Bocah edan! Jangan coba-coba menjadi satria di depanku kau!" geram Urat Setan dengan mata memandang lurus penuh kemarahan. Cambuknya masih tergenggam di tangan kanan dan siap lecut kapan saja dibutuhkan.

Dewa Rayu tidak banyak bicara. Matanya memandang Lancang Puri yang ada di atas gugusan batu. Sekejap saja ia memandang, lalu pandangan itu ditujukan kepada Urat Setan, dan suaranya terdengar lantang penuh pada permusuhan.

"Aku tak peduli akan menjadi satria atau menjadi setan seperti kau, Pak Tua. Tapi kuingatkan satu kali saja, jangan ganggu kekasihku itu jika kau ingin panjang umur dan cepat dapat jodoh!"

"Bangsat! Kusingkirkan penghalang ini dengan jurus 'Cambuk Ular Kadut'! Terimalah, Bocah bodoh!Heaaah...!"

Cetaaarr...!

Cambuk melecut di udara, ujungnya melepaskan sinar merah bagaikan kawat berkelok-kelok. Sinar merah itu bergerak cepat mirip gerakan seekor ular terbang.  Ketika sudah dalam jarak dekat, barulah Dewa Rayu  melompat dan bersalto ke belakang, lalu kedua tangannya meliuk bagai memutar pergelangan tangan dan menyentak ke depan pada saat telapak tangan menghadap ke depan. Wuuuttt...! Claapp...! Sinar hijau tua terlepas dari telapak tangan tersebut. Kedua sinar bergabung membentuk wujud seperti sebatang bamboo tua. Sinar itu menghantam sinar merah berkelok-kelok bagaikan ular.

Zraasb...!

Tak ada bunyi ledakan apa pun. Tetapi kedua sinar itu sama-sama berhenti di udara. Sinar merah yang lebih kecil bagaikan mendekam di dalam sinar hijau. Dewa Rayu terkesiap memandangi sinar hijaunya tidak pecah dan tidak bergerak lagi, diam di udara dengan gerakan-gerakan kecil seperti sedang mengunyah sinar merah.

Tetapi mendadak sinar hijau itu bergerak berkelok-kelok pula seperti ular dan melesat menuju Dewa Rayu. Melihat sinar hijaunya yang ditumpangi sinar merah kecil tadi bergerak ke arahnya, Dewa Rayu segera sentakkan kaki hingga tubuhnya melenting di udara. Wuuuttt...! Kakinya segera menjejak sebatang pohon, dan tubuhnya menjadi meluncur deras ke arah Urat Setan. Sementara itu sinar hijau berkelok-kelok kembali diam di tempat, bagai mencari ke mana arah kepergian mangsanya.

Pedang dicabut dari pinggang Dewa Rayu. Sraang...! Tubuhnya yang meluncur bagaikan terbang itu segera dihadang oleh cambuk Urat Setan. Cambuk itu dilecutksn satu kali dengan satu hentakan suara keras.

"Heeaaah...!"

 Taarr...! Ujung cambuk keluarkan sinar merah lagi seperti ular terbang. Tapi kali ini Dewa Rayu kibaskan pedang ke samping, dan sinar merah itu menyambar ujung pedang, lalu memantul ke arah Urat Setan menjadi tiga sinar memanjang berwarna merah berkelok-kelok. Zzraasap...! Tiga sinar merah yang memanjang tiada putus dari ujung pedang tersebut menghantam tubuh si Urat Setan. Traat... dueer...! Tubuh Urat Setan yang bermaksud menghindar menjadi terjungkal bersama cambuknya. Kaki kirinya terbakar, api menyala membungkus kaki itu. Tapi dengan satu kali hembusan napas tenaga dalam berhawa dingin, api itu padam kembali.

"Puiih...!"

Sedangkan pedang Dewa Rayu masih memancarkan kilatan-kilatan cahaya merah kecil-kecil dan memanjang. Sebenarnya cahaya itu akan diarahkan kembali ke tubuh si Urat Setan. Tetapi sinar hijau besar yang berkelok-kelok karena ditumpangi sinar merah pertama tadi sedang meluncur ke arah Dewa Rayu. Mau tak mau pemuda tampan itu mengarahkan percikan tiga sinar dari ujung pedangnya.

 Traatt... blaaarr...!

 Kini sinar hijau itu meledak dengan dahsyat.

Gelombang ledaknya menghentak dan menaburkan hawa panas yang tinggi. Kulit pohon mengelupas dan dedaunan menjadi keriting karena hawa panas itu. Sedangkan tubuh Dewa Rayu cepat-cepat bersembunyi di balik batang pohon besar yang juga ikut terkelupas kulitnya di bagian yang mengarah ke ledakan tadi. Sedangkan Urat Setan sempat berlompatan penuh makian menghindari hawa panas yang menyengat kulit tubuhnya.

"Bocah Edan! Jurus apa yang digunakan itu?!" rutuk Urat Setan sambil berlindung di balik pohon besar juga.

Ketika gelombang hawa panas hilang, kedua tokoh yang bertarung itu sama-sama keluar dari pohon. Tapi pedang Dewa Rayu yang terbuat dari logam kuningan mengkilap mirip emas itu masih memercikkan tiga larik sinar berkelok-kelok. Pedang itu tetap terangkat lurus dan tiga sinarnya menjilat bumi sekitar tempatnya berpijak.

Lancang Puri ternyata sudah lenyap dari atas gugusan batu cadas. Tentunya kesempatan itu dipergunakan untuk melarikan diri daripada harus melayani pertarungan dengan Urat Setan. Melihat hilangnya Lancang Puri, Urat Setan sempat terperanjat, lalu dilihatnya teriakan perempuan itu sudah berada di tempat yang jauh, menyelinap di sela-sela jajaran pohon hutan.

"Lancang Puri! Jangan lari kau! Tunggu...!" teriak Urat Setan sambil bergegas melarikan diri mengejar Lancang Puri. Tetapi Dewa Rayu berkelebat dengan gerakan saltonya dan tahu-tahu sudah menghadang jangkah Urat Setan.

"Tak kuizinkan kau mengejar kekasihku, Pak Tua!"

"Kurajang habis tubuhmu kalau tak mau minggir dari depanku, Bocah dungu!" sambil cambuknya siap-siap mau dilecutkan. Tapi Dewa Rayu tak merasa takut sedikit pun. Pedangnya yang masih memercikkan tiga larik sinar kecil menjilat-jilat bumi itu segera ditebaskan ke depan. Wuutt...! Srraaat...! Tiga sinar merah menyambar tubuh si Urat Setan. Namun orang itu mampu bergerak cepat bagaikan menghilang, tahu-tahu sudah berada di belakang Dewa Rayu. Ia melecutkan cambuknya di udara dengan kibasan tangan bolak-balik. Ujung cambuk itu melecut berkelok-kelok dan menaburkan sinar-sinar merah kecil.

Tar, tar, tar, tar, tar, tar...!

Hujan sinar merah kecil mirip gerakan ular ganas segera menyerang Dewa Rayu. Jumlah sinar tersebut lebih dari dua puluh larik berukuran masing-masing satu atau dua jengkal panjangnya. Dewa Rayu sempat kebingungan menghindari sinar merah sebanyak itu. Ujung pedangnya sudah tak bisa menyerap sinar itu lagi karena tiga larik sinar masih memercik dari ujung pedang tersebut.

Dalam keadaan terdesak seperti itu, sesosok tubuh tiba-tiba menyambar Dewa Rayu dari arah belakang. Wuuttt...! Tubuh Dewa Rayu bagaikan diajak terbang ke tempat seberang, sementara hujan sinar merah segera mengejar ke arah seberang juga. Sinar-sinar itu bergerak bagai rombongan ular terbang yang tak mau biarkan lawan atau mangsanya lolos dari pengejaran.

Orang yang menyambar tubuh Dewa Rayu itu segera sentakkan tangan kanannya, dan gumpalan asap hitam bagaikan awan mendung menyembur dari telapak tangan itu. Kian lama kian tebal dan menyergap rombongan sinar merah yang menghujani Dewa Rayu tadi. Kejap berikutnya, terdengar gelegar ledakan yang cukup dahsyat sempat membuat tanah bergetar hebat, blegaaarrr...!

Beberapa pohon yang tumbang tak dihiraukan oleh mereka. Bagian tanah yang retak pun tak diperhatikan lagi. Kini sasaran orang yang menyambar Dewa Rayu adalah Urat Setan. Dipandanginya Urat Setan dengan mata angker penuh gairah untuk membunuh.

"Jahanam kau, Harimu Jantan! Rupanya kau ingin ikut modar juga dengan bocah dungu itu, hah?!"

Harimau Jantan tertawa terkikik-kikik. "Hik, hik, hik, hik...!" Tawanya itu mirip kuntilanak, sehingga Dewa Rayu menjadi terheran-heran memandangi orang yang menyambarnya itu. Harimau Jantan berkata kepada

Dewa Rayu dengan suara perempuannya,

"Diamlah di sini, biar kuhadapi si Urat Setan! Lihatlah bagaimana membunuh urat yang hidup dengan liar! Hik, hik, hik...!" Lalu tangannya sempat mencubit pipi Dewa Rayu dengan gemas. "iiih... gantengnya!" ia melenggok manja. Tapi tiba-tiba tubuhnya melesat cepat. Walau gemuk, namun mampu berkelebat secepat daun kering diterbangkan angin badai. Weesss...!

"Mati kau, Urat Setan...!" teriaknya dalam suara kecil dan golok pun dicabutnya. Golok itu segera berkelebat menebas ke depan pada saat cambuk hitam kemerahan itu mau melecut tubuhnya. Traakkk...! Cambuk melilit di mata golok putih, dan golok itu tiba-tiba bersinar membara warna merah, bagaikan terpanggang api.

Harimau Jantan menyentakkan ke samping. Wuuuttt...! Teess...! Tapi cambuk itu putus seketika. Urat Setan terbelalak melihat cambuknya putus.

"Hiaaah...!" pekik Harimau Jantan dengan sentakkan tangan kiri yang membentuk cakar harimau. Dari tangan kirinya keluar asap hitam seperti tadi, namun sebelum menjadi gumpalan besar sudah dihantam oleh pukulan tenaga dalam Urat Setan. Blaarr...! Pukulan tanpa sinar itu justru menghasilkan sinar ledak warna putih ketika membentur asap hitamnya Harimau Jantan.

Dewa Rayu yang telah memasukkan pedang ke  sarungnya segera berkelebat pergi ke arah pelarian Lancang Puri. "Aku tak bisa berpisah terlalu lama denganmu, Kasih! Lancang Puriii....! Peluklah aku, Sa-yaaang...!" serunya sambil melesat pergi, dan seruan itu didengar oleh kedua tokoh yang sedang bertarung itu, tetapi mereka tak bisa hiraukan Dewa Rayu karena keduanya saling serang dengan sengit.

Pada saat itu Suto Sinting tiba di tempat tersebut bersama Logo. Ia berpencar dengan Angin Betina untuk mencari Lancang Puri yang diduga keras telah mencuri Kitab Lorong Zaman. Pendekar Mabuk menahan gerakan langkah Logo dan menyuruh Logo bersembunyi di balik dua pohon yang tumbuh merapat itu.

"Siapa mereka?" tanya Logo.

"Urat Setan dan Harimau Jantan. Keduanya punya dendam yang harus diselesaikan secara jantan. Tapi aku sangsi apakah Harimau Jantan itu benar-benar jantan, sebab gerakannya seperti gerakan seorang putri raja memainkan jurus golok dengan gemulai."

"Apakah aku perlu turut campur?"

"Jangan, Logo! Itu bukan urusan kita. Kita tonton saja seperti apa keunggulan jurus mereka," kata Suto Sinting dengan mata tertuju ke arah pertarungan.

Gerakan Harimau Jantang memang lebih mirip gerakan silat seorang wanita malu-malu kucing. Kadang ia berlindung di balik pohon dan menampakkan kepalanya sambil tersenyum-senyum malu tapi kejap berikut tangan kirinya melepaskan pukulan tenaga dalam yang bergerak dengan cepat. Wuutt...!Dees! Pukulan itu terkena telak di dada Urat Setan, sukar ditangkis dan dihindari.

"Uuuhg...!" Urat Setan terbungkuk, dadanya terasa mau jebol. Namun ia segera sigap kembali dan membalas dengan melepaskan pukulan jarak jauh.

Clap, Clap, Clap,..!.

Tiga sinar merah berbentuk tiga pisau terbang melesat ke arah Harimau Jantan. Tapi tiga sinar itu mampu dipatahkan dengan kibasan goloknya yangbergerak cepat nyaris tak terlihat kecuali kilatan cahaya logamnya terkena pantulan sinar matahari.

Harimau Jantan akhirnya memutar tubuh bagaikan sedang menari, dan goloknya dilemparkan pada saat tubuh berputar. Lemparan golok itu sama sekali tidak diduga-duga oleh lawan, sehingga Urat Setan terperanjat, tahu-tahu ulu hatinya telah ditancap oleh golok tersebut. Jruub...!

"Aahg...!" mata Urat Setan mendelik, kaku sebentar, lalu tumbang dalam keadaan tengkurap. Bluuss...! Tentu saja golok itu semakin menembus tubuhnya karena membentur tanah.

"Goblok, goblok, goblok...!" seru Harimau Jantan dengan langkah melenggok-lengok dekati Urat Setan. "Sudah tahu golok ada di depannya kok jatuhnya ke depan. Uuh... payah! Lain kali pakai cara sendiri kalau mau jatuh, biar... lho, sudah mati?!" katanya sambil menggulingkan tubuh Urat Setan yang tidak bernapas lagi itu.

"Ya, ampuuun... mau mati kok tidak bilang dulu. Kalau begini aku tidak bisa titip pesan sama nenek moyangku di alam baka sana. Ah, masa bodohlah!" golok pun dicabut dengan gerakan gadis ganjen mencabut sesuatu dengan jijik.

"Eh, ke mana tadi si tampan berkumis tipis?! Aduh, pasti bersembunyi cari tempat untukku! Hmmm... awas nanti kalau tertangkap, kusekap dia semalam suntuk, biar tahu rasa bagaimana nikmatnya bercumbu denganku. Hik, hik, hik...!"

Harimau Jantan pergi searah dengan kepergian Dewa Rayu. Arah yang diambil secara untung-untungan itu membuat Suto Sinting berkerut dahi dan berkata, "Pasti yang dimaksud si Dewa Rayu. Hmm... mau diapa-kan anak muda itu?".



*

* *



7

PENGEJARAN Dewa Rayu tanpa disengaja berhasil menemukan Lancang Puri. Sebenarnya Dewa Rayu sudah salah langkah, salah arah, tapi justru arah yang dituju itu adalah jalan pintas menuju jalanan yang dipergunakan Lancang Puri. Maka ketika Dewa Rayu melihat Lancang Puri berlari dari arah samping kanannya, ia segera mendaki bukit cadas yang tak seberapa tinggi itu dan melompat turun dengan gerakan bersalto tiga kali. Wuk, wuk, wuk...! Jleeg...!

Kedua kaki pemuda tampan yang terpengaruh Racun Edan Cumbu itu mendarat di tanah dengan sigap. Tepat ketika itu kaki Lancang Puri mencapai tanah di sampingnya. Langkah perempuan itu pun terhenti dengan suara dengus kedongkolan melalui lubang hidungnya yang mancung itu.

"Sial! Ketemu dia lagi!" gerutunya dalam hati. "Lancang Puri, mengapa kau tinggalkan aku, Sayang?!" rayu pemuda tampan setengah gila itu. "Dekatlah aku, pelukiah aku erat-erat! Kalau kau tak mau, biarlah aku memelukmu, Sayang...!"

Dewa Rayu mendekat dengan kedua tangan merentang siap memeluk. Namun Lancang Puri tiba-tiba hantamkan telapak tangan kanannya ke dada Dewa Rayu.

Deeegh...!

"Pergi kau dan jangan ganggu aku lagi!" bentaknya.

Dewa Rayu diam bagaikan patung dengan kedua tangan masih merenggang seperti hendak memeluk. Matanya tak berkedip, mulutnya terkatup rapat. Tetapi dari mulut itu segera merembas keluar lelehan darah kental warna merah segar. Pukulan di dadanya telah membuat luka di bagian dalam, luka itulah yang menyemburkan darah naik ke mulut dan membuat pandangan mata mulai kabur.

Pemuda yang sudah kasmaran itu akhirnya limbung ke samping. Namun ia masih berusaha untuk tetap berdiri dan bersuara parau,

"Lancang Puri... ciumlah aku seperti kemarin. Ciumlah dengan penuh cinta, Sayangku...!" sambil ia berusaha mendekat. Lancang Puri semakin benci melihat lelaki yang terlalu mudah mengobral rayuan. Maka ditendangnya dada pemuda itu dengan tendangan lurus ke depan, ujung kakinya menyodok ulu hati Dewa Rayu.Wuutt...! Duuhg...!

"Eeehg...!" Dewa Rayu terpekik tertahan. Tendangan itu bukan sembarang tendangan. Tenaga dalam disalurkan melalui kaki, sehingga tak heran jika tendangan itu mampu membuat tubuh Dewa Rayu tersentak naik, darahnya kian mucrat dari mulut. Matanya mulai terbeliak-beliak pertanda nyawa mulai siap-siap pergi dari raga tampan itu.

Namun tiba-tiba sekelebat bayangan berjubah hitam melintas dan menyambar tubuh Dewa Rayu. Wuuut...! Dalam waktu sekejap tubuh pemuda itu sudah ada di pundak orang tersebut. Terkulai lemas di pundak itu.

"Kalau tak suka, jangan bunuh dia! Biar kurawat di Pulau Lanang!"

"Bibi...?!"

"Aku membutuhkan dia sebelum purnama tiba!"

"Jika itu kehendak Bibi, silahkan saja. Aku tak akan mengganggunya lagi."

"Cepat ke pantai, ambil kitab itu di sana, pada tempat yang sudah kujanjikan. Aku akan langsung menuju Pulau Lanang bersama pemuda ini!"

Sepasang mata yang mengintai dari balik celah batu hanya membatin, "O, kitab itu ada di pantai? Sebaiknya aku ke sana sekarang juga. Tapi... di sebelah mana kitab itu disembunyikannya? Pantai itu luas, tak mungkin aku harus menggali pasir pantai seluas itu?!"

Si pengintai menjadi tertarik dengan kemunculan orang gemuk berpakaian serba hijau itu. Rupanya si pengintai mengenali orang gemuk berwajah angker, sehingga ia membatin,

"Harimau Jantan?! Apakah ia juga ikut merebutkan kitab pusaka itu?!"

Suara Karto Kusir yang menjuluki dirinya Harimau Jantan terdengar cempreng dan kecil, mirip seorang istri yang cerewet. Matanya memandang ke arah Nyai Gandrik yang memanggul tubuh Dewa Rayu dan hendak dibawanya pergi.

"Hei, Gandrik?! Mau dibawa ke mana si tampan itu?! Dia bagianku! Lepaskan dia, biar kudekap semalam suntuk baru kuberikan padamu, Gandrik!"

"Hancurkan mulut kotor itu, Lancang Puri!" perintah Nyai Gandrik dengan nada tegas dan berkesan bengis. Lancang Puri hanya anggukkan kepala tipis. Lalu ia biarkan bibinya pergi membawa Dewa Rayu yang terluka parah.

"Hei, tunggu...! Kurusuh meletakkan pemuda itu kok malah dibawa lari?! Gandrik...! Gandrik...! Aduuuh... itu orang kenapa jadi tuli, ya?"

Wuuttt...! Harimau Jantan yang banci itu segera melesat mengejar Nyai Gandrik yang berlari cepat sambil memanggul Dewa Rayu. Tapi gerakan Harimau Jantan terhalang karena serangan tenaga dalam dari tangan kanan Lancang Puri. Tenaga dalam itu melesat tanpa warna dan menghantam rusuk kiri Harimau Jantan. Buuugg...!

"Uuhg...!" Harimau Jantan mengejang dalam keadaan terlempar dan jatuh berdebam di tanah cadas, ia mengerang sejenak dengan wajah menyeringai. Sementara itu Nyai Gandrik sudah semakin jauh dalam pelariannya.

"Kalau kau nekat mengejar bibiku, kau akan lebih menderita lagi, Harimau Banci!" kata Lancang Puri yang sudah mengenal lelaki itu.

"Bibimu mencuri kekasihku!" kata Harimau Jantan sambil berdiri. "Aku sedang naksir pemuda itu, tapi dibawanya lari. Tentu saja aku marah. Mengapa kau melarangku mengejarnya?"

"Dewa Rayu akan menjadi obat bagi bibiku! Kau jangan mengganggunya lagi! Carilah pria lain yang pantas menjadi pasangan cinta edanmu itu, Karto Kusir!"



"Aku tidak mau! Aku kepingin pemuda itu!"

"Kalau kau masih nekat mengejar bibiku, aku terpaksa bertindak lebih kasar lagi padamu, Karto Kusir!"

"Eh, kau kira aku takut padamu? Kau kira aku takut? iya?" sambil mulutnya maju, dimonyong-monyongkan dengan genit, ia meliuk ganjen dengan bersungut-sungut. Lalu bibirnya mencos sana-sini ketika berkata,

"Biar kamu muridnya Resi Demang Sudra, aku tak gentar melawanmu. Kecantikanmu pun tak sebanding dengan kecantikanku. Bagaimanapun juga lelaki akan mengatakan aku lebih ayu, lebih manis darimu. Hmmm...! Kusosor baru kapok kau!"

Kemudian Harimau Jantan nekat berlari mengejar Nyai Gandrik. Tetapi Lancang Puri segera lepaskan pukulan seperti tadi dan tepat kenai punggung Harimau Jantan. Buuhg...! Gasruuuk...! Harimau Jantan tersungkur ke tanah.

"Eh, copot...! Aauh...!" pekiknya bernada genit-genit menjijikkan. Hampir saja kumisnya menyapu tanah kalau kedua tangan tak segera bertumpu dan menyentak naik dengan cepat. Tak heran jika dalam sekejap kurang ia sudah berdiri dan berpaling kepada Lancang Puri. Orang itu walaupun berbadan gemuk, tapi kelincahannya melebihi orang yang berbadan kurus.

"Kurangajiiiaar...!" umpatnya dengan bibir miring tajam hampir mirip gagang centong nasi. "Tindakanmu sudah keterlaluan, Lancang Puri. Aku harus memberi pelajaran baru untukmu! Hiaaah...!"

Harimau Jantan melompat dan menerjang Lancang Puri. Oleh perempuan itu terjangan tersebut justru disambut dengan terjangan lebih cepat lagi. Tubuh mereka saling beradu di udara. Bruuuss...! Des, des...! Pangkal telapak tangan Lancang Puri berhasil menyodok dagu Harimau Jantan dua kali. Tetapi kedua tangan Harimau Jantan pun berhasil mencakar dada Lancang Puri yang hanya tertutup pinjung sebatas belahan dadanya. Breet...!

Ketika mereka sama-sama terpental dan bangkit berdiri kembali, Harimau Jantan meludahkan darah dari mulutnya. Rupanya mulutnya berdarah karena hantaman telapak tangan Lancang Puri tadi. Dua giginya tanggal, dua lagi hampir ikut rontok, hanya goyang sedikit. Sedangkan dada mulus Lancang Puri menjadi terluka. Luka goresan itu sangat dalam, karena tiba-tiba saja tadi jari-jari Karto Kusir yang banci itu dapat keluarkan kuku runcing yang tak begitu tajam, mirip kuku seekor harimau.

Dengan napas terengah-engah karena menahan sakit di dagunya yang terasa remuk, Harimau Jantan berkata setelah melihat dada lawannya koyak tiga baris.

"Tak akan ada obatnya! Jurus 'Cakar Harimau Siang' akan membusukkan sekujur tubuhmu. Sampai tengah malam nanti kau akan mati dalam keadaan membusuk sekujur tubuh tanpa kecuali. Racun itu sulit ditawarkan, sama halnya dengan Racun Edan Cumbu-mu itu. Hik, hik, hik...!"

"Jahanam kau, Karto Kusir!" geram Lancang Puri dengan mata menyipit dendam dan kedua tangan menggenggam kencang, ia merasakan panas luar biasa pada luka-lukanya, namun berusaha ditahannya kuat-kuat.

"Kau akan menjadi wanita terbusuk di dunia. Hik, hik, hik, hik...! Jika kau mau sembuh, kau harus dapatkan kembali pemuda tampan itu untukku, maka aku akan memberikan obat penawar racun 'Cakar Harimau Siang' itu!"

"Persetan dengan ucapanmu! Kubalas dengan kematianmu, Karto Kusir! Hiaat!" Pedang pun segera dicabut dari sarungnya. Sraang...! Lancang Puri memainkan jurus kembangan sebentar dengan menebas-nebaskan pedang ke sekelilingnya. Harimau Jantan hanya menyeringai sambil melangkah ke samping, membentuk lingkaran untuk pelajari kelemahan Lancang Puri.

"Pakailah sepuluh pedang biar hatimu puas. Kau tak akan bisa menggoreskan pedang itu ke tubuhku, Lancang Puri! Kau tak akan bisa kalahkan aku!"

"Lihat saja jurus pedangku, Manusia kotor!" geram Lancang Puri makin merasa tersinggung karena ejekan itu. Maka dengan cepat ia segera melompat maju dan pedangnya ditebaskan ke samping kanan-kiri, lalu berkelebat miring dari kanan ke kiri. Wuuutt....' Weesss...! Tubuh lawan lompat mundur tepat pada waktunya. Akibat lompatan mundur itu, pedang Lancang Puri selalu temui tempat kosong.

Tetapi Harimau Jantan sama sekali tak menduga kalau tebasan pedang menyamping itu telah lepaskan sinar kuning melebar dan langsung menyergap dadanya. Jlaaab...! Beegh...!

Sinar kuning dari tepian pedang bagaikan menghantam dada dengan sangat kuat. Tubuh gemuk berdada keras bagai batu gunung itu tersentak mundur dan terlempar jauh ke belakang. Blaaak...! Tubuh gemuk itu jatuh terkapar dengan kedua tangan terentang.

"Aaahhg...!" suara kecil meraung kesakitan. Tapi toh nyatanya Harimau Jantan masih bisa bangkit berdiri  dengan terbatuk-batuk sesaat. Dada itu tidak jebol, bahkan membekas merah atau biru juga tidak. Hal itu membuat mata Lancang Puri terkesiap heran.

"Biasanya jurus 'Pedang Belerang' bisa menjebolkan dada orang, tapi kenapa dada itu masih utuh tanpa luka membekas sedikit pun? Luar biasa lapisan tenaga dalamnya! Tanpa lapisan tenaga dalam yang kuat tak mungkin dada itu menjadi sekokoh gunung batu," pikir Lancang Puri sambil memainkan pedangnya sekadar menunggu saat menyerang selanjutnya.

Sementara itu, orang yang mengintai dari balik celah batuan cadas itu berkata dalam hatinya, "Sebaiknya kutunggu Lancang Puri pergi ke pantai dan kuikuti secara diam-diam. Kalau dia kuserang sekarang juga, maka aku tidak bisa mengetahui di mana kitab pusaka itu disembunyikan."

Suto Sinting dan Logo tiba di tempat itu dari arah seberang si pengintai. Pada waktu Suto tiba di sana, Harimau Jantan sedang lakukan serangan dengan goloknya. Lompatannya yang menyerupai lompatan seekor harimau menerkam mangsa itu tidak dihindari oleh Lancang Puri. Tetapi tiba-tiba Lancang Puri sentakkan pedangnya ke depan bagai dihujamkan. Bertepatan dengan itu, dari ujung pedang melesat jarum-jarum emas yang banyak jumlahnya. Zraab...!

Jarum-jarum emas itu menerjang tubuh Harimau Jantan. Golok segera ditebaskan dengan cepat untuk singkirkan jarum-jarum itu. Percikan api terlihat saat golok menyala merah dan membentur jarum-jarum emaa. Tetapi gebasan golok itu tidak mampu menyingkirkan semua jarum yang jumlahnya cukup banyak itu. Sebagian jarum ada yang menerjang ke tubuh Harimau Jantan baik di dada maupun di pundak atau tempat lainnya. Jraabb...!

"Aaaahg...!" Harimau Jantan terpekik lagi. Tapi kali ini ia berhasil berdiri dengan tubuh mengejang. Tubuh itu akhirnya berlutut, kepala terdongak ke atas menahan sakit. Asap mulai keluar dari tubuh itu. Tampak perubahannya begitu nyata, tubuh tersebut segera menghitam, rambut-rambut rontok, alis dan kumis yang tebal juga rontok.

"Tak lama lagi kau akan mati hangus seperti para pendeta itu, Karto Kusir!" geram Lancang Puri tak sadar di belakangnya ada Suto dan Logo.

Zlaaap...!

Pendekar Mabuk berkelebat cepat melebihi anak panah setelah menenggak tuak sebentar. Lalu tubuh yang mengepulkan asap dan nyaris menjadi hangus itu disembur dengan tuak dalam mulut Suto.

Brrruuss...!

Jurus 'Sembur Husada' dilakukan oleh Pendekar Mabuk demi selamatkan Harimau Jantan dari ancaman mati hangus seperti Pendeta Mata Lima itu. Kehadiran Suto ternyata sempat mengejutkan Lancang Puri. Ia segera memasukkan pedangnya. Sementara itu matanya kembali memandangi Harimau Jantan dan kejadian aneh kembali membuat mata perempuan cantik itu terperanjat heran.

Tubuh Harimau Jantan yang nyaris mati terbakar hangus itu berubah menjadi kecoklat-coklatan. Kulitnya yang semula mulai mengelupas menjadi terkatup rata kembali. Harimau Jantan tak jadi mati terbakar hangus, bahkan ia menjadi sehat walau terpaksa terkulai lemas beberapa saat. Tapi dilihat dari keadaan kulit tubuhnya, jelas kekuatan api dahsyat di dalam tiap jarum emas itu telah mampu dipadamkan oleh semburan tuak Suto Sinting.

"Mengapa kau menolongnya? Dia orang jahat! " kata Lancang Puri. Suto Sinting menjawab diiringi senyum tipisnya,

"Sejahat-jahatnya dia, kurasa lebih jahat wajah cantikmu, Lancang Puri! Rupanya kaulah yang membunuh Pendeta Mata Lima dan Pendeta Jantung Dewa!"

Lancang Puri diam, lidahnya bagaikan kelu sesaat. Tapi batinnya berkata,

"Sial, dia sudah mendengar ucapanku tadi! Sekarang ganti aku yang diintainya. Kemarin dia yang kuintai saat melawan Siluman Tujuh Nyawa. Rahasia jurusnya sempat kuketahui tapi rahasia kekejianku sekarang justru diketahui olehnya. Tentu saja rahasia jurus 'Jarum Emas'-ku juga diketahuinya. Apa boleh buat, kurasa aku harus mengakuinya daripada dia mengecamku sebagai wanita pembohong. Kurasa dengan mengakui perbuatanku, dia punya peniiaian baik tersendiri padaku."

"Apakah kau juga yang menenggelamkan kedua biara itu ke dalam bumi, Lancang Puri!" tanya Suto ingin tahu.

Perempuan cantik itu akhirnya menjawab, "Tidak. Bukan aku yang melenyapkan reruntuhan biara dan para mayatnya. Aku hanya membantai mereka karena ingin kuasai ilmu yang ada di dalam Kitab Lorong Zaman. Tentang menghancurkan biara dan melenyapkannya itu tugas dari bibiku; Nyai Gandrik!"

"Tak kusangka kau sekejam itu, Lancang Puri."

"Aku terpaksa melakukannya karena Kitab Lorong Zaman sulit dicuri sebelum kedua pendeta itu mati!"

"Berarti tindakanmu itu tidak terpuji."

"Terserah apa anggapanmu. Kubutuhkan jurus-jurus di dalam Kitab Lorong Zaman, karena ada sesuatu yang ingin kuambil dari masa lalu guruku."

"Sesuatu apa?"

"Panji-panji Mayat!"

Bukan Suto Sinting saja yang berkerut dahi, tapi orang yang bersembunyi di celah batuan cadas itu juga berkerut dahi. Bahkan orang itu berkata dalam hatinya,

"Kalau tak salah, mendiang guru pernah ceritakan tentang pusaka bernama Panji-panji Mayat. Benda itu adalah sebuah bendera. Siapa yang membawa benda Panji-panji Mayat, ia akan menjadi orang yang mampu membangkitkan mayat di mana pun berada dan mempunyai sejumlah pasukan mayat yang tunduk pada perintahnya. Konon pusaka Panji-panji Mayat pernah dimiliki oleh seseorang yang menjadi raja dengan jumlah rakyat terdiri dari orang yang pernah mati. Bahkan ilmu orang yang pernah mati itu dapat disedot dan diambil menjadi milik si pemilik Panji-panji Mayat. Tapi... apakah Suto Sinting mengetahui hal itu?"

Suto Sinting menyimpan pertanyaan dalam hatinya. Kini yang dilontarkan adalah pertanyaan lain, "Apakah kitab itu sekarang ada padamu, Lancang Puri?"

"Tidak ada!" jawab Lancang Puri dengan tegas.

"Jujurlah padaku. Kitab itu perlu diselamatkan agar tidak menjadi bahan incaran para tokoh sesat dan dipergunakan untuk keperluan yang dapat mengacaukan kehidupan di muka bumi."



"Kalau kau kehendaki kitab itu juga, sama saja kau kehendaki nyawaku, Suto. Bagaimanapun juga aku tak akan berikan kitab itu pada siapa pun! Kupertaruhkan dengan selembar nyawaku, Suto!"

"Aku tidak menghendaki pertarungan denganmu, Lancang Puri. Tetapi barangkali kau perlu belajar dari pengalaman. Aku siap memberimu pelajaran."

"Tantanganmu  cukup halus, Suto!" kata Lancang Puri dengan tersenyum sinis. "Tapi percayalah, aku tak akan menghindari tantanganmu. Akan kulayani tantangan itu apa pun jadinya nanti!"

Pada saat itu Suto Sinting hanya tersenyum, tak mau mengawali serangan lebih dulu. Bahkan ia bermaksud membujuk dengan kata-kata saja. Tapi mendadak Harimau Jantan bangkit dan langsung lepaskan serangan jarak jauh berupa sinar biru dari telapak tangannya. Claapp...!

Lancang Puri Tangkas dan sigap, ia segera kibaskan tangan kanannya berkelebat ke kiri. Dari lengan jubahnya keluar sinar merah lebar dan menjadi perisai bagi sinar birunya Harimau Jantan. Blaarr...!

"Tahaan...!" seru Suto seraya berdiri di pertengahan jarak antara Harimau Jantan dan Lancang Puri. Harimau Jantan memandangi Suto dengan heran dan segera menyapa dengan suara perempuannya,

"Siapa kau? Berani betul kau menahan seranganku, hah?!"

Suto Sinting memaklumi jika Harimau Jantan tidak mengenalinya lagi, sebab setiap orang yang disembuhkan dengan jurus 'Sembur Husada' setelah sembuh akan lupa tentang siapa Suto. Kenangan dalam otaknya ikut lenyap bersama penyakit yang disembur memakai tuak, karenanya ia tidak akan mengenali Suto lagi. Mau tak mau Suto menjelaskan dari awal siapa dirinya dan kapan pertemuannya, barulah orang tersebut mengenali Suto dan teringat kembali hal-hal yang pernah dialami bersama Suto.

Tetapi kali ini Suto Sinting tidak sempat berikan penjelasan kepada Harimau Jantan karena serangan dari pihak Lancang Puri datang secara beruntun. Serangan itu berupa kibasan pedang yang memancarkan sinar kuning ke mana-mana, sehingga Suto dan Harimau Jantan bagaikan dihujani sinar kuning yang dapat menjebolkan dada manusia itu. Clap, Clap, Clap, Clap, Clap...!

Suto Sinting dan Harimau Jantan menghindarinya saling berlompatan. Tapi pada satu kesempatan, sinar itu menghantam pinggang kiri Suto ketika Suto menangkis sinar kuning lainnya dengan bumbung tuak. Dees..! Pendekar Mabuk jatuh terpental ke arah bebatuan cadas, sedangkan tubuh gemuknya Harimau Jantan juga terlempar karena hantaman sinar kuning yang berserabutan itu.

Melihat Suto jatuh, Logo tak mau diam saja. Ia segera melompat dan berkelebat menendang punggung Lancang Puri. Buuhg...! Tendangan itu sangat telak dan keras. Lancang Puri bukan saja jatuh tersungkur namun juga terseret maju hingga berguling-guling. Jika tidak terhalang dua batu besar setinggi lutut, tubuh Lancang Puri masih terguling-guling karena hentakan keras tendangan itu. Dan melihat Lancang Puri terkapar di sana, Logo segera berlari dengan dua lompatan besarnya, lalu kaki kanannya siap-siap menginjak kepala Lancang Puri. Pada saat itu Suto Sinting terperanjat dan berseru,

"Jangan...!"

Tapi agaknya Logo mau nekat memecahkan kepala Lancang Puri dengan kaki besarnya. Hanya saja, sekelebat sinar perak kecil melesat dan menghantam lengan anak jin itu. Dess...! Sekalipun bentuknya sinar perak kecil tapi rupanya mempunyai tenaga dorong yang luar biasa besarnya.

Tubuh anak jin yang marah melihat Suto diserang itu segera terlempar bagaikan daun yang terhempas badai. Wuuusss...! Lalu ia jatuh terpelanting mendekati sebuah pohon besar yang tumbuh dengan daunnya yang rindang. Brruk.! Anak jin itu menggeram jengkel. Kakinya menendang batang pohon besar itu.

Duuurr...!

Daun-daun berguguran nyaris menimbun tubuhnya yang masih terkapar di tanah. Sementara itu orang yang melepaskan pukulan jarak jauh berupa sinar putih perak itu segera muncul dari persembunyiannya. Orang itulah yang mengintai dari celah bebatuan cadas sejak tadi.

"Angin Betina!" sapa Suto Sinting sambil bergegas menghampiri wanita berpakaian hitam ketat dan berambut acak-acakan itu. "Untung kau mampu menyingkirkan Logo. Apakah kau sudah sejak tadi bersembunyi di sana?"

"Ya, dan aku juga mendengar di mana kitab itu disembunyikan. Tapi secara tepatnya belum kuketahui. Sebaiknya biarkan perempuan itu melarikan diri, kita ikuti dari belakang saja. Dia pasti mengambil kitab itu di pantai."

"Di pantai?" Suto balas bersuara bisik. Anak jin itu berdiri dan hendak menyerang Lancang Puri yang sudah bangkit dengan mulut berdarah sedikit. Lancang Puri sendiri siap lepaskan serangan.

Tapi Pendekar Mabuk segera berseru,

"Tahan! Jangan lakukan serangan apa pun, Logo! Tahan amarahmu!"

Logo diam bagaikan patung, tapi matanya mendelik lebar menyeramkan dengan mulutnya meringis menyeringaikan suara geramannya. Lancang Puri mundur dengan siap-siap lepaskan jurus 'Jarum Emas'-nya jika Logo maju menyerang. Tanpa bilang apa-apa, Lancang Puri segera melesat pergi larikan diri. Hatinya hanya membatin,

"Sebaiknya menyelamatkan diri daripada melawan mereka! Mereka bukan orang tandinganku jika menyerang secara keroyokan. Pasti aku akan mati konyol dan akhirnya tak jadi pelajari ilmu di dalam kitab itu! Apa kata mereka, biarlah. Yang penting aku harus segera lari dan membawa kitab itu dari tempat persembunyiannya!"

"Biarkan dia lari," ulang Angin Betina dalam bisikannya kepada Suto.

Pendekar Mabuk perhatikan Harimau Jantan, takut kalau Harimau Jantan menyerang Lancang Puri dari jarak jauh. Tapi rupanya Harimau Jantan justru sedang berlutut dan kakinya gemetaran melihat sosok hitam Logo yang bertubuh lebih besar dan lebih tinggi darinya itu. Wajah Harimau Jantan menjadi pucat ketika Logo melangkah dekati Suto yang berarti harus melewati depannya. Tubuh itu kian gemetaran, sisa kumisnya yang masih menempel namun sudah telanjur terbakar jarum emas tadi menjadi rontok kembali.

Melihat Harimau Jantan ketakutan, Suto Sinting dekati orang itu dan menepuk pundaknya seraya berkata, "Jangan takut!. Dia bukan makhluk jahat!"

"Tap... tapi... tapi dulu aku pernah ditendang jin waktu buang air di bawah pohon. Aku jera dan takut ditendang lagi. Dulu aku tak bisa buang air besar selama tujuh hari gara-gara ditendang jin...!"

"Dia anak jin, tapi tidak segalak dugaanmu. Dia anak yang baik semasa kita bersahabat baik dengannya."

Logo perdengarkan suaranya yang besar tapi masih bernada bocah, "Aku mau kejar dia!"

"Jangan!" cegah Angin Betina. "Kita ikuti saja dia dari kejauhan!"

Suto menyahut, "Kau saja yang mengikutinya, Angin Betina. Aku akan potong jalan menuju pantai secepatnya bersama Logo. Aku akan menyusuri pantai untuk menghadangnya sewaktu-waktu lolos darimu."

"Baik!"

Harimau Jantan yang takut melihat Logo segera menyahut, "Aku pulang saja! Toh aku sudah membalas kematian ketiga muridku dari tangan Urat Setan!"

"Bagaimana dengan pemuda yang dibawa lari Nyai Gandrik itu?" tanya Angin Betina kepada Harimau Jantan.

"Hmmm... eh..biarlah. Aku cari pemuda ganteng lainnya. Yang ini juga boleh," sambil tangannya mencubit dagu Suto Sinting.

Bertt...! Buuhk...! Angin Betina berkelebat memutar tubuh dan menendang dada Harimau Jantan. Dada sekeras batu itu berhasil terguncang keras dan tubuh Harimau Jantan tumbang ke belakang. Angin Betina menghampirinya dan dengan tegas ia mengancam, "Jangan mengusik dia kalau kau tak ingin hancur di tanganku!"



*

* *



8

PANTAI yang dituju Lancang Puri adalah pantai berdinding tebing karang pada sebelah timur dan barat. Di pantai itu terdapat sebuah makam kuno yang menurut cerita para tokoh tua adalah makam seorang tokoh sakti bernama Ki Balantara. Makam itu sudah puluhan tahun ada di pantai tersebut. Sebagian tanahnya sudah membatu. Konon jika air laut sedang pasang, makam itu tak pernah terendam air. Bahkan jika ombak menyapu sampai tepian hutan, makam itu tak pernah terkena ombak, sehingga keadaannya selalu kering.

Lembayung senja mulai menua. Matahari di cakrawala kian tenggelam. Tapi suasana senja tidak membuat Lancang Puri lupa dengan tempat itu. Bibinya telah membawa lari Kitab Lorong Zaman dari Biara Genta dan menyimpannya di sela-sela bebatuan bagian kiri makam Ki Balantara.

Sementara Nyai Gandrik membawa lari kitab pusaka itu, Lancang Puri pun disuruhnya lari berbeda arah untuk memancing Urat Setan yang juga menghendaki kitab tersebut. Dengan cara begitu Nyai Gandrik dapat membawa lari kitab pusaka itu dengan bebas tanpa penghadang satu pun. Justru orang akan terkecoh dan menyangka kitab ada di tangan Lancang Puri. Tetapi mereka sebelumnya sudah sepakat untuk menyimpan kitab di tempat itu, untuk kemudian akan diambil Lancang Puri jika keadaan sudah aman dan dibawanya lari ke Pulau Sabung, tempat Perguruan Perisai Sakti berada. Pulau Sabung letaknya tak seberapa jauh dengan Pulau Lanang, sehingga sewaktu-waktu Nyai Gandrik bisa berkunjung ke perguruan milik keponakannya itu. Tetapi alangkah kecewanya Lancang Puri ketika mengetahui kitab itu tidak ada di tempat yang dijanjikan dan disepakati dengan bibinya. Batu-batu dibongkarnya semua, pasir dikeruknya, tapi kitab tersebut tetap tidak ditemukan. Lancang Puri menjadi berang dan jengkel sekali.

"Bibi menipuku!" geramnya penuh kemarahan. "Kitab itu pasti dibawanya ke Pulau Lanang untuk dipelajari sendiri! Jahat!" Lancang Puri menendang bongkahan batu yang segera melayang dan pecah di udara. Prakk! Gemuruh kemarahan di dalam dada semakin ingin meledakkan seluruh tubuhnya. Napas pun terengah-engah karena tak bisa lampiaskan kemarahan kepada bibinya. Lancang Puri sama sekali tak menduga kalau bibinya akan berkhianat.

"Aku harus melabrak Bibi ke Pulau Lanang! Tak peduli dia bibiku sendiri jika menghalangi niatku pelajari ilmu Kitab Lorong Zaman, akan kulawan dengan pertaruhkan nyawaku!"



Sepasang mata Angin Betina yang mengintip dari atas pohon memperhatikan gerakan-gerakan Lancang Puri, sehingga ia dapat menyimpulkan apa yang terjadi pada diri Lancang Puri.

"Ternyata ia ditipu oleh bibinya sendiri. Hmm...! Berarti kitab itu sekarang ada di tangan Nyai Gandrik! Aku harus merebutnya dengan cara bagaimanapun. Mungkin aku memang harus menyusulnya ke Pulau Lanang!"

Angin Betina masih di atas poon berdaun lebat. Keadaannya di atas pohon tak mudah diketahui orang dari bawah, karena dahan pohon itu sendiri tumbuh bersilang-silang dengan rapat.

Dari atas pohon itu juga, Angin Betina melihat gerakan seseorang yang berlari menembus hutan. Pandangan mata yang tak sengaja itu membuatnya tercengang, dan segera mengejar orang tersebut dari pohon ke pohon bagaikah seekor kelelawar betina. Angin Betina lakukan pengejaran terhadap orang itu karena dilihatnya tangan kiri orang itu menentang sebuah kitab berwarna hijau dan berukuran sedikit besar serta tebal.

Dalam waktu singkat, Angin Betina mampu menghadang langkah orang yang membawa kitab berwarna hijau tua itu. Jleeg...! Orang itu kaget melihat Angin Betina tahu-tahu sudah berada di depan langkahnya. Angin Betina menyapa lebih dulu dengan nada ketus dan sinis.

"Ternyata kau yang mencuri Kitab Lorong Zaman itu, Harimau Jantan?!"

Dengan suara genitnya Harimau Jantan menjawab, "Kebetulan saja. Saat kucari Urat Setan, kutemukan Lancang Puri dan Nyai Gandrik sedang berembuk tentang kitab ini. Lalu kulihat Nyai Gandrik sembunyikan kitab ini di dekat makam Ki Balantara. Lalu kuikuti dia, ternyata dia mau colong kekasihku, si tampan yang dihajar Lancang Puri itu. Aku sakit hati sekali. Sakiiit... sekali! Maka kucuri saja kitab ini sebagai ganti dibawanya si tampan itu!"

"Sekarang kitab itu serahkan padaku."

"Tak bisalah, ya...?!" ia melengos ganjen. Kitab didekap. "Aku juga mau pelajari ilmu yang ada di dalamnya."

Tiba-tiba sekelebat benda kuning emas menyerang Harimau Jantan dari belakang. Zraabb...! Ternyata benda kuning emas itu  adalah sekumpulan jarum beracun milik Lancang Puri. Rupanya Lancang Puri mendengar suara orang berlari dan ia mengikutinya sampai tempat tersebut.

Jarum beracun ganas yang mematikan itu tak bisa dihindari lagi oleh Harimau Jantan. Tubuhnya mengejang dan dalam sekejap ia telah tumbang menjadi hangus seperti nasib kedua pendeta kakak-beradik itu. Semua pakaian dan goloknya juga ikut terbakar. Tetapi Kitab Lorong Zaman tetap utuh tanpa bekas hangus sedikit pun.

Melihat Harimau Jantan mati hangus, Angin Betina segera menerjang mayat itu sebelum rubuh. Wuuutt...! Bresss...! Mayat itu terpental dan Kitab Lorong Zaman sudah berada di tangan Angin Betina.

Lancang Puri berang. "Jahanam! Serahkan kitab itu!" teriaknya keras-keras.

Angin Betina hanya memandang dengan mata galaknya tapi dengan senyum kemenangan. Sementara itu kitab diselipkan di sabuk hitam yang melilit pada pinggangnya. Pedang masih bersarung tetap digenggam di tangan kiri, kapan saja siap dicabut.

"Cepat serahkan kitab itu atau kuakhiri masa hidupmu?!" bentak Lancang Puri dengan mata mendeiik penuh kecemasan-bercampur kemarahan.

"Kau yang pantas mengakhiri masa hidup karena tanganmu berlumur darah! Dua biara kau bantai sedangkan mereka tidak bersalah kepadamu. Sungguh tindakan yang menyerupai naluri seekor binatang."

"Setan kau! Tak perlu banyak bicara! Kubuktikan ancamanku tadi. Hiaaah...!"

Angin Betina cepat cabut pedangnya ketika pedang Lancang Puri berkelebat ingin membelah kepalanya. Trangng...! Pedang itu ditangkisnya. Suaranya menggema ke mana-mana. Trang, trang... traang...! Wut, wut, wut... trang!

Kedua perempuan itu beradu kecepatan bermain pedang. Gerakan jurus pedang mereka begitu cepat, sehingga sulit diikuti oleh mata manusia biasa. Tetapi Angin Betina ternyata mampu bergerak menyamai gerakan angin. Dalam kejap berikutnya, pedangnya berkelebat dalam gerak tipuan. Lancang Puri salah hindar, akibatnya pinggangnya tersabet pedang Angin Betina. Craass...!

"Aaahg...!" Lancang Puri tersentak mundur dan melayang jatuh karena setelah tersabet pedang, kaki Angin Betina menendangnya dengan kuat. Brrukk...!

Angin Betina sedikit terperanjat melihat tubuh Lancang Puri jatuh tepat di depan kaki seorang perempuan berjubah hitam. Perempuan itu tak lain adalah Nyai Gandrik, Bibi Lancang Puri yang disangka telah berkhianat.

"Kau memang punya jurus pedang hebat, Angin Betina! Tapi tetap saja harus menebus kekalahan keponakanku dengan nyawamu!"

"Nyai Gandrik, sekalipun kau sahabat mendiang guruku, tapi aku tidak akan mundur demi pertahankan kitab ini!"

"Bagus! Bersiaplah untuk menerima akibatnya, Angin Betina!"

Selesai bicara begitu, kedua tangan Nyai Gandrik bergerak mempertemukan ujung jari tengah kiri dan kanan. Dari ujung jari tangan itu melesat sinar kuning ke atas, lalu jatuh ke bawah tepat di atas kepala Angin Betina. Tentu saja Angin Betina tidak mau pandangi sinar kuning yang melesat ke atas itu, karena takut kehilangan kewaspadaan dan dapat dicuri kesempatannya pada saat ia memandang ke atas. Nyai Gandrik dapat lepaskan pukulan mautnya saat Angin Betina mendongak ke atas.

Tetapi rupanya gerakan sinar kuning yang seperti bola itu dilihat oleh Suto Sinting dari pantai. Pendekar Mabuk menghantam sinar kuning itu dari kejauhan dengan pukulan 'Surya Dewata' yang bersinar ungu itu.

Blaarrr...! Sinar kuning itu meledak di udara sebelum jatuh ke kepala Angin Betina. Itu pun tak membuat mata Angin Betina mendongak ke atas. Matanya tetap tertuju kepada Nyai Gandrik yang terkejut melihat sinar kuningnya meledak di angkasa.

"Pasti itu pekerjaan Pendekar Mabuk yang berada di pihakmu, Angin Betina!"

"Aku tak peduli pekerjaan siapa, yang jelas kalau kau nekat menyerangku maka aku pun akan menyerangmu, Nyai Gandrlki"

"Persetan dengan kata-katamu! Hiaaah...!"

Nyai Gandrik sentakkan kedua tangannya ke samping, dan tiba-tiba tubuhnya bercahaya merah membara. Cahaya merah itu melesat bagai membentuk kepingan ke arah Angin Betina. Angin Betina melawan kepungan itu dengan tebasan pedangnya yang mampu bergerak sangat cepat dan hadirkan angin kencang berhawa panas. Namun sinar-sinar merah itu agaknya tak bisa ditembus oleh kekuatan ilmu lain, sehingga akhirnya tubuh Angin Betina dihantam cahaya merah lebar membungkus diri. Zlaapp...! Wuuurrb...!

"Aaaahg...!"

Angin Betina mengejang dengan wajah menyeringai kesakitan. Tubuhnya berubah menjadi merah membara bagaikan tanpa kulit lagi. Pada saat itu Suto Sinting, berkelebat dari arah samping. Sinar merah dari tubuh Nyai Gandrik itu dihantam dengan kibasan bumbung tuaknya. Wuuukk...! Blaarr...!

Sinar merah itu bagaikan membalik arah karena terkena bumbung tuak. Kini tubuh Nyai Gandrik terhempas dan membentur pohon. Tubuh Angin Betina sudah padam, tak menyala merah lagi. Tapi keadaannya terkulai lemas dengan napas kian menipis.

Suto Sinting segera tuangkan tuak ke mulut gadis berwajah cantik liar itu. Ia lakukan hal itu agar tak terlambat kehilangan nyawa Angin Betina. Entah berapa teguk tuak diminumkan ke mulut Angin Betina. Yang jelas mata Suto memandangi Nyai Gandrik yang terlempar dalam keadaan kulitnya terkelupas itu. Perempuan tersebut menggeram panjang. Ingin lakukan penyerangan lagi namun segera bimbang. Akhirnya ia segera menyambar Lancang Puri yang masih bernapas namun terluka parah itu. Dalam keadaan wajah dan tubuh melepuh dan terkelupas, Nyai Gandrik menggeram tinggalkan ancaman,

"Suatu saat akan kubalas kekalahanku ini! Tunggu saat yang baik, Suto!"

Wuuuttt...! Ia masih mampu bergerak cepat dan pergi membawa Lancang Puri. Rupanya ia menyimpan perahu di sebelah timur tebing. Di perahu itu terdapat tubuh Dewa Rayu yang masih terluka parah. Dengan perahu itu ia membawa pergi kedua orang tersebut ke Pulau Lanang, sementara Suto Sinting segera membantu Angin Betina yang mulai sadar dan memegangi Kitab Lorong Zaman. Logo hanya diam saja, memandangi keadaan Angin Betina dengan wajah menampakkan kelegaannya. Sebenarnya Logo ingin ajukan usul untuk mengejar Nyai Gandrik, tapi belum-belum Suto sudah berkata,

"Biarkan dia lari. Siapa tahu dia jera dan tak mau menjadi pencuri lagi!"

Angin Betina meraih pundak Suto, lalu dibimbing untuk berdiri. Napasnya masih terengah-engah walau tak terlalu memburu. Kitab Lorong Zaman dicabut dari pinggangnya. Dipandanginya beberapa saat, lalu ia berkata kepada Suto,

"Aku akan minta pendapat Resi Wulung Gading dulu, bolehkah pelajari isi kitab ini sementara pemiliknya sudah dibunuh oleh mereka?"

"Itu langkah yang baik! Tak ada jeleknya kalau sekarang kita singgah dulu ke Muara Singa, esok baru pergi menghadap Resi Wulung Gading."

"Kau akan mendampingiku, Suto?"

"Kalau kau tak keberatan."

Senyum Angin Betina mekar dengan indah dan manis sekali. Ia berkata dalam bisik, "Sepanjang masa pun, aku tak akan pernah keberatan didampingimu."

"Kalau sepanjang masa, itu namanya ngelunjak!" canda Suto Sinting yang membuat mereka tertawa kecil. Tapi Logo tidak mau tertawa dan bahkan berwajah cemberut. Sepertinya ada yang tidak berkenan di hati anak jin itu.

Suto heran dan bertanya, "Kenapa kau tidak ikut tertawa, Logo?"

Anak jin itu menjawab, "Katanya kau ingin kawin dengan ibu, tapi kenapa sekarang berkasih-kasihan dengan Angin Betina?!"

Suto diam, saling pandang dengan Angin Betina yang langsung kehilangan senyum cerianya begitu mendengar kata-kata Logo.

SELESAI