--> -->

Serial Pendekar Mabuk 37 Racun Gugah Jantan

SEKELEBAT bayangan melintas menuju arah utara. Begitu cepatnya gerakan yang dilakukan hingga tak terlihat bentuk dan wajah orang yang berlari itu. Arah yang dituju sangat jelas sebuah bukit di pesisir pantai utara. Bukit itu tak seberapa tinggi, na-mun menjadi patokan bagi para nelayan untuk menandai arah pantai utara. Bukit yang bagian puncaknya berbidang datar mirip tanah lapang yang dikelilingi pohon pada lerengnya itu selalu menjadi incaran orang-orang yang berada di tengah laut.

Jika mereka mulai melihat bukit yang banyak ditumbuhi pohon jati merah, maka itulah pertanda mereka mulai mendekati wilayah pantai utara tanah Jawa. Karenanya bukit itu dinamakan Bukit Mata Laut.

Tak heran jika sekelebat bayangan yang melintas itu dapat dengan mudah menemukan letak Bukit Mata Laut, karena ia menggunakan ciri pepohonannya yang terdiri dari pohon jati merah itu. Dalam waktu singkat sekelebat bayangan tersebut telah mencapai lereng bukit. Kejap berikutnya ia telah mencapai puncak bukit dan berhenti di balik sebuah pohon.

"Oh, ternyata sudah banyak orang? Apakah mereka sekadar ingin menyaksikan pertarungan ini atau juga ingin ikut terjun dalam pertarungan?' pikir sosok bayangan tadi yang ternyata seorang gadis berpakaian kuning gading. Gadis jelita itu berambut pendek, ada poni dikeningnya. Pedang di pinggang berbatu ungu pada gagangnya. Gadis cantik itu mempunyai tato gambar bunga mawar di pergelangan tangan yang menandakan bahwa ia adalah murid Perguruan Mawar Seruni, mendiang gurunya bernama Nyai Punding Sunyi. Gadis cantik itu tak lain adalah Kirana, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Lentera Kematian").

Dulu Kirana selalu mendampingi seorang pendekar tampan yang bergelar Pendekar Mabuk yang punya nama Suto Sinting itu. Dia menyimpan perasaan suka pada sang pendekar, tetapl tak pernah dicetuskan melalui kata-kata. Rasa suka kepada sang pendekar disimpannya saja di dalam hati, sebab Kirana tahu Pendekar Mabuk sudah mempunyai kekasih, calon istri yang amat dicintainya, yaitu Gusti Mahkota Sejati yang bernama asli Dyah Sarinlngrum, penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi di Pulau Serindu. Rasa cinta yang terpendam dan mau mengalah untuk tidak menampakkan tuntutannya itulah yang membuat Kirana nadir di Bukit Mata Laut tersebut.

Ketenaran nama Pendekar Mabuk di kalangan para tokoh persilatan membuat sang pendekar selalu menjadi pusat perhatian dan pembicaraan mereka, sehingga dalam waktu yang amat singkat kabar tersebut me-nyebar dengan cepat menyusupi telinga-telinga mereka.

Kabar itu tak lain adalah kabar tentang pertarungan Pendekar Mabuk yang akan dilakukan di Bukit Mata Laut. Lawannya dari Tanah Hindus, seorang perwira kepercayaan Raja Kulana Baham bernama Syakuntala. Tantangan Syakuntala itu terjadi di tengah laut ketika kapalnya berpapasan dengan perahu yang digunakan Pendekar Mabuk menuju Pulau Selayang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Tabib Darah Tuak").

Kabar yang cepat menyebar membuat para tokoh rimba persilatan berdatangan mengunjungi Bukit Mata Laut. Pada umumnya mereka yang datang adalah orang-orang yang sudah mengenal kesaktian Syakuntala dan kehebatan ilmunya Pendekar Mabuk. Mereka ingin menyaksikan dengan matanya sendiri seperti apa pertarungan dua tokoh sakti tersebut. Mereka ingin tahu, siapa yang unggul dalam pertarungan itu.

Tetapi ada pula yang hadir di Bukit Mata Laut untuk mewakili tantangan Pendekar Mabuk dalam menghadapi Syakuntala. Umumnya mereka yang mempunyai perasaan cinta terhadap sang pendekar tampan itu merasa tak rela jika Suto Sinting dilukai oleh Syakuntala. Mereka ingin tampil sebagai perisai sang pendekar. Hasrat seperti itulah yang membuat Kirana hadir di Bukit Mata Laut dengan segenggam harapan dapat membuktikan pembelaan dan kesetiaannya terhadap Suto Sinting.

Tetapi ketika Kirana ingin bergerak mendekati tanah lapang yang sudah dihadiri orang banyak itu, tiba-tiba langkahnya terhentl karena seseorang berkelebat mendekatinya. Kirana sempat terkejut karena kehadiran orang tersebut bagaikan muncul secara tiba-tiba dari arah samping kirinya.

"Kirana," sapa orang itu.

"Oh, kau...!" Kirana hampir berkelebat menendang orang itu karena gerak nalurinya. "Kau sangat mengejutkan diriku, Citradani! Hampir saja aku menendangmu."

"Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkan dirimu, Kirana," ucap Citradani dengan tersenyum kecil. Wanita cantik yang mengenakan pakaian merah jambu itu adalah murid dari Perguruan Bang Putih yang usianya dua puluh empat tahun, sejajar dengan usia Kirana. la pernah bertemu dengan Pendekar Mabuk ketika terusir dari perguruannya karena menghilangkan kalung pusaka 'Lintang Suci' milik sang Guru yang jika nama aslinya disebutkan akan menghadirkan angin badai dan guntur berhamburan.

"Apakah kau datang sendirian, Citradani?"

"Ya. Aku mewakili Guru Embun Salju untuk menyaksikan pertarungan Suto dengan Syakuntala," jawab Citradani sambil melangkah menuju ke arena per­tarungan. la menyambung kata,

"Guru Embun Salju pernah bertempur melawan Syakuntala, jadi beliau tahu persis kekuatan Syakuntala. Menurut beliau, Syakuntala orang berbahaya. Ilmunya cukup tinggi dan bersifat liar. Jika tidak berilmu tinggi ia tidak akan dijadikan panglima Tanah Hindus. Sejujurnya saja, Guru Embun Salju merasa cemas mendengar kabar Syakuntala akan bertarung melawan Suto Sinting. Guru mencemaskan keselamatan Suto Sinting, sebab itu aku dikirim untuk membayang-bayangi Suto jika dalam bahaya yang akan merenggut jiwanya."

"Kudengar Syakuntala itu memang orang berilmu tinggi. Tapi bagaimanapun juga aku merasa masih mampu menghadapi Syakuntala. Tak perlu Suto yang maju. Aku sudah selesaikan pelajaran baru dari Kitab Gatra Lelana. Kurasa Syakuntala cukup menghadapiku saja daripada menghadapi Suto Sinting."

"Hati-hatilah dalam bertindak, Kirana. Guru pun berpesan padaku agar jangan bertindak gegabah terhadap Syakuntala, karena ia mempunyai jurus yang mampu dilepaskan secara tiba-tiba dan sangat di luar dugaan kita."

Kirana hanya tersenyum tipis. Citradani tak tahu bahwa Kirana sekarang sudah diangkat menjadi ketua Perguruan Mawar Seruni sejak berhasil menamatkan pelajaran dari Kitab Gatra Lelana. Tentu saja ilmunya tidak seperti dulu lagi. Karenanya ia merasa sangat yakin dapat tumbangkan Syakuntala dengan bekal ilmu barunya itu.

"Citradani, perhatikan gadis cantik yang didampingi oleh Nyai Paras Murai dan Hantu Tari itu! Apakah kau mengenalnya?"

Mata Citradani tertuju pada gadis bermahkota kecil di kepalanya. Jubahnya ungu, pakaian dalamnya kuning, rambutnya disanggul sebagian. Ada dua pengawal di bagian belakangnya. Salah satu pengawal dikenal oleh Citradani sebagai tokoh yang bernama Batu Sampang.

"Dia yang sekarang menjadi ratu di Muara Singa. Dialah yanq dulu dikenal dengan nama Tandu Terbang."

"Oh...?! Jadi gadis itulah yang ada di dalam Tandu Terbang itu?"

"Benar. Namanya sekarang dikenal sebagai Ratu Galuh Puspanagari. Kabarnya Suto Sintinglah yang merebutkan takhta untuknya dan menjaga dari rencana penggulingan takhta yang akan dilakukan oleh Raja Tumbal. Suto Sinting yang berhasil membunuh Raja Tumbal.

Kabarnya pula ratu itu adalah murid Pendeta Arak Merah dari Tibet. Kesaktiannya sedikit berkurang sejak ia menduduki takhta sebagai Ratu di negeri Muara Singa. Tapi sisa kesaktiannya masih membuatnya d-pandang sebagai tokoh beriimu tinggi juga." (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Tandu Terbang").

"Dari mana kau tahu tentang dia?"

"Gusti Guru Embun Salju belum lama ini berkunjung ke negeri Muara Singa, karena punya hubungan baik dengan kakak angkat sang ratu bernama Purnama Laras. Orang yang berjalan paling depan itulah yang bernama Purnama Laras."

"Menurutmu apa rencananya datang kemari?" tanya Kirana penuh selidik.

"Mungkin sama dengan kita, ingin melihat keunggulan Suto Sinting, atau ingin membuktikan siapayang unggul dalam pertarungan nanti."

"Barangkali mereka akan kecewa, karena Suto Sinting tak akan berhadapan dengan Syakuntala. Orang yang akan menumbangkan Syakuntala adalah aku sendiri."

Citradani mendesah, "Ah, jangan sebodoh itu, Kirana. Urungkan niatmu!"

Kirana hanya tersenyum sinis, tapi bukan karena benci kepada Citradani, melainkan bersikap meremehkan nasihat sahabatnya itu. Kirana dan Citradani membaur dalam kerumunan orang-orang yang menunggu saat pertarungan dimulai. Agaknya pihak Syakuntala sudah siap sejak tadi dengan jumlah anak buahnya yang berkumpul di sisi timur.

Ternyata yang ingin menyaksikan pertarungan seru itu bukan hanya Palupl, si Ratu Puspanagari itu, melainkan juga ada tokoh lain yang menaruh simpati dan menyimpan kekaguman terhadap Pendekar Mabuk. Antara lain: Ki Argapura, si jago pedang yang pernah mengajarkan jurus pedangnya kepada Suto. Delima Gusti, putri Adipati Suralaya, yang pernah terlibat masalah bersama Suto dalam peristiwa Cambuk Getar Bumi.

Kelana Cinta, mata-mata dari Ringgit Kencana yang selalu menjadi wakil Ratu Asmaradani. Prasonco alias Raja Maut, sahabat karib gurunya Suto Sinting; si Gila Tuak. Hadir juga di situ Bongkok Sepuh alias si Setan Arak, yang pernah diselamatkan Suto Sinting dari ancaman maut ilmu 'Darah Gaib' dan 'Bias Dewa' itu. Tak ketinggalan pula Batuk Maragam yang bernama asli Brajamusti juga ada di situ bersama gadis yang ingin menjadi muridnya; Camar Sembilu. Serta beberapa tokoh lain yang masing-masing punya rasa kagum kepada kependekaran murid sinting si Gila Tuak dan Bidadari Jalang itu.

Tetapi mereka menyimpan pertanyaan dalam hati karena Suto Sinting belum kelihatan tampil di situ. Bagi mereka, sangat mustahil jika Suto Sinting sebagai Pen­dekar Mabuk yang belakangan ini disebut-sebut sebagai Tabib Darah Tuak itu akan ingkar janji dengan tidak menghadiri pertarungan tersebut. Suto Sinting pasti datang. Tapi mengapa sampai hari menjadi lewat siang sang pendekar tampan itu belum muncul juga? Adakah sesuatu yang menghambat langkahnya menuju Bukit Mata Laut'.

Terdengar percakapan Batuk Maragam dengan Bongkok Sepuh yang ada di samping Ki Argapura dan Raja Maut,

"Suto pasti datang. Sebab saat kami berada di Pulau Selayang, Suto sudah bilang padaku bahwa ia harus penuhi tantangan pertarungan dengan Syakuntala. Mestinya aku yang akan menghadapi Syakuntala, tapi ia wanti-wanti sekali agar aku tidak merusak rencananya menundukkan panglima Tanah Hindus itu.

Uhuk, uhuk, uhuk ..... '

Mendengar batuknya Brajamusti, mata Syakuntala di seberang sana memandang dengan beringas. Batuk Maragam mengetahui sorot pandangan mata bekas lawannya yang pernah dipotong jari kelingkingnya itu, tapi Batuk Maragam tidak melayani sikap tersebut. Karena Raja Maut segera bertanya dan ia harus memberi penjelasan kepada sahabatnya itu,

"Apa yang membuat Suto Sinting harus bertarung dengan Syakuntala di sini?"
"Sebenarnya ini akibat siasat dari, uhuk, uhuk...!"
"Siasat uhuk, uhuk itu yang bagaimana?"

"Aku sedang batuk! Jangan diartikan sebagai bahasa mulut!" gerutu Batuk Maragam. "Sebenarnya ini akibat siasat Suto yang ingin menghindari murka Sya­kuntala terhadap perahu kami. Jika Suto tidak gunakan tantangan seperti ini, maka akan timbul korban tak ber-salah di perahu kami yang kala itu membawa Jelita Bule dan Pesona Indah ditambah si anak desa Pande Bungkus itu."

Batuk Maragam jelaskan pula tujuan perahu mereka menuju pulau Selayang, karena ingin menolong Ratu negeri Malaga yang bernama Ratu Rangsang Madu dari pengaruh racun ganas milik mendiang Nyai Sunti Rahim. Racun itu hanya bisa disembuhkan oleh darah Pendekar Mabuk yang disebut-sebut sebagai Tabib Darah Tuak.

Sedangkan Syakuntala sendiri kala itu juga bermaksud membawa Suto sebagai Tabib Darah Tuak yang harus sembuhkan Raja Kulana Baham, pe-nguasa Tanah Hindus yang menderita sakit tak tersembuhkan, hanya dengan bantuan Tabib Darah Tuaklah penyakit itu bisa disembuhkan. Sedangkan Raja Kulana Baham itu adalah raja yang lalim, licik dan gemar menjajah kemerdekaan negeri lain, (Baca serial Pen­dekar Mabuk dalam episode : "Tabib Darah Tuak").

Tantangan itu menyebutkan, jika Syakuntala bisa kalahkan Suto Sinting dalam pertarungan, maka Suto akan mau dibawa ke Tanah Hindus, tapi jika tidak, maka Syakuntala tidak akan bisa membawa Tabib Darah Tuak. Mau tak mau akan pulang ke Tanah Hindus dengan tangan hampa tanpa sang tabib. Hal itu dilakukan oleh Suto Sinting sebagai pengajaran bagi raja Tanah Hindus sendiri atas perbuatan kejinya selama ini yang mendapat upah penyakit kutukan tak tersembuhkan itu. Pada dasarnya, Batuk Maragam dan Jelita Bule sendiri tidak setuju jika Suto Sinting pergi ke Tanah Hindus, sebab banyak bahaya yang akan membuat Suto Sinting tak dapat keluar dari sana.

Syakuntala tampak tak sabar. Orang bercambang dan berkumis lebat itu mondar-mandir dengan gelisah. Kepalanya yang gundul menjadi mengkilap karena ter-panggang matahari. la mengenakan baju putih tanpa lengan dan celana putih ketat bawah membentuk keke-karan kakinya, seakan kuda-kudanya tak mungkin bisa dipatahkan lawan. Pedang lengkung di pinggang dari perak hias selalu dipegang gagangnya, bagai tak sabar ingin segera mencabutnya. Matanya yang bulat lebar, tubuhnya yang berotot gepal, dua anting di kanan kiri telinganya itu, benar-benar membuat penampilan Syakuntala tampak menyeramkan. la tak merasa malu wa-lau tahu banyak mata yang tertuju pada kelingkingnya yang cacat karena terpotong dalam pertarungan dengan Batuk Maragam itu.

Karena tak sabar, Syakuntala berteriak dengan berangnya, "Mana Pendekar Mabuk itu?! Apakah dia bersembunyi di balik ketiak wanita?! Seharusnya kalau dia takut menghadapiku, datang saja dan bersujud di hadapanku, aku pasti akan mengampuni mulut besarnya yang hanya bisa berkoar-koar penuh sampah itu!"

Mendengar pendekar idamannya dihina, Kirana menjadi panas hati. Memang sebenarnya bukan hanya Kirana saja yang panas hati mendengar hinaan itu. Palupi, Kelana Cinta dan beberapa wanita pengagum Suto Sinting juga merasa hatinya bagaikan disiram air men-didih. Tapi mereka bisa menahan diri. Hanya Kirana yang kurang bisa menahan diri, sehingga dengan Ian-tang ia berseru dari tempatnya,

"Hei, Gundul Kopong...! Bicaralah dengan hati-hati sebelum kepala gundulmu menggelinding ditebas jari kelingking Pendekar Mabuk!"

Mata Syakuntala tertuju kepada Kirana, memandang dengan tajam. la segera tampil di arena yang terbentuk dengan sendirinya karena dikelilingi para penonton yang hadir di situ. Di tengah arena itu Syakuntala menuding Kirana sambil berkata keras-keras,

"Siapa kau, Gadis Peot?! Kalau kau merasa tak senang dengan hinaanku, majulah kemari dan hadapi aku!"

Wuuut...! Kirana tanpa berpikir panjang lagl lang-sung melompat dan tiba-tiba sudah berada di tengah arena. Beberapa mata yang melihat kejadian itu memandang tegang. Beberapa hati berkata, Terlalu bera-ni gadis itu!"

"Aku sudah di sini! Sekarang mau apa kau?!" tantang Kirana dengan tegas.
"Sepertinya kau tak rela jika aku menghina Pendekar Mabuk si Tabib Darah Tuak itu!"

"Tantanganmu itu pun sudah termasuk menghina dan menyinggung perasaanku, Kepompong Gundul! Kau pikir kau bisa unggul menghadapi Pendekar Mabuk? Tidak! Kau akan tumbang dan pulang tinggal nama. Tapi jika kau bertarung melawanku, kau masih punya keuntungan, yaitu dapat pulang bersama nyawamu walau akhirnya di sana pun kau akan kehilangan nyawa juga."

"Mulut lancang!" geram Syakuntala dengan mata melebar ganas. "Apa maumu sebenarnya, Gadis Edan?!"

"Aku mewaklli Pendekar Mabuk! Kau tidak akan bisa bertarung melawannya sebelum mampu menumbangkan diriku, Kepompong Sawah!"

"Jahanam! Hiaaat...!"

Tangan orang gundul itu menyentak tiba-tiba dengan bentuk jari seperti cakar elang. Dari tengah telapak tangannya itu melesat selarik sinar merah. Bentuknya seperti besi panjang yang membara. Slaaap...! Sinar merah itu menuju dada Kirana. Tapi gadis itu dengan cepatnya menyentakkan kakinya ke depan dengan tendangan miring. Dari sisi kaki itu keluar gelombang bersinar biru yang menghantam sinar merah tersebut. Claaap.-.l Wuuusss...! Blaaar...!

Kirana terpental tak seberapa jauh. Tapi ia masih bisa berdiri walau pandangan matanya sedikit buram karena pancaran sinar ledak tadi. la segera tarlk napas dan pandangan matanya kembali normal. Pada saat itulah ia melihat Syakuntala melompat dan mencabut pedangnya untuk ditebaskan dari atas kanan ke bawah kiri. Wuuuttt...!

Traaang...! Kirana mampu bergerak cepat mencabut pedangnya dan menangkis tebasan itu. Kakinya berkelebat lagi menendang wajah Syakuntala. Tetapi kaki itu justru dihantam oleh kepalan tangan kiri Syakuntala. Deees...! Keduanya sama-sama tersentak mundur dua tindak.

"Pukulannya mengandung hawa panas yang tinggi," pikir Kirana. "Kakiku terasa dibakar seketika. Untung hawa murniku cepat tersalur ke bawah. Aku harus hati-hati dengan pukulannya itu."

Syakuntala kembali menyerang dengan jurus pedangnya yang membuat tubuhnya melompat sana-sini membingungkan pandangan lawan. Kirana menghadapinya dengan jurus baru, sebuah jurus pedang yang dilakukan dengan memutar tubuh bagaikan gangsing. Gerakan pedangnya sampai timbulkan bunyi menggaung karena cepatnya. Gerakan memutar itu pun membingungkan Syakuntala karena setiap pedang yang ditebaskan selalu saja mengenai pedang Kirana.

Trang, trang... trang... tring, taaang... trang... !

Sepuluh jurus tebasan pedang tak berhasil lukai tubuh Kirana. Pandangan mata Syakuntala dibuat bingung membedakan mana pedang dan mana baglan tu­buh Kirana. Syakuntala segera mundurkan diri. Wuuut...!

Dalam jarak lima langkah ia berdlri tegak membiarkan Kirana berputar-putar terus tanpa sadar bahwa lawannya sudah berhentl menyerang dan sedang memperhatikan. Salah seorang penonton menjadi pusing dan mual perutnya melihat tubuh Kirana berputar secepat gangsing itu.

Sllaapp...! Kirana akhirnya berhenti berputar cepat. la tidak merasakan pusing sedikit pun, sehingga ia bisa berdiri tegak menghadap Syakuntala. Tapi di luar dugaan, tiba-tiba Syakuntala lepaskan senjata rahasianya berupa logam menyerupai bentuk ujung panah yang melesat cepat dari sentakan tangan kiri.

Zlaaab, zlaaab, zlab...!

Kirana cepat kibaskan pedangnya. Trang, tring...! Jrrub...! Satu dari tiga logam putih itu menghantam tepat di bawah pundak kiri Kirana.

"Aahg...!" Kirana terpekik dan oleng ke belakang. la mundur dengan terhuyung-huyung dan pegangl pundaknya yang terluka itu. Benda tersebut sudah telanjur terbenam di daging bawah tulang pundak.

Sakitnya bukan main. Kirana menjadi pucat pasi dan jatuh terkulai di dekat kaki Bongkok Sepuh.

Citradani segera menuju ke tempat Kirana. Bongkok Sepuh menolong Kirana, tapi wajah Kirana semakin pucat. Tak ada darah yang keluar dari luka itu kecuali warna daging yang memerah saja.

"Celaka! Senjata rahasfa Itu mengandung racun tinggi!" kata Bongkok Sepuh.

"Kirana...! Kau terluka parah. Berbahaya sekali!" kata Citradani. Wajahnya tegang melihat Kirana semakin pucat dan semakin lemas. Kulit tubuh gadis itu mulai membiru di sekitar luka.

"Tengkurapkan dia!" kata Batuk Maragam. Citradani memiringkan tubuh Kirana. Lalu, telapak tangan Batuk Maragam menghantam pundak belakang Kirana dengan satu sentakan mengejutkan. Dddus...!

Slaaap...! Logam putih beracun yang terbenam di tubuh Kirana itu melesat keluar. Barulah darah keluar dari luka tersebut. Tapi darah yang keluar sudah bercampur dengan racun ganas sehingga warnanya bukan merah lagi, melainkan hitam bercampur larutan warna hijau tua.

"Dia terkena 'Racun Getah Mayat' Sulit disembuhkan. Sebentar lagi pasti akan mati," kata Batuk Maragam. "Bawa keluar dari sini, biar kuobati sebisaku! Siapa tahu dia akan uhuk, uhuk, uhuk, ihiiiik ......... heoeek...!"

Batuk Maragam tak bisa lanjutkan kata-katanya karena sakit batuk menyerang lagi. Citradani membawa Kirana keluar dari lingkaran orang-orang yang membentuk arena pertarungan itu.

Sementara Kirana ditangani oleh Batuk Maragam, Syakuntala semula ingin mengejar Kirana dan membunuhnya hingga mati. Tapi gerakan liarnya itu segera ditumbangkan oleh pukulan jarak jauh tanpa sinar.

Wuuut...! Beehg...! Tubuh lelaki berlengan kekar dan berkulit hitam itu tersentak ke arah lain, melayang kehilangan keseimbangan tubuh, lalu jatuh terpelanting di depan kaki tiga anak buahnya. Brruk...!

"Bangsat licik! Siapa yang menyerangku tadi!" bentaknya dengan suara keras dan kasar. Ketiga anak buahnya segera gelengkan kepala saat mata Syakuntala menatap mereka.

"Bukan saya yang menyerangnya, Tuan!"

Plook...! Anak buah yang bicara itu ditampar keras ke kanan hlngga melintir bagai seseorang sedang me-nari. Orang itu lalu jatuh terduduk dengan wajah menyeringai karena pipinya hangus dan berasap. Itu pertanda bahwa Syakuntala benar-benar marah besar hingga tak sadar tenaga dalamnya tersalur keluar melalui telapak tangan yang digunakan menampar tadi.

"Siapa yang menyerangku tadi, hah?!" teriak Syakuntala sambil berjalan ke tengah arena. Lalu, terdengar suara seorang gadis berseru tegas,

"Aku...!" Kemudian gadis itu tampil ke tengah arena. Gadis itu tak lain adalah Palupi, si Ratu Galuh Puspanagari.

"Galuh, tahan dan kendalikan dirimu!" bisik Purnama Laras.

"Akan kulawan dia!" ujarnya sambil melangkah maju ke arena. Batu Sampang ingin bergerak maju, tapi tangannya segera ditahan oleh Purnama Laras.

"Biarkan! Dia ingin lampiaskan perasaannya terhadap Suto dan musuh Suto!"

Palupi tampil sebagai wanita berpakaian indah karena memang ia seorang ratu. Tetapi Nyai Paras Murai, Hantu Tari, Batu Sampang, dan Purnama Laras sendiri menjaga di sekeliling arena untuk segera berikan bantuan jika terjadi sesuatu yang membahayakan ratu mereka.

"Siapa kau, sehingga berani menyerangku dari samping, hah?!" bentak Syakuntala dengan ganas.

"Aku Palupi! Mungkin kita pernah bertemu di suatu tempat manakala kau mengenalku sebagai Tandu Terbang."

Wajah Syakuntala tampak terperanjat kaget mendengar nama Tandu Terbang. la bersuara menggeram,

"O, rupanya kaulah orang yang ada di dalam tandu itu?! Baik. Kita memang pernah bertemu dan mengadu kesaktian ketika di Selat Madagaskar. Waktu itu aku kalah, tapi kali ini aku tak akan kalah lagi!"

"Tebuslah kekalahanmu itu sekarang juga, Syakuntala. Kau memang lebih baik berhadapan denganku daripada dengan Suto Sinting yang hanya akan melenyapkan nyawamu dalam waktu kurang dari lima hitungan!"

"Kutebus kekalahanku dulu, Biadab! Heeeaaah...!" Tandu Terbang yang sekarang lebih senang meng-aku bernama Palupi itu segera menyentakkan dua jarinya ke depan. Suuut...! Tubuh berkepala gundul yang melayang hendak tebaskan pedangnya tersentak mun-dur. Duuss...!

Seberkas sinar kuning kecil menghantam perut Syakuntala. Sinar kuning kecil itu seperti sinar bertenaga lima banteng murka. Syakuntala tak mampu menahan diri, sehingga tubuhnya melayang terbuang ke belakang dan menabrak dua anak buahnya. Brruuusss...!

"Heeg...!" salah satu anak buahnya terpekik tertahan karena tubuhnya terkapar dan kejatuhan badan kekarnya Syakuntala yang berperawakan tinggi besar itu.

Orang itu mendelik bagai tak bisa bernapas. Syakuntala sendiri menahan sakit dengan menggeletukkan gigi dan mengancing mulut rapat-rapat.

Rasa mual yang amat kuat membuat Syakuntala akhirnya tak mampu menahan diri dan muntah di tempatnya jatuh itu. Isi perutnya terkuras keluar tanpa pe-duli muntahnya itu membasahi kaki anak buahnya yang masih terkapar menahan sakit karena tertindih tubuh Syakuntala tadi.

"Kusarankan, batalkan saja pertarungan ini demi keselamatanmu, Syakuntala!" kata Palupi dengan tegas dan berkesan penuh wibawa. Tapi hal itu justru membuat Syakuntala menjadi semakin berang. la segera bangkit dan maju ke arena.

"Jangan punya niat mengguruiku, Tandu Terbang! Kurobek mulutmu sekarang juga dengan pedangku ini! Hiiaaah...!"

Wuuut... wwwuus...!

Pedang itu ditebaskan ke tubuh Palupi. Tapi dengan gerakan cepat Palupi mampu melenting ke atas dan bersalto satu kali. Jleeg...! la telah mendarat di be­lakang Syakuntala dengan kedua kaki merenggang sigap. Syakuntala segera balikkan badan sambil layangkan tendangan kakinya yang bergerak memutar itu.

Wuuss...! Plak, plak, plak! Wuuuss...! Des, dess...!

Dua pukulan telapak tangan Palupi kembali kenai dada Syakuntala. Tubuh kekar itu tersentak mundur tiga tindak dalam keadaan melengkung. Dari mulutnya keluar darah beberapa percik akibat pukulan telapak tangan bertenaga dalam itu.

Namun Syakuntala masih penasaran dan tetap lakukan pembalasan. la meraba pedang lengkungnya dengan tangan kiri dari gagang sampai ke ujung. Lalu pedang itu segera dikibaskan ke arah tubuh Palupi. Kibasan itu memercikan tiga larik sinar merah dari kedua tangan kanan-kirinya itu. Seber-kas sinar putih perak menyatu dalam kelebatan berben-tuk gelombang-gelombang besar.

Blaaar...! Gelegaaaarrr...!

Ledakan dahsyat terjadi dari benturan dua jenis sinar itu. Palupi terpental jauh dari tempatnya, karena jarak pertemuan dua sinar itu lebih dekat dengan diri-nya. Sedangkan Syakuntala terpental sekitar tiga tindak ke belakang dalam keadaan jatuh terduduk, tidak seperti Palupi yang terkapar dengan wajah memucat, darah keluar dari mulut dan hidungnya.

Ledakan itu timbulkan getaran pada bumi, seakan bukit itu ingin terbelah menjadi dua bagian. Beberapa orang yang ada di situ juga berjatuhan karena guncangan mendadak tersebut.

RAJA MAUT memandang dengan tegang, demikian pula yang lain. Ki Argapura berkata kepada Bongkok Sepuh, "Tandu Terbang agaknya telah kehilangan ilmunya cukup banyak sejak menjadi seorang ratu. Berbahaya sekali jika ia nekat bertarung dengan Syakuntala!"

"Memang. Pertarungan ini tidak seimbang, harus dicegah!" Bongkok Sepuh hendak bergerak maju ke arena, tapi pundaknya segera dicekal oleh Batu Maragam yang berkata,

"Jangan campuri pertarungan ini. Kita hanya sebagai penonton saja, supaya Pendekar Mabuk tidak merasa kecewa andai ia menang melawan Syakuntala. Kalau toh kita harus campuri, akulah yang lebih berhak campur tangan karena Syakuntala bekas musuh lamaku."

"Tapi ratu cantik itu bisa mati kalau masih mencoba melawan Syakuntala!"

Raja Maut segera berseru kepada Nyai Paras Murai yang berdiri tak jauh darinya, "Paras Murai, cegah orangmu agar jangan masuk ke arena!"

Nyai Paras Murai hanya mengangguk. Tapi ketika itu Hantu Tari bergegas mendekatl Purnama Laras dan berkata, "Kalau kita tak turun tangan, sang Ratu bisa binasa di tangan Syakuntala!"

"Sabarlah. Jangan mengumbar kemarahan," kata Purnama Laras berkesan bijak.

Batu Sampang berkata, "Izinkan saya menandingi Syakuntala!"

"Jangan. Sebaiknya kita bawa keluar saja sang Ratu itu!"

Tetapi Hantu Tari tampak geram dan benci sekali memandangi Syakuntala yang bersiap-siap lanjutkan pertarungan, sementara Palupi masih menggeliat dalam keadaan terkapar.

"Aku harus bertindak sekarang juga!" geram Hantu Tari.

Hantu Tari, tahan...!" seru Nyai Paras Murai ketika Hantu Tari berkelebat masuk ke arena hendak menyerang Syakuntala.

Gerakan yang tertahan membuat Hantu Tari jengkel kepada gurunya dan berseru, "Dia melukai Palupi! Ini saat terbaik untuk membalasnya."

"Jangan! Urus dulu sang Ratu, lukanya cukup berbahaya!"

Hantu Tari terpaksa segera angkat tubuh Palupi dan membawanya ke tepi arena. Sementara itu Syakuntala segera bangkit, menggerakkan kedua tangannya dengan kerahan tenaga berotot. Seakan ia sedang lakukan penyembuhan dengan permainan napasnya agar tubuhnya kembali segera seperti sediakala.

"Tandu Terbang! Kau tak bisa hentikan pertarungan Ini sebelum nyawamu kucabut dari raga! Heiaaah...!"

Syakuntala kembali menyerang Palupi, padahal Palupi sudah dalam perlindungan Hantu Tari, Purnama Laras, dan Batu Sampang. Gerakan berbahaya Syakuntala itu segera dipatahkan oleh pukulan tenaga dalam tanpa sinar dari Nyai Paras Murai. Wuuuut...! Buuhg...!

"Uuhg...!" Syakuntala terpekik tertahan. Karena pada saat itu pula muncul serangan tanpa sinar dari jarak jauh. Serangan itu datang bersama melesatnya sesosok tubuh yang masuk ke dalam arena. Jleeg...!Kelana Cinta yang sejak tadi bersedekap menyak-sikan pertarungan itu kini menedahkan kata lirih,

"Sumbaruni...?"

Wanita cantik berpakaian serba ungu itu tak lain adalah Pelangi Sutera, alias Sumbaruni, bekas istri jin, bekas panglima negeri dasar laut: Ringgit Kencana, yang berarti pula bekas atasannya Kelana Cinta.

Melihat lawannya yang maju kali ini, Syakuntala sedikit kecilkan matanya. Tapi pandangannya masih tajam, Kedua pukulan jarak jauh yang mengenai tubuhnya tidak membuatnya lemah setelah menarik napas dan menahannya di rongga dada dan perut.

"Kaukah yang bernama Sumbaruni?!" geram Syakuntala dengan mata kian mengecil menatapi wajah ayu Sumbaruni.

Wajah cantik berkesan gaiak itu tak mau sunggingkan senyum, tapi bicaranya sangat tegas dan jelas.

"Aku memang Sumbaruni, yang dulu pernah melukai rajamu sekian tahun yang lalu. Sekarang agaknya kau ingin mengikuti jejak penyakit rajamu itu, Syakuntala!"

"Aku tak punya urusan denganmu!"
"Sekarang kau mempunyai urusan denganku. Karena Pendekar Mabuk tak kuizinkan bertarung melawanmu!"

"Mengapa kau ikut campur pertarungan ini?! Apa hakmu mencampuri urusanku dengan Tabib Darah Tuak itu!"

"Aku pelindungnya dan pengawal setianya! Jika kau ingin menghadapi Pendekar Mabuk, kau harus melangkahi mayatku lebih dulu!"

"Kulayani keinginanmu, Sumbaruni. Heaaah...!"

Syakuntala tampak semakin ganas melawan musuhnya yang sekarang. Sumbaruni bukan wanita yang mudah ditumbangkan. Ilmunya tinggi dan mampu mengukur kekuatan lawannya dengan ilmu 'Getar Sukma' yang dimilikinya. Syakuntala yakin, Sumbaruni berani tampil dl arena karena wanita itu sudah mengukur ilmu lawannya yang dirasakan lebih rendah darinya. Terbukti, tebasan pedang dan serangan tenaga dalam Syakuntala sejak tadi mampu ditangkis dan dihindari oleh Sumbaruni.

Sampai-sampai, Syakuntala sendiri membatin dalam hatinya,

"Bangsat! Sejak tadi seranganku dipatahkan terus oleh jurus-jurusnya. Kudengar dia mempunyai jurus 'Anak Rembulan' yang dapat melumpuhkan lawan. Aku harus hindari agar ia tidak lepaskan jurus itu. Kudului dengan melepaskan 'Racun Ludah Naga' yang akan membuatnya tak berdaya.Tanpa menggunakan racun itu aku tak bisa melukai tubuhnya!"

Syakuntala memainkan jurus rendah. Tangannya berkelebat ke sana-slnl sambil yang kanan pegangi pedang. Gerakan tangan dan tubuhnya yang meliuk-liuk itu menyerupai gerakan seekor naga sedang mende-kati mangsanya. Tapi tiba-tiba Sumbaruni lepaskan jurus 'Anak Rembulan' berupa sinar kuning seperti bintang yang dilemparkan dari tangan kirinya. Ciaaap...!

Wuuutt...! Tubuh Syakuntala melentak terbang menghindari sinar kuning itu yang segera menghantam tubuh saiah satu anak buahnya. Tapi dalam gerakan menyentak bagaikan terbang itu, tiba-tiba dari mulut Syakuntala keluar cairan hitam yang diiudahkan. Cuuuih...! Ploook...!

Ludah hitam itu kenai leher Sumbaruni walau sudah berusaha untuk dihindari. "Ahh...!" Sumbaruni bagaikan mengeluh dan merasa jijik. Namun kejap berikutnya ia jatuh terkulai berlutut karena seperti kehilangan seluruh tulangnya.

Tubuh itu segera tertunduk lemas bagaikan tak bisa mengangkat kepala. Lehernya membekas hitam tanpa cairan sedikit pun.

"Celakal Dia menggunakan 'Racun Ludah Naga'," ucap Batuk Maragam didengar oleh beberapa orang di sekitarnya. Wajah Batuk Maragam menjadi tegang. Sumbaruni yang terkulai masih berusaha berlutut dengan satu tangan menopang tubuh itu sangat mencemaskan para penonton.

"Saatnya aku melayani mayatmu, Sumbaruni! Hiaaah...!" Syakuntala melompat dengan pedang terangkat di atas. Pedang itu pun segera ditebaskan ke arah leher Sumbaruni. Wuuusss...! Zlaaap...!

Traaak... !

Pedang itu tiba-tiba tertahan oleh sebuah benda yang datangnya tak terlihat mata para penonton. Benda itu adalah bumbung tuak sakti milik Pendekar Mabuk. Dan tiba-tiba tangan Syakuntala yang menghantamkan pedang itu tersentak ke belakang dengan keras, tubuh besar itu pun terpelanting jatuh ke belakang. la bagai mendapat sentakan tenaga yang membalik akibat benturan pedang dengan bumbung tuak.

Suara orang di sekeliling mulai bergumam menggaung bagaikan lebah begitu melihat seorang pemuda berambut lurus panjang sebatas lewat pundak, berpakaian coklat tanpa lengan dan celana putih. Pemuda tampan itu tak lain adalah Pendekar Mabuk. Kedatang-annya membuat para pengagumnya merasa lega, bahkan beberapa orang sempat bertepuk tangan karena girangnya.

Terlambat sedikit saja kedatangan Suto Sinting, maka leher Sumbaruni pasti telah jatuh terpenggal oleh pedang Syakuntala. Sekalipun leher Sumbaruni selamat dari pedang Syakuntala, tapi wanita cantik itu masih tetap terkulai di tanah dalam keadaan bersimpuh dan tertunduk. Tubuhnya menjadi susut beberapa saat setelah terdengar suara Syakuntala berkata kepada Pendekar Mabuk.

"Mengapa baru datang? Apakah kau sengaja ingin menyerangku dari belakang?!"
"Maafkan keterlambatanku, karena aku harus menghadap guruku lebih dulu!"
"Bagus. Berarti kau sudah pamit untuk berangkat ke Tanah Hindus, Tabib Darah Tuak!"
"Justru Guru melarangku pergi ke Tanah Hindus!"

"Gurumu itu memang setan kurang ajar! Akan kupaksa muridnya agar Ikut denganku ke Tanah Hindus!"

"Kalau kau mampu, silakan saja!"

"Kau ingin melawanku dengan senjata atau tanpa senjata?!"
"Terserah mana yang baik menurutmu!"

"Ha, ha, ha, ha...!" Syakuntala tertawa dengan bangga. "Sebaiknya tak perlu gunakan senjata. Kau akan luka dan mati oleh senjataku, nanti bagaimana nasib rajaku jika kau sampai mati? Hmmm.... Bersiaplah menghadapiku, Tabib Darah Tuak!"

Setelah memasukkan pedangnya ke sarung pedang, Syakuntala mulai memamerkan kecepatan gerak tangannya yang menghasilkan tonjolan-tonjolan kuat dan keras pada lengannya. Pendekar Mabuk pun menyelempangkan tali bumbung tuak, sehingga bumbung tuak itu berada di punggungnya dengan aman. Gerakannya cukup sederhana, bahkan bagaikan tak mengeluarkan tenaga dan otot.

Tapi ketika Syakuntala maju menyerang dengan pukulan beruntun, Suto Sinting hanya diam saja. la membiarkan pukulan itu menghantam wajah, dada, serta perutnya beberapa kali. Tapi yang berjeritan dan memekik kesakitan adalah beberapa anak buah Syakuntala. Mereka saling tumbang bagai dihantam pukulan kuatyang membuat mereka memuntahkan darah segar.

"Aahg...!"
"Uuhg...!"
"Hheeg... hoeeek...!"

Syakuntala hentikan serangannya seketika itu pula. la terkejut melihat anak buahnya saling berjatuhan. Ada yang wajahnya memar dan mulutnya pecah bagai habis terhantam pukulan bertenaga dalam. Syakuntala membatin,

"Gila! Yang kuhantam Pendekar Mabuk tapi yang tumbang malah anak buahku?! Kurang ajar! Ilmu konyol apa yang dimiliki si Tabib Darah Tuak ini ? !"

Pendekar Mabuk hanya sunggingkan senyum tipis. Syakuntala tak tahu bahwa Suto telah menggunakan ilmu anehnya yang bernama ilmu 'Allh Raga', mengirimkan rasa kepada orang lain, sehingga pada saat dirinya dipukul yang terasa sakit adalah orang lain. Dengan begitu Syakuntala bagaikan menyerang anak buahnya sendiri. la menjadi ragu-ragu menyerang Pendekar Mabuk.

"Kalau kutebas kepalanya dengan pedang, tak urung yang akan menggelinding adalah kepala anak buahku sendiri," pikirnya dengan bingung. "Lalu bagaimana caraku menghadapinya jika begini?"

Pada saat Syakuntala kebingungan itulah, Suto Sinting segera lepaskan pukulannya yang bernama 'Pukulan Gegana'. Seberkas sinar patah-patah warna kuning melesat dari dua jari tangan Pendekar Mabuk.

Clap, clap, clap...!

Syakuntala terhenyak kaget. Buru-buru ia melepaskan pukulan bersinar hijau diri telapak tangannya. Tapi pukulan balasan itu termasuk terlambat karena jaraknya sudah sangat dekat dengan dada.

Blegaaar...!

Kedua sinar itu beradu dan meledak dengan dahsyat. Hentakan gelombang ledaknya yang menghadirkan hawa panas tinggi itu menghantam tubuh Syakuntala. Seketika itu pula tubuh besar berkulit hitam terlempar dalam keadaan tidak beraturan. Tubuh itu menggelinding berguling-guling di tanah sambil terdengar suara erangan memanjang dari mulut Syakuntala.

"Aaaahhh...!"

Orang-orang menyangka Syakuntala mati. Tapi nyatanya tidak. Syakuntala hanya menderita luka bakar yang menghanguskan sekujur tubuhnya. Matanya menjadi merah dan sebagian cambangnya rontok.

Kulitnya kian hitam bagaikan disambar petir. la sempat berusaha bangkit, tapi jatuh tersungkur kembali bagaikan kehilangan seluruh tenaganya.

"Angkat sang Panglima! Larikan dia!" seru saiah satu anak buahnya. Kemudian dua anak buahnya bergegas menyambar tubuh Syakuntala dan membawanya lari meninggalkan Bukit Mata Laut. Anak buah yang lain Ikut-ikutan melarikan diri. Yang terkena ilmu 'Anak Rembulan' tadi disambar oleh temannya dan ikut dibawa larl. Suto Sinting hanya tersenyum memandangi pelarian tersebut dan tidak berminat untuk mengejarnya. Karena ia segera melihat Sumbaruni berubah menjadi lebih kecil dari wujud aslinya.

"Sumbaruni!" sentak Suto Sinting dengan terkejut dan merasa heran.

Batuk Maragam berkata, "Dia terkena racun 'Ludah Naga', tubuhnya akan berangsur-angsur menjadi kecil. Makin lama akan menjadi seperti bocah."

Sumbaruni berkata lirih, "Cepat, berikan tuak-mu...."

Suto Sinting segera menuangkan tuak ke mulut Sumbaruni dengan pelan-pelan. Tetapi beberapa saat kemudian, setelah Suto Sinting juga meminumkan tuaknya untuk Kirana dan Palupi, ternyata tubuh Sumbaruni tidak berubah seukuran tubuh aslinya. Bahkan tampak berubah menjadi lebih susut lagi.

"Tuakmu tidak akan berhasil untuk menawarkan racun 'Ludah Naga', Suto," kata Bongkok Sepuh. "Racun itu hanya bisa ditawarkan dengan Telur Mata Setan."

Sementara Suto Sinting tertegun tegang memandangi Sumbaruni, Nyai Paras Mural segera menimpali kata,

"llmunya akan mengendap dan tak bisa digunakan lagi. Tapi pikirannya masih mampu digunakan sebagai-mana mestinya."

"Suto... tolonglah aku!" Sumbaruni memandang penuh iba. la berusaha berdirl dengan berpegangan jubahnya Batuk Maragam.

Hati Suto Sinting tersentuh haru melihat Sumbaruni lebih pendek dari ukuran sebenarnya. Raut wajahnya pun mulai kian tampak lebih remaja. la seperti anak gadis berusia sekitar tujuh belas tahun.

"Sumbaruni...!" Suto Sinting meralh tangan Sumbaruni dan segera membimbingnya mendekat. "Apa yang harus kulakukan?"

"Carikan aku Telur Mata Setan. Tubuhku akan kian mengecil jika tidak segera menelan telur keramat itu, Suto," ucap Sumbaruni sambil menahan tangis dengan hati cemas dan duka.

"Di mana bisa kudapatkan Telur Mata Setan itu?"

Tak ada jawaban beberapa saat. Mereka saling berpiklr dalam herring. Tapi tiba-tiba Nyai Paras Murai berkata bagai orang menggumam, sepertinya ditujukan kepada dirinya sendiri,

"Kalau tak salah, aku pernah mendengar Telur Mata Setan itu hanya ada di Gunung Kundalini...."
"Gunung Kundalini?!" gumam Suto Sinting sambil berkerut dahi.

"Sumbaruni harus segera menelan Telur Mata Setan," kata Bongkok Sepuh. "Jika tidak, dalam waktu dekat ia dapat berubah menjadi bayi, lama-lama akan mati juga."

Mereka yang mengerumuni Sumbaruni menjadi merenggang karena kemunculan sosok tilnggi-besar berkulit hitam. Sosok berkepala gundul dengan satu kuncir rambut melengkung ke belakang itu tak lain adalah Logo, anak Sumbaruni dari hasil keturunan Jin Kazmat Itu.

"Ibu...! Ibu...?!" Logo mendekati Sumbaruni dan dipandanginya dengan mata yang besar dan wajah yang penuh keheranan. Sumbaruni memandang anaknya dan segera menepuk-nepuk pundak Logo ketika anak jin itu berlutut di hadapannya.

"Apa yang terjadi, ibu? Mengapa Ibu menjadi kecil dan muda begini?"
"Tidak ada apa-apa. Tidak terjadi apa-apa, Logo. Jangan piklrkan Ibu."

"Aku harus tahu apa yang terjadi, Ibu!" bentak Logo mulai kelihatan kasarnya. Bentakan itu hadirkan getaran yang mampu membuat orang tanpa ilmu tersentak mundur.

Melihat Logo mulai menahan kemarahan, Bongkok Sepuh mencoba meredakan kemarahan itu dengan berkata,

"Ibumu baru saja bertanding melawan Syakuntala dari Tanah Hindus. Ibumu menang. Hanya terkena 'Racun Ludah Naga' yang membuatnya menyusut. Tapi orang Tanah Hindus Itu sekarang sudah lari menderita kekalahan. Lukanya pun parah."

"Syakuntala...!"

Logo menggeram dan kedua tangan menggenggam kuat-kuat. Sumbaruni cemas dan berkata dengan suara dipaksakan lebih keras lagi,

"Ibu tidak apa-apa, Logo! Jangan berbuat yang bukan-bukan, Nak!"

"Sebelum dia mati aku tidak akan pulang temui ibu!" kata Logo lalu segera berlari pergi menerjang beberapa orang yang menghadang jalan. Orang-orang itu buyar seketika takut diterjang kaki berpotongan seperti pilar itu.

"Logooo...!" seru Sumbaruni dengan berlari, tapi ia jatuh tersungkur karena masih lemas. Untung tubuhnya segera disambar tangan Suto hingga ia tak sempat mencium tanah.

"Biar aku yang menahannya!" kata Raja Maut, lalu mengejar Logo.

TUJUH hari perjalanan menuju Gunung Kundalini membuat Suto Sinting semakln dicekam rasa haru. Perjalanan itu tidak dilakukan sendirlan. Sumbaruni ngotot ingin ikut agar begitu Telur Mata Setan ditemukan ia bisa cepat-cepat menelannya. Alasan kuat itulah yang membuat Pendekar Mabuk tidak bisa mencegah Sumbaruni mengikutinya.

Keadaan Sumbaruni yang memprihatinkan itulah yang membuat hati Suto Sinting sering digetarkan oleh keharuan. Betapa tidak, karena sekarang Sumbaruni bukan lagi sosok gadis cantik bermata galak.

Sumbaruni bukan lagi wanita yang lincah dan berilmu tinggi. Sumbaruni sudah menjadi seorang bocah yang tingginya hanya sebatas perut Suto Sinting.

Bukan saja sosok tubuhnya yang menyusut, melainkan pakaiannya pun ikut menyusut menyesuaikan badan. Bahkan pedang di punggungnya pun ikut menjadi kecil. Apa saja yang menempel di tubuh Sumbaruni telah berubah menjadi kecil. Itulah kehebatan "Racun Ludah Naga' yang dimiliki Panglima Perwira Tanah Hindus. Konon hanya beberapa orang saja yang mempunyai ilmu 'Racun Ludah Naga'.

Kini dalam keadaan seperti gadis kecil berusia sepuluh tahun, Sumbaruni tidak bisa banyak berbuat apa-apa. Bahkan terkadang jika ia lelah berjalan, Suto Sinting terpaksa harus menggendongnya. Sikap itu dilakukan Suto Sinting agar Sumbaruni tidak patah semangat dan masih mempunyai gairah hidup.

Betapa pun tabahnya seseorang jika melihat keadaannya makin hari makin menjadi seperti anak kecil, sudah tentu kekecewaannya begitu besar dan mampu mematahkan semangat hidupnya. Namun karena Sumbaruni selalu didampingi Suto Sinting yang gemar mengalihkan kesedihan dengan bercanda, maka semangat mempertahankan hidup masih menyala-nyala di hati sanubari sahabat Gila Tuak itu.

Guntur menggelegar di langit. Awan mendung mulai menutupi mentari sore. Angin berhembus secara alami, bukan karena pengaruh kekuatan gaib apa pun. Hari memang menjadi mendung, sebentar lagi hujan akan turun. Saat itu mereka berdua sudah berada tidak seberapa jauh dari gunung Kundalini. Puncak gunung yang bersalju itu sudah kelihatan dari tempat mereka berjalan.

"Aku yakin di dekat kaki gunung itu ada sebuah desa, Suto. Ada baiknya jika kita mencapai desa Itu sebelum hujan turun dan sore menjadi gelap," kata Sum­baruni.

Walaupun sosok tubuhnya menjadi bocah cilik tapi daya pikir dan kemampuan bicaranya masih seperti orang dewasa. 'Racun Ludah Naga' hanya menyusutkan tubuh dan melenyapkan ilmu, tapi tidak bisa menyusutkan daya pikir dan akal seseorang. Hal itu dianggap sebagai kelemahan 'Racun Ludah Naga', yang konon akan menjadi lebih berbahaya lagi, lebih bisa menyusutkan daya pikir korbannya jika saat dilepaskannya ludah itu keadaan Syakuntala sedang lakukan puasa dan diludahkan dengan hati yang damai.

Tapi karena racun itu diludahkan pada saat hati dibakar Kemarahan dan tidak sedang berpuasa, maka 'Racun Ludah Naga' tak mampu membuat susut pikiran seseorang.Tepat ketika Suto Sinting dan bocah Sumbaruni mencapai sebuah kedai, hujan pun turun dengan deras. Cahaya senja makin remang, tak berapa lagi lagi akan menjadi petang. Hujan itu disertai dengan angin dan badai yang berhembus dengan mengerikan. Kilatan-kilatan cahaya guntur seakan ingin menyambar seluruh permukaan bumi. Kabut menebal di sana-sini, sehingga pemandangan tak bisa terlihat jelas.

"Untung kita sudah tiba di kedai Ini. Jika tidak, pasti kau akan terserang batuk-batuk seperti empat hari yang lalu," kata Suto Sinting kepada bocah Sumbaruni.

"Kalau kau tak menuruti gagasanku untuk mengarah kemari, kau juga tak akan temukan kedai ini, Suto!" bocah Sumbaruni tampak bangga dengan ketepatan gagasannya. Suto Sinting hanya tersenyum sambil manggut-manggut.

"Kau mau makan bubur sayur?" Suto Sinting mena-wari Sumbaruni.

"Perutku sudah telanjur kenyang oleh jadah goreng ini," ujarnya sambil menghabiskan sisa makanan yang sedang dikunyahnya. "Aku minta tuak, ah!"

"Husy! Jangan!" kata Suto Sinting agak berbisik. "Jika kau minum tuak, nanti orang-orang di sini akan mengecammu sebagai bocah nakal. Ingatlah, kau dipandang mereka sebagai bocah, bukan sebagai gadis dewasa."

Sumbaruni tarik napas, ada perasaan sedih jika ingat akan hal itu. la mencoba beralasan, "Aku... aku hanya ingin menghangatkan badan. Tubuhku dingin sekali. Angin badai dan hujan menghadirkan hawa dingin mencekam tubuh, seakan ingin membekukan darahku, Suto. Berilah tuak sedikit saja!"

Alasan itu dipandang masuk akal sekali. Suasana yang membuat Pendekar Mabuk tak bisa menahan keinginan bocah Sumbaruni. Dengan memandang sekeliling, secara diam-diam cangkir tuak diberikan kepada Sumbaruni.

"Minumlah sedikit saja, jangan sampai kelihatan siapa-siapa!" bisik Suto Sinting sambil badannya bergerak miring menutupi gerakan minum tuaknya bocah Sumbaruni.

Sruup...! Srrrup...! Srruupp...!

Bocah Sumbaruni meneguk tuak dari cangkir. Beberapa hirupan tuak membuat Suto Sinting cepat-cepat mencegahnya. "Sudah, jangan banyak-banyak. Nanti kau mabuk, aku malu!"

Tanpa disadari oleh mereka ternyata di belakang Suto Sinting telah berdiri si pemilik kedai yang usianya sudah mencapai enam puluh tahun dan sedikit bungkuk. Pemilik kedai yang dikenal dengan nama Ki Sabarsumo itu terkekeh pelan mengejutkan Suto dan Sumbaruni. Bicaranya yang penuh senyum itu pun terdengar pelan.

"Wah, adik kecil kok sudah doyan tuak? Apakah tidak memabukkan?"

Suto Sinting tersenyum kikuk, demikian pula Sumbaruni yang sunggingkan senyum canggung bernada malu dan jengkel. Suto Sinting segera berkata kepada Ki Sabarsumo,

"Dia memang sudah terbiasa minum tuak karena sering ikut denganku berkelana ke mana-mana."

"Ooo... pantas. Wah, hebat juga anak sekecil dia sudah doyan tuak. Pasti kelak besarnya akan menjadi Pendekar Mabuk wanita, seperti yang sekarang sedang ramai dibicarakan oleh para langgananku itu, Nak."

"Siapa yang sedang santer dibicarakan mereka,Ki?"

"Pendekar Mabuk yang punya ilmu tinggi dan dikagumi orang banyak. Tapi Pendekar Mabuk hanya ada di wilayah kulon, di sebelah barat sana. Cerita tentang kehebatannya lebih banyak dibicarakan oleh orang-orang kulon dan sekitar pesisir utara."

Suto Sinting diam saja walaupun ia tahu yang dibicarakan Ki Sabarsumo itu adalah dirinya. Suto Sinting tidak mau perkenalkan dirinya sebagai Pendekar Mabuk karena untuk menghilangkan kesan sombongkan diri. Baginya biarlah orang tahu dengan sendirinya siapa Pendekar Mabuk dan siapa dirinya itu, ketimbang harus memperkenalkan diri tanpa diminta. Kecuali untuk suatu keperluan penting, Suto Sinting baru mau perkenalkan diri sebagai Pendekar Mabuk, murid dari Gila Tuak dan Bidadari Jalang.

Karenanya ketika bocah Sumbaruni ingin berkata tentang siapa sebenarnya yang diajak bicara Ki Sabarsumo itu, Suto Sinting buru-buru alihkan pembicaraan dengan menanyai bocah Sumbaruni,

"Apakah kau ingin makan nasi pecel?"

"Tidak. Sudah kubilang aku sudah kenyang dengan makan ketan goreng ini!" jawab Sumbaruni merasa dongkol karena niatnya bicara dialihkan Suto Sinting. Ki Sabarsumo berkata sambil membersihkan meja samping Suto, "Apakah dia adikmu, Nak?"

"Benar, Ki," jawab Suto secepatnya. "Dia adikku yang paling kucintai."

"Kulihat sungguh besar kasih sayangmu kepada seorang adik. Andai kata aku dikaruniai keturunan mungkin anakku yang sulung sudah seusiamu dan anakku yang bungsu sudah seusia adikmu itu. O, ya... siapa nama kalian?"

"Aku bernama Suto dan adikku ini bernama Runi," jawab Pendekar Mabuk berkesan menutupi jati diri mereka berdua.

"Apakah kedua orangtua kalian masih ada?"
"Hmmm... sudah meninggal. Kami hanya hidup berdua saja," jawab Suto Sinting.

"Ooo... kasihan sekali, ya? Bagaimana jika kalian tinggal di sini saja bersamaku?" Ki Sabarsumo menawarkan jasa baiknya. "Setidaknya jika kalian berdua tinggal bersama kami, tentunya kami tidak akan kesepian jika kedai ini sudah ditutup. Istriku akan punya hiburan, setidaknya punya teman berbincang-bincang yang dapat menghibur hatinya."

Sumbaruni langsung menyahut kata, "Kami punya tujuan sendiri, Ki."

"Betul," timpal Suto Sinting. "Kami punya jalan hidup sendiri. Sebagai pengelana kami tak bisa bermukim di suatu tempat. Kami hanya bisa singgah di sana-sini dalam waktu sejenak."

"Sayang sekali," ujar Pak Tua berpakaian hitam dengan ikat kepala kaln batik coklat itu.
"Ki, apakah kedai ini menyewakan tempat untuk bermalam?" tanya Sumbaruni.

"Tidak. Tapi jika kalian mau bermalam di sini, aku punya satu kamar lagi yang kusediakan untuk bermalam para sanak saudaraku yang berkunjung kemari. Kalian bisa tempati kamar itu tanpa membayar uang sewanya. Kami justru senang jika kalian mau bermalam di sini. Jangan teruskan perjalanan, agaknya hujan akan menjadi lebih deras lagi menjelang tengah malam."

"lya. Sekarang saja hujannya sudah bercampur badai begini. Kurasa beberapa pohon di sana-sini ada yang tumbang karena amukan angin badai dalam hujan ini," kata Sumbaruni sambil memandang arah luar lewat celah pintu penutup kedai yang belum ditutup rapat itu.

"Biasanya," kata Ki Sabarsumo, "Jika keadaan alam seperti ini, pasti Gunung Kundalini akan kedatangan tamu orang sakti."

"Dari mana kau tahu?" sergah Suto Sinting merasa tertarik dengan ramalan tersebut. Ki Sabarsumo yang murah senyum pun menjawab penuh kesabaran,

"Bagi rakyat desa sekitar kaki Gunung Kundalini sudah mempunyai tanda khusus akan hal itu. Hujan badai sangat jarang turun di sekitar sini, hanya saat-saat menjelang kedatangan tamu sakti yang menuju Gunung Kundalini saja hujan badai datang hampir semalaman. Seakan hujan badai merupakan sambutan ramah dari Gunung Kundalini untuk tampakkan kesegarannya kepada sang tamu."

Suto Sinting hanya mengangguk-anggukkan kepala. la tak tahu kalau Sumbaruni telah habiskan tuak dalam cangkir, bahkan menuangnya sendiri dari poci. Pandangannya yang sejak tadi tertuju pada Ki Sabarsumo dan sesekali memandang ke arah hujan membuat Suto tak melihat gerakan tangan Sumbaruni menuang tuak dan meminumnya. Tak heran jika bocah Sumbaruni itu ini menjadi cegukan dengan mata sedikit merah sayu.

"Kita lanjutkan perjalanan kita, Suto. Jangan takut dengan hujan air! Huk, huk.... Kalau takut air, maka kita akan menjadi manusia kering yang huk, huk...."

"Sumbaruni?! Wah, kacau! Kau pasti mabuk karena kebanyakan minum tuak! Tuak ini agak keras, beda dengan tuak-tuak di tempat lain!"

"Siapa yang mabuk?! Huk...! Huk...! Aku masih bisa melihat wajahmu yang tampan dan mendebarkan hati itu. Huk... huk...! Kapan kau ingin mengawiniku, Suto Sinting?"

"Ssstt...!" Suto Sinting membekap mulut bocah Sumbaruni dengan cemas. Matanya melirik sana-sini.

Untung Ki Sabarsumo sudah pergi mempersiapkan kamar untuk mereka, dan beberapa pengunjung kedai sibuk dengan percakapan masing-masing. Suto Sinting agak lega tak ada orang yang mengetahui celoteh bocah Sumbaruni itu.

"Sumbaruni, sebaiknya kau beristirahat di kamar saja. Kau mabuk!"
"Tidak. Aku tidak mabuk," katanya dengan parau dan nada mengambang.
"Aku masih sehat, huk, huk... huk...!"
"Coba hitung, ini berapa?" Suto Sinting menunjukkan tiga jarinya.

Sumbaruni memandang sebentar dan tersenyum tipis seakan meremehkan.

"Hmmm... begitu saja ditanyakan. Aku tahu itu empat!"
"Salah! Ini tiga!"

"Kau yang bodoh tak bisa menghitung jarimu sendiri," kata Sumbaruni.

Suto Sinting geleng-geleng kepala dengan tersenyum geli. "Coba kau hitung, ada berapa pengunjung di kedai ini?"

Sumbaruni menghitung dengan pandangan mata lalu menjawab, "Sepuluh!"

"Salah. Yang ada di sini ada delapan orang termasuk kita berdua. Bukan sepuluh orang."
"Tadi yang dua sudah pulang sebelum hujan turun. Kau tak tahu, Suto!"

Pendekar Mabuk tertawa geli tanpa suara. Lalu ia segera membawa bocah Sumbaruni ke kamar setelah Ki Sabarsumo memberitahukan bahwa kamar mereka sudah disiapkan. Bocah Sumbaruni sebenarnya masih ingin duduk di situ, tapi Suto Sinting membujuknya untuk ke kamar. Sebab jika bocah Sumbaruni ada di situ dalam keadaan mabuk, maka kata-katanya akan membahayakan bagi diri mereka. Setidaknya banyak orang yang tahu bahwa mereka sedang memburu Telur Mata Setan dan mengetahui siapa Suto dan Sumbaruni sebenarnya.

Hari sudah malam, hujan makin menderu karena derasnya bertambah. Bocah Sumbaruni tak mau diting-gal Suto keluar kamar. la minta ditunggui dengan sikap manjanya. la masih ingin berceloteh tentang perasaan hatinya kepada Suto Sinting. Suara celotehnya agak keras sehingga Suto mengingatkan.

"Ssst...! Jangan bicara keras-keras. Kurangi suaramu itu, biar tak mengganggu pendengaran Ki Sabarsumo dan istrinya."

"Mereka akan merasa senang jika terganggu, karena mereka tak pernah diganggu oleh suara bocah sepertiku. Kau tahu, apa yang dilakukan Ki Sabarsumo kepada istrinya malam ini?"

"Tentunya mereka beristirahat karena sudah seharian bekerja melayani tamu."

"Tidak. Mereka pasti bercengkerama, bermesraan dan saling menemukan kebahagiaan batinnya. Tapi aku...? Aku sudah lama tak mendapatkan kebahagiaan batin karena tak pernah ada lelaki yang bisa membangkitkan gairahku. Sekalipun ada, tapi lelaki itu tak mau memuaskan hasrat kerinduanku terhadap sebentuk kebahagiaan batin. Aku sering merasa benci dengan hidupku yang tak pernah kau jamah dengan kemesraan. Padahal aku berharap sekali mendapatkan kemesraan yang amat hangat darimu, Suto!"

"Sumbaruni, tahan bicaramu! Ingat kau bocah kecil yang tak pantas bicara seperti itu!"

"Kecil orangnya, tapi itunya tetap besar... maksudku pikirannya tetap pikiran orang dewasa! Hik, hik, hik, hik...!" Sumbaruni mengikik sendiri.

Suto Sinting membatin, "Payah! Keadaan mabuknya membuat dia bicara seenaknya saja tanpa pertimbangan apa-apa. Bisa berbahaya jika didengar orang lain. Agaknya aku harus hati-hati menghadapinya walaupun dia berwujud gadis kecil yang sepantasnya menjadi adik bungsuku."

Akhirnya Sumbaruni menangis, karena Suto Sinting tak mau tidur di sampingnya. Suto Sinting memilih tidur di sebuah bangku yang ada di kamar itu. Sumbaruni menderita tekanan batin, dan tangisnya terisak-isak mengharukan Suto.

"Tidurlah di sampingku. Hanya sekadar tidur saja. Aku kedinginan, Suto!" pintanya penuh harap sambil menggigil, karena udara malam memang dingin. Akhir­nya Suto Sinting berbaring di sampingnya dan memeluk Sumbaruni seperti memeluk seorang adik kecil tanpa nafsu dan gairah asmara sedikit pun. Sumbaruni merasa damai dalam pelukan Suto.

Perjalanan diteruskan esok paginya. Tapi semakin bertambah hari semakin susut keadaan tubuh Sumbaruni. Ki Sabarsumo sempat pandangi Sumbaruni dengan rasa heran karena pagi itu ia melihat Sumbaruni seperti bocah berusia tujuh tahun. Lebih muda dari semalam. Tapi keanehan itu hanya dipendam dalam hati Ki Sabarsumo karena takut menyinggung bocah Sumbaruni jika dilontarkan dan dipertanyakan.

Hanya saja setelah Sumbaruni dan Pendekar Mabuk meninggalkan kedai mereka, Ki Sabarsumo berkata kepada istrinya yang juga berambut kelabu itu,

"Aneh sekali bocah gadis itu. Semalam ia kelihatan lebih besar dari pagi ini.Mengapa bisa begitu?"

Istri Ki Sabarsumo pun berkata, "lya. Aku juga merasa heran. Sekarang gadis kecil itu menjadi lebih kecil lagi. Wajahnya lebih mungil dan kecantikannya semakin menggemaskan. Aku jadi ingin punya anak seperti gadis mungil itu."

wajah Sumbaruni sekarang menjadi mungil tapi cantik menggemaskan. Tak ada daya tarik berbau birahi pada dirinya, yang ada daya tarik ingin mencubit pipinya atau menggodanya biar menangis. Bentuk dadanya yang sekal itu pun lenyap sejak empat hari yang lalu. Karenanya, di mata pria Sumbaruni bukan lagi gadis yang menggairahkan dan menimbulkan bayangan indah untuk dicumbu, melainkan sebagai gadis kecil yang lucu tapi menggemaskan.

Langkah kaki Sumbaruni tak bisa cepat dan mudah diserang rasa lelah. Akibatnya, Suto Sinting kembali menggendongnya. Tapi kali ini Sumbaruni tidak mau digendong di belakang.

"Aku mau digendong depan!"

"Ah, kau memang nakai, Sumbaruni!" gerutu Suto Sinting sambil menggendongnya di depan, sementara punggung Suto Sinting digunakan menggantungkan bumbung tuaknya. Sumbaruni tampak kegirangan walau digendong dengan satu tangan oleh Suto, karena dengan digendong depan begitu wajahnya dapat pandangi Suto lebih dekat lagi. Bahkan tangan berjari mungilnya itu sering nakal, memencet hidung Suto sambil tertawa-tawa dan kadang juga menyentil bibir Suto dengan pelan. Tak jarang pipi Suto ataupun rambutnya diusap-usap oleh tangan berjari mungil itu. Suto Sinting membiarkan karena merasa dipermainkan anak kecil, tak ada debar kemesraan sedikit pun yang tergugah di hati Suto Sinting.

"Bawalah aku lari secepat mungkin," kata Sumbaruni dalam bahasa dewasa.
"Kenapa harus begitu?"
"Supaya jika aku tiba-tiba menciummu tak ada orang yang tahu."

"Kalau kau nakal kulemparkan ke atas pohon dan kutinggalkan di Sana!" ancam Suto Sinting sempat merasa risi jika sampai dicium, sebab ia pun tetap sadar bahwa Sumbaruni punya pikiran dewasa bukan kekanak-kanakan. Sumbaruni tertawa geli. la memelukkan tangannya ke leher Suto dan sandarkan kepala ke pundak Suto.

"Baiklah, aku tak akan nakal. Berlarilah dengan cepat supaya kita lekas dapatkan Telur Mata Setan itu."

Zlaaap...! Suto Sinting berlari dengan cepat melebihi gerakan anak panah yang terlepas dari busurnya. Gerakan larinya itu terhenti ketika mereka sudah tiba di kaki Gunung Kundalini.

"Kita sampai di kaki gunung. Sekarang mana arah yang harus kutuju?"

"Jalanlah terus sampai kita bertemu seseorang dan menanyakan tentang Telur Mata Setan itu," saran Sumbaruni. "Tapi sebelumnya antarkan aku ke balik pohon sebelah sana."

"Mengapa kau ingin ke sana?"

Bocah Sumbaruni tersenyum malu dan berblsik, "Aku mau pipis dulu."

Suto Sinting tertawa geli. Lalu segera membawa bocah itu ke balik pohon besar. Suto Sinting memunggungi pohon itu ketika Sumbaruni menyelinap di balik pohon tersebut. Sekalipun wujudnya seperti bocah berusia tujuh tahun, tapi antara Sumbaruni dan Suto Sinting sama-sama merasa malu jika buang air sembarangan.

"Kita mendaki lereng gunung ini!" kata Sumbaruni. "Sekarang aku mau jalan dulu. Tapi nanti kalau lelah kau harus menggendongnya lagi."

"Tapi kalau kau nakal dan tanganmu jahil, aku tidak mau menggendongmu!" sambil Suto Sinting melangkah menggandeng tangan bocah Sumbaruni.

Wuuut...! Tiba-tiba ada angin cepat bergerak melintas di depan langkah mereka. Suto Sinting hentikan langkah. Sumbaruni pun memandang sekeliling de­ngan mata kecilnya yang masih mempunyai ketajaman tersendiri.

"Ada seseorang yang melintas di depan kita," bisik Sumbaruni.

"Ya. Hati-hatilah. Jangan jauh-jauh dariku. Mudah-mudahan orang itu adalah orang baik, jadi kita bisa menanyakan tentang benda yang kita cari itu," kata Suto Sinting dengan pelan juga.

Tiba-tiba seberkas sinar merah kecil melesat dari balik celah dedaunan semak. Slaaap...! Sinar merah kecil itu segera ditangkis dengan gerakan Suto yang membungkuk melepas bumbung tuak dengan cepat dan terhantamlah bumbung tuak oleh sinar merah kecil itu. Daaahk...! Sinar tersebut membalik arah semula menjadi lebih besar dan lebih cepat lagi.

Gusraak...! Duaar...!

Semak-semak pecah berhamburan. Pohon di balik semak-semak itu menjadi retak namun tak sampai roboh. Dari semak-semak itu melesat sesosok bayangan yang agaknya adalah pemilik sinar merah tadi.

Wuuuuss...!
Jleeg...!

Kini mata Pendekar Mabuk dan bocah Sumbaruni melihat sosok tubuh langsing berdada sekal milik seorang gadis yang diperkirakan berusia sekitar dua pu-luh tiga tahun. Gadis itu mengenakan pakaian biru muda dengan rambut diikat ke belakang, sisanya berponi di depan kening. Hidungnya mancung, matanya bulat indah. Tapi berdirinya tak bisa tenang. Tangannya ber-gerak-gerak, kakinya kadang meiiuk ke kiri atau ke kanan. Terkadang ia jalan mondar-mandir dengan tangan bergerak apa saja.

"Siapa kau?! Mengapa menyerangku, Nona?!"

"Aku adalah Menak Goyang, pemburu pencuri pusaka milik guruku!" jawab gadis itu dengan ketus sambil melangkah ke kiri dan ke kanan, kadang menendang rerumputan atau menyambar dedaunan.

"Apa urusannya denganku?"

"Kau pasti pencuri Pisau Tanduk Hantu milik Guru! Karena hanya kaulah orang yang ada di sini! Sejak ke-marin sudah kujelajahi sekeliling kaki gunung ini, tapi akhirnya kaulah orang yang kutemui. Berarti kaulah pencuri pusaka Pisau Tanduk Hantu itu!"

Suto Sinting dan Sumbaruni saling pandang heran. Mereka dituduh mencuri pisau pusaka, sementara mereka tidak tahu bagaimana bentuknya dan seperti apa kehebatan Pisau Tanduk Hantu itu. Agaknya mereka harus berdebat kepada Menak Goyang untuk membuktikan bahwa mereka bukan pencuri yang dimaksud.

PENDKEKAR MABUK enggan melayani kekerasan Menak Goyang. Karenanya, setiap mendapat serangan pukulan jarak jauh selalu dikembalikan dengan cara menangkisnya memakai bambu bumbung tuaknya. Menak Goyang terdesak sendiri oleh pukulannya yang kembali dengan cepat dan dengan lebih besar. Bahkan ia sempat terpental dan jatuh terkapar ketika ia melepaskan gelombang pukulan hawa panas yang keluar dari kedua tangannya. Pukulan itu membalik dan menghantam dirinya sendiri.

"Kurang ajarl Dari tadi pukulanku membalik terus. Uuh...! Dadaku menjadi sakit dan panas karena pukulanku sendiri! Rupanya pencuri itu bukan pencuri sembarangan!" kata Menak Goyang membatin.

Gadis itu berdiri sambil tarik napas dalam-dalam. Tubuhnya bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan. Rupanya Menak Goyang semakin penasaran melihat ilmu Suto Sinting yang begitu-begitu saja tapi sulit ditumbangkan. Sementara itu, Sumbaruni di bawah pohon agak jauh dari Suto Sinting.

Hatinya merasa bercampur aduk tak karuan hingga menjelma menjadi kegelisahan. Sebab ia merasa ingin menyerang tapi tak mempunyai daya dan kemampuan seperti dulu lagi. la hanya bisa memandang benci kepada Menak Goyang.

"Sebaiknya mengaku saja dan kembalikan pisau pusaka itu supaya di antara kita berdua tidak ada saling bermusuhan. Bukankah lebih baik kita saling bersahabat dan mempererat diri ketimbang bermusuhan, Maling Tampan?!" kata Menak Goyang yang membuat Sumbaruni mencibir sirik kepadanya.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu menahu tentang Pisau Tanduk Hantu. Aku bukan pencuri. Kau salah duga, Menak Goyang!"

"Kalau bukan pencuri, mengapa kau berkeliaran di sini? Ini bukan wilayahmu. Ini wilayah perguruanku; Perguruan Tongkat Sakti! Kalau guruku si Malaikat Miskin mengetahuimu, kau tetap saja akan dicurigai."

"Pertemukan aku dengan gurumu; si Malaikat Miskin. Aku akan jelaskan duduk perkaranya mengapa aku sampai memasuki wilayah kalian."

"Tidak perlu. Yang dikehendaki Guru hanya Pisau Tanduk Hantu. Sekarang ini yang lebih penting adalah pusaka itu daripada penjelasanmu."

"Menak Goyang," sapa Suto Sinting dengan maju selangkah, sedangkan yang diajak bicara masih tetap bergoyang badan tak bisa tenang. "Kalau aku punya pisau pusaka itu, barangkali sudah kugunakan untuk melawanmu. Kau tahu sendiri, aku tidak melawanmu menggunakan pisau pusaka itu!"

Suto membentangkan kedua tangannya sambil melangkah dua tindak lagi, kian mendekati Menak Goyang. Yang didekati berjalan ke sana-sini walau hanya dua-tiga tindak.

"Siasatmu memang licik. Kau sengaja tidak keluarkan pisau itu karena kau ingin mengelak dari tuduhanku! Kau pikir aku tak bisa meraba jalan pikiranmu, Ma­ling Ganteng?!"

Mendengar sebutan 'maling ganteng', hati Sumbaruni dibakar oleh kecemburuan. Apalagi dilihatnya Menak Goyang tersenyum tipis dengan mata nakal memandangi Suto Sinting. Bocah Sumbaruni makin diremas rasa cemburu, sehingga ia segera mengambil batu dan melemparkannya ke arah Menak Goyang.

Wuusss...!Menak Goyang tetap diam dengan menggerak-gerakkan pinggulnya ke kanan-kiri. Lemparan batu itu segera dihadang dengan kibasan dua jarinya yang berkelebat keluarkan tenaga dalam tanpa sinar. Wuuut...! Praak...! Batu itu pecah sebelum mencapai tempatnya.

"Adikmu nakal sekali, Maling Tampanl Rupanya kau memang bekerja sama dengan adik kecilmu itu. Atau barangkali pisau pusaka itu tersembunyi di balik tubuh adikmu itu?"

"Menak Goyang, percayalah padaku! Kami tidak mencuri pusaka itu. Tapi jika kau tetap tidak percaya, sekarang apa maumu akan kulayani!"

"Bagus! Kita ke semak-semak sana!"
"Untuk apa?"
"Katamu apa kemauanku akan kau layani?"

"Hei, Gadis Kotor!" teriak bocah Sumbaruni. "Sekali lagi kau merayu dia akan kuhancurkan kepalamu dengan batu ini!" Sumbaruni memperlihatkan batu yang lebih besar dari genggamannya. Menak Goyang tertawa mendengar seruan bocah imut-imut itu."

"Adikmu galak juga. Cukup berani dan pandai bicara, Maling Tampan! Tentunya kau sayang sekali kepadanya. Tapi alangkah sayangnya gadis lucu itu menjadi adik dari seorang pencuri sehina dirimu!"

Sumbaruni makin jengkel. Maka dilemparkanlah batu. itu sambil berlari agak mendekat. Wuuut...! Lalu Sumbaruni berlari kembali ke tempat semula dengan gerakan lari yang lucu. Batu itu hanya dihindari oleh Menak Goyang yang meliukkan badan ke depan. Wees...! Batu itu melayang lewat belakang sasarannya.

Menak Goyang dekati Suto Sinting dalam jarak tiga langkah. Matanya yang jernih dan indah menatap punya makna tersendiri. la bertolak pinggang dengan satu tangan dan badannya bergerak-gerak tak mau diam sedikit pun.

"Kalau aku mengajakmu ke semak-semak sebelah sana itu lantaran aku ingin menggeledahmu, benarkah kau tidak sembunyikan Pisau Tanduk Hantu di tubuhmu. Aku akan memeriksa sekujur tubuhmu. Jika kau periksa di sini, kau pasti malu pada adik kecilmu itu!"

"Kau tak perlu menggeledahku, karena aku tahu tanganmu sudah gemetar karena niat nakal di hatimu!"

Menak Goyang membatin, "Sial! Tahu juga dia dengan maksudku?"

"Hmm...!" Menak Goyang berlagak mencibir. "Biar kau tampan, tapi aku tak punya maksud nakal seperti anggapanmu! Yang kubutuhkan adalah pisau pusaka itu, karena pisau tersebut menjadi kewajiban dan tugasku untuk menemukannya kembali! Jadi, jika kau masih berlagak menjadi orang suci, maka pedangku ini yang akan bicara menggantikan mulutku. Pedangku akan mendesakmu hingga kau mengakui kedurjanaanmu!"

"Cabutlah kalau kau bisa mencabut pedangmu!" tantang Suto Sinting. Tapi setelah berkata demikian jari telunjuknya menyala hijau. Jari itu disentilkan ke arah pedang ketika tangan Menak Goyang bergegas memegang gagang pedang. Selanjutnya, Menak Goyang dibuat terheran-heran karena pedangnya terkunci dan tak bisa dicabut walau dengan mengerahkan tenaga dalamnya.

"Semoga peringatan ini dapat membuatnya jera dan tidak menuduhku lagi sebagai pencuri Pisau Tanduk Hantu," pikir Suto Sinting sambil membiarkan Menak Goyang kerepotan mencabut pedangnya.

"Setan! Dia bikin pedangku terkunci oleh suatu kekuatan gaib yang tak bisa dilolos dari sarungnya?! Kurasa dia memang berilmu tinggi! Berbahaya kalau kulawan secara kasar. Harus menggunakan cara tersendiri!"

Setelah membatin demikian, Menak Goyang berkata kepada Suto dengan nada ketus, "Sekarang aku semakin yakin. Ilmumu tinggi, dan hanya orang berilmu tinggi yang dapat masuk ke kamar Guru untuk mencuri Pisau Tanduk Hantu itu! Kau terpancing oleh tantanganku, Maling Tampan."

Menak Goyang melangkah ke sana-sini sambil mendengarkan perkataan Suto Sinting yang tetap tenang memegangi tali bumbung tuaknya.

"Kalau aku bisa masuk ke kamar gurumu, mungkin bukan hanya Pisau Tanduk Hantu yang kubawa lari. Barangkali juga dirimu akan ikut kubawa lari juga!" goda Suto Sinting sebagai tanda bahwa dirinya tidak menanggapi tuduhan dan kecaman Menak Goyang secara sungguh-sungguh. Menak Goyang hanya tersenyum-senyum sambil buang pandangan mata.

Tiba-tiba ia berkelebat cepat. Wuuuttt...! Deeb...! Dua jarinya menotok punggung bocah Sumbaruni yang terbelalak kaget melihat gerakan cepat menyambar tubuhnya. Bocah Sumbaruni tertotok hingga diam tak bergerak tak bersuara. Bocah itu dalam waktu singkat sudah ada di gendongan Menak Goyang. Suto Sinting terkejut melihat kejadian ini. Matanya terbelalak dan menjadi tegang, karena ia segera bisa menangkap maksud Menak Goyang dalam menyambar bocah Sumbaruni. Menak Goyang sendiri segera lepaskan pukulan bertenaga sinar merah ke arah Suto Sinting, sementara itu Suto Sinting sempat lengah dan terkena pukulan sinar merah pada pundaknya. Desss...!

Pundak itu menjadi hangus. Membekas hitam dan berasap. Suto Sinting memperhatikan luka itu dengan menahan sakit. Sementara mata Suto Sinting ke arah luka, Menak Goyang melesat pergi menjauh dari Pendekar Mabuk sambil membawa lari bocah Sumbaruni. Dari kejauhan ia berseru,

"Bocah ini tak akan kembali padamu jika kau tidak membawa pulang Pisau Tanduk Hantu! Jika kau inginkan adikmu ini, maka kau harus menukarnya dengan Pisau Tanduk Hantu."

Ternyata luka itu membuat urat-urat di tubuh Suto Sinting menjadi lemas. Gerakan mengejarnya tak mampu cepat, bahkan Pendekar Mabuk sempat jatuh tersungkur. Sementara yang dikejar sudah tak terlihat lagi dari tempatnya jatuh. Suto Sinting buru-buru menenggak tuak dalam bumbung. Empat teguk tuak membuat detak jantungnya yang lemah menjadi cepat kembali seperti sediakala.

"Gadis itu benar-benar licik! Aku yakin dia mampu mengukur ilmuku, merasa tak mampu menghadapiku, merasa tak mampu menemukan pisau pusaka itu, maka ia memanfaatkan diriku untuk dapatkan pisau pusaka tersebut dengan menculik Sumbaruni! Gila! Kalau begini aku jadi terlibat urusan dengan orang-orang Pergu­ruan Tongkat Sakti! Hmmm...! Sebaiknya kukejar dia sampai ke perguruannya. Kalau perlu kuhadapi gurunya yang berjuluk Malaikat Miskin itu! Bagaimana pun juga aku harus bisa merebut kembali Sumbaruni yang tak bersalah itu!"

Pendekar Mabuk gunakan ilmu 'Gerak Siluman' yang mampu berlari cepat melebihi kecepatan kilatan petir dari langit. Kecepatan gerakannya itu membuat ia bagaikan bayangan coklat melesat terhempas angin, karena ia mengenakan baju coklat tanpa lengan dan celana putih kusam.

sekali gerakan cepat itu bisa ditangkap oleh pandangan mata seseorang dari kejauhan. Tentunya orang yang bisa melihat gerakan cepat itu adalah orang berilmu tinggi. Jika bukan orang berilmu tinggi tak mungkin bisa melihat wujud Pendekar Mabuk bergerak secepat itu.

Claaap...! Seberkas sinar hijau melintas di depannya. Suto Sinting hentikan gerakan larinya karena sinar hijau itu menghantam pohon dan pohon itu langsung tumbang menghadang jalan. Jelas orang yang keluar-kan sinar hijau itu bukan bermaksud melukai Pendekar Mabuk melainkan hanya sekadar ingin menghentikan langkah sang pendekar semata.

Sinting segera pandangi keadaan sekeliling-nya. Luka di pundak telah lenyap akibat tuak yang ditenggak. Badan Suto Sinting sudah segar seperti sediakala. Kini ia siap hadapi bahaya sebesar apa pun dan tak ingin main-main lagi. Karena menurut dugaannya, orang yang melepaskan sinar hijau tadi tentunya orang berilmu tinggi yang punya keperluan sendiri dengannya.

Tak ada orang di sekelilingnya. Ilmu 'Lacak Jantung' dipergunakan untuk mendengar detak jantung di sekitarnya. Tapi ternyata suara detak jantung tak didengarnya. Suto Sinting hanya membatin,

"Pasti orang itu jauh dari sini, namun mampu memandang jelas kemari!"

Angin bertiup. Makin lama semakin bergemuruh. Pendekar Mabuk pandangi daun-daun pohon di sekelilingnya. Ternyata daun-daun pohon bergetar semua. Sebagian ada yang rontok dan berjatuhan.

Gemerisik suara dedaunan bagaikan gerakan angin di atas pepo-honan saja. Sedangkan batang pohon dan tanah tidak ikut bergetar sedikit pun.

"Siapa yang mengirimkan ilmu seperti ini? Pasti dikirim dari jarak jauh, karena detak jantungnya masih belum kudengar," kata batin Pendekar Mabuk.

Dedaunan yang jatuh ke bumi ternyata mengepulkan asap tipis, nyaris tidak terlihat. Tapi karena banyaknya daun yang jatuh maka asap-asap itu menjadi lebih tebal lagi, sehingga tanah bagaikan mengeluar-kan kabut putih berhawa dingin. Suto Sinting segera melipat kedua tangannya di dada, berdiri tegak sambil pejamkan mata. la memusatkan pikirannya dan mengerahkan kekuatan batinnya untuk mengimbangi ilmu kiriman tersebut.

Dalam beberapa kejap kemudian, daun-daun yang berguncang itu berhenti. Uap dingin dari sentuhan daun dengan tanah itu tidak lagi terasa membekukan kaki Pendekar Mabuk. Agaknya kekuatan batin Suto mampu meredam kekuatan kiriman dari jauh. Bahkan kekuatan batin itu mampu membuat langit menjadi berawan hitam tapi di sisi barat, timur, selatan, dan utara. Sedangkan langit di atas kepala Pendekar Mabuk masih tampak terang dan cerah.

Beberapa saat kemudian, terdengar angin berhembus kembali dengan menderu. Suto Sinting masih pejamkan mata dalam keadaan berlipat tangan di dada dan berdiri tegak dengan kaki sedikit merenggang. Hembusan angin itu ternyata mengantarkan suara detak jantung yang samar-samar terdengar di telinga Suto Sinting.

Suara jantung itu kian lama kian jelas, sampai akhirnya Suto membuka matanya dan mengetahui sesosok tubuh berdiri di depannya dengan kaki sedikit merenggang dan tampak tegang. Sosok itu tak lain adalah sosok seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun kurang dan mengenakan jubah merah.

Mata Pendekar Mabuk terkesiap memandang perempuan berambut panjang yang digelung di bagian tengahnya. Yang membuat mata terkesiap lagi ialah pa-kaian di balik jubah itu sangat tipis, bagai terbuat dari kain selendang sebatas dada berwarna biru muda. Tipisnya kain pelapis dada itu membuat bayangan samar-samar bentuk dada yang sungguh menantang karena kebesaran dan kesekalannya. Suto Sinting terpaksa tarik napas dalam-dalam.

Wanita itu adalah wanita cantik. Ditambah dengan tahi lalat kecil di dagu sebelah kiri membuat daya pikat tersendiri bagi siapa pun yang memandangnya. Suto Sinting sempat bergetar hatinya melihat bentuk bibir yang melenakan, bagai mempunyai kekuatan khayal cukup tinggi.

Senyumnya yang tipis pun mempunyai daya cekam indah di hati pria yang memandangnya. Suto Sinting menahan diri dan mengendalikan gejolak yang bergemuruh di dadanya.

"Siapa kau, Nyai?" tanya Suto menyapa lebih dulu ketika mereka beradu pandang sudah lebih dari tiga he-laan napas. Jarak mereka hanya empat langkah.

"Barangkali kau belum pernah melihatku, tapi kuyakin kau pasti pernah mendengar namaku; Nyai Sapu Lanang."

Suto Sinting berkerut dahi. la merasa asing dengan nama itu.

"Aku baru sekarang mendengar namamu, Nyai Sapu Lanang."
"Kalau begitu kau bukan orang sekitar sini. Kau pasti datang dari jauh."
"Agaknya dugaanmu itu memang benar, Nyai. Kau pandai menduga seseorang."

Suto Sinting juga sunggingkan senyum kecil sebagai sikap tenang yang dipamerkan. Lalu wanita yang mengaku bernama Nyai Sapu Lanang itu dekati Suto Sinting hingga jarak mereka tinggal dua langkah lagi. Bau harum tercium dari tubuh elok berkulit kuning langsat. Wewangian itu bagaikan menggugah hasrat bercumbu bagi seorang lelaki siapa saja yang didekatinya.

"Dari mana asalmu, dan siapa namamu?"
"Aku dari Jurang Lindu. Namaku Suto Sinting."

Nyai Sapu Lanang kerutkan dahi tipis. "Sepertinya aku pernah mendengar nama Suto Sinting. Ya, pernah! Tapi kapan dan di mana aku telah lupa."

"Aku hanya anak desa. Mungkin kau baru mendengarnya sekarang karena aku hanyalah anak desa yang tak punya kelebihan apa-apa, sehingga tak mungkin namaku kau kenal sebelum ini." Suto Sinting sengaja rendahkan diri supaya perempuan cantik itu tidak ber-andai-andai tentang nama tersebut. Agaknya Suto pun tak ingin Nyai Sapu Lanang mengetahui gelar kependekarannya.

Tetapi Nyai Sapu Lanang bukan orang berotak udang yang bisa dibuat rempeyek. Nyai Sapu Lanang cukup cerdas dalam menyimpulkan sesuatu masalah, sehingga dengan tegas ia pun berkata,

"Kau tak mungkin hanya anak desa biasa! Gerakan larimu kulihat begitu cepat. Itu sudah menandakan kau berilmu tinggi. Ketika kukirimkan jurus 'Gelombang Ba­dai' kau bisa menghentikannya dengan kekuatan batinmu. Je|as lagi bahwa kau orang yang bukan sekadar anak desa biasa, Suto!"

Pendekar Mabuk tarik napas. Meninggalkannya tiga langkah. Di sana ia menenggak tuaknya tiga tegukan. Sikapnya seakan acuh tak acuh kepada Nyai Sapu Lanang, sehingga wanita itu membatin dalam hatinya,

"Agaknya ia sukar ditundukkan dengan penampilanku ini. Tak biasanya seorang lelaki yang kudekati akan menjauh. Pasti akan mendekat. Tapi kali ini agaknya pemuda itu kebalikannya, justru aku yang mendekatinya dan merasa terjerat dalam khayalanku sendiri. Oh, kali ini agaknya kau harus berjuang lebih keras lagi untuk tundukkan mangsaku.

Pendekar Mabuk sengaja pandangi keadaan sekeliling dengan sikap tenang. Saat itu terdengar suaranya berucap pelan tapi terdengar jelas oleh Nyai Sapu La­nang yang mendekatinya lagi dua tindak.


"Untuk apa kau menghentikan langkahku? Apakah kau juga muridnya Malaikat Miskin dan bermaksud menghalangi pengejaranku?"

"Tidak. Aku kenal dengan si Malaikat Miskin, tapi aku bukan muridnya. Kalau mau justru Malaikat Miskin seharusnya belajar dan berguru kepadaku."

"Jadi kau ada di pihak mana?"

"Tak punya pihak," jawab Nyai Sapu Lanang.

"Tapi kalau kau bermaksud menemui Malaikat Miskin, aku bisa mengantarmu ke Perguruan Tongkat Sakti."

Tiba-tiba wajah Suto Sinting yang semula memandang ke arah lain kini cepat berpaling mengatap Nyai Sapu Lanang. Yang ditatap sengaja sunggingkan senyum penjerat hati. Namun Suto Sinting lebih tertarik dengan kata-katanya.

"Benarkah kau bisa membawaku menemui Malaikat Miskin?!"
"Ya, tapi ada syaratnya!"
"Sebutkan!"

Nyai Sapu Lanang tidak segera menjawab, melainkan justru mengadu pandangan mata beberapa saat. Suto Sinting membatin, "Hmm...! Dia menyerangku dengan halus melaiui pandangan matanya. Oh, rupanya dia ingin menjerat hatiku?! Aku harus bisa melawan dan melumpuhkan kekuatan matanya Itu."

Suto Sinting menarik napas panjang dengan pelan-pelan hingga tak terlihat secara nyata. Tetapi saat itulah sebenarnya Suto Sinting menahan serangan halus penjerat hati. Tak heran jika Nyai Sapu Lanang segera berkata dalam hatinya, "Kuat juga pemuda ini! Agaknya ia mampu menahan daya pikatku melaiui mata.

Padahal biasanya hati pria mana pun akan luluh jika kugunakan jurus "Mata Peri'-ku ini!"

Terdengar Suto Sinting berkata, "Kusuruh kau sebutkan syaratnya mengapa kau justru diam dan menjerat hatiku dengan tatapan matamu?"

Nyai Sapu Lanang tersipu sendiri dan membatin, "Sial! Dia tahu kalau sedang kuserang secara diam-diam."
Tapi di mulut berbibir menggemaskan itu sebaris kata terucap lirih,

"Syaratnya tak sulit. Kau pasti bisa lakukan. Kau hanya menuruti keinginanku untuk membawamu pulang ke pondokku. Aku butuh keturunan."

"Butuh keturunan? Mengapa kau bicarakan padaku?"

"Sekian lama kupertahankan kecantikanku, kemolekanku, keelokan tubuhku, hanya untuk mencari pria yang mampu berikan keturunan padaku. Sebab ilmu-ilmuku tidak bisa diberikan kepada orang lain kecuali kepada keturunanku sendiri. Tapi sampai sekian lama aku berkelana, ternyata tak ada pria yang sanggup memberikan keturunan padaku. Sampai sekarang aku masih membutuhkan pria seperti apa pun untuk mencoba memberikan keturunan padaku. Jadi aku hanya membutuhkan dirimu untuk membuatku mempunyai keturunan. Kita pulang ke pondokku dan layanilah aku seperti apa yang kubutuhkan. Maka akan kubantu kau menemui Malaikat Miskin, bila perlu kubantu kau menyerangnya."

Setelah diam beberapa saat, Suto Sinting berkata, "Syaratmu terlalu berat bagiku, Nyai Sapu Lanang!"

Wanita cantik dan menggoda hati itu gelengkan kepala. "Tidak terlalu berat untuk seorang lelaki seperti kau, Suto! Justru aku akan merasa bahagia dan ingin mengulanginya lagi jika sudah merasakan keindahan yang dapat kita capai bersama."

"Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Aku tak sanggup memenuhi keinginanmu, Nyai Sapu Lanang. Carilah lelaki lain yang mampu melakukannya!"

Mata jeli berbulu lentik itu mulai nakal dalam memandang. Senyum itu masih membias di bibir ranum dan selalu tampak basah. Sesaat setelah diam sang nyai pun perdengarkan suaranya, "Kau mampu! Kurasakan ada kekuatan yang maha dahsyat dalam asmaramu, Suto."

"Memang aku mampu melakukannya, karena aku lelaki yang sehat. Tapi aku tak mau menodai kesetiaanku terhadap calon istriku, Nyai Sapu Lanang."

"Calon istrimu tak mungkin dapat meneropong apa yang kita lakukan, karena aku mempunyai kekuatan yang mampu mengembalikan daya teropong seseorang. Kau tak perlu takut ketahuan siapa-siapa. Tak ada .yang mengetahui perbuatanmu di pondokku, Suto!" sambil berkata begitu sang nyai semakin mendekati Suto. Bahkan tangannya berani meraih lengan Suto Sinting dan tubuhnya kian mendekat.

Pandangan mata yang menjadi mulai sayu itu dipandangi pula oleh Suto Sinting dalam hiasan senyum menawan. Justru sang nyai yang menjadi makin terjerat serta penasaran untuk tundukkan kekuatan Suto Sinting dalam bertahan dari getaran api asmaranya.

"Sebaiknya tinggalkanlah aku, dan biarkan kucari sendiri Perguruan Tongkat Sakti itu. Aku masih mampu menemukannya tanpa bantuanmu, Nyai."

"Oh, kau mengecewakan hatiku jika selalu menolak, Suto Sinting."

"Kau tak perlu kecewa karena pada dasarnya kita memang bukan pasangan bercinta, Nyai. Kita hanya saling bertemu di perjalanan dan tidak harus melakukan perbuatan yang hina dan rendah di mata hati kita sendiri."

"Aku inginkan dirimu, Suto. Aku inginkan sekarang juga!" bisik Nyai Sapu Lanang dalam desah tipisnya. Tapi Suto Sinting gelengkan kepala sambil tetap sunggingkan senyumnya.

"Jangan paksa aku, Nyai. Berbahaya bagi dirimu jika aku meronta!"

"Tak akan mungkin berbahaya!" kata sang nyai, lalu tiba-tiba dari pandangan mata sang nyai melesat sinar biru bening yang amat tipis dan menghunjam masuk ke mata Suto Sinting. Claaap...! Suto Sinting tak sempat menghindar karena jaraknya teramat dekat. Suto hanya rasakan adanya kejutan yang menyentakkan kepala ke belakang dan matanya terpejam seketika.

Ketika ia buka mata kembali, tiba-tiba jantungnya berdetak-detak karena memandang segalanya serba gelap. Tetapi gemuruh dalam dadanya kian riuh. Darah-nya bagai dibakar api asmara yang menggelisahkan. Suto Sinting mundur dua langkah dan dibiarkan oleh Nyai Sapu Lanang, hanya dipandangi saja dengan se­nyum penuh harapan atas kemenangannya.

"Nyai, kau apakan diriku ini...?!" napas Suto Sinting mulai terengah-engah. Hasrat bercumbunya kian dirasakan menyentak-nyentak dan menuntut batin.

"Jangan kau fawan hasratmu, Suto. Kau telah terkena 'Racun Gugah Jantan' yang tak dapat dihindari oleh siapa pun. Jika kau melawan hasratmu maka kau akan menjadi lekas tua! Racun itu hanya bisa terobati jika kau salurkan hasratmu padaku, karena akulah yang memiliki penawar racun tersebut. Tak akan kau dapatkan pada orang lain, Suto Sinting!"

Buru-buru Pendekar Mabuk menenggak tuaknya. Glek, glek, glek...! Tetapi anehnya hasrat bercumbunya kian berkobar-kobar. Rupanya kekuatan dari 'Racun Gugah Jantan' itu tak dapat dikalahkan dengan tuak sakti dalam bumbung tersebut. Suto Sinting dibuat panas-dingin. Keringatnya mulai bercucuran dan ia bersandar di pohon dengan tubuh gemetar karena melawan hasratnya sendiri.

"Percuma kalau kau tetap melawannya, Suto! Percuma! Sebaiknya mari pergi ke pondokku dan lepaskanlah hasratmu itu agar aku bisa mempunyai keturunan darimu. Mungkin saja kaulah pria yang cocok menjadi ayah dari keturunanku!"

"Tidak! Jauhilah aku! Jauhi aku, Nyai...!" kata Suto Sinting dengan terengah-engah, bahkan sempat pe-jamkan kuat-kuat karena menahan gejolak bercumbu yang luar biasa besarnya itu.

"Kau akan menjadi lekas tua! Ingat, Suto... kau akan cepat tua jika hasrat itu selalu kau tahan dan tak tercurahkan. Aku tak kan menawarkan racun itu jika kau tak melayaniku! Hik..hi... hik..J Kau akan cepat menua, Suto.

Suto Sinting hanya terengah-engah diguncang kebimbangan mengambil keputusan.PONDOK berdinding kayu dibangun di bawah sebuah pohon besar jenis beringin gajah. Beringin itu usianya sudah ratusan tahun hingga tumbuh besar, daun dan dahannya menyerupai payung raksasa. Akar-akar gantungnya sebesar lengan manu-sia dewasa, pada umumnya akar-akar itu menembus tanah dari atas ke bawah. Sebagian akar kecil-kecilnya bergelantungan bagai rambut-rambut raksasa hutan.

Di belakang pondok itu terdapat tanah lega tak seberapa luas, berkeadaan sedikit miring. Bebatuan tumbuh di sana-sini bagaikan kepala raksasa yang tersum-bul dari dasar bumi. Di salah satu batu datar selebar punggung kerbau, berdiri sesosok tubuh yang memiliki rambut putih lurus sepanjang lewat pundak sedikit. Lelaki berambut putih uban itu mempunyai potongan tubuh yang sedikit kurus. Urat-uratnya bertonjolan bagai ingin keluar dari lapisan kulit yang tampak agak keriput itu. Urat-Urat tersebut menandakan bahwa dulunya lelaki itu berperawakan tegap, gagah, dan berotot kekar.

Kerutan wajahnya terlihat jelas. Dahinya sedikit terlipat karena kulitnya mengendur. Alis matanya mulai ditumbuhi uban, tapi jenggot dan kumisnya bersih tanpa selembar rambut atau uban. Pakaiannya tetap berwarna sama; baju coklat tanpa lengan, celana putih kusam dan ikat pinggang dari kain merah. Usianya sekitar enam puluh tahun.

itu sedang berlatih jurus-jurus silatnya dengan menggunakan gerakan lamban namun penuh curahan tenaga dalam. Gerakan jurus tangan kosong itu membuat tubuhnya meliuk ke sana-sini seperti orang mabuk yang terhuyung-huyung. Kadang ia melengkung ke depan hendak jatuh, namun ternyata justru berguling di tanah dengan menggunakan punggung-nya sebagai bahan hentakan yang membuat ia melenting bangkit dan berdiri lagi dengan cepat. Kadang ia limbung ke kiri seperti mau jatuh, tapi ternyata menggunakan kaki kirinya untuk menyentak ke tanah dan tubuh itu melesat ke kiri, lompat ke atas batu sambil lepaskan tendangan berputar cepat.

Sepasang mata memperhatikan gerakan silat lelaki itu dengan rasa heran. Sepasang mata yang bersembunyi itu sempat membatin dalam hatinya,

"Gerakannya sangat aneh. Sepertinya mudah di-tumbangkan. Kuda-kudanya tampak lemah. Tapi kurasa kenyataannya tidak demikian. Hmm...! Siapa orang itu? Mengapa ia ada di sini?"

Ketika lelaki itu hentikan latihan gerakan jurus tangan kosongnya, barulah terlihat siapa dia sebenarnya. Karena pada saat itu, lelaki tersebut segera mengambil bumbung tuak yang diletakkan di samping batu besar, lalu menenggak tuak beberapa teguk. Kebiasaan itu tak lain adalah kebiasaan murid sinting si Gila Tuak yang dikenal dengan julukan Pendekar Mabuk. Bagi yang tidak tahu perkara sebenarnya, pasti akan terheran-heran melihat Suto Sinting dalam keadaan setua itu. la menjadi lelaki yang usianya dua kali lipat dari usia sebenarnya. Mungkin malah seperti tiga kali lipat usia aslinya.

Semua itu terjadi karena Pendekar Mabuk masih dalam pengaruh 'Racun Gugah Jantan' dari Nyai Sapu Lanang.Tiga hari ia berada di pondok Nyai Sapu Lanang. Namun sang nyai belum mau memberikan obat penawar racun itu, karena Suto Sinting belum mau melayani keinginan sang nyai. Yang dilakukan Suto Sinting selama tiga hari empat malam di pondok itu adalah membujuk Nyai Sapu Lanang agar mau berikan obat penawar racun dengan berbagai cara. Sayang wanita yang berhasrat ingin mendapat keturunan dari Suto Sinting itu tetap tidak mau berikan obat itu.

"Sebelum kau mau melayani hasratku, kau tak akan kuberi obat penawar 'Racun Gugah Jantan'."

"Nyai, sekalipun aku mau melayani gairahmu, belum tentu akan membuatmu hamil dan mempunyai keturunan dari benihku, Nyai. Jangan terlalu yakin bahwa aku bisa memberikan keturunan padamu. Siapa tahu kau memang ditakdirkan hidup tanpa keturunan. Biar semua lelaki memberikan benihnya padamu, kau belum tentu bisa menjadi hamil, Nyai. Jadi sebaiknya lepaskanlah aku dari pengaruh racunmu itu!" bujuk Pendekar Mabuk kala itu.

"Memang belum tentu. Tapi setidaknya aku ingin mencoba menanamkan benihmu dalam rahimku. Siapa tahu justru benihmu itulah yang mampu menjadikan aku berketurunan, Suto Sinting. Karenanya aku hanya memohon padamu untuk membuktikan kebenaran dugaan kita masing-masing. Mencoba beberapa kali tak ada jeleknya daripada tidak mencoba yang berarti tidak berusaha!"

Pendekar Mabuk tetap gelengkan kepala. Sekaiipun 'Racun Gugah Jantan' selalu membangkitkan gairah Pendekar Mabuk, tapi gairah itu selalu ditahannya kuat-kuat. Suto Sinting tak ingin memberikan kemesraan batinnya kepada perempuan lain.

"Hanya Dyah Sariningrum yang boleh memiliki kemesraan batinku ini. Aku tak ingin berikan kepada siapa pun, kecuali kepada wanita yang amat kucintai itu," pikir Suto Sinting. "Bagaimanapun juga aku harus berusaha melawan gairahku sendiri tanpa harus melampiaskannya kepada Nyai Sapu Lanang. Aku percaya suatu saat bujukanku akan berhasil. Nyai akan mau berikan obat penawar racun itu. Setidaknya aku akan mendapat akal agar ia mau pulihkan keadaanku. Sekarang memang belum ada akal dan siasat yang tepat untuknya, tapi lambat laun aku pasti akan menemukannya. Yang penting aku jangan jauh-jauh darinya dan menjaga keselamatan jiwanya, sebab jika ia mati maka racun Ini akan bekerja terus dalam tubuhku dan menyiksaku lebih keji lagi. Ketuaanku semakin cepat tiba dan tak punya harapan menjadi muda seperti usia sebenarnya jika Nyai Sapu Lanang tak ada di sampingku."

Sementara itu, Nyai Sapu Lanang sendiri sering membatin di hatinya, "Orang ini benar-benar bandel. Kuat sekali la menahan gairahnya yang hampir setiap saat menuntut kepuasan batin. Padahal gairah yang tertahan itu sangat menyiksa jiwanya. Gairah yang tertahan itu melemaskan otot-ototnya dan membuyarkan ketenangannya.

Tapi ia tabah menghadapi dan kuat menjalani siksaan batin itu? Sampai kapan ia akan mampu bertahan dari godaan 'Racun Gugah Jantan'? Hmm...! Tak akan lama. Tak akan lebih dari tujuh hari ia mampu menahan hasratnya yang selalu berkobar-kobar itu. Cepat atau lambat, pada akhirnya nanti ia akan tak mampu lagi bertahan, lalu ia akan pasrah dan teng-gelam dalam pelukanku. Oh, aku menjadi lebih yakin, kekuatannya menahan hasrat itu merupakan tanda-tanda kekuatan benihnya yang dapat membuahkan janin dalam rahimku nanti! Pasti dialah lelaki yang cocok dengan kesuburanku."

Suto Sinting mempunyai berbagai cara untuk menahan gejolak gairahnya jika sang gairah mulai mencekam batin kuat-kuat. la dapat lakukan dengan semadi pernapasan atau membuangnya dengan berlatih gerakan-gerakan bertenaga. Jika keletihan tiba, maka gairahnya itu menjadi pudar sesaat. Hasrat ingin bercumbu lenyap pada saat ia melakukan latihan jurus tangan kosong hingga keluarkan keringat. Tak heran jika selama tiga hari di pondok itu Suto Sinting sering lakukan latihan jurus tangan kosong yang bersifat menguras tenaga.

Sayangnya, walaupun gairah itu bisa dibendung dengan meletihkan badan, tapi pengaruh racun yang membuat ketuaannya cepat tiba dan tak bisa terbendung. Semakin sering menahan gairah semakin cepat pertumbuhan ketuaannya. Tak heran jika dalam waktu empat malam saja Suto Sinting mencapai tingkat ketuaan seperti seorang kakek. Itu disebabkan karena terlalu seringnya menahan gairah kemesraannya.

Nyai Sapu Lanang sendiri sengaja sering menggoda dengan berbagai cara agar setiap waktu gairah Suto Sinting terpancing. Kedua orang tersebut saling menyimpan harapan, sehingga mereka secara tak langsung tak mau berpisah. Suto sendiri berharap bujukannya akan berhasil membuat Nyai Sapu Lanang berikan obat penawar racun. Sedangkan Nyai Sapu Lanang sendiri berharap agar kelemahan Suto Sinting pada akhirnya akan tiba juga, sehingga ia dapat menikmati dan memperoleh apa yang diharapkan dan diyakininya itu.

Tetapi pada hari keempat itu, agaknya Nyai Sapu Lanang terperangkap oleh godaannya sendiri. Kekerasan hati Suto Sinting yang tak mau memberikan setitik kehangatan membuat gairah sang nyai bangkit menuntut jiwa. Akhirnya sang nyai harus pergi tinggalkan pondok untuk mencari lelaki lain sebagai pemuas harapannya. Suto Sinting biarkan perempuan itu pergi, karena ia yakin akan kembali lagi. la juga tahu bahwa kekalahannya sedang ditunggu-tunggu oleh sang nyai. Jadi tak mungkin Nyai Sapu Lanang pergi selamanya tinggalkan mangsa di pondoknya.

Pada saat sang nyai pergi itulah, Suto Sinting pergunakan waktu untuk berlatih jurus tangan kosongnya sambil membuang hasrat yang bergolak akibat 'Racun Gugah Jantan'. Namun ketika ia selesai menenggak tuaknya, tiba-tiba sepasang mata yang dari tadi meng-intipnya dari balik celah dedaunan semak itu berkelebat muncul dan berdiri di depan Suto Sinting. Kemunculannya membuat Suto Sinting sempat terperanjat sesaat. Matanya memandang dengan sedikit mengecil karena pandangan mata Suto pun mengalami keburaman karena penuaannya itu.

"Jurus-jurusmu cukup aneh sekali, Kek! Kalau boleh kutahu, siapa dirimu? Apakah kau kakeknya Nyai Sapu Lanang?!"

Orang yang menyapa Suto Sinting itu adalah seorang wanita berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, berpotongan tubuh menggiurkan, dadanya mon-tok,mengenakan pinjung penutup dada ketat warna hijau muda berhias benang emas kuning.

Celananya juga ketat berwarna hijau muda dengan hiasan benang emas pada tepian celana. Pakaian itu dibungkus dengan baju jubah tanpa lengan yang panjangnya sampai betis. Jubah itu berwarna kuning kunyit. Di pinggangnya terselip kipas warna kuning emas. Rambutnya lepas terurai sepanjang punggung, dililit dengan hiasan kepala berwarna kuning emas.

Seraut wajah cantik yang pandangi Suto Sinting tanpa kesan terpikat itu segera didekati oleh sang pendekar beruban. Wajah berhidung mancung dan ber-mata bening ditatapnya lebih dalam lagi, kemudian barulah Suto perdengarkan suaranya yang bergetar bagai suara orang lanjut usia.

"Siapakah dirimu, Nona Cantik?"

"Namaku Teratai Kipas. Kurasa Nyai Sapu Lanang mengenal namaku.Dan sekarang pun aku ingin bertemu dengannya."

"Untuk apa kau ingin menemuinya, Nona?"

"Bikin perhitungan dengannya! Kuharap kau jangan menghalangi niatku, Kakek Tua. Aku tak ingin melibatkan dirimu dalam urusanku dengan Nyai Sapu La­nang!" kata Teratai Kipas dengan nada tegas. Dari ucapannya yang tegas itu terpancar dendam yang tersembunyi di dalam dada wanita cantik berkulit putih itu.

"Boleh kutahu masalahnya, Nona?" tanya Suto Sinting dengan sikap ramah.
"Siapa dirimu sebenarnya? Sebutkan dulu!"
"Namaku Suto Sinting. Aku bukan kakeknya Nyai Sapu Lanang."

Wanita itu tercenung sesaat sambil menggumam, "Suto...? Suto Sinting...?!"
"Ada yang menyangsikan dirimu, Nona Teratai Kipas?"

"Tidak ada," jawab Teratai Kipas jelas-jelas. "Aku hanya merasa pernah mendengar nama Suto Sinting, tapi... kurasa bukan kau orangnya."

Pendekar Mabuk yang menyerupai seorang kakek itu tersenyum kecil. Matanya masih memandang Teratai Kipas yang menatap penuh curiga. Kejap berikut terdengar Teratai Kipas perdengarkan suaranya yang lembut namun punya ketegasan tersendiri di dalamnya.

"Nyai Sapu Lanang berhutang nyawa padaku. Dia yang membuat adikku menjadi gila dan akhirnya bunuh diri karena kasmaran kepadanya tiada berkesudahan! Kekuatan ilmu pemikatnya membuat kematlan adikku; Arya Wuka yang masih berusia dua puluh tahun itu. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini dan harus membalas dengan kematian Nyai Sapu Lanang sendiri. Jadi, urusan ini tak ada sangkut pautnya denganmu, Ki Suto Sinting. Kuharap kau jangan mencampuri urusanku ini."

Terasa aneh hati Suto Sinting mendengar dirinya dipanggil 'Ki Suto Sinting'. Ada rasa janggal, malu, dan sedih yang tipis. Batinnya bertanya, "Sudah setua itukah diriku sehingga dipanggil 'Ki Suto Sinting' oleh si cantik ini? Padahal usianya mungkin sejajar denganku. Tapi haruskah aku tersinggung karena dipanggil 'Ki Suto Sinting' olehnya? Oh, kenyataan ini, ketuaan ini yang membuatku mendapat panggilan 'Ki Suto Sinting'. Aku tak salahkan dirinya, karena memang sosokku sudah tampak tua."

Terdengar lagi Teratai Kipas berkata, "Kumohon padamu, Ki Suto... panggillah Nyai Sapu Lanang, dan suruh dia berhadapan denganku. Aku ingin bertarung dengannya secara hormat. Bukan dengan mengamuk kasar dan liar. Tapi kalau kau tak mau memanggilnya keluar dari pondok itu, maka jangan salahkan diriku jika pondok itu kuhancurkan bersama dirinya. Nyai Sapu Lanang pantas dimusnahkan agar tidak menjadi perusak kaum lelaki lainnya!"

Sinting masih tampak tenang. Matanya memandang sebentar ke arah pondok yang dipunggunginya, lalu kembali menatap Teratai Kipas dengan sikap ramahnya yang masih ada, senyum tipis yang masih menghiasi wajah tuanya.

"Nyai Sapu Lanang tidak ada. Dia sedang pergi."
"Aku tidak percayal" tegas Teratai Kipas.
"Aku berkata yang sebenarnya, Teratai Kipas."

"Kalau begitu aku harus menggeledah pondok itu!" Teratai Kipas segera berkelebat menuju ke dalam pondok. Tapi Suto Sinting bergerak lebih cepat hingga ta-hu-tahu sudah berada di depan pintu menghadang langkah Teratai Kipas. Wajah dan sikapnya masih tampak tidak bermusuhan, walaupun wanita cantik itu kelihatan geram dan memendam kedongkolan yang besar di hatinya.

"Percayalah, sekalipun kau obrak-abrik isi pondok ini kau tak akan menemui Nyai Sapu Lanang, Nona! Dia pergi sejak tadi pagi."

"Menyingkirlahl" ucapnya bernada ketus dan memandang sinis.

Suto Sinting tarik napas dengan senyum kalem. Melihat kepenasaran Teratai Kipas, akhirnya Pendekar Mabuk menyingkir dari depan pintu dan membiarkan Teratai Kipas lakukan penggeledahan di dalam pondok. Suto Sinting sengaja menunggu di luar pondok sambil meneguk tuaknya kembali. Beberapa saat kemudian, Teratai Kipas keluar kembali dengan wajah cemberut bagaikan menemukan kekecewaan yang kian menjengkelkan hati.

"Pergi ke mana dia?!" tanyanya mulai semakin ketus. Suto Sinting angkat bahu pertanda tidak tahu. Tapi Teratai Kipas tak percaya dan semakin jengkel karena menganggap dipermainkan oleh Suto.

"Kalau kau tak mau sebutkan ke mana perginya, aku akan bicara dengan tangan dan mungkin senjata kipasku akan merobek kulit tuamu, Ki Suto!"

"Aku memang tidak tahu ke mana perginya."
"Baiklah. Jawaban itu berarti memaksaku untuk melakukan kekerasan agar kau buka mulut!"

Wuuut...! Teratai Kipas segera bergerak. Tangannya berkelebat bagaikan menampar dalam jurus cakar. Weees...! Hampir saja wajah tua Suto Sinting terkena cakaran kuku yang tak seberapa panjang tapi runcing tajam itu. Jaraknya yang hanya satu langkah telah membuat Teratai Kipas kembali mencakar bagai ingin merobek dada Suto Sinting. Wuuuss...! Deeb...! Tangan itu ditangkis oleh lengan kiri Suto Sinting.

Perpaduan tulang lengan dengan pergelangan tangan membuat Teratai Kipas hentikan serangannya sejenak. Hatinya sempat membatin,

"Gila! Sudah setua itu tapi tulangnya masih keras. Tenaga dalamnya tersalur dengan baik. Pergelangan tanganku menjadi linu, bahkan sampai ke pangkal pundak rasa linunya. Aku harus hati-hati dengannya!"
Pendekar Mabuk perdengarkan suaranya yang masih tetap kalem, "Kumohon jangan paksa diriku untuk mengatakan ke mana kepergian perempuan itu. Aku benar-benar tidak bisa menolongmu. Jangan gunakan kekerasan untuk hal yang tidak kuketahui, Teratai Kipas!"

"Omong kosong! Kau pasti tahu!"
"Baiklah. Sekalipun misalnya aku mengetahuinya, aku tidak akan sebutkan di mana dia berada!"
"Kau memang perlu mendapat pelajaran dan tidak menganggapku sebagai anak kecil, Suto Sinting!

Hiaaah...!"

Teratai Kipas berkelebat arahkan tendangannya ke dada Suto Sinting. Gerakan kaki lurus itu ternyata hanya sebuah tipuan, karena kejap berikut ia menyentak naik dan kaki kirinya yang berkelebat dari samping menendang tepat kenai bagian bawah ketiak Suto Sinting.

Duuuhg... !

"Uhg...!" Suto Sinting terlempar ke samping walau tak sampai jatuh. Tapi ia mulai rasakan patah tulang ru-suknya karena tendangan kaki kiri itu disaluri tenaga dalam tinggi. Untung Suto Sinting dapat segera tarik napas dalam-dalam dan salurkan hawa murninya sendiri ke tempat yang sakit, sehingga rasa tulang rusuk patah itu segera berkurang.

"Hiaaat...!" Teratai Kipas berkelebat menerjang Suto dalam satu lompatan. Suto Sinting terpaksa menyambutnya sekadar memberi bukti bahwa dirinya memang tidak tahu ke mana kepergian perempuan penyapu kaum lelaki itu. Suto Sinting melompat dengan bumbung tuak menggantung di pundak. Lalu di udara mereka saling beradu telapak tangan. Plak, plak...! Wuuuut...! Brruk...! Teratai Kipas seperti mendapat daya hentak dari tendangan seekor banteng yang sedang mengamuk. Hentakan gelombang tenaga dalam dari telapak tangan Pendekar Mabuk membuatnya terpental jauh, sekitar delapan langkah baru jatuh terseret mundur dalam keadaan duduk miring tak bisa jaga keseimbangan tubuh. Hampir saja bagian belakang kepala Teratai Kipas membentur sebongkah batu jika tak segera menahan napas agar gerakan terseretnya terhenti.

"Orang tua nakal kau rupanya!" geram Teratai Kipas. "Jangan sangka aku jera dengan kekuatan tenaga dalammu itu, Ki Suto! Terimalah jurus kipasku ini!" Seet...! Kipas emas dicabut dari pinggang. Dalam satu lompatan kipas itu dikibaskan ke arah depan. Wuuus...! Lalu berhamburanlah serbuk-serbuk hitam yang menyebar ke arah Suto Sinting.

"Racun...!" pikir Suto Sinting seketika itu. Maka ia pun segera gunakan 'Gerak Siluman'-nya hingga mampu berkelebat pergi menghindari kibasan kipas yang menghadirkan serbuk-serbuk hitam itu. Zlaaap...!

Serbuk hitam itu jatuh menghujani bongkahan batu yang tadi ada di belakang Suto Sinting. Batu itu menjadi retak perlahan-lahan dan akhirnya terbelah menjadi beberapa bagian. Belahan-belahan itu segera berubah menjadi serbuk halus bagaikan ditumbuk dengan palu go-dam raksasa.

"Beruntung kau dapat hindari 'Serbuk Pelebur Nyawa' dariku. Kalau tidak kau akan menjadi tepung lembut seperti batu itu, Pak Tua!" kata Teratai Kipas dengan wajah memancarkan keberangan.

"Sekarang kau tahu aku tidak main-main lagi, Ki Suto! Jadi sebaiknya kau pun jangan anggap remeh pertanyaanku tadi. Katakan ke mana perginya Nyai Sapu Lanang itu?!"

"Jawabanku tetap sama walaupun kau kerahkan seluruh ilmumu untuk menyerangku, Nona Cantik! Sudah kukatakan, seandainya aku tahu tetap tidak akan kukatakan, apalagi dalam keadaan aku benar-benar tidak tahu, tetap tidak bisa kukatakan ke mana perginya si perempuan pemburu lelaki itu!"
"Jika begitu, mungkin inilah kunci pembuka mulutmu! Hiaaat...!"

Teratai Kipas melemparkan kipasnya dalam keadaan terbuka. Kipas emas bergambar bunga teratai itu melayang cepat menerjang Suto Sinting. Wuuus...! Tepian kipas itu menyala merah, bagaikan dikelilingi oleh kawat membara. Kipas itu bergerak memutar dengan cepat hingga tepiannya yang menyala merah bara itu memercikkan bunga-bunga api satu arah putaran.

Sinting segera menghantam kipas itu dengan bumbung tuaknya. Wuuut.... Blegaaar...! Cahaya terang warna merah berkelebat besar. Kilatan cahaya merah dari hasil benturan kipas dengan bumbung tuak sampai nyaris menjilat dedaunan di atas pohon. Tentu saja hentakan daya ledaknya cukup besar dan membuat Suto Sinting serta Teratai Kipas sama-sama terpental ke belakang bagaikan terlempar oleh kekuatan maha dahsyat.

Sekitar dua-tiga dahan patah seketika dan tumbang dengan sendirinya. Sedangkan kedua orang tersebut sama-sama terkapar dalam jarak sekitar enam tombak jauhnya dari tempat mereka berdiri semula.

Dedaunan semak dan ranting pohon kecil diterabas oleh lemparan tubuh mereka hingga rusak bagaikan dilanda seekor kerbau yang mengamuk membabi buta.

Kekuatan tenaga dalam pada kipas emas itu sangat besar. Jika tidak, daya ledaknya tak mungkin sehebat itu. Sementara di sisi lain Teratai Kipas sendiri berkeyakinan bahwa bumbung tuak itu menyimpan tenaga sakti yang amat besar. Jika tidak tentunya benturan tadi tak akan hadirkan gelombang daya ledak yang begitu kuat.

"Dadaku terasa sakit sekali, seperti habis terhimpit pilar besar!" kata Teratai Kipas sambil berusaha bangkit berdiri. Ucapannya itu dilanjutkan lewat kata hati seraya ia berusaha bersandar pada sebuah pohon berukuran sedang.

"Oh... panas sekali. Cuih...!" Teratai Kipas meludah, ternyata yang diludahkan segumpal darah kental. "Aku terluka dalam. Aduuuh... panasnya dadaku. Napas terasa mengandung hawa panas. Oh, bahaya sekali luka dalamku ini! Benar-benar gila bumbung tuak itu. Biasanya kipasku justru mampu memotong pohon besar dalam sekali lempar, ini justru tak mampu memotong bambu yang besarnya hanya dua genggaman tangan!"

Mata wanita cantik itu melirik ke arah terjadinya benturan kipas dengan bumbung tuak. Ternyata kipas itu dalam keadaan tergeletak di tanah tanpa rusak se­dikit pun. Tapi nyala pijar merah di tepiannya telah padam. Tanah di tempat terjadinya ledakan dahsyat tadi menjadi cekung ke dalam bagaikan habis kejatuhan batu besar dari puncak pohon cemara.

Dengan terhuyung-huyung Teratai Kipas menghampiri senjatanya dan memungutnya kembali. Saat memungutnya ia hampir saja tersungkur jika tidak se­gera menopang tubuh dengan tangan kiri dan lutut kirinya. Sedangkan Suto Sinting berjalan dari tempatnya terkapar dalam keadaan sehat. Langkahnya sedikit lamban dan kurang gagah karena pengaruh ketuaannya. Rupanya ia tadi sudah segar kembali.

"Teratai Kipas, kau terluka dalam cukup parah. Kusarankan minumlah tuakku ini beberapa teguk untuk mengobati luka dalammu itu!"

"Hmm...!" Teratai Kipas bangkit dengan limbung, lalu berusaha untuk berdiri tegak walau kedua kakinya tampak bergetar samar-samar. la memandang dengan sikap curiga ketika Suto Sinting menyodorkan bumbung tuaknya.

"Kau pikir aku lawan yang mudah kau jebak dengan racun tuakmu itu?" katanya sebagai pelampiasan sikap curiga kepada tuak tersebut.

Suto Sinting tersenyum tipis. Masih tidak menampakkan sikap bermusuhan. Sementara hati Teratai Kipas segera membatin, "Dia tetap segar dan tak menjadi pucat sedikit pun. Hebat sekali?! Apakah karena ia meminum tuaknya?"

Pendekar Mabuk segera melangkah pergi pelan-pelan sambil berkata, "Kalau tak mau disembuhkan ya sudah! Aku tak akan memaksamu."

"Tunggu!" sergah Teratai Kipas. la bergegas mendekati Pendekar Mabuk yang sengaja hentikan langkah sambil melirik ke belakang.

"Apa sangsinya jika ternyata kau meracuniku dengan tuak ini?"

"Tak ada sangsinya! Aku tak jadi berikan tuakku untukmu!" jawab Suto Sinting sambil lanjutkan langkah hendak masuk ke dalam pondok yang salah satu dinding kayunya jebol akibat gelombang ledakan dahsyat tadi. Tapi karena dada Teratai Kipas semakin panas, dan ia meludahkan darah kental lagi dari mulutnya, maka kecemasan yang mencekam hati telah membuatnya bergegas mengejar Suto kembali, lalu mencekal pundak Pendekar Mabuk yang tidak dikenalinya itu.

"Berikan tuakmu!" katanya masih tak ramah. "Jangan, Nanti kalau kau mati aku yang dituntut arwahmu," goda Suto Sinting.

"Aku percaya padamu, Ki Suto!" Suto Sinting berbalik badan, kini wajah pucat pasi itu dipandanginya dalam senyum ramah seorang lelaki tua. Bumbung tuak diberikan, dan Teratai Kipas segera menenggaknya.

Beberapa saat setelah itu, Teratai Kipas merasakan ada perubahan dalam dadanya. Dada yang panas menjadi dingin. Dada yang sakit menjadi lega dan sehat. Tubuhnya yang lemas menjadi kuat kembali.

Tapi wanita cantik itu menjadi tertegun merasakan perubahan yang cepat itu. la merasa heran dan terkagum-kagum dalam hati, karena ia merasakan tubuhnya segera menjadi lebih segar dari sebelum melakukan pertarungan dengan si tua aneh itu.

Ki Suto..., siapa sebenarnya dirimu dan ada hubungan apa dengan Nyai Sapu Lanang itu? Tolong je laskan agar aku tak salah anggapan terhadapmu!"SEBATANG kayu kering terbujur di samping pondok, letaknya tepat di bawah sebongkah batu sebesar rumah yang tersumbul dari kemiringan tanah lereng. Cahaya matahari terpayungi batu besar itu. Batang pohon yang sudah lama tumbang itu menjadi tempat duduk Suto Sinting dan Teratai Kipas yang telah saling berdamai setelah Suto jelaskan mengapa ia berada di pondok itu. Tapi Suto Sinting belum memberitahukan apa tujuannya datang ke Gunung Kundalini dan siapa sebenarnya dirinya itu.

"Adikku diculik oleh Menak Goyang, muridnya Malaikat Miskin dari Perguruan Tongkat Sakti. Saat aku mengejar Menak Goyang itulah aku dihadang oleh Nyai Sapu Lanang dan terkena racun tersebut, sehingga keadaanku menjadi setua ini."

"Bukankah 'Racun Gugah Jantan' hanya berguna untuk membangkitkan gairah seorang lelaki agar bersemangat mengarungi lautan cinta bersamanya?"

"Benar. Tapi apabila gairah itu tertahan, maka sifatnya berubah menjadi racun penua raga. Apabila aku mau layani perempuan itu, aku tidak akan lekas menjadi tua seperti ini. Walau gairahku tetap melonjak-lonjak asalkan tetap disalurkan kepadanya, penuaan tidak akan terjadi pada diriku."

Teratai Kipas manggut-manggut. "Kalau begitu selama ini kau menolak ajakan bercintanya?"
"Benar. Aku tak mau melayaninya walau satu kali saja."

"Mengapa kau sebodoh itu? Seharusnya kau mau melayaninya demi keselamatan ragamu agar tak menjadi lekas tua begini! Kau sudah terkena racun itu dan hanya dia yang mempunyai obat penawarnya. Mengapa kau tak mau menyerah saja?"

"Aku tak tega menodai cinta. Aku harus menjaga kesucian cintaku kepada seseorang yang amat kusayangi. Sebab itu aku memilih bertahan berada di dekatnya dengan harapan suatu saat dapat membujuknya memberikan obat penawar itu. Dan aku terpaksa menjaga keselamatan jiwanya, sebab kalau dia mati, aku tak akan dapatkan obat penawa racun itu. Dia sendiri berharap aku menyerah dan pasrah padanya padanya jika setiap saat dibangkitkan gairahnya dan aku harus tersiksa menahan gejolak batin."

Teratai Kipas diam termangu beberapa saat. Batinnya sempat berkecamuk sendiri tiada yang tahu.

"Alangkah setianya Suto Sinting ini kepada orang yang dicintainya. Jarang sekali ada lelaki sesetia dia! Padahal seandainya ia mau layani Nyai Sapu Lanang, toh kekasihnya tidak mengetahuinya. Tapi agaknya ia membenci pengkhianatan diri pribadi. la tidak mau berbuat tak senonoh dengan perempuan lain walau sang kekasih tak melihatnya. Oh, alangkah agung dan mulianya cinta orang ini. Hanya saja... mengapa Nyai Sapu Lanang sangat berharap dan penasaran sekali kepada orang ini, hingga melepaskan 'Racun Gugah Jantan'? Apakah orang ini sebelum mengalami penuaan berwajah tampan? Hmm...! Seperti apa ketampanannya itu, sampai sang nyai dibuat penasaran? Kurasa wajar-wajar saja. Ketampanannya tidak akan melebihi Raden Panji, kekasihku yang mati terbunuh di tangan lawannya itu.Ah... entah seperti apa ketampanannya, aku tak akan tertarik. Aku hanya merasa kasihan dengan nasibnya yang menjadi tua begini sementara adik nya ada dalam penawanan si Malaikat Miskin."

Pendekar Mabuk meneguk tuaknya lagi. Setelah itu terdengar suara Teratai Kipas ajukan tanya, "Mengapa adikmu diculik Menak Goyang?"

"Aku dituduh mencuri pisau pusaka milik Malaikat Miskin!"
"Maksudmu, Pisau Tanduk Hantu?"
"Ya. Rupanya kau tahu tentang pisau itu?!"

"Aku kenal Malaikat Miskin. Aku kenal orang-orang perguruan itu, karena almarhum kekasihku dulu memang orang Perguruan Tongkat Sakti."

"Kalau begitu kau tentunya tahu di mana letak Perguruan Tongkat Sakti?!"

"Sangat tahu!" jawab Teratai Kipas. "Kau ingin agar aku mengantarmu ke sana dan membantu merebut adik kecilmu itu?"

"Hanya menunjukkan tempatnya saja. Soal merebut adikku itu urusanku. Aku bisa menanganinya sendiri."

"Apa keuntunganku jika mengantarmu ke sana?"

Suto Sinting diam sambil tersenyum tanpa memandang Teratai Kipas. la segera angkat pundak dan berkata, "Aku tak tahu apa yang kau harap dari jasamu nanti. Kau punya keinginan apa, Teratai Kipas?"

"Membalaskan dendamku pada Nyai Sapu Lanang! Aku tahu dia cukup sakti, ilmuku kalah tinggi dengannya. Walau aku punya siasat sendiri untuk menumbangkannya, tapi aku akan cedera melawannya. Kalau kau kutolong pergi ke Perguruan Tongkat Sakti, tentunya aku berharap kau membantuku dalam melapiaskan dendamku kepada Nyai Sapu Lanang."

"Apakah dendam itu cara penyelesaian yang baik?"

"Menurutku memang begitu! Aku tak peduli apa anggapan orang tentang dendam. Yang jelas, jiwaku menjadi dituntut terus, seakan didesak oleh roh adikku untuk membalaskan sakit hatinya kepada Nyai Sapu Lanang."

Keras sekali kemauan wanita cantik itu. Suto Sinting merasa percuma menyadarkan Teratai Kipas agar jangan menuruti nafsu dendam. Karena dilihatnya, bagi Teratai Kipas tak ada cara lain untuk membalaskan sakit hatinya kecuali dengan melampiaskan dendam. Maka Pendekar Mabuk pun segera berkata,

"Aku bisa membantumu jika Nyai Sapu Lanang sudah memberiku obat penawar 'Racun Gugah Jantan'. Jika ia belum memberiku obat penawar, aku masih bersikap menjadi pelindungnya. Kurasa kau bisa memahami mengapa aku bersikap demikian."

"Ya, aku bisa memahaml maksudmu."

Suto Sinting tarik napas dalam-dalam karena ia mulai merasakan hasratnya meletup-letup. Pandangan matanya sudah berusaha dihindarkan dari gumpalan dada putih sekal, tapi bayangan sebentuk kehangatan di dada itu masih sesekali menggoda benak dan membangkitkan gairah. Suto Sinting yang cepat dibakar api asmara itu menjadi geiisah. Napasnya terasa mulai tidak teratur. la pun berucap kata dalam batinnya,

"Celaka! Hasratku timbul kembali karena terlalu lama berdekatan dengan Teratai Kipas. Ah, gawat juga kalau begini! Aku membayangkan sedang bercumbu dengan Teratai Kipas. Mati aku, Mak...! Jantungku berdetak cepat dan jiwaku memberontak menuntut pemu-asan batin. Apa yang harus kulakukan jika begini? Apa...?!" Suto Sinting menjadi bingung sendiri dan dicekam kegeiisahan yang menjengkelkan.

Terdengar pula suara Teratai Kipas berkata, "Aku mau membantumu, tapi kau harus berjanji akan membantuku menumbangkan Nyai Sapu Lanang jika kau telah dipulihkan dalam keadaan raga sebenarnya. Kau mau berjanji, Suto?"

"Baik. Aku berjanji!" jawab Suto dengan napasnya tampak memberat dan keringat dinginnya mulai membersit di kening.

Teratai Kipas memandang heran melihat perubahan sikap Suto Sinting yang geiisah dan resah itu. Maka terlontarlah pertanyaan dari mulut berblbir mungil dan sedikit tebal menggemaskan itu,

"Ada apa?! Mengapa wajahmu menjadi pucat, na-pasmu menjadi cepat dan kau tampak tak tenang. Ada apa sebenarnya?"

"Hmm... eeh... tidak apa-apa," jawab Suto Sinting dengan rasa malu. "Sebaiknya sekarang juga kita pergi ke Perguruan Tongkat Sakti. Kau bersedia?" tanya Suto Sinting dengan suara semakin lirih.

"Baik. Aku bersedia!" tegas Teratai Kipas. "Tapi jelaskan dulu mengapa kau menjadi sepucat itu?"
"Hmm... penjelasannya nanti saja. Apakah... apakah kau sanggup berlari cepat seperti anak panah lepas dari busurnya?"

Tentu saja aku bisa lakukan hal itu. Apa maksudmu bertanya demikian?"

"Kita adu kecepatan lari. Tentukan arah yang harus kita tuju, dan kita akan berlomba kecepatan lari ke arah sana!"

Teratai Kipas sunggingkan senyum tipis, namun wajah cerianya terpapar jelas di mata Suto Sinting. Senyuman itu mempunyai lesung pipit, walau tak seberapa jelas namun cukup mengingatkan pikiran Suto Sinting kepada seraut wajah pemilik lesung pipit. Wajah itu tak lain adalah wajah kekasihnya; Dyah Sariningrum. Semakin tergoda kasmaran hati Suto Sinting, semakin mencekam hasrat bermesraannya membakar darah.

Maka, Suto pun segera mengawali adu kecepatan berlari. Karena dengan begitu ia akan menjadi leiah dan kelelahan itulah yang mampu membuat darah kemes-raannya menjadi dingin, tak sepanas saat itu. Teratai Kipas tak tahu maksudnya, ia hanya menyangka Suto Sinting ingin unjuk kebolehan dalam kecepatan berlarinya. Padahal Suto berlari tidak dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam penuh. la juga tidak pergunakan ilmu peringan tubuhnya, sehingga ia tertinggal jauh oleh Teratai Kipas. Tapi justru keadaan itulah yang membuat Suto terhindar dari gairahnya.

Perguruan Tongkat Sakti ternyata terletak di lereng Gunung Kundalini juga. Letaknya agak tinggi dari tempat pondoknya Nyai Sapu Lanang. Lebih tepatnya sebelah utara saat Suto Sinting pertama kali bertemu dengan Nyai Sapu Lanang. Sebenarnya saat itu Suto tinggal beberapa waktu lagi sudah mencapai Perguruan Tongkat Sakti. Tapi karena terhalang Nyai Sapu Lanang ia jadi menunda waktu datang ke perguruan tersebut.

Perguruan itu dikeliiingi oleh benteng kayu yang rapat dan kokoh. Pada tiap sudut terdapat menara pengawas yang dijaga oleh satu orang untuk satu menara.

Hal itu mempersempit kemungkinan pencuri masuk ke bangunan pusat perguruan yang ada di tengah benteng kayu itu. Anehnya justru perguruan itu sedang dilanda musibah dengan masuknya seorang pencuri yang berhasil membawa lari Pisau Tanduk Hantu. Sudah pasti pencurinya orang berilmu tinggi karena bisa menerobos masuk ke benteng yang dijaga ketat itu.

"Bagaimana caranya masuk tanpa menimbulkan korban?" tanya Suto Sinting kepada Teratai Kipas.

"Itu yang sedang kupikirkan," jawab Teratai Kipas dengan mata pandangi benteng perguruan itu. "Jika benar Pisau Tanduk Hantu dicuri orang, maka mereka juga akan mencurigai diriku sebagai pencurinya. Sebab akulah orang yang dulu sering keluar-masuk benteng itu selama menjadi kekasih Raden Panji. Ini yang mem-buatku agak ragu untuk mendekati secara baik-baik."

Pendekar Mabuk mau ucapkan kata, tapi tiba-tiba niatnya diurungkan karena melihat sekelabat bayangan biru melintas menuju gerbang benteng. Mata tua Suto sempat menangkap seraut wajah yang dikenalnya sebagai milik Menak Goyang. Maka dengan gerakan cepat ia pun menghadang langkah gadis berjubah biru itu.

Zlaaap...!

Melihat Suto Sinting menghadang seseorang, Teratai Kipas ikut menyusulnya dengan gerakan cepat pula. ia sempat merasa heran melihat Suto Sinting mampu bergerak lebih cepat dari saat beradu lari tadi, namun pikiran tersebut segera dihilangkan. Kini perhatian Teratai Kipas terpusat pada Menak Goyang yang terkejut melihat Suto Sinting menghadang langkahnya.

"Siapa kau? Mau apa menghadangku?" tanya gadis itu sambil kakinya bergoyang-goyang tak bisa diam. Rupanya ia tidak mengenali Suto Sinting karena penampilan Suto yang seperti seorang kakek itu.
"Kita masih punya urusan yang belum selesai, Menak Goyang."

Gadis itu kerutkan dahinya. Tapi semakin heran ketika dilihatnya Teratai Kipas muncul dan mengambil tempat di samping Suto Sinting. Seakan Teratai Kipas tunjukkan sikap memihak kepada Pendekar Mabuk yang masih belum dikenal oleh Menak Goyang itu.

"Teratai Kipas...?! Apa maksudmu membawa kakek tua ini datang kemari?!"

"Jika tak ada urusan penting denganmu tak mungkin dia datang kemari," jawab Teratai Kipas dengan tenang.

"Siapa Pak Tua ini sebenarnya?! Aku merasa tak punya urusan dengannya!"

Suto Sinting segera menjawab, "Bukalah matamu baik-baik, Menak Goyang. Walau keadaanku menjadi setua ini tapi tentunya kau masih ingat dengan seseorang yang kau sebut-sebut sebagai Pencuri Tampan?!"

Setelah mempertegas penglihatannya, Menak Goyang terperanjat jelas-jelas. Matanya melebar mulutnya ternganga. Sebentar kemudian terdengar ia berucap,

"Kau rupanya...?!"

"Benar! Aku orang yang kau tuduh pencuri pusaka gurumu! Aku datang untuk mengambil adikku yang kau bawa lari itu!"

"Apakah pisau itu sudah kau bawa juga sekarang ini?"
"Selamanya aku tak pernah memiliki pisau itu, karena bukan aku pencurinya!"

"Kalau kau datang tanpa membawa Pisau Tanduk Hantu, kami tak akan mau serahkan adikmu yang aneh itu!" kata Menak Goyang.

Teratai Kipas menengahi dengan sikap tenangnya, "Menak Goyang, kau salah orang. Kau hanya bikin penyakit saja. Dia bukan pencuri pisau itu!"

"Kau tak perlu ikut campur, Teratai Kipas. Guru akan marah kepadamu kalau kau ikut campur urusan Ini. Kecuali jika ternyata kaulah pencurinya, maka urusan ini memang menjadi urusanmul"

"Jangan menuduh sembarangan, Menak Goyang! Aku bisa marah padamu!" Menak Goyang justru mendekat dengan sikap me-nantang. "Apakah kalau kau marah lantas aku takut padamu?!"

Kalau kau tak takut padaku, coba serang aku lebih dulu!" pancing Teratai Kipas dengan mata jell menatap calon lawannya.

"Rupanya kau ingin bukti keberanianku? Terlmalah ini, hiaaah...!"

Menak Goyang lepaskan tendangan memutar dengan cepat. Sasaran kaki yang berkelebat adalah wajah Teratai Kipas. Namun dengan cekatan tangan Teratai Kipas menghantam mata kaki itu dengan kepalan kerasnya. Dees...!

"Aauh...!" Menak Goyang terpekik ketika tubuhnya terpelanting dan jatuh di samping Suto Sinting.

Ketika ia berusaha bangkit, Suto Sinting segera menyentakkan tangannya. Kedua tangan yang menguncup itu menghantam dengan gerakan limbung seperti orang sedang mabuk. Pukulan itu mengenai tubuh Menak Goyang dengan cepat dan beruntun, sulit dilihat oleh mata orang biasa. Des, des, des, des...! Serangkaian jurus totokan mengenai sasaran dengan te-lak. Menak Goyang jadi terkulai lemas bagai kehilangan seluruh urat tubuhnya. Tulang-tulangnya seakan telah remuk dan tak bisa digerakkan sedikit pun. Namun kesadarannya masih ada, masih bisa merintih dan bicara.

Suto Sinting menakut-nakuti dengan kata, "Mudah sekali bagiku untuk membuat kau kehilangan kepala. Sekarang pun bisa kulakukan. Tapi kuberi kesempatan padamu untuk membawa kami menghadap gurumu; si Malaikat Miskin itu. Jangan ada pihakmu yang menyerang kami. Jaminannya adalah nyawamu. Sekali totok lagi, nyawamu akan lenyap dari raga!"

"Bbba... baik... baik akan kubawa kalian menghadap Guru, tapi bebaskan dulu totokan ini!"
"Tidak bisa! Kau akan kami seret sampai di depan gurumu!" kata Suto Sinting tanpa senyum sedikit pun walau wajahnya tidak berkesan angker.

Dengan cara menyeret Menak Goyang, mereka mendekati pintu gerbang benteng. Teratai Kipas menyangga ketiak kanan Menak Goyang dan Suto Sinting menyangga ketiak kiri gadis itu. Kaki Menak Goyang terseret bagian telapaknya karena tak mampu menapak sedikit pun.

"Menak Goyang...!" seru penjaga pintu gerbang. Empat orang itu segera mengepung Suto Sinting dan Teratai Kipas. Mereka bersiap melepaskan serangan. Tetapi Menak Goyang melirik tangan Suto Sinting tetap menguncup berarti siap lepaskan satu pukulan yang akan mencabut nyawanya. Menak Goyang ngeri, dan segera berseru kepada keempat penjaga gerbang,

"Jangan serang mereka! Nyawaku terancam! Buka pintu gerbang dan bawa kami menghadap Guru!"

"Tapi...."

"Jangan membantah perintahku!" sergah Menak Goyang dengan kepala masih bisa bergerak-gerak tak mau diam.

Teratai Kipas sempat menggerutu pelan, "Dasar Menak Goyang, biar ditotok masih saja bisa goyang-goyangkan kepala!"

Pintu gerbang dibuka, Suto Sinting membawa masuk Menak Goyang bersama Teratai Kipas. Semakin banyak murid perguruan yang melihat keadaan itu semakin banyak yang mengepung dari kejauhan. Wajah-wajah mereka tampak tegang, karena Menak Goyang yang dikenal sebagai murid tertinggi di situ bisa dilumpuhkan oleh dua tamu tak diundang, berarti kedua tamu itu berilmu tinggi. Begitu setidaknya jalan pikiran para murid Malaikat Miskin itu.

Seorang lelaki berambut rata, kurus dan tinggi, matanya cekung, tulang pipinya bertonjolan, muncul menghadang langkah Suto Sinting dan Teratai Kipas yang hendak memasuki ruang pertemuan.

Teratai Kipas bUikkan kepada Suto, "Pak Tua yang memakai jubah abu-abu itu si Malaikat Miskin."

Suto Sinting hanya anggukkan kepala sambil masih tetap menopang tubuh Menak Goyang. Matanya memandang orang yang memakai jubah abu-abu ber-tambal kain warna-warni hingga nyaris tak terlihat lagi warna abu-abunya.

Malaikat Miskin yang berpakaian mirip gelandangan itu mengenakan ikat kepala hitam dengan bertambal kain kecil-kecil. Celananya pun hitam dengan tambalan di sana-sini. la mempunyai mata cekung yang memandang dengan dingin. Menggenggam tongkat putih yang ujungnya bercabang tiga pendek-pendek. Sepertinya tongkat dari kayu pohon biasa. Tanpa ukiran dan hiasan apa pun.

Menak Goyang segera dilemparkannya dan jatuh terpuruk bagaikan sarung basah. Melihat Menak Goyang terlempar jatuh di depan kakinya, Malaikat Miskin memandang dengan lebih tajam lagi. Giginya tampak sedang menggeletuk menahan amarah. Mata tajam itu segera berpindah dari Suto ke Teratai Kipas. Suara Malaikat Miskin terdengar berat.

"Apa maksudmu datang kemari secara bermusuhan, Teratai Kipas?!"

"Aku mengantarkan orang ini, Eyang Guru!" jawab Teratai Kipas masih menghormat Malaikat Miskin seperti saat menjadi kekasih Raden Panji dengan sebutan Eyang Guru.

"Apa perlunya datang kemari dengan melumpuhkan Menak Goyang muridku?!" tanyanya lagi dengan nada datar dan suara berat.

Suto Sinting yang menyahut, "Aku datang untuk mengambil adikku!"

"Siapa adikmu?!"

Belum sempat dijawab, tiba-tiba dari arah dalam ruang pertemuan muncul gadis kecil berlari-lari. Gadis itu berusia sekitar empat tahun. Dan Suto Sinting terbe­lalak kaget melihat bocah kecil itu ternyata adalah Sumbaruni yang sudah semakin menyusut. la mirip bocah berusia empat tahun yang belum bisa berlari dengan tegar. Malaikat Miskin segera menyambar Sumbaruni dan dalam waktu sekejap sudah berada di gendongannya. Kedua tangan Sumbaruni tersekap hingga tak bisa meronta-ronta.

Sedangkan Malaikat Miskin lemparkan pandangan tajamnya ke wajah bocah itu yang membuat sang bocah tak berani meronta lagi. Penuh rasa takut.

"Runi...?!" ucap Suto Sinting lirih.

Bocah kecil itu memandangi Suto Sinting dengan heran. Makin lama semakin lebar matanya, lalu terdengar bocah itu bicara seperti orang dewasa.

"Suto,..?! Kaukah itu...?!"
"Ya. Aku Suto... kakakmu!"

"Ooh...?!" Sumbaruni tercengang sejenak. Wajah ciliknya tampak penuh haru dan ketakutan. "Mengapa... mengapa kau bisa menjadi setua itu, Suto?!"

"Ceritanya panjang, Runi...."

Suto Sinting belum selesaikan kata, Malaikat Miskin sudah menyuruh anak buahnya untuk membawa masuk Sumbaruni. Anak itu pindah gendongan dan dibawa lari masuk. Suto Sinting mendengar suara teriakan Sumbaruni yang mengiris hati, "Tidak mau...! Tidak mau...! Aku mau pulang! Aaauh... Sutooo...!"

Berkelebatlah Pendekar Mabuk dengan menggunakan Gerak Siluman'-nya untuk mengejar Sumbaruni. Tapi gerakan cepat itu tertangkap mata Malaikat Miskin. Kaki orang jangkung itu menendang tak sampai menyentuh tubuh Suto. Wuuut...!

Beeehg... !

Ulu hati Suto Sinting bagaikan dihantam dengan pilar baja yang besar. Mata tua Pendekar Mabuk menjadi mendelik dan kontan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tubuh itu terjengkang ke belakang dan terkapar dengan napas tersendat-sendat. Gelombang tenaga dalam yang amat besar dilepaskan dari kaki Malaikat Miskin dan membuat Pendekar Mabuk mengalami luka memar tepat di ulu hatinya. Biru legam di sekitar bawah dada. Bumbung tuak mengganjal punggung karena belum diambil dari tempatnya.

Teratai Kipas sengaja tidak ikut menyerang Malaikat Miskin untuk membuktikan bahwa ia hanya mengantarkan Suto Sinting tiba di tempat itu. Tetapi Malaikat Miskin berkata kepada Teratai Kipas,

"Bawa pergi orang ini jika belum membawa Pisau Tanduk Hantu milikku! Katakan padanya, dalam waktu satu malam jika ia tidak membawa pisau itu kemari, maka adik kecilnya akan kujadikan korban pengganti pusaka, dan ia sendiri akan mati membusuk karena jurus Tendangan Melarat'-ku tadi!"

Tapi dia bukan pencurinya, Eyang Guru."

Tahu apa kau, hah?! Hanya dia orang asing yang ada di wilayahku saat pisau pusaka itu hilang. Berarti dialah pencurinya!"

"Belum tentu!"

"Jangan membantah keputusanku kalau kau tak ingin kuanggap bersekongkol dengan orang itu!" sambil Malaikat Miskin menuding Suto Sinting yang terkapar dengan wajah kian memucat .

Teratai Kipas tak berani membantah lagi. la sadar bahwa ilmunya kalah tinggi. Malaikat Miskin bukan tandingannya. Jika ia melawan hanya untuk membela Suto Sinting itu sama saja ia mati konyol tanpa arti. Maka segera saja tubuh Suto Sinting diangkat dengan menggunakan ilmu tenaga dalamnya hingga tubuh itu terasa ringan. la memanggul tubuh Suto Sinting dan melesat pergi tinggalkan perguruan tersebut.

"Waktumu hanya semalam untuk menebus adikmu Itu dengan Pisau Tanduk Hantu," kata Teratai Kipas ketika merasa sudah jauh dari Perguruan Tongkat Sakti.

"Ja... jangan bicara dulu.... Beri aku... tuak...! Tuak...!" Suto sulit bicara karena sekujur tubuhnya bagaikan berubah menjadi kayu keras.TUAK sakti itu pula yang selamatkan Pendekar Mabuk dari pembusukan yang dikarenakan jurus Tendangan Melarat' si Malaikat Miskin itu. Jika Teratai Kipas terlambat memberikan tuak kepada Suto Sinting, maka pembusukan akan segera berlangsung dan itu berarti mereka terlambat melawan pengaruh kekuatan jurus Tendangan Melarat' tersebut.

"Apa rencanamu sekarang?1' tanya Teratai Kipas. "Membalas budi baikmu yang telah selamatkan aku dari pembusukan. Tapi ketuaanku ini masih belum bisa hilang," jawab Suto Sinting sambil membuka tutup bumbung tuak dan meneguk tuak lagi dua tegukan.

"Apakah kau ingin kembali ke pondoknya Nyai Sapu Lanang?" tanya gadis itu.
"Aku belum punya keputusan. Aku ingin beristirahat di sini dulu."

Suto Sinting sengaja duduk melonjor dengan punggung bersandarkan batang pohon. Angin berhembus menghadirkan semilir kesejukan yang membuat orang terkantuk-kantuk. Tetapi agaknya baik Suto maupun Teratai Kipas tak mau hanyut tertidur di situ. Teratai Kipas ikut duduk bersandar, berhadapan dengan Suto Sinting. Punggung Teratai Kipas bersandar pada sebongkah batu cadas berlumut tipis. Kakinya tidak melonjor, melainkan menapak ke tanah hingga kedua lututnya terlipat naik. Sikap duduknya seperti seorang lelaki yang mampu bergerak dengan gesit dan cekatan.

Suto Sinting memandang lurus pada permukaan tanah di depannya. la menerawang dengan wajah sendu tanpa keceriaan. Teratai Kipas dapat menduga apa yang membuat Suto Sinting menerawang sedih.

"Kurasa yang lebih utama adalah menyelamatkan adikmu itu dulu!" kata Teratai Kipas memecah kebisuan mereka yang berlangsung beberapa saat lamanya. Sambungnya lagi, "Bocah itu tidak berdosa. Kulihat ia menangis sedih saat dibawa lari. la rindu padamu. Cuma anehnya, ia bicara seperti orang dewasa. Lucu dan menyedihkan. Padahal jika ia berhasil kita bawa keluar dari sana, aku ingin sekali menggendongnya."

Pendekar Mabuk yang mulai membungkuk karena pengaruh ketuaannya itu hanya bisa tarik napas dalam-dalam. Kejap berikutnya terdengar suaranya pelan,

"Ya, memang lucu...."

"Aku jadi heran padamu, mengapa bocah sekecil itu kau bawa-bawa sampai ke kaki gunung ini? Seharusnya anak seperti dia tidak boleh ikut melintasi hutan di pegunungan. Jangan ajak anak sekecil dia untuk berkelana mengikuti langkahmu yang tak pasti itu."

"Sebenarnya kedatanganku ke Gunung Kundalini punya maksud tertentu yang berkaitan dengan si kecil Runi itu."

"Apa maksud tertentumu itu?"
"Mencari Telur Mata Setan."

Seeet...! Wajah Teratai Kipas terangkat tegak dan menatap Suto Sinting yang menunduk. Sekalipun dalam keadaan menunduk, tapi ekor mata Suto dapat melihat gerakan cepat wajah yang menjadi tegak dan sedikit tegang itu. Maka Pendekar Mabuk pun segera menatap Teratai Kipas."Kami membutuhkan Telur Mata Setan. Kabarnya ada di Gunung Kundalini, tapi kami tak tahu di mana letaknya yang tepat."

Teratai Kipas masih tertegun tanpa gerak dan tanpa kedip. Suto Sinting merasa heran dan akhirnya bertanya, "Apakah kau tahu letak Telur Mata Setan?"

Teratai Kipas cepat-cepat hembuskan napas, sunggingkan senyum tipisnya. Pandangan mata beralih ke arah lain sebentar, lalu kembali lagi memandang Suto. Kepalanya menggeleng-geleng pelan sambil masih tersenyum berkesan meremehkan pertanyaan Pendekar Mabuk tadi.

"Jika kau tahu, bantulah aku mendapatkan Telur Mata Setan itu."

Si lesung pipit segera menjawab dengan hiasan senyumnya, "Kau seperti anak kemarin sore saja."

"Apa maksudmu berkata begitu?" Suto Sinting kerutkan dahi.
"Lupakan tentang Telur Mata Setan!"

"Mengapa harus kulupakan, sedangkan aku sangat membutuhkannya untuk suatu kepentingan yang sangat penting."

Tawa kecil terdengar dari mulut si cantik beralis sedikit lebat itu.

"Telur Mata Setan itu tidak ada," katanya tegas-tegas. "Telur Mata Setan hanya ada dalam dongeng anak-anak desa sekitar kaki Gunung Kundalini. Dongeng itu dituturkan para orang tua menjelang sang anak tidur. Dongeng Telur Mata Setan memang menarik bagi alam pikiran anak-anak, sehingga nama Telur Mata Setan menjadi kondang. Tapi sesungguhnya telur itu tidak ada."

Suto Sinting terperangah bengong sampai beberapa saat lamanya tak terdengar berucap kata apa pun.

Teratai Kipas menertawakan, tampak geli melihat wajah seorang kakek menjadi terbengong seperti itu.

"Telur itu... telur itu tidak ada?! Hanya sebuah dongeng?!"

"Ya, hanya sebuah dongeng menjelang bobo' saja. Kusarankan, jangan mencari Telur Mata Setan lagi. Lebih baik kau mencari teiur mata sapi, itu banyak terjual di kedai-kedai atau di pasar tak jauh dari sini.

Hik, hik, hik...!"

Suto Sinting kembali terbengong. Jauh-jauh ia memburu Telur Mata Setan sampai mengalami nasib menjadi cepat tua seperti itu, ternyata telur itu hanya ada dalam dongeng belaka. Alangkah sia-sianya waktu dan tenaga yang telah dicurahkan untuk mengejar telur dalam dongeng? Rasa kecewa bercampur dengan rasa sesal. Percampuran kedua rasa itu membuat hati Suto Sinting menjadi jengkel. Belum lagi jika ia memikirkan 'Racun Gugah Jantan' yang belum terobati dari tubuhnya itu, semakin besar saja kedongkolan hati Pendekar Mabuk menerima kenyataan itu.

"Sekali lagi kusarankan, lupakan tentang dongeng Telur Mata Setan. Kau tidak akan berhasil mendapatkannya walaupun sampai masuk ke liang lahat. Jika kau nekat ingin mencarinya, kau harus masuk ke alam negeri dongeng. Tapi itu pun sesuatu yang amat mustahil!"

Tarikan napas Pendekar Mabuk tampak memberat. Kejap berikutnya suaranya mulai terdengar lirih tapi jelas di telinga Teratai Kipas.

"Permainan siapa sebenarnya yang kujalankan ini? Nyai Paras Murai atau si Bongkok Sepuh?!"
Wajah cantik itu terperanjat, "Kau mengenal Nyai Paras Murai?"

"Ya. Aku berkenalan di tengah jalan dan ia memberitahukan tentang Telur Mata Setan itu. Katanya telur tersebut ada di Gunung Kundalini. Maka kami segera lari kemari."

"Aku juga mengenai nama Nyai Paras Murai. Ketika aku menjadi kekasih Raden Panji, aku pernah melihat Malaikat Miskin bertarung dengan Nyai Paras Murai, tapi perempuan itu kalah dan melarikan diri. Tapi kuanggap ia tokoh perempuan yang punya kesaktian cukup lumayan."

Pendekar Mabuk bangkit berdiri bagai tak hiraukan kata-kata Teratai Kipas. Matanya memandang jauh ke satu arah membayangkan kesia-siaannya datang ke kaki Gunung Kundalini. Dalam sikap punggung sedikit bungkuk ia dekati Teratai Kipas dalam dua langkah.

"Aku akan kembali ke Perguruan Tongkat Sakti! Akan kukerahkan semua ilmuku untuk merebut Sumbaruni dari tangan Malaikat Miskin."

Dengan sentakan cepat Teratai Kipas bangkit berdiri dan wajahnya menegang.

"Kau juga mengenai nama Sumbaruni?! Bukankah dia perempuan sakti yang terkenal sebagai istri Jin Kazmat dan tinggal di gua Pantai Semberani? Kesaktiannya melebihi Nyai Paras Murai!"

"Dari mana kau mengetahuinya?"
"Guruku banyak bercerita tentang Sumbaruni!"
"Siapa gurumu itu?"

"Namanya tak terlalu penting bagimu. Tapi jika kau ingin mengetahuinya, maka kau dapat mengingat sebuah nama...."

Belum sempat nama itu terucap, tiba-tiba Suto Sinting segera menarik tangan Teratai Kipas ke arah pe-lukannya, karena dari samping kiri gadis itu tampak sinar' hijau berkelebat cepat menuju kepada gadis itu.

Claaaap...!
Wuuut...! Brruk!

Suto Sinting sampai terjengkang karena benturan badannya dengan badan Teratai Kipas. Mereka jatuh bertumpuk-tumpuk. Sinar hijau tadi menghantam pohon dan pohon itu menjadi retak tiga bagian dari bawah ke atas. Krraak...! Tak ada dentuman yang terdengar ledakan kecuali letupan kecil.

"Apa yang kau lakukan padaku, hah?!" sentak Teratai Kipas menjadi merah wajahnya menahan malu dan marah. Tetapi begitu mendengar suara pohon retak, ke-marahannya segera sirna dan berubah menjadi ketegangan yang mengejutkan.

"Seseorang ingin membunuhmu dari jarak jauh!"

"Ya, ya... aku tahu!" Teratai Kipas bergegas bangkit. Tapi tabrakan tubuh dengan tubuh itu membuat Suto Sinting berdesir hati karena sempat rasakan keha-ngatan badan Teratai Kipas. Desiran hati membuat gairah cumbu Suto Sinting hampir saja meledak-ledak lagi. Untung ia segera dapat alihkan perhatiannya kepada munculnya sesosok tubuh sintal berpakaian merangsang syaraf, namun juga merangsang permusuhan terpendam. Orang itu tak lain adalah Nyai Sapu Lanang.

"Biadab kau, Suto!" makinya dengan geram tertahan di mulut. "Rupanya hasrat bercumbumu sengaja tidak ingin kau berikan padaku karena kau punya maksud ingin memberikannya kepada di betina itu?!"

"Nyai Sapu Lanang!" sentak Teratai Kipas. "Kau boleh seenaknya menuduhku punya maksud tak senonoh dengan si tua Suto ini! Tapi sebelumnya perkenalkan dulu, aku adalah Teratai Kipas, kakak dari Arya Wuka yang menjadi gila karena asmara bercumbumu dan akhirnya mati bunuh diri karena tak jumpa lagi denganmu. Kini aku menuntut pembalasan! Nyawa adikku hanya bisa kautebus dengan nyawamu sendiri, Nyai Sapu Lanang!"

"Hmm...!" Nyai Sapu Lanang sunggingkan senyum sinis, sebagai senyum penghinaan terhadap kemampuan Teratai Kipas yang dianggapnya sepele itu.

Katanya setelah itu, "Aku tak peduli apakah kau kakaknya Arya Wuka atau bukan, yang jelas kau telah membuatku benci kepadamu karena bermesraan di sini dengan Suto Sinting! Tanpa kau tuntut nyawaku, aku pun akan menuntut nyawamu karena kau berani bertumpuk-tumpuk dengan lelaki yang kuharapkan menjadi benih keturunanku!"

"Apa maumu sekarang, hah?!" bentak Teratai Kipas tak ada takutnya sama sekali. Melihat keadaan membahayakan Teratai Kipas, Suto Sinting segera menengahi pertentangan itu. la bergegas maju ke pertengahan jarak di antara kedua perempuan tersebut yang masing-masing tak ingin dilihat tewas di mata Suto.

"Redakan kemarahanmu, Nyai...! Redakan dendammu, Teratai Kipas. Ingat sesuatu hal yang perlu kau pertimbangkan masak-masak."

Teratai Kipas mendengus kesal. la tahu maksud Suto Sinting, tak boleh mencelakakan Nyai Sapu Lanang sebelum obat penawar racun diberikannya. Tapi gemuruh dendam sudah telanjur mendesak dada. Sulit untuk dibendung lagi. Karenanya gadis itu segera berkata kepada Suto Sinting berambut putih,

"Urusanmu adalah urusanmu. Aku akan mengurus masalahku sendiri! Menyingkirlah dari hadapanku, karena aku tak ingin kau menjadi korban dendamku!"

"Teratai..., sadar! Jangan gegabah. Pandanglah siapa yang kau lawan!" bujuk Suto Sinting.

Selagi Suto membujuk Teratai Kipas agar kurangi niat membalas dendam pada saat-saat sekarang, tiba-tiba Nyai Sapu Lanang lepaskan senjata rahasianya berbentuk bintang segi enam dari lempengan baja putih. Slaap...! Dub! Ziing...! Benda itu dilemparkan ke arah pohon dan memantul cepat menuju kepala Teratai Kipas. Pantulan cahaya matahari pada benda pipih itu terlihat oleh mata Suto Sinting yang memunggungi Nyai Sapu Lanang. Dengan cepat tangan Suto Sinting menyentak ke arah benda tersebut. Claaap...!

Seberkas sinar biru dari jurus 'Tangan Guntur' melesat melalui pertengahan telapak tangan Suto Sinting.

Sinar biru itu menghantam benda mengkilap itu sebelum benda tersebut mendekati kepala Teratai Kipas. Duaaar....! Tentu saja benda itu hancur. Tubuh Teratai Kipas melenting di udara dengan hentakan kaget yang membuat kakinya menyentak ke tanah secara naluriah.

"Keparat kau, Suto! Kau ternyata ada di pihak perempuan lacur itu, hah?!" bentak Nyai Sapu Lanang. Kemudian ia melesat dalam satu lompatan ke punggung Suto Sinting. Wuuut...!

Suto Sinting sendiri cepat putarkan bumbung tuaknya. Dan bumbung itu melesat terbang ke arah tubuh Nyai Sapu Lanang. Bumbung itu bagaikan terbang membawa Suto Sinting. Ujung bambu menyodok ke depan dan dihantam dengan kepalan tangan Nyai Sapu Lanang.

Duus...! Duaaar...!

Ledakan cukup keras kembali terdengar saat pukulan bertenaga dalam tinggi itu mencoba memecahkan bumbung tuak sakti tersebut. Ledakan tersebut membuat tubuh Nyai Sapu Lanang terpental melayang ke belakang dan jatuh terbanting dengan punggung membentur gumpalan batu. Blluhk...!

"Heegh...!" pekik tertahan terdengar dari mulut Nyai Sapu Lanang.

Rupanya pukulan itu membalik keras menghantam tubuh Nyai Sapu Lanang sendiri. Pukulan tenaga dalam yang berbalik dalam keadaan lebih besar dari aslinya itu membuat sekujur tubuh Nyai Sapu Lanang menjadi biru legam. Matanya cenderung menjadi merah bagai ingin keluarkan darah. Tetapi mulut dan hidungnya sudah lebih dulu mengucurkan darah sebelum ia jatuh terbanting.

Melihat Nyai Sapu Lanang terkapar dalam keadaan luka parah dan boleh jadi dikatakan sedang sekarat, Teratai Kipas segera cabut senjatanya. Sreet...! Lalu dengan teriakan penuh dendam ia melintasi pohon di depan Suto Sinting, berkelebat ke arah tubuh yang tak berdaya itu. Wuuut...!

"Hiaaah...!"

"Terataiii...!" teriak Suto Sinting sangat ketakutan kalau sampai kipas itu menghabisi nyawa Nyai Sapu Lanang. Maka dengan gerakan nyaris tak terlihat lagi karena cepatnya, Suto Sinting segera menyambar tubuh Nyai Sapu Lanang tepat ketika ujung kipas menge luarkan mata pisau tajam dan siap dihunjamkan ke tubuh Nyai Sapu Lanang. Tapi karena tubuh itu lebih dulu disambar Suto Sinting, maka pisau yang keluar dari ujung kipas hanya menancap di tanah dekat batu yang mengganjal tubuh Nyai Sapu Lanang tadi.

Juubb...!

Dalam sekejap Suto Sinting telah jauh dari Teratai Kipas. la berdiri membungkuk sambil memanggul tubuh Nyai Sapu Lanang. Dari tempatnya ia berseru,

"Teratai..., maafkan aku! Kau tak boleh membunuhnya sebelum urusanku selesai! Aku terpaksa harus selamatkan dia lebih dulu, Teratai! Sampai jumpa di lain waktu!"

"Sutooo...! Serahkan dia padaku atau kau ikut menjadi korbanku?! Sutooo...!"

Teriakan itu tak dihiraukan. Suto Sinting bagai lenyap ditelan bumi karena gerakannya begitu cepat. Te ratai Kipas penasaran dan segera lari mengejarnya.DEMI mendapatkan obat penawar racun, Suto Sinting terpaksa larikan musuhnya dan mengobatinya dengan tuak. Mulut perempuan itu dingangakan dan dituangi tuak sedikit demi sedikit. Hal itu sengaja dilakukai oleh Suto Sinting tidak di pondok Nyai Sapu Lanang, melainkan di suatu tempat tersembunyi.

Karena Suto Sinting punya dugaan akan dikejar oleh Teratai Kipas ke arah pondok. Maka ia lakukan penyembuhan itu di tempat lain. Dan ternyata dalam beberapa waktu kemudian setelah Nyai Sapu Lanang berhasil meneguk tuak beberapa kali, ternyata keadaannya mulai membaik. Nyawa sang nyai tertolong oleh tuak Suto.

Nyai Sapu Lanang hanya pandangi wajah Suto Sinting yang berdiri bersandar pada sebuah pohon. Samar-samar ia masih sempat mengingat saat disambar oieh Suto Sinting dan dipaksakan meminum tuaknya. Kini rasa sakit terbakar di sekujur tubuh telah lenyap, dan Nyai Sapu Lanang sadar bahwa kesembuhannya berkata pertolongan Suto Sinting.

"Ternyata kau lebih setia padaku daripada terhadap gadis itu, Suto!" katanya sambil mendekati Suto Sinting. la menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, tubuh diliukkan ke sana-sini, ternyata sangat enteng dan tidak merasakan ngilu sedikit pun.

"Bumbung tuakmu itu ada isinya?"
"Tentu. isinya tuak," jawab Suto Sinting seenaknya saja.

"Maksudku mempunyai hawa sakti tersendiri yang bisa memantulkan pukulankutadi. Hampir saja aku mati oleh tenaga dalamku sendiri."

"Apakah kau ingat siapa yang menyelamatkan nyawamu dari bahaya kematian?"

"Tentunya kaulah orangnya," jawab Nyai Sapu Lanang dengan mengusap-usap lengan Suto, senyumnya membias berkesan nakal. "Kau pasti menyadari bahwa akulah wanita yang kau butuhkan dalam hidupmu. Tentunya kau tak rela jika melihat aku mati terbakar oleh tenaga dalamku sendiri sementara kau belum merasakan kehangatan yang kumiliki di sela kemesraanku."

"Kau keliru, Nyai...," sambil Suto Sinting melangkah berpindah pohon. "Kalau aku menyelamatkan nyawamu, lantaran aku ingin agar kau sadar bahwa aku tidak menaruh kebencian padamu. Kau telah kutolong, maka sebaiknya kau pun membalas pertolonganku ini dengan memberikan obat penawar racunmu ini!"

Nyai Sapu Lanang mendekat dengan senyum masih tetap nakal. "Lupakanlah tentang obat penawar racun itu, Suto. Kau tak akan mendapatkannya sebelum kau mau turuti hasratku. Biasanya, lelaki yang sulit diperoleh adalah lelaki yang mampu memberikan keturunan lebih dari sepuluh anak! Hik, hik, hik, hik...!"

Suto Sinting menggeram jengkel dalam hatinya. "Nyai, aku sudah menyelamatkan nyawamu. Tidakkah kau ingin menyelamatkan nyawaku juga dari racunmu yang mempercepat ketuaanku ini?!"

Nyai Sapu Lanang gelengkan kepala. "Aku tak menyuruhmu menyelamatkan nyawaku. Semua kau lakukan karena gagasanmu sendiri, bukan atas permohonanku. Jadi aku merasa tak punya hutang budi padamu."

"Benar-benar buta mata hatimu, Nyai! Seumur-umur baru sekarang kutemukan manusia yang tak tahu balas budi!""Akulah orangnya!" kata Nyai Sapu Lanang dengan membusungkan dada. la justru merasa bangga dikatakan sebagai manusia tak tahu balas budi. Suto Sinting tambah jengkel. Kalau tak ingat perempuan itu adalah kunci kesembuhannya dari 'Racun Gugah Jantan', sejak tadi sudah dihabisi oleh Suto Sinting dengan ditantang bertarung secara terhormat.

Nyai Sapu Lanang berkata lagi, "Jangan menolong orang yang tak tahu balas budi, nanti hatimu kecewa dan menyesal! Tetapi berbuatlah keindahan kepada orang yang mempunyai sejuta kehangatan, maka kau akan bahagia dalam pelukannya, Suto. Kalau kau tak percaya, kau bisa mencobanya sekali-dua kali."

"Muak aku mendengar rayuanmu, Nyai!" sentak Suto Sinting lalu buang muka sambil mendenguskan napas lewat hidung. Semak berduri yang berjarak lima langkah darinya terhempas bagai ditiup angin kencang.

Angin itu adalah angin napas yang keluar dari hidung Suto Sinting. Dalam keadaan marah seperti itu, Suto Sinting mampu hadirkan angin badai yang amat dahsyat karena ia mempunyai ilmu 'Napas Tuak Setan' yang amat berbahaya dan jarang dipergunakan itu.

Nyai Sapu Lanang bagaikan tidak menghiraukan kejengkelan Suto Sinting. la makin merayapkan tangannya dengan nakal. Suto Sinting walau sudah berwujud seorang kakek beruban rata, namun masih cepat menggerakkan tangannya menepis tangan Nyai Sapu Lanang. Plaak...!

"Jangan memancing kemarahanku, Nyai!" ancamnya dengan suara pelan tapi sorot matanya menatap tajam.

"Apakah kau tak ingin menjadi muda seperti usia aslimu?"
"Siapa orangnya yang mau cepat tua?"

"Menjadikanmu muda kembali adalah hal yang mudah. Tinggal kesanggupanmu dan tekadmu. Hanya dengan beberapa kali mengarungi samudera cinta bersamaku, kau akan kembali muda dan mungkin juga akan melihat ketampanan dari keturunanmu yang kulahirkan sembilan bulan kemudian, Suto."

"Aku tak butuh rayuanmu lagi, tahu?!" bentak Suto Sinting dengan gusar. Napas yang terlepas dari mulutnya ternyata cukup besar dan kencang. Tubuh Nyai Sapu Lanang sempat terhempas delapan tombak jauhnya. Wuuusss...!

Suto Sinting sendiri terkejut karena ia tak sengaja membuat Nyai Sapu Lanang terpental. Ketika mengu-capkan kata: "Tahu...." maka 'Napas Tuak Setan'-nya ikut terlepas karena keadaan hati sedang marah.

'Napas Tuak Setan' itulah yang menerbangkan tubuh Nyai Sapu Lanang dan menumbangkan tiga pohon kecil yang ada di depannya. Semak-semak di balik pohon itu pun rusak, sebagian bagaikan tercabut dari akarnya.

"Celaka! Aku harus mengendalikan amarahku biar tak menimbulkan bencana di sekitar sini! Hampir saja kaki gunung itu dilandai badai hebat karena napasku terlepas dalam keadaan marah," pikirnya dengan rasa sesal di hati.

Nyai Sapu Lanang yang terlempar jauh itu segera bangkit. la mulai dibakar oleh hawa marahnya. Merasa dipermainkan oleh Suto Sinting, maka ia segera mene­mui Suto kembali dengan mata membelalak garang.

"Sekarang kau terang-terangan ingin menantangku, Suto!"
"Maafkan aku, Nyai! Jangan marah padaku! Jangan pancing kemarahanku!"

"Persetan dengan dirimu! Kau telah permainkan aku seenakmu dengan sentakan napasmu. Kau pikir hanya kau yang mempunyai kekuatan seperti itu?

"Napasku tak sengaja terlepas keluar, Nyai. Maafkan aku," Suto merendah untuk menghindari perselisihan dengan perempuan pemegang obat penawar racun rtu. Tetapi agaknya perempuan itu berang dan tersinggung sekali dilemparkan bagaikan seonggok sampah.

Maka dengan cepat kakinya menerjang Suto Sinting dalam satu lompatan bersuara keras,

"Heaaah...!"

Brrrus...! Suto Sinting diterjang dengan kekuatan tendangan bertenaga dalam. Suto Sinting tidak melawan dan menerima tendangan itu secara rela. Tubuhnya terlempar sejauh enam langkah ke belakang. la jatuh berguling-guling, terpental ke sana-sini. Rupanya Nyai Sapu Lanang ingin membalas perlakuan Suto tadi dengan pengerahan tenaga dalam di kakinya.

Pendekar Mabuk hanya menyeringai karena tulang iganya seperti mengalami keretakan. la berusaha bangkit pelan-pelan dan tidak lakukan pembalasan apa pun. la bahkan menenggak tuaknya dua teguk, lalu menutup bumbung tuak itu agar tak tumpah ke mana-mana. Tapi begitu selesai menenggak tuak, tiba-tiba Nyai Sapu Lanang menyentakkan kedua tangannya ke depan dengan jari membentuk cakar harimau.

"Terimalah pembalasanku ini, Suto! Heaaah...!"

Wuuuttt...! Tenaga dalam tak bersinar terlepas dari kedua tangan itu. Tenaga dalam bergelombang panas itu .amat besar dan membuat tubuh Suto Sinting ter-jungkal di udara saat terhempas terbang ke belakang.

Tubuh itu jatuh sambil memeluk bumbung tuaknya yang hampir terlepas dari pegangannya. Akibat terbanting-banting, pelipis Suto menjadi berdarah karena membentur batu runcing di tanah. Pelipis itu robek, namun tak dihiraukan oleh Suto.

"Cukuplah murkamu, Nyai. Jangan marah lagi padaku," bujuk Suto Sinting yang masih tetap berusaha untuk mengalah. Sebab jika ia lakukan penyerangan, ia takut akan menewaskan Nyai Sapu Lanang.

"Kau mau menuruti keinginanku atau harus menerima hajaran seperti ini, hah?!" bentak sang nyai semakin gusar dan berang karena tak ada perlawanan dari Pendekar Mabuk.

Sosok tua yang tampak rapuh itu hanya menjawab, "Hentikan amarahmu dan jangan lagi memaksaku untuk melayanimu, Nyai."

"Setan! Kalau begitu kau memang layak dihajar sampai akhirnya kau tahu bahwa memenuhi harapanku itu lebih enak daripada menerima hajaranku! Hiah!"

Dada Suto Sinting dihantam dengan pangkal telapak tangan. Tubuh Suto yang telah mengurus dimakan 'Racun Gugah Jantan' itu terdorong keras ke belakang dengan darah muncrat dari mulutnya. Tubuhnya sempat melayang empat langkah dan jatuh terpelanting membentur pohon dalam keadaan bersimpuh. Tapi bumbung tuak masih ada di tangannya, dipegang kuat-kuat. Hasrat untuk melawan ditekan kuat-kuat walau sangat menyiksa batinnya.

Wuuut...!

Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul melintasi pertengahan jarak di antara mereka berdua. Sosok yang hadir di antara mereka itu tak lain adalah kakek serba putih yang dulu pernah dianggap sebagai tokoh misterius. Orang tersebut adalah si Setan Merakyat, kakak dari Bongkok Sepuh. Rambutnya panjang berwarna putih rata, pakaiannya serba putih, dan ketika berkelebat datang seperti gumpalan salju yang terhempas angin.

"Setan Merakyat...?!" Nyai Sapu Lanang terkejut karena ia mengenali tokoh tua berilmu tinggi itu (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Tabib Darah Tuak").

Tetapi Setan Merakyat tidak menanggapi sapaan itu, melainkan justru menyingkir dari pertengahan jarak dan berkata kepada Suto Sinting yang masih dikenalinya,

"Mengapa tak kau lawan? Kau hanya akan menjadi bulan-bulanan oleh si binal berhati keji itu! Lawan dia, tunjukkan harga dirimu sebagai lelaki!"

"Aku terkena racun, Bapa Setan Merakyat! Hanya dia yang bisa sembuhkan racun itu! Jika dia mati...."

Setan Merakyat menyahut, "Jika dia mati aku yang akan sembuhkan 'Racun Gugah Jantan' itu!"
Mendengar ucapan Setan Merakyat, Suto Sinting tergugah keberaniannya untuk lakukan sesuatu yang pantas dilakukan. Nyai Sapu Lanang berwajah beri-ngas memandang Setan Merakyat.

"Kau tidak berhak mencampuri urusanku, Setan Merakyat!"

"Karena kau sudah kelewat batas, Waryanti!" kata Setan Merakyat yang agaknya mengenai nama asli Nyai Sapu Lanang. "Kau pertahankan kecantikanmu, kau pertahankan kemudaanmu, tapi tindakanmu semakin menyerupai iblis dari neraka. Layaklah jika Suto Sinting meleburkan jasadmu agar menyatu dengan apinya neraka, Waryanti!"

"Keparat kau, Murdawira! Heeeaaah...!"

Nyai Sapu Lanang baru saja ingin serang Setan Merakyat dengan jurus andalannya, namun Suto Sinting sudah lebih dulu melepaskan jurus 'Manggala' yang mampu melesatkan beberapa puluh pisau kecil dari tangannya yang disentakkan ke depan dalam keadaan miring. Zlap, zlap, zlap, zlap...! Zrrrreeeb...!

Pisau-pisau kecil itu menghunjam tubuh Nyai Sapu Lanang. Mata sang nyai terbelalak, berdirinya tegak dan diam tak bergerak dengan mulut ternganga. Sampai beberapa saat ia masih diam bagaikan mematung. Tapi ketika angin berhembus, tubuh itu berhamburan menjadi debu-debu lembut yang tak bisa dikumpulkan lagi. Nyai Sapu Lanang akhirnya mati menjadi debu oleh jurus 'Manggala' milik Pendekar Mabuk, pemberian dari Ratu Kartika Wangi, calon mertuanya yang menjadi penguasa sebuah negeri di alam gaib; Negeri Puri Gerbang Surgawi.

Setan Merakyat selesai memandangi tubuh Nyai Sapu Lanang yang berhamburan menjadi debu-debu lembut itu. la segera menatap Suto Sinting, tundukkan kepala sedikit sebagai hormat samar-samar.

"Sudah seharusnya sejak dulu aku menghormat padamu, karena kulihat noda merah di keningmu sebagai tanda kehormatan tertinggi yang layak dihormati oleh para tokoh berilmu tinggi. Kutunggu tuntutanmu, tapi kau tidak menuntutku. Berarti kau bukan orang yang gila hormat. Dan aku suka dengan murid yang tidak gila hormat, Anak Muda!"

"Jangan memanggilku 'anak muda' dalam keadaan seperti ini, Bapa. Aku malu! Keadaanku hampir sama tuanya dengan Bapa Setan Merakyat."

"Itu hanya pengaruh 'Racun Gugah Jantan'. Kuperhatikan seluruh sikapmu dari Gunung Kemuning, ternyata kau memang lelaki sejati yang mampu menghargai kepercayaan dan cinta kasih kepada seorang calon istri. Aku menaruh hormat padamu, Anak Muda; Manggala Yudha Kinasih."

"Sudahlah, Bapa... jangan berlebihan memujiku.

Sebaiknya tolong bantu aku menawarkan 'Racun Gugah Jantan' ini. Aku tak mau cepat tua, Bapa!"

"Tak ada yang sulit bagiku demi menyelamatkan calon muridku nanti."

"Bapa, tempo hari kita jumpa di Pulau Selayang, Bapa bilang aku adalah calon muridmu. Apa sebenarnya yang terjadi dan terencana dalam benak Bapa Setan Merakyat?"

Tokoh tua berilmu tinggi itu tersenyum.

"Ada sebuah ilmu yang akan kuturunkan pada seseorang. Tapi hanya orang yang tanpa pusar saja yang bisa menerimanya, selain itu tak bisa. Dan orang tanpa pusar itu adalah kau. Maka ilmu itu akan kuturunkan padamu jika waktunya telah tiba. Sebab itulah aku membayang-bayangimu terus sampai akhirnya kita bertemu di sini, Suto."

"Ilma..?" Suto Sinting menggumam. "Apakah kau tak bersedia?"

"Hmm... eh... tentu saja bersedia, Bapa Setan Merakyat. Tapi... agaknya yang kubutuhkan saat ini bukan ilmu itu tapi Telur Mata Setan untuk memulihkan keadaan Sumbaruni yang terkena 'Racun Ludah Naga' dari Syakuntala, Bapa!"

"Akan kubantu mencarinya. Karena secara pasti aku sendiri tak tahu di mana Telur Mata Setan itu berada. Tapi aku tahu, di Gunung Kundalini ada seorang pertapa yang pasti mengetahui di mana telur keramat itu berada. Kau bisa tanyakan kepadanya,"

"Siapa nama pertapa itu, Bapa?"

"Calon kakak iparmu sendiri!" jawab Setan Merakyat. Tiba-tiba matanya memancarkan sinar hijau terang menerjang Suto Sinting. Suto merasa silau. Dan tiba-tiba sinar hijau itu lenyap seketika. Setan Merakyat pun lenyap tak diketahui ke mana arah kepergiannya.

Tapi Suto Sinting segera terbelalak girang ketika melihat wujudnya telah pulih menjadi muda seperti sedia-kala dengan kegagahan dan ketampanan yang akan membuat banyak wanita bertekuk lutut di depannya.

SELESAI