--> -->

Serial Pendekar Mabuk 32 Seruling Malaikat

Mereka baru saja mendarat di pantai dengan gunakan sebuah sampan. Tiga wanita berambut cepak, seperti potongan rambut lelaki itu mempunyai paras ayu yang berbeda nilai kecantikan-nya. Namun ketiga-nya sama-sama menggiurkan seorang lelaki yang memandang dari sisi kemesuman. Karena ketiga-nya mempunyai bentuk tubuh nan elok, bak lambaian perawan menunggu pelukan.

“Ingat ciri-cirinya !” kata wanita muda yang berpakaian putih bertepian benang emas. “Tampan, rambut lurus lemas selewat bahu, pakaian cokelat muda tanpa lengan, celananya putih kusam, menyandang bumbung bambu tuak”.

Si cantik berpakaian putih yang mempunyai pedang di punggung bergagang balutan kain beludru merah itu menyebutkan cirri-ciri seorang pendekar tampan yang tak lain adalah “Pendekar Mabuk, Suto Sinting”. Si cantik berdada seksi dan berkulit kuning langsung member isyarat dengan tangan agar kedua gadis se-usianya itu bergerak mengikuti langkahnya jauh ke dalam hutan. Sesekali ia berpaling kepada kedua rekannya yang telah dipercaya sebagai anak buahnya itu sambil berkata…

“Siapapun tidak boleh terpikat kepada Pendekar Mabuk. Tahan hati kalian jika rasa terpikat itu muncul dan meremas jiwa. Karena Gusti Ratu sudah wanti-wanti agar urusan ini dipisahkan dari urusan pribadi. Paham ?”

“Paham”, jawab mereka.

Yang berpakaian hijau muda berkata..
“Kalau hatiku nyut-nyutan melihat ketampanan-nya bagaimana ? Apa tak boleh jatuh lemas ?”

“Lebih baik tikam hatimu dengan pedang, biar nyut-nyutan-nya hilang !” jawab si cantik berbibir mungil dan berhidung kecil bangir itu. Si cantik ini tak lain adalah Rindu Malam, prajurit pilihan dari negeri bawah laut “Ringgit Kencana” yang dipimpin oleh seorang ratu cantik, adik sepupu Bidadari Jalang, yang bernama “Ratu Asmaradani”.

Ratu ini pernah ditolong Suto Sinting ketika tubuhnya hilang separuh karena terkena “Racun Siluman”. Ilmu Racun Siluman dimiliki oleh “Dampu Sabang”. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam judul “Bandar Hantu Malam”).

Sebenarnya Ratu Asmaradani mempunyai ilmu “Rambah Bathin” yang membuatnya bisa hadir dalam mimpi seseorang, seperti halnya yang dialami Pendekar Mabuk ketika menemui peristiwa “Keris Setan Kobra”.
Tetapi agaknya kali ini Suto Sinting tidak bisa segera datang menemui sang Ratu yang memanggil-nya liwat mimpi. Sehingga dikirim lah pasukan kecilnya berjumlah tiga orang untuk mencari Pendekar Mabuk dan membawanya ke Negeri Dasar Laut.
Tiga utusan itu dipimpin oleh Rindu Malam yang sudah hafal betul dengan cirri-ciri Pendekar Mabuk. Sebab hatinya pernah terpikat, namun segera dipendam dalam-dalam setelah sang Ratu melarang-nya jatuh cinta kepada Suto. Dua anak buah Rindu Malam adalah “Kusuma Sumi dan Pita Biru”.
Salah satu berambut cepak seperti lelaki, tanpa ikat kepala, kecuali Pita Biru. Pedang di punggung warna gagang-nya berbeda-beda.
Pita Biru mempunyai gagang pedang berwarna kuning ke-emasan, tapi bukan emas tulen. Pakaian-nya serba biru muda. Rambutnya disanggul dua bagian dengan masing-maasing sanggul diberi pita biru yang panjang. Sehingga jika tertiup angin seperti ekor cenderawasih. Usianya sekitar dua puluh empat tahun, samadenganusia Rindu Malam.
Kusuma Sumi lebih muda satu tahun. Mengenakan pakaian hijau muda yang berwarna cerah. Warna Hijau Muda itu diberi bintik-bintik kuning emas. Sehingga seperti ditaburi emas dari batas leher sampai betis. Sebab celananya hanya sampai betis. Kusuma SUmi mempunyai rambut cepak juga. Tapi wajahnya sedikit lebih lonjong dari Pita Biru. Soal kecantikan-nya tak disangsikan lagi. Gagang pedang-nya berwarna cokelat muda, dililit tali putih ter-anyam. Dadanya lebih sekal dari Pita Biru dan Rindu Malam.

Perjalanan menyusuri hutan pantai terpaksa dihentikan. Sebenarnya mereka ingin berpencar dalam mencari Pendekar Mabuk. Tetapi sebelum niat itu terlaksana, mereka harus berhadapan dengan dua orang lelaki berwajah memuak-kan.
Dua orang lelaki tersebut berpakaian sama hitamnya. Tapi ikat kepala mereka berbeda warna. Yang agak gemuk ber-ikat kepala warna merah, sedangkan yang agak kurus ber-ikat kepala warna kuning.

“Siapa kalian ?” hardik Rindu Malam kepada kedua lelaki yang cengar-cengir menampakkan sikap binal-nya itu.

“Namaku RohGepuk, dan ini temanku bernama lebih jelek, yaitu Cucur Sangit”, jawab yang ber-ikat kepala kuning, agak kurus. Wajahnya lancip, mirip seterika-an.

“Kalau tak salah dugaanku, kalian orang Lumpur Maut ?!”

“Benar sayang”, jawab Cucur Sangit yang berwajah hitam, pakai gelang bahar, rambut-nya ikal, hidung-nya besar, senyum-nya berantakan kemana-mana.
Sambung Cucur Sangit Lagi, “dan kami tahu kalian pasti orang Ringgit Kencana, karena rambut kalian pendek seperti rambut lelaki”.

“Ya, memang kami orang Ringgit Kencana, apa maumu sekarang ?” Rindu Malam bersikap tak ramah. Sebab ia tahu orang Lumpur Maut tak pernah ada yang beres. Brengsek semua.

Cucur Sangit yang usianya lima tahun lebih muda dari Roh Gepuk itu segera berkatadengan senyum kalang kabut-nya “Ketua kami memerintahkan kami untuk mencari letak Teluk Sumbing. Kami bingung, tak tahu dimana letak Teluk Sumbing. Kalau orang berbibir sumbing, kami tahu dimana rumah-nya. Tapi letak Teluk Sumbing, kami tak tahu. Waktu kalian mendarat di pantai, kami sepakat untuk menghadang kalian, dan menanyakan letak Teluk Sumbing”.

“Teluk Sumbing bukan wilayah kami !” jawab RIndu Malam. “Teluk Sumbing wilayah kekuasaan Nila Cendani, si Ratu Tanpa Tapak itu”.

“Ya, kami tahu. Tapi Nila Cendani sudah mati, kabarnya dibunuh Pendekar Mabuk. Entah benar atau tidak, kami tidak ikut terbunuh waktu itu. Tapi kami tahu, Ratu Ringgit Kencana pernah terlibat bentrokan dengan Nila Cendani dan mengejarnya sampai ke Teluk Sumbing. Tentunya ratumu tahu dimana Teluk itu berada. Tentu ratumu pun tahu bahwa disana terpendam harta karun rampasan Nila Cendani semasa menjadi ketua Rompak Samudera. Dan tentunya sebagai anak buah Ratu Asmaradani, kalian juga diberitahu letak Teluk itu, untuk sewaktu-waktu menggali harta karun disana”.

“Ratu kami tidak pernah memikirkan harta yang bukan miliknya. Kami sudah cukup kaya tanpa merampas harta yang bukan milik kami !” Kata Rindu Malam.

Roh Gepuk segera menyahut, “Begini saja nona-nona cantik. Aku akan membuka sayembara. Barang siapa di antara kalian ada yang bisa menyebutkan dimana letak Teluk Sumbing. Akan mendapat hadiah dikawinkan dengan temanku ini, si Cucur Sangit !”

“Puih….!” Kusuma Sumi meludah benci. “Siapa yang sudi dikawinkan dengan wajah hangus begitu ?! Mending kalau cakep !”

Roh Gepuk berbisik kepada Cucur Sangit, “Nasibmu memang apes. Dilelang pun tak ada yang mau sama kamu, Cur !”.
“Lagi pula kenapa pakai sayembara begitu segala, malah aku jadi terhina !” Cucur Sangit bersungut-sungut. Untuk membalas rasa terhina-nya, ia berkata…
“Begini saja nona-nona cantik….aku punya sayembara lain. Barang siapa dalam tiga hitungan tidak mau sebutkan dimana letak Teluk Sumbing, maka ia akan mendapat hadiah mati tanpa nyawa !”

“Itu namanya kalian menantang kami !” cetus Rindu Malam dengan mata mulai sedikit menyipit karena benci.
Pita Biru segera maju dan berkata kepada Rindu Malam, “Biar kutangani sendiri dua ekor cacing ini ! Menepilah kalian !”
Kemudian dengan memandang tajam melalui bola matanya yang bundar itu, Pita Biru berkata kepada kedua lawan-nya setelah Rindu Malam dan Kusuma Sumi menepi beberapa tindak.
“Hitunglah mulai sekarang, langsung dengan hitungan tiga ! Tak perlu memakai satu dan dua !”
Inilah gaya tantangan si Pita Biru yang memang pemberani.

Tentu saja tantangan itu menggeramkan hati Cucur Sangit. Tapi temannya masih cengar-cengir saja mentertawakan Cucur Sangit yang menantang tapi justru mendapat balasan tantangan. Roh Gepuk pun menepi, member tempat untuk Cucur Sangit membuktikan tantangan-nya. Ia pun berkata pelan sebagai pesan seorang teman..”Hati-hati ! Lembut wajahnya, halus kulitya, mulus dadanya, tapi tajam pedangnya.”
Cucur Sangit tidak memperdulikan pesan murahan itu. Ia segera mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Lalu tubuhnya menyentak membentuk kuda-kuda.

“Hiaaaah…!
Matanya memandang tajam kepada Pita Biru, sedangkan yang dipandang hanya berdiri tenang dengan kedua kaki sedikit merenggang dan kedua tangan lurus kesamping, seakan siap menunggu serangan lawan.

“Jangan menyesal kalau wajah cantikmu rusak karena pukulanku, sayang !” geram Cucur Sangit, si wajah hitam.

Pita Biru berkata pelan..”Majulah kalau ingin hidup tanpa jantung !”

Keparat !
Heaaah…!
Wuusss..!
Cucur Sangit melompat menerjang tubuh sintal itu.

Tiba-tiba tubuh Pita Biru berputar cepat dengan kaki kanan berkelebat…
Wuutt…!
Plokkk…!
Tendangan putar yang sukar dilihat itu membuat tubuh Cucur Sangit terpental ke belakang, jatuh berdebum bagaikan karung beras rontok dari pohon.

Brukkk…!
“Ha..ha..ha..ha…!” Roh Gepuk tertawa geli, mentertawakan temannya sendiri.

Cucur Sangit kian marah. Ia segera bangkit, tapi sempat mengusap pipinya yang terasa perih. Dan ia terkejut mendapatkan pipinya berdarah. Ternyata kulit pipi yang hitam itu robek akibat tendangan tamparan kaki Pita Biru yang amat cepat itu. Melihat darah di tangan-nya, Cucur Sangit menatap Pita Biru lebih buas lagi. Geram-nya terdengar samar-samar.

“Kubalas kelancangan kakimu itu nona busuk !
Heaaaaaah….!”
Cucur Sangit sentakkan kaki dan bersalto ke atas.
Wuuttt…!
Kakinya terarah ke kepala Pita Biru. Tapi dengan cepat Pita Biru sentakkan kaki, dan tubuhnya melesat naik tegak lurus…
Wuuuttt…!
Kedua kakinya masuk dipertengahan jarak kaki lawan, lalu menyentak ke kiri dan kanan dengan cepat.
Plakkk…! Breeettt…!
Terdengar ada sesuatu yang robek. Entah celana Cucur Sangit atau apanya. Yang jelas kaki Cucur Sangit bagai dipaksakan merentang ke kiri dan kanan. Sedangkan Pita Biru segera sodokkan dua jari kanan-nya ke ulu hati Cucur Sangit..
Desss…!
Tangan kirinya menyodokkan pangkal telapak tangan ke wajah lawan..
Plokkk…!
Wuuuttt…!
Bruuukkk…!
Pita Biru mendarat dengan tegak. Gerakan cepat pada saat melesat di udara itu tak bisa dilihat oleh mata Roh Gepuk. Tahu-tahu si muka lancip itu melihat temannya timbang, terkapar dengan mulut remuk, bagian bawah perutnya robek lebar dan telinga, hidung serta mulut, bahkan matanya mengeluarkan darah segar. Akibat sodokan dua jari Pita Biru.
Jurus tersebut ternyata sangat berbahaya. Terbukti dalam sepuluh hitungan kemudian, Cucur Sangit tidak pernah mau berkutik lagi, karena kehilangan nyawa.

“Edan..!” Geram Roh Gepuk tak bisa bertepuk tangan. Kini wajahnya menjadi berang karena temannya mati di tangan gadis muda secantik itu. Sungguh suatu pertarungan singkat yang tak pernah diduga akan merenggut jiwa temannya.

“Setan Jalang, hantu siang !” maki Roh Gepuk.
Kau benar-benar lancang nona buruk !
Berani-beraninya kau menghilangkan nyawa teman kudengan tidak main-main, hah ?!”

“Aku hanya mengikuti sayembaranya tadi !”

“Kubalas kematian ini ! kubalas dengan mencabut nyawamu dengan kapakku ini !
Heaaah…!”

Sleepp…!
Kapak bergagang panjang dicabut dari selipan sabuk, lalu tubuh Roh Gepuk berkelebat menerjang Pita Biru..
Wuuutt…!
Tapi mendadak tubuh itu terpental ke samping. Baru saja melompat belum jauh dari tempat, sebuah pukulan jarak jauh tanpa sinar dilepaskan dari tangan Kusuma Sumi.
Wuuuk…! Buugh…!

“Ehhg…!”
Roh Gepuk terpekik pendek. Lalu jatuh tak tentu keseimbangan…
Bleeegh…!

Pita Biru memandang Kusuma Sumi dengan sikap masih berdiri tegak dan kedua kaki sedikit merenggang. Saat itu Kusuma Sumi segera melangkah maju dan berkata dengan tegas…
“yang ini biar kutangani, mundurlah !”
Pita Biru segera melompat ke samping…
Weeesss…!
Kejap berikut sudah berdiri tak jauh dari Rindu Malam, yang bersidekap dengan tenang di bawah pohon. Dan ketika Roh Gepuk bangkit kembali, ia terkesiap melihat lawannya sudah berganti pakaian. Tapi segera sadar, bahwa lawannya bukan berganti pakaian, tetapi berganti orang.
Roh Gepuk menggeram…
“Kau yang akan menggantikan nyawa temanmu itu untuk menebus nyawa temanku, ha ?!”

Kusuma Sumi diam tak banyak bicara.
Rindu Malam perdengarkan suara, “Jangan buang waktu, kerjakan secepatnya, Kusuma Sumi !”

Suara itu pun masih tak dihiraukan oleh Kusuma Sumi. Mulutnya tetap terkatup rapat. Matanya menatap tak berkedip ke arah lawannya yang sudah memutar-mutarkan kapaknya.

“Hiaatt…!”
Roh Gepuk melepaskan kapaknya yang terbang memutar-mutar.
Wuukk…! Wweeng…weeeng…weeng…weeng…!

Kapak itu nyaris menyambar leher Kusuma Sumi. Tapi wanita cantik itu segera bersalto ke belakang dan lepaskan satu pukulan tenaga dalam tanpa sinar melalui telapak tangan-nya seperti tadi..
Wuuusss…!
Traaakk…!
Pukulan itu kenai kapak yang sedang terbang dengan cepat. Kapak itu terlempar jauh dan jatuh ke semak-semak.
Bruusss…!
Sedangkan tubuh Roh Gepuk segera melompat cepat menerjang Kusuma Sumi dengan liar.
“Heaaah…!”
Kusuma Sumi pun segera sentakkan kaki dan menyogsong lompatan itu, mengadu kecepatan tangan di udara.
Plak, plak, plak…! Dug, dug…!

“Aaghh…!” terdengar suara pekikan Roh Gepuk tertahan. Tubuh lelaki itu melengkung ke belakang terbang berbeda arah, dan jatuh dengan tubuh kian melengkung. Kepalanya tertekuk menghantam tanah…
Bruughhh…!
“Leeggg…!”
Roh Gepuk mengerang dengan mendelik. Lehernya patah, dadanya merah karena pukulan lawan yang mengenainya dua kali. Pukulan itu bertenaga dalam tinggi. Sehingga darah keluar dari mulut Roh Gepuk yang tak bisa bernafas dengan lancer itu.
Ia tersengal-sengal sambil keluarkan darah. Beberapa saat kemudian, tubuh yg tersentak-sentak sekarat itu berhenti, lemas terkulai di rerumputan. Saat itulah sebenarnya Roh Gepuk telah kehilangan nyawa dengan bagian dada kian membiru, pakaian-nya yang hitam dipenuhi debu pada bagian dadanya. Kusuma Sumi segera lepaskan nafas, merasa tugasnya telah selesai.

Dua orang Lumpur Maut mati di tangan utusan Ringgit Kencana. Jelas hal itu akan jadi masalah bagi para utusan. Karena tanpa setahu mereka, pertarungan itu ternyata ada yang mengintai-nya dari tempat yang jauh. Orang yang mengintai itu segera pergi larikan diri dengan tergesa-gesa. Ia adalah orang Lumpur Maut juga, yang pada awalnya bersama-sama dengan Roh Gepuk dan Cucur Sangit. Tetapi ketika kedua temannya itu menghadang langkah tiga utusan dari Ringgit Kencana, ia sedang buang air besar di semak-semak pantai. Begitu kembali lagi untuk temui kedua temannya. Ternyata Cucur Sangit telah terkapar tanpa nyawa dan Rog Gepuk terlempar, jatuh lalu mati.

“mereka orang-orang Ringgit Kencana ! Aku harus laporkan kepada sang Ketua, biar sang Ketua bertindak terhadap mereka !”

Sementara itu, Rindu Malam berkata kepada kedua anak buahnya yang mempunyai ilmu lebih rendah satu tingkat darinya..
“Kita berpencar dari sini saja ! Aku ke selatan, Kusuma Sumi ke barat dan Pita Biru ke timur !”.
“Bagaimana dengan kedua mayat ini ?”
“Biarkan mereka dimakan binatang buas penghuni hutan pantai ini !”.
“Tapi kita berarti bikin masalah dengan orang-orang Lumpur Maut !”
“Mereka yang bikin masalah lebih dulu. Kita hanya melayaninya, tak perlu kalian risaukan hal itu. Yang penting temukan Pendekar Mabuk dan katakan bahwa Gusti Ratu kita ingin bertemu dengan-nya”.

“Bagian 2 Hilang”
Note: Jika agan2 tetap ingin membaca episode seruling malaikat cayce akan memberikan link untuk mendownload file djvunya (CAYCE SARANKAN UNTUK MENGUBAH FILE DJVUNYA KE PDF)
LINK: Download Seruling Malaikat *djvu*