coba

Mutiara Hitam Bab 6-10

Mode Malam
Bab 6

‘Nanti dulu, paling penting aku harus menyelidiki keadaan tempat ini, mencari jalan keluar.! kata Hauw Lam sambil mengulur kedua lengan ke depan, meraba-raba.

‘Tak usah kauselidiki lagi. Percuma, sumur ini sengaja dibuat untuk menjebak musuh. Dindingnya terbuat dari batu tebal, tingginya lima tombak lebih dan di atas ditutup lembaran besi yang atasnya dipasangi tegel, dan dapat terbuka atau tertutup sendiri dengan alat rahasia.!

Kembali Hauw Lam menjadi heran. Gadis ini bicara seakan-akan tidak berada di dalam gelap, seperti menceritakan keadaan yang dilihatnya dengan nyata. Ia tidak percaya lalu kedua tangannya meraba-raba dinding. Dan memang betul apa yang dikatakan gadis itu. Dinding sumur itu segi empat, lebarnya tiga meter tiap segi, dan terbuat daripada batu tebal. Karena bagi Hauw Lam tempat itu amat gelap, ia tidak dapat melihat apa-apa ketika meraba-raba sehingga tiba-tiba ia meraba kepala gadis itu!

‘Eh-eh, mau apa kau? Seperti orang buta saja!! Gadis itu membentak.

‘Wah, maaf.. aku.. aku memang seperti buta di sini..!

‘Duduklah dan jangan berkeliaran.!

Hauw Lam lalu duduk di atas lantai sumur. Tanah padas berbatu itu agak basah. Betapapun juga, ia tidak dapat bersikap masa bodoh seperti gadis ini. Masa mereka harus menerima kematian seperti dua ekor tikus dalam sumur? Ia harus berdaya untuk keluar dari dalam sumur ini. ‘Mutiara, aku tidak mengerti bagaimana kau dapat mengetahui keadaan sumur ini. Akan tetapi kalau dalamnya benar lima tombak, tak mungkin kita meloncat keluar dari sini. Biarpun begitu, dengan bantuan golok dan pedangmu, aku dapat meloncat-loncat sambil menancapkan golok dan pedang bergantian pada dinding, terus sampai keluar. Setelah itu, aku akan mencari tambang untuk menarikmu keluar pula.!

‘Eh, takutkah engkau di sini?!

‘Bukan takut! Akan tetapi kita harus mencari jalan keluar.!

‘Hemm, bagaimana kau akan membuka penutup besi di atas itu? Pula, siapa tahu begitu kau keluar, hujan senjata akan menyambutmu?!

Hauw Lam terkejut. Beralasan juga kata-kata gadis ini. ‘Habis.. bagaimana.!

‘Kita menanti kesempatan dan sementara itu, duduk mengaso di sini dan kauceritakan apa yang terjadi tadi.!

Malu juga rasa hati Hauw Lam mendengar suara gadis itu yang amat tenang. Ia lalu bercerita. Ketika tadi melihat datangnya Ci-lan Sai-kong yang menggiring dua belas orang gadis-gadis muda yang diculik, Hauw Lam marah bukan main. Akan tetapi ia menahan-nahan perasaan hatinya dan setelah mendapat kesempatan ia lalu menyelinap ke dalam pada saat perhatian semua orang tertarik oleh perbuatan Kwi Lan yang amat berani. Setelah tiba di ruangan belakang, ia menyergap dan menotok seorang anggauta Thian-liong-pang. Dari orang inilah ia mendapat keterangan tentang dua belas orang gadis itu yang ditahan di kamar belakang, dijaga oleh empat orang anggauta Thian-liong-pang. Ia menotok lumpuh orang itu kemudian melanjutkan penyelidikannya. Tekad hatinya akan menolong dan membebaskan dua belas orang gadis itu. Dengan kepandaiannya yang tinggi, secara mudah ia merobohkan empat orang penjaga dan pada saat itulah dari atas genteng melayang turun seorang laki-laki yang ternyata adalah Ciam Goan, bekas tokoh Thian-liong-pang yang tadi diusir oleh Ma Kiu.

Girang hati Hauw Lam dan diam-diam ia kagum menyaksikan keberanian Ciam Goan. Biarpun sudah jelas bahwa orang gagah itu tak mungkin dapat melawan para pimpinan Thian-liong-pang dan tadi pun sudah dikalahkan, namun orang she Ciam itu masih berani dan berusaha menolong dua belas orang gadis tawanan. Tanpa banyak cakap mereka lalu memasuki kamar, membebaskan dua belas orang gadis itu. Hauw Lam menyerahkan dua belas orang gadis itu kepada Ciam Goan untuk diajak melarikan diri, sedangkan dia sendiri memancing perhatian orang dengan jalan membakar bangunan samping bagian belakang. Akalnya berhasil baik. Semua orang lari ke tempat kebakaran dan mengeroyoknya, sehingga Ciam Goam dan dua belas orang gadis tawanan itu dapat pergi dengan aman. Hauw Lam sendiri lalu memancing mereka yang mengeroyoknya ke sebelah dalam gedung, bahkan ia lalu menggabung dengan Kwi Lan yang sudah terdesak oleh Cap-ji-liong sehingga akhirnya mereka berdua terjeblos ke dalam sumur perangkap.

‘Begitulah.! Hauw Lam mengakhiri ceritanya. ‘Kuharap saja orang she Ciam itu berhasil melarikan dan menyelamatkan dua belas orang gadis itu. Dan kau sendiri, apa yang kaulakukan tadi? Wah, kepandaianmu hebat bukan main, Mutiara Hitam. Aku takluk setelah menyaksikan betapa kau melawan pengeroyokan Cap-ji-liong!!

‘Hemm, mereka memang kuat sekali kalau maju bersama. Sebelum kau datang membantu, hampir aku roboh.! Mutiara Hitam atau Kwi Lan lalu menceritakan pengalamannya. Hauw Lam kagum sekali dan diam-diam di lubuk hatinya ia merasa puas dan tidak akan penasaran kalau mengalami kematian bersama nona ini di dalam sumur!

‘Sekarang bagaimana? Aku bukannya takut terkurung seperti ini, akan tetapi kita tidak boleh tinggal diam saja. Kita harus keluar dari sini, terutama sekali engkau..! katanya.

‘Mengapa aku? Kalau kau bagaimana?!

‘Aku juga harus dapat keluar, akan tetapi yang paling penting engkau, Nona. Kau seorang wanita, karena itu harus didahulukan keselamatanmu..!

‘Huh, laki-laki dan wanita apa bedanya?!

Hauw Lam tidak mau membantah tentang itu. ‘Biar kucoba untuk merayap atau meloncat naik.!

‘Percuma, kita tunggu kesempatan. Kalau ada yang membuka penutup besi di atas itu, sudah kupersiapkan jarum-jarumku. Begitu ada orang di atas, kuserang dengan jarum dan kau boleh melompat dengan bantuan golokmu ditancapkan pada dinding.!

‘Bagaimana kalau tidak ada yang membuka penutup besi di atas?!

‘Kalau begitu, hemm.. kita tinggal di sini selamanya sampai mati!

Mendengar kata-kata yang dikeluarkan seenaknya dan tenang-tenang saja itu, Hauw Lam bergidik. Akan tetapi hatinya menjadi hangat ketika ia ingat betapa gadis itu agaknya senang saja tinggal berdua dengan dia di situ selamanya sampal mati! Ia menjadi terharu dan baru sekali ini selama hidupnya Hauw Lam merasa hatinya terharu sekali dan juga bahagia! Suaranya menjadi gemetar ketika ia berkata, lenyap nadanya yang suka bergurau, suaranya kini bersungguh-sungguh.

‘Nona.. aku.., aku pun rela mati di sini, rela tinggal di sini selama hidupku, bahkan aku akan berbahagia sekali.. berdua di sampingmu selamanya..!

‘Ihhh! apa maksud kata-katamu yang aneh ini?! Kwi Lan yang tentu saja masih bodoh dalam hal asmara, bertanya heran. Nada suara gadis ini menyadarkan Hauw Lam, membuat mukanya merah sekali, membuat ia merasa malu sekali. Untung bahwa tempat itu gelap sehingga ia tidak usah menentang pandang mata Kwi Lan, dan kegelapan ini sesungguhnya yang membuat ia berani melanjutkan kata-katanya yang membisikkan suara hatinya.

‘Mutiara.. biarpun belum lama aku mengenalmu, bahkan namamu yang sesungguhnya pun aku belum tahu.. akan tetapi.. aku tidak merasa begitu. Bagiku engkau sudah kukenal selama hidupku. Tadinya aku sebatang kara di dunia ini. setelah bertemu denganmu, aku merasa tidak sebatang kara lagi. Mutiara.. ah, aku harus berterus terang.. aku.. aku cinta padamu..!

Saking kaget dan herannya mendengar ucapan yang lama sekali belum pernah didengarnya dan yang baru ia raba-raba maksud sebenarnya ini, Kwi Lan duduk termenung dan menggigit jarum yang dipegangnya. Ia seperti orang terpesona, tidak peduli bahwa pada saat itu, sinar terang menerobos masuk dari atas dan penutup lubang sumur itu dibuka orang! Hauw Lam melihat ini dan cepat melompat, siap untuk menerjang ke atas dan berseru.

‘Mutiara.. lekas serang dia..!

Akan tetapi Kwi Lan hanya memandangnya dan berkata bingung, ‘Ada apa..?!

‘Ssstt.. naiklah..!! Tiba-tiba orang yang membuka penutup sumur itu berkata, kemudian seutas tambang meluncur turun dari atas.

Hauw Lam dan Kwi Lan melihat bahwa yang muncul dan melemparkan tambang itu adalah seorang yang berkerudung kain hitam, akan tetapi dari suaranya dapat diketahui bahwa dia seorang laki-laki. Begitu melempar tambang, bayangan itu lenyap kembali.

‘Mari kita naik!! Hauw Lam berkata dan cepat-cepat pemuda ini merayap naik melalui tambang seperti seekor kera cepatnya, Kwi Lan juga sudah merayap baik dan sebentar saja keduanya sudah melompat keluar dari sumur. Sejenak mata Hauw Lam menjadi silau karena tiba-tiba dari tempat gelap berada diterang. Ia mengejap-ngejapkan matanya, kemudian ketika matanya bertemu dengan Kwi Lan, tiba-tiba pemuda ini menjadi merah seluruh mukanya!

‘Pergi dari sini cepat!! Hauw Lam berkata dan mereka lalu melompat keluar dari ruangan silat yang kini sudah sunyi. Akan tetapi begitu mereka keluar dari ruangan silat dan berada di ruangan tengah, dari kanan kiri berlompatan keluar beberapa orang anggauta Cap-jiliong!

‘Celaka! Mereka lolos! Kepung.. tangkap..!! Mereka berteriak-teriak dan empat orang sudah menerjang Hauw Lam dan Kwi Lan.

Akan tetapi, keampuhan Cap-ji-liong adalah kalau mereka maju bersama. Kini hanya ada empat orang di antara mereka, tentu saja bukan tandingan Hauw Lam dan Kwi Lan. Begitu sepasang orang muda ini menggerakkan senjata empat orang itu sudah melompat mundur untuk menghindarkan bahaya maut. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hauw Lam dan Kwi Lan untuk berlari terus. Karena dari depan berbondong datang para anggauta Thian-liong-pang, Hauw Lam lalu menarik tangan Kwi Lan, diajak lari melalui ruangan belakang. Mereka lari masuk ke ruangan dalam, terus ke belakang. Beberapa orang anggauta Thian-liong-pang yang bertemu dengan mereka dan berusaha menghalangi, mereka robohkan dengan tendangan atau pukulan tangan kiri.

Untung bagi mereka bahwa para pimpinan Thian-liong-pang pada saat itu sedang sibuk membuat persiapan untuk mengunjungi pertemuan antara tokoh-tokoh dunia hitam yang akan diadakan di Puncak Cheng-liong-san untuk memilih jagoan nomor satu di dunia. Ma Kiu ketua baru, juga Sin-seng Losu sendiri bersama murid-muridnya bersama beberapa orang tamu penting sudah meninggalkan gedung untuk mengunjungi kota Tai-goan untuk ikut menyambut datangnya seorang tokoh besar yang terkenal dengan julukan Siauw-bin Lo-mo (Iblis Tua Tertawa). Karena tokoh besar ini masih terhitung paman guru Sin-song Losu, tentu saja oleh Thian-liong-pang dianggap sebagai kakek guru dan mereka mengharapkan kakek guru ini akan menjadi jagoan nomor satu sehingga nama Thian-liong-pang akan ikut terangkat tinggi. Karena kesibukan ini mereka hanya meninggalkan empat orang murid kepala bersama murid-murid bawahan untuk menjaga gedung. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa dua orang muda tawanan mereka akan dapat meloloskan diri dan menganggap mereka itu tentu akan tewas kelaparan di dalam sumur.

How Lam dan Kwi Lan maklum bahwa kalau para pimpinan Thian-liong-pang keburu datang mengeroyok, keadaan mereka akan berbahaya. Karena mereka datang ke tempat itu hanya untuk ‘main-main! dan tidak mempunyai urusan tertentu dengan perkumpulan ini, mereka pun tidak ada niat untuk melanjutkan pengacauan. Dihadang oleh murid-murid bawahan Thian-liong-pang tentu saja mereka dengan enak merobohkan semua penghadang, terus lari ke belakang, mencari kandang kuda dan setelah dapat menemukan kuda hitam yang mereka ‘sumbangkan! tadi, mereka lalu menunggang kuda berdua dan membalapkan kuda itu keluar dari Yen-an. Terdengar derap kaki kuda yang ditungganggi para anak buah Thian-liong-pang mengejar, namun tak seekor pun kuda mampu menandingi larinya kuda hitam dari Khitan itu.

Setelah kota Yen-an jauh ditinggalkan dan tak tampak adanya pengejar lagi, Kwi Lan yang duduk di depan tiba-tiba menahan kudanya. Mereka berhenti di jalan simpang empat.

‘Di sini kita berpisah. Kau turunlah.!

Hauw Lam meloncat turun dan memandang gadis itu dengan muka terkejut. Tak disangkanya bahwa secara tiba-tiba gadis itu mengajak mereka saling berpisah. Namun nona itu menundukkan muka, tidak membalas pandang matanya.

‘Mutiara Hitam.. Nona.., mengapa kita harus berpisah?! Suara Hauw Lam gemetar, tidak seperti biasa. Jantung Kwi Lan berdebar aneh. Ia marah dan juga bingung.

‘Nona, apakah engkau marah karena pengakuanku di dalam sumur tadi? Maafkanlah, aku bukan bermaksud menyinggung perasaanmu atau menghinamu, aku hanya mengeluarkan isi hatiku sejujurnya. Biarpun kau akan menjadi marah dan membunuhku, aku tak dapat menyangkal bahwa aku.. cinta padamu, Mutiara Hitam.!

Kwi Lan menarik napas panjang. Ia tidak bisa marah kepada pemuda ini, dan sebetulnya ia senang mendengar pengakuan itu. Akan tetapi ia tidak ingin selamanya berada di samping Hauw Lam. Ia ingin menyendiri.

‘Hauw Lam, ada hal yang lebih penting bagimu. Engkau harus pergi kepada Ibu kandungmu.!

Terbelalak mata Hauw Lam memandang. ‘Apa..? Apa yang kaumaksudkan..?!

‘Bukankah Ayahmu bernama Tang Sun dan Ibumu bernama Phang Bi Li?!

Hauw Lam melangkah maju dan memegang tangan Kwi Lan. ‘Mutiara! Bicaralah yang jujur! Bagaimana kau tahu akan nama Ayahku? Memang Ayahku bernama Tang Sun. Nama Ibu aku tidak pernah dengar, akan tetapi engkau.. bagaimana bisa tahu?!

Kwi Lan yang kini melihat betapa wajah Hauw Lam menjadi pucat dan agaknya amat tertarik tersenyum. ‘Kau pantas menjadi kakakku. Ibumu adalah Bibi Bi Li yang menganggap aku anak sendiri. Ayahmu.. Ayahmu telah tewas, aku melihat sendiri. Ibumu masih hidup, namanya Phang Bi Li dan kini tinggal di Hutan Iblis.!

Makin pucat wajah Hauw Lam. ‘Di Hutan Iblis..? Ayahku mati..?! Ia merasa mimpi mendengar keterangan ini dan tentu ia tidak akan percaya kalau saja ia tidak yakin bahwa gadis yang baru dikenalnya beberapa hari ini tak pernah membohong seperti juga tak pernah merasa takut.

‘Pergilah, carilah Ibumu dan kau akan mendengar semua. Ibumu hanya tahu bahwa puteranya bernama Tang Hauw Lam. Kau pergilah ke Lembah Air Hijau, di kaki Pegunungan Pek-liu-san sebelah utara, di sana terdapat hutan yang oleh orang-orang disebut Hutan Iblis. Nah, Ibumu tinggal seorang diri di dalam pondok di hutan itu, menanti-nanti kedatanganmu. Selamat tinggal, kelak kita berjumpa pula.! Setelah berkata demikian, Kwi Lan membalapkan kudanya pergi dari tempat itu, meninggalkan Hauw Lam yang masih berdiri seperti arca dengan muka pucat.

‘Ibuku.. Ibu kandungku.. Ibuku..! Pemuda yang biasanya periang itu kini hanya berbisik-bisik dengan sepasang mata basah. Pandang matanya mengikuti bayangan Kwi Lan di atas kudanya. dan semangatnya serasa terbawa terbang pergi.

***

Kwi Lan menjalankan kudanya sambil melamun. Begitu berpisah dari Hauw Lam ia merasa betapa ia kehilangan seorang teman seperjalanan yang selalu mendatangkan suasana gembira. Akan tetapi kalau ia teringat akan pernyataan cinta kasih Hauw Lam, ia menjadi kecewa. Hal ini melenyapkan rasa gembiranya dan membuatnya menjadi tak enak, hatinya berdebaran dan ia menjadi malu, tak ingin bertemu kembali dengan pemuda itu. Ada hal lain yang sejak tadi ia pikirkan. Siapakah orang yang menolongnya ketika ia bersama Hauw Lam berada dalam sumur jebakan? Apakah orang gagah she Ciam yang telah menolong dua belas orang gadis tawanan? Rasanya tidak mungkin karena biarpun gagah beran, orang she Ciam itu tidak begitu tinggi kepandaiannya. Penolong tadi tentu orang yang sudah kenal akan keadaan dan rahasia Thian-liong-pang.

Kwi Lan yang tidak mengenal jalan, tidak tahu bahwa kudanya itu berlari menuju ke arah Sungai Kuning yang mengalir di sebelah timur Yen-an. Ia juga tidak tahu bahwa jalan ini pula yang diambil oleh rombongan Sin-seng Losu pagi tadi, menuju ke Tai-goan!

Hari telah menjelang senja. Ia segera membalapkan kudanya ketika melihat sebuah dusun jauh di depan. Perkampungan ini cukup besar dan Kwi Lan bermalam di rumah penginapan dusun itu. Semua orang kagum melihat gadis yang cantik jelita dan yang menunggang seekor kuda hitam yang indah ini, namun Kwi Lan tidak ambil peduli. Setelah pengalamannya di Thian-liong-pang, Kwi Lan bersikap hati-hati dan tidak mau mencari perkara. Mulailah ia tahu bahwa di dunia kang-ouw banyak terdapat orang-orang yang berilmu tinggi. Ia ingin bertemu dengan ibu kandungnya dan menurut penuturan Hauw Lam, di Khitan banyak terdapat orang-orang pandai sehingga seorang tokoh hitam seperti Jin-cam Khoa-ong itu pun menjadi buronan Khitan. Ia akan menemui Ibu kandungnya dan kalau mungkin, memperdalam kepandaiannya.

Pada keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan dan hari telah lewat senja ketika ia menghentikan kudanya di tepi Sungai Kuning yang airnya melimpah-limpah dan amat lebar. Ia duduk di atas kudanya sambil termenung. Bagaimana ia dapat melanjutkan perjalanan? Tidak ada jembatan, tidak ada perahu, dan tempat itu amat sunyi, tak tampak seorang pun manusia. Hanya dapat dilihat dari situ perahu-perahu nelayan jauh sekali dan ada di antara mereka yang sudah menyalakan lampu penerangan. Ia lalu menjalankan kudanya menyusuri sungai menuju ke kiri untuk mencari perahu yang kiranya akan dapat menyeberangkannya atau kalau tidak, ia akan mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam dan besok baru berusaha menyeberang.

Tiba-tiba dari jauh ia melihat sebuah perahu kecil meluncur cepat ke pantai. Itu tentu seorang nelayan, pikirnya. Mungkin dia bisa menolongku mencarikan sebuah perahu besar untuk menyeberang. Perahu kecil macam itu mana dapat menyeberangkan kudanya? Kwi Lan mempercepat larinya kuda ke arah pantai. Akan tetapi ia terlambat karena dari dalam perahu itu meloncat keluar bayangan hitam yang kemudian berlari amat cepatnya ke darat. Kwi Lan terkejut. Terang itu bukan nelayan biasa, pikirnya. Nelayan biasa mana bisa memiliki gin-kang yang sedemikian baiknya. Ia pun cepat membelokkan kudanya, mengikuti arah larinya orang itu. Cuaca sudah mulai gelap dan Kwi Lan yang merasa tertarik, melanjutkan kudanya ke depan sambil mencari-cari dengan pandang matanya.

Bayangan itu lenyap sudah. Gerakannya terlalu cepat dan melakukan pengejaran sambil menunggang kuda amat sukar. Selain itu, juga Kwi Lan meragu untuk mengejar secarasungguh-sungguh. Ia tidak tahu siapa orang itu dan mengapa berlari-lari dengan cepatnya. Terang bukan nelayan dan ia tidak mempunyai keperluan sesuatu dengan orang itu. Hanya ia tadi ingin bertanya kalau-kalau orang itu dapat menunjukkan di mana ia dapat menyewa perahu untuk menyeberang bersama kudanya.

Sinar terang yang keluar dari kumpulan batu-batu gunung di pantai sebelah depan menarik perhatiannya. Sinar yang bergerak-gerak besar kecil itu tentulah sinar api unggun yang dinyalakan orang. Ada api unggun tentu ada orang dan kalau ada orang berarti ia akan bisa mendapatkan keterangan dan petunjuk yang diharapkan. Kini kuda hitam yang ditungganginya sudah mendekati deretan batu-batu padas yang tinggi dan dijalankan perlahan.

Ternyata api unggun itu dinyalakan orang di dalam sebuah guha batu yang amat lebar. Ketika Kwi Lan yang masih duduk di atas kudanya tiba di depan mulut guha, ia melihat lima orang laki-laki di dalam guha. Kedatangannya agaknya sudah dinanti mereka karena mereka sudah berdiri dan tangan kanan mereka sudah meraba gagang senjata masing-masing. Yang paling depan adalah seorang pemuda yang berambut panjang, berpakaian hitam dan berwajah tampan sekali. Kepalanya diikat tali dan di dahinya besinar sebuah batu permata kuning, Tiga orang yang lain juga sudah siap dan memandang kepadanya dengan mata terbelalak kaget dan marah. Adapun orang ke lima adalah seorang pendeta yang jenggotnya kasar dan jarang seperti kawat, tubuhnya tinggi besar dan di belakang punggungnya tampak gagang sebatang pedang.

‘Siauw-ya (Tuan Muda), dia adalah Mutiara Hitam yang mengacau di Thian-liong-pang..!! Seorang di antara tiga orang di belakang pemuda tampan itu berseru.

Pemuda itu memandang dengan mata bersinar tajam, lalu membentak ke arah Kwi Lan, suaranya nyaring. ‘Mau apa engkau datang ke sini?!

Kwi Lan tersenyum. Ia tidak memandang mata kepada orang-orang Thian-liong-pang ini dan melihat batu permata di dahi Si Pemuda Tampan, Ia dapat menduga bahwa pemuda itu tentu seorang tokoh pula. Akan tetapi ia sedikit pun tidak takut dan karena ia kemarin tidak melihat pemuda ini di antara yang mengeroyoknya, ia pun tiada nafsu untuk melayani mereka.

‘Aku tidak butuh kalian, aku hanya perlu seorang nelayan yang dapat menyeberangkan aku dan kudaku.! jawabnya, suaranya dingin. Biarpun ia tidak mengharapkan bantuan mereka ini, namun siapa tahu mereka dapat memberi keterangan tentang nelayan yang ia butuhkan.

Sebelum pemuda dan tiga orang anggauta Thian-liong-pang itu menjawab, pendeta sai-kong yang berdiri paling belakang itu mengangkat tangan kiri ke atas, dan berkata.

‘Siangkoan-kongcu, biarkan lohu menghadapinya!! Dengan langkah lebar pendeta ini maju. Setelah berhadapan dengan Kwi Lan, ia menjura dengan hormat, tersenyum-senyum dan jenggotnya yang kaku bergerak-gerak, matanya berkejap-kejap.

‘Nona, sungguh Nona yang masih begini muda amat mengagumkan. Tadi lohu sudah mendengar penuturan saudara-saudara Thian-liong-pang akan sepak terjang Nona yang berani menghadapi Cap-ji-liong. Ha-ha-ha, sungguh gagah! Seorang muda segagah Nona ini patut dikagumi dan sama sekali tidak pantas dimusuhi. Orang gagah mengutamakan persahabatan sesama orang gagah, maka terimalah rasa kagum lohu!!

Kwi Lan yang melihat kakek ini merangkapkan kedua tangan, membawa kedua tangan ke depan dada sambil bergerak memberi hormat, tersenyum mengejek. Dengan gerakan ringan sekali tubuhnya sudah meloncat turun dari atas punggung kudanya, menghadapi kakek itu dan menjura sambil berkata.

‘Kau orang tua terlalu merendah!!

Biarpun kelihatannya seperti orang menjura dan memberi hormat, namun kedua tangan sai-kong itu bergerak ke depan dan menyambarlah angin pukulan dahsyat ke arah dada Kwi Lan. Gadis itu hanya menjura dengan bibir tersenyum, agaknya seperti tidak tahu akan penyerangan orang, akan tetapi kakek itu merasa betapa tenaga dorongan kedua tangannya tadi seakan-akan membentur api dan membalik, menimbulkan rasa panas pada dadanya. Ia kaget sekali, akan tetapi masih merasa penasaran dan sambil tertawa dan berkata, ‘Nona benar-benar hebat..!! Kedua tangannya membuka jari-jari tangan dan bergerak ke depan, yang kiri menotok ke arah pundak dan yang kanan menotok ke arah pergelangan tangan! Hebat serangan ini, namun masih saja tampak seakan-akan orang yang memuji dan menyentuh karena sayang dan kagum, sama sekali tidak kelihatan seperti orang menyerang. Padahal serangan itu kalau tepat mengenai sasaran, akan membuat tubuh Kwi Lan seketika lumpuh dan lemas.

‘Totiang (panggilan pendeta) mengapa sungkan-sungkan!! kata Kwi Lan dan kedua tangannya bergerak ke depan pula seperti orang mencegah. Hanya tampaknya saja seperti mencegah, akan tetapi sebenarnya dengan cepat seperti kilat menyambar, jari tangan Kwi Lan sudah siap menerima kedua tangan kakek itu. Kalau kakek itu melanjutkan serangannya, maka kedua telapak tangannya tentu akan bertemu dengan jari tangan Kwi Lan sehingga sebelum dapat menotok orang, Ia sendiri sudah akan terkena totokan lawan!

‘Ahhh..!! Sai-kong itu menarik kembali kedua tangannya dan melangkah mundur kemudian ia tertawa bergelak.

‘Ha-ha-ha-ha, semuda ini sudah memiliki kepandaian hebat, benar-benar membuat lohu kagum dan takluk, Nona ingin menyeberang? Biarlah lohu antarkan!!

Girang hati Kwi Lan mendengar ini. ‘Kau mempunyai perahu, Totiang?!

‘Ha-ha, tentu saja ada, harap Nona jangan khawatir. Marilah!! Kakek itu dengan langkah lebar keluar dari dalam guha, diikuti oleh Kwi Lan.

‘Tahan! Mutiara Hitam, engkau sudah mengacau Thian-liong-pang, bagaimana kami dapat membiarkan kau pergi begitu saja?! teriak seorang di antara anggauta anggauta Thian-liong-pang sambil melompat maju dan mencabut pedang. Akan tetapi pemuda tampan tadi mencegah dan menghardik.

‘Nona sudah ikut bersama Huang-ho Tai-ong (Raja Sungai Huang-ho), mau apa kau ribut-ribut?!

Kalau saja Kwi Lan sudah banyak pengalaman merantau, tentu ia akan terkejut sekali mendengar nama ini. Huang-ho Tai-ong adalah nama julukan kepala bajak Sungai Huang-ho yang terkenal sekali. Akan tetapi gadis ini selain kurang pengalaman, juga tidak mengenal takut, maka ucapan Si Pemuda ini sama sekali tidak adaartinya. Ia mengikuti sai-kong itu yang terus berjalan mendekati pantai, kemudian kakek itu mengeluarkan teriakan melengking nyaring tinggi sambil menengadahkan kepalanya. Terdengar suitan balasan dari arah kiri dan tidak lama kemudian, muncullah sebuah perahu dalam sinar bintang-bintang di langit yang suram muram. Kiranya perahu itu bercat hitam, cukup besar dan didayung oleh empat orang tinggi besar.

‘Silakan, Nona. Lohu sendiri akan menemanimu menyeberang.! kata saikong tadi sambil tersenyum.

‘Terima kasih. Kau baik sekali, Totiang.! jawab Kwi Lan yang menuntun kuda hitamnya ke atas papan perahu, Kakek itu pun melompat naik, memberi aba-aba dan empat orang anak buahnya kembali mendayung perahu ke tengah. Ketika Kwi Lan menengok, ia melihat pemuda tampan tadi bersama teman-temannya berdiri di pinggir sungai dan memandang.

Karena tidak mengerti, Kwi Lan sama sekali tidak merasa heran mengapa layar perahu itu tidak dipasang. Untuk menyeberangi sungai sebesar Sungai Kuning ini, tentu dibutuhkan layar agar penyeberangan dapat berjalan cepat. Akan tetapi empat orang itu hanya mendayung saja sehingga perahu bergerak lambat, malah hanyut oleh air. Kuda hitam yang tinggi besar dan gagah itu pun mendengus-dengus dan meringkik, keempat kakinya menggigil ketika melihat air yang hitam berombak. Akan tetapi, Kwi Lan berdiri tegak memegangi kendali, sedikit pun tidak merasa takut!

‘Nona, orang-orang Thian-liong-pang tadi menceritakan tentang sepak terjang Nona di Thian-liong-pang dan menyebut Nona Mutiara Hitam. Bolehkah lohu tahu, siapa sesungguhnya namamu dan dari perguruan manakah? Lohu sendiri disebut orang Huang-ho Tai-ong, bernama Ma Hoan.!

Kwi Lan tidak menaruh curiga kepada kakek ini, juga tidak memperhatikan nama maupun julukannya, akan tetapi karena kakek ini menolongnya menyeberang, ia menganggapnya orang baik. Dengan acuh ia menjawab, ‘Si Berandal sudah menjuluki aku Mutiara Hitam, biarlah selanjutnya orang mengenalku dengan nama itu juga. Aku tidak terikat dengan perguruan mana pun.!

Kakek ini mengerutkan alisnya. Gadis yang cantik jelita, akan tetapi sombong sekali, pikirnya. ‘Mutiara Hitam, julukan yang bagus. Nona, kenapa engkau mengacau Thian-liong-pang? Mengapa memusuhinya?!

‘Aku tidak memusuhi Thian-liong-pang dan tidak ada urusan apa-apa antara mereka dan aku. Hanya aku tahu bahwa orang-orang Thian-liong-pang bukan manusia baik-baik, pula pengecut. Beraninya hanya melakukan pengeroyokan dan menggunakan perangkap!!

Pada saat itu, Ma Hoan tertawa bergelak dan terdengarlah bunyi banyak dayung memukul air. Ketika Kwi Lan melihat ke kanan kiri, ia mengerutkan alisnya. Kiranya tanpa ia ketahui, telah muncul empat buah perahu kecil yang mengurung perahu yang ditumpanginya. Perahu-perahu kecil itu juga bercat hitam dan setiap buah perahu ditumpangi enam orang bersenjata golok.

‘Ha-ha-ha, Mutiara Hitam, engkau terlalu cantik jelita, akan tetapi terlalu sombong! Engkau sudah berada dalam cengkeramanku, masih bermulut besar mencaci maki Thian-liong-pang? Ketua Thian-liong-pang adalah Kakakku, tahukah kau?!

Kwi Lan memandang tajam dan teringatlah ia sekarang. Orang ini bernama Ma Hoan, kiranya adik Ma Kiu Ketua Thian-liong-pang. Julukannya Tai-ong dan kini tampak banyak anak buahnya, tentu kepala bajak sungai dan dia berada dalam bahaya!

‘Bagus, kalau begitu kau sudah bosan hidup!! kata Kwi Lan dan sekali tangan kanannya bergerak, Siang-bhok-kiam telah tercabut dan menerjang, merupakan sinar kehijauan menyambar ke arah Huang-ho Tai-ong Ma Hoan dan empat orang pendayung perahu. Kuda hitam meringkik ketakutan, empat orang itu berteriak keras dan terjungkal keluar dari perahu, akan tetapi dengan gerakan cepat sekali Ma Hoan sudah meloncat dan tubuhnya melayang ke atas sebuah diantara perahu-perahu kecil yang mengurung perahu besar.

‘Tangkap dia, gulingkan perahu!! Ma Hoan berseru, memberi komando kepada anak buahnya. Kwi Lan mendengar ini menjadi kaget juga. Kalau lawan menggunakan akal menggullngkan perahu, dia dan kudanya celaka! Karena itu, sebelum mereka turun tangan, tubuhnya sudah lebih dulu mencelat ke atas sebuah perahu kecil terdekat. Sambil meloncat, ia memutar pedangnya. Enam orang dengan golok di tangan menyambutnya. Terdengar suara keras dan enam buah golok itu terlempar ke dalam air dan seorang di antara mereka malah roboh dengan lengan kanan terbabat putus! Lima orang lainnya cepat-cepat meloncat ke dalam air dengan panik.

Begitu perahu kecil yang diinjaknya itu terus bergoyang-goyang dan miring Kwi Lan sudah mengenjot tubuhnya lagi, kini meloncat ke arah perahu yang ditumpangi Ma Hoan. Ia maklum bahwa kalau ia tidak cepat menawan Ma Hoan. Ia tentu akan celaka. Di darat, ia tidak akan peduli akan pengeroyokan tiga puluh orang itu, akan tetapi di air! Melawan seorang di antara mereka saja belum tentu ia menang.

Ma Hoan tidak akan berjuluk Raja Sungai Kuning dan tidak akan menjadi kepala bajak kalau ia tidak lihai ilmu silatnya dan pandai bermain di air. Melihat tubuh gadis, perkasa itu berkelebat meloncat ke arah perahunya, ia mengenal bahaya dan.. cepat-cepat ia melempar diri ke dalam air! Dua orang anak buahnya di perahu itu yang tidak keburu terjun, menjadi korban babatan pedang Kwi Lan dan terjungkal di air.

Keadaan menjadi kacau-balau. Dalam cuaca suram gelap Kwi Lan mengamuk, meloncat dari perahu ke perahu. Namun para bajak itu sudah lebih dahulu terjun ke air dan mulailah mereka berusaha menggulingkan perahu di mana Kwi Lan berdiri. Gadis ini tentu saja tidak, mau digulingkan ke dalamair. Ia bermain loncat-loncatan dari perahu ke perahu. Akan tetapi karena perahu-perahu yang tidak dikemudikan itu berputaran dan hanyut, apalagi karena bajak-bajak menggulingkan semua perahu, akhirnya Kwi Lan yang sudah berdiri di atas perahu yang terbalik, tidak mempunyai tempat lagi untuk meloncat. Kuda hitam besar sudah terjungkal ke dalam air ketika perahu besar digulingkan. Ketika perahu terbalik yang ia injak itu tiba-tiba menyelam, ia masih dapat meloncat ke atas dan.. tak dapat dicegahnya lagi tubuhnya jatuh terbanting ke dalam air yang bergelombang!

Kwi Lan pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya setelah setelah ia terbanting ke air. Ketika ia siuman kembali, ia mendapatkan dirinya lemas dan lumpuh kaki tangannya! Tahulah Kwi Lan bahwa ia telah tertotok lumpuh. Tubuhnya terasa dingin dan basah. Ketika ia membuka mata, ia melihat api unggun dan ternyata ia telah berada di dalam guha besar tadi, menggeletak di atas rumput kering dan tubuhnya tidak tertutup pakaian sama sekali! Kenyataan ini membuat Kwi Lan merasa kaget setengah mati dan cepat-cepat ia menutupkan kedua matanya lagi, pura-pura pingsan atau hampir pingsan lagi sakingkagetnya. Ia tahu bahwa ia telah tertawan, dan bahwa orang telah menanggalkan semua pakaian dari tubuhnya. Kemudian ia mendengar betapa di situ terdapat banyak orang, bahkan ada suara orang berbantahan. Dengan jantung berdebar ketakutan, baru sekali ini Kwi Lan mengenal rasa takut, ia mendengarkan, tanpa membuka matanya.

‘Ma-totiang, aku tahu bahwa urusan ini adalah urusan pribadimu dan sekali lagi kunyatakan bahwa antara Nona itu dan aku tidak ada sangkut-paut apa-apa! Akan tetapi kedua hal itu bukan menjadi halangan bagiku untuk mencegah terjadinya hal yang memalukan ini. Betapapun juga, Kakakmu, Ma Kiu Suheng adalah ketua kami, kalau sekarang engkau melakukdn perbuatan hina dan rendah, bukankah hal itu berarti akan menodai nama besar Thian-liong-pang?!

‘Eh, Siangkoan-kongcu! Sejak kapan Thian-liong-pang melarang seorang laki-laki mengambil seorang wanita yang disukanya? Engkau hendak menghalangiku, berarti engkau iri hati dan engkau sendiri suka kepada wanita pengacau itu. Betulkah?!

‘Tidak, Ma-totiang. Laki-laki boleh mengambil wanita mana saja yang disukainya, akan tetapi kalau wanita itu mau. Engkau merobohkannya dengan akal curang, dan hendak memaksanya secara keji. Mendiang Ayahku, seorang Ketua Thian-liong-pang tidak pantang melakukan apa saja kecuali sikap curang dan pengecut. Kalau kau mengalahkan dia dengan kepandaianmu, maka menjadi hakmulah untuk memperlakukan orang yang kaukalahkan sesuka hatimu. Akan tetapi melihat betapa tadi dia dilawan secara licik dan sekarang hendak diperlakukan keji, sungguh sebagai seorang gagah aku tidak akan mendiamkan saja. Ma-totiang, agar jangan kita menjadi bahan ejekan di dunia kang-ouw, kaubebaskan dia!!

‘Bocah, berani engkau membuka mulut besar? Siangkoan Li! Kau menganggap kau ini siapa dan aku ini orang macam apa, bisa kauperintah sesukamu? Biarpun mendiang Ayahmu pernah menjadi ketua Thian-liong-pang, akan tetapi Ayahmu bukanlah sahabatku! Hanya mengingat engkau masih cucu luar Sin-seng Losu dan masih adik seperguruan Twako (Kakak) Ma Kiu, aku masih menganggapmu orang sendiri! Akan tetapi jangan kau keterlaluan karena menjadi cucu Sin-seng Losu, karena semua saudara Cap-ji-liong juga tidak suka akan sepak terjangmu yang menyimpang dengan jalan mereka!!

Hening sejenak. Kwi Lan memandang dari balik bulu matanya dan melihat bahwa yang bertengkar adalah pemuda tampan berambut panjang dan sai-kong yang menawan dirinya. Tiga orang anggauta Thian-liong-pang berdiri di sudut, memandang dan melihat pandang mata mereka terhadap pemuda itu, agaknya mereka ini tidak berpihak kepada Si Pemuda. Kwi Lan lalu menutupkan matanya kembali, menekan perasaannya yang seperti akan melesak itu, kemudian ia diam-diam mengerahkan tenaganya untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan. Akan tetapi kaki tangannya tetap lumpuh dan karena dadanya penuh hawa amarah yang hebat, sukar baginya untuk mengumpulkan hawa murni.

‘Ma-totiang, bicara tentang sepak terjang, bukan aku yang menyimpang, melainkan orang lain yang menyeleweng! Akan tetapi cukuplah tentang Thian-liong-pang. Kita bicara tentang perbuatanmu sekarang. Ma-totiang, engkau adalah seorang bekas pendeta, sedikit banyak pernah belajar tentang kebajikan. Engkau adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sedikit banyak mengerti tentang kegagahan. Engkau adalah seorang yang sudah tua, mengapa masih menuruti nafsu binatang hendak memperkosa seorang gadis..?!

‘Huh, bocah bermulut lancang! Siapa hendak memperkosa? Lancang kau menuduh orang..!

‘Engkau masih berani menyangkal? Melihat keadaan Nona ini..!

‘Ha-ha-ha! Memang, dia kutelanjangi, akan tetapi aku tidak berniat memperkosanya. Mungkin anak buah Thian-liong-pang itu mempunyai niat demikian, melihat pandang mata mereka! Ha-ha, aku sama sekali bukan hendak memperkosa, melainkan ingin menggunakan dia membantu menyempurnakan ilmu silat yang sedang kucipta! Dia seorang gadis yang memiliki Iwee-kang tinggi, memiliki hawa sakti yang kuat dan darah yang sehat. Dia juga telah mengacau Thian-liong-pang, maka baik sekali kuambil semua kekuatan Im-kang dari tubuhnya..!

‘Keji! Aku tahu, Ma-totiang, orang mengabarkan bahwa engkau sedang mencipta dan melatih Ilmu Bi-ciong-kun (Ilmu Silat Menyesatkan) yang kaulengkapi dengan pukulan Tok-hiat-ciang (Pukulan Darah Beracun).., akan tetapi mengapa menggunakan Im-kang seorang gadis..?!

‘Ha-ha-ha, Siangkoan Li! Kaukira akan mudah saja mencari rahasia ilmuku itu? Tidak perlu, hanya perlu kauketahui bahwa aku perlu hawa murni dan darah gadis ini untuk I-kin Swe-jwe (Ganti Obat Cuci Sumsum). Sudahlah, kau pergi dan jangan menggangguku lagi.!

‘Tidak! Kalau engkau lebih dulu membebaskan Nona ini, kemudian bertanding dengannya secara jantan, biar dia kalah dan mati di tanganmu, aku Siangkoan Li bersumpah tidak akan turut campur. Akan tetapi melihat dia ditawan dengan akal keji dan kini akan menjadi korban ilmu iblismu, aku tidak akan tinggal diam saja!!

‘Bagus! Memang anak tidak akan berbeda dengan ayahnya! Ayahmu penyeleweng dari Thian-liong-pang, engkaupun..!

‘Tutup mulut, jangan membawa-bawa nama Ayah!! bentak Siangkoan Li yang sudah mencabut pedangnya.

Huang-to Tai-ong Ma Hoan berteriak keras seperti seekor harimau terluka, mencabut pedangnya dan menyerang pemuda itu. Karena guha itu kurang luas untuk bertanding, sedangkan ia maklum akan kelihaian lawannya, pemuda yang bernama Siangkoan Li itu lalu meloncat keluar guha dikejar oleh Ma Hoan. Segera terjadi pertandingan hebat di luar guha, di bawah sinar bintang-bintang di langit. Suara senjata mereka saling beradu, terdengar nyaring oleh Kwi Lan yang masih berusaha menekan kemarahannya dan membebaskan diri daripada totokan.

‘Sam-sute, bagaimana baiknya sekarang?! Terdengar seorang di antara tiga anggauta Thian-liong-pang berkata. Mereka bertiga masih berada di dalam guha itu, kini memandang ke arah Kwi Lan dengan mata terbelalak penuh kagum dan gairah.

‘Biarkan saja mereka bertempur.! kata suara lain yang parau. ‘Ma-totiang adalah adik kandung Pangcu (Ketua), dan Siangkoan-kongcu adalah cucu luar Lo-pangcu, bagaimana kita boleh campur tangan? Lihat alangkah hebatnya Nona ini, hemm.. selagi mereka bertanding, mengapa kita sia-siakan kesempatan bagus ini?!

‘Sam-suheng benar!! kata suara ke tiga. Aku pun selama hidupku belum pernah melihat yang seindah ini. Aku rela nanti dimarahi Ma-totiang atau Siangkoan-kongcu..!

Tiga orang anggauta Thian-liong-pang itu menghampiri Kwi Lan dengan wajah menyeringai penuh nafsu. Sebetulnya mereka itu bukanlah kaum jai-hwa-cat macam Ci-lan Sai-kong, bukan pula orang-orang mata keranjang, sungguhpun mereka juga tak dapat disebut orang baik-baik. Akan tetapi melihat keadaan Kwi Lan, menyaksikan kecantikan wajah yang memang jarang bandingannya, melihat bentuk tubuh yang demikian menggairahkan, mereka tak dapat lagi menguasai hati dan menyerah kepada bujukan iblis nafsunya.

Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati Kwi Lan ketika melihat tiga wajah yang berkeringat dengan mata berkilat-kilat seperti mata binatang kelaparan itu makin mendekatinya. Ia tidak pernah mengenal takut menghadapi ancaman maut sekalipun, akan tetapi hati kecilnya membisikkan bahwa kini ia terancam malapetaka yang jauh lebih mengerikan daripada maut sendiri! Ia sudah mengerahkan tenaga, namun perhatiannya tak dapat terkumpul bulat-bulat sehingga belum juga ia berhasil. Kedua tangan dan kakinya masih lemas, lumpuh tak bertenaga.

‘Sam-sute, Hok-sute, kalian mundurlah. Aku sebagai Suheng kalian, paling tua dan biarkan aku mendekati dia lebih dulu.!

‘Ah, tidak, Suheng! Aku yang mengusulkan lebih dulu!!

‘Sam-suheng, aku yang paling muda lebih cocok dengan dia!!

Tiga orang murid Thian-liong-pang yang hati serta pikirannya sudah hitam dan gelap kotor oleh nafsu iblis itu kini saling berebut! Dari pertengkaran mulut, mereka kini saling betot dan agaknya mereka akan saling jotos karena sudah mulai memaki. Melihat ini, Kwi Lan maklum betapa dirinya diperebutkan oleh tiga orang manusia yang seperti anjing-anjing kelaparan itu, maka ia merasa hatinya makin berdebar gelisah, perasaannya seperti ditusuk-tusuk. Makin rusaklah pengerahan tenaga dan hawa murni di tubuhnya sehingga akhirnya ia menghela napas dan mengeluarkan suara rintihan karena putus harapan.

Tiba-tiba dari luar guha menyambar dua sinar hitam yang tepat sekali mengenai jalan darah di leher dan pinggang Kwi Lan. Kiranya dua sinar itu adalah dua buah batu kecil yang tepat telah menotok jalan darahnya dan.. seketika Kwi Lan merasa betapa jalan darahnya pulih kembali! Kaki tangannya dapat ia gerakkan dan biarpun masih kesemutan, namun ia segera melompat bangun, bagaikan kilat cepatnya ia sudah menyambar pakaiannya yang tadi ia lihat bertumpuk di sudut guha. Dengan jari-jari tangan gemetar saking lega dan girang hatinya tertolong pada detik-detik berbahaya itu, namun dengan amat cepat Kwi Lan mengenakan pakaiannya dan tubuhnya yang kini sudah berpakaian itu berkelebat cepat ke arah pintu guha ketika ia melihat tiga orang Thian-liong-pang berusaha lari keluar. Kejadian ini amat cepatnya. Ketika tiga orang Thian-liong-pang tadi bertengkar untuk memperebutkan Kwi Lan, mereka tidak tahu bahwa calon korban mereka itu sudah melompat bangun dan berpakaian. Setelah akhirnya seorang di antara mereka melihat Kwi Lan dan berteriak kaget, mereka semua menoleh dan serentak mereka kini berlumba lari ke arah pintu guha untuk menjauhkan diri dari gadis yang mereka tahu amat lihai itu. Namun tiba-tiba di depan mata mereka berkelebat bayangan orang dan tercium bau harum, tahu-tahu mereka sudah melihat Kwi Lan menghadang di depan pintu guha dengan pedang Siang-bhok-kiam yang harum di tangan! Wajah yang cantik jelita itu tersenyum, senyum manis sekali, akan tetapi sinar matanya tajam bagaikan pedang dan dingin seperti salju! Tiga orang anggauta Thian-liong-pang itu melangkah mundur dengan muka pucat dan bergidik ngeri. Jalan mundur tidak ada lagi. Satu-satunya jalan keluar untuk lari telah dihadang oleh Mutiara Hitam.

Gadis itu melihat tiga orang lawannya mundur-mundur ketakutan, kini melangkah maju pula perlahan-lahan. Ia sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata, namun pandang matanya dan senyumnya telah membayangkan ancaman yang menyeramkan, dan tiada caci maki dari mulut lebih jelas membayangkan kemarahan yang meluap-luap itu. Tiga orang yang mundur terus akhirnya sampai mepet di dinding batu guha. Terpaksa mereka berhenti, saling pandang dengan muka pucat, mata terbelalak dan tubuh menggigil. Mereka tersudut seperti tiga ekor tikus menghadapi seekor kucing yang hendak mempermainkan mereka lebih dahulu sebelum menjatuhkan terkaman maut.

Tiga orang itu saking takutnya menjadi nekat. Mereka merogoh saku dan mengeluarkan senjata rahasia mereka, yaitu perluru-peluru bintang Sin-seng-piauw yang menjadi senjata utama para anak buah Thian-liong-pang. Tidak semua anggauta Thian-liong-pang mewarisi ilmu silat Sin-seng Losu, akan tetapi mereka semua diharuskan melatih penggunaan senjata rahasia Sin-seng-piauw ini. Senjata rahasia ini bentuknya seperti bintang, kecil namun berat dan pada ujungnya yang runcing diberi racun.

Seperti mendapat aba-aba saja, tiga orang itu menggerakkan tangan menyambit dengan Sin-seng-piauw. Belasan buah peluru bintang ini menyambar ke arah Kwi Lan. Namun sekali memutar Siang-bhok-kiam, semua senjata itu runtuh, menancap di atas lantai atau dinding kanan kiri gadis itu. Tiga orang anak buah Thian-liong-pang itu adalah anggauta-anggauta tingkat rendah kepandaian mereka masih terlalu rendah bagi Kwi Lan. Mereka menjadi makin ketakutan dan menghamburkan senjata-senjata rahasia mereka sampai habis. Sebuah pun tidak ada yang menyentuh pakaian Kwi Lan. Gadis ini memperlebar senyumnya

Sambil berteriak-teriak seperti orang gila saking takut dan nekat, tiga orang itu lalu menerjang maju, memutar golok dan membacok sejadinya asal cepat dan kuat. Kwi Lan menggerakkan pedangnya yang berkelebatan seperti kilat menyambar. ‘Trangg.. tranggg.. tranggg..!!

Tiga batang golok itu patah-patah dan yang berada di tangan mereka hanya tinggal gagangnya saja! Kembali mereka mundur-mundur sampai mepet dinding dan rasa takut mereka ini memuncak. Melihat betapa gadis itu sambil tersenyum-senyum melangkah maju dengan pedang di tangan, mereka bertiga hampir menjadi gila. Lutut mereka menggigil dan akhirnya mereka tak dapat menahan diri lagi, jatuh berlutut sambil memohon-mohon ampun dan menangis!

‘Menjijikkan!! Kwi Lan berkata perlahan akan tetapi pedangnya bergerak cepat sekali sampai lenyap berubah gulungan sinar hijau menyambar-nyambar. Terdengar jeritan-jeritan menyayat hati dan ketika gadis itu melangkah keluar dari dalam guha, di bawah penerangan api unggun tampak tiga tubuh manusia bergelimpangan di atas lantai guha itu, tanpa tangan dan kaki lagi! Darah membanjir merah. Mengerikan sekali tubuh yang hanya tinggal kepala dan badan itu, kaki tangan mereka buntung dari pangkalnya! Kini tiga orang itu hanya bisa menggerak-gerakkan kepala dengan mulut mengerang kesakitan dan mata terbelalak, masih ketakutan. Namun satu-satunya bagian tubuh yang masih dapat bergerak, kepala itu, tentu takkan lama bergerak karena mereka tak mungkin dapat hidup lagi dengan darah mengalir keluar seperti pancuran itu.

Kwi Lan mendengar betapa di luar masih terjadi pertarungan hebat. Kini terdengar suara bersuitan keras dan ketika ia meloncat keluar dari dalam guha, ia melihat betapa pemuda tampan yang menolongnya tadi dikeroyok oleh banyak orang yang membantu Huang-ho Tai-ong Ma Hoan! Pemuda itu hebat sekali permainan pedangnya dan biarpun Ma Hoan mengeroyoknya dengan bantuan tujuh orang anak buahnya, namun pemuda itu masih saja menekan mereka dengan gerakan-gerakan pedang yang amat kuat. Belasan orang anak buah bajak bersuwitan dan mengurung. Biarpun ilmu pedangnya hebat, pemuda itu terkurung oleh banyak sekali bajak yang rata-rata memiliki kepandaian lumayan.

Kwi Lan melompat, pedang Siang-bhok-kiam berkelebat dan terdengarlah jerit susul menyusul di antara anak buah bajak yang mengurung. Keadaan menjadi kacau-balau dan Kwi Lan yang merasa benci sekali kepada Ma Hoa, berhasil membuka jalan darah mendekati Ma Hoan dan langsung mengirim tikaman berantai ke arah dua puluh tujuh jalan darah lawan.

‘Hayaaaa..!! Ma Hoan terkejut sekali seperti disambar petir. Repot ia menggerakkan pedang untuk menangkis dan mengelak. Setiap tangkisan membuat pundak kanannya tergetar dan dadanya panas, sedangkan setiap elakannya hanya berselisih sedikit sekali dari sambaran pedang lawan sehingga berkali-kali ia berteriak kaget dan mencium bau harum pedang lawan yang menyeramkan hatinya. Betapa pun lihainya Ma Hoan, namun menghadapi ilmu pedang Kwi Lan yang amat aneh, ia hanya mampu mempertahankan diri dan terhuyung-huyung mundur sambil berteriak-teriak memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju mengeroyok. Adapun pemuda itu sekarang juga sudah dikeroyok banyak bajak sungai, namun mereka ini bukanlah lawan Si Pemuda yang gagah perkasa. Sebentar saja mereka berseru kesakitan dan banyak di antara mereka yang mundur. Namun tak seorang pun terluka berat karena pemuda ini sengaja tidak mau menurunkan tangan maut.

Biarpun dikeroyok banyak orang, Kwi Lan menggmuk dan sudah lima orang anak buah bajak roboh tewas oleh pedangnya. Ketika ada empat orang bajak menubruknya dengan golok dari depan sedangkan Ma Hoan meloncat mundur bersembunyi di belakang empat orang ini, agaknya hendak lari, Kwi Lan mengeluarkan suara melengking nyaring . Seketika empat orang di depannya itu menjadi lemas dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kwi Lan untuk meloncati kepala mereka mengejar Ma Hoan! Sebelum tubuhnya turun, pedangnya sudah menyambar ke arah leher lawan yang amat dibencinya ini.

Ma Hoan terkejut sekali dan mengerahkan tenaga menangkis dengan pedangnya.

‘Tranggg..!!

‘Celaka..!! seru Ma Hoan ketika pedangnya menjadi patah oleh pedang gadis itu dan pundaknya terasa sakit karena tertusuk pedang. Ia cepat menggulingkan tubuhnya ke bawah dan terus bergulingan, sedangkan para anak buahnya kembali maju menyerbu Kwi Lan. Dengan demikian, kepala bajak itu tertolong dan sekali tubuhnya meloncat, ia lenyap dalam gelap. Dengan pundak berdarah, Ma Hoan berlari cepat menuju kesungai. Ia pikir kalau ia bisa sampai ke sungai, berarti nyawanya selamat karena sekali terjun ke air, gadis itu tentu takkan dapat mengejarnya lagi. Ia bergidik kalau mengingat betapa hebat ilmu kepandaian gadis itu dan juga menyesal mengapa ia gagal mendapatkan hawa murni Im-kang dari gadis yang sehebat itu. Diam-diam ia marah dan gemas kepada Siangkoan Li.

Hatinya girang setelah ia mendengar suara air. Sungai Kuning terbentang di depan dan ia mempercepat larinya menghampiri pantai. Ia melihat di dalam gelap sesosok bayangan hitam di pantai dan dikiranya bayangan itu seorang di antara anak buahnya, maka ia menghampiri sambil berteriak, ‘Lekas sediakan perahu..!!

Akan tetapi kata-katanya terhenti dan ia berdiri melongo, tengkuknya terasa dingin dan rambutnya berdiri satu-satu. Bayangan itu kini melangkah maju dan bukan lain adalah Kwi Lan, Si Mutiara Hitam! Gadis ini tersenyum manis dan pedang di tangannya tergetar.

Huang-ho Tai-ong Ma Hoan bukanlah seorang penakut. Sebagai kepala bajak yang sudah belasan tahun merajalela disepanjang Sungai Kuning, entah sudah berapa banyaknya manusia tewas di tangannya dan ia dapat membunuh orang tanpa berkedip mata. Akan tetapi sekarang menghadapi seorang gadis yang tersenyum-senyum manis di depannya, ia memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali! Baru sekarang ia merasa apa yang dirasakan oleh para korbannya, rasa takut dan ngeri menghadapi bahaya maut. Akan tetapi sebagai seorang jagoan, ia segera dapat mengubah rasa takut ini menjadi kemarahan dan kenekatan. Sambil mengeluarkan suara menggereng seperti suara srigala marah, ia menerjang maju dan kedua telapak tangannya memukul berbareng dari kanan kiri lambung. Inilah sebuah jurus Bi-ciong-kun dan dari kedua telapak tangannya keluar tenaga Tok-hiat-ciang. Biarpun ilmu yang ganas ini belum terlatih sempurna, apalagi tenaga beracun Tok-hiat-ciang belum jadi sepenuhnya, namun sudah hebat bukan main. Seorang lawan yang tanggung-tanggung saja kepandaiannya, mungkin masih dapat menangkis atau mengelak dari pukulan, namun sukar untuk menyelamatkan diri daripada hawa pukulan yang beracun itu.

Kwi Lan menghadapi pukulan ini dengan tenang. Melihat lawannya tidak bersenjata lagi, ia pun tidak menggunakan Siang-bhok-kiam di tangannya. Dengan pengerahan tenaga dalam, tangan kirinya menyampok dan hawa pukulannya menyambut serangan lawan, kemudian kakinya menendang. Tubuh Huang-ho Tai-ong terlempar ke belakang! Kaget bukan main kepala bajak ini. Bukan hanya gadis itu dapat menahan pukulannya, bahkan secara aneh sekali kakinya sudah menendangnya sampai terjengkang beberapa meterjauhnya. Ia makin panik dan takut, lalu melompat bangun dan.. membalikkan tubuhnya lari kembali ke tempat tadi. Setidaknya di tempat pertempuran tadi, ia masih dapat mengharapkan anak buahnya untuk membantunya, daripada menghadapi gadis setan ini sendirian saja di pinggir sungai dan jalan untuk menyelamatkan diri terjun ke air sudah ditutup oleh Mutiara Hitam!

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan bingung hati kepala bajak ini ketika ia tiba di depan guha tadi, di situ telah sunyi, tidak ada lagi pertempuran dan tidak tampak seorang pun anggauta bajak sungai! Selagi ia hendak lari lagi ke kiri, tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan.. lagi-lagi Si Gadis jelita telah berada di depannya.

‘Perempuan siluman!! Ia membentak dan dengan nekat menubruk maju dengan kedua lengan terpentang, untuk memeluk dan kalau perlu mengajak mati bersama. Tampak sinar hijau berkelebat, disusul pekik mengerikan dari kepala bajak itu dan darah menyambur keluar dari dadanya ketika Huang-ho Tai-ong Ma Hoan roboh tersungkur, mendekap dada dengan kedua tangan, berkelojotan dan tewas tak lama kemudian.

Kwi Lan berdiri memandang korbannya. Baru lenyap sekarang sinar matanya yang berkilat-kilat dan senyumnya yang dingin. Sambil menarik napas panjang, ia memasukkan Siang-bhok-kiam ke dalam sarungnya.

‘Mereka memang jahat, Huang-ho Tai-ong memang layak mati, akan tetapi kau terlalu ganas, Nona.!

Kwi Lan cepat membalikkan tubuhnya. Ia melihat pemuda tampan yang rambutnya dibiarkan terurai di atas punggung itu, pemuda yang bernama Siangkoan Li, yang tadi telah menolongnya dari bahaya yang lebih hebat daripada maut. Pemuda itu berdiri di mulut guha dan tampak gagah membelakangi sinar api unggun yang agaknya masih menyala di dalam guha itu. Teguran ini seketika mendatangkan rasa marah di hati Kwi Lan, akan tetapi mengingat bahwa pemuda ini sudah menolongnya, ia menekan perasaan marahnya dan bertanya, suaranya ketus.

‘Aku membunuh dia dengan sebuah tusukan, mengapa kaubilang ganas? Apa yang kaumaksudkan?!

Pemuda itu mengerutkan keningnya dan wajahnya yang tampan itu tampak makin sungguh-sungguh. ‘Huang-ho Tai-ong sudah layak mati dan tusukan pada jantungnya sudah tepat. Yang kumaksudkan adalah pembunuhan yang kaulakukan kepada tiga orang anggauta Thian-liong-pang. Mengapa kau begitu ganas membuntungkan kaki tangan mereka, membiarkan mereka menderita hebat sebelum mati?!

Pertanyaan yang penuh teguran ini bagi Kwi Lan dirasakan seperti tantangan. Ia segera membusungkan dada, menegangkan leher dan memandang tajam.

‘Hemm, kulihat engkau memakai pengikat kepala dan permata kuning seperti yang dipakai Cap-ji-liong. Engkau seorang tokoh Thian-liong-pang. Apakah engkau kini hendak membalas atas kematian tiga ekor anjing di dalam guha itu?!

Pemuda itu memandang marah. Dua pasang mata saling pandang dan saling tentang, akan tetapi pemuda itu lebih dahulu menurunkan pandang matanya, menghela napas dan berkata, nada suaranya penuh penyesalan.

‘Engkau membunuh Huang-ho Tai-ong memang sudah sepatutnya karena dia mempunyai niat buruk terhadap dirimu. Akan tetapi tiga orang Thian-liong-pang di dalam guha itu, mengapa kau menyiksa mereka? Dan mengapa pula engkau dan temanmu membikin kacau di Thian-liong-pang ketika diadakan upacara pengangkatan ketua baru?!

‘Huh! Orang sendiri biar kotor dianggap bersih selalu! Tiga orang itu bukan manusia, mereka hanya tiga ekor anjing busuk yang patut dibunuh seratus kali! Mereka itu hendak.. hendak.. berbuat kurang ajar, mereka seperti anjing-anjing yang kotor..!!

Pemuda itu menghela napas. ‘Ah, sudah kusangka demikian..! Makin lama makin rusaklah nama Thian-liong-pang bersama rusaknya watak mereka..! Ah, Nona, sekarang aku tahu mengapa kau membunuh mereka, akan tetapi tetap saja kau terlalu ganas. Membunuh dengan dorongan kebencian dan kemarahan bukanlah sikap seorang gagah.!

Kwi Lan makin marah dan penasaran. Ia membanting kaki kanannya dan menghardik.

‘Kau ini seorang tokoh Thian-liong-pang, apa kaukira seorang gagah? Apakah Thian-liong-pang perkumpulan orang gagah? Huh! Kulihat dengan mata sendiri bahwa Thian-liong-pang hanyalah perkumpulan orang-orang jahat. Dalam pesta perayaan untuk mengangkat ketua baru, yang datang adalah orang-orang dari golongan hitam. Bahkan ada yang menyumbangkan dua belas orang gadis culikan! Dan ketuanya diangkat dengan upacara penyembelihan dan penyiraman darah anjing. Perkumpulan apa ini? Dan kau yang menjadi tokohnya masih berani bicara tentang sikap seorang gagah?!

Aneh sekali. Pemuda yang tadinya bersikap marah dan penuh teguran kepada Kwi Lan, setelah menghadapi kata-kata yang pedas ini tiba-tiba saja berubah airmukanya. Ia mengerutkan keningnya, wajahnya yang tampan menjadi gelap, kemudian ia menjatuhkan diri duduk di atas tanah, menarik napas panjang berkali-kali dan mengeluh. ‘Disalah gunakan.. disalah gunakan..!! Dan ia pun menangis!

Kwi Lan tercengang menyaksikan perubahan ini. Dia sendiri memang keras hati, mau membawa kehendak sendiri dan berwatak aneh, namun dia bukan seorang yang tidak mengenal budi. Melihat keadaan pemuda ini, hatinya pun menjadi lunak, dan tanpa disadarinya, ia sudah duduk pula di atas sebuah batu, di depan pemuda itu lalu berkata.

‘Aku tidak bermaksud memaki dan menyinggungmu. Aku hanya memaki Thian-liong-pang. Biarpun kau seorang tokoh Thian-liong-pang, kulihat engkau lain daripada mereka. Engkau sudah menolongku tadi dan budimu itu sungguh amat besar, membuat aku bersyukur dan berterima kasih sekali. Engkau sudah menentang Huang-ho Tai-ong, dan dalam keadaan terancam bahaya hebat, engkau sudah memulihkan totokan pada tubuhku dengan sambitan batu kerikil.!

Pemuda itu menyusut air matanya dan mengangkat muka memandang Kwi Lan. Kemudian berkata dengan suara berduka. ‘Aku tidak peduli andaikata kau mencaci maki diriku. Dan aku tentu akan menyerangmu andaikata makianmu terhadap Thian-liong-pang tidak benar. Akan tetapi apa yang kaukatakan adalah benar dan keadaan Thian-liong-pang seperti itulah yang menghancurkan hatiku. Aku rela mati untuk Thian-liong-pang, akan tetapi dengan keadaan Thian-liong-pang seperti sekarang ini.. bagaimana mungkin aku membelanya? Aku malu sekali, sedih, tapi.. tidak berdaya..!!

Timbul rasa suka di hati Kwi Lan terhadap pemuda ini. Ternyata pemuda ini selain memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti telah dibuktikannya tadi dengan sambitan kerikil dan dengan sepak terjangnya dikeroyok oleh Huang-ho Tai-ong dan anak buahnya, juga memiliki kesetiaan namun tidak ikut menyeleweng seperti tokoh-tokoh lain dari perkumpulannya itu. Dengan suara halus ia berkata.

‘Dari percakapan tiga ekor anjing tadi aku mendengar bahwa kau bernama Siangkoan Li dan menjadi cucu luar Si Kakek Sin-seng Losu. Seorang seperti kau ini bagaimanakah bisa berada di tengah-tengah mereka yang kotor seperti mereka itu?!

Siangkoan Li menundukkan mukanya. ‘Nona, bagaimana aku dapat bercerita tentang keadaanku sebagai seorang di antara tokoh-tokoh dunia hitam kepada seorang gadis gagah perkasa, seorang pendekar seperti engkau ini?!

‘Pendekar? Siapa bilang aku pendekar?!

‘Ah, tidak perlu kau merendahkan diri. Kau tentulah seorang Lihiap (Pendekar Wanita) dari perguruan tinggi yang terkenal maka kau berani menentang Thian-liong-pang. Kau hidup di dunia yang bersih, yang menjujung tinggi kegagahan, yang selalu bertindak membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Sebaliknya aku, aku hidup bergelimang dosa dan kejahatan, hidup di dunia kotor dan hitam..!

‘Ihhh, kau ngaco tidak karuan. Siapa bilang aku pendekar? Aku sama sekali bukan seorang lihiap. Aku seorang perantau, tidak datang dari perguruan manapun juga. Guruku bukan orang terkenal, dan andaikata kuberitahukan juga engkau pasti tak pernah mendengar namanya.

Aku sama sekali bukan penegak kebenaran dan keadilan, bukan pendekar dan aku hanya bertindak menurut suara hatiku saja. Yang memusuhi aku, tentu akan kumusuhi kembali, yang baik kepadaku, tentu akan kubaiki kembali. Engkau baik kepadaku, telah menolongku, tentu saja tidak mungkin kau kuanggap musuh. Siangkoan Li, aku ingin sekali mendengar bagaimana kau bisa terlibat dalam Thian-liong-pang.!

Mula-mula pemuda itu memandang Kwi Lan dengan sinar mata heran dan tidak percaya, kemudian berkata perlahan.

‘Ah, kalau begitu ada persamaan antara kita. Hanya bedanya, engkau bebas dan aku terikat..! Ia meraba permata kuning yang menghias dahinya. Kemudian ia melonjorkan kakinya, duduk dengan enak dan mulai bercerita.

Thian-liong-pang tadinya merupakan perkumpulan orang-orang gagah, sisa dari Kerajaan Hou-han yang telah ditaklukkan oleh Kerajaan Sung. Orang-orang gagah yang berjiwa patriot membentuk perkumpulan Thian-liong-pang dengan cita-cita merebut kembali wilayah Hou-han yang sudah tertumpas musuh. Perkumpulan ini dipimpin oleh seorang muda yang gagah perkasa, yang bernama Siangkoan Bu, putera seorang bekas panglima Kerajaan Hou-han. Di bawah pimpinan Siangkoan Bu inilah para orang gagah di Hou-han mengadakan pertempuran gerilya dan sering kali melakukan pengrongrongan terhadap Kerajaan Sung. Karena perkumpullan ini membutuhkan banyak tenaga orang-orang gagah, tentu saja sukar untuk mengadakan penyaringan sehingga banyak pula orang-orang dari dunia hitam yang memiliki kepandaian, masuk pula menjadi anggauta. Di antara mereka ini terdapat seorang pelarian dari barat, bekas seorang pendeta yang bukan lain adalah Sin-seng Losu bersama puterinya yang cantik dan berkepandaian tinggi pula. Hal yang lumrah terjadilah, Siangkoan Bu jatuh cinta kepada puteri Sinseng Losu dan kemudian mereka menikah. Dari pernikahan ini lahirlah Siangkoan Li.

Sin-seng Losu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi sehingga Ketua Thian-liong-pang yaitu mantunya sendiri, mengangkatnya sebagai guru untuk para anggauta Thian-liong-pang. Dengan kedudukan ini, ditambah kenyataan bahwa dia adalah ayah mertua Siangkoan Bu, maka Sin-seng Losu merupakan orang ke dua setelah mantunya di dalam perkumpulan. Kekuasaannya tinggi dan mulailah timbul penjilat-penjilat, yaitu orang-orang dari dunia hitam yang menyelundup masuk ke dalam Thian-liong-pang. Mulailah Sin-seng Losu menyimpang daripada jalan bersih menjadi hamba nafsu dan makin tua menjadi makin gila.

Orang-orang gagah yang melihat gejala-gejala busuk mulai tumbuh dalam Thian-liong-pang, menjadi marah dan tidak senang sekali. Akan tetapi oleh karena segan terhadap Siangkoan Bu, seorang patriot sejati yang dihormat dan disegani, mereka masih dapat menahan sabar. Tentu saja, sebagai seorang yang bijaksana, Siangkoan Bu maklum pula akan keadaan ayah mertuanya yang menyeleweng dan didukung oleh banyak anggauta yang berasal dari dunia hitam. Orang gagah ini menjadi serba susah. Mau ditindak, kakek itu adalah ayah mertuanya. Tidak ditindak, dapat merusak nama baik perkumpulan. Akhirnya, Siangkoan Bu yang pada suatu hari berhasil merampas tiga belas butir permata kuning milik pembesar tinggi yang berkuasa di Hou-han dan yang menjadi boneka Kerajaan Sung, lalu menggunakan permata-permata kuning itu sebagai tanda kekuasan. Ia memilih tiga belas orang tokoh pimpinan Thian-liong-pang, di antaranya dia sendiri dan ayah mertuanya di tambah sebelas orang tokoh lain yang ia tahu adalah orang-orang gagah dan patriot-patriot sejati, sebagai dewan pimpimpinan yang memakai hiasan dari permata kuning dan mereka yang memakai tanda ini berhak untuk mengambil keputusan demi kebaikan Thian-liong-pang, di antaranya berhak menghukum para anggauta yang menyeleweng!



Bab 7

Dengan adanya peraturan ini, Sin-seng Losu merasa tersudut dan tidak berani lagi melakukan penyelewengan-penyelewengan secara berterang. Akan tetapi malapetaka menimpa keluarga Siangkoan Bu dan Thian-liong-pang pada umumnya. Ketika terjadi bentrokan dengan jagoan-jagoan Kerajaan Sung, Siangkoan Bu dan isterinya tewas dalam pertempuran hebat.

Semenjak itulah, kekuasaan tertinggi jatuh ke tangan Sin-seng Losu. Dan karena ilmu kepandaiannya paling tinggi ditambah dua belas orang muridnya yang paling ia sayang, yaitu para penjilat terdiri dari Thai-lek-kwi Ma Kiu dan yang lain-lain, tidak ada tokoh lain yang berani menentangnya. Bahkan satu demi satu para patriot mengundurkan diri sehingga tiga belas buah permata kuning terjatuh ke tangan Sin-seng Losu yang mengangkat diri menjadi Ketua Thian-liong-pang.

‘Demikianlah, Nona. Sebuah permata, yaitu bekas milik Ayah, oleh Gwa-kong (Kakek Luar) diberikan kepadaku untuk kupakai, sedangkan yang dua belas diberikan kepada para suheng, murid Gwakong.!

‘Cap-ji-liong itu?!

‘Benar, kami diharuskan sumpah setia sebelum menerima permata ini, dan hal itu memang menjadi peraturan perkumpulan kami.!

Hening sejenak setelah pemuda itu selesai bercerita. Diam-diam Kwi Lan merasa kasihan kepada Siangkoan Li. Pemuda ini yatim piatu dan terpaksa hidup di antara orang-orang jahat dan merasa tidak berdaya karena yang mengepalai orang-orang jahat itu adalah kakek luarnya sendiri! Di samping kenyataan ini, juga ia telah bersumpah setia sebagai pemakai permata kuning, setia terhadap Thian-liong-pang yang kini berubah menjadi dunia hitam! Pantas saja pemuda ini selalu bersedih, wajahnya tak pernah berseri karena batinnya tertekan selalu.

‘Aku seorang anggauta dunia hitam, Nona. Bahkan seorang tokohnya karena aku masih cucu luar orang pertama Thian-liong-pang. Sebetulnya tidak patut bagi seorang macam aku untuk menceritakan semua ini kepada seorang seperti Nona.

Akan tetapi.. aku tidak bisa diam saja melihat kau dirobohkan orang dengan cara pengecut, karena itu.. biarpun merupakan penghinaan terhadap perkumpulan, aku.. aku nekat turun tangan..!

Kwi Lan memegang kedua tangan pemuda itu. ‘Siangkoan Li, kalau begitu.. yang menolong aku dan Berandal keluar dari sumur itu.. engkaulah orangnya?!

Siangkoan Li menundukkan mukanya yang menjadi merah. ‘Aku seorang pengkhianat kotor.. aku.. aku akan menebus dosa, akan menanti sampai Gwa-kong kembali..! Hidup bagiku sudah memuakkan, lebih baik menyusul Ayah Ibu..!

‘Siangkoan Li, mengapa seorang gagah seperti kau ini bisa mengucapkan kata-kata pengecut seperti itu? Orang yang bosan hidup, yang mengharapkan kematian, adalah seorang pengecut yang tidak berani menentang kesulitan hidup, demikian kata Guruku. Biarpun semua orang menganggapmu sebagai seorang tokoh dunia hitam, akan tetapi aku, Kam Kwi Lan, menganggapmu seorang sahabat yang baik dan gagah!!

‘Kam Kwi Lan? Itukah namamu, Nona..?!

Kwi Lan terkejut. Karena merasa kasihan, ia sampai memperkenalkan namanya secara tak sadar. Karena sudah terlanjur, ia lalu berkata, ‘Benar, itulah namaku. Nama julukan Mutiara Hitam adalah pemberian Si Berandal.!

‘Si Berandal? Pemuda tampan yang datang bersamamu? Dia tampan dan lihai sekali. Di mana dia sekarang?!

‘Dia pergi mencari Ibu kandungnya. Siangkoan Li, kau tadi mengatakan bahwa kau akan menebus dosa menanti kembalinya Sin-seng Losu. Apa yang hendak kaulakukan?!

Dalam percakapan tadi ketika Si Nona memperkenalkan nama, pada wajah yang tampan itu tampak sedikit cahaya gembira, akan tetapi mendengar pertanyaan itu, kembali wajahnya menjadi muram. Sejenak ia tidak menjawab, melainkan memandang ke arah pohon-pohon yang mulai tampak karena tanpa mereka sadari, sang malam telah mulai diusir oleh sinar matahari pagi. Kicau burung menyambut datangnya fajar.

‘Aku harus mengakui perbuatanku di depan mereka, harus berani menebus dosaku dan menerima hukuman.!

‘Ah, mengapa begitu? Tinggalkan saja Thian-liong-pang dan mereka yang hidup bergelimang kejahatan!! teriak Kwi Lan penasaran.

Tiba-tiba Siangkoan Li melompat bangun. ‘Tidak! Tak mungkini Thian-liong-pang adalah perkumpulan yang didirikan oleh mendiang Ayahku. Ayah Ibuku telah menyerahkan nyawa mereka untuk Thian-liong-pang. Masa aku harus melarikan diri? Meninggalkan Thian-liong-pang? Tidak, Kwi Lan. Aku takkan mundur biarpun harus menghadapi kematian.!

‘Tapi, orang tuamu mati untuk Thian-liong-pang dalam membela Hou-han, mereka mati sebagai pahlawan-pahlawan utama. Akan tetapi kau.., kau hendak menyerahkan nyawa sebagai seorang pengkhianat Thian-liong-pang? Selagi Thian-liong-pang dikuasai orang-orang jahat?!

Siangkoan Li menggeleng kepala dan menarik napas panjang. ‘Betapapun juga, masih ada Sin-seng Losu di situ dan kau harus ingat, dia adalah Gwakong (Kakek Luar) bagiku. Andaikata tidak ada dia, tentu aku sudah akan mengadu nyawa dengan Cap-ji-liong untuk membasmi mereka dari Thian-liong-pang!!

‘Marilah kita berdua sekarang juga menghadapi mereka. Siangkoan Li, kau percayalah, kita berdua akan dapat menghancurkan mereka! Kulihat kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada Cap-ji-liong..!

Siangkoan Li mengangguk. ‘Memang, terhadap Cap-ji-liong aku tidak takut. Biarpun mereka itu terhitung Suheng-suhengku sendiri karena aku pun mendapat pelajaran ilmu silat dari Gwakong, akan tetapi aku masih mempunyai dua orang Guru yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada kepandaian Gwakong.!

‘Siapakah mereka itu?! Kwi Lan bertanya kagum.

Siangkoan Li menggeleng kepala. ‘Tidak boleh kusebut, sungguhpun andaikata kukatakan juga, kau takkan mengenalnya. Agaknya antara gurumu dan guruku ada persamaan keanehan dalam hal nama ini. Kau bilang gurumu tidak terkenal sama sekali. Akan tetapi kurasa gurumu masih jauh lebih terkenal daripada guruku yang benar-benar tak ada seorang pun mengenalnya.! Tiba-tiba Siangkoan Li memandang ke depan dan wajahnya menegang. Kemudian ia memegang tangan Kwi Lan, menggenggam tangan yang kecil halus itu sejenak sambil berkata,

‘Sudahlah, Kwi Lan. Mereka sudah datang. Selamat berpisah. Kau percayalah, pertemuan ini merupakan satu-satunya hal yang paling menyenangkan hatiku selama hidupku dan sampai mati pun aku tidak akan melupakan kebaikanmu.! Setelah berkata demikian, Siangkoan Li melepaskan pegangan tangannya dan dengan langkah lebar ia pergi meninggalkan Kwi Lan.

Kwi Lan berdiri di depan guha dengan hati bimbang. Biarpun pemuda itu sudah dua kali menolongnya, akan tetapi pemuda itu bukan apa-apanya. Orang lain yang kebetulan bertemu di situ. Urusan pribadi pemuda itu tiada sangkut-pautnya dengan dirinya. Kalau pemuda itu begitu setia kepada Thian-liong-pang dan begitu bodoh untuk menyerahkan diri minta dihukum, peduli apakah dengan dia? Berpikir demikian, Kwi Lan juga mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Ia masih gemas kala mengingat kuda hitamnya yang hilang. Matikah kuda itu? Hanyut dan tenggelam? Ataukah terampas para bajak?

Pemuda yang aneh, kembali ia berpikir tentang diri Siangkoan Li. Tidak mudah baginya untuk melupakan pemuda itu begitu saja. Masih terngiang di telinganya ucapan pemuda itu ketika hendak berpisah, ucapan yang agak gemetar. Pertemuan yang paling menyenangkan hatinya selama hidupnya! Sampai mati pun pemuda itu takkan melupakannya! Hemmm, Kwi Lan merasa betapa mukanya menjadi padas. Jantungnya berdebar aneh, seperti ketika Hauw Lam si Berandal menyatakan cinta kasihnya kepadanya di dalam sumur.

Siangkoan Li merupakan pemuda yang aneh. Akan tetapi ada perbedaan mencolok dalam sikap mereka. Hauw Lam selalu gembira dan jenaka, nakal dan lucu. Sebaliknya, Siangkoan Li selalu muram dan sedih. Mengenangkan Hauw Lam menimbulkan kegembiraan. Mengenangkan Siangkoan Li menimbulkan keharuan. Akan tetapi keduanya sama baiknya. Sama tampan, sama lihai dan keduanya sama amat baik kepadanya! Hauw Lam sedang pergi mencari ibu kandungnya, dan Siangkoan Li.. pergi mencari maut! Ah, tidak boleh begini! Ia harus melarangnya, harus mencegahnya!

Kwi Lan lalu pergi mengejar. Siangkoan Li sudah tak tampak lagi bayangannya akan tetapi karena waktu itu matahari telah mulai muncul mengusir kegelapan, ia dapat lebih mudah mencari pemuda itu. Ia mendapatkan pemuda itu di tepi Sungai Huang-ho dalam keadaan.. terbelenggu kedua tangannya dan sedang dimaki-maki oleh Sin-seng Losu, disaksikan oleh seorang di antara Cap-ji-liong dan seorang kakek kurus berjenggot lebat.

Siangkoan Li hanya menundukkan mukanya dengan kening berkerut, kelihatan berduka sekali. Melihat keadaan pemuda ini, darah Kwi Lan sudah bergolak saking marahnya. Di situ hanya terdapat tiga orang Thian-liong-pang, biarpun yang seorang adalah tokoh terbesar, Sin-seng Losu. Andaikata Cap-ji-liong lengkap berada di situ sekalipun, ia tidak akan gentar menghadapi mereka untuk menolong Siangkoan Li. Pemuda itu telah dua tiga kali menolongnya, tidak hanya menolongnya daripada bahaya maut, bahkan dari bahaya yang lebih hebat dari pada maut!

‘Sin-seng Losu tua bangka jahat! Hayo bebaskan Siangkoan Li!! bentaknya sambil muncul dari belakang batang pohon dengan pedang di tangan.

Seorang di antara Cap-ji-liong yang memakai mutiara kuning di dahi seperti Siangkoan Li, menoleh dan mukanya menjadi marah sekali ketika ia mengenal Kwi Lan. Bagaikan kilat cepatnya, tangan kirinya bergerak dan pada saat itu Siangkoan Li berseru, ‘Thio-suheng.. jangan..! Nona Kam, jangan turut campur..!!

Namun terlambat. Tiga buah Sin-seng-piauw sudah menyambar ke arah tubuh Kwi Lan, akan tetapi gadis ini menggerakkan pedang menyampok runtuh tiga batang Sin-seng-piauw sedangkan tangan kirinya sudah menyebar jarumnya ke arah anggauta Cap-ji-liong itu. Orang she Thio ini cepat meloncat untuk mengelak, namun kurang cepat karena Kwi Lan melepas jarum secara luar biasa sekali. Ia melepas dengan gerakan sekaligus, namun ternyata jarum-jarum di tangannya telah terpecah menjadi dua rombongan. Rombongan pertama menyerang cepat sekali sedangkan rombongan kedua, biarpun disambitkan dalam waktu yang sama, lebih lambat dan merupakan jarum penutup jalan keluar sehingga ke mana pun juga lawan mengelak, tentu akan disambut oleh jarum-jarum rombongan ke dua ini. Anggauta Cap-ji-liong itu kaget namun terlambat. Pahanya tertusuk sebatang jarum yang amblas sampai tidak tampak menembus celana, kulit dan dagingnya. Seketika tubuhnya menjadi kaku dan ia roboh pingsan!

‘Wuuuttt.. singgg..!!

Masih untung bahwa Kwi Lan mempunyai kegesitan yang mengagumkan dan gerakan yang aneh. Otomatis tubuhnya mencelat ke kiri sampai hampir menyentuh tanah untuk mengelak sambaran pedang yang amat luar biasa itu. Ketika ia berjungkir balik memandang, kiranya yang menyerangnya adalah orang kurus berjenggot lebat. Diam-diam Kwi Lan terkejut juga. Gerakan pedang orang ini hebat sekali, jauh lebih hebat daripada orang-orang Cap-ji-liong! Padahal Cap-ji-liong adalah orang-orang Thian-liong-pang yang menduduki tingkat satu. Kalau begitu orang itu tentu bukan orang Thian-liong-pang.

Ia memandang penuh perhatian. Orang itu tinggi kurus mukanya pucat kehijauan, tanda bahwa dia telah melatih semacam ilmu Iweekang yang aneh dan dalam. Rambut dan jenggotnya awut-awutan tak terpelihara, juga kotor seperti seorang pengemis terlantar. Namun pakaiannya bukan seperti pakaian pengemis. Agaknya seorang pertapa yang sudah tidak peduli akan kebersihan dirinya lagi. Mukanya kurus tak berdaging, hanya kulit pembungkus tengkorak. Tentu usianya sudah tua sekali. Orang ini berdiri memandangnya dengan muka seperti kedok, sedikit pun tidak membayangkan perasaan sesuatu, juga mulutnya tidak mengeluarkan kata-kata.

‘Susiok, harap jangan layani dia! Nona Kam, kau pergilah..!! Kalimat terakhir itu ditujukan kepada Kwi Lan dengan pandang mata penuh kedukaan. Makin tidak tega hati Kwi Lan, maka ia menghadapi kakek berpedang itu sambil mengejek,

‘Kalian bebaskan dia atau.. pedangku harus bicara?!

‘Sute (Adik Seperguruan), kau wakili aku hajar siluman ini!! Sin-seng Losu berkata.

Kini tahulah Kwi Lan bahwa kakek kotor ini adalah adik seperguruan Sinseng Losu, pantas saja Siangkoan Li menyebutnya paman guru. Ia melihat betapa orang itu menggetarkan pedangnya di tangan kanan sedangkan tangan kirinya tergetar hebat lalu menjadi kaku dengan jari-jari membentuk cakar garuda. Kemudian tubuh orang itu menubruk ke depan, pedangnya membabat ke arah pinggang sedangkan tangan kirinya mencakar ke arah mukanya. Sukar dikatakan mana yang lebih berbahaya, pedang itu ataukah jari-jari tangan kiri itu. Keduanya mengeluarkan angin pukulan yang bersuitan dan amat kuatnya.

Sambutan Kwi Lan atas serangan dahsyat dan aneh ini tidak kalah luar biasanya. Gerakan Kwi Lan memang aneh dan tidak terduga-duga. Bahkan sudah menjadi inti daripada ilmu silat Kam Sian Eng bahwa setiap serangan lawan merupakan pintu yang terbuka dan merupakan kesempatan untuk dibalas serangan yang mematikan! Tanpa mempedulikan keselamatan sendiri, Kwi Lan sudah meloncat tinggi ke atas sehingga pedang lawan lewat di bawah kedua kakinya dan berbareng pedang Siang-bhok-kiam di tangannya bergerak menyambar ke bawah membabat tangan kiri lawan yang mencakarnya tadi.

Kakek itu membelalakkan mata dan agaknya hanya gerakan mata ini sajalah yang menyatakan bahwa ia merasa kaget sekali karena bagian muka yang lain tetap seperti kedok. Namun ternyata ia lihai sekali. Karena tidak keburu menarik kembali lengan kirinya yang kini menjadi sasaran pedang lawan, ia segera membuang diri ke belakang sehingga roboh terlentang sambil memutar pedang di depan dada dan bergulingan. Secepat kilat ia sudah bangun kembali dan kini mereka sudah berhadapan lagi. Keduanya sama maklum bahwa lawan adalah seorang yang lihai. Namun Kwi Lan tetap tersenyum mengejek, menanti serangan lawan.

Kakek itu kini menerjang kembali sambil memutar pedang dengan gerakan dahsyat sekali. Pedangnya membacok-bacok secara bertubi, kiri kanan atas bawah, diselang-seling namun tak pernah berhenti, mengikuti bayangan dan gerakan lawan. Kwi Lan memperlihatkan kegesitannya, terus mengelak dengan sedikit miringkan tubuh sehingga pedang lawan menyambar-nyambar di samping tubuhnya, bahkan kadang-kadang kelihatan seperti sudah menyerempetnya! Makin lama makin gencar serangan aneh dan hebat ini. Pedang itu seakan-akan digerakkan oleh mesin, tak pernah berhenti menyerang dan setiap bacokan disertai tenaga dahsyat.

Setelah dua puluh jurus lewat Kwi Lan hanya menghadapinya dengan elakan-elakan segesit burung walet, gadis ini lalu berseru nyaring dan pedang Siang-bhok-kiam berubah menjadi sinar hijau bergulung-gulung yang makin lama makin luas lingkarannya dan betapa pun lawannya memutar pedang setelah lewat lima puluh jurus, sinar hijau mulai menggulung dan melibat sinar pedang kakek itu.

Kakek ini sebenarnya bukan orang sembarangan. Dia bernama Yo Cat, murid dari tokoh besar Siauw-bin Lo-mo paman guru Sin-seng Losu. Di dalam dunia hitam, ia sudah menduduki tingkat tinggi, sejajar dengan Sin-seng Losu.

Karenanya jarang ia bertemu tanding. Siapa kira, hari ini, selagi ia ikut dengan suhengnya itu untuk mempersiapkan tempat istirahat bagi gurunya yang akan datang berkunjung ke Yen-an, ia bertemu seorang gadis muda belia yang tidak hanya mampu menandinginya, bahkan kini mendesaknya dengan ilmu pedang yang hebat dan luar biasa, dimainkan dengan sebatang pedang kayu pula!

‘Auuuggghhhh..!! Hebat sekali pekik yang keluar dari dalam perut melalui kerongkongan Yo Cat ini, bukan seperti suara manusia lagi, dahsyat dan liar, lebih mirip suara binatang buas atau suara iblis. Kwi Lan adalah seorang gadis gemblengan yang telah mempelajari pelbagai ilmu yang aneh-aneh dengan cara yang aneh pula. Namun menghadapi Yo Cat yang terlatih puluhan tahun lamanya dan sudah menjadi ahli sebelum gadis ini terlahir, apalagi menghadapi ilmu hitam Koai-houw Ho-kang (Auman Harimau Iblis) ini, jantungnya tergetar dan tubuhnya menggigil. Gerakan pedangnya kacau dan ia terhuyung-huyung ke belakang.

Lebih hebat lagi, setelah mengeluarkan ilmu menggereng yang dahsyat itu, Yo Cat terus menerjang maju dan melakukan tekanan-tekanan berat!

Ada satu hal yang menguntungkan Kwi Lan, yaitu wataknya yang tabah dan hatinya yang tidak pernah mau kenal apa artinya takut. Kalau ia merasa takut, celakalah ia karena kelemahan orang menghadapi ilmu semacam Koai-houw Ho-kang itu adalah perasaan takut. Kalau hati merasa gentar, makin hebat pengaruh ilmu itu sehingga mungkin tanpa bertanding lagi orang sudah bertekuk lutut. Karena hatinya sama sekali tidak gentar, pengaruh gerengan dahsyat itu sebentar saja dan Kwi Lan sudah dapat menetapkan perasaannya lagi. Pedangnya mulai memperhebat lagi gerakannya dan dalam waktu singkat saja kembali ia telah mengurung dan mendesak. Yo Cat boleh jadi lihai dan banyak pengalamannya, namun menghadapi ilmu pedang tingkat tinggi yang dilatih di bawah bimbingan seorang jago wanita gila, tentu saja ia menjadi bingung sekali, tak dapat menduga-duga bagaimana perubahan pedang itu sehingga menjadi mati kutu!

‘Eh, budak cilik, kau kurang ajar sekali!!

Seruan ini keluar dari mulut Sin-seng Losu yang sudah melompat ke depan dan sekali tangan kirinya bergerak, tampak sinar berkilauan menyambar ke arah Kwi Lan. Sinar ini adalah senjata rahasia Sin-seng-piauw, namun jauh bedanya dengan piauw yang dilepas oleh semua anak murid Thian-liong-pang. Piauw ini memang bentuknya seperti bintang, akan tetapi terbuat daripada perak berkilauan dan karena kakek ini yang menciptakan senjata rahasia itu, tentu saja cara menggunakannya pun hebat luar biasa!

‘Gwakong (Kakek Luar), jangan..!! Terdengar Siangkoan Li berseru kaget.

Kwi Lan maklum bahwa ia diserang dengan senjata rahasia. Karena ia masih menghadapi pedang Yo Cat yang tak boleh dipandang ringan, maka perhatiannya kurang sepenuhnya terhadap datangnya serangan Sin-eng-piauw. Ketika ia melirik, ia kaget sekali melihat sinar-sinar berkeredepan menyambarnya dari kanan kiri bawah dan atas, sinar-sinar yang menyambar tanpa mengeluarkan bunyi akan tetapi yang kecepatannya menyilaukan mata.

Celaka, Kwi Lan berseru kaget dalam hati. Ia cepat meloncat ke belakang sambil memutar pedangnya, namun bagaikan ada matanya, piauw-piauw perak itu melejit dan menyambar seperti gila. Ketika ia berseru keras dan meloncat tinggi, semua piauw lewat di bawah kakinya kecuali sebuah yang secara aneh telah menancap betis kaki kirinya. Untung baginya bahwa tadi Kwi Lan sudah bersiap-siap dan begitu merasa kakinya disambar ia telah menutup jalan darah dan mengerahkan Iwee-kang sehingga senjata rahasia itu hanya separuhnya saja menancap di daging betisnya. Pada saat tubuhnya masih di udara, Yo Cat menerjang maju dengan tusukan pedangnya, dan lebih hebat lagi, Sin-seng Losu sudah mengerahkan sin-kang di lengan kanannya dan mengirim pukulan jarak jauh yang amat hebat dan sukar ditangkis!

‘Auhhhh.. hehhh.. kau berani.. berani..?! Terdengar Sin-seng Losu terengah-engah dan tubuhnya terdorong mundur dan terhuyung-huyung. Kiranya pukulannya telah ditangkis oleh kedua tangan Siangkoan Li yang terbelenggu! Melihat ini, Kwi Lan yang tubuhnya masih di udara dan menghadapi terjangan Yo Cat, mengeluarkan lengking tinggi dan tiba-tiba tubuhnya bagaikan seekor ular raja menggeliat aneh di udara namun pedang lawan menyelinap di bawah ketiak kirinya, langsung ia kempit dan pedangnya sendiri menyambar ke lengan kanan lawan.

‘Iihhh..!! Suara ini keluar dari mulut Yo Cat yang cepat melepaskan pedangnya dan menarik lengannya, namun kurang cepat sehingga lengannya dekat siku terkena serempetan pedang, terluka dan darahnya bercucuran Si Muka Mayat ini meloncat ke belakang dan memegangi lengan kanan, agaknya khawatir kalau-kalau gadis yang perkasa itu mendesaknya dengan serangan maut.

Akan tetapi Kwi Lan menengok ke arah Siangkoan Li yang sudah menjatuhkan diri berlutut sambil menangis! ‘Gwakong.. kau tak boleh membunuhnya.. tak boleh..!! Pemuda itu mengeluh berkali-kali.

‘Anak keparat, cucu durhaka.. hehhehhh.. berani kau.. huh-huhh.. kubunuh kau..!!

Sekali meloncat, tubuh Kwi Lan berkelebat dan ia sudah berdiri menghadang di depan Siangkoan Li, mulutnya tersenyum dan matanya memandang kakek itu dengan penuh ancaman. Akan tetapi kekhawatirannya hilang ketika ia melihat betapa kakek itu berdiri dengan muka pucat, dengan napas senin kamis dan di ujung mulutnya menetes-netes darah segar! Diam-diam Kwi Lan terkejut sekali dan kagum. Jelas bahwa Sin-seng Losu bukan seorang lemah. Sambitannya Peluru Bintang Sakti tadi sudah amat berbahaya, kemudian pukulannya jarak jauh juga hebat. Mengapa sekali ditangkis oleh Siangkoan Li, kakek itu menderita luka dalam yang tidak ringan? Sampai di manakah tingkat kepandaian pemuda yang berkali-kali menolongnya ini?

‘Kalian ini dua orang tua bangka yang bosan hidup! Hari ini nonamu akan mengantar kalian ke neraka!! Kwi Lan menyerbu dengan pedangnya, akan tetapi tiba-tiba lengan kirinya dipegang orang dari belakang. Ternyata Siangkoan Li yang memegangnya dan pemuda itu berkata dengan nada sedih.

‘Jangan, Kwi Lan. Dan lekas kaukeluarkan obat pemunah jarummu untuk Suhengku. Lekaslah, harap, kau sudi melihat mukaku dan menolongnya.!

Kwi Lan melongo. Pemuda aneh sekali! Jelas bahwa ia diperlakukan tidak baik, mengapa masih nekad hendak menolong mereka? Akan tetapi mengingat bahwa sudah berkali-kali ia ditolong, tidak enaklah hatinya untuk menolak permintaan itu. Dengan bersungut-sungut tak puas ia mengeluarkan sebungkus kecil obat bubuk dan berkata,

‘Robek kulitnya, keluarkan jarum dan pakai obat ini pada lukanya.!

Siangkoan Li menerima bungkusan itu, memberikan kepada suhengnya. ‘Thio-suheng, kaupakailah ini!! Akan tetapi suhengnya membuang muka dan menghardik.

‘Tutup mulutmu, pengkhianat!!

Siangkoan Li mengerutkan keningnya lalu meletakkan bungkusan di dekat kaki suhengnya yang masih rebah tak dapat bangun. Kemudian ia menghampiri Kwi Lan dan berkata.

‘Nona Kam, harap engkau sekarang segera pergi dari sini. Kalau sampai para suhengku datang, engkau tentu akan celaka dan aku tidak akan mampu menolongmu lagi.!

Kwi Lan mengeluarkan suara mendengus di hidungnya. ‘Huh, kau tidak takut mati, apa kau kira aku pun takut mati? Biarlah mereka membunuhku kalau mereka mampu.!

‘Nona.., Kwi Lan.., aku tidak ingin melihat kau mati karena aku!!

‘Aku pun tidak ingin melihat kau mati. Aku mau pergi kalau engkau pun mau pergi bersama meninggalkan tempat ini!!

‘Jahanam besar kau, Siangkoan Li! Kau membikin mayat Ayahmu membalik di dalam kuburnya! Berani main cinta-cintaan dengan seorang musuh perkumpulan. Hah, bocah macam apa ini!! Sin-seng Losu sudah memaki-maki lagi.

‘Kwi Lan, aku seorang anak Thian-liong-pang, harus tunduk dan setia. Aku sudah berdosa, biarlah aku menerima hukuman. Akan tetapi kau orang luar, kau pergilah dan jangan membikin aku mati penasaran karena kau menderita celaka.!

Kini Kwi Lan menjadi marah. Dengan pedang di tangan ia membentak, ‘Siangkoan Li! Engkau ini pemuda macam apa begini lemah dan buta? Memang benar kau adalah orang Thian-liong-pang, akan tetapi Ayahmu dahulu adalah seorang patriot sejati, seorang gagah yang menjunjung tinggi kebenaran dan bukan golongan orang jahat. Terhadap perkumpulan seperti ketika dipimpin Ayahmu itu, aku tidak akan merasa heran apabila engkau mengambil sikap seperti ini, bersetia sampai mati. Siangkoan Li, engkau melihat sikap Ciam Goan? Nah, dialah orang gagah sejati, yang melihat betapa Thian-liong-pang menjadi busuk di bawah pimpinan Gwakongmu yang berjiwa kotor ini rela meninggalkan Thian-liong-pang dan kalau perlu memusuhinya. Bukan memusuhi perkumpulannya, melainkan orang orangnya yang menyeleweng daripada kegagahan. Siangkoan Li, aku tidak bisa bicara banyak dan pengetahuanku pun sedikit. Akan tetapi karena kau seorang yang sudah melepas budi berkali-kali kepadaku, aku harus membelamu dengan taruhan nyawaku. Pernah Guruku bilang bahwa orang hidup tentu akhirnya mati. Akan tetapi kematian yang paling memalukan adalah kematian seorang pengecut yang tidak berani menentang kelaliman! Demi untuk kebenaran, jangankan hanya perkumpulan atau teman-teman, biar orang tua sendiri kalau perlu boleh saja dilawan!!

Hebat kata-kata ini, apalagi kalimat yang terakhir. Pada jaman itu, kebaktian merupakan kebajikan mutlak dan nomor satu. Tidak ada kejahatan yang buruk daripada kemurtadan anak terhadap orang tua demi membela kebenaran! Ini hanya dapat diucapkan oleh seorang yang otaknya tidak waras!

‘Dengar..! Dengar itu omongan iblis betina! Omongan perempuan gila! Siang koan Li, kau berani murtad terhadap Kakekmu?!

Sambil berlutut Siangkoan Li berkata, ‘Tidak, Gwakong, aku tidak berani..! Kemudian ia menoleh ke arah Kwi Lan. ‘Kwi Lan, kau pergilah. Lekas mereka telah datang..!!

‘Biarkan mereka datang. Biar aku mati aku tidak mau pergi tanpa kau ikut pergi. Kau sudah menolong nyawaku, aku harus membalasnya sedikitnya satu kali!! kata Kwi Lan dengan suara tetap.

‘Celaka..! Kwi Lan, kau tahu, siapa kakek itu?! Ia menuding ke arah kakek yang terluka lengan kanannya. ‘Dia itu susiok Yo Cat, dia itu murid sucouw yang akan datang pula bersama Cap-ji-liong! Biar ada lima orang engkau dan aku belum tentu akan dapat melawannya.!

Akan tetapi Kwi Lan hanya tersenyum saja. Makin lama Siangkoan Li makin bingung dan kini dari jauh tampak layar beberapa buah perahu. Siangkoan Li meloncat bangun, menghampiri Kwi Lan, memegang lengannya dan berseru. ‘Kalau begitu, demi keselamatanmu, kita pergi..!!

Kwi Lan ikut berlari, membiarkan dirinya ditarik. Siangkoan Li. Tak lama kemudian ia berseru, ‘Eh, eh, kenapa lari ketakutan? Mari kita lawan bersama.!

‘Hushhh.. diamlah. Aku tahu jalan rahasia yang tak mungkin dapat mereka kejar dan cari. Mari..!!

Mereka lari memasuki sebuah hutan yang gelap dan memang pemuda itu tidak bohong. Ia melalui jalan menyusup-nyusup yang amat sukar, bukan jalan manusia lagi dan kalau bukan orang yang sudah mengenal jalan tentu amat sukar memasuki hutan melalui jalan ini.

Akhirnya setelah lari setengah hari lamanya Siangkoan Li nampak tenang dan mengajak gadis itu duduk di pinggir sebuah sungai kecil dalam hutan. Keadaan di situ teduh dan sejuk sekali. Sinar matahari yang amat terik ditangkis oleh daun-daun pohon yang lebat.

‘Mari kuputuskan belenggu.! kata Kwi Lan sambil menarik tangan Siangkoan Li.

Akan tetapi pemuda itu merenggut kembali tangannya.

‘Untuk apa? Setelah menyelamatkan engkau, aku akan kembali menyerahkan diri.!

Kwi Lan marah sekali. Ia meloncat bangun dari tempat duduknya dan menudingkan telunjuknya kepada Siangkoan Li. ‘Engkau boleh berkepala batu, aku pun berhati baja! Akan tetapi engkau berkeras secara ngawur. Siangkoan Li, engkau seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi, mengapa begini lemah? Kalau kau memang amat mencinta Thian-liong-pang, mengapa kau tidak mengumpulkan orang-orang seperti Ciam Goan untuk membersihkan Thian-liongpang dari oknum-oknum macam Ma Kiu dan lain-lain? Kalau kau lakukan itu dan Thian-liong-pang menjadi perkumpulan orang gagah kembali, barulah kau seorang yang berbakti kepada mendiang Ayahmu, menjujung tinggi nama baik orang tua dan perkumpulan. Yang kaulakukan sekarang ini hanya membuktikan bahwa kau pengecut dan picik. Baiklah, kalau kau berkukuh hendak mengerahkan diri, aku pun berkukuh hendak membasmi Thian-liong-pang sendirian saja. Kita akan sama-sama mati, akan tetapi matiku seribu kali lebih berharga daripada matimu yang seperti kematian seekor kacoa!!

Pucat wajah Siangkoan Li mendengar ini. Ia meloncat bangun, sejenak ia memandang dengan mata melotot. Kedua orang muda itu saling pandang untuk beberapa lama. Kemudian Siangkoan Li menarik napas panjang. ‘Aku bingung dan ragu-ragu.. agaknya engkau benar.. biarlah akan kutemui kedua orang Suhuku dan minta nasihat mereka..! Thian-liong-pang, untuk sementara ini aku Siangkoan Li menjadi pengkhianat!! Setelah berkata demikian, tiba-tiba ia mengerahkan tenaga menggerakkan kedua tangannya. Terdengar suara keras dan.. belenggu besi itu rontok semua dan putus-putus!

Kwi Lan tersenyum girang dan kagum. Tak salah dugaannya, pemuda ini memiliki kepandaian tinggi, yang jelas adalah tenaganya yang istimewa. Pantas saja kekeknya yang sudah tua itu sekali ditangkis terluka.

‘Bagus Siangkoan Li. Begitu barulah seorang gagah sejati! Akan tetapi aku masih belum percaya betul. Bagaimana kalau kaulakukan ini hanya untuk mengelabuhi aku? Sebelum aku yakin akan keputusan hatimu, aku hendak mengikuti sepak terjangmu beberapa lama. Sekarang engkau hendak ke mana?!

‘Ucapan-ucapanmu mulai membekas di hatiku, Kwi Lan. Akan tetapi aku masih bimbang ragu. Karena itu, jalan satu-satunya adalah bertanya kepada kedua orang Guruku. Aku hendak mengunjungi mereka.!

‘Kedua orang Gurumu tentu orang-orang luar biasa. Aku pun ingin bertemu dengan mereka. Aku ikut!!

‘Eh, tidak bisa, Kwi Lan. Mereka itu orang-orang luar biasa sekali dan tidak suka bertemu dengan orang lain. Kecuali itu, juga tempatnya amat sukar didatangi orang, bagaimana aku bisa mengajakmu ke sana?!

Kwi Lan tersenyum. ‘Kata-katamu makin membuat aku curiga. Siangkoan Li, sudah kukatakan tadi. Engkau telah berkali-kali menolongku, maka aku sudah mengambil keputusan, sebelum kau yakin akan kekeliruanmu mengenai sikapmu terhadap Thian-liong-pang, aku tidak akan meninggalkanmu. Kalau kau bisa mengunjungi mereka, mengapa aku tidak? Marilah kita berangkat!!

Siangkoan Li mengerutkan keningnya. Gadis ini amat keras hati dan ia tahu bahwa Kwi Lan tentu akan melakukan apa yang diucapkannya.

‘Baiklah, Kwi Lan. Akan tetapi kau sudah kuperingatkan. Jangan persalahkan padaku kalau kau terbawa-bawa ke dalam lembah hitam karena kau pergi bersama aku yang sejak kecil bergelimang dalam dunia yang kotor.!

Berangkatlah dua orang itu melanjutkan perjalanan. Melakukan perjalanan bersama Siangkoan Li bedanya sejauh bumi dengan langit kalau dibandingkan dengan perjalanan bersama Hauw Lam. Perjalanan di samping Hauw Lam merupakan perjalanan yang penuh tawa dan gurau, gembira karena pemuda itu memandang dunia dari sudut yang terang dan lucu. Akan tetapi sebaliknya, Siangkoan Li adalah seorang pemuda yang pendiam dan wajah yang tampan itu hampir selalu muram diselimuti awan kedukaan. Di sepanjang jalan, dua orang yang melakukan perjalanan cepat ini jarang sekali bicara. Kalau tidak diajak bicara, Siangkoan Li tak pernah membuka mulut! Akan tetapi Kwi Lan tidak merasa kecewa. Ia maklum akan isi hati pemuda ini dan sinar mata pemuda itu di waktu memandangnya, penuh perasaan, sudah cukup baginya. Sinar mata pemuda ini tiada bedanya dengan sinar mata Hauw Lam di waktu menatapnya. Ada sesuatu dalam sinar mata kedua pemuda itu yang mendatangkan kehangatan di hatinya.

***

Sebelas hari lamanya mereka berdua melakukan perjalanan yang sukar, naik turun Pegunungan Lu-liang-san, masuk keluar hutan-hutan lebat. Pada hari ke dua belas, setelah selama itu tak pernah bertemu dengan manusia karena agaknya Siangkoan Li memang memakai jalan yang liar dan tak pernah diinjak orang, sampailah mereka di sebuah dusun kecil di lereng bukit. Dusun ini hanya ditinggali beberapa puluh keluarga petani, akan tetapi di ujung dusun itu berdiri sebuah rumah makan yang kecil dan sederhana sekali.

‘Kita sudah sampai.! Kata Siangkoan Li.

‘Apa? Di dusun ini?!

Siangkoan Li menggeleng kepala dan menudingkan telunjuknya ke depan. ‘Di puncak sana itu.!

Kwi Lan memandang dan benar saja. Tak jauh dari dusun itu menjulang tinggi puncak bukit dan samar-samar tampak tembok putih panjang melingkari bangunan-bangunan kuno.

‘Bangunan apakah itu?! tanya Kwi Lan.

‘Itulah kuil dan markas Lu-liang-pai. Di sana tinggal para hwesio Lu-liang-pai yang merupakan partai persilatan besar di daerah ini.!

‘Ahhh, kedua orang Gurumu itu hwesio-hwesio yang tinggal di sana?!

Siangkoan Li menggeleng kepala dan keningnya berkerut, agaknya pertanyaan ini menimbulkan kekesalan hatinya.

‘Apakah dugaanku keliru?!

Pemuda itu mengangguk dan menghela napas panjang. ‘Kedua orang Guruku adalah.. orang-orang hukuman di kuil itu..!!

‘Apa..?! Kwi Lan benar-benar kaget karena hal ini sama sekali tidak pernah diduganya. ‘Kenapa mereka dihukum? Apakah mereka itu anggauta-anggauta Lu-liang-pai yang menyeleweng?!

‘Bukan. Mereka bukan hwesio, tapi.. entah mengapa mereka menjadi orang-orang hukuman di sana, tak pernah mereka mau katakan kepadaku. Akan tetapi, Kwi Lan. Tidak mudah menemui mereka di sana, kalau, ketahuan para hwesio, tentu aku akan ditangkap. Karena itu, kuharap kau suka menanti di dusun ini dan biarlah aku seorang diri pergi menghadap kedua orang Guruku.!

Kwi Lan mengajak pemuda itu duduk di tepi jalan, di atas akar pohon yang menonjol keluar, ‘Siangkoan Li, keadaan Gurumu itu aneh sekali. Bagaimana kau dapat menjadi muridnya kalau mereka itu orang-orang hukuman di Kuil Lu-liang-pai?!

Setelah berulang-ulang menghela napas, pemuda berwajah muram ini lalu bercerita. Ia tidak pandai bicara, ceritanya singkat namun menarik perhatian Kwi Lan karena cerita itu amat aneh.

‘Terjadinya ketika ayahnya masih hidup. Ayah adalah Ketua Thian-liong-pang yang pada waktu itu masih bernama harum sebagai perkumpulan kaum patriot Hou-han. Ayah mengenal baik dengan para pimpinan hwesio Lu-liang-pai dan pada suatu hari Ayah datang ke Lu-liang-pai mengunjungi mereka. Aku baru berusia tiga belas tahun dan diajak oleh Ayah.! Siangkoan, Li mulai ceritanya yang didengarkan oleh Kwi Lan dengan tertarik. Kemudian ia melanjutkan.

Sebagai seorang anak kecil berusia tiga belas tahun, Siangkoan Li menjadi bosan mendengar percakapan antara ayahnya dan para pimpinan Lu-liang-pai, maka diam-diam ia menyelinap pergi dan bermain-main di kebun belakang. Para hwesio dan ayahnya tidak melarangnya karena di kebun belakang memang terdapat taman bunga yang amat indah. Hawa pegunungan yang sejuk memungkinkan segala macam kembang hidup subur di situ. Akan tetapi Siangkoan Li ternyata bukan hanya bermain-main di taman bunga, melainkan bermain terus lebih jauh lagi ke sebelah belakang bangunan Kuil Lu-liang-pai. Dilihatnya sebatang kali kecil di belakang taman, kali yang lebarnya empat meter lebih. Di seberang kali terdapat tanaman liar dan kali itu tidak dipasangi jembatan.

Dasar Siangkoan Li seorang anak yang ingin sekali mengetahui segalanya dan ia selalu merasa penasaran kalau belum terpenuhi keinginannya, maka biarpun sungai itu terlalu lebar untuk ia lompati, ia segera mendapatkan akal. Ia tak pandai renang, melompati tak mungkin, akan tetapi ia ingin sekali menyeberang. Dicarinya sebatang bambu dan dengan bantuan bambu panjang ini yang ia pakai sebagai gala loncatan, sampai jugalah ia, di seberang dengan kaki dan pakaian berlepotan lumpur.

Ia berjalan terus ke atas pegunungan kecil dan setelah tiba di puncak, tiba-tiba tubuhnya menginjak lubang yang tertutup rumput alang-alang. Tubuhnya terjeblos dan melayang ke bawah! Dia seorang anak pemberani dan karena ketika terbanting di dasar lubang ia tidak mengalami cedera, juga tidak terlalu nyeri karena dasar lubang juga berlumpur, ia tidak berteriak minta tolong. Malah di dalam gelap, ia meraba-raba dan terus berjalan maju ketika mendapatkan bahwa lubang itu mempunyai terowongan. Akhirnya setelah melalui terowongan yang berliku-liku, tibalah ia di ruangan bawah tanah dan melihat dua orang kakek di balik kerangkeng besi. Dua orang kakek yang bukan seperti manusia lagi. Mereka itu sudah tua dan pakaian mereka compang-camping penuh tambalan. Yang seorang berwajah seperti seekor harimau, rambutnya kasar riap-riapan, demikian pula cambang dan kumisnya. Orang ke dua kurus sekali sehingga kaki dan tangan yang tak terbungkus pakaian itu merupakan tulang tulang terbungkus kulit belaka. Kepalanya botak, hanya bagian atas telinga dan atas tengkuk saja ditumbuhi rambut panjang. Akan tetapi jenggotnya, lebat dan panjang. Keduanya sama tua dan sama liar, dan perbedaan yang mencolok di antara mereka selain rambut itu, juga pada muka mereka. Si Wajah Harimau itu mukanya merah sekali sedangkan yang botak itu wajahnya pucat seputih tembok!

‘Heh-heh, Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), kau bilanglah. Apakah kita sekarang sudah mampus dan berada di neraka berjumpa seorang iblis cilik?! Si Muka Merah berkata sambil terkekeh-kekeh.

‘Huh, sebelum lewat tujuh tahun lagi mana aku mau mati?! kata Si Muka Putih dengan nada dingin dan mengejek.

Melihat keadaan mereka dan mendengar kata-kata itu, biarpun Siangkoan Li seorang anak yang pemberani, ia merasa serem juga. Akan tetapi di balik rasa takutnya terselip rasa kasihan melihat dua orang kakek dikurung macam binatang-binatang buas saja, maka ia memberanikan hati dan menghampiri kerangkeng. Setelah memandang penuh perhatian dan jelas bahwa dua orang itu benar-benar manusia yang sangat tua, ia lalu bertanya.

‘Kakek berdua, siapakah dan mengapa dikerangkeng di sini?!

Dua orang- kakek itu saling pandang, yang muka merah tertawa ha-hah-he-heh sedangkan yang muka putih bersungut-sungut. ‘Kau bocah dari mana? Mengapa berani masuk ke sini? Apakah kau kacung Lu-liang-pai?! tanya yang muka putih.

Siangkoan Li terkejut. Suara itu seakan-akan menyusup ke dalam dadanya dan membuat jantungnya berhenti berdetik dan terasa dingin sekali sampai-sampai ia menggigil dan mukanya pucat. Cepat ia menggeleng kepala.

‘Bukan. Aku bernama Siangkoan Li dan bersama Ayahku berkunjung kepada para Losuhu di Lu-Lang-pai. Aku berjalan-jalan sampai ke sini dan terjeblos ke lubang.! Kemudian ia menceritakan siapa ayahnya dan bagaimana ia sampai ke tempat itu.

‘Ayahmu Siangkoan Bu Ketua Thian-liong-pang? Ha-ha-ha!! Kakek muka merah itu tiba-tiba bergerak maju dan.. menyusup keluar dari kerangkeng! Juga kakek muka putih berjalan maju dan tubuhnya menyusup keluar dari kerangkeng dengan amat mudahnya, seakan-akan kerangkeng itu merupakan pintu lebar. Padahal besi-besi kerangkeng itu amat sempit. Seorang anak seperti Siangkoan Li saja tak mungkin dapat lolos keluar. Bagaimana dua orang kakek itu dapat meloloskan diri tanpa banyak susah?

Siangkoan Li adalah putera seorang pangcu (ketua) dan tentu saja sejak kecil ia sudah dilatih silat. Melihat keadaan ini, sungguhpun ia tidak mengerti dan terheran-heran, namun ia kini sudah tahu bahwa dua orang kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat! Maka serta-merta ia lalu menjatuhkan diri berlutut.

‘Harap suka memaafkan teecu yang berani bersikap kurang ajar. Kiranya Jiwi Locianpwe adalah orang-orang sakti. Teecu masuk tidak sengaja, mohon maaf!!

Si Muka Merah tertawa tergelak. ‘Ha-ha-ha! Apa artinya Ilmu Sia-kut-hoat (Ilmu Lepas Tulang Lemaskan Tubuh) seperti itu? Kau putera Siangkoan Bu? Bagus! Eh, bocah, maukah engkau menjadi murid kami?!

Siangkoan Li kaget, dan juga girang sekali. Sudah seringkali ia mendengar dari ayahnya tentang orang-orang sakti di dunia persilatan dan seringkali mimpi betapa akan senangnya kalau dapat menjadi murid orang-orang sakti. Kini tanpa disengaja ia berhadapan dengan dua orang sakti yang ingin mengangkatnya menjadi murid! Ia menjadi girang sekali dan tentu ayahnya juga akan girang kalau mendengar akan hal ini. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mengangguk-anggukkan kepala, ‘Teecu akan merasa girang dan bahagia sekali, Ji-wi Suhu (Guru Berdua)!!

‘Ang-bin Siauwte ( Adik Muka Merah), mudah saja engkau menetapkan dia sebagai murid kita, bagaimana kalau kelak ternyata salah pilih?! tegur Si Muka Putih.

‘Heh-heh-heh! Dia ini keturunan seorang patriot dan ketua perkumpulan besar. Mana bisa salah pilih? Kalau kelak ternyata dia menyeleweng, apa susahnya kita mengambil nyawanya? Eh, Siangkoan Li, kau sendiri sudah menetapkan menjadi murid kami. Seorang murid tak boleh membantah perintah guru. Mulai detik ini, kau tinggal di sini menemani kami sambil belajar!!

Siangkoan Li terkejut sekali. ‘Tapi.. tapi.. teecu belum memberitahukan hal ini kepada Ayah..!! bantahnya dengan muka pucat.

Si Muka Putih mengeluarkan suara mendengus di hidungnya. Si Muka Merah tersenyum lebar. ‘Hah, boleh kaucoba pergi dari sini. Sebelum keluar dari lubang, nyawamu akan lebih dulu melayang!!

Siangkoan Li takut sekali akan tetapi akhirnya ia mengambil keputusan untuk mati hidup mentaati kedua orang gurunya. Mulai saat itu dia digembleng oleh kedua orang gurunya yang aneh. Setiap hari dari lubang itu turun makanan yang ternyata dikirim oleh hwesio-hwesio Lu-liang-pai.

‘Demikianlah, Kwi Lan. Sampai empat tahun aku dilatih ilmu oleh kedua orang Guruku itu.! Siangkoan Li melanjutkan penuturannya kepada Kwi Lan yang mendengarkan dengan muka amat tertarik. ‘Selama itu belum pernah kedua orang, suhu itu memberitahukan nama mereka. Dan ketika aku diperkenankan keluar, yaitu dua tahun yang lalu, aku segera pulang ke Yen-an akan tetapi ternyata Ayah telah meninggal dunia dan Thian-liong-pang telah dipegang oleh Gwakong. Karena aku tidak mempunyai ayah ibu lagi, Gwakong menjadi pengganti orang tuaku dan aku harus tunduk dan berbakti kepadanya, juga kepada Thian-liong-pang di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Bagaimana aku dapat mengkhianati Thian-liong-pang dan bagaimana aku berani melawan Gwakong?!

Kini Kwi Lan mulai mengerti akan keadaan hati Siangkoan Li. Ia menjadi kasihan dan berkata, ‘Memang sudah paling tepat kalau engkau menemui kedua orang Gurumu itu untuk minta pertimbangan dan nasihat mereka. Aku berani bertaruh bahwa mereka tentu lebih cocok dengan pendapatku, yakni bahwa kau harus mengumpulkan orang-orang gagah yang telah mengundurkan diri dari Thian-liong-pang, kemudian melakukan pembersihan di perkumpulan itu dan mendirikan kembali Thian-liong-pang yang sudah runtuh nama baiknya itu, Cap-ji-liong harus dibasmi. Kakekmu harus diinsyafkan. Dan selain itu, aku ingin sekali bertemu dengan kedua orang aneh yang menjadi gurumu. Maka aku akan ikut denganmu, Siankoan Li.!

‘Eh, jangan..! Berbahaya sekali..!!

Kwi Lan mencibirkan bibirnya. ‘Berbahaya? Kalau kau bisa, kenapa aku tidak mampu? Kita boleh lihat saja!!

‘Bukan, bukan itu maksudku. Kepandaianmu hebat, tentu saja kau dapat sampai ke tempat itu tanpa diketahui para hwesio Lu-liang-pai. Akan tetapi.. kedua orang Guruku itu wataknya aneh sekali. Siapa tahu mereka akan marah kalau melihatmu.!

‘Betapa pun anehnya mereka, belum tentu seaneh Guruku. Dan aku tidak takut. Kalau mereka itu begitu gila untuk marah-marah kepadaku tanpa sebab, biarkan mereka marah, aku tidak takut!!

Siangkoan Li habis daya. Berbantahan dengan gadis ini ia merasa tak sanggup menang. Pula dia telah melakukan hal yang amat hebat, telah berkhianat terhadap Thian-liong-pang, semua gara-gara gadis ini. Sekarang, kalau mereka berdua akan mengalami malapetaka bersama sekalipun, apalagi yang disesalkan? Tidak ada paksaan dalam hal ini, semua dilakukan oleh mereka dengan sukarela. Diam-diam ia malah merasa jantungnya berdebar girang. Tak salah dugaannya bahwa gadis jelita ini pun suka kepadanya seperti rasa suka di hatinya? Mencintanya seperti rasa cinta di hatinya?

Dengan ilmu kepandaian mereka, dengan mudah sekali Siangkoan Li dan Kwi Lan melompati tembok yang mengurung Lu-lian-pai dan memasuki daerah mereka itu dari tembok belakang. Menurut keterangan Siangkoan Li, jalan satu-satunya menuju ke tempat tahanan di bawah tanah itu harus melalui kebun bunga di belakang Kuil Lu-liang-pai. Berindap-indap mereka berjalan sambil menyusup-nyusup dan bersembunyi di balik pepohonan.

‘Siangkoan Li, apakah para hwesio Lu-liang-pai yang menghukum kedua orang gurumu?! tanya Kwi Lan ketika mereka menyusup-nyusup di taman bunga.

‘Entah, kedua orang Guruku tak pernah mau bercerita tentang diri mereka.!

‘Kalau benar demikian, tentu hwesio-hwesio Lu-liang-pal lihai luar biasa.!

‘Memang aku masih ingat cerita Ayah bahwa pimpinan Lu-liang-pai memiliki ilmu tinggi, akan tetapi aku tidak percaya mereka mampu mengalahkan kedua orang Guruku. Buktinya, kalau kedua orang Guruku menghendaki, apa susahnya bagi mereka untuk keluar dari kerangkeng? Agaknya memang sengaja kedua orang Guruku tidak mau keluar.!

‘Aneh sekali! Benar-benar aneh dan lucu!!

Tiba-tiba terdengar desir angin. Mereka cepat menyelinap di balik serumpun pohon kembang. Dua batang piauw (senjata rahasia) menyambar di atas kepala mereka. Dua orang hwesio muda muncul di dekat tempat mereka bersembunyi. Mereka memandang ke sekeliling dengan pedang siap di tangan.

‘Aneh sekali. Bukankah tadi jelas bayangan dua orang itu di tempat ini?! kata seorang di antara mereka.

‘Benar sekali, Sute (Adik Seperguruan). Agaknya orang-orang jahat yang datang menyelundup. Kau ingat pesan Suhu (Guru)? Tahun ini hukuman dua orang musuh besar kita telah habis, maka Suhu berpesan agar kita semua menjaga dengan hati-hati. Siapa tahu kakek jahat itu masih belum kehilangan kebuasannya dan menjelang habisnya hukuman, teman-temannya yang jahat datang untuk menimbulkan kekacauan. di sini.!

‘Kau benar, Suheng (Kakak Seperguruan). Kata Suhu mereka itu lihai bukan main. Gerakan dua bayangan tadi pun amat lihai. Jelas piauw kita mengenai sasaran, mengapa mereka tidak roboh malah lenyap seperti setan? Lebih baik kita lekas-lekas melaporkan kepada Suhu agar dapat dikerahkan tenaga untuk mengepung dan mencari mereka!!

Mendadak saja kedua orang hwesio itu roboh terguling. Pedang mereka terlempar dan tubuh mereka lemas dan lumpuh karena jalan darah mereka telah tertotok oleh sambaran dua butir kerikil! Siapa lagi kalau bukan Siangkoan Li yang melakukan hal ini. Memang pemuda ini memiliki keahlian menyambit dengan kerikil menotok jalan darah, seperti pernah ia pergunakan untuk membebaskan dan menolong Kwi Lan di dalam guha yang terancam kehormatannya oleh tiga orang anak buah Thian-liong-pang. Setelah merobohkan dua orang hwesio itu, Siangkoan Li menarik tangan Kwi Lan dan cepat-cepat mengajaknya berlari keluar dari taman itu menuju ke sungai yang melintang di belakang.

‘Terpaksa kutotok mereka agar jangan melapor sehingga usahaku menemui kedua Suhuku terhalang.! kata Siangkoan Li.

Berbeda dengan enam tahun yang lalu ketika Siangkoan Li melompati sungai itu harus dibantu sepotong bambu panjang, kini dengan amat mudahnya ia bersama Kwi Lan melompati sungai yang melintang. Dengan cepat Siangkoan Li mengajak gadis itu mendaki bukit kecil yang penuh dengan rumpunalang-alang. Ia khawatir kalau-kalau kedua orang suhunya sudah pergi. Bukankah dua orang hwesio tadi mengatakan bahwa sekarang ini sudah tiba saatnya, kedua orang suhunya bebas? Entah hari apa, akan tetapi tentu sekitar hari ini.

Dengan mudah Siangkoan Li mendapatkan sumur yang tertutup alang-alangitu. Ia memberi isyarat kepada Kwi Lan untuk mengikutinya kemudian ia melompat masuk. Dengan ilmu meringankan tubuh seperti yang ia kuasai sekarang ini, tentu saja tidak sukar baginya untuk melompat masuk ke dalam sumur itu. Demikian pula Kwi Lan. Setelah gadis itu mengikutinya dengan lompatan ringan dan keduanya tiba di dasar sumur, Siangkoan Li lalu menggandeng tangan Kwi Lan dan sambil meraba-raba ke depan ia memasuki terowongan di bawah tanah.

Ketika mereka tiba di sebuah tikungan terowongan dan dari jauh sudah tampak kerangkeng besi itu, tiba-tiba mereka merasai sambaran angin dahsyat dari depan disertai suara maki-makian keras. Cepat Siangkoan Li menarik tangan Kwi Lan ke bawah dan keduanya lalu bertiarap di atas tanah sambil memandang ke depan.

Kiranya dua orang kakek yang seperti orang tak waras ingatannya itu sudah keluar dari kerangkeng dan kini mereka mencak-mencak seperti dua orang menari-nari. Akan tetapi luar biasa hebatnya sambaran tangan mereka. Dinding batu pecah-pecah dan hawa pukulan yang meluncur lewat memasuki terowongan menimbulkan angin hebat! Tampak kakek muka putih hanya bersungut-sungut dan melotot sambil memukul-mukulkan kedua tangan, akan tetapi kakek muka merah sambil memukul-mukul juga memaki-maki. Dan mereka berdua itu menujukan pandang mata ke arah Siangkoan Li dan Kwi Lan! Akan tetapi ternyata maki makiannya bukan ditujukan kepada dua orang muda ini.

‘Heh, Bu Kek Siansu, tua bangka menjemukan! Apakah engkau sudah mampus? Kalau sudah mampus kami tantang rohmu agar datang ke sini dan memenuhi janji! Hayo, biar engkau masih hidup ataupun sudah mampus, engkau harus datang menemui kami. Kami Pak-kek Sian-ong (Raja Sakti Kutub Utara) dan Lam-kek Sian-ong (Raja Sakti Kutub Selatan) bukanlah orang-orang yang tidak pegang janji dan takut padamu! Lima belas tahun sudah menebus kekalahan dengan berdiam di neraka ini, hanya untuk menunggu kedatanganmu. Hari ini tepat lima belas tahun. Hayo muncullah orangnya atau rohnya untuk mengadu kepandaian. Apakah engkau takut, Bu Kek Siansu?!

Suara kakek yang bernama Lam-kek Sian-ong ini hebat sekali, membuat seluruh terowongan tergetar, bahkan Kwi Lan dan Siangkoan Li yang bertiarap di lantai terowongan itu merasa betapa lantai tergetar hebat. Kini mengertilah mereka bahwa dua orang kakek itu bukan marah-marah kepada mereka berdua, dan mungkin tidak melihat kedatangan mereka karena mereka berdua datang dari tempat gelap sedangkan tempat kedua orang kakek itu terang, menerima cahaya matahari yang menerobos masuk dari lubang dan celah-celah di atas. Kehebatan gerakan dan suara kedua orang kakek sakti itu benar-benar mengejutkan mereka dan membuat mereka tak berani sembarangan bergerak-gerak. Bahkan Kwi Lan yang tak kenal takut juga kini maklum betapa saktinya dua orang guru Siangkoan Li ini. Akan tetapi mereka bingung tidak mengerti mengapa ke dua orang kakek itu menantang seorang lawan yang tidak tampak? Siapakah itu Bu Kek Siansu yang mereka tantang?

Nama Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, pada puluhan tahun yang lalu adalah nama-nama yang amat terkenal sebagai tokoh-tokoh sakti yang luar biasa. Kedua orang kakek ini memang aneh sepak terjangnya. Bahkan dengan dua orang saja mereka pernah membikin geger Kerajaan Khitan dengan membunuh Raja Khitan, yaitu Raja Kubakan dengan niat merampas kerajaan! Akan tetapi maksud hati mereka itu gagal karena mereka dihalangi oleh Suling Emas, Kam Lin atau Yalina yang kini menjadi Ratu di Khitan, dan banyak orang gagah. Kalau tidak di keroyok, agaknya dua orang kakek ini akan tercapai niat hatinya menjadi sepasang raja di Khitan! Tidak ada orang di dunia ini yang mereka takuti kecuali seorang, yaitu Bu kek Siansu!

Siapakah Bu kek Siansu? Jarang ada orang pernah bertemu dengan manusia setengah dewa ini, walaupun namanya menjadi kembang bibir semua tokoh dunia kang-ouw. Diantara para pendekar terdapat kepercayaan bahwa siapa yang dapat bertemu dengan Bu Kek Siansu adalah orang yang bernasib baik sekali karena kabarnya kakek setengah dewa itu amat murah hati dan tak pernah menolak permintaan seorang untuk minta petunjuk dalam ilmu silat. Akan tetapi juga menjadi kepercayaan semua tokoh dunia hitam bahwa bertemu Bu Kek Siansu merupakan hal yang mencelakakan, karena kakek sakti itu tidak terlawan oleh siapapun juga! Bu Kek Siansu tidak mempunyai tempat tinggal tertentu atau lebih tepat, tak seorangpun tahu dimana adanya kakek setengah dewa ini yang sewaktu-waktu muncul pada saat yang tak disangka-sangka.

Lima belas tahun yang lalu, setelah Pek-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong terusir dari Khitan oleh Suling Emas dan kawan-kawannya (baca cerita CINTA BERNODA DARAH ). sepasang kakek sakti ini tiba di Luliang-san. Melihat keadaan bukit ini, mereka suka sekali dan timbul keinginan hati mereka untuk merampas kuil dan mengangkat diri mereka sendiri menjadi pemimpin Lu-liang-pai. Tentu saja niat buruk ini ditentang oleh para hwesio Luliang-san dan akibatnya, ketua Lu-liang-pai berikut beberapa tokohnya tewas di tangan Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong. Dua orang kakek ini tentu akan menyebar maut lebih banyak lagi kalau tidak secara tiba-tiba muncul Bu Kek Siansu. Sekali menggerakkan tangan, kakek setengah dewa ini membuat mereka berdua lumpuh tak dapat berdiri. Kemudian setelah memberi wejangan, Bu Kek Siansu membuat mereka berjanji untuk menjalani hukuman di dalam kerangkeng di bawah tanah di belakang Lu-liang-pai untuk menebus dosa.

Hari itu tepat sekali lima belas tahun telah lewat, yaitu masa hukuman mereka seperti yang ditentukan dalam janji mereka dengan Bu Kek Siansu. Maka itu mereka lalu memanggil-manggil dan memaki-maki karena menganggap Bu Kek Siansu tidak memegang janji.

‘Hayo, Bu Kek Siansu, benarkah kau tidak berani muncul? Apakah Bu Kek Siansu seorang pengecut?! kini terdengar Pak-kek Sian-ong berseru, dan berbeda dengan suara Lam-kek Sian-ong yang nyaring keras menimbulkan hawa panas, adalah suara kakek ini dalam namun menimbulkan hawa dingin yang mengerikan.

Tiba-tiba terdengar suara yang-khim (kecapi) yang merdu sekali. Suara ini memasuki terowongan itu di luar, suaranya halus dan merdu perlahan-lahan namun amat jelas terdengar. Kwi Lan dan Siangkoan Li yang masih bertiarap mendengar suara ini menjadi tenang hatinya. Rasa ngeri dan takut terusir lenyap, namun mereka masih bersikap hati-hati, tidak berani bangkit dan masih bertiarap sambil menanti perkembangan keadaan yang menenangkan itu.

‘Heh-heh-heh, engkau benar datang, Bu Kek Siansu?! kata Lam-kek Sian-ong.

‘Hoh, ke sinilah biar kami dapat menebus penderitaan lima belas tahun dengan kematianmu, tua bangka!! kata pula Pak-kek Sian-ong.

Tidak ada jawaban. Hanya suara yang-khim makin jelas dan pengaruhnya juga makin besar, mendatangkan rasa tenang dan damai sehingga maki-makian kedua orang kakek itu makin lama makin mereda dan akhirnya mereka pun seperti Siangkoan Li dan Kwi Lan mendengarkan suara yang-khim penuh perhatian dan seakan-akan juga menikmati suara yang-khim itu yang berlagu merdu. Kini suara yang-khim makin lama makin lambat dan lirih sampai akhirnya berhenti sama sekali. Namun, seakan-akan oleh mereka terdengar gema suaranya memenuhi telinga, dan suasana tenang damai dan tenteram masih terasa menyelubungi hati.

‘Siancai, siancai (damai, damai)..!

Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, aku girang sekali melihat Ji-wi (Kalian) memegang teguh perjanjian! Kerbau diikat hidungnya, manusia diikat janjinya. Itulah yang membedakan manusia daripada kerbau..!! Suara ini halus lembut, ramah dan menyenangkan. Seperti juga suara yang-khim tadi, suara orang ini memasuki terowongan dan terdengar di mana-mana.

Siangkoan Li dan Kwi Lan yang masih tiarap, tiba-tiba mendengar desir angin lewat di atas kepala mereka. Maklumlah mereka berdua bahwa seorang yang luar biasa saktinya lewat di atas mereka memasuki terowongan itu. Benar saja dugaan mereka karena tahu-tahu di situ telah berdiri seorang kakek tua sekali rambut dan jenggotnya sudah putih semua, halus seperti benang sutera, pakaiannya juga putih dan sebuah yang-khim berada di punggungnya.

Melihat datangnya kakek ini, Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong sudah memasang kuda-kuda dan bersikap menyerang. Akan tetapi kakek yang baru datang itu, yang bukan lain adalah Bu Kek Siansu sendiri mengangkat kedua tangannya ke atas dan aneh sekali, sikap hendak menyerang itu urung dengan sendirinya!

‘Dengarlah, sahabat berdua. Kita ini, kakek-kakek yang sudah amat tua, mengapa harus bertanding menjadi tontonan dan bahan tertawaan? Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, Ji-wi tinggal sampai lima belas tahun di tempat ini, sungguh merupakan kenyataan yang mengagumkan, tanda bahwa Ji-wi benar-benar tahan uji. Lima belas tahun bukan hukuman, melainkan tempaan dan gemblengan sehingga aku percaya bahwa kini Ji-wi telah memperoleh hasil yang amat berharga.!

‘Bu Kek Siansu, sejak dahulu engkau pandai bicara manis. Lima belas tahun yang lalu kami kalah olehmu dan kami menyiksa diri selama itu di sini. Boleh jadi kami tidak peduli tentang baik dan jahat, akan tetapi kami bukan pengecut yang bisa pegang janji. Kami sengaja berlatih lima belas tahun untuk menanti hari ini, saatnya kami bertemu denganmu untuk mengulang lagi pertandingan lima belas tahun yang lalu!! kata Lam-kek Sian-ong dengan mata mendelik.

‘Tidak peduli baik atau jahat, tak perlu banyak cakap lagi. Bu Kek Siansu, hayo lawan kami!! kata pula Pak-kek Sian-ong yang sudah merendahkan tubuh dan menekuk kedua lututnya memasang kuda-kuda yang aneh dan lucu.

Bu Kek Siansu mengelus-elus jenggot dan tersenyum ramah. ‘Orang-orang yang berlepotan lumpur kotor akan tetapi menyadari akan kekotorannya lalu mandi dan tidak bermain lumpur lagi, bukankah hal itu amat menyenangkan? Orang-orang yang bermain lumpur akan tetapi tidak sadar akan kekotorannya akan tetapi tidak mau membersihkan diri dan menginsyafi kekeliruannya, bukankah hal itu amat bodoh dan patut disesalkan?!

Pak-kek Sian-ong bertukar pandang dengan Lam-kek Sian-ong, kemudian Si Muka Merah itu tertawa. Ha-ha, Bu Kek Siansu. kami sudah kapok berkecimpung di dunia ramai melakukan kejahatan.

Akan tetapi kami belum kapok untuk mencoba kepandaian, tidak takut untuk mengulangi kekalahan lima belas tahun yang lalu!!

‘Hendak kami lihat apakah benar-benar Bu Kek Siansu seorang manusia tanpa tanding di jagad ini!! kata Pak-kek Sian-ong penasaran.

‘Siancai.. Siancai.. mengapa Ji-wi tidak melihat bahwa hal itu sama sekali tidak ada gunanya? Apakah untungnya dunia kalau kakek-kakek macam kita ini bertanding? Harap Ji-wi ketahui, semenjak Thian-te Liok-kwi (Enam Iblis Bumi Langit) tidak ada lagi, dunia bukan makin aman, bahkan kini muncul tokoh-tokoh baru menggantikan kedudukan mereka. Tokoh-tokoh hitam akan mengadakan pertemuan dan sekali mereka itu bersatu padu, bukankah perikemanusiaan terancam bahaya hebat? Ji-wi, segala apa di dunia ini diciptakan demi kebaikan. Semua ada kegunaannya. Matahari memberi cahaya kehidupan. Tanah memberi kesuburan. Air memberi zat kehidupan. Tetanaman memberi zat makanan. Ji-wi yang telah dikurniai kepandaian tinggi, layaknya kalau tidak digunakan untuk sesuatu kebaikan? Kalau begitu, apa artinya Ji-wi hidup dan lebih-lebih lagi, apa gunanya Ji-wi puluhan tahun mempelajari ilmu kalau hanya untuk main-main dengan aku seorang tua bangka? Harap Ji-wi suka insyaf.!

‘Heh, Bu Kek Siansu. Manusia tidak lepas dari pada nafsu dan pada saat sekarang ini, nafsu kami satu-satunya mendorong kami untuk mencari kepuasan membalas kekalahan kami lima belas tahun yang lalu.!

‘Benar kata-kata Ang-bin Siauwte.! kata Si Muka Putih. ‘Yang lain-lain perkara kecil, kami akan menurut selanjutnya kalau kami kalah lagi.!



Bab 8

Bu Kek Siansu menarik napas panjang. ‘Aku sudah terlalu lama membuang nafsu mencari menang. Sekarang begini saja, Ji-wi boleh memukulku sesuka hati. Kalau tewas oleh pukulan Ji-wi, berarti aku kalah dan terserah kepada Ji-wi apa yang selanjutnya akan Ji-wi lakukan. Akan tetapi kalau pukulan-pukulan Ji-wi tidak membuat aku mati karena maut masih segan-segan menjemput tua bangka macam aku, harap Ji-wi menerima kalah dan sukalah melakukan usaha menentang munculnya tokoh-tokoh iblis yang kumaksudkan tadi.!

Kembali dua orang kakek itu saling pandang. Betapapun juga, mereka masih merasa gentar menghadapi manusia setengah dewa itu. Biarpun mereka selama lima belas tahun ini menggembleng diri di dalam kurungan, namun mereka maklum bahwa Bu Kek Siansu memiliki kesaktian yang sukar diukur bagaimana tingginya. Kini mendengar usul Bu Kek Siansu, mereka menjadi lega dan tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Mereka sekali-kali bukan membenci Bu Kek Siansu dan ingin membunuhnya. Melainkan mereka haus akan kemenangan. Apapun juga caranya, kalau mereka sudah dianggap menang, akan puaslah hatinya. Apalagi kalau kemenangan ini disahkan dengan terjatuhnya Bu Kek Siansu, si manusia dewa di bawah tangan mereka!

‘Baik, aku akan memukulmu tiga kali Bu Kek Siansu!! kata Si Muka Merah.

‘Aku pun memukul tiga kali!! kata pula Pak-kek Sian-ong.

‘Terserah, tiga kali juga baik.! kata Bu Kek Siansu tenang.

‘Kau tidak boleh menangkis!! kata pula Lam-kek Sian-ong.

‘Dan tidak boleh mengelak!! sambung Pek-kek Sian-ong.

‘Baik, aku tidak akan menangkis dan mengelak. Akan kuterima masing-masing tiga kali pukulan Ji-wi.!

Siangkoan Li dan Kwi Lan yang semenjak tadi bertiarap dan menyaksikan serta mendengar semua ini, menjadi kaget sekali. Dua orang kakek itu luar biasa lihainya. Baru angin pukulan mereka saja tadi sudah menghancurkan batu. Bagaimana sekarang kakek yang sudah amat tua itu dapat tahan menerima tiga kali pukulan dari masing-masing kakek itu, jadi enam kali pukulan tanpa mengelak maupun menangkis? Kwi Lan bangkit duduk saking tertarik menyaksikan keanehan ini. Juga Siangkoan Li sudah duduk di dekatnya sambil memandang ke dalam dengan kening berkerut. Di dalam hatinya ia merasa menyesal sekali mengapa kedua orang gurunya yang dianggap orang-orang sakti itu kini hendak berlaku demikian licik dan curang terhadap seorang kakek yang kelihatan halus dan lemah itu. Ia sangat kagum ketika mendengar ucapan Bu Kek Siansu, bahkan ucapan-ucapan itu secara tidak langsung menikam hatinya karena amat cocok dengan keadaan dirinya sendiri. Mendengar ucapan kakek itu tadi, mulailah ia dapat melihat anjuran Kwi Lan. Ia semenjak kecil hidup di lingkungan kotor dan hitam bergelimang di dunia kejahatan. Setelah ia sadar akan hal ini, mengapa ia tidak mau mencuci diri membersihkan dari kotoran, kemudian melakukan kebajikan-kebajikan yang berlawanan dengan kejahatan? Mengenai Thian-liong-pang yang sudah terlanjur kotor, tepat seperti yang dianjurkan Kwi Lan, sebaiknya ia turun tangan membersihkannya. Dengan begini barulah ia menebus dosa kakeknya dan dengan begini barulah ia berbakti kepada almarhum ayahnya.

Lam-kek Sian-ong sudah menghampiri Bu Kek Siansu, mengambil napas dalam, mengerahkan tenaga lalu memukul ke arah dada Bu Kek Siansu yang berdiri tenang-tenang saja. Angin pukulan dahsyat menyambar.

‘Desss..!!

Tubuh Bu Kek Siansu bergoyang-goyang ke belakang depan dan benar-benar kakek ini telah menerima pukulan tanpa menangkis maupun mengelak. Pukulan yang amat keras dan menggeledek.

‘Ang-bin Siauwte, bergantian!! teriak Pak-kek Sian-ong sambil melompat maju. Lam-kek Sian-ong mengangguk sambil meramkan mata dan mengatur pernapasan. Ia tahu akan akal saudaranya. Jika ia harus memukul terus sampai tiga kali, karena setiap pukulan memakan tenaga dalamnya, makin lama pukulannya makin lemah, juga ada kemungkinan ia sendiri menderita luka dalam. Dengan bergantian, ia mendapat kesempatan memulihkan tenaga. Diam-diam ia kagum sekali. Setelah lima belas tahun, pukulannya amat hebat karena setiap hari ia latih. Akan tetapi tadi mengenai dada Bu Kek Siansu, ia merasa seperti memukul sekarung kapas, tenaganya amblas kemudian membalik. Sungguh hebat!

Dengan tubuh agak direndahkan, Pak-kek Sian-ong kini melancarkan pukulan pertama. Berbeda dengan Lam-kek Sianong yang memukul dengan menggunakan kekerasan dan tenaga Yang-kang, kakek bermuka pucat ini memukul dengan jari-jari terbuka dan mengerahkan tenaga Imkang.

‘Cesss..!!

Kembali tubuh Bu Kek Siansu tergetar bahkan terhuyung tiga langkah ke belakang. Muka kakek ini pucat sekali, namun matanya masih bersinar tenang dan penuh damai sedangkan mulutnya tersenyum ramah. Betapapun juga, jelas tampak oleh Kwi Lan dan Siangkoan Li betapa dua kali pukulan itu luar biasa hebatnya dan mungkin sekali kakek tua renta itu sudah menderita luka dalam yang hebat.

Seperti juga Lam-kek Sian-ong, kakek muka putih itu kagum bukan main. Ia telah mengerahkan seluruh tenaganya dalam pukulan pertama ini, akan tetapi pukulannya yang tepat mengenai ulu hati Bu Kek Siansu tadi seperti bertemu dengan segumpal baja yang amat keras. Cepat-cepat ia pun mejamkan mata mengumpulkan tenaga dan mengatur pernapasannya.

Ketika Lam-kek Sian-ong melangkah maju hendak melakukan pukulan ke dua, tiba-tiba lengannya ditarik Pak-kek Sian-ong yang memberi tanda kedipan dengan mata. Lam-kek Sian-ong maklum dan kini majulah mereka berdua, menghampiri Bu Kek Siansu. Tanpa mengeluarkan kata-kata, dua orang kakek ini telah bersepakat untuk melakukan pemukulan ke dua secara berbareng dan dapat dibayangkan betapa berbahaya pukulan kedua orang ini jika dilakukan berbareng! Lam-kek Sian-ong adalah seorang ahli dalam penggunaan tenaga panas, sedangkan sebaliknya Pak-kek Sian-ong adalah ahli mempergunakan tenaga dingin. Jika sekaligus menghadapi dua pukulan yang berlawanan sifatnya, bagaimana tubuh dapat mengatur dua macam tenaga sakti yang saling berlawanan untuk menghadapi dua pukulan itu?

Mustahil kalau seorang sakti seperti Bu Kek Siansu tidak mengerti soal itu. Akan tetapi buktinya, kakek itu hanya tersenyum saja dan masih tenang, sedikit pun tidak menegur ketika dua orang itu menghampirinya untuk melakukan pemukulan kedua secara berbareng. Kwi Lan dan Siangkoan Li memandang dengan muka pucat dan penuh kekhawatiran. Dua orang muda ini merasa pasti bahwa kali ini kakek tua renta itu tentu akan terpukul mati.

‘Bresss..!!

Hebat bukan main pukulan yang dilakukan berbareng itu. Kepalan tangan Lam-kek Sian-ong menghantam dada sedangkan jari-jari tangan Pak-kek Sianong menampar lambung dalam saat berbareng. Tubuh Bu Kek Siansu terlempar ke belakang seperti daun kering tertiup angin, lalu punggungnya menubruk dinding batu. Terdengar suara keras dan yang-khim di punggungnya ternyata telah remuk! Akan tetapi kakek ini tidak roboh binasa, melainkan maju lagi dengan agak terhuyung-huyung. Setelah ia maju, baru tampak yang-khimnya jatuh dalam keadaan hancur sedangkan dinding batu di mana ia terbanting tadi kini kelihatan amblas ke dalam dan tercetaklah bentuk tubuh kakek itu pada dinding batu! Senyum itu masih belum meninggalkan bibir, akan tetapi matanya dipejamkan dan dari kedua bibirnya mengalir darah yang menetes-netes melalui jenggot putih yang panjang!

Dua orang kakek itu saling pandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali. Dari ubun-ubun kepala mereka tampak keluar uap putih yang tebal. Ini tandanya bahwa mereka telah mempergunakan tenaga dalam yang amat kuat. Dada mereka terasa sakit dan tahulah mereka bahwa pukulan ke dua tadi telah melukai mereka sendiri. Akan tetapi melihat keadaan Bu Kek Siansu, mereka menduga bahwa lawannya itu pun telah terluka. Pukulan terakhir tentu akan merobohkan Bu Kek Siansu dan.. mungkin juga menyeret mereka berdua ke lubang kuburan! Betapapun juga, mereka merasa penasaran sekali dan hendak berlaku nekat. Pukulan ke tiga sudah siap mereka lakukan dan mereka sudah menghampiri Bu Kek Siansu yang berdiri dengan tubuh menggetar akan tetapi mulut tersenyum dan muka tenang.

Akan tetapi tiba-tiba tampak dua sosok bayangan berkelebat. Mereka ini adalah Kwi Lan dan Siangkoan Li. Pemuda itu serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan kedua gurunya sambil berseru.

‘Harap Suhu berdua jangan melakukan pemukulan lagi..!!

Akan tetapi Kwi Lan sudah berdiri di depan dua orang kakek itu sambil menudingkan telunjuknya dan berkata, ‘Kalian ini dua orang tua benar-benar tidak mengenal malu sama sekali! Mana ada aturan memukul seorang kakek tua renta yang sama sekali tidak mau melawan? Coba kalian yang tidak melawan kupukuli apakah kalian juga mau? Kegagahan macam apa yang kalian perlihatkan ini?!

Lam-kek Sian-ong dan Pak-kek Sianong terkejut. Mereka tidak mengira bahwa semua yang terjadi itu telah disaksikan orang lain. Marahlah mereka ketika melihat bahwa murid mereka berani mencampuri urusan ini bahkan berani pula mengajak datang seorang gadis yang begitu galak dan berani memaki-maki mereka. Pada saat itu mereka berdua sudah bergandeng tangan. Tangan kiri Lam-kek Sian-ong berpegang pada tangan kanan Pak-kek Sian-ong. Mereka berniat untuk melakukan pukulan terakhir dengan menggabungkan tenaga, maka tadi mereka saling berpegang telapak tangan. Kini melihat munculnya Kwi Lan dan Siangkoan Li, dalam kemarahan mereka itu mereka lalu menggerakkan tangan memukul ke depan, ke arah dua orang muda yang menghalang di jalan.

‘Pergilah kalian!! bentak Lam-kek Sian-ong.

Kwi Lan dan Siangkoan Li terkejut sekali ketika merasa ada angin pukulan dahsyat menyambar. Mereka dapat mengerahkan tenaga hendak menangkis atau mengelak, akan tetapi aneh luar biasa. Angin pukulan dari depan itu seakan-akan mengunci jalan keluar, bahkan ketika mereka mengerahkan tenaga, mereka mendapat kenyataan bahwa tenaga itu tak dapat mereka salurkan! Ternyata bahwa pukulan itu sebelum tiba di tubuh lebih dulu pengaruhnya telah membuat mereka seperti dalam keadaan tertotok! Benar-benar, pukulan yang amat aneh dan lihai. Dengan mata terbelalak mereka menanti datangnya maut, karena sekali pukulan kedua orang kakek itu menyentuh tubuh mereka, tentu maut akan datang merenggut nyawa! Akan tetapi, tiba-tiba mereka merasa ada tangan menyentuh punggung mereka. Tangan yang halus dan hangat, merapat di punggung mereka pada saat pukulan tiba. Dan, sebelum tangan kedua orang kakek itu menyentuh kulit tubuh mereka, hawa pukulan itu membalik dan kedua kakek itu berseru keras lalu roboh terjengkang!

‘Minggirlah, anak-anak!! terdengar bisikan dari belakang dan Kwi Lan berdua Siangkoan Li merasa betapa tubuh mereka terdorong ke pinggir tanpa dapat mereka lawan. Tahulah mereka bahwa nyawa mereka telah ditolong Bu Kek Siansu dan diam-diam mereka kagum bukan main. Kini karena yakin akan kelihaian dua orang kakek itu. Kwi Lan tak berani berlagak lagi, hanya memandang ke depan.

Kedua orang kakek itu sudah meloncat bangun lagi dan memandang kepada Bu Kek Siansu dengan mata terbelalak heran dan kagum. Gebrakan tadi jelas membuktikan bahwa mereka berdua, sampai sekarang pun sama sekali bukan tandingan kakek setengah dewa ini. Mulailah terbuka mata mereka dan mulailah mereka menyesal mengapa sejak dahulu mereka terlalu mengagungkan dan mengandalkan kepandaian sendiri! Sinar mata mereka mulai melunak, tidak seliar biasanya dan hal ini tidak terluput dari pandangan mata Bu Kek Siansu yang amat waspada. Sambil melangkah maju dan tersenyum, kakek sakti ini berkata.

‘Perjanjian harus dipegang teguh. Kalian berdua baru memukul dua kali, masih ada satu kali lagi.!

Dua orang kakek itu makin pucat. Mereka maklum bahwa dua kali pukulan mereka tadi sama sekali tidak melukai kakek sakti itu, sungguhpun pengerahan tenaga dalam yang luar biasa membuat darah bertitik keluar dari mulutnya. Kalau sekali lagi memukul, mungkin mereka sendiri yang akan tewas!

Menyaksikan keraguan mereka, Bu kek Siansu berkata lagi, ‘Mengapa Ji-wi ragu-ragu? Adakah Ji-wi merasa menyesal? Baru saja ada orang-orang muda yang memberi contoh kepada Ji-wi. Biarpun kepandaian mereka jauh di bawah tingkat Ji-wi, namun tanpa merasa takut mereka berusaha membelaku. Melepas budi kebajikan tanpa mempedulikan keselamatan sendiri, alangkah besar jasa yang diperbuat selagi hidup. Hayolah, aku masih hutang sebuah pukulan dari kalian berdua.!

Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong masih saling bergandengan tangan. Mereka kini melangkah maju dan Lamkek Sian-ong berkata, ‘Masih sekali pukulan lagi, Bu Kek Siansu, dan kalau engkau dapat bertahan serta aku tidak mampus, biarlah aku bersumpah akan mentaati semua pesanmu!!

‘Benar, sudah sepatutnya dan sudah tiba saatnya kami melihat kebodohan sendiri!! kata pula Pak-kek Sian-ong.

Kemudian sambil bergandeng tangan kedua orang itu menghantamkan tangan mereka ke arah dada Bu Kek Siansu. Mereka maklum bahwa kalau kakek sakti ini menggunakan tenaga untuk memukul kembali pukulan mereka, tentu mereka takkan kuat bertahan, terpukul oleh hawa pukulan sendiri dan isi dada mereka yang sudah terluka akan terguncang merenggut nyawa.

‘Dukkk..!!

Dua orang itu mengeluarkan pekik kaget. Ternyata kali ini Bu Kek Siansu menerima pukulan hebat itu dengan tubuhnya tanpa pengerahan tenaga sama sekali! Kakek itu telah mengorbankan diri demi keselamatan mereka berdua. Mereka melihat betapa tubuh Bu Kek Siansu mencelat ke belakang lalu jatuh terduduk, bersila dan tubuhnya masih bergoyang-goyang. Dari mata, hidung, mulut, dan telinga mengalir darah segar! Dua orang kakek itu menjerit dan menubruk, menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Kek Siansu. Baru sekarang mereka mengenal rasa terharu. Kakek ini yang mereka pukul tanpa melawan, begitu saja membiarkan dirinya terluka hebat untuk menyelamatkan mereka berdua. Di mana ada budi kebajikan yang sebesar ini?

Bu Kek Siansu membuka matanya, tersenyum ketika melihat wajah mereka berdua.

‘Siancai.. siancai.. legalah hatiku sekarang.. kejahatan yang merajalela di dunia akan menghadapi lawan berat..!

‘Siansu, mengapa mengorbankan diri untuk kami?! Lam-kek Sian-ong yang masih terheran itu bertanya.

‘Siansu, kami bersumpah akan mentaati pesanmu sampai mati!! kata pula Pak-kek Sian-ong.

‘Anak-anak yang baik,! kata Bu Kek Siansu, seakan-akan dua orang kakek itu adalah dua orang anak-anak kecil saja. ‘Tidak ada pengorbanan apa-apa. Yang keras kalah oleh yang lunak, itu sudah sewajarnya. Yang lenyap diganti oleh yang muncul, yang mati diganti oleh yang lahir. Apa bedanya? Paling penting, mengenal diri sendiri termasuk kelemahan-kelemahan dan kebodohan-kebodohannya, sadar insyaf dan kembali kejalan benar. Yang lain-lain tidaklah penting lagi. Selamat berpisah.! Setelah berkata demikian, ia bangkit berdiri lalu berjalan terhuyung-huyung keluar dari dalam terowongan itu dengan wajah berseri dan mulut tersenyum!

Sungguh aneh bin ajaib. Dua orang kakek yang biasanya liar itu kini menangis terisak-isak. Lam-kek Sian-ong Si Muka Merah itu menangis sesenggukan sambil duduk dan menyembunyikan mukanya di antara kedua paha yang diangkat naik. Adapun Pak-kek Sian-ong yang bermuka pucat itu berdiri memegangi kerangkeng dan terisak-isak tanpa mengeluarkan air mata. Kalau saja Kwi Lan tidak menyaksikan semua peristiwa tadi, tentu ia akan tertawa bergelak saking geli hatinya. Namun peristiwa tadi sungguh menenangkan hatinya dan kini ia hanya memandang dengan penuh keheranan.

Siangkoan Li segera melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang kakek itu. ‘Ji-wi Suhu, teecu Siangkoan Li datang menghadap Suhu..!

Mendadak Pak-kek Sian-ong membalikkan tubuh menoleh lalu membentak, ‘Aku tidak mempunyai murid macam engkau.

Kaget sekali hati Siangkoan Li, juga ia menjadi berduka. ‘Suhu, harap maafkan teecu. Teecu datang menghadap mohon nasihat Ji-wi Suhu. Ayah dan Ibu telah meninggal. Thian-liong-pang menjadi perkumpulan jahat akan tetapi di sana ada Gwakong. Apakah yang teecu harus lakukan..?!

Kini Lam-kek Sian-ong yang membalikkan tubuh dan menoleh. Ia masih duduk di atas lantai dan mukanya makin merah ketika ia membelalakkan mata menghardik, ‘Engkau orang jahat! Engkau tokoh Thian-liong-pang yang menjemukan! Pergi.. dan bawa pergi perempuan liar ini keluar dari sini!!

‘Cukup! Engkau membiarkan bangunan yang dengan susah payah didirikan Ayahmu menjadi runtuh berantakan. Kaukira kami tidak mengetahui sepak terjangmu? Kami tidak sudi mempunyai murid macam engkau!! kata Pak-kek Sian-ong.

‘Heh-heh, barangkali orang muda ini datang untuk memamerkan kekasihnya itu, dan minta persetujuan kita untuk menikah dengannya. Ha-ha, Pek-bin Twako, kaubikin dua orang muda ini kecewa saja!! Si Muka Merah mengejek.

Sambutan dan sikap kedua orang gurunya ini merupakan pukulan hebat bagi Siangkoan Li. Tadinya ia menggantungkan harapannya kepada dua orang tua itu. Siapa kira, dia sendiri menjadi saksi betapa kedua orang suhunya ini dahulu ternyata juga bukan orang baik-baik sehingga ditundukkan dan dihukum Bu Kek Siansu. Kemudian ditambah lagi sikap mereka yang tidak mengakuinya sebagai murid, lebih dari itu lagi, mengejek dan menghina Kwi Lan. Wajah pemuda ini menjadi pucat, layu dan sinar matanya sayu seperti orang kehilangansemangat. Ia masih berlutut dan mengangkat mukanya yang pucat memandang kepada dua orang kakek itu mohon dikasihani. Akan tetapi kedua orang gurunya sama sekali tidak menaruh kasihan. Si Muka Pucat berdiri dengan muka merah. Si Muka Merah duduk dengan mulut menyeringai dan mengejek.

Kwi Lan memang sejak tadi sudah merasa tidak suka kepada dua orang kakek jembel itu. Ketika mereka melakukan pemukulan-pemukulan kepada Bu Kek Siansu, ia telah merasa kecewa dan tidak suka kepada dua orang guru Siangkoan Li. Akan tetapi di samping perasaan ini ia pun maklum bahwa ilmu kepandaian kedua orang kakek itu benar hebat luar biasa. Karena itu ia menjadi segan juga dan tidak berani menyatakan perasaannya ketika ia tadi terlempar oleh hawa pukulan mereka. Kini, melihat betapa Siangkoan Li dihina sehingga pemuda ini kelihatan begitu kecewa dan bersedih bukan main, kemarahannya tak tertahankan lagi. Ia melompat maju dan memaki.

‘Kalian ini tua bangka benar-benar menjemukan sekali! Dahulu Siangkoan Li menjadi murid kalian adalah atas kehendak kalian sendiri, bukan dia yang minta-minta mengemis kepada kalian! Sekarang, jauh-jauh Siangkoan Li dengan hati berat datang menghadap minta nasihat, akan tetapi kalian malah memaki-maki dan tidak mengakuinya. Manusia-manusia macam apa kalian ini?! Ia lalu memegang lengan Siangkoan Li, ditariknya pemuda itu bangun dari berlutut, digandengnya dan ditarik-tariknya agar pergi dari situ sambil membujuk.

‘Sudahlah, Siangkoan Li. Mulai saat ini jangan kau mengandalkan dan menyandarkan pendirianmu kepada orang-orang lain. Belajarlah dewasa dan hidup mengandalkan diri sendiri. Untuk apa minta-minta kepada mereka yang tidak punya apa-apa ini? Untuk apa minta penerangan kepada orang yang berada dalam kegelapan? Salah benar diputuskan sendiri, akibatnya susah senang pun ditanggung sendiri. Itu baru laki-laki namanya!!

‘Hi-hi-hik..!! Pak-kek Sian-ong mengeluarkan suara ketawa tanpa membuka mulutnya.

‘Ha-ha-ha-ha!! Lam-kek Sian-ong juga tertawa.

Dengan hati hancur Siangkoan Li yang merasa lemas tubuhnya itu membiarkan dirinya ditarik-tarik oleh Kwi Lan. Beberapa kali ia menoleh memandang kepada gurunya itu dengan harapan kalau-kalau kedua orang gurunya tadi hanya mencobanya saja dan sekarang sudah berubah sikap. Akan tetapi dua orang kakek itu tetap menyeringai seperti tadi.

Mereka berdua kini duduk di dalam rumah makan kecil sederhana di ujung dusun tak jauh dari markas Lu-liang-pai itu. Wajah Siangkoan Li masih pucat dan muram. Kwi Lan membujuk dan menghiburnya dan atas bujukan Kwi Lan yang berkali-kali itu akhirnya Siangkoan Li mau juga makan nasi. Hari telah siang, akan tetapi warung yang sederhana itu masih kosong, tidak ada tamunya kecuali seorang pengemis yang duduk melenggut di sudut sebelah depan. Biarpun pakaiannya pengemis, namun berani duduk di situ menghadapi meja, tentu juga seorang tamu yang datang berbelanja.

Kini di atas meja di depannya tidak ada lagi mangkok piring, akan tetapi sisa-sisa di atas meja itu membuktikan bahwa pengemis ini tadi telah makan. Beberapa ekor lalat merubungi sisa makanan di atas meja, akan tetapi pengemis itu tidak peduli dan duduk melenggut, agaknya tertidur setelah kekenyangan makan. Kedua tangannya diletakkan di atas meja dan kalau orang memperhatikannya, tentu akan menjadi heran melihat kedua tangan ini berkulit putih dan halus, sedangkan kuku-kukunya pun terpelihara baik-baik. Akan tetapi sukar untuk melihat mukanya karena sebuah topi butut yang lebar menutupi kepala berikut mukanya. Topi lebar itu pun aneh, berhiaskan setangkai bunga mawar merah!

Kwi Lan dan Siangkoan Li tadi hanya melempar pandang satu kali ke arah pengemis ini, sungguhpun merasa heran namun tidak bercuriga. Terlalu banyak perkumpulan pengemis dan terlalu banyak pengemis-pengemis yang berlagak aneh mereka jumpai. Agaknya pengemis ini pun hanya seorang di antara anggauta perkumpulan-perkumpulan itu yang sengaja berlagak aneh untuk menarik perhatian orang. Selain itu, juga Siangkoan Li terlalu sibuk dengan kemurungan pikirannya dan Kwi Lan terlalu sibuk dengan usahanya menghibur Siangkoan Li sehingga keduanya selanjutnya lupa lagi kepada Si Pengemis yang masih duduk melenggut di atas kursinya.

‘Sudahlah, tak perlu kau bermuram durja lagi. Bukankah sudah jelas bahwa kedua orang gurumu itu, betapapun lihainya, tak lain hanya orang-orang yang pernah juga menyeleweng daripada jalan benar? Untuk apa memikirkan mereka? Yang paling perlu, percaya kepada diri sendiri untuk memperbaiki hidup, menghapus semua yang kotor dan mulai dengan lembaran baru yang bersih. Siangkoan Li, mana sifat jantanmu? Bangkitlah, jangan terbawa hanyut duka nestapa yang tiada gunanya.! Berkali-kali Kwi Lan menghibur.

‘Aihhh.., bukan main..!! Tiba-tiba terdengar suara pujian perlahan sekali, akan tetapi cukup jelas. Kwi Lan cepat menoleh keluar, akan tetapi tidak tampak ada orang di luar. Suara tadi datang dari luar, ataukah.. dari pengemis yang tertidur tadi? Akan tetapi bukan, karena telinganya yang tajam dapat menangkap suara pernapasan pengemis itu yang halus dan panjang, napas orang sedang tidur! Ia menoleh ke arah dalam di mana kakek yang mengurus warung itu sibuk membersihkan dapur. Tidak ada orang lain kecuali kakek itu yang mengurus warung ini. Kwi Lan tidak pedulikan lagi. Mungkin suara orang di luar warung dan ucapan tadi tidak ada hubungannya dengan dia.

Siangkoan Li menghela napas panjang. ‘Kwi Lan, setelah menyaksikan segala yang terjadi tadi, mendengar semua ucapan kakek ajaib yang bernama Bu Kek Siansu itu, aku menjadi insyaf akan kebodohanku selama ini. Aku terlalu lemah dan menyerah kepada keadaan. Tidak, Kwi Lan, aku tidak lagi sudi menyerah dan tunduk kepada Gwakong yang ternyata telah menyelewengkan Thian-liong-pang. Aku akan berusaha mengangkat kembali nama baik Thian-liong-pang seperti yang telah kuusulkan. Akan tetapi..! Ia menundukkan muka dengan sedih.

‘Mengapa lagi? Apa yang menjadi halangan?!

‘Selama dua tahun aku setia kepada Thian-liong-pang yang menyeleweng. Dengan sendirinya aku telah menjadi seorang tokoh dunia hitam, tokoh jahat! Lebih dari itu, kedua orang Guruku pun ternyata bukan orang baik-baik. Mana mungkin ada pendekar yang mau percaya kepadaku? Kurasa usahaku untuk menghimpun tenaga para patriot Hou-han takkan berhasil.!

Kwi Lan mengerutkan keningnya. Biarpun ia kurang pengalaman, namun ia seorang gadis yang cerdik. Ia dapat mengerti keadaan Siangkoan Li dan melihat kebenaran pendapat itu. Selagi ia hendak menjawab dan menghibur, tiba-tiba terdengar suara halus namun keren dan penuh teguran.

‘Huh, bagus sekali, Siangkoan Li. Lekas menyerah sebelum pinceng (aku) terpaksa turun tangan menggunakan kekerasan!!

Kwi Lan cepat menoleh dan tampaklah lima orang hwesio muncul di depan warung itu. Lima orang hwesio yang kelihatannya bersikap agung, alim, akan tetapi juga berwibawa. Apalagi yang memimpinnya. Dia seorang hwesio tua yang berjenggot panjang dan putih, matanya bersinar halus namun amat tajam. Empat orang hwesio lainnya yang belum tua benar, berdiri di belakangnya dan sikap mereka hormat, menanti perintah. Mereka berlima semua membawa pedang.

‘Celaka, mereka adalah hwesio-hwesio Lu-liang-pai..! bisik Siangkoan Li yang segera bangkit berdiri dan melangkah maju, terus memberi hormat kepada hwesio tua yang berdiri paling depan.

‘Teecu Siangkoan Li telah melanggar wilayah Lu-liang-pai dan karena diserang terpaksa menotok roboh dua orang suhu dari Lu-liang-pai. Harap Thaisu sudi memaafkan karena hal itu teecu lakukan secara terpaksa ketika teecu ingin berjumpa dengan kedua orang Suhu teecu di dalam sumur di belakang kuil Lu-liang-pai.! Siangkoan Li yang mengenal kesalahannya dan kini sedang dalam usaha ‘memperbaiki jalan hidup! mendahului mereka minta maaf. Sikapnya merendah sekali sehingga diam-diam Kwi Lan mendongkol.

‘Omitohud.. baik sekali kalau kau menyesali perbuatanmu yang sesat. Siangkoan-kongcu. Sayang, bukan hanya itu saja kesalahanmu. Kau telah berdosa besar sekali kepada kami. Beberapa tahun yang lalu, selagi masih kecil, kau telah melanggar daerah larangan, lebih dari itu, malah tanpa ada yang mengetahui kau telah menjadi murid dua orang musuh besar kami yang sedang dihukum. Hal itu berarti kau telah melakukan dua dosa. Kemudian, setelah keluar, kau menjadi orang sesat dalam Thian-liong-pang yang menjadi perkumpulan jahat semenjak Ayahmu mati. Dosa ketiga ini dosa yang paling besar dan untuk itu pinceng dan para anggauta Lu-liang-pai sudah cukup untuk menghukummu. Sekarang, semua dosa ini ditambah dengan pelanggaran ke dalam kuil dan merobohkan dua orang murid kami. Siangkoan Li, hayo lekas berlutut dan menerima hukuman di kuil kami.!

Siangkoan Li menjadi bingung dan melihat ini Kwi Lan sudah melompat ke depan dan mencabut pedang Siang-bhokkiam! Gadis ini berdiri dengan tegak, pedang di tangan kanan, sarung pedang di tangan kiri dan telunjuk tangan kirinya menuding ke arah hwesio-hwesio itu.

‘Hwesio-hwesio gundul sombong! Siangkoan Li dengan kalian tidak ada hubungan sesuatu, kalian berhak apakah mengadilinya dan bicara tentang dosa-dosanya? Apakah kalian ini hakim? Ataukah dewa-dewa yang menentukan dosa tidaknya manusia?!

Para hwesio itu nampak kaget, bahkan ada di antara mereka mencabut pedang siap menanti komando. Akan tetapi hwesio tua itu mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata.

‘Omitohud.. Nona muda siapakah? Kalau tidak salah, pinceng Cin Kok Hwesio Ketua Lu-liang-pai sama sekali belum pernah bertemu dengan Nona. Nona murid siapakah?!

‘Hwesio tua, tak perlu aku memperkenalkan diri! Ketahuilah bahwa aku adalah sahabat Siangkoan Li yang tidak rela melihat kau bersikap begini sombong hendak mengadili dia. Kau tidak berhak!!

‘Ah, mengapa semuda ini Nona juga tersesat ke dalam jalan gelap? Omitohud, semoga Hudya (Buddha) membimbing Nona ke jalan benar. Ketahuilah Nona, kami bersikap begini adalah karena kami mengingat akan Siangkoan-pangcu yang menjadi sahabat kami. Karena ingat Siangkoan-pangcu, maka kami menganggap Siangkoan-kongcu ini orang sendiri sehingga kami hendak membawanya ke kuil dan memberi hukuman yang layak.

Kalau kami tidak melihat muka mendiang Siangkoan-pangcu, hemm.. agaknya pinceng tidak akan berlaku selunak ini.!

Siangkoan Li membuang muka dan mengerutkan keningnya. Ia menjadi makin berduka, diingatkan betapa ayahnya seorang yang dihormati dan dijunjung tinggi dunia kang-ouw, sebaliknya dia, putera tunggalnya, hanya mencemarkan nama orang tuanya saja.

‘Tua bangka gundul! Kau bicara seolah-olah engkau dan orang-orangmulah manusia paling suci di dunia ini! Hemm, sekarang mengerti aku mengapa Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong membunuh ketua kalian dan membikin kacau Lu-liang-pai. Kiranya kalian adalah orang-orang yang merasa diri paling suci, paling bersih dan karenanya memandang rendah orang lain yang kalian pandang orang-orang berdosa! Kiranya kalian ini hendak mengangkat diri sendiri menjadi wakil Thian (Tuhan) dan mewakili para dewa untuk menentukan nasib manusia lain, menghukum dan menganggap mereka berdosa! Pantas kalian hendak dibasmi dua orang kakek itu, dan sekiranya tidak ada Bu Kek Siansu yang benar-benar suci dan mulia, tentu kalian sudah mampus semua dan aku percaya, orang-orang seperti kalian ini malah akan mati dengan tersiksa hebat. Mau masuk sorga tak diterima karena hanya suci anggapan sendiri, mau masuk neraka tak diterima pula karena pada lahirnya kalian selalu menentang kejahatan. Huh, tak tahu malu!!

‘Kwi Lan, jangan..!! Tiba-tiba Siangkoan Li berseru keras dan meloncat ke depan gadis itu, mencegah gadis itu menggerakkan pedang. Kemudian Siangkoan Li membalikkan tubuh menghadapi para hwesio dan berkata.

‘Thaisu, dan para Suhu semua, dengarlah! Kuharap kalian tidak membawa-bawa nama Ayahku yang sudah tidak ada. Semua perbuatanku adalah tanggung jawabku sendiri! Aku tidak merasa berdosa terhadap Lu-liang-pai, setelah kini kupikir baik-baik. Pelanggaran itu bukanlah dosa. Kalau menurut pendapat kalian aku berdosa dan perlu dihukum, boleh.

Aku bersedia melayani kalian, akan tetapi aku tidak mau dihukum! Kalau kalian hendak menggunakan kekerasan, juga boleh! Biarlah aku melakukan apa yang dahulu kedua orang Suhuku Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong sudah gagal melakukannya, yaitu memberi hajaran kepada kalian orang-orang Lu-liang-pai yang pura-pura suci! Nah, silakan!!

Muka Cin Kok Thaisu yang kelihatan alim itu kini terkejut dan pucat. Tak disangkanya pemuda ini akan berani melawan dan mengingat bahwa pemuda ini adalah murid dua orang kakek yang hebat itu, ia meragu. Apalagi di situ terdapat nona muda yang galak ini, yang tentu bukan orang sembarangan pula maka berani bersikap sekeras itu. Andaikata dia mampu mengalahkan dan menangkap Siangkoan Li, kemudian hal ini terdengar oleh dua orang kakek yang terhukum di belakang kuil, bukankah kemarahan mereka akan bangkit dan jangan-jangan mereka itu melakukan pembalasan dengan membasmi Lu-liang-pai? Bantuan Bu Kek Siansu manusia dewa itu sukar diharapkan karena di mana adanya kakek itu tak seorang pun manusia mengetahuinya.

‘Omitohud..! Maksud pinceng hanya untuk menghukum dan melempangkan yang bengkok, berarti kami menolong jiwa Siangkoan-kongcu dam berarti pula kami tidak melupakan persahabatan kami dengan Siangkoan-pangcu. Kalau Kongcu hendak mengambil jalan sesat terus, kami pun tidak bisa berbuat sesuatu, akan tetapi kelak akan tiba masanya terpaksa kami menghadapi Kongcu sebagai musuh, bukan sebagai putera sahabat lagi.! Ia menoleh kepada murid-muridnya dan mendengus, ‘Mari kita pergi.!

Hwesio tua itu mengebutkan lengan bajunya yang lebar, lalu melangkah keluar sambil berliam-keng (membaca doa), diikuti oleh empat orang muridnya. Kwi Lan dan Siangkoan Li mengikuti mereka dengan pandang mata sampai mereka itu mulai mendaki bukit menuju ke markas Lu-liang-pai.

‘Engkau benar, Kwi Lan. Orang harus dapat menentukan langkah sendiri, mempertimbangkan perbuatan sendiri kemudian mempertanggung jawabkannya sendiri pula. Terima kasih atas segala bantuanmu, Kwi Lan. Sekarang terbukalah mataku. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membangun kembali Thian-liong-pang sebagai sebuah perkumpulan orang-orang gagah sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat, terjunjung tinggi namanya di dunia kang-ouw. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa tidak sia-sia Ayah mempunyai seorang anak seperti aku.! Ucapan ini bersemangat sekali dan pemuda itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan terkepal dan mukanya yang tampan kehilangan kemuramannya, kini tampak berseri dan bercahaya.

Kwi Lan tersenyum lebar, menghampiri dan memegang tangan pemuda itu. ‘Bagus! Sekarang aku dapat dengan hati ikhlas dan dada lapang melepasmu pergi, Siangkoan Li. Kelak aku pasti akan datang mengunjungi Thian-liong-pang di bawah pimpinanmu.!

Pemuda itu memandangnya tajam. ‘Apa? Kau.. kau tidak ikut bersamaku?!

Kwi Lan menggeleng kepala. ‘Sungguh lucu, bukan? Tadinya engkau yang selalu menyuruh aku pergi akan tetapi aku tidak mau meninggalkanmu. Sekarang aku yang hendak meninggalkanmu akan tetapi engkau yang sebaliknya menghendaki aku membantumu. Sekarang engkau dapat berdiri sendiri, Siangkoan Li, dan urusan Thian-liong-pang bukanlah urusanku, melainkan urusan pribadimu. Betapapun juga, aku girang sekali telah dapat bersahabat denganmu. Engkau seorang pemuda yang amat hebat!!

‘Kwi Lan.. ahhh..!

‘Ada apa? Kenapa kau meragu lagi?!

‘Kwi Lan.., terus terang saja. hemm, sekarang ini.. terasa amat berat bagiku untuk berpisah darimu. Tidak.. tidak dapatkah kita.. eh, bersama selalu..?!

‘Ehm.. ehm..!!

Untung pengemis yang terlupa dan masih tidur di sudut depan itu terbatuk-batuk sambil menggaruk-garuk pundak yang agaknya digigit kutu bajunya sehingga suasana tak enak dan mencekam setelah kata-kata Siangkoan Li itu menjadi buyar seketika. Siangkoan Li ingat bahwa dia berada dalam warung di mana terdapat pengemis itu dan juga pengurus warung yang berada di dalam, maka ia pun lalu tersenyum dan berkata.

‘Maaf, Kwi Lan. Kembali aku terseret dalam kelemahan. Engkau benar. Kita harus mengambil jalan kita masing-masing dan kelak bertemu kembali dalam suasana yang lebih baik, setelah tugas kita masing-masing selesai. Nah, selamat tinggal dan selamat berpisah, Kwi Lan!! Jari tangan yang menggenggam tangan Kwi Lan itu seakan-akan memancarkan hawa hangat yang menjalar dari tangan Kwi Lan terus ke dalam hatinya. Ia memandang mesra kemudian menarik kembali tangannya.

‘Selamat jalan, Siangkoan Li. Engkau orang baik, tentu kau akan berhasil dalam tugasmu. Sampai berjumpa pula kelak..!

Dengan wajah berseri dan langkah lebar, Siangkoan Li meninggalkan warung itu dan tak lama kemudian ia telah berlari-lari cepat dan lenyap dari pandang mata Kwi Lan yang mengikutinya. Gadis itu termenung sejenak, lalu menghela napas panjang dan memanggil pemilik warung. Setelah membayar harga makanan, ia pun lalu membawa bungkusan pakaiannya dan meninggalkan warung itu.

***

Kita tinggalkan dulu Kam Kwi Lan yang berpisah dari Siangkoan Li untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke Khitan menemui ibu kandungnya. Marilah kita menengok keluar, ke dunia kang-ouw. Seperti telah disinggung oleh manusia dewa Bu Kek Siansu ketika memberi nasihat kepada Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, di dunia kang-ouw, terutama di kalangan golongan hitam, terjadi perubahan hebat semenjak lenyapnya Thian-te Liok-koai dari permukaan dunia penjahat. Lenyapnya enam orang tokoh besar dunia hitam ini membuat golongan hitam menjadi lemah kedudukannya dan kuncup nyalinya. Apalagi, pemerintah Sung dengan secara tidak langsung dibantu oleh para pendekar, mendapat angin baik dan di mana-mana para pendekar berusaha membasmi golongan hitam sehingga banyaklah golongan hitam tidak berani lagi memperlihatkan diri secara berterang. Untuk menjaga kelangsungan hidup mereka, kaum hitam ini menyelundup ke dalam perkumpulan-perkumpulan bersih seperti yang dilakukan ke dalam Thian-liong-pang dan sebagian besar perkumpulan pengemis sehingga banyaklah perkumpulan-perkumpulan baik berubah menjadi sarang mereka yang dikejar-kejar itu.

Kemudian timbul desas-desus yang menggembirakan dan membangkitkan semangat golongan hitam yaitu dengan turunnya pentolan-pentolan yang kabarnya malah memiliki kesaktian lebih hebat daripada mendiang Thian-te Liok-kwi! Disebut-sebut oleh golongan hitam ini nama-nama tokoh yang selama ini tidak terkenal di dunia kang-ouw, pendatang-pendatang baru dari empat penjuru dan yang sebelum muncul sudah memiliki pengikut-pengikut yang memilih jagoan masing-masing untuk dijadikan semacam ‘datuk! mereka.

Orang pertama yang disebut-sebut adalah Siang-mou Sin-ni (Wanita Sakti Berambut Wangi), seorang di antara Thian-te Liok-kwi yang belum tewas. Karena dia merupakan seorang tokoh wanita, tentu saja yang memuja dan menjagoinya adalah golongan hitam kaum wanita yang akhir-akhir inl banyak muncul di dunia sebelah selatan. Semenjak dikalahkan oleh Suling Emas (baca CINTA BERNODA DARAH ), iblis betina ini melarikan diri dan bersembunyi di sebuah pulau kosong di pantai selatan, di mana selain menggembleng diri dengan ilmu-ilmu baru, ia juga menerima murid-murid perempuan yang cantik-cantik dan kesemuanya berambut panjang terurai tidak digelung dan ia menciptakan sebuah barisan wanita yang disebutnya Siang-mou-tin (Barisan Rambut Wangi)! Akan tetapi belasan tahun lamanya Siang-mou Sin-ni melarang murid-muridnya mencampuri urusan luar, ia sendiri tak pernah terjun ke dunia kang-ouw.

Orang ke dua adalah seorang tokoh dari dunia barat yang tak dikenal orang, namun yang namanya menggemparkan perbatasan dunia barat. Begitu muncul, dia mengacau di antara para dunia pengemis dan dikabarkan bahwa dia telah membunuh dua ratus lebih orang pengemis golongan putih dengan cara yang luar biasa kejamnya, yaitu mempergunakan senjata yang istimewa, sebuah gunting yang besar sekali. Dia ini dijuluki Bu-tek Siu-lam (Si Tampan Tanpa Tanding). Karena munculnya telah melakukan perbuatan membasmi golongan pengemis putih, tentu saja namanya disanjung-sanjung oleh para pengemis golongan hitam yang berusaha untuk mengambil alih kekuasaan di dunia pengemis. Bu-tek Siu-lam ini dikabarkan selain lebih lihai daripada raja pengemis jahat It-gan Kai-ong, juga lebih kejam dan amat aneh. Orangnya tampan, pakaiannya hebat luar biasa, lagak bicaranya seperti perempuan genit!

Orang ke tiga adalah Jin-cam Khoaong (Raja Algojo Manusia) atau yang menamakan dirinya Pak-sin-ong, seorang tokoh utara berbangsa campuran antara Mongol dan Khitan. Kabarnya dia itu masih keturunan mendiang Hek-giam-lo itu tokoh Thian-te Liok-kwi (baca CINTA BERNODA DARAH ). Pak-sin-ong (Raja Sakti Utara) atau Jin-cam Khoa-ong ini juga amat kejam, senjatanya sebuah gergaji berkait dan ia bercita-cita untuk menjadi Raja Khitan dan kini menjadi buronan Kerajaan Khitan!

Orang ke tiga ini pun mempunyai banyak anak buah, yaitu orang-orang Mongol dan Khitan yang tidak suka kepada Ratu Yalina dari Kerajaan Khitan. Juga banyak tokoh dunia hitam bagian utara yang mengagumi kesaktian kakek ini menyatakan takluk dan menggabungkan diri atau lebih tepat bernaung di bawah pengaruh Pak-sin-ong.

Orang ke empat di antara deretan datuk-datuk dunia hitam ini adalah seorang kakek tua renta yang kurus dan mukanya selalu menyeringai, berjuluk Siauw-bin Lo-mo (Iblis Tua Tertawa). Dia ini adalah paman guru Sin-seng Losu Ketua Thian-liong-pang, maka dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaiannya. Karena di waktu mudanya dahulu Siauw-bin Lo-mo adalah seorang bajak laut, maka sekarang pun para pengikutnya sebagian besar tokoh-tokoh bajak laut dan bajak sungai.

Orang ke lima di antara para tokoh adalah seorang raksasa yang mukanya seperti monyet, bahkan julukannya pun Thai-lek Kauw-ong (Raja Monyet Bertenaga Kuat). Tokoh ini muncul dari kepulauan di laut, dan entah berapa ratus tokoh sudah dirobohkan oleh kakek ini semenjak ia mendarat di pantai timur sampai perantauannya ke daratan tengah. Sampai kini belum pernah ada jago silat yang mampu mengalahkan sepasang senjatanya yang aneh dan lucu, yaitu sepasang gembreng alat musik yang biasa dipakai bersama tambur dan canang untuk mengiringi tarian dan permainan barongsai atau liong. Keanehan kakek ini adalah bahwa tidak seperti tokoh lain, ia tidak mempunyai murid, juga tidak mempunyai pengikut. Ia malang-melintang seorang diri di dunia kang-ouw dan kesukaan satu-satunya hanyalah berkelahi dan mengalahkan tokoh-tokoh besar!

Pagi hari itu amat ramai di Puncak Cheng-liong-san yang biasanya amat sunyi. Puncak gunung ini merupakan sebuah di antara puncak-puncak yang paling sunyi, tak pernah didatangi manusia karena selain sukar mencapai puncak ini, juga di sekitar gunung ini menjadi sarang binatang buas dan seringkali dijadikan sarang manusia-manusia buas pula. Pagi hari ini pun puncak Cheng-liong-san menjadi pusat pertemuan di antara orang-orang golongan hitam yang sudah berjanji untuk mengadakan pertemuan awal dalam menghadapi pertemuan para tokoh mereka untuk mengadakan pemilihan beng-cu (ketua) yang akan memimpin para tokoh dunia hitam menghadapi para pendekar golongan putih.

Semenjak malam tadi, berbondong-bondong orang kang-ouw mendatangi puncak itu. Ada rombongan terdiri hanya dari dua tiga orang, akan tetapi ada pula rombongan besar terdiri dari belasan orang, bahkan sambil membawa bendera lambang perkumpulan mereka segala! Pagi hari itu sudah ramailah puncak, penuh dengan orang-orang yang bermacam-macam pakaiannya. Ada yang masih amat muda, ada pula yang sudah kakek-kakek. Ada yang berpakaian mewah seperti seorang jutawan, ada yang berpakaian pedagang, ada seperti guru silat, dan banyak pula yang berpakaian pengemis. Biarpun bermacam-macam, sesungguhnya mereka itu sama, yaitu orang-orang jahat yang selalu mendatangkan kekacauan di dunia ini. Tampak bendera mereka berkibar dengan sulaman bermacam-macam lambang. Ada gambar naga dengan beraneka warna, ada gambar bunga-bunga, dan lain macam binatang. Di antara banyak bendera itu, tampak berkibar megah bendera dengan gambar garuda hitam dan ada pula bendera bergambar ular hitam. Dua buah bendera ini dipegang oleh rombongan pengemis yang pakaiannya berkembang bersih, maka mudahlah diketahui bahwa mereka itu adalah rombongan perkumpulan-perkumpulan pengemis Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang. Memang golongan pengemislah yang terbanyak datang mengunjungi pertemuan kaum sesat ini.

Serigala dan harimau, binatang-binatang buas hidup rukun dengan kelompok masing-masing, demikian pula manusia. Burung memilih kawan dengan persamaan warna bulu, sedangkan manusia memilih kawan dengan kecocokan watak dan kebiasaan mereka. Biarpun orang-orang yang pada pagi hari itu berkumpul di Puncak Cheng-liong-san terdiri dari orang-orang kang-ouw yang sudah biasa melakuken perbuatan sesat, namun kini setelah berkumpul mereka dapat beramah-tamah, bersendau-gurau dengan hati tulus ikhlas penuh rasa persahabatan satu dengan yang lainnya. Dengan bangga mereka saling menceritakan pengalaman mereka yang bagi umum merupakan perbuatan jahat, namun bagi mereka merupakan kegagahan dan keberanian yang patut mereka banggakan. Ramailah suara mereka bercakap-cakap diseling gelak ketawa, mengalahkan dan mengusir burung-burung yang terbang pergi ketakutan.

Seperti telah bermufakat padahal hanya kebetulan saja, mereka kini berkumpul mengelilingi sebuah batu besar yang bundar bentuknya dan licin permukaannya sehingga batu itu dapat dipergunakan sebagai pengganti meja besar. Batu-batu kecil diangkat dan digulingkan di seputar ‘meja! ini, dijadikan tempat duduk. Ada pula yang berjongkok atau duduk begitu saja di atas tanah, ada yang berdiri dan bermacam-macamlah sikap mereka.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu dari jauh. Sebagian besar dari kaum sesat yang berkumpul di situ adalah hamba-hamba nafsu, maka mendengar suara ketawa wanita semerdu ini, serentak mereka menengok dan memandang. Tak lama kemudian semua percakapan terhenti dan semua mata melotot memandang penuh gairah kepada dua orang wanita muda yang datang berjalan dengan lenggang bergaya tari, menarik dan menggairahkan. Dua orang wanita muda ini bertubuh kecil ramping, berpakaian sutera halus tipis berwarna merah muda dan hijau pupus. Sikap dan percakapan mereka menunjukkan bahwa mereka adalah wanita-wanita selatan. Rambut mereka terurai panjang tak digelung, dan gagang pedang tampak di belakang punggung. Mereka datang sambil tersenyum-senyum manis dan sepasang mata mengerling-ngerling genit.

Karena yang menjadi pelopor pertemuan ini adalah dua perkumpulan pengemis Hek-pek Kai-pang dan Hek-coa Kaipang, maka dua perkumpulan inilah yang bertindak sebagai tuan rumah dan yang sekaligus meneliti dan mengenal para tamu agar jangan sampai ada pihak musuh yang datang menyelundup. Melihat datangnya dua orang wanita muda yang tak terkenal ini, Ketua Hek-coa Kai-pang segera menyambut, menjura dan berkata kepada dua orang wanita itu.

‘Selamat datang di antara sahabat! Mohon tanya, Ji-wi Kouwnio (Nona Berdua) ini dari golongan manakah dan berdiri di bawah bendera apa?!

Dua orang wanita muda itu saling pandang lalu tertawa genit sambil menutupi mulut dengan ujung lengan baju mereka yang panjang. Kemudian seorang di antara mereka yang lebih tinggi berkata.

‘Kami adalah anggauta-anggauta Siang-mou-tin, diutus oleh Sin-ni untuk melihat apa yang terjadi di sini.!

‘Ah, kiranya Ji-wi adalah utusan Siang-mou Sin-ni dari selatan. Maaf, karena terlalu jauh kami tak sempat mengirim undangan, harap sampaikan maaf kami kepada Sin-ni. Akan tetapi kami girang bahwa Sin-ni berkenan mengutus wakil. Silakan duduk, Ji-wi Kouwnio!!

Dua orang wanita itu tersenyum-senyum dan melangkah mendekati mereka. Para tamu yang terdiri dari laki-laki semua itu kini mencium bau harum yang semerbak keluar dari rambut panjang dua orang wanita ini. Mereka berseru kagum dan mulailah mereka, terutama yang muda-muda, berteriak-teriak menawarkan tempat duduk.

‘Mari duduk dekatku sini, Nona. Batunya licin dan bersih!!

‘Di sini teduh. Marilah!!

Berlumba mereka itu menawarkan tempat duduk sambil tertawa-tawa, semua mengharapkan untuk dapat duduk di dekat dua orang nona manis yang genit senyum kerlingnya dan harum rambutnya itu. Bahkan ada pula yang mulai mengeluarkan kata-kata tidak sopan dan cabul, sesuai dengan watak mereka yang memang sudah biasa bersendau-gurau dengan kata-kata cabul. Namun dua orang wanita itu pun bukan orang baik-baik. Kalau wanita sopan mendengar sendau-gurau laki-laki yang cabul dan kurang ajar, tentu menjadi malu dan tidak senang, namun dua orang wanita anggauta Siang-mou-tin ini tersenyum-senyum dan melirik sana-sini memilih tempat. Sesungguhnya bukan tempat yang mereka pilih, melainkan penawarnya. Tak lama kemudian, di bawah sorak-sorai dan tawa gemuruh, mereka sudah memilih duduk di sebelah dua orang muda yang tampan dan segera mereka bercakap-cakap dan tertawa-tawa gembira.

Biarpun tuan rumahnya adalah perkumpulan-perkumpulan pengemis, namun mereka ini bukanlah tuan rumah yang miskin. Sesungguhnya memang amat janggal terdengarnya. Pengemis yang tidak miskin! Namun ini kenyataan karena sesungguhnya para anggauta Hek-peng Kai-pang, Hek-coa Kai-pang dan masih banyak lagi perkumpulan pengemis golongan sesat, tak pernah pergi mengemis, melainkan mengemis secara paksa alias merampok! Dengan mengandalkan kepandaian dan pengaruh perkumpulan, mereka mendatangi orang-orang kaya lalu ‘mengemis! jumlah tertentu yang harus diberikan oleh si kaya. Demikianlah praktek yang dijalankan oleh perkumpulan-perkumpulan pengemis golongan sesat ini. Maka mereka itu bukanlah orang miskin dan dalam pertemuan ini, segera dihidangkan arak baik dan makanan-makanan yang cukup lezat dan mahal.

Menjelang siang, semua tamu sudah berkumpul, jumlahnya seratus orang lebih. Maka perundingan pun dimulailah. Yang menjadi pokok pembicaraan adalah membentuk persatuan dan persekutuan golongan sesat untuk bersama-sama menghadapi musuh golongan putih dan membalas dendam serta membasmi para pendekar yang pernah menghancurkan golongan mereka.

‘Sudah terlalu lama kita ditindas!! Demikian antara lain Ketua Hek-pek Kai-pang berkata. ‘Semenjak para datuk kita, di antaranya adalah It-gan Kai-ong raja pengemis kami, tewas, maka kita selalu dikejar-kejar, dihina dan harus sembunyi sembunyi. Maka kini kita harus bersatu untuk menghadapi mereka.!

‘Agar persatuan kita dapat lebih kuat teratur, kita harus mengangkat seorang bengcu (pemimpin). Pertemuan ini memang merupakan pertemuan pendahuluan dan persiapan untuk memilih bengcu. Tentu saja memilih bengcu harus mencari seorang tokoh yang sakti agar pekerjaan kita jangan sampai gagal!! kata Ketua Hek-coa Kai-pang. ‘Kami dari golongan pengemis mengajukan calon bengcu, yaitu Locianpwe Bu-tek Siu-lam!!

Semua pengemis yang merupakan anggauta pimpinan pelbagai perkumpulan pengemis, bertepuk tangan menyatakan setuju dan mendukung tokoh yang disebut oleh ketua Hek-coa Kai-pang itu.

Mulailah golongan lain mengajukan calon-calon mereka. Wakil-wakil dari utara mengajukan calon Sin-cam Khoa-ong atau Pak-sin-ong yang sudah terkenal kesaktiannya. Golongan barat diperkuat oleh perkumpulan Thian-liong-pang mengajukan Siauw-bin Lo-mo. Sebaliknya para penjahat yang datang dari timur dan yang mengagumi sepak terjang Thai-lek Kauw-ong yang mengerikan, tentu saja mengajukan tokoh baru ini sebagai bengcu. Ramailah mereka memuji-muji setinggi langit calon masing-masing, menceritakan kehebatan sepak terjang mereka, kelihaian mereka, dan kekejaman mereka yang mereka katakan bahwa lebih hebat daripada Thian-te Liok-kwi yang kini sudah tidak ada lagi, tinggal Siang-mou Sin-ni seorang yang tak pernah muncul di dunia kang-ouw.

‘Bagus! Agaknya kita tidak kekurangan calon yang hebat-hebat! Sudah ada empat orang calon kita yang dalam beberapa hari ini akan hadir di sini. Setelah semua calon berkumpul, barulah dilihat siapa di antara mereka yang paling patut dijadikan bengcu. Sementara itu, mengingat bahwa Siang-mou Sin-ni adalah seorang di antara Thian-te Liok-kwi, jadi merupakan tokoh tua yang patut diingat, sebaiknya kita mendengarkan suara utusannya yang kini hadir di sini.! kata Ketua Hek-peng Kai-pang sambil melirik dua orang nona manis yang kelihatan makin merapat duduknya dengan dua orang laki-laki muda tampan tadi. Tanpa malu-malu lagi kedua nona itu sudah bersikap sangat mesra terhadap dua orang pasangan mereka.

Mendengar ucapan itu, dua orang nona manis itu kini dengan manja dan perlahan mendorong dada pasangan mereka, kemudian tertawa genit sambil meloncat ke depan. Sekali meloncat, gerakan mereka yang amat ringan dan cekatan itu membuat mereka sudah berdiri di atas batu besar di tengah-tengah. Di tempat tinggi ini mereka kelihatan jelas. Cantik genit dengan bentuk tubuh tampak membayang di balik pakaian sutera tipis. Cantik menggairahkan.

‘Seperti telah kami katakan tadi, kami hanyalah utusan yang ditugaskan oleh Guru kami sebagai peninjau saja. Guru kami menyatakan bahwa beliau tidak tertarik lagi akan urusan dunia dan tidak menghendaki kedudukan bengcu. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa kami tidak mau bekerja sama dengan Anda sekalian. Guru kami berpesan apabila bengcu baru sewaktu-waktu bergerak menggempur Suling Emas, Guru kami pasti akan turun tangan membantu. Hanya kalau bentrok melawan Suling Emas saja Guru kami suka berkerja sama. Kiranya cukuplah pernyataan kami dan selanjutnya kami hanya menjadi peninjau yang tidak mengajukan calon.! Setelah berkata demikian, dengan langkah menggoyang pinggul mereka kembali menghampiri pasangan masing-masing yang menerima mereka dengan kedua lengan terbuka dan tertawa-tawa.

Ucapan anggauta Siang-mou-tin ini sekaligus membelokkan percakapan mereka yang hadir di situ dari persoalan pencalonan bengcu menjadi soal musuh-musuh besar mereka.

‘Apa yang dikatakan oleh Ji-wi Kouwnio tadi memang tepat!! kata seorang di antara para tokoh dari utara. ‘Memang Suling Emas merupakan seorang musuh besar kita bersama. Siapakah di antara kita yang belum pernah terganggu oleh Suling Emas, baik secara langsung mau pun tidak langsung? Dan jangan dilupakan Ratu Khitan! Wanita yang kini menjadi Ratu Khitan kabarnya masih sanak dekat Suling Emas, bahkan berhasil menjadi ratu karena bantuan Suling Emas. Kami mendengar pula bahwa ratu yang sampai kini tidak menikah itu adalah kekasih Suling Emas. Sungguh memalukan sekali, terutama terhadap bangsa Khitan yang menjadi kawan baik kami. Oleh karena itulah kami mengajukan Pak-sin-ong sebagai calon bengcu dan tugas kita pertama adalah mencari dan membunuh Suling Emas bersama teman-temannya, terutama sekali Ratu Khitan!!

Ramailah mereka menyebut dan menyumpahi nama-nama tokoh yang menjadi musuh mereka. Selain Suling Emas dan Ratu Khitan, juga ada yang menyebut-nyebut nama Yu Kang Tianglo yang mereka khawatirkan akan merupakan pimpinan para pengemis baju butut yang amat lihai. Disinggung pula nama Kam Bu Sin bersama isterinya Liu Hwee puteri ketua Beng-kauw yang kini berdiam di kota Heng-yang, sebuah kota yang terletak di lembah Sungai Mutiara di mana keduanya hidup rukun dan tenteram namun yang selalu tak pernah merupakan tugas mereka sebagai orang-orang gagah untuk melawan kejahatan. Masih banyak nama yang disebut dan dimusuhi oleh orang-orang golongan sesat ini, di antaranya disebut-sebut pemilik Ang-san-kok (Lembah Gunung Merah).

‘Paling penting lebih dulu memohon bengcu baru untuk menyerang Ratu Khitan.! seorang tokoh utara berkata, ‘Kalau kedudukan Ratu Khitan dapat dirampas, berarti golongan kita akan mendapatkan bantuan yang amat kuat, yaitu bangsa Khitan, sehingga tidak akan sukarlah membasmi yang lain-lain.!

‘Akan tetapi kabarnya ilmu kepandaian Ratu Khitan juga amat hebat!! bantah seorang lain. ‘Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya, akan tetapi aku mendengar bahwa biarpun usianya sudah empat puluh tahun lebih, namun ia masih cantik jelita seperti bidadari dan ilmu kepandaiannya amat dahsyat. Di sampingnya ada pula pembantunya yang setia, Panglima Besar Kayabu yang kabarnya juga lihai sekali.!

‘Uhh, lihai apa? Kayabu itu hanya mengandalkan ketampanan wajahnya sehingga ia menjadi seorang di antara kekasih Ratu Yalina yang gila lelaki!!

‘Masa..?!

‘Siapa membohong? Kekasihnya banyak, di antaranya Suling Emas, Kayabu dan boleh dibilang setiap orang muda bangsa Khitan tentu ditarik masuk ke istana untuk memuaskan nafsunya.!

‘Ah, benarkah itu..?! Orang-orang menjadi tertarik hatinya.

Orang yang bercerita itu membusungkan dadanya. Dia seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar, nampak amat kuat, mukanya dihias kumis dan jenggot lebat, sehingga wajahnya menjadi angker menakutkan.

‘Aku bukan hanya sudah menyaksikan dengan mata ini sendiri, bahkan sudah pula menikmati pelukannya yang hangat!! kata laki-laki ini. ‘Siapa yang tidak tahu bahwa aku pernah tinggal di Khitan dan menjadi kekasih Ratu Yalina sampai sepekan lebih?!

‘Wah, hebat sekali! Twako, agaknya dia suka kepadamu karena kau tinggi besar dan gagah!! kata seorang anggauta pengemis menggoda karena masih belum percaya benar.

‘Memang dia paling suka kepada laki-laki yang tinggi besar, terutama sekali yang jenggot dan kumisnya sebagus ini!! Laki-laki itu mengelus-elus jenggot dan kumisnya dengan bangga sambil melirik ke arah dua orang anggauta Siang-mou-tin yang tidak memilih dia.

‘Ceritakan..!!

‘Ya, ceritakan, Twako. Bagaimana ketika engkau menjadi kekasih Ratu Yalina?!

Orang-orang mendesak kepada Si Brewok ini untuk bercerita. Dua orang wanita anggauta Siang-mou-tin yang mendengar percakapan yang makin menjurus ke arah cabul dan kotor ini hanya tersenyum-senyum dan kadang-kadang terkekeh geli.

Si Brewok yang kini menjadi pusat perhatian, dengan bangga lalu melompat ke atas batu besar di tengah-tengah, memasang aksi dan berdehem beberapa kali sebelum mulai dengan ceritanya yang pasti menarik dan cabul. Akan tetapi pada saat itu, Si Brewok menjerit dan terjengkang roboh menggelinding turun dari atas batu besar. Ketika orang-orang datang menghampirinya, ternyata Si Brewok sudah tewas dan di lehernya menancap sebatang jarum hijau! Kagetlah semua orang dan pada saat itu, dari balik sebatang pohon muncul seorang gadis muda yang amat cantik. Gadis ini bukan lain adalah Kwi Lan! Secara kebetulan sekali, dalam perjalanannya menuju ke Khitan, Kwi Lan lewat di kaki Gunung Cheng-liong-san. Ia tertarik akan gerak-gerik dua orang anggauta Siang-mou-tin maka diam-diam ia mengikuti mereka naik ke puncak di mana ia melihat berkumpul banyak orang dari golongan sesat. Mula-mula ia hanya mengintai dan mendengarkan, sudah merasa kesal dan hendak pergi ketika tiba-tiba ia mendengar nama Ratu Khitan disebut-sebut. Ratu Khitan yang bernama Yalina, ibu kandungnya! Ia mendengarkan dengan hati berdebar. Ketika mendengar betapa Ratu Yalina dimusuhi, ia hanya mencibirkan bibirnya dan tidak mengambil peduli. Akan tetapi ketika muncul Si Brewok yang menghina Ratu Yalina, ia tak dapat menahan kemarahannya sehingga sebelum Si Brewok bicara yang bukan-bukan, ia sudah menyerangnya dengan sebatang jarum. Siapa kira Si Brewok itu hanya lihai mulutnya saja. Diserang satu kali telah roboh dan tewas!

Kwi Lan muncul dari tempat sembunyinya dan berkata lantang. ‘Aku tidak mencari permusuhan dengan siapapun juga. Akan tetapi mendengar monyet itu membual, benar-benar membikin orang menjadi muak dan tak dapat menahan tangan untuk tidak menghajarnya. Selamat tinggal!! Dengan enak saja Kwi Lan yang telah membunuh orang itu membalikkan tubuh hendak pergi dari situ.

Semua orang terkejut. Gadis cantik itu dapat bersembunyi di situ tanpa seorang pun di antara mereka tahu, hal ini sudah membuktikan kelihaiannya. Kemudian sekali turun tangan sudah membunuh Si Brewok, hal ini merupakan bukti ke dua. Semua orang menjadi kesima. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan seorang Khitan yang ikut dalam rombongan dari utara.

‘Itu dia perempuan iblis yang merampas kuda hitam Hek-liong-ma!! Orang Khitan ini telinga kanannya putus bekas sabetan pedang Siang-bhok-kiam di tangan Kwi Lan.

‘Benar, dia Si Gadis Siluman, murid iblis betina yang bernama Kam Sian Eng!! teriak seorang yang tangan kanannya buntung, mata kanannya buta dan hidungnya bengkok. Dia adalah seorang tokoh Hek-pang Kai-pang yang pernah mendapat hajaran Kam Sian Eng dan kini mengenal Kwi Lan.

‘Dia pengacau itu..!! beberapa orang Thian-liong-pang juga berseru.

‘Srr.. werr.. siuuuuttt..!! Hujan senjata rahasia menyerang Kwi Lan!

Gadis ini terkejut. Tak disangkanya bahwa ia akan bertemu banyak musuh di tempat ini. Cepat ia meloncat ke depan mengelak dari serangan hujan senjata rahasiaitu. ia menaksir bahwa jumlah lawannya ada seratus orang lebih dan dari sambaran senjata-senjata rahasia tadi tahulah ia bahwa di antara mereka terdapat banyak orang yang tak boleh dipandang ringan kepandaiannya. Ia tidak takut, tidak pernah mengenal takut. Akan tetapi Kwi Lan juga bukan seorang goblok yang mau menyia-nyiakan nyawanya, mati konyol dikeroyok begitu banyak lawan. Sambil tersenyum mengejek ia lalu mempergunakan kepandaiannya berlari cepat. Karena ia tidak mengenal daerah itu, ia lari ke kiri dan kebetulan sekali ia lari ke tempat kuda. Kuda-kuda tunggangan para pendatang ini dikumpulkan di suatu tempat yang banyak ditumbuhi rumput gemuk, dijaga oleh belasan orang anggauta rendahan.

Ketika Kwi Lan lari sampai ke tempat ini dikejar oleh puluhan orang dari belakang, ia melihat betapa di tempat kuda ini ternyata juga terjadi kekacauan. Belasan orang penjaga kuda sudah menggeletak malang-melintang di sekitar tempat itu sedangkan puluhan ekor kuda itu sudah terlepas semua! Terdengar bunyi cambuk meledak-ledak, membuat binatang-binatang itu menjadi makin panik, saling tabrak dan riuh rendah suara mereka meringkik-ringkik. Melihat kesempatan ini, Kwi Lan lalu melompat ke atas punggung seekor kuda tinggi besar, kemudian menyendal kendali kuda itu, membelok ke kanan lalu melarikan kuda.

Ributlah suara para pengejar ketika, menyaksikan kekacauan di tempat ini, apalagi ketika melihat betapa semua kuda mereka telah terlepas dan panik. Dalam keadaan seribut itu, mereka terhalang melakukan pengejaran, dan sibuk menenangkan kuda tunggangan mereka.

Kwi Lan membedal terus kudanya menuruni puncak. Ketika mendengar derap kaki banyak kuda mengejarnya, ia segera mempersiapkan jarum-jarumnya dan menoleh. Mau tidak mau ia tertawa sendiri melihat bahwa yang mengejarnya adalah kuda-kuda tanpa penunggang. Kiranya banyak kuda yang karena bingung lalu mengikuti saja kuda yang ditunggangi Kwi Lan. Gadis ini lalu menahan kudanya dan menghalau belasan ekor kuda yang mengikutinya itu sehingga mereka lari kacau-balau ketakutan.

Sambil tersenyum-senyum Kwi Lan melanjutkan perjalanannya. Senyum kepuasan menghias bibirnya. Ia telah berhasil merobohkan orang yang telah menghina ibu kandungnya. Biarpun ia belum pernah bertemu dengan ibu kandungnya dan belum pernah ada yang bercerita tentang ibunya, namun ia tidak percaya bahwa ibunya seorang berwatak rendah seperti dibualkan oleh Si Brewok tadi. Ia puas bahwa ia telah membunuh orang itu dan di samping ini telah mendapatkan seekor kuda tunggangan. Biarpun tidak sebaik kuda keturunan Hek-liong-ma yang hilang ketika ia dikeroyok bajak sungai anak buah Huang-ho Tai-ong, namun kuda ini juga seekor kuda yang baik. Agaknya tunggangan orang-orang utara tadi. Mereka itu jelas adalah orang-orang dari golongan sesat, maka Kwi Lan tidak merasa malu untuk merampas kuda mereka.

Akan tetapi, setelah melarikan kuda beberapa lama belum juga Kwi Lan berhasil turun dari Cheng-liong-san. Ia merasa heran dan bingung sekali. Sudah lama ia membalapkan kuda, naik turun dan membelok ke kanan kiri, namun ia hanya berputar-putar di sekitar lereng gunung. Ia memang berhasil melarikan diri dari para pengejarnya, namun ia tidak berhasil turun dari gunung!

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba dari jauh ia melihat seorang berpakaian pengemis duduk bersandar batang pohon. Pengemis itu agaknya kelelahan dan mengaso di tempat itu lalu tertidur karena hembusan angin gunung yang sejuk. Pengemis ini pakaiannya penuh tambalan, memegangi sebatang tongkat, sebuah buntalan besar terletak di dekatnya dan sebuah topi lebar menutupi seluruh mukanya. Topi lebar bundar yang butut dan tua, akan tetapi anehnya, setangkai bunga mawar yang merah segar berikut dua helai daunnya terselip menghias pita topi itu.



Bab 9

Kwi Lan menjadi ragu-ragu. Ingin ia bertanya kepada pengemis ini, menanyakan jalan turun. Akan tetapi siapa tahu kalau-kalau pengemis ini seorang di antara kaum sesat yang berkumpul di puncak tadi. Tentu akan sia-sia pertanyaannya. Kalau pengemis ini seorang di antara kaum sesat itu, tentu bukan percuma berada di situ. Mungkin sengaja menghadang dan kalau ia lewat, tentu akan turun tangan.

Kwi Lan sengaja memperlambat jalannya kuda ketika melewati pengemis yang duduk melenggut itu. Kudanya lewat dekat di depan Si Pengemis dan ia sudah siap waspada menjaga serangan. Namun pengemis itu tidak bergerak, seolah-olah tidak mendengar suara kaki kuda lewat di depannya. Kwi Lan lewat terus sampai agak jauh sambil menengok. Pengemis itu tetap tidak bergerak. Kalau begitu, tentu bukan seorang di antara kaum sesat, pikirnya. Tentu seorang pengemis tulen yang kelaparan dan kelelahan. Maka ia lalu memutar kembali kudanya dan meloncat turun dekat pengemis itu. Muka pengemis itu tidak tampak, tertutup topi lebar. Akan tetapi orang yang menjadi pengemis tentulah seorang tua yang sudah tidak kuat bekerja lagi dan hidup terlantar, pikirnya.

‘Paman pengemis!! tegurnya nyaring. ‘Harap kau bangun sebentar, aku ingin bertanya..!

Pengemis itu tersentak seperti orang kaget, lalu mengguman dan menggaruk belakang telinganya. Gerakan ini membuat topinya makin menunduk. Ketika ia mengangkat sedikit mukanya, yang tampak oleh Kwi Lan hanya sepasang mata mengintai dari bayang-bayang gelap di bawah topi.

‘Mau bertanya apa?! Suara pengemis itu lirih seperti orang kelaparan benar sehingga kehabisan tenaga.

‘Engkau tentu mengenal jalan di tempat ini, Paman tua, kautolonglah aku yang tidak tahu jalan. Tunjukkan padaku jalan menuruni lembah gunung ini.!

Sejenak pengemis itu tidak menjawab, melainkan memandang kuda yang dituntun Kwi Lan. Kemudian ia berkata, acuh tak acuh, ‘Jalan turun bisa ditempuh jalan kaki, tak mungkin berkuda. Dari sini maju kira-kira setengah li, di pinggir jalan terdapat sebuah batu besar berbentuk kepala burung. Di belakang batu itulah terdapat jalan setapak yang akan membawa orang turun ke bawah.! Setelah berkata demikian, pengemis itu kembali menundukkan mukanya dan agaknya ia sudah jatuh pulas lagi.

‘Terima kasih, Paman.! kata Kwi Lan akan tetapi pengemis itu tidak menjawab karena agaknya sudah tidur.

Huh, pemalas benar, pikir Kwi Lan. Akan tetapi tiba-tiba ia ingat seperti pernah melihat seorang pengemis semalas ini. Ketika ia mengingat-ingat, terbayanglah pengalamannya dalam rumah makan di dusun dekat markas besar Lu-liang-pai di mana ia bersama Siangkoan Li berpisah. Di rumah makan itu pun terdapat seorang pengemis yang terus menerus duduk melenggut, sama sekali tidak mempedulikan kehadirannya semenjak ia datang ke rumah itu sampai pergi lagi. Inikah orang itu? Melihat topi bututnya mungkin ini orangnya dan kalau betul, benar-benar aneh dan mencurigakan. Bagaimana bisa begitu kebetulan? Tadinya bertemu di Lu-liang-san, kini kembali bertemu di Cheng-liong-san. Di sana tidur, di sini pun tidur. Kalau pengemis ini begitu malas dan kerjanya hanya tidur, bagaimana bisa begitu cepat berada di sini? Biarlah, asal ia tidak menggangguku, pikir Kwi Lan. Musuh terlalu banyak di puncak itu dan tentu masih berusaha mencarinya. Tak perlu menambah lawan yang belumdiketahui kesalahannya. Ia lalu meloncat ke atas punggung kudanya lagi dan melarikan kuda ke depan.

Kurang lebih setengah li jauhnya, melihat sebuah batu besar yang bentuknya mirip kepala burung, ia berhenti. Benar saja seperti diceritakan pengemis tadi, ketika ia menyelinap ke belakang batu, tampak olehnya jalan menurun yang hanya tampak bekas tapak kaki saja. Jalan itu curam dan kecil sekali, turunnya harus berpegangan pada akar-akar dan batu. Tak mungkin dilalui oleh seekor kuda. Kalau begitu pengemis itu tidak bohong, dan tidak mempunyai niat buruk. Pada saat Kwi Lan hendak menuruni jalan setapak itu, tiba-tiba ia mendengar bentakan-bentakan keras di sebelahbelakang. Ia meloncat keluar lagi dari belakang batu untuk melihat, siap dengan pedangnya. Alangkah kaget dan herannya ketika dari jarak setengah li jauhnya ia dapat melihat betapa pengemis malas yang tadi duduk melenggut di bawah pohon, kini telah bertanding dikeroyok belasan orang banyaknya! Hebatnya, pengemis itu masih menutupi kepala dan mukanya dengan topi lebar butut, bahkan masih duduk melonjorkan kaki dan bersandar pada pohon, hanya tongkat di tangannya yang bergerak-gerak ke depan menangkis serangan senjata tajam belasan orang itu yang menyerangnya sambil membentak-bentak!

Kwi Lan tertarik sekali. Banyak sekali orang aneh di dunia ini dan agaknya pengemis malas itu pun seorang aneh. Ia menunda niatnya meninggalkan gunung ini dan karena kudanya tadi sudah ia lepas, ia lalu berlari kembali ke tempat pengemis itu dikeroyok. Ternyata kini setelah dekat bahwa belasan orang yang mengeroyok itu adalah pengemis-pengemis pula! Pengemis-pengemis baju bersih yang sudah beberapa kali bentrok dengan Kwi Lan.

‘Hayo mengakulah! Engkau dari golongan mana dan mengapa mengacau pertemuan di puncak Cheng-liong-san? Pakaianmu bersih, hal ini berarti bahwa engkau masih segolongan dengan kami, pengemis-pengemis pakaian bersih. Mengapa kau mengacau pertemuan yang diadakan Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang? Kau dari partai mana?!

‘Hemm, baju bersih badan kotor hati busuk, apa artinya? Orang-orang sesat, pergilah dan jangan menggangguku!! Pengemis itu berkata tak acuh, dan tongkatnya juga bergerak sembarangan menghadapi belasan batang tongkat, golok, dan pedang itu.

Kwi Lan yang kini sudah berdiri dekat memandang penuh perhatian dan ia menjadi kaget serta kagum sekali. Tongkat di tangan pengemis malas itu benar-benar hebat dan lihai bukan main. Memang behar bahwa belasan orang pengeroyok itu tidak berapa tinggi ilmu silatnya, namun karena belasan orang maju bersama maka cukup berbahaya. Apalagi kalau diingat bahwa pengemis malas itu melawan sambil duduk dan lebih-lebih lagi, mukanya ditutup topi butut. Akan tetapi begitu tongkat di tangan pengemis malas ini bergerak ke depan, berturut-turut belasan orang pengemis baju bersih itu roboh terguling dengan sambungan lutut terlepas karena totokan ujung tongkat yang dilakukan secara cepat dan tepat luar biasa!

Kini pengemis malas itu dengan gerakan sigap telah meloncat bangun, dan barulah tampak oleh Kwi Lan betapa tubuh pengemis ini jangkung dan tegap, namun mukanya tetap bersembunyi di balik topi butut. Sambil melintangkan tongkatnya dengan sikap penuh wibawa pengemis itu menghadapi para pengemis yang merintih-rintih dan mengurut-urut lutut mereka, lalu terdengar suaranya lantang berpengaruh, jauh bedanya dengan ketika bicara dengan Kwi Lan tadi.

‘Berani menjadi pengemis berarti berani menjauhkan diri dari pada perbuatan-perbuatan jahat, berani mengatasi kemiskinan dan kelaparan dengan jalan mengetuk hati nurani mereka yang mampu, berani mengekang diri melawan nafsu duniawi. Akan tetapi kalian menghadapi kemiskinan dengan perbuatan jahat. Kalau sudah begitu, mengapa masih memakai pakaian pengemis? Kalian hanyalah penjahat-penjahat yang menyamar sebagai pengemis, membikin kotor dunia pengemis dan sudah sepatutnya dibasmi. Kalau mau menjadi penjahat, jadilah penjahat yang berani bertanggung jawab, atau kalian mau jadi pengemis, jadilah pengemis yang baik. Mengapa berlaku seperti pengecut-pengecut yang hina-dina?!

Belasan orang pengemis yang menggeletak itu tidak menjawab, hanyalah memandang dengan mata melotot. Sebagai jawaban kata-kata itu, dari jauh terdengar bentakan-bentakan dan berbondong-bondong datanglah berlari-lari banyak orang yang bukan lain adalah orang-orang yang tadi berapat di puncak dan kini sudah datang mengejar. Jumlah mereka itu ada tiga puluh orang lebih!

Mendengar bentakan-bentakan mereka, pengemis aneh itu menggerakkan kepala memandang ke depan, kemudian ia menoleh kepada Kwi Lan dengan muka masih tersembunyi di balik topi. ‘Nona, mengapa engkau kembali? Pergilah turun gunung dan jangan kau melibatkan diri dengan orang-orang jahat itu.!

‘Dan engkau sendiri?! Kwi Lan bertanya.

‘Aku akan menghadapi mereka. Tongkatku masih cukup kuat untuk memberi hajaran tikus-tikus itu.!

‘Wah, enaknya! Engkau mau mencari enak sendiri, Paman jembel! Kalau tongkatmu kuat, apa kaukira pedangku kurang tajam? Kaulah yang boleh pergi, mereka itu mengejar aku, bukan mengejar engkau!! bantah Kwi Lan sambil mencabut Siang-bhok-kiam dari sarungnya. Melihat bahwa pedang gadis itu terbuat daripada kayu, pengemis itu tercengang, kentara dari sikapnya yang tiba-tiba tak bergerak. Topinya terangkat sedikit dan dari bayangan topi itu menyambar dua buah mata yang tajam sinarnya.

‘Ah, kiranya Nona seorang pendekar pedang yang lihai!!

Percakapan mereka terpaksa dihentikan karena para pengejar sudah tiba dekat. Yang tercepat larinya bahkan sudah tiba di depan pengemis itu dalam jarak empat lima meter. Mereka mengangkat senjata sambil membentak marah.

Akan tetapi pengemis itu dengan tenang namun cepat bukan main telah menggerakkan tangan kanannya ke arah topinya, meraih dan melemparkannya ke depan dengan gerakan kilat dan.. topi itu berpusing dan terbang menyambar mereka yang datang mengancam. Bagaikan hidup, topi itu terbang keliling dan kembali kepada pemiliknya setelah lebih dahulu mampir dan mencium dahi atau leher mereka yang mengejar paling depan. Terdengar teriakan-teriakan kaget dan kesakitan, disusul robohnya tubuh enam orang pengejar terdepan, roboh pingsan tak dapat bangun lagi!

Sejenak Kwi Lan bengong. Bukan karena melihat senjata rahasia topi yang aneh dan luar biasa itu karena ia maklum bahwa dengan pengerahan tenaga dalam, tidaklah sukar melempar topi yang pinggirannya lebar dan berbentuk bundar itu seperti tadi. Yang membuat ia bengong adalah ketika pengemis itu melepas topinya, maka tampaklah kepala dan muka seorang pengemis yang tampan dan gagah! Seorang pemuda yang paling banyak dua tiga tahun lebih tua daripadanya! Dan ia sudah menyebutnya paman tua! Akan tetapi ketika pengemis muda itu sudah mengenakan kembali topinya yang lebar sehingga mukanya yang tampan tertutup topi, Kwi Lan sadar dari keheranannya. Ia pun tidak mau kalah dan secepat kilat tangan kirinya bergerak melepas jarum-jarum halus. Kembali terdengar jerit kesakitan dan enam orang pengejar roboh.

‘Nona, mari kita pergi. Jumlah mereka amat banyak dan di antara mereka banyak terdapat orang pandai. Mari!!

Mereka berdua lari cepat dan sesampainya di batu berbentuk kepala burung, mereka lalu menuruni jalan setapak. Para pengejar yang belum roboh tidak berani mengejar setelah menyaksikan kelihaian dua orang muda itu. Mereka berdiri ragu-ragu, menanti rombongan pengejar lain yang lebih banyak sambil menolong teman-teman yang terluka.

Karena Kwi Lan dan pengemis aneh itu menggunakan gin-kang mereka, sebentar saja mereka berhasil menuruni Cheng-liong-san dan tak tampak atau terdengar lagi pengejar mereka. Mereka kini jalan berendeng menuju ke timur. Semenjak turun gunung tadi, tak pernah mereka membuka mulut dan baru setelah yakin bahwa mereka tidak dikejar, mereka tidak berlari lagi dan kini pengemis itu mengeluarkan suara.

‘Ah, untung bahwa tokoh-tokohnya belum hadir. Kalau iblis-iblis itu hadir, hemm.., berbahaya sekali!!

‘Kaumaksudkan tua-tua bangka yang mereka sebut-sebut tadi seperti Bu-tek Siu-lam, Thai-lek Kauw-ong, Jin-ciam Khoa-ong dan Siauw-bin Lo-mo? Ah, aku tidak takut! Justeru aku ingin sekali bertemu dengan mereka untuk melihat sampai di mana kelihaian mereka!! kata Kwi Lan.

Kini pengemis muda itu yang menoleh dan memandang terheran-heran. Saking herannya ia sampai lupa menyembunyikan muka seperti yang biasa ia lakukan. Kebetulan sekali Kwi Lan pun menoleh sehingga ia dapat melihat wajah pengemis itu dengan jelas. Wajah yang tampan dan gagah, masih muda namun sudah jelas tampak kematangan jiwa pada sinar mata dan tarikan mukanya.

‘Engkau seorang gadis yang aneh, Nona!!

‘Tidak seaneh engkau!! jawab Kwi Lan cepat. ‘Bukankah engkau ini pengemis malas yang pernah kulihat duduk dalam warung di lereng Lu-liang-san? Dan mengapa engkau sekarang berada di sini? Apakah engkau sengaja mengikuti perjalananku?!

Pengemis itu menggeleng kepala. ‘Tidak ada yang mengikuti, hanya kebetulan saja kita bertemu lagi di sini karena memang aku hendak menonton pertemuan kaum sesat di sini. Akan tetapi engkau.. justeru pertemuan di Lu-liang-san itu yang membuat aku keheranan dan mengatakan engkau seorang aneh, Nona. Kulihat engkau di sana bersama cucu ketua Thian-liong-pang, bersama seorang dari golongan hitam yang menentang para hwesio Lu-liang-pai. Aku sudah menyayangkan mengapa seorang dengan kepandaian seperti kau ini terjerumus kedalam pergaulan kaum sesat. Akan tetapi hari ini aku melihat engkau mengacau pertemuan kaum sesat dan memusuhi mereka, bahkan baru saja kau menantang-nantang terhadap empat orang tokoh besar mereka. Bukankah hal ini amat aneh sekali?!

‘Jadi tadinya kaukira aku ini seorang tokoh hitam pula?! tanya Kwi Lan sambil memandang marah.

‘Begitulah, karena kau datang bersama tokoh Thian-liong-pang dan menentang hwesio-hwesio Lu-liang-pai.!

‘Bukan, aku bukan tokoh golongan sesat.!

‘Itu aku percaya setelah menyaksikan sepak terjangmu di sini. Engkau tentu seorang pendekar pedang wanita yang sakti.!

‘Juga bukan. Aku bukan pendekar wanita dan bukan pula penjahat. Aku orang biasa saja. Tidak seperti engkau. Engkau tentu seorang tokoh kaipang (perkumpulan pengemis) yang terkenal. Agaknya engkau memimpin pengemis-pengemis baju kotor, bukan?!

Pengemis muda itu menghela napas panjang kemudian menggeleng kepala.

‘Aku juga bukan apa-apa, seperti engkau bahkan tidak ada orang yang mengenal siapa aku ini. Memang betul bahwa mendiang Ayahku adalah seorang tokoh besar dunia pengemis, akan tetapi sudah lama sekali sebelum aku lahir Ayahku telah mengundurkan diri dari dunia pengemis. Sebagai seorang pengemis, tentu saja Ayah hanya meninggalkan topi butut, tongkat lapuk, dan pakaian tambal-tambalan ini. Namun, melihat betapa dunia pengemis terancam malapetaka, terpaksa aku harus turun tangan mewakili mendiang Ayah. Karena itulah aku turun gunung dan bertemu dengan engkau di sini.!

‘Wah, kalau begitu Ayahmu tentu Yu Kang Tianglo!!

Pengemis muda itu terkejut. ‘Bagaimana kau bisa tahu?!

Kwi Lan tertawa dan wajah yang sudah cantik itu menjadi amat menarik. Ketawanya wajar, tidak ditutup-tutupi dan tidak malu-malu sehingga gadis itu memperlihatkan kecantikan yang aseli. Pengemis muda ini sejenak menjadi bengong, namun ia membuang pandang matanya dan menekan perasaannya.

‘Tentu saja aku tahu! Kau berilmu tinggi dan seorang pengemis, kau bilang Ayahmu tokoh besar dunia pengemis. Tentu pengemis golongan putih. Dan tadi, di antara musuh-musuh kaum sesat disebut-sebut nama Yu Kang Tianglo, siapa lagi kalau bukan Ayahmu.!

Diam-diam pemuda itu kagum sekali. Gadis ini lihai, lincah, wajar dan belum terusak tata susila palsu, Di samping ini, juga pemberani sekali dan cerdik. Teringatlah dia akan adegan di warung yang terletak di lereng Bukit Lu-liang-san. Pemuda Thian-liong-pang itu tampan sekali dan lihai. Pantas saja tergila-gila kepada gadis ini. Siapa orangnya yang takkan tergila-gila?

‘Betul sekali dugaanmu. Mendiang Ayahku adalah Yu Kang Tianglo. Namaku Siang Ki, Yu Siang Ki, pengemis muda sebatang kara, kalau saja Nona sudi mengetahui dan mengenalku.! Ia menjura dengan sikap hormat.

Kwi Lan membalas penghormatan itu sambil tertawa, ‘Ihh, kau lucu! Mengapa tidak suka berkenalan? Gerakan tongkatmu tadi hebat luar biasa, biarpun pakaianmu pakaian jembel, namun engkau bukan seorang kotor! Yu Siang Ki, namaku Kwi Lan, Kam Kwi Lan. Akan tetapi ada badut yang menyebutku Mutiara Hitam!!

Pengemis muda itu mengangkat muka memandang, sinar matanya penuh dugaan.

‘Engkau she Kam, Nona?!

‘Benar, kenapakah?!

‘Aih, tidak apa-apa, hanya.. mengapa begitu kebetulan? Eh, Nona Kwi Lan..!

‘Wah, kau menjemukan benar, menyebutku nona-nonaan segala! Semua orang yang menjadi sahabatku menyebutku Kwi Lan begitu saja atau.. Mutiara Hitam.!

‘Tapi aku.. bukan sahabat..!

‘Hemm, bagus, ya? Kalau tidak suka bersahabat, mengapa mengobrol sejak tadi? Engkau tak mau bersahabat? Nah, selamat berpisah!! Kwi Lan sudah membalikkan tubuh hendak pergi.

‘Eh.., maaf, bukan begitu maksudku. Aku.. tadinya merasa terlalu rendah menjadi sahabatmu, tapi.. baiklah, Kwi Lan, jangan kau marah-marah. Mengapa kau begini gampang marah?!

Kwi Lan tertawa! ‘Memang aku gampang marah gampang gembira! Nah, sekarang lanjutkan, kalau aku she Kam, mengapa kebetulan?!

‘Shemu mengingatkan aku akan seorang yang kujunjung tinggi, seorang pendekar sakti yang selain menjadi sahabat baik mendiang Ayahku, juga menjadi tokoh besar dunia kang-ouw yang tadi pun disebut-sebut oleh mereka sebagai musuh nomor satu. Dia adalah Suling Emas!!

‘Eh, dia she Kam?!

Siang Ki mengangguk. ‘Menurut penuturan Ayahku, Suling Emas bernama Kam Bu Song, Kwi Lan, melihat keadaanmu yang luar biasa, ilmu kepandaianmu yang lihai, dan shemu Kam, siapa yang takkan menghubungkan engkau dengan Suling Emas? Apakah engkau puterinya? Ataukah keponakannya?!

Kwi Lan menggeleng kepala, mukanya membayangkan kekecewaan. Kalau saja benar demikian, bahwa dia puteri seorang sakti seperti Suling Emas, alangkah akan menyenangkan dan membanggakan! Akan tetapi kenyataannya bukan demikian. Dia puteri Ratu Khitan, dia seorang Khitan yang dianggap bangsa liar!

‘Bukan, aku bahkan sama sekali tidak kenal dan tidak pernah melihat bagaimana macamnya Suling Emas.!

‘Ah, sayang sekali. Alangkah akan senang hatiku andaikata engkau benar-benar puterinya, karena aku pun sedang mencarinya. Aku sendiri pun belum pernah berjumpa dengan Suling Emas, akan tetapi Ayah berpesan bahwa dalam usahaku membersihkan dunia pengemis dari oknum-oknum jahat, sebaiknya aku mohon pertolongan Suling Emas. Bolehkah aku mengetahui siapa orang tuamu?!

Mereka tiba di depan sebuah anak sungai yang amat jernih airnya. Hutan kecil di kaki Gunung Cheng-liong-san itu amat indah dan sunyi. Bunyi air mengalir di antara batu-batu menjadi dendang yang aneh namun merdu. Kwi Lan lalu duduk di tepi sungai, di atas batu yang halus licin. Yu Siang Ki menanggalkan topinya dan mengebut-ngebutkan topi ke arah leher. Sejuk dan nyaman sekali duduk di tepi anak sungai itu.

‘Aku sendiri tidak tahu siapa orang tuaku.! kata Kwi Lan sambil memandang air dengan pandang mata melamun. ‘Semenjak aku masih bayi, aku dirawat Guruku.!

Yu Siang Ki menmmandang dengan hati iba. Dia sendiri sudah tidak punya ayah dan ibu, akan tetapi sedikitnya ia sudah menikmati hidup di samping orang tuanya. Gadis ini sama sekali tidak tahu siapa ayah bundanya, seorang gadis yang patut dikasihani.

‘Ah, Gurumu tentulah seorang sakti yang luar biasa. Siapakah julukannya yang mulia?!

‘Guruku tidak mempunyai julukan apa-apa, selamanya menyembunyikan diri, dan aku hanya mengenalnya sebagai Bibi Sian. ilmu kepandaiannya memang luar biasa hebatnya, akan tetapi dia orang biasa saja.! Kwi Lan memang sengaja tidak mau menyebut nama bibinya karena bibinya adalah seorang aneh yang tidak suka dikenal namanya. Juga ia tidak mau menimbulkan keheranan lagi kepada pengemis muda ini dengan memberitahukan bahwa bibi atau gurunya itu pun she Kam!

Yu Siang Ki menarik napas panjang. ‘Memang banyak orang sakti aneh di dunia ini yang mengasingkan diri tidak mencampuri urusan dunia ramai. Gurumu tentu seorang di antara mereka dan melihat kepandaianmu, tentu Gurumu seorang yang amat pandai.!

Kwi Lan tertawa. ‘Yu Siang Ki, engkau belum pernah bertanding denganku, belum pernah melihat kepandaianku, akan tetapi sudah berkali-kali memuji! Guruku memang lihai, akan tetapi tidaklah terlalu aneh. Orang-orang sakti seperti Pak-kek Sian-ong dan Lang-kek Sian-ong itu barulah patut disebut orang-orang sakti dan aneh luar biasa.!

Siang Ki terkejut dan cepat menatap wajah gadis itu dengan penuh perhatian. ‘Apa? Engkau pernah berjumpa dengan kedua Locianpwe itu? Mengenal mereka?!

Kwi Lan mencibirkan bibirnya. Hatinya masih mengkal kalau ia teringat kepada dua orang kakek itu, menganggap mereka itu keterlaluan sekali sikapnya terhadap Siangkoan Li, ‘Tentu saja aku sudah pernah bertemu dengan dua orang tua bangka seperti monyet!!

‘Aiihhh.. Kwi Lan, bagaimana engkau berani..?!

‘Memaki mereka monyet? Di depan mereka pun aku berani memaki-maki mereka. Boleh jadi mereka lihai dan aneh, akan tetapi mereka itu layak dimaki, dan seandainya aku memiliki ilmu kepandaian seperti Bu Kek Siansu, tentu mereka berdua itu sudah kuberi pukulan seorang satu sampai kapok!!

Kini Siang Ki memandang bengong. Makin lama makin mengherankan gadis ini! ‘Kau.. kau pernah berjumpa pula dengan.. dengan Bu Kek Siansu?!

Kwi Lan mengangguk, bangga melihat keheranan pengemis muda ini.

Tanpa disadarinva, Siang Ki memegang lengan gadis itu erat-erat dan dengan penuh gairah ia bertanya. ‘Benarkah itu, Kwi Lan? Benarkah ada manusia dewa itu? Aku hanya mendengar namanya seperti dongeng yang diceritakan Ayah!!

‘Mengapa aku berbohong? Aku sudah melihatnya, dan memang kakek tua renta itu lihai dan aneh akan tetapi juga goblok!!

Kali ini sepasang mata Siang Ki memandangi muka Kwi Lan dengan penuh curiga dan keraguan. Gadis ini berani memaki Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, hal itu sudah merupakan sesuatu yang tak masuk akal dan terlalu luar biasa karena sebagian besar orang kangouw, menyebut nama dua orang kakek ini pun dengan berbisik-bisik. Akan tetapi sekarang gadis ini tidak hanya berani memaki mereka, bahkan berani mengatakan bahwa Bu Kek Siansu goblok! Ini sudah keterlaluan sekali. Nama Bu Kek Siansu sudah disanjung-sanjung oleh semua pendekar, dianggap guru besar yang setarap dengan Tat Mo Couwsu dan juga disegani, semua tokoh dunia hitam, dianggap seperti manusia dewa yang entah sudah berapa ratus tahun usianya. Akan tetapi gadis ini menyebutnya goblok! Kalau tidak mendengar dengan kedua telinganya sendiri, tak mau Siang Ki mempercayai hal ini.

‘Kwi Lan, maukah engkau menceritakan kepadaku tentang perjumpaanmu dengan tiga orang kakek sakti itu?! Dengan penuh gairah pemuda ini berkata sehingga membangkitkan semangat Kwi Lan untuk menceritakan pengalamannya bersama Siangkoan Li.

Ketika mendengar penuturan itu, Yu Siang Ki menghela napas panjang dan berulang kali ia mengangguk. ‘Ah, kalau begitu keliru persangkaanku. Patut dikasihani keadaan Siangkoan Li dan biarlah kelak aku akan membantunya jika keadaan mengijinkan. Keadaan antara dia dan aku banyak persamaannya. Dia bertugas membangun dan membersihkan Thian-liong-pang sedangkan aku harus membangun kembali dan membersihkan Khong-sim Kai-pang dan kaum pengemis. Kalau benar seperti yang kauceritakan bahwa kedua orang Sian-ong itu sudah ditundukkan dan berjanji kepada Bu Kek Siansu untuk memihak kebenaran, kita boleh bernapas lega, Kwi Lan. Hanya orang-orang seperti mereka itulah yang kelak akan sanggup membendung datangnya iblis-iblis jahat yang akan menguasai dunia persilatan.!

‘Yu Siang Ki, aku sudah terlalu banyak bercerita. Sekarang kauceritakanlah pengalamanmu, tentang Ayahmu yang terkenal itu dan tentang kau sendiri.!

Memang begitu berjumpa, Yu Siang Ki merasa suka dan cocok sekali dengan gadis yang wajar dan polos ini. Apalagi ketika mengetahui bahwa Kwi Lan she Kam, biarpun tidak ada hubungan dengan Kam Bu Song si Suling Emas, namun persamaan she ini saja sudah menambah rasa suka di hatinya karena semenjak kecil memang Siang Ki sudah memuja nama Suling Emas yang dipuji-puji selalu oleh ayahnya. Kini mendengar permintaan gadis ini tanpa ragu-ragu lagi ia lalu bercerita.

Yu Kan Tianglo adalah seorang tokoh partai pengemis Khong-sim Kai-pang. Ia putera Ketua Khong-sim Kai-pang akan tetapi semenjak kecil menghilang dan mempelajari Ilmu silat tinggi. Setelah berusia tiga puluh tahun ia muncul dan mencari musuh besar yang membunuh ayahnya, yaitu seorang di antara Thian-te Liok-kwi yang menjadi raja pengemis, It-gan Kai-ong. Di dalam usahanya yang amat sukar ini karena It-gan Kai-ong memiliki kesaktian yang hebat, ia mendapat bantuan Suling Emas sehingga akhirnya berhasil membunuh tokoh iblis itu.

Semenjak itu, Yu Kang Tianglo tidak pernah lagi muncul di dunia kang-ouw. Biarpun secara diam-diam ia masih suka kadang-kadang mengadakan hubungan dengan para pimpinan kai-pang, namun ia sendiri mengasingkan diri dan beberapa tahun kemudian menikah dengan puteri seorang sahabatnya, juga seorang pendekar silat yang mengasingkan diri. Dari pernikahan ini lahirlah Yu Siang Ki. Akan tetapi sungguh malang nasib Yu Kang Tianglo, ketika melahirkan, isterinya meninggal dunia. Hal ini terjadi karena tempat tinggal mereka yang menyendiri di lereng Bukit Thai-hang-san, jauh tetangga sehingga pada saat melahirkan. Yu Kang Tianglo sendiri tidak berada. di rumah, sedang pergi mencari pembantu. Ketika ia pulang ke pondok bersama seorang wanita yang biasa membantu orang melahirkan, isterinya telah menggeletak tak bernyawa di samping seorang bayi yang menangis keras. Isterinya mati karena kehabisan darah!

Yu Kang Tianglo hidup dengan hati mengandung kedukaanbesar. Ia makin tak mau lagi muncul di dunia ramai. Hidupnya dlcurahkan untuk merawat dan mendidik Siang Ki sehingga ketika pemuda ini, berusia dua puluh tahun, ia telah mewarisi semua kepandaian ayahnya! Betapapun juga, Yu Kang Tianglo tak pernah mau mengingkari asal-usulnya sebagai putera kai-pang (perkumpulan pengemis) sehingga bukan hanya dia, bahkan puteranya pun semenjak kecil diharuskan memakai pakaian yang dihias tambal-tambalan seperti pakaian pengemis.

‘Demikianlah, Kwi Lan. Ketika Ayah mendengar bahwa dunia pengemis kembali rusak dan terancam hebat oleh tokoh-tokoh sesat sehingga banyak pengemis dibawa menyeleweng, Ayah menjadi kaget dan marah sekali. Hal ini sungguh menjadi malapetaka karena jantung Ayah yang selalu lemah dan sakit-sakit semenjak ibu meninggal dunia, mendapat serangan yang membawa Ayah meninggal dunia pula. Ayah hanya berpesan agar aku mewakili Ayah untuk menolong kaum pengemis, terutama sekali Khong-sim Kai-pang.!

Kwi Lan mendengarkan penuturan itu dengan hati penuh iba. Kiranya pemuda ini juga bernasib buruk di waktu kecilnya, tidak ada bedanya dengan Tang Hauw Lam maupun Siangkoan Li. Semenjak kecil sudah dirundung malang dan kini hidup sebatang kara di dunia.

‘Saudara Siang Ki, karena engkau selalu melakukan perantuan di dunia kang-ouw, kulihat engkau mengenal semua tokoh kang-ouw yang sakti-sakti dari golongan hitam maupun putih. Karena Ayahmu adalah sahabat baik pendekar sakti Suling Emas, tentu engkau tahu baik tentang riwayat pendekar itu.!

‘Aku hanya mendengar dari penuturan mendiang Ayah. Biarpun hatiku amat kepingin, namun belum pernah aku mendapat kehormatan berjumpa dengan pendekar itu.!

‘Dalam percakapan kaum sesat di puncak Cheng-liong-san tadi, aku mendengar mereka menyebut-nyebut nama Ratu Khitan yang katanya masih sanak dekat dengan Suling Emas, bahkan katanya menjadi.. eh, kekasihnya. Tahukah engkau akan hal itu?!

Yu Siang Ki menggeleng kepalanya. ‘Ayah tidak tahu akan hal itu. Aku pun tidak tahu benar. Yang kutahu bahwa Ratu Khitan kabarnya juga memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, dan aku pernah mendengar pula dari luaran bahwa ratu itu dahulu menjadi adik angkat Suling Emas. Tentang hubungan asmara di antara mereka, aku tidak tahu. Yang pasti, sampai sekarang Suling Emas tidak pernah menikah, juga Ratu Khitan yang kabarnya cantik jelita itu sampai sekarang tak pernah menikah.!

Berdebar jantung Kwi Lan. Berdebar dan merasa tidak enak. Menurut kata Bibi Sian gurunya, dia adalah puteri Khitan. Kalau Ratu Khitan tidak pernah menikah, bagaimana ia bisa menjadi puterinya? Siapakah ayahnya?

‘Ah, bagaimana mungkin seorang ratu tidak menikah?! Ia pura-pura merasa heran dan bertanya. ‘Bukankah seorang raja atau ratu itu membutuhkan keturunan untuk kelak diwarisi tahta kerajaan?!

Yu Siang Ki mengangguk-angguk. ‘Aku tidak tahu mengapa Ratu Khitan yang terkenal itu tidak menikah. Akan tetapi aku mendengar dari para pedagang keliling yang seringkali mengembara ke Khitan bahwa sesungguhnya ia tidak menikah namun Ratu Khitan mempunyai seorang putera angkat. Agaknya putera angkatnya itu pun telah mewarisi kepandaian ibunya. Namanya Pangeran Talibu, dan sudah beberapa kali pangeran itu mengadakan perjalanan ke selatan. Ilmu silatnya tinggi, orangnya tampan bukan main dan sebentar saja namanya pun terkenal sebagai seorang yang tangguh.!

Makin tidak nyaman rasa hati Kwi Lan. Kalau benar seperti yang dituturkan gurunya secara singkat sekali bahwa dia puteri Ratu Khitan mengapa ia sejak kecil ikut Bibi Sian? Mengapa Ibu kandungnya sendiri tidak merawat dan mendidiknya, bahkan mengangkat seorang putera? Apakah karena aku perempuan? Makin penasaran rasa hati Kwi Lan sehingga tampak mukanya kemerahan, matanya menyinarkan api kemarahan.

‘Kau kenapakah?! Siang Ki yang berpemandangan tajam itu menegurnya.

‘Tidak apa-apa. Tahukah kau di mana aku bisa bertemu dengan Suling Emas?!

Siang Ki makin terheran. ‘Kau tadi bilang bahwa kau tidak mempunyai hubungan dengan Suling Emas, mengapa sekarang hendak bertemu dengannya?!

Kwi Lan sudah dapat menekan perasaannya. Ia tersenyum dan menjawab. ‘Puji-pujian yang kudengar mendorong hatiku untuk melihat bagaimana macamnya pendekar besar itu. Di manakah dia berada sekarang?!

‘Aku sendiri pun mencari-carinya, Kwi Lan. Tidak mudah mencari seorang tokoh penuh rahasia seperti Suling Emas. Aku hendak pergi ke Kang-hu mengunjungi pusat dari Khong-sim Kai-pang. Setelah aku memperkenalkan diri, kiranya para tokoh Khong-sim Kai-pang ada yang tahu di mana adanya Suling Emas yang merupakan sahabat baik itu.!

Hati Kwi Lan kecewa mendengar bahwa pemuda yang luas pengalamannya ini pun tidak tahu di mana adanya Suling Emas. Ia harus bertemu dengan Suling Emas. Harus ia tanyai pendekar itu tentang ibu kandungnya. Kalau memang betul bahwa ibu kandungnya itu seorang wanita tak tahu malu seperti yang dibicarakan oleh para kaum sesat, ia tidak usah melanjutkan keinginan hatinya pergi menemui ibunya itu. Di samping ini, ia pun tertarik untuk menyaksikan bagaimana keadaan perkumpulan pengemis golongan putih yang menjadi musuh pengemis-pengemis golongan hitam. Ingin ia bertemu dengan tokoh-tokoh dan pendekar-pendekar besar yang ia percaya tentu akan ia jumpai kalau ia mengikuti pengemis muda ini.

‘Aku ikut!! Tiba-tiba ia berkata. Siang Ki memandang, terkejut. ‘Apa maksudmu? Ikut..?!

‘Ya, aku ikut bersamamu dengan harapan agar kau dan Khong-sim Kai-pang akan dapat membantuku mempertemukan dengan Suling Emas. Atau.. barangkali engkau tidak suka mengajak aku.!

Sepasang mata gadis itu memandang penuh selidik, bahkan mengandung tantangan. Mau tidak mau Siang Ki tersenyum. Gadis ini benar lincah dan wajar, aseli danmenyenangkan. Ia mengangguk dan berkata lirih.

‘Bukan aku yang tidak suka melakukan perjalanan bersamamu, Kwi Lan. Sebaliknya aku bersangsi apakah engkau akan betah melakukan perjalanan di samping seorang pengemis sehingga derajatmu terseret turun dan dipandang rendah serta dihina orang.!

‘Karena kau seorang yang berpakaian pengemis? Huh, hendak kulihat siapa berani menghinaku kalau aku berjalan bersamamu! Mengukur manusia bukan dari pakaiannya, bukan pula dari kata-katanya, melainkan dari perbuatannya! Hal ini kuketahui benar setelah merantau.!

Pengemis muda itu memandang dengan wajah berseri dan mulut tersenyum. ‘Dan engkau akan masih belajar banyak, Kwi Lan, dan akan mendapatkan kenyataan-kenyataan yang banyak pula. Hidup ini belajar dan sebelum mati, takkan pernah habis hal-hal yang perlu kita pelajari. Nah, mari kita berangkat ke kota Kang-hu.!

Demikianlah, untuk ke tiga kalinya Kwi Lan melakukan perjalanan bersama seorang pengemis tampan yang lihai dan sifatnya jauh lagi bedanya dengan dua orang pemuda yang pernah dikenalnya. Kalau Tang Hauw Lam pemuda berandalan yang selalu riang gembira itu memandang hidup dari segi yang lucu dan menggembirakan, sedangkan Siangkoan Li memandang hidup dari segi yang penuh kedukaan, kekecewaan dan penuh perjuangan, adalah pemuda ke tiga ini seorang pemuda yang sikapnya seperti orang tua, sudah masak, berpemandangan luas banyak pengalaman hidup dan memandang dunia dengan sepasang mata yang penuh pengertian. Tiga orang pemuda yang ketiganya sama lihai, entah mana yang paling tinggi ilmunya, dan yang memiliki sifat-sifat menarik dan baik masing-masing. Tiga pemuda perkasa yang begitu berjumpa dengan Kwi Lan telah memperlihatkan rasa suka dan sayang!

***

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Suling Emas, semenjak dalam buku jilid pertama. Dua orang tokoh pengemis Khong-sim Kai-pang yang bernama Gaklokai dan Ciam-lokai, dengan penuh keyakinan mengira bahwa Suling Emas adalah Yu Kang Tianglo dan mohon kepada ‘Yu Kang Tianglo! ini untuk menolong kaum pengemis yang terancam keselamatannya oleh kaum sesat. Setelah mendengar permintaan mereka berdua, akhirnya Suling Emas menyanggupi untuk datang ke Kang-hu mengunjungi Khong-sim Kai-pang sebagai Yu Kang Tianglo!

Ada dua hal yang menyebabkan Suling Emas menerima permintaan ini. Pertama karena mengingat akan persahabatannya dengan Yu Kang Tianglo sehingga ia ingin sekali menyelamatkan Khong-sim Kai-pang dari tangan orang-orang sesat. ke dua, karena ia sedang dikejar-kejar oleh para orang-orang suruhan Ratu Yalina dari Khitan yang minta kepadanya untuk datang ke Khitan. Hatinya ingin sekali pergi ke Khitan melepaskan rindu terhadap kekasihnya, Lin Lin atau Ratu Yalina, akan tetapi keinginan ini ia tekan dengan anggapan bahwa kepergiannya ke Khitan berarti merendahkan derajat ratu yang di junjung tinggi oleh bangsa Khitan itu. Tidak, ia harus berkorban. Dengan menyamar menjadi Yu Kang Tianglo dan menutupi mukanya dengan saputangan, tentu akan membebaskannya daripada pengejaran orang-orang Khitan itu.

Karena kini menghadapi sebuah tugas yang penting, maka hati dan pikiran Suling Emas tidak lagi terlalu ditekan oleh kenang-kenangan pahit sehingga tubuhnya menjadi lebih segar dan bersemangat. Memang tubuh pendekar sakti ini sudah amat kuat dan kebal terhadap segala penderitaan. Hanya kalau terlalu merana hatinya, teringat akan kegagalan-kegagalan cinta kasih yang meremukkan jiwanya, maka jantungnya menjadi tidak kuat dan ia suka terbatuk-batuk. Akan tetapi sekali ia sudah dapat mengatasi kedukaan lni, tubuhnya menjadi sehat kembali.

Kuda merah kurus yang menjadi kawan satu-satunya dan menjadi kuda tunggangannya yang setia, berjalan perlahan. Setelah tiba di depan pintu gerbang kota Kang-hu sebelah barat, Suling Emas menarik napas panjang. Entah sudah berapa belas tahun ia tak pernah lewat kota ini yang dahulu dikenalnya amat baik. Ia menaikkan saputangan menutupi mukanya, menundukkan topi bututnya menyembunyikan muka dan melanjutkan perjalanan. Untuk pergi ke kuil yang menjadi markas besar perkumpulan pengemis, Khong-sim Kai-pang, ia harus memasuki kota Kang-hu dan keluar lagi dari kota itu melalui pintu sebelah timur karena kuil itu berada di luar kota sebelah timur.

Kota Kang-hu tidak ada perubahan. Bangunan-bangunannya, toko-tokonya, masih seperti dulu saja. Namun ia tahu bahwa penduduknya sudah berubah. Orang-orang muda yang dahulu telah menjadi tua, seperti dia. Pekerjaan orang-orang tua sudah diganti yang muda, yang dahulu masih kanak-kanak atau bahkan belum terlahir. Oleh karena penggantian satu generasi ini, maka Suling Emas melihat betapa ia tidak mengenal seorang pun di antara orang-orang yang lalu-lalang atau berada di dalam warung dan toko. Maka hatinya menjadi lega dan ia melepas saputangan yang menutupi mukanya. Hanya kalau perlu saja, agar jangan dikenal orang, ia menutupi mukanya. Kalau memang tidak ada yang mengenalnya, ia tidak perlu menutupi mukanya karena hal ini malah akan menimbulkan kecurigaan.

Seorang laki-laki tua di atas kuda kurus dan buruk bukanlah penglihatan yang aneh di kota itu, maka tak seorang pun memperhatikan Suling Emas. Semua orang menganggap dia ini seorang petani tua miskin yang mungkin hendak mencari sanaknya di kota atau hendak berbelanja.

Ketika tiba di sebuah jalan simpang tiga di dekat pintu gerbang timur, Suling Emas menghentikan kudanya di depan sebuah warung. Ia teringat bahwa warung ini dahulu amat terkenal dengan masakan bakminya yang lezat dan murah. Perutnya memang sudah lapar maka ia ingin makan di mi warung ini. Seperti yang telah diduganya, juga penjaga kedai bakmi ini sudah terganti orang lain semua. Akan tetapi meja-mejanya masih seperti dahulu, menjadi hitam mengkilap saking tuanya dan setiap hari terkena minyak. Dengan hati lega Suling Emas mengambil tempat duduk di sudut menghadap ke pintu masuk. Senang juga melihat betapa dugaannya tepat, kedai bakmi itu masih dikunjungi banyak tamu karena bakminya. Buktinya, belasan orang tamu yang memenuhi tempat itu semua menggerakkan sumpit makan bakmi!

Ia memesan bakmi dan arak, kemudian makan dengan enaknya. Betapapun juga, karena ia berada dekat markas Khong-sim Kai-pang dan maklum bahwa mulai dari kota inilah ia akan menghadapi hal-hal yang pelik, Suling Emas memasang mata dengan waspada. Ia sengaja tidak menurunkan topi bututnya dan mengintai dari balik topinya sambil makan bakmi dan minum arak. Tidak ada sesuatu yang ganjil di antara para tamu yang makan bakmi. Hanya di sudut kanan ada tiga orang laki-laki berpakaian seperti ahli-ahli silat, agaknya mereka ini adalah piauwsu-piauwsu (pengantar kiriman) yang lewat di Kang-hu dan makan di kedai ini. Yang seorang sudah berusia lima puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus dengan muka merah. Yang dua orang adalah pemuda-pemuda berusia dua puluh lima tahun, bersikap gagah dan hormat terhadap yang tua itu. Di pinggang mereka tampak gagang pedang. Melihat sikap mereka itu tidak sombong dan bicara dengan sopan dan perlahan. Suling Emas tahu bahwa mereka ini adalah orang baik-baik. Logat bicara mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang selatan.

Setelah habis semangkok bakmi, Suling Emas minta semangkok lagi. Perutnya amat leper, sudah dua hari ia tidak makan. Juga ia minta tambah arak. Pelayan kedai curiga. Orang tua ini pelahap benar, dan pakaiannya seperti pengemis, atau paling hebat juga seorang dusun yang miskin.

‘Lopek harap bayar dulu,! kata Si Pelayan dengan suara perlahan. Kalau sampai orang ini terlalu banyak makan minum kemudian tidak dapat membayarnya, dia juga tidak terlepas dari tanggung jawab dan selain mendapat teguran, sedikitnya ia harus menanggung separoh harga makanan dan minuman itu!

Suling Emas tersenyum. Ia dihina, akan tetapi ia maklum mengapa pelayan mencurigainya. Ia tidak merasa terhina karena ia tahu akan dasar sikap pelayan itu. Tanpa berkata sesuatu ia mengeluarken sepotong perak dan memberikannya kepada Si Pelayan. Melihat perak ini yang cukup besar, Si Pelayan mengubah sikap membungkuk-bungkuk dan berkata, ‘Biar nanti sajalah, Lopek. Saya ambilkan tambahanmu.! Si Pelayan pergi dan Suling Emas menyimpan peraknya sambil tersenyum pula. Semenjak ia muda dahulu sampai sekarang, generasi telah berganti namun watak manusia masih sama saja. Hidup manusia sudah tidak sewajarnya lagi. Hati dan pikiran manusia diselubungi hawa keduniaan sehingga orang mempercaya orang lain bukan berdasarkan pribadinya namun berdasarkan harta dan kedudukannya. Orang menghormat orang lain bukan berdasarkan sikap pribadinya melainkan berdasarkan bagusnya pakaian dan padatnya kantung. Manusia sudah tidak dapat menguasai dirinya sendiri yang sudah sepenuhnya dikuasai harta benda dan kedudukan. Manusia hanyalah abdi-abdi nafsu kesenangan yang amat lemah dan menyedihkan!

Ketika pelayan itu membawa bakmi dan arak tambahan yang dipesannya, tiba-tiba terdengar ribut-ribut di pintu kedai. Si Pelayan menoleh dan ketika ia melihat dua orang pengemis di pintu itu yang marah-marah dan memaki-maki, ia cepat-cepat lari ke dalam dengan muka pucat. Suling Emas menoleh dan diam-diam ia terkejut ketika melihat dua orang pengemis setengah tua yang berdiri di depan pintu itu. Dua orang pengemis ini menaruh tangan kiri di atas dada sedangkan tangan kanan membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuk di atas kepala. Itulah tanda bahwa mereka berdua adalah anggauta-anggauta Khong-sim Kai-pang! Mau apakah dua orang Khong-sim Kai-pang datang ke kedai ini dengan sikap demikian aneh?

‘Mana pemilik kedai? Hayo lekas keluar!! bentak seorang di antara mereka dengan suara galak. Kini mereka sudah menurunkan kedua tangan, memegang tongkat yang tadi mereka kempit. Tak lepas dari pandang mata Suling Emas betapa para tamu kelihatan gelisah melihat dua orang pengemis ini, seperti takut-takut. Sejak kapankah anggauta-anggauta Khong-sim Kai-pang bersikap galak seperti ini dan ditakuti orang?

Dari dalam kedai berlari-lari keluar seorang berjubah hitam panjang, tubuhnya kecil kurus dan kumisnya panjang sampai ke dagunya. Jelas tampak orang ini ketakutan, sambil membungkuk-bungkuk dan memaksa senyum sehingga tampak giginya yang hitam karena tembakau ia menghampiri dua orang pengemis itu sambil berkata, ‘Ah, kiranya Ji-wi dari Khong-sim Kai-pang! Silakan duduk!!

‘Tak usah banyak jual omongan manis. Kami datang bukan menghendaki bakmimu yang busuk dan arakmu yang bau! Engkau Lai Keng pemilik kedai ini?!

Be.. betul.., ada apakah, Taihiap..?!

Diam-diam Suling Emas geli juga mendengar, Si Pemilik Kedai menyebut Taihiap (Pendekar Besar) kepada anggauta Khong-sim Kai-pang itu.

‘Huh, engkau benar-benar memandang rendah kepada kami, ya? Ketika kemarin seorang anggauta rendahan kami datang minta derma sepuluh tail, kenapa hanya kauberi uang kecil? Engkau berani menghina kami?!

‘Ah, tidak sama sekali.., mana saya berani? Ketahuilah, harap Ji-wi suka mempertimbangkan. Perdagangan sekarang sepi, dan pula keuntungannya habis dipakai bayar pajak pemerintah, bagaimana saya sanggup menderma sepuluh tail perak? Harap Ji-wi sudi mempertimbangkan..!

‘Tidak laku, ya? Sepi kau bilang? Begini banyak tamu kau bilang sepi!! bentak pengemis ke dua.

‘Benar, ada juga yang datang berbelanja namun keuntungannya tipis sekali..!

‘Banyak alasan! Kalau kaunaikkan harganya setiap mangkuk, bukankah kau mendapatkan banyak untung dan tidak berat menyumbang sepuluh tail? Pendeknya, tak usah banyak cerewet. Kami Khong-sim Kai-pang bukannya orang-orang yang boleh dihina. Kalau kau sekarang tidak mengeluarkan sepuluh tail, jangan harap kau akan dapat membuka lagi kedaimu ini!! Sambil berkata demikian, seorang di antara para pengemis itu menggerakkan tongkatnya ke bawah dan.. ‘ceppp..!! tongkat itu amblas masuk ke dalam lantai sampai setengahnya lebih!

Si Pemillk Kedai menjadi pucat wajahnya dan tubuhnya menggigil. Dengan suara bercampur isak ia berkata, ‘Kalau begini.. bakal bangkrut..!

‘Kaupilih saja. Bangkrut atau mampus!!

Keadaan sudah memuncak dan pada saat itu terdengar orang menggebrak meja sambil berseru, ‘Bangsat tak tahu malu! Dari mana datangnya pengemis-pengemis yang begini kurang ajar!!

Ternyata yang menggebrak meja dan marah-marah ini adalah tiga orang piauwsu tadi yang kini sudah bangkit berdiri dan menghampiri dua orang pengemis yang berdiri di luar pintu. Piauwsu setengah tua bermuka merah tadi kini menudingkan telunjuknya kepada dua orang pengemis sambil membentak, ‘Kalian ini golongan apakah? Melihat sikap dan pakaian seperti pengemis-pengemis yang biasanya mencari sisa makanan di kedai-kedai atau minta sedekah kepada orang yang lewat. Akan tetapi ternyata kalian lebih rendah daripada pengemis maupun perampok. Pengemis tidak minta secara paksa sedangkan perampok tidak akan berkedok pengemis!!

Dua orang pengemis itu saling pandang, kemudian mereka memandang piauwsu itu dengan mata melotot lebar. ‘Apa kamu mencari mampus berani mencampuri urusan kami dua orang anggauta Khon-sim Kai-pang?! Sebutan Khong-sim Kai-pang ini dikatakan oleh seorang di antara pengemis itu dengan keras-keras, agaknya ia hendak mempergunakan pengaruh nama ini untuk mendatangkan kesan.

‘Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hati Kosong) semestinya mempunyai anggauta-anggauta yang berhati kosong tanpa pamrih akan tetapi kalian ini perampok-perampok berkedok pengemis amat menjemukan! Kami adalah tamu-tamu yang sedang makan di kedai ini, memang tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan pemilik kedai. Akan tetapi kami sedang makan kalian berani datang mengganggu! Huh, melihat saja membuat perut kami muak dan tidak ada nafsu makan. Hayo enyah dari sini!! bentak piauwsu setengah tua muka merah. Dua orang piauwsu muda di kanan kirinya juga bersikap galak. Malah seorang di antara dua orang muda ini segera mengulur tangan ke depan, menggunakan dua buah jari menjepit tongkat yang tertancap di lantai kemudian sekali berseru keras, tongkat itu sudah tercabut keluar dari lantai.

‘Phuhh! Yang macam ini dipakai menakut-nakuti orang? Menyebalkan!! katanya sambil melempar tongkat itu sehingga tongkat besi itu jatuh berkerontangan di atas lantai. Semua tamu kedai itu terkejut dan kagum. Sebaliknya dua orang pengemis itu menjadi marah sekali. Pemilik tongkat sudah menyambar tongkatnya, kemudian mereka berdua meloncat mundur lalu berdiri di jalan sambil menantang.

‘Pengacau dari mana begitu buta matanya berani memusuhi Khong-sim Kai-pang?!

Piauwsu setengah tua sudah meloncat maju pula diikuti dua orang piauwsu muda. ‘Tak tahu malu, menggunakan nama perkumpulan yang begitu muluk, kiranya Khong-sim Kai-pang hanyalah sarang sekumpulan manusia jahat. Kami datang dan pergi tak pernah menyembunyikan nama. Di selatan kami terkenal piauwsu-piauwsu yang paling, benci terhadap penjahat-penjahat berkedok pengemis, seperti srigala-srigala berkedok domba! Aku Lim Kiang atau Lim-piauwsu, dan ini kedua orang puteriku. Lekas kalian enyah dari sini, atau perlukah kalian kuusir dengan gebukan seperti orang mengusir anjing-anjing rendah.!

Dua orang pengemis itu marah bukan main. ‘Keparat she Lim! Kau dan anak-anakmu sudah bosan hidup rupanya. Majulah, hendak kami lihat sampai di mana hebatnya kepandaianmu, apakah sehebat mulutmu yang lebar itu?!

‘Ayah, biarkan kami menghajar dua penjahat ini!! seru dua orang muda sambil meloncat ke depan dan pedang mereka sudah berada di tangan. Sang Ayah yang agaknya cukup percaya akan kepandaian putera-puteranya, lalu mengangguk dan tersenyum mengejek, mundur berdiri sambil bertolak pinggang.

Dua orang pengemis itu sudah berseru nyaring sambil memutar tongkat besi mereka, menyerang dua orang piauwsu muda yang sudah menangkis dengan pedang mereka pula. Terjadilah pertandingan yang seru, di atas jalan raya di depan kedai bakmi! Mereka yang tadinya enak-enak makan bakmi, kini sudah keluar pula dari kedai untuk menonton, wajah mereka tegang dan khawatir karena semua orang di Kang-hu tahu belaka akan pengaruh Khong-sim Kai-pang yang akhir-akhir ini berlaku sewenang-wenang. Tentu saja diam-diam mereka mengharapkan kemenangan bagi piauwsu-piauwsu asing dari selatan itu.

Pengharapan mereka itu ternyata terkabul. Dua orang piauwsu muda dari selatan ini memiliki ilmu pedang yang hebat. Tidak sampai lima puluh jurus mereka berempat bertanding dan dua orang pengemis Khong-sim Kai-pang itu sudah roboh dengan pundak terluka tusukan pedang dan tongkat mereka runtuh. Suling Emas yang ikut menonton menjadi terkejut ketika melihat ilmu pedang dua orang piauwsu itu yang segera ia kenali. Itulah ilmu pedang Beng-kauw! Tak disangsikan lagi bahwa piauwsu-piauwsu itu adalah anak murid Beng-kauw dan melihat sepak terjang mereka, ia menjadi bangga, Mereka ini murid-murid Bengkauw yang baik, bukan hanya terbukti dari sikap mereka memberi hajaran dua orang pengemis jahat, juga melihat betapa dua orang piauwsu muda itu hanya melukai pundak lawan, tidak membunuhnya.

Beberapa orang di antara penonton yang tadi makan bakmi segera menghampiri tiga orang piauwsu itu sambil berbisik, ‘Sam-wi harap lekas-lekas pergi dari sini. Kalau terlambat, bisa celaka. Khong-sim Kai-pang bermarkas di luar kota ini dan selain anggautanya banyak, juga mereka mempunyai pemimpln-pemimpin yang pandai dan amat kejam! Lekas, Sam-wi (Tuan Bertiga) pergilah dari sini.!

Piauwsu tua mengerutkan alisnya dan berkata lantang, ‘Kami bukan golongan pengecut yang berani berbuat tidak berani bertanggung jawab! Kami memberi hajaran kepada dua orang pengemis ini karena kelakuan mereka yang jahat. Kalau teman-temannya datang menuntut balas, biarlah kami hadapi mereka itu dengan pedang kami.! Ucapan ini dikeluarkan dengan nada marah akan tetapi sama sekali tidak membayangkan kesombongan.

Banyak orang yang sudah tahu akan kekejaman orang-orang Khong-sim Kai-pang yang akhir-akhir ini berubah banyak sekali, membujuk-bujuk agar mereka bertiga lekas pergi saja karena kalau tidak, mana mungkin mereka dapat melawan banyak anggauta Khong-sim Kai-pang. Namun bujukan-bujukan itu sia-sia belaka. Si Piauwsu Tua bersama dua orang puteranya bahkan menyatakan hendak mendatangi markas besar Khong-sim Kai-pang dan mengancam perkumpulan itu agar jangan berbuat sewenang-wenang kepada penduduk Kang-hu! Tiba-tiba terdengar suara orang yang amat jelas mengatasi semua suara orang yang sedang membujuk-bujuk, ‘Ah, orang yang sudah mabok kemenangan mana bisa dibujuk-bujuk? Kalau mereka sudah bosan hidup, biarkanlah mereka mati!!

Semua orang menoleh dan ketika orang-orang di situ melihat bahwa yang mengucapkan kata-kata nyaring ini adalah seorang berpakaian pengemis bertopi butut dengan muka bagian bawah tertutup sehelai kain, mereka menjadi kaget sekali dan cepat-cepat menyingkir. Ada suara bisikan-bisikan terdengar. ‘Nah, mereka sudah mulai datang..!!

Piauwsu setengah tua dan dua orang puteranya she Lim cepat membalikkan tubuh dan memandang Suling Emas dengan tajam. Melihat pakaian orang ini tentu seorang di antara pemimpin-pemimpin Khong-sim Kai-pang, maka Lim Kiang segera melangkah maju dan hendak menegur.

Akan tetapi Suling Emas sudah menghampiri mereka sambil mendorong-dorong dengan tangan kirinya dan menegur, ‘Kalian ini orang-orang apa berani hendak mengancam Khong-sim Kai-pang? Kalau ada satu dua orang pencuri di kota ini, apakah bisa dikatakan semua orang kota ini pencuri belaka? Kalau ada satu dua orang piauwsu menyeleweng, apakah boleh dibilang bahwa semua piauwsu adalah penjahat belaka? Demikian pula, kalau ada seorang dua orang Khong-sim Kai-pang menyeleweng, apakah benar kalau dikatakan bahwa Khong-sim Kai-pang perkumpulan orang jahat? Setelah memperoleh kemenangan berlaku merendah dan waspada, tidak mabok akan kemenangannya, Itulah sikap seorang bijaksana. Kalian bertiga tidak lekas pergi, mengandalkan apakah? Hayo pergi.. pergi.. pergi..!! Ia mendorong-dorong sehingga jari-jari tangannya menyentuh pundak dan punggung tiga orang piauwsu itu.

Lim Kiang adalah seorang anak murid Beng-kauw yang menjunjung tinggi kebenaran dan kegagahan. Untuk membela yang tertindas dan menghadapi yang jahat, ia tidak ragu-ragu bertindak dan tidak akan ragu-ragu mengorbankan nyawanya. Juga dua orang puteranya mewarisi watak gagah ini. Melihat Suling Emas dan mendengarkan ucapannya, tentu saja beranggapan bahwa pengemis ini adalah seorang tokoh Khong-sim Kai-pang yang membela perkumpulan itu, akan tetapi ia pun dapat menduga bahwa pengemis ini bukan orang sembarangan. Karena itulah, ia memberi tanda kepada dua orang puteranya untuk mundur, kemudian ia sendiri tersenyum dan berkata.

‘Setiap orang manusia tentu mencari kebenarannya sendiri. Betapapun jahatnya Khong-sim Kai-pang, tentu seorang anggautanya akan melihatnya sebagai perkumpulan yang baik. Sahabat, kalau kau merasa penasaran karena dihajarnya dua orang temanmu, kau majulah!! Sambil berkata demikian Lim Kiang meraba gagang pedangnya.

‘Aihh..!! ia berseru kaget dan tangannya meraba-raba pinggang, kemudian ia menunduk untuk melihat ke arah pinggangnya. Namun tetap saja ia tak dapat menemukan gagang pedangnya karena pedang itu sudah lenyap, yang ada hanya sarung pedangnya saja!

Dua orang piauwsu muda itu pun berteriak kaget. Muka mereka menjadi pucat dan mereka saling pandang dengan mata terbelalak.

‘Pe.. pedangku..!! Mereka berkata lirih dan tahulah piauwsu setengah tua itu bahwa pedang kedua orang puteranya juga sudah lenyap!

‘Adakalanya orang tidak dapat mengandalkan pedangnya.! Suling Emas berkata lagi, ‘Tapi lebih tepat mempergunakan akal dan kewaspadaan. Alangkah bodohnya menganggap bahwa ketajaman pedang akan selalu membawa kemenangan. Sam-wi mencari inikah?!

Tiga orang piauwsu itu melongo ketika melihat pengemis yang mukanya ditutupi saputangan itu mengangsurkan tiga batang pedang mereka! Cepat mereka menyambut pedang mereka dan tidak berani sembarangan bergerak. Orang yang sudah dapat merampas pedang mereka bertiga tanpa mereka ketahui sama sekali, adalah orang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa sekali dan bukanlah lawan mereka! Betapapun juga, Lim Kiang adalah seorang gagah yang tidak mau menyerah kepada orang jahat sebelum ia dikalahkan.

‘Boleh jadi engkau seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, akan tetapi jangan kira bahwa kami takut untuk coba-coba memberantas kejahatanmu!! Setelah berkata demikian, Lim Kiang menggerakkan pedangnya hendak menyerang, demikian pula dua orang puteranya sudah bergerak hendak menerjang Suling Emas.

Pada saat itu berkelebat dua bayangan hitam. Gerakan mereka ini cepat bukan main, padahal keduanya hanya dua orang kakek pengemis yang sudah amat tua, bahkan yang seorang bertubuh bongkok kurus. Namun Si Bongkok ini sekali sambar sudah mencengkeram leher baju Lim Kiang yang dilemparkannya ke belakang sehingga piauwsu itu terhuyung-huyung. Sedangkan kakek pengemis ke dua sudah pula melemparkan dua orang piauwsu muda dengan sama mudahnya.

‘Hemm, kalian ini piauwsu-piauwsu cilik berani bersikap kurang ajar terhadap Ketua Khong-sim Kai-pang kami, Yu Kang Tianglo yang mulia?! bentak Si Pengemis Bongkok yang bukan lain adalah Gak-lokai. Adapun pengemis ke dua adalah Ciam-lokai.

Lim Kiang adalah seorang piauwsu yang sudah banyakpengalaman. Ia terkejut dan maklum bahwa dua orang pengemis tua itu pun lihai bukan main.

Akan tetapi ia makin kaget ketika mendengar disebutnya nama Yu Kang Tianglo. Ia memandang terbelalak kepada Suling Emas lalu berkata.

‘Locianpwe ini.. Yu Kang Tianglo..? Akan tetapi.. mereka itu..! Ia menoleh kepada dua orang pengemis yang tadi dihajar dua orang puteranya dan masih rebah merintih-rintih di atas, tanah.

Suling Emas mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan kepada Lim Kiang dan dua orang puteranya. ‘Terima kasih kami ucapkan atas pengajaran Sam-wi piauwsu kepada dua orang penyeleweng itu. Memang di antara anggauta Khong-sim Kai-pang ada yang menyeleweng, namun itu bukan berarti bahwa Khong-sim Kai-pang telah menjadi sebuah perkumpukan penjahat, Harap Sam-wi menjadi puas dan sampaikanlah hormatnya Yu Kang Tianglo kepada para tokoh Beng-kauw di selatan yang amat kami hormati!!

Diam-diam Lim Kiang terkejut dan heran. Ia memang lama mendengar nama besar Yu Kang Tianglo akan tetapi sama sekali tak pernah disangkanya bahwa tokoh pengemis itu pasti dapat mengenal gerakan pedang putera-puteranya sehingga tahu bahwa mereka bertiga memiliki ilmu pedang dari Beng-kauw. Cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut, diturut kedua orang puteranya.

‘Mohon maaf bahwa kami berani bersikap kurang hormat kepada Locianpwe.! Setelah berkata demikian, Lim Kiang cepat-cepat mengajak kedua orang puteranya pergi meninggalkan Kang-hu.

‘Kalian sudah datang? Bagus! Bagaimana kalian dapat membiarkan dua orang jahat itu melakukan hal yang amat memalukan Khong-sim Kai-pang?! Suling Emas menegur Gak-lokai dan Ciam-lokai.

‘Maaf, Pangcu. Panjang ceritanya. Marilah kita keluar kota, di sana para anggauta yang setia sudah menanti. Akan saya ceritakan kepada Pangcu.! kata Gak-lokai, sedangkan Ciam-lokai mengambilkan kuda Suling Emas. Ketiganya lalu pergi dari situ. Suling Emas menunggang kuda, Ciam-lokai menyeret dua orang pengemis yang terluka tadi sedangkan Gak-lokai sibuk menuturkan apa yang terjadi di Khong-sim Kai-pang selama ini.

Sementara itu, berita tentang munculnya Yu Kang Tianglo seperti tadi terdengar oleh beberapa orang penonton, telah tersiar luas dan orang-orang di Kang-hu menjadi girang sekali. Mereka menaruh kepercayaan bahwa setelah tokoh besar itu muncul, Khong-sim Kai-pang akan bersih dari oknum-oknum jahat dan tidak lagi ada penggangguan di kota Kang-hu dan sekitarnya.

Mendengar penuturan Gak-lokai, Suling Emas menjadi marah. Ternyata bahwa kaum sesat yang menyelundup di Khong-sim Kai-pang telah berhasil memecah belah perkumpulan itu, bahkan sebagian besar anggautanya kena mereka bujuk dan menjadi anak buah mereka. Hal ini tidak mengherankan karena oknum-oknum jahat itu menjanjikan hal-hal yang menyenangkan seperti hidup mewah, makan enak dan lain kesenangan dunia.

Gak-lokai dan Ciam-lokai yang melihat gejala-gejala buruk ini, maklum bahwa kalau mereka berdua berkeras, tentu akan terjadi perang di antara para anggauta sendiri yang akan mengorbankan banyak nyawa. Padahal, mereka yang kini terbujuk bukanlah orang-orang yang pada dasarnya jahat, melainkan karena tergoda oleh bujukan-bujukan menyesatkan. Di samping itu, ada lima orang kaum sesat yang kini terpilih menjadi pemimpin mereka yang menyeleweng, dan lima orang itu memiliki ilmu kepandaian yang lihai sehingga dua orang kakek ini tidak berani turun tangan secara serampangan dan menanti datangnya Yu Kang Tianglo yang mereka andalkan.

‘Mereka yang menyeleweng kini menduduki markas karena para anggauta yang setia rela mengikuti kami mengundurkan diri bersembunyi di tempat-tempat sunyi sambil menanti kedatangan Pangcu.! Gak-lokai menutup ceritanya. ‘Mereka kini mengganti pakaian mereka dengan baju-baju bersih dan tongkat bambu mereka dengan tongkat besi. Hanya dengan menundukkan para pimpinan mereka yang jumlahnya dua puluh orang lebih maka anggauta-anggauta yang menyeleweng akan dapat disadarkan kembali.!

Ketika mereka keluar dari Kang-hu melalui pintu gerbang sebelah timur, pandang mata Suling Emas yang tajam melihat bayangan-bayangan yang cepat berkelebat menyelinap di antara pohon-pohon mendahului mereka. Ia dapat menduga bahwa itu tentulah mata-mata golongan sesat yang kini menguasai markas Khong-sim Kai-pang. Ketika mereka bertiga sambil membawa dua orang pengemis terluka itu tiba di depan kuil besar yang semenjak dahulu menjadi markas besar partai pengemis Khong-sim Kai-pang, mereka melihat betapa dari belakang mereka datang berbondo ngbondong puluhan orang pengemis yang berpakaian butut dan membawa tongkat bambu. Jumlah mereka ada empat puluh orang lebih dan begitu Suling Emas menghentikan kudanya untuk menengok, mereka serentak menjatuhkan diri berlutut dan seperti dikomando saja mereka berseru. ‘Hidup Yu Kang Tianglo, Pangcu kita!!



Bab 10

Kemudian tampak dari dalam kuil keluar beberapa orang yang diikuti barisan pengemis pula, pengemis dengan pakaian bersih dan bersenjata tongkat besi. Melihat ini Suling Emas berkata kepada pengikut Gak-lokai dan Cam-lokai suaranya nyaring.

‘Saudara-saudara semua tidak boleh sembarangan bergerak. Kita tidak berniat memerangi golongan sendiri, hanya ingin menyadarkan mereka dan menghalau oknum-oknum jahat yang mengotori kai-pang!!

Demikianlah, empat puluh orang pengemis itu disuruh menanti di luar, sedangkan Suling Emas dengan diantar Gak-lokai dan Ciam-lokai, memasuki ruangan kuil dan kini berjalan masuk dengan langkah tenang. Kuda kurusnya ditinggalkan di luar pekarangan. Ia memandang ke depan dan melihat bahwa yang memimpin barisan pengemis baju bersih yang jumlahnya ada lima puluh orang lebih itu adalah tujuh orang. Lima di antara mereka yang usianya rata-rata sudah lima puluh tahun memakai pakaian pengemis tambal-tambalan dan berkembang-kembang, di tangan mereka tampak senjata tongkat yang berat dan jelas bukan tongkat bambu, entah logam apa. Dua orang yang tidak berpakaian pengemis, melainkan berpakaian pendeta, dan agaknya mereka berdua itu adalah tosu-tosu pengembara yang usianya sudah enam puluh lebih. Suling Emas memandang tajam namun tidak mengenal tujuh orang ini. Dari pekarangan, ia naik anak tangga yang tingginya ada dua meter, menyambung ke ruangan depan yang cukup luas. Tempat inilah yang biasanya dipakai untuk pertemuan umum para anggauta, di udara terbuka dan letaknya di depan kuil.

Lima orang pengemis berpakaian penuh kembang-kembang itu melangkah maju dan berdiri tegak dengan sikap angkuh, sedangkan dua orang pendeta berdiri di belakang mereka. Gak-lokai dan Ciam-lokai lalu melemparkan dua orang pengemis terluka pundaknya itu ke depan sehingga dua orang itu jatuh tersungkur ke depan kaki lima orang kepala pengemis baru.

‘Siapakah yang bertanggung jawab atas perbuatan jahat dua orang anggauta Khong-sim Kai-pang ini?! Terdengar suara Suling Emas memecah kesunyian. Suaranya halus, namun penuh wibawa. ‘Mereka yang merasa bersalah, sudah menyelewengkan Khong-sim Kai-pang ke jalan sesat, hayo lekas maju mengaku agar menerima hukuman!!

Seorang di antara lima pimpinan pengemis itu, yang matanya juling, dan agaknya ia yang tua di antara mereka, sudah melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Suling Emas.

‘Siapakah kau? Apa hubunganmu dengan perkumpulan kami sehingga kau berani mengucapkan kata-kata kurang ajar? Apakah engkau ini sekutu para pengkhianat macam dua orang jembel tua bangka itu?! ia menudingkan telunjuknya kepada Gak-lokai dan Ciam-lokai.

Gak-lokai tak dapat menahan kemarahannya. ‘Sungguh kalian ini tak tahu diri! Kalian adalah orang-orang baru di Khong-sim Kai-pang, namun kalian seperti buta. tidak mau membuka mata, seperti tuli tak mau membuka telinga. Kalian berhadapan dengan Yu Kang Tianglo, seorang tokoh terbesar dari golongan Khong-sim Kai-pang. Hayo lekas kalian berlutut!!

Lima orang itu agaknya sudah mendengar laporan maka mereka tidak menjadi kaget, bahkan tersenyum-senyum. Akan tetapi di antara lima puluh lebih anggauta Khong-sim Kai-pang yang sudah dibawa menyeleweng, ada yang sudah menjatuhkan diri berlutut dan ada yang menjadi pucat mukanya, menggigil tubuhnya. Kawan-kawannya yang percaya kepada pemimpin baru segera menyeret mereka itu berdiri lagi.

‘Ha-ha-ha, bagus sekali! Puluhan tahun Yu Kang Tianglo tidak memperlihatkan diri, membiarkan Khong-sim Kai-pang dalam keadaan terlantar dan hampir bangkrut. Setelah kami muncul dan mengangkat keadaan kai-pang, tiba-tiba engkau muncul dan berlagak seperti seorang kawakan yang berkuasa! Cih, sungguh tidak tahu malu! Pada saat ini memang Khong-sim Kai-pang belum ada ketuanya, dan untuk sementara ini kami lima oranglah yang berkuasa sampai diadakan pemilihan ketua pada pertemuan antara kai-pang-kai-pang di seluruh daerah. Adakah engkau ini Yu Kang Tianglo atau bukan, bukan urusan kami, juga apakah engkau ini seorang tokoh kawakan Khong-sim Kai-pang atau bukan, kami tidak peduli. Engkau tidak ada sangkut pautnya dengan kami, lebih baik lekas pergi jangan membadut di sini!!

Merah wajah Gak-lokai dan Ciam-lokai, namun Suling Emas memberi isyarat dengan tangan agar mereka diam. Ia sendiri lalu melangkah maju dan dengan sikap tenang ia berkata. ‘Yu Kang Tianglo bukan seorang yang haus akan kedudukan ketua kai-pang. Semenjak Ayahku menjadi Pangcu di sini, Khong-sim Kai-pang terkenal sebagai perkumpulan orang-orang gagah yang membela orang-orang terlantar dan jembel-jembel kelaparan, membimbing mereka kembali ke dalam masyarakat terhormat dan mengangkat derajat mereka, paling anti akan kejahatan. Siapa dia boleh menjadi pimpinan Khong-sim Kai-pang dan siapa pun dia orangnya boleh menjadi anggauta, asal saja mereka itu orang baik-baik dan wataknya sesuai dengan jalan yang selama puluhan tahun ditempuh Khong-sim Kai-pang. Aku pun tidak akan muncul di sini sekiranya keadaan Khong-sim Kai-pang masih sebaik dan sebersih biasanya. Akan tetapi sayang sekali, Khong-sim Kai-pang diselewengkan, dengan mata kepala, sendiri aku menyaksikan dua orangmu melakukan pemerasan seperti perampok. Melihat ini, mau tidak mau Yu Kang Tianglo harus bertindak membersihkan kai-pang dari orang-orang jahat!!

Mendengar ini, banyak di antara para anggauta Khong-sim Kai-pang yang kini berbaju kembang-kembang dan memegang tongkat besi, menjadi ketakutan. Melihat ini lima orang pengemis yang memimpin mereka itu meloncat maju mengurung Suling Emas dan Si Juling membentak.

‘Keparat busuk, enak saja kau mengobrol di sini! Kami yang berkuasa di Khong-sim Kai-pang dan kami yang berhak menentukan bagaimana cara kami mengumpulkan dana demi kemajuan perkumpulan dan kebahagiaan semua anggauta kami. Kau berani datang menghina, berarti engkau mencari mampus sendiri!! Sambil berkata demikian, Si Juling dan empat orang adik seperguruannya mengangkat tinggi tongkat-tongkat mereka. Ada yang memegang tongkat besi, ada tongkat baja, kuningan bahkan ada yang memegang tongkat dari perak murni!

‘Hemm.. hemm.. semenjak dahulu Khong-sim Kai-pang mengutamakan kebenaran dan selalu mengambil jalan halus, maka bawaannya pun hanya sebatang tongkat bambu yang butut sebagai lambang mencari jalan benar agar jangan menyeleweng. Akan tetapi kalian ini pemimpin-pemimpin murtad bermewah-mewahan dan berlumba memegang tongkat yang membayangkan kekerasan dan kekejaman. Sungguh menyeleweng sekali!!

‘Tak usah banyak cakap! Satu di antara syarat menjadi pimpinan Khong-sim Kai-pang, dia harus mempunyai kepandaian yang paling tinggi itu di antara para anggauta. Beranikah engkau melawan kami berlima?!

‘Eh, kiranya kalian masih mengenal juga akan peraturan itu? Bagus, hanya sayangnya, kalian memperlihatkan kecurangan dengan maju bersama. Bagiku, sama saja, maju bersama atau ditambah lagi dua orang sekutumu itu, boleh saja. Gak-lokai tolong beri pinjam tongkatmu!! kata Suling Emas, menoleh kepada dua orang tokoh lama itu.

‘Harap Pangcu pakai saja tongkat ini. ‘Tongkat bambu ini dahulu adalah hadiah dari mendiang Yu Jin Tianglo.! kata Ciam-lokai sambil menyerahkan tongkatnya, sebatang tongkat bambu yang sudah amat tua.

Yu Jin Tianglo adalah Ketua Khong-sim Kai-pang puluhan tahun yang lalu, ayah Yu Kang Tianglo, maka tentu saja semua anggauta yang tahu akan hal ini menjadi terharu dan juga gelisah. Mereka semua tahu betapa lihainya lima orang pimpinan baru itu sehingga kedua kakek pengemis Gak-lokai dan Ciam-lokai sendiri tidak berani sembrono turun tangan menantang mereka. Bagaimana kalau Yu Kang Tianglo kalah oleh pengeroyokan mereka berlima?

Namun Suling Emas dengan langkah lebar dan tenag sudah berdiri di tengah-tengah lapanganyang tinggi dan luas itu, menanti datangnya lawan. Ia melihat betapa Si Juling berbisik-bisik kepada dua orang pendeta, akan tetapi kemudian Si Juling bersama empat orang kawannya meloncat dan sekaligus mengurung.

‘Yu Kang Tianglo, engkau terlalu sombong, Sesungguhnya kami berniat untuk memperkuat Khong-sim Kai-pang menjadi perkumpulan yang paling hebat di antara semua kai-pang. Maksud baik kami ini kiranya malah kauhina! Sungguh kau mencari mati sendiri.!

Suling Emas tertawa di balik saputangannya. ‘Kalian ini pengemis-pengemis macam apa? Pakaiannya saja berlumba mewah! Terang bahwa kalian ini dahulunya tentu orang-orang golongan sesat yang hendak menyelundup ke kai-pang-kai-pang mencari anak buah dan kedudukan. Hayo majulah karena hari ini tamat riwayat kalian!!

‘Manusia sombong!! Lima orang itu membentuk barisan mengurung Suling Emas yang masih berdiri tegak tanpa memasang kuda-kuda, berdiri seenaknya dan tongkat bambu itu malah ia panggul di pundaknya. Itu sama sekali bukan sikap seorang jago silat menghadapi lawan! Tongkat dipanggul di pundak, berdiri seenaknya dan pandang mata tidak acuh sama sekali! Diam-diam Gak-lokai Ciam-lokai, dua orang ahli silat kelas berat, menjadi khawatir sekali. Akan tetapi lima orang pengemis baju kembang itu menjadi girang. Mereka terus bergerak mengitari Suling Emas dan mulai tertawa-tawa mengejek. Tiba-tiba Si Mata Juling yang menjadi pimpinan mereka berteriak keras dan serentak lima batang tongkat logam yang keras dan bermacam-macam itu berubah menjadi gulungan sinar yang menerjang Suling Emas secara dahsyat sekali! Gak-lokai dan Ciam-lokai menahan napas. Tepat seperti dugaan mereka, lima orang pengemis baju kembang itu benar-benar memiliki kepandaian tinggi, jelas terbukti dari serangan mereka yang seperti kilat cepatnya, dan amat berat sehingga terdengar angin bersiutan. Betapa mungkin ketua mereka yang berdiri enak-enak itu dapat menghindarkan diri dari hantaman lima batang tongkat dari semua penjuru ini?

‘Singgggg.., Krak-krak-krak-krakkrak..!!

Semua orang kaget dan berdongak melihat lima batang tongkat yang kini terbang di udara dan jatuh jauh dari tempat itu. Ketika mereka memandang ke depan lima orang pengemis baju kembang itu sudah roboh tak berkutik lagi sedangkan Suling Emas masih berdiri enak-enak seperti tadi memanggul tongkatnya!

Sampai lama keadaan menjadi sunyi. Pihak lawan tak berani bersuara saking kaget dan gentar, sebaliknya pihak kawan juga sampai tak dapat bersuara saking heran dan kagum. Kemudian meledaklah sorak-sorai penuh kegembiraan dari beberapa puluh orang pengemis anggauta Khong-sim Kai-pang yang setia, sedangkan para anggauta Khong-sim Kai-pang yang menyeleweng atau setidaknya telah takluk kepada lima orang ketua baru itu kini menjadi pucat mukanya dan makin banyak pula kini yang menjatuhkan diri berlutut.

‘Yu Kang Tianglo, kau terlalu sombong!!

Bentakan ini keras sekali dan kiranya dua orang berpakaian tosu tadi telah maju, yang seorang menghadapi Suling Emas, sedangkan yang kedua dengan gerakan tak acuh menggunakan kakinya melemparkan mayat lima orang pimpinan Khong-sim Kai-pang itu ke bawah panggung! Perbuatan yang kejam ini disambut suara berbisik dari mereka yang pro dan anti di golongan anggauta, baik yang kini sudah berpakaian bersih maupun yang masih berpakaian butut.

‘Trakk! Trakk! Trakk!!

Suara ini nyaring sekali sehingga menyakitkan telinga. Melihat betapa kedua telapak tangan pendeta yang menghampiri Suling Emas ditepuk-tepukkan menerbitkan suara nyaring itu, semua orang yang tadinya berisik menjadi diam dan memandang penuh keheranan dan kekaguman. Betapa dua telapak tangan dari kulit dan daging dapat mengeluarkan bunyi seperti itu?

Sahabat-sahabat pengemis dengarlah baik-baik! Pinto (aku) berdua hanyalah tamu-tamu dari kelima pangcu (ketua) yang telah terbunuh secara keji oleh manusia sombong yang mengaku Yu Kang Tianglo ini. Pinto berdua adalah orang-orang sebawahan Locianpwe Bu-tek Siu-lam, bagaimana mungkin menyaksikan tuan rumah dihina orang tanpa turun tangan? Telah kita ketahui semua betapa para anggauta kai-pang di bawah pimpinan orang-orang lama yang mengaku suci dan bersih, hidup sengsara, kekurangan makan dan pakaian, bahkan kadang-kadang mengalami kelaparan. Kemudian golongan kami sebagai pimpinan baru telah mengangkat nasib para jembel sehingga mereka dapat memakai pakaian baik dan makan sekenyangnya setiap hari. Tak perlu dibicarakan panjang lebar siapa yang lebih patut menjadi pemimpin kai-pang. Sudah terbukti pula betapa kelima orang kai-pang yang terbunuh berjasa besar terhadap saudara-saudara semua. Kini muncul manusia sombong ini yang akan merampas kedudukan dan akan menyeret kembali saudara-saudara ke dalam lembah kesengsaraan!!

Mendengar ini, terbangun semangat mereka yang tadinya berlutut ketakutan. Mereka teringat betapa dahulu, semenjak dipimpin oleh Yu Jin Tianglo dan oleh Gak-lokai serta Ciam-lokai, para anggauta hidup di bawah tekanan peraturan-peraturan keras sekali, bahkan mereka itu diharuskan hidup seadanya dan sederhana, sesuai dengan pendapatan serta hasil sumbangan para dermawan. Kemudian setelah Gak-lokai dan Ciam-lokai diusir dan pimpinan dipegang oleh lima orang ketua baru, uang mengalir masuk dengan berlebihan sehingga mereka dapat hidup jauh lebih baik, bahkan dapat pula bermewah-mewahan! Maka ketika mendengar ucapan tosu itu, mereka lalu saling bicara dan keadaan menjadi berisik kembali.

Suling Emas tercengang ketika melihat tosu yang membunyikan kedua telapak tangan tadi. Ia maklum bahwa tosu itu bukan sembarang orang, telah memiliki kepandaian tinggi dan tentu seorang ahli Tiat-ciang-kang (Ilmu Tangan Besi) yang telah melatih kedua telapak tangannya sehingga menjadi kuat dan keras laksana baja. Apalagi mendengar tosu itu mengaku sebagai orang sebawahan Bu-tek Siu-lam, ia menjadi tertarik. Memang selama perantauannya, ia mendengar akan munculnya seorang tokoh besar berjuluk Bu-tek Siu-lam ini.

Akan tetapi sebelum Suling Emas menjawab, tiba-tiba terdengar suara Gak-lokai berteriak keras. ‘Sungguh tamu-tamu yang tak tahu malu mencampuri urusan dalam Khong-sim Kai-pang!! Kemudian tubuh dua orang kakek pengemis kurus yaitu Gak-lokai dan Ciam-lokai sudah melayang dan meloncat ke depan Suling Emas menghadapi dua orang tosu itu.

Ciam-lokai menghampiri Suling Emas dan berkata halus, ‘Mohon Pangcu sudi membiarkan kami berdua memberi hajaran kepada tosu-tosu lancang ini.!

Suling Emas cepat membisikkan nasihatnya. ‘Baiklah, Ciam-lokai, kau nanti hadapi Si Hidung Besar itu dan awaslah terhadap telapak tangannya. Dia ahli Tiat-ciang-kang dan jangan sampai mengadu telapak tangan, akan tetapi serang kedua jalan darah di belakang sikunya.! Karena bisikan ini dilakukan seperti tanpa menggerakkan bibir, hanya dengan pengerahan, tenaga khikang yang sempurna, maka yang mendengar hanya Ciam-lokai seorang. Kakek bertongkat butut ini mengangguk-angguk. Ia percaya penuh akan kelihaian ketuanya yang sakti.

Sementara ini, Gak-lokai Si Kakek Pengemis yang bertubuh bongkok, sudah melangkah maju, mengerahkan khi-kang dan berkata lantang sehingga suaranya mengatasi suara berisik para anggauta Khong-sim Kai-pang yang seketika menjadi tenang dan mendengarkan penuh perhatian.

‘Sejak kapankah Khong-sim Kai-pang mempunyai penasihat-penasihat segala macam hidung kerbau? Urusan kai-pang adalah urusan dalam dan tidak boleh sama sekali dicampuri oleh orang luar. Hal ini sudah menjadi peraturan kai-pang sejak dipimpin oleh mendiang Yu Jin Tianglo dahulu. Sekarang ada tamu-tamu tak diundang yang berani lancang mencampuri urusan dalam, hal ini tak lain berarti sebuah tantangan!!

Dua orang tosu itu menjadi merah mukanya. Tosu yang alisnya putih melangkah maju dan membentaki ‘Jembel busuk! Tak tahukah kau siapa kami berdua? Kami adalah utusan Locianpwe Bu-tek Siu-lam! Berani kau menghina utusan beliau?!

Gak-lokai menjura dan menjawab suaranya tegas dan nyaring. ‘Kami sama sekali tidak menghina siapapun juga, apalagi seorang tokoh besar seperti Locianpwe Bu-tek Siu-lam. Sebaliknya kalian inilah yang sudah menghina ketua kami! Kalian sebagai orang luar mana tahu peraturan dan sifat Khong-sim Kai-pang kami? Perkumpulan kami bukanlah perkumpulan segala macam jembel yang kelaparan dan yang hanya memikirkan tentang makanan dan pakaian belaka! Akan tetapi, kai-pang kami adalah perkumpulan orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan, orang-orang yang bertugas membela kebenaran dan keadilan tanpa pamrih, cukup dengan hidup sederhana atas kerelaan dan belas kasihan orang yang lebih mampu. Kalian bicara tentang hidup serba kecukupan dan menganggap penyelundup-penyelundup itu menjunjung tinggi derajat perkumpulan kami? Huh, bahkan merendahkan derajat, karena perbaikan nasib itu dilakukan dengan cara yang keji dan dengan cara yang lebih jahat daripada perampok-perampok hina!

‘Setan kelaparan! Gak-lokai dan Ciam-lokai, pinto sudah tahu bahwa kalianlah yang menjadi penyakit dalam Khong-sim Kai-pang. Kalian mengandalkan apa berani bicara seperti itu di depan pinto?! bentak tosu hidung besar dengan marah. ‘Pergilah, kalian terlalu rendah untuk berurusan dengan pinto. Biarkan orang yang sombong Yu Kang Tianglo bicara dengan kami!!

‘Heh-heh-heh!! Hidung kerbau macam kalian ini mana ada harga untuk dilayani oleh Pangcu kami yang mulia?! Kalau kalian hendak menantang, cukup kami yang akan melayaninya. Rekan Gak, kau minggirlah, biarkan tongkat bututku menghajar anjing hidung besar ini!!

Gak-lokai tertawa lalu meloncat ke pinggir, lalu tubuhnya melayang ke bawah dan tahu-tahu ia telah menyelinap ke dalam ruangan depan kuil dan sebelum lain orang berani mencegah, ia sudah meloncat kembali membawa tiga buah bangku. Ia mempersilakan Suling Emas duduk di atas bangku, kemudian ia sendiri duduk di sebelah kiri Suling Emas. Bangku kosong ke tiga adalah diperuntukkan Ciam-lokai.

‘Ha-ha, Tosu Alis Putih. Kami tidak tahu kau siapa, karena kau tamu tak diundang, silakan kau berdiri saja di sudut situ!! kata Gak-lokai kepada tosu ke dua. Tosu ini marah sekali, mengepal tinju dan mendelik.

‘Eh-eh, sabar dulu. Giliran kita belum tiba. Nanti setelah Saudara Ciam membereskan temanmu Si Hidung Kerbau, barulah kita boleh saling tonjok!! kata pula Gak-lokai. Tosu Alis Putih itu hanya membuang ludah melampiaskan marahnya, kemudian ia memandang ke tengah panggung di mana Ciam-lokai sudah berhadapan dengan kawannya.

Ciam-lokai dengan menggerak-gerakkan tongkat bambunya yang butut, yang tadi ia pinjamkan kepada Suling Emas, menghadapi tosu hidung besar, tersenyum lebar dan berkata, suaranya lantang.

‘Eh, tosu yang tak tahu diri! Engkau mengaku tamu, akan tetapi kau telah tahu akan namaku dan rekan Gak, berarti kalian ini bukan sembarang tamu, melainkan tamu yang menyelidiki keadaan Khong-sim Kai-pang. Setelah kau mengetahui namaku, sudah sepatutnya kau mengaku siapa sebenarnya kau ini agar aku tahu pula siapa nama orang yang nanti roboh di tanganku!!

Ucapan ini diucapkan halus dan sewajarnya, akan tetapi tetap saja membikin panas telinga karena sifatnya tekebur! Tosu yang hidungnya besar itu usianya sudah tua, mungkin hanya beberapa tahun lebih muda daripada Ciam-lokai, akan tetapi wajahnya masih gagah dan kulit mukanya kemerahan, rambutnya masih hitam. Ia menekan kemarahan hatinya dan tersenyum mengejek lalu berkata.

‘Jembel tua bangka yang sudah mau mampus, dengarlah baik-baik! Pinto bernama Bu Keng Cu, sedangkan dia itu adalah Suhengku bernama Bu Liang Cu. Kami berdua adalah anak murid Im-yang-kauw di perbatasan dunia barat. Kedatangan kami di Khong-sim Kai-pang ini adalah mewakili Bengcu (Pimpinan) kami yaitu Locianpwe Bu-tek Siu-lam untuk memenuhi undangan pimpinan Khong-sim Kai-pang. Sekarang pimpinan Khong-sim Kai-pang yang menjadi sahabat kami dan tuan rumah, telah tewas di tangan Yu Kang Tianglo, tentu saja pinto berdua takkan dapat tinggal diam. Kalau kau sudah bosan hidup hendak mewakili Yu Kang Tianglo, silakan. Akan tetapi jangan lupa bahwa pinto sudah menasihatimu supaya kau mundur saja karena kau bukanlah lawan pinto, jembel tua!!

Wajah Ciam-lokai menjadi pucat sekali. Memang Ciam-lokai ini mempunyai keadaan yang aneh. Orang lain kalau marah akan merah sekali mukanya, akan tetapi Ciam-lokai menjadi pucat! Ia marah karena merasa kalah bicara. Siapa kira, tosu ini pandai berdebat dan kini ia yang tadinya hendak menyombong, oleh tosu yang lemas lidah itu seakan-akan diseret turun menjadi terbalik keadaannya! Selagi ia memutar-mutar otak untuk mencari jawaban yang tepat dan tak kalah pedasnya, tosu itu sudah tertawa bergelak.

‘Ha-ha-ha-ha! Nah, mukamu sudah pucat seperti mayat, jembel tua. Pinto khawatir kau akan roboh pingsan dan tewas karena takut! Lebih baik sebelum terlambat, kau mundurlah dan biarkan Yu Kang Tianglo saja yang melayani pinto!!

Ciam-lokai makin pucat, mulutnya bergerak-gerak namun tidak dapat mengeluarkan suara saking marahnya. Ia tahu bahwa terhadap tosu ini, ia kalah bicara dan memang dalam hal kepandaian berdebat, rekannya Gak-lokai lebih pandai, maka ia hanya dapat menoleh ke arah Gak-lokai dengan muka masih pucat dan sinar mata minta bantuan.

‘Heh-heh-heh, Saudara Ciam yang baik. Mengapa kau terheran-heran mendengar tosu hidung kerbau Bu Keng Cu itu bernyanyi semerdu ini? Apakah kau lupa bahwa seekor burung gagak sekalipun kalau hampir mampus dapat bernyanyi merdu? Akan tetapi Si Hidung Besar ini suaranya mengandung hawa busuk beracun, maka lebih baik lekas kauusir dia pergi!!

Muka Ciam-lokai yang tadi pucat kini menjadi merah kembali. Ia menghadapi Bu Keng Cu sambil menyeringai lebar. ‘Nah, kau sudah mendengar sendiri. Masih tidak mau pergi? Besar-benar muka tebal!!

Bu Keng Cu marah sekali. Tanpa bicara lagi kembali ia menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan terdengarlah suara nyaring seperti dua buah benda keras digosok. Kemudian secara tiba-tiba dan dengan dahsyat sekali, tosu itu sudah menerjang maju, kedua tangannya terbuka, yang kanan memukul ke arah kepala, yang kiri mencengkeram ke arah dada. Telapak tangannya berwarna hitam mengkilap dan ketika ia menerjang, sambaran angin pukulannya dahsyat sekali.

Ciam-lokai terkejut dan cepat ia mengelak sambil meloncat ke kiri dan tongkat bututnya bergerak secara aneh, berkelebat cepat dan terdengarlah suara ‘plak-plak!! dua kali disusul seruan Bu Keng Cu yang tubuhnya terhuyung-huyung ke depan.

Gak-lokai bersorak, diikuti oleh para pengemis bawahannya. Memang lucu sekali pertandingan dalam gebrak pertama itu. Bu Keng Cu kelihatan amat dahsyat dan ganas serangannya tadi, sedangkan gerakan Ciam-lokai amat cepat dan aneh dan dalam gebrakan pertama saja tongkat bambunya sudah berhasil menggebuk punggung lawan dua kali dan mendorong pantat satu kali. Sayang bahwa gebukan-gebukan itu dilakukan terlalu cepat sehingga tak bertenaga sehingga tidak cukup hebat untuk dapat merobohkan lawan sekuat tosu itu.

Memang ilmu tongkat yang dipergunakan oleh Ciam-lokai tadi amat luar biasa. Itulah ilmu tongkat Go-bwee-tung (Tongkat Ekor Buaya) ciptaan mendiang Yu Jin Tianglo. Gerakan-gerakannya aneh sekali dan ilmu tongkat ini sanggup untuk ‘mencuri! beberapa gebukan walau menghadapi ilmu silat yang amat tinggi sekalipun, karena sifat-sifatnya seperti ekor buaya yang dapat menyabet dari belakang tanpa diduga-duga lawan. Hanya sayangnya, Yu Jin Tianglo dahulu menciptakan ilmu tongkat ini hanya untuk menghukum dan menghajar anak buah yang dahulu menyeleweng, maka semua pukulannya bukan merupakan pukulan maut. Dan karena Yu Jin Tianglo melihat bakat baik pada Ciam-lokai untuk menjadi pimpinan pengemis maka ia sengaja menurunkan ilmu ini kepadanya.

Karena sifatnya hanya untuk menghukum, bukan membunuh, maka ilmu tongkat Go-bwee-tung ini tentu saja tidak banyak paedahnya kalau dipergunakan dalam pertandingan sungguh-sungguh di mana kedua lawan berusaha keras untuk merobohkan dan kalau perlu saling membunuh. Betapapun juga, melihat bahwa dalam gebrakan pertama saja pengemis tua itu sudah berhasil menggebuk lawannya, para pengemis yang pro kepada Ciam-lokai bersorak-sorai gembira. Sebaliknya Bu Keng Cu menjadi kaget sekali dan tak berani menganggap rendah lawannya yang ternyata memiliki ilmu tongkat yang hebat itu. Ia berseru keras dan menepuk-nepuk kedua telapak tangannya sehingga terdengar suara nyaring, dan kini di antara kedua telapak tangannya itu tampak asap! Itulah puncak kehebatan penyaluran tenaga Tiat-ciang-kang! Kemudian tosu itu kembali menyerang, kali ini terjangannya jauh lebih hebat daripada tadi, juga pukulannya cepat dengan kedua tangan bergerak-gerak secara aneh, yang kanan lambat-lambat akan tetapi yang kiri cepat-cepat.

Ciam-lokai bukan seorang bodoh. Sudah banyak pengalamannya dalam bertempur, dan ia maklum pula akan kelihaian tosu ini. Ia tidak berani lagi main-main dan mengandalkan Go-bwee-tung, maka ia cepat menggeser kaki ke kanan dan merendahkan tubuhnya, menghindarkan. pukulan kiri lawan yang amat cepat datangnya itu. Akan tetapi siapa kira, begitu tubuhnya merendah tahu-tahu pukulan tangan kanan yang tadinya bergerak lambat, sudah tiba dan dari atas menghantam ke arah kepalanya! Ia kaget sekali dan cepat-cepat ia mengangkat tongkat menangkis sambil mengerahkan kedua tangannya yang memegang kedua ujung tongkatnya.

‘Krakk!!

Tongkat itu patah menjadi dua! Ciam-lokai meloncat ke belakang dan wajahnya menjadi pucat. Bukan saja ia menderita malu, juga ia merasa sayang sekali bahwa tongkat pusaka pemberian mendiang Yu Jin Tianglo itu kini patah menjadi dua!

Segera terdengar sorakan para pengemis baju bersih yang berpihak kepada dua orang tosu ini, karena keadaan kini berubah untuk keuntungan Si Tosu. Ciam-lokai menggigit bibir dan ia menerjang maju dengan dua batang tongkat pendek di kedua tangan. Kini ia menyesal mengapa tadi ia tidak segera menggunakan siasat yang dibisikkan ketuanya kepadanya. Maka kini begitu menerjang, ia segera menggunakan dua batang tongkat pendeknya untuk menghujani kedua siku tangan lawan dengan totokan-totokan cepat.

‘Aiihhh..!! Bu Keng Cu berseru kaget dan sibuklah ia meloncat ke sana kemari untuk menghindarkan totokan itu. Di dalam hatinya, ia terkejut bukan main. Bagaimana kakek jembel ini dalam dua gebrakan saja sudah dapat mengetahui kelemahan Ilmu Tiat-ciang-kang yang dipergunakannya?

Sampai tiga puluh jurus lebih, Ciam-lokai mendesak lawannya dengan totokan-totokan maut yang dipusatkan pada kedua siku tangan lawan. Bu Keng Cu mempergunakan kegesitan tubuhnya untuk menghindarkan totokan-totokan itu, kemudian secara tiba-tiba gerakannya berubah. Sejurus gerakannya kasar dan keras, pada jurus berikutnya berubah halus lembek, kemudian berubah lagi. Dalam lima enam jurus saja Ciam-lokai sudah hampir terkena tusukan jari tangan yang sekeras baja, dan untung ia masih sempat membuang tubuh ke belakang sehingga hanya ujung bajunya yang bolong ketika tercium ujung jari Bu Keng Cu. Jari menusuk ujung baju bisa bolong menyatakan bahwa jari-jari itu cukup kuat untuk menusuk bolong logam keras!

Setelah Bu Keng Cu menjalankan ilmu silat aneh yang sebentar lembek sebentar keras, cepat dan lambat berganti-ganti dan selalu berubah, Ciam-lokai menjadi terdesak hebat. Kini sukar baginya untuk mengancam kedua siku lawan, karena kedua tangan lawan itu melakukan gerakan-gerakan yang selalu berubah sifatnya sehingga sukar diduga dan sukar pula dilayani.

Suling Emas yang menyaksikan jalannya. pertandingan sejak tadi, diam-diam harus mengakui keunggulan tosu itu atas kepandaian Ciam-lokai. Apalagi ketika tosu itu mainkan ilmu silat yang dikenalnya sebagai Ilmu Silat Im-yang-kun, ia tahu bahwa kalau dilanjutkan, Ciam-lokai akan kalah dan mungkin akan tewas dalam pertempuran ini. Maka ia lalu mengerahkan tenaga khi-kangnya, mulutnya berkemak-kemik tanpa mengeluarkan suara.

Akan tetapi, Ciam-lokai yang sedang sibuk menghadapi desakan lawan yang lihai, tiba-tiba mendengar suara ketuanya itu berbisik jelas sekali di pinggir telinganya. ‘Hantam lutut kanannya, totok pundak kirinya!!

Ciam-lokai yang sedang terdesak hebat dan sibuk menyelamatkan diri itu, mendengar suara ketuanya, secara membuta lalu mentaati anjuran ini. Ia menggerakkan kedua tangan secara beruntun, menghantamkan tongkat kiri ke arah lutut kanan lawan sedangkan tongkat kanannya menotok jalan darah Kin-ceng-hiat-to di pundak kiri.

Bu Keng Cu terkejut setengah mati. Memang pada saat itu, biarpun ia sedang mendesak lawan, bagian lutut kanan dan pundak kiri inilah yang terbuka, sedangkan perubahan gerak jembel tua itu benar-benar aneh dan tidak terduga, begitu langsung menyerang dua bagian yang lemah ini. Hampir saja lutut kanannya kena dihajar, maka cepat ia mencelat ke belakang lalu menerjang maju lagi dengan kemarahan meluap.

‘Hantam pelipis kirinya dan totok lambung kanannya!!

Kembali Ciam-lokai mentaati bisikan ini dengan hati girang setelah melihat betapa petunjuk pertama tadi hampir berhasil. Kembali Bu Keng Cu kaget setengah mati dan hanya dengan susah payah ia mampu membebaskan diri dari bahaya maut. Ia terheran-heran dan makin penasaran dan marah. Jelas bahwa ia menang unggul dan ia sudah yakin akan memperoleh kemenangan, akan tetapi mengapa dalam keadaan terdesak, jembel itu secara tiba-tiba merobah gerakan secara begitu aneh, kadang-kadang berlawanan dengan gerakan pertama, bukan seperti gerakan orang bermain silat lagi, akan tetapi selalu tepat menyerang bagian-bagian tubuhnya yang tak terjaga?

Apakah jembel ini mempunyai ‘mata ke tiga! yang dapat melihat bagian-bagian terbuka itu? Hal seperti ini hanya dapat dan mungkin dilakukan oleh orang yang sudah mengenal ilmu silatnya Im-yang-kun. Akan tetapi andaikata Si Jembel Tua ini mengenal bahkan ahli dalam ilmu silat Im-yang-kun, mengapa gerakan-gerakannya begitu tiba-tiba dan seperti dipaksakan?

‘Injak kaki kirinya dan tusuk perutnya, kalau ia membalik, tendang pantatnya!! kembali bisikan itu diturut oleh Ciam-lokai dengan taat. Pada saat itu Bu Keng Cu sedang mendesaknya dengan tendangan kaki kanan dan ia baru saja menyelinap ke kiri untuk mengelak, maka secepat kilat ia lalu mengangkat kakinya menginjak secara tiba-tiba dan keras ke arah kaki kiri tosu itu, berbareng ia menusukkan tongkatnya ke arah pusar lawan.

‘Hayaaaa..!! Bu Keng Cu terkejut dan cepat ia memutar tubuh untuk menghindarkan dua serangan berbahaya ini. Akan tetapi siapa duga baru saja tubuhnya terputar, sebuah tendangan tepat mengenai pantatnya sehingga tanpa dapat dicegahnya lagi, tubuhnya terlempar ke bawah panggung!

Tepuk sorak riuh-rendah menyambut kemenangan Ciam-lokai ini, sebaliknya para pengemis pengikut kaum sesat menjadi pucat wajahnya. Kiranya tosu yang menyombongkan diri sebagai utusan Bu-tek Siu-lam itu ternyata hanya sebuah gentong kosong belaka, kalah oleh Ciam-lokai yang tua dan kurus kering!

Pada saat itu, di antara riuh-rendahnya para pengemis yang menjagoi Ciam-lokai bersorak-sorak, berkelebat bayangan Bu Liang Cu, dan begitu berhadapan dengan Ciam-lokai, ia langsung mengirim serangan bertubi-tubi, mengeluarkan jurus-jurus paling lihai dari Im-yang-kun. Kiranya tosu yang menjadi suheng Bu Keng Cu ini tadi juga menyaksikan keanehan terjadi dalam pertandingan itu. Ia yakin bahwa Im-yang-kun mengatasi ilmu silat Ciam-lokai, akan tetapi mengapa pada saat-saat tertentu jembel itu merubah gerakannya dan begitu tepat mengisi lowongan yang melemahkan pertahanannya? Oleh karena inilah, dengan hati penasaran ia lalu maju dan langsung menggunakan jurus-jurus Im-yang-kun untuk mencoba apakah benar-benar Ciam-lokai paham dan ahli Ilmu Silat Im-yang-kun. Hebat bukan main terjangan Bu Liang Cu karena ia lebih pandai dari pada sutenya!

Karena kejadian ini tak terduga-duga dan tiba-tiba, maka Ciam-lokai tak dapat mengharapkan bisikan-bisikan ketuanya, maka cepat ia memutar kedua tongkat dan meloncat ke belakang. Akan tetapi karena perhatiannya dicurahkan untuk menghindarkan serangan tangan kanan Bu Liang Cu, ia kurang cepat menghindar ketika tangan kiri tosu itu bergerak cepat sekali menyambar pergelangan tangan kanannya. Jari-jari tosu itu sudah menyentuh kulit lengannya. Ciam-lokai terkejut, menarik tangannya. Akan tetapi ia tidak dapat mencegah lagi tongkatnya yang di tangan kanan terampas sedangkan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang! Keadaannya berbahaya sekali karena jika tosu itu melanjutkan serangannya, celakalah ia!

‘Heh, tosu bau, jangan main curang kau.! Tiba-tiba Gak-lokai sudah melayang maju menghadapi Bu Liang Cu. ‘Lawanmu adalah aku karena rekanku Ciam-lokai sudah mengalahkan kawanmu!!

Tosu itu berdongak dan tertawa bergelak. ‘Ha-ha-ha-ha! Siapa yang curang? Suteku tidak pernah kalah oleh jembel busuk itu. Ada kecurangan tak tahu malu di pihakmu!!

‘Benar! Mari kita hadapi mereka, Suheng. Hayo majulah dan biar kita lihat bersama apakah benar kalian berdua dapat mengalahkan kami!! Bu Keng Cu berseru dan ia pun sudah melompat lagi, ke atas panggung, berdiri dekat suhengnya. Ia memang tidak terluka. Kini kedua orang tosu itu berdiri berdampingan dan memasang kuda-kuda Im-yang-kun. Ilmu silat Im-yang-kun ini memang hebat, akan tetapi kalau dimainkan oleh dua orang, lebih ampuh lagi.

Gak-lokai yang tidak tahu akan bantuan yang dilakukan diam-diam oleh Suling Emas kepada Ciam-lokai, menjadi marah sekali. ‘Saudaraku Ciam, mari kita hajar dua orang tosu kerbau ini!!

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara halus Suling Emas. ‘Tahan dulu Gak-lokai dan Ciam-lokai, kalian mundurlah. Aku hendak bicara dengan mereka.!

Karena ketua mereka yang memberi perintah, biarpun ogah-ogahan, kedua orang kakek pengemis itu lalu mundur. Suling Emas lalu melangkah maju dengan langkah perlahan dan tenang, menghadapi dua orang tosu yang sudah siap-siap untuk mengadu nyawa. Biarpun ia menyamar sebagai ketua kai-pang namun Suling Emas tak dapat menyembunyikan sikapnya yang halus dan sopan terhadap golongan pendeta. Maka ia segera menjura dengan hormat dan berkata.

‘Ji-wi Toyu, sudah lama sekali saya mendengar tentang Im-yang-kauw sebagai sebuah perkumpulan agama yang besar di perbatasan barat, bahkan pernah saya mendapat kehormatan beramah-tamah dengan Kauwcu (Ketua Agama) Sin-hong Locianpwe. Menurut pendapat saya, jalan hidup yang ditempuh golongan Ji-wi (Tuan Berdua) dan golongan kai-pang tidaklah banyak bedanya. Namun, dalam urusan partai masing-masing, tidak selayaknya kalau kedua pihak saling mencampuri. Harap Ji-wi sudi mendengar alasanku ini dan persilakan Ji-wi menghentikan semua kesalahpahaman ini.!

Dua orang tosu itu saling pandang, kemudian Bu Liang Cu yang beralis putih segera berkata, lagaknya angkuh, ‘Yu Kang Tianglo, bagaimana pinto berdua dapat bicara dengan orang yang hanya mengaku bernama Yu Kang Tianglo akan tetapi yang menutupi mukanya?!

Suling Emas menarik napas panjang. ‘Sesungguhnya saya sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari dunia ramai. Akan tetapi mendengar betapa kai-pang-kai-pang dicemarkan oleh penyelundup-penyelundup sesat, terpaksa saya turun tangan. Hanya karena kepentingan kai-pang saya turun tangan, bukan kepentingan pribadi, maka apa perlunya saya memperkenalkan muka? Harap Ji-wi Toyu suka memandang perkenalan saya dengan Sin-hong Locianpwe Kauwcu dari Im-yang-kauw dan menghabiskan permusuhan yang tiada sebabnya ini.!

Tiba-tiba kedua orang tosu itu tertawa mengejek dan kini Bu Keng Cu yang berkata dengan suara nyaring, agaknya dengan maksud agar didengar oleh semua pengemis yang hadir di situ.

‘Ha-ha! Perkenalanmu dengan Sinhong Locianpwe tak perlu kausombongkan! Kakek itu sudah tewas karena kesalahan terhadap Locianpwe Bu-tek Siu-lam! Kini Locianpwe Bu-tek Siu-lam yang memimpin kami, bahkan beliau pula yang akan memimpin semua kai-pang di dunia. Engkau ini berani lancang tangan membunuh lima orang pimpinan Khong-sim Kai-pang dan mengangkat diri sendiri menjadi bengcu di sini tanpa perkenan Locianpwe Bu-tek Siu-lam. Sungguh tak tahu diri!!

Suling Emas adalah orang yang sudah matang jiwanya. Kesabarannya sudah sampai pada dasar batinnya, maka ia pun tidak marah mendengar ucapan yang sombong ini. Namun, ia terkejut juga mendengar bahwa Ketua Im-yang-kauw yang memang pernah dikenalnya itu tewas di tangan Bu-tek Siu-lam. Ia tahu bahwa Ketua Im-yang-kauw itu seorang pendeta yang suci, juga memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau Ketua Im-yang-kauw itu sampai terbunuh oleh Bu-tek Siu-lam, terbuktilah berita bahwa Bu-tek Siu-lam memiliki kepandaian yang hebat. Jelas bahwa tokoh ini merupakan ancaman di dunia.

‘Hemm, Ji-wi Toyu tak dapat menerima kata-kata halus. Masa bodoh dan terserahlah, karena saya sebagai orang Khong-sim Kai-pang, tetap hendak mempertahankan kai-pang dari tangan-tangan jahat, juga menghukum mereka yang menyeleweng daripada peraturan kai-pang.!

‘Bagus. Tadi dengan Coam-im-kang (Tenaga Mengirim Suara) kau telah membantu kakek jembel dan mengalahkan Suteku secara curang. Sekarang lawanlah kami berdua secara berterang. Hendak kami lihat apakah kau pantas menjadi Ketua Khong-sim Kai-pang.!

Dengan sikap tenang Suling Emas menjawab. ‘Ji-wi Toyu, silakan maju. Saya siap menerima pengajaran!! Suling Emas maklum bahwa dua orang tosu ini pun merupakan penyeleweng-penyeleweng daripada agama mereka maka ia menganggap perlu memberi hajaran kepada mereka, selain demi kebaikan mereka sendiri, juga agar menundukkan sikap para pengemis yang hendak menyeleweng mengandalkan pengaruh luar. Pernah ia bertemu dengan Ketua Im-yang-kauw yang berjuluk Sin-hong (Angin Sakti), dan mereka telah bertukar pendapat tentang ilmu silat. Ketua Im-yang-kauw itu merasa tunduk akan pengertian Suling Emas, bahkan berterima kasih sekali karena mendapat petunjuk-petunjuk berharga, maka sebagai balas kebaikan, ketua itu telah memberikan dasar-dasar Im-yang-kun dan minta supaya ditunjuk kesalahan-kesalahannya. Karena ini maka tentu Suling Emas sudah mengenal baik dasar gerakan Im-yang-kun sehingga tadi ia dapat memberi petunjuk kepada Ciamlokai untuk mengatasi lawan.

Dua orang tosu itu, apalagi Bu Liang Cu, maklum bahwa ketua kai-pang ini amat lihai. Seorang yang sudah dapat menguasai Ilmu Coam-im-kang, yaitu mengirim suara dari jarak jauh dengan kekuatan khikang, adalah seorang yang sudah memiliki tenaga sakti yang hebat. Akan tetapi karena mereka berdua yakin akan kedahsyatan Im-yang-kun yang dimainkan oleh mereka berdua maka mereka tidak menjadi gentar dan ingin menebus kekalahan yang tadi.

Dari kiri dan kanan, dua orang tosu itu lalu menyerang. Bu Liang Cu menggunakan Im-kang (Tenaga Lemas) menyerang dari kiri, mengarah lambung dengan pukulan yang amat perlahan dan lambat, sebaliknya dari kanan Bu Keng Cu sudah menerjang dengan cepat dan kuat sekali, mempergunakan Yang-kang (Tenaga Kasar). Kehebatan Im-yang-kun ini adalah perubahan dua macam tenaga yang berlawanan. Dua orang tosu itu dapat sewaktu-waktu merobah tenaga mereka sehingga lawan yang dikeroyok dua akan menjadi bingung menghadapi penyerangan-penyerangan tenaga yang berlawanan dan berubah selalu itu. Suling Emas maklum akan hal ini, akan tetapi tentu saja ia sama sekali tidak bingung karenanya. Apalagi baru dua orang tosu itu, biar ketuanya sendiri belum mampu menandingi ilmu-ilmunya. Begitu melihat datangnya serangan dua orang tosu yang berlawanan tenaganya dan dilakukan secara berbareng ini, Suling Emas sama sekali tidak mengelak maupun menangkis. Pukulan dari kiri ke arah lambung dan dari kanan menuju leher itu diterimanya sambil mengerahkan Iweekang, kedua tangannya bergerak dan mulutnya berseru, ‘Pergilah!!

‘Desss.., plakkk..! Wuuuuttt..!!

Dua pukulan itu tepat mengenai lambung kiri dan leher kanan Suling Emas, akan tetapi tubuh pendekar sakti itu bergoyang sedikit pun tidak, sebaliknya kedua tangannya sudah menerkam baju kedua lawan bagian dada dan sekali ia menggerakkan kedua lengan, tubuh dua orang tosu itu terlempar jauh ke bawah panggung!

Kedua tosu itu kaget setengah mampus. Akan tetapi mereka bersyukur sekali bahwa lawan yang sakti itu masih menaruh kasihan kepada mereka sehingga mereka terbanting ke atas tanah dalam keadaan berdiri sehingga hanya terhuyung-huyung saja. Kalau terbanting dengan kepala atau badan lebih dahulu, setidaknya mereka tentu akan babak-belur! Tahulah mereka bahwa ‘Yu Kang Tianglo! itu benar-benar amat lihai, maka tanpa banyak cakap lagi mereka berdua lalu ngeloyor pergi secepatnya.

Semua pengemis yang setia bersorak. Sebaliknya mereka yang menyeleweng menjadi pucat dan berlutut ketakutan. Akan tetapi Suling Emas mengampuni mereka, hanya menyuruh mereka itu mengaku terus terang akan penyelewengan mereka, mengembalikan semua rampasan kepada yang berhak. Gak-lokai dan Ciam-lokai membantu Suling Emas meneliti semua bekas penyeleweng, menurunkan kedudukan dan bahkan membagi-bagi hukuman yang ringan namun cukup meyakinkan hati mereka.

Atas permohonan Gak-lokai dan Ciam-lokai, Suling Emas tinggal di kuil itu sampai beberapa lama untuk menjaga kalau-kalau golongan sesat datang lagi mengacau.

‘Harap Pangcu menaruh kasihan kepada kami semua,! demikian kata Gak-lokai. ‘Kekalahan pihak sesat yang tadinya menguasai Khong-sim Kai-pang, tentu takkan diterima begitu saja oleh kawan-kawan mereka. Di samping itu, juga kemenangan dan kembalinya Pangcu di sini akan membangkitkan semangat bagi para anggauta kai-pang yang lain. Biarlah kesempatan ini kita pergunakan untuk mengundang, kai-pang-kai-pang lain sehingga terdapat kesatuan yang kuat untuk menghadapi gangguan kaum sesat. Setelah Pangcu memimpin pertemuan itu dan keadaan kita benar-benar kuat, barulah Pangcu dapat meninggalkan kami.!

Suling Emas merasa kasihan dan menyatakan kesanggupannya. Semua pengemis menjadi gembira sekali dan undangan lalu dikirim. Bendera Khong-sim Kai-pang kini berkibar megah di atas kuil. Di waktu senggang, Suling Emas menurunkan beberapa ilmu pukulan untuk menyempurnakan kepandaian Gak-lokai dan Ciam-lokai yang ia harapkan akan memimpin Khong-sim Kai-pang kalau ia meninggalkan kai-pang itu. Dua orang kakek itu menjadi girang sekali dan karena mereka itu memang dua orang ahli yang sudah tahu akan dasar-dasar ilmu silat tinggi, maka dalam beberapa hari saja mereka dapat menguasai rahasia ilmu pukulan yang diajarkan Suling Emas.

Beberapa hari kemudian, hari yang ditentukan untuk pertemuan para kaipang telah tiba. Semenjak pagi, kuil yang menjadi pusat Khong-sim Kai-pang dikunjungi banyak sekali rombongan pengemis yang dipimpin ketua masing-masing. Mereka ini datang dari segala penjuru, merupakan kai-pang-kai-pang yang membawa bendera perkumpulan masing-masing. Ban-hwa Kai-pang dari Sin-yang, Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang), Ang-tung Kai-pang (Tongkat Merah) dan masih banyak lagi kai-pang lain yang hadir. Diantaranya malah tampak wakil-wakil dari Hek-coa Kai-pang dan Hek-peng Kai-pang yang tampak mencolok dengan pakaian mereka yang bersih dan mentereng!

Tentu saja Suling Emas yang berpandangan tajam itu dapat menduga kai-pang mana yang menyeleweng dari pada jalan benar, namun sebagai seorang yang bijaksana, ia memerintahkan Gak-lokai dan Ciam-lokai untuk menerima semua kai-pang itu dengan penghormatan yang sama. Semua bendera kai-pang yang menjadi tamu dipasang di sekeliling panggung di mana berkibar bendera Khong-sim Kai-pang, dan para wakil pimpinan kai-pang-kai-pang itu dipersilakan duduk di sebelah kanan panggung, menduduki kursi-kursi yang berhadapan dengan kursi ketua yang diduduki oleh Suling Emas sendiri. Semua anak buah partai-partai ,pengemis itu duduk mengelilingi panggung, ada yang duduk ada yang berjongkok, ada yang berdiri.

Pada saat itu, di sebelah luar kumpulan pengemis yang mengelilingi panggung itu, terdapat seorang pengemis muda yang tampan dan seorang gadis cantik. Mereka ini bukan lain adalah Yu Siang Ki dan Kwi Lan! Wajah Siang Ki agak pucat dan sepasang matanya terbelalak penuh ketegangan. Ia sama sekali tidak peduli ketika beberapa orang pengemis yang duduknya paling belakang memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kemarahan. Mereka itu adalah pengemis-pengemis baju butut yang tentu saja menjadi marah melihat Siang Ki yang berpakaian bersih, mengira bahwa pengemis muda ini tentulah golongan para pengemis aliran baru, yaitu pengemis-pengemis baju bersih yang dipimpin kaum sesat.

Hati Yu Siang Ki terlampau tegang untuk memperhatikan sikap mereka itu. Ia memandang ke atas panggung, sinar matanya berkilat-kilat ketika ia melihat seorang kakek pengemis bertopi lebar dengan muka ditutup saputangan duduk di atas kursi ketua Khong-sim Kai-pang.

‘Siang Ki, kenapa kau tidak maju dan terjang badut tua itu?! tanya Kwi Lan ketika menyaksikan sikap pemuda teman barunya ini.

Yu Siang Ki menggeleng kepala, lalu menjawab sambil menggerakkan tangan kiri menunjuk ke arah Suling Emas. ‘Tidak boleh aku berlaku lancang, Kwi Lan. Memang ketika mendengar dari pengemis-pengemis di sepanjang jalan bahwa ada orang yang mengaku sebagai Ayahku datang merampas kedudukan Ketua Khong-sim Kai-pang, aku menjadi marah sekali dan berniat untuk membuka kedoknya dan menyerangnya. Akan tetapi setelah tiba di sini, aku menjadi ragu-ragu. Demi menjaga nama baik Khong-sim Kai-pang, aku harus bersabar. Menurut cerita mereka itu, orang yang mengaku sebagai Ayahku amat aneh dan tinggi ilmunya, bahkan telah membunuh oknum-oknum jahat yang memegang pimpinan Khong-sim Kai-pang, bahkan menghukum para anggauta yang menyeleweng, juga ia dibantu oleh Gak-lokai dan Ciam-lokai, dua tokoh Khong-sim Kai-pang yang dulu menjadi sahabat baik dan pembantu Kakek Yu Jin Tianglo. Aku harus menyaksikan dulu sepak terjangnya, siapa tahu dia itu seorang tokoh pengemis yang berusaha menyelamatkan Khong-sim Kai-pang dari tangan oknum-oknum jahat dengan menggunakan nama Ayah untuk mencari wibawa.!

Kwi Lan mengangguk-angguk. Ia heran mengapa pemuda ini berpikir sedalam itu padahal kalau menurut dia, orang yang memalsukan Yu Kang Tianglo yang sudah meninggal, wajib dikutuk dan dihajar! Coba seandainya yang menghadapi urusan itu dia sendiri, atau orang-orang seperti Tang Hauw Lam si Berandal atau Siangkoan Li tentu takkan menunggu-nunggu dan melihat gelagat. Memang pengemis muda ini lain lagi sifatnya, hati-hati dan berpandangan luas. Betapapun juga karena yang dipalsukan namanya adalah ayah pemuda ini, bukan ayahnya, maka ia pun tinggal diam saja menanti perkembangannya lebih lanjut.

‘Orang sesabar dan selemah engkau baru sekali ini kujumpai!! omelnya sambil memandang wajah yang terlalu tampan untuk menjadi wajah seorang pengemis itu.

Yu Siang Ki juga memandang. Pandang mata mereka bentrok, bertaut sejenak dan pemuda itu tersenyum.

‘Sebelum tahu betul apa kehendak orang itu memalsukan nama Ayah, bagaimana aku dapat bertindak? Ayah sendiri memesan agar aku berusaha membela dan membersihkan Khong-sim Kai-pang. Kalau orang aneh yang memalsukan nama Ayah itu bermaksud baik dan membela Khong-sim Kai-pang, andaikata Ayah sendiri masih hidup dan berada di sini, tentu beliau juga tidak akan menghalanginya.!

Kwi Lan tidak berkata apa-apa lagi dan ia hanya menurut ketika pemuda itu mengajaknya memilih tempat di belakang akan tetapi dari mana mereka dapat memandang, ke atas panggung cukup jelas. Mereka berdua duduk dan menonton dengan penuh perhatian.

Makin lama makin banyaklah pengemis yang datang memenuhi pekarangan depan kuil yang menjadi markas Khong-sim Kai-pang itu. Kemudian tampak Gak-lokai dan Ciam-lokai melangkah maju, memberi hormat kepada Suling Emas, kemudian mereka berdua menjura ke arah belasan orang yang duduk di kursi kehormatan yaitu para pimpinan kai-pang-kai-pang lain yang menjadi tamu. Sebagai wakil Khong-sim Kai-pang yang menjadi tuan rumah, Gak-lokai lalu berkata suaranya lantang dan jelas.

‘Saudara sekalian yang kami undang telah sudi datang memenuhi undangan, hal ini amat menggembirakan karena jelas ternyata bahwa persatuan diantara kai-pang masih erat. Kami mengundang Saudara sekalian untuk mempererat persatuan ini dan hendak memperkenalkan Saudara tua kami yang telah puluhan tahun mengasingkan diri dan kini berkenan kembali untuk memimpin kita sekalian, yaitu Yu Kang Tianglo, Pangcu (Ketua) Khong-sim Kai-pang!!

Tepuk sorak menyambut ucapan ini dan Suling Emas segera bangkit dari tempat duduknya, berdiri dan menjura ke sekeliling panggung. Melihat tubuh Suling Emas yang tinggi besar dan tegap, sepasang mata di bawah topi lebar yang tajam berkilat, muka yang bagian bawahnya ditutupi saputangan, semua pengemis memandang dengan bermacam-macam perasaan. Ada yang heran, ada yang kagum, penuh harapan, curiga dan sebagainya. Puluhan tahun yang lalu, Yu Kang Tianglo muncul untuk membunuh It-gan Kai-ong kemudian melenyapkan diri kembali. Tak seorang pun di antara para pengemis yang belum mendengar namanya, namun tidak ada yang pernah melihat mukanya. Kini tokoh besar itu muncul lagi dengan muka tertutup sehingga bermacam dugaan yang aneh-aneh timbul. Ketika Suling Emas berdiri, keadaan menjadi sunyi dan semua orang menanti dengan hati berdebar untuk mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh Yu Kang Tianglo, tokoh pengemis yang tak pernah dijumpai orang namun namanya amat terkenal itu.

Dua pasang mata memandang ke arah Suling Emas dengan penuh perhatian dan juga dengan terheran-heran betapa beraninya memalsukan nama orang yang sudah meninggal dunia. Kwi Lan terheran bercampur marah sedangkan Yu Siang Ki terheran dan ingin sekali tahu siapa orang itu dan apa kehendaknya.

‘Saudara-saudara para pimpinan dan anggauta kai-pang!! Suara Suling Emas lantang dan nyaring, akan tetapi halus. ‘Maafkan bahwa saya menutupi muka, karena memang sesungguhnya bukan maksud saya mencari ketenaran diri dengan hadir saya di sini. Sudah semenjak dahulu saya selalu berusaha menyembunyikan diri dan menjauhkan diri dari pada urusan dunia. Akan tetapi, dua kali saya terpaksa menampilkan diri, pertama kali dahulu di waktu It-gan Kai-ong mengotorkan dunia pengemis dengan kejahatannya. Sekarang, mendengar betapa dunia pengemis kembali diselundupi kaum sesat, mau tidak mau saya terpaksa menampilkan diri untuk menegakkan kembali kebenaran dan kebersihan di dunia pengemis. Terutama sekali Khong-sim Kai-pang yang semenjak mendiang Ayah saya dahulu merupakan kai-pang yang bersih dan gagah ternyata telah diselundupi oknum-oknum jahat yang mengangkat diri sendiri menjadi pimpinan dan menyelewengkan kai-pang ke jalan sesat. Terpaksa saya turun tangan membasmi mereka. Karena itu, dalam kesempatan ini saya peringatkan kepada saudara-saudara pimpinan kai-pang lain agar berhati-hati dan bersatu padu untuk menghalau kaum sesat yang hendak mencari tempat dan menguasai kai-pang.!

‘Bagus, bagus.!

‘Akur..! Akur..!!

Para pengemis bertepuk sorak. Yu Siang Ki mengangguk-angguk dan hatinya lega. Kiranya benar seperti dugaannya. Orang aneh ini sengaja memalsukan nama mendiang ayahnya dengan maksud baik, yaitu hendak mengandalkan nama ayahnya untuk mempengaruhi kai-pang dan mengajak mereka melawan kaum sesat. Ia menoleh ke arah Kwi Lan yang juga memandang ke atas panggung dengan mata terbelalak. Pada saat itu, Kwi Lan menyentuh tangannya.

‘Siang Ki, lihat..!!

Yu Siang Ki cepat menengok dan matanya tajam masih sempat melihat sinar hitam melayang ke arah leher dan lambung orang aneh yang memalsukan nama ayahnya itu. Jelas bahwa sinar itu adalah senjata rahasia yang halus sekali, yaitu jarum-jarum rahasia!

‘Celaka!! bisiknya khawatir. Akan tetapi ia dan Kwi Lan memandang dengan melongo ketika Suling Emas dengan tenang menerima jarum-jarum itu dengan leher dan lambung, kemudian tangan kirinya seperti mengusir lalat di leher dan lambungnya dan sekali tangannya bergerak, sinar hitam melesat dan jarum-jarum itu sudah di ‘retour! kembali kepada pengirimnya, namun dengan kecepatan dan kekuatan yang dahsyat sekali. Terdengar jerit-jerit kesakitan dan dua orang pengemis baju bersih yang berdiri di antara banyak pengemis itu roboh dan tewas seketika karena leher dan lambung mereka termakan jarum rahasia mereka sendiri!

Hanya para pengemis yang sudah tinggi ilmunya saja menyaksikan gerakan Suling Emas dan maklum apa yang telah terjadi. Yang tidak begitu tinggi ilmunya terheran-heran dan tidak tahu apa yang terjadi sehingga keadaan menjadi panik.

Suling Emas mengangkat kedua tangan ke atas memberi isyarat kepada semua orang agar tidak menjadi panik. Kemudian terdengar suaranya lantang.

‘Harap Saudara semua tenang. Matinya dua orang itu menjadi peringatan bagi kita bahwa di mana-mana kaum sesat sudah menyelundup sehingga perlu kita waspada karena mereka berdua itu adalah orang-orang jahat yang berusaha untuk membunuh saya. Sebaliknya pihak kaum sesat juga telah mendapat peringatan!! Suara ini tegas dan penuh wibawa.

‘Mereka itu pengemis baju bersih! Basmi para pengemis baju bersih yang jahat!! Terdengar teriakan-teriakan marah.

Kembali Suling Emas mengangkat tangannya. ‘Dengarlah baik-baik! Menilai orang bukan dari pakaian bersih atau kotor! Menilai orang harus dari sepak terjangnya, dari perbuatannya! Pengemis memang orang miskin. Sedapat mungkin orang harus berpakaian bersih dan baik, akan tetapi kalau tidak ada, apa boleh buat, kotor pakaiannya asal tidak kotor hati dan pikirannya. Orang-orang yang pernah menyeleweng dari pada kebenaran bukan sekali-kali berarti bahwa mereka itu selama hidupnya menjadi orang-orang jahat yang harus dikutuk! Karena itu, kami anjurkan kepada saudara-saudara kaum kai-pang yang pernah menyeleweng, kembalilah ke jalan benar dan bertobatlah. Apabila kalian tidak insyaf, kami kaum kai-pang yang sudah bersatu akan membasmi kalian!!

Kembali tepuk sorak menyambut ucapan yang lantang dan penuh semangat dari Suling Emas ini, karena semua orang menyetujui pendiriannya. Akan tetapi tentu saja tidak termasuk mereka yang memang hadir dengan maksud menentang, seperti rombongan Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang. Dua kai-pang ini memang sudah seluruhnya dikuasai kaum sesat, bahkan dua kai-pang ini pula yang belum lama ini mengadakan pertemuan di dunia kaum sesat untuk membicarakan soal pemilihan bengcu golongan hitam.

Oleh karena itu, kedatangan dua rombongan ini tentu saja berdasarkan menyelidik dan juga untuk menghalangi pergerakan kaum pengemis yang dipimpin oleh Yu Kang Tianglo. Bahkan dua orang pengemis yang tewas karena senjata jarum mereka diretour oleh Suling Emas tadi adalah anggauta-anggauta Hek-coa Kai-pang.

Di antara tepuk sorak gemuruh itu, tiba-tiba terdengar suara nyaring yang mengatasi kegaduhan itu. ‘Siapa di antara kita yang mampu menandingi Locianpwe Bu-tek Siu-lam?!

Pernyataan nyaring yang entah dikeluarkan oleh siapa ini menusuk telinga semua orang dan seketika kegaduhan terhenti, tak seorang pun berani mengeluarkan suara lagi. Pada saat itu dua orang kakek pengemis sudah melompat bangun dari barisan kursi pimpinan kai-pang yang menjadi tamu. Mereka ini lalu melangkah maju ke tengah panggung, menghadapi semua pengemis yang hadir. Keduanya adalah kakek yang usianya sudah enam puluh tahun, berpakaian sebagai pengemis akan tetapi pakaian mereka bersih dan baru yang sengaja ditambal-tambal. Mereka ini memegang tongkat panjang dan melihat betapa pada baju bagian dada mereka terdapat gambar garuda dan ular, maka mudah diduga bahwa mereka tentulah tokoh-tokoh dari Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang. Dan memang betul sekali. Kakek yang baju di dadanya tergambar garuda hitam adalah seorang tokoh Hek-peng Kai-pang, sedangkan yang dadanya tergambar ular hitam adalah seorang tokoh Hek-coa Kai-pang.

Sejak tadi, kehadiran rombongan Hek-coa Kai-pang dan Hek-peng Kai-pang sudah merupakan hal yang menimbulkan tegang di hati para pengemis karena mereka semua itu tahu dengan jelas siapakah mereka ini. Boleh dibilang pada waktu itu, pelopor para kai-pang yang menggabung dengan kaum sesat adalah dua buah perkumpulan inilah. Maka semua orang sudah dapat menduga bahwa munculnya tokoh-tokoh dua kai-pang ini tentulah mengandung maksud kurang baik. Kini melihat dua orang kakek ini muncul di panggung, semua orang diam dan memandang penuh perhatian.

Kakek yang dadanya bergambar ular hitam itu tubuhnya kecil tinggi, kepalanya besar. Setelah memandang ke sekeliling ia lalu berkata.

‘Kami adalah wakil dari Hek-coa Kai-pang. Mendengar uraian pangcu dari Khong-sim Kai-pang tadi, kami setuju sekali. Memang di antara kai-pang harus diadakan persatuan erat untuk menghadapi musuh-musuh kita! Dan untuk memperkuat para kai-pang kita harus memilih seorang pemimpin yang cakap. Kami dari pihak Hek-coa Kai-pang dan juga saudara-saudara kita dari Hek-peng Kai-pang dalam pertemuan orang-orang gagah telah bersepakat untuk mengangkat Locianpwe Bu-tek Siu-lam sebagai bengcu kita.!

‘Benar apa yang diucapkan oleh Saudara dari Hek-coa Kai-pang ini!! kata kakek ke dua yang dadanya bergambar garuda hitam. Kakek ini mukanya merah dan matanya sipit sampai hampir terpejam selalu, tapi mulut lebar dan bibirnya tebal sekali. ‘Hanya di bawah bimbingan seorang Locianpwe yang sakti seperti Bu-tek Siu-lam saja maka derajat golongan kita dapat terangkat. Kami rasa Yu Kang Tianglo dari Khong-sim Kai-pang cukup bijaksana untuk menyadari hal ini dan menyetujui pengangkatan Locianpwe Bu-tek Siu-lam sebagai pimpinan tertinggi semua kai-pang!!

Para pengemis menyambut ucapan dua orang kakek itu dengan berbisik. Dari rombongan pimpinan kai-pang sudah meloncat maju lagi dua orang kakek pengemis berpakaian butut. Seorang di antara mereka berteriak.

‘Apa? Bu-tek Siu-lam menjadi bengcu kita? Setelah ia membunuh secara keji dua ratus orang golongan kita?!

Yang berteriak ini adalah Ketua Ang-tung Kai-pang, seorang kakek bertubuh kecil pendek akan tetapi bermata lebar. Ia memutar-mutar tongkat merahnya dengan sikap marah sekali. Ketika Bu-tek Siu-lam melakukan pembunuhan terhadap dua ratus orang pengemis, belasan orang pengemis anak buahnya ikut terbunuh, maka tentu saja ia marah-marah mendengar betapa dua orang kakek itu hendak mengangkat Bu-tek Siu-lam menjadi bengcu.

‘Cocok! Tidak sudi kami menerima tokoh jahat itu menjadi bengcu!! Teriak pula pengemis ke dua yang sudah meloncat maju. Dia ini adalah wakil dari Ban-hwa Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Laksaan Bunga).

‘Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kaipang memang perkumpulan yang menyeleweng dan bersekongkol dengan kaum sesat!! Teriakan-teriakan itu terdengar saling bantah dan suasana menjadi berisik sekali melebihi pasar.

‘Yang dibunuh adalah pengemis-pengemis jahat!!

‘Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang menyenangkan hidup anak buahnya!!

‘Hidup Locianpwe Bu-tek Siu-lam!!

Demikianlah sorakan-sorakan mereka yang pro kepada tokoh yang diusulkan menjadi bengcu itu.

‘Basmi penyeleweng-penyeleweng!! ‘Basmi Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang!!

‘Bu-tek Siu-lam musuh besar kai-pang!!

Demikianlah sorakan-sorakan mereka yang anti sehingga keadaan menjadi ribut dan tegang karena setiap saat dapat timbul perang saudara antara para pengemis ini. Gak-lokai dan Ciam-lokai menjadi pucat wajahnya dan mereka sudah hendak bergerak, akan tetapi Suling Emas mencegah dan berkata halus.

‘Biarkan saja. Malah lebih baik. Dengan begini kita dapat melihat siapakah di antara mereka yang menyeleweng. Kalau mereka sudah menyatakan pendapat, baru kita turun tangan melakukan pembersihan.!

Sementara itu, di atas panggung sudah terjadi perdebatan yang makin lama menjadi saling maki antara tujuh orang pimpinan pengemis baju bersih yang dikepalai oleh dua orang dari Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang, dan pihak lawan mereka adalah sebelas orang pimpinan dari kai-pang-kai-pang lain yang rata-rata berpakaian butut. Suling Emas hanya duduk di atas kursi sambil menatap tajam, meneliti mereka yang pro dan mereka yang anti terhadap Bu-tek Siu-lam. Juga Kwi Lan dan terutama sekali Yu Siang Ki, memandang dengan hati tegang dan tertarik. Diam-diam Yu Siang Ki terheran menyaksikan orang aneh yang memalsukan nama ayahnya. Ia masih belum dapat menyelami isi hati orang itu. Kalau benar tindakannya itu demi perbaikan dan pembersihan kai-pang, kenapa kini ia diam saja melihat keadaan kacau-balau itu? Pihak manakah yang dibelanya?

Suling Emas yang duduk tak bergerak di atas kursinya dapat melihat betapa semua pengemis yang pro kepada Bu-tek Siu-lam dipimpin oleh dua orang kakek Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang. Dilihat dari sikap mereka, memang agaknya dua orang kakek ini sudah mengaturnya terlebih dahulu, sengaja untuk mengacaukan pertemuan ini dan bahkan kini tampak olehnya betapa rombongan pengemis yang duduk di sebelah timur, yang jumlahnya banyak, adalah anak buah mereka yang diam-diam sudah siap untuk turun tangan jika terjadi perkelahian!

Yang menyeleweng secara sadar hanya beberapa orang saja, pikirnya. Sebagian besar di antara para pengemis itu hanya ikut-ikutan karena tertarik oleh tingkat hidup yang lebih baik dan kemewahan. Kalau sampai terjadi pertempuran, tentu akan banyak roboh korban di kedua pihak. Suling Emas tidak menghendaki hal ini terjadi, maka ia sudah siap untuk menegur mereka dan merobohkan para pimpinan pengacau. Orang-orang yang melakukan penyelewengan secara ikut-ikutan seperti mereka itu, sekali pimpinannya roboh, tentu akan mudah diinsyafkan dan diajak kembali ke jalan benar. Yang menjadi sumber penyelewengan para anggauta kai-pang ini sebetulnya adalah tokoh yang bernama Bu-tek Siu-lam. Karena munculnya tokoh sakti yang sudah berhasil membunuh Ketua Im-yang-kauw itulah maka para pengemis yang lemah batinnya, mudah dibawa menyeleweng, karena ada yang mereka andalkan.

Akan tetapi dalam keadaan ketegangan tengah memuncak itu, sebelum Suling Emas sempat turun tangan atau membiarkan Gak-lokai dan Ciam-lokai mengurus keributan, tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak. Suara ketawa ini datangnya dari.. udara! Begitu nyaring dan hebat sehingga seakan-akan menggetarkan papan panggung.

‘Hua-ha-ha-ha! Jembel-jembel busuk ini seperti sekumpulan anjing berebut tulang!!

‘Heh-heh-heh! Tidak usah berebut pangkat, kamilah yang akan menjadi raja-raja kalian! Heh-heh!!

‘Hua-ha-ha! Benar sekali! Aku ingin menjadi raja pengemis!!

Bagaikan dua ekor burung rajawali, dari atas menyambar turun tubuh dua orang kakek yang mengerikan keadaannya. Yang seorang bertubuh kurus bermuka putih seperti orang kehabisan darah, kepalanya botak dan rambutnya jarang seperti sutera tua. Orang ke dua bertubuh besar kuat dan mukanya merah sekali, muka yang ditumbuhi rambut sehingga muka itu menyerupai muka singa.

Bukan main hebatnya gerakan kedua orang kakek yang sudah amat tua ini. Begitu keduanya turun ke atas papan panggung, sambil tertawa-tawa mereka menggerakkan kedua tangan ke sekeliling dan.. tubuh para, pimpinan pengemis yang tadinya berhadapan dan cekcok saling maki itu seperti layang-layang putus talinya, terlempar ke bawah panggung! Dan hebatnya, kedua orang kakek itu tidak pilih-pilih orang, siapa saja yang tadi saling maki memenuhi panggung itu mereka lemparkan turun. Mereka itu berjumlah belasan orang, hampir dua puluh, dan rata-rata adalah pimpinan kai-pang yang memiliki kepandaian tinggi. Ketika dua orang kakek aneh ini muncul dan menyergap, belasan orang itu sudah berusaha menerjang dan memukul roboh dua orang kakek pengacau, bahkan banyak di antara mereka yang menggunakan tongkat besi menggebuk. Memang terdengar suara bak-bik-buk ketika tongkat-tongkat itu mengenai tubuh dua orang kakek ini, akan tetapi sama sekali tidak dirasakannya, dan tanpa dapat dicegah lagi semua orang itu telah mereka lempar-lemparkan dengan cara yang luar biasa mudahnya. Dalam waktu beberapa menit saja, delapan belas orang pimpinan para pengemis baju bersih dan baju butut itu telah dilempar turun dari atas panggung!


0 Response to "Mutiara Hitam Bab 6-10"

Post a Comment