Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 30

Menjelang fajar sampailah Kim-soat di Sam-bun-wan. Langsung ia mendatangi sebuah hotel dan membawa Lamkiong Peng ke dalam kamar. Di dalam kamar ada tiga dipan, pada dua di antaranya berbaring dua sosok tubuh, kiranya Put-si-sin-liong Liong Po-si dan Cu-sin-tian-cu Lamkiong Eng-lok adanya. Dengan pandangan cemas mereka menyaksikan Bwe Kim-soat masuk membawa Lamkiong Peng.

"Anak Peng terluka?" tanya Liong Po-si dengan kuatir.

Kim-soat mengangguk. Tanpa bersuara ia membaringkan Lamkiong Peng di tempat tidur yang kosong itu.

"Siapa yang melukai dia?" tanya Lamkiong Eng-lok. Ia merangkak bangun dan coba memeriksa keadaan Lamkiong Peng. "Ehm, cukup parah lukanya. Tapi jangan kuatir, akan kusembuhkan dia dalam waktu dua hari," katanya dengan lemah.

"Tidak, jangan kau sentuh dia," seru Liong Po-si.

Lamkiong Eng-lok menjawab dengan gusar, "Dia keponakanku sendiri, peduli apa denganmu?"

"Dia juga muridku!" teriak Liong Po-si dengan parau.

"Sudahlah," dengan sedih Bwe Kim-soat memohon. "Keadaannya sangat payah, kenapa kalian malahan ribut sendiri?"

Kedua orang tua itu saling melotot sekejap, akhirnya tidak bicara lagi.

Sampai sekian lama barulah Lamkiong Eng-lok berkata kepada Kim-soat, "Selama belasan hari ini sudah aku ajarkan seluruh ilmu pertabibanku kepadamu. Melihat kecerdasanmu pasti sudah kau kuasai dengan baik. Kenapa sekarang tidak kau praktekkan atas diri anak Peng?"

"Tapi aku hanya... hanya menguasai teori saja dan belum pernah praktek, mungkin...,” jawab Kim-soat dengan ragu.

"Aku mendampingimu, masa kuatir?" ujar Lamkiong Eng-lok. "Lekas kerjakan, keadaannya cukup gawat, tidak boleh ditunda lagi."

Kim-soat memandang Liong Po-si sekejap. Melihat orang tua itu hanya diam saja, akhirnya Kim-soat berkata, "Baik, akan kucoba."

Lamkiong Eng-lok tersenyum senang. "Sekarang kau pergi membeli sebuah jarum panjang, sebotol arak putih dan segulung benang. Lekas, jangan terlambat!" katanya.

Cepat Kim-soat mengiyakan dan pergi membeli barang yang diperlukan itu. Sesudah segala keperluan siap, di bawah pengawasan Lamkiong Eng-lok mulailah Bwe Kim-soat menggunakan jarum untuk menusuk beberapa hiat-to penting di tubuh Lamkiong Peng, kemudian mencuci lukanya dengan arak dan akhirnya menjahit lukanya. Setelah sibuk sekian lamanya, akhirnya selesai pekerjaannya.

Keadaan Lamkiong Peng ternyata cukup memuaskan, anak muda itu dapat tidur dengan nyenyak. Saking lelahnya Kim-soat sendiri pun mengantuk dan mendekap di samping Lamkiong Peng dan terpulas. Liong Po-si saling pandang dengan Lamkiong Eng-lok, keduanya tidak ribut mulut lagi.

Waktu berjalan cukup lama. Kim-soat terjaga bangun ketika tubuh Lamkiong Peng bergerak perlahan. Waktu Lamkiong Peng membuka mata dan melihat Kim-soat berada di sampingnya, tanpa terasa ia berseru, "Hah, kau Kim-soat...?” Karena bersuara dan lukanya terguncang, ia pun meringis kesakitan.

"Jangan bergerak dan jangan bicara," kata Kim-soat. "Lukamu belum sembuh, boleh istirahat saja dengan tenang."

Sungguh kejut, girang dan terharu Lamkiong Peng mendadak melihat Bwe Kim-soat. Kalau bisa sungguh ia ingin melompat bangun dan merangkulnya. Akhirnya dia memejamkan mata lagi, dan dengan suara perlahan ia bertanya, "Kim-soat, apakah ini bukan dalam mimpi?"

"Jangan bicara dulu, istirahatlah dengan tenang," ucap Kim-soat dengan lembut.

Lamkiong Peng melihat pula Liong Po-si berbaring di tempat tidur lain, perasaannya jadi tambah terangsang. "Ah, Suhu juga sudah pulang. Hai, Kim-soat, lekas ceritakan apa yang telah terjadi?” serunya.

"Sungguh panjang kalau diceritakan. Biarlah setelah engkau sehat baru kuberi-tahukan, sekarang istirahat saja," kata Kim-soat sambil menotok hiat-to tidurnya.

Setelah Lamkiong Peng tertidur pula barulah Liong Po-si membuka matanya. Katanya dengan menghela napas, "Sampai ribuan jurus aku bertempur dengan Lamkiong-loji di bawah hujan badai. Kupukul dia beberapa kali, aku pun kena dipukulnya beberapa kali, tenaga murni kedua orang sama terkuras habis. Ai, tak tersangka selagi terombang-ambing di lautan dapat ditemukan oleh nona sehingga diselamatkan ke sini. Selama hidup Put-si-sin-liong sudah sering menghadapi maut, tak terduga sekali ini aku benar-benar akan mati di sini. Meski aku tidak takut mati, tapi aku merasa penasaran bila beberapa urusan belum kita bereskan."

"Di dunia kangouw terkenal obat mujarab si tabib sakti Po Tan-han yang dapat menghidupkan orang mati. Asalkan mendapatkan obat tersebut tentu Liong-cianpwee dapat disembuhkan," ucap Kim-soat.

"Obat mujarab si Po tua memang sangat bagus, namun ke mana akan mencari Po tua itu dan minta obatnya?" ujar Liong Po-si dengan gegetun.

Tengah mereka bicara, tiba-tiba pelayan mengetuk pintu dan memberitahu, "Makan siang datang, tuan tamu!"

"Masuk!" seru Kim-soat.

Habis pelayan mengantar santapan siang, mendadak masuk pula seorang tua. Liong Po-si terkejut melihat pendatang ini, kiranya sahabat sendiri yang sudah sekian lama tidak berjumpa, yaitu Thi-cian-ang-ki Suma Tiong-thian.

“Aha, kau baik-baik Suma-heng?!" seru Liong Po-si kegirangan. "Dari mana kau tahu aku berada di sini?"

Suma Tiong-thian menghela napas. "Sesudah pertandingan di Hoa-san dahulu engkau lantas menghilang di dunia kangouw. Tersiar macam-macam cerita mengenai dirimu. Ada yang bilang engkau dikalahkan Tan-hong dan bunuh diri, ada yang mengatakan engkau putus asa dan mengasingkan diri. Malahan ada yang bilang engkau pergi ke Cu-sin-to segala. Tidak jelas yang mana yang benar," katanya.

Liong Po-si lantas menuturkan pengalamannya selama ini secara singkat.

"Wah, bila-mana urusan ini tersiar, tentu dunia persilatan akan gempar," kata Suma Tiong-thian.

"Dan mengapa Suma-heng sampai di sini?" tanya Liong Po-si.

Suma Tiong-thian lantas menceritakan beberapa kejadian yang menggemparkan dunia kangouw itu, serta piaukiok-nya yang telah dibubarkan. Akhirnya ia berkata dengan menyesal, "Malahan keluarga Lamkiong yang termasyhur juga telah tamat sekarang. Lamkiong Siang-ju mengasingkan diri di Thay-oh. Aku dipesan Lamkiong-hujin untuk mencari kabar tentang Lamkiong Peng. Dalam perjalanan aku bertemu dengan Ban Tat yang dahulu suka numpang makan di rumah keluarga Lamkiong, dan dari dia diketahui Lamkiong Peng telah pulang ke sini, maka cepat kususul kemari."

Lalu Suma Tiong-thian menutur pula dengan suara perlahan, "Dalam perjalanan dapat kulihat berkumpulnya orang kangouw yang berbondong-bondong menuju ke mari, entah urusan penting apa yang akan terjadi di sini?"

Belum lenyap suaranya, mendadak di luar jendela ada orang tertawa dingin. Karuan mereka terperanjat.

"Siapa itu?!" bentak Suma Tiong-thian. Serentak ia melompat ke luar melalui jendela.

Pada saat yang sama Bwe Kim-soat menyelinap ke dalam kamar dan berseru, "Liong-locianpwee, keadaan cukup gawat...."

"Tampaknya nona begini gugup, ada urusan apa?" tanya Liong Po-si.

Belum lagi Bwe Kim-soat menjelaskan persoalannya, mendadak terdengar pintu digedor orang. Berubah air muka Bwe Kim-soat. Cepat ia sambar pedang Lamkiong Peng yang terletak di tepi tempat tidur, lalu mendekati pintu dan membentak, "Masuk!"

Waktu pintu terkuak, di depan pintu berdiri seorang tua berusia antara lima puluhan, berjubah warna kelabu dengan wajah yang jelek.

"Siapa kau?! Ada urusan apa?!" bentak Kim-soat dengan kurang senang.

Kakek itu terkekeh. "Numpang tanya, bukankah di sini tinggal Put si-sin-liong Liong Po si dan Cu-sin-tian-cu?" bukannya menjawab, kakek ini malah balik bertanya.

"Betul," jawab Kim-soat.

"Jika begitu, majikan kami ingin mengundangnya," kata kakek itu dengan khidmat sambil mengeluarkan sehelai kartu undangan warna hitam.

Kim-soat menerima kartu itu. Pintu dirapatkan, lalu ia serahkan kartu itu kepada Liong Po-si. Terkesiap juga Liong Po-si setelah membaca tulisan pada kartu itu. Dengan singkat di situ tertulis delapan huruf yang berbunyi: ‘Para dewa telah bubar, Sin-liong hendaknya menyerah!’.

"Hahaha!" Liong Po-si bergelak tertawa. "Hebat benar, Sin-liong disuruh menyerah? Aku justru ingin tahu tokoh kosen dari manakah yang mampu menyuruh orang she Liong ini menyerah?"

Pada saat itu juga mendadak pintu terpentang dan seorang menerobos ke dalam diikuti
belasan begundalnya.

"Enyah!" bentak Kim-soat dengan murka.

Tapi kakek tadi segera menghadapinya dan siap tempur.

"Nanti dulu!" tiba-tiba seorang setengah umur bermuka putih dan berdandan sastrawan membentak. Lalu katanya dengan tersenyum, "Maaf jika kawanku bersikap kasar."

"Siapa kalian?!” bentak Kim-soat gusar.

"Cayhe Sun Tiong-giok, putera Kun-mo-tocu," jawab lelaki bermuka putih itu. "Ini Ko Sat, satu di antara kesepuluh punggawa ayahku. Maaf, karena kami tinggal jauh di luar lautan sana sehingga mungkin kurang adat, untuk itu mohon dimaklumi."

Lalu ia berpaling kepada si kakek tadi dan memberi pesan, "Kalian keluar saja, tanpa dipanggil dilarang masuk."

Si kakek yang disebut Ko Sat itu seperti sangat takut kepada Sun Tiong-giok. Dengan munduk-munduk ia mengiyakan dan mengundurkan diri bersama begundalnya.

"Anda ini tentu Put-si-sin-liong adanya, dan siapakah nona jelita ini?" tanya Sun Tiong-giok.

"Aku Bwe Kim-soat," sebelum Liong Po-si bersuara Kim-soat sudah mendahului menjawab.

"Aha, kiranya Leng-hiat Huicu adanya. Sebelum aku berangkat, ayah memang sudah memberi gambaran siapa-siapa yang mungkin akan kutemui di sini. Sungguh kebetulan sekaligus dapat berjumpa dengan Huicu di sini," kata Sun Tiong-giok dengan tertawa. "Maksud ayah, hendaknya Liong-taihiap menyerah, untuk itu berarti perdamaian bagi dunia persilatan umumnya. Kalau tidak, heh...?!"

Tidak kepalang gusar Liong Po-si. Mendadak matanya mendelik dan darah tersembur dari mulutnya.

Pada saat itu juga Suma Tiong-thian telah menerjang masuk lagi ke dalam kamar dan membentak, "Jangan temberang, anak muda! Sebelum menghadapi Liong-taihiap, hadapi dulu diriku!"

Sun Tiong-giok meliriknya sekejap. "Tampaknya di sini terlalu ramai, biarlah tengah malam nanti kutunggu kalian di biara bobrok yang terletak di barat kota sana," jengeknya. Habis berkata, tanpa menanti jawaban ia terus melangkah pergi.

Saking menahan gusar, kembali Liong Po-si tumpah darah.

"Engkau kenapa, Liong-heng?" tanya Suma Tiong-thian.

"Karena banyak bicara, luka dalamku tambah parah, rasanya tidak jauh lagi ajalku," ucap Liong Po-si dengan suara lemah.

"Jangan kuatir, Liong-heng," kata Suma Tiong-thian. "Akan kuantar engkau pulang ke Ci-hau-san-ceng. Menjelajah ke ujung langit pun akan kucari Po tua untuk mengobati lukamu."

Liong Po-si tersenyum pedih. "Keadaanku sekarang ibarat pelita kehabisan minyak. Mumpung masih ada sisa tenagaku, sedapatnya akan kusalurkan semua tenaga rnurni kepada anak Peng. Nah, kemarilah anak Peng....”

"Jangan, Suhu," seru Lamkiong Peng.

"Tidak, kau perlu menyadari keadaan yang gawat," kata Liong Po-si dengan lemah. "Saat ini musuh tangguh sudah mengintai di sekeliling kita, kawanan iblis membanjir dari barat, dunia persilatan Tionggoan terancam bahaya. Kau tahu berapa berat tugas yang kau emban? Majulah sini, duduk di tepi ranjang!"

Lamkiong Peng tahu maksud sang guru, yaitu demi kepentingan dunia persilatan umumnya sang guru hendak menyalurkan segenap tenaga murni kepadanya, agar kelak dapat digunakan untuk menghadapi musuh tangguh. Dengan ragu ia pandang sang guru, cemas dan terharu.

"Seorang lelaki sejati harus bertindak cepat dan tegas, kenapa seperti anak kecil saja? Duduklah di sini, anak Peng," kata Po-si pula.

Akhirnya Lamkiong Peng duduk juga di tepi ranjang.

Lalu Liong Po-ti berkata kepada Suma Tiong-thian dan Bwe Kim-soat, "Pada waktu aku kerahkan tenaga, harap kalian berjaga sementara. Mungkin nanti aku tidak sempat lagi mohon diri, maka sekarang juga kuucapkan, terima-kasih kepada kalian. Nah, anak Peng, pusatkan pikiran dan kerahkan tenaga...."

Lamkiong Peng menurut dan memusatkan segenap pikiran menerima anugrah lweekang sang guru. Dengan tegang Suma Tiong-thian dan Bwe Kim-soat memandangi mereka, suasana sunyi senyap. Setelah sekian lamanya, tubuh Liong Po-si tampak gemetar.

Selagi Suma Tiong-thian berdua berdebar, sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh pintu kamar didobrak orang. Dengan terkejut Suma Tiong-thian dan Bwe Kim-soat melompat ke sana. Tertampaklah serombongan orang menerjang ke dalam, dua orang paling depan ternyata Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng dan Toat beng-siang-jiang Ko Tiong-hai adanya. Beberapa orang di belakang mereka adalah Thian hong-jit-eng yang kelihatan kaku itu.

Segera Kim-soat melolos pedang. Suma Tiong-thian juga siapkan tombaknya dan berjaga di depan tempat tidur.

"Ah. nona Bwe, baik-baikkah selama berpisah?!" sapa Yim Hong-peng dengan tertawa sambil menggoyangkan kipasnya.

"Baik, terima kasih," jawab Kim-soat dengan tersenyum.

Sekilas lirik Yim Hong-peng melihat keadaan Liong Po-si dan Lamkiong Peng. Ia kelihatan heran, tapi segera berkata pula dengan tertawa, "Wah, sungguh cepat amat Lamkiong-kongcu ini. Belum lama baru saja bertemu di Sam-bun-wan, tahu-tahu sekarang sudah berada di sini."

"Dia terluka parah dan Liong-taihiap sedang menyembuhkan dia," kata Kim-soat dengan lagak sedih.

Yim Hong-peng melenggong. "Tersiar kabar bahwa Put-si-sin-liong menderita sakit parah, kenapa....” kata-katanya terhenti, hanya matanya memandang penuh curiga.

"Kabar burung dunia kangouw mana boleh dipercaya?" ujar Kim-soat dengan tertawa. "Kau lihat sendiri, dengan tenaga sakti beliau, Liong-taihiap telah menolong murid kesayangannya itu."

Bwe Kim-soat cukup cerdik. Sedapatnya ia berbohong untuk mengulur waktu, dan ternyata Yim Hong-peng dapat dibuatnya merasa jeri.

Tapi dengan tertawa Yim Hong-peng berkata pula, "Tahun lalu urusan yang kuberi- tahukan itu tentu sudah nona pertimbangkan dengan baik, untuk itu nona pun menerima lencana Hong-uh-biau-hiang dari Swe-siansing. Dan sekarang bagaimana keputusan nona?"

"Kayu itu sudah hilang," jawab Kim-soat dengan tertawa genit.

Air muka Yim Hong-peng berubah mendadak.

Ko Tiong-hai melangkah maju dan membentak, "Jika lencana itu kau hilangkan, harus kau ganti dengan nyawamu!"

Kim-soat meliriknya sekejap. "Eh, sejak kapankah Yim-taihiap memiara seekor anjing galak begini?" katanya kepada Hong-peng.

Ko Tiong-hai menjadi murka. Sambil meraung ia menubruk maju, kedua tangannya menghantam berturut-turut. Kim-soat mendengus. Sambil mengegos pedang terus menebas tangan lawan. Begitu tangan lawan ditarik kembali, segera pula ia tusuk tenggorokan orang. Karuan Ko Tiong-hai terkejut. Cepat ia berkelit dan balas menyerang, dan begitulah akhirnya terjadi pertarungan sengit.

"Untuk apa kalian berdiri saja?!" bentak Yim Hong-peng terhadap Thian-hong-jit-eng, Kawanan Elang Pelangi Langit.

Tampaknya Thian-hong-jit-eng masih terpengaruh oleh obat sehingga kehilangan kesadaran. Dengan kaku segera mereka mengerubuti Suma Tiong-thian. Dengan sendirinya Tiong-thian tidak gentar, setelah beberapa jurus, segera ia cecar Elang Merah yang berkepandaian paling lemah. Karuan Elang Merah Ang Hau-thian terkejut, sedikit gugup tahu-tahu kepalanya sudah pecah kena tombak.

Keenam elang yang lain tidak peduli seorang saudaranya telah menjadi korban, mereka tetap menyerang dengan gencar. Walau pun tangkas, dikerubut enam orang Suma Tiong-thian akhirnya juga rada kerepotan, maka dalam waktu singkat Suma Tiong-thian, juga terkena dua tiga kali pukulan hingga ia tumpah darah.

Namun makin lama Suma Tiong-thian makin tangkas. Sekali tombak berputar, kembali Elang Hijau kena ditusuknya hingga terguling. Tapi pada saat yang sama bahu kirinya juga terpukul sehingga tombak kiri terlepas dari cekalan. Tanpa ayal kelima elang yang lain menubruk maju, tapi sekali tombak kanan berputar, dapatlah Suma Tiong-thian memaksa lawan mundur.

Terdengar Ko Tiong-hai meraung murka dan menghantam beberapa kali. Karena lengah, Bwe Kim-soat tertebas oleh telapak tangannya dan tumpah darah serta jatuh terduduk. Sambil menyeringai segera Ko Tiong-hai hendak menambahi suatu pukulan lagi.

Mendadak seorang membentak, "Tunggu dulu!"

Ko Tiong-hai berpaling, kiranya rombongan Sun Tiong-giok muncul kembali.

Dalam pada itu mendadak terdengar juga jeritan Suma Tiong-thian. Sambil tumpah darah jago tua itu kelihatan roboh terkapar, menyusul Elang Ungu juga ambruk dengan perut tertancap tombak dan mengucurkan darah. Keempat elang yang lain serentak menubruk maju hendak menyerang Liong Po-si dan Lamkiong Peng.

Bwe Kim-soat menjerit kuatir. Segera Sun Tiong-giok bertindak, ia melompat maju dan melancarkan pukulan dari jauh sehingga keempat elang itu dipaksa mundur. Dengan lemah Kim-soat memandangnya sekejap dengan rasa terima-kasih.

Segera Yim Hong-peng membentak, "Hah, sejak kapan Kun-mo-to berkomplot dengan Put-si-sin-liong? Selama ini Kun-mo-to dengan kami tidak ada permusuhan, kenapa kalian ikut campur urusan orang lain?"

"Hm, main kerubut, hanya berani karena menang jumlah banyak, peraturan dunia persilatan mana? Jika jantan sejati, ayolah keluar dan perang tanding di tempat yang luas! " tantang Sun Tiong-giok yang berwatak angkuh.

"Kematian sudah di depan mata, tetapi berani membual, memangnya siapa yang gentar
padamu?" Mendadak Yim Hong-peng berteriak, "Mundur keluar!"

Dan begitulah berbondong bondong anak buah kedua pihak lantas mundur ke luar untuk bertempur. Selagi pertarungan sengit berlangsung di luar, sementara itu penyaluran tenaga murni Liong Po-si kepada Lamkiong Peng sudah berakhir. Ketika mendadak Lamkiong Peng membuka mata, keadaan di dalam kamar yang dilihatnya membuatnya terkejut.

Cepat ia melompat bangun dan memburu ke samping Bwe Kim-soat. Ia coba memeriksa napasnya, ternyata perempuan jelita itu masih bernapas, maka legalah hatinya. Waktu ia periksa Suma Tiong-thian, mata jago tua itu kelihatan mendelik dan tangan tergenggam erat, ternyata kakek ini sudah meninggal sejak tadi.

Mendadak terdengar suara tubuh roboh di tempat tidur. Waktu Lamkiong Peng berpaling, tertampak Liong Po-si roboh terkulai di tempat tidur. Cepat ia memburu ke tempat tidur dan berteriak, "Suhu...!"

Dengan lemah Liong Po-si membuka matanya yang buram, lalu terpejam pula dan bersuara parau, "Aku... aku tidak... tidak tahan lagi, Anak... anak Peng. Hendaknya kau....” Belum habis ucapannya putuslah napasnya.

Sungguh tidak kepalang rasa duka Lamkiong Peng. Ia ingin menangis sekerasnya, namun suaranya tidak keluar.

Tiba-tiba terdengar keluhan perlahan Bwe Kim-soat. Cepat ia berpaling dan melompat ke sampingnya serta diangkatnya. "Kim-soat, bagaimana keadaanmu?" serunya kuatir.

Dengan lemah Kim-soat menjawab, "Aku dapat bertahan, lepaskan aku. Lekas kau bantu orang yang lagi bertempur dengan Yim Hong-peng itu."

Selagi Lamkiong Peng hendak tanya lagi tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri di luar disertai suara robohnya tubuh. Lamkiong Peng tahu keadaan cukup genting. Segera ia angkat Kim-soat dan dibaringkan di tempat tidur, lalu ia mengumpulkan jenazah Suma Tiong-thian dijajarkan dengan jenazah Liong Po-si. Habis itu ia raih pedang Yap-siang-jiu-loh dan memburu ke luar.

Keadaan di luar membuatnya terperanjat. Mayat sudah bergelimpangan, pertempuran masih berlangsung dengan sengit. Belasan anak buah Yim Hong-peng memasang barisan Thian-hong-gin-uh-tin sedang mengepung musuh. Walau jumlah anggotanya sudah banyak berkurang, namun daya gempurnya tambah kuat. Jelas barisan itu telah mengalami gemblengan baru dibandingkan waktu mengepung Lamkiong Peng dahulu.

Musuh yang terkepung di tengah barisan itu tinggal tiga orang, yaitu Sun Tiong-giok, Ko Sat dan seorang kakek tinggi besar. Ketiganya tampak beringas, rambut kusut, baju robek dan mandi darah serta keringat. Keadaannya tampak runyam, namun mereka masih terus bertempur dengan kalap.

"Berhenti semua!" bentak Lamkiong Peng dengan suara menggelegar.

Melihat yang datang ini adalah Lamkiong Peng, Yim Hong-peng langsung mengeluh dalam hati. Ia tahu urusannya bisa celaka di tangan pemuda itu. Dalam pada itu Lamkiong Peng terus menerjang ke tengah barisan. Sekali pedangnya berputar dan menebas, kontan tiga orang berseragam hitam roboh binasa dengan darah berhamburan.

Tanpa berhenti Lamkiong Peng terus berputar lagi ke samping, dalam sekejap tiga orang lainnya tertebas mati pula. Dengan robohnya keenam orang itu, barisan pengepung itu menjadi bobol. Sun Tiong-giok bertiga segera melancarkan serangan balasan.

Ko Tiong-hai menjadi murka. Sambil meraung ia menerjang ke arah Lamkiong Peng dan melancarkan pukulan dahsyat. Akan tetapi dengan tambahan tenaga murni dari sang guru, Lamkiong Peng sekarang sudah lain dari-pada Lamkiong Peng tadi, serangan Ko Tiong-hai itu tidak ada artinya baginya.

Sedikit mengegos, berbareng pedang menebas, sebelum Ko Tiong-hai sempat menggunakan tombaknya, tubuh jago andalan Swe-Thian-bang ini telah terkutung menjadi dua oleh tebasan pedang Lamkiong Peng. Tanpa ayal Lamkiong Peng terus menerjang lagi ke depan, menuju Yim Hong-peng dan begundalnya.

Karena diserang dari kanan kiri, terpaksa Yim Hong-peng melompat mundur. Lamkiong Peng memburu maju dan menusuk lagi. Sun Tiong-giok juga gemas terhadap Yim Hong-peng yang telah menimbulkan banyak korban di pihaknya, serentak ia pun menyerangnya dengan gencar. Yim Hong-peng menyadari sukar melawan kedua jago kelas tinggi itu. Diam-diam ia mengeluh dan berusaha mencari jalan lolos.

Sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri, ternyata si Elang Kuning telah mati terbacok oleh senjata Ko Sat. Tergerak hati Yim Hong-peng, maka timbul akal kejinya. Mendadak ia mendesak maju, tangan kiri berlagak menghantam Sun Tiong-giok, sekaligus kipasnya menotok Ki-bun-hiat di dada Lamkiong Peng. Dengan sendirinya Lamkiong Peng berdua mengelak. Tanpa membuang waktu kesempatan itu segera digunakan oleh Yim Hong-peng untuk melompat mundur dan kabur.

Serentak Lamkiong Peng dan Sun Tiong-giok membentak dan mengejar. Secepat terbang Yim Hong-peng menyusup ke dalam kamar. Waktu Lamkiong Peng dan Sun Tiong-giok menyusul ke dalam, dilihatnya sebelah tangan Yim Hong-peng mengempit Bwe Kim-soat yang parah itu dan dengan tangan kanan mengancam punggungnya.

Sambil menyeringai Yim Hong-peng membentak, "Berhenti! Maju lagi selangkah segera aku binasakan dia!"

Sungguh tidak kepalang murka dan gemas Lamkiong Peng, tapi apa daya, terpaksa ia berhenti dengan mendelik. Sun Tiong-giok juga berdiri melenggong.

"Berani kau ganggu seujung rambutnya, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu hingga hancur lebur!" teriak Lamkiong Peng dengan kalap.

Dalam pada itu suara pertempuran di luar juga sudah mereda, mungkin sisa ketiga elang juga sudah terbunuh oleh Ko Sat dan kawannya, si kakek tinggi besar.

Selagi Yim Hong-peng merasa terpojok dan mencari akal cara bagaimana meloloskan diri dengan menggunakan Bwe Kim-soat sebagai sandera, tiba-tiba di luar ada orang tertawa nyaring, menyusul pintu kamar terbuka dan masuklah serombongan orang. Begitu melihat pendatang ini, sungguh tak terkatakan girangnya hati Yim Hong-peng. Orang yang masuk paling dahulu ternyata Kwe Giok-he adanya, di belakangnya mengikut tiga orang kakek berbaju hitam.

Kening Lamkiong Peng bekernyit. Dilihatnya Kwe Giok-he mendekatinya dengan tersenyum sambil menyapa, "Bagaimana Gote, baik-baik selama berpisah?"

Lamkiong Peng merasa tidak sabar. Cuma karena mengingat Liong Hui, ia tidak berani bersikap kasar. Terpaksa ia menjawab dengan hambar, "Baik."

Dalam pada itu ketiga kakek berbaju hitam juga sudah berdiri di samping Yim Hong-peng. Meski wajah ketiga kakek ini tidak luar biasa, namun sinar mata mereka mencorong, jelas mereka memiliki lweekang kelas satu.

Keadaan Lamkiong Peng sekarang berubah pada posisi tidak menguntungkan. Namun ia tidak gentar, diam-diam ia ambil keputusan akan bertempur mati-matian. Sun Tiong-giok bertiga juga merasakan keadaan cukup gawat, mereka pun siap tempur.

Dengan tertawa Giok-he lantas berkata, "Gote, menurut berita dunia kangouw, katanya engkau pergi ke Cu-sin-to dan pulang dengan memperoleh kepandaian sakti, apa betul kabar itu?"

"Memang betul," jawab Lamkiong Peng dengan aseran dan tetap menatap Yim Hong-peng.

"Eh, ada apakah antara kalian ini?" ucap Giok-he pula dengan lagak heran. "Yim-taihiap berhasil menawan Leng-hiat Huicu, tampaknya Gote berbalik membela perempuan berdarah dingin ini? Memangnya kabar yang tersiar di dunia kangouw bahwa Gote bergaul erat dengan dia adalah kabar yang benar?"

"Aku cuma patuh kepada pesan Suhu untuk menjaganya, pula hatinya sebenarnya bajik, segala sesuatu kebusukannya hanya fitnah orang kangouw padanya," kata Lamkiong Peng dengan nada gusar.

"Wah, tampaknya berita hubunganmu dengan dia memang tidak salah," dengus Giok-he.

"Selaku kakak seperguruanmu sekarang kuperintahkan agar engkau membiarkan Yim-taihiap membawa pergi Bwe Kim-soat."

"Memangnya engkau dapat memerintahku lagi?" jawab Lamkiong Peng dengan tertawa.

"Kenapa tidak?" seru Giok-he dengan gusar.

“Engkau menghianati guru dan mengacau dunia persilatan. Nama baik Suhu telah kau cemarkan, hubungan kita sudah putus, berdasarkan apa berani kau beri perintah padaku?" jawab Lamkiong Peng.

"Kurang ajar, kau berani melawan kakak seperguruan sendiri?!" bentak Giok-he. "Biarlah hari ini kuwakili guru melaksanakan haknya menumpas murid murtad." Habis bicara segera ia melancarkan pukulan.

Gusar dan benci berkecamuk dalam hati Lamkiong Peng. Meski mata tetap mengawasi Yim Hong-peng, sebelah tangan lantas digunakan menangkis. Kwe Giok-he tidak menyangka lweekang sang Sute sekarang sedemikian lihai, begitu kedua tangan beradu, kontan ia tergetar sempoyongan. Alangkah kejut dan gusar Giok-he. Selagi hendak menerjang maju lagi, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melayang masuk, kiranya Ciok Tim adanya.

"Jangan takut, Gote, aku datang membantumu!" seru Ciok Tim, berbareng ia terjang Kwe Giok-he.

Karuan Giok-he terkejut. "Hei, Ciok Tim, apa engkau sudah gila?!" bentaknya.

"Aku tidak gila," jawab Ciok Tim. "Sudah sekian lama aku mimpi, sekarang aku baru sadar. Kau sendiri telah membuat malu Sin-liong-bun. Toako tidak berada di sini, sebagai wakilnya kugantikan Suhu memberi hajaran padamu."

Sembari bicara ia terus melancarkan pukulan. Terpaksa Giok-he menangkis dan balas menyerang. Dalam sekejap saja kedua orang sudah bergebrak belasan jurus. Ciok Tim menyerang serupa harimau gila, semua jurus serangannya mematikan tanpa kenal ampun. Giok-he terdesak hingga mundur ke pojok.

Pada saat gawat itulah mendadak seorang kakek berbaju hitam di sebelah kanan membentak dan serentak menubruk ke arah Ciok Tim. Menyusul kemudian kedua kakek seragam hitam yang lain juga menerjang Lamkiong Peng. Lamkiong Peng tahu menghadapi lawan tangguh. Cepat ia melompat ke samping, berbareng tangan kanan menghantam Yim Hong-peng.

Yim Hong-peng tertawa terkekeh. Segera ia angkat Bwe Kim-soat dan ditangkiskan pada serangan Lamkiong Peng itu. Tentu saja Lamkiong Peng terkejut dan gusar. Cepat ia menarik kembali serangannya dan menggeser ke samping, secepat kilat ia hantam lagi kedua kakek. Kesempatan itu segera digunakan Yim Hong-peng untuk melompat ke pintu. Baru saja ia hendak kabur, dengan kalap Lamkiong Peng memburu maju dan meraih pinggangnya.

Yim Hong-peng mendengus. Sedikit berputar, kembali ia sodorkan tubuh Bwe Kim-soat sebagai tameng. Karena berulang dijadikan alat penangkis, luka Kim-soat tambah parah, seketika ia tak sadarkan diri. Dengan sendirinya Lamkiong Peng rada repot menghadapi lawan yang licik itu. Pada saat itu kedua kakek baju hitam pun sudah menubruk tiba dari kanan dan kiri. Terpaksa Lamkiong Peng putar balik untuk melayani mereka, dan kesempatan itu segera digunakan Yim Hong-peng untuk kabur ke luar.

"Lari ke mana?!" bentak Lamkiong Peng dengan murka.

Kedua tangan Lamkiong Peng menghantam sekaligus hingga kedua kakek dipaksa melompat mundur. Namun kakek itu memang bukan jago rendahan. Begitu menyurut mundur, keduanya segera menubruk maju lagi sehingga Lamkiong Peng sukar melepaskan diri.

Mendadak terdengar Kwe Giok-he juga membentak. Ia pun meninggalkan Ciok Tim dan lari ke luar.

"Jangan kuatir, Lamkiong Peng. Akan kurampas kembali nona Bwe," seru Sun Tiong-giok, berbareng ia pimpin Ko Sat dan si kakek tinggi besar mengejar ke sana.

Saking gemasnya Lamkiong Peng melancarkan serangan maut. Ta-mo-cap-pek-sik dilontarkan, karuan kedua kakek itu kaget. Kakek sebelah kiri belum sempat melancarkan pukulan sepenuhnya sudah tersodok lebih dulu iganya oleh Lamkiong Peng, ia hanya bersuara tertahan dan roboh binasa. Kakek yang lain bermaksud menarik diri, namun Lamkiong Peng lantas membentak pula dan mendesak maju. Sekali totok ia pun bikin lawan terguling.

Mendadak terdengar bentakan Ciok Tim. Waktu Lamkiong Peng berpaling, dilihatnya kakek baju hitam di sebelah sana tergetar mundur sempoyongan. Baju Ciok Tim juga robek dan mukanya pucat, jelas Suheng-nya juga terluka. Tanpa pikir Lamkiong Peng memburu maju dan menghantam. Setelah mengalami berbagai kejadian ini, watak Lamkiong Peng yang biasanya halus itu berubah menjadi ganas pula. Kakek itu tidak sempat menghindar, kontan ia terjungkal dan binasa.

Waktu Lamkiong Peng memandang ke depan, cahaya matahari senja kelihatan indah menyilaukan mata. Mana ada lagi bayangan Yim Hong-peng dan Kwe Giok-he? Lamkiong Peng memandang mayat Liong po-si dan Suma Tiong-thian sekejap, lalu mendekati tempat tidur Lamkiong Eng-lok. Waktu diperiksa, orang tua ini ternyata sudah kaku, rupanya sejak tadi sang paman juga sudah menghembuskan napas terakhir.

Pantas orang tua ini tidak memberi reaksi apa-apa meski di sekitarnya terjadi kegemparan. Meski tidak banyak kenal pribadi sang paman, namun apa pun masih punya hubungan keluarga sedarah. Dipandanginya jenazah orang tua yang hidupnya merana di pulau terpencil tapi akhirnya meninggal di tanah air.

Gurunya juga meninggal, sahabat karib ayah dan gurunya, yaitu Suma Tiong-thian juga tewas. Hanya dalam satu hari tiga orang tua yang paling erat hubungannya telah meninggal seluruhnya, betapa pun Lamkiong Peng tidak tahan oleh pukulan batin ini. Kalau saja hatinya tidak dibakar oleh rasa gusar dan dendam, tentu sejak tadi ia sudah runtuh.

Melihat anak muda itu diam saja, Ciok Tim coba mendekatinya. Ia tidak kenal Lamkiong Eng-lok, terlebih tidak tahu bahwa orang tua inilah Cu-sin-tocu yang termasyhur dan disegani itu.

Melihat Ciok Tim, tiba-tiba timbul pikiran Lamkiong Peng mengenai Tik Yang dan istrinya serta Yap Man-jing yang dibawa lari ke Lam-san oleh Yim Hong-peng itu. Apalagi Bwe Kim-soat tadi juga digondol oleh orang she Yim itu, sangat mungkin juga akan dibawa ke Lam san. Bila-mana sekarang juga menyusul ke sana, rasanya masih belum terlambat.

Karena itu segera ia berkata kepada Ciok Tim dengan menahan rasa dukanya, "Samsuheng, masih ada sesuatu urusan penting yang harus kuselesaikan. Bila-mana esok malam Siaute tidak kembali ke sini, mohon Samsuheng membawa pulang dulu jenazah Suhu ke Ci-hau-san-ceng."

Ciok Tim mengiyakan dengan sedih sambil memandang jenazah sang guru. Habis bicara Lamkiong Peng lantas mohon diri lebih dulu.

Apa yang dimaksudkan Lam-san itu adalah sebuah perkampungan yang dibangun di lereng bukit yang dikelilingi dengan pepohonan yang rindang. Kalau diperhatikan dengan cermat, setiap pohon yang ditanam itu seakan-akan diatur menurut perhitungan barisan tertentu.

Saat itu bulan sudah menghiasi langit. Di bawah cahaya remang bulan kelihatan belasan sosok bayangan orang berlompatan di antara pepohonan yang teratur itu. Dari gerak tubuh mereka yang cepat dan enteng itu, jelas semuanya menguasai ginkang yang amat tinggi, lamat-lamat kelihatan semuanya berdandan sebagai kaum pengemis. Dua orang yang di depan membawa tongkat bambu hijau. Kiranya mereka adalah Kiong-sin Ih Hong dan Ok-kui Song Cing, si Arwah Rudin dan si Setan Jahat. Tidak perlu dijelaskan lagi, kawanan pengemis ini adalah Yu-leng-kun-kai atau Kawanan Jembel Arwah Halus.

Suasana perkampungan yang megah itu kelihatan sunyi senyap, namun dapat dirasakan ketegangan yang segera akan terjadi sesuatu. Ih Hong mengamat amati keadaan sejenak, habis itu ia memberi tanda dan segera mendahului melintasi pagar bambu yang mengelilingi perkampungan itu. Sejenak kemudian mereka sudah berada di halaman yang luas, namun bangunan yang terlihat di depan semuanya dalam keadaan gelap gulita. Ih Hong dan Song Cing merasa sangsi, suasana terasa seram.

"Sekali sudah datang, masa kita mundur lagi?" kata Song Cing dengan tertawa. "Memangnya Yu-leng-kun-kai kita pernah gentar kepada siapa? Ayo kawan, biar pun neraka juga akan kita terjang."

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong cahaya lampu menyala serentak dengan terang benderang, karuan kawanan pengemis seketika merasa silau. Tertampak bayangan orang berkelebat di ruangan tengah, pintu lantas terbuka, seorang setengah umur bertubuh jangkung dan bermuka putih dengan jubah hitam melangkah ke luar. Sungguh kontras sekali muka orang yang putih tetapi berjubah hitam.

Setelah keluar dengan angkuh orang ini lantas menegur, “Tengah malam buta kalian berkunjung kemari, entah apa keperluan kalian?"

Dia bicara dengan lembut serupa orang perempuan, membuat kawanan pengemis itu lama melenggong.

Segera Ih Hong berseru, "Apakah Anda tuan rumah di sini?"

"Ah, Cayhe cuma Congkoan dari perkampungan ini, Bi Pek-hiang adanya," jawab orang itu.

"Kami ingin bicara dengan majikanmu," seru Ih Hong.

"Tengah malam buta tuan rumah tidak menerima tamu, ada urusan apa coba bicara saja denganku," kata Bi Pek-hiang.

"Hm, orang terang tidak perlu berbuat gelap," jengek Song Cing. "Kukira kau pun tidak perlu berlagak pilon. Kedatangan kami tiada lain adalah ingin minta orang. Adik Ih-pangcu dan Tik Yang suami-istri telah diculik kalian dan dibawa ke sini, kedatangan kami sekarang justru ingin minta kembali kedua orang ini."

Selagi Bi Pek-hiang hendak menjawab, mendadak dari ruangan dalam bergema suara seorang, "Bi-congkoan, ada tamu datang dari jauh, kenapa tidak kau silakan masuk ke dalam? Kan kurang hormat meladeni tamu di luar?"

Kawanan jembel sama melengak, sebaliknya sikap Bi Pek-hiang lantas berubah. Cepat ia berkata sambil membungkukkan tubuh, "Majikan menyilakan para tamu masuk ke dalam!"

Ih Hong saling pandang sekejap dengan Song Cing. Mereka merasa orang yang bersuara di dalam itu seperti sudah dikenalnya. Namun mereka tidak gentar, segera mereka ikut Bi Pek-hiang masuk ke ruangan tamu.

Cahaya lampu di dalam ruangan terang benderang. Pada kursi besar yang terletak di tengah ruangan berduduk seorang yang bertubuh sedang dengan muka pakai kedok sutera hitam. Serentak orang berkedok itu berbangkit demi nampak rombongan Ih Hong masuk.

"Silakan duduk untuk bicara. Sungguh beruntung atas kunjungan kalian dari kejauhan, cuma sudah jauh malam sehingga tidak dapat memberi pelayanan yang layak," katanya.

"Ah, kukira tidak perlu bicara bertele-tele," ucap Ih Hong. "Biarlah aku katakan langsung saja, kedatangan kami ini adalah minta orang padamu."

"Haha, Ih-heng sungguh orang yang tak sabar," kata orang berkedok itu dengan tertawa. "Padahal setelah sekian lama berpisah dan sekarang dapat berkumpul pula, seharusnya kita bercengkerama mengenang masa lalu."

Kawanan jembel Yu-leng-kun-kai sama melengak. Dari nada ucapan orang berkedok ini agaknya mereka adalah kenalan lama, tapi karena tertutup oleh kain kedok sehingga tidak kelihatan wajah aslinya.

Hati Song Cing tergerak, ia pun tertawa dan berseru, "Aha, jika kita memang kenalan lama, kenapa Anda tidak menanggalkan kedok supaya kami dapat melihat jelas kawan lama yang mana?"

"Apa susahnya membuka kedok, soalnya belum tiba waktunya," kata orang berkedok dengan tertawa.

Mendadak Ih Hong menjengek, "Hm, hanya orang yang berdosa saja selalu menutupi wajah aslinya. Mungkin Anda pun berlumuran dosa, maka harus menutupi muka sendiri untuk mengelabui mata orang."

Orang berkedok memandangnya sekejap. Mendadak ia berpaling dan membentak ke dalam, "Tamu agung sudah tiba, kenapa santapan belum disiapkan?"

Ih Hong dan Song Cing sama melengak, mereka tidak tahu apa maksud tuan rumah. Dengan tergelak Song Cing lantas berkata, "Kalau tidak menerima berarti kurang hormat, lebih dulu kami mengucapkan terima-kasih atas pelayanan Anda."

Orang berkedok itu tertawa dan mendahului masuk ke ruangan tamu. Segera Ih Hong dan iringannya ikut masuk ke dalam....