Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 29

Dengan sendirinya Tik Yang, In Loh dan semua lainnya ingin tahu apa yang terjadi. Waktu mereka melongok ke luar hotel, tertampak di jalan raya orang berlari kian ke mari sambil membawa keranjang, ember dan sebagainya, semuanya menuju ke pantai. Karena ingin tahu apa yang terjadi, Tik Yang dan Ih Loh coba ikut menuju ke tepi laut.

Hari sudah gelap, tertampak orang berjubel di pantai, semuanya bersorak gembira. Ada
kawanan pemuda sudah melepas baju dan terjun ke laut. Waktu mereka mendesak maju ke tepi laut, baru sekilas pandang seketika mereka melengak. Ternyata di tengah debur ombak terbawa cahaya gemerlip, yaitu gemerlip sisik ikan, namun ikan yang beratus ribu terdampar ombak itu sudah mati semua.

Rupanya membanjirnya penduduk ke tepi pantai adalah untuk mencari ikan. Sebagai kaum nelayan, menangkap ikan tanpa susah payah tentu sangat menggembirakan mereka, selama hidup mereka juga tidak pernah melihat ikan sebanyak ini.

Tik Yang saling pandang dengan Ih Loh, sebab mereka merasa munculnya bangkai ikan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Cepat Tik Yang menarik Ih Loh ke luar dari kerumunan orang banyak, katanya dengan perlahan, "Dugaanmu memang tidak salah. Untung kita tidak makan hidangan yang di antar orang-orang itu, kalau tidak....”

Setelah melihat bangkai ikan sebanyak itu, dapatlah diduga pasti kawanan ikan itu, telah makan berbagai makanan yang mereka buang ke laut itu dan mati keracunan, lalu bangkai ikan terbawa arus dan akhirnya terdampar ke pantai. Sungguh mengerikan melihat beratus ribu bahkan berjuta ikan mati itu.

"Keji amat racun mereka, siapakah yang sengaja hendak meracuni kita dengan obat racun sejahat ini?" gumam Ih Loh dengan kening bekernyit. "Tapi apakah semua pengantar makanan itu memberi racun atau cuma satu di antara mereka? Hal ini juga tidak jelas."

"Pada suatu hari hal ini pasti dapat diketahui," ujar Tik Yang.

"Wah celaka! " seru Ih Loh mendadak.

"Ada apa? " tanya Tik Yang.

"Ikan ini mati keracunan. Jika bangkai ikan ini diambil dan dimakan, bukankah yang makan juga akan ikut keracunan?"

Tergugah juga hati Tik Yang. Waktu ia memandang ke sana, entah berapa banyak orang yang berjubel di pantai sekarang. Cara bagaimana harus mencegah tindakan mereka yang hendak panen bangkai ikan itu? Bisa jadi beribu orang ini pun akan menjadi korban racun.

"Wah! Bagaimana baiknya? Cara bagai-mana kita memberi keterangan kepada mereka supaya mereka mau percaya?" gumam Ih Loh dengan bingung.

Tik Yang juga tak berdaya. Dilihatnya beberapa nelayan dengan menjinjing keranjang penuh ikan sedang beranjak pulang dengan riang gembira. Selagi ia bermaksud memburu maju untuk memberi penjelasan, tiba tiba dari kejauhan ada suara teriakan orang.

Beberapa lelaki berbaju kuning dengan rambut diikat tampak berlari datang sembari berteriak. "Losinsian ada perintah, katanya ikan ini tidak boleh dimakan!"

Dalam sekejap segera orang-orang berbaju kuning itu di kerumuni orang banyak dan ditanyai. Kawanan nelayan yang.akan pulang itu berputar balik untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Salah seorang berbaju kuning itu berteriak pula, "Saudara sekalian, lekas bangkai ikan itu ditanam saja dan janganlah sekali-kali dimakan."

“Kenapa tidak boleh dimakan?" demikian ada orang bertanya.

"Losinsian bilang ikan ini beracun dan dikirim oleh kaum iblis untuk membikin celaka manusia, bila dimakan segera akan mati keracunan," seru si baju kuning.

Berubah hebat air muka kawanan nelayan. Salah seorang di antara mereka ada yang berkata, "Syukurlah Losinsian berada di sini, kalau tidak tentu banyak nyawa akan melayang."

Diam-diam Tik Yang merasa lega. Mau tak mau ia pun merasa heran, sebab ia tidak tahu ‘Losinsian’ atau si Dewa Tua yang dimaksudkan mereka itu sesungguhnya orang macam apa, dan mengapa kaum nelayan sedemikian percaya kepadanya. Ia coba mendekati seorang nelayan dan bertanya, "Numpang tanya, Losinsian yang disebut itu sebenaraya siapa?"

NeIayan itu mengamati dia sejenak, lalu menjawab dengan tertawa, "Agaknya Anda berdua adalah kaum pelancong dari tempat lain sehingga tidak tahu siapa Losinsian. Beliau seorang tua yang serba pintar, dari ilmu bintang sampai ilmu bumi semuanya dipahaminya. Beliau boleh dikatakan serba tahu dan serba bisa, di dunia tidak ada bandingannya."

Tik Yang mengucapkan terima-kasih, lalu mengajak Ih Loh pulang ke hotel.

"Losinsian ini tentu seorang kosen, kalau sempat ingin kutemui dia," kata Ih Loh.

"Orang kosen apa? Kukira cuma sebangsa dukun saja," ujar Tik Yang.

"Kalau dukun, cara bagaimana dia tahu bangkai ikan beracun dan menyuruh orang jangan memakannya?" kata Ih Loh. "Kawanan nelayan itu memang banyak yang tahayul, tapi tidak semuanya orang bodoh."

Tik Yang tidak membantah lebih lanjut. Sepulang di hotel, tertampak Lamkiong Peng dan Yap Man-jing duduk berhadapan dengan diam di ruang duduk. Segera Tik Yang menceritakan apa yang dilihatnya tadi.

Tentu saja orang yang memesankan kamar bagi mereka mengantarkan lagi berbagai santapan. Tapi setelah urusan ikan mati keracunan tadi, mana mereka berani makan? Mereka menyuruh pelayan membeli ratusan telur ayam dan direbus untuk mengisi perut. Meski mereka tidak banyak bicara lagi, tapi diam-diam sama merasakan urusan bertambah gawat. Dengan perasaan tertekan mereka kembali ke kamar masing-masing.

Tentu saja Lamkiong Peng tidak dapat pulas. Pikirannya bergolak. Teringat olehnya akan kedua orang-tua, terkenang juga kepada guru dan saudara seperguruan, juga kawan dan kerabat Iain. Malam bertambah larut, namun ia tetap sukar pulas. Selagi suasana sunyi senyap, tiba-tiba terdengar suara mendesir di luar jendela, suara kain baju tertiup angin, menyusul ada dua kali suara mencicit.

Tergerak hati Lamkiong Peng. Cepat ia bangun, kembali terdengar suara mencicit dua kali lagi di luar, suaranya seperti bunyi serangga di malam sunyi. Ia masih ingat dahulu ketika dia baru saja masuk perguruan, di antara beberapa saudara seperguruan berkumpul main sembunyi-sembunyian untuk berlatih ginkang.

Waktu itu mereka sama masih muda belia. Liong Hui sudah meningkat dewasa, namun pikirannya masih serupa anak kecil. Ia membawa para Sute dan Sumoay bermain kucing-kucingan di hutan agar tidak dirasakan mereka sedang berlatih ginkang, melainkan seperti permainan biasa kanak-kanak saja. Seketika Lamkiong Peng terkenang kepada kejadian lalu, semua itu seperti baru terjadi kemarin.

"Hah, jangan-jangan Toasuheng yang datang?!" tlba-tiba timbul pikirannya.

Segera ia membuka jendela. Dilihatnya sesosok bayangan orang mendekam di emper rumah depan sana dan lagi menggapai padanya. Tanpa pikir Lamkiong Peng keluar. Dilihatnya bayangan orang itu sudah melompat ke halaman rumah lain dan berdiri di bawah pohon yang rindang. Waktu Lamkiong Peng menyusul ke situ, dalam kegelapan samar-samar dapat dikenalinya bayangan orang ini ternyata Samsuheng-nya yaitu Ciok Tim yang sudah lama berpisah itu.

Sungguh girang sekali Lamkiong Peng. Cepat ia pegang tangan Ciok Tim, lantas dia berkata “Samsuheng, engkau...," seketika kerongkongan seperti tersumbat dan sukar bersuara.

Dalam kegelapan kelihatan Ciok Tim yang dulu gagah dan cakap itu sekarang sangat kurus, muka pucat, mata celing dan guram sinar matanya. Duka, pedih dan girang pula Lamkiong Peng.

Didengarnya Ciok Tim berkata, "Kudengar engkau datang kemari dan segera menyusul ke sini." Suaranya kedengaran berat dan perlahan, tidak bersemangat lagi seperti dulu.

"Kalau sudah datang, mengapa Samsuheng tidak masuk kamarku?" tanya Lamkiong Peng.

Ciok Tim menggeleng, sorot matanya yang guram menampilkan rasa duka dan hampa. "Aku tidak mau masuk, aku cuma ingin memberi-tahukan padamu, jangan kau percaya kepada omongan orang, jangan menyanggupi sesuatu kepada siapa pun. Hanya... hanya sekianlah pesanku," katanya.

Lamkiong Peng tertegun sejenak. "Baik-baikkah selama ini, Samsuheng? Tentu Toaso dan lain-lain juga berada denganmu?" katanya kemudian.

Ciok Tim termenung sambil memandang bintang di langit, jawabnya kemudian, "Aku ini orang sial dan berdosa, selanjutnya jangan kau anggap lagi diriku sebagai Suheng-mu, sebaiknya anggap aku sudah mati."

"Kenapa Suheng bicara seperti ini? Apa pun juga engkau adalah Suheng-ku," kata Lamkiong Peng dengan terharu.

Ciok Tim menggeleng dan menghela napas. "Engkau... engkau tidak tahu... Sudahlah, hendaknya kau jaga dirimu dengan baik, aku pergi saja." Habis bicara segera ia melayang pergi, dan hanya sekejap saja sudah menghilang dalam kegelapan.

Suasana sunyi, angin mendesir. Lamkiong Peng berdiri di halaman yang luas dan gelap, itu dengan perasaan tertekan. Ciok Tim adalah salah seorang di antara lima saudara seperguruannya yang gagah dan tangkas, tapi sekarang dia kelihatan lesu, sedih dan putus asa, jika tidak mengalami sesuatu pukulan batin tentu takkan membuatnya jadi begini.

Sejak berpisah di Hoa san dahulu, antara sesama saudara seperguruan mereka lantas terpencar dan sudah dekat setahun tidak pernah berjumpa. Sekarang Ciok Tim terburu-buru tinggal pergi lagi, memangnya apa yang dihindarinya? Begitulah perasaan Lamkiong Peng bergolak, pedih dan haru. Tanpa terasa air mata pun meleleh, terutama bila mengingat pengalamannya sendiri.

Di bawah bayangan pohon yang bergerak tertiup angin, sekilas tertampak di sisinya sudah bertambah dengan sesosok bayangan yang ramping. Cepat Lamkiong Peng berpaling, kiranya Yap Man-jing adanya. Dengan tercengang si nona lagi menatapnya.

"Engkau menangis?" tanya nona itu.

"Tidak," cepat Lamkiong Peng memperlihatkan senyumnya, namun tidak dapat menutupi bekas air mata pada pipinya.

"Malam dingin dan banyak embun, lekas pulang ke kamar saja," ucap Man-jing dengan lembut.

Lamkiong Peng memandangnya sekejap sambil mengangguk, lalu kembali ke kamar. Ia duduk termenung dan seperti hilang rasa kantuknya. Suasana sunyi senyap, pikirannya bergolak, berbagai urutan kejadian seakan-akan terbayang lagi olehnya. Entah berapa lama ia melamun, hingga sekonyong-konyong terdengar orang melangkah di serambi luar. Sejenak kemudian mendadak terdengar suara bentakan Yap Man-jing.

"Lari ke mana, bangsat?!"

Menyusul dua sosok bayangan orang melayang lewat ke atas rumah, terus kabur ke arah barat. Tanpa pikir Lamkiong Peng melompat ke luar lagi melalui jendela dan memburu ke sana. Selama hampir setahun berdiam di Cu-sin-to dan mempelajari berbagai ilmu sakti dari kitab pusaka yang dibacanya, kemajuan ginkang-nya sekarang sudah sukar diukur. Maka hanya sekejap saja kedua orang tadi sudah dapat disusulnya.

Waktu ia mengamati, yang lari di depan adalah seorang lelaki berpakaian ringkas, yang mengejar di belakang bertubuh ramping dan berambut panjang, jelas Yap Man-jing adanya. Lamkiong Peng mempercepat langkahnya, hanya sejenak saja jarak mereka tinggal belasan tombak saja.

Tiba-tiba lelaki itu berhenti di depan pohon besar sana. Begitu menubruk maju, segera Yap Man-jing menyerang. Entah kenapa, ia menyerang dengan ganas dan keji tanpa kenal ampun. Hanya beberapa gebrakan saja, dengan suatu serangan pancingan, menyusul telapak tangan Yan Man-jing dapat menebas pundak lawan, bahkan dada orang lantas dihantamnya lagi.

"Tahan dulu, nona Yap!" seru Lamkiong Peng.

Namun sudah terlambat, dada orang itu sudah kena digenjot Yap Man-jing hingga tumpah darah dan terjungkal. Lamkiong Peng memburu maju dan memeriksa pernapasan orang itu, ternyata sudah putus napas.

"Bangsat rendah! Mati pun murah baginya," damprat Yap Man-jing penasaran.

"Mestinya ditawan dulu uhtuk dimintai keterangan," ujar Lamkiong Peng. "Sesungguhnya apa yang sudah terjadi sehingga engkau sedemikian marah?"

"Coba kau periksa benda apa yang di-bawanya?" kata Man-jing.

Waktu Lamkiong Peng berjongkok, dikeluarkannya sesuatu dari baju lelaki itu, ternyata sebuah tempurung berbentuk ceret dengan leher panjang terbuat dari timbel. Dari mulut leher ceret terendus bau harum yang aneh.

“O. kiranya seorang maling cabul," ujar Lamkiong Peng.

Kiranya tempurung timbel berbentuk ceret itu berisi semacam asap bius, biasanya digunakan manusia rendah yang suka merusak orang perempuan. Korbannya dibius lebih dulu, lalu dikerjainya.

"Coba, bangsat kotor semacam ini buat apa dibiarkan hidup?” damprat Yap Man-jing pula.

Lamkiong Peng berpikir sejenak. "Tapi urusan tentu tidak sederhana begini. Bukan mustahil orang ini ada hubungannya dengan kelima kelompok orang yang mengantar makanan kepada kita itu," katanya kemudian.

Sejenak kemudian mendadak ia berteriak pula, "Celaka. ayo lekas kembali ke hotel!" Sembari bicara ia terus mendahului berlari kembali ke arah semula. Seketika Yap Man-jing juga menyadari apa yang mungkin terjadi. Tanpa ragu segera ia menyusulnya.

Setiba di hotel, cepat Lamkiong Peng mendatangi kamar Tik Yang suami istri dan berteriak, "Tik-heng...! Tik-heng...!”

Namun sampai beberapa kali ia memanggil tetap tidak ada jawaban. Tanpa ayal ia mendobrak pintu dan menerjang ke dalam. Ternyata kamar sudah kosong, bayangan Tik Yang dan Ih Loh tidak kelihatan lagi, bahkan ransel, senjata dan barang lain juga tidak kelihatan.

"Ke mana mereka?” tanya Man-jing.

Bekernyit kening Lamkiong Peng, ia termenung tanpa menjawab.

"Coba kau cium, rasanya masih ada bau harum khas itu," kata si nona pula.

"Ya, urusan ini agak janggal," ujar Lamkiong Peng. "Rasanya tidak mudah untuk menyelidiki urusan ini."

"Rasanya kita harus mulai menyelidiki urusan ini dari kelima kelompok pengantar makanan itu," ujar Man-jing.

"Ya, dan hal ini pun jelas tidak mudah dan sederhana," kata Lamkiong Peng. "Baru lewat tengah malam, percuma kita gelisah di sini. Marilah kembali ke kamar dan besok kita mencari akal lagi."

Esoknya setelah berunding, Yan Man-jing sementara tinggal di hotel untuk mengawasi apa yang akan terjadi lagi. Lamkiong Peng yang keluar untuk mencari keterangan. Menjelang lohor baru Lamkiong Peng kembali ke hotel. Segera Yap Man-jing menyongsongnya dan bertanya adakah sesuatu yang ditemukan.

"Bawa senjatamu dan mari ikut pergi," kata anak muda itu.

Cepat keduanya membawa pedang dan merapatkan pintu kamar, lalu meninggalkan hotel. Langsung mereka keluar kota dan berlari ke arah barat. Sembari berlari Yap Man-jing tanya hendak pergi ke mana.

"Setahuku beberapa kelompok orang yang mengantar makanan dan pesan kamar bagi kita itu bukan cuma ada sangkut pautnya dengan Yim Hong-peng. Hilangnya Tik Yang dan Ih Loh juga berhubungan erat dengan dia," tutur Lamkiong Peng.

Man-jing mendongkol karena jawaban tidak cocok dengan apa yang ditanya, karena itu ia bertanya lagi, "Yim Hong-peng kan tinggal di barat-laut yang jauh sana, kenapa sekarang dia lari ke daerah Kanglam?"

"Selama setahun ini siapa yang berani menjamin takkan terjadi perubahan?" ucap Lamkiong Peng. "Bukan mustahil sekarang pengaruh Yim Hong-peng sudah merata hingga daerah utara dan selatan sungai sini."

"Perubahan dan pengaruh Yim Hong-peng apa maksudmu?" tanya Man-jing.

Lamkiong Peng tertegun, tapi segera teringat olehnya ketika di kota Tiang-an di barat laut dulu. Waktu itu Yim Hong-peng memberi keterangan bahwa Swe Thian-bang ada niat merajai dunia persilatan, hal ini hanya didengar oleh Bwe Kim-soat, Tik Yang dan dirinya sendiri. Yim Hong-peng memang licik dan licin, segala usahanya dilakukan secara terselubung, makanya Yap Man-jing tidak tahu seluk-beluknya.

Maka Lamkiong Peng menjawab, "Panjang sekali untuk menceritakan urusan ini, kelak tentu akan kuberi-tahu, sekarang lekas kita menuju ke Lam-san."

Segera mereka lari terlebih cepat. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di lereng gunung, di mana jalan setapak semakin sulit ditempuh.

Lamkiong Peng lalu berhenti. "Jalan ini memang sempit dan sukar dilalui. Anak buah Yim Hong-peng pasti juga akan berhenti di tempat ini, biarlah kita menunggu di sini dan menyergap mereka. Sekarang kita istirahat dan himpun tenaga, bisa jadi nanti akan berlangsung pertempuran sengit," katanya kepada Yap Man-jing.

Habis bicara meraka lantas mencari tempat berlindung dan duduk di kaki batu karang yang terjal. Tidak lama kemudian, benar juga terdengar suara gemertak dari kejauhan, suara roda kereta dan ringkik kuda yang makin mendekat. Cepat Lamkiong Peng dan Yap Man-jing berbangkit dan menyelinap ke belakang batu. Hanya sebentar saja suara kereta kuda itu sudah dekat.

Karena latihannya selama tinggal di Cu-sin-to, kini ketajaman mata Lamkiong Peng saat memandang dalam kegelapan sudah serupa di siang hari. Waktu ia mengawasi pendatang itu, tertampak sebuah kereta berkabin ditarik dua ekor kuda, di depannya ada tujuh orang penunggang kuda.

Kira-kira tiga tombak di depan batu tempat sembunyi Lamkiong Peng, segera ketujuh penunggang kuda itu berhenti. Dua lelaki pengendara kereta melompat turun dan berlari ke samping kereta untuk membuka tabir hitam, lalu diseretnya turun dua orang. Begitu melihat kedua orang yang diseret turun itu, seketika hati Lamkiong Peng tergetar. Kiranya kedua orang itu adalah Tik Yang dan Ih Loh, keduanya kelihatan berlumuran darah rambut kusut, baju robek sehingga hampir setengah telanjang.

Lamkiong Peng tidak dapat menahan diri lagi. Mendadak ia melompat ke luar sambil bersuit panjang. Seraya melolos pedang pusaka ‘Yao-siang-jiu-loh’ ia terus menubruk maju.

Yang mengepalai ketujuh penunggang kuda itu adalah seorang kakek berusia lima puluhan. Sembari menghindari tusukan Lamkiong Peng ia berteriak, "Hei, sahabat, selamanya kita tidak kenal, kenapa tanpa bicara kau main serang?”

Mata Lamkiong Peng tampak merah membara, dengan gencar ia menyerang lagi tiga kali.

Kakek itu mengelak dan menyurut mundur sambil berseru, "Apa pun juga hendaknya bicarakan dulu urusannya...!"

"Urusan apa? Lebih baik binasakan kalian dulu!” teriak Lamkiong Peng dengan murka.

Pedang pusaka berkelebat, dengan ilmu pedang Lam-hai-kiam-hoat yang dipelajarinya di Cu-sin-to Lamkiong Peng menebas terlebih kencang. Sembari berkelit kian ke mari, kakek itu tahu sia-sia saja ia bicara. Cepat ia menanggalkan senjatanya, yaitu cambuk sepanjang tiga meter. Secepat kilat ia sabet pergelangan tangan Lamkiong Peng yang memegang pedang, dari bertahan ia balas menyerang.

Lamkiong Peng tidak menduga kelihaian kakek ini. Namun anak muda ini pun bukan anak muda yang dahulu lagi, sekali pedang berputar, sambil mengelak cambuk lawan, pedang terus menebas pinggang musuh.

Si kakek tidak menduga anak muda itu dapat bergerak secepat itu. Baru saja merasakan cambuknya mengenai tempat kosong, tahu-tahu pinggangnya sudah terancam, hendak melompat mundur pun tidak keburu lagi. Kontan pinggangnya tertebas, darah berhamburan dan muncrat ke mana-mana.

Tanpa ayal Lamkiong Peng terus menerjang maju lagi, serupa burung terbang ia tubruk ke tengah kawanan lelaki berbaju hitam. Kawanan lelaki itu juga telah diterjang oleh Yap Man-jing. Walau pun belum sampai kocar-kacir, namun mereka pun kalang kabut menghadapi kelihaian Yap Man-jing. Sekarang di tambah lagi Lamkiong Peng, karuan barisan mereka menjadi kacau, kontan dua orang terbinasa di bawah pedang Lamkiong Peng.

Dua orang lagi sedang menjaga Tik Yang dan Ih Loh, mereka sembunyi di belakang kereta. Melihat keadaan tidak menguntungkan, segera timbul pikiran mereka untuk kabur. Dalam pada itu dua lelaki berbaju hitam yang lain tidak tahan kelihaian pedang Lamkiong Peng, kembali perut mereka ditembus pedang dan binasa. Sekali lompat Lamkiong Peng lantas memburu kedua orang yang menjaga Tik Yang bersama istrinya itu.

Tentu saja kedua orang itu kaget dan cepat melompat mundur. Selagi Lamkiong Peng hendak menubruk maju lagi, sekonyong-konyong ada orang membentak di belakangnya.

"Berhenti!"

Tanpa terasa Lamkiong Peng berpaling. Dilihatnya tidak jauh di belakang berdiri empat sosok bayangan tinggi besar. Waktu itu sudah tengah malam, rembulan tepat menghias di tengah cakrawala sehingga menerangi keempat orang itu.

Ternyata seorang yang paling depan ialah Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng, dua orang di
sebelah kirinya adalah Bin-san-ji-yu, Kedua Sahabat dari Bin-san, yaitu Tiangsun Tan dan Tiangsun Kong. Sedangkan seorang di sebelah kanan tidak dikenalnya, seorang kakek kereng berbaju hitam panjang dengan rambut terikat tinggi di atas kepala. Sepasang tombak pandak berwarna emas terselip di pinggang kakek ini.

Kedatangan Yim Hong-peng sebenarnya sudah dalam dugaan Lamkiong Peng, sebab itulah dia tidak heran atau terkejut. Sebaliknya Yim Hong-peng yang merasa heran.

Perlahan Yim Hong-peng mendekati Lamkiong Peng dan menyapa, "Selamat jumpa lagi, Lamkiong-heng. Apa kau baik-baik saja selama berpisah ini? Konon setiap orang yang masuk ke Cu-sin-to tidak pernah ada yang pulang dengan hidup. Tampaknya Lamkiong-heng tergolong orang yang paling beruntung."

"Bila-mana aku tidak dapat pulang ke sini, tentu Yim-heng merasa senang," jengek Lamkiong Peng.

"Ah, kenapa Lamkiong-heng bicara demikian? Sama sekali tidak ada pikiran begitu padaku," kata Yim Hong-peng. "Harap Lamkiong heng jangan salah paham. Justru suasana dunia persilatan sekarang kacau-balau, ada maksudku mengajak Lamkiong-heng untuk mengadakan penataran....”

Belum habis ucapannya, Lamkiong Peng lantas memotong. "Ah, apa kepandaianku? Mana berani aku terima tugas berat itu? Rasanya Yim-heng salah sasaran."

"Haha, kukira Lamkiong-heng terlampau rendah hati," seru Yim Hong-peng dengan tertawa. "Bila-mana mengingat tempo hari ketika Lamkiong-heng mengalahkan Giok-jiu-sun-yang di restoran Thian-tiang-lau dan menerobos ke Boh-liong-san-ceng untuk mencari obat bagi Tik Yang, kemudian menuju ke Cu-sin-to dan pulang lagi dengan selamat, semua peristiwa keperkasaannya sudah tersiar luas, tentang kecerdasan dan kemahiran kungfu Anda sudah lama dikagumi Swe-siansing. Bila beliau dapat memperoleh bantuan Lamkiong-heng, berani kukatakan dalam setahun saja dunia persilatan seluruh Tionggoan pasti akan dikuasainya."

Pada saat itulah mendadak terdengar Yap Man-jing membentak sambil menubruk rnaju, "Mau ke mana?!"

Waktu Lamkiong Peng menoleh, kiranya kedua lelaki berbaju hitam yang menjaga Tik Yang dan Ih Loh tadi diam-diam hendak melangkah pergi. Karena bentakan Man-jing, keduanya lantas berhenti dan memandang Yim Hong-peng.

"Sungguh aku tidak mengerti sebab apakah Yim-heng sampai memperlakukan Tik-heng dan istrinya dengan cara begini?" tegur Lamkiong Peng.

"Kawanan jembel Yu-leng-kun-kai sudah menggabungkan diri dengan Swee Thian-bang untuk bekerja sama. Ih Hong menghendaki adik perempuannya juga mengikuti jejaknya, maka aku diminta kemari untuk membawanya pulang ke utara," tutur Yim Hong-peng.

"Hm, kalau cuma menghendaki Ih Loh juga bergabung dengan Swe Thian-bang, mengapa Yim-heng perlu menggunakan dupa bius segala? Sungguh aku tidak mengerti," ejek Lamkiong Peng.

"Seluk-beluk urusan ini tidak dapat dijelaskan dengan singkat, soalnya aku kuatir menimbulkan salah paham, terpaksa menggunakan cara kurang terhormat itu," jawab Hong-peng.

"Lantas bagaimana dengan Tik Yang, dia juga perlu kau tawan?" jengek Lamkiong Peng pula.

"Mereka sudah terikat menjadi suami-istri, dengan sendirinya satu sama lain harus satu tujuan," kata Hong-peng.

"Aku cukup kenal jiwa dan kepribadian Tik-heng. Meski mereka sudah terikat menjadi suami istri, jika persoalannya menyangkut kepribadian, tidak nanti dia mau ikut secara ngawur."

"Haha, mungkin Lamkiong-heng tidak tahu bahwa ketika dulu Tik-heng keracunan dan mendekati ajal, syukurlah ditemukan Ih Loh yang berusaha menolongnya dengan sepenuh tenaga. Jadi Tik Yang sesungguhnya utang budi kepada istrinya. Kalau Ih Hong sudah bergabung dengan Swe Thian-bang, dengan sendirinya Ih Loh takkan membangkang dan mengikuti jejak sang kakak, lalu Tik Yang apakah dapat mengingkari kehendak istri sendiri?"

"Kawanan jembel Yu-leng-kun-kai terkenal jujur lurus. Sasaran mereka kebanyakan adalah orang kaya yang tidak berbudi atau pembesar korup, biasanya mereka juga membantu yang miskin dan menolong yang lemah, hal ini cukup diketahui setiap orang kangouw. Apalagi Ih Hong terkenal tinggi hati dan penyendiri, masa dia rela menjual kehormatan sendiri dan bergabung dengan Swe Thian-bang?"

Man-jing tahu bila-mana perang dingin akan segera berubah menjadi perang tanding, maka diam-diam ia mendekati Lamkiong Peng.

Yim Hong-peng memandang Man-jing sekejap. "Pada waktu Lamkiong-heng berangkat ke lautan dulu, pada waktu yang sama Leng-hiat Huicu juga menghilang. Kawan kangouw umumnya menyangka dia ikut berangkat bersama Lamkiong-heng ke Cu-sin-to, siapa tahu yang pulang bersamamu ternyata nona Yap adanya. Apakah Leng-hiat Huicu memang betul telah hilang?" katanya.

Lamkiong Peng bergelak tertawa. "Hahaha! Hal ini apakah sangat mengecewakan Yim-heng? Bahwa Bwe Kim-soat tidak berada bersama kami sehingga maksud Yim-heng akan sekaligus menjaringnya tidak tercapai, maka engkau menyesal bukan?"

Mendadak anak muda itu berubah bengis dan berteriak, "Yim Hong-peng! Berturut kau kirim lima kelompok orang untuk mengantar makanan beracun dan bermaksud meracun Tik Yang. Syukur muslihatmu dapat diketahui Tik Yang. Karena gagalnya rencana itu, kau pasang perangkap lagi di hotel itu sehingga akhirnya Tik Yang suami-istri tertawan. Untung aku dan nona Yap sempat lolos, soalnya sebelum ini engkau tidak menyangka aku akan ikut pulang dan tidak memberi-tahukan kepada anak buahmu yang memang tidak kenal diriku. Haha! Ternyata di antara anak buahmu terdapat juga kaum rendah yang suka menggunakan dupa bius sehingga dapat kubongkar kelicikanmu!"

"Diam!" bentak Yim Hong-peng.

Orang-orang yang berdiri di samping Yim Hong-peng sejak tadi tidak ada yang bersuara. Jelas karena disiplin Swe Thian-bang cukup tegas dan mereka harus tunduk kepada Yim Hong-peng. Sekarang kakek kereng berbaju hitam panjang dan bersenjata sepasang tombak pandak itu tampaknya tidak tahan lagi. Ia melangkah maju dan membentak, "Anak kurang ajar! Kau kira tidak ada orang berani menghadapimu di sini?"

Lamkiong Peng meliriknya sekejap. "Apakah Cianpwee ini adalah jago kepercayaan Swe Thian-bang yang terkenal dengan sepasang tombak pencabut nyawa, Ko Tiong-hai, Ko-taihiap adanya?" tanyanya dengan tertawa kepada Yim Hong-peng.

"Betul, beliau memang Ko-loenghiong," jawab Yim Hong-peng.

"Sudah lama aku dengar kedua tombak Ko-taihiap maha-sakti. Sungguh beruntung bila hari ini dapat berkenalan," seru Lamkiong Peng dengan tertawa.

Ko Tiong-hai memandang Yim Hong-peng sekejap, agaknya minta persetujuannya sebelum turun tangan. Namun Yim Hong-peng diam saja.

“Kenapa Yim-heng tidak mengangguk?" ejek Lamkiong Peng.

Mendadak Ko Tiong-hai membentak terus menerjang maju. Dia tidak menarik tombaknya, melainkan menggunakan kedua telapak tangan untuk menghantam sekaligus. Lamkiong Peng sudah siap siaga, kedua tangannya menangkis sambil meraih pergelangan tangan lawan, berbareng sebelah kakinya menendang perut.

Kaget juga Yim Hong-peng melibat ketangkasan Lamkiong Peng. Hanya setahun berpisah, ternyata kungfu anak muda ini sudah maju pesat.

Ko Tiong-hai tidak gentar. Cepat ia menarik tangan dan menyurut mundur, menyusul telapak tangan memotong pula ke lambung lawan. Di sebelah sana lantas terdengar juga bentakan Yap Man-jing, rupanya ia pun mulai melabrak Bin-san-ji-yu.

Terkejut juga Ko Tiong-hai melihat pukulan Lamkiong Peng yang dahsyat, cepat ia bergerak untuk menangkis. Tak tersangka sekali ini Lamkiong Peng hanya mengirim serangan pancingan saja, ia melancarkan ‘Ta-mo-cap-pek-sik’ yang pernah di-pelajarinya di pulau itu, hanya saja dia belum menyelaminya secara mendalam. Walau pun begitu, untuk digunakan melayani KoTiong-hai tetap dapat membuatnya kelabakan dan terdesak mundur.

Yim Hong-peng menyaksikan serangan Lamkiong Peng itu, teriaknya, "Hah, Ta-mo-cap-pek-sik?!"

"Bagus, boleh kalian rasakan kelihaianku," jengek Lamkiong Peng. "Kalau tahu gelagat hendaklah lekas lepaskan Tik Yang berdua sebelum terlambat."

Karena terdesak, dahi Ko Tiong-hai mulai berkeringat dan lagi mencari jalan untuk mematahkan serangan lawan. Pada saat itulah mendadak terdengar bentakan Bin-san-ji-yu. Rupanya Yap Man-jing kelihatan kewalahan dikerubut mereka, sambil menangkis sebisanya ia terdesak mundur.

"Coba, kau mampu bertahan berapa lama lagi?!" teriak Tiangsun Kong sambil melangkah maju. Pedangnya berputar, terus menebas pinggang lawan.

Tiangsun Tan tidak tinggal diam. Berbareng ia pun mengitar ke samping, lalu secepat kilat pedangnya menusuk punggung Yap Man-jing. Dalam keadaan diserang dari muka dan belakang. tentu saja keadaan cukup gawat bagi Yap Man-jing. Sedapatnya ia menangkis dan mengelak, namun sayang tenaganya sudah lemah, langkahnya sempoyongan sehingga pundak kanan tertusuk pedang Tiangsun Tan. Yap Man-jing bersuara tertahan, pada saat itu juga pedangnya terkunci oleh kedua pedang Tiangsun Kong sehingga terlepas. Tanpa ayal Tiangsun Kong terus menubruk maju, sekaligus ia totok dua hiat-to si nona. Kontan Man-jing roboh terkulai.

Tanpa berhenti Bin-san-ji-yu terus memburu ke sana dan mengerubut Lamkiong Peng bersama Ko Tiong-hai. Lamkiong Peng menjadi murka, ia bersuit panjang. Pedang Yap-siang-jiu-Ioh dilolosnya, dengan sekali diputar, ketiga lawan didesak mundur. Ko Tiong-hai tertawa dingin. Segera ia pun putar sepasang tombak emas dan menyerang terlebih gencar.

Meski tinggi ilmu silat Bin-san-ji-yu, tapi bila dibandingkan Lamkiong Peng sekarang mereka rada kewalahan juga sehingga berulang terdesak mundur. Untung Ko Tiong-hai terus menyerang dengan lihai sehingga Lamkiong Peng tidak dapat mendesak lebih lanjut.

Anak muda itu menyadari, untuk lolos begitu saja rada sukar, apalagi dia harus memikirkan Yap Man-jing. Dilihatnya di antara ketiga lawan hanya Tiangsun Tan yang paling lemah. Segera ia ganti siasat, lawan paling lemah itulah yang terus dicecar. Tentu saja Ko Tiong-hai dan Tiangsun Kong dapat meraba maksud Lamkiong Peng, keduanya seperti sudah berjanji Iebih dulu, serentak mereka pun menyerang terlebih gencar. Belasan jurus telah berlalu pula. Lamkiong Peng mulai tidak tahan dikerubut tiga tokoh kelas tinggi seperti itu, betapa tangkas anak muda itu juga merasa kerepotan.

Yim Hong-peng tersenyum girang melihat kawannya berada di atas angin.

Mendadak Ko Tiong-hai membentak. Kedua tombak emas di tanganya bekerja naik-turun, tombak tangan kanan segera menusuk iga kiri Lamkiong Peng, tombak tangan kiri secepat kilat menyabet tangan kanan anak muda itu yang berpedang. Bin-san-ji-yu serentak juga menghujamkan pedang mereka ke tubuh Lamkiong Peng. Dengan kalap Lamkiong Peng memutar pedangnya.

"Sret! Sret! Sret!" tiga kali berturut-turut Lamkiong Peng melancarkan tiga jurus serangan. Walau tetap sukar menghadapi kerubutan tiga tokoh tangguh ini, tombak Ko Tiong-hai mampu ditangkisnya. Sekuatnya pedang lantas menusuk dada Tiangsun Tan.
Tusukan ini cepat lagi di luar dugaan. Tiangsun Tan hendak melompat mundur, namun sudah kasep, ia hanya dapat menjerit ngeri dengan dada tertembus pedang.

Lamkiong Peng tertawa seram sambil menarik pedang. Pada saat itu kedua pedang Tiangsun Kong juga sempat menebas sehingga membuat luka panjang pada bahu kirinya, darah lantas muncrat. Malahan tombak kiri Ko Tiong-hai pada saat yang sama juga menancap di paha kanan Lamkiong Peng.

Dengan nekat Lamkiong Peng ayun pedangnya dan mendesak mundur Tiangsun Kong dan Ko Tiong-hai yang hendak menyerang lagi sehingga tombak emas tidak sempat ditarik Ko Tiong-hai dan masih menancap di paha. Belum pernah Ko Tiong-hai melihat orang setangkas ini, seketika ia melenggong bingung. Tiangsun Kong sangat sedih atas gugurnya sang adik, dengan meraung kalap ia menubruk maju lagi.

Mendadak Lamkiong Peng berteriak seram, "Put-si-sin-liong, naga sakti tak termatikan!" Berbareng ia cabut tombak emas yang menancap di pahanya itu, dan tanpa diperiksa terus dilemparkan ke belakang.

Kematian Tiangsun Tan membakar hati Tiangsun Kong sehingga serangannya yang kalap itu tidak terjaga sama sekali, apalagi ia mengira Lamkiong Peng pasti juga tidak mampu melawan lagi. Siapa tahu mendadak tombak emas menyambar tiba, karuan ia kaget. Cepat kedua pedangnya disilangkan untuk menangkis, namun tangkisannya ternyata meleset. Tombak menerobos lewat dan....

"Crat!" tepat menancap di bahu kirinya, kontan ia pun menggeletak.

"Sungguh tidak malu sebagai murid Put-si-sin-liong!" ucap Ko Tiong-hai dengan gegetun. Perlahan ia mendekati Tiangsun Kong yang tak bisa berkutik itu.

Yim Hong-peng juga gegetun. "Bila-mana mempunyai pembantu sehebat ini, mustahil dunia takkan kukuasai!" ucapnya.

"Jangan mimpi!" bentak Lamkiong Peng.

Baru saja bersuara, kembali Lamkiong Peng tumpah darah. Langkahnya sempoyongan dan akhirnya ia tidak tahan lagi.

"Bluk!" ia pun roboh terkapar.

Cepat Yim Hong-peng memburu maju. Dengan beringas sebelah tangannya segera terangkat dan hendak dihantamkan pada Lamkiong Peng. Syukurlah sebelum pukulannya dilontarkan, mendadak seorang membentak di belakangnya.

“Nanti dulu!"

Dengan terkejut Yim Hong-peng berpaling. Dilihatnya tidak jauh di belakangnya berdiri seorang lelaki setengah umur yang bertubuh pendek kecil dan wajah tidak menarik.

"Tunggu dulu, orang ini hendak kubawa pergi!" kata pendatang ini sambil melangkah maju.

Ko Tiong-hai lantas melompat maju sambil membentak, "Siapa kau?!"

Orang itu meliriknya sekejap dan berucap, "Gunung besar tinggi di kejauhan!"

Yim Hong-peng dan Ko Tiong-hai meIengak. Serentak mereka menjawab, "Hujan angin menyebarkan harum!"

Orang itu lantas mengeluarkan sepotong kayu cendana kecil dan diangkat ke atas sambil membentak, “Kalian kenal lencana ini?"

"Kenal," jawab Yim Hong-peng dengan menunduk.

"Melihat lencana ini serupa melihat orangnya," kata orang itu. "Sekarang hendak kubawa orang ini, kalian mempunyai pendapat?”

"Tecu tidak berani," jawab Yim Hong-peng.

Orang itu mendengus. Didekatinya Lamkiong Peng dan berjongkok, lalu anak muda itu diangkatnya, dan tanpa berpaling lagi ia melangkah pergi.

Setelah bayangan orang setengah umur yang pendek kecil itu menghilang dalam kegelapan, barulah Yim Hong-peng bicara dengan gegetun, "Entah sejak kapan Swe-siansing menerima lagi tokoh pembantu serupa ini. Kenapa kita tidak mengenalnya?"

"Sudah lebih setengah tahun kita keluar," ucap Ko Tiong-hai. "Darah baru yang disedot Swe-siansing tentu saja tidak kita kenal sebelum diberi-tahu."

Sementara itu orang tadi telah membawa lari Lamkiong Peng dengan cepat. Kira-kira satu jam kemudian, sampailah di depan hutan yang lebat. Di bawah cahaya rembulan kelihatan di bawah pohon besar sana dua ekor kuda asyik makan rumput. Di samping kuda berdiri seorang perempuan cantik molek dengan wajah muram durja, siapa lagi dia kalau bukan Bwe Kim-soat.

Begitu orang setengah umur itu mendekat, segera Kim-soat menyongsongnya. Dipandangnya sekejap Lamkiong Peng yang dipanggul itu sambil bertanya, "Apakah parah lukanya?"

"Tenaganya terkuras habis, darah keluar terlampau banyak," jawab orang itu. "Untung aku datang tepat waktunya, kalau tidak jiwanya pasti sudah melayang di bawah tangan Yim Hong-peng."

Mata Lamkiong Peng terpejam rapat dengan wajah pucat pasi, darah masih menetes dari punggung dan pahanya. Keadaannya tampak kempas-kempis, tubuh kelihatan kaku. Kecuali dadanya yang bergerak perlahan, ia hampir serupa dengan orang mati.

Dengan air mata berlinang Kim-soat berucap dengan sedih, "Begini parah lukanya, entah dia tahan sampai bertemu dengan gurunya atau tidak?"

"Aku yakin dia bukan pemuda cekak umur," ucap orang setengah umur itu. "Aku percaya pasti akan timbul keajaiban dan dapat kau selamatkan dia."

Kim-soat tidak bicara lagi. Ia pondong Lamkiong Peng dari tangan orang.

"Jaga dia dengan baik, nona. Aku pergi sekarang," kata orang itu. "Ada pun lencana ini...."

"Kayu itu untukmu saja, bagiku pun tidak ada gunanya," kata Kim-soat.

Orang itu mengucapkan terima kasih. Segera ia mencemplak ke atas kuda dan dibedal pergi secepat terbang. Kim-soat juga lantas naik kuda dan menyandarkan Lamkiong Peng di pangkuannya. Dengan perlahan ia melarikan kudanya....