Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 20

Lamkiong Peng merasa bingung. Ia bertanya dengan suara gemetar, "Bila-mana anak harus menderita bagi ayah-bunda kan pantas juga. Hanya... hanya mengapa ayah bicara demikian? Sesungguhnya ada... ada urusan apakah?"

"Keluarga Lamkiong maha kaya raya, apakah kau tahu dari mana datangnya kekayaan sebesar ini?" ucap Lamkiong Siang-ju dengan prihatin.

Lamkiong Peng melongo bingung.

"Kakek-moyangmu berasal dari keluarga miskin," demikian tutur Lamkiong Siang-ju. "Seperti juga orang miskin umumnya, kakek-moyang kita kenyang menjalani penderitaan hidup sengsara. Akhirnya beliau bersumpah ingin menjadi orang kaya. Dengan hemat beliau mengumpulkan sedikit sangu dan ikut berlayar dengan serombongan pelaut. Tak terduga, di tengah jalan kapal yang di tumpangi mengalami angin badai dan kapal tarbalik. Kakek-moyang kita beruntung mendapatkan sepotong kayu dan terhanyut mengikuti arus, untunglah beliau tidak meninggal dan terdampar ke sebuah pulau yang tak diketahui namanya.”

"Dalam keadaan begitu, cita-cita beliau ingin menjadi kaya kembali buyar serupa mimpi belaka, saking sedihnya dia menangis tergerung-gerung. Tak terduga, pulau karang itu ternyata bukan pulau kosong tanpa penghuni. Pada saat kakek moyang merasa putus asa, tiba-tiba diketahuinya di tengah pulau terdapat banyak orang tua yang berpakaian model kuno. Kiranya pulau karang itu adalah pulau misterius yang dalam dongeng dunia persilatan disebut Cu-sin-tian (Istananya Para Dewa)."

Kembali Lamkiong Peng melenggong.

Didengarnya sang ayah menyambung lagi, "Setelah menemukan kakek moyang, kawanan orang tua itu tanya tentang asal-usul dan pengalamannya. Beliau diamat-amati dengan teliti, akhirnya kakek moyang-diperbolehkan tinggal di situ. Dengan cepat sekali tiga tahun sudah lewat, dan selama tiga tahun itu pula kakek moyang banyak mengalami kesukaran, beliau harus bekerja giat siang malam tanpa kenal lelah. Setelah mengalami gemblengan tiga tahun, mendadak kawanan kakek itu membawa kakek-moyang ke tepi laut. Ternyata di situ sudah berlabuh sebuah kapal besar, dan di dalam kapal itu tertimbun harta benda yang tak terhitung jumlahnya....”

"Tentu saja kakek moyang terbelalak heran dan bingung, sama sekali tak tersangka olehnya bahwa kawanan kakek aneh itu dapat memberi hadiah kapal besar dengan isinya. Hanya saja syaratnya kakek moyang diharuskan bersumpah takkan menyiarkan rahasia kekayaan Cu-sin-tian. Selain itu kakek moyang diwajibkan mencicil utang yang dibawanya sekapal penuh itu.”

“Rupanya isi kapal itu hanya sebagai modal pinjaman kepada kakek moyang berhubung keterangannya yang bersumpah ingin menjadi orang kaya itu. Kawanan kakek ajaib di pulau itu sengaja membantu memenuhi cita-citanya, cuma untuk itu kakek moyang diharuskan turun-temurun keluarga Lamkiong mesti menugaskan putera sulungnya membawa sejumlah harta kekayaannya ke pulau Cu-sin-tian. Setiap turunan jumlah antaran itu harus bertambah sekali lipat. Kecuali keluarga Lamkiong tidak punya keturunan lagi, kalau tidak betapa pun janji bayar utang itu tidak boleh diingkari.”

"Sampai pada angkatan kakekmu, jumlah utang yang berlipat itu telah berjumlah sukar dihitung dan mendadak datang pula utusan Cu-sin-tian mendesak antaran upeti yang harus dipenuhi itu. Terpaksa kakekmu harus mengumpulkan harta kekayaan yang tersebar di berbagai tempat dan menugaskan pamanmu mengantarnya ke Cu-sin-tian. Waktu itu aku sendiri belum menikah, sedangkan pamanmu sudah mempunyai seorang anak bayi...."

Baru sekarang Larnkiong Peng mengetahui sejarah keluarganya yang diliputi keanehan itu. Dengan suara rada gemetar ia bertanya, "Dan di... di manakah paman sekarang? Di mana pula saudara sepupuku itu?"

Lamkiong Siang-ju menggeleng, baru kemudian menjawab, "Sehari sebelum pamanmu berangkat, dengan nekat dia membunuh istri dan anak kesayangannya yang masih bayi itu. Rupanya dia sudah menghitung, satu angkatan lagi, biar pun keluarga Lamkiong menjual semua harta benda kekayaannya juga sukar memenuhi utang kepada Cu-sin-tian. Rupanya pamanmu tidak sampai hati anak keturunannya akan menderita, juga tidak ingin aku kawin dan beranak yang akibatnya juga cuma akan tertimpa sengsara. Maka pamanmu meninggalkan pesan sepucuk surat, lalu berangkat dengan membawa harta benda itu dan berlayar ke lautan. Sejak itu pun tidak ada kabar beritanya lagi...."

Bertutur sampai di sini, ia menjadi berduka dan tersendat-sendat. Pada umumnya orang luar hanya tahu keluarga Lamkiong kaya-raya tiada bandingannya, siapa pula yang tahu keluarga kaya ini ternyata penuh dengan darah dan air mata.

"Tidak lama sesudah pamanmu berangkat, kakek juga lantas wafat," tutur Lamkiong Siang-ju lebih lanjut. "Setelah berkabung selama tiga tahun, aku lantas keluar mencari kabar jejak pamanmu. Biasanya setiap kali anggota keluarga kita mengirim upeti, sebelumnya pihak Cu-sin-tian selalu mengirim utusan dengan membawa surat dan memberi petunjuk ke pelabuhan mana harus dituju. Jadi anggota keluarga kita tidak ada yang tahu di mana letak pulau Cu-sin-tian yang sebenarnya. Meski sudah sekian tahun berkelana, tetap aku tidak mendapatkan sesuatu petunjuk. Akhirnya aku pun putus asa, tak tersangka pada waktu itulah aku bertemu dengan ibumu...."

Mendadak Lamkiong-hujin mengusap air mata dan memegang tangan sang suami, lalu berucap perlahan, "Biarlah kuteruskan ceritamu. Sesudah bertemu dengan ayahmu, kami lantas saling jatuh cinta, cuma ayahmu senantiasa berusaha menghindariku. Sudah tentu aku heran dan sedih. Dalam gusarku segera kuputuskan juga akan menikah dengan seorang lain, orang itu juga sahabat ayahmu. Siapa sangka pada suatu hari ayahmu... ayahmu kena disergap orang dan keracunan hebat. Dalam keadaan sakit parah ayahmu menceritakan sejarah keluarganya kepadaku, maka aku baru tahu sebabnya dia selalu menghindari diriku. Rupanya dia mempunyai alasannya, yaitu dia menyadari keluarga Lamkiong yang termasyhur ini akhirnya akan runtuh, akan bangkrut. Ayahmu tidak tega membuatku sengsara di kemudian hari, juga tidak tega melahirkan anak yang nasibnya akan menderita, begitu dewasa wajib membayar utang bagi leluhurnya....”

"Tapi ibumu ternyata tidak gentar menghadapi semua itu, " tiba-tiba Lamkiong Siang-ju menyambung. “Dia juga tidak takut kepada kehidupan miskin. Dalam semalam dia menggendongku ke Thian-san untuk mencari obat penawar, maka sejak itu kami tidak pernah berpisah lagi," tukas Lamkiong-hujin sambil menggelendot di tubuh sang suami.

“Kemudian, setelah kau lahir, kami bertekad akan membuat bahagia hidupmu, tidak ingin kau belajar ilmu silat, maka kami tidak pernah mengajarkan kungfu padamu. Siapa tahu watak pembawaanmu justru gemar ilmu silat. Kami tidak tega pula melawan kehendakmu, maka kami mengirim dirimu kepada Liong Po-si. Oh, nak! Sungguh kami telah membikin susah padamu karena selama ini selalu kami rahasiakan semua ini." Habis bertutur, menangislah nyonya Lamkiong tersedu.

Sambil membelai rambut puteranya, Lamkiong Siang-ju bertutur lagi. "Sebenarnya kuharapkan utusan Cu-sin-tian takkan datang secepat ini, sebab itulah kami pun tidak menghendaki pernikahanmu. Siapa tahu sekali ini, agaknya mereka sudah memperhitungkan kekayaan keluarga Lamkiong takkan terdapat sisa lagi, maka tanpa menunggu kau kawin dan melahirkan anak segera menyampaikan pesan agar selekasnya menyelesaikan pengiriman harta benda kita. Untuk itu dirimu ditunjuk yang harus melaksanakan tugas.”

"Nak, kau tahu semua ini untuk memenuhi sumpah kakek moyangmu. Meski... meski ayah-bunda sangat sayang padamu, tapi... tapi apa yang dapat kami lakukan lagi...?" Sampai di sini berderailah air matanya.

Mendadak Lamkiong Peng membusungkan dada dan berseru tegas. "Ayah dan ibu, urusan utang keluarga Lamkiong kita dengan sendirinya harus kita tuntaskan!"

"Tapi kau, nak...," Lamkiong-hujin tidak sanggup meneruskan lagi.

"Anak pasti akan pulang kembali!" seru Lamkiong Peng tegas. "Betapa misteriusnya Cu-sin-tian itu, anak bersumpah akan pulang ke sini untuk mendampingi ayah dan ibu. Biar pun di sana ada dinding tembaga dan tembok baja juga takkan mampu mengurung anak. Apalagi jika para penghuni di sana berjuluk Para Dewa, masa mereka memaksa orang berbuat tidak berbakti kepada orang tua?”

"Tapi... tapi sekali ini lain dari-pada biasanya," ujar Lamkiong Siang-ju dengan sedih. "Akhir-akhir ini orang dari Kun-mo-to justru muncul lagi di dunia kangouw, bahkan mereka bertekad merintangi kita mengirim harta ke Cu-sin-tian."

Baru sekarang Lamkiong Peng menyadari duduknya perkara. "Pantas dengan janji rahasia mereka memaksa berbagai golongan orang Bu-lim untuk bersama-sama merampas harta kiriman keluarga Lamkiong."

Lamkiong Siang-ju menghela napas. "Sekarang anak murid Tiam-jong yang datang itu masih berkumpul di luar perkampungan sana, sebab mereka gagal merampas harta benda yang tidak sedikit ini. Kelihatan mereka seperti berjaga, sebenarnya mereka mengawasi supaya kita tidak dapat mengirim ke luar harta benda yang tidak sedikit ini. Selain itu ada lagi kawanan bandit besar dunia kangouw yang juga mengincar rejeki nomplok ini....”

"Selama beberapa hari ini entah berapa kali telah terjadi pertempuran sengit di perkampungan kita ini dan banyak mengalirkan darah. Ai, harta..., selain membawa sengsara bagi keluarga Lamkiong kita, apa pula yang kita dapatkan? Anakku, jika engkau dilahirkan di keluarga miskin, tentu takkan kau rasakan penderitaan seperti sekarang ini."

Di luar hujan masih turun dengan lebatnya.

Mendadak di luar jendela ada orang menghela napas panjang. "Ai, aku salah!"

Lamkiong Peng terkejut. "Siapa itu?!" bentaknya.

Segera Lamkiong Siang-ju pun melompat ke depan jendela dan membuka daun jendela.

Tapi sebelum orang tua itu bertindak lebih lanjut, suara orang tadi telah menegur, "Lotoa, apa kau sudah pangling padaku?”

"Hah, Loh Ih-sian! " seru Lamkiong-hujin sambil memburu maju.

Lamkiong Siang-ju juga berseru kaget, "He, Jite, kiranya engkau?"

Waktu Lamkiong Peng mengawasi, tertampak di luar jendela berdiri seorang tua berkepala botak yang segera dikenalinya sebagai si kakek aneh bernama Ci Ti alias mata duitan itu. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa kakek yang mata duitan ini adalah ‘Jite’ atau saudara kedua sang ayah. Seketika ia jadi melongo. Dilihatnya kakek botak itu telah melompat masuk dan berhadapan dengan sang ayah.

"Jite," ucap Lamkiong Siang-ju sambil memegangi pundak Ci Ti. "Sekian lama tidak bertemu, mengapa... mengapa engkau berubah begini?"

Ci Ti termenung-menung seperti orang linglung. Tiba-tiba ia bergumam, "Aku salah, aku salah!"

"Ah, urusan yang sudah lalu, untuk apa kau pikirkan lagi?" ucap Lamkiong-hujin dengan sedih. "Aku dan Toako tidak menyalahkanmu, sebaliknya malah merasa... merasa bersalah padamu."

"Tidak, aku salah!" seru Ci Ti mendadak sambil berlutut di depan Lamkiong Siang-ju dan mencucurkan air mata. "Toako, aku minta maaf...."

“Lekas bangun, Jite," kata Lamkiong Siang-ju sambil menarik si kakek botak.

"Tidak! Selama urusannya tidak kukatakan, mati pun aku tidak mau berdiri lagi," kata Ci Ti. "Soal ini sudah dua puluh tahun menekan hatiku. Pada waktu itu, kusangka Samoay (adik ketiga) silau kepada kekayaan keluarga Lamkiong, maka aku ditinggalkan untuk menikah denganmu. Aku tidak tahu bahwa sebelum berkenalan denganku dia sudah mencintaimu. Tidak kuduga bahwa dia menikah denganmu bukan lantaran kemaruk kepada kekayaanmu, dia justru rela ikut sengsara bersamamu. Sebaliknya aku... aku malah tinggal pergi tanpa pamit, bahkan kudatangkan serombongan musuh untuk merecoki kalian...."

"Ai, Jite, aku dan Samoay kan tidak berhalangan apa pun, untuk apa mengangkat lagi urusan lampau dan buat apa engkau menista diri sendiri?" ujar Lamkiong Siang-ju dengan menyesal.

“Tidak boleh tidak harus kukutuk diriku sendiri, dengan begitu barulah hatiku bisa agak tenteram," kata Ci Ti. "Selama puluhan tahun ini siang dan malam kukutuki kalian. Seperti orang gila aku mencari harta benda, kecuali merampok dan mencuri, hampir dengan segala jalan aku berusaha mengumpulkan harta benda. Aku pun mengasingkan diri, hidup hemat dan melarat. Orang sama menganggap aku orang gila, tidak ada yang tahu bahwa aku sengaja bersumpah akan mengumpulkan harta benda yang lebih banyak dari-pada kekayaan keluarga Lamkiong, akan tetapi...."

Mendadak ia melemparkan karung yang dibawanya dan berteriak pula, "Ini, biar pun kukumpulkan harta benda berjuta-juta tahil, lalu apa gunanya? Baru sekarang kutahu betapa besarnya harta benda tetap tidak dapat membeli cinta yang murni, biar pun kekayaan berlimpah tetap tak dapat mengurangi derita seseorang. Baru sekarang aku sadar, Toako aku... aku salah padamu, harap engkau sudi memberi ampun."

"Sudah kau dengar ceritaku tadi?” tanya Lamkiong Siang-ju dengan rawan.

Ci Ti mengangguk.

Cepat Lamkiong Siang-ju membangunkannya dan berkata, "Apa pun juga hari ini kita bertiga telah berkumpul kembali di sini, sungguh menggembirakan dan bahagia." Ia tertawa cerah, lalu berpaling dan berkata pula, "Anak Peng, lekas memberi hormat kepada paman. Inilah Loh lh-sian, paman Loh yang dahulu terkenal sebagai Sin-heng-bu-eng-tang-kun-thi-ciang (Si Pelari Cepat Tanpa Bayangan, Kepala Tembaga dan Pukulan Besi)."

Lekas Lamkiong Peng melangkah maju dan memberi hormat.

Loh Ih-sian mengusap air matanya. Sambil tertawa dia berkata, "Nak, tentu tak pernah kau sangka, kakek yang mata duitan ini adalah pamanmu."

Lamkiong-hujin juga terharu, ucapnya dengan tersendat, "Sungguh tak terduga akhirnya kita berkumpul lagi. Tak nyana sekarang engkau suka berdandan secara begini. Ai, masa... masa engkau begitu miskin sehingga baju pun tidak mampu beli."

"Aku bukan miskin, tapi terlampau kikir," ujar Loh Ih-sian dengan tertawa. "Meski dalam karungku terisi berjuta tahil perak, tapi satu tahil pun aku sayang menggunakannya."

"Aku tahu apa yang kau lakukan ini adalah lantaran dia (maksudnya sang istri), " kata Lamkiong Siang-ju dengan gegetun. "Ai, engkau memang....”

"Cis! Sudah sama tua, untuk apa bicara kejadian dulu di depan anak?" omel Lamkiong-hujin dengan agak jengah.

Meski hati ketiga orang tua ini diliputi rasa sedih dan haru, tapi juga merasa gembira karena dapat berkumpul kembali. Sesaat itu mereka seakan-akan berada pada dua puluh tahun yang lalu, tatkala mereka masih muda dan malang melintang di dunia kangouw bersama.

Pada saat itulah mendadak terdengar orang membentak di luar. Serentak tiga batang panah bersuara menyambar masuk lewat jendela dan....

"Cret!" semuanya sama menancap di atas peti yang bertumpuk di tengah ruangan itu.

"Haha, bagus! Tak tersangka ada kawanan bandit berani menyatroni rumah Toako se-karang," kata Loh Ih-sian dengan tergelak.

"Tenaga pemanah ini tampaknya tidak lemah, entah orang gagah dari mana?" kata Lamkiong Siang-ju dengan tertawa.

Segera terdengar seorang berteriak di luar, "´Yim Ong-hong dan Cin Lun-ih bersama para orang gagah dari kedelapan belas gunung datang untuk meminta sedikit biaya kepada Lamkiong-cengcu. Harap Lamkiong-cengcu memberi kebijaksanaan, akan menerima dengan hormat atau menolak secara tegas?"

"Kenapa Hong-ih-siang-pian muncul kembali?" ucap Lamkiong Siang-ju dengan kening bekernyit.

"Tampaknya Hong-ih-siang-pian belum tahu siapa yang tinggal di sini," ujar Loh Ih-sian sambil membusungkan dada. Seketika perawakannya seakan-akan tumbuh lebih tegap. Lalu sambungnya, "Siaute belum Iagi tua, bagaimana dengan Toako?”

"Masa kau kira Toako sudah tua?" sahut Lamkiong Siang-ju.

"Haha, bagus!" Loh Ih-sian bergelak tertawa sambil menepuk pinggang sehingga terdengar seperti bunyi genta, "Sekarang juga?"

"Ya, tunggu kapan lagi?" jawab Siang-ju.

Lamkiong-hujin tertawa. "Bagus, Hau-hoa-leng (Genta Pembela Bunga) kalian masih lengkap, sebaliknya bunga macam diriku ini sudah layu!"

Tiba-tiba orang di luar membentak pula, "Lekas beri jawaban! Bila kami menghitung tiga kali tidak ada keputusan, segera kami menyerbu masuk!"

Loh Ih-sian menanggapi ucapan Lamkiong-hujin tadi. "Ah, kami bersaudara belum Iagi tua, masa engkau mengaku sudah layu? Eh, Lo-toa, perintis jalan kan tetap diriku?"

"Baik," kata Siang-ju.

Baru saja kata itu terucapkan, mendadak Loh Ih-sian melompat dan hinggap di atas kedua tangan Lamkiong Siang-ju yang diangkat ke atas.

“Pergi!” Begitu Siang-ju membentak, sekali tolak, kontan tubuh Loh Ih-sian terlempar ke luar secepat terbang.

“Blang!” terdengarlah suara keras.

Daun pintu terpentang, menyusul terdengar gemerinting. Seutas benang emas terbang masuk dari luar, berbareng ada benang emas lain menyambar ke luar dari tangan Lamkiong Siang-ju. Kembali terdengar bunyi genta, kedua benang emas terlibat menjadi satu, menyusul Siang-ju membentak pula, "Masuk!"

Seketika di luar ada orang menjerit dan terdengar suara menderu. Tubuh Loh Ih-iian melayang masuk kembali dengan tangan kiri terbelit oleh benang emas, dan tangan kanan mencengkeram seorang kakek bertubuh tinggi besar. Segera Loh Ih-sian membanting tawanannya ke lantai, ternyata yang dibekuknya adalah satu di antara Hong-ih-siang-pian, yaitu Yim Ong-hong.

Lamkiong Peng terkesima, entah kejut atau kagum. Waktu ia mengamati lebih lanjut baru diketahuinya bahwa pada ujung kedua utas benang emas itu sama terikat sebuah genta kecil warna emas.

Ketika Loh Ih-sian melayang ke luar atas tenaga lemparan Lamkiong Siang-ju, segera ia melemparkan genta emas ke dalam, berbareng itu genta emas Lamkiong Siang-ju juga dilemparkan ke luar, maka kedua utas benang emas lalu saling belit dengan kuat. Waktu Siang-ju menarik Iagi dengan kuat, sementara itu Loh Ih-sian sempat menerkam ke bawah dan Yim Ong-hong tercengkeram dan diangkat.

Berkat tenaga tarikan Lamkiong Siang-ju itu, Loh Ih-sian dapat melayang ke luar secepat terbang dan melayang masuk kembali dengan sama cepatnya. Biar pun Yim Ong-hong juga bukan jago lemah, tapi dalam keadaan terkejut ia menjadi kelabakan dan tak tempat mengelak.

Dalam pada itu di luar telah terjadi kekacauan. Ada suara orang tua berteriak, "Yang di dalam apakah Hong-tun-sam-yu adanya?”

Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-sian saling pandang dengan tertawa.

Waktu itu Yim Ong-hong sudah merangkak bangun. Dengan muka pucat dan ketakutan ia berseru, "Hah, ternyata benar Hong-tun-sam-yu adanya!"

"Sudah sekian tahun tidak bertemu, syukur engkau masih kenal kami bersaudara," ucap Loh Ih-sian.

Yim Ong-hong menghela napas menyesal. "Sekali pun Cayhe tidak kenal Iagi kepada kalian bertiga, tapi gaya ´Genta Emas Pencabut Nyawa´ tadi tidak mungkin kulupakan," ucapnya dengan menunduk.

"Haha, genta pencabut nyawa...! Sungguh tidak terduga permainan yang kami ciptakan untuk bersenda-gurau telah dipandang orang persilatan sebagai ilmu sakti," ujar Loh Ih-sian dengan tertawa. Mendadak ia membentak dengan wajah kereng, "Jika kau ingat juga kepada kami bersaudara, apakah sudah kau lupakan sumpah yang pernah kalian ucapkan di depan kami?"

Yim Ong-hong menjawab dengan takut, "Bila-mana kutahu Lamkiong-cengcu tak lain tak bukan adalah Leng-bin-jing-ih-khek (Si Baju Biru Berwajah Dingin) dari Hong-tun-sam-yu dahulu, betapa besar nyaliku juga tidak berani melanggar Lamkiong-san-ceng satu langkah pun.”

"Dan bagaimana setelah kau tahu sekarang?" jengek Loh Ih-sian.

Di luar sana masih gaduh, segera Yim Ong-hong berteriak, "Cin-loji, lekas membawa para saudara kita mengundurkan diri keluar perkampungan. Hong-tun-sam-yu berada di sini!"

Belum lenyap suaranya Cin Luan-ih telah melompat ke depan pintu. Ia pun berseru kaget, "Ah, kiranya betul ketiga Taihiap berada di sini. Tak terduga kungfu yang kami latih selama berpuluh tahun ini tetap tidak mampu menahan sekali terkam dari udara oleh Loh-taiiap."

Di bawah hujan lebat sana mendadak ada orang berteriak. "Huh, Hong-tun-sam-yu apa segala? Jauh-jauh kita sudah datang kemari, masa lalu dengan satu patah kata ini saja kita lantas mundur dengan tangan hampa?"

Pada saat yang sama serentak belasan bayangan orang lantas menerjang maju. Mendadak Cin Luan-ih membalik tubuh dan membentak, "Siapa itu yang bicara?!"

Segera seorang lelaki pendek kecil dengan sinar mata tajam tampil ke muka. Seorang di sebelah kiri juga menjengek, "Hm, menyuruh kawan sendiri pergi, sedikitnya kan perlu diberi sedikit sangu. Betul tidak, kawan-kawan?"

Belasan orang sama mengiyakan.

"Ah, kiranya kedua Pek-cecu," ucap Yim Ong-hong dengan tertawa sambil mendekati kedua orang itu. "Katakan saja terus terang, sesungguhnya apa yang kalian minta?"

Orang yang di sebelah kiri menjawab, "Dari jauh kami datang kemari, adalah layak bila-mana kami minta bagian. Sebagai orang tua tentu aku juga harus memikirkan nasib para saudara kami yang sudah lelah ini."

"Baik, terimalah ini!" seru Yim Ong-hong sambil tertawa, berbareng itu kedua tangannya menyodok ke depan.

“Blang! Blang!” terdengarlah suara dua kali, kontan kedua Pek bersaudara menjerit dan tumpah darah serta terguling ke bawah undakan sana.

"Nah, siapa lagi yang minta bagian rezeki?" jengek Yim Ong-hong kemudian.

Seketika kawanan bandit di luar sana bungkam. Hanya suara hujan saja yang terdengar, belasan orang itu sama berdiri diam, bernapas saja tidak berani terlampau keras.

"Enyah!" bentak Yim Ong-hong.

Buru-buru belasan orang itu ngacir ke luar. Hong-ih-siang-pian lantas memberi hormat dan mohon diri.

"Sudah lama kita berkenalan, kalian ternyata belum lagi melupakan kami. Meski sekarang kami sedang menghadapi urusan gawat, tapi bila-mana kalian perlu bantuan, sedikit banyak masih dapat kuberikan," kata Lamkiong Siang-ju.

"Ah, Cengcu tidak menghukum kami saja sudah membuat kami berterima-kasih, mana kami berani mengharapkan urusan lain?" jawab Yim Ong-hong.

"Jika demikian, karena kami masih ada urusan, biarlah kita sudahi sampai di sini," kata Siang-ju sambil memberi tanda mengantar tamu.

Yim Ong-hong dan Cin Luan-ih memberi hormat.

Selagi mereka hendak melangkah pergi, mendadak Loh Ih-sian berkata, "Nanti dulu! Ingin kutanya sedikit, ketika kalian datang tadi, tentu kalian telah bertemu dengan anak murid Tiam-jong di depan sana?"

"Ya, anak murid Tiam-jong sudah terluka lebih separuh. Kecuali Tiam-jong-yan dan Thian-go berdua, yang masih sanggup bertempur tidak seberapa orang lagi." Habis menutur kedua orang itu lantas mohon diri dan angkat kaki.

Setelah berada di tengah ruangan, Loh Ih-sian berkata, "Jika kepungan kawanan penyatron sudah menipis, kenapa kesempatan ini tidak digunakan Toako untuk mengangkat peti-peti ini keluar?"

Lamkiong Siang-ju tersenyum pedih. "Para utusan Cu-sin-to sudah datang satu kali, tapi mereka tidak menjelaskan tempat penyerahan harta benda ini. Umpama peti ini kita angkut ke luar, lalu harus diantar ke mana?"

Loh Ih-sian tercengang. Mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa. "Hahaha! Di mana dan kapan pun, berapa pula banyak penyatron di sana, memangnya dengan gabungan kita takut takkan mampu menerobosnya?"

Sembari bicara, serentak ia guncangkan genta emas yang dipegangnya. Segera suara genta yang nyaring berkumandang jauh di tengah hujan lebat.

Melihat Lamkiong Peng memandangi gentanya dengan terkesima, Loh Ih-sian bertanya, "Nak, apakah dapat kau dengar di mana letak keajaibannya bunyi genta ini?"

Lamkiong Peng menggeleng dengan tersenyum. "Genta emas ini sebenarnya adalah benda pusaka keluarga Lamkiong kita," tukas Lamkiong-hujin. "Genta ini seluruhnya ada tiga pasang. Satu hal aneh mengenai genta emas ini adalah bila salah satu pasang di antaranya berguncang, kedua pasang yang lain juga akan ikut berbunyi. Gejala ini serupa paduan suara alat musik saja."

Segera ia mengeluarkan sepasang genta emas dan diberikan kepada Lamkiong Peng. Sesudah genta itu dipegang, mendadak Loh Ih-sian mengguncangkan gentanya, seketika genta di tangan Lamkiong Peng juga ikut berbunyi. Tentu saja Lamkiong Peng terheran-heran. Dunia ini memang penuh keajaiban, banyak urusan yang sukar dijelaskan dengan akal.

"Ketika kami bertiga masih malang melintang di dunia kangouw dahulu, hanya kungfu ibumu yang paling lemah," tutur Lamkiong Siang-ju. "Kami kuatir suatu tempo ibumu akan menghadapi bahaya, maka kubagikan genta emas ini kepada mereka masing-masing satu pasang. Bila ibumu mengalami bahaya, sekali genta berbunyi, segera kedua pasang genta yang kami pegang ini juga akan mengeluarkan suara dan segera pula kami dapat menyusul ke tempatnya untuk memberi bantuan...."

“Makanya ayahmu telah memberikan nama yang aneh dan juga enak didengar kepada genta yang serupa ini, yaitu Hou-hou-leng," sambung Loh Ih-sian dengan tertawa.

"Ah, kisah berpuluh tahun yang lalu buat apa mengungkapnya Iagi?" ujar Lamkiong- hujin. "Anak Peng, apabila kau mau, biarlah sepasang gentaku ini boleh kuberikan padamu. Selanjutnya bila berkelana di dunia kangouw....”

Mendadak teringat olehnya putera kesayangan sebentar Iagi akan menuju ke tempat jauh yang tidak diketahui di mana letaknya, seketika wajahnya yang berseri berubah muram durja.

Lamkiong Siang-ju menghela napas perlahan. "Ya, nak, bolehlah kau simpan saja sepasang genta ini. Ayah-ibu tidak dapat memberi benda berharga lain, hendaknya kedua pasang genta ini dapat kau simpan dengan baik. Kelak...." Bicara urusan kelak, tanpa terasa ia menjadi sedih dan tidak sanggup meneruskan.

Di luar hujan masih lebat, suasana gelap gulita. Memegangi keempat buah genta emas, Lamkiong Peng juga menunduk diam.

Tiba-tiba Loh Ih-sian berkata dan tertawa lantang. "Hahaha! Jika ayah-bundamu sudah menghadiahkan gentanya kepadamu, bila kusimpan gentaku sendiri, bisa jadi akan kau pandang pamanmu ini memang orang kikir. Nak, ambil saja, biar kuberikan sekalian gentaku ini dan simpanlah baik-baik. Kelak bila kau temukan gadis setimpal, bolehlah kau bagi dia sepasang genta ini."

Dengan hormat Lamkiong Peng menerima pemberian itu.

"Apa pun juga, hari ini kita dapat berkumpul kembali, hal ini harus kita rayakan," kata Lamkiong-hujin. "Biarlah kuolah dua-tiga macam hidangan untuk teman minum arak kalian. Dengan hadirnya Loh-loji dan anak Peng di sini, paling tidak perasaanku akan lebih longgar."

"Ah, masa mesti bikin repot Samoay sendiri?" ujar Loh Ih-sian.

"Apa boleh buat, kan semua kaum hamba di sini sudah dilepas," kata Lamkiong-hujin.

Lalu Lamkiong Siang-ju membuka hiat-to para lelaki yang terluka karena membela perkampungannya tadi disertai permintaan maaf, kemudian mereka disilakan istirahat di belakang. Selesai mengatur, makanan sederhana pun sudah dihidangkan.

Tapi belum lagi tiga cawan arak habis terminum, mendadak Loh Ih-sian berdiri dan membentak, "Siapa itu di luar?!"

Di tengah kegelapan malam dan hujan masih lebat di luar, terdengar suara gemersak ramai di undak-undakan. Sekali Lamkiong Siang-ju menolak dari jauh, terpentanglah daun pintu, tapi di luar tidak kelihatan sesuatu. Air muka Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-lian sama berubah.

Tiba-tiba angin meniup membawa semacam bau amis yang aneh. Kebetulan Lamkiong-hujin datang membawakan sepiring Ang-sio-bak. Sekilas pandang terlihat dalam kegelapan di luar ada dua titik cahaya, maka tanpa terasa ia menjerit, "Hah, ular!"

"Prang!" piring yang dipegangnya jatuh dan pecah berantakan.

Terlihat kedua titik cahaya hijau itu bergoyang-goyang dan semakin dekat. Selagi Lamkiong Peng hendak bertindak, mendadak Loh Ih-sian mencegahnya sambil mendesis, "Nanti dulu!"

Sekali ia menyembur, seutas benang perak terpancar ke arah kedua titik cahaya hijau. Di tengah desir angin yang berbau amis tercium pula bau arak, kiranya Loh Ih-sian telah menggunakan tenaga dalam untuk menekan arak yang diminumnya sehingga terpancur ke luar, serupa panah arak. Sungguh hebat sekali semprotan panah arak itu, seketika kedua titik cahaya hijau itu padam.

Dengan kening bekernyit Lamkiong Siang-ju berucap, "Sejak Ban-siu-san-ceng (Perkampungan Selaksa Binatang) terbakar, di dunia persilatan sudah langka ahli yang mahir mengendalikan ular dan binatang liar. Kedatangan ular ini sungguh rada aneh."

Belum habis terpikir, tiba-tiba bergema suara musik di kejauhan. Segera kedua titik cahaya hijau muncul lagi, bergoyang-goyang mengikuti irama musik yang meninggi ke atas. Berubah air muka Lamkiong Siang-ju. Diraihnya poci arak di atas meja dan disiramkan ke sana, seutas air mancur lantas tersebar sampai di depan pintu. Segera ia jemput pula lentera tembaga dan berjongkok untuk menyulut.

"Buss!!" api lantas menyala dan berkobar mengikuti jalur arak.

Di bawah cahaya api tampaknya di atas undak-undakan luar sana seekor ular hijau sebesar lengan lagi menegak leher dengan lidahnya yang terjulur sembari menyurut mundur. Loh Ih-sian berteriak kaget dan menyingkir ke pojok.

"Hah, Loh-loji juga takut ular?" ujar Lamkiong-hujin dengan tersenyum.

Baru sekarang Lamkiong Peng tahu sebabnya kakek botak ini ketakutan terhadap kawanan setan dari Kwan-gwa dulu. Rupanya bukan orangnya yang ditakuti, melainkan ular piaraan mereka.

Dengan cepat api yang menyala dari alkohol itu telah padam, namun suara musik tadi justru tambah melengking. Cepat Lamkiong-hujin juga turun tangan, dua titik cahaya perak menyambar ke depan, cahaya hijau seketika padam, ular pun terguling ke bawah undak-undakan.

Mendadak suara musik berubah keras, menyusul lantas terdengar suara harimau meraung, seekor macan kumbang tiba-tiba melompat ke atas.

“Binatang!" bentak Lamkiong Peng sambil memapak ke depan.

Harimau itu sedang menubruk dari atas. Sekali berkelit Lamkiong Peng mengelak ke samping, menyusul sebelah tangannya lantas menghantam kepala binatang itu.

"Praak!" tanpa ampun kepala macan hancur, darah muncrat, kepala binatang buas itu luluh dan binasa. Sekalian kaki Lamkiong Peng mendepak, bangkai harimau ditendangnya ke bawah undak-undakan sana.

"Sungguh hebat! Itulah murid Sin-liong, maha sakti! " puji Loh Ih-sian sambil berkeplok tertawa.

Mendadak suara musik berganti nada lagi. Suara musik ringan hilang, sebagai gantinya adalah suara alat musik berat, yaitu tambur dan gembreng yang ditabuh bertalu-talu. Di tengah hujan angin empat sosok bayangan tinggi besar tampak muncul dari kegelapan dan serentak melompat ke atas undak-undakan. Ternyata keempatnya adalah kingkong yang bertenaga raksasa.

Di bawah cahaya remang, keempat ekor kingkong dengan bulu yang berwarna kuning emas itu membentangkan kedua lengan dengan mulut ternganga serta mengeluarkan suara garang diselingi suara gemuruh menepuk dada, buas dan mengerikan.

"Lekas kembali, anak Peng!" seru Lamkiong Siang-ju.

Namun Lamkiong Peng tetap berdiri menghadapi keempat ekor kingkong itu.

Tiba-tiba bergema suara orang di dalam kegelapan hutan. "Lamkiong Siang-ju, untuk apa kau bertahan di situ? Jika tidak lekas angkat kaki, sebentar lagi bila binatang sakti membanjir tiba, kematian kalian pun takkan terkubur." Suaranya kecil melengking, berkumandang jelas di tengah suara genderang yang ramai.

“Omong kosong!" bentak Lamkiong Peng, berbareng kedua tangannya lantas memukul langsung kepada kedua ekor kingkong yang tengah.

Sambil meraung aneh, kedua ekor kingkong itu terguling ke bawah undak-undakan, tapi segera mereka melompat bangun dan menerjang maju lagi sambil menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang menakutkan. Dalam pada itu kedua ekor kingkong yang lain segera menubruk maju dari kanan-kiri. Namun secara gesit Lamkiong Peng melompat ke samping.

Kedua ekor kingkong yang terguling tadi sudah menerjang tiba dan mengerubuti Lamkiong Peng. Makin gencar suara tambur ditabuh, makin kalap keempat ekor kingkong itu menerjang musuh.

Melihat puteranya kewalahan dikerubut keempat ekor kingkong itu, Lamkiong Siang-ju tidak tinggal diam. Dari samping ia pun menghantam, kontan salah seekor kingkong itu terpukul jatuh, tapi dengan cepat merangkak bangun dan menerjang maju lagi.

Mendadak Loh Ih-sian mendekap bibir dan bersuit sekerasnya, begitu keras suara suitannya sehingga irama tambur menjadi kacau. Seketika cara bertempur keempat ekor kingkong itu pun tidak teratur lagi. Kesempatan itu digunakan Lamkiong Siang-ju untuk menghartam lagi.

"Blang!" dada salah seekor kingkong itu tertonjok. Sungguh dahsyat pukulan ini, kontan kingkong tumpah darah dan terguling ke bawah undak-undakan.

Loh Ih-sian masih terus bersuit. Mendadak ia pun menghantam dengan dua tangan sekaligus. Salah seekor kingkong itu mendoyong ke belakang, tapi segera kaki Loh Ih-sian mengait dan....

"Bluk!” kingkong itu jatuh terjengkang.

Tanpa ayal Loh Ih-sian memegang kedua kaki kingkong sambil menggertak, sekali angkat tubuh kingkong sebesar manusia itu terus diputar dua-tiga kali, lalu dliemparkan hingga jatuh jauh di hutan sana.

Semangat Lamkiong Peng tambah terbangkit. Kembali ia menghantam dan menendang sehingga seekor kingkong mencelat. Sekarang suara tambur itu bergema lagi, namun sisa seekor kingkong itu rupanya tahu gelagat dan tidak berani bertempur lagi, segera ia ngacir pergi.

Loh Ih-sian bergelak tertawa puas dan memuji, "Sungguh kungfu hebat! Murid Sin-liong memang lain dari-pada yang lain."

Dalam pada itu Lamkiong Siang-ju sedang berseru lantang ke sana. "Dengarkan para kawan! Harta benda di Lamkiong-san-ceng saat ini berada di sini. Apabila kalian mengincarnya, silakan mengambilnya menurut kemampuan kalian, kenapa mesti main sembunyi dalam kegelapan hutan dan menyuruh kawanan binatang yang tak berarti ini untuk membikin malu kalian sendiri?"

Suara tambur mulai mereda, sebagai gantinya suara musik halus tadi kembali bergema, lembut dan ulem. Waktu angin meniup lagi, bau amis tadi sudah hilang, sebaliknya malah mengandung bau harum sayup-sayup aneh yang membuat perasaan tergelitik dan membangkitkan nafsu.

Mendadak di tengah hutan yang gelap menyala empat cahaya lampu yang menyilaukan mata. Pada pekarangan di depan undak-undakan batu yang seluas dua-tiga tombak itu tiba-tiba muncul enam orang gadis berbaju sutera putih tipis dan berkerudung topi bunga serta mulai menari mengikuti irama musik.

Hujan masih turun, karena itu hanya sekejap saja baju tipis keenam gadis jelita itu sudah basah kuyup sehingga hampir tembus pandang menampilkan garis tubuh mereka yang menggiurkan. Makin lama makin asyik bunyi musiknya dan makin panas tariannya. Kening Lamkiong Peng bekernyit, ia melengos ke arah lain.

Alis Lamkiong Siang-ju juga menegak. "Jite, apakah kau ingat cara mempengaruhi lawan dengan kemaksiatan dan menggertak dengan kekerasan seperti ini biasanya digunakan tokoh kangouw dari mana?" tanyanya.

"Apakah maksud Toako hendak mengatakan kebiasaan majikan perempuan dari Ban-siu-san-ceng, yaitu Tek-ih Huicu (Si Nyonya Senang)?" jawab Loh Ih-sian.

"Sesudah kebakaran yang menimpa Ban-siu-san-ceng, sudah lama Tek-ih Huicu menghilang dan tiada kabar beritanya," kata Lamkiong Siang-ju. "Bahwa sekarang dia muncul kembali, nyata caranya sudah tidak selihai dulu lagi, namun gayanya masih tidak berubah."

"Ya, memang sudah berpuluh tahun tidak ada kabar tentang Tek-ih Huicu, apakah mungkin iblis perempuan yang menyendiri ini dahulu juga pernah mendidik murid?"

Tengah mereka bicara, suara musik tadi tambah gencar terdengar. Gaya menari keenam gadis berbaju sutera itu pun semakin menghanyutkan. Di antara gerak-geriknya seperti sengaja dan seperti tidak sengaja selalu menonjolkan bagian tubuh yang seharusnya dirahasiakan, lirikan matanya juga memikat.

Cahaya lampu juga tambah remang. Dari kegelapan hutan sana lantas muncul empat gadis lagi dengan menggotong sobuah joli kecil beratap. Waktu joli berhenti dan tabir tersingkap, kedua gadis jelita di depan lantas membentang dua buah payung, maka turunlah dari joli seorang nona berbaju warna lembayung dengan potongan tubuh yang ramping. Cantik sekali nona ini tampaknya, tapi mukanya justru dialingi sebuah kipas bambu.

"Joli kecil dan baju ungu, semua ini adalah ciri pengenal Tek-ih Huicu dahulu. Jangan-jangan memang betul Tek-ih Huicu telah muncul lagi di dunia kangouw," gumam Lamkiong Siang-ju.

Loh Ih-sian tidak menanggapi, dia kelihatan prihatin. Mendadak ia membentak, "Siapa itu?!"

Waktu ia berpaling, di bawah cahaya lampu yang remang, di atas tumpukan peti ternyata sudah bertambah beberapa sosok bayangan orang. Pada saat itu juga gadis berbaju ungu juga mulai melangkah ke atas undak-undakan mengikuti irama musik, gayanya jauh lebih menggiurkan dari-pada gadis yang lain.

Serentak belasan gadis jelita tadi mengikut di belakangnya. Sambil menaiki undakan batu, para gadis itu melepaskan bajunya yang tipis sepotong demi sepotong sehingga akhirnya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

Sementara itu di tengah ruangan pendopo bayangan orang banyak serentak berputar mengitari tumpukan peti. Seorang yang mengepalainya tampak berperawakan kekar, alis tebal dan mata cekung. Seorang lagi bertubuh jangkung dan berwajah kurus. Kiranya mereka ini adalah tokoh Tiam-jong-pai, yaitu Kongsun Yan dan Thian-go Tojin.

"Hm, kukira Tiam-jong-pai adalah golongan ternama dan aliran lurus, rupanya juga biasa berbuat secara sembunyi-sembunyi, tengah malam buta menyusup ke rumah orang. Barangkali memang beginilah ajaran Tiam-jong-pai," segera Loh Ih-sian mengejek.

Thian-go Tojin menjadi gusar, sedangkan Kongsun Yan tidak menghiraukan ejekan itu. "Kami hanya minta bicara dengan Lamkiong-cengcu," ujar Kongsun Yan ketus.

"Melihat perbuatan para Totiang, rasanya tidak ada yang perlu kubicarakan lagi," ujar Lamkiong Siang-ju dengan dingin.

"Creng!" segera Thian-go Tojin melolos pedang.

Kongsun Yan tetap tenang saja. "Apabila Cengcu mau mendengar nasihatku, sebaiknya harta bendamu ini kau titipkan dalam pengawasan kami selama tiga tahun. Sesudah tiga tahun akan kami kembalikan dalam keadaan utuh, tanpa kurang sesuatu," katanya.

"Hehe, anjing kelaparan ingin pinjam bakpau, sungguh menggelikan," ejek Loh Ih-sian.

Kongsun Yan berlagak tidak mendengar, katanya pula, "Atas kehormatan Tiam-jong-pai aku berani memberi jaminan takkan mengganggu sedikit pun harta bendamu ini."

"Hehe, kehormatan Tiam-jong-pai? Memangnya berapa harganya sekati?" jengek pula Loh Ih-sian.

Thian-go membentak murka, segera pedang bergerak dan hendak menyerang. Namun Kongsun Yan keburu mencegahnya. "Nanti dulu Samte, dengarkan dulu jawaban Lamkiong-cengcu,” katanya.

"Kukira Toako juga tidak ada jawaban, kami justru ingin tahu apa yang dapat diperbuat orang Tiam-jong-pai kalian?" jengek Loh Ih-sian.

Belum lenyap suaranya segera pedang Thian-go Tojin menusuk. Cepat Loh Ih-sian berkelit, dan keduanya lantas saling labrak.

Di luar sana suara musik masih berkumandang. Belasan gadis jelita itu sudah berada di
ujung undak-undakan, semuanya telanjang bulat dengan tubuh yang mulus menggiurkan. Gadis jelita berbaju ungu menggoyang-goyang kipasnya setengah menutupi wajahnya. Meski dia tidak menanggalkan bajunya, tapi terkadang mengeluarkan suara tertawa genit yang memikat.

"Turun!" bentak Lamkiong Peng.

Namun kawanan gadis itu tetap menari, seperti tidak mendengar bentakan Lamkiong Peng tadi. Kerlingan mereka terpusat ke arah Lamkiong Peng seakan-akan ingin menelan bulat-bulat anak muda itu.

Melihat goyang pinggul dan gerakan memikat yang terpampang di depan mata itu, tentu saja Lamkiong Peng serba susah. Mana dia sampai hati turun tangan terhadap gadis telanjang begitu?

Dalam pada itu Thian-go Tojin dan Loh Ih-sian sedang bertempur dengan sengit. Pedang Thian-go berputar cepat dengan tipu serangan yang ganas. Ilmu pedang Tiam-jong-pai memang cepat dan lincah, namun Loh Ih-sian juga tidak kurang lihainya. Dia bergerak terlebih cepat dari-pada sambaran pedang lawan. Sedikit pun senjata lawan tidak mampu menyentuh ujung bajunya, malahan dia seperti sengaja hendak mempermainkan orang dan tidak balas menyerang, serupa kucing mempermainkan tikus.

Dengan gemas mendadak pedang Thian-go Tojin menusuk dari arah yang tak terduga, akan tetapi mendadak terdengar suara....

“Trang!” kiranya Loh ih-sian sempat meraih sebuah piring sebagai tameng sehingga tertusuk berantakan oleh pedang Thian-go Tojin. Hidangan dalam piring berhamburan mengotori baju si Tojin.

Tentu saja Thian-go Tojin bertambah murka. Sekali depak ia bikin meja terbalik, mangkuk piring pecah berserakan, lampu perunggu di atas meja juga ikut terguling dan padam seketika. Tapi pada saat itu cahaya lampu dari dalam hutan sana telah menyorot tiba, kawanan penari telanjang juga sudah berada di depan ruangan.

Lamkiong Siang-ju berkerut kening. "Jite, jangan bergurau lagi, sudah waktunya turun tangan sunguh-sungguh!" ucapnya.

"Baik!" seru Loh Ih-sian. Segera jurus serangannya berubah, sekaligus ia melancarkan dua tiga kali pukulan sehingga Thian-go Tojin terdesak ke pojok ruangan.

Siang-ju berseru kepada sang istri, "Hujin, boleh kau layani yang di luar dan yang di dalam serahkan saja kepadaku."

Dengan sendirinya Lamkiong-hujin sudah melihat datangnya kawanan penari telanjang itu, cuma seketika ia pun bingung menghadapi adegan luar biasa itu.

Nona berbaju ungu tadi tampaknya melangkah maju dengan gaya gemulai, tahu-tahu ia sudah bergeser ke depan Lamkiong Peng. Seketika anak muda itu pun mencium bau harum yang memabukkan, pikirannya serasa melayang.

"Mundur!" cepat ia membentak sembari ayun sebelah tangannya ke depan untuk menghantam Koh-cing-hiat di pundak orang.

Tak tersangka nona cantik itu sama sekali tidak menghindar, sebaliknya sambil tertawa genit ia malah menyongsong maju, dan dengan dadanya yang montok ia sambut pukulan Lamkiong Peng itu. Cepat Lamkiong Peng menarik kembali pukulannya, betapa pun ia tidak dapat menyerang seorang gadis yang tidak melawan.

"Menyingkir, Peng-ji!" seru Lamkiong-hujin.

Tapi baru saja dia bergerak, tahu-tahu empat penari telanjang sudah menghadang di depannya. Empat penari telanjang Iain lantas mengepung Lamkiong Peng dengan goyang pinggul dan guncang dada secara merangsang.

Saat itu Lamkiong Peng berdiri di depan pintu. Bila dia menyingkir berarti memberi kesempatan kepada kawanan penari telanjang itu untuk menyerbu ke dalam, tapi kalau tidak menghindar, tentu dia akan terkurung di tengah gadis telanjang. Betapa pun teguh imannya, jika dibuai oleh irama musik yang masyuk dan tarian yang merangsang, tentu pula tidak tahan pada akhirnya.

Dalam pada itu keempat penari telanjang itu sudah semakin mendekat. Gaya mereka yang cabul sungguh bisa membuat setiap lelaki lupa daratan....

Di sebelah dalam, pertarungan Thian-go dan Loh Ih-sian juga tambah seru. Jago pedang Tiam-jong-pai yang lain sudah memegang pedang dan siap tempur juga.

Tiba-tiba Kongsun Yan melolos pedang dan berkata, "Hari ini bukan pertandingan biasa, umpama main kerubut juga bukan soal lagi." Ia memberi tanda dan segera menyerang disusul oleh begundalnya.

Mendadak Loh Ih-sian merasa angin tajam menyambar dari belakang, tiga pedang serentak menebasnya. Thian-go Tojin juga tidak tinggal diam, berbareng ia pun turut menyerang.

"Hm, biasanya Tiam-jong-pai tidaklah jahat, mestinya aku tidak perlu membikin susah orang. Tapi perbuatan kalian sungguh keterlaluan, terpaksa aku harus bertindak." kata Lamkiong Siang-ju.

Mendadak ia menghantam ke belakang, angin pukulannya mendampar keempat penari telanjang yang mengepung di depan Lamkiong Peng. Meski dia menyerang tanpa berpaling, namun pukulannya cukup telak, mana kawanan gadis telanjang itu tahan angin pukulannya? Terdengar jeritan kaget, dua di antaranya tergetar jatuh ke bawah undakan batu.

"Harap ayah menghadapi mereka di sini, biar anak melayani orang Tiam-jong-pai," seru Lamkiong Peng.

Belum lanjut ucapannya, kembali Lamkiong Siang-ju menghantam lagi satu kali. Si nona berbaju ungu tergetar mundur, cepat Lamkiong Peng mendesak maju dan menotok pundak lawan. Namun kipas si nona mendadak menebas pergelangan tangan Lamkiong Peng, sekilas tertampaklah wajahnya di bawah cahaya remang.