Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 17

Lamkiong Peng menggeleng. "Apakah nona Yap melihat sesuatu?" tanyanya.

"Baru saja kulihat seorang Ya-heng-jin (orang pejalan malam). Telah kususul dia tapi tidak dapat menemukannya," tutur si nona.

"Sungguh hebat orang itu, dengan ginkang nona saja tidak sanggup menyusulnya," kata Lamkiong Peng dengan terkesiap.

Muka Man-jing menjadi merah. "Ya, tak terduga di tempat ini juga terdapat tokoh selihai ini. Anehnya kedatangan orang ini seperti tidak bermaksud baik, tapi juga tidak berniat jahat. Sungguh sukar dimengerti dia kawan atau lawan dan apa maksud kedatangannya?" ucapnya.

"Mungkin dia memang tidak bermaksud jahat. Kalau tidak, kenapa dia tidak berbuat sesuatu?" ujar Lamkiong Peng.

Walau pun di mulut dia bicara demikian, tapi dalam hati ia menyesal juga. Ia tahu banyak orang kangouw sekarang memusuhinya. Hanya karena membela Bwe Kim-soat sehingga mendatangkan banyak persoalan ruwet ini. Ia sendiri tidak sanggup memberikan penjelasan mengapa dia bertindak demikian.

"Fajar hampir tiba, silakan nona masuk saja ke dalam," kata Lamkiong Peng kemudian.

Mereka tidak tidur lagi, melainkan menuju ke ruangan tengah. Keduanya duduk berhadapan, seketika tidak tahu apa yang perlu dibicarakan. Terdengar suara ayam berkokok di kejauhan, ufuk timur sudah mulai remang-remang dan membangkitkan berbagai berisik di dunia ini.

Mandadak si kakek botak alias Ci Ti yang gila uang itu melongok ke luar pintu kamar. Dengan matanya yang masih sepat ia menegur, "Eh, kalian sungguh iseng, ternyata mengobrol sepanjang malam. Hahaha dasar orang muda!"

Tiba-tiba seorang muncul pula dari balik pintu sana dengan mata yang masih belekan, kiranya si pelayan. Dengan tertawa ia menyapa, "Selamat pagi!" Buru-buru ia mengambilkan air teh, lalu berkata," Maaf rekening tuan tamu....”

Mendengar urusan rekening hotel, si kakek botak segera menghilang lagi di balik pintu kamarnya.

Lamkiong Peng tersenyum. "Tidak menjadi soal, boleh hitung saja seluruhnya," katanya.

Dengan tertawa cerah si pelayan menjawab, "Sebenarnya juga tidak banyak. Cuma tuan besar itu makan minum terlalu banyak, maka seluruhnya menjadi 93 tail lebih.”

Jumlah ini sebenarnya tidak sedikit, tapi bagi pandangan Lamkiong Peng tentu saja tidak berarti. Tapi segera teringat olehnya, di atas tubuh sendiri sekarang tidak membawa sepeser pun, cara bagaimana akan mampu membayar rekening hotel dan makan minum sebanyak itu?

Terpaksa ia berpaling dan berkata dengan tertawa kepada Man-jing, "Dapatkah nona Yap membayarkan dahulu?"

Tapi Yap Man-jing lantas tersenyum. "Selamanya aku jarang membawa uang," jawabnya.

Baru sekarang Lamkiong Peng melenggong. Dilihatnya mata si pelayan menatapnya dengan rasa sangsi. Terpikir pula oleh Lamkiong Peng bahwa dirinya sekarang sudah tidak membawa lagi sesuatu benda berharga.

Kembali dengan terpaksa ia berkata, kali ini kepada si pelayan, "Coba ambilkan alat tulis, biar kubikin secarik surat dan segera dapat kau pergi ambil uang."

Meski dengan ogah-ogahan, terpaksa si pelayan mengiyakan.

Selagi dia hendak melangkah pergi, sekonyong-konyong pintu si kakek botak terbuka lagi. Kelihatan dia melongok ke luar sambil berkata, "Jangan kuatir, pelayan. Memangnya kau tahu siapa kongcu-ya ini? Jangankan cuma sekian puluh tail perak, biar pun sekian ribu laksa tail, cukup dengan secarik bon saja, kongcu-ya ini dapat menarik dengan kontan."

Dengan sendirinya si pelayan kurang percaya. Ia melirik Lamkiong Peng dengan sangsi.

Si kakek botak alias Ci Ti atau Gila Uang itu terbahak. "Supaya kau tahu, biar kujelaskan. Dia tak lain tak bukan ialah Lamkiong-kongcu keluarga hartawan Lamkiong dari Kanglam!" serunya.

Seketika air muka si pelayan berubah.

Diam-diam Lamkiong Peng menggeleng kepala. “Ai, dasar manusia rendah. Asal mendengar nama...," pikirnya.

Tak terduga, mendadak si pelayan bergelak tertawa, habis itu ia lantas menarik muka dan menjengek, "Hm, meski banyak juga kulihat orang yang menipu makan minum, tapi tidak pernah kulihat perbuatan sebusuk dan sebodoh seperti ini, masa...?"

"Kau bilang apa?!" bentak Man-jing dengan mendelik.

Si pelayan menyurut mundur setindak, tapi lantas menjengek pula, "Hm, masa tidak kalian ketahui bahwa berpuluh kota di sekitar daerah ini, di mana terdapat cabang perusahaan keluarga Lamkiong, hanya dalam waktu beberapa hari terakhir ini seluruhnya telah dipindah-tangankan kepada orang lain? Segenap bekas pegawai perusahaan Lamkiong itu sudah dibubarkan dan telah mencari jalan hidup sendiri-sendiri, tapi ternyata ada lagi orang yang berani mengaku sebagai Lamkiong-kongcu yang maha kaya raya itu? Hmk, hm...!" Begitulah pelayan itu mengakhiri ucapannya sambil mendengus berulang dengan tangan bertolak pingggang dan mata mendelik.

Dengan sendirinya keterangan ini membuat Lamkiong Peng melengak. Yap Man-jing juga merasa bingung. Perubahan yang mengejutkan ini sungguh luar biasa, sukar untuk dipercaya hal ini bisa terjadi mendadak begitu. Masakah keluarga Lamkiong yang maha kaya raya itu, sampai menjualkan berpuluh cabang perusahaannya dengan tergesa-gesa begitu dan mengapa bisa terjadi pula dalam waktu sesingkat itu? Sungguuh sukar diduga, mengapa sungai yang membeku itu dapat cair dalam sekejap?

Ucapan si pelayan tadi juga di dengar oleh si kakek botak yang berdiri di samping pintu. Ia pun melongo heran, demikian kagetnya hingga terpaku di tempat tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Mungkin baru pertama kali ini selama hidup Lamkiong Peng mengalami kekikukkan seperti sekarang. Selagi merasa bingung cara bagaimana menghadapi sikap si pelayan yang tidak sungkan itu, sekonyong-konyong dari halaman dalam berkumandang suara ribut-ribut.

"Wah... celaka! Celaka...!" demikian terdengar teriakan ramai orang banyak.

Pelayan tadi terkejut. Cepat ia berlari ke sana dan lupa mengurus Lamkiong Peng lagi.

Mendadak Lamkiong Peng teringat kepada keluhan singkat yang didengarnya serta bayangan yang dikejar Yap Man-jing itu. "Jangan-jangan tadi malam terjadi sesuatu pembunuhan di halaman sebelah,” demikian timbul rasa curiganya.

Karena ingatan itu, serentak ia pun melangkah ke halaman sana disusul oleh Yap Man-jing. Dalam keadaan demikian mereka tidak memperhatikan lagi terhadap gerak-gerik si kakek botak. Sementara itu di halaman sebelah sudah berkerumun orang banyak, ada orang berteriak kaget, dan ada pula yang berlari masuk keluar.

"Sungguh aneh, mengapa semalam tidak terdengar sesuatu suara apa pun?" demikian ada orang berkata.

Segera ada yang menanggapi, "Anehnya hal ini bisa terjadi atas orang Ang-ki-piaukiok yang termasyhur. Entah orang lihai macam apa sehingga berani merecoki panji merah yang disegani itu?"

Suara ribut dan komentar orang yang kaget itu membuat hati Lamkiong Peng tidak tenteram karena belum tahu duduknya perkara. Sesudah dekat, dilihatnya di pintu bulat yang membatasi halaman ini terpancang panji merah yang berkibar tertiup angin. Semula disangkanya panji ini adalah panji pengenal Ang-ki-piaukiok, tapi setelah diperhatikan, kiranya merah panji ini karena lumuran darah. Di tengah warna merah darah itu bersemu warna biru-hitam, sehingga membuat orang merasa ngeri.

Ia masuk ke halaman situ. Suasana di dalam hiruk-pikuk, tapi ruangan kamar sana sunyi senyap. Seorang lelaki berbaju panjang, tampaknya seperti kasir atau kuasa hotel berdiri di luar pintu kamar yang tertutup rapat. Waktu Lamkiong Peng mendekat, segera lelaki itu menghadangnya dengan membentangkan tangan.

"Tempat ini dilarang...," ucapnya. Namun belum lanjut kata-katanya, sekali dorong Lamkiong Peng membuatnya sempoyongan dan hampir jatuh terjengkang.

Meski Lamkiong Peng baru sembuh dari sakitnya, namun tenaganya tentu lain dari-pada orang biasa. Apalagi dalam keadaan mendongkol, tentu saja cukup kuat untuk membuat orang itu jatuh. Waktu ia menolak daun pintu, begitu terbuka, seketika detak jantungnya hampir berhenti demi mengetahui apa yang terjadi dalam kamar.

Cahaya sang surya pagi menembus masuk melalui celah jendela yang tertutup rapat sehingga remang-remang di lantai kamar kelihatan bergelimpangan belasan mayat. Segera Lamkiong Peng mengenali mayat-mayat itu sebagai kawanan lelaki berbaju hitam yang berdandan ringkas kekar itu, sekarang semuanya sudah menggeletak tak bernyawa.

Kematian kawanan lelaki kekar ini ternyata tidak serupa. Seorang yang brewok dengan mata melotot mencengkeram kusen jendela sehingga jari pun amblas ke dalam kayu. Ia mati dengan setengah bersandar di dinding. Pada dadanya yang bidang tertancap miring sehelai panji merah. Tangkai panji yang terbuat dari besi itu hampir ambles seluruhnya ke dalam dada, darah pun membasahi bajunya yang hitam.

Seorang lagi yang beralis tebal dan bermulut besar rebah terlentang dengan wajah beringas penuh rasa ngeri. Tangannya menggenggam cawan arak yang sudah pecah, di dadanya juga tertancap panji merah.

Dan begitu pula beberapa kawannya yang lain. Ada yang mati duduk di kursi, ada yang binasa bersandar di kaki meja, ada yang bajunya tidak rapi, bahkan ada yang telanjang kaki, tampaknya ia ngin lari tapi belum sempat keluar sudah roboh binasa. Cara kematian orang-orang itu tidak sama. Tapi yang membuat mereka mati ternyata sama, yaitu dada tertancap oleh panji merah pengenal yang mereka bawa sendiri. Sekali serang langsung membuat mereka binasa. Dari sikap orang-orang yang mati ini, agaknya belum lagi sempat mereka melolos senjata dan balas menyerang, tahu-tahu mereka sudah terbunuh.

Perlahan Lamkiong Peng memandangi mayat itu satu-persatu, aliran darah sendiri serasa mau beku. Lamkiong Peng mengenali kawanan lelaki berbaju hitam ini adalah anak buah Suma Tiong-thian dari Ang-ki-piaukiok. Padahal para jago pengawal dari panji merah ini biasanya terkenal ber-kungfu tinggi dan disegani, namun sekarang belasan jago pengawal ini sama tergeletak menjadi mayat di hotel kecil ini, kematiannya juga tampak mengerikan. Sungguh kejadian yang sukar dibayangkan.

Siapakah yang berani merecoki Ang-ki-piaukiok pimpinan Suma Tiong-thian yang terkenal dengan julukan ‘Ang-ki-thi-cian-cin-tiongeiu’ (Panji Merah dan Tombak Baja Menggetarkan Daratan Tengah) itu? Siapa pula yang mempunyai kepandaian setinggi ini, tanpa bergebrak dapat membinasakan jago sebanyak ini?

Setelah menenangkan diri, Lamkiong Peng coba masuk ke dalam kamar. Dilihatnya di belakang kelambu juga menggeletak sesosok mayat, agaknya orang ini ingin lari atau bersembunyi, tapi akhirnya terpantek mati juga. Orang ini juga mati terpantek oleh gagang bendera pada dadanya.

Lamkiong Peng berjongkok dan mengangkat mayat itu. Mendadak hatinya tergetar, dirasakannya tubuh orang masih hangat. Ia coba mengurut hiat-to orang, ternyata hiat-to-nya tidak tertotok, juga tidak ada tanda keracunan. Sungguh sukar dimengerti mengapa orang ini mandah terbunuh begitu saja tanpa balas menyerang. Apakah lawannya begitu lihai sehingga satu gebrak pun tidak mampu menangkis?

Selagi Lamkiong Peng merasa sangsi dan ngeri, tiba-tiba mayat yang dipegangnya bergetar sedikit. Tentu saja Lamkiong Peng sangat girang. Perlahan ia berkata, "Kuatkan dirimu, kawan!"

Orang itu membuka matanya sedikit. "Si... siapa kau?" ucapnya dengan lemah.

"Aku Lamkiong Peng, sahabat perusahaan piaukiok kalian. Siapa yang mencelakai kalian? Harap katakan...."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, segera muka orang itu berkerut dan bergumam lemah, "Lamkiong Peng... Lamkiong... habis...ha....”

"Habis apa maksudmu?!" seru Lamkiong Peng terkejut.

Dilihatnya pandangan orang menatap ujung rumah dengan kaku. Belum sempat ‘bis’ terucapkan, kepala lantas miring ke samping dan tak dapat bicara lagi untuk selamanya. Lamkiong Peng menghela napas. Ia coba menoleh ke arah sana, dilihatnya ujung rumah sana kosong tanpa sesuatu benda. Waktu ia mengawasi lebih lanjut baru dirasakan tempat itu sebelumnya pernah dibuat menaruh barang sebangsa peti dan sebagainya, tapi sekarang sudah hilang.

"Perampokan!" demikian kesimpulan yang dapat ditarik oleh Lamkiong Peng bila melihat keadaan ini, namun peristiwa ini cukup misterius dan mengerikan.

Lamkiong Peng tidak tahu ucapan orang tadi, apakah mungkin urusan ini ada hubungannya dengan keluarga Lamkiong? Waktu ia berpaling, dilihatnya Yap Man-jing juga sudah berdiri di belakangnya dan tampak sedang termenung.

"Lamkiong... habis...," demikian Man-jing bergumam. Mendadak ia tanya Lamkiong Peng. "Apakah Ang-ki-piaukiok sering mengantar harta benda bagi keluargamu?"

"Ya," jawab Lamkiong Peng sambil mengangguk.

"Jika begitu, barang kawalan mereka sekali ini mungkin juga harta milik keluarga Lamkiong kalian. Sebab itulah tadi dia menyebut nama keluargamu dan merasa malu untuk menjelaskannya."

Lamkiong Peng berpikir sejenak, akhirnya menghela napas panjang.

"Apa yang kau sesalkan?" tanya Man-jing. "Meski sedikit harta benda keluarga Lamkiong kalian dirampok, jumlah sekian tentu juga tidak artinya bagi kekayaan keluargamu."

"Mana aku menyesal?" ujar Lamkiong Peng. "Aku hanya merasa bodoh karena memikirkan urusan yang cukup jelas ini dengan ruwet."

Pada saat itulah mendadak di luar bergema suara anjing yang menyalak, suaranya galak dan berbeda dengan anjing biasa. Menyusul cahaya emas berkelebat, muncul seekor anjing berbulu kuning emas mulus dengan tubuh panjang serupa busur, mata mencorong terang, kuping kecil, dan moncong panjang. Sekilas pandang serupa seekor kuda kecil. Dengan langkah cepat anjing emas itu lari ke dalam kamar.

Anjing galak ini bukan cuma suara menyalaknya saja yang aneh, gerak-geriknya juga tidak sama dengan anjing umumnya. Pada lehernya penuh dihiasi mutiara dan rantai emas, hidungnya mengendus-endus ke sana-sini, sikapnya buas. Di belakang anjing itu ikut masuk seorang berbaju hitam dengan mata elang dan hidung betet, tangannya memegang rantai emas yang mengalung di leher anjing kuning itu. Mungkin orang itu adalah pawang anjing kuning emas itu.

Di luar terdengar suara ribut orang banyak. Ada yang sedang bicara, "Tak tersangka detektif ulung dari Saiho ‘Kim-sian-loh’ (Budak si Dewa Emas) hari ini bisa berada di Sun-yang. Dengan kehadirannya, peristiwa perampokan yang terjadi ini pasti akan terbongkar dengan segera."

Dalam pada itu si baju hitam alias Kim-sian-loh memandang Lamkiong Peng dan Yap Man-jing sekejap. Dengan kening berkerut lalu ia menoleh dan bertanya, "Juragan Lim, sebelum aku tiba, kenapa kau perbolehkan sembarangan orang masuk ke sini?"

Juragan hotel yang berdiri di luar tampak gugup. "O, ini... ini...," jawabnya takut.

Kim-sian-loh mendengus kurang senang.

Melihat anjing kuning emas itu sangat menarik, sungguh Yap Man-jing ingin mengelusnya. Siapa tahu belum lagi tangannya menyentuh, mendadak anjing itu mengerang dengan bulu emas menegak.

"Lekas mundur, anak perempuan! Apakah kau ingin mampus?!" seru si baju hitam alias Kim-sian-loh.

Alis Man-jing menegak. Segera ia hendak mengumbar rasa gemasnya, tapi Lamkiong Peng lantas menarik lengan bajunya sehingga makian yang hampir dilontarkan ditelannya kembali.

Dilihatnya Kim-sian-loh lagi berjongkok dan mengelus punggung anjingnya sambil berkata, "Jangan marah, mereka tidak berani menyentuhmu lagi!" Sikapnya itu serupa budak terhadap tuannya.

Segera orang itu berdiri dan membentak, "Siapa kalian?! Untuk apa lagi berdiri di sini?!"

"Aku mau berdiri di sini, peduli apa dengan kau?" jawab Man-jing dengan ketus.

"Hm, sungguh anak perempuan yang tidak tahu diri," jengek Kim-sian-loh. "Apakah kau tahu siapa aku? Berani kau ganggu tugasku?"

"Huh, memangnya kau kira aku tidak tahu siapa dirimu? Paling-paling kau cuma budak seekor anjing saja," ejek Man-jing. Ia bicara lantang tanpa tedeng aling-aling.

Setiap orang yang berada di luar kamar sama mendengar kata-kata yang diucapkan Man-jing, karuan semua orang sama berkuatir baginya. Kiranya anjing berbulu kuning emas itu diberi nama ‘Kim-sian’ atau Dewa Emas, seekor anjing yang sangat cekatan dan juga sangat galak. Jago persilatan umumnya sukar menahan tubrukannya yang kuat, namun yang paling hebat adalah daya ciumnya. Segala perkara pembunuhan asalkan anjing ini dibawa ke tempat kejadian tepat pada waktunya, dengan sedikit bau yang tertinggal di situ, anjing ini sanggup mengusut dan mengejar ke mana larinya atau tempat sembunyi penjahat.

Sudah sekian tahun entah berapa banyak perkara yang telah dibongkar berkat ketajaman indra penciuman anjing berbulu emas ini. Pemilik anjing yang berbaju hitam itu juga ikut terkenal karena anjingnya, sehingga diberi julukan Kim-sian-loh atau Budak Dewa Emas, dan jadilah dia detektif terkenal di beberapa propinsi daerah utara.

Meski dia jaya berkat anjingnya, bahkan mengaku Kim-sian-loh, tapi dia justru pantang orang menyinggung hal ini. Sekarang tanpa tedeng aling-aling Yap Man-jing mengejek boroknya itu, seketika ia naik darah. Segera ia berteriak, "Mana petugas? Mana orangnya? Tangkap perempuan kurang ajar ini!"

Man-jing mendengus, "Hm, seharusnya anjing budak manusia, tapi ada manusia justru mau menjadi budak anjing... Hmk!"

Dengan sikap menantang ia tatap empat petugas yang membawa borgol dan menerjang masuk itu sambil membentak, "Jika kalian berani maju lagi selangkah, segera akan kubinasakan!"

Kim-sian-loh menjadi gusar. Diam-diam ia mengendurkan rantai yang dipegangnya dan mendengus. "Apa betul kau begitu lihai?"

Cepat Lamkiong Peng menghadang di depan Man-jing dan berkata, "Nanti dulu!"

Melihat pemuda yang menghadang di depan ini meski bermuka agak kurus, namun sikapnya gagah dan anggun, tanpa terasa Kim-sian-loh menyurut mundur. Semula dia bermaksud melepaskan anjingnya, tapi sekarang dia tidak berani sembarang bertindak lagi. "Siapa kau?! Apakah kau pun...!" bentaknya.

Lamkiong Peng tersenyum dan memotong, "Sudah lama kudengar anda seorang detektif ulung, masa orang baik atau jahat juga tidak dapat kau bedakan?"

"Kalian sembarangan berada di tempat pembunuhan dan pencurian, dapatkah kalian terhindar dari prasangka?" ujar Kim-sian-loh.

"Jika begitu, jadi Kim-pohtau menganggap kami ikut tersangkut dalam perkara ini? Memangnya kami berdiam di sini untuk menunggu ditangkap oleh Kim-pohtau?" jawab Lamkiong Peng.

Kim-sian-loh mendengus. "Saat ini belum dapat dipastikan, tapi sebentar lagi segala suatunya tentu akan ketahuan dengan jelas." Segera ia mengendurkan pegangannya dan menepuk anjingnya. "Kim-loji, bikin repot padamu lagi," katanya.

Begitu rantai dilepaskan, segera anjing si Dewa Emas melompat ke depan. Hanya sekejap saja dia telah mengitari empat ruangan, lalu menyalak tiga kali dan melompat lagi kebawah kaki Lamkiong Peng dan Yap Man-jing sambil mengendus beberapa kali, habis itu mendadak melompat pergi lagi. Kembali ia mengitari beberapa kali ruangan itu dengan cepat, kemudian berlari menyusur kaki dinding, makin lari makin lambat.

Semula Kim-sian-loh merasa bangga dan penuh keyakinan akan kemampuan anjingnya, tapi ketika anjingnya mengitari ruangan untuk kedua kalinya, tertampaklah rasa gelisah dan herannya. Setiap kali anjing itu mengitar lagi satu kali, rasa heran dan cemasnya juga bertambah, sampai butiran keringat pun menghiasi dahinya. Tanpa terasa ia pun ikut mengitari rumah sambil bergumam, "He, masa belum kau temukan sesuatu, Loji? Masa tidak....”

Man-jing tertawa dingin dengan sikap mengejek.

Mendadak terlihat anjing malangkah ke luar. Serentak perhatian semua orang yang berdiri di luar pintu terpusat kepada anjing dan memberi jalan padanya. Kim-sian-loh menghela napas lega, ia yakin anjingnya telah menemukan petunjuk baru. Ia melirik Lamkiong Peng dan Yap Man-jing. "Awasi mereka berdua, jangan sampai mereka kabur," katanya, lalu ia mengikuti anjing itu keluar.

"Jika benar dia dapat menemukan pembunuhnya, aku justru sangat berterima-kasih padanya," ucap Lamkiong Peng perlahan.

"Mari kita ikut ke sana," ajak Man-jing.

"Mau ke mana?!" bentak empat opas yang memegang rantai sambil menghadang dengan borgolnya.

Tapi sekali tangan Man-jing bekerja, terdengarlah suara gemerantang yang nyaring, borgol dan pentungan yang dipegang keempat opas itu sama jatuh ke lantai. Karuan beberapa opas itu terperanjat, belum pernah mereka melihat kungfu selihai ini. Mereka sama melenggong dan menyaksikan Man-jing berdua melangkah ke luar dan tidak mencegahnya lagi.

Sementara itu anjing emas Kim-sian sudah sampai di halaman. Sesudah mengitar sebentar, mendadak ia melompat melintasi pagar tembok. Tanpa ayal Kim-sian-loh ikut melintasi pagar tembok itu. Dilihatnya anjingnya sedang menyalak ke kamar yang terletak di halaman itu.

Sikap Kim-sian-loh menjadi tegang. Segera ia membentak, "Siapa yang tinggal di sini?!"

Orang banyak pun sudah membanjir ke dalam halaman. Mendengar bentakannya, semua orang sama memandang ke belakang. Tertampak Lamkiong Peng dan Man-jing sedang mendatangi menyongsong tatapan berpuluh pasang mata.

"Jadi kalian berdua yang tinggal di sini?!" bentak Kim-sian-loh pula.

"Mau apa jika kami tinggal di sini?" jawab Man-jing ketus.

"Jika begitu, jadi kalian inilah penjahat yang merampok dan juga pembunuhnya," teriak Kim-sian-loh.

Suasana menjadi panik seketika. Pemilik hotel lantas menyingkir dengan ketakutan, semua orang sama menjauhi Man-jing berdua.

"Kau harus bertanggung-jawab atas ucapanmu," jengek Lamkiong Peng.

"Selama belasan tahun entah berapa banyak yang telah kuringkus dan tidak ada satu pun yang keliru tangkap, maka lebih baik kalian menyerah saja."

Lamkiong Peng melirik sekejap anjing yang sedang menggonggong itu. Tiba-tiba teringat olehnya si kakek yang gila uang yang misterius dan tamak harta itu, tanpa terasa berubah air mukanya. Ia memburu maju dan mendorong pintu kamar, ternyata kamar itu sudah kosong, mana ada bayangan si kakek?

Kim-sian-loh terbahak-bahak, "Haha! Meski begundalmu sudah minggat, asal kubekuk kalian, mustahil jejak begundalmu takkan ketahuan."

Segera ia mengeluarkan senjata tombak berantai yang melilit di pinggangnya. Dengan sekali menyendal, tombak berantai itu mengeluarkan suara gemerincing. Perlahan ia mendekati Lamkiong Peng berdua dan membentak, "Ayolah, lekas kalian menyerah saja untuk dibekuk!"

Para penonton sama menyingkir ketakutan. Si pemilik hotel bahkan sudah kabur.

Dengan kening berkerut Lamkiong Peng berkata, "Sebelum terang duduk perkaranya masakah kau...."

"Dengan hidung Kim-sian, mustahil urusan bisa salah!" kata Kim-sian-loh. Begitu tombak berantai bergerak, kontan ia sabet kepala Lamkiong Peng.

Kuatir anak muda yang baru sembuh dari sakitnya itu belum kuat, cepat Man-jing memburu maju dengan membentak. Tak terduga dari belakang lantas terdengar angin menyambar tiba, rupanya si anjing bulu emas yang sejak tadi hanya menyalak saja kini telah menubruk ke arahnya dengan buas. Anjing ini memang bertubuh tinggi besar. Setelah berdiri menegak dengan taring menyeringai, segera leher Man-jing hendak digigit.

Karuan semua orang menjerit kuatir, tampaknya dalam sekejap anak perempuan yang cantik molek ini akan menjadi mangsa anjing buas. Namun Man-jing sempat mengegos, dengan gesit ia menggeser ke samping. Tak terduga anjing itu memang sangat tangkas, sekali luput menubruk, segera ia membalik dan menerkam pula.

Man-jing terkejut, diam-diam ia mengakui kelihaian anjing yang tidak kalah dibandingkan jago silat biasa ini. Dia memang tidak ingin melukai anjing itu, sekarang ia bahkan tambah sayang kepada binatang cerdik ini. Hanya dengan tiga bagian tenaga, sebelah tangannya menebas dan tepat mengenai kuduk anjing itu.

"Lekas kau mundur saja!" serunya kepada Lamkiong Peng.

Dilihatnya Lamkiong Peng cukup tangkas menghadapi tombak berantai Kim-sian-loh, meski kesehatannya belum pulih seluruhnya. Dengan gerakan yang lincah ia menghindar kian ke mari sehingga tombak lawan sukar menyentuhnya.

Semua orang tercengang melihat ketangkasan kedua muda-mudi ini. Tampaknya mereka memang benar penjahat yang merampok dan membunuh ini, kalau tidak, masakah menguasai kungfu setinggi ini? Tapi ketika untuk kedua kalinya Kim-sian hendak menerkam Yap Man-jing lagi, tanpa terasa mereka menjerit kuatir pula.

"Binatang!" bentak Man-jing sambil menebas.

Namun anjing itu tidak kurang gesitnya. Ia sempat menghindar dan mendekam di tanah serta siap menubruk maju lagi. Pada saat itulah terdengar suara gemuruh, dari luar berlari masuk lagi berpuluh petugas bersenjata.

Bekernyit kening Lamkiong Peng. Dihindarkannya sekali serangan Kim-sian-loh, lalu ia membentak, "Jika engkau tidak segera berhenti dan bikin jelas dulu persoalannya, jangan menyesal bila aku...."

Belum habis ucapannya mendadak seorang membentak, "Berhenti semua!" Menggelegar suara bentakannya, menyusul angin tajam lantas menyambar dari udara. Sebatang tombak dengan ujung terikat sehelai panji merah meluncur tiba dan....

“Crat!” tombak menancap di halaman.

Kim-sian-loh tekejut dan melompat mundur dari kalangan.

Terdengarlah suara seorang tua sedang menegur dari jauh, "Kim-pohtau, apakah penjahatnya sudah kau temukan?"

Begitu lenyap suaranya, muncul pula seorang kakek berambut ubanan dan berpakaian perlente. Dahinya lebar dan mulutnya besar.

"Hah, Suma-lopiauthau datang, urusan menjadi mudah diselesaikan, " seru Kim-sian-loh girang. Berbareng ia menuding Lamkiong Peng berdua, “Penjahatnya berada di sini."

"Kau bilang dia penjahatnya?" tanya si kakek dengan dahi bekernyit, jelas dia kurang senang.

"Betul, selain kedua muda-mudi ini adalagi begundalnya....”

"Tutup mulut!" bentak si kakek sebelum Kim-sian-loh berucap lebih lanjut.

Kim-sian-loh tercengang dan menyurut mundur.

Sebaliknya si kakek lantas menyongsong ke depan Lamkiong Peng. Sapanya dengan menyesal, "Aku datang terlambat sehingga Hiantit (keponakan yang baik) mendapat perlakuan tidak pantas, harap dimaafkan."

Lamkiong Peng tertawa sambil memberi hormat. "Tak tersangka hari ini paman pun datang kemari," jawabnya.

Si kakek alias Suma Tiong-thian menarik tangan Lamkiong Peng dan berkata kepada Kim-sian-loh, "Kim-pohtau coba kemari."

Dengan bingung Kim-sian-loh mendekati mereka.

"Kau bilang dia ini penjahatnya?” tanya si kakek.

Detektif yang biasanya sangat angkuh ini sekarang menjadi melenggong oleh sikap kakek yang kereng ini. Seketika ia tidak dapat menjawab.

"Bila begini cara kerjamu, sungguh aku merasa kuatir caramu memecahkan setiap perkara," kata Suma Tiong-thian.

Kim-sian-loh memandang anjing kesayangannya sekejap. Sekarang anjing ini juga tampak jinak setelah berhadapan dengan si kakek perlente.

"Wanpwe sebenarnya juga tidak percaya, tapi kenyataannya...."

"Hm, kenyataan apa?" jengek si kakek sebelum lanjut jawaban Kim-sian-loh. "Memangnya kau tahu siapa dia?" Ia merandek sejenak, lalu menyambung dengan pandangan tajam, "Dia tak lain dan tak bukan adalah putera kesayangan keluarga Lamkiong yang termasyhur, murid sanjungan Put-si-sin-liong, namanya Lamkiong Peng."

Keterangan ini membuat muka Kim-sian-loh berubah pucat dan memandang Lamkiong Peng dengan melongo.

Lamkiong Peng tersenyum, lalu katanya, "Sebenarnya urusan ini...."

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong selarik sinar hitam menyambar tiba dari kerumunan orang banyak. Cepat Lamkiong Peng mengegos. Si kakek pun membentak dan menghantam hingga sinar hitam terpental ke samping, berbareng ia terus memburu ke sana.

Man-jing tidak bersuara. Segera ia pun melayang ke tengah kerumunan orang banyak, tempat menyambarnya senjata rahasia tadi. Hampir bersamaan saatnya dia dan Suma Tiong-thian tiba di situ. Anjing si Dewa Emas juga menguntit di belakang si kakek. Namun tiada seorang pun yang pantas dicurigai, agaknya penyergap itu sudah menyelinap pergi.

"Apakah Locianpwee ini Thi-cian-ang-ki Suma-Locianpwe?" sapa Man-jing dengan tersenyum.

"Betul," jawab Suma Tiong-thian sambil memandang si nona, "dan nona inikah Khong-jiok Huicu yang termasyhur itu?"

Man-jing hanya menggeleng sambil tersenyum.

Pada saat itulah terdengar seorang lelaki berbaju panjang menuding ke luar sambil berseru, "Itu dia sudah pergi... sudah pergi... sudah pergi...! Ai, sungguh keji caranya menyerang...."

Belum habis ucapannya, segera Suma Tiong-thian dan Yap Man-jing memburu ke arah yang ditunjuk. Gemerdep sinar mata lelaki berbaju panjang dengan senyuman licik ini, diam-diam ia hendak menyusup pergi dari kerumunan orang banyak.

Tak terduga mendadak Lamkiong Peng sudah menghadang di depannya sambil menegur, "Hm, apakah sahabat mau pergi begitu saja?"

Terkejut juga orang itu.

"Selamanya kita tidak kenal dan juga tidak bermusuhan, mengapa kau serang diriku dengan senjata rahasia?" tanya pula Lamkiong Peng. Perlahan ia memperlihatkan sapu-tangan yang dipegangnya. Pada sapu-tangan itu ada sebatang senjata rahasia berbentuk aneh, seperti jarum, tapi tajam kedua ujungnya, dan bercahaya hitam kilap.

"Am-gi (senjata rahasia) sekeji ini, kalau bukan terhadap musuh besar mana boleh digunakannya?" kata Lamkiong Peng pula.

"Kau... kau bilang apa? Aku sama... sama sekali tidak paham!” ujar orang itu dengan muka pucat. Berbareng itu kedua tangannya terus menyodok ke dada Lamkiong Peng.

"Hm," Lamkiong Peng mendengus sambil berkelit.

Orang itu mengannggap lawan cuma seorang pemuda lemah, segera ia mendesak maju dan menghantam lagi. Tak terduga, belum lagi hantamannya dilontarkan, tahu-tahu kuduk bajunya dicengkeram orang dari belakang. Karuan ia terkejut, sekilas melirik dilihatnya Suma Tiong-thian berdiri di belakangnya dengan muka kereng.

"Kaum tikus celurut, berani main gila di depanku?!" bentak kakek ini. Sekali angkat kontan orang itu dilemparkan jauh ke sana.

Diam-diam Lamkiong Peng menggeleng kepala. "Sudah lanjut usia orang ini, mengapa perangainya masih keras begini? Bila-mana orang ini terbanting mati, kepada siapa lagi akan dikorek keterangan pembunuhan di sini?" pikirnya.

Pada saat itulah mendadak bayangan orang berkelabat lagi. Orang yang dilemparkan Suma Tiong-thian itu telah dilempar kembali ke sini. Cepat Suma Tiong-thian menangkapnya kembali. Waktu ia mengawasi, ternyata Yap Man-jing telah berdiri di depannya dengan tersenyum.

"Hebat amat ginkang nona. Jangan-jangan murid Tan-hong Siancu?” kata si kakek.

Man-jing tersenyum. "Sungguh tajam pandangan Locianpwe, wanpwe memang murid Tan-hong adanya."

"Hahaha, memang sudah kuduga. Kecuali anak murid Tan-hong Siancu, siapa pula yang dapat mendidik murid dengan ginkang setinggi ini?" seru Suma Tiong-thian dengan tertawa. "Hahaha, sungguh menyenangkan. Anak muda memang selalu melampaui angkatan tua, inilah kemajuan zaman." Perlahan ia lemparkan tawanannya ke tanah, dilihatnya muka orang sudah pucat pasi.

Lamkiong Peng memburu maju dan menegur, "Sesungguhnya sebab apa sahabat menyerangku? Siapa yang menyuruhmu? Asalkan mengaku terus terang, tentu takkan kubikin susah padamu."

Orang itu menghela napas, dipandangnya sekeliling. Mendadak sinar matanya menampilkan rasa takut, lalu tutup mulut tanpa berucap sepatah pun.

Dengan kikuk Kim-sian-loh melangkah maju. "Hamba mempunyai cara untuk membikin dia mengaku terus terang, entah bolehkah kucoba?" tanyanya.

Suma Tiong-thian mendengus. "Orang ini pasti tidak ada sangkut paut dengan perkara perampokan ini, hal ini tidak perlu kau ributkan. Betapa bodohnya kaum penjahat di dunia tentu juga tidak mau berdiam di sini setelah berbuat kejahatan. Mengenai urusan lain..., hm, kukira tidak perlu Kim-pohtau ikut campur, aku sendiri mempunyai cara untuk mengorek keterangannya."

Kim-sian-loh mengiyakan dan mengundurkan diri dengan kikuk.

Suma Tiong-thian menjengek. Mendadak ia mencengkeram tulang lemas pundak orang itu, lalu bertanya dengan suara tertahan, "Atas suruhan siapa? Lekas mengaku!"

Kontan butiran keringat merembes di dahi orang itu, namun dia tetap tutup mulut tanpa bersuara apa pun.

Waktu Suma Tiong-thian memperkeras remasannya, tak tertahan lagi orang itu merintih kesakitan, namun tetap tidak mau bicara.

"Aku tidak terluka. Jika dia tidak mau mengaku, biarkan saja," ujar Lamkiong Peng.

"Hiantit tidak tahu, keluarga Lamkiong kalian saat ini sedang menghadapi ujian berat. Bahwa orang ini sengaja menyerang dirimu secara menggelap, jelas pasti ada dalangnya di belakang layar, mana boleh disudahi begini saja?"

"Ujian berat apa?" tanya Lamkiong Peng.

Suma Tiong-thian menghela napas sedih. "Urusan ini agak panjang untuk diceritakan. Untung Hiantit sudah akan pulang ke rumah.... Ai, tiba saatnya tentu engkau akan tahu sendiri," tuturnya.

Lamkiong Peng tambah bingung dan entah terjadi apa dengan keluarganya. Ia menunduk dan termenung. Mendadak dilihatnya kabut tipis mengambang dari permukaan bumi, hanya sekejap saja sudah menyelubungi telapak kaki orang banyak. Tergerak hatinya. Waktu ia menengadah, sang surya terang benderang di langit. Cepat ia membentak, "Lekas mundur, kabut berbisa!" Segera ia mendahului menyurut ke luar.

Suma Tiong-thian melenggong bingung. "Ada apa?" tanyanya.

Tanpa terasa remasannya mengendur. Kesempatan itu segera digunakan orang itu untuk meronta sekuatnya, lalu berguling ke sana dan menghilang di balik kabut. Seketika terjadi kekacauan.

Segera Suma Tiong-thian mengejar sambil membentak, "Hendak lari kemana?!"

Cepat Lamkiong Peng berseru pula, "Lekas pergi dari sini!"

Tanpa pikir Yap Man-jing menahan pundak Lamkiong Peng, terus melompat ke atas wuwungan. Waktu memandang ke sana, orang tadi agaknya sudah mencampurkan diri di tengah kerumunan orang banyak. Janggut panjang Suma Tiong-thian berkibar, ia pun menyelinap kian ke mari di tengah orang banyak untuk mencari. Kim-sian-loh lantas menarik rantai emas, namun anjing yang terantai itu seperti tidak mau tunduk lagi pada perintahnya, melainkan terus mengikut di belakang Suma Tiong-thian sambil menggonggong perlahan.

"Kau tinggal di sini, biar kubantu Suma-locianpwee membekuk kembali orang tadi," pesan Man-jing kepada Lamkiong Peng.

"Tidak perlu lagi," ujar anak muda itu. "Tentang asal-usul orang itu sudah kuketahui. Yang tak tersangka adalah dalam waktu sehari dua hari saja orang-orang ini sudah dapat memupuk kekuatan seluas ini."

"Orang siapa maksudmu?" tanya Man-jing dengan bingung. Dilihatnya air muka Lamkiong Peng mendadak berubah.

"Wah, celaka!" seru Lamkiong Peng. Segera ia membalik tubuh dan berlari ke sana. Karena badan masih lemah, hampir saja ia jatuh keserimpet.

Cepat Man-jing memburu maju untuk memegangnya sambil bertanya, "Hendak ke mana kau? Ai, ada sementara urusan, mengapa tidak kau katakan terus terang padaku?"

"Sesungguhnya aku sendiri tidak tahu sampai di mana perkembangan urusan ini... Ai, saat ini sungguh kuharap bisa tumbuh sayap untuk terbang pulang ke rumah," demikian ucap Lamkiong Peng dengan sedih.

Tiba-tiba timbul semacam firasat yang tidak enak, seperti berbagai macam mala-petaka akan menimpa keluarga Lamkiong, terutama bila teringat kepada gerombolan ‘Hong-uh-biau-hiang’ (Dupa Mengambang di Tengah Hujan Angin) yang begitu luas pengaruhnya, sungguh tambah besar rasa kuatirnya.

"Apakah engkau mau pulang?" tanya Man-jing dengan hampa.

"Ya, dan engkau...?" jawab Lamkiong Peng ragu.