Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 16

Tergetar juga hati Lamkiong Peng membaca sampai di sini. Ia merasa urusan ini benar-benar misterius dan penuh teka-teki. Ia coba membaca lagi:

Pada waktu masih muda sudah kudengar cerita tentang istana dan pulau misterius ini. Akan tetapi orang yang bercerita selalu memperingatkan padaku agar selama hidup hanya boleh meneruskan kisah ini satu kali dan kepada seorang saja.

Selama hidupku telah berkelana menjelajahui dunia, namun kedua tempat itu tetap tidak dapat kutemukan. Sekarang aku pergi dan cerita ini kusampaikan kepadamu dan Man-jing, tentu saja kalian tidak boleh sembarangan diceritakan lagi kepada orang lain, hal ini perlu diperhatikan.

Jika kalian ada jodoh, mungkin sekali kalian akan mampu menemukan kedua tempat misterius itu untuk menyelesaikan cita-citaku yang belum terlaksana.

Sekaligus Lamkiong Peng membaca habis surat ini, lalu ia memejamkan mata. Dalam benaknya terbayang dua lukisan. Yang satu adalah istana megah serupa kediaman malaikat dewata. Tempat yang lain adalah sebuah pulau dengan gunung di kejauhan dan diliputi kabut tebal, suasana seram dan mengerikan dengan binatang buas dan makhluk berbisa.

Melihat anak muda itu termangu-mangu dengan air muka berubah tidak menentu, Yap Man-jing pun merasa heran. Ia menegur, "Sudah selesai kau baca?"

Lamkiong Peng terkejut dan tersadar dari lamunannya. Ia pun menjawab sambil menyembunyikan surat itu di punggung, "Oh, sudah habis kubaca."

"Hm, memangnya kau kira aku ingin tahu isi surat gurumu?" jengek Man-jing. "Aku cuma ingin tanya, apakah ketiga pesan gurumu itu ada sangkut pautnya dengan diriku?"

Lamkiong Peng berdehem perlahan. Ia lalu menjawab dengan tergagap, "Oh, tentang ini... ini...." Dengan sendirinya ia rikuh untuk menjelaskan bahwa bukan cuma ada sangkut pautnya, tapi justru sangat berkepentingan.

Alis Man-jing menegak. Katanya pula, "Baiklah, jika tidak ada sangkut pautnya dengan diriku, biarlah aku pergi saja."

"Nona Yap...!"

"Ada apa lagi?"

"Ini... ini...." Lamkiong Peng menjadi bingung. Meski sang guru memberi pesan, tapi urusan ini mana bisa dilakukannya?

Dalam pada itu Yap Man-jing telah melangkah lewat di sampingnya dan mendadak merampas surat itu sambil mengomel, "Gurumu menyuruh kau baca surat ini bersamaku, kenapa engkau cuma membaca sendiri? Sebaiknya kulaksanakan pesan beliau...." Sembari bicara ia terus membaca isi surat itu.

Seketika mukanya yang dingin itu berubah merah. Sambil mendekap mulut dengan suara agak gemetar dia berkata gagap, “Oh, kau...?"

Lamkiong Peng juga serba salah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Tiba-tiba Man-jing menjerit, terus berlari ke depan. Tapi baru mencapai beberapa langkah, sekonyong-konyong di tengah malam yang sunyi itu timbul suara yang aneh, yaitu suara gemersek serupa hutan bambu tertiup angin, dari jauh makin mendekat. Baik Lamkiong Peng mau pun Yap Man-jing sama terkejut.

Serentak si nona melompat kembali ke samping Lamkiong Peng sambil bertanya, "A... apakah ini?"

Suara gemersek itu sungguh sangat mengerikan. Lamkiong Peng juga bingung dan coba memandang ke arah Ban Tat. Orang tua itu kelihatan pucat juga dan sedang menatap ke depan dengan kedua tangan merogoh saku seperti hendak mengambil sesuatu. Jarang jago tua ini memperlihatkan rasa prihatin seperti ini.

Lamkiong Peng sendiri juga terkesiap, namun ia coba menghibur Man-jing. "Tak apa-apa, jangan kuatir...."

Belum habis ucapannya, dari depan sudah muncul sesosok bayangan orang yang berjalan mundur ke belakang, agaknya di depannya terjadi sesuatu yang mengerikan sehingga membuatnya tidak berani membalik tubuh dan lari. Suara gemersek itu semakin keras, sebaliknya langkah mundur orang ini tambah lambat, agaknya kaki menjadi lemas saking ketakutan.

"Sahabat...," baru saja Lamkiong Peng hendak menegur, sekonyong-konyong orang ini menjerit kaget sambil membalik tubuh.

Maka tertampaklah wajahnya yang kurus dengan sinar mata buram dan kepala botak. Pakaiannya juga sangat aneh, serupa sebuah karung dimasukkan pada tubuhnya begitu saja.

Lamkiong Peng melenggong. Ia coba menegur lagi, "Sahabat ini...."

Mendadak orang berteriak pula terus bersembuyi di belakangnya, mungkin saking ngerinya sehingga tidak sanggup bersuara. Waktu Man-jing memandang ke sana, tertampaklah dari kegelapan membanjir ke luar berpuluh ular hijau berbisa. Kiranya suara gemersek tadi berasal dari kawanan ular ini. Tanpa terasa ia menjerit kaget dan menubruk ke dalam rangkulan Lamkiong Peng.

Mendadak Ban Tat membentak. Kedua tangannya bergerak, segera selapis kabut kuning bertebaran dan jatuh lima enam kaki di depan mereka. Suara gemersek tadi mulai mereda, tertampak di belakang kawanan ular itu mengikut pula serombongan pengemis dengan baju compang-camping dan rambut semerawut. Perawakan kawanan pengemis ini juga tidak sama dengan bentuk yang serba aneh, namun wajah mereka sama kelihatan kelam seram dan tahu-tahu muncul dari kegelapan sana seperti sekawanan setan yang membanjir ke luar dari neraka.

Yap Man-jing merangkul Lamkiong Peng dengan erat. Mendadak dirasakan tubuh anak muda itu bergemetar. Tentu saja ia heran. Sekilas lirik baru diketahuinya, orang botak aneh itu juga telah merangkul pinggang Lamkiong Peng dari belakang. Karena dia gemetar ketakutan, maka tubuh Lamkiong Peng ketularan dan ikut berguncang.

Ular hijau yang berbentuk jelek dengan sinar mata gemerdep itu sedang merayap di tanah becek sana, tampaknya lambat, tapi sebenarnya sangat cepat. Hanya sekejap saja kawanan ular itu sudah merayap sampai di depan garis kuning yang ditebarkan oleh Ban Tat tadi. Dengan was-was Ban Tat memandangi kawanan ular yang merayap-rayap itu. Ada yang melingkar, dan ada yang mendesis dengan menjulurkan lidahnya yang merah, namun tiada seekor pun yang berani mendekati garis kuning.

Sekilas pandang saja Lamkiong Peng dapat menghitung kawanan pengemis ini terdiri dari tujuh belas orang. Semuanya berwajah bengis, namun di mulut mereka justru sedang memohon, "Kasihan Tuan, sudilah memberi sedikit sedekah dari isi saku tuan." Suara minta-minta itu terus diulang, seorang disusul yang lain dan terus menerus oleh ketujuh belas mulut.

Tentu saja Lamkiong Peng heran dan bingung. Ia coba memandang si orang aneh botak tadi. Dilihatnya pakaiannya juga compang-camping, jelas tidak membawa sesuatu benda berharga, namun sebuah karung goni justru dirangkulnya dengan erat. Tampaknya karung itu pun kosong tanpa sesuatu isi yang berharga untuk diminta.

Lamkiong Peng tidak mengerti apa yang terjadi ini. Tapi jiwa kesatria yang mengharuskan dia membela keadilan dan membantu kaum lemah membuatnya menaruh simpatik terhadap orang tua rudin yang di belakangnya ini. Sekonyong-konyong dilihatnya Ban Tat menggeser ke sana, agaknya hendak menyembunyikan ekor ular yang dibunuhnya tadi supaya tidak dilihat oleh kawanan pengemis aneh itu.

Suara mendengus tadi sudah berhenti, sebaliknya suara mohon kasihan bertambah ramai. Jika tidak melihat wajah kawanan pengemis itu, suara minta-minta mereka sungguh menimbulkan rasa iba orang. Tapi wajah mereka yang seram penuh nafsu membunuh itu membuat suara minta-minta mereka terasa seram.

Mendadak Ban Tat membentak, "Apakah kawan-kawan ini datang dari ‘nerakanya neraka’ di Kwan- gwa?!"

Suara minta-minta tadi serentak berhenti, ketujuh belas pasang mata sama menatap Ban Tat. Seorang pengemis bertubuh jangkung dan kurus kering, tapi mata bersinar tajam dengan wajah pucat pasi perlahan melangkah maju. Langkahnya enteng mengambang, seperti setiap saat bisa kabur tertiup angin. Baju compang-camping yang dipakainya sangat longgar sehingga menggembung tertiup angin.

Serupa badan halus saja ia melayang lewat garis kuning itu. Ia tersenyum seram terhadap Ban Tat, lalu berucap, "Kau kenal padaku?"

Biar pun Ban Tat sudah berpengalaman luas, menghadapi pengemis aneh ini timbul juga rasa seramnya. Jawabnya dengan suara agak gemetar, "Apakah sahabat ini adalah Yu-leng-kun-kai (Kawanan Pengemis Badan Halus) yang tersiar di dunia kangouw itu?"

Pengemis aneh yang serupa badan halus ini mendengus, "Betul, nerakanya neraka, pengemis badan halus, setan jahat, arwah miskin, minta sedekah dengan paksa.... Hehe! Tampaknya belum pernah kau masuk neraka, dari mana kau kenal kawanan setan jahat seperti kami ini?" Dia bicara seperti bertembang, lalu disusul suara kawanan pengemis aneh yang menirukan tembangnya, sehingga di dengar di tengah malam gelap seakan-akan jeritan setan.

Tanpa terasa Ban Tat menyurut mundur. Katanya pula, "Yu-leng-kun-kai biasanya tidak mau minta emas di bawah seribu tail atau perak kurang dari selaksa tail, padahal kami tidak membawa sesuatu benda berharga. Jangan-jangan sahabat salah alamat minta sedekah pada kami."

Tergerak juga hati Lamkiong Peng. Segera ia teringat kepada asal-usul kawanan pengemis aneh ini. "Biasanya kawanan pengemis setan kelaparan ini tidak pernah masuk ke pedalaman sini. Apakah mungkin kedatangan mereka ini hanya karena menyusul seorang tua aneh yang serupa pengemis ini?" pikirnya.

Terdengar pengemis jangkung tadi mendengus. "Yang hendak kami cari tentu saja bukan dirimu. Memangnya sengaja kau mau cari gara-gara kepada kawanan setan?" Mendadak ia melompat ke depan Lamkiong Peng dan menjengek pula. "Anak muda terlebih jangan cari perkara kepada setan, juga jangan merintangi jalan lalu setan, tentu kau tahu aturan ini."

"Anda ini Ih-pangcu atau Song-pangcu Song Cing?" jawab Lamkiong Peng dengan lantang dan tenang, tidak kaget juga tidak jeri.

Gemerdep sinar mata pengemis jangkung ini. Ia tertawa ngekek. "Meski setan ganas Song Cing tidak hadir, kedatanganku Ih Hong si arwah rudin tetap sanggup mengakhiri riwayat sesorang. Jika kau tahu asal usul kawanan setan di sini, apakah minta dilalap oleh kawanan setan?" katanya.

Serentak kawanan pengemis bersorak, "Lalap saja, lalap saja!"

Sementara itu Yap Man-jing sudah menenangkan diri. "Huh, main setan-setanan untuk menakuti orang, sungguh konyol!" jengeknya.

Ih Hong menyeringai. "Hehe, nona manis usia delapan belas sembilan belas tahunan berangkulan dengan pemuda di depan umum dan berani pula usil mulut. Di neraka sana juga tidak mau menerima setan perempuan yang tidak tahu malu serupa dirimu."

Muka Man-jing menjadi merah. Segera ia membentak, "Keparat!"

Selagi ia hendak melancarkan pukulan, mendadak Lamkiong Peng menarik lengan bajunya dan mendesis, "Sst, tahan dulu!"

"Kawanan jembel ini berlagak setan segala dan minta secara paksa, untuk apa banyak bicara dengan mereka?" ujar Man-jing dengan mendongkol.

Tapi Lamkiong Peng bicara dengan serius, "Sebagai pengemis, adalah jamak mereka minta-minta. Orang kangouw umumnya suka pakai nama atau julukan yang aneh, bahwa mereka menamai diri sendiri sebagai setan juga bukan sesuatu kejahatan. Orang tidak bermaksud jahat kepada kita, melainkan cuma minta kita memberi jalan padanya, mana boleh kita sembarangan menyerangnya?"

Si arwah rudin Ih Hong mestinya akan mendamprat. Demi mendengar komentar Lamkiong Peng itu, ia tercengang. Baru sekarang sejak tampil di dunia kangouw ada orang memberi penilaian demikian padanya.

Yap Man-jing juga tercengang dan tidak jadi bertindak. Entah mengapa, anak perempuan yang dingin dan angkuh ini sekarang berubah lembut.

Sedangkan si kakek botak aneh tadi lantas berseru kuatir, "He, masa... masa akan kau biarkan kawanan setan kelaparan ini merampas barang seorang kakek rudin seperti diriku ini?"

Lamkiong Peng tersenyum. "Sudah lama kudengar kawanan pengemis badan halus suka berkeliaran di dunia ramai. Bila-mana minta-minta juga tidak melampaui separuh milik orang. Malahan juga sering merampas yang kaya untuk menolong yang miskin, hal ini sudah lama kukagumi. Tapi sekarang rombongan kalian justru mengejar dan mendesak terhadap seorang tua lemah begini, sungguh membuatku sangat heran," katanya. Dia bicara dengan lugas dan terus terang, sedikit pun tidak berlagak.

Ih Hong tertawa. "Haha! Tak tersangka anak muda belia seperti kau ini juga tahu sejelas ini mengenai kawanan setan lapar kami." Tertawanya sekarang seperti timbul dari lubuk hati yang bersih sehingga sama sekali tidak berbau setan lagi.

Diam-diam Ban Tat membatin, "Sudah lama kuberi-tahukan kepadanya tentang kawawan setan lapar ini, tak terduga dia masih ingat sejelas ini."

Terdengar Ih Hong berhenti tertawa dan berkata, "Dan bila kau tahu sejelas ini mengenai kami, tentu kau pun tahu kawanan setan sekali sudah keluar tentu takkan pulang dengan tangan hampa. Maka sebaiknya engkau jangan ikut campur urusan ini." Sekali berkelebat mendadak ia melompat ke belakang Lamkiong Peng.

"Tolooong!" cepat si kakek botak berteriak.

Tapi Lamkiong Peng lantas menghadang di depan Ih Hong. "Apabila anda bertindak terhadap seorang kakek rudin seperti ini dan mendesaknya, sungguh aku harus menyatakan rasa kecewa kepada nama baik kalian," ucapnya.

Ih Hong berhenti di tempatnya, jengeknya mendadak, "Kakek rudin? Hm, kau bilang dia kakek rudin?! Jika dia tidak kaya raya melebihimu dan tidak berbudi, masa kawanan setan sampai turun tangan padanya?"

Lamkiong Peng melenggong bingung.

Si kakek botak lantas berteriak, "Jangan kau percaya kepada ocehannya, mana bisa aku kaya?”

"Orang she Ih," sela Man-jing mendadak. "Kau bilang dia kaya raya?"

"Ya,"jawab Ih Hong ketus.

"Apa buktinya? Jika salah, lantas bagaimana?” tanya Man-jing.

"Kawanan pengemis setan bermata setajam sinar kilat dan tidak pernah salah lihat. Apabila salah lihat, kami rela kelaparan sepuluh tahun dan segera pulang kandang...!"

"Betul?" Man-jing menegas.

"Anak perempuan ingusan, kau tahu apa?" jengek Ih Hong. "Meski Lo Lo-si itu tampaknya rudin, padahal dia kaya raya. Yang kami minta sekarang tidak lebih hanya separuh barang yang berada dalam karungnya itu, yang kami minta kan cukup pantas. Kawanan pengemis setan biasanya tidak suka mengganggu orang miskin. Kalau tidak, mana bisa budak ingusan seperti dirimu dibiarkan ikut bicara?"

"Hm, kau tahu siapa dia?" jengek Man-jing sambil memandang dan menunjuk kepada Lamkiong Peng.

Ih Hong juga memandang anak muda itu dari kaki ke kepala, lalu ia putar ke kanan dan balik lagi ke kiri. Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng ikut berputar ke sana-sini dan tetap menghadang di depannya.

"Hm, tampaknya serupa putera keluarga hartawan," jengek Ih Hong kemudian. “Cuma sayang, dalam sakumu juga tidak banyak isinya."

"Memangnya pada baju orang tua ini banyak isinya?" tanya Man-jing.

"Yang kontan memang tidak ada, tapi Gin-bio (sejenis cek) tidak sedikit yang dibawanya. Namun yang kuminta juga bukan Gin-bio, melainkan....”

Belum habis ucapan Ih Hong, mendadak si kakek botak membalik tubuh terus berlari.

"Memangnya dapat kau lari?!" jengek Ih Hong.

Ucapannya sangat manjur, mendadak si kakek botak alias Lo Lo-si berhenti berlari dan menyurut mundur dengan takut. Kiranya di depannya kembali menghadang beberapa ekor ular hijau.

"Nah, nona cilik, tidak perlu banyak omong lagi. Kecuali putera keluarga hartawan Lamkiong di daerah Kanglam, di dunia kangouw tidak ada orang lain yang lebih kaya dari-pada Lo Lo-si ini. Kenapa kalian berdua suka ikut campur urusan? Untung aku yang kalian hadapi, jika ketemu setan ganas Song Cing, bisa celaka kalian."

"Cayhe sendiri ialah Lamkiong Peng," tiba-tiba Lamkiong Peng memperkenalkan diri.

Karuan Ih Hong melengak. Mendadak ia melangkah maju, sebelah tangannya terus menghantam dada Lamkiong Peng. Serangan ini di luar dugaan siapa pun, juga dilakukan secepat kilat. Terlihat lengan bajunya yang longgar itu berkibar, tahu-tahu telapak tangannya sudah dekat pada sasarannya.

Lamkiong Peng membentak perlahan. Telapak tangannya berjaga di depan dada, jari tangan kanan balas menotok Kik-ti-hiat bagian iga lawan. Serangan ini sekaligus juga berjaga diri. Inilah salah satu jurus andalan perguruannya yang disebut Ciam-liong-su-ciau (Empat Jurus Naga Bersembunyi) yang biasanya jarang diperlihatkan jika tidak kepepet.

Tak tersangka belum lagi saling beradu tangan, serentak Ih Hong melompat mundur. “Ternyata benar murid Sin-liong dan putera Lamkiong. Bagus Lo Lo-si, keenakan bagimu hari ini," katanya dengan gegetun.

Sekali ia memberi tanda, segera bergema pula suara sempritan, lalu ramailah suara mendesis. Kawanan ular hijau yang berputar-putar di depan garis kuning itu serentak melejit ke dalam lengan baju kawanan pengemis.

"Nanti dulu, Ih-pangcu," seru Lamkiong Peng.

"Setelah kalah bertarung dengan sendirinya harus angkat kaki," kata Ih Hong. "Meski kawanan setan kelaparan biasanya suka minta-minta secara paksa, tapi selamanya juga pegang janji. Bahkan ular hijau yang dibunuh tua bangka itu juga tidak perlu kutuntut ganti rugi lagi."

Gerak-gerik Kawanan Pengemis Badan Halus ini benar-benar serupa setan, hanya sekejap saja mereka sudah menghilang.

Yap Man-jing tertawa. “Meski kawanan pengemis ini suka berlagak setan dan main gertak, tapi kelakuan mereka pun tidak terlalu jahat," katanya.

Lamkiong Peng sendiri sedang berpikir, "Kawanan pengemis ini pasti ada hubungan erat dengan Suhu. Kalau tidak, masakah hanya bergebrak satu kali saja lantas mengenali asal-usul perguruanku?"

"Meski Go-kui-pang (Gerombolan Setan Lapar) ini tidak menentu baik jahatnya, tapi sasaran yang mereka incar biasanya pasti manusia kaya yang tidak berhati baik," ujar Ban Tat sambil menatap kakek botak tadi.

Kakek itu ternyata sedang memandang Lamkiong Peng dengan terkesima, tampaknya kagum dan juga iri. Mendadak ia menjura kepada anak muda itu.

Cepat Lamkiong Peng membalas hormat. “Ah, hanya urusan kecil begini, buat apa Lotiang (bapak) memberi hormat sebesar ini?" katanya kemudian.

"Ya, memang urusan kecil. Mestinya aku tidak perlu banyak adat, penghormatan sekedar saja sudah cukup," kata kakek botak itu, "Tapi yang kau selamatkan adalah harta bendaku dan bukan menolong jiwaku, sebab itulah penghormatanku harus kuberikan dengan sepenuhnya."

Yap Man-jing dan Lamkiong Peng saling pandang dengan bingung.

Si botak lantas menyambung, "Keluarga Lamkiong kaya-raya menjagoi dunia. Jika engkau benar Lamkiong-kongcu, pasti engkau terlebih kaya dari-padaku, sebab itulah penghormatanku ini juga harus kulakukan dengan sebesar-besarnya."

"O, apakah penghormatanmu ini ditujukan kepada uangnya?" ujar Man-jing.

"Memang betul, malahan penghormatanku ini juga ditujukan kepada ayahnya yang kaya itu," ujar si kakek botak.

Lamkiong Peng melongo oleh uraian orang yang luar biasa ini.

"Jadi yang kau hormati adalah kekayaan seseorang. Bagimu uang di atas segalanya, begitu bukan?" tanya Man-jing.

Dengan serius si kakek botak menjawab, "Benda apa pun di dunia ini tidak ada yang lebih penting dari-pada uang. Di dunia ini tidak ada yang berharga selain sepotong uang perak. Dengan sendirinya dua potong uang perak akan lebih berharga lagi, dan yang lebih berharga dari-pada dua potong uang perak adalah tiga...."

"Tiga potong uang perak, begitu bukan?" tukas Man-jing. Mendadak ia mendekap di pundak Lamkiong Peng dan tertawa geli.

"Jika begitu, tentu engkau ini sangat kaya. Rupanya Yu-leng-kun-kai itu memang tidak salah lihat," kata Ban Tat dengan tertawa.

Air muka si kakek botak berubah seketika. Sahutnya sambil merangkul erat karung goni yang dibawanya, "O, tidak, tidak! Mana aku punya duit?" Karena gugupnya, tanpa terasa ia bicara dengan logat kampungnya.

Lamkiong Peng menahan rasa gelinya dan berkata, "Lotiang ternyata tahu cara sayang terhadap duit, sungguh aku sangat kagum...."

"Saat ini orang yang minta duit padamu sudah pergi, tentu kau pun boleh pergi saja," sela Man-jing. Tiba-tiba teringat kepada urusan sendiri, perlahan ia berkata pula, "Dan aku pun akan pergi."

Ban Tat berdehem. "Setelah bertemu dengan Kongcu dan ternyata tidak berkurang suatu apa pun, sungguh aku sangat gembira. Segera aku akan menuju ke Kwan-gwa. Entah Kongcu akan pergi ke mana?"

"Aku...," tiba-tiba timbul rasa kesepian dalam hati Lamkiong Peng, "Aku ingin pulang ke rumah dulu. Kemudian...," ia memandang jauh ke depan dengan hampa.

"Jika begitu...," sela Man-jing tidak melanjutkan ucapannya.

Dia masih memegang surat tinggalan Put-si-si-liong. Sesungguhnya dia sangat berharap sepatah kata Lamkiong Peng saja, dan dia rela mendampingi anak muda itu selamanya. Akan tetapi hati Lamkiong Peng terasa pedih dan tidak sanggup berucap.

Diam-diam Ban Tat menghela napas. "Jika nona Yap tidak ada urusan, apa halangannya berangkat ke Kanglam bersama Lamkiong-kongcu? Semoga kalian menjaga diri dengan baik, kumohon diri dulu," katanya. Ia memberi hormat terus melangkah pergi.

"Tik Yang keracunan dan menjadi gila, ke mana perginya juga tidak jelas. Apakah engkau tidak mau ikut mencarinya bersamaku?" tanya Lamkiong Peng.

Seketika Ban Tat berhenti dan berpaling kembali.

Tiba-tiba si kakek botak berkata, "Tik Yang yang kau maksudkan itu, apakah seorang pemuda berpedang dan keracunan parah itu?"

"Betul!" jawab Ban Tat dengan girang.

"Dia sudah ditolong Yan-pek (Arwah Cantik) Ih Lo dari kawanan setan lapar itu serta dikirim ke Kwan-gwa," tutur kakek botak itu. "Untung mendadak ia muncul mengganggu, kalau tidak, mana bisa kulari sampai di sini? Tampaknya Ih-jinio itu rada menaksir padanya dan tentu takkan membikin susah dia, kukira kalian tidak perlu kuatir baginya."

Lamkiong Peng menghela napas lega. "Dan entah perempuan macam apakah Ih-jinio yang berjuluk Arwah Cantik itu?" tanyanya.

"Orang baik tentu akan selamat. Setiba di Kwan-gwa nanti tentu akan kucari jejak Tik-kongcu," kata Ban Tat. "Menurut pandanganku, Ih-jinio pasti bukan orang jahat, apalagi dia menaksir Tik kongcu. Kalau tidak, mustahil dia mau pulang ke Kwan-gwa secepat itu. Setiba di sana tentu dia akan berdaya sebisanya untuk menolong Tik-kongcu. Kalian tahu, ketulusan hati dan kemurnian cinta terkadang menimbulkan kekuatan yang sukar dibayangkan."

"Kemurnian cinta terkadang menimbulkan kekuatan yang sukar dibayangkan," ucapan ini terus menyelimuti benak Yap Man-jing. Waktu ia mengangkat kepala, dilihatnya Ban Tat sudah pergi jauh.

Sekian lama Yap Man-jing berdiri terkesima. Dilihatnya muka Lamkiong Peng rada pucat dan diam saja. Mendadak si nona menggentak kaki dan melengos. Ditunggunya sekian lama dan Lamkiong Peng tetap tidak bicara apa pun padanya. Akhirnya gadis yang berhati keras ini pun melangkah pergi.

Dengan terkesima Lamkiong Peng memandangi bayangan si nona. Ucapan Ban Tat tadi pun berkecamuk dalam benaknya. Samar-samar muncul berbagai bayangan orang, tiba-tiba di rasakan sebagai bayangan Bwe Kim-soat, tapi dirasakan pula seperti bayangan Yap Man-jing.

Kelelahan dan kelaparan selama beberapa hari, pertentangan batin dan kusut memikirkan cinta, semua itu memeras tenaga dan pikiran. Mendadak Lamkiong Peng merasakan tangan dan kakinya lemas, seperti menginjak tempat kosong. Tak lama kemudian ia pun roboh.

Si kakek botak menjerit kaget.

Yap Man-jing sedang melangkah ke sana, melangkah lambat. Demi mendengar suara jeritan itu, tanpa terasa ia berpaling. Ketika diketahuinya Lamkiong Peng menggeletak di tanah, secepat terbang ia berlari kembali. Kekuatan apa pun di dunia ini tidak dapat mencegahnya untuk tidak menghiraukan anak muda itu....

********************

Di ufuk timur sudah mulai remang-remang terang, hawa sejuk. Sebuah kereta berkabin tampak dilarikan dari kota Se-an menuju ke Sun-yang. Kakek aneh yang berdandan aneh dan botak kelimis itu setengah merebah di depan kabin sambil tetap merangkul erat karung goni yang dibawanya. Dari dalam kereta terkadang ada suara rintihan dan keluhan sedih dua orang.

Tiba-tiba si kakek botak mengetuk dinding kabin dan berseru, "Hei nona cilik, apakah kau bawa uang perak!?"

"Bawa," jawab suara orang perempuan dengan marah dari dalam kereta.

Dengan sungguh-sungguh si kakek berkata pula, "Ke mana pun pergi, duit tidak boleh kekurangan." Ia tersenyum puas, lalu memejamkan mata dan mengantuk.

Setiba di Sun-yang, hari sudah gelap, lampu sudah dinyalakan di sana-sini.

Mendadak si kakek membuka mata dan mengetok dinding kabin lagi sembari bertanya, "Hei nona cilik, banyak tidak uang yang kau bawa?"

"Cukup banyak," jengek suara di dalam kereta.

Si kakek melirik kusir kereta sekejap dan berpesan, "Carilah sebuah hotel paling besar, sebaiknya hotel merangkap restoran."

Pasar malam di kota Sun-yang sangat ramai. Setiba di hotel, dengan lagak tuan besar si kakek memerintahkan kusir dibantu pelayan hotel menggotong Lamkiong Peng ke dalam kamar. Man-jing turun dari kereta dengan lesu.

"Nona cilik, berikan lima tail perak dulu untuk sewa kereta," kata kakek botak.

Kusir kereta sangat senang, ia pikir sekali ini tip yang akan diterimanya cukup untuk minum arak sepuasnya. Siapa tahu setelah si kakek menerima sepotong perak lima tail dari Yap Man-jing, baru saja disodorkan kepada si kusir, mendadak ditarik kembali lagi.

"Berikan kembalinya dua tail dahulu," bisik kakek botak itu.

Tentu saja si kusir melenggong, terpaksa ia memberi uang kembalian, lalu tinggal pergi dengan menggerutu.

Dengan berseri-seri si kakek botak masuk ke hotel. Dua tail perak uang kembalian tadi diberikan kepada pelayan dan berkata, "Siapkan semeja makan seharga sepuluh tail perak, harus disuguhkan sekaligus!"

Tidak kepalang gembira si pelayan. Ia pikir biar pun pakaian tamunya serupa pengemis, tapi persennya ternyata tidak sedikit. Dengan ucapan terima-kasih pelayan lantas mengiyakan.

Dengan lagak tuan besar si botak masuk ke ruangan restoran, dengan karung goni tetap dirangkulnya. Ia pilih sebuah meja besar dan duduk di situ. Pelayan sibuk mengantarkan teh panas dan memberi handuk wangi. Tidak lama kemudian santapan semeja penuh pun selesai di siapkan.

Dengan tertawa yang dibuat-buat si pelayan menyapa," Apakah tuan ingin minum arak?"

Si kakek menarik muka. "Minum arak bisa membikin runyam urusan. Kalau mabuk, biar pun badan digerayangi orang juga tidak tahu, kan rugi. Padahal kau tahu, mencari uang tidaklah mudah," ucapnya ketus.

Si pelayan melenggong, terpaksa mengiyakan.

"Eh di mana uang pemberianku tadi?" tanya si kakek mendadak.

"Masih ada," cepat si pelayan menjawab.

"Tukarkan mata uang tembaga seluruhnya dan lekas bawa kemari."

Karuan si pelayan melongo. Dua tail perak itu disangkanya tip, tak tahunya cuma titipan untuk menukarkan mata uang. Sambil menggerutu terpaksa ia melangkah pergi.

SI kakek memandang santapan lezat yang tersedia di depannya dengan menggosok-gosok tangan serupa orang putus lotre. Berbareng ia berseru, "He nona cilik, jika kau perlu menjaga orang sakit, biarlah kumakan sendiri!"

Terdengar suara jawaban Man-jing tak acuh di kamar pojok sana.

"Hm, bila-mana keluarga Lamkiong bukan orang kaya, biar pun kau pikat dengan segala macam bujuk rayu juga aku tidak mau menempuh perjalanan bersamamu," demikian si kakek botak bergumam sendiri, lalu ia taruh karung goni di pangkuannya dan menyikat hidangan yang tersedia.

Caranya makan sungguh rakus dan juga besar takarannya. Semeja penuh hidangan itu disapu bersih tanpa sisa! Pada saat itulah pelayan baru kembali dari menukar mata uang. Si kakek menghitung dengan teliti mata uang itu, akhirnya ia comot tiga buah mata uang. Ia ragu sejenak, akhirnya jari mengendur dan dua buah mata uang dijatuhkan kembali. Hanya sisa sebuah mata uang saja yang lalu ditaruh di atas meja.

"Ini untukmu!" katanya dengan rasa berat.

Si pelayan melongo, "Kukira boleh tuan simpan untuk dipakai sendiri saja," katanya kemudian dengan mendongkol.

Si kakek tertawa senang, "Haha, betul juga, biar kupakai sendiri!"

Sebiji mata uang tembaga itu benar-benar diambilnya kembali, lalu dia angkat karung goninya dan masuk sebuah kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Dengan gemas si pelayan menuju ke halaman dan mengomel panjang pendek....

********************

Di dalam kamar Man-jing lagi memegangi semangkuk air obat yang baru diseduhnya dan disuapkan ke mulut Lamkiong Peng dengan tangan agak gemetar. Meski perkenalannya dengan anak muda itu belum lama terjadi, namun aneh, rasanya sudah timbul semacam perasaan yang sukar dilupakan terhadap pemuda yang berjiwa luhur dan berdarah panas ini.

"Persahabatan harus dipupuk dengan perlahan, cinta justru timbul dalam sekejap," ia jadi teringat kepada ucapan seorang pemikir. Pernah dia mencemoohkan falsafah ini, tapi sekarang baru dirasakan kebenaran ucapan tersebut.

Ia teringat kepada Koh-Ih Hong, Tik Yang dan juga pendekar muda congkak ‘Boh-in-jiu’ itu. Dia pernah berkumpul dengan mereka di puncak Hoasan yang tinggi dan sepi itu, ia kenal watak dan ketahanan mereka. Tapi terhadap Lamkiong Peng, pada pertemuan pertama itu juga lantas timbul rasa sukanya. Tapi kemudian terpaksa ia meninggalkan Hoasan dengan kenangan indah terhadap anak muda itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi di rumah gubuk di puncak Hoasan itu, serupa halnya ia tidak dapat meraba, sebenarnya bagaimana perasaan Lamkiong Peng terhadap dia.

Sudah tiga hari dia melayani anak muda yang sakit dan tak sadar itu. Dia enggan bicara dan berdekatan dengan orang tua itu, tapi ia pun tidak dapat mencegahnya tinggal bersama di sebuah hotel. Di dengarnya di kamar sebelah kakek botak itu asyik menghitung mata uang tembaga. Sudah larut malam, tapi dia masih sibuk dengan duit. Sungguh kakek yang mata duitan!

Esok paginya, sakit Lamkiong Peng sudah agak sembuh, bahkan petangnya dia sudah dapat turun dari pembaringan. Memandangi Man-jing yang agak letih dan kurus itu, perasaan Lamkiong Peng menjadi tidak enak.

"Aku sakit, engkau yang repot," ucap Lamkiong Peng dengan menyesal.

"Asalkan kau sembuh, apa pun kukerjakan dengan senang hati," ujar si nona.

Terharu hati Lamkiong Peng. Tak terduga olehnya selama tiga hari ini telah sebanyak ini perubahan sikap nona itu terhadapnya. Tanpa terasa ia memandangnya lagi sekejap dengan penuh rasa terima-kasih.

Ketika melihat Lamkiong Peng muncul dalam kamarnya, segera si kakek botak yang sedang menghitung uang itu menegur dengan tertawa, "Aha, agaknya sakitmu sudah sembuh?!"

"Terima-kasih atas perhatian Lotiang," jawab Lamkiong Peng dengan tersenyum.

"Bila aku menjadi dirimu, aku tentu ingin sakit lebih lama lagi," kata si kakek dengan tertawa.

Lamkiong Peng melenggong.

Si botak lantas menyambung, "Jika bukan lantaran sakitmu, mana anak dara ini mau mentraktirku makan minum di sini? Bila bukan karena kau sakit, mana nona ini mau memperlihatkan perhatiannya kepadamu? Maka kalau engkau sakit lebih lama lagi beberapa hari, tentu aku dapat makan enak lebih lama dan kau pun akan mendapat pelayanan lembut. Kita jadi sama-sama gembira, kenapa tidak mau?" Dia menyerocos terus hingga ludahnya berhamburan, namun setiap katanya memang tepat.

Man-jing menunduk malu. Meski seperti orang sinting, namun ucapan kakek itu memang kena di hatinya.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng berkata, "Jika Lotiang ingin makan minum, setelah aku sehat nanti tentu akan kutraktir."

"Haha, bagus!" seru si kakek. Tapi dengan serius ia menambahkan, "Tapi biar pun kalian telah traktir makan padaku, tidak perlu aku berterima-kasih padamu. Kutahu, sebabnya kalian memperbolehkan aku berada bersama kalian adalah demi keuntungan kalian, tapi aku... Haha! Boleh juga kugunakan kesempatan baik ini untuk makan minum sepuasnya."

Kata-kata ini kembali kena di hati Lamkiong Peng dan Yap Man-jing.

"Tapi kalau Lotiang ada keperluan lain, dapat juga kubantu."

"Hah, memangnya kau kira aku suka menerima sedekah orang?" jawab si kakek dengan kereng.

"Umpama pakaian Lotiang, dapat kubelikan beberapa potong baju."

"Eh selamanya kita tidak bermusuhan, kenapa sengaja kau bikin susah padaku?" cepat si kakek menjawab.

Lamkiong Peng jadi melenggong, "Bikin susah padamu?"

"Coba kau lihat," si kakek berdiri dan menuding bajunya yang serupa karung itu. "Betapa enak bajuku ini, sama sekali tidak perlu kurisaukan kemungkinan akan robek." Lalu ia menuding kepala sendiri yang botak, "Dan ini kau tahu, demi untuk membuat botak kepalaku ini, betapa jerih payahku selama ini. Sekarang aku tidak perlu sibuk merawat rambut, juga tidak perlu keluarkan duit untuk memotong, inilah cara yang paling baik untuk hidup hemat. Tapi sekarang kau mau memberi pakaian baru kepadaku. Jika kukenakan baju pemberianmu, tentu setiap saat aku perlu memikirkan baju baru, itu berarti membuang waktu dan mengurangi kesempatan untuk mencari duit. Bukankah semua itu hanya membikin susah padaku?"

Lamkiong Peng dan Yap Man-jing saling pandang sekejap. Logika si kakek botak ini sungguh luar biasa, tapi juga membuat mereka sukar membantah.

Si kakek lantas mendengus dan duduk kembali. Sembari makan ia menggerutu pula, "Maka bila kalian ingin kuiringi kalian, selanjutnya jangan bicara lagi tentang hal-hal ini. Hm, jika tidak mengingat keuntungan yang akan kuraih, bisa jadi sudah sejak tadi kutinggal pergi."

Yap Man-jing mendengus dan melengos ke arah lain. Sedangkan Lamkiong Peng hanya menghela napas menyesal. "Masa urusan duit bagi Lotiang sedemikian pentingnya?" kata Lamkiong Peng.

Kakek botak juga menghela napas, "Ai, rasanya sukar bagiku untuk menjelaskan kepada putera hartawan seperti dirimu ini akan betapa pentingnya duit. Tapi bila-mana engkau sekali tempo menghadapi kesulitan, tanpa penjelasanku baru kau akan tahu pentingnya duit."

Tiba-tiba timbul juga perasaan hampa dalam hati Lamkiong Peng. "Semoga aku juga dapat mencicipi rasanya miskin, tapi alangkah sulitnya untuk membuat aku miskin," pikirnya. Ia tertawa mengejek terhadap diri sendiri.

"Setiap kataku cukup beralasan, memangnya apa yang kau tertawakan?" omel si kakek.

"Yang kutertawai adalah karena sejauh ini belum lagi kuketahui nama Lotiang," jawab Lamkiong Peng.

"Ah, apa artinya nama?" ujar si kakek. "Cukup kau sebut diriku Ci Ti saja."

"Ci Ti (Gila Uang)?" Lamkiong Peng menegas dengan heran, "Tapi yang kutertawai bukan soal ini, Lotiang...."

"Siapa pun tidak berhak mengurus jalan pikiran orang lain," kata si kakek, "Apa yang kau pikirkan tentu juga tidak ada sangkut paut denganku. Bagiku, asalkan tingkah laku dan tutur kata orang cukup baik terhadapku, biar pun dalam hati dia benci kepadaku juga masa bodoh. Apabila setiap hari selalu kupikirkan apa yang dipiikir orang lain terhadapku, bisa jadi aku akan berubah linglung atau sinting."

Ucapan ini serupa cambuk yang memecut lubuk hati Lamkiong Peng. Ia tertunduk dan melamun hingga lama.

Dalam pada itu si kakek botak alias Ci Ti sudah kenyang makan. Ia mengulet kemalasan dan memandang Yap Man-jing sekejap, lalu berucap hambar, "Nona cilik, kuberi nasehat padamu. Janganlah suka mengusut pikiran orang lain, dengan begitu tentu engkau akan jauh dari kekesalan."

Man-jing juga sedang termenung. Ketika ia angkat kepala, dilihatnya si kakek telah melangkah ke halaman dalam.

Tiba-tiba dari luar masuk belasan lelaki berbaju ringkas dan bersenjata golok. Tampak pula seorang lelaki kekar lain dengan punggung menyandang sehelai panji warna merah. Lelaki kekar ini memanggul sebuah peti kayu masuk ke halaman sana. Langkah beberapa orang itu tampak gesit dan cekatan, sorot mata orang terakhir itu pun bercahaya tajam. Ia melirik sekejap kepada si kakek botak, lalu masuk ke pintu bulat yang membatasi halaman itu.

Sinar mata si kakek mendadak mencorong terang. Dengan tersenyum ia bergumam, "Ang-ki-piaukiok (Perusahaan Pengawalan Panji Merah)...,” lalu ia menguap dan berkata pula. "Ai, makan banyak suka ngantuk, lebih baik tidur saja." Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Setelah termenung sekian lama, akhirnya Lamkiong Peng juga berbangkit dan masuk ke kamar. Man-jing merasa kesepian. Dipandangnya pintu kamar Lamkiong Peng dan memandang pintu kamar si kakek. Ia menghela napas, lalu ia melangkah perlahan ke halaman.

Suasana sunyi, cahaya lampu sudah padam. Entah berapa lama Man-jing berdiri di halaman. Dari kejauhan terdengar suara kentongan, menandakan sudah lewat tengah malam. Selagi perasaannya diliputi rasa kekosongan, tiba-tiba dari balik wuwungan rumah ada orang tertawa perlahan.

"Untuk apa berdiri termenung di tengah malam?" terdengar desis seseorang.

Man-jing terkejut. "Siapa?!" bentaknya dengan suara tertahan sambil melompat ke atas rumah. Dilihatnya sesosok bayangan secepat terbang melayang ke kegelapan sana, kecepatan orang ini sungguh sangat mengejutkan.

"Berhenti!" bentak pula Man-jing sembari memburu ke sana.

Akan tetapi meski ginkang-nya juga sangat tinggi, ternyata tetap tidak dapat menyusul orang itu. Ia terus memburu dan mencari di sekitar situ, namun bayangan orang sudah menghilang.

Lamkiong Peng sedang duduk terpekur di atas tempat tidur. Ia berusaha menenangkan pikiran, tapi rasanya kusut dan sukar diatasi. Ia tidak tahu Yap Man-jing melamun di halaman dan juga tidak tahu nona itu melompat ke luar untuk memburu seseorang. Entah sudah berapa lama, ketika pikiran Lamkiong Peng melayang-layang tak menentu, tiba-tiba di dengarnya suara seperti daun jatuh di luar jendela. Cepat ia melompat bangun dan membuka daun jendela. Di tengah keremangan malam dilihatnya Yap Man-jing berdiri di luar dengan rambut kusut.

"Engkau belum tidur?" tanya Man-jing dengan pandangan sayu.