Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 08

Perlahan Giok-he menyambung, "Ketiga langkah yang kalian rancang sudah kau jelaskan tadi. Lalu ketiga perangkap selanjutnya belum kau katakan, namun tanpa kau jelaskan juga kutahu. Pertama kalian sengaja mengukir tulisan di dinding tebing untuk memancing guruku naik kemari, supaya tenaga guru kami terkuras habis sebelum bertanding. Malahan bukan mustahil ada pikiran kalian semoga beliau tidak sanggup mendaki ke atas dan jatuh tergelincir, dengan begitu kalian menjadi tidak perlu turun tangan lagi."

Tik Yang tetap diam saja, bahkan lantas memejamkan mata.

Maka Giok-he bicara lagi, "Kedua, selama beberapa tahun ini kalian sudah menerima info dari Simoay kami ini dan cukup mengetahui kehebatan kungfu guru kami, sebab itulah kalian sengaja menciptakan tiga jurus istimewa dan diukir pada batu karang. Agaknya cuma teori saja ketiga jurus ciptaan kalian ini dapat diterima, tapi bila digunakan dalam praktik belum tentu dapat dimainkan dengan baik. Dengan demikian tujuan kalian hanya untuk menguji Suhu, supaya sebelum berhadapan dengan Yap Jiu-pek beliau sudah patah semangat lebih dulu."

la berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Kukatakan ketiga jurus ciptaan kalian itu pada hakikatnya cuma teori belaka dan sukar dipraktikkan. Sebagai seorang tokoh kelas top tentu saja Suhu dapat menyelaminya, sebab itulah dengan gusar beliau telah menghantam remuk batu karang itu...."

"Dan ketiga," sambung Giok-he, "tiga jalan tembus dan empat daun pintu, inilah cara kalian menjajaki betapa tinggi kungfu guru kami. Ada lagi satu hal yang jelas sangat aneh. Yap Jiu-pek diketahui sudah lumpuh, lantas ke mana perginya dia sekarang?"

Liong Hui juga menatap Tik Yang dengan sangsi. Dilihatnya Tik Yang membuka mata perlahan.

"Liong-toaso, engkau memang sangat pintar. Ketiga hal ini ternyata dapat kau terka dengan tepat," kata Tik Yang. Dia bicara dengan dingin, sikapnya juga kaku. Lalu dia menyambung, "Ketiga jurus yang terukir di batu karang itu memang cuma bicara secara teori saja, praktiknya memang sukar dimainkan." Tiba-tiba tersembul senyumannya yang mengejek, "Apa yang kalian bicarakan di depan ketiga potong batu karang itu dapat kudengar dengan jelas. Cuma sayang, waktu itu terlalu banyak urusan yang dipikirkan Toaso sehingga tidak tahu di atas batu ada orang bersembunyi."

Hati Giok-he terkesiap.

Liong Hui lantas berkata dengan menyesal, "Karena berbagai kejadian yang membikin bingung kami ini, bila-mana Toaso salah omong mengenai dirimu hendaknya engkau jangan marah."

"Aku mengerti! Jika aku jadi Toaso tentu juga akan merasa sangsi," ujar Tik Yang dengan tertawa. "Kedatanganku ke rumah gubuk ini memang lebih dini dari-pada kalian, tapi apa yang terjadi di sini sudah lalu. Apa yang disangsikan Toaso serupa juga apa yang kusangsikan. Jejak Liong-loyacu dan juga Yap Jiu-pek, Koh Kang, Tok Put-hoan dan lain-lain saat ini telah menjadi teka-teki."

Pandangan Tik Yang perlahan beralih ke lantai. Sambil membalik mayat yang menggeletak ia berkata, "Di sini ada bekas darah, tapi pada satu-satunya mayat ini tidak ada sesuatu tanda luka. Cara bagaimana kematiannya?"

Waktu semua orang mengawasi lagi mayat itu, tertampak kulit daging pada wajah mayat itu berkerut serupa mati ngeri dan kaget, juga serupa mati oleh karena semacam lweekang lihai yang menggetar putus urat nadinya.

"Ya, semua ini memang teka-teki. Kuharap Tik-laute sudi bekerja sama dengan kami untuk menyingkap tabir teka-teki ini," kata Liong Hui.

Tik Yang tersenyum. Ia angkat mayat itu dan berkata, "Teka-teki ini pada suatu hari pasti akan terjawab, tatkala mana tentu semua orang baru akan percaya bahwa apa yang kuceritakan memang betul." Ia pandang Liong Hui sekejap, tiba-tiba ia berseru, "Toako, sampai berjumpa pula!" Habis berkata ia terus melayang ke luar.

"Nanti dulu, Tik-laute...!" teriak Liong Hui sambil memburu ke luar.

Namun bayangan jago muda ahli waris Thian-san-pay ini sudah menghilang dalam sekejap. Meski mengangkat sesosok mayat, namun ginkang-nya sungguh luar biasa cepatnya.

Liong Hui berdiri termangu sambil memandang jauh ke sana. Ia bergumam, "Sungguh pemuda yang suka terus terang...."

"Tapi menurut pandanganku, tampaknya ada sesuatu yang tidak beres...."

Belum lanjut ucapan Giok-he, mendadak Liong Hui berpaling dan membentak, "Tutup mulut!"

Selagi Giok-he melenggong, didengarnya Liong Hui berucap pula dengan bengis, "Semuanya gara-garamu! Jika bukan karena cara bicaramu yang menyinggung perasaannya, mana bisa dia pergi begitu saja? Tampaknya kehormatan Ci-hau-san-ceng selanjutnya bisa tamat di tanganmu."

Biasanya Liong Hui jarang sekali marah, kini dia kelihatan marah benar. Ciok Tim dan Koh Ih-hong sama sekali tidak berani ikut bicara. Giok-he tercengang sejenak, mendadak ia menjerit sambil mendekap mukanya terus berlari ke luar.

"Toaso!" seru Ciok Tim dan Ih Hong bersama.

Melongo juga Liong Hui melihat istri tercinta lari pergi dengan marah. Betapa pun timbul juga rasa menyesalnya.

"Lekas kau susul Toaso dan membujuknya, Toako," kata Ih Hong.

Liong Hui menunduk, "Memang perkataanku tadi agak keras!" ia berpaling dan berkata kepada Ciok Tim, "Kukira Samte saja yang menyusul dan membujuknya."

Tanpa disuruh lagi segera Ciok Tim melompat ke luar.

Sampai lama Liong Hui termenung, lalu menghela napas dan berkata pula, "Ya, perkataanku memang terlalu keras, padahal maksudnya juga demi kebaikan orang banyak." Dia tidak menyalahkan orang lain, tapi mencela diri sendiri lebih dulu.

Memandangi wajah Liong Hui yang lesu, tiba-tiba timbul rasa kasihan Koh Ih-hong padanya. Lantaran inilah mestinya dia merasa malu tinggal lagi dalam perguruan Sin-liong, tapi entah mengapa sekarang sukar menyatakan niatnya untuk pergi. Akhirnya ia bersuara perlahan, "Toako, apakah kita akan tetap tinggal di sini atau turun gunung saja?"

"Ya, pergi saja," jawab Liong Hui sesudah berpikir sejenak. "Kukira Toaso toh pasti akan pulang ke Ci-hau-san-ceng. Pula... saat ini Gote mungkin sedang menunggu kita di kaki gunung. Ai, kejadian hari ini memang serba aneh. Untuk apakah Tojin itu membawa lari peti mati itu? Sungguh hal ini pun sukar untuk dimengerti, atau... atau akulah yang terlalu bodoh...?"

Koh Ih-hong diam saja tanpa menanggapi.

"Tapi semua teka-teki ini akhirnya pasti akan tersingkap!" demikian Liong Hui teringat pada ucapan Tik Yang tadi.

Ufuk timur sudah remang-remang. Fajar hampir tiba, kabut tipis mengelilingi lereng gunung. Perlahan mereka meninggalkan puncak Hoa-san yang sunyi ini....

********************

Di kaki gunung sana Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat lagi saling tatap. Sudah sekian lama keduanya sama-sama tidak bergerak. Akhirnya Bwe Kim-soat menjulurkan tangan untuk membetulkan rambut yang kusut pada pelipisnya

"Apakah engkau harus menunggu mereka?" tanya Bwe Kim-soat.

Lamkiong Peng mengiyakan tanpa sangsi. Ia tidak tahu, bila-mana orang perempuan meraba rambut sendiri biasanya pikiran tentu lagi resah.

"Baik, kuturut padamu," kata Bwe Kim-soat kemudian. Segera ia melayang ke peti mati sana, lalu berpaling pula dan menambahkan, "Cuma sekali ini saja!"

Di bawah kerlip bintang, peti mati tidak terlihat sesuatu perubahan. Bwe Kim-soat duduk bersandar pohon. Sedangkan Lamkiong Peng berdiri tegak di sana, lalu berjalan mondar-mandir. Jelas pikirannya juga kusut. Mendadak ia berhenti di depan Bwe Kim-soat.

"Ingin kutanya padamu," kata Lamkiong Peng.

"Urusan apa?" berputar bola mata Bwe Kim-soat.

"Tadi... waktu kubuka peti mati itu, mengapa kulihat kosong?"

Bwe Kim-soat tertawa. "Di dasar peti ada satu lapisan rahasia, masa tidak dapat kau lihat?"

"Oo?!" Lamkiong Peng melenggong.

"Kukira yang hendak kau tanya bukanlah urusan ini," kata Kim-soat pula.

Kembali Lamkiong Peng melenggong. Katanya kemudian, "Betul, tapi... tapi sekarang aku tidak ingin tanya lagi." Ia lantas menyingkir lagi ke sana.

Tampak Bwe Kim-soat juga termenung, lalu berucap dengan sayu, "Tadi kalau aku tidak bercermin di air sungai, pasti kukira diriku sudah tua."

Dilihatnya Lamkiong Peng berpaling, tapi tidak memandang ke arahnya. Maka ia bergumam pula, "Pada usia empat belas aku sudah berkelana di dunia kangouw. Setiap orang yang bertemu denganku tidak pernah ada seorang yang tak acuh padaku seperti dirirnu sekarang...."

Lamkiong Peng mendengus sambil meraba tutup peti mati kayu cendana yang berukir indah itu. Bila-mana saat ini tutup peti itu dibukanya, maka dunia persilatan pasti takkan terjadi macam-macam persoalan lagi. Tapi ia cuma meraba tutup peti dengan perlahan, sama sekali tiada maksud hendak membukanya.

"Sudah banyak kulihat anak muda yang sok anggap dirinya lain dari-pada yang lain," kata Kim-soat pula sambil membelai rambut sendiri. "Aku pun banyak melihat jago, dan tokoh ternama yang anggap dirinya luar biasa. Sampai sekarang aku masih ingat dengan jelas sorot mata mereka yang memandang padaku, sungguh aku merasa geli dan juga kasihan kepada mereka."

"Blang!" mendadak Lamkiong Peng menghantam tutup peti dengan keras. Ia menjengek, "Kisah masa lampau yang membuatmu bangga ini kenapa tidak kau simpan saja dalam hatimu?"

Karena hantamannya itu, peti mati itu berguncang cukup keras. Di dalam peti ada suara keluhan yang sangat lirih. Karena anak muda itu lagi kesal dan gelisah, maka suara keluhan itu tidak didengarnya.

"Jika engkau tidak suka mendengarkan, boleh menyingkir agak jauh ke sana," ujar Bwe Kim-soat dengan tersenyum dan tetap menyambung ucapannya. "Di mana-mana orang selalu menyanjung puji diriku, di mana-mana selalu kulihat wajah dari sorot mata yang menggelikan dan pantas dikasihani. Hampir sepuluh tahun aku berkelana, banyak juga lelaki iseng yang tergila-gila padaku. Banyak pula yang mengalirkan darah dan duel lantaran diriku, hanya disebabkan karena kupernah melirik dan tersenyum kepadanya. Akibatnya mulailah orang persilatan sama mencaci maki diriku. Katanya aku ini gadis berdarah dingin dan pembuat onar. Padahal bukan salahku! Kawanan lelaki itu yang mau berbuat begitu, kenapa aku yang disalahkan? Coba, betul tidak?"

Lamkiong Peng hanya mendengus saja tanpa menjawab.

Bwe Kim-soat tertawa. Semakin mendongkol Lamkiong Peng, semakin senang dia. "Sepuluh tahun yang lalu, akhirnya dapat kutemukan seorang yang sangat istimewa," tutur pula Kim-soat. "Jika lelaki lain suka memandangku seperti orang linglung, dia tidak. Bila orang lain suka mengintil di belakangku, dia tidak. Kebanyakan orang kalau bukan menyanjung puji padaku tentu mencaci maki padaku, namun dia hanya bicara denganku sewajarnya, bahkan cukup memahami pribadiku.”

Bwe Kim-soat menarik napas sambil melirik sekejap pada Lamkiong Peng. Ia lalu melanjutkan, “Ia sendiri gagah dan ganteng, ilmu silatnya tinggi, perguruannya terhormat, ditambah lagi serba pintar dalam berbagai bidang, baik kesusastraan, seni lukis, seni catur, seni musik dari lain-lain. Juga dia seorang penyair. Namanya di dunia kangouw juga cukup gemilang, suka melerai perselisihan orang lain dan berbuat sesuatu yang luhur dan menolong sesamanya. Maka lambat-laun aku mengikat persahabatan dengan dia."

Dia bercerita dan penuh pujian terhadap orang itu sehingga mau tak mau Lamkiong Peng juga tertarik.

"Tokoh hebat seperti itu, bila bertemu denganku pasti juga aku akan bersahabat dengan dia," pikir Lamkiong Peng. Karena pikiran itu, tanpa terasa ia bertanya. "Siapa dia? Apakah sekarang dia masih berkelana di dunia kangouw?"

"Kau kenal orang ini," jawab Bwe Kim-soat dengan tersenyum manis. "Cuma sayang, untuk selamanya dia takkan muncul lagi di dunia ini."

Lamkiong Peng ikut menghela napas menyesal. Dilihatnya senyum Bwe Kim-soat hilang mendadak, sebaliknya menyambung ucapannya dengan dingin, "Sebab orang ini telah mati di bawah pedangmu!"

Lamkiong Peng terkesiap. Dadanya serupa dihantam orang satu kali. "Ap... apa katamu?" ia menegas dengan tergagap.

Bwe Kim-soat seperti tidak mendengar pertanyaannya dan menyambung ucapannya sendiri, "Meski lahiriah orang ini kelihatan orang baik, padahal, hm! Pada satu hari ketika hujan salju lebat, aku bersama dia dan seorang sahabatnya yang juga cukup terkenal di dunia persilatan asyik minum arak di rumah orang. Setelah dua-tiga cawan arak kuminum, baru kurasakan ada yang tidak beres di dalam arak. Kulihat gerak-gerak mereka juga tidak baik. Maka aku lantas berlagak mabuk.”

“Kudengar sahabatnya berkeplok tertawa, ´Aha, roboh, robohlah dia! Sebentar bila berhasil kau tunggangi kuda binal ini, jangan kau lupakan jasaku’. Kudengar dengan jelas ucapannya, maka aku sengaja berlagak tidak sadar. Ingin kulihat apa yang akan dilakukan mereka atas diriku."

Jelas kisah ini cukup menarik perhatian Lamkiong Peng. Ia tidak menyela lagi, melainkan cuma mendengarkan.

Terdengar Bwe Kim-soat bercerita lagi, "Keparat berwajah manusia dan berhati binatang ini tertawa senang, aku diangkatnya ke tempat tidur. Baru saja dia mau membuka pakaianku, aku tidak tahan lagi. Begitu melompat bangun segera kuhantam mukanya. Namun orang yang berjiwa kotor ini memiliki ilmu silat yang tinggi. Pukulanku tidak mampu mengenai sasaran, dan dia sempat membuka jendela dan kabur.”

"Waktu itu sebenarnya aku sudah minum arak bius dua-tiga cawan. Sekujur badanku kehilangan tenaga, maka pukulanku tidak mampu melukai dia dan dengan sendirinya juga tidak dapat mengejarnya," ia pandang tangan sendiri lalu menyambung dengan penuh rasa benci. "Dengan lweekang-ku dapatlah kudesak ke luar racun dalam arak yang kuminum itu. Sungguh tidak kepalang gemas hatiku. Kulari ke luar, kubinasakan kawannya yang kotor itu, kutikam tujuh-delapan kali tubuhnya dengan pedangku pada bagian-bagian yang mematikan!"

"Keji amat!" ucap Lamkiong Peng.

"Keji?" jengek Bwe Kim-soat. "Hm, Bila-mana aku kurang berpengalaman dan tubuhku jadi dinodai oleh mereka, lalu orang kangouw siapa yang akan percaya kepada keteranganku? Semua orang tentu akan menganggap aku yang memikat mereka. Lalu siapa yang akan dikatakan keji?"

Lamkiong Peng tercengang, tanpa bersuara ia menunduk dan merasa menyesal.

Maka Bwe Kim-soat bicara lagi, "Esoknya aku lantas menyiarkan berita bahwa bila orang itu kulihat lagi, lebih dulu akan kucungkil matanya dan memotong daun telinganya, lalu mencincang tubuhnya. Dan karena orang kangouw tidak tahu sebab musababnya, seketika timbul macam-macam desas-desus, dengan sendirinya desas-desus itu sama merugikan nama baikku."

Mendengar sampai di sini, kembali Lamkiong Peng merasa penasaran, serunya, "Sebenarnya siapakah orang ini?"

"Dengan sendirinya orang ini cukup ternama di dunia kangouw," jengek Kim-soat. "Dia terkenal sebagai ´Kongcu-kiam-khek´ atau ´Kiam-khek-kongcu´ (Pemuda Jago Pedang atau Jago Pedang Muda)."

Lamkiong Peng terkesiap, "Hah, bukankah dia...?"

"Ya, dia saudara sepupu Tan-hong Yap Jiu-pek yang terkenal itu," jengek Kim-soat pula. "Aku tidak menghadiri pertemuan yang diprakarsai Yap Jiu-pek sendiri secara tidak tahu malu itu sudah dipandang sebagai kesalahan yang tak terampunkan, apalagi sekarang aku hendak membunuh saudara sepupu Yap Jiu-pek. Orang lain masih mendingan, orang pertama yang tidak dapat menerima ialah Put-si-sin-liong Liong Po-si."

"Di dunia kangouw kebanyakan adalah manusia yang lebih suka menjilat yang tinggi dan memuja yang besar. Siapa yang mau tahu pihak mana yang benar? Dengan sendirinya mereka lebih percaya kepada Kongcu-kiam-khek yang jujur dan berbudi itu, siapa yang mau percaya kepada ´iblis perempuan´ macam diriku ini? Apalagi satu-satunya saksi hidup juga telah kubunuh, tentu lebih sulit lagi bagiku untuk membuktikan kebersihanku. Maka Put-si-sin-liong lantas mengeluarkan Sin-liong-tiap (Kartu Naga Sakti) dan mengundang kedatanganku ke Kiu-hoa-san untuk menyerahkan nyawa kepadanya."

Makin emosional suaranya, sedangkan kepala Lamkiong Peng tertunduk lebih rendah.

Terdengar Bwe Kim-soat menyambung lagi, "Tentu saja kupenuhi undangannya. Waktu itu usiaku baru dua puluhan, tinggi hati dan bersikap angkuh. Kuyakin kungfu-ku tidak ada tandingannya, biar pun jago nomor satu Put-si-sin-liong juga tidak terpandang olehku. Maka setiba di Kiu-hoa-san serentak kuajukan empat macam cara bertanding. Tanpa pikir dia lantas terima tantanganku. Kau tahu, waktu itu ilmu silatku belum pernah menemukan tandingan, bahkan jago pedang ternama seperti Kongcu-kiam-khek itu juga kabur menghadapiku. Tentu saja aku sangat senang tantanganku itu diterima begitu saja oleh Put-si-sin-liong."

Ia menghela napas, lalu menyambung, "Siapa tahu, pertandingan pada babak pertama aku lantas kalah, bahkan kalah secara mengenaskan. Dalam babak kedua, kuminta bertanding kekuatan lunak. Kupikir dia tinggi besar, tentu tak bisa bergerak lunak, siapa tahu kembali aku kalah lagi."

"Babak ketiga kutantang bertanding Am-gi (senjata rahasia). Karena gelisah lantaran sudah kalah dua babak, pada babak ketiga ini aku berbuat curang. Selagi dia tidak berjaga, kuhamburkan Am-gi terlebih dulu. Siapa tahu sekujur badan Put-si-sin-liong seolah-olah penuh tumbuh mata, meski kusergap tetap tiada gunanya."

Pujian yang datang dari mulut lawan dengan sendirinya adalah pujian yang paling berharga. Diam-diam Lamkiong Peng merasa bangga. Ia berpikir, "Nyata gelaran Suhu sebagai jago nomor satu yang tak termatikan memang tidak bernama kosong."

Didengarnya Bwe Kim-soat bertutur lebih lanjut, "Ketika babak keempat dimulai lagi, jelas Put-si-sin-liong menjadi gusar dan menyatakan tidak memberi ampun lagi padaku, sebab aku telah main sergap. Hal ini lebih membuktikan desas-desus yang tersiar tentang tindakanku terhadap Kongcu-kiam-khek itu pasti tidak salah lagi dan aku dipandangnya sebagai perempuan kotor, rendah, hina dina dan jahat."

Mendadak Lamkiong Peng tergerak. Teringat olehnya makian si Tojin berjubah hijau kepada Bwe Kim-soat, juga teringat akan....

Terdengar Bwe Kim-soat menyambung lagi, "Walau pun begitu dia tetap mengalah lagi tiga jurus padaku. Aku tetap diberinya kesempatan untuk menyerang lebih dulu, habis itu barulah dia balas menyerang. Melulu tujuh jurus, ya, cuma tujuh jurus saja pedangku lantas tergetar lepas. Aku terdesak di batang pohon, pedangnya lantas menusuk ke mukaku. Kulihat sinar pedang menyambar tiba, karena tidak berdaya, kupejamkan mata...."

Perlahan ia benar-benar memejamkan mata seperti terbayang pada kejadian dahulu. Bulu matanya yang panjang menghiasi kelopak matanya. Ia menghela napas perlahan dan berucap lagi, "Siapa tahu, sampai sekian lama kutunggu, hanya kurasakan angin tajam menyambar lewat di sisi telingaku, lalu tidak terjadi apa-apa lagi. Waktu kupentang mataku, kulihat pedang Put-si-sin-liong menancap pada batang pohon di belakangku. Pedang itu hampir amblas seluruhnya serupa menusuk pada benda yang lunak sehingga tidak menerbitkan sesuatu suara."

Ia membuka mata, bola matanya berputar, lalu menyambung, "Waktu itu aku tercengang. Kudengar Put-si-sin-liong berkata padaku, ´Kukalahkan dirimu dengan pedangku tentu orang kangouw akan bilang lumrah. Rasanya kau pun takkan rela mengalami kekalahan ini´. Mendadak ia menyimpan pedangnya dan melompat mundur. Ia tepuk tangan dan berkata pula, ´Nah, jika dengan pedangmu dapat kau kalahkan kedua tanganku ini akan kubiarkan kau pergi dari sini´."

"Karena sudah terdesak, tanpa pikir lagi aku menerjang maju, kulancarkan serangan maut. Kutahu akan kelihaiannya, yang kuharapkan adalah luka bersama dan tidak bermimpi akan mengalahkan dia."

"Siapa tahu, belum ada dua puluh jurus, tenagaku sudah lemah. Pada saat itulah tangannya sedang meraih ke mukaku dengan jurus ´In-liong-tam-jiau´ (Naga Menjulurkan Cakar dari Balik Awan). Kulihat iga kirinya tak terjaga, dengan girang segera kugeser langkah dan melancarkan tusukan ke iganya."

"Padahal tusukanku ini adalah salah satu jurus serangan Kong-jiok-kiam (Ilmu Pedang Merak) yang disebut Kong-jiok-tian-ih (Merak Pentang Sayap), serangan keji tanpa kenal ampun. Serangan tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, asalkan dapat melukai musuh. Masih ada lagi jurus susulan lain, bila perlu akan gugur bersama musuh."

"Siapa duga, baru saja pedangku menotok, mendadak kedua telapak tangannya digunakan menjepit batang pedangku. Berbareng itu ia terus menggeser maju dan menyodok pinggangku dengan sikunya. Kurasakan semacam hawa hangat timbul dari bagian pinggang, dalam sekejap lantas tersalur ke seluruh badan, menyusul lantas terasa enak sekali. Badan enteng seakan-akan terbang, dan akhirnya aku lantas roboh terkulai dengan lemas."

Terkesiap juga Lamkiong Peng. Ia berpikir, "Waktu itu Suhu sangat membenci padanya, maka menggunakan Sin-liong-kang (Tenaga Naga Sakti) untuk membuyarkan seluruh kekuatannya."

Terdengar Bwe Kim-soat menghela napas, lalu bertutur pula, "Meski sudah merenung selama sepuluh tahun di dalam peti mati, tetap tidak dapat kupahami di mana letak kehebatan dan keistimewaan gerak serangannya itu. Sejak kecil aku giat berlatih, dengan susah payah akhirnya berhasil kukuasai kungfu setaraf itu, tapi dalam sekejap saja telah dihancurkan olehnya. Tatkala itu hatiku tidak kepalang sedihnya di samping kejut, gusar, takut dan berduka."

"Sungguh kekalahanku itu jauh lebih menyakitkan hati dari-pada aku dibunuhnya saja. Aku lantas mencaci maki, dengan sedih kubeberkan pula apa yang terjadi sebenarnya dan perbuatan kotor Kongcu-kiam-khek itu. Kutanya apakah itu salahku? Dengan hak apa dia bertindak padaku? Berdasarkan apa dia membela bajingan yang rendah dan kotor itu untuk menganiaya seorang perempuan macam diriku?"

Sikapnya memperlihatkan rasa dendam dan benci yang tak terhingga. Kejadian yang membuatnya berduka dan murka itu seakan-akan terbayang lagi di depan matanya. Semakin banyak yang didengar Lamkiong Peng, semakin besar rasa simpatiknya terhadap orang.

Bwe Kim-soat menyambung lagi, "Setelah mendengar ucapanku, muka Put-si-sin-liong menjadi pucat. Sampai sekian lama baru dia berucap dengan agak gemetar, ´Mengapa tidak kau katakan sejak tadi?´ Kulihat dia sangat menyesal. Ia mengeluarkan obat luka dan suruh kuminum, tapi kutolak. Apa gunanya kuminum obat lukanya? Andaikan sementara takkan mati, tapi selama ini musuhku sudah sekian banyak, Bila-mana mereka tahu tenagaku sudah buyar, ilmu silatku sudah punah, mustahil mereka takkan mencari balas kepadaku!"

"Tapi Put-si-sin-liong memang seorang pendekar yang berhati mulia. Ia lantas memohon dengan sangat kepadaku agar mau minum obatnya. Ia bilang bila aku mati, tentu dia akan menyesal selama hidup. Ia ingin menebus dosa, ingin memperbaiki kesalahannya, akan melindungi diriku selama hidup, juga akan mencari Kongcu-kiam-khek yang rendah itu untuk membalaskan dendam bagiku."

"Aku masih juga menolak, maka dia mencekoki aku dengan obatnya, lalu dengan lweekang-nya berusaha menyembuhkan lukaku. Sebab itulah meski cuma sehari saja dia bertanding denganku, tapi tiga hari kemudian baru turun gunung. Orang Bu-lim yang menunggu di bawah gunung melihat kemunculannya dalam keadaan lelah dan lesu sehingga mengira dia bertempur denganku selama tiga hari tiga malam. Semua orang bersorak bagi kemenangannya... Ai, padahal siapa yang tahu akan kejadian yang sebenarnya?"

Diam-diam Lamkiong Peng berpikir, "Wah ketika mendengar sorakan orang banyak waktu itu, entah betapa pedih perasaan Suhu."

Didengarnya Bwe Kim-soat menyambung lagi, "Sebelum turun gunung dia telah menotok Hiat-to-ku dan disembunyikan di dalam sebuah goa rahasia. Malam kedua dia datang lagi dengan dua lelaki kekar yang membawa sebuah peti mati. Aku dimasukkan ke dalam peti mati, maksudnya jelas untuk menghindari mata telinga orang, terutama mata telinga Yap Jiu-pek tentunya."

"Sebab apa?" tanya Lamkiong Peng.

"Masa engkau tidak tahu?" Bwe Kim-soat tertawa. "Yap Jiu-pek cantik dan tinggi ilmu silatnya. Dia memang awet muda. Meski waktu itu usianya sudah lima puluhan, tapi tampaknya serupa berumur tiga puluhan. Sebab itulah orang kangouw menyebutnya sebagai Put-lo-tan-hong (Si Burung Hong Yang Tidak Pernah Tua), dengan tepat merupakan satu pasangan dengan Put-si-sin-liong. Sebenarnya dia serba baik, hanya satu hal, yaitu dia terlalu pencemburu."

"Berada di suatu ruang yang sempit dan gelap, dari tuturan Put-si-sin-liong dapat kuketahui banyak urusan yang menyangkut diri Yap Jiu-pek," Kim-soat meneruskan ceritanya. "Coba kau pikir, apabila bukan lantaran perangai Yap Jiu-pek kelewat aneh, kan seharusnya dia menikah dengan Put-si-sin-liong. Yang seorang adalah ´jago nomor satu´, yang lain adalah ´perempuan paling cantik´, betapa mengagumkan pasangan ini. Akan tetapi mereka tidak berbuat demikian, hidup mereka justru berlalu dalam kesepian." Mendadak ia menunduk terharu sehingga wajahnya tertutup oleh rambutnya yang ikut terurai.

Lamkiong Peng termangu-mangu sejenak, timbul juga perasaan bimbang yang sukar diuraikan. ‘Kesepian’, sekejap ini mendadak ia mengerti kesepian yang dialami orang banyak. Perempuan yang terkenal sebagai ‘Leng-hiat Huicu’ atau si Putri Berdarah Dingin ini mengalami kesepian. Yap Jiu-pek yang maha-cantik itu juga mengalami kesepian. Pendekar nomor satu yang dipujanya selama hidup, gurunya yang berbudi, Put-si-sin-liong juga menderita kesepian.

Perjalanan orang hidup memang berliku-liku dan panjang. Semakin tinggi menanjak ke atas, semakin besar pula rasa kesepiannya. Bila-mana dia sudah menanjak sampai puncaknya, mungkin baru akan diketahuinya, apa yang terdapat di puncak selain keemasan nama dan kejayaan atas kesuksesannya hanyalah kesepian yang serba kelabu belaka. Hati Lamkiong Peng terkesiap. Mendadak dapat dipahaminya mengapa wajah sang guru yang berbudi luhur itu selalu membawa semacam sikap yang kereng dan jarang memperlihatkan senyum gembira.

"Sejak hari itu," demikian Bwe Kim-soat menyambung lagi, "aku tidak mendapat kesempatan untuk melihat cahaya matahari lagi. Sepuluh tahun... selama sepuluh tahun Put-si-sin-liong ternyata tidak melaksanakan janjinya. Dia tidak membersihkan tuduhan orang padaku, tidak menuntut belas bagiku, dengan sendirinya kutahu apa sebabnya." Mendadak ia berhenti bertutur dan menengadah memandang langit.

Kesunyian yang mendadak ini serupa sebuah godam menghantam hati Lamkiong Peng, sebab ia tahu di balik kesunyian ini betapa mengandung rasa dendam dan kecewa orang. Demi Yap Jiu-pek, lantaran Kongcu-kiam-khek itu adalah saudara Yap Jiu-pek, gurunya tidak dapat membekuknya dan tidak sanggup mencuci bersih fitnahan orang terhadap Bwe Kim-soat. Sebaliknya si Putri Berdarah Dingin ini juga tidak memaksa gurunya melaksanakan janjinya, dengan sendirinya hal ini disebabkan antara mereka juga telah timbul jalinan perasaan yang mendalam.

Bwe Kim-soat memandangi cahaya bintang di langit, termenung sampai sekian lamanya. Mendadak ia menatap Lamkiong Peng dengan tersenyum, semacam senyuman yang sukar dimengerti maknanya.

"Tapi apakah... apakah kau tahu... apakah kau tahu...?" dengan tersenyum beberapa kali ia mengulangi perkataannya.

Dengan bingung Lamkiong Peng menegas, "Tahu apa?"

Bwe Kim-soat menatapnya lekat-lekat, katanya perlahan, "Apa yang tidak dilaksanakan gurumu, bagiku itu kini telah kau lakukan. Dengan telingaku sendiri kudengar percakapanmu dengan dia, juga kudengar sendiri jeritannya ketika dia terluka oleh pedangmu."

"Hah, jadi... jadi Tojin itulah Kongcu-kiam-khek?" seketika Lamkiong Peng menjadi gelagapan.

"Tojin...?" jengek Bwe Kim-soat dengan penuh benci. "Dia sudah menjadi Tojin? Huh! Meski aku tidak tahu saat ini dia telah berubah bagaimana bentuknya, tapi suaranya, sampai mati pun aku tidak lupa pada suaranya."

Meski biasanya Lamkiong Peng dapat bersikap tenang, tidak urung sekarang ia pun kelihatan terkejut. Sungguh tak tersangka bahwa pendekar pedang yang termasyhur pada angkatan yang lalu bisa mati di bawah pedangnya. Namun apa pun juga rasa malu dan menyesal atas kematian Tojin itu kini menjadi tersapu bersih.

Didengarnya Bwe Kim-soat berkata pula, "Inilah suka-duka antara gurumu dan diriku, juga apa yang ingin kau ketahui tapi tidak berani kau tanyakan tadi. Engkau telah membalaskan sakit hatiku, maka perlu kuberi-tahukan padamu bahwa kematian orang itu adalah setimpal. Selama sekian tahun aku tersekap di dalam peti mati, tidak ada harapanku yang lain kecuali selekasnya pulih sedikit tenagaku dan dapat menuntut balas padanya. Sebab itulah ketika kudengar suara jeritannya, meski merasa senang, tapi juga rada kecewa dan benci juga. Malahan terpikir olehku, bila dapat kulompat ke luar, lebih dulu akan kubinasakan orang yang membunuh dia itu."

Terkesiap hati Lamkiong Peng. Dilihatnya pada ujung mulut Bwe Kim-soat tersembul secercah senyuman.

"Tapi, entah mengapa...," dengan tersenyum Kim-soat meneruskan, "bisa jadi keadaan sekian tahun telah membuat hatiku banyak berubah. Aku tidak ingin lagi membunuhmu, malah berterima-kasih padamu, sebab engkau telah mengurangi kesempatan bagiku untuk berlepotan darah lagi. Bila-mana tangan seorang tidak banyak berlepotan darah, kan jadi lebih baik."

Lamkiong Peng tercengang! Tak terduga olehnya perempuan yang disebut orang sebagai ‘berdarah dingin’ ini sekarang dapat bicara demikian. Ia terdiam sejenak, kemudian berkata di bawah sadar, "Setelah tenagamu buyar, kenapa sekarang mendadak bisa pulih kembali? Sungguh kejadian aneh."

Bwe Kim-soat tersenyum misterius, ucapnya, "Engkau merasa heran...?" Ia tidak meneruskan.

Lamkiong Peng juga tidak dapat menerka makna ucapannya itu. Tiba-tiba teringat olehnya ucapan Bwe Kim-soat tadi, "Tanpa menghiraukan apa pun berusaha memulihkan tenaga...." Jangan-jangan caranya memulihkan tenaga ini telah menggunakan sesuatu jalan yang tidak wajar!

Selagi dia hendak bertanya, tiba-tiba terdengar Bwe Kim-soat menghela napas dan berucap pula, "Sungguh aneh juga, meski saat ini kungfu-ku sudah pulih kembali, tapi kurasakan tidak ada gunanya sama sekali. Sekarang aku tidak mempunyai sesuatu hubungan budi dan benci lagi. Ai, sungguh hal ini jauh lebih baik dari-pada hati penuh diliputi dendam dan benci."

Dia sebentar gemas, sebentar sedih, lain saat bersemangat, lalu murung lagi. Sekarang dia lantas bersandar di pohon dengan tenang, sembari membelai rambutnya yang panjang, bahkan ia lantas bernyanyi kecil dengan senyum yang lembut. Melihat keadaannya yang adem ayem itu, agaknya dia sedang mengenang masa lampau, masa remaja yang bahagia.

Karena kelelahan, terpengaruh pula oleh suara nyanyi orang yang merdu, Lamkiong Peng merasa mengantuk. Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar orang mendengus. Lamkiong Peng tersentak sadar. Waktu ia memandang ke sana, dari luar hutan mendadak muncul sesosok bayangan orang.

Serentak Bwe Kim-soat juga berhenti bernyanyi.

"Siapa?" bentak Lamkiong Peng.

Sekali berkelebat, dalam sekejap saja seorang pemuda berbaju kelabu sudah berada di depan mereka. Pemuda yang gagah tapi tampak bersikap angkuh dan lagi tertawa dingin dan memandang hina terhadap Lamkiong Peng.

Tentu saja Lamkiong Peng mendongkol. Ia menegurnya pula, "Siapa kau? Mau apa datang kemari?"

Dengan sorot mata tajam kembali pemuda baju kelabu mengamat-amati Lamkiong Peng, lalu menjengek, "Hm, bagus sekali! Murid kesayangan sang Suhu, Sute yang selalu menjadi pujian Suheng-nya ternyata orang begini. Selagi nasib mati-hidup sang guru belum diketahui, bisa juga iseng mendengarkan perempuan bernyanyi di sini. Sungguh hebat!"

"Memangnya ada sangkut paut apa denganmu?" jawab Lamkiong Peng ketus.

Pemuda berbaju kelabu itu terbahak-bahak. "Hahaha! Engkau masih berani bersikap keras, masa engkau tidak mengaku salah?"

"Hm, memangnya siapa kau dan apa maksud kedatanganmu?" jengek Lamkiong Peng.

Pemuda baju kelabu melirik sekejap Bwe Kim-soat yang masih bersandar pohon itu. Mendadak ia tertawa pula dan berkata, "Kau ingin tahu siapa aku dan apa maksud kedatanganku? Hahaha! Untuk itu harus kutahu dulu, apakah kau mau mengaku salah atau tidak?!"

"Hm," jengek Lamkiong Peng. "Jika kedatanganmu ini ingin mencari perkara, ayolah lolos senjatamu dan tidak perlu banyak omong lagi."

Bwe Kim-soat tampak tersenyum. Agaknya dia dapat membenarkan sikap tegas Lamkiong Peng ini.

Suara tertawa pemuda baju kelabu serentak berhenti. Ia lalu mendengus, "Hm, memang kedatanganku adalah untuk mencari perkara!" Sekali ia berputar, waktu berhadapan lagi tangannya sudah memegang sebatang tombak bertangkai lemas.

Pedang Lamkiong Peng terselip pada tali pinggangnya. Sarung pedang sudah hilang jatuh ke jurang, maka pedang pemberian gurunya ini selalu dijaganya dengan baik. Ia tersenyum dan menjawab, "Jika engkau memang sengaja mau mencari perkara, terpaksa kulayani beberapa gebrakan."

Perlahan Lamkiong Peng lantas melolos pedangnya. Dia tetap bersikap tenang, tapi mantap. Emosinya tidak mudah terpancing. Ia angkat pedang sebatas dada dan siap tempur. "Silakan!" katanya.

Agaknya sekarang dapat dilihatnya pemuda baju kelabu itu sebenarnya tidak bermaksud jahat, melainkan cuma terdorong oleh rasa dongkol dan sengaja merecokinya, maka dalam tutur kata dan tindakan dilayaninya dengan agak sungkan.

Segera pemuda baju kelabu memutar tombaknya sehingga menimbulkan sejalur cahaya perak. Diam-diam Lamkiong Peng memuji kecepatan tombak lawan. Segera pedangnya juga berputar.

Sekonyong-konyong pemuda baju kelabu bersuit terus mengapung ke udara. Cahaya perak ikut mengambang ke atas. Cepat Lamkiong Peng menyurut mundur setindak, ujung pedang menyungkit ke atas. Tubuh si pemuda baju kelabu menikung di udara, tombak perak menusuk ke bawah secepat kilat serupa bangau kelabu menerkam mangsa di daratan.

Hati Lamkiong Peng tergerak, "Thian-san-jit-kim-sin-hoat!"

Cepat ia menggeser ke samping, berbareng pedang lantas menebas ke atas. Sinar hijau menahan cahaya perak tombak lawan, tapi ujung tombak pemuda baju kelabu lantas menutul perlahan pada ujung pedang.

"Tringgg!" dengan daya pental itu pemuda baju kelabu melayang lagi ke udara.

Lamkiong Peng menatap tajam lawannya dan tidak memburunya, melainkan menunggu orang melayang turun ke bawah. Padahal kalau dia mau melancarkan serangan susulan, tentu lebih untung dari-pada lawan yang terapung di udara. Namun dia tidak berbuat demikian, melainkan berdiri tegak saja.

Ketika pemuda baju kelabu melayang turun, perawakannya yang kekar berdiri tegak tanpa bergerak, hanya tombak perak yang dipegangnya tampak bergetar. Pemuda baju kelabu ini tak lain tak bukan ialah Tik Yang. Sesudah mengubur mayat di rumah gubuk itu, ia lantas memburu ke bawah gunung. Ia ingin tahu tokoh macam apakah ‘Gote’ yang menjadi sanjungan Liong Hui itu. Dia berwatak lugu dan terbuka, tidak menaruh perhatian atas curiga orang lain kepadanya.

Tapi setiap pemuda umumnya tentu mempunyai sifat keangkuhan sendiri, maka begitu berhadapan dengan Lamkiong Peng lantas timbul hasratnya untuk menguji kepandaiannya. Selain itu ia pun rada heran, mengapa orang bisa iseng mendengarkan nyanyian seorang perempuan cantik di sini. Setelah berhadapan dengan Lamkiong Peng sekarang, timbul juga rasa sukanya. Keduanya berdiri berhadapan dan saling pandang.

Mendadak terdengar Bwe Kim-soat bersuara, "Eh, kenapa kalian berhenti?!"

Tanpa terasa pandangan kedua pemuda itu beralih ke arahnya.

Perlahan Bwe Kim-soat berbangkit dengan gaya yang memikat. Dengan langkah gemulai ia mendekati Tik Yang, lalu menegur, "Apakah engkau ini keturunan mendiang Kiu-ih-sin-eng Tik-locianpwee dari Thian-san?"

Baru sekarang Tik Yang memperhatikan kecantikan orang yang luar biasa itu. Ia merasa silau sehingga seketika tidak mampu bersuara, melainkan cuma mengangguk perlahan saja.

Bwe Kim-soat tertawa, katanya pula, "Tadi tentu engkau telah bertemu dengan Suheng-nya?"

Kembali Tik Yang melengak dan mengangguk lagi. Tentu saja Lamkiong Peng sangat heran dari mana orang mengetahui hal ini.

Siapa tahu Bwe Kim-soat lantas berkata pula dengan tersenyum, "Tentu disebabkan Suheng-nya memuji dia di hadapanmu, lalu karena penasaran, maka kau susul kemari untuk mengujinya, betul tidak?"

Terbelalak mata Tik Yang. Dengan heran ia mengangguk lagi. Berturut ia ditanya tiga kali dan setiap kali selalu tepat. Hal ini membuat Tik Yang selain terkesima atas kecantikannya juga tercengang oleh kecerdasannya.

"Betul," akhirnya ia menjawab juga, "Memang betul tadi aku bertemu dengan Suheng-nya. Saat ini dia masih di atas sana."

"Anda ini...?"

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, dengan tertawa Tik Yang berseru pula, "Cayhe Tik Yang. Sungguh sangat menyenangkan dapat bertemu denganmu dan maaf atas tindakanku yang kasar tadi. Kumohon diri sekarang, sampai berjumpa lagi kelak."

Begitu kata terakhir itu terucapkan, serentak ia pun sudah melayang pergi.

"Cepat amat!" gumam Lamkiong Peng memandangi bayangan orang yang cuma sekejap saja lantas menghilang di luar hutan sana.

Tiba-tiba Bwe Kim-soat tertawa dan berkata, "Apakah kau tahu sebab apa dia pergi dengan tergesa-gesa?" Belum lagi Lamkiong Peng menjawab segera ia menyambung lagi, "Sebab dia tidak berani memandang lagi padaku."

Mendadak Lamkiong Peng membantah. "Engkau selalu memandang buruk sifat orang lain. Sebaiknya kau ikut bersamaku untuk menemui Suheng-ku, nanti baru engkau tahu di dunia ini masih ada lelaki sejati yang tidak mudah terpengaruh oleh kecantikanmu." Habis berkata Lamkiong Peng lantas mengangkat peti mati dan mendahului melangkah ke sana.

Sejenak Bwe Kim-soat tertegun. Tanpa terasa ia ikut melangkah ke sana dan berseru, "Hei...?!"

"Ada apa?" tanya Lamkiong Peng tanpa menoleh, juga tanpa berhenti.

"Kan gurumu menyuruhmu mengikuti dan membela diriku, kenapa sekarang kau tinggalkan aku dan pergi sendiri?"

Terpaksa Lamkiong Peng berhenti dan menoleh, "Bukankah kau pun ikut kemari? Kenapa bilang aku pergi sendiri?"

"Aku... aku...," mendadak Bwe Kim-soat mengentak kaki dan berteriak, "Tidak, aku tidak mau ikut ke atas lagi."

"Jika engkau tidak mau ikut, harap tunggu sementara di sini. Peti ini juga kutaruh dulu di sini," kata Lamkiong Peng dengan tersenyum.

"Siapa bilang akan kutunggumu di sini?" jengek Kim-soat.

"Wah, jika begitu, lantas... lantas bagaimana baiknya?"

"Kau yang ikut aku turun ke bawah gunung."

"Tentu saja aku akan ikut turun, cuma hendaknya engkau ikut ke atas dulu."

Bwe Kim-soat tampak mendongkol. Ia berkata dengan gusar, "Kau...!"

Tapi Lamkiong Peng lantas memotong, "Sudah sekian ribu hari engkau tersekap di dalam peti mati ini, sekarang engkau harus menghirup udara segar. Lihatlah! Cuaca cerah, pemandangan indah, betapa menyenangkan bila dapat pesiar ke puncak Hoa-san yang termasyhur ini."

Bwe Kim-soat termenung sejenak. Mendadak ia melayang lewat ke sana dan hinggap di depan Lamkiong Peng. Ia berseru, "Baik, ikut padaku!" Akhirnya ia naik juga ke atas gunung.

Memandangi rambut orang yang panjang terurai dan kelakuannya yang kekanak-kanakan itu, hampir saja Lamkiong Peng tertawa geli.

Siapa tahu lantas terdengar Bwe Kim-soat mengikik tawa di depan, katanya, "Sekali tempo menurut perkataan orang terasa menarik juga, cuma...," mendadak ia menoleh dan menegaskan, "Cuma satu kali saja!"

"Baik, cuma satu kali saja," kata Lamkiong Peng sambil menahan rasa gelinya.

Sang surya baru saja terbit. Puncak Hoa-san gilang-gemilang oleh sinar matahari pagi itu, sampai rumah gubuk itu pun kelihatan kemilauan tersorot oleh sinar sang surya. Karena ingin lekas mengetahui keadaan di atas, langsung Lamkiong Peng menuju ke rumah gubuk ini, namun di sini tiada terdapat seorang pun.

"Mereka sudah pergi semua," ucapnya dengan kecewa.

"Nah, kan sia-sia kedatanganmu ini," ujar Bwe Kim-soat.

"Juga belum tentu," seru Lamkiong Peng.

Mendadak ia menyodorkan peti mati kepada Bwe Kim-soat. Tanpa sempat berpikir Kim-soat menerima peti itu. Segera pula Lamkiong Peng melompat ke sana, disingkapnya kasuran tua itu.

Bwe Kim-soat tidak melihat sehelai kertas kuning yang terselip di bawah kasuran. Sambil mengangkat peti ia menjengek, "Hm, memangnya di bawah kasur itu ada pusakanya?"

"Memang betul," kata Lamkiong Peng sambil membalik tubuh perlahan, di tangannya tampak memegang sehelai kertas kuning. Dengan cermat ia membacanya. Perlahan air mukanya menampilkan rasa lega, tapi juga mengandung rasa heran. Lalu kertas surat itu disimpan dalam baju.

Dengan sendirinya Bwe Kim-soat tidak dapat melihatnya. Ia berseru, "Hai!"

"Ada apa?" Lamkiong Peng berlagak bingung.

Kim-soat mendengus, peti mati disodorkan kembali kepada Lamkiong Peng. Setelah diterima anak muda itu, serentak ia melompat ke luar rumah gubuk. Karena mendongkol, ia tidak menggubris Lamkiong Peng, tapi belum seberapa jauh tanpa terasa ia menoleh. Dilihatnya anak muda itu mengikut kemari setelah memandang lukisan yang terukir di batu karang sana.

Sesudah agak dekat, dengan gemas Bwe Kim-soat berkata, "Kau mau bicara atau tidak?"

"Bicara apa?" tanya Lamkiong Peng.

"Apa yang tertulis pada kertas kuning itu?!" teriak Kim-soat.

"O, kiranya kau pun ingin membaca surat ini, kenapa tidak kau katakan sejak tadi? Tanpa bicara, mana kutahu?" ujar Lamkiong Peng dengan tersenyum.

Dengan tangan kanan mengangkat peti, tangan kiri mengeluarkan surat tadi dan disodorkan padanya. Segera Bwe Kim-soat mengambil surat itu dan dibaca, ternyata isi surat hanya terdiri dari delapan huruf yang berbunyi: ‘Pesan dari Thian-te, Sin-liong sehat walafiat!’.

"Sin-liong sehat walafiat?!" Kim-soat berseru heran, "Masa Put-si-sin-liong belum mati?"

"Tak mungkin mati," ujar Lamkiong Peng dengan tersenyum.

Bwe Kim-soat memandang anak muda itu sekejap. Setelah berpikir kemudian ia berkata, "Lantas apa artinya istilah Thian-te ini?"

"Tentu nama seorang Bu-lim-cianpwee (tokoh angkatan tua dunia persilatan), kecuali ini tidak mungkin."

"Memangnya siapa?" Pernah kau dengar ada tokoh Bu-lim yang disebut Thian-te? Bisa jadi...." mestinya Kim-soat hendak bilang Thian-te (Tuhan Allah) tentu sinonim dengan ‘Surga-loka’, jadi cuma istilah olok-olok pihak musuh, atau mungkin juga untuk menipu mereka. Ia urung meneruskan ketika melihat Lamkiong Peng agak cemas, akhirnya ia menambahkan, "Thian-te... kenapa sebelum ini tidak pernah kudengar nama ini?"

Lamkiong Peng diam saja tanpa bicara.

Setelah berjalan lagi sebentar, tiba-tiba Kim-soat berkata, "Marilah kita menyusuri jalan kecil saja."

"Kenapa?" tanya Lamkiong Peng.

"Begini dandananku kan malu dilihat orang," ujar Kim-soat sambil membetulkan rambutnya.

Lamkiong Peng meliriknya dua kejap. Kelihaian rambutnya yang panjang indah, mukanya putih bersih dengan baju yang putih mulus, sungguh luar biasa cantiknya, masa malu dilihat orang? Sungguh aneh! Tapi ia pun tidak membantah dan mengikuti kemauan Bwe Kim-soat.

Menjelang senja sampailah mereka di Limeong, sebuah kota besar ternama di daerah barat laut. Limeong memang kota yang ramai. Dekat magrib, cahaya lampu sudah menyala di seluruh pelosok kota.

Seorang pemuda gagah cakap membawa sebuah peti mati diiringi seorang perempuan maha-cantik dengan dandanan yang khas berjalan berendeng di tengah kota yang ramai ini. Kecuali orang yang berlalu-lalang ini orang buta semua, kalau tidak mustahil mereka tidak menarik perhatian khalayak ramai.

Dengan sendirinya Lamkiong Peng serba kikuk. Ia menunduk dan menggerundel, "Coba kalau kita melalui jalan besar, mungkin di tengah jalan sudah dapat menyewa kereta."

Namun Bwe Kim-soat tetap tenang saja, katanya, "Jika kau takut dipandang orang, bolehlah kita mencari tempat berhenti."

"Betul juga," kata Lamkiong Peng sambil memandang ke kanan dan ke kiri.

Dilihatnya di samping sana ada sebuah restoran paling besar, papan mereknya tertulis lima huruf besar dan berbunyi ‘Peng-ki-koai-cip-lau’, artinya restoran makan gembira. Restoran ini memang mentereng dan berbeda dari-pada restoran lain. Langsung ia menuju ke situ dengan hati mantap.