Pandaya Sriwijaya Bab 24 : Rencana Penyerangan di Hari Tanpa Cahaya

Bab 24 : Rencana Penyerangan di Hari Tanpa Cahaya

”Akan kuceritakan kepada kalian sebuah kisah tentang seseribu orang pendekar”

Dapunta Cahyadawasuna memandang ke arah dua orang yang bersila tak jauh dari tempatnya duduk. Keesokan harinya setelah usai pemilihan pandaya itu, ia mengundang dua orang pandaya itu untuk datang ke kediamannya.

"Seribu orang pendekar itu mendapat ajaran yang sama dari seorang pendekar paling digjaya. Semua ajarannya benar- benar sama, tak ada yang kurang dan tak ada yang lebih.

Setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga sepuluh tahun berlalu. Namun, apa yang kemudian terjadi? Apakah menurut kalian seribu orang pendekar itu semuanya menjadi pendekar yang tangguh? Tidak, tidak, semuanya tentu saja belum tentu menjadi pendekar yang tangguh. Bahkan, mungkin hanya akan ada satu pendekar atau dua pendekar yang benar-benar tangguh, di atas semuanya "

Dapunta Cahyadawasuna memandang kepada Tunggasamudra dan perempuan bercadar itu secara bergantian, "Lalu, pertanyaannya, mengapa bisa demikian?"

Akan tetapi, Dapunta Cahyadawasuna tak sedang mencari jawaban atas pertanyaan itu. Ia malah membuang pandangannya jauh menerawang ke depan, "Ya, hanya akan ada seorang atau dua orang yang terpilih," tambahnya.

"Dan, mungkin bila kita bisa mengamati setiap malam, saat tak ada seorang pun yang melihat, akan ada cahaya-cahaya kecil datang dan masuk sedikit demi sedikit ke tubuh pendekar-pendekar terlihai itu. Ya, mungkin

Dapunta Cahyadawasuna menarik napas panjang, "Itulah yang disebut anugerah," ujarnya lagi. "Dan, tak semua orang mendapatkannya. Hanya orang-orang yang terpilih saja.

Orang-orang yang sangat istimewa. Ya, seperti kalian.

Sangat jelas bila kalian berdua mendapatkan anugerah itu "

Tunggasamudra mendengarkan kisah itu dengan saksama.

Ia sama sekali tak pernah mengira bahwa apa yang dipelajarinya selama ini bersama Biksu Wang merupakan jurus-jurus yang luar biasa dan sangat istimewa. Sungguh,

ia sama sekali tak pernah mengira. Sekilas diliriknya perempuan bercadar hitam yang bersila di dekatnya. Ia masih tampak diam dengan sinar mata yang tajam.

Entah mengapa, kejadian sore tadi kembali teringat di benak. Terutama saat cadar itu melayang di udara, saat ia dapat melihat wajah perempuan yang berajah gambar kupu- kupu itu dengan begitu jelasnya. Sungguh, saat itu kejelitaan perempuan itu dapat membuat jantung Tunggasamudra seakan terhenti.

Dan, kini ia duduk begitu dekat dengannya. Bahkan, aroma wewangiannya dapat tercium secara samar oleh Tunggasamudra.

Beberapa saat yang lalu, ia telah mengenalkan namanya. Namun, selain itu, ia tak mau menyebutkan apa-apa lagi. Ia tak menyebutkan keluarganya, ia tak mau menyebutkan dari mana asalnya, bahkan ia juga tak mau menyebutkan siapa gurunya.

Ia hanya menyebut namanya sekali saja: Sangda Alin!

Sungguh, ini membuat Tunggasamudra semakin ingin mengenal sosok di sebelahnya ini. Ia sudah mendengar banyak dari Biksu Wang bahwa di dunia persilatan, banyak sekali pendekar dengan kemampuan luar biasa yang tersebar di mana-mana. Beberapa memiliki sifat aneh dan sukar dipahami. Maka, ia haruslah siap bertemu dengan pendekar- pendekar semacam itu.

Suara tarikan napas Dapunta Cahyadawasuna membuat konsentrasi Tunggasamudra kembali terpusat. Ia kembali mendengar ucapan dapunta yang duduk hanya lima tombak di depannya. "Saat aku diserahi tugas untuk memilih pandaya oleh Sri Maharaja Balaputradewa, sebenarnya aku sama sekali belum memiliki bayangan pendekar seperti apa yang akan aku temui. "Dan, aku sungguh bersyukur mendapatkan kalian," ujarnya lagi. "Aku sendiri dulu sempat mendalami bela diri, tetapi itu tak dapat berkembang dengan baik. Mungkin, karena aku tak mendapat anugerah seperti kalian," ia tersenyum. Pandangannya memandang Tunggasamudra dan Sangda Alin secara bergantian, "Kalian sangat pantas terpilih menjadi pandaya

-ooo0dw0ooo-

Pada akhirnya seorang pandaya akan ditempatkan dalam posisi-posisi strategis di Kerajaan Sriwijaya. Biasanya karena kemampuan bela dirinya yang luar biasa, armada samudra dan armada Bhumi yang akan menampung seorang pandaya. Namun, tak jarang juga seorang pandaya ditempatkan di sebuah datu dan menjadi dapunta.

Sebagai awal, untuk menumbuhkan kesetiaan pada kerajaan, biasanya seorang pandaya akan menemani dapunta yang ditunjuk untuk memilihnya, ke mana pun dapunta itu berada. Seperti yang dilakukan Dapunta Cahyadawasuna sekarang ini. Ialah yang kini akan mendidik pandaya itu tentang segala tugas yang akan diembannya nanti. Dari sinilah nanti, selama dua belas purnama, Dapunta Cahyadawasuna akan melaporkan hasil penilaiannya terhadap pan-daya- pandaya itu kepada Sri Maharaja, serta menempatkannya pada posisi yang paling sesuai dengan kebutuhan Kerajaan Sriwijaya.

Maka, seperti itulah tugas awal Tunggasamudra dan Sangda Alin. Keduanya kini tinggal di salah satu sudut di kediaman Dapunta Cahyadawasuna yang ada di pinggir Telaga Batu. Di sana mereka ditugaskan mengawal Dapunta Cahyadawasuna setiap saat. Seperti yang terjadi hari ini saat matahari sepertinya terus bersembunyi di balik gumpalan awan-awan yang memenuhi langit. Setelah beberapa hari sebelumnya Dapunta Cahyadawasuna memberi gambaran tentang keadaan Kerajaan Sriwijaya, Tunggasamudra bersama Sangda Alin kemudian bertugas mengawal Dapunta Cahyadawasuna menuju Kedatuan Sriwijaya yang ada di Telaga Batu.

Dari kediaman Dapunta Cahyadawasuna ke Kedatuan Telaga Batu sebenarnya tidaklah terlalu jauh. Apalagi bila kuda dipacu dengan cepat. Namun, hari ini Dapunta Cahyadawasuna ingin menikmati perjalanannya. Oleh karena itu, ia menyuruh para pengawalnya memacu kudanya secara perlahan, termasuk Tunggasamudra dan Sangda Alin yang kini menaiki kuda terbaik.

"Sri Maharaja Balaputradewa biasanya di waktu-waktu tertentu memang memanggil beberapa orang untuk menghadapnya," ujar Dapunta Cahyadawasuna. "Biasanya mereka itu adalah Pu Chra Dayana, Panglima Samudra Jara Sinya, Panglima Bhumi Cangga tayu, dan Pemimpin Kelompok Rahasia Wangseya, Wantra Santra. Aku sendiri baru dilibatkan dalam pertemuan ini belum lama."

Lalu, sekilas Dapunta Cahyadawasuna menjelaskan keadaan pertemuan itu, undak-undakan yang ada, juga beberapa kebiasaan kerajaan yang ada di dalam lingkungan kedatuan. Sepanjang penjelasan ini, Tunggasamudra dan Sangda Alin hanya mendengarkan tanpa menyahut.

Sekali waktu, saat Dapunta Cahyadawasuna tak lagi mengajak keduanya bicara, Tunggasamudra yang menunggang kuda di sebelah Sangda Alin berucap pelan. "Maafkan aku, saat kemarin itu," ujarnya pelan setelah sebelumnya beberapa kali melirik kepada perempuan bercadar itu'.

Akan tetapi, Sangda Alin yang sejak tadi diam dan terus memandang lurus ke depan hanya meliriknya sekilas sambil berujar datar, "Itu bukan salahmu. Kau tak periu minta maaf." Setelah itu tak ada percakapan lagi. Saat keduanya tiba di Kedatuan Telaga Batu, Dapunta Cahyadawasuna segera bergegas masuk ke dalam kedatuan. Untuk sementara, Tunggasamudra dan Sangda Alin dibiarkan menunggu di luar.

Awalnya keduanya menunggu di pelataran kedatuan.

Namun, karena kediaman membuat keduanya bosan, mereka pun tanpa bicara segera keluar ke halaman kedatuan.

Di bawah sebuah pohon besar keduanya menunggu dalam diam. Pohon ini merupakan pohon beringin, yang besar batangnya mencapai hingga satu tombak lebih. Daun-daunnya begitu rimbun. Kicauan burung terdengar riuh. Saat tengah terdiam di situlah tiba-tiba Tunggasamudra dan Sangda Alin dikejutkan oleh gerakan di atas pohon itu. Namun, sebelum keduanya menengadah, seorang pemuda dengan ikat kepala putih, melompat turun dari sana. •

'Jadi, kaliankah pandaya itu?" ia tersenyum dengan ramah.

Lelaki muda itu tak lain adalah Kara Baday. Sejak tadi, bersama Panglima Samudra Jara Sinya, ia telah datang paling awal di kedatuan ini. Karena merasa akan menunggu lama, ia kemudian memutuskan untuk bersantai di atas pohon beringin ini.

Dengan rumput yang masih digigit di bibirnya, didekatinya Tunggasamudra.

"Waw, pedangmu sampai tiga bilah," ia mengamati punggung Tunggasamudra dari atas hingga ke bawah. "Kau pastilah sangat sakti

Ia tersenyum nakal. "Namun, maaf saja, gayamu dengan mengikat ketiga pedang di punggung seperti itu, sungguh mengingatkanku kepada... ehem, pada penjual pedang!" ia kemudian tertawa lepas.

Tunggasamudra tak bereaksi apa-apa, selain melirik Kara Baday lebih tajam. "Maaf, maaf, jangan marah, Kawan, aku sekadar bercanda," ia menepuk-nepuk punggung Tunggasamudra dengan gaya akrab.

Tunggasamudra sedikit menepisnya dengan halus. "Kau terlalu ramali," ujarnya. "Ingat, kita belum saling mengenal

"Benar, benar. Kau benar," Kara Baday menepuk keningnya. "Aku Kara Baday. Dulu aku adalah pemimpin ... Bajak Laut Semenanjung Karang."

Tunggasamudra hanya mengangguk kecil menerima perkenalan itu.

"Hmmm, kau tak pernah mendengar nama itu?" tanya Kara Baday tampak sedikit heran.

"Aku datang dari jauh," balas Tunggasamudra. "Walau berasal dari sini, tetapi aku pergi cukup lamajauh ke utara."

Kara Baday mengangguk-angguk, "Pantas kau tak mengenalnya. Dulu di muara besar ini, nama Bajak Laut Semenanjung Karang sangat terkenal

"Terkenal sebagai penjahat!" Sangda Alin, yang sedari tadi diam, memotong ucapan Kara Baday dengan cepat.

Dari balik cadarnya, tcriihat samar guratan senyum sinis di bibirnya.

"Hmmm, kau salah, Nona. Kami sama sekali bukan penjahat," Kara Baday segera mendekati Sangda Alin. "Penjahat itu biasanya... menutupi wajahnya, seperti dirimu ini!"

Sangda Alin tak menggubrisnya.

Kara Baday memutari tubuhnya, "Aku jadi heran, mengapa kau menutupi wajahmu? Sepertinya kau tampak jelita. Atau ... aku yang salah? Kau ... begitu buruknya?"

Kara Baday tersenyum di dekat wajari Sangda Alin. Sangda Alin segera mengangkat pedangnya, 'Jangan bertingkah macam-macam atau kau

Kara Baday hanya tertawa dan segera mundur beberapa langkah ke belakang.

"Temanmu ini lebih galak dari kelihatannya," ujarnya sambil kembali mendekati Tunggasamudra. Ia tak lagi mendekati Sangda Alin. Sebagai panglima muda baru, ia sadar kalau harus bisa mengerem tingkah lakunya. Kalau seseorang tak bisa menerima cara bercandanya, bahkan sampai hendak mencabut pedang segala, sepertinya ia harus menjaga jarak!

"Oya," ia menoleh kembali kepada Tunggasamudra, "aku lupa menanyakan namamu."

"Panggil aku Tungga! Namaku Tunggasamudra." "Dan, ia?" Kara Baday menunjuk kepada Sangda Alin

dengan gerakan dagunya.

"Kau bisa langsung menanyakan kepadanya," ujar Tunggasamudra.

Kara Baday menatap Sangda Alin sesaat, tetapi Sangda Alin malah melengos darinya.

"Kau lihat? Ia tak mungkin menyebutkan namanya," ujarnya.

Sesaat Tunggasamudra merasa ragu, menjawab pertanyaan itu atau tidak. Sangda Alin jelas sekali terlihat tak ingin berurusan dengan pemuda ini, maka ia pun akhirnya menjawab, "Nanti akhirnya kau juga akan mengetahuinya."

Kara Baday bersungut-sungut, "Huh, kalian ternyata memang pasangan yang cocok."

Akan tetapi, pembicaraan ini seketika terhenti ketika ketiganya melihat derap kuda melaju kencang ke arah kedatuan. Seseorang penunggang terdepan, yang menggunakan jubah hitam, kemudian melompat tinggi dari atas kuda ke pelataran kedatuan. Gerakannya begitu ringan, benar-benar tak menimbulkan suara saat menjejak tanah.

Sekilas ia melirik kepada Tunggasamudra dan lainnya. Pandangannya begitu tajam dan sangat dingin. Benar-benar menaburkan aura kelam dan begitu saja mengingatkan pada sajak-sajak kematian.

Di belakang lelaki berjubah itu, seakan mengikuti gerakannya, tiga orang lainnya yang berpakaian serbahitam dengan penutup wajah, juga melompat menyusul ke arah pelataran kedatuan.

Saat itulah Tunggasamudra bangkit. Namun, Kara Baday menahannya, "Mereka bukan penjahat," ujarnya.

"Siapa mereka?" ia bertanya sambil terus mengikuti gerakan keempat orang itu.

"Merekalah yang dinamakan Kelompok Wangseya," jawab Kara Baday

"Kelompok Wangseya?"

Kara Baday mengangguk, "Itu nama kelompok rahasia kerajaan."

Tunggasamudra menarik napas, "Pantas wajah mereka ditutupi. "

Kara Baday tertawa sambil melirik kepada Sangda Alin. "Rasanya temanmu itu cocok menjadi anggota mereka," ujarnya asal.

Sangda Alin tak menanggapinya. Tanpa ada yang tahu, di dalam hati, Sangda Alin begitu tertegun melihat kedatangan tadi. Terutama saat lelaki berjubah itu menatap ke arah mereka. Sungguh, sepertinya ia sudah begitu mengenal wajah itu ... entah kapan ... entah di mana ....

Dan, suara Kara Baday kembali membuatnya menoleh, "Kelompok Wangseya adalah yang terpenting di kerajaan ini. Konon semua informasi kepada Sri Maharaja berasal dari mereka

-ooo0dw0ooo-

Di dalam kedatuan, Sri Maharaja Balaputradewa tengah bicara dengan keempat orang kepercayaannya dengan nada pelan.

Sesaat yang lalu Panglima Samudra Jara Sinya baru saja mengutarakan rencananya tentang penyerangan ke Minanga Tamwa.

"Hamba pikir kita tak bisa menunggu teriaki lama lagi," ujarnya. "Telah tiga purnama kita mendiaminya. Saat inilah hamba rasa kita harus bergerak menyerangnya. Selama ini pasukan hamba telah mengisi perairan Muara Jambi dan Pasukan Bhumi Cangga Tayu telah ada di pos-pos di sebelah selatan Batanghari. Hamba pikir sudah waktunya kita menyerang dari dua arah, darat dan sungai!"

Sri Maharaja Balaputradewa terdiam. Sesaat ia mencoba menimbang-nimbang. Ditatapnya secara bergantian Pu Chra Dayana, Dapunta Cahyadawasuna dan Wantra Santra yang baru saja hadir, seakan meminta pertimbangan.

"Menurut kalian, bagaimana sebaiknya?" tanyanya.

Dapunta Cahyadawasuna yang kemudian membungkuk, mencoba untuk menjawabnya. Sesaat ia terdiam dulu untuk mengambil napas. Dipandanginya keempat rekannya yang lain. Sejak tadi menyimak, ia tahu bila semua yang hadir telah setuju dengan rencana penyerangan ini. Namun, tidak baginya.

Maka, ia pun kembali membungkukkan tubuhnya. "Menurut hamba," suaranya terdengar ragu-ragu, bagaimanapun ia merupakan sosok baru di antara semua yang hadir, "sebaiknya kita melakukan pendekatan baik-baik terhadap Minanga Tamwa. Sudah hamba pelajari bahwa Panglima Tambu Karen adalah sosok yang berjasa bagi kerajaan. Mungkin kita bisa mencari tahu apa yang membuatnya kecewa hingga dirinya melakukan pembelotan ini."

Namun, ucapan panjang ini segera dibalas oleh suara Panglima Samudra Jara Sinya, "Dapunta Cahyadawasuna, sekadar untuk Dapunta ketahui, bahwa aku dan Panglima Cangga Tayu telah mengenal Panglima Tambu Karen dengan sangat baik. Kekecewaan bukanlah sebuah alasan untuk melegalkan sebuah pemberontakan. Hamba yakin Panglima Tambu Karen tahu sekali tentang itu. Maka, bila ia tetap melakukan pemberontakan, ia juga sangat tahu bahwa hukumannya hanyalah satu ... kematian!"

"Apa yang dikatakan Panglima Jara Sinya, benar, Dapunta," tambah Panglima Bhumi Cangga Tayu. "Lepas dari hamba mengenalnya dengan baik atau tidak, hamba pikir alasan Tambu Karen hanya satu, gelar dapunta saja tak cukup baginya. Ia ingin lebih dari itu ... menjadi raja!"

Dapunta Cahyadawasuna mengangguk lemah, "Namun, hamba pikir, tak ada keuntungannya kita berperang sendiri. Akan banyak pasukan di kedua belah pihak yang akan gugur sia-sia

"Gugur demi Sriwijaya adalah kebanggaan bagi mereka, Dapunta!" balas Panglima Bhumi Cangga Tayu.

"Hamba tahu, hamba tahu," ujar Dapunta Cahyadawasuna sambil menatap Sri Maharaja Balaputradewa. "Namun, tak ada salahnya kita mencoba membujuknya teriebih dahulu, bukan? Sama sekali tak ada salahnya. Itu hanya akan memakan beberapa hari saja

Sri Maharaja Balaputradewa mengangkat tangannya. "Kupikir yang diucapkan Dapunta Cahyadawasuna benar,"

ujarnya sambil menyapukan pandangannya. "Kita usahakan terlebih dahulu upaya damai. Itu sama sekali tak akan merugikan kita "

Dapunta Cahyadawasuna membungkuk dalam-dalam. "Untuk itu," ujarnya lagi, "izinkan hamba datang ke kedatuan mereka di Minanga Tamwa untuk bicara kepada mereka "

-ooo0dw0ooo-

Matahari yang telah condong masih belum tampak dari balik gugusan awan ketika pertemuan itu akhirnya selesai. Saat itulah Panglima Samudra Jara Sinya mendekati Dapunta Cahyadawasuna yang baru saja hendak menaiki kudanya.

"Dapunta Cahyadawasuna," ujarnya menahan gerakan Dapunta Cahyadawasuna. "Kupikir rencanamu mendatangi mereka akan sia-sia belaka. Tiga purnama ini kita menutup akses mereka di sebelah selatan. Ini tentunya sudah membuat mereka sangat membenci kita. Belum lagi gerakan pasukan kita yang terus semakin mendekati mereka. Bisakah kaubayangkan kebencian mereka terhadap kita?"

Dapunta Cahyadawasuna hanya mencoba tersenyum, "Aku bisa merasakannya."

"Maka itulah, usahamu mendekati mereka hanya akan sia- sia."

Dapunta Cahyadawasuna menarik napas panjang, "Kalaupun pada akhirnya ini sia-sia, tak ada salahnya aku mengupayakan terlebih dahulu, bukan?"

Panglima Samudra Jara Sinya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemah. Saat itu baru disadarinya kehadiran Tunggasamudra dan Sangda Alin yang ada di belakang Dapunta Cahyadawasuna.

"Apakah dua orang yang ada di belakangmu itu adalah pandaya yang terpilih?" tanyanya kemudian. Dapunta Cahyadawasuna mengangguk, "Ya, benar."

Panglima Samudra Jara Sinya tersenyum, "Seharusnya kau mengenalkannya dulu kepada kami semua tadi, Dapunta."

Dapunta Cahyadawasuna mengangguk, "Aku tahu. Pu Chra Dayana sudah mengatakannya kepadaku. Namun, pertemuan kita tadi benar-benar tak menyisakan waktu untuk itu. Aku merasa tak enak

"Ali, jangan merasa tak enak. Pertemuan ini memang sangat mendesak," Panglima Samudra Jara Sinya berjalan sedikit ke tepi. Di situ dipetiknya dua helai rumput panjang.

Lalu, sambil menimang-nimang kedua lembar rumput itu, ia kembali tersenyum kepada Tunggasamudra dan Sangda Alin yang telah siap menaiki kudanya.

"Maaf, mengganggu kalian sebentar," ujarnya. "Sebenarnya aku ingin sekali menjamu kalian, tetapidan ucapan itu benar- benar tak dilanjutkannya. Tangan Panglima Samudra Jara Sinya tiba-tiba sudah bergerak cepat, melayangkan dua helai rumput itu ....

Wuuuuuuuuuush....

Wuuuuuuuuuush ....

Seketika dua batang rumput itu melayang dengan tajam ke arah Tunggasamudra dan Sangda Alin dengan kecepatan luar biasa.

Sangda Alin segera mengibaskan kain bajunya sehingga membuat rumput itu terpental dan membalik arah. Sedangkan Tunggasamudra segera menahan dengan telapak tangannya hingga rumput itu terhenti sebelum benar-benar mengenai tubuhnya.

Panglima Samudra Jara Sinya tertawa, "Hahaha, kalian benar-benar luar biasa." Ia menoleh kepada Dapunta Cahyadawasuna, "Tadi aku hanyjf ingin melihat kelihaian mereka. Dan, ternyata pilihanmu sungguh tepat, Dapunta." Ia menoleh lagi kepada Tunggasamudra dan Sangda Alin, "Aku berharap nantinya kalian bergabung bersamaku "

Lalu, setelah mengucapkan kata-kata itu, Panglima Samudra Jara Sinya segera menyilakan rombongan Dapunta Cahyadawasuna pergi.

"Panglima," Luwantrasima, putranya yang sejak tadi berdiri di belakangnya segera mendekatinya. "Kupikir mereka tadi

tak cukup istimewa."

Panglima Samudra Jara Sinya tak menyahut. Sampai beberapa saat ia masih memandangi iring-iringan itu. "Tak cukup istimewa katamu?" ia melirik sekilas putranya itu. "Kau harus lebih teliti mengamatinya! Pandaya perempuan itu mungkin tak terlalu istimewa, tetapi pandaya laki-laki itu, ialah yang sangat istimewa. Aku sama sekali tidak berbasa-basi bila benar-benar menginginkannya bergabung denganku."

Lalu, Panglima Samudra Jara Sinya segera beranjak pergi diikuti dengan rombongannya.

Sesaat Luwantrasima hanya terdiam saja. Ia masih saja tak mengerti. Ia melihat gerakan tadi dan merasa itu hanya gerakan biasa saja.

Maka perlahan, Luwantrasima pun mendekati tempat di mana Tunggasamudra dan Sangda Alin menahan dua rumput tadi. Di tempat Sangda Alin berdiri, ia melihat potongan rumput itu telah patah menjadi beberapa bagian-bagian kecil. Ini sama sekali tak istimewa. Dirinya pun bila diserang dalam posisi seperti tadi akan melakukan hal yang sama seperti ini.

Terlebih saat ia berada di tempat Tunggasamudra berdiri tadi. Ini benar-benar membuatnya mengerutkan kening tak mengerti. Sungguh, tak ada apa pun yang istimewa di sini. Rumput itu masih saja tergeletak di atas tanah. Tanpa terpotong dan tanpa perubahan yang berarti! Sungguh, Luwantrasima benar-benar tak mengerti apa yang telah diucapkan ayahnya tadi. Keingintahuannya akhirnya membuat dirinya mengulurkan tangannya menyentuh rumput itu. Namunbegitu tangannya menyentuh rumput itu sedikit saja, secara mengejutkan rumput itu tiba-tiba hancur. Rumput itu hancur begitu saja menjadi butiran-butiran yang teramat kecil, yang segera tersapu oleh angin dan menyatu dengan udara ....

-ooo0dw0ooo-