--> -->

Tengkorak Maut Jilid 28

 
Jilid 28

BETAPA terkejut dan takutnya Go siau bi sesudah mendengar ancaman itu, ia merasa sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya, bila sampai peristiwa itu benar- benar terjadi, inilah siksaan yang terkeji dikolong langit, seorang gadis perawan akan kehilangan kesucian tubuhnya ditubuh seorang anjing, bahkan sekaligus akan diperkosa oleh dua ekor anjing besar secara bersamaan, matanya jadi berkunang dan pandangannya jadi gelap akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri saking gusar dan mendongkolnya. Hoo Thong thian tertawa seram, cepat ia totok jalan darah Thian kia hiat ditubuh dara itu.

sekali lagi Go siau bi sadar kembali dari pingsannya, hancur luluh perasaan hatinya, air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang ayu ....

"Perempuan rendah, dengarkan baik-baik kataku ini" ujar Ho Tong Thian lebib jauh "kecuali menerima pembalasan ini, tiada cara lain yang bisa kugunakan untuk menghajar dirimu, Nah setelah engkau menerima kepuasan seks ditubuh kedua ekor anjing jantan ini, maka engkau akan menjadi santapan yang paling lezat bagi mereka haaah haaahh haaahh itulah pertunjukkan yang paling surprise, sang istri yang cantik setelah digagahi akan disantap"

Dalam keadaaa seperti ini Go siau bi benar-benar kehabisan akal, mau melarikan diri jelas tak mungkin, ingin bunuh diri juga tak mampu, tepatnya ia memang harus merasakan siksaan hidup yang paling keji itu, diperkosa lebih dulu oleh anjing, lalu tubuhnya akan di cabik sebagai penghuni perutnya.

Air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya. sekarang ia dapat merasakan apa artinya pembalasan-.. dia mulai menyesal. "ooooh sungguh cepat pembalasan yang tiba dan menimpa diriku" keluhnya dihati.

Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis perawan, dia memiliki serangkaian ilmu silat yang luar biasa, ia tak takut mati, sebab ia merasa bahwa mati hanya suatu pelepasan belaka, pelepasan dari segala bentuk siksaan maupun penderitaan, tapi ia tak sudi mengalami siksaan tersebut sebelum ajalnya, apa lagi siksaan yang begitu kejinya. Bila seseorang bisa putus asa, kadang kala timbul pelbagai ingatan dalam ingatannya.

Dara itu berharap akan terjadinya suatu kejadian yang diluar dugaan, sehingga ia dapat terhindar dari siksaan yang paling keji ini, ia rela melakukan apapun untuk membayar pertolongannya itu, asal siksaan yang tak berperi kemanusiaan ini bisa di hindari

Gelak tertawa dari Ho Thong thian, pemilik perkampungan oh hau san ceng masih berkumandang tiada hentinya. lengking suara tertawa yang menyerupai binatang itu bagaikan pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya, membuat hatinya hancur lebur.

Tampaknya dua ekor anjing jantan itupun sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas itu, dengan sorot mata yang merah membara dan mengerikan, anjing-anjing itu menatap tubuh Go siau bi yang telanjang tanpa hentinya, sementara bunyi desiran aneh muncul dari mulutnya, keadaan benar2 mengerikan..

Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Go siau bi yang sedang menghadapi bahaya perkosaan oleh dua ekor anjing..

sementara itu Han siong Kie telah meneruskan perjalanannya dengan langkah yang amat lambat karena luka parah yang dideritanya akibat pertarungan melawan Go siau bi, ia tak dapat mengerahkan tenaga sebagai mana mestinya.

Setengah jam kemudian, ia baru mencapai sejauh lima li dari tempat semula, lembah In wu kok yang hendak dituju secara lapat-lapat sudah kelihatan didepan mata.

Walaupun hubungannya deagan Go Siau bi tak dapat dikatakan ada perasaan cinta, namun perasaan persahabatan tetap ada dan oleh karena itu ia merasa sedih oleh perbuatannya, mimpipun ia tak menyangka Go Siau bi yang halus, lembut dan berbudi sekarang telah berubah jadi manusia lain-

Terutama kata2 dari Go Siau bi, tiap kali terbayang kembali ia lantas merasakan jantungnya berdebar keras. cinta memang tak dapat dipaksakan, apa lagi hatinya sudah terisi oleh perempuan lain-

Segulung desiran angin dingin berhembus lewat disamping tubuhnya, dengan terkejut Han Siong Kie berpaling, dia tahu desiran angin itu bukan hembusan angin biasa melainkan kehadiran seseorang manusia lain-

Pemuda itu merasa kuatir, dalam keadaan terluka parah, tak mungkin baginya melakukan perlawanan lagi jika yang datang adalah pihak musuh.

Secepat kilat ia berpaling, seorang perempuan berkerudung tahu2 sudah berdiri dihadapannya.

orang itu siapa lagi kalau bukan orang yang ada maksud.

Untuk sesaat Han Siong Kie berdiri tertegun-

"Nona, engkau hendak pergi kemana?" tegurnya. "Aku datang mencari engkau "

"Mencari aku? Ada urusan apa engkau mencari aku..?" pemuda itu merasa keheranan.

"Nona Go siau bi tertangkap oleh Hoo Thong thian, CengCu dari perkampungan Go hau san Ceng"

Agak terkejut Han siong Kie mendengar kabar itu, serunya kurang percaya:

"Masa ia tertangkap? Kepandaiannya toh sangat lihay, masakah ilmu dari Hoo Thong thian luar biasa."

"Ia keracunan lebih dulu oleh anjing raksasa, sehingga akhirnya dia tertangkap"

"oooh.. kiranya begitu"

"Apakah engkau tidak menguatirkan mati hidupnya??" kembali orang yang ada maksud bertanya. "Ia telah membunuh Kim kian siang ing (sepasang pendekar pedang emas) putra kesayangan HHoo Thong thian, sewajarnya kalau sang ayah membalaskan dendam bagi kematian putranya"

"Tapi.. tahukah engkau bahwa Hoo Thong thian adalah seorang manusia durjana yang banyak melakukan kejahatan? Begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sering kali mengacau rakyat, kematian mereka justru menggirangkan banyak orang"

"Nona" seru Han siong Kie dengan cepat, " apakah engkau mengerti sebab-sebab yang mendorong ia melakukan pembantaian2 sekalipun Kim Kiam siang ing pantas dibunuh, akan tetapi bagaimana dengan lainnya?"

orang yang ada maksud tertawa setelah mendengar perkataan itu, ia balik bertanya: "Tahukah engkau, apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"

"Hmm Ia sudah mengidap penyakit gila dan otaknya

sudah sinting dan tak waras."

"Hmmmm" kali ini orang yang ada maksud mendengus dingin, " apakah ucapan itu muncul dari lubuk hatimu??"

"Nona, apa maksudmu mengucapkan kata-kata itu?" tanya Han siong Kie tercengang.

"Go siau bi bisa sampai membunuh orang sepantasnya engkau memikul setengah dari tanggung jawabnya "

" Kenapa..?" tanya sang pemuda dengan air muka berubah hebat.

" Karena engkau, dia telah membunuh orang"

" Karena aku ? Kenapa karena aku dia lantas main membunuh??"

"Manusia bermuka dingin" seru orang yang ada maksud dengan suara tajam " engkau tak usah pura2 berlagak pilon, masakah engkau masih belum dapat memahami apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"

"Aku benar2 tidak paham"

"ooh, jadi kalau begitu engkau tidak bersedia menolong jiwanya??" Han siong Kie tertawa dingin-

"Heeeh heeeh heeehh menolong dia ? Aku malahan sudah berkata kepadanya, bila kami bertemu lagi dilain waktu maka aku akan membinasakan dirinya"

"Dengan dasar alasan apa engkau akan membunuhnya??" "sebab ia telah membunuh orang dengan semena-mena"

"Ia bisa membunuh orang karena engkau, maka kaupun harus ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini "

"Nona, jangan asal main tuduh saja, coba terangkanlah perkataanmu itu dengan lebih jelas lagi "

"oleh karena engkau telah melukai hatinya, maka dia membunuh setiap pemuda yang dijumpainya"

"Aku ? Aku telah melukai hatinya?" "Benar "

"Dalam hal apakah aku telah melukai hatinya??"

"Masakah engkau benar2 akan suruh aku mengatakannya keluar??"

"Tak ada halangannya kalau nona hendak mengatakan" "Sewaktu engkau dihajar oleh pemilik benteng maut

sehingga tercebur kedalam sungai kemudian jiwamu tertolong

olehnya, dimana selama tiga hari engkau total berbaring diatas pembaringannya . "

"setiap budi yang pernah kuterima tidak pernah kulupakan, suatu ketika pasti akan kubalas " "Dalam masalah ini, persoalannya bukan manyangkut tentang soal balas budi atau tidak"

"Lalu persoalan ini menyangkut dalam hal apa??" "Kalau seorang anak dara bersedia merawat seorang

pemuda asing didalam kamar tidurnya, bahkan tanpa canggung-canggung merawatnya, dapatkah engkau rasakan apa sebabnya ia bersedia melakukan kesemuanya itu"

Han Siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, bukannya ia tak dapat merasakan hal ini, melainkan ia tak bersedia untut mempertimbangkan soal tersebut. Terdengar orang yang ada maksud berkata lebih jauh:

"Tahukah engkau bahwa Go siau bi telah bersumpah didepan pusara ayahnya bahwa dia tak akan menikah dengan orang lain kecuali dengan kau seorang"

"Apa sangkut pautnya dengan diriku? Itu toh urusan pribadinya sendiri??"

Jawaban yang dianggap terlalu ketus ini segera membangkitkan hawa amarah dihati orang yang ada maksud, serunya lagi:

"Aku mengerti, oleh karena engkau adalah Manusia bermuka dingin maka engkau dapat mengatakan ucapan yang sadis dan sama sekali tidak berperasaan ini, tentunya engkau tidak lupa bukan dengan peristiwa dalam rumah penginapan? Engkau telah memeluk tubuhnya bahkan menginap disatu kamar."

"Aku merrpunyai niat untuk membalas budi pertolongannya, masakah perbuatanku ini keliru??"

"Engkau tidak keliru, tapi bila seseorang dara telah berdempetan dengan seorang pria, malahan perlu dipeluk. tidur dalam satu kamar selain ia kawin dengan lelaki itu, mungkinkah dia bisa kawin dengan orang tak lain" "Aaaah . . Kita toh orang-orang persilatan, Bagi kita orang persilatan rasanya tak perlu merisaukan soal titik bengek itu"

"Itu kan pandangan segelintir orang, andaikata Go siau bi memandang berat persoalan ini, lalu apa yang hendak kau lakukan ?"

Han siong Kie memang merasa seperti dipaksa dan ditekan untuk menerima kenyataan itu, ia tak bisa berkutik, kecuali meringis rasanya memang ia tak bisa berbuat lain-Terdengar orang yang ada maksud melanjutkan kembali kata-katanya:

"Aku rasa Go siau bi cukup cantik dan cukup bagus, ia pantas untuk menjadi isterimu, apalagi kakeknya Put lo sianseng sebagai seorang tokoh persilatan ternyata mengajukan pinangan sendiri kepadamu, tak kunyana kau malah menampik pinangannya sehingga membuat dara itu tertekan jiwanya, padahal kau toh tahu bahwa ia mencintai dirimu? Nah, karena pelbagai alasan inilah ia jadi sinting dan melakukan hal-hal yang diluar dugaan, coba katakanlah apakah engkau tidak merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini??"

"Maksud nona, engkau hendak memaksa ku untuk mencintai dirinya??"

"Masa ia tak pantas untuk menerima cintamu ? Dan engkau sama sekali tidak tergerak hatinya oleh cinta kasihnya yang telah dilimpahkan padamu??" Han siong Kie membungkam, betul2 membungkam dalam seribu bahasa.

Dahulu ia memang pernah membenci seantero perempuan yang ada dijaga d, tapi sejak hubungan cintanya dengan Tong hong Hwie, perasaan hatinya mulai terbuka, untuk pertama kalinya ia benar-benar mencintai seorang dara, dan ia persembahkan rasa cintanya itu padanya.

Terhadap Go siau bi, meskipun tak bisa dikatakan ia memandangnya seperti memandang perempuan lain, tapi diapun tidak mencintai dirinya. Tiba-tiba suatu rasa menyesal dan iba tersebut dalam hati kecilnya, ia ikut merasakan penderitaan serta kesedihan yang dialami anak gadis itu.

Tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya, maka diapun berkata dengan dingin-

"Nona, tentunya engkau masih ingat bukan dengan seseorang yang bernama Tonghong Hui?."

Tampak sekujur tubuh orang yang ada maksud bergetar keras, tapi ia menjawab dengan cepat.

"Tentu saja masih ingat, kenapa??"

"Terus terang kukatakan padamu nona, perasaan dan hatiku telah dibawa pergi olehnya"

"Bukankah ibuku pernah memperingatkan kau, bila hubunganmu dengan Tong Hong Hui dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu tragedi" Han siong Kie tertawa sedih.

"Mungkin tragedi telah menjadi kenyataan, tapi aku sama sekali tidak merasa menyesal"

"Sudah menjadi kenyataan? Apa maksudmu ?”

Han Siong Kie agak ragu sebentar, tapi akhirnya dia mengaku juga.

"Tentunya kau telah mengetahui bukan bahwa aku mempunyai hubungan dendam sedalam lautan dengan Tengkorak maut? Oleh karena dalam dunia persilatan telah muncul pula seorang Tengkorak maut gadungan, dan aku tak tahu siapa yang benar-benar merupakan musuh besarku maka aku telah mengadakan janji dengan Tongbong Hui„ dia kuminta untuk kembali ke Benteng maut serta mencari fakta yang benar, bila musuh besarku bukan pemilik benteng maut maka dia akan keluar benteng untuk menjumpai diriku, sebalikaya kalau,...” Pemuda itu hentikan kata-katanya ditengah jalan, rasa sedih dan murung menghiasi Wajahnya.

"Bagaimana?” tanya Orang yang ada maksud sambil teriawa merdu.

"Kalau ayahnya adalah pembunuh keluargaku, maka dia akan menghabisi jiwanya sendiri”

"Oleh karena dia tidak muncul lagi dari bentengnya, maka sekarang kau anggap dia sudah mati?

"Benar!”

"Dia tak mungkin akan mati !"

Terkejut Han Siong Kie setelah mendengar perkataan itu, dia lantas berpikir di dalam hati :

"Orang yang ada maksud dan ibunya adalah tokoh silat yang amat misterius gerak-geriknya, ia bisa berkata demikian tentu didasarkan oleb fakta yaog kuat, tak mungkin ucapan tersebut diutarakan secara bermain-main belaka !"

Dengan nada tercengang dia pun lantas bertanya: "Dengan dasar apakab nona berani mengatakan kalau dia

sampai sekarang belum mati?”

“Tentang soal , . maaf kalau untuk sementara waktu tak dapat kuberikan kepadamu, pokoknya kalau engkau sudah mengunjungi benteng maut maka semua rahasia ini akan kau ketabui, sekali lagi kuperingatkan kepadamu lebih baik putuskanlah hubungan cintamu dengan Tonghong Hui sebab kalau tidak maka tragedi tak bisa dihindari lagi.

Mula mula Han Siong Kie agak tertegun tapi setelah tertawa getir sahutnya.

“Cinta dan dendam adalah dua kejadian yang saling berlawanan tak mungkin kedua hal ini bisa dijadikan satu, tapi aku berpendapat bahwa cinta yang murni dan cinta yang sesungguhnya tidak musti dipadukan dalam kehidupan yang nyata"

"Justru persoalannya bukan terletak disini"

"Maksudmu masih ada alasan serta persoalan lain yang bisa mengakibatkan terjadi tragedi ini??"

"Memang begitulah kenyataannya"

"Kata-kata itu sangat membingungkan hati orang, apakah engkau bersedia untuk menerangkan lebih jauh?"

"Suatu ketika engkau akan memahami dengan sendirinya, sekarang maafkanlah daku karena aku tak dapat memberitahukan hal ini untukmu, bukannya aku sengaja berlagak sok rahasia tapi berbicara sesungguhnya, sekarang juga engkau harus pergi menyelamatkan jiwa nona Go Siau bi, kalau terlambat aku kuatir telah terjadi hal-hal yang luar biasa"

"Kalau toh nona telah mengetahui bahwa ia sudah tertawan oleh orang-orang dari perkampungan oh han san ceng, mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya melainkan.."

"Tentu saja aku mempunyai alasan tertentu" "Dapatkah kuketahui alasan itu?"

"Dalam perkampungan oh han san ceng telah dipelihara anjing-anjing perbatasan yang besar dan cakarnya beracun, sedangkan engkau memiliki kekuatan anti racun, maka tugas ini tak mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain"

Pada hakekatnya orang yang ada maksud telah mendapat perintah dari ibunya yakni orang yang kehilangan sukma untuk sengaja mengatur kesemuanya ini, kalau tidak karena rencana mereka, tentu saja dengan kepandaian yang dimiliki orang yang ada maksud, Go Siau bi telah tertolong ketika ia terluka tadi. Sementara itu, Han siong Kie sedang tundukkan kepalanya sambil termenung beberapa saat lamanya, kemudian sahutnya.

"Maaf nona, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan itu"

"Jadi engkau tidak bersedia untuk menolong jiwanya ??" "Aku tak dapat menyelamatkan jiwa sekarang, pembunuh

yang pernah membantai ber-puluh2 lembar jiwa manusia yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa "

"Di kemudian hari ia tak akan membunuh orang lagi dan aku akan menanggung hal ini bagimu, bagaimana??"

"Tetapi... "

"Ada apa lagi?? "

"Isi perutku terluka parah, aku kuatir "

"Aaah Kalau cuma soal itu kan gampang sekali, aku punya obat yang sangat mujarab, dengan dasar tenaga dalam yang kau miliki, maka setelah meminumnya dalam waktu setengah perminuman teh, seluruh kesehetananmu dapat pulih kembali seperti sedia kala"

Tidak menanti jawaban dari Han siong Kie lagi, dia ambil keluar sebiji obat sebesar kelengkeng lalu diangsurkan kedepan-

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Han siong Kie harus menerimanya, dia berkata: "Baiklah, memandang diatas wajah kalian ibu dan anak. aku bersedia menolong jiwanya"

Habis berkata dia masukkan obat itu ke dalam mulut, kemudian duduk bersila ditepi pohon untuk mengatur pernapasan Kemujaraban obat itu memang luar biasa sekali, pada hakekatnya sama sekali tidak berbeda dengan keampuhan Kui goan kim wan dari Kun si Mo ong.

Kurang lebih setengah perminuman teh kemudian, dalam keadaan segar bugar Han siong Kie telah melompat bangun kembali dari atas tanah.

Setelah orang yang ada maksud menunjukkan dari perkampungan oh hausan ceng, ia berpesan pula.

"Menolong orang bagaikan menolong kebakaran, sekarang juga engkau boleh segera berangkat. Mungkin saja kita akan bertemu kembali dilain waktu" Dengan tubuh yang enteng dia lantas berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggungnya yang berlalu, Han siong Ki cuma bisa menggeleng sambil menghela napas panjang, akhirnya iapun berangkat menuju ke perkampungan Oh hau san ceng.

Perkampungan Oh hau san ceng merupakan sebuah bangunan perkampungan yang didirikan di tengah pepohonan Siong, dinding batu yang mengitari perkampungan itu tingginya mencapai tiga kaki, sedangkan bangunan dibalik lingkaran dinding terdiri dari rumah rumah batu berwarna hitam, setiap bangunan terdiri dari empat buah pintu yang terkunci rapat semua.

Diantaranya dari balik pintu ketiga deretan rumah batu itu terdengarlah suara gelak tertawa manusia yang menyeramkan.

Saat itulah seorang laki-laki kekar tergesa-gesa lari ke depan pintu bangunan ketiga setelah mengetuk gelang pintu dengan gencar ia berseru lantang.

"Lapor cengcu, manusia bermuka dingin datang berkunjung, tampaknya ia datang dengan maksud tak benar!” Pintu rumah terbuka dan muncullah seorang kakek jubah hitam yang berwarna seram, orang itu tak lain adalah Hoo Thong thian, pemilik perkampungan Oh hau san-ceng.

Suasana dalam ruangan pada waktu itu kritis sekali Hoo Thoog thian sedang memerintahkan anjing-anjingnya untuk melakukan tindak perkosaan, untung tibalah laki-laki itu memberi laporan sehingga parbuatan kejinya untuk sementara waktu ditangguhkan.

“Apa kau bilang?" serunya bengis. “Manusia bermuka dingin telah berkunjung kemari! Manusia bermuka dingin ? Mau apa dia datang kemari?”

"Katanya ingin bertemu dengan cungcu serta membicarakan suatu persoalan yang penting"

Paras muka Ho Thong thian berubah hebat, ia tak bisa menduga apa maksud kedatangan pemuda itu. ia merasa tak pernah ada hubungan dendam ataupun sakit hati antara dia dengan pemuda itu.

Akhirnya setelah berpikir beberapa saat lamanya, ia tertawa seram, katanya:

“Perketat penjagaan di ruang rahasia bagian tengah!"

Dengan hormat laki-laki itu mengiakan kemudian berlalu untuk melaksanakan tugasnya.

Ho Thong-thian berpaling dan memandang sekejap kearah Go Siau bi yang terbelenggu diatas palang kayu, kemudian gumamnya :

“Perempuan rendah, anggaplah umurmu masih panjang, tunggu saja sebentar lagi!”

Habis berkata, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan menuju keruang tamu.

Meskipun jalan darah Go siau bi sudah tertotok. namun pendengarannya masih berjalan normal, betapa gembira hatinya setelah mendengar kabar bahwa Manusia berwajah dingin telah tiba diperkampungan itu.

Timbul kembali harapannya untuk melanjutkan hidup. "Mungkinkah ia datang kemari untuk menolong aku?

begitulah dia mulai berpikir, tapi mungkinkah ia sudi menyelamatkan jiwaku? Bukankah ia telah membenci aku dan ingin membunuh aku??"

Apalagi setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan telanjang bulat, dimana hampir semua bagian rahasia tubuhnya tertera nyata, ia merasa malunya bukan kepalang, kalau bisa dia ingin mati saja sehingga tak perlu menanggung rasa malu.

Dalam pada itu Ho Thong thian telah muncul diruang depan, ia saksikan seorang pemuda tampan yang berwajah dingin sedang berdiri sambil bergendong tangan ditengah ruangan-ketika sepasang mata mereka membentur satu sama lainnya, tanpa sadar seluruh tubuhnya bergidik, Ia merasa sorot mata orang itu tajam sekali, membuat siapa pun jadi bergidik rasanya.

Tapi dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, sambil tertawa terbahak-bahak ia menjura lalu berkata:

"Apakah sauhiap adalah Manusia bermuka dingin yang namanya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan??"

"Betul, itulah aku orangnya" "Silahkan duduk dan minum teh "

"Tak usah, apakah engkau yang bernama Ho Cungcu??"

"Benar, boleh aku tahu apa maksud kedatangan sauhiap ke perkampungan kami ini??" Dengan dahi berkerut Han siong Kie berkata:

"Seorang sahabatku yang bernama Go siau bi, apa bener berada dalam perkampungan ini??" setajam sembilu sorot matanya menatap wajah orang itu, ia menanti jawaban orang itu dengan tenang.

Terkesiap Ho Thong thian mendengar pertanyaan itu, sekarang dia baru tahu bahwa kedatangan manusia berwajah dingin adalah disebabkan karena perempuan rendah itu, mau membohong jelas tak mungkin, hanya untungnya ia telah mengadakan persiapan.

Maka dengan wajah berubah hebat sahutnya:

"Betul, dia memang berada didalam perkampungan ini" "Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengajak

cungcu untuk merundingkan persoalan ini, apakah engkau bersedia untuk melepaskan nona itu??"

"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhinya, sebab ia telah membinasakan dua orang putraku"

"Tapi kejadian ini toh berawal dari sikap putramu yang terpikat oleh kecantikannya, dalam soal ini nona itu tak dapat kau salahkan "

"Haaah haaah haaahh pada hakekatnya justru dialah yang telah memikat putraku dengan kecantikan wajahnya, ditinjau dari sikapmu yang begitu paham dengan duduknya persoalan ini, aku rasa engkau tentu mempunyai, hubungan yang luar biasa dengan Go siau bi. Nah sauhiap berbicaralah menurut liangsimmu, berilah keadilan serta kebijaksanaan kepadaku, pantaskah aku melakukan pembalasan dendam?"

Untuk sesaat Han siong Kie terbungkam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, sebab kata-kata itu memang masuk diakal dan benar. Lama sekali, akhirnya ia baru berkata. "Apa yang hendak kau lakukan atas diri nya?"

"Hutang darah harus dibayar dengan darah, hutang nyawa bayar nyawa.." "Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu ini kelewat batas??"

"Siapa membunuh manusia diapun harus membayar dengan nyawa sendiri, masa tindakan semacam ini kelewat batas?"

"Tapi pada hakekatnya toh putramu yang terpikat dulu oleh kecantikan nona Go dan membuntutinya terus menerus, tindakan ini sudah pantas untuk diberi hukuman mati"

"sauhiap. apa yang kau ucapkan itu berdasarkan pengamatanmu sendiri ataukah karena mendengar dari mulut orang?"

"Tentu saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri" "Jadi maksud sau hiap. engkau melarang aku untuk

melakukan pembalasan dendam??"

"Bukannya begitu, aku ingin tahu dengan cara apakah engkau berhasil menangkap nona Go siau bi??"

"Tentu saja mengandalkan kepandaian silatku"

Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie segera tertawa terbahak-bahak nyaring sekali suaranya.

"Haaah haaah haaaah Ho too cungcu, bukannya kupandang enteng dirimu, pada hakekatnya kalau engkau ingin menundukkan dia dengan andalkan cara yang bersih dan jujur, maka kepandaian silatmu masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan dirinya ?"

"oooh.. Maksud sau hiap. aku telah menggunakan cara yang licik dan tidak jujur untuk menundukkan nona itu??"

"Begitulah maksudku, aku tidak melarang cungcu untuk membalaskan dendam bagi kematian putramu, tapi aku harap lakukanlah duel tersebut secara jujur dan terbuka, sebab masalah ini tak bisa diselesaikan dengan berat sebelah" Tiba-tiba sekulum senyum licik yang sadis dan mengerikan melintas diatas wajah Ho Thong thian, ia menjura dan berkata.

" Kalau memang begitu, bagaimana kalau sau hiap duduk dulu sambil minum teh? Aku akan menggusur nona Go siau bi datang kemari kemudian menyelesaikan masalah ini secara adil di depan sauhiap? Tentunya sauhiap bersedia bukan??"

oooodwoooo

BAB 58

MESKIPUN dalam hati kecilnya Han siong Kie menaruh curiga karena perubahan sikapnya yang sangat mendadak itu, namun dia lantas berpikir didalam hati.

"Dengan andalkan kepandaian silatmu, bila engkau berani main gila dengan aku, itu berarti engkau mencari penyakit buat diri sendiri." Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangguk. "Baiklah, lakukan semuanya itu"

"Kalau memang begitu harap sauhiap tunggu sebentar disini"

Baru beberapa langkah Ho Thong thian berlalu, tiba-tiba pemuda itu berseru kembali.

"Eeeh.. tunggu sebentar"

"Apa yang hendak sauhiap katakan lagi??"

Dengan sorot mata yang bengis dan mengandung hawa napsu membunuh, Han siong Ki berkata dengan sadis:

"Ho cungcu, sebelum semuanya terjadi aku hendak berkata lebih dahulu kepadamu, aku harap janganlah engkau bermain gila dengan aku, kalau tidak . . . Hmmm Terus terang kukatakan kepadamu, akibatnya sukar dilukiskan dengan kata- kata, dan apa yang sudah kukatakan dapat pula kubuktikan." Mula-mula Ho Thong thian agak tertegun, tapi dia lantas tertawa seram sambil menyahut.

"Aaaah ... sau hiap terlalu banyat curiga, masa aku adalah manusia yang lain diluar lain dihati?"

Berbicara sampai disitu, dia lantas berseru keluar ruangan: "Go Tiong hidangkan air teh dan siapkan meja perjamuan

untuk tamu kita ini "

"Tak usah banyak adat, selesai urusan disini aku segera akan berlalu, tak berani banyak mengganggu kau lagi"

Ho Thong thian tidak menanggapi ucapan itu, dia mengangguk dan berkata: "Aku akan segera pergi mengambil nona Go siau bi seraya berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan itu

Tiba2 kecurigaan yang timbul dalam hati kecil Han siong Kie semakin menebal, kalau toh Go siau bi sudah tertangkap. kenapa ia musti tunggu disitu dan anehnya kenapa tak ada orang yang bergerak ditempat ini ?"

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 terdengar suara gemuruh yang amat keras berkumandang dari ruangan itu, menyusul mana seluruh ruangan tersebut mulai berputar kencang.

Menghadapi kenyataan tersebut, pemuda itu baru menyadari bahwa ia sudah terjebak oleh siasat licik musuhnya, dia berpekik di hati:

"Aduuh celaka, aku sudah tertipu oleh anjing tua itu"

Tanpa berpikir panjang lagi dia segera melejit dan meluncur keluar kearah pintu ruangan-

Tapi dalam sekejap mata itulah seluruh pintu ruangan telah tertutup rapat, dan suasana dalam ruangan itupun berubah jadi gelap gulita sehingga kelima jari tangan sendiripun sukar terlihat. Han siong Kie berdiri tertegun, saking gemas dan mendongkolnya dia sampai menggigit bibirnya kencang2, mimpipun ia tak mengira karena bertindak gegabah sehingga mengakibatkan dia terjebak oleh tipu muslihat lawan-

"criing. criing.. tiba-tiba ruangan itu tenggelam kedasar bumi, ketika Han siong Kie mengamati dengan seksama, ternyata ia sudah terkurung dibawah sebuah penjara dalam tanah yang kuat dan empat penjuru merupakan dinding tebal yang tak tembus hawa.

sekarang anak muda itu baru menyesal apa sebabnya tidak bertindak hati-hati setelah masuk kedalam perkampungan, karena musti menuruti peraturan dunia persilatan, akhirnya dia harus terjebak oleh perangkap lawan-

Dari alat jebakan yang rupanya sudah dipasang disetiap bagian ruangan dalam perkampungan oh han san cung, dapat pula di tarik kesimpulan bahwa perkampungan ini bukanlah suatu perkampungan baik dan pemiliknya tentu saja sebagaimana yang dikatakan orang yang ada maksud, benar- benar merupakan manusia bejad yang licik dan banyak akal muslihatnya.

sekarang nasi sudah menjadi bubur dan menyesalpun tak ada gunanya, untuk sesaat lamanya pemuda itu cuma bisa berdiri menjublek dengan perasaan bingung.

"Kraaakl.krassakkk.. tiba-tiba dari atas dinding muncul sebuah pintu kecil, dibalik pintu tersebut merupakan sebuah lorong yang amat panjang.

Rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada Han siong Kie sudah tak tertahan lagi, dia himpun hawa murninya ke dalam telapak tangannya. ia sudah bersiap sedia bila ada musuh yang munculkan diri maka dia akan menyeret dan membinasakan musuhnya secara keji. Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah ditunggu dengan lama, namun tiada sesuatu gerakan apapun yang muncul dihadapannya.

Sesudah ragu sejenak, akhirnya pemuda itu melangkah keluar dari pintu kecil itu dan masuk kedalam lorong yang terbentang didepan matanya itu.

Kurang lebih tiga puluh kaki dihadapan nya muncul sebuah anak tangga batu yang menjulang ke atas.

Yang aneh ternyata disekitar tampat itu sama sekali tidak nampak sesosok manusia pun, sesuatu gerakan pun tidak kedengaran, jelas tak mungkin kalau pintu kecil itu sengaja dibuka orang bila tanpa alasan, mungkinkah dibalik kesemuannya ini sebenarnya telah tersusun suatu jebakan licik yang akan menanti kedatangannya?”

Diam-diam pemuda itu menyesal, bukan saja Go Siau bi yang akan ditolong tak berhasil diselamatkan jiwanya, malahan dia yang masuk jebakan.

Pada ujung anak tangga batu itu merupakan sebuah pintu kecil lagi, bau busuk yang amat menusuk penciuman terhembus keluar dari balik ruangan itu, begitu busuk baunya membuat siapa pun yang mencium itu rasanya mau muntah.

Bulu kuduk telah berdiri semua ditubuh Han Siong Kie, ia ragu ragu untuk masuk ke pintu kecil itu.

"Jebakan apa lagi yang telah disiapkan bangsat tua itu dalam ruangan ini ?” begitulah dia berpikir.

Untungnya dia seorang pemuda yang bernyali besar, sesudah sangsi sebentar, toh akhirnya dengan langkah tegap ia masuk juga kedalam ruangan itu.

Gerakan lirih dan rendah berkumandang dari ruangan itu, suaranya rendah tapi menggidikkan hati siapa pun yang mendengar. Dengan ketajaman matanya bagaikan sembilu Han Siong Kie mengawasi ruangan itu dengan seksama, ruangan itu gelap gulita. Lima jari sendiri susah terlihat apa yang tertera dalam ruangan itu lebih2 tak dapat terlihat jelas.

Tapi kegelapan bukan halangan bagi si anak muda itu, bagi orang lain sulit untuk memandang baginya bukanlah suatu pekerjaan yang sulit ia dapat melihat bahwa ruangan itu luasnya tiga kaki tiada berpintu dan tiada berjendela, kedua belah sisi ruangan itu masing2 tertutup oleh terali besi yang kuat, dalam terali besi itu masing2 terkurung lima ekor makhluk aneb sebesar anak sapi, sorot mata yang buas dan tajan tertuju ke tubuhnya geraman lirih yang mengerikan itu muncul dari balik moncong mereka,

Seketika itu juga Han Siong Kie teringat bahwa makhluk- makhluk aneh itu pastilah anjing raksasa yang cakarnya beracun itu.

Memang mengerikan sekali anjing-anjing itu, sekilas pandangan orang akan mengira anjing itu sebagai mahluk sebangsa macan kumbang.

Ditinjau dari bentuk bangunan rumah gelap itu, anak muda itu menduga bahwa dia telah berada diatas permukaan tanah.

"criiiing ..." sementara anak muda itu masih melamun- tiba- tiba terdengar dentingan nyaring menggema memecahkan kesunyian, seketika ia berpaling, maka tampaklah pintu kecil dimana ia muncul tadi tahu-tahu sudah tertutup rapat.

Agak lama pemuda itu termenung, kemudian ia bergerak menuju kepintu ruangan dan merabanya dengan tangan-

Pintu itu terbuat dari besi baja yang sangat kuat, ketika didorong kebelakang ternyata menimbulkan suara pantulan yang berat, ini membuktikan bahwa pintu itu terbuat dari baja yang tebalnya mencapai satu depa lebih, besi seberat itu tak mungkin bisa didorong olehnya dengan kepandaian yang dimilikinya saat ini. Tiba-tiba dari atas dinding besi itu muncul sebuah lubang bulat sebesar kepala manusia, menyusul mana suara tertawa yang menyeramkan berkumandaog memecahkan kesunyian.

Suara tertawa itu jelas berasal dari Ho Tong thian, pemilik perkampungan Oh sau san cung.

Hawa nafsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie rasa bencinya terhadap orang ini sukar dilukiskan dengan kata2, kalau bisa dia hendak mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping2.

Sebelum dia sempat membuka suara Ho Tong thian telah berkata dengan suaranya yang menyeramkan:

“Manusia bermuka dingin, setelah engkau terkurung didalam ruangao besi tempat pemeliharaan anjing, jangan harap kau bisa lolos dari tempat itu dalam keadaan selamat”

"Tutup mulutmu, Ho Tong thian, engkau maencari penyakit buat dirimu sendiri, seluruh isi perkampungan ini akan kubantai sampai rata dengan tanah!”

“Haaahhh haaaahhh haaaahhh.. manusia bermuka dingin, engkau tak usah tekebur, tahukah engkau bahwa keadaanmu ibaratnya katak dalam tempurung, asal kubuka kandang anjing tersebut Hmm hhmm engkau akan mampus dengan tubuh yang tak utuh.”

Bergidik juga Han Siong Kie setelah mendengar ancaman tersebut, ia pun sadar bertarung melawan belasan ekor anjing raksasa yang cakarnya beracun dalam ruangan besi yang luasnya cuma tiga kaki ini bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, salah-salah dia sendirilah yang akan jatuh korban.

Terdengar Ho Thong-tbian berkata lagi dengan bangga. "Manusia bermuka dingin, orang persilatan menganggap

engkau sebagai seekor naga sakti, tapi bagi pandanganku,

engkau tak lebih cuma santapan bagi anjingmu, haaaahhh ha- haahh..." Saking gusarnya Han Siong Kie merasa dadanya bagaikan mau meledak, dia menghardik keras:

“Tua bangka sialan, engkau tidak takut kalau perkampungan Oh hau san Cung cu ini akan kumusnahkan menjadi abu?”

“Heeehh heeeehhh hheeeeehhh bocah keparat, kematianmu sudah berada didepan mata, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang tekebur semacam itu??"

"Baiklah, kalau engkau tidak percaya, nantikanlah saat pembalasanku itu"

"Tak usah ditunggu lagi, sekarang juga akan kupertunjukkan suatu adegan yang hidup dan segar dihadapanmu, coba lihatlah, budak rendah yang kau cintai itu sekarang dia harus membayar semua akibat dari perbuatannya, sebelum engkaupun dicium oleh anjing2ku, dekatkanlah matamu dengan lubang ini dan intiplah apa yang ada disini."

Dengan penuh kegusaran Han siong Kie mendekati lubang pengintip itu dan melongok kedalam.

Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat air muka anak muda itu berobah jadi merah padam bagaikan darah, jantungnya berdebar keras dan kemarahannya semakin memuncak.

sebuah tubuh gadis yang telanjang bulat dengan semua bagian rahasianya tertera nyata, terikat disebuah palang kayu yang besar, sepasang paha dara itu terbentang lebar sekali dan tangannya sudah dipentangkan lebar, hal ini membuat setiap organ tubuhnya dapat dilihat tanpa aling2.

selama hidup belum pernah dia saksikan gadis telanjang, dan kali ini merupakan kali yang pertama ia saksikan gadis telanjang didepan mata, saking bedebarnya hampir saja jantungnya mau copot. Tetapi setelah ia menegaskan bahwa dara itu tak lain adalah Go sian bi, kegusarannya sukar terkendalikan lagi, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar ber- api2, teriaknya dengan keras:

"Tua bangka anjing, apa yang hendak kau lakukan atas dirinya??" Ho Thong thian tertawa dingin.

"Heeeh heeh heeh ia telah membunuh anakku dengan mengandalkan kecantikan wajahnya, maka sekarang akupun akan menggunakan cara yang lebih keji untuk menghukum dirinya. Coba kau tengok kesamping, sudah kau lihat sepasang anjing jantan itu."

"Haaahh haaahh haaahh sebentar lagi akan berlangsung adegan perkosaan seorang gadis oleh dua ekor anjing jantan.. belum pernah menyaksikan bukan? Nah, sebentar lagi akan kau saksikan bagaimana caranya dua ekor anjing memperkosa seorang anak dara.."

saking gusar dan gemetarnya Han siong Kie sambil menggertak giginya keras2, kalau bisa detik itu juga dia akan mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping- keping, tapi sebuah dinding baja yang kuat telah menghadang ditempat itu, tak mungkin baginya untuk menerobos masuk keruangan sebelah.

Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang memilukan hati, kesucian seorang anak dara ternyata harus direnggut oleh dua ekor anjing jantan..

Go siau bi sendiri meskipun jalan darahnya tertotok. namun telinganya dapat mendengar dan matanya bisa melihat, meskipun mulutnya tak dapat berbicara, ia mendengar suara dari Han siong Kie dan perasaan hatinya terasa amat sakit bagaikan disayat-sayat, rasa malu, gusar, benci dan gelisah bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya. Air mata yang meleleh keluar merupakan campuran darah, seluruh kulit wajahnya berkerut kencang, membuat wajah gadis itu berubah jadi aneh sekali.

"Bangsat tua, engkau berani bertindak keji?" bentak Han siong Kie dengan penuh kebencian, dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dinding baja itu.

"Blang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga membuat seluruh dinding baja itu bergetar sangat keras.

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dilepaskan si anak muda ini di dalam gusarnya.

Ho Thong thian agak tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan hawa pukulan lawan, paras mukanya ikut berubah hebat, tapi sejenak kemudian dia telah berubah jadi tenang kembali, ejeknya:

"Bocah keparat sekalipun engkau bisa membongkar jagad, jangan harap bisa merubah nasib kalian berdua"

"Tua bangka bajingan, kalau engkau berani mengganggu seujung rambutnya, Perkampungan oh han san ceng kuratakan dengan dengan tanah, semua penghuninya akan kubantai anjing ayam pun akan ikut kubunuh semua hingga ludas!"

“Haahh haaahh haaaahh bocah keparat engkau tak usah menggonggong terus seperti anjing, engkau tak akan mempunyai kesempatan seperti itu sebab riwayatmu sebentar lagi pun akan ikut berakhir disini.”

Kegusaran Han Siong Kie sudah mencapai pada puncaknya namun dalam keadaan seperti ini apa yang bisa dia lakukan?

Ho Tong-thian tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan kemudian katanya:

"Bocah keparat, sebentar lagi pertunjukan bagus akan segera dimulai, inilah perturjukan paling besar dikolong langit, anjing jantan akan merenggut kehormatan seorang anak dara!”

Seraya berkata dia lantas melepaskan rantai belenggu dari salah seekor anjing besar itu.

Setelah mencakar2 permukaan tanah, tiba-tiba anjing besar itu mengangkat kaki depannya keatas sehingga bersikap berdiri, sambil mendesis seram anjing itu langsung menerkam ke tubuh Go Siau bi yang telanjang bulat dan siap menggagahinya..

Tampaknya suatu peristiwa yang tragis dan mengerikan segera akan berlangsung didepan mata.

Tenaga dalam yang dimiliki Go Siau bi dipelajari dari kitab pusaka Thian tok pit kip dan sebagian besar diwariskan langsung oleh kakeknya Put lo sianseng, boleh dibilang ilmu silatnya sudah tiada tandingannya di kolong langit.

Tapi akibat pertarungannya melawan Han Siong Kie, banyak tenaga murninya yang rusak dan lenyap apalagi setelah terkena racun cakar dari anjing-anjing raksasa itu, ia semakian lemah kondisinya.

Setelah jalan darahnya tertotok dan racun dalam tubuhnya dipunahkan, beberapa kali gadis itu berusaha untuk mengumpulkan kembali hawa murninya serta berusaha untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan tersebut, apa mau dikata jalan darah yarg tertotok di tubuhnya terlampau banyak, hal ini mengakibatkan ia tetap tak bisa berkutik kendati pun beberapa buah jalan darah diantaranya telah berhasil dibebaskan.

Sementara anjing yang satu sudah berdiri sambil siap memperkosa anak gadis tersebut, anjing yang lain meraung dan meronta dengan sekuat tenaga, rupanya anjing itupun sudah birahi dan ingin menuruti jejak rekannya untuk menikmati pula kehangatan tubuh manusia. situasi betul2 amat kritis dan berbahaya, bila tiada pertolongan yang tiba pada saatnya, niscaya gadis cantik jelita itu akan di renggut kehormatannya oleh seekor anjing..

Hampir saja anjing itu menggagahi tubuh Go siau bi ketika secara tiba tiba anjing tersebut mendesis panjang, menyusul tubuhnya mencelat setinggi delapan depa ke udara.. Biang.." ketika terbanting kembali keatas tanah, darah segar berhamburan dari tubuhnya dan binasalah anjing tersebut dalam keadaan mengerikan.

Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini sangat mengejutkan hati Ho Thong thian, dengan sukma serasa melayang tinggalkan raganya secara beruntun dia mundur beberapa lamgkah kebelakang.

"Criiit criing " beberapa desingan angin tajam menyergap lagi kemuka.

Untung Ho Thong thian sudah mundur ke belakang, dengan begitu desiran angin serangan tersebut tidak mengena pada sasarannya, andaikata ia tidak mengundurkan diri tadi, niscaya dadanya sudah berlubang besar.

sekali lagi terdengar lolongan panjang yang memekikan telinga, beberapa desingan angin serangan yang sebelumnya tertuju ketubuh Ho Thong thian itu, sekarang meluncur kearah anjing besar yang masih dirantai itu dan menghajarnya telak. seketika anjing itu pun mampus dengan keadaan mengerikan.

setelah menenangkan hatinya. rasa kaget dan panik berhasil diatasi oleh Ho Thong thian- sekarang dia tahu serangan tersebut muncul dari balik lubang diatas dinding tersebut, kecuali hasil perbuatan dari manusia berwajah dingin, rasanya memang tak mungkin bisa dilakukan oleh pihak kedua.

Maka ia lantas bergeser kesudut ruangan yang sejajar dengan lubang diatas dinding itu, katanya sambil tertawa seram: "Haaahhhh haaahh haaahhh bocah keparat, engkau memang lihay, tapi sayang pertunjukan bagus harus tetap dilangsungkan, engkau tahu aku memelihara hampir seratus ekor anjing semacam itu, tak ada artinya bagimu kematian dua ekor anjing tersebut, tapi dengan perbuatanmu tadi engkau sudah kehilangan hak untuk menikmati pertunjukan bagus, sekarang engkau harus terjun sendiri dalam pertunjukan yang jauh lebih menarik"

"criiing...?" tiba tiba lubang diatas dinding itu menutup secara otomatis.

Kiranya disaat yang paling kritis, Han siong Kie teringat dengan ilm ujari Tong kim ci nya yang lihay, maka dari lubang pengintip itulah dia melancarkan serangannya untuk membinasakan kedua ekor anjing tersebut dan kejadian ini sama sekali diluar dugaan Ho Thong thian.

setelah lubang pengintip itu tertutup, Han siong Kie semakin panik dan gelisah, sekarang bukan saja ia terkurung dalam jebakan malahan Go siau bi semakin terancam jiwanya.

"Kraaakkk kraaakkk " bunyi gemerincing berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling, hatinya kontan jadi terperanjat rupanya terali besi disamping ruangan itu sudah dibuka dan lima ekor anjing besar bagaikan harimau telah menyusup keluar dari kandangnya dan mengambil posisi pengepungan.

sambil menggonggong seekor anjing besar itu laksana kilat menerjang maju kedepan. Han siong Kie cepat bergeser kearah samping, ilmu jari Tong kim ci segera dilepaskan.

Anjing itu mendesis lengking, tubuhnya terhajar telak dan mampus seketika itu juga, sementara empat ekor lainnya pada saat yang hampir bersamaan menerkam kedepan.

Ruangan itu luasnya cuma tiga kaki, sedangkan kedua sangkar anjing itu hampir menempati separuhnya, sisa ruangan yang tersedia sempit sekali, dalam keadaan seperti ini sulit baginya untuk berkelit maupun menghindar.

Untungnya Han siong Kie memiliki ilmu lintasan cahaya kilatan bayangan yang lihay bagaikan sukma gentayangan dia bergerak kian kemari diantara terjangan-terjangan empat ekor anjing tersebut, meskipun posisinya berbahaya namun tak sampai terancam jiwanya.

Tampaknya anjing-anjing itu sudah mendapat didikan yang amat matang, terbukti serangan maupun sergapan mereka sangat lihay dan masing-masing pihak dapat saling membantu serta mengisi kekosongan yang ada ...

Suatu pertempuran seru antara anjing-anjing lawan manusiapun berlangsung. Pertarungan itu ramai sekali dan setiap saat kemungkinan besar jiwa mereka akan melayang.

Lolongan panjang kembali berkumandang seekor anjirg besar kembali mampus oleh sambaran jari Tong kim-ci.

Beberapa gebrakan kemudian, kembali ada dua ekor anjing yang kena dihajar batok kepalanya sehingga hancur dan mampus seketika.

Diantaranya lima ekor anjing ada empat diantaranya telah mampus, sisa yang seekor lagi sudah bukan merupakan ancaman lagi bagi si anak muda itu.

Anjing tersebut tak kenal takut, meskipun yang lain sudah mampus semua ternyata dengan kalap ia masih menerjang maju dengan nekadnya.

"Kraaakkk.. kraaakkk ." Terali besi yang kedua ksmbali terangkat, menyusul lima ekor anjing raksasa muncul lagi dengan garangnya.

Untuk membinasakan empat ekor anjing tadi, Han Siong Kie sudah merasa kepayahan. apalagi sekarang bertambah lagi dengan lima ekor, makin sulit baginya untuk melakukan perlawanan. Dalam keadaan seperti ini tiba-tiba satu ingatan melintas didalam benaknya.

Tatkala keenam ekor anjing besar itu menerkam kedepan Han Siong Kie berkelit ke samping dan menerobos lewat diantara celah-celah yang ada, kemudian ia menyusup kedalam terali besi yang dipakai sebagai sarang anjing itu dan berjaga didepan pintu.

Dengan lindakannya ini maka keadaan segera berubah.

Setiap kali melakukan penerkaman, hanya seekor anjing saja yang mampu melewati pintu sempit yang dijaga oleh Han Siong Kie sementara sisanya terhadang oleh terali besi, meskipun binataog itu menggonggong dengan marahnya, itupun tak ada gunanya.

Maka tiap kali ada seekor anjing yang menerkam kedalam sangkar tersebut lewat pintu yang sempit, tiap kali pula sianak muda itu membunuhnya dengan ilmu jari Tong kim ci.

Dalam sekejap mata tiga ekor anjing raksasa sudah mampus dengan badan hancur.

"Crinng " tiba? pintu sangkar itu menutup dan Han siong Kie terkurung didalam sangkar tersebut.

Namun sianak muda itu sama sekali tidak ambil pusing, dari bilik celah-celah terali besi secara beruntun dia lancarkan beberapa sentilan mautnya. Tiga ekor anjing raksasa yang tersisa, kembali mampus diujung telapak tangannya.

Begitulah, dalam sekejap mata ada sepuluh ekor anjing raksasa yang telah ia bunuh mati.

selesai membunuh anjing2 itu, Han siong Kie lantas mencengkeram terali besi itu karena pintu keluarnya tertutup rapat maka dia memutuskan untuk mematahkan terali besi itu. Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, sekali merentangkan tangannya, terali besi itu segera melengkung dan terbukalah sebuah lubang yang cukup besar.

Pemuda itu meneborobos keluar dari sangkar tersebut, walau begitu dia belum lolos dari kurungan sebab dinding baja masih mengurungnya dalam ruangan itu

Betapa gelisahnya pemuda itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia seperti seekor harimau buas yang terjebak dalam kerangkeng sambil berjalan kesana kemari otaknya berputat terus untuk mencari akal guna meloloskan diri dari kurungan.

Bagi si anak muda ini, keselamatan sendiri tidak terlalu dipentingkan, ia justru lebih menguatirkan keselamatan Go siau bi, sekarang dia dapat memahami sampai dimanakah kekejian Ho Thong thian, ia tahu apa yang telah diancamkan dapat dilaksanakan menjadi kenyataan-

Ho Thong thian memang sangat keji, di tinjau dari tindak tanduknya yang begitu terlatih dan terbiasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak perempuan yang mengalami nasib tragis ditangannya, entah sudah berapa banyak anak perempuan yang dijadikan obyek tontonannya diperkosa olen anjing ..

Rasa dendam, benci, marah berkecamuk dalam hatinya, hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajahnya. Ia bersumpah dihati bila Ho Thong thian sampai tertangkap maka akan dibunuhnya orang itu secara keji.

sambil menahan diri pemuda itu mulai meraba dinding baja dan berusaha untuk menemukan letak tombol rahasia ditempat itu, namun kecuali pintu rahasia tadi, tiada bekas lain yang terdapat disitu, seakan-akan ruangan itu dibuat dari lembaran baja yang utuh.

sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai keadaan yang mencemaskan hatinya, dan membuat ia jengah serta serba salah. Hawa amarah makin memuncak. hampir saja anak muda itu tak sanggup mengendalikan diri..

Tiba-tiba pintu besi yang menghubungkan ruangan itu dengan penjara bawah tanah perlahan-lahan bergerak ke atas dan akhirmya terbukalah sebuah liang kecil.

Han siong Kie mundur tiga langkah ke belakang, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.

sesosok makhluk aneh berbulu perlahan-lahan muncul dari lubang tadi dan meloncat keluar ....

Han siong Kie semakin terperanjat, telapak tangannya diayun kemuka melepaskan pukulan maut.

"Hey, bocah jangan pukul aku" makhluk aneh itu berseru dengan lantang.

Han siong Kie menarik serangannya dan mundur ke belakang ternyata makhluk berbulu itu adalah kepala manusia, dia adalah sorang manusia cebol yang gemuk dan bentuk badannya persis seperti blingo, rambutnya telah beruban semua.

orang itu tak lain adalah Tee heng sian (Dewa berjalan dalam tanah) yang pernah merampas pusaka Hud jiu po pit miliknya tempo hari.

Kemunculan Tee heng sian dalam keadaan semacam ini jauh diluar dugaan Han siong Kie, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat lihay dan tindak tanduknya sangat misterius.

Dengan suara yang dingin bagaikan es, sianak muda itu segera menegur keras:

"Bukankah engkau adalah Tee heng sian?" Dengan tubuh yang gemuk dan gerakan yang lamban- Tee heng sian bergerak maju dua langkah kedepan, lalu sambil tertawa cekikikan sahutnya:

"Hiiih hiiih hiiih bocah. bagus amat daya ingatanmu, betul !

Lohu adalah Tee heng sian, dewa berjalan dalam tanah”

“Bagaimana caramu bisa muncul dari balik penjara bawah tanah?”

“Lhoo.masa engkau belum tahu ? Menggali tanah berjalan dalam bumi toh merupakan ilmu kepandaianku ! Kalau cuma berbuat begitu saja tak bisa, apa gunanya aku diberi julukan sebagai Tee heng sian?”

Jawaban ini membuat Han Song Kie agak tertegun selang sesaat kemudian ia baru bertanya :

“Apa maksud dan tujuanmu datang kemari?” “Tentu saja mencari kau si bocah cilik untuk diajak

berbicara”

"Oooh ! Jadi engkau mendapat perintah dari Ho Thong thian untuk menjadi utusan?”

“Heeeh heeehh heeeehh jangan menghina ah, aku Tee heng sian meski cebol orangnya tapi masih punya harga diri, tak sudi aku diperintah orang!”

“Lantas apa hubunganmu dengan Ho Thong thian anjing geladak tua itu?”

“Hubungan kami? Hiihhh hiiihh hiihh tidak lebih cuma sebagai pemilik barang serta pencuri!”

Mendengar jawaban tersebut, paras muka Han Siong Kie berubah jadi serius, tegurnya:

"Aku tidak mempunyai kegembiraan untuk bergurau dengan kau, alangkah baiknya jika engkau bersedia untuk menerangkan duduk perkara yang sebeoarnya!” Sambil tetap cengar cengir seperti monyet, jawab Tee heng sian dengan kalem.

"Siapa toh yang bergurau dengan kau, memangnya kau tidak tau kalau dalam gudang bawah tanah Ho Thong thian tersimpan beratus-ratus guci arak wangi yang sudah berusia ratusan tahun? Heeehh heeehh heehhh masakah aku keliru kalau mengatakan demikian padamu?” 

"Oooh.jadi kedatanganmu kesini adalah khusus untuk mencuri arak wanginya?” tanya Han Siong Kie kemudian setelah tertegun beberapa saat.

"Nah, itu baru cocok! Memang begitulah kenyataannya..!” "Bagaimana caramu memasuki perkampungan ini, dan

bagaimana pula caramu jalan kesana kemari dengan

leluasanya di lorong penjara bawah tanah?"

"Untuk meneguk beberapa guci arak wangi itu, aku telah membuang waktu selama berbulan2 lamanya, dari luar perkampungan aku telah menggali sebuah lorong rahasia yang langsung berhubungan dengan gudang arak itu."

Ter mangu2 Han siong Kie setelah mendengar ucapan tersebut, kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, untuk mencuri beberapa guci arak wangi, ternyata orang itu bersedia bekerja selama ber-bulan2 lamanya. setelah tertegun sesaat diapun bertanya lagi:

"Engkau toh tahu bahwa perkampungan oh han san ceng penuh dengan anjing2 raksasa? Masa dengan daya penciuman anjing2 itu, jejakmu tidak sampai ketahuan ?"

"Haaah haaah haaaah kalau ingin jadi pencuri yang ulung maka pengetahuan sebagai pencuri musti luas, tentu saja akupun tahu akan lihaynya daya penciuman anjing-anjing itu, maka sengaja kugosokkan serbuk anti bau disekujur badanku, setelah begitu maka sekalipun anjing dari langit juga tak akan dapat mencium bauku" "Jadi kalau begitu, engkau bisa keluar masuk perkampungan ini dengan leluasa?"

"Itu sih tidak. meskipun aku punya serbuk anti bau, tapi aku tidak punya serbuk anti anjing, kalau sampai terkepung anjing2 buas itu, bisa jadi mayatku akan habis disikat mereka, tentu saja kedatanganku kemari juga menempuh bahaya"

"Kenapa engkau datang kesini dengan menempuh bahaya

?"

"Tentu saja karena engkau si bocah muda " "Lantaran aku?" seru Han Siong Kie dengan wajah

tercengang.

"Memang begitulah kenyataannya"

"Boleh aku tahu apa sebabnya engkau datang kemari ?" "Mari duduklah dulu dan biarlah aku bercerita dari awal

sampai akhir."

"Sekarang aku tak ada waktu" Seru Han Siong Kie dengan gelisah, "apakah engkau bersedia memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya keluar dari penjara ruang baja ini??"

"Engkau ingin buru2 menolong bocah perempuan itu? " tanya Tee heng sian sambil melototkan matanya yang aneh.

"Dari mana engkau bisa tahu?" Han siong Kie balik bertanya dengan hati terperanjat.

"Jangan gelisah dulu, aku kebetulan dapat mencuri dengar kejadian ini dari bawah tanah, sebab tanah dibawah tempat tinggal Ho Thong thian telah kubongkar, maka semua pembicaraan diatas kedengaran jelas dibawah, sekarang makhluk tua itu sedang merawat lukanya, untuk sesaat dia tak mampu mengapa-apakan bocah perempuan itu lagi"

"Lhoo..kok aneh, masa Ho Thong thian sedang merawat lukanya?" tanya Han siong Kie keheranan. 00dw00

BAB 59

"MASA membohongi kau?" "Lantas dia luka ditangan siapa?"

"siapa lagi? Tentu saja ditangan bocah perempuan itu"

"Aaah, tidak mungkin, bukankah jalan darahnya sudah tertotok, dia sama sekali tak bisa bergerak.."

"Hey bocah, pernahkah dengar tentang ilmu membebaskan jalan darah dengan hawa murni? Bocah perempuan itu sudah kembali melepaskan diri dari pengaruh totokan, dan suatu serangan kilatnya berhasil pula melukai Ho thong thian"

"sekarang gadis itu ada dimana??"

"Dia masih terkurung dalam ruangan baja sebelah ruangan ini"

Betapa girangnya Han Siong Kie setelah mendengar perkataao itu, ia cepat bergerak maju sambil berseru :

“Aku akan segera menolongnya untuk lolos dari kurungan .

.”

“Menolong ? Bagaimana caramu untuk menolong dirinya?” Han Siong Kie tertegun, benar juga bagaimana caranya dia

untuk menolong gadis itu kalau dia sendiri pun pada

hakekatnya masih terkurung.

Lama sekali ia termenung kemudian baru ujarnya : “Aku mohon sudilah kiranya engkau memberi petunjuk" “Tak ada jalan lain, lorong rahasia ini hanya menghubungkan satu tempat belaka kecuali kalau engkau bisa membongkar pintu baja itu untuk menerobos keluar !”

“Waaah . . lalu bagaimana ini . ."

“Jangan gelisah,” hibur Tee heng sian, “Dengar dulu perkataan lohu ini.”

“Apa lagi yang hendak kau katakan ?”

“Apakah engkau masih menaruh perasaan tak senang kepadaku lantaran peristiwa perebutan harta karun tempo dulu ?”

“Aaaah . persoalan itu tidak penting. tak pernah aku pikirkan di dalam hati !"

"Baiklah, bccah ! Sejsk peristiwa itu, aku pun dapat mengetahui akan asal usul perguruanmu, menurut berita yang tersiar katanya engkau telah memikul budi dan dendam dari Mo tiong ci-mo atas kawanan jago persilatan, untuk peristiwa itu aku merasa sangat kagum, maka setelah tanpa sengaja ku ketahui kalau engkau sudah mendapat kesulitan aku datang kemari untuk mencari kau, bagaimana kalau kita mengikat tali persahabatsn !"

Han Siong Kie termenung dan berpikir beberapa seat lamanya, kemudian dia pun mengangguk.

“Baiklah ...”

“Kalau memang sudah ada ikatan persahabatan maka akan kusebut dirimu sebagai Lote dan engkau sebut aku sebagai toako, setuju bukan dengan sebutan ini ?"

"Siao-te turut perintah !"

“Haaahhh .. haaahhh.. haaahhh.. kalau memang begitu hayolah kita berangkat sekarang juga.” Begitulah, dengan Tee heng sian berjalan didepan, Han siong Kie berjalan dibelakang mereka melewati sebuah lorong yang sangat panjang.

Ketika hampir mendekati ruang tamu dan tiga kaki dimulut penjara bawah tanah, mereka mendekati dinding yang berada disebelah kanan, ketika sebuah papan batu sebesar dua depa di geser kesamping, maka muncullah sebuah gua yang bisa dilewati oleh tubuh seorang manusia.

"Loo tee" kata Tee heng sian kemudian, "inilah jalan bawah tanah yang telah lo ko gali selama ini, asal batu itu digeser kembali pada tempat semula, maka sekalipun ada dewa yang lewat disini juga tak akan melihatnya"

-000dw000-