Naga dari Selatan BAGIAN 29 : KALAH DAN MENANG

Mode Malam
 
BAGIAN 29 : KALAH DAN MENANG

Kalau lwekang The Go tangguh, tutukan dan pukulan itu tentu akan sudah dapat menyelesaikan Siao-wi. Tapi nyatanya tidak, karena Siao-wi hanya menderita kesakitan hebat dan mengaum keras dengan geramnya. Begitu memutar, dia terus main terkam. Sakit tadi telah menyebabkan ke 7 jurus ilmusilat „Ih-jin-kun" hilang dari ingatannya. Gerakannya kini tidak menyerupai lmusilat lagi dan karena itu dalam beberapa saat saja, ia telah menerima lagi beberapa hantaman. Adalah karena kulitnya keras, jadi kesemuanya itu tak dihiraukan.

Pada fihak The Gopun tak kurang gelisahnya. Terang tadi dia sudah berhasil menutuk jalan darah wi-liong-hiat, tapi mengapa binatang itu tak kurang suatu apa. Melirik kearah Kui-ing-cu didapatinya tokoh lihay itu masih menginjak pedang kuan-wi. Ah, rasanya pedang itu sukar kembali ketangannya, mengapa tak kabur saja ? Mustika batu itu sudah dia sembunyikan dalam suatu tempat yang tak nanti diketemukan oleh keempat orang itu. Setelah rencana ditetapkan, dia mengolok Tio Jiang: „Engkoh Tio, lewat dua hari lagi Lian sucimu akan  melangsungkan perkawinan dengan kepala suku Thiat-theng-biau si Kit- bong-to. Apa kau tak ingatan datang meminum arak- kebahagiaannya ?"

„Dimana tempat kediaman suku Biau itu ?" tanya Tio Jiang tersentak kaget.

„Disamping dari Tok-ki-nia, pada puncak yang ketiga, terdapat sebuah batu yang bercat hitam tiada tumbuhan rumput sama sekali, itulah tempatnya !"

Mendengar itu Tio Jiang terus serentak akan berangkat, tapi ditertawai Kui-ing-cu: „Usah begitu kesusu, kan masih ada 2 hari. Biarkan anak itu mati konyol lebih dahulu."

„Rasanya tak mudah!" kedengaran The Go menyeringai, lalu menghantam pula pada Siao-wi sampai mundur, baru, berkata lagi: ”yang nyata, racun pedang itu sudah bekerja, dikuatirkan meskipun obat pemunah ada tapi sudah, kasip!"

Perang urat syaraf si The Go itu, memaksa Kui-ing-cu, harus memperhatikan Tio Jiang. Daging pada bagian lukanya itu memang sudah berwarna hitam, benar seperti yang dikatakan si The Go. „Bangsat, kau harus turut serta ke Thiat-nia sana, kemudian setelah balik kemari lalu bertempur lagi dengan Siao-wi. Coba kumau tahu, kau mati lelah, tidak nanti!" seru Kui-ing-cu.

The Go menginsyafi bahwa untuk lolos, tak semudah seperti yang direncanakan. Satu2nya harapan yalah mengulur, waktu, mudah2an nanti terjadi perobahan yang tak terduga. „Janji adalah janji! Pergi ya pergi, perlu apa harus kuatir!" sahutnya.

Kui-ing-cu tak mengira sama sekali kalau si The Go berani memberi penyahutan begitu, mengartikan ucapannya (Kui-ing-cu) tadi suatu janji. Sebagai seorang cianpwe, diapun tak mau kalah hawa. Disuruhnya Siao-wi berhenti, dan menggendong Toa-wi, sedang Nyo Kong-lim memanggul Tio Jiang. Sekali menjentik dengan ujung kaki, maka pedang kuan-wi segera disongsongnya dan mulutnya memerintah: „Berikan sarungnya!"

Tanpa ragu2 The Go lemparkan sarung itu kepada Kui- ing-cu, siapa setelah memasukkan pedang kedalamnya lalu menyerahkan pada Yan-chiu: „Jaga baik2, jangan sampai kena diselomoti oleh bangsat itu!"

„Apa dia bisa?" bantah Yan-chiu.

„Ah......, jangan pandang rendah dia!" bentak Kui-ing- cu.

Mendengar itu, The Go tertawa, ujarnya: „Terima kasih, locianpwe begitu menghargakan pada orang she The ini!"

„Hm .......," Kui-ing-cu mendengus, lalu menggusur The Go dan, menyuruhnya berjalan, menuju kepuncak Thiat-nia tempat kediaman suku Thiat-theng-biau.

Menjelang terang tanah, sampailah mereka kesana. Ternyata suku Thiat-theng-biau itu mengasingkan diri dengan, dunia luar. Orang asing dilarang kesana. Hampir tiba disarang mereka, kelima orang itu sudah disambut dengan 3 batang anak panah beracun. Syukur Nyo Kong- lim yang berjalan paling depan dapat menghalaunya. Menyusul dengan itu, 3 orang Biau muncul, Melihat The Go datang lagi dengan membawa seorang gadis (Yan-chiu), mereka menjadi hiruk pikuk sendiri. Oleh karena kelima orang itu tak mengerti bahasa mereka, jadi digunakan bahasa isyarat tangan, yang maksudnya mereka hendak mengunjungi kepala suku. Rupanya ketiga orang Biau itu mengerti, lalu membawa mereka naik kepuncak.

Ketika tiba dipertengahan lamping gunung yang ternyata menjadi tempat kediaman suku Thiat-theng-biau, terdengarlah genderang ramai dibunyikan. Beratus-ratus orang Thiat-theng-biau tengah mengelilingi sebuah tonggak, pada tonggak mana diikat seseorang. Ada 4 orang Biau, tengah main lempar2an tombak disisi orang itu. Begitu dekat sekali tombak2 itu berseliweran disisi siorang, hingga orang yang melihatnya tentu akan mengucurkan keringat dingin. Kira2 4 meter jauhnya dari tonggak itu, duduk seorang Biau yang tubuhnya juga kate, tapi kepalanya besar. Dia tengah berteriak2 dengan kerasnya.

Melihat wajah orang yang diikat itu, Tio Jiang terus saja berteriak: „Lian suci!" Orang itu rupanya mendengar dan dongakkan kepala. Hai, memang Bek Lianlah adanya!

Mengapa ia sudah tersadar, padahal, obat bius Kit-bong- to yang terkenal manjur itu, akan dapat menidurkan orang sampai 3 hari? Kiranya obat itu hanya tepat kemanjurannya apabila digunakan terhadap orang biasa. Terhadap orang yang mengerti lwekang macam Bek Lian, dalam dua hari saja, yakni pada hari kedua tengah malam, ia sudah tersadar. Ini disebabkan ketika merasa limbung, cepat2 ia kerahkan lwekang untuk menahan.

Sebaliknya hal itu malah membuat Kit-bong-to kegirangan. Seketika itu juga dia hendak melangsungkan pernikahan. Sudah terang, Bek Lian menolaknya. Dalam perkelahian, Kit-bong-to kena ditampar dua kali, saking gusarnya dia bersuit keras. Dalam sekejab saja, ratusan orang Biau segera datang. Sudah tentu Bek Lian kalah dan lalu diikat pada sebatang tonggak. Kit-bong-to perintahkan 4 orang untuk main lempar tombak. Bermula jaraknya 2 meteran dari Bek Lian, tapi lama2 makin dekat. Ketika kelima orang tadi datang, jarak itu hanya tinggal  berapa dim saja.

Hanya sekali Kui-ing-cu enjot tubuhnya kedekat tonggak dan empat batang tombak itu sudah terpegang ditangannya. Kit-bong-to serentak berbangkit dengan marahnya, tapi serta dilihatnya dibelakang tetamu pengacaunya ada dua ekor orang utan, dia duduk kembali. Suku Thiat-theng-biau bertetangga dengan „kerajaan" orang utan, jadi tahu bagaimana kelihayan orang utan itu. Melihat ada setitik harapan, Kui-ing-cu pondong Tio Jiang kemuka kepala suku itu. Sembari menunjukkan lukanya, dia gunakan bahasa isyarat meminta obat.

Rupanya Kit-bong-to mengerti, dia tundukkan kepala memeriksa. Setelah mengucap beberapa patah kata, dia lalu berbangkit pergi. Kui-ing-cu cemas, kalau kepala suku itu tak mau memberi obat, celakalah anak itu. Tangkap penjahat, harus tangkap kepalanya, demikian pikirnya. Dia memburu sembari gunakan siao-kin-na-chiu untuk menangkap siku tangan Kit-bong-to. Tapi karena bagian tubuh itu dibungkus dengan rotan besi, terkaman Kui-ing-cu itu tak dapat menekan uratnya. Malah sekali gerakkan tangan, Kit-bong-to balas menghantam.

„Ho, kau berani memukul ?" damprat Kui-ing-cu menarikk se-kuat2nya, hingga Kit-bong-to terbanting jatuh. Kui-ing-cu loncat menghampiri untuk menariknya bangun sembari mempelintir tangannya kebelakang. „Ambilkan obat!"

Ternyata Kit-bong-to itu se-dikit2 juga mengerti bahasa Han. „Hohan, ampunilah jiwaku!" dia meratap.

Kui-ing-cu tertawa dingin serunya:  „Siapa maukan        "

baru sampai disini, tiba2 terdengar jeritan melengking, seperti suara Yan-chiu. Kiranya tadi karena hendak buru2 menolong Bek Lian, dia sudah lepaskan The Go. Kala itu dengan sebatnya, The Go segera menyerang Yan-chiu, siapa karena sedang memperhatikan sang suci, jadi sudah tak keburu menghindar. Mukanya tertampar dan tahu2 pinggannya   ditarik,   sekali   hantam   tali  pengikat sarung pedang kuan-wi putus, dan pedang itu dengan cepatnya sudah beralih ditangan The Go.

Saking gusarnya Yan-chiu sampai pucat pilas. Ia kirim dua hantaman, tapi terpaksa tak berani meneruskan karena, The Go tangkis dengan pedang pusaka. Nyo-kong-lim menggendong Tio Jiang, sedang Siao-wi memanggul Toa- wi, jadi mereka sama tak berdaya. Kui-ing-cu sembari menangkap tangan Kit-bong-to terus hendak loncat memburu, tapi dihadang oleh kawanan orang Biau yang sama mengepungnya. Mereka hiruk pikuk berisik sekali. Beberapa kali Kuiing-cu hendak menobros, selalu gagal.

Selama berpuluh tahun berkelana didunia persilatan, baru pertamakali itu Kui-ing-cu menjadi gelisah. ,Kit-bong- to, lekas suruh orang2mu mundur!"

Kit-bong-to sombong dan ganas. Dipelintir oleh Kui-ing- cu, dia sangat gusar sekali. Lebih baik mati bersama daripada menyerah. Maka setelah bertereak beberapa kali, kawanan orang Biau itu bukannya bubar, malah makin mengepung rapat2 pada keempat orang itu. Ada beberapa yang men-julur2kan tombak, se-olah2 hendak menyerang. Sampai pada saat itu, Kui-ing-cu benar2 habis kesabarannya. Bang...., bang....... sebuah batu yang berada disebelah situ menjadi hancur. Kui-ing-cu gunakan seluruh kekuatannya untuk menghantam dan betapapun kerasnya batu itu, akhirnya porak lebur bertebaran.  Walaupun orang2 Thiat-theng-biau itu masih liar, tapi menghadapi kejadian sedahsyat itu, mereka terperanjat jeri juga. Setelah ber-tereak2 secara aneh, tampaknya kepungan mereka menjadi agak kendor.

„Lekas suruh orangmu ambil obat penawar racun, tentu kuampuni jiwamu. Kalau tidak, masa kepalamu sekeras batu itu?" Kui-ing-cu mengancam. Baru kini Kit-bong-to mengerti maksud kedatangan tetamunya itu. Daripada jiwanya, terancam, dia lekas suruh orangnya mengambilkan obat itu.

Sewaktu Kui-ing-cu mengawasi kedalam rombongan suku Biau itu, The Go sudah tak kelihatan bayangannya lagi. Dia banting2 kaki, karena sekali ini sukarlah untuk membekuk anak muda yang licin itu. Yan-chiu tetap cemberut, tapi pada lain saat ia tertawa, katanya: „Kita pergi tunggui dia ketempat tadi, masakan dia tak datang mengambil mustika batu itu lagi?"

„Mungkin kalau lain orang, tentu berbuat begitu. Tapi Masakan The Go tak dapat memperhitungkan kalau kita, tentu datang menungguinya disitu?! Jangan buang tenaga sia2!" ujar Kui-ing-cu.

Yan-chiu tak dapat membantah kecuali memaki kalang kabut pada The Go. Tak antara berapa lama obat telah diambilkan. Setelah diminumkan, Tio Jiang dan Tao-wi menjadi sembuh. Kit-bong-to pun lepaskan Bek Lian.

Sampai detik itu, nona itu tetap belum mengetahui keculasan The Go. „Engkoh Go? Tadi dia masih disini, mengapa tak kelihatan.?" tanyanya.

Yan-chiu tertawa dingin menyahut „Mana engkoh Gomu berani bertemu kau lagi? Dia tukarkan dirimu dengan pokiam dari orang liar sini, mengapa kau masih tak tahu? „

Bek Lian terkesiap. Memang selama dalam  perjalanan itu sikap The Go tak sewajarnya. Tapi pada lain saat, ia tentang sendiri kecurigannya itu

”Siao Chiu, jangan omong sembarangan. Biar kamu membencinya, tapi aku tidak !"

Melihat sikap Bek Lian yang keras kepala begitu, Kui- ing-cu dan Nyo Kong-lim geleng2 kepala. Kui-ing-cu paling benci terhadap orang yang bertingkah begitu, maka dia dongakkan kepala tak melihatnya lagi. Tio Jiang coba menyadarkan, katanya dengan nada ber-sungguh2 : „Lian suci, jika kau tetap mempercayai bangsat itu, celakalah dirimu!”

„Jangan ngoceh tak keruan! Sewaktu hidup, aku menjadi orangnya. Kalau binasa, pun aku akan menjadi setannya. Mengapa kau larang aku memperhatikan dia? Mamah bilang, siapa saja yang mencegah hubungan kami berdua itu, dialah musuhnya!" sahut Bek Lian dengan murka.

Kui-ing-cu terpaksa terkejut juga. Menilik perangai yang aneh dari Kang Siang Yan, tentu ia benar2 mengeluarkan pernyataan begitu. Apalagi nyonya itu keliwat menyayangi puterinya, serta terpengaruh oleh rupa dan sikap baik yang dibawakan oleh The Go.

„Siaoko," kata Kui-ing-cu kepada Tio Jiang dengan menghela napas, „kewajiban kita untuk menolong orang sudah selesai. Kini mari kita cari suhumu saja. Pertemuan hari pehcun sudah tinggal 10 hari lagi!"

Nyo Kong-lim setuju, karena dia benci juga kepada, Bek Lian yang kepala batu itu. Sebaliknya dengan Tio Jiang, yang meminta sang suci supaya ikut rombongannya.

„Siapa sudi turut pada rombonganmu? Aku dapat mencari jalan sendiri!" serunya sembari membalik tubuh terus turun kebawah. Mata Kit-bong-to beringas hendak mencegahnya, tapi tak berani. Kui-ing-cu kedengaran menghela napas, serunya seorang diri: „Kalau memang sejak lahir jahat, itu dapat dimaafkan. Tapi kalau kejahatan itu timbul dari perbuatannya sendiri, tak pantas hidup didunia ini!"

Itulah kata2 Kui-ing-cu ketika dia berjumpa dengan The Go dan Bek Lian dihutan. Mendengar itu hati Yan-chiu tergerak, tanyanya: „Bagaimana dapat dikatakan timbul dari perbuatannya sendiri itu?"

Kui-ing-cu tak menyahut. Diam2 Yan-chiu mengacai perbuatannya sendiri. Ia mencintai sang suko, tapi tak berani menyatakan terang2an, hingga sang suko tak mengerti, akibatnya ia menderita sendiri. Adakah itu pantas digolongkan pada ucapan kedua dari Kui-ing-cu tadi? Dalam berpikir begitu, dia mendongak mengawasi Tio Jiang. Demi tampak apa yang dilakukan sang suko pada saat itu, hatinya tawar lagi. Kiranya saat itu Tio Jiang tengah memandang kebawah, memaku pandangan matanya kearah bayangan Bek Lian. Sepintas pandang, tampaknya memang Tio Jiang masih lekatkan hatinya kepada  sang suci, seperti yang diduga oleh Yan-chiu. Tapi sebenarnya tidak demikian. Kalau dia mengawasi itu, hanyalah karena kuatir akan keselamatan sang suci, bukan sebagai kecintaan tapi sebagai saudara seperguruan.

Oleh, karena sifatnya yang polos, dia sudah begitu berduka karena Bek Lian masih gelap pikirannya. Sejak ketika dikaki Hoasan dia melihat Bek Lian dan The Go begitu mesranya, dia sudah tersadar bahwa cinta itu tak boleh dipaksa, Sikap Bek Lian beberapa, detik tadi, makin memperkokoh keinsyafannya. Teringat bagaimana selama itu dia begitu, ter-gila2, dia geli sendiri. Tapi hal itu tak diketahui Yan-chiu, siapa masih menyangka dia tetap menyintai sang suci.

Begitulah mereka berempat segera tinggalkan puncak Thiat-nia situ. Turut perhitungan kala itu sudah tanggal 20, bulan 4, jadi tinggal setengah bulan lagi dengan waktu pertemuan hari pehcun itu. Sebenarnya pertemuan atau tantangan berkelahi itu, dibuat antara The Go dengan Kiao To. Tapi dalam setengah tahun ini, perkembangan menjadi lebih bih luas, hinggaa banyaklah kaum  persilatan yang hendak mencari The Go. Dalam hal itu sudah tentu fihak Ang Hwat cinjin akan bertempur mati2an untuk menjaga gengsi. Oleh karena itu selama dalam perjalanan, Kui-ingcu memberi gemblengan terus pada ketiga orang itu.

„Siao-ah-thau, apakah kau mengerti apa ‘yang disebut daIam ilmu perang yang kosong itu berisi, yang berisi itu kosong’ ?" tiba2 Kui-ing-cu menanyai Yan-chiu. Pikiran nona, itu tengah penuh sesak dihimpit oleh ber-macam2 lamunan, maka sembarang saja ia menyahut: „Sudah tentu tahu!"

„Bagus," seru Kui-ing-cu bertepuk tangan, ”kita  duga The Go tentu tak sebodoh itu untuk kembali mengambil mustika batu, maka kita putuskan tak pergi kesana. Tapi dia memperhitungkan tindakan kita itu, jadi dia tentu datang kesana, benar tidak?"

„Benar!" sahut Yan-chiu tanpa berpikir lagi. Malah Nyo Kong-lim serentak sudah menggembor. „Kita kesana lekas"'

Kala itu mereka sudah tiba dekat tempat pertempuran kemarin malam. Maka mereka cepat membiluk ketimur menuju kesana untuk me-lihat2. „Toa-wi, Siao-wi periksalah apa bangsat itu tadi bersembunyi disini?" tanya Yan-chiu kepada kedua piaraannya. Toa-wi yang baru sembuh, pikirannya masih belum terang. Tapi Siao-wi segera membau beberapa, kali mencari kesekeliling tempat situ, tapi tak dapat menemukan suatu apa.

Kui-ing-cu tampak berpikir. „Orangnya tidak ada, batu mustikanya tentu masih ada. Hayo kita berpencar mencarinya," katanya.

"Tapi keadaan gunung sini penuh dengan bermacam batu, kemana kita harus mencari? Lebih baik saja dia disini sampai beberapa hari, masa dia takkan datang ?" Yan-chiu membantah. Tapi Nyo Kong-lim segera deliki mata. „Andaikata dia tak datang, apa kau akan menungguinya sampai setahun dua tahun?" tanyanya. Oleh karena hati Yan-chiu sedang dilamun keresahan, jadi seenaknya  saja dia membalas: „Setahun dua tahun, takut apa ?"

Nyo Kong-lim yang kasar polos, sebaliknya malah memuji sambil tunjukkan ibu jarinya: „Nona kecil, kau sungguh hebat. Baik, aku temani kau menungguinya disini!"

„Toacecu, tadi aku hanya bergurau saja, masa betul2 mau menungguinya sampai begitu lama?"  Yan-chiu sungkan sendiri dan menyusuli kata2nya. Sudah tentu Nyo Kong-lim yang polos itu tak mengerti sikap sinona, lalu menggerutu: „Siao-ah-thau, mengapa kau menjadi belut? Masa bicara bolak balik begitu ?"

Yan-chiu hanya ganda tertawa saja. Akhirnya keempat orang itu sependapat tak usah lama2 menunggui disitu. Oleh karena jejak Ceng Bo itu tak berketentuan tempatnya, maka diputuskan mereka akan berpencar mencarinya. Baru saja mereka hendak angkat kaki, tiba2 dari kejauhan terdengar suara melengking tajam, hingga membuat jantung orang berdebur keras. Suara itu makin lama makin dekat dan tampak sebuah bayangan berkelebat. Namun sesaat bayangan itu terlihat, secepat itu juga ada serangkum angin keras menyambar datang. Saking kagetnya, keempat orang itu cepat2 menghindar. Hanya Kui-ing-cu yang sempat pula melancarkan sebuah hantaman. Begitu dirasai kekuatannya berimbang, tahulah ia dengan segera, siapakah yang datang itu. Baru dia hendak membuka mulut, atau sudah kedengaran suara pukulan keras melancar. Berbareng itu, Toa-wi dan Siao-wi mengaum keras.

Kiranya sipendatang itu begitu tiba sudah melancarkan 6 buah pukulan tanpa bersuara. Kalau keempat orang tadi dapat lekas2 menyingkir, adalah kedua ekor orang utan itu yang termakan, hingga ter-huyung2 mundur. Orang yang muncul itu, rambutnya terurai jatuh diatas pundak dan bukan lain memang Kang Siang Yan adanya.

Melihat subonya, Tio Jiang dan Yan-chiu ter-Sipu2 hendak memberi hormat, tapi Kui-ing-cu yang melihat gelagat jelek, buru2 menyerukan kedua anak muda itu supaya berhati2. Memang jitu rabahan Kui-ing-cu itu! Baru kedua anak muda tadi berjongkok kui memberi hormat, dengan tertawa seram Kang Siang Yan ayunkan sepasang tangannya. Kanan untuk Tio Jiang, kiri kepada Yan-chiu. Yanchiu dengan tangkas sudah enjot tubuh loncat keatas. Sebaliknya Tio Jiang yang kurang waspada, begitu tubuhnya hendak berjongkok sudah ditendang oleh Kui-ing- cu sampai terpental setombak jauhnya. Ini lebih enak bagi Tio Jiang daripada menerima hantaman Sang Subo, Sudah tentu pukulan Kang Siang Yan itu jatuh  ditempat kosong. Ia tertawa meringkik, ujarnya: „Kiu-ing-cu yang jempol, mengapa kau seorang cianpwe yang terhormat, lakukan juga perbuatan yang sedemikian rendahnya? Siapa lagi, tentu kau yang menjadi biang keladinya. Hari ini thay-im- ciang hendak mengunjungi padamu!"

”Kang Siang Yan, apa yang kau ocehkan itu?" balas Kui- ing-cu. Dia duga disitu tentu terselip apa2 yang kurang beres. Tapi belum mengucap habis, pukulan tanpa-suara dari Kiang Siang Yan yang hebat itu sudah menghantarnnya. Karena sudah pernah merasakan kedahsyatan ilmu pukulan itu, Kui-ing-cu tak berani menyambut dan melainkan mundur sampai beberapa tindak, lalu balas mengirim hantaman. Itulah ilmu pukulan lwekang sakti juga yang disebut biat-gong-ciang. Kiang Siang Yan tak berani adu kekerasan. Dengan melengking tajam dan rambutnya sama tegak berdiri, ia menurun kebawah lalu menyelinap beberapa tombak. Dari situ kembali ia mengirim sebuah hantaman kearah dada orang. „Kiang Siang Yan, kau sungguh tak tahu aturan!" seru Kui-ing-cu sembari menyingkir dari serangan orang. Tapi Kiang Siang Yan sudah susuli lagi dua buah  serangan berbareng dari tangan kanan dan kiri. Kelihayan dari serangannya itu, setiap hantaman itu tidak mengeluarkan suara apa2, gerak perobahannya sangat cepat sekali, sehingga orang tak sempat bernapas.

Kui-ing-cu juga seorang tokoh yang sudah tergolong dalam tingkat cianpwe. Tapi toh dalam menghadapi serangan yang luar biasa itu, dia kelabakan juga. Terpaksa dia enjot kakinya melambung keatas sampai 5 tombak tingginya. Tapi ternyata Kiang Siang Yan  tetap membayangi kemana perginya. Lawan loncat keudara, iapun menyusuInya. Tapi kedudukan Kui-ing-cu yang berada disebelah atas lebih menguntungkan. Wut. ,

sebuah hantaman dilancarkan turun. Kiang Siang Yan tak dapat berkelit, terpaksa dia kibaskan tangannya kanan menangkis. Begitu kedua tangan saling berbentur, keduanya sama berjumpalitan. Secepat kaki menginjak bumi, keduanya sama2 berputar tubuh dengan sigap sekali. Kini kedua tokoh yang lihay itu saling berhadapan.

Mereka berdua adalah tokoh persilatan terkemuka pada jaman itu. Dalam sekejab mata, tadi mereka sudah bergebrak dalam 3 jurus, semua terdiri dari jurus2 yang berbahaya dan istimewa. Sudah tentu Nyo Kong-lim tahu diri. Tak berani dia turut campur karena merasa kepandaiannya terpaut jauh sekali.

”Kui-ing-cu, harini aku hendak membasmi suatu racun dunia, mengapa kau katakan tak tahu aturan? Terhadap kawanan bangsat yang begitu keji macam kalian ini, perlu apa harus pakai aturan ini itu ?" Kiang Siang Yan mendamprat tajam. „Siapa yang kau namakan kawanan bangsat keji itu? Anak menantumu yang bagus itulah tepatnya!" Kui-ing-cu marah2.

Rambut Kiang Siang Yan menjigrak, bentaknya:

„Jangan ngoceh yang tidak2, kau mengapakan Lian-ji Itu?"

„Siapa yang tahu? Jangan2 sudah menghadap Giam-ong, juga mungkin!" sahut yang ditanya. Bukan tak ada  sebabnya Kiang Siang Yan mencari rombongan Kui-ing-cu itu. Ia bukan seorang wanita yang suka bergurau, sebaliknya Kui ing-cu adalah tokoh yang gemar ber-olok2. Maka olok2 Kui ing-cu itu telah dianggap sesungguhnya oleh Kiang Siang Yan. „Kalau begitu, kalian harus mengganti jiwa. Kamu berempat tiada seorangpun yang boleh pergi!" mulutnya mengancam bengis, sedang tubuhnyapun sudah lantas melesat rnenerjang Nyo Kong- lim bertiga. Begitu cepat serangan itu dilancarkan, sehingga ketiga orangytu talc sempat menghindar dan tahu2 kena tertutuk rubuh. Dan tak kurang sebatnya pula, Kiang Siang Yan sudah lancarkan pukulan thay-im-ciang kepada Kui- ing-cu. Gerakan yang sedemikian tangkas dan hebat itu, sungguh sukar dicari bandingannya. Mungkin Lam-hay Hu Liong Bo pada jamannya, tak sedemikian Iihaynya.

Belum Kui-ing-cu hilang kagetnya karena tak dapat menolong ketiga kawannya yang tertutuk rubuh itu, atau dia sendiri sudah terima serangan yang dahsyat. Terpaksa dia gunakan tangkisan istimewa. Begitu menangkis, berbareng tangannya yang satu menghantam, gerakan itu waktunya sama. Tapi lawanpun berbuat sama. Serangan pertayma tadi disusul dengan kedua. Blak.......dua buah pukulan saling berbentur dengan hebatnya. Dua buah jari Kiang Siang Yan bengkok kesamping hendak menutuk  jalan darah yang-ko dan yang-ti lawan. Sebaliknya kelima jari Kui-ing-cu dikatupkan menjadi tinju. Begitu diturunkan untuk menghindar tutukan, lalu diteruskan menjotos dada orang. Kiang Siang Yan tak berani menangkis dan tak sempat pula menghindar. Terpaksa ia tarik pulang kedua tangan untuk mengacip lengan lawan. Sudah tentu Kui-ing- cu tak mau membiarkan tangannya diperbuat begitu. Sekali enjot kaki, dia loncat mundur. Demikianlah dalam sekejab waktu saja, kedua seteru itu mulai lagi merapat maju. Dan 4 jurus kembali sudah dilancarkan.

Dalam pertempuran selanjutnya, Kui-ing-cu harus mengakui kelihayan wanita gagah itu. Thay-im-ciang dilancarkan ber-tubi2 bagaikan hujan mencurah, hingga sukar dibedakan mana yang isi mana yang kosong. Kui-ing- cu terpaksa harus tumplek perhatian untuk menjaga bagian tubuhnya yang berbahaya. Tak jarang selama dalam pertempuran itu keduanya harus adu benturan, dan setiap kali Kui-ing-cu selalu mendapat kesan bahwa tenaga lembek dari Iwekang musuh itu hebat sekali. „Kelemahan dapat menundukkan kekerasan," demikian dalil yang berlaku dalam ilmu lwekang. Kiang Siang Yan dapat  menguasai sari kelemahan lwekang itu, pertanda kalau lwekangnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang teratas. Sayang adatnyapun berobah sedemikian eksentriknya. Selama kedua tokoh itu bertempur dengan Serunya, ketiga orang yang ditutuk tadipun telah dapat pulih lagi.

Yang pertama mendapat kepulihannya adalah Tio Jiang, siapa lalu menolongi Nyo Kong-lim dan Yan-chiu. Setelah itu dia menghampiri kedua tokoh yang sedang asyik bertempur.

„Suko, kau hendak mengapa?" tanya Yan-thiu.

Tapi Tio Jiang tak mau menyahut. Menghampiri kesisi gelanggang, dia berseru. „Subo, sukalah dengarkan omongan ku sebentar." Kiang Siang Yan tengah pusatkan perhatiannya menempur Kui-ing-cu. Demi melihat kedatangan Tio Jiang, dia terperanjat juga. Diam2 ia merasa heran, mengapa begitu cepat anak itu telah mendapat kepulihannya. Benar tutukannia tadi tidak berat, tapi toh cukup membuat orang lemas sampai berapa jam, Jangan2 anak itu memiliki kepandaian istimewa, sekarang, demikian pikirnya. Memang sejak mempelajari ilmu thay-im-lian-seng, ia berobah menjadi seorang yang banyak curiga. Oleh karena pikirannya hendak mencari tahu, gerakannya terpengaruh menjadi lambat. Wut....., hampir saja ia termakan pukulan Kui-ingicu, untung ia masih bisa, loncat meloloskan diri, walaupun dengan susah payah.

Kini Kiang Siang Yan tak mau menghampiri Kui-ing-cu lagi, sebaliknya, menyongsong kedatangan Tio Jiang, Karena tak mengandung maksud jahat, jadi Tio Jiangpun tak jeri. Diam2 ia, mengetahui kalau anak itu telah memiliki dasar ilmu lwekang yang kokoh, ini terbukti dari pancaran matanya yang ber-api2, heran ia dibuatnya karena terang yang pasti saja, tentu bukan Hay-te-kau atau suaminya itu yang mengajari, sebab setahunya sang suami itu tak memiliki lwekang macam begitu.

„Apakah kepandaianmu sekarang ini, suhumu yang mengajarkan?" tanyanya dengan dingin.

Terhadap sang suhu, Ceng Bo siangjin, Tio Jiang telah mengabadikan hormat dan ketaatannya. Tanpa ragu2 lagi dia menyahut: „sudah barang tentu, subo "

„Hem....., didalam rumah keluarga In, mana ada pelajaran lwekang jahat macam kepunyaanmu itu!" tukas Kiang Slang Yan serentak. Kiranya pelajaran dari Hay-te- kau itu adalah warisan dari keluarga In, ialah ayah Kiang Siang Yan. Sebenarnya kepandaian itu merupakan warisan keluarga In, tak pernah diturunkan pada orang luar. Tapi karena ayah Kiang Slang Yan mengetahui Hay-te-kau itu seorang pemuda yang berbakat bagus dan lurus hati, maka dia telah diterima menjadi murid. Jadi Kiang Siang Yan cukup mengetahui jelas akan hal itu.

Tio Jiang ter-longong2 tak dapat menjawab. Syukur Kui- ing-cu keburu menolongnya dengan berseru: „Kiang Siang Yan, jangan bicara yang tidak2. Mengapa tidak hujan tidak angin kau cari perkara pada kami?"

”Jawab! Kau kemanakan Lian-ji itu? Kalau tak memberi keterangan jelas, jangan harap kalian berempat ini dapat bernyawa lagi!," bentak Kiang Siang Yan dengan murka. Sampai pada saat itu, Yan-chiu tak kuat bersabar lagi, terus saja ia hamburkan kemengkalannya: „Wah, kata2 yang besar!"

Tio Jiang kaget dan buru2 hendak memberi isyarat dengan ekor mata, tapi sudah terlambat.

„Budak hina, kalau tak percaya cobalah!" Kiang Siang Yan sudah kedengaran berseru, sepasang matanya beringas menatap anak itu. Yan-chiu terperanjat sekali. la  tadi hanya, mengomong sendirian, tak mengira kalau sampai didengar sang subo. Saking kagetnya, ia mundur beberapa tindak.

Sememangnya terhadap anak itu, Kiang Siang Yan masih mempunyai rekening kemarahan yang belum dihimpaskan. Yalah ketika tempo hari telah diselomoti oleh Kui-ing-cu hingga sampai menurunkan ilmupedang Hoan- kang-kiamhwat. Itu waktu ia telah menghajarnya, tapi keburu dapat ditolong oleh Tay Siang Siansu. Maka taruh kata tidak karena urusan Bek Lian, pun kalau berjumpa dengan Yan-chiu, ia tentu masih hendak menghukumnya.

Sebenarnya Yan-chiu tadipun hanya sekedar untuk melampiaskan kemengkalannya saja, se-kali2 tidak bermaksud hendak menghina subonya. Tapi, justeru hal itu telah kebetulan sekali bagi Kiang Siang Yan. Yan-chiu mundur, ia maju. „Budak hina, diantara 4 orang ini, kaulah yang lehih dulu binasa!" serunya sambil maju mengulurkan tangan mencengkeram lengan sinona.

Dalam gugupnya, Yan-chiu enjot tubuh melejit lolos. Selama 3 bulan berada, dengan Tay Siang Siansu, berkat kecerdikannya, sigenit telah berhasil mengeruk banyak sekali ilmu lwekang hweshio itu. Ilmu lwekang yang dipelajari Siansu itu mendasarkan pada ketenangan dan konsentrasi (pemusatan) pikiran. Sembarang saat dia dapat menggunakan menurut sekehendak hatinya. Dapat mematahkan segala kekuatan, dapat menggempur segala, kekerasan. Digunakan untuk ilmu mengentengi tubuh, tubuhnya dapat bergerak kemana, sang hati maukan. Itu kalau sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang terpuncak. Tay Siang Siansu sendiripun masih belum mencapai tingkatan itu. Apalagi Yan-chiu yang hanya mencukil sepintas lalu saja. Tapi oleh karena, Kiang Siang Yan keliwat memandang rendah anak jadi serangannya tadi telah dapat dihindari oleh sigenit.

(Oo-dwkz-TAH-oO)
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Naga dari Selatan BAGIAN 29 : KALAH DAN MENANG"

Post a Comment

close