Kisah Bangsa Petualang Jilid 11

Mode Malam
 
Jilid 11

"Bagaimana?" tanya Liong Kek, bingung. "Jadi di antara kita sudah tidak ada bicara lagi...?" "Baik!" seru Nona Hee. "Sekarang aku hendak menanya satu kali lagi kepadamu! Benar atau tidak kamu telah bikin celaka pada Toan Tayhiap?"

"Itu?" tanya Liong Kek, heran. "Tidak!"

"Habis kenapa aku tidak dapat mencari dia?" "Itu... itu..."

Susah Liong Kek bicara. Mo Lek lantas mendahuluinya.

"Nona Hee, Toan Tayhiap masih hidup!" kata pemuda she Tiat itu. "Aku tahu tentang tayhiap itu! Mari kita keluar dulu  dari kepungan ini, baru kita bicara!"

"Baik!" menjawab Leng Song, yang percaya orang she Tiat itu. Lantas ia menoleh pada Liong Kek dan membentak, "Masih kau tidak mau menyingkir!"

Kata-kata itu dibarengi dengan tabasan pedangnya.

Liong Kek terkejut sekali. Tahu-tahu tangan bajunya sudah terbabat kutung. Dia terhuyung mundur sampai beberapa tindak, mukanya pucat pasi. Meski begitu, dia mengulapkan tangan seraya berseru, "Kasih dia pergi!"

Leng Song tertawa dingin. "Kau boleh lihat!" bentaknya.

Terus ia menikam. Tapi baru di tengah jalan, ia lantas menahan, untuk diubah dengan lain jurus.

Tak perduli si nona liehay, Ceng Ceng Jie dapat melayani. Tiga kali dia diserang, lalu empat kali dia membalas. Selama  itu, tak pernah pedang-pedang mereka beradu. Toh serangannya masing-masing berbahaya, semua mengarah anggauta-anggauta yang merupakan tempat-tempat kematian. Selama itu sudah lantas terlihat kepandaian kedua lawan ini. Ceng Ceng Jie menang gesit sedikit. Si nona menang untuk pelbagai jurusnya yang luar biasa.

Mau atau tidak, Ceng Ceng Jie menyedot hawa dingin, la sudah lantas berpikir, "Aku percaya, dengan bekerja sama suheng Khong Khong Jie, dapat aku malang melintang di kolong langit ini, siapa tahu dalam Rimba Persilatan ada begini banyak orang liehay! Tak usah disebut orang she Han itu, hanya ini nona di depanku! Untuk dapat merebut kemenangan, rasanya aku mesti menanti sampai seratus jurus dulu..."

Itu waktu Han Tam sudah berhasil memukul mundur rombongannya Ong Pek Thong, bersama-sama Sin Thian Hiong ia telah lepas dari kurungan.

Ceng Ceng Jie yang waspada dapat melihat suasana, ia tahu tak ada harapan lagi, maka ia lantas berkelit dari si nona, terus dia ajak Ong Liong Kek mengundurkan diri.

Ketika itu Han Cie Hun berseru, "Ayah, itulah nona Hee!" Han  Tam  menjawab  anaknya,  ia  kata  pada  Leng  Song,

"Terima kasih Nona Hee sudah membantu kami! Marilah kita

bicara di luar!"

Cie Hun dan Mo Lek masih dikurung Yan Ie serta persaudaraan Cio, melihat demikian, Leng Song lari kepada mereka itu sembari kata, "Adikku, malam itu aku keliru menyangka jelek padamu!"

Ia lantas menyerang membikin mundur Cio It Liong dan Cio It Houw!

Ong Yan Ie gusar, kata ia keras, "Kakakku berlaku baik kepada kau, kenapa kau pandang kami kakak beradik sebagai musuh?" Ia berkelit dari serangannya Mo Lek, lantas ia maju rrienyerang Nona Hee dengan sebelah tangannya yang kosong.

"Lepas tanganmu!" berseru Leng Song.

Berbareng dengan seruannya itu, pedang si nona menusuk lengannya Yan Ie. Pedangnya itu mendatangkan sorot berkilau. Ia juga berbareng menyerang dengan tangan kiri yang kosong. Ia melakukan ini setelah berkelit dari serangan nona she Ong itu.

Yan Ie terkejut, ia kalah sebet. Tiba-tiba ia merasakan lengannya nyeri seperti tertusuk jarum. Ia menjerit dengan pedangnya terlepas dan terlempar. Mo Lek lantas membacok padanya. Syukur ia masih sempat berkelit, terus ia lari ke dalam rumpun pohon bunga. Ia melihat lengannya, di situ ada tiga titik merah, darah yang keluar dari lukadi kulit.

"Sayang! Sayang!" kata Mo Lek berulang-ulang

Ia tidak tahu Leng Song berbuat baik, kalau tidak, lengan Yan Ie mestinya sudah buntung.

Melihat semua kejadian itu, Kie Tie tertawa dan kata, "Tie Lotoa, semua sahabatku mau pergi, tak enak kalau ketinggalan cuma kita berdua, dari itu maaf, aku pun tak dapat menemani kau lebih lama pula!"

Habis berkata, ia memutar tubuhnya, tepat ia dapat menolak dua penjahat yang mau mengepung padanya, hingga mereka itu berdua mental ke depan Tie Swie.

Menyaksikan demikian, Tie Swie lantas menyambar kedua orang itu yang terpelanting ke arahnya. Ia mencekal keras sampai mereka menjerit-jerit seperti dua ekor babi berkuwing- kuwing! Bukan main mendongkolnya ia, lekas-lekas ia melepaskan cekalannya, niatnya menyusul lawannya. Akan tetapi waktu itu Ciu-kay si Pengemis Pengarakan sudah berkumpul bersama Han Tam semua, berlalu dari medan pertempuran itu.

Ong Pek Thong menyesal bukan main. Ia pun malu. Diluar dugaannya, rahasia sekongkolannya dengan An Lok San telah dibeber di muka umum. Di antara para hadirin ada tetamu- tetamu yang. bukan konconya. Karena ini, dari para tetamu itu, tujuh atau delapan bagian sudah lantas bubar, sedang dari konconya sendiri ada separuh yang hatinya telah berubah. Orang tak setuju dia bekerja sama pihak pembesar negeri.

Mendapat kenyataan musuh demikian tangguh, Pek Thong dan Ceng Ceng Jie juga tidak berani mengejar, mereka cuma bisa berseru-seru beraksi saja...

-ooo0dw0ooo-

Rombongannya Sin Thian Hiong telah lekas meninggalkan Liong Bin Kok.

Han Tam tertawa sendirinya setelah menyaksikan tak ada musuh yang mengejar.

"Dengan pertempuran ini kita tidak memperoleh kemenangan tetapi dengan begini kita berhasil memberi pukulan kepada Ong Pek Thong! Mereka menjadi renggang satu dengan lain dan kaum Rimba Hijau pun tak bakal kena lagi didustai mereka!"

Selagi begitu, Kie Swie menghampirkan Hee Leng Song, ia memandang si nona dengan teliti, ia mengeleng-gelengkan kepalanya. Lalu katanya sangat kagum, "Sungguh seorang nona yang elok! Sungguh mirip dengan Leng Liehiap di jamannya liehiap itu!"

Kie Tie mengasih turun buli-bulinya, ia gelogoki itu ke mulutnya, untuk menenggak air kata-katanya, habis itu ia kata, "Akulah yang dipanggil Ciu-kay Kie Tie! Nona Hee tentunya pernah mendengar ibumu menyebut-nyebut aku...!"

"Belum pernah..." sahut si nona.

Pengemis itu ketemu barunya, hingga ia melengak. Lantas ia tertawa. Mulutnya sudah berkelemik, hendak mengatakan sesuatu tetapi batal. Sebagai gantinya, untuk menutupi malu, ia tertawa.

Lam Ce In hendak mencegah kejengahan, ia lantas berkata, "Nona Hee, kau telah membantu banyak kepada kami, untuk itu aku menghaturkan diperbanyak terima kasih!"

"Kau aneh!" kata si nona. "Kenapa kau repot dengan ucapan terima kasihmu? Kau telah mengantar melindungi Paman Toan- ku, untuk itu aku belum menghaturkan terima kasih padamu!"

Inilah jawaban yang tidak disangka-sangka Ce In. Ia seperti ketemu pakunya. Ia jengah. Itulah rasa pahit-pahit manis! Benar Leng Song telah menegur padanya tetapi teguran itu menyatakan tegas si nona telah memandangnya sebagai orang sendiri...

"Mo Lek," kemudian Nona Hee tanya si anak muda, "Kau' bilang Paman Toan mau pergi ke kelenting Ceng Hie Koan di gunung Giok Sie San, kota Liang-ciu, sebenarnya untuk apakah itu?"

Mo Lek telah menerangkan apa yang terjadi di gunung Hui Houw San, maka ia menambahkan, "Mereka diundang oleh Khong Khong Jie yang hendak membayar pulang anak mereka." "Oh, kiranya begitu!" kata si nona. "Kalau begitu, dibandingkan dengan adik seperguruannya, Khong Khong Jie masih boleh dibilang bukannya seorang busuk!"

Han Tam campur bicara, ia kata, "Selama beberapa tahun ini aku belum pernah ketemu dengan Khong Khong Jie akan tetapi aku menaruh perhatian terhadap sepak terjangnya, aku mendapat kenyataan dia cuma rada berandalan, yaitu dia suka menemui lawan yang setimpal dan karena namanya menjadi terkenal, dia juga tak luput dari kejumawaan, akan tetapi dia belum pernah melakukan kejahatan. Kali ini perbuatannya itu disebabkan dia kena dipedayakan Ong Pek Thong ayah dan anak."

Mendengar disebutnya nama Ong Pek Thong dan anak itu, Leng Song berduka, dia lantas runduk dan tak berkata suatu apa lagi.

"Nona Hee," Ce In bertanya, "Sukakah nona mengasih keterangan bagaimana caranya maka dahulu hari nona dapat berkenalan dengan ayah dan anak itu?"

"Tentang itu tidak ada yang aneh!" sahut si nona. "Kita bertemu di tengah jalan! Adalah umum orang Kang Ouw biasa merantau dan umum juga kita bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal. Tentu sekali aku tidak tahu bahwa merekalah berandal-berandal Rimba Hijau!"

Kembali Ce In "menemui pakunya". Kembali ia merasa pahit- pahit manis. Sebagai orang yang berpengalaman, dapat ia menerka bahwa tadinya Leng Song berkesan baik terhadap Ong Liong Kek, bahwa mungkin ada terselip urusan asmara. Hanya sekarang sirnalah sang asap dan buyarlah sang mega...

"Nona Hee," berkata Han Tam, "Rumahku terpisah dari sini cuma tiga puluh lie, bagaimana jikalau aku minta nona suka mampir padaku untuk beristirahat?" "Terima kasih, Han Lo-cianpwe," menyahut si nona. "Aku telah mempunyai janji dengan Toan Tayhiap untuk menjenguknya di gunung Hui Houw San, lantaran ada suatu urusan, aku telah terlambat beberapa hari. diluar dugaan, Toan Tayhiap telah mendapatkan peristiwanya itu, sekarang setelah aku ketahui di mana beradanya ia, hendak aku lekas menyusulnya ke Giok Sie San!"

Habis berkata, Nona Hee bersiul nyaring dan panjang. Atas itu segera terlihat seekor kuda putih lari keluar dari dalam hutan, untuk menghampirkan si nona. Kuda itu dapat lari keras.

Tiat Mo Lek kagum, dia kata, "Kuda ini dilihatnya tidak menarik perhatian, siapa tahu dia nyata jauh terlebih baik daripada kuda merah miliknya ayahku dahulu hari!"

Leng Song sudah lantas lompat naik atas kudanya, dengan merangkap kedua tangannya kepada orang banyak ia meminta diri, guna segera berangkat menyusul Toan Kui Ciang.

"Nona Hee," kata Ce In tiba-tiba, "Aku hendak bicara lagi sedikit..."

"Apakah itu?" tanya si nona singkat.

"Mengenai urusan dengan Hong-hu Siong itu," kata Lam Pat. "Sepulangnya aku, akan aku minta keterangan pada guruku, mungkin aku akan memperoleh penjelasan, mungkin nanti aku dapat membantu kau mencari padanya, dari itu tolong nona meninggalkan alamatmu."

"Arah kepergianku sukar ditentukan," sahut si nona. "Aku pikir lebih mudah untuk aku yang mencari kau. Maka itu baiklah setelah aku bertemu dengan Paman Toan, akan aku turut paman pergi ke Thay-goan guna mencari kau di sana!"

Ce In setuju, bahkan ia gembira sekali. "Baik!" sahutnya. "Baik, aku nanti menunggui kau di gedungnya Kwe Thaysiu di kota Kiu-goan."

Nona Hee sudah lantas mengeprak kudanya lari, hingga Ce In mesti mengawasi kepergiannya itu.

"Paman Lam!" Mo Lek menegur, "Orang telah pergi jauh! Kelihatannya paman masih hendak membicarakan sesuatu dengannya, kenapa paman tidak mau lekas-lekas memanggilnya? Sekarang sudah tak keburu lagi, maka mari kita pun berangkat.”

Mukanya Ce In menjadi merah.

"Setan cilik, mulut jahil!" tegurnya secara bergurau.

"Urusan dengan Hong-hu Siong?" kata Kie Tie tiba-tiba. ”Bukankah nona itu hendak menuntut balas terhadap Hong-hu Siong?"

"Benar," sahut Mo Lek. "Hanya urusan itu masih menjadi persoalan. Hong-hu Siong bilang bukannya dia yang membunuh tetetapi Toan Siokhu menyebut dia..."

"Tunggu dulu, tunggu dulu!" kata Kie Tie pula. "Dia hendak menuntut balas untuk siapa? Apakah buat ibunya?"

Ce In heran hingga ia mengawasi jago tua itu. "Mungkinkah lo-cianpwe ketahui perkara itu?" ia tanya.

"Nona itu tidak membilang dia mau melakukan pembalasan untuk ibunya, dia hanya bilang dia menerima perintah ibunya untuk menyingkirkan satu orang yang berbahaya untuk dunia Kang Ouw. Menurut Toan Tayhiap, di malam pernikahan mereka, kemanten laki-laki yang terbinasa di tangan Hong-hu Siong ialah Hee Seng To yang menjadi ayahnya si nona. Hanya tak jelas hubungan perkara itu dengan keluarga si nona lantaran si nona sendiri tak tahu duduknya hal. Mendengar keterangan beberapa pihak, cuma-cuma aku menjadi tambah pusing dibuatnya. Lo-cianpwe suka memberi penjelasan kepada kami semua?"

Kie Tie melirik orang she Lam itu, lantas dia tertawa.

"Ehem, kau nampaknya sangat memperhatikan si nona!" katanya.

Lalu dia menggeleng kepala. Tapi hanya sebentar, ia tertawa pula. Lantas dia berkata lagi, menyambungi, "Sekarang belum tiba saatnya untuk bicara! Meski demikian, dapat aku menolongi kau melakukan sesuatu..."

Ce In heran hingga kembali ia berdiam saja.

"Ada urusan apakah dari aku maka dia mau mewakilkan mengurusnya?" ia tanya hati kecilnya.

Kie Tie cuma berhenti sebentar, segera dia berkata pula, "Apa yang kau pikir dalam hatimu, yang kau belum ucapkan, aku telah mengetahuinya! Kau jangan kuatir akan aku menjadi comblangmu! Umpama kata dia tidak menggubris aku si pengemis bau, akan aku cari si Toan kecil untuk ia membantu aku berbicara dengannya!"

Muka Lam Ce In menjadi merah karena likat. "Lo-cianpwe bergurau!" katanya.

"Siapa bilang aku bergurau?" kata jago tua itu, romannya sungguh-sungguh. "Sekarang juga aku akan pergi! Baiklah aku omong terus terang pada kau! Dengan datang ke lembang Liong Bin Kok, aku sengaja hendak menantikan Nona Hee itu, cuma ia nampaknya sebal terhadap aku si pengemis bangkotan! Baiklah, sekarang aku mau pergi mencarikan dia seorang suami yang cocok dengan rasa hatinya, aku percaya kemudian dia bakal menjadi suka terhadapku!" Benar-benar jago tua ini lantas berlari pergi.

"Kie Lojie!" Han Tam berseru. "Kalau kau tiba di Giok Sie San dan bertemu dengan Khong Khong Jie, kau beritahukan dia halnya Ong Pek Thong sudah berkongkol dengan An Lok San, andaikata dia tidak percaya pembilanganmu, bilangi dia bahwa itulah kata-kataku!"

"Aku mengerti!" berkata Kie Tie, yang masih sempat menjawab. "Hayo, tak dapat aku berayal lagi, nanti tak keburu aku menyusul dia!"

Seperginya pengemis itu, Han Tam berkata kepada kawan- kawannya, "Diantara tiga pengemis aneh dalam dunia Sungai Telaga, Hong-kay We Wat si edan membenci kejahatan seperti dia membenci musuhnya, kalau dia turun tangan, dia agak telengas. See-gak Sin Liong Hong-hu Siong adalah yang sepak terjangnya rada aneh, dia separuh lurus dan separuh sesat, sulit untuk memastikannya. Tentang ini pengemis tukang tenggak susu macan, Ciu-kay Kie Tie, walaupun dia berandalan, dia paling rajin dan bersungguh-sungguh, gemar sekali dia membantu atau menolong orang. Di antara orang-orang tiga agama dan enam golongan, dia mempunyai sahabat- sahabatnya. Dia cuma mempunyai suatu cacad, ialah hatinya terlalu lemah, kalau dia bukan bertemu dengan orang sangat jahat, tak mudah dia menjadi gusar, maka juga di antara sahabat-sahabatnya, selain orang baik-baik ada juga orang buruk."

"Barusan dia tidak sudi bicara, mungkinkah itu disebabkan dia hendak menutupi keburukannya Hong-hu Siong?" Ce In tanya.

"Aku kira itulah tak mungkin," menjawab Han Tam. "Umpama kata benar Hong-hu Siong melakukan perbuatan semacam itu, tidak nanti We Wat berdiam saja. We Wat menjadi sahabatnya dua orang she Leng dan Hee itu, pastilah dia sudah bekerja sama menyingkirkan Hong-hu Siong dari ini dunia! Memang, perkara darah itu pernah menyebabkan kegemparan Rimba Persilatan dan pernah beberapa orang gagah membantui Keluarga Hee mencari tahu si pembunuh! Aku tidak nyana sampai sekarang, sudah berselang dua puluh tahun, perkara itu masih tetap gelap!"

"Ayah," berkata Han Cie Hun, "Setelah peristiwa di Liong Bin Kok ini, aku rasa kita tak dapat tinggal dengan aman lagi di tempat kita ini, maka itu aku pikir baiklah kita pergi ke Giok Sie San..."

Han Tam tertawa.

"Aku tahu kau memang ingin pergi ke sana untuk turut dalam keramaian!" katanya.

"Benar, ayah!" sahut si nona. ."tapi kepergian kita akan ada baiknya. Umpama kata terjadi bentrokan pula di antara Khong Khong Jie dan Toan Tayhiap, ayah dapat datang sama tengah untuk berusaha mendamaikannya."

"Jikalau kau menduga demikian, kau pasti akan kecele!" kata ayah itu. "Khong Khong Jie telah memberikan janjinya akan membayar pulang anak orang, mana bisa terjadi mereka kedua belah pihak berkelahi pula?

"Apakah ayah tidak kuatir suteenya, Ceng Ceng Jie, nanti main gila, mengacau diantaranya?" tanya pula si anak dara.

"Aku pernah pikir kemungkinan itu," Han Tam menjawab, "Akan tetapi Kie Tie sudah berangkat ke sana, seandainya Ceng Ceng Jie mau main gila, Kie Tie bakal tiba terlebih dahulu, dia akan menyampaikan pesanku, maka itu, meskipun benar Khong Khong Jie tidak mempercayai Kie Tie sendiri, dia mesti percaya aku." Ia hening sejenak, terus ia menambahkan, "Apa yang aku buat kuatir ialah mereka itu bakal tak melepaskan pada Lam Tayhiap serta Tiat Siauw-cecu. Maka itu aku pikir baiklah kita berangkat terus malam ini, untuk mengantarkan mereka ke Hoay-yang, kemudian bersama Lam Tayhiap kita pergi ke Kiu- goan untuk menemui Kwe Leng-kong, guna membeber sekongkolan di antara Ong Pek Thong dengan An Lok san, supaya Kwe Leng-kong dapat mengatur persiagaan. Aku mau menduga, Khong Khong Jie dan Lam Tayhiap mungkin dari musuh akan berbalik menjadi sahabat-sahabat satu dengan lain, hingga kemudian dia akan suka pergi ke Kiu-goan."

Ce In dan Mo Lek girang sekali mendengar perkataannya jago tua she Han itu. Lebih girang pula Tiat Mo Lek meski kegirangannya itu disimpan di dalam hatinya. Ia ternyata sangat suka bergaul dengan Han Cie Hun, yang usianya sepantaran. Sejak berkenalan, mereka merasa sangat cocok satu dengan lain, hingga tak suka ia berpisahan...

-o0dw0o-

Hee Leng Song tengah mengaburkan kuda putihnya ketika dengan tiba-tiba ia mendengar suara memanggil di sebelah belakangnya, "Nona Hee, tunggu sebentar! Aku si pengemis tua hendak ada bicara denganmu!"

Ia lantas menoleh dan melihat si pengemis tukang mabuk. Dengan di punggungnya tergendol buli-bulinya yang besar, pengemis itu bernapas mengorong, meski demikian, dengan lekas dia sudah menyandak. Ia menjadi heran, ia mengawasi terus.

"Kudaku lari keras sekali, kenapa pengemis tua ini dapat menyusul aku?" ia kata di dalam hati. "Dengan begini bukankah ternyata dalam ilmu ringan tubuh dia melebihkan Khong Khong Jie?" Nona itu berpikir demikian tanpa ia ketahui, meski benar barusan dia telah mengambil jalan memotong, sebab dia kenal baik keadaan tempat yang dilalui ini.

Leng Song tidak puas. Ia sebal untuk orang punya bau arak.

"Ada urusan apa Kie Lo-cianpwe?" ia tanya terpaksa. "Kabarnya nona mau pergi membunuh See-gak Sin Liong

Hong-hu Siong, benarkan itu?" Kie Tie tanya langsung.

"Benar!" jawab Leng Song, terus terang. "Dia telah melakukan banyak kejahatan, maka aku menerima perintah ibuku untuk menolong dunia Kang Ouw menyingkirkan ancaman malapetaka!"

"Hong-hu Siong tidak dapat dibinasakan!" kata Kie Tie. Kembali Leng Song heran.

"Kenapa tak dapat?" ia tanya.

"Tuduhan ibumu bahwa dia telah melakukan perbuatan- perbuatan busuk itu, tak ada satu jua yang benar-benar dilakukan tangannya sendiri!"

Nona Hee menjadi gusar, hingga ia melupakan ia lagi berhadapan dengan seorang lo-cianpwe, yang martabatnya jauh terlebih tinggi.

"Ngaco!" ia membentak. "Menurut kau, mustahilkan ibuku mendusta?"

"Ibumu juga bukannya mendusta," kata Kie Tie. Ia tidak menjadi tidak senang.

"Didalam urusan kamu ini telah terbit salah faham!

Musuhnya ibumu bukannya dia!" "Memang juga ibuku sendiri tak langsung bermusuh dengannya!" kata Leng Song. "Sebenarnya dia telah mencelakai bukan sedikit orang, maka juga ibu berniat mesti membunuhnya! Aku lihat, yang salah mengerti ialah kau!"

"Keliru! Keliru! Keliru...!" kata Kie Tie berulang-ulang.

Leng Song heran, ia mengawasi. Ia melihat sikap orang luar biasa sekali.

"Kenapa keliru?" ia menegaskan.

Si pengemis tukang tenggak susu macan menghela napas. "Ah...!"  katanya.  "Soal  ini  tak  dapat  aku  bicara  jelas

denganmu. Sekarang ini di mana adanya ibumu? Hendak aku

bicara sendiri dengannya!"

"Ibuku tak menemui orang luar!" jawab si nona tawar. "Kalau kau mau bicara, bicara saja dengan aku!"

Kie Tie mengerutkan kening. Ia bersangsi.

"Jikalau kau tidak suka bicara padaku, ya sudah!" kata Leng Song. "Nah, aku hendak lekas-lekas melanjuti perjalananku!"

Nona ini menarik tali les kudanya atas mana si kuda putih menggeraki keempat kakinya.

"Baiklah!" Kie Tie berkata, nyaring. "Baik, akan aku bicara denganmu!"

Leng Song menahan pula kudanya. Dengan sikap ogah- ogahan atau tak sabaran, ia berpaling.

"Kau bicaralah!" katanya. "Dapat aku mendengar, tak usah kau bicara keras-keras!"

Kie Tie mengawasi, dia kata, "Hong-hu Siong tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah itu, orang yang berlaku tak selayaknya terhadap ibumu itu ialah seorang lainnya. Dia..."

"Bagaimana?" Leng Song menyelak, tak sabaran.

"Dia itu, walaupun dia berhati tak lurus, dia tak dapat dibunuh olehmu!"

Nona Hee tertawa tawar.

"Benar-benar aku tidak mengerti apa maksud kata-katamu itu!" katanya. "Bagus benar! Hong-hu Siong itu orang baik, dia tak dibunuh! Lalu itu orang lainnya, dia orang jahat, tetapi dia tak dibunuh juga! Bagaimana aneh perkataan kau ini? Sudahlah, tak usah kau bicara lebih jauh! Aku tahu kau dengan Hong-hu Siong satu komplotan!"

Kie Tie sabar sekali.

"Tak dapatkan kau mendengari lagi satu perkataanku?" dia tanya.

Mendadak jago tua ini mencelat ke depan hingga tahu-tahu dia sudah menyambar buntut kuda si nona. Sambil menarik binatang tunggangan itu dia menanya, "Tahukah kau, nona, kau she apa? Kau bukannya she Hee dan ayahmu juga bukannya Hee Seng To!"

Leng Song gusar sekali, hingga ia sudah lantas menghunus pedangnya.

"Angin busuk!" ia membentak sengit. "Jikalau kau mau main gila, pergilah ke lain tempat, tak dapat aku mendengar suaramu yang bau busuk!"

Perkataan itu ditutup dengan serangan pedang yang cepat sekali.

Kie Tie tidak mau melayani, ia melepaskan cekalannya sambil ia berlompat mundur. Justeru orang menyingkir, si nona mengeprak kudanya untuk dikasih kabur. Selang tak lama, ia sudah lari jauhnya belasan lie karena kudanya itu lari sangat pesat. Ia mendongkol dan gusar, tetapi ia pun heran hingga timbul keragu-raguannya.

"Dia mabuk arak tetapi dia tak mabuk hingga lupa daratan," ia berpikir.

"Mustahilkan jauh-jauh dia menyusul aku cuma untuk mengasih dengar ocehan belaka? Mungkinkah dia bermaksud benar-benar? Ah, tak mungkin... Setiap orang mengatakan romanku mirip dengan ibuku, maka itu kenapa aku bukannya anak ibuku itu? Ibu mempunyai cuma seorang suami, kenapa ayahku bukannya Hee Seng To? Hm! Tak perduli si pengemis bau cuma ngaco belo, dia tetap sudah menghina ibuku!"

Meski demikian, walaupun ia menyangsikan Kie Tie, Nona Hee tetap bersangsi. Maka lekas-lekas ia mengambil keputusan, "Toan Tayhiap menjadi sahabat kekal ibuku, baik aku tunggu sampai aku bertemu dengannya, nanti aku sampaikan padanya kata-kata si pengemis edan ini, hendak aku lihat apa kata tayhiap..."

Karena itu, Leng Song mesti menyusul Toan Kui Ciang dan Touw Sian Nio, suami isteri itu yang pikirannya sedang terganggu soal keselamatan anak mereka. Mereka melakukan perjalanan terus menerus, tak siang tak malam. Maka pada suatu hari tibalah mereka di kaki gunung Giok Sie San.

Dengan Lantas Sian Nio diganggu oleh kesangsiannya. Khong Khong Jie menjadi musuh besar keluarganya - Keluarga Touw - sekarang dia hendak pergi kepada musuh itu untuk minta pulang anaknya! Ia merasa malu dan likat, sedang juga, hatinya diliputi kedukaan dan kemarahan besar. Kui Ciang dapat mengerti pikiran sang isteri, di tengah jalan ia sudah mengasih penjelasan dan hiburan, belum dapat ia membikin lega hati isterinya itu.

Demikian mereka membuat perjalanan, sampai mereka tiba di gunung Giok Sie San. Gunung itu tinggi dan penuh salju, yang tak putusnya, hingga dipandang dari jauh, puncaknya yang putih mirip sebuah tiang kemala yang menjulang menembusi mega. Pula jalanan mendaki gunung sukar sekali, banyak batunya yang besar dan luar biasa bentuknya.

Dari mulut gunung terlihat sebuah selat dan lembah yang panjang, tak nampak ujungnya. Penglihatan selat itu menyeramkan.

"Engko," kata Sian Nio, yang timbul kecurigaannya. "Kalau Khong Khong Jie mengandung maksud buruk, dan dengan jalan ini dia menjebak kita ke dalam perangkapnya, pasti kita bisa celaka tanpa ada yang ketahui...!"

"Kau terlalu bercuriga, adikku," kata Kui Ciang, menghibur. "Khong Khong Jie terlebih liehay daripada kita, jikalau benar dia berniat membikin kita mati, buat apa dia memilih jalan ini?"

"Tapi," kata si isteri, yang kecurigaannya tak mudah lenyap, "Tapi ingat gunung Giok Sie San ini terpisah jauh delapan ratus lie dari gunung Hui Houw San, kenapa dia bukan ambil tempat yang dekat hanya memilih tempat jauh ini guna menyembunyikan anak kita?"

Pertanyaan ini benar dan Kui Ciang juga tak mengerti, akan tetapi guna membujuki isterinya, ia menjawab, "Mungkin dia mau pertontonkan ilmu ringan tubuhnya, supaya dia dapat menaklukkan kita..."

Khong Khong Jie itu, habis menculik anaknya Kui Ciang, lantas di hari keduanya, lewat tengah hari, berangkat ke Hui Houw San dimana cfia mengajukan tantangannya. Maka itu, kalau benar dia telah pergi ke Giok Sie San, hingga dia mesti melakukan perjalanan pergi pulang demikian cepat, sungguh ilmu ringan tubuhnya luar biasa sekali. Touw Sian Nio menggeleng kepala.

"Aku tidak percaya dia di dalam tempo satu malam dan satu hari dapat melakukan perjalanan seribu lie lebih!"  katanya. "Aku lebih percaya kalau dia cuma memancing kita datang ke mari!"

"Kalau tidak demikian, mungkin gunung inilah rumahnya," Kui Ciang membujuk pula. "Boleh jadi sekali dia tidak percaya Ong Pek Thong maka dia kirim orangnya membawa anak kita pulang ke rumahnya ini, untuk disembunyikan di sini."

"Begitulah kau percaya Khong Khong Jie?" sang isteri tanya. "Kita   sudah   sampai   di   sini,   kita   percaya   atau   tidak

kesudahannya   sama   saja!"   kata   sang   suami.   "Apa daya

sekarang? Aku percaya kita dapat naik ke atas puncak dalam tempo setengah harian. Mari kita naik terus, sampai di atas baru kita lihat, nanti kita mandapat tahu segala apa!"

"Sebenarnya aku tidak tahu Giok Sie San begini jauh," kata Sian Nio ragu-ragu, "Maka juga selama di sepanjang jalan, makin lama kecurigaanku makin besar. Aku lihat, pastilah perjalanan kita ini perjalanan sia-sia belaka. Taruh kata benar Khong Khong Jie tidak berniat mencelakai kita, sedikitnya dia pasti sengaja hendak mempermainkannya!"

"Adik Sian," kata sang suami, sabar, "Aku minta janganlah kau pandang segala urusan dari sudut buruknya..."

Belum berhenti kata-kata Kui Ciang atau mereka segera mendengar suara yang menggelegar keras, hingga mereka terkejut dan lantas mengangkat kepala, melihat ke atas. Untuk kagetnya mereka, mereka mendapatkan sebuah batu besar lagi menggelinding turun ke arah mereka. Dengan lantas mereka lompat berkelit.

Mulanya tayhiap itu sangka itu hanya batu yang menggelinding secara kebetulan saja, tak tahunya, habis itu, lantas terdengar suara lainnya, lantas mereka melihat jatuhnya beberapa batu lain saling susul!

"Ada orang di atas!" Sian Nio berseru.

Benarlah Nyonya Toan ini. Ketika beberapa buah batu itu jatuh terus tanpa meminta korban, di atas gunung terlihat munculnya beberapa orang.

"Telur tolol!" berteriak seorang diantaranya. "Siapa suruh kamu datang sendiri masuk dalam jaring perangkap? Kamu sudah memasuki tempat kematian, apakah kamu masih memikir buart hidup lebih lama pula?"

Toan Kui Ciang jadi sangat gusar, maka ia lantas berteriak, "Khong Khong Jie! Aku menganggap kaulah seorang laki-laki sejati, tak tahunya kau begini hina dina! Marilah kau perlihatkan dirimu!"

Dari atas itu terdengar ejekan, "Untuk membereskan kamu dua butir telur apa kami membutuhkan bantuan Khong Khong Jie?"

Kata-kata itu diiring dengan tertawa dingin.

Kui Ciang menduga orang ialah orang suruhannya Khong Khong Jie, maka dalam murkanya ia tertawa dingin dan kata, "Sungguh tidak tahu malu yang kamu menggunai ini cara sangat rendah! Apa perlunya kau menyembunyikan diri?"

Sian Nio sangat mendongkol. "Buat apa melayani segala manusia hina itu?" kata dia. "Mari kita menghajarnya!"

Lantas sang nyonya ini menggunai biang panahnya, untuk menyerang dengan pelurunya!

Rombongan itu berada di atas gunung yang tinggi, maka itu, peluru panahnya Sian Nio mesti menyerang jauh sekali. Sebaliknya mereka itu dari tempat terlebih tinggi, leluasa menyerang dengan butir-butir batunya, yang turunnya gencar.

Sian Nio gusar sekali, ia berlompat. Akan tetapi ia segera ditarik Kui Ciang, suaminya. Ketika itu sebuah batu besar jatuh secara hebat, hampir mengenai nyonya itu. Ketika jatuh di kobakan dengan suara sangat berisik, lumpur pun muncrat berhamburan, hingga suami isteri itu tak luput.

"Sungguh berbahaya!" kata Sian Nio, yang mengeluarkan keringat dingin.

"Aku yang menyebabkan kesulitan kau ini..." kata Kui Ciang, menyesal. "Inilah lantaran aku terlalu percaya orang!" Sian Nio menggertak gigi.

"Sudah kepalang, mari kita maju terus!" kata isteri yang setia itu. "Tak perduli kita menghadapi bahaya!"

Kui Ciang mengiringi isterinya itu, maka dengan tak menghiraukan serangan batu, mereka maju bersama.

Di tanjakan gunung, tumpukan salju terkena getaran, selagi angin keras sekali, getaran membuatnya pecah melekah, lalu jatuh runtuh, meluruk merupakan kepingan-kepingan es yang besar. Hebatnya itu tak kalah dengan jatuhnya butiran-butiran batu.

Kui Ciang mendapat beberapa luka lecet karena ia selalu melindungi isterinya. Syukur itu tidak membahayakan. Terpaksa ia ajak isterinya itu bersembunyi di tempat yang gerohong. Ini berbahaya. Musuh melihatnya dan mengincar dengan timpukan batu ke arah mereka. Beberapa buah batu hampir mengenai. Mereka menjadi letih, karena beberapa batu, yang menimpa ke arah mereka, mesti disampok mental.

"Syukur belum gempa salju..." kata Kui Ciang, "Hanya..." Ia berhenti sebentar, ia mendongkol sekali. "Sungguh menyebalkan! Apakah benar kita mesti membuang jiwa di sini?"

Memang, kalau sampai gempa salju, pasti akan jatuh meluruk ke bawah, salju tentu akan mengurung segala gerohong atau tempat rendah. Dengan begitu, mana dapat mereka melawan salju?

Touw Sian Nio tertawa meringis, katanya, "Kita sudah menjadi suami isteri sepuluh tahun, kalau aku dapat mati bersama-sama berbareng di dalam satu hari, satu bulan dan satu tahun, akan aku mati tanpa penasaran...!"

Selagi berlindung itu, Kui Ciang mendapatkan serangan batu mulai tak gencar lagi.

"Kelihatannya kita belum boleh putus asa," kata ia. "Mari kita keluar, untuk melihat. Tak dapat kita manda binasa tanpa berdaya..."

Baru saja suami isteri ini keluar dari tempatnya berlindung, telinga mereka lantas mendapat dengar suara hirup pikuk di atas gunung, Mereka lantas dongak, hingga mereka melihat orang seorang perempuan tengah menyerang kalang kabutan pada musuh. Segera mereka memburu najk.

"Nona Hee di sana?" Kui Ciang berteriak menanya.

"Toan Peehu di sana?" ada jawaban wanita di atas itu. "Lekas naik, marilah kita menyerang musuh!" Kui Ciang menjadi bersemangat. "Mari!" ia mengajak isterinya.

Hee Leng Song melihat suami isteri itu bagaikan terkurung, ia lantas mendaki dari lain arah, ia tiba di atas tanpa rintangan, maka itu dapat ia lantas menyerang musuh, hingga mereka itu tak dapat terus menghujani Kui Ciang berdua dengan batu. Itulah yang membikin hujan batu berkurang.

Sian Nio mendaki cepat, begitu berada di atas, dengan pelurunya ia menyerang seorang musuh di depan Leng Song. Tak ampun lagi, musuh itu terhajar jitu dan roboh. Membarengi itu. Nona Hee menikam terguling satu musuh lainnya. Dengan naiknya Nyonya Toan, musuh menjadi terkepung dari dua jurusan. Kui Ciang pun sudah lantas menyusul isterinya.

Seorang kepala bandit lantas berteriak-teriak dengan kata- kata rahasianya, mengisyaratkan ada bahaya.

Sian Nio menyerang terus, hingga lagi beberapa penjahat pecah kepalanya.

Menampak demikian, Kui Ciang teriaki isterinya, "Hajar saja jalan darah tiauw-hoan! Kita membutuhkan mulut yang hidup!"

Dengan tiga butir pelurunya, Sian Nio mengincar tiga kepala penjahat. Dengan beruntun semua pelurunya itu meluncur ke arah sasarannya masing-masing.

Seorang penjahat melihat bahaya, ia bisa menolong dirinya dengan jalan menangkis, tetapi dua kawannya, yang di kiri dan kanannya, menjadi kurban. Yang satu terhajar lengannya, yang lain kakinya, tepat jalan darah tian-hoan di pahanya menjadi sasaran, tanpa ampun dia roboh seketika.

Si kepala penjahat cerdik, ia lantas menendang kawannya yang terluka itu hingga terguling ke bawah, ia sendiri menyusul dengan menjatuhkan diri, buat bergelindingan turun. Ia menjadi nekad hingga ia tak menghiraukan bahaya lagi.

Contoh kepala penjahat itu contoh bagus, ia lantas ditelad oleh kawanan berandal, semua lantas lari ke pinggiran, untuk pada menjatuhkan diri, hingga Leng Song tak dapat mengejar pada mereka itu.

Baru saja musuh kabur, atau Kui Ciang berteriak, "Celaka!

Salju gempal!"

Inilah sebab ia merasa kakinya bergerak tidak keruannya, yang mana disusul dengan suatu bunyi dahsyat. Tapi sambil berteriak itu, ia lompat ke atas, untuk lari naik.

Sian Nio sudah lantas berlari naik juga.

Dafi atas salju meluruk ke bawah. Itulah hebat yang kawanan penjahat, yang tak keburu menyingkir lebih jauh. Maka mereka itu, satu demi satu, kena teruruk, hingga terdengar saja jeritan menyayati hati dari mereka.

"Sayang, sayang..." kata Kui Ciang, yang hatinya pun terharu, sebab tak tega ia mendengar jeritan itu, walau pun itulah jeritan musuh. "Sayang apa?" tanya Sian Nio heran.

"Sayang tak ada musuh yang kena ditangkap hidup supaya kita bisa mengorek keterangan dari mulutnya," sahut sang suami.

"Tak usah ditanya lagi, mereka pasti kambratnya Khong Khong Jie!" kata sang isteri. "Engko, apakah sampai di saat ini kau tetap mempercayai dia?"

Kui Ciang berdiam. Ia terus ragu-ragu. Katanya di dalam hati, "Mereka ini termasuk golongan kelas dua atau kelas tiga. Mustahil Khong Khong Jie malu turun tangan sendiri, untuk mencelakai aku, mestinya ia pakai tenaga orang yang liehay! Kenapa ia pakai sebangsa mereka ini yang tidak punya guna?.Hanya, kalau mereka bukan suruhan Khong Khong Jie, kenapa mereka ketahui aku beramai mau mendaki gunung Giok Sie San?"

Ketika itu Leng Song datang menghampirkan. Nona itu menyelamatkan diri dengan menyingkir di lain tempat.

Sian Nio telah mendengar dari suaminya hal Nona Hee, ia tahu orang menjadi puterinya Pek-ma Lie-hiap Leng Soat Bwe, maka ia menjadi kagum, dalam hatinya ia memuji, "Sungguh seorang nona cantik! Toako kata dia mirip ibunya, tak heran dulu hari ibunya membikin dunia Kang Ouw menjadi tergila- gila!"

"Eh, Leng Song!" Kui Ciang menegur. "Bagaimana kebetulan, kau pun datang ke sini? Sungguh berbahaya! Syukur ada kau!"

"Toan Peehu, kau telah terpedayakan Khong Khong Jie!" kata Nona Hee. "Khong Khong Jie bersama ayah dan anak Keluarga Ong itu sudah berkongkol, mereka sudah bersepakat untuk membantu An Lok San yang lagi siap sedia untuk berontak.

Kui Ciang terkejut. "Benarkan itu?" dia tanya.

"Tak salah lagi, peehu!" sahut si nona. "Aku telah mendengar dan melihatnya sendiri! Bahkan mereka itu sudah mulai melaksanakannya!"

Leng Song lantas memberikan penuturan perihal peristiwa di lembah Liong Bin Kok, bagaimana mulanya ia mendengar pembicaraan orang lalu besoknya ia turut di dalam pertempuran di dalam lembah itu. "Aku kuatir mereka di sini nanti mencelakai kau, peehu, maka aku lekas-lekas menyusul kemari," si nona menambahkan.

"Nah, apa kataku?" kata Sian Nio pada suaminya. "Kau tetap masih percaya Khong Khong Jie?"

Kui Ciang berdiam. Nyatanya di dalam urusan ini terselip suatu kekeliruan.

Ketika malam itu Leng Song mendapat dengar pembicaraan di Liong Bin Kok, yang dengan Ong Pek Thong ayah dan anak bukan Khong Khong Jie hanya Ceng Ceng Jie. Di situ hadir Thio Tiong Cie dan lainnya. Benar An Lok San minta bantuan mereka.

Waktu itu si nona tidak mendengar perkataannya Ong Pek Thong bahwa untuk sementara Pek Thong mau sembunyikan urusan dari Khong Khong Jie. Si nona mau percaya saja Ceng Ceng Jie dan Khong Khong Jie, yang menjadi suheng dan sutee, kakak beradik seperguruan, sama kelakuannya.

Pula habis bertempur di Liong Bin Kok itu ia sudah tergesa- gesa berangkat menyusul Toan Kui Ciang, ia menjadi tidak berkesempatan mendengar omongan Han Tam untuk disampaikan pada Khong Khong Jie itu.

Leng Song kuatir Kui Ciang nanti mendapat susah di Giok Sie San ini disebabkan ia bercuriga terhadap sikapnya Ong Liong Kek. Ialah Ong Liong Kek sudah tidak mau memberitahukan ia kemana arah tujuan kepergiannya Kui Ciang, bahkan Liong Kek sengaja mendustakan ia bahwa mungkin Kui Ciang berangkat ke Tiang-an, hingga ia mesti melakukan perjalanan jauh secara sia-sia.

Kuda putihnya sudah kabur tiga ratus lie lebih tetapi di jalan ke Tiang-an itu ia tak lihat paman she Toan itu, karena mana, ia lekas kembali ke Liong Bin Kok, sampai besokannya di waktu pertempuran, ia mendengar dari Tiat Mo Lek halnya Kui Ciang telah pergi mencari Khong Khong Jie

Ia masih menegasi Ong Liong Kek, masih anaknya Ong Pek Thong itu tak mau omong secara terus terang, hingga ia menjadi masgul berbareng mendongkol. Nona Hee tak tahu persekutuannya Pek Thong ayah dan anak. Mereka itu melakukan segala apa diluar tahunya Khong Khong Jie.

Pek Thong dan anaknya ketahui baik sekali Toan Kui Ciang menjadi menantu Keluarga Touw, mereka kuatir dibelakang hari Kui Ciang nanti mencari balas untuk keluarga mertuanya itu, akan tetapi di muka Khong Khong Jie, mereka terpaksa membiarkan Kui Ciang dan Sian Nio berlalu dengan merdeka.

Baru kemudian, seberlalunya Khong Khong Jie, mereka lantas bekerja. Mereka menulis surat dan mengirimnya dengan perantaraan burung dara, memberitahukan cabang di Liang-ciu, supaya orangnya mengatur "tentara sembunyi" di dekat Giok Sie San, guna merintangi dan membinasakan Kui Ciang sami dan isteri itu.

Di antara Leng Song dan Liong Kek ada perkenalan yang  erat sekali, karena itu, waktu si nona ketahui jelas perihal Ong Liong Kek, ia berdua, cuma kepada Kui Ciang ia tak mau menyebut-nyebut namanya pemuda she ong itu.

Kui Ciang menjadi bersangsi. Telah cukup kesaksian hal perbuatannya Khong Khong Jie. Isterinya menyangsikan dan Leng Song memberikan kesaksiannya.

Nona Hee tak dapat diragu-ragukan. Toh ia heran. Bukankah Khong Khong Jie gagah perkasa? Kenapa sekarang Khong Khong Jie bersikap rendah, untuk menghadapi ia dan isterinya, dia main gila seperti itu? Wajah Sian Nio menjadi guram. Ia berkuatir dan berduka. "Kelihatannya anak kita terancam bahaya..." berkata ia.

"Khong Khong Jie telah sengaja memperdaya kita, mana mungkin dia sudi membayar pulang anak kita itu?"

Kui Ciang pun berkuatir dan bingung, akan tetapi dia dapat mengambil keputusan.

"Sekarang ini baik kita cari Khong Khong Jie dulu!" katanya. "Kita nanti bicara dengannya!"

"Memang tidak bisa lain," kata Sian Nio. "Jikalau aku tidak dapat pulang anakku, aku tidak mau hidup pula, hendak aku mengadu jiwa dengannya!"

Leng Song pun setuju buat mencari Khong Khong Jie, maka ia suka mengikuti. Dengan Kui Ciang jalan di muka, bertiga mereka mendaki gunung, untuk memanjat puncak Giok Sie San. Mereka tidak menghadapi rintangan apa-apa. Ketika matahari mulai doyong ke barat, mereka telah mencapai puncak tertinggi.

Luar biasa puncak gunung itu. Di situ kedapatan pohon- pohon bunga dan rumpun rumput. Di situ ada burung-burung dan binatang kaki empat. Di situ pun terdapat beberapa  sumber air hangat, hingga hawanya menjadi lebih hangat daripada di bawah gunung.

Yang paling dulu terlihat Kui Ciang ialah sebuah rumah suci kaum tosu atau imam. Dengan lantas pada hatinya timbul pengharapan. Lekas ia menghampirkan kelenteng itu dan mengetuk pintu.

Ia pun berkata nyaring, "Aku si orang she Toan memenuhkan janji datang kemari! Aku mohon tuan rumah suka keluar menemui aku!" Ketukan pintu itu, kata-kata itu, tak memperoleh jawaban. Tempo Kui Ciang mengulanginya, tetapi tidak ada suara apa- apa dari dalam kelenteng.

Sian Nio tidak sesabar suaminya. Maka dia kata sambil tertawa dingin, "Dia telah melakukan kesalahan, mana dia berani menemui kita? Sampai waktu ini, buat apa kita masih berlaku sungkan terhadapnya? Terjang saja pintunya!"

Kui Ciang merangkap kedua tangannya, untuk memberi hormat ke arah pintu.

"Khong Khong Jie!" katanya, nyaring. "Jikalau kau tetap tidak mau keluar, aku minta janganlah kau sesalkan aku si orang she Toan berlaku tidak hormat padamu!"

Benar-benar tidak ada penyahutan, pintu tak terbuka dari dalam. Maka itu, tanpa berayal lagi, Kui Ciang menyerang dengan kepalan Kim Kong Ciang!

Dengan bersuara nyaring dan berisik, kedua daun pintu menjeblak terbuka.

Touw Sian Nio sudah lantas bersiap dengan panah pelurunya, sedang Leng Song menghunus pedangnya. Kui Ciang bertindak masuk dengan diiring isterinya dan nona itu.

Tiba di dalam, mereka bertiga mendapatkan kelenteng kosong.

"Mungkinkah dia jeri dan kabur?" tanya Leng Song, ragu- ragu.

Kelenteng itu tidak besar, di dalam tempo singkat, Kui Ciang bertiga dapat menggeledah seluruhnya. Di dalam kamar yang terakhir, Sian

Nio menemukan sebuah ayunan kosong serta beberapa helai pakaian wanita. Mendadak dia menangis dan berkata, "Anak kita telah dicelakai...!" Kui Ciang berlaku tenang.

Buat apakah dia mencelakai seorang bayi?" katanya, tetapi suaranya dalam. "Memang benar anak kita pernah berada di sini. Itulah bukti bahwa dia tidak bicara dusta..."

Tapi Sian Nio gusar.

"Anak kita tidak ada, Khong Khong Jie tidak ada juga!" katanya nyaring. "Taruh kata anak kita benar tidak dibinasakan, tetapi sudah pasti dia telah menyembunyikannya pula di lain tempat! Engko, dia menghendaki jiwa kita, kenapa kau masih bicara begini tentang dia?"

Sudah sepuluh tahun suami isteri ini menikah dan hidup bersama rukun dan damai, saling menyinta dan saling menghormati. Inilah pertama kali Sian Nio bicara keras demikian rupa terhadap suaminya itu.

Kui Ciang tidak menjadi kurang senang atau gusar. Ia sabar sekali. Ia dapat memahami hati isterinya itu.

"Aku memikir dari sudut lain," kata ia tenang. "Jikalau benar- benar Khong Khong Jie tidak membayar pulang anak kita, pasti aku mengadu jiwaku dengannya!"

Habis berkata suami ini mengawasi sekitarnya.

"Kelihatannya ada seorang wanita yang mengurus anak kita," katanya kemudian. "Seprai di dalam ayunan ini masih basah bekas air kencing, rupanya belum lama orang berlalu dari sini. Sekarang cuma belum dapat diketahui wanita itu pernah apa dengan Khong Khong Jie."

"Percuma kau memikirkan ini!" kata Sian Nio, yang hatinya cemas. "Paling benar kita cari Khong Khong Jie si manusia rendah itu, baru kita akan mendapat kepastian!" Baru Nyonya Toan berhenti bicara, atau dari luar mereka bertiga mendengar ini suara nyaring, "Benar-benar Toan Tayhiap seorang yang dapat dipercaya! Aku minta dimaafkan yang aku telah melanggar janji!"

Kui Ciang lantas berseru, "Itulah Khong Khong Jie!"

Tanpa menanti lagi, Sian Nio sudah lantas lompat, untuk terus lari keluar. Kui Ciang dan Leng Song segera menyusul.

Di luar tampak Khong Khong Jie seorang diri dan kedua tangannya kosong. Tidak ada bayinya di tangannya itu.

Bukan main gusarnya Sian Nio.

"Bagus ya!" teriaknya. "Sudah kau menipu kami datang ke gunung ini, sekarang kau sembunyikan juga anak kami!"

Dalam murkanya, Nyonya Toan segera menyerang dengan tiga butir pelurunya.

Khong Khong Jie berlaku celi dan gesit, dengan lincah ia berkelit dari tiga peluru maut itu.

"Sabar, sabar!" katanya. "Tahan! Mari kita bicara dulu!" Kui Ciang menyandak.

"Adik Sian Nio, sabar!" kata suami itu. "Mari kita dengar dulu apa katanya!"

Khong Khong Jie lantas berkata, "Untuk sementara belum dapat aku membayar pulang anak kamu! Aku minta kamu jangan kuatir apa-apa, kamu boleh tetapkan hati kamu! Anak kamu itu selamat tidak kurang suatu apa, dan aku jamin keselamatannya!"

"Kenapa kau tidak dapat segera membayar pulang?" Kui Ciang tanya. Khong Khong Jie nampak jengah. "Sebab... sebab..." katanya sukar.

"Sebab apa?" bentak Sian Nio. "Jikalau hari ini kau tidak membayar pulang anakku, pasti aku tidak mau mengerti!"

Khong Khong Jie mengulapkan kedua tangannya. "Pendeknya, aku jamin!" katanya. "Pasti aku nanti membayar

pulang anakmu! Hanya sekarang, aku tidak berdaya!" "Nanti? Nanti kapan?" tanya Kui Ciang.

"Itu... itu..." kata Khong Khong Jie, ragu-ragu, "Itu tak dapat aku pastikan..."

"Kau bersangsi!" bentak Kui Ciang. "Kau bersangsi apakah?

Sebenarnya, ada apakah sebabnya?"

"Toan Tayhiap, kali ini aku menyesal terhadapmu!" kata Khong Khong Jie. "Aku harap kau jangan menanyakan terlebih jauh! Jikalau kau percaya aku, mari kita mengikat tali persahabatan. Aku bilang, anakmu berada di tangannya satu orang, hal itu ada baiknya, tidak ada jahatnya!"

Sian Nio menjadi sangat gusar.

"Siapa kesudian percaya lagi obrolan setanmu!" dia membentak. "Oh, manusia hina dina yang tak tahu malu! Kebetulan kami tidak mampus tercelakakan olehmu, daripada nanti kami dibikin celaka lebih jauh dengan perbuatanmu yang sangat rendah, baik sekarang saja kami serahkan jiwa kami kepadamu!"

Khong Khong Jie gusar bukan kepalang. Dialah seorang kosen yang angkuh, yang kepalanya besar. Seumurnya dia belum pernah terhinakan orang. Maka tubuhnya menjadi bergemetaran. "Hai, perempuan busuk, mengapa kau berani lancang mendamprat aku?" dia berteriak.

Kui Ciang pun telah timbul amarahnya, maka itu, melihat orang berani menghina isterinya, ia lantas menghunus pedangnya.

"Kenapa jikalau kami mencacimu?" ia tanya. "Bukankah kau pantas dicaci maki?"

Khong Khong Jie gusar hingga dia berkaokan.

"Bagus, Toan Kui Ciang, bagus!" teriaknya. "Kau pun mencaci aku! Kenapa aku pantas dicaci?"

"Aku mendamprat karena kau tak tahu benar tak tahu salah!" sahut Kui Ciang. "Karena kaulah si manusia jahat yang membantu Kaisar Tiu melakukan kejahatan! Aku mencaci kau karena kau berbuat jahat, kau toh menyangkal! Kaulah satu manusia rendah! Kaulah si bangsat cilik sangat hina dina dan sangat tak tahu malu!"

Wajahnya Khong Khong Jie menjadi merah padam.

"Toan Kui Ciang, kau mesti berlutut padaku dan mengangguk-angguk meminta ampun!" dia berteriak. "Kalau tidak, jangan kau harap kau nanti dapat turun dari gunung ini!"

Kui Ciang tertawa dingin.

"Sekalipun kau menekuk lutut dan manggut padaku berulang-ulang, aku juga tidak akan mengasih ampun padamu!" Kui Ciang membaliki. "Tidak salah, dalam ilmu silat kau jauh terlebih liehay daripada aku, akan tetapi satu laki-laki, mati tinggal mati, untuknya tak ada yang ditakuti! Meski aku terbinasa di tanganmu, hendak aku mencaci terus padamu!"

"Baik!" Khong Khong Jie berteriak. "Karena kau menganggap aku satu manusia jahat, jangan kau sesalkan aku yang aku tidak menaruh belas kasihan lagi! Hayo, kau makilah pula padaku!"

Mendadak tubuh jago ini mencelat dan sebelah tangannya meluncur ke muka orang.

Hebat serangan itu. Akan tetapi Toan Kui Ciang sudah siap sedia, la lantas saja berkelit. Karena pedangnya sudah dihunus, ia juga lantas balas menyerang, bahkan terus sampai tiga kali beruntun tefhpo tabasannya yang pertama gagal begitu pun yang kedua kali.

Touw Sian Nio juga tidak diam saja. Ia lompat maju dengan bacokannya.

Liehay Khong Khong Jie. Ia lolos dari serangan berulang- ulang dari Kui Ciang, ia bebas dari bacokan Sian Nio, ketika ia berkelit seraya terus menyambar ke arah Kui Ciang, meskipun tayhiap itu berkelit, tak urung punggungnya kena terserempet tangan terbuka hingga dia merasakan sangat panas dan nyeri.

Sebenarnya Khong Khong Jie mau menghajar muka. Syukur Kui Ciang lolos, kalau tidak, dia pasti malu bukan main.

Dalam murkanya Kui Ciang serukan isterinya, "Adik Sian, kau benar! Untuk melayani ini bangsat sangat jahat, kita cuma harus mengadu jiwa!"

Ketika itu Khong Khong Jie telah lompat mencelat, ia hendak membalas menyerang. Karena berlompat itu, ia menjadi turun dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Sementara itu tangannya sudah menghunus pisau belatinya yang tajam luar biasa.

Tanpa menanti menginjak tanah, ia menangkis senjatanya suami isteri itu. Ia mengeluarkan kepandaiannya, karena niatnya menghajar terlepas pedang dan goloknya kedua lawan itu. Kui Ciang sudah merantau semenjak dia masih muda sekali, sudah sering dia melakukan pertempuran, dari itu, benar dia kalah gagah dari Khong Khong Jie akan tetapi dia menang pengalaman, maka juga, melihat orang mencelat tinggi, dia sudah lantas dapat maksudnya lawan itu. Dia lantas menggeraki pedangnya dalam satu gertakan, lantas dia membarengi golok isterinya.

Satu bentrokan tak dapat dielakkan. Itulah beradunya pisau belati dengan golok si nyonya. Bentrokan itu dibarengi dengan suara robek!

Kui Ciang dan isterinya mundur masing-masing tiga tindak. Sian Nio terkejut. Goloknya, golok bian-to yang sangat tajam, telah "terlukakan" pedang lawannya.

Sebaliknya, Khong Khorig Jie turun di tanah dengan kaget dan mendongkol. Ujung bajunya telah kena ditublas pedang Kui Ciang. Syukur ia masih sempat berkelit, kalau tidak, tangannyalah yang bakal terluka.

Jurus ini menyebabkan kedua pihak meluap kemurkaannya. Maka ketika mereka merapat pula, mereka mengeluarkan kepandaiannya masing-masing. Khong Khong Jie gusar sebab merasa terhina, suami isteri itu nekad karena hendak membelai anak mereka. Maka pertempuran ini jauh lebih dahsyat daripada pertempuran mereka di gunung Hui Houw San.

Kui Ciang bertempur mati-matian, pedangnya senantiasa mengeluarkan suara angin keras. Sian Nio dengan ilmu golok Pat-kwa-to mencoba mengurung lawannya yang tangguh itu, selalu ia mencari sasaran yang berbahaya.

Sejak kegagalan di Hui Houw San, suami isteri ini telah berunding dan memikirkan semacam ilmu silat gabungan pedang dan golok yang diperuntukkan melawan Khong Khong Jie, sekarang tiba saatnya untuk mencoba itu. Benar-benar mereka memperoleh kemajuan.

Tengah ia bertempur hebat itu, Khong Khong Jie terdengar menghela napas dan berkata masgul, "Kamu suami isteri sangat mendesak padaku, aku tidak bisa berbuat lain, terpaksa aku mesti mengorbankan jiwaku untuk melayani kamu..."

Kalau tadi dia gusar, sekarang Khong Khong Jie berduka.

Toan Kui Ciang dapat mendengar kata-kata orang itu. "Mustahilkah benar-benar Khong Khong Jie ada kesulitannya

yang dia tak dapat beritahukan pada lain orang?"

Justeru ia berpikir itu, justeru ia melihat perubahan silat si lawan.

Pisau belati Khong Khong Jie lantas berputaran, menyamber ke timur dan ke barat, ke selatan dan ke utara, bergeraknya sangat cepat, hingga sinar pisaunya berkilauan, hingga ia nampak berada di pelbagai penjuru.

Menampak demikian, Kui Ciang terkejut. Terpaksa dari menyerang ia mengambil siasat membela diri. Ini membuatnya terdesak. Maka lekas juga terdengar pula suara bentrokan senjata, kali ini pisau belati melawan pedang, bahkan beruntun- runtun sampai sembilan kali!

Mulanya tidak ada niat Khong Khong Jie memusuhkan Kui Ciang, walaupun ia dikepung hebat, meski juga ia murka sekali. Ia cuma memikir mengalahkan mereka itu. Siapa tahu setelah bertempur itu, Kui

Ciang berdua menjadi nekad. Sebab suami'.isteri ini menganggap ia benar-benar manusia busuk.

Didalam keadaan seperti itu, ia mesti membela dirinya, atau ia bakal celaka. Maka tak ayal lagi, ia mengeluarkan kepandaiannya. Itulah semacam tipu silat terdiri dari sembilan jurus berantai, yang dapat menyusun serangan beruntun sembilan kali.

Khong Khong Jie masih merasa sayang, maka juga tadi ia telah mengasih dengar helaan napas serta suara penyesalan itu.

Ketika Toan Kui Ciang melayani Ceng Ceng Jie, Ceng Ceng Jie pernah menggunai semacam ilmunya Khong Khong Jie ini. Tatkala itu ia dapat bertahan. Sekarang lain, kendati ilmu silatnya serupa. Itulah sebab Khong Khong Jie beda daripada Ceng Ceng Jie.

Ceng Ceng Jie baru dapat melakukan tingkatan ketujuh. Khong Khong Jie pula menang berlipat ganda ilmu ringan rubuhnya daripada Ceng Ceng Jie, sang sutee, maka dia dapat bergerak cepat luar biasa.

Begitulah, meski Kui Ciang berkelahi dibantu isterinya, ia segera terdesak, ia menjadi repot membela diri. Sian Nio juga turut terdesak musuh yang tangguh itu.

Leng Song menonton saja sekian lama itu, setelah melihat suasana, ia maju seraya menyerukan Sian Nio, "Bibi Toan, silahkan mundur! Kau gunai saja pelurumu menghajarnya!"

Dengan memutar pedangnya, ia maju terus, guna menggantikan Nyonya Toan Kui Ciang itu.

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 11"

Post a Comment

close