-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 03

Jilid 03

“Tetapi hati-hati. Ia benar-benar seorang yang memiliki akal yang cerah. Ketika

orang-orang pamanmu siap untuk membalas dendam dan bersiap-siap di dalam hutan sebelah Tanah Perdikan ini, ternyata bahwa Wiradana dan para pengawal Tanah Perdikan inilah yang telah memasuki barak dari para pengikut pamanmu. Bukan sebaliknya, sehingga orang-orang yang mendendam itu justru telah dihancurkan sama sekali,” berkata yang laki-laki.

Perempuan itu mencibirkan bibirnya. Katanya, “Aku tidak akan membawa seorang pun untuk membantuku. Aku sanggup melakukannya sendiri. Setelah selapan.”

“Jangan berkata begitu,” jawab yang laki-laki. “Kita akan merencanakan usaha ini sebaik-baiknya. Biarlah Wiradana menikmati hari-hari perkawinannya. Tetapi jika selapan telah lewat, maka kita akan bertindak.”

“Aku akan menunggu sampai selapan,” geram perempuan itu. “Baiklah. Marilah kita menyingkir,” ajak yang laki-laki.

Tetapi perempuan itu menjawab, “Tunggu. Aku masih ingin melihat wajahnya.” “Apakah kau tidak akan dapat mengenalnya?” bertanya yang laki-laki.

“Bukan tidak mengenalnya. Aku akan selalu mengingat wajah itu. Justru karena laki-laki itu terlalu tampan. He, aku berkata dengan jujur. Adakah laki-laki

diantara kita yang setampan anak muda itu? Beruntunglah perempuan yang menjadi istrinya. Tetapi kasihan. Selapan hari lagi, ia akan menjadi janda,” sahut

perempuan itu.

Laki-laki yang berdiri disampingnya mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian bergumam, “Kau jangan terpancang kepada ketampanan wajah laki-laki muda itu. Kau harus membunuhnya. Ia sudah membunuh semua kemungkinan dan harapan kita bagi masa depan. Ayahnya telah membunuh pamanmu.”

“Jangan cemas. Laki-laki itu akan menjadi mayat sesudah selapan hari. Aku tidak sampai hati merampas kebahagiaan istrinya itu sebelum ia menikmati perkawinannya,” jawab perempuan itu. “Karena itu, aku memberinya waktu.” “Terserah kepadamu. Tetapi laki-laki itu harus mati karena kesalahan ayahnya.

Bahkan jika mungkin ayahnya pun harus mati,” geram laki-laki yang berdiri disebelah perempuan itu.

“Kau hanya mengucapkannya. Tetapi aku yang akan melakukannya harus memperhitungkan semua kemungkinan yang dapat terjadi atas usaha ini,” jawab perempuan itu.

“Termasuk wajahnya yang tampan?” sahut laki-laki itu. Perempuan itu tersenyum. Katanya, “Jangan cemas.”

Demikianlah, maka kedua orang itu pun kemudian pergi meninggalkan tempat keramaian itu. Mereka menyelusuri lorong-lorong di dalam lingkungan padukuhan induk. Namun sikap mereka sama sekali tidak mencurigakan sehingga mereka kemudian hilang dari kesibukan Tanah Perdikan Sembojan.

Di tengah-tengah pategalan yang sepi, keduanya telah menyembunyikan dua ekor kuda. Demikian mereka mengambil kuda-kuda mereka, maka sejenak kemudian kuda-kuda itu pun telah berpacu menjauh dari Tanah Perdikan Sembojan.

“Aku harus memancingnya untuk dapat berhadapan dengan seorang dengan seorang,” berkata perempuan itu. “Aku tidak dapat membunuhnya di antara pengawalnya.” “Aku jadi curiga,” berkata laki-laki itu, “Jika kau bertemu dengan laki-laki

muda itu seorang dengan seorang maka yang terjadi akan lain.”

Perempuan itu tertawa. Katanya, “Nalarmu memang sangat picik. Kau tahu siapa aku he? Atau barangkali aku harus membunuhmu lebih dahulu?”

“Aku hanya ingin mengingatkanmu. Aku tidak bermaksud apa-apa,” jawab laki-laki itu.

Perempuan itu masih tertawa. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Selapan hari adalah batas yang pantas yang aku berikan bagi kesenangan perempuan yang menjadi isterinya itu.”

Laki-laki itu yang menyertainya itu tidak menjawab. Kuda itu berlari terus dalam gelapnya malam. Mereka memilih jalan-jalan yang tidak memasuki padukuhan, agar mereka tidak bertemu dengan orang-orang yang sedang bersuka ria, namun juga para pengawal yang berada di gardu-gardu.

Dengan demikian, maka keduanya itu pun telah berhasil keluar dari Tanah Perdikan Sembojan tanpa rintangan apapun juga, sementara itu, keramian di Sembojan pun berlangsung dengan aman dan tidak mengalami gangguan apapun juga.

Yang paling bergembira dalam upacara itu adalah justru Ki Gede Sembojan.

Demikian upacara perkawinan selesai dan para tamu serta rakyat Sembojan yang berkumpul di halaman mulai meninggalkan tempat keramaian, maka seakan-akan tidak lagi dapat menahan diri, Ki Gede telah menemui anak laki-lakinya beserta

istrinya.

Dengan lancar Ki Gede berkata, “Anak-anakku. Rasa-rasanya tugasku benar-benar telah selesai. Aku sudah mengantarkan kalian sampai ke batas. Karena itu, maka sudah sewajarnya, jika aku menyingkir dari segala kehadiranku. Bahkan seandainya maut pun datang menjemput, aku sama sekali sudah tidak menyesal.”

“Ah, jangan berkata begitu,” jawab Wiradana.

“Aku berkata sebenarnya. Aku berkata dari dasar hati,” berkata ayahnya pula. Lalu, “Karena itu, dalam waktu dekat, aku ingin menyerahkan semua hak dan kewajibanku kepadamu, Wiradana. Bersiaplah untuk menerimanya. Aku percaya kepadamu, bahwa kau akan dapat melakukannya. Kau mempunyai ketangkasan untuk bertindak, sementara istrimu akan dapat membantumu. Ia memiliki pengetahuan yang dapat dipelajarinya dari kitab-kitab yang dibacanya. Jika kau tidak sempat

membaca kitab-kitab itu, maka biarlah istrimu melakukannya. Dalam tembang, maka isi kitab itu akan dapat semakin merasuk ke tulang sungsum.”

Wiradana tidak menjawab. Ia tidak mengerti, perasaan apakah yang sebenarnya sedang bergejolak. Apakah sebenarnya ia menjadi senang atas sikap ayahnya, atau sebaliknya. Tetapi rasa-rasanya memang ada satu keinginan untuk mencoba mengendalikan pemerintahan di Tanah Perdikan itu sepenuhnya.

Ternyata bahwa yang dikatakan oleh Ki Gede itu bukan sekadar terloncat saja dari sela-sela bibirnya. Di hari berikutnya, setelah hari perkawinan anaknya, ia

sudah mulai merencanakan satu upacara penyerahan segala hak dan kewajibannya sebagai Kepala Tanah Perdikan kepada anak laki-lakinya. Apalagi Ki Gede merasa bahwa tubuhnya telah menjadi cacat, sehingga tidak mungkin baginya untuk dapat melakukan tugas sebaik-baiknya seandainya ia berusaha bertahan untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan.

Karena itulah, maka di hari-hari berikutnya, Ki Gede sering memanggil

orang-orang tua dan para bebahu Tanah Perdikan Sembojan untuk membicarakan persoalan yang direncanakannya, menyerahkan segala hak dan kewajibannya kepada anak laki-lakinya yang sudah melaksanakan salah satu kewajiban hidupnya, kawin. Bagaimanapun juga, hari perkawinan itu mempunyai pengaruh juga atas Wiradana dan Iswari. Karena keduanya sebelumnya belum pernah tertarik kepada orang-orang

lain, maka kehadiran mereka sebagai suami istri itu pun akhirnya telah menempatkan mereka ke dalam satu kenyataan, bahwa keduanya memang sepasang suami

istri. Karena itulah, maka atas landasan kenyataan itu, maka mereka pun berusaha untuk dapat berbuat sebaik-baiknya sebagai dua orang yang telah terikat dalam perkawinan.

Dalam pada itu, di luar penglihatan siapapun juga, bahkan Ki Badra, Gandar merasa bahwa hidupnya telah menjadi terkoyak.

Dalam sekali dipusat jantungnya, tersimpan secercah harapan di dalam hidupnya atas seorang gadis yang tinggal bersamanya di dalam padepokan yang terpencil. Tetapi Gandar merasa dirinya terlalu kecil.

Ia merasa dirinya bukan apa-apa sehingga karena itu, maka yang tersimpan di dalam hatinya akan tetap tersimpan.

Ketika ia melihat Iswari duduk bersanding dengan anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka hatinya terasa meronta. Tetapi dengan nalarnya ia berusaha untuk mengendalikannya.

"Apa yang dapat aku lakukan?" dengan pertanyaan itu, maka Gandar hanya dapat menatap gemerlapnya bintang-bintang di langit pada malam hari.

Betapa ia berusaha untuk menahan gejolak hatinya, ketika Ki Badra kemudian memanggilnya dan bertanya kepadanya, "Bagaimana menurut pendapatmu, setelah dilangsungkannya perkawinan itu?"

Gandar berusaha untuk tersenyum. Tanpa menghiraukan pedih dihatinya ia berkata, "Nampaknya keduanya berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan itu. Kiai, aku yakin, bahwa perkawinan itu akan dapat memberikan kebahagiaan bagi Iswari dan Wiradana."

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Mudah-mudahan. Yang dapat kita lakukan kemudian adalah berdoa, agar keduanya mendapat terang dihati dalam ikatan perkawinan mereka."

Gandar mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia bergumam, "Hari depan mereka akan

menjadi cerah," Lalu katanya pula, "Bukankah Ki Gede sudah bersiap-siap untuk menyerahkan segala hak dan kewajibannya sebagai Kepala Tanah Perdikan kepada Wiradana."

"Itulah yang aku cemaskan," sahut Kiai Badra. "Menurut pengamatanku, Wiradana masih terlalu muda. Mungkin karena Ki Gede merasa dirinya menjadi cacat, maka ia tergesa-gesa melakukan penyerahan itu. Namun sebelumnya, seandainya Ki Gede masih tidak berkeberatan memimpin Tanah Perdikan ini ia masih akan dapat melakukan tugasnya dengan baik. Hal-hal yang menyangkut kegiatan di medan, biarlah dilakukan oleh Wiradana dengan petunjuk-petunjuknya. Ki Gede masih mempunyai kekuasaan untuk mengatur. Jika ada salah langkah dari Wiradana, Ki Gede masih mempunyai wewenang untuk meluruskannya."

"Bukankah Wiradana juga sudah masak untuk menerima tugas itu?" bertanya Gandar. Kiai Badra mengangguk-angguk. Jawabnya, "Mungkin sekali. Tetapi mungkin pula karena umurnya yang masih muda, maka ada hal-hal yang kadang-kadang terasa kurang mapan. Mudah-mudahan sejalan dengan meningkatnya umur Wiradana, maka ia

akan menemukan keserasian sikap di dalam hidupnya."

"Kiai tidak perlu mencemaskannya," sahut Gandar, "Bukankah hal itu akan terjadi dengan sendirinya." Kiai Badra tidak menjawab. Tetapi masih nampak sesuatu yang buram pada sorot matanya.

Sementara itu, diluar Tanah Perdikan Sembojan di dalam sebuah rumah besar dan berhalaman luas, nampaknya memiliki perabotan terpilih dan mahal, beberapa orang sedang berkumpul.

Mereka dengan sungguh-sungguh sedang berbincang-bincang tentang seseorang yang bernama Wiradana, anak Kepala Perdikan Sembojan yang baru saja melangsungkan hari perkawinannya.

“Kau terlalu berbaik hati Warsi,” berkata seorang laki-laki yang berambut putih, “Kenapa kau menunggu selapan?”

Perempuan yang dipanggil Warsi itu tertawa. Katanya, “Ayah yang sama sekali tidak berperikemanusiaan. Selapan hari itu pun sebenarnya terlalu pendek bagi sepasang pangantin baru.”

“Ayah Wiradana itu sama sekali tidak memikirkan apapun juga pada saat ia membunuh pamanmu. Ki Gede Sembojan sama sekali tidak menaruh belas kasihan kepada bibimu yang baru beberapa hari dikawininya. Ki Gede juga tidak menghiraukan bayi yang baru saja dilahirkan oleh bibimu yang satu lagi,” berkata orang tua itu.

Tetapi Warsi tertawa berkepanjangan. Katanya, “Itu salah paman sendiri. Ia baru beberapa hari kawin dengan bibi yang ke sembilan pada saat bibi yang keeman melahirkan. Sementara itu, paman masih juga berkeliaran di Tanah Perdikan Sembojan, sementara anaknya yang baru lahir sebenarnya memerlukan kehadirannya. Selebihnya Ki Gede Sembojan itu tidak mengetahuinya.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Jadi kau tetap pada kebaikan hatimu untuk memberi kesempatan perkawinan itu berlangsung sampai selapan?”

“Biarlah. Sementara itu, aku akan sempat menyelidiki kemungkinan yang paling baik untuk memancing Wiradana keluar dari kubunya dan berhadapan dengan aku sendiri. Aku akan menunjukkan cara yang paling jantan untuk membunuhnya, sebagaimana ayahnya membunuh paman Kalamerta,” berkata Warsi. Orang itu itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Siapa di antara orang-orang ini yang akan ikut bersamamu ke Sembojan?”

“Aku merencanakan untuk pergi sendiri agar tidak terlalu banyak menarik perhatian. Aku akan leluasa berada di Sembojan. Ada beberapa pasar yang cukup besar di Sembojan. Dan mungkin aku akan dapat berkeliling padukuhan dan keluar masuk halaman dengan caraku,” berkata perempuan itu.

“Cara apa yang akan kau pakai?” bertanya ayahnya.

“Aku dapat menjadi seorang penjual apa saja? Atau mungkin dapat menjadi penebas melinjo. Aku akan membeli melinjo yang masih ada di batangnya atau macam-macam buah yang lain. Atau cara lain yang lebih baik,” berkata Warsi.

“Terserah kepadamu. Tetapi tugas itu akan dapat kau lakukan semakin cepat semakin baik,” berkata ayahnya.

Namun tiba-tiba saja Warsi tersenyum. Katanya, “Ada cara yang paling menarik. Justru dengan menarik perhatian sebanyak-banyaknya. Tetapi rasa-rasanya malu juga melakukannya. Beberapa hari aku pikirkan. Namun akhirnya aku segan melakukannya.”

“Cara yang mana?” bertanya ayahnya.

“Dengan ngamen berkeliling Tanah Perdikan Sembojan. Aku menjadi penari, dan beberapa orang menjadi pemukul gamelan,” berkata Warsi. Namun segera dilanjutkan, “Tetapi aku tidak ingin mempergunakan cara ini.”

Sesaat pertemuan itu menjadi hening. Namun tiba-tiba ayahnya berkata, “Aku rasa justru cara itulah yang paling baik. Warsi, dengan berkeliling Tanah Perdikan Sembojan sebagai pembeli dan mungkin membeli mlinjo di pohonnya akan mudah menarik perhatian. Mereka kadang-kadang akan bertanya, kau datang dari mana? Kau akan sulit untuk menjawabnya, apalagi kau hanya sendiri. Tetapi dengan ngamen seperti itu, kau dapat menjawab tempat yang jauh, yang tidak dikenal oleh

orang-orang Sembojan.”

Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku malu juga. Meskipun aku dapat juga menarik, tetapi ditoton dan dikerumuni oleh banyak orang dengan cara yang kasar rasa-rasanya merinding juga. Apalagi dengan kebiasaan anak-anak muda yang ugal-ugalan.”

“Tetapi bukankah itu hanya satu cara? Jika kau sempat menarik perhatian keluarga Ki Gede, maka kau tentu akan dapat menyelidiki kehidupan Wiradana. Bukan hanya

kau sendiri, tetapi para penabuh gamelan yang mengikutimu akan dapat membantumu tanpa menarik perhatian sebagaimana jika kau pergunakan cara lain,” berkata ayahnya.

Bahkan seorang yang pernah mengikuti Warsi menyusup ke halaman rumah Ki Gede pada saat Wiradana kawin berkata, “Aku condong untuk menempuh cara lain. Cara yang paling akhir.”

Ternyata beberapa orang justru menganjurkan agar Warsi mempergunakan cara yang paling akhir. Dengan cara itu, mereka akan dapat berada di Tanah Perdikan Sembojan untuk waktu yang terhitung lama. Mereka akan dapat mohon untuk bermalam

di banjar barang tiga atau empat hari. Sementara itu, Warsi akan dapat mempergunakan waktunya yang tersisa, setelah ngamen, untuk mencari cara jantan seperti yang di inginkannya, karena Warsi tidak mau membunuh Wiradana dengan cara yang licik.

“Aku akan menunjukkan bahwa darah keluarga Kalamerta bukan pengecut. Dan aku ingin melihat, bagaimana Wirada itu mati dalam ketakutan dan dalam kekecewaan, bahwa yang membunuhnya adalah seorang perempuan,” berkata Warsi berkali-kali apabila ia mengatakan bagaimana ia akan membunuh Wiradana.

Namun dalam pada itu, agaknya beberapa orang telah menganjurkan Warsi untuk berangkat ke Sembojan dalam sebuah rombongan yang cukup. Lima orang akan mengiringinya sebagai penabuh dan ia sendiri akan menjadi ledeknya.

Atas desakan-desakan itu, akhirnya Warsi pun menerima cara yang sebenarnya tidak disukainya. Tetapi ia masih juga berkata, “Tetapi jika pada satu saat aku

memukul laki-laki yang kasar hingga pingsan, jangan menyalahkan aku.”

“Kau dapat menjaga perasaanmu. Biarlah orang lain melakukannya, sehingga sikapmu tidak akan mengundang pertanyaan,” berkata ayahnya.

“Jadi diperlukan seseorang yang akan dapat menakuti penonton?” bertanya Warsi. “Ya. Tetapi jangan memancing persoalan, sehingga orang diseluruh padukuhan akan mengeroyok kalian,” berkata ayahnya pula.

Warsi tersenyum. Namun kemudian katanya, “Jika kalian memang sependapat, baiklah aku berusaha untuk menyesuaikan diri. Dalam satu dua hari, aku akan memperbaiki caraku menari, sementara itu dapat dipersiapkan seperangkat gamelan untuk kepentingan itu.

“Jangan cemas,” jawab orang yang pernah menyertainya ke Tanah Perdikan Sembojan, “Aku akan menjadi tukang gendangnya. Kelompok kita akan menjadi kelompok yang serasi. Selain tukang gendang aku juga mampu menakut-nakuti orang.” Demikianlah, maka mereka pun sepakat untuk melakukan cara itu. Warsi pun telah berusaha untuk memperbaiki tata gerak tarinya dan mencoba meningkatkan kemampuannya melontarkan tembang, sementara sekelompok kecil laki-laki telah berlatih menjadi pemukul gamelan yang akan mengiringi Warsi ngamen di daerah Tanah Perdikan Sembojan.

Menjelang selapan hari dari hari perkawinan Wiradana, maka sekelompok kecil

orang-orang yang menyimpan dendam di dalam hatinya, telah mulai melakukan tugas mereka. Agar tidak menarik perhatian orang-orang yang pernah mengenali mereka dalam hidup mereka sehari-hari, maka mereka meninggalkan padukuhan mereka di malam hari, pada saat orang-orang tidur lelap.

Namun, demikian mereka sampai ke daerah yang tidak mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari, maka mereka pun mulai melakukan sebagaimana mereka rencanakan.

Bahkan sebelum mereka memasuki Tanah Perdikan Sembojan, mereka sudah ngamen, justru untuk menghindari pertanyaan tentang gamelan yang mereka bawa.

Ternyata bahwa usaha mereka cukup berhasil. Bukan saja kelompok kecil itu tidak dicurigai oleh orang-orang di padukuhan yang mereka lalui, tetapi mereka

benar-benar telah mendapat uang.

Sebenarnyalah Warsi adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Dengan bekal kemampuannya menari, senyumnya dan tingkah lakunya, maka Warsi benar-benar telah menarik perhatian setiap laki-laki yang melihatnya.

Karena itulah, maka rombongan penari yang ngamen itu pun telah mendapat tanggapan yang sangat hangat dari orang-orang di padukuhan-padukuhan yang dilaluinya. Selain Warsi memang seorang yang cantik dengan kepandaiannya ternyata cukup baik sebagai seorang yang sedang ngamen.

Tetapi dengan demikian, perjalanan mereka ke Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin lambat. Mereka tidak dapat menolak, jika seseorang memanggilnya dan meminta rombongan itu bermain di halaman rumahnya. Bahkan kadang-kadang Warsi harus bermain di sudut-sudut padukuhan untuk memenuhi keinginan beberapa orang untuk menarik janggrung yang agak kasar.

Namun Warsi tidak ingin kelompok kecil itu dicurigai, sehingga karena itu, maka permintaan itu pun harus dipenuhinya.

Ngamen itu sendiri ternyata telah membawa pengalaman tersendiri bagi Warsi. Di beberapa tempat ia sempat melihat, beberapa orang laki-laki yang kasar justru telah saling berkelahi karena mereka ingin dan berebut dahulu untuk menari bersama Warsi. Mereka semula hanya saling dorong dan saling berebut sampur. Namun akhirnya mereka telah benar-benar berkelahi.

Karena itulah, maka beberapa orang perempuan di padukuhan-padukuhan menjadi prihatin. Apalagi yang suaminya telah menjadi tergila-gila tledek yang ngamen di padukuhan itu.

Tetapi ada satu hal yang membuat perempuan-perempuan itu berbesar hati. Warsi menolak setiap usaha untuk memperkenalkan diri melampaui batas-batas antara penonton, sejauh-jauhnya menari bersama dengan mereka apabila mereka ngibing dalam tarian janggrung.

Dengan demikian, maka perjalanan kelompok kecil itu menjadi lebih lambat dari yang mereka perhitungkan. Baru beberapa hari kemudian mereka mendekati Tanah Perdikan Sembojan, dan kemudian memasukinya.

“Jangan melakukan tari yang kasar,” berkata salah seorang penabuh, “Kita harus menghindari permainan janggrung. Karena jika terjadi keributan seperti yang pernah kita alami, beberapa orang laki-laki saling berkelahi, maka kita akan dapat diusir dari Tanah Perdikan yang tertib ini.”

Warsi mengangguk-angguk. Ia pun sependapat, bahwa di Tanah Perdikan Sembojan ia akan menari lebih sopan dan baik daripada sepanjang perjalanan yang telah ditempuhnya. Sebenarnyalah, pengalaman di sepanjang jalan itu memberikan kegembiraan tersendiri kepada Warsi. Meskipun ia sendiri tidak menunjukkan,

bahwa jika ia sedikit saja melepaskan ilmunya maka laki-laki kasar yang saling berkelahi itu akan menjadi pingsan karenanya. Dengan demikian Warsi telah berhasil mengekang dirinya dan benar-benar berperan sebagai seorang tledek yang cantik dan menarik.

Demikianlah, rombongan kecil penari dan pengiringnya itu telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Sebelum kelompok itu, memang pernah datang kelompok- kelompok

seperti itu. Namun kelompok-kelompok pengamen itu memang agak kurang mendapat perhatian di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ketika untuk pertama kalinya Warsi kebar di sudut sebuah padukuhan, maka tanggapan para penontonnya agak lain. Penari yang satu ini menari dengan cara yang jauh lebih baik dari penari-penari yang pernah mereka lihat. Dengan luruh Warsi membawakan tari-tariannya dalam irama yang lambat. Sama sekali bukan sebuah tarian yang dapat menarik penontonnya untuk memasuki arena dalam irama yang panas dan bahkan kadang-kadang membakar.

Karena itulah, maka rombongan kecil yang membawa hanya seorang penari itu tidak terlalu banyak mengundang persoalan. Mereka yang telah menyaksikan Warsi menari menganggap bahwa penari yang satu ini adalah seorang penari yang baik. Bukan

saja tingkah lakunya, tetapi juga tariannya. Sehingga dengan demikian, kelompok kecil itu tidak menumbuhkan satu keinginan dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan untuk menolaknya.

“Agaknya kelompok ini berbeda dengan kelompok-kelompok lain yang pernah lewat di Tanah Perdikan ini,” berkata salah seorang yang telah menonton rombongan Warsi yang kebar di sudut padukuhan.

“Ya,” jawab yang lain, “Nampaknya mereka benar-benar sekadar mencari makan tanpa niat buruk seperti rombongan-rombongan lain yang dapat merusak rumah tangga.” Tanggapan yang baik itu ternyata memang sangat menguntungkan bagi Warsi. Ketika ia kemudian kebar lagi di tempat lain, maka ia pun telah mendapat tanggapan yang sama. Warsi menari dengan sikap yang sopan dan baik. Bahkan seakan-akan ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya yang selalu tunduk. Tari-tariannya pun

tidak pernah diiringi dengan gending-gending panas sebagaimana kebanyakan rombongan tledek yang lain.

Karena itulah, maka ketika pengendangnya, yang menjadi pemimpin dari rombongan itu mohon kepada seorang bekel di sebuah padukuhan dalam daerah kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan untuk bermalam di Banjar, maka atas pertimbangan beberapa orang bebahu padukuhan itu, maka bekel itu pun sama sekali tidak berkeberatan.

Kepada bekel itu, pengendang yang menjadi pemimpin rombongan itu pun mengaku, bahwa Warsi adalah anak gadisnya. Mereka melakukan ngamen itu justru karena terpaksa sekali.

“Daerah kami telah dilanda kekeringan. Musim kemarau yang terlalu panjang menimbulkan paceklik yang sulit diatasi. Karena itu maka untuk menyambung hidup kami, kami telah melakukan cara yang barangkali tidak terhormat ini,” berkata pengendang itu kepada Ki Bekel.

“Terhormat atau tidak, tergantung kepada kalian sendiri. Jika kalian benar-benar sekadar menyambung hidup, tanpa menimbulkan persoalan di tempat-tempat kalian mencari nafkah, maka aku kira yang kalian lakukan itu masih cukup terhormat,” jawab Ki Bekel. “Ya Ki Bekel. Kami memang berusaha untuk tidak menimbulkan persoalan. Karena itu, kami berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Kami benar-benar sekadar mencari penyambung hidup kami yang sulit,” berkata tukang kendang yang menjadi pemimpin rombongan tledek itu.

Demikianlah, ternyata rombongan Warsi itu dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Sembojan. Mereka sama sekali tidak menaruh keberatan. Bahkan beberapa orang yang mendengar alasan kedatangan mereka menjadi belas kasihan. “Kasihan sekali gadis yang cantik itu,” berkata seseorang, “Ia sama sekali tidak pantas menjadi tledek. Seharusnya ia menjadi istri seorang bekel atau seorang

demang. Nampaknya ia masih malu ditonton orang. Namun agaknya desakan paceklik yang tidak teratasi telah memaksanya untuk memenuhi perintah orang tuanya.” “Ketika ia mulai belajar menari, mungkin sama sekali tidak terbayang di

angan-angannya, bahwa pada suatu ketika ia akan menjadi seorang tledek,” berkata yang lain.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun justru dengan demikian rencana Warsi dapat berjalan dengan rancak tanpa hambatan. Ia sudah diterima dengan baik di

Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tinggal berusaha untuk dapat memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan.

Usaha itu bukankah usaha yang sulit. Ketika semuanya sudah direncanakan dengan masak, maka pada suatu hari, rombongan kecil itu telah meninggalkan banjar dan berangkat menuju ke padukuhan induk. Agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, maka Warsi menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan pada sore hari.

Ketika matahari mulai terbenam di ujung Barat, Warsi mulai kebar di sudut padukuhan induk. Suara gamelannya telah mengumandang, memanggil para penghuni padukuhan. Sebagian besar dari mereka telah pernah mendengar, bahwa ada

sekelompok orang ngamen yang memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi kelompok ini adalah kelompok yang manis. Tidak menunjukkan tari-tarian yang panas dan

kasar, yang dapat menumbuhkan persoalan bagi keluarga yang kurang teguh imannya. Sehingga dengan demikian maka rombongan ini benar-benar hanya satu jenis tontonan yang menyenangkan.

Sejenak kemudian, maka sudut padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah penuh dengan orang-orang yang ingin menonton. Di bawah lampu minyak yang terang, mereka menyaksikan seorang gadis cantik yang menari dengan gerak yang gemulai sambil menundukkan kepalanya. Seolah-olah gadis itu sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya memandang orang-orang yang berkerumun menyaksikan dan

mengaguminya.

“Gadis itu cantik sekali,” desis seorang anak muda.

“Sayang sekali, bahwa ia terperosok ke dalam satu kehidupan yang memelas,” sahut kawannya.

“Tetapi bukankah itu lebih baik baginya daripada ia menempuh cara hidup yang sesat dengan memanfaatkan kecantikannya dan kepandaiannya menari? Perempuan lain

mungkin akan berbuat jauh lebih dalam dari yang dilakukan. Perempuan lain akan menari sambil menengadahkan wajahnya. Memandang setiap laki-laki dengan kerling mata yang memukau. Namun yang kemudian memaksa laki-laki melemparkan uang seberapa saja yang ada di dalam sakunya. Bahkan mungkin akan dapat dilakukan

satu pelanggaran yang lebih jauh dan gawat, sehingga seseorang akan dapat

menjual rumah, halaman, kerbau dan sapinya bahkan sawah dan ladangnya,” berkata anak muda yang pertama.

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi sambil tersenyum ia berkata, “He, agaknya kau sudah tertarik kepada kecantikan gadis itu.”

“Aku memang menganggapnya seorang gadis yang sangat cantik. Nampaknya kelakuannya tidak tercela. Aku berkata dengan jujur,” jawab yang pertama. Lalu, “Aku kasihan kepadanya. Justru karena paceklik yang ganas, ia harus menjalani hidup seperti itu. Menjadi tontonan dan tidak mustahil ada saja laki-laki yang mengganggunya.”

“Pengiringnya tentu akan melindunginya,” sahut kawannya.

Anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara itu mereka pun telah terpukau oleh gerak Warsi yang diiringi oleh irama gamelan yang ngerangin meskipun dengan gamelan yang sederhana. Irama yang lembut dan wajah yang tunduk memang dapat menyentuh perasaan para penontonnya. Sehingga ketika salah seorang pengiringnya mengedarkan tambir untuk mendapat sumbangan dari para penontonnya, maka beberapa

orang dengan tidak segan-segan telah melemparkan uang yang mereka bawa ke dalam tambir itu.

Malam itu adalah malam yang pertama Warsi menginjakkan kakinya sebagai seorang penari di padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Malam itu Warsi masih belum menerima permintaan khusus untuk menari di halaman seseorang. Malam itu Warsi masih menari dalam rangka memperkenalkan diri dan dengan rendah hati seorang pengiringnya mengedarkan tambir untuk menerima kemurahan hati para penontonnya.

Dengan perkenalannya malam itu. Ternyata Warsi berhasil menarik perhatian beberapa orang. Ada beberapa alasan dari mereka yang di hari-hari berikutnya memanggilnya untuk menari di halaman dengan imbalan tertentu. Ada yang karena belas kasihan, tetapi ada juga yang ingin menatap kecantikannya.

Bahkan dengan kecerdikan yang terselubung, pengendangnya berhasil memohon untuk dapat tinggal di banjar padukuhan induk barang dua tiga hari.

Ketika permohonan itu disampaikan kepada Wiradana maka Wiradana masih belum banyak memperhatikan kehadiran sekelompok orang-orang ngamen di Tanah Perdikannya. Ia hanya menanyakan kepada beberapa orang pembantunya apakah permohonan itu sebaiknya dikabulkan atau tidak.

“Kelompok ini agaknya kelompok yang baik,” jawab salah seorang pembantunya. “Tidak ada kesan yang dapat menumbuhkan ketidaksenangan seseorang kepada kelompok ini. Bahkan dapat memancing belas kasihan beberapa orang yang menyaksikannya dan mendengar kisah, kenapa seorang gadis yang cantik harus ikut dalam kelompok ngamen seperti itu.”

“Jika kalian tidak berkeberatan, maka terserah sajalah,” jawab Wiradana. “Aku sendiri belum pernah melihat tontonan itu.”

“Setiap sore, sebelum berangkat berkeliling, rombongan itu lebih dahulu telah kebar di halaman banjar meskipun tidak terlalu lama,” jawab pembantunya.

Wiradana hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia memang belum menyempatkan diri untuk melihat pertunjukan yang menarik itu.

Namun dalam pada itu, Wiradana masih terhitung pengantin baru itu telah kembali ke dalam tugas-tugasnya. Kadang-kadang ia berada di padukuhan-padukuhan sampai larut malam.

Tetapi pada satu saat, terbersit pula keinginannya untuk melihat tontonan yang menjadi bahan pembicaraan banyak orang itu. Apalagi kadang-kadang ia juga

mendengar suara gamelan yang dihanyutkan angin menyentuh daun telinganya. Namun rasa-rasanya ia masih belum mempunyai waktu.

Adalah satu kebetulan, bahwa ketika Wiradana berada di satu padukuhan yang sedang menyelesaikan perbaikan bendungan dan dengan sengaja mengundang rombongan kecil itu sebagai pelepas lelah dimalam hari, maka Wiradana menyaksikan tontonan itu di tepian, di atas pasir di bawah bendungan.

Ketika terpandang olehnya wajah gadis penari yang cantik itu, maka rasa-rasanya jantungnya berdenyut semakin cepat. Namun dengan segera ia berusaha untuk mengendalikan diri. Bahkan di dalam hatinya ia berkata, “Aku sudah seorang pengantin baru.”

Namun demikian, kesempatan Wiradana menyaksikan tontonan itu di tepian, telah membawa akibat yang berkepanjangan. Penglihatannya yang sekilas itu telah membawanya untuk menyaksikan penari itu pada kesempatan berikutnya.

Meskipun Wiradana tetap pada kesadarannya, bahwa ia baru saja menginjak masa perkawinan, namun gadis penari itu memang seorang gadis yang cantik di matanya. Dalam pada itu, Warsi pun sadar sepenuhnya, bahwa ia sudah berhasil menarik perhatian Wiradana. Anak Ki Gede Sembojan yang telah membunuh pamannya. Ia pun selalu ingat, bahwa setelah selapan ia harus memancing Wiradana itu untuk dapat bertemu seorang diri. Atau ia dengan sengaja menyelidiki, pada saat-saat yang manakah Wiradana mengunjungi padukuhan-padukuhan atau kebiasaan-kebiasaan yang

lain yang dapat memberinya kesempatan untuk bertemu seorang dengan seorang.

“Aku harus membalaskan dendam seluruh keluarga Kalamerta. Menurut pengamatanku, laki-laki ini masih belum mampu menguasai ilmunya dengan sempurna,” berkata

Warsi di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Warsi pun berusaha untuk mendapatkan kesempatan- kesempatan

berikutnya, agar Wiradana memperhatikannya.

Hampir tidak terduga oleh Warsi sendiri, ketika pada satu sore, sebelum rombongan itu kebar di halaman banjar tiba-tiba saja Wiradana sudah ada di banjar itu. Bahkan Wiradana telah menyempatkan diri untuk bertemu dengan rombongan yang sudah berhias dan siap untuk mulai dengan kebarnya di halaman. Dalam pada itu, sebenarnyalah Warsi seorang gadis yang sangat cantik. Dalam jarak yang lebih dekat, Wiradana sempat melihat kecantikan Warsi yang wajahnya

selalu menundukkan seakan-akan ia tidak mempunyai keberanian untuk bertatap muka dengan Wiradana.

Namun dalam pada itu, setiap kali Warsi pun telah mencuri pandang. Selagi Wiradana berbincang dengan anggota rombongan kecil itu, sekali-kali Warsi sempat memandang wajah anak muda itu.

Tidak ada yang memperhatikan kerut wajah Warsi yang sudah berhias, sehingga nampaknya ia semakin cantik. Tidak ada pula yang melihat apa yang sebenarnya tersirat di hati perempuan itu.

Demikianlah, Wiradana sempat berbincang-bincang beberapa lamanya dengan rombongan kecil itu. Juga dengan Warsi sendiri.

“Silakan,” berkata Wiradana kemudian, “Kami menerima kalian dengan senang hati. Terbukti hampir setiap malam kalian mendapat panggilan di beberapa rumah di berbagai padukuhan dalam kepentingan yang berbeda. Ada yang hanya sekadar ingin bersenang-senang. Tetapi ada yang justru untuk menutup satu kerja yang cukup melelahkan. Tetapi pada dasarnya kami tidak berkeberatan atas kehadiran kalian disini.”

Demikianlah, ketika Wiradana meninggalkan banjar sebelum kebar, pengendang yang menjadi pemimpin rombongan itu berdesis ditelinga Warsi,

“Dua hari lagi, pengantin itu akan mengadakan upacara selamatan. Memang tidak terbiasa untuk mengadakan upacara di selapan hari yang biasanya dilakukan untuk pengantin hari kelahiran. Tetapi agaknya ada juga orang-orang terpandang yang melakukan upacara untuk memperingati hari perkawinan. Dan setelah itu, maka kau akan dapat segera menyelesaikan tugasmu. Isteri Wiradana akan segera menjadi janda.”

WARSI mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita harus tahu, kapan Wiradana berada di luar padukuhan induk seorang diri.”

“Menilik cara hidupnya, maka kesempatan banyak kau peroleh. Ia sering berada di padukuhan-padukuhan di luar padukuhan induk dan kembali seorang diri justru pada malam hari. Sebagaimana diceriterakan oleh para pengawal Tanah Perdikan ini,” berkata salah seorang pengiringnya.

“Kita harus meyakinkannya,” jawab Warsi. “Mulai nanti malam, aku akan menyelidikinya.”

“Tidak sekadar menyelidiki,” berkata pengiringnya. “Jika kesempatan itu ada, kau langsung dapat bertindak.”

“Bukankah masih belum selapan?” bertanya Warsi.

“Jangan terikat dengan selapan. Selapan hanyalah ancar-ancar waktu yang akan kau berikan kepada istri Wiradana. Kurang satu atau dua hari sama sekali bukan soal,” berkata pengendangnya. Tetapi Warsi mengerutkan keningnya. Dengan sungguh-sungguh ia menjawab, “Yang akan membunuhnya aku atau kau?”

Para pengiringnya telah mengenal sifat Warsi dengan baik. Karena itu, maka mereka tidak menyahut lagi. Segalanya memang terserah kepada Warsi.

Demikianlah seperti yang dikatakan. Lewat tengah malam, jika orang-orang Sembojan telah tidur lelap, Warsi telah keluar dari banjar tanpa diketahui oleh para

peronda. Menurut pengetahuan para peronda, orang-orang dalam rombongan tledek itu telah tertidur kelelahan. Mereka kembali dari ngamen beberapa saat sebelum tengah malam. Sehingga ketika tidak ada lagi suara bercakap-cakap di antara mereka, maka para peronda pun menyangka bahwa mereka telah tertidur nyenyak.

Namun dalam pada itu, Warsi dalam keadaan yang khusus telah berada disekitar rumah Ki Gede. Beberapa orang peronda masih berjaga-jaga di regol halaman.

Agaknya Sembojan masih belum melupakan kemungkinan hadirnya kembali orang- orang yang semula menjadi pengikut Kalamerta dan yang telah dihancurkan oleh Wiradana.

Sementara itu, ternyata bahwa Wiradana memang sering berada di antara para peronda. Bahkan ketika Warsi telah melakukan pengamatan itu barang tiga hari, maka ia pun mengetahui bahwa Wiradana sering keluar dari halaman rumahnya melihat-lihat gardu-gardu peronda yang lain seorang diri.

Dengan demikian, maka Warsi pun melihat satu kemungkinkan untuk memancingnya keluar padukuhan dan menantangnya perang tanding untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan mati terbunuh. Tetapi Warsi yakin, bahwa ia akan dapat memenangkan perang tanding itu. Menurut penglihatannya Wiradana memang bukan orang yang memiliki ilmu seperti ayahnya.

Namun sejauh itu, ia masih belum berbuat sesuatu.

“Warsi,” berkata pengendangnya, “Kemarin waktu yang selapan itu telah datang. Hari ini kita sudah berada di luar batas waktu yang kau berikan. Karena itu,

agar kita tidak terlalu lama berada disini, maka kau akan dapat bertindak secepatnya.”

Warsi mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Kita salah memilih waktu. Tetapi sulit bagi kita untuk merubahnya. Jika kita tetap berkeliling disiang hari, maka kita mempunyai banyak kesempatan. Benar seperti yang kita dengar, bahwa Wiradana sering berada di padukuhan-padukuhan kecil dan kembali ke padukuhan induk di malam hari. Tetapi pada saat itu, aku masih harus menari. Ia kembali ke padukuhan induk tidak lebih dari saat sirep bocah. Sementara itu, pertunjukan masih dalam suasana yang paling mantap untuk satu pertunjukan.”

“Jadi, bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya tukang gendangnya. “AKU sudah menyelidikinya. Aku yakin, bahwa pada suatu saat aku akan dapat

memancingnya keluar,” jawab Warsi. “Memang pada saat sirep bocah ia kembali dari padukuhan-padukuhan lain meskipun ternyata tidak setiap hari menurut keterangan yang aku dengar dan barangkali juga kalian dengar dari peronda-peronda itu.

Tetapi biasanya ditengah malam Wiradana juga keluar rumahnya dan melihat gardu-gardu di padukuhan induk ini.”

“Nah, bukankah kau mempunyai kesempatan juga?” bertanya salah seorang pengikutnya.

“Jangan dungu. Aku tentu akan dapat melakukannya di padukuhan induk ini. Tetapi aku harus memancingnya keluar, agar tidak ada yang ikut campur, apalagi para pengawal,” jawab Warsi.

“Segalanya terserah kepadamu. Yang penting, Wiradana sukur Ki Gede dapat kau bunuh,” berkata pengendangnya.

“Kau hanya tahu hasilnya. Tetapi kau tidak mau tahu kesulitan-kesulitan yang dapat timbul,” geram Warsi.

Para pengiringnya tidak menyahut lagi. Mereka tidak banyak dapat berbuat. Karena itu, segalanya memang terserah kepada Warsi.

Namun, ketika mereka telah berada lebih dari sepuluh hari di tempat itu Warsi masih belum berbuat apa-apa. Pengendangnya dengan cemas berkata, “Warsi.

Bagaimana pun juga ramah tamahnya orang-orang Perdikan ini terhadap kita, namun ternyata kita sudah terlalu lama berada disini. Semua padukuhan di Tanah

Perdikan ini sudah kita jelajahi. Dan akhirnya kita pun harus dapat mengambil kesimpulan, bahwa pertunjukan kita sudah mulai terasa jenuh bagi orang-orang Tanah Perdikan ini.”

“Lalu apa yang kau maksud?” bertanya Warsi.

“Terserahlah menurut pertimbanganmu,” sahut tukang gendang itu.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Besok segala-galanya akan berakhir.”

Pengendangnya mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Sukurlah jika kau sudah mengambil satu ketetapan. Dengan demikian maka kita akan segera dapat kembali ke dalam lingkungan kita sendiri. Meskipun disini diterima dengan baik dan ramah, namun agaknya memang lebih senang hidup di lingkungan keluarga sendiri.”

“Kita sedang menjalankan satu kewajiban,” berkata Warsi. “Bahkan kita akan mendapat hasil ganda. Kita akan dapat membunuh Wiradana, meskipun barangkali tidak dapat aku lakukan atas ayahnya, dan kita mendapat banyak uang.”

“Apa artinya uang itu?” jawab tukang genangnya. “Dengan memasuki rumah seorang saudagar kaya maka aku akan mendapatkan lebih banyak dari jumlah yang dapat kita kumpulkan selama tiga ngamen.”

“Tetapi nilainya berbeda,” jawab Warsi. “Uang yang kita dapatkan dengan kerja

itu rasa-rasanya memang memberikan kenikmatan tersendiri kepada kita. Jika kita membeli minuman, terasa alangkah segarnya dan jika kita membeli makanan alangkah nikmatnya. Kita dapat menelannya tanpa ragu-ragu sama sekali.”

“Sejak kapan kau dapat mengatakannya demikian?” bertanya tukang gendang itu. Warsi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya, “Baiklah. Aku ulangi, besok segala-galanya akan selesai. Tetapi aku tidak akan dapat membunuh ayah Wiradana. Bukankah menurut pendengaran kita, ia menjadi cacat. Biarlah ia tetap hidup dalam keadaan cacat itu. Ia bukan harimau lapar yang siap menerkam dengan garang. Tetapi kini ia tidak lebih dari kucing sakit-sakitan.”

Tukang gendangnya tidak menjawab. Tetapi ia benar-benar berharap bahwa dihari berikutnya Warsi akan menyelesaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Demikianlah dihari berikutnya itu, seperti biasa rombongan kecil itu

bersiap-siap menjelang senja. Namun ternyata bahwa mereka tidak segera dapat kebar di halaman. Wiradana ternyata telah datang ke banjar untuk menemui rombongan kecil itu. Tidak ada persoalan yang penting. Tetapi ia sekadar didorong oleh satu keinginan untuk berbincang saja. Wiradana sendiri tidak tahu kenapa ia berbuat demikian. Tetapi ia tidak mampu menolak keinginannya untuk berbicara dengan penari yang cantik itu.

"Kita sudah terlalu lama mendapat kemurahan hati Ki Wiradana," berkata Warsi sambil merendah. "Karena itu seharusnya kami sudah meninggalkan tempat ini untuk melanjutkan perjalanan menjelajahi padukuhan-padukuhan untuk sekadar mengatasi paceklik yang kejam di daerah kami."

"Kalian tidak perlu tergesa-gesa," sahut Wiradana. "Kalian dapat tinggal disini sampai kapanpun."

"Tetapi orang-orang Tanah Perdikan ini sudah mulai jenuh dengan tontonan yang tidak berarti ini," desis Warsi sambil menundukkan kepalanya.

"Tentu belum," berkata Wiradana. "Cobalah untuk beberapa hari lagi. Tetapi jika kalian akan menembus padukuhan-padukuhan lain di luar Tanah Perdikan ini, tetapi tetap tinggal di banjar ini, kami pun tidak berkeberatan."

"Perjalanan kami akan terlalu jauh," jawab Warsi.

Wiradana mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Bagaimana pun juga, sebenarnya kami akan dapat memberikan tempat sebaik-baiknya kepada kalian.

Kecuali jika kalian memang sudah tidak lagi memerlukan tempat ini."

Warsi mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia mengangkat wajahnya memandang Wiradana. Namun ternyata bahwa sorot mata Wiradana bagaikan mencekam jantungnya, sehingga Warsi itu pun dengan serta merta telah menunduk kembali.

Terasa jantung Warsi bagaikan berdegup semakin cepat. Wiradana ternyata seorang laki-laki yang jauh dari yang dibayangkannya. Jika ia datang dengan membawa dendam yang menyala dihatinya, maka berhadapan dengan laki-laki itu, hatinya bagaikan menjadi lembut sebagaimana hati seorang perempuan.

Untuk beberapa saat, mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Wiradana itu pun bangkit sambil berkata, "Tanah ini terbuka bagi kalian sampai kapanpun juga

kalian kehendaki."

"Terima kasih," jawab Warsi masih sambil menunduk. Baru ketika Wiradana melangkah meninggalkannya, maka Warsi itu pun mengangkat wajahnya, memandangi langkah yang tegap menjauhinya. Tetapi rasa-rasanya langkah itu meninggalkan

kesan yang dalam dihatinya.

Dalam pada itu, maka waktu kebar pun telah tiba, bahkan biasanya dilakukan lebih awal. Tetapi karena kehadiran Wiradana, maka kebar itu pun terpaksa mundur beberapa saat. Sementara itu di halaman telah banyak anak-anak muda yang datang untuk sekadar melihat Warsi menari meskipun tidak lama, sekadar untuk menghangatkan badannya dan memberikan sedikit hiburan kepada para tetangga, karena rombongan kecil itu sudah bermalam di banjar.

Seperti biasanya, maka pada saat sirep uwong, menjelang tengah malam, rombongan itu sudah kembali ke banjar. Setelah membenahi gamelan dan diri mereka

masing-masing, maka orang-orang dari rombongan itu pun mulai beristirahat. Mereka sekadar minum dan makan, sebelum mereka berbaring di amben di serambi banjar. "Malam ini segala-galanya akan selesai," berkata pengendangnya kepada Warsi. Warsi memandanginya dengan sorot mata yang asing. Namun kemudian ia pun mengangguk kecil sambil menjawab, "Ya. Segala-galanya harus selesai."

"KITA akan berusaha untuk mendapat perhatian para peronda. Mereka harus mengetahui bahwa kita semuanya lengkap berada disini. Mereka tentu tidak akan mengira bahwa kau telah meninggalkan banjar dan membunuh Wiradana. Dengan demikian, maka atas kematian Wiradana tidak akan dapat dilontarkan tuduhan kepada salah seorang diantara kita disini," berkata tukang gendangnya.

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Aku akan pergi."

Tukang gendangnya mengangguk-angguk, sementara Warsi telah mengenakan pakaian yang khusus.

Sepeninggalan Warsi, maka tukang gendang yang berada di serambi itu telah berusaha menarik perhatian para peronda untuk menyatakan bahwa mereka

sekelompok kecil itu seluruhnya berada di banjar. Jika ada yang tidak nampak di antara mereka, itu adalah Warsi yang mendapat sebuah bilik khusus dibagian samping dari banjar itu.

Lewat tengah malam, maka tukang gendang itu telah pergi ke gardu dan menemui peronda yang sedang berjaga-jaga. Katanya, "Ki Sanak, apakah kami dapat minta minyak kelapa barang setetes?"

"Untuk apa?" bertanya peronda itu.

"Seorang kawan kami telah menderita sakit. Aku kurang pasti, apakah sebabnya. Tadi, ketika kami sedang melakukan kewajiban, agaknya sudah mulai terasa olehnya, bahwa badannya kurang enak. Sekarang sakit itu terasa menusuk," berkata tukang gendang itu.

"Apanya yang terasa sakit?" bertanya peronda itu.

"Semula punggungnya merasa pegal. Namun kemudian perutnya pun menjadi mual," jawab tukang gendang itu.

Peronda itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Coba, aku akan menanyakan kepada tetangga terdekat disebelah. Mudah-mudahan mereka mempunyai minyak kelapa barang setetes."

"Terima kasih Ki Sanak," jawab pengendang itu.

Demikianlah, maka peronda itu pun telah pergi ke rumah sebelah, setelah ia menyerahkan tugasnya kepada kawannya.

Ternyata sebagaimana diminta, maka peronda itu pun telah mendapat minyak kelapa meskipun hanya sedikit. Kepada kawannya di regol, peronda itu berkata, "Aku akan menemui mereka diserambi. Kasihan, seorang di antara mereka sedang sakit." Kehadiran peronda itu merupakan saksi, bahwa rombongan pemukul gamelan itu lengkap menunggui seorang kawannya yang sedang sakit. Bahkan ketika seorang kawan peronda itu yang lain datang menengoknya pula, ia pun melihat, semua orang berada di serambi itu kecuali Warsi. Namun ketika para peronda itu melihat pintu bilik di bagian samping banjar tertutup, maka mereka pun menduga, bahwa Warsi yang lelah telah tidur lelap di dalamnya.

Namun dalam pada itu, Warsi telah berada di halaman rumah di depan rumah Ki Gede Sembojan. Untuk beberapa saat ia menunggu. Kadang-kadang Wiradana memang keluar lewat tengah untuk melihat-lihat para peronda atau bahkan pergi ke gardu di bagian lain dari padukuhan induk itu. Tetapi sudah barang tentu hal itu tidak dilakukan setiap malam.

"Mudah-mudahan malam ini ia keluar rumah," desis Warsi yang telah beberapa lama menunggu.

Sebenarnyalah, tiba-tiba saja pintu pringgitan pun telah terbuka. Seorang laki-laki muda muncul dari balik pintu dan berdiri tegak memandang ke kegelapan.

Dipinggangnya terselip sebuah pedang yang tidak terlalu panjang.

Beberapa saat Wiradana berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia pun telah menghambur turun tangga pendapa rumahnya menuju ke gardu.

Warsi mengamati semua gerak Wiradana dengan seksama. Ada semacam gejolak yang sulit dimengerti. Namun kemudian ia menggeram," Aku harus membunuhnya." Seperti yang diharapkan oleh Warsi, maka Wiradana pun kemudian keluar dari regol halamannya. Berjalan menyusuri jalan induk yang sudah sepi.

“Akhirnya saat itu datang juga,” desis Warsi, “Aku akan mengikutinya, memancingnya keluar padukuhan dan membunuhnya. Jika perhitunganku tentang kemampuannya keliru, maka akulah yang akan mati. Tetapi itu adalah akibat yang wajar dari dendamku yang membakar jantung. Aku atau Wiradana.”

Demikianlah, maka Warsi pun mengikuti Wiradana tanpa diketahuinya. Warsi yang sudah mengamati jalan-jalan di padukuhan induk itu mengerti dengan

sebaik-baiknya, dimana ia harus mulai memancing calon korbannya.

Sebagaimana yang direncanakan oleh Warsi, maka ketika Wiradana sampai di sebuah tikungan, maka Warsi telah meloncat langsung ke jalan di belakang langkah Wiradana. Ia sengaja membuat langkahnya dapat memanggil Wiradana untuk berpaling.

Sebenarnyalah Wiradana terkejut mendengar seseorang meloncat ke jalan yang dilaluinya. Dengan serta merta ia meloncat berputar dan dalam sekejab tangannya telah berada di hulu pedangnya.

Jantung Wiradana menjadi berdebar-debar. Seorang dengan wajah yang tertutup, telah berdiri tegak di hadapannya.

“Siapa kau?” bertanya Wiradana dengan dada yang berdebaran.

Tetapi orang itu tidak menjawab. Dalam pakaian yang serba hitam, maka orang yang berdiri tegak itu nampaknya memang menantangnya. Seorang yang bertubuh kecil, namun nampaknya terlalu tangkas dan bergerak dengan cepat.

“Siapa kau dan maksudmu?” bertanya Wiradana pula.

Orang itu tetap tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia bergeser surut. “Tunggu,” cegah Wiradana.

Tetapi orang itu telah meloncat dinding halaman sebelah dan kemudian berlari ke dalam gelap.

Wiradana menjadi berdebar-debar. Tanpa berpikir panjang, maka ia pun telah menyusulnya. Wiradana telah meloncati dinding halaman itu pula dan mengejar orang yang berlari kedalam kegelapan itu.

Namun agaknya Warsi memang tidak ingin melepaskan diri. Ia sengaja berlari tidak terlalu cepat. Meskipun ia menyusup pepohonan perdu yang tumbuh dihalaman, namun ia sengaja agar Wiradana selalu dapat mengikutinya kemana ia pergi.

Sebagaimana diharapkan maka Warsi memang berhasil memancing Wiradana keluar dari padukuhan induk. Demikian Warsi meloncati dinding padukuhan yang tidak terawasi oleh para peronda, maka Wiradana pun telah melakukannya pula. Ia tidak mau kehilangan orang yang mencurigakan itu. Meskipun ia pun sudah menduga, bahwa orang itu sengaja memancingnya.

Ketika Warsi kemudian berlari menjauhi padukuhan, Wiradana menjadi ragu-ragu. Ia memang maju beberapa puluh langkah, tetapi akhirnya ia pun berhenti. Wiradana mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa orang yang dicurigainya itu berbuat licik. Ia dapat menyiapkan sebuah jebakan yang terdiri dari beberapa orang untuk membinasakannya.

Menurut dugaan Wiradana, maka yang dihadapinya itu tentu orang-orang yang ingin membalas dendam atas kematian Kalamerta dan hancurnya sekelompok pengikutnya. Tetapi ternyata orang itu tidak meninggalkannya. Ketika Warsi sadar bahwa Wiradana berhenti, maka ia pun telah berhenti pula. Dan bahkan ia pun telah melangkah kembali mendekati Wiradana yang berdiri termangu-mangu. “Siapa sebenarnya kau,” sekali lagi Wiradana bertanya.

Tetapi Warsi tetap tidak menjawab. Ia sadar bahwa suaranya adalah suara seorang perempuan, karena itu, maka Wiradana akan cepat menghubungkan hadirnya itu dengan kehadiran serombongan pengamen di Tanah Perdikannya. Meskipun ia berpakaian seorang laki-laki, tetapi suaranya akan tetap menunjukkan jenisnya.

Jika saat itu ia gagal membunuh Wiradana, maka akibatnya akan parah bagi semua anggota rombongannya.

Karena orang itu tidak menjawab, maka Wiradanapun berkata keras, “Kau membuat aku curiga. Marilah kau aku tangkap untuk pemeriksaan.”

Orang itu masih tetap berdiri tegak. Namun kemudian dengan sikapnya, orang itu memaksa Wiradana untuk bergeser mundur.

Warsi pun kemudian bersikap untuk menyerang. Tanpa kata-kata namun jelas bagi Wiradana bahwa orang itu telah menantangnya untuk berkelahi.

“Baik,” berkata Wiradana, “Aku mengerti kau ingin bertempur. Tetapi katakan, apa alasanmu dan siapakah kau sebenarnya?”

Tetapi Warsi tidak menjawab. Ia mulai bergeser hati-hati. Bahkan tiba-tiba saja Warsi kemudian telah mulai menyerang.

Wiradana masih sempat mengelak. Bahkan ia masih sempat berkata, “Sebut saja apa alasanmu?”

Tetapi Warsi tidak menghiraukannya. Dengan jarinya ia mengisyaratkan untuk bertempur seorang lawan seorang.

“Apakah kau bisu?” bertanya Wiradana.

Dalam keremangan malam Wiradana melihat Warsi mengangguk. “Gila,” geram Wiradana. “Apa maunya orang bisu ini.”

Dengan demikian Wiradana tidak bertanya lagi. Meskipun ia masih juga curiga. Biasanya orang bisu itu juga tuli. Jika orang itu bisu dan tidak tuli, mungkin ada sebab-sebab tersendiri. Namun Wiradana pasti bahwa orang itu tidak tuli. Namun apapun juga orang itu, Wiradana harus menghadapinya dalam satu pertempuran. Dalam waktu yang singkat, maka keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka.

Ternyata bahwa orang yang tidak dikenal itu memiliki kecepatan bergerak yang sulit untuk diimbangi. Tetapi Wiradana pun mempunyai kelebihan dari lawannya. Kekuatan Wiradana agaknya lebih baik daripada lawannya, sehingga dalam benturan-benturan yang terjadi, Wiradana berhasil mendesak lawannya surut.

Namun dalam pada itu, Wiradana ternyata semakin lama menjadi semakin sulit untuk mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Bahkan kemudian terasa olehnya,

serangan-serangan lawannya itu mulai menyakiti tubuhnya, karena ia tidak sempat menghindari serangan-serangan yang datang semakin cepat.

Wiradana menggeram menahan sakit yang mulai menjalari tubuhnya. Namun bagaimanapun juga, Wiradana tidak akan menghindar dan membiarkan orang itu terlepas dari tangannya.

Dengan cerdik Wiradana bergeser selangkah demi selangkah. Ia berusaha untuk mendekati gardu yang paling dekat dengan arena itu, sehingga dengan demikian

maka ia akan dapat memanggil para peronda dan bersama-sama menangkap orang itu. Tetapi agaknya lawannya itu mengerti, bahwa Wiradana bergeser ke arah pintu gerbang. Karena itu, maka orang itu pun bertempur semakin cepat. Agaknya ia berusaha untuk mengalahkan lawannya secepatnya sebelum ia sempat berteriak dan memanggil para pengawal.

Wiradana semakin lama menjadi semakin terdesak. Tetapi ia masih terlalu jauh dari gerbang. Seandainya ia berteriak pun agaknya orang-orang yang berada di

gerbang tidak akan mendengarnya, bahkan rumah-rumah yang terdekat dengan arena itu pun belum tentu akan dapat mendengar pula.

Karena itu, maka untuk mengatasi kesulitan yang semakin menekan, maka Wiradana kemudian telah menarik pedangnya.

Lawan Wiradana itu pun tertegun. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mudah mengatasi ilmu pedang Wiradana. Karena itu, maka Warsi pun kemudian telah mengurai sehelai rantai yang melingkari lambungnya.

Wiradana tertegun melihat senjata lawannya. Senjata yang jarang dijumpainya, namun yang agaknya sulit untuk dilawan.

Namun demikian, Wiradana tidak dapat mengelak. Ia harus melawan. Meskipun ia agak menyesal juga, bahwa ia langsung mengikuti orang itu tanpa memberitahukan kepada para peronda lebih dahulu.

Sejenak kemudian rantai itu pun telah berputar dengan cepat. Suaranya berdesing seperti berpuluh ribu tawon yang berterbangan mengelilinginya.

Jantung Wiradana menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa pedangnya justru telah mengundang satu kesulitan lain yang mungkin akan lebih parah. Sejenak kemudian Wiradana pun harus bertempur menghadapi lawannya yang mempergunakan senjata yang aneh. Sehelai rantai berputaran dan kadang-kadang mematuk dengan dahsyatnya.

Namun seperti semula, Wiradana telah mengalami kesulitan. Ketika ujung rantai itu mulai menyentuh kulitnya, maka darah pun mulai menitik dari luka.

Wiradana masih berusaha untuk bergeser mendekati dinding padukuhan dan apabila mungkin pintu gerbang yang ditunggui oleh para pengawal yang meronda.

Namun agaknya usaha Wiradana akan sia-sia. Orang yang mempergunakan tutup muka itu mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga.

Tetapi Wiradana pun tidak mau membiarkan dirinya dibantai. Karena itu, maka ia pun telah melawan dengan segenap kemampuannya. Dengan ilmu pedang yang dimilikinya, maka ia mencoba mengatasi tekanan senjata rantai yang mengerikan itu.

Ternyata bahwa untuk beberapa saat Wiradana berhasil mempertahankan diri. Namun sebenarnyalah hati laki-laki muda itu kurang teguh menghadapi kesulitan. Itulah sebabnya, maka ia cepat menjadi cemas.

Tetapi justru kecemasan itulah yang telah mempercepat kesulitan yang mencengkam dirinya. Putaran rantai ditangan orang yang menutupi wajahnya itu seakan-akan menjadi semakin cepat. Sehingga dengan demikian, maka sentuhan-sentuhan ujung rantai itu pun terasa menjadi semakin sering pula mengenai tubuhnya.

Luka ditubuh Wiradana menjadi semakin parah. Darah menjadi semakin banyak mengalir. Sementara itu, gerak ujung rantai itu pun rasa-rasanya menjadi semakin cepat.

Perlawanan Wiradana pun semakin lama menjadi semakin lemah. Kegelisahan dan kelemahan hatinyalah sebenarnya yang lebih banyak mendorongnya ke dalam

kesulitan. Sebenarnya ilmu pedangnya memiliki kemungkinan-kemungkinan yang dapat menembus putaran rantai lawannya, jika kemantapan ilmunya pun didukung oleh kemantapan hatinya.

NAMUN yang terjadi kemudian Wiradana telah benar-benar terdesak.

Bahkan akhirnya, dengan satu putaran rantai yang cepat, maka pedang Wiradana telah terbelit karenanya. Dan oleh satu hentakan yang kuat maka rantai itu telah merenggut pedang Wiradana.

Wiradana terpekik kecil. Tangannya terasa sangat pedih. Tetapi ia tidak berhasil mempertahankan pedangnya. Dan demikian pedangnya terlontar, maka rasa-rasanya nyawanya pun telah berada di ujung ubun-ubun.

Tanpa sengaja Wiradana benar-benar tidak mampu melawan. Demikian pedangnya terenggut, maka ia pun hanya dapat berdiri tegak dengan wajah pucat.

Rasa-rasanya ia tinggal menunggu maut yang segera akan memeluknya. Lawannya yang bertutup wajah itu berdiri tegak dengan sorot mata yang bagaikan menembus sampai kejantung. Perlahan-lahan ia melangkah mendekat. Rantainya terayun-ayun disisinya, siap untuk mengoyak dadanya dan dengan demikian maka

lenyaplah segala harapannya untuk melanjutkan pemerintahan yang akan diwariskan oleh ayahnya dalam waktu dekat.

Dua langkah dihadapan Wiradana orang yang wajahnya tertutup kecuali matanya itu memadanginya. Rantainya benar-benar sudah siap untuk membunuhnya.

"Jangan," tiba-tiba terdengar suara Wiradana gemetar, "Apa sebenarnya alasanmu memusuhi aku? Jangan bunuh aku. Aku akan memberimu apa saja yang kau minta." Orang bertutup wajah itu memperhatikan Wiradana yang ketakutan. Rantainya masih saja terayun-ayun disisinya. Namun tiba-tiba saja ia melangkah surut.

Diamatinya Wiradana dari ujung rambutnya sampai ke ujung kakinya. Agaknya sesuatu telah bergejolak didada orang yang bertutup wajah itu. Dengan satu dua kali ayunan rantainya, maka Wiradana tentu sudah akan tergolek diam. Mati.

Sebagaimana diinginkannya.

Namun orang itu tidak mengayunkan rantainya. Bahkan tiba-tiba saja orang bertutup wajah itu berpaling. Dengan cepat ia meloncat meninggalkan Wiradana yang termangu-mangu.

Sejenak kemudian maka orang bertutup wajah dalam pakaian yang serba hitam itu telah hilang dari arena. Dengan kecepatan yang sulit diikuti, orang itu berlari menyusuri pematang diluar dinding padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Namun diluar penglihatan Wiradana, orang itu pun telah meloncati dinding memasuki padukuhan dan dengan diam-diam menuju banjar.

Sepeninggal orang itu, maka Wiradana pun berdiri termangu-mangu. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika orang itu ingin membunuhnya, maka kesempatan itu sudah terbuka baginya. Wiradana sendiri sudah tidak mampu melakukan perlawanan sama sekali. Pedangnya sudah terlepas dari tangannya, sementara keberaniannya pun telah larut sehingga ia hanya dapat minta dibelas kasihani. Sesaat Wiradana masih berdiri tegak. Namun kemudian ia melangkah memungut pedangnya.

Baru kemudian terasa tubuhnya dicengkam oleh perasaan sakit dan pedih. Lukanya terdapat dibeberapa tempat silang melintang, terkoyak oleh ujung rantai

lawannya.

Tertatih-tatih Wiradana menuju ke gerbang. Memang masih agak jauh. Namun akhirnya ia sampai juga ke gardu pertama dipintu gerbang padukuhan induk. "Wiradana," seorang pengawal yang melihatnya tiba-tiba saja berteriak sehingga kawan-kawannya menjadi terkejut. Sebenarnyalah mereka melihat Wiradana berjalan tertatih-tatih menyeret tubuhnya mendekati gardu.

Beberapa orang pengawal telah berloncatan mendekat. Dua orang menangkap tubuh yang hampir jatuh terjerembab itu.

"Apa yang terjadi?" bertanya salah seorang pengawal.

Wiradana tidak menjawab. Sementara itu tubuhnya pun telah dipapah dan dibaringkannya di dalam gardu dikerumuni oleh beberapa orang pengawal. "Berhati-hatilah," desis Wiradana.

Dua orang pengawal pun kemudian telah bersiap mengamati keadaan, sementara yang lain berusaha untuk menolong Wiradana.

"Bawa aku pulang," desis Wiradana.

"Baik. Baik. Aku akan mengambil pedati," desis seseorang itu. Lalu, "Bukankah itu lebih baik daripada kami mengangkatmu sampai kerumahmu."

"Tolong angkat saja aku pulang. Lebih cepat lebih baik. Waktunya jangan tersia-sia dengan mengambil pedati," desis Wiradana yang terluka parah itu.

Beberapa orang anak muda sependapat. Jika salah seorang dari mereka pulang mengambil pedati, maka waktunya akan banyak terbuang sehingga keadaan Wiradana akan menjadi semakin parah.

Karena itu, maka beberapa orang anak muda itu pun telah bersepakat untuk mengangkat saja Wiradana dan membawanya pulang ke rumahnya, sementara dua orang

akan tinggal di gardu.

"Jika terjadi sesuatu, bunyikan saja isyarat," berkata Wiradana. "Agaknya para pengikut Kalamerta masih berkeliaran disekitar Tanah Perdikan ini." "Baiklah," jawab salah seorang pengawal yang akan tinggal.

Demikianlah, maka Wiradana pun telah diangkat pulang kerumahnya dengan tergesa-gesa. Darah yang masih saja mengalir membuat tubuh itu semakin lemah. Namun disepanjang jalan Wiradana masih sempat berceritera, "Aku tidak tahu, siapa orang itu. Namun agaknya ia memang memiliki ilmu yang tinggi." "Bagaimana ia dapat melukaimu?" bertanya salah seorang pengawal yang menggotongnya.

"Senjatanya memang aneh. Sehelai rantai baja," jawab Wiradana. Namun kemudian, "Untunglah aku mempunyai ilmu pedang yang mumpuni sehingga aku akhirnya mampu mengusirnya, meskipun tubuhku terluka parah. Aku tidak tahu, apakah orang itu

akan dapat berlari jauh oleh luka-lukanya pula. Mungkin besok pagi kalian akan mendapatkan sesosok mayat diluar padukuhan induk ini, atau mungkin ia sempat berlari jauh atau bahkan ia mempunyai kawan yang sempat membawanya pergi. Tetapi aku yakin, bahwa orang itu akan mati."

Para pengawal itu hanya mengangguk-angguk saja. Namun mereka percaya bahwa Wiradana telah berhasil mengusir seorang yang memiliki ilmu yang tinggi yang telah memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika tubuh itu sampai di rumah Ki Gede, maka seisi rumah telah terkejut karenanya. Menjelang dini hari rumah itu menjadi ribut.

Untunglah bahwa Kiai Badra masih tetap berada di rumah itu menunggui cucunya sampai selapan. Setelah lewat selapan, maka Kiai Badra dan Gandar pun telah bersiap-siap untuk meninggalkan Tanah Perdikan ini.

Namun sebelum mereka minta diri, maka peristiwa yang mengejutkan itu telah terjadi.

Sejenak kemudian, maka Kiai Badra pun telah merawat Wiradana dengan sungguh-sungguh. Dengan kerut-merut didahinya ia melihat luka-luka yang agak asing itu. Namun kemudian Kiai Badra pun mengenalinya bahwa luka itu bukan disebabkan oleh senjata tajam. Tetapi oleh seutas rantai baja.

"Ya. Orang itu bersenjata rantai," berkata Wiradana yang menyeringai oleh perasaan pedih diseluruh tubuhnya, sementara Kiai Badra sedang berusaha untuk membersihkannya.

Seperti yang diceriterakan kepada para pengawal bahkan juga tentang lawannya yang bisu, maka Wiradana pun telah mengatakan, bahwa ia berhasil melukai lawannya, sehingga lawannya itu telah melarikan diri.

"Apakah kau tidak dapat menyebut ciri-ciri lawanmu itu ngger, jika ia benar-benar bisu seperti yang kau katakan?" bertanya Kiai Badra. "ORANGNYA tinggi, besar dan berambut panjang," Wiradana berusaha mengingat-ingat.

"Berambut panjang?" bertanya Kiai Badra.

"Ya. Rambutnya itu terurai dibawah ikat kepalanya," jawab Wiradana.

Kiai Badra merenung sejenak. Kecerahan nalarnya telah membawanya kepada satu dugaan didalam hatinya, "Orang itu tentu merahasiakan dirinya sepenuhnya. Ia bukan saja menutupi wajahnya, tetapi juga menyembu-nyikan suaranya. Seandainya orang itu tidak bertubuh tinggi besar, maka aku akan menduga bahwa ia seorang perempuan."

Tetapi Wiradana ternyata telah memberikan keterangan yang tidak benar untuk mengang-kat dirinya sendiri, sehingga seakan-akan ia telah bertempur melawan seorang yang tinggi besar dan berkemampuan sangat tinggi, namun akhirnya dapat dikalahkannya.

Dengan cermat Kiai Badra telah berusaha untuk mengobati luka-luka yang parah itu, sementara Iswari hanya dapat menahan tangisnya oleh kecemasan yang mencengkam.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat keadaan anaknya. Ki Gede pun yakin, bahwa anaknya telah menjadi sasaran dendam para pengikut atau keluarga Kalamerta.

"Untunglah bahwa kau masih mampu melindungi dirimu sendiri," berkata ayahnya. Lalu, "Karena itu, maka seharusnya kau lebih rajin menempa diri, mumpung ayah masih ada. Meskipun ayah tidak dapat berbuat lebih banyak daripada memberimu petunjuk-petunjuk, namun akan sangat berarti bagimu dan bagi ilmumu yang masih harus dikembangkan itu."

Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia mengakui, bahwa jarak ilmunya dengan ayahnya memang masih terlalu jauh. Dalam keadaan yang demikian Wiradana tidak dapat ingkar, bahwa ia memang kurang tekun menempa diri. Ia terlalu menggantungkan diri kepada ayahnya dan pengawalan anak-anak muda Tanah Perdikan.

Atas usaha Kiai Badra yang dibantu oleh Gandar, maka keadaan Wiradana pun menjadi berangsur baik. Perasaan pedihpun telah berkurang, sementara

luka-lukanya sudah menjadi pampat.

"Beristirahatlah," berkata Kiai Badra, "Semakin banyak kau beristirahat, maka keadaanmu akan menjadi semakin baik."

"Ya. Tidurlah," berkata ayahnya pula. Demikianlah, maka Wiradana itu pun kemudian ditinggalkan di dalam biliknya ditunggui oleh istrinya. Dengan wajah yang cemas, Iswari berusaha untuk melayani suaminya yang terluka parah.

"Terima kasih," desis Wiradana ketika Iswari membantunya meletakkan semangkuk mi-numan hangat di bibirnya.

Namun dalam pada itu, ketika Wiradana memandang wajah istrinya yang redup, diluar kehendaknya sendiri, telah terbayang wajah penari yang berada di banjar. Penari itu wajahnya berseri dan memancarkan kejelitaan yang mengagumkan. Dengan rias yang mantap, maka wajah penari itu menjadi semakin cantik. Melebihi kecantikan Iswari yang lugu.

Namun Wiradana pun kemudian berusaha untuk mengusir bayangan yang akan dapat menutupi jalur hubungannya dengan istrinya yang baru selapan dikawininya, justru atas desakan ayahnya yang merasa berhutang budi kepada Kiai Badra, dan yang kini telah berusaha untuk menyelamatkannya pula.

Sementara itu, selagi di rumah Ki Gede terjadi kesibukan yang mencengkam seisi rumah, maka di banjar Warsi berbaring menelungkup dipembaringannya. Sampai matahari terbit, pintu biliknya masih belum terbuka. Adalah diluar kebiasaannya, bahwa ia masih belum bangun sampai matahari memancarkan sinar pertamanya. Tetapi Warsi memang tidak sedang tidur. Ketika pengendangnya mengetuk pintu, maka Warsi pun telah bangkit. Dengan cepat ia mengusap matanya yang basah. Warsi memang menangis sebagaimana perempuan sering menangis.

Dengan lemah Warsi telah membuka pintu biliknya. Dilihatnya pengendangnya berdiri termangu-mangu didepan pintu biliknya.

“Kau menangis?” bertanya pengendangnya itu.

Warsi menatap wajah pengendangnya yang disebutnya sebagai ayahnya itu. Namun ia tidak menjawab sama sekali.

“Kami sudah mendengar berita yang sampai kepada para pengawal, bahwa Wiradana telah terluka parah,” desis pengendangnya. “Tetapi ia tidak mati. Dan kau tidak membunuhnya.”

Adalah diluar dugaan sama sekali, ketika tiba-tiba saja Warsi telah menampar

mulut pengendangnya itu. Meskipun tidak dengan sekuat tenaganya, namun agaknya sentuhan tangannya itu telah membuat mulut pengendangnya itu berdarah.

“Warsi,” desis salah seorang pengiringnya yang lain. “Apa yang kau lakukan?”

Warsi masih berdiri tegak. Namun kemudian katanya dengan suara bergetar, “Jangan menghina aku lagi.”

Orang yang mulutnya berdarah itu berusaha untuk menjawab terbata-bata, “Aku tidak bermaksud menghina. Tetapi aku sekadar memberitahukan kepadamu bahwa Wiradana belum mati. Mungkin kau mengiranya sudah mati. Tetapi ternyata belum.”

Warsi memandang orang itu sejenak. Namun kemudian ia pun telah menutup pintunya lagi, sehingga para pengiringnya hanya termangu-mangu saja dimuka pintu yang sudah tertutup itu.

“Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi,” desis orang yang mulutnya berdarah itu.

“Bersihkan darah itu,” berkata kawannya.

Orang itu pun cepat-cepat telah pergi kesumur untuk berkumur. Mulutnya memang berdarah dan sebuah giginya menjadi goyah.

“Anak binal,” gerutunya. “Aku berbangga bahwa gigiku termasuk gigi yang baik. Pada umurku sekarang gigiku masih utuh seluruhnya. Tiba-tiba saja ia sudah menggoyahkan satu gigiku itu.”

Dalam pada itu, maka para pengiring Warsi telah menjadi bingung. Mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu. Mereka mengenal Warsi sebagai seorang gadis yang garang. Namun tiba-tiba mereka melihat gadis itu menangis di dalam biliknya.

Selagi mereka kebingungan, maka tiba-tiba Warsi telah membuka pintunya pula. Perlahan-lahan gadis itu keluar dari biliknya dan duduk di antara para pengiringnya di serambi.

“Besok kita tinggalkan tempat ini. Kita akan pulang,” berkata Warsi dengan suara yang sendat.

Pengendangnya termangu-mangu. Namun diberanikan dirinya untuk bertanya, “Jadi bagaimana dengan Wiradana?”

“Aku akan memberikan penjelasan kemudian,” berkata Warsi. “Tetapi kau akan banyak kehilangan waktu,” jawab pengendang itu.

WARSI memandang orang yang disebut sebagai ayahnya dalam rombongan pengamen itu.

Sorot matanya tiba-tiba saja bagaikan menyala. Karena itu, maka pengendangnya

itu pun telah menundukkan kepalanya tanpa berani mendesak Warsi untuk menjawab pertanyaannya.

Dengan berbagai pertanyaan didalam hatinya, maka sore itu, rombongan pengamen itu masih kebar di halaman banjar. Mereka masih melakukan kegiatan sebagaimana yang dilakukan sebelumnya. Warsi masih nampak cantik dan menari dengan baik. Tidak seorang pun yang melihat kemuraman diwajahnya yang sayu. Riasnya yang mantap berhasil menyembunyikan kegetiran didalam dadanya.

Malam itu, tidak seorang pun yang menduga, bahwa rombongan itu akan begitu cepat meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Pagi-pagi benar, pengendang yang menjadi pemimpin rombongan itu telah menghubungi bebahu Tanah Perdikan yang diserahi untuk mengurus banjar Padukuhan Induk itu.

“Kalian akan pergi?” bertanya bebahu itu.

“Kami sudah terlalu lama disini. Penghuni Tanah Perdikan ini sudah menjadi jemu dan tidak lagi menaruh minat terhadap pertunjukkan kami,” jawab pengendang itu. “Ah, tentu tidak. Bukankah hampir tiap malam kalian mendapat panggilan dari rumah-rumah berhalaman luas di Tanah Perdikan Sembojan ini,” bertanya bebahu itu.

“Dasarnya bukan karena mereka ingin menonton pertunjukan kami. Tetapi mereka hanya sekadar kasihan saja,” jawab pengendangnya.

“Baiklah jika kalian memang sudah berkete-tapan untuk meneruskan perjalanan kalian. Tetapi apakah kalian tidak akan minta diri kepada Ki Wiradana? Bukankah pada saat kalian datang, Ki Wiradanalah yang telah memberikan ijin meskipun tidak langsung? Dan bukankah Ki Wiradana telah pernah mengunjungi kalian di banjar itu pula?” bertanya bebahu itu.

Pengendang itu termangu-mangu. Ia ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi akhirnya ia berkata, “Bukankah Ki Wiradana sedang sakit? Kami tidak pantas untuk mengganggunya. Dan agaknya kami tidak cukup pantas untuk mohon diri lagsung kepadanya, apalagi kepada Ki Gede.”

“Kenapa?” bertanya bebahu itu.

“Kami hanyalah serombongan pengembara yang tidak berarti apa-apa,” jawab pengendang itu.

Demikianlah, maka pada hari itu juga, rombongan penari itu meninggalkan banjar Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan. Mereka mengucapkan terima kasih kepada

tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar banjar dengan sebuah pertunjukan. Pertunjukan yang berbeda dengan yang pernah mereka lihat, karena Warsi menari di pagi hari. Meskipun demikian, penari itu masih tetap seorang penari yang cantik dimata para penontonnya.

Demikian rombongan itu keluar dari Tanah Perdikan Sembojan, maka Warsi pun tidak lagi merupakan penari yang luruh dan lembut. Ketika seorang bertubuh gemuk menghentikan rombongan itu disudut sebuah padukuhan diluar Tanah Perdikan Sembojan, maka dengan senyum yang menghias dibibirnya Warsi bertanya, “Apa yang kau kehendaki Ki Sanak?”

“Janggrung,” jawab orang gemuk itu, “He, berapa aku harus bayar.”

“Kau sendiri yang akan mengibingnya?” bertanya Warsi sambil mendekati laki-laki itu.

“Sebentar lagi tentu datang orang banyak. Mereka tentu akan bersedia ikut menari ber-sama,” jawab orang gemuk itu.

Ketika Warsi menggamit lengan orang itu, maka rasa-rasanya seluruh tubuh orang gemuk itu meremang. Katanya, “Aku akan membayar berapa saja kau minta.” “Apakah kau mempunyai uang sebanyak itu?” bertanya Warsi.

“Sebanyak itu berapa?” bertanya laki-laki gemuk itu, “Aku adalah orang yang sangat kaya.”

“Lihat, mana uangmu?” bertanya Warsi.

Orang bertubuh gemuk itu telah membuka kantong ikat pinggangnya yang besar. Dari dalamnya ia mengeluarkan beberapa keping uang dan melemparkannya ke tangan Warsi. Katanya, “Nah, cepat menarilah dalam irama yang panas. Aku akan menari bersamamu, mencium pipimu dan membawamu pulang.”

“He,” desis Warsi. “Apa kata istrimu?”

“Ada tiga orang istri di rumah. Mereka akan bungkam. Aku akan mencekik siapa saja di antara mereka yang berani mempertanyakan kehadiranmu,” jawab orang bertubuh gemuk itu.

“O, begitulah tanggapanmu atas seorang perempuan,” geram Warsi. “Kau sangka perempuan tidak mampu mencekikmu sampai mati.”

Pertanyaan itu memang mengejutkan. Tetapi cepat-cepat pengendangnya telah menggamitnya sambil berbisik, “Kita belum terlalu jauh dari Tanah Perdikan Sembojan. Jika kau sakiti laki-laki itu, maka akan terbetik berita, seorang

penari cantik yang pernah tinggal di Sembojan, ternyata seorang perempuan yang garang. Bukankah dengan demikian kesan orang-orang Sembojan terhadapmu akan berubah? Apalagi jika pada satu saat kau ingin kembali ke Sembojan dengan cara yang sama ini.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia pun kemudian menyadari apa yang pernah dilakukan terhadap Wiradana, meskipun ia telah menyembunyikan wajahnya. Wiradana akan dapat menghubungkan peristiwa itu dengan tingkah lakunya, seandainya orang-orang padukuhan itu memperkatakannya kelak. Sambung bersambung

maka akhirnya orang-orang Sembojan akan mendengarnya juga.

Karena itu, tiba-tiba wajah Warsi pun telah tersenyum manis. Sekali lagi ia menggamit laki-laki itu. Tetapi katanya kemudian, “Aku lelah sekali Ki Sanak. Hari ini aku tidak akan menari.”

“Kau gila he? Kau menolak uangku yang sekian banyaknya itu?” teriak laki-laki gemuk itu.

“Bukan begitu Ki Sanak. Aku benar-benar letih hari ini. Aku baru saja berjalan jauh dalam terik matahari,” jawab Warsi. “Aku ingin istirahat dahulu. Nanti malam aku akan menari. Bukankah menari dimalam hari lebih nikmat rasanya daripada disiang hari. Apalagi untuk menari bersama seorang laki-laki tampan seperti kau ini,” di luar dugaan Warsi telah mencubit paha laki-laki itu.

Namun laki-laki itu bagaikan menjadi gila. Hampir saja laki-laki itu menerkam

Warsi. Tetapi pengendangnya dengan cepat menahannya sambil berkata, “Jangan kau sentuh istriku.”

“Istrimu?” mata orang gemuk itu terbelalak. “Ia masih terlalu muda. Sepantasnya ia adalah anakmu.”

“Ia istriku yang muda. Aku mempunyai tujuh orang istri. Kecuali jika kau dapat mengalahkan aku,” jawab tukang gendang itu.

“He,” wajah orang gemuk itu menjadi cerah. “Kau menantang aku berkelahi untuk mendapatkan perempuan cantik itu?”

“Ya. Berkelahi dengan jujur,” jawab tukang gendang itu.

Orang gemuk itu tertawa. Katanya, “ Bagus. Kita akan berkelahi dengan jujur.” Dalam pada itu, keributan itu justru telah mengundang banyak orang yang kemudian mengerumuninya. Mereka saling bertanya, apa yang sudah terjadi.

Akhirnya orang-orang yang berkerumun itu mengetahui, bahwa orang bertubuh gemuk itu akan berkelahi melawan tukang gendang dari serombongan tukang ngamen untuk memperebutkan penari yang cantik dari rombongan itu.

“Jika kerbau itu menang, ia akan dapat membawa penari itu pulang. Mungkin untuk semalam. Mungkin untuk waktu yang tidak disebut. Aku tidak jelas, bagaimana bunyi perjanjiannya,” desis seseorang yang mencoba menjelaskan kepada kawannya. “Tetapi ia adalah orang yang sangat berbahaya,” jawab orang yang lain.

“Mudah-mudahan ia membentur batu kali ini. Kegemarannya mengganggu perempuan-perempuan yang cantik bahkan tidak cantik pun sangat meresahkan tetangga-tetangga kita.”

“SAYANG, ia adalah seorang yang memiliki kemampuan yang tidak terkalahkan di padukuhan ini, sehingga ia dapat berbuat apa saja,” berkata orang yang pertama. Namun dalam pada itu, orang-orang yang semakin banyak berkerumunan disudut padukuhan itu pun telah menebar dan tanpa diminta membuat suatu lingkaran.