-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 03

Jilid 03

“BAGUS, akan tetapi apakah Nie ciangkun sempat bicara dengan Liu Giok Ing, sebelum dia tewas kena senjata kalian ....?" tanya ciang Sie Pek Hong yang perlihatkan senyumnya, menambah wajahnya semakin tampan meskipun umurnya sudah tiga-puluh tahun lebih; dan dia bersenyum sebab mengetahui rencananya telah dilaksanakan oleh para pembantunya, meskipun mereka harus mengorbankan nyawa seorang teman-sejawat!

“Tidak akan kami membunuh Nie ciang-kun, kalau dia belum sempat bicara dengan Liu Giok Ing; sesuai seperti rencana dan perintah ciangkun......" sahut Ma Kong yang kakaknya Ma Kiang; sedangkan umur mereka berdua, sedikit lebih tua dari umur Sie ciangkun.

“Ha-ha-ha ... !" Sie Pek Hong tertawa girang, lalu dia memanggil seorang pembantunya yang lain, seorang laki- laki yang sudah 40-tahun lebih umurnya.

“Thia-heng, apakah kau yakin bahwa Liu Giok Ing mengenali kau ... ?"

Sesuai dengan namanya Thio Hek; laki-laki yang bertubuh tinggi penuh otot itu memiliki kulit yang agak hitam, akibat terlalu banyak kena sinar matahari atau mungkin akibat terlalu sering bermain api. Suaranya seperti guntur waktu dia berkata :

“Mungkin lupa, akan tetapi kalau aku membicarakan

urusan tempo dulu; aku yakin dia pasti akan teringat ..."

“Bagus kalau begitu...." sahut Sie Pek Hong; lalu dia

menghadapi semua anak-buahnya dan berkata lagi :

“Sekarang kalian semua dengarkan baik-baik, kita atur rencana berikutnya. "

Semua orang mendengarkan rencana yang dibicarakan oleh ciangkun Sie Pek Hong; memperhatikannya benar- benar, kemudian semuanya menanggalkan pakaian militer yang mereka pakai, mengganti dengan pakaian lain, setelah selesai mengatur rencana mereka tinggalkan tempat itu, meninggalkan mayat Nie ciangkun yang juga sudah diganti pakaiannya. Sementara itu; hari sudah mendekati subuh waktu Ceng- hwa liehiap Liu Giok Ing memasuki kota San-hay koan dalam usahanya melakukan pengejaran.

Kota San hay koan yang letaknva disebelah selatan kota raja, merupakan tempat tinggalnya Gin Lun Hoat-ong; putera ke-5, dari sri baginda maharaja; juga dari seorang selir. Saudara seayah dengan Giok Lun Hoat-ong, bukan seibu !

Bayangan hitam yang dikejar oleh liehiap Liu Giok Ing, ternyata benar-benar memasuki rumah pangeran Gin Lun yang mirip seperti istana, dan hal ini memang sudah diduga oleh liehiap Liu Giok Ing, setelah sempat dia mendengar keterangan yang diberikan lelaki pecundangnya yang tewas tadi !

Sesungguhnya liehiap Liu Giok Ing tak pernah menduga, bahwa Gin Lun Hoat-ong merupakan dalang dari si pelaku yang melakukan pembunuhan biadap, yang memfitnah nama dia; sebab pembunuhnya itu sengaja dipakai senjata rahasia berbentuk bunga ceng-hwa yang khas menjadi senjata rahasia yang biasa dia gunakan. Dulu, sebelum dia menjadi isterinya pangeran Giok Lun.

Sehabis Liu Giok Ing mendengar keterangan yang diberikan oleh lelaki pecundangnya, sebenarnya dia ingin membicarakan kepada suaminya. Ingin dia memberitahukan meskipun dia yakin bahwa suaminya takkan mempercayai keterangan itu. Tidak mungkin pangeran Giok Lun mau melakukan perbuatan yang sekeji itu, dan tak mungkin pangeran Giok Lun mempunyai etikad melakukan pemberontakan terhadap ayahnya sendiri

!

Sekarang, sesudah liehiap Liu Giok Ing mengejar bayangan hitam yang lari menghilang didalam istana pangeran Gin Lun; maka liehiap Liu Giok Ing bertekad hendak bertemu dan berbicara dengan pangeran Gin Lun. Ingin dia untuk memaksanya supaya pangeran yang pengecut itu mengakui perbuatannya, dan kalau mungkin, ingin dia bawa pangeran itu menghadap kepada sri baginda raja agar ikut mengetahui kejadian yang sebenarnya, lalu memberikan hukuman terhadap pangeran Gin Lun.

Akan tetapi, kedatangan liehiap Liu Giok Ing ke istana Gin Lun itu bagaikan memang sudah diketahui, sudah siap ditunggu-tunggu; dan sudah tersedia perangkap buat dia !

Suasana dipenjagaan kelihatan tenang-tenang sewaktu Liu Giok Ing memasuki bagian halaman dari istana itu tanpa ada seseorang yang mengetahui. Tetapi selekas itu juga, lalu terdengar pekik-teriak dari banyak orang, dan penuh petugas pengawal yang langsung mengurung dia rapat rapat !

“Tangkap pembunuh ! Tangkap pembunuh !" teriak para petugas itu; dan beberapa macam senjata tajam langsung digunakan buat menyerang Liu Giok Ing.

Sejenak liehiap Liu Giok Ing terkejut menghadapi kejadian itu, akan tetapi kemudian dia menyadari tentang adanya perangkap yang memang sudah disediakan buat dia. Jelas liehiap Liu Giok Ing bertambah marah terhadap pangeran Gin Lun, dan bertambah yakin dia tentang adanya etikad tidak baik dari pangeran Gin Lun, yang hendak melakukan pemberontakan, sekaligus hendak membunuh dia dan suaminya.

Mulai liehiap Liu Giok Ing mengamuk, menghunus pedang ku-tie kiam yang terkenal ampuh dan tajam; mengakibatkan banyak senjata dari petugas pengawal yang putus menjadi dua, menyusul kemudian mayat-mayat mulai bergelimpangan, disamping banyaknya petugas yang terluka parah terkena senjata pedang yang ampuh dan tajam itu.

Seorang perwira yang sudah cukup tua usia dan sudah cukup lama mengabdi dengan setia kepada pangeran Gin Lun; menjadi marah waktu menyaksikan perbuatan liehiap Liu Giok Ing, sehingga dia berteriak memaki:

“Liu Giok Ing, ternyata kau benar-benar seperti iblis yang haus darah. Kau pembunuh pengecut di kota raja, dan kini kau menyebar maut didalam istana pangeran Gin-Ong-

... !!"

Sejenak liehiap Liu Giok Ing seperti terpukau waktu mendengar perkataan perwira yang cukup tua itu, yang kenal dengan nama Cia Tiong Gok, yang dulu pernah dia tempur, 10 tahun yang lalu !!

“Cia lo ciangkun. Bukan aku, sebaliknya Gin Lun Hoat ong yang sebenarnya merupakan ... -"

“Tutup mulutmu, iblis keparat ...!" ciangkun Cia Tiong Gok memaki sebab naik darah; dan ciangkun tua ini bahkan mendahului menyerang memakai tombaknya, menggunakan jurus lt wie touw kang' dengan sebatang galah menyeberang telaga.

Berulangkali tombak yang cukup panjang itu berusaha hendak menikam liehiap Liu-Giok Ing, tetapi liehiap Liu Giok Ing selain berhasil menghindar berkelit, tidak melakukan perlawanan terhadap perwira yang cukup tua usianya itu; sebaliknya pedang ku-tie kiam berulangkali berhasil melukakan beberapa petugas lain yang ikut mengepung dan ikut melakukan penyerangan.

Bertambah marah dan menjadi penasaran perwira Cia Tiong Gok yang tidak berhasil mencapai niatnya, masih seperti dulu; dan dia merobah gerak serangannya, memakai ilmu 'hwee-tauw sie-an,' memutar kepala, melihat gili-gili, dan gerak tombak itu kelihatan bertambah galak mencari sasaran dibagian kepala liehiap Liu Giok Ing.

Sementara itu, bayangan hitam yang tadi dikejar oleh liehiap Liu Giok Ing sempat menanggalkan dan menganti pakaian; lalu menghilang ditengah kesibukan orang orang yang hendak menangkap atau membunuh liehiap Liu Giok Ing !

Sebaliknya pangeran Gin Lun yang mengetahui kedatangannya Liu Giok Ing yang sedang mengamuk, ikut keluar dan ikut melihat; sehingga dia terlihat oleh liehiap Liu-Giok Ing, meskipun nyonya muda yang perkasa itu sedang sibuk menghadapi serangan kepungan para petugas lain.

Semakin marah dan penasaran liehiap Liu Giok Ing yang sempat melihat kehadiran pangeran Gin Lun, ingin dia lompat menerkam dan mencekik mampus pangeran itu, namun tak mudah dia melaksanakan niatnya.

Maka terdengar pekik suara yang luar biasa kerasnya. Pekik suara Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang meluap rasa benci dan rasa dendam seperti dulu, lebih dari 10 tahun yang dulu; waktu meluap rasa benci dan rindu terhadap si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang !!

Sepasang tangan Ceng hwa liehiap Liu-Giok Ing kelihatan gemetar, juga jiwanya terasa bergetar sebab dia sedang mengerahkan tenaga Eng jiauw kang; tenaga kuku garuda yang luar biasa, sehingga waktu sepasang tangan itu bergerak, maka tombaknya ciangkun Cia Tiong Gok patah tiga, sementara sarung pedang ku-tie kiam ditangan kiri berhasil membikin tiga orang pengawal menjadi lumpuh. Kemudian dengan suatu gerak yang indah dan pesat, tubuh liehiap Liu Giok Ing melesat tinggi dan jauh; sehingga dengan tiga kali gerak lompatan memakai landasan kepala manusia, maka berhasil dia berada di dekat tempat pangeran Gin Lun berdiri.

Akan tetapi, sejenak liehiap Liu Giok Ing berdiri seperti terpukau, tanpa dia mampu bersuara mengucap kata-kata; sebab dilihatnya disisi Gin Lun Hoat ong ikut berdiri seorang perempuan muda cantik dan gagah perkasa, Kang- lam liehiap Soh Sim Lan yang teman-baik Liu Goat Go, adiknya Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing.

Ya, Kang-lam liehiap Soh Sim Lan dara dari wilayah utara; yang namanya cukup menyemarak dikalangan rimba persilatan, yang kegagahannya pernah dia saksikan waktu dara yang perkasa itu tembus menjelajah kewilayah selatan. Mengapa dara yang perkasa dan berjiwa pendekar itu sekarang berada di sisi pangeran Gin Lun? Mengapa dia kesudian membantu seorang manusia yang keji bahkan pengecut? Atau, mungkinkah Kang-lam liehiap sudah jadi isteri Gin Lun Hoat-ong ?

Cuma sejenak Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing sempat berpikir, cuma dua kali dia sempat menarik napas panjang bagaikan menyesal; setelah itu ciangkun Cia Tong Gok sudah mulai melakukan penyerangan memakai senjata golok, sebab ciangkun yang tua-usia ini sudah turut mengejar, menyimpan rasa marah dan penasaran, disamping merasa cemas memikirkan keselamatan sang pangeran.

Ciangkun Cia Tong Gok menyerang memakai senjata golok, sebagai pengganti senjata tombak yang telah patah menjadi tiga dan Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing menyadari bahwa ciangkun yang tua-usia itu memiliki ilmu silat golok golongan Pat-kwa to; disamping ilmu tombak Gak-hui yang sakti. Serangan pertama yang dilakukan oleh perwira tua Cia Tong Gok memakai jurus 'tay-san ap-teng' atau gunung tay san menindih; golok yang tajam dan cukup berat itu bergerak dari arah atas menuju bagian bawah bagaikan angin membelah tubuh liehiap Liu Giok Ing. Akan tetapi dengan berkelit kesamping, liehiap Liu Giok Ing berhasil menghindar dari serangan itu; bahkan sebelah kakinya bergerak menendang, kena lengan kanan ciangkun Cia Tong Gok yang sedang memegang golok, mengakibatkan golok itu terbang menghilang lepas dari pegangan, sementara ciangkun Cia Tong Gok meringis menahan rasa sakit.

Segera terdengar suara pekik halus dari Kanglam liehiap Soh Sim Lan, yang ikut melakukan penyerangan terhadap liehiap Liu Giok Ing; menyerang memakai pedang dan menggunakan jurus 'dewi-cantik persembahkan buah-tho', menikam bagian dada.

“Soh sumoay, kau ..." liehiap Liu Giok Ing bersuara haru, tetapi harus cepat-cepat bergerak mundur kebelakang tiga langkah.

Terasa pedih hati liehiap Liu Giok Ing, sangat pedih. Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang kakak seperguruan dari adiknya, yang teman akrabnya; sekarang ikut menyerang dia melulu sebab urusan pangeran Gin Lun.

Sekali lagi liehiap Liu Giok Ing harus menghindar dari serangan Kanglam liehiap Soh Sim Lan, yang menikam seperti tadi; cuma jurusnya ganti memakai jurus 'cia-bwe keng-hud' atau mempersembahkan bunga untuk sang toapekong. Tetapi pada saat itu lo-ciangkun Cia Tong Gok menendang tanpa tahu liehiap Liu Giok ing; kena dibagian betis sehingga terasa sakit dan pedih, sehingga bagaikan diluar kesadarannya, pedang ku-tie kiam bergerak dan berhasil membuntungkan sebelah kaki ciangkun tua yang sudah cukup lama mengabdi kepada Gin Lun Hoat-ong !

Berteriak pangeran Gin Lun sekeras-kerasnya. Teriak haru dan teriak marah. Dikarenakan melihat pengawalnya yang setia kehilangan sebelah kaki dan marah menganggap perbuatan Liu Giok Ing terlalu kejam ! Sekilas terpikir oleh pangeran Gin Lun, entah apa kesalahannya sehingga sang kakak-ipar itu memusuhi dia entah apa sebabnya sehingga sang kakak-ipar itu mengulang perbuatannya seperti 10- tahun yang lalu, membunuh dan mengacau kota-raja, bahkan didalam istana-kerajaan: untung ada 'seorang' yang memberi khabar kepadanya tentang malam itu sang kakak ipar akan mendatangi tempatnya, hendak membunuh dia !

Sebatang pedang pusaka siap ditangan pangeran Gin Lun, ingin dia menyabung nyawa dengan sang kakak ipar yang galak dan kejam itu, akan tetapi perbuatannya didahului oleh Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang sudah menyerang terhadap sang kakak ipar itu.

Cuma sekali liehiap Liu Giok Ing menangkis serangan Kanglam liehiap Soh Sim Lan, menangkis memakai sarung pedang ku tie kiam. Terdengar bunyi suara benturan yang cukup keras, lalu dua duanya tersentak mundur merasakan tenaga tekanan yang cukup besar, sedangkan liehiap Liu Giok Ing sengaja meminjam tenaga benturan tadi, buat dia langsung menjauhkan diri dari tempat itu. Dengan gerak 'tui-rek sam-cia' dan dengan tiga kali lompatan memakai landasan kepala manusia; liehiap Liu Giok Ing menghilang dari halaman istana pangeran Gin Lun !

Ingin Ceng-hwa liehiap menangis setelah dia berhasil menghilang dari istana pangeran Gin Lun. Gagal segala usahanya yang hendak menangkap pangeran Gin Lun buat diajak menghadap kepada sri baginda maharaja, bahkan langkah kakinya timpang selagi dia melakukan perjalanan menuju kota raja, ingin pulang mengadu kepada sang suami yang besar kasih sayangnya terhadap dia.

Tidak mungkin lagi buat Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing menggunakan ilmu lari cepat buat menuju pulang, sebab matahari sudah nongol dan lalu-lintas sudah cukup ramai. Kemungkinan orang-orang akan menganggap dia gila, kalau dia lari timpang di jalan-raya !

Terpaksa Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing harus jalan kaki perlahan-lahan, seperti orang-orang lain; cuma bedanya langkah kakinya timpang bekas kena tendang !

---o~dwkz^)(^hendra~o---

“SIAO KOUWNIO, siapa nama kau dan apa keperluan kau datang menghadap ?" tanya menteri kehakiman Pauw Goan Leng, sambil dia mengawasi Siu Lan yang sedang berlutut. Sepasang mata menteri kehakiman yang tua usia sebenarnya masih mengantuk, akan tetapi wajah cantik dan tubuh merangsang yang dimiliki oleh Siu Lan, berhasil membikin sepasang mata itu kelihatan segar seperti disiram air.

Sementara itu Siu Lan yang sedang berlutut dengan tubuh gemetar, bahkan mau menangis sebab menahan rasa takut, didalam hati dia merasa penasaran sebab menteri kehakiman memakai istilah 'siao-kouwnio' atau nona kecil, waktu bicara tadi. Tidakkah menteri yang tua tetapi kelihatan galak itu mengetahui, betapa dia memiliki tubuh yang segar dan sudah pandai bikin anak ? Akan tetapi, karena rasa takutnya itu, Siu Lan berkata dengan nada suara gemetaran :

“Nama hamba Siu Lan; hamba bekerja sebagai pelayan

dari pangeran Giok Lun." “Teruskan !" bentak menteri kehakiman setengah keras, sementara sepasang matanya ogah meram, asyik menikmati bagian dada Siu Lan yang tiga empat; kalau menurut perkiraan dia.

“Ampun tay-jin. Hamba terpaksa menghadap tay-jin pagi-pagi, sebab hamba perlu cepat-cepat balik lagi. Hamba tahu tay-jin masih ngantuk meskipun sepasang mata tay-jin ogah ditutup. Hamba ingin melaporkan tentang peristiwa mengerikan yang terjadi semalam "

Kaget juga menteri kehakiman Pauw Goan Leng sampai kepalanya ikut geleng-geleng. Memang semalam tidurnya sudah terganggu karena adanya laporan tentang peristiwa pembunuhan dirumahnya menteri pertanian dan menteri pertanian itu tewas dibunuh oleh seorang yang menggunakan senjata rahasia berbentuk bunga-cinta. Buru- buru Pauw Goan Leng memerintahkan kepala polisi Hamutu buat melakukan pemeriksaan dan penyelidikan; bukan untuk menangkap sebab yakin sipembunuh sudah kabur.

Kepala polisi Hamutu memang terkenal pandai menyelidik, sejak dulu waktu masih menetap digurun pasir Gobi, waktu dia sering mendapat tugas menyelidik onta- onta yang kabur lari; sampai kemudian dia tersesat diatas gunung Gobi, bertemu seorang tua sakti bertemu dengan onta yang lari. Dan dari orang tua yang sakti itu dia berhasil menambah ilmu, lalu pindah ke kota raja sebab bercita-cita ingin menjadi raja, tetapi untuk sementara dia cuma memperoleh kerja sebagai kepala polisi.

Sesuai dengan perintah menteri kehakiman; tengah malam buta dia terpaksa buka mata, meninjau dan memeriksa berbagai macam bibit tanaman dirumah menteri pertanian sebab buat urusan pembunuhan sudah dia ketahui siapa pelakunya atau si pemilik senjata rahasia berbentuk bunga-cinta. Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang cantik jelita dan pandai menyebar cinta; akan tetapi sukar didekati sebab galaknya seperti macan betina !

Bergegas Hamutu ingin buru-buru pulang, ingin buru- buru menyusun laporan; dua lembar sekaligus, yang satu buat menteri kehakiman dan yang satu lagi buat sri baginda maharaja; yang hendak dia serahkan sendiri, dengan harapan dia bakal menerima jasa dipungut mantu, supaya tambah cepat dia bisa menggantikan jadi raja.

Akan tetapi, belum sempat dia mencapai rumah, sudah datang laporan lain yang mengatakan ada keributan dirumah pangeran Giok Lun.

“Heh,   berkelahi    dia    !”    tanya    Hamutu    kepada

pembantunya yang membawa laporan.

“Iya ..." sahut sang pembantu yang serba tangkas.

“Lawan lelakinya , .."

“Bukan ! Lawan maling yang sudah berhasil melukai

pangeran Giok Lun !"

Bergegas Hamutu memimpin rombongannya pulang, bukan memeriksa dirumah pangeran Giok Lun, takut bertemu 'macan betina yang galak' !

Lupa Hamutu menulis surat laporan, sebab buru-buru dia naik ke atas tempat tidur, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

“Siangkoan sakit ?" tanya isteri Hamutu, lembut-mesra- manja suaranya.

“Huuuuhh ! Habis nguber macan !" dan buru-buru Hamutu meram, kepingin buru-buru tidur tetapi kagak bisa pulas, mikirin macan betina yang cantik jelita tetapi galaknya kagak tahan. Akan tetapi; belum sempat Hamutu pulas tertidur; bininya sudah goyang-goyang ranjang membangunkan dia. Mau marah hamutu; tapi batal; sebab ada seorang cewek yang mencari dia; katanya.

Bergegas Hamutu buru-buru turun dari atas ranjang; menuju kantor meskipun sepasang matanya masih meram- meram, hampir membentur dinding tembok. Akan tetapi sepasang matanya itu cepat berobah menjadi melek-melek waktu dilihatnya Siu Lan yang cari dia.

“Mau apa ?" tanya Hamutu lembut-lembut mesra-mesra, tetapi ternyata Siu Lan datang membawa laporan tentang 'macan betina yang galak', yang semalam membunuh orang katanya.

Bergegas dan buru-buru Hamutu menarik sebelah tangan Siu Lan, untuk diajak menghadap menteri kehakiman; akan tetapi sempat membikin janji, 'habis melapor, kita jalan- jalan dulu.'

Bergegas dan buru-buru menteri kehakiman Pauw Goan Leng mengusap sepasang matanya, supaya tetap melek habis mengingat-ingat peristiwa semalam; sedangkan kepada Siu Lan lalu dia berkata, tetap dengan suara galak- galak lembut :

“Hemm bocah manis. Jangan kau anggap perbuatan main-main datang menghadap kepadaku, aku masih mengantuk; kalau kau mau tahu. Tetapi, coba kau ceritakan semuanya. Kalau cerita kau enak didengar, akan kuberi hadiah; sebaliknya kalau cerita kau menjengkelkan aku, akan kusimpan kau didalam kamar tahanan ..."

Tersenyum Siu Lan waktu mendengar perkataan menteri tua-tua keladi itu. Cukup manis senyumnya dan cukup bikin jantung laki laki tua itu goyang-goyang mau copot. “Ampun lo ya. Eh, tay jin. Tetapi semalam hamba menyaksikan sendiri perbuatan itu, perbuatan menyeramkan yang dilakukan oleh Hoat ong nio cu Liu Giok Ing ..."

Sekilas Pauw Goan Leng tersenyum waktu mendengar Siu Lan meralat 'istilah' lo-ya ( tuan-tua ), senang dia; dianggap belum tua. Akan tetapi segera dia menjadi kaget waktu Siu Lan menyebut nama Liu Giok Ing yang isteri Giok Lun Hoat-ong, yang dikatakan sebagai si pelaku dari perbuatan pembunuhan itu; terlebih ketika selanjutnya Siu Lan menceritakan tentang kejadian semalam. Dikatakannya bahwa Siu Lan melihat Ceng-hwa liehiap terbang memasuki kamar memakai kain warna hitam. Ditangannya sudah siap dengan pedang yang tajam; menerkam suaminya sehingga Siu Lan yang menjerit-meram ketakutan setelah itu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing pergi lagi, kagak pulang pulang sebaliknya diterima berita dirumah menteri pertanian terjadi ribut-ribut dan menteri pertanian mati dibunuh. Pasti dilakukan oleh nio-cu…” Siu Lan menambahkan dan menyudahi perkataannya.

Sekilas sepasang mata Pauw Goan Leng meram-meram, cuma sekilas sebab dia merasa perlu berpikir; akan tetapi sayang membuang kesempatan melek-melek mengawasi tubuh Siu Lan. Setelah itu bergegas dia bangun dari tempat duduknya, dijinjingnya di bagian bawah pakaiannya yang gombrang gombrang lalu didekati Siu Lan yang masih berlutut, pegal tentunya bocah manis itu.

Dituntunnya Siu Lan supaya bangun berdiri, lembut perlahan-lahan sampai dia bersenyum; sehingga berhasil dia menambah senyum Siu Lan yang kelihatan makin manis, makin mesra. Setelah itu, keras-keras dia berkata kepada Hamutu : “Tangkap bocah ini dan simpan didalam kamar, eh, kamar tahanan …..!”

Bergegas dan buru-buru Hamutu mematuhi perintah atasannya, ingin dia ganti meraih dan memegang sebelah tangan Siu Lan; akan tetapi batal dia lakukan sebab dibentak oleh atasannya. Terpaksa Hamutu menuntun Siu Lan memakai sebatang pedang yang dia pegang dan yang dipegang oleh Siu Lan. Jalan mereka iring-mengiring dan digiring oleh sepasukan polisi yang menjadi bawahannya Hamutu.

Bergegas dan buru-buru menteri kehakiman Paow Leng segera meninggalkan kantor, menuju istana kerajaan hendak memberikan laporan kepada sri baginda maharaja.

Bergegas dan buru-buru sri baginda maharaja meninggalkan selir kesayangannya, sebab ada laporan menteri kehakiman datang menghadap. Ngomel-ngomel sri baginda maharaja dihadapan menteri kehakiman Pauw Goan Leng, hampir-hampir Pauw Goan Leng lupa laporan yang hendak diberikan. Cuma sepotong-sepotong yang Pauw Goan Leng bisa ceritakan tentang kejadian semalam, sebab sri baginda raja tetap ngomel-ngomel tanpa dia dengar apa yang dilaporkan oleh Pauw Goan Leng sebab sepasang mata maharaja agung itu masih meram-meram, menikmati belaian lembut mesra dari selir kesayangannya. Pauw Goan Leng cuma mendengar raja memerintahkan dia untuk menangkap pangeran Giok Lun juga bininya. Dua- duanya harus ditangkap. Memang tidak sukar menangkap pangeran Giok Lun setelah ada perintah dari sri baginda maharaja, tetapi untuk menangkap 'macan-betina yang galak', bisa tobat-tobat menteri kehakiman yang tua-tua keladi itu.

“Eh, itu Siu Lan yang membawa laporan, apa benar- benar dia bocah manis ... - " tanya sri baginda maharaja yang agung; yang mendadak sepasang matanya melek- melek mengawasi Pauw Goan Leng.

Kaget juga Pauw Goan Leng sebab secara mendadak sri baginda maharaja yang agung itu mengalihkan bahan pembicaraan. Agak takut dia melihat sri baginda raja yang melek-melek mengawasi, ada kesempatan buat dia untuk bicara; dan merocos dia bicara, selangit memberikan pujian tentang kecantikan Siu Lan.

“He-he-he ... !" tiga kali he sri baginda maharaja yang agung itu tertawa sebaliknya pangeran Giok Lun kaget dan bingung waktu pagi itu dia menerima kedatangan menteri kehakiman Pauw Goan Leng.

Pangeran Giok Lun memang sedang bingung bahkan cemas. Semalaman suntuk dia tidak tidur, menunggu sang isteri tercinta yang keluar malam-malam dan tidak pulang- pulang. Lupa dia dengan sebelah kaki dan sebelah lengannya yang terluka; sebaliknya dia lebih memikirkan nasib sang isteri tercinta, takut kalau kalau sang isteri mendapat cedera.

Lim ciangkun yang diminta mengikuti perjalanan isterinya, hanya berhasil menemukan mayat manusia yang tewas kena senjata rahasia berbentuk bunga-cinta. Siapa yang membunuh orang itu ? Mungkin isterinya, mungkin juga bukan isterinya, meskipun orang itu tewas terkena senjata rahasia yang biasanya digunakan oleh isterinya.

Nah ! Senjata rahasia berbentuk bunga-cinta yang memang sedang dia risaukan, setelah dia mengetahui ada orang lain yang juga menggunakan senjata itu, yang bahkan sedang menyebar maut di kota raja, khususnya di istana kerajaan, Siapakah orang itu ? Senjata rahasia yang berbentuk bunga-cinta itu, bahkan hampir-hampir merenggut nyawa Giok Lun Hoat-ong; kalau dia tidak menyimpan obat yang khas buatan isterinya.

Isteri kesayangan itu sekarang sedang mengejar si pelaku atau si penyebar maut itu, dan isteri kesayangan itu kagak pulang-pulang, meskipun sampai matahari nongol keluar. Kenapa ? Jelas dia memikirkan dan merisaukan, khawatir isteri kesayangannya mendapat cedera; sehingga sekali lagi dia memerintahkan Lim ciangkun mencari isterinya.

Justeru selagi dia sedang risau dan bingung datang menteri kehakiman Pauw Goan Leng, dan menteri yang tua usia ini tidak langsung mengeluarkan surat perintah penangkapan yang dia terima dari sri baginda maharaja, sebaliknya dia hanya mengatakan bahwa sri baginda maharaja memanggil sang pangeran dan isterinya buat menghadap.

Bertambah bingung pangeran Giok Lun yang mengetahui maksud kedatangannya menteri kehakiman. Haruskah dia beritahukan bahwa isterinya belum pulang, bekas semalam pergi meninggalkan rumah ? Kemana ? Repot juga pangeran Giok-Lun; kemungkinan isterinya akan mendapat tambahan fitnah dianggap biasa keluyuran diwaktu malam sampai pagi belum pulang.

“Pauw-heng, sesungguhnya aku sangat menyesal bahwa sekali ini aku tidak mungkin memenuhi panggilan hu-ong. Bukan sebab aku sengaja tidak mentaati panggilan hu-ong akan tetapi sesungguhnya isteriku sedang pergi dan belum pulang."

“Pergi kemana ?” tanya Pauw Goan Leng tanpa terasa, sebab tidak seharusnya dia berani melakukan pertanyaan semacam itu.

“Keluar kota !" sahut pangeran Giok Lun singkat, seperti

merasa tersinggung. Sejenak hening tidak ada yang bicara; akan tetapi kepala menteri kehakiman itu mengangguk-angguk sambil dia perlihatkan senyumnya. Senyum yang susah diartikan oleh pangeran Giok Lun. Mungkinkah menteri yang tua usia ini sudah mendengar perihal fitnah mengenai isterinya ? Atau mungkinkah menteri-kehakiman ini justeru ikut menduga atau menuduh isterinya yang melakukan pembunuhan- pembunuhan itu ?

Disaat menteri-kehakiman Pauw Goan-Leng membuka mulut hendak bicara, mendadak dia harus menunda sebab seorang pelayan datang membawa laporan, mengatakan Sui Lan pergi menghilang sejak pagi-pagi tadi.

“Akh ... !” pangeran Giok Lun bersuara tertahan cuma itu: lalu cepat-cepat dia perintahkan pelayan itu pergi tanpa dia perdulikan soal menghilangnya Sui Lan. Pikirannya sedang dia pusatkan terhadap persoalan isterinya dan urusan panggilan sang ayah yang begitu tiba-tiba.

Sementara itu, menteri kehakiman Pauw-Goan Leng yang tadi batal bicara; kemudian dia mengeluarkan surat perintah yang dia terima dari sri baginda maharaja, sehingga sudah tentu pangeran Giok lun menjadi semakin bertambah kaget dan bingung. Tetapi seorang anak yang berbakti kepada ayahnya, lagipula dia merasa tidak bersalah; maka dengan tenangkan diri akhirnya dia ikut menteri kehakiman, untuk dibawa menghadap kepada sri baginda maharaja.

Dilain pihak, dengan langkah kaki yang masih pincang, disaat hari sudah mulai malam; Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang sedang menempuh perjalanan seorang diri, sudah hampir tiba di pintu kota raja sebelah selatan.

Sejenak Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing berdiri diam bersandar pada sebuah pohon beringin. Terlalu letih keadaan Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing waktu itu; sepasang matanya redup, sayu dia mengurung diri dalam rangkulan suaminya, tidak pernah melakukan perjalanan yang sejauh itu; tidak membegal uang-saku sehingga tidak mungkin dia menyewa sebuah kereta kuda.

Sepuluh tahun lebih dia tidak pernah berkecimpung lagi didalam kalangan rimba persilatan, bahkan sudah tidak dia perhatikan lagi. Sekarang, secara tiba-tiba dia harus berlari, melawan sekian banyak orang yang mengepung dia, bahkan Kanglam liehiap Soh Sim Lan ikut-ikut menentang dia, kenapa? Terasa pedih dan sakit hatinya kalau dia teringat lagi dengan kejadian itu, sehingga dendamnya terhadap pangeran Gin Lun menjadi kian bertambah; pangeran Gin Lun yang sudah memfitnah dia, dan pangeran Gin Lun yang menghasut orang orang yang memusuhi dia, termasuk Kanglam liehiap Soh Sim Lan, yang satu perguruan dengan adiknya, Liu Goat Go.

“Moay-moay, dimana kau berada ...?" Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing berkata perlahan; teringat dengan adiknya yang tidak dia ketahui jejaknya sehingga bertambah dia penasaran dengan Kanglam liehiap Soh-Sim Lan. Andaikata tadi mereka sempat bicara, ingin benar dia menanyakan perihal adiknya itu.

Lesu bagaikan kehilangan gairah, liehiap Liu Giok Ing melangkah lagi hendak mencapai pintu kota raja; tetap timpang langkah kakinya, dan mendadak dia menunda lagi langkah kakinya, sebab telinganya yang memang sudah terlatih, mendadak mendengar suara yang tidak wajar.

Segera Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing memusatkan alat pendengarannya, sehingga sesaat kemudian dia merasa yakin bahwa suara yang didengarnya adalah suara rintihan seseorang. Suara rintihan seseorang yang sedang menahan rasa sakit, dan seseorang itu adalah seorang laki-laki. Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing meneliti lalu mendekati arah suara rintihan itu terdengar; sehingga dilain saat dia menemukan Lim ciangkun yang rebah terluka parah dekat sebuah selokan.

“Lim ciangkun !" liehiap Liu Giok Ing bersuara kaget.

“Nio-cu .." Lim ciangkun bersuara lemah, terlalu parah luka yang dideritanya.

“Lim ciangkun; mengapa kau terluka ?" tanya liehiap Liu Giok Ing, yang terpaksa harus setengah berlutut memeriksa luka perwira yang tugasnya sebagai pelindung dirumahnya.

“Nio-cu, ong-ya ditangkap ..."

“Heh !" kaget liehiap Liu Giok Ing; dan bersusah payah

Lim ciangkun menceritakan peristiwa yang terjadi.

Siang tadi Lim ciangkun pulang sehabis sia-sia mencari liehiap Liu Giok Ing, akan tetapi dia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Giok Lun Hoat-ong sudah ditangkap oleh menteri kehakiman, berdasarkan perintah dari sri baginda maharaja.

Lim ciangkun bergegas meninggalkan rumah; hendak mencari keterangan tempat ditahannya Giok Lun Hoat-ong, sampai kemudian diketahui olehnya bahwa pangeran itu ditahan didalam istana raja, dibagian bawah tanah. Kaget dan cemas Lim ciangkun sebab dia tidak berdaya buat memberikan pertolongan, dan dia menjadi lebih kaget lagi; ketika pihak istana-kerajaan sudah mengetahui bahwa liehiap Liu Giok Ing melakukan pengacauan dirumahnya pangeran Gin Lun, di kota San hay koan, sehingga liehiap Liu Giok Ing juga sedang dicari oleh pihak kerajaan untuk ditangkap !

Semakin Lim ciangkun menjadi kaget bahkan menjadi gugup, terlebih ketika ada seorang dari pihak istana kerajaan yang melihat dia; dan mengenali dia sebagai perwira yang bertugas dirumah Giok Lun Hoat-ong dan orang itu lalu memanggil kawan-kawan mereka, untuk menangkap Lim ciangkun dengan harapan mendapat jasa dari sri baginda maharaja.

Dalam gugupnya Lim ciangkun melakukan perlawanan, sehingga semakin lama semakin banyak tentara-kerajaan yang mengepung dia; dan mereka bahkan berteriak 'tangkap pembunuh' setelah Lim ciangkun melukai beberapa orang yang hendak menangkap dia.

Terpaksa Lim ciangkun berlari-lari dan bertempur karena dia terus dikejar, sampai akhirnya dia terluka parah tetapi dia berhasil menghilang dari para pengejarnya; lalu sengaja dia menuju ke pintu kota raja sebelah selatan, bermaksud menunggu kedatangannya sang nio-cu, yang katanya sedang dalam perjalanan habis melakukan pembunuhan dirumahnya pangeran Gin Lun di kota San-hay koan !

Berhasil Lim ciangkun bertemu dengan isteri majikannya, dan berhasil Lim ciangkun menceritakan peristiwa itu; tetapi setelah itu dia mati dekat kaki isteri majikannya.

Menangis liehiap Liu Giok Ing didekat mayat Lim ciangkun, menangis bukan buat yang mati; akan tetapi buat sang suami yang ikut menderita karena perbuatan dia.

Jelas Gin Lun Hoat ong sudah memberikan laporan ke istana-kerajaan; dan yang membawa laporan itu tentu naik kuda; sehingga mendahului liehiap Liu Giok Ing yang jalan pincang-pincang.

“Siangkong; oh siangkong ... - " liehiap Liu Giok Ing mengeluh diantara isak-tangisnya; untung tidak ada orang yang mendengarnya. Andaikata ada yang mendengar atau melihat, tentu dianggapnya bahwa Lim ciangkun yang tewas adalah suaminya liehiap Liu Giok Ing.

Bertekad liehiap Liu Giok Ing mencari suaminya, tak perduli dia harus mempertaruhkan nyawa, tak perduli dia harus menyebar maut lagi!! Sekali ini dia akan berkelahi, untuk suami dan untuk dirinya sendiri.

Sepasang matanya bersinar menyala waktu dia bangun berdiri, lalu didalam hati dia mengucap kata-kata 'maaf' kepada Lim ciangkun; sebab dia tidak bisa mengurus jenazah perwira yang setia itu; dan dia harus cepat-cepat berusaha menolong suaminya.

---o~dwkz^)(^hendra~o---

MALAM SUDAH CUKUP waktu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing tiba di istana kerajaan, tetapi dia menjadi terkejut ketika melihat penjagaan yang begitu ketat; bagaikan sudah direncanakan bila dia bakal datang mengacau ketempat itu.

Dengan gerak 'yan-cu coan-in' atau burung walet menembus angkasa, tubuh liehiap Liu Giok Ing lompat pesat mencapai bagian tembok halaman istana: dan sekali lagi dia lompat lalu hinggap pada sebuah pohon yang lebat, tanpa ada seorang petugas penjaga yang melihat dan mengetahui.

Sejenak liehiap Liu Giok Ing terdiam berpikir, lupa dia dengan betisnya yang masih terasa sakit disebabkan bekas kena ditendang; sebaliknya sempat dia menikmati lembutnya belaian angin malam, yang bagaikan belaian tangan-tangan suaminya.

Memang bakal repot kalau dia harus bertempur selagi dia belum berhasil menolong suaminya, dia harus mengatur siasat supaya kedatangannya jangan sampai diketahui oleh pihak tentara yang bertugas; setelah berhasil menolong sang suami, boleh dia berpesta menyebar maut !!

Lompat lagi liehiap Liu Giok Ing keatas genteng yang terdekat, lalu pindah pada genteng yang tertinggi, dan pindah-pindah lagi sampai berhasil dia mencapai bagian belakang dari istana kerajaan yang besar dan luas itu, lalu dia mencari ruang dapur dan mulai dia melepas api; bukan di satu tempat, tetapi di beberapa tempat yang terpisah cukup jauh, dia melepas api membikin terjadinya kebakaran

!!

Ribut tentara-kerajaan yang bertugas menjaga, berteriak mereka 'ada kebakaran' dan lari-lari berusaha memadamkan api.

“Kebakaran dimana ?” tanya seorang perwira yang 'nyelip' keluar dari cela-cela daun pintu kamar salah satu selir raja.

“Di dapur !" sahut seorang tentara yang gugup lari. “Kurang ajar !" perwira itu memaki; ingin masuk lagi

kedalam kamar selir raja, akan tetapi batal dia lakukan ketika seorang tentara lain memberitahukan tentang adanya kebakaran.

"Kebakaran dimana ?” tanya perwira itu marah-marah. “Di kandang kuda !"

“Sialan !" tetapi buru-buru perwira itu lari menuju kandang kuda, takut kudanya terbakar.

Dalam keadaan yang kacau-balau yang semacam itu, liehiap Liu Giok Ing berhasil melukai seorang tentara kerajaan, dan korban itu kemudian dia tarik-tarik mencapai sudut tempat yang cukup gelap. Dilepaskannya semua pakaian tentara itu yang lalu dia pakai; sehingga dilain saat liehiap Liu Giok Ing berobah menjadi seorang tentara, yang lari pincang-pincang diantara banyaknya tentara yang sedang lari-lari. Akan tetapi, liehiap Liu Giok Ing bukan lari mendekati tempat kebakaran, sebaliknya lari ketempat penjara dibawah tanah, yang memang sudah dia ketahui letak tempatnya; sebab dulu pernah dia ubrak-abrik berantakan !

Ada sebuah lubang angin diantara sekian banyaknya lubang-angin yang berangka tulang-besi, akan tetapi pedang ku-tie kiam mudah saja membabat putus tulang-tulang besi itu, dan nyeplos masuk tubuh liehiap Liu Giok Ing kedalam ruangan penjara dibawah tanah; akan tetapi selekas itu juga kehadirannya diketahui oleh dua orang petugas penjaga penjara.

“Eh, ngapain kau masuk dari lubang angin..." tanya salah seorang petugas penjara itu; menganggap liehiap Liu Giok Ing adalah tentara yang bertugas menjaga dibagian luar.

Tanpa mengucap kata-kata, liehiap Liu Giok Ing 'menyapu' memakai pedang ku-tie kiam; sehingga bergelundungan jatuh dua kepala manusia yang mati penasaran !

Datang lagi dua orang petugas penjara yang sempat melihat kejadian itu, mereka berteriak kaget; tetapi cuma sempat sekali menangkis pedang ku-tie kiam yang datang menyambar, lalu senjata mereka putus menjadi dua dan tulang iga mereka ikut putus, sehingga ajal menjadi bagian mereka.

“Siangkong ---!!” liehiap Liu Giok Ing berteriak haru ketika dilihatnya suaminya sedang rebah meringkuk didalam kamar tahanan berpintu dan bertulang besi. “Moay-moay ---!" pangeran Giok Lun bersuara lemah tetapi girang; melihat kedatangan isteri tersayang yang selalu dia pikirkan, yang dia merasa cemas, khawatir isteri tersayang mendapat cedera.

Sepasang mata liehiap Liu Giok Ing basah dengan air mata, melihat keadaan suaminya yang ikut menderita; lalu pedang ku-tie kiam merusak pintu tempat tahanan, dan Liu Giok Ing masuk lalu merangkul dan menangis.

“Siangkong, maafkan..." kata Liu Giok Ing diantara suara isak tangisnya, tetapi suaminya cepat-cepat memutus perkataannya:

“Huuuuusssh, jangan menangis moay-moay." dan pangeran Giok Lun membelai rambut isteri kesayangannya.

“Siangkong, kita harus cepat-cepat lari dari sini ..." kata liehiap Liu Giok Ing dalam rangkulan suaminya.

Terdiam Giok Lun Hoat-ong tidak segera memberi jawaban, sehingga liehiap Liu Giok Ing melepas diri dari pelukan suaminya mengawasi dengan sepasang mata basah dan bersinar redup-haru.

“Moay-moay, kakiku masih sakit, lukanya membengkak sehingga tidak mungkin aku bisa lari !"

“Akan kugendong !" terlalu cepat liehiap Liu Giok Ing menjawab, dan dia bahkan langsung bangun berdiri, siap dengan bagian punggung buat tempat sang suami.

“Sebelah tanganku masih sakit, tak mungkin aku ikut

bertempur."

“Siang-kong tidak perlu ikut berkelahi…” Liu Giok Ing memaksa; sehingga pangeran Giok Lun bagaikan terpaksa, membiarkan diri digendong oleh 'macan betina kesayangannya' itu. Hilang rasa sakit pada sebelah kaki liehiap Liu Giok Ing yang bekas kena tendang; sebab dia menyadari bahwa dia harus menolong dan melindungi suaminya; terlalu pesat gerak tubuhnya waktu dia lompat keluar dari penjara dibawah tanah, bagaikan dia tidak merasa terintang meskipun harus menggendong sang suami.

Tetapi, selekas dia berada dihalaman istana kerajaan, maka secepat itu juga dia dikurung dan dikepung oleh sejumlah tentara kerajaan.

“Tangkap ! ada orang bongkar penjara..!" mereka berteriak-teriak; mengakibatkan beberapa orang perwira ikut melibatkan diri dalam pengepungan itu.

“Siang-kong, berpeganglah yang erat..." bisik liehiap Liu Giok Ing dekat muka suaminya; sadar bahwa dia harus melakukan pertempuran yang berat.

“Baik moay-moay, tetapi berhati-hatilah kau ... "

Tersenyum liehiap Liu Giok Ing mendengar kata-kata suaminya, untuk yang kesekian kalinya, dia menyadari betapa suaminya menyintai dia, dan yang selalu mengharapkan mendapat cinta-kasih dia.

Akan tetapi, cinta-kasih yang diharapkan oleh suaminya, sudahkah dia berikan ?

Sepuluh tahun mereka menikah dan menjadi suami- isteri, sepuluh-tahun suaminya memberikan kasih sayang yang begitu besar; tetapi mengapa dia masih tidak bisa melupakan laki-laki si 'pencuri-hati' ? Dan lelaki itu bahkan sudah melupakan dia, sudah menikah dan sudah mempunyai anak. Mengapa masih dia pikirkan, seolah-olah masih dia harapkan?

Tak sempat liehiap Liu Giok Ing berpikir lama, sebab waktu itu dia harus sudah mulai mengamuk, membuka 'jalan darah' berusaha menerobos kepungan; ingin menyelamatkan suami tersayang. Dia suami tersayang. Mulai malam itu, mulai detik itu; Giok Lun Hoat-ong adalah suami tersayang, yang akan dia berikan semua cinta kasihnya, meskipun cuma sisa !

Gesit dan lincah gerak tubuh liehiap Liu Giok Ing yang mengamuk ditengah kepungan sekian banyaknya tentara kerajaan, juga Giok Lun Hoat ong ikut melakukan penyerangan dan pembelaan diri, memakai sebatang tombak yang berhasil dia rampas dari seorang tentara kerajaan; tetapi gerak pangeran itu sudah tentu tidak sebebas seperti dia berdiri diatas dua kakinya sendiri.

Pedang ku-tie kiam yang terkenal ampuh dan tajam, berhasil membikin putus berbagai macam senjata yang kena menyentuh; mayat mayat semakin banyak yang bergelimpangan, di samping mereka yang terluka parah maupun ringan. Tetapi pasukan yang mengurung dan mengepung bukan menjadi berkurang, bahkan bertambah banyak; juga menteri kehakiman ikut-ikut mengirim bantuan berupa tenaga polisi yang membawa pentungan besi.

“Siangkong, buang tombak yang kau pegang dan tutuplah erat-erat sepasang telinga siangkong…" sekali lagi liehiap Liu Giok Ing membisik dekat telinga suami tersayang.

Meskipun pangeran Giok Lun tidak tahu dengan maksud isterinya, akan tetapi dia percaya penuh dengan kesaktian isterinya, maka itu dia menurut apa yang diminta isterinya, sehingga pada detik berikutnya terdengarlah suara pekik yang keras dari liehiap Liu Giok Ing, pekik suara yang dapat memecah perhatian orang-orang. Bertepatan dengan itu, sebelah tangan kiri liehiap Liu Giok Ing bergerak menyebar senjata rahasia berbentuk bunga-cinta; begitu cepat gerak tangan kirinya, sehingga suaminya tidak sempat melihat waktu isterinya meraup segenggam senjata rahasia itu dari kantong bajunya, lalu menyebarkan senjata-rahasia yang berbentuk bunga-cinta ke arah para-pengepung, sebab liehiap Liu Giok Ing bergerak menggunakan ilmu 'memetik-daun menerbangkan-bunga'.

Kemudian dengan mengerahkan tenaga Eng-jiauw kang, sebelah tangan kanan liehiap Liu Giok Ing yang memegang pedang ku-tie kiam tetapi yang sudah masuk kedalam sarung; bergerak bagaikan memukul udara kosong, tetapi mengakibatkan beberapa orang tentara terpental dengan mulut mengeluarkan darah-segar, bahkan tanah ikut kena tergempur berhamburan !

Menggunakan kesempatan pihak pengepung sedang terpukau ketakutan, maka dengan gerak 'yan-cu coan-in' atau burung-walet menembus angkasa tubuh liehiap Liu Giok Ing melesat keatas genting; menyusul kemudian tubuhnya melayang lompat kearah sebelah luar halaman istana, menggunakan ilmu 'peng-see lok-gan' atau burung- belibis hinggap di pasir, tanpa dia menghiraukan betapa derasnya hujan anak-panah yang lewat disekeliling tubuhnya, juga dibagian sebelah bawah, juga dibagian sebelah atas!

Setelah berada dibagian luar halaman istana kerajaan, maka liehiap Liu Giok Ing mengerahkan ilmu 'pat-pou kan- siang' atau delapan langkah mengejar-dewa; kabur cepat cepat menuju arah sebelah selatan.

“Kita selamat, siangkong..." kata liehiap Liu Giok Ing selagi dia masih lari ngos-ngosan; menggendong sang suami tersayang dibagian punggung, dan berhasil sudah dia melewati pintu kota raja sebelah selatan. “Hu uh..," sahut sang suami tersayang, terdengar lemah suaranya; akan tetapi bagaikan tersentak Liu Giok Ing, sewaktu dia merasakan seluruh tubuh suaminya seolah-olah menegang.

“Siangkong, kau kenapa ....?" tanya Liu Giok Ing yang

mendadak merasa cemas; tetapi sambil tetap lari.

Sejenak suami tersayang itu tidak memberikan jawaban, sampai sesaat kemudian, barulah Liu Giok Ing mendengar perkataan suaminya.

“Moay-moay tentu letih, sebaiknya kau istirahat dulu , ."

Tersenyum liehiap Liu Giok Ing mendengar perkataan suaminya yang tidak menjawab pertanyaannya; sebaliknya memikirkan sang isteri yang nanti keletihan. Untuk yang kesekian kalinya, suami tersayang itu perlihatkan kasih sayangnya kepada isterinya; sehingga lupa Liu Giok Ing dengan rasa cemasnya tadi dan lupa juga dengan rasa letih yang sedang dia derita. Terlalu berat perjuangannya selama dua hari itu, dia bahkan tidak tidur, tidak makan; cuma minum air sungai waktu diperjalanan tadi. Dan yang lebih berat lagi, dia menderita kegoncangan jiwa akibat berbagai peristiwa yang terjadi begitu tiba-tiba. Urusan fitnah atas dirinya, urusan Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang ikut memusuhi dia, urusan pangeran Gin Lun yang menjadi dalang dari semua peristiwa itu, dan urusan suaminya yang ikut menderita; yang bahkan menjadi tahanan didalam penjara atas perintah ayahnya sendiri !!

“Moay-moay, istirahatlah dulu. Aku…”

Sekali lagi liehiap Liu Giok Ing menjadi terisak waktu mendengar suara suaminya, yang tidak melengkapi kalimat perkataannya; hilang-lenyap semua yang dipikirkannya, sebaliknya kembali dihantui oleh rasa cemas. “Kenapa ? Apakah suaminya ... ?”

“Siangkong, kau kenapa--?” sekali lagi liehiap Liu Giok

Ing menanya, dan memperlambat larinya.

“Aku, aku terluka ... "

Bagaikan hilang lenyap tenaga liehiap Liu Giok Ing waktu didengarnya perkataan suami tersayang itu; berhenti dia lari dan berhati-hati dia menurunkan suami tersayang dari bagian punggungnya, setelah itu, hampir-hampir dia berteriak, sebab dilihatnya ada dua batang anak panah yang membenam dibagian punggung suaminya!

“Siangkong, kau ... !" tak sanggup liehiap Liu Giok Ing meneruskan perkataannya; lembut dan berhati-hati dia merebahkan tubuh suaminya, rebah miring sehingga sempat dia melihat, betapa dalamnya anak panah itu membenam didalam tubuh suaminya. Begitu dalam sehingga dia yakin akan sia-sia dia berusaha mencabut anak panah itu dari tubuh suaminya. Tiada harapan lagi buat dia menolong nyawa suami tersayang itu !

“Siang-kong, oh siang-kong ..."

Lembut dan lemah pangeran Giok Lun perlihatkan senyumnya, dan selemah itu juga sebelah tangannya bergerak hendak memegang sebelah tangan sang isteri tersayang, yang waktu itu sedang berlutut didekat tubuhnya.

“Moay-moay, mengapa kau mengeluarkan air mata ... ?"

Terisak liehiap Liu Giok Ing menangis, dan ikut dia rebahkan tubuhnya supaya dia bisa umpatkan kepalanya dibagian dada sang suami tersayang.

“Siang-kong, oh siang-kong ... " cuma itu yang sanggup dia katakan. Lembut dan lemah pangeran Giok Lun membelai rambut isterinya, lalu dia membisik lemah dekat telinga isteri tersayang itu.

“Moay-moay; apakah kau lupa waktu dulu kita membicarakan perihal takdir. Hidup dan mati manusia berada ditangan Tuhan."

Bergerak Liu Giok Ing mengangkat mukanya dari bagian dada suaminya, mukanya basah dengan air mata dan sepasang matanya redup haru waktu mengawasi muka suaminya.

“Tidak siangkong, kau tidak akan mati." dan dikecupnya bibir sang suami tersayang; yang sedang perlihatkan senyum, senyum yang begitu lembut, senyum yang begitu lemah.

Tak ada kesanggupan lagi buat Giok Lun Hoat-ong ikut merangkul sang isteri tersayang dan tak ada kekuatan lagi buat dia balas mencium isterinya, sehingga isterinya yang berkata lagi :

“Siangkong. Tak   sangka   bahwa   siangkong   bakal

menderita seperti ini; akibat ..."

Bagaikan mendapat tambahan tenaga tenaga gaib, sebelah tangan Giok Lun Hoat-ong sanggup menutup mulut isterinya; dan bagaikan mendapat tambahan tenaga gaib, Giok Lun Hoat-ong sungguh mengucap kata kata ;

“Tidak moay-moay, jangan kau menyesali diri dan tak pernah aku menyalahkan kau untuk apapun yang kau lakukan."

Bertambah deras liehiap Liu Giok Ing mengalirkan air matanya. Ketika didengarnya perkataan suaminya itu, dan sekali lagi dia merangkul suaminya; lalu dia berkata diantara isak tangisnya : “Siangkong, maafkan aku,"

“Tidak moay-moay, tidak ada yang harus aku maafkan sebab tidak ada kesalahan yang kau perbuat, aku hanya merisaukan kau, moay-moay; sebab setelah aku mati, kau akan sebatang kara, entah dimana sekarang adikmu berada.”

“Tidak siangkong, aku akan ikut mati. Kita mati bersama sama," terlalu cepat liehiap Liu Giok Ing untuk mengeluarkan kata kata itu, begitu tiba-tiba dia memutuskan, setelah dia menyadari betapa besar kasih sayang suaminya terhadap dirinya.

“Tidak ! Tidak !” Giok Lun Hoat-ong membantah dan dia menyambung lagi perkataannya, setelah berhasil dia memisah diri dari rangkulan isterinya :

“Memang berat hatiku meninggalkan kau moay-moay; terasa hancur hatiku oleh pemisahan kita. Akan tetapi, aku tidak rela membiarkan kau bunuh diri !"

Liehiap Liu Giok Ing memaksakan dirinya buat perlihatkan senyumnya, dan sekali lagi dikecupnya bibir suaminya, setelah itu baru dia berkata lagi :

“Siangkong, aku cinta padamu. Aku tak mau berpisah

dengan siangkong ..."

Terbelalak sepasang mata Giok Lun Hoat-ong; meskipun sepasang mata itu sudah redup sayu. Sudah sepuluh tahun mereka menikah sudah sepuluh tahun mereka hidup bersama sebagai suami isteri, baru hari ini dia mendengar pernyataan bahwa isterinya menyintai dia ! Oh Tuhan, dan dia mengucapkan terima kasih Tuhan ...' dan cepat-cepat Giok Lun Hoat ong berkata kepada isteri tersayang itu :

“Moay-moay, kalau benar kau menyintai aku seperti aku menyintai kau, seperti aku menyayangi kau; maka berjanjilah kau, jangan kau lakukan bunuh diri supaya jiwaku tenang ..."

Terasa begitu pedih, sangat pedih; waktu Liu Giok Ing mendengar permintaan suami tersayang itu. Air matanya semakin deras yang mengalir keluar, suaranya bagaikan membisik waktu dia memberikan janjinya, demi suami tersayang :

“Aku berjanji, siangkong." dan sekali lagi dia merangkul

suaminya; sekali lagi dia terisak menangis.

“Terimakasih, moay-moay," Giok Lun Hoat ong bersuara lemah, membiarkan dirinya dirangkul oleh isteri kesayangannya; lalu selemah itu juga dia berkata lagi :

“Moay-moay, masih ingatkah moay-moay dengan tempo dulu, disaat kita menghadapi bulan-bulan yang penuh madu

.. ?"

“Tentu siangkong, tentu.." sahut Liehiap Liu Giok Ing; tanpa dia menyadari apa maksud perkataan suami tersayang itu.

“Waktu itu, waktu mula-mula, Moay-moay seperti merasa tidak rela, seperti merasa .. "

“Siangkong ... !" buru-buru Liehiap Liu Giok Ing memutus perkataan suaminya dan dia bahkan melepaskan rangkulannya, mengawasi suaminya yang waktu itu sedang bersenyum, meskipun kelihatan seperti meringis menahan rasa sakit, dan suami itu kemudian memaksa untuk bicara lagi:

“Aku tahu, waktu itu moay-moay menikah dengan aku tanpa kau menyertai cinta; sebab ada laki-laki lain yang kau cintai. Akan tetapi aku berusaha hendak memperoleh cinta kau, moay-moay; sebab aku benar-benar menyintai kau. Sedangkan laki laki yang kau cintai itu, aku tahu dia sudah lebih dahulu menikah bahkan kemudian dia memperoleh seorang putera. Aku sengaja memberitahukan kepada kau, moay-moay; bukan maksud aku menyakiti hatimu, tetapi aku menghendaki supaya kau jangan terus merana, supaya kau jangan terus memikirkan dia. Aku.. aku ..."

“Siang kong ... !"

Sekali lagi liehiap Liu Giok Ing merangkul, ketika dilihatnya suaminya bagaikan tak sanggup lagi meneruskan perkataannya.

“Giok moay; ciumlah aku. Peluklah aku, Giok moay ..."

Liehiap Liu Giok Ing memenuhi permintaan suaminya, tanpa menyadari bahwa sudah habis napas suaminya, selekas suaminya menyelesaikan perkataannya.

“Siang-kong ! Oh siang-kong ... !" tambah keras isak tangis liehiap Liu Giok Ing, ketika diketahuinya suaminya sudah mati; bahkan berulangkali dia masih mencium mulut suaminya, sampai tiba-tiba dia merasakan ada darah yang keluar dari mulut suaminya, darah suaminya yang ikut melekat dimulutnya yang mencium suaminya.

---o~dwkz^)(^hendra~o---

SEMALAMAN SUNTUK Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing merangkul tubuh suaminya yang sudah menjadi mayat, yang tewas dipinggir jalan raya; dan kemudian mayat itu dibawa oleh liehiap Liu Giok Ing, berhasil menemukan sebuah rumah gubuk kecil didekat sawah.

Tak hentinya liehiap Liu Giok Ing menangisi mayat suaminya, disertai dengan peluk cium yang tak bosan-bosan dia lakukan, bahkan sampai sejenak dia pulas tertidur, lalu menangis lagi dan tertidur lagi. Pagi harinya liehiap Liu Giok Ing tersentak bangun; sebab mendengar pekik teriak dari banyaknya suara orang- orang :

“Tangkap ! Pembunuhnya ada disini !"

Bagaikan seekor macan betina yang galak Liu Giok Ing lompat bangun dari sisi mayat suaminya, langsung keluar dari rumah gubuk yang kecil itu lalu dilihatnya ada belasan tentara kerajaan, yang sedang mendekati dan berusaha hendak mengurung rumah gubuk itu.

Sepasang mata Liu Giok Ing bersinar menyala, menyimpan dendam sebab suaminya justeru mati ditangan tentara kerajaan.

Segera terdengar pekik suaranya yang nyaring menggetarkan sekitar tempat itu; lalu tubuhnya lompat melesat mendekati tentara kerajaan itu, langsung mengamuk tanpa menggunakan pedang ku-tie kiam yang tetap berada didalam sarung, namun sepasang tangannya bagaikan menyimpan tenaga yang maha besar, sebab memang dia sedang mengerahkan ilmu Eng-jiauw kang, atau ilmu pukulan 'cakar elang' yang terkenal dahsyat dikalangan rimba persilatan.

Dalam waktu yang cukup singkat, belasan tentara kerajaan itu rebah bergelimpangan menjadi mayat; sementara perhatian Liu Giok Ing pindah kepada rakyat jelata yang ikut berkumpul, sebab mereka mendengar suara ribut-ribut tentara yang hendak menangkap pembunuh; dan Liu Giok Ing yang jiwanya memang sedang terguncang, merasa begitu tertekan. Sehingga dia salah mengerti menganggap orang-orang itu hendak membawa lari mayat suaminya, sehingga sekali lagi dia mengamuk, mengakibatkan orang-orang itu berteriak mengatakan 'ada orang gila ngamuk' dan teriakan mereka itu justeru membangkitkan kemarahan Liu Giok Ing, sehingga semakin mengganas dia mengamuk !

Perbuatan Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing saat itu, jelas dia lakukan diluar kesadarannya; dan semua perbuatannya itu, tanpa diketahuinya diintai oleh serombongan orang orang yang dipimpin oleh ciangkun Sie Pek Hong, perwira yang mengabdi pada pangeran Kim Lun di kota Oei-kee tin, yang letaknya disebelah timur dari kota raja.

Dahulu, lebih dari 10 tahun yang lalu, ciangkun Sie Pek Hong menjadi perwira yang mengabdi pada sri baginda maharaja di kota raja; tetapi dia pernah ketangkap basah 'ada main' dengan salah seorang selir sri baginda maharaja, sehingga dia kabur menyimpan dendam terhadap orang- orang yang memusuhi dia, termasuk pangeran Giok Lun!

Kemudian Sie Pek Hong mengabdi pada pangeran Kim Lun di kota Oei-kee tin, dan putera sri baginda raja yang ke delapan ini; memang menyimpan dendam terhadap pangeran Giok Lun, sebab diam-diam dia menyintai liehiap Liu Giok Ing tetapi kalah serobot dengan sang kakak yang lain ibu itu.

Setelah menerima Sie Pek Hong yang dijadikan perwira pada pasukan pelindung yang dimilikinya, dan setelah mengetahui bahwa Sie Pek Hong juga menyimpan dendam terhadap pangeran Giok Lun; maka mereka mengatur rencana hendak mencelakai pangeran Giok Lun, sekaligus mencelakai liehiap Liu Giok Ing.

Sementara itu, Sie Pek Hong yang memang pandai menghasut, berhasil membikin pangeran Kim Lun berminat untuk melakukan perbuatan makar; ingin menjadi raja memakai cara kekerasan, sebab dia mengetahui bahwa tidak ada kemungkinan kursi raja diwariskan kepada dia ! Jelas merupakan perbuatan Sie Pek Hong, yang sengaja melepas anak buah menyebar maut di kota-raja dan didalam istana kerajaan, dengan menggunakan senjata rahasia berbentuk bunga-cinta; sehingga liehiap Liu Giok Ing terkena fitnah dan ikut menyebar maut, bahkan sampai di kota San-hay koan, di tempat pangeran Gin Lun, sehingga terjadi salah mengerti antara pihak Gin Lun Hoat- ong dan Giok Lun Hoat-ong, disusul kemudian dengan tindakan sri baginda maharaja yang menangkap Giok Lun Hoat ong, mengakibatkan Giok Lun Hoat-ong tewas.

Semua perbuatan yang dilakukan Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing, sudah tentu tak lepas dari pengawasan ciangkun Sie Pek Hong yang menyebar anak buahnya; dan betapa ciangkun merasa kagum waktu menyaksikan kegagahan liehiap Liu Giok Ing yang mengamuk di istana-kerajaan. Rencana semula yang hendak membunuh liehiap Liu Giok Ing, batal dia lakukan sebab 'ngeri' menghadapi 'macan- betina yang galak'; sebaliknya diam diam dia 'jatuh cinta' melihat kecantikan liehiap Liu Giok Ing, meskipun setelah 10 tahun liehiap itu menikah dan menjadi isteri pangeran Giok Lun.

Sepuluh tahun yang lalu, ciangkun Sie Pek Hong memang berada di kota raja dan mengabdi sri baginda maharaja; akan tetapi selama itu dia belum pernah melihat kecantikan liehiap Liu Giok Ing dan tak pernah menyaksikan kegagahan 'macan betina yang galak' itu. Cuma kabar-kabar angin yang mengatakan betapa cantiknya dan betapa gagahnya liehiap Liu Giok Ing. Sekarang, setelah dia melihat dengan sepasang matanya sendiri; amboi, kagak tahan dia dan gedebak-gedebuk jantungnya berontak mau copot, sehingga buru-buru dia membatalkan niat hendak membunuh, sebaliknya mengatur siasat 'mengasah otak,' ingin menangkap hidup kalau perlu membawa lari 'macan betina yang janda' itu, tanpa perduli Kim Lun Hoat-ong mengharap harap angin.

---o~dwkz^)(^hendra~o---