-->

Pedang Ular Emas Bab 20

Bab ke 20

Orang-orang Kim Liong Pang lantas berseru-seru: "Dia hendak gunai tipu-daya keji, jangan percaya dia! Jaga supaya jangan sampai dia kabur!"

Wan Jie tidak mau lantas dengar orang-orangnya itu. "Bagaimana kau pikir, Wan Siangkong?" dia tanya Sin

Cie. Dia lebih percaya anak muda ini.

Sin Cie berpikir.

"Mestinya dua orang ini ada punya rahasia, baik kami ikut mereka, untuk mengetahui duduknya hal yang sebenarnya. Apa mungkin mereka hendak gunai tipu-daya? Bisakah mereka nanti loloskan diri dari tanganku?"

Lalu ia menjawab: "Mari kita pergi, untuk memperoleh penjelasan!"

Ciau Wan Jie segera menoleh kepada semua kawannya, untuk kata: "Aku beserta Wan Siangkong, aku percaya mereka tidak nanti berani main gila!"

Sejak meninggalnya Ciau Kong Lee, semua orang Kim Liong Pang telah pandang Nona Ciau sebagai gantinya ketua mereka. Mereka percaya nona ini, yang mereka pun hormati, karena Wan Jie pintar dan bisa bawa diri. Mereka telah saksikan sendiri bagaimana pandai si nona pimpin mereka untuk kepung-kepung musuh ini. Mereka juga percaya Sin Cie, yang kegagahannya dan kemuliaan hatinya mereka sudah buktikan sendiri. Maka itu, mereka tidak bersangsi pula. "Baiklah," kata mereka.

"Mari kita pergi sekarang!" kata Tong Hian kemudian.

Dengan bertangan kosong, imam ini ajak suteenya jalan di sebelah depan, di belakang mereka, Sin Cie mengikuti bersama Ciau Wan Jie. Mereka keluar dengan melompati tembok.

Lebih dahulu daripada itu, Sin Cie minta See Thiam Komg berempat pulang lebih dahulu kehotel mereka, sedang orangnya Kim Liong Pang undurkan diri di bawah pim-pinannya Gou Peng, murid kepala dari Ciau Kong Lee.

Sin Cie dan Wan Jie ikuti Tong Hian dan Cu Hoa menuju kearah utara, mereka jalan sambil berlari-lari, menghampirkan tembok kota. Di sini imam itu keluarkan bandringan gaetan, untuk membangkol tembok kota, dengan itu Wan Jie merayap naik paling dulu, Baru Cu Hoa dan Sin Cie. Paling akhir adalah si imam sendiri. Dari atas tembok, mereka lompat turun kelain sebelah, untuk melanjutkan perjalanan mereka ke utara.

Ketika itu sudah tengah malam, rembulan bersinar sedang terangnya, cahayanya putih-bersih dan permai.

Perjalanan disini, makin jauh makin sukar. Setelah melalui empat-lima lie, Tong Hian dan Cu Hoa mulai menindak naik ke sebuah tanjakan.

Heran juga Sin Cie dan Wan Jie. Entah kemana mereka hendak diajak pergi. Mereka pun pikir-pikir, sebenarnya mereka hendak diperlihatkan apa. Tapi mereka tak jeri, mereka mengikuti terus. Mereka mendaki tanjakan untuk dua-tiga lie. Di sini tidak ada jalanan, dan tanahnya penuh batu. Maka itu untuk bisa maju, mereka berlari-lari dengan ilmu entengi tubuh. Saban-saban mereka injak batu besar, untuk dari situ lompat kelain batu besar lagi, demikian seterusnya.

Belum sampai dipuncak tanjakan, Wan Jie sudah, bernapas sengal-sengal. Inilah pengalaman hebat untuknya. Maka itu Sin Cie cekal lengan orang. "Mari aku bantu padamu!" kata pemuda ini.

Wan Jie tidak malu-malu palsu, ia kasi dirinya dibantui. Seperti tanpa merasa, ia lantas bisa maju terlebih jauh. Kalau tadi mereka telah ketinggalan Tong Hian dan Cu Hoa, sebentar saja mereka mendahului sampai dipuncak bukit.

Di sini keadaan tempat ada lebih berbahaya daripada ditengah jalan tadi dan suasana pun menyeramkan, sebab di sana-sini kelihatan batu-batu besar yang berdiri bagaikan hantu atau binatang buas, ada yang kecil-kurus mirip pedang atau tumbak...

Sebentar kemudian, Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa dapat menyusul mereka sampai dipuncak, Tong Hian mendahului menuju kebelakang setumpukan batu besar. Di sini dia menjumput sepotong batu, yang ia ketoki ke sebuah batu besar sampai tiga kali. Ia berhenti sedetik, lalu ia menyambungi, dua kali. Habis ini, ia mengulang mengetok lagi tiga kali.

Setelah mengetok-ngetok tumpukan batu secara demikian, Tong Hian lantas bekerja, ialah dengan kedua tangannya, ia angkat sesuatu batu yang menjadikan tumpukan itu, ketika ia sudah singkirkan enam-tujuh potong, dibawah tumpukan itu tertampak sebuah peti mati yang besar.

Wan Jie terkejut akan menampak peti mati itu, inilah tidak pernah ia sangka-sangka. Suasana disitu memang sudah sangat menyeramkan.

Tong Hian bekerja lebih jauh, tanpa bantuan Bin Cu Hoa, yang berdiri diam saja mengawasi dia. Dengan kedua tangannya, ia pegang tutup peti, lalu ia kerahkan tenaganya, untuk angkat itu, hingga terdengarlah satu suara menjeblak yang keras. Begitu lekas tutup peti terangkat ke belakang, menyusul suara menjeblak itu, didalam peti bergerak satu tubuh, yang bangun untuk berduduk!

Wan Jie keluarkan seruan saking kagetnya.

"Hai, kamu ajak orang luar?" tiba-tiba si "mayat hidup" bertanya.

"Inilah dua sahabat baik," sahut Tong Hian dengan tenang. "Ini ada Wan Siangkong, muridnya Kim Coa Long- kun, dan ini ada Nona Ciau, puterinja Suhu Ciau Kong Lee."

"Mayat hidup" itu lantas awasi kedua orang yang diperkenalkan itu.

"Maaf, jiewie," katanya. "Pintoo sedang terluka, tak dapat aku berbangkit. " Ia memberi hormat.

Belum Sin Cie bilang suatu apa, Tong Hian sudah mendahului.

"Inilah Toasuheng kami Cui In Toojin, yang mewariskan kedudukan ketua Bu Tong Pay," demikian katanya. "Untuk menyingkir dari musuh, buat sekalian memelihara diri toasuheng sengaja berdiam di sini. "

Mengetahui orang bukannya "mayat hidup," Sin Cie dan Wan Jie membalas hormat. Imam itu manggut, untuk membalas.

Sin Cie dan Wan Jie dapatkan wajah Cui In Toojin pucat sekali, bagaikan kertas putih saja, tanda luka kedapatan dari batas jidatnya sampai kebatang hidungnya. Luka itu adalah luka belum terlalu lama. Tapak luka itu membuat romannya si imam jadi jelek dan menyeramkan. Sambil mengawasi, dua anak muda ini pun pikiri, kenapa untuk merawat diri dan menyingkir dari musuh, imam ini sampai sembunyikan diri secara demikian macam.

Sekarang nampaknya imam itu berhati lega, bisa ia bersenyum.

"Dimasa hidupnya guruku, Uy Bok Toojin," katanya, "dia bersahabat dengan Kim Coa Long-kun, gurumu itu, Wan Siangkong. Ketika Hee Locianpwee datang ke Bu Tong San, untuk merundingkan ilmu silat pedang, aku dapat kesempatan untuk melayani dia. Apakah ada banyak baik locianpwee itu?"

Sin Cie anggap tak usah ia sembunyikan apa-apa lagi. "Guruku itu telah menutup mata," ia jawab.

Cui In Toojin lantas saja menghela napas, ia terus berdiam, air mukanya menjadi suram pula, tandanya ia berduka. Karena ini, semua orang turut berdiam.

"Ketika barusan Tong Hian Sutee menyebutkan siangkong adalah murid dari Kim Coa Long-kun, aku girang bukan kepalang," kata pula si imam "mayat hidup" itu sesaat kemudian. "Aku telah memikir, asal Hee Locianpwee suka turun tangan untuk membantu, pastilah sakit hatinya guruku akan dapat terbalas. Ah, siapa sangka, Hee Locianpwee telah meninggal dunia... Benar-benar aku kuatir orang jahat itu nanti malang-melintang didunia ini tanpa ada orang yang sanggup mencegahnya!"

Didalam hatinya, Wan Jie kata : "Aku datang untuk urusan pembalasan sakit hati ayahku, siapa tahu di sini muncul urusan sakit hati guru..."

Sin Cie sebaliknya berpikir: "Siapa sih musuh mereka ini, yang agaknya demikian liehay, hingga sampai, tanpa Kim Coa Long-kun, tidak ada orang lainnya lagi yang sanggup mengendalikannya?"

Sampai disitu, Tong Hian Toojin lantas bicara sama suhengnya, kakak seperguruan itu. Dia tuturkan urusan pihak Kim Liong Pang menyeterukan Bin Cu Hoa.

"Aku minta suheng suka menjelaskannya kepada Nona Ciau ini," katanya kemudian.

"Hai!" mendadak Cui In Toojin berseru. Memangnya, selama memasang kuping, ia sudah panas hatinya, makin mendengar, ia jadi makin gusar. Diakhirnya, tiba-tiba saja ia ayun tangannya, ia hajar pinggiran peti mati.

"Prak!" demikian satu suara nyaring, dan peti itu sempal! Sin Cie terkejut dalam hatinya.

"Teranglah kepandaiannya imam ini jauh lebih tinggi daripada kedua suteenya ini," pikirnya. "Dia berkepandaian begini liehay, kenapa dia sebaliknya sangat jeri terhadap musuhnya, hingga ia rela sembunyikan diri di dalam peti ini bagaikan mayat saja?"

"Nona Ciau," Cui In kemudian kata kepada Wan Jie, "sukalah kau dengar keteranganku. Adalah aturan di dalam kalangan Bu Tong Pay kami, sesuatu murid yang telah lulus pelajarannya, hingga ia boleh turun gunung, ia selalu mesti dibekali sebilah pisau belati oleh guru kami. Pintoo telah diangkat sebagai ketua Bu Tong Pay, untuk menggantikan guru kami itu, benar kepandaianku tidak berharga, sampai pintoo mesti menelan malu, merawat diri dengan sembunyi didalam peti mati secara begini, tetapi terhadap sahabat- sahabat tak dapat pintoo omong dusta. Nona, tahukah kau, apa keperluannya pisau belati kami itu?"

"Aku tidak tahu," Wan Jie menggeleng kepala. Cui In Toojin dongak, akan memandang si Puteri Malam, lalu ia menghela napas.

"Cousu kami dari tingkat ke-empatbelas ada Hie Hian Tootiang," berkata dia, melanjuti, "kepandaian ilmu silat pedangnya tidak ada tandingannya di kolong langit ini, maka sayang sekali, dia bertabeat keras dan jumawa juga, karenanya, tak sedikit sudah ia membunuh orang, hingga tak sedikit musuh-musuhnya. Maka kejadianlah dia diundang dalam satu rapat besar di atas gunung Heng San, di sini dia tempur jago-jago dari pelbagai kaum, yang lawan ia secara bergiliran, maka walaupun dia berhasil merubuhkan delapan-belas musuh, akhirnja ia sendiri kehabisan tenaga, dengan kesudahan ia mendapat luka-luka parah. Setelah itu, dia gunai pisau belati, untuk membunuh diri, karena tak sudi dia terbinasa di tangan musuh. Sejak kejadian itu, maka mulai Cousu kami yang ke-limabelas, Bu Tong Pay telah mengadakan aturan setiap lulusan murid dihadiahkan sebilah pisau belati. Tong Hian Sutee, pergi kau kesana!"

Cui In menunjuk.

Tong Hian bingung, tetapi ia toh bertindak, sampai beberapa ratus tindak, diwaktu mana:

"Cukup!" sang suheng bilang. Sutee itu hentikan tindakannya

Cui In lantas memandang kepada Bin Cu Hoa.

"Bin Sutee," katanya dengan pelahan, "ketika suhu hadiahkan pisau belati kepadamu, apakah pesanannya?"

"Pesan suhu adalah pantangan keras untuk membunuh karena urusan pribadi, bahwa pisau belati itu mesti dirawat dan disimpan hati-hati," sahut Bin Cu Hoa. "Suhu pesan, apabila didalam satu pertempuran kita terang sudah tak

932 dapat melawan lebih jauh, kita mesti bunuh diri dengan pisau itu."

Cui In Toojin manggut-manggut.

"Nah, pergilah kau kesana," menitah dia seraya menunjuk ke lain jurusan dari Tong Hian Toojin.

Bin Cu Hoa menurut.

Ketua Bu Tong Pay itu kemudian panggil balik pada Tong Hian Toojin.

"Tong Hian Sutee," katanya, "ketika suhu hadiahkan kau pisau belati, apakah pesannya?"

Tong Hian unjuk sikapnya sungguh-sungguh.

"Itulah," sahutnya, "aku dilarang keras membunuh karena urusan pribadi, pisau mesti dirawat dan disimpan hati-hati, apabila kita tak berdaya dalam satu pertempuran, dengan pisau itu kita mesti bunuh diri!"

Suheng itu manggut, lantas ia panggil balik pada Bin Cu Hoa.

Setelah adik seperguruan itu sudah datang dekat, Cui In pandang Sin Cie dan Wan Jie.

"Sekarang tentu jiewie percaya bahwa Bu Tong Pay mempunyai pesan terakhir itu," katanya.." Maka juga orang-orang anggauta kita, tidak perduli bagaimana tersesatnya, tidak nanti mereka gunai kay-sat-too untuk bunuh orang."

"Jadi pisau belati itu dinamakan kay-sat-too?" Sin Cie tegaskan.

"Kay-sat-too" berarti "pisau yang dilarang dipakai membunuh orang lain." "Benar," Cui In Toojin manggut. "Pisau belati adalah alat tajam untuk membunuh manusia, akan tetapi sejak contoh dari Hie Hian Su-cou itu, mulai sucou tingkat ke- limabelas, kami telah mengadakan aturan keras ini. Semenjak itu, apabila ada murid yang hendak menyingkirkan orang jahat, dia Baru boleh lakukan itu setelah peroleh ijin dari ketua, kecuali apabila dia kena dikepung dan terpaksa mesti membela diri. Apabila ada murid yang lancang membunuh, tidak perduli si kurban bagaimana besar kejahatannya, jikalau itu dilakukan tanpa perkenan atau setahu ketua, maka perkaranya itu mesti ditangguhi sampai rapat besar di Bu Tong San yang biasa diadakan setiap dua tahun sekali, diwaktu itu perkara bakal diperiksa dan diputuskan, siapa bersalah, dia mesti bunuh dirinya dengan kay-sat-too itu. Ketika dahulu Bin Sutee hendak bunuh Ciau Suhu, untuk pembalasan sakit hati bagi kakaknya, ia telah peroleh perkenanku, akan tetapi belakangan, setelah ketahuan dia telah dipermainkan oleh orang jahat, apabila setelah itu dia masih membunuh juga Ciau Suhu, maka dia telah langgar aturan kami!"

Imam ini menghela napas.

"Kay-sat-too adalah alat untuk membunuh diri sendiri," ia menambahkan, menjelaskan, "Umpama ada murid Bu Tong Pay yang menghadapi musuh tangguh, hingga tak sanggup dia melawannya, dan musuh itu masih terus mendesak dia, sampai dia tak bisa loloskan diri lagi, maka dia mesti gunai pisau belati ini, untuk membunuh diri, supaya dengan begitu bisa dicegah rubuhnya nama baik dari Bu Tong Pay. Mengenai Bin Sutee ini, diumpamakan benar dia sudah langgar pesan, akan tetapi dikolong langit ini ada banyak macam senjata lain, mengapa dia demikian tolol hingga dia sudah menggunakan kay-sat-too? Dan kenapa, sesudah dia melakukan pembunuhan, dia masih tidak bawa kabur pisau belatinya itu?"

Mendengar ini, Sin. Cie dan Wan Jie manggut-manggut. "Nona Ciau, aku akan kasikan kau sepucuk surat," kata

Cui In Toojin.

Dari dalam peti, imam ini angkat satu bungkusan, yang ia terus buka, disitu ada sesusun surat-surat tapi ia hanya ambil satu di antaranya, yang ia terus angsurkan kepada si nona.

Wan Jie berpaling kepada Sin Cie. Anak muda kita manggut, maka ia lantas sambuti surat itu dari tangan si imam. Diantara cahaya rembulan, ia baca alamat dan alamat si pengirim. Itulah surat dari Bin Cu Hoa untuk Cui In Toojin, sang suheng. Ia lantas tarik keluar suratnya, yang kertasnya ada kertas-tulis dari hotel "Thong Siang" di Pang- pou, ia beber itu, untuk dibaca.

Huruf-huruf tidak keruan, tata-bahasanya pun kalut. Ia terus baca:

"Cui In Toasuheng yth.,

Dalam perkara dengan Ciau Kong Lee, Baru sekarang siautee ketahui bahwa siautee telah dipermainkan orang. Sudah begitu, apa celaka tadi malam pun siautee punya kay-sat-too telah dicuri orang jahat. Siautee merasa malu sekali karena kecurian ini. Maka, kalau tak berhasil siautee mencari pulang pisau itu, tidak ada muka siautee akan menemui pula Toasuheng.

Harap Toasuheng mengetahui adanya. Hormat dari siautee, Bin Cu Hoa." Bergemetar kedua tangannya Wan Jie setelah ia membaca habis, lantas saja ia berbalik untuk menghadapi Bin Cu Hoa, buat memberi hormat sambil menjura.

"Bin Siok-hu," katanya, "aku telah keliru menyangka kepada kau, aku telah berbuat kurang ajar terhadapmu..."

Lantas ia pun memberi hormat pada Tong Hian Toojin. Suheng dan sutee itu lekas-lekas balas kehormatan itu. "Entah bangsat anjing yang mana sudah curi pisauku ini

yang ia pakai membunuh Ciau Suhu," kata Cu Hoa

kemudian. "Dia telah tinggalkan pisau ini, terang maksudnya supaya ia bisa timpahkan kedosaan atas diriku."

"Ya, aku semberono sekali, tak sampai aku memikir kesitu," Wan Jie akui. "Aku tadinya kira, setelah Bin Siok- hu bunuh ayahku, kau sengaja tinggalkan pisau itu, untuk banggakan bahwa kau adalah satu laki-laki sejati."

"Sebenarnya bersama-sama Tong Hian Suheng, aku telah cari pisau itu kemana-mana," menerangkan Bin Cu Hoa, "sampai sebegitu jauh belum pernah kami peroleh endusan. Belakangan kami terima surat dari Toasuheng, yang memanggil kami datang ke kota raja, maka itu, kami lantas berangkat menuju kemari; adalah diluar sangkaanku, di sepanjang jalan, kami dipegat dan dirintangi oleh rombongan kau, Nona Ciau, sampai tadi kamu telah kepung aku. Syukur ada Wan Siangkong, maka sekarang urusan telah menjadi terang."

Sin Cie merendahkan diri, tak mau ia menerima pujian. "Sekarang tunggulah sampai aku sudah sembuh dan

urusanku telah dapat dibereskan," kata Cui In Toojin kemudian, "selama itu, asal ada untung hingga jiwaku masih ada, aku nanti bantu kau, Nona Ciau, untuk cari si pencuri kay-sat-too, yang telah bunuh ayahmu itu."

Kembali Wan Jie memberi hormat seraya haturkan terima kasih pada imam ketua dari Bu Tong Pay itu, kemudian ia pulangkan kay-sat-too pada Bin Cu Hoa.

Sin Cie bisa duga, suheng dan sutee itu bertiga tentu bakal berempuk, untuk mendamaikan urusan mereka; yang mestinya ada satu rahasia untuk pihak luar, hingga tak dapat ia mencampurinya, dari itu ia ajak Wan Jie untuk memberi hormat kepada mereka itu.

0o-d.w-o0

"Ijinkan kami undurkan diri!" kata pemuda kita, yang terus memutar tubuh, untuk berjalan pergi.

"Jiewie, tunggu dulu!" tiba-tiba berseru Tong Hian Toojin, selagi dua orang itu Baru jalani beberapa ratus tindak.

Sin Cie dan Wan Jie lantas merandak.

Tong Hian berlari-lari, untuk menghampirkan.

"Wan Siangkong, Nona Ciau," kata imam ini, "ada satu hal untuk mana aku hendak memohon, tapi lebih dahulu aku harap kamu tidak buat kecil hati..."

"Bicaralah, tootiang," Sin Cie jawab.

"Aku ingin bicara hal kami disini," kata Tong Hian. "Kami mohon supaya siangkong berdua tidak sampai membocorkannya. Tidak selayaknya aku banyak omong, akan tetapi urusan mengenai keselamatan jiwa suhengku, terpaksa aku majukan juga permohonan ini kepada jiewie..." Tentu saja Sin Cie mengerti kebiasaan kaum kangouw, untuk tidak banyak omong mengenai rahasia dari masing- masing partai, dan ia pun mengerti, urusan mesti sangat penting maka Tong Hian sampai berikan pesannya itu. Urusan mereka itu tidak mengenai urusannya sendiri, Sin Cie tidak berkeberatan untuk berikan janjinya. Tapi barusan ia saksikan ketangguhan tangan dari Cui In Toojin, ia jadi ketarik. Ia bersimpati kepada imam itu.

"Sebenarnya saudaramu itu sedang menghadapi urusan besar bagaimana?" ia tanya. "Aku tidak punya pengertian apa-apa akan tetapi suka aku memberikan bantuan sebelah lenganku."

To-ng Hian tahu pemuda ini liehay sekali, yang pasti melebihkan juga toasuhengnya, maka mendengar perkataan itu, ia girang sekali.

"Siangkong sudi membantu kami, ini adalah hal yang untuk memintanya pun kami tidak berani," ia lekas bilang. "Baik, aku nanti beritahukan dulu toasuheng."

Dengan lantas Tong Hian lari kepada Cui In, untuk menyampaikan tawaran Sin Cie, hal mana, Cui In Toojin segera damaikan bersama Cu Hoa juga. Agaknya urusan ada ruwet, sampai sekian lama masih belum ada keputusannya.

"Tentu ada keberatannya bagi mereka, tak suka mereka orang luar campur tahu urusan mereka, baiklah aku tidak memaksa," pikir Sin Cie. Maka ia lantas kata dengan nyaring: "Jiewie tootiang, saudara Bin ijinkan aku berangkat lebih dulu! Sampai ketemu pula!"

Bersama Wan Jie, ia angkat tangan, untuk memberi hormat, setelah itu mereka memutar tubuh. Tapi, belum sampai mereka bertindak, Cui In Toojin sudah memanggil. "Wan Siangkong, mari sebentar, mari kita bicara!" Sin Cie terima baik undangan itu, ia kembali kepada mereka.

"Wan Siangkong sudi membantu kami, kami bertiga sangat bersyukur," berkata ketua dari Bu Tong Pay itu.

.Akan tetapi baiklah kami menjelaskannya. Urusan kami adalah urusan pribadi dan bahayanya pun sangat besar, karena mana dengan sesungguhnya, tak ingin kami bahwa Wan Siangkong, dengan tak ada sebab-musababnya, nanti kena kerembet-rembet dan mendapat kesukaran karenanya. Maka itu kami mohon supaya Siangkong jangan jadi kecil hati dan jangan mengatakan kami tidak tahu diri. "

Habis berkata, imam itu menjura dengan dalam.

Sin Cie percaya orang bicara dengan jujur, ia tidak berkecil hati, sebaliknya, ia puji imam ini.

"Jangan menyebut demikian, tootiang," ia bilang. "Jikalau demikian tootiang bilang, baik, ijinkan kami berlalu. Tapi ingin aku menerangkan, andaikata dibutuhkannya, umpama uang, Baru jumlah sepuluh laksa tail saja, sanggup aku menyediakannya, sedang dalam hal tenaga, dapat aku mengumpulkan saudara-saudaraku dari enam atau tujuh propinsi. Apabila ada surat-surat, tolong tootiang segera kirim itu kepada kami di gang Ceng-tiau- cu."

Mendengar itu, Cui In Toojin berdiam, lalu ia menarik napas panjang.

"Wan Siangkong, sungguh mulia hatimu," kata dia kemudian. "Sebenarnya urusan kami sangat memalukan, akan tetapi, apabila tetap kami menutupinya, benar-benar kami jadi tidak menghargai sahabat-sahabat sejati. Jiewie, silahkan duduk! Tong Hian Sutee, silahkan kau menjelaskannya." Tong Hian tunggu sampai itu pemuda dan pemudi telah duduk di batu, ia pun cari sebuah batu lagi, untuk duduk diatasnya.

"Guru kami, Uy Bok Toojin tak betah berdiam saja, ia gemar sekali pesiar," lantas imam itu mulai dengan keterangannya, "maka itu kecuali satu kali setiap dua tahun, di waktu rapat besar di Bu Tong Sam, jarang sekali ia berada di gunung. Pada lima tahun yang lampau musim Rontok ada saat untuk rapat besar dua tahun sekali itu, ketika itu suhu tidak pulang, dia juga tidak mengirimkan surat pemberian tahu. Hal itu adalah hal yang belum pernah terjadi. Semua murid menjadi heran dan berkuatir. Apa yang kau tahu, kali itu suhu pesiar ke Selatan untuk sekalian mencari bahan obat-obatan. Dengan segera kami memecah diri, untuk mencari, ke Inlam, Kwieciu, Kwiesay dan Kwietang. Sampai lama, masih kami tidak peroleh kabar suatu apa. Kemudian adalah aku yang bersama Bin Sutee menerima kabar panggilan dari Twie-hong kiam Ban Hong. Dia itu adalah dari partai Tiam Chong Pay di Tay- lie. Ketika pada suatu hari kami sampai di rumah Ban Toako, dia bilang ada urusan sangat penting. Berdua kami segera berangkat ke Tay-lie. Ketika pada suatu hari kami sampai dirumah Ban Toako, dia sedang rebah dipembaringan karena luka hebat. Baru setelah kami menanyakan sebabnya Ban Toako terluka, kami mendapat tahu bahwa itu disebabkan urusan guru kami."

Mendengar sampai di sini, Sin Cie segera ingat keterangannya Thia Ceng Tiok bahwa Uy Bok Toojin telah terbinasa di tangannya kaum Ngo Tok Kau. Diam-diam dia manggut.

"Menurut Twie-hong-kiam Ban Toako itu," Tong Hian Toojin melanjuti, "ketika hari kejadian itu, dia pergi keluar kota untuk mengunjungi satu sahabatnya, di luar kota itu dengan kebetulan ia saksikan suhu sedang dikepung oleh sejumlah orang. Antara Tiam Chong Pay dan Bu Tong Pay terdapat hubungan yang erat sekali, dari itu Ban Toako tidak bersangsi akan segera hunus pedangnya akan bantui suhu. Diluar sangkaan, pihak musuh liehay sekali, walaupun berdua, tak dapat Ban Toako berbuat suatu apa, malah segera dialah yang terluka paling dulu, hingga dia rubuh pingsan. Belakangan Barulah ada orang yang tolongi Ban Toako, buat dibawa pulang. Mengenai suhu, ketenangan rada gelap, tak ada yang tahu ia masih hidup atau sudah mati, tak tahu dia pergi atau dibawa kemana. Ban Toako terluka dipundak dan iganya, bekas cengkeraman kuku-kuku besi, lukanya sangat hebat. Kami semua percaya dia terluka oleh orang-orang Ngo Tok Kau. Syukur untuk Ban Toako, ia bertemu sama tabib yang liehay, hingga jiwanya ketolongan. Pihak kami. semua tiga- puluh-dua murid, lantas dikirim ke Inlam, untuk cari suhu, untuk sekalian cari Ngo Tok Kau guna mencari balas. Sudah empat tahun kami mencari terus-terusan, tidak juga kami peroleh hasil, tetap tak ada kabar tentang suhu, tidak ada endusan mengenai Ngo Tok Kau. Setelah lebih dari tiga tahun, kami meninggalkan wilayah Inlam. Barulah paling belakang ini, kami dengar selentingan dari Utara bahwa rombongan dari Ho Tiat Chiu, kaucu dari Ngo Tok Kau, telah datang berbondong ke Pakkhia. "

"Oh. " Sin Cie perdengarkan suara tertahan.

Tong Hian heran.

"Apakah Wan Siangkong kenal kaucu itu?" tanyanya. "Baru saja kemarin beberapa sahabatku menjadi

kurbannya mereka punya tangan-tangan yang jahat," jawab Sin Cie. "Aku sendiri turut terlibat dalam pertempuran itu." "Apakah tak berbahaya sahabat-sahabatmu itu?" Tong Hian tanya pula.

"Syukur, semua telah bebas dari ancaman malapetaka," sahut Sin Cie.

"Sungguh beruntung!" Tong Hian memuji. Lalu ia meneruskan penuturannya: "Begitu lekas kami dengar warta itu, toasuheng lantas keluarkan perintah untuk semua murid Bu Tong Pay kumpul di Pakkhia. Adalah karena ini, ditengah perjalanan, kami telah bertemu sama nona Ciau serta sekalian saudara-saudara dari Kim Liong Pang. Tentang ini, tak usah aku menceritakannya pula. Toasuheng sampai terlebih dahulu daripada kita, kebetulan sekali, dia lantas bertemu sama Ho Tiat Chiu. Selama pembicaraan, perempuan hina itu mencuci diri bersih sekali, katanya belum pernah dia bertemu sama suhu. Dimana pembicaraan tidak berjalan lancar, pertarungan menggantikannya. Perempuan hina itu benar-benar liehay. Karena kurang waspada, jidat toasuheng kena kegaruk gaetan besi tangan kiri dari musuh, lalu tubuhnya terserang lima potong senjata rahasia. Perempuan itu tahu baik, gaetannya, senjata rahasianya, ada racunnya, dia duga toasuheng bakal tidak hidup lebih lama, sambil tertawa menghina, ia ajak kawan-kawannya angkat kaki. Toasuheng mempunyai lweekang yang sempuma, dia juga bekal banyak macam obat untuk punahkan segala rupa racun, malah sebelumnya dia bertempur, dia sudah makan obat-obat pencegahan, maka itu, meskipun dia telah terluka, dia bisa obati dirinya sendiri, hingga karenanya tak usahlah dia nampak bahaya maut."

Cui In Toojin menghela napas.

"Pintoo kuatir dia mendapat tahu pintoo tidak mati," katanya, "pintoo kuatir dia nanti datang pula untuk ulangi serangannya, dari itu tak berani pintoo ambil rumah

942 penginapan, dengan terpaksa pintoo cari tempat perlindungan ini, untuk sekalian merawat diri. Aku percaya, selang lagi tiga bulan, sisa racun dalam tubuhku akan sudah dapat dibikin bersih. Mengenai guru kami, pintoo percaya bahwa benar suhu telah terbinasa ditangannya perempuan busuk itu, hingga sakit hati itu tak dapat tidak dibalas. Sayang sekali musuh kami liehay luar biasa. Inilah sebabnya, siangkong, mengapa kami segan merembet-rembet sahabat baik dalam urusan kami ini..."

"Wan Siangkong," Bin Cu Hoa menyela, "apa sebabnya maka pihakmu pun bentrok sama Ngo Tok Kau?"

Sin Cie jawab pertanyaan ini dengan keterangan mulanya ia dan Ceng Ceng bertemu sama si pengemis tukang tangkap ular, Ceng Tiok dilukai oleh si pengemis wanita tua, sampai mereka dikepung didalam balai istirahatnya Pangeran Seng Ong.

"Kalau begitu, Wan Siangkong, permusuhanmu dengan Ngo Tok Kau tidak hebat," kata Cui In Toojin, "pun tidak apalah yang pihakmu nampak kerugian kecil. Kau ada sangat berharga, selanjutnya tidak ada perlunya untuk kamu berurusan lebih jauh dengan bangsa telengas itu yang bagaikan ular dan kelabang ganasnya."

Sin Cie anggap kata-katanya imam ini benar adanya. Bukankah ia sendiri sedang mengandung sakit hati ayahnya? Bukankah iapun bertugas berat untuk membantu Giam Ong membela negara? Memang, urusan kangouw itu boleh dikesampingkan dulu, urusan itu sukar menemui penyelesaiannya.

"Tootiang benar," kata ia sambil manggut. "Di sini aku mempunyai mustika, mari aku coba menolongi tootiang membersihkan racun pada luka-lukamu itu." Cui In Toojin suka terima pertolongan itu, maka Tong Hian dan Cu Hoa segera bantui ia, untuk keluar dari dalam peti-mati itu.

Sin Cie lantas keluarkan mustikanya, ia tempel itu pada luka-lukanya si imam. Baru saja satu kali sedot, si imam sudah merasa ringan sakitnya.

Disitu tidak ada arak, untuk dipakai merendam mustika, sebaliknya, Cui In membutuhkan mustika itu terlebih jauh, karena terpaksa, Sin Cie serahkan mustikanya pada Tong Hian seraya ajari bagaimana mustika itu mesti saban-saban direndam dalam arak, untuk bisa sedot bersih semua sisa racun.

"Kalau sudah dipakai, Baru kau nanti antarkan itu kembali padaku," ia pesan.

Tong Hian terima itu sambil mengucap terima kasih, iapun menjura berulang-ulang.

Sampai disitu, mereka berpisahan.

Sm Cie ajak Wan Jie jalan turun bukit dengan perlahan- lahan.

Baru jalan kira-kira setengah, tiba-tiba Wan Jie berhenti, akan duduk atas sebuah batu, terus ia nangis dengan perlahan.

"Kenapa, nona?" tanya Sin Cie kaget. "Apakah kau kurang sehat?"

Wan Jie menggeleng kepala, ia susuti air matanya, lantas ia bangun untuk berdiri, akan jalan pula, seperti tidak ada terjadi suatu apa.

Sin Cie tidak menanya lebih jauh, akan tetapi ia sudah mengerti. Tentulah si nona bersedih karena musuhnya tak dapat dicari karena "musuh" Bu Tong Pay berubah menjadi sahabat, dia sangat cerdas, bisa sekali dia menguasakan diri. Maka ia jadi sangat kagum.

Terus mereka pulang, ketika mereka sampai didalam kota, langit sudah mulai terang. Nona ini masih muda sekali, toh langsung Sin Cie antar si nona kepondokannya, sesudah mana Baru ia menuju pulang kerumahnya didalam gang Ceng-tiau-cu. Ia gunai ilmu entengkan tubuh, karena ia berjalan diatas genteng dari banyak rumah orang, ia lompati pelbagai gang. Ia ingin lekas sampai. Dalam gembiranya, ia telah gunai Bhok Siang Toojin punya ilmu entengkan tubuh "Pek pian kwie eng," hingga ia bisa bergerak dengan sangat gesit dan cepat.

"Sungguh suatu kepandaian luar biasa!" sekonyong- konyong Sin Cie dengar pujian selagi ia berlari-lari terus. Sekejab saja, ia berhenti berlari, menyusul mana, satu bajangan putih melesat lewat disampingnya sebelah kiri.

"Apakah dapat kau kejar aku?" demikian ia dengar pula. Itulah suara si bajangan, yang bicara sambil tertawa.

Sedetik saja, bajangan itu sudah lewat tujuh atau delapan

tumbak jauhnya. Itulah gerakan tubuh sebat luar biasa.

"Siapakah dia ini?", pikir pemuda kita, yang kaget dan heran dengan berbareng. "Kenapa ilmu entengkan tubuhnya begini sempurna?"

Karena ia ingin tahu, Sin Cie batal pulang, ia lantas lompat, untuk mengejar.

Bajangan di depan itu kabur terus, tanpa menoleh lagi.

Biar bagaimana, ilmu entengkan tubuh dari Sin Cie ada setingkat lebih tinggi, belum terlalu lama, ia dapat menyusul, maka ia melombai, sampai beberapa tumbak, Baru ia berhenti, akan putar tubuh, untuk menunggu. Bajangan itupun berhenti berlari, ia tertawa haha-hihi.

"Wan Siangkong, kali ini Baru aku takluk padamu!" katanya.

Sin Cie lihat seorang dengan tangan baju panjang, bajunya indah, tubuhnya langsing bagaikan cabang bunga. Dia itu adalah Ho Tiat Chiu, kaucu dari Ngo Tok Kau, yang dandan serba putih. Cuma sepatunya berwarna hitam mulus.

Adalah kebiasaan dalam kalangan Rimba Persilatan, orang keluar dengan pakaian serba hitam atau abu-abu, supaya pakaiannya samar-samar ditempat gelap, supaya kalau ada serangan senjata rahasia, tubuhnya bisa seperti menghilang. Tapi nona ini memakai serba putih, jikalau dia tidak liehay tidak nanti dia dandan secara begini menantang.

Sambil mengawasi, Sin Cie memberi hormat.

"Ho Kaucu, ada pengajaran apakah darimu untuk aku?" tanyanya.

Kepala agama itu tertawa manis.

"Ketika kemarin ini Wan Siangkong berkunjung kepadaku, di sana ada banyak sekali orangku, yang seperti merintangi kita, yang memecah pemusatan pikiran kita, hingga karenanya, tak dapat kita berdua mendapatkan keputusan, siapa terlebih tinggi, siapa terlebih rendah," jawab dia, "maka itu sekarang ini sengaja siaumoay datang kemari untuk memohon pengajaran beberapa jurus dari siangkong..."

Kembali ia bahasakan dirinya "siau moay", adik perempuan. Dan habis berkata-kata, ia bersenyum-senyum pula. Ia bicara dengan halus, gerak-gerik tubuhnya pun halus dan menarik hati. "Orang dengan kepandaian tinggi sebagai kau-cu didalam kalangan pria pun jarang sekali ada," Sin Cie bilang. "Kagum sekali aku terhadap kepandaian kaucu itu."

Masih si nona tertawa.

"Kemarin ini siangkong perlihatkan kepandaianmu dengan tangan kosong," katanya, "pukulan-pukulanmu itu telah membawa angin yang menyambar-nyambar, sampai siau-moay, yang tenaganya tidak cukup, tidak berani menyambutnya. Bagaimana kalau sekarang kita main-main dengan senjata tajam?"

Dan tak tunggu jawaban lagi, nona ini meraba kepinggangnya, begitu lekas ia menarik kembali tangannya, bersama itu tertarik keluar sebatang joan-pian, ruyung lemas seperti tungkat panjang, yang sebagian batangnya mempunyai gaetan-gaetan halus, maka siapa tak beruntung terkena ruyung itu, mesti - sedikitnya - dagingnya bakal terbetot sepotong demi sepotong.

"Wan Siangkong, inilah yang disebut Kat bwee-pian," kata si nona, yang perkenalkan ruyungnya sebagai ruyung Ekor Kala. "Diujung semua duri ini ada racunnya, maka itu, harus siangkong berlaku waspada sekali. Sudah siapkah?"

Mau atau tidak, dalam hatinya, Sin Cie bergidik.

Begitu merdu suara si nona, begitu manis lagunya, demikian cantik-molek orangnya, siapa sangka, sikapnya sebaliknya sangat ganas. Itulah suatu hal yang sangat bertentangan satu dengan lain!

Tentu saja tak sudi Sin Cie melayani ular cantik Ini. Maka ia segera rangkap kedua tangannya, untuk memberi hormat. "Maaf!" katanya seraya ia hendak memutar tubuh, untuk undurkan diri.

Ho Tiat Chiu tidak tunggu orang pergi, dengan sebat ia menyabet dengan joanpian istimewanya itu, berbareng mana, sambaran anginnya sampai terdengar nyata.

Rupanja Sin Cie telah bisa menduga, maka atas datangnya serangan, kepada dadanya, ia segera mengelak sambil bersenyum, hingga serangan melewati sasarannya, menyusul mana, ia berlompat mundur, untuk lompat terus, hingga sekejab saja, ia sudah jauhkan diri beberapa tumbak.

Ho Tiat Chiu pasti merasa ia tidak bakal sanggup susul si anak muda, dari itu ia perdengarkan suaranya yang nyaring: "Begini saja muridnya Kim Coa Long-kun? Sungguh dia membikin merosot derajat gurunya, yang namanya sangat kesohor! Ha-ha-ha!"

Diperhina secara demikian, Sin Cie melengak "Senantiasa aku mengalah saja, dia rupanya jadi kepala

besar?" demikian ia pikir. "Kaum Ngo Tok Kau ini jumawa

sekali! Apakah mungkin aku jeri terhadapnya?"

Karena memikir demikian, Sin Cie berdiri diam, ketika ini digunai si nona, untuk berlompatan menyusul dia, malah segera, berbareng sama berkelebatnya cahaya putih, nona itu menyambar dengan ruyungnya.

Sin Cie kerutkan alis.

"Kenapa dia menggunai senjata terkutuk ini?" pikir dia. "Dia begini eilok, kenapa dia tersesat?"

Ia lantas saja berkelit, untuk menyingkir dari serangan itu.

Oleh karena lawan menggunai senjata yang banyak durinya dan beracun juga, Sin Cie tidak berani melayani sebagaimana biasanya ia melawan musuh bersenjata dengan tangan kosong, tapi juga ia tidak mau lekas-lekas gunai senjatanya, dari itu, ia berkelahi dengan kedua kepalannya dikasi masuk dalam ujung tangan bajunya. Ia berkelahi dengan senantiasa berkelit dari sesuatu serangan, untuk ini ia andalkan kelincahannya.

Ho Tiat Chiu gesit sekali, cepat sesuatu serangannya, akan tetapi kemplangannya, sabetannya, ataupun sodokannya, tidak pernah mengenai sasarannya, malah melanggar ujung baju pun tidak bisa.

Dua-puluh jurus telah dikasi lewat dengan cepat, tidak pernah Ho Tiat Chiu peroleh hasil, akhirnya ia jadi sengit nampaknya, hingga ia menegur: "Kau main berkelit saja, apakah kau masih terhitung satu hoohan?"

Sin Cie tertawa.

"Bukankah kau hendak bikin panas hatiku, supaya aku rampas senjatamu?" ia tegaskan. "Itulah tak sukar!"

Pemuda ini segera jumput dua potong genteng, yang ia pegang dengan masing-masing sebelah tangannya. Ia masih berkelit saja, tapi kali ini ia memasang mata kepada joanpian orang itu.

"Lepas ruyungmu!" tiba-tiba ia berseru membarengi iapunya dua potong genteng yang dipakai menyambut ujung ruyung yang dipakai menyerang kepadanya, sambil terus ia membetot, sementara kaki kanannya diangkat, untuk dupak kakinya si nona.

Kaget Ho Tiat Chiu. Tidak ia sangka, musuhnya demikian liehay.

Tentu saja ia menjadi repot. Mana ia hendak tarik pulang ruyungnya, mana ia hendak lindungi kakinya. Ia lantas lepaskan ruyungnya sambil mundur. Tapi ia telah berdiri di

949 pinggiran genteng, inilah ia tidak ketahui, tidak ampun lagi ia kejeblos, tubuhnya turut melayang jatuh kebawah!

Sin Cie cekal ruyung orang, ia tertawa,

"Bagaimana kau lihat muridnya Kim Coa Long-kun?" tanyanya.

"Bagus!" seru si nona selagi tubuhnya jatuh. Benar-benar dia gesit luar biasa, sebab begitu mengenai tanah - ia tidak rubuh, hanya dapat menaruh kaki - tubuhnya sudah mencelat pula naik keatas genteng!

Menampak ini, meski juga ia sendiri sangat liehay, Sin Cie kagum tidak kepalang.

"Sekarang aku hendak belajar kenal sama senjata rahasiamu, Wan Siangkong," kata pula si nona, yang sangat bandel. "Kami dari kaum Ngo Tok Kau ada punya pasir Tok-siam-see. "

Itulah "pasir kodok beracun"...

Sin Cie dengar suara orang yang nyaring tetapi empuk, ia tidak dapat lihat orang mengayun tangan, tapi tahu-tahu di hadapannya ada berkelebat sinar-sinar kuning emas, hingga ia jadi sangat kaget. Ia insyaf, itulah senjata rahasia si nona. Dalam keadaan terhimpit seperti itu, ia lantas apungi tubuhnya, akan berlompat tinggi!

Segeralah terdengar suara merotok pelahan diatas genteng, itulah senjata rahasianya Ho Tiat Chiu, diapunya "pasir pasir" yang beracun, sedikitnya belasan biji. Sebenarnya itu bukannya pasir tulen, itu adalah jarum baja halus, yang digunainya bukan dengan disambitkan. Jarum- jarum itu termuat dalam satu pipa atau bungbung, yang dia cantel di dadanya. Untuk kasi kerja itu, cukup asal dengan tangan kanannya dia tepuk pinggangnya dimana ada dipasang alat rahasianya. Untuk melepaskan jarum ini,

950 iapun tak usah main mengincar lagi, cukup asal dia berdiri menghadapi sasarannya. Jadi senjata ini beda dengan senjata rahasia lainnya yang memerlukan ayunan tangan. Maka tidak heran kalau Sin Cie terkejut. Memangnya hampir tak ada orang yang ketahui, kaucu dari Ngo Tok Kau ini mempunyai semacam senjata rahasia.

Akan tetapi pemuda kita juga tidak diam saja, selagi dia berlompat, belum sampai tubuhnya turun pula, tangannya telah diayun, tiga biji caturnya dikasi menyambar kearah jalan darah yang lemah dari si nona. Dan ia pun sambil membentak: "Aku tidak bermusuh denganmu, kenapa kau berlaku begini telengas?"

Ho Tiat Chiu berkelit untuk dua biji catur, sedang yang ketiga ia sambut dengan tangannya.

"Ayo, sungguh liehay!" dia menjerit. "Sakit tanganku!. "

Lalu, dengan melihat turunnya tubuh, ia balas menyerang dengan biji catur itu.

Sin Cie lihat serangan itu, tangannya si nona toh diayun. Ia bisa duga, serangan pasti tak kena. Tadinya ia niat sambuti biji caturnya itu, tetapi sekicapan mata ia ingat, mungkin tangannya si nona ada racunnya, maka ia lantas gunai tangan bajunya, untuk menyampok, hingga biji catur terlempar kesamping.

Habis menyerang dengan biji catur itu, Ho Tiat Chiu tidak berhenti untuk beristirahat, dia hanya masuki sebelah tangannya kedalam sakunya. Ketika ia sudah tarik itu keluar, ia terus ayun itu. Maka lantas, belasan tali yang bukan tali sutera atau tali air emas, menyambar kearah kepalanya si anak muda, yang hendak ditungkrap!

"Hebat!" pikir Sin Cie, yang terus waspada untuk orang punya pelbagai alat yang ada racunnya. Karena ia tidak mau menyingkir, ia ajun joanpian lawannya, untuk dipakai menangkis serangan tali-tali istimewa itu.

Sebat luar biasa, Ho Tiat Chiu tarik pulang tali-talinya itu. Iapun tertawa.

"Kat-bwee-pian itu ada kepunyaanku!" katanya. "Kau pakai senjataku itu, kau malu atau tidak?"

Teranglah nona ini mengejek. Pun terang juga iapunya lagu-suara orang Inlam asli.

Sin Cie lemparkan joanpian keatas wuwungan.

"Jikalau aku bisa rampas beberapa lembar talimu itu, maukah kau berjanji yang kau bersama semua orang Ngo Tok Kau tidak akan grembengi aku pula?" tanya dia.

"Inilah bukannya tali," sahut si nona. "Inilah tali yang terlalai dari galagasi si kawa-kawa. Jikalau kau menghendaki untuk merampas, silakan, kau boleh coba!"

Nona itu menantang, dengan talinja itu ia segera menyambar, kearah pinggang si anak muda.

Sin Cie segera berkelit, ia niat menyambar benang itu tapi ia batalkan niatnya dengan tiba-tiba. Sebab tiba-tiba saja ia ingat pada racun!

Ho Tiat Ciu melanjuti serangannya, berulang-ulang, atas mana, si anak muda melayani terus dengan unjuk kegesitannya, yaitu ia senantiasa main berkelit, ke samping atau mundur, secara begini ia bisa berbareng perhatikan gerak-gerik orang. Nona itu hebat menyerangnya, pandai juga pembelaannya.

Selang sepuluh jurus, Sin Cie berpikir: "Ngo Tok Kau gemar memelihara binatang-binatang beracun, antaranya kawa-kawa, sekarang permainan silat tali si nona ini mirip dengan terkaman-terkamannya sang kawa-kawa itu. Bisa sekali ia menelad kawa-kawa, untuk menciptakan ilmu silat ini."

Lantas pemuda ini menunggu ketika lowongan, untuk turun tangan.

Segera datang saatnya Ho Kaucu menyerang secara hebat, apabila si anak muda berkelit ke samping, serangannya gagal, tangannya terlonjor kedepan. Inilah ketikanya Sin Cie, sebelum orang sempat perbaiki diri, ia maju, untuk merangsak, guna totok iga si nona. Ho Tiat Chiu tampak ia terancam bahaya, tidak sempat ia menarik pulang senjatanya, maka untuk tolong diri, ia egos tubuhnya kesamping.

Dengan tiba-tiba saja muka Sin Cie merah sendirinya, ia tidak sangka serangannya ini bakal memberikan hasil, hingga ia pikir, bagaimana ia dapat meletaki tangannya ditubuh satu wanita. Kesangsiannya ini membuat gerakannya menjadi ayal.

Ho Tiat Chiu mendapat ketika karena kesangsiannya lawan, yang ia tak tahu disebabkan apa, ia lantas gunai ketika ini, akan memutar tubuh, akan terus menyambar dengan tangan kirinya, dengan gaetannya.

Sin Cie terperanjat, lekas-lekas ia tarik pulang tangannya.

Ia batal menyerang terus.

"Bret!" demikian satu suara nyaring.

Gaetannya si nona menyambar baju si anak muda, baju itu robek!

"Ayo!" berseru Ho Kau-cu." Celaka betul! Bajumu pecah, Wan Siangkong! Mari buka bajumu itu, nanti aku bawa pulang untuk dijahiti!. " Mendongkol juga Sin Cie menampak orang demikian licik, karena ini, sedang si nona goda ia, dengan cepat ia menyerang dengan tangan kanannya, ujung bajunya dipakai menyampok, tatkala si nona berkelit, ia merangsek, ia ulangi serangannya secara beruntun.

Dalam keadaan terdesak itu, Ho Tiat Chiu lompat mundur, lalu ia menyabet dengan talinya, tapi Sin Cie papaki dengan tangan bajunya yang robek tadi, yang sekarang bergeliwiran, hingga ujung baju itu terlibat tali, setelah itu, ia membetot dengan kaget.

Ho Kau-cu tarik pulang talinya, ia terlambat, malah cekalannya terlepas, talinya jatuh ke tanah, berbareng sama ujung baju, yang pun robek lebih jauh, terputus dari bajunya.

"Bagaimana sekarang?" tanya Sin Cie.

Nona itu tidak menjawab, hanya tangan kanannya dipakai meraba ke bebokongnya hingga dilain saat, ia sudah tarik keluar sebatang Kim-kau ialah gaetan terbuat atau tercampur emas, hingga kelihatannya bercahaya berkilau- kilau.

Heran juga Sin Cie menyaksikan alat-senjata orang yang seperti tak habis-habisnya, banyak macamnya. Ia juga tak mengerti maksud si nona.

"Aku telah rampas talimu. kau tak boleh ganggu aku lebih lama!" katanya, untuk memperingati janji.

"Kau bicara sendiri! Kapan aku telah berjanji?" balik tanya si nona.

Sin Cie bungkam. Memang juga, si nona belum pernah terima baik perjanjian yang ia kemukakan tadi, hanya si nona malah menantang ia untuk coba rampas senjatanya dia itu. Ia jadi masgul. Kalau terus-terusan ia melayani, sampai kapan gangguan ini bisa dibikin tamat.

"Hm!" akhirnya ia bersuara. "Aku mau lihat, berapa banyak macamnya gegamanmu!"

Ia memikir untuk rampas sesuatu senjatanya si nona, supaya dia tahu rasa dan akan mundur sendirinya.

"Ini dia jang dinamakan Kim-gia-kau!" kata Ho Kau-cu. "Kim-gia-kau" berarti "gaetan kelabang emas." Lantas ia tonjolkan tangan kirinya, yang merupakan gaetan hitam. "Dan ini Tiat-gia-kau!" ia menambahkan. "Tiat-gia-kau" berarti "gaetan kelabang besi." Dan ia menambahkan terlebih jauh: "Untuk meyakinkan ini macam gaetan, ayahku telah kutungi tanganku yang kiri ini. Ayah bilang, daripada memegang senjata, lebih baik senjata dipasang tetap ditangan. Aku telah yakinkan gaetan ini untuk tigabelas tahun, masih juga belum sempurna. Wan Siangkong, gaetan ini ada racunnya, awas, jangan kau merampasnya dengan tanganmu!"

Sin Cie lihat orang bicara sambil tertawa, sambil bersenyum berseri-seri. Tabah sekali nona ini.

Lalu si nona maju menghampirkan, dengan tindakannya pelahan-lahan.

Kuatir orang nanti menggunai tipudaya, Sin Cie memasang mata, ia berlaku waspada.

Mendadak saja di kejauhan terdengar suara suitan, suara yang sayup-sayup. Mendadak Sin Cie, ingat suatu apa, hingga ia berseru dalam hatinya: "Celaka! Apa mungkin dia ini sengaja tahan aku di sini sedang konco-konconya dia perintah pergi serbu Ceng Ceng!"

Tidak ayal lagi, pemuda kita putar tubuhnya, untuk lari pulang. Ho Tiat Chiu tertawa berkakakan.

"Baru sekarang kau pulang, kau terlambat!" katanya.

Walaupun dia mengucap demikian, nona ini pun berlompat, untuk sambar si anak muda, bebokong siapa ia hajar dengan gaetan besinya.

Masih Sin Cie lihat gerakan si nona, ia berlompat, berkelit kesamping, sembari membaliki tubuh, sebelah kakinya menyapu.

Ho Kau-cu lompat, akan hindarkan diri dari sapuan itu, tetapi hampir berbareng dengan itu, ia barengi menyerang dengan dua-dua gaetannya.

Itu waktu ada diwaktu fajar, sinar matahari pertama Baru saja mulai muncul, maka diantara sorotannya sinar sang Batara Surya itu, kedua gaetan berkilauan hitam dan kuning emas, memain di depan mukanya si anak muda.

Bercekat hatinya Sin Cie. Segera ia dapat kenyataan, ilmu silat dari kepala agama Ngo Tok Kau ini tidak saja berada di atas dari Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa. malah masih di atasannya Ngo-cou dari Cio Liang Pay. Maka itu, melayani si nona, ia sibuk juga, sebab pikirannya terpecah dua. Di sana ada Ceng Ceng yang keselamatannya ia kuatirkan, meskipun masih belum tentu Nona Hee berada dalam bahaya. Beberapa kali pemuda ini berniat rampas Kim-gia kau, senantiasa ia gagal, sebab sambil menarik pulang gaetannya itu, Ho Tiat Chiu berbareng melindungi dengan Tiat-gia-kau, gaetannya yang lain yang dipasang di tangan. Yang lebih menyulitkan dia, dia kuatirkan racun di kedua ujungnya gaetan yang liehay itu.

Sampai di jurus yang ketiga-puluh, masih Sin Cie belum berhasil dengan pelbagai dayanya untuk merampas gaetan orang itu, untuk memunahkan Tiat-gia-kau. Itu berarti ia mensiasiakan ketika. Itu pun mungkin membahayakan Ceng Ceng andai-kata benar puterinya Kim Coa Long-kun diserbu orang-orang Ngo Tok Kau

Akhir-akhirnya, dalam sibuknya itu, pemuda ini menjadi putus asa, maka terpaksa ia lantas raba Kim Coa Kiam, untuk hunus itu pedang mustika, yang sejak turun gunung, belum pernah ia pakai secara sungguh-sungguh. Baru saja tadi ia pakai itu untuk memapas senjatanya Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa serta beberapa anggauta Kim Liong Pang.

Kapan Ho Tiat Chiu tampak senjata ular-ularan itu, dia kaget hingga mukanya pias.

"Bagus!" serunya. "Kiranja Kim Coa Kiam terjatuh dalam tanganmu!"

"Ya, habis apakah kau mau?" menantang si pemuda, yang terus saja maju menyerang, beberapa kali ia menabas pulang-pergi.

Ho Tiat Chiu sibuk dalam sekejab. Terpaksa ia main mundur saja, tak sempat ia membalas menggaet, sedang tadi, ia ada leluasa merangsak lawannya ini.

Sin Cie tidak mau mengasi ketika, maka akhirnya datanglah saatnya ia tabas kutung ujungnya Kim gia-kau, hingga si nona kaget tak terkira.

Lantas si anak muda mengancam:

"Jikalau tetap kau ganggu aku, aku nanti tabas juga Tiat- gia kau!" demikian serunya.

Benar-benar Ho Tiat Chiu tidak berani maju pula, ia cuma bisa mengawasi dengan mendelong.

Sin Cie masuki pedangnya ke dalam sarung, ia putar tubuhnya, terus ia lari pulang. Ia lari dengan keras sekali, hingga sebentar kemudian, ia telah sampai di mulut gang. Justru ia sampai di situ, lantas ia saksikan hal yang mengejutkan dia.

Di situ Ang Seng Hay rebah di antara kobakan darah! Lekas-lekas ia mengangkat bangun. Syukur sekali, pengiring itu masih bernapas, tapi karena dia terluka pada lehernya, dia tidak dapat bicara, sebagai gantinya omongan, dia lantas menunjuk berulang-ulang ke dalam rumah.

Sin Cie pondong tubuh orangnya itu, untuk dibawa masuk. Kapan ia sampai di dalam, rumahnya menjadi kacau tidak keruan-macam. Kursi dan meja terbalik-balik, rusak, rusak juga daun-daun pintu dan jendela, begitupun perabotan lainnya. Itulah bukti dari bekas pertempuran hebat, bekas serbuan membabi-buta.

Dengan hati berkuatir, Sin Cie robek tangan bajunya, untuk balut lukanya Seng Hay, untuk mencegah darah keluar terus, habis itu ia lari kesebelah dalam. Pemandangan di sini tak kurang hebatnya, kerusakan terdapat pada segala bagian. Paling hebat adalah ketika ia tampak Ou Kui Lam dan Thia Ceng Tiok pun rebah dilantai dengan masing-masing sedang merintih.

"Apakah sudah terjadi?" tanya Sin Cie.

"Nona Ceng Ceng, Nona Ceng Ceng..." kata Kui Lam dengan susah. "Dia dibawah lari orang-orang Ngo Tok- Kau!..."

Inilah puncaknya kehebatan.

"Mana See Thian Kong dan yang lain-lain?"

Masih pemuda itu dapat tetapkan hati, untuk menanyakan lain-lain kawannya itu. Ou Kui Lam tidak menyahut, dia cuma menunjuk keatas, ke wuwungan rumah.

Sin Cie tidak menanya lagi, ia lari ke cimchee, untuk lompat naik ke atas genteng, maka di sana, yang paling pertama, ia tampak Tay Wie dan Siau Koay sedang peluki A Pa, si empeh gagu, kedua binatang itu memekik-mekik tak hentinya, terang mereka lagi tidak berdaya. Akan tetapi, kapan mereka lihat majikannya, mereka lompat untuk menubruk, suaranya dibuka lebih besar, agaknya mereka hendak mengadu. Sayang mereka tidak mampu bicara.

See Thiah Kong juga berada diatas genteng, mukanya bersemu hitam, suatu tanda dia pun telah terluka, malah terluka hebat. A Pa sendiri terluka pada tubuhnya.

Menampak semua itu, Sin Cie kertak gigi. Meluaplah hawa-amarahnya.

"Kenapa aku jadi tolol sekali!" dia sesalkan diri sendiri. "Kenapa aku kasi diriku dicantel oleh itu perempuan hina?"

Ketika itu, sang pagi sudah datang, maka semua bujang, yang tadinya lari kalang-kabutan, akan singkirkan diri, mulai pada pulang.

Sin Cie pondong A Pa dan See Thian Kong, untuk dibawa turun dengan bergantian, kemudian lekas-lekas ia tulis surat untuk Ciau Wan Jie, buat minta si nona lekas minta pulang mustika kodok es, guna ia tolongi See Thian Kong semua. Satu bujang diperintah lekas sampaikan surat itu ditempat penginapan si nona. Kemudian ia mulai tolongi See Thian Kong dan yang lain-lain, untuk balut luka mereka. Sembari menolongi, ia tanyakan duduknya kejadian.

Thie Lo Han belum sembuh dari lukanya, ia belum bisa bangun dari pembaringannya, karena ini, ia tidak terlibat dalam pertempuran hebat ini, ia jadi luput dari bahaya, maka cuma ia yang bisa lantas bicara.

"Pada kira-kira jam tiga, Tay Wie dan Siau Koay adalah yang mulai sadar akan ancaman bahaya," kata tauto ini. "Mereka itu bersuara tidak sudahnya, mereka tarik-tarik A Pa untuk naik ke atas genteng. Begitu A Pa naik, ia segera dikepung belasan musuh. A Pa tidak bisa bicara, dari itu, dia tendangi genteng, sebagai tanda untuk kita pun naik untuk sambut musuh. Aku berada di mulut jendela, aku bisa menyaksikan dengan tegas. Karena aku tidak berdaya, aku cuma bisa sibuk sendiri. Aku lihat A Pa bersama saudara-saudara See dan Thia bisa rubuhkan beberapa musuh, akan tetapi jumlah musuh ada terlalu besar, pihak kita akhirnya kena terdesak mundur, Pertempuran pun dilanjuti di bawah, di dalam rumah, di setiap kamar. Di akhirnya, semua orang telah kena dilukai dan rubuh, adalah sesudah itu Ceng Ceng kena ditawan dan dibawa pergi. Wan Siangkong, kami menyesal sekali buat kejadian ini. "

"Semua ini disebabkan aku telah kena dipancing musuh," kata Sin Cie, untuk menghibur. "Mereka menggunai tipu memancing harimau meninggalkan gunung. Sekarang ini menolong ada paling penting."

Lantas ini anak muda lari ke luar, ke istal, untuk tuntun keluar seekor kuda, kapan ia sudah lompat naik ke bebokong kuda itu, ia kabur ke luar kota. Ia menuju langsung ke itu rumah luar biasa, balai istirahat dari Pangeran Seng Ong. Begitu ia sampai, ia lompat turun dari kudanya, setelah tambat binatang itu di sebuah pohon, ia lari ke depan rumah, untuk terus lompat naik ke tembok, akan lompat turun ke dalamnya. Dia masih tetap murka dan sibuk.

"Ho Kaucu!" dia berteriak. "Ho Kaucu, silakan keluar!

Aku hendak bicara denganmu!"

960 Jawaban tidak ada, kecuali dari kumandang yang nyaring, ketika toh datang juga jawaban, adalah terpentangnya pintu rahasia dari mana lantas merubul keluar belasan ekor anjing yang bengis-bengis, di belakang semua binatang galak itu mengikuti beberapa belas orang.

"Sekarang ini tak dapat aku berlaku sungkan-sungkan lagi," pikir Sin Cie, yang tidak kenal takut "Aku mesti bikin ambruk dulu semangat mereka!"

Segera juga pemuda ini ayun tangan kirinya, berulang tali, maka sebagai kesudahan dari itu, belasan potong Kim- coa-cui, bor-bor Ular Emas, menyambar-nyambar kearah rombongan anjing galak itu.

Beberapa ekor lantas saja rubuh binasa begitu lekas mereka keluarkan jeritan, lalu menyusul yang lainnya, sebab semua bor tidak ada yang lolos. Kemudian dengan sebat, ia lompat kepada bangkai anjing itu, untuk dengan kedua tangannya lekas cabuti semua bornya itu.

Orang-orang Ngo Tok Kau pada melongo, mereka kaget dan kagum.

Tadinya mereka ini sudah merencanakan, selagi si anak muda bergulat dengan anjing mereka, mereka hendak menyemprot dengan racun mereka di dalam bungbung, mereka tidak nyana, semua anjing mereka bisa dibikin mati dalam tempo demikian pendek. Apabila kemudian mereka sadar, perasaan mereka yang pertama adalah takut, hingga batal mereka hendak menyerang dengan semprotan, mereka putar tubuh, lantas lari. Orang yang pertama telah lari sambil menjerit-jerit.

Sin Cie lompat, untuk nerobos masuk ke dalam pintu rahasia itu. Beberapa orang telah membalik tubuh, dengan niatan menutup pintu tapi mereka kalah sebat. Pintu merah terpentang, rupanya bekas tadi dipakai keluar oleh rombongan Ngo Tok Kau itu, Sin Cie lihat ini, dengan satu lompatan luar biasa, ia lombai semua musuh, maka ia telah mendahului masuk di pintu rahasia itu. Itu berarti ia sudah masuk semakin dalam di sarang musuh, di tempat yang berbahaya, akan tetapi justru karena ini, hatinya jadi semakin tenang.

"Ho Kau-cu, apabila kau tetap tidak hendak keluar, maka jangan kau nanti katakan aku keterlaluan!" dia berseru pula dengan ancamannya.

Sebagai jawaban, Sin Cie dengar suara suitan, sebagai kesudahan dari itu, segera tertampak munculnya orang- orang Ngo Tok Kau, yang terus berbaris dikiri-kanan, habis itu dari sebelah dalam, berlerot keluar belasan orang, yang bertindak dimuka adalah Ho Ang Yo, wanita tua yang jelek itu, dibelakangnya mengapit Phoa Siu Tat dan Thia Kie Su berikut Kim-ie Tok Kay Cee In Go. Di belakang si pengemis tukang tangkap ular ini Barulah lain-lain orang liehay dari kawanan Ngo Tok Kau itu.

Sin Cie mendahului membuka mulut. Ia berkata:

"Aku tidak kenal tuan-tuan, kitaorang tidak punya dendaman lama, tidak punya permusuhan baru, maka itu, kenapa tuan-tuan sudah datangi rumahku dimana kamu telah lukai sahabatku serta culik adikku? Apakah sebabnya semua itu? Aku minta supaya sukalah Ho Kaucu memberikan penjelasannya!"

"Orang-orang dirumahmu tidak bermusuhan dengan kami, itulah tidak salah," menyahut Ho Ang Yo, "itu pun sebabnya kenapa kami sudah berlaku murah hati, yaitu tidak ada satu diantaranya yang kami lantas bikin mati! Bukankah kau mempunyai obat mustika? Dengan itu dengan gampang kau bisa sembuhkan mereka. Tapi mengenai itu bocah she Hee? Hm! Dengan cara pelahan- lahan, kami hendak beri pengajaran kepadanya!"

"Dia masih sangat muda, apakah dia telah berbuat terhadap kamu yang membikin kamu mendendam?" tanja Sin Cie. Ia masih belum tahu hubungannya kawanan ini dengan Ceng Ceng.

Ho Ang Yo tertawa dingin.

"Siapa suruh dia terlahir sebagai puteranya Kim Coa Long-kun?" jawabnya. "Hm! Siapa suruh dia bolehnya dilahirkan oleh itu perempuan hina she Un?"

Sin Cie terperanjat. Heran dia kenapa wanita tua ini ketahui ibunya Ceng Ceng ada seorang she Un. Karenanya, ia jadi berdiam.

Ho Ang Yo tampak orang diam saja, ia menegur, suaranya seram: "Apa kau mau maka kau datang mengacau di sini?"

"Jikalau kamu ada punya sangkutan sama Kim Coa Long-kun," jawab Sin Cie, "kenapa kau tidak mau cari dia sendiri untuk balas lakukan pembalasan sakit hatimu?"

"Bapaknya hendak aku bunuh, anaknya juga hendak aku binasakan!" bentak Ho Ang Yo. "Kau ada punya sangkutan dengan dia itu, kau juga hendak aku bunuh!"

Bukan main bengisnya pengemis wanita ini, akan tetapi Sin Cie tak gentar terhadapnya, malah tak sudi dia berurusan dengannya terlebih lama pula.

"Ho Kau-cu!" segera ia teriaki pula Tiat Chiu. "Sebenarnya kau hendak keluar atau tidak? Mau kau lepaskan orang tawananmu atau tidak?"

Dari dalam tetap tidak ada jawaban, hanya ada juga jawaban ialah suara kumandang. Habis sabarnya ini anak muda, tiba-tiba saja ia lompat maju, akan lewati Ho Ang Yo. Ia berlompat disampingnya wanita tua yang romannya menyeramkan itu. Di depan ia ada sebuah pintu.

Dua orang Ngo Tok Kau di belakang si nyonya tua lompat maju, untuk merintangi, tetaipi Sin Cie sambut mereka dengan gerakan kedua tangannya ke kiri dan kanan, atas mana dua orang itu terpental rubuh terbanting. Setelah itu, pemuda ini lompat lebih jauh masuk ke dalam pintu.

Nyata kamar yang Baru dimasuki ini kosong. Karena ini Sin Cie lari ke kamar sebelah timur, di situ ia mendupak pintu hingga daunnya menjeblak. Di dalam sini ada dua anggauta Ngo Tok Kau sedang rebah, ialah dua orang yang kemarin ini kena dilukai dan sekarang sedang beristirahat. Melihat si anak muda, mereka kaget hingga mereka lompat berjingkrak.

Sin Cie tidak perdulikan orang ini, ia pergi ke lain kamar, tidak juga ia ketemukan Ho Tiat Chiu atau Ceng Ceng, maka ia cari terus di lain-lain kamar atau ruangan. Ada orang-orang Ngo Tok Kau yang mencoba merintangi tetapi mereka tidak berani menyerang. Dalam tempo yang pendek, Sin Cie sudah periksa semua kamar, tetap tidak ada Ceng Ceng, tidak ada Ho Tiat Chiu, dalam sengitnya, ia ubrak-abrik semua jambangan, guci dan peti, hingga banyak macam binatang beracun, yang dikurung atau dipiara di situ, pada terlepas, lari merayap ke segala penjuru.

Orang-orang Ngo Tok Kau menjadi kaget, di satu pihak mereka coba menyerang, di pihak lain ada yang menangkap-nangkapi pula rupa-rupa binatang piaraan mereka itu. Didalam pertempuran kalut seperti itu, pihak Ngo Tok Kau tidak berani gunai semprotan racun mereka, rupanya mereka takut nanti mencelakai orang sendiri.

"Jikalau benar kau satu laki-laki, mari kita pergi keluar, untuk pertempuran yang memutuskan!" Phoa Siu Tat akhirnya menantang.

Sin Cie tahu orang ini mempunyai kedudukan penting, maka ia pikir, baik ia bekuk orang ini, untuk nanti ia korek keterangan dari mulut dia itu.

"Baik!" ia menyambut. "Baik, aku nanti coba belajar kenal dengan tuan punya Tok-see-ciang!"

Dengan satu loncatan dari Pek-pian Kwie-eng, Sin Cie sudah melesat ke depan pahlawan Ngo Tok Kau ini.

Phoa Siu Tat terkejut, inilah ia tidak sangka, tetapi ia sudah lantas memapaki, dengan serangan kedua tangannya saling susul.

"Lain orang takuti tanganmu yang beracun, aku tidak!" seru Sin Cie, yang menghalau diri dari dua sambutan musuh itu.

"Baiik, kau cobalah!" seru Siu Tat juga, sambil ia menyerang pula.

Sin Cie angkat tangan kanannya., untuk menangkis.

Girang sekali Siu Tat melihat tangkisan orang, di dalam hatinya, ia kata: "Jikalau kita saling serang, mungkin aku sukar menangi kau, akan tetapi sekarang kau berani bentrok tangan dengan tangan, kau seperti cari mampusmu sendiri, maka janganlah kau sesalkan aku!"

Lalu dua-dua tangannya dimajukan dengan tenaga penuh, sepuluh jarinya terbuka, untuk dipakai mencengkeram tangan musuh. Di saat kedua tangan hampir bentrok satu dengan lain, girangnya Siu Tat sudah bukan alang-kepalang, karena ia merasa, segera ia akan bikin terluka musuhnya itu. Akan tetapi justru di saat itu, mendadak ia dapatkan musuh tarik pulang kepalannya, belum sempat ia melihat nyata, ia tampak bajangan berkelebat kesampingnya, hingga ia menjadi kaget, sehingga ia niat berkelit, untuk menyingkirkan diri, kedua tangannya sendiri mendahului ditarik pulang juga. Tapi ia telah terlambat, ia menjadi kaget ketika tahu-tahu, batang lehernya tercekal keras, dan belum ia sempat berdaya, tubuhnya sudah kena diangkat tinggi!

Orang-orang Ngo Tok Kau pun kaget, sampai mereka berseru, lantas mereka merangsak, akan tolongi pahlawan mereka, akan tetapi mereka disambut Sin Cie dengan si anak muda putarkan diri sambil tubuhnya Siu Tat diputarkan juga, dipakai sebagai alat untuk menangkis serangan!

Semua orang Ngo Tok Kau merandak, tidak ada satu juga yang berani maju akan serang si anak muda, sebab mereka kuatir nanti mereka melukai "hu-hoat" mereka atau pelindung agamanya.

Sin Cie lantas saja berseru: "Dimana adanya orang yang kau culik? Lekas bilang!"

Phoa Siu Tat meramkan mata, tak sudi ia memberikan jawaban.

Sin Cie gunai jeriji tangannya, akan menotok jalan darah di tulang bebokongnya orang tawanannya itu.

"Aduh, aduh!" Siu Tat menjerit-jerit. Tak tahan ia akan sakitnya totokan itu, hingga ia mencoba berontak-rontak. Sin Cie membarengi, akan lepaskan cekalannya, akan banting tubuhnya pahlawan musuh itu.

Siu Tat benar-benar seorang berani dan beradat keras, walaupun ia mesti rebah bergulingan berulang-ulang, tak mau ia memberi jawaban, hingga pemuda kita jadi kewalahan.

"Baik!" pikir Sin Cie. "Kau tidak sudi bicara, mustahil lain orang tidak?" Ia segera ingat kepada ilmu totokan jalan darahnya yang liehay, asal dia gunai itu, siapa juga tak akan dapat menyadarkan korbannya.

"Aku mau lihat, kalau mereka sudah ditotok semua, Ho Tiat Chiu masih berani ganggu Ceng Ceng atau tidak?" demikian pikirnya akhirnya.

Orang-orang Ngo Tok Kau segera maju pula begitu lekas mereka lihat pahlawannya sudah dilepaskan, tetapi justru mereka merangsak, musuh pun menerjang mereka. Tapi Sin Cie maju untuk perlihatkan kelincahannya, ia berlompat kesana-sini, untuk kelit sesuatu serangan, dilain pihak, saban ia menyerang, ia membuat sesuatu sasarannya rubuh tak berdaya.

Beberapa orang Ngo Tok Kau yang cukup liehay masih bisa berkelahi dua-tiga jurus, Baru mereka rubuh, tidak demikian dengan yang kebanyakan, maka dalam tempo yang cepat, sudah kira-kira tiga-puluh orang pada rebah bagaikan mayat.

Ho Ang Yo kaget tidak terkira, ia lantas berseru, ia terus lompat ke pintu, untuk menyingkirkan diri, perbuatannya ini dicontoh oleh sisa kawan-kawannya. Maka sekejab saja, ruangan yang lebar itu kosong dari anggauta-anggauta Ngo Tok Kau itu kecuali mereka yang bergeletakan dilantai, yang pada keluarkan rintihan, cuma mata mereka, dengan sorot membenci, mengawasi kearah musuh mereka. "Adik Ceng! Adik Ceng 1" Sin Cie memanggil-manggil. "Adik Ceng, kau dimana?"

Kecuali sambutan kumandang, tidak ada jawaban.

Dalam penasaran, Sin Cie ma-sesuatu kamar pula, akan mencari, hasilnya siasia saja. Ia coba desak tanya beberapa orang Ngo Tok Kau, mereka ini diam saja bagaikan gagu, mata mereka mereka rapatkan.

Ketika itu, gedung itu telah kosong dari orang-orang Ngo Tok Kau kecuali mereka ini yang rebah semua.

Saking kewalahan, Sin Cie keluar dari gedung, akan naik pula atas kudanya, buat kabur pulang. Ketika ia sampai dirumah di gang Ceng-tiau-cu, ia dapatkan Ciau Wan Jie sudah datang bersama beberapa murid kepala dari Kim Liong Pang, nona itu sudah tolongi See Thian Kong semua, malah lukanya mereka ini pun sudah dibalut rapi.

Sin Cie periksa sesuatu dari sahabatnya itu, apabila ia dapati mereka sudah bebas dari ancaman malaikat elmaut, Baru hatinya lega, sehingga sekarang ia pikirkan Ceng Ceng saja, juwitanya.

Wan Jie coba hiburkan ini anak muda, dilain pihak, ia kirim beberapa anggotanya untuk pergi keempat penjuru kota, guna menyerep-nyerepi kabar.

Selama itu, rumah menjadi sunyi. Tidak ada orang yang bicara. Berselang kira-kira setengah jam, mendadak ada suara menggabruk diatas genteng dibetulan cimchee, lantas satu bungkusan besar menggelinding jatuh.

Semua orang menjadi kaget, malah Sin Cie sangat bergelisah. Ia lompat pada bungkusan itu, dengan kedua tangannya, ia putuskan tambang ikatannya. Belum sampai ia buka bungkusan itu, hidungnya sudah diserang bau bacin, bau darah yang amis, hingga hatinya memukul keras, kedua tangannya mengeluarkan keringat dingin.

Begitu lekas bungkusan telah dibuka, disitu tertampak satu tubuh mayat seperti tercincang, karena telah menjadi delapan potong. Kepala mayat kelihatan hitam mukanya, tetapi rambutnya, kumis dan jenggotnya, tetap putih. Maka dengan mengawasi sedikit lama saja, Sin Cie segera kenali Tok-gan Sin-liong Sian Tiat Seng si Naga Sakti Mata Satu!

Bukan main kagetnya anak muda ini, berbareng pun ia jadi sangat gusar karena pemandangan yang menyayatkan itu, tanpa bilang suatu apa, ia loncat naik keatas genteng, kewuwungan, akan memandang kesekitarnya. Ia masih lihat satu tubuh bagaikan bajangan yang lagi berlari-lari diarah selatan-barat. Ia menduga pada orang Ngo Tok Kau yang barusan membawa mayatnya Sian Tiat Seng, tidak ayal lagi, ia lompat turun ketanah, untuk mengejar. Kali ini ia telah keluarkan kepandaiannya, untuk bisa menyandak orang yang telah lari jauh itu.

Pengejaran dilakukan sampai disuatu tempat dimana ada banyak pepohonan lebat, kedalam situ bajangan tadi lari masuk.

Ada pantangan didalam kalangan kaum kangou, apabila kita menemui rimba, kita dilarang memasukinya, akan tetapi Sin Cie langgar pantangan ini, karena keras sangat tekadnya untuk cari Ceng Ceng, untuk tolongi Nona Hee itu. Demikian ia lompat masuk ketempat lebat itu, akan susul orang yang dikejarnya itu. Tidak ada rintangan untuk anak muda ini, sampai setelah masuk sedikit jauh, ia lihat beberapa puluh orang asik berkumpul merubungi segundukan api tabunan, kelihatannya mereka sedang pasang omong dengan asik sekali, rupanya mereka tidak menyangka bahwa ada orang telah susul kawannya tadi dan sekarang lagi terus mencari mereka.

969 Seorang kebetulan menoleh ke belakang, kaget ia kapan ia lihat Sin Cie lagi mendatangi, dalam kagetnya itu, ia lantas berteriak, terus ia bangun berdiri, untuk lari. Perbuatan ini diturut oleh kawannya, yang pun kaget bukan main, semua lari serabutan.

Sin Cie menyerbu, ia hajar sesuatu orang yang dapat ia susul, ia menoyor, ia menendang, ia totok mereka, hingga siapa menjadi kurban sasaran, tentulah dia rubuh tak berdaya. Malah siapa lari sedikit jauh, ia rubuhkan dengan biji-biji caturnya. Ia bisa berkelahi dengan leluasa, karena hampir tidak ada perlawanan.

Semua musuh itu perdengarkan suara berisik, tapi sedetik saja rimba menjadi sirap, tidak ada lagi satu musuh jua disitu. Maka Sin Cie kebuti pakaiannya, ia bertindak keluar.

Diantara korban-korban itu kedapatan Thia Kie Su, Cee In Go dan beberapa lagi orang liehay dari Ngo Tok Kau, yang tidak ada adalah Ho Tiat Chiu dan Ho Ang Yo.

"Mungkin Ceng Ceng belum terganggu," pikir pemuda ini, yang hatinya mulai tenteraman. "Aku percaya selanjutnya dia tidak bakal diganggu..."

Lantas setelah itu, pemuda ini berjalan pulang.

Sampai magrib itu hari, orang-orangnya Wan Jie masih belum berhasil memperoleh endusan apa juga.

Atas permintaannya Sin Cie, Gou Peng dan Lo Lip Jie antar mayatnja Sian Tiat Seng ke kantor pembesar yang menjadi seatasannya Tok-gan Sin-liong. Di sini orang tidak berdaya kapan mereka saksikan keadaan mayat, karena bukti terang kepala opas ini telah menjadi korbannya Ngo- Tok Kau. Cuma orang tidak mengerti, bagaimana hebatnya pekerjaannya kawanan orang dari Inlam itu. Malam, itu Ciau Wan Jie tidak pulang, bersama beberapa anggauta Kim Liong Pang ia wajibkan diri untuk merawat dan menjagai orang-orang yang terluka, sebab benar diaorang ini sudah bebas dari ancaman kematian, tetapi diaorang masih lelah, perlu rawatan dan istirahat.

Sin Cie sangat masgul, sampai ia tak dapat tidur. Ia duduk di atas pembaringannya, memikirkan daya bagaimana untuk cari Ceng Ceng.

Sudah satu jam Sin Cie duduk diam, pikirannya masih terbenam dalam kepepatan, meski begitu, karena rumah dan sekitarnya sunyi-senyap, ia dapat dengar suara anjing menggonggong dua kali sedikit jauh di dalam gang. Ia juga dengar suara kentongan, yang suaranya datang semakin dekat, tandanya orang ronda lagi mendatangi.

"Benar-benar kali ini aku terpedaya," pikir ini anak muda. Ia ingat bagaimana ia telah makan pancingannya Ho Tiat Chiu. Ia anggap itu adalah kekalahannya yang pertama, yang paling besar.

Tiba-tiba saja, dalam kesunyian itu, ia dengar suara ketokan pelahan pada tembok.

"Inilah bukannya Gou Peng dan Lip Jie jang kembali," ia menduga-duga. "Ilmu entengkan tubuh dari mereka tidak begini sempurna. Mestinya telah datang musuh..."

Kendati juga ia telah menerka kepada musuh, Sin Cie tidak bergerak dari tempatnya bercokol, ia duduk terus dengan tenang, melainkan kali ini, ia memasang mata, ia waspada luar biasa.

Segera terdengar suara enteng di luar jendela, seperti suara jatuhnya daun rontok, suara mana disusul sama tertawa pelahan tetapi tedas sekali di malam yang sunyi itu. Itulah tertawa manis yang diikuti dengan kata-kata yang halus:

"Wan Siangkong, ada tetamu!..."

"Oh, Ho Kau-cu yang datang!" sahut Sin Cie. "Silakan masuk!"

Baru sekarang pemuda ini berbangkit, untuk nyalakan lilin, sesudah mana ia bertindak ke pintu, untuk membukai, akan sambut tetamunya itu yang cantik-manis, yang nyalinya besar.

Ho Tiat Chiu muncul tetap dengan dandanannya serba putih, ia pun bertindak masuk dengan tindakan tenang, air mukanya bersenyum-senyum. Sekelebatan saja ia telah lihat orang punya seluruh kamar di mana, kecuali pembaringan dan kursi-meja, tidak ada lainnya perabotan lagi.

"Sungguh, Wan Siangkong hidup sangat sederhana!" katanya sambil tertawa.

Sin Cie bersenyum, ia tidak menjawab.

"Kali ini aku datang ke mari, Wan Siangkong tentulah telah ketahui maksudnya," kata pula si nona, yang tak ketinggalan tertawanya yang manis.

"Dalam hal itu aku ingin Ho Kau-cu menjelaskannya," sahut pemuda kita.

"Kau kehendaki suatu apa dari aku, aku juga hendak memohon apa-apa dari kau," berkata kepala agama dari Ngo Tok Kau. "Dalam satu jurus ini, pertempuran kita menghasilkan tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. "

Sin Cie tertawa. "Aku pikir tak usah kita lanjuti pertempuran kita ini," ia biang. "Ho Kau-cu sangat cerdik dan kosen, aku sangat mengaguminya."

Kepala agama itu tertawa.

"Ini adalah babak yang pertama," ia menetapinya. "Kecuali kau musnahkan semua anggauta Ngo Tok Kau kami, Wan Siangkong, maka di belakang hari masih ada saja kejadian-kejadian yang akan membuat kau sakit kepala "

Kaget juga Sin Cie. Ia anggap hebat benar kaucu ini. Dialah satu wanita yang tak dapat dipandang ringan. Berani dan bandel!

"Ho Kau-cu," katanya kemudian, "karena kau bermusuh dengan ayahnya sahabatku itu, baiklah kau cari saja ayahnya itu. Kenapa sih kau hendak bikin susah pada seorang anak muda yang belum tahu apa-apa? Laginya ada pri bahasa yang berkata, permusuhan itu lebih baik didamaikan tetapi jangan tambah diperhebat..."

Nona Ho itu tertawa geli hihi-hihi.

"Hal itu baiklah kita bicarakan belakangan," katanya. "Sekarang aku ingin minum arak!"

"Sungguh aneh orang ini," pikir Sin Cie yang toh teriaki kacungnya untuk lekas sediakan arak dan sayurannya.

Wan Jie berkuatir, untuk penjagaan, ia lekas dandan untuk menyamar sebagai kacung, kemudian ialah yang keluar membawa nenampan arak serta beberapa rupa sayurannya.

Ho Tiat Chiu tertawa apabila ia lihat kacung itu. "Benarlah, dibawah perintahnya satu jenderal jempolan tidak ada serdadu yang lemah!" katanya. "Kacung Wan Siangkong saja begini hebat tampangnya!"

Sin Cie tidak meladeni, ia hanya isikan dua cawan. "Silakan!" ia mengundang.

Ho Tiat Chiu angkat cawannya, ia tenggak isinya, lalu ia minum pula, hingga ia keringkan dua cawan beruntun.

"Wan Siangkong tidak memberi muka kepadaku dengan tak sudi minum arakku," kata dia sambil bersenyum, "siaumoay sendiri sebaliknya sangat lancang dan bernyali besar...".

"Arak kami tidak ada racunnya," kata Wan Jie, yang tak dapat mengendalikan diri untuk tidak turut bicara.

"Bagus, bagus!" Ho Kaucu tertawa pula. "Sungguh satu pengurus rumah muda yang cerdik! Mari keringi!"

Ia minum pula araknya.

Sin Cie minum, untuk menemani.

Diantara terangnya sinar lilin, pemuda kita lihat sepasang mata yang tajam dari kepala agama Ngo Tok Kau itu, satu wajah yang eilok, sepasang sujen yang manis sekali, hingga ia berpikir: "Diantara nona-nona yang aku kenal, mengenai kecantikan A Kiu adalah yang nomor satu, Siau Hui ada manis dan polos, Wan Jie terbuka dan cerdas. Ceng Ceng benar berandalan, akan tetapi terhadap aku, ia tulus dan lemah-lembut. Maka sungguh aku tidak sangka, disebelah mereka semua, masih ada ini satu kaucu yang eilok bagaikan bunga-bunga toh dan lie yang indah-permai tetapi yang hatinya berbisa bagaikan ular dan kala! Benar- benar, dikolong langit yang luas ini, orang aneh, orang luar biasa ada dimana-mana!" Ho Tiat Chiu lihat orang awasi dia, ia diam saja, ia melainkan bersenyum. Adalah selang sekian lama, Baru ia buka mulut pula.

"Wan Siangkong," katanya, "dengan sesungguhnya siaumoay takluk sekali untuk siangkong punya kepandaian ilmu silat. Turut apa yang aku dengar, gurumu itu, Kim Coa Long-kun, tidak punyakan ilmu menotok jalan darah tiam-hiat-hoat seliehay kau ini. Apa mungkin siangkong ada punya lain guru lagi?"

"Kau benar. Aku masih punyakan dua guru lainnya," Sin Cie jawab dengan jujur.

"Ehm! Siangkong telah gabung kepandaiannya tiga guru, pantas kau jadi liehay begini!" memuji nona itu. "Siangkong, malam ini aku datang mengunjungi kau, maksudku yang utama adalah untuk minta berguru kepadamu..."

Sin Cie benar-benar heran.

"Aku tidak mengerti, kaucu," sahutnya. "Aku mohon kaucu memberi penjelasan kepadaku."

Ho Tiat Chiu tertawa.

"Wan Siangkong," katanya, "apabila kau tidak cela siaumoay punya bakat tolol, aku minta sukalah kau terima aku sebagai muridmu."

Sin Cie tertawa bergelak-gelak.

"Ho Kaucu ada ketua dari satu perkumpulan besar, kepandaian kaucu sudah sangat liehay, cara bagaimana kau boleh berguyon denganku?" tanyanya.

"Jikalau kau tidak ajarkan aku ilmu menotok jalan darah," kata kepala agama itu, "habis apa itu beberapa puluh orangku yang sekarang sedang rebah tidak berdaya mesti diantapkan saja jiwa mereka melayang?"

Baru sekarang kaucu ini omong dengan jelas.

"Asal kau antarkan pulang sahabatku itu dan kau suka berjanji untuk selama-lamanya tidak mengganggu pula pada pihakku, tentu sekali aku suka menolong mereka," sahut Sin Cie, yang pun omong terus-terang.

"Ini jadinya berarti, kau tak sudi terima semacam murid sebagai aku ini?" tegaskan Ho Tiat Chiu.

"Pelajaranku masih belum sempurna," jawab Sin Cie dengan merendah. "Sebenarnya aku masih hendak mencari guru pula, maka bagaimana aku berani menerima murid? Kaucu, mari kita omong dengan terbuka, mari kita menghabiskan urusan kita dengan baik, kita lupakan yang sudah lewat. Kau akur bukan?"

Kaucu itu tertawa.

"Aku nanti antarkan sahabatmu itu, kau nanti tolongi orang-orangku!" katanya. "Urusan di belakang hari, kita nanti lihat saja!"

Menampak orang tetap tak sudi berdamai, Sin Cie mendongkol juga.

"Kamu dari Ngo Tok Kau boleh malang-melintang di Selatan, tetapi aku orang-orang gagah dari tujuh propinsi, mustahil kami jeri terhadapmu!" demikian pikir ia.

Karena memikir demikian, pemuda ini cuma angkat kedua tangannya, ia tidak bilang suatu apa.

Ho Tiat Chiu berbangkit sambil tertawa manis.

"Aha, Wan Toa-bengcu kami gusar!" katanya. Lantas ia pun angkat kedua tangannya, untuk liam-jim, memberi hormat. Masih ia tertawa hihi-hihi ketika ia menambahkan: "Baik, baik, di sini aku menghaturkan maafku."

Sin Cie membalas hormat, tapi hatinya tetap tak senang.

Ia sangat tak setuju tindak-tanduk lawan itu.

"Besok aku nanti antarkan sahabatmu she Hee itu," kata Tiat Chiu kemudian, "setelah itu aku nanti undang kau, tuan, untuk kau tolongi orang-orangku."

"Aku beri janjiku," Sin Cie bilang.

Tiat Chiu menjura, lalu ia membaliki tubuh. Ia tidak mau loncat naik keatas genteng, ia menindak ke pintu depan, maka Sin Cie mesti antar dia, untuk mana ia perintah kacungnya nyalakan lilin dan membukai pintu.

Wan Jie mengikuti di belakang mereka itu.

"Wanita ini sangat licin," pikirnya, "mungkin dia sembunyikan orang-orangnya diluar rumah, ia pancing Wan Siangkong untuk kemudian dibokong, Nanti aku periksa dulu!"

Karena memikir begini, ia antap orang jalan terus, ia kasi dirinya ketinggalan, lantas ia sembat tempuling Ngo-biecie, dengan bawa itu ia loncat naik keatas genteng, akan hampirkan tembok diujung mana ia sembunyikan diri, untuk memasang mata keluar.

Dimuka pintu ada sebuah joli, tukang gotongnya empat orang, mereka ini sedang berdiri menantikan di muka joli. Kecuali mereka itu, tidak ada orang lain pula.

Dengan kelincahannya, dengan ati-ati, Wan Jie keluar dari tempat sembunyinya, akan dengan diam-diam hampirkan joli dari arah belakang, setelah datang dekat, ia pegang ujung gotongan, untuk angkat dengan pelahan- lahan. Ia merasai angkatan yang enteng sekali, itu artinya tidak ada orang lain di dalam joli, maka hatinya menjadi lega. Benar ketika ia hendak undurkan diri, pintu depan telah dipentang, kacung membawa obor yang terang sekaili. Sin Cie bertindak mengantar tetamunya yang istimewa itu.

Mendadak saja nona Ciau mendapat satu pikiran.

"Dia tidak sudi berdamai, ini berarti, di belakang hari, kesulitan masih banyak sekali," demikian pikirnya. "Kenapa aku tidak mau kuntit dia, untuk ketahui di mana dia bersarang? Dengan ketahui tempat sembunyinya, apabila kemudian dia datang mengganggu pula, Wan Siangkong bisa satroni dia, untuk serbu padanya."

Setelah berpikir begini, tanpa bersangsi pula, Wan Jie batalkan niatnya undurkan diri, sebaliknja, ia nyelusup ke kolong joli, dengan berpegang kedua tangan dan kedua kaki dicantel, ia bergelayutan di kolong joli itu. Secara begini ia bertindak, untuk balas budinya Sin Cie.

Joli memakai tenda yang tebal, malam itu pun gelap, tidak ada orang yang lihat sepak-terjangnya nona Ciau ini. Keempat tukang joli pun sedang mengawasi pemimpinnya, untuk disambut.

Sambil tertawa manis, Ho Tiat Chiu masuk kedalam jolinya, atas mana empat tukang gotongnya segera panggul joli itu, buat dibawa pergi. Yang luar biasa adalah mereka ini menggotong sambil berlari-lari, umpama kata laksana terbang.

0o-d.w-o0