-->

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Jilid 06

Bagian ke VI

Mendengar sampai di situ, Bun Siu kata dengan dingin: "Menurut apa yang aku dengar, Lie Sam suami isteri telah terbinasa di tangannya rombongan orang-orang Chin Wie Piauwkiok. Itulah artinya perbuatan kau sendiri, Tan Toapiauwtauw!"

Tan Tat Hian bercekat hati, tubuhnya menggigil. Ia pun merasa tertusuk dengan sebutan toapiauwtauw itu, artinya, piauwsu yang terbesar. Tapi ia berani, ia menjawab dengan terus terang.

"Tidak salah!" katanya. "Suami isteri Lie Sam itu dibinasakan oleh aku dan saudara-saudaraku itu. Kami telah menggeledah tubuh suami isteri itu, peta tersebut tidak kedapatan pada mereka Maka itu mestinya peta ada di tangan anak perempuan mereka, yang lolos dari tangan kami. Maka kami lantas mencari anak itu, sampai sekarang ini sudah belasan tahun, tanpa ada hasilnya. Selama itu kami telah menjelajah bagian selatan dan utara pegunungan Thiansan. Sungguh kebetulan, hari ini aku menemuinya di sini! Bukankah itu berarti Thian telah menakdirkan kita berenam supaya menjadi beruntung? Kamu hendak membunuh aku, tidak apa! Tapi, kalau kamu memikir sebaliknya; umpama dari musuh kita menjadi sahabat-sahabat, bukankah itu ada baiknya? Nanti aku mengajak kamu pergi mencari Istana Rahasia Kobu itu, jikalau kita berhasil, kita membagi rata. Tidakkah itu berarti kita sama-sama memperoleh harta besar? Jikalau peta ini terjatuh ke dalam tangan si tua bangka bongkok sebagai unta, pastilah dia menelannya sendiri harta besar itu!"

Sengaja Tat Hian mengucapkan kata-kata terakhir itu, untuk mengadu Bun Siu sekalian terhadap Kee Loojin, supaya mereka berselisih dan saling bunuh. Ia mengharap mereka itu timbul keserakahannya.

Kee Loojin tertawa dingin. "Dengan telah mempunyai petanya, mustahilkah kami tidak dapat pergi mencarinya sendiri?" kata dia.

Tan Tat Hian berkata pula. Kalau tadi ia menggunai bahasa Kazakh, sekarang ia mengubahnya dengan bahasa Tionghoa. Ia kata: "Umpama kata kamu dapat mencari istana rahasia itu dan mengambil memperolehnya harta besarnya, tetapi ingat, harta itu ialah hartanya bangsa Kazakh, maka maukah bangsa ini menyerahkannya kepada kamu? Kamu bangsa Han?" "Menurut kau, bagaimana?" Kee Loojin tanya Ia ingin ketahui pikiran orang.

"Marilah kita bekerja sama," mengajak Tat Hian. "Paling dulu kita binasakan semua orang Kazakh di dalam rumah ini. Perbuatan ini cuma kau dan aku yang mengetahuinya, dari itu tidak ada kekuatiran untuk nanti bocor. Lantas kita pergi mencari harta karun itu. Kalau kita berhasil, kau boleh ambil tujuh bagian, untukku cukup tiga bagian saja..."

"Kenapa kau suka mengalah demikian banyak?" si empee tanya.

"Aku kalah gagah dari kau, kau berhak mendapat lebih banyak. Umpama kata kau suka menyerahkan nona Kazakh yang cantik ini padaku, aku suka mengalah lebih jauh, kau boleh ambil delapan bagian."

Pembicaraan itu tidak dimengerti oleh Supu dan Aman, mereka berdiam saja. Tidak demikian dengan Bun Siu, yang menjadi marah sekali. Di dalam hatinya, ia kata: "Bangsat, kau sangat jahat! Bukankah kematianmu sudah di hadapan mata? Kenapa kau masih memikir busuk sekali?"

Kee Loojin berkata: "Ini satu nona Kazakh lihai sekali, belum tentu kita dapat melawan dia..."

"Kau dapat membokong dia. Dia tentunya tidak bersiaga." Kee Loojin berdiam, agaknya ia berpikir.

"Ah, begini saja," katanya sesaat kemudian. "Diam-diam aku mengutungi tambang belenggumu, aku berikan kau golok, lantas kau menghampirkan dia, untuk kau membacok punggungnya..."

"Nona ini sangat cantik, sayang kalau dia terbinasa," kata Tat Hian. "Karena tidak ada lain jalan, baiklah..."

Bun Siu dapat menerka maksudnya Kee Loojin. Terang si orang tua ingin ialah yang membinasakan penjahat ini. Selagi Tat Hian dan Kee Loojin berdamai sampai di situ, dari kejauhan terdengar suara orang memanggil: "Supu! Supu!" disusul sama "Aman! Aman!"

Hampir berbareng, Supu dan Aman berlompat bangun. "Ayah, aku di sini!" mereka pun menyahuti.

Kemudian keduanya berlari-lari ke luar, Supu di depan, Aman di belakang. Mereka tidak menghiraukan lagi angin besar dan salju berhamburan, hingga mereka sukar bernapas.

Hari itu Cherku minum arak di rumah Suruke, ketika turun hujan salju dan angin keras dan sampai sore anak-anak mereka belum muncul, keduanya menjadi berkuatir, mereka lantas pergi mencari, di sepanjang jalan mereka memanggil- manggil. Girang mereka akan menemui anak mereka tidak kurang suatu apa. Supu dan Aman lantas mengajak mereka ke rumah Kee Loojin.

Tiba di depan pintu, mendadak Suruke berkata: "Bukankah ini i umahnya si orang Han yang harus mampus? Tidak, aku tidak sudi masuk ke rumahnya!"

"Tidak mau masuk?" kata Cherku. "Habis kita berlindung di mana? Kupingku, hidungku, telah pada beku..."

Suruke ada membekal buli-buli berisi arak, di sepanjang jalan ia menenggak araknya untuk melawan hawa dingin, karena itu, ia sudah terpengaruhi susu macan. Maka ia kata: "Aku lebih suka batok kepalaku beku semua, tidak nanti aku masuk ke rumah orang Han ini!"

"Lihat anakku yang menjadi mustikaku ini," berkata Cherku. "Kalau dia kenapa-kenapa karena beku, akan aku membuat perhitungan denganmu! Aman, mari kita masuk!"

Suruke tidak menyahuti, sebaliknya, ia melirik puteranya. Mendadak ia berseru: "Hm, kau telah pergi ke rumahnya orang Han, anak mau mampus!" Terus ia mengayun tangannya hingga tubuh Supu terhuyung. Anak ini tidak menangkis atau berkelit. Ia membentur Aman, hingga si nona roboh ke salju.

Cherku menjadi gusar. "He, kau berani memukul anakku?" ia menegur. "Dia belum menjadi nona mantumu, sudah berani kau memukulnya! Tidakkah di belakang hari dia bakal disiksa mampus olehmu?"

"Kalau aku suka memukul, aku memukul, mana dapat kau melarang aku?" kata Suruke sembarangan. Tidak dapat ia mengatasi lagi pengaruh air kata-katanya.

Cherku pun menjadi gusar. "Kalau kau laki-laki, mari kita bertempur pula!" dia menantang.

"Baik, mari, mari!" Suruke menyambut, dan lantas kepalannya melayang, bahkan tepat mengenai dadanya lawan.

Cherku pun sudah mulai dipengaruhi arak, maka beda dari biasanya, ia melayani. Ia tidak roboh karena tinju itu, lantas ia membalas, dengan mengayunkan sebelah kakinya, guna menggaet. Tanpa ampun, Suruke roboh. Tapi dia jatuh sambil tangannya menyambar ke paha, maka keduanya jatuh berguling ke salju di mana mereka berkelahi terus sambil bergulingan.

Supu dan Aman menjadi bingung, sia-sia belaka mereka mencoba memisahkan. Dengan suara saja, mereka tidak berhasil.

Selagi bergulat itu, Suruke menjumput salju, ia menyumbat mulut Cherku, hingga lawan ini gelagapan. Ia tertawa lebar. Justeru itu, Cherku memuntahkan salju di mulutnya itu, terus dia meninju, telak mengenai hidung. Suruke tidak kesakitan, hanya hidungnya mengeluarkan darah. Masih ia tertawa. Sekarang ia menjambak rambutnya Cherku.

Merekalah orang-orang kosen bangsa Kazakh tetapi di dalam sinting itu, lagak mereka mirip dua orang bocah. Kee Loojin bersama Bun Siu lari ke luar, mereka mendengar suara berisik dari dua orang yang bergulat itu. Si gagu turut keluar juga.

Sekarang ini, Supu dan Aman tidak bingung lagi, sebaliknya, mereka tertawa. Mereka ketahui ayah mereka lagi sinting.

Dalam pergulatan lebih jauh, Suruke jatuh di bawah, dia kena tertindih, sia-sia dia berontak, akhirnya dia diam saja.

Supu kaget.

"Lepaskan ayahku!" ia berteriak seraya menghampirkan, untuk menarik Cherku. Ia kuatir ayahnya terluka. Di luar dugaannya, setelah mendekati, ia mendapatkan ayahnya itu lagi tidur menggeros...

Akhirnya semua orang tertawa. Suruke dikasih bangun, diajak masuk ke dalam. Cherku dipegangi Aman, ia turut masuk. Suruke lantas ngoceh: "Haha! Kau tidak dapat melawan aku! Akulah jago Kazakh nomor satu, Supu yang nomor dua, nanti anak Supu yang nomor tiga! Kau, Cherku, kau yang nomor empat..." Lantas ia bernyanyi.

Cherku pun sinting tetapi ia turut tertawa.

Begitu mereka tiba di dalam, Bun Siu berseru kaget. Di situ tidak ada Tan Tat Hian, yang ada hanya beberapa helai tambang belengguannya, yang ujungnya pada hangus, tandanya si penyamun membakar tambang itu untuk membebaskan diri dan lalu kabur dari pintu belakang. Di atas meja, selainnya golok, sapu tangan yang merupakan peta pun lenyap.

Dalam kagetnya, Kee Loojin lari ke belakang untuk mengejar.

Pintu belakang madap ke utara, begitu pintu dipentang, angin dan salju meniup keras, sampai empee Kee itu bersangsi untuk nerobos terus. Tengah ia bersangsi itu Bun Siu menghampirkan padanya, untuk berkata dengan perlahan: "Angin dan salju begini besar, dia tidak dapat kabur jauh, kalau dia paksa menyingkir juga, mesti dia mati di tengah jalan. Baiklah kita menanti sampai langit sudah terang dan badai reda, baru kita pergi mencari mayatnya."

Kee Loojin setuju, ia mengangguk. Ia menutup pula pintunya, lalu berdua mereka kembali ke ruang depan. Di sana tak nampak si gagu yang agak tolol.

Bun Siu merasa kasihan pada si gagu itu, ia membuka pintu depan. Ia memanggil berulang-ulang, tanpa ada yang menyahuti.

"Dia tuli, dia tidak mendengar!" kata empee Kee.

Bun Siu masih melihat kelilingan, baru ia kembali ke dalam. Sampai fajar, baru badai mulai reda.

Suruke sadar dengan tidak ingat lelakonnya di waktu mabuk, melihat Kee Loojin, ia menjadi gusar, tapi Supu dan Aman segera membujuki seraya menuturkan bahwa orang tua bangsa Han inilah yang menolongi mereka dari penyamun.

"Oh, kaulah yang menolongi anakku!" kata Suruke. "Kau orang baik, aku berterima kasih padamu!" Ia lantas memberi hormat. Kemudian ia menambahkan: "Mari kita susul penyamun itu, agar dia tidak lolos!"

Cherku pun turut menghaturkan terima kasih.

Sebenarnya Kee Loojin tidak setuju pergi beramai-ramai tetapi sebab tidak dapat alasan untuk menolak, ia terpaksa pergi bersama. Ia membekal rangsum kering.

Tan Tat Hian menyingkir selagi hujan salju, tapak kakinya telah lenyap pula, tetapi Suruke dan Cherku ada penduduk gurun asli, mereka bisa lihat tanda-tanda yang luar biasa, tanda itu membuatnya menduga si orang jahat. Tujuan mereka ke arah barat. Itu artinya tujuan gurun pasir besar. Empat orang Kazakh itu lantas ingat dongeng hal memedi di gurun, air muka mereka lantas bersinar lain. Suruke besar nyalinya, ia kata nyaring: "Biarnya benar-benar kita bertemu memedi, mesti kita bekuk manusia jahat itu! Supu, mau tidak kau membalaskan sakit hati ibu dan kakakmu?"

"Tentu, ayah!" jawab sang anak. "Aku akan turut ayah!

Aman, kau baiklah pulang." Si nona pun berani.

"Kau dapat pergi, aku dapat!" jawabnya. Di dalam hatinya ia hendak membilang: "Kalau kau mati, mana bisa aku hidup sendiri saja?"

"Aman, lebih baik kau turut ayahmu pulang," Suruke membujuk. "Cherku bernyali kecil, dia paling takut setan!"

Mata Cherku mendelik, dia lantas melombai jalan di depan.

Berjalan di gurun, yang ditakuti ialah tidak ada air, maka air itulah bekal utama. Kali ini habis hujan salju, pasir pun tidak beterbangan, perjalanan rombongan ini tak ada rintangannya.

Makin ke barat, tanda-tandanya Tan Tat Hian makin nyata. Bahkan kemudian, terlihat tegaslah tapak kakinya, yang tidak ketutupan salju lagi. Itulah bukti bahwa dia telah tiba di situ sesudah salju berhenti.

"Sungguh lihai jahanam itu!" kata Kee Loojin seperti mendumal. "Tadi malam badai dahsyat tetapi dia tidak mampus dan dapat berjalan terus hingga kemari!"

"Eh, masih ada tapak kaki seorang lain!" Suruke berseru mendadak. Dia menunjuk tapak kaki Tan Tat Hian. "Orang ini jalan tepat di tapak kakinya si manusia jahat! Tanpa perhatian, tak akan terlihat tapak kaki yang menyusun ini." Mendengar begitu, semua orang membungkuk, untuk meneliti. Benar, tapak kaki itu berbekas lebih mendalam daripada biasanya.

"Mustahilkah ini tapak kaki si gagu?" kata Bun Siu. Tadi malam ia telah melihat sinar mata aneh dari si gagu dan itu mendatangkan kecurigaannya. Hanyalah tapak kaki yang kedua ini rada enteng, bukti bahwa orang ringan tubuhnya. Mungkinkah benar dia si gagu dan dia sebenarnya lihai?

Kee Loojin tidak membilang apa-apa, dengan mengikuti tapak kaki itu, ia berjalan terus. Ia ingin cepat menyandak. Tat Hian seorang ia tidak begitu kuatirkan, ia takut penyamun itu memperoleh kawan yang lebih lihai.

Jalan di salju ini sulit juga. Makin ke depan, salju makin tebal, sampai mendam ke lutut. Perlahan jalan mereka, hingga kejadian mereka mesti singgah, bermalam di tengah jalan. Mereka menggali salju, hingga nampak pasir, untuk rebah di dalam liang, tubuh mereka digulung dengan permadani. Mereka tidur bergeletakan di atas pasir.

Ketika besoknya pagi Bun Siu mendusin, ia mendengar Suruke dan Cherku membikin banyak berisik. Sebabnya ialah Kee Loojin telah lenyap, rupanya dia berangkat malam-malam atau mendekati fajar. Ia heran sekali sedang ia tahu, selama perkenalan kira-kira sepuluh tahun, empee itu agaknya tawar sama harta. Kenapa, setelah mendengar halnya istana rahasia, dia menjadi demikian ketarik hatinya, hingga dia seperti berubah menjadi seorang lain?

Dari enam orang, sekarang jumlah mereka menjadi tinggal lima. Mereka melanjuti perjalanan mereka, untuk menyusul si penjahat, untuk menyusul juga Kee Loojin, si kawan yang menjadi aneh kelakuannya itu.

Bun Siu kemudian mengenali, jalanan yang dilalui ialah jalanan yang ia kenal baik. Itulah jalanan untuk pergi ke rumah Hoa Hui, gurunya. Ia jadi berpikir: "Baiklah aku ajak suhu pergi bersama. Dia luas pengetahuannya, dia dapat membantu banyak..."

Bun Siu mau mencari Istana Rahasia Kobu bukan untuk hartanya. Ia hanya ingin mewujudkan cita-cita ayah dan ibunya, untuk dapat tiba di sana. Segera mereka mulai memasuki daerah pegunungan. Di sini Bun Siu sengaja berjalan perlahan hingga ia ketinggalan jauh di belakang. Lekas-lekas ia pergi ke gubuk gurunya. Untuk herannya, sang guru tidak kedapatan. Ia menduga guru itu lagi pergi berburu atau mencari bahan obat-obatan. Perbuatan itu biasa dilakukan setiap habis hujan salju. Karena ia tidak dapat menanti, ia lantas mencoret-coret beberapa huruf di atas tanah, untuk gurunya itu, lalu lekas-lekas ia menyusul rombongan Suruke.

Mereka memasuki wilayah pegunungan, yang makin lama makin sukar dilaluinya, banyak pohon duri dan lainnya. Syukur, tapak kaki masih terlihat di antara sisa-sisa salju. Maka mereka maju terus.

Herannya ialah, istana rahasia belum tampak tanda- tandanya...

Aman memangnya berkuatir ia menjadi takut. Ia ingat cerita halnya di gurun pasir ada mernedinya. Tapak-tapak kaki yang mereka ikuti itu, di matanya, ada bagaikan jalanan untuk ke neraka...

Juga Suruke dan Cherku bersangsi, mereka berkuatir, hanya di mulut, mereka masih omong besar, mereka tidak mau saling kalah, bahkan mereka bertengkar.

"Cherku, kau lihat, tubuhmu bergemetar," kata Suruke. "Kalau kau jatuh sakit karena ketakutan, inilah bukannya main-main. Baiklah kau berdiam di sini saja menantikan kami, jikalau aku mendapatkan harta, tentu aku akan membagi kau satu bagian..."

"Di saat ini jangan orang berlagak kosen!" kata Cherku. "Lihat sebentar, kalau memedi muncul, siapakah yang bakal kabur lebih dulu? Mungkin kau atau anakmu!...”

"Memang, kami ayah dan anak, kalau kami melihat memedi, kami bakal lari kabur!" kata Suruke pula. "Tapi kami bukannya seperti kau, melihat memedi, kau ketakutan sampai kau bertekuk lutut di tanah dan tubuhmu menggigil?"

Pulang pergi, mereka itu menyebut-nyebut iblis gurun... Jalan lagi sekian lama, langit mulai gelap.

"Ayah, mari kita bermalam di sini," berkata Supu. "Besok pagi kita berangkat pula."

"Bagus!" berkata Cherku tertawa sebelum Suruke menyahuti anaknya. "Kamu dan anak boleh singgah di sini, untuk menyingkir dari bahaya! Aman, mari kau ikut ayahmu!"

"Fui!" Suruke berludah, lalu ia maju di depan, mendahului yang lain.

Supu memunguti cabang-cabang kering, untuk membuat obor. Maka itu, malam-malam, di dalam hutan, mereka berjalan terus. Sulit perjalanan itu, sebab mereka sekalian mesti mencari tapak kaki TatHian. Suasana pun seram kapan sang burung malam mengasih dengar suaranya. Orang kaget setiap kali dari atas pohon terjatuh kepingan salju, yang mendatangkan suara berisik, hingga hati mereka berdebaran.

"Ah, celaka!" berseru Aman tiba-tiba selagi ia berjalan dengan hati kebat-kebit.

"Ada apa?" tanya Supu kaget. "Lihat, itulah gelangku yang kemarin ini aku kena bikin lenyap!" kata Aman, tangannya menunjuk ke depan di mana ada sebuah benda dengan cahaya berkilauan.

Gelang itu terletak sejarak tiga tombak dari lima orang itu.

Memang aneh gelang itu didapatkan di situ.

"Tadinya aku memikir untuk mencarinya, kenapa sekarang gelang ini berada di sini?" kata Aman.

"Kau periksa dulu, benar atau tidak itulah kepunyaanmu," kata Cherku, sang ayah.

Aman jeri, ia tidak berani pergi menghampirkan. Maka Supu yang maju dan memungutnya.

"Memang, inilah kepunyaanmu!" kata si pemuda sebelum si pemudi memeriksanya. Lantas dia menyerahkannya. Aman masih takut untuk menyambuti.

"Kau buang saja," katanya. suaranya parau.

"Mustahilkah ini perbuatan memedi?” kata Supu, yang air mukanya lantas berubah, demikian juga yang lain-lainnya. Semua berdiam.

"Mungkinlah ini lebih bebat dari gangguan memedi,” kata Bun Siu kemudian. "Mari kita ambil jalan yang kuna, jalanan ini ada jalanan bekas kita..."

Mereka terpengaruh oleh kepercayaan halnya sesat jalan, hingga mereka bakal terputar-putar di situ juga sampai mereka mati sendirinya...

Suruke mau menyangsikan kekuatiran Bun Siu tetapi buktinya ialah keanehan dari gelangnya Aman itu.

Tanpa banyak omong, mereka itu berjalan terus. Gelang diletaki di tanah. Mereka berjalan sekian lama, lantas mereka melihat gelang itu!

Suruke dan Cherku bungkam. Mereka tidak berani bicara besar lagi atau saling mengejek. "Kita mengikuti si penyamun dan Kee Loojin,” berkata Bun Siu, "kalau mereka kesasar, mereka pun bakal kembali kemari, maka itu mari kita berhenti di sini. Kita menantikan mereka itu...”

Pikiran ini mendapat kesetujuan, maka mereka, lantas pada menyingkirkan salju, untuk mencari tempat duduk masingmasing. Supu menyalakan api, membuat unggun, mereka duduk mengitari itu. Masih mereka berdiam, tidak ada yang niat berbicara, tidak ada yang berkeinginan tidur. Semua menantikan munculnya Tan Tat Hian dan si empee Kee, semua mereka berdenyutan hatinya. Bagaimana kalau benar- benar Tat Hian dan Kee Loojin tersesat dan muncul di depan mereka? Tidakkah itu berarti celakanya nasib mereka semua?...

Sekian lama mereka berdiam dalam kesunyian, atau mendadak kuping mereka menangkap suara tindakan kaki. Mereka terkejut, hati mereka terkesiap. Hampir berbareng, mereka berlompat bangun. Hanya sejenak, suara tindakan kaki itu lenyap Hingga tinggallah hati mereka yang berdebaran, yang memukul.

Lagi sejenak, tindakan kaki itu terdengar pula, agaknya lagi menuju ke arah barat daya, malah terdengarnya main jauh, akan kemudian lenyap sebab diganggu berkesirnya angin yang keras, yang membawa datang salju, hingga unggun mereka padam dalam sekejap kena tertimpa salju itu.

Dengan padamnya api, gelaplah pandangan mata mereka. Justeru itu, kuping mereka mendengar suara apa-apa.

Kecuali Aman, Suruke berempat menghunus senjata mereka. Aman menjerit, ia menubruk Sapu ke dada siapa ia menyedapkan kepalanya.

Kembali terdengar suara tindakan kaki itu yang teras lenyap di kejauhan. Habis itu, terus sampai fajar tidak ada terjadi peristiwa apa juga. Munculnya matahari membuat hati mereka tenang kembali. Dengan lantas mereka melanjuti perjalanan mereka itu.

Aman berlaku hati-hati maka ia melihat di kirinya, ada cabang-cabang pohon yang rebah dan patah.

"Lihat ini!" katanya tiba-tiba

Supu menyingkap cabang yang rebah itu, di bawah itu ia melihat dua buah tapak kaki, hingga ia menjadi girang luar biasa.

"Di sini mereka!" ia berseru. "Inilah jalan yang mereka ambil!"

"Mungkin penyamun itu keliru melihat petanya," kata Aman. "Dia tersesat, dia kena jalan terputar-putar di sini hingga dia menyebabkan kagetnya kita semua..."

Suruke tertawa lebar.

"Benar!" katanya nyaring. "Dua anggauta keluarga Cherku bernyali kecil, mereka ketakutan mernedi selama satu malaman! Keluarga Suruke sebaliknya gagah, mereka justeni mengharap-harap munculnya si memedi, untuk dijiwir kupingnya, guna melihatnya tegas-tegasi”

Cherku tidak melayani, dia pun memandang ke lata arah, hanya mendadak dia memutar tubuh, sebelah tangannya menyambar!

Suruke tidak menyangka jelek, tahu-tahu sebelah kupingnya telah kena tercekal dan tertarik Cherku, hingga dia kaget Tidak ayal lagi, dia meninju. Meski begitu, Cherku tidak roboh, karena tubuhnya terhnyung, ia menarik kuping orang yang dipeganginya itu. Suruke kaget dan kesakitan, kupingnya itu pecah dan mengeluarkan darah. Kalau kuping itu terlarik lebih keras sedikit, mungkin akan copot

Bun Siu mau tertawa melihat kelakuannya dua orang Kazakh yang Jenaka itu, tidak peduli usia mereka sudah empat puluh lebih, lagak mereka mirip bocah, sebentar baik, sebentar bertengkar, sebentar lagi bertarung. Ketika mereka terpisah, disebabkan saling tinju, yang satu hidungnya matang biru, yang lain matanya bengap!

Mereka melanjuti terus perjalanan mereka. Jalanan kali ini berliku-liku, sukar dilaluinya. Ada kalanya mereka melintasi mengitari bukit, ada kalanya masuk kedalam gua, melintasi terowongan wajar. Syukur ada salju, terus-terusan mereka melihat tapak kaki, yang terus mereka ikuti. Aman bermata celi, kalau tapak suram atau lenyap, dialah yang meneliti.

Dalam batinya Bun Stu kata: "Istana rahasia itu benar- benar luar biasai Tanpa peta, bagaimana dia dapat dicari?"

Jalan sampai tengah hari, sebab satu malam mereka tidak tidur, semua orang menjadi letih sekali, kecuali Bun Siu, yang ilmu dalamnya sudah ada dasarnya, dia masih segar seperti biasanya.

"Ayah, Aman sudah tidak kuat jalan, kita singgah di sini," kata Suptt pada ayahnya.

Belum lagi ayah itu menyahuti atau mereka mendengar seruannya Cherku, yang jalan di paling depan. Suruke lompat ke depan, guna menghampirkan kawannya, yang teraling dengan segumpalan pepohonan. Selewatnya itu, matanya dibikin silau dengan cahaya kuning emas yang berkilauan, hingga sukar untuk ia melihatnya.

Oood~wooO