-->

Kemelut Lembah Ular Jilid 04

Jilid 04

CHAKALIN melihat ini jadi memandang heran.

“Kenapa?!” tanyanya segera, yang tidak mengerti melihat kelakuan adik seperguruannya itu. “Seluruh isi sakuku telah lenyap.    !” menjelaskan Yamonkal

dengan suara yang mengandung keterkejutan, namun akhirnya jadi gusar bukan main. “Tentu bocah she Wan itu yang telah main gila !"

Chakalin segera merogoh sakunya, dia pun jadi berobah pucat dengan gigi yang berkeretekan nyaring.

“Akupun mengalami nasib sama seperti kau.....!" katanya kemudian. mukanya memperlihatkan sikap yang berang dan sakit hati, dia kemudian menyambung lagi kata-katanya: “Mari kita kembali untuk mengejar bocah she Wan itu, karena karena

surat Khan kita telah terjatuh ke dalam tangannya    !”

Muka Yamonkal berobah.

“Maksudmu, surat yang ditujukan untuk Bok Jin Ceng? tanyanya.

Chakalin mengangguk. "Ya !” jawabnya cepat.

Yamonkal tampak jadi sibuk sekali. .

“Bagaimana baiknya? Jika memang kita kembali untuk mencari bocah she Wan itu, kita berdua bukan tandingannya, lagi pula memang kita dalam keadaan terluka seperti ini, tentu saja bukan menjadi tandingannya!"

Chakalin juga jadi ragu². Tadi dalam terkejut dan murka, dia memang sudah tidak memikirkan keadaan dirinya, di mana dia telah terluka dan juga memang bukan menjadi tandingan Sin Cie. Sekarang setelah dapat berpikir lebih tenang, segera juga dia menyadari akan kesulitan tersebut.

Begitulah Chakalin dan Yamonkal telah berdiam diri sejenak. Tampaknya mereka berdua jadi berpikir keras sekali. Mendadak sekali Yamonkal telah melompat berdiri, dia berseru nyaring, "Kita akan tertolong !”

Chakalin mengawasi adik seperguruannya itu.

"Tertolong? Dengan cara bagaimana? Apakah surat Khan akan dapat kita rebut kembali dari tangan orang she Wan itu. ?!"

tanya Chakalin.

“Ya. . . jika memang kita dapat menemui seseorang!" sahut Yamonkal.

“Siapa?!"

"Dialah salah seorang tokoh Ngo Tok Kauw. !" menyahuti

Yamonkal.

"Salah seorang tokoh Ngo Tok Kauw. ?!" tanya Chakalin.

"Apakah kau lupa bahwa sebelum berangkat, Kakhan telah berpesan kepada kita, jika memang di daratan Tionggoan kita memperoleh kesulitan, kita bisa mencari orang Ngo Tok Kauw untuk meminta bantuannya. Ngo Tok Kauw merupakan sebuah perkumpulan yang sangat berpengaruh di Tionggoan ini, perkumpulan itupun memiliki banyak sekali anggotanya, di samping banyak orang liehay yang menjadi tokoh² dari perkumpulan tersebut. Mereka memiliki kepandaian untuk mempergunakan tiga puluh dua jenis racun dan cara²nya yang sulit diterka. Karena itu, Ngo Tok Kauw merupakan sebuah perkumpulan yang disegani sekali oleh orang-orang Kangouw di Tionggoan ini.. .! Menurut Kakhan, bahwa Ngo Tok Kauw telah berjanji akan memihak pada Kakhan, bahkan beberapa orang tokoh mereka telah datang berkunjung ke Mongolia beberapa waktu yang lalu, dan menyatakan kesetiaan mereka kepada Kakhan dan jika memang kita membuka penyerbuan ke Tionggoan, maka Ngo Tok Kauw memang benar merupakan salah satu yang akan menyambut kedatangan kita dari dalam….. Tapi. di mana kita harus menemui orang-orang Ngo Tok Kauw itu? Inilah yang membingungkan aku.....karena kita tidak mengetahui di mana letaknya markas Ngo Tok Kauw itu. !"

Chakalin mengangguk.

“Ya, aku ingat, memang Kakhan telah memberikan keterangan seperti itu .....!” katanya. “Tetapi aku ragu-ragu apakah Ngo Tok Kauw benar-benar merupakan sebuah perkumpulan di Tionggoan ini yang memiliki anggota yang cukup banyak. !”

Mendengar perkataan Chakalin, Yamonkal telah tertawa. Katanya:”Waktu beberapa orang tokoh Ngo Tok Kauw datang berkunjung ke Mongolia menghadap Kakhan, aku sendiri yang telah menguji kepandaian mereka. Dan aku tidak berhasil merubuhkannya. Demikian juga, mereka tidak bisa merubuhkan aku. Tapi aku mengetahuinya dengan pasti, bahwa mereka mengalah, mungkin juga jika memang mereka merubuhkan aku, tentu mereka akan merasa tidak enak, karena itu mereka telah berlaku setengah hati, dan cukup hanya seri saja, di mana seperti juga kami berimbang. Namun aku mengetahuinya dengan pasti, bahwa mereka mengalah.....! Soal kepandaian orang-orang Ngo Tok Kauw itu memang telah kuketahui dengan jelas tapi,

Sekarang yang masih dalam pemikiran, di mana mereka berada. Jika saja kita bisa bertemu dengan salah seorang anggota Ngo Tok Kauw, tentu kita akan dapat memintanya untuk dia mengantarkan kita bertemu dengan Kauwcu mereka! Tentang ilmu silat mereka saja sudah liehay, belum lagi ilmu mempergunakan berjenis-jenis racun, dengan demikian telah dapat dipastikan kita memiliki tulang punggung yang tidak lemah di daratan Tionggoan ini….!

Chakalin menghela napas. “Kita harus menyelidiki keadaan Ngo Tok Kauw itu dari mulut orang-orang Kangouw, karena dari mereka kita bisa memperoleh keterangan. Dengan demikian, kitapun bisa mengetahui di mana letak markas Ngo Tok Kauw tersebut !”

"Ya!” mengangguk Yomankal.

“Kita tidak perlu membekuk salah seorang Kangouw yang memiliki kepandaian tinggi, cukup seseorang yang memiliki pengalaman yang luas dalam Rimba Persilatan di daratan Tionggoan ini, sehingga dia bisa mengetahui di mana letak markas Ngo Tok Kauw tersebut ”

Yamonkal mengangguk.

“Jika demikian, sementara ini kita merawat luka kita, baru setelah luka kita ini sembuh, pergi mencari seseorang Kangouw dan membekuknya. Dari mulutnya kita bisa mengorek keterangan yang kita hendaki  !"

“Yamonkal    l" kata Chakalin kemudian,

Namun dia berkata sampai di situ, Chakalin berhenti sejenak, dia mengawasi ke arah sebelah barat dengan mata yang tajam sekali, sepasang alisnya berkerut, tampaknya dia tengah mengawasi sesuatu. Yamonkal cepat-cepat menoleh dan diapun melihat sesuatu. Dari kejauhan tampak mendatangi seseorang.

“Siapa dia? Apakah bocah she Wan itu yang mengejar kita untuk mempersulit kita ber dua?” tanya Yamaokal dengan suara menggumam perlahan.

Chakalin tidak menyahuti, dia berdiam diri saja. Matanya terus juga mengawasi dengan tajam kepada orang yang tengah mendatangi itu. Tidak lama kemudian, setelah orang tersebut datang dekat, mereka baru bisa melihatnya dengan jelas, bahwa orang itu tidak lain seorang nenek tua yang keadaan mukanya luar biasa sekali. Rusak dan mengerikan, seraut wajah yang tidak benar, penuh dengan bekas-bekas luka di seluruh permukaan wajahnya itu, kulit mukanya yang rusak seperti juga muka hantu.

Tangan baju yang sebelah kiri tampak bergoyang-goyang lembut terhembus angin, dan tangan baju sebelah kiri itu kosong tidak memiliki tangan. Rupanya nenek tua itu memang seorang nenek yang disamping mukanya buruk sekali juga dia bercacad tangannya, yaitu tidak memiliki tangan kiri.

Sedangkan nenek tua itu telah mendatangi semakin dekat, diapun telah melihat Yamonkal dan Chakalin yang tengah mengawasinya. Maka nenek tua itu telah balas memandang dengan sepasang mata yang dideliki.

Chakalin dan Yamonkal yang melihat muka si nenek yang memang buruk sekali dan keadaannya yang begitu luar biasa, telah mengawasi terus.

Sedangkan nenek bermuka buruk dengan tangan kirinya yang buntung itu tidak lain dari Ho Ang Yo, yang memiliki adat aseran sekali setelah melihat dia balas mendeliki kedua Lhama itu tetap memandanginya dengan mata terpentang lebar, dengan mulut setengah terbuka, membuatnya jadi gusar bukan main. Waktu tiba di dekat kedua Lhama itu, dia membentaknya : "Apa yang kalian lihat?” Apakah kedua biji mata kalian masing-masing mau kucongkel keluar?!"

Chakalin dan Yamokal telah memandang sejenak, dan mereka tersenyum. Aneh sekali nenek tua ini, mukanya sudah begitu buruk dan tangan kirinya juga telah buntung. Namun ternyata dia memiliki adat yang aseran sekali, di samping itu tampaknya dia sangat bengis sekali.

Yamakal yang memang memiliki perangai berangasan telah berkata dengan suara yang dingin: "Jika memang kami ingin memandangimu apa halangannya?! Mata adalah mata kami, jika kami melihat itulah hak kami……!"

Mendengar jawaban seperti itu, si nenek Ho Ang Yo telah terus mengejek : "Hmmm. jadi kalian memang ingin mencari-cari urusan denganku?!" katanya dengan tawar.

"Mencari-cari urusan denganmu? Kami kira kau sendiri yang mencari-cari urusan dengan kami !" menyahuti Yamonkal.

Ho Ang Yo tambah gusar karena perkataannya selalu disampingi seperti itu. Dia melangkahi sebutir batu yang cukup besar dan menghampiri lebih dekat pada Yamonkal. "Coba kau ulangi lagi perkataanmu itu. !" katanya dengan bengis.

"Kami tidak pernah mencari urusan denganmu. Tetapi kau sendiri yang mau cari urusan dengan kami! Jika memang kami ingin melihat padamu, apa halangannya? Hemm, kami memang memiliki mata dan mata tentu saja bertugas untuk melihat !"

Setelah berkata begitu, tampak Yamonkal tertawa mengejek berulang kali, sedangkan Chakalin menatap kepada si nenek Ho itu dengan sorot mata yang tajam. Selama itu dia berdiam diri saja dan tengah memperhatikan si nenek tua Ho Ang Yo dan dka bisa melihatnya bahwa Ho Ang Yo tentunya seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali, karena pada kedua matanya itu memancarkan sinar yang sangat tajam, dan juga walaupun langkah kakinya tampak berat toh tetap saja dia melangkah dengan tubuh yang ringan.

Dengan demikian Chakalin diam-diam berwaspada dia telah berkata dengan bahasa Mongolia, dia memberitahukan pada Yamonkal agar adik seperguruannya itu berwaspada dan hati-hati dalam menghadapi si nenek tua yang mukanya buruk seperti itu. Si nenek tua Ho Ang Yo tidak mengerti bahasa Mongolia yang diucapkan Lhama tersebut karena dia memandang dengan sengit, karena dia menduga bahwa dirinya yang telah diejek oleh Lhama itu. Dengan demikian, Ho Ang Yo tidak dapat menahan diri lagi, tahu-tahu tangan tunggalnya yang sebelah kanan telah bergerak cepat sekali menghantam kepada Chakalin.

Tapi Chakalin memang telah berwaspada sejak tadi, dengan sendirinya dia melihat datangnya serangan si nenek tua Ho Ang Yo ini, di mana dia merasakan menyambarnya angin serangan yang luar biasa kuatnya walaupun tangan si nenek sendiri belum lagi tiba pada sasarannya. Dengan demikian membuat Chakalin cepat-cepat berusaha mengelakkan hantaman itu sebelum tangan Ho Ang Yo tiba pada salah satu bagian dari tubuhnya. Terlebih lagi memang Chakalin sendiri mengetahui bahwa dalam keadaan terluka seperti itu dia tidak bisa terlalu penuh mengerahkan tenaga dalamnya dalam menghadapi nenek bermuka buruk itu!

Yamonkal memang dasarnya memiliki adat yang aseran dan berangasan. Waktu itu ketika melihat si nenek Ho Ang Yo menyerang Chakalin, dia memperdengarkan suara tertawa dingin dengan bengis. Walaupun saudara seperguruannya itu telah memperingati padanya agar dia berhati-hati sebab Chakalin mengatakan si nenek memiliki sepasang mata yang sangat tajam bersinar tentunya memiliki tenaga dalam yang mahir sekali, tapi melihat muka si nenek Ho Ang Yo yang buruk, dan juga nenek itu bercacad tangan kirinya yang buntung seperti itu. Dengan demikian membuat Yamonkal tidak memandang sebelah mata.

Sekarang d|a melihat Chakalin diserang oleh nenek bermuka buruk itu, sehingga membuat Yamonkal tidak dapat menahan diri lagi. Tahu-tahu Lhama ini telah mengayunkan tangan kanannya, dia menghantam punggung Ho Ang Yo.

Gerakan yang dilakukan oleh Yamonkal sangat capat dan kuat sekali. Angin serangan itu menerjang ke arah punggung Ho Ang Yo. Ho Ang Yo sendiri ketika itu telah melihat bahwa Chakalin mengelakkan diri tanpa menanti serangannya tiba. Dan cepat tekan diapun merasakan di belakangnya telah menyambar angin serangan yang sangat dahsyat. Dengan demikian membuat Ho Ang Yo tidak berani berlaku ayal. Dia mengeluarkan suara seruan marah, tubuhnya dengan gesit telah melejit ke samping.

Tampak Ho Ang Yo juga telah menyampok dengan tangan kanannya yang tadi dipergunakan untuk menyerang Chakalin. Kedua tangan saling bentur. Tangan kanan si nenek bermuka buruk dan tangan Yamonkal.

Benturan itu kuat sekali, tubuh Yamonkal terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang. Sedangkan Ho Ang Yo sendiri telah terhuyung dua tindak. Seketika itu juga mereka berdua menyadari akan ketangguhan lawan masing-masing.

Yamonkal sendiri tidak pernah menyangkanya, seorang nenek tua yang telah lanjut usia demikian dan tampaknya demikian lemah bisa memiliki kekuatan yang mengejutkan seperti itu. Sebagai seorang yang telah berpengalaman dan memiliki kepandaian tinggi, dalam satu gebrakan itu saja Yamonkal telah mengetahui bahwa kepandaian si nenek tua tidak berada di sebelah bawahnya, sedikitnya berimbang. Jika memang Yamonkal tidak dalam keadaan terluka, tentu dia lebih leluasa menghadapi si nenek. Namun justru dia tengah terluka di dalam. disebabkan itu dia jadi agak terdesak jatuh di bawah angin waktu Ho Ang Yo dengan beruntun telah menyerang kepada Yamonkal, karena nenek yang aseran itu jadi penasaran dirinya dapat dibuat terhuyung seperti itu oleh lawannya.

Yamonkal memberikan perlawan terus, dia pun mempergunakan tenaga keras melawan keras. Setelah mendapat kenyataan bahwa si nenek tua bermuka buruk itu dapat mengatasi setiap serangannya yang mengandung tenaga yang kuat sekali, Yamonkal merobah cara bertempurnya. Kini dia melesat kesana kemari seperti belut licinnya, dan juga beberapa kali dia biarkan punggungnya dihajar oleh si nenek, dan ketika tangan si nenek yang tunggal itu menghantam punggung si Lhama, segera juga tangannya itu melejit, karena punggung Lhama itu licin dan keras seperti besi licin sekali seperti berminyak.

Dan malah di saat si nenek yang hanya memiliki tangan tunggal sebelah kanan itu saja gagal dengan pukulannya. Yamonkal selalu mempergunakan kesempatan itu untuk balas menyerang dengan hebat, memaksa Ho Ang Yo berulang kali sibuk mengelakkan diri.

Keadaan seperti ini berlangsung beberapa kali. Namun akhirnya Ho Ang Yo mengerti akan siasat lawannya. Walaupun dia melihat ada kesempatan yang terbuka buat dia menghajar punggung Lhama itu. namun dia tidak melakukannya, karena dia tahu, biarpun ia menghantamnya toh tidak akan mempengaruhi sesuatu apapun pada. Lhama. malah dalam kesempatan itu Lhama tersebut akan menyerangnya. Dengan demikian membuat Ho Ang Yo pun berobah cara menyerangnya.

Jika memang Ho Ang Yo melihat Lhama itu seperti memasang punggungnya untuk dihajar. maka dia tidak menghajarnya. hanya kakinya yang bergerak.

Tangan kanannya tidak menghantam punggung. justru kaki itu yang telah menendang, ke arah beberapa jalan darah yang bisa mematikan di tubuh Lhama tersebut.

Yamonkal semula terkejut melihat perubahan yang terjadi pada cara bersilat si nenek, berulang kali dia mengeluarkan seruan tertahan. Dan diapun mengetahui siasatnya untuk memancing si nenek tua Ho Ang Yo dengan membiarkan punggungnya dihajar, sudah tidak membawa keuntungan apa-apa buatnya, karena itu dia telah beberapa kali merobah cara bertempurnya. Semula dia merobah dengan cara gulat, lalu dia merobah lagi, merangsek si nenek dengan ilmu menotoknya yang gerakannya sangat aneh, tapi dia gagal juga tidak bisa merobohkan nenek itu dengan segera, diapun telah mempergunakan cara mencengkeram.

Ho Ang Yo selalu dapat menghadapinya dengan baik setiap serangan lawannya. Malah beberapa kali walaupun hanya memiliki tangan tunggal belaka, Ho Ang Yo masih bisa menghadapi Yamonkal.

Dengan penasaran Yamonkal beberapa kali merangsek nekad dan dan kalap. Tapi dia gagal untuk mendesak Ho Ang Yo.

Diam-diam di hatinya jadi berpikir: “Di daratanTionggoan ini benar-benar terdapat banyak sekali jago-jago yang tangguh dan memiliki kepandaian yang sangat tinggi..... baru saja kami berdua tidak sanggup menghadapi bocah she Wan itu, sekarang menghadapi seorang nenek tua renta seperti ini yang hanya memiliki tangan kanan saja, kembali aku tidak sanggup merubuhkannya, malah aku beberapa kali terdesak demikian rupa !"

Karena berpikir begitu, Yamonkal jadi tambah penasaran, beberapa kali dia membentak dan dia memperhebat setiap serangannya, menotok, mencengkeram maupun menghantam dengan ilmu pukulan tangan kosong yang bisa membinasakan lawannya.

Sedangkan Ho Ang Yo menghadapinya dengan baik sekali, setiap serangan lawannya bukan hanya dapat dipunahkan, diapun selalu dapat balas menyerang.

Chakalin yang menyaksikan adik seperguruannya tidak bisa berbuat banyak terhadap seorang nenek seperti Ho Ang Yo, pun jadi penasaran sekali. Berulang kali diapun ingin melompat maju untuk membantui adiknya. Hanya saja dia pikir menghadapi seorang nenek tua renta seperti itu kalau sampai mereka berdua perlu mengeroyoknya hal itu tentu akan menjatuhkan pamor mereka. Maka Chakalin masih berdiam diri saja.

Tapi setelah melihat Yamonkal terdesak hebat, berulang kali dia repot menyelamatkan dirinya dari setiap serangan yang dilancarkan oleh Ho Ang Yo. Chakalin tidak memiliki pilihan lainnya lagi. Dengan membentak nyaring sekali, dia melompat menerjang sambil menghantam mempergunakan kedua tangannya saling bergantian dan gencar sekali. Karena begitu dia menyerang dia telah menghantam dengan beruntun sampai enam jurus.

Ho Ang Yo sebenarnya waktu itu tengah mendesak Yamonkal! Tapi akibat majunya Chakalin yang menyerangnya dengan gencar seperti itu memaksa Ho Ang Yo harus memecah perhatiannya dan mengurangi desakannya pada Yamonkal

Sebat sekali, Ho Ang Yo berulang kali mengelakkan serangan Chakalin. Namun di kala Chakalin melancarkan jurus yang keenam itu, Ho Ang Yo tidak mau berdiam diri terus dengan hanya berkelit, diapun melihat ada kesempatab yang baik untuknya. Sambil menundukkan kepalanya untuk melewatkan pukulan Chakalin, dia telah menggerakkan tangan kanannya yang tunggal itu dengan kelima jari tangan yang terpentang lebar², kemudian dia menghantamnya.

Telapak tangan itu telah menghantam dengan jitu sekali, membuat dada Chakalin terhajar telak dan mengeluarkan suara yang nyaring. Chakalin sendiri mengeluarkan suara tertahan, tubuhnya terhuyung empat langkah dengan muka yang berobah merah padam.

Untung saja waktu dadanya terhajar dia telah sempat untuk melindungi dadanya itu dengan kekuatan hawa murninya, membuat dia tidak sampai terluka di dalam, dadanya seperti juga dilapisi oleh lapisan dinding yang kokoh dan kuat.

Ho Ang Yo penasaran sekali menyaksikan pukulan telapak tangannya tidak memberikan hasil,karena Chakalin hanya terhuyung mundur seperti itu. Sambil berseru bengis, tangan kanannya menghantam lagi.

Chakalin yang telah merasakan hebatnya tangan sinenek tidak berani berayal. Waktu melihat pundak si nenek bergoyang dia segera juga melompat menjauhi karena mengetahui nenek bermuka buruk itu akan menyerang lagi.

Dengan demikian serangan Ho Ang Yo jadi punah sendirinya karena tidak berhasil mangenai sasarannya yang tepat.

Waktu Ho Ang Yo akan menyusuli dengan pukulan berikutnya lagi, Yamonkal telah menerjang dari belakang akan menghantam si nenek. Dan Chakalin telah berseru dengan nyaring: "Tahan.....kami ingin bicara dulu. !"

Si nenek mengeluarkan suara tertawa dingin. Walaupun dia menghadapi kedua Lhama yang mempunyai kepandaian tidak rendah, namun dia tidak jeri. Karenanya merasakan sambaran tenaga serangan Yamonkal dari arah belakangnya, tampak Ho Ang Yo telah menyampok ke belakang. Tangan mereka saling bentur.

Belum lagi sempat Yamonkal menarik pulang tangannya, justru Ho Ang Yo tanpa menarik pulang tenaga sampokannya, dia telah meneruskan tangan kanannya itu menghantam dada dari lawannya. Dan waktu itu Ho Ang Yo mendengar teriakan Chakalin yang meminta agar pertempuran dihentikan. Namun Ho Ang Yo sama sekali tidak memperdulikannya, dia tetap dengan serangannya itu. Hati Yamonkal mencelos, dia tercekat bukan main. Untuk menarik pulang tangannya saja dia masih tidak keburu, bagaimana mungkin untuk mengelakkan hantaman itu?

Jalan satu-satunya dia hanya mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi bagian dadanya yang akan dijadikan sasaran pululan Ho Ang Yo.

"Bukkk!" tangan Ho Ang Yo telah menghantam tepat sekali, datang serangan juga begitu cepat sekali, sehingga belum lagi Yamonkal sempat melindungi keseluruhan lapisan dadanya, dia telah terserang. Dengan demikian tenaga dalam yang melindungi dadanya itu belum lagi penuh, dan dia jadi tergempur terus tubuhnya kejengkang, dia terguling di tanah dengan mengeluarkan keluhan tertahan, dan untuk sejenak lamanya dia tak dapat berdiri.

Chakalin yang melihat itu segera berseru lagi : "Tahan, aku ingin bicara!"

Ho Ang Yo memang tidak menyerang lagi. Napas nenek tua she Ho ini memburu keras sekali. Dia menyadarinya jika memang dia bertempur terus dengan kedua Lhama ini, dengan sendirinya diapun akhirnya akan kehabisan tenaga dan jatuh rubuh. Maka dari itu, sekali ini waktu mendengar Chakalin meminta dia menyudahi pertempuran, dia menuruti juga dan memandang kepada Chakalin dengan sepasang mata yang mendelik.

"Apa yang ingin kau katakan?!" tanyanya dengan suara yang sangat bengis.

"Aku ingin bertanya siapa kau sebenarnya, kepandaianmu tidak lemah ?!" tanya Chakalin.

Mendengar pertanyaan itu, Ho Ang Yo tertawa dingin. "Mengapa bukan sejak tadi kalian berdua bertanya dulu siapa adanya aku ini, jangan sampai kalian menderita seperti itu, dan kini baru menanyakan siapa aku! Jika memang sejak tadi kalian berdua menanyakan siapa diriku, tentu kalian akan gemetar ketakutan dan melarikan diri, dengan demikian kalian tidak perlu sampai kuhajar seperti sekarang ini…!"

ltulah ejekan yang dilontarkan si nenek tua she Ho tersebut, namun Chakalin tidak menjadi mendongkol atau bergusar, malah dia tersenyum, katanya: "Memang kami telah menyaksikan bahwa kepabdaianmu sangat tinggi sekali . . . tetapi bukankah terdapat perkataan, berkelahi dulu baru bersahabat dan bisa saling mengenal?!"

Ho Ang Yo berkurang perasaan gusar dan mendongkolnya, diapun tidak sebengis tadi waktu berkata lagi : “Aku she Ho dan bernama Ang Yo!

“Apa?!” tanya Chakalin. “Kau she Ho?!"

“Ya, kenapa?“

"Rasanya aku pernah mendengar namamu itu... tetapi entah di mana, aku sudah tidak mengingatnya lagi..."

"Hemmm, apakah sudah lama kau berada di daratan Tionggoan ini?!” tanya Ho Ang Yo setelah memperhatikan keadaan Lhama ini yang merupakan pendeta asing.

"Baru saja kami tiba di Tionggoan, belum juga lebih dari satu bulan !” menyahuti Chakalin.

"Kalau begitu, mengapa kau mengatakan bahwa kau pernah mendengar namaku? Mana mungkin hal itu terjadi?!" tanya Ho Ang Yo dengan tawar.

"Hemmm, jika tidak salah, aku mendengarnya di dalam istana Kakhan !" kata Chakalin kemudian. "Khan Mongolia itu?!" tanya Ho Ang Yo dengan mementang matanya lebar².

Chakalin mengangguk.

"Ya, kami datang ke Tionggoan karena kami diutus oleh Kakhan untuk menemui seseorang..." menyahuti Chakalin.

"Siapa?!" tanya Ho Ang Yo.

"Bok Jin Ceng... apakah kau kenal padanya?!" tanya Chakalin.

Muka Ho Ang Yo berobah hebat, untuk sejenak memandang Chakalin dengan tatapan yang tajam. Kemudian sambil memperdengarkan dengusan, dia telah berkata: "Ada keperluan apa kau mencari orang she Bok itu?!"

“Kami diperintahkan Kakhan untuk menghubungi Bok Jn Ceng, untuk berusaha membujuknya menarik ke pihak kami." menyahuti Chakalin.

”Hmmm, jadi Kakhan ingin mempergunakan tenaganya?” tanya Ho Ang Yo lagi.

Chakalin melihat sikap si nenek yang luar biasa dan tidak segera menyahutinya.

Dilihatnya Yamonkal tengah merangkak bangun, waktu itu Yamonkal telah berkata dengan suara sulit: "Nenek keparat.....

aku.…….. aku akan mengadu jiwa denganmu. !"

Sambil berkata begitu, Yamonkal telah melangkah menghampiri Ho Ang Yo.

Ho Ang Yo tertawa dingin, katanya: "Apakah engkau sudah bosan hidup dan mau mampus?" Chakalin juga melihat bahwa Yamonkal sungguhan telah terluka di dalam yang tidak ringan, karena itu dia seegera mencegahnya, katanya: "Yamonkal...... kemari kau ".

Yamonkal mendelik sejenak kepada Ho Ang Yo, kemudian dia menghampiri kakak seperguruannya itu, diapun telah berdiri dengan sikap yang membungkuk, seperti masih menahan rasa sakit pada dadanya. Saat itulah Chakalin telah berkata kepada Ho Ang Yo: "Sesungguhnya, bolehkah kami mengetahui, apakah kau kenal dengan Bok Jin Ceng?!"

"Kenal!” mengangguk Ho Ang Yo dengan suaranya yang dingin.

Chakalin jadi girang, mukanya seketika berobah berseri² sedangkan Yamonkal juga telah memandang dengan sikap yang berobah tidak sebengis tadi.

"Bisakah kau memberitahukan pada kami, di mana kami bisa menemui orang she Bok itu?" tanya Chakalin lagi.

"Dia merupakan ketua Hoa San Pay!" kata Ho Ang Yo dengan suara yang dingin.

"Untuk itu kami telah mengetahuinya." kata Chakalin dengan segera. "Justru kami tidak berhasil mencarinya di Hoa San! Di sana kami tidak berhasil menemujnya, menurut beberapa orang Kangouw yang kami hubungi, mereka mengatakan bahwa Bok Jin Ceng sekarang tengah hidup menyembunyikan diri di sebuah tempat dirahasiakan sekali bersama para orang-orang gagah lainnya. karena dari itu, dapatkah kau menolong kami dengan memberitahukan di mana beradanya Bok Jin Ceng sekarang ini?!"

Ho Ang Yo tertawa dingin. "Aku sendiri tengah mencarinya. Jika memang aku bertemu dengannya, yang pertama-tama ingin kulakukan adalah menghisap darahnya!" kata Ho Ang Yo.

Apa..…?!!" kata Chakalin dengan mata terpentang lebar- lebar. “Kau bermusuhan dengannya?!"

Ho Ang Yo mengangguk.

"Bukan bermusuhan lagi, tapi aku membencinya sampai meresap ke dalam tulang dan sumsumku.....!” menyahut Ho Ang Yo. “Sayang sekali, kepandaiannya sangat tinggi sekali paling

tidak aku hanya bisa menghadapinya dengan mempergunakan siasat dan racun!"

Mendengar perkataan “racun", muka Chakalin berobah lagi, katanya: "Apakah kau pandai bermain-main dengan racun?!”

Ho Ang Yo tertawa dingin.

"Kukira di dalam dunia ini tidak ada keduanya lagi orang yang sepandai aku dalam hal mempergunakan racun    !” katanya

dengan sikap yang bangga dan juga dia telah berkata dengan dada

yang agak dibusungkan, tampaknya dia gembira sekali. dia seperti teringat beberapa waktu yang lalu. waktu dia diperintahkan kakaknya untuk menjagai goa ular, di mana dia selalu bermain-main dengan ular beracun itu. Dan jarang di dunia ini seorang manusia setiap harinya bermain dengan ribuan ekor ular beracun.

Sedangkan Chakalin memperlihatkan sikap gembira, tampaknya dia girang.

"Jika memang kau pandai mempergunakan racun, sama saja dengan orang-orang Ngo Tok Kauw yang kami dengar pun pandai mempergunakan racun ..... “ kata Chakalin kemudian. Ho Ang Yo tertawa dingin. “Justru akulah Kauwcu mereka .....

Kauwcu Ngo Tok Kauw!” kata Ho Ang Yo.

“Apa?!" terkejut dan girang Chakalin dan Yamonkal mendengar hal itu. "Kau Kauwcu dari Ngo Tok Kauw?!”

Ho Ang Yo mengangguk.

“Ya.....!" sahutnya dengan bangga. "Mengapa kalian tampaknya terkejut?!"

"Justru kami tengah mencari orang-orang Ngo Tok Kauw!” kata Chakalin cepat.

"Apa?!” Ho Ang Yo mementang matanya. "Kalian mencari orang-orang Ngo Tok Kauw untuk memusuhi atau memang bersahabat?!”

Dan waktu bertanya begitu, Ho Ang Yo telah bersiap-siap, dia telah memandang dengan sikap yang berwaspada sekali.

Waktu itu, tampak Chakalin dan Yamankal telah mengangkat tangannya yang dirangkapkan, kemudian memberi hormat: "Terimalah hormat kami berdua pada Kauwcu, memang kami tadi tengah berunding untuk mencari keterangan di mana sekiranya kami bisa menemui Kauwcu. !"

Melihat kedua Lhama itu memberi hormat kepadanya, segera juga Ho Ang Yo melihat bahwa kedua Lhama itu tentunya tidak mengandung maksud buruk padanya. Segera dia membalas hormat kedua Lhama itu dengan hanya mengangkat tangan tunggalnya itu ke dekat dada, lalu katanya : "Jika memang demikian, tentunya kalian memiliki urusan denganku?!"

Chakalin mengangguk dengan segera. "Ya.....memang kami memiliki urusan yang perlu disampaikan pada Kauwcu. !”

"Urusan apakah itu?!" "Kami beberapa waktu yang lalu telah mengalami hal yang kurang menggembirakan sekali, di mana kami telah memperoleh gangguan dari seseorang!" mulai Chakalin dengan ceritanya.

“Siapa orang yang berani mengganggu kalian? Kulihat kalian berdua memiliki kepandaian yang tinggi sekali, tentu tidak sembarangan orang yang bisa mengganggu kalian berdua .”

Chakalin berobah merah mukanya, tampaknya dia likat sekali. Dan demikian juga dengan Yamonkal, yang tampaknya jengah sekali. Di waktu itu Chakalin telah berkata: "Orang itu she Wan, dia mengaku bernama Sin Cie, kepandaiannya tangguh sekali dan kami berdua memang bukan tandingannya….!” Chakalin telah mengakuinya terus terang perihal dia bersama adik seperguruannya yang telah dirubuhkan oleh Sin Cie.

Ho Ang Yo mendengar itu jadi memandang dengan muka yang selalu berobah-obah. Karena dia sendiri belum lama yang lalu telah dihajar Sin Cie. Untung saja dia bisa cepat meloloskan diri dari si pemuda she Wan tersebut. Siapa tahu kini dia bertemu dengan kedua Lhama yang telah mengalami nasib sama seperti dia. Dengan demikian, Ho Ang Yo segera tertarik untuk mengetahui apa yang dialami oleh kedua Lhama Mongolia tersebut.

"Apakah kalian telah bertempur dengan bocah she Wan itu?!" tanya Ho Ang Yo.

Chakalin mengangguk.

"Ya.…!" sahutnya. "Bahkan.... bahkan..... muka Chakalin berobah merah, namun akhirnya dia meneruskan juga perkataan itu: “Bahkan kami telah dirubuhkannya     dia benar-benar sangat

tangguh sekali, di mana kamj bukan menjadi tandingannya. Dengan demikian kami harus dapat melihat selatan dan menyadari akan hal itu, dan kami telah berusaha meloloskan diri ..... namun kenyataannya telah terjadi sesuatu yang tidak kami duga " Setelah berkata begitu, Chakalin berdiam sejenak.

Sedangkan Ho Ang Yo telah menatap dengan tertarik sekali, tanyanya dengan perasaan ingin tahu: "Sesungguhnya apa yang telah terjadi pada diri kalian berdua?!" tanyanya.

“Ternyata selama bertempur, saku kami telah dikuras bersih oleh bocah she Wan itu. bukan hanya uang dan barang-barang

kami lainnya yang tidak begitu penting, namun justru surat Kakhan kami yang sangat penting sekali telah terjatuh ke dalam tangan bocah she Wan itu......

“Surat Kakhan kalian?!” tanya Ho Ang Yo kemudian. Chakalin mengangguk.

“Ya, surat Kakhan untuk Bok Jin Ceng..." dia menjelaskan lebih jauh. “Di dalam surat Kakhan dijelaskan maksud Kakhan yang ingin segera mengerahkan tentara untuk menerobos masuk ke daratan Tionggoan dari sebelah Utara, baru kemudian menuju ke Selatan. Di mana Kakhan juga telah menceritakan dengan jelas di dalam suratnya itu, bahwa rencana tentara Mongolia itu akan mengambil posisi yang berbentuk segitiga dari utara, kemudian membagi diri, di mana kami akan menempatkan kekuatan di tiga tempat, yaitu selatan, timur dan barat. Dengan demikian, kota raja di Tionggoan ini merupakan titik pusat dari pengepungan kami. Taktik seperti itu merupakan taktik yang sulit untuk dipecahkan lawan jika memang dilakukan dengan serentak dan diluar dugaan. Tetapi siapa duga, surat Kakhan telah lenyap dari tangan kami, diambil oleh bocah she Wan itu. dengan demikian tentu bocah she Wan dapat memberikan kepada orang-orang gagah yang menjadi kaki tangan Giam Ong. Akan gagallah taktik tersebut, berarti Kakhan harus merobahnya kembali taktik penyerbuan itu. ” Mendengar sampai di situ, Ho Ang Yo tertawa dingin, katanya dengan suara yang tawar:

"Hemm, inilah suatu peristiwa yang lucu sekali!" "Lucu? Apanya yang lucu?!"

“Mengapa Kakhan kalian ingin menghubungi Bok Jin Ceng?!” tanya Ho Ang Yo.

“Justru menurut berita yang kami dengar, Bok Jin Ceng merupakan seorang tokoh sakti yang disegani oleh orang-orang Kangouw di daratan Tionggoan ini, karena itu, jika kami berhasil membujuknya dan menarik ke pihak kami. Bukankah ini merupakan suatu keuntungan yang tidak kecil buat pihak Mongolia? Itulah yang menjadi pemikiran Kakhan..."

"Hmmm, tetapi apakah Kakhan kalian itu mengetahui siapa sebenarnya Bok Jin Ceng itu?" tanya Ho Ang Yo.

Ditanya seperti itu, kedua Lhama itu berdiam diri. Memang tidak banyak yang diketahui oleh mereka mengenai keadaan Bok Jin Ceng. Mereka hanya mengetahui bahwa Bok Jin Ceng merupakan seorang tokoh sakti yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali, di samping ilmu pedangnya yang luar biasa sekali. Sehingga Khan mereka bermaksud untuk membujuk dan menarik Bok Jin Ceng memihak Mongolia, agar Bok Jin Ceng kelak dapat mempengaruhi dan menghimpun orang-orang Kangouw untuk bekerja sama dengan pihak Mongolia dari sebelah dalam Tionggoan.

"Bagaimana, apakah kalian telah mengetahui siapa sebenarnya Bok Jin Ceng dan bagaimana pendiriannya?!" tanya Ho Ang Yo lagi sambil mengawasi kedua Lhama itu. Chakalin dan Yamonkal telah menggelengkan kepala mereka, Chakalin juga telah berkata: "Tidak.… memang tidak banyak yang kami ketahui tentang diri orang she Bok itu!"

"Hemmm, dia merupakan salah seorang tangan kanan Giam Ong yang sangat diandalkan! Bukankah hal itu pernah kami dari Ngo Tok Kauw mengupasnya dan memberitahukan kepada Khan Mongolia, waktu kami dari Ngo Tok Kauw mengirim beberapa orang utusan ke sana ?!"

Chakalin dan Yamonkai telah saling pandang. Mereka Seperti takjub. Inilah yang benar-benar tidak diduga oleh mereka, bahwa Bok Jin Ceng merupakan salah seorang tangan kanan Giam Ong.

"Dalam perjuangan Giam Ong sehingga dia berhasil naik takhta, itulah disebabkan bantuan Bok Jin Ceng yang tidak kecil. Memang, sekarang ini antara Giam Ong dengan pihak Bok Jin Ceng terdapat sedikit bentrokan, namun tahukah kalian bahwa Bok Jin Ceng paling membenci penghianatan, dan diapun paling memiliki adat yang keras. Jika dia mengetahui kalian ingin membujuknya agar dia berpihak pada Mongolia, kemungkinan kalian berdua akan dibinasakannya, atau seringan-ringannya kalian akan dibuat bercacat seumur hidup. !"

Mendengar keterangan Ho Ang Yo, Chakalin telah memandang bengong, sedangkan Yamonkal telah mengawasi dengan ragu-ragu.

"Apakah yang kau jelaskan ini dari hal yang sebenarnya?!" tanya Yamonkal kemudian dengan suara yang ragu-ragu.

Mendengar pertanyaan Yamonkal, Ho Ang Yo jadi tertawa bergelak-gelak.

“Untuk apa aku mendustai kalian...?!” tanya Ho Ang Yo kemudian. “Aku telah membicarakan hal yang sebenarnya, terserah kalian mau mempercayai keteranganku atau tidak. Tetapi perlu kalian ketahui bahwa kami dari Ngo Tok Kauw memang bermusuhan hebat dengan pihak Hoa San Pay. Dimana kami pun sangat membenci mereka, terutama sekali salah seorang murid Bok Jin Ceng, yaitu. !"

Berkata sampai di situ, Ho Ang Yo telah berdiam diri sejenak, dia mengawasi kedua Lhama itu dengan tertawa-tawa.

Chakalin dan Yamonkal tertarik sekali untuk mengetahui siapa murid Bok Jin Ceng yang sangat dibenci oleh Ho Ang Yo, tanya mereka: "Lalu, siapa muridnya itu yang sangat dibenci oleh Ngo Tok Kauw?!”

“Dialah si bocah she Wan yang tidak tahu mampus itu, yang telah menghajar kalian berdua  !" menjelaskan Ho Ang Yo.

"Apa?!” berseru Chakalin dan Yamonkal dengan serentak. tampaknya mereka terkejut sekali.

“Ya, bocah she Wan itu, yang bernama Sin Cie, merupakan murid penutup Bok Jin Ceng , dialah murid terbungsu dari Hoa San Pay tetapi memiliki kepandaian yang tertinggi dari sekian saudara seperguruannya! Karena itu, diapun merupakan murid kesayangan Bok Jin Ceng! Dan kalian telah membuka maksud kalian mencari Bok Jin Ceng, karena itu mungkin juga menyebabkan orang she Wan itu telah menggerayangi saku kalian !”

Chakalin dan Yamonkal jadi mendelu.

“Semula kami ingin pergi mencarinya untuk merebut kembali surat penting itu dari tangan bocah she Wan tersebut. Tetapi kami menyadari bahwa hal itu tidak mungkin kami lakukan, karena kepandaian kami masih berada di bawahnya, dengan sendirinya, di saat kami terluka seperti ini, kami tidak bisa memberikan perlawanan yang baik padanya, malah jika kami memaksakan diri untuk mencarinya dan bertempur lagi dengannya, bisa-bisa kami yang bercelaka.....karena itu, kami akhirnya memutuskan untuk berusaha mencari orang-orang Ngo Tok Kauw, untuk bertemu dengan Kauwcu dan memohon bantuan Kauwcu, agar mengerahkan orang-orang Ngo Tok Kauw membantu kami merebut kembali surat-surat penting itu!”

Ho Ang Yo tersenyum, dia mengangguk.

"Untuk membantu kalian itulah bukan urusan yang sulit!" katanya. “Tetapi juga bukan hal yang terlalu mudah! Seperti kalian tentunya telah merasakan sendiri dan memperoleh kenyataan, kepandaian bocah she Wan itu tidak sembarangan, dimana dia memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali. Dengan demikian, kami dari Ngo Tok Kauw pun harus memperhitungkan baik-baik dalam menghadapinya sebab jika tidak, tentu kerusakan yang tidak kecil akan berada di pihak kami.....! Sebab itu kalian bersabar saja, dengan jatuhnya surat- surat Kakhan pada bocah she Wan itu, sama saja seperti kalian telah menghantarkan surat tersebut kepada Bok Jin Ceng. toh bocah she Wan itu akan menyerahkan juga pada akhirnya kepada gurunya !"

Kedua Lhama itu saling pandang. Sampai akhirnya mereka telah bertanya dengan berbareng.

"Lalu bagaimana baiknya menurut pendapat Kauwcu?!" tanya mereka. "Kami meminta bantuan dan pandangan Kauwcu.... karena kami kurang begitu mengetahui keadaan di daratan Tionggoan ini !”

Ho Ang Yo segera saja dia mengangguk. "Jika demikian, untuk sementara kalian bergabung saja denganku, dimana beberapa waktu lagi tentu anggota Ngo Tok Kauw pun akan berkumpul di tempat ini. Dan aku Tidak bisa meninggalkan tempat ini sebelum semua anggota Ngo Tok Kauw berkumpul untuk mendengar perintah! Jika bicara terus terang, maka sebenarnya beberapa waktu yang lalu aku memang telah bentrok dengan bocah she Wan itu. Dia memang tangguh dan juga memliki kepandaian yang sulit dihadapi. Karena itu, tanpa menanti kami berdua sama-sama terluka, aku telah menyingkirkan diri. Sebenarnya aku ingin menjatuhkannya dengan mempergunakan racun, namun sayang aku tidak memiliki kesempatan unruk melakukannnya karena memang dia terlalu tangguh !”

Chakalin dan Yamonkal jadi terkejut mendengar Ho Ang Yo pernah bertempur dengan Sin Cie beberapa waktu yang lalu, dan mereka segera menanyakan jalannya peristiwa.

Ho Ang Yo segera menceritakan pengalamannya itu.

Diam-diam Ho Ang Yo sendiri menghilangkan bagian- bagian yang dapat menjatuhkan nama baiknya di mata kedua Lhama Mongolia tersebut. Karenanya, dia hanya menceritakan, mereka telah bertempur ratusan jurus dan sama-sama berimbang. Akhirnya Ho Ang Yo telah meloloskan diri meninggalkan Sin Cie begitu saja.

Chakalin dan Yamonkal sendiri diam-diam berpikir, bahwa Sin Cie memang bukan lawan yang ringan. Ho Ang Yo saja yang kepandaiannya tampak tidak berada di sebelah bawah kepandaian mereka, ternyata masih tidak sanggup menghadapinya.

Yang membuat kedua Lhama itu terhibur, justru kini mereka telah berhasil bertemu langsung dengan Kauwcu Ngo Tok Kauw tersebut.

Ho Ang Yo waktu itu juga telah menjelaskannya, bahwa dia tengah perintahkan dua orang anggota Ngo Tok Kauw untuk pergi menghimpun semua anggota Ngo Tok Kauw berkumpul di tempat ini. Dan dengan demikian, tidak lama lagi, seluruh anggota Ngo Tok Kauw tentu akan berkumpul di tempat tersebut.

“Mereka pasti akan dapat membantu banyak untuk menghadapi bocah she Wan itu....” kata Ho Ang Yo pada akhir keterangannya. "Dan kalian berdua tidak perlu bergelisah, jika memang seluruh kekuatan Ngo Tok Kauw yang semula terpecah- belah itu dapat berkumpul disatukan kembali, hemm, jangankan hanya seorang Bok Jin Ceng atau bocah she Wan itu, sedangkan ditambah sepuluh orang lagi seperti mereka, tentu kita bisa menghadapinya! Yang terpenting sekarang kalian berdua harus cepat-cepat menyembuhkan luka dalam kalian. jika memang sampai keadaan mendesak, dimana seluruh anggota Ngo Tok Kauw belum berhasil untuk dihimpun agar berkumpul di sini, maka kita bisa menghadapi bocah she Wan itu bertiga. Mustahil jika kita bertiga maju bersma-sama masih tidak sanggup menghadapinya ?!"

Kedua Lhama itu membenarkan pendapat Ho Ang Yo, dan karena itu mereka jadi terhibur.

Dan Ho Ang Yo telah mengajak mereka kembali ke kota, untuk tinggal di rumah penginapan di mana memang sebelumnya Ho Ang Yo berdiam di sana. Waktu beberapa saat yang lalu dia melarikan diri meninggalkan rumah penginapan itu, sebab dia merasa tidak ungkulan untuk menghadapi Sin Cie. Sekarang dengan adanya kedua Lhama yang memiliki kepandaian tidak rendah, dengan bertiga. Ho Ang Yo yakin akan dapat menghadapi Sin Cie..…

– ooOoo – HARI itu juga Ho Ang Yo telah memanggil menghadap Ban Lang Han. Dia perintahkan seorang pelayan rumah penginapan agar segera memanggil orang she Ban itu.

Dan Ban Lang Han memang datang menghadap dengan segera. Tampaknya dia berkuatir sekali. karena menduga ada sesuatu yang tidak beres. dimana dia tentu akan ditegur oleh Kauwcu Ngo Tok Kauw yang walaupun hanya memiliki tangan tunggal yang kanan, tapi kepandaiannya sangat tinggi sekali.

Ketika datang menghadap. Ban Lang Han segera memberi hormat kepada Kauwcu Ngo Tok Kauw tersebut. diapun menyatakan dia menanti perintah yang akan diberikan Ho Ang Yo.

"Hemmm," kata Ho Ang Yo. "Kau harus mengerahkan seluruh muridmu, kerahkan mereka untuk berdiam di rumah penginapan ini! Dan untuk selanjutnya tidak boleh seorang tamupun diterima menginap disini! Semua kamar untuk kita, kau mengerti?"

Ban Lang Han segera menyatakan bahwa dia mengerti dan akan melaksanakan perintah itu.

"Jika mungkin,” kata Ho Ang Yo lagi. ,"Kau belilah rumah penginapan ini, nanti kita jadikan sebagai markas Ngo Tok Kauw...!"

"Boanpwe akan segera mengurusnya!" kata Ban Lang Han.

Mendengar kesanggupan Ban Lang Han, Ho Ang Yo jadi girang. Segera dia memperkenalkan kedua Lhama itu kepada Ban Lan Han.

Walaupun kepandaian Ban Lang Han tidak begitu tinggi, toh dia memiliki banyak sekali murid dan anggota yang patuh pada perintahnya. Dengan demikian, sementara waktu anggota Ngo Tok Kauw belum lagi berkumpul di kota tersebut, Ho Ang Yo menghendaki murid- murid dan anggota perkumpulan Ban Lang Han dikerahkan berkumpul di rumah penginapan.

Ban Lang Han sendiri segera mengurus sesuatunya dengan cepat. Pertama-tama dia memberitahukan pelayan, semua tamu yang berada di rumah penginapan itu harus dikeluarkan dan diusir, agar pindah ke rumah penginapan lainnya, dan selanjutnya rumah penginapan ini tidak boleh menerima tamu lainnya lagi.

Kemudian Ban Lang Han pulang ke rumahnya, diapun telah perintahkan kepada murid-muridnya agar segera mengerahkan seluruh anggota perkumpulan mereka berkumpul di rumah penginapan itu, untuk menghadap Kauwcu (ketua) mereka yang baru, di mana memang sekarang Ban Lang Han berikut orangnya telah resmi diterima menjadi anggota Ngo Tok Kauw.

Selesai dengan semua itu, barulah Ban Lang Han mencari kuasa rumah penginapan, membicarakan soal jual beli rumah penginapan itu.

Walaupun pemilik rumah penginapan tersebut merasa sayang harus menjual rumah penginapannya, karena itu merupakan satu- satunya usahanya untuk memperoleh penghasilan yang lumayan, namun kuasa rumah penginapan itu sendiri mengetahuinya jika dia tidak menjualnya toh Ban Lang Han akan mempergunakan kekerasan. Dan hal itu akan lebih berabe lagi mempersulit dirinya sendiri. Dan menyetujui untuk menjual rumah penginapannya tapi dengan permintaan harga yang sangat tinggi sekali, yaitu dua ratus ribu tail.

Ban Lang Han gusar, dia mengatakan bahwa pemilik rumah penginapan itu ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik keuntungan se-besar²nya. "Ingat, jika engkau meminta harga yang bukan-bukan, hemm nanti satu tailpun aku tidak akan membayarnya, dimana rumah penginapanmu ini akan kami ambil begitu saja !" ancamnya.

Pemilik rumah penginapan itu ketakutan, diapun mengetahui itulah bukan ancaman kosong belaka. Karenanya, segera juga dia menurunkan harga permintaannya menjadi seratus ribu tail perak.

“Lima puluh ribu tail!" kata Ban Lang Han kemudian. Dan sambil berkata begitu, dia juga telah melemparkan kantong uangnya ke meja. "lni uangnya, kau bisa segera menerimanya

Dan Ban Lang Han akhirnya menambahkan lima ribu tail perak pula….

Selesailah tugas yang diberikan Ho Ang Yo pada Ban Lang Han dimana Ban Lang Han memang dapat mengurus semuanya dengan baik dan memuaskan.

Untuk selanjutnya, rumah penginapan itu resmi menjadi markas sementara Ngo Tok Kauw. Dan Ho Ang Yo perintahkan Ban Lang Han mengerahkan muridnya dan anak buahnya agar segera membangun rumah penginapan itu menjadi sebuah bangunan yang diperlengkapi dengan berbagai alat senjata rahasia!

Tentu saja perintah itu tidak berani dilalaikan. Dalam waktu setengah bulan, segalanya telah selesai, karena Ban Lang Han mengerahkan hampir lima ratus anak buahnya yang bekerja siang dan malam, dengan demikian markas Ngo Tok Kauw telah dibangun dengan cepat. Disamping itu, jika dulu merupakan rumah penginapan yang bangunannya biasa saja, kini setelah menjadi markas Ngo Tok Kauw, itulah bangunan yang megah dan kuat sekali, bahkan bertingat dua, dan juga diperlengkapi dengan jalan di bawah tanah, yang memiliki banyak ruangan rahasia yang dapat mencelakai lawan........ Ho Ang Yo tampak puas.

Selama setengah bulan itu Ho Ang Yo selalu menjamu kedua tamunya, yaitu kedua Lhama Mongolia itu, Chakalin dan Yamonkal. Selama itu pula Ho Ang Yo tidak pernah bergelisah lagi. sebab dia akan dapat menghadapi musuhnya dengan dibantu oleh Chakalin dan Yamonkal serta Ban Lang Han bersama anak buahnya yang jumlahnya tidak sedikit itu.

Beberapa anggota Ngo Tok Kauw pun telah ada yang tiba di kota tersebut. Mereka telah mencari Ho Ang Yo dan menghadap untuk melaporkan keadaan mereka.

Hal ini menambah kegembiraan Ho Ang Yo. Dia yakin jika saja semua anggota Ngo Tok Kauw berhasil dihimpun dan disatukan, sehingga mereka tergabung dalam kekuasaannya, di saat itulah Ho Ang Yo baru mulai bergerak untuk melakukan usahanya mengadakan hubungan dengan Gouw Sam Kui.

Juga memang kini di sampingnya terdapat dua orang utusan Khan Mongolia, berarti kontak untuk kerja sama dengan pihak Mogolia terbuka luas buat Ngo Tok Kauw. !

Malam yang sangat kelam, rembulan tertutup gumpalan awan hitam dan juga angin berhembus keras sekali tampak dua sosok tubuh tengah bergerak cepat sekali di atas genting.

Waktu itu sudah mendekati kentongan kedua dan penduduk di kota tersebut umumnya telah terlalap dalam tidur dan mimpi masing-masing. Sedangkan kedua sosok tubuh yang berlari-lari di atas genting sangat ringan sekali. mereka dapat melompati genting rumah yang satu ke genting rumah yang lainnya, sehingga mereka seperti juga dua sosok bayangan hantu belaka. langkah kaki merekapun tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Dilihat dari cara bergerak mereka berdua bagi orang-orang rimba persilatan menyatakan bahwa mereka merupakan dua orang rimba persilatan yang tangguh dan tentunya memiliki ginkang yang sangat tinggi, karena dapat berlari-lari di atas genting rumah begitu mudah dan ringan.

Setelah berlari-lari sekian lamanya, kedua sosok bayangan tubuh itu berhenti di atas genting sebuah rumah bertingkat dua. Kedua sosok tubuh itu telah bicara perlahan satu dengan yang lainnya. bagaikan tangan merundingkan sesuatu. Dan pakaian mereka yang tampak kebesaran telah berkibar-kibar terhembus siliran angin malam yang dingin.

Di saat itu gumpalan awan hitam telah berkisar dari tempatnya sehingga rembulan dapat memancarkan sinarnya yang cukup terang.

Di bawah cahaya rembulan, terlihat jelas kedua orang tersebut merupakan dua orang pendeta berkepala licin gundul, dengan jubah mereka yang kebesaran. Dan mereka memiliki potongan muka bagaikan orang asing, tentunya mereka merupakan pendeta² asing, bukan orang Han di daratan Tionggoan. hidung yang mancung dengan bola mata yang ke- biru-biruan, memancarkan sinar yang tajam sekali, cara berpakaian mereka, bukan dengan jubah panjang, hanya selembar kain panjang yang dilibatkan ke tubuh masing-masing dan ujung jubah mereka berkibar-kibar terhembus angin.

Setelah bicara kasak-kusuk sejenak, kedua pendeta asing itu, yang tidak lain dari Yamonkal dan Chakalin, dua orang pendeta dari Thibet yang menjadi utusan dari Kakhan Mongolia ke taman bunga gedung besar tersebut. Gerakan mereka yang ringan dan gesit sekali, dimana waktu kedua kaki mereka masing-masing hinggap di dalam taman tidak menimbulkan suara sedikitpun juga.

Dengan gerakan yang sangat lincah sekalh kedua pendeta itu telah menghampiri salah satu jendela yang terdapat di sebelah kanan. Yamonkal mengintai ke dalam kamar. Tidak lama kemudian pendeta yang menjadi utusan Mongolia tersebut telah menggeleng.

"Bukan?!" tanya Chakalin.

"Bukan ..... ini kamar pelayan laki-laki!" menyahuti Yamonkal dengan suara yang perlahan.

"Kita cari lagi kamar lainnya!" kata Chakalin. Yamonkal mengangguk.

Begitulah, setiap jendela telah dihampiri mereka untuk mengintai ke dalam. Akhirnya ketika Chakalin mengintai ke dalam kamar dari salah satu jendela di tengah ruangan, pendeta tersebut mengangkat tangannya, katanya perlahan : "Dia berada di dalam!"

Yamonkal cepat-cepat menghampiri jendela itu dan mengintainya. Tampak dia tersenyum.

"Benar.....memang dia yang tengah kita cari!" menggumam pendeta tersebut. "Apakah kita bekerja sekarang saja?!"

Chakalin mengiakan. Begitulah, dengan mempergunakan lwekang mereka yang sangat tangguh sehingga begitu dia menghentakkan jari telunjuknya, palang kayu yang menjadi kunci jendela kamar itu telah terbuka. Dengan sangat perlahan dan tidak menimbulkan suara sedikitpun juga daun jendela itu telah dibuka oleh Chakalin.

Yamonkal memandang ke dalam kamar. Tampak di atas sebuah pembaringan yang indah dan bersih, dimana di dalam kamar itu terdapat banyak sekali barang-barang perabotan yang mahal-mahal dan sangat harum sekali, tengah rebahan seorang gadis yang rupanya tengah tertidur nyenyak sekali. Dengan gerakan yang ringan Chakalin melompat masuk ke dalam kamar itu melewati jendela. Yamonkal pun telah menyusulnya gerakannya sama gesitnya.

Dengan tidak menimbulkan suara sedikitpun kedua pendeta itu telah menggerakkan kedua tangannya menotok si gadis yang wajahnya samgat cantik itu, sehingga beberapa jalan darah gadis itu tertotok.

Terkejut sekali gadis itu tersadar dari tidurnya. akan tetapi walaupun hatinya sangat kaget melihat dua orang pendeta asing di dekat pembaringannya, gadis itu tidak bisa menjerit lagi.

Yamonkal dan Chakalin bekerja sangat cepat. mereka menggotong si gadis yang dibawa keluar dari kamar itu melewati jendela.

"Biarkan aku yang membawanya!" kata Chakalin kepada Yamonkal waktu mereka telah berada di luar.

"Hati-hati, jangan sampai dia terluka!” pesan Yamonkal dengan mata yang memancarkan sinar sangat berkilau memandang kepada tubuh si gadis yang memiliki potongan tubuh sangat elok sekali.

"Jangan kuatir, aku tidak akan melukai selembar rambut sekalipun!" tertawa Chakalin

Di waktu itu terlihat jelas bahwa kedua pendeta itu memang memiliki maksud hendak mempermainkan gadis itu, yang ingin diganggu kehormatannya.

Dengan gerakan yang ringan sekali Chakalin melompat ke atas genting. Walaupun dia memondong gadis itu, yang dikempitnya. toh gerakannya tidak juga menjadi lambat. kegesitannya tidak berkurang. Sedangkan Yamonkal hanya mengikuti di belakangnya saja dengan gerakan yang sangat gesit. Begitulah, mereka berdua, dengan membawa calon korban mereka, si gadis yang memiliki paras sangat cantik itu, berlari- lari di atas genting rumah penduduk lagi.

Dalam waktu yang sangat singkat mereka telah tiba di rumah penginapan yang telah dirombak oleh Ho Ang Yo menjadi markas besarnya Ngo To Kauw. Mereka berdua itu segera kembali ke kamar mereka yang terletak di belakang gedung yang dijadikan markas dari perkumpulan Lima Bisa itu.

Setelah menutup pintu kamar Yamonkal dan Chakalin saling pandang satu dengan yang lainnya dan tersenyum penuh arti. Dengan hati-hati sekali Chakalin meletakkan gadis itu di atas pembaringan.

Sedang sigadis yang dalam keadaan tertotok benar-benar tidak berdaya, hanya bola matanya yang bergerak-gerak tidak hentinya, memancarkan ketakutan yang luar biasa.

Chakalin mencubit pipi gadis itu, dengan sikap yang ceriwis sekali dia berkata : "Jangan kuatir. kami tidak akan mengganggu kau, dewi yang cantik!” Yamonkal tertawa.

"Ya. kami hanya bermaksud mengajakmu untuk bersama- sama kami bersenang-senang, kau tidak perlu takut!” katanya menimpali perkataan kawannya.

Chakalin membuka totokan pada tubuh si gadis. Si gadis ingin menjerit akan tetapi Chakalin dengan sebat telah menutup mulut si gadis itu dengan tangan kanannya.

"Jangan menimbulkan keributan, sekarang kan sudah tidak berada di rumahmu. kau berada di tempat kami. Semua orang yang berada di tempat ini adalah kawan² kami...… percuma saja kau menjerit atau berteriak dengan maksud meminta tolong. karena mereka tidak akan menolongimu. l" Perlahan-lahan Chakalin membuka tangannya yang menutup mulut si gadis. Dan si gadis memang sudah tidak menjerit lagi. Dengan wajah ketakutan dan juga dengan sepasang mata terpentang lebar². gadis itu berkata: "Kalian...… kalian ingin      "

Dan dia tidak bisa meneruskan perkataannya lagi, sebab gadis itu telah menangis terisak-isak.

"Jangan takut manis. jangan kuatir. kami tidak akan mangganggumu....... kami hanya. ingin mengajakmu bersenang- senang bersama kami...." menghibur Yamonkal sambil tertawa- tawa ceriwis.

Jika memang kalian tidak bermaksud buruk....mengapa....

mengapa kalian menculikku?" tanya si gadis tambah ketakutan.

"Bukankah aku telah mengatakan tadi kepadamu, bahwa kami ingin mengajakmu bersenang-senang? Jika memang kau tidak menimbulkan keributan dan menuruti apa yang kami inginkan, tentu kami tak akan mempersulit dirimu.

"Tetapi...... tetapi...…. orang tuaku pasti akan bingung mencari-cariku. " rengek si gadis sambil menangis terus, karena

dia ketakutan sekali. Sama sekali si gadis tidak bisa mempercayai bahwa kedua pendeta itu tidak akan mengganggunya. Dilihat dari gerak gerik dan cara ber kata²nya seperti itu saja, telah memperlihatkan bahwa kedua pendeta tersebut bermaksud buruk padanya.

"Sudah kami katakan. jika kan mau menuruti secara baik- baik setiap perintah kami, tentu kau tidak akan kami persulit!” kata Yamonkal. “Percayalah. kami tentu tidak akan sampai hati mempersakitimu. !"

"Sekarang kau kembalikan dulu aku kepada orang tuaku dan tentu aku tidak akan melupakan kebaikan kalian berdua. Taisu!” kata si gadis, yang coba membujuk kedua pendeta itu agar mau mengembalikan dia ke rumahnya_

Chakalin tertawa terbahak-bagak. "Kami telah bercapai lelah membawamu kemari. unuk mengajak kau bersenang-senang bersama kami, mana mungkin kami mengantar kau pulang sekarang juga? Jika nanti kita telah puas bersenang-senang, tentu kami akan mengantarkan kau pulang. tanpa kau minta kami akan melaksanakannya sebaik mungkin !”

Si gadis tambah ketakutan. Dia telah dapat menduga apa yang diinginkan oleh kedua pendeta itu. "Jika    jika Taisu berdua

mengganggu....mengganggu diriku. biarlah aku akan membunuh diri    dengan    membenturkan    kepalaku    pada    tembok.     !"

mengancam si gadis.

Yamonkal meleletkan lidahnya. "Aku tidak akan mempersakitimu, jika memang kau ingin membenturkan kepala pada dinding. tentu aku tidak akan mengijinkan. dan jika kau tetap akan berlaku nekad, bisa saja kami menotok jalan darahmu, sehingga kau tak dapat bergerak. .....” sambil berkata begitu si pendeta telah tertawa. Itulah ancaman secara halus. jika memang si gadis tidak mau menuruti keinginan mereka, kedua pendeta ini akan mempergunakan cara mereka sendiri, yaitu menotok jalan darah si gadis, sehingga gadis itu tidak menimbulkan kerewalan.

Si gadis tambah ketakutan, dia menangis terisak-isak.

Chakalin rupanya sudah tidak bisa menahan diri, dia menghampiri si gadis. merangkulnya. Si gadis meronta waktu Chakalin bermaksud ingin menciumnya, dan dibkala itu dengan sikap yang kasar Chakalin berusaha mendorong tubuh si gadis.

Gadis itu mana bisa menandingi kekuatan tenaga Chakalin. karenanya dengan tidak berdaya gadis itu telah terdorong rebah di pembaringan. "Jangan... jangan ganggu aku..... jangan" menjerit si gadis sambil terus juga berusaha meronta dengan hasil yang sia-sia.

Sedangkan Chakalin sambil tertawa buas telah menundukkan kepalanya ingin mencium si gadis.

Namun gadis itu masih juga meronta sambil meng-gerak²kan kepalanya, sehingga pendeta itu tidak juga berhasil menciumnya. dengan demikian membuat ChakaIin jadi mendongkol dan semakin bernafsu saja ingin mencium si gadis

Yamonkal rupanya sudah tidak sabar melihat usaha Chakalin tidak tercapai karena gadis itu tidak mau menuruti secara baik- baik, dengan kasar dia mengulurkan tangan kanannya dan menarik robek pakaian si gadis.

Karena bajunya ditarik robek dan terbuka seperti itu. si gadis tambah ketakutan. sambil terus juga meronta, dia telah menjerit- jerit sekuat suaranya.

Melihat gadis ini akan menimbulkan keributan, Yamaokal tanpa berkata lagi telah menotok jalan darah Hu-hiat (gagu) si gadis, sehingga dia tidak bisa mengeluarkan suara lagi. Namun Yamonkal tidak menotok jalan darah kaku si gadis, karena kedua pendeta ini bermaksud agar si gadis dapat memberikan perlawanan terus, karena itulah cara yang benar-benar merangsang dan menarik hati kedua pendeta tersebut, karenanya. dia tetap tidak menotok jalan darah kaku di tubuh si gadis.

Chakalin tetap sibuk dengan si gadis yang meronta terus dengan derit pembaringan yang semakin ramai sedangkan gadis itu hanya bisa meronta dengan sekuat tenaganya, namun tidak bisa bersuara sedikitpun, cuma air matanya belaka yang menitik turun.

Sedangkan Yamonkal tertawa tidak hentinya. tampak jelas sekali dia sangat bersemangat. Ho Ang Yo dengan orang-orang Ngo Tok Kauw lainnya yang berada di gedung markas tersebut mengetahui apa yang tengah terjadi di kamar Yamonkal dan Chakalin, akan tetapi mereka mengambil sikap masa bodo, karena mereka memang ingin memberikan kepuasan kepada kedua orang utusan Khakhan dari Mongolia tersebut.

Demikian pula halnya dengan Ho Ang Yo dia memang ingin menganjurkan kepada anak buah Ngo Tok Kauw agar melakukan beberapa perbuatan yang dapat mengangkat naik nama besar Ngo Tok Kauw kembali, agar orang-orang rimba persilatan di daratan Tionggoan mengetahuinya Ngo Tok Kauw belum lagi punah dari kini tengah menancap kekuasaan di daratan Tionggoan.

– ooOoo –

KEESOKAN paginya, seluruh kota jadi gempar sebab puteri Sun Cie Wang Tiekwan (Hakim Sun Cie Wang) telah lenyap. Nona Sun yang memang terkenal sangat cantik itu entah lenyap diculik ke mana dan oleh siapa, sampai berhari-hari tidak bisa diselidiki.

Justru pada malam berikutnya telah terjadi penculikan lagi terhadap wanita-wanita cantik, baik puteri dari satu keluarga yang kaya raya atau isteri dari seorang pembesar. Semua ini membuat kehebohan yang tidak kecil di kota itu

Sun Tiekwan sendiri telah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk melakukan penyelidikan dan juga menggeledah seluruh rumah penduduk yang dicurigainya. Akan tetapi sejauh itu tetap saja puterinya tidak dapat dicari ketemu. Begitu pula halnya dengan wanita-wanita lainnya yang telah lenyap tidak berhasil dicarinya. Akan tetapi penculikan-penculikan terhadap wanita cantik masih saja berlangsung terus. Dari hari ke hari semakin meningkat menyebabkan penduduk kota itu mulai tidak tenang.

Juga keributan-keributan selalu terjadi di kota itu, antara orang-orang yang tidak mau dirugikan oleh anak buah Ngo Tok Kauw.

Hal itu disebabkan banyaknya anak buah dari Ngo Tok Kauw yang mengumbar perbuatan jahat mereka, dengan melakukan penindasan dan pemerasan.

Sedangkan pihak yang berwajib sudah tidak sanggup mengendalikan mereka lagi. Orang orang Sun Tiekwan semuanya jeri berurusan dengan anak buah Ngo Tok Kauw.

Jika memang ada orang yang ribut dengan salah seorang anak buah Ngo Tok Kauw, tentu besoknya orang itu akan melayang jiwanya. Tentu saja keadaan seperti ini telah membuat semua penduduk kota itu gentar dan ketakutan jika harus berurusan dengan orang-orang Ngo Tok Kauw.

Demikianlah sehari demi sehari, penduduk kota itu semakin tercekam oleh perasaan takut yang datangnya secara beruntun dan terus menerus.

Seorang pemilik toko yang tidak bersedia membayar pajak liar kepada Ngo Tok Kauw tentu akan menemui ajalnya, atau jika tidak dia sendiri yang dibunuh, pasti ada keluarganya dan sanaknya yang dibinasakan.

Berangsur-angsur Ngo Tok Kauw merupakan momok yang sangat menakutkan buat semua orang penduduk kota tersebut.

Seperti yang terjadi pada sore itu di rumah makan Yam Kee Tiam, sebuah rumah makan yang cukup ramai di kota tersebut. Pengusaha rumah makan itu seorang tua bernama Kim Yan dan ia sebenarnya di masa mudanya merupakan orang Kangouw yang memiliki nama tidak kecil, karena memiliki ilmu golok yang cukup tinggi. Akan tetapi karena sadar bahwa hidup berkelana terus di dalam rimba persilatan hanya akan menyebabkan dia hidup tidak tentu, akhirnya setelah memiliki dua orang anak ia hidup menyepi di kota itu. Dia mengusahakan rumah makan. Dan usahanya itu berhasil dengan baik.

Akan tetapi pada sore itu tampak beberapa lelaki bertubuh tinggi besar dan tampaknya memiliki tabiat yang kasar dan keras telah mengunjungi Yam Kee Tiam. Mereka memesan bermacam- macam makanan akhirnya mereka bercakap-cakap dengan suara yang keras dan lantang. Sejak kedatangan tamu-tamunya tersebut, Kim Yan sesungguhnya sudah memiliki kesan kurang senang karena tamu-tamunya itu bercakap-cakap dengan kasar dan juga sikap mereka yang tidak memperlihatkan kesan baik. Terhadap semua pelayan, tamu-tamu yang memiliki wajah bengis² itu selalu membentak, bagaikan juga mereka ingin memperlihatkan kegarangannya. Sampai satu kali salah seorang dari keenam orang tamu yang agak luar biasa tersebut memanggil pelayan untuk menambah arak mereka. Kebetulan pelayan itu tengah melayani seorang tamunya dan datang agak terlambat. Akan tetapi justru karena pelayan yang dipanggil itu tidak segera menghampirinya, rupanya orang itu jadi murka. Begitu si pelayan menghampiri dan menanyakan apa yang ingin dipesan oleh tamu- tamunya itu, orang yang tadi memanggilnya telah berdiri serta tahu-tahu tangan kanannya telah bergerak, dimana telah menghantam muka pelayan tersebut. Pukulan yang dilakukan orang itu rupanya yang keras sekali. Si pelayan yang tidak menduga akan diserang seperti itu jadi kaget dan kesakitan. Yang lebih luar biasa lagi justru tubuh pelayan itu jadi terpental keras sekali, bergulingan di lantai. Si pelayan cepat merangkak bangun, kemudian dengan marah berkata: “Tuan.....kau !”

“Hemm, kau berani kurang ajar seperti itu, tidak segera menghampiri jika dipanggil tuan besarmu, hemm?!" tegur orang yang memukul pelayan itu dengan sikap yang berang sekali.

Akan tetapi pelayan tersebut berani sekali, segera juga dia berkata menyahuti: “Bukan Siauwjin tidak mau menghampiri, akan tetapi tuan melihat sendiri, aku tengah melayani tamu lainnya !”

"Ohhh, jadi kau berani berdebat denganku, heh? Kau juga berani berlaku kurang ajar seperti itu?!" sambil berkata begitu, tampak orang tersebut telah melangkah mendekati si pelayan, dia ingin memukul lagi.

Melihat orang mengancam akan memukulnya lagi, pelayan tersebut segera mundur beberapa langkah menjauhkan diri.

"Apakah di siang hari seperti ini kau berani mengacaukan tempat ini? Apakah kau tidak takut nanti diberi ganjaran oleh Tiekwan?!” tanya si pelayan, yang marah bercampur takut.

Akan tetapi orang itu terus juga menghampiri sambil tertawa menyeramkan.

“Tiekwan?!" tanyanya. "Sepuluh orang Tiekwan pun tidak akan membuat kami takut!" Dan setelah berkata begitu, dia melangkah maju lagi, dimana dengan muka yang bengis sekali dia telah menggerakkan sepasang tangannya, tangan kirinya dipergunakan untuk mencengkeram baju di dada si pelayan, dimana pelayan tersebut, walaupun berusaha untuk mundur, toh tidak bisa menghindarkan cengkeraman itu. Lalu tangan kanan orang tersebut bergerak lagi, dia telah menghantam dengan kuat sekali, membuat si pelayan telah terjungkal bergulingan di lantai. Waktu pelayan tersebut bangkit pula, mukanya telah berlumuran darah. mukanya pucat pias dan merah bergantian, karena marah dan ketakutan.

"Apakah kau masih berani mementang mulut lagi?!” bentak orang tersebut sambil memperlihatkan sikap yang bengis sekali. Sedangkan kawan-kawan orang tersebut yang menyaksikan muka pelayan itu berlumuran darah, tertawa keras sekali, tampaknya mereka girang bukan main.

Pelayan itu cepat-cepat menyusut hidungnya yang berlumuran darah. waktu melihat darah tersebut, hatinya jadi marah dan nekad.

"Baik, baik. Aku tidak bersalah apa-apa akan tetapi kau menyiksaku seperti ini! Hemm, aku akan mengadu jiwa dengan kau!" sambil berteriak seperti itu, pelayan tersebut telah melompat dan menerjang kepada orang tersebut Sepasang tangannya digerakkan untuk memukul.

Pelayan itu hanya seorang manusia biasa saja yang tidak pernah berlatih ilmu silat. Walaupun memang benar dia memiliki tenaga yang sangat kuat, akan tetapi toh dia tidak memiliki kepandaian apa-apa. Justru orang yang tadi menyiksanya adalah seorang yang mengerti ilmu silat sangat tinggi, begitu si pelayan menerjang padanya, orang tersebut mendengus memperdengarkan suara tertawa dingin, tubuhnya telah berkisar dua langkah, tahu-tahu dia telah menghantam dengan tangan kirinya ke punggung pelayan itu, segera juga tubuh si pelayan telah terjungkal bergulingan lagi sambil mengeluarkan suara jerit kesakitan.

Pelayan-pelayan lainnya yang melihat keadaan teman mereka seperti itu jadi gusar. Mereka segera maju hendak mengeroyok tamu yang kurang ajar dan bengis itu. Akan tetapi kawan dari orang tersebut, yang berjumlah lima orang, yang telah bangun pula 'dari duduk mereka. Waktu beberapa orang pelayan melangkah maju, mereka telah menghantam bergantian. Sebentar saja para pelayan itu telah berhasil dihantam jungkir balik oleh mereka, sehingga pelayan- pelayan itu menjerit-jerit kesakitan.

Kim Yan yang memang sejak tadi menyaksikan tingkah polah dari para tamu-tamunya itu jadi gusar bukan main. Segera dia melangkah maju mendekati keenam tamunya itu.

Sedangkan tamu-tamu lainnya waktu melihat keributan itu segera menyingkir dengan panik.

Kim Yan telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat, "Tuan-tuan, apa kesalahan dari para pelayanku sehingga mereka dihajar seperti itu?!” tanya Kim Yan dengan suara yang sabar, walaupun hatinya sangat gusar.

Orang yang tadi pertama-tama memukul pelayan yang satu itu telah tertawa dingin sambil memperlihatkan sikap yang bengis sekali.

"Kau ingin tahu? Mereka Ini kurang ajar! Justru kami ingin sekali memanggil pemilik rumah makan ini buat meminta ganti rugi atas kemarahan kami! Pelayan rumah makan ini berlaku sangat kurang ajar kepada kami, dengan demikian, pemilik rumah makan ini harus membayar pada kami kerugian waktu kami atas kekurang ajaran pelayanmu! Syukur kau keluar memperlihatkan diri ”

Mendengar perkataan orang itu, Kim Yan tambah gusar, akan tetapi dia masih bisa menahan diri.

“Sesungguhnya apa yang dimaksudkan oleh tuan-tuan dengan sebutan ganti rugi? Sudah puluhan tahun lamanya aku mengusahakan rumah makan ini, dan selama itu belum pernah lalai melayani tamu-tamu kami.….baru sekarang inilah justru terjadi urusan seperti ini…..Menurut apa yang tadi kusaksikan, justru pelayanku itu tidak bersikap kurang ajar seperti yang dikatakan oleh tuan!”

– ooOoo –