-->

Kemelut Lembah Ular Jilid 03

Jilid 03

SEDANGKAN Ho Ang Yo juga tidak berdiam diri, karena dia telah membarengi dengan serangan tangan kanannya yang tunggal nu, dia telah menghantam dengan telapak tangannya. Tenaga pukulan yang dilakukannya juga sangat kuat sekali, sehingga menimbulkan angin yang berkesiuran.

Sin Cie waktu itu tengah mengelakkan sambaran Ceng coa, dalam keadaan seperti itu, waktu dia tengah memiringkan tubuhnya, gempuran tangan kanan Ho Ang Yo telah tiba.

Dengan demikiaa Sin Cie terpaksa menang kisnya, karena dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk berkelit. Tangkisan yang dilakukan oleh Sin Cie disertai dengan empat bagian tenaga dalamnya, bentrokan tangannya dengan tangan Ho Ang Yo sangat kuat sekali.

Genting dimana Sin Cie menempatkan ka kinya tergetar, karena kuatnya benturan tangan nya dengan tangan Ho Ang Yo, disamping itu juga bunga-bunga salju yang semula telah menimbuni dan menutupi permukann genting tersebut jadi rontok turun kebawah.

Tetapi Sin Cie sendiri jadi tercekat hatinya, karena dia waktu itu berdiri dengan tubuh miring. sedangkan benturan tangannya dengan tangan Ho Ang Yo kuat sekali, sehiogga kuda-kudanya yang memane kuraog kuat pada saat itu telah tergempur.

Tubuh Sin Cie bergoyang, hampir tergelincir, karena genting itu licin.

Untung saja Sin Cie mahir mempergunakan "Pek Pian Kwie Eng", iwekangnya sempuma dia cepat-cepat mengendalikan diri. Dengan gerakan cepat, tubuhnya berputar, dan tampaknya dia seperti juga akan rubuh. Tapi cepat sekali tubuhnya melesat, malah telah melompat naik kegenting yang lebih atas lagi.

Diwaktu itu nampak Sin Cie juga bukan hanya memperbaiki kuda-kuda kedua kakinya belaka karena dia telah membareagi dengan menggerakkan kedua tangannya, tahu-tahu dia telah menyerang Ho Ang Yo dengan dua jurus beruntun.

Ho Ang Yo semula girang mehitat Sin Cie seperti tergelincir akan rubuh. Namun betapa terkejutnya setelah dia dapat kenyataan dimana tarnpak Sin Cie bukannya jatuh kebawab, malah telah melompat naik membarengi dengan kedua tangannya itu bargerak melakukan penyerangan yang bebat padanya.

Ho Ang Ye mengeluarkan seruan tertahan namun tangan kanannya yang tunggal itu bakerja cepat sekali. Dia bukan menangkis melainkan melontarkan belasan batang jarum beracun.

Sin Cie mengerutkan alisnya, dia berpikir. "Hemm, nenek tua ini telengas sekali!" Ia menarik pulang kedua tangannya, dia mengelakkan sambaran belasan batang jarum beracun yang menyambar keperbagai jalan darah yang mematikan itu. Sic Cie berhasil menehindarkan diri sebagian dari jarum-jarum itu, karena empat batang jarum lainnya masih menyambar terus kepadanya.

etapi Sin Cie tidak menjadi gugup, dengan tangan kirinya ia mengibas, dari kibasan itu, bertamburan tenaga yang kuat, menyampok ke empat batang jarum teraebut, jarum meluruk jatuh menancap ditanah yang berlapis salju.

Ho Ang Yo melihat Sin Cie tengah meng gerakkan tangannya mengibas, dia tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada, cepat bukan main dii mengeluarkan bentakan yang nyaring tangan kanannya itu meluncur menyerang lagi, dia ingin menghantam Tay-cong-hiat si pemnda.

Sin Cie waktu itu tak beriaku sungkan pula, dia mengerahkan enam bagian tenaga dalamnya, dengan jurus "Menerjang Awan Meraih Rembulan", tahu-tahu tangan kanannya telah diulurkan, dia telah berhasil meneengkeram pergelangan tangan kanan sinenek tua she Ho itu.

Ho Ang Yo mencelos hatinya, dia berusaha menarik pulang tangannya, tapi tenambat. Pergelangan tangan sinenek telah kena di-cengkeram kuat sekali oleh Sin Cie.

Kemuditin Sin Cie telah menghentaknya, dia menariknya dengan kuat. Tubuh Ho Ang Yo telah, tertarik terhuyung maju beberapa langkah kedepannya.

Waktu itutah si nerek ruranya jadi nekad, dia membiarkan tubuhnya tertarik, tapi waktu tubuhnya itu maju, dia telah membarengi dengan jejakan kakinya, tubuhnya melompat, dia pun telah membalikkan tangannya, memutar pergelangan tangannya, dimana kuku-kuku kelima jari tangannya itu cukup panjang dan runcing untuk menusuk pergelangan tangan Sin Cie, sehingga jika memang tangan Sin Cie kena ditusuk oleh jari tangan tersebut, niscaya akan membuat Sin Cie terkena bisa yang sangat hebat, dimana setiap ujung kuku dari jari tangan Ho Ang Bo mengandung bisa yang dapat bekerja cepat sekali.

Sin Cie tidak mau membiarkan tangannya digores atau ditusuk oleh kuku-kuku jari sinenek, dia melepaskan eekalannya, lalu membarengi menghantam pundak sinenek.

Ho Ong Yo yang tengah kalap tak bisa mengelakkan lagi pukulan itu, karena jarak mereka sangat dekat, ia tengah penasaran karena tusukan kuku-kuku jari tangannya tak dapat mengenai tangan Sin Cie. Dengan telak pundak nya telah kena dihantatn, tubuh sinenek telah terhuyung, dia limbung beberapa langkah, kemudian tergelincir, dan tubultnya jatuh kebawah genting....

Ho Ang Yo berpoksay beberapa kali, dan hinggap diatas tanah dengan kedua kaki terlebih dulu. Dia kemudian membentak, “Bocah, lain waktu aku tentu akan meminta pengajaranmu …!” Dan berbareng dengan perkataannya itu, tangan kanan sinenek telah melontarkan sesuatu benda berbantuk bulat. San Cie yang menyadari bahwa lawannya ini pandai mempergunakan racun dan juga memang licik, dia tak mau menyampok benda bulat itu. namun belum lagi dia sempat menjejakkan kakinya untuk menyingkir, tahu-tahu benda bulat itu telah meledak, mengeluarkan asap yang tebal dan asap itu harum Sin Cie mencelos hatinya, dia menduga tentunya asap itu adalah beracun.

Tidak berayal lagi Sin Cie telah melompat beberapa tombak, kegenting disampingnya. Sedangkan Ho Ang Yo mempergunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri dan ketika Sin Cie mengawasi sekirarnya, Ho Ang Yo telah meninggalkan tempai itu dimana dia tidak kembali kekamarnya dulu. Sin Cie cepat-cepat menjauhi lagi, karena asap yang berasal dari ledakan penda bulat itu sangat tebal dan juga hawa harum itu masih tercium oleh Sin Cie.

Memang benda tersebut merupakan salah satu senjata rahasia yang diandalkan oleh orang-orang Ngo Tok Kauw. Jika memang tengah menghadipi ancaman mara bahaya, diwaktu itulah benda bulat tersebut dapat dipergunakan, karena benda itu mengandung bahan peledak di samping asap yang beracun.

Jika memang lawan ingin mengejar, tentu akan terhalang oleh asap beracun itu. Dan jika lawan kurang cepat menghindarkan diri dari asap beracun itu, dia akan menghirup hawa udara yang mengandung racun...,.

“Dibandingkan dengan dulu, kini tampaknya Ho Ang Yo semakin ganas dan tangannya telengas sekali!" gumamnya dengan pikiran yang tidak tenang, karena sekarang setelah dia tahu bahwa Ho Ang Yo masih hidup, berarti ancaman bahaya yang tidak kecil selalu mengintai dan Ho Ang Yo jika berhasil menghimpun orang-orang Ngo Tok Kauw, berarti kekacauan rimba persilatan tak bisa dicegah lagi.

Sin Cie berlari-lari pulang kerumah penginapannya. Ketika dia lewat didepan kamarnya Giok Hoa, dilihamya pintu kamar tertutup rapat, dia segera masuk kokamarnya sendiri. karena menduga sigadis telah tidur. Waktu itu, Sin Cie tidak segera tidur, dia duduk memikirkan perihal sinenek tua she Ho tersebut.

Sin Cie jadi teringat, bahwa dua bulan yang lain dia memang meninggalkan Hay Lam tanpa ikut sertanya Ceng ceng, yang telah jadi isterinya, dan juga Tek siu, muridnya. Kepada orang- orang gagah yang pernah ikut dengannya berdiam dipulau Hay Lam tersebut, Sin Cie berpesan pada mereka agar menjaga Hay Lam sebaik mungkin, sebab kemungkinan terjadinya urusan yang sangat besar dan mengancam keselamatan mereka bisa saja terjadi disemharang waktu. Hal itu disebahkan telah sampainya berita pada Sin Cie mengenai pergerakan orang-orang Boanciu yang berusaha untuk menerjang perbatasan guna merebut daratan Tionggoan.

Justru keberangkatan Sin Cie meninggalkan Hay Lam, dia mendengar soal diperbatasan itu, dimana 'dab banyak orang- orang Mongolia yang menerjang masuk kedaratan Tionggoan, terutarna di daeran pinggiran perbatasan. Disana banyak sekali korban.

Dan beberapa orang sahabat Sin Cie yang Baru kembali dari See Chong telah mengatakan, bahwa banyak orang-orang disana yang menjadi korban dari keganasan bala tentara Mongolia. Terutama sekali terdapatnya Lhama-lhama yang memiliki kepandaian tinggi, diperalat oleh pemerintah Mongolia agar mengacau daratan Tionggoan.

Setelah dirundingkan dan minta izin dari ceng ceng, Sin Cie ingin pergi seorang diri untuk menyelidiki kebenaran dari berita itu.

Walaupun Giam Ong telah memperlakukan mereka tidak baik dan membuat mereka tak puas namun kenyataannya mereka tidak bisa berpeluk tangan jika negeri mereka terancam serbuan dari luar itu.

Begitulah, dengan seorang diri Sin Cie telah meninggalkan Hay Lam, dia telah berkelana untuk menyelidiki kebenaran berita itu.

Apa yang didengarnya, memang benar-benar me ngejutkan Sin die. Banyak orang-orang yang menceritakan kepada Sin Cie, bahwa Lhama-lhama merah dan Mongolia itu berbasil menyelusup ke dalam daratan Tionggoan. Umumnya dia memiliki kepandaian tinggi, dan juga mereka ada yang berhasil menyelusup dedalam bilangan daerah Kanglam dan sekitarnya, daerah diselatan. Karena jika memang tentara Boanciu itu melancarkan penyerbuan, jelas selain mereka akan merebut daerah di Utara, merekapun akan segera merambat keselatan, dari sana, dari. Siang yang, barulah mereka menerobos masuk lebih dalam lagi untuk menguasai selurub daratan Tionggoan.

Banyak penduduk Tionggoan yang menjadi korban Lhama- lhama itu. mereka umumnya bertangan telengas dan bengis, dimana setiap penduduk yang tak menyukai mereka tentu akan dibinasakannya. Tentu saja Sin Cie yang mendengar hal itu menjadi gusar.

Jika memang menuruti kata hatinya, dia ingin segera berangkat kedaerah perbatasan, guna melabrak orang-orang Mongolia tersebut. Tetapi akhirnya Sin Cie menahan diri, dia berpikir dengan tennng, dia sadar dirinya hanya seorang. Walaupun bagaimarta tangguhnya dia, toh tetap saja tidak banyak yang bisa dilakukannya. Sebab itulah Sin Cie akimya membatalkan maksud keberangkatannya ketapal batas. Dia akan kembali dulu ke Hay-lam, untuk memberitahukan semua itu kepada sahabat-sahabatnya guna merundingkan langkah-langkah apa yang perlu diambil.

Siapa tahu dia bisa bertemu dengan Bin Giok Hoa, atau ketemu Ho Ang Yo yang belum meninggal.

Memang dulu dia mencurigai Ngo Tok Kauw mengadakan perserikatan dengan Gouw Sam Kui, dan dari katanya Ho Tek Siu, muridnya yang dulu pernah menjadi Kauwcu Ngo tok Kauw tersebut mempergunakan namanya Ho Tiat Cu, maka diketahui memang Ngo Tok Kauw memiliki hubungan yang erat dengan Gouw Sam Kui.

Sekarang Ngo Tok Kauw berada ditangan Ho Ang Yo, si nenek yang memang adatnya aseran tersebut telah berusaha untuk menghimpun orang-orang Ngo Tok Kauw kembali. Maka Sin Cie kuatir kalau-kalau Ngo Tok Kauw ini kembali mengadakan perserikatan dengan Gouw Sam Kui, sehingga bisa mendatangkan bencana yang tidak kecil buat keselamatan rakyat negeri, dimana Gouw Sam Kui merupakan penghianatan berdosa yang ingin membuka pintu buat mengundang tentara musuh yang diakui sebagai majikan itu.....

Ho Tek Siu sendiri telah menceritakan, wak tu dia memegang kekuasaan di Ngo Tok Kauw, dia hanya mementingkan kepandaiannya dan memupuk anggotanya untuk memiliki kepandaian guna uantuk dapat menjagoi Rimba Persilatan.

Namun Ho Ang Yo justru menghendaki lain

Dia yang te1ah dapat mendesialt Ho Tiat Cu atau sekarang setelah menjadi murid Sin Cie bernama Ho Tek Siu itu, untuk mengadakan kontak dan hubungan dengan Gouw Sam Kui.

Sekarang pimpinan Ngo Tok Kauw berada ditangan Ho Aug Yo. memang semula dia pernali ingin merebutnya kedudukan Kawcu Ngo Tok Kauw dari tangan Ho Tiat Cu, tapi gagal, dan sekarang karena Ho Tiat Cu memang mengundurkan diri, jelas Ho Ang Yo lebih mudah untuk menguasai semua anggota Ngo Tok Kauw tersebut. Dengan sendirinya Ho Ang Yo pun akan meneruskan keinginaunya mengadakan bubungan dengan Gouw Sam Kui. Inilah berbahaya.

Sampai menjelang fajar Sin Cie tak bisa tidur, setelah ayam berkokok, barulah dia tertidur dan sebentar kemudian dia telah bangun. Setelah salin pakaian, Sin Cie menengoki Giok Hoa. Si gadis she Bin tersebut telah sembuh dan lincah seperti semula. Bahkan pagi itu Bin Giok hoa tengah berada di ruang makan rumah penginapan itu. Ketika melihat Sin Cie, Giok Hoa tetah menyambutnya dengan gembira, “Terima kasih alas pertolongan Inkog, karena aku benar-benar telah sehat kembali!" kata Giok Hoa. “Dan bagaimana tentang penyelidikan Inkong terhadap diri nenek tua she ho itu?"

Sin Cie terdiam sejenak. lalu dia berkata: "Dialah memang Ho Ang Yo dari Ngo Tok Kauw...." menjelaskan Sin Cie. yang kemudian lah menceritakan apa yang dialaminya semalam.

Bukan main terkejntnya Giok Hoa waktu mendengar Ho Ang Yo kemungkinan besar bisa mengadakan hnbungan dengan pihak Boancio dan Gouw Sam Kui.

"Inilah bukan urusan kecil, jika dibanding kan dengan urusan Bin supeh, inilah jauh lebih; penting !” kata sigadis.

"Ya....akupun segera akan kembali ke Hay Lam, untuk memberitaliukan sahabat-sahabat mengenat persoalan ini. sedangkan kau nona, hari ini kesehatanmu telah pulih keseluruhannya, sehingga bisa kau melanjutkan perjalananmu dengan leluasa. Kau tentu ingin segera dapat menyelesaikan urusanmu untuk mencari Bin Supemu itu. Jika nanti engkau bertemu dengan Bin Supe u itu, tolong kau sampaikan salamku!"

Bin Giok Hoa mengguk mengiyakan. Sesungguhnya Giok Hoa ingin ikut ke Hay Lam namun Sin Cie telah menjelaskan bahwa persoalan yang telah dihadapi si gadis yaitu seseorang yang menyamar sehagai Bin Cu Hoa. merupakan soal yang penting. Bahkan Sin Cie hendak menduga bahwa orang tersehut memang sengaja melakukan penyannrannya itu dia bermaksnd untuk dapat menghimpun jago-jago golongan sesat untuk menaacau Bu Tong Pay. Dan Sin Cie pun mengemukukan dugaannya kemungkinan besar yang menyamar sebagai Bin Cu Hoa ialah kaki tangannya Gouw Sam Kui atau orang mongolia. Akhirnya Giok Hoa telah menurut saja petunjuk Sin Cie, agar segera mencari Bin Cu Hoa dan menyampaikan hal itu padanya. Dan si-gadis juga berulang kali menyampaikan terima kasihnya.

Tetapi waktu Giok Hoa ingin bingun berdiri, guna pergi kekamarnya membereskan barang harangnya, diwaktu itu dari luar rumah penginapan terdengar suara tertawa yang parau, saat itu terlihat melangkah dua orang Lhama merah. Hidung nuncung mata kebiru-biruan dan berewok. Kedua pendeta dari Mengolia itu masing musing memiliki wajah yang bengis, tubuh merekapun tinggi besar.

Mereka melang kah dengan tindakan kaki yang lebar. Hati Bin Giok Hoa tercekat. Dia tidak menyangka ditempat ini bisa muncul dua orang pendeta Mongoli tersebut. Sedangkan Sin Cie sendiri walaupun heran dan kaget, tokh dia membawa sikapnya yang tetap tenang.

Salah seorang kedua lhama itu yang usianya lebih tua beberapa tahun dari lhama yang seorangnya, telah menghampiri meja, dia menepuk meja itu keras sekali sambil pangilnya : “Pelayan!”

Suara dan logat itu kaku. dia mempergu nakan bahasa Han yang tidak lancar.

Pelayan melihat kedua tamu asing yang demikian galak cepat-cepat menghampiri. Dia coba tersenyum sambil tanyanya: “Taysu ingin apa?”

Kami ingin memesan kamar    kami ingin menginap disini!”

menyahuti kedua Ihama itu hampir berbareng.

“Ada ...... silahkan Jiewie berdua menunggu dulu       !”

Sambil berkata, sipelayan telah mempersiapkan meja dengan dua kursinya untuk kedua Lhama tersebut. Kedua lhama dari Mongolia tersebut tidak berkata apa apa, mereka telah huduk dengan sikap yang angkuh. Mata mereka juga memandang sekelilinuaya dengan sorot yang tajam. Sedangkau si pelayan telah cepat-cepat pergi kedalam guna mernpersiapkan sebuah kamar.

Lhama yang usianya lebih tua dari kawannya, mungkin berusia tiga puluh tahun lebih dia memiliki hidung yang mancung dengan bibir yang agak lebar. Sedangkan Lhama yaug seorangnya lagi yang berusia lebih muda mung kin baru berumur dua puluh delapan tahun memiliki mata yang sipit naik diujung alis, dan hidungnya mancung, sorot matanya jauh lebih tajam dari sinar mata Lhama yang seorangnya itu.

Mereka mangawasi para tamu yang berada ditempat tersebut ketika mereka lihat Bin Giok Hos, Lhama yang usianya lebih muda telah menyeringai. “Ha, ada seorang manis!" katanya dengan suara menggumam, sikapnya kurang ajar.

Lhama yang seorangnya menggerakkan tangannya yang diulapkan, rupanya dia memberikan isyarat agar kawannya itu tidak menimbulkan keonaran.

Tapi Lhama yang muda itu tertawa cengar cengir, dia seperti tidak memperdulikan pe ringatan kawannya itu. Matanya memandangi Giok Hoa dengan sikap yang kurang ajar.

Giok Hoa hanya menunduk, dia tahu sikap Lhama itu. Bisiknya pada Sin Cie. "Kedua Lhama ini kurang ajar sekali, jika aku tidak dalam keadaan baru sembuh terluka racun sehingga tenaga Siauwmoay belum pulih seluruhnya, tentu aku akan menghadiahkan mereka beberapa kali tempilingan!"

Sin Cie tersenyum saja. Tetapi waktu itu Lhama yang berusia lebih muda itu telah. melompat dari duduknya. "Eh, apa kau bilang?" rupanya bia memiliki pendengaran yang tajam, ia mendengar perkataan Giok Hoa.

Sedangkan lhama yang berusia lebih tua dari kawannya ini juga ikut serta mendengar bisikan Giok Hoa pada Sin Cie, dia telah memandang dengan sorot mata yang sangat bengis.

Giok Hoa diam bagaikan tuli tak mendengar bentakan Lham itu. Hal itu membuat Lhama jadi tambah sengit. Dia telah melangkah menghampiri meja Sin Cie dengan wajah yang bengis bentaknya: “He. haha. nona manis,apa yang kau biang tadi? ingin menghadiahi tamparan kami berdua?"dia bicara dengan mempergunakan babasa Han yang kaku dan kasar.

Giek hea melirik, kemudian sambil memperdengarkan tertawa dingin katanya: "Siapa yang usil dengan urusan kalian? Aku sedang bicara dengan kawanku ini!”

“Hehee, apakah kau anggap kami tak mendengar perkataaumu tadi?" kata Lhama itu dengan suara yang bengis, tapi sikap ceriwisnya itu masih juga menonjol sekali. “Jika memang kau ingin menghadiahi kami tempilingan. tentu malah membuat kami senang sekali, nah kau tempilinglah… nona manis!”

Giok Hoa jadi mendongkol melihat keku, rang ajaran si Pendeta Mongolia tersebut, dia bangun berdiri, katanya sengit: "Kau menggelindinglah pergi, jangan menggangguku!" Sambil berkata begitu, tangan kiri Giok Hoa telah dorong dada si pendeca. Lhama itu berdiam diri saja. dadanya dibiarkan terdorong tangan Giok Hoa. Namun tubuhnya itu tidak bergeming, wa-laupun Giok Hoa mendorongnya kuat sekali.

"Ayo kau doronglah yang lebih kuat!', kata Lhama itu sambil ketawa. "Mengapa kau tak mengeluarkan tenagamu yang lebih besar lagi, nona manis?" Bukan main mendongkolnya Giok Hoa dia juga penasaran, karena tadi sebenarnya dia telah mendorongnya cukup kuat, namun tubuh si Lhama seperti juga perbentengan yang kokoh sekali, tak bergeming sedikitpun juga. Dengan mengempos semangatnya, Giok Hoa mendorong lagi, dan dorongannya kali ini memang sangat kuat.

Justru waktu Giok Hoa mendorong kuat, *al Llama rupanya ingiu menpermainkannya. Dia telah mengerahkan tenaga dalamnya, sehingga dadanya itu jadi keras sekali dan licin. Ketika Giok Hoa mendorongnya kuat seperti dia mendorong sesuatu yang keras dan juga licin sekali, ketika dia menambahkan tenaganya, bukannya dia berhasii mendorong mundur si Lhama, justru tangnnnya itu melejit disebahkan licinnya tubuh sipendeta.

Akibat melejit, tubuh Giok Hoa jadi Linglung, dia terhuyung dan langkah seperti menghampiri pendeta Mongolia itu seakan dia hendak menubruk si pendeta.

Llama itu tertawa girang sambit berkata mengejek. “Oh nona manis, aku tidak berani menerima pelukanmu!”

Muka Giok Hoa berobah merah, tapi justru kedua kakinya tidak memiliki kuda-kuda yang kuat, waktu itu tubuhnya tengah terhuyung. Ia berusaha untuk dapat menahan majunya kedua kakinya, tapi tidak berhasil.

Disaat hamnir Giok Hoa menubruk Lhama itu, Sin Cie yang sejak tadi memperhatikan tidak tidak diam. Dia melompat, tangan katrannya mencekal iengan sigadis, dan dia menahan tubuh si gadis, dimana Giok how ditariknya perlahan. Tapi itu sudah cukup, di mana tubuhnya tidak meluncur maju lebih jauh menubruk si Lhama.

Giok Hoa berdiri dengan pipi berobah merah karena jengah, dan dia mendongkol sekali. Lhama ini juga semulanya tengah kegirangan, namun melihat Sin Cie telah menolougi Giok Hoa, sehingga Giok Hoa batal memeluknya, membuat dia jadi gusar

“Kunyuk kecil! " benrak Lhama itu dengan bahasa Han yang kaku dan kasar. "Kau juga rupanya ingin coba-coba memderong tubuhku, heb?"

Sin Cie angkat tangannya yang dirangkap kan, dia menjura memberi hormat dengan bungkukkan tububnya sedikir, diappn telah berkata dengan sabar: "Maaf, maaf Taysu..., sesungguhnya siapa Taysu?”

Lharna itu mencilak matanya, dia memper dengarkan tertawa dingin. "Tak perlu kau mengetahui siapa kami berdua! Kau kunyuk kecil mana ada gunanya untuk mengetahui siapa kami?" menyahuti Lhama itu dengan suara mendongkol, tapi lebih sabar dari tadi. Sin Cie tersenyum.

"Taysu, sesunggubnya Taysu datang ke Tionggoan ini untuk urusan agama Taysu atau untuk urusan lain?" Tanya Sin Cie.

Muka pendeta itu jadi bengis, dan galak, sekali pada Sin Cie. "Kau tak perlu rewel, tahu!" lalu katanya kemudian, tetap mempergunakan bahasa han yang kaku. "Hemm, dengan demikian kau mencari penyakitmu seridiri jika memang kau ingin mengurusi diriku, tahukah kau apa yang mau kau terima?"

Sin Cie tersenyum. "Tahu taysu...." sahutnya dengan pasti.

Pendeta itu jadi tercengang.

"Tahu apa?" tanyanya dengan sikap tambah bengis, karena ia jadi tambah tidak senang.

“Hemmm, tentu aku akan dihajar oleh Tay su bukan?” kata Sin Cie. "Akulah sikunyuk kecil yang dianggap oleh taysu sebagai pengganggu bukan? Dan tentunya taysu akan menghajarnya sikunyuk ini?"

Muka pendeta itu berubah. "Jika kau tanya penyakit, ngapain kau tak cepat-cepat menyingkir?" bentaknya.

“Mengapa harus menyingkir? Memang aku telah mendengar cukup banyak, dimana Lhama-lhama dari Mongolia telah berdatangan kedaratan Tionggoan, diantara mereka ada yang bertangan telengas, mengumbar keganasannya untuk mencelakai orang baik-baik.... hemm, apakah salah seorang diantara mereka adalah taysu?"

Muka Lhama itu berobah merah. Dia sangat mendongkol, dengan mengeluarkan suara bentakan yang bengis, tangan kirinya diulurkan untuk menjambak pundak Sin Cie. Tapi Sin Cie dapat bergerak gesit, dia tak membiarkan pundaknya dicengkeram oleh Lha-ma itu. Dia menurunkan pundaknya, tubuhnya dimiringkan, dimana cengkeraman Lhama itu telah dapat dihindarkannya.

Lhama itu jadi kaget juga melihat kegesitan yang dimiliki Sin Cie. Dia berseru gusar, dan mengulurkan tangannya lagi, maksudnya ingin mencengkeram juga. Namun kali ini gerakannyn itu sangat cepat sekali.

Angin serangan itu sangat kuat. Berkesiuran tajam sekali, Sin Cie yang merasakan menyambarnya angin serangan itu, segera menge tahui, bahwa itulah serangan yang akan dapat menghancurkan tulatig piepe dari korban serangan ini. Diapun heran, Lhama ini tidak me miliki kepandaiau yang rendah. tenaga dalam nya sangat kuat, dia tampainya memiliki kepandaian yang terlatih baik. Dengan demikian Sin Cie tidak mau memandang ringan lagi padanya. Hanya saja, kali ini Sin Cie tidak meng hindarkan diri ia mengegos dengan memiringkan pundaknya. tubuhnja tetap legak dan kedua kakinya berdiri tegak. Waktu tangan sipendeta lewat didekat pundaknya, hanya terpisah dua dim, Sin Cie menyampok dengan tanganya. Benturan yang terjadi itu demikian keras dan kuat, membuatnya Lhama jadi mendadak mengeluarkan suara seruan, dia merasakan tangannya kesemutan, sampai dia merasakan lengannya pegal linu, dia juga telah melompat setinggi setombak lebih, kaki kanannya di tendangkan kemuka Sin Cie, maksudnya disaat tangannya tengah kesemutan seperti itu, dia tak mau membiarkan Sin Cie menyerangnya terus.

Tapi siapa tahu, justru dia menendang, dia mengalami hal yang lebih tak menyenangkan, karena waktu kakinya tengah menyarnbar, waktu itu Sin Cie belum menarik pulang tangannya maka dia membarengi dengan sebat sekali telah menangkap kaki pendeta tersebut, kemudian menghentaknya, sehingga tubuh Lhama itu terlempar keudara, namun dia tidak berpoksay hanya tubuhuya itu dalam keadaan tegak kaku kedua kakinya meluncur turun, dan ketika menginjak kantai, kantai itu telah amblas.

Rupanya pandeta dari Mongolia ini memang memiliki tenaga Iweekang yang kuat sekali dia telah mengerahkan tenaga dalamnya pada sepasang kakinya, sehingga kedua kakinya itu menginjak lantai, tubuhnya tak bergeming lagi, seperti juga kedua kakinya telah menjadi satu dengan lantai tidak bergoyang sedikitpun, tegak kaku seperti patung.

Sin Cie tercekat hatinya. Itulah kekuatan Iwekang yane mengagumkan, karena kedua kaki dari Lhama tersebut berhasil menginjak melesak lantai itu.

Sedangkan Bin Giok Hoa kaget bukan main dia sampai bergidik. Dia merasa ngeri jika memikirkan betapa tadi dia telah coba-coba mondorong pendeta itu, jika sipendeta itu mempergunakan tangannya menyampek dan pada tangannya itu dikerahkan tenaga dalamnya, niscaya akan membuat dia celaka. Bukankah tenaga dalam si Lhama itu bebat sekali? Sin Cie yang menyaksikan hal itu akhirnya tertawa samhil berkata. “Hemm, mari kita main-main beberapa jurus lagi Taysu!"

Tapi ihama itu tidak menyahuti, dia mengangkat kakinya satu-satu. Lantai dimana tadi beradanya kedua kaki Lhama itu telah berlobang dalam sekali, sedalam lima dim lebih.

Dan belum lagi Lhama itu menerima tantangan itu Lhama yang usianya lebih tua dari kawannya itu telah melompat kedepan Sin Cie, katanya sanihi f :rtr.Tperlihatkan senyuman digin. "Siauwko, tampaknya kepandaiamu bo-leh juga! Biarlah aku Chakalin yang meminta petunjukmu!”

Sambil berkata begitu, tanpa menantikan, jawabila dari Sin Cie, pendeta tersebut yang mengaku bernama Chakalin telah menggerakan tangan kanannya. Dia bukan hendak mencengkeram, juga bukan menghantam dengan kepalan tangan, namun justru mempergunakan jari telunjuknya untuk menotok dada Sin Cie.

Sin Cie semula tak menganggap hebat totokan jari telunjuk Chakalin, dia telah menerpisnya dengan tangkisan yang biasa saja. Tapi begitu dia menangkis, jari telunjuk sipendeta seperti juga memiliki mata, telah melejit, dan dengen cepat terus juga menyambar kearah dada Sin Cie.

Terkejut juga Sin Cie memperoleh kenyataan seperti itu. Dia tak menangkis lagi, hanya menyedot hawa udara mengempiskan perutnya melesakkan dada, dan kemudian mendoyongkan, tubuhnya kebelakang sebanyak beberapa dim.

Kembali Sin. Cie harus terkejut. Tangan kanan dari Chakalin seperti juga bisa diulur padjang, melebihi ukuran tangan manusia biasanya. Rupanya dia memiliki semacam ilmu yang bisa mengulur otot dan tulang. Dimana jari telunjuknya itu tetap menyambar kearah sasarannya didada Sin Cie.

Benar-benar keadaan ini tidak diduga oleh Sin Cie, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan, dan cepat-cepat menyampokeya dengan tangan kanannya. Kembali Sin Cie gagal!. Tangan Chakalin itu rupanya seperti belut, begitu tangan Sin Cie menyambar akan menyampok, tangan itu meluncur turun hingga sampokan Sin Cie mengenai tempat kosong, dan jari telunjuk pendeta itu meluncur terus, sehingga tinggal beberapa dim saja dari dada Sin Cie, dan pemuda ini telah merasakan hawa panas yang meluncur keluar dan ujung jari pendeta itu.

Tetapi sebagai seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi, Sin Cie tidak gugup. Dalam keadaan terdesak, cepat luar biasa Sin Cie memutar, dia jadi berdiri dengan kakinya yang kanan, hingga tu buhnya seperti tergantung dan kaki kirinya menyambar cepat sekali kearah ketiak Lhama itu.

Chakalin tidak menyangka lawannya dalam keadaan terdesak seperti itu tidk dapat merobah kedudukan tubuhnya demikian cepat, malah balas menyerang! Dia mengeluarkan seruan kaget, cepat-cepat menarik pulang tangannya dan menghindarkan tendangan kaki Sin Cie.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Sin Cie untuk bangun berdiri dengan kedua kakinya. Tapi belum lagi dia bisa menegur atau balas menyerang lagi. Chakalin telah menggerakkan tangan kirinya meluncur akan menotok dengan jari telunjuknya, disusul dengan tangan kanannya, yang juga ingin menotok, malah kedua tangan itu seperti bisa terjulur tebih pan-jang dari semestinya.

Sin Cie kini telah mengetahui bahwa Lhama ini memiliki semacam ilmu yang aneh, dimana dia bisa mengulurkan tangannya lebiN panjang beberapa dim dari ukuran, yang sesungguhnya, sehingga jika memang seorang lawnnnya kurang waspada, tentu akan celaka ditangannya.

Terlebih lagi, memang Lhama ini juga seperti memiliki semacam ilmu menotok yang dari telunjuk tangannya itu seperti juga keluar hawa yang panas dan tajam sekali.

Waktu itu Sin Cie merasakan menyambarnya hawa panas yang berasal dari jari telunjuk Chakalin tersebut saling susul. Hawa panas dari telunjuk kiri menyambar belum lagi tiba, telah disusul dengan menyambarnya hawa panas dari telunjuk tangan kanannya si Lhama.

Sin Cie mengempos semangatnya! Kini dia tak berusaha menangkis, sebab jika dia menangkis akan sebagai ilmu menotok Lhama itu merupakan ilmu menotok yang aneh dan tangannya bisa bergerak bagaikan selicin belut.

Disaat itulah tampak tubuh Sin Cie berkelebat kesana- kemari. Dia memang mahir sekali dengan ilmu meringankan tubuh yang diwariskan Bok Siang Tojin, yaitu "Pek Pian Kwie Eng", dengan demikian. bisa bergerak lincah, tubuhnya seperti bayangan saja, bergerak kian-kemari dengan lincah dan ringan. Setiap gerakan tubuhnya itupun disusul dan dibarengi dengan gerakan menggebu-gebu oleh kedua tangannya yang menyerang silih berganti, angin serangan Sin Cie pun tidak ringan karena telah berkesiuran kuat sekali.

Diantura berrkelebat-kelebatnya tubuh Sin Cie, tampak Chakalin jadi penasaran.

Ilmu menotok yang dipergunakan oleh Chakalin semacarn ilmu menotok yang berasal dari Mongolia, yang digabung dengan ilmu bermain gulat dari Persia. Jika dia menotok dan ditangkis dengan kekerasan, kian keras tenaga tangkisan itu, semakin licin tangannya itu bagaikan bola. llmu totok Mongolia biasanya mengincar bagian yang bisa mematikan dianggota tubuh lawannya dengan totokan kuat, sehingga darah terhenti dan tersumbat dari peredarannya.

Sedangkan ilmu sulap dari Persia yang di gabung oleh Lhama pada ilmu menotoknya, juga memiliki keistimewaannya, yaitu mengelabui mata dari lawannya. Dengan demikian jika lawan melihat tangan Lhama itu menyambar kekanan, sesungguunya dia tengah menotok kearah kiri. Dan jika lawannya menangkis, menyebahkan lawan itu menangkis tempat kosong

Telah beberapa tahun Lhama tersebut tidak pernah gagal dengan totokannya, selalu dia berhasil merubuhkan lawannya. Karena dengan mengelabuhi pandangan mata lawannya jelas akan tidak bisa mengetahui arah sasaran yang sebenarnya, sehingga lawan bisa di kelahubinya dan biasanya Lhama ini Chakalin berhasil dengan totokannya itu.

Siapa sekarang justru dia berhadapan dengan Sin Cie, si pemuda yang memiliki ginkangnya yang istimewa. yaitu Pek Pian Kwie Eng warisan dari Bhok Siang Tojin. Dengan demikian, dia jadi tidak berdaya mendesak dengan totokan totokannya yang luar biasa itu, karena tubub Sin Cie seperti berobah menjadi puluhan orang yang mengelilinginya. Sekarang justru Lhama itu sendiri yang tidak mengetahui yang mana Sin Cie yang sesungguhnya yang harus ditotoknya, karena itu disebahkan gerakan dari Sin Cie yang memang benar benar gesit sekali.

Chakalin pernah berapa kali coba menotok juga kearah lawannya, tetapi dia menotok angin malah Sin Cie tahu tahu telah berada dibelakangnya.

Sekali inipun Chakalin telah gagal dengan totokannya, dia menotok hanya bayangan Sin Cie belaka, sebab Sin Cie sendiri telah bergerak kearah sampingnya. Waktu Lhama tengah menotok, justru Sin Cie membarengi menghantam punggung se Lhama dengan telapak tangannya. Diapun memukul dengan tenaga yang kuat sekali.

"Bukkk . . .!” telak pungguog si pendeta telah dapat dihantamnya, tapi pendeta itu tidak bergeming sama sekati, malah yang mangejutkan Sin Cie, dia seperti menghantam gumpalan batu yang keras dan licin, saking licinnya telapak tangan Sin Cie sendiri sampai melesat dan melejit.

Chakalin sendiri telah tertawa mengejek, tanpa memutar tubuhnya dia telah mengayun tangannya kearah belakang dengan jari telunjuk teracung, gerakannya itu cepat sekali, disaat Sin Cie belum berhasil menarik pulang tangannya! Bin Giok Hoa yang menyaksikan itu menjerit tertahan, dia kuatirkan keselamaten Sin Cie.

Nainnn Sin Cie dapat bergerak cepat sekali. tubuhnyapun telah berputar setengah tombak, dengan begitu tangan Chakalin jatuh di tempat kosong. Dan Sin Cie juga tidak diam, karena berbareng dengan gerakan tubuhnya, tangan kanan Sin Cie juga telah bergerak, dia mencengkeram pergelangan tangan Chakalin, lalu menariknya dengan kuat. Dan disaat tubuh Chakalin tengah terbetot maju, tangan kiri Sin Cie bergerak nyelonong masuk menghantam dada Lhama tersebut.

Terdengar suara "Buukk!" yang nyaring sekali. Kali ini tubuh Chakalin jadi terhuyung mundur sampai dua langkah.

Berhasilnya Sin Cie dengan pukulannya kali ini, karena dia memukulnya dengan tiba-tiba sekali, disamping itu dia juga telah mempergunakan Iwekang yang kuat sekali. Dan Chakalin waktu itu juga tak bersiap-siaga. Jika tadi punggungnya Hein dan keras tak berhasil dihantam oleh Sin Cie, hal itu disebahkan dia te lah mengerahkan tenaga dalamnya melindungi punggungnya. Karena itu, sekarang dia belum lagi sempat untuk lagi melindungi dadanya, se rangan Sin Cie telah tiba. Dengan begitu dia kena dihajar telak sekali.

Muka Chakalin berubah merah padam. Dia melangkah menghainpiti Sin Cie dengan sorot mata yang tajam. Sedangkan kedua tangannya, dipentangkan.

Sin Cie melihar lawannya hanya mundur beberapa langkah dan kini telah maju lagi, secepat kilat dia membarengi dengan hantamannya lagi tanpa menanti Chakalin menyerangnya. Telapak tangan Sin Cie meluncur menimbulkan angin yang berkesiuran sangat kuat sekali. Dan Diwaktu itu. dengan gerakan yang sangat cepat bagaikan seckor ular, tangan itu menyelusup akan menghantam lagi dada Chakafin. Namun Chakalin waktu itu telah mengerakan tanganya jika semula dia mementang kedua tangannya, sekarang dia merangkapkan tangannya. sehingga tangan Sin Cie seperri juga dijtpit oleh kedua tangannya

Waktu kedua tangan Chakalin menyambar dekat tangannya, Sin Cie merasakan angin sambaran serangan itu sangat tajam sekali. Dia tahu bahwa Chakalin menyerangnya dengan mempergunakan kekuatan yang bisa meremukan tulang tangannya.

Segeta juga Sin Cie menarik pulan tangannya. tapi dia bukan untuk berdiam diri saja, karena diapun cepat luar biasa menendang dengan kaki kanannya kearah lutut Lhama. Tendangan itu mengenai tepat sekali pada jalan darah „wo-liang- hiat‟nya, seketika si Lhama merasakan kakinya lemas, lenyap tenaganya, tegempur kuda-kudanya da, tanpa diinginkannya, segera dia bertekuk lutut dihadapan Sin Cie.

Namun pengaruh totokan dengan tendangan kaki ini tidak berpergaruh terlalu lama. Waktu Sin Cie menghampiri. Lhama itu dengan gesit telah melompat berdiri dan menubruk ke arah Sin Cie. Rupanya karena dia memiiiki ilmu gulat Persia, dia bisa membuka jalan darahnya sendiri. Dia bisa membuka totokan itu dengan merobah letak jalan darahnya. Dan begitu tertotok segera dia terbebas kembali, sehingga dia bisa membarengi untuk menubruk Sin Cie.

Hati Sin Cie tercekat. Dia mengeluarkan seruan perlahan, tangannya menyampok. Chakalin kali ini menubruk tanpa memperdulikan lagi sampokan tangan Sin Cie, dan mengenai tuuhnya dan memperdengarkan suara "bukkk. bukkk" dua kali disusul kemudian dengan tangan Chakali bekerja cepat sekali, mana berhasil mencengkeram pundak Sin Cie dengan kedua tangannya.

Ceigkeraman ini bukan perlatran, tapi me miliki kekuatan yang luar biasa. dimana kese-puluh jari tangan Chakalin seperti berobah jadi jepit besi yang kuat sekali, seakan ingin meremukkan tulang piepe Sin Cie.

Tetapi Sin Cie juga tidak mau membiarkan dirinya dicengkeram terus seperti itu. Waktu Chakalin mengerahkan tenaganya untuk meremas. Sin Cie mengerahkan Iwekang dipundaknya, dan pundaknya itu jadi keras dan licin waktu Chakalin mencengkeramnya, jari tangannya melejit dan gagal mencengkeram.

Chakalin terkeiut. Dia mengulangi mencengkeram plandak Siu Cie.

Sin Cie waktu itu bergerak cepat sekali. tidak membuang- buang waktu lagi dia bergerak lincah, dan tangan kanannya diulurkan melintang untuk menghadapi kedua tangan Chakalin yang ingin mencengkerarnnya, sedangkan tangannya yang kiri menyambar akan menotok biji mata Chakalin. Untuk kesekian kalinya Chakalin terkejut. Dia mengeluarkan jeritan perlahan, dan melompat mundur tergesa-gesa.

Dengan demikian serangan Sin Cie jatuh di tempat kosong, mereka berdiri berhadapan. Chakalin tak segera menyerarg lagi, karena tahu waktu itu dalam keadaan demikian dia menyerang lagi, niscaya dirinya akan bahaya sebab dirinya belum siap-siap, dan napasnya masih memburu, sebab tadi dia menegunakan tenaga yang berlebihan.

Sedangkan Sin Cie sendiri melihat biarpun kepandaian Lhama ini masih berada beberapa tingkat dibawahnya, namun i1munya sangat aneh. Disebahkan itulah dia tak berani sembarangan membuka serargan, hanya mengawasi serangan Chakalin berikutnya.

Lhama yang seorangnya lagi, yang berusia lebih muda, telah menghampiri Chakalin. Kata nya dergan suara yang berang: “Biarlah uku yang menghadapinya !”

Tapi chakatin menggeleng.

“Jang-in Yamonkal!” cegab Chakalin. “Ia mamiliki kepandaian tinggi sekali!"

"Tapi aku ingin mencobanya!" sahut Lhama yang seorang lain. "Aku ingin tahu kapandaiannya!"

Setelah berkata begitu Yamankol melangkah mendakati pada Sin Cie, wajahnya bengis sambit menggerakkan kedua tangannya untuk menyerang.

Bin Giok Hoa yang menyaksikan ini jadi memandang dengan berkuatir. Memang dilihatnya hahwa Sin Cie memiliki pepandaian yang tinggi sekali, dan Chakalin pun masih berada dibawahnya. Namun toh tetap saja gadis berkuatir. Yamonkal nampaknya menyerangya tidak tanggung- tanggung, Lhama Mongolia ini menyerang dengan mempergunakan seluruh tenaga dalamnya. Angin serangan itu berkesiuran menyambar Sin Cie.

Sin Cie mengetahui bahwa kepandaian Ya moakal masih berada dibawah kepandaian Chakalin terutama buat tenaga dalam mereka.

Namuu Sin die tale. mandang remeh, itulah disebahkan memang ilmu kedua. Lhama ini yang aneh dan gerakannya yang suit diterka disamping memiliki semacam ilmu kebal. Kedua tangan Sin Cie pun bergerak menyambuti cepat sekali. Dimana dia menangkis kuat sekali. Keras melawan keras.

Ini dilakukan Sin Cie karena ia ingin mengetahuinya sampai berapa tinggi tenaga dalam yang dimiliki Lhama tersebut. Benturan yang terjadi itu sangat kuat sekali, dan suara benturan itu menggelegar bagaikan menggetarkan ruangan tersebut.

Bin Giok Hoa yang menyaksikan ini telah memandang dengan sepasang mata yang terbuka lebar lebar. Dia berdetak jantungnya, karena merasakan getaran tersebut. Diam-diam dia juga ber kuatir sekali buat Sin Cie. Dia pikir jika memang Sin Cie dilawan secara begiliran oleh kedua Lhama itu, wulaupun kepandaian Sin Cie berada diatas kedua Lhama tersebut, namun tokh akhirnya Sin Cie akan kehabisan tenaga. Bin Giok Hoa bersiap-siap, jika memang diperlukan, dia akan segera menerjang ke tengah gelanggang untuk membantui Sin Cie. Walaupun kepandaianrya belum begitu berarti, namun sedikitnya bisa membantu Sin Cie.

Sedangkan Lhama yang seorang itu, yang bernama Yamonkal, sewaktu tangannya tadi saling bentur dengan tangan Sin Cie, merasakan jari-jari tangannya kesemutan dan juga pergelanan tangannya ngilu sakit, karena kerasnya benturan yang terjadi. Dengan demikian. tampak Lhama ini telah melompat mundur. Namun Yamonkal memang memiliki perangai yang lebih keras dibandingkan dengan Chakalin karena itu begitu dia berhasi menenangkan goncangan hatinya dia melompat maju dan menyerang lagi.

Melihat itu, Sin Cie tidak berayal berkelit dia tak menyambuti seperti tadi untuk menangkis dengan mempergunakan kekerasan. Diwaktu itulah, disaat pukulan lawannya menyambar lewat disampingnya, dengan cepat Sin Cie mengempos semangatnya dan dia telah balas menyerang.

Yamonkal boleh gagah, dia boleh memiliki ilmu kebal, namun menghadapi pukulan Sin Cie seperti itu dia tak berani berayal, cepat-cepat berkelit menyampok dengan ujung jubahnya. Dan sampokan itu berhasil untuk menepiskan pukulan Sin Cie ke arah lain. Disamping itu Yamonkal juga ingin membarengi dengan melilit tangan Sin Cie dengan ujung jubahnya itu.

Tapi Sin Cie dapat bergerak lincah sekali. Dia mahir sekali Pek Plan Kwie Eng, dengan demikian gerakan tubuhaya benar- benar cecepat setan. Balum lagi ujung jubah Yamonkal sempat melilit tangannya, dia tetah melompat berada dibelakang Lhama itu, dia menepuk tangan kanannya pada pundak si Lhama. Tepukan hanya biasa saja tenaga yang dipergunakannya juga tidak terlilu kuat.

Justru dengan menepuk itu, dimana Sin Cie mencpuk dengan tenaga yang tidak begitu kuat dan tidak menimbulkan sambaran angin yang keras, membuat Lhama itu tidak bisa mengetahui dengan cepat datangnya tepukan itu. Disaat telapak tangan Sin Cie telah menempel di punggung Lhama itu barulah mengempos semangat dan tenaga dalamnya ke telapak tangannya, dan mengenai pundak Yamonkal dengan keras sekali. Lhama itu mengeluarkan jeritan tertahan, berbareng dengan itupun membuka mulutnya memuntahkan darah segar, tubuhnya telah terhuyung beberapa langkah kedepan.

Sin Cie tertawa dengan sikap yang sabar, “Sudahlah, mari kita menyudahi pertempuran yang tak ada artinya ini...!”

Chakalin waktu itu melompat kedekat Yamonkal, dia melihat muka Yamonkal begitu pucat pias. Tanyanya dengan suara yang mengandung kekuatiran. "Apakah engkau tidak apa-apa?”

Yamonkal menggeleug. “Tidak..." sahutnya. Tapi baru dia menyahut begitu, kembali dia memuntahkan darah segar.

Chakalin telah menoleh kepada Sin Cie, matanya memancarkan sinar yang tajam. Dia telah menegurnya: "Baiklah kali ini aku tak bisa membuang waktu lagi, sebab adik seperguruanku ini telah dirubuhkan ditanganniu dan dia terluka berat. Dia perlu memperoleh pengobatan Sekarang kau beritahukan namamu nanti aku akan mengunjungimu untuk meminta pengajaran lagi ...!"

Sin Cie tersenyum menyahut, “Siautee she Wan dan bernama Sin Cie …!” dan setelah berkata begitu, Sin Cie melangkah tiga tindak menghampiri, dia menyambungi lagi perkataannya tersebut. “Tapi, kukira kalian jungan tergesa-gesa berlalu, ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada kalian  !"

Muka Chakalin berebak. “Hemm, jadi dalam keadaan seperti ini kau masih ingin mempersulit kami?" tegumya dengan suara yang mengandung kegusaran dan tidak senang.

“Bukan itu maksudku....!” menyahuti Sin Cie “Tapi ada sesuatu yang Siauwte ingin bicarakan bersama Taysu berdua...

mengenai luka adik seperguruanmu itu, inilah tidak terlalu berbahaya, dan akupun memiliki obat yang mujarab, yang bisa menyembubkan lukanya itu. Jika memang Taysu tidak berkeberatan, bersedia memberi satu atau dua butir obatku itu ..!”

Obat yang mujarab menyembuhkan luka adik seperguruanku ini! Karena adik seperguruanku ini telah rubuh dan terluka ditanganmu, karena budi kebaikan ini tidak akan kami lupakan begitu saja. Kelak kami akan mencarimu!”

“Tunggu dulu Taysu!" pangail Sin Cie sewaktu melihat Chakalin telah memutar tubuhnya, dia bermaksud akan memayang adik seperguruannya itu, Yamonkil, untuk Chakalin menahan langkah kainya, dia menoleh lagi pada Sin Cie, lalu katanya dengan murka. "Apa yang kau inginkan lagi? Atau memang kau menghendaki akupun mengadu jiwa dengannmu?" dia setelah berkata begitu, Chakalin justru menghampiri Sin Cie. Tarnpaknya dia bersiap-siap hendak menyerang guna mengadu jiwa.

Sin Cie tersenyum, sikapnya sabar. dia telah berkata: “Taysu jangan salah paham, sesungguhnya siauwtee hanya ingin tanya sesuatu, yaitu tentang kunjungan Taisu ke Tionggoan ini!”

"Kenapa?" tanya Lhama itu bengis.

“Tentunya Taisu berkunjung ke Tionggoan bukan ingin menyiarkan agama kalian... tentu mengandung maksud-maksud tertentu. Bukan begitu?"

Chakalin tidak segera menyahuti dia dram mengaw Is, saja.. sampai akhirnya dia ber kata lagi,: “Benar, memang kami tengah mencari seseorang. "

Jika Siauw boleh mengetabuinya siapakah tengah Taisu cari?'' tanya Sin Cie. Chakatin tidak segera menyahuti. Dia menatap bengis sekali pada Sin Cie, sampai akhir nya dia bilang juga.. "Apakah aku perlu menjawab pertanyaunmu itu?"

“Tidak dipaksakan, Siauwte mana berani dan memaksa Taisu memberikan keterangan... tetapi jika memang Taisu tidak keberatan. Siauwte ingin mengetahui siapakah orang yang tengah dicari oleh Taisu dan siapa tahu kalau kalau memang Siauwte jugamengenal orang itu sehingga membantu Taisu?"

Lharna itu tersenyum mengejek dia telah berkata dengan tawar. “Hemm, kau ingin mengetahui orang yang tengah kucari itu? Baiklah, dengarlah baik haik ..... aka tengah mencari orang she Bak dia bernama Jin Ceng.

Muka Sin Cie berobah. “Apa?!" tanyanya.

Lhama itu mengawasi tajam pada Sin Cie. “Apakah kau kenal dengannya?!" tanyanya.

Sin Cie mengawasi Chakalin, kemudian Ya monkal yang waktu itu juga tengah mendelik. “Ada urusan apakah Taisu berdua mencari orang she Bok itu?!" tanyanya kemudian.

Chakalin melirik pada Yamonkal, kemudian baru dia menyahutinya : “Karni ingin meminta sesuatu padanya.

“Apakah Siauwtee boleh mengetahui?!" tanya Sin Cie lagi. “Kau terlalu cerewet kami telah memberitahukan siapa yang

kami cari. Sekarang begini saja, kau bisa memberitahukan

dimana adanya orang she Bok itu pada kami atau tidak? Jika memang tidak kami akan mencarinya sendiri!”

Sin Cie tersenyum. “Sabar!” katanya “Jangan Taisu kesusu seperti itu!” “Atau memang kau menghendaki kami mengadu jiwa dengan kau?" tanya Cahakalin.

"Sabar ..! sebenarnya, ada urusan apa Taysu berdua mencari orang she Bok itu” Sin Cie mengulangi lagi pertanyaannya.

Chakalin ragu-ragu sejenak, namun akhirnya dia berkata lagi. "Kami sebenarnya telah menerima perintah dan Khan kami. agar meminta sesuatu dari orang she Bok ini "

“Kalian mempakan utusan Khan dari Mongolia?" tanya Sin Cie menegaskan.

"Ya   !” mengangguk Chakalin. “Jika memang engkau kenal

gelagat dan tahu selatan cepat kau memberi hormat kepada kami untuk minta maaf kepada kami, karena tidak lama lagi Khan kami yang agung akan segera berkuasa didaratan Tionggoan ini!”

Mendadak Sin Cie jadi gusar. tanpa menyahuti. Dia telah menggerakkan tangan kanan nya, dia menyampok dengan kuat sekali kearah Chakalin. Chakalin segera merasakan dadanya jadi sesak seperti diterjang oleh sesuatu yang kuat

Walaupun Chakalin telah mengempos dan semangat tenaganya, tokh dia masih terhuyung mundur beberapa langkah kebelakang mukanya berobah pucat. Masih untung dia bisa memunahkan sebagian tenaga serangan dari Sin Cie, sehingga tak perlu dia sampai terguling....

Dengan murka Chakalin telah berseru. "Kau... kau ?"

Sin Cie telah mengawasi dengan bengis. Kini tampak pemuda itu marahsekali, diapun berkata dengan suara yang nyaring. "Hemm, ternyata kalian berdua merupakan dua orang pendeta yang busuk dan ingin merusak ketenteraman negara kami!" Dan tanpa mengatakan suatu apapun lagi, kedua tangan Sin Cie bergerak-gerak. Kali ini dia menyerang tak tanggung- tanggung. Jika tadi dia turun tangan setengah hati, karena ia kuatir bahwa kedua Lhama itu hanya merupa kan dua orang Lhama biasa, yang tak ada sangkut-pautnya dengan rencana penyerbuan orang-orang Mongolia kedaratan cionggoan. Tapi justru sekarang dia telah mendengar sendiri dari mulut Chakalin bahwa kedua Lhama ini jurstru merupakan utusan dan Khannya dengan demikian telah membuat Sin Cie jadi sangat gusar.

Chakalin siap dengan tenaga dalamnya yang telah disalurkan pada kedua tangannya, dia mengempos semangatnya, dimana waktu melihat Sin Cie menyerang lagi, segera dia menangkis sambil balas menyerang.

Tapi Sin Cie menyerang dengan cepat dan gesit sekali, dia telah menyerang dengan beruntun, dan setiap kali serangannya akan ditangkis dia tentu menarik pulang tangannya itu membatalkan serangannya tersehut, sehingga Chakalin berulang kali gagal untuk menangkis serangan yang dilakukan Sin Cie. Tapi justru Sin Cie masih terus juga mendesaknya beruntun dengan gerakan yang benar-benar membingungkan Chakalin.

Sedangkan Yamonkal, walaupun telah memuntahkan darah segar beherapa kali, dia masih cukup tangguh, melihat Chakalin diserang dan didesak begitu rupa oleh Sin Cie, dia tak mau berdiam diri saja. cepat-cepat dia telah menerjang pada Sin Cie. Kedua tangannya menyerang kearah punggung dan pinggang Sin Cie.

Sin Cie yang telah diliputi kegusaran, tak membiarkan begitu saja Yamonkal menyerang dirinya, dengan cepat dia telah menangkis tangan kanan Yamonkal, lalu diapun telah menyerang lagi dengan tangannya yang lain ke arah dada si Lhama.

Dengan memperdengarkan suara "Bruukk” yang nyaring sekali, tampak tubuh Yamonkal terpental dengan keras sejauh tiga tombak. Chakalin yang menyaksikan ini terkejut sekali. Dia mengeluarkan bentakan bengis, berbareng dengan mana dia telah melompat menerkam pada Sin Cie. Kedua tangannya digerakkan dengan cepat dia bermaksud mencengkrram Sin Cie.

Serangan yang dilakukannya itu untuk mencegah Sin Cie agar tak mendesak Yamonkal. Tapi Chakalin justru kecele, dia mencengkeram tempat kosong, karena Sin Cie berhasil untuk mengelakkan diri dari kedua tangannya. Malah Sin Cie membarengi menyerang. Kedua tangannya bergerak-gerak dengan beberapa jurus bahaya, tubuhnya bagaikan terbang kesana-kemari dengan gesit, karena dia telah mempergu nakan Pek Pian Kwie Eng, dimana tubuhnya benar-benar bagaikan setan saja telah melayang  kesana kemari di sekitar tubuh Chakalin.

Sin Cie telah berseru nyaring, tahu-tahu tangan kanannya telah melayang dengan gerakan membacok. Dia memperaunakan telapak tangannya yang dimiringkan, dia membacok mempergunakan telapak tangannya tersebut. Dan buat orang biasa membacok seperri itu biasa saja. Tapi untuk Sin Cie, justru itu merupakan serangan yang bisa mematahkan tulang dan meremukkan tubuh lawannya.

Chakalin sendiri tidak berani berayal, segera dia melompat muudur. Tapi terlambat.

"Bukkkk …!” batang lehernya telah kena dihajar telak sekali oleh tepian tangan Sin Cie, sampai dia mengeluarkan suara jeritan kesakitan, dan tubuhnya terhuyung mundur lalu diapun telah memuntahkan darah segar.

Masih untung saki Chakalin sempat untuk mengerahkan tenaga dalamnya pada lehernya, sehingga tidak sampai tulang lehernya itu remuk atau patah! Yamonkal yang menyaksikan apa yang dialami Chakalin, cepat-cepat menerjang sambil menyerang menggunakan kedua tangannya. Gerakannya mengandung hawa maut, karena dia hendak mengadu jiwa dengan Sin Cie. Yamonkal tahu bahw dia bukan tandingan Sin Cie, namun justeru dia menyaksikan Chakalin yang tengah terancam bahaya, dia jadi nekat dan bermaksud ingin mengasu jiwa.

Bersamaan dengan itu. Sin Cie juga tengah melompat kearah Chakalin, dia bermaksud men cekuk Lhama yang seorang ini. Waktu Sin Cie merasakan dari arah belakangnya menyambar angin serangan, dan dia juga mendengar Bin Giok Hoa menjerit. "Awas dibelakang!” tanpa menoleh lagi, Sin Cie menyampok menggunakan tangan kirinya.

Disaat menyampok seperti itu, tangan ka nannya telah bergerak terus akan mencengkeram punggung Chakalin. Dan ketika tangan ki rinya itu membentur tangan Yamonkal, tangan kanan Sin Cie berhasil meneenekeram baju di punggung Chakalin. Memang waktu itu, Chakalin sudah tidak berdaya untuk berkelit lagi.

Tanpa membuang waktu, Sin Cie menghentak tangan kannnya, tubuh Chakalin tertarik dengan kuat sekali, tubuhnya itu melayang ke tengah udara dan terbanting dilantai. Sedangkan Yamonkal yang terhuyung akibat sampokan tangan kiri Sin Cie telah diserangnya lagi dengan kaki kanannya. Gerakan Sin Cie cepat sekali, sukar diikuti oleh mata manusia biasa, dan dalam waktu singkat, dia telah berhasil merubuhkan kedua lawannya dengan cepat sekali, karena Yamonkal telah tertendang terpental bergu lingan dilantai.

Sin Cie tidak menyerang lebih jauh lagi, dia berdiri mengawasi dengan tajam, dan katanya "Tugas apa yang kalian terima dari Khan kalian?" Yamonkal dan Chakalin waktu itu tengah merayap bangun. muka mereka pucat. Tampaknya mereka telah terluka parah, karena mereka meringis menahan sakit yang tidak ringan.

Melihat kedua Lhama itu berdiam Sin Cie membentak bengis lagi. "Cepat kalian katakan ….. tugas apa yang kalian terima dari Khan kalian untuk menyelinap masuk ke daratan Tionggoan ini?"

Chakalin meringis lagi, dan akhirnya dia berkata dengan suara yang tidak begitu keras : "Kami hanya diperintah untuk mencari orang She Bok itu!”

“Tadi kau mengatakan Khan kalian perintahkan kalian mencari Bok Jin Ceng untuk meminta sesuatu. Katakan, sesuatu itu apa yang kalian inginkan?”

“Kami diperintahkan untuk meminta kesediaan Bok Jin Ceng agar mau membantu dari dalam atas kedatangan bala-tentara Mongolia, dimana Bok Jin Ceng dapat memimpin sahabat- sahabat nya untuk menyambut kami

“Oh. kalian terlalu memandang rendah pada Bok Taibiap!" berseru Sin Cie gusar. Kemudian Sin Cie telan bergerak dengan lincah, kedua tangan dan sepasang kakinya telah bergerak menghantam dan menendang, sehinga Yamonkal dan Chakalin terpental bergulingan.

Kedua Lhama itu rupanya tahu bahwa mereka tentu akan menderita lebih jauh jika mereka tidak cepat-cepat menyingkirkan diri. Karena itu, setelah mereka dibuat dua kali terguling-guling oleh Sin Cie, disaat itu mereka dengan tidak berjanji lebih dulu, telah berbareng melompat untuk melarikan diri.

Tapi Sin Cie tidak man melepaskan mereka begitu saja. W.sk:u kedua Lhama itu hendak lari, kedua tangan Sin Cie menghantam punggung mereka. Kedua Lhama itu terpelanting, terjerambab bergulingan sampai diluar rumah penginapan itu. Sin Cie pun tidak bergerak sampai disitu saja, dia telah merogob saku kedua Lhama itu.

Gerakan yang dilakukan Sin Cie sangat cepat sekali, kedua Lharna itu sama sekali tidak menyadarinya bahwa saku mereka telah dibersihkan oleh Sin Cie.

Sin Cie setelah berhasil membersihkan isi kedua saku Lhama tersebut, dia cepat-cepat melompat kesamping. berdiri dengan bertolak pinggang, katanya: “Jika kalian masih berani berkeliaran didaratan Tionggoan, hemm, jika aku bertemu dengan kalian lagi. disaat itu juga aku tidak akan segan-segan membuttuh kalian! Ce pat kalian kembali ke Mongolia... atau memang kalian akan mengalami penderitaan yang lebih hebat di Tionggoan ini. Sampaikan pada Khan kalian, bahwa para Enghiong didaratan Tiong-goan bukan sebangsa manusia rendah dan busuk yang mau berpihak pada negeri luar guna mencelakai negeri sendiri...!"

Kedaa Lhama itu yang menyadari bahwa mereka memang bukan tandingan Sin Cie. Me reka merangkak bangun. dan berlari secepat-cepatnya tanpa menoleh lagi.

Sin Cie menghela napas dan kembali keruang makan dari rumah penginapan itu. Sedangkan para tamu yang sempat menyaksikan kegagahan Sin Cie telah memandang kagum. Begitu pula dengan pelayan dan kuasa rumah penginapan itu. Mereka berdiri dengan Kagum, tapi mereka tak berani menghampiri Sin Cie untuk memujinya. Waktu itu mereka hanya mengawasi saja...

Sedangkan Bin Giok Hoa telah menghampiri Sin Cie, tanyanya:

"Apakah Wan Inkong tak cidera apa-apa...?" Sin Cc menggeleng tersenyum. "Mereka berdua merupain kaki tangan dari Khan Mongolia, dan mereka datang ingin mencari guruku.... hemm, mereka menganggap rendah pada guruku. dimana mereka memiliki pendapat bahwa guruku itu akan bersecia membantu musuh luar untuk mencelakai negeri sendiri... untung saja mereka berdua hanya bertemu denganku, coba jika memang mereka bertemu dengan guruku” tentu mereka akan dihajar habis-habisan..."

Bin Giok Hoa tersenyum, "Wan Inkong memiliki kepaudaian yang benar-benar luar biasa lihaynya, dan mengagumkan. Tadi Siauwmoay telah melihamya, betapa kepandaian kedua Lhama itu sebenarnya mendingan, namun dengan seorang diri Wan Inkong telah berhasil menghajar berulang kali, sampai akhirnya dengan ketakutan mereka telah angkat kaki untuk melarikan diri "

Sin Cie cepat-cepat berkata rendah dan setelah bercakap- cakap sekian lama, akhirnya Bin Giok Hoa kembali ke kamarnya. Dia membereskan barang-barangnya karena dia ingin pergi karena ia ingin mencari jejak Bin Cu Hoa, pamannya itu.

Sin Cie sendiri telah bersiap-siap kembali ke Hay Lam guna memberitahukan kepada orang-orang gagah di sana bahwa memang Khan dari Mongolia itu tengah mempersiapkan penyerbuan ke daratan Tionggoan, dimana Khan Mongolia tersebut ingin mencaplok Tionggoan.

Walanpun Sin Cie kini kurang menyukai Giam Ong, tapi untuk membela orang Mongolia dan membantu menghancurkan Giam Ong, itulah sama juga tengan membawa harimau ke rumah sendiri. Tidak mengherankan tadi Sin Cie begitu gusar waktu mendengar kedua Lhama itu bermaksud mencari Bok Jin Ceng, gurunya. Dengan demikian Sin Cie beranggapan kalau kedua Lhama itu dan Khan mereka memang memandang terlalu rendah kepada Bok Jin Ceng gurunya.

Itutah yang membuatnya jadi marah dan menghajar kedua Lhama itu dengan keras.

Sedangkan Bin Giok Hoa tak lama kemudian telah selesai merapikan barang-barangnya itu. mereka berdua telah berangkat meninggalkan rumah penginapan itu. dan setelah sampai di intu kota barulah mereka berpisah. Bin Giok Hoa mengambil arah ke utara sedangkan Sin Cie menuju arah selatan untuk kembali ke Hay Lam.

– oOo –

DI KAKI gunung Lungsan yang memiliki mandangan yang cukup indah dengan sinar matahari senja tengah menyelimuti sekitar tempat itu, yang semarak dengan pohon-pohon bunga yang beraneka warna, tampak dua orang yang tengah berlari-lari dengan gesit sekali.

Ketika sampai didepan hutan kecil yang memiliki pohon- pohon yang tak begitu lebat tumbuhnya, kedua orang itu telah berhenti untuk beristirahat. Mereka merupakan dua orang Lhama dan tak lain dari Yamonkal dap Chakalin.

Rupanya kedua Lhama itu setelah dihajar babak belur oleh Sin Cie mereka melarikan diri dengan cepat. Mereka meninggalkan kota itu dan waktu merasa telah cukup jauh mereka meninggalkan tempat itu, merekapun berhenti di tegalan rumput yang tumbuh agak tinggi. Mereka duduk bersila untuk mengatur pernapasan, guna memulihkan tenaga mereka.

Setelah bersemadhi satu jam lebih, akhirnya Chakalin melompat bangun. "Yamonkal," katanya kemudian “Kita harus membalas sakit hati ini...!"

Yarnonkal waktu itu juga telah selesai semadhinya, dia mengangguk.

"Ya, walaupun bagaimana penasaran kita ini harus dibayar lunas oleh orang she Wan itu..." menyahuti dia. Kemudia dia merogoh jubahnya untuk mengambil obat lukanya. Tapi Yamonkal jadi berdiri pucat dengan tangan masih berada didalam saku jubahnya.

– ooOoo –