--> -->

Taiko Bab 40 : Muslihat Genba

Bab 40 : Muslihat Genba

Pada hari yang sama—hari kedua puluh bulan itu, pada Jam Kuda— Hidenaga mengirim laporan pertamanya ke perkemahan Hideyoshi di Ogaki.

Pagi ini pasukan Sakuma yang berkekuatan delapan ribu orang menyusuri jalan gunung dan menyusup jauh ke wilayah kita.

Ogaki berjarak sekitar tiga puluh sembilan mil

dari Kinomoto, dan untuk kurir berkuda pun, utusan yang membawa laporan itu luar biasa cepat. Hideyoshi baru saja kembali dari tepi Sungai Roku, yang didatanginya untuk mengamati kenaikan permukaan air. Mino diguyur hujan deras selama beberapa hari terakhir, dan Sungai Goto maupun Roku, yang mengalir antara Ogaki

dan Gifu, kini tengah meluap.

Menurut rencana semula, serangan umum ke Benteng Gifu dijadwalkan untuk hari kesembilan belas, tapi hujan lebat serta banjirnya Sungai Roku telah menghalangi Hideyoshi, dan hari itu pun tak ada harapan untuk menyeberangi sungai tersebut. Sudah dua hari ia menanti kesempatan untuk bergerak maju.

Hideyoshi menerima pesan penting dari kurir di luar perkemahan, dan membaca suratnya sambil duduk di atas kudanya. Setelah mengucapkan terima kasih pada si kurir, ia memasuki per- kemahan tanpa memperlihatkan emosi. "Bagaimana kalau kau membuatkan secawan

teh, Yuko?" ia bertanya. Kira-kira pada waktu ia sedang menghabiskan tehnya, kurir kedua tiba:

Pasukan berkekuatan dua belas ribu orang di bawah komando Yang Mulia Katsuie telah mengambil posisi. Mereka bertolak dari Kitsunezaka, ke arah Gunung Higashino.

Hideyoshi telah pindah ke kursinya di dalam markas bertirai, dan kini ia memanggi sejumlah anggota stafnya dan berkata pada mereka. "Aku baru saja menerima pesan penting dari Hidenaga."

Dengan tenang ia membacakan surat itu. Para jendral tampak terkejut mendengarnya. Pesan ketiga dikirim oleh Hori Kyutaro, yang memerinci perjuangan gagah serta kematian Nakagawa. Ia juga menjelaskan keberhasilan musuh merebut Gunung Iwasaki akibat gerak mundur Takayama. Hideyoshi memejamkan mata sejenak ketika mendengar Nakagawa gugur dalam pertempuran. Sejenak roman muka para jendralnya tampak putus asa, dan mereka menyemburkan pertanyaan- pertanyaan menyedihkan. Semuanya menatap Hideyoshi, seakan-akan hendak membaca dari wajahnya bagaimana mereka akan menangani situasi berbahaya ini.

"Kematian Sebei merupakan kehilangan besar." ujar Hideyoshi, "tapi dia tidak gugur sia-sia." Ia mengeraskan suaranya sedikit. Tunjukkanlah semangat kalian, dan dengan demikian kalian menghormati arwah Sebei. Semakin banyak tanda bahwa kita akan meraih kemenangan besar. Semula Katsuie terkunci di bentengnya, terputus dari dunia dan tak sanggup mencari jalan keluar. Kini dia telah meninggalkan benteng yang merupakan penjara baginya, dan dengan angkuh melebarkan formasinya ke segala penjuru. Ini membuktikan bahwa keberuntungannya telah menipis. Kurasa kita dapat menghancurkan bajingan itu sebelum dia sempat mengistirahatkan pasukannya, waktunya sudah tiba untuk mewujud- kan hasrat kita dan melakukan pertempuran menentukan bagi negeri ini! Waktunya sudah tiba, dan jangan sampai satu orang pun dari kalian tertinggal!"

Dengan beberapa patah kata saja Hideyoshi mengubah berita buruk itu menjadi alasan untuk bersukacita.

"Kemenangan milik kita!" Hideyoshi menyata- kan. Kemudian, tanpa membuang-buang waktu, ia mulai memberikan perintah-perintah. Para jendral segera pergi dan semuanya bagaikan terbang ketika kembali ke perkemahan masing-masing.

Orang-orang itu, yang semula diliputi perasaan terancam bahaya besar, kini merasa tak sabar dan tegang, menunggu-nunggu nama mereka dipanggil ketika Hideyoshi memberikan perintah-perintah nya. Selain para pelayan dan pembantu Hideyoshi, hampir semua jendral telah pergi untuk bersiap- siap. Tapi dua orang setempat, Ujiie Hiroyuki dan Inaba Ittetsu, juga Horio Mosuke, yang berada langsung di bawah komando Hideyoshi, belum menerima perintah apa pun.

Dengan tampang seakan-akan tak sanggup menahan diri lebih lama, Ujiie maju dan berkata, "Tuanku, hamba ingin mengajukan permohonan. Perkenankanlah hamba membawa pasukan hamba untuk menyertai tuanku."

"Tidak, aku ingin kau tetap di Ogaki. Aku butuh kau untuk mengawasi Gifu." Kemudian Hideyoshi berpaling pada Mosuke. "Aku ingin kau juga tinggal di sini

Dengan perintah terakhir ini, Hideyoshi meninggalkan markas, la memanggil salah satu pelayannya dan bertanya. "Bagaimana dengan kurir-kurir yang kuminta tadi? Sudah siapkah mereka?"

"Sudah, tuanku. Mereka menunggu perintah tuanku."

Pelayan itu segera pergi dan kembali dengan lima puluh orang.

Hideyoshi berdiri di hadapan mereka dan memberikan wejangan. "Hari ini merupakan hari istimewa dalam hidup kita. Kalian mendapat ke- hormatan karena terpilih untuk mewartakannya."

Ia memerinci perintahnya, "Dua puluh orang akan pergi ke desa-desa di sepanjang jalan raya antara Tarui dan Nagahama, dan beritahu para penduduk agar memasang obor di tepi jalan, menjelang malam. Selain itu, jangan sampai masih ada gerobak atau tumpukan kayu yang menghalangi jalan. Anak-anak kecil harus tetap di dalam rumah dan semua jembatan harus diperkokoh."

Kedua puluh orang di sebelah kanannya mengangguk serempak. Kepada ketiga puluh kurir lainnya, ia memberikan perintah sebagai berikut, "Berlarilah sekencang mungkin ke Nagahama. Beritahu pasukan penjaga kota agar bersiap siaga, dan pesankan kepada para kepala desa untuk menyiapkan perbekalan militer di sepanjang jalan yang akan kita lalui."

Kelima puluh orang itu langsung berangkat.

Hideyoshi segera memberikan perintah kepada para pengikut yang mengelilinginya, lalu menunggangi kudanya yang berwarna hitam.

Tiba-tiba ia dihampiri Ujiie. Tuanku! Tunggu sebentar. Sambil ber-pegangan pada pelana Hideyoshi, pejuang itu menangis tanpa suara.

Meninggalkan Ujiie dan Gifu, dengan kemungkinan ia akan bergabung dengan Nobutaka dan memberontak, memang merupakan sumber kecemasan bagi Hideyoshi. Untuk mencegah pengkhianatan, ia telah memerintahkan Horio Mosuke tinggal bersama Ujiie. Hati Ujiie serasa disayat-sayat; bukan hanya karena kesetiaannya diragukan, tapi juga karena menyadari bahwa gara-gara dirinyalah Mosuke tak dapat mengikuti pertempuran terpenting dalam hidupnya.

Perasaan-perasaan inilah yang menyebabkan Ujiie memegang kekang kuda Hideyoshi dengan erat. "Biarpun hamba dianggap tidak pantas me- nyertai tuanku, hamba mohon agar Jendral Mosuke diperkenankan mendampingi Yang Mulia. Dengan senang hati hamba akan membelah perut hamba, untuk menghilangkan kecemasan tuanku!"

Dan tangannya langsung menggenggam belati. "Jangan konyol, Ujiie!" Hideyoshi berseru

sambil memukul tangan orang itu dengan cambuknya. "Mosuke boleh ikut denganku kalau dia memang begitu mengharapkannya. Dan kau pun tak bisa ditinggalkan begitu saja. Bersiaplah."

Dengan kegembiraan meluap-luap, Ujiie menghadap ke markas dan memanggi!-manggil dengan lantang. "Tuan Mosuke! Tuan Mosuke! Kita diperkenankan ikut! Keluarlah untuk menghaturkan terima kasih."

Kedua orang iru bersujud di tanah, tapi yang tertinggal hanyalah bunyi cambuk yang terbawa angin. Kuda Hideyoshi telah melesat menjauh.

Para pembantunya pun terkesima, dan harus berusaha keras menyusulnya.

Orang-orang yang   berjalan   kaki,   maupun mereka yang kini cepat-cepat menaiki kuda, segera mengejar junjungan mereka tanpa sempat membentuk barisan teratur.

Ketika itu Jam Kambing. Belum dua jam berlalu antara kedatangan kurir pertama dan keberangkatan Hideyoshi. Dalam waktu singkat itu Hideyoshi berhasil mengubah kekalahan di Omi bagian utara menjadi peluang untuk meraih kemenangan. Dalam sekejap saja ia telah menyusun strategi baru untuk seluruh pasukannya. la telah menugaskan barisan kurir untuk menyampaikan perintah-perintahnya di sepanjang jalan raya ke Kinomoto— jalan raya yang akan membawa kejayaan atau kehancuran baginya.

la telah membulatkan tekad lahir-batin.

Terdorong oleh tekad tersebut, ia dan kelima belas prajuritnya bergegas maju, sementara lima ribu orang sengaja ditinggalkan di Ogaki.

Sore itu Hideyoshi beserta barisan depannya memasuki Nagahama pada Jam Monyet. Korps demi korps menyusul, dan rombongan terakhir meninggalkan Ogaki kira-kira bersamaan dengan kedatangan barisan depan di Nagahama.

Hideyoshi tidak berpangku tangan setelah tiba di Nagahama, melainkan segera melakukan persiapan untuk mengambil inisiatif melawan musuh. Ia bahkan tidak turun dari kudanya. Setelah makan dan memuaskan dahaga, ia langsung bertolak dari Nagahama dan melanjutkan perjalanan melalui Sone dan Hayami. la mencapai Kinomoto pada Jam Anjing.

Mereka hanya memerlukan lima jam untuk menempuh perjalanan dari Ogake, sebab mereka terus maju tanpa berhenti.

Pasukan Hidenaga yang berkekuatan lima belas ribu orang berada di Gunung Tagami. Kinomoto sesungguhnya merupakan stasiun pos di tepi jalan raya yang menyusuri lereng timur gunung itu. Satu divisi ditempatkan di sini. Tepat di luar Desa Jizo, orang-orang itu telah membangun menara intai.

"Di mana kita? Apa nama tempat ini?" tanya Hideyoshi sambil menghentikan kudanya yang sedang berlari kencang. Ia terpaksa berpegangan erat, agar tidak terlempar.

"Ini Jizo."

"Kita sudah dekat ke perkemahan di Kinomoto."

Jawaban-jawaban itu diberikan oleh beberapa pengikut yang mengelilingi-nya. Hideyoshi tetap duduk di pelana.

"Ambilkan air untukku." ia memerintahkan. Setelah meraih pencedok yang disodorkan kepadanya, ia menghabiskan airnya dalam satu tegukan, dan meregangkan tubuhnya untuk pertama kali sejak berangkat dari Ogaki. Kemudian ia turun dari kuda, menghampiri kaki menara intai, dan memandang ke langit. Menara itu tidak beratap dan tidak dilengkapi tangga. Para prajurit yang hendak memanjat ke atasnya hanya mengandalkan pijakan kaki yang terbuat dari kayu dan dipasang dalam jarak tidak teratur.

Tiba-tiba Hideyoshi rupanya mengenang masa mudanya sebagai prajurit bawahan. Setelah mengikat tali kipas komandan di pedang yang menggantung di pinggangnya, ia mulai memanjat ke puncak menara. Para pelayannya mendorongnya dari bawah, dan dalam sekejap sebuah tangga manusia telah terbentuk.

"Ini berbahaya, tuanku."

"Sebaiknya Yang Mulia memakai tangga saja." Orang-orang di bawah memanggil-manggil, tapi

Hideyoshi sudah berada tujuh meter di atas tanah. Badai hebat yang sempat menerjang dataran Mino dan Owari telah mereda. Langit tampak cerah bertaburan bintang, dan Danau Biwa serta

Danau Yogo menyerupai dua cermin.

Ketika Hideyoshi, yang semula kelihatan lelah akibat perjalanan berat, berdiri di atas menara, ia merasa lebih bahagia daripada letih. Semakin berbahaya suatu situasi dan semakin hebat penderitaannya, semakin senang hatinya. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan orang yang berhasil mengatasi rintangan, lalu berbalik untuk melihat bahwa rintangan itu sudah di belakangnya. Kebahagiaan itu sudah sering ia rasakan sejak masa muda. Ia sendiri percaya bahwa kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah berdiri di perbatasan antara keberhasilan dan kegagalan.

Tapi sekarang, ketika memandang ke arah Shizugatake dan Gunung Oiwa, ia kelihatan yakin bahwa ia akan meraih kemenangan.

Di pihak lain, Hideyoshi jauh lebih hati-hati daripada kebanyakan orang. Sesuai kebiasaannya, ia kini memejamkan mata dengan tenteram dan menempatkan diri di suatu posisi tempat dunia bukan musuh maupun sekutu. Setelah melepaskan diri dari segala kebimbangan duniawi, ia menjadi pusat alam semesta dan mendengarkan bisikan dewa-dewa.

"Ah. sudah hampir rampung." ia bergumam. sambil akhirnya menyunggingkan senyum. "Sakuma Genba masih begitu segar dan hijau. Mimpi apa dia?"

Setelah turun dari menara, ia mendaki Gunung Tagami. Di tengah jalan, ia disambut Hidenaga. Begitu selesai memberi perintah pada Hidenaga. Hideyoshi kembali menuruni gunung, melewati Kuroda, melintasi Kannonzaka, meneruskan perjalanan di sebelah timur Yogo, dan tiba di Gunung Chausu, tempat ia beristirahat untuk pertama kali sejak bertolak dari Ogaki.

Ia disertai dua ribu prajurit. Mantel tempurnya yang terbuat dari sutra sudah penuh keringat dan debu. Tapi dengan penampilan lusuh itulah, dan sambil menggerak-gerakkan kipas komandan, ia memberi perintah untuk menghadapi per- tempuran.

Waktu itu malam telah larut, antara pertengahan kedua Jam Babi dan pertengahan pertama Jam Tikus.

Hachigamine terletak di sebelah timur Shizugatake. Menjelang malam, Genba telah menempatkan satu korps di tempat itu. Ia berniat menyerang Shizugatake esok pagi, bersama-sama barisan depan di Liurazaka dan Shimizudani di arah barat laut, dan mengepung benteng-benteng musuh.

Bintang-bintang memenuhi langit. Namun gunung-gunung yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar tampak hitam bagaikan tinta, dan jalan yang meliuk-liuk di pegunungan itu sesungguhnya tak lebih dari jalan setapak sempit yang biasa digunakan para penebang pohon.

Salah satu penjaga menggeram. "Ada apa?" penjaga lain bertanya.

"Coba ke sini dan lihat ini," satu orang lagi berseru dari tempat yang agak lebih jauh. Suara orang menerobos semak-semak terdengar, dan kemudian ketiga sosok penjaga muncul di punggung gunung.

"Seperti ada cahaya di langit." ujar salah satu dari mereka. sambil menunjuk ke tenggara.

"Mana?"

"Dari sebelah kanan pohon besar itu ke selatan.- "Apa itu, menurutmu?" Mereka tertawa.

"Para petani di dekat Otsu atau Kuroda pasti sedang membakar sesuatu."

"Seharusnya tak ada petani lagi di desa-desa.

Mereka semua sudah lari ke gunung."

"Hmm, kalau begitu, mungkin cahaya dari api unggun musuh di Kinomoto."

"Kurasa bukan, Kalau langit tertutup awan, memang ada kemungkinan. Tapi janggal kalau langit berwarna seperti ini pada malam cerah. Hmm, di sini terlalu banyak pohon menghalangi pandangan. Mungkin kita bisa melihat jelas kalau kita naik ke bibir tebing itu."

"Jangan! Itu berbahaya!"

"Kalau terpeleset. kau akan terempas ke dasar jurang!"

Mereka berusaha mencegahnya, tapi ia mulai memanjat dinding batu karang dengan berpegangan pada tumbuhan rambat. Sosoknya tampak seperti monyet di atas gunung.

"Oh. mengerikan!" tiba-tiba ia berseru.

Teriakannya mengejutkan rekan-rekannya di bawah.

"Ada apa? Apa yang kau lihat?"

Orang di atas tebing itu berdiri tak bergerak. seperti linglung. Satu per satu rekan-rekannya menyusul. Ketika tiba di atas, mereka gemetar. Dari atas tebing, mereka tidak hanya melihat Danau Biwa dan Danau Yogo, tapi juga jalan raya ke provinsi-provinsi Utara yang menyusuri tepi danau ke arah selatan. Bahkan kaki Gunung Ibuki pun kelihatan.

Hari telah gelap, sehingga sukar untuk melihat dengan jelas, namun tampaknya ada garis merah yang mengalir bagaikan sungai dari Nagahama ke Kinomoto, di dekat kaki gunung tempat mereka berdiri. Lidah api terlihat sambung-menyambung sejauh mata memandang.

"Apa itu?"

Setelah bingung sejenak, mereka tiba-tiba sadar kembali. "Ayo, kita harus kembali! Cepat!"

Para penjaga menuruni tebing tanpa mengindahkan keselamatan mereka, dan berlari untuk melapor ke perkemahan utama.

Dengan harapan besar untuk hari esok, Genba tidur lebih cepat daripada biasa. Prajurit- prajuritnya pun sudah terlelap.

Menjelang Jam Babi, ia tiba-tiba terbangun dan langsung duduk.

"Tsushima!" ia memanggil.

Osaki Tsushima tidur tak jauh dari Genba. Ketika ia terjaga. Genba sudah berdiri di hadapannya sambil menggenggam tombak yang direbutnya dari tangan salah satu pelayan.

"Aku baru saja mendengar kuda meringkik.

Coba kauperiksa." "Baik!" Ketika menyingkap tirai, ia hampir bertabrakan dengan seseorang yang berteriak-teriak sekuat tenaga.

"Berita penting! Hamba membawa berita penting!" orang itu berkata sambil terengah-engah.

Genba angkat bicara dan bertanya. "Apa yang hendak kaulaporkan?"

Dalam keadaan panik, orang itu tak sanggup melaporkan situasi yang genting secara jelas.

"Ada obor dan api unggun di sepanjang jalan antara Mino dan Kinomoto, dan semuanya bergerak bagaikan sungai merah yang mengerikan. Menurut Yang Mulia Katsumasa, itu musuh yang sedang bergerak."

"Apa? Barisan api di jalan raya Mino?"

Genba seolah-olah belum mengerti. Tapi laporan dari Shimizudani itu segera diikuti berita serupa dari Hara Fusachika yang berkemah di Hachigamine.

Para prajurit di perkemahan Genba mulai terbangun dalam suasana gempar. Gelombang kebingungan segera menyebar.

Di luar dugaan, Hideyoshi telah kembali dari Mino. Tapi Genba belum mau percaya; ia seperti bersikeras mempertahankan keyakinannya sendiri. Tsushima! Selidiki kebenaran berita ini!"

Kemudian ia minta diambilkan kursi, dan sengaja memperlihatkan sikap tenang. Ia memahami perasaan para pengikut yang berusaha membaca apa yang terlihat pada wajahnya.

Tak lama setdah itu, Osaki kembali. la telah memacu kudanya ke Shimizudaru, lalu ke Hachigamine, kemudian melintas dari Gunung Chausu ke Kannonzaka untuk memastikan apa yang terjadi. Dan inilah yang ditemukannya.

"Kita bukan saja melihat obor dan api unggun. tapi dengan memasang telinga, kita juga bisa mendengar kuda meringkik. Ini tak bisa dianggap enteng. Tuanku perlu menyusun strategi balasan secepat mungkin."

"Hmm, bagaimana dengan Hideyoshi?" "Kabarnya Hideyoshi berada di tengah iring-

iringan itu."

Genba begitu terkejut, sehingga nyaris tak sanggup berkata apa-apa. Sambil menggigit bibir, ia memandang berkeliling tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya tampak pucat.

Setelah beberapa saat, ia berkata, "Kita mundur. Tak ada pilihan lain, bukan? Pasukan musuh berkekuatan besar sedang mendekat, sedangkan pasukan kita terisolasi di sini."

Pada malam sebelumnya, Genba dengan keras kepala menolak mematuhi perintah Katsuie. Kini ia sendiri yang memberi perintah membongkar kemah kepada pasukannya yang dilanda kebingungan, dan mendesak-desak para pengikut dan pelayannya.

"Apakah kurir dari Hachigamine masih di sini?" Genba bertanya pada pengikut-pengikut yang mengelilinginya ketika ia menaiki kuda. Setelah diberitahu bahwa orang itu belum berangkat lagi. ia segera menyuruhnya menghadap.

"Kembalilah dengan segera, dan beritahu Hikojiro bahwa korps utama akan mulai bergerak mundur. Kami akan melewati Shimizudani. Liurazaka, Kawanami, dan Moyama. Pasukan Hikojiro akan mengikuti kami sebagai barisan belakang."

Begitu selesai memberikan perintah itu, Genba bergabung dengan para pengikutnya dan mulai menuruni jalan setapak yang gelap gulita.

Dengan demikian, pasukan utama Genba mulai mundur pada pertengahan kedua Jam Babi. Bulan tidak kelihatan ketika mereka berangkat. Selama setengah jam mereka tidak menyalakan obor, agar musuh tidak mengetahui posisi mereka. Dituntun hanya oleh sumbu senapan yang membara dan cahaya bintang-bintang,. mereka menyusuri jalan setapak yang sempit.

Jika gerakan mereka dibandingkan dari segi waktu, Genba rupanya mulai membongkar perkemahan pada waktu Hideyoshi telah mendaki Gunung Chausu dari Desa Kuroda dan sedang beristirahat.

Di sanalah Hideyoshi berbicara dengan Niwa Nagahide yang terburu-buru datang dari Shizugatake untuk menghadap. Nagahide merupakan tamu terhormat, dan perlakuan Hideyoshi terhadapnya sungguh santun.

"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan." ujarnya. "Tuan tentu repot sekali sejak pagi tadi."

Dengan beberapa patah kata itu, ia berbagi tempat duduk komandan bersama Nagahide. Baru kemudian ia menanyakan hal-hal seperti situasi musuh dan kondisi medan. Dari waktu ke wakiu. tawa kedua orang itu terbawa angin malam yang melintasi puncak gunung.

Selama itu, pasukan yang menyusul Hideyoshi terus berdatangan. Mereka memasuki perkemahan dalam kelompok-kelompok berjumlah dua ratus sampai tiga ratus orang.

"Pasukan Genba sudah mulai mundur ke arah Shimizudani dan meninggalkan barisan belakang di sekitar Hachigamine," seorang pengintai melaporkan.

Hideyoshi lalu menyuruh Nagahide menyampaikan informasi dan perintah berikut kepada semua sekutu mereka:

Pada jam Banteng, aku akan melancarkan serangan mendadak terhadap Genba. Kumpulkan penduduk setempat dan suruh mereka melepaskan teriakan- teriakan perang dari puncak-puncak gunung pada waktu fajar. Tepat sebelum matahari terbit, kalian akan mendengar suara tembakan yang merupakan isyarat bahwa kesempatan untuk menyambar musuh telah tiba. Perhatikan bahwa tembakan sebelum fajar akan berasal dari senapan-senapan musuh. Tiupan sangkakala akan merupakan tanda untuk serangan umum. Peluang ini tak boleh disia-siakan.

Begitu Nagahide berangkat, Hideyoshi menyuruh kursi disingkirkan. "Kabarnya Genba berusaha melarikan diri. Ikuti jalan yang dilaluinya dan kejar dia tanpa ampun." katanya, lalu ia berpesan agar para prajurit di sekelilingnya menyampaikan perintah itu ke seluruh pasukan. "Dan ingat, jangan lepaskan tembakan sebelum langit mulai terang."

Jalan yang mereka lalui bukan jalan datar. melainkan jalan setapak di pegunungan, dengan tempat-tempat berbahaya yang tak sedikit jumlahnya. Serangan dimulai dengan keberangkatan korps demi korps, namun mereka tak sanggup maju secepat yang mereka kehendaki.

Dalam perjalanan, para penunggang kuda terpaksa turun dan menuntun kuda masing-masing melalui paya-paya, atau menyusuri dinding-dinding karang di mana tak ada jalan sama sekali.

Selepas tengah malam, bulan menampakkan diri di langit dan membantu pasukan Sakuma mencari jalan. Tapi cahayanya juga merupakan berkah bagi pengejaran Hideyoshi terhadap mereka.

Waktu yang memisahkan kedua pasukan itu tak lebih dari tiga jam. Hideyoshi telah mengerahkan pasukan yang luar biasa besar, dan semangat para prajuritnya meluap-luap. Hasil akhirnya sudah dapat diramalkan, bahkan sebelum pertempuran dimulai.

Matahari telah tinggi di langit. Jam Naga sudah hampir tiba. Pertempuran sempat meletus di tepi Danau Yogo, tapi pasukan Shibata sekali lagi melarikan diri, lalu berkumpul kembali di daerah Moyama dan Celah Sokkai.

Di sinilah terletak perkemahan Maeda Inuchiyo dan putranya. Panji-panji mereka berkibar tenang. Sangat tenang. Sambil duduk di kursinya, Inuchiyo tentu memperhatikan tembakan dan bunga api yang meliputi Shizugatake, Oiwa, dan Shimizudani sejak fajar.

Ia membawahi sebuah satuan dari pasukan Katsuie yang menempatkannya dalam posisi pelik. karena perasaannya dan kewajibannya terhadap Katsuie saling bertentangan. Satu kesalahan saja, dan provinsi beserta seluruh keluarganya akan musnah. Situasinya sangat jelas. Jika melawan Katsuie, ia akan dihancurkan. Tapi jika mengabaikan persahabatannya dengan Hideyoshi. berarti ia mengkhianati bisikan hati nuraninya.

Katsuie... Hideyoshi...

Membandingkan kedua orang itu. Inuchiyo tentu takkan melakukan kesalahan dalam memilih salah satu dari mereka. Ketika ia hendak meninggalkan bentengnya di Fuchu untuk menuju medan laga, istrinya sempat cemas mengenai niat suaminya dan menanyakannya dengan teliti.

"Jika kau tidak memerangi Yang Mulia Hideyoshi, kau tidak memenuhi kewajibanmu sebagai samurai." istrinya berkata.

"Kaupikir begitu?"

"Tapi kukira kau tidak perlu berpegang pada janjimu kepada Yang Mulia Katsuie."

"Jangan konyol. Kaupikir aku bisa melanggar janji yang telah kuberikan sebagai samurai?"

"Kalau begitu, siapa yang akan kaudukung?"

"Itu kuserahkan kepada para dewa. Aku tak tahu apa lagi yang dapat kulakukan. Kearifan manusia terlalu terbatas untuk hal seperti ini."

Pasukan Sakuma yang menjerit-jerit dan berlumuran darah melarikan diri menuju posisi- posisi Maeda.

"Jangan panik! Jangan permalukan diri kalian!" Genba, yang juga mengarah ke sana beserta sekelompok pengikut berkuda, melompat dari pelananya yang merah tua dan membentak-beniak pasukannya dengan teriakan-teriakan parau. "Ada apa dengan kalian? Pertempuran baru saja dimulai, tapi kalian sudah melarikan diri?"

Sambil memarahi prajurit-prajuritnya, Genba sekaligus berusaha membesarkan hatinya sendiri. Ia duduk di sebuah batu, menghela napas panjang, lalu mengembuskannya bagaikan menyemburkan api. Rasa pahit menjilat lidahnya. Usahanya untuk tidak kehilangan wibawa sebagai jendral di tengah kekacauan dan bencana sungguh luar biasa. mengingat usianya yang masih muda.

Baru sekarang ia diberitahu bahwa adiknya telah tewas. Sambil tercengang-cengang ia menerima laporan bahwa banyak di antara komandan-komandannya sudah gugur.

"Bagaimana dengan saudara-saudaraku yang lain?"

Menanggapi pertanyaan mendadak itu, seorang pengikut menunjuk ke belakangnya. "Dua saudara tuanku ada di sebelah sana."

Genba, dengan mata merah, menemukan kedua orang itu. Yasumasa terbaring di tanah dan memandang langit sambil melamun. Adik bungsunya tidur dengan kepala terkulai, sementara darah dari sebuah luka membasahi pangkuannya.

Genba menyayangi adik-adiknya, dan ia merasa lega bahwa mereka masih hidup. Tapi kehadiran mereka—darah dagingnya sendiri—juga menyulut kemarahan dalam dirinya.

"Berdiri, Yasumasa!" serunya. "Dan mana semangatmu, Shichiroemon? Belum waktunya kau berbaring di tanah. Sedang apa kau ini?!"

Genba   memaksakan    diri    untuk    bangkit.

Rupanya ia pun terluka.

"Di mana perkemahan Tuan lnuchiyo? Di atas bukit itu?" Ia mulai melangkah menjauh, menyeret- nyeret sebelah kaki, tapi kemudian berbalik dan menatap kedua adiknya yang sedang menyusul. "Kalian tidak perlu ikut. Kumpulkan beberapa orang dan bersiap-siaplah menghadapi gempuran musuh. Hideyoshi takkan membuang-buang waktu."

Genba duduk di kursi komandan, di dalam petak bertirai, dan menunggu. lnuchiyo muncul tak lama setelah itu.

"Hamba turut menyesal." ia bersimpati. "Jangan." Genba memaksakan senyum getir.

"Dengan pemikiran sedangkal itu, sudah sewajarnya aku kalah."

Jawaban yang begitu lesu membuat lnuchiyo menatap sekali lagi ke arah Genba. Sepertinya Genba bermaksud mengemban seluruh tanggung jawab atas kekalahan yang dideritanya. Genba tidak mengeluh bahwa lnuchiyo tidak mengerahkan pasukannya.

"Untuk sementara, bersediakah Tuan membantu kami menangkal serangan Hideyoshi dengan pasukan yang masih segar bugar?"

"Tentu saja. Tapi korps mana yang dikehendaki Yang Mulia? Korps tombak atau korps senapan?"

"Aku minta korps senapan menyergap musuh di depan. Mereka bisa menembak para penyerbu, setelah itu kami dapat bertindak sebagai barisan kedua, mengacung-acungkan tombak yang berlumuran darah dan bertempur seperti orang yang siap menyambut mati. Berangkatlah segera! Aku mohon dengan sangat!"

Pada kesempatan lain, Genba takkan memohon apa pun dari lnuchiyo. Dan mau tak mau lnuchiyo merasa iba pada orang itu. la sadar bahwa kerendahan hati Genba disebabkan oleh perasaan tak berdaya akibat kekalahan yang dideritanya. Namun mungkin juga Genba telah memahami niat lnuchiyo sesungguhnya.

"Sepertinya musuh sudah mendekat." ujar Genba tanpa mengaso sejenak pun. Sambil mengucapkan kata-kata itu, ia berdiri. "Baiklah," katanya. "Sampai jumpa." Ia menyingkap tirai dan melangkah ke luar, tapi kemudian berbalik ke arah Inuchiyo, yang menyusul untuk mengantarnya. "Ada kemungkinan kita takkan berjumpa lagi di dunia ini, tapi aku tidak berniat mati secara memalukan."

Inuchiyo menyertainya sampai ke tempat ia berdiri beberapa waktu sebelumnya. Genba mohon diri dan menuruni lereng dengan langkah cepat. Pemandangan di bawah telah berubah sama sekali dibandingkan beberapa menit yang lalu.

Pasukan Sakuma semula berkekuatan delapan ribu orang, namun sepertinya hanya sekitar sepertiga yang masih tersisa. Yang lainnya mati atau cedera atau telah melarikan diri. Mereka yang tertinggal adalah prajurit-prajurit yang kalah atau komandan-komandan yang kalang kabut, dan seruan-seruan mereka menyebabkan situasi kelihatan semakin buruk.

Tampak jelas bahwa adik-adik Genba tak sanggup mengendalikan kekacauan. Sebagian besar perwira senior telah gugur. Banyak korps telah kehilangan pemimpin, dan para prajurit dilanda kebingungan, sementara pasukan Hideyoshi sudah mulai terlihat di kejauhan. Seandainya pun kakak- beradik Sakuma sanggup menangkal kekalahan saat itu, mereka tetap tak bisa berbuat banyak untuk mengatasi ketakutan pasukan mereka.

Tapi para penembak Maeda berlari dengan tenang di tengah hiruk-pikuk, dan setelah menyebar agak jauh dari perkemahan, langsung tiarap. Melihat gerakan mereka, Genba menyerukan perintah dengan suara lanrang, dan akhirnya kekacauan itu sedikit mereda.

Kenyataan bahwa pasukan Maeda yang masih segar bugar terjun ke medan laga merupakan sumber kekuatan yang luar biasa bagi para prajurit Genba, juga bagi Genba sendiri dan para perwiranya yang masih hidup.

"Jangan mundur sebelum kita melihat kepala monyet keparat itu tertancap di ujung salah satu tombak kita! Jangan biarkan orang-orang Maeda menertawakan kita! Jangan permalukan diri kalian!"

Sambil memacu mereka, Genba berjalan di tengah-tengah perwira dan anak buahnya. Seperti bisa diduga, para prajurit yang mengikutinya sejauh itu belum menutup mata terhadap perasaan harga diri. Noda-noda darah yang masih kering akibat matahari yang bersinar cerah sejak pagi terlihat pada baju tempur dan tombak sebagian besar dari mereka. Debu dan rumput bercampur aduk dengan kotoran.

Wajah setiap orang menunjukkan bahwa ia sangat mendambakan air, biarpun hanya seteguk. Namun tak ada waktu untuk itu. Awan-awan debu berwarna kumng serta bunyi kuda-kuda musuh sudah mulai mendekat dan kejauhan.

Namun Hideyoshi, yang telah bergerak maju dari Shizugatake dengan kekuatan yang menyapu segala sesuatu, berhenti tepat sebelum mencapai Moyama.

"Perkemahan ini berada di bawah komando Maeda lnuchiyo dan putranya, Toshinaga." Hideyoshi mengumumkan.

Seielah menyadari hal itu, ia tiba-tiba menghentikan barisan depannya yang menerjang bagaikan air bah. Kemudian ia mengubah susunan tempur dan membentuk formasi baru.

Saat itu kedua pasukan berada di luar jarak tembak. Genba terus mendesak para penembak Maeda agar menempati posisi untuk mencegat musuh, namun pasukan Hideyoshi diselubungi awan debu, dan mereka tetap tidak memasuki daerah yang terjangkau peluru lawan.

Setelah berpisah   dengan   Genba,   lnuchiyo berdiri di tepi gunung dan mengamati situasi dari atas. Niatnya merupakan teka-teki, bahkan bagi para jendral yang mengelilinginya. Tapi dua samurai membawakan kudanya.

Tiba-tiba terdengar suara ingar-bingar dari kaki gunung. Ketika lnuchiyo dan yang lainnya memandang ke arah itu, mereka melihat bahwa seekor kuda dari barisan belakang telah terlepas dan berlari tak terkendali ditengah perkemahan.

Kejadian itu bukan masalah serius dalam keadaan biasa, tapi pada titik waktu itu, gangguan seperti itu menimbulkan kekacauan baru dan mengakibatkan kegemparan.

lnuchiyo menoleh pada kedua samurai tadi dan memberikan isyarat dengan matanya.

"Ayo, semuanya." ia berkata kepada para pengikut di sekelilingnya, lalu memacu kudanya.

Secara bersamaan, berondongan senapan terdengar menggema. Tembakan-tembakan itu berasal dari korps penembak mereka sendiri, dan rupanya pasukan Hideyoshi melepaskan tembakan secara bersamaan. Dengan pikiran itu, lnuchiyo melesat menuruni lereng, sambil menatap awan- awan debu dan asap mesiu yang menggumpal.

"Sekarang! Sekarang!" ia bergumam, sambil tak henti-hentinya memukul pelana.

Gong dan genderang perang dibunyikan di salah satu bagian perkemahan di Moyama, semakin menambah kekacauan. Pasukan Hideyoshi rupanya telah melangkahi korban- korban dari pihak mereka yang berjatuhan di barisan penembak, dan sudah menembus jauh ke jantung korps Sakuma dan Maeda. Dan, semudah mereka menggulung pasukan utama sebelumnya, mereka kini maju sedemikian ganas, sehingga tak ada yang dapat membendung mereka.

Melihat penempuran dahsyat itu, lnuchiyo menghindari jalan, bergabung dengan putranya, Toshinaga, lalu segera mulai mundur.

Beberapa perwiranya marah dan curiga, tapi lnuchiyo sekadar menjalankan keputusan yang telah ia ambil sebelumnya. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Inuchiyo tak pernah merasa terikat, dan sesungguhnya ia enggan mendukung pihak mana pun. Mengingat posisi provinsinya, ia telah dicari oleh Katsuie dan terpaksa mendampingi orang itu. Tapi sekarang, mengingat persahabatannya dengan Hideyoshi, ia mundur diam-diam.

Tapi prajurit-prajurit Hideyoshi terus menggempur pasukan Maeda, dan sebagian barisan belakang dibantai tanpa ampun.

Sementara itu, Inuchiyo dan putranya membawa keluar pasukan mereka dari perkemahan; dari Shiotsu mereka melewati jalan memutar melalui Hikida dan Imajo, dan akhirnya memasuki Benteng Fuchu. Selama pertempuran sengit yang berlangsung dua hari, kubu Maeda menyerupai hutan sunyi yang tenteram di tengah- tengah amukan badai.

***

Bagaimanakah keadaan di perkemahan Katsuie sejak malam sebelumnya?

Katsuie telah mengirim enam utusan untuk menemui Genba, dan setiap utusan kembali tanpa hasil. Katsuie lalu berkeluh kesah bahwa tak ada yang dapat dilakukan, dan beranjak tidur dengan penyesalan mendalam. Sebenarnya ia malah tidak bisa tidur sama sekali. Kini ia menuai benih yang ditaburkannya sendiri—pilih kasihnya terhadap Genba telah menghasilkan racun berupa kasih sayang buta. la telah melakukan kesalahan besar dengan membiarkan perasaannya mencampur- adukkan hubungan darah antara paman dan keponakan dengan ikatan antara komandan dan bawahan.

Kini Katsuie paham sepenuhnya. Genba pulalah penyebab pemberontakan putra angkat Katsuie, Katsutoyo, di Nagahama. Dan ia juga telah menerima kabar mengenai perlakuan Genba yang congkak terhadap Maeda Inuchiyo di medan tempur di Noto.

Meski mengakui kekurangan-kekurangan itu, Katsuie tetap yakin bahwa akhlak Genba jauh di atas rata-rata.

"Ah, tapi sekarang justru sifat-sifat itulah yang mungkin telah berakibat fatal," ia bergumam sambil membalik badan di tempat tidur.

Ketika cahaya lentera-lentera mulai berkedap- kedip, sejumlah prajurit bergegas menyusuri selasar. Di ruang sebelah dan sebelahnya lagi, Menju Shosuke dan yang lain mendadak terbangun.

Setelah mendengar suara-suara menanggapi bunyi langkah itu, orang-orang yang menjaga ruangan Katsuie segera keluar ke selasar.

"Ada apa?"

Sikap prajurit yang maju sebagai juru bicara tidak seperti biasa. la bicara begitu cepat, sehingga ucapannya sukar dipahami.

"Sudah beberapa waktu langit di atas Kinomoto tampak merah. Pengintai-pengintai kita baru saja kembali dari Gunung Higashino..."

"Jangan bertele-tele! Laporkan yang penting- penting saja!" Menju tiba-tiba menghardik orang itu.

"Hideyoshi telah tiba dari Ogaki. Pasukan nya membuat kerusuhan besar di daerah sekitar Kinomoto." prajurit itu berkata tanpa menarik napas. "Apa? Hideyoshi?"

Orang-orang yang bingung itu datang secepat mungkin untuk melaporkan situasi kepada para pembantu dekat junjungan mereka, tapi rupanya Katsuie telah mendengar ucapan mereka dan ia sendiri keluar ke selasar. "Tuanku sudah mendengar yang mereka katakan?"

"Sudah," balas Katsuie. Wajahnya tampak lebih pucat dibandingkan sebelum ia beranjak tidur. "Mengenai itu, Hideyoshi melakukan hal yang sama selama operasi di provinsi-provinsi Barai."

Seperti bisa diduga, Katsuie tetap tenang dan berusaha mengendalikan orang-orang di sekelilingnya, tapi ia tak dapat menyembunyikan perasaan yang berkecamuk di hatinya. Ia telah memperingatkan Genba, dan mendengar ucapannya sekarang, ia rupanya merasa bangga bahwa peringatannya ternyara tepat. Namun ini juga suara jendral gagah yang pernah dijuluki Iblis Shibata. Mereka yang kini mendengarnya mau tak mau merasa kasihan.

"Aku tak bisa lagi mengandalkan Genba. Mulai sekarang aku harus berjuang sendiri, agar kita dapat bertempur sepuas hati, jangan goyah dan jangan panik. Seharusnya kita gembira bahwa Hideyoshi akhirnya datang."

Setelah mengumpulkan jendral-jendralnya, Katsuie duduk di kursinya dan memberikan perintah-perintah untuk penyusunan pasukan. Tindak-tanduknya memperlihatkan semangat anak muda. Ia telah menilai bahwa kedatangan Hideyoshi hanya merupakan kemungkinan kecil; begitu kemungkinan tersebut berubah menjadi ancaman nyata, perkemahannya dilanda kekacauan. Tak sedikit yang meninggalkan pos masing-masing dengan alasan sakit, yang lain tidak mematuhi perintah, dan banyak prajurit melarikan diri dalam keadaan bingung dan panik. Keadaannya sungguh menyedihkan; dari tujuh ribu prajurit, yang tersisa tak sampai tiga ribu.

lnilah pasukan yang bertolak dari Echizen dengan tekad bulat untuk memerangi Hideyoshi. Orang-orang itu tidak seharusnya melarikan diri pada ancaman pertama darinya.

Apa yang mendorong mereka untuk bertindak demikian—sebuah pasukan berkekuatan lebih dari tujuh ribu orang? Penyebabnya hanya satu: tak ada kepemimpinan yang berwibawa. Selain itu, Hideyoshi pun bertindak lebih cepat dari yang diduga, dan ini membuat mereka semakin ternganga. Desas-desus serta laporan-laporan palsu berkembang tak terkendali, dengan demikian menyulut sikap pengecut. Ketika Katsuie mengamati kekacauan yang melanda pasukannya, ia tidak sekadar berkecil hati, melainkan marah sekali. Sambil mengertakkan gigi, ia seakan-akan tak sanggup untuk tidak melampiaskan kejengkelannya kepada para perwira di sekitarnya. Mula-mula duduk, berdiri, lalu berjalan mondar- mandir, para samurai di sekeliling Katsuie tak mampu menenangkan diri.

Perintah-perintahnya telah disampaikan dua-tiga kali, tapi ia hanya menerima jawaban-jawaban yang tidak jelas.

"Kenapa kalian semua begitu bingung?" ia benanya, memarahi mereka yang berada di sekitarnya. "jangan gugup! Meninggalkan pos serta menyebarkan desas-desus dan gosip hanya membuat orang-orang kita semakin bingung. Setiap orang yang melakukan tindakan seperti itu akan dijatuhi hukuman berat," ia berkata dengan geram.

Sejumlah bawahannya menghambur ke luar untuk kedua kalinya, untuk mengumumkan perintahnya yang tegas. Tapi setelah itu pun Katsuie terdengar berseru-seru dengan nada tinggi. "jangan gelisah! jangan bingung!" Tapi usahanya untuk meredakan kekacauan hanya membuat suasana ber-tambah hiruk-pikuk.

Fajar sudah di ambang pintu.

Teriakan-teriakan perang serta letusan-letusan senapan yang telah berpindah dari daerah Shizugatake ke tepi barat Danau Yogo menggema melintasi air.

"Kalau begini terus, Hideyoshi pasti segera tiba di sini!"

"Paling tidak pada tengah hari."

"Apa? Kaupikir mereka akan menunggu selama itu?"

Perasaan kecut menular dari hati ke hati, dan akhirnya menyelubungi seluruh perkemahan.

"Pasti ada sepuluh ribu musuh!" "Bukan, kurasa ada dua puluh ribu!"

"Apa? Dengan serangan begitu dahsyat, mereka pasti berkekuatan tiga puluh ribu orang!"

Para prajurit dikuasai oleh ketakutan mereka sendiri dan tak seorang pun merasa tenang tanpa memperoleh dukungan dari rekan-rekannya. Kemudian desas-desus yang sangat menggelisahkan mulai beredar.

"Maeda Inuchiyo membelot ke kuhu Hideyoshi!"

Pada saat itu, para perwira Shibata tak sanggup lagi mengendalikan anak buah mereka. Katsuie akhirnya menaiki kudanya. Sambil berkeliling di daerah Kitsunezaka, ia sendiri mencaci maki para prajurit di perkemahan-perkemahan yang terpisah- pisah. Rupanya ia telah sampai pada kesimpulan bahwa para jendralnya tak mampu menyampaikan perintah-perintah dari markas besar secara efektif.

"Setiap orang yang meninggalkan perkemahan tanpa alasan akan dihabisi seketika." ia berteriak. "Kejar dan tembak setiap pengecut yang melarikan diri! Siapa saja yang menyebarkan gosip atau meredam semangat tempur pasukan harus dibunuh di tempat!"

Tapi situasi telah berkembang terlalu jauh, dan kebangkitan semangat tempur Katsuie tidak membawa hasil. Lebih dari setengah dari ketujuh ribu prajuritnya telah kabur, sedangkan orang- orang yang tersisa tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Selain itu mereka telah kehilangan kepercayaan pada panglima tertinggi mereka. Dalam keadaan tanpa wibawa, perintah- perintah sang Iblis Shibata pun terdengar bagaikan auman singa ompong.

Ia kembali ke perkemahan utamanya yang sudah mulai diserang.

Ah, katanya dalam hati, rupanya aku pun tidak luput dari incaran maut. Melihat pasukannya telah patah semangat, Katsuie menyadari kesia-siaan situasi yang dihadapinya. Namun kegarangannya tak henti-henti mendorongnya menuju kematian. Ketika fajar mulai menyingsing, hanya sedikit kuda dan prajurit yang masih bertahan di perkemahan.

"Tuanku, ke sinilah. Sebentar saja." Dua samurai memegang baju tempur Katsuie dari kiri- kanan, seakan-akan menopang badannya yang besar. "Tidak biasanya tuanku lekas marah seperti ini." Sambil menuntunnya dengan paksa melewati kerumunan kuda dan orang, lalu keluar dari gerbang kuil, mereka berseru-seru pada yang lain, "Cepat, bawakan kuda Yang Mulia. Mana kuda junjungan kita?"

Sementara itu, Katsuie pun membentak-bentak, "Aku takkan mundur! Kalian pikir, siapa aku ini? Aku takkan meninggalkan tempat ini!" Nada suaranya semakin berapi-api. Sekali lagi ia memelototi dan menghardik para perwira stafnya yang tak mau beranjak dari sampingnya. "Kenapa kalian melakukan ini? Kenapa kalian menghalang- halangi aku untuk keluar dan menyerang? Kenapa kalian menahan aku, bukannya menggempur musuh?"

Seekor kuda dibawa ke hadapan Katsuie. Seorang prajurit menggenggam panji komandan yang dihiasi dengan lambang emas dan berdiri di sebelah kuda itu.

"Kita tidak bisa membendung terjangan musuh di sini. Yang Mulia. Jika tuanku gugur di sini, kematian tuanku sia-sia belaka. Mengapa tuanku tidak mundur ke Kitanosho, lalu menyusun rencana untuk serangan berikut?"

Katsuie menggelengkan kepala dan berseru-seru. tapi orang-orang di sekitarnya segera memaksanya naik ke pelana. Situasinya sungguh genting. Tiba- tiba si kepala pelayan, Menju Shosuke, yang tak pernah menonjol dalam pertempuran, bergegas maju dan bersujud di hadapan kuda Katsuie.

"Tuanku, perkenankanlah hamba membawa panji komandan."

Memohon izin untuk membawa panji komandan berarti seseorang menawarkan diri untuk menggantikan tempat.

Shosuke tidak mengatakan apa-apa lagi, namun tetap berlutut di depan Katsuie. Ia tidak memperlihatkan kesiapan menyambut maut, perasaan putus asa, maupun kegarangan; penampilannya seperti biasa, kalau ia menghadap Katsuie sebagai kepala pelayan,

"Apa? Kauminta aku memberikan panji komandan padamu?"

Dari atas kudanya, Katsuie menatap punggung Shosuke dengan heran. Para jendral di sekelilingnya juga terkesima, dan pandangan mereka pun melekat pada Shosuke. Di antara sekian banyak pembantu pribadi, hanya sedikit yang diperlakukan lebih dingin daripada Shosuke.

Katsuie, yang bersikap demikian terhadap Shosuke, tentu menyadari betapa pedihnya hati Shosuke selama ini. Namun bukankah Shosuke yang sama kini bersujud di hadapan Katsuie, menawarkan diri untuk menggantikan tempat Katsuie?

Angin kekalahan menyapu perkemahan, dan Katsuie tak tahan lagi melihat kekalutan yang melanda para prajuritnya. Para pengecut yang cepat-cepat meletakkan senjata dan melarikan diri tak sedikit jumlahnya; banyak di antara mereka merupakan orang yang disukai Katsuie, dan telah diistimewakan selama bertahun-tahun. Ketika pikiran-pikiran itu melintas dalam benaknya, Katsuie tak sanggup menahan air mata.

Tapi apa pun yang berkecamuk dalam hati Katsuie, kini ia menendang perut kudanya dengan sanggurdi, dan mengusir kesan pedih di wajahnya dengan teriakan menggemuruh.

~Apa maksudmu,  Shosuke?  Kalau kau  mati, saatku pun sudah tiba! Ayo, menyingkirlah!" Shosuke mundur untuk menghindari kuda

Katsuie yang mendadak memberontak, tapi segera menangkap tali kekangnya.

"Kalau begitu, perkenankanlah hamba menyertai tuanku."

Tanpa menunggu persetujuan Katsui, Menju membelakangi medan laga dan bergegas ke arah Yanagase, baik prajurit yang menjaga panji komandan maupun para pengikut Katsuie mengelilingi kudanya, dan cepar-cepat menggiringnya pergi di tengah-tengah mereka.

Namun barisan depan Hideyoshi telah berhasil menerobos di Kitsunezaka, dan tanpa mengindahkan prajurit-prajurit Shibata yang mempertahankan tempat itu, mereka mengincar panji emas yang tampak di kejauhan.

"Itu Katsuie! Jangan biarkan dia lolos!" Sekelompok prajurit bertombak berkumpul dan segera mengejar Katsuie.

"Kita akan berpisah di sini. Yang Mulia!" Sambil mengucapkan kata-kata itu sebagai salam perpisahan, para jendral yang menyertai Katsuie tiba-tiba beranjak dari sisinya, berbalik, dan menerjang ke tengah-tengah tombak pasukan pengejar. Tak lama kemudian mayat-mayat mereka telah bergelimpangan.

Menju Shosuke juga telah berbalik dan menghadapi serbuan musuh, tapi kini ia sekali lagi menyusul kuda junjungannya dan berseru dari belakang. "Panji komandan... hamba mohon... perkenankanlah hamba membawanya!"

Mereka berada di perbatasan Yanagase

Katsuie menghentikan kudanya dan mengambil panji komandan berwarna emas dari orang di sebelahnya. Betapa banyak kenangan melekat pada panji itu—ia telah mengibarkannya dalam setiap kesempatan perang bersama reputasinya sebagai Iblis Shibata.

"Ini, Shosuke. Bawalah ke tengah-tengah pasukanku!"

Dengan beberapa patah kata itu, ia mendadak melemparkan panji itu pada Shosuke

Shosuke membungkuk ke depan dan dengan gesit menangkap gagangnya.

Kegembiraannya meluap-luap. Sambil mengibar- kan panji itu, ia menunjukkan ucapan terakhirnya ke arah punggung Katsuie.

"Selamat jalan, tuanku!"

Katsuie berbalik, tapi kudanya tetap berpacu ke daerah pegunungan di sekitar Yanagase. Hanya sepuluh orang berkuda menyertainya.

Panji komandan telah diserahkan ke tangan Shosuke seperti yang diimbaunya, tapi Katsuie berpesan. "Bawalah ke tengah-tengah pasukanku!"

Itulah permintaannya, dan permintaan tersebut tak pelak diajukan mengingat orang-orang yang akan menemui ajal bersama Shosuke. Seketika sekitar tiga puluh orang berkumpul di bawah panji. Hanya merekalah yang menjunjung tinggi kehormatan dan bersedia mengorbankan nyawa demi pimpinan mereka.

Ah, ternyata masih ada prajurit Shibata yang memiliki harga diri, pikir Shosuke sambil memandang wajah-wajah di sekelilingnya dengan gembira. "Mari! Kita tunjukkan pada mereka, bagaimana caranya mati dengan bahagia!"

Setelah memberikan panji kepada salah satu prajurit, ia segera melangkah maju, bergegas dari sebelah barat Desa Yanagase, ke arah lereng utara Gunung Tochinoki. Ketika kelompok kecil beranggotakan kurang dari empat puluh orang itu membulatkan tekad untuk maju, mereka memper- lihatkan semangat yang jauh lebih tegar dibandingkan ribuan orang di Kitsunezaka pagi itu.

"Katsuie telah mundur ke pegunungan!" "Rupanya dia sudah pasrah dan siap mati."

Seperti bisa diduga. pasukan Hideyoshi yang mengejar Katsuie saling mendesak untuk terus maju.

"Kepala Katsuie sudah di tangan kita!"

Semuanya berlomba-lomba untuk menjadi orang pertama yang mendaki Gunung Tochinoki. Sambil mengibarkan panji emas di puncak gunung, para prajurit Shibata menahan napas ketika jumlah musuh—yang bahkan melewati tempat-tempat yang tak ada jalan pun—membesar dari menit ke menit.

"Masih ada waktu untuk mengedarkan secawan air sebagai tanda perpisahan." ujar Shosuke.

Dalam detik-detik yang masih tersisa, Shosuke dan rekan-rekannya meraup dan saling berbagi air yang mengalir dari celah-celah di puncak gunung, lalu dengan tenang mempersiapkan diri untuk menghadapi ajal. Shosuke mendadak berpaling pada kedua saudara kandungnya, Mozaemon dan Shobei.

"Saudara-saudaraku, tinggalkanlah tempat ini dan pulanglah ke desa kita. Kalau kita bertiga gugur sekaligus dalam penempuran, tak ada yang dapat meneruskan nama keluarga atau menjaga ibu kita. Mozaemon, anak sulunglah yang wajib meneruskan nama keluarga, jadi kenapa kau tidak pergi saja sekarang?"

"Kalau kedua adiknya dibantai musuh." balas Mozaemon. "mungkinkah si sulung menghadapi ibunya sambil berkata, 'Aku sudah pulang'? Tidak, aku tetap di sini. Shobei, kau saja yang pergi."

"Kalian terlampau kejam." "Kenapa?"

"Kalau aku disuruh pulang di saat seperti ini, ibu kita takkan gembira. Dan mendiang ayah kita pun tentu sedang mengamati putra-putranya dari dunia lain. Kakiku takkan menempuh perjalanan ke Echizen hari ini." "Baiklah, kalau begitu kita mati bersama-sama."

Setelah menyatukan tekad dalam ikrar kematian, ketiga saudara itu berdiri tak tergoyah- kan di bawah panji komandan.

Shosuke tidak menyinggung lagi bahwa ia menghendaki saudara-saudaranya pulang ke rumah.

Ketiga kakak-beradik itu minum air bening dari mata air sebagai tanda perpisahan, dan ketika semangat baru menggelora dalam dada masing- masing, ketiga-tiganya menghadap ke arah rumah ibu mereka.

Tidak sukar untuk membayangkan doa yang mereka ucapkan dalam hati. Musuh menyerbu dari segala arah, dan mereka sudah begitu dekat, sehingga suara para prajurit terdengar jelas,

"Jaga panji komandan, Shobei," Shosuke berkata kepada adiknya sambil mengenakan pdindung wajah. la menyamar sebagai Katsuie, dan tak ingin dikenali musuh.

Lima atau enam peluru melesat di dekat kepalanya. Dengan menganggap tembakan- tembakan itu sebagai aba-aba. ketiga puluh orang itu menyerukan nama Hachiman. sang Dewa Perang, lalu menghadang musuh.

Mereka membagi diri menjadi tiga unit dan menyerang pasukan musuh yang sedang mendekat. Orang-orang yang datang dari bawah telah tersengal-sengal dan tak dapat membendung lawan- lawan yang dengan nekat menerjang dari puncak gunung. Pedang-pedang panjang menghujani helm- helm pasukan Hideyoshi, tombak-tombak menu- suk dada mereka, dan dalam sekejap mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana.

"Jangan terlalu bersemangat menyambut maut!" Shosuke berseru tiba-tiba, sambil mundur ke balik pagar kayu runcing.

Melihat panji komandan mengikutinya, anak buahnya yang masih hidup pun menyusul.

"Kata orang, tamparan lima jari tak sekuat pukulan dengan tangan terkepal. Kalau kita tercerai-berai, kita takkan dapat berbuat banyak. Tetaplah di bawah panji, baik saat maju maupun mundur."

Setelah mendapat mengarahan, mereka sekali lagi menghambur ke luar. Berpaling ke satu arah, mereka membantai musuh dengan ganas; berpaling ke arah lain, mereka mencabut nyawa dengan rombak-tombak. Kemudian, bagaikan angin, mereka mundur ke kubu pertahanan mereka.

Dengan cara itu, mereka mendesak maju lima atau enam kali untuk bertempur.

Pasukan penyerang telah kehilangan lebih dari dua ratus orang. Hari sudah menjelang siang, dan marahari mulai bersinar terik. Darah segar yang membasahi baju tempur dan helm segera mengering, meninggalkan lapisan hitam yang berkilau seperti pernis.

Tak sampai sepuluh orang yang masih bertahan di bawah panji komandan, dan mata mereka yang menyala-nyala nyaris tak sanggup melihat lagi. Tak satu orang pun yang tidak terluka,

Anak panah telah menembus baju Shosuke. Sambil memandang darah segar yang mengalir pada lengan bajunya, ia mencabut anak panah itu dengan tangannya sendiri. Kemudian ia berpaling ke arah anak panah itu berasal. Sejumlah besar helm tampak mendekat, menerobos ilalang bagai sekawanan babi hutan.

Shosuke memanfaatkan waktu yang masih tersisa untuk berbicara dengan rekan-rekannya, "Kita telah bertempur sekuat tenaga, dan tak ada yang perlu kita sesalkan. Pilihlah lawan yang hebat, dan ukirlah nama harum untuk diri kalian. Biarkan aku mendului kalian, gugur sebagai pengganti junjungan kita. Jangan biarkan panji komandan terjatuh. Acungkan tinggi-tinggi, sam- pai orang terakhir!"

Prajurit-prajurit berlumuran darah yang telah siap menyambut maut itu mengacungkan panji ke arah musuh yang sedang menerobos ilalang. Prajurit-prajurit yang menghampiri mereka rupanya luar biasa garang. Mereka maju tanpa berkedip, berpegang teguh pada ikrar yang telah mereka ucapkan. Shosuke menghadapi orang- orang itu dan berseru-seru untuk menggertak mereka.

"Lancing benar kalian ini! jembel-jembel hina! Kalian pikir kalian bisa menancapkan tombak- tombak kalian ke tubuh Shibata Katsuie?"

Shosuke tampil bagaikan iblis, dan tak seorang pun sanggup bertahan di hadapannya. Sejumlah orang mati di tombak, hampir di depan kakinya.

Ketika melihat keganasan orang itu dan kehausan bertempur mati-matian melawan orang- orang yang rela mempertahankan panji komandan mereka sampai titik darah penghabisan, para prajurit pasukan penyerang—bahkan yang paling besar mulut pun—menghentikan pengepungan dan membuka jalan ke kaki gunung.

"Inilah aku! Katsuie sendiri datang! Kalau Hideyoshi ada di sini, suruh dia menemuiku seorang diri di atas kuda! Keluarlah, Muka Monyet!" Shosuke berseru-seru ketika menuruni lereng.

Di situ juga ia menikam prajurit berbaju tempur yang menghadangnya. Kakaknya, Mozaemon, telah gugur; adiknya, Shobei, terlibat pertempuran pedang panjang dengan seorang prajurit musuh, sampai keduanya tumbang tak bernyawa, dan Shobei terempas ke dasar sebuah jurang.

Di sampingnya tergeletak panji komandan yang telah berubah warna menjadi merah.

Baik dari atas maupun bawah, tombak-tombak yang tak terhitung jumlahnya menembus tubuh Shosuke; setiap prajurit ingin merebut panji komandan dan memenggal kepala orang yang mereka sangka sebagai Katsuie.

Semuanya berlomba-lomba meraih kejayaan. Di tengah-tengah tusukan tombak, Menju Shosuke menemui ajal di medan laga.

Ia prajurit tampan yang baru berusia dua puluh lima tahun, dan selama ini dianggap rendah oleh orang-orang seperti Katsuie dan Genba karena ia lebih banyak diam, bersikap lembut dan anggun, serta gemar belajar—wajah Shosuke masih tersembunyi di balik pelindung mukanya.

"Aku membunuh Shibata Katsuie!" seorang samurai berseru.

"Panji komandannya di rebut oleh tangan ini!" prajurit lain bersorak.

Kemudian semua orang angkat suara, yang satu mengaku begini, yang satu begitu, sampai seluruh gunung terguncang-guncang.

Dan anak buah Hideyoshi belum juga mengetahui bahwa kepala itu bukan kepala Shibata Katsuie, melainkan kepala Menju Shosuke, si kepala pelayan.

"Kita membunuh Katsuie!

"Aku sempat memegang kepala si Penguasa Kitanosho!" Sambil saling dorong dan desak. mereka bersorak-sorak tanpa henti. "Panjinya! Panji emas! Dan kepalanya! Kita mendapatkan kepalanya!"