--> -->

Suling Pusaka Kemala Jilid 26

JILID XXVI

"ARTINYA, engkau sama sekali bukan ayah kandungku!

Engkau bahkan musuh besarku yang telah memperkosa ibuku sehingga ia membunuh diri dan menyebabkan kematian ayah kandungku pula, karena itu, sekarang engkau harus mati di tanganku!" Setelah berkata demikian, Sian Eng mencabut pedang Ceng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) dari punggungnya dan langsung saja ia menyerang Suma-Kiang dengan cepat. Pedangnya menyambar dari atas ke bawah, membacok ke arah kepala Suma Kiang. Serangan ini datangnya cepat sekali dan mengandung tenaga dahsyat. Suma Kiang terkejut setangah mati mendengar ucapan Sian Eng tadi. Seketika diapun tahu bahwa gadis itu telah mengetahui akan rahasianya, Entah bagaimana gadis itu dapat mengetahuinya, akan tetapi dia maklum bahwa gadis itu tentu akan membalas dendam dan benar-benar akan membunuhnya. Ketika Sian Eng menyerang dengan hebat itu, tidak ada jalan lain baginya untuk menghindarkan diri dari maut kecuali dengan melempar diri ke belakang dan terus bergulingan di atas lantai.

"Singg craakkkkk!" Kursi yang tadi diduduki Suma Kiang

terbelah menjadi dua oleh sambaran pedang. Akan tetapi Suma Kiang sudah dapat menyelamatkan diri dan karena maklum bahwa ilmu kepandaian gadis itu kini sudah tinggi sekali, diapun cepat mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya. Sebagai seorang pengawal pribadi dan penjaga keamanan di istana Pangera Cheng Boan, sepasang pedangnya tidak pernah terpisah dari tubuhnya.

"Suma Eng, sabar dulu, mari kita bicara " katanya

menyabarkan.

"Tutup mulut dan bersiaplah untuk mati dan menebus dosamu!" bentak Sian Eng yang sudah menyerang lagi. Pedangnya menyambar ke arah leher. Ketika Suma Kiang melangkah mundur dan menekuk lutut sehingga sambaran pedang itu lewat di atas kepalanya, tahu-tahu pedang di tangan Sian Eng sudah membalik dan kini menusuk lehernya.

Suma Kiang terkejut dan cepat mengarakkan pedang kirinya menangkis.

"Tranggg !" Dua pedang bertemu dan pedang kanan

Suma Kiang kini membalas dengan tusukan ke arah dada gadis itu. Akan tetapi dengan mudahnya Sian Eng mengelak. Segera mereka terlibat dalam perkelahian yang amat seru.

Suma Kiang yang sebetulnya mencinta Sian Eng dengan sungguh-sungguh dan menganggapnya sebagai puterinya sendiri, terpaksa membela diri dan balas menyerang.

Hatinya terasa sakit sekali melihat gadis yang disayangnya itu bersungguh-sungguh hendak membunuhnya. Akan tetapi, bagaimanapun juga tentu saja dia lebih sayang dirinya sendiri daripada gadis itu. Dia harus membela diri dengan sungguh- sungguh kalau tidak ingin mati di tangan gadis yang amat lihai itu. Dan pembelaan diri yang paling kuat adalah dengan balas menyerang pula.

"Haiiitttt !!" Sian Eng sudah menyerang lagi dengan

dahsyatnya. Pedangnya lenyap bentuknya dan yang tampak hanya gulungan sinar kehijauan dari Ceng-liong kiam yang membacok ke arah leher suma Kiang dari samping. Bagaikan kilat menyambar pedang itu meluncur ke arah leher lawan dengan kekuatan yang cepat akan dapat memancung leher lawan kalau mengenai sasaran.

Karena serangan itu berbahaya sekali, Suma Kiang tidak sempat mengelak dan kembali dia menangkis dengan pedang tangan kirinya.

"Tranggg !" Bunga api berpijar, Suma Kiang terkejut

karena merasa betapa lengan kirinya tergetar hebat, tubuhnya terdorong dan membuat dia terhuyung ke belakang. Pada saat itu, tangan kiri Sian Eng sudah berkelebat, menyerang dengan pukulan Pek-lek Ciang- hoat. Suma Kiang masih mencoba untuk membuang diri ke belakang, akan tetapi hawa pukulan yang amat dahsyat membuatnya terpelanting. Pada saat itu, pedang Sian Eng sudah menyambar lagi kearah lehernya!

"Celaka !" Suma Kiang berseru dan menggunakan kedua

pedangnya untuk menggunting pedang Sian Eng yang menyerangnya. Pedang gadis itu tertangkis, meleset dan masih melukai pundak kiri suma Kiang! Datuk ini terpaksa melompat ke samping lalu bergulingan di atas tanah sambil melindungi tubuhnya dengan memutar kedua pedangnya. Keadaannya gawat dan berbahaya sekali. Sian Eng sudah siap untuk menyerang lagi pada saat musuh besarnya sedang bergulingan Itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar jejak kaki berlari mendatangi tempat itu dan terdengar pula teriakan Sian Hwa Sian-li, "Tangkap pembunuh!"

Melihat Sian Hwa Sian-li datang bersama Toa Ok dan juga Ouw Ki Seng yang lihai, tahulah Sian Eng bahwa kalau ia melawan mereka, tentu ia akan celaka. Maka cepat ia meloncat dan melarikan diri keluar dari dalam rumah itu, terus ke taman belakang dan melompati pagar yang mengelilingi tempat tinggal Pangeran Cheng Boan. Ketika para kaki tangan pangeran itu mengejar, Sian Eng telah lenyap ditelan kegelapan malam.

Pangeran Cheng Boan menjadi semakin bingung dan marah. "Apa artinya semua ini?" teriaknya ketika dia mengetahui bahwa pembantu utamanya, Suma Kiang yang telah menjadi pembantu setianya sejak puluhan tahun yang lalu, nyaris terbunuh oleh anaknya sendiri.

"Sebetulnya ia bukan anak kandung saya, Pangeran." Suma Kiang menjelaskan "Akan tetapi sejak berusia tiga tahun saya rawat dan didik menjadi seperti anak saya sendiri. Beberapa tahun ini menjadi murid supek (uwa guru) saya dan ilmu kepandaiannya meningkat hebat bahkan saya sendiri tidak mampu menandinginya."

"Akan tetapi mengapa ia hendak membunuh engkau yang merawat dan mendidiknya sejak kecil?" Pangeran Cheng Boan bertanya, penasaran.

"Entahlah bagaimana..., ia tahu bahwa saya yang menyebabkan kematian ibunya dan ia hendak membalas dendam untuk itu." "Hemm, ada-ada saja!" Pangeran Cheng Boan berkata marah dan sedih mengingat akan kematian puteranya. "Ia merupakan bahaya. Sebar para penyelidik cari dan bunuh gadis itu. Pangeran Cheng Lin, terjadinya peristiwa tidak enak ini, apalagi yang menyebabkan kematian puteraku, maka rencana kita harus dilaksanakan dengan cepat. Mari kita semua berunding di ruangan dalam!"

Jenazah Cheng Kun dan Ciang Mei Ling diurus oleh orang- orangnya pangeran itu dan keluarga Pangeran Cheng Boan menangisi kematian Cheng Kun. Akan tetapi pada malam hari itu juga Pangeran Cheng Boan mengajak para jagoannya untuk berunding di ruangan rahasia mereka. Dalam perundingan itu direncanakan dengan matang bagaimana Ouw Ki Seng harus melakukan tugas membunuh dua orang pangeran yang akan melakukan perjalanan ke hutan sebelah selatan kota raja untuk berburu binatang hutan.

"Ingat, Pangeran Cheng Lin. Engkau harus melakukan tugas ini seorang diri dan penuh rahasia. Jangan sampai gagal dan jangan sampai rahasia ini diketahui orang lain. Kalau sampai gagal dan bocor, engkau harus menanggungnya sendiri kami tidak dapat membela atau melindungimu." pesan Pangeran Cheng Boan

"Harap Paman Pangeran jangan khawatir. Saya pasti akan dapat membunuh Pangeran Cheng Hwa dan Pangeran Cheng Siu. Akan tetapi saya khawatir seorang di antara mereka akan lolos, Agar tugas saya dapat terlaksana dengan baik, saya minta agar Sian Hwa Sian li diperbolehkan membantu saya. Ia belum banyak dikenal orang di kota raja sehingga akan lebih aman kalau dia yang membantu daripada Paman Suma Kiang atau Paman Toa Ok." kata Ki Seng.

"Saya akan membantu Panger Cheng Lin, Yang Mulia, agar tugas dapat dilaksanakan dengan hasil baik" kata Sian Hwa Sian-li sambil tersenyum manis dan menatap wajah Pangeran Cheng Boan dengan pandang mata memikat. Setelah kini Cheng Kun tewas, perhatian wanita itu beralih kepada Pangeran Cheng Boan. Ia sudah mendengar seluruh siasat yang dilakukan pangeran ini menipu Ouw Ki Seng pangeran palsu itu. kalau semua rencana berhasil, Pangeran Cheng Boan inilah yang besar kemungkin besar akan menggantikan kedudukan kaisar, bahkan perlu ia dekati.

Pangeran Cheng Boan mengangguk-angguk. "Baiklah, aku setuju kalau Sian hwa Sian-li ikut dan membantumu, Pameran Cheng Lin."

ooo00d0w00ooo

Rombongan berkuda itu terdiri dari dua puluh orang perajurit mengawal dua orang pangeran keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan. Mereka semua tampak gagah sekali, terutama dua orang pangeran itu. Pangeran Cheng Hwa adalah seorang pangeran yang bertubuh tinggi tegap, berusia dua puluh lima tahun dan dia merupakan putera mahkota karena dia adalah pangeran tertua, lahir dari permaisuri. Sikapnya lemah lembut dan agung berwibawa.

Pangeran Cheng siu yang menemaninya pergi berburu berusia sekitar sembilan belas tahun merupakan pangeran kelima dan dia disayang oleh Pangeran Cheng Hwa. Pangeran kelima ini bertubuh tinggi kurus berwajah tampan agak kewanitaan. Dua orang pangeran ini menunggang dua ekor kuda pilihan yang besar, melarikan kuda mereka depan diikuti dua puluh orang perajurit pengawal itu. Di sepanjang perjalanan dua orang pangeran ini menjadi tontonan yang mengagumkan, terutama bagi para wanitanya.

Tidak lama kemudian mereka telah tiba di luar hutan selatan yang cukup lebat. Hutan ini merupakan hutan yang dilindungi, hutan yang memang dipelihara dan menjadi tempat Kaisar dan keluarganya pergi berburu. Para pemburu umum dilarang keras memburu binatang di hutan ini dan siapa berani melanggar diancam hukuman berat. Karena itu, hutan selatan ini dihuni banyak binatang hutan. Mereka berhenti di luar hutan itu. Matahari telah naik dan sinarnya menembus celah - celah daun pohon-pohon yang memenuhi hutan. Dari dalam hutan sudah terdengar kicau bermacam burung dan suara berbagai binatang hutan, seakan menantang para pemburu itu.

Pangeran Cheng Siu memandang kakaknya dengan wajah berseri. "Kanda Cheng Hwa, mari kita berlumba. Kita berpencar masing-masing membawa sepuluh orang pengawal dan kita lihat nanti, siapa di antara kita yang mendapatkan buruan paling banyak!"

Pangeran Cheng Hwa tersenyum gembira. Dia senang melihat adiknya gembira seperti itu. "Baiklah, Cheng Siu. Engkau boleh membawa lima belas orang mengawal, sisanya yang lima orang mengawalku. Akan tetapi kita tidak boleh curang, para pengawal dilarang ikut berburu, harus dari hasil buruan kita sendiri."

"Baik, kanda. Jangan khawatir, aku mengerti akan peraturan permainan!" kata Pangeran Cheng Siu yang lalu menoleh kepada rombongan pengawal.

"Harap lima belas orang dari kalian mengikuti aku, sedangkan sisanya yang lima orang mengawal kanda pangeran!"

Lima belas orang pengawal lalu memisahkan diri dan ketika Pangeran Cheng Siu menggerakkan kudanya memasuki hutan mereka juga menjalankan kuda mengiringkan dari belakang. Setelah adiknya bersama para pengawal lenyap di antara pohon-pohon dalam hutan, Pangeral Cheng Hwa juga lalu memberi isarat kepada lima orang pengawalnya dan mereka menjalankan kuda memasuki hutan. Pangeran Cheng Hwa mempersiapkan busur dan anak panah di tangan kirinya dan mulailah dia memandang ke sekeliling dengan waspada untuk mencari binatang buruan. Dua orang pangeran dan dua puluh orang pengawal mereka itu sama sekai tidak tahu bahwa ada dua pasang mata mengikuti gerak-gerik mereka ketika mereka berhenti di luar hutan tadi. Pengintai-pengintai itu adalah Ouw Ki Seng dan sian Hwa Sian-li yang telah mendahului dan menanti di hutan itu, bersembunyi diantara semak belukar dan mendengarkan bercakapan antara kedua orang pangeran tadi.

Setelah melihat dua orang pangeran beserta rombongan mereka memasuki hutan, Ki Seng berkata kepada Sian Hwa Lan-li. "Sian-li, kau bereskan pangeran yang dikawal lima orang itu. Yang dikawal lima belas orang tadi bagianku. Awas, jangan sampai gagal. Bunuh mereka semua!"

Sian Hwa Sian-li tersenyum, lalu memasang topeng kain hitam di depan mukanya. "Jangan khawatir. Mari kita berlumba seperti mereka, siapa yang akan lebih cepat membereskan mereka."

"Jangan main-main. Lakukanlah!" kata Ki Seng dan dia sendiripun lalu memasang topeng kain hitam menutupi mukanya. Kedua orang itu lalu berpencar, melakukan pengejaran terhadap buruan masing-masing.

Sebentar saja Ki Seng sudah dapat nenyusul Pangeran Cheng Siu yang dikawal lima belas orang perajurit. Pangeran muda ini merasa gembira dan tegang. Busur dan anak panah telah siap di tangan kirinya. Matanya jalang memandang ke depan, kanan dan kiri untuk menangkap kalau ada gerakan seekor binatang hutan. Tiba-tiba matanya terbelalak girang. Dia melihat seekor kelenci putih menyusup di antara semak belukar. Cepat dia memasang anak panah pada busurnya dan membidik, kemudian melepaskan anak panahnya ke arah kelenci yang menongolkan kepalanya di antara semak. Anak panah meluncur cepat ke arah kelenci. Akan tetapi Pangeran Cheng Siu terbelalak kaget dan heran ketika melihat anak panahnya itu disambar tangan seseorang yang tiba-tiba saja sudah muncul di situ. Seorang yang mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng kain hitam pula. Hanya sepasang mata orang itu yang tampak, mencorong di balik dua lubang pada topeng itu. Dengan beberapa loncatan, orang bertopeng itu telah berada di depan kuda yang ditunggangi Pangeran Cheng Siu.

"Hei, apa yang kaulakukan ini? Siapa kau ?" Pangeran itu

membentak, akan tetapi pada saat itu, orang bertopeng yang bukan lain adalah Ouw Ki Seng telah menggerakkan tangan kanannya. anak panah yang tadi ditangkapnya menyambar seperti kilat dan tepat mengenai dada pangeran itu sebelah kiri. Sedemikian kuatnya lontaran Ki Seng sehingga anak panah itu menancap sampai tembus ke punggung. Pangeran Cheng Siu mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya terpelanting dari atas kudanya yang meringkik dan mengangkat kedua kaki ke atas.

Peristiwa itu terjadi sedemikian cepatnya sehingga lima belas orang perajurit pengawal itu tertegun. Sama sekali mereka tidak pernah mengira akan ada orang yang berani melakukan pembunuhan terhadap Pangeran Cheng Siu.

Apalagi hutan itu adalah hutan terlindung dan terlarang. Mereka mengira tempat ini aman seperti biasa. Karena itu ketika Ki Seng menangkap anak panah dan mendekati pangeran, mereka masih belum menyadari akan adanya bahaya. Tahu-tahu orang bertopeng itu menyerang Pangeran Cheng Siu dengan anak panah yang ditangkapnya dan pangeran itu kini telah menggeletak di atas tanah dengan dada tertembus anak panah dan tewas seketika. Barulah lima belas orang perajurit pengawal itu bergerak maju dan berteriak-teriak.

"Tangkap pembunuh!"

Akan tetapi Ki Seng tidak lari, bahkan dia menerjang ke depan, tangan kirinya menampar ke arah kepala seorang prajurit dan tangan kanannya merampas pedang yang dipegang perajurit yang roboh terjungkal itu. Para perajurit pengawal berloncatan dari atas kuda mereka dan sambil berteriak-teriak mengepung serta mengeroyok Ki Seng. Namun, dengan pedang rampasannya, Ki Seng mengamuk, dia memang sengaja merampas pedang untuk menghadapi para pengawal. Dia tidak mau mempergunakan pukulan tangan karena pukulan yang mengandung sinkang yang beracun akan dapat dikenali oleh seorang ahli silat. Akan tetapi bacokan atau tusukan pedang untuk membunuh tentu tidak akan ada yang mengenal siapa pelakunya. Dengan alasan itu pula tadi dia membunuh Pangeran Cheng Siu dengan menggunakan anak panah pangeran itu sendiri.

Lima belas orang perajurit pengawal itu sama sekali bukan tandingan Ki Seng yang memiliki tingkat ilmu silat tinggi.

Pedang di tangannya menyambar-nyambar, menjadi gulungan sinar yang panjang dan berturut-turut lima belas orang prajurit itu roboh. Darah muncrat di mana mana dan tempat itu menjadi mengerikan. Mayat-mayat malang melintang berserakan. Setelah lawan terakhir roboh Ki Seng membuang pedang rampasannya, sejenak meneliti dengan pandang matanya yang menyapu di antara mayat-mayat itu. Setelah merasa yakin bahwa mereka semua, terutama pangeran itu, sudah tewas, Ki Seng lalu melompat meninggalkan tempat itu untuk mencari Sian Hwa Sian-li yang diharapkan juga telah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Seperti telah disepakati berdua, Sian Hwa Sian-li melakukan pengejaran terhadap Pangeran Cheng Hwa yang dikawal lima orang perajurit. Sebentar saja Sian Hwa Sian-li sudah dapat menyusul pangeran itu dan karena ia ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya, kalau mungkin mendahului Ki Seng, Sian Hwa Sian-li langsung saja meloloskan sabuk sutera ikat pinggangnya. Biasanya, ia mempergunakan sehelai sabuk sutera berwarna merah. akan tetapi sekali ini, untuk merahasiakan dirinya, ia memakai sabuk sutera berwarna hitam, sesuai dengan pakaiannya yang juga serba hitam. Ia juga tidak membawa senjatanya yang aneh, yaitu sebuah payung karena kalau hal ini dilakukannya, tentu orang akan dapat mudah mengenalnya.

Pangeran Cheng Hwa yang menjalankan kudanya di depan, terkejut bukan main ketika muncul seorang yang mengenakan pakaian serba hitam dan juga mukanya ditutupi topeng kain hitam. Hampir saja ia tadi melepaskan anak panah, karena ketika berkelebat, orang itu hanya tampak bayangan hitam saja yang dikiranya seekor binatang hutan. Ketika melihat bahwa bayangan itu ternyata seorang manusia bertopeng, tentu saja dirinya tidak jadi melepaskan anak panahnya.

"Siapa engkau dan apa maksudmu menghadang kami?" bentak Pangeran Cheng Hwa.

"Aku datang untuk membunuhmu" kata Sian Hwa Sian-li dengan suara yang di rendahkan agar terdengar seperti suara pria.

Mendengar ini, Pangeran Cheng Hwa yang ahli menunggang kuda dan sedikit banyak pernah belajar silat, cepat melompat ke belakang dan berjungkir balik sehingga dia berada di antara lima orang pengawalnya. Para pengawal itupun terkejut sekali mendengar ucapan orang bertopeng itu. Dengan marah mereka lalu berlompatan turun dari atas punggung kuda mereka, mencabut pedang dan serentak mereka maju mengeroyok orang bertopeng itu.

"Tar-tar-tar !" Sabuk sutera hitam itu meledak-ledak

ketika digerakkan oleh Sian Hwa Sian-li, menangkis pedang pedang yang menyerang dan mengepungnya. Gerakan wanita itu amat lincah dan cepat sehingga lima orang yang menyerangnya menjadi bingung. Orang bertopeng itu seolah telah menjadi banyak, berkelebatan ke sana—sini dan selalu tidak dapat tersentuh pedang mereka. Kalau tidak mengelak cepat, bayangan itu menangkis dengan sabuk sutera hitam dan setiap kali pedang mereka bertemu dengan ujung sabuk, tangan mereka tergetar hebat. Lima orang pengawal itupun bukan tandingan Sian Hwa Sian-li yang lihai. biarpun mereka mengeroyok dan mengepung dalam usaha mereka melindungi Pangeran Cheng Hwa, mengerahkan seluruh kemampuan mereka, namun setelah lewat belasan jurus, satu demi satu lima orang pengawal itu roboh terkena patukan ujung sabuk yang amat lihai itu, Setiap patukan merupakan totokan ke arah jalan darah kematian dan berturut-turut lima orang itu roboh dan tidak mampu bangkit kembali karena mereka telah tewas.

"Sekarang engkau mampus!" bentak Sian Hwa Sian-li sambil melompat ke dekat Pangeran Cheng Hwa dan sabuk sutera hitamnya menyambar ganas. Pangeran Cheng Hwa sudah mencabut pedangnya dan melihat sinar hitam menyambar ke arahnya, diapun menangkis dengan pedangnya.

"Wuuuttt.....tranggg !" Pedang terlepas dari tangan

Pangeran Cheng Hwa. Sian Hwa Sian-li mengulang serangannya. Ujung sabuk menyambar dan lecutan dahsyat dan mematikan ke arah ubun-ubun kepala pangeran itu.

"Ehh ??" Tiba-tiba Sian Hwa Sian li berseru kaget karena

sabuknya itu berhenti di udara. Ketika ia memutar tubuhnya, ternyata ujung sabuk itu telah ditangkap seorang laki-laki muda yang berpakaian sederhana seperti seorang petani, wajahnya yang tampan itu tersenyum dan dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar. Tubuhnya sedang nampak kokoh berisi, dan matanya mencorong memandang kepada orang yang mukanya tertutup topeng itu.

Pemuda itu bukan lain adalah Han Lin. Seperti kita ketahui, Han Lin bersama Siang Eng telah berhasil membunuh Ji Ok dan Sam Ok. Setelah itu Han Lin mengantar Sian Eng ke perguruan silat hek-tiauw Bu-koan di mana Sian Eng diterima dengan baik oleh toapek-nya (uwa tua) Lo Kang yang menjadi ketua Hek-Tiaw Bu-koan. Setelah melihat betapa gadis itu diterima oleh keluarganya, hati Han Lin merasa lega dan dia lalu meninggalkan keluarga Lo.

Selama ini dia tidak pernah meninggalkan kota raja. Dia mulai melakukan penyelidikan dengan hati-hati dan cermat. Dari para penduduk kota raja dia mendengar bahwa yang menjadi kaisar masih Kaisar Cheng Tung yang menurut keterangan ibunya adalah ayah kandungnya. Ayah kandungnya masih menjadi kaisar. Dan yang lebih membesarkan hatinya adalah keterangan yang di peroleh dari penduduk bahwa Kaisar Cheng Tung adalah seorang kaisar yang baik budi, dermawan dan memperhatikan nasib rakyat kecil. Sebetulnya di dasar hatinya sejak dulu telah timbul perasaan tidak senang kepada ayah kandungnya ini yang dianggapnya telah menyia-nyiakan ibunya sehingga ibunya yang isteri seorang kaisar itu hidup terlunta-lunta sengsara sampai akhirnya meninggal dunia dalam keadaan menyedihkan.

Semua itu adalah karena Kaisar Cheng Tung tidak pernah menjemput ibunya seakan akan tidak memperdulikannya.

Namun nama baik kaisar itu di mata rakyat sedikitnya menyenangkan dan membanggakan hatinya, sedikit mengurangi rasa tidak senangnya.

Diapun menyelidiki keadaan keluarga kaisar, mendengar bahwa di samping belasan orang puteri, kaisar memiliki enam orang putera. Pangeran pertama yang menjadi putera mahkota bernama Pangeran Cheng Hwa dan di antara lima pangeran yang lain terdapat seorang pangeran bernama Pangeran Cheng Lin. Mendengar pula bahwa pangeran yang satu ini baru beberapa pekan datang dan tinggal di istana, tahulah dia bahwa yang disebut Pangeran Cheng Lin itu tentu Coa Seng atau yang biasa dipanggil A Seng. Pemuda palsu dan jahat itu tentu telah memalsukan dirinya, menghadap kaisar Cheng Tung dan mengaku sebagai pangeran Cheng Lin sambil memperlihatkan Suling Pusaka Kemala sebagai bukti diri dan agaknya kaisar terpedaya dan menerimanya sebagai puteranya.

Han Lin merasa gemas, akan tetapi dia tidak berdaya! Apa yang dapat dia lakukan? menghadap kaisar dan mengatakan bahwa dialah Pangeran Cheng Lin yang aseli sedangkan Coa Seng adalah pangeran palsu? Apa buktinya? Satu-satunya benda yang dapat dijadikan bukti diri adalah suling Pusaka Kemala dan sekarang suling itu telah berada di tangan Coa Seng. Dia kalah bukti dan kalau dia nekat menghadap, tentu dia yang dituduh palsu dan akan ditangkap.

Han Lin bersabar diri dan diam-diam melanjutkan penyelidikannya. Diapun tidak mungkin menyerang A Seng yang telah menjadi Pangeran Cheng Lin itu. bukan itu saja, baik di dalam istana maupun di luar. Semua orang tentu akan membela A Seng sebagai pangeran dan dia akan ditentang seluruh penduduk dan semua bala tentara. Dia harus bersabar.

Dalam penyelidikannya, dia mengetahui bahwa A Seng sering sekali pergi berkunjung ke istana Pangeran Cheng Boan, adik Kaisar Cheng Tung. Akan tetapi dia tidak tahu apa hubungan A Seng dengan Pangeran Cheng Boan selain sebagai paman dan keponakan. Akan tetapi ada sesuatu yang menegangkan hatinya, ia melihat Suma Kiang dan Toa Ok berada di istana Pangeran Cheng Boan itu.

Biarpun hatinya terasa panas sekali melihat dua orang musuh besarnya itu, dua orang yang jahat sekali bahkan Suma Kiang adalah orang yang menjadi biang keladi kesengsaraan hidup ibunya, namun terpaksa dia menahan diri. Dua orang itu agaknya menjadi kaki tangan Pangeran Cheng Boan dan kedudukan mereka kuat dan terlindung. Dia tidak boleh gegabah, Apalagi agaknya A Seng yang sempat berkunjung ke istana itu tentu mempunyai hubungan baik dengan Suma Kiang dan Toa Ok. Kalau mereka bertiga bergabung, sungguh merupakan kekuatan yang amat sulit dilawan, amat tangguh dan berbahaya sekali.

Han Lin masih bingung apa yang harus dia lakukan terhadap A Seng. Juga dia tidak tahu bagaimana dia dapat membalas dendam kematian dan kesengsaraan ibunya kepada Toa Ok dan Suma Kiang. Akan tetapi dia tidak merasa putus asa dan masih selalu mencari kesempatan. Pada hari itu, seperti biasa dia berjalan-jalan dan melewati depan istana tanpa tujuan tertentu. Pada saat itulah dia melihat rombongan dua orang pangeran yang dikawal oleh dua puluh orang perajurit itu. Dia merasa tertarik sekali. Dia sudah mengenal bahwa pangeran yang lebih tua itu adalah putera mahkota, Pangeran Cheng Hwa. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan dua orang pangeran itu. Maka, diam-diam dia membayangi rombongan berkuda itu keluar dari pintu gerbang selatan. Dia terpaksa mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan berlari cepat untuk dapat mengimbangi larinya rombongan berkuda itu. Untung baginya bahwa rombongan itu tidak pergi jauh. Kalau jarak yang harus ditempuhnya terlampau jauh, tentu dia akan kehabisan tenaga dan napas, tenaganya tidak akan mampu mengimbangi tenaga larinya kuda yang memang sudah memiliki tenaga alamiah. Setelah tiba tepi hutan lebat itu, rombongan berhenti lalu rombongan berpencar menjadi dua rombongan. Karena dia lebih tertarik kepada Putera Mahkota Pangeran Chei Hwa yang di luaran dia dengar merupakan seorang pangeran yang paling bijaksana, maka dia memilih untuk membayangi pangeran yang hanya dikawal oleh lima orang perajurit itu.

Demikianlah, maka pada saat lima orang pengawal itu tewas di tangan orang bertopeng hitam dan keselamatan Pangeran Cheng Hwa terancam oleh sambaran sabuk sutera hitam yang amat lihai itu, Han Lin cepat turun tangan, melompat dekat dan berhasil menangkap ujung sabuk sutera hitam yang menyerang Pangeran Cheng Hwa. Sian Hwa Sian-li terkejut bukan main akan tetapi juga marah karena melihat kegagalannya, Han Lin hanya merupakan seorang petani muda.

"Engkau bosan hidup!" bentaknya. "Lekaskan sabukku!"

Ia lalu mengerahkan tenaga untuk menarik sabuknya agar terlepas dari pegangan pemuda tampan itu. akan tetapi tarikannya macet. Sabuk itu seperti telah melekat pada jari tangan pemuda itu yang memegangnya. Sian Hwa Sian-li penasaran dan ia mengerahkan seluruh tenaganya menarik. Tiba-liba Han Lin melepaskan pegangannya sehingga ujung sabuk itu menyambar balik dengan amat cepatnya, melecut ke arah muka Sian Hwa Sian-li sendiri. Akan tetapi wanita ini adalah seorang yang amat lihai. Biarpun ia terkejut setengah mati menghadapi serangan senjatanya sendiri itu, ia masih sempat mengangkat tinggi tangannya yang memegang sabuk sehingga ujung sabuk itu menyambar lewat di atas kepalanya dan ia terhindar dari bahaya lecutan sabuknya sendiri.

"Manusia kejam!" Han Lin menegur orang bertopeng itu.

Sian Hwa Sian-li termasuk orang yang terlalu mengagulkan kepandaian sendiri dan biasa memandang rendah orang lain. Biarpun dua gerakan Han Lin tadi, menangkap ujung sabuknya lalu menahan tarikannya, sudah menunjukkan kelihaian pemuda itu, namun Sian Hwa Sian-li masih belum menyadari. Ia marah karena usahanya membunuh Pangeran Cheng Hwa digagalkan pemuda ini. Ia melihat pangeran itu kini berdiri jauh di belakang pemuda yang membelanya, maka ia harus dapat membunuh pemuda ini dan sebelum dapat menyerang Pangeran Cheng Hwa.

"Jahanam, kubunuh engkau!" bentaknya dan ia menggerak-gerakkan kedua tangannya yang membentuk cakar kucing, digerak-gerakkan menyilang seperti se ekor kucing marah. Han Lin melihat betapa kedua lengan itu, dari kukunya sampai pergelangan tangan, berubah menghitam. Maklumlah dia bahwa wanita itu ahli tangan beracun. Dan memang benar demikian. Dalam kemarahannya Sian Hwa

Sian-li telah mengerahkan tenaganya dan mempersiapkan ilmu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) untuk membunuh pemuda yang menghalang-halangi usahanya membunuh pangeran itu.

"Haiiittt !" Kembali sabuk sutera hitam berkelebat

menyerang seperti seekor ular mematuk ke arah ubun-ubun kepala Han Lin. Pemuda ini dengan tenangnya mengelak sehingga serangan sabuk hitam itu luput. Akan tetapi, sabuk sutera hitam itu bergerak cepat membentuk gulungan sinar hitam yang terus nengejar Han Lin, serangan ujung sabuk diseling dengan serangan cakar kucing hitam. Serangan datang bertubi-tubi, akan tetapi Han Lin masih terus bersilat Ngo-heng Sin-kun dan mempergunakan keringanan tubuhnya untuk melejit kesana-sini, bagaikan telah berubah menjadi bayangan sehingga tak pernah tersentuh kabuk maupun kedua cakar hitam.

Setelah lewat dua puluh jurus, Han Lin dapat mengukur kepandaian penyerangnya dan diam-diam merasa heran. Melihat gerakan tubuh orang bertopeng Itu, dia dapat menduga bahwa lawannya tentu seorang wanita! Gerakannya demikian lentur dan menggeliat gemulai, juga dia dapat mencium bau harum minyak wangi yang biasa dipakai kaum wanita, Dia merasa heran mengapa ada seorang wanita memakai topeng hendak membunuh Putera Mahkota. Timbul niatnya untuk menangkap wanita itu hidup-hidup agar dapat dikenal siapa orangnya dan mengapa hendak membunuh Pangeran Cheng Hwa. Ketika dia mendapat kesempatan, sedikit saja pertahanan lawan itu terbuka, secepat kilat jari tangan kiri Han Lin meluncur dalam totokan It-yang-ci.

"Tukk !" Sian Hwa Sian-li mengeluh pelan, ia mencoba

untuk menggulingkan tubuhnya ke atas tanah, akan tetapi pengaruh totokan yang mengenai pundaknya Itu membuat tubuhnya lemas dan iapun terkulai, tak berdaya karena tidak mampu bergerak lagi.

Pada saat itu, Ouw Ki Seng sudah tiba di situ. Dia melihat dengan jelas ketika Sian Hwa Sian-li roboh oleh seorang pemuda dan ketika dia memandang penuh perhatian, dia terkejut setengah mati mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Han Lin.

Celaka, pikirnya. Dia harus cepat melarikan Sian Hwa Sian-li karena kalau wanita itu tertangkap, rahasianya akan terancam. Persekutuannya dengan Pangeran Cheng Boan akan terbuka. Cepat ia menerjang maju, mngerahkan seluruh tenaganya menyerang Han Lin dengan pukulan yang mengandung tenaga sin-kang. Dia tidak berusaha menggunakan It-yang-ci karena pukulan ini tentu dikenal oleh Han Lin dan dan membuka rahasia penyamarannya.

"Wuuuuuttt !" Angin pukulan yang amat dahsyat

mengejutkan Han Lin. Maklumlah dia bahwa dia diserang oleh orang yang memiliki tenaga sin-kang amat kuat. Maka cepat dia melompat ke belakang, menghindarkan diri. Kesempatan itu dipergunakan Ki Seng untuk menyambar tubuh Sian Hwa Sian-li dan sekali melompat, dia sudah lenyap di antara pohon-pohon dan semak-semak belukar. Han Lin tidak mengejar karena dia teringat bahwa Pangeran Cheng Hwa

berada seorang diri di situ dan kalau dia meninggalkannya, hal itu amat berbahaya bagi keselamatan pangeran itu. Dia lalu memutar tubuhnya menghadapi sang pangeran, lalu memberi hormat dan bertanya.

"Paduka tidak apa-apa, pangeran?"

Pangeran Cheng Hwa sejak tadi menonton pemuda yang membelanya dan dia merasa bersukur dan kagum sekali. Dia tahu bahwa tanpa adanya pertolongan dari pemuda sederhana itu, tentu dia sekarang telah tewas.

"Engkau mengenal aku, sobat? Siapakah engkau?" "Paduka adalah Pangeran Cheng Hwa, putera mahkota.

Semua orang mengenal paduka. Saya bernama Han Lin, pangeran."

"Han Lin, engkau telah menyelamatkan nyawaku. Jasa dan budimu ini tidak akan kulupakan. Ahh kita harus cepat

mencari adikku, Pangeran Cheng Siu. Mari kita mencarinya. Engkau boleh menunggang seekor dari kuda para pengawalku yang tewas itu!"

Pangeran Cheng Hwa lalu menghampiri kudanya yang masih berada di situ dm menunggangi kuda itu. Han Lin juga melompat ke atas punggung seekor di antara kuda-kuda para pengawal, dan mereka berdua lalu menjalankan kuda masuk ke bagian kiri hutan itu di mana tadi Pangeran Cheng Siu berburu dikawal oleh lima belas orang perajurit.

Ketika akhirnya mereka menemukan Pangeran Cheng Siu, Pangeran Cheng Hwa terbelalak pucat melihat adiknya terkapar tanpa nyawa, dan lima belas orang perajurit yang mengawalnya juga telah tewas semua!

"Celaka!" serunya sambil berlutut dekat jenazah adiknya. "Siapa yang berani melakukan ini? Membunuh adikku dan mencoba untuk membunuhku pula?"

"Penjahat-penjahat itu ada dua orang mungkin lebih, pangeran. Yang mencoba membunuh paduka tadi memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi orang kedua yang tadi melarikannya memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Saya kira dia yang telah melakukan semua pembunuhan ini, kemudian dia datang menolong kawannya yang tadi menyerang paduka. Sayang mereka keburu melarikan diri dan tidak dapat saya tangkap."

"Engkau telah berhasil menyelamatkanku, jasa itu saja sudah cukup besar, Han Lin. Sekarang bantulah untuk mengangkat dan membawa pulang jenazah adikku Pangeran Cheng Siu ke istana. Biar nanti kukirim pasukan untuk mengurus semua jenazah para perajurit pengawal.

Han Lin segera mengangkat dan memondong jenazah Pangeran Cheng Siu dan membawanya naik ke atas punggung kuda. Dia menunggang kuda sambil memangku jenazah itu dan mengiringkan pangeran Cheng Hwa yang menunggang kuda di depan keluar dari hutan itu menuju ke kota raja. Di sepanjang jalan Han Lin bersikap waspada, khawatir kalau- kalau ada orang yang akan menyerang Pangeran Cheng Hwa. Ternyata tidak terjadi serangan dan mereka tiba dikota raja dengan selamat.

Istana menjadi gempar ketika orang-orang mengetahui bahwa Pangeran Cheng Siu telah dibunuh penjahat bertopeng ketika dia sedang berburu binatang hutan. Tentu saja Kaisar sekeluarganya berkabung dan Kaisar menjadi marah.

Diperintahkannya kepada panglima pasukan keamanan kota raja untuk mencari para pembunuh itu.

Pangeran Cheng Hwa membawa Han Lin menghadap kaisar.

"Mari kuperkenalkan engkau kepada Ayahanda Kaisar" kata pangeran itu. "Beliau perlu mengetahui bahwa engkaulah yang telah menyelamatkan aku dari ancaman baha maut di tangan penjahat."

"Akan tetapi saya hanya melakukan apa yang menjadi kewajiban setiap warga negara, pangeran, Apa yang saya lakukan itu sudah semestinya dan tidak perlu di besar- besarkan." kata Han Lin merendah, dan jantungnya berdebar tegang ketika mendengar ajakan Pangeran Cheng Hwa yang hendak menghadapkan dia kepada kaisar. Dia akan dipertemukan dengan ayah kandungnya.

"Jasamu tidak dapat dilupakan begitu saja, Han Lin. Aku akan minta kepada Ayahanda Kaisar agar engkau diberi kedudukan sebagai pengawal istana. Mari kita menghadapi beliau."

Han Lin tidak dapat membantah lagi. Dan memang sebetulnya diapun ingin sekali menghadap dan bertemu muka dengan orang yang menjadi ayah kandungnya. Pangeran Cheng Hwa membawanya masuk ke ruangan dalam istana dan setelah mendapat keterangan dari para thai-kam pengawal bahwa Kaisar sedang berada di dalam ruangan pustaka, menyendiri untuk menghibur diri atas kedukaan yang menimpa keluarganya, yaitu kematian Pangeran Cheng Siu.

Dua orang thaikam pengawal yang berada di pintu ruangan pustaka itu segera melapor ke dalam ketika melihat bahwa yang datang bersama seorang pemuda asing adalah Putera Mahkota. Kaisar Cheng Tung juga menyuruh pengawal itu mempersilakan puteranya masuk.

Pangeran Cheng Hwa dan Han Lin memasuki ruangan itu dan mereka berdua segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaisar yang sedang duduk seorang diri menghadapi meja dan membaca kitab suci. Agaknya untuk menghibur hatinya yang sedang susah itu kaisar menghiburan kepada ayat-ayat dalam kitab suci. Dia mengalihkan pandangannya dari kitab yang dipegangnya ketika puteranya menghadap dan ketika melihat Han Lin Kaisar Cheng Tung memandang dengan penuh perhatian dan dalam hatinya ia merasa heran karena dia merasa seperti pernah mengenal pemuda berpakaian seperti pemuda petani itu.

"Cheng Hwa, siapakah pemuda ini?" tanya kaisar kepada puteranya.

"Ayahanda, inilah pemuda yang telah menyelamatkan nyawa ananda dari ancaman maut di tangan para penjahat." kata Pangeran Cheng Hwa.

"Cheng Hwa, sebetulnya apakah yang telah terjadi sehingga adikmu Cheng Siu mengalami bencana dan tewas? Tadi kami belum sempat mendengar sejelasnya. Ceritakanlah." kata kaisar dengan suara yang dalam, mengandung kedukaan.

"Ananda berdua adik Cheng Siu mengadakan perburuan di hutan selatan dikawal oleh dua puluh orang perajurit. setelah tiba di hutan, adik Cheng Siu mengajak ananda untuk berpencar dan berlumba siapa yang akan mendapatkan buruan terbanyak. Ananda lalu menyuruh lima belas orang perajurit mengawalnya dan yang lima orang mengawal ananda, ketika ananda dan lima orang pengawal tiba di tengah hutan, tiba-tiba ada seorang yang mengenakan pakaian serba hitam dan mukanya tertutup topeng hitam menyerang ananda. Dia bersenjata aneh, yaitu sehelai sabuk hitam. Lima orang pengawal ananda mengeroyoknya, akan tetapi mereka semua roboh dan tewas!. Ketika orang itu hendak membunuh ananda, tiba-tiba muncul penolong ini. dia yang melawan dan merobohkan penyerang ananda, akan tetapi sebelum dapat menangkapnya, ada seorang bertopeng lain yang datang lalu membawa lari orang bertopeng pertama. Ananda lalu mengajak penolong ini untuk mencari adik Cheng Siu dan ananda menemukan adik Cheng Siu bersama lima belas orang pengawalnya telah tewas di bagian lain dalam hutan itu. Demikianlah, ayahanda, kalau tidak ada pemuda ini, ananda tentu sudah menjadi korban pembunuh seperti adik Cheng Siu."

Kaisar Cheng Tung memandang kepada Han Lin yang menundukkan mukanya. Keharuan menyelinap di hati pemuda ini. Dia telah berhadapan dengan ayah kandungnya. Akan tetapi, kemegahan dan kebesaran di ruangan itu menambah kewibawaan yang amat kuat dari pria yang duduk di depannya sehingga dia menundukkan muka, tidak berani memandang wajah yang tadi hanya dilihatnya sepintas lalu saja.

"Orang muda, siapa namamu?" terdengar kaisar bertanya, suaranya ramah dan lembut. "Nama hamba Han Lin, Yang Mulia" kata Han Lin, tetap menunduk. Kaisar Cheng Tung mengerutkan alisnya. Nama inipun terasa tidak asing baginya.

"Han Lin, coba angkat mukamu dan pandanglah kami!"

Han Lin mengangkat mukanya dan memandang. Dua pasang mata bertemu pandang. Bermacam perasaan mengaduk hati pemuda itu. Ada rasa bangga dan haru melihat wajah kaisar yang masih tampan dan berwibawa itu, akan tetapi juga ada rasa sakit mengingat betapa pria ini menyia- nyiakan ibu kandungnya. Kaisar Cheng Tung juga merasakan betapa sepasang mata pemuda itu mencorong dan seolah dapat menjenguk isi hatinya.

"Han Lin, engkau telah berjasa besar menyelamatkan Pangeran Mahkota. Katakan, apa yang kau minta sebagai imbalan."

Han Lin kembali menundukkan mukanya "Ampunkan hamba, Yang Mulia. hamba menganggap bahwa perbuatan hamba itu merupakan kewajiban, karena itu hamba tidak mengharapkan imbalan apapun."

"Ayahanda, kalau paduka setuju, ananda mengusulkan agar Han Lin ini diberi kedudukan sebagai pengawal istana. Dengan ilmu silatnya yang tinggi tentu dia akan dapat memperkuat penjagaan di istana sehingga keselamatan keluarga kerajaan lebih terjamin."

Kaisar Cheng Tung mengangguk-angguk "Kami setuju sekali. Perintahkan saja kepada komandan pasukan pengawal istana bahwa Han Lin mulai sekarang kami angkat sebagai pengawal dalam istana yang tugasnya menjaga keselamatan keluarga kerajaan."

"Han Lin, mulai sekarang engkau menjadi pengawal keluarga kami " kata Pangeran Cheng Hwa dengan girang. Sebetulnya Han Lin tidak ingin bekerja sebagai pengawal, akan tetapi karena pada saat itu tidak mungkin baginya mengaku sebagai Pangeran Cheng Lin, maka dia pun akan mendapatkan kebebasan untuk menyelidiki keadaan istana kalau menjadi pengawal dalam istana, maka diapun tidak menolak. Dia segera memberi hormat sambil berlutut kepada kaisar.

"Hamba menghaturkan terima kasih atas anugerah paduka yang diberikan kepada hamba." katanya.

Kaisar memberi isarat kepada Cheng Hwa untuk mengundurkan diri. Pangeran itu lalu mengajak Han Lin mengundurkan diri setelah memberi hormat kepada Kaisar. Mereka keluar dari ruangan pustaka itu dan Pangeran Cheng Hwa mengantar Han Lin ke bangunan yang menjadi tempt tinggal para pangeran.

"Mari kuperkenalkan engkau kepada adik-adikku dan para anggauta keluarga kerajaan yang perlu mendapatkan perlindunganmu."

Ketika mereka memasuki bangunan tempat tinggal para pangeran, hati Han lin berdebar. Dia akan bertemu dengan A Seng! Akan tetapi yang menyambut mereka hanyalah tiga orang pangeran saja, yaitu Pangeran Cheng Ki yang menjadi pangeran ke dua berusia dua puluh empat tahun, pangeran ke tiga bernama Cheng Tek yang berusia dua puluh tiga tahun dan Pangeran Cheng Bhok berusia Dua puluh tahun sebagai pangeran ke empat. Setelah mendengar ucapan tentang Han Lin yang sudah menyelamatkan putera Mahkota, tiga orang pangeran itu memuji dan merasa senang kini mempunyai tambahan seorang pengawal yang berkepandaian silat tinggi.

"Di mana Pangeran Cheng Lin? Kenapa dia tidak berada di sini?" tanya Pangeran Cheng Hwa dan mendengar ini, diam- diam Han Lin merasa jantungnya berdebar tegang.

Pangeran Ki Seng menjawab, "Hmmnn Cheng Lin begitu mendengar tentang terbunuhnya adik Cheng Siu segera memimpin sepasukan perajurit untuk mencari pembunuhnya." "Hemm, dia mencari penyakit- Pembunuh-pembunuh itu berkepandaian tinggi sekali, bagaimana mungkin dia mampu menandingi mereka? Kenapa tidak menyerahkan saja pengejaran dan pencarian itu kepada para panglima dan komandan pasukan?" Pangeran Cheng Hwa berkata sambil mengerutkan alisnya. Diam-diam Han Lin mencatat dalam hatinya bahwa para pangeran ini agaknya belum mengetahui bahwa Ouw Ki Seng yang menjadi pangeran palsu itu memiliki kepandaian silat yang amat tinggi.

Karena Han Lin menyatakan bahwa dia tidak suka mengenakan pakaian seragam perajurit pengawal, Pangeran Cheng Hwa lalu memberinya beberapa stel pakaian biasa yang tentu saja bagi Han Lin yang biasanya memakai pakaian amat sederhana seperti pakaian petani itu. pakaian pemberian pangeran itu amat mewah dan indah, terbuat dari sutera halus. Sebagai seorang pengawal dalam istana yang bertugas menjaga keselamatan keuarga kerajaan, Han Lin juga mendapatkan sebuah kamar di bangunan para komandan dan thaikam pengawal yang jauh letaknya dari bangunan tempat tinggal para pangeran. Diam-diam Han merasa senang karena sini dia mendapat kesempatan dengan leluasa sebagai pengawal melakukan penyelidikan terutama sekali terhadap Pangeran Cheng Lin palsu alias Ouw Ki Seng atau A Seng.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Ouw Ki Seng ketika dia melihat Sian Hwa Sian-li dirobohkan oleh Han Lin dan tidak berhasil membunuh Pangeran Cheng Hwa. Khawatir kalau-kalau Sian Hwa Sian-li tertangkap sehingga semua rahasia persekutuan itu akan terbongkar, dia lalu cepat melarikan Sian Hwa Sian-li keluar dari dalam hutan. setelah membuang pakaian hitam dan topeng. dengan pakaian biasa dia memasuki kota raja secara terpisah dengan Sian Hwa Sian-li. Sebagai seorang ahli ilmu totok It-yang-ci, dengan mudah Ouw Ki Seng dapat membebaskan totokan yang dilakukan Han Lin terhadap tubuh Sian Hwa Sian-li. Pangeran Cheng Boan segera mengadakan rapat dengan kaki tangannya ketika melihat datangnya Ki Seng dan Sian Hwa Sian-li. Dia sudah mendengar dari istana tadi bahwa Pangeran Cheng siu telah tewas terbunuh penjahat, akan tetapi mendengar pula betapa Pangeran Cheng Hwa selamat dan tertolong oleh seorang dari ancaman maut.

Pangeran Cheng Boan duduk di atas kursi di kepala meja dengan alis berkerut. Ouw Ki Seng, Sian Hwa Sian li, Suma Kiang dan Toa Ok duduk di depannya, terhalang meja.

"Benarkah apa yang kami dengar di depan Kaisar tadi?

Pangeran Cheng Siu tewas akan tetapi Pangeran Cheng Hwa lolos? Pangeran Cheng Lin, apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau telah gagal membunuhnya?" tanya Pangeran Cheng Boan dengan penasaran kepada Ki Seng. "Apakah yang telah terjadi?"

"Harap Paman Pangeran dapat memaklumi. Beginilah terjadinya peristiwa ini. Saya dan Sian Hwa Sian-li telah mendekati di hutan ketika rombongan dua orang pangeran yang dikawal dua puluh orang perajurit itu tiba di hutan. Akan tetapi mereka lalu berpencar, terpecah menjadi dua rombongan. Pangeran Cheng Siu dikawal oleh lima belas orang perajurit dan Pangeran Cheng Hwa dikawal oleh lima orang perajurit. Saya lalu minta kepada Sian Hwa Sian-li untuk mengikuti dan membereskan Pangeran Cheng Hwa dan lima orang pengawalnya. Sedang saya sendiri membayangi Pangeran Cheng Siu dengan lima belas orang pegawalnya.

Saya berhasil membunuh Pangeran Cheng Siu berikut lima belas orang pengawalnya. Ketika saya pergi mencari Sian Hwa Sian-li, saya mendapatkan ia telah membunuh lima orang pengawal Pangeran Cheng Hwa, akan tetapi ia tidak berhasil membunuh Pangeran Cheng Hwa karena ada seseorang yang menolongnya."

Pangeran Cheng Boan mengerutkan alisnya. "Celaka!

Justeru Pangeran Cheng Hwa yang merupakan orang terpenting yang harus disingkirkan lebih dulu! Apakah engkau tidak mampu mengalahkan orang yang membela Pangeran Cheng Hwa itu, Sian-li?"

Sian Hwa Sian-li menghela napas panjang dan berkata, "Maaf, Pangeran, Orang itu memiliki ilmu silat yang tinggi sekali dan terus terang saja saya tidak mampu menandinginya."

"Ah, sialan!" Pangeran Cheng Bon memukulkan telapak tangan kanannya ke atas pahanya dengan kecewa.

"Paman Pangeran, kita tidak dapat menyalahkan Sian Hwa Sian-li. Orang yang menolong Pangeran Cheng Hwa memang lihai sekali dan tahukah paman siapa dia? Dia itu bukan iain adalah saudara seperguruanku sendiri, yaitu Han Lin yang pernah saya ceritakan kepada paman."

Pangeran Cheng Boan terbelalak. "Apa katamu? Han Lin.....

kau maksudkan.... Pangeran Cheng Lin yang aseli ?"

Ki Seng menghela napas dan mengangguk. "Benar, dialah yang tahu-tahu muncul di sana. Sebetulnya saya tidak takut menandinginya, akan tetapi melihat sian-li sudah roboh tertotok, saya khawatir kalau sampai terbuka topeng Sian-li sehingga rahasia kita dapat bocor. Karena itu, terpaksa saya hanya melarikan sian-Ii dari hutan itu."

"Hemm, dia sudah muncul. " Pangeran Cheng Boan

bangkit dari kursinya dan berjalan hilir mudik di ruangan itu, tampaknya bingung dan gelisah. "Dia merupakan bahaya besar bagi kita !"

"Harap Paman Pangeran tidak usah khawatir. Saya sudah diterima oleh Ayahanda Kaisar sebagai puteranya dan selama saya diterima sebagai Pangeran Cheng Lin di istana, apa yang akan dapat dilakukan oleh Han Lin? Dia tidak mempunyai bukti diri lain kecuali Suling Pusaka Kemala yang sudah di tangan saya." Mendengar ini, hati Pangeran Cheng Boan menjadi agak tenang kembali dan dia lalu duduk di kursinya. "Akan tetapi aku mendengar bahwa orang yang telah menyelamatkan Pangeran Cheng Hwa itu kini diterima sebagai pengawal di istana. Hal ini berbahaya sekali dan sebelum kita bergerak lebih jauh, Han Lin itu harus dapat kita singkirkan. Sungguh sial sekali. Baru saja puteraku tewas dan kini dibuat pusing oleh gadis Suma Eng itu, sekarang muncul lagi Pangeran Cheng Lin yang aseli!"

"Bukan Suma Eng, Yang Mulia, melainkan Lo Sian Eng." kata Suma Kiang.

"Tidak perduli siapa namanya, yang jelas ia merupakan musuh dan ancaman bagi kita. Kita harus dapat menyingkirkan gadis itu dan Han Lin terlebih dahulu, baru rencana kita akan dapat berjalan lancar."

"Harap paduka tenang, Yang Mulia." kata Toa Ok yang bersikap tenang. "Dua orang itu memang harus dibunuh dan kita sudah mengetahui di mana adanya mereka, Lo Sian Eng itu tentu berada di rumah perguruan Hek-tiauw Bu-koan. Ia membela nona Lo Siang Kui dan ia mengaku bermarga Lo, berarti ia masih sanak keluarga Lo dan di mana lagi ia berada kalau bukan di rumah keluarga Lo Kang? Paduka kirim pasukan dan saya sendiri yang akan membantu pasukan menyerang Hek-tiauw Bu-koan dengan tuduhan Lo Sian Eng yang telah melakukan pembunuhan atas diri Cheng Kongcu. bersama saudara Suma Kiang, kami berlima tentu akan mampu mengalahkan dan membunuh Lo Sian Eng."

"Ucapan Toa Ok itu benar sekali, Pangeran Cheng Boan.

Biarlah nona Lo Sian Eng dibereskan oleh Paman Suma Kiang dan Toa Ok. Adapun mengenai diri Han Lin, biarlah saya akan membereskannya. saya sudah mempunyai rencana yang baik untuk menjatuhkannya. Harap Paman Pangeran jangan khawatir!" Pertemuan itu selesai dan Ki Seng kembali ke istana. Dia segera menghubungi para komandan pasukan pengawal dan para thaikam pengawal, mengumpulkan mereka di sebuah ruangan tertutup.

"Aku mengumpulkan kalian untuk menanyakan pendapat kalian tentang pemuda bernama Han Lin yang katanya telah menyelamatkan Pangeran Mahkota kakanda Cheng Hwa.

Kalau menurut pendapat kalian, bagaimana dengan orang itu?"

"Kenapa dengan dia, Pangeran Cheng Lin? Dia adalah seorang pemuda sederhana dan menurut keterangan Pangeran Cheng Hwa, dia memiliki ilmu silat yang tinggi. Karena itu sekarang dia diangkat menjadi seorang pengawal pribadi keluarga kerajaan." kata komandan pasukan pengawal istana, yaitu Lai-ciangkun (panglima Lai).

Ki Seng menggelengkan kepala dan mengerutkan alisnya. "Memang itulah tujuannya, agar dia dipercaya. Menurut hasil penyelidikanku di hutan tempat terjadinya pembunuhan, ada tanda-tanda bahwa penyerang dan pembunuh Pangeran Cheng Siu bukan hanya dua orang, melainkan sedikitnya tiga orang. Agar tidak ada saksi mata, maka semua pengawal yang berjumlah dua puluh orang itu dibunuh. Kukira pemuda itu merupakan seorang di antara para pembunuh itu!"

"Eh, bagaimana paduka dapat berpendapat demikian, pangeran? Bukankah dia yang menyelamatkan Pangeran Cheng Hwa dari tangan pembunuh?"

"Hemm, kurasa itu hanya sandiwara dia. Mungkin pembunuhnya terdiri dari tiga orang. Setelah berhasil membunuh pangeran Cheng Siu, seorang di antara pereka menyerang dan membunuh lima orang pengawal Pangeran Cheng Hwa lalu berpura-pura hendak membunuh Pangeran Mahkota. Lalu muncullah Han Lin itu menggagalkan usaha pembunuhan dan mengalahkan si pembunuh. Akan tetapi muncul orang ke tiga yang melarikan pembunuh pertama. Semua itu telah diatur dengan baiknya sehingga kalian juga percaya bahwa pemuda Han Lin itu adalah penyelamat Pangeran Cheng Hwa."

"Akan tetapi, bagaimana paduka bisa berpendapat seperti itu? Apa buktinya?" tanya Lai-ciangkun ragu.

"Bukti nyata memang belum ada, hal itu masih akan kucari.

Akan tetapi melihat keadaannya, kita dapat mengambil kesimpulan dan patut mencurigainya."

"Keadaan yang bagaimana, Pangeran"

"Pertama, bagaimana seorang pemuda petani dapat berkeliaran dalam hutan terlindung dan terlarang itu, seorang diri pula? Hal ini tentu saja amat aneh dan mencurigakan, apalagi kemunculannya begitu tepat pada saat Pangeran Cheng Hwa terancam bahaya dan semua pengawalnya telah tewas. Dan kedua, kalau memang benar dia berkepandaian tinggi, kenapa dia membiarkan dua orang pembunuh itu lolos dan melarikan diri? dia mestinya dia menangkap seorang di antara mereka agar dapat diketahui siapa pembunuh itu dan ditanya mengapa mereka melakukan pembunuhan. Nah, kecurigaanku ini beralasan kuat, bukan?"

Para perwira dan thaikam yang jumlahnya tujuh orang itu mengerutkan alis mereka dan mulailah mereka terpengaruh. Hal ini dapat dengan mudah terjadi karena memang sebelumnya ada perasaan iri dalam hati mereka terhadap Han Lin yang diangkat menjadi pengawal pribadi keluarga kaisar.

"Akan tetapi, pangeran. Andaikata benar dia seorang di antara pembunuh, lalu apa maksudnya berpura-pura menolong Pangeran Cheng Hwa dari ancaman maut?"

"Ah, mengapa kalian masih bertanya lagi? Hal itu mudah saja kita duga. Dia sengaja menanam budi itu agar dapat dibawa masuk ke istana dan dipercaya sebagai penyelamat pangera mahkota, dan ternyata usahanya itu berhasil dengan baik!" "Akan tetapi apa maksudnya?"

"Jelas dia bermaksud buruk. Melihat betapa Pangeran Cheng Siu sudah mereka bunuh, tentu pemuda Han Lin itu bermaksud agar dia dapat masuk istana dan menjadi leluasa untuk bergerak. Mungkin dia bermaksud membunuhi semua pangeran. Kalau dia sudah tinggal di sini, hal itu tentu akan lebih mudah dia lakukan, apalagi mengingat bahwa dia memiliki ilmu silat yang tinggi."

Para kepala pengawal itu terbelalak dan wajah mereka menjadi pucat. Mereka saling pandang dengan kaget dan khawatir.

"Pangeran, semua yang paduka katakan itu memang masuk akal dan mungkin saja benar. Akan tetapi, tanpa bukti mana mungkin kita dapat bertindak? Apa buktinya bahwa Han Lin itu sebenarnya seorang di antara para pembunuh yang sengaja menyusup ke istana dengan niat jahat?"

"Tenang dan sabarlah. Aku mengumpulkan kalian di sini justeru untuk membicarakan hal itu. Setelah kalian tahu bahwa Han Lin itu patut dicurigai, kalian dapat bersiap-siap. Ingat, dia seorang yang lihai sekali. Aku sendiri yang akan menyelidikinya. Kalian harus selalu siap dan diam-diam melakukan perondaan dan penjagaan ketat. Kalau kalian melihat dia menyerang seorang di antara para pangeran, terutama aku, kalian harus cepat cepat turun tangan menangkapnya. aku mempunyai dugaan bahwa dia menyusuo ke dalam istana untuk membunuhku dan para pangeran lainnya. Mengertikah kalian?"

"Kami mengerti, pangeran."

"Malam ini aku akan menyelidikinya, kalian agar siap dan membantuku kalau sampai aku diserang olehnya."

Semua kepala pengawal itu menyatakan siap dan pertemuan itu dibubarkan. Han Lin merasa penasaran sekali, sejak pagi dia berada di istana, akan tetapi orang yang dicarinya tidak pernah muncul. Ingin sekali dia bertemu dengan Ki Seng atau A Seng yang telah menipu Suling Pusaka Kemala miliknya dan ia tahu bahwa kini A Seng telah mempergunakan pusaka itu untuk mengaku dirinya sebagai Pangeran Cheng Lin dan bahkan telah diterima dan diakui oleh Kaisar sebagai puteranya.

Akan tetapi yang berada di bangunan untuk tempat tinggal para pangeran itu hanya ada empat orang pangeran, yaitu Pangeran Cheng Hwa, Cheng Ki, Cheng Tek dan Cheng Bhok. Jenazah Pangeran Cheng Siu sudah berada dalam peti mati yang ditaruh di ruangan berkabung. Pangeran Cheng Lin atau A Seng tidak pernah tampak batang hidungnya. Dia sudah bertanya kepada Pangeran Cheng Hwa tentang orang yang dicarinya itu.

"Pangeran, hamba mendengar kalau di antara para pangeran yang sudah hamba temui, terdapat seorang pangeran yang bernama Pangeran Cheng Lin. Akan tetapi hamba tidak pernah melihat bertemu."

"Ah, Pangeran Cheng Lin? Sejak pagi tadi, setelah mendengar tentang pembunuhan dalam hutan, dia lalu memimpin sepasukan pengawal untuk menyelidiki hutan dan mencari para pembunuh itu."

Han Lin mengangguk-angguk dan dalam hatinya dia tidak merasa heran kalau Pangeran Cheng Lin palsu itu berusaha mencari pembunuh Pangeran Cheng lin karena A Seng itu memiliki ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi pada sore hari itu dia mendengar bahwa Pangeran Cheng Lin palsu itu telah pulang ke istana. Tentu saja dia merasa tidak enak kalau harus mencarinya di bangunan tempat tinggal para pangeran. Bagaimanapun juga, A Seng kini oleh seluruh penghuni istana telah diterima sebagai Pangeran Cheng Lin. Hanya dia seorang yang tahu dan kepalsuannya dan tidak mungkin dirinya untuk mengatakan di depan kaisar dan para pangeran bahwa Pangeran Cheng Lin itu palsu. Dia tidak mempunyai bukti untuk membongkar kepalsuannya. Satu-satunya jalan baginya hanyalah kalau dia dapat bertemu berdua saja dengan A Seng.

Malam itu Han Lin sudah bersiap-«ip untuk menyelidiki A Seng. Dia belum tahu bahwa orang yang dulu mengaku bernama Coa Seng atau panggilannya A Seng itu sebetulnya mempunyai nama lengkap Ouw Ki Seng. Dia bersembunyi bayangan yang gelap dekat bangunan tempat tinggal pafa pangeran dan menanti. Penantiannya tidak sia-sia karena tiba- tiba dia melihat orang yang ditunggu-tunggunya itu, A Seng, keluar dari pintu samping bangunan bersama tiga orang pangeran, yaitu Pangeran Cheng Ki, Cheng Tek, dan Cheng Bhok. ia melihat A Seng berpakaian mewah seperti seorang pangeran sehingga dia tampak gagah sekali. Akan tetapi Han Lin masih mengenalnya. Jantungnya berdebar keras dan juga terasa panas mengingat bahwa orang itu telah memalsukan dirinya. Akan tetapi karena A Seng keluar bersama tiga orang pangeran yang lain, dia tidak berani berbuat apa-apa dan hanya mengintai.

-00d00w00-