-->

Si Walet Hitam (Ouw-yan-cu) Jilid 10

Jilid 10

Ketika mereka melihat, ternyata bahwa yang mengamuk itu adalah seorang pemuda yang tampan, bertubuh tegap dan berpakaian petani. Ilmu silatnya benar-benar lihai sekali dan dengan kedua tangannya ia menangkap-nangkapi lawan dan melempar-lemparkan ke kanan kiri seperti melempar ayam saja!

“Yap Bun Gai!” teriak Mei Ling dan Kong Liang hampir berbareng.

Mendengar namanya disebut orang, Bun Gai berpaling dan mukanya tiba-tiba berubah merah dan kedua matanya bersinar dan berseri ketika ia melihat Mei Ling.

“Song-siocia!” katanya perlahan.

Karena girangnya, Mei Ling tanpa disadarinya lalu berlari menuju ke dekat pemuda itu dan segera membantunya melawan musuh! Kong Liang tersenyum dan bersama Lo Sin dan Lee Ing ia juga segera menyerbu musuh hingga sebentar saja pihak lawan menjadi kacau balau karena datangnya bantuan yang hebat dan lihai di pihak lawan ini!

Setengah hari pertempuran berlangsung dan akhirnya tentara Turki dapat dihancurkan dan dipukul mundur. Jingar Khan melarikan diri beserta sisa anak buahnya, meninggalkan banyak sekali tentara yang tewas.

Dengan gembira dan terharu semua orang mengerumuni Can Kok In, perwira raksasa yang dalam amukannya telah terkena anak panah yang menyambar tepat pada ulu hatinya! Raksasa ini rebah tak berdaya akan tetapi biarpun ia belum tewas, tak sepatahpun keluar keluhan dari mulutnya. Ketika ia melihat Lo Sin berlutut di dekatnya, ia memandang dan tersenyum dengan bibirnya yang mengalirkan darah.

“Ouw-yan-cu…… sayang…… kita belum mengukur tenaga……” kemudian tewaslah perwira yang gagah berani ini, meninggalkan kesan yang mendalam dan mengharukan di hati Lo Sin.

Kwee-ciangkun menghaturkan terima kasih dengan kata-kata yang mengharukan kepada semua eng- hiong yang telah membantu pemerintah untuk mengusir para pengacau dan semua orang gagah itu lalu pulang ke tempat masing-masing.

Lo Sin, Lee Ing, Kong Liang, Mei Ling dan Bun Gai berdiri di luar kampung Lok-sin-chung. Lo Sin berkata kepada mereka.

“Kalau tidak salah, tak lama lagi kita harus naik ke Hoa-mo-san untuk menghadapi Bong Cu dan kawan-kawannya yang jahat! Kita harus bersiap sedia.”

Tiba-tiba Mei Ling menjadi pucat dan Kong Liang juga kelihatan tidak enak sekali. Sedangkan Yap Bun Gai yang mendengar ini, buru-buru berkata dengan muka merah. “Maaf, maaf, terpaksa siauwte yang rendah harus pulang lebih dulu. Song-siocia, terima kasih atas pertolonganmu dulu itu. Takkan terlupa olehku!” Pemuda ini lalu menjura dan membalikkan tubuh terus lari dengan cepat.

Mei Ling melangkah maju dengan kedua tangan digerakkan ke depan seakan-akan hendak menahan pemuda itu, akan tetapi niat ini diurungkan dan ia lalu bertindak perlahan menjauhi kawan-kawannya dan duduk di bawah sebatang pohon, nampaknya sedih sekali. Lo Sin merasa heran sekali karena ia belum diperkenalkan dengan Yap Bun Gai yang disangkanya kawan Kong Liang dan Mei Ling.

“Lo Sin, kau tidak tahu. Pemuda itu adalah murid Bong Cu Sianjin!”

Bukan main terkejut dan herannya Lo Sin mendengar ini dan ketika Kong Liang menuturkan semua pengalaman dan kebaikan hati pemuda pihak musuh itu serta menyindirkan keadaan Yap Bun Gai serta hubungannya dengan Mei Ling.

Lo Sin merasa menyesal sekali. Ingin ia memukul mulut sendiri karena tanpa disengaja ia telah menyinggung hati Bun Gai dan membuat Mei Ling berduka. Akan tetapi, apakah yang hendak dikatakan?

Pada saat itu, dari jauh nampak bayangan dua orang yang datang dengan cepat sekali dan ketika mereka itu sudah tiba dekat, semua orang merasa terkejut dan girang karena yang datang ini bukan lain ialah Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong!

“Ayah……! Ibu……!” Lo Sin berseru girang dan segera menyambut mereka.

“Sin-ji! Bagus sekali perbuatanmu! Kau mencemarkan nama baik, orang tuamu!”

Mendengar ucapan ibunya ini, Lo Sin sudah maklum bahwa yang dimaksudkan tentulah perhubungannya dengan Lee Ing, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu membalikkan diri, berlari ke arah Lee Ing lalu memegang tangan gadis itu. Kemudian ia menarik tangan Lee Ing dan diajak berlari menghampiri Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang berdiri dengan marah.

Setelah berhadapan dengan kedua orang tuanya dengan Lee Ing di sebelahnya sambil bergandengan tangan, Lo Sin lalu berkata dengan suara nyaring dan tetap.

“Ibu…… ayah.     anak berdua telah bersumpah lebih baik mati daripada berpisah. Kalau ayah dan ibu

hendak berkeras, bunuhlah kami berdua, lebih baik mati bersama daripada hidup berpisah!” lalu Lo Sin menjatuhkan diri berlutut, juga Lee Ing lalu berlutut sambil menangis.

“Sin-ji, kau dianggap pengacau rumah tangga orang, dituduh seorang laki-laki mata keranjang yang memikat anak gadis orang! Tidak malukah kau? Nyo Tiang Pek telah menghina kita sesuka hatinya, dan kau masih merendahkan diri dengan membawa lari anak gadisnya? Di manakah harga dirimu? Apakah tidak ada lain gadis selain anak perempuan Nyo Tiang Pek?” Dalam marah dan keangkuhannya Ang Lian Lihiap lupa diri dan memarahi anaknya.

Mendengar ucapan ini, pucatlah wajah Lee Ing dan ia merasa seakan-akan mukanya kena tampar! Dengan isak tangis mengharukan gadis ini tiba-tiba melompat berdiri dan berlari cepat meninggalkan tempat itu sambil menangis!

Lo Sin terkejut sekali dan iapun melompat dan mengejar sambil berseru memanggil-manggil, “Ing- moi…… Ing-moi…… !” Akan tetapi Lee Ing terus berlari cepat tanpa menoleh lagi. Lo Sin juga terus mengejar secepatnya sambil memanggil¬manggil. Ia tidak perdulikan suara ibunya yang memanggil namanya. Ang Lian Lihiap marah sekali dan hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba suaminya memegang tangannya. “Sabarlah dan jangan kau hancurkan hati kedua anak muda yang bernasib malang itu.”

Mei Ling dan Kong Liang juga menyabarkan hati Ang Lian Lihiap, bahkan Mei Ling lalu berkata, “Cici, biarpun Nyo twako memang benar terlampau keras hati dan terburu nafsu, akan tetapi kau tidak tahu, sebetulnya Nyo-twako telah kena tipu yang curang sekali!”

Mei Ling lalu menuturkan tentang surat dari Cin Han untuk Tiang Pek yang dipalsukan oleh Tik Kong sebagaimana yang ia dengar dari Lee Ing dan Lo Sin. Pucatlah wajah Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong mendengar penuturan ini karena mereka amat marah kepada Lui Tik Kong. Kedua sinar mata mereka seakan-akan mengeluarkan cahaya berapi.

“Pantas, pantas! Pantas sekali Nyo-twako tidak menjawab lamaran kita,” kata Cin Han. “Bangsat rendah itu telah berlaku keji sekali!”

“Kasihan Lee Ing……” kata Ang Lian Lihiap sambil menghela napas dan ia merasa betapa malang nasib anak gadis yang baru saja menerima tikaman batin dari ucapannya terhadap Lo Sin itu dan diam-diam Ang Lian Lihiap merasa menyesal.

“Bagaimanapun juga kita harus pergi menjumpai Nyo-twako untuk merundingkan persoalan ini. Ia harus diinsyafkan akan tipu daya curang dari pemuda keparat itu.”

Demikianlah, Cin Han dan Lian Hwa, dengan diikuti oleh Mei Ling dan Kong Liang, segera menuju ke Bong-kee-san untuk mencari Nyo Tiang Pek.

Sementara itu, dengan hati hancur dan perasaan terluka, Lee Ing melarikan diri secepatnya. Ketika ia mendengar betapa suara panggilan Lo Sin makin dekat mengejarnya, gadis ini tiba-tiba lalu menghunus pedangnya dan menggerakkan pedang itu untuk ditabaskan ke arah leher sendiri. Lo Sin melihat gerakan ini akan tetapi oleh karena jarak antara dia dan Lee Ing masih jauh, ia tidak berdaya, hanya memekik ngeri.

“Ing-moi……!!”

Tiba-tiba bayangan seorang laki-laki yang cepat sekali gerakannya melompat turun dari atas pohon dan tahu-tahu pedang di tangan Lee Ing telah terampas. Bayangan itu adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan, pendekar aneh guru Kim-gan-eng Bwee Hwa yang datang tepat pada waktunya itu.

Lo Sin tidak sempat menghaturkan terima kasih kepada orang tua itu, akan tetapi ia lalu menubruk Lee Ing sambil menangis dan berkata.

“Ing-moi…… Ing-moi…… kau ampunkanlah ibuku, aku…… aku takkan dapat hidup lebih lama lagi kalau kau mengambil keputusan pendek. Ing-moi, tidak kasihankah kau kepadaku??” Lee Ing menjatuhkan kepala di pundak Lo Sin dan menangis tersedu-sedu.

Terdengar elahan napas Pat-chiu Koai-hiap. “Hmm, terbuktilah ucapan orang-orang tua bahwa cinta kasih orang muda lebih banyak mendatangkan air mata daripada senyum. Anak-anak muda, berlakulah gagah sebagaimana layaknya pendekar yang memiliki kepandaian. Apakah terhadap derita hidup yang demikian kecilnya saja kalian sudah tunduk dan menerima kalah? Tidak ada urusan di dunia ini yang tidak dapat dibereskan!”

Lee Ing dan Lo Sin mengangkat muka dan ketika melihat orang tua itu, Lee Ing lalu menjura dan memberi hormat. Ia mengenali guru Bwee Hwa ini.

“Terima kasih atas nasihatmu yang berharga, lo-enghiong,” katanya menahan isak. “Dan terima kasih atas pertolonganmu tadi.” Kemudian ia berkata kepada Lo Sin. “Sin-ko, ini adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan, suhu dari cici Bwee Hwa.”

Lo Sin lalu memberi hormat dan juga mengucapkan terima kasih karena kalau tidak orang tua ini yang bertindak cepat, entah bagaimana dengan nasib Lee Ing, gadis yang keras hati itu.

Setelah mendengar penuturan kedua anak muda itu, Oei Gan lalu menyatakan hendak menyusul Ang Lian Lihiap untuk membantu meredakan ketegangan ini dan sekalian membicarakan tentang ikatan jodoh antara muridnya, Bwee Hwa, dengan Kong Liang. Ia memberi banyak nasihat kepada Lo Sin dan terutama Lee Ing dan minta supaya kedua anak muda itu bersikap tenang dan jangan putus harapan, karena ia yakin bahwa sebagai pendekar-pendekar gagah, akhirnya orang-orang tua itu tentu akan dapat bertindak bijaksana.

Setelah itu mereka berpisah, Oei Gan menyusul Ang Lian Lihiap dan rombongannya, sedangkan Lo Sin dan Lee Ing melanjutkan perantauan mereka sambil menanti sikap kedua orang tua mereka.

Dengan cepat dan tergesa-gesa Ang Lian Lihiap dan rombongannya menuju ke Bong-kee-san dan kedua saudara kembar she Song itu menjadi penunjuk jalan. Ketika mereka tiba di Bong-kee-san, Cin Han berkata.

“Lebih baik kau pergi lebih dulu mendapati Giok Lie, karena kurasa lebih mudah bicara dengan Giok Lie daripada dengan Nyo-twako. Dan dalam hal ini aku percaya bahwa kau lebih pandai bicara daripada aku. Biar aku menanti di sini apabila keadaan sudah beres, barulah aku menyusulmu.”

Ang Lian Lihiap menggoda suaminya. “Eh, eh, takutkah kau?”

Cin Han mengangguk. “Memang, memang aku takut kalau-kalau Nyo-twako dan aku akan sama-sama naik darah hingga kita tidak dapat menahan nafsu lagi. Kau dan Giok Lie lain lagi, karena kalian seakan-akan saudara sendiri sehingga akan lebih mudah merundingkan sesuatu.”

Terpaksa Lian Hwa lalu meninggalkan suaminya yang menanti di luar kampung, lalu bersama Mei Ling dan Kong Liang, ia menghampiri rumah Giok Lie. Ketika mereka tiba di tanah tinggi sehingga rumah Nyo Tiang Pek sudah kelihatan dari atas, tiba-tiba mereka melihat seorang wanita yang diikuti oleh dua orang pelayan, laki-laki dan perempuan, sedang berdiri di depan pintu rumah.

Tiba-tiba pelayan laki-laki itu menuding ke arah Lian Hwa dan kedua saudara kembar itu, agaknya pelayan itu mengenal dua saudara kembar yang memang tidak asing lagi bagi mereka. Giok Lie menengok dan ketika ia melihat siapa yang datang bersama Kong Liang dan Mei Ling, ia berseru girang sekali dan buru-buru menyambut, diikuti kedua orang pelayannya! Ang Lian Lihiap tersenyum dan sambil menengok kepada Mei Ling yang berjalan di belakangnya, ia berkata, “Lihatlah, Giok Lie begitu lemah-lembut ramah tamah, bagaimana aku bisa menaruh perasaan permusuhan dengan orang seperti dia itu?”

Setelah berkata demikian, Ang Lian Lihiap lalu melompat dan berlari turun. Dari jauh kedua orang wanita ini sudah saling mengulurkan kedua tangan dengan mata mengalirkan air mata!

Kemudian mereka saling menubruk, saling merangkul dan mencium muka masing-masing sambil menangis. Terutama sekali Giok Lie. Wanita ini menangis terisak-isak di pundak Lian Hwa.

“Cici…… kau ampunkanlah aku…… kau ampunkanlah suamiku……”

“Tidak begitu, Giok Lie, akulah yang datang mintakan ampun untuk puteraku yang kurang ajar!” jawab Lian Hwa dan dengan saling mengucapkan kata-kata ini, lenyaplah segala rasa tidak enak hati yang masih ada di antara mereka.

“Di mana suamimu? Aku ingin sekali bicara dengan secara hati terbuka agar jangan sampai ada salah paham terjadi antara kita!” kemudian Lian Hwa berkata setelah agak reda perasaan terharu karena pertemuan ini.

Mendengar ini, Giok Lie makin sedih tangisnya. “Cici…… dia…… tidak mau pulang dan tinggal saja di dalam gua ”

Lian Hwa terkejut. Lalu ia bertanya tentang hal itu.

Giok Lie menarik tangan Lian Hwa dan mengajak Kong Liang serta Mei Ling masuk ke dalam rumah. Setelah semua orang duduk, dengan sedih Giok Lie menceritakan pengalamannya.

Ternyata beberapa hari kemudian semenjak Nyo Tiang Pek didatangi oleh Lui Siok Tojin dan dua orang kawannya yang datang-datang menuduhnya membunuh seorang anak murid Kun-lun-san dengan pukulan Gin-san-ciang sehingga akhirnya ia dan Lui Siok Tojin bertempur dan berhasil mengalahkan tosu itu, pada waktu pagi datanglah seorang tosu tua bersama Lui Siok Tojin menemuinya.

Nyo Tiang Pek terkejut melihat tosu tua ini, karena tosu ini adalah ketua dari Kun-lun-pai yang bernama Liong In Tosu dan menjadi paman guru Lui Siok Tojin, maka ilmu kepandaiannya tentu amat tinggi sekali. Akan tetapi Nyo Tiang Pek tidak merasa takut dan setelah menjura dan memberi hormat, ia lalu berkata,

“Selamat datang di tempatku yang buruk ini, ji-wi totiang. Apakah kedatangan ji-wi ini hendak memberi hajaran kepadaku yang jahat dan suka membunuh orang?”

Liong In Tosu tersenyum mendengar sindiran ini dan ia berkata dengan sabar. “Nyo-taihiap, bersabarlah sedikit. Pinto minta maaf atas kelancangan Lui Siok kemarin dulu itu, karena sesungguhnya, pinto sendiripun kurang percaya bahwa Nyo-taihiap menjadi pembunuh yang bersikap pengecut dan yang tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatannya. Akan tetapi, sungguh terjadi hal yang aneh, taihiap. Kenalkah kau kepada pedang ini?”

Sambil berkata demikian Liong In Tosu mengeluarkan sebatang pedang dan ketika Nyo Tiang Pek memandang, ia kaget sekali karena pedang itu adalah Ceng-lun-kiam, pedang yang dulu ia berikan kepada Tik Kong!

“Pedang ini adalah pedangku, totiang, akan tetapi telah kuberikan kepada orang lain.”

“Nah, apa kataku?” tiba-tiba Liong In Tosu menegur Lui Siok Tojin. “Sekarang tidak salah lagi. Ketahuilah, Nyo-taihiap, anak murid kami itu tidak saja terluka oleh pukulan Gin-san-ciang, akan tetapi juga terbunuh oleh pedang ini yang menancap dan tertinggal di dadanya. Siapakah orangnya yang kauberi pedang ini?”

Pucatlah wajah Nyo Tiang Pek mendengar ini. Jadi Tik Kong lah pembunuhnya? Dengan suara lemah ia menjawab. “Pedang itu kuberikan kepada seorang pemuda bernama Lui Tik Kong.”

“Muridmukah?” tanya Liong In Tosu sambil memandang tajam.

“Bukan, aku tidak pernah punya murid selain anakku sendiri. Dia bukan muridku sungguhpun aku pernah memberi pelajaran sedikit kepandaian kepadanya,” jawab Nyo Tiang Pek singkat, karena ia tidak bisa menceritakan bahwa pemuda itu adalah “calon mantunya”.

“Jadi kalau kami mencari lalu menangkap pemuda yang bernama Lui Tik Kong ini, kau tidak akan tersinggung, Nyo-taihiap?”

Untuk beberapa lama Nyo Tiang Pek tidak dapat menjawab, hanya berdiam sambil menggigit-gigit bibirnya. Bagaimana ia bisa membela orang yang berdosa? Akhirnya ia menjawab dengan tegas.

“Kalau memang dia telah melakukan pembunuhan, bagaimana aku bisa mencampuri urusan ini? Carilah dan selidikilah sesuka hatimu.”

Biarpun ia menganggap urusan ini seperti bukan urusannya sendiri, namun hati Nyo Tiang Pek terasa perih dan hancur. Ia telah keliru memilih orang, telah salah, menjatuhkan kepercayaannya kepada orang.

Lui Tik Kong yang dianggap emas murni itu, tidak tahunya hanya tembaga tak berharga! Lalu pikirannya melayang kembali memikirkan peristiwa yang sudah lalu. Bagaimana kalau dia yang bersalah dalam semua urusan itu?

Setelah Liong In Tosu dan Lui Siok Tojin meninggalkannya, Nyo Tiang Pek lalu meninggalkan rumah dan bertapa di dalam sebuah gua. Isterinya datang membujuk-bujuknya, akan tetapi tetap saja Nyo Tiang Pek hanya menundukkan kepala dengan kelihatan sedih sekali dan tidak mau keluar!

Semua ini diceritakan oleh Giok Lie kepada Ang Lian Lihiap sambil menangis hingga Lian Hwa menjadi terharu sekali. “Memang suamimu salah sangka dan terburu nafsu, akan tetapi, semua ini adalah gara-gara pemuda keparat Lui Tik Kong itu! Kau masih belum tahu semua Giok Lie, belum tahu betapa jahatnya pemuda itu.”

Kemudian, dengan panjang lebar Lian Hwa menceritakan betapa dulu ketika pesuruh yang bernama A-kwie itu datang, mereka mengirim surat ke Bong-kee-san yang maksudnya melamar Lee Ing, dan betapa Tik Kong telah membunuh A-kwie dan memalsu surat itu, bahkan menulis bahwa Lo Sin telah kawin!

Setelah Ang Lian Lihiap selesai menuturkan semua itu, Giok Lie memandang dengan wajah pucat dan bibir gemetar.

“Aduh…… kalau begitu, benar puteramu itu, cici! Aduh, kasihan anakku…… Ing-ji…… Ing-ji……”

“Tidak hanya anakmu, Giok Lie, akan tetapi puteraku pun menderita karena perbuatan biadab dari Tik Kong ini,” kata Lian Hwa dan ia lalu menceritakan pula betapa ia tadinya marah sekali mendengar segala laporan tentang kemarahan Nyo Tiang Pek dan bahwa ia telah memarahi puteranya hingga kembali kedua anak muda itu melarikan diri.

Ketika Giok Lie mendengar dari Lian Hwa betapa Lo Sin dan Lee Ing menyatakan lebih baik mati daripada hidup saling berpisah, wanita ini lalu memeluk Lian Hwa sambil menangis, bukan karena sedih, akan tetapi karena terharu dan juga girang! Memang semenjak dulu ia bercita-cita untuk menjodohkan anaknya dengan anak Lian Hwa, dan ternyata sekarang bahwa kedua anak itu saling mencinta!

“Kalau begitu, biarlah aku sekarang pergi menemui Nyo-twako!” kata Lian Hwa. “Di mana guanya?”

“Di sebelah timur itu, di bukit yang berbatu-batu,” kata Giok Lie, kemudian disambungnya dengan khawatir. “Akan tetapi cici……”

“Ada apa?” tanya Lian Hwa.

“Dia      dia sedang marah sekali. Harap kau suka bersabar dan ampunkanlah dia, cici……” kata nyonya

itu sambil menyusuti air matanya.

Lian Hwa menepuk-nepuk pundak Giok Lie dan berkata. “Jangan khawatir, adikku. Sekarang aku sudah tahu bahwa Nyo-twako marah karena tertipu!”

Kemudian Ang Lian Lihiap lalu cepat pergi menuju ke bukit itu, dikejar oleh Kong Liang dan Mei Ling, sedangkan Giok Lie hanya duduk saja menangis.

Ketika tiba di bukit yang penuh batu-batu besar dan hitam itu, senja telah berganti malam akan tetapi keadaan tidak sangat gelap oleh karena bulan menyinarkan cahayanya dan langit nampak bersih. Lian Hwa mencari-cari dan akhirnya ia melihat sebuah gua yang hitam dan besar serta melihat pula bayangan orang duduk di dalam gua itu.

“Nyo-twako!” ia memanggil sambil menghampiri gua itu. Bayangan di dalam gua bergerak dan tiba-tiba terdengar seruan marah dari dalam gua itu.

“Kau?? Kau berani datang hendak menghinaku?” dan tiba-tiba bayangan itu melompat keluar dengan pedang di tangan.

Ang Lian Lihiap terkejut melihat wajah Nyo Tiang Pek yang pucat dan yang memperlihatkan kemarahan besar itu.

“Nyo-twako, aku datang bukan hendak bertempur, akan tetapi hendak merundingkan perkara yang timbul di antara kita dengan kepala dingin. Simpanlah pedangmu dan marilah kita bicarakan dengan tenang.”

“Bohong! Kau tentu datang hendak membalas puteramu dan hendak membela bangsat muda itu! Kau seorang ibu yang tidak dapat mengajar anak, membiarkan anakmu menghina aku!”

“Diam! Jangan kau menuruti hati marah dan yang bukan-bukan, Nyo-twako!” jawab Ang Lian Lihiap yang memang berdarah panas dan tidak tahan mendengar kata-kata keras.

“Ha-ha-ha! Kau bisa bilang bahwa aku menuruti hati dan bicara tidak karuan? Coba kau dengarkan anakmu dulu memaki-maki dan mencemarkan nama baik keluargaku dimuka umum. Coba kau bayangkan betapa dia merusak dan menghalangi perkawinan anakku, bahkan dia berani melarikan anakku di depan mataku sendiri, berani melawanku mengandalkan kepandaiannya! Kaukira aku takut padamu? Tidak, Ang Lian Lihiap, betapapun gagahnya kau, akan tetapi untuk membela nama baikku, aku bersedia mati di ujung pedangmu. Cabutlah pedangmu kalau kau benar-benar seorang gagah!”

Sambil berkata demikian, Nyo Tiang Pek melintangkan pedangnya di depan dada dengan sikap menantang sekali.

“Nyo-twako, kau tersesat!” Sambil berkata demikian, Lian Hwa mencabut pedangnya, akan tetapi bukan untuk menyerang, hanya pedang itu diletakkan di atas batu besar. “Lihat, aku menyimpan pedangku, karena bukan maksudku hendak berkelahi dengan kau yang picik dan dangkal pandangan ini! Kalau memang kau telah berubah pikiran dan menjadi gila, kau seranglah aku. Aku hendak merampas pedangmu yang jahat itu dengan tangan kosong!”

Sambil berkata demikian, Lian Hwa melompat ke arah Nyo Tiang Pek dengan kedua tangan terulur ke depan, siap hendak merampas pedang dari tangan si Garuda Kuku Emas.

“Ang Lian Lihiap, mundur kau! Hmm, kupenggal batang lehermu nanti!” Akan tetapi kata-kata ini hanya merupakan ancaman belaka, oleh karena nyatanya, Nyo Tiang Pek mengelak dari serangan Lian Hwa ini dan melompat ke atas batu lain.

Lian Hwa tidak menjadi jerih karena ancaman ini bahkan melompat dan mengejar!

“Awas, sekarang benar-benar aku akan menyerangmu!” kata Nyo Tiang Pek sambil mengangkat pedangnya ke atas dengan lagak mengancam, akan tetapi dari sebuah batu besar Lian Hwa melompat lagi dengan gerakan Naga Putih Menyambar Awan. Tubuhnya yang gesit itu melompat dan menerkam ke arah Nyo Tiang Pek!

Pada saat itu, Cin Han muncul dari balik batu karang. Ia menjadi terkejut sekali ketika melihat betapa Ang Lian Lihiap mengejar-ngejar Nyo Tiang Pek untuk merampas pedang, sedangkan Nyo Tiang Pek yang memegang pedang itu hanya mengelak dan berpindah-pindah tempat, seakan-akan merasa jerih menghadapi Lian Hwa dan sama sekali tidak mau menyerang dengan pedangnya.

“Tahan!” kata Cin Han sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. “Sudah gilakah kalian ini? Tua bangka masih mau main kejar-kejaran seperti kanak-kanak! Nyo-twako, kaudengarlah keterangan kami dulu, kalau kau sudah mendengarkan, barulah terserah kepadamu mau berbuat apa! Kalau kau memang tidak berubah dan masih seperti Kim-jiauw-eng yang kukenal sebagai seorang pendekar yang gagah dan menjunjung tinggi pribudi dan kebenaran, simpanlah pedangmu dan dengarkan keterangan kami. Kalau kau sudah mendengarkan keterangan kami, maka terserah kepadamu sendiri, hendak mengajak bertempur sampai seratus hari seratus malam akan kami layani!”

Mendengar dan melihat Cin Han dengan sikapnya yang gagah ini, tiba-tiba hati Nyo Tiang Pek menjadi lemas. Tadi memang ia sudah merasa bingung sekali melihat kenekadan Lian Hwa yang mengejar dan hendak merampas pedangnya. Tentu saja ia tidak mau menyerang Lian Hwa yang bertangan kosong itu dengan pedangnya.

Dan kini datang lagi Cin Han yang mengeluarkan kata-kata yang amat mengesan dalam hatinya. Ia lalu menjatuhkan dirinya duduk di atas batu besar dan menancapkan pedangnya di atas tanah, kemudian sambil menutup mukanya dengan kedua tangan, ia berkata.

“Bicaralah, bicaralah! Mudah-mudah bicaramu bukan omong kosong belaka dan jangan coba-coba menipuku!”

Ternyata bahwa hati dan pikiran Nyo Tiang Pek memang amat terganggu dan tergoncang oleh kekhawatiran bahwa ia betul-betul telah tertipu oleh Tik Kong sebagaimana yang ia takutkan.

Pada saat itu terdengar suara kaki mendatangi dan Kong Liang bersama Mei Ling datang memburu ke tempat itu dengan hati penuh kekhawatiran akan tetapi menjadi lega ketika melihat bahwa tidak terjadi sesuatu yang mengerikan antara Nyo Tiang Pek dan Lian Hwa.

“Kalau aku yang bicara, mungkin kau takkan percaya,” kata Cin Han dengan suara getir, “Kong Liang dan Mei Ling datang, biarlah mereka ini menceritakan segala yang mereka dengar dari anakku dan anakmu!”

Tanpa diminta lagi Kong Liang dan Mei Ling serta merta menceritakan duduknya perkara. Mereka menuturkan betapa isi surat Cin Han yang dibawa oleh A-kwie adalah surat lamaran untuk diri Lee Ing, kemudian betapa A-kwie telah dibunuh oleh Tik Kong yang sengaja mengubah bunyi surat.

Kemudian menceritakan juga betapa Lo Sin yang mengunjungi mendiang Kong Sin Ek mendengar bahwa Tik Kong lah yang menganiaya Kong Sin Ek hingga kakek itu menjadi lumpuh dan binasa, kemudian mereka menceritakan pula betapa Tik Kong telah bersekutu dengan Hek Li Su-thai dan Bong Cu Sianjin, bahkan pernah menawan Lee Ing yang kemudian ditolong oleh Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan, dan untuk kedua kalinya menawan Mei Ling dan Kim-gan-eng yang kemudian ditolong oleh Kong Liang dan Yap Bun Gai.

Pendeknya mereka menuturkan semua kejahatan Tik Kong dan bagaimana pemuda itu telah menipu Nyo Tiang Pek dengan curang dan jahat sekali!

Nyo Tiang Pek tadinya mendengarkan dengan kedua tangan menutupi mukanya, akan tetapi lambat- laun ia makin tertarik. Kedua tangannya diturunkan, kedua matanya terbelalak, wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil.

Saking tertariknya ia lalu bangun berdiri dan memandang ke arah mulut Mei Ling dan Kong Liang yang bercerita bergantian. Wajahnya makin pucat dan perlahan-lahan air mata mengalir keluar dari kedua matanya yang terbelalak lebar.

Setelah kedua anak muda itu selesai bercerita, Nyo Tiang Pek memandangi mereka seperti seorang mayat hidup memandang dan tiba-tiba mengangkat kedua tangannya ke atas dan berseru keras dengan suara yang menyeramkan.

“Benarkah ini……? Benarkah……? Benarkah.    ?”

Ketika keempat orang yang berada di depannya itu mengangguk ia lalu menutup mukanya dengan kedua tangan, dan ketika ia menurunkan tangannya mukanya menjadi basah oleh air mata! Kemudian, tiba-tiba bagaikan gila Nyo Tiang Pek berseru.

“Tiang Pek…… kau…… kau…… kau harus mampus!” dan dengan kedua tangannya Nyo Tiang Pek memukuli kepalanya sendiri, menjambak-jambak rambutnya memukuli mukanya sambil tiada hentinya berbisik, “Kau harus mampus…… Nyo Tiang Pek…… kau harus mampus!”

Terkejutlah semua orang melihat hal ini dan ketika mereka hendak maju mencegah, Nyo Tiang Pek melompat tinggi dan lari memukuli kepalanya dan berteriak-teriak. “Nyo Tiang Pek…… kau harus mampus…… Lee Ing…… Lee Ing…… ayahmu harus mampus……!”

Darah mengalir dari muka dan kepala Nyo Tiang Pek karena pukulannya sendiri.

Pada saat itu, dari depan berkelebat bayangan Giok Lie dan ketika ia melihat keadaan suaminya ini, ia lalu menubruk sambil memekik keras. Ketika Nyo Tiang Pek merasa betapa isterinya memeluknya dengan keras, ia menangis tersedu-sedu dan ketika Giok Lie memegangi kedua tangannya yang telah berlumuran darahnya sendiri itu, ia mencoba untuk membenturkan kepalanya pada batu di dekatnya.

“Koko, jadi kau tetap hendak bunuh diri? Baiklah, aku isterimu akan mendahuluimu!” Sambil berkata demikian, Giok Lie mencabut pedangnya dan menusukkan pedang itu ke arah dadanya! Melihat hal ini, secepat kilat Tiang Pek menyampok tangan isterinya hingga pedang itu terlempar jauh.

“Giok Lie…… isteriku…… ampunkanlah aku……” setelah berkata demikian Tiang Pek menjerit keras dan roboh pingsan di atas rumput! Giok Lie memeluki tubuh suaminya dan ketika melihat muka dan kepala yang sudah tidak karuan macamnya karena berlumur darah itu, ia menangis tersedu-sedu dan mendekap kepala suaminya pada dadanya. Bulan agaknya tidak kuat pula menahan rasa terharu menyaksikan keadaan mereka ini, maka ia lalu bersembunyi di balik awan putih.

Lian Hwa dan Mei Ling dengan air mata bercucuran lalu menolong Giok Lie dan menuntun nyonya yang sudah lemas dan hampir tidak kuat berjalan itu untuk kembali ke rumah, sedangkan Cin Han lalu memondong tubuh Nyo Tiang Pek. Beramai-ramai mereka kembali ke rumah Nyo Tiang Pek dan Cin Han lalu merebahkan tubuh kawannya ini di atas pembaringan.

Sampai dua hari lamanya Tiang Pek berteriak-teriak memanggil nama Lee Ing dengan keluh-kesah, dan kadang-kadang ia membentak-bentak nama Tik Kong dengan suara mengandung ancaman hebat. Tubuhnya panas sekali dan dia tidak mengenal siapa-siapa kecuali isterinya.

Pada hari ketiga, maka lenyaplah panasnya dan keadaannya kembali seperti biasa. Ia teringat akan semua yang terjadi dan ketika ia melihat Cin Han dan Lian Hwa memasuki kamarnya, ia lalu bangun duduk dan memegang tangan Cin Han dan Lian Hwa dengan jari-jari gemetar.

“Cin Han…… Lian Hwa…… aku menyesal sekali…… biarlah…… aku berlutut minta ampun kepada kalian……”

Benar-benar Nyo Tiang Pek hendak menjatuhkan dirinya berlutut di depan Lian Hwa dan Cin Han hingga Lian Hwa buru-buru melompat ke belakang dan membalikkan tubuh, sedangkan Cin Han lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Nyo Tiang Pek dan memeluk sahabatnya yang menangis sedih ini. Tak terasa pula Cin Han pun mengalirkan air mata dari kedua matanya. Kemudian ia memaksa diri tersenyum dan berkata.

“Nyo-twako! Apa-apaan semua ini? Bertahun-tahun kita tidak bertemu dan setelah kini bertemu, seharusnya kita bergembira, apa artinya segala air mata yang keluar dari mata kita? Ah, kalau dilihat orang lain, bukankah menimbulkan malu saja. Hwee-thian Kim-hong dan Kim-jiauw-eng bertangis- tangisan! Sungguh lucu! Ingatkah kau ketika dulu kita bersama menghajar penjahat-penjahat Pek-lian- kauw? Bukankah waktu itu air mata adalah pantangan besar bagi kita? Marilah, Nyo-twako, kita kembali seperti dulu lagi!”

Nyo Tiang Pek lalu bangun dan memeluk tubuh Cin Han. “Cin Han…… Cin Han…… kau jauh lebih gagah perkasa daripadaku...... aku. aku harus malu kepadamu.”

“Ah! apa gunanya semua kata-kata ini, Nyo-twako? Kita menghadapi persoalan yang sama, soal anak. Tahukah kau betapa mereka itu ketika bertemu dengan aku dan Lian Hwa lalu keduanya berlutut dan menyatakan saling cinta dan bahwa mereka berdua lebih suka dibunuh daripada harus diceraikan? Coba saja pikir! Anak-anak kita begitu keras hati dan kepala batu, bukankah mereka itu pantas sekali menjadi anak kita? Mereka saling mencintai seperti kau dan Giok Lie atau seperti aku dan Lian Hwa dan dalam hal kekerasan dan kenekatan hati, agaknya Lee Ing tidak kalah dengan kau dan Lo Sin tidak kalah dengan ibunya!”

Sinar kegembiraan mulai memancar dari kedua mata Nyo Tiang Pek dan kedua pipinya yang pucat itu mulai menjadi agak merah. Dengan hati penuh kegemasan ia lalu menceritakan betapa Tik Kong tidak saja melakukan kejahatan itu semua, bahkan telah mencemarkan namanya dalam pandangan golongan Kun-lun-pai.

“Aku harus membunuh anak setan itu dengan kedua tanganku sendiri!” katanya dengan hati gemas.

“Tidak, Nyo-twako. Tangankulah yang akan menghabisi nyawanya sebagai pembalasan dendam dari Kong-twako!” kata Lian Hwa dengan tak kurang gemasnya.

Demikianlah, dengan mendapat hiburan-hiburan dari Cin Han, Lian Hwa, Mei Ling dan Kong Liang, berangsur-angsur kesehatan Nyo Tiang Pek pulih kembali. Ketika Lian Hwa menceritakan tentang tantangan Lan Bwee Niang-niang untuk mengadakan pi-bu di puncak Hoa-mo-san, Nyo Tiang Pek menyambutnya dengan gembira.

“Biarlah! Biarlah sekali lagi kita naik ke puncak Hoa-mo-san dan membasmi orang-orang jahat itu. Karena keparat Tik Kong sudah bersekutu dengan Bong Cu, tentu ia berada di sana pula!”

“Memang, hatikupun kurang tetap dan tenang apabila aku harus naik ke sana tanpa kau kawani, Nyo- twako,” kata Cin Han.

“Sayang kita tidak tahu puteramu itu berada di mana. Kepandaiannya lihai sekali sehingga dulupun aku merasa kagum dan suka, sayangnya dulu aku menganggap ia telah menjadi suami lain orang!” Mengingat akan kebodohannya sendiri, Nyo Tiang Pek menghela napas.

“Aku mempunyai keyakinan besar bahwa Lo Sin dan Lee Ing pada waktunya akan datang juga di puncak Hoa-mo-san, oleh karena mereka sudah mendengar pula tentang perjanjian pertandingan itu. Aku percaya bahwa mereka tidak akan tinggal diam dan membiarkan saja kita melawan musuh tanpa membantu,” kata Mei Ling.

“Mudah-mudahan saja akan demikian jadinya,” kata Cin Han.

Ketika mereka sedang bercakap-cakap, datanglah pelayan yang memberi tahu bahwa di luar datang seorang tamu yang bersikap aneh dan datang hendak bertemu dengan Nyo Tiang Pek dan Lo Cin Han bersama isteri.

Semua orang cepat memburu keluar dan mereka melihat seorang laki-laki tua yang berwajah buruk dan hidungnya menjungat ke atas.

Cin Han mewakili semua orang yang melangkah maju lalu menjura dengan hormat. “Sahabat dari manakah dan ada keperluan apa datang mencari kami?”

Orang itu tertawa terkekeh-kekeh dengan muka berseri, lalu katanya, “Ah, ah, Hwee-thian Kim-hong masih tetap gagah seperti waktu mudanya! Memang, pertemuan kita dulu hanya sebentar saja maka tidak aneh apabila kau sudah lupa padaku!”

Cin Han mengingat-ingat dan kemudian melihat muka yang aneh dan buruk itu teringatlah ia akan peristiwa ia memusuhi perkumpulan Kwi-coa-pai (Perkumpulan Ular Setan). Ia dulu ketika sedang menyelidiki rumah perkumpulan rahasia itu, melihat betapa seorang laki-laki muda dengan gerakan cepat dan gagah telah membunuh mati ular setan, yakni seekor ular berbisa yang jahat dan yang dijadikan lambang perkumpulan itu, dengan sehelai saputangan!

Maka sambil tersenyum, ia lalu berkata sambil menjura lagi. “Ah, tidak tahunya kau adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan! Tidak salahkah dugaanku ini?”

Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan tertawa girang dan balas menjura. “Betul, betul! Bukan main besar hatiku bahwa ini hari aku dapat bertemu dengan tokoh-tokoh tinggi yang namanya telah menggemparkan dunia. Hwee-thian Kim-hong, Ang Lian Lihiap, dan Kim-jiauw-eng! Siapakah yang belum mendengar nama-nama ini?”

Kemudian ia memandang kepada Mei Ling dan Kong Liang yang berdiri di dekat Giok Lie. “Entah yang manakah yang bernama Song Kong Liang?”

Kong Liang terkejut dan maju memberi hormat kepada kakek aneh itu.

Melihat pemuda yang tampan dan bersikap gagah itu, Oei Gan kembali tertawa bergelak-gelak. “Pantas, pantas kau memang gagah dan cocok menjadi suami Bwee Hwa. Ha-ha-ha! Eh, Hwee-thian Kim-hong, terus terang saja, kedatanganku ini hendak membicarakan urusan penukaran pedang muridku dengan pemuda ini yang katanya telah diatur oleh Ang Lian Lihiap!”

Lian Hwa tertawa girang dan berkata. “Pat-chiu Koai-hiap, marilah kau masuk ke dalam dan kita bicara dengan sepantasnya. Tak enak rasanya merundingkan soal perjodohan sambil berdiri di luar saja!”

Nyo Tiang Pek juga timbul kegembiraannya dan berkata, “Ah, aku memang tuan rumah yang bodoh dan canggung. Mari, mari, Koai-hiap, kita bicara di dalam sambil minum arak!”

“Arak wangi? Bagus, sudah beberapa hari aku menderita haus!” kata Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan sambil melangkah maju dengan tindakan lebar.

Semua orang lalu masuk ke dalam rumah dan mengambil tempat duduk mengelilingi meja. Giok Lie segera mengeluarkan hidangan seadanya dan mereka lalu merundingkan soal perjodohan antara Kong Liang dan Bwee Hwa.

Ketika Pat-chiu Koai-hiap minta penetapan hari pertemuan kedua pengantin, Kong Liang menjawab dengan hormat. “Mohon dimaafkan sebanyaknya, Oei Koaihiap, siauwte masih mempunyai urusan yang penting sekali dan yang harus segera diselesaikan. Setelah itu, barulah siauwte dapat menentukan hari pernikahan itu.”

Oei Gan memandang heran. “Urusan apakah?”

Maka Kong Liang lalu menceritakan tentang perjanjian hendak mengadakan pertandingan di puncak Hoa-mo-san dengan pihak Bong Cu Sianjin, dan dalam kesempatan ini, Cin Han lalu berkata kepada Oei Gan. “Mengingat bahwa kita orang sendiri, maka besar harapan kami bahwa Koai-hiap akan suka membantu.”

“Hmm.     memang telah kuketahui keburukan adat Bong Cu Sianjin, bahkan aku pernah melepaskan

Nyo-siocia dan muridku dari ancaman Hek Li Su-thai. Baiklah, tentu saja aku akan membantu karena memang sudah lama sekali tulang-tulangku yang tua ini ingin merasai beberapa gebukan yang berarti dari lawan-lawan tangguh. Setelah berhasil menghancurkan kejahatan di puncak Hoa-mo-san, baru membicarakan urusan hari perkawinan. Bagus, bagus!”

Demikianlah, dengan gembira mereka bercakap-cakap sambil makan minum dan pertemuan ini banyak memulihkan kegembiraan hati Nyo Tiang Pek. Penuturan Oei Gan lebih membuka kedua matanya akan kejahatan dan kecurangan Lui Tik Kong, pemuda yang disangkanya baik-baik itu.

Sebelum hari menjadi gelap Oei Gan berpamit dan pergi meninggalkan Bong-kee-san. Adapun Ang Lian Lihiap berdua suaminya dan kedua saudara kembar Kong Liang dan Mei Ling, bermalam di rumah Nyo Tiang Pek sampai sepekan lebih, dan setiap hari mereka bercakap-cakap gembira karena memang mereka telah merasa rindu sekali.

Seakan-akan tidak akan habisnya percakapan mereka, terutama sekali Giok Lie dan Lian Hwa yang merasa berbahagia sekali mendengar kenyataan betapa anak mereka saling mencinta demikian mesranya sehingga rela berkorban nyawa.

Lo Sin dan Lee Ing setelah mendapatkan lagi kuda mereka, lalu melanjutkan perantauan. Mereka tadinya melarikan diri dari hadapan Ang Lian Lihiap yang sedang marah dan ketika Lee Ing dan Lo Sin telah pergi jauh, teringatlah mereka kepada kedua ekor kuda yang masih ditinggalkan di Lok-sin- chung, maka pada malam harinya mereka lalu kembali ke kampung itu untuk mengambil kuda mereka.

Setelah menjelajah berbagai kota dan desa, akhirnya kedua anak muda itu tiba di sebuah kota yang bernama Hai-kun. Keadaan kota ini ramai dan makmur. Lee Ing lalu minta kepada Lo Sin untuk berhenti di kota itu dan mereka segera mencari kamar dalam sebuah rumah penginapan.

Para pelayan hotel menyambut mereka dengan penuh hormat, karena dari pakaian dan sikap kedua orang muda ini, mereka tahu bahwa keduanya adalah orang-orang gagah yang melakukan perjalanan. Dan oleh karena pelayan mengira bahwa mereka adalah suami-isteri, maka katanya dengan hormat.

“Ji-wi ingin menempati kamar besar, sedang, atau kecil?” “Sediakan dua buah kamar yang sedang saja,” kata Lee Ing.

Pelayan itu memandang heran. “Dua...... Toanio, kami ada sebuah kamar yang besar, bersih dan lengkap.”

Lee Ing memandangnya tajam dan tak senang. “Sediakan dua kamar, dengarkah kau? Dua, kataku!” Sambil berkata demikian, Lee Ing mengangkat tangan kanannya. Ia memperlihatkan dua buah jarinya. Maka mengertilah pelayan itu bahwa ia telah salah kira dan bahwa kedua orang ini bukanlah suami- isteri. Ia lalu tersenyum dan menjura dengan sikap hormat. Baiklah, baiklah, siocia.”

Sebutannya terhadap Lee Ing juga berubah sehingga gadis ini diam-diam tertawa geli. Juga Lo Sin tersenyum melihat hal ini.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka duduk di ruang depan memandang taman bunga yang diatur indah menarik di depan rumah penginapan itu. Lo Sin lalu memesan kepada pelayan agar supaya membelikan makanan dan mengantarkan ke ruang depan.

Keadaan yang bersih dan hawa yang nyaman di tempat itu membuat keduanya merasa senang. Mereka melupakan hal-¬hal yang lalu dan bercakap-cakap tentang kota-kota dan tempat-tempat indah yang pernah mereka kunjungi, menceritakan pengalaman masing-masing.

Pada saat mereka bercakap-cakap, dari luar hotel itu datang masuk lima orang yang berpakaian seperti pegawai negeri.

Kelima orang itu ketika diberi tahu bahwa orang yang mereka cari adalah kedua anak muda itu, menjadi girang dan buru-buru mereka menghampiri Lo Sin dan Lee Ing. Melihat kedatangan mereka ini, Lo Sin dan Lee Ing lalu bangkit berdiri dengan pandang mata heran.

“Maaf ji-wi eng-hiong,” kata seorang di antara ke lima pegawai negeri itu. “Kami adalah pesuruh- pesuruh dari Ong-taijin untuk menyampaikan surat undangan ini. kepada ji-wi.”

Dengan heran sekali Lo Sin menerima dan membaca surat undangan itu yang isinya meminta dengan hormat dan sangat supaya kedua pendekar perantau yang kebetulan bermalam di hotel itu sudi datang mengunjunginya!

“Siapakah Ong-taijin ini?” tanya Lo Sin kepada mereka. “Ong-taijin adalah ti-hu dari kota ini,” jawab pesuruh itu.

Karena bunyi surat itu amat sopan dan baik, maka Lo Sin dan Lee Ing merasa tidak enak untuk menolaknya, maka mereka lalu berangkat mengikuti ke lima orang pesuruh itu yang juga bersikap amat hormat kepada mereka.

Memang, Ong-taijin adalah ti-hu dari kota Hai-kun, seorang setengah tua yang terpelajar, bersikap halus dan ramah tamah. Dia adalah seorang berpangkat yang baik hati dan disuka oleh penduduk Hai- kun karena selain terkenal ramah tamah, juga adil. Memang Ong-taijin bukan seorang pembesar yang menindas rakyat dan bukan pula seorang pegawai yang suka korup, karena ia memang telah kaya sebelum menjabat pangkat ini.

Telah beberapa pekan ini, kota Hai-kun menderita gangguan, perampok-perampok yang lihai. Perampok ini hampir tiap malam mengirim beberapa orang anggautanya yang lihai untuk mengganggu kota dan selain melakukan pencurian yang amat berani, juga mereka tidak segan-segan untuk mengganggu anak bini orang! Ong-tihu telah mengerahkan segenap kekuatan dan penjagaan untuk mengusir dan melawan perampok-perampok ini, akan tetapi ternyata bahwa para perampok ini memiliki ilmu silat tinggi, terutama sekali kepalanya yang telah membunuh banyak penjaga keamanan kota itu dengan golok besarnya.

Oleh karena inilah maka penduduk Hai-kun tidak berdaya dan terpaksa mereka mengalah. Sehingga para perampok itu dengan leluasa dan enaknya tiap malam datang mengambil barang berharga dari rumah-rumah di kota Hai-kun. Dan yang lebih menggemaskan lagi, tiga hari dimuka sebelum mendatangi sebuah rumah untuk merampok, para penjahat itu telah memberi tanda lebih dulu, yakni dengan lukisan sebatang golok besar di tembok rumah tersebut!

Tidak seorangpun melihat siapa yang melukiskan golok besar ini, karena perbuatan ini dilakukan sendiri oleh kepala rampok itu yang amat lihai. Kepala rampok ini memilih rumah mana yang harus didatangi dan pada tiga hari kemudian, anak buahnya yang akan datang dan merampok!

Tiga hari yang lalu, tembok rumah Ong-tihu sendiri menjadi kurban dan di situ terdapat lukisan golok besar yang mengerikan! Ong-tihu menjadi bingung, karena ia tidak mengkhawatirkan tentang harta bendanya yang hendak dirampok, akan tetapi mengkhawatiran keselamatan rumah tangganya karena ia maklum akan kekurangajaran para perampok itu, sedangkan di dalam rumahnya terdapat anak, gadisnya bernama Ong Lan Im yang cantik jelita dan tersohor menjadi kembang kota Hai-kun.

Ong-tihu lalu memerintahkan kepada semua pembantunya untuk mencari pembantu dan pertolongan orang-orang gagah. Maka ketika Lo Sin dan Lee Ing yang bersikap gagah itu bermalam di hotel, pembantunya dapat melihat mereka dan segera memberi laporan kepada Ong-tihu yang cepat- cepat membuat surat undangan itu. Tadinya dia sendiri hendak datang menjemput, akan tetapi ia khawatir kalau-kalau ada mata-mata perampok yang melihat hal ini.

Ketika Lo Sin dan Lee Ing memasuki halaman rumah gedung yang indah dan besar itu, mereka disambut oleh Ong-tihu sendiri. Melihat keadaan Lo Sin dan Lee Ing yang selain tampan dan cantik juga kelihatan gagah sekali, maka dengan girang Ong-tihu lalu maju menjura, kemudian ia memegang tangan Lo Sin dan dengan ramah tamah dan sopan-santun ia mempersilakan keduanya masuk ke ruang dalam.

Setelah tiba di ruang dalam, isteri Ong-tihu juga keluar menyambut Lee Ing dan dalam hal keramah- tamahan, wanita ini tidak kalah dengan suaminya sehingga Lee Ing tidak merasa malu-malu lagi.

“Ji-wi tentu heran sekali melihat betapa aku yang tidak kenal dengan kalian datang-datang mengirim surat undangan itu. Besar sekali rasa terima kasih kami bahwa ji-wi sudi memenuhi undangan ini,” kata Ong-tihu.

“Memang kami berdua merasa terkejut dan heran, taijin.”

“Sebetulnya, tidak lain kami mohon pertolongan ji-wi karena sesungguhnya keluarga kami, sedang dalam bahaya besar.”

Lo Sin dan Lee Ing makin terkejut, dan segera bertanya bahaya apakah yang mengancam keselamatan keluarga ti-hu itu. Setelah menghela napas berulang-ulang, ti-hu itu lalu menceritakan betapa di Hai-kun timbul kekacauan yang diperbuat oleh serombongan perampok yang lihai dan bahwa kini rumahnya telah dijadikan calon korban.

“Aku tidak takut kalau mereka hanya mengambil hartaku, karena bagiku hal ini tidak amat penting. Akan tetapi aku khawatir kalau-kalau mereka itu akan mengganggu jiwa keluargaku.”

Kemudian dengan panjang-lebar Ong-tihu menceritakan seluruh peristiwa yang menyedihkan, betapa para perampok yang kurang ajar itu suka mengganggu anak-bini orang, bahkan telah banyak penjaga ditewaskan oleh kepala perampok.

“Siapakah nama kepala perampok itu, taijin?” tanya Lee Ing dengan penasaran sekali.

“Kami tidak tahu siapa namanya, hanya karena ia menggunakan senjata golok besar dan selalu menggambarkan golok besar di tembok rumah calon korban, maka kami menyebutnya Toa-to-ong (Raja Golok Besar). Bukan saja keluargaku yang akan berterima kasih sekali apabila ji-wi sudi menolong, bahkan seluruh penduduk Hai-kun akan berterima kasih kepada ji-wi,” kata pula Ong-tihu dengan suara memohon.

Semenjak tadi, Lee Ing dan Lo Sin telah menjadi marah sekali kepada penjahat-penjahat itu, maka tentu saja mereka menyanggupi dengan sepenuh hati.

“Jangan khawatir, taijin. Karena malam ini penjahat-penjahat itu akan datang ke sini, biarlah kami berdua akan menangkapnya,” kata Lee Ing dengan suara gagah.

“Benar kata adikku ini, taijin. Aku tangung bahwa malam ini semua penjahat yang berani datang, akan roboh di tangan kami!” kata Lo Sin pula.

Mendengar ini, Ong-tihu dan Ong-hujin tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut hingga kedua anak muda itu menjadi terkejut sekali dan buru-buru mengangkat bangun mereka.

“Ah, urusan sekecil ini janganlah terlalu menyusahkan hatimu, taijin,” kata Lo Sin.

Dengan girang sekali Ong-tihu mengeluarkan hidangan dan menjamu kedua orang tamunya. “Mohon tanya siapakah nama ji-wi yang mulia?” tanya pembesar itu.

“Siauwte bernama Lo Sin dan ini adalah adikku Lee Ing. Kami berdua semenjak kecil sudah bertemu dengan orang-orang jahat, maka sudah seharusnya pula kalau kali ini kami mencoba untuk mengusir penjahat yang mengganggu kota ini.”

Melihat sikap dan ketenangan tamunya yang biarpun masih muda akan tetapi kelihatan gagah ini, kedua suami isteri Ong itu merasa girang dan lupalah mereka akan ancaman penjahat yang malam hari itu hendak datang. Lo Sin dan Lee Ing berjanji bahwa mereka tidak akan kembali ke hotel dan malam itu akan berdiam di gedung Ong-tihu. Pembesar bahkan lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan kamar dan untuk mengambil buntalan pakaian dan dua ekor kuda Lee Ing dan Lo Sin yang masih berada di hotel!

Di dalam percakapan mereka yang menggembirakan tuan rumah karena baik Lo Sin maupun Lee Ing memang pandai bergaul dan pandai membawa diri, tiba-tiba Ong-tihu melihat suling bambu yang terselip di punggung Lo Sin.

“Taihiap, agaknya kaupun suka sekali akan kesenian!” katanya sambil menunjuk suling di punggung Lo Sin. “Alangkah akan senangnya kami kalau taihiap sudi meniup suling itu barang selagu untuk kami.”

Merahlah wajah Lo Sin mendengar permintaan ini. “Ah, taijin, janganlah kau membikin malu kepada siauwte saja. Kepandaian siauwte meniup suling tidak ada artinya sama sekali dan hanya dapat meniupkan beberapa nada sumbang saja.”

Lee Ing yang sudah minum beberapa cawan arak wangi sehingga timbul kegembiraannya, ingin sekali membanggakan kepandaian main suling dari kekasihnya itu, maka katanya. “Sin-ko, mengapa kau malu-malu? Benar, Ong-hujin, kakakku ini pandai sekali meniup suling! Sin-ko, janganlah mengecewakan hati tuan rumah dan aku sendiripun sudah lama sekali ingin mendengar tiupan sulingmu!”

Melihat sikap Lee Ing yang manja, Lo Sin tidak tega untuk mengecewakan hatinya dan merusak kegembiraannya, maka ia lalu mencabut sulingnya dan berkata kepada Ong-tihu. “Mohon taijin dan hujin tidak mentertawakan tiupan suling kampungan ini!” Kemudian ia menempelkan ujung suling di bibirnya dan mulai meniup suling itu.

Mula-mula ia hanya meniup nada untuk membiasakan bibirnya yang telah lama tidak meniup suling, kemudian ia mulai memainkan lagu yang terkenal, yakni lagu Gembala dan Dewi, sebuah lagu rakyat yang digubah di jaman Dinasti Han barat pada masa Kaisar Bu Tee berkuasa. Lagu ini memang indah dan merdu serta disukai oleh kalangan rakyat baik tingkatan rendah maupun tingkat tinggi.

Suami isteri Ong mendengar suara suling ini saling memandang dan kemudian mendengarkan dengan amat kagum dan terharu karena tiupan suling ini benar-benar indah dan dilakukan penuh perasaan sehingga mereka berdua merasa seakan-akan menjadi muda kembali dan terbayanglah segala pengalaman di waktu muda yang penuh madu bahagia! Juga Lee Ing memandang wajah Lo Sin dengan mesra dan kagum, seakan-akan ia menggantungkan diri pada bibir pemuda yang meniup suling itu dan perasaannya ikut dibawa melayang oleh suara suling!

Tiba-tiba terdengar suara lain yang juga amat merdu sekali. Suara ini datangnya dari dalam rumah dan ternyata adalah suara yang-kim (semacam kecapi) yang dimainkan dengan indah pula. Yang-kim ini dimainkan dengan lagu yang sama, mengiringi alunan suara suling hingga merupakan paduan suara yang amat menakjubkan karena merdu dan indahnya.

Lo Sin mendengar juga suara ini dan tiupan sulingnya makin merdu dan penuh perasaan. Ong-tihu dan isterinya, juga Lee Ing, makin tertarik dan kagum. Setelah Lo Sin selesai meniup lagu itu dan melepaskan suling dari bibirnya, ia berkata kagum. “Bagus betul suara yang-kim itu!”

Akan tetapi, Ong-tihu berdiri dan menjura kepada Lo Sin. “Apakah artinya suara yang-kim itu jika dibandingkan dengan kehebatan tiupan sulingmu? Taihiap, kau benar-benar ahli meniup suling. Hebat dan indah sekali!”

Juga Ong-hujin mengucapkan pujian.

“Ong-hujin, siapakah yang memainkan yang-kim seindah itu?” tanya Lee Ing kepada tuan rumah.

“Dia adalah anakku yang bodoh,” jawab Ong-hujin mendahului suaminya. “Lan Im adalah anak bodoh yang bisanya hanya memainkan yang-kim.”

“Ah, puterimu pandai sekali, hujin. Mengapa tidak disuruh dia keluar dan berkenalan dengan aku?” kata Lee Ing.

Ong-hujin lalu masuk ke dalam dan tak lama kemudian ia keluar pula bersama seorang gadis yang usianya sebaya dengan Lee Ing dan yang memiliki kecantikan luar biasa! Pantas saja ia disebut bunga kota Hai-kun! Lee Ing memandang kagum dan segera menyambutnya dengan pegangan tangan mesra.

Juga Lo Sin memandang dengan kagum karena gadis ini benar-benar cantik jelita dan lemah-lembut. Gerakannya demikian halus dan sikapnya malu-malu sehingga gadis ini sama sekali tidak berani memandang ke arah Lo Sin dan hanya menundukkan kepala saja ketika diperkenalkan.

“Ong-siocia, kau benar-benar pandai main yang-kim dan kau cantik jelita seperti bidadari!” Lee Ing memuji dengan terus terang dan memandang kagum.

“Lihiap, dibandingkan dengan engkau, aku tidak lebih hanya seekor kelinci dan kau seekor harimau!” jawab Lan Im dengan suaranya yang lemah-lembut dan perlahan.

Pada saat mereka bercakap-cakap gembira, tiba-tiba Lo Sin mengangkat tangannya dan Lee Ing juga mendengar suara kaki di atas genteng! Biarpun tuan rumah dan anak isterinya tidak dapat mendengar suara kaki ini, namun mereka menjadi pucat karena dari wajah kedua orang tamunya, mereka maklum bahwa tentu terjadi sesuatu.

Tiba-tiba terdengar suara di atas genteng.

“Ha-ha-ha, bagus sekali, Ong-tihu! Puterimu memang cantik jelita dan pandai! Pantas betul menjadi isteri tai-ong (panggilan untuk kepala rampok). Dengarlah, Ong-tihu, kami diperintah untuk memberitahukan kepadamu bahwa besok pagi-pagi sekali, kau harus mengantarkan puterimu itu ke rimba sebelah selatan. Tidak boleh dikawal, hanya cukup naik tandu dipikul oleh dua orang saja.

“Kalau kau penuhi permintaannya ini, maka selanjutnya kami tidak akan berani mengganggu Hai-kun karena kota ini dianggap sebagai kota sendiri. Akan tetapi kalau kau menolak, kami akan mengambil puterimu dengan paksa dan kota ini akan dihancurkan!” Bukan main terkejutnya Ong-tihu mendengar ini. Dengan tubuh menggigil ia berkata. “Orang gagah yang berada di atas! Mengapa Tai-ong menghendaki demikian? Kalau kalian mau ambil harta bendaku, ambillah, akan tetapi janganlah kalian mengganggu keluargaku.”

“Bodoh! Siapa yang hendak mengganggu? Puterimu bahkan akan mendapat kehormatan besar menjadi isteri Tai-ong! Nah, besok sebelum matahari naik tinggi, kami tunggu kedatangan puterimu dan awas jangan sampai terlambat!”

Terdengar kaki orang meninggalkan genteng dan Lee Ing cepat bergerak hendak melompat dan mengejar, akan tetapi tiba-tiba tangan Lo Sin memegang pundaknya.

“Sin-ko, mengapa kau menahanku? Biar aku seret mereka ke sini!” seru Lee Ing marah, akan tetapi Lo Sin menggelengkan kepala.

Juga Ong-tihu dan nyonya serta puterinya yang telah ketakutan itu merasa heran mengapa kedua orang tamunya yang dianggapnya gagah itu tidak bergerak membela mereka.

“Aduh, celaka…… bagaimana baiknya ini?” Ong-tihu mengeluh sedangkan Ong-hujin beserta puterinya menangis sedih.

“Ong-taijin, jangan kau bersusah hati, siauwte telah mempunyai sebuah rencana yang baik sekali,” kata Lo Sin.

Semua orang memandangnya penuh harapan.

“Begini rencanaku,” kata pula Lo Sin sambil memandang Lee Ing. “Besok kita antarkan Ong-siocia ke rimba dan tepat sebagaimana yang mereka kehendaki.”

“Apa???” Ong-tihu dan nyonya berseru marah sedangkan Lee Ing memandang heran.

“Sabar,” kata Lo Sin tersenyum. “Siauwte belum habis bicara. Yang akan pergi bukanlah Ong-siocia akan tetapi adikku ini. Biarlah adikku menggantikan Ong-siocia dan duduk di atas tandu, sedangkan aku sendiri akan menjadi seorang pemikul tandunya!”

Maka mengertilah mereka. Lee Ing tersenyum dan berkata. “Sin-ko, apakah kau begitu tega hati untuk mengurbankan adikmu ini kepada kepala rampok?”

Ia sebenarnya hanya berkelakar dan menggoda Lo Sin, akan tetapi hal ini tidak diketahui oleh Ong- siocia. Gadis ini lalu berkata dengan suara tetap sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya.

“Tidak, tidak! Lihiap tidak boleh dikorbankan hanya untuk kepentingan dan keselamatanku!”

Lee Ing tersenyum dan Lo Sin berkata. “Siocia, jangan kauperdulikan adikku yang nakal ini! Kami tidak bersombong, akan tetapi kalau kami kehendaki, mudah saja untuk menangkap kedua penjahat yang berada di atas genteng tadi.”

“Dua……?” kata Ong-tihu yang tidak tahu dan mengira bahwa yang datang hanya seorang saja. “Ya, mereka tadi datang berdua. Akan tetapi, kalau kami menangkap mereka, maka kami tidak dapat menangkap kepalanya. Oleh karena itu, lebih baik besok kami berdua mendatangi sarang mereka dan sekalian membasmi kepala berikut ekornya!”

Malam hari itu, Lee Ing dan Lo Sin bersiap-siap, sedangkan seluruh keluarga Ong tidak dapat tidur karena betapapun juga, mereka masih mengkhawatirkan keselamatan kedua orang muda itu dan bagaimana kalau seandainya usaha mereka gagal? Bukankah berarti bahwa dua orang itu akan mengantar kematian belaka, dan selanjutnya keadaan keluarga Ong beserta semua penduduk kota akan terancam bencana yang lebih hebat?

Pada keesokan harinya, Lee Ing naik sebuah tandu yang tertutup dengan tirai hijau. Ong-tihu menyuruh seorang pegawainya yang bertubuh kuat untuk memikul tandu itu, berdua dengan Lo Sin. Pagi-pagi benar mereka berangkat ke hutan yang dimaksudkan.

Kedatangan mereka ini disambut oleh rombongan perampok dan mereka lalu membawa Lo Sin dan kawan-kawannya ke dalam hutan. Seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun yang mukanya penuh cambang bauk, menyambut mereka sambil tertawa bekakakan.

Inilah Giam Sui, kepala rampok yang mendapat julukan Toa-to-ong si Raja Golok Besar! Sebatang golok tergantung di pinggangnya dan ia nampak gagah serta garang dengan pakaiannya yang terlalu mewah bagi seorang perampok.

“Bagus, bagus! Pengantinku sudah datang!” katanya dengan suara girang. Sambil berkata demikian, perampok ini melangkah maju hendak menyingkap tirai, akan tetapi Lo Sin lalu maju di depannya dan berkata.

“Apakah aku berhadapan dengan Toa-to-ong sendiri?”

Terbelalak mata raja perampok itu memandang anak muda pemikul tandu yang berani ini.

“Siapa lagi yang patut dijuluki Toa-to-ong selain aku?” bentaknya dan hendak melangkah maju lagi.

“Maaf, tai-ongya!” kata Lo Sin sambil tersenyum. “Sudah menjadi kebiasaan kita bahwa seorang mempelai laki-iaki menjemput calon isterinya dengan emas kawin! Kalau kau belum memberi emas kawin, kau tidak berhak membuka tirai tandu ini!”

Giam Sui tertawa bergelak. “Ha-haha! Jadi kau mewakili Ong-tihu? Bagus, bagus! Coba sebutkan, berapakah banyaknya mas kawin yang dimintanya?”

“Hanya satu saja!” jawab Lo Sin.

Kepala perampok itu terheran. “Satu apa? Benda apakah yang dimintanya?” “Hanya sebuah saja, yakni sebuah kepala!”

“Sebuah kepala? Ha-ha-ha! Kepala babi, kepala lembu, atau kepala apa?” tanyanya tanpa curiga. “Bukan, tai-ong, yang diminta adalah kepalamu!” jawab Lo Sin.

Merahlah muka perampok itu mendengar ucapan. ini. “Keparat, kau sudah ingin mampus barangkali!” Sambil berkata demikian, ia melompat maju sambil memukul keras ke arah dada Lo Sin dan tangan kirinya menarik tirai tandu.

Lo Sin berkelit cepat dan tiba-tiba dari dalam tandu itu melompat keluar seorang gadis cantik yang membentak keras.

“Kepala perampok busuk! Serahkan dulu kepalamu!”

Sambil berkata demikian, Lee Ing mencabut pedangnya dan menyerang hebat! Serangan ini dilakukan dengan hati gemas dan pedangnya menyambar ke arah leher Giam Sui. Kepala rampok itu cepat mengelak, akan tetapi gerakan Lee Ing demikian cepatnya sehingga sebagian rambutnya kena terbabat putus!

Bukan main terkejutnya kepala perampok ini karena tidak mengira bahwa mempelai perempuan ini demikian gagahnya. Ia lalu mencabut golok besarnya lalu menyerang Lee Ing dengan gerakan yang mendatangkan angin saking kerasnya.

Giam Sui ini adalah anak murid Bu-tong-san yang murtad dan tersesat. Ilmu kepandaian goloknya lihai sekali dan jarang ia menemui tandingannya. Akan tetapi sekarang ia berhadapan dengan Lee Ing, puteri Nyo Tiang Pek yang tersohor, maka begitu Lee Ing memainkan pedangnya dengan gerakan gin- kangnya yang tinggi dan cepat, segera ia terdesak hebat.

Melihat betapa kepandaian kepala perampok itu tidak akan membahayakan keadaan Lee Ing, maka Lo Sin tidak membantu. Para anak buah perampok melihat betapa mempelai perempuan berani menyerang kepala mereka dan melihat betapa pemikul tandu itu berani pula menghina, lalu serentak maju mengurung.

Melihat keadaan yang mengkhawatirkan ini, kawan Lo Sin yang tadi memikul tandu menjadi ketakutan, akan tetapi Lo Sin segera melangkah maju dan berkata.

“Kalian mundur! Hayo mundur!” Sambil berkata demikian, ia menggerakkan kedua tangannya dan siapa yang dekat segera terdorong sampai menubruk kawan-kawannya dan jatuh tunggang langgang.

Melihat kekuatan yang luar biasa ini, para kawanan perampok menjadi terkejut dan marah. Mereka lalu mencabut senjata dan maju mengeroyok. Lo Sin berseru keras dan ketika tubuhnya berkelebat, maka terdengar pekik di sana-sini dan tubuh para anggauta perampok roboh bergelimpangan.

Golok-golok besar kecil terlempar ke udara dan para perampok yang kena dirobohkan itu tidak dapat bangun pula, melainkan melolong-lolong sambil memijit-mijit tangan kaki mereka yang terkena pukulan atau tendangan Lo Sin. Keadaan menjadi kacau balau dan para perampok dengan jerih lalu mengundurkan diri dari pemuda yang gagah itu. Sementara itu, ketika Lee Ing memainkan Hwie-sian-liong-kiam-sut yang ia pelajari dari Lo Sin, tak kuatlah Giam Sui bertahan lebih lama lagi. Ia terdesak hebat dan gerakan goloknya menjadi kacau- balau.

Lee Ing tidak mau memberi hati, dan ketika gerakan golok lawan agak terlambat, cepat sekali pedangnya menyambar dan sambil berseru keras kepala rampok itu roboh dengan lengan tangan terbabat putus. Ia roboh pingsan dan goloknya terbang entah ke mana.

Bukan maih terkejutnya para perampok melihat hal ini dan mereka lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda pemudi pendekar itu, minta diampuni jiwa mereka.

“Kalian ini laki-laki yang masih muda dan kuat, mengapa mengambil jalan sesat? Mulai sekarang, robahlah jalan hidupmu dan jadilah orang baik-baik. Jangan kalian berani mengganggu penduduk kota dan desa lagi. Kalau lain hari kalian sampai melakukan kejahatan lagi dan bertemu dengan kami, jangan mengharap kalian akan mendapat ampun!” kata Lo Sin dengan sikap mengancam.

Setelah memberi ancaman kepada sisa-sisa penjahat, Lo Sin lalu mengajak Lee Ing dan pemikul tandu itu untuk kembali ke Hai-kun, dan di sepanjang jalan tiada hentinya pemikul tandu itu menuturkan sepak-terjang sepasang pendekar itu hingga para penduduk merasa girang sekali, dan mereka mengikuti Lo Sin dan Lee Ing sampai di gedung Ong-tihu.

Pembesar ini menyambut mereka dengan segala kehormatan dan ketika ia mendengar penuturan pemikul tandu tentang kehebatan sepak-terjang Lo Sin dan Lee Ing, saking terharunya Ong-tihu sambil menangis memeluk Lo Sin. Juga Ong-hujin dan Lan Im memeluki Lee Ing sambil menangis karena girang. Terutama Lan Im merasa kagum melihat Lee Ing dan gadis ini memandang Lo Sin dengan penuh perasaan terima kasih dan kagum.

Ketika Lo Sin membalas memandang mata gadis cantik itu, terkejutlah dia karena sinar mata gadis itu mengandung penuh pernyataan hati yang hanya dapat dimengerti oleh dia yang terpandang.

Dengan hati kurang enak, Lo Sin lalu berpamit kepada kedua orang tua itu untuk kembali ke hotel karena besok pagi akan melanjutkan perjalanan. Ong-tihu terkejut mendengar ini.

“Taihiap, mengapa begitu? Kau dan adikmu harus tinggal dulu beberapa hari di sini agar memberi kesempatan kepada kami untuk menyatakan terima kasih kami!” Demikian juga Ong-hujin mencegah dan menahan mereka.

“Ong-taijin,” kata Lo Sin, “pekerjaan yang kami lakukan itu semata-mata hanyalah tugas kewajiban kami sebagai orang-orang yang memiliki sedikit kepandaian dan sama sekali tidak perlu dibalas dengan terima kasih. Setiap orang mempuyai tugas di bidang masing-masing dan kalau kami dihujani terima kasih dan pembalasan budi, hal itu hanya akan menodai tugas kami.”

Ong-tihu merasa kagum mendengar ini dan sebetulnya iapun bukan semata hendak membalas dan menyatakan terima kasih, akan tetapi diam-diam mempunyai maksud lain! Ia melihat betapa pemuda ini selain tampan dan sopan-santun, juga gagah perkasa dan kalau saja ia dapat mengambil mantu pemuda ini, ia tidak akan merasa penasaran selama hidupnya! “Taihiap, kata-katamu memang benar dan sebetulnya akupun tidak berhak menahan ji-wi di sini. Akan tetapi, bagaimana kalau anak buah perampok itu datang melakukan pembalasan kepada kami? Siapa yang akan membela kami apabila ji-wi sudah pergi meninggalkan kota ini? Setidaknya, tinggallah di sini barang tiga hari lagi, agar hati kami dan semua penduduk Hai-kun menjadi tenang dan tenteram.”